Tiara’s Story S2 Part 9

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Tamat

Setelah ML, kami sempatkan makan siang di resto, marissa gak berhenti manja dari aku. Aku jadi ingat bagaimana Tiara waktu jaman SMA. Terus terang aja, ini adalah saat-saat aku sedang mabuk dengan marissa. Rasanya seperti menjadi remaja lagi, dan hubungan kami makin lama makin mesra, walaupun tidak menghilangkan kewaspadaan kami untuk menutupi ini semua dari orang-orang terkait.

Rasa bersalah dan deg-degan yang kualami ini bagaikan candu untuk memacu adrenaline yang justru membuatku mabuk dan sangat menikmatinya. Logikaku melarang hal ini, tapi megalomaniaku tampaknya lebih kuat menguasai diriku.

***

Aku kembali ke kantor dengan keadaan segar tapi lemas. ML yang penuh birahi menguras tenagaku tapi menyegarkan otakku. Benar2 workhard play hard.

Jam pulang kantor kembali marissa call aku..

“Hi ganteng..”

“Hi cantik..”

“Aku mau lagi…”

“Masak sih, barusan juga dienakin td siang.”

“Ini aku basah lagi, aku kecanduan ML sama kamu nih..”

“Hahahaha itu kan krn kamu gak punya pembanding, cha..”

“Emang kamu punya pembanding?”

“Ya jelaslah, banyak hahahahaha”

“Beneran?”

“Yups”

“Beside me and your wife, how many girl had been crazy?”

“Its hard to answer beb.. You gonna regret to know”

“Just tell me, its not gonna change anything”

“Hhhmm… Lets count..
Lucy, sianne, tante leni, janis, tante bella, laras, and many one night stand, sama istriku dan kamu, let it be 15 ya..”

“What?? Banyak banget el..?”

“I told you..”

“Dan aku?”

“Same story, different person”

“Just it?”

“Sorry, cha.. Its sound bitter, but So far… Yes.. Except two person.. My wife and janis”

“Whoa… They must be very special..”

“Yups.. Bener banget cha..”

“Okey then.., El let me tell you, aku sampe skrg bisa tetap hidup hanya karena satu alasan, dan kalau alasan itu ternyata kamu, i will fight for it.”

“Hopefully not me”

“I dont know yet, but time will tell”

Hhhmmmm main api kan loe ndre.. Hati2 terbakar.. Aku tiba2 kepikiran

“El.. Koq diem?” Katanya tetap tenang

“Koq kamu gk marah?”

“El.. Aku gk akan marah, aku tau apa statusku, aku tahu siapa diriku, seorang lady frankenstein kayak aku ini, bisa bikin kamu nafsu genjot aku aja, aku ud seneng koq..”

“Itu kan karena aku psikopat”

“Xixixixixi… Walaupun aku gk tau psikologi sedalem kamu, tapi hatiku tau mana yg psikopat mana yang nggak”

“Hahahahaha..”

“El.. Kamu orang baik.. Itu pasti..”

“As person maybe, but as a man?”

“Binatang xixixixixi”

“Thats right beib.. Hahahahaha”

“Bagusnya.. Aku penyayang binatang xixixi”

“Hahahahaha..”

“Btw istrimu ajak ke hotel dong, aku mau kenalan..”

“What? Jgn buka front deh..”

“Kenapa? Galak ya?”

“Tiara? Galak? Nggak sayang.. Dia gk galak sama sekali. Tiara bukan type yang akan maki kamu di depan umum.”

“Trus kenapa km warning aku?”

“Hhhhmmm… Dia terlalu cerdas utk gk tau apa yg kita lakukan klo nanti ketemu kamu”

“Really?”

“Yups..” kemudian aku ceritakan apa yg terjadi dulu ketika aku dan tiara putus. Darimana tiara mendapatkan bukti-bukti perselingkuhanku.

“Oh ya..?? Wow.. Dia pinter banget!”

“Emang”

“Hhmmm.. Tapi..”

“Ya udah.. Gk usah di entertaint curiosity kamu..”

“Iya deh.. Nanti klo emang waktunya pasti ketemu koq. Gak tau sih, aku pengen banget ngobrol sama istri kamu”

“Say.. Udah ya.. Udah deket rumah nih..”

“Okey el sayang.. Love you..”

“Iya.. Sayang”

Sepanjang minggu ini, marissa gak ke jakarta lagi, kesibukannya di kota hujan menyita banyak waktunya. Tapi tentu saja call before and after work selalu menemaniku. Aku makin dalam tahu tentang dirinya, karena pembicaraan kami sudah mulai masuk ke area yang jauh lebih personal.

***

Minggu ini tidak ada aktivitas yang menyita perhatianku, semua berjalan normal termasuk telepon tiap pagi dan sore dengan marissa. Sampai pada hari kamis sore sepulang dari kantor, marissa seperti biasa telepon aku.

“Hi el sayang..”

“ya cantik..”

“kamu jalan ke kota hujan malam ini?”

“iya..”

“minta jatah gk?”

“klo dikasih hayuks, klo nggak aku habisin di istriku dulu hehehehe”

“habisin dulu gih..”

“loh kenapa?”

“aku mens..”

“Hahahahahaha….”

“koq ketawa sih?”

“Cara kamu ngomong mens ituloh.. kayaknya kesel banget”

“ya kesel lah.. lagi pengen dienakin malah verboden”

“ya udah, pokoknya malam ini aku nggak minta jatahin kamu, kelonan aja ya..”

“yups.. good boy.. xixixixi”

***

Sampai di kota hujam kira-kira jam 10 malam, aku langsung check in dan masuk kamar. Belum sempat Tarik nafas dan rebahan, telepon berbunyi..

“ya..”

“pak andre?”

“betul”

“pak andre di tunggu bu Marissa di lobby depan ya..”

“okey..”

Marissa sepertinya akan ngajak jalan, secara malam ini kami gk mungkin ML, tampaknya marissa memilih untuk menghabiskan waktu berdua kayak orang pacaran beneran. Sampai di lobby aku celingukan nggak melihat merci tuanya marissa. Tiba-tiba sebuah rubicon putih dengan ban super besar, datang dan senyum marissa menyembul di balik jendela yang baru sama terbuka. What a car!!

“Hi cintaku..”

“hi sayang..”

“yuks, kita jalan-jalan.”

Aku segera masuk lewat pintu kiri dan disambut dengan kecupan mesra dari marissa. Bibirnya itu loh.. lembut kenyal berisi… hhhmmm…

“emang mau kemana?” tanyaku

“kita ke rumahku yuks.. “ kata marissa sambil tengok kanan mencari posisi yang baik untuk segera masuk ke jalan utama depan hotel ini.

“emang gk apa2? Suamimu?”

“klo ada apa2 ya urusan aku lah.. kamu ikut aja.”

“okey.. aku takut di grebek warga trus diarak bugil hehehehehe”

“xixixixixi nggak banget sih kamu..
Yang ada kalo kamu diarak bugil ntar ibu2 yang nonton jadi pengen isepin kontol kamu dan bapak2nya pada minder xixixixi”

Kami kemudian ngobrol seputar kota hujan ini dan gak butuh waktu lama, kami mulai memasuki halaman luas sebuah rumah tua ala kolonial yang tampak agak menyeramkan. Jadi inget film-film horror ala negeri ini.

“ini rumah kamu?”

“warisan bapak, el..”

“wow.. agak creepy loh..”

“masak sih, perasaan biasa aja?”

“biasa aja gimana, ini creepy tau..”

“emang kamu takut?”

“nggak sih.. “

“yuks turun..” kata marissa sambil melepaskan seatbelt dan membuka pintu sebelah kanannya.

Aku mengangguk kemudian membuka pintu kiriku dan segera hawa sejuk khas kota ini menyergap indera perasa ku dan memenuhi rongga pernafasanku.

“gila enak banget udaranya..”

“emang.. kamu suka ya?”

“iya… beda sama ibukota yang sesak dan sumpek”

“ya udah.. klo suka, pindah aja ke sini..”

“tapi dingin udaranya”

“klo dingin kan ada aku yang siap bikin kamu hangat xixixixi..”

“trus istriku mau dikemanain?”

“bawa aja sekalian ke sini.. rumah ini cukup koq klo kamu mau bawa istri kamu, di dalam ada sembilan kamar..
Aku nggak masalah sih berbagi sama istri kamu xixixixi”

“ngawur kamu..” kataku sambil meremas toketnya ketika dia lengah karena ngomong sambil membuka kunci pintu.

“ih.. nakal banget sih..”

“biarin, habis ide kamu aneh2 aja”

“yuks masuk el..”

Sejenak aku memandang sekeliling ruang depan ini. Hhmm khas rumah tua dengan bangku kayu jati berukir tertata rapi, sebuah credensa tua menempel pada dinding sebelah kanan dan lukisan besar tergantung di atasnya, sejenak aku memandang lukisan itu.. mencoba menebak gambar apa yang terkandung di dalamnya, tapi gk ketemu.

“itu lukisan affandi”

“ooo… aku bukan penikmat lukisan makanya gak tau bagusnya dimana”

“sama aku juga xixixi, tapi bapakku… dia bener2 penikmat lukisan”

“aku penikmat obyek lukisan, apalagi klo dia telanjang..”

“xixixixixi nakal..”

Kami lalu masuk kebagian dalam rumah ini, ada sebuah meja makan kuno panjang juga dari kayu jati dengan urat kayu yang tampak tegas seolah menjelaskan umur meja ini. Di bagian dalam ada lagi beberapa lukisan ada dari pelukis sri hadi dan beberapa pelukis lain yang aku gk bisa tebak tanda tangannya.

Lalu aku diajak tur singkat dengan ruangan2 di rumah ini, ada empat kamar di rumah ini. Salah satu kamar menyita perhatianku karena di sana lantainya dilapisi dengan matras dan tergantung sebuah sansak. Aku jadi ingat sasana kecilku di rumah tangsel…

“kata kamu ada sembilan kamar?”

“di belakang ada dua paviliun, masing2 dua kamar dan tiga kamar.”

“oh ya… gila luas banget dong..”

“nggak tau aku ini berapa luas. Btw malam ini kamu bobo sini ya..”

“iya..”

“dah kamu disini dulu, tadi orang hotel udah aku minta anterin makanan ke sini. Aku siapin dulu buat kamu”

“kamu gk masak ya”

“masak, tapi mana sempat.”

“aku mau lihat dapur kamu”

“boleh.. kenapa?”

“gpp.. mau lihat aja..”

Kami masuk ke dapur, dan berbeda dari bagian rumah yang lain, dapur ini kelihatan jauh lebih modern. Gk semodern dapurku di rumah tangsel, tapi ini di atas rata-rata dapur biasa, hampir sama dengan dapur rumahku di ibukota.

Aku menuju kulkas besar dua pintu di hadapanku

“boleh?” tanyaku sebelum membuka kulkasnya

“boleh sayang, isinya biasa aja sih..”

“gak ada mayat kan hehehehehe”

“xixixixixi”

Aku membuka kulkas, kulihat ada berbagai bahan makanan. Hhhhmmmm…. Terpikir olehku untuk besok pagi memberikan kejutan masakin nih anak sarapan dan aku berjalan kembali ke ruang makan, di depan ruangan dengan lantai matras ini, aku jadi inget…

“Cha.. aku tanya dong, itu kamar yang satu koq ada matras sama sansak, emang siapa yang Latihan bela diri?”

“aku dong el.. xixixixi”

“ciyus?”

“iya..”

“apa?”

“wushu..”

“Hah?? Koq gk kelihatan?” kataku agak kaget tapi rasanya menjawab kenapa badannya singset dan padat.

“emang harus ada tulisannya di jidatku gitu?”

“hehehehe sparing yuks..”

“emang kamu bisa?”

“dulu sih waktu SMA pernah belajar namanya…… beladiri tawuran hehehehe”

“xixixixi itu bukan beda diri namanya, itu konyol”

“hayuks sebelum makan sparing dulu, aku pengen tau kalau cewek belajar wushu bisa gk ngalahin bapak2 tukang tawuran segede aku”

“boleh, bentar aku ganti baju dulu, tapi pake body protector ya el..”

“siap…. BTW selama ini, temen kamu sparring siapa?”

“nggak ada”

“lah lakimu?”

“Dia sih olah raganya cuma genjotin aku aja, eh sekarang bukan aku sih xixixixi”

“gurumu?”

“dulu bapak, sampai tuntas jurus terakhir, selebihnya aku kembangin sendiri”

“kamu latihan sendiri?”

“iya”

“klo gk ada temen sparring trus gimana Taunya klo jurusmu lebih efektif?”

“temen sparring sih di jalan juga banyak, kan banyak tuh cowok2 tanggung sering godain aku, ya cukup hina2 dikit bentar juga udah dapet temen sparring xixixixixi”

“dasar hahahahaha, sekarang hadepin aku ya… tukang tawuran hehehehe”

“siap”

Dalam 15 menit kemudian, kami sudah berhadapan dengan masing-masing memakai body protector lengkap.

Note: Ini kedua kalinya aku berhadapan dengan cewek yang mahir dalam beladiri. keduanya pernah mengalami sexual assault yang membuat luka bathin dalam bagi korbannya. yang pertama Janis dan kali ini marissa.

Bersambung