Tiara’s Story S2 Part 4

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Tamat

Pagi hari jam 7 aku bangun, marissa sudah gak ada di sampingku.

Jas, kemeja dan celana panjangku sudah ada di hanger, tersetrika rapi banget di bungkus plastik dengan logo laundry hotel ini.

Ulah marissa…

ketika di kamar mandi, ada yang membuka pintuku, ku intip, ternyata marissa sudah dengan three pieces suit khas wanita karir.

“Sini, aku bantuin kamu pake baju.. ” kata marissa menyambutku keluar kamar mandi.

“hhhmmm.. okey..”

“dah.. Udah ganteng..” katanya sembari menepuk dadaku dan tersenyum manis banget setelah selesai membantu memakaikan jas dan memasangkan dasiku.

Kupadangi matanya, ada ketulusan di sana. “Makasih ya mar..”

“iya ndre.. aku kangen melayani cowok kayak gini.. biasanya sih suamiku, kali ini suami orang xxixixixi”

aku kecup dahinya… tapi aku gk mau memeluknya karena akan membuat parfumnya menempel di jasku

marissa memadangi mataku, ada setitik air mata di sana..

“aku tunggu di resto ya…” katanya sambi menyeka genangan dimatanya yang hampir saja jatuh.

Aku jadi ingat Janis.. dan bagaimana Janis memperlakukanku bagaikan seorang raja untuknya.

Marissa, cewek dengan penampilan tiara, tapi pengabdian seperti janis….

“uuugghhhfffftttt….” aku menarik nafas dalam

***

“Pagi bro… Cepet banget udah datang aja loe”

“Pagi ron, gw nginep bro.”

“Gw tau koq. Tadi loe sarapan bareng marissa ya.”

“Iya bro..”

“Udah mulai konsul dia?”

“Yups.. tapi blom banyak informasi yang bisa gw dapet. kayaknya urusan personal banget. Jadi lumayan pelan treatmentnya.”

“Itu cewek complicated and susah banget bro.. Kayak gampang deket, tapi dikejar lari githu”

“Hehehe serius?”

“Iya bro, gw pernah coba approach, gak kena tuh..”

“Hahahahaha ternyata eh ternyata”

“Loe pikir??? Gw normal lah bro, lihat barang bagus model kayak marissa, berasa pengen ganti yang dirumah hahahahaha”

“Hahahahaha… Gila loe ya…”

“Nggak gila lah bro, normal hehehehe”

“Ehm…., mau gw jodohin gak, ron? Hahahahaha”

“Buat loe aja, kayaknya lebih serasi ma loe bro..
Gue kalah tinggi ma marissa hehehehe”

“Eh bini gw mau dikemanain?”

“Siapa yang suruh kawinin dia… btw si marissa, tiara banget ya.. Tipe loe banget sih..
Punya bini tiara, trus punya selingkuhan marissa, hhmmm… Lengkap banget hidup loe jd laki-laki bro hahahahaha..”

“Tuh.. panjang umur, orangnya muncul pas lagi omongin” kataku ketika melihat Marissa masuk ke ruangan kami.

“Hi bapak-bapak ganteng…”

“Hi.. ibu cantik” kata roni membalas sapaan marissa.

“Hi Bu Marissa..”

Marissa lalu menyalami roni, cipika cipiki dan kemudian menghampiri aku.
“resmi banget sih kamu.. xixixixi” katanya sambil membelai pipiku

Sempat kulihat roni terheran-heran dengan sikap marissa barusan.

“Aku panggil teknisi ya, biar kamu bisa mulai test audio visual.” Katanya sambil berjalan ke depan kelas ngecheck peralatan apakah sudah ON atau belum kemudian berbicara sejenak di interkom.

“Boleh bu..” kataku sok resmi

Marissa menghampiriku dan berbisik, “kamu panggil aku dengan sebutan bu lagi, aku cium kamu di depan semua orang..”

“Hadeh… Iya deh… “ bisikku pasrah

“Good boy..xixixixi”
CUP marissa cium pipiku

“Koq?”

“Habis gemes banget! kamu lucu xixixixixi. Dah tuh teknisinya, kalian setting ya, aku tinggal dulu. Nanti aku sempetin sit in”

“Okey mar..”

Roni, yang melihat pemandangan mesra antara aku dan marissa, gak bisa menyembunyikan keheranannya.

Beberapa menit kemudian aku sibuk untuk memastikan semua peralatan pendukung pelatihan bekerja baik, kemudian kembali ke meja observer di belakang.

“Done, all set and ready.” kataku sambil duduk di samping roni.

“Bro…” kata roni pelan.

“Ya?”

“Itu tadi?”

“Iya….”

“Loe ma marissa?”

“Nothing happen”

“Koq?”

“Ya gitu deh…”

“Klo something happen juga gapapa bro, aku rapopo hahahaha”

“Let’s see later bro..”

“Whatever it is, I will be in you side bro..”

“Thanks bro..”

Sejam kemudian aku sudah go show. Pesertaku hari ini level GM semua, ada 21 orang sementara perusahaan yang sedang kami layani ini punya 67 GM sehingga untuk level ini dibagi menjadi 3 kelas. Kulihat marissa duduk disebelah roni dan mereka terlihat tertawa akrab. Sempat beberapa kali aku pergoki marissa menepuk bahu roni dan bersandar di lengannya.

“Hhhmmm… Pantesan roni GR hahahahahaha…” kataku dalam hati

Hampir seharian marissa sit in di kelasku, bahkan dia ikut terlibat dalam berbagai permainan dan menikmati kelasku layaknya peserta.

Konsultasi after trainingku baru selesai lewat jam 10 malam. Aku pamit ke roni dan langsung masuk kamar. Otakku rasanya udah beku dan lidahku kelu. Males mikir, males ngomong, males jalan, energiku habis benar.

Ting tong..

“Room service..”

“Iya bentar…”

Aku intip beneran room service, bukan marissa yang pura-pura kayak semalam.

“Pak.. Nanti dulu.. Saya gak pesan..”

Ketika room service memasukkan food trolley ke kamarku dan meletakkan beberapa piring dan mangkok yang aromanya menggugah selera.

“Ini compliment dari kami pak.”

“Oohh.. Okey.” Kataku mengalah. Ini pasti ulah marissa. Dan benar, gak lama marissa muncul dengan pakaian off duty, jegging, blus biru, dan sneaker.

“Makasih ya pak opik.” Kata marissa

“Sama sama bu..”

“Yuks makan..” Kata marissa kepadaku
“Aku sengaja pesenin tomyum, kamu butuh recharge kan..”

“Tau aja kamu… “

“Aku kan perhatian tau, ndre..”

“Kamu juga perhatian sama roni..” aku memancingnya

“Hah!! Roni cerita apa? Xixixixixi”

“Hahahaha… Kamu reject dinner invitationnya” kataku sambil menyuapkan sesendok tomyum hangat dalam mulutku

“Xixixixi.. aduuuhh… dia merasa di reject ya..
Jadi nggak enak aku sama dia “

“Dia sih gak gimana-gimana, cuma merasa bertepuk sebelah tangan hahahahaha” aku menenangkan marissa

“What!! Dia ada rasa sama aku?”

“Lah kamunya manja sih sama dia.. jadi secara normal, kami para lelaki pasti merasa seperti itu”

“Emang aku manja sama dia?”

“The way you touch him, laugh on his jokes, dan gimana bersandar di bahunya..”

“Koq kamu notice sih..”

“Aku kan psikolog, gesture kayak gitu pasti aku notice. Itu bagian dari observable behaviour yang aku amati.”

“Serius, kamu perhatiin aku sampai segitunya?”

“Yups..”

“Ternyata ya… kamu perhatian banget sama aku”

“Sebenernya bukan hanya kamu sih… seluruh pesertaku juga aku perhatikan kayak gitu. Itu kayak udah terinstall dalam diriku”

“Dih…. Ini cowok.. susah banget sih ngaku klo ada perhatian sama aku.”

“Tapi beneran, gesture semua orang aku perhatiin. Karena emang itu cara kerja kami”

“Tapi bukan berarti kamu gak punya perhatian secara khusus ke aku kan?”

“Dalam hal perhatian khusus, sih ada pasti. Kamu kan memang lagi aku observe. BTW tengkiu ya, tomyumnya.. enak dan energizing banget.”

“Iya sayang, itu kan bukti kalo aku emang ada intention khusus ke kamu tapi kamu ke aku hanya dalam rangka observasi aja” kata marissa cemberut.

“Sejauh ini sih begitu, kalaupun ada perasaan lebih, aku harus bisa manage”

“Aku gak cukup menarik buat kamu ya..?”

“Salah… menarik banget…, and I’m struggling to fight this feeling”

“Jadi ada?”

“Yups, dan aku masih perlu define.
Gini ya marissa… kamu tuh pasienku. tapi jujur aku juga ngerasa kayak kamu tuh bukan pasienku, tapi cewekku. jadi aku masih tahap memilah, aku harus bersikap seperti apa ke kamu.”

“Hhhmmm.. okey noted and understood.”

“Mar, boleh tau gak gimana dulu kamu survive?”

“Bentar ya aku pipis dulu xixixixi”

Ketika kembali ke kamar, marisa sudah melepaskan jeggingnya dan memakai handuk hotel untuk menutupi tubuh bagian bawahnya.

“Gini ndre.. aku kan pernah cerita bahwa aku di kasih kenang-kenangan codet di lengan ini, itu kenang-kenangan pertama. Ceritanya gini..
Waktu mereka sadar bahwa ternyata masih ada aku di lantai atas, mereka kejar aku lari ke kamarku. Sebelum sempat tutup pintu kamar, satu pedang mereka berhasil lukai lenganku ini.

“Tunggu, itu mereka? Berapa orang?”

“Yang kejar aku dua orang.
Kena sabetan pedang, aku jatuh, Rasanya perih banget tangan kiriku gak bisa aku gerakin sama sekali.
BTW kamu jangan bayangin aku kelas 5 SD kayak masih kecil gitu ya.. aku udah tinggi waktu itu. Orang-orang kita pasti aku ud SMP gitu.”

“Okey.. trus..”

“Itu luka pertama ya… Yang dipunggung semalam luka ketiga”
Trus untuk luka kedua, itu alasan kenapa aku harus merasa dekat dulu dengan kamu, karena aku harus tunjukkin vagina aku ke kamu.
Are you ready?”

Aku menarik nafas dalam..
Kemudian mengangguk

Marissa melepas handuknya. Dia sudah tidak memakai celana dalam, bulu halus jembutnya tampak terawat kontras dengan warna kulitnya yang putih, indah banget!! Ia mengangakang di depanku. Tampak bekas jahitan di antara lubang vagina dan anusnya seperti jahitan luka sobek perempuan melahirkan normal.

“Ini ndre.. Aku sempat kesulitan poop maupun pipis.”

“Kamu kan belum pernah melahirkan? ini kamu diperkosa? Kapan”

Marissa mengangguk.

“Ya ndre… katanya aku diperkosa oleh para pembunuh keluargaku, vagina dan anusku sobek, sebelumnya aku sempat dipukuli mereka jadi aku pingsan. aku gak tau dan gak merasakan semua sakit akibat perlakuan mereka dan aku juga gak tau diperkosa berapa orang.”

“Trus, yang dipunggung?”

“ntah kenapa mereka tinggalin aku setelah selesai, mungkin disangka aku udah mati kali. Waktu aku sadar, suasana udah sepi, trus aku lari ke jalan, dan teriak2 minta tolong. Ntah gimana ceritanya aku juga gak tau, tiba-tiba ada motor mendekat ke aku dan aku ngerasain punggungku mati rasa kemudian semua gelap. Aku pingsan lagi di pinggir jalan, ndre…”

“Waktu bangun aku udah di RS. Dokter sempet heran kenapa aku masih hidup. Aku rasain tangan, punggung, muka, selangkangan semuanya sakit dan tubuhku penuh perban. Saat itulah aku tahu mereka udah perkosa aku. Lenganku, punggungku dan vagina dan anusku juga udah dijahit.

Aku tertegun, tanganku bergetar, aku gak menyangka sedemikian parah penderitaan yang diterima wanita ini diusianya yang sangat dini, kelas 5 SD!!! This is beyond my imagination.

“Ndre.. setelah sembuh ternyata masih ada lagi yang ditinggalkan mereka, AKU HAMIL. Aku mens pertama kelas 4 SD, dan kelas 5 SD aku udah hamil ndre..!! Aku masih muda banget, pihak panti asuhan secara sepihak memutuskan harus digugurin. Kamu bayangin, umur 11 tahun aku udah dikuret ndre!! Dan itu sakit banget. Berbulan-bulan aku pendarahan. Jadi harus pakai pembalut terus setiap hari.

“Waktu pacaran dgn suamiku aku juga sempat hamil, dia juga minta digugurin. Aku gak mau karena aku takut sama sakitnya, tapi dia maksa, akhirnya aku setuju juga buat gugurin. Dan kembali sakit itu terulang, bahkan lebih sakit.”

“Okey…”

“Aku sebenernya udah gk mau sama suamiku, tapi aku mikir lagi, laki-laki mana lagi yang mau sama aku? Badan penuh codet, korban perkosaan, dua kali gugurin kandungan. Mana ada laki2 yang mau kecuali suamiku. Jadi ketika ibu minta aku merit sebagai permintaan terakhir dia, aku merit sama suamiku di hadapan jenasah ibu.”

Aku menarik nafas dalam sambil memperhatikan matanya yang berlinang air mata.

“Ndre…
Aku udah dua kali kehilangan bayiku, ndre.
Aku takut hamil dan punya baby. Aku merasa kotor banget karena aku udah membunuh dua anakku. Aku merasa gak layak jadi ibu.
Selama ini tanpa sepengetahuan suamiku, aku KB.
Makanya 5 tahun perkawinan kami, aku gak punya anak.” Tangisnya pecah dengan deras.

Aku memeluk marissa merasakan betapa pahit jalan hidupnya dibalik paras cantik dan kesempurnaan tubuhnya.

“Okey mar… Boleh aku mencerna dulu? apa yang kamu alami bikin aku shock. Aku belum bisa mikir apa2.” suaraku bergetar.

Aku mulai menemukan clue bagian mana yang belum selesai dari penyembuhannya, luka akibat dua kali mengugurkan kandungan. Ini traumatis yang sama sekali belum di sentuh oleh psikiater manapun. Dalam situasi seperti ini, seandainya dia mengalaminya saat remaja, mungkin akan membuatnya bunuh diri.

Marissa anak-anak mungkin cukup kuat menerimanya, bagaimanapun anak-anak lebih tabah menjalani hantaman-hantaman kehidupan karena memori mereka masih berfungsi seperti spon kering yang bertugas menyerap informasi apapun, bukan melakukan filter dan komparasi informasi, tapi melalui masa remaja dengan dua codet di tubuhnya plus status korban perkosaan juga bukan hal mudah untuk dilalui.

Pasti ada sesuatu yang membuatnya tetap bertahan hidup.

Aku menyadari rasa empatiku padanya begitu besar. Aku sampai gak bisa ngomong apa-apa, itu menandakan aku mulai masuk ke sungai dan basah. Ini gak boleh terjadi. Aku tetap harus stay di pinggir sungai dan menjadi pengarah dan pengamat untuk kesembuhan marissa.

Masalahnya adalah aku bisa apa nggak?

Bersambung