Tiara’s Story S2 Part 8

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Tamat

20 menit kemudian aku sudah di tol menuju rumah. Aku beruntung bisa kenalan dan ketemu orang sekaliber Lidia, cucu konglomerat terkenal di republik ini, dan memiliki kekuasaan besar di jaringan bisnis warisan kakeknya.

Gak mudah untuk bisa berbicara dan diskusi dengan kalangan seperti Lidia, apalagi bicara secara personal dan informal. Bagaimanapun sedikit banyak terasa ada jasa Janis dalam caraku bersikap.

Selama pacaran sama Janis, aku seringkali mendampingi Janis dan papanya berhadapan dengan high class society di jaringannya dan hangout dengan mereka, jadi sikapku sudah bisa menyesuaikan, karena pada dasarnya tidak ada yang berbeda dengan cara mereka bergaul, hanya venue dan digit yang diomongin aja yang berbeda.

Ketika aku masuk ke tol tomang, notifikasi HPku berbunyi mengabarkan pada mobile bankingku ada transferan uang. Pasti dari Lidia. Lumayan untuk biaya kenakalan, aku mulai merasa perlu ada budget untuk hubunganku dengan marissa.

Sesampai di rumah…

“Gimana pah, udah selesai dengan Lidia?”

“Belum sayang, konsul tiap sabtu, jadi aku minggu bisa full buat kamu dan anak-anak”

“Nah gitu better, dimana?”

“Dia ke kota hujan, sekalian tengok timnya dia yang pelatihan sama aku”

“Di hotel?”

“iya.. “

“Inget ya pah… “

“hati-hati, iya ma..”

“Iya papa sayang.. Tuh anakmu nyariin papanya”

Kedua anakku berlari memeluk kakiku.

“Mo jalan lagi?”

“Nggak ah, capek tau ngurusin dua anak aktif ini jalan di mall.”

“Kamu sadar nggak mah, kalau kita ke mall banyak cowok liatin kamu?” kataku sambil menggendong si kecil

“tau.. dari dulu juga gitu kali pah.. istrimu ini kan cantik.. xixixixi”

“cantik cantik tapi doyan ML”

“Biarin, habis enak sih.. xixixixi”

“Mau?”

“aku sih mau terus xixixixi” kata tiara makin genit

“ih ketawa terus sih klo ngomongin ML, mesum lagi ketawanya”

“Doyan tau ML sama kamu.. doyaaan banget..”

“Sejak kapan?

“Sejak kamu perawanin aku..”

“Habis diperawanin langsung doyan gitu?”

“Pas malam itu aja kita tiga kali kan? Xixixixi”

“Iya. Hehehehe
Panggil bibi gih, biar anak2 dimandiin dan disuapin..” kataku sambil meremas dada tiara

“ssshhh… konek tau… berasa bergetar yang bawah..” Kata tiara sambil mengigit bibir bawahnya

“Nah kalian ikut mamah sana..” kataku sambil pura-pura kejar mereka kedua anakku yang segera berlari menjauh dariku

Kedua anakku berlalu sambil memekik tertawa..
Anakku yang kecil langsung memeluk mamanya dan digendong tiara, tangannya dimasukkan dalam daster mamanya di bagian dada..

“tuh lihat, anak dan papanya sama aja kelakuannya, doyannya pegang-pegang toket.. ” kata tiara cemberut

“Hahahaha…”

Tiara masuk kamar lagi dengan pura-pura cuek, seolah-olah gk ada apa-apa.

“sini mas.. boleh tau gk? tadi kamu sama lidia gimana?”

“hhmmm.. aku sih gk bisa cerita kasusnya, tapi emang ada kasus dia sama suaminya.”

“eemmm.. trus..?”

“ya aku datang di rumah yang jadi hideoutnya dia, ada PAnya sih, kami sarapan trus ngobrol. Intinya aku bantu dia untuk sembuhin suaminya. Jadi yang bermasalah bukan lidia, tapi suaminya.”

“Okey I get it”

“koq tumben sih tanya? Biasanya gk pernah?”

“aku mau memastikan aja, hatiku aman dikamu, mas.”

“iya, klo ada apa2 aku cerita sama kamu” aku mulai merasa tiara merasakan hubunqanku dengan marissa, tapi dia salah suspect.

“aku ada uang yang di transfer sama Lidia, untuk konsultasi yang barusan, kamu keep ya..” aku memutuskan tidak menggunakan uang itu untuk biaya kenakalan. Tampaknya marissa juga gk membutuhkan.

“okey transfer aja ke aku, biar aku beliin emas”

“siiipp”

“mas…”

“ya ara..”

“jalan yuks.. berdua aja..”

“emang mau kemana?”

“ya iseng-iseng jalan aja mas..”

“hhhm… naik motor yuks..”

“hayuks… emang mau kemana?”

“ya nggak tau, muter2 aja..”

“boleh..”

Setengah jam kemudian kami sudah menyusuri jalanan ibukota dengan menggunakan motor matik yang kami beli dua tahun lalu. Ada nuansa yang berbeda Ketika tiara memeluk aku erat banget dari belakang dan meletakkan dagunya di pundakku. Kami merasa kayak muda lagi. Sesuatu yang jarang sekali kami lakukan. Memasuki kawasan cikini, aku membelokkan motorku pada sebuah hotel bintang tiga yang ada di sekitar situ.

“ish.. ngapain ke sini mas?”

“nyari kamar buat ngewe hehehehehe”

“xixixixi boleh-boleh..”

Beberapa menit kemudian kami sudah memegang kunci kamar, dan berjalan menuju lift dibarengi lirikan beberapa tamu yang ada di lobby. Mereka pasti berpikir aku check in dengan selingkuhan, karena mata mereka tak lepas dari tiara yang sebenarnya memakai pakaian sopan, dengan celana panjang jeans ketat dan jaket.

Tapi kami berdua yang membawa helm membuat semua orang akan berpikir dua orang lagi selingkuh cari tempat buat ngewe dan aku menikmati pemandangan itu, demikian juga tiara.

Sesampai di kamar kami berdua tertawa lepas, membayangkan bagaimana para tamu tadi memandang kami berdua.

“mas.. kira2 kalau aku jalan nongki di lobby sekarang ditawar orang gk ya?”

“hhhmmm… pastinya sih.. hehehehehe emang kamu mau ngetes, masih laku apa nggak?”

“why not? Xixixixi.. iseng ngeprank om-om”

“eh.. kamu tuh juga udah tante-tante lagi..”

“iya ya xixixixixi klo yang nawar ganteng bin keren… hmmm kamu gimana?”

“kalau bisa ngalahin aku berantem, boleh lah.. tapi bayarnya mahal ya..hahahahaha”

“serius kamu, aku boleh kalau ditawar orang?” kata tiara mesra sambil melepas bajunya di hadapan aku dengan gerakan sexy.

Aku melihatnya sambil rebahan di kasur dan bergaya seperti om-om

“om suka sama aku?”

“hhhmmm… kamu cantik sih tapi…”

“Tapi apa om..?”

“tapi binal..”

“aku emang binal om.. bawaannya minta di entot terus..
Memeknya gatel terus om…” kata tiara genit sambil goyang kayak gaya lonte amatir

Setelah tiara telanjang total, dia naik ke kasur dan menaiki aku yang masih berpakaian lengkap dengan posisi 69. Memek merahnya menghadap ke aku dengan segaja dia mengoyang-goyangkan pantatnya dan memeknya tampak kadang terbuka kadang tertutup.

Gila pemandangan ini benar-benar membangkitkan gairahku.
Tangan tiara sibuk mengelus-elus kontolku dari luar celana jeansku sembari mengeluarkan suara suara mendesah..

“uughghh om.. kontolnya udah keras…”

“sssh…. Pengen banget dimasukin kontol keras punya om..”

Perlahan zipper dan kancing jeansku dibuka dan sedikit menurunkan agar dia mendapatkan akses lebih ke kontolku yang masih ada di dalam underwearku. Sementara aku beneran udah gk tahan melihat memek merah mengkilat basah terpampang jelas, terbuka tanpa malu-malu di depan mukaku.

Ingin rasanya segera menjilat memek itu, tapi aku tahan dulu. Aku membiarkan diriku diservice lonte pribadi ini. Tiara sibuk membelai belai kontolku dengan sesekali menyusupkan tangannya ke dalam celana dalam, dia tahu aku paling gak tahan lihat memeknya, Gerakan pantatnya semakin menggodaku membuat vaginanya menari-nari indah menggoyahkan diriku.

“Ssshhh…” aku mendesah ketika tiara berhasil membebaskan juniorku dari belenggunya dan segera melahap habis kepala kontolku dalam dengan mulutnya.

Memeknya kali ini ditempelkan langsung di mukaku dan digerakan menggesek wajahku. Bau memek tiara yang sebenarnya hampir gak ada itu akhirnya meruntuhkan imanku. Aku segera melahapnya. Jilmek merupakan kegiatan favorit ku dalam foreplay.

“ssshhhh… om… jangan galak-galak dong..” kata tiara manja

Pelan ku belai-belai memek istriku dengan lidahku mulai dari melingkari bagian labia mayoranya

“ssshhhh.. om enak banget om…”

Aku mulai berani menjelajah lebih jauh ke dalam setelah memeknya kubuka lebar dengan jariku, tusukan tusukan kecil lidah mulai membuka jalan dan menjadikannya banjir lendir kewanitaan. Clitoris yang berwarna pink menjadi tujuanku berikutnya, pelan kusapukan lidahku pada permukaannya yang segera memberikan reaksi hentakan dari tiara.

Aku gk berhenti, dengan Gerakan memutar lidahku aktif menyusuri kelentit kecil itu dibalas tiara dengan sapuan lidahnya pada belakang kepala kontolku, kami berdua bagai tersetrum bersama.

“sayang.. om minta di enakin dong pake memek” kataku meminta tiara untuk merubah posisi menjadi WOT.

Tiara segera menyudahi garapan pada kontolku dan memposisikan diri WOT pelan kontolku dibimbing jemarinya untuk dapat masuk menuju lubang singgasananya.

“Sssshhhhh aasshhhhh” desih tiara kala seluruh batang legamku berhasil membelah lubang kenikmatan itu untuk melakukan aktivitas birahinya.
Pantatnya langsung bergerak naik turun untuk memberikan service terbaik seorang lonte pada om-om yang menyewanya.

“oomm.. sshh… ommm diem aja.. sshh ya…. Biar ssshhhh aku sshhh enakin eeghhh..” tiara mencoba berkata-kata disela hentakannya dan deraan kenikmatan dalam memeknya akibat hantaman kepala kontolku pada mulut rahimnya.

Dia menikmati sekali posisinya dambil bergerak naik turun, kadang bergoyang, kada memutar, kadang maju mundur..

“ooommm.. gila kontol om.. enak banget. sshhhhh.”
Tiara mendesah sambil matanya menatap sayu penuh birahi sementara toket kecilnya aku pilin-pilin putingnya.

Sssh… om.. ya ampun… enakkkkkgggg…… sssshhhh

Aku kadang bereaksi dengan membantunya menekan, yang menyebabkan seluruh kontolku dapat tertanam sempurna dalam memeknya.

“Aaassshhhhh… gilaaa ooomm….”

Dalam beberpaa menit gerakannya mulai kasar, tiara mulai mencari sendiri cara untuk memaksimalkan rangsangan dari kontolku, dalam beberapa menit pantatnya mulai menghentak hentakkan dengan sangat kuat sembari jearinya memilin dan meremas toketnya sendiri.

“Ooommmm… aaaakkkkkkkuuuu ssshhhhhhhh….
Aaaakkkkuuuu…. Ssshhhhhhh maaauuuuu ssshhh…. Kkkeeelllluuaaarrrrr aachhhhhhhh” tiara melengking kuat seiring badannya bergetar hebat dan memeknya kurasakan berkedut kedut empot empot ayam membuat aku juga gk tahan.

Segera aku menghajarnya dari bawah dengan RPM maksimal, khawatir empot empot memeknya berlalu, sebelum aku bisa orgasme… memang gk ada matinya memek istriku ini, enaknya kelewatan. Dalam hitungan menit, aku segera menyusul tiara dan menumpahkan seluruh spermaku dalam memek merah itu.

“Eeerrrrggg….. ssshhh… araaa…. Sssshhhhhhhh aaaakkkkkkkkuuuu kkkeeelluuaarrr rrrgggghhhhhhhhhh….” Erangku sambil menekan habis kontolku dalam memeknya.
Ssshhhh… ssshhhh… eeerrrggg…. Beberapa kali eranganku masih bergema seiring denyutan kontolku menumpahkan sperma yang tersimpan.

Tiara tersenyum menatapku… masih dibiarkan seluruh kontolku tertanam dalam memeknya.
Beberpaa menit kami saling tatap tanpa bicara apapun. Kemudian dia bergerak melepaskan kontolku dari memeknya, yang segera terlihat olehku batang legam basah dilumuri lendir berwana putih dan juga memek merah yang ketika dicabut tak sengaja menumpahkan lendir putih hasil perjuangan kami barusan.

“om… enak gk?”

“enak sayang..”

“nanti kalau mau ngewe telepon aku lagi ya.. xixixixi”

“loh emangnya kenapa?”

“habisan aku juga ketagihan kontolnya om..”

“oohh.. gitu ya.. boleh-boleh.. tapi om gpp kan cari variasi sama yang lain? Heheheheh”

“ooo.. berani ya..!!” kata tiara galak kembali ke tiara yang selama ini sambil jarinya siap2 mencubit keras perutku

“ammpppuuunnn.. iya.,. iya… hehehehe”

Kami sempat sekali lagi melakukan ML sebelum kemudian pulang.

Ketika aku sedang menunggu tiara menebus KTP ku, seorang bapak duduk menghampiri aku. Dari penampilannya sepertinya berasal dari luar kota.

“maaf mas, mau tanya sedikit boleh?” katanya dengan logat jawa kental

“ eh.. iya pak..”

“tadi habis ngamar mas?”

“hehehe tau aja pak..”

“itu pacarnya atau selingkuhan ya?” katanya menunjuk tiara.

“bukan dua-duanya pak..”

“wah… bisa dapet yang kayak gitu, ngangkat darimana mas?”

“hhhmmm… daerah selatan pak”

“wah pasti mahal ya..”

“bener banget pak”

“body tinggi kayak peragawati gitu, trus kulit terawat, rambut bagus, tampang juga cantik banget.. kalau saya yang kayak gitu saya jadiin istri kali mas..”

“hahahahahah… saya udah punya istri pak..”

“lho… sama saya juga udah punya, tapi yang model begitu sih saya rela buat ceraikan istri saya..”

“hahahahaha… “ aku tertawa mendengarnya.

Gk lama tiara memberikan kode kalau udah selesai proses check outnya

“maaf pak.. saya pamit dulu, nganter pulang dulu..”

“lho mas.. bentar dulu, saya bisa minta no telp mbak nya?”

“hhmmm… gimana ya?” kataku terdiam agak lama. Tiara tampaknya sadar situasiku, dia menghampiri aku

“ayo sayang.. aku capek nih..”katanya manja kemudian mencium bibirku dan meremas kontolku di hadapan bapak itu.

Aku sempat melirik bapak itu menelan ludah melihat aksi tiara. Hahahahahaha…..
Dan kamipun berlalu membiarkan bapak itu malam nanti berfantasi ttg tiara sambil coli hahahahaha.

Setelah kemarin sore dua ronde dengan istriku di hotel, aku mengawali Senin pagi ini dengan senyuman, seperti biasa aku berangkat ke kantor ditemani marissa via call.

“El.. Kangen…” Rengek marissa manja ketika teleponnya tersambung denganku.

“Hehehehe..”

“Ih.. Kamu gitu, ketawa aja. Emang gak kangen aku?”

“Kangen juga.. Tp banyak yang diurus kan di sini.”

“trus jadinya gak kangen ya?”

“Kangen juga koq”

“Aku masih berasa nih..”

“Berasa apa, cha?”

“Berasa kamu ada di dalem aku xixixixu. Jadi pengen tau..”

“Ih pagi2 udah mesum hahahaha”

“Bodo..”

“Dasar..”

“Ish kamunya digodain dingin banget sih..”

Tut.. Tut.. Tut..
Marissa memutus teleponnya.

Gk lama notifikasi HPku bunyi dan kubuka,
Ada gambar jari basah lendir di sana.

Aku record suara..
“Itu apa”

“Lendir aku, mau lihat asalnya dari mana?” chat marissa masuk

“Iya” record suara lagi

Muncul gambar vagina basah marissa
Nakal ya..

Telepon bunyi,
“Ya.. Cha..”

“Xixixixi.. Kamu pasti horny ya..”

“Pasti lah..”

“Sini dong el sayang..”

“Aku kan kerja”

“Nanti malam vidcall sex yuks”

“Boleh..”

“Jam berapa el?”

“Jam 7 ya, nanti aku pulang agak telat., cah”

“Sip..”

“Kamu hari ini jadwalnya kemana, cha?”

“Ya biasa, sales call ke beberapa perusahaan”

“Disekitar kota hujan aja?”

“Iya.. eh… hhhhmmmm Klo aku atur sales call ke ibukota, kamu ada waktu buat aku gk, el?”

“Aku ragu-ragu sih, cha.”

“Kalau kamu hari ini bisa ngabur lunchtime aku atur jadwal ke jakarta nih..”

“Trus ketemu dimana?”

“kantor kamu dimana?”

“Di sudirman”

“Hotel yang deket kamu?”

“Le MMMM, tinggal nyebrang JPO”

“Jam 11.30, aku tunggu makan siang di sana ya..”

“Boleh..
Makan siang loh cha..”

“Main coursemya nanti aku yang pesen ya..”

“kan buffet?”

“aku pesen khusus Icha guling, ditusuk, diputer2.. Xixixixixi”

“Hahahaha..”

“Ya ud, sampe nanti ya cinta..”

“Iya sayang..”

“Love u el..”

“Iya..”

“Del Chat!”

“Iya..”

“See u..”

“See u”

Senin sampai kantor jam kerjaku langsung disibukkan dengan meeting mingguan dengan timku. Ada beberapa issue tapi bukan yang memerlukan perhatian khusus dari aku.
Jam 11.15 aku sudah di atas jembatan penyeberangan menuju hotel Le MMM, HPku bunyi

“Ya..”

“Kamar 308 ya el..”

“Koq bisa early check in?”

“Aku kan bukan baru kemarin sore di bisnis hotel sayang..”

“OIC.. Hehehehe”

Kamar 308.
Tok.. tok..
Pintu kamar terbuka dengan marissa berada di belakang pintu, aku rasa dia udah telanjang.

“Langsung masuk kamar mandi el.. buka semua yang ada di badan kamu”

“njirr… siap komandan hehehehe”

“sini kasih ke aku, biar aku gantung”

Aku pun segera melucuti pakaianku dihadapan tatapan menggoda marissa. Dan benar dia sudah melepas semua pakaian yang menempel di tubuhnya. Tubuh wanita ini lebih berisi dibandingkan istriku.

Tampak lebih kokoh, dengan kulit yang terawat sangat baik karena marissa dari depan adalah wanita yang hampir tanpa cela kecuali sedikit warna berbeda tanda lahir dibagian pangkal paha sebelah kirinya. Selebihnya, putih mulus, dan terawat. Berbeda halnya kalau dilihat dari belakang, akan tampak bekas jahitan menyeramkan pada tubuhnya.

“Mandi dulu yuks, cha..” ajakku

“Mau… “ kata marissa tersenyum elegan dan memasuki area shower dengan perlahan dan sensual.

“gayamu itu loh…”

“Ih.. kenapa lagi…”

“Gaya-gayamu minta dienakin..”

“xixixixixi…. Emberan banget…” kata marissa menaikkan pantatnya dengan genit sambil berjalan menghidupkan shower di depan kami.

Aku meremas pantatnya

“Ih.. el nakal ya…”

“Biarin, kamunya sih genit
Yuks aku mandiin..”

“Gk usah mandi, bebersih aja..”

Marissa mengambil sabun cair dan mulai membersihkan kontolku dan selangkanganku..
Kontolku yang udah berdiri tegak, segera menjadi sasaran belaiannya.

“Yang keras begini bikin enak banget sayang..”

“Udah ah.. Sini gantian aku bersihin kamu”

“Kamu ke kasur aja, aku bersihin sendiri, aku malu xixixixi”

“Okey hahahahaha”

Aku ke kasur dan segera terlentang membiarkan kontolku yang sudah tegak mengacung terbuka begitu saja.
Marissa kembali dan naik ke kasur kemudian segera melahap kontolku.

“Ssslluurrrpp… Slkuurrpp sshhh.. Gede sayang.. Enak ngemutnya… Sllluurrrpp”

“Ssshhhm enak banget sayang..” Kataku menikmati mulutnya mengoral kontolku.. gk ada yang istimewa dari caranya mengoral kontolku, bahkan tiara masih lebih fasih dan jago melakukannya.

“Sshhm. Gantian sayang.. Aku mau cumbuin memek kamu” kataku mulai bosan dengan oralnya.

Marisa segera berganti posisi, terlentang dengan kaki direntangkan. Aku mengambil posisi berlutut di kasur dan kunaikkan kaki marissa ke pundakku, sehingga memeknya langsung berhadapan dengan mukaku menghadap atas.

Baru kali ini aku perhatikan memek milik marissa, jembutnya agak lebih tebal dari milik tiara, tersusun rapi sampai mendekati lubang anusnya menghiasi memek sexy ini seperti brewok di wajah.

Bibir minoranya agak tebal, berwarna merah tua agak kecoklatan membentuk seperti sayap kecil dengan keriput2 lucu, sementara bagian dalam memeknya pink kemerahan. Aku segera menjilat dua sayap labia minoranya, masih pelan dan lembut.

“Ssshhhh… el… Geli..”

Dua buah sayap bibir minora segera menjadi mainanku.. Ku jilat.. Kuhisap dan kupikin2 dengan bibirku… Memeknya langsung bereaksi melumasi dirinya, gak bau sama sekali tapi lendirnya banyak banget.

Sementara menjilat bibir memek dan klitorisnya sekalian aku hisap habis cairan memeknya yang seolah keluar tak terbendung, beberapa kali kulihat tangan marissa mencoba menjauhkan kepalaku dari memeknya akibat sensasi geli yang tak tertahankan di kemaluannya.

Wajahnya keenakan dan desahannya menggema di seluruh ruangan. Aku makin ganas dan tidak melepaskan wajahku dari memeknya, berbagai gerakan lidah memutar, menjilat dan menusuk aku maksimalkan untuk memberikan sensasi orgasme yang seharusnya tak lama lagi akan didapatkan marissa.

“Ssshhh.. Ndre.. Geli sayang..”

“Ssshh iya.. Disitu jilatin, trus ell… jangan berhenti..”

“Ssshhh… Eeeennnaaaaggg ssaaaynnnggg”

Tiga menit lebih ku stimulasi memek marissa

“Eelll….. aaakkuu ggaakkk kkkuuaaattt, mmmaaauu keelluuuaarrr”

Aaaaarrrgggghhhh sssdhhhhhh ssshhhhhh

Gila gila gila.. Eeeennnaaaak

Pinggulnya dihentak2kan dan bergetar.. kakinya dilingkarkan ke leherku, mengapit dan menekan kepalaku seolah akan dimasukkan dalam memeknya. Dia orgasme pertama.

Tanpa menunggu jeda, Marrissa langsung bangun, “terlentang loe..!”

Kami berganti posisi, tanpa membuang waktu marissa segera memasukkan kontolku yang tegang keras maksimal dalam memeknya dalam posisi reserve cowgirl. Kulihat dengan jelas codet di punggungnya, tapi pemandangan lebih menarik tersaji dihadapanku.

Memek dengan bibir minora bersayap itu seolah olah menelan batang legam mengkilat basah milikku. Lobang pantatnya seperti sunhole merekah berwarna agak gelap daripada bagian kulit sekitarnya. Semua basah lendir kental.

Cplok cplok..cplok..cplokk.. Bunyi memek marisa menggenjot kontolku ganas cepat dan teratur naik turun di atas kontolku yang mulai berbuih putih akibat lendir yang terkocok sempurna akibat aktivitas sexual ini. Ntah darimana jariku tertarik mengambil lendir dari memeknya dan mengusap usap lobang pantatnya..

“Ggiiillaa ggeeelliii saaayaaanngg… “

gerakan marissa makin kasar menghentak hentak kontolku. Tampaknya usapanku pada lobang anusmya memberikan sensasi positif buatnya…

Cplok cplok cplok cplok..suara memek ngentotin kontol makin cepat terdengar buih putih lendir terkocok makin banyak, dan gerakan mengusap lobang pantatnya juga makin cepat.

“aaasssllliiii eennaaakkk ggellliiiii”

Setelah kurasa lobang pantatnya terlumasi dengan baik, aku bereksperimen menusukkan ibu jariku ke anusnya, tidak aku gerakkan..

“Aarrrggggghhhhh sssshhhhh….ssaaakkkiitttt aaaarrrggg… Ssshhhh… tapi eennnaaakkkk….”

Gerakan mengocoknya malah makin cepat.. Aku dapat merasakan dengan jariku yang ada di dalam anusnya, kepala kontolku berjalan2 di ruangan sebelah hanya dibatasi oleh kulit tipis saja.

Gila ini seksi banget, sementara gak ada protes dari marissa

“Ssaaaakkkiiiitttt ssaayyyaaannngggg ttaaapppiii errnnaaakk baaannnggeerttt..”

Gak lama kemudian gerakannya terhenti berganti getaran kuat dibarengi cengkeraman kuat dari anus menjepit jempolku dan dari memek menjepit kontolku. Marissa orgasme kedua.

Aaannjiiinngg gguueee kkeeelluuaaarrr laaaggiii… .. Aaarrrggghhhhh.. Ssshhhhssshhh… Hhhhheeegggdddddhhhhh
Bbaaannnggssaaatttt eennaaakk bbbaaaaannnnggeeettttt….

Marissa berhenti sejenak mencoba menguasai dirinya.. Ssshhh.. Ssshhh…

Melihat marissa orgasme adalah kesenangan tersendiri, bagaimana tubuhnya bergetar, kata-katanya berantakan, wajah cantiknya beneran merangsang, dan memeknya banjir luar biasa..

Marissa melepaskan kontolku dari memeknya dan memposisikan diri menungging

“Eell.. Tusuk dr belakang sayang”

“Lobang yang mana? Hehehehehe”

“Awas kamu ya berani hajar anus aku”

“Loh tadi?”

“Beda tau, lagian kan kamu masukin jari kamu gk pake tanya”

“Kenapa gk marah?”

“Gila apa, lg enak2nya gitu, mau marah gimana? Jangan ya el.. walaupun sensasinya gila sih.. jadi cepet banget keluarnya aku xixixi”

Marissa kemudian melengkungkan punggungnya agar memeknya bisa pas berhadapan dengan kontolku. sexy banget, memek berambut agak tebal dengan bibir bersayap merah tua itu merekah basah, seakan memgundang kontolku agar segera memasukinya.

Yang begini beneran gk bisa ditolak olehku. Aku tahu ini cobaan marissa buat aku, kalau aku berkonsentrasi dengan codetnya, pasti lemes rudalku. Aku berkonsentrasi pada bibir memeknya yang seolah memakan kontolku, dan lubang anusnya yang ada sedikit gurat gelap itu beneran mengundang untuk di tusuk-tusuk, itu jauh lebih merangsang.

Pelan, dengan maksud menurunkan tempo, aku memasuki dirinya tanpa kesulitan sama sekali, licin maksimal akibat dua kali orgasme.

Ssshh desis marissa ketika aku sempurna menempatkan rudal coklat tuntas dalam memeknya.
Sekali kuhentak

“Aarrggg… Gila mentok… ngilunya sampe rahim ell.. Laggiii sayaaaannggg”

Aku mulai secara teratur mengocok kontolku dalam memeknya dengan ritme 2 tusuk biasa 1 tusuk mentok. Dan kurasakan tiap kali ujung kontolku mencapai mulut rahimnya, memeknya tambah banjir. Perlahan tapi pasti RPMnya kutingkatkan.

“Yang cepet eelll…”

“Iiyyyaaa…. Bbeeenneeerr sayaaannnn uuughhh enaaakkkkk..”

“Ppeeenttttookkkiinn eellll, yang keras ellll…”

“Annnjjiinng nnnggiilllu…”

“Ya ampun ellll… ngentot sama loe enak banget…. Shhh shhhshhhhh”

Tusukan tusukan kuat makin kerap aku hantamkan seiring rpmku mendekati maksimal, tiba-tiba marissa melepaskan kontolku dan meringkuk di tempat tidur dengan mengigil dan bergetar…

“Ssshhhh ssshhhh.. ssshhh… sshhhh”

Gak ada kata-kata yang keluar kecuali desahan sexy dari mulutnya.

Tubuh telanjang itu meringkuk dengan kondisi luar biasa kacau. Rambut panjang berantakan, toket terpampang jelas dengan putting coklat muda mencuat keras, memek merah merekah basah, jembut saling menggumpal basah lendir vagina. Tubuhnya semua basah oleh keringat. Aku kalap melihat pemandangan ini, aku masukkan lagi kontolku dan langsung menggenjotnya dengan rpm maksimal

“Aaaccchhhhh….” Marissa menjerit keras gk menyangka akan dihajar lagi saat orgasmenya belum turun.

Gk butuh waktu lama untukku segera mencapai titik tertinggi persenggamaan ini, tapi aku punya rencana lain. Segera kucabut batang legamku dan ku minta marissa membuka mulut langsung kujejalkan batangku pada mulutnya. Aku ngentotin mulutnya. Marissa sigap langsung mengulum kepala kontolku sembari mengocok batang kontolku dengan cepat. Gk lama spermaku muncrat dalam mulut marissa.

“Eerrgghhhh………”

aku menggeram merasakan sensasi orgasme yang menggelapkan pandanganku sejenak. Beberapa kali tusukan yang kurasa sampai di tenggorokannya di barengi eranganku mengantarkan benihku menjadi vitamin sperma buat marissa.

Kulihat marissa masih telaten mengurut urut kontolku memastikan semua sperma habis dan dihisapnya. Aku ambruk di samping marissa yang masih tampak menahan pejuku dalam mulutnya. Dia tersenyum manis banget, kemudian menelan habis semua benihku yang tertampung.

“xixixixixi… enak banget el… Peju kamu bersih, gk bau, kental banget
xixixixi aku doyan nih..”

Ada sedikit peju yang masih menempek di bibirnya, kembali marissa menyapu bibirnya dengan lidahnya dan menelan kembali peju yang tersisa tadi.
Annjiiirrr… itu sexy banget…

Cewek cakep, udah berantakan semua, belepotan peju, trus jilatin peju yang tersisa sembari senyum. Ini adalah sesuatu yang tidak akan dilakukan tiara. Beberapa kali kami pernah mencobanya dan selalu berakhir dengan tiara muntah2.

Aku terdiam cukup lama sebelum mulai dapat menguasai diri lagi. Marissa memandangku tersenyum lembut dan membelai belai rambutku.

“kamu beneran jagoan el.. xixixi kalau orgasme kayak kuda liar menghentak2 gitu xixixixi”

“oh ya..?”

“udah gitu peju kamu kental banget, kalau di memek aku dan aku gk KB pasti langsung jadi anak tuh..”

“hehehehehehe”

Aku balas memandang wajah cantik dan meyapu pandanganku ke sekujur bodynya telanjang putih bersih di hadapanku.

“Kamu indah banget cha…”

Setelah ML, kami sempatkan makan siang di resto, marissa gak berhenti manja dari aku. Aku jadi ingat bagaimana Tiara waktu jaman SMA. Terus terang aja, ini adalah saat-saat aku sedang mabuk dengan marissa. Rasanya seperti menjadi remaja lagi, dan hubungan kami makin lama makin mesra, walaupun tidak menghilangkan kewaspadaan kami untuk menutupi ini semua dari orang-orang terkait.

Rasa bersalah dan deg-degan yang kualami ini bagaikan candu untuk memacu adrenaline yang justru membuatku mabuk dan sangat menikmatinya. Logikaku melarang hal ini, tapi megalomaniaku tampaknya lebih kuat menguasai diriku.

Bersambung