True Love Part 17

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat

Cerita Sex Dewasa True Love Part 17 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerrita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa True Love Part 16

Life Is Like Rollercoaster Ride (1)

Suatu hari di bulan Februari

Aku menatap keluar jendela bus patas AC yang melaju mulus di jalan tol Merak Jakarta, memandang semua objek yang berlalu cepat saat aku melintasinya. Pikiranku menerawang kemana-mana, membunuh waktu selama perjananan ini. Saat ini aku sedang dalam perjalanan menuju kota Bogor, dengan tujuan ke kampus institut pertanian paling terkenal di negeri ini untuk mencari literatur terkait dengan penyusunan skripsiku. Wah, sedang nyusun skripsi, nih? Ya Tak terasa sudah tahun 2011, aku ngebut menyelesaikan kuliahku termasuk mengambil terus kuliah di semester pendek agar kuliah ini semakin cepat selasai.

Tak terasa, hampir 3 tahun berlalu sejak aku menceritakan kisahku dengan Nova kepada kalian. Oh iya, dimana Nova kini? Entahlah Aku saat ini masih terus berupaya melupakan Nova. Ya, kami telah berpisah.

Aku memutar kembali otakku ke beberapa bulan silam, saat aku mengakhiri hubunganku dengan Nova. Sebenarnya tak pernah terbayang olehku untuk berpisah dengannya, karena menurutku apa yang terjadi pada hubungan kami yang sudah berjalan hampir 3 tahun itu terlihat baik-baik saja.

Semua berjalan normal, Nova selalu menunjukkan perhatiannya padaku dan aku pun membalasnya dengan hal yang sama. Aku sebenarnya sudah sangat siap jika aku tak pernah putus dari Nova, yang artinya hubungan kami akan terus berlangsung langgeng hingga kami menikah.

Ya, semua berlangsung normal, sampai suatu ketika di sebuah sore aku melihat Nova sedang berdua dengan lelaki lain, keluar dari sebuah hotel di daerah selatan Bandar Lampung. Saat itu aku sedang melintas dengan teman-temanku menumpang mobil Didit, dan melihat Nova keluar dari lobby hotel itu dengan bergandengan mesra.

Didit yang pertama melihatnya, karena saat itu dia yang sedang berada di kursi penumpang depan sementara aku yang mengemudi. Kami berbalik arah, kemudian masuk ke hotel tersebut setelah yakin Nova pergi dari hotel tersebut.

Hotel itu langganan Didit yang berpengalaman maksimal sebagai penjahat kelamin, banyak pegawai hotel itu yang dikenal Didit. Dengan mudah, kami mendapat informasi bahwa pasangan selingkuh itu sudah check in sejak pagi.

Aku sempat galau habis-habisan. Bahkan saat bertemu Nova setelah itu, semua baik-baik saja, tak ada yang berubah dari sikap dan prilaku Nova kepadaku. Aku tak berani bertanya padanya, tak berani menuduhnya. Bahkan karena sikapnya yang tampak tak ada perubahan itu membuatku tak percaya bahwa Nova selingkuh, dengan mudah aku berbaik sangka padanya.

Sampai beberapa hari kemudian, Fredy menjemputku dan mengajakku untuk menjemput Didit di sebuah hotel berbintang di dekat kantor gubernur. Setelah kami berkumpul, Didit mengatakan Nova berada di hotel tersebut dengan seorang pria yang dia yakin adalah pria yang sama yang dilihatnya di hotel yang kemarin. Setelah kami berdiskusi sebentar, akhirnya kami menuju ke kamar yang menurut Didit merupakan kamar yang disewa oleh Nova dan pasangan selingkuhnya.

Aku mengetuk kamar tersebut. Berkali-kali mengetuk tapi tak juga dibukakan oleh penghuni kamar itu.

Siapa?! akhirnya terdengar suara yang sepertinya terdengar kesal dari dalam sana.

Buka pintunya..! tiba-tiba Fredy menjawab lantang dengan mengubah suaranya, Kami dari Kepolisian!

Terdengar suara agak gaduh dari kamar tersebut. Aku akhirnya bisa tersenyum melihat kelakuan teman-temanku ini. Bahkan aku agak mengalah saat Fredy meminta aku dan Didit agak bergeser sedikit ke samping, agar tak langsung terlihat jika nanti pintu kamar itu terbuka.

Akhirnya pintu kamar hotel itu terbuka, dan tampaklah seorang pria yang usianya jelas di atas kami semua, berdiri dengan heran menatap Fredy dan Didit yang tampangnya jelas bukan mirip polisi. Wajahnya cukup ganteng, tubuhnya juga tampak gagah, berdiri dengan mengenakan celana jeans dan polo shirt. Didit mencolek aku dan mengangguk, yang aku artikan sebagai ini dia orangnya.

Lorang mau apa?? katanya tegas dan terdengar langsung emosi menatap Fredy, sepertinya dia sudah yakin kalo Fredy bukan polisi. Berdiri dengan wajah yang jelas terlihat tak senang karena kamarnya digedor seperti itu. Wajahnya menatap tajam ke arah Fredy dan kearah aku dan Didit yang berdiri agak menjauh.

Mana Nova?? kata Fredy tak kalah gertak.

Nova siapa?? sergahnya lagi.

Gak usah macem-macem lo desis Fredy maju selangkah dengan tatapan penuh ancaman. Nova adek gua! Suruh dia keluar, kalo gak gua pagas lo nanti!

Tapi lelaki itu ternyata gak kalah nyali, dia ikut maju menghadang Fredy sehingga kini mereka berdiri berhadapan, saling tatap seakan siap bertarung.

Nova siapa?? Lo gak usah macem-macem ya! Nuduh sembarangan..! bentaknya tak kalah garang.

Didit yang sedari tadi diam, tiba-tiba bicara.

Van

Lelaki itu menoleh ke arah Didit, agak kaget dia tak menyangka ternyata Didit tahu namanya.

Lo Evan, kan..? Evan anaknya Pak Hardin Marzuki ? kata Didit tenang.

Lelaki yang ternyata bernama Evan itu menatap Didit dengan pandangan menyelidik, mengira-ngira siapa sebenarnya Didit yang mengenal dia lengkap dengan nama bapaknya.

Gua Didit, anaknya Herwansyah Dahlan Didit masih tenang nada suaranya. Kalo gua manggil papa lo, Minak

Sekedar memperjelas, istilah yang biasa digunakan di Lampung.
Lorang = Lu orang= Kalian
Kitorang = Kita orang = Kami
Pagas = Bacok
Minak = panggilan untuk Kakak atau Abang dalam adat Lampung
Demikian -red.

Evan kini terdiam, jelas dia terlihat ngedown karena merasa kalah level oleh Didit. Kalah dalam level garis keturunan dalam adat masyarakat Lampung. Panggilan Minak pada ayahnya yang berarti Abang atau Kakak, membuat dia menyadari jika anak muda yang bicara dengannya ini memiliki level paman baginya.

Tolong lo suruh Nova keluar sekarang kata Didit tenang tapi penuh intimidasi. Dia itu abangnya Nova kata Didit sambil menunjuk ke arah Fredy, yang memang sebenarnya masih ada hubungan famili jauh dengan Nova.

Didit lalu menatap ke arahku. Kalo ini pacarnya Nova

Terlihat si Evan kini tampak kebingungan, wajahnya terlihat agak panik mendengar perkataan Didit. Lalu dia berbalik ke dalam kamar.

Tunggu sebentar katanya melangkah masuk.

Tak lama kemudian, Evan keluar lagi menghampiri kami yang masih menunggu di depan pintu. Di belakangnya tampak Nova yang berjalan menunduk. Untungnya, Nova juga juga sudah berpakaian lengkap. Nova menatap Fredy dengan takut, dan kemudian terkejut saat menoleh dan menemukan aku berdiri di sana bersama Didit.

Raka. Jeritnya tertahan saat melihatku.

Seketika Nova menghambur ke arahku, menubrukku dan langsung memeluk aku.

Maafkan, Nova, Ka kata Nova sambil menangis. Tubuhnya langsung melorot memeluk kakiku, seakan memohon maaf dengan berlutut di hadapanku.

Ssshhh. Aku mencoba menenangkan Nova, aku tarik tubuhnya agar berdiri kembali. Udah ah gak perlu begitu kataku pada Nova. Nova semakin terisak menangis sambil tetap memegang tanganku yang baru saja membuatnya berdiri kembali.

Maafkan, Nova, Ka hanya itu kata yang bisa terucap dari bibir Nova. Sepertinya dia sampai kehabisan kata karena habis tertangkap basah seperti itu.

Sementara Evan hanya berdiri mematung, tak bisa berbicara apa-apa. Didit dan Fredy berdiri tegak di samping Evan, memberikan tatapan penuh intimidasi pada Evan. Lelaki gagah itu kini berdiri ketakutan layaknya bencong salon.

Sudah kataku masih tenang pada Nova. Sekarang Nova beresin aja urusan Nova sama orang itu, ya

Nova semakin menjadi tangisnya sambil tak henti-hentinya meminta maaf padaku. Tapi aku kini sungguh tak peduli lagi.

Sekarang Raka pulang dulu kataku pada Nova.

Nova tiba-tiba menjadi panik, dan mulai berteriak histeris.

Gak mau! Nova gak mau! Raka gak boleh pergi! Raka jangan tinggalin Nova! teriaknya histeris.

Raka tolong maafin Novaa.! Tangisan dan teriakan Nova membuat beberapa pintu kamar terbuka dan beberapa kepala melongok keluar ke arah kami.

Raka bilang Nova beresin dulu urusan Nova ama orang itu! kataku tegas. Kalo Nova mau ngejelasin ama Raka, boleh Tapi nanti!

Nova terdiam, masih menangis tapi tindakan histerisnya seketika berhenti ketika aku berkata dengan tegas padanya.

Sekarang Raka pulang dulu, ya kataku sambil membelai rambut Nova. Perbuatanku langsung membuat Evan tertunduk. Nova menangis semakin menjadi tanpa mampu mencegahku lagi.

Raka tolong maafin Nova pintanya di sela isak tangisnya. Nova mohon tolong maafin Nova.

Tapi aku sudah benar-benar tak peduli. Sekilas aku menatap Fredy dan Didit lalu berbalik melangkah pergi, meninggalkan Nova yang semakin keras tangisannya. Aku bahkan masih mendengar Fredy berkata penuh ancama pada Evan.

Lo inget, ya Urusan ini belum selesai! bentak Fredy yang tak mampu dibantah oleh si Evan.

Lo jangan bikin malu keluarga lo, Van terdengar suara Didit tenang tapi penuh intimidasi. Atau lo bakal berhadapan dengan keluarga besar kami

Kami berbalik dan melangkah pergi dari hotel itu.

Terus terang, bukannya aku tak cinta ama Nova, tapi aku gak merasakan sakit hati karena perbuatan Nova yang jelas-jelas telah menikamku dari belakang itu. Tapi aku sangat merasa sedih, karena kini aku menyadari aku akan melepaskan Nova, aku akan kehilangan Nova. Tak ada rasa sakit hati, mungkin aku lebih merasa sadar diri. Nova bukan jodohku, ternyata. Mungkin Evan lebih baik untuk Nova di bandingkan dengan aku.

Urusan aku dengan Nova selesai dalam waktu satu minggu. Hubungan kami putus, aku tak mau menerima Nova lagi, yang sudah bermain api di belakangku. Nova sampai histeris saat aku memutuskan hubungan kami, walau akhirnya mau menerima keputusanku setelah aku menjelaskan bahwa aku tidak marah padanya. Aku memaafkan perbuatan Nova padaku dan berharap yang terbaik buat Nova.

Tapi tidak dengan Fredy dan Didit. Setelah yakin aku tak akan mau kembali pada Nova, kedua sahabatku itu memperpanjang urusan tertangkapnya Nova dan Evan di hotel hingga menjadi urusan keluarga besar mereka masing-masing. Kabar terakhir, aku dengar Evan dan Nova akan segera dinikahkan

Masa bodoh.

Aku sungguh tak peduli lagi pada Nova. Selama menjadi pacarnya, aku begitu menjaga diriku untuk Nova, tak pernah aku membiarkan diriku tergoda wanita lain, aku berusaha setia. Begitu mengetahui Nova selingkuh, seluruh perasaanku padam bahkan tak pernah sempat merasakan sakit hati. Aku lebih menyadarkan diriku yang mungkin belum berjodoh karena aku bukan yang terbaik buat Nova.

Mungkin karena aku pernah mengalami rasa sakit hati yang sangat hebat saat Pipit meninggalkan aku, sehingga aku tak lagi merasakan sakit saat Nova berselingkuh. Aku cukup merasa bersyukur disini, karena ternyata kehilangan Nova tak sepenuhnya melukai hatiku. Aku pikir, luka yang dibuat Pipit sedemikian hebatnya, sehingga luka yang ditoreh Nova seakan tak ada artinya.

Duh Gusti.

Kenapa malah jadi teringat pada Pipit begini.

oOo​

Side Story

PoV Didit

Aku meraih hape dan menekan nomor hape Fredy.

Pet, lo dimana..? Ipet adalah panggilan kecil si Fredy.

Gw lagi makan siomay nih di stadion.. Knapa bro..?

Lo jemput Raka, bawa ke s#hid. Gua tunggu di parkiran

Beuh, udah mau check in lagi lo ya

Ngehe lo Gua liat Nova ama cowok baru check in nih

Yakin lo?

Udah buruan lo cari si Raka Bawa kesini sekalian gua cari info dulu

Ok bro

Aku menutup telponku dan mencari nama lain di hapeku.

Hallo bang boss

Zul, lo kerja gak hari ini? Izul adalah pegawai hotel yang aku kenal karena terlalu sering check in di sini.

Kerja bang Kenapa bang? Abang mau masuk sekarang? Biar Izul siapin

Bukan, gua bukan mau masuk. Eh lo lagi di depan gak?

Iya bang, lagi di depan

Lo liat tadi ada cewek pake jaket levis masuk kan? Ama cowok pake kemeja putih

Iya bang, baru aja lewat nih

Mereka check in apa gimana Zul..?

Kayaknya check in, bang Sekarang cowoknya masih di receptionist, ceweknya udah dianter si Andi ke kamar

Tolong gua ya Zul, tolong cari mereka pake kamar mana. Yang cewek adeknya Ipet

Waduh Nada suara Zul terdengar kaget. Oke siap bang Nanti segera Izul kabarin

Makasih Zul

Kembali aku menutup hapeku dan kembali termenung di dalam mobil. Niatku yang tadinya pengen check in dengan seorang kenalan baru yang bekerja jadi teller di sebuah bank, langsung lenyap. Aku baru masuk ke parkiran, ketika melihat Nova berjalan agak terburu-bersama seorang cowok yang mungkin sama dengan cowok yang kami lihat kemarin bersamanya keluar dari hotel. Sekarang mereka pasti check in lagi

Hampir satu jam menunggu, aku melihat Jeep si Fredy sampai dan parkir di dekat mobilku. Aku beri klakson agar mereka tahu, dan Raka dan Fredy turun dan langsung menuju ke mobilku.

Nova di dalem, bro kataku pada Raka. Aneh nih, si Raka tampaknya tenang banget. Gak tampak emosi atau gimana gitu selayaknya orang yang mau nge-gep pacarnya selingkuh.

Raka hanya diam, sementara Fredy yang tampak emosi langsung nyerocos.

Kita samperin aja yok Kita gebukin aja lakinya

Sabar napa Pret Nafsu amat sih lo makiku. Gimana bro?

Terserah lah

Fredy yang gak sabar segera keluar dari mobilku dan melangkah ke dalam hotel. Buru-buru aku dan Raka mengikutinya. Aku melihat Izul bertugas di pintu masuk, dan menyapa hormat layaknya kami ini tamu hotel. Kami langsung mengikuti Izul menuju lift.

306 bang kata Izul saat kami sampai di lantai 3.

Makasih banyak, Zul kataku sambil salam tempel dengan si Izul.

Makasih bang Ada apa-apa kabari aja

Aku mengangguk. Sementara si Fredy udah langsung melangkah ke arah kamar 306. Aku dan Raka tergesa mengikutinya.

Aku buru-buru menahan Fredy yang tampaknya mau main tendang pintu, dan Raka langsung menarik Fredy agak mundur dari depan pintu kamar.

Sabar napa si lo bentakku pelan pada Fredy. Wajahnya sudah memerah menahan emosi. Status Nova yang masih ada hubungan family dan sebagai pacar si Raka agaknya sudah membuat emosinya tersulut.

Lalu aku mengetuk pintu kamar 306, nada ketukanku aku buat sesopan mungkin layaknya room service.

Aku menunggu, tapi tak ada tanggapan dari dalam. Aku coba mengetuk lagi dan menunggu, masih gak ada jawaban. Aku menoleh ke arah Fredy dan Raka yang berdiri di belakangku. Keduanya juga masih menunggu.

Aku mengetuk pintu itu lagi.

Siapa! akhirnya terdengar suara dari dalam, nada suaranya terdengar tak senang dengan gangguan ini.

Tiba-tiba Fredy maju dan menggebrak pintu kamar itu.

Buka pintunya..! teriak Fredy lantang dengan mengubah suaranya, Kami dari Kepolisian!

-oOo-​

Raka yang duduk di sebelahku tampak diam, wajahnya menatap keluar jendela mobil yang kini aku kemudikan dengan pelan. Sementara Fredy tadi langsung pamit tadi, katanya ada urusan. Aku tahu saat ini mungkin Raka masih merasa marah, merasa kecewa dengan kelakukan Nova. Tapi untuk ukuran orang yang sedang marah, sikap Raka ini terlalu tenang.

Lo gak apa-apa, bro? Stupid question.

Raka menoleh ke arahku, menatapku sejenak dan kembali membuang muka menatap ke jendela.

Gak apa-apa Gua baek-baek aja

Trus, rencana lo mau gimana?

Gua akan segera mutusin si Nova

Aku terdiam. Sejenak aku juga menyesali kejadian ini. Cewek seperti Nova udah jarang bisa di temui. Tapi mau apa lagi, aku juga gak nyangka ternyata jalan hidup Raka dan Nova harus melalui hal seperti ini.

Hubungan keluarga antara Fredy dan Nova memang cukup jauh, namun bagaimana pun yang namanya pacar sahabat sendiri akan sama sama kami jaga. Itu adalah peraturan tidak tertulis yang berlaku di kelompok kami. Apalagi Nova masih memiliki hubungan keluarga dengan Fredy.

Fredy tadi nampaknya menyimpan sebuah rencana, walau tadi dia gak bilang apa apa tapi aku bisa merasakan dia tak akan tinggal diam pada kejadian tadi. Aku bisa merasakan jika Fredy merasa tidak enak pada Raka, karena Nova statusnya masih kerabat Fredy. Ini juga yang membuat aku bingung, mau mendukung keputusan Raka karena perselingkuhan Nova, atau meminta Raka memaafkan Nova karena masih saudaranya si Fredy. Aku aja bingung banget, apalagi si Fredy.

Lo yakin?

Kayaknya sih iya

Gak bakal lo maapin si Nova?

Raka terdiam lama, tak segera menjawab pertanyaanku. Aku pun akhirnya diam, tak ingin memaksa lagi.

Gua gak bisa nerima pacar gua selingkuh, bro Apalagi jika dia sampe dipake ama orang lain. Seandainya dia belum dipake, mungkin gue masih bisa maapin kata Raka pelan.

Kita belum yakin kalo Nova emang udah dipake ama si Evan

Ya, semoga begitu Gua bakal lebih mudah maapin si Nova kalo emang kenyataannya emang dia belum ngapa-ngapain ama si Evan

Kalo sampe udah di pake? Gak bakal ada ampun buat Nova? tanyaku lagi.

Buat gua, punya pacar kayak Nova gitu rasanya kayak mimpi, bro Lo tau sendiri keadaan gua gimana, dan Nova gimana. Sekarang gua Cuma bisa sadar diri aja, karena pada dasarnya gua memang gak sebanding ama Nova

Lo gak perlu ngomong gitu juga, kaleee Gak baek lah ngerasa rendah diri gitu

Iyaa, tapi gak bisa dipungkiri juga, kan mungkin alasan Nova selingkuh karena si Evan emang lebih segalanya di banding gua

Aku diam, akhirnya jadi malas ngomong lagi. Ini emang wataknya Raka, tak ada gunanya didebat lagi.

Buat gua, kalo perempuan udah selingkuh sekali, maka 90% akan diikuti oleh perselingkuhan selanjutnya, bro Apalagi kalo dia udah pernah ngerasain barang cowok lain, gak ada ampun buat gua. Pada Nova gua berharap banyak, tapi setelah kejadian tadi, harapan gua ama dia langsung musnah, karena gua berharap dia menjadi yang terbaik buat gua.

Gua gak mau nanti dia ngebanding-bandingin gua ama cowok lain, apalagi soal barang Iya kalo barang gua lebih gede, kalo lebih kecil gimana coba? jelas Raka panjang lebar.

Penjelasan Raka masuk akal buatku, walau aku merasa itu pemikiran yang rada gemblung. Aku juga berharap suatu saat nanti punya istri yang setia, yang aku dapatkan sejak perawan dan hanya merasakan barang milikku saja seumur hidupnya. Bukannya mau menang sendiri, aku juga gak mau munafik kalau aku ini penjahat kelamin, tapi yang jelas aku gak bakal rela jika wanita milikku pernah merasakan barang lelaki lain.

Egoisme laki-laki.
Alasan yang masuk akal.

-oOo-​

Malam harinya, kami berkumpul di rumahku, dimana aku dan Raka mendapat penjelasan dari Fredy. Rupanya sejak keluar dari hotel tadi dia menunggu Nova dan Evan untuk minta penjelasan dari mereka berdua.

Nova dan Evan baru sudah dua bulan ini berselingkuh. Semua dimulai saat Nova magang di perusahaan kontraktor milik keluarga Evan dimana Evan menjadi salah satu komisarisnya. Fredymenceritakan bahwa bahwa Evan jatuh cinta pada Nova, dan terus mengejar-ngejar Nova.

Nova akhirnya luluh pada pesona si Evan, walau pada dasarnya Nova masih sangat mencintai Raka dan tak ingin berpisah dari Raka. Niatnya Nova dia hanya ingin bersenang-senang sejenak, sekaligus memperlancar praktek magangnya di perusahaan Evan. Hanya yang jadi masalah, Evan serius sementara Nova hanya have fun.

Nova juga mengakui dia sudah 5 kali bersetubuh dengan Evan. Yang pertama terjadi saat mereka pulang dari sebuah karaoke dalam keadaan mabuk, namun kembali terulang karena pintarnya si Evan merayu Nova.

Raka hanya terdiam mendengarkan cerita Fredy. Aku bisa melihat betapa hancurnya perasaan Raka, tapi aku menyadari bahwa Raka punya prinsip, dan juga watak. Aku bisa memastikan Raka akan melepaskan Nova. Emosinya samasekali tidak terpancing, bahkan tampak sangat pasrah. Aku membenci sifat Raka yang suka merasa rendah diri ini, dan aku menyadari tak akan pernah bisa mengubah Raka akan sifatnya yang satu itu. Yang ada malah emosiku dan Fredy yang menjadi terpancing.

Gua akan mutusin Nova, supaya dia bisa dapet cowok yang setara ama dia. Kata Raka perlahan.

Aku dan Fredy hanya bisa diam.

-oOo-​

Tiga hari kemudian, aku menerima telepon dari Nova. Dia menangis histeris, dia bilang Raka baru saja pergi setelah mereka berdua bertemu, dan Raka baru saja memutuskan hubungannya dengan Nova. Nova sampai memohon-mohon padaku sambil menangis, agar mau membantunya untuk mengubah keputusan Raka.

Maaf, Va Bukannya gak mau ngebantu Tapi lo tau sendiri sifatnya Raka. Lagian ini semua salah lo sendiri, gua aja marah ama kelakuan lo udah menghianati sahabat gua Jadi semuanya tergantung ama lo sekarang, tergantung ama usaha lo, gua gak berani mau ikut campur Maaf ya, Va.. sekali ini gua gak bisa ngebantuin lo

-oOo-​

Aku mengangkat telepon si Fredy.

iya, Pet

Nova barusan nelpon gua, Raka mutusin dia

Gua juga tadi pagi di telpon ama Nova, nangis-nangis dia minta gua bantuin dia supaya Raka gak jadi mutusin dia

Jadi gimana, bro?

Gua gak ikut-ikutan deh, Pet Lo tau sendiri si Raka sifatnya gimana

Itu dia yang bikin gua pening Gua gak enak nih ama sepupu gua yang nikah ama sepupunya Nova. Keluarga besarnya udah tau kalo Nova kita gerebek di hotel Mereka sekarang ngotot suapaya si Evan tanggung jawab

Trus gimana?

Kalo si Evan agak ngeles gitu, lo tau sendiri kalo dia cuma dapet bekasnya Raka

Gua potong lehernya kalo dia gak mau tanggung jawab

Wakakakak. Ya udah.. Kalo gitu gua yang masukin nanti ke dalam karung

-oOo-​

Tolong Nova, Dit Keluarga Evan mau ngelamar Nova

Aku terdiam sambil menatap langit-langit ruang tamu rumahku, tempat aku menerima Nova yang bertamu ke rumahku. Sejak datang tadi si Nova sudah nangis-nangis gak karuan.

Nova gak mau nikah ama Evan, Dit Nova masih cinta ama Raka.

Salah lo sendiri, Va. Salah lo sendiri.

End of Didit PoV

***

Kak Raka ya.?

Aku menoleh ketika mendengar suara seorang gadis menegurku, yang berdiri di sampingku sambil menatap ragu.

Heey Githa, kan kataku gembira saat berhasil mengenali sosok gadis yang barusan menegurku.

Iyaaa kak Apa kabar.? Lagi ngapain di Bogor? jawab Githa sambil tersenyum senang, bertemu orang dari masa SMAnya dulu di sebuah mall di pusat kota Bogor.

Githa adalah adik kelasku di SMA dulu, dia seangkatan dengan Pipit. Kalo gak salah, saat kelas 1 dulu mereka sekelas

Kak Raka barusan dari IPB, cari literatur buat skripsi jawabku.

Cieee yang udah skripsi bentar lagi sarjana doong goda Githa sambil tertawa.

Githa emang tinggal di Bogor? tanyaku.

Gak kok, Kak Githa kesini karena nenek kan orang Bogor jawabnya. Ini lagi nengok nenek, papa ama mama dari Lampung nyusul Githa di Jakarta terus ngajak ke sini, nengok nenek jelasnya panjang lebar.

Oooh, jadi Githa kuliah di Jakarta?

Iya.

Di UI?

Bukan, Kak Githa kan kuliah di STAN

Dheg.

Githa kan seangkatan ama Pipit, Kak Bahkan tempat kost Githa seberangan lho ama kost-nya Pipit

Githa tersenyum-senyum menggodaku melihat perubahan mendadak raut wajahku saat dia menyebutkan nama Pipit.

***

Bersambung