True Love Part 22

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat

Cerita Sex Dewasa True Love Part 22 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerrita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa True Love Part 21

I Just Cant Stop This Feeling Anymore (3)

Bang Bram. kata Pipit terkejut. Aku menatap Pipit dengan penuh pertanyaan, siapa Bang Bram?

Seketika kami melepaskan pegangan kami.

Bang, ini kenalin Ini yang namanya Raka. kata Pipit setelah berhasil menguasai diri, kepada lelaki yang baru datang itu.

Aku menatap si lelaki yang tampaknya masih marah itu, mencoba tersenyum sambil menanggukkan kepala.

Ooo jadi ini budak yang namonyo si Raka itu kata si lelaki sambil maju menghampiri kami.

Aku melihat wajah Pipit yang terlihat masih sangat khawatir itu, kemudian kembali menatap kepada lelaki yang kini sedang maju menghampiri kami dengan langkah lebar. Aku mengulurkan tanganku, mengajaknya bersalaman.

BUUGGGHH.!

Uluran tanganku ditepisnya dengan tangan kiri, dan tangan kanannya maju secepat kilat menghantam pipiku. Tinjunya bersarang telak di pipi kiriku, dan seketika aku terhuyung ke belakang.

Bang Bram! jerit Pipit sambil menubruk si lelaki agar menjauhiku. Abang ini apa-apaan sih??

Masih juga kamu bertanya abang mau ngapain! bentak si lelaki kepada Pipit, kemudian kembali menatapku dengan penuh kebencian.

Sori, bro gue bisa jelasin kataku mencoba meredakan emosinya, juga berusaha meredam emosiku. Pit, siapa orang ini..? tanyaku pada Pipit.

Bang Bram ini calon suami Pipit, Ka jawab Pipit pelan. Oh, gitu.

Si Bram kembali maju menghampiriku,

Lo mau ngejelasin apa, hah?? katanya sambil mendorong bahuku dengan kedua tangannya.

Aku kembali terdorong mundur. Aku menatap Pipit, tapi Pipit malah menggeleng, menahanku untuk tidak ikut terpancing emosi.

Lah, lo kenapa tiba-tiba malah mukul gue?

Waah, masih belagak gak ngerti lo! Gue gak terima lo megang-megang calon bini gue! katanya dengan kasar sambil terus mendorong bahuku. Aku semakin terdorong ke belakang.

Pipit maju dan berusaha menarik Bram, tapi Bram dengan kasar mengibaskan tangannya hingga tarikan Pipit terlepas.

Bang Bram! Sabar, bang! jerit Pipit. Abang ini kenapa sih malah ngamuk-ngamuk?? Sabar sedikit kenapa??? Pipit bisa jelasin semua ke Abang.

Bram malah berbalik, dan langsung jari telunjuknya menunjuk tepat ke wajah Pipit.

Kau diem bae! Ini urusan wong lanang! bentaknya kasar.

Aku hampir maju untuk menyerang si Bram, namun ketika aku bertemu pandang dengan Pipit, aku tak jadi menyerang. Tatapan mata Pipit melarangku meladeni emosi si Bram. Sekilas aku mengangguk pada Pipit.

Jangan kasar begitu sama calon istri sendiri, boss kataku sambil menepuk bahu Bram.

Tapi Bram malah berbalik, tangannya langsung melayang meninju wajahku. Aku mengelak, pukulannya melayang melawatiku. Rupanya itu memancing emosi Bram, dia kembali menyerangku dengan membabi-buta. Mulutnya memakiku dengan semua sumpah serapah, tangannya melayangkan pukulannya dari kanan dan kiri, bahkan kakinya juga berusaha menyerang dan menendang ke arahku.

Aku hanya mencoba menghindar sebisaku, menangkis serangannya tanpa berusaha membalasnya. Beberapa pukulannya masuk ke tubuhku walau telah aku tangkis, tapi tak cukup untuk bisa merubuhkanku.

Serangan Bram semakin menggila, dia sudah sepenuhnya mengamuk dengan emosi tinggi karena tidak semua serangannya yang masuk ke tubuhku. Meja dan kursi di ruangan itu sampai bergeser dengan ributnya karena dorongan tubuh kami yang sedang berkelahi. Sementara Pipit hanya bisa menjerit-jerit mencoba melerai perkelahian kami.

Buaaaghhh!

Sebuah tendangan Bram masuk telak ke perutku, rasanya lumayan juga. Aku sampai terhuyung kebelakang, menabrak meja yang tadi aku duduki berdua Pipit. Meja itu tergeser keras, seluruh benda yang ada di atasnya berhamburan ke lantai, menimbulkan suara hingar bingar dari gelas kopi dan piring yang pecah berantakan.

Melihatku yang terhuyung, Bram semakin kalap. Kakinya terangkat menendang wajahku. Untungnya kini aku sudah siap, aku hanya menggeser sedikit kepalaku, dan meraih kaki Bram yang sedang melayang itu untuk kemudian menghempaskannya kesamping. Bram terhuyung karena tenaga tendangannya sendiri.

Anjiiinggg! bentaknya penuh amarah. Gue bunuh lo! katanya sambil meraih kursi lipat stainless yang berada di dekatnya. Di ayunkannya kursi itu ke tubuhku dengan keras.

Aku hanya mampu mengangkat tangan kiriku, mencoba melindungi kepalaku.

Bang Braaam.! Jangaaaannnn! terdengar jeritan Pipit yang ketakutan.

Bruaaakkk.!

Kursi itu menghantam telak tangan kiriku. Seketika rasa nyeri yang teramat sangat menjalar dari siku hingga ke bahuku. Kepalaku juga terasa pening karena tetap saja ada sedikit bagian kursi itu yang mengenai kepalaku. Aku sampai jatuh dengan sebelah lututku menyentuh lantai. Tangan kiriku semakin terasa nyeri. Aku melihat Bram sudah kembali mengangkat kursi yang dipegangnya, siap menghantamkannya kembali kepadaku yang kini sedang jatuh berlutut.

Aku hanya bisa pasrah. Mencoba mengangkat tanganku berusaha melindungi kepalaku.

Aku melihat Pipit memeluk Bram dari belakang, berusaha menahan Bram yang akan menyerangku. Bram memang tak jadi menghantamku dengan kursi, dia berusaha melepaskan Pipit terlebih dahulu. Sempat terjadi keributan di antara mereka, Pipit yang mencoba menahan Bram sementara Bram masih sibuk memaki dan ingin menghantamku.

Saat itulah dua orang sekuriti berlari masuk ke ruangan itu, sementara di pintu aku melihat ternyata telah ramai dengan pegawai kantor itu yang melihat keributan kami. Aku juga melihat bang Nizam menerobos masuk mengikuti kedua sekuriti yang kini telah memegang Bram, dan berusaha menariknya ke belakang.

Lepaske! Lepas! Biar ku bunuh bae budak sikok itu! teriak Bram kasar sambil berusaha melepaskan diri dari pegangan kedua sekuriti itu. Tangan dan kakinya menerjang membabi buta. Kedua sekuriti itu tampak kewalahan menghadapi Bram yang mengamuk. Suaranya semakin membuat suasana kantor itu semakin rusuh, pegawai yang menonton pun semakin gaduh.

Bang Nizam yang sudah hampir sampai menghampiriku, berbalik menatap Bram yang sedang mengamuk saat dipegangi kedua sekuriti itu. Dengan cepat bang Nizam menghampiri Bram, menarik kerah bajunya dan memutar tubuh Bram dengan kuat.

Tangan Bram di pelintirnya keras ke punggung, Bram menjerit kesakitan, bang Nizam menahan puntiran tangan Bram sampai Bram lemas menahan sakit. Sebagai mantan anggota TNI tentu mudah bagi bang Nizam untuk membekuk Bram yang sedang kalap.

Bawa dia keluar! kata bang Nizam setelah Bram lemas kehabisan tenaga. Kedua sekuriti itu segera menggiring Bram keluar setelah mengucapkan terimakasih atas bantuan bang Nizam. Pipit mengikuti mereka.

Kemudian bang Nizam menghampiriku.

Kau dak apo-apo dek? tanyanya.

Idak, bang kataku sambil berusaha berdiri. Bang Nizam langsung membantuku dan memapahku. Aku mengernyit menahan sakit di bahu kiriku ketika bang Nizam memapahku.

Siapo lawan kau tadi? tanya bang Nizam

Itu calon lakinyo Pipit jawabku.

Pipit?

Pipit itu mantan aku yang ku ceritoke kemarin, bang

Yang berjilbab tadi? Yang nangis tadi? Aku mengangguk.

Cantek nian dio itu kekeh bang Nizam. Pantaslah kau wong beduo laju gelut cak ini

Aih, abang ini

Apa kito langsung balek bae? tanya bang Nizam.

Iyo bang jawabku lemas. Kito balek bae

-oOo-​

Kami sampai di parkiran, Bang Nizam membukakan pintu kiri Altisnya, dan aku melangkah masuk dan menghempaskan tubuhku di jok mobil. Kemudian bang Nizam berputar dan masuk ke bangku pengemudi, menyalakan mesin dan menghidupkan AC.

Bang, tolong aku bang kataku.

Bang Nizam menoleh padaku. Ngapo?

Hape aku ketinggalan di ruangan tadi Jatoh waktu kami berkelahi. Tolong ambekkan bang

Iyo kata bang Nizam sambil membuka pintu. Kau tunggu bae disini

BB sikok, bang Sikoknyo lagi android kataku lagi.

Iyo kata bang Nizam sambil melangkah pergi.

Selama bang Nizam pergi aku mencoba mengurut lengan dan bahu kiriku, tapi rasanya sakit sekali. Sepertinya ini terkilir. Lengan ini sekarang susah di gerakkan, semakin aku coba rasanya semakin sakit.

Akhirnya aku merebahkan diriku di kursi, menenangkan diri dengan sejuknya hembusan AC mobil ini.

-oOo-​

Bang Nizam membuka pintu dan langsung masuk ke bagian pengemudi. Tangannya mengulurkan kedua hapeku.

Yang sikok layarnyo pecah, dek katanya sambil memperlihatkan androidku.

Lamo nian bang kataku pada bang Nizam. Apo hilang tadi?

Idak jugo kata bang Nizam mulai mengemudikan mobilnya meninggalkan perkantoran tersebut.

Tangan kau itu cak nyo terkilir kata bang Nizam.

Nian, bang Susah nian nak aku gerakke Sakit

Kito ke rumah abang bae cak itu kata bang Nizam. Umak di rumah pacak ngurut

Toyota Altis hitam itu kemudian melaju, menyeberangi jembatan sungai Musi menuju ke arah Plaju, ke rumah bang Nizam.

-oOo-​

PoV Bang Nizam

Aku melangkah kembali memasuki kantor itu, menghampiri kedua sekuriti di meja kerjanya. Sejak menunggu Raka menemui mantan pacarnya tadi, aku sudah ngobrol akrab dengan kedua sekuriti itu. Yang satu bernama Sulaiman,dan yang satu lagi bernama Murad.

Man sapaku pada Leman.

Woy ado bang Nizam.. Ngapo bang?

Anterke ku balek ruangan tadi, Man Hape boss ado tejatoh di situ tadi aku menyebutkan Raka sebagai boss pada mereka.

Payo bang Melok aku kata Leman mengajakku ke lantai 2, ke ruang rapat tempat Raka tadi berkelahi.

Man, lawannyo boss aku tadi siapo, Man? tanyako pada Leman.

Oo itu namonyo Pak Bram Maulana, bang Dio itu calon lakinyo betino yang di temui boss abang tadi

Wongnyo cak mano dio itu?

Biaso bae, bang Anak wong kayo, jadi pacaklah sombong sedikit, apolagi samo kami wong kecik ini

Ujinyo wong alim dio itu kataku mengingat Raka pernah bilang mantan pacarnya mencari calon suami yang alim dan bisa menjadi imam bagi keluarga.

Hahaa.. Alim apo dio, bang Kata Leman sambil tertawa. Samo bae, lah Biji nangko galo Wong alim itu adonyo di masjid, bang Kalo di kantor cak ini, yang icaknyo alim yang banyak, haha.

Aku tertawa mendengar kelakar Leman. Memahami maksud ucapannya. Aku tertawa geli sendiri mendengar istilah Leman tentang Biji Nangko Teringat hikayat Si Nasi Rames. Parah. Ha..ha

Akhirnya kami berdua sampai kembali ke ruangan rapat itu. Aku segera mencari hape Raka. Ada, memang tergeletak di lantai, bertaburan bersama pecahan piring dan gelas serta tumpahan kopi. Aku memunguti keduanya. Android layar 5 incinya pecah, sementara BB nya tampak tak masalah.

Ado, Man Ado keduonyo kataku kepada Leman.

Baguslah, bang belum ado yang beresi ruangan ini kata Leman padaku.

Aku balek, Man Mokase banyak kataku sambil menepuk bahu Leman.

Samo-samo, bang jawab Leman. Amon ado apo-apo kabarke aku bae, bang

Iyo jawabku sambil melambaikan tangan pada Leman.

Aku kemudian melangkah menyusuri koridor lantai 2 itu, menuju ke arah tangga untuk turun kembali. Di depan sebuah ruangan aku berpapasan dengan seorang gadis berjilbab yang baru keluar dari ruangan itu. Gadis itu menatapku, seperti mengingat-ingat siapa aku. Ah, gadis ini yang tadi ada di ruangan saat Raka berkelahi. Ini dia yang namanya Pipit, mantannya si Raka.

Permisi, dek sapaku padanya.

Bapak ini kan. Kata Pipit sambil menatapku, dia masih agak ragu.

Iya, saya tadi yang bersama dengan Pak Raka Saya yang menyupiri Pak Raka selama beliau di Palembang

Oh iya, saya baru ingat. Maaf ya Pak, tadi itu suasananya kacau banget keluh gadis itu.

Gak apa, dek Wajar lah itu kataku padanya.

Oh iya, ada apa Bapak balik lagi? Rakanya mana? tanya gadis itu lagi.

Oh, ini saya dari ruangan yang tadi, hapenya pak Raka ketinggalan di sana kataku sambil memperlihatkan kedua hape milik Raka pada gadis itu.

Yaa ampuuunnn katanya sambil meraih android. Layarnya sampai pecah begini.

Ya, namanya juga orang berkelahi, dek Orang lagi emosi, wajarlah

Gadis itu terdiam, kemudian mengembalikan android itu kepadaku.

Raka dimana, Pak? tanyanya.

Sudah di mobil Ini saya mau langsung permisi kalo begitu, saya mau membawa Pak Raka ke tukang urut dulu

Memangnya Raka kenapa, Pak? kata sang gadis sambil menatapku dengan wajah penuh kecemasan.

Sepertinya tangannya terkilir Yah, semoga hanya terkilir, bukan patah tulang atau gimana jawabku jujur, karena memang belum tahu kondisi Raka sebenarnya.

Astaghfirullah kata sang gadis sambil termenung, aku kasihan sekali melihat ekspresinya khawatir begitu.

Sudahlah, dek kalo Pak Raka biar saya yang mengurusnya. Kalo adek nanti ikut membantu, malah calon suami adek nanti bisa marah lagi kataku mencoba menenangkannya.

Iya, pak.. Tolong saya untuk membantu Raka, ya Jika sakitnya parah tolong antarkan ke rumah sakit saja, lalu tolong hubungi saya Nomor hape saya ada sama Raka katanya dengan wajah yang sungguh-sungguh meminta bantuanku.

Gadis ini sama sekali tidak bisa menyembunyikan perasaannya, bahwa dia masih peduli pada Raka, bathinku.

Saya masih mau menemui calon suami saya dulu kata sang gadis lagi, tadi dia masih mengamuk, Pak Masih emosi dan marah-marah Bukan cuma sama saya, tapi semua orang di kantor ini dimarahi semua sama dia

Aku bisa melihat sang gadis kini sangat kesusahan.

Dek Maaf kalo saya lancang bicara begini sama adek kataku padanya, sang gadis menatapku dengan penuh tanda tanya.

Saya memang cuma sekedar supir yang kebetulan mobilnya disewa oleh Raka. Tapi saya merasa Raka itu anak yang baik, karena dengan saya saja yang hanya sekedar beberapa hari menjadi supirnya, dia bisa berlaku baik dan akrab sekali dengan saya Dia menghormati saya yang lebih tua dari dia Dia sama sekali tidak pernah merendahkan saya atau hanya menganggap saya hanya sekedar supir

Gadis itu terdiam menatapku, menanti apa yang akan aku katakan lagi.

Kemarin saya sempat ngobrol lama dengan Raka, dimana dia menceritakan maksud tujuannya datang ke Palembang kataku lagi. Dia datang ke Palembang ini, karena dia sangat ingin bertemu dengan adek

Raka cerita apa sama Bapak? tanya si gadis tak sabar.

Dia bilang adek akan segera menikah, makanya dia datang kemari agar bisa bertemu adek, karena mungkin ini akan menjadi pertemuan terakhir dia dengan adek lanjutku. Raka bilang, dia sudah ikhlas adek jadi milik orang, padahal dia sendiri masih sangat berharap bisa mempersunting adek Tapi dia mengalah, di ikhlaskan adek jadi milik orang lain.

Gadis itu menghembuskan nafasnya dengan gundah.

Dia bilang alasannya adalah karena dia sadar kalau dia belum layak buat adek, karena adek mencari seorang lelaki yang memiliki pengetahuan agama yang tinggi, yang bisa menjadi imam dalam keluarga yang akan adek bentuk Dan Raka bilang adek sudah menemukan lelaki itu, yang menurut adek adalah yang terbaik, dan adek memilih dia untuk jadi suami adek Karena adek sudah menemukannya, maka si Raka akhirnya mengalah Dia sadar pada keadaan dirinya sendiri

Sang gadis menatapku dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

Tapi saya mohon maaf yang sebesar-besarnya pada adek kataku pada si gadis, Maafkan saya karena sudah lancang menilai orang

Aku menghembuskan nafas, mencoba untuk tenang agar sang gadis tidak tersinggung dengan ucapanku ini.

Orang yang saya lihat di ruangan tadi, sama sekali tidak mencerminkan sosok orang alim dan calon imam yang baik. Tapi yang saya lihat hanyalah seorang lelaki yang tak mampu mengendalikan diri, yang mengamuk membabi-buta, sama sekali tak mampu mengendalikan emosi. Saya sendiri sampai bertanya-tanya kataku perlahan kepada si gadis.

Inikah lelaki alim yang telah adek pilih untuk menjadi imam bagi keluarga adek nanti, seumur hidup?

Si gadis tampak terkejut, matanya menyala menatapku.

Jika memang itu adalah lelaki alim yang adek pilih untuk menjadi imam bagi adek.

Ku hentikan ucapanku sambil menggelengkan kepala. Aku tatap sang gadis dengan harapan agar dia segera menyadari.

maka kasihan si Raka, dek Dia ikhlas melepaskan adek karena menyangka dia telah dikalahkan oleh orang yang lebih baik dari dirinya Tapi ternyata?? aku tak sampai hati meneruskan ucapanku. Aku sampai terdiam sendiri

Maafkan saya… Permisi kataku akhirnya, dan berbalik melangkah meninggalkan sang gadis yang masih berdiri terpaku menatapku.

***

Kembali aku kini duduk menatap ke arah jendela kereta yang membelah malam, mencoba meresapi bayangan gelap diluar sana yang berlari ditinggalkan laju kereta.

Aku pulang.

Pulang ke Lampung, dengan sedikit membawa oleh-oleh lebam di beberapa tempat di tubuhku.

Lebam sampai ke dalam hati.

Aku hanya berpamitan pada Ocha, dan diantar oleh bang Nizam sampai ke stasiun Kertapati.

Aku bahkan tak sempat berpamitan pada Pipit. BB-ku error karena terjatuh saat aku berkelahi dengan Bram, calon suami Pipit. Sementara androidku layarnya pecah. Ya sudah, tak ada yang bisa aku hubungi. Di hape baru yang sempat aku beli hanya ada nomornya Ocha dan Bang Nizam.

After tonight, I never will be the same again
This time I’m sure that nothing means more
Than giving you all the love I can
After tonight I promise, I’m gonna be a better man
Just hold me tight, and I’ll be all right
After tonight

Ya. Alunan nada di headset yang menempel di telingaku ini sepertinya benar.
Sepertinya setelah malam ini, aku bukan menjadi Raka yang dulu lagi.
Setelah malam ini, semua tak akan pernah sama lagi.

Aku kini kembali ke tempat asalku, membawa kekalahan yang sudah bisa dipastikan.
Aku meninggalkan kota Palembang, kota dimana beberapa hari lagi Pipit akan disunting orang.

Semoga aku bisa segera melupakan semua kenangan ini, melupakan semua yang telah terjadi antara aku dan Pipit. Bahkan jika bisa, aku ingin segera melupakan Pipit.

Menjalani hari yang baru, sebagai orang yang baru.
Orang yang sadar bahwa cinta yang selama ini dikejarnya sudah tak ada lagi.

Sejak awal bertemu saat SMA dulu, hingga kemarin saat Bram menghajarku, Pipit tak pernah benar benar bisa lenyap dari ingatanku. Selalu saja bayangan dan kenangan tentangnya hadir, tak hanya disaat hatiku sedang sedih merindukannya, bahkan saat bergoyang di atas perut seorang wanita pemijat pun aku sering teringat padanya.
Tak ada sedikitpun dari seluruh aspek kehidupanku yang benar-benar terbebas dari bayangan Pipit.

Entah kenapa aku bisa begitu bodoh, tak mampu untuk sekedar melenyapkan perasaanku pada gadis yang sempat sebentar menjadi pacarku, meninggalkan aku dengan penuh kekejaman.
Aku tak bisa melupakan Pipit. Selalu saja aku akan kembali mengenangnya, kembali merindukannya.

Dan kemudian kembali berharap bisa kembali padanya.

Pelukan yang diberikan Pipit, serta izinnya untuk aku mencium keningnya.

Tinju Bram di wajahku dan pukulannya dengan kursi lipat yang hampir mematahkan lenganku.

Bang Nizam yang baik hati serta keluarganya yang hangat, terutama ibunya yang mengurutku dengan telaten, serta si kecil Zahra yang menggemaskan.
Kasih sayang yang ditunjukkan Ocha, serta wajah paniknya saat melihat wajahku penuh dengan lebam.

Kenanganku yang terakhir di Palembang, saat aku menemui Pipit beberapa hari sebelum pernikahannya. Hanya inilah yang tersisa, kenangan.

Mungkin besok aku akan menghapus semua kenangan tentang Pipit dan segala hal yang berhubungan dengan dia, dan kemudian bersyukur karena memiliki saudara baru bernama Bang Nizam, serta adik cantik bernama Ocha yang berjanji akan menjengukku di Lampung suatu saat nanti.

Ada pahit, dan ada pula yang manis.

Bayangan gelap pepohonan itu seakan berlari ke belakang kereta.

After tonight, I never will be the same again
This time I’m sure that nothing means more
Than giving you all the love I can
After tonight I promise, I’m gonna be a better man
Just hold me tight, and I’ll be all right
After tonight

Semoga setelah malam ini, semua akan berbeda. Menjadi lebih baik.

Aku ingin menjadi Raka yang baru, yang akan melangkah tanpa ada bayangan Pipit lagi, melepaskan semua kenangan tentangnya, menguburnya dalam ruang terdalam dari ingatanku.

Aku memejamkan mataku, membayangkan kota Palembang yang aku tinggalkan di belakang sana.

Selamat tinggal, Cinta Sejatiku

Bersambung