The Baby Maker Part 6

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22

Cerita Sex Dewasa The Baby Maker Part 6 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya :The Baby Maker Part 5

“KOLAM RENANG!!”

Ngibrit anak lajangku yang baru genap lima tahun itu untuk turun lagi ke lantai dasar karena kolam renang yang dimaksudnya ada di sana. Kutangkap tubuh mungilnya yang enerjik karena bahaya kalo dia maen jebur aja karena aku sendiri gak tau kedalamannya seberapa.

“Sabar ya, anak papa… Iya… Nanti kita berenang di sana… Nanti… Sabar, ya?” Segala macam celotehannya karena ia ingin sekali mencoba kolam renang itu sesegera mungkin mengalahkan antusiasnya akan kamar yang baru saja diklaimnya. Rona bahagia sedikit terpancar dari istriku melihat anaknya sangat menyukai rumah barunya ini. Tour kembali diteruskan setelah diinterupsi Rio barusan.

“Kalau bapak dan ibu berniat untuk memakai rumah ini… saya sarankan untuk memakai kembali para ART yang sebelumnya bertugas disini… Mereka sudah bekerja disini sejak awal… Melayani berbagai tenant sebelumnya… jadi tidak usah repot menjelaskan pekerjaannya atau mencari yang baru…” kata sang agen. Kami duduk-duduk di samping kolam di bawah gazebo sambil mengawasi Rio yang jebar-jebur sesukanya hanya pake sempak di kolam renang yang ternyata ramah anak. Ada dua kolam bahkan di sini; yang dangkal berukuran kecil dan yang dalam lebih lebar.

“Ada berapa orang?” tanyaku. Istriku melirikku karena untuk rumah sebesar ini, pasti cukup banyak ART yang mengurusnya.

“Ada 4 orang, pak… Untuk memasak, cuci-gosok, membersihkan rumah dan satu tukang kebun… Saya bisa tambahkan baby sitter untuk dedek cantik ini…” katanya sambil menjawil Salwa yang menandak-nandak senang ngeliat abangnya maen air di sana.

“Kolam ini biasanya dibersihkan dua kali sebulan oleh tukang kebun yang juga merangkap water treatment kolam ini… Seperti yang bapak lihat sendiri… tanaman yang diurusnya tidak terlalu banyak…” bergantian ia menatapku dan istriku. “Rincian gaji mereka berempat bisa dilihat di sini…”

Istriku cepat-cepat menyambar lembaran kertas itu untuk melihat profile keempat orang yang biasanya bertugas di rumah ini. Setelah dibacanya diserahkannya padaku.

“Beliau ini mahir memasak makanan Nusantara dan internasional karena kebanyakan yang menjadi tenant rumah ini sebelumnya banyak ekspatriat…” jelasnya tentang wanita yang berumur pertengahan 40-an yang menjadi juru masak.

“Gaji beliau yang paling besar lalu tukang kebun… karena dia juga mahir memperbaiki kalau ada apa-apa yang rusak… Di tukang cuci-gosok dan membersihkan rumah saya rasa cukup dari standar-lah…”

Mata istriku dari tadi ngeliatin aku terus yang membaca profil para ART ini juga besaran gajinya. Pasti dia akan protes kalo gak ada sang agen di sini perihal besar gaji yang lumayan gede untuk ukuran ART.

Tetangga kami di Mabar yang mempekerjakan ART, yang lumayan berada, gak sampe segitu menggaji ART-nya. Gaji sebulan mereka berempat digabung sebenarnya masih kalah dengan gaji Suhendra. Paling lama kami cuma dua bulan di sini. Dan Hendra rela tidak digaji setahun ini. Bisa dialokasikan kesana. Hmm.

“Mama perlu baby sitter nggak?” tanyaku sebelum mengambil keputusan.

Ada tambahan tarif gaji kalo mengambil opsi menambah layanan ini. Yo hoho. Ini akal-akalanku aja sebenarnya karena dari tiga ART perempuan yang biasa bekerja disini itu semuanya seumuran. Notabene udah STW semua alias tuwir. Tambahan opsi baby sitter akan menyegarkan barisan penghuni rumah ini karena biasanya baby sitter ini masih muda-muda gemes gitu baru lulus pelatihan.

“Biar mama bisa istirahat dulu… Mama papa liat udah terlalu letih selama ini…” kataku.

“Atau malah dua, bu… Babang ganteng itu sepertinya sangat enerjik… Harus ada yang selalu menemaninya selama di rumah… Atau menemaninya di sekolah?” tawarnya tentang Rio yang loncat dari tepian kolam nyebur menyipratkan air sambel treak-treak girang memanggil adiknya supaya bergabung dengannya. Ambil kesempatan nih si agen.

“Satu aja…” jawab istriku pendek dengan kening berkerut. Fix aku akan ngedrop dia di salon terdekat abis ini.

***

Matanya liar menatap bubungan tinggi berwarna merah putih yang menjadi ciri khas bangunan tiap SPBU Pertamina. Tiang tinggi dengan logo Pertamina juga daftar harga BBM per hari ini. Aku melihat pantulan wajahnya di kaca samping mobil dimana ia duduk bersandar saat kuhentikan Pajero di seberang jalan.

Matanya pelan-pelan menjilati tiap pemandangan SPBU yang terbentang dari kiri ke kanan. Antrian mobil dan motor yang hendak mengisi bensin. Hilir mudik para pekerjanya. Parkir berjejer beberapa kendaraan yang berhenti di depan franchise ayam goreng dan pizza.

“Kantor papa di atas sana… Lantai dua…” tunjukku agak membungkuk untuk menunjukkan posisi ruangan kaca di gedung mentereng berlantai tiga itu.

“Makanya papa sering pulang telat itu… yaa kemari…” jelasku.

“Ngurusin galon ini…” sambungku lagi menekankan kata ‘ngurusin galon’.

“Mama gak marah, kan?”

“Kenapa mesti marah?” jawabnya pelan tapi datar.

“Mama cuma masih gak ngerti kenapa ajo Mansur ngasih semua ini ke kita… Dan kenapa baru memberitau ini semua ke mama sekarang?” katanya memandang lurus ke depan. Keknya dia tersinggung gitu. Aku tau perangainya.

“Karena inilah papa gak mau ngasih tau awalnya… Tadinya mau papa sembunyiin aja selamanya… Tapi gak betol pulak… Kalian berhak mendapatkan hidup yang lebih baik dari yang sekarang ini… Rasanya gak betol membiarkan mama dengan segala macam kerepotan ngurus rumah… ngurus anak… Padahal papa bisa menggaji orang untuk membantu mama ngerjakan semua itu… Papa tau mama hepi-hepi aja ngerjakan semua itu… Tau, maaa… Tapi balik lagi ke tadi… kalian berhak untuk mendapatkan yang lebih baik…” jelasku.

Ngomong berdua saja dengannya baru bisa kuungkapkan semua ini. Sementara Rio molor kecapekan di kursi belakang, terikat seat belt, Salwa digendongan mamanya. Ia masih gak bergeming walo kepalanya pasti penuh.

“Soal ajo Mansur… Papa juga gak ngerti… Katanya hibah… Mama boleh cek dokumennya nanti di notaris… Ada lengkap semua dokumen hibahnya… Papa cuma membantu dia… Ngasih nasehat… Mama jangan cerita siapa-siapa, ya?” kataku mencoba menarik perhatiannya yang terus bungkam. Ia melirikku masih dengan kening berlipat. Aku belum ngedrop dia di salon.

“Apa?” aku berhasil memancing insting gosipnya.

“Janji ya gak ngasih tau siapa-siapa? Kalo jumpa ajo Mansur sekalipun… mama pura-pura gak tau aja…” kataku menambah bumbu gosip agar lebih gurih.

“Iya-iya… Apa?” ia tambah penasaran akan bumbu gurih itu.

“Manuk’e ra iso tangi…” (burungnya gak bisa bangun) kataku memakai bahasa daerahnya. Tinggal di Mabar yang mayoritas penduduknya bersuku Jawa memaksaku harus belajar bahasa ini sedikit demi sedikit. Tapi ya… bahasanya Jawa Deli gitu. Nyampur-nyampur dengan kearifan lokal.

“Tapi tiga-tiga biniknya udah hamil?” kaget istriku mendengar gosipku. Tambah berkerut keningnya sampe keriting. Tentu ia sudah tau kabar kehamilan ketiga istri ajo Mansur karena mereka bertukar pin BBM dan akun fesbuk juga. Pasti kebahagiaan itu sudah dibagi di lini masa.

“Sebelum itu-loh, maa…” kataku menjawab keheranannya.

“Waktu kita liburan di Bukit Tinggi itu baru bisa greng… wik iwik… cublak-cublak suweng… bukak sithik-Joss!” kataku malah joget-joget memperagakan gerakan saru kek orang senget sampe mobil ini bergoyang-goyang. Hilir mudik di jalanan mungkin ada yang ngeres mikir ini ‘mobil goyang’ nekat siang-siang.

“Papa yang ngobatin pake Menggala-Menggala itu?” tebaknya.

Salwa menggeliat bangun di gendongannya karena gerakan sablengku barusan. Buru-buru ia menyingkap kancing baju gamisnya dan menjejalkan payudara kirinya pada bayi kami itu. Salwa urung rewel dan damai lagi dalam kehangatan pelukan bundanya. Aku meneguk ludah meliat itu semua.

“Apa?… Matanya biasa aja… Iya? Papa obatin?” sambungnya.

“Cuma papa pijet-pijet tangan sama kakinya… Nyuruh dia minum jamu-jamu gitu… Padahal udah kemana-mana dia berobat… Eh… lah dalah sama papa sembuh… Manuk’e iso tangi mene… Bisa icikiwir, dee…” kataku ngarang aja.

Ini sudah kusinkronkan dengan ajo Mansur sebenarnya karena di versi yang ia ceritakan ke ketiga istrinya, aku memang mengobatinya dengan cara itu. Ada aliran darah yang tersumbat dan terganggu, aku memperbaiki itu semua dan ia sembuh.

“Oo… Pantesan bahagia kali keknya orang itu betiga ya waktu liburan itu… Baru belah duren rupanya… Gitu-gituu…” ingatnya akan ekspresi senang ketiga istri ajo Mansur kala liburan beramai-ramai itu. Mungkin dia ingat masa-masa belah durennya juga. Andaikan kau tau, wahai istriku… siapa yang membelah duren ketiga perempuan langsing itu…

“Jadi… Ini semua bentuk terima kasih ajo Mansur karena udah membantunya?” ulang istriku.

“Katanya sih begitu ngomongnya… Ajo Mansur itu udah 50 tahun-loh umurnya… Udah gak muda lagi… Kalo berlarut-larut dia tambah lama punya keturunannya… Malah makin gak karuan jadinya… Seterusnya dan seterusnya… Gitchuu…” kataku gak mau panjang lebar kali.

Nanti malah melanggar perjanjianku sendiri, pasal dua; gak boleh membicarakan perjanjian ini dengan siapapun.

“Iya juga, yaa… Cespleng juga dia langsung bunting tiga-tiga biniknya… Kek kita jadinya…” katanya malah membandingkan dengan kami berdua.

Glek! Memang ada sahamku disana… Ntah-pun pulak tiga-tiganya anakku. Ia geleng-geleng kepala. “Berarti banyak kali-lah duit ajo Mansur itu, yaa? Dikasihnya galon ini-pun kek ngasih apa aja dibuatnya…” kagumnya.

“Omset galon ini 300-350 juta sehari, maa…”

Mulutnya berbusa… *kidding. (Why so serious?)

***

Nyari kontraktor untuk renovasi rumah kami di Mabar ribet juga ternyata karena proyeknya gak terlalu besar. Kalo cuma nyari pemborong/kontraktor kecil sih banyak di seputaran sini tapi ada aja kendalanya. Akhirnya pilihanku jatuh pada seorang pemborong yang biasa membangun perumahan. Beberapa orang tukang dikerahkan untuk melaksanakan renovasi rumahku.

Beberapa furnitur rumahku yang rentan rusak dikumpulkan di ruang tengah, yang minim mendapatkan sentuhan. Ketika beberapa bahan material datang ke halaman rumahku yang luas tentu saja, beberapa tetangga kepo, dong. Apalagi istriku gak ada bilang apa-apa ke mereka langsung ngilang gitu aja ngungsi ke kompleks XXX dengan anak-anak. Jadilah aku yang harus jawab-jawab pertanyaan mereka.

“Iya, bu… Itu… mau nambah kamar di belakang sana… Di depan ini juga dibesarin dikit… Buat garasi juga… Eh… Iya-iya…” jawabku sekenanya aja.

Tapi ada satu mata yang menatapku tajam di barisan belakang sana. HP-ku bergetar dengan notifikasi BBM masuk. Ia baru saja menekan tombol kirim dari gadget-nya di sana.

Yuli: gitu yaa… pindah gak bilang2

Aku cuma bisa cengengesan sambil garuk-garuk sekalian menjawabnya.

“Enggak pindah kok, bu… Cuma ngungsi aja, kok… Mamanya anak-anak takut si kecil kena debu… Tuh liat…” kataku pada beberapa ibu-ibu rumpi, menjawab pertanyaan Yuli juga. Kepulan debu yang bertumpuk lama di salah satu bagian rumah yang tak terjangkau pembersihan istriku.

“Rumahnya mau dirubuhin, bang Aseng?” tanya seorang perempuan lagi yang baru berhenti dengan motor matic-nya. Si Iva cantik dengan long dress yang biasa dikenakannya, walo perut mulai membuncit. Ada belanjaan untuk kede-nya di jok belakang.

“Enggak, bu Ipa… Cuma renovasi dikit aja…” jawabku sekenanya.

“Renovasi kok banyak kali tukangnya?” selidiknya.

“Abis ini pasti mau dijual, ya?” ada nada khawatir kutangkap di sana. Di ekor mataku kulihat ada tambahan satu lagi yang bergabung di beberapa ibu-ibu gang.

Abis aku dikeroyok sekarang. Itu adalah Pipit. Tumben dia keluar jam segini. Apakah olah raga? Kalo ada Aida lengkap sudah semua binor yang sudah kuhamili di gang ini. Panjang umur… Itu dia datang berjalan mengangkang-ngangkang dengan perut buncit besarnya. Tambah semok binor itu sekarang di hamil tuanya. Teteknya bertambah besar aja, apalagi pantatnya. Yummy.

Selesai tanya jawab, aku harus balik langsung ke pabrik. Gak bisa lama-lama di sini. Aku sudah mempercayakan semua pembangunan dan renovasi ini pada sang kontraktor dan sesempatnya aja ngecek. Paling kalo lagi lowong banget di jam istirahat nanti.

“Jadi lu tinggal di blok YY itu, Seng?” tanya kak Sandra ketika aku selesai menyerahkan laporanku padanya. Blok YY adalah kluster dimana rumah yang kutinggali sementara ini dengan istri dan kedua anakku. Bareng sama beberapa orang ART, sih.

“Mulai tadi malam sih, kak… Cuma bawa baju-baju aja… Jadi gak terlalu repot pindahannya…” jawabku mengambil tempat duduk di depannya.

“Wa cuma heran aja… Dengan duit lu sebanyak itu ngapain juga lu masih tinggal di Mabar… Tinggal aja permanen di XXX… Lu kontrakin ato lu jual aja sekalian rumah lu di gang itu…” kata kak Sandra mengenai rumah yang sedang direnovasi itu. Aku sudah menceritakan padanya semua tentang aku yang sudah memberitau istriku tentang kondisi keuangan kami saat ini. Ia sempat memberi pendapat untuk menyembunyikannya dari istriku karena khawatir akan reaksinya nanti.

“Binikku gak mau, kak… Kakak bayangin aja… Arisan berlian ada… Arisan panci mana ada disitu… Apa ada perwiritan (pengajian) di kompleks itu?… Mesjid aja jauh di depan sana sedang blok kami di belakang kali… Kanan kiri kami banyakan panlok melulu… Di belakang bahkan ada bule yang suka berjemur cuma pake sempak aja… Sayangnya udah uwak-uwak (tua)…” kataku memberi alasan. “Jadi kalo sebulan-dua bulan bisa-laa…”

“Cibay, lu…” makinya.

Aku masih harus menjawab berbagai macam chat dari para binor bunting itu.

Aida: jd nanti awak lahiran abg g bisa nungguin la?

Kan bingung cemana cara awak ngejawab pertanyaan kek gini. Sementara dia punya lakik sendiri, masa aku yang dimintanya menunggui, menemaninya waktu melahirkan bayinya dalam waktu dekat nanti. Memang sih itu anakku…

Aseng: he he he sehat2 ya bu sm bebinya. usg nya cewe apa cowo

Aida: gak. aida mau surprise aja

Berhasil aku mengalihkan pembicaraan dari disuruh nungguin lahirannya. Yu hu… Nanti abis itu disuruh nanggung jawabi pulak. Modhar aku.

Iva: gimana nnt kalo Iva pengen kangen2an sm bg aseng?

Aseng: mancing lg lakikmu?

Iva: lg nonton mancing mania dy

WKKKK. Paok kali si Toni. Ada istri bohay secantik Iva malah nonton mancing mania pulak dia. Gak tau dia biniknya sedang chatting dengan lakik orang minta di’oho-oho’in. Aku guling-guling hampir nyebur kolam.

Aku duduk-duduk di samping kolam karena suhunya lebih sejuk di luar sini. Dengan tambahan tanaman yang menghiasi pinggiran kolam juga penerangan yang memadai, tempat ini lebih dari nyaman.

Ppt: gimana? bagus kan?

Pipit baru aja mengirimkan sebuah foto dirinya dengan sebuah lingerie baru yang sekseh sekale, beibeh. Ini mungkin lingerie terbaru yang dibelikan suaminya, si Imran. Malah debutnya dipamerkan padaku lagi. Kemana pulak malam-malam gini si Imran itu piginya. Meninggalkan Pipit sendirian di rumah nyobain lingerie baru.

Aseng: bagus dong sexy abis

Ppt: jd pengen kah?

Kepalaku kucelup-celupkan ke dalam dinginnya air kolam kek teh celup untuk meredakan panas kepalaku. Brrr…

Mendadak ada perasaan gak enak menyerbu perutku. Kek mules-mules sesak boker tapi bukan. Mual sedikit kek mau muntah. Apa aku ikut hamil, ya? Paok!

“Kyuuk kuuk kyuuk kuuuk…” sesuatu melintas di atas ketinggian.

Bagi orang awam itu mungkin akan disangka sebagai burung malam yang terbang hendak mencari sesuap nasi. Halah… ada burung nyari nasi? Suara itu yang menyerupai suara burung bentar-bentar lagi melintas di atas kepalaku. Weit e minit…

Benda itu bukan hewan jenis unggas terbang seperti yang kukira. Sebuah benda agak bulat dengan buntut panjang seperti burung merak. Ekor itu agak absurd kalo dipaksakan sebagai ekor karena ada untaian-untaian bergelombang kek rambut atau gelongongan usus. Benda terbang yang ternyata sangat menyeramkan. Kimbek aku tau itu apa… Palasik!

Mampus aja kao kalo kao berani-berani ke rumahku ini!! Kucincang-cincang jeroanmu pakek mandau-ku. Entah benar palasik ato malah kuyang, sama aja aku gak peduli. Di rumahku ada anak bayi yang menjadi incarannya. Jangan macam-macam kao di rumahku.

Walau rumah ini baru saja kutempati, aku tidak lupa memasang pagar ghaib seperti halnya rumahku di Mabar dengan pagar ghaib berlapis-lapis. Tapi aku gak tau senekat apa siluman yang barusan terbang melintas itu berani menembusnya.

Kutunggu ia turun ke atap rumahku tapi tak kunjung dilakukannya. Ia terus terbang melayang dengan membawa isi perutnya yang bergantungan dari lehernya. Berarti dia tidak sedang mengincar bayiku. Ada bayi lain di sekitar blok YY ini yang menjadi incarannya. Aku baru dua malam di sini jadi gak terlalu mengenal para tetanggaku. Mungkin ada yang baru melahirkan ato punya batita. Bisa apa aja tergantung kesukaan jenis palasik ato kuyang ini.

Ini gak bisa dibiarin. Aku tau ribetnya ngurus bayi jadi tau kesusahan apa yang akan dihadapi orang tua bayi kalo sampe anaknya diganggu siluman durjana ini. Sebagai informasi aja, kekuatan Menggala tidak terbatas di ruang supranatural saja kiprahnya. Di dunia nyata kekuatan kami tidak berbeda.

Hanya sebagai pencegahan, ada kesepakatan tidak tertulis antar Menggala kalo ingin melakukan pertarungan untuk melakukannya di ruang supranatural itu agar tidak menjadi kehebohan di dunia nyata.

Itu makanya aku dengan enteng melompati pagar rumah setinggi dua setengah meter memakai bakiak Bulan Pencak dan mandau Panglima Burung terhunus. Kukejar ke arah terbangnya kepala dengan isi perut itu menuju.

Bayangan titik hitam di langit menandakan bentuk siluman jahat itu di atas atap rumah salah satu warga blok YY ini. Jaraknya sekitar 9-10 rumah dari tempat tinggalku. Terdengar suara menggebrak-gebrak beberapa kali. Kepala palasik ato kuyang itu menabrakkan dirinya pada atap genteng rumah itu agar bisa masuk.

Aku sebenarnya serba salah juga mau menghajar si setan pukimak itu nanti lingkungan ini jadi heboh. Tapi si pukimak itu terus sok jago menabrakkan dirinya untuk memasuki rumah itu. Beberapa keping genteng sudah hancur dibuatnya. Sementara di dalam rumah terdengar suara tangisan bayi sayup-sayup. Benar ada bayi di dalam sana yang sedang diincarnya.

Naek tensiku dibuatnya nengok tingkah setan satu ini. Kulempar bakiak Bulan Pencak sebelah kanan ke arahnya. Luput! Kepalanya menerobos masuk ke dalam rengkahan genteng duluan dan hanya meninggalkan isi perutnya yang terburai menggantung di luar atap.

Pasti horor sekali pemandangan yang kini sedang dihadapi para penghuni rumah mendapat serangan setan seram kek gitu nongol dari eternit. Terdengar suara jeritan histeris dari dalam rumah. Dari suaranya, vokal perempuan. Kemungkinan sang ibu dari bayi tersebut. Ditingkahi oleh suara tangisan bayi yang makin memilukan. Kasihan kau, nak. Harus menghadapi bahaya mengancam nyawa langsung kek gini.

Lompat ke atap rumah itu, kutarik sisa isi perut yang masih tertinggal berupa usus dua belas jari keknya. Kubetot kuat dan kutarik sekencang-kencangnya kek narik tambang Agustusan.

“KYUUUKKK!!! KUUKKK!!! KYYUUUKKK!!!” jerit siluman itu kesakitan.

Kepalanya nyangkut di pecahan genteng dan kubetot kuat untuk terakhir kalinya.

“KUUUKKK!!!”

Karena licin tekstur jeroan tubuhnya, peganganku yang membetotnya terlepas.

“Whoo… Woo… Ahh… Kimbek!!” berguling-guling aku jatuh dari kemiringan atap genteng rumah mewah yang diserang palasik/kuyang itu.

Aku mendarat di halaman rumah bertepatan dengan terbukanya pintu rumah dan keluarlah seorang pria yang memakai sarung dan memegang sebuah senter. Dibelakangnya mengekor seorang wanita yang ketakutan terlihat dari wajahnya basah oleh air mata.

Aku langsung bangkit dan mencari keberadaan setan pukimak itu. Itu dia… Terbang kek pengecut melarikan diri dengan jeroan mirip ekor yang berjuntai-juntai.

“WOOY!! AMBEK HADIAHMU PAGI NANTI JAM TUJUH!!!” tereakku kuat-kuat agar ia mendengar suaraku. Sejenak ia berhenti lalu lanjut terbang menjauh.

“Apa i-itu, pak?” ternyata kedua orang itu juga sempat melihat arah terbangnya si setan itu walo takut-takut.

Yang barusan nanya itu sang pria yang kutilik lebih mirip pembantu di rumah ini karena sarungnya. Mukanya ketakutan pucat pasi gak matching dengan besar tubuhnya. Yang perempuan masih muda dan cantik walo juga pucat ketakutan abis nangis kejer. Kalo ini kemungkinan anak pemilik rumah ini.

“Kalian sempat ngeliat, ya?” tanyaku harus nanya dulu sebelum kujelaskan.

“Dia ngejebol langit-langit kamar dede… Kayaknya lagi ngincar dede, gitu… Mukanya serem… Lehernya putus gak ada badannya…” jelas si gadis cantik masih gemetar di balik tubuh si pria.

“Berarti adek sempat ngeliat jelas mukanya, kan?” tanyaku mencoba ingatannya. Ia mengangguk beberapa kali dengan cepat.

“Coba ingat…” aku menunjuk penghubung antara hidung dan bibirku.

“… ada lekukannya di sini gak?” tanyaku merapat padanya. Pupil matanya masih melebar pertanda ia masih syok dengan kejadian barusan.

“Ada… ada-ada…” ia mengangguk-angguk lagi.

Si pria bertubuh besar memakai selempangan sarung itu juga ikut mengangguk-angguk yakin dengan apa yang dilihatnya.

“Kau juga liat jelas?” tanyaku pada si pria.

“Iya, ba~ang…” jawabnya mengalun. Kimak! Bencong si borjong satu ini rupanya. Mendayu-dayu pulak suaranya. Baluap-baluap!

“Kuyang… Yang tadi itu namanya siluman Kuyang…” simpulku.

***

Secara umum ada tiga nama yang hampir mirip operandi penampilan silumannya seperti entitas yang kali ini kuhadapi. Palasik, Kuyang dan Poppo/Pok-pok. Kepala yang terbang melayang membawa isi perut tanpa tubuh untuk mengincar bayi yang masih dalam kandungan, baru lahir dan/ato anak balita.

Darah nifas-pun suka juga dia. Palasik kebetulan berasal dari kebudayaan Minang, kampung halamanku sendiri. Kuyang berasal dari Kalimantan sedang Poppo/Pok-pok dari kebudayaan Sulawesi. Di masing-masing daerah asalnya, teror ini sama-sama menakutkan bagi siapapun.

Ketiga nama di atas tersebut sebenarnya adalah satu jenis ilmu hitam yang berkaitan tujuan apa yang ingin pelaku capai dengan bentuk yang mirip-mirip. Dengan memakan janin, darah nifas, anak bayi ato anak kecil, ilmu yang mereka tuntut itu akan semakin kuat seiring banyak/seringnya pelaku melakukan ini.

Ilmu ini juga bisa menurun tanpa diketahui orang yang mengidapnya. Ilmu ini menurun sampe 7 turunan dan terhenti di keturunan ke-8. Saat jin jahat yang menginisiasi ilmu hitam ini menuntut makanannya untuk mengasah, memperkuat ilmu kesaktiannya, leher pemilik ilmu ini akan terlepas dari tubuhnya dan membawa isi jeroan perutnya serta, terbang mencari mangsa empuk. Pengetahuan umum dan lebih sering terlihat pemakai ilmu ini adalah perempuan. Sebenarnya laki-laki dan perempuan sama saja.

Hanya saja bila pelakunya laki-laki, dia cenderung untuk memangsa hewan dibanding perempuan yang mengincar bayi manusia.

“Jadi… yang tadi itu Kuyang dari Kalimantan ya, pak?” tanya gadis cantik bernama Vivi ini yang kalo kutaksir paling 23-an tahun.

Kami meninjau kamar di lantai 2 yang tadi sempat ditembus sang Kuyang. Eternit langit-langit kamar tepat di atas box bayi bolong menganga sampe terlihat langit malam di atasnya. Vivi menggendong sang bayi yang syukurnya belum sempat diapa-apain sama itu Kuyang.

“Ya… Kuyang… Kalo Palasik biasanya ini… lekukan antara hidung sama bibirnya gak ada paritnya… Polos gitu aja… Ini Kuyang karena suaranya kuk kuk gitu… Kalo Poppo suaranya po po po… Ini anakmu, Vi?” tiba-tiba aku menanyakan itu karena dari tadi gak ada sang ibu yang kukira akan datang menenangkan sang bayi. Ini malah gadis semuda Vivi yang mengemong ini orok.

“Iya, pak… Kenapa?” Vivi tiba-tiba bersifat defensif dengan memeluk bayi itu erat-erat.

Bayi itu paling-paling baru berumur seminggu kurang lebih dan Vivi tidak ada tanda-tanda baru bersalin walo pake prosedur cesar paling canggih-paling mahal sekalipun yang membuatnya sedemikian enerjik bisa lari-lari naik turun tangga tadi.

Payudaranya yang montok besar tidak bisa menjadi alasan ia menyusukan ASI pada bayi merah itu. Pake susu formula botol juga-nya bayi itu waktu kulirik kaleng susu dan botol susunya di sudut sana. Apalagi aku ragu kalo si bencong borjong kekar ini sebagai suaminya.

“Bukan begitu cara ngegendong bayi baru lahir, Vivi… Punggung dan lehernya masih lemah dan rapuh…” kataku memperingatkannya.

Si bencong itu menggeleng-geleng setuju denganku. Seperti ada yang akan dikatakannya tapi ragu karena aku masih terhitung orang asing di sini. Jadinya dia gak berani bicara yang lancang.

“Makanya awak tanya tadi… ini anakmu ato gimana? Kalo belum bisa… pake jasa baby sitter aja…” kataku memberi saran. Anak zaman sekarang suka sembarangan. Merawat bayi dibuat main-main. Ini ada nyawanya bukan boneka yang bisa dibuang kalo bosan.

“Baby sitter-nya baru datang besok, pak… Kami baru pulang dari rumah bersalin…” jelasnya berusaha memperbaiki posisi menggendong bayi.

Aku ngeri-ngeri sedap ngeliat anak itu memperlakukan bayi merahnya kek gitu. Pulang dari bersalin persiapannya cuma segini. Mereka ini orang berada… Masa cuma nyiapin box bayi, beberapa potong pakaian bayi, berbal-bal diapers sekali pakai, sebotol minyak telon, sekaleng susu formula dan sebuah botol susu.

Anakku sudah dua-nih kan, woy… walo saat itu ekonomi kami gak sebaik sekarang, persiapan kami jauh lebih matang dari yang sekarang mereka punya untuk seorang bayi yang sangat berharga ini.

“Oh… OK… Awak sebenarnya gak terlalu perduli kalo bayi ini baru kalian adopsi dari ibunya yang gak mampu… Tapi bayi tetaplah bayi… Ia butuh perawatan yang sangat telaten karena ia masih sangat lemah…” gumamku tembak langsung aja.

“Ketauan kan, Vi~~?” kata si bencong borjong itu malah keceplosan mengaku.

“Kau periksa dapur… Kumpulkan semua bawang merah yang ada… Ambil semua kulitnya dan bakar di depan pintu sana… Itu bisa menjauhkan Kuyang datang lagi untuk sementara ini…” perintahku pada si bencong. Ia mengangguk-angguk patuh dan langsung cabut menuju dapur untuk tugas mengumpulkan bawang merah.

“Pindahkan bayi ini dari sini… Nanti awak bantuin mindahin box bayinya juga…” kataku pada Vivi.

Cukup banyak kulit bawang merah kering yang dapat dikumpulkan si Benget (si bencong kekar itu) dari dapur. Asap bakarannya mengepul membumbung tinggi dengan aroma khasnya. Aroma asap pembakaran kulit bawang merah sangat ampuh untuk menjauhkan datangnya Kuyang ke rumah.

Lalu berdua dengannya kami menggotong box bayi itu pindah ke kamar di lantai satu. Sang bayi cantik itu tidur dengan nyaman setelah sempat terganggu istirahat berharganya. Vivi menjagainya dengan seksama. Aku dan Benget berjaga di depan pintu sambil ngopi sachetan.

“Kalo mau ngomong-ngomong aja, Nget… Jangan pasang muka sange gitu ke awak… Gak selera aku…” ketusku ke mahluk satu itu. Walopun badannya sebesar itu, gak takut aku. Dia gigit-gigit kuku jempolnya kek ada yang mau diomongkannya.

“Benget cuma kawan si Vivi, pak… Bukan lakiknya Benget…” ngakunya dengan nada suara khas bencesnya.

“Tau aku… Manalah mungkin pulak cewek secantik-senormal Vivi mau sama benda kek kau ini…” kataku sambil masih chatting-an di HP-ku. Dengan para binor yang tertunda tadi.

“Makanya awak tau itu bukan bayi Vivi… Yaa… Tebakanku kalo gak klen adopsi dia… klen nyulik anak orang… Itu aja…” kataku agak nyelekit.

“Engak-Enggak, pak… Kami adopsi dia, paak… Betol, paak… Vii~~? Cemana ni, Vi~~?” rengeknya takut dicap penculik bayi.

    

“Iya, pak… Dede cantik ini kami adopsi dari orang tuanya yang gak sanggup membiayai hidupnya… Suaminya baru saja meninggal dan anaknya ada 4 lagi yang harus dirawatnya… Vivi gak sampe hati dan menawari mengasuhnya… sebagai anak Vivi walo Vivi belum menikah, pak…” jelas Vivi membela temannya yang tersudut oleh tuduhanku.

“Benget gak tau apa-apa… Dia cuma pura-pura jadi lakikku aja supaya ibu itu yakin menyerahkan bayinya pada Vivi…”

“Tapi kalo begini masalahnya… Gimana? Si kecil itu akan terus diincar Kuyang itu… karena dia sudah sempat melihatnya langsung… Sudah ditandai istilahnya…” kataku mengantongi HP-ku dan menyesap kopi sampe habis.

“Kemanapun klen pindah ato pergi… Dia… si Kuyang itu akan terus mengejarnya…” kedengaran kek nakut-nakutin gitu, ya? Tapi itu kenyataannya.

“Jadi gimana, paak~~?” rengek si Benget. Enggak banget nih si bencong satu nih. Tentunya dia sama-sama khawatir akan keselamatan si dede bayi yang bahkan belum punya nama.

“Kita tangkap Kuyangnya… Besok pagi dia akan datang lagi jam 7…” ucapanku kontan membuat membuat mereka berdua kaget.

Kuyang itu datang lagi? Tapi pagi-pagi?

“Yaa… jam 7 pagi nanti… Dia akan mengambil hadiahnya… Tenang… malam ini si dede bayi aman karena jam 7 pagi nanti yang datang bukan bentuk Kuyang-nya… melainkan bentuk manusianya aja… Siang-siang dia cuma manusia biasa aja dan berburu di malam hari…” kataku membuka kedok si Kuyang.

“Hadiah apa? Hadiah ulang tahun? Kado?” tanya Vivi ngelantur. Aku hampir tertawa.

“Kasih apa aja terserah… Kasih aja dia nasi uduk untuk sarapan… Yang penting kita tau dulu siapa bentuk manusianya… Tadi klen dengar, kan aku treak-treak ‘Woy! Ambek nanti pagi hadiahmu jam tujuh!’… Itu salah satu contoh memancingnya… Dia gak akan bisa menolak undangan mengambil hadiah itu…” aku menunjuk pelipisku sendiri.

“Di kepalanya akan terus terngiang-ngiang undanganku itu dan datang kemari mengambil hadiahnya…”

“Pak… Vivi lupa nanya ini… Bapak orang mana, yaa? Kok ada di dekat-dekat sini tengah malam… Bukannya Vivi curiga sama bapak… tapi gituu, deh…” katanya baru tersadar telah membiarkan orang asing sepertiku masuk ke rumahnya walopun ada sosok kekar Benget yang seharusnya bisa membuat takut rampok sekalipun.

“Oh… Iya lupa ngenalin diri awak, ya? Gak usah panggil pak-la… Panggil aja bang Aseng gitu… Sebelum klen nanya apa awak orang Cina? Enggak! Awak orang Padang yang kek Cina aja… Rumah awak itu yang di simpang itu… Nomor 556… yang biasa disewa orang Arab itu…” kataku memperkenalkan diri supaya gak dicurigai juga sama penghuni rumah ini.

“Rumah gedong itu, cyiiin… Rumah paling gedong se-blok YY ini~emmph… Bang Aseng yang nyewa sekarang?” cerocos si Benget.

Aku hanya mengangguk takjub sama perangai ajaibnya. Kok bisa badan sekekar itu jadi bences?

“Oo… Jadi bang Aseng yang punya rumah itu?” kata Vivi. Kok bisa tau dia? Bukan ditebaknya aku nyewa juga kek si Benget.

“Kok tau, Vi?” agak malu dikit ceritanya. Bukannya malah bangga.

“Vivi pernah dengar kalo yang punya rumah itu orang Padang… Bang Aseng-lah jadinya orang Padang itu…” katanya mengemukakan apa yang pernah didengarnya.

Artinya dia sudah cukup lama bermukim disini. Kejebak jadinya aku. Harusnya yang dimaksud orang Padang itu ajo Mansur sebagai pemilik awalnya. Sudahlah…

Cukup lama kami ngobrol panjang lebar tentang pribadi Vivi, tentang Benget dan pekerjaan mereka. Terutama detail proses adopsi si dede bayi malang ini yang bobo dengan damai dalam penjagaan kami bertiga.

Vivi anak yatim piatu yang tak memiliki kerabat dekat satupun walo ditinggalkan warisan yang cukup sejak kelas 2 SMA. Untung dia tidak menghambur-hamburkan uang yang dimilikinya dan memilih sekolah dan kuliah dengan benar.

Saat ini ia di semester akhir kuliahnya dan sedang menyusun skripsi. Disamping kuliah, ia banyak menginvestasikan dana segar miliknya ke pasar forex yang saat itu lagi booming dan mengendalikannya langsung, tidak lewat agen.

Semuda ini sudah sedemikian kaya rayanya. Mengenai Benget, mereka sudah saling kenal sejak sekolah. Sudah seperti bodyguard bagi Vivi walo gak selalu bisa diandalkan fisik kekarnya karena yaa… tau sendiri. Tapi mereka sudah terlanjur akrab dan lebih seperti kakak perempuan ke adik perempuan hubungannya.

Mereka bertemu keluarga malang itu di daerah Saentis, Deli Serdang, tempat Vivi melakukan penelitian skripsinya. Sebagai daerah pesisir pantai keluarga itu sangat kekurangan. Apalagi sang kepala keluarga yang nelayan meninggal dunia karena insiden perompakan di tengah laut menggenapi kemalangan keluarga itu saat sang istri sedang hamil tua anak kelimanya.

Mereka sepakat kalo bayi yang akan lahir itu akan diadopsi oleh Vivi dan Benget, yang mereka kira suami istri. Tentu saja ada sejumlah uang yang diberikan Vivi untuk meringankan beban keluarga itu sebagai alat pemacu semangat untuk bisa move on. Dan disinilah bayi lucu itu sekarang malah mendapat masalah baru di hidupnya yang baru berjalan 2 hari saja. Berat hidupmu, nak. Semoga kau nanti menjadi anak yang sukses di masa depan.

“Trus kalau kita udah tau siapa orangnya… gimana, bang? Diapain itu orangnya?” tanya Vivi yang duduk bergabung di dekat pintu agar tidur si dede bayi gak terganggu suaranya.

“Tergantung… Liat keadaan nanti sebenarnya… Karna gini… ada orang yang sengaja mempelajari ilmu ini. Artinya dia pelaku utama Kuyang ini… Ada yang cuma ketiban sial aja karena turunan… Ilmu itu turun kepadanya tanpa dia sadari… Jadi dia gak tau kalo punya ilmu iblis ini dan kepalanya kelayapan terbang-terbang nyari mangsa di malam tertentu… Ada kasus juga kalo dia tau diturunkan ilmu ini dan memanfaatkannya untuk keuntungannya… Ilmu ini biasanya dipakai untuk mencari kekayaan, pengasihan, pengaruh, kekuatan… Macam-macam, deh pokoknya…” jelasku panjang lebar. Keduanya mengangguk-angguk mengerti.

Sekitar jam 3 aku permisi pulang pada mereka berdua dan katanya mereka akan berjaga lebih lama karena masih khawatir akan ada gangguan lagi. Rumah baruku juga sudah sepi. Tentu aja jam segitu siapa juga yang masih terjaga.

Di kamar utama yang menjadi tempatku tidur hanya ada istri dan anak bungsuku, Salwa yang tidur. Kemana Rio? Ternyata efek punya kamar baru yang keren dengan banyak pernak-pernik mobil balap membuatnya bangga dan membuatnya mau tidur sendiri. Anakku sudah semakin besar.

Bagus juga karena berkurang satu penghuni ranjangku yang lasak (gak bisa diam). Jadi tidurku akan lebih nyaman hanya bareng istri tercinta dan si bungsu. Kupeluk tubuhnya dari belakang punggungnya setelah menyelinap masuk ke dalam selimut tebal. Pendingin udara terasa lebih dingin di kamar ini sehingga terasa sangat nyaman bergelung di dalam hangatnya memeluk kekasih hatiku. Ia menggeliat sebentar dan lanjut.

Tak terasa sudah pagi lagi dan aku harus balik lagi ke rumah Vivi untuk menjelang si pemilik ilmu Kuyang akan datang lagi meminta hadiah yang telah kujanjikan. Walopun masih pagi gini, dapur sudah sibuk dan bukan istriku yang sibuk di sana. Melainkan sang ART yang bertugas untuk masak-memasak.

Istriku hanya duduk saja ngeliatin cara kerjanya. Pasti tangannya udah gatal pengen ikutan bantuin tapi apa daya, statusnya sebagai nyonya tidak mengizinkannya melakukan itu. Kuseret dirinya ke bagian rumah yang paling aku dan Rio sukai, kolam renang. Kududukkan dia di salah satu kursi taman dimana roti lapis dan jus jeruk tersedia di atas meja kalo gak sabar nunggu sarapan utama selesai.

Dia senyum-senyum sendiri. Aku tersenyum padanya dan menyikut dadanya. Ia balas mencubit perutku. Salwa yang belum bangun sudah ada yang bakal mengurusnya. Ada seorang baby sitter yang mulai bekerja pagi ini. Ia bisa bergantian ngurusin Salwa dan Rio dengan istriku. Ia bersikeras hanya mempekerjakan satu baby sitter aja, padahal dua-pun gak mengapa. Ya, itu… Pernah kuberitau kalo aku menikahi seseorang yang juara dalam bidang keras kepala? Istriku juara satunya.

Kumasukkan beberapa buah roti lapis isi keju dan meses ke dalam plastik asoi (kantong kresek) beserta selembar kartu namaku. Lalu beranjak ke rumah Vivi. Ini belum genap jam 7 pagi. Kita liat keadaan mereka pagi ini. Kusapa beberapa warga blok YY ini dan memperkenalkan diri. Beberapa menyambut baik, beberapa cuek. Biasa. Beberapa warga yang sudah sepuh berolah raga jalan di seputaran jalan kompleks yang masih sepi.

“Met pagi?” sapaku masuk aja melancangkan diri ke pagar rumah Vivi yang tidak terkunci. Kedua orang itu duduk di depan teras menghadapi dua cangkir kopi yang sedang ngebul. Keknya mereka gak tidur sama sekali.

“Pagi, bang Aseng…” jawab keduanya mabuk kopi kliyengan. Perut juga pasti kerasa begah kebanyakan diisi kaffein. Mata sepet walo gak bisa dipejamkan, pedas.

“Aman, kan?” tanyaku. Mereka mengangguk. “Dede bayinya sama siapa?” tanyaku lagi.

“Sama baby sitter… Udah datang mulai kerja…” jawab Vivi datar mata sepet tapi masih tetap cantik aja dia walo belom mandi.

“Udah ampir jam tujuh, bang~~… Datang gak dia?” tanya si Benget nguap berkali-kali dari tadi mangap-mangap lebar kek biawak. Aku ngeliat jam tangan. Jam tujuh kurang sembilan. Aku sangat yakin kalo orang itu bakalan datang mengambil hadiah yang kujanjikan tadi malam.

“Sabar… dia pasti datang jam tujuh tepat… Nih… Sarapan…” kataku mengeluarkan beberapa roti lapis dan meletakkannya di atas cangkir kopi karena plastik asoi-nya masih kupakai. Kusisakan dua buah roti lapis keju-meses dan selembar kartu namaku.

Mereka berdua gak berselera dengan roti lapis yang kubawa. Vivi malah membaringkan kepalanya di atas lengannya dan berusaha memejamkan mata. Begitu juga dengan si Benget. Ngantuk berat pastinya.

Lebih enak ngeliatin Vivi yang berusaha tidur daripada enek ngliatin si Benget yang serem-serem najis. Dari sini aku bisa menikmati belahan dada putih yang mengintip dari sela-sela kancing blouse yang dikenakannya.

“Permisi…?” suara panggilan dari arah pagar membuyarkan lamun nikmatku mempelototi paras Vivi yang mulai tertidur manis walo gak nyaman begitu, tidur di meja. Ada seorang perempuan berdiri di dekat pagar. Kepalanya melongok mencoba memanggil kami dari celah pagar yang digedor-gedornya.

“Vivi… Benget? Bangun! Orangnya datang…” kuguncangkan tangan kedua orang bersahabat dekat itu agar bangun dari tidurnya.

Benget gak bergeming sama sekali tapi Vivi yang goyang malah tetek bulat besarnya. Ingin rasanya ngetes kuremas, bakalan bangun, gak?

“Whei… Bangun-bangun!” goncangku lagi lebih kuat. Benget gak bergerak badannya, tetek Vivi tambah kuat berguncangnya kek tempayan berisi susu perahan.

“Permisi?” perempuan itu makin gak sabar dan menggedor lagi dengan tangannya.

Terpaksa main licik. Tangan Benget kuarahkan ke dada Vivi dan kujatuhkan ke pangkuan kakinya, lalu kuremas teteknya sebelah aja. Alamaaak… Lembut kali kek agar-agar kenyalnya walo ada pembungkus bra di balik blouse-nya. Aku langsung menjauh.

“Hng? Apa? Apa, Bens?” tanya Vivi masih berupa igauan.

Nama panggilan si Benget, Bens ternyata. Kepalanya mendongak mencari-cari aku yang berdiri di seberangnya, yang menunjuk-nunjuk ke arah pagar.

“Orangnya udah datang!” bisikku dari kejauhan. Vivi langsung sigap dan menendang kaki si Bens.

“Aww! Sakit, neek~~…” keluh si bencong mengurut-urut kakinya yang barusan ditendang Vivi.

Tapi demi melihat aku dan Vivi yang sudah berdiri ia langsung tanggap dan menyusul kami. Seharusnya tadi kulakukan itu juga padanya, maksudku di kepalanya.

“Kenapa, kak?” tanya Vivi pada perempuan yang barusan menggedor-gedor pagar rumahnya.

Sepertinya Vivi kenal dengan perempuan ini karena nada bicaranya biasa-biasa aja dan pe-de aja menyebutnya kakak. Vivi gak ragu membuka pintu kecil pagar agar lebih leluasa bicaranya. Perempuan itu lumayan cantik dan montok. Ia memakai choker di lehernya sebagai aksesoris seperti kalung.

“Ini, Vi… Katanya ada hadiah untuk kakak, ya? Kakak ingatnya diambil di sini jam tujuh gitu… Ini udah jam tujuh, kan?” kata perempuan itu kek gak ada rasa bersalah gitu.

Santai aja kek gak ada masalah. Langsung Vivi dan Benget menoleh padaku dengan muka ketat karena semua yang kubilang betul-betul kejadian. Mulut keduanya terkunci karena tersegel ketakutan yang tiba-tiba menyeruak. Terbirit-birit keduanya ngumpet di belakangku yang menenteng plastik asoi berisi dua roti lapis keju-meses dan sehelai kartu namaku.

“Ini kak hadiahnya…” kataku kasual aja menyerahkan bungkusan remeh itu padanya.

Diterimanya dengan senang hati dengan terlebih dahulu mengintip isinya apa aja. Isi hadiah yang kuberikan bukan yang utama melainkan pesan penting yang kusampaikan padanya bahwa ia sudah ketahuan belangnya. Dia tak akan bisa menahan dirinya untuk tidak meminta hadiah yang sudah kujanjikan ini.

“Itu ada kartu nama saya… Kalo apa… kita bisa… telpon-telponan… Chat…” kataku agak ganjen dikit. Parnakal-nakalon, ya Seng?

“Ini, yah?” katanya udah memegang kartu nama yang kumaksud dan mengabaikan dua buah roti lapis itu. Dibacanya sebentar dan tersenyum manis padaku.

“Makasih, yah? Vi? Bens… Makasih hadiahnya…” menyapa dua insan yang berondok (ngumpet) di belakangku.

Vivi melambai lemah membalas perempuan yang sudah beranjak pergi dengan senyum terpaksa. Si Benget ngumpet ngintip-ngintip di belakang Vivi sambil merinding kuat kek abis barusan pipis.

“Liat, kan? Percaya?” kataku beralih pada mereka berdua. Keduanya mengangguk-angguk bodoh. Si Benget menggigiti kukunya.

“Kalian kenal perempuan itu keknya? Orang blok YY sini juga ato gimana?” tanyaku.

“Rumahnya di seberang rumah abang…” kata Vivi ngikut menggigiti kuku jari tangannya. Si Benget malah menggigiti daging jempolnya.

“Whaddepak!” kagetku. Ya, Tuhan… Cobaan apa lagi ini?

***

Benget kuinstruksikan untuk banyak-banyak ngumpulin kulit bawang merah kering untuk mencegah datangnya Kuyang itu lagi. Aku gak mau tau dia dapatnya dari mana benda itu dan ia cukup tanggap dan siap melakukannya. Apalagi ini demi keselamatan dede bayi belum bernama yang diadopsi sohib kentalnya, Vivi.

Si gadis cantik itu tentu aja bingung gak ketulungan mendapat masalah kek gini. Wajar sih… Aku juga bingung. Bingungnya gini. Sosok manusia yang dipercaya sebagai media Kuyang itu ternyata tetangga depan rumahku yang dibatasi jalan dua jalur selebar 10 meteran.

Vivi mem-briefing-ku sebentar tentang biodata orang tersebut yang bernama ibu Karina, seorang ibu rumah tangga juga pekerja kantoran berumur 30-an tahun, belum punya anak.

Seingat Vivi memang bu Karina ini memang berasal dari Kalimantan yang menikah dengan orang Medan sini setelah berkenalan di kantor pusatnya di Jakarta. Informasi Vivi lumayan lengkap hingga detail itu ia bisa tau.

??: bapak Nasrul benar?

Aseng: benar. ini siapa ya?

??: sy dapat name card bpk tadi pagi. sy Karina

Waduh! Agresif juga emak-emak satu ini. Dia langsung menghubungiku. Kusimpan kontak Karina ini untuk melanjutkan percakapan kami ini. Setan satu ini sepertinya gak gaptek.

Aseng: panggilan sy aseng rumah sy di depan rumah ibu

Karina: o gitu ya kirain bpk penjual asuransi kbtulan sy mau invest di asuransi jiwa

Kimbek gak itu? Dikiranya aku mau nawarin dia produk asuransi. Gimana ya? Apa aku maen agresif juga dan langsung menggedornya. Dari sana aku bisa tau batas pengetahuannya tentang masalah Kuyang yang ada di dalam tubuhnya.

Aseng: bu boleh sy telpon ya? mau ngomong sst

Karina: boleh

“Tuut… tuut… tuut… Halo?” ia langsung menjawab panggilanku.

“Halo… Ini saya Nasrul, bu… Tapi panggilan saya Aseng… Apa kabar, bu Karina?” kataku mulai SSI.

“Baik pak Aseng… Yang baru pindah di depan rumah saya itu, ya? Bekas rumah pak Ahmed, ya?” jawabnya cukup ramah dan lugas.

“Saya belum sempat kenalan dengan keluarga pak Aseng… Biasa, pak… Pulang kerja malam saya langsung tidur… Kecapekan kerja…” ulasnya sedikit tentang kesehariannya. Yakin langsung tidur? Gak ngelepasin leher trus kepalanya terbang-terbang bawa jeroan gitu?

“Gak pa-pa, bu… Saya juga sama kok… sering pulang malam juga… Sering kelayapan juga…” kataku dengan menurunkan volume suara di kalimat terakhir tadi.

“Gimana, pak? Oh… itu makasih ya pak hadiahnya… Roti isi keju-mesesnya enak sekali… Saya makan habis semua tadi untuk sarapan…” katanya di sana menyinggung hadiahku.

“Ibu Karina gak heran gitu… pagi-pagi datang minta hadiah ke rumah Vivi?” tanyaku. Tapi diseberang sana sepertinya ia sedang teralihkan oleh sesuatu.

“Pak Aseng maaf… saya kembali kerja lagi, ya? Sampai jumpa…” ia mengabaikan pertanyaanku, merasa cukup lalu menutup sambungan telepon.

Dari percakapan itu aku belum bisa menyimpulkan apa-apa. Apakah dia tau ada ilmu Kuyang di dalam tubuhnya atau tidak? Mau dibiarkan saja tidak mungkin karena bisa-bisa dia bakalan mengincar anak-anakku.

Anakku Salwa itungannya masih bayi karena setahun aja belum umurnya. Belom lagi anak-anak keluarga lain di blok YY bahkan satu kompleks XXX ini. Dan gak mungkin juga aku ngasih pengumuman pada semua warga yang merasa punya anak kecil untuk membakar kulit bawang merah di depan rumah di waktu malam untuk antisipasi datangnya wabah Kuyang.

Dengan cepat perhatianku teralihkan oleh kesibukan di pekerjaan yang semakin hari semakin berat aja. Terlalu banyak yang harus di-handle dan terlalu banyak tanggung jawab. Apa manajemen tidak pernah memikirkan memecah pendelegasian tugas dan tanggung jawab pada para kepala bagian untuk lebih bertanggung jawab pada arena bidang tugasnya.

Daripada di-sentralkan semua begini ke Factory Manager. Apa-apa tanya ke Factory Manager. Ada masalah dikit tunggu jawaban Factory Manager. Mau merubah SOP itu harus nanya ke Factory Manager. Kapan majunya itu orang-orang?

“Lu ngerasa berat, kan ngejalani cara kayak gini? Itu challenge buat lu sendiri ke depannya… Kalo nanti lu udah jadi Factory Manager sendiri… lu boleh buat keputusan-keputusan besar untuk merubah kebijakan manajemen… Lu bisa tuh ngerubah semua susunan manajemen jadi lebih ringkas atau efektif sesuai dengan karakter lu orang… Karena… manajemen sekarang ini sangat pas buat wa yang perfeksionis… Wa harus tau semua yang terjadi di sini… Wa harus tau berapa jumlah baut yang dipakai untuk menggantikan yang sudah rusak… Ada berapa kilogram aditif yang ditambahkan tiap batch produksinya… Detail-detail seperti itu… Wa bahkan harus tau berapa liter waste cair yang kita buang tiap akhir produksi… Wa sadar lu pasti kesulitan ngikutin cara pikir wa karena lu gak perfeksionis kayak wa… Paham kan lu?” jelas kak Sandra ketika kuungkapkan ideku tentang perubahan itu.

“Boleh gitu ya, kak?” aku hanya bisa manggut-manggut.

“Ada apa, chayank?” sapanya pada seseorang yang baru masuk membuka pintu. Aku sampe harus menoleh ke belakang. Dani ternyata.

“Lagi pengen, cii… Wah… bang Asengnya ada disini rupanya… Mau ya, cii?” Dani datang dengan sex-flux pagi menjelang siangnya.

Random aja dia pengen ngeseks sesuka hatinya. Bisa seminggu gak selera disentuh sedikitpun, minggu depannya tiap hari mau dientotin. Lah dia di rumah kan punya lakik sendiri, si Akbar-Akbar itu. Ntah ngapain selalu minta jatahnya ke aku?

“Chayank duluan aja, deh… Nanti cici nyusul, yaa… Mumpung cici lagi sehat nih ngerjain cek laporan produksi… Seng… Ladenin dulu secelup dua…” katanya langsung nyuruh-nyuruh diluar SOP-ku.

“Kaak… Awak-pun banyak kerjaan-loh, kak… Tengok nih…” acungku pada beberapa folder map yang kubawa serta tadi.

“Sebentar ajaa… Sana-sana…” tunjuknya pada ruang istirahatnya.

Kimak ini memang sepasang lesbi bunting. Orang lagi banyak kerjaan disuruh ngegenjot binik orang dulu. Bersungut-sungut aku digandeng ceria Dani ke dalam ruangan istirahat itu. Kak Sandra meneruskan pekerjaannya sementara aku harus meladeni nafsu Dani dulu secelup dua. Nasib-nasib. Nasib ya kok enak gini. Wkwkwk…

Dani sudah melucuti semua pakaian kerjanya dan berbaring di sofa yang kerap dijadikan lokasi bergumul kami bertiga di ruang istirahat pribadi kak Sandra ini. Dengan jari yang sudah dibasahi ludahnya sendiri, digosok-gosok meki gundulnya sampe lembab agar mudah dipenetrasi.

Mukanya udah sange mengundangku untuk segera memasukinya. Aku sudah membuat Aseng junior mengeras dengan memandangi tubuh telanjangnya. Perutnya sekarang tidak serata pertama kali kuliat bugil begini.

Ada janin yang sedang bertumbuh di dalam rahimnya. Kemungkinan besar itu anakku. Walo agak buncit, tetapi itu malah membuat tubuhnya semakin bertambah menggairahkan.

Aura perempuan hamil akan sangat berbeda bagi lelaki karena insting dasar lelaki menyukai perempuan yang subur. Dani sudah terbukti subur karena telah sukses hamil, insting lelaki tidak pernah salah.

Yang pertama mendapat perhatianku adalah payudaranya yang sekarang bertambah ukurannya. Lebih membengkak besar dari sebelumnya. Puting mungilnya pun sudah berkembang lebih gemuk dari sebelumnya. Pas di kuluman mulutku.
Dani mendesah-desah keenakan sambil ia meremas-remas Aseng junior-ku semakin menegang keras. Diarahkannya ujung Aseng junior ke belahan meki gundulnya yang sudah merah merekah lebih gelap. Terasa basah sudah siap untuk menyambut masuknya diriku.

“Hyyaaahhh…” erang puas Dani merasakan Aseng junior tergelincir masuk membelah meki gundulnya.

Dadanya melengkung maju membusung hingga terbenam di mukaku kenyal. Mulai kugenjot dirinya pelan-pelan dahulu. Hamil muda harus diperlakukan dengan sangat hati-hati. Beda perempuan beda perlakuan. Di Dani, ia malah mood swing dalam bersetubuh.

Kadang selera kadang tidak. Kak Sandra mirip dengan Aida keadaan kesehatannya, sering sakit kepala dan mual walo pada kak Sandra sesekali masih berselera ngeseks dan Aida tidak sama sekali di trimester awal kehamilannya.

“Trus, bhaanngg… Aahh… Uhhh… Enaak, bhang Aseeenghh… Yaahh…” erangnya menggerak-gerakkan pinggulnya menyambutku.

“Tetek Dani tambah gede yaa, bhaangg? Uuhhnnn…” tanyanya mengarahkan tanganku untuk memainkan payudaranya lagi.

“Iya, Daan… Lebih gede sekarang… Tambah besar dede bayinya… tambah gede teteknya…” kataku lalu mencucup puting membesarnya.

Ia mengerang senang dengan penilaianku. Aseng junior menyodok sedikit lebih cepat, kujaga tidak menghimpit perutnya. “Akbar apa kabarr? Masih rutin sama lakikmu, kan?” tanyaku lalu menyentil putingnya dengan lidah.

“Males ngomongin dia… Gak berani inilah… gak boleh itulah… Gak usah ngomongin dia-lah… Males, Dani…” malah berubah jutek sebab aku nanyain suaminya.

Aku menyelamatkan diri dengan terus bermain dengan payudaranya yang tumbuh lebih besar berkat bertambahnya timbunan lemak. Masih tetap kolot gitu suaminya? Akbar menerapkan syariat betul-betul bahkan dalam menggauli istrinya.

Itu tidak bisa diterima Dani sama sekali padahal harusnya boleh digarap semaunya walo masih ada batasannya juga. Dani mendambakan kehidupan seks yang lebih berwarna seperti yang selalu kuperagakan padanya, membuatnya selalu mau dan mau lagi. Bahkan kini sering maen lesbi-lesbian sama kak Sandra, menjadikan hidupnya lebih berwarna kemana-mana sekarang.

“Beres, buuu…” jawabku sedikit menaikkan RPM setingkat lebih tinggi membuatnya melenguh lebih seksi. Saat kucucup teteknya lagi, pintu terbuka dan kak Sandra masuk dengan ekspresi pengen gabung walo kuyakin badannya terasa gak enak.

“Gabung, kak?” sapaku. Ia tak menjawab sapaanku melainkan berjongkok di arah wajah Dani dan mencumbu mulutnya.

“Chayank belum ada dicium Aseng cibay ini kan dari tadi?” tanya kak Sandra dengan gaya cemburu-cemburu buatan gitu.

“Gak ada, cii… Bibir chayank cuma buat cici Sandra ajaa…” jawab Dani sama-sama pe’a-nya.

“Kimak klen dua! Ompak’an (dibuat-dibuat)-lah klen trus gitu sampe bunting besar…” kataku cukup kesal karena terlalu sering ngeliat adegan lesbi kek gini yang diperagakan dua binor yang sama-sama kubuntingi. Masih tetap lesbi gak ini dua binor waktu perut buncit kegedean menghalangi cumbuan mereka?

“Apalah lu, Seng? Cemburu lu wa chayank-chayank-an sama chayank Dani?” provokosi satu panlok ini dengan mata sipitnya yang dikerjab-kerjabin genit.

“Ngapain awak cemburu… Masih bisa awak entot klen berdua, kok…” kataku sebenarnya.

Sukak hati mau ngapain mereka. Gak urus. Cuma kalo mereka minta yang kek kek gini aku gak bisa nolak pulak. Jarang-jarang ada dua binor minta dipuaskan bersamaan seperti saat ini. Sayang juga harus kehilangan kesempatan emas menggauli keduanya bersamaan.

Jadilah aku harus meladeni keduanya pagi menjelang siang itu. Padahal kerjaan masih bertumpuk banyak menuntut penyelesaian, malah ngentot disini bareng dua binor mendadak lesbi.

***

“Yang ini aja yang bekas, wak…” tunjukku pada benda yang masih ada seekor ayam jago Siam di dalamnya.

“Yang ini agak baru, Seng… Itu udah lama kali…” kata wawak-wawak itu memberi saran.

Aku mau membeli kandang ayam miliknya. Tau kan kandang ayam besar berbentuk setengah tabung dan bagian bawahnya tak bertutup dari anyaman bambu yang kerap digunakan untuk mengurung ayam aduan itu? Nah aku sedang menawar benda itu.

“Gak pa-pa, wak… Makin lama makin bagus… Apalagi ada bekas tai-tai ayamnya…” kataku beralasan. Dia menawarkan kandang ayam yang relatif masih baru miliknya dibanding yang kupilih ini.

“Ya udahlah sukak atimu…” katanya pasrah aja. Pembeli adalah raja. He he he…

Ngapain aku beli kandang ayam ini? Ada deh… Kalian nanti tau apa yang akan kulakukan dengan benda ini. Ini udah malam sebenarnya. Aku pulang ke gangku di Mabar, ke tetanggaku yang hobi melihara ayam aduan ini untuk membeli kandang ayam bekasnya. Lalu kubawa benda itu di kursi belakang Pajero dan akan kubawa ke kompleks. Basa-basi sebentar dengan wawak itu dan pulang.

Mandi, makan malam dan bercengkrama dengan anak istri sampe menjelang tengah malam. Istriku menceritakan hari-hari anehnya sebagai seorang nyonya besar sebuah rumah mewah ini. Ia merasa kikuk gak bisa ngerjain apa-apa di rumah suaminya sendiri. Apa-apa dikerjakan sama ART yang sigap dan cekatan.

Paling-paling ia menjaga Salwa aja, mengajaknya bermain ato mengajarinya berjalan keliling rumah yang luas sekali ini. Baru beberapa hari di rumah sebesar ini, ia sudah mulai kangen dengan rumah lamanya. Rumah yang selama ini diurusnya sendiri.

Aku menyarankannya untuk dolan-dolan ke tetangga aja mencari wawasan, siapa tau bisa dapat teman baru disini.

Sekitar jam 10 malam, istriku permisi tidur dengan Salwa yang sudah lelap dari tadi. Rio juga sudah damai di kamarnya, dengan banyak mainan barunya. Aku coba menghubungi Vivi menanyakan kabar si dede kecil.

Vi2: namanya Nirmala bg

Aseng: nama yg bagus siapa yg milih

Vi2: vivi dunk c bens maunya Margaretha ato Christina gt dah kek banci anakku namax kek gitu

Aseng: wkwkwk

Vi2: bu Karina dh mulai gerak lg kuyangx

Aseng: selo msh awak pantau dr sini belum gerak dy

Kami ngobrol terus lewat chatting ngalor ngidul ngulon wetan atas bawah sampe ke samping-sampingnya. Sampe ku dengar suara yang kutunggu-tunggu itu.

“Kyuukk!! Kuuk!!” suara khas Kuyang terdengar lamat-lamat dari seberang jalan. Ia mulai beraksi seperti kemaren malam. Jam yang persis sama. 00:15 WIB.

“Datang kao kemari! Kutangkap kepala jeroanmu!” desisku menunggu bentuk kepalanya menuju pagar rumahku.

Dia tidak akan bisa menahan nafsunya untuk mendatangi rumahku yang sangat mengundang dengan aroma bayi yang keras. Kalo ada yang ngeliat dari luar, pasti akan dikira aksi vandalisme anak-anak iseng karena aku menggantungkan beberapa popok bekas sekali pakai punya Salwa di pagar untuk memancingnya ke rumahku.

“KKKYUKK!!” ia meluncur cepat dari arah rumah bu Karina di seberang sana.

Tepat ke arah pagar rumahku. Mulutnya terbuka lebar dengan taring panjang yang tumbuh ghaib dari gusi mulutnya. Jeroan berupa lambung dan usus-usus menggantung mengikut di belakangnya.

Beberapa saat sebelum mulutnya berhasil mengunyah popok bekas itu, ia terperangkap dalam kurungan ayam yang sudah kusiapkan di atas tadi. Kandang ayam bekas yang ada sisa tai ayamnya. Panik tentunya siluman Kuyang itu terkurung di dalam benda remeh yang bisa dibilang udah mulai lapuk ini.

Tapi di sanalah khasiatnya. Semakin lapuk dan jelek kandang ayam ini makin kuat ia memerangkap siluman laknat ini. Malah kalo kugunakan kandang ayam gres baru dari toko, dengan mudah dia akan menghancurkannya karena belum ada aroma ayam yang pernah mendiami/memakainya.

Kuintip mangsa tangkapanku yang panik membentur-benturkan kepalanya pada jeruji bilah bambu tipis yang mengurungnya. Matanya yang berwarna merah menyeramkan jadi terlihat ketakutan. Padahal dia itu siluman yang seharusnya menakutkan.

Aku dadah-dadah padanya yang memandangiku dengan paras yang kalo ditelisik dengan teliti akan mengingatkan akan wajah bu Karina normal yang bisa dibilang cantik. Hanya saja dalam keadaan Kuyang begini; kulit pucat, rambut kusut, mata merah dan taringnya mengaburkan semua penilaian.

Apalagi pemandangan menjijikkan semua isi perut terburai teronggok sedemikian rupa ikut menggantung dari lehernya.

“Apa kabar, bu Karina? Nyaman di dalam sana?” tanyaku pasti lumayan ngeselin.

Sesekali ia masih berusaha melepaskan diri dengan menghantamkan kepalanya pada bilah-bilah bambu ini. Benda terlemah menjadi benda terkuat yang mampu mengurung kedigdayaan yang selama ini sudah diraihnya. Entah sudah berapa banyak korban yang sudah berjatuhan selama ia menggalang kekuatan dengan cara sesat ini.

Berada di luar pagar rumah begini pasti nanti akan terjadi kehebohan yang tak kuinginkan. Aku harus memindahkan kandang ayam bambu ini ke tempat lain. Kalo diangkat bisa lepaslah dia dari bawah kandang ayam itu. Klen mau bilang kek gitu, kan? Gak. Gak kek gitu cara kerjanya dunia supranatural.

Yang tertangkap memakai perangkap akan terus terkurung tidak memandang bentuk fisik alatnya. Gimana pulak kalo nangkap siluman kolor ijo pake potongan batang bambu kuning? Ngerti, kan poinnya? Yang tertangkap/terkurung itu adalah esensinya, bentuk energinya karena secara substansi mereka gak berbentuk padat ato solid.

Tentunya bisa aja ditembusnya dinding benteng setebal berapa meterpun dengan bentuk non-materil-nya. Tapi dikurung di dalam kungkungan kandang ayam bekas, dia tak berdaya. Menangkap siluman Kuyang dengan kandang ayam bambu bekas pakai. Gak akan ada klen temui tutorial ini di yutub. Jamin, karena ini cara gue. Sok gue-gue lu, Seng!

Dengan beberapa kali lompatan dengan bakiak Bulan Pencak aku sampai di lantai dua setengah rumah milik ibu Karina dan keluarganya. Lantai ini difungsikan sebagai tempat menjemur pakaian. Aku gak mau mengotori rumahku dengan membawanya masuk. Apalagi dia bisa mati dihajar oleh pagar ghaib berlapis-lapis yang sudah kupasang di sekeliling rumah. Kubawa dia ke daerah otonomnya sendiri.

“Kyuuukk!” serunya seperti minta dikasihani.

Bergoyang-goyang ususnya kala ia mengambang menyedihkan, menggesekkan kepalanya di bilah bambu tipis keliling yang mengurungnya.

Mau diinterogasi juga gimana caranya berkomunikasi dengan setan macam ini? Suaranya cuma kyu kyu aja. Kao kira ini maen judi Qiu-Qiu.

“Mau lepas?” tanyaku melongok ke dalam di antara bilah bambu tipis itu.

Ia mengangguk-angguk sedih mengambang dengan isi perut teronggok di lantai dak atap rumah.

“Suruh badanmu naik kemari… Aku gak mau tau gimana caranya… Pokoknya suruh badanmu kemari…” kataku tegas menunjuk tempat ini.

Lantai dua setengah rumahnya sendiri. Ini sebenarnya perintah yang kebangetan karena gimana cara tubuh tak berkepala itu menemukan jalan untuk sampai kemari. Pasti nabrak-nabrak tentunya.

Tubuh Kuyang yang ditinggalkan kepalanya pasti sedang berada di dalam sebuah kamar khusus yang sangat rahasia di rumah ini. Aku belum tau gimana kasusnya makanya aku mau bicara langsung dengannya. Kepala Kuyang itu berhenti mengambang dan menangkringkan kepalanya pada onggokan isi perutnya. Memejamkan mata dan mulutnya komat-kamit baca mantra. Dengan segelas air putih lalu Asengnya ngecrot. Croot!

Cukup lama aku menunggu. Ada sekitar setengah jam aku menatap pintu tangga yang menghubungkan lantai dak ini dengan lantai di bawahnya. Hanya itu satu-satunya jalan ke atas sini dari dalam rumah. Dan penantianku berakhir ketika pintu itu terbuka. Ada sosok tubuh tak berkepala berjalan meraba-raba dengan tangan terulur ke depan, antisipasi akan menabrak benda yang menghalangi.

Awalnya gelap dan begitu tersinari cahaya lampu jalan aku cukup kaget karena tubuh tak berkepala itu juga tak berpakaian alias bugil tanpa secarik pakaian sedikitpun. Yo hoho. Lezat nian tubuhmu wahai bu Karina walo serem gak ada kepalanya.

Tubuh binor telanjang yang belum pernah turun mesin berumur 30-an tahun yang dalam keadaan ranum-ranumnya memanggil untuk dipetik. Kusambangi tubuh itu dan kutuntun mendekat dengan girang-girang gila ala Aseng senget. Gak usah muna kalo kubilang aku gak gerepe-gerepe tubuh telanjangnya.

Payudara besar bulat menggantung indah itu kuremas-remas gemas. Pantat semoknya juga apalagi. Apalagi vagina berjembut lebat itu bahkan basah kala kujejali jariku, nakal kacang itilnya mengeras kukobel.

Kikuk tubuh telanjang tak berkepala itu menunggu untuk reunian dengan bagian terpisahnya. Kuulur waktu untuk bermain-main dengan tubuhnya. Udara dingin malam meremangkan kulitnya. Apalagi karena pentilnya yang mengeras kupilin-pilin. Aku sangat tergoda oleh tubuh seksi binor serem satu ini.

Selagi kepalanya kuperangkap, aku melecehkan tubuhnya sejadi-jadinya. Ini resiko yang harus ditanggung bu Karina akibat memiliki ilmu sesat ini. Walo sebenarnya aku belum pasti juga dari mana asal muasal ilmu hitam ini. Yang penting kunikmati dulu, mumpung ada kesempatan ini.

Tau diri juga aku, woy. Gak sampe kuhunus Aseng junior masuk ke kemaluannya. Cuma kugesek-gesek aja-nya Aseng junior-ku ke kenyal pantatnya dan payudara masif itu. Geli-geli sedap gimana gitu rasanya. Cukup-la ya, Seng. Kerja dulu kita. Kalo mau celup-celup nanti aja. Kalo yang ini bisa di-speak-speak, kita cobak-la.

Melihat lubang menganga di lehernya dan isi dalam perutnya pasti merupakan pengalaman horor bagi yang perutnya normal. Imbangku cuma dokter yang biasa meng-otopsi mayat. Kuangkat kandang ayam itu dan kepala Kuyang itu ikut terangkat melayang beserta isi perutnya yang menggantung melewati besar kurungannya ini. Dari usus yang paling bawah kumasukkan bagian tubuh itu ke lubang di leher tubuh bu Karina yang berdiri diam.

Trus-trus… Sampai semua jeroannya masuk semua, kembali ke dalam tubuhnya. Dan potongan leher lalu bersatu kembali dengan sisa leher di tubuhnya. Menyatu halus meninggalkan satu garis tipis berwarna merah pudar. Ia harus selalu memakai kalung model choker untuk menutupi garis merah itu.

“Haahh…” tercekat nafas perempuan itu begitu tersadar kembali dari pengaruh ilmu jahat ini.

Kurungan ayam itu masih belum lepas dari kepalanya karena aku masih memerangkap Kuyang itu dengan benda remeh ini. Tentu ia kaget ada benda itu di atas kepalanya, mengurung tubuhnya sampai sebatas pertengahan pahanya. Walo sadar, tubuhnya tidak bisa bergerak sesuai keinginannya. Tubuhnya masih kaku.

“Ada-ada apa ini? Siapa-siapa?” hanya mata dan mulutnya yang bisa bergerak dan bicara.

“Saya, bu… Aseng… Masih ingat saya?” jawabku dan memposisikan diri tepat di depannya agar ia jelas melihatku dari kisi-kisi bilah bambu yang mengurungnya.

“Pak Aseng… Ya… Ya… Ada apa ini, pak? Kenapa saya begini? Benda apa ini? Kenapa saya tidak bisa bergerak?” tanyanya bingung.

Ekspresinya jujur. Tidak dibuat-buat. Tapi masih bisa berupa akting karena para setan ato siluman itu jago akting. Saingan para artis Holywood papan atas.

“Awak menangkap Kuyang dari tubuh ibu Karina… Tau apa itu Kuyang?” tanyaku mulai interogasi. Keningnya berkerut mencoba mengingat-ingat. Lalu mengangguk.

“Pernah dengar… Hantu yang kepalanya lepas mencari anak bayi itu, kan?” katanya yakin.

“Benar… Pinter ibu…” kataku bertepuk tangan jenaka.

“Apa ibu tau… kalo ibu itu adalah Kuyang?” lanjut tanyaku.

Ia mencoba menggeleng tapi gak bisa. Hanya matanya melotot dan mulutnya bermaksud protes.

“Gak! Enggak mungkin aku Kuyang!” katanya membantah. Air mata mulai menetes di matanya. Bisa jadi itu air mata buaya. Ia terus membantah itu semua.

“Ibu gak akan jadi begini kalo ibu bukan Kuyang… Awak ini sudah menangkap kepala ibu yang terbang mau ke rumahku tadi dengan kandang ayam ini… Ini kelemahanmu, kan?” sergahku menggebrak kandang ayam itu. Tubuhnya tak bergeming kaku.

“OK… Tadi itu masih bertanya baik-baik…” kuhunus mandau Panglima Burung kemudian sebagai tahapan bertanya dengan cara tidak baik-baik. Aura senjata ini mengandung kekuatan sang burung Enggang Gading yang sakral di tanah Kalimantan asal Kuyang ini. Kita tes apa setan ini memang asli berasal dari Kalimantan ato cuma bacot aja.

“Kau tau ini apa?”

Mata indah bu Karina berubah warna dari kornea coklat menjadi merah keseluruhan berikut putihnya semua. Matanya berubah warna begitu melihat pangkal gagang mandau yang berbentuk kepala burung Enggang Gading milikku.

“Panglima Burung…” desis mulutnya gemeletuk beradu berulang-ulang seperti menggigil kedinginan. Gigi-gigi tajam muncul dari gusinya.

“Nah… Sepertinya kau tau apa yang ada di tanganku ini, kan? Sekarang ngomong yang jujur-jujur aja… Kalo enggak… kau tau akibatnya kalo ditebas dengan mandau Panglima Burung ini…” ancamku lebih tegas dengan memasukkan bilah mandau itu dari bawah kandang ayam yang mengurungnya, dekat di depan matanya. Ia bisa merasakan aura mengancam mandau Panglima Burung tepat di depan bacotnya. Pasti ia bisa bercermin pada kilat logam berkilaunya.

“Bisa kau jujur, kan?” tanyaku untuk memastikannya.

“Aku harus puas dengan jawabanmu…”

“Bisa… bisa, tuan…”

“Bagus… Sudah berapa lama perempuan ini menjadi Kuyang?” pertanyaan pertamaku.

“Sudah lama, tuan… Sudah sejak dia berumur 19 tahun…” jawabnya.

“Berarti sekitar sebelas tahunan…” sambungnya berusaha sebaik-baiknya untuk menyenangkanku.

“Sebelas tahun… Ini ilmu yang dituntutnya sendiri ato turunan?” lanjutku ke pertanyaan berikutnya.

“Turunan tuan… Ini menurun dari ibunya dan dari ibunya lagi… Dia keturunan terakhir… Turunan ke tujuh…” jawabnya sebaik-baiknya dengan intonasi jelas. Kalo memang apa yang dikatakan setan ini benar, prediksiku tepat. Ilmu turunan ternyata. Sekarang ke pertanyaan berikutnya.

“Jadi… apa dia tau kalo punya ilmu ini?” tanyaku.

“Tidak, tuan… Dia tidak tau kalo punya ilmu ini… Aku hanya memanfaatkannya untuk terus mencari makanan kegemaranku… Bayi manusia…” di akhir katanya, ia menjilat bibirnya dengan lidah yang memanjang. Mungkin membayangkan nikmatnya daging dan darah bayi manusia yang selama ini sudah disantapnya sebagai ganti jasanya.

“Dan kau juga memakan bayi yang ada di dalam perutnya?!” sergahku cepat selagi lidahnya menjilat begitu.

Ini menjadi jawaban logis kenapa perempuan ini tak kunjung punya momongan juga selama menikah bertahun-tahun. Setan Kuyang itu tercekat dan memasukkan lidahnya pelan-pelan karena tertangkap basah. Matanya berkedip-kedip memikirkan kemungkinan terburuk yang mungkin akan menimpanya. Hancur misalnya.

“Jawab!”

“Benar, tuan…” jawabnya terpaksa jujur mengakuinya. Matanya masih berkedip-kedip.

“Anda dengar itu semua, bu Karina?” tanyaku menembus tirai kesadaran.

Kornea matanya tiba-tiba berubah menjadi coklat lagi, terus berkedip-kedip. Gigi-gigi tajam itu pun ikut menghilang.

“Jadi selama ini… aku sempat hamil tetapi selalu dimakan Kuyang ini?” ini adalah suara bu Karina yang sesungguhnya.

“Hiks hiks hikss hu huu huu… Dasar Kuyang kurang ajar! Dasar setaaan!!” jeritnya sedih dan marah bercampur menjadi satu. Tentu dia patut marah akan keadaannya ini.

“Kenapa? Kenapa harus aku? Aku tidak pernah mempelajari ilmu sesat begini…”

“Bu Karina memang tidak pernah… Tapi nenek-nenek buyut ibu Karina yang melakukan ini… Tidak ada gunanya menyesalinya… karena memang gak ada gunanya…” kataku mencoba menghiburnya.

Ia masih tersedu-sedu menangisi nasibnya. Ia sudah putus asa. Ia racaukan berbagai macam usahanya untuk hamil lewat beberapa macam ikhtiar. Sempat hamil sebulan lalu keguguran. Dua bulan, pendarahan dan harus dikuret. Tiga bulan dan tidak ada pergerakan setelahnya, dikuret lagi.

“Ada kata-kata terakhir sebelum kau kusingkirkan… setan Kuyang?” tanyaku mengelus-elus mata tajam mandau ini.

Aku memanggilnya agar maju ke depan lagi seperti tadi. Mata bu Karina kembali menjadi merah dan gigi tajam muncul kembali.

“Ada lubang besar di perutnya yang menjadi tempat tinggalku selama ini… Bahkan setelah aku tuan singkirkan dari tubuhnya… yang ‘lain’ akan mengisi tempat nyaman itu… Bibit dari tuan akan menyegel lubang besar itu untuk selama-lamanya… Bukan begitu, tuan ber-mandau Panglima Burung?” kata si setan licik itu.

“Manis kali mulutmu, setan Kuyang… Siapa yang membisikimu informasi itu?” tanyaku mendekat.

“Mungkin lain kesempatan aku akan mengunjunginya…” desakku. Ia malah tersenyum, semakin lebar dan semakin saja.

“Ha ha hah hah haah…” gelaknya tertawa lebar seakan tau kalo gak bakalan selamat dariku.

“Pedang Selatan Mengiris Sembilu…” kuacungkan mandau ke atas kepalanya, mengerahkan Lini secukupnya untuk melakukan tebasan. Mandau serong ke kiri dan Swaaasshh… menebas horizontal lurus hingga tiba di kanan tubuhku.

“Klak!” potongan tipis dan bersih tepat pada garis merah di leher bu Karina membuat kandang ayam itu terpotong terbelah dua. Sisi bawahnya segera jatuh ke lantai dak, meninggalkan bagian atasnya yang masih tergantung di atas ubun-ubun perempuan itu. Mata merah setan Kuyang itu perlahan-lahan memudar.

Gelap, abu-abu dan akhirnya putih. Mata coklat pemilik aslinya muncul perlahan menggantikannya. Beberapa gigi tajam berbentuk taring itu bertanggalan dari gusinya, jatuh dan pudar menjadi abu menghilang. Garis merah tipis itu hilang dari lehernya secara permanen.

Kutunggu sebentar untuk memastikan semua proses pemusnahan setan Kuyang biadab itu benar-benar berhasil. Dengan jurus Pedang Selatan Mengiris Sembilu kuharapkan bisa memutus mata rantai lingkaran setan yang selama ini menguasai tubuh bu Karina untuk keuntungan sesatnya.

Untungnya dia ada di urutan terakhir turunan yang dapat limpahan ilmu sesat yang sangat meresahkan orang banyak ini. Sehingga kelak gak ada keturunannya yang akan mendapat sial ketimpaan ilmu menakutkan semacam ini.

“Panglima Burung… apakah dia sudah musnah?”

“Sudah, anak… Kuyang itu sudah tidak ada lagi di tubuh anak perempuan malang ini…” jawab Panglima Burung lewat perantara mandau-nya di genggamanku.

Kami lebih mudah melakukan komunikasi dengan cara ini. Pengetahuan cara menangkap Kuyang dengan menggunakan kandang ayam bekas juga aku tau dari beliau. Gak ada tempat bertanya yang lebih manjur tentang klenik Kalimantan daripada tetua yang berasal dari sana juga selain Panglima Burung.

“Syukurlah… Apakah lubang yang dibicarakannya itu benar?” tanyaku cukup penasaran. Tadi ia membicarakan lubang itu kuanggap sebagai alat tawarnya aja agar aku gak buru-buru membantainya.

“Kuyang dan sejenisnya selalu membuat sarang di dalam tubuh inangnya… Khusus pada Kuyang… benar ia menyiapkan lubang itu di perut untuk membuatnya nyaman… Karena anak perempuan ini turunan ke tujuh, terakhir… ia merasa tak perlu menjaga keberlangsungan keberadaannya lewat turunan-turunannya… Makanya dia memakan semua janin-janin yang dekat dengan lubang tempatnya bersarang… Ia hanya perlu pindah ke mangsa berikutnya yang cukup bodoh untuk mempelajari ilmu Kuyang ini seperti orang-orang tua terdahulu anak perempuan ini…” jelasnya panjang lebar. Aku hanya bisa memandangi tubuh telanjang utuh bu Karina dengan kasihan. Penderitaannya sungguh berat.

“… dan benar… Lubang itu bisa diisi oleh mahluk lainnya… Mengisi kekosongan lubang besar itu… Lubang itu harus segera ditutup…” simpulnya.

“Anak bisa menutup lubang besar itu seperti yang diperingatkan si Kuyang tadi… Dia tidak bohong…”

Please deh-ahh…

“Bu Karina sudah dengar semuanya, kan?” tanyaku.

Aku menutup tubuh telanjangnya dengan sehelai kain sprei motif bunga yang sepertinya lupa diangkat dari jemuran di atas sini. Ada beberapa buah kursi plastik yang kerap dipakai para ART rumah ini kala beristirahat di atas ato curi-curi waktu.

Tengah malam begini kami berdua malah duduk ngobrol di lantai dua setengah rumah ini. Gak sepenuhnya ngobrol sebenarnya, sih. Aku sudah melepas sisa kandang ayam lapuk itu dari ubun-ubun kepalanya hingga ia sudah terbebas.

“Sudah, pak Aseng… Saya dengar semua… Tapi saya gak ngerti sama sekali…” katanya melirikku sebentar lalu melempar pandangannya ke langit malam yang gelap.

Hanya ada bulan sabit akhir periodik dan beberapa titik bintang di dekatnya. Pastinya dia masih kepikiran rasa malu yang harus ditanggungnya karena telah tampil telanjang tanpa penutup apapun di hadapanku.

Jujur aja aku masih bisa merasakan hangat dan basah lubang kemaluannya yang sempat kukobel tadi. Moga-moga dia gak kerasa saat itu. Apalagi payudara besar bulatnya. Yumm…

“Gini, bu Karina… Awak panggil Karina aja, yaa… Karena keknya kita seumuran nih… Sebaliknya panggil awak Aseng aja…”

“Bang Aseng…” sambarnya.

“Bang Aseng-pun boleh…” aku memutar mataku, duh…

“Selama ini kan gak tau ada setan Kuyang itu di dalam tubuh Karina… tapi selama ini pula telah menikmati berbagai keuntungan yang diberikan setan Kuyang itu secara tidak sadar… Paham yang awak katakan?” kataku memulai penjelasannya. Kepalanya mendadak tegak mendengarnya.

“Ingat sesuatu?”

“Tadi kata setan itu… Ia mulai turun padaku saat saya umur 19 tahun, kan?” ingatnya. Aku mengangguk membenarkan.

“Sebelum umur 19 tahun itu saya hanya anak perempuan biasa aja… Terlalu biasa… Tetapi setelah 19 tahun… mulai banyak perubahan terjadi pada saya… Orang-orang mulai memperhatikan saya… Keberadaan saya mulai dianggap… Bahkan ada yang memuja-muja saya… Saya selalu mendapat kemudahan di bidang apapun… Kuliah lancar dan mendapatkan pekerjaan dengan mudah… Semua karier saya mulus karena saya selalu dapat mempengaruhi semua pihak… Baik atasan, kolega maupun klien… Jadi itu semua karena pengaruh setan Kuyang itu… dan dibayar dengan memangsa bayi-bayiku?” simpulnya sendiri. Bagus deh kalo dia paham masalah yang tengah dihadapinya. Aku jadi gak perlu menyusun kata-kata njelimet menjelaskan masalahnya.

“Yaa… Setan-setan itu biasanya melakukan hal kek gitu untuk melenakan mangsanya…” rangkumku.

Karina lalu terpekur menatap lantai dak. Tubuhnya masih berbungkus kain sprei, berusaha tak mengindahkan rasa dingin angin malam. Mengingat-ingat semua rangkaian hidup palsunya yang ternyata atas kendali entitas jahat setan Kuyang yang menggerogoti tubuhnya dari dalam, memakan bayi-bayinya dan bayi-bayi keluarga lain di luar sana.

Seberapa besar rasa bersalahnya telah menikmati semua ini? Apakah ia merasa bersalah?

“Jadi mulai sekarang saya harus berusaha dengan usaha sendiri… Dengan kemampuan sendiri…” putusnya duduk tegak lalu berdiri di hadapanku, berjalan ke arah depan rumah.

Aku duduk sendirian sekarang. Bagus ia menyiapkan resolusi sendiri untuk hidupnya yang pastinya akan mulai berubah karena ia tak punya pesona seperti sebelumnya waktu ada Kuyang di dalam badannya.

“Lalu masalah lubang yang tertinggal itu… bagaimana?” ia berbalik dan agak membungkuk menanyakannya.

“Itu masalah yaaaang sangat berat… Apa Karina sanggup mendengarnya?” kataku lumayan sangsi.

“Sebagai permulaan perubahan hidupku… itu bisa menjadi awalnya…”

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22