True Love Part 3

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat

Cerita Sex Dewasa True Love Part 3 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerrita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa True Love Part 2

Ketika Papamu Bicara

Oh iya, mungkin aku belum menceritakan siapa diriku. Siapa Raka Murdiantoro sebenarnya.

Aku adalah anak tertua dari 3 bersaudara. Ibuku yang lembut dan sederhana adalah seorang pedagang makanan di sebuah SD. Yup. Ibu Kantin kalo anak-anak SD itu bilang. Ayahku sendiri adalah seorang lelaki keras yang sehari-hari membuka sebuah bengkel specialis di rumah. Ya, ayahku seorang mekanik vespa tua.

Kalian tau berapa uang jajan yang aku bawa ke sekolah saat tahun 2006..?

Lima ribu rupiah.

Ya, goceng.

Rinciannya ongkos angkot anak sekolah boleh habis 3000 pulang pergi dan jajan 2000 perak, cukup buat 2 buah bakwan dan segelas es teh.

Sejak memiliki Pipit, aku jalan kaki pulang pergi ke sekolah sejauh 3 kilometer dan bela-belain gak jajan supaya uang lima ribu itu bisa aku simpan sampai hari sabtu agar aku punya uang 30 ribu untuk aku bisa mentraktir Pipit di kantin sekolah saat ekskul Pramuka.

Curcol ya

Tapi itulah aku, yang dilahirkan dari keluarga sederhana jika tak mau disebut miskin-, yang beruntung bisa sekolah di sekolah paling favorit di provinsi ini. Anugerah otak encer membuat orangtuaku membanting tulang agar aku dan adik-adikku tetap bisa sekolah. Badanku tinggi dan tegap, berkat latihan silat dan jalan kaki setiap hari ke sekolah (termasuk menimba air di sumur dan angkat embernya, hehe).

Sejak SD aku biasa berjalan kaki ke sekolah walau jarak yang aku tempuh tak bisa di bilang dekat. Latar belakangku ini harus aku ceritakan karena sebuah kejadian yang menimpaku saat aku bersama dengan Pipit, dan merenggut habis harga diriku dan mengubahku selamanya.

Siang itu, aku berjalan menuju gerbang sekolah untuk pulang ke rumah. Pipit sudah masuk kelas sepuluh menit yang lalu, dan aku menghabiskan jeda waktu 45 menit antara aku keluar kelas sampai Pipit masuk kelas, dengan bercengkrama dengannya di kantin. Saat itu aku ditraktir Pipit. What a shame.

Mas Raka pak Gito satpam sekolah memanggilku saat aku melintas pos satpam di gerbang sekolah.

Iya pak aku berhenti dan menatap pak Gito.

Ini ada bapak yang mau ketemu ama mas Raka kata pak Gito.

Aku menatap ke dalam pos satpam dan ada seorang bapak-bapak yang duduk di sana. Aku berjalan menghampiri pos satpam sambil bertanya pada pak Gito. Siapa ya Pak..?

Temui saja mas, sepertinya beliau perlu penting ama sampeyan jawab pak Gito.

Aku melangkah masuk ke Pos Satpam dan menemui si bapak. Kayaknya pernah kenal

Selamat siang, pak Saya Raka Bapak ada perlu dengan saya? kataku sopan.

Si Bapak tersenyum Tidak Tepatnya menyeringai.

Hmm.. Sopan juga kamu katanya. Ya, saya ada perlu dengan kamu. Kamu bisa ikut saya sebentar, kan?

Aku berusaha mengingat siapa si bapak ini sebenarnya, tapi tetap tak bisa aku kenali. Tapi bener, aku yakin aku pernah ketemu beliau sebelumnya. Dari seragamnya aku yakin beliau seorang pegawai negeri, dan nametag beliau tertera namanya, T. Agus Ilham.

Boleh pak.. jawabku sambil mengikutinya keluar dan pamit pada pak Gito.

Kami menuju ke sebuah mobil kijang warna hijau tua yang parkir tak jauh dari gerbang sekolah. Begitu melihat mobil itu, aku langsung ingat siapa si bapak ini sebenarnya. Raka boleh lupa pada wajah orang, tapi Raka tak pernah lupa pada sebuah mobil. Ya, seorang Raka adalah orang yang tergila-gila pada otomotif, terutama mobil. Itu karena obsesiku bahwa aku harus punya mobil suatu hari nanti untuk membuat bangga orang tuaku.

Mobil Kijang warna hijau tua dengan plat BG itu adalah mobil yang diparkir disebuah rumah, sementara aku memperhatikan rumah itu dari sebuah warung. Dan si bapak yang sekarang berjalan disebelahku adalah bapak yang sama yang saat itu sedang mencuci mobil itu. Sementara aku, menunggu di warung itu karena ingin tau siapa gadis pujaanku sebenarnya.

Ya. Pak Agus ini adalah papanya Pipit. Dan Kijang hijau ini adalah mobil yang aku lihat waktu itu di rumah Pipit.
Aku sudah mulai menduga-duga apa yang sekiranya akan terjadi padaku dengan papanya Pipit nanti.

Beliau menyuruhku naik ke mobilnya dan kami menuju sebuah rumah makan tak jauh dari sekolahku, dan beliau mengajakku turun disitu.

Kamu mau makan, Raka? tanya beliau.

Terima kasih, pak Saya masih belum lapar. Tapi silahkan kalau bapak mau makan jawabku.

Hmm.. ya sudah kalo begitu lalu beliau memesan 2 gelas es jeruk.

Kamu tau siapa saya? tanya beliau. Nada bicaranya masih tak bersahabat.

Sebelumnya, gak tau pak, karena kita belum pernah ketemu Tapi saat melihat mobil bapak akhirnya saya tau siapa bapak jawabku. Walau orang tua ini nada bicaranya masih songong, tapi aku yang harus tetap sopan pada orang tua.

oh, begitu ya katanya sambil tersenyum sinis. ingat mobilnya tapi gak tau siapa orangnyasindirnya penuh tendensi melecehkan.

Hey, apa sebenarnya maunya bapak ini..? nada bicaranya seperti takut mobilnya aku ambil. Aku cinta pada anakmu, pak persetan bapak mau bawa mobil apa. Tanpa disadari rahangku mengeras.

Ok, langsung saja katanya. Saya mau kamu menjauhi anak saya dan gak usah berurusan sama dia lagi

Gimana, kamu gak keberatan, kan..? kata beliau lagi.

***

Benar dugaanku. Aku menahan diri untuk tetap sopan pada beliau.
Aku berusaha tenang, aku gak mau terpancing emosi atau malah ketakutan pada bapak satu ini.

Saya gak keberatan, pak jawabku tenang Asal bapak bisa kasih saya alasan yang tepat kenapa saya harus menjauhi Pipit, saya akan dengan senang hati menuruti maunya Bapak

Papanya Pipit mendengus kesal. Matanya menatap tajam kepadaku. Tapi salah jika calon mertua ku ini mengira aku akan gentar.

Sudah, kamu gak usah banyak omong.. katanya gusar. Pokoknya saya gak suka kamu dekat dengan anak saya, titik..!!

Aku mencoba tersenyum, agar beliau memahami jika sikap beliau sungguh gak bijaksana.

kalau begitu, saya mohon maaf, Pak jawabku tenang. Saya dekat dengan Pipit karena ada alasannya, dan saya gak akan mau jika bapak memerintahkan saya menjauhi Pipit tanpa alasan yang jelas

sekalipun bapak adalah papanya Pipit tegasku dengan suara yang tetap aku usahakan tenang.

Namun ternyata jawabanku malah memancing emosi orang tua ini.

Kamu jangan coba-coba melawan saya, ya..!! bentaknya pelan. Rupanya beliau masih sadar jika ini rumah makan, tempat umum. dan jangan memaksa saya untuk mengambil tindakan tegas padamu!

Maaf pak, sekali lagi mohon maaf. Saya gak pernah bermaksud menentang Bapak kataku. tapi tadi saya sudah jelaskan, saya gak akan mau menjauhi Pipit tanpa alasan yang jelas dari Bapak

Kenapa kamu gak mau..?? sentaknya. Saya ayahnya, saya berhak menentukan siapa yang boleh dekat dengan anak saya dan siapa yang gak boleh..!

Karena saya mencintai Pipit, Pak jawabanku meledakkan tawanya.

Heh, anak kecil tau apa kamu tentang cinta..?? ejeknya. Aku hanya tersenyum.

Saya gak mau tau, mulai sekarang kamu gak boleh berhubungan dengan Pipit lagi..!

Alasannya? tanyaku tenang tapi ngeyel.

Jangan kurang ajar kamu, Raka desisnya marah.

kalo gitu maaf pak, saya gak bisa

Mukanya merah padam mendengar jawabanku. Ditatapnya mataku dengan penuh kemarahan.

Kemudian beliau membayar minuman kami dan keluar dari warung makan itu.

Raka, kamu ikut saya..!! katanya tegas.

Aku menurut. Aku ikuti beliau naik ke mobil dan beliau melaju kencang menuju sebuah tempat yang agak sepi di pinggir kotaku. Aku kenal benar tempat ini, jalur awal jika ingin hiking ke Gunung Betung.

Disebuah tempat yang agak sepi, beliau menghentikan mobilnya.

Turun..! kata beliau sambil membuka pintu mobil dan turun duluan.

Aku mengikuti beliau turun, aku tetap membawa tasku apa pun mau si bapak dari tadi bersamaku.

Sampai di luar, aku dan beliau berdiri berhadap-hadapan. Aku tak takut menatap matanya, walau beliau menatapku penuh emosi dan terlihat sangat ingin menelanku hiduphidup.

Sekali lagi saya minta sama kamu ya, Raka dan tolong ikuti apa yang saya mau mumpung saya masih memintanya baik-baik padamu katanya penuh emosi. Kamu jangan dekati anak saya lagi. Paham kamu??!!

Saya mencintai Pipit, pak belum selesaikan kalimatku, tamparannya mendarat di pipiku.

Plaakkkk…!!!!

Panas. Pedih.

Rupanya kamu gak bisa diajak bicara baik-baik geramnya.

Aku mundur dua langkah, semata agar aku jauh dari jangkauan tangannya agar aku bisa menyelesaikan kalimatku.

dan saya yakin Pipit juga cinta pada saya kataku agak keras. Saya gak akan menuruti maunya bapak. Percuma bapak melarang saya!

Kurang ajaarr.!!! Geramnya sambil melangkah maju menghampiriku dengan tangan terkepal. Seketika aku melemparkan tas ku tanah dan mundur memasang kuda-kuda. Tindakanku ternyata berhasil membuatnya kaget dan terdiam.

Jika itu mau kamu, jangan salahkan saya, anak kurang ajar ujarnya masih geram. Jika kamu mau tau alasannya kenapa saya gak ingin anak saya dekat dengan kamu!!

Aku kembali berdiri normal, tetap bersikap sopan dan tenang menatap matanya.

Saya tau siapa kamu, siapa orang tua kamu, dan dari keluarga macam apa kamu berasal katanya penuh penekanan. dan saya gak mau anak saya pacaran dengan anak miskin gak jelas kayak kamu!!!

Ini lebih keras dari tamparannya tadi. Ini lebih panas dan lebih pedih, berjuta kali lipat. Terasa mataku mulai terasa panas.

Jangan buat saya menghina kamu dan keluargamu lebih dari ini, Raka tukasnya. dan jika kamu masih membangkang juga, jangan kamu kira saya gak bisa lebih kejam dari ini Saya bisa buat keluargamu makin miskin! ancamnya. Saya bisa buat kantin ibumu dan bengkel bapakmu ditutup..!!

Cukup. Orang ini sudah keterlaluan.

Saya akan jauhi Pipit! teriakku pada papanya Pipit.

Bapak menghina saya dan keluarga saya, merendahkan saya dan keluarga saya, bahkan mengancam keluarga saya kata ku geram. Orang ini sudah gak layak untuk dihormati lagi.

Saya akan jauhi Pipit jika itu yang Bapak mau geramku menatap langsung ke matanya. Tapi bapak jangan pernah menghina orang tua saya

Bagus kalo begitu..!! Berarti kamu sadar diri. tukasnya. Awas kalo kamu masih mendekati anak saya, saya gak main-main dengan ucapan saya tadi, Raka!!

Dan beliau pergi, meninggal debu dari roda mobilnya menerpa wajahku.

Aku, Raka Murdiantoro, memang anak orang tak mampu.

Tapi jangan pernah menghina kedua orangtuaku yang sudah menyabung nyawa demi kami anak-anaknya.

Dengan langkah gontai, aku berjalan menuju pulang ke rumah yang kini semakin jauh dari seharusnya. Sepanjang perjalanan, aku sangat berduka. Kenapa bisa Pipit yang begitu lembut, ternyata punya papa yang demikian kejam dan sangat merendahkanku. Padahal Pipit sangat memuja papanya. Aku saja sempat berfikir kalo papanya adalah seorang ayah yang baik dan bijak, sampai pada kenyataan apa yang baru saja aku alami dengan beliau.

Hatiku penuh dengan dendam, tapi aku percaya roda nasib akan berputar.

Tungga saja, pak.. Suatu saat aku akan membuatmu menyesal karena menghina keadaanku yang miskin.

Bersambung