True Love Part 14

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat

Cerita Sex Dewasa True Love Part 14 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerrita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa True Love Part 13

Stay With Me, Nova

Wajah Nova mendongak, bibirnya terbuka dan mendesah kuat. Tanganku dan tangan Nova saling menggenggam, mengunci posisi kami yang saat ini sudah telanjang bulat di kamar Nova. Nova terbaring terlentang, kedua pahanya menjepit kepalaku yang saat ini sedang memberikan jilatan penuh gairah pada vaginanya .

Wajahnya terhempas ke kiri dan ke kanan, kadang tertengadah sambil tak henti mendesah. Kedua matanya kadang terpejam erat, kadang terbeliak hingga terlihat bagian putihnya saja. Kedua tangan kami saling menarik disisi pinggang Nova, membuatku dapat menahan tubuh Nova agar tidak semakin terdorong ke atas karena gelinjang pinggulnya yang meronta saat vaginanya menerima layanan dari jilatan lidah dan hisapan bibirku.

Vagina mulus tanpa bulu yang selalu di waxing itu begitu menggairahkanku, membuatku semakin semangat membelai klitorisnya yang menyembul sebesar biji jagung. Kadang aku menghisap liang vaginanya yang terus menerus mengeluarkan lendir agak asin tapi sama sekali tidak berbau.

Sesekali aku mengejutkannya dengan menjilat cepat penuh tekanan mulai dari anusnya hingga ke klitorisnya, lidahku menekan keras memberikan sensasi seperti diamplas lembut pada Nova hingga tubuhnya melonjak kaget. Lalu aku menjulurkan lidahku memasuki liang vaginanya, dan menghisap cairan yang keluar dari sana. Aku gelengkan kepalaku menggesek seluruh permukaan vaginanya dengan hidungku dan bibirku.

Aku mulai merasakan liang vagina itu mulai berdenyut, sementara pinggul Nova sampai bergetar saking nikmatnya. Tiba-tiba Nova menarik tanganku, sehingga tubuhku ikut tertarik ke atas dan wajahku semakin terbenam di tengah selangkangannya. Pahanya menjepit kepalaku, bahkan kakinya saling bertaut menahan gelombang orgasme yang melandanya.

Pinggulnya menggelinjang, sementara seluruh tubuhnya bergetar. Nova menjerit tertahan melepas orgasmenya dengan semburan kecil dari liang vaginanya yang langsung aku hisap kuat dan aku telan semua cairan orgasmenya yang menyembur keluar.

Dua menit berlalu, jepitan kaki dan pahanya mulai mengendur dan akhirnya terlepas, termasuk genggaman tangannya. Kini Nova terbaring dengan kedua kaki terkangkang lebar, terengah-engah sambil memejamkan mata. Dari arah selangkangannya, aku bisa menatap wajah Nova yang tersenyum penuh kepuasan.

Hari ini adalah hari ulang tahun Nova dan sudah delapan bulan kami jadian.

Sejak petting pertama di bioskop yang membuat aku jadian sama Nova, tiada kesempatan yang terbuang tanpa petting. Yupz, Nova bilang sendiri kalo dia sekarang jadi tergila-gila dengan aktivitas yang satu ini, sehingga setiap ada kesempatan aku dan Nova segera bertelanjang bulat dan petting habis-habisan. Apalagi rumah Nova sering dalam keadaan sepi.

Jangan salah, walau aku adalah pacar Nova yang kesekian, tapi aktivitas begini jauh baru dengan aku dilakukan Nova. Pacar-pacarnya dahulu paling cuma dikasih cium pipi. Bahkan setelah kami jadian dulu, Nova segera memutuskan hubungannya dengan pacarnya yang lama, yang menurutnya sudah tidak ada gunanya lagi, karena selalu menghilang dan menjauhi Nova, tidak ada tanggung jawabnya sama sekali.

Nova akan melayaniku dengan penuh totalitas, dan aku menyadari itu semua Nova berikan karena dia sangat mencintai aku. Nova akan segera menghidangkan suguhan kenikmatan kapan pun aku memintanya, dan melayaniku dengan penuh rasa cinta dan gairah. Walau seringkali tergoda, tapi aku tetap berhasil mempertahankan keperawanan Nova, setidaknya sampai saat ini.

Aku bukan bajingan walau aku masih belum berani bilang kalo aku sudah berhasil move on. Tapi semua pengorbanan Nova ini sangat aku hargai, dan aku pun berupaya membalasnya dengan penuh kesungguhan. Aku sangat menyayangi Nova, dan mungkin aku juga mencintainya. Maafkan aku, aku masih belum bisa melupakan Pipit seratus persen. Terkadang dalam kesendirianku, aku masih teringat Pipit dan masih merindukannya, walau setengah mati aku berusaha untuk tidak memikirkannya lagi.

Sudahlah, aku jalani saja hari-hariku bersama Nova saat ini. Aku nikmati kebersamaanku dengan Nova, aku bahagia karena Nova dan semua yang dia lakukan untukku. Sekarang aku sudah mahir mengemudikan mobil. Didit dan Fredy yang mengajari basicnya, dan aku melancarkannya bersama Nova.

Jika jam berangkat kuliah kami bersamaan, maka Nova akan dengan senang hati menjemputku. Begitu juga saat pulang, jika aku tidak ada keperluan dengan sahabat-sahabatku maka Nova akan menungguku dan kami pun pulang bareng.

Rumahku di Pahoman jaraknya lebih jauh dari kampus dibandingkan rumah Nova yang berada di Kedaton, kadang aku beradu argumen dengan Nova bahwa kegiatan bolak balik antar jemput ini hanya akan semakin membuat pengeluaran Nova semakin besar untuk beli bensin, tapi Nova tetap saja melakukannya dengan senang hati.

Nova juga tidak menolak jika aku mengajaknya untuk berkumpul dengan sahabat-sahabatku, walau dengan syarat sahabat-sahabatku juga harus bersama pacarnya masing-masing.

Intinya, Nova itu pacar yang sempurna untukku. Wajah yang cantik serta tubuhnya yang indah, otaknya pintar, anak orang kaya dengan uang jajan yang selalu berlebih, kemana-mana bawa mobil sendiri, dan yang paling utama selalu melayani hasrat birahiku kapan pun aku mau.

Penampilanku kini juga sudah berubah jauh dibanding dulu. Nova sering membelikan aku pakaian dan semua perlengkapan seperti sepatu, jam tangan, dompet dan pernak-pernik lainnya, semuanya berharga mahal dan branded. Nova selalu tahu saat aku menyukai sebuah barang walau aku sadar tak akan mampu aku beli, dan tak lama kemudian Nova sudah menghadiahkan barang yang aku mau itu.

Suatu saat, aku pernah marah besar. Hanya karena mengomentari sebuah baliho launching sebuah gadget terbaru saat itu, tak sampai seminggu kemudian Nova sudah menghadiahi aku gadget itu. Harganya hampir setara harga motor second, bro Aku yang sejak awal sudah merasa sangat malu dengan semua pemberiannya, marah karena menurutku Nova terlalu mudah menghambur-hamburkan uang.

Nova sampai menangis karena penolakanku yang kasar itu, susah payah dia menjelaskan bahwa semua pemberiannya itu hanya semata ingin melihat aku senang, sama sekali tak ada maksud merendahkan aku. Akhirnya kami sepakat mulai saat itu semua kegiatan memberi itu dihentikan, Nova harus bertanya padaku dahulu apakah aku mau jika Nova ingin membelikan aku sesuatu.

Aku malu banget, bro Nova terus yang ngasih aku dan beliin aku barang. Aku bukan cowok matre, setidaknya aku gak mau kalo sampe dituduh begitu ama orang-orang. Aku gak mau kalo sampe dibilang cowok mokondo, modal kontol doang

Tapi itulah Nova Dia seakan tak pernah mampu menahan hasrat ingin berbuat sesuatu yang menurutnya akan membuat aku senang. Setelah aku larang, kemudian malah keluargaku yang jadi sasaran pemberiannya. Apalagi buat adik-adikku, Kak Nova adalah seorang dermawan yang cantik jelita Parah Semua yang telah diperbuat Nova aku balas dengan segenap kemampuanku. Aku berusaha menjadi pacar yang baik buat Nova.

Tapi apa yang bisa aku berikan padanya?

Bisa dibilang gak ada Cuma kasih sayang :pret:

Modal kontol doang? Iya juga sih Tapi aku juga modal lidah, lho :plak:

Ya gitu deh Setiap kali kami petting, aku mewajibkan diriku minimal aku harus membuat Nova 3 kali orgasme terlebih dahulu. baru kemudian aku yang muncrat kalo Nova belum lemes. Kalo Nova udah keburu lemes karena servisku, aku gak akan memaksanya membuat aku muncrat. Sadar diri dong, bro Itung-itung itu sebagai pelayanan dan balas jasa, hehe

Begitulah aku dan Nova selama 8 bulan ini kami jadian. Sudah puluhan kali kami petting, puluhan kali aku ejakulasi dan ratusan kali Nova orgasme, dan entah berapa juta uang yang Nova keluarkan untuk membelikan aku barang-barang.

Dan saat ini, hari dimana Nova berulang tahun yang ke-19.

Aku sudah mengumpulkan uang dari hasil pekerjaanku sebagai konsultan Didit dan Fredy, dan masih ditambah pemberian mereka karena tahu aku ingin membelikan sesuatu untuk Nova saat ulangtahunnya. Dan tadi saat aku dan Nova makan romantis berdua di sebuah rumah makan yang bernuansa kolam ikan, aku memberinya hadiah ulangtahun, aku pasangkan di jari manisnya sebuah cincin emas putih berhiaskan sebuah berlian kecil. Nova sampai menghambur ke dalam pelukanku dan menangis bahagia. Rasanya seperti dilamar, kata Nova. Aku hanya bisa tersenyum sambil mengusap kepalanya yang bersandar di dadaku.

Dan kini, di rumah Nova yang siang itu hanya ada kami berdua. Nova memintaku untuk mampir ke rumahnya terlebih dahulu sebelum dia mengantarkan aku pulang. Orgasme Nova yang aku ceritakan tadi, adalah orgasmenya yang kedua setelah yang pertama aku berhasil mengerjai buah dadanya dengan bibirku dan klitorisnya dengan jariku.

Nova masih terbaring dengan mata terpejam, buah dadanya bergerak turun naik seirama desah nafasnya. Biasanya memang Nova akan sangat lemas setelah orgasme, dan perlu waktu istirahat yang cukup bila ingin membuat birahinya bangkit kembali.

Aku bergerak dan merebahkan tubuhku di sisi Nova, merengkuh kepala Nova dalam pelukanku, segera saja Nova memelukku erat dan meringkuk seperti anak kucing yang manja. Bibirnya mencaplok puting dadaku, mengemutnya sebentar dan tak lama kemudian sudah tertidur dan terdengar dengkur halusnya yang teratur. Hadeeeh Ini anak kaya bayi aja, tidur sambil netek

Bersambung