True Love Part 18

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat

Cerita Sex Dewasa True Love Part 18 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerrita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa True Love Part 17

Life Is Like Rollercoaster Ride (2)

Di Sebuah Rumah Kost di Pondok Jaya, Bintaro

Sore itu, aku berdiri di depan sebuah rumah, yang menurut Githa adalah rumah kost Pipit. Rumah bercat putih dengan pagar berwarna coklat itu dihiasi oleh sebuah pohon jambu air yang cukup besar di halamannya. Rumah yang tenang, layak untuk jadi tempat kost mahasiswa yang ingin suasana mendukung untuk belajar. Aku membuka pagar rumah itu, dan mengetuk pintu.

Tok tok tok

Assalamualaikuuum. Kataku agak keras memberi salam.

Waalaikumussalaaam. Terdengar sahutan dari dalam rumah.

Pintu rumah itu terbuka, pintunya terbuka setengah dan seorang wanita muda berjilbab melongokkan kepalanya keluar menatapku. Wah, kalo di Lampung ini sungguh gak sopan.

Cari siapa, ya? tanyanya.

Maaf mbak, apakah benar ini tempat kost-nya Pipit? Mahasiswa STAN yang berasal dari Lampung jawabku sesopan mungkin.

Pipit yang anak pajak? tanya memperjelas maksudku.

Iya bener, mbak Jawabku lega, kemungkinan besar aku tidak salah alamat.

Mas ini siapa?

Saya saudaranya, mbak, Nama saya Raka, saya baru datang dari Lampung jawabku agak berbohong.

Si mbak itu menatapku, seakan menyelidiki. Eh busyet, ini orang kok curigaan amat, ya Akhirnya

Silakan duduk dulu, Mas Saya lihat dulu orangnya ada apa gak katanya sambil menunjukkan sebuah bangku bambu di teras rumah itu dengan ayunan kepalanya, lalu menutup pintu dan menghilang.

Aku duduk di bangku bambu itu, yang teduh karena dinaungi oleh pohon jambu. Aku menatap sekeliling rumah itu, menunggu. Tak sengaja aku melihat tirai hordeng sebuah kamar agak tersingkap, samar aku melihat ada wajah yang menatap kepadaku. Aku pura-pura tidak melihat, aku pura-pura menatap pohon jambu itu, berharap ada buah yang bisa aku petik.

Tak lama kemudian, pintu rumah itu terbuka kembali. Sesosok gadis berkerudung putih dengan gamis biru muda tampak keluar dari dalam. Wajahnya tersenyum ramah, menambah cantik wajahnya yang berkacamata.

Aku terpana, menatap tak berkedip.

Dihadapanku kini, berdiri seorang gadis yang selama ini tak pernah hilang dari ingatanku. Gadis yang sering menghias mimpiku. Gadis yang selama ini menghilang dariku. Dari balik kacamatanya dia menatapku sejenak, untuk kemudian kembali menundukkan wajah, namun tetap tersenyum.

Assalamualaikuuum, Ka.

Ya Tuhan, aku sangat merindukan sapaan lembut itu

Pipit Waalaikumussalaaam.

-oOo-​

Pipit duduk di hadapanku, di sebuah meja di teras terbuka gerai McD di sektor 9 Bintaro. Pipit sengaja mengajakku kesini, karena katanya gak enak jika ngobrol di kost-an. Tak biasa, alasannya, karena semua penghuni kost-an itu adalah mahasiswi berjilbab semua. Aku paham.

Aku memesan secangkir kopi hitam, setelah burger besar telah habis kami makan. Pipit memesan kembali cola ukuran medium untuk menemaniku ngobrol sambil makan kentang goreng.

Apa kabar, Pit? tanyaku, berharap akan menjadi bahan pembuka obrolan karena sejak berangkat tadi Pipit lebih banyak diam.

Alhamdulillah baik saja, Ka Kaka sendiri gimana kabarnya?

Alhamdulillah baik juga, seperti yang Pipit lihat sekarang

Kaka agak item nih, sekarang

Namanya juga anak pertanian, Pit Kebanyakan di sawah, ladang dan kebun, hehe

Untung Pipit diterima di STAN ya kalo gak mungkin sekarang juga nambah item karena kelamaan di Lampung, hehe

Kapan selesai, Ka? tanya Pipit menanyakan kapan aku lulus.

Insya Allah gak lama lagi, Pit Kaka udah tinggal menunggu ujian skripsi. Kemarin Kaka dari Bogor mencari bahan buat melengkapi literatur

Bisa tahu Pipit ada disini dari siapa? pertanyaannya tiba-tiba berubah.

Kaka nanya sama papa kamu jawabku bercanda, tapi dengan nada yang serius.

Bohong banget sergahnya tersenyum karena samasekali itu tak mungkin. Mana mungkin papa ngasih tahu Lagian emang Kaka berani, nanya ama Papa?

Berani dong jawabku cepat. Papa kamu kan papa aku juga

Sekilas Pipit melirik menatap mataku, bibirnya tersenyum lucu Jawabanku rupanya menarik perhatiannya. Aku bisa bilang begitu karena sejak tadi Pipit lebih banyak menunduk, menghindari terlalu sering kontak mata denganku, kecuali ada ucapanku yang bisa menarik perhatiannya.

Ngawur katanya sambil tersenyum.

Amiiin semoga kejadian walau pun ngawur kataku sambil tersenyum.

Kalo gitu, sebentar lagi Kaka jadi sarjana dong, ya

Iya, Insya Allah Semoga Kaka bisa segera jadi sarjana Supaya Kaka bisa memenuhi salah satu pesan Pipit dulu

Pipit terdiam, aku berusaha membuka semua kenangan kami, salah satunya dengan kenangan bagaimana dulu Pipit sangat berharap agar aku mau kuliah. Aku menatap gadis yang ada dihadapanku ini dalam-dalam, berharap dia mau membalas menatapku. Tapi Pipit tetap tertunduk, memainkan sedotan yang ada di gelas colanya. Agak lama kami terdiam

Aku merogoh saku jaketku, dan mengeluarkan bungkus rokok lalu menghisapnya sebatang. Pipit menatapku.

Kamu juga merokok sekarang ujarnya dingin.

Perubahan, Pit jawabku sambil menghembuskan asap rokokku, berpaling menatap ke arah lain. Mungkin gak sama dengan saat kamu mulai berjilbab, tapi konsepnya tetap sama, perubahan

Entah kenapa aku menjawab seperti itu, aku hanya gak suka ternyata Pipit masih bisa berpikir bisa mengatur aku sepenuhnya. Gak suka dengan nada komplainnya saat aku menyalakan rokok.

Pipit menghela nafas Pipit gak suka ngeliat Kaka ngerokok katanya dengan nada yang jelas terdengar kecewa.

Kaka juga gak suka saat Pipit memutuskan hubungan kita jawabku sekenanya.

Gak ada korelasinya sergah Pipit.

Terus terang, aku gak suka dengan perubahan suasana yang tiba-tiba ini. Aku dan Pipit tiba-tiba merasa canggung. Pembicaraan kami jelas menjadi tak enak. Aku mematikan rokok yang aku hisap itu di asbak, dan menghirup kopi hitamku. Kami kembali terdiam.

Kaka akan berhenti merokok kataku sambil meremas kotak rokok yang masih terisi separuhnya itu. Kamu gak suka Kaka merokok, fine. Demi kamu apa pun akan Kaka lakukan

Pipit hanya menatap semua perbuatanku tanpa berkomentar apa-apa.

Sekarang, kapan kamu akan kembali pada Kaka?

Pipit terkejut atas pertanyaanku.

Pipit gak nyuruh Kaka berhenti merokok tukasnya agak emosi. Pipit hanya bilang Pipit gak suka ngelihat Kaka merokok Itu aja!

Kaka juga gak minta kamu melepas jilbab, kan? jawabku, juga agak emosi. Kaka hanya bertanya kapan kamu kembali pada Kaka Itu aja!

Kami saling menatap penuh emosi. Wajah Pipit tampak memerah karena ucapanku, tapi mungkin kini dia agak bingung mau berkata apa. Aku merasa sangat kecewa pada suasana yang terjadi saat ini. Aku merasakan betapa aku masih sangat mencintai Pipit walau kini kami saling menatap dengan penuh emosi.

Maafkan Kaka kataku lemah, menyadari tak ada alasan untuk apa aku emosi. Kaka masih gak bisa melupakan kamu, Pit Kaka masih belum bisa menghilangkan harapan Kaka pada kamu

Aku tertunduk. Ribuan macam pikiran memenuhi otakku, tapi tersumbat semua karena aku tak ingin mengecewakan Pipit lagi saat ini.

Segala macam cara sudah Kaka tempuh agar bisa melupakan kamu. Semua sudah Kaka lakukan agar bisa memahami cara berfikir kamu. Semua, mulai dari yang baik bahkan sampai ke hal yang paling buruk, sudah Kaka lakukan kataku pelan. Tapi entah kenapa Kaka selalu gagal untuk melupakan kamu, setelah semua upaya itu Kaka lakukan malah membuat kamu semakin tak bisa Kaka lupakan

Pipit masih terdiam. Dia mengaduk-aduk gelas colanya dengan gelisah.

Karena semua alasannya adalah tentang kamu Bagaimana Kaka bisa melupakan kamu jika semua upaya yang Kaka lakukan itu alasannya selalu tentang kamu Yang ada sekarang, malah kamu semakin kuat berada dalam hati Kaka Maafkan Kaka, Pit

Maaf untuk apa? Untuk hal apa Kaka minta maaf sama Pipit?

Kaka minta maaf karena tak bisa menjadi seperti yang kamu harapkan

Pipit terdiam. Aku pun terdiam. Kami sama-sama sibuk dengan isi otak kami masing-masing.

Seandainya Kaka mau mengupayakan itu semua karena Yang Maha Kuasa, Pipit yakin Kaka akan bisa berhasil melupakan Pipit Minimal Kaka akan bisa melupakan semua kenangan kita kata Pipit perlahan.

Di situ salahnya Kaka gak menyadari seharusnya itu yang menjadi alasanya, pada niat kita dan keikhlasan kita untuk melupakan itu semua jawabku.

Iya di situ lah letak kesalahannya hingga kenapa sekarang Kaka gagal kata Pipit. Pipit juga dulu sangat susah untuk mulai melupakan Kaka Tapi Pipit yakin Pipit pasti bisa karena Pipit ikhlas karena Yang Maha Kuasa

Iya Seharusnya dari dulu Pipit bilang itu saat mutusin Kaka jawabku perlahan. Seharusnya Pipit menjelaskan itu pada Kaka, bukannya malah bilang Pipit gak pernah mencintai Kaka

Pipit terdiam, gerakannya yang memainkan gelas colanya seketika terhenti dan matanya menatap mataku dalam-dalam.

Maafkan Pipit, Ka akhirnya Pipit berkata. Itu kesalahan terbesar yang hingga saat ini selalu Pipit sesali Maafkan Pipit karena Pipit dulu begitu egois dan naif hingga lupa memikirkan perasaan Kaka

Makanya Jangan melulu nyalahin Kaka karena gak pernah bisa ngelupain kamu dan selalu mengejar-ngejar kamu, Pit kataku pada Pipit dengan penuh duka. Jika boleh memohon pada Pipit, masihkah ada harapan buat orang yang gagal move on seperti Kaka ini buat Pipit?

Pipit menatapku bimbang, wajahnya terlihat sangat gundah karena pertanyaanku.

Sebenarnya, Pipit sangat kecewa melihat keadaan Kaka sekarang katanya menatapku.

Aku mengangkat sebelah alisku karena heran.

Pipit lihat Kaka gak ada perubahan sama sekali

Yup Malah makin hancur tukasku sekenanya. Kaka sekarang jadi perokok, jadi tukang main perempuan

Tukang main perempuan gimana? sergah Pipit cepat.

Tukang main perempuan! Bagian mana yang kamu gagal paham? kataku tak peduli sambil menatapnya. Tukang. Main. Perempuan.

Pipit membuang muka dan menggelengkan kepalanya dengan kesal.

Setelah Kaka putus dari kamu hingga detik ini, Kaka sudah belasan kali pacaran lagi. Semua cewek itu Kaka buat jadi sangat mencintai Kaka dengan cara memberikan semua perhatian Kaka pada mereka Jadinya mereka semua sangat mencintai Kaka! Untuk kemudian satu per satu mereka Kaka putusin dengan alasan Kaka gak pernah cinta ama mereka!

Seketika Pipit menoleh menatapku. Wajahnya kaget dan tak percaya.

Ternyata rasanya nikmat banget, Pit Kaka gak pernah menyangka ternyata begitu nikmat rasanya menyakiti hati orang dengan alasan seperti itu Nikmat banget melihat mereka semua menjadi patah hati karena alasan gak pernah mencintai itu

Pipit menatapku sambil menggelengkan kepalanya.

Kamu memang guru yang hebat, Pit! kataku sambil menunjuk Pipit tepat di wajahnya.

Semua itu Kaka lakukan hanya mengulang pada apa yang pernah kamu lakukan pada Kaka Dan Kaka gak pernah puas untuk menikmati saat-saat melihat mereka patah hati, Kaka akan segera cari pacar lagi untuk kemudian Kaka sakiti Ternyata rasanya memang nikmat banget! Gak kebayang betapa penuh sensasinya mengatakan gak pernah mencintai pada orang yang sudah kita buat mencintai kita setengah mati!

Aku menatap Pipit dengan tatapan yang berapi-api.

Semua Kaka lakukan agar Kaka bisa melupakan kamu! Kaka menganggap itu sebagai balasan pada kamu! Menyakiti hati gadis lain itu Kaka anggap sebagai pembalasan dendam Kaka pada kamu yang sudah menyakiti Kaka! kataku penuh geram.

Aku menghempaskan punggungku kembali ke sandaran kursi. Berusaha keras menurunkan emosiku saat ini. Sudah jelas apa yang aku katakan semua adalah bohong belaka, karena aku hanya punya pacar sekali setelah putus dari Pipit, yaitu dengan Nova dan itu pun aku kembali disakiti. Di tambah ada beberapa kali hubungan singkat yang tak diketahui orang banyak, dengan Lilies misalnya.

Tapi yang aku katakan pada Pipit tadi adalah isi otakku, saat aku kembali terluka ketika aku teringat pada Pipit, kemudian berkhayal bagaimana cara membalas dendam pada Pipit. Sekarang aku mengatakan itu semua pada Pipit seakan itu semua adalah nyata.

Aku sudah membuat diriku menjadi bajingan bagi Pipit.
Fuck!

Pipit mengambil sapu tangan dari tasnya, lalu tangannya bergerak membuka kacamatanya. Dengan saputangan itu Pipit menyeka air matanya yang menggenang, tanpa pernah aku sadari sejak kapan Pipit mulai menangis.

Ya Tuhan Aku sudah menyakiti lagi gadis yang sangat aku cintai, bahkan sekali ini dengan cerita fiktif hasil khayalan otak kotorku belaka.

Aku terdiam, menyesali apa yang sudah terjadi sambil menunggu Pipit.

Menit demi menit berlalu dalam diam yang menyesakkan.

Padahal Pipit tak pernah bermaksud untuk menyakiti Kaka kata Pipit akhirnya, penuh sesal.

Iya, Kaka percaya itu, Pit Hanya saja kamu gak pernah cerita yang sebenarnya pada Kaka

Pipit benar-benar gak menyangka akibatnya akan seperti ini, Ka

Sama seperti Kaka saat kebingungan gak tau harus berbuat apa setelah kamu pergi jawabku lemah.

Kenapa gak memilih jalan yang baik, Ka? Seharusnya Kaka tahu, dari pada berbuat seperti itu seharusnya akan lebih baik jika Kaka mendalami agama

Pernah, Pit…, Kaka pernah seperti itu

Pernah? Maksudnya?

Aku menatap jauh keluar, menerawang ke sebuah masa yang sangat malu untuk aku kenang lagi.

Kaka pernah berusaha menjadi seperti kamu.

Pipit kini sudah menatapku tanpa berkedip, menanti kelanjutan ceritaku.

Pernah berusaha menjadi seseorang yang seperti kalian Berusaha memahami apa yang kamu maksudkan dengan menjadi seperti kamu Sebenarnya Kaka bisa menjalani itu semua selama beberapa bulan, lalu kemudian Kaka berhenti dan memilih cara Kaka sendiri untuk melupakan kamu

Kenapa sampai harus berhenti? tanya Pipit ditengah pemahamannya tentang apa yang aku maksud.

Karena kamu Aku menatapnya dalam-dalam. Kaka masuk kesana dengan tujuan agar kamu bisa melihat kalo Kaka bisa menjadi seperti kamu, omongan kamu bahwa lelaki yang baik akan mendapatkan wanita yang baik malah justru menjadi racun buat Kaka

Tak ada niat lain berada disana selain dengan tujuan agar kamu bisa menjadi jodoh Kaka Dan niat itu membuat Kaka menjadi zombie di tengah kumpulan orang-orang itu, Pit Kaka berbeda, karena Kaka berada disana tidak dengan niat yang sama dengan mereka, tidak sama dengan kamu saat ninggalin Kaka

Sampai akhirnya Kaka menyerah, Kaka akhirnya bisa merasakan betapa susahnya kamu dulu bisa berada disana, sampai-sampai kamu harus mengorbankan Kaka Kaka akhirnya meninggalkan itu semua, Pit, dengan pengorbanan yang juga sama besarnya

Keluar dari sana dan memilih cara Kaka sendiri, dengan mengorbankan kesempatan untuk dilihat oleh kamu bahwa Kaka sudah berubah, Kaka membuang kesempatan untuk kamu melihat Kaka sudah berjenggot dan bercelana cantung, Kaka membuang semua harapan Kaka untuk bisa berjodoh dengan kamu saat itu, dan berharap akan ada keajaiban suatu saat nanti, saat dimana Kaka akan memperoleh hidayah yang sama dengan yang kamu peroleh dulu, saat dimana niat kita hanya untuk berbhakti mengharapkan ridho dari Yang Maha Kuasa

Kaka dulu gak mampu ikhlas, Pit Semua alasan pada apa pun yang Kaka lakukan, semua hanya tentang kamu

Ada rasa lega yang teramat sangat saat aku bisa menceritakan itu semua, seakan seluruh beban hatiku selama ini berhasil aku lepaskan.

Pipit terdiam menatapku, matanya tampak berkaca-kaca.

Maafkan Kaka karena selalu menyalahkan Pipit karena sudah meninggalkan Kaka dan melukai Kaka Maafkan Kaka karena tak pernah bisa mengerti apa yang terjadi pada kamu Kaka yang sudah menjadi orang yang egois karena selalu menyalahkan kamu, selalu menuduh bahwa kamu adalah semua pangkal penyebab pada duka yang Kaka alami

Seandainya waktu bisa diulang, Pipit akan kembali untuk memperbaiki itu semua, Ka kata Pipit lirih, sendu menatapku.

Seandainya Kaka diberi kesempatan untuk memperoleh kembali sesuatu yang pernah hilang dari hidup Kaka, maka Kaka hanya akan meminta kamu untuk kembali menjadi milik Kaka, Pit

Sebutir airmata jatuh di pipi gadis yang duduk dihadapanku ini, mengalir cepat sebelum hilang terserap jilbab yang melingkari wajahnya. Ingin rasanya aku merengkuh Pipit detik ini juga, membawanya ke dalam pelukanku agar dia tahu betapa aku sangat mencintainya, betapa aku ingin dia kembali ke dalam hidupku. Tanganku terkepal erat hingga gemetar, karena menahan diri untuk tidak menyentuh Pipit.

Kaka masih sangat mencintai kamu, Pit Apa pun yang terjadi dalam hidup Kaka, tak pernah sedetik pun Kaka berhenti mencintai kamu Kaka gak tau, apakah harus bangga bisa menyampaikan kebenaran ini kepadamu atau malah seharusnya harus malu karena gagal move on

Pipit tersenyum menatapku, untuk kemudian mengusap jejak airmata yang ada di pipinya.

Dulu Kaka selalu segera menghapus airmata Pipit jika Pipit menangis katanya lembut, sambil tersenyum menatapku. Bahkan saat airmatanya masih belum mengalir pun, Kaka sudah mengusap mata Pipit

Kaka tadi hampir gak bisa menahan diri, Pit Hampir maju untuk mengusap airmata kamu dan membawa kamu dalam pelukan Kaka jawabku getir. Tapi setelah Kaka pikir-pikir, nanti saja Kaka lakukan itu lagi., setelah kita menikah

Sebuah senyum tersipu segera terukir di wajah Pipit saat mendengar perkataanku, dan menundukkan wajahnya menutupi rasa jengah yang memerahkan wajahnya.
Kamu belum memberikan jawaban, Pit

Jawaban yang mana?

Yang tadi, waktu Kaka bilang Kaka masih sangat mencintai kamu, kamu belum menanggapi..

Pipit hanya menggelengkan kepalanya, untuk kemudian menatapku sambil tersenyum dan menjawab.

Kaka tahu Pipit gak akan pernah menanggapi hal seperti itu lagi

Apakah Kaka masih boleh berharap kamu akan jadi istri Kaka kelak, Pit? Dengan kondisi Kaka yang seperti sekarang ini? tanyaku galau.

Jodoh manusia itu rahasia Tuhan, Ka Kita gak akan pernah tahu Wanita baik akan mendapatkan pria baik itu adalah harapan, bukan sesuatu yang pasti karena semua hal yang pasti itu adalah Hak dari Yang Maha Kuasa Kita sebagai manusia hanya bisa berusaha dan berdoa agar semua yang menjadi harapan kita bisa terkabul pada diri kita

-oOo-​

Sengaja kami turun dari taksi di ujung jalan, untuk kemudian berjalan kaki menuju kost Pipit yang berjarak kurang lebih 300 meter lagi. Kami menempuh perjalanan yang jaraknya dekat itu dengan berjalan perlahan, sambil ngobrol yang ringan-ringan saja, tak ada lagi omongan berat yang kami bahas, terutama tentang hubungan kami, tak kami singgung-singgung lagi. Obrolan seputar masalah kuliahku dan kuliah Pipit, tentang kelurga kami di Lampung dan hal lain yang ringan-ringan saja.

Doakan skripsi Kaka segera selesai ya, Pit Kaka berharap bisa wisuda bulan April ini

Insya Allah akan selalu Pipit doakan, Ka Kaka harus berusaha yang keras, ya

Iya Kasihan ayah dan ibu, adik-adik juga masih perlu biaya buat sekolah Kaka harus segera selesai dan cari kerja buat meringankan beban mereka

Aamiin Niat anak yang baik Insya Allah akan selalu di kabulkan

Nanti kalo Kaka udah kerja dan banyak duit, Kaka akan segera melamar Pipit

Mulai lagi deeeh. Protes Pipit mendengar ucapanku sambil tertawa.

Hehe Namanya juga harapan, Pit Masa cuma ngarep doang masih kamu larang juga

Iya deeh Terserah Kaka Tapi Pipit gak janji apa-apa ya

Iyaaa semoga tadi ada malaikat lewat dan meng-amin-kan harapan Kaka tadi kataku sambil tersenyum.

Tak terasa kami sudah sampai di depan kost-an Pipit. Seperti yang sudah kami sepakati tadi, aku akan segera pamit dan langsung pulang.

Pit, Kaka boleh bertanya sesuatu?

Pipit yang sudah hampir masuk ke dalam pagar menoleh, dan kemudian berbalik dan berdiri berhadapan denganku dalam jarak satu langkah saja.

Kaka mau tanya apa? tanyanya lembut menatapku.

Pacar Pipit sekarang siapa? tanyaku menatapnya. Tiga tahun kita berpisah mungkin sekarang Pipit udah punya pacar baru

Pipit menatapku dengan tatapan teduhnya, seutas senyum tulus menghias wajahnya yang bersih bersinar sore itu.

Pertanyaan Kaka itu seperti Kaka gak mengenal Pipit aja katanya lembut, dan kemudian aku terkejut saat Pipit meraih kedua tanganku dan menggenggamnya erat.

Ka, seandainya dalam Islam diperbolehkan dan dihalalkan pacaran sebelum menikah, yakinlah yang Pipit mau hanya Kaka yang jadi pacar Pipit

***

Bulan Maret tahun itu juga, aku berhasil lulus sidang skripsi, gelar sarjana pertanian kini sudah aku genggam, tinggal menunggu wisuda pada bulan April ini. Aku sangat bersyukur atas pencapaian ini, begitu pula dengan orang tuaku, dan sahabat-sahabatku. Aku adalah yang pertama diwisuda diantara sahabat-sahabatku.

Masih ada waktu sebulan sebelum acara wisuda, dan skripsi sudah selesai dicetak. Pada halaman persembahan aku menuliskan :

Aku persembahkan skripsiku ini kepada kedua orangtuaku,
kepada kedua adikku yang telah sabar menanti keberhasilanku menjadi sarjana.

Kepada sahabat-sahabat terbaikku untuk kebersamaan yang indah,
Serta kepada Desri Savitri Tresnanursariku tercinta​

Halaman persembahan ini cukup membuat heboh teman-teman sejurusanku, karena mereka sama sekali tidak mengetahui siapa Desri Savitri Tresnanursari, mereka tidak pernah melihatku atau mendengarku berhubungan dengan orang yang bernama panggilan Pipit itu. Aku hanya menanggapinya dengan tersenyum, aku cuma bisa bilang, Ada deh, kecuali para sahabatku yang langsung mencibir dan bilang Ngarep. Hehe Bodo ah

Hari-hari menunggu wisuda, dimana tak ada lagi kegiatan di kampus, aku pergunakan untuk semakin serius mengelola sebuah minimarket. Sebenarnya modal membuat minimarket ini dari Didit dan Fredy, dan kami semua mengelola sesuai dengan bidang masing-masing, dan dari usaha ini pula aku memperoleh penghasilan tambahan selain menjadi konsultan bagi kedua pasien tetapku.

Aku akan berada disana seharian, kecuali bila kami akan pergi bersama. Tugas-tugas kuliah Didit dan Fredy tetap aku kerjakan sambil mengelola minimarket ini bersama Yoyok. Hingga saat ini, aku sudah mempunyai tabungan yang lumayan jumlahnya, dan dalam hati aku tak henti-hentinya berterimakasih pada Didit dan Fredy.

Dua minggu sebelum wisuda, aku berangkat lagi ke Jakarta menemui Pipit. Tujuanku jelas, aku akan menyerahkan salah satu skripsi yang aku buat untuk aku serahkan padanya, karena namanya tertera disana sebagai persembahan bagiku, sebagai bukti bahwa aku sudah melaksanakan salah satu pesan yang pernah diberikan Pipit saat kami masih bersama dahulu.

Sayangnya, Pipit saat itu tak mau di temui. Dia sama sekali tak mau keluar menemuiku walau saat aku datang dia sedang berada di rumah kost-nya. Alasannya jelas, dia tak mau menemuiku lagi karena dia tak mau lagi sampai terhanyut jika bertemu denganku. Pipit bilang, jika dia menemui aku, dia takut tak akan bisa menahan diri seperti saat kemarin aku bertemu dengannya, dimana dia sampai memegang tanganku.

Akhirnya aku mengalah, aku pulang kembali ke Lampung hari itu juga tanpa berhasil menemui Pipit. Skripsi yang aku bawa aku tinggalkan di meja tamu teras rumah kost-nya setelah Pipit berjanji akan mengambilnya setelah aku pulang dan akan menyimpannya.

Syukur kepada Tuhan, rupanya tahun itu merupakan tahun keberuntungan bagiku. Setelah aku wisuda, pada bulan Mei ada seleksi penerimaan calon pegawai negeri. Aku mencoba ikut test tersebut dan berhasil lulus. Pada bulan Juli aku sudah mulai bertugas menjadi pegawai negeri dan ditempatkan di Kota Metro. Kedua orang tuaku sangat bahagia saat itu, terutama ayahku. Beliau sangat bangga pada anaknya yang menjadi abdi negara ini.

Seluruh sahabatku juga merasa bangga pada hasil yang aku raih, sehingga mereka saling berlomba untuk segera menyelesaikan kuliahnya. Hanya perlu dua periode wisuda sejak kelulusanku, semua sahabatku lulus dan menjadi sarjana semua. Pada akhirnya kini, Yoyok, Fredy, dan Bambang juga menjadi pegawai negeri, sementara Ucup, Didit, Zaldi, dan Bagas menjadi pegawai swasta dan menjadi wirausahawan. So far, we are fine, Thanks God for this gift.

Setahun kemudian Pipit diwisuda. Sebenarnya aku lupa jika program yang diikuti Pipit adalah program diploma, sehingga dalam 3 tahun Pipit sudah selesai kuliah dan langsung ditempatkan di daerah karena memang terikat dengan ikatan dinas.

Aku baru menyadari saat aku mendatangi Pipit di kostnya di Jakarta, pemilik rumah mengatakan Pipit sudah diwisuda dan sudah ditempatkan, sayangnya beliau tidak tahu pasti dimana Pipit di tempatkan.

Dari Githa aku mendapatkan penjelasan dimana Pipit di tempatkan.

Di Kota Palu, Sulawesi Tengah.

-oOo-​

Bulan November, Seminggu Setelah Menerima Undangan Pernikahan Pipit

Aku sampai meluruskan kaki kiriku hingga terasa tegang dan pegal, sementara kaki kananku berusaha mengatur tekanan pada pedal gas agar laju mobil yang aku kendarai ini bisa tetap melaju konstan. Tangan kananku memegang setir, sementara tangan kiriku menelusup ke dalam rok yang dikenakan Ria, meremas pantatnya dengan gemas.

Kayaknya gue bakal pergi ke Palembang, Ria Ssshhhh. Aaahhh.

Clop clop clop ghlokhghlokh Hhmmmmhh.

Aaaahhhh. Lo apain kontol gue itu, Riaaa.. desahku tersengat kenikmatan yang diberikan oleh bibir dan lidah Ria pada penisku. Aku semakin dalam rogohanku pada balik roknya, menerobos belahan pantat bahenolnya Ria, berusaha mengilik anus dan liang vaginanya hingga banjir. Ria menggelinjang, dan semakin heboh mengoral penisku.

Sore itu adalah hari Jumat, aku dan Ria berangkat menuju Bandar Lampung dari Kota Metro berdua dengan mengendarai mobilku. Aku ingin menghabiskan akhir minggu ini di rumah orang tuaku, sementara Ria akan mengunjungi rumah mertuanya.

Perjalanan sepanjang hampir 50 km itu kami isi dengan penuh kenikmatan. Sebenarnya Ria yang lebih aktif, karena aku sendiri sibuk menyetir. Sejak mulai keluar dari Kota Metro, Ria mengoral penisku. Dan kini sudah lewat dari simpang Tegineneng, aku sudah hampir ejakulasi karena di vacuum terus menerus oleh Ria.

Teknik oralsex Ria patut diancungi jempol. Kombinasi hisapan kuat, jepitan bibir dan sapuan lidahnya yang basah dalam gerakan naik turun dan terkadang deepthroath, membuatku selalu ketagihan pada servisnya yang satu ini. Aku kecanduan pada oralsexnya Ria, aku juga kecanduan bersenggama dengan Ria. Aku sungguh beruntung punya TTM dengan kemampuan olah kenikmatan sehebat Ria.

Ria masih menaikturunkan kepalanya, menjepit penisku kuat dengan bibirnya. Bunyi ludahnya yang membasahi penisku semakin kentara karena hisapannya yang begitu kuat.

Gue mau nemuin Pipit Sebelum dia nikah gua harus bisa ketemu lagi ama Pipit. Kataku disela kenikmatan yang aku rasakan.

Ria melepaskan kulumannya pada penisku, menatapku gemas.

Lo bisa-bisanya ya bang, lagi disepongin gini lo masih aja bisa ngomongin cewek laen

Hehe gak apa-apa sih Kan enak tuh curhat sambil disepongin

Huuu enak di lo, pegel dimulut gue Omongan lo bikin gue gak konstentrasi nih rajuk Ria.

Hehe Maf siiih Gitu aja ngambek candaku sambil mengulik-ngulik liang anus dan vaginanya.

Udahan, ah. Ria ngambek beneran dan berusaha bangkit menjauh dariku. Segera tangan kananku yang melepaskan lingkar kemudi, meraih kepala Ria yang masih mengenakan kerudung seragamnya sambil mengangkat pantatku, menekan kepala Ria dan menyorongkan penisku ke mulutnya.

Penisku langsung terbenam kembali dalam mulut Ria.

Duh..duh Cayangku ngambek ya. Cini jangan ngambek lagi donk cayang kataku mencandai Ria. Ini ayo dot-nya dicedot lagi, nanti kalo ngambek telus gak di kacih dot lagi lhooo

Ria terkikik geli, Dot kok jenggotan. katanya sambil tertawa dan segera dia kembali memberikan kenikmatan pada penisku. Tangan kananku segera meraih kemudi, dan tangan kiri kembali mengulik-ngulik liang vaginanya, membenamkan jariku dijepitan liang vaginanya sudah membanjir sejak tadi. Syukurnya mobil ini bertransmisi otomatis.

Tak lama kemudian, aku mendesah keras. Pantatku sampai terangkat, berkejat-kejat karena kenikmatan yang tak mampu aku tahan. Ria semakin memperkuat hisapannya, bergerak naik turun dengan cepat hingga seluruh air maniku menyembur dalam mulutnya. Ria terus menghisap hingga tak lagi terasa penisku mengeluarkan air maninya, dan menampung semua dalam mulutnya.

Sentakan pantatku terhenti, aku hanya bisa mendesah sementara Ria terus menghisap penisku dan membelai lembut dengan lidahnya.

Top, mantap. Ria memang luar biasa, juga pada apa yang dia berikan padaku.

Kenikmatan yang sempurna.

Bersambung