Tiara’s Story S2 Part 3

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Tamat

Aku sengaja membentengi diriku dengan memberikan identitas istriku padanya,sesuatu yang gak akan pernah aku lakukan dalam keadaan konsultasi normal. Aku mulai merasa ini sudah agak diluar kewajaran, maka aku perlu bantuan istriku untuk membentengi aku.

“Kamu pasti bahagia ya sama istrimu, ndre” tanya marissa terdengar reflektif di telingaku.

“Iya banget” kataku menegaskan

Kemudian kami terdiam, gak sampai satu menit kemudian telepon marissa terputus.

“Am I just made someone broken?”

Aku sampai di kantor dan segera menuju meja kerjaku ketika ada notifikasi chat masuk. Nomor tak dikenal. Player gak akan pernah save nomer telepon obyeknya. Semua harus diingat di memori kepala.

“Kamu udah di kantor?”

“Udah mar..”

“Pulang jam berapa?”

“Jam 6 sore”

“Okey, jam 6 aku temenin kamu pulang”

“hehehehehe, gk sabar nih pengen pulang jadinya”

“delete chat ini ya… langsung!”

“Siap”

“Have a nice day”

“You too”

“Del chat!”

“Okey”

Aku kemudian delete chat yang baru saja kami lakukan. Hhhmmm.. ini koq semakin aneh sih.. kenapa juga aku harus del chat? Kan gak ada yang aneh dengan chat kami barusan. Hadeh…

Aku dial extension.

“Pak Seno, boleh ke ruangan saya?”

“Baik Pak”

“Makasih ya” segera kututup teleponku

“Misi pak andre..”

“Ya, mari duduk pak seno”

“Ada apa ya pak?”

“Pak Seno masih suka terima konsul psikologis dari klien?”

“Masih Pak. Saya kan passionnya di sana.. hehehehe”

“Mantab.. hehehe, kamu layani via telp juga?”

“Iya pak, kan saya sehari-hari kerja”

“Trus, berasa aneh gak sih?”

“Maksudnya, pak?”

“Berasa kayak orang pacaran gitu.. janjian telp jam berapa, trus waktu mereka konsul kita harus kabur dari istri..”

“Iya banget pak.. awalnya emang aneh. Tapi makin ke sini, istri juga ngerti koq. Ada yang konsul via telp ya pak?”

“Iya nih.. saya jadi berasa kayak selingkuh gitu”

“Hahahahahaha…. Jangan dibawa ke arah sana, pak. Nanti beneran jadian”

“Masih menyesuaikan diri sih…”

“Dari Pak Andre yang harus benar-benar bisa memisahkan.
Klo subyek lawan jenis sih… banyakan pada titik tertentu mereka akan falling love ya..
tapi kitanya yang harus tarik garis tegas buat diri kita sendiri”

“Kalau sama yang kayak gini, kan bingung narik garis tegasnya” kataku memperlihatkan PP marissa

“What!? Kalau sama yang kayak gini sih gak akan saya tarik garis pak hahahahaha”

“Dasar loe ya.. mupeng juga, gaya loe aja sok wise hahahahaha”

“Gw kan cowok juga boss… hahahahaha”

“Hahahahaha…”

***

Agak aneh sih aku sama sekali nggak merasa bersalah pada tiara, mungkin karena aku blum terlalu jauh menjalin relasi dengan marissa. Tapi aku tahu, dibalik sikapnya yang mesra tampaknya tiara punya feeling ttg marissa atau siapapun itu. Feeling tiara yang kuat tentang aku selalu benar dan sudah beberapa kali terjadi.

Relasiku dengan marissa mulai berjalan dengan lebih intens, tiap perjalanan berangkat dan pulang kantor, marissa selalu call dan menemaniku 2 jam dalam perjalanan. Tiara udah gak ikut berangkat ke kantor karena sejak hamil anak pertama, tiara lebih memilih berkarir mendidik anak kami, paling hanya sesekali ngajar di salah satu sekolah kepribadian di kawasan sudirman.

Kamis malam, seperti biasa notif HPku berbunyi dalam perjalanan ke rumah.

“Hi ndre. Nanti malam jalan ke kota hujan?”

‘Nggak lah.. besok pagi aja mar.”

“Aku udah siapin kamar compliment buat kamu loh..”

“Hehehehe.. buat roni aja sayang. Aku room biasa aja”

“Roni dari awal juga udah aku kasih suite juga.. Kan dia customer lama…”

“Lah aku kan baru, kenapa dapet suite juga?”

“Koq nanya sih? Semua yang upgrade itu spesial case. Roni special case buat hotel aku, Kamu special case buat aku xixixixi”

“Oalah.. hahahahaha”

“Ndre.. aku kangen…”

Sepertinya benar apa yang dikatakan seno. Pada satu titik, subyek akan jatuh cinta pada psikolognya,
gak lain karena kami memang bisa memberikan pelepasan perasaan bahkan jalan keluar dari masalah mereka.

Tapi ini, bukannya terlalu dini ya..?

“Kan tiap hari ngobrol.. Masih kangen gitu?’

“Iya ndre.. Aku mau dipeluk..”

“Hehehehe… kamu lagi ada masalah?”

“Iya, masalahku aku kangen kamu, Nanti bobo bareng ya ndre..”

“Gak boleh tau…., bobo sama tamu hotel kamu sendiri? Itu kan tempat kerja kamu..”

“Ya gak di hotel bobonya, dirumah aku aja..”

“Nah… itu aku blom bisa, mar”

“Iya, aku tahu, aku juga gak serius sih ajakin kamu” ada nada defense dalam perkataannya.

“Glad hearing it, mar”

Kemudian obrolan kami berlanjut ke hal-hal seputar pekerjaan, account baru yang dia dapatkan, dan lain-lain.

Sempat terselip dugaan bahwa dia menggunakan tubuhnya sebaga sarana lobby, tapi toh bukan urusanku juga, dan tidak mempengaruhi proses penyembuhannya, jadi tidak terlalu aku pikirkan.

Aku sampai rumah, seluruh pakaianku ud di packing oleh tiara, bahkan baju yang akan akan aku pakai besok juga udah siap terstrika halus dan di gantung diluar lemari.

“Mending kamu berangkat malam ini pah.. Biar besok kamu segar. Bisa full power sampe malam.”

“Hhhmmm boleh juga sih.. Tapi aku istirahat dulu lah mah..”

“Aku mandiin yuks, pah.. Sekalian aku mau kasih bekal buat kamu nih.. xixixixi”

Kami ML dua ronde, sekali di kamar mandi dan beberapa menit kemudian di kamar.
Tiara selalu punya cara manis untuk jagain aku, sengaja dia minta dua ronde supaya aku gak jelalatan di luar hehehehe..

Hhhmmm i love the way she love me.

Melihat bagaimana tiara memperlakukan aku, dari menyiapkan pakaianku sampai memberikan service dua kali sebelum aku berangkat, membuatkan beneran gak tega untuk mengkhianati kepercayaannya.

Aku berangkat ke kota hujan tanpa memberitahukan ke marissa.

Sejam setelah aku di kamar hotel, bel pintu berbunyi..

“Room service”

“Ya bentar..”

Aku buka pintu dan marissa langsung masuk.

Udah off duty, pakaiannya jaket jeans gak terkancing, kaos rajutan ketat warna putih, menampakkan toketnya yang besar. Jeggling abu2 mempertontonkan lekuk tubuhnya yang ramping sempurna, sneaker putih, rambutnya tergerai kekuningan, pulasan make up tipis dan senyumnya mengembang luar biasa cantik.

“Kamu gak berpikir klo aku gak bakal tau kan, ndre?” marissa langsung nyerocos begitu masuk kamarku

“Nggak, hehehehe”

“Trus kenapa gak ngomong?”

“Kasih surprise aja”

“Anakku di resepsionis kasih tau, aku udah di rumah.
Aku langsung cabut ke sini, abis kangen banget… Xixixixi” kata marissa sambil melepas sepatunya
kemudian masuk ke kamar dan naik tempat tidur.

“Ndre.. buka kaos kamu. Aku nggak mau bau parfum aku nempel. Nanti istrimu curiga.”

“Hahahaha dasar.. koq pengalaman sih?”

“Aku pengalaman diselingkuhin jadi tau yang kayak gini xixixixi”

“Okey..” kataku melepas tshirt ku.

“Nah gitu dong..”

Marissa kemudian bangun dari rebahnya duduk di pinggir tempat tidur dan memelukku.

“aku kangen banget, ndre…”

“Ndre, sini gantian kamu rebahan, aku mau tunjukkin sesuatu.”

Aku menurutinya rebah di kasur, dan marissa bangun dari duduknya. Sambil menghadap kepadaku marissa bergaya yang sensual. Dia melepas jaket jeansnya, ternyata kaus rajutannya tanpa lengan, menampakkan lengannya yang putih bersih sampai di ketiak.

Aku menahan nafas, ketiaknya mulus banget. Wanita ini benar-benar terawat. Bekas jahitan di lengan tidak terlihat dari depan, karena ada dibagian lengan belakangnya.

“I wanna show you this…” katanya genit kemudian melepaskan kaus rajutannya, memperlihatkan dua bukit besar putih bersih masih tersangga BH, tapi tidak menutupi urat-urat merah dan kebiruan menerawang di buah dadanya.

Aku udah duga, ini lebih besar dari punya tiara.

Jantungku berdegup kencang, aku menelan ludah..

Aku menurutinya rebah di kasur, dan marissa bangun dari duduknya, sambil menghadap kepadaku marissa bergaya yang sensual, dia melepas jaket jeansnya, ternyata kaus rajutannya tanpa lengan, menampakkan lengannya yang putih bersih sampai di ketiak.

Aku menahan nafas, ketiaknya mulus banget. Wanita ini benar-benar terawat. Bekas jahitan di lengan tidak terlihat dari depan, karena ada dibagian lengan belakangnya.

“I wanna show you this…” katanya genit kemudian melepaskan kaus rajutannya, memperlihatkan dua bukit besar putih bersih masih tersangga BH, tapi tidak menutupi urat-urat merah dan kebiruan menerawang di buah dadanya. Lebih besar dari punya tiara.

Jantungku berdegup kencang, aku menelan ludah..

“Kamu tuh, baru dikasih yang begini udah nelen ludah, bukan payudaraku yang mau aku kasih lihat. Itu sih semua perempuan juga punya dan yang aku punya juga gak gede-gede banget. Kamu perlu lihat ini…..”

Marissa berbalik memunggungiku dan WHAT!!!

Sebuah bekas jahitan terlihat membelah punggungnya bagian kiri miring, dari dekat pundak sampai hampir pantat, tapi tidak melintang melewati tulang belakang

HAH!!

Aku bangun dari tidurku dan duduk dibelakangnya, ntah ada berapa jahitan di sana. Hatiku trenyuh melihat tubuhnya. Perasaan ini persis ketika aku dulu melihat tubuh tiara lebam-lebam dihajar banci mantannya.

Hatiku getun, segetun getunnya. Kuraba bekas jahitan itu perlahan… sangat pelan.., terbayang dalam imajinasiku bagaimana seorang gadis kecil berteriak kesakitan ketika sayatan benda tajam mengiris punggung kecilnya, kemudian rebah dengan berlumur darah.

Marissa perlahan berbalik, ku tatap wajahnya, kurasa ada air menggenang di pelupuk mataku. Aku adalah lelaki yang mengagumi wanita dengan segala keindahannya, tapi kini di hadapanku berdiri seorang wanita indah yang terkoyak, yang sudah pernah melewati episode terkelam dalam hidupnya ketika antara hidup dan mati hanya berjarak setipis kertas saja.

“Enakan lihat aku dari depan kan, ndre? Xixixixi…” Marissa masih bisa bercanda dengan kondisinya seperti ini.

“Itu juga hadiah dari pembunuh keluargaku.”

Aku hanya menggeleng lemah masih shock dengan apa yang ada di hadapanku. Kucium keningnya, dalam sekali. Aku gak ngerti dengan apa yang aku lakukan, ini seperti reflek. Perasaan ingin melindungi dari sifat laki-laki yang ada dalam diriku menuntunku.

Kemudian kami rebah bersama di tempat tidur dengan kepala marissa berbantal dadaku. Perasaan trenyuh dan sedih, sungguh menguasai diriku. Dalam kondisi normal seharusnya kelelakianku sudah menunjukkan dirinya, tapi kali ini, dia tertidur tenang terhanyut perasaanku.

“Kalo kamu gak jijik sama bekas jahitanku, harusnya sih kamu tegang ndre..” Katanya sambil mengelus penisku dari balik celana dalam.

“Eh beneran, koq blom bangun sih ndre? Serius kamu jijik sama aku?”

“Nggak mar..”

“Trus kenapa?”

“Aku shock, sedih dan nelangsa banget ngelihat kesempurnaan kamu terkoyak begitu hebat dan yang kedua, waktu mau ke sini di kasih bekal dua ronde sama istriku hehehehehe”

“Pantesan, pinter bini kamu. yuks rebahan aja sayang, malam ini kamu charging dulu xixixixi”
Matanya yang bening dengan bola mata kecoklatan, memandang aku lekat sekali.

“Mar.. “ aku elus2 rambutnya

“Kenapa ndre?”

“Gapapa mar..”

“Kamu sayang aku, ndre?”

“Aku blom tau mar.. Just give sometime to define ya”

“Aku boleh kan bobo sama kamu begini?”

“Boleh Mar”

“Ndre.. kamu perlu tau. Cuma ada dua orang yang pernah aku tunjukin hal ini. Pertama suami aku dan kedua kamu. Jadi jangan anggap seolah-olah aku kasih tau ini ke semua laki-laki yang dekat dengan aku. Ini aibku ndre.. Kamu janji keep this as secret between us?”

“Iya Mar… BTW, ML kamu sama yang lain?”

“Maksudnya? Oo… iya aku paham…
Ndre.. selama ini aku cuma ML sama suamiku aja, gak pernah sama yang lain.”

“Serius?”

“Emang kamu pikir aku nyaman tunjukkin ini ke laki-laki pasangan MLku yang aku gak tau dia akan bereaksi bagaimana? seumur hidupku aku merasa kayak lady frankenstein. klo ada cowok yang horny lihat bekas luka aku, artinya dia pshyco. kalau dia lari tunggang langgang keluar kamar tanpa pake celana, aku bakalan sakit hati”

“Kan bisa quicky atau sambil pake baju atau gelap atau gimana lah..”

“Xixixixi nggak sayang.. mana enak ML begitu? Lagipula jahitan itu bukan hanya ada di dua tempat ini aja”

“What?!?! Masih ada lagi?”

“Mau lihat?”

“Klo kamu nyaman… boleh..”

“Kebalik, yang akan nggak nyaman tuh kamu, aku sih udah biasa aja.”

“Hhhhmmm… rasanya aku juga bakalan biasa aja”

“Kalau gitu, setelah kamu lihat, kita harus ML”

“Koq…”

“Itu artinya kamu nyaman dan biasa aja. Jadi kamu horny..”

“Aku belum siap ML mar..”

“Kalau gitu, gk usah lihat dulu ya ndre…”

“Iya Mar.. Boleh kasih tahu gak kenapa kamu memutuskan cerita sama aku?
Kamu kan kenal banyak psikiater.” Kataku membelokkan topik pembicaraan ke arah yang lebih normal.

“Gak tau ndre.. Aku ngerasa ada yang klik waktu aku sit in di kelas kamu waktu itu. Makanya aku titip pesan ke pak roni, buat kamu.”

“Apa yang kamu lihat?”

“Aku lihat cowok, eh bapak2 kulit gelap dan tinggi tapi chic, jelasin di kelas dgn sabar. Trus gimana kamu bisa bawa kelas kamu itu cair banget. Aku tuh sering sit in sama beberapa trainer yang pake ruanganku. Kelas kamu tuh full of knowledge, tapi cheer banget. Gak banyak, ndre… yang kayak kamu.”

“Hahahaha koq isinya bagus semua, aku butuh kritik dari kamu tau…”

“Kritiknya ya… Nanti aku sit in lebih lama biar bisa lihat secara utuh ya ..
Boleh khan?”

“Boleh banget mar.. Makasih ya..
Soale ngasih training kayak kemarin tuh pertama kali buat aku”

“Masak sih.. Koq kayak udah pro gitu?”

“Gak tau juga, kali bakat dari sononya..Hahahaha”

“Bisa jadi sih ndre..”

“Bobok yuks mar..”

“Kelonin aku ya, ndre..”

“Iya.. mar..” kataku sambil mengangguk

Kami segera tertidur pulas berpelukan hanya pakaian bagian bawah saja.

***

Pagi hari jam 7 aku bangun, marissa sudah gak ada di sampingku.
Jas, kemeja dan celana panjangku sudah ada di hanger, tersetrika rapi banget di bungkus plastik dengan logo laundry hotel ini.
Ulah marissa…

ketika di kamar mandi, ada yang membuka pintuku, ku intip, ternyata marissa sudah dengan three pieces suit khas wanita karir.

“Sini, aku bantuin kamu pake baju.. ” kata marissa menyambutku keluar kamar mandi.

“hhhmmm.. okey..”

“dah.. Udah ganteng..” katanya sembari menepuk dadaku dan tersenyum manis banget setelah selesai membantu memakaikan jas dan memasangkan dasiku.

Kupadangi matanya, ada ketulusan di sana. “Makasih ya mar..”

“iya ndre.. aku kangen melayani cowok kayak gini.. biasanya sih suamiku, kali ini suami orang xxixixixi”

aku kecup dahinya… tapi aku gk mau memeluknya karena akan membuat parfumnya menempel di jasku

marissa memadangi mataku, ada setitik air mata di sana..

“aku tunggu di resto ya…” katanya sambi menyeka genangan dimatanya yang hampir saja jatuh.

Aku jadi ingat Janis.. dan bagaimana Janis memperlakukanku bagaikan seorang raja untuknya.
Marissa, cewek dengan penampilan tiara, tapi pengabdian seperti janis….

“uuugghhhfffftttt….” aku menarik nafas dalam.

Bersambung