Tiba Tiba Saja Part 15

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21

Tiba Tiba Saja Part 15

Start Tiba Tiba Saja Part 15 | Tiba Tiba Saja Part 15 Start

BRAKKK!!! Ricky baru saja keluar dari kamar, bertelanjang dada, mendengar suara bantingan pintu yang tertutup di depan membuatnya terkejut. Dengan sigap, bukannya langsung berlari keluar, si Ricky malah berlari ke kamar untuk mengambil kaos, dan kembali keluar.

“MALIIIIIINGGGGGGG!” Ricky berteriak setelah tiba di ruang tamu, berharap maling yang baru saja masuk ke dalam rumahnya, masih sempat ke kejar. Meski dalam hati agak scary juga sih, ngejar maling sendirian. Tapi karena berhubung sudah pagi, dan juga pastinya para security di pos penjagaan Cluster telah stand by, maka dari itu dia memberanikan dirinya untuk tetap keluar dan mengejar maling itu.

Ricky memakai sendal, dan berlari keluar dari pagar. “Malingggg!” Salah satu security mendengar teriakan Ricky, segera keluar dari pos penjagaan menghampiri Ricky yang memang posisi rumah Ricky hanya terpaut 3 rumah saja dari pos penjagaan.

“Malinggg… Hash! Hash! Hash.” Ricky mengatur nafas, dan ikut berjalan mendekati security itu.

“Ada apa pak?”

“Ada maling barusan di rumah saya Pak,” Kata Ricky sesaat.

“Maling?”

“Iya Pak, baru aja keluar… kalian gak liat, orang yang baru saja keluar melewati pos penjagaan?” tanya Ricky sesaat.

Security itu mengernyit sesaat, ia lalu menoleh ke pos penjagaan. Lebih tepatnya ke arah jalanan. “Hanya dia doank sih Pak yang keluar.” Sembari tangan kanan menunjuk ke arah seseorang yang berjalan cepat. Sosok berpakaian sederhana, dan telah berbelok ke jalan utama. “Sepertinya dia PRT di rumah bapak,” lanjut pria itu.

“Masa sih Pak?” Ricky yang lupa memakai kaca mata, juga contact lens tak melihat jelas sosok tersebut.

“Iya Pak, karena dia setiap hari datang ke rumah bapak.”

“Ohhhh…” Ricky lalu ngangguk-ngangguk, sembari menetralkan nafasnya yang sejak tadi masih memburu. Bukan karena capek, melainkan andrenalinnya naik saat mengejar maling. “Hash! Hash! Tapi kenapa dia datang tapi langsung keluar lagi yah?”

“Mungkin dia lupa Pak, kalo hari ini adalah hari minggu.”

Ricky tampak berfikir sesaat. Mangguk-mangguk, dan – “Yah! Benar juga sih… dan sepertinya pas dia masuk ke rumah, nyadar kalo aku ada di rumah.” Ricky membenarkan perkataan security itu.

“Iya Pak… lagian juga si mbanya sering nyapa kami, gak mungkin lah dia mau maling di rumah bapak.”

“Hehehehe…” Ricky hanya nyengir.

“Kalo udah gak ada lagi, saya kembali ke pos Pak.”

Sesaat tampak pandangan Ricky masih ke arah jalan. Dan pikirannya tiba-tiba bertanya, kenapa ia tak nyadar jika PRT di rumahnya sama sekali belum ia lihat. Belum tau, seperti apa orangnya. Tua kah, muda kah. Atau mungkin masih anak kecil?

Juga! Si Hesty belum pernah menceritakan siapa sih orangnya. Lagian, memang kan seharusnya Ricky tau siapa yang selama ini bekerja di rumahnya. Bukan apa-apa sih! Gak di minta-minta, kalau terjadi suatu hal, Ricky tau dan harus ke siapa dia meminta pertanggung jawaban. Dan gak mungkin, Ricky meminta ke Hesty. Dan itu tak akan pernah Ricky lakukan.

Iseng! Ricky pun berniat bertanya ke security ini.

“Pak…”

“Iya Pak.” Kata Security itu.

“Si Ibunya yang kerja di rumah saya, seperti apa sih orangnya?” Mendengar pertanyaan dari Ricky, sontak security itu mengernyit dan menatap Ricky penuh tanya. Ada yah! Tuan rumah seperti Ricky yang sama sekali tak mengenal orang yang bekerja di rumahnya.

“Bapak gak tau?”

“Hehehe, belum pernah ketemu.”

“Astagaaaaaa….” Security itu speechles mendengarnya. “Gimana bapak pekerjaan orang di rumah bapak, tapi gak pernah ketemu? Hati-hati loh Pak,”

“Makanya…”

“Lah, hehehe… yah berarti bapak harus tau dulu, siapa yang bapak pekerjaan di rumah bapak.”

“Iya itu rencana saya mau ketemu dengan dia.” Kata Ricky selanjutnya. “Lagian si ibunya selalu pulang lebih awal sebelum saya pulang sih.”

“Ibu? Kayaknya belum ibu deh Pak… masih gadis deh. Hehehehe”

“Masa sih?” tanya Ricky mengernyit.

“Orangnya cantik Pak. Hehehe, awalnya kami kira kekasih bapak.”

“Aisssshhhh… Hehehe, kekasih saya hanya sekali doank ke sini Pak.”

“Ohhh pantas… kami belum pernah lihat bapak bawah perempuan sih ke rumah. Hehehe, maaf Pak kalo lancang.”

“Iya its ok. Hehehe, kalo ada waktu, saya ajakin main kesini, sekalian ajak kenalan dengan kalian.”

“Hehe, bapak bisa aja.”

“Tapi seriusan kan Pak, yang kerja di rumah saya bukan ibu-ibu?”

“Bukan Pak. Hehehe, dan menurut saya, si mba nya mah cocoknya malah jadi kekasih bapak. Ooopssss!”

“Aishhhh bapak bisa aja, ya udah Pak, Ricky tinggal dulu yah.” Kata Ricky sekalian berpamitan.

“Baik Pak.”

Saat berjalan ke rumah, benak Ricky kembali bertanya-tanya. Jadi, selama ini yang bekerja di rumahnya, bukan ibu-ibu melainkan seorang gadis. Cantik? Hmm! Penasaran kayak gimana sih wujud gadis itu. Batin Ricky sesaat.

“Ahhh gak… Hehehe, gak mungkin lah dia secantik Hesty.”

“Hesty nomor satu. Hehehe,” Ricky berbicara sendiri, sembari menutup pintu saat tiba di dalam rumah.

Karena tiba-tiba haus, Ricky berjalan menuju ke dapur. Meraih gelas, dan membuka kulkas. Mengambil air di botol minuman.

Gluk! Gluk! Gluk! Setelah meneguk air minum. Ricky meletakkan gelasnya di atas meja makan. Tap! Dan ia pun mengernyit saat menyadari sesuatu. Di samping gelasnya, juga ada gelas lain. Ricky mencoba mengingat-ngingat, sepertinya sejak semalam Ricky gak ke dapur deh. Juga ia jarang minum di rumah. Dan seingat dia sejak tadi, baru kali ini ia ke dapur mengambil minum.

Jadi? Ini bekas gelas siapa? Ricky membatin setelah melihat bekas gelas yang di letakkan di meja makan. Tentu saja benaknya jadi bertanya-tanya, apakah PRT di rumahnya sempat mengambil minum, dan menyadari jika pemilik rumah ternyata ada di rumah saat ini? “Hmm! Mungkin seperti itu.” Kata Ricky pada dirinya sendiri, sembari ngangguk-ngangguk, dan ia pun tak lagi mempermasalahkan akan hal itu, membiarkan dua gelas berada di atas meja.

Ricky kembali ke ruang tengah. Melirik ke sekeliling ruangan dan terhenti saat melihat ke sofa. Keningnya mengernyit ketika menyadari jika sesuatu tak lagi ada di sofa itu. Apakah ia tak salah menaruh barang tersebut? Benak Ricky kembali mengingat kejadian semalam.

Benar! Dia menaruhnya di sofa…

Bra dan CD milik Bella, kemana yah? “Wahhh! Masa iya, ‘dia’ yang ngambil sih?” tanya Ricky pada dirinya sendiri.

Padahal dia berniat pagi ini mengantar barang milik temannya ke Hotel. Tapi! Sekarang malah udah gak ada. Maka dari itu, Ricky mengambil ponsel, dan segera membukanya untuk menghubungi Hesty.

~ •○●○• ~​

Berbeda dengan Hesty. Untung saja ia lebih cepat mengambil langkah seribu sebelum ketahuan oleh Ricky. Jantung Hesty benar-benar terasa hampir copot tadi, untungnya sih kedua security yang menjaga di pos tadi tidak menahannya pergi. Tak tau lagi apa jadinya, jika saja security tadi menahan kepergian Hesty, karena di anggap gerak-geriknya mencurigakan. “Waaaaaahhhhhh! Untung saja.” Erang Hesty sesaat.

Yah! Untung saja security tadi hanya menyapanya saja “Udah mau pulang neng?” begitu sapaan dari kedua security itu, dan Hesty hanya menjawab ‘iya’ saja dan lanjut berjalan cepat melewati pos security.

Hesty sama sekali tak menoleh, bahkan ia sempat mendengar teriakan dua kali dari Ricky yang menurut Hesty sudah berada di depan rumah. Setelah merasa cukup, langkah Hesty terhenti tepat di depan pintu masuk perumahan.

“Hosh! Hosh! Hosh!” Hesty mengatur nafasnya, sambil membungkuk dan kedua tangan berpegangan di kedua lututnya. “Dasar Sial! Bikin gue hampir jantungan aja tuh cowok…” kata Hesty kesal.

Dan sesaat, di kedua tangan yang sedang memegang lutut. Rupanya juga, terdapat Bra di tangan kiri, dan CD di tangan kanan. “Wahhhhh… Siallll! Kenapa gue malah membawa nih barang! Arghhhhhhhh!” Plak! Hesty mengerang kesal, juga menabok kepalanya sendiri. Karena menyadari jika dirinya sejak tadi memegang BRA dan CD berwarna merah. Dia terkejut, dan bingung mau ngapain. Dan bagaimana jika Ricky mengetahui jika BRA dan CD selingkuhannya itu ada di tangan Hesty.

Belum juga menetralkan keseluruhan nafas dan pikirannya. Ponselnya tiba-tiba berdering.

Hesty masih menatap ponsel tersebut. “Shit! Aduhhhh gimana donk… gimana nih, uhhhhh!” erang Hesty, berjalan ke sana kemari. Sembari menghentak-hentakkan kedua kaki, yang masih bingung.

Jelas saja, Hesty di landa dilema. Dua pertanyaan yang menderanya, apakah ia harus menjawab panggilan telfon Ricky atau tidak. Di satu sisi, Hesty marah dan sedih karena Ricky berselingkuh. Di satu sisi lagi, apa alasan Hesty nanti saat bertemu dengan Ricky, dan menanyakan kenapa Hesty tak mengangkat telfon?

Masa harus menjawab, jika Ricky selingkuh?

Buktinya?

Apa Hesty harus nunjukin Bra dan Cd itu? Pertanda sama aja donk, Hesty mengatakan secara tidak langsung, jika selama ini dialah yang bekerja sebagai PRT di rumah Ricky. “Wahhhh! Jangan ceroboh deh loe Ty… sama aja kalo loe pen mempermalukan diri sendiri.” Gumam Hesty sambil geleng-geleng kepala sendiri. Gak! Untuk saat ini, hal itu tak boleh diketahui Ricky. Takutnya Ricky melarangnya kerja lagi, dan mencari orang lain menggantikan Hesty. Kemudian Hesty membatin.

Karena menurutnya hal Itu gak boleh terjadi, karena Hetsy masih butuh uang tambahan setiap bulannya.

Apalagi nilainya lumayan besar.

Berarti…

Keputusannya adalah, Hesty harus menjawab panggilan telfon dari Ricky.

“Ehem… tes… tes… 1, 2… 3!” Hesty memperbaiki perasaan, suara dan juga mikim wajahnya. Padahal dia sedang tak berhadapan dengan pria itu. PLAK! “Dasar bego! Mana bisa kelihatan sih. Hahahahahaha, dasar!” menyadari kebodohannya, lagi-lagi! Hesty memukul kepalanya sendiri.

Kemudian dengan perasaan yang berkecamuk, juga jantung yang berdebar-debar. Hesty akhirnya menjawab panggilan telfon dari Ricky. “Halo… yah, napa loe?”

“Halo? Astagaaaa sayang, kok baru ngangkat telfonnya sih? Kemana aja sejak semalam aku telfon-telfon gak di respon, juga pesan WA ku.”

“Halahhhh! Kan udah gue jelasin berulang-ulang, kalo gue gak ngangkat telfon, berarti gue dah tidur.” Kata Hesty, yang langsung memperdengarkan suara kesalnya terhadap Ricky. Padahal sejujurnya, yang ia lakukan untuk menutupi perasaan campur aduknya saat ini.

“Kok kamu jadi kesal?”

Eh iya. Bener saja! Hesty membatin. Mimik wajahnya sungguh lucu, bibir rada manyun, juga mata yang menyipit lalu membelalak setelah menyadari, dan berfikir apakah ia telah salah ngomong atau tidak. “Ehem! Siapa yang kesal?”

“Kamu, dari nada suara kamu… sepertinya kamu sedang kesal,” jawab Ricky di seberang. “Kesal ma siapa sayang? Cerita gih.” Yah sama elu lah! Untung saja hanya di hati saja kalimat tersebut Hesty katakan.

“Gak perlu tau, dah ah… gue mau kerja ni”

“Kamu masuk pagi kah?” tanya Ricky lagi.

“Iya…”

“Ya udah, agak siangan aku mampir di sana, sekalian nongkrong mpe kamu pulang.”

“Gak perlu… dah, mending loe ngurusin selingk- Oopsss!” hampir saja Hesty keceplosan. Sambil memukul-mukul mulutnya sendiri, Hesty merasa kesal pada dirinya. Yang entah mengapa tuh mulut, susah di ajak berkompromi.

“Maksud kamu?”

“Arghhhhhh! Dah ah, gangguin gue aja… gue tutup ya, byeeee.” Tut! Tut! Tut! PLAKKKK! Hesty memukul kembali kepalanya sendiri, ketika telfonnya ia tutup. Menyadari sikapnya yang sama sekali tak terkontrol.

Di tatapnya sesaat layar ponsel. Dan, matanya membelalak ketika telfon dari Ricky kembali.

Di gerakkan jempolnya, dan bermaksud untuk memencet tombol ‘Tolak’ panggilan telfon tersebut. Namun otak dan jarinya sepertinya tak singkron. Yang ada, malah ia menekan tombol ‘Yes/Terima’ Klik!.

“Syukurin…” gumam Hesty yang merasa telfon sudah ia tolak.

“Halo…Halo sayang… apanya yang syukurin.”

Mendengar samar-samar suara Ricky dari speakerphone, membuat Hesty terkejut. Menahan nafas, dengan jantung yang berdebar-debar. Perlahan-lahan di lihatnya layar ponselnya kembali, tampak adanya time yang berjalan maju, juga menandakan jika ponselnya sudah terconnect dengan telfon Ricky.

“Wahhhhh! Dasar Hesty bego.” Gumamnya kesal pada dirinya sendiri. Kemudian ia meletakkan ponsel ke telingan. “Ada apalagi sih?” ia lalu bertanya ke Ricky dengan nada kesal, yang sebetulnya kesalnya itu di tujukan pada dirinya sendiri.

“Sayang… kamu marah yah ma aku?”

“Udah tau nanya… oopsss!” Hesty memukul mulutnya sendiri. “Aishhhh, udah ah… gue salah ngomong.”

“Salah ngomong?”

“Bawel amat sih jadi cowok! Dasar cowok gak setia.” Wahhhhh! Kebangetan loe Ty, kenapa sampe keceplosan lagi sih. ARGHHHHHHHHHH! Batin Hesty, tubuhnya gerak-gerak gak jelas. Seperti terlihat sedang kebelet pipis. Sembari juga ia menjauhkan ponsel dari telinganya.

“HAAAAA! Siapa yang gak setia?”

Hesty mendengar teriakan Ricky, langsung menaruh kembali ponselnya di telinga. “Dah ah, malas bahas masalah itu… Pleaseeee Ky! jangan dulu telfon-telfon gue, atau ketemu ma gue. Gue lagi malas ketemu ma Elu… Ngerti gak?” Degh!!!

“Bentar… bentar, maksud kamu… kamu marah ma aku, karena aku gak setia?” kata Ricky sesaat. “Aku gak ngapain-ngapain kok sayang, kenapa kamu bilang aku gak setia? Apa aku selingkuh?”

“Halah, mana ada maling ngaku?”

“Sayang, sumpah demi apapun… aku gak selingkuh.” Ricky meyakinkan di seberang.

Namun tampak ekspresi Hesty, seakan tak mempercayai perkataan pria itu. “Aishhhhh gak usah pake sumpah-sumpahan segala, udah kepergok malah masih ngeyel.”

“Kepergok? Serusannn, aku bingung… Kamu pergokin aku dimana? Dan dengan siapa?” kata Ricky sesaat, “Ohhhh jangan-jangan semalam kamu liat aku bareng dengan temanku yah?”

“T-e-m-a-n?” Hesty bergumam sesaat, dan sontak emosinya makin naik. “Teman tapi Mesrah! Dasar… dah ah, gue lagi emosi nih.”

“Jadi kamu semalam ada di Club juga?”

“Tuhhhhh kan, arghhhhhhhh! Semalam loe mabuk-mabukan ma cewek, terus pake peluk-pelukan, dan membawa tuh cewek ke rumah loe kan? Cihhhhh! Dasar cowok gak tau malu.”

Sepertinya memang Hesty sudah mulai kelewatan marahnya. Dan terdengar dengusan kesal dari Ricky di seberang. Hesty pun ikutan tersadar, dan juga berfikir apakah ia baru saja salah ngomong atau tidak.

Belum sempat ia berucap. Tiba-tiba… “HESTY!” Ricky bersuara keras di seberang. “Aku berusaha untuk menjelaskan ke kamu, tapi kamu sepertinya masih saja menuduhku. Well! Aku juga gak suka ‘Sama Wanita; yang suka ‘Marah’ dan marahnya tak beralasan.”

TUT! TUT! TUT!

“Lah dia malah yang marah… apa sih mau loe?” Hesty menatap layar ponselnya, dan benaknya makin bertanya-tanya. Apakah semua cowok memang seperti itu? Jika salah, akan balik marah kepada pasangannya demi menutupi kesalahannya? Yah itu sudah pasti. Maka dari itu, Hesty pun memilih untuk cuek saja. Toh kalo memang gentle, Ricky jauh lebih baik berterus terang saja ke Hesty apa yang ia lakukan di belakangnya.

.

.

Beberapa saat kemudian, Hesty tiba di tempat kerja.

Seperti biasa, dia memulai beraktivitas. Membersihkan meja kasir, juga membantu kawan lainnya membersihkan meja lainnya. Tapi kali ini, ada yang berbeda.

Bukan hanya Dewi yang merasakannya, Risna pun demikian. Yang juga mereka bertiga bersamaan masuk shift pagi. Hesty tampak sedih.

Jelas saja, Hesty sejak tadi pikirannya, hanya memikirkan apa yang terjadi dengan hubungannya yang baru seumur jagung ini? Apakah hubungannya akan berakhir secepat ini? Jika berakhir, akankah Ricky akan mengganti PRTnya? Karena secara, yang Ricky ketahui jika PRT adalah informasi dari Hesty, bahkan Hesty sendiri yang mengambil pekerjaan itu. Jika demikian, apakah yang akan Hesty lakukan selanjutnya?

Dewi dan Risna yang sudah selesai melakukan pekerjaannya, mendekati Hesty.

“Sejak pagi melamun mulu, loe Ty!” tegur Dewi.

Hesty menoleh. Melempar senyum, yang menurut kedua sahabatnya senyum aneh dan tak biasanya ia temukan dari Hesty.

Lagi! Hesty kembali melamun.

“Sepertinya lagi ada masalah,” gumam Risna pelan kepada Dewi.

“Maybe!”

“Dah yah, pokoknya loe utang ma kami…” kata Dewi sembari menepuk pundak Hesty, juga menyadarkan Hesty dari lamunannya sejak tadi.

“Eh! Utang apaan lagi?”

“Ada deh. Hehehe.” Kata Risna.

“Pokoknya gak boleh ada rahasia-rahasiaan di antara kita. Oke?” Dewi menimpali.

“Seriusan gue gak paham.” Kata Hesty.

Waktunya istirahat…

Hesty langsung di tarik oleh Dewi dan Risna, mengajaknya untuk makan bareng. Yah! Karena Dewi dan Risna yang terkenal kepo, pun dibuat penasaran oleh sikap Hesty hari ini. Maka mereka bakal mengejar Hesty hingga gadis itu menjelaskan inti permasalahan hingga dia menjadi sesedih ini.

Yah! Meski sedih, tapi Hesty masih gak menghilangkan kekonyolannya di hadapan yang lain.

“Ada apa sih, kalian maen tarik-tarik mulu.”

“Loe belum makan kan? Hehehe, gue traktir hari ini.” Kata Dewi. Sukses! Membuat Hesty tak lagi berfikir untuk menolaknya. Juga perutnya pun mulai keroncongan karena sejak pagi dia belum mengisi perutnya.

Tiba di warung makan di sebelah cafe tempat mereka bekerja. Memesan makanan, sambil makan, Dewi langsung menyerang Hesty degan pertanyaan.

“Kalo gak jujur, loe yang bayar sendiri makanan…”

“Wahhhhhh! Ini sama aja jebakan batman!.” Kata Hesty protes.

“Hehehehe, yah namanya penasaran… apapun bakal kami lakuin, iya gak Wi.” Risna menjawabnya.

“Wah kalian sahabat yang paling terburuk yang pernah gue kenal…” Hesty mengunyah sembari geleng-geleng kepala.

“Hahahahaha, biarin emang gue pikirin.” Cibir Dewi.

“Makanya loe kudu cerita.” Risna menambahin.

“Haaaaaaaaa!” Hesty menghela nafas panjang. “Gue habisin dulu makanannya kali yah, biar enak ceritanya.”

“Dasar nyebelin.” Gumam Dewi, yang lagi merasa penasaran. Gemas pun ia rasakan terhadap Hesty.

“Brrrrrrr! Hesty gelo. Demen amat sih nyiksa kami berdua.”

“Lah? Yang nyiksa siapa?”

“YAH ELU LAH!” teriak Dewi dan Risna yang kompakan. Membuat Hesty hampir saja menyembur makanan dari mulutnya, karena terkejut.

“Busyet… uhuk! Uhuk! Kompakan amat.”

“Buruan habisin makanan loe.”

“Iya…Iya!”

Setelah menghabiskan makanan, Hesty pun tanpa babibubebo. Langsung mengatakan jika, “Ricky selingkuh.” Dua kata, sukses membuat Dewi dan Risna speechless. Mulut mereka mengaga, juga kedua mata mereka membelalak.

“Seriusan loe Ty?”

“Hu Uh!”

“Wah ini gak bisa di biarin.” Dewi dan Risa ikutan ngamuk, dan menyuruh Hesty untuk sabar.

Hesty mengambil sesuatu dari tas. “Loe liat?” kemudian menunjukkan Bra dan CD berwarna merah yang ia temukan di rumah Ricky pagi tadi ke Dewi dan Risna.

Dewi mengernyit, “Bentar! Loe sering maen ke rumahnya?”

“Ooopssss! Gue salah ngomong yah?”

“Arghhhhhhh! Seriusan napa sih.” Dewi gerang, kesal terhadap Hesty yang masih saja buat mereka penasaran.

“Hihihihih, sabar ah! Jangan-jangan kalian lagi PMS.”

“Sue.”

“Goblooookkkk!” Dewi ikut bergumam.

Selanjutnya, Pertanyaan demi pertanyaan di dapatkan Hesty. Karena tak tahan, makanya Hesty khirnya jujur kepada kedua sahabatnya itu jika selama ini ia bekerja di tempat Ricky, tanpa diketahui oleh pria itu.

Juga, jika rumahnya telah di sita oleh pihak Bank. Maka dari itu, Hesty yang tak punya tempat tinggal, secara diam-diam menumpang tinggal di rumah Ricky.

Dewi dan Risna kembali Speechless…

Dewi meraih Bra dan CD. “Inikan CD ma Bra baru…” gumam Dewi, karena kedua barang tersebut masih kental aroma produk baru dari toko. Juga adanya tag price yang belum di copot.

“Wahhhh harganya mahal euy!” celetuk Risna yang juga baru saja mengambil Bra dan melihat tag pricenya.

“Berarti dia beliin selingkuhannya tuh,” gumam Hesty.

Saat masih sasyik-asyiknya ngobrol, tiba-tiba ponsel Hesty berdering.

“Waaaaaaahhhhhhhh… dia nelfon Wi…. Ris,” kata Hesty menunjukkan layar ponselnya yang rupanya Ricky yang menelfonnya.

“No Comment!” gumam Dewi.

“Jawab aja Ty, kali aja emang dia pengen jelasin ke elu.”

“Gak ah!” Hesty tak mau menjawab.

Mendengar itu, Dewi geleng-geleng kepala sesaat. Kemudian mulai menyarankan, ada baiknya Hesty menjawabnya. Jangan kayak bocah, pake ngambek tanpa mendengar langsung dari Ricky alasannya ia membelikan perempuan lain Bra dan Cd tersebut. Atau mungkin, memang Ricky hanya membelikan buat temannya. Atau juga, bahkan ia membeli buat Hesty. Kan, belum ada yang tau, sebelum mendapat penjelasan langsung dari Ricky.

“Betul yang di katakan Dewi loh Ty! Jangan dulu loe mikir panjang, sebelum denger penjelasan dari Ricky.” Risna menimpali.

Tapi! Ponsel Hesty berhenti berdering. “Udah mati juga kok.”

“Paling nelfon lagi ntar!” kata Dewi selanjutnya. Dan benar saja, ponsel Hesty berdering lagi. “Bener kan… Hahahahah!”

“Loe cocoknya jadi peramal.” Hesty berseru.

“Bukan peramal, karena emang Ricky butuh ely tau.”

“Tau Ah!”

“Ya udah, di jawab dulu telfonnya.” Kata Dewi sembari memasang ekspresi kesal terhadap sikap Hesty.

“Iya…Iya.” Yah sudah, Hesty akhirnya menjawab telfon Ricky. Dan langsung meloadspeaker.

“Halo… sorry! aku hanya mau ngomong, tolong donk. Info ke PRT yang teman kamu. Kalo dia baru saja mengambil barang-barang temanku. Kebetulan aku mau ngembaliin sebelum pemiliknya ke Bandara. Karena semalam tertinggal di mobilku.”

Mendengar suara Ricky barusan, Dewi dan Risna saling berpandangan.

Hesty menggidikkan bahu, menatap kedua sahabatnya bergantian. Dan setelahnya, Hesty melihat gerakan di bibir Dewi, yang mengatakan ‘Udah, jawab dulu tuh’.

Hesty menganggukkan kepalanya, “Oke nanti gue bilangin.” Kata Hesty cuek.

“Ok Thanks.” Tut! Tut! Tut! Ricky memutuskan sambungan telfon.

“Lah di matiin.” Dewi berseru.

“Tuh kan lihat, dia yang salah… dia malah yang marah!”

“Bentar… tadi dia ngomong, kalo barang temannya? Apa yang ia maksud tuh dia?” tanya Dewi sembari menunjuk bra dan CD.

“Sepertinya.” Risna nyeletuk membenarkan.

“Terus gue kudu balikin nih barang?” tanya Hesty.

“Sepertinya.” Dewi menjawab pertanyaan Hesty.

“Aishhhh gak usah, gue malas ketemu ma dia.”

“Ingat loh, loe tinggal di rumah dia.”

“Dan gue bakal keluar dalam waktu dekat kok. Paling besok lah, gue nyari kos-kosan.” Hesty menjawab dengan cepat, sembari kedua bola matanya berputar. Pikirannya sebetulnya tak membenarkan apa yang baru saja ia lontarkan.

“Hmm, tapi gue saranin mending loe ketemu ma dia. Terus, nanyain apa yang sebenarnya terjadi.”

“Malas ah!”

“Ya udah, terserah elu deh. Gue hanya nyaranin aja, sebelum loe menyesal nantinya.”

Mereka kembali ngobrol. Dan tak lama, akhirnya mereka selesai istirahat.

~ •○●○• ~​

Di tempat berbeda…

Setelah menutup telfon, Ricky terdiam. Pikirannya memikirkan tentang Hesty seorang. Apakah ia telah berbuat hal yang membuat Hesty marah kepadanya? Tapi, apa yang dilakukan Hesty sebenarnya tak masuk akal logika Ricky juga sih. Marah tanpa bertanya dahulu ke Ricky apa masalahnya.

Kemudian Ricky mengernyit ketika mengingat yang dikatakan oleh Hesty juga. Selingkuh? Sejak kapan Ricky selingkuh. Ricky menggeleng-gelengkan kepalanya sesaat, menepis juga menganggap apa yang di pikirkan Hesty hanya kekonyolan semata. Atau jangan-jangan Hesty semalam memang sempat melihat Ricky bareng Bella dan Vani?

Terus, Hesty melihatnya dimana?

Dasar aneh! Ricky bergumam sesaat. Dan mulai bermain dengan pikirannya lagi. Yang jelas, menurut Ricky memang ada yang aneh dari sikap Hesty belakangan ini. Atau jangan-jangan malah Hestynya sendiri yang selingkuh? Karena setelah di pikir-pikir. Kenapa semuanya terjadi dengan cepat. Juga sepertinya hanya Hesty doank deh yang merasa dan mencari-cari masalah ke Ricky.

Siapapun yang ada di posisi Ricky, pasti akan berfikir seperti itu. Bukan tak ada sebab, tapi jika di tarik benang merah atas apa yang terjadi selama semingguan lebih ini. Ricky merasa memang sepertinya ada hal yang dilakukan Hesty dimalam hari, tanpa jujur ke Ricky. Atau jangan-jangan Hesty sedang bertemu dengan cowok lain? Cowok yang ia lihat bersama Hesty kala itu?

Gak! Ricky gak boleh negatif thinking dulu sebelum benar-benar melihat dengan mata kepalanya sendiri apa yang dilakukan Hesty di belakangnya.

Maka dari itu, Ricky mulai berfikir apa yang harus ia lakukan?

Sebelumnya, ia menelfon Bella dan memberitahukan jika barangnya tertinggal di mobil.

Bella tak mempermasalahkan hal itu, lagian ia dan Vani juga sudah berada di perjalanan menuju ke Bandara. Bella sempat melempar candaan ke Ricky “Biarlah jadi konsumsi pribadi loe… Hahahaha, yah kali, loe bisa pake buat berkhayal. Ooopppsss!”

“Hahahaha, dasar!”

“Oke deh, see you again yah Ricky ganteng tapi Jombol!”

“Hahahaha…” Ricky hanya ngakak tadi, dan akhirnya sambungan telfon pun berakhir. Karena Bella tak mempermasalahkan lagi barangnya yang tertinggal, juga memang telah di bawa pergi oleh PRTnya. Maka dari itu, ada baiknya nanti malam Ricky mulai merencanakan sesuatu.

Tapi! Jika ia menggunakan mobil. Maka bisa di pastikan, akan mencolok dan Hesty bakal curiga. Maka dari itu, Ricky pun memutuskan untuk pulang ke rumah ayahnya di awal. Dan semoga saja apa yang ia butuhkan, berada di rumah ayahnya.

Yang ia butuhkan, ialah sebuah ‘Motor; meski memang menurut Ricky adalah hal konyol melakukan hal tersebut. Namun hati mengalahkan logika, juga sebelum semuanya terlambat, dan perasaan Ricky makin besar. Mending, memastikan sejak dini, apakah memang benar Hesty mengkhianatinya atau tidak. Jika memang hasilnya positif, Hesty yang mengkhianatinya, maka Ricky bakal memutuskan akan pergi dari kehidupan Hesty lebih cepat lebih baik.

~ •○●○• ~​

Malam hari…

Sengaja memang Hesty pulang lebih lama dari pada temannya yang berada di shift pagi bareng dia. Karena jika ia pulang cepat, juga gak ada tujuan.

Lebih baik menunggu di cafe aja, sampai malam hari. Dan berharap jika Ricky sedang tak dirumah saat Hesty pulang nanti.

Yah! Itu yang memang selalu di harapkan Hesty.

Mengingat Ricky, Kekesalan Hesty makin menjadi-jadi. Bahkan saat ia pulang, Ricky tak menampakkan diri sama sekali. Juga, baru kali ini pria itu tak menjemputnya. Apakah Ricky benar-benar marah besar? Dan tak menerima tuduhan Hesty, jika ia berselingkuh? Tapi melihat kenyataan jika ada Bra dan CD orang lain di rumah Ricky, sangat sulit menepis perasaan tersebut menurut Hesty.

Dan juga, tiba-tiba entah mengapa Hesty merasa kesal pada dirinya sendiri.

Benaknya pun masih saja memikirkan apakah memang ia telah salah ke Ricky? Apakah memang benar, Ricky sedang tak berselingkuh dibelakangnya?

“Arghhhhhhhhh membingungkan.”

Rupanya seorang pria, kawan kerja Hesty pun baru saja menghampirinya. Yang memang sedang mendapat shift middle. “Ty! Mau pulang?”

“Hu Uh.”

“Mau bareng gak?”

“Hehehehe, gak usah lah bro… Gue naik angkot aja,” kata Hesty menjawab serta menolak tawaran pria itu.

“Ya udah deh… kalo gitu duluan yah Ty.”

“Oke sippp.”

Sepeninggalan pria itu, Hesty pun menahan angkot untuk mengantarkannya pulang. Bukan pulang ke rumahnya, melainkan pulang ke rumah Ricky.

Turun di depan pintu gerbang perumahan, Hesty berjalan dengan perasaan yang berkecamuk. Menundukkan wajah, dan masih berdoa semoga Ricky sedang tak berada di rumah.

~ •○●○• ~​

Sebelumnya…

Dengan menggunakan Motor Yamaha N-Max milik supir ayahnya yang berada di rumah tadi, Ricky pun telah tiba di tujuan. Memarkir motor agak jauhan dari cafe tempat Hesty bekerja, sembari menunggu kepulangannya.

15 menit akhirnya yang di tunggu Ricky, keluar juga melalui pintu depan. Ricky memasang helm, kemudian stand by di atas motor sambil tak mengalihkan pandangannya dari gadis itu.

Degh!!! Jantung Ricky berdebar-debar saat melihat Hesty sedang ngobrol dengan seorang cowok, yang telah berada di atas motor. Motor tersebut berhenti di depan Hesty, dan tak lama, terlihat Hesty menggelengkan kepala seakan menolak ajakan pria itu. “Hufhhhhh! Lega deh.” Ricky menghela nafas, karena kegelisahannya yang baru saja menderanya tak terjadi juga.

Tak lama, sebuah angkot berwarna biru berhenti tepat di depan Hesty, dan gadis itu pun masuk melalui pintu samping angkot.

Angkot lalu berjalan, Ricky pun meng-on-kan mesin motor. Kemudian menjalankan motor, memposisikan agak jauhan dari angkot tersebut agar Hesty tak mengetahui jika dirinya sedang di ikuti oleh Ricky.

Mobil mengarah ke Pantai Losari. “Aneh…” gumam Ricky sesaat. Saat melihat angkot malah berbelok ke jalan yang tak mengarah ke rumah Hesty. Jelas saja makin menambah rasa penasaran Ricky yang tetap fokus melihat angkot tersebut. Sampai saat ini, Hesty belum juga keluar dari mobil. Dan pikiran Ricky pun bertanya-tanya, mau kemana gadis itu? Bukannya arah rumah dia, dengan angkot yang ia gunakan berlawanan arah?

Ricky menyadari, jika angkot saat ini mengarah ke rumahnya. “Lah… Hesty mau ke rumahku kah?” gumam Ricky kembali. Namun ia tetap mengikuti angkot tersebut.

Dan beberapa saat kemudian…

Benar saja. Angkot berhenti tepat di depan pintu gerbang perumahan. Ricky pun ikut menepikan motor agak jauhan, dan melihat Hesty keluar dari angkot.

Setelah membayar, Hesty pun berjalan masuk melalui gerbang perumahan.

Hesty berjalan pelan sambil nunduk-nunduk. Membuat perasaan Ricky jelas ikutan khawatir. Juga penasarannya makin membesar. Karena tentu saja, Hesty pastinya tak ada tujuan lain selain ke rumah Ricky. Kemduian Ricky tersadar sesaat, ia mengingat mobilnya, jika mobilnya masih berada di rumah ayahnya, mungkin bakal membuat Hesty kecewa. Karena pastinya, Hesty mengetahui mobil Ricky tak ada di rumah, akan pergi lagi.

Apakah Ricky langsung saja menemui Hesty?

Ricky menghentikan motor, saat berbelok ke jalan masuk cluster. Menatap Hesty yang telah berhenti tepat di pos penjagaan. Sepertinya Hesty menyapa para security di pos. Kemudian melanjutkan langkahnya menuju ke rumah Ricky.

Ricky ikutan memarkir motor tak jauh dari pos security, sempat menyapa para security yang sedang sibuk menonton siaran pertandingan Bola. Niatnya ia mau menghampiri Hesty, namun belum juga selesai memutuskan apa yang harus ia lakukan, yang terjadi malah Hesty berjalan masuk ke rumah Ricky. Bukannya malah pergi, karena tak mendapati mobil Ricky.

Ini malah tetap berjalan dan terlihat Hesty seakan telah biasa masuk ke rumah Ricky.

Ricky melanjutkan langkahnya, dan membuat jarak masih agak jauhan dari gadis itu.

Ada apa ini? Dan yang di saksikan saat ini oleh Ricky, pintu rumahnya terbuka. Dan Hesty masuk ke dalam rumah, menutup pintu dan lampu ruang tamu pun ikutan menyala.

Sejauh ini, Ricky belum sadar akan sesuatu. Yang jelas, Ricky merasa aneh aja. Kenapa Hesty bisa masuk ke rumahnya? Dan, juga seperti ia telah terbiasa masuk. Apa jangan-jangan Hesty pernah mengantarkan PRTnya ke rumah?

Terus, ngapain Hesty ke rumahnya malam ini, padahal Hesty mengetahui mobil Ricky tak ada.

Ricky memilih untuk menunggu Hesty di luar. Juga tentunya, saat berada di rumah, setelah mencari Ricky dan gak menemukannya di rumah bakal langsung pergi. Namun kenyataannya sudah lebih 15 menit, Hesty belum juga keluar dari rumah.

Wahhh! Ada yang gak beres nih. Batin Ricky sesaat.

Ricky pun kembali berjalan menjauh dari rumahnya. Mengambil motornya, dan kembali ke rumah.

Ia memarkir motornya di garasi. Dan sesaat, masih belum ingin masuk ke rumah. Menunggu beberapa saat dulu, yah kali aja Hesty keluar setelah benar-benar yakin Ricky tak berada di rumah. Maka saat itu, Ricky akan memeluknya. Akan menanyakan, apa yang sebenarnya terjadi.

Namun…

Ricky tersadar, sudah hampir sejam lamanya Hesty berada di rumahnya. Membuat Ricky makin penasaran.

“Bentar-bentar… terus sekarang dia dimana? Maksudnya, apakah dia nungguin aku di dalam rumah?” Ricky merasa senang sekali jika memang seperti itu. Maka dari itu, karena sudah gak sabar lagi ingin melihat wajah kekasihnya itu, Ricky segera masuk ke dalam rumah.

Saat pintu kembali tertutup, rupanya Hesty tak berada di ruang tamu. “Uhuiii! Pasti dia di ruang tengah…” Gumam Ricky sangat pelan, dan terlihat ekspresi lucu di wajahnya, yang tak sabar berpelukan dan juga bermesraan dengan Hesty di rumahnya. Bahkan Ricky berniat, bakal menyuruh Hesty menginap saja. Aishhhhhh! Otak mu jangan mesum dulu, Ky. Batin Ricky sesaat. Sambil berjalan perlahan-lahan, Ricky membuat seakan-akan dirinya tak mengetahui jika Hesty berada di rumahnya. Dengan sikap cuek, Ricky pun berjalan dan tiba di ruang tengah.

Lah! Gak ada juga? Batin Ricky selanjutnya. Kemana tuh anak? Maen ngilang gitu aja.

Dan!

Suatu hal yang membuat Ricky terdiam. Juga Ricky mulai tersadar akan sesuatu. Melihat gelas di atas meja makan, sudah tak ada lagi. Apakah Hesty baru saja mencucinya?

Yang makin mengherankan, Bra dan CD milik Bella, sudah di sofa.

Makin menambah kebingungan Ricky. Apakah Hesty yang mengambil ke PRTnya? Dan mengembalikannya ke tempatnya semula?

Tanpa Ricky sadari, sepasang mata sejak tadi melihatnya dari atas.

Itu hanya sesaat…

Karena Ricky yang masih penasaran dimana Hesty berada, sempat menolehkan kepala ke atas. Dia melihat ke arah jendela kamar.

Dan…

Sayup-sayup terdengar suara gaduh di atas. Membuat Ricky mengernyit. Yah! Hesty pasti sedang bersembunyi di kamar lantai dua.

Dengan senyum tertahan, Ricky melangkahkan kaki menuju ke tangga. Namun, tiba-tiba terhenti saat hampir tiba. Wait… Ricky terdiam, dan berfikir sejenak. Yang akhirnya ia pun mengurungkan niatnya untuk naik ke lantai dua, dan berjalan menuju kamarnya.

Tiba di kamar, sengaja Ricky tak menutup pintu kamarnya, dan membiarkanya terbuka lebar. Karena jika saja Hesty keluar, maka Ricky bakal tau. Secara akses keluar dari rumahnya, harus melewati kamar.

Setelah bersih-bersih, memakai kaos oblong, juga celana pendek. Ricky duduk di ranjang, bersandar dengan pandangan tetap ke pintu kamarnya yang masih terbuka.

Ini namanya, sama-sama bertahan…

Sejam pun telah berlalu…

Ricky makin penasaran, apakah Hesty telah tertidur di lantai dua? Atau jangan-jangan dia malah udah keluar, melompat dari lantai dua rumahnya? Memikirkan itu, Ricky geleng-geleng kepala, menepis pikiran konyolnya barusan. Wahhh! Gak! Gak mungkin itu terjadi.

Mungkin lebih baik, Ricky menunggu sejam atau dua jam lagi, baru Ricky akan menghampiri Hesty di lantai dua.

Namun…

Hanya setengah jam, Ricky menunggu. Tak sabar untuk bertemu dengan Hesty, maka Ricky beranjak dari ranjang. Dan memilih untuk keluar dari kamarnya.

Dugh! Dugh! Dugh!!! Jantungnya berdebar-debar, juga perasaannya begitu menyenangkan sekali. Bahagia serta tak sabar untuk melakukan banyak hal bersama Hesty di rumah. Di langkahkannya kedua kakinya secara perlahan-lahan, dan tiba di anak tangga pertama. Ricky terdiam, mengambil nafas panjang lalu melanjutkan menaiki satu persatu anak tangga.

Tiba di lantai dua, Ricky berdiri di depan kamar satu-satunya yang ada di lantai dua. Ricky tersadar, dia ke lantai dua selama tinggal di rumah. Hanya sekali doank, dan itupun memang bareng Hesty.

Jangan-jangan…???? Pertanyaan demi pertanyaan makin bermain di tempurung kepalanya. Untuk memastikan, Ricky pun memegang gagang pintu, dan membukanya secara pelan.

Krieeeekkkk! Pintu kamar tebuka. Perasaan Ricky menjadi gugup, juga jantungnya masih saja berdebar-debar. Tubuh kaku, menahan nafas Ricky masuk ke dalam kamar. Ricky pun melihat tumpukan kardus, yang sangat rapi makin membuatnya bingung.

Yang membuatnya makin terkejut. Sepasang kaki mulus terlihat dari balik kardus.

Ricky melangkah lagi.

And! DEGH!!! Ia membelalakkan kedua matanya, saat mendapati Hesty yang telah tertidur beralaskan kardus.

Sembari menahan nafas, Ricky masih menatap tubuh Hesty yang tertidur. Dalam hati, Ricky pun telah merasakan haru atas apa yang ia lihat. Kondisi Hesty seperti ini sama saja telah menyakiti dirinya sendiri.

Ada apa dengannya?

Apa yang sebenarnya terjadi? Berbagai pertanyaan hinggap di kepala Ricky, dan ia sesaat memandang ke sekeliling ruangan. Lalu Ia menemukan beberapa tumpukan pakaian. Juga, 3 tas besar.

Yang akhirnya membuat Ricky tersadar. Apakah selama ini Hesty tidur di sini? Memikirkan hal itu, Ricky tersenyum lembut, apalagi saat melihat tubuh Hesty menggeliat. Tampak sekali, meski hanya beralaskan kardus, tidur Hesty sangat nyenyak. Ricky pun mendekatinya.

Masih sesekali menahan nafas, Ricky Berjongkok di sebelah Hesty. Melihat guratan kesedihan di wajah Hesty, perasaannya Ricky ikutan bersedih. Apalagi melihat cara tidur Hesty. Yang hanya memakai beberapa potongan baju yang dijadikannya sebagai bantal.

Namun sakit itu, hanya sesaat. Tergantikan dengan perasaan bahagia mengetahui, jika selama ini memang Hesty membutuhkannya. Membutuhkan sosok Ricky, untuk membantu Hesty keluar dari masalah. Hingga setelah memikirkan hal itu, Ricky tersenyum lagi. Ia pun menatap penuh perasaan wajah Hesty yang masih memejamkan mata.

Dan…

Saking sayangnya kepada gadis itu, Ricky pun beranjak, dan keluar dari kamar untuk mengambil dua bantal beserta selimut di kamar pribadinya.

Dia kembali ke kamar tersebut, dan meletakkan selimut beserta bantal di samping Hesty sesaat. Menatap wajah Hesty dengan senyuman, kemudian ia kembali berjongkok.

Ingin rasanya ia memeluk tubuh gadis itu. Mengecup kening, juga menjadi pendengar setia dari semua cerita-cerita Hesty. Juga berjanji akan membantu Hesty apapun itu. Baik materi maupun non materi. Semua akan Ricky lakukan, demi Hesty. Demi gadis lucu, manja nan nyebelin ini. Tapi Ricky menyayanginya.

Selanjutnya selimut ia bentangkan untuk menutup tubuh Hesty. Ia pun mengambil kardus, dan menaruh di sebelah Hesty. Meraih bantal dan menaruhnya di samping Hesty. Ricky pun ikutan baring di sebelah Hesty.

Tiba-tiba tubuh Hesty menggeliat. Dan secara perlahan-lahan, Ricky menyentuh kepala gadis itu. Mengangkat kepala Hesty, dan lengan kanannya ia jadikan sebagai bantal penopang kepala gadis yang sungguh ia sayangi. Serta sedikit berbalik, memiringkan tubuhnya dan menatap wajah Hesty dengan senyuman hangat.

Saat Ricky pun akan terpejam…

Tersadar, saat mata Hesty bergerak.

Ricky tersenyum…

Menanti saat-saat, Hesty mulai membuka mata.

Dugh! Dugh! Dugh! Sungguh jantung Ricky berdetak kencang menantikan saat-saat seperti ini. Juga, dirinya masih saja menahan agar tidak melakukan hal lebih terhadap gadis itu.

Dan…

“Ri-ricky?” Hesty bersuara pelan. Ricky hanya diam saja, menatap bola mata Hesty dengan lembut. Dan yang terjadi selanjutnya, Hesty malah kembali memejamkan kedua matanya. “Ahhhh! Ke-kenapa sih, tiap malam mimpinya gini-gini mulu.” Mendengar itu, Ricky mengernyit.

Seperti gerakan slow motion, sambil menahan nafas. Ricky mengetahui jika tubuh Hesty bergerak. Dugh! Dugh! Dugh! Jantung Ricky berdetak makin kencang, saat dimana Hesty ikut menggerakkan juga kepalanya makin mendekat.

Bibir yang menggemaskan, berwarna pink milik gadis itu pun mulai manyun, seakan ingin di sentuh. “Cium donk Ky… maaf… gue cuman beraninya di mimpi kek gini doank.” Mendengar itu, Ricky mulai dilema.

Mengepalkan tangan, menahan nafas juga menahan hasrat yang memang tak semestinya ia lakukan di saat gadis itu belum sadar. Tapi yang terjadi, Hesty yang malah makin merapatkan bibirnya.

Semakin Ricky tahan, justru semakin menyiksanya.

Sudah saatnya. Batin Ricky.

Dan sangat pelan…

Ricky menarik nafas dalam-dalam, kemudian ia pun mulai mendekatkan wajahnya. Bibirnya pun terasa kaku, ketika jaraknya sudah begitu dekat dengan bibir Hesty.

Perlahan-lahan…

Bibir mereka bersentuhan…

Bahkan, kini mereka saling berciuman dengan begitu mesrah. Bukan hal pertamakalinya Ricky mencium seorang perempuan. Tapi kenapa mencium bibir Hesty sungguh berbeda. Sungguh indah dan juga seperti sesuatu yang baru ia lakukan. Sekujur tubuh Ricky bergetar, juga bergejolak dan telah memastikan jika dirinya memang benar-benar menyayangi gadis itu.

Ciuman mereka hanya berlumat tanpa memainkan lidah. Tapi sukses membuat Ricky merasakan kebahagiaan yang begitu besar. Tak tahan lagi, Ricky memeluknya, kemudian melepaskan ciuman.

Ricky mendapati wajah Hesty tersenyum lembut dengan mata terpejam. “Ma-makasih Ky, sudah nyium gue… Makasih Ky, sudah sayang ma gue. Meski ini hanya mimpi doank.”

Ricky tersenyum…

Kemudian, dengan bibir yang kaku. Ia pun mulai menggerakkannya.

“Ini bukan mimpi sayang… ini nyata!” degh!!!

Hesty merasa seperti nyata. Jantungnya berhenti berdetak, dan perlahan-lahan mulai membuka mata. Di tatapnya penuh heran, wajah Ricky. Dan seakan masih menepis perasaannya, yang menganggap jika ini nyata. Padahal dia hanya mimpi doank. Bermimpi hal yang sama, yang sejak awal tinggal di rumah Ricky, mimpi itu berulang-ulang terjadi. “Ahhhh! Ini mimpi doank.”

“Ini nyata sayang…” Degh!!! Hesty memejamkan mata, menggelengkan kepala. Masih saja berfikir jika apa yang ia dengar hanyalah bisikan dalam mimpinya. Suara Ricky, meski memang seperti nyata, tapi balik lagi. Semuanya gak mungkin terjadi di kehidupan nyatanya. Apalagi Hesty ketahui jika saat ini Ricky sedang marah besar terhadapnya.

“Hei mimpi bloon! Loe jangan gangguin dulu ihhh… gue mau nyentuh cowok gue… Awas loe!” Hesty pun mulai menggerakkan tangannya. Di sentuhnya wajah Ricky, “Bahkan wajah loe, bisa gue sentuh yah Ky… Hihihi, mimpi yang sempurna.”

Ricky menahan senyum…

Sungguh, ia pun menahan rasa gemas, sayang dan juga berbagai keinginan terhadap kekasihnya ini. Hingga yang dilakukan Ricky sama dengan Hesty.

Dia menyentuh wajah Hesty, mengusapnya lembut.

“Uhhhh! Kok kerasa kayak di sentuh beneran sih.”

“Emang ini beneran kok.”Degh!!!

“Hei siapa sih loe, pake nyela-nyela kata-kata gue ihhhhh! Gue pengen nikmatin mimpi gue woi!”

Karena Hesty masih saja menganggap ini hanya mimpi semata. Maka Ricky mendekatkan bibirnya lagi ke bibir Hesty. Di kecupnya lembut nan penuh perasaan, di berikan sedikit basahan dan di tahan selama dua detik. Lalu Ricky melepaskannya. Bibir Hesty tampak mengkilap.

Berbeda dengan yang di rasakan Hesty barusan. Sambil menggeleng-gelengkan kepala, dengan mata terpejam. Hesty menahan nafas, dan perlahan-lahan mulai membuka matanya kembali.

Mata mereka saling berpandangan tanpa berkedip sama sekali.

Sedetik…

Dua detik…

Dan…

“Kamu dah nyium aku, dua kali loh…. Hehehehe,” kata Ricky, sembari menunjukkan dua jari berbentuk ‘V’.

“Dasar Brengseeeek! Gangguin mimpi indah gue aja loe ahhh…” gumam Hesty sesaat. Dan- “KYAAAAAAAAAAAA!!! MALIIIIIINGGGGGGGG!!!” DEGH!!!

Still Continued

END – Tiba Tiba Saja Part 15 | Tiba Tiba Saja Part 15 – END

(Tiba Tiba Saja Part 14)Sebelumnya | Selanjutnya(Tiba Tiba Saja Part 16)