Tiba Tiba Saja Part 3

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21

Tiba Tiba Saja Part 3

Start Tiba Tiba Saja Part 3 | Tiba Tiba Saja Part 3 Start

Malam ini, di dalam mobil milik seorang pria yang tak di kenal oleh Hesty. Dan malam ini juga, untuk kedua kalinya ia bertemu dengan pria yang sama. Dimana juga pria itu, dua kali telah menolong Hesty dari kesusahan.

Namun, yang terjadi selanjutnya…

Degh!!! “Apa?” Hesty terkejut, membelalakkan kedua mata, menoleh ke samping. Menatap wajah pria itu yang bernama Ricky, dimana masih menatap ke jalan. Karena sebelumnya, pria itu berkata ‘Mau bikin anak’ menjawab pertanyaan Hesty sebelumnya.

“Loe becanda kan?” tanya Hesty dengan bibir gemetar.

Pikirannya tentu saja kacau, namun dengan santai Ricky menoleh mengernyit. “Ke-kenapa loe natap gue kek gitu?” kata Hesty selanjuntya, bertanya karena melihat pandangan penuh tanya dari pria itu.

Tak menjawab, malah Pria itu ekspresinya terlihat sedang menahan tawa.

Hesty yang menyadarinya sedang di ledekin, memanyunkan bibirnya. Bersamaan, melihat Ricky kembali menatap ke depan. Karena kesal, bercampur benaknya yang sejak tadi bertanya-tanya, maka. “Loe iiiih!” Hesty mengangkat tangan kanan, mengepalkan dan seakan ingin menabok kepala si pria.

Pria itu menoleh kembali, “Napa? Mau pukul?” tanyanya mengernyit, masih memasang ekspresi menahan tawa. Menjengkelkan sekali, benak Hesty malam ini.

Namun, lucunya. Hesty malah secepatnya menarik tangannya, dan tersenyum kecut masih memandang pria itu. “Gak lah, kebetulan rambut gue gatal. Hehehehe.” Gumam Hesty, dilanjutkan tawa yang lucu sambil garuk-garuk kepala.

“Hmm…” Pria itu hanya berdehem, sambil kembali fokus ke jalan.

Sedangkan Hesty, hanya mengembungkan kedua pipinya. Menahan kesal, dan ikut memandang ke depan.

Saat masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Hesty kembali dibuat kesal. “Hilangkan pikiran kamu, jika aku tertarik denganmu. Mengerti?” gumam pria itu, dan di akhiri dengan nada tanya.

Hesty meliriknya, menatapnya dengan tatapan lucu. Bibirnya ikut manyun, seakan ingin berbicara kepada Ricky.

“Kenapa?” namun Ricky segera bersuara, bertanya kepadanya.

“Hishhhhh! Meski nyebelin, tapi gue masih bisa nahan emosi!” gumam Hesty sambil menggertakkan giginya. Mengepalkan kedua tangan, menahan agar emosinya tak meledak.

Yah karena mengingat dimana, pria itu meski menyebalkan namun ia telah menolong Hesty dua kali.

Pria itu mendengar gumamam pelan gadis di sampingnya, tersenyum tipis.

Hesty yang mengetahui, menoleh kepadanya. “Kenapa senyam-senyum?”

“Ada larangan untuk senyam-senyum gak di mobil ini?” Hesty hanya bisa menarik nafas dalam-dalam, benaknya ingin rasanya mengunyah hidup-hidup pria di sampingnya. “Lagian, ini kan mobilku.”

“Errrrrrrrrrr!” Hesty menahan agar kekesalannya tak meledak.

“Kalo kesal, mending lampiasin aja.”

Hesty mengernyit sesaat, kemudian memandang wajah pria itu dari samping sambil mengeratkan otot-ototnya. “Hissshhhhh, dah ah…. Mending kita balik ke tempat tadi aja,”

“Hmm, yakin?” tanya pria itu.

“Setidaknya, gue jauh lebih aman jika di tempat tadi ketimbang ikut dengan loe.”

“Ya sudah…” CIIIIIITTTTTT!!! Seketika, pria itu menekan pedal rem, membuat mobilnya terhenti.

Selanjutnya, menoleh dan menatap ke gadis itu. “Mau balik kan?”

Hesty memasang wajah kebingungan, “Eh… Eh… Eh! Beneran kah?” Masih sempatnya, Hesty bertanya.

“Kamu yang minta kan?” Jawab Ricky. Dan benak Hesty benar-benar makin kesal akan sikap pria itu yang entah tiba-tiba menghentikan mobilnya.

“Kenapa diam?” tanya pria itu. “Mau balik ke tempat tadi kan?”

Kini, Hesty hanya bisa menarik nafasnya dalam-dalam, menghembuskannya dengan nafas yang terasa berat.

Lalu, ia menoleh sesaat. Menatap wajah pria itu dengan pandangan mengernyit. “Loe tega yah!”

“Lah… katanya, mau balik ke tempat tadi.”

“Fiuhhh dasar cowok gak peka!” gumam Hesty, dan Ricky mendapati wajah Hesty yang terlihat penuh haru.

“Emang!” Namun, bukannya berhenti. Ricky makin memancing kekesalan gadis itu.

“Hishhhh… Pengen banget gue tabok loe ah!” Erang Hesty, di akhiri dengan mendesah.

“Tabok? Bayar dulu, baru nabok!”

“Errrrrrr!” Hesty lagi-lagi, hanya bisa menahan kekesalannya.

“Jangan kesal-kesal, ntar aku turunin baru tau rasa.”

“Eh!” Hesty tersenyum kecut ketika mendengar ucapan pria itu barusan.

Dalam hati bertanya-tanya, apakah pria itu bakal tega menelantarkannya di tengah jalan. Sepi dan tak ada kehidupan seperti ini?

Tanpa sadar, Hesty melihat di sekeliling tempat yang mereka lalui. Lalu, tubuhnya bergidik dan tentu saja gak akan mau jika benar ia di turunkan di tengah jalan oleh pria itu.

Kemudian Hesty menatap samping wajah pria itu dengan tatapan penuh harap. “Di tempat loe, aman gak?”

“Hmm,”

“Fiuhhh, loe ihhhh.”

“Dari pada bertengkar, mending kamu diem aja… Biar kita bisa cepat nyampenya.” Kata pria itu membuat Hesty mengangguk menahan segala rasa yang menderanya.

“Oke!” gumam Hesty membalasnya.

Lama mereka terdiam…

Hingga mereka memasuki sebuah gerbang yang bagian atasnya, seperti bilboard menandakan nama dan alamat, bertuliskan ‘Private & House – 44’.

Mereka di sambut oleh pepohonan yang begitu banyak, penerangan yang hanya berasal dari lampu-lampu berwarna warni tergantung di pepohonan, saling menyambung satu sama lain.

“Sepi…” gumam Hesty yang menydarai tak seorang pun yang berada di sekitar mereka saat ini.

Setelahnya, dari kejauhan tampak bercahaya, sebuah Villa yang tampak tak begitu besar. Membuat Hesty menoleh dan setidaknya bisa bernafas lega.

“Udah sampai!” gumam pria itu sesaat, lalu menoleh membalas tatapan gadis itu dengan senyum tipis.

Hesty menarik nafas dalam-dalam, kemudian mengangguk dengan pikirannya yang masih harap-harap cemas.

“Yuk!” kata pria itu kembali.

“I-iya.”

“Udah… gak usah takut, gak ada orang lain kok di tempat ini.” DEGH!!! Justru mengetahui tak ada orang lain di tempat itu, makin membuat jantung Hesty berdebar-debar.

Membaca situasi dan sikap gadis itu, si pria menoleh lalu menggerakkan tangannya. TOELLL!!!! “Eh!” Pria itu menoel kepala Hesty, membuat Hesty menatapnya aneh.

“Gak sopan.” Gumam Hesty mengusap keningnya. Padahal, pria itu hanya menyentuhnya saja.

“Butuh cermin gak sih?”

“Ma-maksud loe?” tanya Hesty mengernyit.

“Ya elah nih anak, sekali lagi aku ngomong yah! Kalo aku itu sama sekali gak tertarik ma cewek model kek kamu gini. Ngerti?” kata pria itu, lalu memandang Hesty.

Hesty hanya mengembungkan kedua pipinya, lalu hanya bisa menarik nafas tanpa mampu membalas si pria yang sejak tadi seakan menjatuhkan harga dirinya. Namun, Hesty tak juga bisa berbuat apa selain menerima segala bully-an dari si pria.

“Udah… gak usah banyak mikir, atau aku balikin kamu ke tempat tadi? Iya!” Ujar pria itu, yang langsung di bantahkan oleh Hesty.

“Eh! Jangan lah…” Bantah Hesty.

“Ya sudah, yuk!” kata si pria, lalu ia keluar dari mobil terlebih dahulu. Dan disusul oleh Hesty.

Hesty berjalan dengan perasaan was-was dibelakang pria itu.

Kemudian tampak Hesty mengernyit melihat model Villa yang tampak dari luar hanya bagunan kecil saja. Meski benaknya, berfikir sangat jauh dari apa yang ia bayangkan. Sebuah rumah besar dengan bangunan minimal bertingkat 2. Namun Hesty bersyukur malam ini ia tidak menjadi gelandangan di jalan akibat kebodohannya sendiri di tinggal oleh rombongannya tadi di resto.

Model bangunan seperti model rumah minimalis yang bagian depannya di penuhi kaca, di sudut-sudut dinding terdapat ukiran-ukiran batu, beberapa pot dan bunga hias pun terdapat di depan bangunan. Kolam kecil dengan air mancur baru saja di laluinya. Tampak dari luar, seperti bangunan semi mewah yang memadukan arsitektur khas Bali dan sedikit sentuhan modern kontemporer.

Di hampir setiap sudut bangunan, dihiasi dengan taman dan pepohonan hijau, meski kondisi agak gelap, namun Hesty mampu melihatnya dengan udara pun yang terasa sangat sejuk.

Setelah tiba di depan pintu, pria itu menggunakan jarinya menempel di sebuah mesin finger print. Hingga membuat pintu tersebut terbuka dengan sendirinya.

Hesty melongo melihatnya, dan dalam hati berfikir cukup keren cara buka pintunya. “Hihihihi…” Lalu, ia terkekeh sendiri merasa betapa katro dirinya saat ini.

Pria itu yang mendengarnya, menoleh mengernyit. “Kamu kenapa?”

“Eh! Hehehe, gak… gak apa-apa.” Gumam Hesty.

Ricky hanya menggeleng-gelengkan kepala. Setelahnya, pria itu mengajak Hesty untuk masuk ke dalam. “Yuk!”

Kondisi di dalam cukup gelap, dan sesaat tubuh Hesty bergidik. Namun, setelah mendengar bunyi ‘Ceklek’ bersamaan lampu ruangan menyala, membuat Hesty menarik nafas dalam-dalam.

Tak ada apa-apa yang special di ruangan mereka berdiri saat ini. Hanya sofa, dan beberapa patung ukiran khas bali. “Ayo… jangan bengong aja,” Lalu, pria itu berjalan ke depan tanpa melepas sepatu.

Hesty yang awalnya ingin membuka sendal, pun akhirnya mengurungkan niatnya ketika mendengar suara pintu tertutup dengan sendirinya. “Horor banget!” gumamnya sambil mengikuti langkah pria itu.

Seketika…

Ia melongo mendapati sebuah tangga yang berkelok dua, cukup luas dan Hesty pun telah melihat ruangan di bawahnya. “Wowwww… Oopsss!” Hesty menutup mulutnya sendiri, ketika pria itu menoleh kepadanya.

Sebuah tempat yang selama ini hanya bisa ia lihat di internet. Rumah bak istana, dengan sofa besar berwarna kuning gading berada di tengah-tengah di lantai paling bawah. Di lantai juga, terdapat sebuah karpet yang tampak begitu bersih. Berhadapan dengan sebuah TV LED dengan layarnya yang besar lengkap dengan Home Teater, beserta tete bengek speaker lainnya.

Dan di setiap sudut dinding lantai bawah, terdapat lemari-lemari kecil tatakan untuk beberapa buku, hiasan-hiasan, dan juga beberapa foto-foto.

Ternyata bangunan ini, mempunyai lantai berjumlah 3 lantai. Dimana, untuk mengakses rumah tersebut harus dari lantai teratas. Karena, dibangun di atas tanah berbukit. Dan sengaja, pemilik sebelumnya membuat bangunannya seperti ini.

“Waaaaahhh! Jadi, pusat nya ada dibawah toh…” Gumam Hesty, namun lucunya suaranya terdengar menggema di dalam ruangan. “Oopsss!” Bersamaan ia mengikuti langkah pria itu yang juga baru saja menggeleng-gelengkan kepala, sambil tetap berjalan menuruni tangga melingkar.

Pria itu menoleh ke belakang, dan mendapati wajah Hesty yang tersipu. “Hehehe… Sorry!” gumam Hesty.

Kemudian, si pria meraih sebuah remote yang terletak di dinding saat langkahnya telah berada di anak tangga paling terbawah.

Klik!!! Ternyata, pria itu menyalakan Ac duduk dalam ruangan. Seketika, keadaan begitu sejuk. Aroma fresh buah-buahan terhirup di indra penciuman gadis itu.

“Ternyata… loe beneran tajir yah!” kembali gadis itu bergumam.

“Biasa aja.” Kata pria itu, lalu berjalan menuju ke sofa.

“Begini dibilang biasa, Edede… punna nakke pata inne balla, nyamanna tawwa! (Kalau saya yang punya ini rumah, enak banget nih!), bedeeeuhhh.” Gumam Hesty dan di akhiri dengan logat daerah asalnya.

Pria itu awalnya menatapnya…

Mengernyit, lalu menggelengkan kepala mendapati wajah lucu nan menggemaskan dari gadis itu. Dan dalam hati telah menebak jika gadis ini berasal dari Makassar.

Mendapati tatapan aneh, dan sedikit melecehkan. Hesty lalu memanyunkan bibir. Dan berkata.. “Maaf. Hehe,”

Pria itu tak membalasnya, kini ia telah duduk dengan menyandarkan tubuhnya. Memejamkan kedua matanya, membiarkan Hesty yang masih berdiri melihat kesekelilingnya. Terkagum-kagum melihat seisi dalam ruangan.

Keadaan Hening…

Hesty masih saja berdiri dengan tubuh yang kaku, merasakan sedikit aura mengerikan. Dimana juga benaknya bertanya-tanya, apa iya pria ini bisa tinggal sendirian di rumah sebesar ini?

Atau jangan-jangan, pria ini sengaja tinggal sendiri karena sedang menyembunyikan sesuatu? “Errrrrrr!” tubuh Hesty bergidik sesaat.

Kemudian ia melangkah mendekati sofa.

Ia berdiri menatap pria itu yang masih duduk bersandar dengan mata terpejam. Masih berprasangka aneh, karena melihat kondisi rumah yang benar-benar kosong tak berpenghuni. Dan masih bertanya-tanya, apa pekerjaan si pria?

“Jangan mikir aneh-aneh…” gumam si pria, masih memejamkan mata.

“Hehe… gak kok!” kata Hesty terkekeh.

Lalu, Hesty yang telah berdiri di depan Ricky. Berniat untuk bertanya. “Hei… Loe dah bawa gue ke sini, tapi gue belom tau nama loe…”

Pria itu hanya menghela nafas, kemudian membuka mata. “Hmm…”

“Jiahhhh dia malah cuek… Hei!” Hesty kemudian menyentuh pundak pria itu, masih berposisi berdiri di depannya.

“Apa sih…”

“Nama loe siapa?”

“Penting yah, tau namaku?” tanya pria itu mengernyit.

“Yah penting lah, setidaknya kalo gue kenapa-kenapa… Mudah gue laporin ke pihak yang berwajib dengan nyebutin nama loe.” Pria itu yang mendengarnya, mengernyit dan menahan tawa. “Hisssshhhhh! Kenapa sih loe masih diem aja?”

“Kamu takut yah?”

“Maksud loe?” Hesty bertanya balik, dengan memasang wajah mengernyit penuh tanya.

“Yah kamu takut, kalo aku berbuat jahat ke kamu.”

“Ihhhh! Gak lah.”

“Masa sih?” tanya pria itu, lalu memajukan tubuhnya yang awalnya menyandar. Kemudian menatap tajam wajah Hesty.

“Eh ma-mau apaan sih loe?” Hesty menegakkan tubuhnya, lalu bergerak mundur.

Pria itu, yang awalnya ingin berdiri. Kemudian kembali duduk. “Hahahahaha, katanya gak takut. Tapi, barusan gemetaran…”

Hesty mengembungkan kedua pipinya, ada kesal, gemes, dan juga sedikit heran akan sikap pria itu.

“Kalo butuh apa-apa, ambil sendiri… Tuh, dapurnya ke arah sana.” Kata pria itu, sambil menunjuk letak dapur di arah jam 11 dari posisinya duduk.

Gadis itu, menoleh ke arah tersebut sesaat. Kemudian mengangguk, dengan posisinya yang masih saja berdiri.

“Masih pengen berdiri di situ?” kata pria itu dengan mata terpejam.

“Terus… gu-gue ngapain donk?”

Pria itu membuka matanya, lalu menatap wajah Hesty dengan seringaian yang sebenarnya ia buat-buat. “Mau buat anak gak?” Degh!!!

“Errrrrr!” Hesty menahan kesal, namun setelahnya. Ia malah dibuat terkejut atas sikap Ricky.

Gadis itu mengernyit membalas tatapannya. “Eh lo-loe ma-mau ngapain lagi?” Pria itu tak menjawab, malah kini ia beranjak berdiri. Dan melangkah mendekati Hesty yang telah gemetar.

“Loe ja-jangan macam-macam!” kata Hesty, sambil melangkah mundur ketika pria itu makin mendekatinya.

Hesty saat ini mulai ketakutan, khawatir, dan juga jantungnya telah berdebar-debar karena mendapati keseriusan di wajah pria itu. Yang kini berjalan maju sambil sedikit membungkukkan tubuh seakan ingin mencium bibir Hesty.

Sedangkan Hesty, masih berjalan mundur seakan ingin menghindarinya.

Mereka makin berjalan ke belakang…

Dimana, Hesty benar-benar telah ketakutan jika saja pria itu benar memperkosanya.

Namun, tanpa ia sadari. Sempat ia melihat, pria itu menahan tawa. Bersamaan, langkah Hesty terhenti. “Ke-kenapa?” Degh!!!

Bersamaan tubuh belakang Hesty telah mentok. Telah bersandar di dinding. Meski, bagian belakangnya terasa mengganjal seperti ada sesuatu di dinding itu.

Pria itu menegakkan tubuhnya…

Memasukkan dua tangan ke saku celana…

“Udah nemu cerminnya kan? Silahkan ngaca yah… Biar kamu sadar, dan gak ketakutan kayak tadi lagi.”

“Eh!” Hesty mengernyit, dan satu tangannya meraba-raba benda di belakangnya.

Kemudian, Hesty menoleh ke belakang. Dan mendapati sebuah cermin besar, dimana tubuhnya yang sedang menyandar.

“Hehe… Ternyata, Hesty…Hesty!” gumamnya, terkekeh. Lalu tersenyum kecut sambil menepuk jidatnya sendiri.

Saat menyadari si pria telah melangkah pergi. “Eh ke-kemana?” Gumamnya menatap punggung pria itu yang masih berjalan menjauhinya.

Karena tak mendapat jawaban, Hesty kembali bersuara agak keras dari sebelumnya. “Mau kemana?”

“Kamar…”

“Terus a-aku?” tanya Hesty masih bersandar di cermin.

“Kamar kamu, di samping tempat mu berdiri…” Jawab pria itu, yang sudah naik tangga dan meninggalkan Hesty yang menatapnya bingung.

Makin jauh langkah pria itu menaiki tangga, dan Hesty sesaat menghela nafas. Kemudian beranjak sambil celingak-celinguk mencari kamar yang di maksud.

Dan tak jauh darinya berdiri, terlihat sebuah pintu yang menurut Hesty itu adalah pintu kamarnya. Maka, setelah menarik nafas dalam-dalam. Ia pun segera berjalan menuju ke pintu kamar tersebut.

Krieeeekkkk!!! Hesty membuka pintu kamar.

Kemudian, berdiri menatap kegelapan di dalam kamar. Karena kondisi, lampu masih belum nyala.

Maka, setelah sayup-sayup melihat sakelar. Maka Hesty melangkah masuk, kemudian menekan tombol sakelar. Ceklek!!!

Seketika, lampu pun menyala dan menampakkan seisi di dalam kamar yang tampak cukup luas.

Hesty mengembungkan kembali pipinya, berfikir jika kamar ini jauh lebih besar dari kamar kosannya yang ada di Makassar.

Kamar yang tampak seperti kamar hotel kelas Deluxe, atau suite. Terdapat kamar mandi di sisi kiri tak jauh tempat Hesty berdiri.

Sebuah ranjang yang ukuran king size, lengkap dengan bantal kepala dan juga guling. Terlipat di atas ranjang, bed cover berwarna putih.

Sebuah LED TV 42 inch, berhadapan dengan ranjang.

Sebuah lemari ukuran dua pintu, dan beberapa lukisan-lukisan abstrak yang terpajang di dinding kamar. Terlihat juga, dua sofa berposisi di sisi kanan ranjang dan sebuah meja kecil berada di tengah-tengah sofa.

Hesty melangkah mendekati ranjang, dan tak lupa sebelumnya menutup pintu kamar.

“Haaaaaaa!” Hesty menghela nafasnya panjang, kemudian menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang. Bugh!!! “Duhhh… sakit,” Gumam gadis itu, ketika tangannya terkena dengan ujung ranjang yang agak keras.

“Dasar…” Lanjutnya bergumam, kemudian terduduk di tepi ranjang. Menatap, LED TV dengan pikiran mengingat kedua sahabatnya yang saat ini pastinya sedang sibuk menghubunginya.

Mengingat itu, ia pun meraih ponsel dari saku celananya. “Brrrrrrr.” Hesty memainkan bibirnya, menggetar-getarkan sambil menarik nafasnya dalam-dalam.

“Duh… mana charger lupa di hotel,” Lanjutnya ketika menyadari jika ia lupa membawa charger.

Namun…

Ketika ia telah beranjak, dan masih bingung akan melakukan apa. Tiba-tiba perutnya terasa sakit. Kriiiuukkkk!!! “Eh… Hihihihi, dasar perut gak bisa di ajak kompromi!” gumamnya ketika merasakan perutnya ingin terisi lagi.

Yah, karena stress dan kesal sejak tadi. Maka, Hesty merasa lapar kembali.

Dan kini, yang ia harus lakukan adalah keluar dari kamar. Pergi ke dapur, sesuai yang di katakan oleh pria tadi untuk mencari sesuatu yang bisa membantunya mengganjal perutnya.

Hesty melangkah keluar kamar.

Ternyata, kondisi lampu telah padam. Dan dimana, ruangan tempat mereka ngobrol berdua di awal tadi pun ikutan padam.

“Brrrrrrr! Gelap bingitssss.” Gumamnya, lalu memaksa dirinya untuk tetap keluar.

Sambil berjalan mengendap-endap, Hesty sesekali menggigit bibirnya. Takut, jika pria itu yang masih belum ia ketahui namanya mengetahuinya.

Namun…

Tanpa Hesty sadari, saat ia sedang berjalan menuju dapur. Dari lantai dua, Ricky pun yang baru saja keluar dari kamar telah melihatnya.

Maka Ricky mengikutinya, menuruni tangga lalu berjalan perlahan-lahan menuju ke dapur.

Dan kini, Ricky melihat Hesty sedang membuka kulkas. Mencari-cari sesuatu yang mungkin bisa ia makan.

Lalu, saat gadis itu telah menemukan dua bungkus indomie. Ia pun mengeluarkannya dari kulkas, beserta dua biji telur. Tap!!! Pintu kulkas tertutup.

Dan ketika Hesty ingin berbalik. “Kamu ngapain…” DEGH!!!!

“Monyet… Kampret bahenol! Arrrrrhhhh!” Hesty terkejut, dan bersamaan dua telur di tangannya terjatuh dan pecah di lantai. “HISSSSHHHHHH… ELUUUU,” Lalu menyadari, ternyata pria itu telah berdiri di pintu masuk dapur. Membuat Hesty mengerang kesal.

“Banyak bener… makan indomie mpe dua bungkus gitu, rakus pa doyan non?”

“Eh! Biasanya juga… Lapar pa doyan, ini kok-“ belum sempat menyelesaikan ucapannya, pria itu menyela.

“Biar beda.” Jawab pria itu. “Bersihkan lagi bekas telur yang pecah, awas sampe ninggalin bau.” Lanjutnya, kemudian melangkah keluar dari dapur.

Hesty yang menatap kepergiannya, hanya bisa mengembungkan pipinya. Menarik nafasnya sesaat, lalu membersihkan telur yang pecah dan berserakan di lantai.

Setelahnya, Hesty pun memasak indomie, beserta dua telur yang baru saja ia ambil lagi dari kulkas.

~•○●○•~

Ricky, tampak berjalan keluar dari dapur sambil geleng-geleng kepala.

Heran melihat tingkah aneh dari si gadis yang belum ia ketahui namanya.

Dalam hati, ia juga heran kenapa bisa ia mengajak gadis itu kemari? Dan ini juga adalah hal yang pertama kalinya ia menerima tamu seorang perempuan di Villa pribadinya.

Setelah menghela nafas, Ricky memilih untuk duduk di sofa. Sambil menggerakkan tangannya ketika melewati sebuah kotak box kecil seperti sebuah sensor yang terpajang di dinding. Membuat beberapa lampu di ruangan menyala.

Dalam diamnya…

Ia memikirkan kejadian sejak pagi tadi.

Dimana, ia menolong gadis itu yang menabrak sebuah mobil. Dan, saat ia juga sedang berada di sebuah cafe. Ponselnya berdering, dan mendapati nomor yang tak ia kenal menghubunginya.

Awalnya, Ricky tak merespon. Namun, setelah mendapati pesan SMS masuk. Maka, ia pun segera menelfon ke nomor yang sama yang ternyata ingin memberitahukan ke Ricky biaya perbaikan mobilnya yang rusak ketabrak oleh gadis itu.

Tak butuh lama, Ricky pun mentransfer sejumlah dana ke rekening yang baru saja ia terima. Membayar seluruh biaya perbaikan mobil tersebut.

Dan tadi, untuk kedua kalinya ia menolong gadis itu dari jeratan dua anggota kepolisian yang mengira gadis itu adalah penduduk liar.

Untung saja, Ricky cepat tiba di tempat. Jika tidak, maka dipastikan gadis itu akan bermalam di sel.

Mengingat itu, Ricky tersenyum bersamaan sosok gadis yang sedang menari-nari di tempurung kepalanya berjalan keluar dari dapur.

Ricky, kini menatap gadis itu yang berjalan ke arahnya sambil membawa mangkuk beserta gelas berisikan air.

“Bikinnya satu doank?” gumam Ricky dengan nada tanya.

“Eh… Hehehehe, loe mau juga?” tanya gadis itu sambil terkekeh.

“Gak… Bercanda!”

“Fiuhhh syukur deh, berarti tebakan gue bener.”

“Maksud kamu?” tanya Ricky, sambil matanya mengikuti gerak gadis itu yang sudah duduk di sofa. “Hati-hati, kuahnya keciprat di sofa atau karpet.”

Gadis itu menatapnya mengernyit, lalu menggetarkan bibirnya seakan ngerti jika pria itu sedang mengoloknya. “Gak kok! Tenang aja…”

Hesty kini menoleh sesaat lalu memanyunkan bibirnya.

Setelahnya, mengangkat mangkuk menggunakan tangan kiri, dan tangan kanannya memegang sendok lalu menghirupnya sesaat. “Uhhhhhh, sedap.”

“Biasa aja.” Hesty kembali menghela nafas, dan berfikir jika ia tak ingin berdebat dulu dengan pria itu. Karena perutnya harus segera di isi.

Ricky yang menoleh, mendapati Hesty sedang menyantap indomienya tanpa sedikit pun meniup. “Busyet… Panas tuh, tiup dulu sebelum makan.”

Hesty menatapnya mengernyit, sambil memasukkan sesendok mie ke mulutnya. “Apa hubungannya?”

“Biar gak panas,”

“Emang… kalo udah di tiup, panasnya bakal hilang gitu? Bedehhh… Nemu dimana tuh? Ntuh mah mitos doank!” gumam Hesty sambil menyantap indomienya.

Pria itu menahan senyum, sambil menggeleng-gelengkan kepala setelah mendengar pernyataan gadis itu.

“Benerkan?” tanya Hesty di sela-sela.

“Iya…”

“Hehehe, trus kenapa tadi suruh tiup?”

“Gak… udah lupain aja,”

“Hehehe, gitu tuh kalo dah di kalah gea (Debat)!” pria itu menatapnya, meski pun ia mengetahui arti kata terakhir. Namun, ia masih saja menatap gadis itu dengan mengernyit.

“Oopsss! Gea itu artinya debat atau apa gitu… Pokoknya gitulah,” kata gadis itu secepatnya, karena merasa ia telah keceplosan berbahasa daerah kepada pria yang juga menurutnya pasti tak mengerti.

Pria itu hanya ngangguk-ngangguk, kemudian ia beranjak berdiri. Hesty, menghentikan makan lalu menatapnya mengernyit. “Kemana?”

“Tidur…” Jawab Ricky, “Jangan lupa cuci semua yang udah kamu pakai.”

“Fiuhhh, iya iya…”

“Good! Ya sudah, good night!”

“Nite too,” Hesty membalasnya, lalu memandang kepergian Ricky yang telah pergi menuju lantai dua.

~•○●○•~​

Setelah makan, setelah menyelesaikan bersih-bersih di dapur. Kini Hesty melangkah keluar dapur dengan kondisi perut telah terisi full.

Tampak ia menguap sesaat, kemudian berfikir mengenai ponselnya yang telah mati dan juga para kawanannya di Kota Denpasar.

Kenapa ia tak meminjam charger ke pria itu?

“Fiuhhh, Ty…Ty, kenapa sih loe gak pinjem tadi.” Gumamnya sendiri, sambil menepuk jidatnya.

Sekembalinya di tempat sebelumnya, di sofa di tengah-tengah ruangan. Ia memandang ke arah lantai dua.

“Fiuhhh, apa dia udah tidur yah?” gumamnya, “Gak asyik ah!” lanjutnya bergumam sambil melangkah mendekati tangga.

Setelah berfikir, maka ia pun menaiki anak tangga satu persatu dengan cara perlahan-lahan. Jantungnya pun ikut berdebar-debar. Merasakan aura yang tak mengenakkan, membuat juga tubuhnya sedikit merinding.

“Ini kok rumah, berasa ada hantunya yah!”

“Ihhhh ty, kenapa sih loe mikirin hantu.”

Maka, ia pun telah tiba di lantai dua.

Ternyata, kondisi lumayan gelap. Dari tempatnya berdiri, Hesty bisa melihat jika di lantai dua terdapat ruang santai. Dan di sisi kiri dan kanan, terdapat dua pintu kamar.

“Hmm, kamarnya dimana yah?” lanjutnya bergumam pelan. Dan kini, ia berjinjit melanjutkan langkahnya menuju ke ruang santai.

Terdiam, ketika telah tiba…

Menoleh ke kiri dan ke kanan. Menebak-nebak, kamar si pria ada di mana.

Kemudian, Hesty mendekati pintu kamar bagian kiri. Mencoba mengeluarkan suara dengan nada berbisik. “Mas… Tuan… Kakak… Bos… ah, siapapun nama loe… Dimana ka-kamar loe!”

Tak ada jawaban…

Hesty berdiri di depan pintu kamar, kemudian menarik nafas dalam-dalam. Selanjutnya, menggerakkan tangan untuk mengetuk pintu kamar.

Tok!!! Tok!!! Tok!!!

Sangat pelan ketukannya, dan cukup 3 kali ia mengetuk namun tak ada jawaban. Tak ada respon apapun. Membuatnya menoleh ke belakang. “Nah… berarti dia di kamar situ.” Lanjutnya bergumam sendiri, dan menunjuk pintu kamar satunya lagi.

“Loe emang cerdas ty… Hihihihi, bisa nebak kamar doi dimana,”

Maka, ia pun melangkah mendekati pintu kamar satunya lagi.

Memang sih bentuknya sama, namun tetap saja tak ada tanda-tanda apapun di depan kamar yang bisa membantu Hesty menemukan kamar si pria.

Hesty melakukan hal yang sama.

Mengetuk pintu kamar yang sama ia lakukan sebelumnya di kamar pertama. Tok!!! Tok!!! Tok!!!

Masih saja, tak ada jawaban.

“Lah…” Masih saja tak ada respon, ketika Hesty mengetuknya lagi.

Dan kini, tubuhnya merinding. Dan pikirannya telah berkecamuk, sesaat takutpun telah melandanya.

“Grrrrrrrr!” Gumamnya sambil menggerakkan tubuhnya, melawan ketakutannya saat ini.

Maka…

Dengan jantung yang berdebar-debar, ia pun memanggil si pria dengan suara yang agak keras. “Mas… Kakak… woi, kamar loe dimana sih?”

“Beuhhh…” Lanjutnya menghela nafas, saat tak juga ada respon apapun.

Maka, ia menyentuh gagang pintu.

Menggerakkannya kebawah, seakan ingin membukanya. Namun…

Pintu terkunci membuat Hesty mendengus, dan kekesalan telah menghampirinya.

“Ini orang sok misterius amat sih… Ini juga, sakelar lampunya mana sih?” Lanjutnya bergumam, sambil pandangannya berputar seisi ruangan. Dan masih saja menemukan, sakelar lampu berada dimana.

Namun, Hesty mengurungkan niatnya untuk mencari sakelar lampu. Karena lebih besar rasa penasarannya mengenai kamar tidur si pria.

Kemudian, Hesty kembali melangkah ke kamar yang pertama.

Melakukan hal yang sama…

Mengetuknya dengan suara ketukan agak keras. TOK!!! TOK!!! TOK!!! “WOIII BANGUUUUNNNN!” kini, ia pun berteriak sambil mengeraskan ketukannya.

Nihil…

“Hishhhhhhh ini orang tidurnya dimana sih?”

Karena merasa telah kesal…

Jengkel dan emosi pun tak lagi bisa ia tahan, maka ia pun mengurungkan niatnya untuk meminjam charger pria itu.

Dan kini, ia berbalik membelakangi pintu.

Ketika baru ingin melangkah…

Krieekkkkkk!!! Suara pintu kamar terbuka. Degh!!! Dan, membuat Hesty menghentikan langkahnya.

“Hadehhh… Ternyata loe ti-“ Belum sempat menyelesaikan ucapannya, lengannya tersentuh. Kemudian, merasakan lengannya tertarik membuat tubuhnya pun ikut ketarik masuk ke dalam kamar.

Belum sempat berfikir, dan masih menahan nafas…

Hesty merasakan tubuhnya sedang di pepet…

Kondisi ruangan pun masih gelap gulita…

Dugh!!! Dugh!!! Dugh!!!

Jantung Hesty terasa berdetak makin kencang, bersamaan dua lengan menyentuh pundaknya.

Terasa juga, hembusan nafas aroma mint menerpa wajahnya.

Sesaat, Hesty memejamkan kedua matanya.

Menarik nafasnya dalam-dalam, kemudian…

Bersiap-siap…

Berhitung dalam hati…

1… 2… 3… BUGH!!! “AUWWWW!” DEGH!!!

Still Continued

END – Tiba Tiba Saja Part 3 | Tiba Tiba Saja Part 3 – END

(Tiba Tiba Saja Part 2)Sebelumnya | Selanjutnya(Tiba Tiba Saja Part 4)