Tiara’s Story S2 Part 5

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Tamat

Aku menyadari rasa empatiku padanya begitu besar. Aku sampai gak bisa ngomong apa-apa, itu menandakan aku mulai masuk ke sungai dan basah. Ini gak boleh terjadi. Aku tetap harus stay di pinggir sungai dan menjadi pengarah dan pengamat untuk kesembuhan marissa.

Masalahnya adalah aku bisa apa nggak?

“Kamu jijik sama aku?” Tanya marissa.

“Nggak koq.”

“Kasihan?”

“Nggak. Aku malah salut sama kamu.”

(Dalam situasi seperti ini aku gak boleh ngomong merasa kasihan padanya. Itu akan membuat dirinya makin down)

“Kamu bisa lewati itu semua dan bertahan tetap hidup sampai sekarang. Apa yang membuat kamu memutuskan tetap hidup.”

“Sejak dulu, aku bermimpi akan datang seseorang ndre.”

NAH!! satu tabir lagi terbuka!

(Hal ini wajar banget dalam situasi penuh penderitaan hidup, seseorang akan mengharapkan datang superhero yang akan membantunya. Dalam skala awam dan jauh lebih ringan kasusnya, banyak orang akan merasa membutuhkan Tuhan).

“Kamu udah ketemu?”

“Belum”

“Suamimu?”

“Ternyata bukan”

“Lalu siapa?”

“Gak tau ndre.”

“Trus kamu tau dari mana klo udah ketemu atau belum?”

“Aku akan tau koq ndre. Aku akan bisa menyerahkan seluruh diriku untuk dia. Dan aku juga yakin, dia akan terima aku apa adanya.”

“Hhhmmm konsep superhero, ini seperti skizofrenia waham rujukan” kataku dalam hati, banyak korban kekerasan dalam fase penyembuhan trauma mengalami hal ini. Faktanya ini gak pernah ada!! dia yang harus menjadi superhero untuk dirinya sendiri

“Pernah gak dalam imajinasi kamu, ngobrol sama dia?”

“Nggak” kata marissa sambil menggeleng

Aku membelai rambutnya.

“Kamu itu superwomen yang sesungguhnya mar..”

Marissa memegang erat tanganku

“Bantu aku ya ndre..”

“Iya mar… Aku akan bantu kamu.”

(Aku perlu observe lebih lanjut. Manifestasinya adalah dia gak mau punya baby sampai ketemu superheronya. Ini semacam trauma healing yang belum selesai tapi mengendap puluhan tahun)

“Makasih ya ndre..” Katanya sambil menatap lekat mataku.

Kuusap pipi wajah cantik di depanku ini, aku masih gak habis pikir darimana dia bisa mendapatkan kekuatan mental dan psikis sebesar ini, sehingga dia gak bunuh diri atau jadi gila. Sepertinya “waham rujukan”nya benar-benar merasuki dirinya. Dalam beberapa kasus waham rujukan ini bisa sampai diajak ngobrol oleh penderitanya adalah tahap skizofrenia akut.

Dalam banyak kasus, biasanya agama menjadi solusinya. Superhero yang dimaksud ada di dalam mazhab agama apapun bentuk dan agamanya, psikiaternya adalah pemukanya. Dan sudah menjadi hal yang lumrah banyak subyek akan jatuh cinta dengan pembimbingnya ini, akibatnya banyak pembimbing agama yang imannya kurang kuat akan jatuh dalam perangkap ini.

Instability pasien jenis ini kerap dimanfaatkan oleh oknum pembimbing agama, dan dukun2 cabul yang bertindak seolah2 dia adalah superhero yang merasuk dalam tubuh dukunnya dan bisa berbicara langsung dengan subyeknya.

Marissa mengecup lembut punggung tangan kananku

Kubelai rambut nya..

“Kamu cantik dan kuat banget mar…”

“Sayangi aku ndre..
Cintai aku ndre…
Rawat aku, sayang..”

Bibir kami pun segera bertemu pelan dan lembut kami saling mengecup satu sama lain. Matanya terpejam, keindahannya makin memancar membuatku segera buta akan statusku. Pertahananku bobol. Naluri ingin melindungi marissa jauh lebih besar dari kesadaranku akan statusku. Ini berbahaya tapi tak kuasa aku tolak. Kekuatan sekaligus kerapuhan dalam dirinya membuat pesonanya memancar begitu kuat.

Kuhentikan sejenak cumbuan kami dan kupandang wajahnya dengan bibir basah dan mata terpejam dengan sisa-sisa air mata d pelupuknya. Aku benar2 terkesima dengan wanita kuat ini. Wanita yang menunggu sang penyelamat yang entah ada ntah tidak.

“Icha.. aku panggil kamu icha ya..” kataku berbisik

“Iya sayang, aku panggil kamu el ya..” balasnya

“Koq..?”

“Kan andre L”

“Hehehehe bisa aja kamu..” Aku mengangguk.

“Aku mau kasih diriku buat kamu el..”

“Aku gak mau sekarang cha.. Masih terlalu dini buat kita.”

“Gapapa el, aku tunggu sampai kamu beneran siap..”

Marissa mendekatkan lagi wajahnya padaku, sangat dekat sampai hidung kami hampir bersentuhan

“El.. aku cinta kamu.”

YUPS! Dia jatuh cinta, tapi tahap ini masih awal banget dan aku gak pernah berperan sebagai superheronya. Jangan-jangan dari awal dia memang tidak mau konsultasi, lebih pada ngejar aku secara intense aja. Emang dasarnya udah suka sejak awal.

Aku tersenyum, dan mengecup bibirnya pelan kemudian menarik nafas dalam

“Its OK, gak masalah koq buat aku” kata marissa mengerti bahas tubuhku.

“Pake celana kamu, biar aku turun..” kataku sambil menunjuk penisku sejak dia ngasih lihat vaginanya, udah berdiri.

“Xixixixixi, gitu koq gak mau”

“hehehehe…”

“Kamu mau nginep apa pulang, cha?”

“Aku mau dikelonin, boleh el..?”

“Boleh cha..”

“Buka kemeja sama celana kamu dong, biar aku laundry. Kan bau parfum aku, sekalian baju kamu yang semalem”

“Trus aku sekarang pake apa? Kan kamu minta aku kelonin?”

“Masalah gak, kalau gk pake apa2?”

“Aku bugil gitu?”

“Ya pilihannya cuma dua, istri kamu tahu atau sekarang kamu bugil”

“Aku pake baju yang minggu lalu aja lah, cha..”

“Mana aku bawa, kamu kan gak minta bawain, el..”

“Hadeh… ya udah aku bugil aja, tapi jangan diapa-apain ya.. “

“Xixixixixi.. harusnya aku yang ngomong gitu kalee”

“Hahahaha… ya udah yuks, aku bersih2 dulu ya.. “ kataku sembari bangkit menuju kamar mandi

“Mana baju kamu, sini kasih aku..” kata marissa di depan pintu kamar mandi sambil memegang laundry bag di tangannya

Aku memberikan pakaianku dengan jengah karena hanya pakai celana dalam aja.

“Gak kamu banget sih, malu sama aku xixixixi”

“hahahahahaha”

Aku keluar kamar mandi langsung ke tempat tidur dan masuk ke dalam selimut, telungkup. Marisa gak lama kemudian juga keluar kamar mandi dan menyusul ke bawah selimut tampa kulihat.

“Good night el, sweet dream”

“Good night, cha..”

Setengah jam aku mencoba tidur, tapi gak bisa. aku merasa bau tubuh marissa begitu menyandera indra penciumanku. Bau keringat bercampur parfum, rasanya aku kenal bau parfum ini. Ini parfum langka. Seperti bau bayi. Wanginya harum dan sexy. Penisku bereaksi dengan berdiri gagah maksimal. OMG..

“El, ud bobo blum?” kata marissa dengan sura bergetar aneh

“Blum, kenapa cha?”

“Peluk aku dong..” masih dengan getaran sura yang sama

“Waduh.. ” kataku bingung

“Kenapa?”

“Aku… ”

“Dari belakang juga gapapa, Aku kedinginan..” kata marissa memotong

Aku nengok ke bawah selimut, posisinya meringkuk, badannya gemetar mengigil, telanjang juga bahkan dia sudah gk pakai beha dan celana dalam.

(pada kesempatan lain ternyata kejadian marissa mengigil dan meringkuk ini terjadi lagi beberapa kali, termasuk pada situasi yang tidak bernuansa romantis seperti ini, aku berpikir ini seperti psikosomatis, tapi apa pemicunya masih belum jelas)

“Kamu kenapa?”

“Biasa.. Aku suka begini”

“Oh ya? Tadi gak apa2 kan?”

“Dari dulu aku gini, bisa tiba-tiba tanpa sebab”

Aku beringsut memeluknya dari belakang. Masalahnya tanganku yg memeluknya di bekap marissa di dadanya, kan disitu ada dua bukit putih yang udah gk ada penutupnya. Sementara, penisku terhimpit badanku sendiri dan pantatnya, dalam kondisi sudah keras dari tadi.

Sekitar lima belas menit kemudian tubuh mengigil marissa mulai tenang.

“Enak el.. Anget..”

“Iya bobo ya…”

“Gak bisa bobo..’ Kata marissa manja tangan marissa di belakang pantatnya mengelus-elus jagoanku yang emang udah keras sejak awal.

“Emang gak capek”

“Capek banget tapi gak bisa bobo”

Marissa kemudian berbalik, dalam keremangan cahaya kamar ini, aku bisa melihat wajahnya sayu, dan kurasakan hembusan nafasnya berat.

“El.. ”

Mata marissa menatap aku, ada api birahi di sana. Badannya di dekatkan kepadaku, tubuh kami menempel dalam posisi miring, payudaranya menekan diriku memberikan sensasi lembut didadaku. Kelelakianku jelas tak lagi mau menuruti tuannya, dia takluk pada situasi mesra berbalut iba ini.

“masuki diri aku el…
Tolong jangan buatkan aku menangis memohon padamu..”

Bibir kami kemudian bertemu sebagai pembuka gerbang prosesi birahi yang akan segera dimulai. Kami secara perlahan mulai saling mencumbu satu sama lain dengan kecupan-kecupan lembut intens dan berulang, kadang dibarengi tekanan yang lebih berat sedikit karena terbawa perasaan dan suasana syahdu. Rabaan-rabaan jemariku menari sekujur tubuhnya

“Aaassshhh.. “

Marissa menarik diri sejenak dari pertempuran awal ini, ia memandangku dengan tatapan sayu, bibirnya diraba dengan jarinya, rambut kekuningannya tak beraturan menutupi sebagian wajahnya dan sebagian lagi jatuh di dadanya. Rasanya ia sedang menyiapkan diri untuk melakukan serangan frontal dan total pada bibirku..

Dan benar saja, sejenak kemudian dengan kedua tangannya memegang kepalaku, marissa mengerahkan segenap hasrat dalam dirinya, marissa melumat habis bibirku, bukan hanya bibir, tapi hidung, pipi, dagu, kening bahkan leherku benar-benar menjadi sasarannya. Dengan kasar didorongnya tubuhku agar terlentang dan dia segera menjajah aku dengan memastikan setiap inchi tubuhku terlumuri liurnya dengan baik.

Tangannya secara aktif meraba, merogoh dan mengeluarkan peralatan pengantar benihku dari belenggunya tanpa ada niat dariku untuk mencegahnya dan satu satunya pertahanan terakhirku berhasil dilepaskan dari tubuhku. Marissa berhenti lagi, dipandangi kelelakianku yang sudah tegar memperlihatkan kegagahannya.

Aku sempat berpikir, marissa akan memulai prosesi felattio, maka aku memutuskan pasrah memejamkan mata siap menerima rangsangan apapun dari mulutnya. Tapi ternyata aku salah, yang terjadi kemudian adalah erangan lembut dari marissa, sementara aku merasakan penisku menjadi lebih basah, hangat, dan terjepit licin, tubuhku tertindih tubuhnya yang tiba2 ambruk di dadaku.

Vaginanya sempit banget tapi basah banget, mungkin efek gak dimasuki siapapun dalam waktu lumayan lama.

“Eeerrrggghh…. Penuh banget el..” Bisik marissa lirih karena wajahmya tertelungkup di samping wajahku.

Aku gak kaget, tapi juga gak menyangka juga bahwa diriku sudah ada dalam dirinya begitu cepat.
Ia bangun dan menatapku sambil senyum..

“Its much bigger than I tought, el.. xixixixi” Lanjutnya

“Really..?”

Marissa mengangguk “Enak.. Enak banget” bisik marissa sambil menggerakkan pinggulnya perlahan tapi teratur

Marissa kemudian lebih cepat menggerakkan pinggulnya, menimbukan bunyi decak khas pertemuan vagina dan penis yang menimbulkan sensasi erotis. Ia mencoba mengayuh asa menggapai puncaknya. Marissa hanya terdiam seolah berkonsentrasi merasakan setiap gerakan dari pertemuan penisku dengan dinding vaginanya. .

Dalam waktu kira-kira tiga menit, aku merasakan tubuh marissa bergetar, menegang dengan gerakan pinggul kasar seolah memaksakan seluruh kelelakianku sepenuhnya terbenam dalam dirinya. Gerakan cepat dari pinggulnya masih terus dilakukannya, wajahnya tengadah ke langit-langit kamar ini, tangannya kanannya menjambak rambutnya sendiri sementara tangan lainnya meremas keras payudaranya.

“Aasrrrrggfhhhh….. Ssshhh… Ssdhhhssshhh.. aaakkkuuuu… rrrgghhhhhhhh aassshhh…”

Marissa tersenyum menatapku, wajahnya memerah puas.

“Koq cepet banget?” aku berbisik lembut

“Xixixixi I’m fast climber el.. I can reach the top in several minute, and I think its getting faster with your size”

“Really? So…?”

“I want it more, as much as possible baby.. “

“Okey honey, I’m yours….”

Dalam 15 menit kemudian marissa mencapai orgasme ketiganya. Tampaknya ia memang tipikal perempuan yang mudah mendapatkan orgasme. Aku sih belum pernah ketemu yang seperti dia. Sementara istriku, Tiara adalah tipe perempuan yang perlu usaha untuk mendapatkan orgasmenya, perlu benar-benar kerjasama yang apik antara aku dan tiara untuk bisa memastikan tiara berhasil mencapai puncaknya, kalau nggak bisa-bisa aku yang keluar duluan.

Aku masih sibuk mengamatinya meraih orgasme ketiganya ketika marissa tiba-tiba berhenti dan bertanya,

“kamu gak enjoy ya?”

“enjoy koq.. aku suka lihat wajah kamu lagi orgasme”

“ih.. koq gitu sih, malu tau..”

“Sexy banget, cantik banget, merangsang banget”

“aku udah capek nih, udah tiga kali. Kamu dong gantian di atas.”

Kamipun berganti posisi, kulihat kondisi vaginanya udah benar2 berantakan lelehan lendir ada dimana-mana jembutnya basah, warna merah tua dari labia minoranya semakin gelap, sprei di bawah pantatnya sudah basah oleh lendirnya gila nih perempuan becek habis….

Aku minta marissa dalam posisi missionaris, tampak olehku vaginanya merekah merah, Aku masukkan kontolku tanpa halangan berarti, dan pelan ku kocok menikmati setiap sentuhan dalam persetubuhan ini.

“Jangan pelan-pelan ell…masukin sampai mentok ell…” rengek marissa

Akupun mempercepat ritmeku

“iya ell… lagi cepetin ell”

Plok..plok..plok..plok…
Aku menambahkan RPMku sampai batas maksimal..

“gila kontol loe el… ennaaaakkk bangeeet….”

dan aku tetap mengupayakan dia mendapatkan apa yang diharapkannya. Aku akhirnya berhasil memuntahkan seluruh benihku dalam rahimnya setelah membuatnya orgasmenya dua kali lagi.

Kami berpelukan erat dalam selimut kami. Keringat membasahi tubuhnya mulai kering, dan aroma parfumnya makin memancar…
Wangi tubuh ini… ini wangi bedak bayi, Bvlgary petit et mamans!!

Ini parfum langka, dan pasti dipakai untuk tujuan tertentu.
Kenapa dia pakai parfum ini?

“cha… “ kataku lembut

“ kenapa el?”

“kamu pake bvlgary petit et mamans?”

“xixixixi koq kamu tau?”

“sering?”

“nggak, baru kali ini aku pake, padahal udah lama banget punya”

“kenapa?”

“gk tau, lagi pengen banget aja..”

“kamu lagi subur..?”

“bentar…. “ kemudian kulihat marisa termenung seperti mengingat dan menghitung.

“iya..”

“kamu mau punya baby?”

Marissa menggeleng

“sssttttt… aku KB koq, pake IUD”

“ciyusan kamu?”

“iya…el”

“besok ke dokter kandungan ya..”

“kamu takut ini jadi?”

“ iya… beneran kan kamu KB?”

“Iya el.. aku kan gak mau hamil dari suamiku, jadi aku pasang IUD dan aku juga gak mau ambil resiko hamil dari kamu kan?”

“Nice cha, tapi besok kita ke dokter kandungan ya…”

“Iya el… besok kita ke dokter.. pura2 cek posisi IUD aku. Bergeser gak habis diobok obok sama jagoan kamu xixixixi. Bobo yuks el sayang, ud jam 1 nih.. aku capek tapi rileks banget jadi tambah ngantuk”

“Masih minta kelonin gak?”

“Iya dong, aku mau bobo di lengan kamu.. aku suka bau kamu, bau laki banget el..”

“bau asem dong…”

“nggak koq, kamu wangi, wanginya laki banget sih.. pasti istri kamu ya yang pilihin parfum”

“iya…”

“gk pasaran sih… pinter banget ya dia…”

“Kalau gitu pagi kita gk usah ML ya el.. biar kamu bisa kasih jatah ke istri kamu”

“koq kamu mikirin segitunya?”

“aku kan harus berbagi kamu sama dia xixixixi”

“kebalik kaleee”

“ya nggak lah, dia mana mau berbagi sama aku xixixi”

“udah ah tidur aja..”

“Aku cinta kamu el..”

Dan aku kecup keningnya tanpa berkata apa-apa kemudian kamipun tertidur lelap dengan tetap telanjang bulat.

***

Pagi ini aku kembali bangun tanpa marissa di sisiku. Seluruh bajuku sudah di packing dan baju yang akan aku pakai dalam perjalanan pulang sudah terstrika rapi digantung dalam plastik laudry.

“Aku kerja ya, kopermu tinggal angkat. Kalau mau sarapan info aku di ext. 225.” Begitu bunyi tulisan dalam post it yang tertempel di cermin.

Selesai mandi bersih dan memastikan tidak ada bau marissa di badanku, aku angkat koper, checkout dan sarapan. Marissa yang sudah aku kabari sebelum keluar kamar, menyambutku di resto.

“Hi cha..”

“Hi cinta..” Kata marissa langsung cium pipiku di hadapan seluruh staf resto dan tamu yang sarapan.

Ku lihat wajah berbinar-binar, jauh lebih cerah dan segar. Aku perhatikan memang wanita yang kehidupan seksualnya baik akan memiliki wajah bercahaya seperti wajah marissa saat ini. Semalam hormon estrogennya terpompa deras, memberikan efek flawless di wajahnya.

CATAT YA GUYS : cewek yang udah lama gk ML, wajahnya akan kelihatan buram dan gk bercahaya, ini fisiologis dan gk bisa ditutupi dengan make up apapun. So in case ente ketemu yang cantik tapi wajahnya seolah buram begini berarti ente punya peluang hehehehe

“Kamu cerah banget hari ini..”

“Semalem kan dapet vitamin S, xixixixi”

“Maksudnya?”

“Sperma” kata marissa berbisik nakal.

“Dasar hahahaha, salah kamu. Semalam hormon estrogenmu terpompa keluar, jadi efeknya wajah kamu lebih cerah”

“Oh ya…?? kamu player beneran ya..?”

“No comment hehehehe”

Aku mengambil posisi duduk agak dipojok supaya lebih personal.

“Emang udah berapa lama gak dapet?”

“enam bulan kali….”

“Hah??”

“Sejak aku tahu suamiku punya anak dari yang satu lagi”

“Itu lama banget loh”

“Gimana berasa virgin lagi kan?”

“Hehehehe iya…”

“Enak el?”

“Banget cha.., kamu?”

“Enaaaaak bangeettt tapi agak sakit sih udahannya”

“Ada lecet atau sobek gitu ya?”

“Koq tau? Iya kayak lecet padahal semalam udah basah banget aku”

“Sampe sekarang tiara masih gitu tiap kali kami ML”

“Kegedean sih..”

“Gak gede tau..”

“Gak tau ya, tapi better than my husband sih. Aku kan gak punya pembanding lain”

“Hehehehe.. Awas loh..”

“Awas kenapa?”

“Awas nanti doyan”

“Telat ngingetinnya. Td pagi aku setengah mati nahan supaya gk masukkin punyamu yg lagi upacara pagi. Kayaknya aku udah doyan dan addict tau.. Xixixixi”

“Trus emang kamu boleh terus bobo sama aku klo aku disini?”

“Aku udah bilang sama direkturku, aku bilang kamu pacar aku, lagi ada event bareng sama pak roni.”

“Emang dia gak tau kamu ada suami?”

“Tahu”

“Trus?”

“Dia bisa ngerti, kan waktu aku meweknya di selingkuhin suamiku, aku curhatnya ma dia”

“Oh ya.. Bagus dong..”

“Makanya kemaren aku bilang kamu tenang aja.”

“kapan kamu ngomong sama dia”

“habis aku sit in pertama kali kamu di sini..”

“Hah?! Koq pede banget kamu?”

“aku aja bingung xixixixi, aku nyadarnya pas udah selesai ngomong sama dia”

Aku pandangi wajah cantik di depanku ini, kali ini gak adalagi hidden tought dibalik tawanya. Tawanya renyah dan lepas, dengan wajah memerah malu. This is the real marissa, cantiknya pake banggeeettt…

“kenapa sih kamu liatin aku kayak gitu?”

“Gapapa, aku lagi confirm observasiku aja”

“oohh.. aku masih jadi objek obsevasimu?”

“bukan obyek, kita sebutnya subject observasi, karena kamu bukan sebuah obyek”

“Apa hasil observasimu?”

“aku sih udah ada gambaran, tapi kayaknya mendingan bahas minggu depan ya..”

“Okey, gapapa.. kita bahas minggu depan ya el”

“yuks jalan.. kita ke dokter”

“Yuks.. aku juga udah ijin keluar bentar.. kita pakai mobilku aja ya..”

Kemudian marissa tampak menghubungi seseorang.

“yuks, mobilku udah di lobby tuh..”

Di depan lobby udah terparkir manis Sampai di lobby sebuah mercedes S class W140. Old but classy. Mercedes paling stabil yang bisa dikendarai dalam kecepatan sangat tinggi tapi sahabat setia SPBU.

“ups… what a car!!” kataku

“warisan bapak, el..”

“tetep aja ini mobil bagus banget”

“Kerenan juga mobil kamu..”

“hahahaha… jauh lah say.. ini mobil kelas yang beda.. mobilku kan bikinan orang jepang”

Dalam setengah jam kami sudah di depan praktek dokter ginekolog langganannya. Karena prakteknya di rumah dan marissa adalah pasien lamanya, maka dia mau diganggu di hari sepagi ini

“Semua bagus koq..”

“gak ada geser dok?”

“nggak.. kenapa semalam kalian kelewat hot ya?”

“xixixixi iya dok…”

“hahahaha, masih well placed koq” kata ginekolog itu sambil melepas sarung tangan karetnya dan kembali duduk di hadapanku. Sementara marissa masih berpakaian di balik bilik.

“IUD itu gak akan semudah itu bergeser, dia posisinya terjepit koq. Jadi kalau hanya terlalu hot gak akan berpengaruh.”

“Okey dok… mantab..” kata marissa kemudian berpamitan ke ginekolog senior ini. Usianya mungkin sekitar 70 tahun.

“Jaga diri baik2 ya marissa..” kata dokter itu sambil mengelus rambut marissa.

“Baik dok”

“jaga marissa ya mas..”

“baik dok..”

“saya sungguh-sungguh lho mas..” katanya sambil menatap lekat mataku galak.

“baik Dok..” kataku sambil menghormat dengan menunduk.

***

“Sip, aku pulang dulu ya sayang” kataku setelah sampai di parkiran hotel.

“Iya, hati hati ya el…”

“iya.. sayang..”

“udah yakin sekarang?”

Aku mengangguk, “banget!”

“minggu depan jatahin lebih ya.. xixixixi”

“doyan sih…”

“emberan, kamu tuh parno..”

“masak sih”

“xixixi sampe segitunya.. pake minta aku di check sama dokter”

“jaga-jaga sayang”

“aku ngerti koq el..”

“Bye.. el”

“Bye cha..”

Aku berpikir ttg marissa yang baru saja resmi berhubungan badan denganku tanpa status yang jelas. Pacar bukan, apalagi istri, bahkan rasa cinta dariku agaknya juga masih aku ragukan. Tiara yang kembali padaku dalam status mantanku aja memerlukan waktu cukup lama untuk bisa kembali merebut hatiku dari Janis. Saat ini hatiku sudah sepenuhnya dimiliki Tiara dan dua jagoanku, bukan hal yang mudah mengalihkan hal itu walaupun dengan hubungan badan sepanas apapun dan wajah secantik apapun.

Toh secara fisik, apapun yang dimiliki marissa juga dimiliki oleh Tiara kecuali toketnya.., tapi memang marissa adalah KW supernya Tiara plus ada jejak janis dari bagaimana dia melayani keperluanku..

Namun bagaimanapun aku tetaplah seorang megalomania, ML dengan cewek secantik marissa menjadi kebanggaan tersendiri buat aku. Jadi berasa raja minyak, sensasi selingkuh ternyata addict, rasa insecure ketika ML karena takut hamil, trus menjalani kisah dengan deg-degan karena takut diketahui orang banyak, dan trik supaya tetap aman saat keep in touch menjadi candu tersendiri buat aku.

Ak merasakan lagi apa yang pernah aku rasakan ketika dulu memulainya bersama dengan Lusy, belasan tahun lalu. Ada rasa bersalah, tapi juga ada rasa puas kali ini.

Di tol jagorawi menuju rumah suara ari lasso menggema lewat lagu seandainya..

Kini baru aku sadari
Cinta bisa hadir
Tanpa disadari
Dengan perlahan
Tapi pasti
Merasuk di jiwa ini

Perasaan ini
Takkan pernah
Aku mengerti
Sejenak khilafku
Lupakan dia
Yang miliki
Diriku

Seandainya
Cinta Ini
Tak pernah terjadi
Takkan ada air mata
Dan hati
Perih terluka

Saat cinta
Menyentuh hati
Aku pun tak kuasa
Untuk menghindari
Meski aku telah berdua
Aku jatuh cinta lagi
Ooh

Sejenak khilafku
Lupakan dia
Yang miliki
Diriku

Seandainya cinta ini
Tak pernah terjadi
Takkan ada air mata
Dan hati
Perih terluka

Seandainya cinta ini
Tak pernah terjadi
Takkan ada air Mata
Dan hati terluka…

Bersambung