Tiba Tiba Saja Part 12

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21

Tiba Tiba Saja Part 12

Start Tiba Tiba Saja Part 12 | Tiba Tiba Saja Part 12 Start

“Boleh nyium, gak?” DEGH!!!

Tiga kata itu masih terngiang-ngiang di kepala Hesty. Dua detik tampak Hesty terdiam. Bola matanya bergerak, melihat ke kiri lalu ke kanan. Kemudian melirik ke atas, karena tingginya hanya sebatas leher Ricky, maka Hesty mendapati ternyata sejak tadi Ricky menatapnya penuh harap. Yah! Ricky baru saja mengatakan hal yang membuat jantung Hesty berdebar-debar. Namun pikirannya berkecamuk. Bukan karena ia tak ingin, atau juga bahkan menginginkannya. Melainkan, masa iya secepat ini sih.

Pelan…

Sangat perlan dan lembut, tanpa ragu. Juga tanpa melenyapkan senyum lembut di wajahnya, Ricky lalu menggerakkan tangannya untuk menyentuh wajah Hesty. Degh!!! Telapak tangan Ricky menyentuh di pipi Hesty. “Gimana… Aku cium sekarang, yah.” Gumam Ricky, kemudian ia menggerakkan kepalanya. Lalu sedikit memiringkan kepalanya. Berniat untuk mencium di bibir gadis itu.

Kesadaran Hesty kembali. “Enggggg!” Hesty terpekik sesaat. Benaknya masih berfikir matang-matang, juga dengan nafas tertahan. Hingga setelah memutuskan, juga bersamaan kepala Ricky makin mendekat. Maka Hesty menggerakkan tangan kanannya. Ia mengangkat di hadapan Ricky. Kepalan tangan Hesty, berjarak satu beberapa centi doank dari wajah Ricky. “Apaan, mau gue beri loe?”

“Eh.!” Ricky tentunya kaget. Maka ia pun mengurungkan niatnya, sembari menggerakkan kepalanya kembali ke posisi awal. “Hehe, galak amat cewek aku rupanya.”

“Makanya, kalo dah tau galak… kenapa malah mau jadiin gue cewek loe, huh!?” Cibir Hesty, sembari memainkan bibirnya yang tampak lucu dihadapan Ricky.

“Aissshhhh… bibir kamu, ahhh!” Ricky berseru. Meski keinginannya begitu besar untuk menyentuhnya, dikarenakan bibir berwarna pink, seksi, dan juga imut kini benar-benar sangat mengganggu perhatiannya. Namun, Ricky masih berusaha menahan hasratnya. Sambil menggigit bibirnya sendiri, Ricky hanya bisa senyum kecut dihadapan Hesty.

“Kok muka loe kek gitu? Mau pipis atau mau ee’?”

“Hush! Jorok amat sih.” Balas Ricky membuat Hesty hanya nyegir. Bibir mengkerut, juga bergerak lucu, membuat pertahanan Ricky hampir rusak. Tanpa sadar, Ricky menggerakkan kembali kepalanya untuk mencium bibir itu.

“Oppppssss!!!” Dengan sigap, Hesty memundurkan badannya sedikit sembari menutup mulutnya dengan telapak tangan.

“Hehehe… maaf.” Ricky nyengir mendapat penolakan kedua.

“Btw, Loe jangan jadi cowok gue… kalo pikiran loe mesum kek gini terus ihhhh! Gue jadi takut tau,”

“Hehehehe…” Ricky tak menjawab. Hanya terkekeh sambil geleng-geleng kepala. Gemas banget dengan sikap Hesty seperti ini. Antara mau gigit, cium, peluk tubuh gadis itu. Sampai-sampai, Ricky mengeraskan otot tangan, leher dan mulutnya untuk menahan hasrat dan keinginannya terhadap gadis lucu dihadapannya itu.

Bukan nafsuh yang Ricky rasakan terhadap Hesty. Bukan sama sekali! Justru, Ricky sudah terbiasa bertemu dengan perempuan seksi, juga tak sedikit yang mengajaknya tidur/ML saat dia kuliah diluar negeri, ataupun saat ia berada di Denpasar. Namun, Ricky sama sekali tak berminat melakukan dengan sembarang wanita. Kecuali memang dia sudah tak mampu menahan hasrat ingin bercintanya.

Namun, Hesty sungguhlah jauh berbeda. Benar-benar gadis ini mempunyai segudang hal yang membuat Ricky melihatnya sebagai gadis lucu, cantik, smart, menggemaskan dan seharusnya di sayangi, bukan untuk sekedar menjadi teman tidur pria. Benar-benar unik menurut Ricky. Maka dari itu, Ricky tak memungkiri jika memang dia menyayanginya. Mungkin belum bisa dikatakan cinta, karena Ricky sendiri tak ingin salah melangkah. Juga belum memastikan, apakah memang Hesty ini adalah pelabuhan terakhirnya atau tidak.

“Ye dia malah diam…” gumam Hesty saat mendapati, Ricky hanya menatapnya dalam diam.

“Terus mau ngomong apa?”

“Loe marah kah?” Ricky hanya tersenyum, kemudian menggerakkan kedua tangan, juga sedikit maju bertujuan untuk memeluk tubuh Hesty. “Eh…Eh! mau ngapain?” Hesty malah meresponnya, dengan menggerakkan dua tangan menyilang di depan dadanya.

“Aku hanya mau meluk doank.” Kata Ricky, kemudian ia memeluk tubuh Hesty.

“Eh… Ky,” tubuh kaku, juga bibir yang bergerak kaku menyebut dua kata dengan terbata-bata. Perlahan-lahan, Hesty pun menurunkan kedua tangannya yang sempat berada dan menghalang di dadanya.

Ricky tersenyum. Memejamkan mata, di peluknya lembut tubuh gadis itu, tangan Ricky pun sudah mengusap lembut kepala Hesty. Sembari, mengecup penuh perasaan, di kepala. Sedangkan Hesty, tak membalas pelukan Ricky. Dia hanya diam, menahan nafas, dengan jantung yang berdetak kencang.

Ricky hanya tersenyum tipis, kemudian. “Kamu tuh, selalu saja berfikir negatif ke aku.”

Hesty tak jawab! Merasa ia seperti masih mimpi. Bisa di peluk, bahkan sudah berstatus sebagai cewek Ricky.

“Dah ah… aku mau pulang dulu.” Kata Ricky sembari melepaskan pelukan.

Hesty, menatap dua bola mata Ricky. Seakan meminta sebuah pernyataan atau jawaban atas apa yang ia pikirkan sejak tadi. Ternyata Ricky hanya diam membalas tatapannya dengan kernyitan di kening.

“Gue boleh nanya gak?”

“Hmm,”

“Kenapa loe suka ma gue?”

Ricky tersenyum sesaat. Bahkan senyumannya itu, sukses membuat Hesty menahan nafas. Lalu, Ricky hanya menggidikkan bahu, menjawab pertanyaan gadis itu sesaat. “Karena kamu adalah Hesty… makanya aku sayang kamu,”

Tampak Hesty mencoba untuk memahami arti perkataan pria itu. Tampak diam dengan pandangan mengernyit ke Ricky.

“Hehehe… dah ah! Aku balik dulu yah, ingat. Jangan lupa, bantuin nyari yang mau kerja di rumah aku.” Kata Ricky.

Hesty tersenyum. Menganggukkan kepala, sembari mengangkat jempol tangannya. “Sippp! Nanti gue kabarin.”

“Ya sudah, aku pulang yah sayang. Assalamualaikum.”

“Wa’alaikumsalam,” Jawab Hesty dengan pandangan malu. Setelahnya, Ricky berjalan keluar, meninggalkan Hesty yang tersenyum penuh arti menatap kepergian pria itu.

~ •○●○• ~​

Beberapa hari kemudian.

Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Bahkan telah lewat 3 hari, setelah Ricky meminta cium ke Hesty. Meski tak mendapatkan hal itu, namun Ricky tetap senang menjalani hari-hari penuh kebahagiaan menjadi kekasih/cowok Hesty.

Oh iya, sudah 3 hari ini juga Ricky tinggal di rumahnya yang memang diberikan oleh ayahnya di daerah metro Tanjung Bunga.

Hubungan Ricky dan Hesty, berjalan seperti selayaknya muda-mudi yang sedang di landa kasih sayang. Pulang kerja, Ricky selalu menjemput Hesty, dan selalu mengajaknya untuk makan malam. Yang beda seperti sebelumnya, Hesty menginginkan Ricky menjemput nya tidak di depan cafe. Melainkan dengan memarkir mobil agak jauhan dari tempat ia bekerja.

“Malas aja sih Ky, kalo anak-anak banyak nanya.” Begitulah yang dikatakan Hesty, alasan ia menyuruh Ricky menunggunya di mobil saja. Bukan takut atau apapun. Melainkan Hesty jadi malas aja di tanya-tanya mengenai Ricky oleh teman sekerjanya.

Ricky sama sekali tak menolaknya. Toh! Tak ada salahnya menyenangkan pacar. Sama seperti kata orang-orang, jika wanita itu ingin di mengerti.

Duduk di ruangan, yang memang telah di persiapkan ayahnya selama Ricky tiba di Makassar. Dan menganggap Ricky, telah menjadi wakil Presdir. Tampak Ricky sedang sibuk membalas chat dari Hesty.

Chat mereka tak ada yang aneh. Bahkan tak malu, Hesty mengirimkan fotonya yang saat ini sedang melakukan aktivitas apa. Ricky pun memberikan pujian dan juga penyemangat buat Hesty.

Masih awal-awal, maka dari itu Ricky belum melakukan banyak tindakan. Juga, karena Hesty belum juga terbuka ke Ricky. Apalagi, Ricky masih penasaran kenapa hingga saat ini Hesty belum juga menceritakan mengenai sang ibu yang di rawat di RS Jiwa. Kondisi rumah Hesty, yang ada garis ‘Bank’ yang diketahui Ricky, jika nasabah KPR telah menunggak pembayarannya. Dan mendapat ancaman penyitaan rumah dari pihak Bank.

Diam bukan berarti Ricky tak mengetahui kehidupan Hesty. Namun, ia sengaja hanya menunggu hingga Hesty mengatakan sendiri kepadanya. Biarkan lah hubungan mereka penuh dengan keceriaan. Tak ada rasa sakit, juga tak ada yang aneh-aneh yang merujuk akan pertengkaran dikemudian hari. Ricky bukannya takut, melainkan dia gak mau merasakan sakit hati. Dia gak mau, juga sama sekali gak bisa menerima dengan akal sehatnya, jika berpacaran mesti ada pertengkaran dalam hubungan mereka. Yang jelas, Ricky akan selalu menjaga agar tidak dekat dengan perempuan lain. yang akan membuat Hesty cemburu. Menjadikan hubungan mereka memburuk, Ricky tak menginginkan hal itu terjadi.

Bukan hal yang sulit bagi Ricky. Toh selama ini, memang dia selalu membentengi dirinya agar tidak dekat dengan perempuan manapun. Selain itu, Ricky akan mengikuti semua keinginan Hesty. Juga, tak ingin melakukan tindakan jika Hesty melarangnya.

Simple…

Maka hubungan mereka tak akan pernah rusak oleh pertengkaran yang sia-sia.

Setelah mengirim pesan, mengatakan jika nanti sore Ricky akan menjemputnya. Tak ada lagi balasan dari Hesty, hingga menunggu 10 menit lamanya. Ricky yang gak sabaran, akhirnya menelfonnya.

“Halo sayang…” Ricky berusara saat telfon di jawab oleh Hesty di seberang.

“Wait, Ky… ada si bos nih. Ntar telfon lagi,”

“Siapa? Si Sandra atau-“

“Udah dulu deh… sorry banget.”

Tut! Tut! Tut!

BT juga jadinya kan. Hesty yang menutup telfonnya sepihak barusan, membuat Ricky menarik nafas dalam-dalam. Meski ia mencoba untuk sabar, tapi tetap saja. Pikirannya sungguh terganggu akan hal itu.

Maka, ia pun mencari nomor ponsel Sandra. Setelah menemukan nomor Sandra, maka Ricky menghubungi nomor tersebut. Tak butuh lama, Sandra menjawab panggilan telfon Ricky.

“Yah Ky, what happend bro?”

“Kamu di cafe atau?”

“Nih baru nyampe… gimana-gimana?”

“Andre mana?”

“Hmm, keknya lagi ngurus akte perjanjian kita bertiga tuh di Notaris.”

“Ohhh good lah,”

“Gimana bro?”

“Gak apa-apa… tadi pengen nanya doank, sampai dimana proses rencana kerja sama kita. Tapi kamu dah jawab.”

“Ohhh kirain ada yang lain,”

“Ada sih.”

“Apa tuh?”

“Jam berapa kamu pulang dari cafe?”

“Hmm, ini dah mau pulang… Cuma singgah bentaran doank kok. Kenapa, mau traktir lagi kah?” tanya Sandra. Ricky yang mendengarnya hanya tersenyum licik, karena mengetahui jika sebentar lagi, Sandra akan meninggalkan cafe. Juga, Ricky akan bebas untuk menelfon Hesty kembali.

“Hehehehe, nanti deh. Kebetulan aku lagi ada kerjaan hari ini.”

“Ohhh sippp deh.”

“Oke.” Setelah menutup telfon, kembali diwajah Ricky tampak senyuman jahil. Maka tak lama, setelah berfikir jika Sandra telah meninggalkan cafe. Maka Ricky kembali menghubungi nomor Hesty.

“Yah halo Ky, sorry… tadi ada ibu Sandra.”

“Hehehe, tau kok. Sekarang dia udah pulang kan?”

“Kok loe tau?”

“Aku yang suruh dia pulang, Hehe.” Jawab Ricky penuh percaya diri.

“Hehehe, gak lucu.” Hesty berseru di seberang. “Lagian, emang loe akrab gitu ma Bu Sandra?”

“Hmm, sepertinya gitu sih.”

“Busyet dah… seriusan?”

“Iya,”

“Waaaaaahhhhhh… Bahaya nih, bisa-bisa gue bakal dilaporin ke Bu Sandra.” Mendengar itu, Ricky malah mengernyit. Sungguh berbeda, dari apa yang diharapkan Ricky mengenai respon dari Hesty.

“Kok bahaya sih? Kan bagus donk… aku kenal ma bos kamu, berarti hidup kamu selama bekerja di sana… aman-aman aja.”

“Gue gak suka… Dan gue gak ngarep, loe ngomong ke Bu Sandra mengenai hubungan kita. Awas loe kalo berani macem-macem.”

“Errrrr!” Ricky gak bisa ngomong apa-apa lagi. Ia sendiri, sangat heran atas sikap Hesty seperti itu. Padahal bagus donk, kan Hesty tak akan kena masalah karena Ricky kenal baik Sandra dan Andre, bahkan mereka sedang bekerja sama di bisnis yang sama.

“Dah ah… gue mau lanjut kerja, ntar kalo jadi jemput. Kabarin setengah jam sebelumnya yah.”

“Iya.” Kata Ricky singkat. Ada kesal yang kini ia rasakan, namun tetap ia menahan kekesalannya dan tak akan memperbesar masalah tersebut.

“Byeeeee… Assalamualaikum.”

“Wa’alaikumsalam.” Tut! Tut! Tut! Setelah menutup telfon, Ricky menghelakan nafasnya. Kemudian ia kembali fokus ke pekerjaannya semula. Dan berusaha untuk tidak memikirkan kejadian tadi dengan kekasihnya.

~ •○●○• ~​

Dua hari kemudian…

Akhirnya. Hari yang di tunggu-tunggu Hesty datang juga. 3 hari sebelum penyitaan rumahnya, Hesty berharap nanti akan diberikan pembayaran di muka oleh Ricky untuk tenaga pembantu rumah tangga.

Dengan senyum penuh arti, Hesty yang telah siap untuk beraktivitas pagi ini. Menghubungi Ricky.

“Halo, Ky.”

“Yah sayang… Tumben, nelfon pagi-pagi.” Kata Ricky di seberang.

“Sibuk gak?” tanya Hesty.

Ricky menjelaskan jika dirinya lumayan ribet/sibuk di kantor ayahnya. Tapi untuk menemani Hesty menelfon, kata Ricky sesibuk apapun dirinya. Tetap mempunyai waktu luang buat gadis cantik, manja, lucu nan imut.

“Ahhhhhhh… Gombal!” Hesty menghela nafas panjang, sembari mencibir Ricky. Namun, wajah Hesty tak mampu membohongi. Jika ia benar-benar malu, karena di kedua pipinya tampak rona merah.

“Aku hanya nge-gombal ke kamu saja,” gumam Ricky.

“Oh iya, nih kebetulan gue dah nelfon orang yang mau kerja di rumah loe… Hmm, tapi-“

“Tapi apa sayang?” Ricky menyela secepatnya.

“Tapi… gini Ky, kebetulan kan… Dia lagi ada masalah tuh, jadi boleh gak dia minta uang muka di awal?”

“Hmm, tapi kamu yakin orangnya gak macam-macam sayang?”

“Sangat yakin… Satu juta persen yakin.” Hesty menyela secepatnya. Bahkan nada suaranya terdengar ceria mendengar jika rupanya respon dari Ricky tidak sesuai yang ia bayangkan. Awalnya Hesty membayangkan, jika Ricky akan menolak permintaan Hesty.

“Ya sudah, kalo kamu udah yakin… Yah berarti aku juga pasti yakin.”

“Seriusssss??? Ciiihuuuiiiiii…. Makasihhhhh Ricky sayang honye bunny sweety.” Erang Hesty, sembari melompat-lompat kegirangan. Bahkan, hampir saja dirinya terjatuh jika ia tak sigap untuk lekas-lekas berhenti melakukan gerakan berlompat-lompat.

“Errrrrrrrr!!! Kok kamu malah yang senang gitu sayang?”

“Hehehe…” Hesty terkekeh sesaat. “Kan gue senang, karena temen gue juga senang. Hihihihi,”

“Ohhh…”

“Ya sudah.. loe mending transfer sekarang aja duitnya.”

“Ha???”

“Oopppssss! Hehehehe, salah yah?”

“Hehehe, gak sih. Hmm, aku transfer kema-“ Belum sempat Ricky menyelesaikan ucapannya, dengan cepat Hesty menyela.

“Rekening gue aja…. Hehehehe, boleh kan?”

“Lah?”

“Hihihi, kebetulan teman gue ntuh. Gak punya nomor rekening.”

“Ohh, ok lah kalo gitu, kamu WA aja no rek kamu sayang… Aku langsung transferin 4 juga.”

“Waaaaaaaahhhhhhhh! Oke oke oke…. Hihihihi, dah ah. Gue tutup telfon sekarang yah”

“Loh kok?”

“Udah, banyak nanya… ntar tambah tua loh.”

“Apa hubungannya?”

“Dah ah! Gue mau kerja dulu nih.”

“Oke deh. Ntar gue jem-“ Belum sempat Ricky menyelesaikan lagi ucapannya, Hesty menyela dengan cepat. Menjelaskan jika mulai hari ini. Hesty meminta kepada bosnya untuk bekerja di shift malam. Karena alasan Hesty, di pagi hari dia menjaga ibu nya di RS. Toh juga, ownernya tau kondisi ibu Hesty seperti apa. Dibenarkan juga oleh Dewi dan Risna.

Ricky yang mendengarnya, awalnya kesal. Karena waktu mereka berlawanan. Ricky sibuk pagi hingga sore, sedangkan Hesty sibuk dari siang hingga malam hari. Terus, waktu ketemuan mereka kapan donk? Begitulah pertanyaan Ricky barusan.

Namun, bukan Hesty namanya kalo gak memaksakan kehendak. Maka dari itu Ricky pun hanya bisa menarik nafas di seberang. Juga membiarkan apa yang telah di putuskan oleh Hesty.

“Ya sudah, gue tutup yah… Assalamualaikum.”

“Wa’alaikumsalam…”

Setelah menutup telfon, Hesty segera mengirim nomor rekening ke Ricky. Dan tak butuh lama, pesan balasan juga screen shoot dari Ricky jika telah mentransfer 4juta ke rekening Hesty.

Hesty membalasnya, ‘Oke deh sayang… Thanks bangetttt!’.

Ricky hanya membalas, dengan emot senyum doank.

.

.

Beberapa saat kemudian, Hesty tiba di rumah Ricky.

Sebelumnya Ricky sudah memberitahukan ke Hesty, Password untuk unlock membuka kunci pintu rumah Ricky. Yap! Untuk perumahaan elite, kuncinya menggunakan password. Ada dua pilihan, mau menggunakan kunci (Biasa) atau bisa juga hanya menggunakan password dengan 4 angka. Kunci rumah sendiri, Ricky hanya selipkan di dekat pot bunga. Karena kata Hesty, hari ini yang akan bekerja di rumah Ricky akan datang. Pagar sengaja tak Ricky kunci, toh untuk perumahan mewah ini sangat lengkap penjagaannya di setiap cluster. Pesan Ricky, jika PRT itu udah pulang. Kuncinya di bawah saja, toh Ricky bisa membuka pintunya dengan menggunaka password.

Hesty pas tiba sempat melaporkan sembari menitipkan KTP ke pos cluster sebelum masuk. Berkata jika dirinya adalah PRT di rumah nomor 44 Cluster Mawar.

Pagar terbuka…

Hesty menoleh ke sekeliling. Sungguh berbeda dari terakhir Hesty ke tempat ini. Taman sudah lengkap dengan bunga, rerumputan beserta pot-pot juga sebuah kolam yang telah di aktifkan. Beberapa ikan Koi menghuni kolam tersebut.

Hesty berjalan melihat-lihat kolam sesaat. Ia menunduk, tersenyum sembari melihat ikan-ikan berenang bebas.

4478! Klik! Hesty menekan tombol di sebuah alat di samping handle pintu. Menekan password, dan pintupun ter-unlock. Krieeekkkk!!! Hesty lalu membuka pintu. Tak lupa membuka sepatu, lalu meletakkan ke tempat semestinya.

Aroma mint tercium oleh Hesty saat pertamakali ia memasuki rumah Ricky. Ruang tamu yang berwarna putih, sofa kecil terlihat. Juga hanya dua lemari tinggi untuk menempatkan beberapa foto juga guci-guci kecil. Bahkan ruang tamu ini, sangatlah luas dibanding ruang tamu di rumah Hesty. Setengah dari luas rumah Hesty nih. Pikir Hesty sesaat.

Juga ruang tamu Ricky sangatlah bersih. Bahkan sepanjang penglihatan Hesty. Belum menemukan kotoran maupun debu sedikitpun.

“Hufhhhh!” Lumayan, pekerjaan untuk di daerah ruang tamu tak banyak. Paling Hesty akan mengepel nya saja.

Hesty lalu melangkah masuk, menemukan ruang tengah. Cukup luas, juga sofa yang Hesty pilih saat berbelanja dengan Ricky waktu itu. Juga kulkas besar, TV berukuran 52 inch. Dan beberapa perabotan baik yang memang pernah ia pilih bareng Ricky, maupun yang Ricky beli sendiri.

“Waaaaaahhhhh… Enak banget hidupnya nih cowok sial.” Hesty berseru. Lalu ia duduk di sofa, meraih remote TV dan menyalakannya.

“Ciahahahahahaha, hari ini pen ngerasain jadi orang kaya dulu ah. Hihihihi!” Plak! Hesty menabok kepalanya sendiri, menghilangkan rasa malas yang tiba-tiba hinggap di pikirannya. “Kerja… Udah dapat duit, malah mau nyantai.”

“Siap…” Hesty beranjak. Dia berbicara pada dirinya sendiri. Seakan berbicara dua kepribadian. “Hahahahahahaha… dasar… dasar, dah Kerja kerja kerja… ayo kita kerja.” Lanjutnya berseru.

Time toh… Bersih! Bersih.

Sembari terkekeh sendiri, Hesty memulai pekerjaannya dari lantai atas dulu. Mendapati satu-satunya kamar, Hesty membuka pintu. Rupanya kamar tersebut dipenuhi dengan Kardus-kardus. Gak ada special, dan ketika keluar dari kamar pun. Di ruang atas, hanya terdapat TV berukuran 32 inch, juga sofa panjang. Hanya satu doank, dan Hesty berfikir kenapa juga Ricky menempatkan TV dan sofa disini? Siapa coba yang mau nonton?

Hesty lalu membersihkannya. Dimulai dari kamar, di pell juga di atur kardus-kardus yang berserakan dijadikan satu. Di susun rapi, dan lantainya tak lupa Hesty pell juga.

Kemudian berlanjut di depan kamar. Di depan teras lantai dua. Kemudian Hesty turun satu persatu anak tangga.

Begitu seterusnya.

Dapur, ruang tengah, ruang tamu. Juga bagian samping, ada kolam renang yang berukuran sedang. Tak luput dari aktivitas Hesty di seputar kolam renang. Di bersihkan, di sapu meski hanya pasir saja. Tak ada bekas bungkusan, kotoran apapun di rumah ini. Itu yang membuat Hesty cukup senang mengerjakan pekerjaan barunya sebagai PRT di rumah Ricky.

Hesty tak ingin Ricky mengetahui jika dialah yang mengambil pekerjaan itu.

Hesty tak ingin, Ricky meng-capnya sebagai perempuan/kekasih yang hanya memanfaatkan kekayaan Ricky. Bukan sama sekali! Hesty juga tak ingin, pun Ricky memandang remeh kepadanya.

Hesty selama ini terbiasa hidup mandiri. Bekerja keras, juga melakukan pengiritan untuk melanjutkan kehidupannya.

Tanpa sadar, Hesty lupa meletakkan tasnya di ruang tamu. Juga ponselnya sejak tadi berdering, karena Ricky menelfonnya berulang-ulang.

.

.

Hampir dua jam, Hesty beraktivitas. Bukan terus-terusan sih, ada santainya juga. Dan kini Hesty telah duduk di sofa, dengan nafas yang tersengal-sengal. Hanya satu yang Hesty tidak bersihkan. Atau tidak mengaksesnya, karena ruangan itu tertutup. Juga, Ricky belum memberitahukan kunci ruangan itu berada dimana.

Yah! Itu adalah ruangaan pribadi Ricky atau kamar Ricky.

Menurut Hesty, memang tidak sepantasnya Hesty mengganggu privasi Ricky. Meski dalam hati kecilnya sih, dia ingin melihat-lihat kamar Ricky seperti apa.

Jangan-jangan ada sesuatu yang disembunyikan. “Hehehehe, ahhhh! Ty. Pikiran loe negatif banget sih.” Seru Hesty pada dirinya sendiri.

Kemudian, ia beranjak. Berjalan ke arah kulkas untuk mengambil minuman dingin.

Tak lupa, Hesty mencuci kembali bekas gelasnya setelah ia minum. Agar tak ada satu pun barang-barang yang kotor atau bekas pakai. Hesty sama sekali tak mau meninggalkan bekas, atau juga sesuatu yang bisa mencurigai jika dirinya lah yang mengerjakan pekerjaan rumah Ricky.

Beres!

Hesty pun memilih untuk mandi kembali. Di bukanya kamar mandi, yang sempat ia bersihkan tadi. Yang terletak di dekat dapur. Kamar mandi tamu, yang luasnya lumayan. Tapi jauh lebih besar, kamar mandi pribadi yang berada di dalam kamar Ricky. Yang juga Hesty pernah lihat bareng Ricky.

Beres mandi, Hesty membersihkan kembali kamar mandinya. Mengeringkan agar lantainya tak basah. Juga mengembalikan semua posisi apapun, ke posisinya semula.

Bahkan saat keluar kamar mandi, Hesty menyeka telapak kakinya hingga benar-benar kering sebelum ia menginjakkan kaki ke lantai ruang depan.

“Bereeeessss deh!” erang Hesty setelah melihat hasil karyanya hari ini. Menghirup dalam-dalam aroma ruangan rumah Ricky, kemudian memakai seragam kerjanya. Mengingat, waktu shift siang masuk sudah dekat.

.

.

“Mati gue…” Hesty menyadari, jika banyaknya panggilan masuk di ponselnya. Berasal dari satu orang saja, yaitu Ricky.

Ia lalu berlari keluar dari rumah Ricky, berjalan cepat menuju ke pos security. Setelah mengambil KTPnya. Maka Hesty segera berjalan, dan saat ia ingin menelfon Ricky kembali. Justru Ricky yang menelfonnya.

“Mati…Mati gue, apa alasan gue nih?” seru Hesty sembari melihat ke sekelilingnya. Berharap, Ricky tak ada di tempat ini.

Kalo ketahuan, sungguh malu yang akan dirasakan Hesty tentunya.

Setelah merasa perasaannya sudah baikan, maka Hesty menjawab panggilan telfon dari Ricky.

“Ha-halo Ky.”

“Astagaaaaaa… Kamu dimana? Kok baru jawab telfon aku sih sayang?” kepanikan terdengar dari nada suara Ricky di seberang. Hesty hanya memasang muka asam, mendengar apa yang dikatakan Ricky. Juga, dalam hati meminta maaf jika dirinya salah.

“Eh… gak usah panik gitu kali Ky,”

“Siapa yang gak panik, telfon kamu gak di angkat-angkat… lihat tuh, aku nelfon sejak pagi tadi.”

“Hufhhh! Iya iya, tadi HP gue gak sengaja ke silent.” Jawab Hesty mencoba berbohong. Yah! Meski dia orang yang anti berbohong, tapi untuk masalah kali ini. Menurut Hesty, bohongnya adalah demi sebuah kebaikan semata.

“Kamu dimana sekarang? Aku dah bolak balik ke tempat kerja kamu, juga ke Rumah Sakit… tapi kamu gak ada.”

“Hehehe, tenang! Gak usah panik gitu ah…”

“Hufhhh! Kamu tuh.”

“Iya iya, udah ah… gue lagi dijalan nih, mau ke tempat kerja.”

“Udah… kamu diem disitu. Aku jemput sekarang.”

“Eh! Gak usah… gak usah, gue udah di jalan.”

“Di jalan mana, biar aku susul.”

“Argghhhh! Dah… bawel amat sih jadi cowok.” Kini Hesty malah kesal, udah dibilangin gak usah khawatir. Malah, merengek gak jelas. “Gue tutup yah, kalo mau ketemu… di cafe aja. Byeee… Assalamualaikum.”

Tut! Tut! Tut!

“Hufhhhhh!” Akhirnya Hesty bisa bernafas lega, setelah menutup sepihak telfon. Juga tak menunggu salam balasan dari Ricky.

Belum juga tenang, ponselnya berdering kembali. Yah! Telfon dari Ricky, masuk lagi. “Hufhhhh! Nih cowok sial bener-bener deh.”

“Apalagi sih?”

“Kamu dimana sayang?”

“Di jalan.”

“Jadi… aku nunggu di cafe atau?”

“Iya… kan udah gue bilang, nunggunya di cafe aja.”

“Baiklah… maaf, kalo udah buat kamu kesal tadi.”

Mendengar itu, entah menapa perasaan bersalah besar yang kini Hesty rasakan terhadap Ricky. Ingin rasanya ia meminta maaf, dan juga mengatakan jika ini bukan salah Ricky, melainkan salahnya.

Tapi, setiap ingin mengatakan hal itu. Bibirnya terasa kaku, juga pikirannya berkecamuk. Antara ia harus tetap mempertahankan kebohongan ke Ricky, atau tidak. Mengingat dia tak ingin di anggap remeh oleh Ricky. Itu sih tujuan Hesty.

Bagaimana jika Ricky tau, kalo Hesty lah yang bekerja di rumahnya?

Pasti Ricky akan melarangnya, dan akan mencarikan pengganti dirinya. “Enak aja.” Batin Hesty sesaat. Hesty membutuhkan uang tambahan tiap bulannya dari Ricky, dan juga Hesty bukanlah cewek materialistis yang suka meminta uang ke cowoknya. Bukan sama sekali.

Itulah mengapa, memilih berbohong dan bersikap cuek seperti ini adalah hal yang jauh lebih baik.

“Loe gak salah apa-apa kok, hehehe… yang salah mah, orang yang dipenjara kali Ky.”

“Hufhhh! Ya sudah, kamu hati-hati. Aku nunggu di cafe aja yah.”

“Oke deh.”

“Assalamualaikum.”

“Wa’alaikumsalam…”

~ •○●○• ~

Malam ini, Ricky kembali ke cafe untuk menjemput Hesty. Juga, setelah bertemu Hesty siang tadi. Ricky benar-benar terlihat panik. Juga khawatir jika terjadi apa-apa, tanpa Ricky ketahui sama sekali.

Ricky memeluk tubuh Hesty, dan entah mengapa Hesty membiarkannya sesaat. Tanda jika Hesty menyesal telah membuat kekhawatiran dalam diri Ricky.

“Gue gak apa-apa kok, malu tuh… ntar dilihat ma anak-anak.” Kata Hesty tadi siang sambil melepas pelukan Ricky.

“Serius, kamu gak apa-apa kan?”

“Iya ihhh! Lagian tadi gue hanya ketemua ma keluarga… lupa, kalo hp ke silent kok.”

“Hufhhh! Kamu gak bohong kan?” tanya Ricky.

Hesty menggelengkan kepala, tersenyum dihadapan Ricky. “Hehehe, gak lah. Gue bohongnya kalo pas kepepet aja kek tuh malam.”

“Dasar!”

“Kamu pulang jam berapa?”

“Hmm, paling jam 10 an.”

“Aku gimana sekarang?” tanya Ricky.

“Kalo kamu mau nungguin gue sampe malam disini, boleh… Hehehehe”

“Huuuuu! Maunya sih sayang, tapi-”

“Kalo loe sibuk, dah sana… selesaiin dulu kerjaan loe gue kan dah disini. Gak bakal kemana-mana,” kata Hesty membuat perasaan Ricky terasa begitu lega.

Dengan anggukan pelan, maka mereka berpisah. Ricky menuju ke kantor. Hesty kembali beraktivitas, tanpa merasa lelah karena sejak pagi dia telah bekerja di rumah Ricky.

Dan disinilah Ricky berada…

Sengaja Ricky memarkir mobilnya agak jauhan dari cafe. Dari spion tengah, Ricky melihat Hesty berjalan ke arah mobilnya.

“Hi… sorry, udah lama nyampe?” kata Hesty saat ia baru saja membuka pintu mobil samping kiri.

“Baru aja kok,”

Hesty menatap Ricky yang kelihatan fresh banget. Hanya memakai kaos oblong berwarna hitam, juga hanya memakai celana pendek. “Tumben.”

Satu hal yang aneh menurut Hesty, Ricky malam ini memakai kaca mata. “Terus itu?” telunjuk Hesty menunjuk ke arah Ricky.

“Naik dulu gih,” kata Ricky tersenyum lembut.

Hesty duduk di jok saming, setelah menutup pintu. Maka Ricky menjalankan mobilnya meninggalkan tempat itu.

Hesty ternyata sejak tadi menatap wajah Ricky dari samping. Tatapannya kosong, pikirannya berputar. Dan satu hal yang kini ia pikirkan, jika sosok yang berada di sampingnya ini, sangatlah tampan sekali.

Memakai kaca mata, seperti pangeran dari negeri khayalan.

Bahkan wajah Hesty tersipu, dengan rona merah dikedua pipinya. Ricky menyadari jika Hesty sejak tadi menatapnya, menoleh dan mengernyit.

“Pasti kamu pengen nanya, kenapa aku pakai kaca mata?”

“Eh!” Hesty tersadar dari lamunannya sesaat, kemudian posisi duduknya ia perbaikin. “Anu… ahhhhh!” Plak! Dia menabok kepalanya sendiri, untuk menyadarkan dirinya.

“Hehehe, kamu kenapa?”

“I-iya… Ahhhhhh! Gak.”

“Hahahaha, kok kamu jadi gugup gitu sih sayang?”

“Allahu akbar… Asssssshhhhhhh!” Hesty menghela nafas panjang, kemudian menyandarkan tubuhnya. “Iya, gue juga heran kenapa bisa segugup ini… Elu sih, pake kaca mata segala.”

“Aku memang punya gangguan mata… makanya tiap hari pake contact lense warna hitam. Tapi tadi gak sempat, makanya pake kaca mata aja. Toh juga dah malam, ngapain pake contact lense segala.” Kata Ricky membuat Hesty mengernyit sembari mangguk-mangguk. Satu hal yang baru ia ketahui tentang Ricky.

Ricky menoleh, tersenyum menatap Hesty. “Kenapa… jelek yah kalo aku pake kaca mata?”

“Ahhhhhh! Gue boleh bohong gak kali ini?”

“Maksudnya?”

“Boleh yah… gue pen bohong nih,” Ricky hanya mengernyit, menatap Hesty. “Hehehe, loe jelek pake banget, kalo pake kaca mata kek gitu.” Lanjut Hesty menjawab apa yang di tanyakan Ricky barusan.

“Masa sih?”

“Hu Um!”

“Kamu bohong?”

“Hehehehe… dah ah, bisa gak… malam ini, jangan buat gue malu.”

“Hehehe, dasar.”

Setelahnya mereka hanya mengobrol santai, juga Ricky tak lupa sempat mengajak Hesty untuk makan malam. Namun Hesty menolak, karena ia sudah makan. Maka dari itu, Ricky hanya berputar-putar sejam lamanya dijalan. Kemudian mengantar Hesty pulang kerumah.

Mobil berhenti tepat di depan rumah Hesty. “Sampai deh…” gumam Hesty.

Ricky menoleh, menatap Hesty dengan pandangan sedang memendam sesuatu. “Kenapa?”

“Mutar lagi, boleh gak?” tanya Ricky membuat Hesty mengernyit.

“Hahahaha, ya Allah… mau berapa kali muter-muternya?”

“Hehehe, kok berat banget yah rasanya pisah kek gini tiap malam.”

“Hush! Dah deh, jangan aneh-aneh.” Kata Hesty sembari memanyunkan bibirnya dihadapan Ricky.

“Iya sayang, kan aku hanya ngungkapin doank apa yang aku rasain.”

“Hufhhhhh!” Hesty hanya menarik nafas dalam-dalam, karena sesungguhnya apa yang dikatakan Ricky barusan, juga sama halnya yang Hesty rasakan. Setiap malam, sungguh berat rasanya harus di tinggal seperti ini.

“Aku gak disuruh masuk?”

“Hushh! Udah malem banget… gak enak ma tetangga Ky,”

“Ya sudah deh.”

“Hehehehe, kan masih ada hari esok… iya gak?”

“Iya sih,”

“Ya dah, gue turun sekarang yah.” Kata Hesty membuat Ricky menarik nafas dalam-dalam. Lalu mengangguk mengizinkan gadis itu keluar dari mobilnya.

Tapi, Hesty tampak terdiam sesaat. Secara perlahan-lahan dengan sikap yang malu, Hesty menoleh dan menatap Ricky.

“Kenapa sayang?”

Hesty tersenyum…

Dia menggerakkan tubuhnya, posisi terangkat sedikit. Dan menyebrangi consule box di tengah. Dan! Cupppp!!! Hesty mencium pipi kiri Ricky.

“Dah ahhh! Assalamualaikum,” Selanjutnya, Hesty dengan gerak cepat membuka pintu. Lalu keluar dari mobil.

“Wa’alaikumsalam.” Ricky membalas salamnya, menatap Hesty dengan senyum bahagia.

Hesty menutup pintu, masih berdiri di samping mobil. Membuat Ricky membuka kaca mobilnya.

“Aku pulang yah.”

“Hati-hati.”

“Daaaaaahhhh!”

Setelahnya, Hesty menatap mobil Ricky yang telah berjalan meninggalkannya sendiri berdiri di depan rumah.

Saat mobil Ricky telah berbelok. “Ahhhhhhhhhhhhhhhhhh!” Tubuh Hesty langsung lemas, bahkan hampir saja ia terjatuh. Untung ia cepat tersadar, sembari menabok kepalanya sendiri. “Sadar Ty! Haaahhhh!”

Ia lalu berjalan masuk melalui pagar rumah. Membuka pintu rumah, dan ingin segera tidur cepat. Mengingat besok, pekerjaannya kembali mulai dari pagi hingga malam hari.

~ •○●○• ~​

Besoknya…

Malam ini, Hesty baru saja di antar pulang oleh Ricky.

Dia hanya menatap kepergian Ricky dengan pikiran yang berkecamuk. Juga, harus memastikan jika Ricky benar-benar telah pergi dari tempat ini baru Hesty akan bergerak.

Bergerak kemana?

Hesty hanya menarik nafas dalam-dalam, dan sekarang dia bingung akan kemana?

Dalam diamnya, Hesty mengingat kejadian pagi tadi di rumahnya. Juga di rumah Ricky.

Flash Back

Jumat Pagi!

Setelah selesai mandi, berpakaian seperti biasanya. Hesty terkejut, saat kedatangan beberapa orang berpakaian rapi.

Jantung Hesty berdetak kencang, pikirannya mengingat kembali akan suatu hal. Yah! Hari ini genap, telah seminggu lamanya Hesty diberikan waktu.

Dengan rasa khawatir dan juga ketakutan, Hesty dengan gugup mempersilahkan beberpa orang itu untuk masuk ke dalam rumah.

Pegawai bank!

Yah! Mereka adalah para pegawai Bank, yang datang untuk menagih ke Hesty.

Setelah berbasa-basi. Maka salah satu pria, pun langsung bertanya ke Hesty bagaimana masalah hutangnya. Karena hari ini adalah terakhir Hesty diberikan kesempatan agar rumahnya tak di sita sementara.

Kedua mata Hesty berkaca-kaca. “Ma-maaf Pak, duit Hesty hanya untuk membayar dua bulan angsuran saja… gi-gimana tuh Pak?”

“Wah, saya minta maaf Mba Hesty. Kami gak bisa menerimanya, minimal mba Hesty harus membayar senilai 18 bulan angsuran.”

“Hufhhhhh! Hesty gak punya dana sebesar itu Pak.”

“Kalo begitu, kami mohon maaf Mba, hari ini kami harus melakukan penyitaan… dan kami harap, mba Hesty bisa meninggalkan rumah hari ini juga. Dan kami tetap akan memberikan waktu selama sebulan, jika mba Hesty tetap tidak mampu membayarnya. Maka rumah ini, akan kami lelang.”

.

.

Hesty berjalan menenteng dua tas besar di kedua tangannya. Juga tas ransel di punggungnya. Ia mengingat barusan kejadian beberapa saat yang lalu di rumahnya. Pikiran kacau, kesedihan dan juga kesakitan yang mendalam yang kini Hesty rasakan.

Ia wajib meninggalkan rumah, dan segala perabotan yang ada. Dan hanya di izinkan membawah semua pakaian dan juga berkas-berkasnya.

Maka dari itu, saat ini Hesty bingung mau tinggal dimana?

Apakah ia akan ngekos untuk sementara waktu?

Secara duit dari Ricky, masih utuh di rekening pribadinya.

Berat memang hidup Hesty, tapi dia tak boleh rapuh. Dia tak boleh bersedih berlarut-larut. Jalan Hesty masih panjang, juga dia tetap kuat untuk menatap hari esok.

Tersadar. Ternyata Hesty harus ke rumah Ricky sekarang.

“Astagaaa…” Lalu Hesty memilih naik taksi untuk ke rumah Ricky. Yah! Mungkin dia harus menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu. Setelah selesai, mungkin Hesty akan memikirkan selanjutnya. Malam ini ia tidur dimana.

Beberapa saat kemudian…

Hesty berdiri di kamar lantai dua rumah Ricky. Menatap seisi ruangan dengan pikiran yang berkecamuk.

Melihat kondisi rumah dan juga hanya Ricky seorang yang tinggal di rumah ini. Maka Hesty sempat berfikir, apakah sebaiknya dia menaruh separuh barang-barangnya disini dulu? Masa iya, dia menenteng kesana kemari, semua barang-barangnya.

Yah! Hesty telah memutuskan jika separuh barang-barangnya akan ia simpan di kamar ini. Dan berharap, jika Ricky tak pernah naik ke lantai dua.

Flash Back End…

“Haaaaaaaaa!” Hesty menghela nafas panjang, setelah mengingat kejadian selama seharian ini.

Kemudian, ia menoleh ke rumahnya. Gelap gulita, karena memang dirinya tak diperbolehkan tinggal di rumah itu lagi oleh pihak Bank.

Kemana dia harus pergi malam ini?

Pikiran Hesty mulai berkecamuk. Juga, ia lupa jika perlengkapan mandi, juga seragam untuk sabtu minggu masih tertinggal di tas satu di rumah Ricky.

Dia harus ke rumah Ricky malam ini…

Apapun yang terjadi, jika Ricky bertemu dengannya. Maka Hesty akan berterus terang apa yang terjadi dengannya. Toh! Memang seharusnya ia bercerita ke Ricky, karena Ricky adalah kekasihnya.

Berbagi kepada kekasih, adalah hal yang jauh lebih baik ketimbang memendam sendiri masalahnya. Gak berharap sih, Ricky memambantu Hesty.

Tapi, setidaknya Ricky tau kesusahan Hesty seperti apa.

Maka dari itu, Hesty melangkah setelah memutuskan semuanya. Mencari ojek untuk mengantarkannya ke rumah Ricky.

Setibanya di depan rumah Ricky. Hesty mengernyit, saat tak mendapati mobil Ricky terparkir. Bahkan lampu dalam rumah masih mati, hanya lampu teras saja yang menyala. Dan seingat Hesty, lampu teras justru ia yang menyalakannya.

Hmm, apakah ia harus menghubungi Ricky malam ini?

“Gak!” Hesty menggelengkan kepalanya. Toh! Jika Ricky gak dirumah saat ini, setidaknya Hesty bisa mengambil barang-barangnya di lantai dua, setelah itu ia akan meninggalkan rumah Ricky untuk mencari tempat menginap malam ini.

~ •○●○• ~​

Sebelumnya…

Aneh!

Satu hal yang Ricky pikirkan. Malam ini, ia baru saja mengantar Hesty pulang ke rumah. Rumah Hesty tampak gelap gulita, dan juga kenapa Hesty terlihat berbeda hari ini?

Tak seperti biasanya, keceriaan gadis itu berkurang. Bahkan berkurang banyak, dan gadis itu kebanyakan diamnya. Kadang juga, apa yang mereka obrolin gak nyambung sama sekali.

Apakah Hesty sedang ada masalah?

Atau ada hal yang Hesty sembunyikan dari Ricky?

Dari spion tengah, Ricky masih melihat sosok Hesty berdiri menatap kepergiannya.

Saat telah berada di jalan raya utama. Ponselnya berdering.

“Ayah?” Melihat layar ponsel, juga nama si penelfon. Maka Ricky segera menjawab panggilan telfon dari ayahnya.

“Halo ayah.”

“Ikky, kamu dimana nak?”

“Di jalan yah, kenapa gitu?”

“Tuh, Pak Sulaiman… Manager HRD masuk rumah sakit. Kamu gak pengen ke RS? Kebetulan ayah ma beberapa manager mau ke sana, karena Pak Sulaiman saat ini sedang ada di UGD.”

“Waduh… oke oke yah, Ikky kesana sekarang. Ayah udah dimana?”

“Ini udah dijalan ma Pak Dirman, ketemuan di sana aja.”

“Oke deh yah.”

Tut! Tut! Tut! Setelah menutup telfon, Ricky memutar haluan, membatalkan ke rumahnya. Dan memilih menuju ke rumah sakit untuk melihat salah satu manager di kantor ayahnya. Yang ternyata baru saja kecelakaan di jalan tol Reformasi.

~ •○●○• ~​

Di rumah Ricky…

Hesty duduk di dalam kamar di lantai dua. Mengeluarkan isi dalam tas ransel satunya, mencari beberap baju yang akan ia pakai beberapa hari ke depan.

Juga, mengambil perlengkapan mandi juga make up di tas satunya lagi. Tak lupa juga, pakaian dalam. Karena Hesty orangnya lumayan bersih. Dia sama sekali merasa risih, kalo dia tidur tidak mengganti pakaian dalam sama sekali.

Setelah selesai. Hesty memasukkan kembali pakaian yang tak ia bawah ke dalam tas ranselnya semula.

Hesty lalu menghela nafas berat…

Dia duduk bersandar di dinding termenung, mengingat kembali nasibnya yang mengenaskan seperti ini. Sampai kapan dia akan kuat menjalani hidupnya seperti ini? Kesedihan makin melingkupinya, setelah ia gagal mempertahankan peninggalan ibunya. Yaitu rumahnya. Juga hingga saat ini kondisi ibunya belum menampakkan kebaikan sama sekali. Masih begitu-begitu saja.

Ia tersenyum sendiri mengingat nasibnya yang seperti ini, namun tanpa ia sadari semakin hari justru semakin membuatnya menjadi seorang perempuan yang mandiri.

Saat masih melamun dengan berbagai macam pikiran di kepalanya, tiba-tiba ponselnya berdering adanya panggilan masuk. “Ricky…” Ia bergumam dalam hati, saat melihat nama si penelfon. Kemudian ia tersadar, lalu beranjak berdiri. “Mati gue… mati,”

“Hosh! Hosh! Hosh!” Hesty mengambil nafas terlebih dahulu. Keluar ke teras rumah di lantai dua. Memandang ke langit-langit, agar perasaannya membaik.

Lalu, ia menjawab telfon tersebut.

“Ya ha-halo Ky,” Sengaja Hesty membuat suaranya berserak. Tujuannya agar Ricky mengetahui jika Hesty ingin tidur.

“Dah bobo sayang?” tanya Ricky di seberang.

“Hu Um.”

“Ohhh… maaf, aku ganggu donk.”

“Hmm, gak apa-apa sih, kenapa Ky?”

“Gak apa-apa, pengen nelfon aja…”

“Hehehe, kirain… btw, kok masih kedengaran agak ribut? Loe belum pulang yah?”

“Ohhh itu, tadi habis jenguk karyawan yang sakit. Ini, udah di jalan pulang.”

Mati gue deh ini. Batin Hesty sesaat.

Dia harus segera meninggalkan rumah Ricky sebelum pria itu tiba. “Sayang… Sayang. Kok diam?” terdengar suara Ricky memanggil-manggil Hesty, karena gadis itu masih terlihat melamun memandang ke jalan dibawah.

“Eh… i-iya kenapa Ky?”

“Kok kamu diam?”

“Ohh gak apa-apa… loe udah dimana sih? Udah dekat rumah atau-“ DEGH!!! “WHAT????” Bersamaan, ia bertanya. Mobil Ricky baru saja terlihat melewati pos cluster, dan tampak jelas di lihat oleh Hesty.

“Sayang… sayang, kamu kenapa?” tanya Ricky, Hesty hanya diam memandang dengan tubuh gemetar mobil Ricky dari lantai dua.

PIP!!! PIP!!! PIP!!! “Pak…” terdengar di seberang, Ricky baru saja membunyikan klakson, untuk menyapa security di pos Cluster.

Hesty menunduk dan berjalan jongkok masuk ke dalam.

Dan!

“Sayang… kok kedengaran bunyi klakson juga sih di rumah kamu.” DEGH!!!

Still Continued

END – Tiba Tiba Saja Part 12 | Tiba Tiba Saja Part 12 – END

(Tiba Tiba Saja Part 11)Sebelumnya | Selanjutnya(Tiba Tiba Saja Part 13)