True Love Part 2

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat

Cerita Sex Dewasa True Love Part 2 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerrita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa True Love Part 1

Hati-hati dengan Hati

Maafkan Pipit, kak bisiknya sambil melepaskan genggamanku. Pipit gak bisa

Aku sadari hatiku terluka secara tiba-tiba dan terasa sangat sedih. Ucapan Pipit walau berbisik, terdengar sangat jelas ditengah keheningan malam. Aku tak salah mendengar. Pipit tidak menerima cintaku, tidak bersedia menjadi pacarku.

Pit panggilku yang segera membuatnya menoleh menatapku dengan matanya yang masih berkaca-kaca.

Gak apa-apa kok, kalo Pipit gak menerima cinta Kakak, bisa menyampaikan perasaan ini pada Pipit saja sudah membuat Kakak bahagia entah dari mana idenya sampai mulutku berkicau begini.

Dikiranya aku gak sakit hati apa karena pernyataan cintaku di tolak, ini mulut malah bilang gak apa-apa. Eh malah ucapan selanjutnya makin ngawur, brother

Kakak hanya ingin Pipit mengetahui, kalo kak Raka jatuh cinta pada Pipit. Kakak ingin Pipit tau bahwa Kakak sungguh-sungguh mencintai Pipit. Kakak gak terlalu kecewa ternyata Pipit gak mau jadi pacar kak Raka lanjutku lagi.

Setidaknya, rasa cinta ini sudah Kakak sampaikan padamu, supaya nanti jika kita ketemu lagi kamu bisa mengingat Kakak sebagai seorang yang sangat mencintai kamu. Kamu juga bisa bilang eh itu ada orang yang cinta ama gue atau kamu juga bisa bilang ini dia orang yang katanya sayang banget ama gue saat kita ketemu nanti. Boleh. Bahkan boleh banget.

Aku kembali meraih tangannya dan menggenggam dengan sepenuh perasaaan.

Pit, karena itu memang benar adanya. Kak Raka sangat mencintai Pipit, Kak Raka sangat menyayangi Pipit. Walau Pipit menolak kak Raka malam ini, itu gak akan mengubah kenyataan kalo kak Raka memang mencintai dan menyayangi Pipit

Dengan kesedihan luarbiasa, aku tatap matanya. Memutuskan untuk mengucapkan kalimat terakhirku pada eposide menembak Pipit malam ini. Tatapan mata Pipit yang teduh walau berkaca-kaca menguatkanku untuk mengatakannya.

Kak Raka sangat mencintai kamu, Pit. Kak Raka mohon maaf karena gak bisa membuktikan perasaan ini pada Pipit karena Pipit gak mau ngasih kak Raka kesempatan buat kak Raka membuktikan kesungguhan ucapan Kakak

Pipit menunduk.

Menatap tanah sambil menggerakkan jarinya yang berada dalam genggamanku.

Tidak.
Aku tidak salah.

Jemarinya juga meremas jemariku.

Sungguh, aku terpana.

Gerakan jemarinya meremas jemariku, tak ada tendensi gerakan untuk melepas genggamanku.

Ini kejutan, sekaligus membuatku bingung ada apa sebenarnya.

Tetapi ini terlalu lama. Mungkin karena aku memaksakan yang belum mampu dia sampaikan.

Pipit masih terdiam, membiarkan aku mengartikan sendiri arti remasan jemarinya tanpa mampu aku terjemahkan.

Aku tak mau memaksamu, Pipit sayang Biarlah waktu yang akan memberimu kekuatan, walau aku sungguh tak tau apa yang akan diperbuat oleh sang waktu padamu. Pada kita.

Sudah yuk Kita kembali ke perkemahan kataku sambil berdiri mengajak Pipit kembali ke perkemahan.

Tatapan Pipit tak bisa aku artikan, tapi dia menurut kembali berjalan bersamaku kembali ke perkemahan.

Aku memahami.
Mungkin jika aku bersabar sedetik lagi kamu akan membuat kembali sebuah keputusan lagi.

Tapi aku tak mau memaksamu, bidadariku
Aku berhati-hati karena ini urusan hati.

Dan aku tak mau hati menjadi layu..
Entah itu hatimu, atau malah hatiku

***

Malam itu, tak ada kejadian yang berarti lagi antara aku dan Pipit. Acara api unggun yang sebenarnya seru dan heboh, terasa hambar buatku. Bagaimanapun, aku baru saja mengalami kejadian pahit.

Sepanjang acara, aku hanya menatap Pipit dari kejauhan, menatapnya yang juga terlihat gelisah dan serba salah. Berkali-kali aku melihatnya seperti sedang mencari sesuatu. Ah, mungkinkah dia mencari aku, hatiku galau sendiri.

Seminggu setelah perkemahan, aku merasa begitu canggung jika harus bertemu dengan Pipit. Berkali-kali dia sms menanyakan bagaimana kabarku, namun nyaliku begitu ciut untuk membalasnya. Aku menghindar, berusaha tidak bertemu dengan Pipit. Agak mudah aku lakukan karena aku masuk pagi dan Pipit masuk siang.

Namun hari itu, setelah seminggu aku berusaha menghindari Pipit, aku akhirnya tertangkap basah olehnya saat sedang melamun di sekretariat Pramuka. Saat itu aku benar-benar bad mood, sehingga memilih kabur dari pelajaran terakhir dan memilih nongkrong di sekretariat Pramuka. Ternyata hari itu Pipit datang cepat, dan nasib mempertemukan kami di sekretariat Pramuka.

eh, Pipit tumben udah dateng sapaku salah tingkah.

Iya kak, hari ini Pipit naik angkot karena mobil antar jemputnya rusak jawab Pipit.

Pipit memang pulang pergi sekolah dengan naik angkutan khusus bersama beberapa anak SMP dan SD yang menjadi penumpang tetap mobil itu, diantar jemput dari rumah ke sekolah setiap hari.

Lama juga kami terdiam, aku menyibukkan diri dengan komputer sementara Pipit memilih duduk di bangku rapat.

Kak Raka sekarang berubah kata Pipit pelan. Sombong sekarang ama Pipit

Aku terhenyak, walau sudah aku duga akan terjadi percakapan seperti ini namun tak ayal sempat membuatku tak mampu berkata apa-apa.

Maafkan kakak, Pit Kakak gak bermaksud begitu.. jawabku bingung Tapi Pipit tau sendiri lah.. Kakak juga bingung harus gimana

Iya Pipit paham, tapi ya gak harus gitu juga kali, Kak tukas Pipit.

Salah Kakak, Pit Maafkan Kakak ya aku menyerah tak mau berdebat dengan bidadari cerdas ini. terus terang Kakak masih sedih di tolak ama Pipit, makanya jadi begitu Maafkan Kakak ya

Kami saling menatap. Aku dengan tatapan rindu sementara Pipit dengan tatapan yang gak jelas antara marah ama kecewa.

Padahal Pipit selalu berharap bisa bertemu Kak Raka katanya pelan. Pipit nyariin tau, Kak.. tatapan matanya berkilat karena kecewa, dan aku dengan sukses jadi makin bingung dan serba salah.

Tak ada yang bisa aku lakukan lagi, hanya mampu membalas menatap matanya mencoba menyelami isi hatinya. Sampai akhirnya aku berdiri dan menghampiri Pipit, meraih tangannya mengajaknya berdiri dan dengan berpegangan tangan kami melangkah keruangan lain yang lebih private di sekretariat itu.

Diruangan itu, aku berdiri berhadapan dengan Pipit, kami saling bertatapan. Dengan hati-hati aku merengku bahunya, menariknya dalam dekapanku.
Tangan Pipit segera melingkar di pinggangku bersamaan dengan pelukanku merengkuh tubuhnya. Pipit menyandarkan pipinya di dadaku.

Seandainya kamu tau Aku sangat merindukan kamu, Pipit sayang bisikku lirih. Pipit semakin erat memelukku.

Tapi kenapa Kakak malah menghindar dari Pipit?? protesnya dengan nada manja menyentuh kalbu.

Habis Kakak harus gimana dong Pipit menolak kak Raka Kak Raka kan sedih, Pit.. jawabku.

Pipit semakin erat memelukku.

Hangat tubuh mungilnya yang hanya setinggi daguku, mengalir menghangatkan aku sampai ke dalam hati, meningkatkan detak jantungku, membuatku merasa sangat nyaman hingga mempererat pelukanku sampai terasa ingin melebur jadi satu dalam raganya.

Tak ada lagi kata-kata, kami seperti berusaha menyampaikannya melalui debaran jantungku yang menempel di telinga Pipit dan melalui hangatnya tubuh Pipit yang ku rengkuh.

Ya Tuhan, aku ingin selamanya bisa memeluk Pipit seperti ini. Terasa sekali aku sangat mencintai Pipit, dan aku sampaikan dengan makin eratnya pelukanku. Kami mulai bergerak, bergoyang pelan selayaknya orang berdansa yang aku sendiri belum pernah berdansa sebelumnya. Semua begitu natural mengalir begitu saja.

Pipit mengangkat wajahnya menatapku. Mata kami bertemu. Perlahan senyum terkembang di wajahnya.
Aku sangat mencintaimu bisikku, dan Pipit kembali menenggelamkan kepalanya di dadaku.

Semua sudah sangat jelas. Aku bisa mengerti semua bahasa tubuhnya. Aku kembali mempererat pelukanku menumpahkan seluruh rasa cintaku pada Pipit.

Namun apalah dayaku, aku hanya seorang lelaki muda berusia 17 tahun dengan seluruh rasa dan hasrat yang terpendam, dan aku lelaki normal yang senormal-normalnya. Aku bukan lelaki maho yang disorientasi, dan pelukan hangat yang begini lama dengan sukses membuatku perlahan-lahan berdiri.

Setengah mati aku bertahan, mengalihkan pikiranku dari rasa itu, mengultimatum otak bahwa ini adalah pelukan penuh cinta. Tapi tetap saja aku merasakan bagian bawahku perlahan-lahan berdiri semakin tegak dan semakin keras menekan perut rata dan ramping milik Pipit.

Ya, penisku berdiri
Mengeras dan tegak menikam perut rata dan ramping milik Pipit.

***

Dan aku sangat malu, bagaimana mungkin saat hati dipenuhi cinta tapi penis kurang ajar ini malah berdiri dan menjadi pengganggu.

Aku memundurkan pantatku, berusaha menghindari tikaman penisku di perut Pipit. Tapi celana kain seragam SMA malah membuatnya semakin menunjuk ke depan. Ketika penisku sudah tidak menempel lagi, aku yakin pantatku sudah sepenuhnya nungging

Sial

Menyadari posisi kami mulai tak nyaman, Pipit perlahan menatapku. Matanya menatap heran, namun seketika tersenyum dan kemudian melepaskan pelukan kami sambil tertawa geli.

Ih.. kak Raka porno ya katanya sambil tertawa yang langsung membuatku malu luarbiasa.

Maaf Pit, gak sengaja udah berusaha tapi gak mau nurut tuh kataku ngeles. Tengsin bo

Sambil masih tertawa geli, Pipit malah membalikkan badan dan menyender di tubuhku. Tangannya meraih kedua tanganku dan membawanya melingkari pinggangnya. Posisi ini sukses membuat penisku yang masih berdiri keras, menempel erat di pantatnya.

Pit ujarku mencoba mengingatkan Pipit pada kondisi gak nyaman ini.

Gak apa-apa kak Pipit pengen dipeluk dari belakang jawabnya sambil menyenderkan kepala di dadaku. Aku menghirup wangi samphoonya yang lembut, pasrah walau merasa gak nyaman karena aku gak mau dianggap berpikiran mesum.

Kak

Hmmm

Nyaman banget dipeluk Kakak

Masa sih..? Padahal kakak belum pernah memeluk cewek lho, Pit

Bohong.

Sungguh Ini pelukan pertama Kakak pada cewek yang kakak suka dan kakak sayangi

Kalo kakak adalah lelaki kedua yang memeluk Pipit Sama nyamannya, sama hangatnya

Lho, emang siapa lagi yang pernah meluk kamu, Pit? Aku cemburu dong

Papa jawab Pipit sambil menoleh menatapku, tersenyum

Aahh kirain pacarnya #tepokjidat

Ini juga pelukan Pipit yang pertama, kak bisiknya sambil tersenyum padaku, dan aku memeluknya makin erat.

Pit, jadilah pacar kak Raka jadilah pacar pertama kak Raka jadilah cinta pertamanya kak Raka Kak Raka ingin Pipit juga yang menjadi cinta sejati kakak pintaku sambil memeluknya.

Ternyata ketulusan permintaan ini sukses membuat penisku tidur dan mengecil..

Pipit tetap menatapku sambil tersenyum, sama sekali tak ada jawaban yang keluar dari mulutnya. Kemudian dia mendekap tanganku di dadanya dan kemudian memejamkan mata sambil mendekap tanganku erat.

Ini anak kok malah ngusel ngusel kayak kucing

Tapi sukses menyentuhku tepat di hati.

Tak ada keraguan lagi, mau dia jawab apa gak, apakah aku diterima jadi pacarnya atau gak, aku bersumpah akan selalu mencintai Pipit dengan setulus hatiku.

Aku jatuh cinta

tuk ke sekian kali

Baru kini kurasakan

Cinta sesungguhnya

Tak seperti dulu

Bersambung