Tiba Tiba Saja Part 21

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21

Tiba Tiba Saja Part 21

Start Tiba Tiba Saja Part 21 | Tiba Tiba Saja Part 21 Start

HESTY SARASTA POLAPA


Ini tidak mungkin…

Ricky baru saja membatin, setelah ia di kejutkan dengan foto seorang wanita. Foto itu? Dan juga nama wanita itu, jelas saja sudah cukup membuktikan apa yang menjadi kekhawatiran Ricky sejak tadi. Sejak pertama ia bertemu dengan Pak Rosadi, mendengar nama ibu Hesty. Dan kini, di perjelas lagi dengan foto.

Sungguh hal yang tak pernah sama sekali Ricky pikirkan.

Yah! satu kesimpulan yang langsung Ricky ambil. Berarti Hesty ini adalahhhh….

Tidak! Ada sesuatu yang mesti Ricky cari tahu sebelum ia mengatakan ke gadis di sampingnya. Gadis yang masih bengong, heran, juga kesal karena Ricky sejak tadi masih diam.

Berarti selama ini?

Ayah Ricky benar-benar sudah membohongi Ricky. Mengatakan jika selama ini, wanita itu pergi jauh dan tak di ketahui keberadaannya. Namun sekarang apa? Pak Rosadi jelas-jelas datang mengunjunginya. Berarti selama ini, ayah Ricky mengetahui juga secara Pak Rosadi adalah orang yang sangat di percaya. Atau bahkan, ayah Ricky memang sejak awal telah berbohong?

Berbagai pertanyaan dalam tempurung kepala pria itu saat ini. yang jelas, jawabannya akan dia dapatkan hanya dari sang ayah saja. Karena jika dia bertanya ke Pak Rosadi, yakin dan percaya Ricky tetap tak akan mendapatkan apapun.

Lalu…

Ekpsresi Ricky terlihat menahan emosi. Juga tangan yang memegang foto, pun mulai terkepal. Reflek, Hesty yang duduk di sampingnya langsung memukul di lengan.

“Hei… itu foto ibu gue, kenapa loe mau kuyek-kuyek hu?”

Ricky menoleh dan menghentikan niatnya untuk menggenggam foto itu.

“Maaf.” Gumam Ricky sesaat. Ia menghela nafas yang terasa begitu berat.

“Sini… enak aja mau rusakin nih foto.” Hesty segera merampas foto di tangan Ricky. “Lagian… loe kenapa Ky, tiba-tiba diam kek gitu?” tanya Hesty selanjutnya, setelah ia mengembalikan foto sang ibu ke dalam tas.

Ricky tak jawab.

Pandangannya masih ke depan.

“Yeee, di tanya malah diam.” Gumam Hesty sembari memanyunkan bibirnya. Sungguh, Hesty merasa sikap Ricky sangat berbeda kali ini. Apa yang sedang Ricky sembunyikan?

Apa jangan-jangan Ricky mengenal sang ibu? Gak! Pasti Ricky tidak mengenalnya. Batin Hesty, sembari menggelengkan kepalanya. Menepis apa yang baru saja ia pikirkan. Namun! Bukan Hesty namanya kalo dia dapat dengan mudah, menghilangkan rasa ‘Kepo; yang baru saja menderanya. Penasarannya semakin besar, dan wajib untuk menghilangkan penasarannya ini, dengan cara mencari jawaban dari Ricky.

Tanpa berbasa-basi. Hesty menatap wajah Ricky, dan langsung menanyakan ke Ricky. “Ky… loe kenal ya ma ibu gue?” Degh!

Ricky terkejut. Namun dia masih tetap menatap ke jalan di depan. Ricky sadar, dosa besar seorang anak adalah tidak mengakui orang tuanya. Yah! namun, jika Ricky mengingat lagi apa yang di lakukan terhadapnya dulu dan juga terhadap sang ayah, makin menambah rasa sakit dalam dadanya.

Ricky memang benci bahkan dendam dengan orang yang di maksud.

Namun, dari hati kecilnya yang paling dalam. Dia pun tak menyangkal, jika ia sangat merindukan sosok itu. Sosok yang telah lama pergi meninggalkannya berdua dengan sang ayah. Sosok yang telah membuat Ricky menjadi sosok pria yang dingin dan tak ingin mengenal wanita. Itu terjadi, sebelum ia mengenal Hesty.

Timbul pertanyaan…

Apakah perasaannya terhadap Hesty, dan juga merubah sikap Ricky yang dulunya dingin seperti gunung es menjadi cair dengan mudahnya, bukan karena faktor kebetulan saja kan?

Jelas bukan.

Karena kenapa?

Karena mereka mempunyai ikatan batin antara kakak dan adik.

Itu sudah pasti! Batin Ricky sesaat. Karena tidak mungkin, pertama kali bertemu Ricky bisa merasa ada yang beda dari gadis itu. Padahal, bukan pertama kalinya Ricky bertemu dengan seorang gadis cantik sepertinya. Yah! Ricky akui memang Hesty sangat berbeda dari gadis-gadis yang pernah ia kenal. Tapi, apa karena perbedaan itu membuat Ricky bisa berubah? Tentu tidak. Berarti jawabannya, Hesty memang adik dia. Dan jelas, adik yang bukan berasa dari hubungan dengan sang ayah.

Pantas saja, sang ayah dulunya murka dan menyuruh sang ibu pergi. Jawabannya sekarang sudah sangat jelas terngiang-ngiang di tempurung kepala Ricky. Jika sang ibu, telah mempunyai hubungan gelap dengan pria lain, yang mengakibatkan sang ibu hamil. Hasilnya? Yah! Hesty Sarasta Polapa inilah, anak dari perselingkuhan sang ibu dengan pria lain.

Setelah semuanya jelas. Apakah Ricky harus membenci Hesty?

Padahal gadis itu sama sekali tidak bersalah. Gadis polos, ceria dan sangat di cintai Ricky, harus di benci begitu saja karena luka lama yang Ricky derita?

Lamunan Ricky terhenti di kala merasakan lengannya tersentuh.

“Ky… loe kenapa, loe lagi ada masalah yah?”

Ricky akhirnya menoleh, ia menggelengkan kepala menjawab pertanyaan gadis itu.

“Terus… napa loe berubah? Gue ada salah ya ma loe?”

Lagi! Ricky hanya menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan gadis di sampingnya. Gadis yang polos dan sama sekali tak mengetahui masalah yang terjadi. Sungguh jahat, jika Ricky langsung marah dan benci kepada Hesty. Tapi! Setiap Ricky ingin menepis rasa itu, semakin sakit yang ia rasakan.

“Loe kenal ya ma nyokap?”

Ricky mengangguk.

Degh! Degh! Degh! Anggukan kepala dari Ricky, sukses membuat jantung Hesty berdetak kencang.

“Ke-kenal di-dimana?”

“Dulu.” Balas Ricky singkat.

“Ohhh…” balas Hesty yang akhirnya bisa menghelakan nafasnya. Mungkin, menurut Hesty Ricky mengenal sang ibu dulunya. Dan juga, gak ada masalah juga kan kalau emang Ricky mengenalnya. Berarti bagus donk, Hesty gak perlu capek-capek mengenalkan Ricky ke ibunya.

Ricky kembali diam.

Hesty mengernyit, dan menatap Ricky lagi.

“Loe berbeda hari ini deh Ky,”

“Kalo loe ada masalah, cerita donk ma gue… jadinya gue gak pusing kek gini tau.”

“Pusing?” Ricky mengulang satu kata dari Hesty, tapi tak mengalihkan pandangannya di depan jalan.

“Iyalah gue pasti ikutan pusing liatin loe kek gini,”

“Gak usah pusing.” Balas Ricky.

“Terus… gue diam juga gitu?”

“Iya.”

“Bedehhh! Loe lagi gak PMS kan?” tanya Hesty sesaat.

“Bisa diam dulu gak?” DEGH!

Mendapat tatapan tak menyenangkan dari Ricky, sontak membuat Hesty terdiam dengan perasaan yang berkecamuk. Secuil rasa sakit menderanya. Namun, Hesty masih menampakkan senyum tipis di wajahnya. Dia gak boleh mengalah. Dia gak boleh kalah ma pria di sampingnya. Bukan Hesty namanya, kalau dia iya iya aja terhadap orang lain. Dia punya keteguhan hati dan juga harga diri.

“Loe marah ma gue?” tanya Hesty. Nada suaranya pun terkesan, membalas kekesalan ke Ricky.

“Bisa diam dulu gak?”

“Yah… gak bisa, lagian napa sih loe? Gak ada angin ma hujan, tiba-tiba ngambek gak jelas gini.”

“Fiuhhhhhh!” Ricky menarik nafas dalam-dalam, kemudian mencoba berfikir sejenak.

“Mau gue hibur gak? Hehehe…” Tiba-tiba, Ricky menoleh dan mendapati ekspresi lucu dari Hesty yang juga baru saja terkekeh.

“Kamu gak tau apa-apa, lebih baik diam dulu, Ty!”

“Jiahhhh, hei Ky… gue itu susah untuk diam tau. Apalagi kalo liatin loe pusing gini, yang ada gue malah pengen hibur loe. Gak salah kan, kalo gue hibur loe?”

Ricky menatapnya lagi.

“Oopsss! Gue salah ngomong ya?” PLAKKK! Setelah berucap, Hesty menabok kepalanya di samping Ricky. Namun, apa yang ia dapatkan kali ini dari Ricky, sungguh berbeda. Ricky benar-benar tak merubah ekspresinya. Tidak biasanya, jika melihat kekonyolan Hesty seperti ini, pasti ada reaksi Ricky minimal tertawa.

Ricky menatap ke depan lagi. Seakan cuek, dan tak ingin banyak ngobrol dengan gadis itu.

Mengetahuinya, Hesty hanya menggelengkan kepalanya sesaat. Ia tetap harus mencairkan suasana ini. ia harus, membuat Ricky gak pusing seperti ini lagi.

“Eh iya, di rumah nanti… Loe mau gue masakin apaan?”

Ricky diam saja.

“Hei… di tanya malah diam.”

“Aku lagi ada urusan, setelah mengantarmu… aku akan keluar lagi.”

“Ohhn gitu… jadi, gue gak perlu masakin elu?”

“Gak perlu.”

“Bedehhhh! Ngeri-ngeri sedap juga, liatin loe ngambek kek gini yah. Heheheh! Sumpah ky, selama gue kenal ma loe, baru kali ini gue tau kalo loe bisa marah juga.”

“Maaf!”

“Hehehe, its ok! Gue tau kok… kalo loe lagi banyak masalah di kerjaan.”

“Iya.”

“Tapi…” Hesty terdiam sesaat, kemudian ia menarik nafas dalam-dalam. “Apa iya, gue gak seberarti itu buat elu… sampe-sampe loe gak cerita atau minimal berbagi gitu ke gue, masalah yang sedang loe hadapin sekarang ini.”

“Belum saatnya.”

“Fiuhhhh!”

“Nanti, pasti aku akan cerita. Kamu gak usah banyak mikir, Oke?”

“Ta-tapi kan-“

“Sudahlah, kamu tenang saja… aku gak marah ma kamu kok.”

“Iya sih, gue juga tau kalo loe gak marah ma gue… Loe pusing kek gini, pasti karena kerjaan loe. Tapi kan, kata temen-temen gue-“

“Udah… Sekali-kali gak usah dengerin kata teman atau sahabat kamu lah. Paling kamu bakal ngelakuin hal-hal konyol lagi.”

“Heheheh! Oki nope.” Balas Hesty sembari nyengir.

Tak lama, mereka telah tiba di rumah.

Satu hal yang sempat teringat di kepala Hesty, kan tadi Ricky mengajaknya makan malam. Ahhh! Mungkin pria itu lupa, karena saking stress nya dengan kerjaannya.

Maybe! Batin Hesty sesaat.

Dan selanjutnya, ia tak permasalahkan hal itu. Toh juga, dia bisa makan sendiri kok.

“Yah sudah, kita udah sampai… kamu turun aja, aku gak mampir. Aku langsung pergi.”

“Ya sudah.”

“Gak usah nunggu aku pulang.”

“Kenapa gitu?”

“Gak apa-apa.”

“Hehehe, pokoknya… Loe tetap semangat ya Ky, gue yakin loe pasti bisa nyelesaiin semua masalah.”

“Iya… Thanks ya sayang.”

“Hehehe, kalo loe butuh apa-apa… gue siap bantuin lah.”

“Hmm,”

“Hehehe, tapi… bantuinnya pake tangan ma kaki aja yah. Secara, kalo bantuin duit gue gak ada. Hihihihi!”

“Emang mau gebukin orang?”

“Ooopsss! Gak… udah ah, sana pergi.” Balas Hesty.

“Iya.”

“Hati-hati di jalan.”

“Iya.”

“Dah ah, gue turun yah.”

“Ty!” Ricky menahan lengan gadis itu.

“Yaaa”

“Gak… gak apa-apa.” Ricky menggelengkan kepalanya, lalu ia melepaskan lengan gadis itu.

“Napa… mau nyium lagi? Eitttsss, gak boleh.” Kata Hesty sembari menutup mulut dengan telapak tangan.

“Gak… ya udah turun gih.”

“Tumben gak maksa.” Gumam Hesty sesaat. Meski luarnya menolak, tapi hati kecilnya menginginkan Ricky menciumnya. Namun, entah mengapa hari ini Ricky sama sekali tak memberikannya. Terlihat cuek dan tak memaksanya seperti biasa di lakukan pria itu.

“Gue turun dulu deh kalo gitu… byeee Ky, hati-hati di jalan.”

“Iya…”

Setelah turun dari mobil, Hesty menatap mobil Ricky dari samping. Ricky tak membuka kaca dan tiba-tiba menjalankan mobil tanpa mengatakan sesuatu ke Hesty.

Hesty hanya geleng-geleng kepala, kemudian ia berjalan masuk ke dalam rumah. Dan mencoba untuk tidak berfikir aneh-aneh lagi.

~ •©• ~​

Di tempat berbeda…

Pak Rosadi baru saja masuk ke dalam ruangan. Di dalam ruangan, terlihat seorang pria sedang duduk di singgasananya.

“Pak Rosadi…” gumam pria yang duduk di singgasananya.

“Pak… maaf sebelumnya, saya tadi bertemu dengan Ikky di rumah sakit.” Degh!!! Mendengar itu, pria di hadapan Pak Rosadi terdiam sesaat.

Hal yang paling ia jaga selama ini, akhirnya kejadian juga.

“Terus?” tanyanya ke Pak Rosadi.

“Sepertinya dia berhasil saya tahan untuk masuk.”

“Emangnya dia ngapain di sana?”

“Sepertinya dia menemani gadis itu,”

“Hesty?”

“Iya Pak…”

“Orang tua dia berada di rumah sakit itu juga?”

“Iya Pak, katanya ibu dia.”

“Ibu… hmm,”

“Besok saya akan mencari tahu ibu gadis itu,”

“Tak perlu, menurut saya sepertinya Ikky akan datang.”

“Ha? Apa Ikky tau –“

“Feeling saya yang mengatakan, Pak Rosadi.”

“Fiuhhh maaf Pak, kalo saya sudah berbuat kesalahan.”

“Tidak masalah Pak Rosadi, seharusnya memang sudah saatnya Ikky tahu yang sebenarnya.”

“Betul sih Pak, kasihan Ikky nya.”

“Iya. Saya tidak mau, dosa saya semakin banyak karena telah membohonginya selama ini.”

Saat mereka berdua lagi sibuk mengobrol, dari arah pintu masuk yang kebetulan dalam kondisi terbuka. Ricky telah berdiri menatap keduanya. Pria di hadapan Pak Rosadi memberikan kode gerakan tangan, agar mereka diam karena menyadari kedatangan Ricky.

“Kenapa kalian berdua tiba-tiba diam?” Ricky bergumam dengan nada tanya.

“Eh Ikky,” gumam Pak Rosadi menoleh ke belakang.

“Masuk Ky,” balas pria di hadapan Pak Rosadi, yang tak lain ayah Ricky.

“Sepertinya kalian berdua sudah mengetahui tujuanku datang ke kantor.” Kata Ricky sembari melangkah masuk ke dalam ruangan.

Ricky lalu menarik kursi di samping Pak Rosadi, “Pak Rosadi, apa bisa memberikan waktu buatku ngobrol dengan beliau?” lanjut Ricky sembari duduk, dan menoleh ke Pak Rosadi.

“Baik… saya permisi dulu Pak… Ky,”

“Iya.”

Sepeninggalan Pak Rosadi, Ricky langsung menatap sang ayah dengan tajam.

“Sepertinya kamu sudah mengetahuinya Ky,”

“Tolong jelaskan semuanya dari awal, biar Ikky gak salah paham.” Balas Ricky sesaat.

Terasa berat tarikan nafas yang ayah Ricky lakukan. Dia paham, kejadian hari ini pasti akan terjadi. Semakin lama ia menutupinya, maka semakin lama Ricky akan mengetahuinya. Menyembunyikan bangkai dimana pun, pasti akan kecium baunya. Hanya waktu yang menjawabnya. Dan sang ayah, tak boleh lagi menutupi semuanya ke Ricky. Karena toh, semuanya murni bukan kesalahan dia juga kok.

“Fiuhhh!” sang ayah kembali menghela nafas, kemudian ekspresinya berubah. Ingatannya kembali ke kejadian beberapa tahun yang lalu.

.

.

Flash Back

Pak Santoso, memulai karirnya dari bawah. Sebelum ia menjadi pengusaha, ia adalah seorang karyawan. Karena keahliannya dalam mempimpin perusahaan, maka ia di percaya untuk mengelola bisnis perusahaan tersebut.

Lambat laun, Santoso muda merasakan hidupnya belum sempurna. Meski umurnya kala itu 27 tahun, tapi ia selalu bermimpi hidup di rumah hasil jerih payahnya sendiri di temani oleh seorang wanita. Yah! dia memutuskan untuk menikah.

Karena dia type pria yang workaholic, maka sangat susah ia dekat dengan seorang gadis. Beberapa kali ia mencoba dekat, namun semuanya mental. Dan semuanya hanya melihat ada apanya, bukan apa adanya. Itulah yang menjadikan Santoso semakin lama, tak yakin untuk menikah. Karena menurutnya, untuk menemukan cinta yang sesungguhnya rupanya tak semudah membalikkan telapak tangan.

Pikiran Santoso teralihkan, ketika mendapatkan tawaran dari owner perusahaannya untuk sebuah modal. Santoso pun menerimanya, dan membuat suatu perusahaan dengan pembagian hasil 50:50 dengan pemilik modal.

Perusahaannya berkembang dalam kurun waktu 3 tahun. Menjadikan Santoso, sudah benar-benar lupa akan niatnya menikah kala itu.

Apalagi, hidupnya di penuhi kerjaan. Dua pintu yang kini telah menyita waktunya. Bekerja sebagai CEO dan juga sebagai owner.

Berbulan-bulan, Santoso hidup sendiri.

Hingga suatu kejadian yang membuat hidupnya berubah.

Kala itu…

Karena keberhasilan perusahaannya, Santoso akhirnya membuat sebuah acara di rumahnya dan mengundang orang-orang terdekat, baik karyawan, teman, sahabat dan keluarganya.

“San… sampe kapan loe hidup sendiri kek gini, ingat loh… umur loe dah 34 tahun. Hahaha,” kata teman Santoso yang kala itu sedang ngobrol dengannya di tengah-tengah acara.

“Hadehhh, susah nyari cewek.” Balas Santoso.

“Susahnya dimana, lagian emang loe sama sekali gak tertarik ma cewek manapun gitu?”

“Belum dapat sih bro.” Balas Santoso.

Setelah mengucapkan kalimat tersebut, perhatian Santoso teralihkan ke sosok gadis cantik. Gadis cantik, berpakaian gak terlalu mencolok. Rambut terikat, dengan tatapan sendu sedang mengobrol dengan seseorang yang juga cukup dekat dengan Santoso.

“Liatin apaan loe?” tanya kawan Santoso.

“Gak…”

“Ahhh gak mungkin,” ujar temannya lagi, sembari menoleh dan memandang ke arah yang sama. “Hehehe, cantik ya?”

“Eh! Maksud kamu?”

“Tuh cewek.”

“Hahahaha, biasa aja.”

“Hmm, loe suka?”

“Gak.”

“Kalo loe suka, gue bisa bantuin dapatin dia.”

“Emang kamu kenal?”

“Gak akrab, tapi tau.”

“Siapa namanya?”

“Yang gue tau, dia biasa di panggil Nur.”

“Nur… cahaya.” Gumam Santoso yang masih saja menatap gadis yang di maksud.

“Yah. namanya Nur, loe Santoso adalah sentosa. Hidup sentosa, pasti lebih sentosa lagi kalau di terangi oleh cahaya. Asyik sekali.”

“Hahahaha,” Santoso tertawa, dan sekilas gadis bernama Nur itu menoleh. Mereka berpandangan sesaat.

“Nah kan, dia udah liatin elu.”

Gadis itu mengangguk sopan.

“Ayolah, deketin dia.”

“Hmm,”

“Hadehhh nungguin elu gerak, nunggu lebaran kerbo.”

“Hahaha yang ada lebaran monyet.”

“Wait.”

“Eh mau kemana?”

“Mau dekatin dia.”

Dan!

Tanpa Santoso sadari, sahabatnya itu sedang merencanakan sesuatu.

Yah! sahabatnya itu, bernama Rosadi. Teman akrab, dan kini telah menjadi orang kepercayaan Santoso.

Rosadi kala itu, memang terkenal cukup bandel di teman-temannya. Suka bergonta ganti wanita, bahkan dia adalah moderator di suatu forum Underground di jamannya.

Jadi, untuk menaklukkan wanita bukan hal sulit baginya.

Dan Rosadi paham, jika sahabatnya ini menyukai gadis yang telah mempunyai cowok. Tapi, Rosadi tak berminat untuk menjelaskan ke Santoso, agar pria itu tak berfikir macam-macam. Maju terus pantang mundur, menurut Rosadi.

Banyak jalan menuju roma, dan sekarang. Jalan untuk Santoso bisa mempunyai wanita, maka jalannya adalah Rosadi sendiri. Dia yang akan membukakan jalan buat mereka berdua.

Dari meja Santoso, melihat jelas Rosadi sudah mendekati gadis bernama Nur. Terjadi obrolan singkat, dan entah apa yang mereka bicarakan, gadis itu sudah menatap ke Santoso. Senyum dari gadis itu, makin membuat tubuh Santoso bergetar. Ada rasa yang aneh menderanya. Apakah ini di namakan cinta pada pandangan pertama?

10 menit lamanya, Rosadi kembali ke meja.

“Gimana?” tanpa sadar, Santoso langsung bertanya ke Rosadi.

“Gimana apanya?”

“Eh gak! Hahaha,”

“Loe suka ma dia kan?”

“Kalo iya kenapa, dan kalau tidak kenapa?”

“Kalo iya, gue bisa pastikan loe bakal dapatin dia.”

“Caranya?”

“Loe cukup percaya ma gue… gak usa mikir apa-apa.”

“Harus aku tau, apa yang sedang kamu rencanakan.”

“Loe bakal tau kok… tunggu aja.” Balas Rosadi, seringaian di wajah Rosadi tampak jelas.

Santoso sendiri hanya geleng-geleng kepala. Yang jelas, dia pun tak sabar ingin melihat apa yang akan di lakukan Rosadi, agar gadis itu bisa dekat bahkan jadian dengannya.

Pesta usai.

Satu persatu tamu mulai pergi.

Hanya tertinggal Rosadi dan Santoso yang mengantarkan para tamu pulang.

Yang membuat pertanyaan dalam tempurung kepala Santoso, kemana perginya gadis bernama Nur? Kenapa sejak sepeninggalan Rosadi tadi, setelah mereka ngobrol. Gadis itu tak terlihat lagi.

Hingga…

“Udah pada pulang… saatnya loe ngikutin rencana gue.”

“Busyet… apa sih rencana kamu bro?”

“Udah… yuk loe ikut gue.”

Rumah Santoso berlantai 3. Cukup besar ukurannya buat seorang bujangan tinggal sendiri.

Santoso mengikuti langkah Rosadi menuju ke lantai 3. Dan langkah mereka terhenti ketika melihat seorang gadis berdiri di dekat pintu kamar.

“Loh, Rita… ngapain kamu disini?” tanya Santoso kepada gadis itu. Adalah bernama Rita, juga teman mereka sejak jaman kuliah. Dan Santoso paham, jika Rita ini lah yang datang bersama Nur, gadis yang di sukainya.

“Hehehe, tuh… gue lagi ikutin rencana si Sadi.”

“Hmm, kalian sedang merencakan apa sih?”

“Oke… loe duduk dulu.” Kata Rosadi menyuruh Santoso duduk di sofa.

“Begini, gue paham loe sudah seharusnya menikah… Gue, Rita ma anak-anak lain kadang sedih juga liat Cuma loe yang belum nikah di antara kita-kita.”

“Fiuhhh terus?”

“Dan sorry bro, saat gue melihat tatapan loe yang tak biasa ke Nur. Gue yakin seyakin-yakinnya kalo loe suka banget ma dia.”

“Hmm biasa aja sih.”

“Loe gak bisa bohong ke gue, San.”

“Oke oke, aku jujur cukup tertarik dengan dia.”

“Tapi sorry San… Nur itu udah punya cowok.” Degh!!! Rita menjawab langsung, seketika membuat ekspresi Santoso berubah. Secuil kesedihan di wajahnya tertangkap oleh kedua sahabatnya itu.

“Berar-“

“Tapi loe percayakan ma gue?” ucapan Santoso terputus, karena Rosadi tiba-tiba menyela.

“Selalu.”

“Nur itu cewek type setia San… dan gue sebetulnya, senang kalo Nur bisa dekat dengan loe. Tapi sayang… dia terlalu cinta ma cowoknya.” Kata Rita lagi.

“Berarti aku gak usah deketin dia.”

“Tenang bro… loe percaya ma gue kan?”

“Tenang… cowoknya itu, sebetulnya gue cukup kenal juga. Dia cowok brengsek, dan yah! gue kenal dia di forum. Sama-sama penjelajah meki. U know maksud gue kan?”

“Fiuhhh!”

“Sayang, Nur gak pernah percaya ma gue… Dia selalu percaya ma cowoknya itu.” Kata Rita.

“Nah, sekarang saatnya loe berubah menjadi brengsek bro.” Rosadi menimpali.

“Maksud kamu?”

“Kalo loe benar-benar menginginkan dia, loe harus berubah menjadi cowok brengsek. Hanya sekali saja, karena gue percaya… Nur akan hidup bahagia ma loe.”

“Caranya?”

“Di dalam kamar… Nur sedang tertidur.”

“WHATTTTT?” Sontak, Santoso terkejut mendengarnya. “APA-APAAN KALIAN?”

“Nur butuh uang… dia orang susah, dan hanya menjadi istri loe… Dia bisa keluar dari hidupnya yang serba kekurangan itu.”

“Terus?”

“Jujur, Nur pernah ngobrol ma gue… dia butuh duit, karena ingin melunasi hutang-hutang bokapnya.”

“Terus?”

“Nah… gue uda pernah nawarin, kalo dia mau duit gede dalam waktu dekat. Yah, kudu ngorbanin keperawanannya.”

“WHAT? Jangan bilang-“

“Yah… gue tadi udah cerita ke Nur, karena udah dapat info dari Rosadi kalo loe suka ma dia.”

“Terus?”

“Yah! dia setuju, dan dia ingin duit 30 juta… dengan cara memberikan tubuhnya buat elu.”

“Waaahhh ini gak benar.”

“Suka atau tidak, kalo bukan loe… Nur akan di jebol ma orang lain, apa loe ikhlas?”

“Fiuhhhh!”

“Dia udah di dalam, dan sorry… dia meminta agar di kasih obat tidur. Dia gak mau sadar, ketika perawannya di pecah.”

“Jadi?”

“Yah, dia udah siap loe perawanin di dalam.”

“Bajingaaan kalian berdua.”

“Bro… loe tau gue kan?” Kata Rosadi sesaat. “Gue gak bisa liat sodara gue, sendiri melulu. Sapa tau, dengan cara ini loe bisa ngerubah hidup loe.. bahkan ngerubah hidup dia. Percayalah Nur gadis baik-baik.”

“Harus gue lakukan?”

“Harus… karena kalo bukan loe, Nur pasti akan dapat dari cowok lain. loe ikhlas?”

“Enggak!”

“Ya udah, sekarang lah saatnya.”

“Yakin?”

“Kalo loe gak mau, gue ikhlas kok gantiin elu.”

“BAJINGAAANNN! Kamu Sadi.”

“Hahahaha, makanya buruan masuk. Tinggal kontolin aja sono, susah amat sih.”

“Hadehhh omongan kamu bikin aku kesal.”

“Sekali-kali, out of the box bro. Jangan jadi cowok alim mulu.”

“Fiuhhhh, ya sudah.”

“Oke Good Luck.”

“Oke.”

Meski dalam hati, ada keraguan dalam diri Santoso. Namun, ia seperti terpengaruh dengan ucapan kedua sahabatnya. Kalo bukan Santoso, akan ada cowok lain yang membeli keperawanan gadis itu. Apa Santoso Ikhlas?

Dan juga! Uang 30 juta bukan masalah buat Santoso.

Maka, dia pun semakin yakin.

Dengan keyakinan 100%, Santoso melangkah masuk ke dalam kamar. Meninggalkan Rita dan Rosadi.

“YES Berhasil.” Kata Rita setelah Santoso telah masuk ke dalam kamar.

“Sorry San, kalo gue dah bohong ma loe. Hehehe,”

“Biarin aja Sad. Gue setuju kok, kalo Nur nikah ma Santoso.”

“Sama.”

“Dari pada ma cowoknya yang brengsek itu.”

“Sama.”

“Ahhh apaan sih loe sama-sama melulu.”

“Hahahaha,”

.

.

Yah! begitulah kisah awal pertemuan Santoso dengan Nur. Gadis baik-baik, bernama lengkap Nurhayati, yang kala itu menjunjung kesetiaan akhirnya menyadari kenyataan pahit dirinya sedang tidur di samping seorang pria. Yang membuatnya makin terkejut, saat menyadari keadaannya dalam kondisi tak sehelai benang menutupi tubuhnya,

Selangkangannya terasa sakit.

Di ranjang, terlihat bercak darah.

Apalagi, kalo bukan keperawanannya baru saja di ambil oleh pria di sampingnya.

Nur bersedih.

Santoso yang sudah terbangun, tiba-tiba ikutan terkejut.

Dan mulai menyadari, kalo kejadian ini semuanya hanya akal-akalan kedua sahabatnya itu. Tapi, Santoso tak menyalahkan mereka. Karena niat mereka, memang hanya untuk hidup yang baik buat Santoso.

Toh juga, Santoso menyukai Nur.

Bahkan, melihat kesedihan gadis itu, makin menambah rasa sukanya.

Santoso langsung dengan gentle, berkata akan bertanggung jawab.

Dia akan menikahi gadis itu.

Nur terdiam.

Toh! Dia sudah tak suci lagi. Dia malu bertemu dengan kekasihnya.

Nur diam saja. Dia menahan kesedihannya, dan berpamitan pulang. Awalnya Santoso menawarkan uang, tapi Nur menolaknya.

Hari demi hari terlewati.

Santoso, setiap hari berkunjung ke ruma Nur.

Kebaikan, kesabaran dan juga perhatian yang di tunjukkan oleh Santoso kepada keluarga Nur pun, sedikit demi sedkit mulai membuka pintu hati Nur.

Tapi! Nur meminta waktu.

Padahal Nur menunggu kedatangan kekasih, karena kebetulan saat itu kekasihnya sedang berkuliah di luar kota.

.

.

Kejadian pun tak dapat terelakkan.

Nur merasakan kehangatan dan juga perubahan perasaan, ketika Santoso berada di dekatnya. Saat Santoso tak datang, Nur merindukannya.

Entah karena apa…

Nur mengiyakan tawaran Santoso untuk hang out bareng.

Kejadian lah, hubungan badan mereka. Mungkin karena Nur mulai terpengaruh oleh perasaannya sendiri, maka dengan ikhlas melakukannya dan kali ini, dia dalam kondisi sadar sesadar-sadarnya.

Berminggu-minggu, mereka melakukannya setiap ada kesempatan.

Dan akhirnya, suatu hari. Nur mendapati kenyataan jika dirinya hamil.

Nur bersedih. Dan langsung menghubungi Santoso.

“Aku akan menikahimu.” Kata Santoso setelah mendengar di telfon, apa yang di katakan Nur.

“After work, aku akan menemui kamu dan keluargamu… Tunggu aku di rumah.”

“Kamu serius?”

“Aku sejak awal, serius sama kamu… tapi kamu tak menyadarinya.”

“Aku sadar kok.”

“Aku mencintai kamu, Nur.”

“Tapi, jangan paksa aku mencintai kamu… kak”

“Iya, aku gak akan memaksa.”

“Iya.”

.

.

Dan!

Waktu yang di nanti-nanti terjadi.

Santoso menikah dengan Nur.

Berbulan-bulan pernikahan mereka, menurut Santoso Nur tidak berubah. Tak ada cinta di matanya. Yang di dapatkan Santoso, adalah sikap Nur yang hanya menggugurkan kewajiban sebagai seorang istri.

Mereka di karuniai seorang putra bernama Ricky Pramana Santoso.

Nur menyayanginya.

Santoso, pun tentu saja bahagia mendapatkan keturunan.

Hari demi hari berlalu.

Santoso di sibukkan dengan pembukaan beberapa anak perusahaannya.

Dan, tanpa Santoso sadari. Mantan kekasih Nur, tiba-tiba berani datang ke rumah. Nur kaget, dan berusaha untuk menolak setiap ajakan dari mantan kekasihnya untuk bertemu di luar.

Puncaknya, Nur pun akhirnya memilih untuk bertemu dengan mantannya itu dan berniat untuk menyuruh pria itu untuk tidak lagi mengganggunya. Bersamaan juga, Santoso yang mulai menyadari gelagak sang istri rada aneh, mulai mengikuti gerak-geriknya.

Berhari-hari Santoso menahan rasa sakit setelah mengetahui, jika Nur ternyata masih berhubungan dengan mantan kekasihnya itu.

Berulang kali, Santoso menahan amarahnya tidak meledak.

Dua tahun setelah kejadian itu…

Santoso mulai cuek. Dia lebih sibuk dengan pekerjaannya.

Masa bodoh dengan kejadian di rumah. Toh juga! Dia memang sejak awal, telah salah mengambil jalan menikahi Nur.

Hingga kejadian malam itu tak dapat terelakkan lagi.

Santoso murka, karena masalah bertubi-tubi menghampirinya di kerjaan. Belum lagi, Nur yang sama sekali tak ada perubahan. Tak menunjukkan rasa cintanya ke Santoso. Hanya sibuk dengan anak. Mungkin saja, menurut Santoso istrinya itu sibuk berselingkuh di luar dengan sang mantan.

Maka, Santoso pun marah besar dan mengusir Nur dari rumah dengan memberikan talak 3.

Mereka bercerai…

Santoso menang di pengadilan dengan hak asuh anak, beserta Nur tidak mendapatkan sepersen pun darinya. Karena Santoso punya bukti foto pertemuan Nur yang beberapa kali dengan mantan kekasihnya. Juga, sedikit bantuan dana undertable berhasil membungkam para orang-orang yang ikut andil dalam kasusnya kala itu.

Setelah selesai…

Nur pergi…

Santoso tak berniat mencarinya…

Hingga 10 tahun kemudian, Santoso mengetahui kenyataan pahit jika mantan istrinya sedang di rawat di RS Jiwa.

Flash Back End

“Maafkan ayah, baru bercerita sekarang ke kamu Ky.”

Setelah mendengar semua penjelasan dari sang ayah, mata Ricky berkaca-kaca. Kedua tangannya terkepal, entah dia harus menyalahkan siapa?

Kenyataan pahit, kejadian awal mula pertemuan sang ayah dan ibunya. Dan juga, yang telah lama ia ketahui, jika sang ibu berselingkuh di belakang ayahnya. Makin membuat emosi Ricky naik.

“Dan maafkan ayah, kalo baru cerita kalo ibu kamu di rawat di RS Jiwa… bahkan udah lama banget dia di sana.”

Tanpa terasa, air mata turun dari kedua mata Ricky.

“Maafkan ayah.”

“Ayah tidak salah… perempuan itu yang salah, tidak melihat kebaikan ayah selama ini. Ikky tidak menyalahkan ayah sama sekali.”

“Iya Ky, ayah minta maaf.”

Satu hal yang tiba-tiba Ricky sadari. Adalah Hesty.

Apakah dia harus mengatakan sejujurnya ke sang ayah, jika buah dari perselingkuhan ibu nya adalah si Hesty?

Kesedihan plus amarah mendera Ricky.

Tapi! Dia pun tak tega, jika menceritakan sekarang ke ayahnya. Karena pasti, Hesty akan langsung di depak dari rumah, dan melarang untuk dekat dengan Ricky lagi.

Apa yang Ricky harus lakukan sekarang ini?

Di satu sisi, dia marah dengan ibunya. Dia marah dengan hasil perselingkuhan sang ibu.

Tapi di satu sisi lagi, dia sangat menyayangi gadis itu. Gadis yang sama sekali tak mengetahui apa-apa, harus menerima ganjarannya.

Gak! Ricky gak mungkin sejahat itu, langsung marah kepada Hesty.

Yang harus ia lakukan adalah, mengalah demi kebaikan.

Yah! jalan satu-satunya, telah Ricky niatkan dalam hati. Dia harus melakukannya sekarang juga, sebelum ia terlalu jauh melangkah.

~ •©• ~​

Di tempat berbeda…

Hesty! Baru saja selesai mandi. Selesai bersih-bersih rumah, yang sebetulnya tidak kotor. Namun, tetap Hesty menjalankan tugasnya sebagai pekerja di rumah Ricky.

Dan sekarang waktunya makan.

Hesty memasak nasi, sayur lodeh, dan ayam goreng yang memang telah ia sediakan di dalam kulkas.

Hesty lalu berjalan ke ruang santai, berniat sambil makan dia ingin menonton. Hitung-hitung membunuh sepi, menunggu kedatangan Ricky.

Dalam hati, ia berharap Ricky tak lagi marah seperti tadi. Karena biar bagaimana, Hesty bakal sedih kalo Ricky masih kayak tadi.

Sungguh! Dia gak bisa melihat Ricky sedih.

Yah! meski dia tak dapat berucap langsung ke Ricky, kalo dia selalu merasakan apa yang di rasakan Ricky.

Hesty mencintai pria itu.

Tapi! Yah balik lagi. Hesty tak pintar untuk menunjukkan rasa cintanya kepada pria itu.

Saat sedang duduk di sofa, menikmati santapan makan malam, juga menonton drama di TV. Ponselnya berdering.

“Eh Dewi.” Gumamnya melihat nama si penelfon. “Ya Wi… napa.”

“Ngapain loe?” Tanya Dewi di seberang.

“Makan… hehe,”

“Cie cie… yang lagi makan ma sang pangeran.”

“Jiahhhh, gue makan sendiri hoi. Lagian dia belum pulang.”

“Haaa? Jam segini belum pulang, dan biarin loe sendiri di rumahnya?”

“Hu uh!”

“Loe gak curiga ma dia, ngapain di luar?”

“Gak… hahaha, gue percaya kok ma dia.”

“Yakin?”

“Iya, kebetulan dia lagi banyak kerjaan Wi… busyet, gue aja di cuekin tadi. Dia kayaknya lagi stress makanya gue di suruh pulang duluan.”

“Tumben.”

“Hu um… tumben banget dia kek gitu.”

“Jadi loe sedih donk sekarang…”

“Halahhhh! Ngapain mau sedih, lagian kan dia marahnya gak ke gue donk…”

“Tapi loe kena imbasnya?”

“Kayaknya sih, hufhhh!”

“Mungkin dia lagi PMS.”

“Hahahahah, iya juga sih.”

“Makanya loe beliin pembalut gih buat dia.” Ujar Dewi selanjutnya, dan sontak membuat Hesty mengernyit.

“Eh iya… bener juga tuh saran loe. Sapa tau dia lagi datang bulan, makanya kelakuannya kek gitu.”

“What? Hahahaha, jangan bilang loe mau ngasih dia pembalut beneran?”

“Hmm! Kayaknya sih gitu.”

“Ty ty! Ckckck… hahaha,”

“Lah, kan gue ikutin saran loe.”

“Udah… loe jangan ikutin gue lah. Hahahaha,”

“Dah ah, kalo gak ada yang penitng, gue tutup nih.”

“Jiah dasar anak perawan, gitu aja ngambek.” Kata Dewi, “Atau jangan-jangan loe udah di perawanin ma doi?”

“Oopsss! Hahahaha, belum.” Kata Hesty menjawabnya. Dan terlihat, Hesty baru saja memikirkan sesuatu. “Dia cemen Wi gak berani lakuin kek gitu.”

“What? Loe seriusan?”

“Iya… fiuhhhh”

“Jangan-jangan dia GAY lagi.”

“HAAAAA? Masa sih?”

“Iya, kan kalo cowok gak suka Ngewe, berarti dia GAY.”

“Waaaaaaahhh, bener juga yang loe bilang.” Balas Hesty sambil mangguk-mangguk. “Jadi, apa yang gue harus lakuin nih?”

“Loe buktikan sendiri, loe dah telanjang di depan dia?”

“Haa? Masa iya gue telanjang di depannya?”

“Ya caranya untuk ngebuktiin dia gay pa kagak… yah kek gitulah.”

“Fiuhhhh! Harus gitu?”

“Loe gak mau kan, kalo punya cowok seorang Gay?”

“Ya enggak lah,”

“Ya udah, loe coba gih… buka baju di depan dia. Kalo dia masih diam aja, berarti Fix… dia Gay.”

“Oke… gue bakal lakuin saran dari loe.”

“Hahahahaha, serius?”

“Iyalah, Hesty gitu… apa sih yang gak bisa gue lakuin buat dia?”

“SEMANGAT!”

“Yoi….”

“Hahahaha, udah ah… jangan lupa ngabarin gue besok, berhasil pa kagak yah”

“Hahaha, pastilah… kan loe tempat curhat gue.”

“Ya udah, see u tomorow.”

Tut! Tut! Tut!

Setelah telfon terputus, Hesty terdiam sesaat.

Mulai memikirkan saran barusan dari Dewi. Yah! dewi ada benarnya, karena aneh aja kenapa Ricky sama sekali tidak berani melakukan dengannya. Apa coba alasannya?

“Gue harus berani ngebuktiinnya.” Gumam Hesty, di wajahnya tersirat sebuah senyuman penuh arti.

“Eh! Tapi… bentar kalo dia beneran gak ngelakuinnya gimana donk?”

“Ahhhhhh! Berarti gue pacaran ma Gay… ihhhh! Hesty, kenapa sih hidup loe kek gini.”

“Gak gak! Gak mungkin dia Gay.”

Saat Hesty sedang sibuk dengan pikirannya sendiri, tiba-tiba sebuah pesan masuk di ponselnya.

“Ha? Ngapain dia sms?” gumam Hesty setelah melihat nama Ricky yang mengirim pesan.

Maka Hesty membuka pesan dari Ricky.

Cowok Sial :

“Jangan menunggu ku pulang. Jangan lagi, mencoba menghubungiku.

Aku pergi…

Aku tak bisa mengatakan alasannya, kenapa aku pergi.

Maaf! Aku pengecut, iya. Aku tidak punya keberanian untuk mengatakan yang sejujurnya ke kamu. Tapi satu hal yang kamu harus ketahui, aku menyayangimu Ty.

Aku akan selalu, mencintaimu…

Tinggallah di rumah, karena rumah itu sudah menjadi milik kamu per hari ini. Besok! Akan ada seseorang yang membawakan buku rekening beserta ATM. Pakailah uang itu untuk menyambung hidup kamu. Jaga dan rawatlah baik-baik ‘Ibu’. Jangan mengecewakan keputusanku.

Maaf! Sekali lagi maaf, aku harus pergi untuk selamanya.”
DEGH!!!

Still Continued