Tiba Tiba Saja Part 8

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21

Tiba Tiba Saja Part 8

Start Tiba Tiba Saja Part 8 | Tiba Tiba Saja Part 8 Start

Jalan Lanto Deppasewang, sore ini tampak rame dikarenakan bersamaan jam pulang para pekerja di Kota Makassar. Memarkir sebuah mobil JEEP berwarna Orange-Hitam, di pinggir jalan depan sebuah rumah sakit jiwa. Atau biasa di kenal dengan sebutan RS Dadi.

Dalam mobil tersebut, di jok kemudi terlihat Ricky hanya diam menunggu gadis di sampingnya, si Hesty yang menginginkan berhenti di tempat ini untuk mengucapkan sesuatu.

Meski berbagai pertanyaan yang hadir dalam benak Ricky saat ini, namun ia memilih untuk tetap diam dan tak bertanya langsung ke Hesty yang duduk di jok samping.

Diamnya Hesty bukan karena di sengaja. Karena dalam pikirannya, ada kekhawatiran disana. Pertanyaan dalam benaknya pun mulai menyelimuti. Satu hal yang Hesty khawatirkan, jika pria ini mengetahui kondisi sang Ibu, apakah bakal tetap akan menjadi teman Hesty nantinya?

Tanpa gadis itu sadari, dia menggelengkan kepalanya sendiri. Mencoba melawan ke khawatiran dalam benaknya sejak tadi. Buat apa dia khawatir? Toh, Ricky kan belum tentu akan menjadi temannya. Belum tentu menjadi sahabatnya, apalagi menjadi kekasihnya. Mengingat penggalan kata terakhir, membuat wajah Hesty memanas.

‘Kekasih?’…

Gak Gak! Batin Hesty mencoba mengalihkan pikiran tersebut.

Melihat perubahan ekspresi gadis itu, yang juga baru saja geleng-geleng kepala. Ricky menoleh. Ia mengernyit ketika mendapati gesture dari gadis itu seakan salah tingkah. Mengerti jika Hesty mungkin merasa malu, maka Ricky mengeluarkan suara.

“Kamu belum masuk?” tanya Ricky.

“Hehe… anu. Itu eh!” Hesty tampak gugup menjawab pertanyaan pria itu.

“Kalo kamu gak ingin aku temenin, gak apa-apa… Biar aku duluan aja,”

“Maksud loe?”

“Kebetulan ada janji ma temen juga, sih… So! Aku hanya bisa anterin kamu sampai disini.” Jawab Ricky berbohong. Yang sebenarnya dia tak ingin membuat gadis itu menjadi salah tingkah. Menjadi malu dan juga sungkan, jika saja ia mengetahui apa yang Hesty jaga dan rahasiakan selama ini. Maybe! Benak Ricky sesaat.

“Kalo sibuk, kenapa juga tadi sok-sok an jemput gue kale… Dasar!” Cibir Hesty sesaat.

Ricky menoleh. “Turun gih.”

“Iya… Iya,” meski demikian, ada secuil kekecewaan yang tertinggal di benak sang gadis.

Hesty menoleh ke Ricky.

“Udah sana masuk!” kata Ricky.

“Iya…” Hesty tersenyum kecut, dan hanya melempar kata ‘Maaf!’ ke Ricky. Yang menandakan belum saatnya ia mengetahui kebenaran dalam hidup Hesty seperti apa. Setelah mereka berucap kata perpisahan, maka Hesty pun turun dari mobil.

Ricky sengaja tak menjalankan mobilnya sesaat. Ia hanya memandang kepergian Hesty. Terdengar helaan nafas darinya menandakan, ia sebenarnya tak ingin berpisah dengan Hesty. Ingin rasanya ia menghabiskan malam bersama sang gadis. Namun apa daya, ia pun tak mampu mengucapkan sesuai keinginan dalam hatinya.

Setelah sosok Hesty telah menghilang, maka Ricky hanya menggidikkan bahu, sambil menarik tuas matic ke ‘D’.

Mobil Ricky berjalan meninggalkan tempat itu.

~ •○●○• ~

Malam hari. Duduk di teras rumah memandang bintang yang tampak bersinar dan rembulan yang juga seakan tersenyum kepadanya. Hidup Hesty sudah sejak lama seperti ini. Hidup sendiri, menopang hidup dari pekerjaan yang penghasilannya standar UMK di kota Makassar. Membiayai keperluan dirinya dan juga ibu yang masih di rawat d RS sejak 10 tahun yang lalu.

Hesty selama ini dikenal, ‘SUPER IRIT’ oleh para sahabatnya. Beralasan jika setengah gajinya ia khususkan buat kebetuhan sang ibu. 25% lagi, kebutuhan untuk dirinya sendiri. Dan 25% nya lagi untuk ongkos transportasinya baik saat ia kerja maupun untuk bepergian kemana saja. So! Jika demikian, bagaimana cara Hesty menyelesaikan sangkut pautannya dengan pihak Bank?

Nope! Hesty pasrah…

Dia juga telah bersiap diri jika suatu saat, Pihak Bank langsung menendangnya keluar dari rumah. Andai saja dia gak kuat seperti ini, mungkin Hesty pun akan menyusul ke Ibunya di RS. Bakal di rawat juga karena gila.

Gak! Hesty gak akan lemah! Gak akan juga putus asa atas kehidupan yang sedang ia jalani.

Ia mengingat pesan sang ibu saat Hesty masih duduk di bangku SMP.

Flashback!

Gadis cantik, berambut pendek. Bola mata yang bulat dan bibir yang lucu nan imut baru saja tiba di rumah. Baju pun tampak sudah acak-acakan. Di biarkan begitu saja sepatunya saat ia lepaskan di depan pintu.

“Hesty pulang bu…” kebiasaan Hesty sering lupa memberi salam saat tiba di rumah.

“Kok lupa salam lagi sih nak.” Wanita cantik, berumur hampir kepala 4 baru saja keluar ke ruang tamu.

“Hehe! Iya iya… Assalamualaikum.” Kata Hesty, saking lucunya dia mengulang dari awal. Dia keluar pintu, dan masuk kembali sambil memberikan salam.

Sang ibu hanya geleng-geleng kepala melihat sikap gadis itu.

“Wa’alaikumsalam.”

“Hehe… udah kan,”

“Harusnya dibiasakan nak! Jangan suka lupa,”

“Hehe… iya iya,”

Begitulah keseharian Hesty. 4 bulan sebelum penyakit sang ibu muncul. Dan hingga membuat sang ibu pun harus di rawat di RS.

Hari demi hari, Hesty menjalani kehidupan bersama sang ibu, dari gaji sang ibu sebagai juru masak di salah satu RM dekat tempat mereka tinggal. Sudah lama sang ibu bekerja di tempat itu, dengan penghasilan yang minim. Kala itu, sang ibu mendapatkan gaji hanya 1juta saja. Namun cukup membiayai hidup mereka berdua, dan juga bisa mencicil perumahan super sederhana dengan angsuran 575ribu/bulannya.

Jadi sudah bisa dibayangkan, berapa sisa uang sang ibu untuk membiayai kehidupan mereka selama sebulan penuh?

Untung saja, sang ibu selalu membawa pulang makanan dari tempat ia bekerja. Dan mereka gak akan kekurangan makanan lagi. Apalagi pemilik RM tersebut cukup baik, dan tak pernah mengkomplain apa yang dilakukan oleh para karyawannya after jam kerja. Toh juga! Gak akan bisa di simpan hingga besoknya.

“Nak, jika ibu gak ada… kamu harus tetap kuat seperti ini yah.”

“Emangnya ibu mau kemana?” tanya Hesty kala itu.

“Kan ibu bilang misalnya.”

“Hehehe! Iya bu… Hesty akan kuat kok… kan Hesty jagoan. Cowok-cowok di sekolah Hesty aja, takut ma Hesty.”

“Hush! Hehehe… itu sih, emang kamunya yang kayak anak cowok.” Balas sang ibu.

“Bu…”

“Yah sayang!”

“Emangnya… ayah Hesty kemana? Jujur Hesty sampe sekarang gak pernah tau, siapa ayah Hesty… juga sanak sodara.”

“Hufh! Ibu gak punya keluarga nak. Sudahlah, gak usah di tanyakan lagi yah.”

“Iya bu.”

Pertanyaan seperti itu, bukanlah hal yang pertamakalinya Hesty tanyakan ke sang ibu.

Yang paling menyedihkan, dikala Lebaran tiba. Hesty dan ibunya, hanya merayakan lebaran di rumahnya saja. Hanya mengunjungi tetangganya saja, itupun yang mudah dijangkau dengan berjalan kaki.

Tak ada keluarga yang akan mereka kunjungi.

Namun mereka tetap hidup bahagia. Tak ada masalah yang tak bisa mereka selesaikan.

Kemudian makin lama, kondisi sang ibu makin buruk. Karena penyakit sang Ibu, bukan baru kali ini muncul. Sebisa mungkin, selama ini sang ibu menutup-nutupi dari Hesty. Hingga suatu hari, Hesty mendapati kenyataan pahit, dimana jiwa sang ibu terganggu.

Berteriak…

Menangis…

Menyebut nama seorang pria, yang hingga saat ini masih Hesty ingat.

Namun, ia sendiri tak berniat untuk mencari tau lebih detail. Siapa dan apa hubungannya dengan sang ibu.

Yang ada di pikiran Hesty, hanyalah satu. Kesembuhan sang Ibu.

Flashback end!

.

.

“Haaaaaaa!” Hesty baru saja tersadar dari lamunannya. Ia pun kembali bersedih.

Ia butuh teman untuk berbagi. Di raih ponsel dari sakunya.

Di pandanginya layar ponsel yang menampilkan nomor dengan nama ‘COWOK SIAL’ yang telah ia save sebelumnya. Ada senyum di wajahnya ketika membaca nama ‘Contact’ tersebut.

“Cowok Sial. Heheheh!” gumam Hesty sesaat, kemudian Ia mencoba mengirim pesan ke nomor yang baru kemarin ia dapatkan.

“Hi Ky! Sibuk?” begitulah pesan dari Hesty.

Tak ada jawaban. Dan juga tak ada tanda, jika pesannya dibaca atau tidak oleh pria di seberang. Karena centang dua, masih berwarna abu-abu.

“Hufhhh! Statusnya ‘Online’ tapi pesan gue gak dibaca… Dasar Sial.” Hesty menarik nafas dalam-dalam.

Hesty kembali melamun dengan pikiran yang melebar. Lebarnya seluas lapangan ‘Golf’. Berbagai macam yang hinggap dipikirannya, mulai dari masalah, kehidupan, masa depan. Bahkan juga sosok Ricky pun masuk di pikirannya.

“Tidak… Tidak! Hesty. Keluarin tuh cowok sial dari otak loe sekarang!” kata Hesty pada dirinya sendiri sambil geleng-geleng kepala.

Saat ia sedang sibuk-sibuknya melamun. Ponselnya bergetar, adanya pesan masuk. “Aku di depan rumah!” begitulah pesan WA yang baru saja masuk.

Hesty mengernyit, kemudian ia beranjak dari duduknya dan melihat dari luar rumah. Sebuah mobil yang lampunya masih menyala. Kemudian Hesty mendengus sesaat, lalu berjalan melewati pagar.

Benar! Ternyata Ricky sudah berdiri di samping mobil. Hesty dibuat bingung, kenapa pria itu tiba-tiba jam segini udah ada di depan rumahnya.

“Loe?”

“Aku sedang gak sibuk, kok!” Kalimat pertama yang di ucapkan Ricky. Meski ekspresi Hesty menunjukkan protes atas kehadiran sang pria, namun dalam hati, ia bersyukur. Setidaknya kehadiran Ricky, sedikit banyaknya membuatnya terhibur.

Tanpa permisi, Ricky berjalan melalui gadis itu. Dan membuka pintu pagar, masuk ke pekarangan rumah.

“Hei! Maen masuk aja tanpa permisi.” Hesty protes. Namun Ricky tak memperdulikannya. Ia tetap masuk ke dalam rumah. “Lah?” Hesty lalu mengejar langkah Ricky yang sudah masuk. Pria itu tanpa permisi langsung duduk di sofa.

“Berdiri hoi!” Hesty menarik lengan Ricky, untuk berdiri. “Jam segini sudah bukan waktunya bertamu tau! Dasar cowok ‘Sial’”

Ricky menoleh…

Ekspresi menahan tawa, yang kini tampak dari pria itu. Dan juga, Ricky masih tetap duduk dan tak perdulikan protes dari gadis itu.

“Keluar gak?” kata Hesty berkacak pinggang berdiri di hadapan Ricky.

“Gak mau.”

“Busyet deh nih anak… Gue sendiri hoi dirumah”

“Biarin.”

“Huuhhhhhh! Ini dah jam berapa….”

“Jam 9.”

“Hadehhhhh.” Hesty lalu menarik kembali lengan Ricky, dan memaksa pria itu untuk berdiri dari duduknya.

“Dilarang bertamu jam segini.”

“Gak ada larangan juga, kan?”

“Gue teriak maling… baru tau rasa loe.”

“Silahkan.” Hesty menatap wajah Ricky. Bibirnya terlihat lucu. Antara mau mengeluarkan suara, namun tertahan atas sikap Ricky yang masih saja menatapnya menahan tawa. Ada kesal dan rasa pengen nabok kepala pria itu.

Hingga satu kalimat dari Ricky membuat Hesty terdiam. “Aku hadir, karena memang kamu sedang bersedih kan? So! Aku akan pergi, jika kamu sudah gak sedih lagi… Deal?”

“Eh!” Hesty terdiam.

Tanpa ia sadari, pikirannya kembali berkecamuk. Dimana Ricky mendapati, Hesty saat ini sedang melamun.

“Duduk gih.” Gumam Ricky.

“Eh!”

“Dilarang Melamun!”

“Ha?”

“Hehe! Muka kamu lucu, yah.”

Dengan menghela nafas, maka Hesty pun memilih duduk di depan pria itu.

“Gak dibuatin minum?”

“Gak!”

“Galak amat.”

“Emang… udah tau kan? Makanya keluar gih.”

“Hahaha! Kalo aku gak mau?”

“Yah sudah… gue bakal teriak ‘Maling;”

“Silahkan.”

“Hufhhhh! Ky, loe ahhh! Ini dah bukan jam bertamu tau.”

“Biarin.”

“Hufhhhh! Gak mampu gue ngomong lagi dah.”

“Ya sudah, kamu cukup diam aja. Hehe.”

Hesty mengernyit. Menatap wajah Ricky dengan ekspresi lucu. Selanjutnya, saat senyum terkembang di wajah pria itu, membuat Hesty pun ikutan tersenyum. Sangat cantik, dan juga menggemaskan menurut Ricky. Namun, sebisa mungkin Ricky menahan apa yang saat ini ia rasakan.

Ada gejolak dan juga perasaan aneh, yang kini menderanya.

“Aku haus.”

“Hufhhh! Hanya air putih aja… gak apa-apa?”

“Iya.”

“Ya sudah, wait.” Setelah kepergian Hesty ke dapur, Ricky memperhatikan ke sekeliling ruang tamu. Beberapa foto, selfie dari Hesty terpampang di dinding. Dan salah satu foto yang hampir di lihat oleh Ricky, akhirnya terabaikan bersamaan kedatangan Hesty kembali membawa segelas air putih.

“Nih.”

“Oke deh. Thanks!”

“Air putih doank, gak perlu berterima kasih.”

“Haha! Iya deh.”

Dan Ricky pun mulai mengajaknya ngobrol. Hingga tak terasa, mereka kini duduk berduaan di satu sofa. Hesty sungguh terhibur atas kehadiran Ricky di rumahnya. Benar-benar ia tak bersedih lagi.

Dan tak terasa, sejam lamanya mereka mengobrol. Hingga Ricky berpamitan untuk pulang.

“Oh sudah mau pulang?” ada ekspresi secuil rasa kecewa saat mendengar ucapan Ricky.

“Iya.”

“Ohhh ya sudah.” Jawab Hesty.

Ricky beranjak dari duduknya. Hesty pun mengikuti langkah Ricky dari belakang. Saat sudah di depan pintu. Hesty menatap wajah pria itu sambil melempar senyum.

“Thanks yah Ky! Selalu hadir di saat aku mendapat masalah…”

“Its Ok!”

“Ya udah, aku pamit ya… Assalamualaikum,”

“Eh iya… Wa’alaikumsalam.” Ricky berjalan meninggalkan Hesty, yang masih memandangnya dari pintu.

Mereka berpisah. Meninggalkan sebuah rasa dalam diri Hesty.

Saat Ricky baru tiba di pagar rumah, “Ky! Semua hutang-hutang, baik materi maupun non materi… Bakal gue bayar dikemudian hari.” Teriak Hesty.

“Nope!” Ricky hanya mengangkat tangan kemudian melanjutkan langkahnya menuju ke mobil.

Mereka berpisah. Hesty hanya menghela nafas, lalu kembali ke dalam rumah.

~ •○●○• ~

Besoknya…

Pagi hari. Di Barista Cafeta, semua karyawan baru saja selesai membersihkan baik smooking room maupun yang non. Dan juga membersihkan setiap ruangan dan juga tools sebelum mereka memulai pekerjaan hari ini.

Hesty yang sedang sibuk membantu Barista membersihkan mesin pembuat kopi. Owner mereka yang wanita, baru saja masuk.

“Selamat Pagi…”

“Pagi Bu.” Teriak semua karyawan.

“Oh iya, hari ini… saya pengen ngenalin karyawan baru kita.”

“Ha?”

“Cowok pa cewek Bu?”

“Cowok!”

“Ganteng gak?” teriak salah satu karyawan perempuan.

“Dasar!”

“Hahahahaha…”

“Bentar yah. Saya panggil dulu orangnya.”

Beberapa gadis pun tak sabar untuk melihat karyawan baru itu. Hesty sendiri sebenarnya tak begitu memperdulikan akan hal itu. Dia hanya sibuk membantu para cowok yang sedang bersih-bersih.

Hingga…

Tiba-tiba, para gadis yang menunggu pun di buat melongo atas kehadiran ownernya tadi yang kembali masuk ke dalam cafe. Bukan karena si wanita itu, melainkan sosok pria yang berdiri di samping wanita itu.

“WAAAAAHHHH Gantengggg euy!”

“Widihhhh cakep banget…”

“Hush! Dasar ganjen.” Celetuk karyawan pria yang mendengar semua gadis seperti tersihir atas kehadiran pria di samping owner mereka.

Seperti gerakan slow motion. Hesty menoleh ke arah tersebut, dan matanya terbelalak ketika mendapati ‘Ricky; berdiri di samping ownernya. Dia pun mengernyit, dan memicingkan kedua matanya seakan gak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.

Ricky pun sempat menoleh ke Hesty, dia membuat ekspresi cuek seakan tak mengenal Hesty.

Hesty memanyunkan bibirnya, lalu ia meninggalkan kawannya yang sedang bersih-bersih menuju ke kelompok gadis yang masih saja berdiri menatap Ricky.

“Ngapain loe disini?” pertanyaan dari Hesty, langsung mengalihkan semua pandangan orang yang berada di tempat itu.

Semua kini menatap ke Hesty dengan tatapan penuh tanya.

“Eh! Ke-kenapa kalian pada lihatin gue?”

“Lagian elu!” cibir Dewi sahabat Hesty.

“Lah?”

“Udah udah… baiklah, Ky… Silahkan perkenalan dulu.”

“Baik!”

Ricky maju selangkah. Dan kedua matanya, seakan sengaja tak memandang ke arah Hesty. Ada senyum tertahan di wajah pria itu, sambil menarik nafas untuk bersiap-siap mengucapkan sesuatu dihadapan semua orang.

“Nama Ricky… panggil Ikky aja,”

“Status?”

“Hmm! Perlu yah?” tanya Ricky balik ke Risna yang baru saja bertanya tadi.

“Ya perlu donk.”

“Status… jelas masih single! Tapi udah gak ‘Jomblo’ lagi.”

Degh!

Hesty terdiam.

Jantungnya berdebar-debar. Kedua matanya memandang dengan kosong, pikirannya pun berkecamuk. Meski ada secuil rasa kekecewaan dalam dirinya, namun ia berusaha untuk mengalihkan rasa tersebut.

Ternyata, Ricky sudah mempunyai cewek! Itulah yang di pikirkan olehnya.

Semua mulai bertanya ke Ricky. Baik itu asal, lahir dan juga tempat tinggal yang semua di jawab Ricky dengan baik dan juga gak ada yang di tutup-tutupin, kecuali yang di awal tadi. Yang mengatakan jika dia, ‘Tidak Jomblo;.

Setelah semua selesai bertanya, bos wanita mereka kini memandang ke Hesty.

“Ty! Kenapa hanya kamu doank yang gak bertanya?”

“Eh! Perlu yah bu?”

“Hmm! Terserah kamu sih.”

“Perlu!” kini Ricky yang bergumam. Membuat wanita itu, menoleh ke dirinya.

Ada tatapan penuh tanya ke Ricky, namun Ricky hanya menggidikkan bahunya.

“Hesty pen nanya, Bu!”

“Nah gitu donk… silahkan Ty!”

Hesty menatap wajah Ricky dengan tatapan penuh tanya. Ada seringaian di wajahnya sesaat sebelum ia melempar pertanyaan. “Gak salah loe. Mau kerja di tempat ini?”

Semua orang, lagi! Menatap kepada Hesty.

“Eh… gak salah kan pertanyaan gue?”

“SALAH!” teriak beberapa gadis seakan memprotes Hesty.

“Gak ada yang salah!” kini Ricky yang menimpali. “Baik! Aku akan jawab pertanyaan kamu…”

“Ya sudah jawab aja!” gumam Hesty dengan mimik muka lucu.

“Kenapa aku kerja disini? Yah! Karena pengen aja…”

“Ha?”

“Serius?”

“Kenapa?” kini Hesty yang bertanya.

“Pengen aja.”

“Bukan karena loe pen nyari duit di sini kan?”

“Betul!”

“Terus?”

“Hmm! Harus yah aku jawab?”

“Harus.”

“Baiklah! Aku kerja di sini, karena pengen aja.”

“Dasar Cowok Sial!” celetuk Hesty membuat semua orang lagi-lagi, menoleh dan menatap protes kepadanya.

“EMANG DIA SIAL, Kok!”

“Ty! Apa-apaan loe?” kata Dewi membuat semua orang langsung mencibir ke Hesty.

“Dah gue mau lanjut kerja… kalo kalian masih pengen diam lihatin tuh ‘Cowok Sial’ monggo gih. Hahahahaa! Dah bye.”

Tanpa Hesty sadari! Justru sikap seperti itulah yang membuat Ricky makin senang berada di tempat ini.

Well! Hari-hari berikutnya bakal menyenangkan buat Ricky tentunya.

Setelah para karyawan bubar, Pun akhirnya Ricky di persilahkan oleh owner/sahabatnya sendiri untuk melakukan apa saja yang ingin ia lakukan di tempat ini.

“Udahlah. Gue mau pergi dulu ky! Loe urus diri loe sendiri yah.”

“Iya iya, rebes itu!”

“Dah gue tinggal dulu.”

“Oke!”

Sepeninggalan owner itu, maka Ricky langsung di kerumuni oleh karyawan perempuan tadi. Tak lupa juga, langsung mengajak Ricky untuk ikut bekerja ke bagian mereka. Ricky menolak, dan ia memilih untuk duduk di salah satu meja.

“Lah?”

Hesty yang melihat Ricky sedang santai berjalan menghampirinya.

“HOI! Anak baru… di larang santai di tempat ini.” Ricky menoleh, ada senyum tertahan di wajahnya.

“Sini.” Ricky malah memanggilnya.

“Apaan?”

“Sini dulu.” Mau gak mau, Hesty pun melangkah mendekat ke pria itu.

“Kerja sana!”

“Males.”

“Lah?”

“Gak apa-apa kan, kalo aku nyantai aja.”

“Apa-apa lah… Lagian ngapain juga loe kerja disini? Pan loe tajir pake banget!”

“Hehehe! Mau tau jawabannya?”

“Gak… Trims!” kata Hesty cuek. Namun dalam hati, sebetulnya ia memang ingin mendengar langsung apa sih tujuan Ricky kerja di tempat ini. “Dah… gue kerja dulu.”

Saat baru melangkah, Ricky pun mengeluarkan suara. “Aku kerja disini, agar bisa dekat denganmu. Hesty Sarasta Polapa!”

“Agar bisa melihatmu, setiap hari…” DEGH!!!

Hesty menghentikan langkah. Jantungnya pun berdebar-debar, dan juga gejolak yang tiba-tiba membuatnya merasa sesak di dada. Ia perlahan, menoleh ke Ricky.

“Oho! Trims! Gue gak butuh” Kata Hesty sesaat. “Dan lagi! Loe jangan deket-deket dengan gue lagi dah! Takut, cewek loe bakal marah.” Setelah berucap, Hesty pun melangkah meninggalkan Ricky.

Ricky masih saja menatapnya dengan tersenyum.

“Dia cemburu rupanya…” Gumam Ricky pelan.

Still Continued

END – Tiba Tiba Saja Part 8 | Tiba Tiba Saja Part 8 – END

(Tiba Tiba Saja Part 7)Sebelumnya | Selanjutnya(Tiba Tiba Saja Part 9)