Tiba Tiba Saja Part 5

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21

Tiba Tiba Saja Part 5

Start Tiba Tiba Saja Part 5 | Tiba Tiba Saja Part 5 Start

Seminggu kemudian…

Semuanya kembali seperti sedia kala. Nothing special menurut Hesty yang saat ini sedang berdiri di meja kasir.

Kenangan yang terjadi di Ubud, seakan mulai sirna seiring penantiannya selama seminggu ini, tak kunjung ada kabar dari yang ia nantikan.

Hesty, saat ini ia mendapat tugas menjadi kasir karena di tempat ia bekerja, semua waitress/pelayan ‘Barista Cafeta’ wajib mengetahui kerjaan di kasir seperti apa. Jangankan waitress, para Barista saja kerjaannya bukan hanya meracik kopi dan minuman lainnya. Mereka harus tau cara menjalankan mesin kasir berupa monitor kecil dengan layar yang bisa di operasikan menggunakan sentuhan jari.

Yang jelas, di Barista Cafeta ini semua karyawan harus bisa menggantikan posisi karyawan lainnya di bidang yang berbeda.

Dalam lamunannya, seminggu telah berlalu setelah dari liburan di Bali, Hesty sesekali mengharapkan pria bernama Ricky yang ia temui di Bali sana, menghubungi nomornya.

Seperti yang dikatakan di atas, dimana penantiannya mulai memupus harapannya.

Sekilat bayangan wajah Ricky, pun mulai memudar seiring aktivitas Hesty yang telah kembali normal. Makin kesini, makin membuat Hesty mencoba melupakan segalanya.

“Huffff!!!” Hesty menghembuskan nafasnya, sambil menggembungkan kedua pipinya.

“Ky, loe beneran gak pernah sedikit pun memikirkan kejadian pertemuan kita yah. Heheheh! Mungkin gue yang terlalu berlebihan sih, ngarapin orang kek elu hubungi nomor gue. Cemungudhhh Ty!” Lanjutnya bergumam. Tersirat sebuah senyuman di wajahnya.

Dalam diamnya…

Dimana matanya masih memandang lurus ke depan, mungkin benar kata orang-orang, dimana setiap bertemu dengan pria yang tanpa di sengaja. Yakin dan percayalah, maka pertemuan secepat itu pun tak akan bertahan lama.

Mereka tak saling mengenal sebelumnya, hanya kejadian biasa saja yang membuatnya mengenal pria bernama Ricky. Hingga ia di bantu beberapa kali oleh pria itu. Bahkan sampai ia menginap semalam di villa pribadi yang terletak di Ubud, ketika para kawannya telah meninggalkannya sendiri di resto Ubud. “Yah, mungkin dia sudah lupa kali yah… Hihihihi!” gumam Hesty sambil nyengir sendiri. Setelah memikirkan, jika percuma ia menunggu pria itu menghubungi nomor ponselnya.

Tanpa di sadar, Dewi beberapa kali berlalu lalang di hadapan Hesty, melihatnya masih melamun sesekali geleng-geleng kepala.

Kemudian, ketika Dewi kembali melalui meja kasir, mendapati Hesty masih saja melamun menghentikan langkahnya.

Ia mendekati Hesty, di tangan kirinya sedang memegang nampan. Tangan kanannya, yang awalnya memegang nampan tersebut, kini terangkat dengan posisi telapak tangan yang terbuka.

Dewi melambaikan tangan di depan wajah Hesty. “Hellowwww… gadis perawan melamun siang-siang gini gak baik loh. Ck…ck…ck!”

Hesty yang merasakan gerakan tangan di depannya, tersadar dari lamunannya.

Hesty lalu mengernyit memandang ke Dewi.

“Hehehehe, kenapa loe ah! Ganggu orang lagi berkhayal.” Kata Hesty membuat Dewi geleng-geleng kepala.

“Nghayal di siang bolong, gak baik non!”

“Biarin… wek!” kata Hesty, sambil menjulurkan lidah di depan Dewi.

“Ntar, kesambet setan kunti baru tau rasa…”

“Asal setan kunti yang cakep!” Dewi mengernyit menahan tawa saat mendengar perkataan Hesty.

“Hahahahahaha… mana ada, setan kunti cowok!”

“Eh oops! Iya ding… ahahaha, namanya Kunti, semuanya cewek yah?” Plak! Hesty menepuk jidatnya sendiri, setelah menyadari dia baru saja salah ngomong dihadapan sahabatnya itu.

“Hahahahaha, dasar O’on loe ah! Dah… jangan melamun lagi.”

“Lagian, ngapain loe masih berdiri disini? Tuh, bawain pesanan orang gih!” balas Hesty sambil nyengir. Memperlihatkan deretan giginya yang bersih.

“Dasar! Kerja… Awas loe, jangan keseringan melamun.” Cibir Dewi, dibalas hanya cibiran dan manyunan bibir dari Hesty. “Tuh kan, di kasih tau… Malah nyengir doank.”

“Hehehehe… iya nenek sihir… dasar bawel.” Balas Hesty. “Sono gih, ngapain masih berdiri disini.”

“Dah ah! Gue mau ngurus pesanan tuh cowok yang disana,” kata Dewi sambil kepalanya bergerak menoleh ke samping.

Dari posisi mereka berdiri di arah jam 4, Hesty pun melihat ke arah yang sama.

“Ohhh… oke deh!” Yah! Mana mungkin Ricky yang datang. “Duhhh Hesty, kenapa sih loe masih ngarapin dia datang!” Batin Hesty.

Mendapati Hesty kembali melamun, Dewi geleng-geleng kepala. Kemudian menepuk jidat gadis itu. Plak! “Jiahhhh dia melamun lagi…. Dah kerja!”

“Eh!!! Apaan sih loe ah!” cibir Hesty sambi mengusap keningnya. “Iyaaa bawel!” Lanjut Hesty sambil nyengir.

Setelahnya Dewi meninggalkan Hesty, yang kembali sibuk melamun berdiri di belakang meja kasir.

Pertanyaan dalam benaknya, kembali mendera gadis itu.

Bagaimana hutangnya kepada si Ricky?

Bagaimana cara ia membayarnya nanti, jika saja ia belum mendapat nomor ponselnya? Sedangkan Hesty sendiri, tidak mengetahui dimana Ricky tinggal di Makassar. Apa yang sedang ia lakukan, dan saat ini sedang bersama siapa. “Eh! Kenapa juga gue harus mikir… dia ma siapa saat ini… Duh Hesty, stop deh berkhayalnya.” Gumamnya setelah tersadar, pikirannya makin menjadi-jadi.

Lalu ia kembali menyibukkan diri dengan aktivitasnya hari ini, berusaha mengalihkan pikirannya dari pria itu.

Apakah Hesty menyukai Ricky?

Hesty menggeleng kepalanya menjawab pertanyaan yang baru saja terlintas di pikirannya. “Gak lah! Gak semudah itu juga keleess menyukai seorang cowok! Gue ntuh, hanya bingung mau bayar hutang gue kek gimaman… Hufh!” Ia berbicara sendiri, mengecilkan suara agar tak terdengar kawan lainnya.

Dalam hati, jika memang tuhan menghendaki. Dan memberikan kesempatan ke Hesty di kemudian hari, maka Hesty akan berjanji akan membayar hutangnya jika bertemu dengan pria itu.

Dan berharap, ketika saatnya tiba. Ia sudah mempunyai uang yang banyak.

“Hehehe… semoga saja. Cayoooo! Cemunguddhhh dah Ty!” gumamnya sendiri, menyemangati dirinya. setelahnya ia pun fokus ke kerjaannya karena siang ini cafe tempatnya bekerja telah ramai oleh pengunjung yang akan menikmati makan siang.

~•○●○•~​

Hesty menyempatkan ke toilet bentar. Mengganti pakaian kerjanya, menggunakan sweter berwarna biru, dengan dalaman kaos kutang. Sedangkan bawahannya, yang awalnya memakai celana kain, khas seragam Barista Cafeta, diganti dengan celana pendek yang tak terlalu span.

Bercermin melihat wajahnya yang mulai nampak kusam.

Maka, Hesty mencuci muka dengan sabun khusus pencuci muka, kemudian sedikit memoles bedak, tanpa memakai lipstik maupun alat make up lainnya.

Saat Hesty masih berleha-leha di toilet, Dewi menghamipirnya. “Yaelah nih anak! Woi… lama bener loe ah!” Hesty menoleh.

“Hehehehe… maklum, namanya juga cewek.”

“Jiah… loe kira gue ma Risna bukan cewek gitu?”

“Loe berdua beda… wek!” cibir Hesty, lalu ia gunakan pelembab bibir sambil wajahnya agak sedkit maju ke depan. “Beres dah!” lanjutnya, sambil menyentuh-nyentuhkan bibir atas dan bibir bagian bawahnya, seperti sedang mengunyah sesuatu. Mungkin, agak pelembab bibirnya bisa rata di bibirnya.

“Udahh Ah! Buruan.”

“Iya bawel!” kata Hesty, lalu memasukkan perlengkapannya di dalam tas kecil.

Ia berjalan keluar, dan mendahului Dewi yang masih berdiri sambil geleng-geleng kepala. “Dasar nih anak!” gumam Dewi, kemudian menyusul langkah Hesty keluar dari cafe.

Sebelumnya, mereka berpamitan ke Manager Cafe, Pak Andi.

Dan ketiganya pun berjalan bersama menuju ke Halte.

Hari ini, Hesty bersama kedua sahabatnya Dewi dan Risna, sengaja mengambil shift yang sama dengan Hesty hari ini dikarenakan mereka sedang ingin jalan bertiga.

Telah lama mereka tak ngumpul bareng, karena kesibukan masing-masing yang sering berbeda-beda shift. Kadang Hesty bareng Risna, atau bareng Dewi. Atau kadang, malah Hesty yang mendapat shift sendiri.

Mereka tampak sedang dudu di halte, dan Dewi menoleh ke mereka berdua yang memang duduknya di sisi kiri Hesty.

“Eh… nyari makan dulu yuk.” Kata Dewi.

“Hmm, gue sih sebenarnya pengen ke RS Dadi Wi.” Kata Hesty.

“Mau nengokin nyokap yah?” tanya Risna.

“Hu uh!” jawab Hesty mengangguk. “Bentar doank kok, gak papa kan?” lanjut Hesty.

Kedua sahabatnya, mengangguk dengan melempar senyum kepadanya.

“Bareng aja… tapi, sekalian kita singgah makan aja deket-deket RS… trus kita beliin makanan juga buat nyokap loe Ty!” kata Dewi selanjutnya. “Gimana?”

“Iya Ty, lagian kan… kita juga belom makan.” Timpal Risna.

“Ya sudah… hehehe, btw! Thanks yah… Bisa nemenin gue ke RS, sesuatu banget loh!” kata Hesty menoleh ke kiri, lalu ke kanan. Tak lupa, tersenyum kepada kedua sahabatnya itu.

“Kan kita berdua sahabat loe say! Jadi gak usah pake acara-acara terima kasih segala lah.” Kata Risna, membuat Hesty mengangguk-ngangguk tak jelas.

“Wi… nih anak rada sarap yah!”

“Baru tau loe? Hahahahaha, dia mah emang suka kek gitu. Dasar Aneh!” balas Dewi membuat Hesty nyengir.

“Hehehehe… iya iya deh!” cibir Hesty lalu mereka semua tertawa.

“Tuh kan… iya deh apaan?” tanya Risna.

“Iya deh… pan, loe tadi nanya gue.” Kata Hesty mengernyit.

“Hahahahaaha… nanya apaan?”

Hesty tak mampu menjawab pertanyaan Dewi. Bibirnya dia buat manyun setengah, sambil bergerak, kedua sahabatnya menebak jika Hesty memang sedang bingung mau berkata apa lagi. Sangat lucu ekspresi gadis itu, membuat kedua sahabatnya pun menahan tawa.

Risna, tak mampu menahan tawa. Maka, Plak! Risna menepuk jidatnya sendiri, ketika mendapati ekspresi konyol dari Hesty. “Hahahahha… udah deh, muka loe jangan kek gitu. Ngakak gue Ty!” kata Risna. “Bukannya lucu, tapi nyebelin.”

“Hahaha, tapi cantik kan?” kata Hesty dengan PD nya.

“Cantik?” gumam Risna, menahan tawa.

“Hu uh!”

“Hehehehehe, iya in aja Ris, biar dia senang.” Kata Dewi.

“Tuh kan… kalian, kalo dah ngomongin gini… selalu saja, ngalah ma gue.” Kata Hesty mencibir keduanya.

“Lagian, gue ntuh cewek Ty! Mana bisa bedain cewek cantik pa kagak! Yang ada, ntar gue di kira lesbong lagi!” kata Risna membuat Hesty dan Dewi tertawa.

“Dah ah! Masih mau ngobrol disini atau gimana nih?” tanya Dewi menyela.

“Ya udah… hayo jalan.”

“Eh btw… kita naik Grab aja yuk! Nah kebetulan, depen RS tuh ada sate enak loh.” kata Hesty.

“Hmm… boleh deh!” balas Risna dan di anggukkan oleh Dewi.

“Loe aja yang pesen Grab yah Ty, hp gue lowbat!” kata Dewi.

“Beres… tapi, bayarnya patungan yah! Hihihihi, tapi ngarep sih, loe orang yang bayarin.”

Plak! “Duhhhh Ty, masa kek gini aja loe kudu irit sih.” Kata Risna sambil nepuk jidatnya sendiri.

“Maklum say! Lagi irit buat biaya RS nyokap gue…” kata Hesty, dan tampak ekspresinya berubah.

Kedua sahabatnya pun langsung memeluknya.

“Maaf Ty, gue becanda tadi.”

“Iya Ty, tenang aja… gue paham kok, loe ngirit kek gini karena apa.” Balas Dewi sambil memeluk erat tubuh Hesty dari samping. Begitupun Risna. Hingga Hesty mengangguk, terharu atas perhatian yang diberikan oleh Dewi dan Risna.

“Makasih yah Wi, Ris… udah baik banget ma gue!”

“Iya say… pan, kita sahabat.”

“Betul.”

“Dah ah! Kenapa jadi melow gini sih? Dah… gue pesan Grab dulu yah.” Kata Hesty yang tiba-tiba sikapnya berubah. Kedua sahabatnya melongo menatap Hesty.

“Hahahahahaa… fuhhhhh, Ty…Ty,” kata Dewi sambil geleng-geleng kepala.

“Hihihi, lagian… napa kalian jadi melow kek gitu tadi sih?”

“Jiahhhh ntuh gara-gara elu keles.”

“Oh iya kah?” tanya Hesty memasang ekspresi melongo kepada kedua sahabatnya.

PLAK! Hesty di keplak oleh kedua sahabatnya tepat di jidat.

“Waduh… sakit hoi!” kata Hesty sambil mengusap jidatnya sendiri.

“Makanya, jadi cewek itu jangan suka usil!”

“Hahahaha… biarin, Hesty gitu loh.” Kata Hesty membalasnya.

“Buruan pesan Grab.” Kata Risna menyela.

“Oke say! Wait.” Maka Hesty pun membukan applikasi grab nya.

Beberapa saat kemudian…

Mereka telah sampai di depan RS Dadi, di antar oleh taksi online yang di pesan oleh Hesty melalui applikasi di ponselnya.

Dari arah seberang jalan tempat mereka berdiri, tampak sebuah rumah makan yang di maksud Hesty tadi. Bersamaan, telunjuknya baru saja menunjuk ke arah rumah makan tersebut. “Tuh dia tempatnya.”

“Enak gak Ty?” tanya Dewi.

“Dijamin enak lah…” kata Hesty.

“Ya udah Yuk… kebetulan udah lapar juga nih.” Balas Risna.

“Yuk!”

Akhirnya ketiga gadis itu melangkah menyebrang jalan. Lalu, setelah memesan makanan dan minuman, mereka mengobrol sambil menunggu pesanan mereka tiba.

“Rame juga yah tempatnya.” Kata Risna yang menyadari rumah makan ini cukup ramai.

“Iya donk.”

“Hu uh!” timpal Dewi memikirkan hal yang sama dengan Risna.

“Apalagi kalo siang hari… Hehehe, pastinya rame pake banget euy!” kata Hesty selanjutnya.

Mereka mengobrol, dan pelayan RM pun mengantarkan pesanan mereka. Hesty yang tampak paling antusias saat mendapati semangkuk Pallubasa, dan juga sepiring sate telah berada di hadapannya.

Risna dan Dewi saling berpandangan sesaat…

“Set dah! Loe bisa habisin nih makanan Ty?” tanya Risna.

“Hehehehe… lapar!”

“Lucu dia Ris, banyak makan… tapi badannya gak naik-naik euy!” timpal Dewi yang paling mengetahui tentang Hesty. Mereka bersahabatan sejak masih di SMU dulu.

Sedangkan Risna, bersahabat dengan keduanya, saat mereka telah berkerja di Barista Cafeta ini.

Risna dan Dewi hanya memesan Pallubasa, sedangkan Hesty bukan hanya Pallubasa, dia juga memesan sepiring sate dengan jumlah 10 Tusuk.

Tanpa menunggu, Hesty segera melahap makanannya.

Risna dan Dewi, tampak geleng-geleng kepala. Sedikit melongo melihat Hesty dengan lahap mengunyah makanan.

Maka, mereka pun ikut makan.

Dan terjadi obrolan kecil, namun hanya Dewi dan Risna saja. Sedangkan Hesty benar-benar sibuk menghabiskan makanannya yang seabrek-abrek ini.

Sepiring nasi, semangkuk Pallubasa, dan 10 tusuk sate telah bersih tanpa sisa di hadapan Hesty.

“Ahhhh kenyaaaaaang!” kata Hesty membuat Dewi dan Risna melongo.

“Cepat banget ngabisinnya?”

“Hehehe… maklum, dah lapar.” Kata Hesty sesaat. “Dan juga, mumpung kalian yang traktir.”

Plak! “Busyet… yang bilang mau neraktir siapa?” tanya Risna sambil menepuk jidat Hesty.

“Hihihi, pan tadi udah gue ceritain ke kalian… kalo gue ntuh lagi ngirit.”

“Hahahahahaha… iya deh, gak apa-apa… Biar gue yang bayar Ris.” Kata Dewi membuat Risna hanya geleng-geleng kepala. Sedangkan Hesty, hanya nyengir lucu dihadapan keduanya.

Setelah mereka makan, akhirnya mereka bertiga beranjak menuju ke RS Dadi untuk membesuk ibu si Hesty yang hingga saat ini masih di rawat di RS itu.

Hesty pun tak mengetahui sampai kapan, ibunya berada di tempat itu.

Yang jelas, meski demikian Hesty tetap tak akan pernah menyerah untuk bekerja keras dalam membiayai sang ibu.

Hesty sangat menyayangi ibunya…

Karena hanya ibu nya lah, yang menjadi satu-satunya keluarganya saat ini.

10 tahun ini, benar-benar Hesty telah kehabisan biaya untuk sang Ibu. Bahkan, rumah peninggalan sang ibu pun telah di gadai di Bank!.

Hesty berharap, keberuntungan akan datang kepadanya di kemudian hari…

Semoga saja.

Dan dia, tak akan pernah berhenti berharap. Yang utama, berharap atas kesembuhan sang ibu.

~•○●○•~​

Ditempat berbeda…

Mobil JEEP hitam, melaju membelah jalan utama di kota Denpasar. Cukup santai pengemudi, yang tak lain si Ricky, karena mengingat kondisi jalan malam ini tidak begitu padat.

Pikiran Ricky makin hari makin kacau. Semakin dia mencoba mengalihkan pikirannya dari seorang gadis, maka semakin ia tak mampu melupakannya. Apalagi senyuman dari sang gadis, kebodohan yang tak akan mampu Ricky lupa.

Apalagi, saat sang gadis berubah menjadi cinderella dadakan kala itu.

Hasil dari buah tangan si Grace kawannya sejak kuliah di Amrik, menjadikan gadis itu sangat berbeda. Sangat cantik, bahkan perpaduan pakaian dan juga warna kulit tak akan mampu ketebak jika gadis itu adalah gadis yang sama sebelumnya.

Ricky yang sedang mengemudikan kendaraannya saat ini benar-benar di buat bimbang. Mana lagi, ia semakin mencoba untuk tidak menghiraukan segalanya.

Masa iya, gara-gara seorang gadis Ricky akan kembali ke Makassar?

Apa kata dunia…

Apakah semudah itu Ricky, melupakan prinsip-prinsipnya yang ia bangun sejak dulu?

Jelas, sang ayah. Sanak saudara akan menertawakan Ricky, jika mengetahui kembali ke Makassar demi seorang gadis.

“Arhhhh… gak mungkin lah!” erang Ricky sesaat.

Berulangkali pikirannya bertanya-tanya mengenai banyak hal.

“Mau sampai kapan Ikky, kamu gak kembali ke Makassar?” Benaknya saat ini.

Ia mencoba mengalihkan pikirannya, dengan memfokus-kan pandangannya ke depan. Menatap jalan raya.

Akhirnya, Ricky tiba di tujuan. Sengaja Ricky ingin nongkrong sendiri di cafe ini, mencoba benar-benar menghilangkan pikirannya tentang gadis bernama Hesty.

Cafe ini, adalah tempat nongkrong para muda mudi, ada juga para bule-bule yang sedang bersantai. Yang jelas, Ricky berharap malam ini ia bisa melupakan segalanya.

Mungkin dua botol minuman alkohol akan mampu membantunya untuk melupakan Hesty.

Cafe ini salah satu tempat primadona muda-mudi bahkan orang tua pencari mudi-mudi di kota Denpasar. Mobil diparkir di tempat yang disediakan, Ricky malam ini hanya menggunakan pakaian santai dengan celana pendek dan juga sendal santai baru saja masuk melalui pintu utama.

Tak bisa dipungkiri, para mudi-mudi yang berada di tempat itu semuanya menikmati minuman beralkohol.

Lalu Ricky sepertinya tidak tertarik untuk memasang aksi di depan para cewek-cewek yang berada disana. Ricky rupanya memilih meja paling pojok, kemudian segera memesan minuman kepada pelayan.

Dan ternyata ada sepasang mata, yang melihat kedatangan Ricky tersenyum.

Tak lama, pesanan Ricky di antarkan oleh pelayan tadi.

“Thanks yah!” kata Ricky kepada pelayan. Kemudian Ricky segera meneguk perlahan-lahan minumannya.

Lucunya, ia kembali memikirkan Hesty. Ponsel di saku celananya baru saja ia ambil. Lalu menatap layarnya, dan melihat nomor Hesty yang telah ia save sebelumnya.

Pikirannya berkecamuk…

Benaknya saling beradu, antara keinginan untuk tidak menelfon dan juga sisi lainnya yang menyuruh Ricky untuk menelfon.

Ricky kembali meneguk minumannya. Ia juga tersenyum, memikirkan kebodohannya selama ini. Namun, sebuah keputusan yang telah ia ambil menurutnya mungkin sudah keputusan yang benar.

Masih berusaha mengalihkan pikirannya, ia-pun kembali meneguk minumannya. Kemudian ia mencoba membuka beberapa pesan masuk di ponselnya yang sengaja ia abaikan sejak pagi tadi.

Mungkin beberapa orang akan berfikir, apakah pesan SMS sebanyak itu tak mengganggu pikirannya? Benar, karena Ricky selalu memusatkan pikirannya hanya ke pekerjaan.

Apalagi, kemarin ia baru saja di telpon oleh ayahnya. Memberitahukan suatu informasi, akan adanya tender besar yang sebentar lagi terlaksana. Maka, ia pun makin memusatkan pikirannya ke beberapa rencana yang akan ia kerjakan jikalau memang apa yang diberitahukan oleh ayahnya benar terjadi.

Akan menjadi penerus usaha sang ayah, menghandle semuanya, yang jauh lebih luas dari sebelumnya. Me-manage beberapa usaha baik di Kota Makassar, dan beberapa kota besar lainnya. Dan satu hal lagi, ia masih sangat muda untuk memegang tugas berat sebagai penerus sang ayah.

Apakah ia akan se-berhasil ayahnya? Apakah ia akan tetap menjadi Ricky yang sekarang?

Wajahnya menandakan bahwa saat ini ia lebih pusing memikirkan pekerjaan dan tantangannya kedepan. Dibanding, bergalau ria karena keputusannya untuk tidak memikirkan hal-hal mengenai seorang perempuan.

Lagian, sudah sewajarnya ia tak memikirkan terlebih dahulu akan hal itu.

Saat ia sedang memandang ke depan.

Sebuah pesan WA masuk.

Grace

“Tumben, ada di sini?”

Ricky yang membacanya, menoleh ke kiri dan kanan.

Saat ia baru saja meletakkan HPnya, seorang wanita dengan memakai dress berwarna merah berdiri menatapnya dari belakang.

“Hai.” Suara itu. Ricky lalu menoleh.

“Sama siapa?” Ricky tersenyum sambil bertanya ke wanita itu.

Wanita itu tak menjawab, malah beranjak mendekat ke Ricky. Ia menarik kursi di depan pria itu, lalu duduk tanpa dipersilahkan. “Tuh ma temen.” Grace menjawabnya.

“Mau pesen?” tanya Ricky sambil memegang botol minumannya.

“Udah tuh… tumbenan, kesini malam-malam.” Kata Grace menatap Ricky sambil tersirat senyuman tipis di wajahnya.

“Pengen aja.”

“Ohh! Karena Hesty yah?” Degh!!! Ricky terdiam, dan mencoba mengalihkan pandangannya dari wanita itu.

“Loe gak usah bohong, Ky!” Gumam Grace.

“Bohong karena?”

“Dulu, gue selalu bertanya-tanya… kenapa, loe nolak gue, dan gue pikir loe itu Maho… Seriusan.”

“Hah!” Ricky terkejut mendengar perkataan wanita itu.

“Sorry… hehehe, tapi sepertinya pandangan gue salah!” Senyuman penuh arti ditampakkan oleh wanita itu. Ia menatap bola mata Ricky dengan aura yang membuat tubuh pria itu sedikit bergetar.

Sesaat, Ricky mengernyitkan alisnya. Merasa heran dengan tingkah wanita itu. Tidak biasanya ia seperti ini. Benak Ricky.

“Kenapa loe masih ada di Denpasar?” tanya wanita itu lagi, “Gue nyobain yah!” lanjutnya, sambil meneguk minuman Ricky.

“Ahhhh… keras juga nih minuman!” lanjut Grace.

“Kalo gak biasa, jangan coba-coba!” gumam Ricky.

“Gak apa-apa… itung-itung, gue nemenin kegalauan loe malam ini. Hehe,”

“Galau?” gumam Ricky dengan nada tanya.

“Hehehe, gak usah bohong ma gue Ky!”

“Kamu aneh deh Grace.”

“Aneh kenapa?”

“Apa sih yang kamu pikirkan tentang ku?” tanya Ricky, sambil kembali meneguk minumannya.

“Gak ada… hehehehe, gue minta lagi yah!” saat Grace ingin memegang botol minumannya, Ricky menahannya.

“Udah! Kamu pesan satu lagi yang rada ringan.”

“Gak mau… maunya yang ini,”

“Ck..ck…ck!!! Kamu yang aneh… atau aku yang aneh malam ini?” tanya Ricky sambil mengernyitkan alis, ketika mendapati sikap Grace yang cukup aneh menurutnya.

“Pokoknya, gue heran aja ma loe!”

“Heran apaan sih?”

“Kenapa sih, loe selalu saja ngebohongin perasaan loe? Sama seperti dua tahun lalu… Ahhhhh! Sudah lah, gue kalo ingat kejadian itu… jujur rada sakit hati!” kata Grace dan menampakkan ekspresi penuh haru dihadapan Ricky.

“Dua tahun lalu? Hmm…”

“Apa loe dah lupa? Kalo gue pengen nyerahin segalanya ke elu malam itu… lupa yah?”

Ricky terdiam…

Ricky hanya menggelengkan kepalanya pelan, lalu membalas senyuman wanita itu.

“Setelah kejadian itu, makin hari, loe tampak makin gak sudi melihat gue Ky!” Wajah kesedihan terlihat di wajah wanita itu, saat Ricky mengalihkan kembali pandangannya kedepan.

“Bisa bahas lain?”

“Gak Ky… tapi jujur, gue bahagia bisa melihat loe seperti hari ini.”

“Bukan gitu… tapi…” tak tau harus dengan kata apa yang pas untuk Ricky kemukakan ke wanita itu.

Setelah kejadian malam itu, Ricky mengingat jelas dimana ia mencoba menghindar untuk bertemu dengan Grace.

Ricky adalah pria yang normal. Masih terasa di kemaluannya, seperti sesuatu yang mengganjal dan ingin segera di tuntaskan. Bahkan bisa dikatakan, walaupun-pun ia sering melakukan hubungan tersebut dengan wanita-wanita di negara paman sam.

Namun entah mengapa, malam itu dia menolak keras si Grace.

“Ky…” Grace memanggil Ricky dengan suara pelan.

“Hmm… kenapa lagi?” Grace mengerutkan keningnya saat mendengar suara Ricky yang seperti tak senang jika ia ingin membahas kejadian dua tahun yang lalu.

“Loe gak suka yah, kalo gue ada disini?”

“Bukan gitu… Tapi,” Ricky mengusap wajahnya, mencoba menoleh ke wanita itu.

“Hehehe, santai Ky. Gue dah beda dari dua tahun yang lalu… kan, sekarang gue dah nikah!” kata Grace, sambil meneguk minuman Ricky kembali.

“Baguslah…”

Saat melihat bola mata Ricky, Grace hanya bisa menelan ludah. Begitu pahit, jika ia mengingat kenangannya bersama pria di hadapannya.

Dimana, hati pria itu benar-benar seperti batu.

Sama sekali, tak melirik ke Grace kala itu.

Padahal, Grace telah memendam cintanya sekian lama kepada pria itu.

Namun, kejadian malam itu telah membuktikan jika memang Ricky sama sekali tak pernah memikirkannya.

“Tapi, saat gue lihat ekspresi loe hari itu… Gue dah paham, jika loe dah luluh Ky!”

“Luluh?” nada tanya dan pandangan mengernyit, mampu menebak jika Grace sukses merubah ekspresi Ricky malam ini.

“Hesty! Si cantik jelita… Hehehe,”

“Hufhhh! Kenapa lagi bahas dia?”

“Karena loe… suka ma dia.” Kata Grace. Senyum penuh arti tersirat di wajah cantik wanita itu.

“Kenapa kamu senyam-senyum?” Grace hanya menggelengkan kepalanya, sambil memasang tampang yang menurut Ricky sangat aneh.

“Kamu… emang sendirian aja kesini?” Grace bertanya kembali.

“Menurut mu?”

“Sendiri…”

“Terus kenapa pake tanya?”

“Suka aja… hahahahaha!” kata Grace, lalu ia pun tertawa.

“Suami mu mana?” tanya Ricky selanjutnya.

“Di rumah… kenapa?” Grace bertanya balik.

“Gak! Cuma nanya aja…” kata Ricky, sambil mencoba mengalihkan pandangannya sesaat.

“Atau… loe mau gantiin suami gue, semalam saja?” senyuman penuh arti, tampak di wajah Grace ketika Ricky kembali menatapnya.

“Hah? Are you Crazy?” tanya Ricky dengan kerutan di keningnya. Ia benar-benar tak habis pikir dengan wanita ini.

“Hehehehe… gitu aja, pake acara ngambek! Tenang Ky. Gue type wanita setia kok… kecuali, loe godain gue! Gak bisa gue garansi, gak akan tergoda ma elu. Hihihihi!”

Ricky hanya menarik nafasnya dalam-dalam, kemudian meneguk minumannya kembali.

Pandangannya masih kepada Grace, yang terlihat masih senyam senyum.

“Apa lagi?” tanya Ricky setelah meletakkan botol minumannya di atas meja.

“Gak! Hehehehe…” kata Grace.

“Oh iya, udah setahun… loe belum hamil yah?” tanya Ricky mencoba mengalihkan obrolan.

“Hmm, sepertinya… emang rahim gue nungguin loe yang buatin Ky!”

“HAH!” Ricky membelalakkan kedua matanya saat mendengar apa yang dikatakan oleh Grace.

“Hahahahaha, bercanda!”

“Bercandanya, jangan kebangetan Grace!”

“Iya iya… hehehe, dah ah! Gue ke meja gue dulu yah… Bye, Ricky!” Grace beranjak. Dan melambaikan tangan kepada Ricky.

Ricky hanya menggelengkan kepala menatap kepergian Grace.

Saat sepeninggalan wanita itu, Ricky kembali mengingat kejadian dua tahun lalu.

Dimana, malam itu kala Ricky sedang berada di appartemen.

Grace mendatanginya…

Kondisi Grace, tampak sedang mabuk parah! Dan Ricky pun menyuruhnya untuk tidur dikamar pribadinya.

Ricky dan Grace cukup akrab selama mereka berkuliah. Dan Ricky paham, jika Grace menyukainya.

Karena Grace, sering mengungkapkan perasaannya kepada Ricky. Namun, pria itu sama sekali tak memberikan jawaban. Dan juga tak pernah menolaknya.

Alasan Ricky, cukup mereka bersahabat dulu seperti ini. Kedepannya, baru mereka membahasnya lagi, nunggu saat mereka selesai kuliah.

Namun, kejadian malam itu. Membuat Ricky benar-benar marah kepada Grace.

Gimana tidak, ketika Ricky baru keluar dari kamar mandi. Mendapati Grace menunggunya di depan pintu kamar mandi dengan kondisi bertelanjang.

Ricky kala itu, terdiam dan tak mampu berbuat apa-apa.

Grace maju mendekatinya…

Dan memaksa Ricky untuk melakukan hubungan suami istri dengannya.

Ricky awalnya, hampir tergoda…

Untung saja, ia masih dalam kondisi sadar dan menolak permintaan wanita itu.

Ricky meninggalkan appartemennya. Meninggalkan Grace yang menangis semalam penuh, atas penolakan yang di buat oleh Ricky.

Dan Ricky kembali ke-esokan harinya, dimana tak lagi ia dapati Grace berada di appartemennya.

Ia mendapat pesan dari Grace, jika ia sudah pulang lebih dulu pagi-pagi sekali. Dan di akhiri dengan pesan sebuah maaf dari Grace.

“Fiuhhhh…” Setelah mengingat penggalan kisah bersama Grace, Ricky menghela nafasnya yang terasa berat.

Sepertinya Ricky saat ini, enggan untuk pulang ke rumah. Karena jika sudah di rumah maka ia takutnya akan kembali mengingatnya. Mengingat tentang sosok Hesty!.

Beberapa saat kemudian…

Ricky yang masih melamun sambil memandangi beberapa club motor yang sedang berpawai ria di kawasan tersebut. Tak menyadari bahwa se-seorang menghampiri mejanya.

“Ky…” Ricky menoleh, dan sedikit terkejut saat mendapati Grace berada dibelakangnya lagi.

“Loh? Kok?”

“Hehe, gue dah mau pulang.” Kata Grace menjawab apa yang digambarkan oleh wajah Ricky.

“Ohhh gitu… ya udah!”

“Loe masih disini?”

“Sepertinya…”

“Ya udah… kalo gitu, gue duluan yah Ky!” kata Grace.

“Sipp! Hati-hati!”

“Loe tuh yang hati-hati!” kata Grace, menatap Ricky dengan seringaian.

“Maksud kamu?”

“Hati-hati, karena hati loe udah mencair gegara si Hesty…” Degh!!! Ricky terdiam, dan Grace tampak tersenyum saat mendapati perubahan ekspresi di wajah pria itu.

“Dan…” Ricky kembali menatapnya. “Gue harap… loe bisa menghargai kasih sayang seorang perempuan Ky!” Again. Grace berhasil membuat jantung Ricky berdebar-debar.

“Dia cantik…”

“Dia baik…” kata Grace, dan sengaja menggantung ucapannya. Ia maju selangkah, mendekati Ricky. Tangannya memegang, pundak Ricky. “Dia manja… dan, gue yakin… Loe juga rasain itu,” Degh!!! Ricky masih diam, dan Grace tak memperdulikan sikap Ricky saat ini.

“Sudah saatnya, loe menjalin hubungan dengan perempuan Ky!” Grace melepas pegangannya di pundak Ricky. Lalu, ia beranjak pergi.

Saat baru dua langkah! Ia menoleh ke belakang. “Jangan lagi, ada Grace kedua… Ky! SAKIT loh… Bye” DEGH!!!

Still Continued

END – Tiba Tiba Saja Part 5 | Tiba Tiba Saja Part 5 – END

(Tiba Tiba Saja Part 4)Sebelumnya | Selanjutnya(Tiba Tiba Saja Part 6)