Tiara’s Story S2 Part 1

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Tamat

Hari ini adalah hari ulang tahun perkawinanku yang ke 14. Tepat jam 12 malam aku dan istriku bergenggaman tangan berdoa memohon pada yang maha kuasa untuk segera dapat melalui segala kepahitan hidup yang sudah berlangsung selama hampir dua tahun ini.

Ya benar kami memang sudah pernah mengalami banyak liku-liku kehidupan dan badai bersama, tapi yang kali ini kami alami sungguh membuat kami hancur.

Besok, kami akan menerima pembayaran atas rumah yang kami tinggali ini senilai lebih dari dua milyar, tapi uang itu akan segera lenyap untuk membayar berbagai hutang yang sudah kami buat sehingga akan hanya bersisa sekitar dua ratus lima puluh juta saja.

Kami sudah sepakati untuk sisa uang ini digunakan melunasi mobil kami, agar dapat digunakan untuk mencari uang tanpa terbebani cicilan.

“Sayang.. selesai berdoa kita packing ya..”

“Iya mas..”

“Maaf sayang, kita harus kehilangan rumah ini, gara-gara aku.”

“Udah terlanjur mas.. Gak apa-apa” kata istriku sambil packing barang sambil menangis pasrah….

***

Delapan tahun lalu…

Kesetiaan istri akan dibuktikan saat suaminya terpuruk, kesetiaan suami akan dibuktikan saat dirinya mencapai puncak karirnya.

Ini adalah tahun keempatku di perusahaan ini. Semua sistem sudah berjalan baik dan kondisi tim HR yang aku pimpin juga sehat saja. Gak ada tantangan berarti yang memerlukan perhatian besar dariku, 4 orang manajer dibawahku bekerja sangat baik untuk memastikan sistem yang sudah aku bangun berjalan dengan sempurna. Aku mulai punya banyak waktu lebih….

Notifikasi HP ku berbunyi
Roni.training

“Ya bro.. Apa kabar?”

“Mantabs bro.. hahahahaha. Lagi dimana loe?”

“Di sawahlah hahahaha, masih jadi kuli cangakul bro.. Loe dimana skrg?”

“Gak dimana mana bro.. Gw ud 3 tahun cabut bro, kerja sendiri.”

“Wowww!!! Kereen bro.. Main apa skrg?”

“Ya bidang gw kan pelatihan bro. Ya jualan training lah..Hahahahaha..”

“Mantabs.. apa nih yang bs gw bantu?”

“Gini boss, gw ada permintaan training soal personality trait buat level Director. Gw kan ud lihat loe kasih presentasi waktu TMM di telco company dulu itu loh.. Nah gw mau loe bawain topik itu, dengan cara kayak dulu itu.. keren sih menurut gw boss.”

Roni adalah mantan stafku yang pernah aku bawa TMM di perusahaan telco dimana aku ketemu istriku lagi. Saat ini roni sudah memiliki perusahaan penyedia pelatihan dan kelihatannya cukup berkembang baik.

“Hhhmm.. boleh aja, asal ada duitnya hahahaha”

“Pasti ada-lah boss.. hahaha profesional kan ini. Bukan minta tolong..”

“Okey kapan?”

“Bulan depan boss, tp working day boss, hari jum’at. Loe bisa cuti kan?”

“Bisa bro..”

“Okey, boss. Btw rate loe brp?”

“Hhhmm blom pernah sih bro, menurut loe?”

“Gw biasanya sih kasih ke external speaker 1,5/jam. Loe gw kasih lebih lah 2,5/jam. Soalnya kan treatmentnya bisa sampe setelah training tuh loe bakalan masih sibuk sama mereka, kayak waktu itu.”

“Segitu loe masih pegang cuan gak?”

“Masih lah boss..”

“Ya ud gw terima aja dah. Hahahahaha”

“Tapi transport loe sendiri ya, gak jauh sih, di kota hujan.”

“Okey no problemo. Pesertanya berapa orang?

“Dua puluh orang boss, bisa lebih. Makanya gw tambahin dari rate standar gw. Loe bakalan repot soalnya. Gw sediain kamar juga koq boss, klo sampe harus nginep karena loe selesai malam.”

“Siiipp… Bro…. Mantab..Hahahhaaha”

“Jadi loe okey ya boss”

“Siap..”

“Tengkiu boss, materi gw tunggu seminggu sebelumnya ya, biar bisa gw copy.”

“Siap brother

“Tengakiu boss”

“Thanks ma bro.”

***

Hari itu akhirnya aku selesai memberikan pelatihan kepada 23 orang direktur dari satu perusahaan besar di indonesia

Roni yang membuka pendaftaran sessi konsultasi segera diserbu beberapa peserta. Sessi konsultasi dibatasi 30 menit tiap orang dan dimulai after dinner sampai dengan selesai.

“Bro.. lu gila kali”

“Hahahahaha thats why i pay you more bro.. Btw ini ada satu peserta Director finance holding yang tadi pulang lebih cepet, minta konsul personal diluar bro.”

“Ce or co?”

“Cewek bro, umur 35. Cucunya pak Amran.”

“What?! Serius? Namanya Lidia ya?”

“Yups, loe okey gak?”

“Ya udah. Mana tau bisa bantuin loe dapat kelas lagi hahahahaha..”

“Gak usah loe bantuin kasih konsul, nih loe udah dapat 11 kelas lagi buat level GM. Mereka impress bro.. Bingung kan loe 11 kelas sih innova sebiji kali bro.. hahahahaha”

“Ciyus…. ??? wah mantab bro….”

“Cuan gw juga banyak hahahaha…… Loe ambil gak?”

“Ambil lah.. gila kali nggak hehehehe”

“Kerjaan loe?”

“Ya masih bisa dimanage lah.. hehehehe. Duit segitu bro, semua juga bisa di manage lah..”

“Sip, jd gw jawab okey ya ke mereka.”

“Sip bro.. jadwalnya loe atur, jadi 3 bulan lah..”

“Sip.. Btw dari hotel ada yang mau konsul juga bro, tapi klo loe gak sempet bisa skip koq.”

“Klo cowok skip aja bro.. hahahaha”

“Nah itu masalahnya, dia cewek bro, GM marketingnya sini.”

“Yang mana?”

“Ntar juga loe tau. Tadi sih sempet sit in, pas loe lagi seru go show..”

“Koq gw gak notice? Jangan-jangan yang indo td bro?”

“Nah bener..”

“Njiirrr cakep banget tuh bro.. tapi hhmm.. Nanti kalo sempet aja lah.” Jawabku masih ragu karena persoalan waktu

Aku menyelesaikan 9 orang yang konsul padaku hari itu. Masalah mereka msh hal umum seputar relasi dengan rekan kerja dan atasan. Tidak banyak menyita perhatianku tapi menyerap banyak energiku, mendengarkan itu jika dilakukan seksama akan menyerap energi yang sangat besar.

Sebabnya adalah pada waktu mendengarkan, otak kita juga memproses informasi yang kita terima dengan seketika tentu saja itu mengakonsumsi energi yang tidak sedikit.

Jam 22.30 akhirnya peserta terakhir selesai. Aku menarik nafas panjang dan memutuskan keluar ke outdoor area coffeeshop ini untuk merokok.

“Hi pak andre..”

“Ya..?” jawabku tanpa menengok, masih sibuk dengan chat dengan istriku mengabarkan aku tmemutuskan tidak pulang karena capek.

“Saya marissa, yang tadi titip pesan ke pak roni. Katanya tersenyum dan mengulurkan tangan.” Aku menengok kepadanya dan menmbalas uluran tangannya.

“Ooohh.. ya.. saya andre..” kataku sambil menyambut ukuran tangannya dan bersalaman.

Marissa, sosok perempuan berusia 30an pertengahan yang profilenya tiara banget. Tingginya lebih dari 170, cantik banget, bening, langsing, putih khas cewek blasteran, hidung mancung lancip menandakan darah asia ada di dalam dirinya, rambut sebahu kemerahan alami, yang berbeda dgn tiara adalah payudaranya yang lebih besar.

Posisinya di hotel ini adalah General Manager Marketing, sekilas gak ada yang aneh tapi mata seorang psikolog seperti aku yang sudah terbiasa bertemu dengan manusia berbagai masalah, menangkap wanita di depanku ini bermasalah dengan kepercayaan dirinya, aku melihat banyak hal yang ditutupi lewat matanya, raut wajah cantiknya dan senyum seolah dipaksakan.

“Ada waktu, Pak Andre?”

“Boleh sambil merokok?” Tanyaku

“Boleh aja sih pak. Kan gak ada yang larang xixixixi”

“Hehehehe sebenernya gak boleh sih klo terima konsultasi sambil merokok. Kecuali ini ngobrol biasa”

“Ini ngobrol biasa sih pak. Kalau konsul, saya gak sanggup bayar pak xixixixi”

“Hahahahaha.. saya klo bantu gak pernah minta bayar bu.. Hhhmm.. okey masalahnya apa bu marissa?”

“Mmmm… saya masih bingung sih, pak andre”

Ini adalah situasi yang wajar, dimana kadangkala subject merasa ada yang salah dengan dirinya tapi kerap sulit mendeskripsikan masalahnya. Dalam hal ini, psikolog yang harus mampu menciptakan suasana yang nyaman bagi subject untuk bisa bercerita.

“Oohh.. gapapa koq klo belum bisa cerita sekarang. Kita ngobrol yang lain dulu?”

Marissa mengangguk elegan sambil tersenyum.

Aku pandangi sekilas wajahnya, beneran cakep ni cewek, usianya gk jauh dari aku mungkin sekitar 2 tahun di atas atau dibawah aku. Klo konsul sama yang kayak gini, asli imanku yang akan runtuh beneran. Salah satu alasan mengapa aku akhirnya gak ambil spesialisasi ke klinis adalah kesulitanku menarik diri dari situasi subject dimana akhirnya aku akan masuk ke sungai dan basah.

“Tinggal di kota ini atau di Jakarta, bu?”

“Di sini sih pak, saya orang sini. Udah dari SMP saya di kota ini”

“Oh gitu? Orang tua asal dari sini?”

“Ya pak. Orang tua angkat sih tepatnya.”

“Oohh.. “

“Iya pak. Saya diambil dari panti dan diadopsi.”

“Mmm.. okey saya dengerin ibu marissa..”

“Orang tua asli saya semuanya udah meninggal pak.”

“Ooo… ikut berduka ya Bu Marissa.. sakit?”

“Nggak pak.. bukan sakit. Mereka korban pembunuhan dan perampokan.”

“What?! Serius?” aku mulai pay attention lebih padanya.

Marissa mengangguk elegan seolah tanpa beban

“Makanya saya terus masuk panti, diterapi dan setelah sembuh saya diadopsi.”

“Wow.. pasti berat banget ya.. itu kejadiannya SMP?”

“Diadopsinya SMP pak, tapi orang tua kandung saya meninggal waktu saya SD kelas 5 pak.”

“Oh ya..??”

Hhhmmm.. ini berat, dan aku gak siap malam ini kalau harus mendengarkan dan memproses cerita seberat ini. Otakku sudah terlalu lelah untuk menerima informasi tambahan dan mengolahnya.

“hhmm.. bu marissa.. Boleh kan ceritanya besok pagi aja? Kita sarapan bareng”

“Boleh banget pak. Saya paling temenin pak andre ngobrol sebentar aja”

“Lho gak kemaleman?”

“Kan saya ada room khusus, pak. Jadi ya saya bisa tidur di hotel aja.”

“Emang gak dicariin suami dan anak-anak?”

“Long story, pak, dan saya belum ada anak.
Yuks saya anter pak andre ke kamar. Mari pak..
Saya udah upgrade kamar pak andre ya. Jadi di junior suite. “

“Hahahaha gak usah repot bu marissa.”

“Gapapa pak. Compliment dari saya xixixixi”

“Makasih ya bu..”

“Sama sama pak andre.”

Marissa menemaniku berjalan ke kamarku sambil cerita bagaimana dia bisa bekerja di hotel ini. Kekuatannya pada kemolekan wajah dan tubuhnya banyak membantunya mendapatkan klien klien besar yang memberi keuntungan bagus pada hotel ini. Akibatnya dalam waktu singkat marissa berhasil mencapai posisi GM marketing.

***

Pagi hari ketika aku sarapan..

“Pagi pak andre”

“Pagi bu marissa.”

Dia tampak jauh lebih segar dan cantik daripada semalam. Luar biasa wanita ini, betapa profilenya benar2 lengkap dan sempurna. Auranya memancarkan cahaya kematangan khas perempuan seusianya, namun wajahnya tampak masih imut dan muda seolah berusia 10 tahun dibawahnya.

Dia memakai blaser mini jas lengan panjang, menutupi blus tanpa lengan, bawahannya rok span ketat sepertiga paha, kaki jenjang dan mulusnya terekspose maksimal. WOW!! Aku benar2 terkesima..

“Pak andre udah segar pagi ini?”

“Sudah bu marissa, ibu juga luar biasa cantik hari ini.”

“Lho jadi semalam gak cantik ya.. xxixixixi”

“Semalam ibu cantik juga koq”

Marissa cemberut.

“Lho kenapa, bu?”

“Bisa kan gak usah panggil bu?”

“Trus, panggil pak gitu?”

“Xixixixi kamu tuh becandanya garing. Panggil aku & kamu aja juga gapapa”

“Okey kamu..” kataku

“koq.. maksudnya panggil nama aja”

“ooo… okey marissa”

“Nah itu boleh honey.. Panggil sayang juga boleh koq.. apalagi panggil cinta xixixixi”

“hahahahaha…”

“Yuks cepetan sarapannya kita ngobrol di kamar kamu aja”

“Serius nih, aku tanya lagi, gak masalah buat kamu?”

“Ya nggak lah.. xixixixi. Aku butuh akrab sama kamu untuk bisa cerita tentang aku…”

“hhhmmm…. Kenapa?”

“Nanti kamu juga tau xixixixi”

“Siaap. Yuks aku udah selesai.”

“Yuks..”

Kami berjalan beriringan menuju lift. Di depan resto marissa tampak mampir sebentar dan bicara dengan pegawai yang jaga di depan resto.

“Yuks ndre, aku juga udah minta bawain beberapa pastries buat kita ngemil.”

Kami masuk kamar dan duduk ruangan depan suite itu, bukan di bagian kamar tidur.
Aku sengaja tidak menutup pintu kamarku, tapi rupanya marissa berinisiatif menutup pintu

“Permisi.. bu marissa, Ini pastries dan kopinya ya bu.. “ seorang pegawainya tiba2 muncul saat marissa berjalan ke arah pintu

“Ohh.. iya.. makasih ya ratna..”

“Sama-sama bu.” Balasnya kemudian meninggalkan kami

“Ndre.. aku tutup pintunya ya..”

“Okey.. kalau gak masalah buat kamu” kataku dari sofa.

“Tenang aja, gak akan ada masalah koq.”

“siiipp”

“okey ndre… aku cerita dari awal ya..”

“sip. Mar..”

”iya ndre, kayak yang udah aku singgung semalam.

Waktu itu aku kelas 5 SD. Aku dan keluargaku tinggal di daerah jakarta.
Yang aku ingat papaku bule perancis, mamaku tionghoa.

Nama asliku Charlotte Moreau. Aku anak kedua dari dua bersaudara.
Kakak aku cowok, waktu itu kelas 2 SMP.

Hhhmmmm… Saat kejadian itu sih gak ada firasat ya,bisa jadi mungkin karena aku masih kecil, jadi masih gak ngerti apa2 gitu.”

“Okey…” kataku sambil mencomot pastries di depanku

“Malam itu udah agak larut sebenarnya, tapi aku belum tidur. Masih sibuk nulis buku diariku. Biasakan cewek jaman itu punya buku diari xixixixi. Tiba-tiba aku dengar suara ribut-ribut di rumah bawah. Aku lari ke tangga, dan lihat papa, mama dan kakakku udah tertelungkup dengan darah menggenang lantai di ruang tamu rumah kami.
Aku yang ngelihat kejadian itu spontan teriak. Mereka sadar ada saksi, aku langsung di kejar dan mereka kasih hadiah ini ke aku..”

Marissa membuka blazer lengan panjangnya dan memperlihatkan bekas jahitan dari pangkal lengan sampai melewati siku, panjangnya sekitar 40cm.
Aku mencodongkan tubuhku lebih dekat pada bekas luka tersebut agar bisa memperhatikan lebih detil…

“HAH?!?! Ini sih gila banget mar..” kataku kaget dengan apa yang ada dihadapanku

Bersambung