True Love Part 21

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat

Cerita Sex Dewasa True Love Part 21 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerrita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa True Love Part 20

I Just Cant Stop This Feeling Anymore (2)

Bang Nizam sudah menungguku sejak jam delapan pagi, sementara karena pertempuranku dengan Ocha, aku baru turun jam sepuluh pagi. Setelah sarapan dengan Bang Nizam, kami pun berangkat menuju kantor Pipit yang hanya berjarak kurang dari 3 Km dari hotel tempatku menginap.

Sesampainya di kantor itu, aku melapor kepada security yang bertugas dan menjelaskan keperluan kedatanganku, aku kemudian menunggu di lobby kantor tersebut sementara sang security menjemput Pipit ke ruangannya.

Aku menunggu sekitar lima belas menit, kemudian sang security mempersilahkan aku untuk mengikutinya ke lantai 2. Dia mengantarkan aku menuju sebuah ruang rapat kecil yang berisi beberapa meja dan bangku, yang saat itu sedang kosong karena tidak dipergunakan. Menurut penjelasannya, Pipit akan menemuiku di ruangan ini.

Tak lama kemudian, Pipit masuk ke ruangan itu, dimana aku sudah menantinya dengan berdebar.

Assalamualaikum, Ka. Sapanya sambil tersenyum padaku.

Waalaikumussalam, Pipit aku berdiri menyambutnya. Sungguh aku bahagia sekali bisa bertemu kembali dengan Pipit. Aku tak dapat menyembunyikan senyum bahagiaku.

Silakan duduk, Ka kata Pipit sambil menarik kursi yang berada di depan meja tempatku duduk.

Kini aku dan belahan jiwaku, duduk berhadapan dengan hanya dipisahkan oleh sebuah meja.

Kaka kapan sampai di Palembang?

Kemarin, Pit Minggu pagi, naik kereta

Kebenaran mampir aja, kan? Bukan khusus nyariin Pipit,,,?

Gak Memang datang untuk khusus nyariin Pipit, kok

Pipit tersenyum, menggelengkan kepalanya.

Mau ngapain sampai khusus datang buat nemuin Pipit? Bukannya nanti aja datengnya saat Pipit nikah

Itu dia, Kaka memang sengaja datang sebelum Pipit nikah Malah saat nikah nanti Kaka yang gak tau akan datang atau gak

Kok gitu? Emang gak mau hadir saat Pipit nikah nanti?

Menurut kamu, Kaka akan sanggup gak ngelihat kamu nikah ama orang lain?

Kok gak ikhlas begitu? Artinya Kaka gak suka dong ngelihat Pipit bahagia

Iya Jujur Kaka masih belum ikhlas Makanya Kaka datang langsung menemui kamu, memang sudah sangat terlambat, tapi Kaka masih sangat berharap

Pipit terdiam, matanya kini lekat menatapku.

Kaka masih berharap Pipit yang menjadi istri Kaka kataku lirih.

Kaka tahu itu jelas sudah gak mungkin

Kenapa gak? Kamu masih belum menikah kan saat ini? Kamu masih bebas belum ada yang memiliki, masih belum ada yang mengikat

Tapi Pipit sudah bertunangan

Setahu Kaka dalam Islam gak ada istilah pertunangan

Pipit terdiam.

Kaka memintamu dengan kesungguhan hati, Pit Menikahlah dengan Kaka Jadilah istri Kaka

Pipit gak bisa, Ka jawab Pipit lirih sambil menatapku. Kaka tahu Pipit gak bisa

Karena orang yang melamar ini kataku sambil menunjuk diriku, adalah Kaka?

Iya Karena Kaka Pipit sudah mengubur semua harapan Pipit bisa bersatu dengan Kaka Jangan tanya lagi alasannya kenapa jika sekarang Kaka gak sanggup untuk sakit hati lagi karena alasan Pipit

Aku menghela nafasku berat. Aku tersenyum pada Pipit yang masih tetap menatapku.

Dari tadi kamu menatap Kaka terus, gak kayak biasanya kataku, seketika itu juga Pipit melengos membuang muka.

Ah, Kaka ini. Keluhnya jengah.

Apakah sama alasannya? tanyaku.

Alasan apa yang sama?

Kaka dari tadi juga menatap kamu terus, itu semua karena Kaka kangen banget ama kamu. kataku. Kalo kamu, karena alasan apa menatap Kaka terus dari tadi?

Pipit menatapku dalam-dalam, seperti hendak mengucapkan sesuatu tapi tak jadi. Kemudian malah menunduk seraya menghembuskan nafas dengan gundah.

Maafkan Pipit, Ka Pipit juga masih manusia biasa katanya perlahan. Pipit juga gak mampu menahan diri, maafkan Pipit

Aku mengerti maksudnya. Aku sangat mengenal Pipit. Perpisahan kami sekian tahun ternyata tak mengubah diri kami masing-masing.

Kami saling menatap. Sama-sama mengakui bahwa alasan kenapa kami saling menatap sejak tadi karena kami saling merindukan.

Sama-sama mengakui mungkin ini akan jadi yang terakhir, dan tak akan ada pernah kesempatan lagi.

Bisa jadi, ini adalah pertemuan kami yang terakhir. Jika saat disini masih ada rasa cinta dan kasih sayang di antara kami yang masih ada dan belum terungkap, biarlah semua terbuka jujur saat ini.

Masing-masing hati kami mungkin saat ini sama-sama berkata, Izinkan aku menatapmu untuk yang terakhir kali, rasakanlah cinta dan kasih sayangku, rasakanlah semua rinduku padamu

Kenapa semua ini harus terjadi pada kisah kita, Pit? Kenapa dua orang yang masih saling mencintai malah gak bisa bersatu keluhku, sungguh merana rasanya.

Entahlah, Ka Mungkin ini semua terjadi karena bukan hanya cinta yang bicara, karena yang namanya cinta kadang bertingkah gak masuk akal. Tapi semua yang terjadi ini memang sudah Pipit ikhlaskan terjadi pada Pipit Ini yang sekarang masuk akal buat Pipit, paling logis yang bisa Pipit terima

Tak inginkah kamu membela rasa cintamu pada Kaka? Keinginan tersembunyi walau pun kecil, yang mungkin bisa menguatkan Kaka untuk merebutmu?

Pipit gak akan jawab geleng Pipit sambil tersenyum padaku.

Kaka akan lakukan apa saja jika Pipit memang ingin Kaka berjuang merebut Pipit terakhir kali ini

Sudahlah, Ka Kisah kita sudah berakhir, gak ada yang perlu kita paksakan lagi

Tapi Kaka masih yakin kamu masih mencintai Kaka

Mungkin kata Pipit sambil mengangkat bahu.

Lalu kenapa kamu melarang Kaka untuk berjuang mendapatkan kamu? Ini sudah genting sekali, Pit Sebentar lagi kamu akan jadi milik orang

Makanya Pipit tadi bilang mungkin Mungkin Pipit memang masih mencintai Kaka, tapi mungkin juga Pipit sudah gak cinta lagi, kan?

Tapi tatap matamu gak bisa bohong, Pit desisku. Cintamu masih sama besarnya dengan Kaka mencintaimu saat ini

Kaka memang bodoh! bentak Pipit tiba-tiba. Gimana bisa Pipit bisa melupakan Kaka? Kaka kira Pipit akan mudah melupakan Kaka? Gak, Ka Susah sekali melupakan Kaka!

Aku terkejut melihat Pipit terlihat begitu emosi. Semua hal yang selama ini selalu ditahan oleh Pipit kini seakan tumpah bagaikan bendungan jebol. Pipit mengungkapkan seluruh isi hatinya.

Kaka adalah yang pertama buat Pipit. Kaka adalah cinta pertama Pipit, segala yang terjadi pada Pipit pertama kali Pipit lakukan semuanya bersama Kaka. Jika sudah begitu gimana bisa Kaka punya pikiran kalo Pipit mudah melupakan Kaka? Pipit gak usah cerita deh, betapa Pipit selalu mendoakan Kaka, berharap Kaka bisa menjadi yang terbaik buat Pipit.

Seandainya Kaka bisa mengerti betapa besar harapan Pipit pada Kaka, Kaka gak akan dengan mudah melakukan hal-hal yang malah menghancurkan hati Pipit Tapi sekarang lihat, mana pengertian Kaka pada perasaan Pipit? Ingat apa yang malah Kaka ceritakan pada Pipit? Kalo ingat, sekarang jangan tanya kenapa Pipit gak memilih Kaka

Aku menatap Pipit dengan takjub. Sejak kami berpisah, baru sekali ini Pipit menumpahkan seluruh perasaannya padaku dengan jujur.

Kenapa Kaka gak melupakan Pipit aja, Ka? Kenapa cinta Kaka tidak musnah saja dulu saat kita berpisah? keluh Pipit padaku. Kenapa setelah sekian tahun kita berpisah, Kaka masih mengharapkan Pipit? Kenapa Kaka gak cari saja perempuan lain, yang lebih baik dari Pipit banyak kok

Pertanyaanmu itu sama dengan pertanyaan yang menghantui Kaka selama ini kataku lirih menatap Pipit. Kenapa Kaka saat ini masih mencintai kamu, Kaka gak tahu Kenapa Kaka masih mengharapkan kamu yang menjadi istri Kaka, Kaka juga gak tahu Kaka tanya padamu, apa yang sebenarnya terjadi pada kita, Pit? Kenapa semua baru terungkap saat kita sudah hampir tak punya peluang lagi seperti ini?

Pipit terdiam. Aku pun terdiam.

Kamu hanya tak pernah mau jujur dan terbuka pada Kaka Kaka sekarang malah gak ngerti kenapa setelah semua menjadi tak mungkin lagi, kamu malah mengungkapkan semua yang ada di hatimu Kaka gak nyalahin kamu, tapi seandainya kamu mau lebih jujur sejak dulu.

Pipit menatapku, matanya menyimpan kesedihan yang sangat mendalam.

Maafkan Pipit, Ka katanya lirih. Mungkin inilah semua yang menyebabkan kini kita gak berjodoh

Aku memberanikan diri menyentuh dan menggenggam tangan Pipit.

Jadi, sekarang bisa Pipit pastikan peluang untuk Kaka sudah tak ada lagi? tanyaku padanya.

Pipit menatapku lekat. Lama aku tunggu, tak ada jawaban, tak ada tanda yang bisa dijadikan jawaban. Tak ada kata yang terucap, tak ada anggukan atau gelengan kepala. Pipit hanya menatapku, sambil membalas meremas tanganku yang menggenggam tangannya makin erat.

Pit. panggilku pada Pipit yang masih saja terdiam.

Sebutir airmata mengalir dari balik kacamata yang dikenakan Pipit, mengalir turun dengan cepat di pipinya, sebelum kemudian menghilang diserap kerudung yang dikenakannya.

Pipit menggelengkan kepalanya, suara isakannya kini bisa aku dengar. Hatiku merasakan hal yang sama pilunya.

Pipit masih menggelengkan kepalanya sambil menatapku. walau dalam hati Pipit masih sangat mencintai Kaka

Aku bisa merasakan apa yang berkecamuk dalam hatimu, Pit Gelengan kepalamu menandakan ketidakmampuanmu melawan perjalanan hidupmu yang sudah dipinang orang, walau jawabanmu mengatakan kamu masih mencintaiku. Aku kini bisa tersenyum, karena kamu memilih untuk bilang tidak dengan cara menggeleng, dan jujur saat mengatakan kamu masih mencintaiku.

Terimakasih, Pit Kaka berterimakasih sekali pada jawabanmu. Walau bukan jawaban yang Kaka harapkan, tapi kamu menjawabnya dengan cara yang membahagiakan Kaka

Pipit semakin erat menggenggam tanganku.

Kaka juga masih sangat mencintai kamu, jika ini bisa membuat kamu kuat Sangat mencintai kamu dan akan selalu mencintai kamu. Kamu tak akan pernah Kaka lupakan, cinta pertama Kaka, cinta terbaik Kaka kataku padanya. Kamu adalah cinta sejati bagi Kaka

Pipit langsung meledak tangisnya, kepalanya tertunduk dilengannya yang masih terjulur menggenggam tanganku yang duduk diseberang meja.

Aku biarkan Pipit menumpahkan isi hatinya. Aku juga sudah menangis sejak tadi walau di dalam hati.

***

Aku kini merasa bingung, sangat bingung.
Aku mulai menyadari, sebenarnya buat apa aku kemari.

Kemana niatku yang sejak awal sudah siap untuk hancur kembali?

Aku memang sudah hancur, tak perlu diragukan lagi.
Sebelum pertemuan ini saja, aku sudah datang dalam kondisi berkeping-keping.
Kini, aku merasa semakin hancur menjadi debu.

Bukan karena kekuatan dahsyat angkara yang menjadi penyebabnya,
Tapi justru ungkapan jujur pada sebuah rasa cinta yang masih bersemayam dalam dada.

Duhai, yang tercinta
Mengapa baru kau katakan saat semua sudah terlambat.

Kini aku hanya bisa menatapmu yang tertunduk dalam tangis sambil menggenggam tanganku,
dengan hati yang terasa kosong dan hampa.

Benar seperti katamu, kenapa rasa cinta ini tidak musnah saja saat kita berpisah dulu?
Aku sungguh tak tahu apa yang akan terjadi nanti, ada apa di balik semua ini.

Takdir telah memisahkan cinta kita, justru disaat kita sama-sama mengakui keberadaannya.

Setidaknya, aku bisa melangkah nanti di jalan gelapku sambil tersenyum.
Terimakasih, cinta sejatiku

Pipit masih tertelungkup di atas meja, menangis dengan tangan masih menggenggam tanganku. Aku mengusap jarinya lembut, mencoba menenangkannya, walau terasa seperti justru aku yang sedang mencari kekuatan.

Pit.

Lama baru kemudian Pipit mengangkat wajahnya, menatapku dengan wajah memerah karena tangisnya, matanya mulai terlihat sembab di balik bingkai kacamatanya.

Sungguh Pipit sudah merasa ikhlas pada apa yang akan terjadi nanti? tanyaku.

Pipit mengangguk. Iya Pipit harus ikhlas. Itulah yang akan jadi jalan hidup Pipit

Jika begitu, aku tersenyum padanya, kini aku berusaha setulus mungkin. Kaka juga akan ikhlas

Aku melepaskan genggaman tangan Pipit, meraih wajahnya dan melepas kacamata yang dikenakan Pipit. Aku mengusap airmatanya yang masih membekas di pipi. Pipit terpejam membiarkan perbuatanku.

Jangan pernah menangis lagi Lupakanlah Kaka jika itu bisa membuat Pipit tak akan pernah menangis lagi Kaka akan selalu mendoakan kebahagiaanmu setelah ini Maafkan Kaka karena selalu menyusahkan kamu, selalu membuat kamu akhirnya menangis, maafkan Kaka, Kaka gak pernah berniat membuat Pipit bersedih

Pipit mengangguk, kemudian menghapus air matanya dengan sapu tangan. Tolong bantu Pipit ya, Ka Tolong doakan agar Pipit bisa kuat melalui semua ini

Iya Kaka janji

Lalu kami kembali terdiam. Pipit tampak berusaha keras sekali untuk menstabilkan perasaannya, sampai akhirnya dia dapat tersenyum kembali.

Astaghfirullah seru Pipit. Aduh kok Pipit jadi gak sopan begini ya Ada tamu kok malah belum disuguhi apa-apa Eh iya, Kaka mau minum apa?

Ah sudahlah kataku sambil tersenyum. Gak usah repot-repot Beneran

Sebentar ya kata Pipit kemudian menelpon seseorang, minta tolong dibuatkan 2 gelas kopi.

Calon suami kamu, orang mana Pit? tanyaku, berupaya bersikap biasa dan ingin ngobrol tentang hal yang juga biasa, mungkin

Orang sini juga, asli orang Palembang

Kerja dimana dia?

Kerja disini juga kok, Ka Kebeneran kantor ini kan ada dua satuan kerja, yang ini Kantor Pelayanan, yang satu lagi Kantor Wilayah, yang gedung sebelah itu Pipit di Kantor Pelayanan, dia di Kantor Wilayah

Wah, cinta lokasi nih, sepertinya godaku.

Ah, gak kok Sebelumnya Pipit malah gak kenal ama dia. Cuma memang kemarin itu guru ngaji Pipit bilang ada pemuda yang ingin taaruf Trus ya gitu deh Akhirnya jadi, semua pihak keluarga sudah setuju

Aku hanya bisa termenung mendengar penjelasan Pipit.

Umur berapa? tanyaku.

Dia? Dua tahun lebih tua dia dari Kaka

Orang tuanya juga tinggal di Palembang sini?

Iya, tapi sekarang lebih sering di Jakarta karena jadi salah satu anggota perwakilan daerah di DPR

Yakin dia akan jadi imam yang baik buat Pipit?

Insya Allah, Ka Informasi yang Pipit dapat dari pengajian banyak menceritakan tentang dia. Insya Allah dia akan mampu membimbing Pipit Lagi pula saat taaruf kemarin Pipit merasa cocok dengan dia

Aku hanya bisa menghela nafas mendengarkan jawaban Pipit.

So Akhirnya Kaka berkesimpulan bahwa tak ada yang perlu Kaka cemaskan lagi Pipit akan jadi milik orang yang tepat, tak perlu Kaka khawatir kataku pelan.

Kaka juga harus kuat, ya Insya Allah Kaka juga akan menemukan wanita yang jauh lebih baik dari Pipit, yang akan membuat Kaka bahagia kata Pipit sambil tersenyum tulus menyemangatiku.

Aaamiiiinnn..

Pipit hanya tersenyum melihat tingkahku. Kemudian terdengar pintu ruangan itu diketuk, lalu seorang wanita berseragam officegirl melangkah masuk membawakan dua cangkir kopi dan sepiring camilan, dan menghidangkannya di meja yang kami pergunakan, lalu kemudian dia keluar lagi sambil menutup pintu.

Tingtung

Aku mengambil BB ku yang berbunyi, ada BBM dari Ocha rupanya yang menanyakan apakah aku akan lanjut menginap di hotel tempatnya bekerja. Aku memberitahukannya bahwa aku akan menginap sehari lagi, dan kemudian setelah itu aku meletakkan BB dan android yang masih ada di saku celanaku di atas meja.

Minta pin BB Pipit, dong kataku.

Lalu kemudian aku dan Pipit saling invite di BBM.

Tak ada lagi hal penting yang aku obrolkan dengan Pipit, kami hanya saling bertanya tentang kondisi keluarga kami masing-masing sambil menikmati kopi dan camilan.

Pestanya di rumah apa di gedung, Pit?

Walimah? Di rumah aja kok, Ka Pipit memang ingin yang sederhana aja

Tapi apa iya anak pejabat kayak dia gak mau pesta gede-gedean? Bapaknya kan pasti punya banyak relasi

Iya, sih Keluarganya ngototnya begitu Tapi gak tau deh Kalo Pipit pribadi gak ingin pesta yang mewah begitu, mubazir aja

Nanti kirimin Kaka foto nikah kalian, ya

Lho, emang Kaka beneran gak mau dateng?

Gak Gak akan sanggup.

Iih, kok gitu.

Bisa di pastikan Kaka gak akan hadir, Pit Kaka doakan dari Lampung aja, ya

Pipit khusus lho ini, mengundang Kaka Tamu istimewanya Pipit

Terimakasih Pipitku sayang atas undangannya kataku sambil tersenyum.

Iya deh Doakan Pipit ya, Ka

Pasti

Aku sms bang Nizam yang menunggu di bawah. Sebentar lagi kita pulang, bang tulisku di sms.

Pit.

Iya

Kaka pamit pulang, ya

Mau langsung pulang ke Lampung?

Ke hotel dulu belum mikirin nih mau pulang kapan mungkin mau ngedinginin otak dulu

Kaka nginep di mana, sih?

Di Aryaduta

Ka

Hmmm?

Maafkan Pipit ya, Ka Kaka mungkin sekarang sedih dengan keputusan Pipit, Kaka mungkin juga sakit hati sama Pipit Tapi tolong ya, Ka jangan benci ama Pipit

Kalo rasa sedih, itu pasti, Pit Sangat sedih, malah kataku sambil menatapnya. Tapi bagaimana pun, kamu selalu mendapat tempat khusus dalam hati Kaka. Sebenci apa pun Kaka pada kamu, Kaka gak pernah bisa memungkiri kalo kamu adalah cinta sejati Kaka

Maafkan Pipit, Ka

Sama-sama, Pit Kaka juga banyak berbuat salah pada kamu, Kaka juga minta maaf

Aku lalu bediri, Pipit juga ikut berdiri dan melangkah mendekatiku, meraih tanganku dan menciumnya. Aku mengusap kepalanya yang terbalut jilbab itu.

Jaga dirimu baik-baik ya, Pit

Iya, Ka

Aku dan Pipit saling menatap. Tak bisa dilukiskan apa yang ada dalam benak kami kini. Aku ingin sekali memeluknya, mungkin untuk yang terakhir kali. Tapi aku memutuskan untuk menahan diri, aku tak sanggup memperkirakan apa dampaknya bagi hatiku bila sampai memeluknya lagi.

Mungkinkah kita akan punya kesempatan di kehidupan yang akan datang, Ka?

Duh, Pit Jangan bikin galau dong

Gak tau nih, Ka kenapa bisa begini

Please, kuatkan hatimu, supaya Kaka juga bisa ikut kuat Kalo kamu malah galau begini, Kaka bisa bertindak gila, Pit

Hehe Iya Maaf Maaf kalo Pipit terbawa perasaan. Kata Pipit sambil tersenyum, menyadari kelakuannya barusan bisa berdampak tak baik.

Kamu ini Kaka sedang berusaha tegar malah dipancing dengan omongan seperti itu kataku sambil mengusap kepalanya dengan gemas. Kita kawin lari aja, yuk?

Pipit langsung tertawa mendengar ucapanku.

Udah Udah Makin lama kita melow begini takut nanti ada setan lewat

Ya deh Kaka pamit sekarang, ya?

Iya, Ka Kaka juga harus janji akan selalu baik-baik saja kata Pipit sambil menatapku penuh perasaan.

Insya Allah, Pit Kita saling mendoakan, ya

Iya

Pipit maju selangkah mendekatiku, kepalanya tertengadah menatapku yang lebih tinggi darinya. Kini jarakku dengan Pipit hanya terpisah sepanjang lengan.

Apakah aku harus memeluknya kini, keluhku dalam hati. Isyarat dan bahasa tubuh Pipit jelas sekali, hanya aku yang masih tak berani untuk bertindak. Pipit masih terus menatapku.

Akhirnya, aku tak tahan lagi.

Aku meraih wajah Pipit, mendekap pipinya dengan kedua telapak tanganku, menariknya ke arahku, dan aku mencium kening Pipit.

Kaka sangat mencintai kamu, Pit. kataku sambil mengecup keningnya berkali-kali. Sangat mencintai kamu.

Pipit menghambur ke dalam pelukanku. Tangannya melingkar di pinggangku dan memelukku erat sekali. Aku merengkuh kepalanya dan menyandarkannya di dadaku. Mataku terpejam, menikmati moment indah ini. Moment yang mungkin tak akan pernah terjadi lagi.

Pipit kembali menangis. Airmatanya membanjir membasahi dadaku.

Pipit juga sangat mencintai Kaka katanya disela isak tangisnya.

Aku hanya mampu mendekapnya, mengusap kepalanya tanpa mampu berkata apa-apa.

Akhirnya Pipit mereda, dan melepaskan pelukannya dariku.

Sudah, ah Kaka udah sana pulang usirnya sambil tersenyum padaku.

Hehe berat banget ya, perpisahan kita ini, Pit kataku mencoba bercanda.

Tau, ah katanya tersenyum sambil mencubit perutku.

Kaka pamit pulang, ya kataku sambil mengulurkan tangan ingin menjabat tangannya. Jaga dirimu baik-baik ya, Pit

Pipit meraih tanganku dan menciumnya. Iya Kaka baik-baik selalu juga, ya

Aku kembali mengusap kepalanya. Tak kuasa aku menahan diri untuk tidak melakukan itu. Pipit tahu, jika aku sudah mengusap kepalanya, itu artinya ada perasaan sayang yang sangat besar yang tak mampu aku katakan lagi. Usapan di kepala adalah tanda aku sangat menyayanginya. Pipit menatapku sambil tersenyum, membiarkan aku berlama-lama mengusap kepalanya.

Pipit juga sayang banget ama Kaka katanya lirih sambil menatapku, menjawab makna dari usapan tanganku di kepalanya.

Pulang dari sini, Kaka gak akan pernah bisa lagi mengusap kepalamu begini, Pit kataku sambil tersenyum, Pipit tahu itu senyumnya orang galau.

Pipit tetap membiarkan perbuatanku, menatapku sambil terus tersenyum menandakan dia mengizinkan perbuatanku ini. Mungkin benar ini adalah yang terakhir dan tak akan pernah terjadi lagi.

Tiba-tiba pintu ruangan itu terhempas, langsung terbuka lebar karena dihempaskan dengan keras.

BRAAKKK.!

Aku dan Pipit terkejut dan menoleh ke arah pintu, seorang lelaki berpakaian rapi dan berdasi, berdiri tegang menatap kami. Menatap dengan mata penuh amarah karena posisi Pipit masih memegang tanganku, dan tanganku masih mengusap kepala Pipit.

Ooooo. Jadi cak ini kelakuan kau wong beduo, yo bentaknya keras. Lemak nian.!

To Be Continued