True Love Part 23

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat

Cerita Sex Dewasa True Love Part 23 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerrita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa True Love Part 22

Cinta Kan Membawamu Kembali (1)

Tanyakanlah padaku. Apa kabar, Raka?

Maka aku hanya bisa menjawab dengan sebuah senyuman. Menurut kalian, bagaimana kabar seorang lelaki yang baru saja mendapatkan kepastian bahwa wanita yang dicintainya akan menikah dengan orang lain, serta saat pertemuan terakhir malah digebuki oleh calon suaminya?

Kalo kata orang sekarang, sakitnya tuh di sini. #sambilnunjukselangkangan, hehehe

Sakit, itu jawaban yang sebenarnya.

Dua minggu yang lalu, aku kembali dari Palembang, langsung ke tempatku kerja di Kota Metro. Aku sampai gak pulang ke rumah orang tuaku sampai dua minggu. Aku bilang, aku sedang banyak kerjaan dan orang tuaku maklum. Padahal, aku mengurung diri di Metro untuk menyembuhkan semua luka lebamku.

Lengan kiriku membiru karena hantaman kursi waktu itu. Belum lagi bekas pukulan di wajahku.

Untungnya, ada Ria yang dengan setia merawatku. Ria juga yang sangat membantuku melupakan kegalauan hatiku. Tak perlu lah aku ceritakan bagaimana cara Ria menghiburku. Yang jelas, dalam dua minggu aku semakin tegar saat teringat Pipit. Dalam dua minggu juga semua luka dalam yang aku derita berangsur hilang.

Ada juga yang menjadi hiburan bagi hatiku. Bang Nizam dan Ocha rutin berkomunikasi denganku. Mereka berdua adalah saksi hidup pada kisah hidupku selama 3 hari di Palembang. Berbincang dengan mereka senantiasa memberiku kekuatan, karena dengan kehilangan seorang Pipit, aku mendapatkan dua saudara baru yang sangat baik hatinya, bang Nizam dan Ocha.

Pipit.

Kemana Pipit?

Hilang

Sejak aku pulang, beberapa kali aku tak bisa menahan diri untuk tidak menghubungi Pipit. Aku beberapa kali mencoba menelponnya. Tapi nomor hape Pipit kini sudah tak aktif, kontak BBM pun sudah dihapus. Akun facebook juga nonaktif. Tapi akun facebook si Bram tetap aktif, beberapa kali aku melihat dia membuat status yang jelas menyindir diriku. Pernah dia buat status, Mantan apes, sudah di tolak, di gebuki pula

Aku masih mengingat, keributan kami tak hanya di kantor Pipit. Bram dan beberapa orang rekannya bahkan sampai mendatangiku di hotel keesokan paginya. Kami hampir berkelahi di lobby, dan saat itu aku berniat tak akan lagi menahan diri. Aku akan bertarung sekuatku apabila Bram menyerangku. Untung saat itu keributan bisa di cegah, ada Bang Nizam yang langsung maju melindungi dan beberapa sekuriti hotel yang langsung bersiaga. Keributan bisa dihindari, tapi Bram pergi sambil tetap memaki dan menyumpah serapah padaku.

Mantap.

Tapi gak pengaruh sama sekali buat aku. Kini aku sudah mulai bisa menata diriku, dan itu harus. Perlahan aku bisa melenyapkan bayangan Pipit dan semua hal tentangnya. Perlahan, tapi progresnya baik.

Saat ini, minggu kedua bulan Desember. Aku sudah berada di rumah orang tuaku sejak hari Jumat kemarin. Kami sekeluarga menghadiri sebuah pesta pernikahan salah satu saudara pada hari Sabtu. Dan hari Minggu ini, aku manfaatkan untuk bersantai di rumah orang tuaku, apalagi ada pohon duku dan duren yang sedang panen di kebun.

Rumah orang tuaku ini berada di daerah Hanura. Jika dibandingkan dengan rumah lama kami di Pahoman, maka bisa dibilang wilayah Hanura ini jauh di pinggir kota, beda dengan Pahoman yang merupakan pusat pemukiman di Bandar Lampung. Tapi di sini suasananya masih alami, berdekatan dengan pantai dan dipagari oleh pegunungan yang masih termasuk gugus bukit barisan.

Rumah ini kami beli setahun yang lalu, setelah menjual rumah di Pahoman dan sedikit tambahan dariku, maka kami kini membangun rumah di atas tanah seluas dua hektar. Rumah yang di bangun kecil dan sederhana saja, asal kedua orangtuaku merasa nyaman. Dan tanah sisanya masih sangat luas, dan masih berupa kebun buah-buahan.

Hari minggu inilah aku manfaatkan bersama adik-adikku untuk memanen duku dan durian yang kebetulan sedang berbuah. Aku hari itu semangat sekali, ribut banget memanen duku dan durian, sampai kedua adikku dan dua tukang kebun terheran-heran melihat aku yang hari itu terkesan sangat lebay.

Gimana gak lebay, boss

Hari ini, Minggu tanggal 15 Desember.

Walimah Pipit tanggal 19 Desember. Hari Kamis. Empat hari lagi.

Kemarin sih sempat lupa Tapi entah kenapa sekarang aku galau lagi.
Mungkin rasanya mirip seperti menunggu eksekusi mati
Empat hari lagi, peluru eksekutor akan berterbangan dari Palembang membidik tepat ke hatiku.

Semalam, Bang Nizam sempat menelponku. Pada Bang Nizam aku ceritakan betapa galaunya aku saat ini. Bang Nizam seperti biasa selalu mencoba menguatkan hatiku dengan kelakarnya yang khas, bahkan istrinya Kak Isna pun ikut bicara menyemangatiku.

Om Raka gak boleh nangis lagi ya Eh, suara si Zahra Teringat saat aku sampai menjerit-jerit saat ibu Bang Nizam mengurut lenganku yang terkilir.

Om Raka gak nangis, kok belaku.

Haalaah, Om Raka di urut nenek aja nangis, apalagi ditinggalin pacarnya. Kata Zahra sambil tertawa.

Et, dah buset Bang Nizaaaammmm. Itu si Zahra digosipin apaaaa.?
Terdengar tertawa ngakak Bang Nizam dan Kak Isna.

Raso lah kau kata kak Isna sambil tertawa. Zahra yang budak kecik bae, paham nian kelakuan kau

Dek, betino masih banyaaak. Kata bang Nizam. Kau njuk lah sikok Langsung bae ajak kawin

Amon kau dak pacak nyari dewek, apo kakak bae yang nyarike buat kau? timpal kak Isna.

Aih idak galak aku, Kak Kapok punya pacar wong palembang balasku. Betinonyo kejam, bapaknyo lebih kejam lagi, apolagi calon lakinyoooo Abis bae aku di lantak

Woooy Itu si Pipit Tapi kalo Isna aku ini idak lah kejam. Protes bang Nizam.

Niaaan tapi Ubaknyo lah ngenjukke pestol cak itu.? Sindirku yang langsung membuat mereka tertawa.

Abang samo kakak maen lah ke Lampung kataku.

Aih nak ngapo ke Lampung. Dak ado apo-apo di Lampung tu

Ini duku ama duren lagi panen bang Bapak besok nak panen

Ooo lagi pulang kau cak nyo?

Iyoo bang Dari jumat aku lah di rumah Bapak

idak ke Metro kau?

Kagek bang Senin pagi bae

Om Raka kirimin Zahra duit geh Kagek kami ke Lampung. Celetuk si Zahra kecil yang langsung dimarahi ibunya. Aku tertawa.

Iyaaa. Doain Om Raka banyak rezeki yaaa. Nanti Om kirimin duit biar Zahra bisa main tempat Kakek di Lampung

Bener ya Om Ayah udah lama gak ngajak tempat Kakek di Baturaja Padahal disana duku juga banyaaakk. Kata si Zahra dengan centilnya.

Oooy baaaang Anak kau curhat tuuuh. Kataku sambil tertawa.

Iyo jugo, dek. lah lamo jugo idak nengok ke Baturaja kageklah mon ado rejeki biar laju ke Lampung sekali

Cukup lama kami ngobrol di telepon semalam. Dan kegembiraan dengan keluarga bang Nizam sejenak bisa membuat aku bisa melupakan kesedihanku karena mengingat Pipit yang akan menikah empat hari lagi.

***

Hari Minggu ini, hampir tengah hari. Aku dan adikku yang bungsu sedang menghadapi sebakul besar duku yang masak pohon. Entah berapa banyak yang sudah masuk ke perut kami, sementara duren sedang belum beruntung, hanya menemukan dua butir yang jatuh masak dari pohon.

Aku mendengar Ibu memanggilku dari arah rumah.

Raka.! Teriak ibu karena jarak kami yang lumayan jauh, aku masih ditengah kebun.

Iya buuuu.??

Pulang dulu. Ada tamu nyariin kamu.

Iyaaaa.. Sebentaaar.

Lo beresin ya, mana yang udah masak, pisahin masukin bakul trus bawa pulang. Yang belum masak masukin karung biar di peram kataku pada adikku.

Iyaaa. Jawabnya.

Aku pun melangkah pulang ke arah rumah. Aku menyempatkan membersihkan diri di pancuran di belakang rumah. Lalu aku melangkah masuk melalui dapur. Aku melihat ibu sedang menyiapkan secangkir the dan secangkir kopi.

Siapa bu? tanyaku.

Gak tau Ibu gak kenal

Laki apa perempuan?

Ibu-ibu.

Lho siapa ya? tanyaku heran. Bingung juga ada ibu-ibu nyariin aku. Aku kan bukan penggemar MILF Aku mencoba melihat ke arah depan, tapi sang tamu tak terlihat. Aku hanya bisa melihat sebuah taksi parkir di sebelah mobilku di halaman.

Halah udah sana ganti dulu bajunya tukas ibu. Kalo gak sekalian mandi dulu dekil banget

Iya deh Ibu temenin dulu ya jawabku. Raka mau mandi dulu sebentar

Ya udah, sana cepat kata ibu sambil membawa nampan hidangan buat sang tamu.

Aku segera melesat ke kamar mandi.

***

Setelah keluar dari kamar berganti baju, aku kembali berpapasan dengan Ibu.

Tamunya masih ada, bu? tanyaku.

Ya masih laaah. Kata ibu. kamu itu mandinya lama banget

Hehe di teras ya, bu?

Iya. Udah sana cepetan Kasihan udah nunggu dari tadi kata ibu lagi. Kayak yang udah paling pentingnya aja kamu itu, sampai ditunggui tamu.

Sambil cengengesan karena omelan ibu, aku melangkah ke teras rumahku. Teras ini lumayan luas, karena saat membangun rumah ini konsep yang aku pakai adalah teras yang luas agar bisa lebih leluasa menerima tamu. Mirip dengan rumah orang-orang di pedesaan jawa gitu deh bentuk bangunannya. Semoga bisa dibayangin.

Aku melongkok dari pintu. Tapi sang tamu duduk membelakangiku.

Seorang wanita.

Berkerudung.

Ibu-ibu siapa yaa? Pikirku mengingat penjelasan ibu tentang siapa tamu ini.

Assalamualaikum. Sapaku dari arah belakang saat menghampiri sang tamu.

Waalaikumussalam. Jawab sang tamu sambil berdiri.

Dan membalikkan badan menatap ke arahku.

Seketika aku terkejut..

Kaka. Sapa sang tamu sambil tersenyum.

Astaghfirullahalaziim PIPIT.??!

***

Ada dua ekspresi yang tak dapat aku sembunyikan saat itu. Terkejut dan Senang.

Terkejut karena tak menyangka kini Pipit berada di hadapanku, di rumah orang tuaku.
Empat hari sebelum menikah.

Senang karena jujur, aku masih sangat mencintainya, dan aku sangat merindukannya.
What a surprise.

Dan kedua ekspresiku itu dapat dilihat dengan jelas oleh Pipit, dan membuatnya tersenyum.

Heran ya Kenapa Pipit bisa disini? tanyanya tak bisa menahan senyum.

Iyaaa Kok bisa? Maksud Kaka, Pipit kan empat hari lagi mau menikah Ini kok malah bisa nongol disini? Harusnya kan calon penganten itu di pingit

Raut wajah Pipit langsung berubah sedih, Itu dia, Ka, yang mau Pipit ceritakan

Aku bisa menangkap raut wajah sedihnya, ditambah lagi wajah lelah Pipit.

Kalo gitu, Pipit duduk dulu, ya Kaka ke dalam sebentar.. kataku.

Setelah Pipit duduk kembali, aku segera masuk kembali ke dalam rumah. Saat itulah aku melihat Ibu dan adikku sedang kabur ke dalam.

Hayooo pada ngintip ya kataku pada mereka.

Ibu langsung berhenti dan meminta penjelasanku.

Ada apa, nak? Kenapa Pipit tiba-tiba bisa datang kesini.? tanya Ibu.

Ibu tadi gak ngobrol ama Pipit?

Ya ngobrol Tapi Ibu gak nanyain itu

Trus, kenapa Ibu tadi gak bilang kalo yang datang itu Pipit? Malah bilang tamunya ibu-ibu lagi.

Hehe Ibu pengen ngagetin kamu Seneng aja Ibu tadi ngeliat kamu kaget banget saat ketemu Pipit

Ibu ini Ya udah, nanti Raka jelaskan, sekalian Raka mau ngomong sama Ayah.

Masalahnya rumit banget ya, nak? tanya Ibu khawatir.

Sepertinya begitu, bu Raka curiga Pipit akan lama disini Ibu tolong nanti kita makan siang sama-sama ya

Iya Ini Ibu sudah mau siapkan dulu

Ibu kemudian berlalu ke dapur. Sementara aku masuk ke kamar untuk mengambil dompet. Kemudian aku kembali menemui Pipit.

Pit, taksinya di suruh pulang aja, ya Nanti kalo mau kemana-mana biar Kaka yang nganter

Iya, Ka jawab Pipit. Aku lalu membayar ongkos taksi yang dipakai Pipit tadi, lalu kembali duduk di sebelah Pipit.

Apa kabar, Pit

Yah, begini lah, Ka. Jawab Pipit pelan.

Kok bisa tahu sekarang rumah Kaka disini?

Tahu, dong Pipit kan punya mata-mata. Jawabnya mencoba bercanda.

Dari siapa, sih? Perasaaan yang tahu rumah ini belum banyak, deh Pipit nanya ama siapa? tanyaku penasaran.

Pipit tersenyum. sama Ocha jawabnya.

Wah, si Ocha rupanya si mata-mata Tapi kok bisa kenal ama Ocha, sih?

Pipit sempet ke hotel mencari Kaka, tapi rupanya Kaka sudah check out. Cerita Pipit lagi. Lalu ada resepsionisnya yang mengajak Pipit ngobrol, dia bilang dia kenal baik ama Kaka Kami kenalan, dia bilang namanya Ocha dan dia juga cerita kalo Kaka membantunya saat dia kena musibah.

Lalu kami ngobrol lama dan si Ocha cerita banyak, mulai dari tangan Kaka yang terkilir dan mukanya penuh lebam, lalu saat si Bram datang ke hotel nyariin Kaka dan kalian hampir berkelahi lagi.

Kok Pipit gak nelpon Kaka dulu sebelum ke hotel?

Hape Pipit disita papa, Ka sementara nomor hape Kaka kan ada disitu

Segitunya? tanyaku heran mendengar perlakuan papanya.

Iya gitu deh kata Pipit. Tapi Ocha memberikan nomor hape Kaka, kok Lengkap sama alamat Kaka di Metro dan yang di Hanura sini Pipit jadinya tau kalo keluarga Kaka sudah pindah rumah.

Aku sampai terdiam, teringat aku memberikan alamatku pada Ocha dan Bang Nizam. Pipit melanjutkan ceritanya.

Ocha juga yang mempertemukan lagi ama Bang Nizam. Akhirnya, diam-diam Pipit sering berkomunikasi dengan mereka, terutama curhat ama Ocha tentang kelakuan Bram yang semakin lama semakin nyebelin Bahkan Pipit sampai dilarang keluar rumah oleh Papa, Pipit bukannya dipingit lagi, tapi ini dikurung.

Kok Papa bisa setega itu, Pit?

Keluarga Bram rupanya komplain keras pada papa karena kejadian itu Makanya, papa langsung mengurung Pipit. Papa rupanya takut banget kalo kita ketemu lagi

Si Bram gimana sikapnya sama kamu?

Itu dia yang bikin Pipit jengkel Dia benar-benar menyalahkan Pipit, gak mau mengerti sama sekali. Karena Pipit membantahnya, jadinya papa yang jadi sasaran keluarga mereka. Papa itu pengen banget punya besan anggota DPR itu, Ka Makanya semua mau mereka di turuti, termasuk mengurung Pipit kata Pipit semakin sedih.

Maafkan Kaka, Pit Gara-gara Kaka urusannya jadi runyam begini

Gak kok, Ka Malah Pipit bersyukur Kaka datang kemarin itu Semua sifat asli Bram bisa ketahuan
Kata Pipit lagi. Ternyata, dia bukan calon imam yang baik

Aku terkejut. Maksudnya?

Sejak saat itu, dia selalu emosi kalo bicara, juga lebih sering marah. Pipit benar-benar gak suka dengan sikap seperti itu. Dia ternyata sangat otoriter, bahkan di depan Pipit dia memperlakukan papa dengan semau dia sendiri, gak terlihat lagi sikap hormatnya pada orangtua kata Pipit dengan kesedihan mendalam.

Pipit gak mau jika ternyata sikap aslinya seperti itu. Pipit gak mau orang yang seperti itu yang akan menjadi panutan Pipit

Wajar lah, Pit Dia kan lagi emosi karena kedatangan Kaka kemarin kataku pada Pipit.

Tapi kenapa dia gak bisa bersabar seperti Kaka? Kaka yang diperlakukan semena-semena, bahkan sampai dipukuli saja masih bisa sabar…. kata Pipit penuh emosi.

Kaka begitu karena memandang kamu Dia kan calon suami kamu

Itu dia maksud Pipit. Kaka saja yang sudah jelas Pipit tolak aja masih menghargai Pipit Tapi kenapa dia gak? Jangankan Pipit, sama papa aja dia gak menghargai sama sekali

Aku sampai tak bisa berkata lagi.

Itulah sebabnya kenapa akhirnya Pipit mengambil keputusan ini, Ka Kenapa akhirnya Pipit sampai disini. kata Pipit sambil menatapku dengan penuh kesedihan. Pipit kabur dari rumah.

Hah?? yang bener, Pit.??? Kagetku.

Iya, Ka Pipit gak mau punya suami seperti itu Dulunya memang terlihat baik Tapi begitu ketemu masalah sedikit, langsung emosi berkepanjangan, sampai gak tampak lagi sikap baiknya yang sebelumnya dia tunjukkan

Gimana ceritanya sampai bisa kabur? Katanya dikurung oleh papa?

Pipit dibantu ama Ocha dan Bang Nizam, Ka Karena Pipit curhat pada mereka sudah gak tahan sama sikap papa, apalagi sama si Bram dan keluarganya Semalam Pipit berhasil keluar rumah karena dibantu Ocha, lalu kami diantar Bang Nizam ke stasiun.

Niatnya Pipit mau nyari ke Metro, tapi semalam ngasih tau supaya Pipit langsung ke Hanura, karena bang Nizam abis telpon Kaka cerita Pipit lagi. Pantas saja wajahnya terlihat lelah, rupanya Pipit baru sampai dan langsung kemari.

Tapi kalo kamu kabur begini, apa gak semakin runyam urusannya, Pit?

Sebenarnya Pipit sudah berusaha menjelaskan pada papa, tapi Kaka tau sendiri, papa gak bisa dibantah, dia ngotot kalo si Bram itu calon yang terbaik kata Pipit lagi. Tapi Pipit merasa bukan karena itu, tapi karena Papa sudah silau dengan kedudukan keluarga Bram Pipit semakin gak suka

Ka

Iya, Pit

Kaka ingat kan, apa alasan kenapa Pipit selalu menolak Kaka?

Iya Kaka ingat

Itulah kenapa Pipit kabur, Ka Pipit gak mau menikah dengan Bram karena ternyata sifat aslinya menunjukkan kalau dia belum bisa diharapkan menjadi imam buat Pipit Pipit menatapku dalam-dalam. Tolong bantu Pipit ya, Ka Tolong sembunyikan Pipit dari papa dan keluarga Bram Setidaknya sampai hari pernikahan itu lewat

Siap, Boss kataku sambil mengangkat tangan memberi hormat, Pipit tenang saja Kaka akan carikan tempat yang gak akan bisa mereka temukan

Makasih banyak, ya Ka Terus terang Pipit takut banget mereka akan menemukan dan memaksa Pipit pulang dan menikah sama si Bram itu

Aku menatap Pipit dalam-dalam.

Gimana kalau kita segera menikah saja, Pit?

Pipit tampak terkejut.

Setidaknya, jika mereka menemukan kamu, mereka sudah gak bisa apa-apa karena kamu sudah jadi milik Kaka

Pipit terdiam. Tiba-tiba aku menyadari sesuatu.

Astagaaa Maafkan Kaka, Pit. keluhku langsung tertunduk.

Kenapa, Ka?

Gila! tukasku lemah. Kaka memang sudah gila Disaat kamu sedang susah begini Kaka malah mencoba mengambil kesempatan Bukannya membantu kamu, tapi malah meminta yang tidak-tidak

Pipit tersenyum, kemudian mengusap tanganku yang berada di atas meja.

Kaka gak bersalah, kok katanya lembut. Malah, seharusnya Pipit berterimakasih pada ajakan Kaka barusan

Aku mengangkat kepalaku dan menatap Pipit heran.

Terasa banget Kaka ingin melindungi Pipit. jawab Pipit pada tatapan keherananku. Pipit meminta Kaka untuk membantu Pipit, melindungi Pipit dari pencarian papa dan keluarga Bram, tapi Kaka malah mengajak menikah

Aku masih gak mengerti apa maksud ucapannya.

Tadi Kaka mengajak menikah, kalo kita menikah artinya Kaka punya kewajiban untuk melindungi Pipit seumur hidup Kaka, lho kata Pipit sambil tersenyum melihatku kebingungan. Padahal Pipit Cuma minta perlindungan sampai melewati hari Kamis aja, tapi Kaka malah menawari perlindungan seumur hidup

Oh, aku mulai nyambung Maaf Pit, refleks. Mungkin karena Kaka masih sangat mencintai kamu, masih berharap bisa menjadi suami kamu, makanya langsung aja ngajak Pipit menikah Tadi kepikiran aja untuk mengajak menikah supaya si Bram gak bisa mengejar Pipit lagi kataku perlahan.

Tapi sepertinya ajakan menikah itu terlalu berlebihan ya, Pit Lha Pipit cuma minta bantu carikan tempat sembunyi aja malah diajak nikah Sekali lagi maaf ya, gak tau nih kenapa Kaka masih aja berharap pada kamu

Pipit gak tau lagi mau minta tolong pada siapa, Ka kata Pipit sambil menunduk. Juga Pipit gak tau harus percaya pada siapa Saat sebelum berangkat dari Palembang semalam, Pipit masih berpikir mau ke rumah Anne saja Untung bang Nizam dan Ocha meyakinkan Pipit untuk mencari Kaka

Bang Nizam dan Ocha memang suka asal ngomong

Justru sebaliknya, Ka Bang Nizam dan Ocha memaksa Pipit untuk menemui Kaka karena mereka tahu hanya Kaka yang akan melindungi Pipit dengan sepenuh hati, yang akan membantu Pipit dengan sekuat tenaga kata Pipit sambil menunduk. Pipit sangat malu pada Kaka.

Lho Kenapa malu?

Pipit merasa gak pantas mendapatkan bantuan dari Kaka, walau Pipit tahu Kaka akan selalu baik pada Pipit, selalu membantu Pipit kata Pipit lirih. Padahal Pipit selalu menyakiti Kaka.

Lhoo Kok ngomongnya gitu protesku sambil menggenggam jemarinya.

Pipit selalu nyakitin hati Kaka Pipit selalu menolak Kaka, Pipit selalu jahat ama Kaka Pipit mulai menangis. Tapi Kaka selalu baik pada Pipit

Itu semua karena Kaka sangat mencintai kamu, Pit Apapun akan Kaka lakukan demi kamu

Sebenarnya Pipit merasa, Pipit gak layak untuk mendapatkan kebaikan Kaka katanya sambil bercucuran air mata. Pipit memang gak tahu malu ya, Ka Gak pernah membahagiakan Kaka tapi sekarang malah minta bantuan Kaka

Kamu lupa? Apa yang kamu bilang saat kita berada di ruang rapat di kantormu kemarin? kataku sambil meremas jemarinya dengan lembut. Kamu bilang, mungkinkah kita akan punya kesempatan di kehidupan yang akan datang.?

Pipit mengangguk sambil tetap terisak.

Mungkin inilah kesempatan buat kita, Pit kataku lagi mencoba menguatkannya, mencoba meyakinkannya.

Tapi apakah Pipit ini masih pantas buat Kaka. Kata Pipit lirih.

Husshhh Gak boleh ngomong begitu Kaka yang sebenernya masih belum layak jadi suami kamu, belum layak jadi imam buat kamu, apalagi jika dibandingkan dengan Bram

Jangan sebut lagi nama orang itu, Ka keluh Pipit sambil mengusap airmatanya. Kaka jauh lebih baik dibanding dia, Kaka jauh lebih tulus dibandingkan dia!

Makanya Kaka mohon padamu, izinkan Kaka meraih kesempatan ini, Kaka akan berusaha menjadikan diri Kaka layak menjadi imam bagi kamu kataku sungguh-sungguh. Untuk saat ini, izinkan Kaka mendampingi kamu, melindungi kamu dari mereka Kaka sangat mencintai kamu, Pit Kaka akan lakukan apa saja dengan seluruh jiwa raga Kaka Kaka ingin sekali bisa melakukan itu semua seumur hidup Kaka

Pipit tidak menjawab, ia masih menangis tersedu. Tangannya balas meremas jemariku dengan perasaan gundah.

Menikahlah dengan Kaka, Pit.

Pipit akan jawab nanti, Ka katanya perlahan sambil menatapku. Setelah masalah Pipit dengan keluarga di Palembang beres, dan setelah Pipit bisa kembali berfikir dengan jernih, Pipit akan segera menjawab permintaan Kaka barusan

Aku membalas tatapannya dengan tersenyum.

Kaka jangan khawatir. Pipit belum berani menjawabnya sekarang karena Pipit masih merasa belum pantas untuk mendapatkan kehormatan itu dari Kaka Sungguh, gak ada alasan lain kata Pipit lagi.

Pipit menatapku dalam-dalam.

Pipit selama ini telah buta, sampai tak bisa melihat kesungguhan dan ketulusan Kaka. Katanya lirih sambil menggenggam tanganku erat sekali. Dan sekarang disaat Pipit bisa melihat itu semua, Pipit merasa sangat malu, Ka Sangat malu sampai-sampai merasa diri ini tak pantas mendapatkan itu semua

Aku menatapnya dalam diamku

Kaka bisa memahami perasaan Pipit, kan?

Iya, Pit Kaka paham

Kaka gak keberatan, kan menunggu masalah ini selesai dulu?

Ya gak, lah Kaka sudah bertahun-tahun menunggu kamu Kalo cuma nunggu sampai Kamis mah, keciiilll.

Pipit langsung mencubit tanganku.

Heyyy Anak-anak. Suara ibu memanggil kami dari pintu. Ayo masuk dulu, kita makan siang Itu sudah di tunggu sama ayah.

***

Sambil menghisap rokok kreteknya dalam-dalam, ayah tampaknya sedang berpikir keras. Selesai makan, aku dan ayah ngobrol di teras.

Ayah hanya ingin kamu siap menghadapi segala sesuatunya kata beliau sambil menghembuskan asap ke udara. Kamu tahu, jika sudah melarikan anak gadis orang, maka urusannya jadi lain, tidak semudah yang kamu kira

Iya, yah Raka paham jawabku. Habis ini Raka mau tanya sama Pipit, apa yang dia inginkan. Nanti kita ambil jalan terbaiknya.

Apa rencanamu setelah ini?

Pipit minta disembunyikan dulu, maksud Raka minta dicarikan tempat agar keluarganya tidak bisa menemukannya sampai acara pernikahannya dibatalkan

Jika kamu sembunyikan di rumah ini, maka kita sama saja dengan melarikan Pipit, akan terkena hukum adat nanti

Mungkin Pipit belum mau jika seperti itu, Yah Tadi Raka sudah memintanya untuk menikah saja, tapi itu belum dipikirkan oleh Pipit saat ini jawabku lagi. Sementara ini dia hanya ingin pernikahannya di Palembang bisa batal Jadi setelah ini Raka akan mencarikan tempat dulu untuk Pipit

Ya sudah, Ayah sepenuhnya percaya padamu, Raka Lakukanlah apa yang menurutmu yang terbaik kata Ayah lagi. Tapi satu pesan Ayah padamu, jangan sampai membuat malu keluarga

Iya, Yah Raka paham. Terimakasih Ayah sudah mendukung Raka

***

Pipit masih bercengkrama di ruang makan bersama Ibu dan adik perempuanku, sementara ayah kembali ke kebun mengawasi para tukang yang sedang memanen duku. Aku masih berada di teras.

Langkah pertama yang aku lakukan adalah aku harus menelpon seluruh sahabatku terlebih dahulu. Bagaimanapun, menghadapi masalah ini aku tak bisa sendiri, aku butuh pertolongan dan pertimbangan mereka, dan hanya mereka yang bisa aku percaya.

Sahabat-sahabatku pada dasarnya memang tidak mengenal Pipit, tapi aku yakin mereka akan mau menerima dengan tangan terbuka, karena ini menyangkut aku, dan akhirnya jadi masalah bersama. Kami memang selalu begitu.

Pertama aku menelpon Didit, kebetulan dia sedang bersama Fredy. Percakapan kami diloudspeaker oleh Didit agar bisa ngobrol bertiga.

Gila lo bro seru Didit terkejut setelah aku menceritakan apa yang terjadi, termasuk kepergianku ke Palembang beberapa minggu yang lalu. Trus, rencana lo gimana?

Gua harus nyari tempat tinggal sementara buat Pipit nih, bro jawabku.

Kalo mau, lu bisa pake kamar di Pondok Annisa kata Fredy.

Orangtua Fredy memiliki rumah kost khusus mahasiswa putri di dekat kampus yang bernama Pondok Annisa. Tempat Kost ini merupakan tempat kost premium yang berharga mahal, fasilitasnya komplit dan mengutamakan ketenangan dan kenyamanan penghuni kostnya untuk belajar.

Nah, bagus juga tuh. Kata Didit.

Kalo ada kamar yang kosong, boleh juga tuh, Pet kataku.

Ada, terakhir gua cek masih ada dua kamar kosong, di lantai 1 ama lantai 3 jawab Fredy.

Kalo bisa yang di bawah aja bro biar kalo mau kemana-mana bisa mudah, termasuk kalo mau kabur

Beres Lu jam berapa mau dateng?

Abis maghrib gua berangkat, langsung ke Annisa?

Ya udah, gua tunggu disana nanti. Abis ini gua mau suruh si Dodo buat nyiapin kamarnya kata Fredy. Dodo adalah orang yang ditugaskan oleh orangtua Fredy sebagai penjaga sekaligus mengurus Pondok Annisa.

Lu udah dan ngasih tau yang laen? tanya Fredy lagi.

Belum Rencananya abis ini gua mau nelpon diorang jawabku.

Udah biar gua aja yang nelponin diorang, biar nanti pas lu nyampe, kita langsung kumpul aja di Annisa

Siip Makasih banyak bro kataku senang. Sampe ketemu nanti malem ya

Oke jawab Didit dan Fredy.

***

Aku menatap gadis berkerudung putih yang sedang bersenda gurau dengan Ibu dan adik perempuanku dari balik lemari. Sesekali dia tertawa, kadan dia tampak serius saat mendengarkan Ibu berbicara, lalu tertawa lagi. Aku mencoba mendengarkan apa yang mereka bicarakan.

Astaga.. Rupanya Ibu sedang menceritakan kelakuanku saat aku kecil

Ehm aku berdehem, tatapan mereka langsung tertuju padaku. Pipit menatapku sambil menahan tawanya.

Lagi ngomongin apa nih Kok perasaan aku gak enak ya kataku.

Mereka langsung tertawa. Gak, ngobrol biasa aja kok jawab Pipit yang langsung diamini oleh ibu dan adikku.

Pit, ke teras lagi yuk kataku mengajak Pipit. Ada yang perlu Kaka bicarakan ama kamu

Ya udah, sana ke depan dulu kata Ibu sambil menyentuh tangan Pipit. Ibu mau bikin pisang goreng dulu

Pipit mengangguk dan tersenyum pada Ibu, lalu kami sama-sama melangkah ke arah teras.

Aku dan Pipit kembali duduk ke tempat tadi.

Rencana Pipit setelah ini mau gimana? tanyaku membuka obrolan.

Pipit belum tahu, Ka jawab Pipit pelan.

Pipit percaya ama Kaka, kan?

Iya.. Pipit percaya ama Kaka Apa kata Kaka akan Pipit turuti

Jadi begini kataku sambil memperbaiki posisi dudukku. Tanganku aku letakkan di meja, lalu menatap Pipit. Kaka mau tanya dulu sama Pipit. Gak apa-apa kan?

Iya

Pipit tahu Sebambangan di adat Lampung, kan? Posisi Pipit yang kabur dari rumah, seandainya Pipit diketahui oleh keluarga Pipit berada di rumah Kaka, maka bisa dipastikan Kaka akan dituduh melarikan Pipit

Pipit mengangguk, serius mendengarkan aku.

Dalam masyarakat adat Lampung, istilah Sebambangan adalah adat yang mengatur pelarian gadis oleh bujang ke rumah kepala adat untuk meminta persetujuan dari orang tua si gadis, melalui musyawarah adat antara kepala adat dengan kedua orang tua bujang dan gadis, sehingga diambil kesepakatan dan persetujuan antara kedua orang tua tersebut.

Secara umum, adat Sebambangan ini sering di sebut dengan Larian.

Logikanya, keluarga Pipit sudah tahu jika Pipit berada disini, dan kewajiban keluarga Kaka harus memberitahukan pada keluarga Pipit bahwa Pipit ada disini, bersama keluarga Kaka.jelasku kepada Pipit. Selanjutnya keluarga Kaka akan menemui keluarga Pipit untuk bermusyawarah sekaligus mengurus pernikahan kita

Tapi disana kan mereka juga sedang mempersiapkan pernikahan Pipit dengan Bram, Ka

Ini dia masalahnya, dalam kondisi seperti ini jika tiga keluarga ini sampai bertemu, pasti akan ribut

Jadi baiknya gimana, Ka tanya Pipit kebingungan. Maafkan Pipit ya, Ka Pipit sebenarnya kabur dari rumah karena ingin menghindari pernikahan dengan Bram, dan jujur Pipit juga gak siap jika kita langsung dituduh larian

Nah, jika begitu Kaka bisa menentukan kita harus bagaimana Kita selesaikan satu per satu masalahnya, ya Kaka minta Pipit percaya sepenuhnya pada Kaka, Pipit juga harus percaya bahwa apa yang akan Kaka lakukan adalah demi Pipit, agar apa yang Pipit mau bisa tercapai

Iya, Ka Pipit pasrah ama Kaka, mau gimana baiknya kata Pipit sambil tersenyum menatapku.

Pipit kabur dari rumah karena ingin menghindari pernikahan dengan Bram, kan? Jika memang begitu, Kaka akan menyembunyikan Pipit di tempat yang Kaka yakin gak akan bisa mereka menemukan Pipit kataku menjelaskan.

Kita akan terus bersembunyi sampai kita mendapat kepastian rencana pernikahan itu batal. Kebetulan, Kaka sudah menemukan tempatnya, semoga nanti Pipit setuju dan cocok dengan pilihan Kaka

Lalu?

Karena Pipit gak mau memakai Sebambangan, maka mohon maaf, jika terjadi sesuatu nanti Kaka minta pada Pipit, jangan sampai membawa nama Kaka dan keluarga Kaka Bukannya Kaka gak mau bertanggung jawab, tapi Pipit tahu jika sampai ketahuan ada Kaka disini, maka keluarga Kaka yang akan mendapat malu

Iya, Pipit paham

Tapi pilihan kita tadi juga kendalanya, jika Pipit gak punya orang yang berpihak pada Pipit di Palembang sana. Karena dia nanti yang memberitahukan apakah pernikahan itu batal atau tidak.

Ada, Ka jawab Pipit. Bang Haiqal tahu pelarian Pipit ini, dan dia mendukung Pipit. Sejak awal dia yang gak setuju dengan Pipit menikah dengan Bram Bang Haiqal juga yang mengatur sampai Pipit bisa lepas dari pengawasan papa dan kabur dari rumah semalam.

Bang Haiqal tahu Pipit kabur kesini?

Iya, Bang Haiqal tahu Pipit kabur ke Lampung dan menemui Kaka, juga Bang Nizam dan Ocha jawab Pipit. Bang Haiqal berpesan agar Pipit bicara dulu dengan Kaka dan tahu dulu gimana tanggapan Kaka, baru diceritakan padanya. Setelah ini Pipit akan menelpon Bang Haiqal. Sementara ini dia yang pasang badan menghadapi Papa disana

Aku terdiam. Bang Haiqal adalah kakak Pipit yang tertua. Usianya 2 tahun di atas aku, dulu dia adalah seniorku saat aku masuk SMA, aku kelas 1 dan dia kelas 3. Aku tau dengan Bang Haiqal, walau belum pernah sekali pun bertemu lagi dengannya bahkan sejak aku pacaran dengan Pipit dulu.

Mendengar penjelasan Pipit, aku bisa merasakan jika saat ini Bang Haiqal mempercayakan Pipit sepenuhnya padaku.

Syukurlah kataku lega. Sungguh aku sangat lega mendengar kabar bahwa Bang Haiqal ada di pihak kami. Kaka lega banget, Pit Mendengar kalo Bang Haiqal yang membela kamu.

Pipit tersenyum manis padaku. Bang Haiqal dan Kaka sama berartinya buat Pipit saat ini

Aduuuuhhh Jadi tersanjung. Sampai sempit nih baju Kaka

Pipit nelpon Bang Haiqal dulu ya kata Pipit sambil mengeluarkan hape dari saku bajunya.

Memangnya papa gak nelpon kamu sejak kamu kabur kemarin, Pit? tanyaku.

Papa gak tahu sama nomor yang ini, hape Pipit yang lama kan disita ama papa jawab Pipit. yang tahu nomor ini hanya Bang Haiqal, Bang Nizam ama Ocha.

Ooo.. Gitu

Iya Sebentar ya, Ka

Silakan

Pipit lalu beranjak dari tempat duduknya, berjalan ke halaman sambil menghubungi kakaknya. Lalu dia duduk di bale bambu di bawah pohon jambu yang rindang. Aku hanya menatapnya dari tempatku duduk ini, menatap gadis yang telah menyita seluruh hidupku selama ini.

Hampir setengah jam aku menatapnya yang sedang berbicara dengan kakaknya di telepon.

Pipit datang menghampiriku. Ka, ini Bang Haiqal mau bicara katanya sambil duduk di sebelahku.

Aku meraih hape yang disodorkan Pipit. Assalamualaikum, Bang

Waalaikumusalaam, Raka?

Iya, bang

Raka, abang minta tolong banget ya ama kamu. Abang percayakan Pipit sama kamu. Tolong kamu bantu dia dan jaga dia, ya

Siap, bang

Raka Kamu tahu kan gimana kerasnya watak Pipit? Abang hanya bisa mendukung dia sampai sejauh ini Abang disini juga sedang berusaha menjaga papa, sejak dia tahu Pipit kabur dia ngamuk-ngamuk terus

Siap, bang Insya Allah Raka akan menjaga Pipit sekuat tenaga

Pipit mencibirkan bibirnya dengan lucu ke arahku.

Pipit juga sudah cerita sama abang, tentang kamu dan tentang bagaimana hubungan kalian. Makanya saat dia bilang dia mau kabur dari rumah dan dia bilang dia akan minta tolong padamu, abang setuju. Entah kenapa feeling abang bilang kalo kamu bisa dipercaya, abang yakin kamu akan menjaga Pipit dengan sungguh-sungguh

Makasih, bang Sudah percaya sama Raka. Insya Allah akan berusaha amanah, bang

Syukurlah kalo begitu Ya sudah, kamu aturlah gimana bagusnya. Nanti kamu minta nomor hape abang ama Pipit, supaya kita bisa saling kontak

Iya bang, akan Raka lakukan Sekalian minta tolong abang untuk terus mengabari kami, bagaimana situasi di Palembang.

Iya, itu memang yang abang mau

Oh iya, bang Kabar papa gimana?

Wah, dari pagi saat tau Pipit kabur dari rumah, dia marah-marah terus Lumayan juga abang sampai mabok ngeladenin dia, hahaha

Trus ada kabar dari keluarga Bram, bang? tanyaku kepo.

Nah, itu lagi yang bikin abang naik darah. Tadi pagi mereka langsung kemari begitu papa mengabari mereka. Orangtuanya marah-marah gak karuan tadi, bilang papa gak bisa menjaga si Pipitlah, bilang bikin malu karena undangan sudah di sebar lah, rugi banyak lah kalo pestanya gak jadi.

Kalo abang sih, gak peduli Karena yang ngotot ingin pesta besar-besaran kan, mereka Pipit hanya minta syukuran sederhana aja. Kalo sekarang sudah begini, salah siapa, coba? Yang mau acara gede-gedean mereka sendiri kok, ya kalo malu memang semuanya malu Tapi masa bodoh, lah

Raka khawatir sama kondisi Papa, bang Takutnya beliau sampai kenapa-napa karena tekanan yang begitu besar.

Sudahlah, itu tanggung jawab abang, Ka Terimakasih kamu sudah khawatir pada beliau, abang hargai banget itu Sekarang tugasmu abang minta untuk menjaga Pipit dengan sebaik-baiknya selama dia disana, ya Sisanya biar jadi urusan abang, abang juga berdoa semoga tak sampai terjadi hal-hal yang diluar kemampuan kita

Iya bang

Ya sudah kalo begitu, abang serahkan keselamatan Pipit padamu selama di sana, ya Abang percaya sama kamu Lakukanlah apa yang menurut mu yang terbaik, dan jangan lupa untuk selalu kabari abang

Siap bang, akan Raka kerjakan

Oke, gitu dulu ya, Ka Semoga suatu saat kita bisa ketemu, dalam keadaan yang lebih baik dan lebih menyenangkan, tentunya Assalamualaikum

Makasih, bang Waalaikumussalam.

Aku kembalikan hape itu pada Pipit.

Wah, langsung akrab nih goda Pipit.

Kalo sama abang ipar, Kaka memang akrab, Pit kataku balas menggodanya. Tapi sama papa mertua ini kataku sambil menepuk jidat.

Wajah Pipit memerah karena malu mendengarkan candaanku. Tangannya langsung mencubitku dengan gemas.

Aduuuh. Ini cewek kok ya seneng amat nyubit ya sekarang Perasaan dulu gak gini, deh

Rasain katanya sambil mencibir kepadaku.

Aku menatap Pipit dalam-dalam. Aku tak bisa memungkiri, berada dekat dengannya sangat membuatku bahagia, walau dihadapan kami ada masalah yang teramat besar, tapi aku sangat bahagia bisa sedekat ini dengan Pipit, menikmati saat dimana Pipit menjadi tanggungjawabku.

Pipit balas menatapku, seutas senyum manis menghias bibirnya. Tubuhnya menyender di kursi, menatapku dengan penuh perasaan.

Semoga masalah ini cepat selesai ya, Ka

Iya Kaka juga berharap begitu

Terimakasih karena sudah mau membantu Pipit Kaka memang baik banget sama Pipit

Aku hanya bisa tersenyum, berharap tatapan mataku ini bisa menyampaikan rasa cintaku pada Pipit.

Sekarang, kamu istirahat, ya Pasti perjalanan sejak semalam sangat melelahkan kamu kataku pada Pipit. Usahakan tidur, biar nanti bisa segar lagi. Habis magrib kita berangkat ke tempat Pipit nanti akan tinggal sementara

Dimana itu, Ka?

Di Bandar Lampung, dekat Kampus Gedong Meneng Sahabat Kaka punya rumah kost khusus putri disana, kebeneran ada kamar yang masih kosong

Ooh, gitu

Iya.. Kan kalo Pipit tinggal disana, Kaka pulang pergi kerja ke Metro pun mudah Selama Pipit disana, biarlah Kaka kerja pulang pergi, gak nginep di Metro

Pipit merepotkan Kaka, jadinya

Gak masalah, Pit Kaka akan lebih tenang dengan begitu

Makasih banyak ya, Ka Makasih banget

Anything, my love

Pipit tersenyum lembut padaku. Aku merasa bagaikan di surga.

Sudah, yuk Sekarang kamu istirahat dulu Kalo mau mandi, ya mandi dulu baru istirahat

Iya, Ka jawab Pipit. Lalu kami bangkit. Aku menarik koper Pipit ke dalam rumah dan membawanya ke kamar tamu.

Sebelum menutup pintu kamar, Pipit berkata padaku.

Rasanya Pipit bahagia banget, Ka Bisa berada di dekat Kaka, bisa merasakan tanggung jawab yang Kaka tunjukkan pada Pipit Rasanya menyentuh sekali

Aku hanya bisa tersenyum, tak tahu harus berkata apa.

Tapi aku juga merasakan bahagia yang sama, kekasihku Semoga kamu bisa merasakannya

Bersambung