Tiba Tiba Saja Part 20

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21

Tiba Tiba Saja Part 20

Start Tiba Tiba Saja Part 20 | Tiba Tiba Saja Part 20 Start

“Pak Rosadi…” Ricky bergumam saat bertemu dengan seorang pria yang sangat ia kenal. Sudah 25 tahun ini, Pak Rosadi menjadi wakil dan juga tangan kanan sang ayah. Pak Rosadi ini, adalah orang yang sangat mengenal baik keluarga Ricky. Buruk baiknya yang terjadi, semua di ketahui oleh Pak Rosadi.

Dan anehnya! Mereka di pertemukan di depan pintu masuk sebuah rumah sakit. Yah! Rumah sakit, yang juga tempat yang sama ibu Hesty di rawat.

Pak Rosadi yang pada dasarnya ahli dalam menyembunyikan apa yang ia rasakan, hanya dua detik saja ia terkejut bertemu dengan Ricky. Namun, setelahnya ia memasang sebuah senyum selayaknya seorang bapak yang bersahaja dan berwibawa.

Pak Rosadi hanya mengangguk sebentar saja ke Ricky, lalu mengalihkan pandangan ke samping Ricky. Hesty! Langsung membalas senyuman Pak Rosadi, dan juga anggukan sopan di sertai ekspresi kecut. Karena Hesty pun mengingat kejadian di malam itu, kejadiaan saat ia bertemu dengan Pak Rosadi dan ayah Ricky.

“Pak…” Hesty bergumam.

“Helo Hesty, kita ketemu lagi…” Pak Rosadi mengulurkan tangan, dan Hesty membalasnya. “Bagaimana kabar?”

Mereka bersalaman sesaat. “Alhamdulillah baik pak. Hehehe!” balas Hesty.

Hesty lalu menyenggol pelan lengan Ricky, sembari bola matanya bergerak ke samping kanan. Karena sejujurnya dia pun bingung mau ngomong panjang dengan Pak Rosadi. Apalagi mengingat tujuannya ke sini untuk menjenguk sang ibu. Setelah Hesty dan Pak Rosadi melepaskan tangan. Ricky menatap wajah Pak Rosadi dengan mengernyit.

“Habis menjenguk siapa di dalam, Pak Rosadi?” Ricky mulai bertanya. Dan langsung menembak pertanyaan yang sejak tadi ia pikirkan. Pak Rosadi tersenyum tipis. Padahal dalam hati, ia sedang mengatur agar ekspresinya tak mudah terbaca oleh Ricky. Karena Pak Rosadi paham betul sosok Ricky, adalah orang yang cukup mudah membaca pikiran orang lain dengan melihat ekspresi wajahnya.

Namanya juga seorang ahli dalam berbisnis. Memang modal utama adalah dapat membaca psykologis orang lain.

“Bertemu dengan teman di dalam, Ikky!” jawab Pak Rosadi.

“Ohh teman… pasien, perawat, karyawan atau Dokter?” tanya Ricky. Jelas dan singkat.

“Waaahh! Sepertinya bukan Ikky yang saya kenal, mencari tahu urusan saya di luar kantor.”

“Maaf kalo gitu Pak, Ricky Cuma agak aneh saja bisa bertemu dengan Pak Rosadi di tempat seperti ini.”

“Se-seperti ini?… Seperti ini, yang bagaimana maksud loe, Huh!… hei! Kalo ngomong itu di jaga!” Hesty yang baru saja mendengar ucapan dari Ricky, sedikit tersinggung. Dia menoleh dan menatap menyipit ke Ricky. “Di tempat ini, ibu gue di rawat tau…”

Pak Rosadi melirik ke Hesty. Dalam hati tiba-tiba penuh dengan tanda tanya. Padahal sesuai dengan penjelasan dari ayah Ricky kala itu, saat ia sedang berbincang-bincang di ruangan. Ayah Ricky memberikan perintah untuk memonitor hubungan Ricky dengan Hesty. Dan keterangan jika Hesty adalah anak tunggal, ibunya sedang ada di kampung.

So! Informasi yang ada, sangat berbeda dengan pengakuan Hesty barusan.

“Udah… kamu diam dulu, napa!” bisik Ricky membalasnya.

“Oh jadi ibu kamu di rawat disini, Hesty?”

“I-iya Pak.”

“Hush! Ty, sepertinya kamu masuk duluan… nanti aku nyusul.” Ricky dengan cepat menyenggol lengan Hesty, dan menyuruh Hesty untuk segera meninggalkan mereka berdua. Karena jika di biarkan, maka Hesty akan memperkeruh keadaan. Secara Ricky pun mengingat saat pertemuan dengan ayahnya. Ia mengatakan yang berbeda dengan yang terjadi sebenarnya.

Pak Rosadi sudah sangat membaca situasi ini. Dia mengangguk-ngangguk, sembari melirik ke Hesty lalu melirik ke Ricky. Dia sangat paham betul. Jika Hesty ini adalah type gadis yang selalu berkata jujur. Berbeda dengan Ricky.

“Jadi loe gak jadi ikutan masuk?” ada sedikit kekecewaan di wajah Hesty. Padahal Ricky udah janji, mau bertemu juga dengan ibunya. Namun sekarang, Ricky malah berubah pikiran.

“Nanti aku nyusul.”

“Dah lah! Gak perlu masuk juga gak apa-apa…” Kata Hesty yang sudah kesal, dan telah menyimpulkan sendiri jika memang tidak sepantasnya Ricky bertemu dengan sang ibu. Ricky pasti belum siap dengan semua ini. Ricky pasti berkata seperti itu tadi, hanya untuk membuat Hesty senang saja.

Maka, Hesty berpamitan ke Pak Rosadi. “Pak… Hesty duluan yah.”

“Iya Hesty… salam buat ibu kamu.” Degh!!! Ricky menahan nafas, sembari menoleh ke Hesty.

“Siap Pak… Hehehehe, pasti Hesty sampaiin salam dari bapak.” Balas Hesty yang sudah sumringah mendengar pesan dari Pak Rosadi. Bagaimana tidak. Pak Rosadi yang jelas-jelas adalah orang tajir, sopan, dan berwibawa kayak gini. Tau kalau ibu Hesty di rawat di tempat ini, pastinya juga mengetahui penyakitnya. Malah tak ada rasa malu memberi pesan ‘Salam’ buat sang ibu. Adalah sesuatu yang menyenangkan tentunya buat Hesty. “Dan ibu Hesty bakal senang dengerinnya.”

“Hadehhhh! Buruan duluan gih masuk.” Kata Ricky menyela secepatnya.

“Dasar Sial! Iya… iya,” Kata Hesty sedikit menggerutu. “Pak… permisi yah.”

“Iya.”

Sepeninggalan Hesty, Ricky dan Pak Rosadi sesaat saling bertatapan.

Dalam hati, Ricky menebak-nebak. Sepertinya Pak Rosadi ke tempat ini, bukan untuk menjenguk temannya. Melainkan sedang memastikan keberadaan ibu Hesty, dan itu semua atas intruksi dari ayah Ricky. Yah! Itu sudah pasti. Dan benar adanya, sang ayah sudah mulai menjalankan aksinya untuk mencari tahu keseluruhan tentang kehidupan Hesty seperti apa. Asal usul keluarganya, dan itu semua membuat perasaan Ricky menjadi berkecamuk. Ada kesal juga yang ia rasakan terhadap sang ayah.

“Ikky!” gumam Pak Rosadi karena beberapa saat Ricky hanya diam saja.

“Ayah yang menyuruh Pak Rosadi ke sini ya?” Tanya Ricky.

“Ayah kamu? Apa hubungannya ayah kamu, dengan urusan saya di luar kantor, Ky?” Pak Rosadi balik bertanya. Ekspresi Pak Rosadi masih terlihat santai.

“Apalagi… paling ayah yang nyuruh kan, untuk selidiki tentang Hesty.”

“Pikiran kamu terlalu picik sama Pak Santoso, padahal apa yang kamu pikirkan tentangnya selama ini sangat salah, Ky!” jawab Pak Rosadi, sembari menyebut nama ayah Ricky.

“Yayayaya! Terserah bapak deh. Tapi kasih tau ke ayah. Kalo Ricky tidak akan pernah mundur. Meskipun dia sudah mengetahui semua tentang Hesty.” Kata Ricky sesaat. “Dan! Untuk kali ini, Ricky tidak akan mengikuti keinginan ayah. Ricky butuh pendamping. Ricky butuh seorang perempuan, sudah cukup selama ini Ricky hidup sendiri. Tanpa ibu.”

“Ck…Ck…Ck! benar ternyata apa yang saya pikirkan, Ky. Ternyata selama ini kamu mengira Pak Santoso melarangmu mengenal wanita. Kamu salah besar!”

“Buktinya aku sejak dulu tidak pernah dekat dengan perempuan, karena itu semua keinginan ayah.”

“Sudahlah… apalah artinya saya. Saya berdebat denganmu, pun saya gak ada apa-apanya.”

“Lebih baik begitu Pak. Dan alangkah baiknya, Pak Rosadi berhenti mengusik kehidupan Hesty, maupun kehidupan Ricky sendiri.” Balas Ricky.

Pak Rosadi hanya bisa menarik nafas dalam-dalam. Dia bingung akan sikap Ricky yang seperti ini. Padahal apa yang selama ini terjadi, hanya saja sebuah kesalahpahaman semata. Baik dari sisi Ricky maupun sisi sang ayah.

Namun…

Ada satu hal yang Pak Rosadi masih belum beranjak dari tempat ini, makanya dia masih tetap bertahan mendengarkan kalimat-kalimat tegas dan juga penuh dengan intimidasi dari seorang Ricky.

.
.

Berbeda yang terjadi di dalam…

Beberapa saat yang lalu, Hesty berjalan masuk ke dalam. Ia sempat bertanya ke bagian administrasi mengenai keberadaan sang ibu. Karena Hesty tak melihat sang ibu tidak berada di tempat biasanya ia duduk.

“Oh ibu nya lagi di kamar mba… kebetulan seharian ini beliau jarang keluar kamar.”

“Oh begitu… padahal masih sore ya.” Balas Hesty.

“Iya. Silahkan mba nya langsung ke kamar 44 aja. Kebetulan ibunya di sana.”

“Baik sus. Makasih yah.” Kata Hesty lagi.

Setelah berpamitan, Hesty berjalan menuju ke kamar sang ibu di rawat. Berjalan melewati koridor dengan beberapa pintu kamar dengan nomor berbeda-beda. Hesty paham nomor kamar sang ibu di sebelah mana. Ia tak sabar untuk bertemu dengan ibunya, dan juga sebetulnya dia ingin mengenalkan Ricky dengan sang ibu, namun sepertinya Ricky malah masih sibuk di depan.

Padahal kan, bisa saja Ricky berpamitan langsung dan langsung ikut bersama Hesty masuk. Ini malah tinggal doank. Maka dari itu, dalam hati masih tertinggal rasa kesal atas sikap Ricky. Apalagi ia sempat mendengar perkataan Ricky, mengenai rumah sakit ini dengan kalimat yang sangat-sangat tidak pantas Hesty dengar.

Memang benar. Hesty sangat sensitif jika menyinggung masalah yang berkaitan dengan ibunya.

Lagian tadi, kenapa juga Ricky kelihatan kayak orang bingung dan panik sih? Batin Hesty sesaat. Bibirnya kelihatan lucu, bergerak-gerak seperti sedang komat kamit. Padahal dia hanya berbicara sendiri.

Hingga ia tiba di depan pintu kamar, dengan nomor kamar ‘44’.

Pasien yang berada di kamar ini, bukan hanya ibu Hesty sendiri. Kapasitasnya memang untuk 6 orang, namun kebetulan hanya ter-isi 4 orang saja. Setelah Hesty membuka pintu, dia berjalan masuk dan mendapati di posisi sudut kamar bagian kanan, di atas ranjang tampak sang ibu sedang tertidur.

Melihat itu, perasaan Hesty berubah menjadi sedih. Kerinduannya atas sang ibu, kembali menderanya. Kerinduan akan keadaan sang ibu yang dulunya sehat. Yang dulunya selalu memanjakan Hesty, selalu rewel jika Hesty sedang berulah. Semuanya! Sangat di rindukan oleh Hesty saat ini.

Dalam hati, ia selalu berdoa dan juga tak pernah lelah berharap agar sang ibu bisa kembali normal seperti sedia kala. Berbagai macam obat-obatan tradisional dulunya telah di konsumsi oleh sang ibu. Bahkan sekarang pun, telah di tangani oleh tenaga medis selama 10 tahun lamanya. Masih belum memperlihatkan suatu perubahan.

Dengan mata berkaca-kaca, Hesty mulai mendekati ranjang sang ibu.

“Bu… ini Hesty” gumam Hesty saat ia sudah berdiri di samping ibunya.

Sang ibu membuka mata. Tatapannya sangat kosong, bahkan sama sekali ia tidak melirik ke samping. Ke Hesty yang kini sudah mulai meneteskan air mata.

Sebegitu lupakah sang ibu terhadapnya?

Sungguh, dada Hesty serasa sakit sekali.

Dan Hesty mengingat pesan sang suster, jika Hesty jangan berbuat hal yang dapat memancing emosional sang ibu. Misalnya, jikalau Hesty mendapati keadaan pasien sama sekali tak memberikan respon, atau bahkan jika ia kembali tak mengenalinya. Maka di sarankan Hesty tetap menjaga jarak dan tak melakukan apapun.

Karena sangat fatal akibatnya. Bisa saja pasien teriak histeris. Atau di takutkan malah berbuat suatu tindakan yang membahayakan bagi diri pasien sendiri, Hesty maupun pasien lainnya yang berada satu kamar dengannya. Apalagi saat ini, di dalam ruangan tak ada suster penjaga.

Hesty lalu duduk di kursi.

“Bu… ini Hesty. Bagaimana kabar ibu?” Meski Hesty paham paling sang ibu biasanya gak meresponnya. Namun Hesty tetap bertanya. Dan kadang ia mengajak ngobrol sang ibu, seakan-akan sang ibu mengerti apa yang sedang di obrolkan.

“Nih… Hesty bawain cemilan ma susu. Hehehehe,” lagi! Hesty berkata sambil menunjukkan kantongan kepada sang ibu. Yang berisikan beberapa makanan dan juga susu yang tadi ia beli di Alfa-April.

Masih seperti biasanya terjadi. Sang Ibu tetap diam dengan pandangan kosong, membuat Hesty hanya bisa menghela nafas. Hesty lalu menyentuh tangan sang ibu. Tak ada respon apapun. Sepertinya Hesty sedang berhadapan dengan mayat hidup.

Meskipun demikian, Hesty sudah bersyukur. Karena beberapa tahun belakangan ini, sang ibu tak lagi selalu berteriak histeris kerap kali Hesty dekati. Tak pernah lagi mengusir Hesty.

Namun dalam hati. Hesty selalu berharap, minimal sang ibu memberikan respon seperti mengucapkan sebuah kalimat atau pun minimal ia mengenal Hesty. Dan syukur-syukur kalo sang ibu tersenyum kepada Hesty. Meski itu hanyalah impian semata. Tak ada tanda-tanda perubahan dari sang ibu. Bahkan kondisi yang sekarang ini bertahan sudah hampir 3 tahun lamanya.

Hesty lalu menarik nafasnya kembali.

Ia membuka ponselnya, dan melihat di layar tak ada panggilan masuk dari Ricky.

“Ini anak maunya apa sih.” Gumam Hesty kembali kesal mengingat tentang Ricky yang masih saja belum menghubungi nomor Hesty untuk sekedar bertanya posisinya saat ini dimana. Kan Hesty sudah berniat dari awal, untuk mengenalkan Ricky kepada sang ibu.

Atau jangan-jangan Ricky memang tidak sudi sejak awal ingin bertemu dengan ibunya? Tapi hati kecil Hesty seakan menolak apa yang baru saja di tanyakan dalam benaknya sendiri.

Ricky bukan pria semacam itu yang Hesty kenal. Ricky adalah satu-satunya pria, yang menerima keadaan Hesty apa adanya. Apalagi, Ricky adalah pria yang memiliki segalanya. Bisa saja Hesty di campakkan begitu saja.

“Terus… apa donk alasannya belum masuk juga ke dalam.” Gumam Hesty lagi menjawab pertanyaan dalam pikirannya sendiri.

“Haaaaaaaa!” Hesty lalu menghela nafas, karena ia belum menemukan jawabannya. Kenapa Ricky belum masuk. Belum mencari keberadaannya saat ini.

Beberapa saat, Hesty tampak diam memandang ke sang ibu. Kedua matanya tak lagi berair seperti tadi. Suara tarikan nafasnya mulai teratur, ini semua terjadi karena pikirannya teralihkan dari sedihnya karena sosok sang ibu, berubah menjadi kesal sendiri akan sikap Ricky hari ini.

Lalu!

Tak lama ekspresi Hesty berubah. Ada senyuman tipis di wajahnya mengisyaratkan sesuatu.

“Eh bu…” gumam Hesty selanjutnya.

“Hesty Cuma mau bilang, kalo sekarang Hesty udah punya cowok. Hehehehehe!” masih tak ada respon dari sang ibu. Meski demikian, Hesty cukup semangat menceritakan sosok Ricky kepada sang ibu. Sosok seorang pria yang telah ia sayang, dan juga telah berstatus menjadi kekasihnya sekarang ini.

“Ibu tau… dia sumpuk duitnya loh bu. Hihihih! Eits, tapi Hesty bukan matre ma uangnya loh. Haaha, Hesty juga kerja di rumahnya-“ Hesty menyadari hampir saja keceplosan. Dia menutup mulutnya sendiri, sambil melirik ke kiri dan kanan. “Tapi bu.” Hesty mulai berbisik.

“Ibu jangan marah yah… Hehehe, Hesty sekarang tinggal serumah dengan dia. Eit! Tapi Hesty kerja loh di rumahnya, dan dapat gaji juga.”

“Orangnya ganteeeeeeeeng teng teng banget bu, dan Hesty sayang banget ma dia. Terus, dia tuh orangnya apa yah… hmm! Rada aneh, terus culun.. Hihihi! Oops bukan culun ding” PLAK!!! Hesty tersadar, dan menabok kepalanya sendiri di samping sang ibu. “Maaf Bu. Maksud Hesty. Dia itu orangnya polos banget hehe.”

“Kalo ibu ketemu ma dia, Hesty yakin ibu pasti bakal suka deh… Hihi! Secara Hesty aja bisa suka banget kek gini. Oops!

Tapi… ada yang bikin Hesty sedih bu. Hesty kayaknya mulai takut ma keluarga dia, secara kan biasanya yang banyak kejadian – cowok kaya dan cewek miskin, pasti orang tua si cowok bakal halangin hubungan mereka. Bener gak bu?

Nah kayak gitu hubungan Hesty bu. Apalagi ayahnya udah pernah datang ke rumah, duuuuhhhhh! Hesty takut bu, kalo ayahnya menyuruh Hesty pisah dengan anaknya. Trus nanti datang ke Hesty diam-diam, ngasih Hesty cek. Dan nyuruh Hesty nulis berapa yang harus Hesty tulis angkanya di cek itu.

Oopsss!

Andai kejadian… Heheheheh,

Menurut ibu, Hesty harus nulis berapa tuh yah bu? 100 juta? 1 milyar? Atau 10 Milyar?

Duhhhhhhh! Banyak yah bu… hahahahah!” PLAK! Lagi! Hesty baru saja menabok kepalanya sendiri setelah berbicara panjang. Dan di akhiri dengan kalimat yang membuatnya tersadar seketika.

“Hihihihi! Andai saja kek gitu ya bu.” Tapi! Dia malah lanjutin ceritanya bahas masalah uang. Bahasa masalah hal yang belum tentu bisa terjadi di dunia nyata. “Hesty pasti bakalan beliin rumah buat ibu, beliin segalanya yang ibu inginkan. Tapi sayang, pasti gak mungkin ya bu kejadian kek gitu?” lanjut Hesty sambil memanyunkan bibirnya sendiri.

Sejak tadi Hesty hanya berbicara sendiri, dan tampak sang ibu masih saja tak memberikan respon apapun. Diam, dengan tatapan kosong ke atas. Dengan posisi berbaring, membuat Hesty hanya bisa menghela nafas panjang.

“Eh Btw, Hesty belum cerita ya bu… siapa namanya?” tanya Hesty selanjutnya.

Tak ada respon.

Hesty tetal melanjutkan perkataannya.

“Eh iya belum deng. Maafkan Hesty bu. Hehehe!”

“Hmm namanya…” Hesty sengaja menggantung ucapannya, ia mendengar suara langkah kaki seseorang yang berada di belakangnya. Berharap seseorang yang datang itu, adalah pria yang sedang ia ceritakan ke sang ibu.

Sambil berhitung dalam hati, Hesty mulai menahan nafas. 1… 2… 3…

Hesty berbalik.

Dan ekspresi kekecewaan kini tampak di wajah Hesty setelah mengetahui siapa yang berada di dekatnya. Adalah seorang wanita berbaju putih, yang Hesty tahu adalah suster penjaga di rumah sakit ini.

“Hufhhhh… kirain Ricky yang datang.” Gumam Hesty pelan.

Namun…

Tanpa Hesty sadari, mendengar kata yang Hesty sebutkan barusan membuat ekspresi sang ibu berubah. Matanya membelalak, selanjutnya ia melirik ke Hesty.

“Mana dia.” Mendengar suara sang ibu, sontak Hesty berbalik. Dia ikut membelalak saat menyadari perubahan dari sang ibu yang sudah sejak lama tak pernah terjadi.

“MANA DIAAAAAA.” Setelah berteriak, sang ibu mulai terduduk dan memegang rambutnya sendiri. Dia mulai histeris, reflek sang suster berlari dan memegang tubuh wanita itu. Hesty hanya bisa menangis dan tak dapat berbuat apa-apa.

Kenapa lagi sang ibu?

Apakah stres-nya mulai kambuh lagi?

Namun, Hesty tiba-tiba menyadari dari ujung mata sang ibu, meneteskan air mata. Bersamaan sang suster sudah menyuntikkan di lengan, obat penenang.

Lama kelamaan, mata sang ibu mulai terpejam.

“Haaaaaaa… Sus, kenapa dengan ibu saya?” tanya Hesty ke suster.

“Saya belum bisa menjelaskan secara rinci mba, biarkan dokter nanti yang memeriksa keadaan beliau dulu.”

“Ohh gitu. Padahal ibu saya, udah lama gak kambuh dan histeris kayak tadi kan? Kok sekarang bisa jadi kek gitu lagi ya?”

“Saya belum bisa menyimpulkan mba, mungkin mba nya datang aja lagi besok… karena dokter nanti malam baru memeriksa pasien.”

“Oh gitu. Ya-ya sudah sus.”

“Baik mba… mungkin mba nya bisa kembali lagi, kebetulan para pasien di kamar ini mau di istirahatkan dulu.”

“Baik sus.” Kata Hesty selanjutnya. Dia menarik nafas dalam-dalam, lalu mulai berdiri dari duduknya. Sebelum ia berpamitan kepada suster, Hesty menyempatkan untuk mengecup kening sang ibu yang sudah tertidur.

Dengan perasaan sedih Hesty mulai melangkah meninggalkan kamar 44. Pandangannya ke depan, dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Dia tak sanggup melihat sang ibu seperti tadi. Hal ini, telah lama tak pernah terjadi. Seingat Hesty, terakhir melihat sang ibu histeris kayak tadi saat dia SMA dulu. Kelas satu SMA mungkin.

Saat hampir tiba di depan pintu keluar, Hesty melihat Ricky dan Pak Rosadi baru saja berjalan masuk. Entah mereka dari mana, yang jelas kini pandangan Hesty sudah lurus ke Ricky.

Ricky menyadari pandangan Hesty seperti mengisyaratkan sesuatu. Ada sedih dan juga marah di sana. Namun sedetik kemudian, Hesty mulai mengeluarkan air mata. Dia berjalan cepat, dan langsung memeluk tubuh Ricky. Baik Ricky maupun Pak Rosadi, terkejut atas sikap Hesty.

“Ky… hikz…hikz! ibu Ky. Hikzzzzz” Hesty telah menangis sejadi-jadinya di pelukan Ricky. Wajahnya ia dekap di dada Ricky.

Ricky menoleh ke Pak Rosadi sesaat. Tampak pria itu mengangguk pelan, membuat Ricky menarik nafas dalam-dalam.

“Kamu tenang dulu sayang… nanti cerita ma aku, pas di mobil aja. Gak enak, banyak orang di sini.” Kata Ricky, tangannya mulai mengelus kepala Hesty dengan lembut.

“Ibu… hikz! Hikz! Ibu kambuh lagi,”

“Iya… kamu tenang dulu, jangan menangis kayak gini.” Balas Ricky.

Hesty lalu tersadar. Dia melepas pelukannya, dan menatap wajah Ricky dengan memiringkan kepalanya. “Jadi mau loe gua harus nangis gimana huh?”

“Eh!”

“Wah!” Pak Rosadi ikutan bersuara.

“Emangnya orang nangis bisa di pilih-pilih caranya… hikz! Hikz!”

“Maafkan Ricky ya sayang.” Gumam Ricky, namun Hesty hanya bisa menarik nafas dalam-dalam. Dia tak lagi menatap ke Ricky, berganti melihat ke Pak Rosadi.

“Pak… Hesty permisi dulu. Maaf pikiran Hesty lagi kacau.” Kata Hesty ke Pak Rosadi.

“Iya…” balas Pak Rosadi. Dan tanpa mengatakan sesuatu ke Ricky, Hesty sudah melangkah meninggalkan kedua pria itu.

“Laaaah!”

“Kejar sana.” Kata Pak Rosadi ke Ricky.

Dengan gerak cepat, Ricky mulai mengejar Hesty. Pak Rosadi sendiri, akhirnya bisa bernafas lega. Kelegaannya jelas, ia telah berhasil membuat Ricky tetap bertahan di dekatnya dan tidak menyusul Hesty masuk ke dalam.

“Sayang… tunggu” Hesty cuek! Dia masih menangis sambil mempercepat langkahnya melewati gerbang rumah sakit. “Tunggu!” Ricky akhirnya bisa memegang pundak Hesty, lalu ia memaksa tubuh Hesty untuk berbalik menghadapnya.

“APA?” balas Hesty dengan tatapan mata yang penuh amarah kepada Ricky.

“Kamu kenapa sayang?”

“Gue kenapa?” Hesty balik bertanya, sedangkan Ricky hanya mengangguk saja. “Harusnya gue yang nanya, loe kenapa huh? Kenapa elu malah gak ikutan masuk ke dalam?” mendengar itu, Ricky diam. Dia hanya bisa menarik nafasnya dalam-dalam, karena sepertinya ada yang salah dari Hesty.

“Hikz! Hikz! Pa-padahal gue pengen banget ngenalin elu ke ibu gue.” Kata Hesty lagi. Tatapan kebenciannya mulai mereda, bahkan kini Hesty kembali menangis di hadapan Ricky. “Loe tau… gue udah senang banget tadi, tapi apa… dan loe tau, ibu gue kembali stres… dia teriak-teriak Ky… dia.. dia.” Belum sempat Hesty menyelesaikan perkataannya, Ricky dengan cepat menarik tubuhnya ke dalam pelukan.

“Lepasin gue ky… lepasin… Hikz! Hikz!” Hesty sedikit berontak. “Gue emang sadar, kalo gue anak seorang perempuan yang sedang menderita penyakit gila… tapi… setidaknya loe bisa nepatin janji… hikz! hikz!” Lagi! Ricky hanya diam. Dia hanya bisa memeluk sembari mengusap dengan lembut kepala Hesty.

“Loe malu ya… loe malu, punya cewek ibunya gila… iya?” mendengar lanjutan celotehan dari Hesty, membuat Ricky melepaskan pelukannya. Kedua tangannya memegang bahu Hesty. Tatapannya terliat sangat dingin ke wajah gadis itu.

“Dengarkan baik-baik… Aku sama sekali tidak pernah malu dengan apa yang ada pada dirimu. Apa yang terjadi terhadap keluargamu, dan seperti apa asal usul kamu dan juga kondisi kamu sekarang ini.” Hesty terlihat terdiam sambil menahan nafas mendengarkan suara Ricky dengan nada penekanan. “Aku sayang sama kamu, aku tidak memandang kamu seperti yang kamu pikirkan. Aku sayang, karena kamu layak untuk di sayang.”

“Jadi… jangan pernah berfikir jika aku malu karena mempunyai calon istri, dan calon ibu mertua yang saat ini sedang sakit.

Aku menyayangi kamu apa adanya..

Kamu segalanya bagiku Hesty…

Kamu adalah perempuan pertama yang hadir di dalam hidupku. Membuatku bahagia seperti ini, membuatku tak lagi membenci keadaanku yang sebelumnya… membuatku selalu tersenyum, bahkan tiap detik, ketika aku memikirkanmu… aku selalu tersenyum”

“Ta-tapi-“ Hesty mulai bersuara dengan pelan.

“Maafkan aku… sebetulnya aku menahan agar Pak Rosadi tidak ikutan masuk tadi, kamu tahu… aku belum mengatakan kondisi ibu kamu ke ayahku. Tapi, aku janji akan aku ceritakan semuanya ke ayahku dalam waktu dekat. Aku harap kamu masih bisa sabar, karena ini bukan hal mudah untuk di ceritakan, dan pemikiran ayahku berbeda dengan pemikiranku. Aku dan ayah, orang yang berbeda. Dan selalu bertolak belakang!”

“Ke-kenapa loe bi-bisa sayang ma gue?”

“Karena kamu Hesty… karena kamu, bukan perempuan lain.” balas Ricky dengan cepat.

“Ka-kalo gue bukan Hesty… apa lo-loe akan tetap sayang ma gue.”

“Iya… aku akan sayang.”

Hesty membelalak. Ekspresinya berubah. “APA?”

“Kamu kenapa lagi?”

“Sekarang jawab pertanyaan gue… gue hanya sekali ini aja bertanya, dan harus di jawab dengan jujur.”

“Hmm!”

“Loe itu sayang sama diri gue… atau sayang dengan gue yang punya nama Hesty sih?” Mendengar pertanyaan dari Hesty, kening Ricky mengerut. Dalam hati ia mencoba untuk mencerna pertanyaan dari Hesty tersebut. “Ayo jawab.”

“Aku sayang sama kamu, dan juga Hesty.”

“APA?”

“Loh… katanya hanya sekali doank nanyanya… kok kenapa-“ belum sempat menyelesaikan ucapannya, Hesty menyela dengan cepat.

“Iya… sebelum gue dengerin jawaban dari elu… berarti loe sayang ma dua orang donk.” Kata Hesty sambil menggerutu.

“Gak tuh.”

“Terus apa donk namanya?”

“Aku sayang kamu… karena kamu Hesty, bukan perempuan lain.” Jawaban Ricky masih saja konsisten.

“Arghhhhhhhhhhhh!” Hesty menguccak-ngucak rambutnya sendiri, kedua kakinya bergantian menghentak-hentak di bawah. Jawaban dari Ricky, tentu saja menurut Hesty sangat aneh. Dan juga Hesty merasa tidak puas. Tatapannya menyipit, dan bibirnya bergerak seakan menggerutu pelan.

“Udah gak marah lagi kan? Udah gak sedih lagi kan?”

“Tau ah… sana, jangan deket-deket gue. Deketin aja cewek loe yang bernama Hesty sana.” Sedetik kemudian, Hesty tersadar atas apa yang baru saja ia katakan. “Oopsss! Kan Hesty itu gue…” lanjutnya sembari jari telunjuknya menunjuk mukanya sendiri. PLAK! Lalu, ia memukul kepalanya sendiri di hadapan Ricky. “Nama gue juga Hesty… terus, loe sukanya Hesty yang mana?”

“Hesty yang ini…” Jawab Ricky, kedua tangannya masih memegang pundak Hesty. Ia maju makin mendekat ke Hesty.

“Waaaaaaahhh! Waaaaaahhhhh! Jangan deh… ini tempat umum, masa iya loe mau nyium.”

“Terus masalah gitu?”

Mata Hesty membelalak. “Hei! Ini tempat umum bi-“ Cup! Terlambat. Ricky sudah menyentuh bibirnya tipis, hanya bersentuhan saja. Kemudian Ricky melepasnya. Ricky sama sekali tak malu, meski banyak orang yang melihat kejadian tersebut.

“Ceguk! Ceguk! Ceguk!” leher Hesty tampak tertantang, ia menahan nafas. Dan juga sudah cegukan karena mendapat ciuman dadakan dari Ricky.

“Kamu cegukan lagi… sini aku obatin.”

Cup! Dua kali Ricky mencium bibir Hesty. Dan dua kali itu juga tubuh Hesty seakan kaku dan tak dapat berbuat apa-apa.

Dua detik kemudian…

“ARGHHHHHHHHHHH COWOK SIAAAAAL!” Seketika juga, Hesty berteriak. Ia menyentakkan kaki, kemudian melangkah meninggalkan Ricky yang menatapnya dengan senyuman tertahan. Dan akhirnya Ricky mengejar langkah Hesty sambil geleng-geleng kepala.

Di dalam mobil…

Tampak Ricky baru saja menjalankan mobil, sedangkan Hesty diam memandang ke depan dengan jantungnya yang mulai berdebar-debar. Pikirannya saling silang menyilang, kadang mikir tentang sang ibu, kadang mikir ke mesuman dan juga sikap semena-mena nya Ricky selama ini. Selalu saja mencium bibir Hesty tanpa main permisi.

“Makan yuk!” Ricky akhirnya memecah keheningan.

“Tau ah.”

“Loh… masih marah?”

“Yah marah lah, masa iya loe nyium gue di depan banyak orang sih.” Jawab Hesty sambil menoleh ke samping.

“Jadi kalo gak banyak orang, kamu bisa di cium lagi donk?”

“Oopsss!” Hesty menutup mulutnya sendiri. Lalu, telapak tangannya ia pukul-pukulkan ke mulut. Pug! Pug! Pug! “Enak aja… gak boleh.”

“Ohhh itu kalo ngizin kan? Kalo langsung nyium, boleh kan?”

“Cowok sial… dasar mesum, beraninya di depan banyak orang… mesum itu jangan setengah-setengah…”

“Maksud kamu?” tanya Ricky sambil menoleh dan membalas tatapan dari Hesty.

Hesty memiringkan kepalanya. Lirikannya menyamping, sambil senyumnya mulai terlihat menyebalkan menurut Ricky. “Hihihi! Di suruh ngentotin gue aja, loe gak mau… dasar!”

“WHAT?” Ricky membelalak kaget. Dia tak menyangka Hesty bisa mengatakan itu. “HEI! Kalo ngomong itu jangan jorok gitu.”

“Jorok?”

“Iya.”

“Gak tuh… emang gue bilang, berak! Tai! Kentut…? tidak kan? Kalo gue bilang itu mah, baru loe bisa bilang jorok tau… Hadehhhhh!”

“Errrrrrr!”

“Lah malah dia yang kesal sendiri… dasar cowok cemen!”

“Errrrr!”

“Hahahahaha, jangan gitu ah. Pengen gue tonjok tau, dengerinnya.”

“Kalo ibu kamu tau, anaknya mesum gini… apa yah bakal ibu lakuin ke kamu?” Tanya Ricky.

“Eh iya. Hahahahah, jangan lah sampe ibu tau. Bisa di gerek gue nya.”

“Alhamdulillah, berarti kamu jangan lagi ngomong gitu. Aku bakal laporin ke ibu kalo kamu suka maksain aku untuk mesumin kamu.”

“Mesumin? Gue kan nyuruh ngentotin gue… kalo mesumin mah, cemen.”

“WHAT DE PAAAAAKKKK! HEIIII KAMU TUH ARGHHHHHH!”

“Lah… malah marah. Dasar cowok perjaka.”

“AKU BUKAN COWOK PERJAKA!”

“Mana buktinya?” tanya Hesty sambil melirik samping. Tampak wajah Hesty makin-makin menyebalkan menurut Ricky. Bahkan tawa gadis itu, sungguh membuat Ricky mengepalkan kedua tangannya yang sedang memegang setir mobil.

“Errrrrr!”

“Tuh kan… gak bisa buktiin, berarti loe emang cowok perjaka.” Balas Hesty. “Cowok perjaka… ck…ck…ck! memalukan.”

“Hei… Hei… Hei”

“Hei Jude…

Hey Jude, don’t make it bad
Take a sad song and make it better
Remember to let her into your heart
Then you can start to make it better” Hesty malah membalasnya dengan bernyanyi.

“Hey Jude, don’t be afraid
You were made to go out and get her
The minute you let her under your skin
Then you begin to make it better” Ricky pun membalasnya dengan syair berikutnya.

“And anytime you feel the pain
Hey Jude, refrain
Don’t carry the world upon your shoulders
For well you know that it’s a fool
Who plays it cool
By making his world a little colder
Na-na-na, na, na
Na-na-na, na

Hey Jude, don’t let me down
You have found her, now go and get her (let it out and let it in)
Remember to let her into your heart (hey Jude)
Then you can start to make it better

So let it out and let it in
Hey Jude, begin
You’re waiting for someone to perform with
And don’t you know that it’s just you
Hey Jude, you’ll do
The movement you need is on your shoulder
Na-na-na, na, na
Na-na-na, na, yeah

Hey Jude, don’t make it bad
Take a sad song and make it better
Remember to let her under your skin
Then you’ll begin to make it better
Better better better better better, ah!

Na, na, na, na-na-na na (yeah! Yeah, yeah, yeah, yeah, yeah, yeah)
Na-na-na na, hey Jude
Na, na, na, na-na-na na
Na-na-na na, hey Jude
Na, na, na, na-na-na na
Na-na-na na, hey Jude
Na, na, na, na-na-na na”

“HAHAHAHAHAHAHAH!”

“HAHAHAHAHAHAHAH!”

“Kok malah nyanyi sih.”

“Lah elu… malah ladenin gue.” Balas Hesty.

“Dasar gila.”

“Dasar Sial! Oopsss!” balas Hesty membuat mereka tersenyum kembali.

“Syukurlah, kalo kamu udah gak sedih lagi.” Gumam Ricky yang akhirnya bisa bernafas lega tak melihat kesedihan di wajah Hesty kayak tadi lagi.

“Eh iya yah. Kan gue tadi pengen ngambek.”

“Ngambek?”

“Hu Uh!”

“Karena?”

“Ya iyalah, kan loe dah janji… mau ketemuan ma ibu, tapi loe malah gak masuk-masuk.” Jawab Hesty di sertai dengusan kesal darinya.

“Iya… aku minta maaf sayang, kondisinya yang tidak memungkinkan tadi… Tapi aku janji, besok aku akan bertemu dengan ibu kamu. Meski kamu masih kerja, aku akan menemuinya sendiri dan meminta izin untuk menjaga anak gadisnya yang super mesum ini.”

“Wah wahhhh! Jangan bilang loe mau ngelaporin gue-“

“Emang”

“Sial…”

“Hahahahaha, gak lah sayang. Aku serius, Cuma ingin meminta izin untuk hubungan kita… aku gak akan pernah ingin berpisah denganmu… aku sayang kamu, Ty!”

“Duhhh so sweeetttttt!” Hesty menggerakkan kedua tangannya, di dekapkan di depan dada, dan posisi telapak tangan yang telah terbuka berlawanan arah, posisinya di dekatkan ke dagunya.

“Aku serius.”

“Iya Ky, gue percaya kok.”

Ricky meraih tangan Hesty, dan ia menggenggamnya sesaat. Setelahnya, ia mencium punggung tangan Hesty yang masih berada di genggamannya.

“Percayalah… aku tak akan pernah melepaskanmu. Karena kamu milikku… kamu adalah Hesty-ku… Aku akan menyayangi kamu, selamanya.” Mata Hesty tiba-tiba berkaca-kaca. Tentu saja, dia percaya semua yang di katakan oleh Ricky. Bahkan sama sekali Hesty tak meragukan akan hal itu.

“Kenapa kamu nangis?”

“Gak… gue Cuma bahagia doank, ini bukan nangis karena sedih kali… ihhhh kamu mah, bikin rusakin suasana aja.”

“Rusak suasana?”

“Hu uh”

“Dasar…”

“Hehehehehe… gue bahagia Ky, gue juga sayang banget ma loe. Gak tau, gue bakal gimana kalo di kemudian hari, loe ninggalin gue.”

“SUMPAH DEMI ALLAH! Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu.”

“Gue percaya kok.”

Mereka tersenyum bersama. Baik Hesty maupun Ricky, tak ingin kebahagiaan mereka kali ini pergi begitu saja.

Memang benar, Ricky sangat menyayangi Hesty. Bahkan dia pun tak memungkiri jika dia sangat-sangat mencintainya. Kepolosannya, keceriannya, juga kemandiriannya, semua yang di miliki Hesty lah yang membuat Ricky mencintai dirinya. Ricky tak pernah ragu. Dia tak salah memilih seorang perempuan. Bahkan dia telah berniat, untuk meminang gadis ini dalam waktu dekat.

Setelah acara syahdu nan membahagiakan ini, Hesty lalu menoleh kembali ke Ricky.

“Oh iya…”

“Kenapa sayang?”

“Besok mau ketemu ibu gak?”

“Kan aku udah bilang, aku yang akan ke sana besok.”

“Hihihi, berani emang?”

“Berani donk.”

“Ya sudah, kalo gak mau di temenin ya bagus lah.”

“Hehehe, kan emang harus berani kan sayang. Namanya juga calon mertua.”

“Cie…cie.”

“Dasar!”

“Eh kalo mau kesana, langsung aja nanya ke susternya… biasanya sih, ibu duduk-duduk di dekat taman.”

“Oh gitu.”

“Eh astaga… loe kan gak tau nama ibu gue.”

“Iya.”

“Tanya aja Ibu Nurhayati… kamar 44” Ricky mengernyit sesaat. Mendengar nama ibu Hesty, pikirannya mulai terganggu. Namun itu hanya sesaat saja, karena menurut Ricky, mungkin kebetulan saja namanya sama.

“Oh gitu.” Balas Ricky, masih berusaha tenang.

Dan!

Hesty mengambil dompet dari dalam tas, lalu mengeluarkan dompetnya.

“Hmm, lebih bagusnya lagi kalo loe udah liat mukanya ibu…” gumam Hesty sembari mengeluarkan sesuatu dari dompetnya.

“Nih…” Lanjutnya memberikan ke Ricky.

“Apa nih.” Kata Ricky, menerimanya tanpa mengalihkan pandangan dari jalan di depan. Karena kebetulan kondisi jalan, tiba-tiba sudah macet.

“Foto ibu…”

“Ohhh…” gumam Ricky lalu mulai melihatnya. “Ini calon mertu-“ DEGH!!!

Still Continued

END – Tiba Tiba Saja Part 20 | Tiba Tiba Saja Part 20 – END

(Tiba Tiba Saja Part 19)Sebelumnya | Selanjutnya(Tiba Tiba Saja Part 21)