True Love Part 19

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat

Cerita Sex Dewasa True Love Part 19 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerrita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa True Love Part 18

Life Is Like Rollercoaster Ride (3)

Dua bulan yang lalu, sekitar akhir bulan Agustus 2013, aku bertemu lagi dengan Githa di sebuah mall di Bandar Lampung. Dari Githa aku akhirnya memperoleh informasi, Pipit sudah dimutasi dari Palu, Sulawesi Tengah, ke Palembang, Sumatera Selatan.

Tentu saja dengan koneksi papanya yang juga pegawai senior di kantor pajak, semua itu bisa terjadi. Dari Githa juga aku akhirnya memperoleh nomor hape Pipit yang baru.

Rupanya, setelah lulus Pipit memang menghapus semua jejak yang bisa mengarahkan aku kepadanya. Nomor hapenya diganti, dan sedikit orang kenalannya yang juga menjadi kenalanku yang tahu bagaimana caranya bisa menghubungi Pipit. Saat itu, Pipit memang seperti lenyap di telan bumi.

Aku sudah berusaha mencarinya kemana-mana, termasuk nekad mendatangi rumahnya di Way Halim, tapi semua orang rumahnya bungkam, bahkan papanya sempat marah dan memaki-maki aku. Padahal, aku sudah katakan padanya, bahwa aku sekarang sudah siap menikah, dan aku sekarang sudah cukup modal untuk membahagiakan Pipit. Tapi tetap saja papanya meremehkan aku.

Aku memang masih mengejar Pipit, hatiku tak pernah bisa melupakan dia. Apalagi kini aku bisa dibilang sudah cukup umur untuk menikah, dan cukup mampu secara materi. Aku benar-benar sudah merasa siap. Aku memang masih belum bisa berubah menjadi orang alim seperti yang Pipit mau, tapi aku yakin aku masih bisa belajar.

Aku sangat mencintai Pipit, dan aku siap untuk menjadi apa saja seperti yang dia inginkan. Tapi rupanya itu belum cukup, Pipit masih kecewa melihat keadaanku saat terakhir bertemu, dan dia memilih menghilang dari pada harus repot meladeni aku.

Untuk masalah satu ini, aku bukannya tak tahu malu. Aku sudah berupaya melenyapkan Pipit dari ingatanku, mencoba berfikir realistis bahwa Pipit benar-benar sudah menolakku. Tapi siapa yang mampu melawan kekuatan hati yang berkeras karena cinta.

Hatiku masih mencintai Pipit, dan mengarahkan aku untuk terus mengejar Pipit sampai dapat. What a shame.

Berbekal nomor telpon yang aku peroleh dari Githa, aku mencoba menghubungi Pipit, tentu saja dengan menggunakan sebuah nomor hape baru agar Pipit mau mengangkat teleponku.

Halo. suara Pipit mengangkat panggilanku. Aku sampai menarik nafas lega.

Selamat siang, buDengan ibu Desri Savitri? tanyaku.

Iya betulIni dengan siapa saya berbicara?

Ini Kaka, Pit.

Pipit di sana terdiam. Agak lama juga dia terdiam. Aku pun ikut terdiam. Jujur, semua pembicaraan yang aku persiapkan tadi lenyap begitu saja dari ingatanku.

Iya, Ka Ada apa?

Sepertinya menghilangkan diri udah jadi keahlian kamu ya, Pit

Hehe Gak juga sih

Kamu gak ingin Kaka menghubungi kamu lagi ya? Sampai menghilang begitu

Bisa dibilang. Gak sepenuhnya karena itu kok

Boleh tahu alasannya?

Kaka lebih tau alasannya

Mungkin Kaka memang tahu alasannyaTapi sekarang tolong kamu yang cerita apa yang jadi alasan kamu. Apakah alasan yang kamu pergunakan dengan alasan yang Kaka pikirkan itu sama atau gak

Hufft Sudahlah, KaGak ada yang perlu dibahas lagi

Yakin?

Yakin

Kamu gak takut kalo kejadian dulu karena kita gak bicara jujur dan terbuka, terulang lagi karena sekarang kamu malas membahasnya?

Maksud Pipit, buat apalagi dibahasToh kita juga sudah sama-sama tahu kan?

Iya deh, kalo begitu mau PipitKaka gak mempermasalahkan itu lagi

Syukurlah

Aku terdiam, suasana percakan ini sungguh gak menyenangkan. Pipit diseberang sana juga terdiam.

Pit?

Ya?

Maukah kamu menikah dengan Kaka?

Ya ampuun

Kaka sekarang sudah siap lahir bathin, PitHanya kamu yang Kaka cinta, hanya kamu yang Kaka harapkan menjadi ibu dari anak-anak Kaka

Katanya gak mau membahas ini lagi

LhoIni kan masalah yang berbeda? Tadi kan yang dibahas kenapa kamu menghilangKalo yang ini Kaka meminta kamu mau menikah dengan KakaKaka melamar kamu, Pit

Ya sama aja, KaaBahasan yang tadi itu beserta semua dampaknya pada akhirnya juga menuju kesiniMasa Kaka gak ngerti, Pipit udah berusaha menghilang dari Kaka itu menurut Kaka karena apa?

Ini menusuk. Sakit.

Pit, mohon mengertilahSeandainya Kaka bisa menghilangkan perasaan cinta ini, pasti sudah Kaka lakukanKaka juga malu merepotkan kamu terus seperti ini

.. Pipit tidak berkomentar.

Tapi tolong, mengertilah pada perasaan Kaka, mohon banget kamu mau mengerti pada apa yang terjadi pada KakaMasa iya Kaka harus bilang kalo semua ini terjadi sebagai akibat dari perbuatan kamu dan Kaka minta pertanggungjawaban kamuKan gak enak

.. lama Pipit tidak berkomentar.

Niat Kaka tulusKaka melamar kamu karena Kaka sangat mencintai kamuHanya kamu yang Kaka harapkan menjadi istri Kaka

Tadi kedengarannya seperti orang yang ingin balas dendam. Kata Pipit.

Itulah kenapa sekarang Kaka mohon banget ama kamu, PitKaka mohon mengertilah keadaan KakaKaka juga meminta kamu seperti ini kan bukan asal ngomongInsya Allah Kaka sudah siap lahir bathin, makanya Kaka melamar kamu sekarang

KakaaaKakaada-ada aja sihMasa melamar lewat teleponkata Pipit mencoba bercanda.

Kalo gitu izinkan Kaka menemui kamu yaBiar Kaka sampaikan langsung lamaran ini ama kamu

Melamar anak gadis itu seharusnya pada orang tuanya, dong

Iya kalo seperti itu malah lebih bagusKeluarga kamu inginnya ditemui oleh keluarga Kaka dimana? Mau di Lampung atau mau di Palembang gak masalah

Tapi Papa kemarin cerita dia sudah ngomong sama Kaka

Luka karena dimaki-maki dan dihina Papanya Pipit terkuak lagi

Iya. Dia menolak Kaka mentah-mentah. Tapi Kaka bukan mau melamar Papa kamu. Kaka baru mau menerima keputusannya bila yang memutuskan itu kamu, bukan Papa kamu

Hufft Lihat nanti deh Pipit lagi males mikirin itu.

Lho Gimana sih? Kayaknya tadi ada yang nantangin Kaka buat melamar ama orang tuanya deh

Iya Kaa Aduh, gimana ya cara ngomonginnya sama Kaka ini keluh Pipit.

Jangan sampai jika nanti Kaka membawa keluarga Kaka ke keluarga kamu hanya untuk ditolak lamarannya ya, Pit Itulah kenapa Kaka bertanya dulu padamu, karena Kaka gak mau jika sampai keluarga Kaka datang melamar hanya untuk mendengarkan penolakan Lebih baik mati dari pada malu karena lamaran ditolak.

Kok seperti mengancam gini sih?

Maafkan Kaka, Pit Kaka gak bermaksud mengancam. Kamu tau tabiat orang Sumatera seperti apa Maka dari itu saat ini Kaka meminta kesediaan kamu Kalau kamu sudah bersedia, rintangan apa pun pasti Kaka akan berjuang, walau itu Papa kamu sekalipun Makanya, tolong jawab Kaka, bersediakah Pipit menjadi istri Kaka? Kaka melamarmu karena Kaka sangat mencintai kamu

Cinta saja gak cukup, Ka

Materi pun sudah siap, PitInsya Allah cukup.

Bukan itu

Kenapa bukan itu? Kalo soal cinta, kamu tahu persis gimana rasa cinta Kaka padamuKalo soal harta yang sejak kita SMA sudah diributkan oleh Papa kamu juga sudah siap, Insya Allah keadaan Kaka bukan seperti dulu lagi jika itu yang Papa kamu khawatirkan

Apa maksudnya Papa sudah meributkan soal harta sejak kita SMA? tukas Pipit tiba-tiba.

Ups.
Kelepasan ngomong. :tepokjidat:

Gak apa-apa Maaf salah ngomong Udah gak usah dipikirin, anggap aja Kaka gak pernah ngomong itu

Kalo gak mau cerita, Pipit tutup nih telponnya, dan jangan pernah coba menghubungi Pipit lagi ancam Pipit.

aku terdiam.

Mau cerita gak?? Kalo gak Pipit tutup nih?? kata Pipit keras.

Iyaaa. Iya Kaka cerita. kataku cepat, terpaksa

Akhirnya aku ceritakan semua kejadian antara aku dan Papanya Pipit saat bertemu dahulu, saat aku masih pacaran di masa SMA. Semua aku ceritakan, alasan kenapa dulu aku pernah minta Pipit untuk meninggalkan aku saat kami baru jadian dulu, setelah Papanya membawa aku pergi dan kemudian memukulku, lalu meninggalkan aku begitu saja.

Maafkan Kaka Kaka gak pernah bermaksud untuk mengungkit kejadian ini lagi, bahkan sebenarnya Kaka tak ingin kamu tahu, Pitkataku akhirnya.

Pipit gak nyangka Papa bertindak sejauh itu Maafkan Papa ya, Ka

Gak perlu dimintakan maaf PitMalah karena kejadian itu menjadi cambuk buat Kaka untuk merubah nasib. Ditambah lagi saat itu ada kamu yang selalu mendorong KakaKaka seharusnya berterima kasih pada Pipit dan Papa, karena berandil besar bagi kesuksesan Kaka saat ini

Tapi tetap saja gak bisa dibenarkan

Itu karena rasa sayang ayah pada anaknya Pit

Tapi Kaka hampir ninggalin Pipit waktu itu

Pada akhirnya kan kamu yang ninggalin Kaka, hehe

Tapi perbuatan Papa itu tetap jahat, KaKaka sampai dibawa pergi lalu ditinggalin begitu ajaSempat dipukul lagi

Sudahlah, Pit Kaka paham banget kenapa dulu Papa bersikap seperti itu….

Pipit mohon Kaka mau memaafkan Papa, ya

Iyaaa Udah ah gak usah dipikirkan Kaka sangat mencintai kamu, semua hal buruk yang terjadi hanya Kaka ambil sisi baiknya dan hikmahnya Insya Allah Kaka akan bisa memaafkan dan tidak mendendam

Makasih banyak ya, Ka kata Pipit pelan.

Sama-sama, Pit Sudah gak usah dipikirkan

Lalu kami terdiam agak lama. Aku juga bingung mau bilang apa.

Ka. panggil Pipit.

Iya, Pit.

Pipit mau menyampaikan sesuatu pada Kaka

Apa?

Keputusan Pipit. Boleh?

It will be heaven, or hell.? waaah., ge-down ane brooo

Depending on your point of view

Silakan, Pit, You are the judge

Tadi Kaka meminta Pipit mau menikah dengan Kaka, menjadi istri Kaka
aku tetap diam, memberikan kesempatan Pipit untuk menyampaikan keputusannya.

Kaka sudah bilang, jika Kaka sudah siap lahir bathin, juga materidan dari penjelasan tadi Pipit juga beranggapan keluarga besar Kaka sudah siap menerima Pipit jadi anggota mereka

aku tetap diam, sang Hakim belum selesai membacakan keputusannya.

Tapi mungkin Kaka lupa, yang paling mendasar buat Pipit memilih seorang suami, bukan berdasarkan kesiapan lahir bathin dan materi Mungkin yang Kaka ingat adalah ancaman Papa, tapi Kaka lupa pada pesan Pipit

aku sudah mulai bisa menduga.

Pipit mencari lelaki terbaik, yang akan membawa Pipit pada kebaikan di dunia dan di akhirat, yang akan membimbing Pipit dan anak-anak nanti kepada jalan yang benar, yang akan menjadi pemimpin sekaligus pembimbing bagi Pipit dan anak-anak.

aku merasakan sebuah pisau berujung tajam, menempel di dadaku sebelah kiri.

Pipit mencari lelaki yang bisa menjadi Imam bagi Pipit.

pisau itu mulai menembus kulit, darah mulai mengalir

dan menurut Pipit Kaka hanya akan mampu menjadi suami dan ayah, tapi belum bisa menjadi Imam.

pisau itu menembus jantungku, menghentikan nafasku

Maafkan Pipit, Ka. Pipit tidak bisa menerima lamaran Kaka..

Sebuah rasa cinta.

Mati.

***

Hanya desah nafas yang terdengar, ruangan tempatku duduk kini terasa semakin gelap, suram dan dingin menusuk. Ada yang menggelepar meregang nyawa dalam hatiku saat aku mendengar ucapan Pipit yang terakhir.

Tak mungkin kah bisa diubah lagi keputusanmu itu, Pit?

Maafkan Pipit, Ka

Sama sekali gak ada kesempatan buat Kaka untuk membuktikan jika suatu saat bisa menjadi Imam seperti yang kamu harapkan?

Kesempatan itu sudah diberikan, bahkan berkali-kali Tapi tak satupun yang bisa Kaka manfaatkan

Padahal alasan yang kamu pakai belum tentu benar untuk keputusanmu barusan

Maksudnya?

Baik atau tidaknya seseorang, akan bisa berubah atau tidaknya seseorang, itu sebenarnya adalah rahasia Tuhan

Benar Itu sepenuhnya benar. Jika Kaka saat ini hadir dalam keadaan seperti yang Pipit harapkan tentu akan mudah buat Pipit untuk bilang Ya pada lamaran Kaka Nah, sama saja kan, bila saat ini Kaka hadir dalam keadaan tidak seperti yang Pipit harapkan maka Pipit akan bilan Tidak untuk lamaran Kaka

Jadi kamu hanya memutuskan berdasarkan penilaian pada penampilan?

Salah, Kaka, jika itu yang ada dalam benakmu maka itu adalah salah besar. Jangan Kaka sangka Pipit gak berharap pada Kaka. Pipit sangat berharap, Ka Pipit menanti Kaka berubah Pipit berharap saat Kaka datang melamar Pipit itu dalam keadaan yang terbaik Harapan Pipit pada Kaka sangat besar, sangat besar! Tapi Kaka membuat Pipit kecewa, sangat kecewa Tak ada perubahan sama sekali

Suara Pipit terdengar penuh emosi, aku bisa membayangkan semua ucapannya benar, rasa kecewanya karena harapannya padaku yang tak bisa aku penuhi. Ya Tuhan Kenapa aku sama sekali tak menyadari ternyata Pipit berharap padaku

Pit.

Iya, Ka.

Mohon izin untuk meminta sesuatu padamu

Insya Allah jika sekiranya Pipit mampu Silahkan

Kaka menerima keputusanmu kali ini Kaka ikhlas saat ini kamu menolak ketika Kaka memintamu jadi istri Kaka.

Maafkan Pipit, Ka Saat ini hanya itu yang bisa Pipit sampaikan pada permintaan Kaka

Gak apa-apa, Pit Kaka memahami, Kaka mengerti Kaka bisa merasakan rasa kecewa Pipit karena Kaka gak berhasil menjadi seorang lelaki seperti yang Pipit harapkan

Sama-sama, Ka Pipit juga minta maaf Lalu Kaka tadi mau minta apa?

Suatu saat nanti, tolong kabari Kaka jika kamu sudah menerima lamaran seseorang

Maksudnya?

Hati Kaka saat ini memang sedang terluka Cinta Kaka padamu sekarang dalam keadaan sekarat tapi belum mati Jika nanti kamu sudah menerima lamaran lelaki lain, tolong kabari Kaka, agar Kaka bisa membunuh rasa cinta ini

Pipit terdiam

Tentu saja Kaka lebih mengharapkan saat kamu mengabari Kaka nanti, bukan karena kamu menerima lamaran lelaki lain, tapi mengabari agar Kaka melamar kamu, walau kemungkinan itu kecil.

Haruskah seperti itu?

Pit, Kaka selalu berusaha menerima kenyataan kalo Pipit gak akan pernah bisa jadi milik Kaka. Ini permintaan Kaka yang terakhir ama Pipit. Kalo boleh Kaka ingin hadir saat Pipit menikah nanti. Tentu saja Pipit yang memutuskan apakah Pipit akan ngasih tau Kaka atau gak, apakah Pipit akan ngundang Kaka atau gak

dan jawaban Pipit adalah, iya, Ka Kita liat aja nanti

Iya Kaka mohon Kabari Kaka Jika kamu masih sayang pada Kaka, tolong kabari Kaka Agar Kaka bisa menentukan langkah hidup Kaka mau kemana, dengan atau tanpa kamu

Pipit gak yakin, Ka Tapi akan Pipit pertimbangkan

Terimakasih, Pit Kaka percaya padamu Kaka percaya kamu akan mengabari Kaka apa pun yang terjadi nanti Inilah permintaan Kaka, titik dimana Kaka akan bisa menentukan langkah selanjutnya. Sementara ini karena Kaka masih sangat mencintai kamu, segala sesuatu yang Kaka lakukan semua demi kamu Kamu mengerti maksud Kaka kan, Pit

Iya Ka Pipit mengerti Tapi alangkah lebih baiknya jika Kaka mulai bisa move on dari sekarang, berhenti menghubungkan segala sesuatunya dengan Pipit agar Kaka bisa lebih bebas melangkah

Jangan mengajari Kaka bagaimana Kaka harus mengatur rasa cinta ini, Pit Jika Kaka mampu sudah dari dulu Kaka lakukan Sudahlah, biarlah seperti ini Kamu tinggal mengabari Kaka maka saat itulah rasa cinta ini akan mati Lebih simpel begitu

Susah ngomong ama Kaka

Kamu yang membuat Kaka jadi begini

Huuhffft Mulai lagi deh

Makanya Kamu tinggal memenuhi permintaan Kaka ini aja kok

Iya deh Terserah Kaka saja Tapi Pipit tetap gak bisa janji

Kaka percaya padamu Kamu sebenarnya gak setega itu, kok

Ok jika itu yang Kaka mau Pipit nanti akan mengabari Kaka. Kabar itu bisa meminta Kaka melamar Pipit, atau kabar yang memberitahu Kaka bahwa Pipit sudah menerima lamaran lelaki lain dan Kaka harus berhenti mencintai Pipit

Iya Benar seperti itu yang Kaka maksud Kamu memang anak pintar

Pinter mah dari dulu lagi, Ka.

Iya, pintar dan cantik alasan kenapa Kaka bisa jatuh cinta padamu selain karena kamu gak bisa ngomong huruf [R]

Kaka.! suara Pipit terdengar malu.

Iya deh kalo gitu Makasih banyak ya, Pit Udah mau menerima telepon Kaka Ini sangat berarti buat Kaka Terimakasih banyak, Pit

Sama-sama, Ka Maafkan Pipit ya, Ka

DES[R]I SAVIT[R]I T[R]ESNANU[R]SA[R]I panggilku padanya

Iiihhh Kaka ini apaan sih!

Kaka sangat mencintai kamu. Kamu adalah cinta pertama Kaka, kamu adalah Cinta Sejati Kaka.

Ah udah ah Kaka mulai ngaco lagi Udah ya, Ka Assalamualaikum.

Waalaikumussalam, sayangku

Tuut Tuut Tuut Sambungan telepon itu pun terputus.

Dan bagaimana selanjutnya, aku sudah menceritakannya pada kalian di awal kisah ini, dimana dua bulan yang lalu Pipit mengirimkan SMS yang isinya dia sudah menerima lamaran lelaki lain dan akan menikah sebulan setelahnya.

Dan kenyataannya aku tak pernah mampu membunuh rasa cintaku pada Pipit saat aku menerima kabar itu.

Aku harus ke Palembang menemui Pipit

Jika rasa cinta yang ada dalam hatiku ini memang harus mati, maka biarlah dia mati di hadapan Pipit

Bersambung