True Love Part 11

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat

Cerita Sex Dewasa True Love Part 11 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerrita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa True Love Part 10

When Love and Hate Collide

Pipit keluar dari dalam rumahnya, sambil membawakan minuman untukku. Langkah dan geraknya begitu anggun, menyisakan aku dalam keterpanaan melihat penampilannya kini. Setelah menghidangkan minuman di meja, Pipit kemudian duduk di depanku di sisi bagian kanan, menatap ke arah kiriku lalu menunduk dan menyembunyikan telapak tangannya ke dalam jilbab lebar yang dikenakannya.

Ya.
Kini Pipit duduk di depanku dengan menggunakan gamis berwarna coklat muda, dengan jilbab lebar berwarna kuning gading yang tampak serasi secara keseluruhan. Pipit juga menggunakan manset dan kaus kaki. Dan kini hanya wajahnya saja yang bisa aku lihat.

Apa kabar, Ka? sapanya.

Kabar baik, Pit jawabku masih terpana pada penampilan Pipit.

Pipit sekarang berjilbab? tanyaku. Sejak kapan, Pit?

Pipit hanya menoleh sedikit tanpa menatap mataku, tetap dalam keadaan tertunduk.

Sudah hampir dua bulan ini jawab Pipit.

Gak lama dari terakhir kita ketemu, dong?

Iya sehari setelah kita terakhir bertemu, Pipit memutuskan mengenakan jilbab

Sejujurnya, aku kini bingung mau bicara apa pada Pipit, apalagi melihat sikapnya yang selalu menunduk sejak tadi.

Pipit Kaka diterima di Universitas Gedong Meneng 😀 kataku akhirnya.

Iya, Pipit sudah baca juga pengumumannya Selamat ya, Ka

Pit Kaka merasa agak aneh deh ngobrol tanpa menatap begini protesku perlahan.

Sudah selayaknya seorang wanita menundukkan pandangannya, Ka jawab Pipit dengan suara lembut, namun penuh ketegasan.

Tapi Kaka merasa gak nyaman nih, biasanya kita ngobrol selalu saling menatap mata

Kalo gitu mulai sekarang Kaka harus membiasakan diri untuk tidak berlama-lama menatap wanita yang bukan muhrim, ya

Astagaaa Ini sih kelewatan nih. Aku punya banyak teman yang sudah mengenakan hijab, tapi gak ada yang begitu keras seperti Pipit ini. Aku benar-benar merasa gak nyaman lagi.
Aku benar-benar kesal karena suasana yang terjadi saat ini sangat jauh dari harapanku.

Pipit mungkin menyadari perubahan raut wajahku. Kemudian dia menoleh lagi ke arahku, namun tetap tidak menatap mataku. Rasanya benar-benar janggal.

Ini adalah keputusan yang Pipit sudah pikirkan dengan masak-masak, Ka Saat mengambil keputusan untuk berhijab, Pipit sudah siap dengan segala konsekuensinya kata Pipit dengan lembut kepadaku. Pipit harap Kaka mau mengerti dan memahami

Iya Kamu yang siap tukasku kecewa. Tapi kamu gak pernah menjelaskan pada Kaka dan gak mikirin Kaka akan siap atau gak

Pipit terkesiap mendengarkan perkataanku, sejenak wajahnya menoleh menatapku walau segera menunduk kembali.

Kamu memang berubah menjadi lebih baik kataku lagi, masih belum puas menumpahkan uneg-uneg dihatiku.

Tapi kamu seakan lupa ada Kaka di sisi kamu. Kamu mungkin siap meninggalkan Kaka, kamu mungkin kuat jika kita gak pacaran lagi. Tapi kamu lupa memikirkan perasaan Kaka yang kebingungan sebenarnya ada apa, apa salah Kaka sampai kamu mutusin Kaka Kamu gak pernah cerita kamu sudah mempersiapkan ini semua. Mungkin jika kamu mau cerita dari awal, mungkin kamu gak perlu sampai menyakiti Kaka seperti ini. Kamu seakan gak peduli ama Kaka, Pit

Pipit semakin menunduk mendengarkan ocehanku. Kini tampak Pipit mulai kebingungan, seakan ada yang baru terpikirkan olehnya setelah selama ini terlupa, dan itu mungkin membuatnya merasa bersalah.

Pipit takut Kaka gak akan bisa mengerti kata Pipit lirih, hampir tak terdengar.

Kamu jahat sekali, Pit Pertama kamu sudah gak jujur cerita ama Kaka, lalu kamu juga membohongi Kaka dan gak mau berbagi apa yang kamu rasakan pada Kaka Sekarang kamu malah menuduh Kaka gak akan pernah bisa mengerti kamu sergahku dengan perasaan terluka.

Kamu benar-benar tega ya, Pit desisku marah. Kaka sungguh gak nyangka kamu tega mengorbankan Kaka Sekarang semua sudah jelas, kamu meninggalkan Kaka karena kamu ingin bagus sendiri, kamu ingin menjadi baik sendiri Kamu sebenarnya gak peduli ama Kaka, kan?

Bukan begitu, Ka potong Pipit cepat. Pipit gak pernah bermaksud begitu Tolong maafkan Pipit, Pipit ngaku Pipit salah Maafkan Pipit, Ka

Aku terdiam. Aku menatap Pipit yang tertunduk dengan perasaan sangat terluka. Aku sungguh tak menyangka akan begini kenyataannya. Aku bisa melihat Pipit semakin menunduk, mencoba menundukkan matanya yang mulai berkaca-kaca.

Seandainya Pipit mau cerita dari awal tentang rencana Pipit ini, Kaka yakin akan mendukung Pipit dengan penuh. Pipit juga gak sampai harus mutusin Kaka dengan bilang Pipit gak pernah mencintai Kaka Mungkin Kaka yang akan mundur agar bisa sepenuhnya mendukung keputusan Pipit untuk berhijab kataku menumpahkan perasaanku.

Tapi kamu malah memilih meninggalkan Kaka sendiri, kamu gak peduli Kaka merasa sendirian kebingungan dan terluka Kamu menjadi sangat egois saat mengambil keputusan ini, Pit Kamu hanya memikirkan kebaikan dirimu saja. Sekarang Kaka gak ragu lagi padamu, Kamu sudah menunjukkan kamu memang gak peduli ama Kaka, Kaka sekarang percaya kamu memang jujur saat bilang bahwa kamu gak pernah mencintai Kaka Selamat ya, kamu sudah berhasil membohongi Kaka mentah-mentah tukasku keras. Kamu sangat menyakiti Kaka, Pit!

Tangis Pipit pecah. Dia sesugukan sambil menatapku nanar. Maafkan Pipit, Ka Pipit yang salah hikz hikz

Sudahlah, Pitgak perlu Pipit memaksakan diri minta maaf sama Kaka ujarku lemas. dari dulu Kaka udah bilang kan, Kaka ini memang gak pantas buat kamu

Tangis Pipit semakin menjadi, aku sebenarnya sangat ingin memeluknya. Tapi sudahlah, tak ada gunanya lagi pikirku

Kaka permisi pulang ya, Pit kataku sambil berdiri. Pipit menatapku dengan airmata berlinang, seakan dia tak ingin aku pergi sekarang.

Jangan, Ka pintanya kepadaku. Jangan pulang dulu Pipit mohon Kaka mau memaafkan Pipit Pipit yang salah gak berpikir sejauh itu. Maafkan Pipit sudah menjadi begini egois pada Kaka

Aku menatapnya dalam-dalam. Aku ingin Pipit merasakan betapa kecewanya aku pada perlakukannya padaku. Aku ingin menyampaikan seharusnya Pipit tak perlu meremehkan aku serendah itu, menganggap aku tak akan pernah mampu mengerti sehingga tidak mau mendiskusikan apa pun padaku. Aku sangat ingin Pipit tahu bahwa aku sangat kecewa kepadanya.

Pipit gak perlu minta maaf pada Kaka, sayangku kataku lirih.
Kaka sangat mencintai kamu, Pit Rasa cinta Kaka pada Pipit selalu bisa memaafkan Pipit Tak peduli betapa pun menyakitkannya perbuatan Pipit pada Kaka

Pipit sungguh-sungguh memohon Kaka mau memaafkan Pipit kata Pipit sambil menangis.

Sudahlah, Pit Gak usah Pipit pikirin Kaka gak marah kok. Yaahh sedikit siih Cuma nanti pasti Kaka akan baik-baik aja

Pipit mengambil sebuah buku kecil berwarna biru muda dari rak dibawah meja tamu dan menyerahkannya padaku. Aku menerima buku itu, berjudul Manajemen Cinta dengan hiasan kaligrafi tulisan arab di sampulnya. Aku buka halaman pertama buku itu. Disana tertulis namanya dengan tinta biru, ~desri s.t.~. Aku menatap Pipit dengan pandangan tak mengerti.

Bacalah buku ini, Ka pintanya padaku. Agar Kaka bisa memahami apa yang terjadi pada Pipit dan mau memaafkan Pipit

Aku mengangguk, dan rasanya sudah tak ada gunanya lagi aku berada di sini. Aku ingin buru-buru pergi. Aku sudah letih menjaga sikapku di depan Pipit. Aku sakit hati, dan aku sudah sangat lelah menutupi perasaan itu.

Kaka permisi pulang dulu ya, Pit Sampaikan salam Kaka pada orang tuamu pamitku sambil melangkah keluar. Pipit menyerah dan membiarkan aku pulang, dan mengantarkan aku sampai ke pagar rumahnya.

Maafkan Pipit ya, Ka katanya lirih yang justru malah membangkitkan emosiku. Aku mendekatkan wajahku ke arah Pipit.

Sudah Kaka bilang, buat apa minta maaf pada Kaka?? Karena kamu sekarang memakai jilbab?? Semua orang di dunia tahu jika berjilbab itu bertujuan baik! desisku marah.

Pipit terkejut menatapku. Tapi aku belum puas. Aku terus menyerang Pipit.

Tapi coba kamu pikirkan, ya Alangkah indahnya jika tujuan yang baik itu juga kamu sampaikan dengan cara yang baik pula!

Pipit terdiam, matanya nanar menatapku penuh penyesalan.

Selamat ya, Pit Kamu sudah menjadi wanita yang baik sekarang! kataku sambil menatapnya penuh dengan kemarahan, dan kemudian aku berbalik pergi meninggalkannya.

Aku masih sempat mendengar Pipit memanggilku lirih.

Kaka

Tapi aku tetap melangkah meninggalkannya.
Aku sangat marah dan sangat membenci caranya meninggalkan aku.

-oOo-​

Di sebuah pagi yang ramai dan jalanan agak macet karena banyaknya kendaraan yang sibuk memulai aktivitas hari itu, aku berdiri menunggu angkot di pinggir jalan dekat rumahku. Aku mengenakan kemeja putih dan celana kain hitam, lengkap dengan dasi hitam. Mirip sales. Tapi hari ini adalah hari pertama dimulainya masa orientasi pengenalan kampus, dan ini adalah pakaian yang diwajibkan untuk dikenakan mahasiswa baru selama seminggu ini.

Sebuah Kijang hijau tua melintas pelan di depanku. Seketika mataku bertemu pandang dengan seorang gadis berjilbab putih yang duduk di baris tengah dekat jendela sebelah kiri.

Mataku menatap lekat ke matanya, dan seketika rahangku mengeras penuh kebencian. Mobilnya yang melaju pelan membuatku mendapatkan kesempatan cukup untuk menyadari tatapan mata sang gadis yang berubah menjadi penuh kesedihan. Kami tetap saling menatap dengan perasaan kami masing-masing, sampai akhirnya mobilnya menjauh dan memisahkan tatapan kami.

Seketika itu aku merasakan nyeri yang teramat sangat di dadaku dan menjatuhkan kepalaku hingga tertunduk dalam. Ya Tuhan, ternyata aku sangat merindukan tatapan itu

Sebuah angkot berhenti di depanku, aku kembali menatap ke arah Kijang hijau tadi melaju dan sebelum menaiki angkot itu aku masih sempat membisikkan kata lirih di hatiku.

Kaka berangkat kuliah dulu, Pit

Berssambung