True Love Part 12

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat

Cerita Sex Dewasa True Love Part 12 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerrita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa True Love Part 11

Introducing My Green Campus and My Best Friends

Suprayogi a.k.a Yoyok

My best friend. Seandainya ane ditakdirkan jadi maho maka Yoyok akan ane pacari. Tipikal mahasiswa yang cuek dan jujur apa adanya, tapi dianugerahi otak yang pintar. Orangnya asik, di ajak apa aja enak. Yoyok ini walau cuek, tapi sebenarnya hatinya baik banget dan sangat setia kawan. Rambutnya dibiarkan gondrong dan jago main gitar. Kamar kost nya yang sederhana menjadi markas kami.

Sama seperti ane, Yoyok adalah anak dari keluarga yang ekonominya pas-pasan. Mungkin ini yang bikin ane ama Yoyok akrab banget, kami punya tujuan untuk menyelesaikan kuliah secepatnya agar tidak lama-lama menyusahkan orang tua, dan supaya adik-adik kami bisa tetap meneruskan sekolah. Ayahnya karyawan kelas bawah di sebuah pabrik pengolahan tebu di daerah Gunung Madu, sementara ibunya bekerja di sebuah rumah makan. Anak tertua dari 4 bersaudara.

Ahmad Rizaldi a.k.a Zaldi

Sohib ane yang satu ini, juga dari keluarga kurang mampu. Sifatnya jadi agak opurtunis, walau begitu sangat setia kawan. Walau badannya tergolong pendek, tapi anak ini jangan sekali-kali ditantang berkelahi. Keberaniannya jauh melebihi tinggi badannya. Zaldi sebenarnya anak yang pintar, walau kadang terganggu oleh aktivitasnya yang hobi mencari penghasilan dari berdagang membantu perekonomian orang tuanya. Zaldi bukan anak kost, dia tinggal bersama orangtua berserta kakak dan adik-adiknya.

Komoditas dagangan Zaldi yang utama adalah jualan contekan yang telah dibuat sedemikian rupa hingga bentuknya sangat kecil dan tidak terlihat seperti contekan. Dan hebatnya, isi materi contekan yang dibuat Zaldi sering jitu dan keluar saat ujian.

Yusuf Bachtiar a.k.a Ucup

Nah, kalo sohib ane yang satu ini bukan anak orang gak mampu. Sedang-sedang saja. Bapaknya pegawai BUMN, dan kebetulan Ucup anak bungsu. Efek bagusnya, Ucup termasuk sering bawa duit lebih sehingga sering jadi bandar rokok dan kopi saat nongkrong bareng di kampus atau saat di kostan Yoyok. Badannya juga gak gede-gede amat, otaknya juga rata-rata lah.

Kelebihan Ucup, anaknya pintar melawak. Nongkrong gak ada Ucup dijamin gak bakal seru.

Bangkit Putra Alfarizi a.k.a BangBang a.k.a Bambang

Sohib ane yang satu ini, adalah duet sempurna buat si Ucup. Baik latar belakang maupun sifat dan kemampuan otak, sebelas duabelas lah ama kayak Ucup. Kalo Bambang udah kolaborasi ama Ucup, dijamin akan sakit perut nahan ketawa.

Perbedaan Ucup dengan Bambang adalah, Bambang jago bawa motor dan mantan pembalap underbone, sementara Ucup bawa sepeda aja gak bisa. Bambang menjadi satu-satunya anggota genk kami yang bawa motor ke kampus.

Bagaskoro a.k.a Bagas

Sohib ane yang satu ini, lain dari pada yang lain. Body nya yang mencapai 185cm dan 110 kg itu membuat si Bagas jadi yang paling tinggi, paling gede dan bobot matinya paling besar, tapi wajahnya imut dan melankolis mirip abang ganteng anaknya si raja dangdut yang bewokan itu.

Tapi si Bagas punya body segede itu bukan karena dari kecil makan enak terus. Sejak kecil Bagas sudah harus tinggal bersama pamannya, dan bekerja membantu pamannya yang punya usaha toko pakaian di pasar Bambu Kuning. Jika tidak ada kuliah, maka mudah mencari Bagas. Tinggal ke pasar Bambu Kuning dan cari yang paling gede, dari jauh juga kelihatan. Bagas biasanya berkumpul bersama kami saat menunggu kuliah yang agak jauh waktunya dari kuliah sebelumnya. Selebihnya, maka Bagas akan bekerja membantu pamannya di pasar.

Bagas anak yang pintar, kemampuannya menganalisa setiap permasalahan sangat baik walau kadang terkesan jadi seperti lambat berpikir, padahal dia menganalisa hingga jauh ke depan sebelum mengambil keputusan. Bagas juga negosiator ulung, mungkin karena kelamaan hidup di pasar.

Aku, Yoyok, Ucup, Bambang dan Bagas.
Kami bersahabat karib, sangat akrab. Teman-teman yang lain sering menyebut kami Genk Lada, karena tempat kumpul kami di kostan Yoyok yang berada di Jl. Lada dekat kampus Gedung Meneng. Sama-sama sekelas di jurusan agrobisnis fakultas pertanian.

Eits, ada 2 anggota baru nih, yang mulai bergabung bersama kami saat hampir akhir Semester II.

Praditya Pratama a.k.a Didit

Fredy Baheram Jaya a.k.a Fredy

Gak ada hubungan saudara, apalagi kembar. Tapi Didit dan Fredy berbarengan hadir di kelompok kami, dan sebelum dengan kami pun mereka berdua ini sangat akrab dan selalu bersama. Kami menyebut mereka berdua seperti biji kiri dan biji kanan.

Kelebihan Didit dan Fredy, you name it aja deh.
Semua kelebihan cowok mereka punya. Mereka berdua ini ganteng-ganteng, sama-sama pandai bergaul terutama pada wanita. Sama-sama anak pejabat kaya raya. Ke kampus bawa mobil sport terbaru.

Gak ada kurangnya, kan? Komposisi dan kombinasi yang mereka berdua miliki adalah impian setiap cowok di kampus kami. Apalagi mereka berdua mampu memanfaatkan semua kelebihannya dengan sangat baik.

Ganteng, pandai bergaul, dan kaya raya. Pas.
Hampir semua mahasiswi bermimpi dijadiin pacar, dijadiin selingkuhan, atau cuma sekedar diajak jalan atau ditraktir oleh Didit dan Fredy. Pada akhirnya bisa dipastikan mereka akan dengan senang hati mencopot bra dan celana dalam bila Didit dan Fredy meminta.

Ganteng, pandai bergaul, dan kaya raya, serta Penjahat Kelamin. Makin Pas, kan?

Lalu apa yang membuat kedua cowok idola itu akhirnya bergabung dengan kelompok kami yang bisa dibilang kelompok mahasiswa susah lahir bathin dan materiil..? Jawabnya adalah Otak.
Yupz. Otak. Kemampuan Otak, tepatnya.

Isi kepala kedua penjahat kelamin ini rupanya ikut meleleh bersama dengan ceceran sperma yang mereka tumpahkan disana-sini. Bukan bego, sih Cuma udah gak bisa lagi kalo untuk dipake belajar. Gimana mau belajar jika otak mereka hanya diisi pemikiran tentang cewek, toket, memek dan ngentot..? Yang mereka diskusikan juga gak jauh-jauh dari nyari cewek mana yang bisa di ajak three-some, quicky di toilet kampus, atau dibawa nginep di hotel.

Fathetic, or Fantastic?

Mereka berdua, Didit dan Fredy mendatangi aku dan Yoyok di kostan Yoyok. Pada intinya, mereka meminta aku dan Yoyok mengawal kuliah mereka, dalam arti mengerjakan semua tugas kuliah mereka dan memberikan contekan saat ujian. Sebagai imbalannya mereka siap menanggung semua biaya kuliah kami, lengkap dengan uang saku per bulannya.

Bagi aku dan Yoyok ini jelas menjadi sebuah pekerjaan yang akan sangat membantu kami. Bisa dibilang, ini bisa menjadi semacam beasiswa bagi kami berdua. Akhirnya kesepakatan itu pun terjadi, aku dan Yoyok siap mengawal mereka berdua saat kuliah. Kami hanya meminta mereka untuk lebih sering berada di kelas, dan mengambil mata kuliah yang sama dengan kami.

Setelah kesepakatan itu terjadi, Didit dan Fredy malah menjadi semakin akrab dengan kami. Akhirnya terkumpullah aku, Yoyo, Zaldi, Ucup, Bambang, Bagas, Didit dan Fredy. Hingga kini kami tetap bersahabat walau telah terpencar ke berbagai daerah karena sekarang kami semua sudah bekerja. Hubunganku dan Yoyok pada Didit dan Fredy hanya serius saat pembayaran jasa kami di awal semester, dan ini berlangsung hingga Didit dan Fredy menjadi sarjana, bahkan skripsi mereka pun kami garap bersama-sama.

Namun karena pada dasarnya Didit dan Fredy adalah orang yang baik dan sangat setia kawan, mereka berdua segera menjadi anggota kelompok kecil kami dan berbaur dengan baik. Bahkan berkat mereka berdua lah kami semua akhirnya bisa mengemudikan mobil. Didit dan Fredy begitu telaten mengajari kami hingga mahir mengemudi.

Bahkan akhirnya Yoyok bisa pindah ke kost yang lebih layak dan lebih besar, dimana seluruh isinya disuplai penuh oleh Didit dan Fredy. Aku dan Yoyok juga dimodali laptop dan printer untuk kelancaran tugas kami. Bahkan, aku dan Yoyok dipinjami motor plat merah yang banyak di rumah mereka. Maklumlah, anak pejabat.

Dari Didit dan Fredy juga lah kami bisa mengenal dunia lendir.

Walau sudah ada stok gudang dari pacar kami masing-masing, kami diajari mengenal kehidupan malam yang semuanya berbayar, tentu saja semua ditanggung Didit dan Fredy.
Tapi hanya sebatas itu. Kenakalan kami hanya di rokok, kopi dan wanita. Kami sama-sama sepakat untuk tidak lebih menghancurkan diri dengan minuman keras dan narkoba.
Saat itulah aku menyadari bahwa diriku begitu tergila-gila pada payudara. Ya, toket.

Aku akan betah berlama-lama memandangi payudara wanita walau secara diam-diam. Seluruh teman seangkatanku sudah aku perhatikan dengan seksama semua bentuk payudara mereka. Bahkan setiap mahasiswi yang kebelulan aku temui pasti payudaranya akan aku teliti dengan seksama, membayangkan bentuk dan keindahannya diam-diam sambil berusaha menutupi penisku yang langsung berdiri tegak.

Akibat terlalu sering memperhatikan payudara wanita inilah aku pernah beberapa kali terlibat affair sesaat dengan teman-teman cewek se-jurusanku, dan beberapa dari jurusan dan fakultas lain. Kadang aku bisa sangat malu saat tertangkap basah sedang memperhatikan payudara mereka, tapi malah ada juga yang berakhir pada kencan sesaat dengan mereka.

Rupanya, cewek-cewek itu ada yang sampai menjadi horny saat aku menatap nanar pada payudara mereka. Berawal dari ngobrol ngalor ngidul sampai akhirnya obrolan sampai pada membahas bentuk payudaranya, biasanya si cewek akan bertanya kenapa tadi aku seakan meneliti payudara mereka.

Biasanya aku akan menjawab dengan mengatakan aku mengagumi bentuk payudaranya yang bagiku sangat indah. Jika sudah begini, kadang beberapa di antara mereka ada yang pernah sampai mengajakku ke kostnya, ke bioskop, atau aku bawa ke kost Yoyok.

Akhirnya aku bisa menikmati indahnya payudara mereka, ada yang cuma ngasil lihat aja, ada juga yang boleh megang-megang dan remas-remas, ada pula yang bisa sampai aku lumat habis-habisan, tapi hanya sedikit yang bisa sampai bercinta denganku. Sebagian besar hanya karena mereka ingin memuaskan rasa penasaranku pada payudara mereka, apalagi sebagian besar mereka masih perawan dan sudah punya pacar. Aneh ya? Tapi itulah kenyataannya. Mungkin mereka lebih suka pada cowok yang jujur apa adanya daripada ama cowok yang diam-diam konak karena merhatiin toket mereka.

Inilah sebagian besar ceritaku sebagai mahasiswa, hidup bersama gengku siang dan malam selama kuliah. Ini adalah keluarga ku yang kedua, terdiri dari Yoyok, Zaldi, Ucup, Bambang, Bagas, Didit dan Fredy. Mereka adalah keluargaku. Kami saling membantu dan berbagi di semua hal agar kami bisa sukses bersama-sama.

Tentunya kesepakatan antara aku dan Yoyok dengan Didit dan Fredy yang tidak diketahui oleh teman kami yang lain. Kami begitu akrab dan sehati, bahkan kami pun saling mengenal dengan semua orangtua kami dengan seringnya kami berkunjung ke rumah masing-masing, termasuk ke rumah Yoyok yang jauh di perkebunan tebu sana.

Pipit.

Dimana Pipit?

Entahlah, terasa nyeri jika harus menceritakan sisi kehidupanku yang satu ini. Tapi salah besar jika mengira Pipit telah lenyap dari hidupku.

Pipit tak pernah bisa lenyap dari ingatanku. Pipit selalu ada dalam hatiku, menjadi debaran disetiap detak jantungku. Aku tetap mencintai Pipit. Aku selalu mencintai Pipit. Sekeras apa pun aku berusaha melenyapkannya dari ingatanku, hanya akan mengembalikanku pada kesadaran bahwa aku semakin mencintai Pipit dan semakin merindukannya.
Walau dia kini tak bisa aku temui, atau tepatnya tak mau lagi aku temui, bahkan sampai menukar nomor hapenya. Tujuannya jelas, semua itu untuk mencegah aku menghubunginya.

Setelah pertemuan terakhirku saat aku diterima di PTN dulu, hanya sekali aku bertemu Pipit. Saat Pipit ulang tahun di bulan Desember tahun 2008, saat aku masih semester I, dan Pipit kelas 2 SMA. Saat itu aku nekad menemuinya di rumahnya untuk mengucapkan selamat berulang tahun dan menyerahkan kado untuk Pipit. Aku memberikan sebuah Al-Quran dengan cetakan yang indah, serta seperangkat alat sholat untuk wanita.

Seperti Mas Kawin, ya?

Ya itulah yang aku tuliskan di kartu ucapannya ;

JIKA AKU TAK BISA MENYERAHKAN INI SEBAGAI MAS KAWIN, KENANGLAH INI SEBAGAI PEMBERIAN DARI LELAKI YANG SANGAT MENCINTAIMU DAN AKAN SELALU MENCINTAI KAMU.
SELAMANYA.

Begitulah yang aku tulis di kartu ucapan yang aku selipkan di dalam kado berbungkus kertas berwarna hijau yang aku serahkan pada Pipit di ulangtahunnya yang ke 17. Dan itulah pertemuan aku yang terakhir dengan Pipit.

Hanya sebegitu saja? Tidak, kawan

Awal kuliah di semester I, disaat seluruh isi otakku hanya di penuhi oleh Pipit dan Pipit lagi, aku tergerak untuk mengetahui apa sebenarnya kehidupan yang dirasakan Pipit. Menurutku, Pipit berubah semenjak dia ikut pengajian rutin di Rohis sekolah. Kalian tau siapa mentor mereka? Sebagian besar adalah para mahasiswa, selain yang telah menjadi ustad dan ustadzah senior yang statusnya sudah bekerja.

Dan para mahasiswa yang menjadi mentor seperti itu sangat banyak jumlahnya di kampusku, tergabung dalam sebuah kelompok yang rutin mengadakan kegiatan dan pelatihan keagamaan di masjid kampusku. Aku bergabung dengan mereka, mencoba mengikuti semua yang menjadi kebiasaan mereka.

Aku akan betah berlama-lama duduk di masjid kampus mendengarkan ceramah-ceramah mereka, mengikuti pengajian-pengajian mereka, bahkan aku sempat mencoba menunjukkan diri sebagai bagian dari mereka dengan mengenakan celana kain cantung di atas mata kaki dan memelihara jenggot.

Semua itu aku lakukan agar aku lebih mengenal dunia seperti apa yang digeluti Pipit sekarang. Ingat kan Pipit pernah bilang bahwa wanita yang baik akan mendapat jodoh yang baik? Aku berada di antara mahasiswa-mahasiswa agamis itu agar Pipit tahu bahwa aku sudah berubah, aku sudah sama seperti Pipit. Dalam otakku, wanita berjilbab lebar pasti suaminya berjanggut dan bercelana cantung

Tapi aku seperti tertampar saat mendengarkan sebuah ceramah yang membahas tentang niat. Sang penceramah mengatakan, semua yang kita lakukan tergantung pada niat, jika niat kita ikhlas karena mencari ridho Yang Maha Kuasa, maka semua urusan duniawi akan dipermudah oleh-Nya. Tapi jika niat kita karena mencari perhatian dari sesama manusia, maka semua itu akan sia-sia.

Sementara aku duduk disini, bersila mendengarkan ceramah ini karena ingin terlihat sudah menjadi lebih baik bagi Pipit. Aku menyadari semua ini karena Pipit. Aku belum tulus dan ikhlas meniatkan ini karena Yang Maha Kuasa.

Aku merasa telah salah langkah. Tak ada gunanya seperti ini jika niatku saja sudah salah. Lama aku terperangkap dalam perasaan galau. Aku jadi kacau begitu hampir satu semester lamanya.
Aku tidak pernah lagi mengikuti semua kegiatan di masjid kampus. Aku lebih banyak menghabiskan waktu luangku dengan nongkrong di warung langgananku atau di terminal kampus ditemani segelas kopi dan sebatang rokok.

Bersambung