True Love Part 1

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat

Cerita Sex Dewasa True Love Part 1 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sex Dewasa True Love Part 1

True Love

Dengan mata yang masih sangat mengantuk, aku berusaha menjangkau handphone yang tergeletak di meja samping tempat tidur kamar kost ku. Ternyata getaran yang tadi sampai membangunkan tidurku karena masuknya tiga buah pesan singkat. Dengan masih berusaha untuk sadar sepenuhnya, aku tekan tombol handphone menuju menu pesan.

Degh.

Hentakan di jantungku membuat kesadaranku langsung pulih. 3 pesan beruntun dari pengirim yang sama. Nama sang pengirim yang membuat kantukku hilang lenyap. Sebuah nama yang begitu berarti buatku, sebuah nama yang selalu sangat aku nantikan akan menelponku atau pengirimkan pesan singkat kepadaku.

Dengan jari agak gemetar yang entah karena apa, mungkin firasat ya, aku memilih pesan yang paling bawah, yang merupakan pesan yang pertama masuk dari 3 rangkaian pesan tersebut. Loading messege yang sebenarnya hanya sedetik terasa sejam bagiku.

Assalamualaikum, Ka. Gimana kabarnya? Sebelumnya Pipit minta maaf, mungkin yg akan Pipit sampaikan ini akan membuat Kaka kecewa dan marah ama Pipit. Tapi Pipit percaya Kaka bisa memahami dan mau menerima ini semua.
Diterima : 04 : 55 : 19

Sehabis subuh, pikirku. Pipit pasti mengirim sms ini pasti sehabis sholat subuh. Sebelum membuka sms kedua, dalam pikiranku bertanya-tanya apa gerangan yang ingin di sampaikan Pipit padaku sepagi ini. Tiba-tiba sebuah perasaan takut begitu menyerangku, karena sebuah pemikiran yang terlintas dalam benak berdasarkan pada ingatan yang terekam saat terakhir kali aku berkomunikasi dengan Pipit.

Dengan perasaan gundah luar biasa, ditambah ketakutan yang sangat jelas asalnya, aku nekad membuka pesan kedua Pipit.

Ka, Insya Allah Pipit akan menikah, bulan depan. Pipit dan orang tua sudah menerima lamaran dari seorang ikhwan. Pipit tau ini akan membuat Kaka kecewa, tapi sesuai pesan Kaka kemarin, Pipit harus beritahu Kaka apabila sudah sampai di kondisi seperti ini.
Diterima : 04 : 59 : 28

Tanpa aku sadari, aku sampai jatuh terduduk di tempat tidurku. Kepalaku langsung sakit dan serasa mau pecah. Benar dugaanku, Pipit akan menikah. Teringat kembali pada kenangan dua bulan silam saat terakhir kali aku dan Pipit berbicara di telepon. Malam itu aku masih berusaha keras untuk memintanya bersedia menjadi istriku.

Agak kurang pas bila di sebut melamar, karena aku sudah tau jawaban Pipit akan tetap mengatakan tidak untuk sebuah ajakan membina rumah tangga denganku. Saat itu, diakhir percakapan aku hanya bisa berpesan padanya, sebelum akhirnya telepon itu diputuskan oleh Pipit yang diikuti dengan diikuti oleh tangisanku semalaman. Terngiang di telingaku apa yang kami ucapkan malam itu.

Pit, Kaka selalu berusaha menerima kenyataan kalo Pipit gak akan pernah bisa jadi milik Kaka. Ini permintaan Kaka yang terakhir ama Pipit. Kalo boleh Kaka ingin hadir saat Pipit menikah nanti. Tentu saja Pipit yang memutuskan apakah Pipit akan ngasih tau Kaka atau gak, apakah Pipit akan ngundang Kaka atau gak

dan jawaban Pipit adalah, iya, Ka Kita liat aja nanti

dengan gemetar dan sekuat tenaga menahan air mata yang mulai merembes di mataku, aku buka sms ketiga
Insya Allah walimahnya di rumah Pipit, tgl 19 bulan depan. Pipit berharap Kaka mau hadir. Pipit bukan mau nyakitin Kaka, krn gmn pun jg Kaka berarti bgt buat Pipit. Pipit yakin Kaka akan ikut bahagia untuk kebahagiaan Pipit. Dateng ya Ka.
Diterima : 08 : 17 : 07

Dunia terasa runtuh bagiku. Harapanku langsung musnah. Mimpi untuk membina rumah tangga dengan Pipit punah karena tiga sms jahanam itu. Dan percakapan kami di telepon terakhir dua bulan yang lalu, kini menghantam telak di hatiku. Dan itu sangat sakit, karena ucapan yang aku sampaikan padanya agar mengundangku ke pernikahannya kini berbalik menghantamku dalam bentuk besi membara yang menghanguskan seluruh harapanku.

Damn, butuh 3 jam buat Pipit untuk memutuskan apakah akan mengundangku atau tidak. Pipit sangat tahu bahwa aku sangat mencintainya, dan aku yakin Pipit juga menyadari bahwa hadir dipernikahan orang yang sangat dicintai adalah sangat menyakitkan. Kini Pipit benar-benar mengharapkan kehadiranku, aku yakin karena Pipit sangat tahu kalau aku akan melakukan apa saja untuknya, termasuk jika sampai harus menyakiti diriku sendiri untuk membahagiakannya. Bisa dibilang, aku termakan oleh ucapanku sendiri.

Cinta.

Aku memang sangat mencintai Pipit.

Pipit adalah cinta pertamaku.

Dan harus aku akui, Pipit adalah segalanya buatku.

***

Desri Savitri Tresnanursari.

Mamanya memanggil dia Desi, kakak dan adik-adiknya memanggilnya Echi, atau mbak Echi.

Tapi panggilan sayang dari papanya lah yang membuat gadis itu di panggil Pipit di semua aspek kehidupannya selain di rumah. Anak kedua dari lima bersaudara, hanya abangnya yang tertua dan adiknya yang paling bungsu yang laki-laki, sisanya perempuan semua.

Aku mengenalnya pada tahun 2006 saat masih SMU dulu, tepatnya pada saat hari keempat masa orientasi siswa baru yang berlangsung seminggu penuh. Pada hari keempat itu, seluruh siswa baru diwajibkan mengumpulkan tanda tangan dari seluruh senior yang menjadi panitia kegiatan orientasi tersebut. Aku saat itu baru naik kelas 3, salah satu senior yang sejak kelas 1 sampai dengan hari itu masih menjomblo, seumur hidup belum pernah punya teman gadis yang bisa aku bilang sebagai pacar.

Mohon maaf aku beri penjelasan sebelum dituduh sebagai cowok tidak laku. Aku adalah tipe cowok yang tak mudah jatuh cinta. Sungguh. Bukan dibesar-besarkan atau mencari pembenaran. Saat kelas 1, aku jatuh cinta pada seorang gadis teman sekelasku.

Namanya Rita, gadis imut (dari tinggi badannya memang imut) dengan spek body yang proporsional, cantik berkacamata, lembut dan cerdas. Saat aku sadari aku menyukai Rita, aku mulai dengan mengenal sosoknya terlebih dahulu. Aku cari tahu dulu bagaimana sifatnya, apa yang dia senangi dan apa yang tidak dia sukai. Ini memakan waktu 3 bulan, my friend, sampai akhirnya aku menyatakan cintaku padanya pada saat pulang sekolah.

Rita membutuhkan waktu 24 jam sebelum dia menjawab permintaanku menjadikannya kekasihku. Rita tidak pernah mengatakan gak mau saat aku memintanya jadi pacarku. Dia bilang dia ingin konsentrasi pada pelajaran dulu, gak mau pacaran karena akan mengganggu pelajaran, apalagi aku sekelas dengan dia.

Aku tau Rita memang senang membaca, nongkrongnya di perpustakaan saat istirahat. Rita memang kurang suka hangout sama teman-temannya, bahkan sekedar nongkrong di kantin saat istirahat, hanya sekedarnya saja. Aku tau apa yang dia sukai dan apa yang dia tidak sukai, tapi aku tak pernah menyangka jika itu yang dijadikannya alasan tak mau menerima ajakanku untuk pacaran.

Sampai akhir kelas 1, aku terus berusaha membujuknya agar mau menjadi pacarku, menunjukkan seluruh perhatianku padanya. Tapi itu semua seakan gak ada pengaruhnya. Rita tetap Rita. Belajar dan belajar. Konsisten dia. Bahkan sampai kami kuliah, karena aku satu fakultas dengannya, aku gak pernah mendengar dia pacaran. Good girl, konsisten. Sebelum ujian kenaikan kelas, aku menenggelamkan bahtera cinta yang aku bangun untuk Rita. Cukup. Hampir setahun aku mengejar Rita dengan kesimpulan : Just wasting time.

Saat kelas 2, aku kembali jatuh cinta. Pada anak kelas 1 yang baru masuk. Boleh dong ngincer yang masih fresh. Aku jadi panitia orientasi karena keaktifanku di eksul Pramuka. Masa orientasi benar-benar aku pakai buat nyari pacar, hehe dan aku bertemu dengan seorang gadis bernama Dwimarini. Yup. Dwimarini, tanpa spasi dan hanya Dwimarini tanpa embel-embel lain, panggilannya Dwi. Anaknya tinggi, putih, bodynya yahud punya.

Kebalikan dengan Rita, Dwi anaknya rame, senang hangout bahkan ngabur dari pelajaran, walau masih menyisakan kemayu khas Jogja yang lembut. Dan dia walau asik diajak hangout, jangan harap bisa sembarangan menyentuhnya. Kembali 3 bulan aku pakai buat mengenal siapa Dwimarini, sampai aku putuskan untuk nembak dia karena aku sudah yakin aku benar-benar suka ama dia.

Kembali tak ada penolakan yang aku terima. Dwimarini bilang, Yaahh kakak telat minggu kemaren Dwi baru nerima kak Yos. Yos adalah sohibku di Pramuka, dan si binatang Yos ini bukannya gak tau kalo aku suka banget ama Dwi. Kejadian ini membuat aku meninju si Yos di parkiran motor, dan membuat aku bermusuhan dengan Yos dan Dwi, dan walau 4 bulan kemudian mereka putus, aku udah males buat ngedapatin Dwi. Harga diri, boss.

Begitulah.

Dan kembali ke awal lagi, masa orientasi saat aku kelas 3 dan bertemu dengan Pipit. Hari itu Kamis di pertengahan Juni 2006, adalah masa-masa dimana senior dengan niat yang tidak pernah tulus membantu dewan guru untuk memperkenalkan siswa baru pada lingkungan sekolah. Termasuk aku.

Aku bertahan di Pramuka, bahkan ngotot masuk ke OSIS semata-mata untuk masa orientasi ini. Hanya yang jadi panitia yang punya akses pada siswa baru, termasuk memilih duluan mana siswi yang cantik yang akan di prospek buat jadi pacar.

Dan hari itu, Kamis itu, sekitar jam 2 siang Aku sedang duduk disebuah batu di bawah pohon dekat lapangan basket, menikmati minum es the di siang yang terik. Saat itu aku benar-benar sudah lelah, karena sejak pagi aku dan beberapa teman berangkat survey untuk lokasi api unggun disaat malam penutupan orientasi.

Segerombolan siswi baru aku lihat dari jauh bisik-bisik sambil melihat kearahku. Ah, pasti mereka ingin meminta tandatanganku yang memang jadi tugas mereka, males aku jadinya. Mereka akan dapat tandatanganku, tapi gak gratis. Mereka akan aku kerjai jika sampai berani mendatangiku.

Tapi rupanya mereka berani, atau malah takut pada hukuman bagi siswa yang tidak mengumpulkan tandatangan seniornya yang jadi panitia, namun yang jelas mereka menghampiriku, agak takut takut karena aku yakin wajah bete yang aku pasang.

5 orang gadis, yah nilai 5 sampai 6,5 semua lah. Standar. Rada males aku melayani permintaan mereka agar menandatangani buku yang mereka bawa. Mereka satu persatu hanya aku suruh bernyanyi. Dan selama 10 menit aku terpaksa mendengarkan orang gak niat nyanyi. Aku cut, mereka akhirnya diam, gak satu pun yang bersuara. Aku kumpulkan buku mereka, dan mulai aku tanda tangani.

Pada saat buku keempat selesai aku tandatangani, sebuah buku terulur ke arahku
Minta tandatangannya ya, kak

Sebuah suara merdu membuatku mengangkat muka, menatap si manusia kurang ajar yang berani-beraninya menyodorkan buku tambahan tanpa melalui casting bernyanyi dulu

Degh.

Waktu seakan berhenti.

Aku memanfaatkan detik-demi-detik yang berlalu untuk menatap wajah si pemilik buku.

Seorang gadis, sambil menunduk meletakkan lututnya ke tanah di depanku yang sedang duduk disebongkah batu, berjongkok menyamakan tingginya denganku.

Sebelum sampai tanganku menyambut buku yang disodorkannya, aku menyadari bahwa diriku telah jatuh cinta.
Teramat dalam, seakan membuat jatuh cintaku yang sebelumnya terasa tak ada artinya.

Antara aku, dan gadis itu, ada sebuah jurang yang teramat dalam.
Dan aku terjatuh ke dalamnya, dengan penuh bahagia.

Aku yang sedang jatuh cinta

Pada gadis yang membawa buku untuk minta tandatanganku. Tanganku menyambut bukunya, sambil menatap dalam ke arah matanya. Duh, dia berani membalas tatapanku, seniornya.

Dan kelak di kemudian hari, kelima gadis lain yang sebelumnya sudah aku kerjai untuk bernyanyi bilang, moment itu adalah moment yang paling orisinal yang pernah mereka lihat.

Hampir tiga menit aku memegang buku itu tanpa mengambil darinya. Hampir tiga menit aku menatap dalam ke matanya. Dua tangan, satu buku, dan dua pasang mata yang saling menatap, adalah moment yang sangat orisinal.

Orisinal noraknya.

jatuh cinta ya gak harus bengong gitu juga kali kak.. tawa mereka beberapa bulan kemudian. Kelima cewek centil itu akhirnya menjadi temanku juga karena mereka adalah sahabat dari gadis itu. Aku dan sang gadis hanya tersipu malu, dan kami kembali saling menatap.

Penuh rasa cinta.

***

Heh, memang kamu tadi udah nyanyi??? kataku jutek.

Bukan karena kelakukannya yang tiba-tiba main kasih buku aja tanpa aku kerjai, tapi untuk menutupi rasa malu tak terhingga yang tiba-tiba aku sadari setelah siuman dari bengong pegang-pegangan buku.

Belum kak jawab sang gadis sambil buru-buru menunduk, tak berani lagi balas menatapku.

Aduh mak, lembut kali suaranya

Kamu berdiri dulu di belakang mereka, ya kataku masih jutek.

Antri sana..!!!

Langsung aku sesali ucapanku ini, karena aku malah membentaknya.

Si gadis itu lalu berjalan kearah belakang 5 cewek yang sedang menunggu buku mereka aku tanda tangani. Pura-pura cuek, aku melanjutkan menandatangani buku mereka, kecuali buku si gadis yang terakhir. Setelah selesai, aku serahkan buku-buku itu pada mereka.

Kamu! kataku keras pada gadis terakhir tadi. Dia mengangkat wajahnya yang tertunduk. Jelas jika dia jadi ketakutan.
Astaga Kembali aku merasa bersalah karena berkata kelewat keras

Dia maju ke arahku, dan kembali bersimpuh dihadapanku seperti tadi baru pertama datang.

Kak, kalau boleh kami permisi dulu, masih mau nyari tandatangan kakak-kakak yang lain seorang gadis dari rombongan pertama pamit kepadaku. Sepertinya mereka mau buru-buru pergi, mungkin karena gak tega melihat gadis terakhir aku hukum.

Ya sudah, kalian boleh pergi jawabku yang langsung membuat kelimanya berbalik dan kabur secepat mungkin.

Tinggal aku dan sang gadis, yang bersimpuh di depanku.
Jelas sekali dia ketakutan. Sudah salah, dan sekarang ditinggal sendirian.

Posisi kami yang saling berhadapan membuatku bisa melihat langsung ke ubun-ubunnya. Sebenarnya ingin melihat wajahnya lagii Tapi dia sedang menunduk ketakutan.

Nama kamu siapa..?

Sontak dia mengangkat wajahnya, matanya tepat menatapku. Jelas sekali dia terkejut.
Nada bicaraku berubah jadi sangat lembut. Aku juga gak tau kenapa.

A..a..apa kak..? keterkejutannya membuatnya terbata-bata.
Ya Tuhan, maafkan aku telah menakut-nakutinya

Nama kamu Aku belum tau nama kamu kataku lagi sambil melihat ke bukunya, memang tak ada nama disitu. Lalu aku tatap lagi wajahnya, menanti dia menyebutkan namanya.

Pipit, kak jawabnya

Lho, kok pipit sih, pikirku. Wajahnya sama sekali gak menunjukkan kecerewetan selayaknya burung pipit. Wajah itu terlalu lembut. Dan bibir itu juga terlalu indah jika harus jadi bibir yang cerewet.

Nama lengkap kamu kataku lagi. Kakak mau tau nama lengkap kamu..
Sejenak dia terdiam, dan yang membuatku heran dia seperti menarik nafas untuk mengumpulkan sedikit kekuatan sebelum menyebutkan nama lengkapnya.

DES[R]I SAVIT[R]I T[R]ESNANU[R]SA[R]I sebutnya cepat, tapi terdengar lirih. Aku saja hampir tak mendengar dan kurang tersimak benar

Siapa..? aku kembali bertanya, emang kurang jelas kok.

Kembali dia terdiam, dan mengulangi menarik nafas dan menyebutkan nama lengkapnya dengan cepat walau sekarang lebih jelas terdengar olehku..

DES[R]I SAVIT[R]I T[R]ESNANU[R]SA[R]I

Seketika itu juga meledaklah tertawaku, aku ngakak sejadi-jadinya walau sama sekali gak bermaksud mentertawakannya.

Bukan. Bukan karena namanya yang aneh atau lucu. Tapi cara Pipit mengucapkannya yang lucu. Ternyata, Pipit gak bisa melafazkan huruf [R] dengan sempurna. Jadi, anda-anda tidak salah membaca namanya, bukan salah ketik kok. Aku aja yang gak bisa menemukan huruf yang tepat untuk mewakili cara Pipit menyebutkan [R].

Kalo anak kecil yang cedal kan bilang [R] jadi huruf [L], tapi dia ini beda, huruf [R] nya itu bukan lidahnya yang bergetar, tapi seperti tertahan di tenggorokan. Ah, paham, kan..? kebayangkan gimana Pipit melafazkan [R]?

Pipit langsung menunduk. Gak jelas antara malu atau kesal karena aku mentertawakan dia.

Susah payah aku menghentikan tawaku. Setelah aku bisa menenangkan diri, aku segera menandatangani bukunya. Lalu aku serahkan buku itu padanya. Saat menyerahkan buku itu gak langsung aku serahkan, aku tetap tahan dan Pipit kembali mengangkat wajahnya menatapku.

Nah, sudah kakak tandatangani. Maaf ya tadi kakak tertawa
Pipit kembali menunduk, tak berusaha menarik bukunya dari peganganku.

Pit panggilku, dan Pipit kembali menatapku. Aku melepaskan bukunya sambil bilang..
Sepertinya tadi kamu susah banget mau nyebutin nama lengkap kamu Apa karena gak bisa ngomong [R] itu, ya?

Ih si Pipit ini nunduk lagi. Hobi amat nunduk sih. Kan jadinya aku gak bisa menatap wajah lembut yang cantik itu

Nama kamu bagus.. aku berusaha mencairkan suasana yang jadi gak enak gitu.
dan kamu gak perlu malu hanya karena kamu gak bisa ngomong [R] bersyukurlah karena huruf yang lain bisa kamu ucapkan dengan sempurna

Pipit tetap diam dan menunduk.

Belakangan aku baru tau kalo ternyata Pipit gak sependiam yang aku sangka. Dia hanya memilih kalimat yang paling sedikit huruf [R]nya. Kalaupun terpaksa dia memilih diam, atau bicaranya itu dipersingkat dan dipelanin Tapi kalo dengan orang-orangnya udah deket ama dia, dia bisa rame juga, walau tetap bicara dengan lembut.

sekarang, Pipit nyanyi dulu ya, temen-temennya tadi juga nyanyi kembali aku menunjukkan kekuasaanku sebagai senior.

Keliatan banget Pipit panik.

Lagu apa kak..? Pipit gak bisa nyanyi.. kata Pipit lirih.
Apa aja boleh, Pit Yang mudah aja deh, lagu Balonku ya.. kataku lagi.

gak mau, kak

lho kenapa, emang gak hapal..? kan itu lagu mudah banget dari kecil kita udah tau..

pokoknya gak bisa, kak Pipit masih usaha supaya gak disuruh nyanyi.

alesannya apa..? wah saya rugi dong tandatangan tapi kamu gak mau nyanyi buat saya.. jelas aku gak mau rugi kalo gak ngerjain ni cewek cakep.

Lama Pipit terdiam, dan aku sudah mulai tak sabar. Ayo cepet deh atau kamu mau lari aja keliling lapangan basket 10 kali? saya mulai menyebar ancaman.

maaf kak, Pipit malu apalagi lagu itu banyak huruf [R] nya. Kata Pipit, hampir nangis dia.

Antara mau ngakak dengan bisa memahami dia, akhirnya aku bilang ama Pipit Ya udah deh, gak apa-apa kalo Pipit gak mau nyanyi

Aku bangkit dan berjalan ke arah kantin mau ngembaliin gelas teh.

Kak Pipit memanggilku, tetap dengan suaranya yang lirih syahdu.

Aku berhenti dan menoleh ke arahnya.

Makasih ya. Kata Pipit sambil tersenyum. Manis banget senyumnya.

Iya, sama-sama dan aku berharap dia kembali tersenyum untukku. Tapi Pipit malah menunduk. Ya sudah, aku kembali berjalan ke arah kantin.

Kak eh si Pipit manggil lagi

kenapa, Pit..?

Nama kakak siapa? wah ngajak kenalan nih si Pipit.

Namaku Raka.

Iya tau. Nama lengkapnya kakak siapa, mau Pipit tulis di buku ini katanya sambil menunjukkan buku yang aku tandatangani tadi.

Nama ku Raka. Raka Murdiantoro

Waduh keluh Pipit.

Lho, kok waduh?

Huruf [R]nya banyak banget jawab Pipit sambil tersipu malu.

duh.. cantik banget dia saat tersipu begitu…

Sumpah cantiiiiiik banget..!!!

Saat itu aku hampir tertawa karena dia bilang huruf [R] di nama ku banyak banget. Tapi gimana mau ketawa, yang ada aku justru terpesona pada sikap tersipunya itu. Karena alasan huruf [R] inilah akhirnya setelah kami resmi jadian, Pipit tidak memanggilku dengan sebutan kakak lagi. Aku meminta dia memanggilku dengan Raka saja, tanpa embel-embel kakak. Tapi Pipit ngotot gak mau manggil Raka, akhirnya dengan berat hati aku terima kekasihku memanggilku Kaka.

Bukan karena mau ngikutin nama pemain bola terbaik dunia atau vokalis band ngetop itu. Alasannya, karena kalo Pipit manggil Kaka, kan gak ada huruf [R]nya. 😀
Hadeeehhhh

Hari itu diselesaikan dengan saling tukeran nomor HP.

Setidaknya, selendang sang Bidadari sudah aku pegang.

***

Selesai masa orientasi sekolah, akhirnya aku dan Pipit semakin jarang bertemu. Karena aku yang sudah kelas 3 masuk pagi, dan Pipit masuk siang. Sempat beberapa kali bertemu Pipit saat akan pulang sekolah, namun hanya tatapan mata dan senyuman yang ada antara kami. Bertegur sapa seperlunya. Aku belum berani melakukan lebih, mungkin karena kebiasaanku yang mencari tahu dulu siapa sebenarnya yang menjadi calon targetku.

Karena keaktifanku di organisasi kesiswaan, aku bisa mendapatkan biodata Pipit. Tahu sendiri biodata isian sekolah, hanya tanggal lahir dan alamat yang bisa aku manfaatkan. Berbekal data itu, menyelidiki rumah Pipit pun sudah aku lakukan. Bahkan di sebuah hari minggu, aku menyatroni rumah Pipit seharian, melihat dari sebuah warung apa aktivitas di rumahnya.

Sampai aku melihat orang-orang yang aku perkirakan adalah ayah dan ibunya, serta kakak dan adiknya. Dan aku juga melihat Pipit yang saat itu mungkin sedang beres-beres rumah, keluar dengan menggunakan celana pendek dan kaos youcansee. Hehehe.. kakinya putih mulus dan bentuk tubuhnya bagus, juga body nya lumayan jelas terlihat dari ketatnya kaos yang dia pakai walau aku tak bisa menebak bagaimana spesifikasi detailnya.

Di sekolah, aktifitas sore yang kami lakukan sebagai wakil dari organisasi Pramuka sekolah adalah meminta waktu kepada guru yang sedang mengajar, untuk mempromosikan kegiatan kesiswaan diluar jam sekolah. Aku bersama teman-temanku mempromosikan kegiatan pramuka yang aku ikuti kepada siswa kelas 1 di seluruh kelas.

Saat itulah aku kembali bertemu dengan Pipit yang merupakan siswa kelas 1.3. Aku hampir tak mengenalinya, karena ternyata Pipit menggunakan kacamata. Kacamata berbingkai tebal, jadul style, yang membuat aku tak mengenalinya. Aku sampai tersenyum geli saat kami saling bertatapmata, Pipit buru-buru melepas kacamatanya.

Belakangan, setelah kami pacaran baru Pipit menceritakan padaku bahwa kacamata itu sangat dia sayangi walau modelnya jadul begitu. Memang terkesan oldskool, tapi Pipit sayang sekali pada kacamata itu. Dan hanya saat belajar di kelas dia pakai, karena rabun jauhnya masih memungkinkan dia tidak memakai kacamata saat tidak sedang di kelas.

Setelah hari itu, waktu yang hanya sesaat antara sebelum aku pulang dengan sebelum Pipit masuk kelas, aku manfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk mendekati Pipit, memperbanyak ngobrol supaya makin kenal. Akhirnya bujukanku termakan olehnya, Pipit mau ikut jadi anggota Pramuka. Pada saat perkemahan sabtu minggu yang pertama bagi anggota baru, aku menyatakan cintaku pada Pipit.

Saat itu sedang acara api unggun, dan sudah memasuki acara bebas. Para anggota baru di daulat untuk mengisi acara dengan berbagai macam suguhan kesenian.

“Pit, aku mau minta tolong.. Kamu ikut aku sebentar ya.. kataku mengajak Pipit memisahkan diri dari acara api unggun. Pipit agak bingung, mungkin karena merasa gak enak meninggalkan acara dan takut terlihat pergi denganku.

“Aku tunggu di belakang tenda posko, ya… dekat tempat masak.. kataku lagi untuk memupus keraguannya.

Pipit mengangguk, dan aku segera melangkah meninggalkannya. Tugasku sebagai kepala seksi keamanan saat acara membuatku memiliki akses kemana saja dan bisa berkeliling kapan saja. Dengan agak memutar, aku melangkah ke arah belakang tenda posko yang besarnya bisa buat menampung pengungsi itu.

Lima belas menit aku menunggu Pipit, berusaha memohon kepada nyamuk hutan yang sok akrab denganku untuk pergi jauh-jauh. Sungguh sengsara rasanya menunggu dengan hati yang deg-degan sambil digigiti nyamuk seperti itu. Sampai akhirnya aku melihat sosok bayangan Pipit melangkah ke arahku, senyumku pun mengembang.

“Kita jalan ke arah desa aja ya Pit, nyari warung..” kataku saat Pipit sampai di depanku.

Pipit mengangguk, beriringan kami melangkah bersama ke arah desa terdekat yang jaraknya sekitar 1 km. Sepanjang jalan aku hanya terdiam, bingung bagaimana harus memulai mengutarakan isi hati ku pada Pipit.

all readers, untuk selanjutnya semua perkataan Pipit yang berhubungan dengan huruf [R] kita tulis biasa aja ya, biar gak ribet nubie nulisnya, hehehe..

“Katanya Kakak mau minta tolong Pipit.. Ada apa ya, kak..?” tanya Pipit memutus kesunyian antara kami.

Duh, agak grogi aku menjawab pertanyaan itu. Karena permintaan tolong tadi hanya jadi alasan aja supaya aku bisa jalan berdua dengan Pipit.

“ehhm.. gini, Pit..” jawabku nervous. Pipit terus menatapku sambil kami melangkah, menungguku melanjutkan omongan.

“kakak mau minta tolong Pipit, tolong kasih kakak saran.. Kakak lagi gak bisa mikir nih..”

“emang masalahnya apa..? Kalo Pipit bisa bantu nanti Pipit bantuin deh..” kata Pipit.

“Tapi bantuannya tetap saran yaaa.. Kalo bantuannya berupa dana harus ada izin dari Lurah dan RT/RW setempat lho..” candanya.

Aku tersenyum menatap Pipit. Bisa juga kamu bercanda, cantik.. kataku dalam hati. Seketika semua rasa gugupku hilang, berganti dengan rasa relax yang luar biasa. Kalo toh nanti aku sampai di tolak saat meminta Pipit jadi pacarku, aku yakin dia akan menolaknya dengan halus. Candanya barusan membuatku yakin gadis yang sedang berjalan bersamaku ini memiliki hati yang lembut. Aku yakin jika dia harus menolak maka akan dia lakukan tanpa melukai.

“Begini, Pit..” kataku dengan keberanian penuh.

“Kakak sedang jatuh cinta…”

” Oh ya..? wah asik tuh.. sama siapa, kak…?” sergap Pipit cepat. Aku yang jadi gelagapan langsung diserang begitu.

“Hhhmmm.. ini.. sama seorang gadis cantik, Pit…” jawabku.

“Wah, bagus itu..”

“Bagus gimana…?”

“Berarti Kakak masih normal.., hi..hi..”

Eh buset.

Ini anak gak peka banget, ya… Gak tau apa kalo sebentar lagi kalo yang mau di “ditembak” itu sebenarnya dia..
Memangnya gak sadar apa kalo kalo diajak pergi berdua seperti ini tentu ada tujuan tertentu, ya gak..?

“Alhamdulillah, Kakak masih normal senormal-normalnya, Pit…” kataku sambil tersenyum geli.

“dan Kakak masih bisa membedakan kok, mana gadis cantik dan mana yang KW..”

Jawabanku membuat kami tertawa bersama. Duh Tuhan, seandainya Pipit gak mau jadi pacarku, izinkan aku selalu bisa menikmati tawa ini selamanya..

“Truz, masalahnya dimana, Kak..? Memangnya Kakak sebelumnya belum pernah suka sama cewek gitu, sampai kebingungan dan minta saran aku…? kata Pipit sambil senyum-senyum.

Sungguh, obrolan yang sangat indah. Mungkin karena hati ini penuh dengan cinta untuknya. Kekurangan Pipit yang gak bisa ngomong [R] justru membuat cara bicaranya terdengar sangat menggemaskan, bahkan terdengar seksi, lho.., dan biasanya Pipit canggung untuk ngobrol panjang lebar, takut huruf [R] nya terob[R]al kemana-mana.

Boleh dong, rada ge-er. Kan pernah bilang kalo bukan orang dekat, burung mungil ini gak akan berani berceloteh. Berarti dia merasa dekat dong ama aku..? Gubbrraaakkk..!!!

“Masalahnyaaa… Kakak gak berani buat bilang ke dia kalo Kakak jatuh cinta padanya, Pit. Kakak takut dia nggak mau nerima cinta Kakak..”

“Lhooo.. kok cemen amat sih..? Kalo Kakak gak berani bilang ama dia, gimana Kakak bisa tau kalo dia akan menerima atau menolak Kakak…”

“Iya juga, seh..”

“Lagi pula, lebih baik sebuah cinta itu tersia-sia karena di tolak, Kak…, dari pada tersia-sia karena gak pernah terkatakan..”

Hmmm, boleh juga nih cara berfikirnya Pipit.

“Jadi Kakak harus berani bilang sama dia, sama seperti Kakak udah berani-beraninya jatuh cinta ama dia…” kata Pipit lagi. Benar-benar bisa berkicau nih, si Pipit kecil.

“Apa pun konsekuensinya, Kakak harus siap menerima. Harus berani menanggung semua resikonya. Jadi laki-laki harus begitu, Kak..” kata Pipit lagi, sekali ini terlihat semakin semangat banget gitu deh.

“jadi menurut kamu, Kakak harus jujur ama dia, gitu..?”

“Bukan itu juga sih.. Tapi menurut aku, kalo Kakak berani bilang, artinya Kakak jujur pada perasaan Kakak sendiri.. jawab Pipit. “Kan biasanya orang jujur itu lebih dihargai lho, kak.. dan rezekinya banyak.. Siapa tau Kakak di terima, kan rezeki juga itu.. ya, kan..?”

Pipit ku yang indah. Aku merasa beruntung jatuh cinta padanya. Sungguh, semuanya terlihat indah. Bahkan jika tanpa dasar rasa cinta sekali pun, sebenarnya Pipit adalah sosok gadis yang indah. Pola pikirnya membuatnya semakin seperti bidadari cantik dengan IQ di atas rata-rata.

Lama juga aku terdiam, kata-kata Pipit begitu merasuk hatiku. Rencana cara menyatakan cinta padanya yang sudah aku susun sebelumnya, bubar. Aku harus memikirkan cara baru karena aku baru tau kalo gadis ini bukan sembarangan. Pola pikirnya bagus. Jangan sampai caraku menyatakan cinta padanya malah membuatnya ilfil padaku. Wah, harus segera mikirin cara baru nih…

Mikir.. Mikir…

“Kok diem, Kak..?” tanya Pipit menatapku.

Wah, cahaya lampu desa yang kami tuju sudah mulai kelihatan. Wah harus ngeles dulu nih, biar cukup waktu buat mikir strategi baru. Nanti aja saat jalan pulang kembali ke perkemahan aku nembak gadis cantik ini.

“ini nih, lagi nginget-nginget tadi anak-anak nitip belanjaan apa.. Wah masih ada warung yang buka gak ya..?” jawabku ngeles.

“hmmmmmm… Bisaan aja mengalihkan pembicaraan..!!!” omel Pipit cemberut yang justru membuatku terpesona. Aku sampai menghentikan langkahku. Pipit mau gak mau juga berenti melangkah.

“kenapa, Kak..?”

“Nanti ya, Pit.. Kita nyari warung dulu. Nanti saat jalan pulang Kakak lanjutin ceritanya..” kataku sambil memegang tangannya.

Pipit terdiam. Wajahnya menatapku dan menatap tangannya yang sedang aku pegang..

“ah.. Kakak gak asik ah..! Kalo gitu di warung harus jajanin Pipit. Enaknya ngedengerin orang cerita itu sambil ngemil tau, Kak..!!!” katanya sambil mengibaskan tanganku dan berjalan kembali.

Meninggalkan aku, yang masih terpana menatapnya.

Tinggi 160 cm, berat 50 kg, berkulit kuning langsat yang cerah jika tak bisa di katakan putih. Lingkar pinggul pas banget dengan ukuran jeans 28, dengan buah dada yang tumbuh subur hingga mencapai 34B. Informasi ini adalah hasil jelajahku setelah Pipit menjadi pacarku. Wajahnya cantik yang lembut. Mungkin lebih tepat bila di katakan ayu.

Sarah McLachlan saat masih muda sangat mirip dengan wajah Pipit. Dan pemilik tubuh indah itu sedang berjalan disampingku sibuk dengan bungkusan keripik singkong yang dipilihnya saat di warung tadi. Jatah preman, kata dia saat memborong semua persediaan keripik singkong yang ada di warung itu. Sambil jalan dia sibuk makan keripik itu, setidaknya mengulur waktu untukku bisa mempersiapkan kata-kata terbaik untuk aku jadikan peluru.

“Kayaknya ada yang pura-pura lupa, deh…” Katanya cuek sambil krauk krauk makan kripik singkong.

“Lupa apaan..?”

“Hmm ya sudah kalo gak mau di terusin ceritanya.. btw makasih lho keripiknya kak…”

Aku terdiam, mati kutu dibuatnya.

Kira-kira seratus langkah sesudahnya, sekitar 3 menit kemudian…

“Pit…”

Langkah Pipit terhenti. Mulutnya yang penuh keripik singkong berhenti mengunyah, menatapku.

“Kakak jatuh cinta, Pit.., jatuh pada sebuah perasaan cinta yang sangat dalam…”

“Terus…?”

“kakak jatuh cinta pada kamu, Pit..”

sungguh lega rasanya bisa menyatakan cintaku pada Pipit.

Pipit terdiam. Melanjutkan mengunyah keripiknya sambil berjalan kesebuah batang pohon rubuh di pinggir jalan. Mengikat kantung plastik yang berisi keripik singkong dan meminum air putih dari botol air kemasan.

Lalu menunduk dan diam. Meninggalkan aku sendiri yang tiba-tiba punya firasat gak enak.

Aku duduk di sebelahnya. Mencoba mengartikan sikapnya.

“maafkan Kakak. Benar yang kamu bilang tadi, Kakak ungkapkan perasaan Kakak padamu agar hati ini jadi lega. Setidaknya apa yang Kakak rasakan sudah Kakak sampaikan padamu..” lirihku.

“Rasanya lega, Pit… Bisa menyampaikan apa yang Kakak rasakan pada Pipit sungguh membuat Kakak lega..”

Pipit tetap menunduk dan diam. Hilang sudah kicauannya. Digantikan suara serangga malam yang ternyata berisik sekali saat sang pipit terdiam.

Diam ini sungguh menyiksa. Apalagi berkali-kali aku mendengar Pipit menghela nafas.

“Pipit kira, Kakak selama ini baik sama Pipit karena Kakak memang baik, tanpa ada embel-embel perasaan cinta..”

Hatiku terasa di penggal. Aku sampai bisa menebak kemana arah pembicaraan Pipit akan menuju.

“kak..” lirih Pipit sambil menatapku. Aku tatap matanya, mencoba menyelam ke dalamnya.

“apa yang Kak Raka harapkan dari Pipit..?”

Sambil menatap matanya, berharap Pipit bisa merasakan ketulusanku melalui moment saling menatap ini, aku tersenyum.

“maafkan Kak Raka, Pit.. Dengan perasaan cinta yang begini besar, Kakak mohon Pipit bersedia menjadi pacar Kakak”

Pipit dengan berani tetap menatap mataku, tak lepas walau aku gak bisa mengartikan ekspresinya itu pertanda apa dalam hatinya.

“kak Raka jatuh cinta pada Pipit sejak pertama kali bertemu Pipit. Kak Raka gak langsung sampaikan padamu karena Kak Raka harus yakin dulu pada perasaan Kakak..”

“dan sekarang Kakak yakin, Kakak benar-benar mencintai kamu”

Pipit menunduk kembali. Meremas kantung plastik yang ada dalam genggamannya pertanda gundah hatinya. Dengan keberanian yang aku kumpulkan, aku menggenggam jemarinya, kemudian berlutut dihadapannya, dan membawa jemari itu ke bawah daguku dengan genggaman kedua tanganku.

“Pit..”

Pipit menatapku. Matanya berkaca-kaca dalam genangan air mata.

Hatiku hancur seketika.

Seketika itu pula dalam hati aku berjanji, seumur hidupku tak akan pernah lagi membuat mata itu sampai berkaca-kaca.

“Kak Raka sangat mencintai Pipit.. Kak Raka mohon jadilah kekasih Kak Raka, agar Kak Raka bisa membuktikan Kak Raka tulus mencintai Pipit..”

Ku kecup jemari itu.

Ku tatap matanya yang semakin berkaca-kaca, mencoba memberikannya sebuah keyakinan, dan membiarkannya langsung melihat kesungguhan dalam hatiku melalui jendela mata.

Pandanglah mataku
Masuklah hingga ke dalam hatiku
Disana tak ada yang bisa ditutupi
Disana tak ada yang aku sembunyikan
Jika kamu menemukan ketulusan, maka terimalah cinta ini
Dan buatlah aku menjadi lelaki yang paling beruntung di dunia

Atau kamu pun boleh meninggalnya
Tinggalkan dengan lambaian selamat tinggal, dengan gelengan kepala yang tersenyum
Agar aku tidak terluka terlalu dalam
Dan bisa segera sembuh dan bisa kembali mencinta

Sudah aku sampaikan cintaku
Dan aku janjikan bukti kesungguhanku
Sekarang semua terserah padamu
Aku percayakan sebuah nyawa bernama cinta
Padamu..

Bersambung