Tiara’s Story S2 Part 10

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Tamat

Dalam 15 menit kemudian, kami sudah berhadapan dengan masing-masing memakai body protector lengkap.

Marissa mengawali pertarungan ini dengan sebuah gerakan halus khas wushu, dan kuda-kuda yang tampak lemah. Aku bergaya seperti seorang petarung ngawur dan langsung melabraknya. Ketika badanku berada sangat dekat dengan marissa, sebuah gerakan berkelit dan membuang diri diperagakan marisa. Membuat aku yang sudah terlanjur mengerahkan tenaga membentur udara kosong dan merasakan tubuhku agak limbung ke depan.

Ntah darimana tiba-tiba sebuah sapuan kaki marisa mengait kaki kiriku yang sebenarnya akan menjadi tumpuan badanku agar tidak terjatuh. Seketika aku ambruk menghadap matras tanpa ampun.

“Wow!!” kataku terkaget karena tiba-tiba sudah ada lantai.

“xixixixixi.. kamu tuh badan doang gede, tapi lemes”

“sialan.!!” Aku segera bangun dan Kembali bersiap.

“hayuks sini serang aku lagi.. xixixi”

“yakin kali ini kamu bisa menghindar?”

“iya.. gerakan kamu lambat xixixixi”

Marissa tampak menunggu seranganku berikutnya, posisinya lagi-lagi bertumpu pada kuda-kuda yang seolah tampak lemah, tapi kali ini aku lebih waspada. Kembali kulancarkan serangan yang seolah sama seperti yang tadi aku lakukan, dan lagi-lagi gerakan berkelit marissa cepat memindahkan tubuhnya.

Aku yang sudah belajar dari apa yang dilakukan marissa, menarik kembali seranganku membuat tubuhku kembali seimbang dengan kuda-kuda kuat. Ketika kulihat kaki marissa kembali mencoba menyapu kaki kiriku, aku pindahkan bobot tubuhku pada kaki kanan dan kulancarkan sebuah tendangan kaki kiri samping, yang menghantam belakang lutut kaki kanan marissa yang menjadi tumpuannya.

Marissa yang tidak menyangka seranganku barusan jatuh berlutut tapi dia masih bisa menghindar dengan merebahkan badannya sambil split ketika seranganku berikutnya sebuah sabetan tendangan memutar kaki kanan kulancarkan dan menerpa udara kosong.

“ufftsst.. hampir aja,” kata marissa juga terkaget dengan serangan barusan yang kulancarkan hanya dengan seperempat tenaga aja.

“cepet juga kamu.. hehehehe”

Kali ini marissa berinisiatif duluan, kuda-kudanya dipasang dengan lebih mantap. Ia tampak berkonsentrasi dengan tarikan nafas yang teratur, dia sedang menggunakan tenaga dalamnya. Hhhhhmmm menarik, beberapa pukulan dengan cepat dilontarkannya, beneran cepat.

Kalau yang tidak terbiasa dengan bela diri pasti udah kewalahan dengan serangan ini. Angin yang terasa beberapa kali menerpa pipiku sembari aku menghindar rasanya memiliki cukup tenaga untuk menjatuhkanku. Aku menghindar terus sambil mencoba mencari celah untuk menyerang balik, dan satu saat ketika marissa agak lengah setelah rentetan pukulannya bisa terus kuhindari, sebuah tendangan ke arah kepala cepat kulepaskan,

Ia kaget dan mencoba menangkis dengan kedua tangannya, tapi itu hanyalah tipuan, seranganku berikutnya sebuah tendangan memutar sembari menjatuhkan diri menyapu kuda-kudanya tak bisa dihindari marissa, dia terpelanting kebelakang dan jatuh. sesaat sebelum tubuhnya menyentuh matras, aku sempat berguling dibawahnya, untuk menahan tubuh marissa.

“HAH!!” marissa kaget karena bisa kujatuhkan

“Gotcha hehehehehe” kataku meledeknya

“iissh.. kamu koq gk bilang-bilang bisa taekwondo?” kata marissa agak marah

“hehehehe, masih belajar koq”

“masih belajar koq udah bisa kasih serangan tendangan tipuan kaya tadi? Anginnya aja bikin jantungan” katanya ketus

“hehehehehe.. sejujurnya sih… aku taekwondo, udah dan tiga”

“iiihhh sebel, el bohong!!” marissa beneran ngambek dan membalikan badan menghindari aku.

“kenapa sayang? Koq ngambek?”

“biarin aja”

“ih.. kalau kalah, trus emang boleh ngambek begini?”

“eh el.. denger ya.. aku nggak kalah tau! Aku gk jatuh tau? Kamu tuh yang kalah!”

“tapi kan barusan jatuh..”

“kan gk ke matras..”

“ya kan aku tahan, supaya kamu gk jatuh, bukannya terima kasih..”

“pokoknya kamu kalah, aku gk jatuh ye..”

“hahahahaha…. trus kenapa ngambek?”

“aku sebel!! Udah ah.. gk mau sparing lagi!!” marissa kemudian berdiri dan melepas atribut pertarungan yang ada di badannya dan berjalan cepat keluar kamar.

Ditinggalkan sendiri di ruangan ini, membuatku juga ikutan melepas atributku kemudian merapikan semuanya termasuk merapikan atribut yang ditinggalkan marissa begitu saja di lantai, semua aku simpan kembali ditempatnya di lemari kayu jati kecil di salah satu sudut ruangan ini.

Aku keluar kamar dan melihat marissa sedang menyiapkan makan malam kami, aku bergegas menghampirinya dan memeluknya dari belakang.

“Cha.. maafin aku ya apapun itu”

Marissa diam saja dan menyeka air matanya yang tampak menggenang di sudut-sudut matanya.

“dimaafin gk”

Marissa menggeleng.

“gk ada yang perlu dimaafin, bukan salah kamu koq”

Kemudian kami makan dalam diam. Marissa sibuk dengan pikirannya sementara aku juga gk terlalu ambil perduli dengan apa yang dipikirkan.
Selesai makan suasana tampak mulai cair, marissa mengajak aku ke teras dan kami duduk-duduk di bangku kayu tua ditemani secangkir kopi hitam tanpa gula dan cemilan dari hotel.

kami bicara banyak seputar kehidupan marissa dengan suaminya. Tampaknya memang rasa frustasi tidak memiliki anak mendorong suaminya untuk selingkuh dan mendapatkan anak dari perempuan lain. Marissa bukan tipe perempuan yang mudah diubah pendiriannya, pengalaman pahit dalam kehidupannya banyak membentuk dia menjadi orang yang kuat pendiriannya sampai sekarang.

“trus sekarang apa rencana kamu?” tanyaku disela pembicaraan kami

“terus terang aku blum tau el..
Jalani hidup yang kayak sekarang bukan hal yang tabu juga kan?
Paling aku jadi tua dan meninggal, klo aku meninggal ya rumah ini dan isinya bakal aku sumbangin ke yayasan”

“tapi kamu akan banyak mengalami kesendirian dalam hidup kamu sayang..
Aku kan gk tau bisa menenin kamu sampe kapan. Semoga aja kamu segera nemuin superhero kamu yang bisa nemenin kamu sampe tua.
Kalau aku jelas gak mungkin, tiara jodoh aku. Itu aku tahu dan tiara juga tahu. Kami memang ditakdirkan bersama sampe tua.”

Marissa terdiam lama sekali, ia tampak memikirkan sesuatu yang aku tidak bisa menebak apa.

“tidur yuks el.. udah jam 12 nih, besok kamu harus full power buat kasih training.”

“yuks..”

Pagi ini aku bangun duluan daripada marissa, aku segera ke dapur, membuat kopi dan mulai memasak nasi goreng, sisa nasi semalam yang tidak kami habiskan karena hotel mengirimkan nasi banyak sekali. Dalam 30 menit, dua piring nasi goreng sosis terhidang di meja makan, bersamaan dengan marissa bangun..

“ehh.. kamu masak buat aku ya el?
Uugghhhh co cwittt “ Kata marissa sambil mendaratkan kecupan mesra dipipiku.

“Klo gak enak tetep habisin ya hehehehehe”

“pengen tahu aku, klo bapak2 masak gimana?”

“Sok atuh cobain”

“uugghhh… ini enak el.. beneran gk bohong..”

“kamu laper kali..”

“eh.. aku orang hotel yang bergaul sama chef ya..
Ini beneran enak..”

“Makasih sayang..”

“Makasih juga dimasakin nasi goreng enak, tambah enak klo habis ini dibikin orgasme empat kali xixixixi”

“katanya verboden”

“iya ih… bete aku.. Lagi nagih malah begini”

“ya next time aja ya.. minggu depan kan masih bisa”

“yuks aku mandiin kamu aja.. “

“yuks..”

Hari ini kegiatan pelatihan berjalan normal, tapi ada yang agak istimewa, karena pak AA dan jajarannya hadir satu jam setelah kelas dimulai. Beberapa orang yang menemani pak AA sudah pernah mengikuti kelasku dan mereka banyak memberikan tambahan informasi seputar materi yang aku sampaikan.
Jam makan siang aku sempatkan untuk menghampiri pak AA

“Siang pak AA, saya andre..” kataku sambil mengulurkan tanganku.

“siang pak Andre.. wah menarik ya paparan pak andre barusan, saya sampai hanyut dalam suasana kelas yang pak andre bawakan, pantesan Lidia menyarankan jajaran pimpinan kami untuk semuanya ikut kelas ini.”

“Sebuah kehormatan pak AA bisa hadir”

“ah.. pak andre, bukan hal yang istimewa kan kalau pimpinan meninjau anak buahnya pelatihan, normal aja…”

“mari pak AA, saya temani makan siang..”

“Mari Pak Andre”

Sepanjang makan siang aku dan Pak AA hanya makan berdua di meja khusus yang tampaknya memang disiapkan untuk kami. Kami bicara banyak seputar psikologi industry dan bagaimana psikologi menjadi bidang ilmu yang penting dalam berbagai bidang di perusahaan.

“Pak andre.. “ kata pak AA sesaat sebelum kami menyudahi pertemuan ini.

“lidia kemarin bicara banyak dengan saya terkait yang pak andre sebut dengan succession plan.”

“Oh ya pak? Wah menarik nih bisa-bisa saya gk jadi ngajar hehehehe”

“jangan dong pak, saya gak minta jelaskan itu sekarang. Pak andre fokus aja dengan kelas ini. Kalau pak andre bersedia, saya ada waktu di hari rabu jam 10 pagi, pak andre bisa presentasikan ke saya perihal succession plan”

“baik Pak, saya atur jadwal dulu ya, di hari senin pagi saya akan infokan ke Pak AA”

“bagus itu, nanti bisa pak andre di hubungi sekretaris saya, dan coba atur jadwal ya..”

“siap pak AA”

“Senang bicara dengan Pak andre, saya bisa belajar banyak.”

“wah Pak AA merendah, saya yang dapat wawasan luar banget dari bapak”

“ya.. sama-sama belajar saya senang sekali”

“Baik Pak. Kalau tidak ada lagi, saya masuk kelas dulu, murid-murid sudah menunggu Pak. Hehehehe”

“silakan Pak Andre”

“Mari Pak AA”

Aku berjalan di koridor menuju lift Ketika marissa menghampiri aku

“Pak Andre..” sapa marissa sambil berjalan agak cepat menghampiri aku

“oh ya bu Marissa..” kataku setelah menengok padanya dan menyadari marissa memanggil aku.

“Itu siapa tadi sayang?”

“Itu pak AA, ownernya grup AAA”

“what!! orangnya humble banget.. dan kalian ngobrol kayak temen biasa aja”

“ya emang klo ketemu konglomerat harus nunduk2 gitu?”

“ya nggak sih tapi biasanya kan orang akan lebih sungkan”

“gk juga sih, dari kuliah klo ketemu penggede2 juga biasa aja sih aku”

“oh ya..?”

“ntar malem aku ceritain ya..”

“sambil kelonan ya..”

“Iya icha sayang..”

Aku segera masuk kelas dan go show