The Baby Maker Part 9

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22

Cerita Sex Dewasa The Baby Maker Part 9 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya :The Baby Maker Part 8

Mereka berdua terheran-heran mendengar penjelasanku tentang lubang besar di bagian perut Karina yang mampu membuat mereka terutama sang adik lelaki, tak sanggup menahan diri. Mereka berdua ngakunya sudah lama tidak meminum darah manusia, bahkan sewaktu masih berada di Eropa dahulu.

Saat ini mereka hanya meminum darah hewan yang sudah disembelih dan ditampung darahnya. Ada supplier yang rutin menyuplai makanan pokok mereka ini per minggunya. Mereka pindah ke Indonesia karena melarikan diri dari banyaknya pemburu vampir di daerah asal mereka dan apalagi keengganan mereka untuk berafilisiasi dengan kelompok-kelompok tertentu di sana. Mereka berusaha hidup normal di negara Indonesia dengan berbisnis secara online.

“Jadi maksud anda… kami tertarik pada perempuan itu karena sudah pernah ada mahluk supranatural yang menguasai tubuhnya… sehingga meninggalkan lubang besar itu?” simpul Agnès ragu-ragu seperti tak percaya ada hal seperti itu.

“Hei… Kalian itu vampir… Kenapa gak ngerti masalah kek gini? Vampir kemaren sore, ya?” tanyaku. Heran juga kalo mereka yang termasuk mahluk supranatural tak menyadari hal ini.

“Kami bukan vampir murni dari lahir… Kami hanya tertular… Dulu saya pernah coba-coba pakai kokain… Ternyata saya pernah berbagi jarum suntik dengan satu vampir yang menulariku dengan penyakit ini… Adikku tertular karena transfusi darah dariku…”

“Penyakit?” potongku.

“Klen menganggap ini sebagai penyakit?” tanyaku.

Referensiku tentang vampir agak beda. Bukan… beda sekali dengan pengetahuan mereka.

“Karena di sini… vampir semacam klen juga ada dan mereka sengaja melakukan ritual khusus untuk menjadi vampir untuk tujuan tertentu… Kalo klen bilang ini penyakit… tentu bisa disembuhkan, bukan? Ada obatnya…”

“Ya… Membunuh vampir yang menulariku pertama kali… Dia pasti vampir berdarah murni karena hanya dengan sedikit saja darahnya bisa menulariku… Berbeda dengan adikku ini yang menerima darahku dalam jumlah banyak… Ada dua kantung darah saat itu… Karena dia saat itu sering sakit-sakitan…” jelas Agnès.

Keknya memang benar, Josue memang terlalu kurus cenderung ceking untuk ukuran seorang pemuda. Apa karena itu dia gak bisa terbang? Hanya mengambang turun saja dengan sayapnya.

“Dan kalian sudah pernah mencobanya?” tanyaku. Agnès sepertinya lumayan jago berkelahi apalagi kecepatannya luar biasa juga.

“Rencananya memang demikian… Saya sudah lama berlatih… Tapi vampir berdarah murni terlindungi kelompok yang sangat kuat di Paris… Saya bahkan tak dapat melacaknya lagi…” jelasnya.

“Walo dengan kemampuan adikmu yang bisa menghilang dan kecepatan tinggimu itu?” menyusunnya sedemikian rupa hingga menjadi satu gambaran besar dari kepingan-kepingan puzzle tadi. Dunia vampir di sana cukup ribet ternyata. Terorganisir kek di film-film itu.

“Walau dengan semua kemampuan kami…” ulang Agnès mengangguk.

“Dan bagaimana cara anda menyembuhkan perempuan dengan perut berlubang supranatural itu? Apakah anda perlu membunuh mahluk penyebabnya dahulu…” ia bertanya balik lebih kepada penasaran apa metodeku.

Bingung tentunya cara menjelaskannya secara gamblang karena mereka ini itungannya masih tetangga dekat denganku dan Karina. Apakah budaya mereka kira-kira toleran gak, ya?

“Aku udah menyingkirkan Kuyang itu…”

“Kuyang? C’est quoi?” ulang Josue mungkin belum pernah mendengar nama itu.

“Kepala terbang dengan semua isi perutnya yang pernah kita lihat malam-malam itu…” kata Agnès pada adiknya. Josue mengangguk-angguk. Oo… Pernah liat ternyata mereka berdua saat Kuyang itu beraksi.

“Tidak bisakan anda menyembuhkan kami? Seperti anda akan menyembuhkan perempuan itu… Karina… Seperti anda akan menyembuhkan Karina…” pintanya tiba-tiba. “Apakah bisa?”

“Dengan metodeku?” kaget tentunya aku ditodong begitu. Bukannya mereka sendiri tau cara menyembuhkan penyakit vampir ini. Kenapa malah balik minta tolong ke aku? Cari aja vampir berdarah murni itu dan bunuh!

“Aa-aku gak mau ikut campur dengan kelompok vampir di Paris klen itu… No-no… Tidak…” jawabku tegas.

“Bukan… Dengan cara Indonesia?” ulangnya lagi.

“Klen gak bisa disembuhkan dengan cara Indonesia karena klen gak mendapatkan status vampir ini di Indonesia… Lagipula cara yang kutau sangatlah berbahaya… Klen pasti gak akan mau mendengarnya…” bualku agar Agnès mengurungkan niat minta pertolongan padaku untuk sembuh.

“De quoi parlez-vous?” nenek-nenek itu mulai kepo apa yang kami bicarakan dari tadi.

“S’il te plait, mama… S’il vous plaît… Kami mau mendengarnya… Apapun itu…” ia menenangkan ibunya dan mendesakku. Si Josue bahkan ikut mengangguk-angguk mendukung kakaknya.

“Kalian harus digantung terbalik di dalam gua yang banyak ditinggali kelelawar selama seminggu penuh dalam keadaan tanpa pakaian… Tanpa makan dan minum… Orang sini bilang namanya puasa kalong… Eh bukan… Puasa kalong itu hanya makan buah-buahan aja… Yaa… puasa aja seminggu…” paparku. Semoga itu membuat mereka takut dan berubah pikiran.

“Allons-nous essayer?” tanya Josue pada kakak cantiknya. Kedua berpandangan seperti ada bahasa rahasia sesama vampir yang mereka gunakan. Pasti mereka mempertimbangkan mencoba cara itu.

“Tapi aku gak jamin kalo itu berlaku buat kalian… karena cara ini untuk orang yang sengaja melakukan ritual pesugihan kelelawar hingga ia menjadi siluman… Beda kasusnya dengan klen berdua…”

“Kenapa harus digantung terbalik?” Agnès gak perduli dan terus bertanya.

“Teorinya begini… Kelelawar itu tidurnya terbalik tapi gak pernah ada makanan yang keluar lagi dari perutnya… Tetapi karena siluman kelelawar bukanlah kelelawar murni… isi perutnya pasti keluar… Keluar berikut semua iblis dan setan yang mengikatkan kutukan menjadi vampir… Begituuu…” kataku sebenarnya malas-malasan menjelaskan ini karena sebenarnya gak relevan dengan masalah mereka.

“Apakah mengganti darah kami yang tercemar ini dengan darah baru yang betul-betul bersih bisa err… membuat kami sembuh juga?” tanya Josue bersemangat padahal tadi kami sempat bertarung yang mengakibatkan tangan dan kakinya patah.

“Gak mungkin… Klen sudah bertahun-tahun menjadi vampir… Sumsum tulang belakang, pankreas, jantung, hati, dan ginjal semuanya sudah terinfeksi darah vampir itu… Kalo awal-awal terkena mungkin masih mungkin… Lupakan cara ini… Buru aja terus vampir berdarah murni itu ato jadi vampir selamanya…” tandasku.

“Bukannya klen jadi immortal gitu kan, ya? Gak mati-mati secara normal…”

“Kami tak mau begini selamanya… Harus sembuh…” ungkap Agnès. Josue membenarkan kakaknya. Aku mengangguk-angguk.

“Apa tidak ada cara lain?” tanya Agnès kembali. Ia terus mendesak menganggapku sangat ahli di bidang supranatural ini. Aku hanya berbaik hati lebih pada karena mereka belum melukai Karina sedikitpun. Kalo nggak… Gak ada ampun bagi mereka berdua.

“Bain de soleil… They just want to sunbath along with me…” (Mereka hanya ingin berjemur bersamaku) ujar si nenek berkaca mata hitam itu. Hanya ingin berjemur?

“They’ll do anything… Toute…” (Mereka akan melakukan apapun) Si nenek jalan mendekat padaku dan mengelus pipiku.

“La vérité est… You’re a kind man… You’ll help them, bien?” (Anda orang baik. Anda akan menolong mereka, kan?)

“Mon soeur Agnès sangat suka daerah tropis ini… Dia selalu err… bilang akan datang kemari kalau sudah besar nanti…” kata Josue.

“Sampe kemari malah gak bisa berjemur matahari kek ikan asin…” aku menebak dengan benar lanjutannya.

Eneng-eneng ae para bule ini, cita-citanya malah pengen jadi ikan asin di Indonesia. Pengen menggelapkan kulitnya padahal cewe Indonesia sini malah pada berlomba-lomba memutihkan kulit. Agnès tersenyum dikulum. Josue mengernyit, mungkin gak ngerti apa itu ikan asin ato cara membuatnya. Ia minta petunjuk pada Agnès apa artinya ikan asin.

“Please, monsieur…” (tolong, tuan) mohon nenek itu lagi memegangi tanganku dan mengguncang-guncangnya. Kimak-nya nenek-nenek ini yang soor kali mendesak aku. Si Agnès-nya malah jaim.

“Aku bisa membawamu berjemur di tempat yang aman kalo mau… Mataharinya tidak ada… Tidak terik dan kujamin kau tidak akan terbakar…” tawarku pada Agnès. Mukanya berseri-seri mendengar tawaranku itu.

“Mau?” tanyaku. Ia mengangguk cepat tanda yakin.

“Saya harus bersiap-siap?” tanyanya mungkin dikiranya harus bawa pakaian apa gitu ato stok darah sebagai makanannya.

“Cari tempat duduk aja yang enak… Di sana…” tunjukku pada kursi yang identik dengan yang dari tadi diduduki adiknya, Josue. Ringan ia melangkah riang dan duduk menyamankan diri di kursi itu, bersandar. “Sudah nyaman? Permisi ya… Awak mau pegang kepalamu sebentar aja…” kataku menjangkaukan tanganku. “Jangan digigit…”

“WHOAA!!” kaget Agnès karena ia tiba-tiba ada di tempat luas yang terang benderang.

Refleks ia menutupi mukanya karena takut terbakar oleh panas ultraviolet tapi tak kunjung ada sensasi terbakar yang dirasakannya. Pelan-pelan ia mengintip lewat sela jarinya apa yang terjadi.

“Je vais bien! Je vais bien! Ha ha hahaha…” ia membentangkan tangannya dan berlari-lari mengitari tanah lapang berumput halus di dekat rimbunan pepohonan yang tumbuh subur. Burung Enggang si Panglima Burung, melongokkan kepalanya melihat pengunjung daerah kekuasaanku ini dari puncak pohon pinus jarum.

Aku langsung melepas kepalanya begitu aku membawanya kemari. Kulit pucatnya sangat kontras dengan terangnya daerah kekuasaanku yang terang walo tak ada sinar matahari yang menjadi sumber cahayanya. Rambut pirangnya berkibar-kibar saat ia berlarian dengan riang gembira merayakan kebebasannya.

Walo dia belum tau kalo ini hanya kebebasan semu. Tapi biarkan dulu ia menikmati semua ini. Walo sedewasa itu Agnès, ia berubah menjadi sangat kekanakan berhasil mewujudkan impiannya sedari kecil ini. Menikmati terang hangat daerah tropis impiannya.

Aku menepi menuju hammock dadakanku dan menonton Agnès sambil berayun-ayun. Ia berlari-lari ke sana-kemari dan menyentuh apapun yang dapat disentuhnya. Tertawa-tawa riang meluapkan kegembiraannya.

Agnès bahkan melompat masuk ke dalam aliran sungai kecil berdasar batu-batu kerikil kecil. Menyipratkan air jernihnya kemana-mana. Ia menyiram-nyiramkan ke udara yang tentu saja mengenai dirinya sendiri.

Mataku agak melotot karena air itu membekaskan bagian dadanya yang membentuk dua bulatan gelap, ngecap dengan indahnya. Kimak! Agnès gak pake BH untuk menampung payudaranya yang memang gak besar di tubuh langsingnya.

Perempuan yang terbiasa di budaya bebas itu seperti tak perduli dan bermain air dengan riangnya. Sebentar saja sekujur tubuh dan pakaiannya basah kuyup. Ia memanggil-manggilku agar bergabung dengannya. Jelas aku menolak karena malu ketauan, si junior ngaceng…

Apalagi kala ia mengangkat roknya dan menampung beberapa buah markisa hutan yang tumbuh rimbun menjuntai-juntai dengan liar. Manampakkan sebagian besar pahanya. Waduh!

“Agnès! Agnès stop!” teriakku mencegahnya dari memakan buah-buahan itu. Bahaya cuy!

“Kenapa, bang Aseng? Apakah ini milik orang? Ada yang punya… Tapi tidak ada orang lain di sini…” tanyanya dengan heran. Mungkin ia menganggap ini daerah hutan karena memang keadaannya mirip hutan kecil yang menghadap lapangan luas.

“He he hehe… Nanti awak jelaskan, yaa… Main aja sepuas-puasnya… Tapi jangan dimakan buahnya… Kalo mau petik… petik aja tapi jangan dimakan… Jangan dicoba juga… Bahaya… Beracun… Ya-ya beracun…” kataku mengingatkannya berkali-kali.

Buah-buahan itu memang terlihat menggiurkan karena rata-rata dalam keadaan matang di pohon yang biasanya merupakan tingkat kematangan paling prima buah. Agnès mengernyit tapi mengerti dan mengiyakannya. Dijatuhkannya buah-buah markisa yang sempat dipetiknya dari tangkupan rok yang diangkatnya, jatuh ke aliran sungai kecil ini dan mengalir mengikuti arus.

“Ini tempat apa, bang Aseng?… Tidak ada matahari tetapi terang benderang… Tidak ada awan dan angin… Tapi ini saaaangat menyenangkan… Airnya jernih dan segar… Udaranya hangat…” Agnès membentangkan tangannya. Padahal tadi aku udah mau balik ke hammock tadi aku malah terpaku melihat lingkaran gelap membayang di pakaiannya.

“Mmm… Nanti aja awak jelasinnya… Nikmati aja dulu puas-puas… Awak nunggu di sana, ya? Mau istirahat…” kataku bolak-balik menghadap ke hammock dan dirinya—bulatan gelap, kek orang paok.

“Pokoknya jangan dimakan buahnya, ya? Beracun…” peringatku lagi dan memaksakan diri ke hammock. Merebahkan badan jiwaku yang lelah dan dengan cepat tertidur.

Bangun-bangun entah beberapa lama kemudian, setara 2-3 jam kemudian—otakku langsung loading cepat karena Agnès berjemur kek ikan asin beneran dengan punggung di atas. Ia juga tiduran di atas rumput halus dengan nyaman.

Pakaian basahnya disampirkannya di rumpun ilalang. Ia hanya memakai celana dalam mungil model G-String hingga bokong putihnya mencuat indah. Tubuh berkulit pucat hampir telanjangnya seperti berkilauan di pelataran luas daerah kekuasaanku ini.

Ia seperti dewi yang beristirahat sehabis kelelahan bermain air di tamanku. Tak perduli ia kalo ada orang dan cuek ia berjemur seperti nenek-nenek itu. Cepat-cepat kuhapus memori nenek itu lagi berjemur di halaman rumahnya.

Menggantinya dengan pemandangan indah, Agnès yang berjemur. Ngeliat punggungnya aja aku dah ngaceng kek gini. Belum lagi kalo bagian depannya. Akankah aku melihat jelas bentuk dua bulatan gelap di dadanya itu?

Ia bergerak. Aku pura-pura tidur lagi ke posisi awal. Ternyata Agnès membalik posisi tubuhnya. Merasa sudah garing di sisi belakang, balik ke sisi depan. Aaah… Dua bulatan gelap yang indah… Gundukan yang tak terlalu besar itu terasa sangat pas di tubuhnya yang langsing. Rasa terjemur matahari semu itu…

Ia menggosok-gosok tangannya yang berkulit pucat. Selama apapun ia berjemur disini gak akan membuatnya lebih gelap. Tapi sejauh ini ia puas-puas aja menjalani mimpinya. Berjemur di surga tropis impiannya. Menonton tubuh indah hampir telanjangnya membuatku ngantuk lagi dan terbuai…

“Bang Aseng?”

“Yaa…” jawabku asal jawab aja. Garuk-garuk.

“Hi hi hihihi…” Agnès tertawa sambil menutup mulutnya. Ia ada di dekat hammock-ku. Ia tak kunjung memakai pakaiannya, masih hanya secarik G-String mini itu yang menutupi bagian bawah tubuhnya. Agnès agak membungkuk saat membangunkanku. Tadi tubuhku agak terguncang-guncang karena hammock ini digoyangnya.

“Nyam… nyam…” merasakan mulutku yang lengket karena liur mengering.

“Eh… He he hehehe…” baru aku sadar kalo tanganku menyusup masuk ke dalam celana dan mengelus-elus junior yang sempat hilang kemaren digondol ke Bahama.

“Udahan jemur ikan asinnya, Nès?” cepat-cepat kukeluarkan tangan suroto-ku dari dalam celana dan kuumpetin di antara kakiku, untuk menekan Aseng junior yang ngaceng juga. Sesekali aku melirik pada payudaranya yang sedikit menggantung.

“Disini kenapa gak kunjung gelap, bang Aseng… Sudah lebih 6 jam saya berjemur… Terang terus…” herannya.

Tapi gak heran dengan kondisi tubuhnya yang tak berpakaian. Bulat payudara bertubuh langsingnya mengambil semua fokus pandanganku. Apalagi dua bulatan gelap aerolanya…

“Tempat ini akan selamanya terang begini, Agnès… Mau di luar sana hujan badai… Mau gelap dar der dor tahun baru… Mau terang bulan… Tempat ini akan selalu begini… Terang dan nyaman dengan banyak pohon-pohon yang buahnya gak boleh dimakan… Tau kenapa?” tanyaku masih duduk di hammock. Ia berdiri mendengarkan dengan seksama tak berpakaian.

“Karena ini bukan dunia nyata… Bukan alam fisik seperti yang selama ini Agnès tau… Lebih lengkapnya… ini daerah kekuasaan Menggala-ku…”

“Menggala?”

Kemudian kujelaskan padanya konsep tentang Menggala dan aspeknya dalam garis besar aja tentunya. Aku menunjukkan mandau Panglima Burung yang dengan ajaib bisa muncul di tanganku juga beberapa pedang daun yang kumaterialkan dari daun-daun biasa.

Kujelaskan juga fungsi utama yang sering kumanfaatkan dari tempat ini sebagai tempat istirahat dan berlatih silat. Lebih banyak kuberi penjelasan tentang tempat ini karena ia sepertinya sangat suka dengan tempat ini yang mampu mewujudkan impiannya sejak kecil di tengah keterbatasan keadaannya yang alergi sinar matahari.

Terheran-heran ia tentunya tentang bagaimana asal-usul semua pohon-pohon yang tumbuh besar di sini yang merupakan hasil dari daun yang pernah kupakai sebagai senjata pedang daun.

Kalo ada pedang daun baru yang kugunakan dan luruh menghilang, pohonnya akan segera tumbuh di sini seperti pohon asalnya di luar sana. Lebih heran lagi ia tentang konsep terang dan gelap keadaan keseluruhan tempat ini.

Aku tegaskan padanya kalo aku di sisi terang ato kebaikan sehingga langit daerah kekuasaanku bisa terang benderang begini. Ia manggut-manggut paham lalu tersenyum lebar.

Ia kemudian duduk di sampingku.

“You don’t mind, do you?” (Anda gak keberatan, kan?) duduk di hammock bareng, bergoyang-goyang pelan.

“Ini mimpiku yang jadi kenyataan… Rasanya aku pengen selamanya ada di sini… Bebas… tak terbatas apapun… Tak terkekang waktu dan rasa lapar… Seperti burung itu… Apakah dia penghuni tetap tempat ini?” tunjuknya pada burung Enggang si Panglima Burung.

“Dia hanya sebentar disini… sementara menunggu wadah barunya muncul… Dia yang memberiku pedang itu…” jelasku.

“Bolehkah aku sementara ini di sini juga… Aku masih sangat betah di sini… Ini seperti surga nyata yang tak pernah berakhir… Ini tempat ideal Agnès…” pintanya mengejutkan.

“Ng… Agnès?… Bagaimana dengan ibumu? Adikmu, Josue? Kau mau meninggalkan mereka?” kataku agak keberatan.

Aku belum pernah pulak dalam keadaan begini. Perempuan ini walo seksi begini tetap vampir, kan ya? Apa yang akan kejadian kalo kukabulkan permintaannya dan membiarkannya di sini seperti maunya? Menikmati terangnya dunia walopun semu. Tak ada matahari sejati.

“Tapi tadi abang jelaskan kalo tidak ada batasan waktu di sini… Berhari-hari di sini mungkin hanya beberapa detik saja di luar sana… Setidaknya biarkan aku liburan di sini… Boleh ya, bang? Please…” rayunya malah mendekap tanganku. Aku udah beberapa kali diginiin perempuan dan aku selalu kalah dan ngalah. Lembut payudara telanjangnya menekan lenganku dengan sempurna. Kubiarkan ia berlama-lama melakukannya dan mengiyakannya.

“Awak gak tanggung jawab ya kalo ada apa-apa yang terjadi selama Agnès di dalam sini… Apa perlu kita ambil perlengkapanmu di dunia luar?” tawarku. Berdekatan dengannya begini rasanya deg-degan. Aku sudah banyak dekat dengan perempuan yang cantik-cantik. Tapi dengan bule sedekat ini belum pernah.

“Gak perlu… Semua yang kubutuhkan ada di sini… Aku gak butuh apa-apa lagi…” putusnya tersenyum lebar.

“Tolong beritahu keluargaku di luar sana untuk menjaga tubuhku selama beberapa waktu ini…Oui?” katanya mengerling. Gak tahan aku diperli (goda) cewek kek gini. Langsung aja kuiyakan. “Sebelum saya… apa ada orang lain yang pernah tinggal lama?” tanyanya.

“Belum pernah ada… Banyak yang hanya sebentar aja… Itupun karena alasan pertarungan dan kebanyakan adalah teman-teman sekelompokku…” jelasku lagi. Aku lalu teringat Vony yang juga sempat terdampar disini saat disandra oleh dukun dengan kemenyan gaharu Malokkop itu. Tapi aku tak akan mengungkapnya.

“Kalo gitu… Awak keluar duluan-la ya… Tadi awak dah cukup lama tidur di sini… Cukuplah istirahatnya…” kataku turun dari hammock itu, tinggal Agnès sendirian berayun-ayun…

“Je vais bien… Saya akan baik-baik saja disini, bang Aseng… No worry… Saya ini vampir… Ingat?” katanya mengingatkanku tentang kondisi tubuhnya yang tidak bisa disamakan dengan keadaan manusia biasa. Ia sangat tau kalo aku khawatir dengan apa yang akan terjadi padanya kalo terlalu lama di alam itu dan meninggalkan tubuh fisiknya di dunia nyata tanpa jiwa.

Aku keluar dari daerah kekuasaanku dan melepas tangan fisikku dari kepala Agnès. Perempuan itu terkulai duduk bersandar seperti tidur yang sangat pulas. Aku menoleh pada Josue dan nenek berkaca mata hitam itu.

“Biarkan dia tidur begitu… Agnès sedang menjalani mimpi indahnya di tempat impiannya…” tidak akan mudah menjelaskan ini pada mereka berdua.

“Jadi bisakah kita memindahkannya ke tempat yang lebih nyaman?” Berkerut kening Josue butuh waktu agak lama memproses informasi itu.

Tapi ia ngomong dalam bahasa Prancis ke ibunya untuk menunjukkan dimana kamar Agnès karena aku akan menggendongnya kesana. Aku tak dapat mengandalkan Josue untuk melakukan itu.

Kamar Agnès ada di lantai dua. Tetap gelap seperti ruangan-ruangan lain di rumah ini. Jendelanya ditutup gorden tebal berwarna hitam untuk menghalangi sinar matahari masuk. Ranjangnya besar dan dingin ketika kuletakkan tubuhnya di atasnya. Kami keluar dari sana, meninggalkannya sendirian. Nenek eksentrik itu tak banyak tanya dan ikut aku turun kembali ke lantai bawah.

Pelan-pelan kujelaskan pada Josue saja tentang apa yang terjadi pada Agnès agar ia nanti yang menerangkan pada ibunya dengan bahasa yang paling dimengertinya. Sebenarnya aku khawatir juga meninggalkan tubuh jiwa Agnès berada di dalam daerah kekuasaanku untuk waktu lama. Tetapi karena tubuhnya juga bukan tubuh manusia biasa, kategorinya di sini sudah masuk siluman.

Seperti burung Enggang itu juga yang merupakan mahluk supranatural yang baik-baik aja tinggal di dalam sana selama ini. Ini mungkin lebih pada tampilannya yang sangat manusia yang membuatku ragu padahal seharusnya sama aja.

“Bagaimana tangan dan kakimu?” tanyaku pada Josue agak segan-segan karena akulah penyebab semua luka-luka itu.

“Tidak apa-apa… err… Kami cepat sembuh… Besok sembuh…” kata pria muda itu yakin.

Mungkin ini keuntungan punya atribut sebagai vampir disamping kemampuan bisa menghilangnya itu, proses regenerasinya sangat cepat dalam menyembuhkan luka hingga mereka tidak pernah berurusan dengan rumah sakit. Aku mengangguk-angguk paham.

***

“Halo, bu Karina… Sudah aman…” aku menelepon di halaman rumahku sendiri.

“Aman, bang?… Beneran mereka vampirnya?” tanya balik perempuan mantan penyandang Kuyang itu.

“Sudah awak amankan… Mereka memang vampir tapi aman, kok… Mereka hanya tertarik pada lubang di perut bu Karina aja seperti yang sudah awak kasih tau dulu itu-loh…” jelasku atas situasi terbaru ini.

“Tapi ini memang tidak bisa dibiarkan lama-lama, bu… Besok-besok entah apa lagi yang mendatangi bu Karina…” kataku jelas gusar. Dua kali kami kentang gara-gara berbagai gangguan.

“Gimana kalo di rumah saya aja… Suami saya lagi gak ada di rumah nih… Dia lagi keluar kota… Gimana, bang?” tawarnya. Waduh… Jadi enak, nih.

“Asisten rumah tangga ibu gimana? Nanti ibu ketauan memasukkan laki-laki lain ke rumah… Bisa berabe… Tetangga pulak…” khawatirku. Walo khawatirku masih kalah besar sama rasa penasaranku karena dua kali gagal exe.

“Mereka adanya cuma di lantai bawah… Gak akan naik kalo gak saya panggil, kok… Bang Aseng masuk dari atas aja… Seperti waktu itu… Nanti saya bukain pintu lantai atas…” desak Karina.

Sepertinya ia mengalami apa yang juga aku alami. Kentang parah. Sampe nekat memasukkanku bahkan dari atas lantai 2 setengah dimana kami pernah berdiskusi saat itu.

“Bisa kan, bang?” desaknya lagi.

“OK-la… Sekalian ada yang mau awak cek di rumah bu Karina… Sekarang bukain pintu atas itu… Saya segera naik… Bye…” kataku langsung memutuskan hubungan telepon.

Kutenteng sepatuku keluar rumah lagi dan kuganti dengan bakiak Bulan Pencak sebagai alat lompatku. Teplok-teplok-teplok suara nyaring kayu mengetuk jalanan saat aku berjalan ke depan rumah bu Karina yang lengang. Jalanan juga lengang.

Dari sudut yang gelap kupilih sebagai lokasiku melompat agar tak terlihat juga dari orang iseng yang mengintip diam-diam dari balik tirai jendela. Mudah aku sampai di ketinggian ini berkat tenaga sontekan bakiak Bulan Pencak yang memperkuat tenaga lompatanku. Kupakai lagi sepatuku.

Lantai dak tempat menjemur pakaian ini masih seperti dulu waktu kubawa kepala Kuyang itu dengan kandang ayam bekas. Benda itu pasti sudah dibuang ART rumah ini karena aku tak melihatnya dimana-mana. Pintu penghubung itu terbuka dan Karina memanggilku mendekat. Ia masih pakai baju yang sama, belum salin ternyata dari tadi.

Segera ditutupnya lagi pintu itu begitu aku melewati ambang pintunya.

“Umphh…” Karina langsung mencaplok bibirku dengan cepat.

Bibirku langsung dikulumnya atas bawah dengan ganas. Ia benar-benar penasaran seperti juga aku. Kupanaskan cumbuan ini dengan meremas-remas beberapa bagian tubuhnya yang dapat kujangkau, lengan dan buah pantatnya karena susu kenyalnya sedang tergencet rapat di dadaku.

Permainan semakin panas karena Karina menekan-nekankan selangkangannya yang mungkin udah gatal ke pahaku. Pastinya ia juga sudah merasakan Aseng junior-ku yang mengeras. Lidahnya menelusup masuk dan kuhisap-hisap. Ini baru…

“Bu Karina… Ada yang harus awak cek di rumah ibu ini… Kita berhenti dulu, ya?” kataku memegangi kedua sisi pipinya untuk melepas pertemuan mulut kami yang semakin panas. Matanya berkerjab-kerjab beberapa kali.

“Waktu bu Karina jadi Kuyang dulu… ada ruangan khusus yang biasa ibu pakai saat melepas kepala secara gak sadar… Awak mau melihat ruangan itu…” jelasku. Ini mungkin bisa memperjelas penyebab kenapa masalah ini gak selesai-selesai sampe sekarang.

“Ruangan?” ia mengingat-ingat kira-kira ruangan apa itu.

“Ada… Yuk…” ia langsung menarik tanganku menuruni tangga dan kami sampai di lantai dua rumah ini.

Ia menunjukkan kamar tidurnya yang ada di bagian paling depan, kamar dimana ia tidur dengan suaminya selama ini. Hanya ada tiga kamar di lantai dua ini dan satu ruangan luas yang multi fungsi sebagai ruangan santai dan ruang TV.

“Ini dia… Pasti yang ini…” katanya membuka pintu kamar ini.

“Ini kamar bayi…” sadarku.

“Ya… Bayi yang tak kunjung ada… Pasti di sini tempatnya karena Karina sering bangun tidur tiba-tiba ada di dalam sini… Suamiku bilang katanya karena aku sleep walk dan masuk kemari… Kupikir benar juga… karena terlalu lama merindukan anak…” katanya mendekat pada box bayi kosong yang lengkap dengan kelambu dan mainan berputar itu.

Ia mengelus-elus kayu box itu. Dipalingkannya pandangannya pada sekitar, hiasan pernik khas bayi, boneka-boneka, lemari pakaian dan mainan. Semuanya ada lengkap kecuali sang bayi sendiri.

Aura sisa Kuyang itu masih sangat kuat di ruangan ini dan pusatnya ada di sini. Dibawah karpet tebal lembut yang dibentangkan di tengah-tengah ruangan. Kusibak. Karina tertarik pada apa yang kulakukan. Di sini ritual Kuyang itu dilakukan.

Prosesi melepas kepala dari tubuh Karina, terbang bersama isi perutnya untuk mencari mangsa pada malam-malam tertentu. Masih ada bekas sapuan merah seperti darah berbentuk lingkaran tempat ia duduk melakukan prosesi itu. Lingkaran inilah manifestasi asli lubang yang ada di perut Karina. Ukurannya juga identik. Pas untuk duduk bersila.

“Liat ya, bu… Aku akan menghapus tanda lingkaran tempat Kuyang ini… Agak sedikit rusak nanti… Harap maklum…” kaget Karina melihatku sudah memegang mandau Panglima Burung.

“Kuyang itu sudah sangat kuat melekat jadi ia menempatkan banyak penanda dirinya… dan ini tempat utamanya… CLAP!” ujung tajam mandau itu menusuk masuk pada garis samar lingkaran merah di atas lantai keramik bertekstur kayu ini.

Kukerahkan tenagaku beserta lambaran Lini untuk merusak lingkaran setan ini. Berputar dengan perlahan mengitari bentuk lingkaran itu. Bertemu menjadi satu lingkaran utuh, kucongkel dan benda itu melenting berputar seperti koin.

“SHLAK!!” kutebas benda itu dan ia terbelah dua, jatuh berdenting-denting lalu berderak patah berkeping-keping menjadi serpihan kecil. Ada asap tipis berbau busuk seperti bangkai. Cepat menghilang di udara berkat pendingin udara di ruangan ini.

“Liat kan, bu…” tunjukku pada kejadian barusan.

Pasti ia bisa melihat semua itu dengan jelas. Bau busuk tadipun pasti tercium olehnya karena ia sempat menutup hidung. Ia menunjukkan mimik jijik melihat lubang yang tersisa di lantai.

“Lubang di perut saya sudah hilang?” tanyanya memegangi perutnya, mengelus-elusnya juga.

“Masih ada… Hanya saja lingkaran ini dengan lubang di perut bu Karina tidak lagi berhubungan… Kita tinggal mengobati lubang itu saja…” kataku menyembunyikan kembali mandau Panglima Burung balik ke tempatnya.

“Cuma… ini jadi rusak berlubang gitu, bu… He he hehehe… Sori ya, buk…” kataku tentang lubang melingkar yang kupotong dari ubin lantai.

“Tinggal diperbaiki aja…” dengan kaki ia memasukkan sisa-sisa serpihan kecil yang sudah hancur itu ke dalam lubang lingkaran lalu menutupnya dengan karpet lagi.

“Tinggal mengobati lubang ini aja ya, bang… Kita lakukan di sini… supaya bayi itu tau tempatnya kelak… Dia akan tidur di sini…” ujarnya kembali membuka kaos yang dikenakannya seperti di hotel tadi. Menelanjangi dirinya sendiri di hadapanku.

“Gak usah khawatir tentang suamiku… Dia keluar kota selama dua hari… Saya baru aja tau abis baca pesannya… Katanya mendadak… Tau sendiri, kan?” katanya genit bitchy-bitchy gitu. Kedua tangannya tersampir di pundakku.

“Mmpphh… Mmmbbhh…” kembali kami bergumul bibir.

Ia membukakan kemeja lengan panjangku, mempreteli semua kancingnya, menarik bagian lengannya lepas, melepas sabuk, menurunkan restleting, memelorotkan celanaku beserta sempakku hingga pertengahan paha. Kuteruskan sampai kami sama-sama telanjang di dalam kamar bayi kosong ini.

“Ahh… Gede…” erangnya merasakan Aseng junior yang digenggamnya, diurut-urutnya perlahan.

“Muat gak, ya?”

Kukecup bibir nakalnya.

“Harus muat…” kudorong tubuhnya ke satu-satunya single sofa yang ada di ruangan ini yang pastinya untuk menyusui bayinya kelak.

Kududukkan tubuh telanjangnya di sana. Aku kemudian menyusu pada sepasang susu kenyalnya bergantian. Lalu turun ke bawah mengecup-ngecup pelan sepanjang jalan. “Awak dah penasaran aja dengan yang ini…” kubenamkan mukaku di bukaan kakinya.

“Ahhh… Baaang? Gak jorok, bang?” erang Karina merasakan lidahku menari-nari menyapu isi belahan kemaluannya.

Aku hanya menggeleng, menyeruput gemas. Aromanya segar. Ia pasti merawat kemaluannya dengan baik dan bersih walo seharian sudah ia beraktifitas.

“Aahhhsss…. Uuhhh… Uuhhnnn…” kala kusedot kacang itilnya. Aku bermaksud membasahkan lahan coblosanku sebelum sesi utama dimulai. Dan juga agar gak penasaran karena sudah dicicipin duluan sebelum nanti dinodai spermaku berulang-ulang.

Karina membanting-banting kepalanya saat jari tengah kiriku mengorek-ngorek isi liang kawinnya. Tangannya meremas-remas pegangan sofa. Ujung jariku mengais-ngais dinding dalam kemaluannya, gerinjal-gerinjal berdenyut itu. Sesekali lidahku menyapu cairan bening yang keluar dari sela-sela jariku yang menusuk masuk. Cairan bening beraroma segar ini pertanda masa ovulasi sedang berlangsung; pertanda subur.

“Aauuhh… Auhh… Ahhh… Ahh…” Tanganku yang satu meremas susu kenyalnya yang bergoyang-goyang akibat gerakannya. “Bang! Bang! AHH!! AH!!”

Indah sekali menyaksikan seorang wanita cantik yang sedang menikmati masa-masa indah kenikmatan orgasme dengan ekspresinya tersendiri. Mulutnya rapat dan bagian bawah tubuhnya bergetar-getar seperti mode silent HP bergetar.

Dreett dreett dreett… Telapak tanganku menampung sejumlah cairan yang mengalir deras melewati satu jariku yang sedang diperas-peras di liang kawinnya yang meremas ritmis. Ia bersuara minimal. Benar-benar menikmatinya untuk dirinya sendiri. Beda sekali dengan Andini, binor Siantar yang harus menjerit-jerit histeris itu.

Sisa cairan di tanganku itu kugosok-gosokkan di sekujur Aseng junior yang sudah menegang gak sabar dari tadi. Berkilat-kilat batang kemaluanku berlumuran cairan cinta Karina. Ada sedikit rasa lengket yang makin membuatku terangsang. Karina masih memejamkan mata menikmati orgasmenya berkat fingering dan oralku saat kubuka kakinya lebih lebar. Lemas masih tubuhnya akibat kenikmatan tadi.

“Enak?”

“He-em…” jawabnya pendek tersenyum dan membuka matanya merasakan gesekan sebuah benda gilig panjang di belahan kemaluannya. Menggesek kacang itilnya dan melebarkan bukaan bibir kemaluannya yang basah kuyup.

“Enak banget… Bang Aseng bener-bener pinter…”

“Tapi sebelum ini masuk… salaman dulu, yah?” ujarku mengulurkan tangan kananku untuk bersalaman. Tentunya dia heran kenapa harus salaman. Ini perjanjian yang belum kubuat padanya. Perjanjian tiga pasal-ku.

“Awak mau mengajukan tiga poin perjanjian yang harus sama-sama kita sepakati… Ini sebuah keharusan, bu Karina…”

“Perjanjian?”

“Yaa… Kita lanjut kalo bu Karina setuju dengan tiga syarat perjanjian yang awak ajukan ini… Dengar satu-satu, ya?” kataku sebenarnya merasakan enak-enak geli gesekan Aseng junior dan belahan basah kemaluan Karina. Udah mau kucucukkan aja rasanya. Karina ntah terpaksa ntah apa…

“Pertama… tentang hubungan… Hubungan kita berdua hanya sebatas ini saja… Tidak akan lebih dari ini… Walo sudah susah payah usaha awak menolong bu Karina… gak akan awak minta yang lebih… Begitu juga bu Karina gak akan mengharapkan yang lebih-lebih… yang lain-lain… Murni saling tolong menolong… Paham, ya?” jelasku akan poin pertama perjanjian kami. Karina mengangguk tetapi belum menyambut tanganku. Mungkin menunggu semua poin dibabarkan.

“Kedua… tentang rahasia… Hubungan kita hanya kita berdua saja yang tau dan itu artinya tidak boleh ada pihak lain yang tau… Sesimpel itu saja…” jelasku singkat akan poin kedua. Ia mengangguk mengerti.

“Ketiga… tentang masa depan… Andai saja karena hubungan kita ini bu Karina benar-benar hamil, anak ini akan menjadi anak bu Karina dan suami… Saya sarankan untuk berdamailah dengan suamimu karena sebenarnya masalah kalian sudah selesai… Ini semua demi masa depan anak ini dan anak-anak lain yang mungkin menyusul setelahnya… Itu saja… Sampai sini mengerti, ya?” selesaiku pada tiga poin perjanjian yang kutawarkan padanya. Ia mengangguk setuju dan menangkap tanganku.

“Kedengarannya perjanjian itu sangat cocok… Saya setuju semua poinnya… Deal…” diguncangnya tanganku tanda deal.

Kami berdua tersenyum lebar. Aseng junior apalagi, karena tanpa bisa ditahan lagi ia menggelincirkan kepalanya menyelinap masuk ke dalam liang kawin Karina yang basah dan hangat. “Uuuhh… Ahh!!”

“Sudah dimulai… Mmm… Ah… Anget…” nikmat juga liang binor satu ini.

Apalagi udah digantung kentang sampe dua kali, akhirnya Aseng junior bisa menjelajah masuk ke sanubari liang kawinnya. Bermaksud untuk menghamilinya jika diperkenankan juga oleh yang Maha Kuasa.

“Aahh… Ahhh… Bisa masuk semua, baang? Ahh… Ahh… Gede tapi…” erang Karina menikmati bersama denganku gesekan yang terjadi antara keras Aseng junior-ku dan dinding liang kawinnya yang terasa mencengkram erat batang kemaluanku.

“Ahh, baang… Baang? Baang? Enaak, bang…. Aaahh…” erangnya mulai berisik sekarang ketika Aseng junior mulai keluar masuk walo masih pelan-pelan. Gesekan kelamin kami membuat tubuhnya menggelinjang kegelian.

Licin dinding liang kawinnya yang terlubrikasi cairan cintanya tak dapat menolak garukan kasar permukaan kasar kulit penisku yang menonjolkan urat-uratnya. Apalagi bentuk leher Aseng junior yang bertindak seperti cangkul menggaruk gerinjal permukaan liang kawinnya juga.

Karina semakin menggila gelinjang tubuhnya saat aku mempercepat gerakan keluar masuk memompaku. Karena memang ternyata sangat enak menyetubuhi binor satu ini. Aseng junior keluar masuk dengan lancar di dalam liang yang masih cukup menggigitnya.

Tidak sangat peret tapi cukup nge-grip karena ia sudah beberapa kali keguguran. Tapi-uhh… Enak kali. “Buu… Enaak, buu?” genjotku lebih cepat dengan gerakan andalanku 2-1. Dua kali sodokan pendek dan satu sodokan panjang.

“Ah ah ahh ahh… Baang… Baang? Karinaa gak tahaan… Ahh… Maaau pipiiiss… Uuuhhmm… Ahh!” erangnya sibuk sendiri dengan gelinjang tubuh yang menyergap tubuhnya.

Padahal baru aja mulai udah mau dapat dia. Eh… benaran! Aseng junior-ku diremas kuat di dalam liang kawinnya. Terasa lebih basah dan licin karena ada tambahan sejumlah cairan baru yang disiramkan, mengocor bahkan merembes keluar. Kucabutlah si Aseng junior untuk membiarkan ia menikmati itu semua sebentar.

“Hah-hah-hah-hah…” ia bernafas berat. Susu kenyalnya naik turun dan mata terpejam. Menggemaskan melihat ekspresinya dan kukecup keningnya.

“He he hehehe…” malah tertawa pelan ia merasakan kecupanku.

“Lagi, bang… Enak ternyata…” tangannya menggapai hendak menangkap Aseng junior, mengembalikannya ke tempatnya yang sebenarnya. Kuberikan padanya. Diarahkannya kepala Aseng junior memasuki liang kawinnya yang kuyup oleh cairan cintanya.

“Heeessshh… Aahh… Ahh, baangg… Enak banget, sih? Uuhh…” begitu masuk langsung kugasak lagi ia dengan sodokan andalan 2-1-ku.

Karina duduk bersandar hampir rebah di single sofa sementara aku menggenjot liang kawinnya dalam keadaan berdiri menyebabkan semua otot-ototku bekerja optimal mengeras. Termasuk Aseng junior yang sedang kupompakan ritmis tak begitu cepat. Kelimpungan Karina menerima sodokan-sodokan keras batang kemaluanku.

“Enak banget, baangg… Karina bisa… bisa-bisa keluaarrhhh laghii… Ooohh…” tangannya meremas kuat pegangan kursi dan bangkit dari bersandar di sofa. Kakinya makin lebar terbentang, yang dari tadi terus kuhentak beradu dengan sebagian besar perut dan pangkal pahaku. Ia memelototi proses keluar masuk memompa Aseng junior ke belahan kemaluannya yang dipaksa membuka lebar untuk mengakomodasi besar diameter kemaluanku.

“Ngentooottt enaak bangeett!!” erangnya dengan mulut terbuka lebar. Ia takjub karena liang kawinnya dapat menampung penis sebesar ini.

“Gede bangeet kontolmu, baang? Ahhh…” ia membanting tubuhnya ke sandaran sofa lagi.

Ia menautkan kakinya ke pegangan kaki hingga semakin lebar terbentang karena ia semakin rebah sudah seperti berbaring. Aku semakin menggila menyodok kemaluan legitnya. Masih dengan tak bising, ia kembali mendapat pipis enak itu.

Sejumlah cairan pelumas kembali mengalir menetes membuat persetubuhan kami ini. Kucabut Aseng junior haribaan liang kawinnya untuk pause sebentar karena aku tau gak lama lagi aku akan ngecrot. Jari-jari Karina memanggil dan dipaksakannya tubuhnya untuk bangkit. Ia meminta Aseng junior, kusodorkan.

“Uhhmm…” dengan nakal ia menyedot Aseng junior yang masih bercampur cairan cintanya sendiri.

Nafasku sendiri sebenarnya kuatur agar tidak ngos-ngosan seperti sedang berlatih silat. Apa gunanya mahir pernapasan kalo ngentot aja kelabakan karena gak mampu mengatur nafas. Keahlian ini banyak gunanya di kehidupan sehari-hari.

Karina mengisap Aseng junior tidak sepenuh hati karena ia hanya melakukannya untuk istirahat dan diarahkannya kembali ke selangkangannya. Memintaku untuk masuk kembali.

Posisi rebahnya ini membuatku lebih leluasa melesakkan Aseng junior walopun harus menekuk lutut di kombinasi andalan tusukan 2-1-ku. Karina tak henti-henti mengeluh walo tidak bising sekali, tapi cukup menggairahkan dan memberi semangat aku terus menggasaknya.

Kini hanya bagian kepalanya yang bersandar di sandaran single sofa sementara seluruh badannya rebah di dudukan sofa, kakinya terbentang lebar menyangkut di pegangan sofa, sebagian besar bokongnya menggantung yang membuatnya menahan sehingga ada tekanan besar pada Aseng junior-ku, dijepit erat.

“Buu Karina… enaak kali, buukk… Uhh…” keluhku memperhatikan guncangan yang terjadi pada susu kenyalnya bergoyang beradu.

Berputar-putar bagus susu kenyal saling beradu yang memancingku menikmatinya.

“Sruupp…” ini cukup membuat perhatianku teralih dari rasa nikmat yang mendera Aseng junior ke menikmati susu kenyal dan gemuk pentilnya yang rajin kusedot.

“Aahh, bang… Kenyot yang ini juga, bang…” tunjuknya pada mulutnya yang dimajukan minta dicumbu juga.

Aku beralih ke mulutnya dan mengadu bibir. Susu kenyalnya kini jadi mainan kedua tanganku sementara Aseng junior menggenjot tipis-tipis aja, pendek-pendek. Kaki Karina berpindah bersandar mengangkang di pegangan sofa ke memeluk punggungku. Dua tumitnya mengait ke pinggangku.

“Emmhh…” suara percumbuan mulut kami berdua. Tangan Karina mengalung di leherku, mencegahku pergi kemana-mana. Ia masih rajin menikmati mulutku.

“Bang Aseng pinter ciumannya… Udah pro…” komentarnya di antara pergelutan mulutku.

“Gocekannya gimana?”

“Lebih pro lagi… Gede banget ini, bang… Punya suamiku gak ada segini… Ahh!” katanya membandingkanku dengan suaminya.

Aseng junior tetap kugoyangkan pelan-pelan, pendek-pendek aja walo terbenam dalam. Terasa cengkraman kuat dari dalam liang kawinnya yang menghisap-hisap karena rangsangan intens.

“Aahhsss… Ya gitu, bang… Aahh… aahh…” kening kami bertemu melepas adu mulut karena kupercepat sedikit walo masih pendek-pendek. Susu kenyalnya membal-membal. Karina menganga kala kukecup-kecup hidungnya.

Bukannya kenapa-kenapa, posisi seperti ini gesekanku pada kacang itilnya pasti sangat kerasa. Karina jadi sangat gelisah. Diremasnya lenganku yang mengetat kuat karena makin kupercepat gocekan cepatku, aku bertumpu pada kedua tanganku sekarang.

“Karrr… Karrr… Karinaaa… Mau keluaarr… Mau-mau…”

“Bareng, baang…” Karina semakin gelisah. Kepalanya banting kanan-kiri.

Mulutnya meracau tanpa suara. Aku konsentrasi untuk membuktikan bacot si setan Kuyang itu. Apakah wasiatnya benar-benar akan jadi kenyataan bahwa hanya bibit dariku yang saat itu menghunus mandau Panglima Burung yang dapat menutup lubang yang ditinggalkannya di perut Karina.

Kutekan sekuat-sedalamnya Aseng junior ke vagina Karina saat menyemburkan spermaku, bibit yang kumaksud di atas. Bersamaan denganku Karina juga mendapatkan huruf O kapitalnya yang tak bersuara.

Hanya getar-getar tubuh kami bersamaan menjadi melodi indah yang sinkron melabuhkan sebuah kenikmatan bersama-sama. Kubenamkan wajahku ke lehernya, menghirup udara sesak dari rambutnya saat terasa semburan-semburan kencang yang sudah dua kali terhambat. Nikmat sekali setelah sekian hari tergantung sedemikian rupa oleh beberapa sebab.

Dada kami yang lekat rapat sama-sama naik-turun memproses respirasi yang sesak sebab kegiatan menguras kalori barusan. Karina bernafas cepat. Udara keluar masuk hanya dari mulutnya. Sedang aku lebih teratur berkat keahlianku olah nafas di berbagai bela diri apalagi silat harimau yang kukuasai.

Karina pasti bisa merasakan banjir dalam rahimnya yang kuisi penuh dengan sperma panasku. Perutnya pasti terasa hangat saat ini. Untuk beberapa saat kami berpandangan lalu tersenyum di ujungnya.

“Enak banget, bang Aseng… Jadi dua kali kentang lunas semua… hi hihihi…” ucapnya lirih diakhiri terkikik masih mengalungi punggungku dengan kakinya. Selangkangan kami masih terpaut erat dengan persatuan kelamin. Tangannya bertengger di bahuku.

“Luar biasa… Lunas semua kentangnya… Betol… Lunas semua… Nikmat kali, bu Karina… Huhh…” kataku bersungguh-sungguh menunjukkan kalo aku betul-betul puas dibuatnya. Kusodok-sodok pelan Aseng junior-ku.

“Cabut dulu, yaa…” pelan-pelan kulepaskan dan pasti akan meluber deras karenanya bagian belakang bokongnya agak kuangkat lebih tinggi, kuputar tubuhnya hingga kedua kakinya saling rapat ke kanan single sofa. Kakinya di kanan pegangan sofa kepala di kiri.

“Ditinggiin gini dulu ya, buu… Biar agak nyerap bibit awak di dalam…” kataku lalu mengecup pelan bibirnya.

“Enak banget tadi, bang…” ujarnya menggapai pada Aseng junior yang menjuntai agak layu karena abis ngecrot, kan. Dikocok-kocoknya gak perduli walo masih berlumuran spermaku dan cairan cinta lengketnya.

“Kayaknya masih bisa lagi ini, ya?” tanyanya melihat gelagat Aseng junior yang perlahan menegang lagi.

“Untuk bu Karina apa yang enggak… Ibu mau berapa kali lagi?”

“Mm… Berapa kali, yaaa?” katanya menerawang dengan imut sambil mengetuk-ngetuk dagu lancipnya dengan ujung telunjuknya.

“Satu…” satu jari diacungkannya, “… dua…” matanya berbinar-binar. “Tiga?” senyumnya lebar dan manis sekali. Kami sama-sama tertawa.

“Ato empat?”

“Lima, deh…” malah tambah ngelunjak dan tersenyum lebar memamerkan gigi putih rapi bergusi sehat.

“Sebisanya aja ya, bu…” aku lalu berjongkok di depan single sofa itu, ia melepas kocokannya pada Aseng junior.

“Kita panaskan dulu, ya?” aku menyosor mulutnya lagi.

Kedua bagian bibirnya masuk ke mulutku menjadi mangsa empuk. Kukulum-kulum bibirnya dengan gemas lalu bergantian dengannya memberi kesempatan membalasnya, ia melakukan hal yang sama.

Sekali waktu kujulurkan lidahku sedikit dan kami beradu lidah sekilas. Tanganku tentu gak nganggur, dong. Meremas-remas dan memilin-milin susu kenyalnya. Kuusap-usap juga perutnya, seperti doa agar lubang laknat itu segera hilang. Bibit dari spermaku harusnya sudah bekerja saat ini kalo memang itu adalah fungsinya, menutup lubang yang ditinggalkan setan Kuyang keparat itu.

“Sudah hilang, bang?” ingat Karina akan gerakan mengusap-usapku di perutnya.

Kukecup bibirnya. Kucolek permukaan lubang liang kawinnya yang masih becek bergelimang spermaku yang sejatinya untuk dibiarkan meresap di dalam rahimnya. Sejumlah cairan itu itu ada di ujung jariku, kuoleskan berputar di perutnya membentuk lingkaran dimulai dari titik Solar Plexus-nya ke bawah pusar balik lagi ke titik awal.

“Liat, yaa?” kataku.

Posisi kepala Karina yang bersandar di pegangan sofa sebelah kiri tentu dengan mudah melihat bagian perutnya. Mulutnya terperangah melihat ada sinar kehitaman terpancar dari noda lembab bekas spermaku yang berbercak melingkar. Sekian waktu lalu sinar hitam itu berubah menjadi kemerahan lalu putih dan hilang sama sekali.

“Sudah ilang, bu Karina… Sudah tidak ada lagi lubang itu… Sudah ilang…” sahutku lagi setelah sama-sama menyaksikan proses ajaib tadi.

Dirabanya perutnya sendiri dan tentu saja ia mendapati sisa sperma mengeringku alias keraknya saja. Aku membantunya membersihkan kerak-kerak putih itu dari perutnya.

“Kalo diliat pake mata bathin memang sudah ilang bu lubang itu… Itu artinya jejak Kuyang itu sudah tidak ada… Di rumah ini juga sudah tidak ada lagi jejaknya…” kataku menjelaskan sesuai fungsi dan pengetahuanku.

“Karina gak ngerasain apa-apa…” ia menggeleng-geleng lucu.

“Cuma sisa enak tadi aja yang kerasa…” sambungnya nakal menarik belakang leherku untuk melanjutkan adu mulut kami.

Tanganku langsung mendarat lagi di susu kenyalnya. Lidahku mulai kukaryakan untuk lebih jauh mengeksplorasi mulutnya. Ia menyambut lidahku dan menyedotnya pelan-pelan mungkin gak tau apa yang harus dilakukan.

Kubiarkan ia memasukkan lidahnya yang kubalas dengan membelitnya dengan lidahku. Kami bersilat lidah di dalam mulutku. Jariku lincah memilin-milin puting besar mengerasnya. Ia semakin ahli memainkan lidahnya, belajar dariku.

Jariku menelusup masuk lagi untuk mengetes liang kawinnya apakah sudah siap? Sudah berkurang banyak sperma yang menggenang. Semoga mereka bekerja optimal juga seperti pada binor-binor sebelum Karina yang sudah berhasil kuhamili dengan bibit-bibit suburku.

“Hmm… Geli, bang… Jangan dimainin gitu, dong… Dicoblos aja pake ini…” katanya menggapai ke bawah dimana Aseng junior-ku menegang keras. Diremas-remasnya dengan gemas.

“Gantian yok? Awak yang duduk…” bimbingku agar Karina bangkit dari berbaring gak nyamannya di single sofa ini.

Patuh ia mengikuti mauku dan berdiri. Aku yang sekarang duduk di single sofa ini. Aseng junior mengacung dengan sombongnya kek tiran. Tapi mata Karina sumringah melihat kesombongannya. Gantian ia yang berjongkok di antara kakiku.

Dikocoknya Aseng junior tapi ada kerak-kerak sperma mengering di sekujur batangnya. Ia menggapai ke meja peralatan bayi, pada bagian laci dan mendapatkan sebuah botol baby oil. Dilumurinya Aseng junior dengan minyak harum lembut itu, dikocok lagi yang rasanya sangat aduhai nikmat. Tujuannya hanya untuk membersihkannya karena setelah itu Karina mengelapnya dengan tisu. Aseng junior sudah kepalang ngaceng berat kala ia mencoba menjilat-jilatnya bak es krim.

“Uohh… buuk… Anget lidahnya, bu… Isep, buuk…” lidah tebal Karina melilit-lilit Aseng junior seperti seekor siput dengan jejak cairan lengketnya.

Lidah basahnya berdecap-decap menikmati batang kemaluanku yang sudah masuk perdana ke tubuhnya. Menggangguk-angguk kemudian kepalanya memasukkan Aseng junior ke dalam mulutnya. Mulutnya agak monyong menggelomoh kejantananku, naik-turun lincah. Lidahnya lalu dijulurkan dan melebarkan bukaan mulutnya yang lumayan lebar.

“Buuk… Udahlah, buk… Gak tahan aku, buk… Langsung ajalah, buk…” rengekku minta langsung masuk aja.

Karina mengelap mulut dengan punggung tangannya dan berdiri.

“Gimana?” Aku memandangi tubuh telanjangnya yang berdiri tegak di depanku. Aku masih terlalu terpesona dengan bentuk indah tubuhnya yang aduhai matang. Bahu lebarnya, susu kenyalnya, pinggangnya, bentuk segitiga di selangkangannya, paha mulusnya, dan wajah cantiknya.

“Jangan diliatin gitu-ah, bang… Malu Karina-nya…” ia menunduk manyun manja.

“Buk Karina cantik kali jadinya… Aura matangnya…” aku memutar-mutar tanganku di pergelangan.

“… keluar maksimal… Cantik kali… ck ck ck… Sini… Pangku aja di sini…” kataku menepuk pahaku lalu tersadar aku harus segera menyetubuhinya lagi.

Karina langsung tanggap dan meletakkan lutut sebelah kanannya dahulu di samping pahaku. Lalu menyusul lutut kirinya hingga kini ia rapat di hadapanku. Tangannya menggapai ke belakang dan menemukan Aseng junior.

“Gini, kaan?” ia menurunkan tubuhnya, membimbing kepala Aseng junior untuk memasuki liang kawinnya lagi.

“Aaahh…” mulutnya terbuka lebar merasakan Aseng junior membelah pelan tapi pasti kemaluannya.

Ia yang sepenuhnya mengendalikan prosesi penetrasi ini. Ia angkat lagi tubuhnya yang bertumpu pada dua lututnya. Tanganku sebelah memeluk pinggangnya sementara yang satu meremas-remas satu susu kenyalnya untuk tambahan merangsang. Aku menatap semua ekspresinya yang merem melek dengan mulut menganga lebar.

“Aahhss… Bang… Ini kegedean deh, bang Aseng… Tadi kok bisa masuk?” mulutnya seperti kepedasan makan sambel.

“A-aahh…” erangnya manja karena aku membantu menekan tubuhku ke atas hingga Aseng junior memaksa merangsek masuk.

Tubuh Karina meliuk karena merasa ngilu kesempitan. Tapi kedua sisi pinggangnya kupegang jadi ia tak dapat menghindar. Kutekan pinggulnya ke bawah dan Aseng menelusup lebih jauh masuk membelah liang kawinnya.

“Aaahhhsshhh…” erangnya kepedasan lagi masih menganga seksi.

Tetap kutahan tubuhnya di posisi rapat begitu duduk di pangkuanku dengan kelamin kami erat menyatu saling mengunci padu. Belum sempat ia membiasakan diri dengan ganjalan benda padat di dalam liang kawinnya, aku mulai menggerakkan Aseng junior keluar masuk walo dengan gerakan minimal. Pantatnya membal-membal kecil di pahaku menyebabkan kami memulai persetubuhan ini lagi dengan pompaan kecil.

“AAauhhh…. Ahh!! Ah!” menjerit-jerit kecil ia tiap hentakan kecil yang membentur liang terdalamnya karena Aseng junior masuk sangat jauh menembus liang kawinnya.

Posisi Karina yang duduk di pangkuanku di atas single sofa sempit ini sangat intim bagiku. Mukaku tepat berhadapan dengan susu kenyalnya yang bergetar-getar indah saat Aseng junior mengacak-acak liang kawinnya. Wajahnya menengadah kesana kemari. Lidahku kujulurkan dan mengais-ngais pentil susu kenyal bulatnya.

Tangannya bertumpu di bahuku setelah tadi sempat berbentuk aneh seperti posisi sayap burung yang mengepak-ngepak aneh karena gerakan menghentakku. Jeritannya kini berubah menjadi desahan karena gesekan kelamin kami menjadi lancar dan licin berkat spermaku yang rebound keluar mengucur lagi. Terasa meleleh sampai menetes di pelerku.

Kala kuhentikan gerakanku menusuk-nusuk dengan Aseng junior-ku, Karina tanpa sadar menggerakkan badannya sendiri naik turun.

“Ehh?” sadarnya lalu beralih mencumbu mulutku dan menghentikan gerakannya.

Aku meremas-remas pantatnya dan menggerakkan bokongnya naik turun sehingga ada sedikit gerakan yang terjadi karenanya berkat lumayan sempitnya liang kawin binor depan rumahku ini.

“Bang Aseng nakal-ih…” ia lalu menggerakkan tubuhnya, kali ini dengan sadar.

Ia sepenuhnya mengendalikan dalam dan kecepatan persetubuhan ini sekarang. Kadang dalam dan cepat, kadang pendek dan lambat, dan kadang ia memutar-mutar pantatnya-mengulek Aseng junior di dalam liang beceknya. Kala ia menegakkan tubuhnya, ia menyodorkan susu kenyalnya ke mulutku untuk dipermainkan. Dengan senang hati mulutku bekerja dan menyucup rakus susu kenyal bulat menggemaskan itu.

“Aaahhhsss… Baaang… Enak banget, baang…”

Dibenamkannya mukaku belahan dadanya yang kenyal dan itu artinya ia berhenti. Kusiapkan posisi kakiku yang menapak lantai dan mulai gerakan memompa cepat.

“Shlok-shlok-shlok!” gerakan cepat keluar masuk itu membuat Karina mengerang tanpa suara dengan mulut menganga sementara mukaku masih tenggelam di antara lumeran sepasang susu kenyalnya.

Yang terasa bergerak-gerak adalah bagian bawah tubuhnya yang pasrah menerima sodokan cepatku juga karena pinggangnya kukunci dengan pelukan erat. Sesekali kulumat putingnya meningkahi gerakan cepatku dan suara erangannya yang membahana di kamar bayi ini.

“Bang! Aaahh! Ahh!” tubuh Karina berkejat menghentak hingga kelamin terpisah paksa, Aseng junior didudukinya hingga terjepit di antara kakiku. Beberapa kali getaran tubuhnya bergejolak dan kupeluk tubuhnya erat-erat. Ia membenamkan mukanya di rambutku.

“Uuhh… Enak lagi, baang… Lemes Karina, bang… Hu-hu huhu…” keluhnya balas memeluk erat tubuhku.

“Memang harus enak, buuk… Kalo gak enak gak akan jadi anak…” jawabku ngasal aja. Kuremas-remas lagi bongkah buah pantatnya, merasakan kenyal padat benda indah itu.

“Masih lemes?” tanyaku karena pasti lemes abis orgasme barusan.

Untung aja Aseng junior tercerabut paksa, kalo enggak pasti udah dikremes-kremes liar di dalam liang kawinnya saat bergejolak tadi.

“He-em… Masih lemes, bang… Abis abang mainnya jago banget… Karina kalah terus…” jawabnya sambil mengecupi pipiku.

“Awak kan tadi udah nembak jugak, buk… Mana ada kalah terus… Gini deh… Balik kek gini…” kubimbing tubuhnya untuk berputar.

Masih di pangkuanku, hanya saja kali ini tidak saling berhadapan. Ia memunggungi, hanya saja ia langsung bersandar di dadaku. Kakinya otomatis mengangkang di posisi ini dan kupeluk perutnya.

Kuelus-elus sebagai bagian harapan agar ia secepatnya hamil. Terserah mau hamil dariku ato dari suaminya, mana saja boleh. Karina memalingkan wajahnya ke arahku dan mulut kami saling pagut lagi.

Ia sekarang suka bermain lidah. Lidah kami saling mengulik, menggelitik. Susu kenyalnya tak luput dari remasan kedua tanganku. Lumer menyenangkan rasanya di antara jari-jariku. Apalagi saat putingnya kupilin-pilin.

Pantat Karina digoyang-goyangkannya nakal pada Aseng junior. Digodanya terus hingga terjepit di antara belahan bokongnya. Tunggang langgang tentunya batang kelaminku digeol-geol sedemikian rupa. Gak boleh dibiarkan begini terus.

Aku mencondongkan tubuhku ke depan hingga Aseng junior lepas dari perangkap pantat Karina dan menyembul keluar, mencuat pada habitat aslinya, di depan liang kawin sarang barunya.

Dengan kedua tangan kukondisikan keadaannya; pantat Karina kuangkat dengan tangan kiri dan Aseng junior kuarahkan memasuki sarangnya pake tangan kanan. Melengkung, bersusah payah ia menemukan lubang targetnya dan langsung kusorongkannya. Alhasil Karina meraung dan meremas rambutku. Licin liang kawinnya mempermudah perjalanan nikmat Aseng junior menembusi hingga batas maksimal yang dapat dijangkaunya.

“Ahhsss…. baaang… Dalam banget, bang… ahhsss…. uhh!”

Dengan pelan-pelan aku menggerakkan perutku naik turun untuk memompa liang kawin Karina. Jariku menggelitik kacang itilnya, mudah-mudahan ini akan menjadi tombol darurat. Sudah cukup lama aku tak mengeksploitasi tombol darurat yang lazim dimiliki perempuan ini.

Lancar sodokanku ditambah kulikan kacang itil membuat Karina blingsatan gak karuan. Tubuhnya meliuk-liuk terbatas di atas pangkuanku ini. Kutarik lengannya ke kiri dan kusedot susu kenyal kanannya. Lidahku menyentil-nyentil membuat Karina makin mengerang-ngerang seksi.

Lama kelamaan gerakanku semakin cepat saja. Sodokanku tambah panjang dan bertenaga. Tepukan benturan tubuh kami ‘teplok-teplok’ suaranya becek karena walo ruangan ini sejuk tapi tetap membuat kami berkeringat. Erangan Karina semakin intens dan lenguhannya makin berisik dan tubuhnya semakin menegang.

Ia mengangkangkan kakinya lebar-lebar agar Aseng junior-ku lebih leluasa mengacak-acak kelaminnya yang terbentang lebar disodoki terbelah batang kejantananku yang keras mengkilap oleh licinnya panas hubungan kelamin kami.

Sesekali kusumpal mulutnya untuk membungkam berisik mulutnya yang mulai terungkap. Dari awal ia tidak seberisik ini. Mungkin terlalu menikmati.

Kulikan pada kacang itil Karina semakin cepat seirama sodokan cepatku dan suara erangan manja-manja binalnya. Karina bahkan menekan tanganku berkali-kali agar lebih mengobok-obok kelaminnya. Sesekali ia juga menyentuh Aseng junior yang keluar masuk lancar dengan licin.

“Baang…. Mau lagiii… IIhhh… Ahh! Ah!” pantat Karina geol-geol dalam keadan Aseng junior terbenam dalam.

Pijatan kuat meremas-remas kelaminku hampir membuatku mabuk. Kuremas kedua susu kenyalnya dan kami salim kulum bibir bergantian. Kelamin kami masih bersatu erat. Terasa kuyup lebih basah.

Pelukan erat kuketatkan pada tubuh seksinya yang sudah berkali-kali mengalami orgasme. Aku sengaja tak melepas kesatuan kelamin kami karena aku masih menikmati kedutan-kedutan samar paska orgasmenya yang memijat Aseng junior dengan syahdunya.

Kami masih bertukar ludah saling mengulum bibir. Semua jenis rangsangan kulakukan padanya, baik meremas susu kenyalnya dan mengulik kacang itilnya silih berganti.

“Bentar lagi awak mau keluar lagi nih, buk…” kataku menggesek-gesek hampir seluruh permukaan vaginanya yang merekah dibelah Aseng junior.

“Kita ganti posisi, yaa…?”

“Eh? Ahh…” kagetnya karena dekapanku yang tak berkurang, kudorong tubuhnya berdiri bareng denganku masih dengan kelamin yang melekat erat. Aseng junior masih terbenam dalam di liang kawinnya. Terasa diperas-peras oleh gerakannya yang kudorong menuju box bayi masa depannya.

“Doggie berdiri, bang?” pahamnya akan mauku.

Mungkin ia hanya kaget aku tak melepas penisku terlebih dahulu. Aku mengangguk. Ia memegangi pagar kayu box bayi itu lalu menunduk rendah. Pantatnya yang lebih mencuat tinggi sementara tubuhnya rendah sejajar.

Aku berpegangan pada kedua pinggulnya dan mencengkam erat karena aku sudah merasakan rasa ingin nikmat itu di ujung-ujung, mulai kubergerak.

“Ahh! Ah ah ah ah…” erang Karina merasakan sodokan yang awalnya masih pelan dan berangsur cepat dan semakin cepat.

Gesekan keras batang Aseng junior pada dinding liang kawin Karina terasa sangat ketat dan licin bersamaan. Aku juga ikut mengeram merasakan kenikmatan itu. Aku tahan-tahan sebentar agar ada efek ledakan yang dahsyat nantinya saat mencapai puncaknya.

“Bang! Bang mau keluar lagi, bang! Ahh! Ahh!” teriak Karina juga mendongakkan kepalanya dengan gelisah. Ia meremas-remas pagar box bayi. Sesekali tubuhnya naik turun dan jepitan liang kawinnya mengetat drastis dan mengendur tak teratur.

“Tahan! Tahan! Bareng kita!!” teriakku terus memompakan Aseng junior lebih cepat dengan RPM tinggi.

“Plak plak plak!” suara hantaman perutku menepuk bokongnya. “Plak plak plak!”

“Aahhh… ah ahh ahhh ah ahh! Bang! Baaang!!”

“Hegghh… Karr… Karr… Ini… Ayooo!! Ughh…!”

“Ah! Ah!”

“Crooot croott croott!!”

Kubenamkan sedalam-dalamnya Aseng junior ke kedalaman maksimal liang kawin Karina. Tubuh perempuan cantik itu bergetar-getar hebat tanpa suara lebih jauh tetapi tangannya keras mencengkram tanganku yang memegangi pinggulnya. Sejumlah besar spermaku membanjiri liang kawinnya, memasuki rahimnya untuk kedua kalinya malam ini dalam posisi berdiri dan ia menungging.

“Lemes Karina, bang Aseng…” bisiknya saat bersandar lagi di dadaku yang duduk kembali memangkunya di single sofa.

Aseng junior masih bercokol menusuk masuk menyumpal mulut rahimnya agar sperma berhargaku gak keluar mengucur dulu. Biar bibit-bibit berukuran mikroskopis itu bekerja menyerbu sel telur target mereka, membuahinya. Hanya cukup satu saja yang berhasil menembusnya, membawakan kode genetis dan membuahinya.

“Mudah-mudahan bisa berhasil jadi anak ya, buk…” bisikku di telinganya setelah tadi mengecupinya yang membuatnya bergidik geli.

“Jadi anak yang bisa menggenapi mimpi mamanya yang cantik ini… Agar mamanya jadi lebih percaya diri lagi menghadapi dunia ini…”

“Amin,,,”

***

Ini ronde ketiga aku menggenjot Karina. Ia memilih untuk tetap berada di atas single sofa ini. Duduk setengah berbaring di sofa yang sewajarnya hanya dipakai satu orang saja walo ukurannya lebih besar dari biasanya karena memang ditujukan untuk duduk nyaman saat menyusui.

Kugenjot kemaluannya yang mengangkang lebar dengan sodokan 2-1 lagi. Karina mendesah-desah keenakan menikmati semua kenikmatan persetubuhan yang kutawarkan lewat pertemuan kedua kelamin kami. Gesekan-gesekan enak memercikkan rasa nikmat itu kesekujur tubuh kami berdua.

Keindahan visual yang kunikmati setelah tubuh indah berkulit putih mulus berpeluhnya, tentu saja adalah guncangan saling beradu sepasang susu kenyalnya. Membal berbenturan kedua susu kenyal itu seolah sedang berkelahi saling tabrak menabrakkan diri siapa yang paling mumpuni. Belum lagi ekspresi di paras cantiknya yang menikmati sungguh-sungguh buncahan kenikmatan yang menguasai sekujur tubuhnya.

Menjerit lirih ia awalnya lalu terdiam bungkam kala orgasme menyetrum tubuhnya berkejat-kejat nikmat. Aseng junior-ku dipulas-pulas di dalam liang kawinnya. Kusisihkan beberapa helai rambut yang melintang di depan wajahnya yang bertitik peluh. Aseng junior kulepas. “Ganti posisi ato mau ganti tempat?” tawarku.

Matanya berkerjab-kerjab gak tau mau harus jawab apa.

“Ganti posisi aja, ya… Karina masih bingung… Ayo?” tarikku agar ia bergerak.

Ia bingung harus bagaimana dan kuarahkan tubuhnya berputar masih di atas single sofa ini. Kaki di atas sofa, tepatnya lututnya bertumpu, mukanya menghadap ke sandaran sofa dan pantatnya menungging ke arah depan.

Aku menikmati pemandangan indah pantat bulat lebar putih dengan belahan nikmat yang basah di lepitan cantik itu. Kugesek-gesekkan kepala Aseng junior ke belahan vaginanya yang dengan mudah dibelah dan menemukan liang kawinnya yang licin.

“Kita mulai lagi ya, buk…” dan Aseng junior meluncur masuk tergelincir masuk dengan mudah.

“Aahh… ahh… ah ah ah…” erangnya begitu aku sudah memompanya lagi dengan kecepatan sedang dan teratur.

Posisi menunggingnya kali ini sangat pas dengan ketinggian posisi Aseng junior hingga aku lebih menikmatinya dengan maksimal ditambah aku bisa meremas-remas, menikmati bokong padat tebalnya. Tiap diremas, belahan pantatnya membuka menampakkan proses keluar masuk Aseng junior menusuk liang kawinnya.

“Ah ah ah ah ah ah…” Karina menyandarkan tangannya pada sandaran sofa berkali-kali menoleh ke belakang minta perhatian lagi.

“Kenapa, buk?” tanyaku disela sodokanku.

Ia menjulurkan lidahnya minta cium ternyata. Berhenti dan kutarik kedua kakinya turun dari sofa. Ia kebingungan lagi apa yang akan kulakukan. Kami berdiri berhadapan. Tinggi Karina tidak setara denganku hingga Aseng junior tepat di perutnya, mengacung keras rapat. Aku menekuk lututku dan mengangkat sebelah kaki Karina dan melebarkan yang sebelahnya juga. Otomatis ia mengalungkan tangannya di leherku.

“Aaahh…” erangnya saat kutusukkan Aseng junior di posisi ‘martole jonjong’ (ngentot berdiri) ini. Jepitannya sangat sempit karena ia kurang bisa mengangkang.

“Sempit, bang… Ahh…” keluhnya berusaha semakin melebarkan kakinya.

“Pegang kuat, ya…” dan kuangkat kakinya yang menapak lantai hingga kini kedua kakinya kuangkat.

Kukalungkan kedua kakinya di pinggangku seperti kedua tangannya yang mengalung di leherku. Ia kebingungan tetapi Aseng junior menancap dalam terbenam keseluruhannya di dalam liang kawinnya yang berdenyut enak.

“Kita jalan-jalan…”

“Eh?” kagetnya karena aku membawanya berjalan keluar kamar ini.

“Gak berat, bang?” Aku menggeleng dan mengecup ringan bibirnya yang protes.

“Ah.. ah ah ah ah…” tiap langkah yang kulakukan, Aseng junior terpompa di dalam liang kawinnya.

“Abang Aseng kuat banget… Karina kan berat… ah ah…” Yang pertama kukunjungi adalah ruang luas yang merupakan ruang TV.

Ada sofa panjang yang terlihat sangat empuk di tempat ini. Percaya kalo sesuai ucapan Karina kalo para ART-nya hanya akan muncul kalo mereka dipanggil, aku berniat menggasak Karina di tempat ini. Kubaringkan tubuhnya di atas sofa panjang itu. Benar empuk.

Karina memperbaiki rambutnya bertanya-tanya kala kukoreksi posisiku, kumiringkan tubuhnya. Aseng junior masih tertanam sempurna di lubang kemaluan binor ini. Posisi ngeseks begini selalu membuat lututku gemetaran kala ngecrot. Kita coba pada Karina apakah masih sama?

“Aahh… Ahh… Banng… Ini kok enak banget? Ahh… ahh… Auhh…” erang Karina saat aku mulai memompanya lagi.

Perutku bertumbukan dengan sebagian bokongnya yang miring menghadap atas. Lepitan kemaluan Karina menelan Aseng junior yang terbenam dalam. Himpitan maksimal sangat terasa menambah nikmat lebih padaku dan gesekan yang menggaruk isi dalam kemaluan Karina.

“Hess-ahh… ahhhss… aahh…” desahku juga tak kurang terpengaruh akan kenikmatan luar biasa di posisi miring ini.

Kuremas sebelah susu kenyalnya yang terlihat di posisi ini selagi kupompa semakin cepat liang kawin Karina. Binor itu hanya bisa mangap-mangap aja menikmati ini semua. Kedut-kedut isi dalam kelaminnya memeras Aseng junior-ku. Aku tau gak lama lagi aku bakalan ngecrot untuk ketiga kalinya.

“Bang! BANG! Ah! Ah…” erangnya lalu kejang-kejang.

Aku juga menekan sedalam-dalamnya dan menyemprotkan isi muatan pelerku masuk ke dalam rahimnya lagi. Jepitan dahsyat ketika ia orgasme memicuku juga ejakulasi berbarengan dengannya. Kutindih tubuhnya kala sisa-sisa semprotan spermaku masih menyembur-nyembur beberapa kali. Ia pasti merasakan semua cairan kental yang mengisi rahimnya mengisi tubuhnya membuat tubuhnya menjadi hangat.

“Ahh… Bang Aseng… Enak banget, baang… Kok bisa enak gini, bang?” racaunya.

Aku gak menjawab apa-apa. Hanya melepas Aseng junior dari lubang kemaluan beceknya, menaikkan kakinya ke sandaran sofa agar semua usaha kami tidak sia-sia, tidak keluar dahulu. Memaksimalkan peluang hamil Karina dengan menyetorkan sperma suburku sebanyak-banyaknya ke dalam rahimnya.

Walo jauh di dalam hatiku aku pernah yakin kalo sperma pertamaku yang memasuki wanita manapun yang dalam keadaan subur, tak memakai alat pencegah kehamilan, tidak dalam masalah kesehatan reproduksi apapun akan membuahi sel telurnya-hamil.

“Enak, ya?” kataku mengecup keninganya.

Karina berbaring lemas di sofa panjang ini dengan kaki terangkat di bagian sandarannya, sedikit serong posisinya. Karina tersenyum dikulum karena aku mempermainkan susu kenyalnya.

“Yang berikutnya di kamar Karina, ya?” pintanya. Aku melongok ke arah pintu kamar yang dimaksudkannya.

“Abang yang memanaskannya malam ini menggantikan suamiku yang lagi pergi itu…” katanya. Aku hampir tertawa mendengar ia mengatakan itu.

“Muahh… Ayo… Kita panaskan kamar Karina…” tanganku menyelusup ke belakang punggungnya dan bawah lututnya.

“Hup!” dengan mudah aku mengangkat tubuhnya ke gendonganku.

Beratnya setidaknya 50-an kilo kurang lebih. Gak masalah hanya masalah kecil. Karina menutup mulutnya dengan ekspresi kagum karena lagi-lagi aku dapat menggendongnya dengan mudah berjalan menuju kamarnya. Ia membantuku memutar kenob pintu dan membuka jalan masuk ke dalam kamar luasnya.

Aseng junior berjuntai berayun-ayun saat aku menaiki ranjangnya dan meletakkan tubuh bugil pemilik ranjang ini di tempatnya. Sebuah bantal kuposisikan di bawah bokongnya karena spermaku belum selesai meresap sehabis ronde sebelumnya.

Kami berbaring bersisian dan saling beradu mulut lagi. Lidah kami saling berbelit dengan tangan rajin menjelajah. Tanganku meremas-remas susu kenyalnya sementara tangan Karina mengocok Aseng junior.

“Umm… umm… umm…” Aseng junior-ku jadi tegang maksimal kembali mendapat perhatian tangan Karina dan waktunya mengecek keadaan vaginanya kembali.

Jariku mengobel vaginanya dan tidak banyak sperma yang tersisa di liang kawinnya. Kutusukkan masuk dan mengocok liang kawinnya untuk semakin memanaskan suasana.

Karina melepas mulutku dan mengerang-ngerang pelan menikmati kocokan jariku yang cepat berpacu. Kepalanya berayun kanan-kiri gelisah. Dadanya terangkat berkali-kali dan kakinya mengangkang lebar. Aseng junior hanya diremas-remasnya gemas sekedarnya. Aku beralih cepat dan memposisikan diriku di antara kakinya.

“Aaahhh… Baang…” Aseng junior menelusup masuk dengan mudah berkat licin kondisi liang kawinnya. Kupompa dengan kecepatan sedang sekarang. Susu kenyalnya berayun-ayun menggoda. Kedua tangannya kupelukkan di bawah dadanya, membentuk gundukan susu kenyal itu lebih bulat teratur bergoyang di tempatnya.

“Ah ah ahahah…”

Karina mengerang-ngerang tak terlalu berisik tapi cukup seksi untuk menyemangatiku untuk terus menggenjot dirinya. Sosok indah tubuhnya menjadi faktor daya tarik aku gak jemu-jemu menyetubuhi binor ini.

Jepitan kemaluannya juga sangat memabukkan walo tak sesempit perempuan muda tentunya. Ada nilai plus dalam tiap aspek dirinya yang pastinya akan didapatkan tiap pria yang menghadapinya. Semoga di masa depan, ia akan dapat menemukan kembali dirinya yang sudah direnggut Kuyang itu saat kepergian eksistensinya.

Berkali-kali aku menyetubuhinya malam itu. Kami bersenang-senang bersama menikmati malam yang sudah kami nanti-nantikan bahkan lebih dari seminggu lalu kala aku selesai menyingkirkan setan Kuyang itu dari tubuhnya. Berulang-ulang aku menyemprotkan spermaku ke dalam liang kawinnya, memenuhi rahimnya.

Bersenang-senang sekaligus menghamilinya di masa suburnya ini. Sudah cukup dua kali digantung kentang dan ini pembalasan yang sangat manis. Kami sama-sama puas.

“Ah ah ah ah…”

Karina hanya duduk berpangku di atas selangkanganku saat Aseng junior-ku yang terbenam dalam kemaluannya keluar masuk berkat gerakan yang kulakukan menghentak-hentak. Kakinya berlipat di samping tubuhku, rapat di atas kasur ranjang. Ia memegangi pahanya sendiri sementara aku berpegangan pada dua susu kenyalnya yang berguncang-guncang ngangenin. Aku menghentak-hentak ke atas untuk gerakan keluar masuk pendek saja merojoki liang kawin mantan pemilik ilmu Kuyang ini.

Desahan “ah ah ah ah…”-nya mengisi kamar luas ini tidak terlampau kuat. Hanya cukup untuk memacu nafsuku dan aktualisasi rasa nikmat yang tengah dirasakannya. “Baang Aseeeng… Lagi, baang…” sepertinya ia akan mendapatkan orgasmenya kembali. Aku makin bersemangat memompanya dan ia mendapatkannya.

“Akh!” Karina menggerus-geruskan permukaan kelaminnya pada selangkanganku. Kacang itilnya yang paling terasa bergesekan memberinya rasa nikmat tambahan.

Karina rubuh miring dari tubuhku dan persatuan kelamin kami terpisah. Aseng junior yang tercerabut dari sarang barunya masih tegang meradang keras. Ada rasa iba dan kasihan juga melihat tubuhnya yang lemas sudah beberapa kali orgasme. Kemaluannya aja becek oleh sisa spermaku dan cairan cintanya sendiri.

Sampai berapa kali lagi aku menyetorkan bibitku malam ini? Ia sesumbar minta 5 kali. Aku bisa-bisa aja mengabulkan itu tapi entah apa Karina bisa menerimanya. Tubuh letihnya berbaring seperti tak berdaya. Matanya terpejam dan nafas ngos-ngosan lelah. Pinggulnya mencuat indah di berbaring miringnya.

“Masih bisa, buk?” tanyaku.

“Bisahh… Bisaah, bang Aseenghh…” jawabnya lemas tapi bahkan tak dapat menggerakkan tubuhnya lebih jauh.

Tapi di posisi menggairahkannya ini aku paling suka. Bisa serasa lemes dengkulku abis ngecrot di posisi menyamping ini. Kutekuk kakinya yang atas sementara yang bawah cukup lurus. Aku memposisikan diri diantara kakinya yang lurus dan mengarahkan Aseng junior membidik sasaran. Aku harus menyingkap bagian bawah bokongnya untuk menemukan belahan kemaluannya untuk menyelipkan penisku. Kugesek-gesekkan dan sasaran tembakku terasa bisa ditusuk.

“Bloossh!” Aseng junior meluncur masuk dengan mudah. Rasa terjepit batang kemaluanku sangat terasa di posisi ini karena pengaruh bobot tubuhnya yang menyamping. Ini posisi favoritku yang malah jarang kupraktekkan pada istriku sendiri. Dia sukanya berkuasa di posisi WOT. Walo kugerakkan pelan-pelan tapi nikmatnya sangat berasa sampe membuncah ke ubun-ubun.

Alamak… Sedaap nian… “Blesh blesh blesh…” rasa nikmat gesekannya juga membuat Karina mengerang dengan suara pelan dan parau. Satu tanganku mencengkram pinggulnya dan satunya mencari puting susunya lalu diremas-remas selagi pinggulku bergerak ritmis maju mundur.

“Buu… Enak kan, buuk?” erangku dan menengadah ke atas.

Sebenarnya aku udah gak mau nahan-nahan apapun lagi. Kalo udah mau ngecrot, ya udah ngecrot aja. Hanya saja harus ditahan sebentar agar ada efek menyembur yang menambah rasa nikmat itu.

“Bareng kita yok, buuk? Mau keluar nih, buuk…” erangku tambah gak teratur karena nikmat dan geli bercampur jadi satu di perutku dan batang Aseng junior yang meradang berkedut-kedut.

“Yaah… yaaa… yaaahh… Akh!” jawab Karina juga tak menahan-nahan apapun.

Ia terlebih dahulu yang menapaki rasa nikmat orgasme itu dan aku menyusul di belakangnya yang menyemprotkan benih-benih suburku sesuai permintaannya, 5 kali. Lima kali ejakulasi yang dahsyat, yang sampe membuat dengkul mau copot sangkin sedapnya.

Membuat kepala terasa ringan dan perut terasa plong. Kupepetkan tubuhku ke dirinya dan mencumbu mulutnya. Ia menyambutku dengan pasrah dan membiarkanku memperlakukan mulutnya sesuka hatiku. Ia hanya mengerang-ngerang merasakan kedut-kedut susulan Aseng junior yang memompakan sisa bongkar muatanku.

Kupeluk tubuhnya yang berkeringat wangi segar. Wangi binor yang beraroma wangi segar. Wangi yang bahagia habis berkopulasi. Sehabis dibuahi. Semoga saja ini sesuai perkiraanku kalo semua sesuai prediksi, semua binor yang pernah kubibiti perdana akan mendapat kabar bahagia, hamil di pemeriksaan awalnya 1-2 minggu kemudian.

Rata-rata itu yang telah terjadi. Kupuja-puji kenikmatan yang telah diberikannya padaku. Kuciumi tengkuk dan lehernya, membuat binor tetangga depan rumahku ini bergidik berterimakasih. Ia juga memujiku balik…

Bersih-bersih sekenanya di kamar Karina lalu aku keluar dari rumah ini dari jalan aku masuk. Karina minta maaf karena tak bisa mengantarkan kepulanganku karena masih lemes. Ia memintaku untuk menutup rapat saja pintu atas, nanti kalo ia sudah lebih pulih akan dikuncinya. Depan rumahku lewat tengah malam begini sudah sangat sepi. Di tengah jalan aku berhenti dan memandangi lampu kamar Karina yang masih menyala.

Teringat aku lesakan kepala terbang beserta isi perut tanpa badan yang waktu itu menyerbu rumahku demi popok bekas anakku yang sengaja kugantung di pagar. Kutangkap kepala itu yang merupakan bentuk siluman Kuyang yang pernah menguasai diri Karina, kubebaskan dan terjadi serangkaian kejadian yang berujung aku bisa menunaikan tugasku, menyembuhkan dan membuahinya.

Lalu pandanganku beralih ke rumahku sendiri. Bangunan luas bertingkat dua bergaya Mediterania yang sudah kutempati beberapa minggu ini. Baru beberapa hari aku menempati rumah itu, sudah ada beberapa kasus yang menimpaku. Dibelakang rumahku, sedang menunggu satu kasus lainnya. Vampir perempuan, bule Prancis bernama Agnès.

“Kenapa, Agnès? Kenapa ngeliatin awak kek gitu?”

Pernah ngeliat bule cantik manyun? Itu yang keliatan jelas di mukanya. Bibirnya yang tebal maju lebih dari biasanya. Segitu lamanya dia di dalam daerah kekuasaanku ini dan sudah banyak yang dilakukannya.

Ia mengumpulkan bebatuan yang agak besar dan menyusunnya membentuk tepian jalan ke arah sungai kecil lalu membuat sebuah jembatan padahal cukup dilompati saja bisa. Jembatan itu dibuatnya dari kayu yang dikumpulkannya dari pohon-pohon yang ada.

Ada juga sebuah rumah pohon sederhana yang belum beratap dan berdinding. Masih lantai dan tiang-tiang utamanya saja yang berdiri. Entah pakai apa dia memotong kayu-kayu besar ini? Wadaw!

Tangan halus dan mulus Agnès dengan cepat memotong kayu yang diinginkannya seperti menggunakan sebuah golok. Dibacoknya kayu itu berulang-ulang dengan sisi bawah tangannya hingga putus sambil ngeliatin aku dan bibir manyun itu.

Ternyata tangannya bisa difungsikan seperti itu. Untung waktu berkelahi denganku waktu itu, ia belum sempat menggunakannya padaku. Untung aja… Tapi entah apa salahku sampe diprengutin kek gini.

Dipotongnya beberapa batang kayu lurus lalu dibawanya ke rumah pohon buatannya yang nangkring di pohon terbesar di hutan kecil ini, Beringin. Semua itu dikerjakannya tanpa suara, hanya ada suara kayu terbacok.

Disusunnya kayu-kayu itu hingga membentuk lantai baru. Aku hanya bisa ngeliatin dia melakukan semua ini dari jauh. Bahkan dia gak permisi membuat berbagai perubahan ini. Padahal ini kan daerah kekuasaanku. Kok seenak udel bule-nya aja memodifikasi tempat ini? Membangun rumah pohon lagi…

“Agnès? Ada apa ini? Bicara dong, neng?” sapaku lagi karena ia terus bungkam dengan pandangan sengit. Ia terus mengerjakan kerjaannya itu.

“Kalo gak bicara kek mana awak tau Agnès mau apa?” memang laki-laki itu mahluk yang gak peka. Contohnya aku ini. Aku gak tau maunya apa.

“Mangecek-la, upiak?… Dok ma, ito? Ngomong toh, nduk?” karena kesel gak ditanggapi padahal dah pake berbagai bahasa kupake, kutinggal pergi perempuan itu dan terdengar kepakan sayap Panglima Burung hendak mendarat, bertengger di tanganku.

“Kenapa dia, Panglima Burung?” tanyaku padanya karena dia pasti tau apa yang telah terjadi selama Agnès ada di tempat ini. Entitas burung sakral masyarakat Dayak Kalimantan ini sepertinya sudah menjadi teman diskusi Agnès selama di sini.

“Cemburu, anak?” jawab burung Enggang itu.

“Cemburu? Cemburu kenapa? Emangnya dia siapanya aku?” kagetku.

“Anak gak tau kan… kalau anak keluar dari sini… aku dan anak itu bisa melihat apa saja yang anak lakukan di luar sana… Anak perempuan itu menyebutnya telepisi… Ada gambaran penampakan di langit itu seperti cermin apapun yang anak lihat di luar sana…” jelas Panglima Burung mengejutkan.

“Heh??” kagetku setengah mati.

Baru tau ini aku… Mataku mendelik ke arah Agnès. Pasti dia sudah melihat apa saja yang sudah kulakukan pada Karina di luar sana. Pandangan sadis Agnès melirik padaku lagi masih dengan mulut manyun maju satu level. Kimbek-la… Ketauan.

Pakaian gaun longgar tanpa lengan dengan rok panjang itu udah gak karu-karuan bentuknya. Bagian rok panjangnya sudah koyak-koyak pendek karena diambil kainnya untuk menjadi tali pengikat.

Rok itu sekarang jadi rok super mini yang kurasa tak punya fungsi utuh lagi karena aku dengan mudah melihat pantat dan kemaluannya yang hanya tertutup minimal oleh G-String-nya. Yang utuh adalah bagian atas gaun yang aslinya berwarna putih itu. Sekarang warnanya agak berubah kusam, kekuningan kotor akibat aktifitas penuhnya di sini.

“Wek-cewek… Pi-wiiitt!!” panggilku dengan suitan ngasal.

Apa ngerti dia cat-call kek gini? Paok kali… Itu cewek bule masa digodain pake gaya kek gitu. Agnès masih bekerja di atas sana di antara dahan pohon Beringin yang sudah dipangkasnya untuk bangunan rumah pohonnya.

Pemandangan pantatnya yang geal-geol kemana-mana adalah pemandangan segar di atas pohon. Apalagi saat ia membungkuk waktu melakukan sesuatu, mencuat bagus dengan gundukan kemaluan yang masih terbungkus G-String. Dengan mudah aku memanjat pohon itu dan nangkring di salah satu dahan, dekat dengannya.

“What? Just shut up and leave me alone, monsieur… Go… I don’t want to talk to you right now… I’am-I’m just furious right now… Don’t start it with me now…” (Apa? Diam dan tinggalkan aku sendiri, tuan. Pergi. Saya gak mau bicara denganmu saat ini. Aku-aku hanya sangat marah saat ini. Jangan mulai sekarang) repetnya entah hapa-hapa. Udah kek binikku pulak dia kalo lagi marahan. Padahal baru satu hari aja ketemu.

“Sori Agnès… Soooori kali-la pokoknya… Agnès udah liat semuanya, ya? Sori-la pokoknya…” kataku mohon-mohon maaf padanya pake menyatukan tapak tangan padahal fokus pandanganku adalah memelototi bentuk bagus pinggul dan pantatnya yang hanya berbungkus G-String. Apalagi paha mulusnya yang berkali-kali terbuka kala membungkuk membelakangiku.

“Kamu bilang metode penyembuhan kami harus digantung terbalik di gua kelelawar… Tapi dia? Kenapa Karina itu beda… Kamu menidurinya untuk menyembuhkannya… Kenapa tidak bilang saja kenyataannya… Kamu tidak jujur pada saya, bang Aseng…” ia menunjuk-nunjukku dengan sebuah batang kayu yang ujungnya runcing bekas dipotong.

“Beda-loh metodenya, Agnès… Dia sembuhnya harus pake metode ini… Lubang di perutnya itu harus ditutup dengan bibitku… Itu yang disyaratkan Kuyang yang dulu tinggal di perutnya… Lagipula ia juga minta hamil karena semua bayi yang pernah ada di perutnya… semua dimakan Kuyang sialan itu…” abis mengungkapkan itu semua, aku langsung diam karena fakta berikutnya akan terhambat oleh perjanjianku dengan Karina.

“Bibit? Bibit apa? Your seeds?” tanya Agnès hanya fakta tentang bibit itu.

Pastinya dia bingung kenapa ada kata bibit di sana. Emangnya aku sejenis tanaman harus berkembang biak pake bibit yang disemai di tanah subur.

“Dengan bibitku…” aku menunjuk selangkanganku,

“… untuk menutup lubang yang ada di perutnya… karena hanya dengan ini yang bisa menyembuhkannya… You understand?” jelasku campur-campur sok bilingual.

Dan entah kenapa Agnès tiba-tiba refleks menutupi bagian depan celana dalamnya yang keliatan jelas di hadapanku dari sela roknya yang compang-camping. Wajahnya ketat.

“Huh? Kenapa? Baru nyadar kalo awak ini cowok normal? Kenapa baru ditutup sekarang?” tanyaku menyindir kecuekan sebelumnya.

“Kamu memanfaatkannya?” tuduhnya tak berdasar. Ia menunjuk-nunjukku lagi dengan kayu itu penuh emosi.

“Kalo aku memanfaatkannya… kenapa awak gak memanfaatkan Agnès juga? Kenapa?” jawabku membalik logikanya. “Bisa kan awak memanfaatkan Agnès juga?… Awak bilang aja metodenya sama… Awak enak… Agnès enak… Tapi gak sembuh… Kan?” Aku memegangi batang pohon beringin yang menjadi tempatku bertengger.

“Di Indonesia sini ada istilah gotong royong… Pernah dengar?” Agnès mengangguk.

“Artinya saling tolong-menolong… Ini sudah jadi kewajibanku untuk menolong sebisa semampuku… Gak salah, kan?” kataku lagi.

“Tapi kamu tetap memanfaatkannya… Mengambil keuntungan darinya… Kamu menikmatinya, kan?” ia tetap keukeuh menuduhku memanfaatkan Karina.

“Tentu aja awak menikmatinya… Awak ini laki-laki normal… Selagi menikmatinya… sekalian awak menolongnya… Impas, kan?” jawabku ngasal aja.

“Jadi itu fungsi perjanjian yang kamu buat dengan Karina itu?” ia terus mencecarku dengan pertanyaan yang menjurus. Ia sekarang menurunkan kayu yang dari tadi terus diacung-acungkannya menunjukku. Tangannya yang satu tetap menutupi selangkangannya. Tapi pahanya tetap aja kemana-mana.

“Yaa… Ya… Untuk menegaskan saja… Agnès dengar semua poin-poinnya, kan? Itu untuk melindungi kami berdua dari hal-hal yang tak diinginkan… Mungkin bagimu itu semua kurang kuat… Tapi di dunia yang awak geluti ini… janji tidak boleh diingkari… Ada ganjaran yang bisa dibilang berbahaya kalo gak mau dibilang fatal kalo melanggar janji ini… Cobalah pahami itu…” Agnès terdiam mencerna semua kata-kataku untuk beberapa lama.

Ia berputar dan berjalan meniti kayu-kayu lantai rumah pohon yang sudah disusunnya rapat. Aku bisa menikmati lenggak-lenggok bokongnya yang tak berusaha ditutupinya di antara cabikan rok pendeknya. Mungkin ia terlalu fokus berpikir.

“Kenapa dengan saya tidak bisa?” tanya Agnès di kejauhan sana.

Aku gak gak terlalu jelas apa yang dikatakannya. Ia kembali ke posisinya semula di tempat tadi. Ia terpaksa harus memegangi dahan-dahan terdekat sehingga gak bisa menutupi selangkangannya yang mengintip. Ulahnya sendiri sih. “Kenapa pada saya metode itu tidak bisa disamakan saja?” katanya setelah sampai.

“Pake bibit juga?” tunjukku lagi ke arah selangkanganku.

“Boleh-boleh aja… Tapi gak jamin sembuh, yaa?” kataku santuy aja karena memang kejauhan jangkauannya.

“Kenapa?” tanyanya kepo kali.

“Ini berdasarkan kata-kata Kuyang sialan itu tadi… Kuyang itu memberikan syarat hanya dengan menggunakan bibitku lubang di perut Karina bisa disembuhkan… Dan awak dengan senang hati melakukannya… Itu tadi gotong royong… Saling menolong… Kalo Agnès kan harus mati’in vampir berdarah murni itu… ”

Agnès keknya gak puas dengan semua jawabanku dan ia turun dari pohon Beringin ini. Ternyata ada sebuah tangga kayu di sebelah sana. Pasti itu yang pertama sekali dibangunnya untuk memudahkan turun naik pohon.

Ia berjalan ke arah jembatan sungai kecil dimana Panglima Burung turun dari tempatnya biasa bertengger di puncak pohon pinus jarum dan mendarat di tangannya. Panglima Burung ternyata melakukan itu juga pada Agnès. Aku baru tau. Mungkin burung itu hanya mau bertengger pada orang-orang dikehendakinya saja.

Kususun batang-batang kayu yang belum diselesaikan Agnès karena aku gak merasa perlu menguping pembicaraan mereka berdua. Dari sela-sela daun dan ranting Beringin, aku bisa melihat percakapan mereka, mm… lebih pada obrolan monolog Agnès karena Panglima Burung berkomunikasi langsung seperti telepati.

Satu-satunya jalan lain adalah aku dalam keadaan memegang mandau pemberiannya yang persis sama efeknya dengan dihinggapi. Gak terasa kalo aku sudah menyusun semua batang kayu yang sudah persiapkan Agnès dan menutup semua permukaan lantai. Kucoba berjalan-jalan di lantai kayu itu, cukup kuat dan kokoh. Tinggal bagian dinding dan atap saja.

“Nanti itu dinding sama atapnya mau pake kayu juga, Nès?” tunjukku ke arah rumah pohon saat kuhampiri mereka berdua yang masih ngobrol seru. Agnès menatapku dengan sengit. Keknya masih belum terima dengan keterbatasan-keterbasan yang tak bisa kami terobos dalam beberapa kali diskusi kami.

“Kita bicara lagi nanti, Panglima Burung…” ucapnya lalu burung itu terbang lagi dan mendarat di tempat kesukaannya.

“Saya sudah diskusi dengan Panglima Burung panjang lebar… Dia mau membantu kalau saya mau memburu vampir berdarah murni itu di Paris… Tapi tentu saja kamu harus ikut karena dia ikut dengan kamu… Tidak ada cara yang lain…” tiba-tiba ia memberikan pernyataan ini.

“Heh? Memburu vampir itu di Paris?” kagetku. Kenapa harus aku? Kenapa melibatkanku?

“Sebentar, upiak dalang… Maaf kalo awak menyebutmu upiak dalang (dalang= gila)… Apa urusannya denganku? Agnès datang dari Paris ke Medan ini untuk menghindari mereka, kan?… Agnès kena vampir ini karena maen kokain, maen sendiri-ha?… Trus mau memburu vampir yang menularimu itu harus melibatkanku? Waduh… Gini-loh Agnès, yaa… Agnès awak biarkan di daerah kekuasaanku ini hanya sebagai hiburan untukmu dari seseorang yang sok baik hati… Biar Agnès bisa merasakan enaknya berada di tengah terangnya hari… Tidak lebih… Tapi maaf Agnès, ya… Awak harus menolaknya…”

“Kamu boleh meniduriku sesuka hatimu, sur plait…”

“Hah?” kaget dong ya anak mudanya mendengar ucapan barusan. Menidurinya?

“Ya… Kamu sepertinya suka tidur dengan perempuan yang bukan istrimu… Kamu boleh meniduri saya dan sebagai gantinya… bantu saya memburu vampir berdarah murni itu di Paris…” ia menjelaskannya lebih rinci.

Ia rela ditiduri olehku untuk bantuan yang menurutku sangat berbahaya ini. Gilak aja disuruh nyerbu sarang vampir yang dijaga ketat di Paris. Nehi-nehi acha…

“Awak tetap bilang tidak… Sori… Pembicaraan kita berakhir…” aku balik badan dan meninggalkannya karena lumayan kesal.

Gak segitunya harus menyerahkan tubuh indahnya untuk sesuatu yang sangat berbahaya. Memang benar kalo bertekat kuat dan emosi, mungkin-mungkin aja setuju melakukan kegilaan itu. Tapi tidak ada keharusan buatku untuk menerima penawarannya itu. Walopun sangat menggoda, tapi aku pass dulu-la untuk kasus ini.

“Ehh?” Agnès menggunakan kecepatan tingginya dan bergerak berputar dan memotong arah jalanku.

“Please… Tolong, bang Aseng… S’il vous plaît… Tolong saya…” ia langsung menunduk, bersujud memegangi kakiku kek pilem-pilem India itu.

“Agnès… Gini ya… Apa pernah memikirkan tentang keselamatan orang lain, gak? Ada berapa banyak vampir di dalam sarang mereka itu? Bisa ada ratusan, kan? Ratusan vampir yang pastinya lebih kuat dari Agnès… Pastinya juga ada vampir elit yang dilindungi vampir petarung-petarung terkuatnya… Agnès memintaku menghadapi kegilaan seperti itu… Di Paris lagi… Itu tidak mungkin, Nès…” aku berjongkok di depannya dan meraih dagunya, menaikkannya hingga wajah cantiknya setara denganku. Untuk membuatnya lebih paham kondisiku.

“Awak ada tim yang bernama Ribak Sude… Anggotanya cuma tiga orang… Panglima Burung mungkin sudah memberitau Agnès tentang mereka… Di masa muda dulu kami sering melakukan banyak kegilaan… Itu masa yang sangat gila kalo diingat-ingat lagi… Masa penuh emosi meledak-ledak dan bodoh juga… Tanpa perhitungan… Ada yang nyenggol langsung kami hajar! Mau berapapun orangnya… Tapi itu dulu… waktu kami muda dan gak ada tanggungan keluarga… Gak punya anak istri yang menunggu di rumah… Hanya ada sabar orang tua yang doa-doanya gak pernah putus meminta keselamatan anaknya…” Agnès mendengarkan penjelasanku dengan seksama.

“Sekarang kami berusaha lebih hati-hati… Mengurangi kegiatan gila seperti waktu muda dulu… Menolong sebisanya dan semampunya… Seperti yang awak lakukan pada Karina itu… Begitu-loh, Agnès…”

Agnès menarik nafas dalam-dalam, memejamkan mata lalu menghembuskannya panjang. Berusaha untuk membuang kegundahan hatinya lalu membuka matanya lagi. “Tidak ada jalan yang lain, ya?” ucapnya seperti putus asa. Aku menggeleng meyakinkannya.

Dengan segala kehebatan yang kami rasa kami punya, kemampuan ajaib yang kami kuasai, pengalaman tempur panjang yang pernah kami lakoni, aku masih tidak percaya diri untuk melakukan hal gila berupa menyerbu sarang vampir di daerah asing seperti Paris misalnya. Tidak… Aku juga tidak sampe hati membahayakan teman-temanku untuk misi berbahaya seperti itu.

“Sori, Agnès… Kami tidak setangguh dan sekuat itu… Awak segan mengatakan ini… tapi harus pulak… Mungkin di masa depan nanti akan ada orang ato sekelompok orang yang bisa membantu Agnès melakukan itu semua… Agnès dan Josue immortal… Tentunya bisa menunggu sampai saat itu tiba…” kataku entah dapat ide dari mana.

Di bayanganku harus ada tim yang beranggotakan banyak personil untuk melakukan hal itu semua. Personil yang berkekuatan seimbang ato kalo bisa lebih dari kami saat ini.

“Kasihan mama… Di masa tuanya… ia masih harus mengurus kami yang tak berguna ini… Aku dan Josue hanya memberi masalah demi masalah padanya… Saya harus keluar dan meminta maaf padanya…” katanya mendongak dan bangkit dari posisi bersujudnya tadi. Aku mengikutinya.

“Bang Aseng bisa meneruskan proyek rumah pohonnya tanpa saya… Bisa tak berdinding dan tak beratap karena di sini tak ada angin dan hujan… Menyenangkan bisa berada di ketinggian pohon yang sejuk…” ia tersenyum manis menungguku. Menungguku membawanya balik ke tubuh fisiknya.

Aku keluar dari daerah kekuasaan Menggala-ku bersamaan dengan Agnès karena aku duduk di tepian ranjang dinginnya. Aku mengunjunginya lagi malam ini. Tanganku sudah lepas dari keningnya. Matanya terbuka dan masih tersenyum.

Josue dan ibunya juga ada disini. Ia langsung memeluk ibunya dan ngobrol dalam bahasa Prancis yang tak kupaham. Josue benar-benar sudah sembuh tangan kakinya, hanya saja masih diperban.

“Terimakasih, bang Aseng… sudah memberi saya kesempatan langka itu… Kesempatan untuk menikmati liburan saya di daerah tropis kekuasaan abang… Sampaikan salam saya untuk Panglima Burung juga… Ia teman yang menyenangkan untuk berdiskusi… Terima kasih sekali lagi… Semoga orang-orang itu akan benar-benar ada di masa depan…” ungkapnya. Aku hanya mengangguk-angguk menepuk punggung tangannya yang dingin.

“Rumah bang Aseng dimana? Mungkin saya bisa berkunjung kapan-kapan…” tanyanya. Loh? Selama ini dia gak tau, ya?

Aku menunjuk ke arah belakang rumah ini. “Rumah awak di belakang rumahmu ini, Nès… Klen gak tau, ya?” aku yang lupa ngasih tau ato gimana…

****

Setelah dua malam panas bersama Karina dan masalah dengan Agnès, keknya aku butuh time-out sebentar. Adrenalinku terus berpacu beberapa hari ini. Jantungku konstan berdegub kencang karena berbagai masalah dan kejutan yang datang silih berganti kek gak abis-abis menyerangku.

Apa ini bagian dari rencana dari entitas yang selalu ada di belakang semua ini? Entitas yang aku belum tau siapa dan apa maksudnya. Benar-benar hanya mau aku membantu para ‘pasien-pasienku’ ini. Ato membuatku sedemikian sibuk ato apa?

Kalo benar-benar mau menolong para binor itu, kenapa bukan dia sendiri yang melakukannya? Kenapa harus diserahkan padaku? Apakah dia tidak sanggup? Ato malah dia sendiri perempuan juga? Ya… Semua masalahku ini selalu berhubungan dengan perempuan binor yang sulit hamil. Kalo ‘dia’ perempuan tentunya gak bisa, kan. Tambah membingungkan…

Aku sama sekali gak bisa melacak entitas itu. Ia menutupi semua jejaknya dengan sangat rapi dan teliti. Langkah demi langkah dilakukannya secara bertahap dari Aida dulu sampe sekarang ke Andini yang terakhir kali… Entah apakah Agnès termasuk di dalamnya ato tidak karena bule Prancis itu gak minta dihamilin seperti binor-binor lain.

Karina posisinya ada sebelum Andini muncul dan hanya proses penghamilannya aja yang terlambat walo sudah selesai dan dari keduanya aku tinggal menanti kabar baik saja, mudah-mudahan kebersamaan kami itu bisa membuahkan hasil, bayi yang mereka impikan.

“Ya… Halo, mbak Andini yang ayu?” jawabku sebenarnya agak malas-malasan karena sibuk kerja.

“Halo, bang Aseng jelek…”

“Apa cerita, Dinn?”

“Abang gak ada rencana ke Siantar lagi?”

“Awak kan kerja, Dinn… Mana mungkin ujug-ujug pigi ke Siantar… Bukan-nya dekat Siantar dari Mabar sini… 4 jam ke sana-loh…” tau aku apa maksudnya nelpon kek gini. Pastinya minta disayang-sayang lagi.

“Lakikmu Heri, cemana?” aku mengalihkan pembicaraan ke topik lain.

“Gak kemana-mana dia, bang… Gak ada dia maen perempuan itu lagi… Awak aja yang dimaeninnya kok tiap hari…” jawabnya vulgar.

“Baguslah itu… Itu kan maunya Andini… Moga-moga cepat isi…” doaku.

“Maennya tapi gak enak… Gak kek abang… Awak gak sempat treak-treak dia udah nembak duluan… Lemes… Hu-uh… Maen lagi-gitu lagi… Gitu aja trus… Cuma dia aja yang enak terus… Andini kan pengen kek waktu sama bang Aseng itu… Awak sampe jerit-jerit keenakan gitu, kan?” terus aja dia curhat tentang hubungannya dengan suaminya. Terus aja dibandingkannya aku dengan suaminya yang katanya kurang bisa memuaskannya.

“Dinikmatin aja, Dinn… Cari variasi… Di sawah dekat rumahmu kan ada gubugnya… coba maen di situ… Sensasinya pasti paten kali…” usulku. Waktu itu aku udah kepikiran mau ngelakuin itu tapi terkendala waktu. Sekalian aja ide itu untuk mereka berdua.

“Ihh… Mana mau dia… Awak ajak maen di restoran lesehan kek kita waktu itu, gak mau dia…” gerutunya terus di seberang sana.

“Waktu itu kan hujan deras, Dinn… Cobain aja terus… Eh dia kemana nih? Gak kerja lakikmu?” tanyaku di sela waktu makan siangku masih memelototi layar kompie yang belum kelar-kelar dari pagi.

“Ini lagi keluar dia bang… Kerjaannya kan cuma liat-liat kebun sawit… Nongkrong di warung kopi sebentar trus pulang minta jatah… Paling entar lagi dia pulang tuh… Awak dah disuruh ngangkang aja telanjang… Dah paten kali rasanya dia…” trus curhat binor itu dengan vulgar lagi kek lagi ngobrol sama teman cewek aja ngomongin urusan ranjangnya.

Pikiranku kemana-mana karena tadi hampir telat masuk kantor karena pas mau berangkat kerja, ternyata salah satu ban Pajero-ku kempes. Mungkin bocor. Karena gak mungkin nunggu sekian lama ganti ban, kusuruh Misnan yang mengerjakannya dan aku berangkat kerja naik SupraX 125 sahabat lamaku.

Dari kompleks XXX ini lebih jauh ke pabrik karena biasanya kalo pake mobil aku lewat jalan tol yang pintu masuknya ada dekat kompleks perumahan ini sehingga lebih dekat. Naik motor jadi semakin jauh. Untung aja tepat waktu dan gak terlambat.

Apa masih sempat nanti pulang dulu ganti baju dan mobil karena kelas perdana kuliah Manajemen Bisnis dimulai malam ini. Takutnya kerjaan masih banyak dan waktu mepet hingga aku harus langsung berangkat kuliah langsung dari kantor. Waduh… Merepotkan sekali jadinya.

“Cayoo, Aseng! Semangat berangkat kuliahnya… Mencari ilmu ke Barat!” olok-olok kak Sandra saat aku akan berangkat abis beres-beres dokumen kerja.

Dia mengusirku pergi karena ia sudah janji kalo sudah waktu masuk kuliah, ia akan mendahulukan kuliahku. Apalagi sebenarnya jam kerja sudah lama berakhir dan aku sering lembur mengerjakan bejibunnya kerjaan. Sering kami hanya berduaan saja di kantor ini, dan yang lainnya sudah pada pulang.

“Awak pigi kuliah ya, kak?” permisiku.

Andilnya sangat besar karena ia yang mencarikan kelas ini, ngurus pendaftarannya, melobi bos besar untuk membiayai uang kuliah dan menyediakan waktunya agar kondusif. Aku mencoba salim tangannya kek lagi pamit sama ibuku.

“Baik-baik ya, Seng… Jangan lu perli (goda) kawan-kawan kelas lu… Mamak-mamak semua isinya, tuh…” katanya menyambut tanganku dan membiarkanku mencium punggung tangannya. “Yang bapak-bapaknya boleh-laa…”

“Kimak-la, kak… Kek hombreng awak kakak buat…” berikutnya ia mempelesetkan lirik lagu rap Kera Sakti jadi Aseng Sakti mengiringi langkahku pergi mencari ilmu ke Barat. *halah.

Ha ha… huuu…..
Sun Go Kong is in the house

Seekor kera
Terpuruk terpenjara dalam gua
Di gunung tinggi sunyi tempat hukuman para dewa

Bertindak sesuka hati
Loncat kesana kesini
Hiraukan semua masalah di muka bumi ini

Dengan sehelai bulu
Dan rambut dari tubuhnya
Dia merubah menerpa menerjang segala apa yang ada
Walau halangan rintangan
Semakin panjang membentang
Tak jadi masalah dan tak kan jadi beban pikiran

Berkelana setiap hari
Demi mendapat kitab suci
Dengan dukungan dari gurunya
Temukan jati diri
Semua kan dihadapi …
Dengan gagah berani
Walau aral rintangan
Setiap saat datang tuk menguji

(Kera Sakti…)
Tak pernah berhenti
Bertindak sesuka hati

(Kera Sakti…)
Menjadi pengawal
Mencari Kitab suci

(Kera Sakti…)
Liar nakal brutal
Membuat semua orang menjadi gempar

(Kera Sakti…)
Hanya hukuman yang dapat menghentikannya

Walau halangan rintangan membentang
Tak jadi masalah dan tak jadi beban pikiran

Sepanjang jalan mengendarai motor sahabat setiaku ini aku menggumamkan lagu soundtrack serial jadul 90-an yang sangat ngehit di masanya. Hanya saja karena pengaruh kak Sandra, setiap kata Kera Sakti kuubah menjadi Aseng Sakti. Kek orang paok aku nyanyi-nyanyi sendiri sambil mengarahkan motor ini ke kampus baruku.

Gedung kampus ini terlihat sangat mentereng malam-malam begini karena pengaruh lighting-nya. Di jam regulernya banyak mahasiswa-mahasiswi yang menuntut ilmu dari pagi sampe sore. Dan saatnya mahasiswa/i senior kek kami yang mengisi tempat ini sekarang.

Tapi ada aja mereka yang seharusnya udah pulang dari tadi masih nongkrong menikmati wi-fi gratis ato sekedar ngumpul-ngumpul aja dengan teman ato malah pacaran.

Kuparkirkan motor SupraX 125-ku di parkiran motor dekat dengan gerbang masuk bareng beberapa motor yang masih tersisa. Aku memegangi kertas jadwal kelas sambil ngeliatin gedung itu. Gak tau dimana kelasnya.

Aku nanya sama siapa, ya? Saat aku bermaksud nanya sama security di posnya beberapa mobil masuk melintas di depanku silih berganti. Ini keknya calon teman-teman sekelasku nanti ato malah kakak kelas. Ato malah para dosen karena ada beberapa yang sudah cukup berumur. Tapi niat awalku tak kuurungkan, aku tetap ke pos security.

“Permisi, pak? Saya mahasiswa baru mau nanya kelas ini dimana ya, pak?” tanyaku langsung aja nyerocos karena sepertinya dua security ini masih lebih muda dariku.

Kutunjukkan nomor kelas yang kumaksud. Ternyata salah satu dari security muda itu cukup teliti melihat daftar kelasku dan menunjuk pada seorang bapak tua yang sedang berjalan menuju gedung kampus sebagai dosen kelas pertamaku yang akan berlangsung tepat jam 7 malam nanti.

Ia menuju ke lantai dua bangunan ini dan aku mengikutinya. Ketika aku melihat deretan kelas-kelas yang berjejer aku baru paham arti nomor-nomor yang tertera di jadwal yang kupegang ini sesuai dengan ada di pintu kelas. Malam ini ada dua kelas yang berakhir nanti jam setengah 10 malam.

Ternyata pak dosen itu gak langsung masuk ke kelas melainkan ngobrol dengan salah satu dosen lain yang juga akan memulai tugasnya. Aku masuk ke dalam kelas… celingak-celinguk sebentar dan ternyata sudah ada beberapa orang di dalam.

Karena udah belasan tahun lalu terakhir ada di bangku sekolahan, aku ngerasa gugup juga berada di lingkungan ini. Tapi ngeliat bahkan ada yang lebih tua dariku, aku sedikit lega berarti dia lebih lama lagi dariku. Kupilih duduk di barisan paling belakang sebelah kiri kelas, menyendiri. Teringat dulu waktu SMA posisi dudukku begini juga semeja bareng sama Kojek.

Dosen itu lumayan ramah membuka awal perkuliahan ini dan melakukan perkenalan yang lazim dilakukan di tiap kelas barunya. Ia juga meminta kami memperkenalkan diri.

“Selamat malam… Nama saya Nasrul… Saya bekerja di sebuah perusahaan manufaktur di Kawasan Industri Medan sebagai staff administrasi… Terima kasih…” kataku mengakhiri sesi perkenalan bagianku. Karena aku yang duduk paling belakang, aku yang terakhir memperkenalkan diri.

“Pak Nasrul sudah pernah kuliah sebelumnya atau?…” tanya pak dosen menahanku dari cepat-cepat duduk.

    

“Belum pernah, pak… Saya sempat kerja serabutan sehabis SMA dulu… lalu mulai kerja di perusahaan sekarang dari bawah… Pejuang karier kerennya… He hehe…” kataku berusaha ramah dengannya. Aku yakin kalo banyak di sini yang senasib denganku, kalo enggak mana mungkin baru sekarang bisa kuliah.

“Bagus-bagus… Menuntut ilmu itu tidak terbatas… Mau masih muda… mau gak muda lagi… Sama aja… Saya pikir semangat semua yang ada di kelas ini rata-rata sama… Ingin perubahan… Bukan begitu, pak Nasrul?” ia meminta persetujuan dariku.

Aku mengangguk membenarkan lalu aku duduk. Beberapa teman sekelas tadi sempat menoleh ke belakang untuk melihat jelas percakapan barusan.

“OK… Kuliah kelas kita akan saya mulai tapi…” ia menyelidik pada wajah-wajah pria yang ada di depan.

“Ah… Kamu masih muda… Bisa minta tolong bantuin saya ngambil buku diktat di ruangan sebelah… Gak banyak, kok… Kamu pasti kuat…” ajaknya pada seorang pemuda yang duduk paling depan. Sigap ia bangkit dan ikut dengan sang dosen.

“Saya juga di KIM (Kawasan Industri Medan), pak Nasrul…” seorang bapak-bapak di depanku berputar dari duduknya untuk menyapaku.

Aku lupa namanya karena aku gak menyimak semua perkenalan warga kelas yang jumlah totalnya 27 orang. Nanti pasti bakal kenal semua, kok.

“Saya di KIM 2, pak…?” aku mengangsurkan tangan untuk berkenalan aja dengannya. Dia bisa jadi teman pertamaku di kelas ini. Umurnya jauh di atasku. Rambutnya banyak ditumbuhi uban. Namanya pak Ferdi.

“Oh… Saya di KIM 1… PT. ****,” ia memberitau nama perusahaan tempat ia bekerja.

“Ya-ya… Pabrik furnitur dari Jepang itu, kan?” kenalku akan nama perusahaannya itu.

Gak lama pak dosen sudah balik lagi bersama anak muda itu membawa setumpuk buku diktat kuliah yang kemudian dibagi-bagikan pada kami yang berjudulkan ‘Pengantar Bisnis’. Resmi sekarang aku mempunyai predikat baru sebagai seorang mahasiswa walo sudah sekian ini umurku. Rezeki gak ada yang tau.

Tidak ada yang terlalu istimewa di hari pertama kuliah ini sampai ke kelas kedua berakhir. Biasa-biasa aja apalagi memang peserta kuliah juga bukan remaja-remaja yang baru tamat SMA sederajat, semuanya bahkan sedang bekerja dan berusaha untuk meningkatkan pengetahuan dengan mengecap bangku kuliah.

Ada juga yang menjadi persyaratan untuk kenaikan pangkat di instansinya ato ketentuan dari perusahaannya. Semua berlangsung dan berjalan tenang jauh dari kata heboh.

“Naik kereta (motor), pak?” tanya pak Ferdi ketika kami beramai-ramai menuju parkir kendaraan. Aku menuju deretan motor yang diparkir di dekat pagar. Ia sendiri harus berputar ke kanan untuk mengambil mobilnya.

“Iya, pak… Naik ini, pak…” tunjukku pada SupraX 125-ku yang setia menantiku walo hanya tinggal 3 motor yang tersisa di sana.

“Oo… Mau langsung pulang, pak?” tanya beliau. Aku mendekatinya.

“Mau makan-makan dulu, gak?” tawarnya.

“Itung-itung salam perkenalan dari saya, deh… Gak usah jauh-jauh… Di depan situ ada kafe bagus…” katanya.

“Boleh-lah… Refreshing dikit kita ya, pak?” kataku setuju.

“Yaa… Berangkat kita sekarang, ya?” ia lalu berlalu menuju mobilnya.

Ia menyapa beberapa teman sekelas yang juga menuju kenderaan mereka. Kutunggu sampai mobil pak Ferdi benar-benar bergerak dan aku bermaksud membuntutinya. Beberapa mobil lain juga ikut keluar dari gedung kampus ini dan aku balas mengklakson beberapa dari mereka.

Mobil pak Ferdi tidak terlalu cepat melaju karena sepertinya ia memberiku jarak untuk mengikutinya dan tak lama ia berbelok tak jauh kemudian ke sebuah kafe yang dimaksudkannya tadi. Aku parkir di bagian belakang kafe karena untuk motor tempatnya agak dibedakan dengan mobil. Di depan, pak Ferdi sudah menungguku dan kami sama-sama masuk.

Di meja kafe aku melihat beberapa orang lain yang kukenali sebagai teman sekelasku. Ternyata bukan hanya aku yang diajaknya traktiran makan malam ini. Ada satu pria lagi dan tiga orang perempuan. Jadi ada total 6 orang yang kumpul-kumpul abis kuliah di tempat ini.

“Hei… Udah kenal sama bapak satu ini, kan?” kata pak Ferdi pada mereka yang sedang ngobrol seru sambil memegangi buku menu. Sepertinya mereka sudah saling mengenal sebelumnya.

“Udah, pak… Namanya pak Nasrul…” jawab salah satu perempuan yang kalo ditilik wajahnya paling muda di antara teman-temannya yang lain.

“Keknya bapak bukan Cina, ya?” tebak yang lelaki yang kalo seingatku namanya Julio. Ia blak-blakan aja ngomong. Di kelas tadi dia juga sedikit vokal kalo ia ingin menanyakan sesuatu.

“Hush… Ho siaw er…” (Jangan becanda) kata mahluk paling cantik disitu, Cherni. Ia melirikku malu-malu. Dua orang itu sepertinya keturunan Tionghoa.

“Memang bukan Cina, pak… Awak orang Padang… Tapi panggilan awak memang Aseng…” terangku sekaligus memperkenalkan nama panggilanku yang terkenal sejagat raya dari ujung Mabar sampe ujung Simpang Limun.

Aku mengambil tempat duduk di samping pak Ferdi dan tepat di depan Cherni. Mereka tertawa-tawa kompak tentang nama panggilanku itu. Gak kuanggap bermaksud mengejek sih rasanya.

“Pak Aseng ini kerja di KIM 2… Jabatannya apa, pak?” tanya pak Ferdi juga sedang memegang buku menu makanan.

“Wakil menejer awak, pak…” jawabku berusaha jujur karena kalo berteman dengan mereka-mereka ini keknya harus sedikit menyamakan strata pangkat. Karena pasti ujung-ujungnya mereka akan membangga-banggakan posisi mereka saat ini.

“Sama kayak lu, Julio…” kata Cherni dan mereka tertawa-tawa.

“Tau gak pak Aseng… kami semua ini di pabrik yang sama… Sama-sama dikasih tugas kuliah lagi dari perusahaan supaya bisa lebih meng-handle manajemen kedepannya… Si Julio itu sebenarnya udah sarjana tapi bukan manejemen tapi Teknik Industri… Nah si Cherni ini malah sarjana Sastra Inggris… Si Neneng… sarjana Akuntansi… Si ito-ito satu ini sarjana Pertanian… Saya dulu sarjana Hukum… Gak ada satupun yang nyambung kalo masalah manajemen… Makanya kami sama-sama kuliah kek gini…” jelas pak Ferdi. Mereka semua mesem-mesem karena itu kenyataannya.

“Kalo udah lulus baru jadi menejer ya, pak?” tebakku bercanda aja. Semuanya lalu menunjuk pada Julio yang jadinya ngakak keras.

“Wakakakak… Lima taun lagi wa baru bisa jadi menejer… Kimak kali Jepang-Jepang itu…” makinya lalu tiba-tiba tutup mulut celingukan sekitar mana tau ada Jepang beneran di sekitar kami. Lalu tertawa karena sadar gak ada yang dikhawatirkannya.

“Bang Aseng juga sama… abis lulus baru dinaikkan jadi manager?” tanya Neneng. Sepertinya ini juga cuma nama panggilannya.

“Mana mungkin awak jadi menejer, buk… Awak cuma tamatan SMA…” kataku merendah. Padahal…

“Abis tamat ini kan predikatnya sarjana, bang…” ingatnya. “Gak usah merendah gitu kali-lah… Kan udah wakil…” katanya.

Aku cuma cengengesan aja dan meneguk air putih hangat yang sudah dihidangkan dahulu oleh pelayan kafe. Dan berbagai obrolan kami bicarakan selama makan malam itu. Sepertinya mereka berlima sering kumpul-kumpul nongkrong seperti ini di waktu luang padahal sepertinya semuanya sudah berkeluarga.

Menghabiskan malam bersama-sama mereka memang mengasyikkan karena obrolannya gak melulu masalah pekerjaan. Ada aja yang dijadikan alat pembicaraan dan motornya tentu aja si Julio yang berisik dan konyol juga. Obrolan dewasa juga gak sungkan diladeni ketiga perempuan itu karena sudah sedemikian akrabnya mereka ini. Aku cukup larut dalam pertemanan mereka.

Satu per satu mereka membubarkan diri setelah mengucapkan terima kasih pada pak Ferdi karena dia yang mentraktir malam ini. Aku menunggu bentar karena beliau sedang asik menjawab pesan di HP-nya. Istriku tidak berharap aku pulang cepat karena ia sudah maklum dengan kegiatanku. Pulang kuliah mungkin akan singgah ke SPBU, pesanku tadi pagi sebelum berangkat.

“Pak Aseng… liat, nih…” pak Ferdi tiba-tiba mengulurkan layar HP-nya padaku. Disentuhnya gambar dari pesan BBM itu untuk memainkan videonya lebih jelas. Ada sebuah video pendek yang sedang diputar. Gambarnya kurang jelas karena agak gelap dengan sedikit noise di background-nya.

“Apa ini, pak? Gak jelas gitu…” dari gerakan di video itu sepertinya seorang perempuan. Apa maksudnya?

“Binikku… cuma pake kemeja aja dia…”

Astajim… Ngapain ditunjukkan ke aku biniknya?

“Katanya nungguin saya pulangnya kelamaan…” katanya lagi dengan mata berbinar-binar. “Gak bisa bobok makanya dia make baju saya…”

Sakit orang ini kurasa. Segala biniknya yang lagi kek gitu ditunjuk-tunjukkannya padaku. Perempuan itu memakai penutup mata bergambar mata besar anime Jepang. Walo gelap aku bisa menerka bagian bawah tubuhnya yang sesekali tersingkap, ada rambut-rambut lebat di pucuk-pucuk gelap siluet bentuk segitiga yang aku tau persis apa itu.

Juga ada dada tak berbungkus bra di balik kemeja kedodoran itu, menyembul menggunung. Aku gak mau melihat video yang dipamerkan pak Ferdi lagi karena aku jadi gak enak hati dan untungnya itu hanya video pendek.

“Ke rumahku, yuk? Kita kejutkan dia…” katanya antusias. Untung hanya tinggal kami berdua di sini karena mereka semua sudah pulang tak lama lalu.

“Pak?” jelas aku keberatan masuk dalam kegilaannya. “Enggak-la, pak…”

“Gak pa-pa-loh, pak Aseng… Bapak sudah punya anak belom?” tanyanya santai aja kek ini bukan masalah berat.

“Udah, pak… Dua…” jawabku.

“Nah itu artinya bapak sehat… Bapak juga sepertinya orang baik-baik… Pasti bersih-lah untuk binikku…” katanya menepuk bahuku dengan akrab.

DEFAK! Aku masuk ke dalam apa lagi nih? Masuk ke dalam kegilaan pasutri yang sangat asing. Aku diajak ikut memberi surprise pada istrinya yang sedang menunggunya di kamar dengan pakaian minim begitu.

Kimak! Ia mengasumsikan kalo diriku bersih dan baik? Gak tau dia kalo aku ini sebenarnya bejat. Tapi sebejat-bejatnya diriku, gak kek gini pulak mainanku.

“… Well sebenarnya dia ini bukan istri sahku, pak Aseng… Panjang sekali ceritanya… Dia ini sebenarnya orang Jepang yang sama-sama bekerja dengan kami di perusahaan itu… Singkat ceritanya saya selingkuh dengannya dan dia mau-mau aja nikah siri denganku…” pak Ferdi malah curhat tentang kehidupan rumah tangganya.

Istri sahnya masih ada dan tinggal di Medan ini juga. Ia menyembunyikan istri sirinya dari keluarganya selama ini. Hanya lingkar teman-teman akrabnya yang tau affair ini, keempat orang tadi. Fantasi seks pak Ferdi jadi agak menyimpang setelah menikahi perempuan Jepang ini dan cukup lama ia melobi istri keduanya ini untuk mengakomodir fantasinya untuk memasukkan lelaki lain di atas ranjang mereka. Dan pak Ferdi mengaku tiba-tiba sreg dan cocok denganku.

“Pernah saya terfikir dengan Julio… tapi dia terlalu liar… Dia juga sering make perempuan di luar sana…” tuntas kisah curhat pak Ferdi untuk membujukku mau ikut di dalam kegilaannya. “Gimana, pak? Mau, ya?”

“Bapak segitunya percaya sama awak?” tanyaku. Ia mengangguk yakin. “Kita baru ketemu malam ini-loh, pak… Kok segitunya bapak yakin?” tanyaku.

“Penilaian saya jarang meleset, pak Aseng… Pokoknya saya percaya sekali dengan intuisi saya ini… Mau, ya?” desaknya.

“Awak gak biasa pake kondom…” tembakku langsung. Moga-moga dia keberatan dengan preferensiku dalam bercinta.

“Fine… Itu fine aja… Mayu (Mayumi, biniknya) juga tidak suka kondom… Pokoknya pak Aseng mau aja…” rayunya mendesak terus.

Kimak! Aku terjebak ini namanya. Kirain ia bakalan keberatan aku gak mau pake kondom. “Mayu ini… pokoknya…. ‘gini’ kali, pak Aseng!” ia mengacungkan dua jempolnya pas di kata ‘gini’, menekankan mantapnya perempuan Jepang itu.

“Paaak… Jangan gini-la, pak?” aku habis cara untuk menolaknya.

Ada cara lain sebenarnya. Marah-marah. Tapi itu gak bagus bagi relasi pertemanan. Apalagi ini ada unsur binor-binornya gitu. Apa ada pengaruh pembisik misterius itu di kesempatan kali ini juga? Tapi tidak ada poin tentang kehamilan yang disampaikan pak Ferdi dari tadi.

Ini hanya kegilaan sesaat kedua insan ini. Mabuk asmara yang berujung pada pernikahan ilegal yang cenderung kumpul kebo karena tak diikat resmi legalitas formal. Mayumi tinggal di satu rumah yang kerap dikunjungi pak Ferdi di sela-sela pernikahan resminya.

“Gak pa-pa-loh, pak Aseng… Aman… Kami berdua gak akan ember, deh…” katanya mendesak terus meyakinkanku.

Ia bahkan menunjukkan foto-foto Mayumi dalam berbagai kesempatan dari koleksi miliknya di dalam HP. Makjang! Ini bentuk asli binor asal Jepang itu? Menggiurkan sekali.

Pak Ferdi hampir berhasil membujukku tapi aku harus tau lebih pasti lagi.

“Jujur sama saya, pak? Kenapa bapak tega melakukan ini pada binik bapak sendiri? Walopun dia cuma istri siri… dia tetap istri bapak… Bapak gak sayang sama dia?” tanyaku. Ia tersenyum. Ia pasti menungguku menanyakan soal ini. Ia memperbaiki posisi duduknya.

“Untung pak Aseng menanyakan ini… Supaya bapak tau motif saya… Saya sudah sejak dulu ingin melakukan ini… Istri pertama saya itu orang biasa-biasa aja… Ibu rumah tangga biasa yang gak neko-neko dan yang lebih penting lagi kurang menarik… Fanatik juga dengan agama… Kalo saya menawarkan ini pada lelaki lain gak bakalan ada yang selera tentunya… Untung saya bisa mendapatkan Mayu… Ini pertama kalinya buat saya… Saya sangat excited saat ini… Jantung saya berdebar kencang… Apa mungkin pak Aseng tau rasanya?” jelasnya dengan menggebu-gebu.

“Tidak ada… semacam mimpi? Ato ada yang membisiki pak Ferdi ato semacamnya? Yang mempengaruhi bapak untuk memilih saya dibandingkan segitu banyaknya laki-laik lain di luar sana?” tanyaku kalo-kalo ini yang terjadi padanya.

Si Suhendra paok kemaren itu mimpi berbarengan dengan istrinya tentang keberadaanku. Kasusnya hampir mirip-mirip dengan yang kali ini.

“Mimpi? Gak ada, pak… Ini murni fantasy saya… Saya hanya merasa cocok dengan bapak…” jawabnya tak berkurang antusiasnya. Lebih baik aku menguji kesabarannya.

Seserius apa ia memilihku? “Saya sudah katakan tadi, kan kalo saya punya intuisi yang bagus sekali dalam menilai orang yang baru saya kenal…”

“Apa karena bapak nilai saya ini gak punya banyak duit, ya?” cobaku. Aku harap pertanyaan ini masih dalam taraf tegas walo sudah menghakimi. Ia kaget aku mengatakan hal itu. “Maaf… Bukan maksud saya menuduh…”

“Enggak, pak… Tidak ada sama sekali… Walo bapak wakil menejer dan ke kampus cuma naik kereta (motor)… Bukan itu yang jadi penilaian saya… Saya menilainya dari air muka bapak… Pembawaan bapak… Cara bapak berbicara…” paparnya akan caranya menilai karakter orang yang ditaksirnya.

“Rumah awak di kompleks XXX… Galon yang di jalan **** itu milik awak, pak… Kereta SupraX 125 itu awak pake karena tadi pagi buru-buru takut terlambat… Benar awak cuma wakil manager Factory Manager tapi beberapa bulan lagi jabatan itu akan jatuh ke awak… Tidak terlalu saya besar-besarkan sih… Tapi penilaian bapak banyak yang salah-loh, pak Ferdi…” kataku malah membuka beberapa rahasiaku karena aku merasa disepelekan.

Sebenarnya aku sudah bertekad untuk tidak memberitau hal ini pada orang yang tak terlalu akrab padaku, tapi aku merasa pada pria ini aku harus membukanya.

Matanya terbelalak.

“Yang di jalan **** itu punya bapak?… Jadi bos baru yang dimaksud Hendra itu pak Aseng?” ia malah tambah antusias.

“Kenal dengan Hendra?” tanyaku mendengar nama itu disebut. Apakah yang dimaksudnya Suhendra?

“Dia itu adik sepupuku, pak Aseng… Jadi maksudnya orang Padang yang panggilannya Aseng-Aseng itu bapak…” Dunia ini terlalu sempit ternyata.

Pak Ferdi ini rupanya ada hubungan kerabat dengan si Hendra paok itu. Penyakit menular nih keknya di keluarganya. Aku gak bisa membayangkan kalo ia menawarkan padaku istri sahnya yang katanya sangat agamis dan biasa-biasa aja.

Aku membayang emak-emak pengajian yang suka bergosip tentang makanan yang kurang ini-itu di satu giliran rumah. Untung aja ia menawariku barang bagus sekelas Mayumi yang asik punya.

“Apa yang diceritakan Hendra tentang awak?” aku jadi kepo apa saja yang dibualkannya diluar sana tentangku.

Jangan sampe ia membocorkan perjanjian kami, perjanjian aku, Suhendra dan Miranda-istrinya. Aku sendiri yang akan menghajarnya kalo ada indikasi ke sana.

“Cuma kalo ada bos baru aja yang mengambil alih galon tempat ia bekerja… Hanya saja ia sedang bahagia aja istrinya akhirnya hamil… Tetapi sepertinya ia sangat menghormati dan mengagumi pak Aseng sebagai pimpinan barunya…” jawab pak Ferdi. Untung masih dalam taraf normal dan tak ada yang menyerempet-menyerempet skandal kami bertiga.

“Hmm?… OK… Jadi begitu… Kalo bapak menilainya awak ini lebih inferior dari bapak karena keliatan miskin… bapak salah…” simpulku.

“Sama sekali tidak, pak Aseng… Sama sekali tidak… Bapak ingat tidak… saya yang pertama kali menyapa bapak di kelas, kan? Itu karena saya dari awal sudah merasa cocok dengan bapak…” katanya lagi untuk meyakinkanku.

“Untuk apa pak Ferdi melakukan ini semua?… Kalo mau memacu adrenalin bapak bisa nyoba olah raga ekstrim… Ato ngintip kamar mandi pembantu bapak yang paling mudah… Itu jantung bapak saya jamin dag-dig-dug seer…” ia tertawa tanpa suara.

“Bukan lewat rasa cemburu… Kalo bapak gak kuat bapak sendiri yang rusak… Bisa-bisa nanti malah menantang awak berkelahi dan awak pastikan pak Ferdi yang akan babak belur karena saya ahli bela diri…” tiba-tiba kuletakkan mandau Panglima Burung di atas meja kafe yang sudah sepi ini. Matanya terbelalak kaget. Lalu kuambil lagi, jauh dari pandangannya dan kusimpan.

“Jadi tidak usah main-main dengan saya… Urusan saya sangat banyak…” sampai di sini muka pria itu menjadi sangat ketat berkat ancaman yang kuberikan tegas padanya.

“Bagaimana dengan fantasy saya ini, pak? Saya sudah lama menunggunya…” ia seperti putus asa.

“Bahkan perempuan secantik itu-pun membuat pak Aseng ragu…” ia lemas dan tertunduk tak punya harapan.

“Awak gak bilang gak tertarik…” ia buru-buru mengangkat muka.

“Benar saya ragu…” kataku.

“Motif pak Ferdi gak jelas bagi awak… Awak cuma gak abis pikir gimana bapak bisa memberikan istri secantik itu pada laki-laki lain… Kalo awak… bagus mati aja!”

“Awalnya cuma iseng saat tau Mayu pernah video call dengan mantan pacarnya di Jepang sana… Saya tanya-tanya apa saja yang pernah ia lakukan dengannya dulu… Tentunya tidur bareng… Saya desak lagi ada dokumentasi tidak… Ternyata ada… Meliat rekaman video Mayu sedang bercinta dengan mantan pacarnya membuat saya sangat terangsang, pak… Kami bercinta sampe berkali-kali saat itu… Hayalan saya berkembang bagaimana kalo saya menyaksikan percintaan Mayu secara langsung… Pasti akan sangat luar biasa rasanya… Rasa cemburu dan senang memilikinya campur aduk menjadi satu… Apalagi orangnya seperti pak Aseng begini… Bapak ternyata sangat jauh dari jangkauan saya… Bapak bisa saja merebutnya dari tangan saya… Fantasy saya jadi sangat melambung tinggi jadinya… Ahh… Jantung saya berdebar kencang…”

“Awak gak akan merebut istrimu, pak Ferdi…”

“Huh?”

***

“Mayu-chan… Abang pulang…” cumbu pak Ferdi pada bibir perempuan Jepang yang tidur dengan lelapnya masih dengan pakaian seperti di video yang dikirimnya terakhir, kemeja lengan panjang putih kedodoran baginya bergaris-garis tipis pudar tanpa apapun lagi disebaliknya.

“Myuu…” geliatnya sedikit terganggu dengan cumbuan pria yang telah menikahinya secara siri itu. Ia bermaksud hendak melepas penutup mata itu untuk menyambut suaminya yang telah pulang tapi dicegah.

“Ferdi-kun… Ore wa…”

“Ush… ush… Jangan dibuka, Mayu-chan…” bisiknya terus menciumi sekitar mulut perempuan itu.

Tangannya gerayangan meremas perlahan payudaranya yang menyembul menonjol besar bak dua gunung Fuji kembar. Gambar mata besar khas anime Jepang membuat perempuan itu begitu unik dan menggemaskan.

“Ferdi-kun… uhnn… Rama sekari purang-ne… Sudah seresai kuriah-ka?” balasnya saling mengecup di ruangan gelap ini.

Aku harus membiasakan mataku di kondisi kekurangan cahaya ini. Cahaya yang pendar kebiruan adalah samar cahaya malam yang menyesap masuk dari jendela besar yang dibiarkan terbuka tanpa tertutup apapun.

Bulan ada di sisi lain arah kaca ini jadi bantuan sinarnya tak dapat menerangi keindahan yang tersembunyi di dalam kamar ini. Aku hanya bisa mengandalkan memoriku akan bayangan bentuk Mayumi yang telah ditunjukkan pak Ferdi di kafe tadi. “Jam burapa ini?”

“Jam sebelas, Mayu-chan… Uhmm… Enak?” godanya dengan memilin puting payudaranya setelah membuka beberapa kancing atas baju kemeja miliknya itu.

“Ahhnn,,, Motto…” desahnya menjilat bibirnya yang kering padahal baru saja dicumbu.

Kakinya otomatis mengangkang dan sialnya pemandangan indah itu terbentang luas di depan mataku walo gelap. Tetapi mataku sudah lumayan terbiasa. Pak Ferdi melirikku yang bisa melihat keindahan tersembunyi istri sirinya.

“Ferdi-ku? Unn…” pria itu bahkan menyentuh kemaluan Mayumi, mengelus-elusnya lembut lalu melebarkan bibir tebal bergelambirnya terbuka.

Merekah dini kembang Nippon itu menjelang tengah malam ini. Jari pria itu dengan lancar mengulik kacang itil istri sirinya dengan jari tengah sementara jari telunjuk dan jari manis melebarkan dua sisi bibir kemaluan. Tak ayal lagi perlakuan itu membuat perempuan cantik itu menggelinjang.

“Kyaaa… Ferdi-kun… Kimochi…”

Dua titik sensitif perempuan bernama Mayumi itu diserang sekaligus. Pak Ferdi menjilati satu puting payudara menyembul besar itu dan satunya adalah jarinya menggosok-gosok kemaluannya. Mayumi menggelinjang kegelian dan menarik-narik bed cover ranjangnya. T

angannya sibuk meremas apapun yang dapat diraihnya pada bagian atas kepalanya dengan submisif. Erangan-erangan seksinya memenuhi akustik kamar ini. Menjadi semacam serenade merdu dengan suara erangan yang biasa kudengar di tiap bokep Jepang. Mengapa mereka selalu bersuara seperti itu?

Bagai kerbau yang dicocok hidung, aku menurut patuh ketika pak Ferdi memintaku mendekat ke arah kaki Mayumi yang menggeliat-geliat terbuka lebar. Ia bangkit dan turun dari ranjang ini dan kugantikan. Aku merayap mendekat ke arah vaginanya yang mengundang-memanggilku, menggodaku untuk mencicipinya.

“Umm… Dame…” erangnya ketika sapuan lidahku menyusur permukaan basah gerinjal gelambir kemaluannya beserta apapun yang menjadi harta karun di dalamnya.

Mulutku segera menjadi terpukau oleh rasa gurih umami yang menggelitik bagian tengah lidahku dan menyapa hidungku, merasuk. Memikat otakku seperti candu yang sangat kuat. Ini rasa vagina yang sangat lezat.

Mayumi menggerak-gerakkan perutnya menggerus-gerus mulutku agar lebih menjilat kemaluannya, lagi dan lagi. Erangannya sangat seksi memenuhi ruangan redup ini. Aku tak memperdulikan lagi keberadaan pak Ferdi lagi dan kujangkaukan tangan ke atas, menjamah dua buah gunung Fuji kembar. Lembut dan kenyal. Segera konsentrasi terpecah dua, menikmati kerang umami dan dua Fuji kembar.

“Ooh… Ferdi-kun… Motto… Motto… Kimochi! Akh…” berkejat tubuhnya beberapa kali dengan geliat indah bak gelombang air laut yang menerpa pantai.

Mulutku diserbu rasa gurih berkali-kali dari gelimang kenikmatan yang sangat indah. Kuremas Fuji kembar itu bak memeras anggur untuk semakin mereguk kenikmatan darinya hingga ampas.

Perempuan cantik itu terbujur lemas dengan pakaian berantakan dan dada bergerak naik turun mencari asupan nutrisi oksigen. (“Masukkan…”) bisik pak Ferdi sekilas.

“Ferdi-kun…” sambutnya ketika dirasanya aku mendekati belahan kakinya yang terbentang.

“Kyaa!” erangnya memalingkan muka takkala Aseng junior masuk membelah kerang umami-nya.

Meluncur masuk dengan indah dan lancar. Bergelombang rasa nikmat kemudian menderaku tubuhku bersumber dari rasa geli menggelitik di sekujur batang dan kepala Aseng junior yang keluar masuk dengan teratur kupompa memasuki liang kawin perempuan cantik berkewarganegaraan Jepang ini.

“Dame-dame… Kyaaa…” erangnya.

Kenapa mereka harus selalu bersuara seperti itu? Stereotype bokep Jepang yang kini menjadi sangat indah memanjakan bagi seluruh panca indraku, bekerja optimal. Indra perasaku yang kini sangat dominan mengirimkan sinyal-sinyal merangsang otakku untuk mengucurkan Dophamin, sang stimulus nikmat membanjiri tubuhku.

Rasa nikmat yang sangat kurang ajar sadis menyiksaku ini membuatku kosong saat melihat pria itu, di kegelapan malam dan kamar, naik lagi ke atas ranjang, membuat guncangan yang tak berarti. Apa maunya? Ia memasukkan jarinya ke mulut Mayumi yang tanpa banyak ragu disedotnya dengan liar. Dikulum-kulumnya jari pria itu bak sebuah penis lain yang sedang dinikmatinya. Bahkan dijilati dengan gaya fellatio yang mumpuni.

“Ferdi-kun… Kimochi-nee…” erang perempuan itu menapaki ekstase tertinggi kala jari yang lebih besar memasuki mulutnya.

Yaa… Lelaki itu menyodorkan penisnya ke mulut Mayumi! Dan tetap dinikmatinya dengan sepongan dan jilatan tanpa ada ragu sedikitpun. Membuatku semakin gila blingsatan menikmati persetubuhan aneh yang membuatku terjebak di dalam indah misteriusnya.

“Ikkeh… Umm… Umm…??” tiba-tiba pria yang sudah banyak beruban itu melepas blindfold penutup mata Mayumi masih dengan penisnya bercokol di dalam mulut dan kemaluannya juga dijejali penis lain-oleh pria lainnya.

“Surprise, Mayu-chan…” lirih pak Ferdi.

Aku dengan bodohnya terus melesakkan, memompakan Aseng junior ke kerang Nippon-nya tak mau kehilangan momen kenikmatan sedikitpun. Tentu kaget ekspresi perempuan itu mendapati ada sosok tambahan asing yang sedang menggagahi dirinya.

Sosok asing yang sedang menusuk-nusukkan kemaluan jantannya ke dalam liang kawinnya. Ia beralih menatap pak Ferdi yang ada disampingnya masih dengan mata sayu. Penis suaminya masih disedotnya walo tak seintens tadi.

“Ummm…” ia memejamkan mata seperti tak terganggu.

Melihat reaksinya itu memberi lampu ijo buatku tancap gas. Makin kupercepat sodokanku karena sensasi kenikmatan ini tak terperi lagi dan tak tertahankan. Dua penis sedang memasuki dua lubangnya.

“Akh!” kubenamkan sedalam-dalamnya.

Aku gak perlu permisi membuang muatan di dalam binor ini. Aku sudah kasih tau pemiliknya aku tidak suka pake kondom. Dan itu artinya aku suka ejakulasi di dalam liang kawin perempuan. Semprotan-semprotan deras dari Aseng junior ternyata memberi efek balik yang sama dari Mayumi. Tubuhnya juga berkejat-kejat menyambutku dengan orgasme juga, memeras semua sisa sperma yang mungkin ada di batang kemaluanku.

Mayu-chan memegangi batang penis pak Ferdi saat ia mengambil nafas menikmati puncak kenikmatannya disemprot cairan kental hangat dariku. Pria itu menarik miliknya dan aku juga. Mengucur deras spermaku dari dalam liang kawinnya yang segera ditahan oleh pak Ferdi dengan kepala penisnya.

Ia tak ragu sedikitpun merasakan hangat sisaku dan masuk juga. Mayumi mengerang mendongak kala penis lain memasuki dirinya. Aku menepi dan mencari celanaku saat aku selesai mengenakannya kembali, pak Ferdi sudah selesai juga. Suara gerutu keenakannya menggema di sekitarku dan aku segera keluar kamar itu.

***

“Panggil saya Aseng…” saat kujabat tangannya.

“Mayumi…” balasnya. Kami bertiga ada di dapur.

“Pak Aseng-san ano… teman kuriah Ferdi-kun?” tanya perempuan itu.

Ia sudah berganti memakai kimono tidur panjang yang menutupi seluruh tubuhnya. Kedua pasutri ini minum bir botol sedang aku bir kaleng yang baru kuteguk sedikit. Aku mengangguk, meneguk sedikit lagi bir kaleng itu–menyebarkan rasa pahitnya ke rongga mulutku lalu menelannya.

“Mayu-chan tidak apa-apa?” tanya pak Ferdi dengan suara pelan. Kami belum tau pasti apa reaksi resminya karena perempuan itu belum menyatakan apa-apa dari tadi.

“A… Daijobu…” jawabnya mengayunkan tangannya pertanda ia tidak apa-apa.

“Tidak apa-apa… Saya tidak apa-apa… Ferdi-kun suka… saya juga suka…” lalu ia mengangguk-angguk.

Pak Ferdi menyelidiki ekspresi yang tampak di wajah Mayumi. Tentunya ia lebih paham apa maksud semua ini. Rasanya sangat akward saat ini. Setelah tadi gelap-gelapan di kamar itu dan memacu syahwat, sekarang kami berkumpul di sini di tempat terang dan beramah tamah. Setidaknya aku merasakan momen-momen kikuk saat ini berada di antara pasutri ini.

“Maafkan saya, Mayu-chan… Saya tidak bilang-bilang dulu kalau saya sudah mendapatkan partner yang tepat untuk kita… Ini sesuai diskusi kita waktu itu… Mayu-chan sudah setuju, kan?” kata pak Ferdi. Ini pasti tentang masalah fantasy-nya itu.

“Pak Aseng-san parotuneru yang Ferdi-kun pirih?” tanya Mayumi hanya pada suami sirinya itu. Pak Ferdi mengangguk membenarkan.

“Boreh saya bicara berdua saja dengan pak Aseng-san?” pintanya.

Eh… Aneh juga dengerin orang Jepang ngomong masih medhok dengan logatnya yang pantang dengan huruf L itu. Aku baru nyadar karena sepertinya gak ada aksara L di bahasa mereka jadi huruf itu diganti R semua oleh Mayumi.

“Boleh… Pak Aseng… Saya ke sana dulu, ya? Santai aja…” katanya menepuk bahuku akrab dan menuju entah kemana membawa botol bir miliknya. Kini hanya ada kami berdua di dapur ini. Duduk berdua saja di stool tinggi yang lazim digunakan di bar.

“Boreh minta kontaku pak Aseng-san?” ujarnya mengeluarkan HP miliknya. Kukeluarkan milikku dan membiarkan ia men-scan barcode BB-ku hingga kami berdua terhubung.

“Pirihan Ferdi-kun saya suka… Pak Aseng-san seperetinya raki-raki yang baik, ya?” katanya lalu meneguk bir botolannya sedikit untuk menghangatkan suasana dan melancarkan obrolan.

“Makasih, Mayu-chan… Arigato-arigato…” jawabku sok pake ngartiin ke Jepang segala nunduk-nunduk. Ia tersenyum dengan mulut ditutup tangan.

“Pak Aseng-san… maaf… sudah punya anaku?” tanyanya lagi. Ini masih kuanggap pertanyaan normal mirip seperti pertanyaan pak Ferdi sebelumnya. Pria berkeluarga pasti akan berusaha menjaga kebersihan dirinya. Common sense.

“Anak saya dua…” kataku mengacungkan dua jari V dengan agak jenaka agar ia tidak merasa depresi telah disetubuhi orang asing sepertiku. Yang telah memanfaatkan tubuhnya untuk kesenangan. Seharusnya kami sama-sama menikmatinya tadi.

“Yang pertama laki-laki yang kedua perempuan…” kataku malah kek mengeja. Ia tersenyum lebar berkali-kali karena tingkahku.

“Ferdi-kun tidak bisa memberi saya anaku… karuna dia sudah di… vasektomi?” cetus Mayumi mengejutkan.

Vasektomi? Pria itu sudah divasektomi dan menikahi perempuan Jepang ini? Bukannya itu berarti dia cuma hanya ingin mencari tempat penyaluran syahwat aja dengan Mayumi yang segini seksi. Perempuan ini masih perempuan normal yang tentu saja mau…. Tunggu-tunggu. Weit e minit… Sepertinya aku tau ini akan mengarah kemana…

“Kami sudah menikah siri satu tahun rebih dan ia birang karo dia divasektomi…” pelan-pelan ia berbicara hati-hati agar tidak salah artian.

“Ferdi-kun tawarkan parotuneru daram seks kami… ee… ano… supaya saya bisa hamiru…” nah itu sudah diungkapkannya.

“Saya tidak apa-apa tidak hamiru karuna saya sadar… kami tidaku akan bersama serama-ramanya… Ini hanya simbiosis mutuarisme…” ia selalu menatap lantai saat berbicara. Mungkin kurang merasa nyaman bicara dengan orang baru tetapi tetap harus menyampaikan ini semua.

“Kami sama-sama membutuhkan… Ferdi-kun dengan fantasinya dan saya pereru parotuneru tidur…”

Glek! Hanya butuh teman tidur. Hubungan manusia modern jaman sekarang sudah segitu anehnya. Hanya karena satu butuh tempat penyaluran fantasi gilanya dan satu butuh teman tidur bisa terhubung menjalin simbiosis yang saling menguntungkan. Sama-sama enak.

Pak Ferdi dapat enak bisa meniduri perempuan asing secantik dan sebohay Mayumi sesukanya tanpa tanggung jawab di masa depan kelak. Mayumi juga dapat enak bisa tersalurkan birahinya juga selama berada di Indonesia ini dari partner tidurnya tanpa akan mendapat beban bakalan hamil tanpa KB.

Tunggu… Tunggu… Aku sudah ngecrot sekali di Mayumi dan disambung oleh pak Ferdi. Punya pria itu tentu saja pelurunya kosong. Mayumi tentunya tak perlu memakai kontrasepsi apapun dan besar kemungkinan akan hamil bila ia dia dalam masa ovulasi. Apakah ini masa suburnya? Dari rasa dan kualitas lendir yang tadi dihasilkan perempuan Nippon ini, aku berani sesumbar kalo ia subur.

“Mayu-chan? Apakah Mayu-chan sedang subur?” tanyaku memastikan saja.

“Haik…” jawabnya tegas.

“Saya sangat dan terlalu subur… Ada kemungkinan setelah ini Mayumi bakalan hamil…” kataku. Matanya yang cenderung sipit membelalak.

Aku lalu menceritakan kondisi kesuburanku padanya. Bagaimana cepatnya aku dan istriku dapat momongan di tengah-tengah keluarga kecil kami. Tentu tidak akan kubocorkan affairku dengan binor-binor lainnya karena akan melanggar perjanjianku dengan mereka. Tapi rata-rata orang akan kagum atas prestasiku dan istri.

Apalagi kalo kuceritakan tentang 11 binor itu… Bisa pada melotot.

Contohnya ya si Mayumi-Mayumi ini. “So ka?” itu yang terus diulang-ulangnya yang kalo diartikan ke Indonesia kira-kira “Sumpe lo?” Ia sepertinya takjub akan mudahnya aku dan istri mendapat keturunan lalu mengusap-usap perutnya yang sudah sekali kuencrotin. “Apakah Mayu akan hamiru juga?”

***

“Ahhnn… Kuuhh… Uhh…” erang Mayumi yang membelakangiku tetap duduk di stool tinggi ini.

Bagian belahan kimononya tersingkap hingga bagian belakang tubuhnya terbuka sepenuhnya tanpa memakai pakaian dalam. Kutusuk kerang Nippon-nya yang sangat sempit di posisi ini. Ia menunggingkan bokongnya memberiku ruang untuk memasuki dirinya melewati bongkah pantatnya yang aduhai besar. Ia mengerang-ngerang dengan seksi dalam dialek Jepangnya lagi. Berasa lagi nonton bokep Jepang kurasa. Ini seperti mimpi yang jadi nyata bagiku.

Kakinya rapat duduk menungging di stool itu, kutusuk dari belakang hingga Aseng junior terjepit maksimal oleh posisi kakinya. Kuraba-raba payudaranya yang juga menyembul keluar dari kimono tidurnya. Erangan berisik Mayumi sangat intens di setiap sodokanku. Kujilati leher putihnya, telinganya dan sebagian rahangnya membuat perempuan itu menggelinjang terus menerus.

“Ah ah ah ah kahh… Aieeh… Aseng-san… sugoi-ne…” Mayumi mengerang-ngerang seksi sambil menghadap pada kamera HP miliknya yang sedang merekam, diberdirikan di sebelah sana. Disandarkan pada meja makan agar dapat mengambil gambar keseluruhan persetubuhan kami ini.

Ketiadaan pak Ferdi di sini saat ini, membuat Mayumi harus melaporkan hubungan kami ini nantinya dan gilanya aku malah terlibat di dalamnya. Inilah salah satu bentuk cuckold, fantasy gila pak Ferdi yang mulai mendapat bentuknya berkat kehadiranku. Aku menjadi partner cuckold mereka berdua.

Sensasi cemburu, penasaran, gregetan pada seseorang yang lebih dari dirinya adalah yang ingin dicapainya. Tujuan akhirnya adalah hubungan mereka menjadi lebih mesra dan intim karena sang lelaki takut kehilangan sang wanita.

Sang wanita menjadi sebegitu diinginkannya oleh pria lain dan pria lainnya lagi yang mungkin saja hadir. Dengan begini pak Ferdi harus terus memupuk rasa sayangnya lagi-lagi agar tak kehilangan kekasih hatinya ini.

Mayumi memiringkan tubuhnya agar aku bisa menjangkau mulutnya. Aroma bir yang kami minum sudah menguar habis dari tadi berganti aroma nafsu kala kami berpagutan mulut. Lidahnya dengan lincah bermain-main dan menyedot-nyedot ludahku.

Tak ada rasa jijik dan sungkan ia menikmati ludah kentalku di dalam mulutnya. Ditelannya seperti cairan madu yang manis. Aku makin blingsatan melihat pertunjukan lidah yang lain dari biasanya. Aku hanya pernah melihat ini di bokep Jepang ternyata mereka memang melakukan itu ato Mayumi sengaja melakukannya untuk menyenangkanku.

Tubuhnya kubalik hingga tak membelakangiku lagi—sekarang berhadapan. Kubuka kaitan tali kimononya hingga seluruh depan tubuhnya terekspos. Gunung Fuji kembarnya turun naik di masa pause ini tapi kakinya kulebarkan mengangkang. Kuarahkan Aseng junior kembali memasuki kemaluannya. Meluncur masuk dengan licin akibat permainan ronde sebelumnya juga cairan pelicinnya.

“Slak slak slak slak!” Aseng junior menusuk 45° di posisi berdiriku ini.

Menggesek maksimal semua permukaan kerang Nippon-nya yang merekah menebal. Juga gelambir bibir dalam kemaluannya yang kujuluki kerang Jepang. Tertarik-terdorong sedemikian rupa berkat gerakan memompaku.

“Motto-motto… Jyaaa… Uhh… Kuuhh… Ahh… Motto… Uh…” erangnya semakin membuatku semangat memompa kemaluannya yang sangat legit menggigit. Walo sering pak Ferdi buang tai macan di perempuan Jepang ini, kualitas jepitannya tetap top markotop.

Sebanyak apapun ia menyemprotnya, ia tak akan pernah bisa mengisi rahimnya dengan kehadiran si sibiran tulang-tugasku yang akan berusaha menghamilinya. Memikirkan menghamili perempuan Jepang ini membuatku sangat bersemangat apalagi perempuan ini sangat entotable. Kuulangi lagi, sangat entotable. Entah itu kata yang benar…

Kami berciuman kemudian dengan Aseng junior yang masih diam bercokol di dalam kerang Nippon-nya. Selagi berpagutan mulut, gunung Fuji kembarnya juga kuremas-remas gemas. Mayumi sangat lihai bermain lidah dan ludah.

Takjub aku dibuatnya saat memainkan ludahku seakan cairan yang sangat lezat. Membuatku ketularan dan meniru permainannya. Bayangin ludahku sengaja kuteteskan dari mulutku dan ditampungnya dengan rela bahkan meminta. Disambutnya dengan lidahnya sendiri lalu ditelannya dengan takzim. Lidah kami saling belit dan hisap setelahnya.

“Auuh…” kugerakkan lagi Aseng junior dan kembali memompanya.

Aku tau, entah dari mana, pak Ferdi pasti sedang mengintip perbuatan kami ini. Ini adalah bagian dari fantasy-nya. Menyaksikan istrinya sedang berselingkuh dengan pria lain yang kualitasnya ada di atasnya. Baik dari kemampuan finansial, usia, atau vitalitas.

Sepertinya ia mengintip dari sela engsel pintu dapur yang terbuka. Bagian gelap tempat itu pas untuk dijadikan tempat mengintip. Tadi pintu rapat terbuka ke dinding dan sekarang agak sedikit menutup yang berarti ada orang di baliknya.

“Enak, Mayu-chan?” tanyaku di sela-sela genjotanku. Aku memegangi bagian pinggangnya dan membenturkan perutku ke selangkangannya yang terbuka lebar masih duduk di stool ini. Gunung Fuji kembarnya membal-membal efek benturan yang kubuat.

“Kimochi-nee, Aseng-san…” erangnya keenakan merasakan gesekan intens kelamin kami yang licin.

Aku meraba permukaan kemaluannya dan menemukan tonjolan kacang Jepang-nya. Kugesek-gesek kacang itilnya selagi ia mendesah-desah gelisah merasakan rangsangan dahsyat dari bagian kemaluannya yang juga kusodok cepat. Tubuh putih berpeluhnya sangat menggairahkan. Aku gak segan-segan menjilati keringat di leher dan gunung Fuji kembarnya.

“Aahh ahh ahh ahh ahh…” erang Mayumi nyaring.

Kacang itilnya semakin keras dan membengkak apalagi liang kawinnya serasa lebih becek lagi. Vulva kemaluannya membengkak merekah ke tingkat maksimal terangsangnya. Ia benar-benar menikmati seks dengan selingkuhan yang dicarikan suaminya ini.

Tangannya meremas bisepku dengan kuat, kuindahkan–kubiarkan ia mengekspresikan rasa nikmatnya itu. Ini pilihan suami sirimu, Mayumi-chan. Entah aku adalah pilihan tepat untuk memuaskan fantasy kalian. Aku punya fantasy sendiri untuk menyetubuhi binor cantik. Binor yang aman untuk digenjot dan diencrotin.

Aku dan Mayumi sama-sama mencapai puncak kenikmatan bersetubuh ini dengan aku ejakulasi untuk kedua kalinya dan ia orgasme. Aseng junior terasa dipijat-pijat di dalam liang kawin kerang Nippon bergerinjal itu. Kupeluk tubuhnya erat-erat dan sesekali kupagut bibirnya. Bibir kami mengecup-ngecup bergantian sebagai ucapan terima kasih atas seks yang nikmat barusan.

“Boreh kita kutumu ragi, Aseng-san?” tanyanya. Semoga aja ia merasa cocok denganku.

“Tentu boleh, Mayu-chan… Kan Mayu-chan udah nyimpan kontak saya… Kita ngobrol lagi nanti…” ia tersenyum senang.

Inilah yang kami lakukan, Mayumi juga jadi bersemangat mendapat kesempatan untuk hamil dariku atas persetujuan dan sepengetahuan suami sirinya. Dan inilah juga diinginkan pak Ferdi dari situasi ini. Ia mau ada orang ketiga di hubungan mereka.

Setelah aku pulang dari rumah ini, pasti pria itu akan bermesra-mesraan dengan panasnya dengan perempuan Jepang yang sudah dinikahi siri-nya ini. Fantasy liarnya akan membuatnya puas sendiri dengan pikiran kotor yang sudah melibatkanku. Tak apa—aku juga menikmatinya. Aku juga untung.

Semenjak malam itu, kami jadi sangat sering berkomunikasi intens lewat chatting BBM. Pembicaraannya tentunya sangat bervariatif, dari masalah pekerjaan sampai hal yang pribadi dan sensitif. Rajin ia mengirim beberapa foto dirinya di berbagai kesempatan. Di rumah sebelum berangkat kerja, di kantor, istirahat makan siang dan menjelang pulang.

“Mau ketemuan dengan Mayu-chan, pak?” tanya pak Ferdi pelan di malam kedua kuliah berlangsung. Ia duduk di depanku seperti kemarin malam bersama dengan empat temannya, aku di barisan paling belakang lagi.

“Iya, pak… Ada kencan sebentar…” kataku sesantuy mungkin karena sang suamipun bertanyanya seperti itu—santuy juga.

Tapi tak mengurangi rasa gugup yang dirasakannya. Mayumi pasti sudah mengirim skrinsyut percakapan kami yang menjurus-jurus selingkuh secara berkala. Apalagi mereka sekantor. Mungkin juga saat chatting janjian kencan malam ini sehabis kuliah, ia menyaksikan itu semua. Istrinya selingkuh atas sepengetahuan sang suami.

Ia menunduk memikirkan sesuatu lalu menerawang menatap langit-langit. Aku meliriknya yang kusamarkan dengan membaca-baca diktat kuliah yang baru saja dibagikan seorang asisten dosen. Jam kuliah pertama akan dimulai beberapa menit lagi.

“Pak Ferdi gak keberatan, kan?” tanyaku berbisik memberinya teror yang diinginkannya. Ia berbalik, tersenyum seadanya dan menggeleng.

“Enggak pak Aseng…”

“Oh… Bagus… karena Mayu-chan sepertinya pengen hamiru…” kataku masih lirih yang kuyakin ia bisa dengar diantara berisik suara banyolan Julio yang ada di sampingnya yang sedang ngobrol bareng yang lain.

“Bapak ibu sekalian… Mohon perhatiannya sebentar… Pak Mochtar dosen yang seharusnya mengisi mata kuliah Akuntansi Keuangan Dasar I malam ini sedang berhalangan untuk beberapa kali pertemuan… saya sebagai asistennya akan menggantikannya untuk sementara…” keknya aku kenal dengan perempuan muda satu ini. “Bapak ibu bisa memanggil saya Vivi…” Benar, kan… Itu Vivi. Tetanggaku yang tinggal bersama temannya Benget dan anak adopsinya, Nirmala. Asisten dosen di sini ternyata.

“Yak? Kenapa, pak?” tanya Vivi yang memanjangkan lehernya demi melihat tangan yang teracung meminta izin bicara dari barisan belakang kelas.

“Bu Vivi… asisten dosen itu boleh yang masih mahasiswa, ya?” tanyaku pengen tau. Kutanyakan ini karena ia memberiku izin bicara.

“Ah… Bang Aseng, ya?” ia tersenyum lebar saat melihat wajahku yang segera dikenalinya.

“Biasanya memang begitu, bang Aseng… Asisten dosen biasaya dipilih dari mahasiswa-mahasiswi tingkat akhir… Seperti saya yang sedang menyusun skripsi… Saya sudah jadi asisten pak Mochtar dari semester VII kemaren…” jawabnya menjelaskan.

Aku benar-benar gak tau itu. Aku manggut-manggut. Pak Ferdi dan Julio berbalik untuk melihatku dengan heran kemudian mahfum begitu mereka ingat aku cuma lulusan SMA dibanding mereka yang sudah pernah kuliah sebelumnya.

“Berarti bu Vivi pande kali-la, ya… dipilih jadi asisten dosen…” kataku sekaligus memujinya.

Ia hanya tersenyum lebar tapi tidak sampe salah tingkah dan melanjutkan perkuliahan Akuntansi Keuangan Dasar I kami. Habis mata kuliah ini adalah General English. Saat selesai kuliah dan jalan keluar, aku bertemu Vivi lagi. Nirmala ternyata di rumah dijaga Benget dan baby sitter-nya. Tapi karena aku ada janji dengan Mayumi, aku gak bisa lama-lama dengannya dan segera cabut ke tempat kencan kami.

***

Di sebuah hotel tempat kami janjian, aku menemukannya di lobi sedang menyesap coffee cup dari gerai franchise. Ia masih dalam balutan pakaian kerjanya yang berarti ia belum pulang sama sekali ke rumahnya.

“Hai, Mayu-chan?” sapaku.

“Seramat maram, Aseng-san…” jawabnya dengan senyum lebar. Ia mengacungkan gemerincing sebuah kunci kamar yang ternyata sudah dipesannya terlebih dahulu.

“Kita rangsung aja, yuk?” ajaknya tanpa tedeng aling-aling.

Udah gak sabaran keknya. Tanpa ragu digandengnya tanganku menuju lift yang sepi malam ini. Gandengannya rapat hingga aku bisa merasakan kenyal lembut sebelah gunung Fujinya yang masih berbungkus bra. Riang ia menjelang malam yang bakalan panas ini. Di dalam lift ia lebih berani lagi dan memelukku dan mencium pipiku.

Aku sudah dapat membayangkan apa yang akan terjadi malam ini. Apalagi pak Ferdi sudah tau rencana kami berkencan di luar rumah malam-malam begini. Suami mana yang akan membiarkan istrinya pergi ke hotel dengan pria lain? Suami macam ini yang membiarkan istrinya dientot pria lain di sebuah hotel. Tak lama kami sudah sampai di dalam kamar. Mayumi gak mau repot ke kamar mandi dan langsung nyosor kepadaku setelah terlebih dahulu menelanjangi dirinya.

Ahh… Indah kali bodi binor Jepang ini. Kenapa-la kok mau dia berhubungan dengan pria lokal seperti pak Ferdi yang sudah tidak muda lagi. Rayuan maut ato SSI macam apa yang dulu dilancarkan pria yang rambutnya udah campur hitam putih gitu hingga ia rela dinikahi secara siri.

Nikah siri itu tak ada kekuatan hukum sama sekali, kan? Ia bisa dengan mudah dicampakkan bila sang pria sudah merasa cukup dengannya tanpa bisa menuntut apa-apa. Lagipula pak Ferdi sudah steril, yang berarti ia tidak akan bisa menghamili Mayumi. Semakin mudah pak Ferdi melepasnya kelak karena tak ada tanggungan anak yang biasanya menjadi alat tawar.

Tapi aku juga mengerti kebutuhan Mayumi untuk menghangatkan ranjangnya selama berada di Indonesia sini bekerja. Sebagai seorang perempuan dewasa dengan kehidupan seks aktif, tentunya ia membutuhkan seorang teman tidur yang tetap.

Mungkin menemukan hal yang pas dari pak Ferdi, mereka menjalin hubungan simbiosis saling menguntungkan ini. Kemungkinan ia tak bisa mempercayai pria sembarangan kalo harus berganti-ganti pasangan. Ini salah satu pilihan aman. Pria yang sudah menikah akan lebih aman dari segi stabilitas keuangan, mental dan kesehatan terutama.

Mayumi bergegas ke arahku dan jongkok di hadapanku menyamankan diri. Dilepaskannya sabuk ikat pinggang, melepas kancing dan restleting dan menurunkan celana panjang serta sempakku sekalian. Aseng junior sukses melompat bahagia bak joystick (tongkat bahagia, *maksa kali) dan langsung ngaceng keras karena menyaksikan tubuh telanjang indahnya duluan. Mayumi menjilat bibirnya yang kering ketika digenggamnya Aseng junior yang sudah mengangguk-angguk antusias mendapat lawan tempur, sarang barunya.

“Besaru, Aseng-san… Sugoi…” pujinya dan mengocok-ngocok batang kerasku.

“Ahhhnn…. Mmmhh…” dioles-oleskannya batangku di mukanya dengan sesekali menghirup aroma jantan yang menguar dari kemaluanku.

Dikecupinya juga batangku, membuatnya semakin berdenyut mengeras memampangkan urat-urat kasar. Ia tau betul mengeluarkan potensi maksimal kejantanan lelaki hanya dengan pujian.

“Mloohh… Ahh…” ujung kepala Aseng junior tercelup sebentar di mulut Mayumi. Lidahnya menjulur dan menggelitik lubang kencingku.

“Ohh…” desahku karena rasanya sangat geli, ditingkahi juga dengan kocokan-kocokan kecil di pangkal batang penisku yang hanya menggunakan tiga jari; jempol, telunjuk dan jari manis.

Lidahnya lalu berputar-putar di sekitar kepala Aseng junior, membalurkan ludah kental lalu diratakannya ke sekujur batang. Kocokannya jadi lancar dan licin. Lidahnya bermain-main lagi di lubang kencingku.

Kupegangi kepalanya untuk memasukkan Aseng junior lebih banyak ke dalam mulutnya. Ia membuka mulutnya dan sedikit memiringkan kepalanya hingga Aseng junior membentur bagian dalam pipinya. Ia menggesek-gesekkan ujung Aseng junior ke dinding sekat pipinya seperti sedang menggesek bagian dalam vagina saja layaknya.

“Ahh… ahh…” aku gak terlalu pilih-pilih tempat saat ini. Mau mulut mau vagina, apa saja asal enak akan kucoblos!

“Sugoi-nee… Penisu Aseng-san toruraru besar… Murut saya tidak muat…” sahutnya terus mengocok Aseng junior cepat dengan tiga jarinya.

Aku meleletkan lidahku keluar dan ia menirunya mengira aku akan meneteskan ludahku. Tapi tidak, aku malah memasukkan Aseng junior dengan arah lurus dalam keadaan lidahnya menjulur semua. Mendelik matanya mendapati penisku memasuki mulutnya dengan brutal.

“Glllokk… Gllookkhh… Ahhh…” matanya agak berair karena tercekik susah bernafas saat Aseng junior menjejali rongga mulutnya.

Aku kembali menjulurkan lidahku dan kembali patuh ia mengikutinya. Aku harus mengajarinya teknik ini yang kutau dari kak Sandra. Ia sangat ahli dalam deepthroat Aseng junior hingga ia tak kesulitan menikmati seluruh kejantananku di dalam mulutnya.

“Muat, kok… Buka lebar seperti itu… lidahnya keluarin semua… Yakk…” ia patuh dan mengeluarkan lidahnya lagi.

Kumasukkan Aseng junior dalam-dalam hingga mentok permukaan perut bawahku menyentuh bibirnya.

“Umm… Umm…” rasanya nikmat sekali memasuki rongga mulut sempit berbantalkan permukaan lidah Mayumi yang membalut batang Aseng junior tiap kutarik. Ludah kental berbekas di permukaan penisku.

“Enak, kan?” kataku membanggakan hasilku mengajarinya hingga mahir. Ia mengocok-ngocok Aseng junior lagi dengan tiga jari.

Ia harus meredakan sesak nafasnya setelah dijejali kontolku yang menyumpal jalan nafasnya. Kutarik badannya dari bagian ketiak hingga gunung Fuji kembarnya tepat di hadapan acungan Aseng junior.

“Ahh…” keras, kenyal dan becek berpadu jadi satu saat kujejal-jejalkan kepala liat Aseng junior ke gundukan payudaranya.

Rasanya sangat nyaman sekali di kemaluanku dan pasti juga menyenangkan Mayumi sekaligus karena kudusel-duselkan tepat pada bagian putingnya yang menegang. Kuputar-putar, kutampar-tampar, kusodok-sodok hingga binor Nippon itu mengerang.

“Kyaahh… Kuhh… Uuhh…” ia berganti-ganti menatapku dan Aseng junior-ku. Sepertinya ia sudah tak sabar.

Sama seperti tak sabarnya orang yang bersembunyi di balik pintu kamar mandi itu juga dengan kamera HP yang sedang merekam menyala. Kubiarkan aksi intip-mengintip sang suami yang penasaran dan cemburu berat tapi suka dengan skandal gila ini.

Kuremas-remas kuat gunung Fuji kembar itu menggantikan peran tanganku membuat Mayumi mengerang juga. Pentilnya dengan gemas kupencet-pencet habis dipilin. Kuangkat tubuhnya dari dua ketiaknya, ranjang tak jauh dari kami berada. Kuarahkan Mayumi kesana.

Kuperiksa kerang Nippon-nya, cukup basahkah? Jari tengah kiriku kutelusupkan masuk dan ternyata sudah basah tetapi belum becek. Masih harus lebih distimulasi lagi. Kulebarkan kakinya.

“Jyaaa… Kyaaa… Damee… Damee…” erang menggelinjang binor Nippon itu dengan mukaku menyeruduk masuk ke antara kakinya dan menelusupkan lidahku menyapu-nyapu vagina bergelambir umami itu.

Kacang itilnya kusedot-sedot hingga ia meremas rambutku. Diacak-acaknya rambutku membalasku yang mengacak-acak kemaluannya. Dua jariku bahkan kutusukkan, mengocok liang kawinnya selagi kacang itilnya terus kusedot berdecap-decap. Suara bising nyaring Mayu-chan membahana.

Jariku kutekuk ke arah atas, mengait dan menggerus bagian atas dinding liang kawinnya untuk mencari titik sensitif itu. Biasanya ada di situ lokasinya. Ketemu satu bagian yang agak tebal dan sedikit kasar teksturnya, fokus kukulik di situ dan…

“Kyyaaaa… Ah ah ah… Ikkuuu!!”

Berkejat-kejat tubuh Mayumi mendapat orgasme dengan permainan jari dan lidahku. Lidahku mendapatkan hampir semua rasa gurih yang mengalir keluar dari liang kawinnya. Kulijati jariku yang juga bernoda cairan lezat itu.

Kuberikan padanya juga untuk mencicipi rasa lezat dirinya. Tak sungkan ia menjilati kedua jariku untuk merasakan rasa dirinya sendiri. Aseng junior-ku semakin tegang mengeras melihat begitu submisifnya perempuan satu ini. Patuh ia menerima apapun mauku. Mungkin ini yang membuatnya mudah menerima apapun kemauan pak Ferdi dengan legowo.

Tubuh lemahnya tak sulit untuk digeser ke tengah ranjang agar aku juga bisa naik. Kepalanya kuposisikan ada di tepian ranjang hingga ia tak dapat membaringkan kepalanya kecuali miring ato mengangkat kepalanya.

Kubiarkan dia memilih dulu tapi tak membiarkannya menggeser posisi tubuhnya. Cepat aku memposisikan diri di antara kakinya yang kudesak melebar terbentang. Kugesek-gesekkan bagian kepala Aseng junior yang pejal liat. Cairan cinta Mayu-chan membasahi kepala penisku untuk membantunya masuk nanti, fungsi utama seksresinya.

“Ahh…” erangnya pelan ketika Aseng junior masuk membelah kerang Nippon-nya.

“Hamiru, Aseng-san! Hamiru saya!” ucapnya berulang-ulang. Ini seperti menjadi keinginan tersembunyinya yang baru terbersit baru-baru saja.

“Jyaa… Uhh… Uh…” kuambil kedua tangannya dan kutarik hingga kepalanya ikut terangkat.

Kondisi ini menyebabkan otot perutnya tertarik berkontraksi dan alhasil jepitan kerang Nippon-nya mengapit erat Aseng junior-ku.

“Akhh!!” walo licin dan lancar, kepitan otot perutnya membuat liang kawin Mayu-chan menjadi sangat sempit.

Pejal Aseng junior tergencet sempurna di liang menyempit ini. Aku blingsatan sendiri karena ulahku menggantung kepalanya. Ini sangat luar biasa enak. Kupompa Aseng junior cepat-cepat.

Kami berdua mengerang silih berganti, sahut bersahutan merasakan nikmat yang sangat luar biasa. Semakin kutarik kedua tangannya dan badannya semakin tegak, semakin menggigit otot perutnya berkontraksi menjepit si kontol Aseng junior!

“Akhh… Maaak! Enak kali, Mayu-chaaan!!” erangku meningkahi suara nyaring binor Jepang yang sedang diintipi suaminya sendiri di balik pintu kamar mandi itu.

Pengaturan nafas dalam pertarungan ato latihan menggunakan silat harimau Mandalo Rajo adalah satu hal penting yang menjadi kunci sukses setiap gerakan bertenaga. Aplikasinya ke kehidupan sehari-hari juga menjadi suksesnya dalam kehidupan seksku.

Pengaturan nafas yang sama bisa membuatku menjadi sedemikian perkasa dalam menggasak tiap-tiap liang kemaluan yang kuhadapi. Baru akhir-akhir ini saja aku memanfaatkannya setelah rutin berlatih silat Mandalo Rajo dan merasakan manfaatnya yang menjadikanku sangat perkasa dan bebas.

Bebas mau main cepat ato main lama. Aseng junior juga jadi lebih mudah untuk dikendalikan. Bisa diatur-atur tingkat kekerasannya dan mengatur timing-nya kapan harus harus ngecrot ato bertahan tapi dalam keadaan tetap tegang.

Walo sempit kepitan liang kawin Mayu-chan akibat posisi tubuhnya ini sangat nikmat bagi Aseng junior. Kalo tanpa pengaturan nafasku, mungkin aku udah dari tadi ngecrot karena rasa geli-geli enak yang mendera bagian kepalanya yang menggerus-gerus isi bagian dalam liang kawin binor Jepang ini.

Kepala sensitif Aseng junior hanya sekedar memberiku rasa nikmat tapi aku menahan semburan spermaku dengan teknik nafas ini. Aku hanya mengerang-ngerang keenakan yang seirama dengan pasangan seks-ku memberitau dirinya kalo aku juga merasakan kenikmatan yang setara dengannya. Memberitaunya kalo ia juga memberiku kenikmatan yang enak sekali. Pikiran itu harus dia tau. Akan ada kepuasan tersendiri bila ia merasakan itu.

“Motto… motto, Aseng-san… Jyaaa….” tubuh Mayu menggeliat-geliat kek ulat bulu mendapat gempuran cepatku.

Mata kami berdua saling terpaut karena tubuhnya setengah bangkit dari berbaringnya. Kedua tangannya masih kutarik dan digenggamnya erat tautan tanganku. Sodokan Aseng junior masih stabil terus menggempurnya.

“Iku! Ikuu! Jyaah… Kyaaa!!” sodokan cepat dan posisi ini membuat Mayu-chan tak tahan dan mendapat kenikmatan orgasmenya dengan cepat.

Kepalanya jatuh ke belakang, menengadah dan kremus-kremus… Liang kawinnya meremas batang Aseng junior dengan ritmis. Seperti ada tangan-tangan berjari magis yang meremas-remas seluruh permukaan panjang kemaluanku. Kulepas betotan tanganku yang menarik tubuhnya yang terangkat setengah bangkit hingga ia berbaring lagi di atas ranjang dengan kepala tergolek lemah di tepian. A

ku perbaiki pengaturan nafasku agar dapat bertahan. Aku akan melepasnya di kesempatan kedua nanti. Mayu-chan kubiarkan menikmatinya dulu kenikmatan orgasmenya itu. Ia tersenyum sangat manis sekali diantara nafas tersengal-sengalnya.

“Oishi-nee… Motto…” ia mengulurkan tangannya menandakan aku boleh melanjutkannya. Mulai kugerakkan lagi sodokan Aseng junior yang masih bercokol di dalam kemaluannya.

“Ahh… Kimochi…” kutarik lagi tangannya seperti tadi.

Masih ada sisa ekstase nikmat orgasme sebelumnya ditambah sensasi baru sodokan Aseng junior yang bergradual dari pelan ke cepat. Lagi-lagi ketat kepitan sempit menekan dari kontraksi otot perutnya meremas-remas.

Gesekan kelamin kami berdua membuai kami. Gak heran kalo Mayu-chan akan orgsme lagi bentar-bentar karena aku gak akan menahannya lagi. Keras dan kekar batang Aseng junior terus merojok cepat keluar masuk memberi rasa nikmat yang disalurkannya lewat suara nyaring erangan bokep JAV-nya yang khas.

“Ikkeh-ikkeh… Jyaaa… Motto-motto, kyaa!! Aseng-san… motto… Ahh!”

Lancar sodokan Aseng junior berkat licin lubang sempit ini menekan besar keras saling mendesak. Keras batang perkasaku mendesak lubang sempit liang kawin Mayu-chan hingga kami sama-sama merasakan kenikmatan ini.

“Ikkeh-ikkeh, Aseng-saaan… Motto… Iku-Ikuu…” jeritnya nyaring kembali tak terlalu lama dari orgasme terakhirnya dan aku tak menahan juga. Kulepas kontrol pernafasanku dan meledak jugalah bersamaan spermaku di dalam liang kawin sempitnya.

“Croot croott crooott!!” semburan deras pertamaku malam ini memasuki rahimnya.

Membuahinya, berusaha membuahi sel telur yang ada di dalam rahimnya pada malam kedua ini. Memperbesar prosentase keberhasilan adalah dalihku. Semakin sering dibuahi akan semakin memperbesar kesempatan.

Semua pejuang dua garis pink pasti akan setuju dengan pernyataan ini. Semakin sering ‘dikunjungi’ di masa suburnya akan meningkatkan kemungkinan hamil. Diencrotin tentunya.

“Ohh… ohh… ohh…” erangnya merasakan kenikmatan ganda itu bersamaan.

Mayu-chan mendapatkan orgasmenya bersamaan dengan semburan sperma hangatku di dalam perutnya. Ia berbaring di ranjang karena tangannya kulepas. Kutarik tubuhnya mundur lalu kupeluk dirinya erat, mencumbu mulutnya agar menjadi bacol bagi seseorang yang mengintip di balik pintu kamar mandi sana.

Berciuman dengan binor ini sangat menggairahkan karena ia tak segan-segan saling bertukar ludah denganku, yang bagi sebagian orang mungkin menjijikkan. Tapi dengan relanya ia menerima ludahku begitupun sebaliknya.

Berguling-gulingan kami di atas ranjang bagai sepasang ular yang saling belit. Bahkan persatuan kelamin kami sudah terlepas meninggalkan ceceran noda sperma dan cairan bersatu padu di mana-mana, terutama di selangkangan kami berdua.

“Oishi, Aseng-san…” katanya kala ia berada di atasku. Matanya beralih dari mulut dan mataku berganti-ganti.

“Enak, Aseng-san?” Aku mengangguk.

Ia menjangkaukan tangannya ke kemaluannya sendiri dan menggosok-gosoknya.

“Penisu Aseng-san enak…” ia lalu beralih menggenggam Aseng junior-ku yang manut-manut mengantuk.

“Lagi?” tanyaku karena ia menggesek-gesekkan Aseng junior-ku ke belahan vaginanya. Ia tersenyum manis dengan mata segaris lucu.

“Ragi, Aseng-san…” jawabnya.

“Bersihkan dulu, ya?” kataku menjawil dagunya.

Ia langsung tanggap dan mundur dari hadapan mataku. Tanpa ragu ia menjilati ceceran cairan kental yang ada di sekitar Aseng junior. Tanpa jijik ia menjilati sperma yang berceceran di atas rambut jembutku, bola pelerku apalagi yang masih menempel di batang dan kepala penisku.

Dijilatinya dengan seksama lalu dimasukkannya batang Aseng junior semampunya dengan baluran tambahan ludah. Terasa hangat hingga Aseng junior tegak mengacung keras lagi.

Dengan sistematis, Mayu-chan naik berjongkok di atas selangkanganku. Bokong kenyalnya terasa bergesekan di pahaku saat ia berjongkok lalu memposisikan tubuhnya di atas jangkauan Aseng junior. Dengan tangan ia mengarahkan kepala Aseng junior memasuki liang kerang Nippon-nya yang masih becek oleh sisa spermaku.

“Jyaahh… Ahh… Sugoi…” diturunkannya tubuhnya dan menelan batang Aseng junior di dalam liang kawinnya.

Awalnya tak semua masuk tetapi seiring waktu, gerakan naik turunnya semakin dalam dan menjadi mentok. Tiap hentakan masuk ia mengerang, “Ah ah ah ah…”

Gerakan naik turun Mayumi yang mengocok Aseng junior juga menyebabkan gerakan membal-membal gunung Fuji kembarnya. Indah sekali. Saat ini, inilah pemandangan paling indah mengalahkan gunung Fuji aslinya di tanah leluhur Mayu-chan. Kubiarkan gerakan membal itu untuk beberapa lama walo godaan untuk menjamahnya sangat besar.

Erangannya terus membahana nyaring. Kerang Nippon-nya mencengkram erat memijat-mijat, mengurut-urut batang Aseng junior yang meradang keras. Kaki Mayumi mengangkang bertumpu pada tapak kakinya, lebar memamerkan proses keluar masuk Aseng junior di dalam liang kelaminnya sendiri. Pemandangan ini sangat menggairahkan.

“Aseng-san suka oppai Mayu-chan?” tanya binor di antara goyangan naik turunnya. Ia memegangi gunung Fuji kembarnya dan meremasnya sedikit.

“Suka sekali, Mayu-chan… Besar dan indah sekali…” pujiku tapi tak kunjung menjamahnya.

“Pegangu, Aseng-san… Tidak apa-apa… Pegangu…” desah Mayu dan meleletkan lidahnya menjilati bibirnya sendiri.

“Goyangin aja terus, Mayu-chan…” Lebih enak melihatnya goyang-goyang.

Pemandangan menghentak-hentak naik turun Mayumi lebih mengasikkan daripada memegang oppai kenyal itu. Apalagi rasa nikmatnya membuat ketagihan. Rasa clekit-clekit menggigit kala ujung Aseng junior membentur mulut rahimnya yang disundul-sundulnya berulang kali.

“Terus, Mayu-chan…” kataku terus memberinya semangat melakukan WOT penuh tenaga ini.

Kuulurkan tanganku dan disambutnya dengan tangan juga. Jari-jari kami saling mengait sebagai pegangan dirinya. Jari dan telapak tangan kami menyatu erat seperti juga penyatuan erat kelamin kami yang saling bertaut.

Perutnya mengetat tidak seperti oppai-nya yang berguncang indah. Kepalanya mengombang-ambing tetapi gerakannya tidak berubah, tetap bertenaga naik turun.

“Uuuhh… Motto… Ahh… Sugoi-nee… Aseng-san… Kimochi-desu…” ia berhenti menghentak dan menggantinya dengan gerakan maju mundur dan kadang berputar geal-geol.

Aseng junior serasa dipilin-pilin menjadi kepang rambut di dalam liang kawinnya. Ditariknya tanganku hingga aku bangkit dan ia gantian mau rebah dipangkuanku, kutahan hingga ia hanya condong ke belakang saja—kulepas tautan jari kami berdua. Ia menahan tubuhnya dengan bersandar dengan tangannya. Kakinya yang masih menapak di kasur ranjang kembali melebar.

Ia paham fungsinya dan kembali bergerak. Aseng junior menusuk melengkung memasuki tubuhnya. Di posisi ini aku bisa dengan mudah melihat kemaluannya serta bentuk gunung Fuji kembarnya. Kali ini yang dominan bergerak hanyalah pinggulnya kebawah, bergerak naik turun mengocok Aseng junior menggunakan lubang kemaluannya. Mulutnya menganga merasakan rasa nikmat tempo yang diaturnya sendiri.

Aku yang duduk bebas menggerepe-gerepe sekitar kerang Nippon-nya. Kulebarkan bukaan bibir menebal vaginanya, kukutik-kutik kacang itilnya, kupilin-pilin dan kucubitin. Mayumi mengerang semakin histeris nyaring suaranya.

“Motto, Aseng-san… Ahh… Jyaahh… Ah…” ia menyeruduk maju karena intensitas gesekan kelamin kami tak terperikan lagi nikmatnya dan ia mendapat orgasme kembali. Tubuhnya rapat kepadaku, dipeluknya tubuhku erat dengan kalungan tangan di leher. Kurebahkan tubuhku.

“Hashh… hashh… hashh…” nafasnya memburu menghimpitku setelah baru saja memuncaki tinggi nikmat yang mendera tubuhnya hasil pergumulan kami berdua. Aseng junior menusuk masuk, diperas-peras kedut ritmis liang kawinnya yang baru saja jadi episentrum tremor kenikmatan.

“Kyaah…” erangnya karena setelah menunggu sebentar, aku mulai menggerakkan Aseng junior keluar masuk kembali dengan tubuhnya masih rapat memelukku. Kupeluk juga tubuhnya agar tak kemana-mana karena aku mempercepat gerakan keluar masukku.

“Ah ah ah ah!” erangnya nyaring merasakan lesakan sodokan cepat Aseng junior bak piston mesin satu silinder. Aku sampe harus melebarkan kakiku untuk mendesakkan penisku keluar masuk. Ia mengerang nyaring bak pemain JAV itu.

Menikmati nikmatnya tubuh binor Jepang yang diintip suaminya dari kamar mandi sambil menikmati pemandangan indah wajah cantik orientalnya yang mengerang-ngerang pasrah diapakan saja. Aseng junior terus memompa cepat berusaha mengeluarkan muatan yang ada di dalam kantung pelerku memasuki tubuhnya lagi.

Gerakan cepatku ini membuat Mayumi sangat gelisah dengan suara berisik nyaringnya yang mengaduh-aduh dalam bahasanya sendiri. Udah kayak ngentoti artis JAV kurasa audio-video yang kualami saat ini. Visualnya binor Jepang nan cantik dan suaranya beneran ikkeh-ikkeh kimochi yang termasyur itu. Kudekap erat tubuhnya dan sodokan cepat memompa hingga terasa panas walo licin dan lancar.

“Kyaaa… Aseng-san! Kimochi…. Aaah… Kyaaaa…. Motto! Motto! Ikku! Ikku! Ah!” ia mendapatkan lagi orgasmenya tapi aku tak mengurangi kecepatan menyodokku. Mayumi berkejat-kejat.

“Yamete! Yameteee… Ahhh… Damee!!” erangnya minta aku berhenti dulu.

Aku tak perduli maunya karena aku sendiri mau mencapai kepuasanku juga yang sudah di ambangnya. Ngilu juga memaksa dengan cepat begini. Kepala Aseng junior memang sudah terasa geli-geli enak apalagi kepitan menjepit liang kawin Mayumi memijat ritmis selalu dengan gerinjal-gerinjal sepanjang lorongnya.

Dengan beberapa kali sodokan menghentak, kusemburkan semprotan sperma kentalku untuk beberapa kalinya malam ini. Kutekan sedalam-dalamnya menuju rahimnya. Selangkanganku menekan erat bokongnya. Berkedut-kedut batang Aseng junior memompakan isi muatan spermaku memasuki binor NIppon ini.

Ia hanya bisa mangap-mangap kehabisan nafas menerima cairan kental hangat di dalam rahimnya. Kugulingkan tubuhnya hingga ia ada di bawah dan aku menghimpitnya. Kuciumi mulutnya dan ia menerimanya dengan pasrah aja.

Kusodok-sodok pelan lalu kulepaskan Aseng junior dari sarang baru yang umami ini. Sebuah bantal kufungsikan sebagai pengganjal pantatnya agar muatan yang baru kusetor ke dalam dirinya tak keluar cepat-cepat. Biarkan dulu meresap dan bekerja di kedalaman sana. Sepertinya lucu juga punya anak dari binor yang asli Jepang.

Mayu-chan pasrah-pasrah aja pantatnya kuganjal sedemikian rupa tanpa bertanya apapun. Aku memunggungi pintu kamar mandi karena aku tau penghuni di dalamnya pelan-pelan keluar lalu menuju pintu. Aku masih meremas-remas oppai-nya ketika ia keluar dari kamar ini dengan bekal hasil rekamannya. Pasti akan jadi bacolnya kelak ato jadi alatnya bercinta dengan istrinya nanti.

***

“Apa seperti ini yang pak Ferdi harapkan?” tanyaku. Kami sedang ada di cafe yang sama seperti malam pertama perkuliahan kami.

“Tepat sekali, pak Aseng… Ini yang selalu saya impi-impikan… Bayangkan kalo rasa sayang saya menjadi bertambah-tambah pada Mayu-chan… Saya jadi takut kehilangan dia… Saya jadi tambah sayang dia… Pokoknya begitu, pak…” jawab pak Ferdi dengan penuh semangat.

“Kalo bapak sayang sama dia… bapak seharusnya gak memberikannya pada awak… Dia bisa hamil-loh, pak…” kataku. Kami sedang menunggu empat orang lainnya yang akan menyusul sebentar lagi. Mungkin mereka sedang di perjalanan menuju kemari.

“Tidak apa, pak Aseng… Saya tidak bisa menghamilinya… Anak saya sudah empat dari istri pertama saya… Sudah pada besar-besar… Mayu-chan sangat ingin hamil… Kalau pak Aseng bisa… tidak apa-apa…” katanya dengan mimik senang dan hepi-hepi aja kek baru jatuh cinta. Bucin yang berkarat.

“Pak Ferdi tau kalo pak Ferdi ini sakit?” tanyaku pedas. Aku sampe mengernyitkan keningku melihat tingkahnya.

” Ngasih binik sendiri ke pria lain untuk ditidurin… dihamilin… pak Ferdi bahkan menyaksikan itu semua… Itu sakit-loh…” kataku.

“Saya tau, pak… Tapi saya menikmatinya, pak… Saya sangat menantikan waktu bapak berkencan lagi dengan Mayumi di lain waktu…” kata-katanya terpotong karena teman-teman kerjanya yang juga teman sekelas kami sudah tiba dan mengambil tempat duduk masing-masing. Ia mengangguk memberi kode kami akan melanjutkan pembicaraan itu lain waktu.

Waktunya makan-makan lagi. Malam ini aku bersikeras yang mentraktir mereka. Cherni agak kaget mendengarnya tapi demi melihat pak Ferdi yang santai memesan makanan ia tak mengatakan apa-apa. Aku sepertinya tau apa yang ada di benak perempuan itu karena setelah kuliah malam pertama itu, aku selalu menggunakan Supra X-125-ku selalu untuk pergi ke kampus.

Gak pernah sekalipun kukendarai mobil. Mungkin dikiranya aku masih berpenghasilan pas-pasan aja walo sudah berpredikat wakil manager karena hanya pake motor dibandingkan mereka semua yang mengendarai mobil. Sepertinya pak Ferdi belum cerita banyak pada mereka.

“Misua gak jelas lu gimana, Cher?” tanya Julio mulai rese di antara kami yang sedang menikmati makanan.

Saling berbincang begini selalu diwarnai obrolan-obrolan gak jelas kek gini. Ia sedang memasukkan potongan daging steak miliknya ke mulut. Cherni hanya merengut aja gak bermaksud menjawabnya.

“Apaan sih, koh Julio… Gak usah nanyain itu, deh…” kata Neneng bermaksud melempar pria itu dengan gulungan tisu. Cherni yang tepat di depanku hanya bungkam dan menyeruput ice lemon tea miliknya.

“Kokoh juga gak jelas gitu, kan?”

“Makanya kutanya dulu… Misua gak jelasnya itu kugantiin aja, mau?” kata Julio lalu dibarengi tertawa-tawa lepasnya yang khas.

“Kami berdua ini kan dalam posisi gak jelas-nih… Bisalah kan… saling mengisi…” ia terus mencoba. Dari omongan singkat ini aku bisa mengambil kesimpulan cepat ini.

“Huuh… Enak di kokoh Julio aja gak enak di Cherni-nya…” sengit Neneng membela temannya.

“Kalo koh Julio yang gak jelas kan kokoh sendiri… Masak punya binik gak pernah dikasih nafkah… Cherni yang gak jelas kan misuanya…” Neneng sampe menunjuk-nunjuk Julio membendung keinginan mesum pria itu pada perempuan Tionghoa cantik ini.

“Makanya tadi kubilang saling mengisi, Neng… Daripada kosong? Kedinginan… Ya, kan?” Julio terus melancarkan seribu satu alasannya.

Ini yang pernah dikatakan pak Ferdi waktu itu tentang keliaran teman sekerjanya ini saat mempertimbangkan memberikan Mayumi padanya. Julio ini player profesional yang memanfaatkan ketampanannya dan juga hartanya untuk mereguk kenikmatan sebanyak-banyaknya dari banyak perempuan. Teman tidak masalah, terbukti ia melancarkan rayuan pada mahluk tercantik di tempat ini, Cherni.

“Neneng kalo mau juga gak pa-pa…”

“Najis… Mending aku sama bapak-bapak bertanggung jawab kek pak Aseng aja daripada sama kokoh… Ish…” tolaknya mentah-mentah.

Bahkan Cherni tertawa terbahak-bahak mendengan penolakan menohok barusan. Tak kurang si-ito-ito itu, pak Ferdi dan bahkan Julio sendiri ikut tertawa. Aku bengong gak ngerti dark comedy-nya.

“Dalam-bah…” komentar si ito yang kerap dipanggil Aisa oleh yang lain. Ia mengaduk-aduk jus miliknya sambil tertawa-tawa bersama lainnya. Ini kuanggap sebagai pelampiasan emosi aja. Udah stres di kerjaan ditambah tugas kuliah lagi, gak salah kalo bersenda gurau di cafe begini.

“Awas aja kalo sampe aku juga kau beter (incar)… Pecah telormu kubuat, Julio…” belum-belum ia mengultimatum Julio agar jangan melancarkan rayuan sejenis padanya.

“Aku ini sangat fleksibel-lah… Kalian bertiga-pun gak masalah… Aku ini sangat penuh cinta-loh… Gak percaya?” gak perduli Julio terus melancarkan jurus mautnya.

Tiga buah gumpalan tisu hampir bersamaan menyerbu dirinya disertai ledakan tawa kami semua. Sangat akrab kami malam itu makan dan bercanda ria dengan banyolan-banyolan dewasa khas dari Julio. Pria itu bahkan berinisiatif membuat sebuah grup di BBM untuk kami berenam untuk ngobrol kala tidak bersama seperti ini. Mereka semua setuju dan aku menyetorkan pin-ku untuk grup itu.

“Apa nih?” jerit tertahan Neneng melihat layar HP-nya. Cherni yang duduk disampingnya kepo apa yang dijeritkan Neneng barusan.

“Ntah hapa-hapa ajalah koh Julio ini… Masak gambar grupnya itu…” kata Neneng yang bergidik geli lalu menunjukkan juga apa yang dimaksudnya pada Aisa. Si-ito itu juga bergidik jijik.

“Napa rupanya?… Aku kan admin grupnya… Aku-lah yang nentuin gambar grupnya apa…” ngeles si Julio. Ternyata setelah kucek grup baru yang baru dibuat itu memakai gambar sebuah penis mengacung keras.

“Itu punyaku-tuh… Yang berminat silahkan antri…” lalu ia tertawa-tawa ditimpali lebih banyak kepalan tisu yang mengarah padanya.

Sialan memang si Julio kimak ini, foto kontolnya dijadikan gambar grup yang tentu aja membuat tiga perempuan itu jengah mau muntah. Neneng mencekik lehernya secara jenaka, memaksa pria itu segera mengganti gambar dengan yang lain. Malahan diganti dengan sebatang kontol yang sedang menusuk selubang pepek. Bengak kali nih anak. Karena dari bentuk, warna dan ukurannya itu sepertinya kontol miliknya lagi. Entah perempuan mana yang menjadi korbannya.

“Sakit semua badanku-woy… Abis kalian cubitin semua badanku yang seksi ini…” keluh Julio mengusap-ngusap sekujur lengan dan pahanya yang tadi menerima hujanan cubitan dan pukulan ketiga perempuan anggota grup ini.

Pak Ferdi dan aku hanya tertawa-tawa kecil aja menertawakan nasib ngenesnya. Memang keterlaluan bercanda Julio tapi sepertinya itu biasa aja karena sudah terlalu sering ia melakukan hal semacam ini.

“Si ucok cibay-ku ini untung gak ikut kalian cubit…” ia lalu menggosok-gosok selangkangannya.

“Eit-eit! Tahan dulu… Tahan dulu… Kalo mau nyubit… nanti aja kita buka kamar dulu…” ia sudah siap sedia melarikan diri begitu ketiga perempuan itu mengeluarkan mimik monster dengan tangan teracung mengancam mencubit lagi.

“Laki-laki apa kek gitu semua ya, pak Ferdi?” tanya Neneng menunjuk Julio. Pak Ferdi mengangkat bahunya tanda tak paham.

“Kurang ajar sama mata keranjang kek gini…” sambungnya.

“Lu ngapain nanya pak Ferdi, sih? Sam… eh…” ia berhenti sebelum terlalu jauh.

Aku paham situasinya. Semua yang ada di sini tentu tau affair pria itu dengan staff asal Jepang yang kini menjadi istri sirinya. Yang mereka tidak tau kalo aku sudah tau itu… Gimana, sih? Betul, ya… Pak Ferdi melambaikan tangan pada Julio tanda tak mengapa. It’s okay gitu. Kontan mata-mata mereka menatap padaku penuh arti.

“Rata-rata laki-laki itu sama aja dimana-mana… Kalian tau semua saya gimana… Apalagi Julio…” kata pak Ferdi mengaku. Lalu terdiam sebentar dan melirik padaku untuk meneruskan kata-katanya barusan.

“Cewek cantik tentu aja membuat laki-laki melotot… Pengen memiliki… Pengen menyentuh…” katanya meneguk minumannya sedikit.

“Beberapa perempuan juga sama… Normal sih menurut saya…”

“He he he…” Julio tertawa terkekeh-kekeh membenarkan kata-kata pak Ferdi barusan.

“Lu pada jangan tersinggung ya… setiap ngeliat kalian bertiga… yang kubanyangkan adalah menelanjangi kalian trus… trus… Aa… tau sendiri terusannya…” kata Julio bersandar santai di kursinya.

Ia menggeleng-geleng mengagumi gambar yang muncul yang di benaknya. Mungkin gambar tubuh tiga perempuan ini yang sedang telanjang.

“Aku membayangkan menusuk-nusuk seluruh tubuhmu dengan garpu… lalu kutuang cuka… Pasti jadi konser metal paling dahsyat yang pernah ada…” kata Aisa mengerikan dengan muka dibuat sedemikian datar. Tangannya bergerak seolah masih menusuk-nusuk dengan garpu itu.

“Neng… kau mau apa?” ia beralih pada temannya.

“Menelanjanginya juga… Tapi abis itu Neng ikat di pohon… Neng tuangi air gula biar dirubungi semut merah… Hiiih…” kata Neneng lebih sadis. Julio belagak pingsan di kursinya dengan lemas.

Bahkan sehabis makan-makan ini, lucu-lucuan sesama anggota grup BBM ini terus berlanjut di rumah. Berbagai ledekan dan lelucon dilemparkan silih berganti dari berbagai pihak. Sesekali aku juga ikut nimbrung mengirimkan gambar meme lucu yang sesuai topik pembicaraan.

Julio: bg Aseng seru kn?

Julio menghubungi langsung tidak ngobrol rame-rame di grup lagi. Pria yang suka ngomong blak-blakan ini sebenarnya seru untuk dijadikan teman bercanda tapi belum tentu tepat dijadikan sahabat.

Aseng: seru dong

Julio: jgn diambil ati y bg Aseng sy mmg bercanda x srg berlebihan kyk td

Aseng: gk pa-pa biasa itu

Julio: sy spt ini hny utk pelarian aj bg Aseng drpd pusing di rmh

Aseng: stres?

Julio: kek gitulah bini sy masalah x bg

Aseng: knp bini mu td dengernya gk dinafkahi gt

Julio: iya bg gak dientot2 sdh berapa lama wkwkwk

Aseng: ?? (kaget aku dengan kata vulgar yang telah diketikkannya barusan)

Julio: 5 bulan ada gk kuentot itu perempuan

Aseng: klo di kami (Islam) 3 bulan gk dientot blh minta cere tuh binimu

Julio: mn berani dy minta cere abis dy dihajar klgnya klo berani minta

Aseng: knp? ketauan selingkuh dy?

Julio: foto di grup td foto kontol selingkuhan x sm dy bg Aseng

Aseng: ?? (lagi-lagi aku kaget dengan apa yang disampaikannya padaku)

Julio: sy telpon aj y?

HP-ku bergetar pertanda ada telepon masuk dari Julio terlihat dari nomor kontaknya yang sudah kusimpan.

“Ya… Alo? Gimana tadi… Awak gak ngerti…” bingungku.

“Itu yang foto grup pertama tadi itu bukan foto kontolku, bang Aseng… Itu foto selingkuhan binikku sebenarnya… Malas kali kutarokkan foto kontolku diliatin banyak orang… Yang kedua itu mereka pas lagi maen…” jelasnya tentang hal yang kubingungkan dari tadi.

“Oo…” mulutku bulat baru paham situasinya.

“Pasti bang Aseng mau nanyak… Kok gak kau cere aja binikmu itu? Udah ketauan selingkuh kek gitu…” katanya menanggapi pikiran orang banyak secara normalnya. Aku juga mau menanyakan itu.

“Iya-iya… Kenapa?” tanyaku.

“Gimana aku mau menceraikan dia, bang… kalo aku juga sama bejatnya kek dia…” jawabnya terdengar ringan. Benar juga. Dua-duanya sama-sama nakal di luaran rumah. Siapa yang mau disalahkan dan bagaimana punya keberanian untuk menyalahkan kalo dua-duanya adalah pelaku yang sama.

“Wah… Runyam ya rumah tangga klen… Gak pusing kau, Julio?” tanyaku.

“Gak saya bawa pusing, bang Aseng… Ngapain pusing-pusing… Kalo saya mau perempuan saya cari aja yang tersedia… Saya punya beberapa pacar lain yang bisa saya pake kapan aja saya mau… Kalo binik saya… saya gak tau persis… ada berapa pacarnya ato hanya satu itu aja…” jelas si Julio itu malah terdengar seperti membanggakan rumah tangganya yang rusak parah begini.

“Jadi foto itu dikirim sama binikmu, Julio?” tebakku.

“Tepat sekali, bang… Jadinya kami kirim-kiriman foto gitu… Perang siapa yang paling gila selingkuhnya…” jelasnya entah ada dimana ia saat ini. Aku tenggarai mungkin ada di tempat sepi karena tak ada suara sedikitpun di background-nya. Seperti juga diriku yang duduk di tepi kolam renang. Awalnya kukira ia akan ada di semacam diskotik ato klub malam sejenisnya untuk mengakomodasi dirinya yang aku anggap cukup liar.

“Wah… Yang paling gila, ya? Jadi klen gak tinggal serumah lagi-lah?” tanyaku membayangkan sendiri apa yang akan terjadi selanjutnya. Rumah tangga macam apa itu? Suami istri masing-masing tau kalo pasangannya berselingkuh secara terang-terangan.

“Masih serumah, dong… Tapi yaa… beda kamar… Pisah ranjang istilahnya… Rumah cuma tempat singgah buat tidur doang…” katanya enteng sekali nadanya seperti menggampangkan. “Gara-gara itu juga, bang…” gantungnya.

“Gara-gara apa?” tanyaku penasaran akan ucapan terakhirnya itu.

“Tri-es…”

“Tri-es? Threesome maksudnya?” tebakku. Kenapa dengan 3S? Apakah biniknya main hati dengan partner threesome mereka.

“Awalnya itu ideku, bang untuk maen 3S… Adalah cewek bispak yang ku-setting sebagai partner 3S kami… Jadi maen-lah kami dua cewek satu cowok, kan… Masih biasa-biasa aja… Aku dong yang enak bisa maen sama dua cewek… Lanjut-lanjut… Binikku pengen coba yang dua cowok satu cewek, dong… Katanya biar adil… Kuturuti… Kucarikan partner cowok yang bisa kukondisikan… Binikku sangat menikmatinya… Kami berdua hepi… Dan satu hari ia mengajukan satu cowok baru yang katanya sreg di hatinya… Ganteng, bersih, sopan dan berpendidikan… Kuturuti juga karena masih tetap diselingi dengan dua cewek satu cowok yang kumau… Rupanya, bang… cowok itu mantannya dulu waktu masih SMA… Maen hati dia ternyata…” paparnya gamblang.

Wah… Liar sekali kehidupan orang-orang ini. Aku jadi silau dibuatnya. Gak kebayang harus berbagi istri dengan pria lain. Aku gak akan pernah mau.

“Jadi keknya binikmu itu… cuma selingkuh sama satu cowok mantannya itu-la ya?” simpulku.

“Aku gak perduli, bang… Mau satu itu aja… mau banyak juga gak pa-pa… Karena aku banyak, bang… Kalau dia cuma satu itu aja… dia yang rugi, kan?” jawabnya lebih santuy lagi. Wah… Masyarakat hedonis perkotaan… Yang cuma mikirin enak saja. Keknya aku udah mulai ketularan nih.

“Jadi anak klen siapa yang ngurus?” tanyaku lagi.

“Belum ada anak kami, bang… Gak usah punya anak-lah kalau keadaannya kayak gini… Kalau ada anak kami… entah anak siapa nantinya dia itu…” jawabnya tetap enteng. Benar juga. Kasihan anaknya di tengah keluarga yang carut-marut kek gitu.

“Aku turut prihatin dengan keadaan keluargamu, Julio… Apa ada keinginan untuk memperbaikinya?” aku berperan sebagai seorang teman, walo masih baru, untuk mendengarkan uneg-unegnya. Siapa tau masih ada jalan untuk rekonsiliasi, perdamaian untuk mereka berdua. Keluar dari kegilaan itu.

“Jujur ya, bang… kalo duduk sendirian kayak gini… ada, bang…” jawabnya setelah jeda beberapa saat. “Siapa sih yang mau rusak kayak gini terus… Semua pasti mau keluarga yang harmonis… yang bahagia… ada anak-anak yang lucu… Bukan cuma bersenang-senang aja… Semua tentu ada masanya… Apalagi umur terus bertambah…” hentinya. Aku yakin disana ia sedang menyeka air mata ato hidungnya yang tiba-tiba meler.

“Mulai ngomong hati ke hati dengan binikmu, Julio… Buang ego sebentar… awak yakin binikmu juga sama capeknya denganmu… Perempuan itu pastinya juga punya mimpi punya keluarga kek yang kau bilang tadi… Harmonis, bahagia, anak-anak lucu, damai… Kalo perempuan normal maunya cuma itu aja-nya… Udah cukup-la gila-gilaan klen selama ini… Udah puas-la istilahnya…” kataku mencoba memberinya nasehat sekedarnya. Moga-moga bisa diterimanya dan dipertimbangkannya.

“Iya-ya, bang… Capek juga kayak gini terus… Aku akan coba, deh…”

“Bagus kalo gitu… Tapi ingat… jangan pake emosi… Buang ego laki-laki kita sebennnntar aja… Pasti berhasil…” kataku lumayan senang mendengar ia mau mencobanya. Entah sekarang ato nanti-nanti.

“Sip, bang… Ini aku mau ke kamarnya sekarang… Udahan ya, bang… Makasih masukannya…” katanya cepat. Wah… Enak juga punya kepribadian kek si Julio itu. Mau minta maaf juga bisa blak-blakan, gak mikir panjang-panjang, tanpa banyak pertimbangan. Bagus, deh. Semoga rekonsiliasinya berhasil. Semoga rumah tangganya aman damai setelah kegilaan ini.

Aku masih duduk santai-santai di pelataran di tepi kolam renang yang sepi menjelang tengah malam ini. Semua penghuni rumahku sudah dibuai dalam mimpi lelapnya. Memandangi gelapnya langit tak berbintang karena kalah karena kemilaunya cahaya artifisial bumi. Sesekali terdengar kendaraan melintas di jalan kompleks di depan sana. Beberapa tetanggaku baru pulang beraktifitas malam ini. Udara malam ini tidak terlalu dingin malah cenderung gerah. Untung aku ada di tepi kolam hingga suhu gerah ini dibantu diredam sejuknya air.

“JOST! JOST! JOKHH!!” dua kali ledakan mendarat di air kolam dan satu di paving block. Sontak aku mendongak ke atas. Sebuah gumpalan api besar membumbung tinggi di atas halaman rumahku. Api?

Benda itu berusaha menabrakkan dirinya di pagar ghaib yang sudah kusiapkan berlapis-lapis sebagai perlindungan rumah ini. Tapi tiga kali ledakan serangan itu sudah berhasil menembus tadi. Untung tidak mengenaiku. Ini pasti santet yang sangat kuat hingga bisa menembus pertahanan pagar ghaib buatanku. Ini gak bisa dibiarkan. Berani-beraninya mengusikku di rumah.

“Banaspati…” gumamku mengenali santet yang dikirimkan padaku ini.

Ini bukan kali pertama aku menghadapi serangan mahluk ghaib semacam ini. Ilmu hitam bernama kondang Banaspati ini kerap dikirimkan oleh pelakunya kepada korban-korbannya. Biasanya kalo sudah mengenai targetnya akan menimbulkan penyakit yang aneh-aneh yang gak bisa disembuhkan pihak medis.

Ato juga menyebabkan rumah yang ditujunya kebakaran karena bentuk api ghaib-nya. Di dalam api itu bisa ada satu ato lebih mahluk ghaib yang menyerupai gumpalan api tersebut tergantung kesaktian dan kewaskitaan sang pengirimnya. Biasanya berbentuk jin jahat yang sudah bekerja sama, mengikat perjanjian Menggala Suba dengan orangnya.

Mandau Panglima Burung kuhunus di tangan kanan dan bakiak Bulan Pencak di kaki. Ada dua jenis Banaspati yang secara umum dikenal, yang pertama adalah jenis Banaspati kiriman seperti ini. Biasanya dibuat dari telur ayam kampung pertama yang ditelurkan induknya, dibacakan mantra-mantra untuk menumpangkan jin jahat ke dalamnya untuk ditujukan kepada taget, di atas bara api hingga meletus pecah.

Dari dalam telur itu akan keluar bola api yang akan terbang ke target tujuannya. Yang kedua adalah Banaspati yang merupakan mahluk ghaib yang tinggal di kerajaan-kerajaan mereka, biasanya hutan-hutan angker. Wujudnya sama berbentuk kepala orang tua dengan mata melotot, gigi taring dan lidah panjang berapi membara terbang mencari mangsa manusia yang lengah.

Siapa yang mengirim Banaspati ini? Siapa yang baru mencari masalah denganku? Julio… Apakah ada hubungannya dengan Julio? Dengan istrinya? Apakah aku dianggap mengganggu status mereka? Kalo dari pasutri itu sepertinya tidak mungkin. Lebih masuk akal kalo berasal dari orang yang telah mengambil keuntungan dari situasi mereka berdua. Teman selingkuh biniknya Julio…

Siapapun orang yang telah mengirim ini padaku, akan mendapat balasan yang berat dariku. “FUSHHH…” sontekan lompatan menggunakan bakiak Bulan Pencak membuatku melompat tinggi, melampaui bidang pelindung pagar ghaib-ku. Aku mencapai bola api yang membara berkobar bak sebuah matahari mini. Aku dapat melihatnya sekarang. Banaspati ini adalah jenis kedua yang kujabarkan di atas tadi. Kepala berapi membara.

Jenis kroco-kroconya jin Ifrit yang hanya dapat mematerialisasikan dirinya dalam bentuk kepala berapi saja. Jin Ifrit total seluruh tubuhnya berapi jadi ini masih bawahannya walo gak bisa dianggap enteng juga. Terbukti ia bisa menembakkan tiga kali serangan apinya menembus pagar ghaib berlapis-lapisku tadi.

“BUOH! BUOH!” ia menembakkan bola api itu lagi selagi aku melayang mencapai ketinggiannya.

Serangan itu kutangkis dengan mandau lalu kutendangkan bakiak Bulan Pencak sebelah kanan hingga lepas padanya, meluncur cepat dan telak mengenainya. Kepala berapi itu terjajar mundur. Sisa dua bola api serangannya mendarat di puncak bidang kubus pagar ghaib yang mengitari rumahku.

Apinya padam menyisakan asap tipis. Kuayunkan kaki kiriku berputar dengan kuat lalu kujejakkan kaki kananku, membuatku meluncur maju cepat pada Banaspati yang barusan terjajar mundur. Mandau terentang dihunus siap kusabetkan.

Sepersekian detik ia baru sadar ada sabetan benda tajam yang akan menghajarnya, sepersekian detik juga ia bisa menguasai dirinya. Giginya menangkap bilah tajam mandauku. Panas apinya terasa membakar ujung-ujung rambutku hingga keriting berkerut. Terasa panas membakar. Ia berusaha membakar ato melumerkan bilah baja mandau ini? Ia menggigit kuat mandauku hingga sulit dilepas. Lawan yang ulet. Ia menahanku mengambang di ketinggian.

Dengan bobotku yang hanya 67 Kg ini, kulipat gandakan dengan tenaga mengayunkan mandau, akan kuhantamkan iblis api ini ke bidang lebar pagar ghaib yang ada dibawah. “HEAAAHH!!”

Kami berdua meluncur cepat ke bumi karena tenaga ayunan sabetanku. Ia tak kunjung melepas mandauku yang terus digigitnya. “DRRRTTT-TAAK!!” suara berisik dari benturannya yang menghantam keras puncak dinding ghaib tak terlihat itu. Ia tak juga melepasnya walo tubuhnya terbanting dan tergerus pelindung yang kubuat korosif bagi sifat tubuhnya yang bermuatan negatif. Aku juga tak mau melepas senjataku ini.

Kudesak tubuhnya ke pagar ghaib terus dengan menghimpitnya hingga aku melayang terbalik, aku di atas dan Banaspati tergencet di pagar pelindung.

“KRAAAHHH!!” ia meradang dan mengayunkan mandauku yang menghubungkan kami.

Tetap kukuh terhubung, kami melayang meluncur menjauh berputar-putar bak bumerang ke arah jalanan akibat tenaga mengayun si Banaspati barusan. Pasti akan sakit sekali kalo membentur aspal keras jalanan. Diperparah lagi ada sebuah mobil yang baru saja melintas sehabis berbelok dari persimpangan.

Kalo menabrak mobil itu duluan, bisa meledak itu mobil karena unsur api dan bensin yang bertemu. Aku ingat masih memakai bakiak Bulan Pencak sebelah kiri dan langsung kuayunkan kakiku menendang dan menghantam tubuh berapi Banaspati sialan ini. Itu semua berlangsung dengan sangat cepat karena aku terbiasa berkelahi cepat dengan silat harimau Mandalo Rajo.

Banaspati itu terjengkang terlepas dari mandauku. Ada bunga api memercik beradunya baja mandauku dan gigi tajamnya. Setan kepala api itu terseret-seret di atas aspal hingga membuat kerusakan memanjang di depan mobil yang melintas ini.

Aku harus berjumpalitan di depan kap mobil SUV itu, aku bisa melihat pengemudi mobil itu di gerakan cepat yang bagi orang awam akan seperti slow motion, menghindari merusak mobil itu, bersalto menjauh dan kembali memburu si Banaspati dengan memutar mengambil sisi samping.

Kupanggil kembali sebelah kanan bakiak Bulan Pencak akibat fitur Menggala Wasi-ku (Menggala yang menjadikan senjatanya sebagai partner tarung secara garis besar. Bakiak Bulan Pencak dan mandau Panglima Burung adalah benda Menggala Wasi-ku).

Lengkap dengan semua artileri tempurku, bakiak Bulan Pencak yang mempercepat gerakanku dan mandau Panglima Burung di tangan sebagai pedang Selatan-ku, kusongsong lagi Banaspati yang masih berusaha mengambang sehabis terbanting-banting di atas aspal, menggerus merusak jalanan tepat di depan rumahku. Mobil itu berhenti mendadak, ngerem paku, kaget dengan apa yang hampir menimpanya. Banaspati celingak-celinguk mencariku yang berputar dari sisi kiri dirinya.

“Pedang Selatan Membelah Neraka!” ia terlambat mengantisipasi sabetan penuh berputarku dengan lompatan jauh berkat sontekan bakiak Bulan Pencak.

Hanya desiran angin yang menyertai di belakangku yang kemudian menggoyangkan kobaran api di wujud kepalanya, perlahan reda, redup dan mati dengan tubuh terbelah dua. Banaspati itupun mengabur dan hancur hilang seperti asap.

Siapa yang sudah mengirim Banaspati sekuat itu? Banaspati memang ilmu hitam ato iblis jahat yang kuat. Tapi yang barusan tadi itu terlampau kuat dari yang pernah berurusan denganku. Aku sampe kerepotan membasminya. Apalagi dia berhasil menembus pagar ghaib-ku dan memasukkan serangannya.

“Gak apa-apa, kan?” sapaku pada pengemudi mobil itu. Ia sepertinya masih syok dengan kejadian barusan. Ia masih memegangi stir mobil dan pandangan kosong ke depan, ke bekas kobaran api Banaspati yang telah kutebas.

“Vivi… Vivi gak pa-pa, kan? Hei?” aku mengetuk-ngetuk kaca samping mobilnya untuk menarik perhatiannya. Tak berapa lama ia menurunkan kaca samping itu. Ia tentunya masih kaget.

“Apa itu tadi, bang?” tanyanya dengan suara bergetar. “Bukan Kuyang lagi, kan?”

“Bukan… Itu tadi namanya Banaspati… Udah… Vivi pulang aja… Sudah aman…” kataku.

Untung aja yang meliat semua kejadian ini secara langsung adalah Vivi jadi aku gak terlalu repot harus menjelaskan apapun karena ia sudah tau aku siapa berkat kejadian dengan Kuyang tempo hari.

Pelan-pelan ia menjalankan kembali mobilnya, menghindari jalan aspal rusak gerusan tubuh dan panas Banaspati tadi. Dan saat aku menoleh ke arah rumahku untuk pulang, ada asap tebal putih membumbung tinggi dari sana. Kimak! Kebakaran!

Panik aku berlari cepat-cepat kek kesetanan dan melompati pagar setinggi dua setengah meter itu dengan perasaan kalut. Semua anak dan istriku ada di dalam rumah. Ini pasti sisa serangan si setan Banaspati pukimak tadi.

Tapi aku tak menemukan sumber api di mana-mana. Hanya ada asap putih yang setelah kuhirup aromanya yang ternyata bukan asap sama sekali. Ini uap air. Kolam rendah yang biasa dipakai Rio untuk bermain air adalah sumber uap air seperti kabut tebal yang awalnya kukira asap.

Sebuah batu apung putih bulat segenggaman tanganku yang ada di paving block juga berdesis panas menimbulkan cincin putih radiasi di atas lantai batu. Benda ini dan dua lagi yang masuk ke kolam yang tadi berhasil masuk ke dalam pagar ghaib-ku, menguapkan semua air kolam sampai kering tak bersisa.

***

Api lawannya adalah air. Tapi tidak sama halnya kalo kobaran api Banaspati bertemu air. Api Banaspati tidak bisa dipadamkan dengan menggunakan air seperti yang terjadi pada kolam renang rendah yang airnya menguap menjadi kabut. Total ada tiga batu apung bulat yang tersisa bekas serangan Banaspati itu. Dua di dasar kolam dan satu di paving block.

Ketiga benda bulat itu masih luar biasa panas dan aku tidak mau menyentuhnya sama sekali dengan tangan kosong. Benda-benda itu harus dinetralkan dulu menggunakan kapur sirih. Tidak mungkin mendapatkan kapur sirih dalam jumlah sebanyak itu kecuali membuatnya sendiri.

Pagi-pagi aku menyuruh Misnan mencari batu kapur atau kapur gamping dan menunggu dia kembali, kularang siapapun untuk mendekati area kolam karena masih sangat berbahaya. Kapur gamping itu lagi dihancurkan menjadi bubuk lalu harus direndam di dalam air selama seminggu.

“Pokoknya jangan ada yang mendekati kolam. Pintu ini tidak boleh dibuka sama sekali… Kasih tau semuanya juga area ini jadi daerah terlarang sampai nanti papa bersihkan… Ingat ya, ma?” kataku mewanti-wanti istriku.

Ia mengangguk-angguk saat aku akan berangkat kerja. Aku masih harus menunggu kapur gamping itu direndam agar menjadi kapur sirih yang kubutuhkan untuk meredam panas batu apung yang berasal dari Banaspati itu. Kuulangi peringatanku sampe istriku bosan mendengar ocehan cerewetku.

Aku berkendara ke pabrik masih dengan kepala panas dan dongkol. Untung aja lewat jalan tol dan gak menghadapi kemacetan karena bisa-bisa aku meledak emosi karena rasa amarah ini gak tersalurkan.

“Alo, Julio? Keknya bahagia kali…” jawabku mengaktifkan speaker terus nyetir.

“Bahagia-lah, bang… Makasih nasihatnya tadi malam… Kami udah baikan…” jawabnya dengan nada ceria.

“Wah… Selamat-la, ya… Awak ikut senang kalo klen jadi baikan… Jadi gak kerja-la ceritanya ini? Mangkir kerja?” tebakku.

Ia tertawa-tawa di seberang sana. Dari suaranya yang menggema bukan seperti di dalam mobil, lebih seperti gaung kamar. Harusnya jam segini ia seharusnya sudah OTW ke kerjaan seperti diriku. Tapi karena abis baikan setelah pertengkaran ato cekcok lama biasanya akan membuat hubungan tambah mesra dan panas.

“Tau aja, bang Aseng… Jangan bilang-bilang pak Ferdi nanti di kelas… Saya permisi sakit… Ha ha haha…” katanya tetap blak-blakan. Ada suara perempuan sayup-sayup di belakangnya. Itu pasti istrinya yang baru saja baikan sehabis rekonsiliasi pernikahan menuju yang lebih baik.

“Mau berduaan aja dulu, bang… Makasih ya bang sekali lagi…” katanya lalu menutup hubungan telepon.

Kepalaku setidaknya gak panas lagi setelah mendengar kabar baik dari Julio barusan. Setidaknya ada yang sedang berbahagia setelah aku pontang-panting tadi malam menghadapi Banaspati ganas itu.

Aku tidak punya tersangka lain selain daripada selingkuhan istri Julio. Koreksi mantan selingkuhan istri Julio. Tidak harus pria itu langsung yang mengirim Banaspati, bisa dukun langganannya ato siapalah, tapi yang pasti masih sepengetahuannya.

Selesai telponan sama Julio, kembali HP-ku berdering. Ternyata ada di call-waiting dibelakangnya. Andini? Ngapain nih binor Siantar itu nelpon pagi-pagi? Udah bangun dia apa?

“Alo, bu Andini yang ayu tenan…” gombalku. Suasana hatiku mendadak adem mengingat binor satu ini.

“Bang Aseng jelek… ANDINI HAMIL!!” teriaknya. Suaranya melengking memenuhi ruang kabin Pajero ini. Kupingku sampe berdenging jadinya.

“… siapa sih itu yang adek telpon?” ada suara laki-laki di latarnya. Karena suara speaker-phone aku bisa mendengarnya dengan jelas. Pasti itu suaminya, si Heri-Heri itu.

“Ish… Sana dulu jauh-jauh… Bang Aseng… Andini hamil…” ia berbisik mengulanginya lagi.

“Iya dengar bu Andini ayu… Selamat ya? Semoga jabang bayi sama mamanya sehat selalu sampai lahiran nanti…” kataku standar memberinya selamat atas kehamilannya ini. Bertambah lagi satu di dalam daftar binor yang berhasil kuhamili. Sangat gembira tak terlukiskan mendengar kabar ini.

“Abang jauh-jauh dulu sana…” ia menyuruh suaminya jangan dekat-dekat dulu darinya karena ia masih mau membagi kebahagiaannya ini denganku lebih lama.

“Kami lagi di klinik nih, bang…” bisiknya lagi.

“Andini positif hamil… Andini senang kali… Makasih ya, bang… Andini akan menjaga anak ini baik-baik…” katanya mungkin berkaca-kaca di Siantar sana. Ada isakan bahagia juga. Aku turut berbahagia denganmu, binor ayuku.

Lama ia menelponku walo terus diganggu suaminya. Ia bergerak sana-sini karena terus diikuti suaminya yang curiga ia telponan dengan siapa. Pengalaman dirinya yang kerap menyelingkuhi istrinya membuatnya menjadi parno sendiri takut karma menimpa dirinya. Anda telat, kisanak. Binikmu udah kuentot berulang-ulang waktu kao sedang enak-enakan juga dengan janda—si Cyntia itu.

Menerima penelepon berikutnya untung aku sudah keluar dari gerbang tol dan kucari tempat aman untuk menepi. Perasaan udah kek penyiar radio jadinya aku yang ditelpon pendengar bolak-balik pengen ngirim salam-salam ke pendengar lain.

“Ya… alo, bu dosen Vivi?” jawabku masih duduk di belakang setir walo dalam keadaan terparkir di pinggir jalan. Lampu sein berkedip-kedip.

“Halo, bang Aseng… Vivi masih takut, bang Aseng… Bolak-balik Vivi kebangun kebawa mimpi kejadian tadi malam itu…” ujarnya di sana.

Ia masih di rumahnya karena aku mendengar suara baby sitter-nya sedang bernyanyi kecil untuk Nirmala. Suara Benget juga kedengaran sedang mengajak bayi itu bercanda.

“Vivi masih trauma sama kebakaran itu, ya?” tebakku.

Vivi menjadi yatim piatu karena kedua orang tuanya tewas dalam kebakaran. Ia yang sedang dalam masa persiapan pensi di sekolahnya mendapati rumahnya dalam keadaan rata dengan tanah saat pulang. Meninggalkannya sendiri sebatang kara saat ia masih kelas 2 SMA. Untung ia bisa mengurus dirinya sendiri hingga dewasa sekarang.

“Iya, bang Aseng… Tapi beneran gak apa-apa, bang?” tanyanya lagi.

“Gak pa-pa, bu Vivi… Banaspati itu udah awak habisi… Bu Vivi kan liat sendiri… Tidak ada yang perlu ditakutkan… Lagian setan api itu mengincar awak… bukan bu Vivi, kok…” kataku mencoba terus menenangkan kegelisahannya.

Tapi yang namanya trauma memang sulit disembuhkan. Apalagi ini sudah sejak lama membekas di benaknya. Orang tuanya tewas dalam kebakaran yang mengenaskan. Sampai sekarang ia menjauhi apa-apa yang ada hubungannya dengan api. Kompor, korek api, rokok, kembang api, api asmara… yang dahulu pernah membara… semakin hangat bagai ciuman yang pertama… Apa mungkin dia gak pernah pacaran, menghindari api asmara? Aku gak sempat nanya itu.

“Tapi masih takut, bang…” katanya lagi hampir terisak.

Memang kobaran api Banaspati tadi malam itu akan sangat mengerikan bahkan pada orang yang tak punya trauma pada api. Bayangan api berkobar-kobar itu pasti meninggalkan kesan yang sangat menakutkan. Kesan kematian yang telah merenggut kebahagiaannya. Merenggut keluarganya.

Ingin rasanya aku putar balik mobil ini dan menyambangi rumahnya lalu memeluknya, menenangkan kegelisahan dan ketakutannya. Tapi sementara ini hanya bisa kulakukan via suara saja. Berbagai kata-kata motivasi garing kulancarkan agar ia tenang dan melupakan pemandangan menakutkan itu. Jelas serangan tadi malam tidak lagi personal saja karena Banaspati itu juga sudah mengacak-acak emosional Vivi, teman sekaligus dosen sementaraku.

***

Kelas agak sepi malam ini tanpa kehadiran Julio. Biasanya ia yang bikin heboh dengan pertanyaan bodoh ato candaan dewasa khas dirinya. Sampe kelas malam-pun di-skip untuk bersama istrinya lebih lama. Mungkin semacam bulan madu mendadak bagi mereka berdua.

“Katanya sakit gitu laporan personalia pabrik… Paling juga ngamar sama pacarnya…” kata pak Ferdi yang sengaja berbalik ke belakang menghadapku mengomentari absennya Julio. Pak Ferdi sudah demikian mengenal Julio sampai mengasumsikan demikian. “Ada jadwal sama Mayu-chan, pak Aseng?” ia lalu berbisik menanyakan ini. Padahal ia sudah tau seharusnya dari istri sirinya itu sendiri.

“Dua hari lagi, pak Ferdi…” jawabku lalu teralih pada getaran notifikasi pesan BBM yang barusan masuk. Dari Julio.

Julio: plg kul ketemu di kafe biasa kt nongkrong bisa pak?

Aseng: ada apa

Julio: ngobrol2 aja

Aseng: gk ngajak p ferdi n genk

Julio: gk usah kt2 aja

Aseng: ok abis kul ya

Julio: ok c u

Ah… Mungkin dia mau berterima kasih karena telah memberinya nasehat kemaren malam itu yang telah membuka mata hati dia dan istrinya yang selama ini hidup dalam ketidak jelasan mahligai rumah tangga yang carut marut. Bagus toh mereka sudah mau terbuka saling memaafkan, membuang ego dan mengakui kesalahan masing-masing. Kehidupan yang selama ini mereka jalani sepenuhnya salah dan ngawur. Masa saling perang siapa yang paling hebat selingkuhnya… Kehidupan perkawinan macam apa itu?

Perkuliahan berlanjut biasa aja seperti malam-malam sebelumnya. Hanya saja seperti yang kubilang tadi di atas, agak lebih sepi aja karena ketiadaan Julio–sang pembuat gaduh. Malam ini gak ada ajakan nongkrong di kafe selain ajakan Julio tadi dan masing-masing pulang ke rumahnya setelah saling mengucapkan sampai jumpa besok.

Kukendarai Supra X 125-ku ke kafe yang biasa kami kunjungi beramai-ramai itu, tempatku janjian bertemu Julio. Kuparkir di bagian samping belakang kafe. Aku masuk dari pintu samping kafe dan langsung menuju meja yang sering kami duduki beramai-ramai tapi ternyata sedang sedang dipakai kelompok pengunjung lain. Aku memindai sekeliling ruangan kafe akan keberadaan Julio. Ada seseorang di ujung sana yang melambai-lambai padaku, disana dia rupanya.

“Bang Aseng… Sini… duduk sini, bang…” sambutnya padaku dan menepuk kursi kayu di sampingnya.

Aku meletakkan tas milikku di bawah meja dan menarik kursi untuk duduk, aku melirik pada satu sosok yang duduk di couch yang rapat di dinding di depan kami berdua.

“Kenalin, bang… ini istriku… Panggilannya Amei…” perempuan itu mengulurkan tangannya yang kusambut.

“Amei…”

“Aseng…” jawabku. Tangannya halus dan hangat.

“Kelas sepi-loh Julio tanpamu…” kataku berusaha hangat dan ramah padanya. Ia tertawa-tawa lepas seperti biasa.

“Bang Aseng kayak gak pernah bulan madu aja?” jawabnya enteng saja.

“Memang gak pernah, Julio… Waktu dulu awak menikah… ekonomi kami hanya pas-pasan… Rumah masih ngontrak… Gak mikirin bulan madu-la… Boro-boro bulan madu-laaah…” kataku berusaha membuatnya agak empati padaku. Aku yang dulu tidaklah seperti yang sekarang.

“Tapi sekarang udah lumayan kan, bang?” ia beralih menghadap padaku mengakrabkan diri. Ia memang cenderung cepat akrab akibat pembawaannya yang easy going dan ceria. Orang seperti ini banyak punya teman. Pembawa keceriaan saat berkumpul dan pusat keramaian kelompok.

“Lumayan…” jawabku pendek.

“Lumayanlah, bang… Rumah di kompleks XXX masak biasa-biasa aja…” katanya terdengar seperti menyindir tetapi tidak membuatku tersinggung.

Hanya seperti tau lebih banyak daripada yang pernah kuberitau. Aku menaikkan alisku tanpa perlu bertanya verbal darimana ia tau itu? Apa dari pak Ferdi? Tapi sepertinya pria itu bukan tipikal orang yang ember…

“Gak sengaja taunya, bang… Amei ini rupanya kakak kelasnya asisten dosen itu loh… Si Vivi-Vivi itu… Tadi siang kami kebetulan ke rumahnya… Karena kayaknya bang Aseng sama Vivi itu saling kenal… kutanya-lah sama Vivi dimana kenalnya… Katanya tetangga di blok itu… Gitu…” jelasnya sendiri tanpa diminta. “Tapi bang Aseng kereta (motor) tiap hari ke kampus… Mobilnya ditinggal terus?” tanyanya pengen tau alasanku seperti itu.

“Bang Aseng suka merendah nih kayaknya…”

“Kesan pertama awak di kelas udah kek gitu, Julio… Biar ajalah kek gitu…” jawabku taktis aja.

“Gak usah dikasih tau yang lain…” kataku memintanya merahasiakan ini terus.

“Jadi Amei kakak kelas Vivi waktu kuliah?” tanyaku malah beralih pada istrinya yang duduk di sana diam-diam bae. Dah pada ngopi belom? Ngevape dulu!

“Eh? Oh… Bukan… Kakak kelas waktu SMA dulu… Sewaktu dia kelas satu… saya udah kelas tiga…” jawabnya cepat menguasai diri.

“Jadi apa Amei tau tentang keluarganya yang kebakaran itu?” tanyaku.

“Tau, bang… Kami para alumni sempat melakukan penggalangan dana untuk membantunya… Tapi karena kebetulan tabungan keluarganya cukup… semua bantuan kami itu malah disalurkannya ke panti asuhan… Dia anak yang kuat… dan tangguh…” jelasnya. Wah… aku baru dengar tentang yang ini. Bahkan Benget gak mau cerita.

“Dia masih trauma sama api…” kataku menggantung.

“Trauma?” ulang Amei. Ia berpandangan dengan Julio sesaat.

“Karena kebakaran itu?” Aku mengangguk. Ia menungguku melanjutkan penjelasanku tentang trauma yang kucetuskan tadi.

“Trauma dengan api karena musibah itu…” ia mengambil kesimpulan sendiri.

Ini salah satu kebiasaanku yang entah baik ato jelek. Aku selalu mengetes tingkat intelejensi dan daya nalar seseorang dengan memberi secuil informasi dan membiarkan ia mengembangkannya sendiri sesuai informasi yang ia punya dan ia ketahui. Dapat dinilai tingkat kemampuannya dalam menyimpulkan suatu info dari sana.

“Jadi karena itu Vivi gak suka makanan panas… gak punya kompor gas… gak mau kumpul-kumpul barbekyu… Karena trauma api?” simpulnya. Kan? Cara yang cerdas, kan?

Aku mengangguk lagi. Amei melirik pada suaminya lagi. Sepertinya menyuruhnya menyampaikan sesuatu. Aku berpaling pada Julio karena gak enak juga ngeliatin binik orang yang aduhai kek Amei begini sementara lakiknya ada di sampingku.

“He he hehe… Iya… Gini, bang… Saya sama istri mau mengucapkan terima kasih atas nasehat abang semalam… Entah kenapa udah segitu banyak yang menasehati… memberi saran… Ada yang marah-marah bahkan… Gak ada satupun yang masuk ke kupingku… Sekalinya abang yang ngomong… kok rasanya nyess… gitu… Tersentuh istilahnya… Tergerak aku jadinya untuk memperbaiki hubungan kami ini… yang… yang kacau ini, bang… Amei juga begitu… Kami berdua mau mengucapkan terima kasih banyak, bang… Xiè-xiè…” keduanya kompak menyatukan kedua kepalan tangannya lalu digoyang-goyangkan kek lagi menyambut Imlek.

“Sie-sie?” aku ikut-ikutan melakukan hal yang sama dengan paoknya. “Maksudnya?”

“Makasih-loh, bang Aseng… Cuma makasih aja atas nasehatnya…” kata Julio menyederhanakan maksud mereka berdua tadi.

“Biasa-la itu… Kita harus saling nasehat menasehati… Kalo ada yang salah… yaa dikasih tau… Salah lu kek gini… Jangan begini… Lebih baik begitu… Julio kan teman awak… Sudah biasa itu…” kataku melambaikan tangan beberapa kali agar mereka tidak melebih-lebihkannya. Jangan sampe ada pulak hadiah yang akan diberikan mereka berdua padaku akibat terbukanya jalan rekonsiliasi damai mereka.

“Karena gini, bang Aseng… Omongan orang tua kami aja gak kami dengar untuk berbaikan… Tanya sama Amei… Dia pun sama juga… Tapi kenapa sekali bang Aseng yang ngomong… lewat telpon pula… kok bisa tergerak hatiku untuk berbaikan? Kan ajaib itu namanya…” kata Julio mengulangi penyebab ini semua. Amei juga mengangguk-angguk beberapa kali membenarkan.

“Aa… Ya udahlah… Traktir aja-la awak makan kalo gitu ceritanya…” kataku gak mau ambil pusing.

Hidupku udah terlalu banyak keajaiban yang jauh lebih ajaib dari sekedar membuka hati sepasang suami istri yang lagi perang dingin. Menikahi istriku adalah keajaiban terbesar dalam hidupku, memegang rekor pertama yang belum terpecahkan sampai sekarang.

Kedua, lahirnya malaikat-malaikat kecil buah cinta kami adalah dua keajaiban berikutnya. Ini belum terlalu ajaib buatku hingga hanya perlu dirayakan dengan traktiran makan aja.

“OK… Ha ha hahaha…” tangan Julio mengacung memanggil pelayan untuk memesan makanan…

“Gak sebanyak ini juga kalee…” rupanya ia sudah menyiapkan semuanya karena yang dipanggilnya ternyata bukan pencatat pesanan melainkan beberapa jenis menu makanan yang langsung tersaji, sudah dipesan sebelumnya. Julio dan Amei tertawa-tawa senang dengan kompaknya melihatku yang kelimpungan dengan makanan yang berlimpah seperti ini.

“Awak makannya sikit-loh…”

“Makanlah, bang… Tadi katanya minta traktir makan…” geli Julio berhasil ngerjain aku. Masa sebanyak ini harus aku habiskan sendiri. Yang benar aja…

“Sarap kau, Julio… Masak kau suruh awak makan ini semua… Spaghetti satu bowl besar gini… Pizza satu loyang besar… Steak tenderloin double ini… Ayam goreng satu bucket… Emangnya perutku tong sampah bisa masuk semua ini?” geleng-geleng kepala aku melihat semua hidangan ini.

“Ha ha hahaha… Enggak-la, bang… Kami bantuin-la ngabisin ini semua…” katanya geli sendiri melihat mimik mukaku.

Ia mengambil seiris pizza dari loyang dan menggigit ujung lancipnya. Amei juga melakukan hal yang sama, hanya saja cara makannya agak elegan dikit—diletakkan di piring dan dipotong pakai pisau dan garpu. Lega diriku.

“Abis ini abang aku traktir yang lain…”

“Hah? Apa traktir lagi? Liburan, ya?” tanyaku asal aja karena aku lagi mengunyah lembut potongan tenderloin ini. Entah kenapa pandanganku terpaku pada Amei yang sedang mengiris-iris potongan pizza-nya. Ia menatapku juga sambil tersenyum penuh arti.

“Abang bisa bergabung dengan kami tiga es…” kata Julio.

“Tiga es… Restoran es krim gitu, ya?” lalu memasukkan potongan kentang wedge yang sudah dicocol saus steak. Amei menunduk di depanku seperti malu-malu.

“Threesome, bang…” koreksi pria keturunan Tionghoa itu.

Threesome… Terhenyak aku mendengarnya. Aku terdiam tapi tetap mengunyah kentang di mulutku hingga halus dan habis ditelan. Gluk. Pandangan mataku terpaku pada Amei lagi. Ini kan namanya lingkaran setan jadinya. Mereka memulai bencana rumah tangga mereka dari main trisam-trisam-an ini, kan? Sudah berbaikan kok malah dimulai lagi?

“Awak gak ngerti, Julio… Katanya klen berdua udah baikan-heh… Kenapa harus dimulai lagi dengan yang baru? Sama aja dengan memulai masalah baru ini namanya…” aku meletakkan pisau dan garpu yang kupakai untuk menyantap steak ini. Kuambil selembar tisu dan kubersihkan tepian mulutku. Kusedot jus jeruk sampe habis setengah.

“Maaf kalau abang tersinggung…”

“Diam dulu…” aku menyentuh lengannya untuk menghentikannya.

“Kemarin malam abis kalian bicara untuk baikan… ada Banaspati yang menyerangku… Tau apa itu Banaspati?” cetusku kemudian. Baik Julio dan Amei menggeleng. Beda kebudayaan memang dan aku akan menjelaskannya.

“Banaspati itu setan berbentuk kepala berapi besar yang biasa dikirim untuk menyerang dalam bentuk santet…” Julio bergidik kaget mendengar penjelasanku. Begitu juga dengan biniknya. Aku menggerak-gerakkan jariku di sekitar kepalaku untuk mengilustrasikan bentuk kobaran api setan sialan itu.

“Awak gak tau siapa yang mengirim Banaspati itu… Kira-kira ada yang tau?” tanyaku. “Tenang aja… Banaspati itu sudah kutebas…” aku bergantian menatap Julio dan Amei.

Amei mengangkat tangannya setinggi bahu. Ia menatap suaminya. “Apa si Surya, ya?” Kening Julio berkerut mendengar nama itu disebut istrinya.

“Siapa itu Surya?” tanyaku.

“Dia itu… ng…” ia melirik Amei sebentar,

“… mantan Amei yang jadi partner threesome kami sebelumnya, bang… Rumahnya tadi malam kebakaran dan seluruh harta bendanya ludes… Anehnya tetangga sekitarnya tidak ada yang tau kejadian itu… Pagi-pagi rumahnya sudah habis begitu aja…” agak ragu Julio menceritakan ini karena kisahnya sangat absurd gak kira-kira.

“Benar begitu, Mei?” tanyaku. Apakah ia akan ragu juga.

“Iya, bang… Rumahnya ada di kompleks sebelah yang berbeda dengan kami… Kami baru dengar berita ini tadi sore… Kaget sekali kami mendengarnya… Kami sempetin melintas di depan rumahnya yang sudah hangus tinggal puing… Hanya dia yang tewas di dalam rumah sementara penghuni rumah lainnya tidur di luar pagar… Kan aneh…” kata Amei menceritakan kondisi mengenaskan yang menimpa pria bernama Surya itu. Aku tidak kaget mendengarnya. Itu hal biasa yang menimpa bagi para penganut ilmu sesat. Kalo berhasil akan gilang gemilang semu. Nah kalo gagal akan tragis gak masuk akal kek gini.

“Si Surya ini orang apa? Cina juga kek klen ato orang Jawa?” tanyaku pada Julio yang masih termangu-mangu membayangkan yang tidak-tidak.

“Dia ada keturunan Jawa juga, bang… Bapaknya turunan Cina gitu… ibunya Jawa tulen… Bentuknya ya kayak abang Aseng juga jadinya… Cina-Cina nanggung gitu…” jelas Julio tentang asal-usul pria bernama Surya ini.

“Mm… Gitu… Makanya kutanya… Foto di grup kemaren gak mungkin orang Jawa asli manuk’e padhang tenan… Putih kali kek Cina… Jadi… udah mati dia, ya?” tanyaku beralih pada Amei. Perempuan itu mengangguk-angguk yakin.

“Angus jadi arang…” lirihku.

“Amei gak sedih? Mantan gitu-loh…” ia menunduk malu-malu pertanda tak sedih ditinggal tragis oleh selingkuhan terindahnya selama beberapa bulan ini.

“Ada apa ini, bang? Apa Banaspati itu yang membakar rumah Surya?” tanya Julio penasaran.

“Bisa jadi… Tebakanku sih… begitu… Entah siapalah yang telah mengirim Banaspati itu padaku… Entah si Surya itu sendiri… entah kakek moyangnya… entah pulak ada dukun kepercayaannya… Saat kutebas Banaspati itu… teman-temannya pasti tak terima, dong… Dibalaslah pada si Surya itu… Kira-kira gitulah logika para setan-setan pukimak itu… Makanya kukasih tau sama klen berdua… jangan coba-coba maen begituan… ke dukun… orang pintar… apalah macam namanya… Jangan!” peringatku.

Mereka ini orang yang kesekian kalinya kuingatkan agar jangan bersinggungan dengan dunia ini. Banyak ruginya daripada untungnya. Keduanya mengangguk-angguk paham dengan contoh yang sangat mengerikan sekali.

“Kenapa bang Aseng yang diserang Banaspati itu? Bukannya kami berdua?” tanya Amei rupanya masih pengen tau. Keduanya pandang-pandangan penuh arti. Takut dan lega bercampur jadi satu.

“Si Surya itu tidak rela melepas binikmu, Julio… Tapi juga tidak mau merebutnya darimu… Camkan itu… Ingat itu baik-baik… Ia hanya mau terus begini saja… meracuni keluargamu terus dan terus… Ia bisa menikmati binikmu tanpa harus memilikinya dengan memberimu kesempatan melakukan hal yang sama di luar sana… Ada orang yang menikmati kehidupan seperti itu—si Surya itu contohnya… Mungkin kau juga begitu, klen berdua…” paparku akan masalah mendasar pasutri ini. Walo sebenarnya adalah, Banaspati itu menyerangku adalah karena aku telah memberi mereka nasihat untuk berbaikan tetapi kedengarannya terlalu over confident menyatakan andilku itu.

“Dan klen menawarkan hal itu lagi padaku…”

“Klen gak khawatir masalah ini berulang lagi? Awak melakukan hal yang sama pada binikmu, Julio? Padamu, Mei?” jelasku sepahit-pahitnya. Pandangan keduanya menatap permukaan meja yang masih dipenuhi makanan. Tapi mereka merenung.

“Kalo di awaknya… enak-enak aja-nya… Bisa menyentuh binikmu yang cantik kek gini… Laki-laki manapun gak akan ada yang nolak-heh… Ayok-ayok aja… Klen sudah pikirkan matang-matang, apa?” menepuk bahunya.

“Itu karena Amei pake hati, bang Aseng… Amei membayangkan indahnya dulu saat pacaran dengan Surya… Mengenang-ngenang itu jadi terlena dan malah berujung selingkuh yang awalnya cuma bersenang-senang…” terang Amei mengakui kesalahannya. Dia yang menjadi kunci prahara rumah tangga keduanya takala ia mulai maen hati pada partner threesome mereka, seorang mantan pacarnya.

“Itu menyalahi komitmen awal kami yang hanya untuk hepi-hepi… Amei mengaku salah di situ…”

“Aku salahnya membiarkan istriku terhanyut dalam hubungan gak bener itu, bang… Bukannya menegurnya… aku malah mencari pelampiasan dengan banyak perempuan lain…” kata Julio. Ini yang mereka diskusikan hingga berujung rekonsiliasi damai rujuk kembali. Ini mungkin berkat kebiasaan ceplas-ceplos Julio yang menular pada istrinya.

“Bagus… Bagus itu… Itu betol… Ini yang betol juga… Mulut awak ini manis sekali…” aku menunjuk-nunjuk bibir atasku yang sekseh abis.

“Awak bisa sekali ngomong nyuruh klen baikan… Banaspati datang… Awak bisa membuat setan-setan berang sekali waktu kukompori… Kubante semua pake ini…” kuletakkan mandau Panglima Burung yang tiba-tiba muncul di genggaman tanganku. Kuletakkan begitu saja di atas meja, diantara piring, mangkuk, loyang, hotplate dan gelas. Terbelalak Julio dan Amei melihat senjata tajam berbilah panjang itu. Ini bukan pamer. Hanya peringatan keras.

“Karena inilah awak yang diserang Banaspati itu…” kutunjuk lagi bibir atasku.

“Mulut manisku yang klen bilang ajaib tadi sangat menggangu mereka-mereka itu…” kuambil lagi mandau Panglima Burung dan menghilang raib tak berbekas.

“Karena kukasih saran klen untuk baikan… Dia tidak suka itu…” nah… Sudah kusampaikan. “Kalo klen serius mau terus menjadikanku partner threesome klen… Kita buat perjanjian… Mau?” tawarku.

Keduanya saling pandang lagi tak paham dengan jalan pikiranku.

***

“Apa yang membuat klen pengen ngerasain threesome ini awalnya? Gantian ceritanya…” tanyaku sebelum kubeberkan tiga pasal perjanjian yang akan kutawarkan pada mereka.

“Penasaran, bang… Laki-laki, bang… Biasa…” jawab Julio pertama kali.

“Kayaknya keren aja maen sama dua cewek sekaligus… Itu kalau yang versi dua cewek satu cowok… Kalo versi dua cowok satu cewek… jujur awalnya aneh juga ngeliat kontol cowok lain… Kadang lebih gede lagi… Tapi seiring waktu ada masanya aku jadi tau apa yang disukai Amei… perlakuan yang gimana yang dia suka… Awalnya cemburu sudah pasti… Tapi jadinya sekarang tambah sayang…” Amei menutup mulutnya hendak tertawa senang mendengar pengakuan suaminya itu. Whatever…

Aku beralih pada giliran Amei.

“Awalnya gak mau, bang… Tapi Julio terus ngeracuni… Ada setengah tahun lebih dia ngeracun aku… Pake mutar-mutar pilem bokep trisam mulu… Beliin dildo sampe berapa biji… Dipakein semua ke Amei…” bisa juga dia terbuka begini. Aku membayangkan beberapa lubang potensial tubuhnya dijejali dildo sekaligus. Julio tersenyum simpul mengingat itu semua.

“Ya, udahlah Amei akhirnya nyerah… Permulaannya yang versi dua cewek satu cowok dulu… Ngeri juga dimasukin laki-laki lain… Tapi marah juga ngeliat Julio niduri perempuan lain bergantian denganku… Amei jadi terpacu untuk berkompetisi menarik perhatian Julio… Mungkin itu salah satu sisi bagusnya…” ia mulai menunduk mengingat-ingat apa yang telah terjadi pada pikirannya yang sudah diracuni suami sablengnya ini karena walo dia puncak masalahnya tetapi tentu kontribusi Julio sangat besar sebagai pemicunya.

“Tapi mengingat satu versi kebalikannya kok jadi tertantang… dua cowok satu cewek… Kubayang-bayangkan sendiri… awalnya serem… tapi kok kayaknya enak juga… Coba ajalah… Masa dia aja yang boleh ngerasain dua… Aku juga boleh, dong?” ia melirikku dan kali ini lebih lama lalu menunduk lagi.

“Julio nyari partner laki-laki dan ternyata menyenangkan… tapi sepertinya orangnya profesional gitu… seperti dibuat-buat gitu… Julio bilang orang itu memang pemain lama di bidang trisam ini… Gak heran kalo mainnya lebih jago daripada dia…” Amei menunjuk suaminya dengan anggukan dagu.

“Dengan begitu membuka satu pertanyaan baru… Gimana kalo partner cowok itu adalah pilihanku sendiri?… Seseorang yang sreg di akunya? Cocok sesuai keinginanku…”

“Pikir punya pikir… Amat-mengamati sekitarku… Bisnisku kan panglong (bahan material bangunan) nih, bang… disekitar Amei kebanyakan buruh-buruh kasar sama pemborong bangunan… Paling banter kontraktor-kontraktor gitu… Amei gak selera yang begituan… Lalu teringat mantan waktu sekolah dulu… Waktu SMA dulu… Udah paling pas dengan dia… Amei ajuin ke Julio… Julio setuju mengingat latar belakang dan penampilan Surya ini, bang…”

“Ganteng orangnya, bang… Putih karena ada turunan Cina juga… berpendidikan, sopan… Kariernya juga bagus… Patenlah pokoknya, bang… Salahnya aku bukan homo aja, bang…” Julio menambahkan tentang gambaran si Surya ini lagi.

“Percobaan pertama… dia masih malu-malu karena belum pernah sebelumnya… Beda dengan kami yang sudah beberapa kali melakukan trisam ini… Tapi pada sesi-sesi berikutnya mulai membaik dan kami bertiga sama-sama menikmati kebersamaan itu… Beberapa kali kami bertemu berdua aja tanpa sepengetahuan Julio… beberapa kali dengan izin Julio juga sewaktu dia sibuk… Dari situ… benih-benih selingkuh itu dimulai, bang…” putus Amei mengakhiri kisahnya.

“Lalu Amei mulai main hati dengan si Surya ini… karena dia main tarik-ulur gitu, kan? Kadang cuek… kadang misterius… tiba-tiba merayu dan memberikan kejutan… tiba-tiba nongol aja di depan pintu saat gak disangka-sangka… lalu hilang berhari-hari gak ada kabar membuat penasaran…” tebakku. “Dulu waktu SMA dia gak begitu, kan?” Amei menggeleng.

“Itu namanya jurus ular kadut…” tanganku meniru gerakan kepala ular kobra yang terkembang.

“Shessshhh…” gerakan kepala ular bergerak kesana-kemari. Julio dan Amei tersenyum paham.

“Keknya fans film AADC gitu, ya? He hehe…” kami tertawa-tawa bersama.

“Tapi itu belum menjawab pertanyaanku tadi… kenapa masih mau terus trisam? Belom kapok?” tanyaku lagi.

“Disamping enak bersenang-senang… deg-degan karena sensasinya… kami bisa tambah makin bersemangat, bang… Dalam segala hal, bang… Juga kami makin saling sayang…” kata Julio. Amei membenarkan dengan mengangguk-angguk kata-kata suaminya barusan. Kerjaan, bisnis dan lain-lainnya…

“Baguslah kalo begitu… Apalagi kalo klen berdua udah saling memaafkan… kalo bisa memaafkan semua kesalahan pasangan klen masing-masing tanpa syarat apapun… Memaafkan tapi tidak melupakan… Ingat! Jangan lupa kalo hal gelap ini pernah terjadi di rumah tangga klen berdua… Artinya jangan sampe terulang lagi… Misalnya awak masuk sebagai partner baru klen… ini terutama untuk Amei, nih… Jangan ada perasaan-perasaan lain… Gak boleh pake hati karena gak akan ada hubungan yang lebih dari ini semua… Kalo klen anggap ini sebagai ajang bersenang-senang memuaskan fantasi… cukup sampe segitu aja dan gak akan beranjak ke tahap selanjutnya yang lebih serius… Itu pasal pertama… Ingat pasal pertama… Klen harus setuju dengan tiga syarat pasalku ini… dan kita lanjut ato batal sama sekali…”

Mereka berdua berpandangan dan mengangguk paham. Mereka lebih paham bahasa tubuh pasangannya dan saling mengerti karena sudah beberapa tahun menikah.

“Pasal kedua… Ini mudah… Hanya mengenai kerahasiaan… Awak rasa klen pasti akan setuju seratus persen mengenai ini… Hubungan ini hanya kita bertiga yang tau… Jangan memberitau siapapun dalam bentuk apapun termasuk di-share dimanapun dalam format apapun… Sesimpel itu saja…”

“Yang terakhir, yang ketiga… Masa depan… Sesuai bentuk katanya… mengenai waktu… Kita bisa kapan saja menghentikan ini semua bila dirasa sudah cukup… Dan terus terang aja… awak gak suka pake kondom… Aku percaya klen berdua bersih… karena awak juga bersih… Siapa tau…. Siapa tau, ya… di masa depan karena hubungan kita bertiga ini nantinya ada kehamilan… Tentunya bila Amei hamil… itu akan menjadi anak klen berdua… Jangan mengaitkannya dengan awak karena ini pernikahan klen berdua… karena awak cuma… kalo di pilem-pilem cuma peran pembantu aja… figuran aja…” ulasku akan tiga pasal yang kusyaratkan pada mereka berdua.

“Sekarang terserah pada klen berdua kalo mau menerima tiga syaratku… Kalo klen setuju kita lanjutkan… Kalo tidak, kita lupakan ini semua dan tetap berteman baik saja… Silahkan kalo mau diskusi dulu…” kataku mempersilahkan mereka berunding dulu.

Julio berpindah dari kursi kayunya di sampingku dan duduk di sofa di samping Amei. Berbisik lirih keduanya rapat berdiskusi. Apapun hasilnya aku gak terlalu berharap banyak. Tapi mengingat kondisi mereka, ketiga syaratku barusan gak ada satupun yang berat. Sepertinya mereka sudah menyepakati sesuatu.

“Deal, bang…” Julio mengulurkan tangannya padaku pertanda setuju mewakili pihak mereka berdua.

“Deal?” ulangku dan menyongsong tangannya. Kami berjabat tangan.

“Deal…” ia mengguncang tanganku dengan senyum lebar. Amei juga tersenyum lebar. Aku mengalihkan tanganku untuk menjabat tangan binor Julio ini. Ia tertawa tanpa suara saat tangan kami saling berguncang. Ada hal lain yang ikut bergoyang kala itu. Sepasang itu…

“Hmm… Awak tinggal menunggu waktu yang tepat aja, kan? Tapi tolong diberitau sebelumnya… takut waktunya bentrok dengan urusanku yang lain… Biasa… tanda tangan awak ini lumayan berharga-la untuk ngeluarin gaji orang…” kataku berusaha tetap beramah-ramah dengan pasutri ini yang telah berhasil membujukku untuk masuk dalam hubungan ganjil mereka.

Ini yang kedua setelah pak Ferdi dan Mayumi walo ujung-ujungnya hanya Mayu-chan aja yang akhir-akhir ini berurusan denganku. Suaminya hanya senang berada di gelapnya bayangan, mengamati dari persembunyiannya. Menikmati perselingkuhan istri sirinya yang ia tau pasti jadwal kencannya.

“Malam ini tepat tidak, bang?” pinta Amei. Ia tidak malu-malu mengungkapkan itu walo tangan Julio sedang merangkul bahunya.

“Bukannya klen lagi bulan madu, ya?” ingatku pada kegiatan mereka seharian ini. Berduaan saja. Gak usah ditanya ngapain aja mereka saat berdua.

“Bang Aseng jadi figuran-lah di bulan madu kami ini… Jadi sutradaranya pun boleh…” pinta Julio juga.

“Yaa…” aku menunjuk-nunjuknya jenaka. “Cocok itu… Awak yang jadi sutradaranya…” ujarku mendapat ide yang lumayan gila ini.

“Sutradara pilem bokep…”

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22