Tiba Tiba Saja Part 19

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21

Tiba Tiba Saja Part 19

Start Tiba Tiba Saja Part 19 | Tiba Tiba Saja Part 19 Start

Eng ing! Eng ing eng!…

Kenyal, lembut, hangat, dan juga membuat sekujur tubuh Hesty terasa bergetar. Seperti gerakan slow motion, Hesty melirik ke tangannya yang sedang menggenggam benda tersebut di bawah sana. Lalu berganti melihat ke wajah pria di hadapannya. Bahkan terasa waktu begitu lambat berjalan, benda yang sedang Hesty genggam dari balik celana itu. Mulai bergerak semakin membesar.

Bukan hanya Hesty yang merasakan kaget juga speechles. Ricky pun merasakan hal yang sama, bedanya Ricky merasakan tiba-tiba nafasnya sesak. Tubuhnya pun bergetar, di sertai gejolak yang mulai naik.

“A-apa ya-ng kamu lakukan sa-sayang?” suara pria itu sedikit berserak. Menahan nafas di sertai pandangan yang penuh tanya.

Tersadar jika yang ia pegang, adalah sesuatu yang tidak sepantasnya iya pegang. Hesty membelalakkan kedua matanya, dan mulai menggerakkan jemari tangannya. Melepas genggaman di benda sakral tersebut.

“Oopssss!” PLAKKKK!!! “Duhhhhhh…. Duhhhhh! Kenapa sih loe bego amat sih Hesty.” Ia lalu mengerang, dan menatap wajah Ricky dengan senyuman kecut. Hesty lalu menggerakkan tangannya yang tadi berada di bawah, dan juga tangan satunya lagi yang kini kedua tangannya menutup mulutnya sendiri. “Ky… Gu-gue tadi ha-habis pegang i-itu kamu… Aduuhhhh…. Duh… Duh,”

“Errrrr…”

“Maaf… Maaf, ga-gak sengaja. Gu-gue khilaf.” Kata Hesty menunduk malu. “Ta-tapi i-itu nya lembek banget yah. Hihihi, Oopssss! Tapi tiba-tiba keras.” BUGH!!! Bukan menabok, malah kini telapak tangan Hesty benar-benar memukul kepala bagian samping. “Arghhhhhh! Hesty STOP!”

“Errrrrrr!” Ricky tak tau harus berkata apa lagi. Entah juga, apakah Hesty ini emang datang dari planet mana, sehingga bisa bersikap se-amburadul gitu. Pegang penisnya yang awalnya berkata ingin di hamili. Terus tersadar dia meminta maaf disertai perasaan malu. Dan sekarang, malah balik lagi menampakkan ke konyolan di sertai kalimat yang menyebut ‘lembek-lembek’ yang jelas tertuju kepada batang kemaluan pria itu.

“Lo-loe marah yah?” tanya Hesty menahan nafas. Serta menatap Ricky dengan tatapan penuh menyesal telah melakukan pelecehan seksual terhadap Ricky. “Lo-loe ja-jangan laporin gue ke polisi yah Ky… Please!”

“Hufhhhhhh! Kenapa harus aku laporin ke polisi?”

“Ka-karena gue udah ngelakuin pelecehan seksual ke elu lah… Masa gitu aja harus di jelasin sih… Ihhhhh!”

Lah! Dia malah ngambek sendiri. Batin Ricky sesaat.

Ricky lalu menatap Hesty dalam-dalam. Setelah tarikan nafas panjang, Ricky mulai bertanya. “Aku pengen nanya, kenapa tadi kamu mempunyai pikiran semesum itu?”

“Hehehe, gak tau… I-itu, penasaran aja. Oopppsss!” Hesty menjawab sambil tersenyum kecut dihadapan Ricky.

“Penasaran?” Ricky bergumam bernada tanya.

“Hu Um!” balas Hesty sambil mengangguk malu-malu. Tampak di wajahnya kini merona, sembari kedua bola matanya gerak-gerak memutar.

“Penasaran karena apa?”

“Ihhhh… Yah penasaran aja, hihihi. Kan gue hanya liat doank tuh hari, tapi baru kali ini gue pegang. Ooopsss!”

“Errrrrr!”

“Udah lah… Gitu aja ngambek!” kata Hesty ketika melihat Ricky seakan-akan menahan kesal terhadapnya. “Lagian! bukannya cowok itu suka, kalo-“ Hesty berucap, sembari menggerakkan tangannya kembali menyentuh selangkangan Ricky. “Ininya di sentuh.”

“HEI,” Ricky segera menepis tangan Hesty. Membuat gadis itu nyengir menampakkan gigi-giginya yang indah dan putih.

“Hehehehe… Dah ah,” Hesty berdiri. “Kalo loe gak mau ngehamilin gue, berarti loe emang pengen hubungan kita gak dapat persetujuan dari bokap loe,” lalu Hesty berjalan menjauh dari Ricky.

“Hei… Aku udah bilang, hubungan kita itu gak di tentang ama ayahku tau… Lagian, kenapa pikiran kamu. Langsung nyimpulin, jika kita harus ngelakuin itu sih, biar dapat persetujuan dari ayahku? Huh!”

Hesty menghentikan langkahnya. Dia menoleh ke belakang, “Yah… Gue sih liatnya di beberapa contoh. Tuh kayak sinetron Putri yang tertukar, cinta clara… Terus apa lagi yah-“ balas Hesty membuat Ricky menggertakkan giginya.

“Argggghhhhhhh hentikan pemikiran-pemikiran konyol kamu, udah ah… Lama-lama aku bener-bener gila ladenin kamu malam hari kek gini,” kata Ricky sambil mengacak-ngacak rambut. Kemudian ia berdiri, lalu berjalan mendekati Hesty. “Satu lagi! Berhenti mikir yang mesum-mesum… Mengerti?”

“Mesum? Loe kali yang mikir mesum… Hufhhhhhh!” kata Hesty, Ricky hanya menggertakkan giginya, sambil berjalan ninggalin Hesty sendiri di kamar. “Yah di tinggal… Dasar cowok cemen!” Degh!!! Mendengar itu, Ricky menghentikan langkahnya.

“Apa kamu bilang?”

“Cemen!”

“Kamu mau aku ngelakuinnya sekarang juga? Iya!” Suara Ricky agak tegas, menatap Hesty dengan mengernyit.

Hesty mengangguk pelan. Jemarinya saling cubit-cubitan, dan berganti menatap ke mata Ricky, lalu ke lantai.

“Yakin?”

“Hu um!”

“Errrrrr… gak! Kamu gak dengar tadi pesan ayah? Huh!”

“Pe-pesan apaan?”

“Gak boleh gituan dulu…” balas Ricky mengingatkan ke Hesty.

“Masa sih? Perasaan gue, tadi gak ada kata-kata gitu deh dari bokap loe… Aaahhhh loe palingan ngarang. Hihihi, takut yah ngelakuin gituan?” senyum licik dari Hesty makin membuat Ricky gerang.

“Errrrrr…”

“Tuh kan, gitu aja ngambek! Ca elahhhhh!!! Dasar cowok cemen.” Hesty berjalan, melambaikan tangan meninggalkan Ricky.

“AKU GAK CEMEN! AKU COWOK KEKAR DAN JANTAN… PAHAM GAK SIH?” Ricky beruara keras, sembari mengejar langkah Hesty yang sudah turun tangga.

“Hahahahahaah! Kekar apaan, di pegang gitu aja… udah ngambek! Dasar!”

“Errrrrr! Tunggguuuuuuuuu!”

Hesty berlari, dan langsung berdiri menghadap ke Ricky saat tiba di bawah. “APA?”

Ricky menghentikan langkahnya berjarak dua meter dari Hesty berdiri.

“Kamu beneran ngatain aku nih?”

“Hehehehehe, emang gue kelihatan sedang bohong kah?”

“Errrrrrr!” Ricky diam sesaat. Menghela nafas, “Dah ah, pusing ngomong ma kamu!” Lanjut Ricky, kemudian kembali melanjutkan langkahnya. Meninggalkan Hesty yang masih berdiri bengong.

“Jiah malah masuk kamar.” Cibir Hesty saat Ricky sudah masuk ke dalam kamar.

Hesty mengejarnya.

Namun Ricky segera menutup pintu kamarnya, dan – Ceklek! Ceklek! “Jiahhhh malah di kunci.” TOK! TOK! TOK! “Woi bukain…”

“Gak!”

“Bukaiiinnnnnnnnn buruaaaaan”

“GAK! AKU GAK MAU BUKAIN… KAMU MENYERAMKAN!” Teriak Ricky dari dalam kamar.

Hesty hanya menahan kesal, lalu berjalan ke sofa.

Di baringkan tubuhnya di atas sofa, kemudian mulai berfikir.

Bagaimana kelanjutan hubungannya dengan Ricky nanti?

Ricky pun tak menyetujui permintaan Hesty, untuk di hamili.

“ARGHHHHHHH! DASAR COWOK SIAL!” Erang Hesty sambil ngacak-ngacak rambut. “Ya sudah, kalo loe emang gak mau lanjut hubungan kita… gue mah gak masalah, awas loe kalo nanti nyesal!” lanjutnya, sembari menatap dengan tatapan penuh kekesalan ke arah pintu kamar Ricky.

Beberapa saat Hesty menunggu Ricky.

Namun, rupanya pintu kamar tersebut tidak terbuka juga. Maka dari Itu, Hesty menahan kesal sambil memejamkan kedua matanya.

Samar-samar penglihatannya mulai mengabur, di iringi perjalanan mimpinya yang aneh dan sedikit bahagia. Mimpi bisa bersama Ricky, menjalin hubungan sampai tua.

ZZZ…

Krieeeekkkk!!!

Akhirnya pintu kamar terbuka.

Ricky mengeluarkan kepalanya, dan melihat ke sekeliling. Ia mengernyit saat mendapati Hesty tertidur di sofa. Maka pria itu pun berjalan keluar kamar.

Tiba di dekat Hesty, Ricky hanya melihat wajah gadis itu dengan sebuah senyuman.

“Kamu itu… hufhhhhh! Bukannya aku gak mau ngelakuinnya sayang! Tapi, apa sebaiknya kita tunggu sampai kita menikah saja?”

Yah! Ricky tak ingin menghancurkan gadis ini. Ricky yakin, jika Hesty sangat polos. Dan alangkah baiknya, kepolosan gadis itu tetap di pertahankan sampai Ricky meminangnya. Ricky menghela nafas sesaat, kemudian mulai membungkuk dengan dua lengan yang mulai bergerak.

Ricky pun mengangkat tubuh Hesty, menggendongnya masuk ke dalam kamar.

“Ky…” Ricky terdiam.

Di tatapnya wajah Hesty sesaat. Rupanya gadis itu sedang bermimpi. Ricky hanya tersenyum, lalu melanjutkan langkahnya membawa tubuh Hesty ke kamar.

Di baringkannya tubuh gadis itu di atas ranjang, menutup tubuhnya dengan selimut. Lalu Ricky ikutan naik ke ranjang, dan memejamkan mata di samping Hesty.

~ •©• ~​

“Hoaaaaaaeeeemmmmm!”

Sayup-sayup Hesty membuka matanya. Merasakan di sebuah lengan memeluk tubuhnya. Dan, saat matanya terbuka ia menyadari wajah Ricky yang berada di hadapannya saat ini. Hesty mengernyit di awal, di ingatnya kembali kejadian semalam.

Matanya membelalak.

“Bentar!” lalu ia bergumam setelah menyadari akan sesuatu.

Ia melirik ke bawah. Rupanya tubuhnya masih di terselimuti selimut tebal berwarna Grey. Jantung Hesty berdebar-debar. Dan pikirannya mulai berkecamuk, apakah semalam dia sudah benar-benar memberikan semuanya ke Ricky? Pertanyaan mulai bermunculan di benaknya saat ini.

Dugh! Dugh! Dugh!

Jantungnya berdetak kencang, perlahan-lahan Hesty melepaskan pelukan Ricky. Lalu ia memejamkan mata, sembari membuka selimut yangmenutup tubuhnya. 1… 2…3, ia membuka matanya perlahan-lahan, dan – “Haaaaaaaaa!” ia bernafas lega, ketika menemukan kondisinya masih berpakaian. Padahal tadi ia mengira kondisinya sudah bertelanjang, apakah emang dia tidak melakukan dengan Ricky semalam?

“Ishhhhh! Hesty, masa loe jadi amnesia sih. Hihihihi,” akhirnya ia tersadar kejadian semalam, yang tidak melakukan apa-apa dengan pria itu.

Di pandanginya dalam-dalam wajah Ricky yang masih tertidur nyenyak. Hesty tersenyum ketika mendapati pria itu menggeliat. Pria yang telah menjadi super hero dalam kehidupan Hesty. Jika tak ada Ricky, entah bakal seperti apa hidup Hesty selama ini. Huhhhhh! Gue makin sayang ma loe Ky! Hesty membatin, sambil menggerakkan tangannya. Di sentuh wajah Ricky dengan lembut, membuat Ricky kembali menggeliat.

Hesty tersenyum lagi.

“Thanks yah Ky!” lagi, ia bergumam pelan, berterima kasih ke pria itu, meski dia gak bisa ngomong secara langsung sih. “Habisnya dia pasti bakal besar kepala tuh,” Hesty bergumam kembali.

Saat Hesty menatap wajah Ricky, dan pikirannya masih melambung jauh. Mengingat semua kenangan yang terjadi bersama pria tersebut. Perlahan-lahan, kelopak mata Ricky bergerak, lalu matanya terbuka.

Ia tersenyum mendapati tatapan lembut dari Hesty. Bukan! Sepertinya Hesty malah sedang melamun saat ini.

Ricky menarik nafas dalam-dalam, lalu – “Pagi sayang…”

Degh!!! Hesty kaget mendengar suara Ricky, bersamaan lamunannya terhenti beberapa saat. Dia pun menatap Ricky dengan ragu-ragu, mengisyaratkan sesuatu.

“Kenapa?”

“Gu-gue gak nyium elu kok tadi, gue gak nyuri kesempatan dalam kesempitan, sueeerrrr!” kata Hesty sambil menunjukkan dua jari berbentuk ‘V; di hadapan Ricky.

Ricky malah ikutan mengernyit. Bukan itu yang ia harapkan, keluar dari mulut Hesty.

Lagi! Hesty bergeser makin jauh dari Ricky. Di tatapnya Ricky penuh tanya, sambil keningnya mengerut. Matanya seakan menatapnya menyelidik, “Ta-tapi, loe gak ngapa-ngapain gue kan semalam?” tanya Hesty sambil menyilangkan kedua lengan di dadanya.

“Ck…Ck…Ck! gak! Aku gak bikin apa-apa, hadehhhh! Kamu gak ingat semalam kita ngapain aja?”

“Ingat!”

“Terus kenapa kamu malah nanya kek gitu?”

“Yah, kan gue ingatnya pas gue masih sadar! Kalo pas gue tertidur… Hayo… Hayo, loe ngapain aja?” balas Hesty, sambil jari telunjuk kanannya nunjuk-nunjuk ke Ricky. Sangat lucu sikap Hesty se-pagi ini, makin menambah rasa gemas Ricky ke gadis itu.

“Errrrr! Gak!”

“Hehehehe… gak usah ngambek deh! Dah ah, gue mau mandi dulu.” Kata Hesty sambil beranjak.

“Mau di temenin?”

“HEEEEEEEE!” Hesty bersuara keras, terkejut, sambil berdiri menyilangkan kedua lengannya di depan dadanya lagi. “Awas loe… jangan macem-macem ma gue.”

“Loh semalam katanya mau di hamilin.”

“Oh gitu toh?” Hesty mengernyit, dan memiringkan wajahnya sedikit, sambil menatap ke Ricky dengan tatapan menyelidik. “Tapi loe gak mau?” lanjutnya bertanya.

“Iya.”

“Yah bukan salah gue donk! Hihihihihi, dah ah, gak ada kesempatan ke dua. Byeeeee!” kata Hesty cuek, lalu berjalan ninggalin Ricky yang masih berbaring di atas ranjang.

“Tungguuuu!” kata Ricky tapi Hesty sengaja cuek dan tidak menoleh ke belakang. “Hufhhhhhh!” Lalu Ricky menghela nafas, dan membiarkan Hesty keluar dari kamarnya.

.

.

Beberapa saat kemudian…

Ricky dan Hesty sudah berpakaian. Hesty memakai seragam kerja, dengan cardigan hitam menutup seragamnya. Sedangkan Ricky, menggunakan kaos berkerah, jeans denim sambil tak lupa tadi memakai contact lens-nya sekalian. Karena Ricky orang paling malas memakai kaca mata saat di siang hari. Takut jika hidungnya yang mancung jadi lecet.

Sebelumnya juga Ricky yang menyiapkan sarapan pagi buat mereka berdua. Hanya telor ceplok, roti tawar, lengkap dengan dua gelas susu coklat.

Selai coklat dan kaya pun berada di atas meja, tinggal pilih apakah mau pakai selai atau telur. Hesty rupanya lebih memilih memakai selai coklat yang di olesi di rotinya.

Sambil mengunyah roti, Hesty menatap wajah Ricky dengan ekspresi yang lucu. Ada senyum tipis di wajahnya, bahkan matanya berbinar yang mengisyaratkan sesuatu.

Ricky menyadari jika Hesty sejak tadi menatapnya.

“Why?”

“Hehe, pasti perempuan yang jadi istri loe nanti… bakal bahagia banget yah Ky,” gumam Hesty sesaat.

Wajah Hesty tiba-tiba murung.

Ricky yang menyadari perubahan ekspresi gadis itu, lalu menggerakkan tangannya. Di genggamnya jemari gadis itu, lalu di usap punggung tangan dengan jari jempolnya.

“Kan… yang jadi istriku nanti kamu.”

“Hufhhhhh! Jangan ngimpi deh loe.” Gumam Hesty membuat Ricky mengernyit.

“Jadi kamu gak mau?”

“Bukan gak mau… ta-tapi, loe lihat sendiri kan, ayah loe gak bakal setuju dengan hubungan kita Ky.” Kata Hesty menjawab pertanyaan Ricky.

“Kenapa sih kamu mikirnya kek gitu? Kamu kira ayahku sejahat itu kah?”

Hesty menghela nafas sesaat.

“Biasanya kan emang seperti itu… bapak-bapak kaya raya pasti jahat ke cewek anaknya. Hehe!”

“Hmm!”

“Ihhh kenapa sih loe masih cuek gitu?”

“Masalahnya aku masih belum ngerti, apa masalahnya.” Balas Ricky sesaat. “Sudahlah, habisin aja sarapan kamu, baru kita berangkat. Biar aku antar kamu.”

“Loh gue kan ngomong apa adanya, biasanya juga kek gitu… Coba deh loe nonton film yang i-“ Belum sempat Hesty nyelesaiin ucapannya, Ricky menyela.

“Hentikan teori-teori kamu yang menurut film, sinetron, novel atau kata-kata sahabatmu itu. Menyesatkan tau!”

“Dasar Sial!” cibir Hesty. Ricky hanya tersenyum melihat gelagat dan kekesalan kekasihnya itu. Di lepasnya genggaman tangannya di tangan Hesty, lalu ia mengusap lembut kepala gadis itu.

“Udah lah sayang. Percaya sama aku, ayahku gak akan melarang hubungan kita.”

“Yakin?”

“Insha Allah! Kamu percaya kan ma aku?”

“Gak!” kata Hesty dengan cuek.

“Errrrr…”

“Kok loe malah kesal sih?”

“Masa kamu gak percaya sih ma aku?”

“Yah buat apa, lagian kan elu emang gak boleh di percaya. Hehehehe, oopsss salah yah?” kata Hesty sambil terkekeh.

“Salah! Kamu tuh harus percaya ma aku… 100%.”

“Kalo gue maunya 99% gimana? Hayooo!”

“Errrr… makin gemas aku ma kamu.”

“Hehehehe, gue juga gemes ma loe.” Balas Hesty sambil nyengir.

Mereka saling bercanda, hingga selesai menghabiskan sarapan. Mereka berdua bersiap-siap untuk berangkat kerja.

Sebelum keluar dari pintu. Ricky menahan lengan Hesty.

“Tunggu!”

“He?”

“Sebelum keluar rumah, kita biasakan –“ Ricky tak lanjutkan ucapannya, dia menarik tubuh Hesty mendekat.

Jantung Hesty berdebar kencang, kala tatapan Ricky seakan penuh arti. Tubuhnya terasa kaku, sambil mengepalkan kedua tangannya. Mulutnya ikutan kaku tak bisa mengeluarkan sepatah katapun kepada pria itu.

And!

Cup!

Ricky mengecup bibirnya dengan penuh perasaan. Hanya sebentar saja, lalu jemari Ricky mengusap di pipi. “Aku sayang kamu…”

Hesty terpekik. Lalu bola matanya memutar, dan berhenti melihat ke wajah Ricky. Tangan kanannya bergerak, memegang di dada.

“Kenapa sayang?”

“Haaaaaaaaaaaa!” Hesty langsung menghela nafas panjang, karena sejak tadi ia menahan nafas. “Harus yah di cium tiap pagi?”

“Iya… dan itu wajib!”

“Dasar Sial! Se-enaknya saja loe-“ Cup!!! Ricky menciumnya lagi.

“Ekkhhh!” Hesty terpekik.

Matanya membelalak, kemudian – “Arghhhhhhhhhh!” Hesty langsung mengerang, dan tangannya yang terkepal langsung menunju-ninju pundak Ricky. Hanya pelan saja, namun tetap Hesty kesal terhadap pria itu yang se-enak maunya mencium bibirnya.

“Hehehehe… dah ah, yuk!”

“Gak mau.”

“Kenapa?”

“Sekali lagi… hehehehe!”

“Haaa?”

“Biar genap 3 kali… hehehe,”

“Ya sudah, sini sayang.” Ricky lalu menarik di leher, membuat kepala Hesty maju. Ricky langsung menyentuh bibir Hesty.

Kali ini sentuhan dari Ricky begitu lembut. Tak ada rasa terburu-buru di sana. Bibirnya saling menyatu, aroma mint pun di rasakan oleh Hesty. Mereka membuka bibir, dan Ricky berinisiatif mengecap bibir atas berganti bibir bawah. Sedikit di tambahi air liur agar nikmat dan basah.

Tubuh Hesty benar-benar terasa tersetrum. Dia pun memejamkan mata, sambil kakinya berjinjit. Ricky memeluk di pinggang, dan menarik tubuh Hesty merapat.

Merasa cukup, Ricky mengakhiri ciuman mereka.

Bibir mereka terlepas.

Hesty membuka matanya, pipinya merona, dan nafasnya tertahan serta jantungnya berdetak lebih kencang.

Ricky membalas tatapan gadis itu. “Gimana masih susah bernafas?”

“Ceguk! Ceguk! Ceguk!”

“Jiaaahhhh dia cegukan lagi, sini…” Ricky menyentuh bibir Hesty lagi untuk ke-empat kalinya.

Dan seketika, cegukan Hesty berhenti.

“Ahhhhhhhhhhhh!” Hesty menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya.

“Udah yah, nanti malam di lanjut.”

“Eh!”

“Hehehe, kamu suka kan aku cium kayak tadi?”

“Boleh bohong kan?”

“He?”

“Ciuman loe itu biasa-biasa saja.” Kata Hesty lalu berjalan cuek, sambil melambaikan tangannya. “Dah ah yukkkk! Kelamaan mikir loe mah.”

“Errrrrrrr!” Ricky hanya menggertakkan giginya saja, lalu lanjut melangkah mengikuti Hesty dari belakang.

~ •©• ~​

Ricky baru saja memarkir mobilnya di parkiran mobil kantor pusat perusahaan ayahnya. Dia sudah janji hari ini akan bercerita ke ayahnya tentang hubungannya dengan Hesty. Dan berharap tak ada tentangan dari sang ayah mengenai hubungannya tersebut.

Andai pun di tentang, Ricky sudah janji pada dirinya sendiri untuk mempertahankannya. Ricky sadari selama ini tinggal bersama dengan Hesty, banyak hal yang telah berubah. Sosok Hesty adalah sosok gadis yang selama ini Ricky inginkan. Manja, lugu, polos dan menyayanginya.

Tiba lah dia di depan ruangan sang ayah, sesaat Ricky memperbaiki perasaannya. Setelahnya ia mengetuk pintu ruangan.

Tok! Tok! Tok!

“Masuk!” suara berat terderangar dari dalam ruangan. Ricky berjalan memasuki ruangan ayahnya. Duduk di singgasana Direktur Utama, sang ayah mengalihkan pandangan dari pekerjaannya di laptop ke Ricky.

“Sibuk yah?” tanya Ricky saat berdiri di depan meja sang ayah.

“Sengaja memang ayah menunggumu… Duduk ky,” balas sang ayah sembari mempersilahkan Ricky untuk duduk.

“Iya…” Ricky duduk di kursi di hadapan ayahnya. Sebuah mainan di meja, berbentuk bulat spiral yang bergerak mutar-mutar jadi perhatian Ricky saat ini. Tanpa sadar jarinya menyentuh ujung benda tersebut, lalu dia menghentikan agar tidak bergerak.

Ayahnya Ricky memperhatikan apa yang sang anak lakukan saat ini. Ricky tampak melepas jarinya, mainan itu kembali bergerak berputar-putar. Ricky menyentuhkan jarinya lagi, mainannya berhenti bergerak.

“Apa yang kamu lakukan?”

“Hehe… Ini, gak mau berhenti. Pusing liatnya.” Balas Ricky sambil terkekeh.

“Ok ayah langsung saja… Bagaimana background gadis itu, bibit bobot dan bebetnya?”

Ricky menghela nafas. Lalu ia membalas tatapan sang ayah.

“Baiklah… Ricky jujur, Hesty berasal dari keluarga yang tidak sesuai dengan keinginan ayah. Tapi Ricky tetap akan pertahankan dia. Jadi ayah tak perlu kerja keras untuk memisahkan kami berdua.” Jawab Ricky membalas sikap dingin sang ayah.

“Cih!!! Memisahkan?” gumam ayahnya. “Sepicik itukah ayah di matamu?”

“Oh. Maaf kalo Ikky salah menilai. Terus apa maksudnya ayah bersikap seperti ini ke Ricky? Kesannya jadi-“

“Kesannya emang sangat menyeramkan?” Ayahnya menyela perkataan Ricky. “Baiklah… Ayah ganti pertanyaannya, asal keluarganya bagaimana?”

“Pertanyaannya sama saja… Hanya beda kalimat yah.”

Ayah Ricky menatap wajah Ricky sesaat. Ia mengernyit, karena mendapati sikap Ricky yang mengisyaratkan jika Ricky akan tetap menantang setiap yang akan di lontarkan oleh Ricky sekarang. So! Mungkin ayahnya akan mencoba bersikap sebaliknya.

“Jadi apakah sebagai seorang ayah, tidak perlu mengetahui anaknya sedang berhubungan dengan siapa?”

“Sudahlah yah… Ayah cukup beri restu saja hubungan Ricky dan Hesty.”

“Ohh apakah ayah ada kalimat! Melarang kamu berhubungan? Ayah Cuma ingin tahu saja, tidak lebih. Meski ayah mudah untuk mencari tahu sih, tapi alangkah baiknya ayah mendengarnya langsung darimu. Bukan begitu?”

“Fuhhhhh! Hesty anak yatim. Ayahnya telah tiada, dan dia hanya mempunyai seorang ibu saja… Dan-“ sengaja Ricky tak melanjutkan ucapannya. Ada keraguan saat ini, untuk mengungkapkan kondisi ibu Hesty ke ayahnya. Belum saatnya menurut Ricky, karena jelas saja agak sulit untuk meyakinkan ayahnya jika semuanua di ceritakan secara gamblang hari ini. Gak! Mungkin pelan-pelan Ricky akan menceritakannya nanti. Atau mungkin saja, sebelum ia bercerita ke ayahnya, ibu Hesty sudah sembuh dari sakit.

Jadi! Yang mesti Ricky lakukan adalah. Tetap menyenbunyikan keadaan ibu Hesty.

“Dan apa?” sang ayah mengulang kata terakhir dengan nada tanya.

“Ibunya di kampung… Hesty kerja untuk membiayai ibunya. Dan Hesty anak tunggal… Cuma itu yang bisa Ricky ceritakan ke ayah, saat ini.” Kata Ricky menjawab.

“Sejauh mana hubungan kalian?”

“Sejauh yang ayah lihat… Dia sekarang numpang di rumah Ricky, tapi tenang saja. Dia gak tinggal gratis kok, di kerja di rumah Ricky di sela-sela waktunya saat ia sedang di luar jam kerjanya. Karena kerjaan utamanya di cafe.”

“Kalian sudah?” Ayah Ricky berseru. Dan Ricky paham arah pertanyaan dari ayahnya.

“Tenang saja… Ricky tau batasan yang benar dan tidak yah.”

“Baiklah… Untuk saat ini cukup. Tapi jangan melarang ayah untuk memantau gadis itu.”

“Ricky larang… Tetap ayah akan lakukan. Bener kan? So! Silahkan lakukan apa yang menurut ayah benar. Yang jelas Ricky akan mempertahankannya… Apapun itu.”

“Andai dia jahat dibelakang kamu, apa kamu akan tetap mempertahankan dia?”

“Ricky yakin. Dia tak akan berbuat seperti itu.”

“Who know’s?”

“Ricky yakin.”

“Kenapa kamu seyakin itu?”

“Karena dia adalah Hesty… Bukan perempuan lain.” Mendengar jawaban dari Ricky, sang ayah hanya menghela nafas. Dan ngangguk-ngangguk untuk tetap membiarkan Ricky dengan pilihannya. Mungkin untuk saat ini, tapi ayahnya tetap tak akan lose control. Dia akan tetap memonitor hubungan Ricky dengan gadis itu.

“Baiklah… Ayah sudah tidak ada yang ingin ayah katakan lagi.”

“Sama… Ricky juga sepertinya sudah tidak ada lagi yang akan di bicarakan”

“Kamu mau kemana setelah ini?”

“Mau ngurus kerja sama membuat cafe dengan Sandra dan Andre!” balas Ricky. Ayahnya paham apa yang sedang Ricky kerjakan di makassar. Dan ia memberi support sepenuhnya. Karena sang ayah memang tak pernah meragukan skill dan kemampuan Ricky dalam berusaha.

“Oke silahkan…”

“Yah sudah, Ikky pamit yah.”

“Hmm…”

“Assalamualaikum”

“Wa’alaikumsalam…”

Sang ayah hanya menatap kepergian Ricky dengan sesekali menarik nafas. Hingga sosok Ricky telah menghilang dari balik pintu masuk ruangan.

~ •©• ~​

Setelah menyelesaikan segala urusannya di luar. Maka sore ini Ricky segera menghubungi Hesty. Rupanya sebentar lagi gadis itu pulang, maka Ricky bergegas menjalankan mobilnya menuju ke cafe.

15 menit kemudian Ricky telah tiba dan memarkir mobilnya di tempat biasanya saat ia menjemput Hesty.

Tak lupa Ia mengirim pesan ke Hesty mengatakan jika ia telah sampai. Balasan dari Hesty mengatakan ;

Hesty-ku:

“Wait… Masih rame. Gak enak ninggalin anak-anak euy!”

“Hadehhh…” Ricky menghela nafas. Padahal dia sudah gak sabar melihat kekasihnya yang menggemaskan itu. Maka, setelah membaca pesan dari Hesty, Ricky memarkir mobilnya baik-baik.

Ia turun dari mobil, dan berjalan masuk ke dalam cafe.

.

.

Di dalam cafe. Dewi, sahabat Hesty yang baru ingin berjalan keluar, melihat kedatangan Ricky langsung kaget sembari senyam-senyum sendiri. “Mas Ricky…” guman Dewi menyebut nama Ricky. Pun berharap jika pria itu tak mendengarnya.

Namun ternyata ia salah. Karena Ricky sempat mendengarnya. Ricky lalu menoleh dan membalas senyum gadis itu. “Iya…” lalu ia membalas sapaan gadis itu.

“Oppss!!! Hehehe kedengeran yah.” Kata Dewi.

“He?” Ricky mengernyit, dan menatap Dewi heran.

“Maaf… Hehehe, oh iya nungguin Hesty yah Mas?” tanya Dewi selanjutnya, di selingi kekehan kecil dari gadis itu.

“Panggil Ricky aja… Kamu?” balas Ricky, lalu bertanya balik. Bermaksud menanyakan nama gadis itu.

“Dewi mas… Sahabat Hesty.” Kata Dewi sambil mengulurkan tangan mengajak Ricky bersalaman.

“Ohh iya iya, pernah dengar dari Hesty.”

Melihat kedatangan Ricky dan juga Dewi yang sedang mengajak Ricky bersalaman, Hesty yang baru saja selesai dengan pekerjaannya. Membelalak dan mendengus kesal. “Sial… Kenapa lagi tuh anak pake acara turun sih.” Gerutu Hesty lalu melangkah keluar.

Ricky pun tampak telah bersalaman dengan Dewi.

“Hei… Sial! Kan gue bilang tungguin di mobil aja.” Hesty yang tiba langsung memberikan kalimat biasanya menyebut ‘Sial; kepada Ricky.

Ricky dan Dewi menoleh bersamaan.

“Eh sayang. Hehehe!” kata Ricky lembut. Tatapan Ricky pun begitu lembut, terpancar kerinduan terhadap gadisnya itu.

Namun yang ia dapatkan sungguh berbeda. Hesty terlihat terkejut setelah mendengar sapaan dari Ricky. Lalu Hesty menghentikan langkahnya, matanya berkedip-kedip mengisyaratkan jika Ricky jangan sembarang ngomong. Lalu ia menatap ke Dewi dengan senyum kecut. “Hehehehe… Emang dia kek gitu Wi. Dasar sial. Gak liat tempat ihhhhh.”

“Loh… Salah yah?” tanya Ricky.

“Hehe… Gak usah dengerin Hesty mas. Emang dia kek gitu.” Kata Dewi mencoba melerai mereka.

“He… wi, sttttt…” Hesty lagi-lagi bertingkah aneh. Bahkan Dewi sudah terkekeh melihat Hesty yang baru saja menyuruhnya diam.

Saat mereka ngobrol, dari dalam keluar seorang gadis yang juga tak kalah cantiknya. Dialah Taysa! Dan melihat sosok Ricky di luar, entah mengapa perasaannya sungguh senang. Ia mencoba melihat kondisinya, rupanya gak berantakan. Dia lalu menggerakkan tangannya menyelipkan rambut di telinga.

Dan berhenti melangkah saat berada di dekat ketiga orang itu.

“Eh ketemu lagi.” Kata Tasya, senyumannya tampak manja dan rada genit. Menurut Hesty.

Hesty menyadari akan hal itu, membelalakkan matanya. Ia melirik ke Ricky sesaat.

“Eh iya, ketemu lagi… Apa kabar?” Ricky yang merasa harus bersikap baik, karena mengingat mereka adalah teman sekerja Hesty, pun langsung mengulurkan tangan menginginkan bersalaman dengan gadis bernama Tasya.

Saat Tasya ingin membalasnya. Hesty dengan cepat, menepis lengan Ricky. “Gak perlu pake acara salam-salam juga kale.”

Dewi, Tasya maupun Ricky langsung kaget akan sikap Hesty.

Dewi menyenggol lengan Hesty.

“Loe kenapa sih?” tanya Hesty ke Dewi.

“Jiaaaahhhh!”

“Kasar banget jadi cewek… dasar gak sopan!” cibir Tasya.

“Eh ini ada apa?” Ricky yang masih belum ngeh, malah kebingungan.

“Dah jangan banyak omong, mending pergi sekarang!” cibir Hesty ke Ricky sambil terdengar nada menggerutu darinya. “Ayooooo!”

“Hei Hesty, kenapa sih loe.” Hardik Tasya.

“Loe gak tau… Surat-surat nih cowok, atas nama gue. Huh?” kata Hesty sambil menahan kesal terhadap Tasya.

“Maksudnya?”

“Hadehhhh gitu aja harus di jelaskan, dia ini udah gue booking sampe seumur hidup Puas!” balas Hesty sambil melirik ke Ricky. Tampak Ricky senyam-senyum mendengarnya. “Kenapa loe senyam-senyum?”

“Gak apa-apa.”

“Galak ya si Hesty mas… emang bener yah, mas Ricky pa-“ belum sempat Tasya menyelesaikan ucapannya. Lengan Ricky langsung melingkar di tubuh Hesty.

“Iya… dia calon istriku.” DEGH!!!

Hesty yang awalnya ingin protes. Tapi mengingat ada Tasya disitu, langsung bertingkah. Di usapnya pipi Ricky, sambil mengedip-ngedipkan matanya yang tampak lucu nan menggemaskan menurut Ricky. “Iyakan sayang… kamu udah jadi milik gue.”

“Iya emang bener.” Balas Ricky.

“Nah denger kan… Hihihihiih!”

“Yayayayaya! Congratz deh,” kata Taysa lalu ia berjalan dengan sikap kesal, meninggalkan mereka bertiga di luar.

“Jahhhh! Malah ngambek. Dasar cewek sialan.” Cibir Hesty.

“Udah sayang, yuk ah! Dewi, kami permisi dulu yah.”

“Iya hati-hati.”

“Wi… gue capcus dulu ya,”

“Iye… loe juga hati-hati. Jangan bersikap konyol lagi!”

“Hehehehe, rebes itu mah.”

Hesty dan Ricky berjalan bergandengan tangan. Dewi hanya menghela nafas, sambil senyum memandang kepergian mereka berdua.

Setibanya di mobil.

Ricky dan Hesty sudah berada di dalam. Ricky segera menjalankan mobilnya.

“Mau kemana?” Tanya Hesty.

“Hmm, kamu lapar gak?”

“Eh boleh minta tolong gak?” Hesty balas bertanya.

“Apa tuh,?”

“Singgah di rumah sakit dulu yuk!” kata Hesty membuat Ricky tersenyum. Pria itu lalu mengangguk dengan tatapa lembut ke gadis itu.

“Makasih yah.”

“Sama-sama sayang!”

Sebelum sampai di rumah sakit. Hesty sempat meminta ke Ricky untuk singgah di mini market untuk berbelanja kebutuhan sang ibu. Awalnya Hesty yang ingin bayar di kasir, namun Ricky yang langsung mengambil alih. Ricky yang membayarnya semua kebutuhan Hesty.

Maka disinilah mereka berada.

Ricky memarkir mobil, dan tampak Hesty menatap ke depan dengan pikiran yang berkecamuk.

“Kok diam saja? Belum turun yah?” tanya Ricky sambil menoleh.

Hesty ikut menoleh, dan di tatapnya dalam-dalam wajah Ricky. Pikiran Hesty masih saja berkecamuk, antara tetap membiarkan Ricky menunggu di luar atau masuk ke dalam, ikut dengan Hesty sembari Hesty memperkenalkannya kepada sang ibu.

“Hmm!” Hesty mencubit-cubit jari-jarinya sendiri. Masih ada keraguan di pikirannya saat ini.

Ricky menyentuh wajah Hesty. Di usapnya lembut pipi kanan gadis itu.

“Kamu kenapa?”

“Hufhhhhhh!” Hesty menghela nafas sesaat. Lalu – “Ky… ka-kalo gue minta loe, ikutan ma gue ke dalam. Mau gak?”

Ricky mengernyit.

Dia lalu tersenyum, sambil mengangguk tenang. “Aku memang sejak dulu menginginkan bertemu dengan ibu. Tapi kamu gak pernah mengajakku kan.”

“Hehehehe, maaf. Kemarin-kemarin gue belom siap Ky”

“Jadi sekarang udah siap gitu?”

“Hu Um!” gumam Hesty sambil mengangguk.

“Yuk… aku juga gak sabar pengen berkenalan dengan calon mertua.”

“Cihhh! Pede banget loe ah. Emangnya ibu bakal nyadar pas ketemu ma loe.”

“Hehehe, yah siapa yang tau sayang?”

“Hehe, yah kalo misal pas liat elu, terus ibu sadar… gue langsung minta loe nikahin gue secepatnya. Hehehe.”

“Secepatnya?”

PLAK!!! Hesty menabok kepalanya sendiri, karena sadar dia baru saja salah ngomong.

“Waduh, kamu tuh… suka banget sih mukul kepala kamu sendiri.”

“Hehe, maaf! Biasanya gue emang suka ilang pikiran kek tadi. Heheye, makanya sembarang ngomong.”

“Padahal aku berharap akan seperti itu.”

“Oopsss! Udah ah, nanti dibahas… keburu gelap ntar.”

“Ya udah yuk!”

Mereka keluar dari mobil.

Ricky dan Hesty berjalan berdampingan sambil ngobrol. Dan tiba-tiba, langkah Ricky berhenti di pintu masuk.

“Kenapa loe berhenti?”

Ricky tak jawab.

Tatapannya tajam, bahkan ada tanda tanya dari ekspresinya ketika melihat sosok pria baru saja berjalan keluar.

Pria itu…

Sangat Ricky kenal.

Dan sosok pria itu, ikutan tersadar saat matanya bertemu pandang dengan mata Ricky.

Dugh! Dugh! Dugh!

“I-Ikky?” DEGH!!!

Still Continued

END – Tiba Tiba Saja Part 19 | Tiba Tiba Saja Part 19 – END

(Tiba Tiba Saja Part 18)Sebelumnya | Selanjutnya(Tiba Tiba Saja Part 20)