The Baby Maker Part 8

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22

Cerita Sex Dewasa The Baby Maker Part 8 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya :The Baby Maker Part 7

 

“AAAHHH!!! AAHHH!! UUHHH!!! YAAHHHH!!!” teriaknya gak pake nahan-nahan lagi.

Lagi-lagi ia menikmati orgasmenya dengan ekspresif menjerit-jerit nyaring kek Tarzan di hutan. Memang ini lagi di hutan. Tepatnya di kedalaman ladang rambung/karet. Tadi kumasukkan mobilku memasuki satu jalan tanah di tepi jalan lintas ini, telusur terus masuk hingga yakin gak akan ada orang yang datang bahkan para petaninya.

Aseng junior kembali menyemburkan isi muatannya ke dalam rahimnya. Hangat terasa walo kondisi tempat ini teduh berkat pepohonan rambung yang rimbun di pinggiran sungai kecil irigasi perkebunan ini.

Pajero-ku yang berwarna hitam berkamuflasi dengan baik di sini. Habis suara bising jeritan Andini, yang tertinggal adalah suara nyanyian burung dan serangga wawung berdengung. Desau angin sesekali berhembus.

Kembali aku menyibukkan diri menikmati puting gemuk teteknya dengan rakus di posisi yang sebenarnya kurang nyaman di jok mobil yang direbahkan maksimal ini. Tubuh Andini menggelinjang geli karena aku masih menyodok-nyodok pelan kemaluannya ditambah permainan mulutku di dadanya. Mulutku lalu beralih mencaplok mulut mungil manisnya.

“Ahh… Ahh… Abang gemes, yaa?” godanya. Kakinya mengapit pantatku. Mengais-ngais dengan tumitnya.

“Siapa yang gak gemes sama Andini ayu begini… Mpphh…” kulumat bibirnya lagi. Kuremas-remas gumpalan gemuk dadanya. Kucoba menggerakkan Aseng junior yang ternyata mau diajak kerja sama lagi walo barusan aja ngecrot.

“Awas, yaa…” ancamku. “Awak buat Andini jalannya ngangkang abis ini… Gemes kali awaak!!”

“Auuhh…. Yaahhh… Uuum… Ah ah ahh…” ia berpengangan pada sisi samping jok penumpang depan yang dipakainya berbaring. Kembali Aseng junior kusodokkan cepat ke liang kawinnya yang sempit becek.

Menggigit peret sempurna bak anak gadis yang baru aja diperawani. Sepanjang jalan menuju Siantar ini ia selalu menggodaku tiada henti. Ia membuka kemeja bagian atasnya dan mengeluarkan gumpalan gemuk dadanya dari cup beha-nya, duduk bersandar di pintu dengan kaki terangkat dilipat.

Di dalam rok panjang longgarnya, ia tak memakai celana dalam. Belahan gemuk montok berlubangnya menganga jelas mengundang. Kaki tak bersepatunya menjawil-jawil ke arah selangkanganku. Aku yang masih harus konsentrasi mengemudi di jalur lintas Sumatera ini tentu aja kelabakan karena Aseng junior jadi terbangun akibat ulahnya.

Tak puas ia membuka restleting celana pendekku, mengeluarkannya dan mengocok Aseng junior menggunakan kakinya! Kan kimak namanya…

Setelah menahan sabar aku menemukan jalan masuk ke tempat ini dan BAM! Kuentot binor ini gila-gilaan dengan sesumbar akan membuatnya jalan mengangkang abis ini. Aku udah ngecrot sekali di dalam liang kawinnya dan sedang mengusahakan yang kedua.

Kusedot-sedot kuat pentil susu gemuknya ditimpali dengan remasan kuat membuatnya menjerit-jerit binal. Suaranya dari kejauhan mungkin sudah seperti suara tangisan kuntilanak yang lagi ngeden berak batu. Aseng junior keluar masuk dengan cepat dan dalam.

“Clop clop clop clop!” suara becek gesekan kelamin kami basah dan menggigit.

Andini mengangkat kedua tangannya memamerkan ketiak tembem tak berambut mulusnya hingga gumpalan gemuk dadanya semakin membusung. Kepalanya menggeleng-geleng terhalang lengan montok putihnya sendiri. Diremasnya bagian atas jok.

“Miring!” perintahku sambil menarik sisi perutnya hingga tubuhnya miring ke kanan menjauhi pintu.

Kaki kirinya kulipat waktu melewati tubuhku yang masih belum terpisah, terhubung dengan dirinya lewat persatuan kelamin kami. Pinggul dan pantatnya menjulang bagus di posisi miring ini. Aseng junior masih tertancap dan masuk dengan susah payah karena jepitannya bertambah maksimal di posisi begini.

“Aaahh…” desahku merasakan nikmatnya jepitan liang kawin binor ini yang bertambah-tambah.

Pajero ini tak ayal bergoyang-goyang juga di permukaan tanah yang tak rata ini karena gerakan menusuk cepatku. Kugenjot binor menggairahkan itu tanpa ampun karena udah menjebakku sedemikian rupa hingga jalan jauh sampe kemari.

Burung-burung liar di sekitar perkebunan rambung ini terus bersahut-sahutan tak perduli ada sepasang insan sedang bersenggama buat anak di dekat mereka. Andini terus mengerang keras dan menjerit nakal sesekali lalu menjerit kuat kala orgasme melanda tubuh semoknya kembali.

‘AAAHHHH!! AUUHH!!! YAAAHHH. BAAANG!!! UHH!!” jeritnya puas sekali.

Tubuhnya terangkat tak sadar meluapkan rasa nikmat yang membuncah dari kelamin menjalar ke perut dan meledak sekuat-kuatnya. Liang kawinnya menjepit erat dan kontak membuatku juga ikut menyusulnya dengan semprotan sperma kental.

***

“Hi hi hihihi…” kekeh Andini sambil menjilati jarinya. Ia kembali duduk bersandar di pintu mobil dengan kaki terangkat. Nakal ia mencolek noda sperma yang ada di kemaluannya dan mencicipi rasanya.

“Enak… Kek ada aroma pandan-pandan gitu, ya?”

“Kimak, pandan? Emangnya aku musang gitu?” kesalku yang lagi kipas-kipas.

Padahal hembusan pendingin mobil berhembus kencang. Kaca di sampingku aja sampe berembun sangking dinginnya. Kami berdua masih telanjang di dalam mobil ini. Jok sudah ditegakkan lagi ke posisi normalnya.

Aku sudah membersihkan Aseng junior dengan tisu. Tapi sobekannya malah tertinggal di permukaan kemaluanku. Saat udah mulai kerasa dingin aku memakai kembali kaos dan celana pendekku.

“Enak, bang?” tanyanya kembali seperti menantang lagi pengen digenjot.

“Beneran rumahmu kosong?”

“Kosong-lah…” jawabnya cepat.

“Tunggu kao, yaa…” lirihku dan menstarter mobil kembali dan mengeluarkan kendaraan ini dari rimbunnya kebun rambung yang sejuk.

Tak lama sudah melaju lancar kembali. Saat memasuki kota Tebing Tinggi, Andini masih tidur. Ia sudah memakai semua pakaian luarnya kembali kecuali pakaian dalamnya yang ada di jok belakang, berserakan.

Sewaktu akan ngisi bensin, kubangunkan ia dengan memilin-milin putingnya dari luar kemejanya. Ia ogah-ogahan bangun. Kuperbaiki posisi rok yang dikenakannya agar gak terlalu berantakan kali menarik perhatian petugas SPBU.

Kuajak ia makan sebelum memasuki kota Siantar. Ia menambah sebuah jaket untuk menutupi bagian dadanya yang gondal-gandul. Kami makan lesehan.

Binor ini bawaannya ngantuk aja kurasa. Abis makan, ia tidur lagi bersandar ke tiang bilik lesehan ini. Cemana-la gak montok kali kek gini. Walo tempat makan ini belum rame, gak nekat pulak aku gerepe-gerepe tubuhnya. Aku udah gak sabar aja sampe ke rumahnya. Mudah-mudahan rumahnya memang dalam keadaan kosong seperti yang dikatakannya sehingga aku bisa bebas berduaan dengannya.

Ping!

Sebuah notifikasi pesan BBM masuk ke gawaiku. Ada pesan dari seseorang yang aku kenal.

Aseng: halo cantik apa kabar

Vony: baik bg aseng ada kabar baik

Aseng: apaan tuh

Vony: vony positif hamil

Menyusul sebuah foto test pack kehamilan yang menunjukkan dua garis pink di indikator pemeriksaannya pertanda perempuan itu benar-benar positif hamil. Waaah… Hebat. Si cantik Vony sudah hamil.

Aseng: selamat ya bu tercapai impiannya

Vony: makasi bg

Aseng: ud ngasi tau lakimu tntu

Vony: vony hrs ngasih tau bg aseng dl baru wisnu buat surprise

Aseng: ada arisan dlm waktu dkat ini

Vony: ya sekalian sm hasil lab jg nanti dibawa

Aseng: yee bisa pamer di arisan nnt

Vony: makasih byk lg bg aseng

Aseng: sama2

Selesai chat dengan si notaris Vony, si binor montok Andini benar-benar molor bersandar di bilik lesehan ini. Bener-bener ni anak kerjanya tidur aja. Eh… Apa kecapekan dia, ya? Dari kemaren malam udah kugenjot sampe lima kali, pagi tadi di kamar mandi sekali dan di kebun rambung dua kali.

Lebih baik kubiarkan ia tidur dulu. Kutarik tubuhnya pelan-pelan hingga berbaring tak sadar berbantalkan pahaku. Ia tidur lelap sekali. Jelas ia kelelahan. Kubelai-belai rambut panjang kemerahannya dan ia tidur makin lelap terdengar dengkuran halus.

Aseng: hai cantik apa kabar

Miranda: eh bg aseng ktpatan sy telpon aja ya?

Mau nelpon binor binik si Suhendra itu? Padahal aku cuma mau nanya kabar aja-nya. Mana tau dia lagi kosong bisa untuk menemani chat menunggu Andini bangun. Benar aja, panggilan telpon dari Miranda masuk dan segera kuangkat.

“Ya… halo bu Miranda cantik… Apa cerita?” awal sapaku.

“Tebak Miranda lagi dimana, bang?” tanyanya dengan nada riang.

“Gak tau…” jujur jawabku.

“Miranda lagi di klinik abis dapet hasil lab… Miranda positif hamil, baaang… Hi hi hihihi…” ia terdengar sangat riang dan bahagia sekali. Pasti rona bahagia terpancar di wajah cantiknya. Ah… Akan jadi semok tubuh langsingnya nanti. Perutnya akan membuncit segera. Itu akan seksi sekali.

“Positif? Waah… Kereeen… Selamat ya, buuuk… Awak ikut bahagia dengarnya… Sama Hendra itu ke kliniknya?” tanyaku memastikan keberadaan si suami paok-nya itu.

“Dia kan lagi kerja di galon, bang… Miranda ke klinik sendiri aja… Tadi pagi nyoba make test pack itu… eh dua garis pink… Langsung aja Miranda ke klinik ini periksa lebih teliti… Udah satu minggu usianya… Masih muda kalo ini, bang… Tapi Miranda hepi kali jadinya… Akhirnya ada bayi di perutku…” girang Miranda seperti mendapat jackpot gede.

Para pengunjung klinik di sekitarnya pasti mengira perempuan itu sedang mengabarkan berita bahagia itu pada suaminya. Padahal hanya kepada pria yang menghamilinya.

“Selamat sekali lagi ya, buk… Semoga ibu sama dedek bebinya sehat-sehat terus sampe lahiran…” kataku ikut gembira karena aku ada kontribusi besar dalam kehamilannya ini.

Mungkin-mungkin pula itu darah dagingku. Sudah dua binor lagi yang berhasil kuhamili. Vony dan Miranda. Tak terbayangkan gimana bahagianya kedua perempuan itu mengetahui ada jabang bayi yang kini tidur lelap di dalam perutnya. Memenuhi semua mimpi dan harapannya selama ini, semua terkabul. Semoga sehat-sehat semua kalian, yaa?

Tiba-tiba udara sejuk berubah menjadi cuaca dingin karena hujan turun dengan derasnya. Untungnya posisi bilik lesehan kami ini tidak searah dengan arah hembusan angin kencang jadi tidak terkena tempias air hujan.

Atap seng bilik lesehan ini menimbulkan suara bising kala diterpa terjangan bulir-bulir hujan. Andini menggeliat sebentar di pangkuan kakiku tapi lanjut tidur lagi, hanya sekejab saja terganggu. Hawa dingin ini membuatnya semakin lelap. Naga-naganya bisa lama kami tertahan disini menunggu hujan reda. Apalagi Andini sangat lelap tidurnya.

Kupandangi wajah ayu binor ini yang tidur dengan damai. Nafasnya teratur dengan dengkuran halus. Mata belonya agak sedikit terbuka menampakkan bagian putih bola matanya. Dan yang berikutnya menjadi perhatianku adalah naik turun dadanya yang jaketnya tersingkap sehingga tonjolan puting gemuknya terlihat jelas nyeplak di bahan pakaiannya.

Aku clingak-clinguk liat sekitar dan keknya lumayan aman. Pengunjung rumah makan lesehan ini banyak terkonsentrasi di bagian depan dan itu pun hanya ada tiga kelompok aja. Kami menyempil jauh di sudut belakang. Suara bising air hujan yang menerpa atap seng menimbulkan suara berisik yang membuat siapapun tak awas.

Tanganku menjalar menjamah gundukan gumpalan gemuk tak ber-beha itu. Kuremas-remas pelan awalnya mengetes reaksinya. Remas-remas tetapi mataku tetap jelalatan mengawasi keadaan.

Jangan sampe ketahuan pengunjung ato pegawai rumah makan ini. Andini hanya bergidik pelan lalu diam kembali dan terus tidur. Tanganku terus gerayangan dan mempreteli kancing-kancing atas kemejanya hingga terbentanglah ruang terbuka montok dengan belahan gemuk di dadanya. Menelusup masuk menangkup massa lemak gemuk berpuncak puting gemuk juga, remas-remas benda kenyal lebih bersemangat.

“Unghh…” desahnya. Sepertinya Andini mulai terbangun.

“Baanghh…” erangnya meremas-remas lututku yang dapat diraihnya.

Ia tak kunjung membuka matanya bak lagi bermimpi. Tanganku makin nakal bermain-main iseng di dada montoknya. Semakin kulebarkan bukaan belahan kemejanya yang tak berkancing hingga aku bisa memerahnya dengan sempurna.

Kenyal dan lembut bergejolak sepasang gumpalan gemuk dada itu kuperah. Belakang kepala Andini pastinya sudah dapat merasakan gembungan bangkitnya Aseng junior dari peraduannya. Hangat tubuh Andini juga menghangatkan tubuhku di tengah derasnya hujan yang menerpa bumi. Suara bising air hujan di atap seng tak lagi kami perdulikan. Itu sebuah keuntungan malah.

Geliat-geliat Andini semakin gelisah dan berantakan. Kedua kakinya dilipat dan dikepitkan rapat seakan sedang menekan sesuatu rasa nikmat di bawah sana. Bergoyang-goyang tubuhnya ke kanan-kiri gak beraturan dan kadang berjingkat, menaikkan bokongnya menggapai angin.

Rok panjangnya itu lalu jatuh di perutnya dan aku baru ingat kalo ia gak make celana dalam dari Medan tadi. Gerakan liar tubuhnya menyebabkan rok yang dikenakannya bergulung memampangkan kemaluan berjembut lebatnya di depan sana.

“Baangghh…” erangnya lagi malah mencengkram Aseng junior yang tercetak jelas menggembung di dalam celana pendekku.

Udin senget ini sungguh memabukkan. Udin senget; udara dingin sesak ngentot kalo kata orang-orang sini. WKWK. Kukeluarkan Aseng junior dari kandangnya, kubiarkan mengacung.

Kepala Andini yang tadi di pangkuanku kupindahkan pelan-pelan ke lantai anyaman bambu bilik ini, aku maju ke arah kakinya, lebih tepatnya belahan kakinya. Si gemuk montok berjembut lebat. Aku tau ia sudah membersihkan dirinya di toilet rumah makan ini sehingga aku gak ragu memposisikan 8×8+5.

Tak perlu dikomando, Andini langsung mencaplok Aseng junior dan memasukkan kepalanya ke dalam mulut mungil miliknya. Mulutku langsung nemplok di bibir gemuk kemaluannya dan membelah isi dalamnya, menemukan kacang itil mengerasnya lalu menyedotnya. Andini mengerang lirih. Aku sendiri kurang jelas mendengarnya apalagi orang lain yang jauh di sana.

Lidahku bermain-main di seputaran kemaluannya, mencucup-cucup isi liang kawinnya dan menyedot kacang itilnya. Andini tak sanggup lagi memasukkan kepala Aseng junior-ku ke dalam mulutnya.

Wajahnya malah tergesek-gesek keras mengacungnya Aseng junior. Aroma Aseng junior terbalur sempurna di wajahnya. Kuputar tubuhku sekalian ngecek keadaan sekitar lagi. Tetap aman dan suara berisik akan meredam semua kebisingan yang akan kuciptakan.

“Diin… Yok?” ajakku setelah memposisikan tubuhku di antara bukaan kakinya. Rok panjangnya masih bertumpuk di sekitar perutnya, menampilkan si gemuk montok yang baru kuoral barusan.

Kaget tentu mukanya mendengar ajakanku untuk bersetubuh lagi di tempat umum ini. Walo barusan ia merasakan semua kenikmatan itu, akal sehatnya masih bekerja.

“Ihh… Abang gilak-lah… Masak di sini? Kalo ketauan orang gimana?” tolaknya mendorong rok panjangnya yang tak bisa menutupi kakinya lagi. Ia mendongak ke atas ke partisi pembatas bilik lesehan ini.

“Gak bakal ketauan, Dinn… Jauh orang-orang itu di sana… Lagian suara bising ujan gini pun Andini bisa tereak-tereak lagi… Gak bakal dengar mereka…” bujukku dengan menyentuh-nyentuhkan Aseng junior ke perutnya.

“Iihh… Bang Aseng… Balas dendam nih ceritanya ngerjain Andini? Hu-uhh…” rengeknya manja dan mengintip keadaan terus. Ia pasti tergoda pengen nyobain sensasi bersetubuh di tempat umum begini.

“Bang Aseng saraaap! Ahh…” rengeknya dan tanpa sepengatahuannya, aku membalik rok yang coba ditutupkannya pada kemaluannya yang terbentang. Aseng junior menggelincir masuk dengan lancar berkat basah liang kawinnya yang sudah terangsang.

“Ahhh… Ba~~ng Aseeeng? Uuhhh… Ummbhh…” kusumpal mulutnya.

Kepalanya bersandar pasrah di dinding anyaman bambu tepas bilik lesehan. Aseng junior sudah melesak masuk dan kudorong-dorong pelan. Kutahan pinggulnya agar tidak terlalu banyak bergerak kala kugenjot. Satu tanganku bertumpu di lantai.

Selagi mencumbu mulutnya, Aseng junior mulai kugerakkan keluar masuk. Hangat sekali jadinya cuaca dingin hujan ini. Suara bising atap seng yang diterpa hujan deras semakin membuat kami berani.

Tubuh kami rapat berhimpitan mencari kehangatan, pinggulku rajin bergerak maju mundur mengocok liang kawin Andini yang sempit menggelora panas. Ia ingin mengerang tapi mulut kami masih saling pagut. Yang ada hanya erangan tertahan.

“AAAHHH!! AHHH!!” jeritnya nyaring ketika kulepas cumbuan mulutku.

Benar saja, suara keras melengkingnya terbenam oleh derasnya bising suara hujan. Mengetahui itu, Andini semakin bersemangat mengekspresikan rasa nikmat yang deras melanda tubuhnya, sederas hujan menerpa rumah makan ini.

“AAHHH!!! YAAHHH!!! UUHHHH!! AIIHHHH, BAANGGG!!! AAHHH!!!”

***

“Gilak-ih, abang…” gerutunya saat sudah masuk ke dalam mobil lagi. Hujan sudah reda dan kami sudah keluar dari rumah makan lesehan itu.

“Tapi kamu sukaaa, kan?” kataku berkelakar. Mesin sudah kuhidupkan untuk melanjutkan perjalanan. Masih ada genangan air hujan di jalan dengan rintik-rintik kecil menerpa kaca depan mobil.

“Gak sabaran si abangnya… Bentar lagi awak balas di rumah… liat aja…” ancamnya akan balik mengerjaiku nanti di rumahnya yang kosong. Aku hanya tertawa-tawa aja. Biar aja dikerjai di rumahnya. Yang penting enak-enaak.

Rumah Andini adalah rumah pemberian orang tuanya di pinggiran kota Siantar yang agak lengang penduduknya. Berdiri di tengah hamparan sawah yang juga merupakan pemberian orang tuanya.

Tetangga terdekatnya jauh sekali di ujung-ujung sawah sana. Sawah dalam kondisi habis panen hingga tak ada orang yang bekerja di sana. Suasananya memang benar-benar sepi. Sangat cocok untuk menggauli binor ini sampe menjerit-jerit lagi kalo perlu.

Andini tersenyum-senyum penuh arti sewaktu aku selesai memasukkan mobilku ke dalam pagar rumah yang luas. Ia langsung menggiringku masuk ke dalam rumah, ke dalam kamarnya dan mengunci pintunya rapat-rapat. Ia membersihkan diri sebentar lalu keluar merasa tak perlu memakai pakaian apapun.

“Yakin aman rumahmu begini, Dinn?” aku berusaha melirik ke jendela yang tertutup rapat.

“Aaaaman… Liat aja sawah semua…” jawabnya datang rapat mendekat.

Gumpalan gemuk di dadanya berguncang membal-membal selagi ia bergerak dan langsung memelukku, mendesakkan dirinya.

“Udah keras gini…” ia merogoh ke cetakan berbentuk batang Aseng junior-ku. Diremas-remasnya.

“Mau awak balas gak?” tawarnya, tangannya merogoh masuk dari atas celana pendekku dan langsung menelusup masuk menemukan Aseng junior yang sudah menegang, antisipasi.

Andini berjinjit sedikit untuk menjangkau mulutku dan aku sedikit menunduk untuk menyambut mulutnya untuk bercumbu bibir. Tanganku sudah rajin bergerilya dan meremas gundukan gemuk dadanya. Tangan Andini melepas celanaku sekalian celana dalam yang segera kutendang menjauh.

Segera ia menemukan pekerjaan asik, mengocok Aseng junior dengan genggaman erat. Mulut kami saling cumbu, lidah saling belit dan bertukar ludah. Pelan-pelan kudorong ia hingga mencapai ranjang dingin yang sudah ditinggalkannya sehari semalam saat ke Medan. Akan kuhangatkan siang ini.

Ia duduk di tepian ranjangnya menunggu instruksiku, aku mau apa. Sederhana aja, kugesek-gesekkan Aseng junior ke gumpalan gemuk itu. Kutusuk-tusuk kenyal payudaranya. Andini mengarahkan Aseng junior berputar-putar di puting gemuknya yang sudah keras. Ia bergantian menatapku dan kemaluanku. Kenyal payudaranya lumer tiap kutusuk dengan ujung keras Aseng junior. Lalu kedua bahunya kudorong dan ia langsung paham aku ingin ia rebah.

“Aaaiihhh… Uuhh… Aahhh…” erang Andini saat kumakan si gemuk montok berjembut lebat kemaluannya.

Mukaku langsung terbenam larut di selangkangan binor ini. Gemuk permukaan kemaluannya membuat nagih untuk lagi dan lagi menyedot isi dalam belahan bibir tebalnya. Lidahku mengais-ngais isi belahan vagina Andini dari lubang kemaluannya, lubang kencing apalagi kacang itilnya yang menegang.

Dengan bibir kugigit bibir tebal kemaluannya lalu kumainkan dengan lidah. Ia mengerang kelojotan menerima serangan intens mulutku. Apalagi saat lidahku masuk ke liang kawinnya bak sebuah penis mini, menelusup masuk merasakan basah dan lembab isi liang nikmatnya. Kucucup tiap cairan yang dihasilkannya.

Kudorong tubuhnya agar lebih ke tengah ranjang. Kubuka sisa pakaianku dan merangkak naik ke antara bukaan kakinya. Andini sudah mengantisipasi ini dan membuka kakinya lebih lebar dan menempatkan sebuah bantal di belakang kepalanya. Dengan mudah Aseng junior menelusup masuk, tergelincir dalam membelah si gemuk montok kemaluannya.

“Aaaiihh… Aaahh… Enaak laagi, baang… Andini gak bosan-bosan, baang…” erangnya menikmati meluncurnya Aseng junior menembus dirinya.

Kudorong sampai mentok ke dasar kedalaman kemaluan binor ini. Sampai perutku menyentuh lebat jembutnya, menyatukan rambut pubis kami berdua.

Tanpa perlu permisi pada siapa-siapa, aku mulai bergerak dengan dinamis, keluar masuk dengan teratur. Mencari kenikmatan, berbagi kenikmatan berdua. Sekaligus berbagi bibit suburku juga untuk donasi keturunan.

Pelan-pelan awalnya dan semakin cepat dan cepat. Erang Andini berekskalasi jadi lebih kuat seiring makin cepat dan kuat hentakanku menerobos liang kawinnya yang menggigit erat. Andini meracau sesuka hatinya.

Tanganku diremas-remas dan dielusnya berulang. Kakinya menghentak dan menegang mengais-ngais belakang kakiku. Sesekali kami berciuman mulut ato kupermainkan tetek gemuknya dengan gemas.

Sodokan-sodokan cepatku menyebabkan kami berdua sangat menikmati permainan setubuh di kamar Andini ini. Aku gak berencana menahan-nahan apapun. Kalo aku mau ngecrot, aku ngecrotkan aja di dalam sana. Andini dengan senang hati menerima limpahan spermaku karena memang inilah yang ia perlukan dariku. Kalo kebetulan Andini juga mendapat puncak kenikmatannya bareng, ya kami barengan.

“YAAAHHHH!! AAHHH!! AHH!!” teriaknya berisik dan liang kawinnya sukses meremas-remas Aseng junior hingga menyemburkan sperma kental ke dalam rahimnya.

Kala kucoba untuk terus bergerak maju mundur, rasa geli nikmat itu menyetrum tubuhku hingga berkejat-kejat nikmat. Aku ambruk ke dalam pelukan hangat dan kenyal tubuhnya. Diciuminya wajahku, dikulum-kulumnya bibirku dengan rakus. Kedut-kedut kenikmatan masih menguasai tubuh kita berdua.

Puas kugasak binor binik si Heri ini di dalam kamarnya. Kubolak-balik tubuhnya di atas ranjang, berdiri di tepian ranjang, mepet di dekat jendela, di samping meja riasnya, bertumpu di lemari pakaiannya dan aku menyemburkan spermaku kembali di posisi menungging.

Aku keluar kamar dan mencari minuman. Rumahnya cukup besar dan lengang tak ada siapapun kecuali kami berdua mengadu syahwat. Asik keknya kalo guling-gulingan di rumah ini.

Selesai memberinya minum, kuhajar lagi ia di posisi doggy hanya saja ia kusuruh berjalan mengitari rumahnya ini memberiku tur berkeliling. Pantat tebalnya mengganjal Aseng junior untuk menusuk maksimal di posisi dari belakang begini. Tapi dari gerakan berjalannya, sudah cukup memabukkan, keluar-masuk pendek-pendek. Cyut cyut cyut…

Kami sampai membuka pintu utama rumah ini lebar-lebar sangking sepinya tempat ini. Tak ada siapapun yang lewat di jalan sana. Hanya segerombolan burung emprit yang terlambat makan yang terbang kesana kemari.

Sensasi bersetubuh di tempat terbuka ini kembali membuat Andini sangat terangsang. Jantungnya berdegub lebih kencang. Seperti yang sudah kami alami di rumah makan lesehan menjelang siang tadi. Andini jadi lebih gampang orgasme karenanya dan itu imbasnya padaku ngecrot lagi dan lagi.

Di ambang pintu kami bersenggama lagi dan lagi. Teriakan histeris Andini menggapai kenikmatannya mungkin sudah dianggap sebagai suara alam. Menjerit-jerit keenakan sesuka hatinya. Andini terkapar di lantai dengan lunglai.

Liang kawinnya berselemak spermaku. Angin sepoi-sepoi dari persawahan luas membuat mata ngantuk. Apalagi bunga-bungaan yang ada di halaman luas ini meneduhkan mata. Sepertinya si Andini malah tidur kelelahan di depan teras. Malas-malasan kubopong tubuh montok berkeringatnya masuk kembali ke kamarnya. Kututupi sekenanya dengan selimut.

Aku mandi menyegarkan diri karena sore ini aku ada kongkow-kongkow dengan dua sobatku; Iyon dan Kojek.

“Sekarang awak mo ngurusin pelet lakikmu dulu, OK?” bisikku pamit di telinganya. Ia hanya menggeliat mengiyakan dan lanjut tidur. Capek kali keknya dia. Jelas aja.

***

“Disini tempatnya…”

“Yakin kau, Seng? Makan apa disini? Makan tempek?” tanya Kojek.

Benar kami bertiga sudah ngumpul di dalam mobilku. Aku, Iyon dan Kojek. Hari masih ba’da Maghrib. Di langit Barat masih ada sedikit semburat jingga matahari tersisa. Kami sudah berhenti di depan tempat karaoke dimana targetku, Cyntia bekerja. Sesuai seperti apa yang dideskripsikan Andini. Tempat ini mungkin yang paling besar dan mewah di kota Siantar ini.

“Ini apa hubungannya dengan Begu Ganjang itu?” tanya Iyon yang duduk di sampingku.

“Kalo sesuai kata si Kojek… Ada dukun yang pake Begu Ganjang untuk dipake melet sama pasiennya…” jelasku. Kojek mengangguk-angguk di jok belakang dengan tangan terbentang seperti menguasai semua kursi di sana.

“Jadi dukunnya suka karaoke… ato pemandu lagu?” tebak Iyon.

“Bah! Ada oppung-oppung jadi pemandu lagu? Bangkrut langsung karaoke ini. Ha ha hahaha…” gelak Kojek sampe berguncang-guncang.

“Bukan-loh, Yon… Ada pemandu lagu di situ yang jadi pasien oppung itu… Dia memelet seorang laki-laki pake Begu Ganjang…” jelasku singkat.

“Wiiih… Ada kemajuan kao, ya sekarang… Kukira pasienmu perempuan… Rupanya laki-laki… Dah lain maennya lae-ku ni sekarang…” ejek si Kojek mintak dibejek.

“Kimak kao ya, Jek! Mana mau aku maen ‘pedang-pedangan’ sama laki-laki…” aku menghentikannya sampe di sana karena penjelasan berikutnya pasti ‘binik laki-laki ini yang mintak aku nyembuhin lakiknya’. Aku beralih lagi pada Iyon.

“Sebelumnya awak udah sempat gadoh sama Begu Ganjang oppung itu… Sampek aku harus ngeluarin jurus Menembus Cakrawala-ku sangking susahnya ngalahin dia… eh dia diselamatin sama oppung Datu itu… Dan kata terakhirnya… laki-laki ini masih ada dalam genggamannya… Gitu…” jelasku akan situasi ril-nya.

“Paham… Jadi kita samperin perempuan ini sebagai perantara menemui si oppung Datu itu…” simpul Iyon. Ia bergantian menatapku dan Kojek. Aku mengangguk membenarkan. Kojek setuju. “Ada foto perempuan ini?”

“Hmm… Dia jadi pemandu lagu di situ?” Iyon menatap lama foto Cyntia yang kudapat dari share gawai Andini. Matanya menelusuri tiap jejak tubuhnya dengan melakukan zoom dan scrolling. Lalu diserahkannya HP-ku pada Kojek.

“Makjang… Cantik kali namboru satu ini, bah… Cocok untuk tukang nuang tuak sama bawak’in tambol (cemilan saat minum)-nya, nih…” ia geleng-geleng kepala melihat casing Cyntia yang aduhai kali.

“Awas kenak pelet kao, Jek… Rusak rumah tanggamu dibuatnya nanti…” kataku mengingatkannya akan potensi bahaya yang dimiliki perempuan itu. “Ini janda satu anak yang suka cari mangsa laki-laki tajir… Kalo cuma kek kita cuma dikurasnya aja sampe kering… Trus dia nemplok ke laki-laki lain…”

“Tau aku… Walo cantik cemanapun perempuan itu masih gak ada apa-apanya sama boru Sihite Nauli-ku… Rata semua perempuan ni dibikinnya…” kata Kojek masih terlalu bangga dengan prestasinya yang sudah berhasil mempersunting pujaan hatinya dan kini sudah dikaruniai empat anak.

“Percayaaa…” imbuhku dan Iyon barengan.

“Trus… bisnisnya apa, Seng? Aku cuma soor sama bisnis yang kao cakap tadi aja-nya…” ingat Kojek akan preposisi bisnis yang semalam sempat kuutarakan padanya. Ia sangat tertarik karena selama ini ia selalu mencari investor untuk usaha ternaknya itu. Iyon juga menyimak.

“Gini… Kao masih nyari investor, kan untuk usaha ternakmu itu?” tanyaku. Kojek mengangguk.

“Kao udah sempat ngomong sama Buana ato si Ron (papa dan oom Satria di kisah Quints dan Quest) untuk invest di usahamu itu?” tanyaku.

“Aku dah minta waktu sama Iyon… Tapi katanya belom ada waktu yang pas…” jawabnya melirik pada Iyon sekilas.

“Berat-lah, Jek… Kao nawarin bisnis babi sama bos-ku… Walopun kita cukup akrab sama mereka berdua… Tapi yang benar aja… Gak bisa pulak kubilang sama Buana kalo ‘gak usah keluar zakat harta karna barangnya haram’… Kan gak bisa gitu, kan? Walo gimanapun dia masih bos-ku…” jelas Iyon tentang kondisi dilema yang dihadapinya.

“Gini-gini ceritanya… Aku ada tanah seluas 20 ribu meter lebih di Stabat, yaa… Kao pakek tanah punyaku ini… Agunkan ke bank… Ambil berapa milyar gitu… Tapi… Ada tapinya nih, Jek… Ganti dari babi ke lembu (sapi)… Pangsa pasar babi terlalu sempit di Republik ini… Kao tau sendiri kan… Apalagi kalo sebagai investor aku juga boleh milih bidang usaha uangku kemana perginya… Gimana?” paparku.

“20 ribu meter?” ulang Kojek meneguk ludah berulang-ulang. Jakun di leher jangkungnya naik turun membayangkan berapa banyak duit yang bisa ia dapat dari bank hasil meng-agunkan surat tanahku itu.

“Jadilah! Kujual semua babi-babi itu… Aku juga sempat kepikiran juga kek gitu, Seng… Jadi kita ganti lembu sekarang, ya?” ia tersenyum lebar membayangkan masa depan gemilang di depan matanya dari suntikan dana segar dariku ini. Aku beralih ke Iyon.

“Nah… Yon… Kao juga butuh investasi di usahamu?” belum apa-apa Iyon udah tersenyum lebar di muka berkulit hitam manisnya.

***

“Toss…” tiga gelas bir beradu bareng satu gelas jus dan satu gelas bloody mary.

Berdenting-denting beling beradu lalu ditenggak pemiliknya. Saat ini kami bertiga sedang berada di dalam ruang karaoke ditemani dua pemandu lagu. Dua orang perempuan cantik bernama Sarah dan Cyntia yang berpakaian aduhai mengundang. Sarah memakai baju ketat tak berlengan dan celana panjang ketat. Temannya baju terusan lengan pendek rok pendek di atas lutut.

Cyntia! Benar! Kami akhirnya berhasil membuatnya keluar dan menemani kami bertiga di ruang karaoke ini setelah nego sana-sini dengan manager karaoke ini. Padahal aslinya dia hari ini tidak bekerja alias off.

Nego-nego kami sampe spik-spik kombur sama sang manager hingga ia mendatangkan Cyntia kemari bareng satu andalan karaoke lainnya. Cyntia hanya mau minum jus sedang Sarah mesan bloody marry. Setengah pitcher bir sudah kami habiskan.

Perempuan target kami, si Cyntia-Cyntia ini kami kondisikan mepet trus sama Iyon karena dari kami bertiga, tampang dan tongkrongan yang kek bos itu Iyon. Tinggi besar berkulit gelap dan selalu berpakaian necis karena selalu dekat bos konglomerat. Wangi-wangiannya-pun beda kali sama kami berdua. Salah kalo ada yang bilang kalo mau wangi dekat sama tukang parfum, dekat sama bos besar. Bisa ketularan…

Iyon juga kami kondisikan sebagai bandar kami apalagi memang biasanya dia yang jadi pemimpin gak langsung di kelompok kecil kami ini.

“Kira-kira dapat berapa ya, bos… tanah yang di Stabat itu?” Kojek masih mengkhayalkan jumlah duit yang akan diterimanya dari tanah itu.

Walo ini pertanyaan kenyataan tapi ia gak lupa dengan peran bos dan kacung yang kami lakonkan di sini.

“Tentunya pihak bank akan menyurvei lokasi tanahnya dulu baru bisa menaksir harga pasarannya… Di pinggir jalan besar tadi?” ia beralih padaku. Sarah dan Cyntia masih memilih-milih lagu untuk mereka nyanyikan.

“Iya, bos… Di pinggir jalan arteri utama kota Stabat… Awalnya yang punya mau membangun galon di situ… taunya udah keduluan sama pihak lain… Diseberangnya pulak… Jadi gak selera lagi dia…” kisahku anonim akan asal usul tanah itu. Kojek dan Iyon manggut-manggut paham.

“Setidaknya 10-15M harusnya kalo harga pasarnya… Kalo tanah biasanya naik terus gak pernah turun nilainya…” papar Iyon.

Sarah dan Cyntia mendadak berbinar-binar matanya mendengar angka em-em-an disebut gamblang begitu. Cyntia makin rapat memepet tubuh Iyon.

“Eh… Nyanyilah kita dulu… Udah kita panggil bintang karaoke-nya untuk repot-repot datang… Mbak Cyntia tadi, kan?” sapa Iyon pada perempuan kebelet kaya itu. Sarah juga pengen kayaknya. “Sama mbak Sarah… Nyanyi juga, ya?”

Dengan penuh semangat 45 kedua pemandu lagu itu bernyanyi berganti-gantian ato duet. Minuman tambah lancar masuknya. Kami bertiga juga sekali-sekali juga ikut nimbrung apalagi Kojek yang menyumbangkan suara emas rocker lawasnya. Ia membawakan lagu andalannya dari Steelheart, She’s Gone! Melengking-lengking tinggi ia menjeritkan suara hatinya merekonstruksi suasana hatinya sewaktu kejadian pahit hidupnya kejadian dulu bak lirik lagu ini.

She’s gone
Out of my life
I was wrong
I’m to blame
I was so untrue
I can’t live without her love
In my life
There’s just an empty space
All my dreams are lost
I’m wasting away
Forgive me, girl
Lady, won’t you save me?
My heart belongs to you
Lady, can you forgive me?
For all I’ve done to you
Lady, oh, lady
She’s gone
Out of my life
Oh, she’s gone
I find it so hard to go on
I really miss that girl, my love
Come back
Into my arms
I’m so alone
I’m begging you
I’m down on my knees
Forgive me, girl
Lady, won’t you save me?
My heart belongs to you
Lady, can you forgive me?
For all I’ve done to you
Lady, oh, lady
Lady, won’t you save me?
My heart belongs to you
Lady, can you forgive me?
For all I’ve done to you
Lady, oh, lady
My heart belongs to you
Lady, can you forgive me?
For all I’ve done to you

Steelheart – She’s Gone

Kedua perempuan itu terbengong-bengong mendengar tingginya suara Kojek yang mampu mencapai pitch tinggi lagu yang sulit. Tentu aneh kalo dinyanyikan dengan nada rendah itu. Gak heran kami kalo Judika suaranya bisa kek gitu karena sobat kami satu ini pun gak kalah. Cuma kalah tampang aja dia dari Judika. Judika tampangnya garang gitu, kan? Kalo Kojek tampangnya kek garangan (musang). Kami berdua yang tentu aja udah kenyang dengar lagu galaunya ini cuma bisa tutup kuping karena ruangan karaoke ini penuh dengan getaran bising suaranya melulu.

Selesai nyanyi langsung ditenggaknya satu gelas bir sampe tandas dengan mimik puas.

“Tamboh tuak-in, namboru…” frase signature-nya keluar pertanda kalo ia puas.

“Ahh… Puas kali aku…” ia menepuk-nepuk lututnya lalu beralih ke Sarah yang memulai satu lagu baru.

Aku duet dengannya. Kami membiarkan Iyon berduaan aja dengan Cyntia. Kami berencana akan menangkap basah Cyntia kalo ia berusaha menggunakan pelet Begu Ganjang itu pada Iyon.

Menghadapi oppung Datu sakti ini harus memakai taktik licik seperti ini. Ia tidak boleh tau kalo yang dihadapi Begu Ganjang-nya dari pihak yang sama. Jadi yang maju pertama kali adalah Iyon. Beruntung kalo Iyon nanti bisa menghabisi Begu Ganjang itu dan itu artinya yang tersisa tinggal oppung Datu itu saja.

“Sstt…” bisik lirih Iyon yang duduk berdua tak jauh dariku yang mengapit Sarah dengan Kojek.

Ia menunjuk-nunjuk lehernya sendiri. Yang artinya ada sesuatu di leher Cyntia. Kalungnya! Ada beberapa bandul mainan digantung berderetan di sana. Ada sebuah logam hitam petak abstrak yang kalo ditilik lebih seksama akan ketahuan kalo itu adalah timah hitam, dipadu padankan dengan bandul emas kecil dan permata Swarovski mengapitnya.

Timah hitam sering dijadikan jimat oleh masyarakat tradisional etnis Batak dan sang oppung Datu memberinya jimat ini sebagai media peletnya. Aku cepat paham apa maksud Iyon karena Cyntia sedang menuang bir ke gelas Iyon yang sudah kosong sambil mulutnya komat-kamit pelan tak bersuara.

“Jujurlah padaku… Bila kau tak lagi cintaaa…” aku menyuarakan lagu ini mencoba ekspresi yang bergelora dengan tangan yang tak memegang mic terbentang lebar. “Plak! Eh…”

“E-eh… Yah… Tumpah?” kaget Cyntia karena gelas yang sedang diisinya baru setengah jauh tersenggol tanganku dan jatuh berguling di atas meja, menumpahkan semua isinya. Menetes-netes sampe ke karpet ruangan.

“Eh-eh… Sori-sori… Sori, ya? Tumpah semua… Sori, bos… Sori, Cyn… Tumpah… Awak semangat kali nyanyinya…” aku mencoba mengelap tumpahan bir itu dari meja tisu yang tersedia di situ.

Iyon mengambil alih pitcher bir dari tangan Cyntia, memeganginya untuk beberapa lama sampe semua genangan cairan tumpah itu benar-benar habis dari atas meja. Perhatian Cyntia dan Sarah teralihkan untuk beberapa saat pada apa yang kami lakukan pada gelas-gelas minuman lain yang tidak terkena di atas meja.

Di belakang sofa tangan Kojek bekerja dengan cepat mengganti isi pitcher bir itu dengan isi gelasnya yang masih penuh lalu diserahkan kembali pada Iyon.

“Udah… Udah bersih itu…” kata Iyon menarik perhatian Cyntia untuk membuatnya melihat bahwa dengan santai ia menuang bir itu ke gelasnya sendiri.

Bir yang aslinya punya Kojek, tanpa mantra ato apapun yang sudah dimasukkannya ke dalamnya. Cyntia terlihat tersenyum penuh arti saat ia melihat sobatku itu menenggaknya seperti biasa. Acara nyanyi-nyanyi senang-senang itu terus berlanjut. Iyon berperan dengan sangat baik.

Ia semakin dekat dan nempel akrab dengan Cyntia. Tanpa merasa risih ia santuy aja dirangkul-rangkul mesra, dipeluk bahkan dicium pipi oleh Iyon. Iyon bahkan merayunya untuk mau minum bir dari pitcher yang baru datang. Rayuan maut Iyon berhasil membuat pendirian Cyntia yang awalnya gak mau minum bir jadi mau nyoba. Mungkin ia merasa harus berkorban dikit demi hasil yang besar.

“Yeeaa…” Kami semua menyemangati Cyntia karena sudah mau minum sedikit bir dan terus dicekoki Iyon. Sarah bahkan ikut terpengaruh dan menjadi kompor juga untuk rekan kerjanya. Mukanya mulai memerah karena memang gak terbiasa minum alkohol bahkan yang seringan bir ini.

“Ihh… Pait gini kok pada suka, yaa?” keluh Cyntia merasa-rasa di lidahnya sisa rasa pahit yang sudah masuk ke dalam lambungnya.

“Gak pa-pa cantik… Kita have fun malam ini…” rayu Iyon mengendusi leher jenjang perempuan cantik itu.

Nafas panasnya Iyon membuatnya bergidik geli. Iyon bahkan berbagi gelas sekarang dengannya. Dibiarkannya perempuan itu meneguk sedikit-sedikit bir dari gelas bertangkainya.

“Nahh… Bagus… Pinter…” puji Iyon lalu membisikkan sesuatu di telinganya.

Tangannya gerayangan di lutut perempuan itu mulai melancarkan rayuan mautnya. Dielus-elusnya tempurung lutut Cyntia. Aku gak bisa berlama-lama memperhatikan apa yang sedang dilakukan Iyon karena Kojek juga sedang melancarkan SSI sendiri pada Sarah. Alkohol sudah pelan-pelan membuat darah kami semua menjadi hangat. Karena gak ada kerjaan aku nyanyi aja sendiri sebisanya.

Saat aku hampir mencapai reff lagu ketigaku, Iyon dan Cyntia bangkit dari sofa yang kami duduki rame-rame ini.

“Yuk cabut!” ajak Iyon pada kami semua.

Cyntia membereskan pakaiannya yang agak berantakan di bagian dada dan roknya yang bergulung sedikit. Sarah agak bingung karena ia merasa belum selesai dengan tugasnya. Kojek mungkin belum selesai merayu perempuan bagiannya itu.

“Mbak Sarah mau ikut enggak? Gak usah takut… Kami gak aneh-aneh, kok… Nanti mbak sama si Dapot aja… Mbak Cyntia dengan saya… Si Nasrul ini cuma nyupiri kami hari ini…” kata-katanya tegas dan meyakinkan sehingga Sarah gak pake lama ragunya dan kemudian setuju. Kojek mengangkat alisnya padaku tanda kalo skenario kami sudah berkembang sedemikian jauh.

Mungkin ada yang nanya, kenapa Iyon menyebut Kojek sebagai Dapot dan Aseng ke nama asliku; Nasrul. Kenapa gak pake nama panggilan biasanya? Ini karena nama-nama kami sudah terlalu terkenal di ranah supranatural sebagai Trio Ribak Sude.

Ada kemungkinan kalo oppung Datu bisa mengetahui kami dari nama yang kami perkenalkan pada Cyntia dan melakukan persiapan. Iyon-Aseng-Kojek sudah jadi jaminan mutu masalah yang akan didapatkan lawan kami. Iyon sendiri hanya kami panggil sebagai bos sedang kami memakai nama asli. Gak banyak yang tau nama asli kami bertiga.

Walopun sudah sepakat BO, kami gak bisa terang-terangan mengangkut kedua perempuan sembarangan. Sarah dan Cyntia keluar dari karaoke dan naik ke mobil jarak beberapa meter jauhnya. Keempat orang-orang itu duduk empet-empetan di jok belakang Pajero-ku.

Kedua perempuan itu duduk di bagian tengah berdampingan diapit Iyon dan Kojek. Gak lama kedua sahabatku itu mulai bergerilya mengkaryakan tangannya di tubuh mulus kedua perempuan berpakaian seronok itu. Iyon bahkan sudah berciuman mulut dengan Cyntia. Kojek masih SSI terus.

“Bos… Kemana ini?” tanyaku gak tau harus mengarah kemana. Aku hanya tau jalan-jalan utama kota Siantar ini tapi gak tau detail tempatnya dimana untuk mesum.

“Ke hotel aja…” jawab Iyon disela cumbuannya pada mulut Cyntia.

Kedua perempuan itu pasrah aja dibawa kemana karena di luar karaoke bila di-BO, mereka jadi freelancer gitu. Tanpa mucikari yang harus tau kegiatan mereka. Berapa tarif mereka ini, ya? Aku gak tau apa saja yang sudah mereka nego-kan dari tadi. Jadilah aku sebagai anjelo (antar jemput lonte) menyupiri mereka mencari hotel terdekat untuk sebagai TKP pemuas syahwat malam ini.

Di belakang sana keempat orang itu mulai beraksi sementara aku harus mencari-cari hotel yang bisa aku singgahi untuk memuluskan urusan kami. Pakaian yang dipakai Cyntia semakin berantakan karena ulah tangan Iyon.

Tangannya sudah menelusup masuk mengelus-elus paha mulus di dalam rok pendeknya. Sarah di lain pihak duduk di pangkuan Kojek sedang melakukan sesuatu yang sepertinya senada. Nah… Di sana ada hotel. Sepertinya cukup memadai.

Singkat cerita aku sudah buka dua kamar untuk dua sobatku itu dan membagi kuncinya begitu semua proses administrasi selesai. Aku hanya menunggu di lobi menunggu kelanjutan.

Apa itu kelanjutannya? Tentu saja panggilan dari Iyon untuk bertarung kalo ia sudah mulai berhadapan dengan Begu Ganjang ato si oppung Datu. Kali ini, aku tidak menjadi pemain kuncinya. Kuserahkan pada Iyon sekarang. Aku dan Kojek akan datang begitu ia memanggil salah satu dari kami.

Kenapa aku gak order 3 pemandu lagu di karaoke untukku sendiri? Nah ini sebenarnya adalah hadiah untuk kedua sobatku itu. Mereka berdua sudah membantuku di beberapa kali pertarunganku. Ini sudah kerap kami lakukan, saling memberi hadiah.

Bisa dalam bentuk macam-macam. Kali ini kuberikan dalam bentuk demikian ini. Pelayanan dua orang pemandu lagu dan semua akomodasinya. Aku sendiri sebenarnya udah cukup bersenang-senang dengan Andini seharian ini, jadi kurasa gak perlu-lah ikut BO juga.

Aku duduk sendirian aja di lobi mainan HP seperti seorang driver beneran. Menunggu kedua sobatku yang berperan sebagai majikan, padahal sebenarnya lagi kutraktirin. Maenan HP chatting dengan Andini yang sedang di rumahnya sendiri lagi.

Aseng: lakikmu gak pulang lagi

Andini: ntah dimana dy skrg

Aseng: kacian y

Andini: abg dong kemari

Aseng: ngapain

Andini: kt enak2an lg

Aseng: malas ah

Andini: katanya enak kok malas

Aseng: nnt ketauan lakikmu

Andini: org dy gc pulang2 gitu

Kesadaranku tiba-tiba terpanggil oleh sesuatu yang menarikku melewati suatu lorong sempit, melesat cepat dan tiba di sebuah hutan pinus gelap. Hanya ada batang-batang kayunya yang terlihat di balik latar gelap gulita khas Menggala golongan hitam. Iyon ada di sana juga berdiri sedang menghadapi sesosoh mahluk yang segera kukenali sebagai Begu Ganjang yang kemarin sempat bertarung denganku. Sang oppung Datu bertongkat Tunggal Panaluan itu juga ada disini. Ini pasti daerah kekuasaannya.

“Seng… Panggil si Kojek… Kita hajar mereka bertiga…” ujar Iyon tanpa melepaskan perhatiaanya pada dua lawan yang dihadapinya. Makanya Iyon buru-buru memanggilku karena lawan juga tidak main-main. Seorang Datu.

“Pandapotan Samuel Hutagalung anak Efraim Mangatas Hutagalung… Aku memanggilmu ke hadapanku… Lewati petala ruang dan waktu… Pandapotan Samuel Hutagalung anak Efraim Mangatas Hutagalung…” panggilku.

Tak lama, anggota ketiga di kelompok kecil kami ini sudah muncul bergabung dengan kami. Seperti Iyon, ia juga bertelanjang dada masih bercelana panjang. Sepertinya ia sama-sama menahan diri untuk menanti masa yang tepat.

Saling panggil begini kerap kami lakukan untuk menghemat tenaga Lini. Memanggil begini menguras banyak tenaga dan taktik Iyon untuk menghemat banyak tenaga di pihak Kojek sebagai penyerang utama kami. Jadi formasinya adalah Iyon memanggil aku, aku memanggil Kojek dan semua kami lengkap sebagai Ribak Sude.

“Ribak Sude… Kalian rupanya…” gumam si oppung memandangi kami bertiga. Pandangannya jatuh terakhir padaku.

“Kau yang semalam, ya?” tunjuknya dengan tongkat etniknya itu.

“Kita kurang berkenalan semalam… Hanya piaraanku yang sempat bermain denganmu…” kata pria tua berbaju serba hitam dan peci hitam.

(Peci hitam di masyarakat Batak merupakan akulturasi budaya walaupun mayoritas Batak beragama Kristen Protestan. Peci yang identik dipakai pria Muslim, dipercaya dan dapat ditelusuri mengikuti kebiasaan yang kerap dipakai presiden pertama Republik Indonesia Ir. Soekarno yang juga identik dengan pemakaian peci hitam ini. Pemakaian peci hitam pada pria Batak bukan merupakan aksesoris keagamaan melainkan kebiasaan saja. Lebih pada rasa Nasionalis mengikut figur Presiden pertama tadi yang mempopulerkannya ke seantero negeri.)

“Apakah oppung seorang Datu?” tanya Kojek berdiri tegak dengan tangan tak mengepal. Bagaimanapun, ia punya kaitan kultur dengan lawan kami kali ini.

“Ise goarmu?” (Siapa namamu?) tanya oppung itu sadar kalo salah satu anggota Ribak Sude ini tentunya bermarga.

“Samuel Hutagalung… Ke-16… anak pertama Mangatas Hutagalung… anak pertama Partogi Hutagalung…” ucap Kojek menuturkan Tarombo (silsilah) di tuturan adatnya. Aku gak terlalu ngerti kali apa yang mereka bicarakan. Lancar ia merunut silsilah keluarganya sampai ke atas. Di puncak pohon Tarombo itu.

“Aku ulangi… Apakah oppung seorang Datu?” di akhir, Kojek mengulangi pertanyaannya kembali.

“Yaa… Aku Datu… Tak kau lihat-kah aku punya Tunggal Panaluan ini?” ia mengacungkan tongkat kebanggannya sambil menuturkan tingkatan marganya juga dalam Tarombo miliknya.

Saling membanggakan silsilah keluarga ini kerap dilakukan oleh para masyarakat Batak. Mereka bangga akan tingkatan dan posisinya di dalam tatanan masyarakat adat. Sepertinya tingkatan si Datu lebih tinggi dari Kojek.

“Jadi bisa kupanggil Datu sebagai amang tua?” Kojek mencoba memantaskan diri. (Biasanya panggilan ini untuk seseorang yang semarga dan usianya lebih tua dari bapaknya)

“Tidak… Kau tak pantas memanggilku itu… Aku gak mau dikait-kaitkan denganmu ataupun siapapun… Kalian panggil aja aku Datu… Itu lebih cocok…” katanya menolak pemohonan Kojek untuk berusaha sopan.

“Amang tahe…” (waduh) umpat Kojek lebih ke kaget karena permintaannya ditolak mentah-mentah. Sepertinya tidak bisa diajak ngomong baik-baik. “Kelen aja-lah yang ngomong, woy… Naek pulak gulaku dibuatnya…” Kojek udah tutup mata akan apa yang akan terjadi dengan oppung-oppung satu ini.

“Gini ya, pung… Kami bukannya sok paten ato mau sok panggaron (jagoan) menantang Datu sekelas oppung… Tapi ada kenalan kami yang kenak ilmu Begu Ganjang dari oppung… Kalo bisa sih, pung… Tolong dilepaslah dia… Siapa namanya, Seng?” kata Iyon lalu beralih padaku yang ada berdiri di kanannya.

“Heri dan istrinya Andini… Ia kena dari Cyntia…” imbuhku menjawab soalan Iyon barusan. Iyon ternyata masih berusaha pendekatan dengan cara baik-baik. Siapa tau masih ada kesempatan ato peluang walo sangat minim.

“Kau sudah melukai peliharaanku dan masih berusaha ngomong baik-baik begini? Hanya nyawa kalian bertiga yang bisa menggantikan rasa sakit hatiku… Tau kalian?! Apalagi kepala kalian sangat berharga mahal saat ini… Masing-masing kalian sedang diincar… Kau… kau dan kau…” Ia menunjuk-nunjuk kami bergantian dimulai dari Kojek, Iyon dan aku dengan tongkatnya. Terutama aku yang sudah berkelahi dengan Begu Ganjang-nya semalam.

“Itu sudah sejak dulu, pung… Kalian-kalian yang bersembunyi di gelap hitam dunia ini selalu mengincar kami… Gak usah pala oppung sebut, udah tau kian kami itu…” kata Iyon gak sedikitpun gentar mendengar ogap (gertak sambal) Datu satu ini.

“Jadi singkatnya oppung gak mau-lah yaa… melepas orang-orang itu?” tanya Iyon untuk terakhir kalinya. Orang tua itu gak secara langsung menjawabnya, ia hanya melepas tongkat Tunggal Panaluan miliknya yang dapat mengambang otonom.

“Kalian bertiga… aku-pun bertiga… Pas, kan?” jawabnya kemudian setelah tongkat itu berubah menjadi seekor mahluk berbentuk naga berwarna hitam sesuai warna tongkat tadi.

Naga ini lain dari pada naga yang sering kuketahui karena bentuknya adalah perpaduan beberapa mahluk dan hewan sekaligus. Mukanya lonjong panjang seperti manusia dengan mata melotot besar, badannya tambun seperti kerbau dan ekornya panjang seperti ular yang membuatnya menjadi seperti naga dengan hanya sepasang kaki.

“Naga Parabas…”

Berdasarkan posisi berhadap-hadapan saat ini, aku kembali menghadapi si Begu Ganjang, Iyon menghadapi si oppung Datu dan Kojek mendapat bagian sang naga. Aku otomatis mengeluarkan mandau Panglima Burung dan bakiak Bulan Pencak-ku.

Iyon sudah mengurai sebuah cambuk panjang, itu Kamarasuta berbahaya miliknya. Sedangkan Kojek hanya menggeretakkan leher dan sendi jari-jari tangannya. Bersiap bertarung 3 VS 3!

“OK-lah, pung… Gak ada kata sepakat kita… Ini jalan terakhir, ya? Mulai-lah kapan aja…” Iyon mulai memberi komando dan menggerakkan cambuk miliknya. Ia melecut tanah di depannya. Suara memekakkan telinga bak suara petir menggelegar.

“CTTTARRR!!!”

“BABIAT BALEMUN!” Kojek dengan kekuatan harimau mengalir di sekujur tubuhnya. Tato harimau itu timbul di lengan kanannya dan menerjang gagah berani dengan buasnya ke arah mangsa berbentuk naga hybrid seukuran kerbau itu. Konsep harimau di Kojek sangat berbeda dengan silat harimau yang kupunya.

Karena pada dasarnya adalah melepaskan sebuah energi besar bak seekor harimau yang mengamuk dari dalam diri.

Aku hanya perlu lebih berhati-hati aja agar fitur istimewa Begu Ganjang ini tidak aktif lagi di tengah pertarungan ronde kedua kami ini yaitu kemampuannya untuk bertambah tinggi.

Dan sialnya si Begu Ganjang pukimak ini menaikkan handicap pertarungan ini dengan membawa serta saudaranya, dua Begu Ganjang lainnya. Kan kimak kali namanya…

Mau minta ganti lawan, juga sama beratnya dengan kedua sobatku… Ya sudahlah. Aku yang memulai semua ini. “Mandalo Rajo…”

***
POV narator.

Kojek yang sudah mengeluarkan kekuatan Babiat Balemun yang kalau diartikan ke bahasa Indonesia berarti harimau besar dan ganas, menerjang gagah ke arah mahluk mistik perubahan wujud dari tongkat Tunggal Panaluan sang oppung Datu yang dinamakan Naga Parabas. Kojek meradang berusaha menghabisi lawannya dengan cepat menggunakan jurus-jurus brutal cakaran berkekuatan harimau itu.

“Heaa!! Heaa!! Hyaa!!!” berkali-kali cakaran kuku tangannya yang mengeras menggaruk tubuh naga hybrid itu.

Tetapi sepertinya naga itu juga mempunyai kulit yang keras lagi liat. Dengan bentuk ganjilnya yang hanya punya sepasang kaki untuk bergerak, ia mengandalkan gigi dan ekor tebalnya untuk bertarung. Ia melompat menghindar dan balas menggigit dengan mulutnya yang ganjil.

Gigi-geliginya tak bertaring runcing, hanya susunan gigi geraham melulu tumbuh di sepanjang gusi di dalam mulutnya. Tapi mendengar suara katupan beradu gigi itu, nyaring dan padat. Kojek menyadari itu tentu gak ingin bagian tubuhnya remuk terkena katup gigitan kuat naga aneh ini. Naga Parabas balik meradang mengincar bagian vital tubuh Kojek untuk menjadi sasaran gigitan mengatup kuatnya.

“CTAK! CTAK! CTAK!”

“NABIRONG!” Kojek berusaha memperkuat pertahanannya dengan cara mengeraskan seluruh tubuhnya dengan teknik jurus aneh ini. Kulitnya yang memang sudah hitam dari sananya bertambah hitam pekat mengkilap seperti baja.

“CLANG! CLANG! CLANG!” suara percobaan ketahanan dan kekerasan tubuh diperagakan Kojek dengan membiarkan tangannya digigit Naga Parabas.

Cukup kuat karena gigi naga itu seperti mencoba mengunyah batang besi. Suara bising benda keras beradu membuat gigi ngilu yang mendengarnya.

Naga Parabas menggeleng-gelengkan kepala aneh berbentuk manusia lonjong dengan mata melotot itu. Mungkin merasa sakit harus melaga giginya dengan benda keras bagai baja itu. Tak kala ia masih menunduk, Kojek yang merasa di atas angin, menerjang akan menyabetkan cakaran gabungan Babiat Balemun dan kerasnya teknik Nabirong. Tak disangka-sangka, Naga Parabas tak patah arang. Mulutnya terbuka lebar bermaksud menghadang dengan susunan gigi besarnya.

“WRRAAARRHHHH!!”

Ternyata itu adalah semburan cairan kental berwarna hitam kehijauan. Tembakan cairan kental sebesar telur ayam kampung itu telak mengenai dada Kojek, membentuk pola cipratan melingkar. Kojek terpental mundur beberapa langkah. Ia tak mau sesumbar untuk menahannya, digulingkannya badannya ke belakang untuk mengurangi efek tumbukan kuat yang telah menghantam dadanya. Ragu ia hendak menyentuh bekas cairan kental yang membekas berbentuk pola melingkar di dadanya itu.

“Ini ilmu Gadam!” sadar Kojek.

Gadam adalah racun yang efeknya sama persis dengan luka penyakit kusta. Luka membusuk yang sampai bisa membuat cacat bagian tubuh penderitanya. Sebagai pertolongan pertama, apalagi kulitnya sekarang begitu keras bagai baja, ia mengambil segenggam tanah, meludahinya dan menggosokkannya ke bekas cairan kental di dadanya itu.

Naga Parabas tak tinggal diam tentu melihat lawannya kehilangan fokus karena sibuk menghapus racun. Mahluk mistis itu menyapukan ekornya yang tebal dan menghantam muka Kojek dengan telak.

Walaupun kulitnya keras, tak ayal lelaki itu terbanting juga terkena sapuan ekor naga hybrid itu. Membentur sebuah batang pohon pinus dan menumbangkannya. Tubuhnya berguling dan terjatuh ke tanah dari patahan pohon pinus yang ditabraknya barusan.

Ternyata kibasan ekor itu begitu dahsyatnya hingga ada tetesan darah dari mulut Kojek bekas serangan barusan. Naga Parabas merangsek terus, melompat dan bermaksud menginjak dengan sepasang kaki besarnya.

Ia berhasil menginjak kepala Kojek sekali dan lelaki itu mengerang kesakitan dan berusaha lolos dengan menendang kaki yang menghimpit kepalanya. Naga Parabas membuka mulutnya lebar-lebar seakan akan menyemburkan ilmu Gadam beracun itu lagi.

“HORTUK!” Kojek mengganti taktik.

Ia sekarang memakai jurus babi hutan. Tangannya melengkung seperti taring babi hutan lalu ditusukkannya sekaligus ke paha Naga Parabas yang menginjak kepalanya, menguncinya di tanah.

“JLEB! JLEB!” dua ujung tangan Kojek menembus dua sisi paha mahluk itu. Membuatnya meraung kesakitan. Suaranya parau seperti seekor kerbau yang hendak disembelih. Kakinya mengendur dan Kojek bisa melepaskan diri. Kedua tangannya terbentang lagi seperti akan menggaruk tanah.

“REEAAARRRHHHH!!!” Kojek meradang marah.

Terjadi benturan hebat, seperti suara sebuah kereta api yang menubruk sebuah truk yang melintas di atas relnya.

“PRAAKK!!!” Kojek membenturkan kepalanya sementara kedua tangannya ditusuk-tusukkan berulang pada tubuh tambun naga hybrid itu. Naga itu meradang juga merasakan kesakitan yang amat sangat tapi gak mau kalah dan balas mendorong.

Adu dorong dua mahluk berbeda ukuran itu seperti pertarungan sumo yang tak seimbang. Anehnya, kekuatan Kojek yang bertubuh kerempeng tetapi liat berwarna hitam mengkilap itu mampu berkompetisi melawan mahluk sebesar Naga Parabas.

“BRUUOOOHHH!!!” jerit Naga Parabas tak mau kalah. Ia meradang dan berusaha terus mendorong dalam pertandingan mirip dorong-dorongan sumo. Kojek terus menusukkan jari tangannya yang dilambari teknik Hortuk yang berarti taring babi hutan. Kerusakan maksimal yang terjadi di kaki Naga Parabas. Sepertinya Kojek sengaja berulang-ulang melukai bagian yang sama di paha lawannya. Ia hanya bisa bergerak dengan sepasang kakinya. Apa jadinya kalo organ tubuh penggeraknya itu cedera parah?

Kojek terdorong cukup jauh, menyebabkan gerusan dalam di tanah yang terbongkar oleh gesekan kakinya. Tetapi luka menganga berdarah-darah ada di kedua paha Naga Parabas. Dan menggenapi itu semua, Kojek berhasil menyobek potongan besar daging paha, kulminasi berulang-ulang tusukan tangannya. Mengoyak tendon utama otot penggerak kakinya untuk melumpuhkan lawan sebesar ini.

“BBRRUUUOOOOHHH!!!” Naga Parabas meraung kesakitan dan menembakkan kembali ilmu Gadam itu ke arah kepala Kojek sebagai usaha terakhirnya membalas lawan.

Tau kalau lawannya pasti akan melakukan perlawanan sengit, Kojek mengelak dengan gerakan menghentak lalu berguling menjauh masih dengan kelincahan liat seekor harimau.

Naga Parabas jatuh berdebum ke tanah seolah tak punya tenaga lagi untuk berdiri tegak. Seakan tulang belulangnya dilolosi dari kakinya. Kojek tersenyum penuh kemenangan dengan memegang sesuatu di masing-masing tangannya. Batang panjang berwarna putih susu berlumuran darah dengan bonggol ujung penuh serat tebal seperti cabikan otot. Ternyata memang tulang paha Naga Parabas benar-benar dilolosi oleh Kojek. Itu sebenarnya rencananya dari awal. Melumpuhkan lawan hingga sulit bergerak.

Kojek bangkit dan memutar-mutar kedua tulang paha naga itu seolah nunchaku.

“Aku kepengen makan naga aneh kek kau ini… Tapi keknya kau ini sangat beracun…” ia membentangkan kedua tangannya seperti akan menyerang dengan teknik Hortuk kembali. Tapi kemudian jarinya mengembang lebar.

“HABONG NI SIGAK!” (Sayap Gagak).

Kedua batang tulang paha itu dibuangnya begitu saja. Tangan kurus dan kasar berlumuran darahnya mendadak sangat lentur dan gemulai bak kepakan sayap. Tubuhnya mengambang. Di pangkal lengan kirinya, sebuah tato timbul sedang aktif bergambar seekor burung gagak.

Tanpa bisa diikuti mata, Kojek sudah berpindah tempat di belakang Naga Parabas.

“CRAASS!!” ada beberapa cabikan menganga di punggung naga yang sudah lumpuh itu. Hanya ekor dan mulutnya saja yang bergerak-gerak tak mau menyerah. Ternyata Kojek mencabik lawan menggunakan kakinya saat terbang cepat melintasinya.

“Sigak Habang tu Huta…” (Gagak Terbang ke Desa).

Mendarat masih dengan tangan terbentang, jari mengembang dan kaki berasap tipis. Ini jurus yang sangat cepat.

***

Aseng harus menghadapi tiga Begu Ganjang sekaligus. Wah… Handicap-nya terlalu tinggi untuk dihadapi walaupun ia pernah berhasil menghadapi satu dari ketiga dari mahluk peliharaan oppung Datu itu.

Ternyata eh ternyata oppung Datu itu tak hanya memelihara satu Begu Ganjang saja melainkan tiga sekaligus. Entah apa lagi kejutan yang dimiliki dukun tua itu yang belum dikeluarkannya.

Dia gak lagi memakai mandau Panglima Burung yang belakangan ini kerap dipakainya kala bertarung. Begitu juga dengan bakiak Bulan Pencak. Sepertinya ia menyimpan dua senjatanya itu setelah tadi sempat dikeluarkannya, hanya murni memakai ilmu silat harimau Mandalo Rajo dan cakar yang muncul dari buku jari tangan-kakinya.

Lincah ia bergerak memukul-menendang sana dan sini meladeni ketiga mahluk berukuran besar dengan gagah berani. Ia dengan percaya diri melawan ketiganya sekaligus berbekal pengalamannya yang pernah mengalahkan salah satu dari mereka walau memakai cara bertarung yang berbeda.

Gerakan kedua Begu Ganjang lain sama unik dengan gerakan zig zag aneh yang dipakai Begu Ganjang pertama. Yang satu hanya bergerak lurus-lurus saja dan yang satunya selalu bergerak berputar.

Ketiga Begu Ganjang ini seperti bidak catur yang saling melengkapi dalam menyerang lawannya secara keroyokan. Aseng merasa hanya perlu mengikuti ritme cepat dan ganjil gerakan mahluk mistis dari tanah Batak ini. Selebihnya tetap sama saja karena di alam supranatural ini, semuanya setara.

Cepat ketiga Begu Ganjang itu menyerang bahu membahu untuk segera mengalahkan lawan mereka. Apalagi Begu Ganjang yang bergerak zig zag itu. Ia seperti mempunyai dendam tersendiri setelah pernah habis-habisan dihajar di pertarungan sebelumnya.

Ia bisa tiba-tiba muncul dari balik tubuh rekannya yang baru saja menyapukan tangan panjang berkuku kotor itu, melesakkan serangan baru yang dengan lugas dielakkan Aseng dengan liat tubuh terlatihnya.

Tapi itu tak bisa terus menerus dilakukan Aseng karena staminanya bisa terkuras karena lawan punya tenaga yang berlipat ganda karena keuntungan jumlah mereka. Apalagi keuntungan besar tubuh ketiga Begu Ganjang ini seakan sulit untuk ditaklukkan.

“KIIKK KIKKK KIIKK… KENAPA KAU TAK MENYERAH SAJA… KAU GAK AKAN BISA MENGALAHKAN KAMI BERTIGA… KIKK KIKK…” ejek Begu Ganjang zig zag menakut-nakuti Aseng dengan kemenangan jumlah mereka. Ketiga Begu Ganjang mengepung Aseng dengan liciknya seperti sedang mengompas (memalak) duit anak kecil.

“Apa kalian tau betapa keras kepalanya aku ini?” balas Aseng mengetok kepalanya sendiri menunjukkan betapa keras kepalanya. Lebih bebal dari kalian, mungkin itu maksudnya.

“KAU DARI TADI KIIIKK… TIDAK BISA MENYENTUH KAMI KIIKKK KIKK…” imbuh si Begu Ganjang putar. Lidahnya berjuntai-juntai menjilati kuku jarinya yang kotor. Mungkin menjilati sisa darah mengering dari korban sebelumnya.

“Ahh… Itu hanya masalah persepsi aja… Kalian bisa bermain curang dengan main keroyokan begini… Aku juga bisa main curang…” ujarnya mengeluarkan beberapa helai daun dari balik punggung bajunya, tepatnya tiga lembar.

“Aku bisa menghabisi kalian dengan cara apapun… Tidak perlu main bersih tentunya karena kalian tidak bisa dipercaya bisa begitu… Ini adalah daun mangga Golek… Daunnya lebar dan lebih panjang dari daun jenis mangga lainnya…” pria itu menunjukkan daun-daun itu.

“Daun-daun ini akan kuoleskan sedikit minyak untuk melancarkan jalannya… Ini akan menyodomi kalian bertiga sebentar lagi…” lanjutnya mengoles ujung ketiga daun mangga Golek itu dengan sedikit minyak yang ditampung pada sebuah pada botol kaca kecil bekas minyak wangi air mata duyung. Ia melirik sebentar untuk melihat reaksi ketiga Begu Ganjang mendengar ucapan gak senonoh barusan. Dioles-olesnya sedikit minyak itu dengan rata pada bagian ujungnya.

“Harus ada minyak ini biar lancar masuknya… Pantat kalian masih perawan, kan? Katanya enak disodomi… Kalian harus coba…” ia terus memprovokasi ketiga Begu Ganjang sedemikian rupa sembari terus membubuhkan minyak itu itu di ujung ketiga daun.

“KAU TIDAK BISA MENIPU KAMI… KIKIIK KIKIIK-KIKK… ITU BUKAN BUKAN MINYAK AIR MATA DUYUNG!! KIKIIK KIKIIK-KIKK… APA ITU RACUN? YAA… ITU PASTI RACUN…” sadar si Begu Ganjang lurus.

Sepertinya sesuai dengan caranya bergerak, pikirannya ternyata juga lurus. Ia curiga itu adalah racun yang disamarkan Aseng di dalam botol kecil minyak wangi untuk mengelabui mereka. Minyak wangi air mata duyung kerap dipakai berbagai praktisi supranatural untuk berbagai keperluan.

Biasanya untuk menyeleraskan energi seseorang dengan mahluk ghaib yang hendak dihubunginya. Banyak jenis mahluk ghaib yang suka dengan aroma wangi minyak wangi ini dan menjadikannya makanan kegemaran mereka. Makanan mewah yang membuat mereka rela disuruh berbuat apa saja.

“Racun? Apa ada racun beraroma wangi seperti ini? Ini seperti cendana ato gambir awak rasa… Mm… Kamu salah Ganjang… Cobain dulu aja, ya?” katanya seperti tak gusar belangnya ketahuan. Ia menaruh ketiga daun itu di sela-sela jarinya dan berkonsentrasi sebentar untuk mengubah ketiga lembar daun itu menjadi pedang.

Aseng dikenal sebagai pendekar Menggala dengan pedang daun empat penjuru angin. Akhir-akhir ini ia mempermanenkan sebuah mandau khas Kalimantan menempati posisi pedang daun Selatan. Hingga tiga posisi mata angin lainnya masih dapat diisi pedang-pedang daun lain.

Penggunaan pedang daun yang dipraktekkan Aseng dengan cara merubah selembar daun pilihannya menjadi sebuah pedang yang mengeras seperti logam sesuai karakteristik daun itu. Makin bagus dan berkualitas daun tersebut makin kuat pedang yang dihasilkannya. Setelah selesai penggunaan pedang daun itu akan hancur dengan sendirinya.

“Naah… Ini dia sudah selesai… Gak usah malu-malu… Ayo nungging semua… biar tak coblos pantat kalian bertiga pake pedang daun ini… Ayo-ayo…” guyon Aseng seakan membujuk anak-anak agar mau disuntik imunisasi di posyandu.

Ketiga daun itu sudah berubah menjadi tiga bilah pedang daun. Ketiga pedang daun itu mempunyai ciri daun mangga Golek asalnya, berbilah lebar dan panjang tetapi cukup tipis untuk terbang melayang-layang seperti mengapung di udara.

“Swaaashh!!!” berdesing cepat ketiga bilah pedang daun itu beterbangan mencari mangsa.

Ketiga Begu Ganjang itu tentunya berhamburan untuk menghindari terkena serangan pedang daun yang melesat cepat berkelebat seperti punya pikiran sendiri.

Aseng mengejar si Begu Ganjang zig zag dahulu karena pergerakannya yang paling random susah diprediksi. Aseng cenderung untuk mengerjakan hal yang paling sulit dahulu dan menyisakan yang mudah kemudian.

Rute pelarian si Begu Ganjang zig zag dihadangnya dari dua arah berbeda, ia di kiri dan sebuah pedang daun di kanan. Si Begu Ganjang tak berani menggunakan fitur memanjang tubuhnya karena itu akan sangat rentan terkena serangan pedang beracun yang dipakai lawan.

Jadilah Begu Ganjang itu menghindari tiap sabetan pedang daun jelmaan dari sehelai daun mangga Golek itu. Bila ada kesempatan, ia akan berusaha menyerang Aseng dengan cakaran tangan berkuku kotornya lalu menghindari sabetan terbang pedang daun itu.

Ia bergerak zig zag berkali-kali memanfaatkan pola geraknya yang membingungkan lawan, tapi sepertinya Aseng sudah sangat paham pola gerakan mahluk ghaib itu dan bisa menghadangnya berkali-kali pula.

Dengan kelincahan Aseng dan kekuatan jurus Mandalo Rajo, ia berhasil memerangkap sebelah tangan Begu Ganjang zig zag dan memelintirnya ke belakang punggungnya.

Mahluk ghaib itu berusaha membalik keadaan dengan berputar ke arah tangannya yang dipelintir tetapi ternyata itu gerak tipuan karena Aseng menyarangkan sebuah daya gedor pukulan telak di bagian dadanya lalu memiringkan tubuhnya untuk menyarangkan sebuah tendangan mengarah ke leher tebalnya. Dua kali serangan ini masuk berturut-turut hingga kepala Begu Ganjang itu mencium tanah. Panik mahluk itu dan berusaha mundur menjauhi Aseng. Tetapi lupakah dia?

“CROOBBS!! SRROO~~~~OOK!” pedang daun itu menunaikan tugasnya dengan sangat baik.

Masuk dari bagian bokong Begu Ganjang itu, menembus jauh ke depan dan keluar dari bagian mulutnya seperti kambing guling terpancang. Posisinya yang rebah di tanah lalu mundur dengan panik sangat ideal untuk sesumbar kekalahannya di tangan Aseng. Tak jauh setelah keluar dari mulut Begu Ganjang zig zag, pedang daun itu luruh dan hancur menjadi abu.

“Udah kusuruh dari tadi nungging… Bye-bye…” Aseng langsung pergi menjauh dari sang Begu Ganjang zig zag dan berburu Begu Ganjang lainnya.

Menggelupur kesakitan Begu Ganjang zig zag yang bagian tubuhnya sudah ditembusi pedang daun Aseng itu. Ia menjerit-jerit histeris merasakan sakit bagian dalam tubuhnya yang rusak. Ia mungkin mengharapkan rasa sakit berlebih dari racun yang mereka percaya sudah dioleskan lawan pada ujung pedang tadi…

Begu Ganjang lurus sedang memanjat sebuah pohon pinus berbatang besar, menghindari kejaran sebuah pedang daun yang terus-menerus menerornya. Sampai di puncak pohon gelap di langit gelap ia melompat ke pohon terdekat, mendekatkan dirinya ke habitat rumahnya. Begu Ganjang terkenal karena mendiami puncak-puncak pohon tinggi sebagai tempat tinggalnya.

Menyesuaikan diri dengan kondisi tubuhnya yang memanjang. Tetapi ia kelabakan sendiri menghindari kejaran pedang daun beracun itu, yang mereka anggap beracun itu. Dari pohon ke pohon ia terus berlompatan menghindar.

Sesekali ia berusaha menghalau pedang daun yang persisten mengejarnya dengan sapuan dahan-dahan kayu yang berhasil diraihnya. Hanya untuk terpotong mudah berkat tajam bilang pedang itu.

Karena ia sudah mendapat tugas untuk bertarung dari majikannya, ia berusaha sebaik mungkin melaksanakan tugas bertarungnya ini. Dicabutnya dengan gagah berani sebuah pohon beserta akarnya, diangkatnya dan bermaksud menghantamkan batang besar pohon pinus itu pada pedang daun yang mengejarnya, seperti martil. “WRRUUUHHH!!” desir angin kencang tercipta saat ayunan batang pohon itu mengarah ke pedang daun.

“SRAATTSS!!” melambung jauh batang pohon pinus yang masih lengkap cabang, daun serta akarnya terlepas dari ayunan Begu Ganjang lurus.

“AKKHH!!” keluh Begu Ganjang lurus karena kehilangan satu tangan kanannya yang dipakai untuk mengayunkan batang pohon pinus barusan.

“KIKIIK KIKK… KAU!!” sadarnya baru tahu kalau di belakangnya Aseng dengan senyum lebar baru saja menebas tangan kanannya hingga ikut terbang bersama batang pohon yang dilemparkannya.

Lawannya itu juga ikut nangkring di puncak pohon menunggu kesempatan membopong tubuhnya dari belakang menggunakan mandau andalannya.

“KAU!!! AKKHH!!” ia lagi-lagi menjerit pilu merasakan sesuatu menusuk bagian bawah tubuhnya.

“CRABB!! SLLUU~~~UURRK!!!” pedang daun yang dari tadi mengejarnya, melakukan tugasnya dengan baik.

Menembus bagian anus Begu Ganjang itu, melesat vertikal dan keluar dari mulutnya yang menengadah masih kesakitan kehilangan anggota tubuhnya. Terbang mengambang untuk beberapa lama pedang daun itu lalu luruh dan menghilang.

“Kau itu Begu Ganjang… bukan bodat (monyet)… Maennya di pohon… Bye!” santai aja pria itu melompat turun dari puncak pohon pinus tempatnya nangkring selesai perburuan keduanya.

Melanjutkan berburu mangsa terakhirnya. Begu Ganjang itu juga jatuh limbung dari puncak gelap pohon pinus yang banyak tumbuh di daerah kekuasaan oppung Datu pemeliharanya. Pasrah ia berharap segera ia merasakan rasa sakit racun di samping rasa sakit ditembusi sebuah pedang dari bawah ke atas isi perutnya.

Begu Ganjang putar lumayan mau meladeni serangan pedang daun bagiannya. Ia melagakan kuku tajam kotornya yang ternyata cukup bisa menahan serangan lawannya. Mahluk itu memberi perlawanan sengit dan tak sungkan memakai fitur memanjangnya untuk menangkap bagian belakang pedang daun yang berfungsi layaknya gagang agar dapat menahannya.

Tentu saja pedang daun itu tak mau disentuh selain pemiliknya; Aseng. Meronta-ronta pedang daun itu memaksa melepaskan dirinya dari genggaman lawan. Begu Ganjang putar menahannya sekuat tenaga.

Akibatnya beberapa batang pohon tertebas tajamnya senjata tajam yang bermanifestasi dari sehelai daun mangga Golek itu. Tumbang dan memberi ruang luas di tengah hutan pinus yang gelap.

Begu Ganjang putar meliuk-liukkan tubuhnya memegang pedang daun itu dengan kedua tangan besarnya. Ia merasa percaya diri akan bisa mengatasi lawannya sebentar lagi. Ia sepertinya merencanakan sesuatu yang keji, terlihat dari mimik muka seramnya. Tak kurang pedang daun itu berusaha melepaskan diri hendak lepas menjauh dari lawannya. Beberapa batang pohon pinus lainnya tumbang.

“Hei… Itu pedangku… Kau apakan dia?” sapa Aseng yang berjongkok di depan Begu Ganjang putar.

Sekuat tenaga ia mengayunkan pedang daun itu mengarah ke leher lawannya yang tanpa sebab sudah ada di hadapannya. Kiranya inilah taktik kejinya, memakai senjata lawan untuk melukai pemiliknya. Ayunan tangannya menerpa ruang kosong. Padahal Aseng sama sekali tidak beranjak dari tempatnya, tetap berjongkok seperti sedang BAB.

“Mana mungkin dia mau melukaiku…” Pedang daun sudah tidak ada lagi di tangannya. Terlepas!

Karena dari awal gerakan usaha melepaskan diri pedang daun dari tangan Begu Ganjang putar adalah dengan menjauh, ia menipu lawannya dan lepas dengan mudah dengan bergerak sebaliknya, mundur. Bahkan kedua telapak tangan Begu Ganjang putar tersayat tajam pedang daun itu mengakibatkan luka menganga.

“K-KAAU!! KIIKK!!” matanya melotot kemudian dengan tiba-tiba seperti akan keluar dari kantongnya merasakan kesakitan yang teramat pedih dari bawah tubuhnya.

“UUKKHH…”

“CRRUUBB!! SLLRRUU~~~~UUKK!!” memilih jalan berputar juga pedang daun itu menerjang bagian buritan Begu Ganjang putar, menyodok kencang ke atas, menembus melewati isi perutnya, melewati organ pernafasannya, menerjang leher dan keluar dari mulutnya yang menganga.

Lidahnya menjuntai lemah memanjang. Beberapa gigi taringnya rompal patah. Darah mengalir dari mulutnya saat ia terpana tak bisa berkata apa-apa. Ia hanya bisa memandang bagaimana pedang daun yang telah mengoyak tubuhnya dari dalam, hancur dan luruh menghilang.

Tak jauh darinya ia bisa menyaksikan teman sesama peliharaan oppung Datu, si Begu Ganjang zig zag menggelepar di tanah. Lalu dari ketinggian pepohonan pinus jatuh juga Begu Ganjang lurus, berdebum seperti nangka busuk. Mereka meregang nyawa bersamaan.

“Racun apa yang kalian maksud?” tanya Aseng.

***

“Saya pernah dengar lagu pantun dari temanku itu… Si Kojek itu… Pake bahasa Batak… Gini nyanyinya… ‘Adong motor Chevrolet marbeka sapuluh dua. Adong inang terpeleset lepetnya terbelah dua… (ada mobil Chevrolet ber-plat BK 102. Ada ibu-ibu terpeleset memeknya terbelah dua) Oom mariam tomong dainang sinapan masin’… Gitu, pung?” Laah… Malah ngobrol Iyon dengan si oppung Datu.

Pakai dipersembahkannya pula sebuah lagu jenaka yang diplesetkan dari lagu perjuangan Mariam Tomong. Kepalanya sampai miring kanan kiri kekanakan mengikut irama lagu itu.

Merah padam muka si oppung Datu mendengar lagu jorok gak pantas itu.

“Reputasi kalian akan berakhir sampai di sini saja, Ribak Sude…” ia merogoh bagian dalam pakaian hitamnya, meraih sebuah benda yang langsung diacungkannya pada Iyon. “Pamodil! DHAAR!!”

“Wadaw! Apa itu? Oppung punya pistol? Keren…” malah memuji-muji peralatan lawan.

Oppung Datu mengacungkan sebuah pistol kuno dari kayu dan laras beserta pelatuknya dari besi hitam. Masih ada sisa pembakaran mesiu yang barusan dilantak pemantik batu api, berasap mengepul.

Tembakan oppung Datu barusan meleset beberapa senti saja dari leher Iyon. Potongan kecil timah hitam yang berfungsi sebagai peluru itu kena ke pohon pinus di belakangnya.

“Oo… bedil lantak…” paham Iyon setelah memperhatikan oppung Datu membersihkan laras bedil kecilnya, memasukkan mesiu baru yang berupa gerusan arang, belerang dan serbuk sisa kotoran kambing, peluru timah hitam dan lalu menarik pelatuknya ke belakang bersiap menembak lagi.

“PAMODIL!” ia menarik pelatuk, batu api memantik mesiu purba itu, membakarnya dan meledak! Melontarkan potongan kecil timah hitam sebagai pelurunya. “Didia imana?” (Dimana dia?) kaget oppung Datu karena lawannya sudah tidak ada di tempatnya, padahal barusan aja ada tepat di depannya. Ia hanya menembak ruang kosong.

“Hei?!” lebih kaget lagi orang tua itu karena tiba-tiba Iyon sudah ada di sebelah kanannya dan merampas bedil lantak kecilnya.

“Wah… Ini benda bersejarah, nih… Cocoknya ada di museum… Takutnya kalo terus dipake… bisa pecah, pung…” cuek pria bersenjata cambuk itu mempelototi senjata api model awal itu lekat-lekat.

“Kembalikan bedilku!!” jerit orang tua itu pada Iyon melangkah menjauh.

Ia berusaha mengejar untuk mengambil kembali senjata miliknya yang sudah semena-mena diambil lawan dengan mudah. Sebagai Datu tentunya ia akan malu kalo senjata andalannya begitu mudah berpindah tangan, hanya karena kaget.

“Hei!! Lateung! Kembalikan milikku! Tulak punahu!”

“Yaah, kaan? Rusak…” Iyon tiba-tiba berbalik dan menunjukkan kedua tapak tangannya yang memegang… bisa dibilang sisa-sisa dari bedil lantak kecil itu. Laras pendeknya lepas, pelatuknya juga copot, pemantiknya tak memiliki batu api lagi.

“Ini udah terlalu kuno… Tapi tenang, pung… Masih bisa direstorasi, kok… Nanti kita bawa ke museum aja, ya? Lebih bermanfaat di sana… Cucu-cucu oppung bisa melihat senjata model lama…”

“SIP BABAMMI!! (Tutup mulutmu!) Kau sudah merusak pamodil-ku!” berang sejadi-jadinya orang tua itu melihat salah satu senjata andalannya sudah dirusak musuh.

Muka berkeriputnya merah padam. Urat-urat kasar timbul di keningnya. Dia sampai mengacak-acak kesal peci hitam yang dikenakannya karena tekanan darahnya meningkat. Mungkin pula tensinya melonjak naik hingga kepalanya mulai pening.

Ia merogoh lagi ke dalam saku baju hitamnya. Sebuah tanduk hitam kerbau berukir bagus dan sepertinya berongga karena ada semacam penutup untuk menjaga isinya tidak tumpah terbuang. Gusar ia membuka penutup tanduk itu, memasukkan tangannya dan di ujung jarinya digesek-geseknya abu putih yang berasal dari dalam benda itu. Hendak ditiupnya abu itu ke arah Iyon.

“Haa… Uhuk-uhuk!” batal ia meniup abu di ujung jarinya karena lagi-lagi Iyon sudah mendahuluinya dan meniup abu putih itu dan mengenai mukanya.

“HEANG!” (PEPEK!) makinya sangat marah sekali. Ia sangat berang dan bermaksud memukul Iyon dengan tanduk yang sedang dipegangnya.

Dengan ringan Iyon mundur menghindari tabokan itu dan malah semua isi yang ada di dalam tanduk itu berupa serbuk putih tumpah ruah semua, bertebaran karena ia lupa menutupnya kembali.

“Haa??!!” kagetnya.

    

Speechless orang tua itu melihat harta berharga dalam bentuk serbuk putih terbuang percuma tak bisa dikutip kembali karena tanah gelap langsung menyerapnya menghilang.

“Kaaan? Oppung, sih… Masak awak mau dipukul pake itu…” kata Iyon merasa bersukur tak kena tabok pake tanduk tadi. Ia mengelus-elus dadanya.

“Serbuk Pangulubalang-ku yang paling berharga…” ratapnya hampir menangis memandangi tanah dan rongga di dalam wadah tanduk miliknya yang sudah kosong.

“Itu tadi Pangulubalang punya oppung? Mau oppung santet awak rupanya? Jahat kali si oppung ini-lah… Gak baik itu, pung…” kata Iyon malah menasehati orang tua itu agar menjauhi perbuatan-perbuatan jahat.

Pangulubalang adalah satu jenis ilmu hitam terkeji etnis Batak. Terbuat dari anak manusia yang diculik, digemukkan dan dibuat berjanji untuk setia padanya. Setelah cukup, ke dalam mulutnya akan dicekoki timah cair mendidih hingga mati. Tubuhnya dipotong-potong dan dimasukkan ke dalam wadah. Hasil fermentasi tubuh anak tadi akan menghasilkan cairan, disimpan terpisah.

Sisa tubuhnya akan dibakar dan abunya itulah serbuk putih yang dimasukkannya ke dalam wadah tanduk kerbau tadi. Sedang untuk janji sang anak tadi, dibuatkan sebuah patung yang dapat disuruh-suruh sesuai janjinya. Bisa untuk menyerang lawan atau mengobati. Patung ini yang disebut sebagai Pangulubalang.

“Kau-kau menghabiskan semua persediaan serbukku!!” berang si oppung Datu tak terima semua perlakuan Iyon padanya yang telah banyak merugikannya.

Dimulai dari merusak bedil lantak-nya dan sekarang menghabiskan semua persediaan serbuk pemanggil dan pengendali Pangulubalang miliknya. Sepertinya disana semua sumber kesaktian dan kedigdayaannya selama ini. Mungkin selama ini dipakai sehemat mungkin karena sulitnya pembuatannya, ini malah langsung habis.

“Dipersorilah, oppung… Gak tau kian awak…” cengengesan Iyon sembari ngusap-usap rambut berminyaknya lalu dirapikan dengan jari.

“Naga Parabas! Ganjang na Tolu (tolu: tiga)!” dipanggilnya naga hybrid jelmaan tongkat Tunggal Panaluan-nya yang tadi bertarung melawan Kojek beserta ketiga Begu Ganjang peliharaannya yang bertarung versus Aseng. Keningnya berkerut-kerut mengerahkan semua kesaktian yang masih ada tersisa. Sepertinya ia akan mengeluarkan kemampuan pamungkasnya. Tubuhnya menggigil melakukan summon pada keempat mahluk yang ada dalam kekuasaannya itu. Tangannya mengepal mengerahkan semua sakti-sakti kemampuannya.

“Naga Parabas!! NAGA PARABAS!!” teriaknya kuat.

Sesosok tubuh melompat dari kegelapan dan jatuh teronggok di hadapan oppung Datu. Awalnya ia senang karena salah satu mahluk yang dipanggilnya telah hadir di depannya, memenuhi perintahnya. Tapi demi melihat luka-luka parah menganga di punggung naga yang dari sananya sudah berbentuk ganjil itu, tak ayal membuat oppung Datu kaget.

Naga itu tak dapat bergerak dengan benar karena kedua tulang pahanya sudah dilolosi di pertarungan sebelumnya. Ketat mukanya juga merah padam menahan amarah yang semakin membuncah. Otot-otot uzurnya menegang, urat-uratnya makin bertonjolan. Iyon mundur selangkah khawatir terkena cipratan kalau tiba-tiba pria tua itu meledak.

“D-DAATU… KIIKKIKK… DAATUU… TOLONG KAMI DATUUU…” apalagi bertambah datang sambil merangkak, menyeret tubuhnya agar bisa bergerak, tiga mahluk Begu Ganjang yang juga terluka parah.

Bahkan ada yang tak bertubuh lengkap, kehilangan salah satu tangan. Saling bantu ketiga Begu Ganjang itu untuk memenuhi panggilan pemilik mereka. Ada sejumlah jejak darah yang mengikuti jejak pergerakan mereka.

“DAATUU… DATUU… KIIKK… KIIKK… DATUU…” erang penuh kesakitan para mahluk besar berbulu hitam lebat berwajar seram itu. Menggapai-gapai tanah, mencakar tanah untuk dapat bergerak maju, memenuhi panggilan sang Datu.

Bertambah amarah oppung Datu melihat ketiga Begu Ganjang andalan kepercayaannya mengalami kerusakan sedemikian parah. Di belakang ketiganya pria bernama Aseng itu mengekori mereka sambil menenteng mandau Panglima Burung-nya. Lalu menyusul Kojek menyeruak dari kegelapan di belakang naga Parabas. Sepertinya ia yang telah menendang naga hybrid itu sampai ke hadapan oppung Datu.

“Santabi jolo, oppung Datu… Santabi molo gabe sangonon…” (Maaf dulu, oppung Datu. Maaf kalau jadi begini) Kojek menghaturkan maaf dengan menyatukan tapak tangannya yang cenderung bisa disalah artikan sebagai ejekan karena telah mengalahkan andalannya yang disuruh menghadapinya tadi.

Kojek telah menghajar habis-habisan Naga Parabas yang merupakan perwujudan tongkat Tunggal Panaluan-nya. Tiga Begu Ganjang-nya juga sudah dihajar sedemikian rupa oleh Aseng. Ditambah dengan perlakuan Iyon padanya…

‘BIANG HAMU SUDE!!!” (An**ng kalian semua!) teriak si oppung Datu tak tertahankan lagi amarah yang menggelegak di dadanya.

Nafasnya berat, dada kurus di balik pakaian serba hitamnya naik turun. Rambut di balik peci hitamnya awut-awutan kebanyakan diacak. Tangannya terkepal erat. Giginya rapat, rahangnya ketat. Matanya melotot, uratnya menonjol.

“Apa artinya, Jek?” tanya Iyon penasaran pada sahabatnya yang berdiri jauh diseberang sana.

“Katanya kita semua an**ng, Yon…” Kojek menterjemahkan bahasa Batak yang baru diteriakkan si oppung Datu.

“Maaak… Kita dikatain gukguk…” komentar Aseng hampir tergelak.

“Kimbek, kita dikatain asu… Sampeyan yang asu… Enak tenan ngatain orang asu… Apa tadi? Biang?… Sampeyan yang biang…” balik Iyon malah yang ngomel-ngomel gak jelas.

“Eh… Ngapain sampeyan?” Oppung Datu itu mengorek-ngorek wadah tanduknya dengan gak sabar untuk serbuk putih Pangulubalang yang masih ada tersisa di dinding wadah itu. Tiap titik serbuk yang terkumpul di jarinya, dijilatinya dan diulangi terus menerus sampai benar-benar bersih licin tak bersisa.

“Huh-huh huh-huh…” makin berang dan ketat mukanya dengan amarah.

“Hati-hati, Ribak Sude… Ini ledakan amarah! Dia mengamuk!” seru Iyon memperingatkan kedua sahabatnya yang mungkin juga sudah menyadari keadaan si oppung Datu. Di punggung pria tua itu muncul sebuah patung kayu secara ghaib yang mirip patung Sigale-gale.

Hanya saja patung ini tak bisa digerak-gerakkan sendinya untuk menari layaknya Sigale-gale. Kaku terpaku saat dipindahkan ke depan oppung Datu yang mulutnya komat-kamit membacakan mantranya. Sah saja rasanya kalau si oppung Datu mengamuk seperti ini setelah mengalami kekalahan telak berturut-turut dari dua utusannya. Dia menolak untuk kalah juga dan melakukan usaha terakhirnya ini.

“PAMUNU!!” teriaknya dengan suara parau.

Pamunu artinya kurang lebih adalah pembunuh. Ia menyatukan kesadaran dirinya dengan patung Pangulubalang, kesaktian terhebatnya. Tubuhnya lalu terkulai jatuh di tanah gelap sementara patung itu bergetar, mulai hidup dan bisa bergerak.

Tangannya yang kaku menempel di samping tubuhnya lepas dan bergerak menurut sendinya, begitu juga dengan kakinya. Mulutnya bergerak terbuka dengan ganjilnya. Seperti sebuah manekin yang bisa bergerak, kaku tubuh patung Pangulubalang melangkahkan kaki pertamanya.

“Horeee…” Iyon bertepuk tangan senang patung itu bisa bergerak dan melangkahkan kakinya. Seperti bayi yang baru belajar melangkah. Mata tak bernyawa patung itu menatap Iyon tak diketahui apa makna ekspresinya. Senang apresiasi itu atau malah marah?

“Yoon… Kasianlah, Yoon…” kata Kojek gak sampai hati melihat Iyon mempermainkan orang tua itu sampai taraf ini. Oppung Datu sudah bertekad untuk bertarung dengan serius tapi terus dibercandain olehnya.

“Kita habisin aja dia cepat-cepat… Biar cepat selesai juga kita… Nanggung tadi si Sarah itu…”

“Tapi paten kali nih, Jek… Bisa bergerak patungnya… Nah… nah… Liat, kan? Oop… Masook dia!” antusias Iyon melihat perkembangan lawan yang akan mereka hadapi bersama-sama sebagai kesatuan Ribak Sude. Perkembangan apa yang dimaksud Iyon? Apakah proses bagaimana patung Pangulubalang yang sudah dirasuki oppung Datu menghisap naga Parabas dan tiga Begu Ganjang itu? Keempat mahluk itu dihisap semua esensi kekuatannya masuk ke dalam mulut kayunya.

“Keknya jadi Megazord dia…” tebak Aseng caranya seperti serial super sentai Jepang. Penggabungan beberapa robot kecil menjadi robot yang lebih besar. Tubuh naga Parabas dan tiga Begu Ganjang itu menghilang, habis dihisap patung Pangulubalang itu diserap tubuuhnya.

“Ba-ba-bah… Jadi apa dia itu?” kaget Kojek melihat proses perubahan patung Pangulubalang itu menjadi sesuatu yang benar-benar ganjil, yang tak mereka sangka-sangka. Seekor kuda.

“Jadi unicorn dia, yah?” Iyon sampai memiringkan kepalanya untuk melihat dengan jelas bentuk baru lawan mereka di kegelapan tempat ini.

“Kalian pernah liat yang seperti ini sebelumnya?” tanya Iyon pada kedua sobatnya. Serentak mereka menggeleng.

“Hati-hati semuanya… Entah apa yang bisa dilakukannya… Pokoknya lebih hati-hati aja… Kayaknya ini kuda sembrani…” ia mengingatkan keduanya. Insting kepemimpinan Iyon mengemuka. Insting miliknya ini yang bisa membuat mereka selamat dari dulu sampai sekarang.

Seekor kuda besar berwarna hitam mengkilat lengkap dengan penunggangnya. Bersurai panjang dan ekor panjang berwarna senada, hanya matanya yang berwarna lain, merah menyala seperti saga. Apakah penunggangnya itu si oppung Datu? Tidak.

Bentuk tubuhnya lebih besar dan gagah juga masih muda. Bertelanjang dada. Tetapi jelasnya penunggang itu bukanlah manusia lagi. Tubuhnya juga hitam tak lazim.

“Orangnya nempel ke kuda sembrani itu, Yon…” sadar Aseng menilik ikatan penunggang kuda itu dengan tunggangannya. Penunggang itu duduk di punggung kuda hitam itu tanpa pelana dan merekat erat.

“Ini mimpi buruk…”

Selesai Iyon mengucapkan kata itu, terlihat sinar menyilaukan dari mata saga sang kuda. Ketiga anggota Ribak Sude terpaksa menutupi mata mereka dari sinar silau yang laksana matahari kecil. Menghindar agar tak terbakar…

***

POV Aseng.

“Silau…” kubuka mataku dan menarik tangan karena sinar sudah tidak lagi menyakiti pandangan.

Hanya terang normal matahari siang di daerah tropis. Sejuk tempat ini berkat sejumlah besar air yang ada di dekatnya berupa dua buah kolam dangkal dan dalam berdampingan. Ini rumahku di kompleks XXX. Aku lagi rebahan berjemur matahari pagi menjelang siang di kursi pantai pelataran kolam rumahku. Terdengar riang suara beberapa anak sedang bermain di dalam kolam dangkal. Aku gak tau itu anak siapa.

“Pa… bagi duit…” tiba-tiba ada suara seorang gadis remaja yang mendatangiku. Ia menadahkan tangannya. Siapa ini?

“Paa… Bagi duit… Wawa mau pergi sama teman-teman Wawa…” ulangnya lagi.

“Wawa? Salwa?” ulangku gak ngerti.

Anak perempuan siapa ini? Kok berani minta duit ke aku? Penampilannya berani kalo gak bisa dibilang modis. Baju tanpa lengan berpotongan pendek hingga pusarnya terlihat. Lalu hotpants jeans warna biru. Telinga kirinya penuh tindikan dan ada satu tindikan juga di hidungnya. Rambutnya dicat merah menyala seperti Megaloman. Apa yang dilakukan orang tuanya membiarkan anak seperti ini?

“Iya ini Wawa… Salwa, paa… Bagi duitnya…” ulangnya lagi mendesak. Kapan anakku yang cantik dan manis menjadi seperti sundal seperti ini? Aku mencoba menepuk bagian kantong celanaku. Ada dompetku di saku kanan belakang. Kukeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan padanya. Disambarnya dan pergi tanpa mengucapkan apapun.

“Mama mana?” tanyaku seperti orang linglung. Kenapa jadi begini? Kapan aku melewatkan perkembangan anak-anakku?

“Mama? Papa mabok lagi? Kan udah papa cere’in bertahun-tahun lalu…” badanku terasa ringan seperti isinya terbuat dari dacron pengisi boneka. Terhenyak aku kembali duduk di kursi pantai ini. Gadis yang mengaku sebagai Wawa itu pergi menghilang. Aku sudah menceraikan istriku? Kapan aku melakukan semua hal tergila itu?

“Ini pasti mimpi!” aku bertekad, bangkit. Ini rumah yang persis sama.

Tapi kalo mimpi tidak akan senyata ini. Kucubit tanganku sendiri. Sakit. Kucoba tampar pipiku.

“Plak! Aww… Kimbek… Sakit…” keluhku mengusap-usap pipiku yang pedas.

Tiga anak-anak kecil di dalam kolam dangkal itu tertawa-tawa menunjuk-nunjuk pada kebodohan menyakiti diri sendiriku.

“Papa bodoh… Papa bodoh… Papa bodoh…” olok-olok mereka bersamaan.

Ini anak siapa sih pada main di sini semua? Salah satu anak menembakiku dengan pistol air berbentuk kuda. Aku masuk ke dalam rumah dengan bersungut-sungut seperti biasa kalo aku lagi kesal. Ini seperti hal biasa aja jadinya.

“Pagi, paa…” seorang gadis muda lain menyapaku saat berpapasan dengannya.

Ia sedang membaca buku tebal. Umurnya sedikit dibawah si Wawa-Wawa tadi. Kaca matanya membuatnya seperti kutu buku. Ia naik ke lantai atas tanpa kesulitan walo matanya tak lepas dari bacaannya.

Tapi pandanganku teralih dari entah siapapun dia itu ke beberapa figura foto yang digantungkan berjejer di sepanjang dinding tangga. Ada 4 buah foto yang digantung berjejer seperti urutan. 4 orang perempuan cantik yang sama sekali tak kukenal. Siapa mereka berempat ini?

Rumahku tak berubah bentuknya. Setidaknya ruangan ini masih seperti yang kuingat. Tetapi ada beberapa perubahan furniture dan yang paling signifikan adalah keempat figura foto perempuan cantik yang sama sekali asing buatku. Berfoto ala lady borjuis gitu yang memamerkan hedonisme semata. Apa yang telah terjadi? Kenapa ini? Kenapa aku merasa sangat salah?

Pintu utama terbuka, seorang pemuda masuk kelimpungan karena kakinya tersandung kaki lainnya dan jatuh.

“Eh… Papa? Udah bangun, pa?” ia berusaha bangkit tapi dari jauh begini aku sudah tau pasti kalo pemuda sembrenget ini lagi mabok.

Matanya sayu dan merah. Ia sudah berpenampilan aneh dan tak perduli. Bisa-bisanya ia memakai baju bersablon kuda poni. Belum lagi bau alkohol menyengat… Dari pintu yang belum ditutup sempurna itu masuk beberapa sosok tubuh lainnya.

“Eh… Mama-mama muda udah pada pulang…” pemuda mabok itu menyapa keempat perempuan yang kalo ditilik sama dengan empat foto yang ada di dekat tangga.

“Aku suka bodi goyang mama muda… mama muda… na na na na naa…” ia bernyanyi dan bergoyang dengan bodohnya tarian paok walo tubuhnya sempoyongan akibat tenggen (mabuk).

Terlihat wajah gak suka dan gak senang di keempat perempuan itu yang bergidik jijik berhadapan dengan pemuda itu. Sepertinya mereka baru pulang senam ato apapun itu, terlihat dari pakaian ketat menggiurkan yang mereka semua kenakan.

“Paa… Liat tuh anakmu tuh… Pulang rehab masih aja kek gitu… Gak guna banget jadi anak paling gede…” ketus salah satu dari mereka.

“Iya… adek sama abang sama aja rusaknya…” imbuh yang satunya.

“He-eh… Yang satu pemake… yang satu perek… Amit-amit…” kata yang sedang berperut buncit. Hamil keknya.

“Papa harus tegas, dong sama anak-anak papa itu… Anak-anak lainnya bisa terpengaruh buruk juga… Di-ruqyah kek…disingkirkan kek… diusir sekalian juga gak pa-pa…” cetus yang satunya lebih nyelekit. Tapi aku masih gak paham. Otakku blank.

“EH! BACOT KLEN SEMUA!!” jerit pemuda itu.

“RIO BAGAIMANAPUN AKAN TETAP JADI ANAK PAPA ASENG!!” jeritnya lagi.

“KALIAN LONDUR-LONDUR (Lonte Durhaka) BISA DIGANTIKAN KAPAN SAJA!! TAU KLEN?!” jeritnya histeris tiba-tiba marah begini berang. Rio? Pemuda ini mengaku-ngaku sebagai Rio? Tadi Wawa ini sekarang Rio… Kenapa mereka sudah sebesar ini aja?

“AAAAHHH!!!” jerit histeris keempat perempuan itu tiba-tiba.

Mereka ragu mau lari ato tetap rapat berpelukan. Pemuda yang mengaku sebagai Rio itu mengacungkan sebuah pistol ke udara.

“Daass!!” Suara sekali letusan terdengar di udara.

Dari suaranya aku segera tau kalo itu senjata air soft gun. Dengan mudah aku men-sleding-nya, melumpuhkannya dan mengambil alih senjata itu dari tangannya.

“Ampun, paa… Ampun, paa…” jerit pemuda itu meringkuk di kakinya tak mengira aku dengan mudah bisa melumpuhkan dirinya yang tak akan awas bila dalam pengaruh apapun yang sudah dikonsumsinya. Kulucuti senjata itu dari tabung gasnya, butir-butir pelurunya bertaburan di lantai.

“Masuk!” hanya kata itu yang keluar dari mulutku.

Pemuda yang mengaku sebagai anakku, Rio, memandangiku dari posisi di lantainya. Matanya merah berair. Dengan kewarasan yang masih ada di dalam batok kepalanya, dipaksakannya badannya untuk bergerak, naik ke tangga dengan sempoyongan di bawah tatapan mata-mata kami yang masih berdiri di sini.

Aku gak mau terlibat percakapan dengan keempat perempuan itu karena aku melangkah pergi, keluar secepatnya dari rumah ini. Aku harus keluar walo mereka memanggilku dengan sebutan…

Kepalaku benar-benar sakit sekali saat ini. Aku gak bisa terlalu konsentrasi mengendarai mobil ini sehingga aku hanya menyetir pelan-pelan hingga aku berhasil keluar dari sistem jalan tol dan memasuki daerah Mabar, kawasan rumah lamaku. Kuparkirkan mobil ini di depan rumah itu. Rumah yang tak berubah sedikitpun. Pohon mangga Golek sudah tumbuh sangat besar dengan besar batang sepelukan orang dewasa. Menjulang tinggi dengan daun-daunnya yang lebat dan rimbun.

Kuketuk pintunya beberapa kali dengan perasaan yang campur aduk. Aku sudah menceraikannya? Apa yang sudah kupikirkan kala itu? Apa yang sudah membuatku melakukan itu semua? Apa yang sebenarnya sudah terjadi? Kenapa semua ini jadi begini? Aku gak bisa menghilangkan gemuruh di dalam dadaku. Seperti ada serombongan lebah terbang berputar-putar dengan suara berdengung riuhnya. Apalagi rasa gak nyaman di perutku.

“Siapa?”

Pintu rumah tiba-tiba terbuka dan perempuan itu muncul. Ia masih secantik dan seindah seperti yang selalu kuingat. Tapi dia bukan istriku lagi. Walo tetap indah di mataku, tak menampik gurat-gurat lelah dan umur di wajahnya.

Kantung matanya menebal, keriput di sudut matanya, pipinya yang mulai mengendur dan bibirnya yang pucat. Ada sebuah meteran jahit melingkar di lehernya begitu juga sebuah bahan kain yang dipegangnya. Aku tak bisa berkata apa-apa…

“Kau… Mau apa?” tanyanya datar tapi tak kunjung membuka lebar pintu.

“Suamiku tidak ada di rumah… jadi jangan masuk…”

Dia sudah menikah lagi. Itu wajar. Aku juga sudah menikah lagi. Sekilas aku melihat figura di dinding di belakangnya. Ada foto pernikahannya, pernikahannya lagi. Tempat itu dulunya merupakan lokasi foto pernikahan kami. Wajar juga kalo ia menggantinya dengan foto baru. Tak salah kalo ia mencampakkan foto lama itu.

“Ada apa? Ngomonglah… Aku sibuk, nih… Masalah anak-anak, ya?” tebaknya karena aku tak kunjung membuka mulut. Aku tak tau apa yang telah membawaku kemari. Kepalaku makin pusing tapi tak ada yang bisa kupikirkan. Aku benar-benar bingung.

“Ngomong, Seng… Aku gak mau kau lama-lama berdiri di situ… Ntah apa nanti kata tetangga melihat kita berdua di sini…” ujarnya tentu saja merasa gak enak ada di dalam kondisi seperti ini. Sang mantan suami berkunjung, menemui mantan istri di rumah—bekas rumah yang kami tinggali dulu, di saat tak ada orang lain, katakanlah suami barunya di sini.

“Kenapa kita jadi begini?…” hanya itu yang bisa keluar dari mulutku. Mata perempuan itu menyipit heran, mulutnya meruncing kesal.

“Kau yang memilih ini semua… BRAK!” ia membanting untuk menutup pintu itu kembali.

Ia pastinya sangat kesal dan tak mau memulai sebuah cekcok yang tak perlu. Pastinya ia ingin sekali memaki-maki diriku, bahkan meludahi mukaku, melempariku dengan berbagai macam pecah belah. Aku ingat ia pernah melakukan itu. Ia melakukan itu semua saat ia mengetahui semua perbuatanku…

Aku terpaksa harus menceraikan istriku saat aku ketahuan menghamili seorang perempuan yang bahkan aku sudah lupa namanya saat ini. Perempuan itu terindikasi ingin menjebakku. Affair indah sesaat itu berujung malapetaka saat ia mendatangi rumahku dan bertemu dengannya.

Ia membeberkan semua bukti-bukti perselingkuhan kami yang berbuah hamilnya dirinya. Apalagi ia membeberkan kalo ia sudah hamil dari hasil hubungan itu dan minta dinikahi secepatnya.

‘Dia’ berang bukan buatan. Semua keindahan asmara, cinta dan kisah kasih kami selama ini hilang menguap begitu seperti tak termaafkan. Ia minta aku segera menceraikannya, menikahi perempuan yang sama sekali tak dapat kuingat detail wajahnya dan bahkan namanya kulupa.

Sempat kuberikan opsi poligami tapi ditolaknya mentah-mentah. Dan terus-terus bergulir sampai Pengadilan Agama mengabulkan permohonan cerai kami dengan hak asuh anak jatuh sepenuhnya padaku. ‘Dia’ hanya mendapatkan rumah ini. Rumah dengan sejuta memori indah ini.

Rumah ini tetap begitu saja seingatku. Tak ada renovasi berarti. Hanya ada perbaikan minor di sana-sini seperti warna cat dindingnya dan tanaman hias di tepian sudut rumah. Beberapa kursi plastik untuk duduk-duduk di depan teras. Luruh daun mangga Golek mengotori halaman rumah yang luas yang sedianya kusiapkan untuk tempat bermain anak-anakku.

Sebuah mobil box berwarna putih melintas, ini sepertinya kurir pengantar barang dengan logo kuda terbang ato semacamnya. Pergerakannya agak terhambat oleh parkir mobilku dan aku harus menggesernya untuk memberinya jalan.

Dan di sinilah diriku sekarang. Berdiri menatap ke bawah pada hamparan jalan bebas hambatan. Mobilku berhenti di belakangku dengan lampu hazard berkedip-kedip di tepi jalan. Lalu lintas terus lalu lalang acuh atas apa yang sedang terjadi padaku. Tak ambil pusing atas beban di dalam kepalaku. Cuek atas derita yang sedang menggayuti benakku. Tekanan ini sangat berat.

Kuremas pagar besi pembatas jalan yang kusandari. Lalu lintas berjalan terus di bawahku. Aku sudah lupa kemana tadi mengarah. Entah ini menuju Utara ato Selatan. Teriakan TOA petugas di belakangku tak acuh kudengar.

“… dipikir masak-masak dulu, pak… Ingat anak dan istri di rumah…” serunya. Aku sudah berdiri di tepian pagar pembatas.

“Semua permasalahan ada solusinya, pak… Jangan mengambil jalan pintas…”

Apa lagi yang menungguku? Kalo kujatuhkan tubuhku dari sini, permukaan keras jalan akan menyambut kepalaku duluan. Mengakhiri semua deritaku. Mengakhiri semua masalah pelikku. Apalagi kalo bertepatan dengan dilindasnya tubuhku oleh kendaraan berat yang akan melintas tak lama lagi itu. Sebuah truk dengan muatan kontainer bertonase puluhan ton.

Kupejamkan mataku erat-erat. Selamat tinggal dunia.

Kutepatkan semua waktunya dengan mengintip timing truk kontainer itu, sebuah mobil box menyalipnya dari kiri karena kecepatan truk itu tidak terlalu cepat. Ini sepertinya mobil box yang sama dengan di gang tadi. Berlogo kuda terbang, armada kurir pengantar barang. Ia melaju mendahului truk kontainer itu.

Kenapa kode ini selalu berulang?

Kuda.

Kuda…

Ada kuda poni dan kuda terbang. Pistol air berbentuk kuda. Sablon kuda poni di kaos Rio. Logo kuda terbang di mobil box…

Kenapa aku harus mengingat semua itu sebelum mati? Apa artinya kuda? Ya… Kuda itu hewan yang indah. Tubuhnya besar dan kuat. Mampu berjalan dan berlari jauh dengan stamina kuatnya.

Kuda sering dikaitkan dengan keberanian dan ketangguhan. Banyak orang menjadikan kuda sebagai lambang prestise dan kesuksesannya. Bahkan ada kuda yang sangat mahal hingga bernilai jutaan dolar…

Ngapain aku malah memikirkan kuda? Kuda… Kuda yang tergagah itu adalah kuda sembrani. Kuda yang konon dikendarai Dewa Agung. Dewa lagi? Dan ini malah kudanya.

***

Ada yang gak beres ini…

Bagaimana mungkin aku bisa jadi sebegitu putus asanya hingga mengambil jalan pintas untuk mati dengan jalan seperti ini? Aku harus kembali.

“Permisi, pak…” aku menyela bapak-bapak polisi, juga petugas sosial yang kelimpungan melihatku tergopoh-gopoh membuka pintu mobil, menyalakannya lalu menjalankannya kembali ke sistem jalan tol. Mencari jalan berputar balik dan kembali ke Mabar.

“Liiin… Liiin! Buka! BUKA!!” gedorku gak perduli apapun lagi. Aku menggedor pintu utama bekas rumahku ini kuat-kuat berharap ia segera membuka pintu dan membiarkanku masuk.

“PERGI!! AKU MUAK MELIHATMU!! PERGI!!” jeritnya histeris dari dalam.

Mantan istriku menjerit-jerit ketakutan melihat agresiku yang menggedor-gedor pintu rumahnya dengan kuat minta dibuka.

“BUKA ATO KUDOBRAK!!” teriakku tambah gak sabar.

Para tetangga mulai berdatangan. Jam-jam segini, kebanyakan hanya para ibu rumah tangga yang tersisa karena para suaminya rata-rata pergi bekerja. Ada juga satu dua pria yang muncul. Para lansia pensiun.

“PERGIII!!” teriaknya tambah histeris.

Dengan sekali tendang aku sudah berhasil menendangnya. Ia meringkuk jauh dari pintu, ketakutan dan menangis pilu. Wajahnya basah oleh air mata. Aku tidak datang untuknya. Melainkan ke dinding itu. Kupandangi lekat-lekat sosok itu. Dan kupastikan itu memang dia. Entah bagaimana caranya tapi itu dia. Ini permainan.

Kedua tanganku terangkat dengan mandau Panglima Burung terhunus lurus menunjuk langit. “Pedang Selatan Menepak Tabir…” Mantan istriku itu menjerit melengking histeris tinggi melihatku menghunus senjata tajam.

“SWAAATTCCHHHH!!!!” Bingkai foto nikah itu terbelah dua beserta dinding di belakangnya.

Ada sinar tipis kemerahan yang menjaga foto itu tetap di tempatnya. Lalu kabur dan hilang…

“Maafkan semua salahku…” desisku padanya yang masih meringkuk di sudut sana.

Semuanya pecah berkeping-keping menjadi potongan besar, menjadi pecahan kecil lalu hanya tersisa serpihan. Walopun aku akhirnya sadar semua realita tadi adalah palsu, tapi beberapa faktanya sangat menohok hatiku.

Entah darimana asal tiga anak-anak kecil yang bermain di rumahku, Salwa yang menjadi liar, Rio yang pemabuk, empat istri cantik yang sangat asing, aku menceraikan istriku, rumahku yang belum direnovasi.

Itu kesalahannya… Rumahku di Mabar sedang dalam kondisi berantakan saat ini karena proses renovasi.

Bagaimana mungkin balik lagi ke sedia kala, kalo ini adalah realita masa depanku yang carut marut. Masa depanku yang amburadul. Pasti ada yang meng-implan realitas ini ke dalam kepalaku.

Serpihan tadi berkumpul rewind cepat menjadi pecahan kecil lalu pecahan potongan besar lalu satu imej utuh. Sesosok hitam itu sedang membuka mulutnya tepat di depan mukaku. Ia melakukan sesuatu seperti menghisap energiku.

Ia menekanku di tanah, menahan kedua tanganku di pergelangan dan mengunci kedua kakiku dengan kakinya. Kuda sembrani bersurai lebat itu berdiri dengan gagahnya sementara penunggangnya turun dan menghisap energi kami bertiga.

Ada semacam saluran semacam selang yang tetap menghubungkan si penunggang ke kuda sembrani dan ia menciptakan tiga penunggang, simultan menghisap. Penunggang itu hanya punya mulut yang menganga tanpa hidung dan mata. Asik menghisap belum menyadari aku sudah tersadar dan menunggu waktu yang tepat. Tak boleh lama-lama karena aliran Lini-ku sudah mulai terganggu karena disedot sedemikian rupa. Gimana kalo mahluk penunggang kuda sembrani ini kutendang di kantong menyan-nya?

“J-duk!” keras seperti kayu! Dengan sapuan tanganku yang masih dalam mode Mandalo Rajo, kuhajar ia tepat di bagian pipinya. Kepalanya miring ke kanan.

Kuhajar lagi dan lagi dan ditambah serangan lutut ke arah bagian perutnya membuatnya semakin limbung. Ia tak bisa menghisap energiku lagi saat tangannya kupelintir dan terdengar suara berderak kayu patah.

Aku berguling menjauhinya yang sebelah tangannya berjuntai tak berdaya lalu menerobos maju kembali, menerjang dengan cepat. Tangan dan kakiku yang berkuku tajam silih berganti menghajar lehernya lalu melompat menjadikannya sebagai batu loncatan dan menuju ke kuda sembrani!

Aku langsung naik ke punggungnya dan mengincar leher tebalnya. Melonjak kaget mahluk berbentuk kuda hitam ini merasakan ada seseorang yang menaikinya. Lagi-lagi tubuh keras seperti terbuat dari kayu keras yang kusayat-sayat dengan kuku Mandalo Rajo-ku.

“ROOAAAHHH!!” aku meradang begitu mendapat satu kesempatan bagus di antara lonjakan rodeo kuda sembrani itu. Kubenamkan kuku-ku ke lehernya sedalam-dalamnya lalu kutarik untuk kerusakan yang lebih lebar sebelum tubuhku terlempar dari tubuh kekarnya.

Ia menderap-derapkan kakinya ke tanah sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Penunggang yang ada di punggungnya muncul kembali dan yang sedang menghisap energi dari Iyon dan Kojek sudah tidak ada lagi.

Mereka berdua pasti juga mengalami hal sama denganku barusan. Mendapati realita palsu yang sangat mengerikan. Berkutat di seputar hal-hal yang sangat menakutkan buat korbannya.

Padaku itu adalah kerusakan keluarga kecilku…

“Kau sangat keterlaluan oppung Datu… Dimanapun kau sekarang di dalam tubuh iblis itu… Keterlaluan…” aku menyiapkan kuda-kuda khas silat harimau Mandalo Rajo yang selama ini rutin kulatih.

Ada 12 tingkatan jurus dalam silat harimau aliran Mandalo Rajo. Semuanya sudah diajarkan oleh Inyiek Mandalo Sati sebagaimana juga telah disempurnakan Inyiek Mandalo Panglimo nan Sadareh saat aku memasuki daerah aneh bertemu keduanya saat sekarat menghadapi Inyiak Lelo waktu itu.

Di sana aku mendapat semua intisari semua silat harimau Mandalo Rajo yang secara rutin kulatih ketajamannya akhir-akhir ini. Selama ini aku hanya sering menggunakan sampai ketingkatan 4 saja karena restriksi suara distorsi bising yang kerap menggangguku. Sekarang aku rutin melatih ke-12 tingkat tanpa gangguan.

“Rajo nan di ateh… Puak takambang…” (Raja yang di atas. Kampung tersebar) gumamku mendiktekan tiap baris pantun yang dibacakan para guruku saat mengajari jurus-jurus ini. “Maniti jalan ka luhak sabaleh… Parigi bapanuah kiambang…” (Meniti jalan ke dusun sebelas. Parigi penuh dengan kiambang/eceng gondok) ini bukan pantun sembarang pantun.

Ada gerakan mematikan tiap kata di tiap bagian pantun ini. Sang kuda sembrani bak seekor hewan sembelihan yang meronta-ronta menghindari serangan seekor predator. Hewan gagah sekelas kuda sembrani kelimpungan mendapat serangan mencabik-cabikku. Beberapa ototnya juga kubetot hingga tak dapat berfungsi sebagaimana mestinya.

Pada baris pantun ke-5, kuda sembrani itu tak dapat berdiri dengan tegak lagi. Ia hanya bisa menggerakkan lehernya sebagai alat bela dirinya dengan berusaha menghantamku dengan ayunan kepalanya. Itu semua tentu saja dapat kuhindari dengan mudah berkat gerakan lincah dan liatku berpindah sana-sini dengan cepat.

“Rajo di rimbo. Datuak di ulakan… Ambo baibo… Dunsanak kabatinggakan…” (Raja di dalam rimba. Datuk di desa. Saya bersedih. Saudara akan ditinggalkan).

Kututup di pantun baris ke-6 dengan sebuah tusukan di leher dekat dengan dagu kuda sembrani itu. Tubuhnya berkelojotan. Leher berat dan tebalnya berusaha melawan tapi gerakannya malah semakin memperparah robekan yang kuhasilkan dengan berkelit berputar. Lunglai kepala kuda sembrani itu hampir lepas dari lehernya. Terkapar…

Tak jauh dari sisa tubuh kuda sembrani itu, Iyon dan Kojek bertepuk tangan dengan lemah. Tapi aku menunggui sampe mahluk jahat ini benar-benar selesai. Hanya tubuh oppung Datu yang terbujur kaku yang tersisa. Patung Pengulubalang-nya hancur, naga Parabas-nya tak bersisa apalagi tiga Begu Ganjang itu.

“Kimak memang kasusmu ni, Seng… Hampir gilak aku dibuat oppung itu tadi…” keluh Iyon yang ternyata mengalami hal yang senada denganku tadi. Aku hanya cengengesan garuk-garuk kepala yang berkeringat. “Kau sama juga tadi, Jek?”

“Sama-lah… Apalagi? Sensitip kali mainan oppung itu… Kesitu mainnya… Jelek kali kurasa…” keluh Kojek merenung. Entah dia mau berbagi cerita pengalamannya di alam realita palsu itu.

“Diapainnya kau?” tanyaku. Kalo mereka mau cerita, aku juga akan cerita versiku.

“Ahh udahlah… Malas kali aku… Balek-balek kita… Panas kali otakku jadinya…” bersungut-sungut kesal dia telah dikerjai sedemikian rupa.

Aku tau apa yang sangat ditakutinya, seperti apa juga yang ditakuti Iyon. Kami saling mengenal sangat baik hingga ini bisa menjadi masalah yang sangat emosional kalo dipermainkan pihak lain. Iyon dan Kojek bangkit dari duduk di tanah gelap ini.

“Keknya oppung ini masih idup, Seng…” sadar Iyon saat ia memeriksa tubuh orang tua itu.

“Iya… Aku hanya membantai Pangulubalang-nya aja… Tapi dah setengah idup aja dia paling… Ada rencana?” tanyaku padanya. Iyon pasti punya rencana brilian untuk membalas orang ini.

“Aku lebih suka kita kasihkan dia ke massa…” usul Kojek.

“Kek kejadian di dekat kampungmu itu?” tanya Iyon memastikan. Kejadian itu terjadi di suatu kampung di daerah Tapanuli Utara pada tahun 2003. Satu keluarga dipersekusi massa hingga tewas di depan umum karena telah dituduh memelihara Begu Ganjang. Persekusi, lebih ringan kata itu karena yang terjadi malah eksekusi massa yang marah. Kojek membenarkan apa yang dikatakan Iyon. Kojek yang tinggal di komunitas masyarakat Batak pastinya sangat tau akan tragedi itu. Aku kurang tau persis jarak kampung itu dari tempat tinggal Kojek tapi itu bukan soal karena berita cepat tersebar seperti wabah.

“Ini bukan cuma kata orang… katanya… kabarnya… Kita bertiga sudah mengkonfirmasi sendiri kalo oppung ini memelihara Begu Ganjang dan ia menggunakannya untuk kejahatan… Ada tiga lagi Begu Ganjang-nya… Plus yang lain-lainnya ini… Sudah sangat pantas ia mendapatkan balasan setimpal ini… Kita sebagai Ribak Sude tidak bisa tinggal diam tentunya… Untuk inilah kita bertiga ada dan kontribusi kita ke masyarakat… Kita kasihkan dia ke massa, ya? Setuju?”

Aku dan Kojek mengangguk setuju. Juga sebagai efek jera dan sinyal keras pada dukun lain agar tidak main-main dengan kesaktian mereka.

“Eh… Tapi si Cyntia-nya cemana?” sadar Iyon kalo si pemandu lagu cantik demplon itu masih ada di kamar hotel bareng Iyon. Juga ada Sarah bareng Kojek.

***

Keputusan tetap bulat, sebulat tetek Cyntia dan Sarah yang terpaksa harus ditinggalkan Iyon dan Kojek. Tapi aku tetap harus membayar DC keduanya walo belum dipake maksimal karena sudah kadung BO, kan?

Aku masih ingat ekspresi kosong Cyntia menerima DC (Damage Cost, *takut ada yg gak tau) itu berbungkus selimut hotel yang dikatupkan sekenanya menutupi tubuh telanjangnya. Setidaknya Iyon sudah melakukan foreplay tadinya dan di partai utama, ia memasuki daerah kekuasaan oppung Datu, memanggilku dan seterusnya-seterusnya.

Ia memandangi Iyon yang memakai kemeja lengan panjangnya kembali, merapikan rambutnya, mengecup kening Cyntia dan mengajakku keluar. Di lorong, Kojek juga baru keluar dari kamarnya. Dalam keadaan rapi juga. Cuma aku aja yang kasual dengan baju kaos polo dan celana pendek sedengkul.

“Ini belum selesai, Seng… Nanti traktirin kami lagi… Masih kentang tau…”

***
~0~0~0~

Akibat amuk massa, sebuah rumah di daerah Simalungun habis ludes rata dengan tanah akibat diamuk si jago merah yang disulut warga yang marah main hakim sendiri. Insiden ini adalah buntut amuk warga yang menuduh keluarga ini mempraktekkan ilmu hitam Begu Ganjang yang dikenal dapat membunuh korban yang ditujunya. Satu korban jiwa, lelaki tua berumur sekitar 70 tahun meregang nyawa di dalam bangunan rumah karena tak sempat menyelamatkan diri dari amukan warga…

~0~0~0~

Pagi-pagi disuguhi berita horor kek gitu, gimana perasaanmu? Aku sih senang-senang aja satu tokoh jahat sudah tumbang. Pikirkan berapa banyak nyawa yang akan kami selamatkan dengan musnahnya si oppung Datu jahat itu.

Siapapun dia, etnis apapun, apapun modusnya akan tetap kami sikat. Itu semua tentunya kami lakukan dengan diam-diam dan terorganisir rapi sehingga tak ketahuan siapa kami sebenarnya.

Berasa jadi superhero? Gak… Udah terlalu lama kami berkecimpung di dunia supranatural ini hingga rasa bangga memiliki kekuatan ini tak menjadi racun lagi bagi kami. Yang ada hanyalah rasa ingin berbuat sesuatu aja walo sekecil apa kontribusi kami.

Dukun-dukun jahat dan kroni-kroninya, konco-konconya akan selalu dalam radar pantauan kami. Aku berani bilang kalo Iyon dan Kojek juga melakukan ini setiap saat bila memungkinkan. Aku gak menampik kalo ada keuntungan yang kami dapatkan seperti yang kualami.

Keuntungan yang berpihak padaku karena sejauh ini, yang bersinggungan perlu bantuanku adalah para perempuan binor yang khusus minta satu hal; positif hamil! Berbagai masalah, modus ato cerita telah kuhadapi dan sebagian besarnya ada keterkaitannya dengan aspek supranatural. Ada dukun jahat, jin jahat, siluman jahat dan sebagainya.

Sejauh ini semua binor itu sudah hamil kecuali yang teranyar Andini dan yang belum kusentuh lebih lanjut, Karina. Apa kabar binor seksi mantan pemilik ilmu Kuyang turunan itu, ya? Sudah seminggu lebih ia berlibur sendirian entah kemana. Aku sama sekali tak mendapat kabar apapun darinya.

“Apa ini, kak?”

“Lu baca dulu… Program studi manajemen bisnis untuk para pekerja kantoran… Itu yang paling cocok buat lu kuliah… Jam kuliahnya sangat-sangat fleksibel… Ada kelas malam… kelas weekend… Lu kuliah disitu tau-tau aja lu jadi sarjana Ekonomi…” kata kak Sandra.

Ini adalah beberapa lembar brosur program studi yang tadi baru dipaparkannya. Di brosur ada foto kelas yang sedang berlangsung. Pesertanya memang berpenampilan berumur semua. Keknya memang pas untukku. Tapi sayangnya gak ada yang kinyis-kinyis gitu, mahasiswi muda…

“Jadi lu bisa aplikasikan apa yang lu pelajari langsung di kerjaan saat lu jadi Factory Manager nanti…” imbuhnya tentang kelas itu.

“Kelas-kelasnya seperti yang wa bilang tadi fleksibel… karna lu tau sendiri orang kantoran kayak kita ini sibuk banget… Jadi tugas-tugas yang biasa diberikan pada mahasiswa reguler bisa dibilang sangat minim… Tapi ya itu… karna ini kelas khusus… uang kuliahnya jauh lebih mahal dari yang reguler… Nanti wa coba ajukan ke bos supaya lu dibiayain dari kantor untuk dua semester pertama…” katanya lagi.

“Gak usah-la, kak… Biar awak bayar sendiri aja…” tolakku.

“Bukan itu maksudnya… Tau wa lu sanggup bayar uang kuliah itu… Tau… Tapi ini agar lu serius belajarnya… karena dibiayain kantor… Gitu, Seng…” kak Sandra memberikan alasan utamanya.

“Ya serius-la awak, kak… Gini-gini dulu waktu sekolah awak termasuk pintar-loh, kak…” kataku gak bermaksud menyombongkan diri.

“Tau lu pinter… Makanya wa mati-matian ngedorong lu supaya maju kek gini…” ia menunjuk-nunjuk ke arahku seperti yang kerap dilakukannya.

“Lagian wa juga gak mau bibit anak wa sembarangan juga… Orang Jawa bilang bibit-bebet-bobot… Lu orang Padang, ya? Nah… Bibit-bebet-bobot lu cukup-lah jadi bibit buat calon anak wa… karena menurut penelitian tingkat intelejensia anak itu tergantung dari ibunya… Tapi wa gak mau sembarangan juga, kan… Lu lumayan-lah…”

“Kok kayak gak iklas gitu bilang lumayan-nya, kak?” cemberutku. Ia tertawa tanpa suara.

“Iya-loh… Yang penting kontol lu enak… Dah… Puas?” katanya tersenyum lebar.

***

“Papa mau kuliah?” tanya istriku heran malam itu saat kusampaikan rencanaku. Aku mengangguk mantap.

“Jadi kerjanya gimana?”

“Kuliahnya malam, ma… Weekend juga…” jawabku.

“Apa gak capek?” tanyanya lagi tentu khawatir.

“Pastinya capek, maa… Tapi demi kemajuan kita… gak pa-pa… Harus ada pengorbanan tentunya…” jawabku.

“Tapi mama gak minta yang sebanyak ini, pa… Ini sudah lebih dari cukup… Papa juga harus jaga kesehatan… Terlalu banyak diporsir… nanti papa nge-drop… Anak kita masih kecil-kecil…” ungkapnya.

“Di keadaan sekarang ini aja mama udah bersyukur kali… Yang penting papa sehat aja… Itu yang utama…”

“Iya, maa… Nantinya papa bertambah sibuk… Mama jangan mikir yang aneh-aneh, ya? Nanti papa gak selalu ada menemani mama…” terawangku mengingat berbagai kesulitan yang akan kami hadapi akibat putusan ini.

“Enggak, pa… Mama tau papa lagi sibuk… Eh tadi siang mamak (ibuku) nelpon…” ia tiba-tiba teringat ini.

“Ya… Ada apa? Apa dia mau pulang ke Medan?” tanyaku karena setelah pernikahan Selvi di kampung, ia belum pulang sama sekali kemari. Aku belum menunjukkan padanya rumah ini.

“Enggak… Cuma ngasih kabar aja kalo mamak mau ikut Selvi ke Surabaya… bareng tinggal di rumah kontrakan Dedi (adik iparku)… Nemanin Selvi karena Dedi bakalan pergi melaut lama…” jelasnya.

Begitulah nasib jadi istri pelaut. Bakalan sering-sering ditinggal lama. Tugasnya bisa sebulan-dua bulan baru kembali ke Surabaya lagi. Karena itu ibuku menemani anak bungsunya di sana.

Istriku sempat menyarankan mereka berdua ke Medan saja karena ada banyak kamar kosong di rumah ini. Tapi Selvi-nya yang gak mau, katanya mau jadi istri yang sholehah apa gitu. Ia maunya dia standby di Surabaya begitu suaminya berlabuh. Sempat juga disinggung apa sudah ‘isi’ mengingat ketiga istri ajo Mansur yang berbarengan waktunya dengannya udah duluan. Tapi katanya belum.

Tak lama Tiara datang laporan kalo Rio dan Salwa sudah tidur. Kami kembali mengajaknya ngobrol-ngobrol tapi ditolaknya karena udah ngantuk. Jadilah kami berdua saja yang ngobrol di tepi pelataran kolam dengan cemilan dan minuman sampai hampir tengah malam.

Masih terbayang-bayang di ingatanku realita palsu yang ditanamkan Pangulubalang oppung Datu di kepalaku tentang masa depan kelamku dengan istriku tercinta. Begitu depresinya aku di realita alternatif itu hingga aku sampai memutuskan akan bunuh diri. Mengerikan…

Pangulubalang itu dapat menggali ketakutan terbesarku yang berkutat di seputar keluarga. Ia mengaduk-aduk emosiku dengan membuat gambaran negatif kedua anakku yang rusak. Anakku yang masih bayi manis ini jadi remaja yang liar.

Rio yang menjelang dewasa jadi pemabuk dan pemadat. Ditambah lagi aku bercerai dengan istriku walo digantikan empat istri cantik. Aku tak tau bagaimana cara kerjanya, tetapi Pangulubalang itu mengamplifikasi ato menguatkan ketakutan korbannya berlipat ganda hingga menjadi semacam kenyataan semu yang mengerikan. Baik aku, Iyon dan Kojek hampir bunuh diri di dalam realita palsu itu.

Kami bertiga tidak bisa menjadi contoh yang cukup baik karena mengambil pilihan menyerahkan si oppung Datu pada masyarakat untuk diadili. Ini kami juga sudah menjadi korbannya. Masyarakat pastinya akan mengambil hukuman terberat yang berujung kematian akibat main hakim sendiri. Malam itu muncul penampakan Begu Ganjang di sekitar rumah si oppung Datu yang seakan baru pulang bertugas.

Masyarakat yang sudah lama curiga akan tindak tanduknya langsung menggerebek rumah itu dan menemukan orang tua itu di depan bakaran kemenyan dan berbagai peralatan klenik-nya. Lengkap dengan boneka fisik Pangulubalang, foto-foto korban yang sudah diberi berbagai perlakuan sesuai permintaan kliennya dan lain sebagainya. Massa marah dan membakar tempat itu sampai rata dengan tanah. Ada dendam dan takut di sana.

Ujung-ujungnya berbuntut pada kasus hukum karena keluarga oppung Datu tentu tak terima perlakuan masyarakat pada kerabat mereka. Masyarakat kompak kalo mereka melakukan itu bersama-sama dan bersedia ditangkap semua. Gimana ceritanya mau menangkap satu kampung? Polisi tentu bingung saat itu dan kasus ini jadi menggantung tak jelas. Tapi masyarakat terlanjur merasa puas. Ini realitanya.

***

Pendaftaran kuliahku udah selesai, pembayarannya juga udah. Perusahaan yang jadinya membiayai uang kuliahku berkat lobi yang dilakukan kak Sandra pada bos besar kami. Alasannya tetap agar aku rajin dan giat belajarnya dengan beban disubsidi perusahaan.

Tentunya ini berimbas aku harus melaporkan nilai hasil ujian-ujianku kelak. Kuliah perdana akan dimulai di awal bulan. Tidak seperti mahasiswa baru umumnya, tentunya gak bakalan ada yang namanya ospek-ospek-an bagi kami. Lha orang isinya udah pada berumur semua. ABG= Angkatan Babe Gue semua isinya pasti.

Jadwal kuliah sudah kudapatkan dan berlangsung lumayan padat dari jam 7 sampe jam setengah 10 malam. Ada juga kuliah di malam Minggu dan Minggu pagi. Dengan prosentasi kehadiran kelas rata-rata 75%. Program ini tentu saja dipadatkan agar kami dapat setara dengan yang didapatkan bila kuliah reguler.

Apalagi seperti yang dipaparkan kak Sandra kalo kelas ini akan jarang-jarang diberikan tugas perkuliahan. Lebih dominan ke pertemuan tatap muka saja. Waduuh… Berat, ya man-teman…. Tapi harus semangat!

Tinggal di kompleks begini, sedikit banyak kebiasaanku dengan Salwa agak berkurang tapi tidak hilang sama sekali. Sesekali aku masih menggendongnya berkeliling blok YY ini, menyapa para penghuninya sebagai tetangga baru yang ramah.

Seperti pagi ini. Dari rumah aku berjalan perlahan saja karena sesekali menuntun Salwa yang mulai belajar jalan. Kala lelah kugendong lagi tubuhnya yang semakin berat aja tiap bulannya. Ia senang melihat anjing peliharaan warga yang sedang diajak keliling oleh tuannya. Ada yang gede kali seukuran Siberian Husky, sebrutal Pitbull atau malah yang imut sekecil Chihuahua. Kami singgah ke rumah Vivi dan Benget yang tak begitu jauh sebenarnya.

“Pagi Auntie Vivi… Dedek Nirmala… Auntie Bengeeeet…” sapaku pada mereka yang ada di depan teras pagi itu.

Cerah wajah-wajah mereka menyambut kami yang menyambangi mereka pagi-pagi begini. Apalagi mengingat bantuanku yang telah mengusir Kuyang yang mengincar Nirmala kala itu. Kudekatkan Salwa agar mengenal dedek bayi yang lucu dan imut itu. Ia terlihat senang melihat bayi yang lebih muda darinya.

“Apa sih, bang Aseng? Masak awak dipanggil auntie juga? Uncle Bens gitchu… Mala juga manggilnya uncle Bens… Halo cantik? Siapa namanya?” protes Benget rombongan dengan yang lain-lainnya. Vivi ketawa-ketiwi ngeliat tingkah teman akrabnya itu.

“Jangan pegang sembarangan, Benget! Ko kira anakku perempuan apaan? Nanti gumoh dia nengok bentuk kau itu…” aku lebih protes lagi kalo dia menjawil pipi chubby bayiku dengan gemes.

“Ish… bang Aseng gitu kali-laa… Awak udah disuntik rabies-loh… Steril awak… Roarr…” gesturnya mencakar. Jijik-jijik gimana gitu dengan tubuh kekar berisinya bisa gemulai.

“Vii… Gak eneg kau nengok mahluk kek gini tiap hari… Apalagi ada Nirmala disini… Nanti dikiranya laki-laki harus kek gini semua… Rusak nanti persepsi idealnya… gawat kau…” kataku bercandain si Benget terus.

“Cak kau usirkan dia barang setahun-dua tahun ke Asam Kumbang (penangkaran buaya)… Biar agak balik dia ke habitat aslinya…”. Tambah ngakak Vivi mendengar candaanku.

Nongkrong di rumah Vivi sebentar aku harus pulang segera karena aku harus berangkat kerja. Sampe di depan rumah, aku melihat sebuah taksi berhenti di seberang rumahku. Tepatnya pada rumah Karina.

Apakah itu dia? Sosok perempuan itu turun dari taksi dengan beberapa tas bawaannya. Ia sudah pulang dari liburannya. Dibukanya kaca mata hitamnya dan beralih memandang ke arah rumahku. Pandangannya tertumbuk padaku yang masih menggendong Salwa di depan pagar. Ia memberi kode telepon dengan jempol dan jari kelingking terbuka di dekatkan di mulut. Ia mengisyaratkan kami akan berteleponan dalam waktu dekat ini. Tak lama ia masuk ke rumahnya.

“Halo, bu Karina? Sudah cukup liburannya?” tanyaku dalam perjalanan menuju kantor. Aku memakai handsfree untuk aman dan nyaman berkendara. Safety first.

“Sudah bang Aseng… Ada oleh-oleh untuk bang Aseng yang saya siapkan…” jawabnya di seberang sana. Ia sepertinya masih dalam rumah, beristirahat sehabis perjalanan jauh. Kemungkinan besar sedang berendam di bathtub karena suaranya sedikit bergema.

“Ah ha ha hahaa… Gak usah repot-repot, bu Karina… Ibu sehat dan selamat aja sampe pulang aja itu udah bagus… Gak ada masalah selama liburan, kan?” tanyaku basa-basi aja sebenarnya. Aku lebih fokus menyetir.

“Saya sudah pergi liburan sendirian seperti yang bang Aseng sarankan… Satu minggu lebih… 11 hari tepatnya… Saya melancong ke Bahama… tempat yang indah dengan suasana pantai yang eksotis… Sudah lama saya kepengen kesana… Dan sepertinya ini waktu yang tepat…” jelasnya.

“Bagus kalo begitu… Gak ada masalah?” ulangku pada pertanyaan ini karena ia belum kunjung menjawabnya.

“Gak ada, bang Aseng… Cuma awalnya suamiku agak bingung karena saya cuma pergi sendiri… Ia ingin ikut awalnya tapi bentrok dengan pekerjaannya… Cuma basa-basi aja sepertinya… Jadi Karina punya waktu benar-benar sendiri untuk berfikir jernih… Ulang berulang… berulang-ulang terus dan kesimpulannya hanya ke jawaban itu… Satu jawaban itu…”

Ia terdiam dan kutunggu lanjutan kata-katanya. “… dan jawabannya adalah?”

“Tunggu sebentar… Selama liburan tak sekalipun suamiku mencoba menghubungiku… Kutahan-tahan juga untuk tidak memberinya kabar dan benar saja sampai liburan berakhir… tak ada sekalipun kudengar suaranya… Padahal dulu… Tiap satu jam sekali minimal ia akan mengirimkan pesan… lebih sering nelpon langsung… Perubahan yang drastis…” ia kembali terdiam. Aku harus sabar menunggu.

“Dan jawabannya adalah Karina akan mengundurkan diri… Dan yang terpenting… bang Aseng harus menutup lubang bekas itu dengan bibit bang Aseng…” ia mengutarakannya dengan lugas dan mantap tanpa ragu. Efek habis liburan menjernihkan pikirannya.

“Itu karena…?” tanyaku akan alasannya.

Tentunya, untuk apa melakukan semua hal ini kalo ternyata rumah tangganya kini menjadi hambar. Untuk apa semua pengorbanannya ini di dalam mahligai yang tak lagi hangat. Kalo masalah pekerjaan, aku paham masalahnya.

“Awal yang baru… Saya gak begitu perduli kalau dia menjadi dingin… Saya juga gak begitu perduli kalau nantinya kami berpisah… Setidaknya nanti ada seseorang yang menjadi harapanku… masa depanku… Yang mulai dari awal, dari awal mengenalku… Tanpa ada embel-embel apapun… Yang lahir dari perutku sendiri… Tak mengapa semua berganti dan dimulai dengan awal yang baru ini…” paparnya akan hasil kontemplasi berliburnya hampir 2 minggu ini di kepulauan Bahama.

“Bayi sebagai awal yang baru, ya?” ulangku menyimpulkan.

Semua yang sudah terpengaruh pengasihan Kuyang–yang sudah sangat baik padanya, memuja-muja dirinya, mengidolakannya, menjadikannya panutan—sekarang berbalik. Berubah drastis. Cuek dan tak diperdulikan lagi. Hanya dianggap sebagai biasa-biasa aja.

Angin lalu. Berbahaya sekali hasil akhir hilangnya pengaruh Kuyang itu. Sampai sejauh ini implikasi psikologisnya. Mungkin Karina sudah berpikir untuk pindah jauh dari sini memulai lembaran baru begitu ia berhasil hamil.

“Baiklah…”

“Makasih, bang Aseng… Secepatnya kita ketemuan, yah?” harapnya di sana. Di ruangan rumah yang berada tepat di depan kediamanku.

Kuparkir mobilku di antara mobil-mobil lain yang berjejer di pelataran parkir pabrik. Saat aku akan keluar, mobil kak Sandra juga melewati gerbang yang dibukakan security dan parkir di sampingku. Dia semakin montok aja di kehamilan mudanya ini.

Karena usianya sudah tidak muda lagi dan juga beban pekerjaan, ia rentan cepat lelah. Toket dan bokongnya makin membesar aja, bikin gemes pengen ngeremes…

“Ngapain lu liatin kek gitu? Ngaceng lu pagi-pagi liatin wa?” sapa khas paginya saat membanting pintu mobilnya. Ia membawa sebuah tumbler besar berisi minuman kesehatannya, tas tangannya bergantung di siku dan menenteng HP.

“Pagi, kak… Sehat, kak?” sapaku tak menggubris ucapannya barusan. Kususul dia dan menjajari langkahnya.

“Sehat, Seng… Cibay… Wa jadi pengen ngentot pagi-pagi ketemu lu begini… Ngidam ya ini wa?” katanya random kali. Gak ada aku menggodanya dari tadi, udah mau ngentot aja bumil binor satu ini. “Buruan lu naik sana…”

“Kaak… O-kak… Masih pagi ini, kak… Gak ada awak gangguin kakak dari tadi… Baek-baeknya awak menunggu menejer awak… siapa tau ada yang bisa awak bantu… Kok jadi ngentot pulak ujungnya?” gerutuku.

“Bodo amat… Naik sana… Kalo ada Tiwi di situ lu usir sekalian…” katanya memasang muka jutek. Aku terpaksa naik ke lantai dua tempat kami bekerja dan langsung menuju ruangannya. Benar ada Tiwi, asistennya di sana dan benar-benar kuusir dia beli permen ke Zimbabwe.

***

“Gak pa-pa di tempat begini?” aku larak-lirik ke penjuru tempat ini. Malam menggantung di langit gelap.

“Gak pa-pa…” jawabnya pendek aja. Tas miliknya dipangku dan HP-nya diletakkan di atas meja. Ada kedip-kedip lampu notifikasi yang tak diperdulikannya.

“Awak yang gak enak, bu…” sungkanku karena ini hanya sebuah warung sederhana pinggir jalan aja yang menggunakan plastik terpal sebagai atapnya, meja dan kursi plastik. Beberapa pengunjung lain cuek menikmati hidangan pesanan mereka.

“Kalo begini bisa dapat banyak kerang rebusnya…” Yap benar.

Kami sedang kuliner-an lagi di daerah Simpang Limun. Ada banyak pedangang kerang rebus yang enak disini. Terakhir kami makan seafood sampe keblenger itu di restoran mahal, kali ini malah banting stir ke kelas pinggir jalan.

“Karina suka sekali seafood-loh, bang Aseng… Jadi yang penting makanannya bukan tempatnya… Lagipula di sini enak-enak… Kerangnya asli dari Rantau Prapat…” paparnya ternyata benar-benar gak mengapa.

Aku sudah gak asing dengan lokasi ini karena dulunya di sini tempat nongkrong Ribak Sude karena rumah Iyon tak jauh dari sini apalagi juga di daerah inilah letak warung kopi milik ayahku. Moga-moga aja gak ada yang mengenaliku nanti. Untung keberadaan kami agak tertutup dinding terpal.

Obrolan kami terhenti karena pesanan kami sudah datang. Kerang rebus dengan saus kacang-nenas yang sangat pas segar dan pedasnya. Tak puas hanya dengan satu porsi, Karina memesan lagi dan lagi dan aku mengimbanginya. Kami makan sepuas-puasnya dan senyum lebar.

“Enakan mana sama yang restoran waktu itu?” tanyaku sambil cuci tangan di kobokan pake potongan jeruk nipis.

“Sama-sama enak… Menangnya restoran itu mereka punya tempat bagus dan banyak pilihan menu… Menangnya tempat ini pilihan menunya spesifik, hanya kerang rebus… tempatnya oke-lah…” jawabnya setelah selesai membersihkan tangan dan mulutnya. “Tapi rasanya juara yang ini… Di Bahama kemarin itu makanannya aneh-aneh… Gak terlalu familiar walo sama-sama seafood juga…” sambungnya. Mengulang kuliner-an kami sebelumnya, aku menumpang mobil miliknya sementara Pajero-ku ditinggal di SPBU.

“Enak liburan sendirian gitu?” tanyaku membawanya kembali ke topik awal kami.

“Enaknya ada dan gak enaknya juga ada…” jawabnya.

“Enaknya apa dan gak enaknya apa?” tanyaku lagi.

“Enaknya… Kalo mau ngelakuin apa gak perlu nanya siapa-siapa… Kalo mau ke pantai tinggal pergi… Kalo spa tinggal pergi ke spa… Kalo mau tidur seharian gak usah keluar kamar… Enak… Nah gak enaknya… Sepi… Gak ada teman ngobrol… Kalo ngobrol paling SKSD sama turis lain ato warga lokal di sana… Terkendala bahasa juga… Logat mereka suka aneh Inggrisnya…” jelasnya.

“Ha ha hahaha… Untung awak belum pernah ke luar negri… Jadi gak pusing mikirin bahasa asing… he he hehe…” komentarku garing.

“Serius belum pernah ke luar negri, bang Aseng-nya? Liburan ato bisnis gitu?” herannya.

Mungkin dipikirnya masa orang yang punya rumah segedong itu gak pernah ke luar negri. Becanda paling… Pernah sih ke luar negri itupun pake kemampuan teleportasi ajaib si Iyon. Tapi itu dulu. Duluuuu kali waktu awal-awal ia dapat menguasai dengan baik jurus B3 itu.

“Awak liburannya di sini-sini aja… Kemaren itu baru pulang dari kampung… Yaa sekalian liburan juga… Udah awak ceritain kemaren itu, kan?” kataku mengingatkannya. Ia manggut-manggut ingat pada pertemuan kami sebelumnya.

“Jadi gini, bang Aseng… Kita gak usah basa-basi trus, ya… Gini aja… Abang udah kasih saya waktu untuk berpikir… Saya udah ambil waktu itu dan mengambil keputusan untuk lanjut dengan… bisa kita katakan ini adalah pengobatan saya… Menutup lobang supranatural ini…” ia membuat lingkaran imajiner di depan perutnya.

“Lubang yang sudah ditinggalkan Kuyang itu… Hanya abang Aseng yang dapat menutup lubang ini dengan bibit milik abang…” ia berusaha datar aja walo pasti dadanya bergemuruh dan jantung berdegub kencang mengutarakan ini semua.

“Awak mau mengingatkan sesuatu…” aku agak maju dengan meletakkan kedua sikuku di meja, lebih rapat padanya. Ia juga agak maju.

“Bu Karina bisa hamil karenanya…” bisikku pelan lalu aku mundur. Karina terlihat meneguk ludah. Dari leher jenjangnya terlihat jelas gerakannya.

“Fine… Itu malah bagus… Side effect-nya malah menguntungkan…” ia mengatakan itu agak malu-malu.

Ia menelisipkan juntaian rambutnya ke telinganya berusaha tidak gugup tapi malah gestur itu menunjukkan kegugupannya. Pandangan matanya tak menatapku saat mengatakan kalimat barusan. Lalu ia menjangkau HP-nya walo tak kunjung membuka kunci layarnya, hanya dipengangi dengan gerakan.

“Bu Karina bisa pakai kontrasepsi karena saya gak bisa… sebab syaratnya harus bibit saya, kan?” tawarku. Coba kita liat apa reaksinya. Kalo aku pake kondom, malah bibitku yang dimaksud si setan Kuyang waktu itu tidak akan bekerja optimal.

“Sekalian aja… Tidak apa-apa… Saya tidak keberatan, kok…” katanya masih mempermainkan HP-nya.

“Tidak keberatan punya anak dari saya?… Sebab gini, bu Karina… Ibu sudah pernah beberapa kali hamil, kan?… Tidak ada masalah medis ibu dan suami… Hanya saja si setan Kuyang waktu itu memakan semua janin-janin ibu… Ibu bisa mulai lagi dengan suami ibu… Sudah aman…” kataku lebih sedikit detail.

“Awak sampaikan ini karena takutnya ibu nanti mikirnya saya ngambil kesempatan dalam kesempitan lagi…”

“Bukan… Bukan itu… Saya gak keberatan punya anak dari bang Aseng… Itu aja…” sebentar ia menatapku untuk menunjukkan kesungguhannya lalu ke HP-nya lagi.

“Alasannya? Sori kalo saya sedikit cerewet… Awak hanya mau yakin aja…”

“Keliatannya bang Aseng malah yang gak mau…” tantangnya.

“Kalo awak tentu mau… Laki-laki itu semuanya buaya, bu… Masak nolak se… secantik-bohay bu Karina ini… Buaya gak akan nolak bangke, bu… Cuma awak ingin tau alasan utamanya… Ya itu… Supaya awak yakin aja…” kutatap lekat wajah cantik malu-malunya. Ia mengumpulkan kata-katanya.

“Gak rugi kan… kalau saya punya anak dari ‘buaya’ sekuat bang Aseng… Yang telah mengusir setan itu dari tubuhku… Itu sangat ‘worth it’… Sangat tepat dan juga pantas… Selama bertahun-tahun ini gagal… Itu tadi… Awal yang baru… Moga-moga di awal yang baru ini… Dari ‘buaya’ yang baru ini… saya bisa sukses sembuh dan hamil sekaligus…” ia memakai jari quote-unquote di tiap kata buaya. “Apakah itu alasan yang cukup kuat?”

“Yaa… Bisalah…” kataku sambil sedikit memajukan bibir bawahku. Ia tersenyum melihat mimikku itu.

“Dan peringatan lagi… kalo awak ini sangat subur… Sekali cusss… mungkin bu Karina langsung tekdung…” bualku.

“Wah kebetulan sekali… Saya juga lagi subur-suburnya, nih…”

***

Mutar-mutar cari tempat lagi dan kami menjatuhkan pilihan pada satu hotel yang rasanya cukup representatif untuk acara buat enak dan anak ini. Gak canggung sama sekali dia jalan berdua memasuki hotel itu. Tapi aku memintanya duduk di lobi dulu sementara aku memesan kamar ke front office-nya. Selesai dan tak canggung lagi ia beriringan denganku menuju lift menuju kamar yang akan kami tuju.

Begitu sampai di depan kamar, ia yang masuk duluan dan aku menyusul dibelakangnya menutup pintu rapat-rapat. Diletakkannya tas miliknya di meja di samping ranjang lalu mengitari kamar untuk membiasakan diri. Aku hanya berdiri menunggu di dekat pintu, menunggu tanggapannya.

“Ya… Cukup bagus…” katanya yang berdiri lagi di dekat tasnya tadi diletakkan.

Ia sudah memeriksa sampai ke jendela kamar yang menghadap ke langit malam kota Medan. Di depan sana ada lapangan luas milik instansi militer yang kerap dijadikan pusat keramaian.

“Awak tau ini gak akan mudah untuk bu Karina… Kalo perlu ngobrol dulu… Kita ngobrol santai dulu…” kataku bergerak mendekati sofa yang ada di depan ranjang.

“Gak perlu, bang Aseng… Saya sudah gak sabar sebenarnya…” sahutnya malah mengalihkan tangannya ke lengan baju kaos santai miliknya.

Ia meloloskan pakaian itu dari bagian lengannya dahulu. Begitu bagian itu terlepas lalu ia meloloskan bagian lehernya kemudian. Glek! Aku sudah menatap tubuhnya yang masih memakai bra ketat yang membungkus payudara montok seorang binor yang sudah bolak-balik hamil tapi selalu gagal.

Dilipatnya kaos itu dengan menunduk. Kesan malu-malunya itu yang membuatku menjadi sangat terangsang sekali saat ini. Diletakkan kaos yang sudah terlipat itu di atas meja bersama tasnya. Aku harus mengimbanginya.

Mengetahui kalo aku juga melepas kemeja yang kukenakan ini, ia mendongakkan kepalanya untuk melihatku. Masih malu awalnya tapi semakin lebar ketika aku sudah bertelanjang dada dan mulutnya semakin membuka.

“Bang Aseng badannya bagus… Sering olahraga, ya?” tanya Karina tapi memeluk bagian dadanya untuk menutupi. Entah malu ato kurang percaya diri.

“Karina juga… Pasti banyak yang ngelirik waktu di Bahama sendirian kemarin itu…” balasku memujinya aku mendekat dan menjaga jarak lima langkah darinya. Sebagai seseorang yang menguasai bela diri silat harimau, menjaga jarak adalah hal yang lazim kulakukan.

“Saya kan udah lumayan berumur, bang Aseng… Gak pernah olah raga lagi…” katanya merendah.

“Ha ha hahaha… Bu Karina merendah terus… Sori ya bu Karina… awak mau ngasih tau rahasia dikit… Waktu itu… di atas rumah ibu waktu itu… saat awak menangkap kepala Kuyang itu dengan kandang ayam… awak kan nyuruh badan bu Karina yang gak ada badannya untuk naik ke atas… Cukup lama awak nungguin badan ibu sampe ke atas… Awak udah liat tuh semua badan bagus ibu… Telanjang, kan?” kataku mengingatkannya. Abis itu ia menutup dirinya dengan sebuah kain sprei jemuran yang lupa diangkat ART-nya. Ia mengangguk membenarkan hal itu.

“Jangan tersinggung tapi yaa?… Waktu itu awak udah grepe-grepe tubuh bu Karina… Abisnya seksi kali…” kataku.

“Mungkin bu Karina gak ngerasain itu karena masih terpengaruh setan Kuyang itu… Tapi beneran saya gak tahan… Sori ya, buu…” pipinya menjadi merah seperti tomat dan ia menunduk malu. Pelukan pada dadanya membuat gundukan itu semakin tertekan menggelembung.

“Jadi gak perlu malu… lagi…” aku lebih mendekat dan kuelus kepalanya. Ia mendongak untuk menatapku.

“Tangan ini sudah menyentuh semua bu Karina waktu itu…” kuacungkan tanganku dengan lima jari terkembang. Lalu dikerucutkan hingga satu telunjuk saja.

“Yang ini bahkan sudah memasuki tempat spesial di bawah sana…” aku ingat bahkan sudah mengobel kemaluannya yang herannya saat itu basah. Ditatapnya jari telunjuk itu. Dan kejadian mengejutkan kemudian terjadi karena ia meraih tanganku yang masih mengacungkan jari telunjuk dan mengemutnya.

“Ahh…” mulutnya yang basah dan hangat menyelimuti jari telunjukku.

Lidahnya bermain-main di permukaan jariku. Disedot-sedot perlahan dengan mata terpejam. Gimana kalo Aseng junior yang disedotnya. Memikirkan itu, ia menggeliat bangun.

Karina memegangi tanganku dengan kedua tangan sekaligus. Kubiarkan ia menikmatinya. Entah fantasi apa yang sedang dibayangkannya tapi aku menikmati pemandangan wajah cantiknya, mata terpejam dan mulut mengemut jariku.

Kuelus kulit lengan halusnya perlahan. Sangat lembut… Kulitnya kenyal dan segar seperti bayi. Jariku melata naik ke lengannya, bahu hingga mencapai lehernya. Aku bisa merasakan degub aliran darahnya di urat nadi lehernya. Dug dug dug kencang.

Tinggi Karina hanya sebatas mataku hingga aku harus menaikkan kepalanya dengan dorongan di dagunya. Kukeluarkan jari telunjukku dari mulutnya dan kugantikan dengan mulutku.

Matanya terbuka sebentar terbelalak lalu terpejam lagi kala kukulum bibirnya, kedua bibirnya. Kedua tangan berpindah mendarat di dadaku sementara aku, memeluk pinggangnya.

Merapatkan pertemuan tubuh kami berdua. Dadaku dapat merasakan sedikit kulit dadanya yang tak tertutup bra. Deburan kencang jantungnya. Dug dug dug kencang.

Ia tetap memejamkan mata saat ia mulai membalas cumbuan mulutku. Berbalas mengulum bibir dan sedikit permainan lidah memulas ujungnya saja. Tangannya meremas liat otot dadaku sementara ku mengelus mulus halus punggungnya.

Sesekali jariku menemukan strap bra miliknya. “Bukain…” bisiknya di antara cumbuan mulut kami. Tak perlu diminta dua kali, tanganku membuka kaitan itu dengan mudah. Kulonggarkan kedua strap di bahunya karena ucapan ‘Bukain’ tadi pertanda ia mau aku yang melakukan itu semua. Ia membiarkanku melepasnya dari tubuh rapat kami.

Kulonggarkan dekapanku agar dapat menyaksikan tubuh atas telanjangnya dari jarak sedekat ini. Ia menunduk malu lagi. Payudaranya seindah yang kuingat saat malam kumusnahkan Kuyang bangsat itu. Bulat menantang walo tak berkutang.

“Malu, bang… Jangan diliatin begitu…” lirihnya dengan pipi memerah.

“Seindah ini kok malu… Mhhh…” kulumat lagi mulutnya dan tanganku kulancangkan menjamah kedua payudaranya.

Karina menggeliat geli. Kenyal dan lembut. Dengan mudah tanganku menggenggam dan tenggelam lumer di dalam massa lemak kelenjar mammary-nya. Putingnya kemudian menjadi bulan-bulanan jariku juga. Kupilin-pilin seirama dengan permainan mulut kami berdua.

Ujung-ujung lidah saling bersapuan. Keknya Karina belum pernah berciuman yang benar-benar basah sebelumnya. Kudorong perlahan tubuhnya, menurut kuarahkan ke ranjang yang tak jauh dari tempat kami berdiri. Kududukkan dirinya dan aku berlutut. Aku masuk di antara kakinya yang masih memakai celana panjang.

“Ahh…” desahnya karena sebelah puting payudara yang mengeras itu kusedot.

Rakus mulutku memainkan payudara bulat montok itu. Payudara perempuan umumnya akan bertambah besar saat hamil. Karina sudah beberapa kali hamil walo tak sampe melahirkan, dari sini ia mendapatkan ukuran payudara sebesar ini, bulat menggoda.

“Aahhhsss…” tangannya mengacak—menyisiri rambutku dengan jarinya.

Lalu dijengutnya karena geli yang luar biasa yang kuberikan.

“Uhh…” Yang sebelah tentu aja gak lepas dari remasan memerah gemas.

Menyenangkan dapat merasakan kendi susu kenyal semacam ini dari beberapa binor yang sempat kutiduri. Bermacam tekstur dan tingkat kekenyalan dapat kunikmati dari mereka. Pindah ke yang sebelahnya dan mendapatkan kenikmatan yang sama.

“Aahh… Baangghh… Enaak…”

“Enak?” tanyaku masih berjongkok di antara kakinya.

Tanganku masih menguyel-uyel kedua susu kenyalnya berputar bersamaan. Pipinya makin merah saat menatapku di bawahnya. Ia menunduk malu tapi bisa memandangiku yang sedang mengerjai payudaranya. Dijawabnya hanya dengan senyuman lebar aja. Ia memeluk perutnya saat ini. Kunaikkan ke atas posisi tangannya hingga susu kenyalnya lebih mencuat ke atas. Kedua susu kenyal itu beradu rapat dan semakin seksi bentuknya.

“Ahh… Ahh… Ahh… Ahh…” erangnya karena dengan nakal kujilat panjang dari bawah ke atas puting susu kenyal bergantian kanan kiri.

Kudesak tubuhnya selagi menyerang kedua payudaranya hingga ia kini rebah di ranjang hotel. Dapat kutindih tubuhnya yang pasrah menerima bobot tubuhku menindih tubuhnya yang tetap kujilati susu kenyalnya.

Pelukan tangannya kusingkirkan hingga seluruh tubuh telanjangnya terpampang di depan mataku. Semakin liar aku menikmati sepasang payudara kenyal memabukkan itu. Kudesak dan kutekankan juga Aseng junior yang mengeras di dalam celanaku ke kakinya agar ia tau apa yang akan didapatkannya malam ini.

“Lubang ini…” desisku memandangi perutnya yang agak endut karena tubuhnya memang montok.

Lubang supranatural yang telah ditinggalkan setan Kuyang bangsat itu. Lubang dimana ia telah berdiam selama ini. Lubang yang dapat menjadi incaran mahluk ghaib lainnya. Ada keinginan kuat agar aku melakukan ini.

Menyembuhkannya. Kusentuh dari bagian Solar Plexus, berputar sampai di bawah pusar lalu kembali menuju atas. Ada kilasan sinar cepat yang terpancar dari bentuk imajiner lubang itu. Sinar terang berwarna putih. Aku reflex menutup mata karena khawatir silau.

“Bruuk!!” aku mendarat di dataran berpasir lembut.

“Pasir?” langit biru terang, awan putih bergumpal-gumpal dan matahari terik bersinar.

Dan terutamanya adalah pantai berlaut biru di hadapanku. Cepat-cepat aku bangkit tak memperdulikan pasir yang menempel. Jangan-jangan ini serangan baru! Aku sudah memasuki daerah kekuasaan lawan! Tenang jangan sampe panik.

Aku memperhatikan sekelilingku. Tapi ini aneh… Daerah kekuasaan Menggala biasanya gak ada awan dan matahari seperti ini. Ini lumayan kerasa terik matahari yang bersinar terang di kulitku yang tak berpakaian. Ada orang!

Sepasang bule berjalan berpegangan tangan dengan mesranya. Yang cowo hanya memakai celana boxer sedang yang cewe santuy aja pake bikini seksi. Di sebelah sana ada juga tetapi dua orang cewe bule memakai bikini seksi juga.

Dan sejauh mataku memandang aku menemukan orang-orang lain yang juga menikmati nuansa pantai yang indah ini. Ada yang berjemur, bermain air, bercengkrama dengan pasangan ato teman. Ini bukan daerah kekuasaan Menggala. Ini tempat asli di suatu tempat yang aku tidak ketahui. Dimana aku ini?

Bingung tentunya yang kini melanda kepalaku saat ini tentunya. Kenapa bisa aku tiba-tiba tiba di tempat ini? Ini ada dimana dan bagaimana aku bisa sampai di sini? Aku tadi sedang bersama Karina. Kenapa aku malah jadi disini? Dan ini adalah tubuh fisikku, bukan tubuh jiwaku kalo memasuki satu daerah kekuasaan ke-Menggala-an. Apa yang terjadi pada Karina sekarang ini?

“Have your coconut drink, sir…” (Silahkan diminum air kelapanya, pak) seorang penduduk lokal berkulit hitam berpakaian kemeja longgar dengan pola floral print menyuguhkan sebuah kelapa muda dengan hiasan bunga dan pernik etnik. Dengan kepala kosong kuterima minuman kelapa muda yang hanya tinggal batoknya aja dengan sebuah sedotan.

“You seemed to be deluded, sir… May I give my assistance?” (Anda sepertinya bingung, pak. Boleh saya bantu?) katanya. Aku masih bingung mengartikannya tapi keknya ia mau menolongku walo dialeknya aneh kek orang Jamaika yang suka reggae.

“Where am I right now?… What’s this place?” (Dimana aku sekarang? Tempat apa ini?) tanyaku terdengar bodoh mungkin.

Tapi untung aku sudah pernah ikut les bahasa Inggris dulu. Dikit-dikit bisalah speak-speak. Dulunya aku belajar Inggris ini agar lebih gampang belajar komputer juga.

Agak kaget pria itu mendengar pertanyaanku tapi ia berusaha tidak menampakkannya. Mungkin karena ia sudah berinteraksi dengan berbagai macam orang dengan berbagai tingkahnya.

“You’re now at Winding Bay Beach on Eleuthera Island in Bahama, sir… Are you lost?” (Anda sekarang ada di Pantai Winding Bay di pulau Eleuthera Bahama, pak. Apakah anda tersesat) malah ditanyanya apakah aku hilang. Bukan, tersesat. Itu arti yang pas.

“Yes… I lost…” (Ya, saya tersesat) jawabku bingung. Apa tadi? Winding Bay Beach… Bahama?

“O-dear… Do please have your drink, sir… It’s compliment drink… It’ll soothe you a little…” (Sayang sekali. Silahkan diminum, pak. Ini minuman selamat datang. Ini akan menenangkanmu sedikit) ia sepertinya sudah paham situasiku dan mempersilahkanku meminum air kelapa muda ini.

Di kondisi normal, minum air kelapa muda di pantai yang… eh… pasirnya berwarna agak pink-pink gitu keknya… Pastinya akan sangat menyenangkan. Tapi situasiku saat ini sangat membingungkan. Kuteguk air kelapa muda yang disuguhkan pria berkulit eksotis itu.

Segar… Setidaknya itu sedikit meredakan kalut di kepalaku. Ia menampakkan senyum lebar dengan gigi putih bersih. Senyuman yang terlatih untuk menyambut tamu. Ini pastinya tempat wisata terkenal di Bahama sini.

Tapi masalahnya… gimana caranya aku sampe di sini?

“You seemed to be puzzled, sir… May I know your travel agent? I might be able to help you find your companion…” (Anda sepertinya sangat bingung, pak. Bolehkah saya tahu agen perjalananmu? Saya mungkin bisa membantu menemukan mereka) tawarnya untuk membantuku lebih jauh.

“You’re an Asian, right?” (Anda orang Asia, bukan?) tebaknya.

“Ya-ya… Asian… Indonesia…” (Ya-ya. Asia. Indonesia) kataku menjawab. Mungkin ia bisa menghubungkanku dengan seseorang yang bisa membantuku.

“May I know your name, sir?… I’m Paul at your service…” (Bolehkan saya tahu nama anda, pak? Saya Paul akan membantu anda) ia mengacungkan tangannya dengan ramah setelah memperkenalkan namanya sebagai Paul.

Kujabat tangannya dan, “My name is Nasrul…” (Nama saya Nasrul) disambutnya tanganku dengan senyum lebar bergigi putih besar-besarnya.

“Ah… Mister Nasrul from Indonesia… please follow me… Please… Come…” (Pak Nasrul dari Indonesia silahkan ikuti saya. Silahkan ikut) ajaknya untuk pergi mengikutinya. Ini mungkin pertolongan yang kuperlukan. Kuikuti dia. Ia menunjukkan beberapa spot bagus di pantai Winding Bay ini yang memang diramaikan banyak turis.

“A few days ago there’s one beautiful woman from your country just left this island… I believe she had left for home… And now you come… What a coincidence…” (Beberapa hari lalu ada seorang wanita cantik dari negara anda baru saja meninggalkan pulau ini. Saya yakin dia sudah pulang. Dan sekarang anda yang datang. Kebetulan sekali) katanya bercerita sambil jalan.

“From Indonesia? Karina?” (Dari Indonesia? Karina?) tebakku iseng aja sebenarnya. Seingatku memang Karina baru pulang berlibur dari Bahama sini. Apa dari pulau ini juga?

“Yes… Miss Karina… You know her?” (Ya. Nona Karina. Anda kenal dia?) katanya agak takjub kalo sangat-sangat kebetulan. Aku hanya mengangguk dan berhenti. Ini terlalu kebetulan. Ada yang gak beres di sini. Ada sesuatu yang sangat salah telah terjadi.

“What’s wrong? Come mister… Follow me…” (Ada apa, pak? Ayo pak. Ikuti saya)

“Tell me the truth… What’s happen here… It’s so confusing… Tell me… Don’t lie to me…” (Katakan yang sebenarnya. Ada apa ini. Ini sangat membingungkan. Beritahu aku. Jangan bohong) kataku terbata-bata dengan sebaik-baiknya kemampuanku.

“What now? Come on… Don’t tell me you want to do it now?” (Ada apa? Ayolah. Jangan bilang anda mau melakukannya sekarang?) ia merentangkan tangannya setelah berbalik seakan kesal dengan tingkahku.

“Don’t mess with me, man… I don’t know what kind of hocus pocus you did to me… but you did it on the wrong one…” (Jangan main-main denganku, bung. Aku tidak tau mantra apa yang kau berikan padaku tapi kau melakukannya pada orang yang salah) kataku tak mau beranjak mengikutinya lagi.

Kami sudah agak jauh dari kawasan pantai. Ini jalan menuju suatu tempat yang dikelilingi pohon-pohon kelapa yang tumbuh jarang. Ia tersenyum lebar lagi memamerkan gigi putihnya. Aku jadi kesal dengan senyumannya. Terakhir yang tersenyum gila seperti ini adalah Inyiak Lelo dan aku sudah mematahkan lehernya.

“But you drank it, sir… And we shook hands… That’s all for you right now…” (Tapi anda sudah meminumnya, pak. Dan kita sudah berjabat tangan. Hanya itu saja untuk anda saat ini) katanya menjaga jarak dariku.

“And above all… I know your name…” (Lagipula. Saya tahu nama anda) lagi-lagi ia merentangkan tangannya dan senyum lebar itu lagi.

Fix aku akan mematahkan lehernya juga. Ia mundur-mundur lalu lari ke pepohonan kelapa di sebelah kirinya. Lari si Paul itu sangat cepat. Sebentar aku melihatnya melintasi satu pohon lalu pohon lainnya dan hilang di balik pohon berikutnya. Aku yakin kalo ia ikut latihan lomba lari akan menang di lomba Agustusan.

“Apa yang sedang menimpaku ini? Mau enak-enakan sama Karina malah jadi terdampar di Bahama… Naseb-naseb…” gerutuku sendiri.

Sekarang apa yang bisa kulakukan? Tentu cara pulang yang paling mudah ada menghubungi Iyon. Tapi aku gak punya HP saat ini. Dompet dan HP-ku kutinggal di meja dekat tas milik Karina. Duh… Karina. Dia pasti sangat bingung karena aku tiba-tiba menghilang dari hadapannya. Andai kau tau Karina, aku lebih bingung lagi ini apa masalahnya.

“Guntur Setiono bin Ahmad Guntur bin Tjokro Guntur bin Krama Guntur… Aku memanggilmu ke hadapanku… Lewati petala ruang dan waktu… Guntur Setiono bin Ahmad Guntur bin Tjokro Guntur bin Krama Guntur…” kukerahkan secukupnya aliran Lini untuk memanggil sobat Ribak Sude-ku ini. Ini benar-benar emergensi sehingga ini jalan yang terbaik.

“Eh…” kagetnya karena dipanggil sedemikian rupa. Ia sepertinya baru akan menggosok gigi karena ia sedang mengoleskan odol ke sikat gigi miliknya.

“Seng? Ah… Entah apa-apa aja-pun kau… Orang mau tidur-pun kau panggil-panggil…” gerutunya kesal. “Dimana nih… Kok terang? Mau berantem, ya?” setelah ia memperhatikan sekilas lokasi tempat ini. Tapi tak kunjung menemukan musuh.

“Ini bukan daerah musuh, Yon… Ini pulau di Bahama…” jelasku.

“Bahama? Kau lagi liburan?” tanyanya selagi celingak-celinguk pada puncak pohon kelapa yang tumbuh di tepian jalan pasir ini.

“Ada kasus baru pasien awak… Eh malah aku tersedot gitu kemari, Yon… Rasa-rasanya kek Bayangan Bunga Bujur punyamu itu… Tapi ini karena aku sedang berusaha mengobati lubang yang ditinggalkan mahluk ghaib… Kau pernah dengar yang kek gini?” tanyaku pada Iyon yang malah berkeliling mengitari tempat ini.

Ditendang-tendangnya batang pohon kelapa, mungkin untuk meyakinkannya bahwa tempat ini nyata.

“Jadi kau memanggilku kemari karena gak bisa pulang, kan?” simpulnya selagi berjongkok memeriksa tanah berpasir di bawah batang kelapa.

Kepalanya mendongak karena kami mendengar suara kendaraan mendekat. Sebuah sepeda motor yang dikendarai dua orang bule melintas. Keduanya menyapa kami yang kami jawab sekenanya.

“Tentu-lah… Gimana aku bisa pulang dari sini… Dompet-Hp-ku ketinggalan semua…” kataku.

“Jadi ada orang yang menarikmu kemari… Sudah ketemu orangnya?” ia mendekat. Aku tak perlu lagi meyakinkannya kalo ini beneran kepulauan Bahama dari melintasnya dua turis tadi.

“Udah… Orang lokal sini… Namanya Paul… Awalnya ada perempuan dengan ilmu Kuyang turunan ke tujuh… Kuyang-nya udah kulepaskan darinya… Tapi Kuyang itu meninggalkan satu lubang besar di perutnya… Perempuan itu liburan kemari… ke pulau Bahama ini… Pas awak mau neruskan pengobatannya… awak malah kesedot kemari, Yon…” jelasku akan kronologi kejadian yang menimpaku.

“Kau curiga kalo ada mahluk lain yang memasuki lubang itu, kan?” tebak Iyon.

“Kemungkinan besar kek gitu… Orang yang sudah pernah dimasuki mahluk ghaib pasti akan mengundang mahluk ghaib lainnya…” jelasku akan alasanku. Iyon mengangguk-angguk setuju. Itu pengetahuan yang sama-sama kami ketahui tentang masalah ini.

“Aku belum sempat berantem sih sama si Paul-Paul itu karena dia udah lari duluan ke sana…” tunjukku ke arah larinya pria eksotis dengan senyum lebar dan gigi putih itu.

“Kita anggap aja dia dukun di Bahama sini… Apa yang dia mau dengan pasienmu itu? Kira-kira apa coba?” ajak Iyon berdiskusi.

“Memasukkan mahluk ghaib piaraannya… mungkin…” itu tebakan terbaikku.

“Di daerah sini yang terkenal ganas itu voodoo… Terkenal ya… Padahal voodoo itu bukan ilmu hitam ato ilmu putih… Bagi penganutnya voodoo itu gak lebih seperti agama tradisional masyarakat yang berasal dari Afrika dan dibawa para imigrannya ke seluruh dunia… Nah… Tentu aja ada yang menyalah gunakannya… Kek di tempat kita kan banyak kek gitu… Buat pelet dari ayat suci… Ilmu kebal baca ayat ini… Ilmu pesugihan putih-lah… Hantu blau-lah… Kita gak tau nih motif si Paul itu menarikmu dari Medan ke Bahama sini lewat perempuan itu? Kau tadi pasti kek mau ngajak berantem gitu, kan?” kata Iyon.

“Iya, Yon… Abis aku bingung sih… Mampos!” tiba-tiba aku teringat sesuatu yang sangat fatal dari apa yang sudah dikatakan si Paul tadi.

“Aku tadi minum pemberian si Paul… Bersalaman dengannya dan dia tau namaku… Mampos!” panikku. Entah apa yang akan terjadi dari sana.

“Heh? Cak kau periksa dulu… Apa ada yang hilang?” usulnya.

Tentu aja yang kuperiksa adalah jari-jari tanganku, jari-jari kakiku; lengkap semua. Kuping, hidung, mulut, rambutku, lenganku, perut, pahaku, kedua pantatku dan Aseng junior.

“Kenapa?” Iyon mengernyit melihat ekspresi mukaku yang mungkin kek lagi sesak berak.

Aku gak menjawabnya kecuali membuka celanaku dengan buru-buru untuk memastikan kalo ini cuma perasaanku aja. Cuma perasaan aja. Jangan…. Jangan.

***

“Yon… Kontolku ilang!” teriakku kuat-kuat mendapati si Aseng junior tak ada lagi tempatnya biasa nongkrong, di antara dua kakiku.

Bahkan dua bola pelernya juga hilang tak berbekas. Yang tertinggal hanya sebuah gundukan tipis berjembut yang kalo diteliti jelas akan terlihat seperti permukaan vagina seorang perempuan sekarang. Muka yang syok pasti merekat erat di wajahku. Kening Iyon juga berlipat-lipat melihat petaka yang menimpaku ini.

“Mampos aku!! Kontolku ilang!! Yoon!! Tolongin aku, Yoon?!” teriakku histeris memegangi selangkanganku, digosok-gosok kuat siapa tau ia mau muncul lagi kalo dakinya digosok sampe bersih. Aku bahkan gak bisa merasakan keberadaannya sama sekali. Padahal dalam keadaan ia tidurpun, aku bisa menggerakkannya.

“Diam! Diam dulu kao!! Aku gak bisa berpikir kalo kao tereak-tereak kayak orang pesong kek gitu!! Diam dulu!!” Iyon berusaha menenangkanku. Ia bahkan mengeplak kepalaku agar aku mau tenang sedikit aja untuk dikasih pengertian.

***

Hilang sudah kejantananku. Aku udah kek jadi boneka manekin aja sekarang ini. Patung pamer pakaian di butik dan kios pakaian, bertubuh lengkap tangan, kaki, badan, kepala. Tapi waktu dilucuti semuanya ada yang kurang, tak ada kelamin yang bergantung menjuntai dari bagian selangkangannya. Itulah nasibku saat ini, tak berkelamin. Bahkan banci lebih beruntung nasibnya dari pada aku, yang masih punya banci junior yang tak mereka banggakan.

Muka Kojek-pun melongo prihatin akan nasibku yang sudah kehilangan benda berharga. Kami ada di rumah Kojek saat ini. Di Indonesia sini, waktu Indonesia bagian Porsea masih malam. Menjelang pagi bahkan.

Iyon yang secara gak langsung menjadi pemimpin Ribak Sude kami, berpikir keras. Aku yang biasanya jadi pemikir di kelompok ini gak bisa diandalkan sekarang karena masalah ini menimpaku langsung. Reaksiku gak bisa diandalkan. Ini cobaan berat bagi kedua sobatku ini. Kojek apalagi, dia biasanya hanya bagian bar-barnya aja.

“Teknik ghaib ini sangat asing bagi kita bertiga… Ingat penjelasanku tentang voodoo yang lazim dipraktekkan di daerah itu? Aku bahkan gak tau apa ini bagian dari voodoo itu atau enggak…” kata Iyon mengusap mukanya.

“Apa pendapatmu, Jek?”

“Kalo kataku… Pidong si Aseng itu sebenarnya masih ada di situ…” tunjuknya pada selangkanganku.

“Cuma mata kita semua dikaburkan gak bisa melihatnya… Karena gini… Mengambil organ tubuh itu sangat kompleks akibatnya… Apalagi… Aseng sama sekali gak menunjukkan gangguan kesehatan apapun sekarang ini… Hanya saja ada gangguan Lini aja saat ini di sekitar pusat Lini-nya…” ia menunjuk pusarku sekarang.

“Trus gimana ini?” gusarku gak bisa berpikir jernih saat ini. Otakku blank gak bisa berpikir apapun.

“Kau-pun sukak kali nyari penyakit… Entah apa-apa aja yang kau buat sampe dapat lawan berat kek gini…” kata Kojek malah meledekku.

“Aku, kan cuma mau nolong orang Jek… Mana kutau kalo jadi kek gini ujungnya… Junior-ku…” kugosok-gosok lagi selangkanganku yang kosong.

“Tapi perempuan aja yang kau tolong, kan?” ledeknya lagi. Aku langsung terdiam gak mau meladeninya lebih jauh karena itu benar.

“Ya udah-udah… Karna kita bertiga-pun buntu soal ini… Kita tanya yang lebih senior aja…” Iyon mencari satu nomor di HP-nya dan langsung menghubungi orang tersebut. Ada jeda yang lumayan lama sampe ada jawaban.

“Assalamualaikum… Halo, bah… Maaf, bah… Ganggu ya, bah? Ada sedikit masalah nih, bah… He hehe… Buntu kami, bah… Si Aseng, bah… Iyon jemput ya, bah? Baik-baik, bah… Tunggu bentar ya, bah… Assalamualaikum…” dan diakhirinya sambungan telepon itu.

“Abah Hasan, Yon?” tanya Kojek.

“Siapa lagi? Aku jemput dia dulu ke rumahnya… FLUP!” Iyon langsung menghilang dari hadapan kami dengan ilmu B3 (Bayangan Bunga Bujur) miliknya menuju rumah abah Hasan yang barusan dihubunginya.

Mudah-mudahan dengan bantuan beliau masalah kami ini bisa dipecahkan. Tapi ada tapinya dengan salah satu individu yang kami panggil guru ini, tak ada rahasia yang bisa disimpan di hadapannya.

Ia menguasai semacam ilmu kebathinan yang mampu membaca pikiran seseorang sampai sangat dalam. Bahkan ada yang percaya kalo ia serius menggunakannya, bahkan memori sejauh apa yang tersimpan di ingatan orang itu, bahkan yang sudah dilupakan sekalipun bisa digalinya.

“Jek… Takut aku, Jek…” kataku padanya yang mulai terkantuk-kantuk menunggu datangnya Iyon membawa abah Hasan.

“Hng? Takut kontolmu gak bisa balik…” jawabnya setelah mengelap iler. “Ato takut rahasiamu ngentoti binor ketauan sama abah?” matanya masih sayu.

“Glek… Takut aku diceramahinya…” aku langsung bungkam karena Iyon langsung muncul kembali membawa pria setengah baya itu bersamanya jauh-jauh dari rumahnya di sana.

Aku dan Kojek langsung menunduk dan menyalaminya takzim mencium tangannya layaknya murid yang berbakti. Pria itu memakai gamis panjang berwarna putih dan kopiah Turki. Di tangannya menghitung tasbih. Saat ini dia sosok pengganti bapak bagi kami bertiga yang yatim. Wibawanya sangat sesuai menyandang predikat guru yang harus kami hormati. Ia dipersilahkan duduk sama sang tuan rumah, Kojek.

“Kojek… Apa kabar? Gimana bisnis antum?” sapanya pada sobat kurus kami itu. Ia tersenyum lebar walo masih bermata sayu.

“Sehat, abah… Maaf, bah… Maaf kalo tempatnya seperti ini… Juga Kojek gak pernah mengunjungi abah di sana…” katanya berbaik-baik. Diantara kami bertiga, Kojek yang paling diperhatikannya. Kami sering mengolok-oloknya kalo itu misi Islamisasi abah Hasan.

“Udah gak ada abah dengar suara… apa namanya? Hurje? Suara hurje antum udah gak ada kedengaran lagi…” tanyanya. Telinganya masih sangat awas.

“Udah Kojek jual semua, abah… Mau kami ganti ke lembu sekarang, abah… Aseng investor-nya, abah…” kata Kojek tentu harus jujur karena gak ada gunanya menyembunyikan apapun di depan abah Hasan.

“Lembu? Bagus itu… Nanti abah pesan dari ente kalau gitu untuk Idul Adha nanti, bisa?” ia malah dapat pelanggan pertamanya karena abah Hasan biasanya menyembelih lebih dari 10 ekor sapi tiap ber-qurban-nya. Kojek tentu aja senang mendapat langganan potensial di bisnisnya.

“Iyon? Udah berapa anak antum? Tadi abah belum sempat ngobrol…” ia beralih pada Iyon yang tadi barusan menjemputnya.

“Masih satu itu, bah…” jawab Iyon melirikku. Karena berikutnya pasti dia akan menanyaiku.

“Anak antum setahun lebih tua dari anak-anak kami, ya?” ingat abah Hasan.

“Anak abah sekarang sudah hampir 5 loh… Gak nambah lagi antum?” tanyanya.

Iyon hanya tersenyum simpul. Gini kalo dah lama gak ngumpul yang ditanya malah udah berapa anak. Abah Hasan walo sudah setua ini, anak pertamanya lahir paling belakangan di antara kami semua. Anak Iyon yang paling tua karena ia yang paling duluan menikah, menyusul aku dan Kojek kemudian beliau.

Apakah ia terlambat menikah? Tidak. Istrinya ada banyak. Banyak yang sudah diceraikan juga. Dan di istri terakhirnya ia malah berhasil punya anak. Seorang perempuan cacat yang ditemukannya di daerah konflik Timur Tengah. (Detail tentang sekelumit abah Hasan dapat dibaca sedikit infonya di Side Quest: To All The Girls I’ve Loved Before di thread Quest) Bisa berhasil punya anak dari perempuan itu, seperti kelinci ia membuat anak sampe udah mau 5 anaknya. Setahun satu berarti…

“Seng… Apa kabar? Tambah makmur sepertinya…” sapanya padaku. Aku menunduk dan beringsut mendekat padanya. Duduk di sampingnya.

“Udah… Gak usah malu-malu begitu… Abah udah tau semua… Gak usah dijelasin…” katanya menepuk-nepuk bahuku.

“Coba liat burungnya…” mintanya untuk melihat keadaan Aseng junior yang telah raib secara ghaib. Aku menurunkan restleting celanaku dan menunjukkan keadaan nelangsaku ini.

Matanya sedikit menyipit melihat selangkanganku yang kosong melompong. Ia menyentuh pelipis kanannya untuk berkonsentrasi meneliti masalah yang yang kini menimpaku. Sekilas aku melihat bahwa kornea matanya yang tadinya coklat berubah menjadi biru langit lalu kehijauan, kuning lalu balik normal coklat kembali.

“Gimana, bah?” malah Iyon yang pertama menanyakannya.

“Enggak orang jauh ini… Masih orang dekat…” katanya.

Membelalak mataku dan Iyon bersamaan mendengarnya. Kok itu? Abah Hasan tersenyum berhasil ngerjain kami. Kojek tertawa terkekeh-kekeh tertahan takut mengganggu keluarganya yang masih tidur di sejuknya dini hari daerah Porsea ini.

“Yaah… Abah… Abah masa pake guyonan itu juga? Gak lucu, ah…” kata Iyon yang ngerasa kena prank juga. Abah Hasan tertawa-tawa juga. Perut buncitnya berguncang-guncang.

“Ha ha hahaha… Kena kalian ya… Ha ha haha… Sori-sori… Ini cuma salah paham aja sebenarnya… Burungmu masih ada di situ, Seng… Gak kemana-mana dia… Cuma dihilangkan aja dari mata zahir dan bathin kita… Ngeliatnya harus pake mikroskop… Ha ha hahaha…” lagi-lagi ia bercanda atas musibahku. Atas stres yang kualami.

“Antum berusaha mengobati perempuan itu, kan? Siapa namanya?” tanyanya.

“Karina, bah…”

“Nah… Antum sudah benar memusnahkan setan Kuyang sesat itu dari tubuhnya… Dan juga sudah benar mau menutup lubang bekas Kuyang itu… Tapi sudah keduluan sama orang ini…” Heh? Keduluan?

“Keduluan? Apa ada orang lain yang mencoba mengobati si Karina ini, bah?” tanyaku. Apa si Paul-Paul itu?

“Ya… Si Paul itu… Niatnya juga baik… Dia juga bermaksud mengobati si Karina ini sewaktu melihat lubang besar di perut perempuan cantik itu… Hanya saja proses pengobatannya masih berjalan… Tidak secepat kalau antum yang ngobatin, Seng… Tapi ia menambahkan proteksi ini pada perut si Karina kalau-kalau ada yang mencoba mengusik lubang itu dalam masa pengobatannya… Antum dikiranya adalah gangguan tapi proteksinya ini tidak cukup kuat untuk mengusir antum makanya antum malah disedot jauh sampai ke Bahama sana… Ini ada campur tangan orang lain untuk menyedot antum ke sana lalu bertemu si Paul ini… Sepertinya dia adalah guru atau atasannya…” sebanyak itu yang diketahui abah Hasan setelah melihat kasusku ini. Aku agak lega mendengarnya karena ini ternyata hanyalah masalah salah paham.

“Lalu si Paul ini memberimu ramuan di air kelapa itu… berjabat tangan dan menyegel namamu untuk ritual Koro ini…” lanjut abah Hasan menyebut nama teknik Koro yang sedang terkena padaku. Jenis apa ini?

“Bukan kacang koro, Jek… Ini bahasa daerah Makassar yang terkenal di dunia. Ini biasa dipakai dukun-dukun zaman dulu disana untuk menakut-nakuti musuh… Dipakai di Asia sampe Afrika bahkan… Menyebabkan penderita ketakutan setengah mati… Hilang kan semua semangat antum?” tanya abah Hasan beralih lagi padaku.

Aku mengangguk. Benar juga. Kemaluan juga berarti kejantanan. Apa arti seorang laki-laki tanpa kejantanannya? Gak ada gunanya lagi. Itu korelasinya.

“Teknik Koro ini sangat kompleks dan rumit karena melibatkan banyak cabang ilmu… Ada psikologi-nya dan bumbu-bumbu kleniknya tentu… Koro ini dari bahasa Melayu yang artinya kura-kura… Kura-kura kan kepalanya bisa masuk ke dalam badannya… Persis seperti yang sedang antum alami ini… Burung antum masuk ke dalam perut sampai benar-benar hilang… Si Paul ini sudah mensugesti antum kalo burung antum hilang… Ditambah ramu-ramuan itu… Biasanya adalah kencur yang sudah dimantra-mantra-in sedemikian rupa… Wus… Burung antum hilang!” jelas abah Hasan secara gamblang.

“Jadi nyembuhinnya gimana, bah?” tanyaku penuh harap. Siapa-la yang mau menderita penyakit kek gini.

“Abah sebenarnya bisa aja nyembuhinnya sekarang… Tapi itu enggak menyelesaikan akar masalahnya… karena perempuan itu maunya hanya diobati oleh antum, kan?” cetusnya. Aku mengangguk.

“Nah lebih baik kita silaturahmi ke Paul dan gurunya itu… Bagus untuk menjalin relasi dengan praktisi lain di tempat jauh…” lanjut abah Hasan. Silaturahmi? Berkunjung langsung ke Bahama sana?

“Abah akan memberi lokasinya padamu, Iyon… Bawa kami semua kesana…” ia beralih pada Iyon sebagai alat transport kami. Iyon menyanggupinya. Kami saling bersentuhan agar terikut dalam teleportasi Bayangan Bunga Bujur Iyon. FLUP!

Sudah menjelang sore di kepulauan Bahama. Kami tiba di depan sebuah rumah sederhana tetapi rapi dan bersih berpagar kayu ujung membulat berwarna putih. Ada beberapa anak kecil bermain tali di depannya. Kami menunggu sebentar dan pintu rumah terbuka tanpa ada yang memanggil. Itu si Paul tadi. Ia tersenyum lebar dan membukakan pagar kayu mempersilahkan kami masuk.

“How do you do? I’m Paul… Please come in… You’ve been expected by my master…” (Apa kabar? Saya Paul. Silahkan masuk. Anda telah dinantikan guru saya) ia tak keberatan kami berempat rombongan memasuki rumahnya. Ada master-nya di dalam? Sangat yakin dengan kekuatan yang mereka miliki.

“Thank you, Paul… It’s very kind of you…” (Makasih, Paul. Anda baik sekali) tak ragu abah Hasan menyambut jabat tangan Paul jadi kami berjabat tangan dengannya juga. Pas giliranku ia tetap tersenyum seperti gak ada kejadian apa-apa. Padahal dah mau kugesekkan aja kepalanya ke aspal jalan.

Ada seorang perempuan yang masih terhitung muda. Paling-paling ya sebaya-la dengan kami bertiga, awal 30-an gitu. Mungkin itu istrinya si Paul ini. Tapi kami dipersilahkan duduk bersama dengan perempuan itu di beberapa kursi kayu sederhana di ruang tamu. Kulitnya gak segelap Paul eksotisnya. Kalo di Indonesia itungannya mungkin masuk sawo matang.

“Meet my master… Miss Abigail…” (Perkenalkan guru saya, nona Abigail) Aku, Iyon dan Kojek jelas kaget karena kami mengira guru yang dimaksud Paul adalah seorang sudah tua, setidaknya seumuran dengan abah Hasan. Gak masalah laki-laki ato perempuan, tapi ini malah masih semuda ini. Gak nyangka semuda ini sudah jadi guru.

“Nice to meet you, miss Abigail… The name is Ahmad Hasan bin Hussain bin Ahsan bin Abdul Manaf bin Abdul Hasan… Forgive us for our rude manner… Especially my three aprentices here… He’s Guntur Setiono… Called him Iyon… Here’s Sutan Mandalo Nasrul, called him Aseng… And last but not least Pandapotan Samuel Hutagalung… Called him Kojek…” (Senang berkenalan dengan anda, nona Abigail. Nama saya Ahmad Hasan bin Hussain bin Ahsan bin Hijr Abdul Manaf bin Abdul Hasan.

Maafkan kelancangan kami. Terutama ketiga murid saya ini. Ini Guntur Setiono. Panggil dia Iyon. Disini adalah Sutan Mandalo Nasrul, panggilannya Aseng. Dan yang terakhir adalah Pandapotan Samuel Hutagalung. Panggil dia Kojek) dengan sopan abah Hasan memperkenalkan nama kami semua lengkap dengan nama panggilannya. Abah Hasan hanya menyatukan tangannya tak boleh menyentuh perempuan itu. Nona Abigail paham batasan itu dan menunduk mengangguk saja.

“Please to meet you too, young men…” (Senang juga bertemu kalian, anak-anak muda) sambut Abigail. Tapi ia menganggap kami semua anak muda. Termasuk abah Hasan.

“Ah… Another stopper… Nice…” (Ah… Yang terhenti lainnya. Bagus) gumam abah Hasan paham apa maksud perkataannya barusan.

“Pardon my master here…. She’s stop aging since she’s 35 tens of years ago…” (Maafkan guru saya ini. Ia berhenti menua sejak umur 35 puluhan tahun lalu) jelas Paul akan keadaan fisik gurunya yang sangat ajaib. Selamanya di umur 35-an ini?

“No wonder you’re as pretty as an orchid…” (Tak heran anda secantik anggrek) puji abah Hasan gak habis akal. Malah dipuji karena memang perempuan ini masih cantik membeku di usia 35-an tahun. Mungkin aja umurnya udah seratus tahun lebih.

“I believe that we’ve mistakenly took a crossing path on the same particular individual named… miss Karina… My aprentice here… Aseng had intended and promised to cure her of her current condition prior to certain supranatural phenomenon… Leaving a huge cavity in her tummy… We both sides took a certain interest in her… Your aprentice… also tried to help her, thus overlapping with the cure attempt performed by my apretice… There…” (Saya yakin bahwa kedua pihak kita sudah bersilangan jalan pada individu tertentu yang bernama nona Karina. Murid saya, Aseng sudah bermaksud dan berjanji menyembuhkan kondisinya akibat fenomena supranatural itu yang menyebabkan lubang besar di perutnya. Kedua pihak kita tertarik dengan kondisinya ini. Murid anda juga berusaha menyembuhkannya yang berakibat tumpang tindih penyembuhannya dengan murid saya. Demikian) abah Hasan memaparkan kondisi yang terjadi saat ini.

“Well… It’s too bad we’ve been through this misunderstanding and almost leading to a clash-unnecessary clash… It’s a shame… I’d like to offer you my apology on behalf of my aprentice…” (Baiklah. Sayang sekali kita harus saling salah paham dan hampir menjadi keributan-keributan yang tak perlu. Sayang sekali. Saya ingin menghaturkan ucapan maaf atas kesalahan murid saya ini) malah miss Abigail yang minta maaf duluan pada pihak kami.

“Paul… Will you undo your spell to this boy…” (Paul, lepaskan mantramu pada anak lelaki ini) sambungnya.

Ini yang kutunggu-tunggu dari tadi. Paul menunduk patuh pada gurunya. Ia masuk ke dalam dan balik lagi dengan cepat membawa batok kelapa muda segar seperti yang tadi siang diberikannya padaku.

“Please accept my apology and drink this immediately. It will undo your current situation at all… Please…” (Tolong terimalah permohonan maaf saya dan minumlah ini sesegera mungkin. Ini akan menyembuhkan situasimu saat ini. Silahkan) diserahkannya batok kelapa tanpa sedotan itu padaku.

Abah Hasan mengangguk menjamin kalo itu yang terbaik yang harus kulakukan. Kuterima batok kelapa yang tanpa hiasan itu sekarang dan langsung menenggaknya sampe tandas. Baik nona Abigail dan muridnya Paul tersenyum melihatku menurut dan meminum ramuan itu sampe habis.

Iyon dan Kojek naik-naik alisnya kode menanyakan apakah ada reaksi perubahan pada Aseng junior-ku yang hampir satu harian ini hilang raib tak tau rimbanya. Aku mencoba menggerakkan otot Kegel dan terasa ada pergerakan. Buru-buru aku balik badan dari nona Abigail menghadap ke dua sobatku.

Kusibak celanaku dan whalaaa… Aseng junior bertengger dengan imut di sana tak kurang apapun. Lega selega-leganya. Iyon dan Kojek langsung berpaling jijik harus ngeliatin belalai gajahku kek eksibis…

Berikutnya kami membicarakan masalah ini lebih jauh lagi dan mencapai kesepakatan. Paul akan menghentikan pengobatannya pada Karina karena aku yang paling berhak melakukan hal itu karena sudah kumulai dari menyingkirkan Kuyang itu.

Sementara Paul melakukannya hanya dengan diam-diam, walopun niatnya sangatlah mulia. Selesai dengan masalah ini kami ngobrol-ngobrol lagi dengan lebih cair dan akrab melupakan pertikaian kami sebelumnya. Aman kalo bisa dikatakan kami menjadi sahabat sekarang.

***

Aku diantar Iyon di SPBU milikku supaya aku bisa pulang dengan membawa mobil. Sampe depan rumah sudah jam 6 pagi yang sudah lumayan terang. Lelah dan ngantuk tentunya. Rencananya sebelum pergi kerja, aku akan tidur dulu sepuasnya di daerah kekuasaanku. Lumayan untuk mengistirahatkan jiwaku.

“Aku mau cerita dikit… Ada satu-dua yang sangat mengganjal di kepalaku… Kalian dengar ya?” kataku sebelum aku pulang tadi.

Aku mengajak mereka ngobrol sebentar di dalam mobil sebelum Iyon mengantar Kojek pulang ke Porsea. Kedua sobatku itu mengangguk mengiyakan walopun pasti ngantuk juga. Aku belum siap menyampaikan ini pada abah Hasan juga.

“Ini tentang bagaimana aku bisa keluar dari realitas palsu oppung Datu itu… Ini sangat membingungkan tapi berkat itu pula aku bisa keluar dan kita selamat… Ada yang mengirim kode-kode penolong padaku… Kode tentang kuda yang berulang-ulang… Maksudnya agar aku sadar kalo realitas itu palsu… Mengingatkanku tentang kuda sembrani itu… Ini yang pertama… Siapa yang ngirim kode ini? Yang kedua… yang terakhir… Di dalam realitas palsu itu aku sudah bercerai dengan orang rumahku… Itu sangat mengerikan… Foto nikah kami sudah digantinya dengan foto nikah bareng suami barunya… Tau siapa suami barunya di foto itu? Putra…” paparku akan satu nama itu.

“Putra?” hampir bersamaan Iyon dan Kojek mengulang nama itu. Muka keduanya berkerut heran campur kaget nama itu muncul mengemuka.

“Bukannya dia udah lama mati? Kita bahkan hadir di pemakamannya…” cetus Iyon yang secara gak langsung pernah sangat akrab dengan individu ini. Ekspresinya gak terlalu jelas antara marah dan cemas.

“Makanya… Dari mana oppung Datu itu tau tentang Putra kalo memang dia yang menciptakan gambaran realitas palsu itu? Kenapa waktu aku membelah foto nikah itu adalah jalan keluarku dari sana? Kita semua tau kalo dulu Putra sempat suka dengan orang rumahku… Tapi orang rumah lebih memilih aku dari dia, kan? Tapi dia sudah lama mati… jadi ini kehendak siapa? Maunya siapa?” aku malah emosi entah ke siapa. Keduanya pasti paham emosiku.

“Trus gimana?” tanya Kojek.

“Aku terus menerus mendapat kasus yang berulang… Terus menerus berulang… Selalu berhubungan dengan binor yang pengen hamil dari bibitku… Ada variasi-variasinya tapi intinya tetap itu… Yang paling terbaru ya itu… si Karina ini… Ada yang diberi pesan lewat mimpi, ada yang dibisiki langsung, ditulisi pesan, lewat mempengaruhi siluman ato demit-demit gitu… Ada yang berusaha keras untuk memberikan ini semua padaku… Mencekoki aku dengan semua ini… Aku gak tau apa ini baik ato buruk dalam jangka panjang… Sementara ini ya enak-enak aja… Tapi keknya akhir-akhir ini semakin berbahaya… Aku makin sering minta bantuan pada kalian, kan?” kataku.

“Bentar-bentar… Binor-binor itu minta kau hamili? Minta dibuntingi?” simpul Iyon. Matanya menyipit, antara alisnya berlipat-lipat. Aku mengangguk. “Kenapa kau baru cerita ini sekarang?” tanya Iyon agak kesal mendengar ceritaku ini.

“Kenapa? Kau mau juga, Yon?” sela Kojek. “Kalo masalah subur… aku mungkin lebih subur dari si Aseng… Anakku udah empat… Anak dia aja baru dua…”

“Aku sudah menghamili sebelas binor itu, Jek…” potongku.

“Amangoi (Alamak)… Sebelas kou bilang?!” kaget Kojek. Ya benar, sobat Ambyar. Sudah sebelas binor yang kuhamili. Aida, Yuli, Pipit, Iva, Dani, kak Sandra, Ratih, Mila, Suli, Miranda dan Vony. Mungkin nanti menyusul Andini dan Karina juga. Aku mengangguk berulang-ulang untuk meyakinkan mereka berdua. “Wiih… Sebelas, bah…”

“Ada beberapa kemungkinan… Si pembisik ini memang mengarahkan binor-binor ini murni untuk menolong mereka dengan perantara kau, Seng… Mungkin kau dianggapnya sudah jaminan mutu langsung bunting itu semua binor abis kau entup…” Iyon langsung menyambar mengutarakan kemungkinan pertama.

“Kalo ini kejadiannya… bisa-bisa nantinya makin banyak yang datang ke kau, Seng… Makin banyak tempek binor yang kau rasain… Makin banyak binor yang kau buntingi… Teruuuus aja gitu sampe nanti kau gak sanggup ngentot lagi… Memang banyak perempuan di luar sana yang payah bunting…”

“Binikmu gak termasuk?” tanya Kojek lebih ke pertanyaan satir.

“Kimak! Diam kao dulu…” maki Iyon.

Kami, aku dan Kojek tertawa karena tau kenapa-kenapanya. Kami tau alasan kenapa Iyon sampe sekarang hanya punya satu anak dari istrinya, belum nambah-nambah. Bahkan abah Hasan gak tau masalah ini.

“Kemungkinan lain… Sebagai pengalih perhatian… Ini yang berbahaya… Kau mau dibuat terlena dengan keadaan ini, Seng… Membuatmu gak awas lagi dan dilakukannya sesuatu di belakangmu… Membokongmu dari belakang… Entah apa itu… Jadi kau sibuk aja trus dengan kegiatan enak-enakmu ini dan tiba-tiba ada sesuatu yang terjadi… Misalnya kucingmu disantetnya sampe mati…” usung Iyon akan kemungkinan kedua. Masih bagus ia membuat contoh kucingku yang dikerjai, bukan anggota keluargaku. Karena aku gak melihara kucing.

“Ish… Amit-amit, Yon…” aku mengusap-usap dadaku membathin sekaligus berdoa agar bukan itu rencana individu yang belum jelas keberadaannya ini.

“Ada kemungkinan lain… Karena kau keenakan trus dapat binor-binor itu dan jadi gak persiapan matang… Ada satu dua yang berulah ato variasinya affair-mu terbongkar sampe ke kuping orang rumahmu… Berantakan, kan? Boom!” Iyon membuat gerakan seakan ada sesuatu yang meledak. Ini seperti yang ada di dalam realitas palsu itu. Kalo ada di dunia pararel, masa depan itu mungkin yang kejadian padaku dan keluargaku.

“Itu yang kejadian di realitas palsu buatan oppung itu, Yon… Kejadiannya di masa depan… Anak-anakku sudah pada besar dan rusak semua… Aku sudah cere dengan orang rumahku… Itu-itu mengerikan…” ungkapku. Iyon dan Kojek hampir bersamaan bersandar ke jok mobil yang mereka duduki. Muka keduanya juga ketat. “Kalian… kalian ngalamin kek gitu juga?” tanyaku menebak dari ekspresi mereka berdua.

Kojek meneguk ludah. Lehernya yang kurus terlihat jelas gerakan jakunnya turun naik. Pandangannya kosong. Gak kurang ekspresi yang mirip-mirip ditampilkan Iyon. Ia menatap jauh ke hadapan. “Abis itu aku gak selera lagi sama perempuan itu…” kata Kojek. Mungkin maksudnya si Sarah itu. Ia gak kunjung mau menceritakannya.

“Itu yang bisa kupikirkan apa yang mungkin kejadian… Entah kalo ada kemungkinan lain aku gak bisa memikirkannya…” tutup Iyon hanya memandang ke depan.

“Udah sebelas, Seng?… Anakmu nanti entah berapa…” kata Kojek.

***

Setelah percakapan itu, Iyon mengantar Kojek balik ke rumahnya di Porsea dan mengakhiri petualangan kami. Mobilku masih parkir di depan rumah. Aku menunggu salah satu ART sadar kalo mobilku ada di depan.

Lebih baik nanti pagar rumahku ini kupasangi pembuka otomatis aja jadi aku gak harus ngerepoti siapa-siapa kalo pulang terlambat kek gini. Bisa jadi nilai jual juga bagi yang nyewa nanti.

Gerbang rumah Karina di depan sana terbuka. Ia melambai-lambai padaku. Aku buka pintu mobil begitu ia meletakkan sesuatu di depan sana. Itu HP, baju dan dompetku dalam sebuah bungkusan plastik. Sebenarnya aku tak berpakaian saat tiba pertama kali di Bahama, bertelanjang dada. Aku dipinjami baju Kojek yang saat ini kupakai. Kuambil bungkusan plastik itu. Karina sudah masuk lagi ke rumahnya dari tadi.

“Halo?”

“Bang Aseng? Bang Aseng kemana tiba-tiba hilang gitu aja? Karina takut banget…” tanya perempuan itu begitu kuhubungi dia.

“Ada sedikit masalah, bu Karina… Tapi udah beres, kok… Ibu langsung pulang abis itu, kan?” tanyaku balik.

“Iya, bang… Saya bingung dan takut banget bang Aseng kenapa-napa… Saya gak tidur semalaman ini nungguin bang Aseng muncul… abis HP sama dompet sama pakaian bang Aseng ketinggalan semua di hotel… Saya gak tau harus nanya kemana… Gak mungkin saya ngubungin rumah abang, kan?” jawabnya masih ada nada panik di suaranya. Bagus dia tau cara main di game panas ini.

“Ada sedikit masalah ini, bu… Di Bahama kemaren… kenal sama yang namanya Paul ato Abigail?” tanyaku mencoba korelasinya.

“Paul? Abigail? Kenal, dong… Bang Aseng tau darimana nama itu? Ada apa, bang?” tanyanya mulai panik lagi.

Aku lalu menjelaskan apa yang telah terjadi. Usaha penyembuhan yang dilakukan Paul pada dirinya secara diam-diam. Bentrok dengan usaha serupa yang akan kulakukan. Karena menganggap aku sebagai gangguan asing, aku ditarik ke Bahama untuk dikenakan Koro agar tak bisa mencelakai Karina.

Karina lalu menceritakan kalo selama berlibur kesepiannya di Bahama, ia cukup akrab dengan keluarga Paul dan Abigail. Ia seperti menemukan keluarga baru di sana. Ternyata selama itu, ia menjalani pengobatan diam-diam juga.

“Mm… Begitu, yaa… Tapi semua sudah selesai, bu Karina… Sudah tidak ada salah paham lagi, kok… Sudah clear… Jangan singgung ini lagi kalo berhubungan dengan mereka…” kataku lega semuanya sudah berakhir dengan baik.

“Trus… gimana, bang Aseng?” ini mirip desakan karena urusan dengannya belum selesai. Apalagi kami berdua sama-sama kentang.

“Kita jadwal ulang lagi ya, bu… Gak boleh lama-lama… Nanti saya kasih tau waktunya…” kataku mengakhiri percakapan kami ini. Ini karena mataku sudah semakin pedas dan ngantuk berat juga. Misnan, tukang kebun dan water treatment kolam rumah membukakan pintu gerbang untukku. Ia baru saja tiba untuk mulai kerja.

Waktu setor muka ke istriku, ia merengut tapi tak bertanya. Ia mengikuti aku yang menuju kamar mandi. Aku tau apa yang dicarinya. Tapi dia tidak menemukan aroma alkohol atopun aroma mencurigakan lainnya karena bukan untuk alasan itu aku gak pulang semalaman.

Aku mengatakan padanya untuk tidur sebentar sebelum pergi ke kantor nanti. Box tidur Salwa kosong yang berarti anakku sudah diurus baby sitter-nya. Aku bisa tidur di kamar ini tanpa gangguan. Aku gak perlu sarapan saat ini, hanya perlu tidur.

“Lecek kali muka lu, Seng?” lirik kak Sandra waktu kuserahkan beberapa laporanku padanya.

“Kurang tidur lu?” tebaknya. Mungkin mataku merah.

Aku tadi udah mencoba teknik deep sleep. Berhasil sih tanpa gangguan mimpi apapun tapi itu gak mengurangi gayutan banyak pikiran yang mengendap di kepala.

“Cuma banyak pikiran aja, kak…” jawabku mengambil kembali laporan itu.

Menumpuknya dengan kerjaan baru yang dilegasikan padaku. Perhatianku teralih karena Tiwi datang menghampiri kami dan menyerahkan sebuah benda padaku.

“Apa nih, Wi?” terimaku benda berbentuk undangan.

“Datang ya, bang… Undangan kawinan Tiwi itu, bang…” katanya kek biasa, agak kekanakan.

Memang ini ada namanya tercetak di undangan pernikahan. Pratiwi Wulandari & Sebastian Pratama.

“Yakin kau mau kawin, Wi? Udah bisa masak belom kau?” tanyaku menggodanya.

“Ish… Sepele kali abang… Pande awak masak, ya…” katanya menarik bibir atas mencemooh guyon gitu.

“Masak aer…” sambung kak Sandra.

“Masak mie…” sambungku juga.

“Ish… Cici… Pande awak masak-loh… Besok awak bawak’in masakan awak… Tengok aja…” katanya sesumbar kalo ia bisa masak.

Aku dan kak Sandra ragu omongannya mengingat gimana karakter anak gadis satu ini yang kadang masih kekanakan dan kolokan. Ia bergegas ke meja kerjanya, googling sana googling sini trus ngeprint satu resep masakan; nasi goreng. Aku dan kak Sandra tertawa tak bersuara.

“Apa sih? Sepele kali?” gerutunya kheki.

“Wi-Tiwi… Kawin itu bukan cuma masalah pesta nikahnya aja… Kau udah siap bangun pagi nyiapin sarapan untuk lakikmu? Nyuciin bajunya?… Nyetrikain bajunya?… Belom lagi kalo nanti kau hamil kek kak Sandra ini… Bentar-bentar muntah… Lemes… Gak keurus lakikmu… Jadi kalo sekarang masih gadis aja semua yang ngerjain itu tadi mamakmu… Wasalam-la ceritanya… Pulang lakikmu ke rumah mamaknya… Jamin abang…” kataku memberinya sedikit nasehat pedas tentang realita pernikahan.

Dinasehati begitu bukannya nerima malah merengut kekanakan khasnya, jalan menghentak keluar ruangan, merajuk ceritanya. “Itu nanti kakak resign… awak harus terus make dia jadi asisten ya, kak?”

“Terserah lu…” kata kak Sandra cuek hanya geleng-geleng kecil aja balik ke pekerjaannya.

Kok tahan kak Sandra kerja dengan orang kek gitu? Padahal perfeksionis gini kak Sandra dihadapkan dengan seorang asisten yang kontra-produktif. Apa karena memang gak kerjaan kantor yang dikerjakan Tiwi, ya? Hanya bantu-bantu aja ngerjakan hal gak penting di luar kerjaan administrasi. Semua kerjaan itu dilakukan kak Sandra sendiri tanpa bantuan asistennya.

“Sori ya, bu Karina… Jadi melar kemana-mana waktunya? Bu Karina belum mulai masuk kerja?” tanyaku.

“Belum… Saya ambil cuti 14 hari… Lusa baru masuk kerja kembali… dan itu langsung mengajukan surat pengunduran diri…” jawabnya lebih rileks malam ini.

Ia santai aja membuka semua pakaiannya hingga hanya meninggalkan pakaian dalam berwarna peach senada bra-CD-nya hingga ia seperti sudah telanjang tak berpakaian lagi. Ini hotel yang berbeda dari yang kemarin malam agar tak mencurigakan. Tapi masih di seputaran lokasi yang sama hingga masih bisa terlihat lapangan milik instansi militer itu.

“Biasanya ada jeda sebulan sebelum saya benar-benar berhenti untuk menyiapkan pengganti saya…” ia melepaskan bra-nya sendiri dengan menjangkau ke belakang punggung. Sepasang susu kenyal itu terpampang jelas lagi dihadapanku. Bulat indah dengan puting besar berlingkaran aerola besar juga sudah menegang.

“Pas lagi hot-hot-nya… bang Aseng hilang menghilang begitu aja kemarin malam… Gak ada masalah lagi harusnya kan, bang Aseng?” ucapnya lalu menggerai rambutnya yang dari tadi diikat. Hanya sebuah celana dalam mini berwarna peach yang masih merekat di tubuh indahnya.

“Harusnya gak ada, bu Karina… Kemarin itu ada salah paham aja sama Paul… Udah beres!?” kataku menangkap satu gerakan kecil di tepian geraian rambutnya.

Seperti ada tangan yang bergerak di belakang sana, mengelus rambut panjangnya… Bergerak-gerak dengan pelan memainkan helai rambut Karina. Karina merasakannya juga dan ia tak berani bergerak dan bersuara.

Cepat-cepat aku menangkap sebelah kanan tangan Karina, menariknya tapi seperti ada sesuatu yang merangkul lehernya. Sesuatu yang tak terlihat. Dari betotan yang terjadi, aku beranggapan ada tangan yang mengalungi leher Karina dari belakang sebelah kiri melintangi dada ke kanan dan mencengkram bahu kanannya. Menahan tubuh perempuan itu agar tidak lepas dari cengkramannya.

Setan apa lagi ini?!

Kulayangkan sebuah pukulan memutar ke belakang kepala Karina yang pucat ketakutan. Tinju kiriku membentur sesuatu yang tak kasat mata di belakang sana. Seperti mengenai wajah seseorang. Kulit leher dan bahu Karina secara ghaib seperti sedang ditekan sesuatu.

Kuraih apapun itu untuk melepas cengkraman mahluk apapun itu dari tubuh Karina. Bentuk tak terlihat itu seperti tangan yang kurengut untuk menjauh. Leher Karina kutepis menjauh dari tubuh tak terlihat itu.

Cerdik ia berpindah ke belakangku untuk berlindung. Aku masih memegang, memelintir tangan kurus mahluk tak terlihat ini. Kutendang, ke arah yang kuprediksi adalah bagian rusuknya. Terdengar suara mengeluh.

Kutarik sprei ranjang hotel dan kujaring ia dengan kain itu. Bentuk mahluk itu terlihat dengan jelas sekarang. Tingginya lebih dariku sekitar 180-190 cm-an gitu. Lengkap dengan kepala, tangan kaki.

Kutendang mahluk yang tak terlihat itu lagi di bagian kepalanya hingga ia terbanting ke dinding Timur kamar. Ia berusaha berdiri dengan suara terengah-engah. Kain sprei masih membungkus tubuhnya.

Mahluk ini kurang pandai berkelahi hanya mengandalkan kemampuan tak terlihatnya untuk beroperasi. Panik ia berusaha melepaskan kain sprei yang membalut tubuhnya.

“SHRAK!!” dua sisi kain sprei terkoyak seperti ada sepasang sayap yang terkembang dari tubuhnya.

Ia berhasil berdiri dan mengenyahkan pembungkus tubuhnya. Tapi masih ada cabikan kain sprei yang menempel hingga aku tau kemana ia bergerak, ke arah jendela! Dibukanya jendela sorong dengan cepat dan melompat keluar. Kukejar ke arah jendela. Karina mengikutiku lebih karena takut.

Di kegelapan malam ia menon-aktifkan kemampuan menghilangnya karena aku bisa melihat sosok tubuhnya yang bersayap. Sayapnya tidak dipakai untuk terbang, melainkan hanya untuk mengambang turun seperti parasut. Ia mengarah pada lapangan luas milik instansi militer itu. Hanya di tengah lapangan yang terang dan disekelilingnya gelap. Dia bisa menghilang disana. Cepat aku berbalik dan memeriksa Karina.

“Apa-apa itu tadi, bang?” tanya Karina masih syok akan pertarungan singkatku tadi. Aku memeriksa sekujur tubuh Karina yang hampir telanjang. Apakah ada tanda-tanda sesuatu yang telah dilakukannya pada perempuan ini. Gigitan misalnya…

“Siluman kelelawar…” bisikku masih memeriksa cermat tubuhnya.

Aku gak boleh meninggalkan satupun bagian tubuhnya tak terperiksa. Aku menghadapinya hadap-hadapan setelah ia membiarkanku melakukan visual check barusan. Tak ada luka yang terjadi di fisik Karina yang putih mulus yang artinya mahluk itu belum sempat melakukan apapun padanya.

“Vampir, bu Karina…” kataku memperkirakan mahluk apa yang kami telah hadapi tadi. Aku harus berfikir cepat sebelum mahluk itu berhasil mendarat di lapangan. Aku harus segera membasminya segera.

“Pakai baju sekarang… Turun ke lobi dan tunggu awak di sana…” aku sudah menghunus mandau Panglima Burung. Karina melotot melihat senjata tajam yang kupegang.

“Sekarang!” aku langsung naik ke jendela.

Aku gak menunggu lagi Karina memakai lagi pakaiannya. Mampos! Ini lantai 7 hotel ini ketika aku mencondongkan badanku keluar dari jendela masih berpegangan pada tepian jendela. Tinggi kali ini, makjang! Tapi aku harus buru-buru. Dan gak mikir panjang aku asal lompat aja ke arah parkiran hotel. Tubuhku melayang jatuh. Vampir itu melayang turun hampir mendarat sekitar 5 meteran lagi. Biar dia aja yang mampus!

“Pedang Selatan Memupus Angin…” aku membelakangi arah jatuhku dan menghadap ke dinding hotel yang baru kutinggalkan.

Tebasan jurus pedang Selatan ini menghantam dinding solid hotel meninggalkan sebuah luka menganga. Efek tebasan ini menyebabkan aku yang minus pijakan kuda-kuda terdorong cepat menyusul vampir yang melayang turun itu.

Kurapatkan kedua tanganku agar lebih cepat meluncur. Arah proyeksiku sudah tepat. Aku akan mendarat di punggungnya yang bersayap lebar dengan bahan kulit tipis untuk menahan laju terbangnya.

“BRUGGH!!” keras aku menubruk tubuhnya.

Lajuku berkurang dari yang meluncur 100 km/jam sampai berhenti sama sekali. Aku melenting menjauh karena ketinggian mendarat sudah aman. Lain halnya dengan mahluk pukimak satu itu, tubrukan barusan membuatnya langsung mencium tanah dengan telak.

Tubuhnya terseret-seret di tanah dengan kepulan debu tebal. Sial baginya tanah lapangan sangat kering dan keras saat ini. Lapangan yang kerap dijadikan venue konser musik atau acara seremonial ini berlantai tanah berumput jarang.

Tubuh vampir itu menggeliat-geliat mengenaskan karena ada beberapa bagian tubuhnya yang patah. Tangan dan kakinya sangat kurus agar dapat terbang meluncur dengan mudah. Tapi vampir ini bentuknya sangat berbeda dari yang pernah kutemui sebelumnya, hanya sayapnya yang berwarna hitam berbulu halus seperti kelelawar. Tubuhnya yang lain masih seperti kulit manusia yang berwarna putih pucat. Mulutnya berdarah dengan nafas tersengal-sengal dari dada kurusnya.

Dengan ujung mandau-ku kutolehkan mukanya agar aku bisa melihat wajahnya.

“Anak mana kau?” tanyaku tentu mengancamnya.

Kalo ia gak mau jawab, jaminan kepalanya lepas dari badannya. Air mata mengalir dari bentuk mata hitam legamnya.

“Anak mana kau?” ulangku lagi masih berbaik hati. Kalo gak dijawab juga, abis dia. Mukanya masih ada fitur manusianya, sepertinya orang asing. Bule.

“Pardonne-moi… Merci… Merci…” suaranya keluar tapi ngomong apa dia? Mearsi? Mersi? Mercy? Mau pamer mobil mercy dia? Gak tau dia kalo di Indonesia sini mercy cuma jadi bus pariwisata. Keknya ini bahasa Prancis ato apa gitu.

“Speak English! I don’t speak France…” (Ngomong Inggris! Aku gak bisa ngomong Prancis) kudorong pipinya dengan sisi mandau-ku agar menghadap padaku. “Or better speak bahasa…” (Atau lebih baik pake bahasa Indonesia aja)

“Ampyuun… Ampyunn…” ia bisa ngomong Indonesia rupanya. Bagus. “Chère soeur…”

“WHUFFT!” terasa angin kencang mengincar belakang leherku yang refleks kutangkis dengan mengayunkan sisi tajam mandauku membentur apapun serangan yang menyasarku.

“PRAKK!!” Sekelebat aku melihat mahluk yang hampir identik dengan yang meringkuk di tanah, menyerangku dengan kakinya yang berkuku tajam lalu nge-blitz hilang. Ada sedikit perbedaan dengan yang sudah kulumpuhkan ini. Kutoleh ke belakang, vampir yang di tanah itu juga hilang. Hanya ada kepulan debu tipis bekas gerakan penyelamatannya.

“Kimak-la!… Ada dua vampirnya… Ada-ada aja-pon masalahnya!… Mau ngentoti binor aja sampe dua kali terganggu kek gini…” gerutuku menebas-nebas angin dengan senjata tajamku.

Ah… Aku harus cepat-cepat kabur dari tempat ini. Ditangkap aparat pulak nanti aku bawa-bawa sajam kek mau tawuran. Pengendara kendaraan bermotor udah pada berhenti ngeliatin aku yang kek orang gila marah-marah sendiri.

Aku harus menyusul Karina yang menungguku di lobi hotel. Takutnya dia diculik mengingat gerakan vampir kedua itu sangat cepat. Selama aku mengejar vampir pertama, aku tidak tau bagaimana keadaan Karina yang kusuruh pergi ke lobi hotel.

Lari kek kesetanan aku memasuki lobi hotel. Beberapa orang hampir kutabrak karena maunya buru-buru aja. Mataku jelalatan mencari bentuk binor cantik yang sudah dua kali gagal kugagahi. Aku panik tak menemukan dia dimanapun di lobi hotel ini. Di sudut dekat front office gak ada. Di kursi-kursi tempat tamu biasa menunggu tak ada. Kemana dia…?

Apa diculik vampir-vampir itu? Kimak! Kimak!

“Bang Aseng…” aku langsung menoleh dan itu dia. Langsung nyess… dadaku lega.

Gak pernah aku selega ini ngeliat binor bukan binikku di tempat umum begini. Hampir aja kupeluk dia kalo gak ingat-ingat pandangan banyak orang di lobi hotel ini. Kimak klen! Mau ngentot jugak-nya klen di hotel ini. Cuma dalam hati aja aku ngedumelnya. Kutarik Karina keluar dari hotel ini. Menjauh sejauh-jauhnya.

“Gimana ini, bang?” tanya Karina masih takut.

Tentu aja dia takut dan patut takut. Vampir-vampir itu masih ada di luar sana. Entah ada berapa jumlahnya karena aku baru bertemu dua dan sepertinya keduanya saling bekerja sama. Mungkin keluarga ato kelompok gitu.

“Karina pulang dulu… Gak aman ada di luar sini…” kataku mengarahkannya ke parkiran mobil.

Aku melirik ke atas hotel. Bekas tebasan jurus Pedang Selatan Memupus Angin membekas di dinding berupa koyakan lebar memanjang merompalkan lapisan semen hingga dalam. Kalo semua vampir itu punya kemampuan menghilang tak terlihat seperti vampir pertama itu, mereka bisa aja ada di sekitarku. Karina mengendarai mobilnya sendiri sementara aku mengawasi keadaan.

“Tadi saya ngeliat salah satu tetangga kita di blok YY… Makanya saya ngumpet takut ketauan dia…” ungkap Karina selagi nyetir.

Makanya tadi aku kesulitan menemukannya di lobi. Bagus dia ngeliat orang itu duluan jadi bisa inisiatif ngumpet agar gak ketahuan ketemuan di hotel dengan lelaki lain. Bisa-bisa jadi gosip yang mengerikan kalo kesebar.

“Siapa?” aku masih jelalatan ngawasin keadaan.

Aku jadi sangat parno saat ini. Kilasan lampu terang dari arah sebaliknya sering kukira serangan lawan. Apalagi lampu jalan yang berjejer rapi di tepian. Mataku jadi sensitif sekali.

“Rumahnya di belakang rumah bang Aseng… Bule Prancis…” jawabnya. Sontak aku berpaling padanya.

“Orang Prancis?” ulangku dengan muka ketat.

***

Kimak memang ini para siluman dan demit dan setan-setan semuanya! KIMAK KLEN SEMUAA!! Rutukku sangat kesal kali…

Dua kali… Dua kali aku dibuat kentang kek gini. Yang pertama okelah salah paham… Tapi yang kedua ini jelas siluman! Segala macam vampir dan teman-temannya di luar negeri sana.

Kalo di sini itu kriterianya masuk ke siluman karena ada campur tangan mahluk ghaib yang mempengaruhi tubuh dan kesadaran mereka hingga berubah menjadi mahluk kegelapan bernama siluman kelelawar ini.

Di Indonesia sini juga ada banyak jenis siluman kelelawar kek vampir ini. Macam-macam lelaku dan tujuan mereka dalam berubah menjadi siluman ini. Tapi tetap sejenis, siluman kelelawar.

Siluman kelelawar ato vampir ini suka menandai korbannya untuk dihisap darahnya. Untungnya Karina belum sempat digigit dan dihisap darahnya. Hanya saja ia sudah ditandai dan ditarget oleh vampir itu.

Vampir terkenal sangat ulet untuk menguber mangsanya. Kalo gagal hari ini, akan dicoba lagi besok dan besoknya lagi. Kuanggap rata-lah prilaku vampir yang berasal dari Prancis ini. Gagal malam ini akan dicoba lagi besok.

Aku sudah melukai satu dari vampir itu dan setidaknya ada tiga vampir yang kini kuhadapi kalo benar bahwa tetangga belakang rumahku, bule Prancis yang tinggal di sana adalah benar-benar vampir.

Dari keterangan Karina yang sudah lama tinggal di sini, keluarga bule Prancis itu sudah setidaknya tiga tahun ini menetap di rumah itu. Mereka jarang keluar di siang hari dan hanya kelihatan ba’da Maghrib. Ada tiga orang penghuni rumah itu dan tanpa pembantu. Ada satu perempuan tua, satu perempuan muda dan satu pria muda.

Perempuan tua? Perempuan tua itu yang pernah kulihat berjemur matahari di belakang rumahnya hanya memakai sempak. Ia bisa berjemur matahari dengan aman, itu berarti dia bukan vampir. Vampir tidak bisa terkena sinar ultraviolet matahari karena ia bisa terbakar sebab kulitnya sangat sensitif. Berarti hanya ada dua vampir. Dua vampir bersaudara…

Trus ngapain dua vampir bule tinggal di negara tropis kek Medan, Indonesia tercinta ini. Apa mereka ngira bisa mendapatkan mangsa mudah di sini? Gak tau mereka kalo di sini udah terlalu banyak urban legend yang lebih serem daripada vampir-vampiran? Serem mana pocong daripada vampir? Tunggu dulu… Gak pernah pulak aku dengar ada kasus kematian karena kehabisan darah tiga tahun belakangan ini.

Vampir kan makanan utamanya darah? Apa mangsanya gak disedot sampe abis darahnya? Dilepas lagi sempoyongan kek orang mabuk gitu? Berarti selama ini mereka memanfaatkan para gembel dan gelandangan yang ada di kota ini untuk dipanen darahnya secara periodik. Dengan tipu daya uang dan makanan akan sangat mudah menjerat mereka.

Aku mengikuti mobil Karina yang menuju pulang ke rumahnya. Aku tepat ada di belakangnya mengekor lekat. Sepanjang perjalanan, aku konsentrasi penuh pada keadaan sekitarku. Spion tengah, kanan-kiri bolak-balik kupelototi sampe bosan.

Kepalaku juga kukeluarkan beberapa kali untuk memeriksa bagian atas. Jantungku berdegup kencang terus dari awal hingga akhir. Aku parno separno-parno-nya karena lawan bisa sewaktu-waktu menyerang dengan keuntungan bisa terbang melayang turun dengan sayap tak sempurna mereka.

Sayap siluman kelelawar biasanya berbentuk sempurna hingga bisa digunakan terbang dengan baik. Tapi itu untuk variasi jenis siluman kelelawar tertentu karena aku pernah juga bertemu jenis kelelawar yang gak bisa terbang sempurna seperti vampir barusan.

Yang bisa terbang biasanya sayapnya tumbuh melekat di sepanjang tangannya. Jari-jarinya memanjang memperkuat bentuk sayap itu seperti bentuk kelelawar sejati. Siluman kelelawar/vampir yang kuhadapi kali ini sayapnya terpisah ato otonom sendiri makanya kurang kuat untuk dikepakkan mengangkat tubuhnya agar bisa airborne. Hanya cukup menahan laju jatuhnya seperti tupai sugar glider itu.

Akhirnya sampe juga di depan rumah Karina dan kutunggu sampe betul-betul masuk ke dalam. Aku gak membekali Karina apa-apa seperti menyiapkan bawang putih ato pisau perak karena semua itu bullshit alias taik lincung. Akan kupenggal dua vampir itu untuk membasminya. Itu cara yang paling efektif.

Aseng: masuk kamar kunci semua tutup jendela gorden

Karina: baik bg

“Diing doong! Diing doong!” aku memencet bel rumah tetangga belakang rumahku itu.

Lampunya memang sengaja dibuat redup berbeda dengan rumah-rumah lain yang terang benderang kek pohon Natal. Kupencet berulang-ulang tapi tak ada yang kunjung keluar. Seperti tak ada kehidupan di dalam rumah ini. Apa dua vampir bersaudara itu belum pulang ke rumah ini? Apa dia masih melakukan pengobatan pada vampir yang terluka itu? Seharusnya masih ada perempuan tua yang pernah kulihat berjemur itu.

Saat akan kupencet bel itu lagi, pintu itu terbuka. Wajah perempuan tua itu nongol di sana berteriak “Calmez-vous! Je ne suis plus jeune… Les enfants de nos jours…” ia merepet-repet ntah hapa-hapa yang dibilangnya.

Gelap-gelap kondisi malam gini si pe’a bangkotan itu malah pake kaca mata hitam bundar model The Beatles gitu. Memang sinting keluarga bule satu ini. Padahal waktu berjemur itu tahan dia gak pake kacamata hitam. Ia berjalan dengan normal walo ia sudah terlihat uzur di 60-an tahun. Tak bungkuk ato jalan kaki melebar khas orang tua. “Qui êtes vous?”

Blas aku gak ngerti ngomong apa nenek ini. Pake bahasa Inggris dialek aneh dikit aja aku bisa nyengir, ini dia pake bahasa Prancis. “Where’s your son?” (Dimana anak laki-lakimu?) lupakan tata krama dan aku langsung nanya dimana anak laki-lakinya. Mungkin itu malah cucunya.

“Mon fils? My son?” mata birunya menyipit menyelidik.

“C’est toi qui l’as blessé… Mon Josue… Agnès! Quelqu’un vous attend! Agnès!!” teriaknya.

Kalo dia berteriak-teriak begitu, itu artinya dua orang itu ada di dalam. Aku bersiap-siap menghadapi serangan tapi nenek tua itu malah membuka gerbang untuk membiarkanku masuk. Ini gawat! Berbahaya masuk ke dalam sarang vampir sendirian di waktu malam. Aku tadi sangat emosi sehingga langsung aja menyatroni tempat ini tanpa pikir panjang.

“Entre…”

Nenek tua itu memberi kode agar aku masuk. Ragu dong. Di-gangbang pulak aku nanti di dalam sana. Walo sejago apa jurus Mandalo Rajo ditambah mandau Panglima Burung plus bakiak Bulan Pencak, aku masih tiba-tiba gak pede untuk masuk. Mentalku masih harus diasah lagi keknya agar sekuat baja dan seteguh batu karang. Tapi instingku mengatakan ini bunuh diri namanya. Aku harus membawa bantuan setidaknya. Aku harus bawa teman ke dalam sana. Gak boleh sendirian.

“Come in you, lad… You’ve been expected, pour l’amour de Dieu!” cerocos nenek itu lagi.

Sebuah kepala nongol lagi dari balik pintu itu. Seorang wanita muda. Apakah itu yang bernama Agnès? Satu dari dua vampir yang sudah sempat clash singkat denganku di lapangan militer tadi. Ini vampir yang kedua.

Perbedaan yang kudapat dari kedua vampir itu, yang berkelamin cewek ada gundukan lebih besar di dadanya yang kurus, yang satunya rata. Ia terlihat ragu untuk beberapa saat, matanya berputar-putar berpikir dan menimbang. Ia lalu melebarkan pintu utama rumah yang redup itu untuk mempersilahkanku masuk.

Aku sebenarnya masih ragu-ragu untuk masuk tapi kedua orang itu sudah membukakan kedua pintu ini. Instingku lalu berkata ‘Let’s go! Tapi hati-hati, Seng!’ Aku melangkah masuk dengan muka ketat dan otot mengeras penuh vitalitas jikalau sewaktu-waktu diperlukan. Keawasanku kutingkatkan ke tingkat maksimal dan semua senjata andalanku kusiapkan begitu dibutuhkan. Rumah ini benar-benar gelap.

Gorden yang menutupi jendela juga dipilih dari bahan yang berwarna hitam untuk menapis semua cahaya terang yang mungkin masuk di siang hari. Bentuk rumah ini persis sama seperti rumah yang ditinggali Vivi dan Benget tanpa ada renovasi ruang apapun sehingga aku lebih familiar dengan tata bentuknya.

“Anda yang telah melukai adikku tadi…” ada suara yang muncul dari belakangku, berputar secara tidak wajar dan sekarang ada di depanku. Itu wanita tadi.

Berwajah khas Eropa, kulit pucat dan rambut pirang dan bermata biru. Ia memakai gaun putih longgar tanpa lengan dan rok panjang sampai mata kaki. Perempuan ini bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Pasti sudah lebih dari sekedar tinggal di Indonesia saja kegiatannya.

“Aku tidak akan minta maaf karenanya…” jawabku tak gentar. Tak ada tambahan siapa-siapa lagi di tempat ini selain mereka bertiga.

“Adikku hanya mau mencicipinya sedikit!” berangnya marah dan bergerak maju dengan mudah. Mulutnya terbuka memamerkan taring yang mencuat di sudut mulutnya.

“Silahkan… Ini bukan dari perak. Tapi pasti bisa memenggal kepalamu dengan mudah…” aku sudah mengacungkan mandau Panglima Burung menghentikan laju gerakannya.

Ia berhenti tepat di depan hunusan senjata tajamku. Matanya membelalak bingung dari mana senjata ini muncul karena sedari tadi aku bertangan kosong. Kilau bersih bahan logam mandau Panglima Burung seperti punya sumber cahaya sendiri yang membuatnya berkilau di tempat redup minim cahaya ini.

Nenek-nenek itu terkesiap kaget tapi tak berani bersuara ato bergerak sedikitpun. Sedikit banyak ia tentunya tau apa yang terjadi di tempat ini.

“Fais attention, soeur…” dari sebuah kursi yang berputar muncul seorang pria muda yang duduk tak berdaya dengan tangan dilibat perban dan digantung dilehernya. Ini pasti yang telah mencoba menggigit Karina di dalam kamar hotel tadi. Dia yang punya kemampuan untuk menghilang itu.

“Anda mematahkan tangannya dan meretakkan tulang keringnya juga…” kata sang kakak tak urung membuatnya mengendur. Kaki pria muda itu juga diperban ternyata. Ini pasti diobati sendiri karena semua bebatan perbannya sangat kasar.

“Sukak ati klen kalo mau nyari makan di sini… Tapi kalo udah menyinggung teman-temanku… Abis leher klen kubuat!” kuacungkan mandau itu pada pria itu juga lalu kembali ke vampir perempuan itu.

“Saya hanya mau mencicipinya sedikit… Dia sangat menggoda…” kata sang vampir pria.

“Josue! Diam!” sergah si perempuan yang tadi disebut Agnès.

“Chère soeur… C’est un homme dangereux…” kata si Josue. Kimak memang orang-orang ini make bahasa yang aku gak ngerti.

“E-eh… Klen kalo ngomong pake bahasa yang kumengerti…” songongku make kekerasan agar keinginan dan kebutuhanku sedikit terpenuhi.

“Mon frère… Adik laki-lakiku… gak bisa menahan dirinya dari wanita itu… Aku sudah melarangnya… Perempuan itu memang sangat menarik bagi kami… Ada sesuatu yang mengundang dari dirinya yang kami tidak paham… Saya sendiri sebenarnya juga mau mencicipi tapi saya berhasil menahannya… Adik saya tidak…” jelas si Agnès.

“Mengundang?” pikirku. “Apa klen gak tau ada lubang besar di perutnya?” tanyaku mencoba pengetahuan mereka tentang Karina. Apa yang mengundang mereka berdua pada Karina? Apakah karena lubang besar laknat sisa si setan Kuyang itu? Walo ngobrol begini, mandau Panglima Burung tetap kuacungkan siap menebas kapan saja.

“Lubang besar?” ulang Agnès dan Josue.

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22