The Baby Maker Part 7

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22

Cerita Sex Dewasa The Baby Maker Part 6 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya :The Baby Maker Part 6

 

“Udah… Udah beres masalah Kuyang-nya…” kataku laporan pada sepasang sahabat Vivi dan Benget di rumahnya pagi ini. Aku merasa wajib memberitau mereka tentang kabar agar mereka gak khawatir Nirmala mendapat serangan mengerikan itu lagi.

“Syukurlah…” lega Vivi mendengar info ini. Begitu juga Benget yang mengusap-usap muka ngantuknya.

“Tapi ini cukup diantara kita bertiga aja… Jangan sampe ada orang lain yang tau kalo ibu Karina itu dulunya adalah Kuyang…” lanjutku.

“Kenapa, bang?” tanya Benget keliatan gak rela. Vivi memukul tangannya karena dianggapnya gak sopan.

“Sekedar menjaga nama baik aja, Bens… llmu Kuyang itu turunan dari nenek moyangnya dulu… Dia turunan ketujuh… Kuyang itu juga ternyata memakan semua janinnya sehingga ia gak pernah punya anak sampe sekarang… Selalu keguguran tiap hamil…” jelasku lebih lanjut mengharap empati mereka.

Sebab hanya mereka pihak yang tau kasus ini selain aku. Kunci berhenti tersebarnya ghibah ini ada pada mereka berdua. Aku gak bisa membayangkan reaksi para keluarga yang telah menjadi korban keganasan Kuyang sebelum ini.

Membelalak lebar mata mereka berdua mendengar penjelasanku barusan. Vivi sampe harus menutup mulutnya.

“Ihh… Iya, bang? Minta maaf-lah aku, bang… Gak tau aku, bang…” si Bens menoleh ke sohibnya minta dukungan.

Vivi juga mengangguk-angguk setuju dengan permintaan maaf sohibnya. Lagi-lagi si Benget mengelap mukanya yang tak berkeringat tanda menyesal.

“Makanya… ini jadi pelajaran juga buat klen… kalo ada apa-apa yang gak klen pahami… jangan lari ke dukun… Gak ada manfaatnya… Tambah runyam idop klen dibuatnya… Sesat apalagi… auto masuk neraka klen dibuatnya…” kataku sok menggurui.

Ini kan nasehat dari orang yang sudah membantai dukun-dukun sesat itu. Udah berapa dukun yang kuhabisi? Minimal kucabut kesaktiannya. Banyak kali.

“Eh… Makanlah… Udah capek-capek aku beliin lontong… gak klen makan pulak…” kataku mengeluarkan tiga bungkus lontong sayur berlauk telur bulat sambal dan perkedel. Benget sigap masuk ke dalam dan mengambil piring, sendok, gelas dan teko air.

Kami nikmati sarapan pagi di halaman rumah Vivi bertiga sambil ngobrol lagi. Selesai sarapan di sana, aku pulang ke rumahku. Rio ternyata lagi sarapan di pinggiran kolam. Ia bersiap akan berenang lagi abis sarapan ini. Baby sitter yang mengurusnya merayunya agar mau makan potongan sosis yang jadi menu sarapan paginya selain telor ceplok.

“Abang… Abisin sarapannya… Kalo gak abis gak boleh mandi kolam…” kataku beserta ancaman larangan.

Dengan mulut manyun ia melahap potongan sosis yang disodorkan padanya. Istriku senyum-senyum aja melihat tingkah anak pertama kami itu. Aku yang bergabung di pinggir kolam ini juga disodori menu sarapan oleh tukang masak kami berupa sosis goreng dan jus jeruk. Padahal perut dah kenyang makan lontong di tempat Vivi barusan.

“Mama udah sarapan?” tanyaku celingak-celinguk bingung mau dikasih ke siapa menu sarapan ini. Istriku udah sarapan dari tadi bersamaan dengan Rio dan udah selesai. Dia tau gelagatku.

“Abisin-lah, pa… Sapa suruh sarapan di luar tadi…” sindir istriku. Tiara, si baby sitter juga senyum-senyum ngeliatin bingungku sambil menyuapi Rio potongan sosis lagi. Anak bungsuku belum bangun.

“Udah kenyang, maa… Tirr… Udah sarapan belom? Nih…” tawarku menyodorkan piring menu sarapanku padanya. Ada 3 potong sosis gede-gede, dua buah telor ceplok, dan dua buah strawberry dibelah. Jus jeruknya cuma kuicip sedikit.

“Gede-gede nih… Pasti enak…” kataku gak bermaksud apa-apa.

“Saya udah tadi, pak…” jawabnya menunjuk piring kosong miliknya. Ia meneruskan menyuapi Rio yang masih ngunyah-ngunyah sosisnya. Porsi sosis milik Rio kecil-kecil.

“Panggilnya ‘bang’… Jangan bapak… Ngerasa tua nanti dia…” kata istriku yang sudah cukup akrab dengan Tiara selama beberapa hari ini karena bergantian ngurusin Rio dan Salwa.

Tiara selalu memonitor baby-watch miliknya siapa tau Salwa udah bangun dari tidur. Kamera CCTV portabel mungil khusus untuk mengawasi bayi, perangkat khusus yang menjadi salah satu perangkat kerjanya. Dia sudah dilatih secara profesional untuk tugasnya ini. Gak salah kalo digaji mahal.

“Eh… Iya, bang… Udah tadi… Kak… Salwa-nya udah bangun… Saya ke atas dulu, ya?” ia lalu menyerahkan piring sarapan Rio pada istriku untuk menyiapkan kebutuhan Salwa yang siap menyambut hari.

Istriku meneruskan piring sarapan Rio juga padaku dan ia menyusul Tiara. Potongan besar sosis milikku kuangsurkan ke mulut Rio. Si babang ganteng melotot matanya ngeliat sosis segede itu dicocol ke mulut kecilnya. Ia kabur dan langsung nyemplung ke kolam karena dari tadi sudah siap cuma make sempak. Jadilah aku cuma ngegerogoti sosis segede itu pelan-pelan sampe abis. Kata mamak, makanan jangan dibuang-buang. Mubazir.

Rumah sebesar ini penghuni utamanya hanya kami berempat yang notabene hanya memakai dua kamar saja. Aku, istriku dan Salwa tidur di kamar yang sama, sedang Rio mulai mau tidur sendiri. Ada beberapa kamar lagi di rumah ini dan kosong melompong.

Untung aja ada beberapa ART yang meramaikan rumah ini jadi sedikit mengisi kelowongan yang ada. Tiga ART yang umurnya sepantaran; tukang masak bernama bu Murni, tukang cuci-gosok bernama bu Iyem, dan tukang bersih-bersih bernama bu Lastri, tinggal di kamar basement.

Bu Iyem dan bu Lastri bersaudara dan tinggal sekamar. Sedang Misnan si tukang kebun merangkap water treatment kolam tidak tinggal di sini. Pagi-pagi dia datang dan sore pulang karena rumahnya tak jauh di luar komplek.

Sedang Tiara si baby Sitter juga tinggal di sini bareng bu Murni, hanya saja Sabtu-Minggu ia libur dan pulang ke rumah orang tuanya di daerah Tembung. Istriku sempat menawarkan salah satu kamar kosong untuk Tiara pakai tapi ditolak dengan alasan takut tidur sendirian. Kadang ia juga tidur di kamar Rio.

Rumah banyak kamar ini, yang tadinya disewa orang Arab itu dipakai beramai-ramai oleh sekitar 8 orang pekerja yang bekerja di satu perusahaan swasta. Aku dapat cerita dari Misnan.

Mereka ditempatkan disini sudah 3 tahun oleh biro jasa karena pengalaman mereka yang pernah bekerja di Timur Tengah jadi sedikit banyak bisa bahasa Arab untuk meladeni para tenant rumah waktu itu. Kadang bu Murni juga memamerkan keahliannya memasak makanan khas Timur Tengah, hal yang coba dipelajari istriku.

***

“Mobilnya gak pa-pa ditinggal di sana?” tanya Karina menyetir mobilnya perlahan merayap di belakang antrian kendaraan lain yang berusaha menerobos lampu lalu lintas yang baru berganti hijau.

“Gak pa-pa…” jawabku santai aja.

Aku duduk di sampingnya memperhatikan jalanan malam. Pada orang-orang yang beranjak pulang ke keluarganya masing-masing. Sementara aku tidak. Mobil Karina semakin menjauhi SPBU dimana kutinggalkan Pajero-ku disana.

Ia baru saja menjemputku dari galon BBM itu. Aku langsung masuk ke bagian penumpang begitu mobil sedannya berhenti dan pintu terbuka. Tak lebih dari beberapa detik saja semua itu berlangsung. Hendra mungkin kebingungan nanti menemukan mobilku diparkir disitu tapi orangnya entah dimana.

“Mau kemana dulu?” tanya Karina tanpa melihat padaku. Ia berkonsentrasi agar tak terjadi apapun di jalan ini. Penerangan di wajahnya berasal dari pendar lampu speedometer di depannya.

“Terserah Karina aja…” jawabku. Aku terbiasa pulang telat. Istriku sudah mahfum kesibukanku. Kumanfaatkan sebaik mungkin.

“Makan dulu, ya?… Karina juga belum makan malam…” tawarnya.

Aku mengangguk setuju. Ia mengarahkan mobilnya terus melaju ke salah satu bagian kota Medan yang ramai di waktu malam dengan berbagai macam sajian makanan. Tak lama mobilnya memasuki parkiran sebuah restoran seafood yang cukup terkenal.

Untuk jaga-jaga akan hal yang tak diinginkan, kami memasuki restoran secara terpisah. Aku langsung menuju ke toilet sementara Karina memesan ruangan private untuk pembicaraan kami. Nomor ruangan private itu lalu dikirimkannya padaku dan aku menuju ke sana.

Aku memesan nasi goreng seafood, semangkuk sup tomyam dan minumnya air mineral aja. Karina menawarkan memesan lebih banyak lagi tapi kutolak karena aku gak bisa makan banyak-banyak.

Takut buncit lagi karena aku sekarang lagi getol-getolnya latihan rutin Mandalo Rajo. Malah Karina yang memesan banyak, segala lobster, udang galah, kepiting, cumi-cumi, kerang. Waduuuh… Enak, sih… Bikin Aseng junior berkokok keras. Tapi kolesterolnya gak tahan, cuy.

Karina melakukan sesuatu di balik pintu, menyusul pelayan yang terakhir mengantar semua makanan ini. Sepertinya ia membalik plang di depan pintu dengan bacaan ‘Jangan diganggu/Do not disturb’. Apalagi ini memang ruangan private yang ingin terpisah dari ramainya pengunjung lain di luar sana.

“Pokoknya bang Aseng Karina traktir makan ini semuanya… Harus dihabisin… Gak boleh sisa…” katanya menunjuk semua hidangan yang mengepulkan aroma sedap berbagai macam bumbu yang membangkitkan selera. Aroma seafood kualitas prima menusuk hidung.

Bisa kental kek odol spermaku abis ini. Itu yang langsung terbersit di pikiranku.

Dipindahkannya sebuah lobster besar asam manis ke piringku. Punggungnya terbelah menampakkan daging putih lembutnya yang disiram kuah bercita rasa eksotis.

“Wah… Awak memang belom makan nih… Tapi gak mungkin-la awak abiskan semua ini…” kataku menghadapi kepulan uap harum lobster asam manis yang langsung masuk ke hidungku.

Menerbitkan seleraku. Melihat semua hidangan ini, aku malah jadi teringat pada istri dan anakku. Aku belum sempat menjamu mereka dengan hidangan seperti ini di restoran luar karena aku sering tak punya waktu karena kesibukan.

“Ha-rus di-ha-bis-sin…” katanya memainkan jari telunjuknya bak bandul metronom tiap penggalan kata memperingatkanku dengan gaya yang cukup bossy.

Tidak mudah membiasakannya kalo attitude-nya itu tak berlaku lagi sekarang. Tidak ada lagi setan Kuyang yang membuat pesona pengasihan yang selama ini melekat di aura persona-nya mempengaruhi cara pandang orang pada dirinya.

Saat ini, orang-orang akan punya pilihan untuk menentukan apa yang patut disematkan padanya. Menurut ato tidak menurut. Setuju ato tidak setuju. Hormat ato tidak hormat. Bos ato kacung.

Sebelas tahun menikmati kemudahan berkat pesona pemikat yang membuat jalan hidupnya menjadi mulus dan mudah tentu melenakannya. Dikiranya itulah potensi sejatinya. Padahal artifisial dan bisa terenggut sewaktu-waktu.

Seperti yang sudah kulakukan setelah menebaskan jurus ‘Pedang Selatan Mengiris Sembilu’. Yang memisahkan setan Kuyang itu dari tubuhnya. Membuang semua kemudahannya selama ini. Meninggalkan satu lubang besar menganga di dalam perutnya, yang sewaktu-waktu juga bisa diisi entitas jahat lain, mengisi ceruk itu menggantikan kejahatan yang lama.

Kusantap dan kunikmati semampunya. Kalo sekedar nyicipin satu jenis makanan tentu aku masih sanggup. Makan lobster tadi tapi cuma sejumput daging lembutnya, seekor kepiting, itupun cuma sebelah capitnya yang lumayan gede.

Sepotong cumi goreng tepung, nasi goreng seafood pesananku pun cuma masuk beberapa suap serta beberapa sendok raupan sup tom yam. Perut udah kek balon rasanya. Ini cocoknya bawak si Kojek kemari. Pasti abis semua ini diembatnya sendiri. Ah… Sahabat-sahabatku. Gak salah kalo aku nanti mentraktir mereka…

“Masih banyak yang sisa, bang Aseng… Abisin, dong?” kata Karina yang sedang menyeruput lemon tea-nya abis menikmati seekor kepiting cangkang lunak saus Padang. Masih ada sedikit sisa saus di ujung bibirnya yang dibersihkannya dengan tisu. Ia mendesakku untuk menghabiskan semua makanan ini. Gak janji…

“Aduuhh, buuk… Udah kenyang kali awak, buuk…” sahutku sembarangan aja sambil duduk selonjor kaki bersandar di kursi.

Satu meja ini penuh makanan laut semua dan aku cuma dalam taraf icip-icip aja. Karina bahkan makan lebih banyak daripada yang aku habiskan.

“Gak sanggup-la awak… Nyerah awak, buuk…” perutku udah sakit karena kepenuhan. Kutarik bawah kemejaku hingga lepas dari dalam celana panjangku, memamerkan perutku yang terasa membuncit kek orang busung lapar.

“Heleh… Masih kempes gitu kok dibilang kenyang, bang Aseng…” kata Karina tertawa-tawa setelah melongok bentuk perutku di antara hidangan yang tersebar di atas meja.

“Eh… He he he… Tapi betul-loh, buuk… Udah sakit perut awak, nih… Betol nih…” kataku menurunkan bukaan kemejaku karena perut dengan pahatan keras dan teratur latihan silat harimau Mandalo Rajo, kelihatan tersingkap.

Bukannya bermaksud pamer perut six pack ke itu binor tapi perutku memang terasa sangat penuh saat ini dengan karbo dan protein plus kolesterol berlebih.

“Ini semuanya enak-enak kok, buuk… Awak cuma jarang-jarang aja makan sebanyak dan seenak ini… Makasih udah ditraktirin kemari… Ini pertama kali awak ke restoran ini…” kataku berusaha duduk dengan tegak lagi. Bersiap untuk omongan serius.

“Heleh, bang Aseng guyon aja… Masa jarang makan beginian… Gak mungkin aja rumah sebesar dan segedong itu pertama kali kemari… Ini mah receh aja kayaknya…” katanya gak percaya. Patut aja ia gak percaya aku merendah begitu kalo ditilik dari mobil yang kukendarai dan rumah yang kutinggali. Kalopun sewa ato rental tentunya harus kalangan berduit yang bisa menjangkaunya.

“Bang Aseng setidaknya seorang General Manager ato bahkan seorang direktur perusahaan… Saya dengar malah rumah itu rumah bang Aseng sendiri…” lanjutnya. Cepat juga kabar beredar di blok YY itu.

“Enggak-loh, buuk… Awak cuma pegawai biasa aja di pabrik…” elakku dan ia terus mendesakku untuk membeberkan semuanya.

Aku gak perlu membangga-banggakan harta yang merupakan pemberian dan kututup mulutku rapat-rapat. Bukan juga kalo ini semua hasil pencarianku trus aku akan koar-koar. Awak gak kek gitu pulak orangnya.

“Gini aja Karina…” aku kembali hanya menyebut nama lagi dengannya dan menghilangkan panggilan sopan ibu ato buk selama berusaha ngobrol akrab tadi.

“Kita fokus ke urusan utama…”

Ia paham dan mengubah pembawaan dirinya agar jadi serius walo masih dikelilingi hidangan harum semerbak membangkitkan selera ini. Kami yang dari tadi duduk berhadap-hadapan di meja besar di ruangan private. Pembicaraan ini rencananya akan kubawa ke taraf semi serius karena urusannya adalah urusan ranjang walopun ada sisi bisnisnya lewat beberapa poin perjanjian, seperti yang kerap kulakukan pada binor-binor lain.

“Bagaimana keadaan Karina sekarang setelah tak ada lagi mahluk jahat itu di dalam tubuhmu? Apakah ada perubahan signifikan? Pandangan orang-orang? Cara orang menanggapimu?” tanyaku pada aspek dasarnya dulu.

Efek yang menakutkannya ada disini. Interaksi sosial setelah ketiadaan entitas pendukung utamanya. Inilah kenapa di mayoritas agama samawi, hal semacam ini dilarang keras karena menduakan Tuhan. Meminta pertolongan selain kepada Tuhan. Jatuhnya ke kafir! Infidel!

Karina terdiam sejenak. Menerawang dan mengingat-ingat seharian ini. Ini adalah hari pertamanya. Day One tanpa setan Kuyang di dalam tubuhnya…

“Rasanya diriku seperti mengambang… Kakiku serasa tidak cecah menjejak bumi kala berjalan… Seperti ada kekosongan yang sangat besar di dada ini…” katanya menekan dadanya yang berkalung. Matanya menatap berkeliling ruangan luas yang harusnya dapat menampung 10 orang ini. “Serasa keberadaanku sudah gak ada lagi…” lalu menunduk pada sisa cangkang kepiting yang sudah kosong. Aku diam dan menunggu kelanjutannya.

“Benar… Sangat kerasa perbedaannya… Hanya dalam satu hari… orang-orang terasa menjaga jarak denganku… Suamiku yang biasa romantis dengan kata-kata manis memuja… Kini seperti jijik melihatku ketika ku berpaling… Bawahanku di kantor secara halus mulai membangkang dengan jawaban menolak yang dibuat-buat… Gak ada lagi bu direktur keuangan yang cantik dan menawan seperti selama ini… Datar dan membosankan… Tak ada lagi senyum sapa akrab terpukau yang biasa menyapa… Hanya anggukan basa-basi tarikan otot pipi untuk sedikit melebarkan mulut…” ia mulai berkeluh kesah. Nafasnya panjang-panjang menatap kosong ke sana kemari mengingat waktunya seharian ini.

Hening untuk beberapa lama karena ia harus merasakan itu semua dan mengingatnya sebagai hal yang seharusnya terjadi tanpa usaha. Apakah aku bisa membangkitkan rasa percaya dirinya lagi untuk meraih itu semua seperti sedia kala.

Aku gak pernah pulak punya sertifikat instruktur sekolah kepribadian untuk mendongkrak rasa percaya perdiri agar menonjol di civil society begini. Sebagai seorang pimpinan sekelas Direktur Keuangan yang penting di institusinya, ia seharusnya punya kharisma dan aura tersendiri yang dapat dipandang para kolega, bawahan apalagi kliennya.

“Sebaiknya Karina bisa memikirkan untuk cuti dahulu… Kembalikan semua mood itu… Semua kepercayaan diri itu… Bangkitkan semua semangat itu… Ini gak mudah… Contohnya awak aja… Ngobrol begini dengan Karina yang keadaannya begini… tentunya akan kurang respect akan status seorang Direktur Keuangan… Bagaimana awak mau invest ato mempercayakan sesuatu pada perwakilan perusahaanmu kalo awak gak bisa percaya dengan orang yang sedang awak ajak bicara ini…”

“Kalo cuma bicara kosong aja… Cuma ngobrol-ngobrol biasa aja… awak ngiranya Karina ini cuma seorang admin kantoran biasa aja di perusahaan itu… Gak mencerminkan apa yang sedang Karina sandang… Keknya itu masalahnya… Yang paling mudah saat ini… cuti… Berliburlah… Lebih baik sendiri…” saranku atas masalahnya.

Dalam situasinya saat ini, malah berbahaya untuk kariernya dan bahkan perusahaannya. Ia bisa menyebabkan kerusakan yang bisa merusak reputasinya yang saat ini ada pada puncak kejayaan.

“Sendirian?” ulangnya. Matanya menyelidik untuk meyakinkan dirinya sendiri.

“Ya… Apa istilah kerennya… Kontrasepsi? Bukan… Kontemplasi?” waduh… Itu kata sulit. Pernah baca di buku pinjaman kak Sandra yang kubaca sekilas-sekilas aja sok ngikutin metode baca cepat.

“Apa tidak sebaiknya Karina resign aja?” malah itu kesimpulannya.

“Resign?” ulangku karena kaget.

Apa rela perempuan ini resign dari pekerjaannya itu. Yang sudah dirintisnya dari dasar, dijejakinya mendaki walo tanpa perjuangan yang berdarah-darah seperti seharusnya. Seperti apa yang sudah dilakukan kak Sandra.

Perjuangannya patut diacungi jempol sebagai peniti karier sejati. Ia merangkak pelan-pelan dari bawah sekali dengan prestasi dan kemampuannya yang murni karena kecerdasan otaknya. Pilihan resign juga yang sama diambil kak Sandra seperti yang disimpulkan Karina.

“Jangan terburu-buru… Makanya awak sarankan berlibur dulu, deh… Cuti seminggu dua minggu, kek… Kalo dalam liburan Karina itu resign adalah pilihan yang tepat… Yang sudah dipikirkan matang-matang… Tidak diputuskan terburu-buru… monggo silahkan ambil pilihan itu…” kataku menghunjuk dengan jempolku kek mau numpang kendaraan.

Karina terdiam lagi mencoba mencerna semua saran-saranku barusan. Menimbang-nimbang mana yang baik diantara terbaik. Walopun selama pengaruh Kuyang, pastinya ada hal yang menempel di kesadaran aslinya. Penilaian dan jam terbang pastinya berpengaruh. “Lalu bagaimana dengan lubang besar yang ditinggalkan setan itu? Cara menutupnya?” ia menatapku tajam karena aku belum menyinggung tentang itu sama sekali. Ia mendengar semua pembicaraanku dengan setan Kuyang itu sebelum aku memutus hubungan mereka berdua tapi tak paham apa maksudnya.

“Yakin mau tau? Nanti Karina syok-loh?” kataku ragu. Aku lebih milih menjelaskan itu di pertemuan-pertemuan berikutnya setelah ia pulang liburan. Pastinya pikirannya lebih rileks, lebih fresh dan lebih terbuka. Lebih terbuka untuk sesuatu yang gila yang sepertinya akhir-akhir ini menjadi spesialisasiku.

“Nanti saya penasaran trus-loh selama liburan… Apapun itu bisa saya pertimbangkan saat liburan nanti, kan?” katanya malah bernegosiasi denganku, terus mendesak agar memberitau maksud ‘menutup lubang besar di perutnya’.

“Begini… Janji jangan kaget dan mikir saya yang macam-macam, yaa?” pastiku terlebih dahulu. Ia mengangguk. Aku berdehem membersihkan tenggorokanku. Minum seteguk air mineral dan menyiapkan diri.

“Di dalam dunia klenik-klenik ini… setan, hantu, demit dan kawan-kawannya… sukanya memang mengganggu manusia… Gampangnya jin jahat deh kita sebut mereka… Ada yang sukanya cuma ngegodain manusia… Ini levelnya cuma level rendahan… Kelas bawah… Menyerap rasa takut manusia sebagai energinya, makanannya… Yang seperti Kuyang ini ada di level lebih tinggi di atasnya karena mampu mempengaruhi manusia untuk menghambakan diri padanya… Tentu saja dengan imbalan dan janji-janji manis duniawinya…

Pengasihan, kekayaan, kekuatan, apa saja bisa… Tipu daya jin di level ini biasanya ada beberapa tingkatan lagi… Ada yang jangka pendek ada yang jangka panjang… Kuyang yang pernah bercokol di tubuh Karina ini adalah jangka panjang… Masalah apakah setan Kuyang pada keturunan pertama adalah Kuyang yang sama pada Karina itu tidak jadi soal karena mereka ahlinya tipu daya… Bisa aja mereka berganti-ganti karena mereka bisa dengan mudah berbagi informasi… Bukan hal sulit bagi mereka…

Ini masih perandaian… Kuyang pada generasi pertama sampai pada generasi keenam benar-benar hanya mencari makan di luar sana… Jadi si setan Kuyang itu murni hanya mencari bayi… darah nifas, anak kecil untuk makanannya di luar dari keluarga intinya… Tetangga ato orang-orang kampung… Tapi… saat jatuh di Karina… ia juga memakan bayi-bayimu… karena ia tidak perlu menjaga keberlangsungan menurunnya ilmu sesat ini di keturunanmu kelak… Dimakanlah bayi-bayi malang itu… hal yang sama sekali tak dilakukannya terdahulu pada nenek moyangmu…” kataku panjang lebar.

“Sampai sini paham, ya?” tanyaku. Ia mengangguk.

“OK… Setelah setan Kuyang itu kulepas dari tubuh Karina… Ia meninggalkan satu lubang besar di dimensi tubuh Karina… Lubangnya tak kasat mata karena hanya mata bathin yang bisa melihatnya… Posisinya di sini…” kutunjuk titik Solar Plexus di bawah dadaku di antara pertemuan katupan tulang rusuk kanan dan kiri.

“… trus ke bawah… Sampai sini…” tunjukku ke bawah pusar sekitar tiga buku jari disatukan. Lalu kulakukan gerakan berputar membuat lingkaran imajiner perumpamaan lubang besar itu.

“Lubang ini menyerap semua energi hidup dari Karina yang menjaganya tetap eksis… walo gak cukup untuk menjadi sumber makanan bagi si Kuyang selama ini… Lubang ini secara anatomi sangat dekat dengan rahim Karina hingga ia dengan mudah menyantap semua bayi-bayimu… tanpa pembatas…”

Mimiknya berubah jijik mendengar penjelasanku di bagian ini. Wajar dia sangat membenci si Kuyang pukimak itu. Semua bayi yang sangat diharapkan dan dinantinya sirna karena ulah setan culas itu.

“Nah… Sepeninggal Kuyang itu… lubang tetap ada… Tertinggal di posisi yang sama seperti selama ini… Saat inipun… lubang itu masih ada di tempat yang sama… Lubang ini menjadi sasaran empuk bagi jin-jin jahat lainnya yang menginginkan posisi strategis ini untuk berbagai macam kepentingan mereka… Bisa apa saja maunya mereka… Menutupnya adalah jawaban logis, kan? Sebenarnya begini… menutup lubang ini hanya bisa dilakukan oleh yang telah membukanya… Si setan Kuyang itu yang membukanya dia pula yang bisa menutupnya… Tapi dia sudah kumusnahkan… Jangan tanya caranya… Pokoknya dia sudah musnah…” aku hampir mencapai pada inti masalahnya.

“Jadi gimana cara menutupnya kalo si setan yang membukanya sudah musnah? Dalam hal klenik begini… kata-kata terakhir si setan Kuyang tadi bisa dijadikan acuan… Wasiat… Sebuah wasiat… Kata-kata wasiatnya adalah… ‘Bibit dari tuan akan menyegel lubang besar itu untuk selama-lamanya… Bukan begitu, tuan ber-mandau Panglima Burung?’… Itu adalah wasiatnya… Tuan ber-mandau Panglima Burung yang dimaksudnya adalah awak sendiri… Nah… awal kalimat ini yang agak susah awak menyampaikannya kepada Karina karena sangat vulgar sekali…”

“Teruskan aja, bang Aseng… Saya sudah menangkap esensinya…”

“Esensinya?… ‘Bibit dari tuan akan menyegel lubang besar itu untuk selama-lamanya’… Vulgar karena bibit yang dimaksudnya adalah air mani awak… Sperma awak… Hanya sperma orang yang mengalahkannya yang bisa menutup lubang besar itu untuk selama-lamanya…” tutupku dengan sangat mencengangkan sekali. Aku ragu-ragu menyampaikan ini semua sebenarnya tapi meluncur begitu. Sudah terucap. Tak ada yang perlu disesali.

Karina bersandar di kursinya dan memandangiku. Aku gak bisa menilai ekspresinya karena kepalaku sendiri terasa panas.

***

Aku sedikit bernafas lega setelah Karina mengabarkan kalo ia mengambil cuti selama dua minggu dan pergi berlibur sendirian. Ia tidak menyebutkan liburan kemana tapi itu bukan urusanku.

Setelah diskusi kami di restoran seafood itu, pembeberan beberapa fakta mencengangkan tentang kondisi tubuhnya secara supranatural. Ada lubang besar menganga di perutnya bekas tempat tinggal setan Kuyang yang sudah kumusnahkan.

Kata-kata wasiat terakhir setan itu mensyaratkan bahwa satu-satunya cara menutup lubang itu yaitu dengan menggunakan sperma orang yang telah mengalahkannya; yaitu aku.

Karina berusaha tenang mendapatkan informasi itu. Informasi gila yang gak masuk akal. Tapi aku sudah mewanti-wantinya di awal karena dunia klenik ini memang gila dan jauh dari kata waras. Apalagi pemain besarnya adalah para jin jahat yang sukar diprediksi apa maunya.

Kuyang itu kalo tidak ditangkap menggunakan kandang ayam bekas anjuran sang Panglima Burung pastinya akan memberikan perlawanan sengit. Tentunya ia gak akan mau melepas mangsanya tanpa memberi perlawanan terlebih dahulu.

Sudah nyobain makan di restoran seafood mahal bareng binor, aku lalu memboyong keluargaku makan di tempat yang sama. Sak-sak semua ART dan baby sitter kuboyong makan di sana. Senang rasanya membagi kebahagiaan bersama mereka.

Tanpa ada batasan atasan dan bawahan kami makan bersama menikmati hidangan mahal yang dulu hanya bisa kunikmati kalo ditraktir bos besar saat Imlek ato ulang tahunnya. Aku juga berencana melakukan hal yang sama pada karyawanku di SPBU nanti, berbagi kebahagiaan.

Proses renovasi rumah kami di dalam gang daerah Mabar masih terus berlanjut. Pemborong bangunan rutin melaporkan progres pembangunan padaku. Kadang aku juga singgah sebentar sekedar liat-liat mana tau ada yang perlu direvisi ato aku mau nambah-nambah ide juga.

Seperti yang sedang kulakukan sore ini di hari Sabtu sehabis pulang kerja. Aku sudah sampai di depan rumahku yang keadaannya masih kupak-kapik berantakan karena banyak bagian bangunan yang dibongkar, dirubuhkan, dilubangi dan macam-macam. Istriku sama sekali gak mau liat rumah dalam keadaan ini karena ia malas berurusan sama debu-debu tebal pembangunan.

“Mbak… Ini orangnya, mbak…” kata seorang kenek bangunan junior yang sedang beres-beres membersihkan peralatan pertukangan.

Ia sepertinya ditinggal sendirian oleh tukang lain karena mereka sudah cabut dari tadi. Mereka gajian tiap Sabtu jadi pulang lebih cepat. Bingung tepatnya aku… Ada apa? Siapa?

Seorang perempuan muncul dari balik tumpukan batu bata dan pasir yang menumpuk di halaman rumahku. Apa dari tadi ia di balik sana. Ia ragu-ragu mendekat padaku. “P-pak Aseng?” tanyanya ingin memastikan.

“Ya… Siapa, ya?” aku coba mengingat-ingat tapi aku gak ingat pernah kenal dengan perempuan satu ini.

“Maaf, pak… Nama saya Andini… Sengaja saya mencari bapak jauh-jauh dari Siantar untuk minta tolong…” katanya sedikit terbata-bata.

Pastinya ia sudah melatih kata-kata ini dari jauh-jauh hari. Pada saat ketemu malah nyangkut-nyangkut. Dari Siantar? Cukup jauh… Minta tolong? Nyari kerja mungkin…

“Minta tolong apa, mbak? Kalo bisa awak tolong—awak tolong-la…” kataku sambil menaksir-naksir tubuh dan perawakan perempuan yang cantik ini.

Entah udah berapa lama ia menungguku di sini. Udah digodain tukang-tukang genit itu dari tadi mungkin. Tingginya standar cewe Indonesia, 150-155 cm gitu-la. Tubuhnya sedikit berisi kalo bisa dikatakan montok.

Rambut lurusnya agak coklat kemerahan di-cat. Ia memakai kaus ketat turtle neck yang menonjolkan sepasang gumpalan gemuk di baliknya. Kulitnya putih dengan paras manis cantik berpadu satu.

“Keluarga saya berantakan, pak… Suami saya pergi dengan perempuan lain… Kata dukun pertama saya datangi… suami saya dipelet perempuan itu… Dukun kedua bilang juga begitu… Sampai empat dukun saya datangi… Itu semua yang mereka bilang… suami saya dipelet… Tapi mereka gak bisa menangkal pelet itu, paak… Tolongin saya, pak…?”

“Wow… wow… Kok ceritanya pelet-pelet… Tunggu dulu… Awak bukan dukun, mbak… Apa aku ada potongan kek dukun, ya? Udah necis gini kek pengusaha muda kok masih dikira dukun… Naseeeb-naseb!” aku ngedumel sendiri menghentikan berondongan kisah perempuan itu. Aku cuma bisa geleng-geleng kepala. Aku dah bisa mengira-ngira ini akan bermuara kemana agaknya.

***

Perempuan ini datang langsung dari Siantar menumpang bus AKAP sampe terminal Amplas, naik angkot Morina trayek 81 dan turun di simpang Mabar lalu menaiki becak dayung sampai ke dalam gang rumahku ini.

Padahal seumur hidupnya ia belum pernah ke Medan sendirian apalagi tau seluk beluk jalanan kota Medan beserta bahayanya. Di kota besar manapun, model perempuan nekat seperti ini sering jadi korban kejahatan jalanan apalagi casing-nya menawan serupa ini. Minimal dicolek preman terminal.

Pastinya ada hal yang sangat urgent sampai ia memberanikan diri melakukan semua kenekatan ini. Berkelana di kota Medan untuk menemukan seorang pria bernama Aseng.

Kenapa dia gak sampe di jalan Thamrin tempat acek-acek tukang DVD bajakan? Kenapa dia gak sampe ke Marelan tempat koko-koko tukang jualan HP? Ato kenapa dia gak nyampe di perumahan Tasbih jalan Setia Budi sana di rumah seorang pengusaha kayu tripleks? Malah mblusuk dan sampe ke Mabar, ke rumahku yang sedang direnovasi? Untung aku lagi menjenguk rumahku ini.

Kalo enggak, bisa kuciwa dia gak ketemu tujuannya.

“Kukira bapak eh abang Cina betulan, bang… Rupanya bukan… He he he…” dan lagi-lagi terulang kembali.

Udah terlalu sering. Aku membawa si Andini ini jauh sampe ke Simpang Dobi dan berhenti di salah satu warung bakso. Warung bakso ini lumayan rame sore ini karena pengunjungnya hampir penuh. Ada yang lagi pacaran, keluarga, sampe bubaran karyawan pabrik. Kami yang duduk berdua harus rela empet-empetan di bangku kayu berbagi dengan dua pengunjung lain.

Keliatannya si Andini sudah cukup lapar karena ia mengganyang porsi bakso miliknya cepat-cepat hanya sekali tiup. Padahal kuahnya masih panas kali. Bakso bulat-bulat itu hanya dibelahnya dua langsung diembat. Mihun putih pilihannya disedot rakus. Sisa kuahnya diseruput pake sendok hingga tandas. Aku baru makan satu buah bakso, dia sudah selesai.

“Pesan lagi Dinn…?” tawarku.

Ia hampir mengangkat tangannya untuk memanggil pelayan untuk pesan lagi lalu tersadar kalo itu cuma basa-basi. Ia tertunduk malu.

“Iya… pesan aja… Bang… bang? Satu lagi di sini…” pesanku pada seorang pelayan yang hilir mudik sigap membawakan satu nampan berisi empat porsi bakso pesanan pengunjung lain.

Hampir semua meja-bangku panjang di warung bakso ini penuh oleh pengunjung yang menikmati bakso andalan mereka. Sang pelayan sigap mengangguk.

“Gak pa-pa, Dinn… Lapar kali keknya awak tengok… Belom makan siang?” tanyaku menyodorkan mangkok baksoku padanya, bercanda. Tentu ia tolak.

Ia berdehem pelan agak jaim dikit. Ehem.

“Iya, bang Aseng… Takutnya kalo Dini pergi dari rumah abang nyari makanan… abang datang… kita jadi selisihan jalan…” jawabnya. Bisa jadi.

“Kalo awak gak datang-datang?” tanyaku. Kemungkinan itu ada, kan?

“Dini coba besoknya lagi…” katanya.

“Kenapa gak minta nomor awak sama mandor di situ tadi?… Ada nomor awak sama dia…” kataku. Mandor yang mengawasi pekerjaan merangkap pemborong tentu aja punya nomor kontakku.

“Tadi mandornya udah pergi waktu Andini sampe, bang…” jelasnya.

Oh… Udah pulang duluan dia. Pesanan bakso ronde kedua Andini datang dan kubiarkan ia makan dengan tenang tanpa pertanyaan. Kali ini ia makan lebih pelan dari yang tadi. Kami habis hampir berbarengan.

“Kita ngobrolnya di mobil aja ya, Dinn… Gak enak ngobrolnya rame gini… Kek orang pekak (budeg) awak jadinya treak-treak…” ajakku.

Ia setuju dan kubayar semua makanan dan minuman yang sudah kami santap. Duduk di dalam mobil, aku menghidupkan AC dan radio dengan suara lirih saja. Alunan lagu 90-an mengalun dari stasiun radio kegemaranku.

Bernostalgia sedikit teringat masa lalu. Di kursi tengah ada sebuah travel bag berisi semua barang-barang bawaannya. Nekat sekali perempuan ini datang ke kota ini. Sudah sedemikian putus asanya dia?

“Coba lanjutin lagi Dinn dari… dukun-dukun itu gak bisa menangkal semua ilmu pelet itu?” mintaku begitu semua sikon sudah mendingan. Perut Andini sudah kenyang, lingkungan tertutup, udara sejuk-nyaman, ada musik 90-an. Lengkap.

“Syurrp…” ada cemilan juga.

Minuman kotak sama jajanan. Ini orang kok kek masih anak-anak, ya? Ia menyeruput susu kotak yang lazim dikonsumsi anak-anak. Rio juga senang susu coklat itu. Tarik nafas bentar,

“Kata dukun-dukun itu… ilmu pelet yang dipakai perempuan itu sangat tinggi… Orang Batak bilang namanya Begu Ganjang… Dukun terakhir… yang keempat yang Dini datangi sebenarnya pun punya Begu Ganjang juga… tapi kalah sama Begu Ganjang perempuan itu, bang…” jelasnya. (Begu Ganjang, Begu: hantu. Ganjang: panjang/tinggi. Begu Ganjang: hantu tinggi.)

Pelet tingkat tinggi memakai Begu Ganjang? Begu Ganjang ini kerap dimiliki oleh praktisi supranatural masyarakat etnis Batak. Biasanya dipakai sebagai pesugihan, penjaga dan juga pembunuh. Serem? Tentu.

Dahulu sewaktu masyarakat Batak yang mayoritas petani dan peladang melengkapi sawah ladang mereka dengan penjagaan Begu Ganjang ini. Balasan berat akan didapat oleh orang berani mencuri di tempat yang ditongkrongi Begu Ganjang tentunya hingga mengakibatkan kematian.

Bentuknya tinggi, berbulu lebat, rambut panjang, wajah menakutkan, seperti genderuwo di kebudayaan Jawa. Satu fitur yang membuat setan ini mendapatkan nama Begu Ganjang adalah reaksi orang yang melihat hantu ini akan mendongak semakin tinggi dan naik ke atas. Semakin dilihat ke atas ia akan semakin tinggi juga memanfaatkan rasa takut dan kaget korbannya.

Tempat tinggalnya biasanya puncak-puncak pohon. Jadi secara teori, jika bertemu hantu ini, menunduk! Ia akan mengecil. Kalo perlu tengkurap, ia akan seukuran semut. Itu teorinya…

Pelakor itu memakai pelet dari Begu Ganjang? Kok jadi ragu aku mendengarnya. Karena belum pernah pulak kudengar Begu Ganjang bisa memelet. “Jek? Lagi dimana kou, Jek?” telponku pada sahabatku itu. Pasti dia bisa memberiku sedikit pencerahan.

Dia kan ‘Gerobak Pasir’ alias Gerombolan Batak Payah Diusir. Ia gak lama-lama mengangkat sambungan telponku. Di background suaranya terdengar ‘oink-oink-oink’ suara pinahan-nya berisik.

“Oop, Seng? Apa kabar, kedan? (kawan) Apa cerita?” sahutnya disana.

“Kao pernah dengar Begu Ganjang bisa melet?” tanyaku.

“Begu Ganjang bisa melet?… Ya bisa-lah… Kan panjang kali lidahnya itu… Muee…” jawabnya. Pasti dia sedang menjulurkan lidahnya di Porsea sana.

“Kimak kou, ya!… Serius aku nih nanya? Belum pernah dengar aku soalnya kalo Begu Ganjang bisa untuk memelet orang… Kuperbaiki tuh pertanyaannya…” aku hampir ketawa mendengar jawaban selalu guyon dari sahabatku itu.

“Ah… Kao… Asik itu-itu aja yang kao urus… Perempuan mana lagi itu?” tebaknya jitu kali. Bisa tau dia kalo ini ada hubungannya dengan perempuan yang ingin kutolong. “Kukasih tau si boru Jawa, mampos kao…” ancamnya.

“Ishh… Kek gitu kali lae-ku ini?.. Abis ini makan-makan kita… Ada bisnisku sikit untukmu… Jawab dulu…” rayuku ditambah ada penawaran menarik untuknya. Pasti Kojek gak bakalan bisa menolak ini.

“Eh… Apa-apa?” dia udah antusias duluan mendengar penawaranku ini.

“Iya-lah… Tau aku… Bisa… Bisa aja dipake untuk melet itu Begu Ganjang… Namanya juga begu (hantu/setan)… Apalagi dia dikasi makan sama yang melihara… Ada kudengar dukun sok jago di Tanah Jawa sana yang biasa melet untuk pasiennya pake Begu Ganjang…” ujarnya disana mengutarakan apa yang diketahuinya.

Tanah Jawa adalah satu nama daerah di Kabupaten Simalungun, beberapa kilometer jauhnya dari kota Pematang Siantar. Disebut sebagai Tanah Jawa karena pada jaman penjajahan banyak dihuni oleh pekerja paksa yang dibawa dari Jawa untuk menanam teh dan karet. Korelasi yang diberikan Kojek tentang dukun di Tanah Jawa sangat cocok dengan kasus Andini ini yang berasal dari kota Siantar.

“Oo… Makasih-la, Jek infonya…” kataku manggut-manggut.

“Makan-makannya kapan, Seng?” desak Kojek jauh disana.

“Nanti kukabari… Dah, ya?” langsung kuputuskan sambungan telponku dengannya.

Pasti disana dia sedang memaki-maki HP-nya. Aku lalu beralih kembali pada Andini yang duduk disampingku memperhatikan kegantenganku yang hakiki. Ternyata ia memang sedang memandangiku yang baru selesai telponan dengan sahabatku.

“He he hehe… Dinn? Kek gitu kali nengoknya? Awak jadi salah tingkah nih…” kataku sok imut gitu.

“Ganteng kali awak, yah?”

“Syuurp…” ia gak menjawab. Hanya menyeruput susu coklat kotaknya dengan sedikit senyum.

“Gimana cara bang Aseng membantu Andini, bang?” tanyanya setelah melepas sedotan kecil susu kotak itu dari mulutnya.

“Begu Ganjang itu serem-loh, Dinn… Andini pernah ngeliatnya langsung langsung, gak?” kataku membelokkan arah pembicaraan sedikit.

“Lagipula…” kukoreksi arah dudukku hingga bersandar di pintu mobil dan menghadap padanya.

“… kenapa Andini jauh-jauh datang dari Siantar sana… nekat-nekatan datang ke Medan… naik bus… naik angkot… naik becak langsung ke gang rumah awak?… Tau ke rumah siapa yang dituju? Gimana tau nama awak? Banyak kali ya pertanyaanku?” jariku sampe habis untuk dihitung untuk poin pertanyaanku ini.

“Nekat kali Andini awak, bang?” tanyanya malah jadi pertanyaan balik yang bodoh.

Sudah segede ini dan sudah menikah pula, kenapa jadi begitu cerobohnya melakukan perbuatan nekat kek gini. Tau-nya dia nyari dukun di seputaran Siantar, kenapa malah ke Medan?

“Ish nekat kalipun… Awak aja kalo gak ada urusan penting malas kali awak sampe terminal Amplas sana… Ini… aduuuh… Gak dicolek-colek preman Amplas sana kau tadi? Gak dikompas (palak, dimintai duit), kan?” tanyaku malah khawatir. Padahal kenal aja enggak.

“Enggak, bang… Andini pun heran juga… Kok nekat kali awak? Awak belum pernah ke Medan sendirian kek gini… Biasanya ke Medan rame-rame sama keluarga naik mobil… Gak pernah ke terminal-terminalnya… Ini awak bisa ke terminal Amplas naek bus dari Siantar… naek angkot Morina 81… naek becak dayung sampe ke rumah abang karena ada yang nuntun, bang…” jelasnya merinci rute perjalanannya yang kalo orang Medan sini itu rute biasa aja karena seharusnya memang itu rute tercepat.

Tapi bagi pendatang seperti Andini pasti akan kesulitan tanpa ada yang mendampingi. Cewe secantik Andini ini pasti akan rentan untuk dimanfaatkan orang-orang yang tak bertanggung jawab.

“Ada yang nuntun?” aku gak menemukan siapa-siapa yang menemaninya. Apa langsung pergi begitu sampe rumahku?

“Bukan dituntun kek orang buta gitu, bang…” ia menghalau angin seperti akan memukulku untuk membantah tebakanku. Aku gak mikir gitu.

“Ada yang ngasih tau… Naek bus yang ini… jalan keluar terminal… cari angkot Morina warna biru nomor 81… berhenti di simpang tiga ini… tawar becak dayung itu ke gang di dalam sana… itu gang-nya… itu rumahnya… Gitu, bang Aseng…” rinci lagi caranya melakukan semua kenekatan itu.

“OK dituntun dikasih tau… Mana dia orangnya? Keknya Andini gak ada ditemani siapa-siapa…” aku gak terlalu perduli pengulangan caranya naik berbagai kendaraan itu hingga sampai mencapai rumahku siang tadi. Aku hanya mau tau siapa orangnya yang telah mengarahkannya padaku.

“Cuma kedengaran suaranya aja, bang…” jawabnya ringan.

Aku terhenyak rapat ke pintu mobil.

***

Kalo dibawa ke rumah sakit jiwa, Andini ini mungkin akan didiagnosa kena Schizoprenia. Delusional Disorder mungkin, gerot ato geger otak parah, senget ato pesong. Segala macam kegilaan yang mungkin menjadi makanan sehari-hari para dokter jiwa di sana.

Gimana mungkin ia membiarkan ada suara-suara ghaib di telinganya memberitaunya untuk pergi dari kota Siantar ke kota Medan dengan segala macam moda transportasi sampe tepat sampe ke rumah seseorang yang tepat bernama Aseng untuk minta tolong karena lakiknya dipelet perempuan lain? Segila apa itu? Kalo jaman sekarang ini mungkin ada GPS yang bisa mengarahkan semua itu dengan presisi, tapi waktu itu belom secanggih itu teknologinya.

Orang internetan aja masih itil… ilang-ilang timbul teknologi 3G-nya.

“Dukun itu ngasih Begu Ganjang-nya untuk menuntunmu sampe kemari?” tebakku.

Aku yang sudah lama berkubang di dunia supranatural hanya bisa menebak sampe segitu aja. Panas kepalaku mendengar kasus membingungkan kek gini. Inilah sebab aku gak ada potongan jadi dukun. Aku sering gak sabaran merangkai teka-teki yang sering membuat ruwet silang sengketa yang menjadi asal muasal masing-masing kasus.

“Hiiih…” Andini bergidik geli campur takut kalo Begu Ganjang yang telah menuntunnya hingga sampe bisa menemukanku.

Aku tiba-tiba ingat dan tepok jidat. Plok!

Aku sampe kaget memahami kelebatan ide yang masuk ke benakku. Aku tertunduk lesu…

“Kenapa, bang?”

“Suara menuntunmu itu bilang kalo awak bisa membantumu menyembuhkan suamimu yang dipelet… dan ujung-ujungnya awak Andini minta untuk menghamilimu, kan?” kataku pelan-pelan dan menatapnya sebisa mungkin. Gimana kalo ide ini salah?

“He he hehehe… Kok tau, bang… Abang dikasih tau juga, ya? Dibisiki…?” katanya tertawa-tawa kecil kek ini bukan masalah besar. Aku tepok jidat lagi.

Anehnya kepalaku udah gak panas. Apa karena khayalanku yang telah menelanjangi Andini hingga keliatan semua harta karun yang ada dibalik semua pakaiannya ini. Mendadak panas lagi membayangkan putingnya yang kelihatan di pucuk toge lembut itu.

“Cobak-la kasih tau semua ceritanya… Awak mau dengar semuanya… Sini HP-mu dulu… Mau liat?” ia patuh dan menyerahkan HP BB mahalnya.

“Bukain pin-nya dulu…” hendak kubalikkan HP-nya untuk membuka password yang memprotek gawai itu.

“Pin-nya 123456 aja, bang…” infonya. Ba-ba-ba-bah! Kok paok kali pake pin itu.

Itu yang pasti dicoba maling duluan kalo sudah berhasil mendapatkan gawai ini. Ini cewek… bener-bener, ya?

“Ceritanya itu kek gini bang awalnya…” Andini menceritakan kisah hidupnya yang kudengar sekilas-kilas aja karena aku sedang memelototi galeri fotonya.

Jadi dari foto-foto ini aku bisa menyimpulkan kalo Andini ini anak orang kaya di daerah Siantar sana.

Digabung dengan kisah ceritanya kalo suaminya ini adalah saudara jauh keluarganya sesama pemilik ladang sawit yang luas berhektar-hektar di sana. Mereka pacaran dan menikah gak lama setelah tamat SMA. Tiga tahun lebih menikah dan tak kunjung dikaruniai anak. Klise… Aku sudah sering sekali mendengar cerita kek gini akhir-akhir ini.

Benar… Para binor yang sudah kuhamili rata-rata kisahnya seperti ini. Karena gak hamil-hamil, sang suami yang bernama Heri mulai berulah. Ia mengenalkan seorang janda beranak satu yang diakuinya sebagai kakak angkat pada Andini.

Sempat mereka jalan-jalan bareng sampe ke danau Toba dan sekitarnya. Hubungan terlarang itu mulai terendus Andini karena seperti Heri gak menutup-nutupi kemesraannya dengan janda muda itu. Heri semakin tenggelam dan tenggelam sampe jarang pulang.

“Terakhir ia pulang Jumat kemarin, bang… Awak berusaha menahannya supaya dia gak kemana-mana… Awak serpis dia abis-abisan… Tapi pergi jugak dia ke tempat janda itu… Sampe sekarang gak pulang-pulang lagi… Udah seminggu lebih…” sungguh ekspresif Andini mengisahkan kisah hidup pernikahannya dengan pria bernama Heri itu.

Aku bahkan menemukan foto janda itu ketika liburan bareng mereka di danau Toba, Andini membenarkan itu perempuan yang dimaksudnya. Perempuan cantik yang banyak permak sana-sini untuk menarik perhatian para lelaki hidung belang dengan sering hang-out di tempat hiburan malam.

Terjeratlah seorang Heri yang menurut pengamatan janda bernama Cyntia itu cukup berada untuk menyokong hari-harinya, menyandang status sebagai anak orang kaya dengan gelontoran duit yang gak abis-abis.

Aku bahkan menangkap sekilas tato di sekitar bokong atas tulang ekor yang coba disembunyikannya dibalik celana jeans ketat membentuk kaki jenjangnya.

“Kuat kali pelet perempuan itu, bang…” imbuhnya lagi ekspresif sampe isi pakaiannya bergoyang-goyang.

Mataku ngikutin semua pergerakannya, naik turun, kanan kiri, berguncang-guncang.

“Sampe lupa suamiku segala-galanya dibuat perempuan itu…”

“Masak menjandakan istri demi janda lain… Gitu?” kataku sok empati pada masalahnya. Padahal lain yang ada di dalam kepalaku. Yang ada di dalam kepalaku adalah menyodok-nyodok perempuan yang ada di dalam mobilku ini bareng dengan janda cantik itu sekaligus.

“Iya, bang… Pernah kata suamiku waktu kami sedang gadoh… Perempuan itu lebih baik dariku karena jelas-jelas bisa punya anak… daripada aku yang gak bisa hamil… Mandul!… Gitu katanya… Dia lebih memilih perempuan kek gitu ketimbang aku, bang… Hu hu huhuu…” mulai mewek anak ini.

Ia mencari tempat untuk bersandar untuk melepaskan uneg-uneg dan rasa marah, dongkol, mangkel di hatinya. Ah ha haahaa… Ada pangeran kodok di sini yang siap menghiburmu, cantik…

“Ush… ushh… Udah-udah…” kataku memberikan bahu dan tubuhku sebagai tempatnya mencurahkan semua emosinya.

Andini membenamkan wajahnya di bahuku dan menangis tersedu-sedu. Ia meremas-remas lengan kaos polo yang kukenakan. Memeluk perempuan ini di dalam mobil begini sebenarnya kurang nyaman dikarenakan kondisi mobil segala ada tongkat persneling dan konsol pembatas kursi supir dan penumpang samping.

Tapi demi merasakan sedikit rasa nyaman merengkuh tubuh Andini, kubela-belain mencondongkan tubuhku. Ia memelukku lebih erat hingga gumpalan gemuk di dadanya lumer menekan dadaku. Alamak… Lembut nian.

“Hu hu huuhuuu…” ia terus menangis.

Air matanya bahkan membasahi bahan kain kaosku. Ia kini membenamkan mukanya di dadaku. Kami semakin rapat. Walo segini besar Pajero ini, masih kerasa sempit. Aku gak pe-de pula mulai bergerak di sore-sore ini di depan warung bakso yang baru kami singgahi. Aku baru sekali memakai mobil ini untuk ena-enaan. Saat bersama kak Sandra sepulang dari Pangkalan Brandan waktu itu. Dimana kak Sandra menyebut aku sudah ‘menandai’ mobil ini sebagai milikku dengan kencing enak.

Mobil ini bergerak lagi menjauh dari warung bakso, putar balik dan memasuki pintu tol dan mengarah ke Belawan. Sepanjang perjalanan, Andini merebahkan kepalanya ke bahuku. Aku mengelus-elus kulit lengannya untuk menjaga tetap hangat perasaannya. Menjaganya agar tetap panas.

Jadilah sepanjang jalan tanganku bergerilya selagi aku tetap melancarkan kata-kata gombal untuk menaikkan moralnya yang sedang terpuruk. Semacam, “Suami macam apa itu? Masa istri secantik-semanis gini ditinggalin demi janda yang gak jelas kek gitu…” tau, kan berbagai macam kalimat gombal.

Sabar yaa, cantik… Semua masalah ini akan segera berakhir… Sabar, yaa…”

Awalnya dari mengelus-elus rambutnya yang halus. Lalu mengusap air matanya yang berujung ke mengelus pipi mulusnya. Otakku terus memutar siasat apa yang harus kulakukan padanya. Akan kubawa kemana perempuan ini sesore ini? Arah perjalanan ke Belawan.

Ada beberapa hotel kelas melati yang bisa kusambangi untuk meniduri perempuan ini. Apalagi ia sudah dituntun kemari untuk minta bantuan padaku untuk menyelesaikan masalahnya. Dan gilanya lagi, suara itu menuntunnya untuk minta dihamili juga olehku. Ya… aku.

Jadi akan sah-sah aja kalo aku memasukkannya ke dalam kamar hotel…

“Dinn… Yakin dengan ini semua?” tanyaku.

Andini sedang menggamit tangan kiriku yang kuletakkan di konsol untuk memainkan persneling mobil. Gumpalan gemuk dengan sadar ditekankannya pada lenganku dengan memeluknya. Aku masih mengelus-elus pipi mulusnya. Mata kami bertatapan. Tapi aku gak berani lama-lama karena mobil melaju 100 Km per jam. Aku gak mau mati konyol karena terlalu menghayati gumpalan gemuk itu.

“Yakin, bang…” jawabnya masih dengan kepalanya rekat di lenganku.

“Gimana awak bisa membantumu dengan menghamilimu? Apa percaya lakikmu nanti kalo itu anaknya?” tanyaku masih terus konsentrasi di kecepatan 100 km/j walo ada gumpalan gemuk lumer di lenganku. “Apa gak sama aja nanti Andini dengan si Cyntia itu? Ngegangguin lakik orang?”

“Andini gak akan ngeganggu abang sama sekali… Awak gak akan minta yang lain-lain, kok… Itu kan yang dimasalahkan Heri… karna awak gak bisa hamil setelah bertahun-tahun kawin… Seminggu lalu dia masih tidur sama Andini, bang… Suara itu bilang abang bisa menghamili awak dengan cepat… Awak dalam masa subur kali nih, bang…” katanya masih menempelkan kepala dan dadanya padaku lekat. Pajero menderu cepat ke 120 km/j. Cepatlah aku sampe ke pintu tol keluar menuju Belawan.

Kimak! Beberapa truk dan kontainer memenuhi beberapa pintuk keluar tol. Di jalur khusus mobil juga banyak. Antrian mengular untuk melakukan pembayaran di pintu keluar tol. Pelan dan merayap mobil yang aku dan Andini tumpangi akhirnya bisa keluar dari sistem jalan tol dan melenggang bebas di jalan kota Belawan. Segera kuarahkan mobil ini ke tujuanku sore menjelang Maghrib ini.

“Hotelnya lumayan, gak?” tanyaku.

Aku gak pernah sebelumnya masuk ke hotel ini. Liat dari luar dan terasa cukup memadai, aku langsung aja belok dan parkir agak menyelinap di antara mobil-mobil lain. Kutuntun Andini masuk yang menenteng tas travelnya dan kami sudah ada di dalam kamar yang kupilih.

Setidaknya kamar hotel ini ada AC-nya, bersih dan cukup nyaman. Andini cukup tegang keadaannya karena sekarang berada di tempat tertutup dengan seorang laki-laki yang baru hari ini ia temui.

Ia masih memegangi tas travelnya saat aku memeriksa kondisi kamar mandinya. Matanya jelalatan melihat sekeliling kamar hotel. Gorden jendela kututup agar hanya pencahayaan hanya cukup dari dalam kamar saja karena sudah tak ada cahaya diluar sana.

“Mau mandi dulu? Andini pasti lelah sudah dari pagi naik kendaraan trus…” tawarku. Biar seger juga pastinya kalo ku’makan’ nanti.

    

Ia setuju dan beranjak ke kamar mandi membawa serta tas travelnya ke dalam. Menunggu Andini mandi aku nonton TV acara malam Minggu. Ada film baru yang katanya baru diputar premiere di TV Indonesia. Aku udah nonton bajakannya 2 kali. Cari yang lain adanya acara lawakan slapstick semua. Akhirnya ndeprok di chanel berita.

Cukup lama Andini mandi membersihkan dirinya dan sabar kutunggu. Aku sudah memberi kabar pada istriku kalo aku masih di pabrik, masih ada kerjaan dan pulangnya sangat telat. Aku juga bahkan sempat chatting menanyakan kabar si cantik Vony. Ia menanyakan kapan kami bisa bertemu lagi. Ketemu kelamin lagi tepatnya. Secepatnya kujawab. Ini aku ada lahan basah baru untuk digarap. Cak kita trei (coba) dulu gimana rasanya?

“Udah siap awak mandinya, bang… Abang mandi juga?” gak taunya Andini udah keluar aja dari kamar mandi dan berganti pakaian dengan sejenis piyama tidur dengan motif hello kitty. Aroma sabun tercium segar dari tubuhnya.

Ia meletakkan tas travelnya di bawah ranjang. Gantian ia yang duduk di tepian ranjang dan kuserah terimakan remot TV karena aku juga mau mandi. Gak pake lama-lama aku mandi dan sudah keluar bertelanjang dada masih mengeringkan rambut. Andini sudah berpindah duduk bersila di tengah ranjang.

“Ada yang harus awak tekankan dulu sama Andini… Ini hal yang sangat penting dalam metode awak menolong memecahkan masalah Andini ini… Dengar, ya?” aku membenarkan posisi dudukku di tepian ranjang agak beringsut mendekatinya yang di tengah. Ia mengangguk. “Kita santai aja membahasnya, ya…?”

“Andini sangat percaya dengan tuntunan suara ghaib yang membawamu dari Siantar sana sampe ke Medan… Andini sampe dengan selamat ke rumah awak dan bertemu awak… Semua itu sangat meyakinkan dan semakin membuat Andini percaya bahwa dengan bantuan yang akan awak berikan ini akan menyelesaikan masalah yang mengganggu rumah tangga klen berdua; Andini dan Heri…” kucoba rangkum agar itu tadi, jelas duduk permasalahannya.

“Suara yang menuntun Andini itu juga memberitau cara menyelesaikan masalah Andini dan Heri dengan cara hamil dari awak… Benar begitu?” tanyaku.

“Jangan dijawab terburu-buru… Pikirkan dulu baik-baik… Matang-matang… Awak tunggu…” Ia menunduk mencoba mengingat-ingat semua yang telah terjadi seharian ini. Bisikan-bisikan suara penuntun itu pastinya sudah terngiang-ngiang di telinganya selama beberapa hari ini.

Meracuninya dengan cara ini dan mendogma-nya tak ada cara lain yang lebih baik dari ini. Terbukti ia jadi nekat, meninggalkan kenyamanan rumahnya di Siantar dan melanglang buana sampe di ketidak pastian kota sebesar Medan.

Suara itu berhasil mempengaruhinya dan menunjukkan kebenarannya hingga dapat mencapai padaku dengan tepat terperinci step by step.

“Iya, bang… Hanya itu caranya agar hubungan kami kembali baik… Suara itu juga berbisik kalo abang juga bisa mengatasi Begu Ganjang itu dengan mudah… Abang yang paling tau caranya…” ujarnya dengan yakin. Mandi dengan air segar kukira bisa mencerahkan sedikit pikirannya.

“OK… Baiklah… Kira-kira kenapa Andini selama ini menikah… tiga tahun lebih menikah belum juga hamil? Kira-kira aja… Selain masalah medis, ya?” kataku lebih dalam. “Kalo medis awak-pun gak tau juga…”

“Sehat awak, bang… Sering awak periksa ke dokter spesialis kandungan… Gak ada masalahku… Cuma disuruh sabar dan usaha aja disuruh dokter-dokter itu… Makan obat ini-obat itu…” jawabnya tentang kondisi medisnya. Sehat.

“Agak-agakku… karena pelet perempuan itulah, bang…” imbuhnya.

“Pelet perempuan itu baru beberapa bulan ini, kan? Sebelum-sebelumnya… apa? Ada pelet lain?” kataku mencoba sedikit membuka jalan pikirnya.

Bertelanjang dada berduaan dalam keadaan santai begini memudahkan komunikasiku jadi lebih lancar kek sedang berdiskusi bisnis kami. Bisnis lendir. Wajah cantik dan manis perpaduannya berpikir keras.

Perempuan ini tidak terlalu pintar, terbukti tamat SMA ia gak kepikiran untuk kuliah mengejar cita-cita, alih-alih kawin muda dengan pacar sebayanya.

“Ada orang lain yang suka sama Andini?” tanyanya. Pipinya memerah mengatakan itu.

“Gak heran, sih… Cewek secantik ini… Pasti banyak suka… Mungkin teman sekolah… Tetangga… Pengagum rahasia… Bisa siapa aja pelakunya… Orang itu kecewa karena Andini keburu menikah dan peletnya berubah menjadi semacam teluh ato santet yang membuat Andini mandul… Dukun-dukun yang Andini datangi gak berusaha mengobati ini dulu, kan? Malah fokusnya di pelet ke suamimu yang gak pulang-pulang itu…” kataku.

Sebenarnya ini masalah mudah saja. Hapuskan pelet dari tubuh Andini lalu hapuskan juga pelet pada suaminya. Beres.

Andini memegangi kedua pipinya yang mungkin terasa hangat karena rasa bangga ada orang yang memeletnya karena suka pada dirinya, tapi malu mengungkapnya langsung. Harusnya dia marah karena pelet itu berubah haluan dan menyebabkannya mandul.

“Di tubuhmu ini juga ada Begu Ganjang yang menyebabkan ini semua…” ungkapku.

Terhenyak kaget Andini mendengar itu. Aku langsung menangkap lehernya seperti akan mencekiknya dengan tangan kanan.

“Hurrkk…” suaranya seperti kesulitan bernafas.

Jempolku bergerak perlahan memijat naik sepanjang tenggorokannya, naik ke lekukan dagunya, menemukan ruang lembut di bawah lidahnya dan kutekan. Tubuhnya sontak mengejang.

Kubawa satu sosok tubuh penuh bulu keluar jauh dari kamar hotel ini sampai ke taman penuh pepohonanku, daerah kekuasaan ke-Menggala-anku. Begitu tiba langsung kulepas cekikanku pada lehernya. Terhuyung-huyung ia mundur dan memegangi lehernya yang sakit.

Ia celingak-celinguk bingung ada dimana sekarang untuk beberapa saat. Berganti lokasi dari nyaman bercokol di dalam tubuh Andini sekarang berpindah ke lahan luas dengan pepohonan tinggi. Lalu pandangannya tertumbuk padaku yang sudah mengunus mandau Panglima Burung di tangan kananku dan bakiak Bulan Pencak senjata andalanku.

Ia menyeringai membuat wajah seram dengan mukanya yang dari sononya memang sudah menakutkan. Lebih tepatnya jelek. Kalo di kebudayaan Jawa ada genderuwo yang bertubuh tinggi besar dengan banyak bulu, di kebudayaan Batak inilah padanannya.

Sama-sama berbulu hitam lebat di sekujur tubuhnya, wajah seram dan lidah menjulur panjang dari cuatan gigi-gigi taring runcing. Sedikit lebih langsing karena ia punya fitur memanjangkan dirinya sampai bermeter-meter tingginya begitu korban mendongak menengadahkan pandangan ke atas.

“HUAARKKHHH… KIK KIIK KIIIK!!” ia bersuara mencoba menakut-nakutiku dengan bentuk tubuhnya.

Ia menggerak-gerakkan tangannya seperti akan mencakarku dengan kuku jari tangannya yang runcing dan kotor. Ia bergerak ke kiri.

Aku ke kanan… “KIIK KIKK KIIK!!”

Kuakui ada dorongan padaku untuk mendongakkan kepala ke atas. Itu memang tekanan yang dihasilkan oleh jin berjuluk Begu Ganjang ini. Tapi itu semua kutahan dengan mengerahkan Lini untuk melindungi diri. Aku juga melangkah hati-hati dengan bantuan bakiak Bulan Pencak menekan tanah berumput halus.

Srrt srrt… “Siapa Datu yang menyuruhmu, Ganjang?” tanyaku dengan mengacungkan mandau-ku padanya. Kepalaku tetap mengarah datar sebatas matanya dan tidak lebih dari itu.

Tekanan yang diberikan Begu Ganjang ini cukup besar, ia terus memaksaku untuk mendongak ke atas. Aku tau modusnya. Ini modus yang sangat purba berkaitan akan egosentris mahluk hidup. Yang lebih tinggi yang dianggap berkuasa. Aku gak mau jatuh pada perangkap modusnya. Jatuh pada perangkap ego ketinggian tubuhnya yang dapat dengan mudah menjulang tinggi.

“Siapa yang menyuruhmu?!” ulangku lagi dengan pertanyaan ini.

Aku sadar, sang Datu sewaktu-waktu bisa datang kemari karena mahluk piaraannya sudah ada di sini.

Walo mungkin gak sepenuhnya paham dengan konsep Menggala, hubungan Datu dan Begu Ganjang ini persis sama dengan konsep Menggala yang kuanut. Hubungan kedua pihak ini pastinya sangat erat. Pastinya sang Datu sudah tau kalo Begu Ganjang peliharaannya sudah kubawa kemari.

“RUAARKK KIKKIK KIIKK!!” aku gak terlalu paham bahasa yang keluar dari suara-suara mengerikan mahluk itu.

Aku hanya menganggapnya sebagai ungkapan marah saja, bermaksud menakut-nakutin aku.

“ROORHHH… KAU AKAN MATI DALAM DUA JAM!!”

“Whoo-hohh!… Mati dalam dua jam?” aku lumayan kaget ia mau bicara dalam bahasa yang kumengerti.

Begu Ganjang di daerah Tapanuli memang sangatlah mematikan. Bertemu dengannya, pasti akan menimbulkan malapetaka. Salah satunya adalah kematian karena itu salah satu tugas utamanya; membunuh target yang disuruh oleh sang dukun ato Datu.

Ilmu hitam ini sangatlah mengerikan karena kabarnya di Nusantara ini, tidak banyak ilmu hitam yang kiprahnya sekuat ilmu hitam dari tanah Batak. Ilmu ini bahkan bisa menyeberang pulau, menyeberang ke tempat-tempat jauh yang tak terbayangkan.

Bandingkan dengan beberapa mahluk metafisik yang pernah menyerang Pipit kala itu. Diberangus oleh siluman Beringin tanpa bisa dikendalikan lagi oleh para pengirimnya yang berada di pulau Jawa, daerah asal Pipit. Tapi aku belum pasti juga tingkat sang Datu ini. Sudah sampai setinggi itukah kewaskitaan-nya?

“DUA JAM! KAU MATI DALAM DUA JAM!!” serunya mengulang ancamannya.

“Kau sendiri mati dalam dua menit…” balasku gak takut dengan ancamannya. Udah kek Tuhan pulak dia maen matiin orang pake berani ngitung mundur.

“KIIK KIIIK KKIIKK!!” si Begu Ganjang itu sepertinya gusar dengan ancaman balasanku.

Ia mulai bergerak bermaksud untuk menegaskan maksudnya. Gerakan Begu Ganjang ini sedikit unik, ia bergerak secara zig zag. Seperti ada semacam pola dilangkah kakinya, mengikuti sebuah garis tak kasat mata yang bagi mata awam seperti gerakan acak mabuk.

Padahal berbentuk zig zag sehingga aku tau setelah langkah ini ia berbelok ke sana dan kemudian berbelok kemari. Tangannya mengacung hendak mencakarku. Kedua tangannya!

Dengan mandau Panglima Burung kutangkis cakaran kuku panjang dan kotornya. Muka seramnya tepat di hadapanku. Tenaganya sangat kuat tetapi aku masih bisa mengimbanginya berkat pengerahan Lini dan bantuan kuda-kuda kokoh memakai bakiak Bulan Pencak.

Kuputar sedikit pinggangku, kaki kananku bergerak berputar dan menendang ke arah pinggangnya yang tertutup bulu lebat berwarna hitam gelap. Tapi gesit ia menghindariku dengan bergerak mengikuti pola anehnya. Ia mulai memanfaatkan keuntungan tubuhnya.

“Whhaaff!!”

Tangan berkukunya menyapu memanjang secara tak wajar. Sapuan tangan seperti ini pasti sangat kuat. Bertahan sekaligus menyerang, kusilangkan mandau Panglima Burung untuk memblok kuku-kuku tajam itu.

“CRAANKK!!” suara benturan benda keras dengan logam pembentuk mandau memekakkan telinga.

Begu Ganjang itu tak berhenti, tangan yang satunya menyapu dari atas dengan fitur memanjang itu lagi. Aku bergulingan menjauh bak seekor harimau yang sedang bertarung nyawa dengan lawan. Tak menunggu lama cakar dengan tangan panjang itu melesak kencang dari dua arah bermaksud membingungkanku.

Begu Ganjang ini ternyata bukan perkara main-main. Ia bisa bertarung dengan serius dan memanfaatkan semua keunggulan jaraknya. Dan aku belum menggunakan keuntungan yang kumiliki sama sekali.

Aku mengarahkannya mendekat pada rimbun pepohonan yang tumbuh berkelompok membentuk rumpun lebat seperti hutan kecil yang baru berkembang. Memanfaatkan vegetasi pepohonan yang lebat aku bersembunyi di balik batang pohon mangga Golek yang besarnya identik dengan yang ada di rumahku. Tangan memanjang Begu Ganjang itu menerobos masuk, menerabas rimbunan rumput ilalang. Pada bagian sikunya, ia berbelok dan mengejarku.

Suara desing beberapa buah benda tajam berkelebat cepat, memacak tangan Begu Ganjang yang hendak mengoyakku ke arah batang menjulang mangga Golek. Empat buah daun ilalang tajam menembus tangan besarnya.

“WAARRRKKK!!!” jeritnya kesakitan.

Padahal aku jauh ada di sana. Disinilah keuntungan yang tadi kusebutkan. Semua daun-daun yang tumbuh di semua pohon di sini patuh pada perintahku. Karena secara harafiah, tempat ini adalah diriku sendiri.

Begu Ganjang itu berusaha melepas senjata daun tajam dan runcing itu dari memantek tangannya di batang pohon. Aku berusaha memapas badannya yang jadi kesulitan bergerak dengan sabetan mandau.

Dengan cerdik ia memendekkan tangannya hingga tubuhnya tertarik ke arah pohon mangga Golek. Mukanya mengernyit marah dan kesakitan kala dicabutinya 4 batang daun ilalang yang mengeras tak wajar seperti batang besi. Daun-daun itu hancur dan luruh.

“RRAOOHH… RHRAOOHH… KAU HEBAT JUGA MANUSIA… BISA MELUKAI TANGANKU… RRAOHH…” ia menjilati luka di tangannya dan ajaib luka itu hilang. Lidahnya tetap menjulur panjang laksana ular.

Ia menjauhi pepohonan itu tapi belum sadar sepenuhnya akan konsep serangan yang sempat melukainya. Aku gak mau membocorkannya. Ini bisa terus kumanfaatkan.

“Aku akan berbaik hati padamu kalo kau mau menjawab pertanyaanku… Tidak susah…” kataku memain-mainkan mandau dengan memutar-mutarnya tapi tak menurunkan kewaspadaanku sedikitpun.

“Siapa yang telah menuntun perempuan ini pergi dari rumahnya yang jauh di sana… datang ke kota ini? Apakah kau juga? Atokah yang lain?”

“MENUNTUN?? APA MAKSUDMU?! TIDAK ADA YANG MENGGERAKKANNYA!!” berang si Begu Ganjang itu malah marah-marah.

Setan dari kalangan jin memang penuh tipu daya, pintar berbohong dan juga bersandiwara. Aku tidak terlalu memikirkan jawabannya.

“Sayang sunguh disayang… Ada yang telah membajak mangsamu tanpa kau ketahui kalo begitu…” kataku manggut-manggut dengan mandau di bahu.

“Dan kau sangat bangga dengan kekuatanmu… Padahal selama ini kau bercokol di tubuhnya bertahun-tahun… Membuatnya mandul tapi gak tau kalo ada kekuatan lain yang telah menuntunnya mencari pertolongan padaku… Sayang sekali…Sungguh sangat disayangkan…” ini memang kebiasaan burukku yang kumanfaatkan.

Aku selalu memanfaatkan sisi sombong dan pongah mahluk-mahluk ini akan kekuatannya yang dikiranya sangat superior. Padahal derajat mereka masih di bawah manusia sebagai khalifah resmi di bumi.

“SIAPA?!! SIAPA YANG MEMBAJAK PEREMPUAN INI?!!” ia menjadi semakin gusar aja. Nafasnya mendengus-dengus, lidahnya berbelit-belit kusut. Tangannya mengepal-ngepal geram. Rahangnya dikatup-katupkan.

“Yaa… Mana awak tau? Kalo awak tau mana mungkin awak nanya, kan? Aneh-ih kau…” ternyata dari pertanyaan simpel ini, aku tetap tidak mendapatkan apa-apa.

Ada pihak lain yang memanfaatkan para perempuan ini untuk melakukan kontak denganku. Sejauh ini semuanya sangat memanfaatkan kesuburanku untuk membantu mereka untuk mendapatkan keturunan.

Itu dan itu lagi yang terus dieksploitasi sejauh ini. Aku tak tau apa tujuannya. Tapi pihak ini nyata adanya, aku sudah membuktikannya berkali-kali. Dari memberikan pesan lewat mimpi, pesan-pesan tulisan, hingga kini bisikan langsung. Tahapannya semakin berekskalasi menjadi semakin fisikal, kontak fisik.

“KAU?! KAU MEMPERMAINKANKU!! KAU HANYA MEMBUATKU BINGUNG!!” sadarnya semakin berang.

Ia meradang dan melaju maju berlari cepat. Aku bersiap lagi menyambutnya dengan senjata dan kuda-kuda. Akan membingungkan melihat lari cepat tetapi berpola zig zag-nya. Mata biasa akan terasa pusing melihat perubahan sudut belokan tajam yang dilakukannya dan tiba-tiba saja ia sudah ada di sebelah kananku. Tangannya kembali memanjang, menyapukan kuku tajam kotornya. Bermaksud mencabikku.

“Swaaattss!!” Blugh blugh blagh blagh…”AARRRGGGKKKHHH!!!” malah si Begu Ganjang itu yang menjerit memilukan.

Sejumlah lembar daun yang kerap kupakai menjadi bilah pedang terbang berdesing-desing, menembus dan memancang tubuhnya di atas tanah berumput. Beberapa kelompok menjadi pedang daun Utara, beberapa lagi menjadi pedang daun Barat dan satu bagian lagi kelompok pedang daun Timur.

Mandau Panglima Burung tetap menjadi pedang Selatan. Jadi pedang-pedang daun itu terbang seperti punya nyawa sendiri dan menyerang Begu Ganjang mentiko (belagu) ini dan melakukan kerusakan parah pada tubuh besar yang berusaha tinggi itu.

“AARKKHHH??!! BANGSAAATT!!” makinya pilu.

Tangannya, kedua tangannya yang panjang terpotong-potong menjadi beberapa bagian yang berdebum jatuh di tanah berumput halus. Begitu juga kaki kanannya, ia hanya bisa berdiri dengan kaki kirinya yang sudah tersayat-sayat.

Tubuhnya mulai limbung. Beberapa lubang menganga di tubuhnya mengisyaratkan kalo mahluk yang sering digunakan untuk tujuan jahat ini mendekati ajalnya. Potongan besar di lehernya mengucurkan darah kental sampai menyemprot beberapa kali.

“Kau gak ada kata-kata terakhir untuk Datu-mu yang gak datang-datang itu, Ganjang?” acungku ke arah kepalanya yang bersiap kupancung dengan mandau tajam ini. Matanya seperti gak rela menyerah. Ia masih begitu sombongnya dengan kekuatannya selama ini.

Terjadi getaran kecil dan tiba-tiba saja sebuah benda panjang mencuat dari dalam tanah, menembus tanah. Aku sampai harus menengadah untuk melihat kelebatan cepat benda itu.

“Kimak! Aku kena!” sadarku terlambat.

Terlarang untuk mendongak ke atas bila berhadapan dengan Begu Ganjang. Aku sudah menekankan ini berulang-ulang dari tadi, kan? Kali ini aku malah melakukan kesalahan dasar ini. Begu Ganjang yang sudah sedemikian lumpuh menunggu musnah seperti mendapatkan suntikan steroid, tumbuh menjulang tinggi sekali setinggi pandangan mataku menuju, segitu tingginya.

Ada sekitar 15 meteran! Tangan dan kakinya yang terputus berkat serangan puluhan pedang daunku, tumbuh lagi seperti sedia kala dan bertambah panjang berlipat ganda. Tubuhnya tinggi sekali seperti Ultraman yang bersiap melawan monster lawannya.

Lawannya, aku sendiri yang masih terperangah karena kebodohanku sendiri yang terperdaya oleh melesatnya sesuatu dari tanah itu. Benda apa itu? Nanti dulu… Jangan memecah perhatian. Lawan ini sudah terlalu merepotkan untuk dibiarkan terlalu lama. Si Begu Ganjang sudah terlalu lama menebar teror.

Benda sebesar dan setinggi itu, tidak bisa bergerak dengan lincah. Seharusnya mudah menjadi sasaran empuk serangan apapun. Aku mengerahkan seluruh Lini yang tersisa di tubuhku. Mengalir di nadi vena dan aorta, berkumpul menjadi satu untuk menjadi satu instruksi khusus pada semua tumbuhan yang ada di taman indahku ini.

“Segala sesuatu yang mempunyai klorofil… Dengarlah panggilanku, bersatulah dalam satu serangan… Hancurkan mahluk jahat ini… Pedang Mata Angin Menembus Cakrawala!” aku mengacungkan mandau yang di tangan kananku ke arah Begu Ganjang jangkung tinggi di hadapanku ini. Menunjuk target serang!

Panglima Burung si Burung Enggang sampai harus terbang menjauh dari posisi menontonnya di puncak pohon pinus jarum kesukaannya karena ikut serta menyumbangkan semua daun-daunnya. Semua daun yang mengandung klorofil berdesing cepat lepas dari dahan dan ranting yang selama ini menjadi tempatnya bertengger, menuju alat tempurku.

Jarang-jarang aku memakai jurus ini karena kelewat brutal. Tapi karena ukuran lawanku juga brutal, tak ada jalan lain. Seperti rombongan kelelawar yang kompak keluar dari gua persembunyiannya di waktu terang, ratusan lembar, tidak ratusan ribu lembar mungkin juga jutaan daun berbagai ukuran terbang menjadi senjata pedang Mata Angin Menembus Cakrawala-ku yang sangat dahsyat. Kelebatan hijau daun seperti hitam saja layaknya karena terbang cepat berkelebat.

Begu Ganjang tinggi itu tercabik-cabik sekujur tubuhnya dengan menggenaskan. Ia hanya bisa menjerit-jerit kesakitan merasakan tubuhnya dihantam bertubi-tubi oleh tajamnya pedang yang menjelma dari daun-daunan.

Tak sempat bagian tubuhnya yang terpotong untuk jatuh ke tanah karena terpotong menjadi kecil serupa serpihan saja. Dengan sontekan kekuatan bakiak Bulan Pencak, aku melompat tinggi akan melakukan serangan pamungkas untuk memenggal kepala setan jahat berjuluk Begu Ganjang ini.

Tanganku mengayun mencari momentum dengan menariknya jauh-jauh ke belakang lalu berputar cepat mengarah ke bagian lehernya yang sudah tersayat-sayat.

“Swaaattsshh!!”

“STAAKKK!!!” sesuatu menghalangi tebasan mandau-ku. Sialan! Ini benda yang tadi mencuat keluar tiba-tiba dari tanah, yang telah mengakibatkanku menengadah dan Begu Ganjang ini jadi demikian tingginya.

Sebuah benda dari kayu seperti tongkat dengan banyak ukiran etnik berupa karakter beberapa orang yang duduk bertumpuk-tumpuk ke atas dan ada semacam jumputan rambut kasar panjang di bagian atasnya, telah menahan mandau-ku.

“Alamak! Ini Tunggal Panaluan…” desisku yang mengenali benda berupa tongkat yang sering menjadi senjata para Datu.

Kehabisan momentum, aku kembali mendarat turun ke tanah dan menunduk sejadi-jadinya agar si Begu Ganjang hantu blau itu kembali mengecil ke ukuran awalnya. Tongkat Tunggal Panaluan itu juga ikut turun denganku, terbang mengambang menghalangi di antaraku dan si Ganjang.

Ini pasti tongkat suruhan Datu pemilik Begu Ganjang. Tongkat semacam ini dikenal sangat sakti karena bisa disuruh-suruh pemiliknya. Sang Datu ini memang betul-betul sakti. Bisa-bisa aku harus bertarung habis-habisan abis ini.

Padahal semua Lini-ku sudah terkuras habis untuk melakukan jurus Menembus Cakrawala dahsyat tadi. Aku gak boleh membiarkan sang Datu tau ini.

Seorang pria tua yang pantas dipanggil oppung muncul dan memegang tongkat Tunggal Panaluan itu dengan erat. Ia berpakaian hitam-hitam dan berpeci hitam juga. Walo sudah tua, ia kelihatannya masih sangat kuat untuk meladeniku bertarung.

Tatap matanya tajam memandangiku. Kalo ia akan mengajakku bertarung, aku pasti bakalan kewalahan di ronde ini. Pastinya juga dia akan meng-gangbang-ku dengan peliharaannya itu. Tapi aku gak boleh menunjukkan kelemahan di depan lawan. Itu sudah diajarkan sejak lama padaku.

Ia mengacungkan tangan kirinya menghentikan gerakan penasaran si Ganjang di belakangnya.

“Dia sudah babak belur begini… Kau mau memusnahkannya?” tanya si oppung dengan dialek Simalungun yang kental sekali.

“Datu sudah mengirimnya untuk memandulkan perempuan ini… Tentu awak gak bisa tinggal diam saja, kan?” aku tetap bersiaga atas apapun.

Ranting-ranting pohon di belakangku, dahan-dahan kosong meranggas dari tajuk yang tadinya teduh oleh dedaunan hijau yang sudah kupakai untuk serangan dahsyat tadi.

“Baiklah… Aku akan membawanya pulang! Tapi kita akan berjumpa lagi… Suaminya masih dalam genggamanku…” disentuhnya dada Begu Ganjang yang submisif pada sang Datu yang baru saja menyelamatkannya.

Datu yang membawa tongkat Tunggal Panaluan dan Begu Ganjang itu hilang dari hadapanku. Sang Datu berhasil menemukan jalan keluar dari daerah kekuasaanku ini. Baguslah kalo begitu. Sementara ini lebih baik begitu. Aku juga bisa menarik nafas lega karena gak harus bertarung lagi dengan Datu sekaliber oppung-oppung itu.

Aku terduduk lelah di pelataran tanah kosong meranggas ini. Bahkan rumput-rumput halus yang biasanya tumbuh di tanah luas ini juga ikut menjadi ribuan helai jarum pedang untuk menyerang Begu Ganjang tadi dengan jurus Menembus Cakrawala.

Apalagi daun-daun yang tumbuh di semua pepohonan ini. Hanya pohon kosong tak berdaun sehelaipun, meninggalkan dahan dan ranting sahaja. Semua pohon. Aku duduk nelangsa di sini memandang sedih juga taman indahku menjadi seperti ini.

“TUUKK TUUKKK!!” Burung Enggang Gading si Panglima Burung menukik turun dan nangkring di tangan kananku.

“Mahluk tadi beserta tuannya sangat kuat sekali… Andai saja anak membiarkanku ikut serta membantumu tadi sebagai pendukungmu…” katanya. Ia memperhatikan semua pertarunganku tadi dengan Begu Ganjang itu.

Aku menggeleng gak setuju dengannya.

“Maaf Panglima Burung… Anak gak bisa merepotkan Panglima Burung terlalu sering untuk mengurus masalahku seperti itu… Anak sudah terlalu sering menghadapi hal seperti ini… Apalagi Panglima Burung bukanlah mahluk Menggala Suba-ku… Rasanya salah kalo anak memakai bantuan dari Panglima Burung untuk hal-hal seperti ini…” tolakku. Cukup sudah merepotkannya saat masalah dengan gaharu Malokkop waktu itu saja.

“Jadikan aku sebagai mahluk Menggala Suba-mu, anak… Aku bersedia…” ia malah menawarkan diri.

“Aku tidak akan meminta yang muluk-muluk darimu sebagai ganti memakai kekuatanku…” imbuhnya lagi tentang syarat kesediaannya menjadi mahluk Menggala Suba-ku.

“Maaf sekali lagi, Panglima Burung…” aku sertakan sebuah tundukan kepala pertanda aku bersungguh-sungguh minta maaf padanya.

“… anak tidak bisa menerima tawaran yang sangat luar biasa dari Panglima Burung… Bukannya anak merendahkan kekuatan dan kedahsyatan kesaktian Panglima Burung… Tapi ada satu prinsip yang anak dan dua teman anak pegang dari dulu sampai sekarang… Jujur kalau kami sudah saling berjanji untuk tidak mengambil mahluk hidup lain untuk menjadi mahluk Menggala Suba… Anak sendiri sebenarnya sudah menjadi Menggala Suba dari dulu secara tidak langsung dengan membentuk kelompok kecil berisi tiga orang ini, Panglima Burung… Namanya Ribak Sude… Ikatan kami mungkin tidak sekuat dan erat seperti perjanjian Menggala Suba dan mahluknya… Tapi kebersamaan kami berdasarkan persahabatan… Susah senang kami hadapi bersama… Itu lebih menyenangkan dari pada mengikat perjanjian yang sangat ketat…” jelasku secara garis besar saja agar entitas sakral dari tanah Kalmanthana ini tidak tersinggung atas penolakanku mengenai tawarannya. Jarang-jarang mahluk seperti ini duluan yang menawarkan diri.

“Lagipula… bukannya Panglima Burung masih punya tugas lain… Menunggu keturunan perempuan terakhir si Miranda… anak perempuan itu…” ingatku akan sumpahnya sendiri. Ia selalu menitiskan kekuatannya pada anak perempuan terakhir di garis keturunannya.

“Baiklah aku mengerti… Terimakasih sudah memberikan tempat yang nyaman ini selama aku menunggu tugasku itu… Tapi biarkan aku memperbaiki kerusakan yang sudah terjadi dengan kekuatanku… Anak tidak keberatan, kan?” katanya mendongak memperhatikan pohon-pohon meranggas tak berdaun.

“Tidak… Tentu tidak, Panglima Burung… Kalau itu anak tidak keberatan… Silahkan… Anak akan sangat senang sekali…” kataku mendadak ringan.

Hutan kecilku akan diperbaiki. Burung Enggang Gading itu lalu melompat dan langsung mengepakkan sayapnya. Membumbung tinggi dan melayang di ketinggian kanopi pepohonan yang sudah gundul.

“TUUUT TUUT TUUT TUUUKKK!!!” suara nyaring kerasnya membahana luas menggema di tempat tak berbatas ini.

Ia terbang berputar-putar beberapa kali mengitari rimbun vegetasi pepohonanku. Entah apa yang sudah dilakukannya tetapi sepertinya ada sejenis uap air yang berkumpul dan membentuk awan hujan kelabu.

Padahal aslinya, tak ada setitik noda apapun di langit daerah kekuasaanku, hanya azzure biru langit yang melulu seperti disapukan kekurangan tinta warna lain. Dari putih menjadi kelabu lalu hitam.

Panglima Burung menabrakkan dirinya pada awan ciptaannya dan mengepakkan sayapnya, menyebabkan percikan curah hujan. Air tercurah tidak terlalu deras tapi cukup segar karena aku juga terkena pias airnya.

Semua vegetasi tetumbuhan di sini terkena curahan hujan buatan Panglima Burung ini tanpa terkecuali. Besar kecil, tinggi rendah rata mendapatkan anugrah air segar ini. Aku menikmati segar curahnya membasahi wajah dan tubuh bertelanjang dadaku. “Wah?” kagetku.

Rerumputan halus yang tadi menghilang dari permukaan tanah kembali tumbuh. Kakiku langsung dapat merasakan tumbuh keberadaan rumput halus yang pernah menelan siluman monyet yang mengaku dewa itu.

Lagi lebih mengejutkan adalah pertumbuhan dedaunan di tiap ranting dan dahan pohon terjadi dengan sangat cepat seperti di fast forward saja layaknya. Dari putik mungil, mencuat membesar, melebar menjadi daun sempurna. Semua pohon dan tanaman mengalami hal yang serupa tanpa kecuali. Dalam waktu singkat semua pohon sudah pulih kembali ke keadaannya semula.

“Wow…”

Aku hanya bisa terperangah kagum akan kemampuan sang Panglima Burung. Apalagi sepertinya juga kekuatanku sudah kembali.

***

“Apa yang Andini rasakan sekarang?” tanyaku. Aku baru melepaskan cekikan tanganku yang terakhir kulakukan membawa si Begu Ganjang ke daerah kekuasaanku lalu berujung ke pertarungan dengannya.

“Gak kerasa apa-apa… Barusan abang nyekek Andini buat apa?” tanyanya kebingungan.

“Awak udah ngeluarin Begu Ganjang itu dari tubuh Andini… Dia udah dibawa pulang sama oppung-oppung pemiliknya… Yang tersisa hanya gangguan yang ada di suamimu aja…” jelasku secara garis besar saja.

“Heh?? Jadi ada benaran Begu Ganjang yang menyerang Andini?” kagetnya dengan mimik takut. Ia sampe menyilangkan tangan di depan gumpalan gemuk dadanya, menyebabkannya tertekan semakin membengkak di balik piyama Hello Kitty itu.

“Iya… Itu yang membuatmu gak bisa hamil… karena Begu Ganjang itu menghalangi kalian berdua punya keturunan…” lanjutku. “Karena Andini sudah bisa hamil sekarang… besok pagi pulanglah kembali ke Siantar… Awak akan memikirkan cara untuk mencabut pelet Begu Ganjang itu dari suamimu, Heri… karena pelakunya sama… Si oppung-oppung itu…”

“Gak… Gak mau pulang sebelum bang Aseng menghamili Andini…”

Gubrak!

***

“Gak… Gak mau pulang sebelum bang Aseng menghamili Andini…” sergahnya menolak kusuruh pulang. Ia memukul-mukul ranjang dengan gemas.

“Tapi Andini sudah sembuh-loh… Suamimu sekarang pasti bisa menghamilimu… Tinggal abang harus mencabut pelet dari dia aja supaya dia mau pulang ke Andini lagi…” kataku.

“Pulang ya, besok…” rayuku kek sedang membujuk anak-anak yang menolak pergi sekolah.

“Pokoknya Andini gak mau pulang sebelum hamil!… Titik!!” ia tetap bersikeras pada pendiriannya yang sudah secara keras kepala telah diyakininya.

Ini keyakinan yang sama seperti binor-binor yang telah kuhamili sebelumnya. Keyakinan bulat sebulat payudara gempal yang berguncang-guncang di balik piyamanya kala ia memukul ranjang.

“Huushh… Jangan berisik-berisik… Ini hotelnya kelas murahan… Bisa kedengaran ke sebelah suaramu, Dinn… Husshh…” aku memberinya tanda tutup mulut walo seharusnya-pun tetangga sebelah kanan kiri kami gak akan perduli apa yang sedang kami lakukan karena mereka punya urusan sendiri yang mirip-mirip.

“Iya-ya, bang?” ia beringsut ke arah kepala ranjang, berdiri lalu menempelkan kupingnya ke dinding. Ia serius mencoba mendengar suara yang bisa terdengar dari sebelah sana. Matanya bergerak-gerak antusias dan kaget karena ia menutup mulutnya hendak tertawa.

“Hi hi hihihi… Iya, bang… Kedengeran… Yang disamping ini lagi main-main enak… Aah aah ooh ooh… Hi hi hihihi…” ia tertawa cekikikan tertahan.

Berjingkat-jingkat ia berjalan balik ke tengah ranjang. Pegas ranjang yang gak terlalu bagus, sudah tua juga sedikit berbunyi membuat tubuhnya bergetar-getar. Terutama gumpalan gemuknya.

“Jadi hotel ini sering dipake buat mesum, ya?” tebaknya dengan suara riang.

“Hushh… Suaranya…” aku memperingatkannya lagi.

Aku menaikkan suara volume TV untuk menyamarkan suara bising anak ini. Suara pembaca berita memenuhi ruangan kamar ini dengan detail isi berita yang sedang dibacakannya.

“Udah pernah ke hotel beginian?”

Andini yang masih berdiri di tengah ranjang menutupi mulutnya karena barusan tertawa, mungkin teringat masa lalu.

“Dulu waktu sekolah Andini sering ke hotel beginian di Siantar bareng Heri… Hi hi hihihi…” benar aja, udah nakal sejak sekolah dulu bareng mantan pacar yang kini jadi suaminya ternyata.

Ia bergoyang-goyang manja kanan-kiri sambil mengepit tangan kanannya di antara dua gumpalan gemuk dadanya dan satunya menutup mulut dengan gaya imut.

“Malam ini… Andini malah di hotel beginian sama bang Aseng… Mau mesum-mesuman juga… Buat Andini hamil…” katanya luar biasa manja dan menggairahkan.

“Sementara Heri di sana dengan si Cyntia jalang itu… juga pastinya mesum-mesuman…” tangannya mulai membuka satu persatu kancing piyama lengan panjang yang menutupi tubuhnya.

“Gimana, bang?” tanyanya akan pendapatku tentang bodi seksinya.

Kancing piyama itu sudah semua terlepas hingga pakaian itu tak dapat menutupi tubuhnya lagi, merenggang meninggalkan satu ruang terpisah menampakkan belahan dadanya yang ternyata tak ber-BH. Keliatannya sangat padat hingga bentuk bulatnya menggantung bagus di jarak yang lumayan dekat ini. Ia berdiri di bawah lampu yang tepat diposisikan di tengah kamar hingga semua detil tubuhnya terlihat jelas.

“Buka semua?” tawarnya.

Aku mengangguk dan mulai menggesek-gesek Aseng junior yang menggeliat bangun di balik celanaku. Ia tersenyum meliat reaksiku yang mulai menyentuh diri sendiri. Aseng junior kuremas-remas hingga cetakan ukurannya dapat keliatan Andini.

Perempuan muda cantik-manis itu menggigit bibir bawahnya kala meraih tepian kerah piyamanya yang tak lagi berkancing. Lalu dilebarkannya ke samping belahan bukaan piyama semakin menjauh. Gumpalan gemuk payudaranya semakin nyata terlihat.

Bentuknya sangat indah, bulat sempurna, sekal dan montok dengan puting besar dan aerola lebar berwarna coklat gelap. Ini tandanya sudah sering dipermainkan sedemikian rupa oleh pacar dan suaminya hingga matang begini.

“Makjang! Mantap kali, Diinnn… Yahh…” aku makin mencekik Aseng junior yang makin menggila.

Sepasang gumpalan gemuk itu semakin terekspos kala piyama itu jatuh melewati kedua tangannya, luruh jatuh di atas ranjang. Tubuh montoknya dengan sepasang gumpalan gemuk payudara seimbang hanya tinggal memakai celana panjang padanan piyama saja.

Entah ia juga tidak memakai celana dalam ato malah pakai. Buru-buru aku melepaskan celana panjang yang masih kupakai, sabuk, kancing dan restleting lepas dalam kecepatan kilat.

“Gede, baang?” kata Andini melihat Aseng junior mencuat tanpa malu-malu saat kuloloskan celana ini dari kedua kakiku.

“Punyamu juga besar kali, Diin… Cantik kali kau, Diin…” aku mendekatinya dengan Aseng junior gondal-gandul gak tau malu.

Tak lama aku sudah ada di depannya, berdiri di atas lututku menghadap ke perutnya yang agak endut karena montok tubuhnya. Tapi sangat seksi bohay sekali. Kupeluk pinggangnya yang masih terbungkus celana panjang.

“Andini yakin ini, kaan? Awak buka ini, yaa?” kuremas bokong montok tebalnya yang kenyal lembut.

“Yakin, bang… Buka-lah, bang… Andini-pun udah gak tahan kali nih, baang…” jawabnya meyakinkanku.

Sekali tarik dua sisi celana panjang itu langsung melorot dan benar dugaanku, ia tak memakai celana dalam lagi sejak selesai mandi tadi. Kemaluannya langsung terpampang di depan mataku. Jembut lebat yang hanya menumpuk di bagian atas gundukan tebal pubis-nya sudah mulai merekah merah terangsang. Belahannya mulai membuka lembab dengan kacang itil mengintip di puncaknya.

“Aaahhssshhh… Baang… Yaaahh… Itu, baaang… Mmm…”

Kubenamkan muka ke arah kemaluan gemuk montok Andini yang menggairahkan. Lidahku bermain-main di jembut lebatnya, menggelitik lipatan sedikit merekah kacang itilnya. Tubuh Andini bergetar-getar mendapat serangan cepat lidahku. Tanganku tak berhenti meremas-remas dua bongkah pantat montok tebalnya. Kenyal dan lembut daging bokong Andini sangat menjadi candu yang ngangenin selalu.

Andini tak kuasa menahan tubuhnya untuk tetap berdiri, ia menurunkan tubuhnya dan berjongkok di hadapanku. Tentu aja dengan begitu, aku gak bisa lagi menggunakan lidahku untuk mempermainkan si gemuk montok di antara kakinya.

Apalagi meremas tebal bokongnya. Sebagai gantinya ia melebarkan kakinya dan memamerkan isi si gemuk montok yang merekah lebar. Wow… Perlahan tubuhnya mundur hingga berbaring meninggalkan kakinya tetap membuka lebar di hadapanku.

“Aahh, baang… Bagus, gak?” godanya dengan bibir bawah digigit.

Tak menjawab, bermaksud merasakan langsung ‘bagus’ yang dimaksudnya, mukaku langsung terbenam ke antara kakinya. Selangkangan si gemuk montok berjembut lebat.

“Kyaaahh…” jerit erangannya melengking merasakan mulutku langsung mendarat di belahan kemaluannya.

Liang kawinnya yang langsung menjadi sasaranku. Kusedot-sedot liang imut itu lalu jilatanku memanjang hingga menggerus kacang itil yang memuncaki garis menyatu bibir dalam gemuk kemaluannya.

Tanganku meremas sekaligus menahan pangkal pahanya tetap membentang. Kucucup-cucup plus sedot kacang itil Andini membuat tubuh montoknya tergial-gial melenting keenakan. Pantatnya berkali-kali menjulang dan aku harus tetap mengikuti arah gerakan liarnya.

“Baang… Enaak, baang… Pinter abangg… Uuhh… Uhh… Aahh…” erangnya untung masih tersamar oleh suara berita di TV yang volumenya sengaja kunaikkan.

Aku sebenarnya gak perduli kalo dia bising menikmati semua ini, karena aku juga menikmatinya juga. Setiap kamar yang berisi di hotel ini juga sedang melakukan kegiatan mesum ini. Suatu kewajaran aja. Sama-sama tau.

Lidahku menyentil-nyentil bermain di kacang itilnya sedang dua jariku menusuk masuk, berkait dan mengorek-ngorek G-Spot Andini. Perempuan cantik-manis ini meraung-raung tanpa henti.

Punggungnya melengkung berkali-kali menghentak lalu berputar menikmati serangan oral dan fingering-ku. Lincah lidahku bermain, mengutik, menyentil kacang itilnya yang semakin tegang dan merah. Rasa vaginanya sangat segar. Bukan karena baru saja mandi, dibersihkan. Segar aja dari sananya.

“AAkkhhhh… Sampe, baangg… Uuhh…” bergetar-getar tubuhnya berkejat beberapa kali dengan jariku masih mengorek. Dua jariku basah kala kucabut dari dalam liang kawinnya. Kuelap mukaku yang berlepotan ludahku sendiri dan cairan cinta Andini.

“Ahh… ahh… ahhh… Enaak kali, baang…” ia berbaring pasrah dengan gumpalan gemuk teteknya turun naik. Dari pandangan matanya, ia berharap aku segera melanjutkan ke tahap berikutnya. Memasukkan Aseng junior ke dalam liang kawin si gemuk montok.

“Ayo bangun, cantik…”

“Aahh…” erangnya malas-malas manja karena mager abis orgasme. Tubuh montoknya kutarik hingga bangkit dan kududukkan di pangkuanku yang ada tepat di depan bukaan kakinya.

“Uuhhnn…” belahan si gemuk montok yang baru aja mendapat kenikmatannya bergesekan intens dengan Aseng junior-ku.

Terasa batangku menggesek keras kacang itilnya yang berdenyut-denyut mengharap. Kutahan tubuhnya dengan memeluk pinggangnya. Tubuh kami berdua sangat rapat, bahkan gumpalan gemuk itu lumer di dadaku. Wajah kami saling berhadapan. Mata kami saling menatap. “Baang?”

“Sebelum kita lanjut lebih jauh… Ada satu hal penting terakhir yang awak mau kasih tau Andini… Awak mengajukan perjanjian dengan tiga poin pasalnya… Dengarin, ya?” kataku. Ini penting menurutku. Jangan sampe Aseng junior masuk sebelum disahkan dengan perjanjian ini. Mata Andini berkedip-kedip antara heran dan gak percaya kalo aku akan melakukan hal ini. Ia mengangguk pelan tanda mau mendengarnya.

“Pertama adalah pasal tentang hubungan kita berdua ini, Dinn… Gak akan ada hubungan spesial yang lebih dari ini… Awak hanya menolong menyembuhkan Andini dan suami… Menghamili Andini utamanya… Hanya itu dan tak lebih dari itu… Jadi kita gak boleh mengharapkan hubungan yang lebih jauh dari pada hubungan tolong menolong ini… Paham, ya?” kataku.

“Kalo paham cukup mengangguk…” tambahku. Ia mengangguk.

“Kedua adalah pasal tentang kepercayaan… Kita saling percaya kalo hubungan ini hanya diketahui kita berdua saja… Tidak boleh membocorkannya, memberitahu kepada orang lain… Ini hanya rahasia kita berdua saja… Kita juga saling percaya kalo kita akan mematuhi semua isi pasal-pasal yang ada di dalam perjanjian ini… Paham juga, kan?” ia mengangguk kembali.

“Bagus… ini yang terakhir…”

“Ketiga adalah pasal tentang masa depan… Jika karena urusan kita ini kelak Andini hamil… Ia adalah anak Andini dan Heri berdua… Ingat? Anak kalian berdua… Anak dari hasil pernikahan kalian berdua… Rawat dan besarkan dia dengan baik sebagaimana mestinya… sebagai anak yang sudah kalian nanti-nantikan selama ini… Dialah masa depan kalian… Paham yang ini, kan?” ia lagi-lagi mengangguk paham.

Posisi kami yang berhadap-hadapan karena ia duduk di pangkuanku membuatku dapat dengan mudah menjelaskan maksudku tanpa jarak pemisah yang terlalu jauh. Aku bahkan dapat merasakan degub jantungnya mendengar pemaparanku akan tiga pasal perjanjian barusan.

“Jadi… kalo awak gak ngarepin apa-apa dari bang Aseng selain hamil… rasa maennya jadi gak intim lagi-lah, bang?” tanya Andini ternyata penasaran tentang masalah keintiman.

“Kalo misalnya awak giniin?…” kukecup bibirnya lalu kukulum sebentar kedua bagian bibirnya.

“… Andini ngerasa perasaan lain, gak?” tanyaku. Mulutku berdecap-decap merasakan sisa rasa bibirnya yang manis.

“Huh-hu huu… Enak, bang… Lagi, bang?” ia malah keenakan.

“Jawab dulu… Gimana perasaanmu? Kalo terbersit rasa yang mengarah-arah suka gitu ke awak… Lebih baik kita maennya gak pake cium-ciuman gitu, Dinn… Bahaya tau?” jelasku lebih lanjut akan contoh yang kuberikan. Ia terdiam merasa-rasakan apa yang terpantik di hatinya. Menanyakan hatinya sendiri.

“Jangan bo’ong… Itu hanya akan menipu dirimu sendiri… Jujur aja…”

“Bang Aseng apa gak kerasa naksir-naksir gitu sama Andini… Walo sedikit aja?” tanyanya balik.

“Enggak…” jawabku cepat.

“Abang Aseng pemaen lama, yaa? Banyak nih keknya…” pancingnya menggodaku dengan tambah menekankan gumpalan gemuknya pada dadaku.

“Pasal 2… Tidak boleh membocorkan hubungan ini…” jawabku taktis saja.

“Oh… OK-OK… Paham… Profesional abang Aseng-nya… Maen cantik ternyata… Kalo gitu Andini gitu juga-lah… Maen cantik kita, yaa? Yang penting Andini bisa hamil pokoknya…” katanya memantapkan hati untuk membuang semua rasa-rasa romantis dari hubungan yang akan kami jalani ini. Walo aku yakin ini perdana baginya untuk berhubungan dengan pria lain selain mantan pacar yang kini menjadi suaminya, tapi ia mengerti semua konsepnya.

“Coba trei (coba) sekali lagi, bang?” tantangnya.

Kumajukan lagi mukaku mendekati mukanya dan bibir kami bertemu kembali. Bibir kami menyatu dan saling kulum kami lakukan. Aku kembali merasakan bibirnya yang terasa manis beserta cairan mulutnya. Ia mengulum-ngulum bibirku perlahan dan sesuai dengan tempo yang kuterapkan dari tadi selagi bercumbu mulut.

“Ummh…” desahnya pelan menikmati, sekedar menikmati saja. Lidahnya bergerak keluar dari mulutnya dan kusambut dengan beradu lidah walo hanya ujungnya saja.

“Gimana? Gak naksir, kan?” tanyaku.

Ia hanya menggeleng. “Cuma nikmatin ajaa… Gak mau naksir…” katanya dengan mata dikerjab-kerjabkan.

“Baguuus…” kuturunkan tubuhnya dari pangkuanku, rebah kembali ke ranjang bertelekan bantal di kepalanya.

Tubuh semoknya kini rebah agar dapat kupeluk tindih dengan mudah. Tubuh kami rapat menyatu. Aku tepat berada di antara kakinya yang terbuka lebar bekas dipangku barusan saat kuungkap perjanjian tiga pasal tadi. Kembali kucumbui mulutnya dan ia mengerang menikmatinya.

“Ahh…” erangnya lagi kala cumbuanku berpindah ke lehernya, tidak dicupang.

Hanya kujilat dan kukecup aja. Lalu terus turun dan mendarat di gumpalan gemuk dadanya yang, “Aaahhh…” mulutku langsung mencaplok puting besar beraerola lebar itu. Bayi akan mudah sekali menyedot ASI dari kenyal gemuk buntalan susu ini.

Apalagi bayi setua aku yang belum disapih bertahun-tahun. Kenyot-kenyot dan remas kulakukan hingga tubuh Andini menggelinjang. Lidahku di dalam mulut juga bekerja tak jemu-jemu mempermainkan kala menyedot.

Aseng junior-ku yang menegang keras sudah mencapai mode tempurnya kugesek-gesekkan ke paha dalamnya. Meluncur turun mengetahui posisi target sarang barunya. Menelusuri paha dalam, turun dan tiba di kemaluannya si gemuk montok berjembut lebat.

Permukaan kasar jembutnya bergesekan dengan kepala Aseng junior. Andini memposisikan pinggulnya hingga gemuk montok miliknya bisa bersua kelamin dengan milikku.

“Yaahh…” belahan kemaluannya sudah tepat ditempeli Aseng junior-ku pada saat yang tepat.

“Udah bisa abang masukin ya, Dinn?” pastiku meminta izin dahulu sebelum serius mulai prosesi penghamilan dirinya.

“Masuk, baang…” izinnya turun dan kudorong perutku ke depan, membelah si gemuk montok berjembut lebat.

“Aaahhh… Pelan, baang…” Kudorong pelan-pelan aja walo sebenarnya liang kawinnya sudah basah berkat orgasmenya barusan. Tapi ini memang masih sempit karena belum pernah melahirkan sebelumnya walo udah lama meritnya.

Selagi kutambah acara dorong-tarik Aseng junior, aku kembali mengajaknya bercumbu bibir lagi dengan adu ujung lidah juga. Kakinya tambah rileks dan membuka lebar mengakomodasi himpitan tubuhku yang semakin rapat menimpanya.

Lama kelamaan, Aseng junior bisa masuk lebih jauh dan kepitan liang kawinnya, beeuhh… Juara! Sempit kali. Kontol si Heri pasti gak ada apa-apanya untuk mengobrak-abrik liang kawin biniknya ini.

“Ah ah ah ah…” erang Andini kala aku mulai melakukan sodokan teratur 1-1.

Tubuh kami rapat berhimpitan dengan tusukan pendek-pendek aja agar ia bisa terbiasa dengan besar lingkar diameter Aseng junior-ku. Panjang kemaluanku standar aja orang Indonesia kebanyakan jadi performaku yang kini menjadi andalanku untuk memuaskan tiap perempuan yang kugauli. Staminaku juga kini semakin meningkat yang kuyakin berasal dari latihan rutinku dalam silat harimau Mandalo Rajo.

“Aahh… Enaak, baang…” erangnya puas.

“Enaak? Gini?” kuganti tusukan 1-1 pendek itu menjadi 2-1 tusukan dalam dan pendek sehingga aku harus mengganti posisi menghimpitku ini menjadi lebih naik dengan topangan tangan.

Tusukan andalan 2-1 yang biasa membuat para binor klepek-klepek kembali kuperagakan pada binor terbaruku ini. Lezat sempit liang kawin si gemuk montok terbelah pasrah disodoki Aseng junior. Mengepit erat hingga bibir minora-nya agak tertarik keluar kala Aseng junior keluar untuk kembali dihujamkan masuk.

Andini bahkan berusaha mengintip pertemuan kelamin kami dengan mulut menganga menarik nafas. Mulutnya tambah lebar menyaksikan batang kemaluanku yang membobol kemaluannya dengan kecepatan sedang konstan. Tangannya mencoba meraih hingga menekan sisi payudaranya.

Ia melebarkan bukaan bibir kemaluan gemuk montok itu. “Aahh…” aku menghalangi pandangannya ke arah gumpalan gemuk payudaranya yang makin mencuat akibat ulah tekanan lengannya dengan mengenyot kembali puting gemuknya. Segala benda menggairahkan milik Andini sungguh gemuk-gemuk enak gitu untuk dinikmati.

“Aaahhh… Lebih cepaat, baang… Enaak kalii… Auhh…” erangnya melebarkan kakinya dan naik nangkring di punggungku. Tumbukan pangkal pahaku dan pahanya berbunyi plok-plok gitu mengikuti permintaannya lebih cepat.

“Aaah… Baanng… Nyaampe lagi, bang… Ahh…” erangnya menaikkan dadanya lebih membusung ke atas.

“Treak yang kuat, Diin!!” suruhku.

“Aahhh… Ahhh!!”

“Yang kuat!!” suruhku lagi terus menggenjot walo remasan liang kawinnya meremas-remas dahsyat Aseng junior-ku. Entah kegilaan apa yang nyangkut di benakku saat ini menyuruhnya berteriak kuat.

“AAAHH!! AAHHH!!!” dengan patuh ia menjerit-jerit keenakan karena liang kawin si gemuk montok-nya terus kubombardir kencang dengan Aseng junior.

Memberikan jepitan-jepitan memulas dahsyat. Liangnya terasa sangat basah dan becek hingga remasan liang kawinnya terasa sangat nikmat dan aku terus bersemangat menyodoknya lagi dan lagi.

Para tetangga mesum di sekitar kami pasti mendengar jeritan nyaring Andini barusan. Mereka yang berusaha diam-diam melakukan kegiatan yang sama persis dengan kami lakukan ini pastinya akan tertantang untuk melakukan yang sama. Tapi itu bagi yang bernyali saja.

Kami berdua bernafas berat. Ngos-ngosan. Aseng junior masih terbenam dalam di panas liang kawin becek yang sudah bergelimang sperma kentalku. Sewaktu ia berulang-ulang mendapatkan multiple orgasme itu, aku juga ikutan ngecrot.

Makanya aku menyuruhnya treak sekuat-kuatnya untuk merangsangku lebih dan aku ejakulasi senikmat-nikmatnya. Kubenamkan mukaku ke gumpalan gemuk dadanya. Menikmati nyaman kenyal gundukan lemak itu. Kudusel-duselkan mukaku di sana. Puting gemuknya menggaruk pipiku.

Kuraih bantal terdekat yang tak dipakai Andini, kuposisikan di bawah pantat tebalnya hingga posisi tubuhnya melengkung, menjaga agar sperma berhargaku bekerja lebih optimal lebih lama membuahi sel telur di rahimnya.

Andini pasrah aja karena tubuhnya masih sangat lemas. Kuapakan saja tubuhnya ia nurut. Kukenyot-kenyot puting gumpalan gemuk payudaranya dari sampingpun ia dia tidak merespon apa-apa. Masih lemas dengan nafas berat. Pandangannya kosong menatap langit-langit kamar hotel.

“Uh-hu hu huh huu… Enak kali, baaang…” lalu sadarnya ia berusaha merangkul kepalaku yang masih asik nenen di gumpalan gemuk dadanya.

Aku menahan kakinya agar gak ikut-ikutan mengalung ke arah kakiku. Kusumpal mulutnya yang masih merengek keenakan. Bibirnya maju monyong bercumbu denganku yang terpaksa menengadah.

“Ini apa, bang?” maksudnya pada bantal di pantatnya itu. Mulut kami masih menempel.

“Biar bisa hamil… gini cara awak… Percaya aja, ya?” kataku lalu beradu mulut dengannya lagi.

Jariku bermain-main dengan kenyal gumpalan gemuk dada dan puting gemuknya. Kuremas-remas hingga ia tersenyum lalu tertawa geli.

“Kenapa? Enak, ya?” Aseng junior kugesek-gesekkan ke pahanya. Masih ada noda spermanya tapi ia tidak perduli.

“Masih bisa lagi, bang?” ia melirik ke bawah perutku karena merasa Aseng junior cukup keras menggesek pahanya. Aku gak menjawab tapi terus menggesek.

“Punya abang gede kali, bang… Punya Heri kurus gitu… Panjangnya mungkin sama… Tapi kurus…” dibandingkannya Aseng junior-ku dengan punya lakiknya.

“Abis nembak gitu… pasti langsung lemes… Naek lagi paling satu jam nanti…”

“Beda-beda, Dinn… Kebetulan aja punya awak kek gini…” kataku gak mau nyombong. “Istirahat dulu apa lanjut?” tanyaku memintanya memilih.

“Lanjut aja, bang… Udah keras gitu… Enak-loh yang tadi… Jarang-jarang Andini ngerasain enak kek tadi…” katanya memuji performaku.

Padahal tadi itu hitungannya masih terlalu cepat. Belum ada 10 menit aku udah ngecrot. Tapi karena memang karena ulahku sendiri yang terbuai remasan yahud orgasme berulangnya. Aseng junior gak tahan dan muntah.

“Tapi ini harus meresap dulu agak lama…”

“Gini aja, bang…” katanya setelah berpikir sebentar.

Ia meraihkan tangannya ke arah Aseng junior yang kembali meradang pengen masuk lagi ke sarang terbarunya, si gemuk montok yang sudah dimuntahi sperma kentalnya. Ia hendak memegang Aseng junior. Aku menangkap kalo ia ingin mencoba memasukkan Aseng junior ke mulutnya. Kutunggu sebentar reaksinya, apa benar itu maunya?

“Gak pa-pa, bang…” tanpa sungkan ia meremas Aseng junior yang masih lengket-lengket oleh sperma dan cairan vaginanya sendiri.

“Awak udah sering sama Heri…”

Masih dalam posisi berbaring dan kaki terbuka pantat terganjal bantal, aku memasukkan Aseng junior ke dalam mulutnya. Mulut mungilnya tak sanggup menelan semua batang Aseng junior, hanya bagian kepalanya saja.

Tangannya sibuk mengocok batang lengketnya, meratakan semua cairan kental yang tersisa. Lidahnya menyentil-nyentil lubang kencingku berulang cepat lalu disapu berputar-putar di kepala Aseng junior.

“Kegedean, bang… Biasanya punya Heri masuk, kok…” sesalnya tak bisa melakukannya sesuai bayangannya.

Ia mengocok-ngocok gemas hingga semua cairan kental itu berkumpul di pangkal bersama rimbun jembutku.

“Jangan semua-lah… Nanti Andini kelolotan punya awak…” jawabku cukup menikmati sebenarnya aksi oral yang dilakukannya karena aku juga gak tinggal diam dan terus memainkan gumpalan gemuk dadanya. Gemes dengan puting gemuknya yang berwarna gelap kontras dengan putih kulitnya yang cerah glowing.

“Glokk… gllok…” ia mencoba dan cenderung memaksakan dirinya melewati batasan mulutnya yang memang mungil.

Aku dapat menguasai mulutnya kala bercumbu karena hanya itu yang mungil dari dirinya. Usaha kerasnya membuat Aseng junior-ku merasakan nikmat itu, terjepit sempit mulutnya seperti terbenam di dalam versi lain liang kawinnya yang lebih fleksibel. Kuusap-usap keningnya yang berkerut, raup rambut yang menodai wajah cantik-manisnya—ayu.

“Udah?” tanyanya begitu kulepaskan kepala Aseng junior yang disedotnya dari tadi. Aku mengangguk.

Aku memposisikan diriku di antara kakinya lagi. Bantal itu kusingkirkan dan kutampung pantat tebalnya dengan kedua tanganku. Aseng junior mengarah tepat menunjuk ke arah lubang menganga lebar masih tergenang spermaku.

“A-aahhh…” Aseng junior tergelincir licin memasuki liang nikmat, hangat dan sempit itu. Kusorong sampai kandas seluruh panjang batang Aseng junior-ku. Kudiamkan sesaat dan Andini juga menikmatinya bersamaku. Momen-momen kelamin kami intim bersatu. Kedut-kedut terasa dari dalam jepitan liang kawinnya sedang meremas batang kemaluanku.

“Penuh kali rasanya, bang… Tapi enak…” katanya.

Kudekatkan hingga rapat tubuh kami, pantatnya kini berada di atas kasur.

“Cup… Tapi jangan sampe naksir, yaa? Bahaya nanti…” setelah kukecup bibirnya sekilas.

Aku membenarkan posisi kaki untuk mulai menggenjotnya lagi. Aseng junior terasa enak di dalam sana. Tekanan kuat yang dirasakannya harus segera dituntaskan. Andini tersenyum dengan bibir mungilnya bersamaan denganku mulai bergerak.

“Shlok shlok shlok…” suara gesekan basah kelamin kami menyebabkan friksi enak yang mulai mengelevasi rasa nikmat di kepala sebagai pusat pengendali rasa ekstase ini. Hormon-hormon pencetus rasa gembira dan senang itu meresap ke dalam tiap dawai syaraf.

Tak salah kalo seks adalah alternatif rekreasi yang mudah didapatkan pada saat tertentu. Andini mengerang-ngerang dengan menggerakkan kepalanya ke kanan ke kiri menikmati tiap suguhan kenikmatan yang kutawarkan ke tubuhnya.

Aku menikmatinya bareng keindahan visual yang diberikannya lewat goyangan berguncang gumpalan gemuk dadanya yang kenyal bergetar tiap sodokan Aseng junior-ku. Naik turun berputar-putar, indah menggemaskan.

“Aaah… Baaang?! Aaahh… Yaahhh…” erangnya sangat seksi.

Binor si Heri sangat seksi dan ayu, perpaduan cantik dan manis. Paok kali dia mau menukar keindahan ini dengan kejalangan janda pelakor itu. Pelakor jalang itu memang cantik juga sih.

Tapi karena perasaannya sudah dikacaukan ilmu ghaib sehingga ia rela mengganti hatinya ke perempuan itu. Tapi sudah berapa banyak lelaki hidung belang yang sudah menjamah tubuhnya? Sudah berapa banyak rumah tangga yang dihancurkannya.

“Tereak yang keras, Diiinn… Luapkan emosimu! Kalo mau tereak… tereak yang keras! Yang kuat!!” seruku makin mempercepat genjotanku.

“Plok plok plok!” genjotan cepatku menimbulkan suara tepukan basah akibat bertemunya tubuh berpeluh kami. Ruangan ini ber-AC tapi tak begitu optimal pendinginannya. Biasalah… Kamar hotel murah.

“AAHHH!!! YAAAHHH!!” erangnya lebih kuat dari tadi meluapkan ekspresinya.

Ada emosi di sana. Marah ke suaminya. Marah ke pelakor itu. Liang kawin gemuk montoknya semakin basah dan licin. Aseng junior dengan mudah menembusnya hingga mentok, perutku dan selangkangannya bertemu. Jembut kami saling bersapa bersilaturahmi. Ia makin mengerang keras. Aku tidak dapat mendengar suara lain. Suara channel berita TV bahkan tak terdengar lagi. Hanya ada suara Andini di kamar ini mengerang-ngerang keenakan kuentot.

“AAAHHH EHHMMM YYAAAHHH!! TRUS, BANNGG!!”

Tubuhnya melengkung “NYAMPEEE, BAANG!!” jeritnya memeluk erat tubuhku.

Tubuh kami bersatu dan aku merasakan gumpalan gemuk dadanya lumer di dadaku. Andini bahkan menggigit dadaku dengan gemas. Terkejat-kejat ia naik turun merasakan nikmat orgasme ini.

Ia menikmatinya habis-habisan. Aku masih menggenjotnya pelan-pelan berharap dapat mendapat keuntungan di sana karena Aseng junior mendapat stimulasi maksimal, dipulas seketat-ketatnya. Dipagutnya mulutku dengan penuh gairah.

Lidahnya menjulur masuk menyeruak. Mengaduk-aduk lidahku. Menyedot lidahku. Kami hanya bisa bernafas panas dari hidung. Aseng junior terus kupompakan lebih cepat kembali. Gumpalan gemuk dadanya kuremas gemas.

“LAGIII, BAANGG!! TRRUSSS!! AAHHH!! AKKHH!!” erangnya tak berhenti setelah melepas pagutan mulutnya.

Tangannya meremas pangkal lenganku yang liat. Kukunya terbenam di kulitku. Aseng junior memompa teratur dengan cepat. Lancar ia merojokki liang kawin Andini yang licin becek oleh cairan orgasme barusan. Peluh makin membasahi tubuh kami berdua menimbulkan suara kompak nyaring bertepuk-tepuk.

“AAHH ENAAK KALI, BAANG!! NGENTTOOOOTTT!!! AAH!!” kejat-kejat kembali tubuhnya orgasme liar. Aseng junior dicekik dan sampai pada batasnya.

“Croott Croott Croottt!!” spermaku menyembur deras kembali untuk kali kedua di malam Minggu yang panas di daerah Belawan bareng seorang binor yang baru sore tadi kukenal.

Sudah saling berbagi birahi dan kenikmatan berdua di kamar ini. Kupagut bibir mungilnya dan kunikmati sepuas-puasnya. Ia meningkahi permainan mulutku tanpa malu-malu lagi.

Seperti nyaring suaranya yang membahana di kamar hotel ini. Mungkin mengganggu penikmat syahwat lain di luar sana. Ia tak perduli. Kurengkuh tubuhnya menikmati bersama rasa nikmat itu. Menikmati kulit lembut berkeringatnya.

***

“Gimana rasanya bisa tereak-tereak kek gitu?” aku baring berbantalkan tanganku sendiri di sampingnya.

“Ngerasa bebas?”

“Rasanya aneh aja awalnya, bang… Tapi waktu teriak… yaa… bebas gitu… Merdeka!” malah mengepal tangannya.

Gumpalan gemuk dadanya berguncang keras kala ia berteriak merdeka. Aku gemes dan meremasnya.

“Iihh…” kegelian dia. Ia malah meraih ke bawah pada Aseng junior yang masih manggut-manggut terpekur lemas, lalu meremasnya membalas.

“Aahh… Masih mau lagi?” tantangku.

“Mau dong kalo abang bisa… Bisa, ya?” tanyanya balik.

“Istirahat dulu, Dinn… Lagi pula itu biar meresap dulu agak lamaan…” kataku lalu mengusap perutnya yang agak endut berlemak.

“Biar cepat jadi… Awak biasanya giniin biar cepat jadi…” usap-usap sampai menyentuh rimbun jembut rambut pubisnya. Pantatnya kembali kuganjal bantal.

“Sama orang rumah (istri) abang biasanya dibuat gitu ya, bang? Sampe anaknya udah dua…” tanyanya menatapku riang.

Ia mungkin senang karena beranggapan aku memperlakukannya seperti aku memperlakukan istriku di rumah. Aku hanya mengangguk dan tersenyum. Belum tau dia udah berapa binor yang sudah kubikin bunting dengan teknik ngecrot-ganjal bantal ini. Ia makin bersemangat mengocok Aseng junior yang perlahan bangkit lagi dari tidur ayamnya. Siap berkokok lagi.

“Itu tadi… Merdeka tadi… Gak malu, kan? Orang-orang di luar sana pasti dengar semua-loh, Dinn…” tanyaku mengingatkan kembali pada urusan tereak-tereak tadi. Seperti war-cry gitu untuk meningkatkan semangat juang.

“Biarin aja… Gak kenal ini, kok… Lagian mereka juga kan lagi enak-enakan juga… Kalo mau ayo teriak juga kek Andini tadi… Pasti puas…” alasannya.

“Tapi beneran enak kali-lah, bang… Awak dari SMA dulu udah ngamar kek gini sama Heri… Gak pernah awak keenakan kek gini… Apa Heri-nya aja yang kurang ya, bang?” tanyanya meremas Aseng junior gemes.

“Saling mengisi aja, Dinn… Jangan dibanding-bandingin suamimu sama awak… Nanti rumah tanggamu jadi hambar… Disyukuri aja apa yang udah Andini dapat… Kalo nanti Heri udah sembuh… Berbaikan-la dengan benar… Perlakukan dia sebagai suami dengan benar… Laki-laki itu sederhana aja-nya… Kalo di rumah sudah cukup semuanya… gak akan macam-macam dia… Kalo di rumah merasa kurang… ehmm… udah… Mulailah nyari sana nyari sini… Udah jadi ribet dia ujungnya… Kek Heri sekarang ini…” kataku sok menggurui dan menasehatinya. Padahal…

“Iya-ya, bang… Awak jadi gimana gitu kalo ngingat-ngingat kakak angkatnya itu… si Cyntia ganjen itu… Cantikkan mana Andini sama dia, bang?” tanyanya menanyakan pendapatku.

“Bagusan Andini kemana-mana-laaa…” jawabku memuji keindahannya.

Aku membersihkan keningnya dari juntaian helai rambut. “Andini ayu… montok… seksi…” lanjutku memuji-muji tampilan luarnya. Enak dientot juga pastinya.

“Tapi itu tadi… Mungkin ada sesuatu yang plus… Yang lebih yang diberikan si Cyntia-Cyntia itu pada suamimu… Yang gak pernah Andini beri padanya… Bisa jadi dari sana pelet itu masuk…” terangku.

“Pelet itu masuk dari sana?” ulang Andini. Ia jadi lebih tertarik pada masalah ini hingga bangkit dan bersandar pada kedua sikunya.

“Pelet jenis ini biasanya dalam bentuk pengasihan… Tentunya si Cyntia ini bukan perempuan baik-baik… Bukan karena status jandanya, yaa… Dia ketemu Heri di tempat hiburan malam gitu, kan? Karaoke?” tanyaku. Andini mengangguk membenarkan.

“Perempuan-perempuan ini biasanya melengkapi dirinya dengan pengasihan agar langganannya selalu balik dan balik lagi… Selalu ingat dengan dirinya… Terbayang-bayang terus… Jadi ia terus bisa mengeruk uang dari mereka para tamunya… Ada tamu yang royal… ada tamu yang pas-pasan… ada tamu yang rela melakukan apa saja agar ada duit untuk memakai jasanya… Heri mungkin ada di kriteria yang royal dengan duitnya…” jelasku.

Andini mengangguk-angguk di posisi duduknya kini. Ia memangku dagunya dengan tangan siku di lutut.

“Si Cyntia-Cyntia ini pasti mengeluarkan semua kemampuan terbaiknya untuk merayu dan melayani Heri… Entah apa pelayanan ekstra yang diberikannya pada Heri yang terbilang plus-plus lebih dari biasanya hingga suamimu ini terjerat semakin dalam lebih dari tamu lainnya… Bisa apa aja… Entah perhatian… Entah masakan… Entah… apa aja bisa…” kataku juga ikut duduk di atas ranjang dengannya saat memberikan konsultasi padanya.

“Andini gak pande masak, bang…” ingatnya menerawang mungkin mengira itu salah satu sebabnya.

“Belajar masak… Masakin makanan kesukaannya… Luluh laki-laki biasanya…” kataku memberinya ide ini.

“Menghambakan diri pada suami itu gak salah… Karena dia pemimpinnya di rumah tangga kalian… Dari sana akan ada hubungan saling sayang menyayangi yang lebih dari sekedar status suami istri…” lanjutku lagi udah kek konsultan perkawinan aja. Padahal aku udah banyak kali nyeleweng dari istriku. Entah udah berapa binor yang kuhamili, aku malas ngitungnya.

Ia tercenung memikirkan semua kata-kataku barusan. Matanya menerawang mengingat hari-hari bareng suaminya.

“Besok pulang, ya?” pintaku.

“Nanti kalo sempat awak anter ke terminal Amplas…” tawarku. Ia beralih menatapku.

“Iya… Tapi abang anter sampe Siantar, yaa? Andini takut…” katanya kehilangan kenekatannya tadi pagi.

Ia mulai membayangkan yang enggak-enggak tentang keangkeran sebuah terminal. Aku berani bilang preman-preman yang menguasai terminal di seluruh Indonesia kalo berasal dari Medan pasti magangnya dulu di terminal Amplas. Terminal bus terbesar di kota Medan. Klen bayangin aja angkernya gimana.

“Sampe Siantar?” kagetku tentu.

Apa yang akan kukatakan pada anak dan istriku? Memang besok gak ada acara apa-apa sih. Tapi mengantar binor kembali ke kota asalnya yang cukup jauh dari Medan itu memakan waktu.

“Gak bisa-la, Dinn… Tapi besok awak tungguin sampe bus AKAP-nya berangkat-laa… Betul! Suwer…” tolakku.

“Ya udah… Andini gak mau pulang besok… Andini nginep aja di sini terus…” katanya berubah kolokan melipat tangannya di bawah gumpalan gemuk dadanya dan membuang muka.

“Yaelaa… Pake ngambek si Andini ayu…” rayuku menjawil dagunya.

“Jangan ngambek gitu-laa… Di sini… Di hotel ini juga serem-serem-loh… Preman-preman Belawan sini sukanya maen perempuan di sini… Nanti Andini dikira perempuan kek gitu pulak… Mau ditawar preman?” kataku menakut-nakutin.

“Biarin… Biar sekalian bunting sama preman gak jelas gitu…” katanya malah tambah ngambek. Tambah ketat ia memeluk tubuhnya hingga makin membusunglah dada gemuknya tambah besar.

“Preman Belawan sini kasar-kasar mainnya… Tetek Andini dikenyot-kenyot uhmm… kek gini… Disedot-sedot… uhmm… kek gini…” peragaku akan semua akan semua kalimat menakutiku.

Mulutku sudah mendarat lagi ke puting gemuknya. Mataku tak lepas memperhatikan ekspresi yang memancar dari wajahnya. Bibir bawahnya digigit menahan enak.

“Diremas-remas… kek gini…” remasku agak sedikit kuat dari sebelumnya hingga gumpalan gemuk itu seperti lumer di tanganku mau meledak.

“Uhhnn… Usshh…”

“Dibalik kasar kek gini!” kataku memperagakan keinginanku sendiri.

Tubuhnya berbalik dan ia menuruti apapun yang kulakukan. Kutunggingkan tubuhnya hingga ia bertumpu di tangan dan kaki.

“Diremas-remas lagi kek gini…” kuremas-remas kuat bokong tebalnya, kenyal bukan buatan.

Anus dan liang kawinnya membuka-nutup karena perlakuan tanganku. Liang kawinnya yang masih ada sisa sperma kental berkedut-kedut, mungkin ia membayangkan akan disodok dari belakang abis ini.

“Dipletek’in (dibuka) lebar-lebar kek gini…” kusingkap bukaan bibir gemuk vaginanya hingga liang kawinnya membuka lebar.

Liang merah merekah itu sangat menggairahkan, menunggu untuk kucoblos lagi dengan kedigdayaan Aseng junior.

“Trus dientot!” coblosku gak sabar lagi.

“Ahh!!” erangnya.

Aku sudah terangsang hebat menyaksikan tunggingan pantat tebal semok Andini di hadapanku. Aseng junior sudah meradang keras mau masuk lagi memulai ronde 3 malam ini. Aseng junior masuk ke liang itu agak seret karena posisi nungging Andini belum sepenuhnya pas.

Alur liangnya belum sejalan dengan arah tusukan Aseng junior. Kukoreksi posisi membungkuk nungging Andini dengan bahu lebih rebah dan bokong lebih mencuat ke atas, kaki sedikit mundur. Tusukan dalam bisa kulakukan sekarang.

“Yaahhh…” erangnya merasakan nikmat yang sama denganku.

“Dientot kasar kek gini!” kugasak liang kawinnya dengan sodokan cepat dan kasar.

Aku berpegangan pada pinggul sendi tungkainya. Kuremas erat dan memperagakan gerakan cepat brutal seumpama preman yang brangasan. Spring bed murah hotel ini sampe berbunyi-bunyi pegasnya yang bekerja keras menahan tubuh kami berdua yang bergerak liar. Kepala Andini terbanting-banting dan bersuara histeris erangannya.

“Kasar ughh… Kasar kek gini!” hujaman Aseng junior kubuat panjang satu-satu. Hanya dicabut sebatas leher lalu ditusuk masuk lagi dengan cepat. Mengadu perutku dan bokong tebalnya.

Melonjak-lonjak tubuh Andini mendapat sodokan. Ia menjerit kuat-kuat lagi seakan sangat menikmati perlakuanku ini. Tubuhnya tergial-gial, terdorong menerima sodokan tubuhku. Gumpalan gemuk dadanya bergantung berat memanggilku untuk memerahnya.

“AAAHHH…. AAAUUHHH…” beberapa kombinasi tusukan kulakukan sekaligus. 2-1 dan tusukan panjang-panjang juga.

“Pulang enggak?” kataku berpura-pura mengancamnya dengan remasan kuat di teteknya. Kuputar-putar Aseng junior mengulek liang kawinnya.

“GAK MAU!!” jawabnya berteriak.

“Pulang!” remasku lebih kuat. Kedua gumpalan gemuk dadanya kini kuremas kuat.

“GAK MAU PULANG!!” jeritnya lagi menjawabku.

Tangannya meremas sprei kusut ranjang merasakan ulekan Aseng junior di liang kawinnya. Kukedut-kedutkan Aseng junior di dalam sana dan dibalasnya dengan kedutan sejenis yang meremas batang kemaluanku gak mau kalah.

“Ooo… Minta dibuntingin ini namanya!” kataku melepas remasanku pada teteknya.

Kuhajar lagi si gemuk montok kelaminnya dengan sodokan panjang-panjang. Tarik sampe sebatas leher Aseng junior lalu ditusukkan masuk sedalam-dalamnya. Menggempur pintu rahimnya berulang-ulang. Tanganku mengait melewati pinggulnya dan mencari kacang itilnya langsung mengobel.

Berjengit geli perempuan binor ini merasakan rasa geli nikmat tambahan di kelaminnya yang sudah merekah terbelah oleh Aseng junior-ku. Jembutnya sudah basah berkeringat kala jariku cepat menggelitik kacang itilnya. Sejalan dengan tusukan panjang-panjang kelaminku, menggesek liang jalan uterusnya yang kugerus terus menerus. Tanganku yang satunya meremas-remas bongkah pantatnya yang tebal kenyal.

“Aaaa….”

“A-AAHHH… NYAMPEE LAGIII… AHHH!!!” Andini merebahkan kepalanya ke ranjang, pahanya bergetar, liang kawinnya meremas kuat, Aseng junior terus meradang menjelang kenikmatan juga. Tak kutahan-tahan kusemprotkan lagi sperma kentalku memenuhi tubuhnya yang sedang menungging.

Aseng junior meledak di dalam liang kawinnya. Menyembur kencang mengisi rahimnya yang sudah terbebas dari petaka durjana Begu Ganjang sialan itu. Memenuhi rahimnya dan berlomba membuahi sel telur miliknya di masa subur.

Kubenam sedalam-dalamnya, menyatukan kelamin kami untuk prosesi prokreasi ini. Andini lemas bersujud menungging dengan Aseng junior masih bercokol dalam di liang kawinnya. Kedua bongkah pantatnya kuusap-usap tanpa sadar.

Aseng junior berkedut-kedut berirama dengan si gemuk montok saling berterima kasih sudah memberikan kenikmatan dalam kerjasama selaras keduanya. Kukeluar masukkan Aseng junior sebentar untuk melihat seberapa banyak spermaku yang berusaha mengalir keluar. Kubalikkan tubuh Andini agar spermaku tak menjadi sia-sia, mengalir tumpah.

Terbaring lemah dengan kaki mengangkang pasrah, kemaluan penuh sperma kental yang diganjal bantal agar tak keluar. Kutindih tubuhnya lagi dengan kelamin menempel. Kukecup tetek dan bibirnya bergantian.

“Besok pulang, ya?” tanyaku agak manis kali ini. Mata Andini masih terpejam menikmati semua rasa nikmat yang masih menguasai tubuh semoknya.

“Iya-iya pulang… Tapi dua kali lagi… Abang dua kali nembaknya, yaa?” tawarnya masih belum membuka mata. Bibir mungil segarnya berceloteh habis kukecup.

“Tapi anterin sampe terminal… Janji?” ia lalu membuka mata.

“Siap, bos! Dua kali lagi beres!” jawabku dengan salam hormat.

***

Setelah dua kali lagi menggauli Andini di kamar hotel itu hingga total aku sudah lima kali membuahi rahimnya. Aku pulang pelan-pelan ke rumahku yang berada di kompleks perumahan XXX blok YY. Tapi namanya di jalan tol mana bisa berkendara pelan-pelan. Segala macam truk kontainer dan dump truck adalah sainganku yang melaju kek hantu.

Aku sempatkan juga poding di tukang jamu yang kutemukan di Belawan tadi. Siapa tau orang rumah nanti minta jatah, bisa diladeni dengan baik. Gak boleh curiga, kok udah loyo? Udah berapa kali keluar hari ini? Gawat, kan? Tapi pusing juga gimana ngasih tau orang rumah besok pagi waktu nganterin Andini ke terminal. Bilang apa, ya? Ah bilang aja nyari sarapan apa gitu. Amplas kan dekat aja kalo lewat tol…

Jam setengah sebelas aku baru nyampe rumah. Bu Lastri yang bekerja bersih-bersih rumah yang membukakan gerbang untukku. Saat kutanyakan padanya dimana istriku berada, katanya ada di samping, di pelataran kolam renang. Aku langsung kesana. Lampu tidak terlalu terang dinyalakan, hanya temaram.

Keknya dia gak sendirian… Benar aja. Dia sedang ngobrol dengan seorang perempuan yang kalo kutilik dari postur tubuhnya yang menghadap membelakangiku sepertinya Tiara. Loh… Bukannya Sabtu Minggu dia libur?

Kubiarkan mereka ngobrol dan sepertinya obrolan mereka cukup asik. Bagus deh istriku ada teman teman ngobrol akrab di rumah ini. Secara kalo ngobrol bareng 3 ART lain yang walo sesama perempuan juga dunianya agak berbeda gitu.

Tiara yang masih muda ternyata cukup bisa mengimbangi obrolan dengan istriku yang sudah emak-emak walo gaul. Kuperiksa kedua anakku, apa kabar mereka. Rio tidur dengan damai di kamarnya. Salwa tidur di kamar kami di box bayinya.

Ia tidur dengan nyaman walo sekarang terpisah. Ini kontribusi Tiara juga yang menyarankan pada kami untuk mulai mendidik Salwa tidur sendiri. Di pelatihannya ia dididik begitu dan diterapkannya pada kami.

Jadi kalo anak bayi kami terbangun dan minta ASI, istriku harus rela bangun, menyusuinya dengan posisi duduk dan menidurkannya kembali ke box-nya begitu ia terlelap lagi. Begitu ternyata caranya.

Pada Rio dulu baru-baru ini aja dia mau tidurnya misah. Nanti pelan-pelan kamar Salwa akan dipisah dari kami kalo ia sudah terbiasa dengan metode ini. Sebuah baby-monitor yang menjadi andalan kami kelak.

Aku turun lagi dan berpapasan dengan bu Murni yang membawakan cemilan dan minuman yang akan dihidangkannya pada istriku dan Tiara di pelataran kolam. Aku ikut bareng dengannya dan bergabung.

“Baru pulang, pa?” sapa istriku. Tiara keliatannya gak enak gitu dan dari gestur-nya mau langsung cabut gitu.

“Iya, maa… Banyak kerjaan… Tiara gak libur? Biasanya pulang ke Tembung, kan?” tanyaku mengajaknya ngobrol untuk menahannya.

“Enggak, bang… Males aja…” jawabnya.

“Oo… Ya udah… Kita ngobrol-ngobrol aja di sini…” ajakku untuk memperlama obrolan.

“Berarti Tiara gak ada yang ngapelin-la?” tembakku. Mungkin biasanya ada, ini mungkin lagi menghindar. Ia hanya tertawa cengengesan aja gak menjawab jelas.

“Kejauhan ya kalo cowoknya suruh ngapel kemari?” kataku asal-asalan.

“Ish… papa ini ada-ada aja… Malu tuh anak orang…” kata istriku menepisku.

“Yaa… kalo ada suruh aja ngapel kemari… Anggap aja rumah sendiri…” kataku sungguh-sungguh jadinya. Biar ia merasa lebih akrab aja dengan keluargaku.

“Tadi papa baru ngeliat anak-anak?” alih istriku pada topik ini. Ia menatapku agar aku gak membahas masalah itu lagi.

“Iya… Tadi baru ke kamar Rio trus ngeliat Salwa… Kok tau?” kataku. Rupanya jejakku udah ketauan duluan. Tapi aku pura-pura gak tau aja.

“Itu dari baby-monitor Tiara keliatan…” tunjuknya pada alat yang dipegang perempuan muda baby sitter itu.

“Di kamar Rio ada… Di box Salwa juga ada…” jelasnya.

Aku manggut-manggut paham. Ada benda itu di dalam box bayi tempat Salwa tidur dan juga di kamar Rio.

“Keliatan di situ papa ngejahilin Salwa tadi, kan?” aku ingat tadi mainin bibir bayiku yang tidur sampe manyun lalu menyiumi pipi tembemnya.

“He he hehehe…” *malus.

Sekitar jam 12-an kami bubar. Tiara masuk ke kamar yang dibaginya bersama bu Murni dan aku bersama istriku ke kamar. Dan benar aja sesuai prediksiku, istriku minta jatah malam ini.

Untungnya di kamar mandi hotel tadi aku sudah mandi sebelum pulang untuk menghilangkan semua aroma tubuh Andini yang mungkin tertinggal. Istriku menikmati tubuhku sepuas-puasnya.

Ia sangat suka dengan posisi WOT—di atas. Ia bisa mengendalikanku semaunya. Mengatur-ngatur tempo permainan dan mencapai kenikmatannya sendiri. Mendikteku kapan aku boleh keluar dan apa yang boleh kusentuh. Diakhiri dengan cumbuan mulut yang basah bergejolak.

Dengan tak adanya bayi kami yang biasanya ada di ranjang ini, istriku bisa bercinta dengan lebih eksplosif mengeluarkan semua kerinduannya padaku. Ia bisa habis-habisan mengeringkan persedian sperma yang ada di kantong pelerku. Membuatku lemas dan KO. Ia menikmati tubuhku dan kubiarkan ia merasakan kalo ialah pemilik sejati tubuh ini. Hanya dia yang berkuasa penuh atas tubuhku. Permintaan maafku…

Pagi-pagi walo badan masih pegal, kupaksakan bangun. Setidaknya aku bisa mengantar Andini sampe terminal. Selebihnya biar dia mengusahakan jalannya sendiri.

Sampe di hotel itu pagi-pagi, itu anak ternyata belum bangun apalagi mandi. Diajaknyalah aku mandi bareng dan berujung aku menyetorkan kembali sperma kentalku di kamar mandi itu. Suara bisingnya bergema di dalam ruangan sempit itu.

“OOOUHH OUUHHH OOHHHH!!!”

Habis sarapan, aku langsung menyeretnya ke mobil beserta benda-benda bawaannya di dalam tas travel itu dan meluncur di jalan tol tembak langsung ke terminal Amplas. Andini sepanjang jalan manyun-manyun menggemaskan gitu. Sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu yang pelik. Mungkin memikirkan suaminya sedang apa sekarang? Apa masih tenggelam dalam pelukan pelakor itu?

“Bang… Oleh-oleh Medan apa, ya?” tanyanya sebelum memasuki terminal.

“Bolu gulung… Bika Ambon… Buat oleh-oleh? Kita beli dulu, yuk?” tawarku berbaik-baik dengannya karena udah nurut mau pulang kembali ke rumahnya nun jauh di Siantar sana.

Mengurangi bebanku sedikit daripada dia harus menginap berlama-lama di sekitarku, pikirku. Nanti harus rutin disambangi lagi. “Yang ini?” tanyaku melambatkan mobil di sebuah toko yang menjual aneka makanan oleh-oleh khas Medan yang terkenal.

“Rame…”

“Kalo yang ini?” tawarku. Tak terasa aku sudah memasuki jalan arteri utama Lintas Sumatera, jalan Sisingamangaraja yang bila lanjut terus yaa… nyampe Siantar.

“Keknya kurang enak…”

“Yang ini paling terkenal… Cabangnya ada di mana-mana…” tawarku lagi. Mobil berjalan perlahan mencari seleranya.

“Pernah ngerasain… Kurang apa gitu…” gitu terus jawabannya sampe jauh.

“Ciiit!” aku berhenti di pinggir jalan.

“Ini namanya-mah ngakal-ngakalin awak, Dinn… Udah mau sampe Tanjung Morawa nih…” kesalku.

Andini sengaja mempermainkanku dan aku terus melaju mencoba menemukan pilihan yang dimauinya dan gak kerasa malah kejauhan sampe Pajero ini sudah hampir memasuki daerah Deli Serdang. Terlihat di kejauhan gapura selamat datang memasuki kota itu.

Binor ayu itu malah cekikikan tertawa gak bersuara berhasil mengerjaiku. “Baliklah… Putar balik-la kita…” kataku memperhatikan jalan di belakangku untuk putar arah.

“Ish janganlah, bang… Udah sampe sini-puuun… Dikit lagi sampe Siantar kita… Yah-yah?” rayunya ngelendot manja di lenganku.

Membiarkanku merasakan kenyal gumpalan gemuk dadanya sebagai umpan alat tawar. Ia menyatukan kedua telapak tangannya memohon padaku dengan muka dimanis-manisin sampe hampir kenak diabetes pulak jadinya aku.

“Manaaa dikit lagi sampe Siantar kita?… Masih jauh lagi dari sini…” tolakku mentah-mentah. Aku permisinya tadi cuma mau beli sarapan. Kok jauh kali beli sarapan sampe Siantar? Apalah nanti kata binikku…

“Iyalah, baaang… Pli~~sss…” rayunya dan menjepit lenganku di belahan teteknya yang kenyal.

“Nanti abang awak serpis abis-abisan-lah pokoknya di rumahku… Gak ada orang di rumahku… Awak bisa jerit-jerit sukak hati di sana… Mau yaaa, bang?” rayunya sangat menggiurkan.

Bisa meniduri perempuan sesemok dan sebohay Andini di rumahnya yang kosong memantik Aseng junior bangkit dari tidurnya. Andini bahkan membelai dan meremas isi celananku yang kontan membangunkan sang macan yang lagi tidur.

“Hush-hush… Diam dulu!” kataku menghubungi seseorang. Binor itu diam klekep tapi masih menekankan teteknya di lenganku. Rasa kenyal yang memabukkan.

“Yoon? Apa cerita?” begitu nada sambung berganti dengan suara sahabatku itu, Iyon.

“Eh… Apa, Seng? Baik-baik… Dimana kau?” tanyanya yang entah ada dimana.

“Ada bisnis sikit… Ajak Kojek juga… Kita ketemu di Siantar… Bisa?” tanyaku. Mudah-mudahan bisa.

“Bisa aja… Agak sore bisa?” setujunya.

“Bisa… Tapi tolong kou pulangkan aku pake cara cepat nantik, yaa? Biar gak malam kali aku pulangnya…” pintaku.

“Beres-lah itu… Kau lagi di Siantar ato cemana?” tanyanya lagi ingin memastikan.

“Lagi OTW… Nanti aku kabari si Kojek… Nanti sore pokoknya… Jemput dia… Dahh…” aku langsung memutus telepon dan memberi kode Andini untuk tetap diam karena aku menghubungi nomer lain. “Halo, maa…”

“Halo, pa? Beli sarapannya dimana? Di Baghdad?” tanya istriku di rumah sana. Pantas aja dia nanya kek gitu, aku udah 2 jam gak pulang-pulang.

“Ini… Diajak Iyon sama Kojek ketemuan… Papa langsung dibajak, nih!” alasanku.

Andini senyum-senyum penuh arti pertanda ia berhasil membajakku untuk satu hari lagi.

“Keknya ini di mana gitu… Dimana ini? Siantar?… Dibawa ke Siantar papa, maa…” kataku membuat suara-suara rusuh agar situasinya pas.

Dia tau sendiri gimana akrabnya aku dengan kedua sahabatku itu karena kami sudah bersahabat dari sejak sekolah dulu. Tau juga kebengalan dan nakalnya kami.

“Ish… Ntah hapa-hapalah dua orang itu…” kesalnya.

“Fiuh… Puas?” tanyaku beralih pada Andini yang telah melepas dekapannya pada tanganku saat ku telponan dengan orang rumah.

Andini mengacungkan dua jempolnya dan tambahan dua gumpalan gemuk dadanya dan tambahan dua puting gemuk itu juga dan senyum lebar di mulut mungilnya. Benar! Dengan nekat ia membuka kemeja yang dipakainya dan memamerkan isi behanya yang tumpah kemana-mana…

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22