Tiba Tiba Saja Part 6

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21

Tiba Tiba Saja Part 6

Start Tiba Tiba Saja Part 6 | Tiba Tiba Saja Part 6 Start

Kringgggg!!! Alarm di ponsel baru saja berbunyi menandakan gadis yang sedang tertidur di atas kasur sudah waktunya bangun pagi. “Hoaemmmmmm!” gadis itu menguap sekuat-kuatnya, membuka mulutnya sambil merentangkan kedua tangan ke atas. Bugh! “Duhhh… sakit” saat itu juga, kedua punggung tangannya menghantam bagian kepala ranjang yang terbuat dari besi. Ranjang warisan tempo doloe yang masih terbuat dari besi. Lalu gadis itu mengelus-ngelus tangannya sembari memasang ekspresi kecut atas kesalahannya sendiri.

Plug! Dia menjitak kepalanya sendiri, setelah menyadari jika apa yang ia lakukan cukup menggelikkan. “Dasar Hesty… Hehehe!” gumamnya pada diri sendiri. “Ahhhhh, waktunya bangun.” Lanjutnya sambil beranjak dari ranjang.

Saat ia berdiri di samping ranjang, ia tersadar. Hesty, lalu meraih ponselnya. Di pandangi berlama-lama padahal sebetulnya ia sedang melamun. “Libur uhhhhhh!” Hesty mendesah. Dan ia masih belum mengalihkan pandangannya dari layar ponsel. Antara sadar dan tidak sadar. Ngantuk masih saja melandanya, namun ia harus tetap bertahan agar tak terpengaruh oleh keinginan bagian otak lainnya yang menginginkannya kembali ke ranjang.

Terlihat ia baru saja menggelengkan kepalanya. “Jangan malas! Harus semangat… Hehe!” Setelah memutuskan untuk melawan keinginannya kembali tertidur. Yah! Karena hari ini kebetulan hari libur bagi Hesty. Tinggal sendiri di rumah bertype sederhana. Rumah satu-satunya harta yang tersisa bagi Hesty, hasil dari jerih payah sang ibu selama ini. Namun sayang, sang ibu sudah 10 tahun berada di RS Jiwa. Membuat Hesty harus melakukannya sendiri. Bersih-bersih rumah, mengurus rumah dan juga menyiapkan makanannya sendiri. Hidup seperti ini sangatlah jauh dari mimpi Hesty sejak kecil. Namun apa daya, nasib berkata lain.

Krieek! Pintu kamar Hesty baru saja terbuka. Ia melangkah menuju ke ruang tamu.

“Meoooong!” Hesty terkejut, saat kepala kucing melongo dari balik dinding.

Hesty tersenyum menatap kucing tersebut.

Bukan kucing yang seperti kalian pikirkan. Mahal dan cantik. Bukan!

Melainkan kucing rumahan, yang sejak kecil telah Hesty pelihara. Yah! Itung-itung ada hiburan di rumah ketika Hesty lagi butuh teman.

Kucing bernama Kiti itu tak perlu diberi makan. Ia akan mencari makan sendiri. Tak perlu di kurung karena, kucing itu akan kembali ke rumah saat setelah lelah bermain seharian di luar.

Cukup yang dilakukan Hesty, membuka sedikit jendela depan agar si Kiti bisa masuk melalui jendela tersebut.

Satu hal yang membuat Hesty berkesan dengan kucing ini. Adalah ia akan keluar melalui jendela, jika ingin membuang air. Bahkan, Hesty selalu berpesan jangan membuangnya di dekat rumahnya melainkan mencari tempat yang jauh. Dan sukses! Kucing itu cukup mengerti, dan tak pernah Hesty mencium aroma busuk di sekitar rumahnya.

“Ntar yah Kit. Gue bersih-bersih dulu.”

“Meongggg!”

“Nah gitu donk. Dah sana, maen diluar dulu.”

Setelah kepergian si Kiti, Hesty meraih sapu ijuk, lalu mulai beraktivitas seperti biasanya. Di ruang tamu ini, melewati pintu masuk. Terdapat dua kursi yang di letakkan di ruang tamu. Bukan sofa, melainkan kursi plastik lengkap dengan meja beserta kaca, yang sempat retak namun Hesty tetap tak membuang kaca tersebut. Cukup memakai plester transparan untuk mengembalikan posisi kaca tersebut ke atas meja.

Tak lupa Hesty membersihkan beberapa bingkai foto dengan kemoceng. Beberapa terdapat di dinding, baik foto dirinya sedang berselfie. Dan juga foto berdua dengan sang ibu. Setelah cukup. Hesty berjalan masuk ke belakang, terdapat karpet merah yang dimana sedang di kebas memakai sapu lidi. Di depan karpet berhadapan dengan TV berukuran kecil. Di tempat inilah biasanya di gunakan Hesty untuk nyantai menonton beberapa siaran TV selama ia berada di rumah. Hesty sangat hobi menonton Drakor. Yah! Itu adalah hobi yang sangat susah ia tinggalkan.

Karena mungkin sering di bersihkan, dan juga jarang ada yang masuk ke rumah ini. Maka kondisi rumah masih bersih. Cukup di bersihin sedikit oleh Hesty setiap harinya, maka rumahnya akan kembali kinclong. Hesty melangkah menuju ke kulkas satu pintu yang terletak di dapur. Saat membuka pintu kulkas, wajahnya langsung cemberut. “Huuuff! Dasar loe kas-kul,” cibir Hesty yang sengaja membalik kata ‘Kulkas’. “Gak pernah bersahabat ma gue! Masa iya cuman nyisahin telor doank… Sebiji pula. Hadehhh!” gumamnya sendiri. Karena mendapati isi dalam kulkas yang bisa ia masak hanyalah telur sebiji.

Hesty mengambil telur itu, lalu menutup kulkasnya kembali. Kemudian ia membuka penutup ricecooker, seketika wajahnya makin murung. Ketika mendapati nasi yang tersisa hanya seukuran se sendok nasi.

“Siapa sih yang ngabisin nih nasi.” Cibirnya. Plug! Lalu ia menjitak kepalanya sendiri, setelah menyadari jika ia sendiri yang menghabiskan nasi yang semalam.

“Miris amat hidup loe Ty. Hahahaha! Dah ah! Semangat 45.” Seketika ia tertawa lalu mulai menggoreng telurnya di atas kompor gas lengkap dengan tabung gas 3Kg. Tak ada yang special di dalam rumah ini.

Setelah selesai, maka kini Hesty duduk bersila di atas karpet hanya memakai daster baru saja memutar TV. Di raihnya piring yang sebelumnya ia letakkan di samping, kemudian dengan telapak tangan kirinya yang berposisi terbuka, menopang piring berisikan nasi, telor dan kecap yang langsung ia santap dengan tangan kanan.

Yah, beginilah hidup seorang Hesty. Ia sama sekali tak pernah mengeluh atas nasibnya yang cukup memprihatinkan. Tak jarang ia hanya menanak nasi. Dan lauknya hanya indomie atau kadang hanya telur ceplok doank. Seperti pagi ini. Karena dengan income standar UMR di Makassar, Hesty benar-benar harus menjalani kehidupannya dengan cara ‘Irit’ se-irit iritnya.

Siapa lagi yang akan membantu dia? Sang ibu, masih sakit. Tak ada sanak saudara, bahkan Hesty selama ini cuma tau, dia hanya punya sang ibu. Tak ada yang lainnya.

Dimana sang ibu juga, saat ia masih sehat tak pernah ingin bercerita ke Hesty latar belakang keluarga mereka seperti apa. Namun Hesty tak mempermasalahkan hal itu. Maka dari itu, Hesty lah yang sekarang harus bekerja keras untuk membiayai hidupnya sendiri, beserta sang ibu yang setiap minggunya Hesty kunjungi di Rumah Sakit.

Kehidupan Hesty selama di rumah. Yah selayaknya gadis-gadis lain yang hidup sendiri. Kegiatannya bersih-bersih, maen hape, dan memasak sekalian untuk persiapan ia membawa makanan ke rumah sakit. Dan setelah menyempatkan beristirahat sejenak untuk sekedar menonton TV, maka Hesty pun memutuskan untuk mandi. Ia harus ke RS hari ini, lagian dia juga mau ngapain berada dirumah seharian ini. Meski, dua hari yang lalu Hesty sempat menjenguk sang ibu. Namun entah, ia tiba-tiba saja merindukan sang ibu lagi.

Maka, Hesty mematikan TV lalu beranjak ke kamar mandi.

Beberapa saat kemudian…

Sayup-sayup suara dering ponsel terdengar. “Lah… dimana gue taruh tuh HP sih?” ujarnya sendiri, sambil mencari ponselnya. Dia tampak ke bingungan, dan belum menyadari jika ponselnya sedang berada di ranjang tertutupi oleh sarung yang semalam ia pakai untuk dijadikan selimut menutupi dirinya.

“Ok oke! Tenang doloe Ty! Mungkin loe lupa naruh dimana…”

Maka ia mencari pelan-pelan tuh Hp, kemudian ia mengernyit saat ia mulai mengingat apa yang ia lakukan sejak baru bangun. Beranjak dari ranjang, And! Plug! Dia menjitak kepalanya lagi, saat menyadari ia melempar ponselnya begitu saja di atas ranjang setelah tadi pagi menyempatkan melihat jam di layar ponselnya.

“Yes Dapat!” serunya pada diri sendiri setelah mendapatkan Hpnya yang tersembunyi dibawah sarung. Beginilah Hesty, terlihat memang cukup ceroboh. Dimana ia juga pelupa, type gadis yang terlalu banyak pikiran.

Lagi! Ponselnya berdering dari nomor yang belum ia save.

Saat menjawab telfon dari seseorang di seberang, ekspresi Hesty berubah seketika. Diam, lesu dan tak bersemangat. Tak seperti beberapa detik sebelumnya. Yang dimana ternyata Hesty mendapat telfon dari Bank saat ini.

Ia hanya menjawab iya, dan iya, dan juga berjanji akan datang menghadap ke kantor Bank tersebut yang tak terhitung lagi, sudah berapa kali Hesty pergi menghadap ke bagian Kredit.

Hesty dilema. Dimana awalnya ia ingin menjenguk sang ibu dengan suasana hati yang ceria. Tergantikan dengan lesu lemah dan khawatir setelah selesai mengakhiri obrolannya di telfon tadi. Akhirnya ia memilih untuk ke Bank terlebih dahulu sebelum ia menjenguk sang ibu di rumah sakit.

Dengan menggunakan angkot pergi ke Bank untuk menghadap bagian kredit.

Setelah selesai menghadap, Hesty terlihat baru saja keluar dari pintu masuk bank tersebut. Ekspresinya makin kacau. Tak ada keceriaan yang tampak di wajahnya. Apa lagi jika bukan sebuah peringatan kembali oleh pihak bank yang Hesty dapatkan setelah menghadap tadi. Dan diberikan waktu sebulan untuk menyelesaikan segala hutang. Jika tidak, maka totally rumah beserta isinya akan di sita oleh bank.

Langkahnya pelan menyusuri jalan di daerah Cendrawasih. Hesty bersedih. Benar-benar bersedih. Wajahnya murung, sambil menatap ke bawah. Bahkan menelan ludahpun rasanya sulit. Ia tak sanggup lagi, jika memang benar terjadi rumah beserta perabotannya tersita oleh pihak Bank. Dimana ia akan tinggal?

Setelah tarikan nafasnya yang terasa berat. Hesty akhirnya memberhentikan angkot yang baru saja ingin berlalu di hadapannya.

Hesty naik ke angkot, bersandar di pinggir jendela dengan pikiran yang berkecamuk. Semua perjuangannya selama ini akan sia-sia. Janjinya terhadap sang ibu akan tetap pertahanin harta satu-satunya yaitu rumah tersebut, bakal hilang juga. Yang jelas Hesty sudah pasrah segalanya. Dan hanya berharap kedepannya ia akan mampu tetap bertahan untuk menjalani hidup seperti biasanya.

•○●○•

Di tempat berbeda…

Duduk di ruang keberangkatan. Ricky terlihat hari ini berpakaian santai. Kaos oblong berwarna putih, jaket berbahan kain berwarna Grey gelap. Jeans Denim dan sepatu berwarna coklat. Dua headset berada di telinganya mendengar lagi yang tersambung di smartphonenya.

Memakai kaca mata hitam bermerk ‘Oakley’. Yang dimana matanya sedang terpejam. Ingatannya kembali ke kejadian dimana ia bertemu dengan Grace.

“Hati-hati, karena hati loe udah mencair gegara si Hesty…” Degh!!! Ricky terdiam, dan Grace tampak tersenyum saat mendapati perubahan ekspresi di wajah pria itu.

“Dan…” Ricky kembali menatapnya.

“Gue harap… loe bisa menghargai kasih sayang seorang perempuan Ky!” Again. Grace berhasil membuat jantung Ricky berdebar-debar.

“Dia cantik…”

“Dia baik…” kata Grace, dan sengaja menggantung ucapannya. Ia maju selangkah, mendekati Ricky. Tangannya memegang, pundak Ricky. “Dia manja… dan, gue yakin… Loe juga rasain itu,” Degh!!! Ricky masih diam, dan Grace tak memperdulikan sikap Ricky saat ini.

“Sudah saatnya, loe menjalin hubungan dengan perempuan Ky!” Grace melepas pegangannya di pundak Ricky. Lalu, ia beranjak pergi. Saat baru dua langkah! Ia menoleh ke belakang. “Jangan lagi, ada Grace kedua… Ky! SAKIT loh… Bye”

Setelah mengingat itu, Ricky tersenyum sesaat. Hanya tipis namun cukup mewakili apa yang ia rasakan hari ini.

Yah! Ricky akan ke Makassar hari ini. Apakah ia langsung memutuskan begitu saja, untuk meninggalkan kota Denpasar untuk beberapa hari kedepan demi mencari sosok gadis bernama Hesty?

Oh tentu saja tidak!

Semua pastinya punya alasan sendiri-sendiri.

.

.

Flash Back…

Berhari-hari Ricky benar-benar tak bisa melupakan sosok Hesty. Setiap ia membuka mata, setiap ia hanya menikmati kesendirian selepas beraktivitas maka ingatan itu kembali lagi.

Hesty, gadis yang sukses membuat Ricky seperti ini. Tawa, canda dan kejahilan sang gadis sangat melekat di ingatannya.

Semakin ia berusaha untuk melupakan tentang Hesty, semakin sulit untuk ia bisa dengan mudah menenangkan pikirannya. Bahkan kerap kali, di sela-sela kesibukannya. Wajah tersenyum Hesty seakan mencibir dirinya. Menertawakan Ricky yang seakan terlihat sebagai laki-laki pecundang yang akan melarikan diri dari kenyataan yang ada.

Rikcy selalu mengingat apa yang dikatakan Hesty dalam pikirannya.

“Cemen loe…”

“Suka? Yah di kejar donk. Hihihihi!”

“Berani gak loe, Ky?”

“Kalo berani… Gue tunggu loe di Makassar.”

“Arghhhhhhh!” Terdengar Ricky mengerang kerap kali pikirannya dihantui dengan 4 kalimat tersebut.

“Ky! Gue… tunggu loe di Makassar…”

“Gue tunggu loe di Makassar…”

“Loe, ke Makassar.”

“Makassar…”

“Makassar.”

Jantung Ricky berdetak kencang setiap bisikan-bisikan kalbu dari Hesty terngiang-ngiang di tempurung kepalanya.

Ia sendiri jujur, tak mengerti dengan semua ini. Yang jelas, Ricky memang harus menemuinya. Tak ada pesan yang terjadi saat terakhir ia bertemu. Tak ada kalimat perpisahan saat ia berpisah di depan hotel. Ricky akui, ia memang ceroboh dalam hal ini. Selalu saja membentengi dirinya dengan pertahanan yang tak akan tergoda dengan seorang gadis. Namun bukti berkata lain.

Ternyata benar yang dikatakan oleh Grace! Jika sebuah hati yang beku, mulai mencair. Namun Ricky masih tak percaya akan hal itu. Dia harus membuktikannya sendiri, apa memang benar seorang Hesty sangat berarti bagi hidupnya ataukah hanya sebuah rasa penasaran yang tertinggal.

Yah! Itulah jawaban yang mungkin saat ini Ricky pikirkan. ‘Rasa Penasaran Yang Tertinggal!’

Maka ia meraih ponselnya. Mencoba untuk menelfon sang ayah.

Saat ia menelfon sang ayah, Ricky tak perlu berbasa-basi. Di katakan apa yang ia maksud secara langsung. Yaitu, ia ingin berlibur ke Makassar. Tujuannya hanya satu, tiba-tiba Ricky merindukan keadaan kampung halamannya.

Semua orang pasti akan berubah…

Sang ayah tentu saja terkejut saat Ricky ingin ke Makassar dengan alasan sekedar berlibur. Sang ayah senang, dan mengizinkan Ricky untuk liburan.

Namun entah mengapa, dan karena apa. Di akhir obrolan mereka, sang ayah berpesan. Dan Ricky masih ingat pesan sang ayah, “Jangan pernah percaya dengan siapapun… Jangan pernah mencintai perempuan secara berlebihan! Ingat, perempuan itu, adalah sumber kehancuran.”

.

.

“Ahhhhhh!” Ricky baru saja tersadar dari lamunannya. Ia mendesah seiring suara di speaker memanggil para penumpang Garuda Indonesia penerbangan Denpasar – Makassar. Termasuk Ricky, yang sudah beranjak dari duduknya. Ia adalah salah satu penumpang VIP Garuda Indonesia.

•○●○•

Makassar…

Sebuah mobil melaju membelah jalan Jend. Sudirman dengan cukup santai mengingat kondisi jalan malam ini tidak begitu padat. Rikcy yang mengendarai JEEP, salah satu koleksi ayahnya. Telah tiba di Makassar beberapa jam yang lalu.

Ia sempat berkunjung ke kantor ayahnya sore tadi. Sudah menaruh barang-barang di rumahnya yang terletak di daerah Metro Tanjung Bunga.

Dan setengah jam yang lalu, Ricky ijin ke ayahnya untuk sekedar berkeliling di Kota Makassar. Kondisi jalan di Makassar jelas sudah banyak berubah, dari terakhir Ricky ke kota ini. Beberapa gedung pun telah banyak dibangun, dimana perkembangan tata kota cukup berkembang pesat.

Dalam diamnya, Ricky yang masih sibuk menyetir di pandu oleh Google Maps dari ponselnya. Ricky masih saja belum berencana untuk berhenti di suatu tempat. Ia hanya berkeliling saja, dan jika sudah lelah, maka ia bermaksud untuk pulang ke rumah.

Timbul pertanyaan dalam benaknya saat ini…

Apakah keputusan yang dia ambil, berkunjung ke Makassar adalah yang terbaik buatnya? Berulangkali pikirannya bertanya-tanya mengenai banyak hal.

Apakah hanya karena sosok Hesty, akhirnya dia kembali ke Makassar? Mengingat itu, Ricky menggelengkan kepalanya. Ia mencoba mengalihkan pikirannya, dengan memfokus-kan pandangannya ke depan. Menatap jalan raya.

Mobil Ricky baru saja melewati jalan Penghibur. Cukup menggelitik hati Ricky untuk sekedar mampir. Apalagi ada CK salah satu mini market yang terletak di sudut jalan. Berhadapan dengan anjungan Pantai Losari.

Tempat nongkrong di kota Makassar ini terbilang cukup banyak, dan salah satunya yah kawasan ini. Daerah Pantai Losari dan sekitarnya, terdapat banyak penjual ‘Pisang Epe’ membuat Ricky akhirnya memarkir mobilnya.

Ia ingin sejenak mampir ke tempat ini. Apalagi kondisi malam ini sangatlah ramai oleh para pengunjung muda-mudi. Banyak juga yang datang secara berpasangan. Baik menggunakan mobil, motor maupun angkutan umum.

Dan CK adalah pilihan Ricky malam ini. Apalagi adanya beberapa meja yang sengaja di persiapkan oleh pihak CK untuk sekedar nongkrong bagi para pelanggannya.

Salah satu meja tampak kosong…

Dan sengaja Ricky bergegas masuk ke dalam CK untuk membeli minuman botol. Ia lalu kembali keluar menuju ke meja tadi. Untung saja, belum ada orang yang duduk di tempat itu.

Di letakkan botol minuman itu, ke atas meja…

Ia membuka ponselnya. Di pandanginya nomor yang sejak tadi ingin ia hubungi. Yang sejak awal telah ia save di ponselnya. Kemudian Ricky kembali memikirkan kejadian saat bertemu dengan pemilik nomor ponsel tersebut.

Masih berfikir tentang gadis itu, ia-pun mulai meneguk sedikit demi sedikit isi dalam botol minumannya.

Sesaat Ricky mengangkat wajahnya, lalu melihat-lihat ke kiri dan kanan. Berharap seseorang yang ia kenal di tempat ini. Yah! Meski itu adalah hal yang mustahil. Karena Ricky sejak kecil tak lagi tinggal di Makassar.

Lalu tiba-tiba…

Tatapan Ricky menajam saat melihat seorang gadis yang baru saja masuk ke dalam CK.

DEGH!!! “Dia?”

•○●○•​

Beberapa saat sebelumnya…

Malam ini, terlihat Hesty sedang duduk sendiri di rumahnya. Pandangannya lurus ke arah TV. Secangkir teh manis panas menemani kesendiriannya malam ini, setelah beberapa saat mengingat kejadian tadi.

Dimana ia menghadap ke Bank sebelumnya. Lalu mengunjungi sang ibu, yang kondisinya masih begitu-begitu saja. Hesty sempat berkeluh kesah kepada sang ibu, meski tak ada respon namun bagi Hesty adalah kewajibannya menceritakan ke ibunda tercinta.

Pandangannya berputar ke sekeliling ruangan. Walau perih yang ia rasakan, namun semua akan ia ikhlaskan. Rumah ini akan menjadi kenang-kenangannya saja bersama sang ibu.

Sepintas, ia melihat ponselnya yang tergelatak begitu saja di sampingnya. Di raihnya ponsel tersebut. Pikirannya entah karena apa, tiba-tiba berkecamuk!.

Ricky! Yah, pria itu sudah hampir 3 minggu lamanya, setelah terakhir kejadian di Denpasar, belum pernah menghubunginya.

“Dia sedang ngapain yah?” Gumamnya pada diri sendiri.

Kenapa Ricky belum menghubunginya? Itulah pertanyaan yang selama ini menghantui dirinya. Padahal jelas, Hesty sudah memberikan nomornya dan ia titipkan ke resepsionis Hotel kala itu. Atau, jangan-jangan memang Ricky gak pernah mencarinya?

Yah! Mungkin saja.

Jika memang Ricky mempunyai perasaan kepadanya, pasti ia akan kembali ke Hotel untuk mencarinya. Namun, kenyataan yang baru saja ia pikirkan membuat nafasnya terasa sedikit sesak. “Gak mungkin. Hehehehe! Maksudnya gak mungkin Ricky mikirin gue.” Plug! Ia menjitak kepalanya sendiri, “Jangan banyak ngimpi deh loe, Ty!”

Namun…

Penggalan demi penggalan, kenangan itu kembali terngiang-ngiang di pikirannya.

“TUNGGU!!!” Teriak Hesty namun pria itu seakan tak memperdulikan panggilan gadis itu.

Pria itu telah membuka pintu mobil, membuat Hesty berlari. Ketika bersamaan pria itu telah masuk ke dalam mobil, Rini menahan pintu mobil agar tidak tertutup. “Tunggu mas…”

“Kenapa lagi?” tanya pria itu mengernyit.

“Terima kasih, sudah bantuin gue tadi… Dan, gue janji akan balikin duit mas-nya secepatnya.” Kata Hesty membuat pria itu menyeringai.

“Gak perlu… duit sejuta dua jutaan kek gitu, yah anggap saja aku beliin permen buat kalian.”

“Permen?” gumam Hesty mengernyit. “Gak mas… Pokoknya, nanti gue ganti duitnya… Minta nomor HP mas, boleh?”

“Hufffhhhhhh… Permen? Gue bingung, menurut loe gimana cara ngabisin permen sebanyak itu?” Gumam Hesty sambil memasang mimik wajah yang lucu. Dua bola matanya baru saja bergerak, bibirnya agak sedikit manyun ke depan. Hidungnya ia kerutkan dan juga keningnya yang mengernyit. Sungguh lucu dan menggemaskan wajah gadis ini.

Kemudian, ia mendesah. Mencoba untuk mengenang kembali kenangannya bersama Ricky.

“Hei sayang… kamu disini toh, aku keliling nyariin kamu sejak tadi.” DEGH!!! Seketika, Ricky merangkul tubuh gadis itu yang membuat kedua petugas polisi terkejut.

Begitu juga gadis itu, yang awalnya ingin berontak. Namun merasakan jika lengan pria itu mengeraskan pelukan di tubuhnya.

“Eh! Ka-“ Gadis itu seakan mengenalnya. Dan Ricky menyela secepatnya ucapan gadis itu.

“Hehehe, kita pulang saja yuk sayang.” Kata Ricky makin memeluk erat tubuh gadis itu.

Salah satu petugas akhirnya bertanya. “Anda siapa?”

“Oh kenalkan… Saya Ricky Pak, dan ini tunangan saya.” Kata Ricky, sambil melirik ke gadis itu sesaat. “Iyakan sayang?” lanjutnya, sambil memberikan kode dengan mengerlipkan mata kepada gadis itu.

Tampak Hesty tersenyum kecut sesaat. Karena mengetahui, jika dirinya saat ini telah di bantu oleh pria itu. “Eh iya Pak… Hehehe,” jawab Hesty kepada kedua petugas polisi itu.

“Ohhh jadi ini tunangan anda?”

“Iya donk…” Tanpa disadari, Ricky langsung mengecup pipi gadis itu. Cup!!! Degh!!! Gadis itu menahan nafas, lalu menoleh dan menatap mata Ricky dengan kesal. “Eit!!! Yah sudah Pak, kami mau pulang… mau berbulan madu dulu, Iya gak sayang?” Lanjut Ricky dan menggerakkan kepalanya lagi seakan ingin mencium pipi gadis itu untuk kedua kalinya.

Ketika mendapati tatapan tak suka dari gadis itu, Ricky pun memberikan kode dengan kedua matanya seakan berkata ‘bahwa inilah yang memang harus mereka lakukan’. Maka, gadis itu pun pasrah dan menahan nafasnya sesaat. Cup!!! Lagi, Ricky mengecup pipinya.

“Baik kalau begitu… Saya berpesan, untuk tidak lagi membiarkan tunangan anda berkeliaran malam-malam tanpa membawa tanda pengenal seperti saat ini.”

“Tunangan? Oh Goshh! Uhhh laki-laki Sial! Emang dia pikir gue cewek apaan? Maen ngaku-ngaku sebagai tunangan gue.” Gumam Hesty lagi saat mengingat kejadian pertemuan keduanya dengan Ricky.

Dan yang paling mengganggu pikirannya kembali, yaitu kejadian saat ia berada di rumah Ricky.

Krieeeekkkkk!!! Terdengar suara pintu kamar terbuka, dan bersamaan tanpa permisi Hesty masuk ke dalam.

Sedetik, Hesty terbelalak, mulutnya terbuka, menganga dan juga tubuhnya pun kaku tak bisa di gerakkan.

Ricky pun, bingung, kaget dan melongo dengan tubuh yang kaku berdiri memandang wajah Hesty.

Perlahan-lahan, Ricky menangkap dua bola mata Hesty melirik. Turun ke arah bawah, lalu bergerak naik kembali ke atas.

“KYAAAAAAAA!!! HEI… KENAPA LOE BUKA CELANA SIHHHHH… IHHHH JOROK!” Hesty segera berteriak, menutup wajah dengan kedua tangannya.

Ricky yang ikut kaget, dengan cepat menarik celananya ke atas. Dan menutup kemaluannya yang sempat di lihat oleh Hesty tadi.

Ia bingung, harus berkata apa…

Benar-benar ia malu…

Dan Hesty, kembali menggerak-gerakkan tubuhnya sambil menutup wajah. Kedua kakinya pun dihentak-hentakkan di lantai bergantian. “IHHHH… SIAL…SIAL… IHHH, KENAPA SIH, GUE HARUS LIHAT PUNYA LOE…”

“Ishhhh nih anak, lagian siapa suruh sih masuk tanpa diketuk dulu.”

“GAK TAU AH! DASAR MESUM… PASTI, LOE MAU COLI KAN???”

“WHAT?” Ricky benar-benar terkejut mendengar teriakan dari gadis itu. Lalu, ia hanya bisa menghela nafas karena tak mampu menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

“DASARRRR COWOK MESUMM!”

“Hei…”

“TAU AH! MESUM…MESUM! POKOKNYA MESUMMMMMM!!!”

Hesty teriak sekencang-kencangnya, masih merasa kesal dengan apa yang ia lihat tadi.

Maka ia pun segera keluar dari kamar. Lalu. BRAK! Hesty membanting pintu kamar, meninggalkan Ricky yang speechless dalam kamar.

Mengingat itu, nafas Hesty tersengal. Memikirkan apa yang ia lihat kala itu, membuatnya merasa seperti mau pingsan. Hesty langsung beranjak, dan kebingungan sambil mencoba menghilangkan pikirannya tentang ‘Kemaluan’ Ricky.

“Hesty…Please deh ah! arghhhhh… Hilanginnnn pleaseeeeeee dari otak gue” Ia tak henti-hentinya mengerang, dan mengutuk dirinya karena masih saja mengingat hal itu.

Yang ia sesali. Kenapa saat itu ia tak memalingkan pandangannya? Kenapa ia mengikuti apa yang di inginkan oleh otak kecilnya?

Hesty masuk ke dalam kamarnya. Membantingkan tubuhnya ke atas ranjang sambil mengacak-ngacak rambutnya dengan perasaan yang tak mengenakkan. “Hash…hash!!!” Tak lama Hesty memejamkan kedua matanya, akan tetapi ingatan itu kembali lagi. “Enggak… Gue gak bakal ingat-ingat lagi…arghhhhh…” akhirnya ia mencoba melakukan apapun di dalam kamarnya untuk mengalihkan pikiran joroknya.

Ia melompat-lompat, bergoyang kesana kemari dengan tujuan agar ia melupakan kejadian kala itu. Akan tetapi, saat ia terdiam. Kembali otaknya memikirkan sesuatu yang sangat tidak di inginkannya. “Bego… Hesty, Bego… Bego….”

Dari pada pusing tidak jelas di rumah, maka Hesty memutuskan untuk keluar sekedar mencari angin. Lagian ini kan malam minggu, kali aja ada sesuatu yang bisa menghiburnya malam ini.

Dengan modal applikasi Online di ponselnya, Hesty berfikir ada baiknya ia ke Pantai Losari saja. Tempat menghibur dirinya yang tak membutuhkan modal besar. Cukup naik Gojek aja, tak sampai 10 ribu sudah bisa pergi-pulang. Lalu, ketika tiba di pantai losari, Hesty memilih untuk nongrong di CK sambil memesan minuman botol. Murah meriah.

Jadi Hesty sudah mentotalkan, ia hanya harus membawa duit selembar 20ribu dan 2 lembar duit 2ribu saja udah cukup. Bahkan lebih, menurut Hesty jika ia hanya memesan minuman dingin yang murah. Paling harga minuman di CK 5ribuan. “Hehehehe… ini namanya nongkrong irit” gumam Hesty yang telah berada di atas motor, baru saja memikirkan kondisinya saat ini.

Dan akhirnya Hesty tiba di depan CK. Tanpa menoleh ke kiri dan kanan, ia lalu turun dari motor. “Berapa mas?” tanya Hesty kepada si tukang ojek.

“Kebetulan ada promo 4 ribu mba… Jadi, bayar seribu saja.”

Hesty tersenyum, lalu karena tergesa-gesa ia merogoh sakunya dan mengambil selembar uang yang ia kira uang 2 ribu. “Nih mas, ambil aja kembaliannya.”

Si pria itu langsung menerima uang dari Hesty, sempat ia mengernyit tanpa berucap ia pun memasukkan uang itu kedalam saku. “Ikhlas kan mba?” sempat si pria bertanya.

“Ya elah… ikhlas donk! Lagian juga cuman segitu lah mas. Hehehehe”

“Busyet!” gumam sang pria.

“Hihihi… santai mas!” kata Hesty membalasnya.

Kemudian si pria pun berpamitan kepada Hesty. Karena ia berfikir jangan sampai gadis ini berubah pikiran. Lumayan lah menurut si pria dalam hati, bisa untung malam ini sebanyak 19 ribu nih.

“Oke mas. Hati-hati” Setelahnya Hesty melangkah masuk ke dalam CK.

Sempat Hesty melirik keadaan di depan CK. Dimana keadaan terlihat cukup ramai, kemudian saat Hesty sudah berada di dalam. Matanya masih melihat kekanan dan kekiri mencari-cari letak pendingin.

Dan ternyata letaknya terhalang oleh dua gondola, maka Hesty berjalan ke lemari pendingin tersebut.

Ia mengambil sebotol Kopi kemasan, kemudian tanpa berfikir dan juga karena telah mengetahui harga minuman ini. Maka Hesty membuka segel minuman, kemudian meneguknya sebelum membayar di kasir. “Haaa… segernya.” Gumam Hesty sesaat.

Setelahnya, ia berjalan ke kasir dengan kondisi isi dalam botol telah berkurang seperempat.

“Malam mba…” sapa sang kasir.

“Malam… nih, berapa mba? Sorry, udah dibuka tadi. Haus. Hehehe,” kata Hesty sambil terkekeh.

Klik! Suara barcode yang baru saja di scane oleh sang kasir. “5 ribu, 3 ratus mba.” Kata si kasir menyebut nominal yang harus dibayar oleh Hesty.

Untunglah! Batin Hesty sesaat. Kemudian dengan percaya diri, ia merogoh saku celananya untuk mengambil uang yang telah ia persiapkan dari rumah.

Tanpa melihat nominalnya, ia memberikan selembar uang kepada si kasir.

Si kasir menatap Hesty bingung.

Hesty pun membalas tatapan si Kasir.

“Kenapa mba?”

Si kasir masih mengernyit. Dalam hati, ia bingung apakah nih cewek di depannya gila atau apa yah? Padahal ia masih memegang duit itu yang diberikan oleh gadis itu. Dan sengaja masih memperlihatkan kepadanya berapa nominal uang tersebut.

“Mba…”

“Iya kenapa mba? Hehehehe… gak ada duit kecil yah mba?” kata Hesty masih belum menyadari akan suatu hal.

“Busyet!” gumam si kasir.

“Mba… Mba! Kenapa? Atau sini, gue tukarin di depen.” Kata Hesty selanjutnya.

“Eh mba… mba nya ini, sadar apa gak sih?” Degh!!!

Hesty terdiam sesaat. Dimana ia mengernyit, dan dalam hati sedikit tersinggung dengan ucapan kasir itu.

“Maksud mba nya apaan?” balas Hesty.

“Lah… sadar gak sih, ini duit 2 ribu… BERARTI MASIH KURANG! HUH!” DEGH!!!

Hesty terdiam. Jantungnya berdebar-debar. Namun, ia berfikir mungkin ia salah mengambil uang.

“Eh iya deng! Beneran. Hehehehe, maaf… maaf mba” kata Hesty yang tersadar setelah melihat uang yang masih berada di tangan si kasir.

Maka Hesty mengambil uang yang sisa satu-satunya di dalam sakunya. Karena ia paham betul, hanya 3 lembar uang yang ia bawa keluar dari rumahnya tadi.

Dan kali ini, ia gak akan salah pastinya mengambil uang.

“Nih mba… maaf, salah ngambil duit tadi. Hehehehe,” Dengan Pedenya, Hesty memberikan uang itu untuk mengganti uangnya yang pertama tadi. Namun, matanya membelalak seketika, saat melihat warna uangnya sama. “HAAAAAAA?”

“Mba?”

Dugh!!! Dugh!!! Dugh!!!

Jantung Hesty seketika berdetak kencang. Ketakutan melandanya, dan kedua matanya menatap kasir dengan penuh ke khawatiran.

Berarti? Yah! Itulah yang ditanyakan dalam benak Hesty saat ini. Yang artinya, berarti ia memberikan uang 20 ribu nya kepada si tukang ojek tadi.

“Mati gue… mati…” Gumam Hesty sesaat.

Wajahnya memucat…

Jelas, ia bakal di permalukan saat ini. Apalagi, sempat tadi ia membuat suasana hati si kasir menjadi tak mengenakkan.

Itu sudah pasti!

Hesty telah mempersiapkan diri, untuk mendapat celaan bertubi-tubi dari si kasir. Bahkan, mungkin saja, ia akan di permalukan di depan para pelanggan CK yang sedang mengantri di belakangnya.

Hesty tak berani menoleh ke belakang.

Ia merasakan, adanya sosok orang yang berada dekat dibelakangnya.

“Mba… ada duit gak sih? Ini masih kurang duitnya.”

“Eh!” Hesty tertunduk. Mana lagi, botol minumannya sudah ia buka segelnya. Bukan hanya itu, ia juga sudah meminum isinya.

“Ma-maaf mba… ma-maaf!”

“Hadehhh! Jadi… mba nya gak punya duit lagi?” tanya si Kasir. Dan Hesty, akhirnya menjawab dengan anggukan pelan.

“Makanya, kalo gak punya duit jangan belagu.” Degh!!!

Sesuai perkirannya. Dimana si Kasir mulai menyerang Hesty dengan kalimat kasar.

“JADINYA GIMANA DONK? KAMI BAKAL NOMBOK NIH!” Hardik si Kasir. Membuat Hesty makin menundukkan kepalanya dihadapan kasir itu.

“Ma-maaf!” gumam Hesty menahan gejolak di dadanya.

Tanpa Hesty sadari, sosok yang berdiri dibelakangnya, baru saja tersenyum. Dan juga, baru saja tangannya mengambil selembar uang merah dari dompetnya.

Lalu, tiba-tiba Hesty merasakan pundaknya sedang di sentuh.

Hesty tak berani mengangkat wajahnya, apalagi menoleh ke belakang. Ia benar-benar malu plus ketakutan. “Biar… aku saja yang bayar.”

Dengan gerakan slow motion. Hesty menolehkan sedikit kepalanya ke belakang. Matanya terbelalak saat melihat orang yang baru saja menyentuh bahunya. Dan lengan orang itu, baru saja bergerak memberikan uang kepada kasir.

Bukan…

Ini bukan mimpi, ini nyata…

Yah sangat nyata, dimana Hesty melihat sosok yang begitu mengganggu pikirannya selama ini.

“Makasih mas, nih kembaliannya.” Hesty tak lagi mendengar apa yang dikatakan oleh orang-orang di sekitarnya. Telinganya berdengung. Dan pandangannya masih saja ke wajah sosok di belakangnya.

“Yuk!” kata sosok itu. Sambil menarik lengan Hesty.

Hesty tak mampu mengeluarkan kata-kata.

Dan kini, tangannya telah tergenggam oleh sosok itu.

Jantung Hesty berdetak makin kencang. Kemudian, ia menahan nafas ketika telah tiba di depan CK. Hesty juga merasakan tubuhnya benar-benar kaku untuk digerakkan. Ia juga tak mampu lagi memikirkan apapun.

“Kenapa masih diam?”

“Ka-ka?” belum sempat Hesty melanjutkan ucapannya, pria itu menyela.

“Yuk!” pria itu menarik lengannya.

“Ke- kemana?”

“Mau nyulik kamu.” DEGH!!!

Still Continued

END – Tiba Tiba Saja Part 6 | Tiba Tiba Saja Part 6 – END

(Tiba Tiba Saja Part 5)Sebelumnya | Selanjutnya(Tiba Tiba Saja Part 7)