Tiba Tiba Saja Part 14

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21

Tiba Tiba Saja Part 14

Start Tiba Tiba Saja Part 14 | Tiba Tiba Saja Part 14 Start

Flashback…

Suatu hari…

Setelah kejadian pertamakalinya Ricky meminta cium ke Hesty. Di siang hari, lebih tepatnya pas jam istirahat tiba, Hesty dan juga kedua sahabatnya duduk di RM yang tak jauh dari tempat mereka bekerja.

Ngantuk, galau, bahagia, juga stress yang kini mendera Hesty. Duduk berhadapan dengan kedua sahabatnya. Hesty membungkukkan badan. Menjatuhkan kepalanya ke meja, posisi jidat menyentuh ujung meja tersebut.

Dug! Dug! Dug! Bukan suara jantung Hesty, melainkan suara meja yang berbenturan tiga kali dengan jidat Hesty.

“Napa loe?” tanya Risna melihat apa yang dilakukan oleh Hetsy.

“Iya… BT ama loe gue lihat hari ini.” Dewi menimpali.

Hesty tak menjawab. Bahkan kini ia menolehkan kepala, hingga pipinya bersandar ke meja. Tangan kanannya ia letakkan di atas meja, meluruskan hingga hampir mengenai ujung meja di seberang.

“Aaaaaa… Aaaaaa…. Beeeeee… ceeeeee!” mendengar erangan pelan dari Hesty membuat kedua sahabatnya mengernyit menahan tawa.

“Lahhh dia malah berhitung.”

“Hahahaha, dasar Hesty.”

“Aaaaaaaaa… Beeeeee…. Ceeeee… Deeeee.” Hesty melakukan hal yang sama sebelumnya.

“Ef… Geeee…. Haaaaa.” Dewi melanjutkannya.

“Arghhhhhhhh!” Dug! Dug! Dug!. Lagi, setelah mengerang, Hesty menjedur-jedurkan kepalanya di meja.

“Kenapa sih loe?” Risna mulai bertanya kembali, sembari menyentuh lengan Hesty. Di gerakkannya lengan tersebut, membuat Hesty mengangkat wajah dengan dua mata yang menyipit.

“Gue rasa-rasanya pen mati aja.”

“Mati? Emang loe punya masalah seberat apa sih?”

“Hufhhhhhh!” Hesty mendesah sesaat. Kemudian memperbaiki posisi duduknya. Menatap kedua sahabatnya itu bergantian. Seakan-akan ia sedang serius. Padahal memang lagi serius sih. “Gue mau nanya ke kalian.”

“Apaan?” kata Dewi.

“Haaaaaaaa! Salah gak sih, kalo gue nolak cowok yang minta cium ma gue?” Degh!!! Dewi dan Risna saling berpandangan setelah mendengar apa yang dikatakan Hesty.

“Bentar… bentar, jadi… gegara ntuh, loe jadi lesu dan ingin mati?” tanya Dewi.

“Hu Uh!.”

“Jiahhhhhh… kirain masalah rumah ma nyokap loe. Ternyata masalah gituan.”

“Ahhhhhhh! Sama sih, hehehehe. Anggap, sekalian deh.” Kata Hesty sembari terkekeh. Bibir manyun pun telah ia buat dihadapan sahabatnya.

“Ck…Ck…Ck.”

“Tapi, bentar. Emang yang mau nyium elu siapa?” Dewi yang terlihat paling antusias.

Hesty kemudian mengangkat telapak tangan di atas meja. Membalikkan, kemudian mulai menghitung jari-jarinya. Mulai dari jempol jari, “Kasih tau… Tidak… Kasih tau… Tidak…. Kasih tau.” Pas di jari kelingking, pilihan Hesty pun akhirnya jatuh ke ‘Ngasih Tau’ ke sahabatnya mengenai nama si cowok yang di maksud. “Ahhhhhhh… kenapa malah pilihannya kek gitu sih.” Lagi! Hesty mendesah kesal.

Lalu ia mengacak-ngacak rambutnya. Makin membuat tingkahnya menggelikkan, hingga kedua sahabatnya itu bukannya prihatin melainkan tertawa terbahak-bahak.

“Hahahaha, dia yang ngitung sendiri. Dia yang komplain sendiri. Dasar Hesty, gak pernah berubah.”

“Hahahaha, yah maklum aja Wi, namanya orang galau yah gitu.”

“Siapa yang galau?” Hesty lalu menatap kedua gadis itu, sembari melipat kedua tangan di meja.

“Yah elu lah.”

“Hahahahaha… serius, loe balik ke jaman purba lagi Ty. Ngeliat sikap loe kek gini, sepertinya emang loe lagi butuh teman tuk cerita.”

“Hehehe… tau aja loe Wi.” Kata Hesty sambil terkekeh.

“Siapa yang mau nyium elu?”

“Hufhhhhh! Cowok Sial.”

“Cowok Sial?” gumam Dewi mengulang perkataan Hesty.

“Oopsss! Itu, cowok yang pernah ketemu ma gue di Bali… yang juga pernah gue ceritaan ke elu.”

“Yang pernah datang ke cafe, dan ketemu ma kita-kita kan di parkiran?” Risna menimpali, mengingat kejadian saat mereka ingin nonton bareng.

“Yap!”

“Bentar-bentar… loe dah jadian ma dia?” Tanya Dewi selanjutnya.

Hesty mengangguk pelan, dengan ekspresi malu.

“Jiahhhhhh dia malah malu.”

“Serius loe Ty?” Hesty menjawab hanya menganggukkan kepalanya lagi.

Setelah mendapat jawaban dari Hesty, tanpa disadari ada secuil perasaan bahagia yang di rasakan oleh Risna. Apalagi jika bukan, akan dimudahkan proses kedekatan hubungannya dengan Dendi, yang memang telah lama rasa sayang dan cintanya ia pendam. Juga, hanya karena Dendi menyukai Hesty.

Meski ia menyayangi Dendi, namun Risna selalu mengutamakan Hesty. Dan berharap, jika Hesty dan Dendi bisa bersatu. Mengingat kehidupan Hesty yang selalu di rundung masalah yang tak akan pernah ada habisnya.

Risna paham betul, seperti apa Hesty. Juga yang baru kali ini berani mengatakan/bercerita tentang cowok dihadapan mereka.

“Sejak kapan?” Dewi bertanya kembali.

“Hmm, minggu lalu kali.”

“Kali?” Risna bergumam dengan nada tanya.

“Hehehehe, yah kan. Gue lupa, kapan jadiannya.”

“Jiahhhhhhh, dasar.”

“Terus… terus, dia dah minta cium ke elu?”

“Hu um.”

“Terus?”

“Gue gak kasih lah,” jawab Hesty dengan cepat, sembari memperlihatkan ekspresi kesalnya dihadapan mereka.

“Loe dah pernah ciuman?” Tanya Risna sesaat. “Ahhhh! Sepertinya memang belum.” Malah dia pun yang menjawab sendiri pertanyaannya.

“Udah tau nanya…” gumam Hesty.

“Tapi kalo loe belum yakin ma dia, dan juga loe memang masih takut. Ya sudah, mending loe jangan ngasih.” Dewi berucap, yang memang di antara ketiganya, dia lah yang paling dewasa.

“Emang gue gak mau kasih.” Hesty berseru.

“Bagus… karena kalo loe dah ciuman pertamakali, bakal berlanjut tuh. Hehehehe,”

“Hufhhhhh! Gue takut terjadi sesuatu Ris. Loe tau sendiri kan, hidup gue kek gimana.” Hesty kembali menyandarkan kepalanya di atas meja.

“Iya sih, mending loe kek gini aja dulu… gak usah neko-neko, karena kalo loe dah ngasih ciuman ke dia, takutnya orang kek dia bakal minta lebih, yang yahhhh. Endingnya loe bakal ‘HAMIL; Ty!”

“WHAT?” Hesty terkejut, dan mengangkat wajah sembari memandang Dewi yang baru saja berucap.

“Loh benar kata Dewi… apalagi, dia kan tajir. Dan, yah. Kebanyakan bahkan 99% cowok kek dia, suka mempermainkan cewek loh.”

“Tapi kok gue merasa dia berbeda,” gumam Hesty sembari menatap ke depan, dengan pikiran yang melambung. Mengingat tentang sikap Ricky selama ini.

“Hahahahahaha, ya sudah. Kalo loe rasa beda, ngapain loe nanya ke kami. Dasar!” Dewi merasa kesal atas sikap Hesty yang plin-plan.

“Begini, kalo emang loe udah persiapkan diri untuk melangkah lebih jauh, hubungan loe ma dia. Nah! Gue saranin, loe mending selalu safety deh Ty, jangan sampe loe hamil.” Risna lagi-lagi menjelaskan hal yang sama dengan Dewi tadi, membuat tubuh Hesty bergidik.

Yah! Meski Hesty gak mempunyai pengalaman sama sekali berhubungan dengan seorang pria. Tapi, Hesty gak bodoh-bodoh amat tak mengetahui apa itu ciuman. Apa itu melakukan hubungan badan. Tapi dasar Hesty, kadang otak dan mulutnya gak singkron.

Maka dari itu, entah emang sudah terbiasa. Dewi dan Risna, tiba-tiba mempunyai niat yang sama, ingin mengerjai Hesty. Dan mereka ‘KLIK’ tanpa ada yang saling memberikan kode, mereka maen ngomong asal nyambung aja.

“Arhhhhhhhh! Kalian itu, bukannya nyenangin gue. Malah bikin takut-takut kek gini”

“Hahahaha, loe takut?”

“Iyalah… gue takut Hamil lah.”

“Karena?”

“Jiahhhhhh, karena gue belum bisa ngebahagiain nyokap gue lah. Cihhhh!” jawab Hesty selanjutnya.

“Ya sudah, gak usah loe kasih ciuman doloe ke dia.” Kata Dewi.

“Kalo loe gak mau Hamil.” Risna menimpali.

“Gitu yah?”

“Hu um!” Dewi menjawab sembari menganggukkan kepala, tampak ekspresi Risna maupun Dewi seakan menahan tawa. Setelah melihat ekspresi Hesty yang mulai mempercayai apa yang dikatakan oleh mereka berdua.

“Ya udah, nanti gue bilang kek gitu aja deh alasannya.”

“Ya terserah elu lah.”

“Udah?”

“Dah ah… makan yuk! Dari tadi lupa pesan makanan gegara ngobrol mulu.”

“Hahahaha, oke oke… Wi, bayarin gue sekalian yah.”

“Sue… hahahaha, iya iya, ntar gue bayarin dah.” Kata Dewi.

Flashback End.

.

.

“Hamil?” Ricky berseru, juga menatap heran ke Hesty setelah apa yang di katakan oleh Hesty sungguh membuat Ricky merasa tergelitik. Juga, makin menambah kegemasannya terhadap gadis yang saat ini menunduk malu di sampingnya.

Hesty lalu mengangguk juga menjawab pertanyaan kata pengulang dari Ricky barusan.

“Ck…ck…ck, sayang.” Ricky bergumam lagi.

“Ya… loe marah yah?” Hesty menoleh malu, seakan mengintip melihat ke Ricky.

“Kamu emang gak tau, sebab wanita hamil karena apa?” tanya Ricky.

“Hehehe… tau sih,”

“Terus. Kenapa kamu bilang takut hamil kalo kita ciuman, huh!?”

Mendengar itu, Hesty menoleh kembali. Menatap Ricky dengan perasaan malu, bercampur kesal. Karena Ricky masih saja bertanya, padahal dia gak tau, Hesty ini dah lelah, malu juga pengen rasa-rasanya menampol di kepala. “Ini gegara Risna ma Dewi nih,” Bisik Hesty pada dirinya sendiri, namun terdengar di telinga Ricky meski hanya sayup-sayup doank.

“Kenapa sayang?”

“Gak… gak! Hehehe. Dah ah, gue dah mau turun nih,”

“Jadi, permintaan ku ketiga kalinya nanti, udah bisa kan di laksanakan?”

“Maksudnya?”

“Cium… Hehehe,”

“Aishhhhhh gak! Gue gak mau ciuman. Gue takut HAMIL. Puas!” kata Hesty membuat Ricky menarik nafas dalam-dalam. Menahan rasa kesal bercampur gemas terhadap gadis itu.

“Ya sudah…”

“Dah ah… gue cabut dulu yah, dah sana pulang. Awas, gak usah singgah-singgah.” Kata Hesty membuat Ricky mengernyit.

“Cieee… yang dah tau, cara ngelarang cowoknya kek gimana.”

“Hehehe, iya donk! Dah ah… sana pergi.”

“Gimana mau pergi, kamu belum keluar dari mobil.”

“Oopsss! Hehehehehe, sorry lupa.” Kata Hesty sembari nyengir, lalu dengan cepat membuka pintu mobil. Dan keluar dari mobil.

Ricky lalu membuka kaca mobil. “Kalo aku dah nyampe rumah, aku kabarin kok.”

“Gak perlu… gue tau kok, kalo loe dah di ruma atau tidak. Eh! Ooopssss!” Hampir saja, bukan hampir malah nyaris. Hesty menutup mulutnya sendiri, dan menatap malu ke Ricky.

“Maksudnya?”

“Dahhh kebanyakan maksudnya, ntar bakal jadi Masukin.”

“Masukin?”

“ARGHHHHHH! PERGI GAK?” Hesty mengacak-ngacak rambutnya sendiri, sembari menyentak-nyentakkan kedua kakinya bergantian di aspal.

“Iya iya… Hehehehe”

Tak ingin membuat Hesty makin kesal. Maka Ricky segera menjalankan mobilnya, dan melihat Hesty yang berdiri menatap kepergiannya dari spion tengah.

Beberapa saat kemudian…

Setelah kepergian Ricky tadi. Hesty menyempatkan singgah di IndoApril untuk membeli perlengkapan mandinya yang memang telah habis. Juga mengingat apa yang dikatakan Ricky tadi, jika rambutnya bau apek gegara gak sampoan selama semingguan lebih. Maka dari itu, dari pada malu. Mending Hesty menyampo besok.

Membuka ponsel, kemudian memesan ojek Online untuk mengantarkannya ke rumah Ricky. Berharap Ricky malam ini, belum tiba di rumah.

Dan benar saja.

Setiba di rumah Ricky, mobil Ricky tak terpakir di garasi mobil.

Entah! Apakah Hesty harus senang atau marah. Di satu sisi, dia senang kalo Ricky belum pulang, karena berarti ia dengan bebas tanpa mengendap-ngendap masuk ke dalam rumah Ricky. Karena pun ia sudah memutuskan, untuk kali ini ia akan membiarkan dirinya menginap di tempat Ricky.

Satu sisi lagi, Ricky yang telah berstatus sebagai kekasihnya. Dan juga telah di ingatkan tadi, malah ngeyel dan tidak mengindahkan pesan dari Hesty. Kesal donk yang juga Hesty rasakan saat ini.

“Dasar cowok sial… anda gue gak tinggal di rumah loe, bakal gue telfon dan ngomel-ngomel ke elu.”

~ •○●○• ~​

Sebelumnya…

Saat di perjalanan pulang setelah mengantarkan Hesty di depan gerbang perumahan, ponsel Ricky berdering. Rupanya Sandra baru saja menelfonnya, membuat Ricky mengernyit. Karena tumben, wanita itu menelfonnya jam segini.

Maka Ricky pun menjawab panggilan telfon.

“Halo, ya San… kenapa?”

“Loe dimana?”

“Di jalan…”

“Hmm, nih si Bela ngajakin dugem. Mau gak?”

“Bela?”

“Iya… si Bela ma Vani, kemarin baru nyampe di Makassar. Nah kebetulan tadi nongkrong bareng. Dan ini mau lanjut ke Hollywings. Karena besok siang dia udah harus balik ke Jakarta.”

“Ohh ya ya… aku ingat. Lah! Jam segini?”

“Andre ikutan juga kok.”

“Ohhh gitu,”

“Dahhh lah, jangan kebanyakan mikir. Kayak yang bujang aja sih ah!” kata Sandra. “Lagian, anak-anak nunggu nih, dah bertahun-tahun gak ketemu ma elu, juga gak pernah dapat traktiran, makanya mereka maksain biar loe bisa di ajak.”

“Ya udah.” Akhirnya Ricky, karena tak mampu menolak permintaan Sandra. Juga dari pada suntuk di rumah sendiri, kenapa gak! Dia ikutan reunian bareng kawan SMU nya dulu.

“Gue ma yang lain duluan ke sana yah, loe nyusul aja.”

“Oke.”

Setelah menutup telfon, yang Ricky lakukan. Yaitu mengabari ke Hesty, karena dari awal dia gak ingin hubungan mereka terselipkan sebuah kebohongan. Itu sama saja, akan membuat hubungan mereka akan retak dikemudian hari. Itulah pemahaman yang di percaya Ricky selama ini.

Maka dari itu, dia pun menelfon Hesty.

Sekali, gak di angkat. Lanjut kedua kali, juga gak di angkat. Membuat Ricky menarik nafas dalam-dalam. “Masa dia nyampe rumah langsung tidur sih?”

Yah sudah, Ricky hanya mengirim pesan WA ke Hesty yang menjelaskan jika dia singgah ke suatu tempat. Dan menyebut tempat yang akan ia datangin, mengadakan reunian bareng teman-teman sekolahnya dulu.

Tak dibaca, apalagi dibalas. Maka dengan kesal, Ricky pun menaruh kembali ponselnya ke tempat semula.

Fokus menyetir mengarahkan mobilnya ke Hollywings yang terletak di daerah Boulevard.

.

.

Setibanya di sana, Ricky mengirim pesan ke Hesty.

Hingar bingar dalam ruangan langsung menyambut kedatangan Ricky. Juga suara music DJ yang menggema seantero ruangan. Ricky berjalan menuju ke tempat/meja tempat teman-temannya berada.

“Hai… Ky,” Sandra langsung menyapa Ricky saat tiba.

Terjadi cipika-cipiki, juga basa basi yang menanyakan kabar, juga mengungkap jika Ricky tambah ganteng-lah. Juga menanyakan ngapain dimakassar. Yah! Meski mereka bertanya dengan cara berteriak, dikarenakan suara music luamayan kencang. Tapi Ricky tetap menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan baik dari Bela, maupun dari Vani.

Dua pria dan tiga wanita. Duduk di meja yang memang telah Andre reservasi sebelumnya. Terdapat beberapa botol BIR, cemilan dan juga softdrink. Ricky sendiri, di awal langsung mengatakan “Aku gak minum alkohol yah! Gak apa-apa kan,”

Mereka memaklumi. Karena Ricky memang terkenal adalah cowok yang kurang gaul, juga tak banyak ngomong saat berkumpul seperti ini. Sejak dulu, dan menurut Sandra Ricky sama sekali tak berubah.

Sambil ngobrol santai. Terlihat sesekali, para wanita bergoyang di tempat, mengikuti irama music yang dimainkan oleh DJ. Juga, berteriak-teriak ikutan bernyanyi. Ricky dan Andre hanya diam, sesekali tersenyum memperhatikan apa yang dilakukan oleh ketiga wanita itu.

Lama kelamaan, para wanita mulai terlihat mabuk.

Cara goyang mereka pun mulai nyeleneh, untung saja ada Ricky dan Andre yang mendampingi mereka. Juga melarang jika saja ada yang nekad maju ke depan untuk ikutan bergoyang bersama para pengunjung lainnya.

Beberapa botol Bir pun telah habis, tak luput juga dari Andre yang memang terkenal kuat jika meminum Bir doank. Biar berapa botol, Andre masih bisa mengontrol diri agar tak mabuk. Dan juga masih bisa nyetir mobil, kalo hanya 4 or 5 botol Bir.

Tak terasa, waktu pun telah menunjukkan pukul 2 malam. Juga semua minuman telah habis. Maka mereka memutuskan untuk pulang.

Setibanya di parkiran, mereka berlima mengobrol.

“Oh iya kebetulan, Ky, rumah loe kan di daerah metro kan?”

“Iya.”

“Nah, Bel, Van… mending loe bareng Ricky aja pulangnya. Karena seraha Hotel loe berdua ma rumah Ricky.”

“Emang nginap dimana?” tanya Ricky.

“Di Hotel Gammara.”

“Ohhh pas sih, aku lewatin tanpa mutar arah.” Kata Ricky.

“Ya udah, gue bareng loe Ky… uweeeekkk!” Kata Bella, sembari mengoak karena udah mabuk berat.

“Oke!”

“Van… ambilin belanjaan gue di mobil Sandra donk, gue dah gak kuat nih.” Kata Bella selanjutnya.

“Biar saya yang ngambil.” Andre menyela, kemudian ia pun berjalan menuju ke mobilnya untuk mengambil belanjaan kedua wanita itu.

Tak lama, Andre kembali menenteng beberapa tas belanjaan kedua wanita itu.

“Buka belakang dong Ky,” kata Andre.

“Oke.”

Setelah bagasi belakang terbuka, maka Andre menaruh semua belanjaan tersebut.

“Ambilin yang tas kecil, biar gue tenteng aja.” Kata Bella, dan Andre membantunya mengambil tas yang di maksud.

Dan akhirnya mereka berpisah, dan tak lupa saling cipika cipiki, dan janjian akan bertemu kembali kalo diberi kesempatan. Yang jelas, sejak tadi gak ada hal istimewa yang terjadi yang biasanya orang-orang pikirkan setiap mendapati wanita/teman wanitanya mabuk. Semisal memikirkan untuk menggerayangi wanita tersebut, atau bahkan bakal berakhir di ranjang. Bukan! Karena Ricky telah terlatih untuk tidak berbuat seronoh terhadap wanita.

Bahkan Bella dan Vani sangat mengerti sikap Ricky selama ini, dan juga mereka memang telah mempunyai pasangan masing-masing.

Di jalan…

Bella duduk di depan, dan Vani duduk di jok tengah.

Tampak Bella sedang mengubek-ngubek isi tasnya. Sepertinya sedang mencari sesuatu.

“Nyari apaan?”

“Charger gue…” kata Bella masih sibuk membongkar-bongkar isi tas. Bahkan di pahanya, beberapa kertas juga pakaian keluar dari tas. Namun apa yang ia cari, tetap tak ditemukan di dalam tas tersebut.

“Ohhh!”

“Ahhhh paling ketinggalan di mobil Sandra nih,”

“Ya uda, besok beli lagi.” Vani menimpali yang berposisi telah menyandar di jok.

Saat Bella memasukkan kembali beberapa barang yang sempat terbongkar tadi, tanpa mereka sadari sebuah ‘BRA’ berwarna merah beserta CD yang memang baru saja Bella beli tadi, terjatuh dan terselip di samping Bella.

Akhirnya mereka tiba di depan pintu lobby Hotel.

Kedua wanita itu keluar dari mobil, dan di bantu Ricky beserta security hotel untuk mengeluarkan barang-barang Bella maupun Vani.

Perpisahan, di akhiri dengan cipika-cipiki. Kemudian, Ricky berpamitan kepada kedua wanita itu untuk pulang.

“Ok Ky, ti ati.”

“Oke deh… Bel… Van, aku duluan yah. See you again,”

“Byeeee…”

Beberapa saat, akhirnya Ricky telah tiba di rumah. Tak ada rasa curiga sedikit pun jika saja, ada orang lain yang telah masuk ke dalam rumahnya. Ricky memarkir mobil, kemudian membuka pintu mobil, yang membuat lampu dalam kabin ikutan menyala.

Ricky mencabut charger mobil, dan mengernyit saat melihat kain berwarna merah yang ke selip di jok samping, bersampingan dengan consule box.

Ia pun mengambil kain tersebut.

“Ahhh! Bra dan Cdnya si Bella nih.” Kata Ricky sesaat, setelah menyadari jika barang tersebut adalah milik Bella. Secara, gak mungkin juga milik Hesty kan? Karena yang selama ini selalu duduk di samping, yah hanya Hesty seorang.

Ricky hanya geleng-geleng kepala, kemudian tetap membawa turun barang tersebut.

Klik!!! Pintu unlock setelah Ricky menekan password.

Tak lupa menyalakan lampu ruang tamu, Ricky melepaskan sepatu. Kemudian berjalan masuk melewati ruang tamu. Bra dan CD yang dipegangnya, di lempar begitu saja di sofa ruang tengah. Dan memilih untuk masuk ke dalam kamar. Maklum, dah ngantuk dan sama sekali tak menyadari sepasang mata yang baru saja memandangnya dari lantai dua.

Setibanya di kamar, Ricky langsung masuk ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Keluar dari kamar mandi hanya melilitkan handuk, dan berjalan ke arah lemari. Mengambil celana boxer, bertelanjang dada. Kemudian berjalan ke ranjang. Dihempaskannya tubuhnya ke ranjang, meraih ponsel dan segera membuka applikasi WA.

Lagi! Ricky dibuat kesal, karena pesan darinya belum juga dibaca oleh Hesty. Tak ada telfon balik juga. Membuat pikiran Ricky mulai berkecamuk.

Ada keanehan yang Ricky rasakan selama beberapa hari ini.

Sangat berbeda dari sebelumnya, dimana setiap malam, Hesty sangat susah di telfon. Bahkan, tak pernah lagi mereka saling telfon-telfonan. “Hmm… setelah ia masuk malam terus tuh,” gumam Ricky pada dirinya sendiri.

Apakah emang, gadis itu setelah kerja malam. Langsung ambruk, tertidur dan tersadar di pagi hari? Atau, memang sengaja dia gak memberikan kesempatan ke Ricky untuk menelfon di malam hari? Jika demikian, apa alasannya?

Berbagai pertanyaan hinggap dikepalanya…

Namun, sejauh ini Ricky masih ingin berfikir positif. Dan berharap, jika Hesty tak melakukan hal konyol di luar sana. Satu prinsip Ricky setelah mencoba dekat dengan wanita. Yaitu, jangan pernah ia di kecewakan, karena jika memang terjadi. Maka apa yang selama ini dikatakan oleh ayahnya, akhirnya terbukti juga.

Ricky tak menginginkan hal itu terjadi.

Dan berharap, jika Hesty bisa menjaga hubungan mereka.

Bahkan, dalam waktu dekat Ricky berencana mengenalkan Hesty ke ayahnya. Agar dikemudian hari, tak ada masalah jika memang kedapatan oleh ayahnya, Ricky sedang menjalin hubungan dengan seorang gadis.

Dari pada pusing mikirin banyak hal, lebih baik memejamkan mata saja. Dan berharap yang terbaik dalam hubungan mereka berdua. Tak terasa pun, kedua mata Ricky mulai terpejam.

~ •○●○• ~​

Pukul 7 pagi, Hesty telah terbangun dari tidurnya. Dan tersadar jika hari ini adalah hari minggu, pastinya Ricky gak ke kantor. “Dehhhh bagaimana ini?” gumam Hesty sambil beranjak berdiri.

Dia berjalan ke sana kemari, memikirkan apakah ia harus mandi di lantai bawah. Atau gak perlu mandi, dan langsung pergi saja dari rumah Ricky ke tempat kerja? Apalagi memang hari ini adalah jadwal liburnya bersih-bersih di rumah.

Yah! Lebih baik begitu. Benak Hesty sesaat. Maka ia pun bergegas, membuka baju dan dalamannya. Memakai pakaian casual, dan tak lupa memasukkan seragamnya ke dalam tas beserta perlengkapan mandi. Karena Hesty berfikir, lebih baik dia mandi di tempat kerja aja nanti.

Dengan cara berjinjit, dan menahan nafas. Hesty berjalan menuruni tangga secara perlahan-lahan. Dan berharap, Ricky jangan bangun dulu.

Setibanya di lantai satu, Hesty menyempatkan berjalan ke dapur untuk mengambil segelas air. Dan tanpa sadar, karena juga terburu-buru ia lupa mengembalikan gelasnya ke tempat semula. Dan meletakkan begitu saja di meja makan.

Hesty lalu berjalan ke ruang tengah.

And!

DEGH!!! Langkahnya terhenti ketika melihat sesuatu di sofa.

Jantungnya berdetak kencang, juga tubuhnya kaku ketika menyadari benda tersebut adalah bukan miliknya. Yah! BRA dan CD berwarna merah, yang baru saja Hesty lihat.

Saat tangannya menyentuh Bra tersebut, seketika perasaan Hesty gak mengenakkan. Ia pun heran, kenapa ia bisa merasa sakit hati? Juga! Benaknya bertanya-tanya, apakah Ricky telah selingkuh? Siapapun yang akan ada di posisi Hesty saat ini, pasti akan merasa dikhianati. Dan tak akan mengelak, jika dirinya memang merasa sakit hati.

Tanpa sadar, kedua mata Hesty berkaca-kaca. Benar kata Risna dan Dewi, jika dirinya tak boleh 100% mempercayai pria itu. Terbukti kan? Setelah tak mendapatkan ciuman dari Hesty, malah Ricky memilih untuk bercinta dengan perempuan lain.

Wahhhh! Apakah Ricky memang sering melakukan persetubuhan di luar nikah? Dasar Sial! Batin Hesty.

Sungguh sesuatu yang sama sekali Hesty tak pernah duga. Juga sungguh, kejadian hari ini sungguh membuat hati Hesty terasa seperti ter-iris iris oleh belati tajam. Untung saja, Hesty belum memberikan segalanya ke Ricky. Kalau tidak, maka dia tak tau lagi akan seperti apa hidupnya kelak.

Ingin ia berkata kasar. Meneriakkan dengan menyebut nama-nama binatang yang ditujukan ke Ricky. Pria sial yang telah berhasil memperdayainya. Pikirannya makin berkecamuk, memikirkan apakah ia harus bertindak secepatnya? Apakah dia harus memutuskan hubungannya dengan Ricky? Yah! Itu sudah harus Hesty lakukan, dari pada dia hanya menjadi tempat pelampiasan semata.

Takutnya, justru makin lama malah Hesty akan menjadi korban seperti pemilik BRA dan CD ini. Sembari mata Hesty melihat ke barang di tangannya.

“Hufhhhhh!” Hesty menghela nafas berat. Dan kembali berfikir, bagaimana dengan barang-barangnya yang ada di rumah ini? Juga, bagaimana pekerjaannya yang menjadi PRT di rumah Ricky? Ahhhhhh! Benar-benar sungguh menjadi pilihan yang begitu berat bagi Hesty.

Dia menyadari kebodohannya telah terpengaruh oleh cinta sesaat. Terpengaruh pria itu, yang akhirnya ia terjerat dan masuk ke dalam perangkapnya. Jelas saja, Hesty menyesal. Sungguh penyesalan yang teramat sangat, yang kini Hesty rasakan.

Tapi dasar Hesty yang masih ababil, juga selalu berubah-rubah pikirannya.

Dan saat ini, Ia pun bingung tak tau harus melakukan apa sekarang? Apakah ia harus nekad berlari, dan mendekati pintu kamar Ricky? Menggedor-gedor pintu kamar Ricky? Dan langsung menanyakan kenapa ia menghianati kepercayaan Hesty? Juga meminta agar hubungan mereka berakhir sampai disini? Atau langsung menampar wajah Ricky, memukul perut, kepala atau langsung menjotosnya di muka?

Terus, apa yang akan Hesty lakukan setelahnya? Karena jelas saja, Ricky langsung mengetahui jika yang selama ini bekerja sebagai PRT di rumahnya, adalah Hesty. Juga mengetahui, jika Hesty tinggal di lantai dua.

Mengingat itu, bukannya sedih. Malah ia tersenyum dalam kesedihannya sendiri. “Aishhhhh… Konsisten dong Ty jadi orang.” Bisiknya pada dirinya sendiri. “Harus bisa memilih… Arhhh sungguh pilihan yang berat.” Pilihan yang sulit. Batin Hesty sesaat. Dan tanpa sadar, pandangannya kini ke pintu kamar Ricky.

Kemudian ia kembali berifkir. Apakah ia pernah mempunyai salah? Apa karena ia tidak memberikan ciuman ke Ricky?

“Apa salah gue… ahhhhh!” Ataukah jangan-jangan Ricky memang tak pernah sama sekali menyayanginya? Berarti apa yang selama ini Ricky ucapkan, hanyalah kebohongan semata?

Tidak! Tidak! Sembari menggeleng-gelengkan kepala. Hesty menepis pikirannya sendiri. Yah, karena hati kecil Hesty tak membenarkan hal itu. Terlihat sekali ketulusan yang dilakukan Ricky terhadapnya. Tapi! Tapi… kenapa, justru kenyataan pahit seperti ini yang harus di lihat oleh Hesty sih? Gejolak dalam dada Hesty sungguh menyiksa dirinya sendiri.

Tanpa sadar, dan juga masih melamun dengan pikirannya sendiri.

Hesty melangkah mendekati pintu kamar. Setelah tiba di depan pintu kamar, ia terhenti dan melamun sendiri. “Kenapa gue dah disini?”

Matanya membelalak, juga beserta emosinya yang kini telah berada di ubun-ubun. Sambil menggigit bibirnya sendiri, Hesty menggerakkan lengan kanannya. Berdiri di depan pintu kamar. Bersiap-siap untuk melakukan tindakan yang memalukan.

1… 2… 3!

STOP! Hesty. Ia berkata dalam hati. Setelah benar-benar menimbang-nimbang kembali, ya atau tidak menggedor pintu Ricky. Gak! Hesty masih butuh pekerjaan di rumah Ricky. Dan bersamaan, tangan Hesty yang telah terangkat akhirnya terhenti. Setelah menarik nafas dalam-dalam, ia pun menurunkan kembali tangannya.

Berkali-kali menarik nafas, dan memutuskan belum saatnya ia bertindak. Maka Hesty kembali melangkah ke sofa.

Di raihnya BRA dan CD, kemudian membanting-banting di sofa. Meluapkan emosinya yang telah menjadi-jadi.

Tapi, kapan Ricky membawa masuk perempuan yah? Kembali, pikiran Hesty bertanya-tanya. Padahal semalam, saat ia masuk. Barang tersebut, belum ada di sofa. Atau jangan-jangan? Pikiran Hesty mulai melayang, membayangkan jika dalam kamar Ricky ada wanita lain.

Mata Hesty membelalak, sambil mengepalkan kedua tangan menatap tajam ke pintu kamar Ricky.

Dan tiba-tiba…

Ceklek! Ceklek! Terdengar seperti kunci pintu yang sedang terbuka. Menyadari hal itu, Hesty segera melompat dan berlari meninggalkan ruang tengah ke ruang tamu.

Setelah riba di ruang tamu, bersamaan pun pintu kamar Ricky terbuka.

Dan!

BRAKKKK!!! Pintu depan tertutup dengan cara dibanting, dan Hesty yang telah berada di depan. Pun berlari keluar pagar, tanpa berani menolehkan kepalanya ke belakang.

“MALIIIIIIIINNNNNNNGGGGGG” DEGH!!!

Still Continued

END – Tiba Tiba Saja Part 14 | Tiba Tiba Saja Part 14 – END

(Tiba Tiba Saja Part 13)Sebelumnya | Selanjutnya(Tiba Tiba Saja Part 15)