True Love Part 15

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat

Cerita Sex Dewasa True Love Part 15 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerrita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa True Love Part 14

Side Story
Lilies
Di Dunia Ini Tak Ada Kebetulan, Yang Ada Hanyalah Keharusan Yang Tak Terelakkan

Aku duduk di pelataran belakang aula Gedung A, menanti kuliah Ekonomi Mikro yang akan dimulai setengah jam lagi. Aku sengaja memisahkan diri dari yang lain, karena ada tugas makalah yang masih aku pelajari.

Selintas wangi harum menerpa hidungku, saat aku mengangkat wajahku mencari sumber wangi harum tadi, tampak Lilies telah berdiri di hadapanku, tersenyum manis menyapaku. Lilies Fitryani, mojang priangan yang cantik teman kuliahku.

Rakaa Ganggu gak nih sapanya sambil tersenyum manis. Lilies minta tolong sebentar boleh?

Boleeh Ada apa Teh? Lilies memang dipanggil Teteh ama teman-teman kami, karena Lilies asli orang sunda.

Ini, makalah yang Lilies buat Rasanya ada yang kurang gitu deh di pembahasannya katanya sambil membuka lembaran tugas makalahnya dan memberikannya padaku.

Sejenak aku membaca makalah yang Lilies buat. Aku bisa menemukan di bagian mana pembahasan yang dibuat Lilies terasa kurang mendalam. Saat aku mengangkat wajahku untuk menyampaikannya pada Lilies, tapi aku malah terpana.

Pose.

Yup, aku terpana oleh pose berdiri yang dibuat Lilies, yang mungkin tanpa disadarinya. Saat itu aku menatap Lilies yang sedang berdiri hanya satu meter di depanku, sedang menoleh ke arah kanan, membuat rambut panjang sepunggungnya itu berkibar tertiup angin yang berhembus.

Lehernya yang jenjang
Kulitnya yang putih menawan

Body yang tinggi dengan berat proporsional, pinggulnya membentuk siluet indah dengan bongkahan pantat yang aduhai
Buah dadanya yang besar membulat dan tegak menantang

Oh, buah dada!

Kaos lengan panjang berwarna coklat yang dikenakan Lilies sepertinya dibuat dengan cara dirajut, membentuk lubang-lubang halus diseluruh bahannya. Sebagai daleman tampaknya Lilies menggunakan tanktop dengan warna senada.

Jangankan membahas makalah, yang ada mataku malah nanar menatap ke arah dada Lilies, menembus lubang halus rajutan kaosnya dan berhenti di kulit dadanya

Kulit yang sangat putih bagai pualam, terlihat sangat mulus dengan dengan hiasan kehijauan urat dadanya. Lekukan gelap ditengah buah dadanya terlihat jelas menandakan boobs kiri dan kanannya yang menjulang indah. Luarbiasa menakjubkan buah dada mojang priangan yang satu ini.

Aku menatapnya lekat-lekat, seakan tak akan mungkin mendapatkan moment seperti ini lagi, takut rugi Raka si boobs addict saat ini sedang terpana menatap keindahan payudara seorang Lilies.

Hey! Raka kamu ngeliatin apaaa! Lilies memekik pelan seraya menutupi dadanya dengan tas yang dibawanya.

Raka si boobs addict pun terkejut mendengar pekikan tertahan Lilies. Seketika itu juga aku merasakan wajahku memanas dan aku yakin sudah sangat memerah, malu gak ketulungan karena tertangkap basah menatap lekat ke arah payudara seorang gadis dengan pandangan penuh kekaguman. Untung air liurku tidak sampai menetes atau hidungku sampai mimisan :koplak:

Eh.. Hm.. Eh.. Anu Eh.. Maaf Teh sumpah aku sangat malu sampai gelagapan.

Lilies mencondongkan wajahnya ke arahku, dan berkata pelan.

Kamu ngeliatin apa sih..??

Maaf banget, Teh Maaaaaf banget Gak sengaja jawabku yang jelas ngawur.

Gak sengaja kok sampe gitu amat ngeliatinnya, sampe aku panggil gak denger lagi kata Lilies lagi.

Mati aku!

Segitu terpananya kah?

Sekali lagi mohon maaf, Teh Aku gak bermaksud kurang ajar Maaf banget aku gak sengaja lihat itunya Teteh jawabku lirih penuh rasa malu.

Kamu ngeliat apa emangnya? Baju ini menerawang banget ya, Ka? Lilies mungkin menyadari kalo kesalahan tidak sepenuhnya ada padaku.

I.. Iya Teh jawabku gugup. Lubang-lubang di kaos Teteh itu. Aku tak mampu meneruskan kalimatku.

Aduuuh Keliatan banget ya, Kaaa?? sekarang Lilies yang agak panik. keliatan banget yah dada saya?

I.. Iya Teh Aku bisa lihat kulit dada Teteh dari sela lubang-lubang itu

Aduuuhh Iya taahh? Aduh malu banget saya. Lilies benar-benar panik dan jadi salah tingkah.

Gak gitu juga sih, Teh. Kalo gak diperhatikan banget ya gak keliatan terangku.

Iiihhh jadi tadi kamu teh merhatiin banget dong

Jlebb! Begonya aku ngomong begitu.

Eh.. Hm.. Eh.. Eng Enggak koookk jawabku gelagapan lagi.

Iiih Raka ini. Matanya nakal banget ya ternyata Lilies memakiku sambil tersenyum manis banget, tangannya dengan keras memencet hidungku saking gemasnya.

Suasana segera mencair dengan sikap Lilies barusan, setidaknya aku tahu Lilies tidak marah karena pelecehan yang aku lakukan. Lalu kami kembali membahas makalah Lilies sampai selesai dan mulai ngobrol-ngobrol ringan.

Bener ya, Ka Kalo baju ini gak terlalu menerawang? Lilies mulai membahas lagi insiden tadi.

Seperti yang aku bilang tadi Kalo gak diperhatikan banget gak keliatan kok jawabku sambil menatap kembali ke dadanya, seakan dengan bodoh memberikan contoh maksud ucapanku.

Iihh.. mulai lagi deeeh Lilies bilangin Budi nanti ya, biar dicuci dulu itu mata omelnya sambil mengancamku. Budi adalah pacarnya anak fakultas hukum dan aku juga mengenal si Budi.

Hehe Maaf Teh Maaf Tapi gak apa-apa kok The… Gak usah malu Memang indah banget siih jawabku agak merayunya sambil bercanda.

Yeee gak juga kaleee emang ini buat konsumsi publik apa omelnya lucu.

Aku gak bohong, lho Emang indah banget jawabku sambil tersenyum pada Lilies. Aku aja tadi sampai terpana gitu Terpesona banget

Lilies tersenyum malu dan menunduk, wajahnya bersemu merah saking malu aku sangat memuji keindahan dadanya..

Raka mah emang gelo katanya gemas campur tersipu sambil melangkah pergi meninggalkan aku, tentunya setelah memelintir keras kulit lenganku.

Aku yang manyun meringis merasakan betapa pedihnya cubitan seorang Lilies, dan kemudian melangkah juga menuju aula tempat kuliah akan berlangsung sebentar lagi..

oOo​

Dddrrrrrtttt.

Hapeku bergetar, ada sms masuk yang sempat mengagetkan aku yang sedang konsen pada penjelasan dosen. Aku baca sms itu, dari Lilies.

Pulang kuliah ini saya mau ngomong ama kamu, penting bgt. Kamu yg cari tempatnya. Jangan kabur ya.

Waduh, ada apa ini? Apa karena insiden tadi ya Aku lalu membalas sms Lilies.

Iya, Teh.. tunggu di samping A.2, nanti aku jemput. Aku minjem motor Bambang ama kunci kost Yoyok dulu.

Ok. Kabari aja.

Segera aku sms Bambang dan Yoyok juga kuliah di ruangan ini tapi duduk agak belakang, dan setelah semuanya mengkonformasi bisa, aku sms lagi si Lilies.

Beres, samping A.2 ya Teh

Iya

Aman, kuliah berikutnya berjarak sejam setelah matakuliah ini. Aku sudah memastikan membawa Lilies ke kost Yoyok dan memaksa sehabat-sahabatku itu menunggu saja di terminal atau di kantin.

oOo​

Sepanjang kuliah tadi, saya kepikiran ama omongan kamu

Aku terdiam, menatap Lilies yang duduk lesehan di sebelahku dalam kamar kost Yoyok. Benar dugaanku, insiden menatap dada tadi yang dibahas Lilies saat ini.

Maafkan aku, Teh Aku gak bermaksud untuk kurang ajar atau melecehkan. Aku benar-benar gak sengaja dan begonya langsung terpana gitu aku mencoba menjelaskan dan meminta maaf darinya.

Gak apa-apa kok, Ka kamu gak perlu minta maaf terus gitu ah Lagian juga saya juga yang salah make baju begini jawab Lilies perlahan. Memangnya yang kamu lihat tadi, memang bagus banget ya, Ka matanya melirik kepadaku, menyiratkan rasa penasaran yang terbungkus dengan rasa malu yang luar biasa.

Sekilas yang aku lihat tadi, memang indah banget, Teh Menurut aku, lho ya jawabku jujur. Tapi itu pendapat aku karena aku cuma melihat dari lubang-lubang kecil itu ya, Teh Kalo pendapat aku soal visual dari luar secara keseluruhan sih, memang yang Teteh miliki itu termasuk yang mempesona. Aku yakin banyak perempuan yang berharap memiliki seindah milik Teteh itu.

Aku gak bohong, payudara Lilies memang indah sekali bentuknya, pas banget proporsinya dengan tubuh Lilies keseluruhan menunjang penampilan Lilies.

Tuuh. Kaan Lilies merajuk dan tersipu. Tampak sekali dia merasa gelisah. Aku sampai gak enak hati dibuatnya.

Maafkan Raka, Teh Raka sungguh minta maaf karena sudah membuat Teteh jadi gak nyaman begini kataku tulus meminta maaf pada Lilies.

Bukan itu masalahnya, Ka. Tukas Lilies gelisah.

Lalu apa masalah yang sebenarnya, Teh? kataku mulai khawatir.

Selama kuliah tadi, saya kepikiran sama omongan kamu. Saya sampai berpikir, begitu indahnya kah dada saya ini sampai membuat kamu jadi bengong begitu Lilies mulai menjelaskan perlahan. semua ucapan kamu membuat saya berdebar, Raka

Aku diam tak mengerti.

Kamu membuat saya jadi bangga dengan keadaan tubuh saya Saya aja gak pernah kepikiran begitu sebelumnya, tapi ucapan kamu tadi Lilies terdiam sejenak, menatapku dengan ragu. Ragu dan malu.

Aku memilih untuk menantinya melanjutkan ucapannya.

Ucapan kamu tadi membuat saya jadi berdebar, ada perasaan senang dan bangga disanjung begitu tinggi ama kamu Saya sampai merasa kembali Lilies berhenti bicara, lama Lilies menatap dalam kepadaku.

Kamu membuat saya jadi terbakar, Raka Sepanjang kuliah saya merasa ingin membuka baju dan ingin memperhatikan dada saya yang kata kamu indah ini. Apalagi saat mengingat cara kamu menatap dada saya tadi membuat saya jadi panas dingin gak karuan

Astagaaa. Segitunya, kah? Aku sampai bengong gak bisa berkata apa-apa.

Raka

Iya, Teh

Apakah kamu mau Lilies menghentikan ucapannya. Eh, maksud saya, kamu mau gak kalo
Lilies terlihat sangat ragu untuk melanjutkan ucapannya, bingung memilih kata.

Apa, Teh?

Hmm.. Maksud saya, kamu mau gak kalo sekarang saya bilang saya ingin melihat ke saya lagi dengan cara seperti tadi. Kata Lilies lirih. tapi sekali ini saya ingin baju ini jangan sampai jadi penghalang buat kamu

Dhuaaarrr!

Aku sampai terlonjak karena kaget. Lilies terlihat semakin malu dan makin merah wajahnya.

Saya juga gak tau kenapa sampai bisa punya keinginan seperti ini, Raka Saya rasanya benar-benar ingin, saya gak bisa menahan diri saking inginnya

Kami terdiam. Agak lama juga

Saya kesannya jadi murahan gini ya, Ka lirih Lilies.

Maaf, Teh Aku mengaku salah, aku sungguh-sungguh minta maaf. Kita gak perlu sampai begitu, sekali lagi maafkan aku, Teh

Tapi saya benar-benar ingin kamu melakukannya lagi, Ka

Kenapa harus begitu, Teh Aduh aku jadi bener-bener gak enak banget nih Aku salah banget tadi ya, Teh.

Sekali ini mah bukan salah Raka, atuh kata Lilies tersenyum menatapku. Tapi ini mah karena saya yang kepengen

..

Kamu sih, tatapan kamu tadi bikin saya horny, tau

Aduh, Mak

Tapi nanti Budi gimana?

Ya jangan sampe tau, dong

Ada konsekuensinya gak?

Tergantung kamu.

Lho kok gitu.

Iya dong, nanti kalo saya sampe jatuh cinta sama kamu gimana? Kamu harus jadi pacar aku dong ini jelas Lilies mulai menggoda aku. tapi kalo tatapan kamu bikin saya ilfeel, ya saya gak mau berteman ama kamu lagi ah, si otak mesum, hehe

Wah ini sih keterlaluan. Jelas banget Lilies menantang kelakianku.

Fine then kataku pada Lilies. Aku juga akan jujur pada Teteh. Tadi itu, aku benar-benar terpesona pada keindahan dada Teteh

Aku meraih tangan Lilies dan menggenggamnya.
Please, Teh Aku ingin lihat lagi keindahan itu Izinkan aku menatap keindahan itu lagi

Jika sudah sampai sejauh ini, aku yang harus pegang kendali. Aku memintanya dengan cara seperti itu dengan tujuan untuk menepis semua keraguannya, membangkitkan rasa percaya dirinya bahwa dia sangat aku hargai. :devilmode, on:

Wanita mana yang gak akan luluh jika sudah seperti itu, yakinku dalam hati.

Lilies tersenyum sangat manis padaku, nampak wajahnya lega setelah berhasil mengungkapkan perasaannya padaku dan lega karena tanggapan positif dariku.

Raka, saya minta tolong ama kamu, yah

Apa itu, teh

Ini hanya kita berdua yang tahu Rahasia kita berdua ya

Iya, Teh, janji

Kamu gak menganggap saya cewek gampangan, kan?

Gak, Teh Malah aku merasa sangat tersanjung Teteh memberikan kesempatan seperti ini Aku sangat menghargai kejujuran Teteh walau aku masih merasa bersalah karena ini semua terjadi karena kelakuanku

Lilies tersenyum, membelai pipiku dengan lembut.

Saya percaya ama kamu

Lilies kemudian mengecup keningku lembut. Terus terang, hatiku sampai bergetar karenanya. Aduh, jangan sampai aku merasanya nyaman dan akhirnya jatuh cinta pada Lilies.

Lilies menatapku lembut, sambil terus membelai pipiku. Seutas senyum terhias di bibir merah jambunya. Lilies memang menawan. Harus aku akui mojang priangan memang sungguh mempesona. Lilies kemudian bergerak, naik ke atas pangkuanku yang saat itu masih selonjor lesehan di lantai kamar Yoyok.

Kamu tahu, gak Sepanjang kuliah tadi buah dada saya ini rasanya semakin mengeras Apalagi saat tersentuh, rasanya geli banget Anehnya, saya malah ngebayangin kamu terus bisik Lilies lirih.
Apalagi saat saya teringat cara kamu menatap dada saya, Raka Rasanya begitu.. mmmmhhh suaranya kini lebih mirip desahan tertahan.

Lilies mendekap kedua pipiku, kemudian mulai menciumi wajahku dengan lembut. Dimulai dari kening, alis, mata, hidung, pipi, dan bagian belakang telingaku. Lidahnya mulai menjilat lebut saat menciumi telingaku, dan terus turun ke leher. Semua itu Lilies lakukan dengan lembut, kecupan, jilatan, dan ciumannya begitu lembut sehingga aku meremang nikmat. Aku masih diam saja, memberikan kesempatan Lilies yang pegang kendali.

Ooohh Rakaaa.. desah Lilies kemudian menyergap bibirku lembut. Aku membalas ciumannya, mengimbangi ciuman Lilies yang tetap berlangsung dengan lembut.

Lama kami berpagutan, sampai akhirnya ciuman itu semakin menggelora, lidah kami mulai bertemu, saling menjilat dan menghisap, beradu layaknya dua ular yang sedang berkelahi. Kemudian Lilies melepaskan ciuman kami, wajahnya merona merah dan nafasnya memburu. Aku menatapnya, dan dibalasnya dengan tatapan lembut yang benar-benar membuatku hanyut.

Lilies memang luar biasa, perasaanku sungguh nyaman saat ini.

Tangan Lilies mulai bergerak ke bagian bawah kaos yang dikenakannya, dan menariknya ke atas hendak membuka penutup tubuhnya itu. Tanganku segera menahannya.

Biarin dulu, Teh Jangan dibuka dulu. Kataku sambil menatap lekat ke arah dadanya, mencoba melihat isi di dalam kaosnya itu melalui lubang-lubang halus di sela rajutannya.

Lilies tersadar dengan tindakanku, seketika Lilies memeluk leherku dan membenamkan wajahku di dadanya.

Duuuh Raka jerit Lilies lirih Jangan dilihat seperti itu lagi, sayang. Jantung Lilies kayak mau copot kalo diliatin seperti itu

Dalam hati aku tersenyum, akhirnya aku bisa memahami apa yang di rasakan Lilies. Akhirnya aku putuskan untuk bersikap pasif, kembali membiarkan Lilies saja yang memegang kendali permainan ini. Lilies akhirnya melepaskan pelukannya, dengan gerakan anggun perlahan dia melepaskan kaosnya dan melemparkannya begitu saja.

Kini tepat di hadapanku, dengan jarak tak lebih dari 30 cm, tersaji jelas buah dada yang membusung bulat sempurna yang membuncah padat karena masih terlindungi oleh bra berwarna peach. Cukup besar, dan bentuknya begitu sempurna. Putih, bulat sempurna, dan terlihat sangat kenyal. Mataku menatap nanar ke arah dada Lilies, dengan mulut yang separuh terbuka. Buah dada yang luar biasa.

Lilies merasa jengah sendiri, tangannya segera menyilang di dadanya, melindungi dari tatapan nanarku. Aku menatap wajahnya, tersenyum sambil memandang kedua bola mata Lilies mulai terihat sayu. Lanjtkan, Lis jangan malu-malu bebaskan dirimu, bisikku dalam hati dan kusampaikan melalui tatapanku padanya.

Perlahan Lilies mulai melepaskan tangannya yang melindungi buah dadanya itu, dan memegang kedua bahuku.

Mangga atuh, Ka bisiknya malu-malu menatapku. Katanya mau lihat dada Lilies

Aku tersenyum pada Lilies, mengucapkan terima kasih dalam hati, lalu mulai menurunkan pandanganku menatap buah dada Lilies yang benar-benar indah. Kadang aku sampai memiringkan wajahku, maju mendekati buah dadanya, seakan sangat serius menelitih buah dada indah itu.

Lilies semakin meremaskan tangannya yang menggenggam pundakku, menatapku yang sedang serius meneliti buah dadanya, sambil menggigit bibirnya. Perasaanya campur aduk, malu, jengah, sekaligus sangat bergairah melihat seorang laki-laki menatap penuh kagum pada payudaranya.

Sepertinya ada sisi eksebishionist dalam diri Lilies.

Teh, boleh Raka buka bra nya? akhirnya aku bertanya setelah sekian lama menatap buah dadanya.
Lilies mengangguk sambil menggigit bibirnya. Terasa tangannya kembali meremas pundakku, seakan menanti apa yang akan aku perbuat.

Tanganku bergerak ke belakang, ke arah pengait bra di punggungnya. Dengan sekali sentil, 3 kawat pengait itu terlepas. Buah dada itu bergoyang dengan indahnya saat bra-nya mengendur, seakan terbebas dari dekapan bra yang memang sepertinya agak lebih kecil dari seharusnya. Tanganku bergerak melepaskan bra itu melalui tangan Lilies, yang segera menyilang di depan dadanya.

Aku meraih tangan Lilies, dan menyingkapkannya ke samping.

Kembali aku terpana dengan mulut terbuka menatap buah dada Lilies. Lilies sampai mendesah dan menunduk jengah. Aku menatap buah dada itu dengan takjub, lalu menatap Lilies yang sedang melirikku penuh rasa malu dalam gairahnya. Bolak balik antara menatap buah dada dan menatap wajah Lilies, menyampaikan kekagumanku.

Indah banget, Teh pujiku jujur. Luar biasa

Tiba-tiba Lilies menghambur memelukku, rupanya dia sudah tak mampu lagi menahan rasa malunya.

Yang bener sih, Ka. Segitu bagusnya kah.? Bisiknya lirih di telingaku. Lilies malu, Kaa.

Aku membalas memeluk Lilies, dan membelai punggungnya yang telanjang.

Gak perlu malu, Teh Karena memang indah banget bagus banget Seharusnya Teteh merasa bangga punya dada begini indah pujiku jujur. Buah dada Lilies memang harus diakui sangat indah, dan aku gak bisa bohong akan hal itu. Raka sungguh kagum pada buah dada Teteh

Terima kasih, Ka Lilies semakin erat memelukku. Buah dadanya yang indah terasa hangat dan padat menempel erat di dadaku. Aku nikmati setiap detik moment indah ini.

Kalo Raka mau peganglah, Ka bisik Lilies.

Cium Raka, Teh. Jawabku balas berbisik.

Lilies mengangkat wajahnya, dengan dekapan telapak tangannya di pipiku mulai melumat bibirku. Tetap dengan irama lembutnya, Lilies memberikan pengalaman berciuman terbaik kepadaku.
Tanganku mulai bergerak, mengelus buah dada itu dari samping, kemudian membelai lembut bagian bawah buah dada indah itu. Setelah posisi kedua telapak tanganku berada tepat, dengan gerakan ke atas aku meremas lembut buah dada Lilies, langsung memberikan puntiran kepada kedua putingnya.

Lilies langsung mendesah, lumatannya di bibirku semakin bergelora. Aku melakukan terus gerakan meremas itu dengan ritme yang sama, kadang bervariasi dengan gerakan melingkar namun dengan finishing yang sama di kedua puting buah dada Lilies. Akibatnya desahan Lilies semakin keras terdengar, bibirnya semakin melumat bibirku.

Lilies akhirnya melepaskan ciuman kami, menengadah ke atas sambil terengah menahan rasa. Segera aku menciumi dan menjilati lehernya yang jenjang hingga ke telinga Lilies. Remasanku pada buah dadanya aku lakukan dengan penuh kegemasan. Buah dada yang putih mulus itu kini mulai tampak kemerahan karena ulahku.

Tiba-tiba Lilies menepis tangan kiriku yang sedang meremas payudara kanannya, diangkatnya buah dada kanannya itu sambil mengarahkan wajahku kesana. Aku paham maksudnya, segera aku melumat putingnya yang mencuat menantang. Lilies pun memekik lirih.

Oooohhh Rakaaa. Tangannya kembali mendekap kepalaku. Kedua telapak tanganku kini aku pakai untuk menyangga kedua buah dadanya, dan bergantian bibirku melumat putingnya kiri dan kanan, menyedot buah dadanya sebanyak-banyaknya hingga masuk memenuhi mulutku, dan menariknya dan meninggalkan sebuah hisapan kuat pada putingnya. Seakan tak pernah puas aku melumati buah dada Lilies.

Lilies semakin keras menggelinjang, pinggulnya semakin ketat menempelkan pangkal paha kami. Lilies membuat gerakan menggesek kelamin kami yang sungguh nikmat. Pinggulnya bergerak maju mundur, kadang bergoyang berputar. Penisku terasa nikmat digesek seperti itu. Apalagi vagina Lilies juga terasa begitu hangat dan empuk.

Lilies menarik cepat kaos yang aku pakai, melolosinya melalui kepalaku. Begitu kaosku terlepas, segera aku memeluknya dan menempelkan dada kami dengan ketat. Lilies meraih wajahku dan kembali melumat bibirku. Kini kami sama-sama telanjang di bagian atas, kulit dada kami saling menempel dan bergesek erat. Nikmat sekali rasanya empuk buah dada Lilies di dadaku.

Ciumanku turun ke leher, menelusuri leher jenjang itu dengan bibir dan lidahku. Kadang Lilies yang tak sabar juga menciumi seluruh wajah dan leherku. Bergantian kami saling serang, sementara kedua tanganku bekerja memerah buah dada Lilies. Suara desah kami saling bersahutan tergantung pada siapa yang sedang menyerang. Ciumanku kini aku konsentrasikan pada buah dada Lilies, bergantian aku menikmati buah dada itu kiri dan kanan. Sungguh aku sangat menikmati kegiatanku saat ini, selain memuaskan hasratku pada buah dada Lilies, juga berusaha memberikan kenikmatan padanya.

Tiba-tiba Lilies bergetar, vaginanya yang masih digesekkan dengan penisku, membuat goyangan pinggul Lilies semakin cepat dan keras. Lilies memelukku erat, tubuhnya menegang kaku dan bergetar hebat.

Oooohhh Rakaaa. Hhhhmmmmm.. Aaaahhhh.. Lilies menahan suara desahan dan jeritannya. Sejenak kemudian tubuh Lilies melemah, lunglai dalam dekapanku.

Aku memeluk tubuh Lilies yang telanjang dengan lembut, aku belai punggungnya agar Lilies merasa semakin nyaman. Aku tahu Lilies sudah mendapatkan orgasmenya karena gesekan kelamin kami dan cumbuanku pada buah dadanya.

Raka, nikmat banget. bisik Lilies lirih.

Sudah sampai, Teh?

Iyaaa Duh Gusti. Nikmat banget, Ka.

Aku tersenyum, lalu menyenderkan punggungku ke dinding kamar kost Yoyok. Lilies yang masih dalam pelukanku ikut terbawa dalam dekapanku. Aku biarkan Lilies istirahat setelah lemas karena orgasmenya.

oOo​

Aku membonceng Lilies ke kantin fakultas hukum, karena tak lama setelah Lilies meraih orgasmenya tadi, dia di telpon oleh Budi dan mereka janjian untuk ketemu di kantin itu.

Raka Maaf banget ya, saya tadi belum sempat bikin kamu enak kata Lilies saat aku memboncengnya. Telepon Budi tadi memang mengharuskan kami menyudahi aktivitas kami walau aku belum sempat merasakan ejakulasi. Ini rupanya membuat Lilies jadi tak enak hati, karena aku kentang banget jadinya.

Iyaa Gak apa-apa kok Teh jawabku padanya.

Saya janji deh, nanti kalo ada kesempatan lagi saya yang akan bikin kamu enak

Aku menoleh dan tersenyum pada Lilies.

Yang bener? Berarti nanti kita masih bisa ketemu lagi ya, Teh?

Iya dong Kamu kan tadi udah bikin saya nikmat banget, say katanya mesra di telingaku. Nanti saya akan bikin kamu keenakan deh. Janji saya pada kamu, sekarang sabar dulu ya, nanti kita cari waktu buat pergi berdua nada bicaranya begitu menggoda.

Aku berbelok ke arah fakultas hukum, dan mengarahkan motor si Bambang ini menuju samping kanan ke arah kantin. Sengaja aku berhenti agak jauh dari kantin, gak enak juga di lihat ama teman-temannya Budi walau aku yakin Budi gak akan masalah kalo aku yang nganterin Lilies.

Makasih banget ya, Kaaa bisik Lilies sebelum turun dari boncengan. Sempat-sempatnya dia menjilat telingaku dan mencolek penisku. Aku terkejut, namun belum sempat membalasnya Lilies sudah keburu turun dari boncengan.

Aduh Teeehhh Tega amat sih, makin kentang neeh! kataku pelan, protes atas perbuatannya.
Lilies sudah melangkahkan kakinya kabur dariku, lalu menoleh dan menjulurkan lidahnya.

Daah Rakaaaa.

Bersambung