Tiba Tiba Saja Part 2

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21

Tiba Tiba Saja Part 2

Start Tiba Tiba Saja Part 2 | Tiba Tiba Saja Part 2 Start

Seharian ini Ricky disibukkan dengan meeting bersama salah satu klien bisnis perusahaan milik ayahnya. Membahas mengenai rencana pembangunan beberapa resort di Pulau Dewata ini.

Berhubung perusahaan ayahnya adalah salah satu perusahaan yang cukup terkenal. Bergerak di bidang Kontruksi Bangunan, yang selama ini banyak menangani pembangunan sarana maupun prasarana yang meliputi pembangunan gedung (building construction), pembangunan prasarana sipil (Civil Engineer), dan instalasi mekanikal dan elektrikal. Baik di dalam kota Makassar maupun di luar Kota Makassar. Yang jelas kali ini, kembali PT. RICKY KARYA KONTRUKSI di percaya oleh salah satu investor asing untuk menangani proyeknya membangun 2 resort besar nantinya yang terletak di daerah Ubud.

Hasil meeting jelas telah menghasilkan perencanaan untuk kegiatan konstruksi.

Hadir dalam meeting tadi, salah satunya konsultan perencana (team Leader) dan juga kontraktor konstruksi yang merupakan manajer proyek/kepala proyek yang memang sengaja datang jauh-jauh dari Makassar. Yang juga telah merencanakan bersama Ricky selaku Direktur Operasional nantinya, menunjuk beberapa subcont yang akan membantu mereka menangani big proyek ini. Dimana pelaksanaan dilapangan dilakukan oleh mandor proyek yang mengawasi buruh bangunan, tukang dan ahli bangunan lainnya untuk menyelesaikan fisik sebuah konstruksi.

Nantinya untuk pembagian pekerjaan atau pemindahan pekerjaan tersebut dilakukan oleh Pelaksana Lapangan. Tak lupa dalam pelaksanaan bangunan ini, juga diawasi oleh konsultan pengawas (Supervision Engineer). Yang juga telah di tunjuk oleh Ricky.

Setelah berjabat tangan dengan dua orang penunjuk proyek ke pihak perusahaannya, maka Ricky berpamitan kepada mereka untuk pulang.

Lelahnya hari ini, cukup terpuaskan dengan penandatanganan kerjasama yang berhasil penuh diberikan ke pihaknya.

Maka…

Ricky pun telah membelah jalan, menuju ke rumah. Dan ketika berada di stopan, ponsel Ricky berdering tanda adanya panggilan masuk.

Melihat siapa yang menelfon, Ricky hanya bisa menghela nafasnya. “Ayah…” ia berguman.

Maka Ricky menyentuh tombol ‘Yes’ di layar, “Halo yah…”

“Udah selesai meetingnya Ky?” Tanya sang ayah di seberang.

“Iya sudah… Ini Ikky udah otw pulang ke rumah.” jawab Ricky.

“Hmm, deal gak?”

“Deal donk… hehehe,” Jawabnya terkekeh.

“Ohhh berarti malam ini, kamu harus ke Ubud… Biar besok pagi kamu bisa cek lokasi yang akan kita bangun nantinya.” Baru juga ingin bernafas lega, tapi sepertinya ia masih harus mengurungkan niatnya untuk bersantai.

Ricky mengernyit sesaat, rasa kesal dan gemas terhadap ayahnya menderanya. “Harus sekarang gitu yah? Aishhhh… Gak bisa besok gitu?”

“Lebih baik malam ini kamu kesana… Biar kamu bisa cek lokasi pagi-pagi. Karena takutnya kamu kalo di Denpasar dan besok baru ke sana, bisa kesiangan Ky.”

“Fiuhhh… Tapi yah-”

“Udah gak usah nolak… Atau ayah malah narik kamu ke Kantor Makassar? Iya!”

Ricky mendengus kesal, “Uhhhhhh!… Jangan donk… Hehehe,” kata Ricky di akhiri dengan suara nyengir, menampakkan deretan gigi putih bersih miliknya. “Bosan ma suasana di Makassar. Hehehe, biarin aja Ikky nanganin di sini yah.”

“Ya sudah… Berarti kamu ke Ubud sekarang.”

Pilihan yang sulit menurut Ricky, “Aishhh yah… ikky pulang mandi doloe kali yah,”

“Kan bisa mandi di Vila pribadi kita nantinya kan. Kamu nginapnya disana aja, gak usah sewa hotel”

“Iya deh…” Tak ingin panjang obrolan dengan ayahnya, maka dengan berat hati, Ricky pun mau tak mau harus tetap mengikuti perintah sang ayah. Karena ia tak mau pulang Makassar. Kota mati tanpa hiburan apapun menurut Ricky.

Sudah 3 tahun ini, setelah menyelesaikan kuliahnya di luar negeri. Ricky yang kembali ke Makassar kala itu, tak nyaman selama berada di Makassar.

Udara Panas, debu, dan juga tak ada hiburan malam hari. Membuat Ricky makin bosan. Ketika itu, sang ayah yang menyadari ketidak betahan sang putra semata wayangnya di Makassar. Maka ayah-nya menawarkan untuk mengelola cabangnya yang ada di pulau Bali.

Dan hingga saat ini Ricky telah betah sebetah-betahnya tinggal di sini. Yang mengharuskan untuk berangkat ke ubud malam ini. Dari pada ia kembali ke Makassar lagi.

Ia terdiam sesaat…

“Astagaaa…” Lalu tampak baru saja menepuk jidatnya sendiri, ketika menyadari mobilnya mengarah ke rumah.

Kenapa ia harus pulang rumah dulu yah? “Ahhh… Pilihan yang salah, kenapa gak langsung kesana aja yah?” gumamnya sendiri.

Lalu, ia pun berbelok ke kanan. Dimana mobilnya berputar arah dan langsung menuju ke Vila pribadi nya yang terletak di daerah ubud.

~•○●○•~

Di tempat berbeda…

Sore ini para rombongan Hesty telah selesai mandi. Sedang menunggu kedatangan jemputan mereka.

Tak lama tampak sebuah bus tiba di depan hotel tempat mereka menginap. Dimana para rombongan juga telah menunggu kedatangan bus sejak tadi. Tak sabar ingin menikmati suasana berbeda dari saat ini. Segera berjalan keluar dari lobby hotel.

Yah, Malam ini, para rombongan Barista Cafeta akan makan malam di daerah Ubud.

Hesty dan kedua sahabatnya pun yang sejak tadi berdiri di pintu lobby hotel. Sesaat saling menoleh. Dewi mengernyit, ketika mendapati ekspresi Hesty menahan senyum sesaat sebelum akhirnya… “Ubuuuuuddddd i’m cooming!”

Dewi dan Risna saling menatap, melongo ketika mendengar suara teriakan dari Hesty yang memekikkan kedua kuping mereka.

“Busyet dah nih anak…” Risna segera menarik lengan Hesty sambil melototkan mata. “Loe ihhh…”

Bersamaan juga hampir semua mata langsung menoleh kepada Hesty.

Mendapat tatapan aneh dari kawanannya, Hesty pun langsung nyengir. “Oopss!!! Sorry…” Lalu menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya.

“Ty… Ty!” Gumam Dewi, terlihat hanya geleng-geleng kepala. Dalam hati berkata, biar bagaimana, melihat Hesty kembali ceria seperti ini ia bersyukur jika sahabatnya ini sudah melupakan kejadian tadi. Dimana saat mereka sedang bersepeda, tak sengaja menabrak mobil yang sedang parkir.

Menurut Dewi, untung saja ada cowok baik yang tak mereka kenal. Membantu gadis itu untuk membayar seluruh biaya perbaikannya. Jika tidak, maka apeslah liburan mereka bertiga, gara-gara kecerobohan gadis itu.

Dan juga, dalam hati Dewi bertanya-tanya siapakah pria tadi? Lamunan Dewi buyar, ketika Hesti menggandeng bahunya. “Melamun aja dari tadi… Yuk buruan biar kita dapat tempat di pinggir jendela, Wi…”

“Eh iya… yuk.” ketiganya segera berlari menuju ke bus.

“Minggiiiiirrrr….” Teriak Hesty.

Dan beberapa kawanannya yang memang telah mengetahui kebiasaan ketiga sahabat itu yang memang paling rese. Maka mereka semua hanya diam membiarkan apa yang dilakukan oleh ketiganya.

Berbeda dengan salah satu gadis yang tampak berdiri menatap ketiganya dengan tatapan sinis dan setelahnya mencibir atas kelakuan mereka yang tau malu. “Dasar Katro…”

“AIR PANASSS… MINGGIR… MINGGIR,” Hesty kembali berteriak ketika tiba di pintu mobil, dan bersamaan juga kawanan yang ingin naik ke mobil pun akhirnya menyingkir. Bugh!!! “Sorry ces sengaja!!! Hehehe…” lanjut Hesty ketika menyambar bahu kawannya yang cowok.

“Hei Ty, astaga kayak takut ketinggalan bus aja loe ah!” celetuk cowok lainnya.

Dan seketika semuanya tertawa, Hesty dan kedua sahabatnya pun ikut tertawa sambil beriringan naik ke atas bus.

“Santai beroooohhh!” kata Hesty menepuk pundak cowok yang menegurnya tadi.

“Elu sih… Grasak grusuk banget.”

“Hehe, biarin… Bos aja gak komplain kok,” jawab Hesty sambil terkekeh.

Setelah memastikan tak ada lagi yang tertinggal, maka bus akhirnya jalan perlahan-lahan meninggalkan hotel.

Hesty tampak menoleh ke samping yang kebetulan duduk di pojok, sambil kepalanya bersandar di kaca. Senyumnya terkembang ketika melewati beberapa bangunan-bangunan berbentuk pura. Beberapa bule pun tampak berlalu lalang sepanjang jalan yang mereka lewati.

“Cakeppp…” Gumam Hesty saat melihat bule-bule cowok berjalan kaki.

Dewi mengernyit, mendapati Hesty seperti kehilangan suara. Benar-benar anak ini, diam tanpa mengajak Dewi mengobrol.

“Tumben loe diem…” kata Dewi sambil menoleh, yang kebetulan duduk di samping Hesty.

“Hehe… Lagi nikmatin perjalanan.” jawab Hesty memasang ekspresi lucu. Sambil bibirnya sedikit manyun.

Risna yang mendengar, menoleh ke belakang karena kebetulan gadis itu duduk di samping teman cowoknya di depan Hesty dan Dewi. “Halah… Paling dia nahan biar gak muntah. Hahahaha,” Mendengarnya Dewi hanya tersenyum. Sedangkan Hesty nyengir.

“Tau aja loe Ris. Hihi,” jawabnya terkekeh.

Mereka kembali terdiam…

Hesty benar-benar mencoba menikmati perjalanan kali ini. Dimana sepanjang jalan menuju ke Ubud, benar-benar mereka di sugukan pemandangan laksana memasuki sebuah alam yang akan selalu memanjakan mata mereka dengan berbagai spot-spot hiburan buat para wisatawan baik yang dari luar maupun dalam negeri.

Di tambah lagi pengaruh alamnya sudah terasa oleh Hesty dan juga kedua sahabatnya, meski Dewi bukanlah pertama kalinya datang ke tempat ini. Yang bikin lengkap suasananya adalah backsound tipis dalam bus, memperdengarkan musik suara gamelan yang sayup-sayup memasuki telinga mereka.

Tak banyak obrolan di antara mereka, karena perjalanan sudah berada di jalan sedikit berkelok-kelok. Baik Hesty maupun beberapa orang lainnya khususnya cewek, memilih diam agar tak muntah.

Beberapa saat kemudian…

Akhirnya mereka telah tiba di sebuah resto/ rumah makan yang tampak dari luar telah berdiri beberapa pahatan patung, bunga-bunga kental khas pulau dewata.

Saat merek turun dari mobil, tampak Hesty menggesek-gesek hidungnya menggunakan jari tangannya. Yang ternyata hidungnya mencium aroma wangi dupa. “Busyet… Bau apa ini?” gumamnya pelan.

“Hushhh! Berisik loe ah! Jangan bikin malu, Awas.” Kata Risna, dan Hesty hanya memanyunkan bibirnya.

Wangi dupa, dan suling Bali begitu meresap merasuki pikiran. Seketika juga, Hesty merasakan sedikit ketenangan diri dan menurunkan ketegangan setelah menahan muntah sejak perjalanan tadi.

“Arhhhhhhh…” Hesty mengerang, meregangkan kedua tangan ke atas.

Risna yang mengetahui apa yang dilakukan Hesty memilih berjalan cepat, karena ia tak ingin berada di dekat Hesty. Karena, pastinya gadis itu akan berteriak kayak pas keluar dari hotel tadi.

Namun ternyata apa yang dia khawatirkan tidak terjadi.

Risna sesaat menoleh ke belakang. “Hei… Yuk!” panggilnya kepada Dewi dan Hesty yang masih berdiri melihat ke sekeliling.

Dewi mengangguk. “Ty… Yuk!” lalu menyenggol lengan Hesty ketika berada di sampingnya.

“Hayo… eh Si bos kemana?”

“Udah masuk keles tuh ma anak-anak…” jawab Dewi sambil menunjuk ke arah pintu masuk resto.

“Oh iya… Hehehe”

“Makanya jangan kebanyakan melamun… Ntar kerasukan Leak baru tau rasa.” mendengar itu, tubuh Hesty merinding. Ekspresinya telah berubah aneh, dan tampak Dewi menatapnya dengan menahan tawa.

“Hahahahah… Muka loe Ty. Baru juga gitu, udah keder…”

Hesty menghela nafas. “Aihhhh… Loe ah Wi, bikin gue takut aja.” kata Hesty.

“Udah yuk…” Dewi melangkah meninggalkan Hesty yang masih berdiri kaku.

Dan menyadari sahabatnya telah berjalan, Hesty melongo lalu akhirnya berlari mengejarnya. “Wi tunggu…”

Dewi hanya menoleh ke belakang, tanpa menghentikan langkahnya.

Tempat makan malam mereka kali ini, di Teras Padi Café, sebuah resto yang terkenal di Tegalalang. Resto ini bertempat di dinding bukit sehingga tingkatan bangunannya menurun mengikuti kontur tanah. Dan juga harga di Teras Padi Café sangat bersahabat.

Beberapa saat, akhirnya para rombongan telah duduk di meja yang telah di gabung menjadi panjang. Duduk mengelilingi meja, dengan hidangan makan malam dengan berbagai menu.

Tampak Hesty mengernyit sesaat, melihat menu makan mereka semuanya menu seafood. Adalah jenis makanan yang tidak terlalu di sukai oleh Hesty.

Namun, ia sadar…

Ia harus menerima dan mencoba mencicipi makanan kali ini, dari pada menahan lapar menurutnya.

Makan malam pun telah di mulai. Di awali dengan bacaan doa yang di pimpin oleh owner cafe. Setelahnya semua mengambil berbagai menu dan juga ada yang sengaja tak makan nasi.

Obrolan ringan pun terjadi, begitu juga Dewi yang duduk di samping Hesty sesekali menoleh.

“Gue paham, loe pasti gak selera makan kan?”

“Hehe, tau aja.” Jawab Hesty yang makan sekadarnya saja.

“Udah… loe makan ikan saja.” Kata Dewi sambil mengambil ikan goreng lalu menunjukkan di hadapan Hesty. “Nih… loe suir-suir aja,”

“Iya.” Jawab Hesty, lalu dengan garpu ia mencubit kecil bagian perut ikan goreng tersebut.

Risna hanya menoleh, dan menggelengkan kepala melihat tingkah Hesty di sampingnya. Yah, posisi Hesty di apit kedua sahabatnya.

Maka, obrolan ringan pun antara ketiganya mulai terjadi.

Banyak hal yang mereka obrolin sambil menikmati makanan mereka, kecuali Hesty. Yang berusaha memaksa makanannya untuk masuk ke mulut.

Karena apa yang tak ia inginkan, semuanya malah terhidang di meja.

Meski begitu, ada satu menu yang sedikit melegakan dirinya. Yaitu sayur asam. Yah, Hesty memperbanyak kuah asam dan juga dua biji jagung. Dan suir-suiran ikan, dengan sambal merah juga telah berada di piringnya.

Lalu…

Tiba-tiba Dewi merasa Hesty duduknya jadi gelisah. Bergerak-gerak, dan wajahnya menoleh ke kiri dan kanan. Seakan mencari sesuatu. Di tambah lagi, yang memang pada dasarnya Hesty berkulit putih. Wajahnya tampak memerah.

“Kenapa loe?” tanya Dewi mengernyit ke Hesty.

“Fiuhhhh…” Hesty menarik nafas sesaat, lalu menarik pundak Dewi. Dan ketika merapat, Hesty membisikkan ke telinga Dewi. “Gue mau boker… sakit perut, gegara nih sambal.”

“Yah astagaaa…” Dewi melongo, tergagap ketika mendengar bisikan Hesty.

“Hushhh… jangan berisik napa Wi,” bisik Hesty kembali.

“Elu… orang lagi makan, malah-“ Mulut Dewi segera di bungkam oleh Hesty, ketika semua mata melihat ke mereka.

“Kenapa Dewi?” Tanya istri owner.

“Etdah… Katro,” Gumam gadis tak jauh dari mereka.

Hesty hanya menyengir dihadapan semua orang, lalu melepas tangannya yang menutup mulut Dewi. Kemudian menoleh sesaat, melototkan dua mata kepada Dewi.

Kemudian kembali menatap ke kawanannya. “Gak apa-apa… Sudah, lanjutin makan lagi.” Katanya sambil nyengir.

Dewi yang kini berbisik. “Sono… ke WC gih,”

“Duhhh… bentar aja, biar selesaiin dulu makanannya.” Jawab Hesty sesaat, lalu mempercepat menghabiskan makanannya.

“Awas loe mencret.” Bisik Dewi selanjutnya.

“Gak bakal lah. Hehehe,” Jawab Hesty terkekeh.

Setelah selesai menghabiskan makanannya, dan tampak juga beberapa lainnya pun telah menyelesaikan makanan. Ada yang berpamitan sebentar untuk ngudud. Ada juga yang ingin berdiri sesaat, dan kini Hesty menarik kembali tubuh Dewi mendekat.

“Wi… gue ke toilet dulu yah, mau boker nih.” Bisik Hesty.

“Ya udah buruan.”

“Hehehe, sippp… sakit banget nih perut. Keknya gue pen mencret.”

“HOI… Sopan, gue masih makan!” kata Dewi.

“HAHAHAHAHAHAHA…” Hesty segera beranjak berdiri, lalu melangkah cepat menuju ke toilet.

Setengah jam kemudian…

Mengingat waktu telah menunjukkan pukul 9 malam, maka owner mereka berdiri dan berjalan menuju ke kasir.

Setelahnya ia kembali, dan mengatakan kepada rombongan alangkah baiknya mereka pulang sekarang. Karena mengingat perjalanan menuju ke hotel tempat mereka menginap membutuhkan waktu sejaman. Dan juga, agar mereka dapat waktu yang banyak untuk berputar-putar nantinya di Denpasar.

Para rombongan akhirnya mengiyakan saran dari ownernya. Dan tampak satu persatu telah berjalan keluar dari resto.

“Eh Hesty kemana?” tanya Risna.

“Eh iya… astaga, tuh anak masih di toilet deh kayaknya.”

“Mau cek di toilet atau?”

“Udah… paling juga, dia kalo liat udah gak ada orang langsung keluar.” Jawab Dewi.

“Ya sudah.” Kata Risna, lalu keduanya ikut berjalan keluar.

Saat melangkah keluar, ponsel Risna berdering.

Dewi menoleh. “Siapa?”

“Biasa, si Cullang nelfon.” Jawabnya menyebut nama kekasihnya yang ada di Makassar. Lalu, tampak Risna baru saja mengambil headset dari dalam tas kecilnya, kemudian memasangnya di kedua kupingnya.

“Ohhh, yah sudah loe jawab gih.”

“Hehehe, iyalah.” Kata Risna, lalu menjawab telfon dari sang kekasih. Sambil masih berjalan menuju ke Bus.

Saat naik, Risna masih saja sibuk mengobrol dengan kekasihnya di telfon. Dewi sesaat hanya menggelengkan kepalanya. “Dasar… Kalo dah nelfon, lupa ama kawannya.”

Risna yang sempat mendengar sayup-sayup cibiran Dewi, hanya mengangkat dua jarinya membentuk ‘Piss’ dihadapan Dewi. Bersamaan mereka duduk di kursi masing-masing.

Dewi hanya bisa menghela nafas, dan sesaat menoleh ke arah pintu masuk resto dari balik jendela. “Fiuhhh, nih Hesty gini nih… Kalo dah boker, lama banget!” gumamnya.

Dan kini ia telah menyandarkan tubuhnya ke kursi. Berasa kedua matanya sedang tertiup-tiup udara dalam bus yang memang dalam kondisi AC on.

Sayup-sayup…

Penglihatannya mulai memudar, seiring dengan matanya mulai terpejam. Risna, yang menyadari tak ada pergerakan di belakangnya. Menoleh sesaat.

“Ck…ck…ck, kebiasaan. Habis makan, langsung tidur. Hehehe,” Gumam Risna, dan terdengar suara di seberang yang masih menelfon menanyakan siapa? Kamu ngomong ma siapa? Dan Risna, kembali duduk seperti semula sambil nyengir. “Hehehehe, gak sayang. Tuh si Dewi, habis makan langsung molor.”

“Ya udah… lanjut lagi sayang…” Akhirnya, Risna kembali larut dengan obrolan bersama kekasihnya.

Melupakan sesuatu…

Begitu juga Dewi, yang juga telah berada di alam mimpi…

~•○●○•~

Hesty yang baru keluar dari WC, tampak berdiri di depan westafel sambil membasuh wajahnya yang telah tampak lemas tak berdaya.

Sudah tiga kali, ia keluar masuk ke toilet karena perutnya yang masih saja sakit.

“Duhhhh… kenapa sih nih perut gak bisa di ajak kompromi tadi,” Gumamnya, sambil mengusap perutnya sesaat. Kemudian kembali berkaca.

Ia membuka mulut, melihat giginya yang mungkin ada keselip makanan. Ia pun tersenyum ketika tak mendapati apa-apa di giginya.

Saat setelah menyeka wajah dengan tissue, Hesty merasakan perutnya agak sakit. Namun, awalnya ia mencoba menahannya mengingat ia cukup lama berada di toilet. Bolak balik sampai tiga kali buang air besar.

Namun…

Bruuuttt!!! Preeetttt!!! “Waduh…” Hesty terbelalak, sambil menutup mulut dan hidungnya sendiri, ketika mendengar suara kentut. “AGAINNNN! Sue…” Umpatnya ketika menyadari suara kentut dan bau tak sedap berasal dari dirinya sendiri.

Kemudian kembali berlari masuk ke dalam toilet, karena merasakan perutnya kembali sakit.

15 Menit kemudian, ia keluar dari toilet dengan tubuh yang benar-benar telah lemah letih dan lunglai.

Sambil memegang perutnya sendiri, Hesty masih sedikit merasakan belum ada tanda-tanda rasa sakitnya bakal hilang saat ini.

Dan benar saja. Pretttt!!! Bruuuuttt! “FAK!!! Again… Duh Hestyyyyyyy.” Ia pun kemudian berlari masuk kembali ke toilet.

Bahkan ini sudah ke tujuh kalinya ia bolak balik toilet, hingga perutnya tak lagi merasakan sakit.

Dalam diamnya…

Hesty tampak memikirkan sesuatu, lalu dikeluarkannya ponsel dari dalam saku celana depan.

Matanya terbelalak, dan mulutnya menganga ketika melihat jam di ponselnya. “Waduh!!!” Ternyata tanpa sadar ia telah sejam berada di toilet.

Maka secepatnya ia berlari keluar. “Eh!!!”

Seketika, ia pun mulai panik tak mendapati rombongan di tempat mereka makan tadi.

Benaknya mulai khawatir, jangan-jangan para rombongan sudah meninggalkannya sendiri di resto ini.

Maka, ia pun berlari keluar dari resto dengan perasaan yang penuh kepanikan, dan juga ketakutan jika saja benar ia telah di tinggalkan.

Dugh!!! Dugh!!! Dugh!!! Jantungnya telah berdetak makin kencang, ketika tak mendapati bus yang di tumpangi menuju ke resto ini. Dan juga, para rombongannya pun telah tak berada di sekitaran depan resto.

Tubuh Hesti bergetar, gemetar menahan rasa sesak di dadanya.

Benar-benar ia terkejut, dan juga telah berfikir jika dirinya telah di tinggalkan oleh Bus dan para rombongannya.

Sambil melangkah perlahan-lahan, Hesti memegang dadanya. Kedua matanya telah berkaca-kaca. Di tambah lagi, ia tadi sengaja tak membawa dompet. Yah, karena memang kebiasaan dia selalu sengaja seperti itu agar kedua sahabatnya yang membayar jika memerlukan sesuatu.

Maklum, hidup sebatangkara dengan sang ibu yang sedang di rawat di RS Dadi Makassar. Membuat dirinya harus melakukan pengiritan seminim mungkin.

Ini salah sambal yang tadi ia makan…

Dalam hati, telah mengumpat menyalahkan makanan yang telah ia makan. Mengakibatkan ia sakit perut, dan berlama-lama di toilet tadi tanpa memikirkan para rombongan yang tadi di resto.

Kemana ia harus melangkah kaki saat ini?

Sedangkan ia tak mengetahui saat ini sedang berada dimana, tak mengenal daerah sini. Yang ia tau, hanyalah ‘Ubud’. Yap, hanya itu saja.

Kemudian, ia menarik nafas dalam-dalam. Mengambil ponsel dalam saku. Dan…

Tut…Tut!!! Suara notif yang menandakan jika ponselnya sedang lowbat. “SIAL!” Umpatnya ketika ponselnya telah mati.

Sudah…

Tamatlah riwayatnya saat ini.

Ia benar-benar bingung harus bagaimana, harus kemana, dan juga harus melangkah ke arah mana.

Maka, ia memutuskan untuk tetap berjalan dengan pandangan kosong ke depan.

Dan berharap, jika ada orang atau mungkin rombongannya masih belum jauh meninggalkannya.

Berjalan terus tanpa ketahui arah langkahnya mengarah pulangkah, atau malah semakin jauh dari jalan pulang?

Sambil berjalan, sesekali ia menoleh ke samping kiri dan kanan. Berharap adanya keajaiban dari Allah untuk menolongnya malam ini.

Namun, semakin ia berharap semakin besar rasa ketakutan menderanya.

Matanya masih saja berkaca-kaca…

Apalagi, tampak beberapa ruko di pinggir jalan mulai tertutup. Mengingat kondisi saat ini telah larut malam.

Menurut Hesty, mungkin sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 10:30 malam.

Sudah sangat jauh langkahnya meninggalkan resto tadi. Dan sesekali juga, ia berhenti berjalan menanyakan jalan ke Denpasar.

Semua orang yang sempat di tanya, mengernyit dan heran.

Sempat juga ada yang bertanya, apakah Hesty akan pulang berjalan kaki? Namun Hesty, menjawab karena gengsi. Jika ia sedang janjian dengan teman tak jauh dari posisinya saat itu.

Di tambah lagi udara malam yang begitu dingin menyelimutinya. Meski ia menggunakan lengan panjang, memakai baju yaki-yaki (Monyet-monyet atau apalah namanya, Cek Mulustrasi… TS Say) – (Karena di Makassar sebutannya baju Yaki-Yaki) Namun bawahannya hanya menggunakan celana pendek yang tersambung dengan baju yaki-yakinya. Sedangkan dari arah tak jauh darinya berjalan, sebuah mobil patroli sejak tadi sedang mengintainya.

Dan juga, dari kejauhan terlihat sebuah cafe yang masih dalam kondisi terbuka. Hesty menghela nafasnya sesaat lalu ia berniat untuk singgah sejenak disana, minimal meminjam charger ponsel salah satu pengunjung disana.

Maka, ketika ia ingin melangkah kembali. “Selamat Malam,” DEGH!!!

Hesty terdiam…

Ketakutan yang begitu besar menderanya, ketika membalikkan badan mendapati dua petugas kepolisan telah berdiri di dekatnya.

~•○●○•~​

Sebelumnya…

Seorang pria, yang tak lain Ricky baru saja keluar dari sebuah cafe. Setelah mengisi perutnya, maka setelah membayar di kasir. Ia melangkah keluar dari cafe.

Sebuah mobil JEEP WR miliknya terparkir tak jauh dari pintu masuk. Maka, Ricky memencet remote untuk membuka lock pintu mobil.

Membuka pintu, masuk ke dalam mobil. Meng-on kan mesin mobil, memencet tombol AC dan tak lupa menyambung Iphonenya ke cable yang berada di samping consule box. Seketika, terdengar lagu dari Jason Mraz. Berjudul ‘Lucky’.

Do you hear me,

I’m talking to you

Across the water across the deep blue ocean

Under the open sky, oh my, baby I’m trying

Boy I hear you in my dreams

I feel your whisper across the sea

I keep you with me in my heart

You make it easier when life gets hard

Ricky mulai menjalankan mobilnya keluar dari parkiran cafe. Karena malam ini, ingin rasanya Ricky berendam di Jacuzzi dalam kondisi telanjang bulat.

Ia benar-benar lelah seharian meeting bersama kliennya tadi.

Maka, ia pun tak berminat untuk singgah-singgah dan segera menancap gas menuju ke Villa pribadinya yang terletak berjarak sekilo lagi dari cafe tempatnya makan tadi.

I’m lucky I’m in love with my best friend

Lucky to have been where I have been

Lucky to be coming home again

Oh oh oh oh oh oh oh oh

They don’t know how long it takes

Waiting for a love like this

Every time we say goodbye

I wish we had one more kiss

I’ll wait for you I promise you, I will

Saat mobilnya telah melaju di kecepatan 60Km/jam. Dari arah kejauhan, tampak lampu sirine mobil polisi menyilaukan kedua matanya. Maka, Ricky memperlambat kecepatan mobilnya.

I’m lucky I’m in love with my best friend

Lucky to have been where I have been

Lucky to be coming home again

Lucky we’re in love in every way

Lucky to have stayed where we have stayed

Lucky to be coming home someday

Dan sesaat ia menoleh ke samping. Mendapati dua petugas polisi sedang berbicara dengan seorang gadis.

“Hmm… paling juga lagi nyari mangsa tuh awewe,” gumamnya sesaat, namun masih tetap tak memalingkan pandangannya sesaat.

And so I’m sailing through the sea

To an island where we’ll meet

You’ll hear the music fill the air

I’ll put a flower in your hair

Though the breezes through the trees

Move so pretty you’re all I see

As the world keeps spinning round

You hold me right here right now

Namun…

Ia mengernyit bersamaan melihat dengan jelas wajah gadis tadi. Dan juga posisi mobilnya telah melewati mereka.

“Dia kan???”

I’m lucky I’m in love with my best friend

Lucky to have been where I have been

Lucky to be coming home again

I’m lucky we’re in love in every way

Lucky to have stayed where we have stayed

Lucky to be coming home someday

Oh oh oh oh oh oh oh oh

Oh oh oh oh oh oh oh oh

Ciiiiiitttt!!! Ricky segera menginjak rem kaki. Dan menepikan mobilnya ketika memikirkan sesuatu.

Ia tersenyum sesaat, heran dengan dirinya yang kenapa berhenti tiba-tiba. Namun, rasa mengalahkan logikanya. Ia pun meng-off kan mesin mobilnya.

Membuka pintu, lalu keluar dari mobilnya.

Berdiri menatap tak jauh darinya saat ini.

Kedua petugas yang ia lihat telah memegang lengan gadis itu.

Maka…

Ia pun memasang ekspresi menahan tawa sambil melangkah mendekati mereka.

Saat telah dekat, Ricky mendengar sayup-sayup pembicaraan mereka.

“Kamu gak punya KTP, gak punya tanda pengenal lain… Tapi, kenapa masih berkeliaran malam-malam gini?”

“Maaf Pak… Maaf,”

“Sudah… kamu kami amankan sekarang di kantor, sampai besok ada kerabat yang menjemputmu dikantor.”

“Aduhhh Pak… jangan Pak, saya… saya mau pulang.”

“Sudah… ayo ikut kami sekarang juga.” Polisi satunya telah menarik lengan gadis itu.

Yang karena posisi si gadis sedang membelakangi Ricky. Dan juga, salah satu petugas mengernyit mendapatinya telah berdiri di belakang gadis itu.

Lalu…

“Hei sayang… kamu disini toh, aku keliling nyariin kamu sejak tadi.” DEGH!!! Seketika, Ricky merangkul tubuh gadis itu yang membuat kedua petugas polisi terkejut.

Begitu juga gadis itu, yang awalnya ingin berontak. Namun merasakan jika lengan pria itu mengeraskan pelukan di tubuhnya.

“Eh! Ka-“ Gadis itu seakan mengenalnya. Dan Ricky menyela secepatnya ucapan gadis itu.

“Hehehe, kita pulang saja yuk sayang.” Kata Ricky makin memeluk erat tubuh gadis itu.

Salah satu petugas akhirnya bertanya. “Anda siapa?”

“Oh kenalkan… Saya Ricky Pak, dan ini tunangan saya.” Kata Ricky, sambil melirik ke gadis itu sesaat. “Iyakan sayang?” lanjutnya, sambil memberikan kode dengan mengerlipkan mata kepada gadis itu.

Tampak Hesty tersenyum kecut sesaat. Karena mengetahui, jika dirinya saat ini telah di bantu oleh pria itu. “Eh iya Pak… Hehehe,” jawab Hesty kepada kedua petugas polisi itu.

“Ohhh jadi ini tunangan anda?”

“Iya donk…” Tanpa disadari, Ricky langsung mengecup pipi gadis itu. Cup!!! Degh!!! Gadis itu menahan nafas, lalu menoleh dan menatap mata Ricky dengan kesal. “Eit!!! Yah sudah Pak, kami mau pulang… mau berbulan madu dulu, Iya gak sayang?” Lanjut Ricky dan menggerakkan kepalanya lagi seakan ingin mencium pipi gadis itu untuk kedua kalinya.

Ketika mendapati tatapan tak suka dari gadis itu, Ricky pun memberikan kode dengan kedua matanya seakan berkata ‘bahwa inilah yang memang harus mereka lakukan’. Maka, gadis itu pun pasrah dan menahan nafasnya sesaat. Cup!!! Lagi, Ricky mengecup pipinya.

“Baik kalau begitu… Saya berpesan, untuk tidak lagi membiarkan tunangan anda berkeliaran malam-malam tanpa membawa tanda pengenal seperti saat ini.”

“Siap komandan.” Jawab Ricky memasang senyum aneh.

“Yah sudah, kami permisi. Selamat Malam…”

“Malam…”

“Ma-lam” Gumam gadis itu ikut menjawabnya.

Saat kedua petugas itu telah berjalan meninggalkan mereka, gadis itu mulai menggerakkan tubuhnya seakan ingin melepas pelukan pria itu. “Lepa-“ belum sempat menyelesaikan ucapannya, Ricky menyela.

“Bentar doloe hei… tunggu mereka pulang,” Jawab Ricky sambil menahan tawa.

“Loe mau ngambil kesempatan yah?” Ricky tak menjawab, karena bersamaan kedua petugas polisi kembali menoleh ke mereka. Yang Ricky lakukan, malah makin mengeratkan pelukannya ke tubuh gadis itu.

“Eh apa-apaan sih loe…”

“Ssssstttt… liat tuh mereka noleh ke kita.” Bisik Ricky, dan tampak gadis itu melihat ke petugas yang telah kembali berjalan menuju ke mobil patroli.

“Fiuhhhh…” Gadis itu mendengus kesal, dan memilih untuk membiarkan pria itu tetap memeluk tubuhnya.

Setelahnya…

Mobil patroli kembali jalan dan tampak Ricky dan gadis itu masih saja berpelukan hingga mobil patroli makin jauh meninggalkan mereka.

Gadis itu menarik nafasnya dalam-dalam, lalu menoleh dan menatap kesal wajah tengil Ricky yang belum juga melepaskan pelukannya.

Bugh!!! Seketika, gadis itu menyiku perut Ricky membuat pelukannya terlepas. “Waduh… nih anak bener-bener.”

“Apa loe?” Mata gadis itu telah melotot menatapnya.

“Kenapa? Gak terima yah?” Tanya Ricky membalas tatapannya, namun wajahnya masih menahan senyum. “Untung saja, aku cepet datang… Kalo tidak, kamu bakal di bawa ke kantor ma mereka tadi.”

Gadis itu terdiam…

Mendengus kesal, dan menggelengkan kepalanya.

“Tapi, gak pake acara peluk-pelukan juga kale… Sampe pake ciuman segala, maksud loe apaan?”

“Etdah… Nama nya juga pura-pura. Ngerti gak sih dua kata P-U-R-A-P-U-R-A? Huh!” Tanya Ricky, sambil mengeja dua kata sambung terakhir.

“Fiuhhh… tapi kan-“

“Sudah ah, malas bertengkar ma cewek kek kamu.” Ricky menyela, sambil memasukkan kedua tangannya di saku celana. “Dan…” Lanjutnya, lalu mengeluarkan tangannya satu sambil bergerak melambaikan tangan. “Byeeee….” Ricky pun melangkah meninggalkan gadis itu yang tiba-tiba terdiam.

Lalu…

Gadis itu berbalik badan, dan menatap kepergian Ricky yang telah menuju ke mobil yang terparkir di seberang jalan. Mobil yang sama yang ia lihat siang tadi.

“Tunggu…” Ricky menghentikan langkah saat telah berdiri di tepi jalan. Yang hampir menyebrangi jalan tersebut.

Ricky menahan tawa, lalu menoleh. “Ada apa lagi sih?”

“Ma-mau kemana?”

“Mau ke kuburan… Mau ikut?” jawab Ricky membuat gadis itu mengernyit sesaat.

Lalu, gadis itu melangkah mendekatinya.

Dan Ricky mengernyit ketika gadis itu telah berdiri dibelakangnya. “Btw, Thanks!”

“For What?” jawab Ricky.

“Yang tadi… Dan yang sekarang!” jawab gadis itu masih menatap tubuh belakang pria itu.

“Ohhh… its oke, Lumayan… Dapat amal dua kali, kan….” Ujar Ricky sesaat, lalu ia kembali melambaikan tangannya, “Byeee…” dan melanjutkan langkahnya menyeberang jalan.

Sesaat gadis itu menatap kepergian Ricky, lalu ia menarik nafasnya dalam-dalam sesaat sebelum akhirnya ia mengikuti langkah pria itu.

Saat Ricky baru saja membuka pintu mobil, sebuah tangan menyentuh lengannya. “Tunggu…”

Ricky menoleh ke samping. Dan mendapati gadis itu lagi yang memegang lengannya. “Ada apa lagi sih?”

Gadis itu memasang wajah penuh permohonan, membuat Ricky akhirnya menghela nafasnya dalam-dalam. “Udah… buruan masuk ke mobil,”

“Ma-maksud loe?”

“Udah… gak usah banyak nanya, dari pada kamu ketangkap lagi kayak tadi.” Jawab Ricky, lalu melepas pegangan tangan gadis itu dan menggiringnya berjalan ke pintu samping kiri mobilnya.

Gadis itu mengikutinya…

Kemudian, Ricky membuka pintu mobil. “Naik gih…” Gadis itu, menatap kedua mata Ricky sesaat.

Lalu, ia pun mengikuti apa yang di katakan oleh pria itu.

Gadis itu masuk ke dalam mobil. Dan, Ricky menutup pintunya sesaat sebelum akhirnya ia kembali melangkah ke samping.

Dan kini…

Mereka berdua telah berada di dalam mobil.

Ricky telah menjalankan mobilnya, dan menoleh ke samping. Seketika, ia mengernyit mendapati gadis itu sejak tadi menatapnya. “Kenapa natap kek gitu?”

“Mau kemana?”

“Hmm, kemana yah?” gumam Ricky, dan tampak keningnya mengerut sedang memikirkan sesuatu. “Mending… kita ke Villa ku dulu, ntar disana baru di pikirkan mau kemana.”

“Eh!!!” Gadis itu terkejut, dan menatap wajah Ricky dengan ekspresi seakan khawatir dengan yang akan di lakukan olehnya.

“Set dah… Sudah lah, gak usah mikir kalo aku bakal berbuat seronoh ma kamu loh yah.”

“Ma-maksud loe?”

“Ada cermin tuh…” Ricky menggerakkan tangannya membuka cermin di depan gadis itu. “Nah kamu ngaca,”

“Lah… kenapa?”

“Ya elah, gak nyadar juga yah?” Tanya Ricky menoleh dan mengernyit. “Kamu tuh bukan type-ku. Ngerti?” Degh!!!

“Fiuhhhhh…” Gadis itu menghela nafasnya sesaat, sedikit memanyunkan bibirnya, menahan rasa kesal dan emosi yang telah menderanya. Karena ia mengingat pria ini telah dua kali menolongnya.

“Apa?” Ricky kembali bertanya ketika mendapati gadis itu masih saja menatapnya.

“Gak!” Jawab gadis itu.

“Ya sudah… jangan natap kek gitu lagi,”

“Fiuhhhhh… Grrrrrrr! Andai saja-“ Ricky menyela ucapan gadis itu.

“Andai saja apa?”

“Gak!”

“Ya sudah… Pokoknya, jangan natap kayak gitu… Jangan banyak omong, diam duduk dengan manis…” Ricky kembali menoleh, dan memasang wajah menahan tawa. “Intinya jangan Berisik!”

Gadis itu membelalakkan kedua matanya, mengangkat tangannya seakan ingin menghajar pria itu.

Ricky menoleh. “Apa? Mau mukul?”

Gadis itu tersenyum kecut. Lalu menurunkan tangannya. “Hehehe, gak kok… Sensi amat sih jadi cowok.”

Ricky kembali melihat kedepan…

Dan sesaat, gadis itu menoleh menatapnya.

Ricky membalas tatapannya…

Senyuman terkembang diwajah mereka berdua, dan tampak keduanya pun telah menggeleng-gelengkan kepalanya yang tak diketahui apa maksudnya.

Dalam mobil kembali hening…

Dan gadis itu, memilih untuk diam menatap jalan di depan.

Lalu, ia kembali menoleh ke pria itu. “Harus yah, kita ke tempat loe?”

“Hmm…”

“Mau ngapain?”

“Mau Bikin Anak…” DEGH!!!

Still Continued

END – Tiba Tiba Saja Part 2 | Tiba Tiba Saja Part 2 – END

(Tiba Tiba Saja Part 1)Sebelumnya | Selanjutnya(Tiba Tiba Saja Part 3)