Tiba Tiba Saja Part 7

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21

Tiba Tiba Saja Part 7

Start Tiba Tiba Saja Part 7 | Tiba Tiba Saja Part 7 Start

Mungkin orang akan mengatakan bahwa tak ada faktor kebetulan di dunia ini. But! Kenyataannya, sangatlah berbeda yang terjadi dalam kehidupan Hesty maupun Ricky. Saat ini Hesty dan Ricky bertemu tanpa adanya saling janjian antara satu sama lain. Tak adanya juga rencana atau alasan mereka bertemu secara tiba-tiba di CK Pantai Losari.

Apakah ini jodoh? Entahlah. Hanya TS dan Tuhan yang tahu.

Dan setelah membantu Hesty yang untuk kesekian kalinya, Ricky mengajak Hesty keluar dari CK.

Dalam hati, masih banyak pertanyaan terpendam. Dan sepertinya bibir pun tak mampu berucap salah satu pertanyaan tersebut. Hanya bungkam, dengan jantung berdebar-debar. Beserta kening yang mengernyit, dan menoleh ke Ricky saat mereka tiba di depan.

“Eh Ky… mau kemana?” tanya Hesty masih menatap Ricky penuh tanya.

“Udah… Gak usah banyak nanya.” Kata Ricky memasang sikap cool. Namun tersirat senyuman tipis di wajahnya.

“Eh tapi kan setidaknya, gue kudu tau mau di bawa kemana.” Protes Hesty.

“Ini bukan lagu Armada… Dah, aku gak bakal bawa ke tempat salah kok.” Kata Ricky membuat Hesty akhirnya menarik nafas dalam-dalam. Mau gak mau, ia mengikuti langkah Ricky. Mereka meninggalkan CK, dimana Ricky sedikit memaksa Hesty untuk tetap mengikutinya ke parkiran mobil.

Saat tiba di samping mobil. Hesty terdiam, dan memandang ke Ricky.

“Naik aja.” Gumam Ricky. “Dan stop! Untuk bertanya-tanya lagi”

“Eh! Kok loe jadi maksa gini?”

Ricky hanya tersenyum.

“Lah… malah senyum!” celetuk Hesty sambil memainkan bibirnya. Tampak lucu di hadapan Ricky.

“Masa mau nangis,” balas Ricky. “Naik aja, gak bakal aku jahatin kok!” Mendengar itu, Hesty hanya bisa menarik nafasnya kembali. Memang sih, di pikiran Hesty sama sekali tak ragu akan hal itu. Terbukti, saat ia berada di Bali, dimana justru Ricky lah yang berulangkali menyelamatinya. Dan malam ini juga, kembali pria itu menyelamatkan Hesty agar tak malu di hadapan kasir CK.

Ricky menyadari jika gadis itu melamun. Kemudian Ricky mendekatinya. Memegang bahu, dan menariknya untuk masuk ke dalam mobil sesaat setelah pria itu membuka pintu mobil bagian samping.

“Naik dulu.”

“Hufhh! Oke.” Hesty pun mengikuti keinginan Ricky. Dan kini ia telah duduk di jok samping kemudi.

Ricky melangkah ke samping kanan, membuka pintu dan sempat melempar senyum saat Hesty menoleh.

Dan kini mereka telah berada di dalam mobil. Ricky menyalakan mesin mobil dan menjalankan keluar dari parkiran. Tak lupa membayar uang parkir kepada si tukang parkir liar sebanyak 5 ribu perak.

Beberapa saat kondisi dalam mobil, hening.

Sesekali, terdengar tarikan nafas dari Hesty. Sedangkan Ricky, hanya melirik ke Hesty dengan ekor matanya. Dan kini Hesty menoleh ke Ricky dengan pandangan menyelidik. Tak ada kata yang terucap, hingga membuat Ricky ikutan menoleh.

“Kenapa liat-liat?” tanya Ricky membuat Hesty mencibirnya.

“Cih! Kepedean.”

Ricky mengernyit, sambil menahan tawa. Sungguh menggemaskan gadis di sampingnya ini. Namun biar bagaimana, Ricky masih tetap harus menjaga sikap. Jangan sampai ia lepas kontrol, dan justru mempermalukan dirinya sendiri.

Setelah merasa telah mampu mengontrol perasaannya, Ricky kembali menoleh. “Kalo mau bertanya, jangan pake di tahan-tahan segala.” Ricky bertanya sambil tetap fokus menatap ke depan.

“He He!” Kekehan gadis itu, seakan di buat-buat. Ada penekanan dan terdengar lucu di sana.

“Ck… Ck… Ck! Ngomong aja… jangan pake di tahan-tahan.” Gumam Ricky.

Lama Hesty bermain dengan pikirannya sendiri, hingga ia sesekali menoleh ke samping. Dan kembali menatap ke depan. Ricky mengetahui jika kondisi sang gadis cukup kaku, dan sesekali salah tingkah. Hingga setelah menarik nafas dalam-dalam, Hesty pun mengeluarkan suaranya.

“Thanks…” Setelah mengeluarkan apa yang seharusnya ia katakan ke Ricky, ia menghela nafas.

“For what?” Ricky bertanya, membuat Hesty menggelengkan kepala.

“Thanks aja.”

“Aneh.” Celetuk Ricky.

“Emang.” Hesty pun membalasnya, sambil memanyunkan bibirnya. “Kalo gak suka, gue tarik kembali deh kata-kata ‘Thanks’ tadi.”

“Lah. Haha, emang bisa?” tanya Ricky.

“Di bisain aja, gitu aja kok repot.”

“Lah?”

“Udah berisik. Hehe…” cibir Hesty, membuat Ricky hanya bisa geleng-geleng kepala.

Ricky menyalakan lampu sein kiri, saat sebuah cafe baru saja terlihat. Hesty menoleh ke Ricky, tanpa kata terucap. Dan Ricky, ternyata memilih untuk sekedar nongkrong di cafe yang ia pun sejujurnya baru ke tempat ini.

Yang jelas sengaja Ricky mengajak Hesty, karena dia juga pengen ngebuktiin apa benar dia memang merindukan gadis itu.

“Lah?”

“Udah. Turun aja,” gumam Ricky saat mendapati tatapan protes dari Hesty.

Hesty hanya menarik nafas, sambil memanyunkan bibirnya. Lalu, ia membuka pintu mobil mengikuti keinginan sang pria.

Akhirnya mereka memilih meja No 44.

Setelah memesan pesanan mereka kepada pelayan cafe, mereka tampak terdiam. Hesty melihat ponsel, beberapa chat di WA nya sempat ia balas. Begitu juga Ricky, dimana ia mengecheck email, dan juga beberapa chat yang masuk.

Sang pelayan cafe tiba, membawa dua gelas minuman pesanan mereka. Bersamaan juga semua hal di ponselnya telah dibalas. Tak ada notif masuk lagi, tak ada hal yang harus di lakukan di ponsel mereka berdua. Kemudian, antara kaku ataupun malu, kedua nya mengangkat wajah. Mata mereka saling memandang, ada kernyitan dan juga senyuman tipis di sana.

“Eh Ky!”

“Ty!” keduanya sama-sama bersuara.

Sempat mereka terdiam, melempar senyum. Lalu karena salting, keduanya meraih gelas masing-masing, lalu meminum minuman mereka.

“Ladies first!” gumam Ricky.

“Yeh!” Hesty melempar tatapan protes.

“Udah, kamu dulu… mau ngomong apaan.”

Hesty memutar bola matanya sesaat, lalu bibirnya tampak bergerak lucu, hingga matanya bergerak memandang kembali ke pria dihadapannya.

“Loe… dimakassar, udah lama atau?”

“Kemarin baru nyampe.” Gumam Ricky membalas pertanyaan gadis itu.

“Ohh!”

“Dalam rangka?” Ricky, menjawab bahwa dia ada kerjaan di sini. Dan entah mengapa, dia tiba-tiba di pertemukan oleh Hesty kembali.

Mereka terdiam sesaat. Hesty hanya ngangguk-ngagguk yang sejujurnya bingung mau ngomong apa lagi. Yang terakhir ia dengar, cukup membuat jantungnya berdebar-debar. Masih jelas terngiang di benaknya, “Dan kenapa, aku bisa bertemu lagi denganmu… Maybe! Jodoh.” Sangat pelan, ucapan dari Ricky menyebutkan kata terakhir.

“Eh! Btw…” Ricky menghentikan isapan di dringking straw, dan melepas minumannya ketika mendengar suara Hesty seakan ingin bertanya.

“Hmm!” Ricky berdehem, menandakan ingin mendengar lanjutan pertanyaan dari Hesty.

“Gue minta no HP loe donk… Hehe, biar kalo gue udah ada duit… gue bayar semua hutang gue selama ini ke elu.”

“Hmm!”

“Yaelah… Ky, hutang dibawa mati. Jadi, gue kudu lunasin sebelum gue mati.” Ujar Hesty membuat Ricky menahan senyum.

“Ahhhhh! Kok loe cuek? Buruan mana no HP loe.”

“Gak!”

“Kok?” gumam Hesty sambil menatap Ricky dengan tatapan menyelidik.

“Nanti aja… aku dah punya nomor kamu,” bersamaan Ricky menyelesaikan kata terakhir, Hesty dengan cepat mengambil ponsel Ricky yang di letakkan begitu saja di meja. “Eh!”

“Buruan… apa kode nya?” tanya Hesty karena ponsel pria itu posisi terlock.

“Buat?”

“Hadeh malah nanya, buruan berapa kodenya?”

“Sini HP ku.” Ricky mengulurkan tangan seakan meminta Hpnya ke Hesty.

“GAK! Sebelum loe ngasih tau kode nya.”

“Hadeh…”

“Buruannnn Hoi!!! Susah amat sih, dimintai nomor Hpnya.”

“Hehe, dah buka aja.”

“Iya kuncinya apa?” tanya Hesty sambil menatap Ricky dengan kesal.

“4478” gumam Ricky menyebut kode untuk membuka lock HP.

Hesty segera menekan 4 angka yang di sebutkan Ricky tadi. Klik! Dan ponsel pria itu pun terbuka. Hesty segera menekan nomornya sendiri, dan ia terkejut saat membaca nama yang tertera di layar bagian atasnya. “Gadis Usil?” gumam Hesty sambil kedua matanya menatap membelalak ke Ricky.

“Maksudnya Usil apaan sihhh ihhhh!” protes Hesty, karena jelas itu adalah nomornya. Dan Ricky menyimpan nomor Hesty dengan menulis nama ‘Gadis Usil’

“Udah buruan… gak usah protes… itukan ponselku, mau aku apain juga, bukan urusan kamu.” Balas Ricky membuat Hesty lagi-lagi tak bisa berbicara. Ia hanya bisa memanyunkan bibirnya, dan tetap menekan tombol ‘Call’ dan ia pun telah mendapat nomor Ricky.

Segera ia save nomor Ricky, dengan nama ‘Cowok Sial’ “Hihihihihi…” Hesty terkekeh sendiri, membuat Ricky mengernyit.

“Kenapa?”

“Nih!” Hesty memperlihatkan layar ponselnya.

“Hoi! SIAL? Kenapa harus Sial?”

“Biarin, suka-suka gue donk… Hp, Hp gue… napa loe yang sewot.”

“Hufhhh!” Ricky yang kini dibuat bungkam oleh gadis itu. Dan mereka saling memandang, ada senyum penuh arti di sana. Hingga Hesty memberikan kembali ponsel Ricky.

Dan kini, mereka hanya terdiam. Sambil sesekali menoleh ke panggung kecil, tanda dimana home Band sebentar lagi akan memulai membawakan lagu.

Setelahnya, Ricky mulai mengeluarkan suara. “Btw… kamu kerja di mana?”

“Barista Cafeta!” Itulah nama cafe tempat Hesty bekerja. Ricky hanya mangguk-mangguk, karena sebetulnya ia pun baru mendengar nama cafe yang disebutkan Hesty tadi.

Mereka kembali terdiam…

Mereka hanya menikmati music yang di bawakan oleh home band cafe ini.

Ed Sheeran – Photograph

Loving can hurt, loving can hurt sometimes

But it’s the only thing that I know

When it gets hard, you know it can get hard sometimes

It is the only thing makes us feel alive

We keep this love in a photograph

We made these memories for ourselves

Where our eyes are never closing

Hearts are never broken

And time’s forever frozen still

So you can keep me

Inside the pocket of your ripped jeans

Holding me closer ‘til our eyes meet

You won’t ever be alone, wait for me to come home

Loving can heal, loving can mend your soul

And it’s the only thing that I know, know

I swear it will get easier

Remember that with every piece of you

Hm, and it’s the only thing we take with us when we die

Hm, we keep this love in this photograph

We made these memories for ourselves

Where our eyes are never closing

Hearts were never broken

And time’s forever frozen still

So you can keep me

Inside the pocket of your ripped jeans

Holding me closer ‘til our eyes meet

You won’t ever be alone

And if you hurt me

That’s okay baby, only words bleed

Inside these pages you just hold me

And I won’t ever let you go

Wait for me to come home

Wait for me to come home

Wait for me to come home

Wait for me to come home

Oh, you can fit me

Inside the necklace you got when you were sixteen

Next to your heartbeat where I should be

Keep it deep within your soul

And if you hurt me

Well, that’s okay baby, only words bleed

Inside these pages you just hold me

And I won’t ever let you go

When I’m away, I will remember how you kissed me

Under the lamppost back on Sixth street

Hearing you whisper through the phone

“Wait for me to come home”

Setelah lagu selesai, terbersit di pikiran Ricky akan sesuatu. Kemudian ia menatap wajah Hesty. “Kamu juga nungguin aku selama ini?”

Hesty mengernyit. Sambil membulatkan kedua matanya, seakan-akan tak percaya Ricky bisa bertanya seperti itu. Atas dasar apa, dan emangnya Hesty tau, Ricky berada di Makassar atau tidak.

“Jangan asal loe ah!” cibir Hesty membuat Ricky tersenyum tipis.

Lama mereka saling bercanda, mengobrol santai, dan sesekali menikmati lagu lainnya yang dibawakan oleh home band cafe ini. Hingga Hesty pun memilih untuk menyelesaikan pertemuan mereka malam ini, dan Ricky pun menawarkan untuk mengantar Hesty pulang.

Saat tiba di depan pagar rumah, Hesty menoleh. “Thanks yah Ky!”

“Yup! Sama-sama,”

“Gue turun dulu yah!”

“Yap!”

Hesty turun dari mobil. Dan Ricky tak berucap lagi, ia hanya mengikuti langkah Hesty melewati depan mobil. Lalu, Hesty sengaja menuju ke samping kanan.

Ricky membuka kaca mobil.

Mereka saling menatap…

“Apa lagi?” tanya Ricky.

“Hehehe, gak!”

“Ya sudah, masuk sana.”

“Iya, btw… Thanks banget.”

“For what?”

“Thanks udah datang, Ky!” Degh! setelahnya Hesty langsung berjalan meninggalkan Ricky yang masih menatapnya.

Hesty tak lagi menoleh ke belakang, yang sebetulnya ia malu dan ia membuka pintu rumah. Melangkahkan kaki ke dalam rumah, dan menutup kembali pintu rumahnya.

“Hahhhhhhh!” Ricky hanya bisa menarik nafas dalam-dalam, karena melihat sikap Hesty yang berubah tiba-tiba. Ia lalu menjalankan kembali mobil, tanpa ia sadari, Hesty sejak tadi menyingkap horden dan melihat kepergiannya dari kaca.

~ •○●○• ~​

Ke-esokan harinya…

Ricky sempat bertemu dengan ayahnya tadi pagi di kantor.

Ia bertemu dengan ayahnya di ruangan direktur. Dan juga karena Ricky telah berada di Makassar, maka ayahnya sempat menawarkan untuk menghandle beberapa cabang di makassar.

Namun Ricky menolak. Dan ia beralasan hanya ingin liburan saja di Makassar. Meski demikian, ayahnya tetap tak memaksa kehendak. Toh juga, selama ini Ricky orangnya keras kepala. Setelahnya mereka mengobrol banyak hal.

Dan setelah merasa cukup, Ricky berpamitan kepada sang ayah, karena ingin mengunjungi beberapa tempat. Mengingat Ricky saat ini sedang tidak bekerja. Atau ‘CUTI’

Ricky lalu meninggalkan kantor sang ayah menuju ke sebuah Mall yang terletak di daerah Metro Tanjung Bunga.

Trans Mall, tempat Ricky saat ini. Dimana ia telah memasuki areal parkir yang cukup luas. Ricky memarkir mobil di parkiran depan. Sambil meraih tas kecil di jok samping, Ricky keluar dari mobilnya.

Tujuan Ricky ke Mall ini, rencananya ingin membeli beberapa pakaian untuk ia gunakan selama berada di Makassar. Mengingat ia hanya membawa beberapa potong pakaian saja dari Denpasar.

Beberapa saat kemudian…

Di tangan kanan, Ricky telah menenteng dua kantongan merk toko pakaian di Mall ini. Berjalan tanpa menoleh ke kiri maupun kanan. Pandangannya lurus ke depan, karena ia bertujuan untuk keluar dari Mall, karena keperluannya telah ia beli. Dan tak ada niat untuk mencari sesuatu lainnya atau sekedar nongkrong.

Dan saat ia baru melewati sebuah Resto, dua orang, pria dan wanita berjalan ke arahnya.

“Eh Ricky?” si Wanita yang menyadari, menegur Ricky.

Ricky mengernyit, kemudian sedikit melirik ke samping.

“Beneran… loe Ricky.”

“Eh iya, elu beneran Ky.” Balas si pria yang berdiri di samping si wanita.

“Astaga, kalian “ ternyata Ricky bertemu dengan teman semasa SMU nya dulu.

Ricky bersalaman dengan mereka, Sandra dan Andre. Sepasang suami istri, yang makin membuat Ricky terkagum-kagum. Gimana tidak, mereka berdua itu berpacaran sejak awal-awal SMU. Dan keduanya di kenal baik oleh Ricky.

“Mau kemana?” tanya Andre.

“Mau cabut lah, ngapain lama-lama di Mall.” Jawab Ricky.

“Ya elah, buru-buru amat. Yuk ah! Nongkrong dulu lah, dah lama juga gak ketemuan.”

Dengan berat hati, akhirnya Ricky mengikuti permintaan keduanya.

Dan kini mereka bertiga, memilih nongkrong di Starbuck.

Setelah memesan, dimana sempat adanya perdebatan siapa yang mentraktir. Akhirnya Ricky yang mengalah, setelah mendapat paksaan dan bantuan dari Sandra, ia bakal ngambek kalo Ricky yang bayar. Makanya, Andre lah yang membayar pesanan mereka. Tak seberapa juga, menurut Ricky. Maka mereka mengobrol banyak. Dan tentu saja, keduanya mengetahui keluarga Ricky seperti apa. Perusahaan yang di kelola Ricky pun, mereka berdua selalu mendapatkan informasi dari beberapa kawan SMA mereka.

Ricky juga melempar beberapa pertanyaan, seperti! apa kesibukan keduanya.

Untuk Andre sendiri, sedang mengelola bisnis keluarganya yang bergerak di bidang percetakan. Sedangkan Sandra sendiri membuka Cafe beserta rumah makan.

Cukup panjang obrolan mereka, dan satu hal yang membuat Ricky terkejut, adalah salah satu cafe yang disebutkan Sandra tampak tak asing di telinga Ricky.

“Bentar… nama cafe kamu yang satunya, ‘Barista Cafeta!’?” Ricky mengulang nama cafe, milik Sandra.

“Yup! Masih kecil-kecilan lah Ky… gak kayak kamu.”

Ricky seakan tak perdulikan ucapan wanita itu. Ricky terdiam, tersirat sebuah senyuman penuh arti di wajahnya.

Mereka kembali mengobrol. Ricky juga menjelaskan dimana ia sedang liburan di Makassar. Dan juga pengen melihat-lihat apa peluang kedepannya untuk ia operasikan di Denpasar nanti.

Tanpa mereka berdua sadari, ucapan Ricky hanya sebuah pancingan untuk suatu tujuan.

“Contohnya Ky?” tanya Sandra.

“Mungkin, cafe atau resto.” Gumam Ricky menjawabnya. Mendengar itu, tentu saja kedua kawan SMU Ricky itu, ikut senang.

“Tapi, aku gak punya pengalaman di bidang tersebut.”

“Halah gampang itu mah!” ujar Andre.

Keduanya langsung menawarkan untuk membantu Ricky. Namun Ricky menolak. Yang Ricky inginkan, hanya lah satu. Yaitu, dia harus terjun langsung dalam sebuah usaha untuk mampu menguasai dari A sampai Z. Andre dan Sandra, cukup tau seperti apa Ricky sebenarnya.

Pria yang mempunyai sifat pekerja keras. SMART! Dan juga selalu optimis dalam suatu hal.

“So! Apa yang bisa kami bantu donk?”

“Hmm! Yakin, kalian bakal bantu?” gumam Ricky dengan nada tanya.

“Ya elah, kek kami orang lain aja Ky! Yaiyalah…” balas Sandra.

“Oke!” Ricky diam sesaat, tersirat senyuman penuh arti sebelum melanjutkan ucapannya yang sempa tertahan. “Aku, hanya butuh ikut bekerja di Cafe kamu San… yah! Biar aku bisa memahami semua hal yang akan di lakukan untuk memulai sebuah bisnis di segmen tersebut.”

Sandra dan Andre saling memandang sesaat. Dan Ricky, berdehem. Sambil melanjutkan ucapannya. “Hanya beberapa minggu saja, yah! Biar aku di Barista Cafeta aja belajarnya. Kalian gak perlu ngasih gaji lah,”

“Yaiylaha… Hahaha mana mampu kami gaji dirimu, toh duitmu lebih banyak dari kami.”

“Hahahaha! Kalian bisa aja,” kata Ricky. “Gimana?” lanjutnya.

Sandra dan Andre, awalnya ragu. Namun ia paham betul, jika Ricky telah menginginkan sesuatu maka ia bakal serius mengejarnya. Dan mereka berdua, gak mampu untuk menolak permintaan kawannya itu. “Hufhhh! Baiklah.” Jawab Sandra.

“Nah gitu donk.” Gumam Ricky senang. Kemudian ia menatap mereka bergantian. “Dan juga gak perlu kalian berdua, menyampaikan ke karyawan lain, jika aku bekerja di tempat kalian itu hanya berpura-pura sebagai karyawan. Biarkan berjalan apa adanya. Gak keberatan kan?”

Keduanya menarik nafas dalam-dalam, lalu mengangguk dan mengiyakan permintaan pria yang terkenal keras kepala itu. Yang meski dalam hati, khususnya Andre, agak keberatan. Namun, bukan Ricky namanya jika ia tak mampu meyakinkan kedua kawannya itu.

Dan di akhiri dengan anggukan kepala dari keduanya, dan Ricky pun meminta ke mereka untuk bersikap biasa saja terhadapnya.

“Jadi, besok aku udah bisa memulai kan?”

“Astaga. Secepat itukah?”

“Yap! Gak masalah kan?” tanya Ricky.

“Ya sudah, mau nolak juga, kamunya bakal maksain Ky.”

“Hahahaha, ya gitu deh sayang… Ricky si Otak Bebal!” balas Andre dan mereka tertawa bersamaan.

~ •○●○• ~​

Setelah perpisahan di Mall tadi bersama Andre dan Sandra. Ricky menjalankan mobilnya menuju ke sebuah cafe. Sambil melihat arloji di lengan kanannya. Jika sesuai dengan prediksi Ricky, dan juga telah dijelaskan oleh Sandra sebelumnya, jika di cafe Barista adanya 2 shift. Jadi, jika shift pagi akan pulang jam segini. Atau pukul 4 sore. Maka Ricky pun memutuskan untuk sekedar melihat ke cafe tersebut. Yah kali aja, Hesty mendapat shift pagi tadi.

Dan tak butuh lama, Ricky telah mendapat Cafe tersebut. Saat ini, sengaja Ricky hanya memarkir mobil tak jauh dari Barista Cafeta. Karena dia rencana masuk kerja besok saja dan sore ini, ia ingin bertemu dengan Hesty.

Semoga saja, Hesty berada di shift pagi.

Setengah jam lamanya, Ricky menunggu hingga apa yang ia nantikan baru saja keluar. Yap! Hesty keluar, dan bersiap-siap untuk menghentikan angkot. Gadis itu, sore ini memakai jeans berwarna hitam, seragam kerjanya ia lapisi dengan cardigan. Cukup lucu menurut Ricky, karena penampilan gadis itu terlihat cukup tomboy. Rambut juga dia ikat begitu saja ke atas.

Ricky hanya geleng-geleng kepala. Dan dalam hati, ia bertanya-tanya, kenapa ia bisa seperti ini? Kenapa ia bisa merasakan gejolak yang selama ini ingin ia hindari. Apa specialnya dari gadis ini?

Dan juga bukan hal pertamakalinya, Ricky bertemu dengan wanita cantik. Bahkan yang jauh lebih cantik dari gadis itu pun banyak.

“Hufhhhh!” entahlah! Batin Ricky sesaat.

Dia hanya bisa menyerahkan segalanya kepada takdir. Dan ia, hanya tetap menjalankan apa yang di katakan hatinya saat ini.

Ricky segera menjalankan mobilnya dan berhenti tepat di depan gadis itu. Kemudian ia membuka kaca mobil.

“Hai!” Hesty memicingkan mata.

“Udah buruan naik!” Hesty masih menatapnya penuh tanya. “Hitung-hitung hemat ongkos.”

“Haha! Nah itu baru bener.” Ujar Hesty, dan ia terkekeh sesaat sebelum ia berjalan ke samping kiri mobil.

Setelah berada di dalam mobil, Ricky segera menjalankan mobil.

Dan mereka terdiam sesaat, sambil sesekali tampak Hesty sedang memikirkan sesuatu.

Ricky menoleh, dan ia mendapati Hesty melamun memandang ke depan.

Maka pria itu pun melempar pertanyaan. “Kemana arah tujuan kita, sore ini?”

Tak ada jawaban!

“Hei!” Ricky sedikit mengeraskan suaranya, membuat Hesty tersadar dari lamunan.

Gadis itu menoleh ke Ricky. “Apaan sih pake teriak-teriak.”

“Lah! Dia malah protes…”

“Yah protes lah, orang gak budek tau!” kata Hesty membuat Ricky hanya tersenyum kecut. “Udah ah! Lagi males berdebat.” Lanjut Hesty.

Hesty kembali diam…

Sesekali juga ia menoleh ke Ricky, ada keraguan dalam hatinya. Karena ia sejujurnya sore ini mau menjenguk sang Ibu di RS.

“Sepertinya, ada hal yang ingin kamu omongin yah?” Ricky bertanya.

“Hehe! Loe kok kayak peramal aja sih Ky?”

“Wajahmu gak bisa bohong, Ty!”

“Cih!” cibir Hesty membuat Ricky tersenyum.

“Udah, buruan ngomong…”

“Hmm! Loe ngikutin aja yah! Gak usah banyak nanya.”

“Oke!” kata Ricky membuat Hesty menoleh, sambil menarik nafas.

“Thanks!” balas Hesty kemudian Hesty menyebut nama jalan yang akan ia tuju saat ini.

Ricky sih tetap mengikuti kemana arah gadis itu. Toh, dia juga gak punya kesibukan sampe malam.

Dan…

Akhirnya mereka telah tiba di jalan yang disebutin Hesty tadi.

“Stop… disini aja,” Hesty menyuruh Ricky menghentikan mobil.

Ricky mengernyit, dan di awal ia menoleh ke Hesty. Benaknya bertanya-tanya, dan ia kembali memandang ke arah depan. Lebih tepatnya ke papan nama tempat yang akan di kunjungi oleh Hesty.

‘RUMAH SAKIT JIWA’. DEGH!!!

Still Continued

END – Tiba Tiba Saja Part 7 | Tiba Tiba Saja Part 7 – END

(Tiba Tiba Saja Part 6)Sebelumnya | Selanjutnya(Tiba Tiba Saja Part 8)