The Baby Maker Part 4

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9

Cerita Sex Dewasa The Baby Maker Part 1 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya :The Baby Maker Part 3

Cakar besar menghempas keras di mukaku lalu ditarik menambahkan kerusakan berupa cakaran kuku panjang harimaunya. Untung aku sempat memblokirnya dengan melindungi kepalaku dengan cover tangan.

Walau begitu aku terdorong hingga terbanting karena kuat dan cepatnya serangan barusan. Tanpa ampun harimau jelmaan Inyiak Mandalo Lelo melompat lagi ke atas tubuhku dan membuka mulutnya lebar-lebar, memamerkan gigi geligi taring yang panjang runcing.

Ia memantek tubuhku yang tadi sempat bergulingan dengan kedua kaki depannya yang luar biasa besar. Masing-masing kaki memaku bahuku. Aku meronta-ronta liar, melipat kakiku hingga menyentuh dada dan meluncurkan sekuat tenaga ke atas dengan momentum yang pas dan gerakan kepalanya yang akan mengganyang kepalaku.

“DAAGGH!” tendangan dua kakiku tepat mendorong dan menghantam lehernya. Kalo bentuk manusia pasti itu bagian jakunnya. Tubuhnya hanya sedikit bergeming berkat bobot tubuhnya yang besar dan bongsor. Kaki depannya mengendur sehingga aku bisa berguling ke samping kanan.

Kutarik leherku ke kiri sedikit karena cakar raksasanya menghempas tepat beberapa mili saja dari kupingku. Beberapa rambut kasarnya menggelitik kulitku. Ia tidak mau melepasku dari posisi kuncian tubuh seperti ini. Aku tetap dikurungnya di antara dua kaki depannya.

Entah karena insting atopun gak punya jalan lain, diluar kebiasaan aku malah memanggil bakiak Bulan Pencak. Dulu waktu berlatih silat harimau ini, aku dilarang memakai senjata andalanku ini dengan pengecualian pedang daun. Kembali kutendangkan ke atas jurus andalanku dengan memakai bakiak ini.

“GUGUR GLUGUR!!”

Tubuh harimau besar jelmaan Inyiak Mandalo Lelo berjengit sedikit terangkat akibat hantaman dahsyat jurus Gugur Glugur-ku itu, bergeser sedikit memberiku ruang. Dengan bantuan hentakan tenaganya, aku meloloskan diri melesat menjauhinya, menyeser tanah lalu bergulingan bersiap lagi akan apapun karena harimau itu mengejarku lalu melompat lagi. Kupindah kedua bakiak di tanganku sebagai alat pukul dan menyongsong mahluk jadi-jadian itu.

Stres akibat bising distorsi yang tak kunjung berkurang di telingaku membuatku menjadi sedikit gila. Cakaran besar harimau itu kusambut dengan melaga hantaman juga. Cakar besar melawan hantaman bakiak merah berstiker old skool ini.

Membabi buta aku pukulkan berkali-kali bakiak itu ke cakar yang sama. Seharusnya itu akan memberi efek pada mahluk apapun yang memiliki indra perasa di tubuhnya. Bulu tebal yang melindungi sekujur tubuh harimau itu setidaknya meredam sekian persen benturannya. Ia meraung dan mengaum.

Inyiak Mandalo Lelo mode harimau itu melompat menerjang lagi tanpa ampun, aku sudah lebih bersiap dengan senjata pukulku ini. Belum tau kau kehebatan senjataku ini. Kali ini aku langsung menyasar rahangnya yang kuat, yang ditumbuhi bulu-bulu lebat dan panjang.

Bakiak Bulan Pencak kuhantamkan di rahang kirinya setelah bersusah payah bermanuver menghindari serangan sapuan cakar besar berkuku tajam itu dengan langkah cepat dan gerakan akrobatik. Berkelit sana dan sini, aku berhasil menaiki punggungnya seolah sedang menunggangi harimau besar ini. Dua bakiak Bulan Pencak kuhantamkan lagi ke kupingnya.

Harimau itu mengaum gusar setara jeritan yang menggetarkan gendang telinga merasakan sakit hantaman di bagian yang sangat sensitif bagi hewan karnivora ini. Di sana pusat keseimbangannya. Ia mencakar membabi buta sementara aku bergulingan menjauhi serangannya dan selalu memposisikan diriku di belakangnya.

Inyiak Mandalo Lelo membalik badannya dan menyerang lagi, ekspresi muka kucing besar itu terlihat kesakitan dan gusar. Beberapa seranganku mulai terasa cederanya mengganggu gerakan yang biasanya lincah dan gesit. Menghindar dan sesekali menyerang dengan memukul kaki belakangnya dengan bakiak Bulan Pencak untuk memperlambat kekuatan lompatnya yang luar biasa.

Mamalia berkaki empat berukuran besar melebihi biasanya itu mulai kesulitan bergerak. Ia merenggangkan kaki belakang kirinya yang sudah kuhajar berulang-ulang dengan bakiak andalanku. Gerakannya setara dengan menggeretakkan sendi yang kaku.

Kami kembali saling ukur menakar lawan dengan saling berputar dengan waspada penuh. Tanganku terbuka lebar di bawah dengan memegang sepasang bakiak, setengah berjongkok di tanah yang sudah kupak-kapik karena pergelutan kami sebelumnya. Pertarungan mengadu jurus.

Aku melawan perwujudan seekor harimau yang sangat buas. Dulu aku juga pernah menghadapi harimau seperti ini kala berlatih Mandalo Rajo dengan Inyiek Mandalo Sati. Rasa itu kembali kurasakan. Debaran itu. Bercampur dengan distorsi menyebalkan yang mengisi kepalaku akibat menggunakan tenaga penuh ilmu Mandalo Rajo.

Bertarung dengan hewan buas semacam harimau ini adalah hal yang sangat mengerikan apabila tidak tau karakteristik hewan ini. Hewan ini sangat bangga akan kekuatannya tetapi ia juga tidak meremehkan mangsanya. Sering juga harimau gagal dalam berburu akibat keteledorannya sendiri dan juga kegesitan mangasanya. Biasanya sang harimau hanya akan berburu mangsa berikutnya.

Tetapi kali ini adalah pertarungan dua harimau. Aku menggunakan silat harimau dan Inyiak Mandalo Lelo sudah menjadi harimau sesungguhnya. Hikayat orang-orang dahulu mengatakan, kalo terlalu dalam mempelajari silat harimau ini, sang pendekar bisa berubah benar-benar menjadi seekor harimau. Ada benarnya di level Inyiak Mandalo Lelo. Aku belum pantas mendapatkan gelar Inyiak yang berarti ‘kakek’.

Tangan yang memegang bakiak Bulan Pencak tetap pada bentuk cakar seiring dengan cakar melengkung yang mencuat dari buku-buku jariku tetap mengarah pada lawan. Rasa pedih dan sakit dari luka-lukaku sedikit terlupakan dengan terus suara distorsi bising di telingaku yang tak kunjung selesai.

Sukak kali yang maen gitar listrik sembrenget itu di kupingku ini. Entah cam mana menghilangkan suara berisik itu. Kalo kutarik balik Mandalo Rajo, aku ragu bisa mengimbangi Inyiak Mandalo Lelo dalam bentuk harimaunya.

Inyiak Mandalo Lelo mulai bergerak lagi… Tapi gerakannya tidak biasa. Ia menepuk kaki belakang kirinya yang terluka dan paha kanannya yang tersayat hingga tubuh harimau itu berdiri tegak.

Gak pantas membandingkannya dengan Tigger, teman Winnie the Pooh yang bisa berdiri dan melompat-lompat dengan ekor per-nya, tapi itu yang sedang dilakukan harimau itu. Ia berdiri tegak seperti manusia raksasa berbulu harimau. Ia menatapku tajam seperti akan memuntahkan sesuatu. Apa ada bola bulu di perutnya seperti kucing-kucing kebanyakan.

NO WAY! Ini tidak mungkin! Tubuh harimau itu perlahan membentuk tubuh humanoid yang jelas. Ada dada bidang, tangan yang kekar dan juga kaki yang kokoh untuk menopang tubuhnya.

“Sutan Mandalo Nasrul Chaniago…” suara serak yang pertama kali keluar dari Inyiak Mandalo Lelo harimau humanoid itu.

“Belum pernah ada yang mencapai taraf ini… Bahkan guru besar kami… Inyiak Mandalo Panglimo nan Sadareh… Karena itu… aku mau meminta hakku yang sudah kau rebut sebelum waktunya…” ia mengutarakan maksud utamanya.

“Tapi Inyiak Mandalo Lelo sudah dikeluarkan dari hutan Larangan sebelum aku datang belajar Mandalo Rajo… Inyiak sudah dilarang untuk menggunakan Mandalo Rajo selamanya… Inyiak sudah tidak bisa lagi untuk menyebutnya sebagai hak!” sergahku.

Harimau yang melanggar aturan di hutan Larangan akan mendapat hukuman diusir selamanya dari hutan dan tak boleh memakai embel-embel nama yang berasosiasi dengan hutan Larangan lagi.

Inyiak Mandalo Lelo melakukan kesalahan yang sangat berat dengan memangsa hewan ternak dan membunuh beberapa warga penggembala yang bermukim di pinggiran hutan. Ini adalah cerita yang pernah dikisahkan oleh guruku Inyiek Mandalo Sati.

“Aku satu-satunya Inyiak Mandalo yang tersisa… Cuma aku berhak menyandang gelar itu dibanding dirimu yang bukan apa-apa…” sulit untuk membayangkan seekor harimau tersenyum.

Tetapi itu yang sedang kupandangi. Wajah seekor harimau humanoid yang sedang tersenyum seperti yang selalu ditampilkan Inyiak Mandalo Lelo saat bertemu orang-orang. Gigi-gigi bertaring panjang bertonjolan di sudut mulutnya.

“Aku akan membangun kejayaan silat harimau Mandalo Rajo yang dulu sangat disegani kembali ke tempatnya yang sepantasnya… Kemana kau selama ini? Kau tidak melakukan apa-apa… Hanya bersembunyi dan menghilangkan silat paling hebat ini untuk mengalahkan semut-semut yang tak ada faedahnya… Dukun-dukun cabul itu… Siluman-siluman rendahan itu… Itu yang kau sebut pertarungan? Mandalo Rajo seharusnya menguasai… bukan bersembunyi seperti yang kau lakukan… Memanfaatkannya hanya untuk mengawini bini orang…”

Sampai di kalimat terakhir itu aku sudah sangat marah. Ceramahnya udah kek Naruto kurasa. Cam betol kali dia nyeramahin aku. Bukannya betol kali orang satu ini. Kebetulan aja-nya kao lahir duluan dariku hingga kao tua dan berpredikat kakek-kakek ato Inyiak. Apa urusanmu ngata-ngatain aku yang ngawini binik orang?

“Kalera muncuang wa’ang, yo?” (Kimak mulut kao, ya?) kulempar tak perduli apapun satu bakiak Bulan Pencak ke mukanya dan menyusul yang sebelah lagi.

Ia mengelakkannya dengan mudah. Satu bakiak itu membentur sebuah pohon kelapa hingga tumbang ke arah laut. Kuterjang tubuh humanoid harimaunya. Aku jadi tak perduli apapun lagi. Denging distorsi di kepalaku semakin mengganggu. Itu membuatku tak dapat berpikir dengan jernih. Hanya menerjang dan terjang saja.

Inyiak Mandalo Lelo dengan mudah mengelakkan semua serangan serampanganku. Tubuh harimau besar berpostur manusia itu dengan mengejutkan bisa bergerak dengan sama gesitnya dengan bentuk hewannya. Dan dengan keuntungan fleksibelitas menggunakan jurus silat harimau sepenuhnya.

Sebuah cakaran penuh mengoyak mukaku. Empat jarinya yang berkuku harimau merobek mukaku. Aku meraung-raung kesakitan dan meradang mengamuk sejadi-jadinya. Malah sabetan luka baru bersarang kembali di tubuhku. Robek di perut, betis kiri dan lengan kanan.

Tertatih-tatih aku berusaha memposisikan diriku untuk membalasnya. Rasa sakit merajai tubuhku. Darah sudah sangat membasahi tubuhku. Pandanganku-pun sudah bertabir darah yang mengucur dari luka memanjang dari pipi kiri hingga dahi.

Inyiak Mandalo Lelo tertawa-tawa senang melihatku sudah sangat kepayahan dan mengejekku. Itu harusnya trademark-ku. Aku yang harusnya selalu memprovokasi lawan. Kali ini aku kena batunya.

Urat besar di belakang tumitku diputuskannya hingga aku limbung dan tak mampu berdiri dengan benar. Mataku nanar menatap gelapnya langit tak berbenda angkasa ini. Merah oleh darah dan bising oleh distorsi.

Inyiak Mandalo Lelo menginjak kedua bahuku hingga aku terlentang tak berdaya. Untuk beberapa saat dipandanginya mukaku dengan wajah harimau tersenyumnya lalu ia menunduk agar dapat dengan lekat menatapku. Mungkin ini kata-kata terakhirnya sebelum ia mematahkan leherku, memutus kepalaku atau menghancurkan jantungku.

“Mandalo Rajo tidak cocok untukmu… Aku… Inyiak Mandalo Lelo akan mengambilnya darimu… Kau boleh beristirahat…. selamanya… CRASSHH!!” ujarnya lalu membenamkan cakar-cakar di tangannya ke arah punggung tanganku. Aku menjerit sakit sejadi-jadinya. Rasanya jari-jariku sudah terputus semua karenanya.

Inyiak Mandalo Lelo mengincar cakar harimau yang menjadi penanda sakral keilmuan Mandalo Rajo di tanganku. Simbolisnya, ia melepas gelar Mandalo Rajo dari tanganku.

“AAAARRRHHHHH!!!” jeritku sangat pilu.

Rasanya sangat luar biasa sakit. Sakit saat cakar itu tumbuh mencuat kalah oleh rasa pemutusan paksa ini. Kehilangan jari-jari tangan tak terlalu kuhiraukan. Kehilangan nyawa yang sangat mengerikan.

Kehidupan yang pernah kulalui silih berganti berkelebat di depan mataku. Memori-memori masa lalu mencuat keluar seperti ledakan kembang api di akhir tahun. Teringatku pada anak-anakku yang masih kecil, pada istriku yang kucintai, ibuku yang sudah merawatku sejak kukecil, adik dan kakakku. Begini rasanya sekarat…

Suara distorsi mengganggu itu hilang lenyap dari kepalaku. Mati ternyata terasa mendingan kalo begini. Sebentar lagi, rohku akan melayang-melayang dan aku bisa menyaksikan jasadku yang terbujur kaku mulai dingin.

Aku hanya melihat putih dan putih saja. Katanya bakalan ada lorong panjang dengan sinar di ujungnya. Semoga aku bisa melihat bidadari-bidadari cantik di tempat nantinya.

Ah ha ha ha… Apa mungkin orang yang mesum sepertiku ini akan mendapat kehormatan seperti itu? Sudah seberapa banyak dosaku, sok ngarep dapat bidadari cantik. Seng-Seeng? Mimpi kao!

“Uy… Paja pakak!” (Uy… orang paok!) panggil satu suara.

Kenapa ada orang yang sedang mancing di sini? Orang itu sedang memancing dengan sebatang bambu sebagai jorannya. Ia berjongkok memancing pada sebuah lubang berair. Tanah berwarna putih itu berlubang. Ini tanah ato apa? Kok kek awan gitu? Kudekati orang itu yang masih tekun memperhatikan pelampung pancingannya.

“Inyiek?” buru-buru aku berlutut dan menghaturkan hormatku pada orang tua itu.

“Hng?” heranku.

Tanganku yang tadi berdarah-darah kini normal-normal saja. Juga dengan luka-luka lainnya di tubuhku. Mukaku yang sobek tidak terasa sakit lagi. Di hadapanku kini adalah guruku, Inyiek Mandalo Sati. Bukannya dia sudah lama tiada. Kenapa ia ada di sini? Apakah ini alam barzah itu itu? Alam kubur. Dimana semua roh-roh mahluk yang sudah mati menunggu sebelum hari Hisab.

“Bingung, wa’ang?” katanya sambil garuk-garuk pantat.

Ini guru yang memang slebor. Bisa-bisanya ngomong sambil garuk-garuk sembarangan. Nah, kan… garuk kontolnya dia sekarang. Tangannya masuk ke dalam celana dan garuk-garuk. Abis itu diciumnya aroma bekas ngegaruk tadi lalu disapukannya kain celananya beberapa. Inyiek Mandalo Sati hanya memakai celana panjang sebetis dan ikat kepala serba hitam.

“Sudah datang si Lelo kalera (kimak) itu minta Mandalo Rajo?”

“Iya, Inyiek… Saya kalah darinya… Dan saya mati… di sini bersama Inyiek…” simpulku.

“Mati?” ia menjepit joran pancing itu di paha dan betis kanannya lalu mengambil sesuatu di atas permukaan tanah putih ini.

Ini beneran tanah apa awan ato apa, ya? Ada yang bisa menjelaskannya padaku. Benda itu? Itu sebuah console game portable Gameboy Advance. Ia sedang memainkan sebuah game. Dari cartridge-nya terlihat tulisan 5in1 Best GBA Games. DEPAKK? Inyiek Mandalo Sati sedang maen game Mario Bros yang sempat di-pause!

“Siapa yang mati?” ulangnya.

“Saya, Nyiek…” jawabku tetap berusaha sopan walo seslebor apapun guruku ini.

“Ang kira ini alam kubur apa?” katanya ngegantung kentang dan tetap memainkan game portable itu sambil sesekali tetap melirik pada pelampung pancingnya.

Ini bukan alam kubur? Jadi ini tempat apa? Masa ini cuma daerah kekuasaan Inyiek Mandalo Sati? Hah? Jadi selama ini Inyiek Mandalo Sati tidak mati? Belum meninggal? Selama ini berada di sini? Dimana jasadnya?

“Saya gak paham, Nyiek… Apakah ini daerah kekuasaan Inyiek? Ini berbeda dari yang biasanya…” daerah kekuasaan Inyiek Mandalo Sati setahuku tidak berbeda rupanya dengan keadaan hutan Larangan yang dikuasai dan dijaganya. Aku pernah beberapa kali masuk karena undangan beliau. Bahkan terakhir kali juga aku ada di dalam sana…

“Wa’ang gak usah paham apa-apa… Gak ada gunanya paja pakak macam wa’ang dikasih tau juga… Uhh… DAPAT!” kaget aku dibuatnya karena ia tiba-tiba teriak ‘dapat’ dan melemparkan begitu saja console game portable lawas itu.

Aku jungkir balik berusaha menangkap benda itu. Tunggang-langgang akhirnya aku dapat menangkapnya. Ini, kan Gameboy-ku dulu! Aku tanda kali sama benda ini karena aku menggores bagian belakangnya dengan inisial namaku NS, Nasrul Aseng. Jadi selama ini hilang ada di tangan Inyiek Mandalo Sati ternyata.

“Nyiek? Ini kan gem… Huh?” kagetku berhenti ngeluh pada Inyiek Mandalo Sati demi melihat apa yang sudah dipancingnya keluar dari dalam air.

Bukan ikan ataupun belut apalagi sebelah sepatu bekas, bentuknya seperti seekor kucing akar atau anak harimau ditilik dari loreng-loreng bulunya. Leher mahluk itu terjerat oleh benang pancing yang menegang akibat berat tubuhnya. Inyiek Mandalo Sati memegangi pangkal joran bambu dan memperhatikan tangkapannya.

“Anak harimau?”

“Ini si Lelo kalera itu…” jelasnya. Apa?? Anak harimau ini adalah Inyiak Mandalo Lelo? Kenapa jadi harimau kecil gini?

“Apa yang terjadi, Nyiek? Saya gak paham, Nyiek…” tentu saja aku gak ngerti dengan semua yang terjadi saat ini.

Dimulai dari aku masuk ke tempat ini, kenapa Inyiek Mandalo Sati ada di sini, kenapa luka-lukaku sudah sembuh, kenapa Inyiak Mandalo Lelo dipancing menjadi seekor anak harimau.

“Perhatikan mulutnya…” tunjuk Inyiek Mandalo Sati pada moncong anak harimau itu.

Hewan malang yang terlihat masih imut itu menggeliat-geliat berusaha melepaskan jeratan benang pancing pada lehernya dengan gerakan-gerakan mengusap. Moncong anak harimau itu tidak biasa karena seperti sedang tersenyum menampakkan gigi-gigi mungil di dalam mulutnya. Mengingatkan pada perangai Inyiak Mandalo Lelo yang selalu tersenyum. Jadi dari kecil ia sudah seperti ini. Tunggu dulu… Aslinya Inyiak Mandalo Lelo itu harimau sungguhan!

“Sudah paham?”

“Inyiak Mandalo Lelo adalah harimau asli…” simpulku.

“Nah… Itu baru pandai… Jadi si Lelo itu adalah harimau yang lahir di hutan Larangan… Usianya sudah ratusan tahun… Ada sedikit cacat di bagian mulutnya hingga ia seperti terlalu tersenyum… Sebagai seekor harimau di hutan Larangan… tentunya ia memiliki majikan yang membebaskannya hidup di hutan dan sesekali dipanggil… Majikannya adalah guru besar kami Inyiak Mandalo Panglimo nan Sadareh… Guru besar kami mengembangkan silat harimau Mandalo Rajo ini berkat bermain-main dengan harimau-harimau peliharaannya… Lelo adalah harimau terkuat di hutan Larangan saat itu… Jadi saat Inyiak Mandalo Panglimo nan Sadareh kelihatan sedang bermain dengan para harimau itu… sebenarnya ia sedang berlatih Mandalo Rajo langsung pada harimau… Bagi masyarakat awam… mereka seperti berkelahi…” jelas Inyiek Mandalo Sati lalu melepaskan jeratan benang pancing itu dari leher si harimau kecil. Harimau imut itu menggaruk-garuk lehernya yang sudah terbebas.

“Lelo adalah harimau terkuat yang sangat bangga dengan kehebatannya… Kalau ia bertemu dengan harimau lain yang berusaha masuk ke hutan Larangan… Lelo akan mengusir harimau itu… Sampai suatu hari ia diperdaya oleh satu siluman dari daerah yang jauh… Lelo kalah dalam pertarungan itu… Ia ditangkap dan diculik oleh siluman itu… Lelo diangkat menjadi murid oleh sang siluman dan mendapatkan ilmu untuk berubah menjadi manusia… seperti siluman yang sudah mengalahkannya itu… Satu ciri yang tak bisa hilang darinya adalah senyum di wajahnya itu… Lelo yang kembali ke hutan Larangan setelah menghilang selama 20 tahun dan minta diajari Mandalo Rajo kepada Inyiak Mandalo Panglimo nan Sadareh…” Inyiek Mandalo Sati terus menceritakan sejarah Mandalo Rajo yang belum pernah kudengar ini. Harimau kecil perwujudan Inyiak Mandalo Lelo berlari-lari mengekplorasi tempat serba putih ini.

“Kau tau aturannya, kan? Hanya ada satu murid yang diajari Inyiak Mandalo Panglimo nan Sadareh… Itu aku… Saat itu Inyiak Mandalo Panglimo nan Sadareh sudah mengangkatku menjadi murid… Karena silat harimau ini sangat berbahaya… Tidak boleh ada lebih dari satu penguasa ilmu ini di satu masa… Lelo ditolak menjadi murid oleh Inyiak Mandalo Panglimo nan Sadareh… karena hatinya berubah menjadi culas… Merasa kalau dialah yang paling berhak menyandang ilmu ini… karena berkat andilnya-lah ilmu ini tercipta, ia berbaur lagi dengan para harimau di hutan Larangan dan mencuri belajar dari kejauhan latihan-latihanku… bersama Inyiak Mandalo Panglimo nan Sadareh… Lelo mempelajari Mandalo Rajo secara sembunyi-sembunyi dan bahkan mengembangkannya sendiri hingga tersesat…” Inyiek Mandalo Sati terdiam sesaat mengingat-ingat semua kejadian itu.

“Lelo secara tidak sah menyandang nama Mandalo di namanya… Lelo menantang Inyiak Mandalo Panglimo nan Sadareh untuk mengambil nama Mandalo Rajo untuk dirinya sendiri… Sesuai namanya… Mandalo Rajo… Hanya ada satu raja Mandalo yang menyandang nama itu di dunia… Itu dirimu, Sutan Mandalo Nasrul Chaniago…” lanjutnya.

Inyiak Mandalo Lelo menantang Inyiak Mandalo Panglimo nan Sadareh?

“Tentu saja Lelo kalah mudah dari Inyiak Mandalo Panglimo nan Sadareh… pencipta ilmu ini… Ia lari dan menghilang untuk mengembangkan dirinya lagi… Mandalo Rajo yang dikuasainya adalah Mandalo Rajo palsu yang tidak punya ruh murni sebuah keinginan untuk melindungi… Ia hanya mau merusak… Keinginan untuk merusaknya lebih besar daripada sebuah membangun kemajuan…” Inyiek Mandalo Sati lalu menunjuk ke arah harimau kecil itu.

“Liatlah betapa kerdil jiwanya sesungguhnya… Ia tidak lebih dari harimau kecil yang tidak tau apa-apa walau sudah sebanyak itu berlatih dan seberapa lama ia hidup… Lihatlah dirimu… Kau adalah gambaran jiwa seperti apa yang ada di luar sana… Di dunia…” tuntasnya. Ternyata ini adalah versi lengkap tentang kisah seekor harimau bernama Inyiak Mandalo Lelo.

“Mm… Nyiek… Aku bukan orang baik…” sadarku langsung merasa malu. Dia pastinya tau apa saja yang telah kulakukan di luar sana.

“Kau orang baik, Sutan… Aku tidak salah memilihmu untuk dilimpahkan silat harimau Mandalo Rajo ini… Kau menyembunyikannya dan hanya memakai gerakannya saja… Lelo pasti sudah melakukan kerusakan di muka bumi kalau ia mendapatkan Mandalo Rajo sedangkan kau tidak… Aku tau apa saja yang sudah kau lakukan selama ini… Satu nasehatku sebagai gurumu… Berhati-hatilah… Ada banyak musuh yang lebih berbahaya dari pada Lelo di luar sana…” katanya.

“Terima kasih, Nyiek… Saya berhutang sangat banyak pada, Inyiek… Tapi saya sudah menyebabkan Inyiek…”

“Kau liat aku baik-baik saja, kan?” ia memotong ucapanku.

“Aku bersenang-senang di sini… Lagian aku gak sendirian… Aku punya segalanya disini…” tiba-tiba ia mengangkat sebelah tangannya seperti sedang mencoba menarik perhatian seseorang di kejauhan. Apa benar ada orang lain di sini?

“Kau liat… Itu Inyiak Mandalo Panglimo nan Sadareh…” Mataku hampir melotot ditunjukkan pada sosok seseorang di kejauhan sana yang merupakan guru besar yang telah menciptakan Mandalo Rajo.

Pria tua yang masih terlihat gagah itu mengendarai sebuah chopper Harley Shovelhead dengan mengenakan jaket kulit lengkap dengan helm dan google-nya. Ini alam apa, sih sebenarnya? Kenapa benda-benda seperti itu ada di sini? Ada Gameboy, ada Harley. Inyiak Mandalo Panglimo nan Sadareh menghampiri kami dengan deru suara motor Harley kerennya. Inyiak Mandalo Sati menepuk-nepuk bahuku. Aku masih bingung.

***

andalo Rajo tidak cocok untukmu… Aku… Inyiak Mandalo Lelo akan mengambilnya darimu… Kau boleh beristirahat…. selamanya… CRASSHH!!” Aku dengan mudah menghindari hujaman kuku-kuku runcing Inyiak Mandalo Lelo yang menancap di tanah pasir. Koreksi, cukup Inyiak Lelo saja.

Aku kembali ke beberapa detik sebelum Inyiak Lelo memutus cakar-cakar di tanganku dengan cara menendang punggung bawahnya. Ia terlalu pongah berdiri menginjak kedua bahuku saat mengunciku di tanah tadi.

Ia kaget karena seranganku barusan. Tubuhku masih berdarah-darah tetapi hanya sekedar darah yang menempel saja tanpa ada luka yang menganga sama sekali. Tendanganku barusan juga bersamaan dengan cakaran menggunakan kuku cakar kakiku, melukai punggungnya. Aku bersiap kembali dengan kuda-kuda rendah. Dan o-ya… Sudah tidak ada lagi distorsi berisik di telingaku lagi. Yes!

Babak baru akan segera dimulai.

Aku melompat cepat ke arah tubuh besarnya, merayap cepat dan nangkring di atas pundaknya. Kakiku bersilang dari balik ketiaknya. Tanganku mengunci lehernya yang tebal juga kekar. Kucoba untuk memelintir, mematahkan leher itu.

Inyiak Lelo gesit melontarkan tubuhnya berputar searah dengan putaran pelintir leherku ke tanah untuk menggagalkan, dengan maksud membantingku ke tanah dengan submission. Kakiku yang mengapit di ketiaknya ditahan agar aku tidak bisa lari dari kunciannya.

Dengan salto, melentingkan badan ke belakang, tanganku dahulu yang mencecah tanah alih-alih kepalaku. Walau kakiku masih terkunci di ketiaknya, aku malah membanting tubuhnya menggunakan tumpuan tangan seolah sedang menjadikannya sebuah martil raksasa.

Kaget setengah mati Inyiak Lelo kepalanya terbentur kuat di tanah keras tetapi berkat liat tubuhnya, membuatnya kembali sigap dan menerjang kembali.

Sebuah gerakan menghindar sederhana kulakukan, mundur satu langkah dari tempatnya mendarat lalu menjegal ala sliding tackle satu kakinya yang mencecah mendarat. Tubuh besarnya tak siap menerima benturan itu dan jatuh berdebum.

Aku bersiap dengan teknik dasar lainnya, lutut dan sikuku menyambut rubuhnya tubuh Inyiak Lelo ke bumi. Lututku membentur ulu hatinya sedang sikuku telak di tenggorokannya. Inyiak Lelo mengalami kerusakan parah. Ia berguling-gulingan di tanah merasakan rasa sakit yang luar biasa. Satu tangan memegangi perutnya dan satu di leher. Suara parau serak kesakitannya membahana.

Waktu ia bergulingan, pilih waktu yang tepat saat ia menelungkup dan seranganku masuk lagi. Kutindih punggungnya dengan tubuhku yang jauh lebih kecil dan ringan. Tangannya yang memegangi lehernya yang rusak kuteruskan melingkari lehernya ke arah kuping.

Tangannya yang satu lagi, yang memegangi perutnya tertindih tubuhnya sendiri. Kutarik sejadi-jadinya tangan yang melingkari leher itu untuk menghentikan jalan nafasnya. Jari-jari berkuku tajam itu kuplintir sebagai pengunci.

“Inyiak Mandalo Panglimo nan Sadareh juga Inyiek Mandalo Sati kirim salam…” ekspresi muka dari wajahnya yang selalu tersenyum itu tidak bisa kulupakan.

Ada titik air mata yang mewakili suaranya yang sudah tak dapat mengeluarkan suara jelas lagi. Jurus ini yang dulu dipakai untuk mengalahkannya saat menantang Inyiak Mandalo Panglimo nan Sadareh. Tentunya ia percaya kata-kataku. Ia harus percaya. Dan KRAK!

Tubuh besar bentuk humanoid harimau itu terkulai lemas. Ini ilmu sesat yang dipelajarinya dari siluman itu. Ia mengubah tubuh hewannya menjadi setengah manusia dan juga manusia utuh demi kerakusannya. Kini ia terkulai tak bernyawa. Ini tugas yang diberikan dua guruku saat bertemu tadi.

Aku harus menumpas bibit kejahatan yang mendeskreditkan Mandalo Rajo ini dengan jurus Mandalo Rajo yang sesungguhnya. Sebagai seorang pewaris sah dari Mandalo Rajo. Aku Sutan Mandalo Nasrul Chaniago membasmimu.

***

Aku menggeletakkan tubuhku di pasir pantai sembarangan. Butir-butir pasir menempel tak kupedulikan. Menempellah sesuka kalian. Pilih aja bagian tubuhku yang kalian suka. Tapi jangan digigit!

Ini ceritanya kok jadi ribet begini, ya? Kenapa urusannya jadi semakin jauh begini. Kukira ini hanya urusan santet menyantet aja. Ternyata aku memang sengaja di target oleh Inyiak Lelo untuk memancingku keluar untuk hadir di ranah Minang ini kembali.

Tau kalo ajo Mansur saudaraku, Inyiak Lelo menyuruh murid-muridnya untuk menerima permintaan santet dari orang-orang itu. Ratih, terkait harta warisan adat yang juga ternyata diinginkan oleh keluarga yang lain.

Ambil jalan pintas menggunakan bantuan dukun, anak muda dengan keahlian silat harimau Mandalo Rajo palsu. Suli, dari seorang pemuda yang tak tersampaikan hasratnya.

Sakit hati Suli keburu dipinang seorang yang terpandang sekelas ajo Mansur, jalan pintas juga diambil lewat dukun lain, dukun tua dengan Menggala harimau. Yang terakhir adalah pesaing bisnis ajo Mansur yang langsung ditangani oleh Inyiak Lelo sendiri.

Tujuannya adalah menjatuhkan mental ajo Mansur lewat tak mampunya ia menggauli istri atau perempuan manapun. Kalo mentalnya jatuh, kinerjanya menurun tak mampu kerja dan implikasinya bisa kemana-mana.

Tebakanku adalah main proyek ato pekerjaan yang gagal dilaksanakan hingga menyebabkan wanprestasi berujung perdata ato bisa apa saja. Fiuh…

Kok bisa Inyiak Lelo nemu orang-orang yang tepat untuk menghubungkanku dengannya? Indikasinya ia sudah menungguku sejak berbulan-bulan lalu dimana rencana pernikahan ajo Mansur sedang digodog. Tertunda karena ternyata aku tidak datang ke pesta pernikahannya. Hanya ibu dan adikku yang datang menghadiri acara tersebut. Tetapi santet dan teluh sudah terlanjur disebar hingga ajo Mansur dan ketiga istrinya kena getahnya.

Paranormal terkemuka di negri ini bahkan tak sanggup mengatasi kejahatan yang digawangi Inyiak Lelo dan murid-muridnya ini. Aku gak bisa komen tentang kemampuan mereka, sih. Lanjut malah sekarang ini karena aku menghadiri pernikahan adikku di kampung sini.

Kenapa dia, Inyiak Lelo tidak langsung saja mendatangiku di Medan? Aku yakin dia sanggup datang padaku langsung ke Medan. Kenapa harus di daerah ini? Ranah Minang? Mungkin karena preferensi aja secara legenda harimau-harimau dengan status Inyiak ato Datuk lebih kental di sini.

Kalo dibawa ke Medan mungkin akan kurang gregetnya. Kalo di ranah Minang sini, hampir rata semua suku mengakui kedigdayaan mereka bahkan sampai ke pesisir yang notabene bukan habitat harimau.

Ajo Mansur sekarang sudah sembuh harusnya dari santet ato teluh yang dikirimkan Inyiak Lelo yang menyerang kejantanannya. Harusnya, yaa… Udah bisa harusnya ajo Mansur mencoblos ketiga istrinya sekarang. Entah apa yang sedang dilakukan ajo Mansur di kamar itu bersama Mila. Apa ia sudah menyadari kalo Mansur junior-nya sudah sembuh dari penyakit tak wajarnya itu. Mudah-mudahan aja ia belum tidur saat ini.

Nah… Itu dia. Berlari-lari cepat ke arahku dari bangunan Resort yang ditinggalinya bersama istrinya, Mila selama di pulau Cubadak. Aku bangkit dari goler-goleran gak jelas di pasir, menantinya sampai menghampiriku. Cahaya malam menerangi siluet tubuhnya yang gak berbaju, hanya bersarung awut-awutan. Aku menghindari cipratan pasir dari tendangan kakinya.

“Seng! Seng! Udah bisa tegang! Keras! Liat!” heboh ajo Mansur memamerkan Mansur junior-nya yang sudah benar-benar tegang ngaceng dengan perkasanya seperti dulu.

“Ya-elah, jo… Gak usah dipamerin juga ke aku-laa… Aku gak selera-la liat kalapiah ajo walo udah ngaceng kek gitu…” gidikku jijik karena ia menyodor-nyodorkan kemaluan tegangnya padaku.

“Iyaa… Ajo udah sembuuh!” lanjutku memalingkan muka menghindari pemandangan horor itu.

“Jadi… ini udah bisa dipake, Seng?” tanya ajo Mansur jumawa sekali sambil mengocok-ngocok penisnya tanpa malu apapun di depanku.

“Tapi Mila udah tidur… Dia kecapekan… Gimana, yaa?” sadarnya.

“Apa Suli aja? Ratih mungkin?” bingungnya. Mungkin ia teringat dengan giliran jatah yang diaturnya.

“Bebasss… sss… sss…” aku angkat tangan apapun yang dipilihnya. Istri-istrimu, jo… Suka-suka kao aja mau yang mana… Capek aku… Mo tidur dulu aku puas-puas…

“Makasih, Seng…” ajo Mansur berlari kembali ke bangunan Resort miliknya dengan riang gembira.

Ia bahkan melompat-lompat kek anak kecil nemu rental PS gratisan. Aku masuk ke bangunan dimana anak dan istriku tidur. Mau tidur juga.

***

Berikut ini adalah rekaman yang dilakukan ajo Mansur secara diam-diam dengan meletakkan handycam di sudut ruangan kamar Resort-nya. Dari bias cahaya yang berpendar dari dinding kayu bangunan, sekitar pagi hari karena mereka tidak muncul saat sarapan. Siapa saja mereka? Ajo Mansur, Ratih, Mila dan Suli.

Ajo Mansur mendudukkan ketiga istri cantiknya itu di sisi panjang ranjang kamar. Ketiganya terlihat bingung apa yang sedang direncanakan suami mereka. Aku tidak bisa mendengar apa yang dikatakan ajo Mansur tanpa menaikkan volume suara handycam ini ato memakai ear-phone.

Jadi aku mengembara jauh ke dalam hutan untuk bisa bebas menonton rekaman yang baru saja diberikan ajo Mansur padaku dengan cara diam-diam juga. Ini bentuk terima kasihnya padaku. Katanya ini masih DP.

“Ada apa, abi? Abi mau membicarakan apa? Adek baru aja selesai ibadah…” kata Ratih bingung.

“Iya, bi… Apa gak nunggu nanti aja, ya… Adek juga mau baca kitab suci dulu…” Suli menimpali.

Keduanya lalu sambil senyum-senyum memperhatikan Mila yang sedang mengeringkan kembali rambutnya yang belum kering sempurna dengan handuk. Suli berbisik pada saudara keduanya itu dan keduanya cekikikan tertawa. Di antara ketiganya hanya Mila yang tidak memakai hijab sedang Ratih dan Suli pakai tetapi hanya yang ringkas saja.

“Dengerin dulu, kak Ratih… Suli… Ada yang mau diminta abi pada kita…” kata Mila sepertinya sudah sedikit banyak tau apa yang akan terjadi.

“Jadi begini bidadari-bidadari abi yang cantik-cantik…” ajo Mansur mulai angkat suara.

Ia berdiri tepat di depan ketiganya yang duduk berjejer di atas ranjang kamar Resort. Ajo Mansur memakai kaos singlet dan sarung. Ketiganya mendengarkan dengan seksama.

“Maaf sebelumnya kalau nantinya permintaan abi ini kurang berkenan di hati kalian… Abi juga mau minta maaf baru beberapa hari ini bisa menjalankan tugas abi sebagai suami untuk memberikan nafkah batin… Sudah lebih sebulan abi mendapat musibah ini… Kalian bertiga tau musibah apa… Sekarang abi sudah sembuh… Pertama Suli di Bukit Tinggi waktu itu… Kedua Ratih di danau Maninjau… Lalu tadi malam Mila di pulau Cubadak ini… Abi sangat senang sekali sudah bisa sembuh dan bisa menjalankan kewajiban abi ini…”

“Nah… Berikutnya ini… Kalian semua tau abi ini sudah tidak muda lagi… Abi sudah cukup berumur… Sudah tidak banyak waktu lagi… Abi juga harus buru-buru punya keturunan dari kalian… Sekarang ini kan kalian bertiga tinggal sendiri-sendiri di rumah yang sudah abi siapkan… Abi mengerti kalau perempuan itu pada dasarnya tidak suka berpoligami… Jauh di lubuk hati kalian pasti ada rasa sakit melihat suami kalian ini sedang menggilir istrinya yang lain… Abi tidak bisa tutup mata akan hal itu… Tapi kita berempat sudah berikrar untuk bersama dan kalian iklash mempunyai madu bahkan lebih dari satu… Itu sangat abi syukuri… Ini berkah buat abi…”

“Selama liburan kita empat hari ini… abi menilai kalian bertiga sudah semakin akrab… Jauh lebih akrab dari sebelumnya… Itu mungkin juga karena kalian bertiga bersaudara sepupu jadi sudah mengenal dari dahulu… bahkan sejak kecil…” ajo Mansur menjeda pembicaraannya untuk beberapa saat untuk menilai wajah dan ekspresi ketiga istrinya.

Mereka perempuan yang cerdas, pastinya mereka bisa menangkap maksud arah tujuan pembicaraan suami mereka.

“Abi ingin kalian bertiga… setidaknya mencoba bersama-sama… Hidup bersama-sama maksud abi… Kita tinggal satu atap berempat… Abi tau… Abi tau itu tidak akan mudah… Itu tidak mudah… Akan ada banyak benturan nantinya… Akan ada banyak masalah nantinya… Tapi sebagai ukhti yang taat pada Tuhan-nya… bukankah harus taat juga pada suaminya… Ini keinginan abi yang utama…”

Ketiga perempuan itu terdiam dan tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Ajo Mansur membiarkan mereka berpikir dahulu sampai mereka mendapatkan ketetapan hati. Maksud ajo Mansur adalah akan sangat memakan banyak waktu dan energi untuk membagi waktu harus berpindah dari satu rumah ke rumah lainnya sementara umur dan tenaga ajo Mansur sudah tidak full lagi seperti lelaki muda.

Setidaknya ketiga istrinya ada pada satu atap dan ia hanya perlu berpindah kamar saja. Disamping menghemat waktu juga menghemat tenaga. Apalagi dari segi agama, ketiganya pasti paham kalau ridho-nya suami pasti ridho-Nya juga. Berbakti pada suami tentunya yang paling utama bagi mereka.

“Bagaimana… bidadari-bidadari cantik abi?”

Ratih sepertinya bersiap memberi tanggapannya sebagai istri tertua. Ia memegangi leher membersihkan jalan suaranya dengan berdehem.

“Ratih sebenarnya paham masalah ini, bi… Suami kami bertiga… abi memang tidak lagi muda… Pastinya banyak kekurangan akibat uzur ini… Kami juga bersabar pada ujian yang sudah kita jalani selama perkawinan kita yang masih seumur jagung ini… Intinya Ratih setuju saja… apapun yang abi inginkan… Ratih nurut-nurut aja apa yang abi mau…” ia memberi gestur tangan memberi kesempatan penyampaian pendapat pada Mila yang ada di sampingya yang sudah berhenti mengeringkan rambutnya dengan handuk.

Dengan rambut yang masih lembab akibat mandi basah pertempuran semalam, Mila hening sejenak lalu menarik nafas.

“Sama seperti kak Ratih tadi… Mila juga setuju… Memang awalnya Mila sih yang minta supaya punya rumah sendiri… Ngurus rumah sendiri… Repot repot sendiri… Tapi sepi, bi… Kak Ratih… Suli… Sepi ya rumahnya?… Kalo abi pergi kerja… tinggal kita aja sendirian di rumah… Cuma bingung abis gak ada yang bisa dikerjakan… Sebaiknya kita memang tinggal bersama aja… Kita bisa ngobrol dan mengurus abi bersama… Abi juga gak capek-capek pindah sana-sini… Mila sih setuju…” Mila ternyata juga setuju dengan ide suaminya. Tinggal Suli yang terakhir.

“Sip… Suli juga setuju…” Perempuan itu mengacungkan jempolnya ke depan.

“Suli bisa belajar dari kakak-kakak cantik yang pinter dan sholehah ini…” ia memeluk lengan Mila dan menempelkan pipinya pada rambut lembabnya.

“Suli kan yang paling imut… Adek yang paling bungsu… Abisan di rumah memang bosan… Sunyi gak ada siapa-siapa kalo abi kerja… Apalagi kalo abi lagi giliran di rumah yang lain… malam-malam suka serem…” Suli lebih ekspresif mengungkapkan pendapatnya.

Intinya semua setuju. Ketiganya berpelukan dengan Mila berada di tengah digencet saudari-saudarinya sesama istri ajo Mansur. Terharu melihatnya.

“Bagus…” ajo Mansur menggosok-gosok kedua telapak tangannya seperti merencanakan sesuatu yang nakal.

“Sekarang pada intinya… Sebagai permulaan… kalian harus tau kalau kita tinggal bersama… abi maunya kita melakukan ‘ini’ juga bersama-sama…” ia melorotkan sarung yang dipakainya.

Sarung itu bertumpuk di kakinya dan juga dibukanya kaos singlet itu hingga ia telanjang bulat di depan ketiga istrinya. Ketiga perempuan itu terkesiap kaget melihat aksi sang suami yang mengejutkan.

Dari sudut pandang kamera yang ada di belakang ajo Mansur, aku tidak bisa melihat jelas keadaan Mansur junior-nya, tapi tadi malam kejantanannya sudah menegang sempurna seperti biasa. Aku bisa membayangkan kalo Mansur junior juga sedang ngatjeng sengatjeng-ngatjeng-nya karena potensi menggagahi ketiga istrinya sekaligus dalam sekali kesempatan.

“Abi… maksudnya… maksudnya abi mau kita main ramai-ramai?” tebak Suli yang lebih tanggap.

Mungkin ia sudah pernah dengar istilah threesome saat bergaul dengan teman-teman kuliahnya yang beragam. Ini ia malah akan mengalami foursome! Ratih dan Mila hanya bisa menutup mulutnya tanda kaget.

Membuka baju hingga telanjang bulat di depan suami saja baru akhir-akhir ini bisa mereka lakukan, ini sudah harus melakukannya di depan perempuan lain. Seharusnya lebih mudah, yaa? Aku gak paham cara pikir semua orang, sih.

Apalagi perempuan model ukhti-ukhti begini. Pastinya akan banyak pertimbangan. Ratih aja waktu itu masih menyiapkan selembar sarung untuk menutupi beberapa bagian tubuhnya agar tidak telanjang bulat bahkan di depan suaminya.

“Ya… Coba dulu… Kalian kan sama-sama perempuan… Gak masalah, kan? Apalagi kalian bidadari-bidadari abi yang cantik… Kalau kalian bisa membuka baju di depan satu sama lain… abi pikir nantinya kalian akan lebih mudah bergaulnya… Cobain, deh…” kata ajo antusias malah cenderung gak sabar.

Ia maju dan mendekati ketiga istrinya. Mata ketiganya nanar menatap ke bawah. Pastinya pada anggukan Mansur junior yang mengacung tegang di bawah perut suami mereka. Ajo Mansur mengelus rambut Mila dan kepala Ratih lalu Suli. Tangannya berusaha melepas hijab yang dikenakan Suli.

Suli pasrah hijabnya dilepas ajo Mansur bahkan membantunya. Pria itu juga mengupas hijab yang dikenakan Ratih. Kalau hanya ada ajo Mansur, melepas hijab dan menampakkan rambutnya tentu hal yang wajar saja. Tapi bugil? Berempat?

Ajo Mansur tidak terlalu buru-buru ternyata. Ia masih sabar dan mencumbu bibir Ratih. Keduanya berciuman. Ajo Mansur berlutut di depannya. Perempuan itu tentunya malu-malu melakukan cumbuan semacam itu di depan Mila dan Suli, dua madunya. Ajo Mansur yang lebih banyak memimpin percumbuan itu.

Tangannya juga gak segan meremas payudara Ratih yang masih terbungkus di balik pakaiannya. Ratih gelisah karenanya. Mila dan Suli dengan mulut menganga menyaksikan kedua insan itu bercumbu mulut di depan mata. Sesuatu yang wajar kalo ia/mereka lakukan bersama suami, tetapi melihat suami melakukannya dengan perempuan lain, walopun itu istrinya juga, kesannya akan jadi berbeda.

Remas-remas payudara Ratih semakin intens ajo Mansur lakukan. Ratih makin jatuh dalam kenikmatan dan menikmati cumbuan yahud suaminya yang sangat berpengalaman. Tangannya yang lain mulai menelusup masuk dari bawah rok gamis panjang yang dikenakan istri pertamanya itu dan menjamah kaki perempuan itu langsung.

Rasa nyaman segera mengalir di tubuhnya kala pria itu mengelus-elus merayap naik hingga aku sebagai penonton bisa melihat kulit putih kakinya yang kain pakaiannya tersingkap. Aku jadi kangen kaki itu. Halus dan mulus.

Sabar ajo Mansur berusaha terus hingga tak terasa ia bisa melepas gamis panjang itu dari tubuh istri pertamanya itu. Dibungkamnya mulut yang akan protes itu dengan menciuminya terus.

Ratih duduk di ranjang itu hanya memakai bra hitam dan celana dalam saja. Mila dan Suli terperangah melihat tubuh indah Ratih yang sudah terbuka sedemikian rupa. Apa mereka sedang menilai bentuk payudaranya yang jauh lebih besar dari milik keduanya? Di antara ketiganya, memang payudara Ratih yang lumayan montok.

Terengah-engah nafas Ratih memandangi mata ajo Mansur kala ciuman mulut mereka terpisah. Naga-naganya Ratih mencari gamis miliknya untuk digunakan menutupi tubuhnya dari mata dua perempuan lain yang ada di ruangan itu. Gamis itu entah kemana disingkirkan ajo Mansur. Kemungkinan besar disembunyikannya ke bawah kolong ranjang dimana aku pernah ngumpet di sana. Diusap-usapnya paha Ratih agar santai aja. Ajo Mansur bermaksud beralih ke Mila.

“Sekarang Mila, yaa?”

Mila terkesiap kaget karena ajo Mansur langsung menelusupkan tangannya masuk ke rok gamis yang dipakainya. Ajo Mansur meremas-remas betisnya. Rasanya pasti nyaman sekali menyentuh betis itu. Aku yang sudah pernah menikmatinya otomatis teringat kembali. Remasanku pada Aseng junior makin keras. Dari tadi ternyata tanganku sudah berkelana masuk ke dalam celana boxer-ku. Ini terlalu panas. Fucking hot, man!

Ajo Mansur lalu memajukan mulutnya dan mulai mencumbu mulut Mila. Perempuan itu langsung membuka mulutnya dan meremas rambut pendek cepak suaminya. Tak mendapat apapun, ia memainkan telinga ajo Mansur. Dari gerakan di balik kain bahan gamis Mila, tangan ajo Mansur mencapai payudara mancung perempuan langsing itu.

Sembari bercumbu, tangan pria itu sudah bermain-main dengan payudara istri keduanya dengan lincah. Gerakan liar di balik gamis bagian dada itu kutebak adalah meremas dan memilin puting mungil di pucuk payudara mancungnya.

Aku semakin gencar merancap Aseng junior. Ini jadi kutukan tersendiri bagiku. Aku sudah membuat ajo Mansur hanya bisa merancap penisnya ketika kugagahi ketiga istrinya. Sekarang ia membalasku sedemikian rupa.

Begini ternyata rasanya menjadi penonton itu. Bagi ajo Mansur waktu itu pasti rasanya lebih sakit berkali-kali lipat karena ia tidak mendapat satu segel perawanpun dari tiga hak miliknya.

Mudah bagi ajo Mansur meloloskan gamis yang dipakai Mila dan aku sekilas bisa melihat puting mungil payudara mancung itu sebelum dimasukkan kembali oleh pemiliknya ke balik bra. Mila juga bernafas terengah-engah akibat percumbuan barusan.

Dua perempuan cantik istri bertubuh langsing ajo Mansur itu duduk berdampingan di atas ranjang, hanya memakai pakaian dalam. Seksi sekali pemandangannya. Suli yang tersisa di ruangan itu. “Suli berikutnya…” cetus ajo Mansur hanya perlu menggerakkan badannya sedikit, mengarah pada istri ketiganya.

Suli memakai baju piyama lengan panjang longgar dan celana panjang senada satu stel berwarna kuning. Ajo Mansur langsung masuk ke antara kedua kakinya, memeluk perutnya dan melancarkan cumbuan mulut ke mulut lagi. Suli agak menunduk karena ajo Mansur sengaja rendah agar dadanya bisa berhimpitan dengan payudara mungil Suli yang masih tertutup pakaian.

Tangan ajo Mansur menelusup ke belakang, mengusap-usap punggung mulus istri ketiganya ini. Pastinya akan ke tahap berikutnya, melepas kait bra yang dikenakan perempuan itu. Halus dan cekatan gerakan ajo Mansur mempreteli bra yang dikenakan istrinya sembari ia terus mencumbu mulutnya. Bahkan tak ada protes berarti saat piyama itu lolos dari lehernya.

Payudara mungilnya terbuka begitu saja karena branya ikut lepas bersama piyama tadi. Ajo Mansur sampai harus membungkuk, mencumbu mulut Suli dan menarik simultan celana panjang longgar itu dari kakinya. Bergabung dengan pakaian lain di bawah ranjang.

Aku bisa membayar berapapun untuk ada di sana saat ini juga. Bergelut dengan pakaian-pakaian di kolong ranjang itu. Membaui aroma tubuh yang tersisa di kain lembutnya. Ahh… Aseng junior semakin meradang tegang. Ajooo… Ini balasanmu? Terotak kali ini, jooo.

Ratih, Mila dan Suli liat-liatan dengan kikuk keadaan tubuh mereka yang hanya tinggal memakai pakaian dalam saja. Terutama Suli yang tak memakai bra lagi. Ia menutupi payudaranya dengan menyilangkan tangan di depan dada. Ajo Mansur malah naik ke ranjang dari sebelah Ratih dan memposisikan dirinya duduk di belakangnya. Dipeluknya erat perempuan yang bila di luar rumah bercadar itu pada bagian perutnya yang rata.

Diciuminya rambut tebal panjang hitam dengan mesra. Tangannya mengelus-elus kulit halus perutnya, seolah mengelus janin yang mungkin sudah ada di sana. Kalo memang ada, itu pasti milikku. Ratih merintih dan mengerang mendapatkan full body contact dari ajo Mansur.

Punggungnya bersentuhan langsung dengan dada suaminya. Apalagi lidah ajo Mansur melata liar dan basah di telinganya, menjilat-jilat leher jenjangnya, menyedot-nyedot kulit lehernya, memberikan tanda merah. Hal yang tak pernah kulakukan pada perempuan manapun. Itu satu-satunya yang tidak mau kupelajari dari ajo Mansur dulu.

Memberi tanda cupang pada ukhti berhijab lebar lumayan aman harusnya karena mereka selalu bisa menyembunyikan bekas cupangan itu dengan penutup aurat itu. Memberi rangsangan gencar begitu, tangan ajo Mansur bekerja giat juga melepas bra yang dipakai Ratih hingga payudaranya yang lumayan ukurannya dibanding dua madunya itu melompat keluar.

Ajo Mansur gemas meremas-remas kelenjar susu dan lemak di dada istrinya sambil terus mencumbu leher dan telinganya. Ratih mengerang-ngerang juga menggeliat geli karena putingnya dipilin dan dicubit nakal berulang kali.

Mila dan Suli gelisah menonton semua peristiwa itu. Duduk resah di tempatnya. Suli kedapatan oleh ekor mataku sedang meremas sendiri payudara mungilnya. Aku makin gencar mengocok Aseng junior-ku. Hanya bisa menonton hasil rekaman mesum ini.

Rangsangan pol kini sedang dirasakan Ratih. Mulut dan lidah ajo Mansur mengecup dan menjilat lehernya. Sedang tangan kirinya memainkan payudaranya. Tangan kanannya menyusup masuk ke dalam celana dalam perempuan itu, memainkan belahan vagina dan kacang itilnya.

Tubuh Ratih menggelinjang-gelinjang liar akibat rangsangan di tiga titik sensitif sekaligus. Tubuhnya meliuk-liuk liar terhalang tubuh suaminya di belakang. Tangan Ratih sendiri menekuk ke belakang. Ajo Mansur mengarahkan perempuan itu untuk menyentuh Mansur junior suaminya.

Dari tonjolan di depan celana dalam Ratih, jari ajo Mansur sepertinya sedang menusuk masuk dan mengorek-ngorek liang kawin istrinya, membuat perempuan alim yang bugil itu menggelinjang keenakan. Paling bentar-bentar lagi meledak.

“Yaaah…” erang Ratih.

Tubuhnya bergetar. Pinggulnya berguncang maju mundur gemetar. Ajo Mansur mencengkram vagina yang masih tertutup celana dalam itu dengan jari terbenam. Diciuminya bibir istrinya yang tak mampu membalas karena lemas. Lembut pria itu merebahkan istri pertamanya berbaring di ranjang sementara ia beralih ke Mila, istri kedua.

“Biihh… Ahh…” erang Mila begitu ajo Mansur memeluk dan merapatkan tubuhnya hingga keduanya bersatu dalam satu kehangatan.

Tubuh perempuan berpayudara mancung itu bergidik geli karena lidah ajo Mansur menyeruak masuk menggelitik telinganya lalu mengecup batang lehernya yang jenjang. Pria itu sampai harus menyibak rambut panjang lebat istrinya untuk bisa menjangkau belakang leher mulusnya. Mengerang lagi kala cup bra-nya hanya disingkap ke atas hingga payudara mancungnya mencuat langsung dipermainkan ajo Mansur.

Pucuk puting payudara mancung itu berkali-kali dicubit dan ditarik dengan gemas lalu massa lemak yang ada di bagian bawah itu diremas-remas gemas juga membuat Mila semakin menggelinjang kegelian.

Suli yang belum mendapat bagian hanya bisa menatap nanar semua perbuatan suaminya pada Mila. Ia meremas-remas pelan kedua payudara mungilnya sambil menggigit bibir pengen segera merasakannya juga. Harusnya ajo Mansur ngajak aku-la… Aku bisa mengisi kekosongan. *Ngarep.

Tanda merah cupang sudah ngecap di seputar leher jenjang Mila hingga bahu. Putingnya terus dipilin dan dicubiti berulang-ulang hingga tangan ajo Mansur merayap meraba perut dan ngelongsor masuk ke celah celana dalamnya.

Bergidik Mila membiarkan tangan lancang itu menemukan gundukan kemaluannya yang masih terlindung sepotong kain remeh itu. Tubuhnya sontak melengkung ketika jari-jari pria berlabel suaminya itu menemukan harta karun tersembunyi di lepitan belahan vaginanya.

Gerakan cepat di permukaan kain celana dalam mengindikasikan jari ajo Mansur mengobel cepat kacang itil Mila hingga pemiliknya blingsatan liar tak tau norma lagi. Tangannya meraih ke belakang untuk menemukan Mansur junior suaminya yang sedari tadi digesek-gesekkan ke punggungnya.

Gak cukup satu tangan, ajo Mansur menggenapkan kedua tangannya mengerjai vagina istri keduanya ini. Mila menjerit lirih kala kacang itilnya dikobel dan liang kawinnya dicoblos sekaligus.

Berayun-ayun tubuh wanita itu hendak lepas menjauhi rasa nikmat itu tapi tak kuasa karena tertahan dua lengan ajo Mansur pada pinggulnya. Kedua kakinya menjepit tangan-tangan suaminya yang berkarya di kemaluannya. Getar-getar tubuhnya menandakan serbuan rasa nikmat itu bakalan melanda tak lama lagi.

“A-biiihhh… Uh… uhh… uhh…” Mila merebahkan kepalanya di bahu suaminya ketika kedut-kedut kenikmatan itu menguasai sekujur tubuhnya.

Tersentak walau tak menghentak. Saat pudar kenikmatan itu, ajo Mansur masih mengelus-elus sebentar kemaluan istri keduanya itu dan bersiap menuju yang ketiga. Yang sudah menunggu sabar giliran.

Mila juga dibaringkan bersama Ratih di sampingnya. Sang istri pertama itu sudah dari tadi menikmati pemandangan saat Mila dikerjai suaminya. Ia berbaring menyamping saat itu semua terjadi. Ia menyambut Mila yang dibaringkan perlahan di sampingnya.

Dibelainya rambut yang menutupi wajahnya ke tepi. Mila masih ngos-ngosan akibat kenikmatannya barusan. Ajo Mansur sudah berpindah, beralih kepada Suli yang langsung menyambutnya dengan mendekapkan tangan suaminya itu ke perutnya. Diberikannya sebelah telinganya yang dieksposnya sendiri untuk dirangsang.

“Ahh… Enaak, bi… Umm… Uhh…” erangnya lalu mengarahkan tangan yang memeluk perutnya untuk menyentuh payudara mungilnya.

Ajo Mansur mengabulkannya. Tangan terlatih saudara sepupuku itu telaten memerah payudara mungil yang harusnya tak lama lagi akan berkembang. Putingnya yang mengeras menonjol menjadi sasaran pilinan, membuat Suli semakin mengerang keenakan.

Erangan binal Suli, menarik perhatian Ratih dan Mila yang berbaring barengan. Keduanya mencari tau apa yang terjadi pada Suli. Apa yang sedang dilakukan ajo Mansur pada saudari, istri termuda itu. Kedua tangan ajo Mansur memilin-milin puting payudara mungil itu dengan jempol dan telunjuk, menjepitnya erat dan cubit-putar dilakukannya. Keduanya menyempatkan berciuman juga saat tangan ajo Mansur terus berkarya.

Pantat Suli bergerak-gerak berputar menggesek Mansur junior yang tergencet oleh pantatnya. Pria setengah abad itu kelabakan mendapat gocekan maut istri ketiganya itu mendesakkan kemaluannya.

Pastinya ia mau menggenapkan ketiga istrinya mendapat orgasme hanya lewat sentuhan tangannya saja. Tangannya lalu menelusup masuk dan menemukan vagina Suli di balik celana dalamnya. Mengobel kacang itilnya dengan cepat. Jari tangan yang lain mengutik-utik liang kawinnya juga. Suli blingsatan seperti juga aku yang mengocok Aseng junior cepat-cepat.

“Aahh…” Suli dan aku bersamaan mendapat orgasme itu.

Tubuhnya bergetar-getar beberapa kali berkat permainan tangan suaminya yang mengobel kemaluannya. Tubuhnya lemas bersandar pasrah di dada ajo Mansur. Aseng junior-ku pun udah muntah-muntah. Ngecrot sembarangan di rerumputan dan semak liar di hutan kecil di kaki bukit pulau Cubadak ini.

Aku ngumpet di rimbunan hutan di belakang pulau yang tidak pernah diakses pengunjung. Cairan kentalku bakal dinikmati sama mahluk kecil-kecil penghuni hutan paling. Aku hanya menyesapi rasa enak sekaligus kentang dari ngocok barusan liat film yang sudah masuk kategori bokep ini. Udah lama aku gak onani kek gini. Tapi apa daya, ajo Mansur hanya memperbolehkanku memiliki rekaman ini. Kimak-la, jo… Masih panjang permainan ajo Mansur aku dah nembak sekali.

Saat aku sibuk membersihkan Aseng junior yang baru muntah, ajo Mansur yang sudah membaringkan Suli yang lemas ke ranjang mendekat ke arah kamera, ia mengatakan sesuatu.

“Jilpek…” bisiknya lirih.

Kimak! Dia mau ngejilati vagina ketiga istrinya. Jilpek= jilat pepek.

Ajo Mansur balik ke ranjang dan mendekati ketiga istrinya.

“Adek-adek semua diam aja dan nikmati, yaa…” katanya lalu bersimpuh di depan kaki Ratih.

Dilepasnya celana dalam yang masih bercokol menutupi kemaluan istri pertamanya itu. Ratih kurang sigap mengelak dan muka ajo Mansur langsung terbenam di antara selangkangannya. Ratih menggeliat kegelian. Mila dan Suli melihat kejadian itu dengan menutup mulut.

Ini bukan kali pertama mereka mendapat servis oral dari suami mereka tetapi dilihat orang lain tentu sensasinya akan berbeda. Ajo Mansur memegangi paha Ratih agar terbuka lebih lebar kala mulut dan lidahnya bermain dengan lincah di vagina perempuan bercadar itu.

Tubuhnya melengkung meliuk kanan kiri merasakan nikmat. Suara berdecap-decap sedotan mulut ajo Mansur sampai ke telingaku yang semakin panas. Aku kembali merancap Aseng junior-ku sendiri gak tahan.

“Oohh… biii… Udahh, biii… Geliii, bii…OOhhsss…. Uhhh…” racau perempuan itu sembari meremas-remas rambut tipis cepak di kepala suaminya.

Dan tak lama Ratih lemas, pastinya orgasme lagi. Teknik dahsyat oral ajo Mansur yang kupelajari karena ia banyak memberiku pelajaran berharga soal dunia perlendiran. Ditinggalkannya selangkangan istri pertamanya dan beralih ke tengah; istri kedua.

Walau enggan dan juga malu, ia berhasil menangkap kaki Mila dan melucuti celana dalam itu. Mukanya lalu tenggelam di selangkangan Mila dan suara berdecit-decit bising tertangkap microphone handicam yang kupegang ini.

Sahut menyahut dengan erangan dan keluhan Mila. Tangannya liar menangkap apapun. Di kanan ia meremas lengan Ratih sedang di kiri tangannya nemplok di payudara mungil Suli. Suli yang diremas-remas payudaranya berusaha menghindar apalagi tangan ajo Mansur ternyata juga gerayangan hendak melepas celana dalam istri ketiganya itu.

Ratih berbaring menyamping menghadap Mila dan memperhatikan dengan takjub ekspresi yang ditampakkan saudari madunya itu. Ia tampak ingin sekali menjamah payudara mancung yang bergoyang liar di dada Mila. Ajo Mansur berhasil melepas celana dalam Suli dan jari tengahnya menusuk.

Mila dan Suli mengerang bersamaan dari mulut dan jari suami mereka. Jari ajo Mansur juga berperan serta menusuk masuk ke liang kawin Mila sementara lidahnya memainkan kacang itilnya. Dua istri langsung dikerjai ajo Mansur.

Mila terlebih dahulu yang menggelepar orgasme dan langsung ditinggalkan karena pria itu beralih meng-oral Suli. Suli menggelinjang liar mendapat serangan lidah dan jari sekaligus. Aku gak heran kalau nantinya ajo Mansur bisa memuaskan ketiga istrinya. Tekniknya ini yang masih sulit kulakukan karena aku paling banyak hanya melakukan threesome. Ajo Mansur tidak kesulitan foursome sendirian dengan jantan.

Suli akhirnya orgasme juga dan ketiga istrinya itu masig-masing sudah mendapatkan puncak kenikmatan itu secara adil dan merata menurut perhitungan logis. Kalo soal perasaan itu tidak bisa diukur. Adil menurut manusia masihlah masalah angka dan materi. Masing-masing dua kali berarti adil dan merata.

Ketiganya mengangkang di tepian ranjang itu. Aku jadi teringat masing-masing kenikmatan yang sudah kudapatkan dari ketiganya saat kubobol keperawanan mereka, ejakulasi dua kali di dalam vagina mereka.

Pengalaman yang luar biasa menggagahi tiga binor ukhti cantik di depan suami mereka sendiri. Aku tau diri, aku tidak akan mendapat kesempatan lagi untuk mencicipi tubuh mereka karena ajo sudah sembuh dari gangguannya. Cukup satu malam berkesan itu dan dua ronde kuhabiskan pada tiap dari mereka.

Ajo Mansur mengatur Mila dan Suli mengapit Ratih yang berbaring serong di atas ranjang. Kaki Ratih terbuka lebar dengan kikuk karena diapit dua saudari madunya. Ajo Mansur menyuruh kedua istrinya yang belum dicoblos itu untuk merangsang Ratih di bagian payudaranya yang cukup besar dibanding mereka. Suli yang lebih antusias karena ia dapat memegang payudara yang lebih besar daripada miliknya.

Mila malu-malu dan meremas sembarangan. Ajo Mansur sengaja membuat posisi Ratih sedemikian rupa agar angle tangkapan lensa handicam yang statis tersembunyi dapat menangkap semua momen penetrasi nantinya dengan lengkap. Ia mengatakan sesuatu sebelum ia menusuk masuk.

“Abi masuk, dek Ratih…” diucapkan lumayan kuat supaya terdengar sampe microphone handycam. Kimak!

Aku gak tau dimana ia menyimpan remote pengatur zoom handycam tapi terjadi pembesaran gambar dan terjadi zoom hingga aku bisa melihat detil prosesi Mansur junior-nya memasuki vagina sempit Ratih. Perempuan bercadar itu lagi-lagi menggelinjang sakit campur enak kemaluannya dicoblos benda tumpul panjang lagi. Erangannya membangkitkan memoriku lagi saat kuperawani saat itu. Aku makin kencang mengocok Aseng junior yang udah bangun lagi.

“Enak, deek?” tanyanya menggoyang pelan-pelan.

Mata Mila dan Suli tak lepas memperhatikan kemaluan suami mereka yang menusuk masuk membelah kemaluan Ratih yang plontos tak berambut. Pastinya mereka sudah tak sabar juga untuk mendapat giliran. Andai ini live, apa aku masih bisa waras dan gak mendobrak masuk ke kamar itu?

Ratih tak mampu menjawab. Hanya uh uh uh ahh aja yang keluar dari mulut berbibir tipisnya. Payudara lumayan montoknya tak lagi diremas Mila dan Suli karena mereka sibuk menonton dan menyentuh diri mereka sendiri. Ajo Mansur yang mengarahkan keduanya untuk melakukan hal yang sebenarnya agak memalukan di kalangan ukhti ini. Tetapi rangsangan visual yang terjadi begitu dahsyat. Sekali tak mengapa menjadi binal bahkan pelacur di depan suami sendiri.

Menyenangkan suami itu pahala besar sekali. Mila meremas-remas payudara mancungnya. Suli memilin puting payudara mungilnya dan menggelitik kacang itilnya. Ajo Mansur bisa fokus menggenjot Ratih dan sesekali memerah payudara montok itu. Ratih mengerang dan mendesah tak jelas. Yang jelas ia merasakan nikmat itu dari suaminya, bukan lagi dariku.

Ajo Mansur mengalihkan perhatiannya dengan meminta berciuman bergantian dari Mila dan Suli sementara ia terus menggenjot istri pertamanya itu dengan kecepatan sedang kombinasi andalanku, 2-1. Dua kali genjotan pendek dan satu sodokan dalam. Berganti-ganti Mila dan Suli bercumbu mulut dengannya. Kedua istri ajo Mansur itu semakin binal dalam memuaskan suami mereka.

Aku hanya bermimpi dapat merasakan kenikmatan begitu. Hanya bisa menonton rekamannya saja sudah sedemikian konak otakku. Ia juga memainkan payudara kedua istrinya itu dengan mulut dan tangan. Bergelombang sodoran payudara dari Mila dan Suli minta dijamah.

Sepertinya ajo Mansur gak lama lagi akan mencapai batasnya. Gerakan 2-1-nya berubah satu sodokan dalam saja dengan tempo cepat. Dari sela-sela kaki ajo Mansur terlihat kecipak persatuan kelamin mereka menghasilkan cairan kental di pantat Ratih. Aku makin cepat mengocok Aseng junior…

Sepupu tertuaku itu lalu menghentakkan penisnya dan ngecrot puas-puas di vagina istri pertamanya itu. Ia bahkan mengerang kuat merayakan kesembuhannya itu. Ia sudah bisa ngaceng dan ngecrot dengan bebas di istri-istrinya. Sepertinya saat ajo Mansur ejakulasi itu, Ratih juga mendapat orgasmenya juga bersamaan. Lengkap sudah kebahagiaannya. Dariku ia puas. Dan dari suaminya ia lebih puas lagi. Semoga istrimu segera hamil, jo. Kalo perlu ketiga-tiganya sekaligus!

Kuturunkan tempo membelai Aseng junior yang berdenyut-denyut minta jatah. Seperti punya nyawa sendiri, Aseng junior mengangguk-angguk ke arah layar handycam itu. Ke arah mulut liang kawin Ratih yang berlumuran sperma kental ajo Mansur yang pertama selama lebih sebulan ini.

Ia sudah mencabut Mansur junior-nya dari liang kawin Ratih dan menepuk-nepuk ujung kemaluannya itu pada kelamin istri pertamanya itu. Mila dan Suli menatap nanar bergantian pada wajah suami mereka, penisnya dan kemaluan Ratih. Ratih yang masih merasakan kepuasan itu berbaring mengangkang dengan vagina bernoda sperma. Nafasnya masih ngos-ngosan. Layar rekaman zoom-out.

Belum puas ajo Mansur, ia menarik tangan Mila untuk menyentuh Mansur junior-nya yang masih berlumuran sisa sperma. Batang kemaluannya hanya mengendur sedikit saja dan perlu rangsangan untuk greng kembali. Ditariknya Mila dan Suli untuk menjauhi Ratih yang menikmati sisa-sisa orgasmenya.

Tangan Mila diarahkan, masih dipegangi untuk mengocok Mansur junior-nya sementara ia mencumbu bibir Suli. Mila sepertinya tidak keberatan lagi memegang dan mengocok penis suaminya karena selagi ia melakukan itu, digosok-gosokkannya payudara mancungnya itu pada lengan ajo Mansur. Para istri ajo Mansur semakin pintar dan binal. Bikin ngiri aja nih ajo Mansur.

Merasa kalo Mansur junior-nya sudah cukup keras untuk melakukan penetrasi lagi, dibimbingnya Mila untuk rebah di ranjang di samping Ratih yang mulai sadar akan sekelilingnya. Suli diarahkan untuk berada di samping Mila, duduk manis menunggu.

Mila dengan vagina berhiaskan jembut lebat pada bagian atasnya saja itu mengangkang lebar, menyambut suaminya yang akan memberinya kepuasan malam ini. Ajo Mansur menggesek-gesekkan Mansur junior ke belahan merekah vagina istri keduanya itu sambil merayu-rayunya dengan pujian. Mila berjengit menahan nafas kala Mansur junior membelah masuk menembus vaginanya yang kutau sangat nikmat. Legit menggigit. Nikmati, jo sepuas-puasnya. Istri-istrimu ini sungguh nikmat.

Ajo Mansur merebahkan tubuhnya untuk mencumbu mulut Mila selagi kusaksikan penisnya memompa keluar masuk dengan sodokan stabil 2-1. Kembali ia men-zoom lensa handycam agar aku bisa menyaksikan semua prosesi ini.

Aku semakin menggila mengocok Aseng junior-ku karena aku tau persis rasa di dalam liang kawin itu. Nikmat gak ketulungan. Membayangkan itu semua, penisku merasa geli bakalan ngecrot. Kuhentikan kocokan, hanya mencekiknya geram karena hanya ini cara pelampiasan yang kubisa sekaligus tetap menonton hingga tuntas. Ajo Mansur lalu beralih mencucup payudara mancung itu. Ditarik-tariknya pentil mungil itu dengan gemas dan terus menyodok stabil.

Sekarang ia menegakkan tubuhnya dan mengajak Suli yang duduk menunggu bercumbu mulut. Ia bahkan menarik tangan Ratih untuk duduk juga mengapit Suli yang tengah digenjot mengerang-mendesah seksi.

Selagi ia beradu mulut dengan Suli, tangannya tak diam menggerayangi dada montok Ratih. Sekaligus ia sedang memuaskan ketiga istrinya sekaligus. Dan suksesnya ajo Mansur membuat ketiga istrinya ini luwes berbaur dalam panasnya hubungan seks beramai-ramai ini tanpa banyak kesulitan.

Ia berhasil memerangkap ketiganya menjadi sangat menikmati foursome ini dan menyukai sensasinya sekaligus. Padahal normalnya hal ini adalah hal tabu dan memalukan. Tetapi entah itu pesona ajo Mansur ato juga kepiawaiannya dalam bernegosiasi. Bahkan ketiga istrinya kini takluk dan jatuh dalam permainannya.

Ditegakkannya tubuh Mila duduk berpangku di kaki ajo Mansur dengan menahan punggungnya. Sepupuku itu mengarahkan kedua istrinya yang lain untuk coba menyentuh Mila, payudara mancungnya yang menggemaskan.

Suli tidak keberatan, lain halnya dengan Ratih yang gugup dan harus dibantu suaminya. Remas-remas sehingga Mila semakin mengerang keenakan mendapat sentuhan tangan dari tiga orang sekaligus.

Ia yang sedang dalam keadaan ‘tinggi’ begitu membalas menyentuh kedua madunya itu juga. Payudara Ratih dan Suli mendapat serangan balasan dari Mila yang sedang disodok pelan-pelan berposisi dipangku. Ketiga perempuan cantik langsing biasa berhijab itu mengerang bersamaan. Ternyata ada sebab lainnya, jari ajo Mansur juga bercokol di dalam kemaluan keduanya juga, mengorek-ngorek cepat.

“Ahhh aahh… ahhh… ahhhh… uuhhh… uuhh… aauuhh… iiaahh…. yaah… mmm… mmmss…” sangat gaduh sekali rekaman yang kudengar kali ini dari suara ketiga perempuan itu.

Terkadang ada juga suara erangan ajo Mansur yang mati-matian menahan agar tak buru-buru ejakulasi karena rangsangan yang sungguh luar biasa ini. Ini sangat luar biasa. Gak pernah aku se-konak ini karena nonton persetubuhan.

Kalah bokep Amerika ato Jepang yang bombastis sekalipun. Aku ngecrot jadinya membayangkan yang enggak-enggak. Berharap aku ada di tempat dan waktu itu. Semprotan spermaku menyembur kuat dan mendarat di tanah berumput lagi. Kukocok-kocok pelan karena rasa enaknya masih ada. Tapi mataku tak lepas dari layar pivot handycam ini.

Perkembangan baru adalah Suli dan Mila berciuman karena ajo Mansur mengalihkan ciuman pada Ratih. Ini sungguh-sungguh hot dan gila. Kedua ukhti bersaudara sepupu dan madu itu berciuman dengan ganasnya. Keduanya mempraktekkan apa yang sudah diajarkan ajo Mansur kepada satu sama lain.

Pria itu sungguh beruntung dan saat ini ia sedang menikmati ketiga pasang payudara di depannya dengan rakus. Berganti-ganti dan acak ia mengenyot puting mungil dari ketiga istrinya itu silih berganti. Sepertinya ia sudah ejakulasi di dalam vagina sempit Mila karena terlihat getaran-getaran di pantatnya yang memompa pelan. Benar saja, ada tetesan cairan kental putih meleleh dari sela pertemuan bersatunya kelaminnya dan Mila.

“Adeeek… Dinda-dindaku… Alangkah bahagianya suami kalian ini kalau kalian mau memanjakan kalapiah suami kalian ini setelah keluar… Rasanya akan sangat nikmat sekali…” katanya sambil memegangi Mansur junior-nya yang lunglai tetapi kendor, berselemak sperma kental.

Kimak! Ajo Mansur mau ngajarin ketiga istrinya untuk bersama-sama nyepong penisnya yang baru ngecrot. Digoyang-goyangkannya penisnya itu. Ratih, Mila dan Suli berpandang-pandangan gak terlalu paham. Tanpa sepengatahuan Ratih dan Suli, Mila sudah pernah melakukan ini tadi malam.

“Dinda Milaa… Coba tunjukkan…”

Mila yang sudah pernah mencoba meng-oral Mansur junior tertunduk malu karena dibeberkan di depan dua madunya. Suli terperangah karena ia yang merasa paling moderat sekalipun belum mencoba nyepong Mansur junior suaminya. Ratih malah membujuk Mila untuk menunjukkannya pada mereka semua. Ratih keknya mulai penasaran dengan apapun yang berhubungan dengan seks dan ingin tau potensinya.

“Dinda Milaa… Ratih sama Suli pengen tau, loh… Abi… pengen sekali…” rayu ajo Mansur.

Mansur junior-nya sendiri sudah tegang membayangkan akan disepong istrinya. Ia membersihkan permukaan batang Mansur junior yang berlumur sisa spermanya dengan sprei ranjang.

Didesak oleh suaminya juga oleh kedua saudari madunya itu, Mila menunduk dan mengarahkan wajahnya pada penis ajo Mansur yang mengacung keras menunjuk langit-langit. Awalnya ia hanya mengocok-ngocok pelan dengan genggaman longgar. Pasti aroma sperma yang menguar dari batang penis itu identik yang keluar dari liang kawinnya yang becek oleh cairan kental yang sama. Perlahan semakin cepat kocokan tangannya dan genggaman bertambah erat. Ia melirik ke atas pada ajo Mansur dan mulai menjulurkan lidahnya. Ah… Pasti rasanya enak sekali tersentuh lidah itu.

Aku mulai tanpa sadar menyentuh Aseng junior yang kembali menggeliat terangsang. Ujung lidahnya mencicipi kepala Mansur junior yang merah kebiruan tegang. Melata bermain di lubang mungil di ujungnya. Ajo Mansur menengadah keenakan. Suli dan Ratih menunduk bersamaan, bergabung, ingin tau lebih jauh. Antusias. Ini hebat sekali. Tiga istri itu semakin binal saja.

Mila semakin bangga berhasil membuat suaminya senang yang ditandai dengan mengerang-ngerang keenakan. Ajo Mansur mengelus-elus rambut tebal panjangnya dan memuji-muji kepiawaiannya. Mila semakin berani dan mengemut kepala penis itu lalu menyedotnya. Bertambah blingsatan ajo Mansur mengerang keenakan. Ratih dan Suli terpana seperti ingin mencoba juga tapi ragu.

“Dinda Ratihh… Suliii… Cobalah… Enak, kok… Abi tadi sudah melakukan ini pada kalian tadi, kaaan? Gantian…” kata ajo Mansur.

Ratih dan Suli yang berada di depan Mansur junior ragu-ragu tetapi terus di desak. Mila menggoda mereka dengan menyodorkan penis itu ke arah mereka. Ajo Mansur makin pasrah menikmati sepongan istrinya hingga ia berbaring dikerubuti tiga istrinya.

Laksana tuas persneling Mila memutar daging panjang keras itu pada dua saudari madunya. Ratih mencoba mengendusnya tetapi aromanya tentu sudah bercampur dengan liur Mila. Dan diberanikannya dirinya untuk menjulurkan seujung lidahnya. Suli datang menyerobot dan langsung mengemut kepala Mansur junior.

Bibir dan lidah keduanya bersentuhan. Lemes aku ngeliat itu semua. Ini sudah keterlaluan untukku. Gak mungkin kan gara ngeliat disepong gitu aja aku harus ngecrot untuk ketiga kalinya.

Tapi Aseng junior-ku menjerit mencari tempat pelampiasan. Yang terdekat cuma ada tanganku sendiri. Kalo aku ke kamar dan menggasak istriku, itu artinya aku harus menghentikan tontonan yang sangat mengasikkan ini. Aku gak rela berhenti. Dilema!

Suli kini mencoba memasukkan Mansur junior ke dalam mulut mungil berbibir tipisnya. Ratih dan Mila menjilat-jilat berebutan permukaan batang kemaluan ajo Mansur dengan rakus. Mila melebarkan bukaan kaki ajo Mansur dan membelai dua bola peler keriput itu. Merinding tubuh ajo Mansur mendapat berbagai rangsangan sekaligus. Mulut basah dan hangat mengemut kepala Mansur junior-nya, dua lidah menjalar di batang penisnya dan dua pelernya dibelai mesra. Satu mukjizat kalo ajo Mansur gak ngecrot sekarang.

“Dindaaa… Oohh… Deekk… Lamak bana…” (Enak kali) erang pria yang sangat beruntung itu.

Ia bangkit dan duduk sambil melebarkan kakinya seluas mungkin. Payudara Ratih yang bergantung pertama kali dijamahnya. Lalu pinggul Suli ditariknya. Diremas-remasnya pantat berpinggul lebar Suli sebagai pelampiasan rasa nikmat yang menyerang Mansur junior-nya.

Tak perlu waktu lama, diposisikannya tubuh Suli menindih tubuhnya hingga kemaluan berbulu lebat dicukur pendek itu ada tepat di depan hidungnya.

“Uoohh… Biihh… Ahhsss…” erang Suli mendapati vaginanya dioral kembali oleh suaminya di posisi terkenal bernama 69 ini.

Suli tak sanggup mengulum kepala Mansur junior suaminya lagi dan digantikan Ratih yang coba-coba. Ajo Mansur melebarkan belahan pantat Suli dan menyusupkan lidahnya menyapu kemaluan becek Suli hingga perempuan muda itu menggeliat keenakan. Suli mengerang-ngerang enak sambil duduk tegak, menduduki muka ajo Mansur dan menggesek-gesekkan vaginanya dengan binal.

Ia menggunakan muka suaminya sebagai alat pemuas diri dan hasrat membaranya. Ajo Mansur tak keberatan dengan itu dan memeluk pinggulnya erat. Lidahnya lancar menggasak.

Mila merangsek maju dan berciuman dengan Suli yang kemaluannya sedang dinikmati suami mereka. Membiarkan Ratih bermain-main sendiri dengan mainan barunya, Mansur junior yang basah kuyup oleh liurnya. Ia semakin berani dan mencoba menelannya lebih dalam. Tangannya meremas payudara mengkalnya sendiri dan bola peler suaminya. Ini sangat hardcore.

Hanya di film bokep hardcore aku bisa menemukan adegan serumit ini. Ajo Mansur sangat beruntung bisa mendapat anugrah tiga perempuan yang bisa menerima seksualitas di tengah ketatnya dogma yang mereka yakini.

Dan ini didapatkannya dengan cara dramatis lagi dengan mengorbankan aku yang kentang abissss. Kentang aku, mak! Gak cukup cuma ngocok terus ngecrot! Aku harus menancapkan Aseng junior ke salah satu dari mereka! Aaarrrhhh!

Suli bergidik gemetar, sepertinya ia mendapat orgasme dan tubuhnya disambut Mila dengan senang hati. Diarahkan menelungkup di kasur. Ajo Mansur menarik penisnya yang masih digelomoh Ratih. Tak rela, istri pertama itu melepas mainannya pergi. Ajo Mansur ternyata sudah akan menggunakan Mansur junior-nya untuk mencoblos Suli yang belum mendapat giliran digenjot dan diencrotin. Ratih menyusul dan memepetkan tubuhnya di samping tubuh ajo Mansur.

Payudaranya digesek-gesekkan pada lengan suaminya yang sedang mengarahkan kepala kemaluannya pada bukaan vagina Suli menungging di depan keduanya. Mila mengikuti Suli yang menunduk dan menenangkannya yang baru saja orgasme.

“Yyaahhh… Biihh…” erang Suli yang dicoblos dari belakang oleh ajo Mansur.

Ajo Mansur sepertinya sedang mengejar kenikmatannya sendiri karena ia dari tadi sudah cukup lama bermain-main dan disodoknya Suli, istri ketiganya itu dengan cepat. Ia dan Suli mengerang parau bersamaan senada dengan sodokan cepat ajo Mansur yang memegangi pinggul lebar perempuan itu.

Ratih yang sedang memepetkan payudara mengkalnya tidak diperdulikannya. Mila juga tak lagi berciuman dengan Suli karena lawannya sedang mengerang keenakan menikmati liang kawinnya sedang digasak suami mereka. Mila hanya bisa memandangi wajah cantik madunya itu menganga lebar, turut merasakan apa yang sudah ia dapatkan sebelumnya.

“Ahh-aahh… Ahhh… uhh…” ajo Mansur menyentakkan kuat Mansur junior-nya dalam-dalam, menghentak terhadap belahan pantat Suli. Spermanya pasti menyembur dalam dan mengisi rahim istri ketiganya itu.

Tubuh Suli juga berkejat-kejat menerima semburan itu. Ajo Mansur memeluk punggung Suli setelah mencabut Mansur junior lalu menggulingkannya hingga berbaring menyamping. Ratih dan Mila menyusul tubuh keduanya, ikut berbaring bersama-sama.

Ajo Mansur bergantian mencium kening ketiga istrinya itu masih dengan nafas ngos-ngosan. Tubuh ketiganya dari tadi sudah bermandikan peluh. Peluh olahraga pagi. Pastinya mereka berempat sangat puas. Kenangan di Resort pulau Cubadak ini pasti akan menjadi awal mula petualangan indah mereka.

Aku langsung lari tunggang langgang menuju kediaman sementaraku di pulau ini. Tujuanku hanya satu; istriku! Terkaget-kaget dia yang kuseret dari tepi pantai kala menjaga kedua anak kami yang bermain air. Kubawa ia ke dalam kamar dan kugasak kek kesurupan. Disela-sela genjotanku ia tentu aja nanya ada apa.

Kok semangat kali? Abis liat bule berjemur, ya? Kujawab aja iya, abis perkara. Yang penting aku bisa ngecrot puas-puas. Kugasak istriku tiga kali pagi menjelang siang itu.

***

Sudah seminggu ini aku balik kerja lagi setelah seminggu liburan yang menyenangkan di kampung halaman, di Sumatera Barat sana, sekaligus menghadiri dan menjadi wali nikah adik kandungku, Selvi.

Di liburan itu aku dan keluargaku ditraktir berlibur di tiga tempat wisata oleh saudara sepupuku yang bernama ajo Mansur. Di Bukit Tinggi, danau Maninjau dan pulau Cubadak.

Di dalamnya terselubung satu perjanjian rahasiaku dengan ajo Mansur untuk memerawani ketiga istri perawannya karena ketidak mampuannya untuk melaksanakan tugas enak itu. Katanya akan ada hadiah darinya kalo saja satu dari ketiga istrinya itu bisa hamil.

Iseng-iseng aku ngisi bensin di SPBU milik ajo Mansur yang ada di pusat kota Medan malam-malam sepulang kerja dengan Pajero-ku. Galon ini ramai pelanggannya karena ada di tengah kota dan galon terdekat cukup jauh jaraknya.

Fasilitas SPBU ini cukup lengkap karena harus sesuai standar masyarakat kota besar. Ada 16 buah pompa yang beroperasi, terdiri dari pompa Premium, Pertamax dan Solar. Ada sebuah mini market, franchise ayam goreng dan pizza, mushola, gerai ATM dan bahkan arena bermain anak.

SPBU ini tentunya banyak karyawannya yang dengan cekatan melayani setiap pelanggannya. Berapa ya pemasukan tiap harinya dari galon ini? Banyak pastinya.

Ngomong-omong soal Pajero, benar aja kak Sandra menyerahkan BPKB mobil itu padaku begitu aku masuk kerja di hari Senin itu. Dia gak mau tau alasanku menolak semua itu melainkan menunjuk perutnya aja.

Aku disuruhnya ngobrol sama janin di perutnya kalo mau menolak mobil itu. Kalo janin itu bilang boleh dibalikin, aku boleh mengembalikan mobil mahal itu. Somplak aja aku disuruh ngobrol sama orok di perutnya. Yang ada aku disuruh menggenjot dia sekali pagi itu bareng sama Dani di ruang istirahatnya. Pagi-pagi udah kerja keras.

“Mulai sekarang lu harus kerja dan belajar yang lebih keras, Seng… Wa dah pasti resign begitu wa melahirkan bayi ini… Tidak ada tawar-tawar lagi… Tapi wa belum kasih tau sama siapapun selain lu orang… Bahkan Amek gak wa kasih tau soal resign ini… Koh Asui… koh Atam juga… Kalo lu nanya… lu mau tau… Lu gak bakalan bisa jadi pengganti wa kalo mereka tau sebelumnya karena mereka pasti akan mempersiapkan pengganti wa… Makanya wa didik lu orang selama beberapa bulan terakhir ini sampe wa melahirkan… semua skill dan pengetahuan yang lu butuhin buat jadi Factory Manager gantiin wa… Mulai sekarang pelan-pelan wa akan limpahin lu beberapa tugas yang biasanya wa kerjain dan handle… Lu siap, kan?”

Kepalaku terasa berat mendengar pemaparan kak Sandra itu. Selama ini aku gak pernah membayangkan akan mengambil alih tugas dan tanggung jawab kak Sandra. Seorang Factory Manager sebuah pabrik sebesar ini.

Itu tanggung jawab yang sangat besar… Ia kembali mengingatkanku akan nominal yang akan kuterima untuk mendongkrak semangatku. Pelan-pelan pikiran yang membuatku tenggelam oleh beban berat itu ditarik oleh sebuah balon raksasa berbentuk pundi-pundi rupiah.

Apa yang sebenarnya kuinginkan? Karier yang cemerlang? Duit banyak? Harta berlimpah? Siapa yang gak mau itu semua. Pastinya semua orang mau. Makanya kita bangun pagi untuk mengejar itu semua. Baik belajar di sekolah dengan sungguh-sungguh.

Merintis bekerja di sebuah perusahaan agar bisa cepat naik jabatan. Membanting tulang agar usaha binaan berkembang pesat. Kepala jadi kaki dan kaki jadi kepala.

Jadilah mulai hari itu, pekerjaanku bertambah berat. Bekerja sambil belajar. Belajar barengan dengan kerja. Kak Sandra memberikanku beberapa buah buku Manajemen dari yang For Dummies sampe yang berat dengan banyak istilah njelimet untuk kubaca dan pelajari.

Lah kapan aku ada waktu untuk membaca buku-buku tebal itu diantara waktuku yang keknya semakin pendek. 24 jam keknya kurang seharinya. Kalo aku membawa buku-buku itu untuk kubaca di daerah kekuasaan Menggala-ku, yang ada aku malah tidur karena kelelahan.

“Jadi… Papa bakalan sering pulang telat, maa…”

“Kak Sandra bakalan resign?” ulang istriku saat kuutarakan masalah yang bakal kami hadapi.

“Yaa… Abis melahirkan dia udah gak mau kerja lagi… Mau fokus ngurus anak aja katanya…” jelasku.

Malam ini aku sampai rumah jam 9 lewat. Rio dan Salwa udah pada tidur. Kasian Salwa bakalan gak bisa rutin jalan-jalan lagi bareng papanya seperti yang selama ini kulakukan pagi dan sore.

“Hamil juga ya kak Sandra… Sukur deh…” Ya, istriku. Suamimu ini yang menghamilinya. “Tapi kenapa harus papa yang sering pulang telat jadinya?”

“Kak Sandra berencana… dia mau papa yang gantiin dia…” jawabku sebaik-baiknya.

Kaget tentunya istriku mendengar pengakuanku itu. Menggantikan kak Sandra sebagai Factory Manager? Ia tidak bertanya apa-apa lagi setelah itu. Entah karena ia paham kondisinya ato konsekuensinya kalo aku menjadi pengganti kak Sandra. Ia diam dan menatap jauh ke langit malam. Lama kami saling diam malam itu. Duduk berdua di teras rumah yang sepi tanpa suara anak-anak kami.

Hari-hariku terus berlanjut. Pastinya penuh dengan kerja dan kerja. Tentunya sangat lelah apalagi pekerjaan ini memang berat. Luar biasa kak Sandra selama ini dapat melakoninya dengan baik dan sempurna. Entah apakah para bos besar nantinya akan percaya padaku untuk menggantikan fungsi dan peran yang selama ini sudah dijalankan oleh kak Sandra saat ia resign kerja nanti.

Bekerja dan belajar bersama kak Sandra cukup keras. Ia bisa membedakan mana pekerjaan yang membutuhkan penangangan yang serius, pendalaman data, ketelitian administrasi dan intuisi pebisnis ditambah manajemen SDM dan waktu. Dan kapan pula waktu bersenang-senang.

Saat hamil muda begitupun ia sempat-sempatkan untuk menikmati seks yang bombastis denganku. Malam-malam kami pulang telat lebih sering karena aku sedang menggenjot cepetnya yang bertambah semok saja karena keadaan hamil begini.

Karena desakan perutnya, ada sejumlah tonjolan ketat di dalam cepetnya terasa saat diraba ato grepe. Aku tentu aja penuh kehati-hatian dalam menggaulinya di keadaan hamil muda begini. Apalagi andilku sangat besar dalam kehamilannya itu sebab aku yang menghamilinya. Walo bagaimana, janin di dalam perutnya itu adalah anakku.

Sesekali Dani juga ikut nimbrung dalam permainan kami itu. Dua perempuan cantik yang lagi hamil muda itu udah kek lesbi beneran kalo udah saling bugil bareng. Cumbuan keduanya udah ngalah-ngalahi pasangan hetero. Hot gilak pokoknya.

Kalo aku lagi menggenjot doggie kak Sandra, Dani akan berciuman ato menyedot toket 36D milik panlok itu. Sebaliknya juga demikian, kak Sandra gak segan menyodorkan cepetnya ke mulut Dani yang disambut dengan senang hati penuh sruputan mesra.

Bagaimana binor-binor di sekitaran rumahku? Kelabakan aku tentunya. Lima binor itu selalu menodongku dengan berbagai ajakan dan tawaran menggiurkan setiap saat. Bulan-bulan awal aja mereka masih sering ‘mabuk’ sebab kehamilan muda yang mereka (Yuli, Pipit, dan Iva) alami bersamaan. Perkiraan dokter rata-rata mereka hamil pada waktu yang berdekatan dan perkiraan lahir yang juga berdekatan pula.

Gang tempatku tinggal ini tentu saja saja heboh, heboh yang menurut beberapa kalangan menyenangkan, karena 3 perempuan yang tinggal berdekatan begitu bisa hamil bersamaan. Alangkah kebetulan yang sangat… sebetulnya biasa aja mengingat gang ini lumayan panjang dan luas.

Jadi kemungkinan kebetulan ini terjadi sebenarnya sah-sah aja. Kalo satu gang ini, binornya hamil semua bersamaan, itu baru ajaib. Dan orang bisa bertanya-tanya bahkan berspekulasi ada ada apa-apanya. Ada udang di balik batu. Ada Aseng junior di balik sempak.

Aida yang hamil lebih dahulu belum lama lalu melakukan syukuran 7 bulanan. Yuli, Pipit dan Iva hadir di acara itu jadi kompak sekali berkumpul karena mereka kebetulan sekali bisa hamil dalam waktu yang sangat berdekatan. Ibu-ibu banyak mengerumuni mereka memberikan selamat karena sudah sabar menunggu sekian lama dan akhirnya kesampaian juga dari penantian panjang. Ada yang nanya tips dan juga triknya.

Istriku yang selalu tertarik dengan pembicaraan seputar bayi antusias ngobrol dengan ketiga perempuan hamil itu. Tentu aja aku deg-degan menguping pembicaraan itu, takutnya, tips-nya ‘minta tolong buatin sama bang Aseng’. Kalau-lah kejadian semacam itu benar terjadi, entah apa yang akan terjadi padaku. Kan bisa di-bar-bar aku sama satu kampung.

Untunglah mereka membualkan cerita ngarang tentang daya upaya mereka untuk berhasil hamil. Ceritanya jadi pejuang dua garis pink dengan segala macam cara. Tentu saja tak ada yang tau sama sekali tentang apapun andilku pada kehamilan binor-binor itu.

Sejauh ini merekapun tetap berpegang pada perjanjian kami pasal dua. Hanya ada dua pihak saja yang tau perihal skandal itu. Cara itu kurasa cukup efektif sampai saat ini. Bahkan antara merekapun masing-masing menyimpan rahasia yang dikiranya eksklusif untuk dirinya sendiri. Ada juga sih…

“Jangan-jangaaan… bu Yuli tetangga samping rumah abang itu juga… abang yang ngehamilin, ya?” sergah Iva malam itu setelah aku menyatroni rumahnya.

Toni, suaminya pergi mancing lagi ke tepian dermaga Belawan bersama teman-temannya. Padahal itu liang kawinnya baru aja kuencrotin setoran sperma kental yang banyak. Gelagapan dan berusaha menyembunyikan mimik gugupku, kujejalkan Aseng junior yang masih ngilu-ngilu sedap ke mulut mungilnya agar ia tidak banyak omong lagi.

“Mmlloohh… Bang Aseng-ih… Mmbb…” Begitu Aseng junior kembali pulih dan menegang keras di dalam mulutnya, kembali perempuan pemilik kede itu kusodok lagi di dalam kamarnya.

“Aaahh… Enaaak, baanghh…”

“Pipit juga mungkin?” belum selesai juga dia.

Aku curiga itu caranya untuk terus kuentot malam itu. Padahal aku belum pulang ke rumah malam itu. Motorku kuparkir saja di halaman karena pintu depan rumahku sudah tutup. Pikirku aku lebih baik ngilangin stres dengan bersenang-senang dengan binor cantik tersedia aja. Malah nambah stres karena pertanyaan kek gitu. Alhasil aku encrotin binor hamil muda itu tiga kali malam itu.

Apa kabar tiga istri cantik dan langsing, ukhti-ukhti istri ajo Mansur yang berhijab? Katanya sih baik dan sehat. Ada kabar bagus malah. Ajo Mansur bakalan datang ke Medan. Siang itu aku ditelponnya pas kerjaan lagi puncak hectic-nya. Bentar lagi ada meeting penting insidentil dan ia memberi kabar kalo ketiga istrinya positif hamil. Dalam waktu dua minggu sejak liburan bersama itu. Aku membuka ketiga segelnya dan langsung tekdung.

Bingung, kan? Bisa-bisanya ketiga perempuan itu hamil bersamaan? Ajo Mansur bakalan mendapat tiga bayi sekaligus. Suaranya disana sangat riang sekali. Kalo aku bertemu dirinya langsung kelak, pasti rona-rona bahagia ada dimana-mana. Katanya ia hendak menyampaikan janjinya waktu itu.

Ia serius mengatakan kalo itu sudah menjadi nazar baginya untuk menyerahkan ato menghibahkan satu SPBU yang tersisa di Medan itu untukku. Tak ada nada keraguan di suaranya ketika meneleponku sama sekali. Ia tulus dan benar-benar ikhlas menghibahkan galon sebesar dan sementereng itu padaku.

Malam itu, sepulang dari pabrik aku meluncur lagi ke galon itu dengan mengendarai Supra X 125-ku yang selalu setia menemaniku walo sudah ada Pajero yang belum punya garasi di rumah. Malam-malam beginipun galon ini tetap aja rame. Aku parkirkan motorku di depan mini market dan memperhatikan kinerja para karyawan yang bakalan menjadi bawahanku kelak.

Tau apa aku tentang mengelola SPBU? Aku sama sekali buta. Apalagi aku sudah cukup sibuk di pabrik. Hampir seluruh waktuku tercurah di sana saat ini. Apa nantinya aku pakai gaya pengelolaan ajo Mansur aja? Cuma terima beres dan sesekali mengontrol. Tau beres dan terima keuntungan aja karena SPBU ini punya manajemen sendiri yang berbentuk PT yang tentunya punya struktur organisasi yang jelas. Ada direktur, manager, supervisor, operator dan sebagainya.

“Rokok, bang?” tawar seorang pria padaku.

Rokok? Bukannya di tempat beginian dilarang merokok, ya? Aku sedang berdiri-berdiri saja di depan bangunan utama bertingkat 3 SPBU yang merangkap kantor dan juga semacam penjualan berbagai produk oli dan tabung gas di lantai bawahnya.

“Gak, bang… Awak gak merokok…” jawabku menolak.

“Gak pa-pa… Aku yang tanggung jawab di galon ini…” katanya lalu menghisap dalam rokok yang barusan disulutnya.

“Sedang nunggu teman, bang?” tanyanya mungkin aku dianggapnya sedang menunggu teman yang ngisi bensin pake motor di antara banyaknya antrian disana. Aku masih pake baju yang tadi kupakai kerja ditutup sama jaket bonus showroom motor.

“Eh… he he he…” aku cuma cengengesan aja.

“Menejer-nya abang, ya?” tanyaku menilik pakaiannya yang lumayan necis. Kemeja lengan panjangnya bermerk mahal, celana panjang dan sepatu kulit hitam mengkilap.

“Iya-lah… Udah mau dijual galon ini, bang… Tapi belum laku juga… Mahal kali orang Padang itu bukak harganya… Cina-Cina disinipun mikir mau belik harga segitu…” kata sang manager sambil terus ngebul pongah dengan rokoknya. Ia juga sibuk mencet-mencet HP mau ngubungin seseorang.

“Alo, lek? Kapan tangki (truk tangki pembawa BBM cair) klen datang?… Solar kami dah mau abis tuh… Besok kosong pulak tangki timbun kami jadinya…” ia sedang menghubungi orang Pertamina ato apalah gitu.

“Tengah malam? Pasti itu, kan? Nanti kusuruh anggotaku aja yang nerima, ya? Aku dah mau pulang,nih…” katanya setengah tereak-tereak.

Aku menangkapnya kek pamer gitu. Mungkin diliatnya aku kek supir angkot ato cemana, ya? Sepele kali dia sama orang-ah! Cam betol aja.

“Mahal ya harga galon ini, bang?” tanyaku bego. Aku memang belum tau harga appraisal pasaran SPBU seperti ini kalo memang diperjual-belikan.

“Ih… Mahal kali-lah… Nenekmu sama oppung-mu sama semua cucu-cucu… cicit-cicitnya kalok dijual dikali enam-pun belom bisa belik galon ini… Mahal kali-lah pokoknya…” bualnya melebih-lebihkan.

Kami sama-sama tertawa mendengar bongak (bual)-nya itu. Kalo ber-kombur (ngobrol gak tentu arah) sama orang kek gini bisa panjang ceritanya. Jadi kumanfaatkan untuk ngorek informasi. Tak lama orang itu permisi pulang katanya ada janji dengan orang rumahnya. Belum sempat melangkah ada telpon masuk ke HP mahalnya.

“Iya, dek… Abang udah mau pulang nih… Sabar ya, dek… Tadi pesan apa? martabak Bangka, ya? Iya-iya, dek… Abang beliin, yaa…” ia menutupi bagian mic HP-nya dan ngomong lirih agar gak kedengaran sama aku. Tadi garang kali ngobrolnya. Ditelpon orang rumahnya langsung menciut jadi bucin.

Duduk di depan mini market sambil nyeruput teh manis kemasan, aku teringat percakapanku sore tadi dengan kak Sandra.

“Apa pendapat kakak?”

“Wah… Seng? Wa gak bisa ngasih lu nasehat apa-apa kalo gini ceritanya… Lu nanti jadi Factory Manager dengan gaji wa sekarang ini aja masih belum seberapa dengan omset galon itu sehari… Beneran lu mau dihibahkan… (*glek) galon itu? Lu gak lagi ngayal, kan?” tanya kak Sandra.

Ia sudah kuceritakan tentang masalah hibah SPBU itu tapi tidak tentang detail penyebabnya.

“Beneran-lah, kak… Sori, kak… Awak maksud nanya gini ke kak Sandra bukannya mau nyombong, kak… Tapi awak bingung kali, kak? Gimana cara nerima ini semua? Kakak tau sendiri aku gimana… Awak ini orang yang biasa susah, kak… Kerja di sini baru awak bisa memperbaiki taraf hidup awak… Takutnya dengan uang sebanyak itu… awak bisa meledak gak terkendali, kak” kataku saat itu menyampaikan ganjalan di kepalaku.

Dipandanginya aku cukup lama dan kami tatap-tatapan. Aku gak ragu menatapnya balik karena kuanggap dengan begitu ia bisa menilaiku dengan lebih logis dan realistis. Kak Sandra sudah banyak pengalaman dan sudah kuanggap guru.

“Istrimu udah tau tentang galon ini?” tanyanya. Aku menggeleng. “Lebih baik tetap rahasiakan…” ungkapnya.

“Kenapa, kak?” tanyaku heran.

“Anggap aja sebagai tabunganmu… Tabungan yang besar sekali jumlahnya…” ia memainkan jari-jarinya kek tentakel ubur-ubur. (*tari ubur-ubur! tet teet tet te-et)

“Karena selama ini-pun galon itu hanya sesekali aja kan ditengokin saudara sepupumu itu… Pertahankan aja seperti itu terus… Tetap bekerjalah disini seperti biasa dan terus belajar… Trus belajar… Kalo perlu lu kuliah… Kan ada kelas untuk pekerja tuh… Belajar… Pasti akan banyak manfaatnya untuk masa depan lu… Terutama keluarga lu…”

Kuliah? Udah bangkotan begini disuruh kuliah. Aku yang tamatan SMA aja udah sukur kali bisa lepas dari yang namanya bangku sekolahan. Sekarang disuruh balik lagi untuk kuliah?

“Wa yang nyuruh lu kuliah wa kasih lu pulang cepat… Asal kerjaanmu lu selesai…” lanjutnya malah memberiku kemudahan jalan.

Itu salah satu kendalanya. Waktu.

“Nanti wa cariin kampus yang bagus buat lu orang kuliah… yang buat pekerja gitu…” lanjutnya malah memutuskan begitu.

Aku menganggapnya sebagai tanda perhatiannya yang tak pernah henti untukku.

“Makasih, kak…” ucapku lirih.

***

Hari ini aku permisi gak masuk karena akan menyambut ajo Mansur yang mendarat di Medan jam 10 pagi ini. Sekaligus ia akan meresmikan semuanya secara legal dan formal di notaris perihal hibah SPBU itu padaku. Ajo Mansur datang sendirian aja tanpa satupun istrinya atopun pendamping. Tanpa banyak basa-basi, aku diarahkannya untuk menuju ke notaris kepercayaannya.

Sengaja aku mengarahkan Pajero ini untuk melintas di depan galon yang sedang sibuk-sibuknya di jam traffic begini agar ajo Mansur bisa melihat SPBU itu lagi, mana tau ia berubah pikiran melihat ramenya ladang usahanya itu.

“Gak Seng… Tekad ajo sudah bulat… Ajo sudah pikirkan ini masak-masak… Sudah bagian dari nazarku, kan? Kalau aku mendapatkan anak… galon itu untukmu… Ajo gak berani bilang juga kalo anak itu anakmu tapi kau-lah yang membuka jalannya… Kalau ajo gak minta tolong padamu waktu itu… ini semua mungkin tidak akan terjadi dan ajo masih aja usaha kesana-kemari untuk berobat medis sama alternatif yang gak jelas… Denganmu… langsung ada bukti dan berhasil… Ajo sembuh…” katanya seperti membaca pikiranku.

Ia sudah kenyang makan asam garam kehidupan dan bertemu dengan banyak orang. Tak sulit baginya mengetahui maksudku.

“Jangan gitu-la, joo… Nanti jadi syirik jadinya kalo ngomongnya kek gitu… Cem apa kali-la awak ni…” kataku merendah sambil terus berkendara di belakang setir sementara ajo Mansur di sampingku.

“Tau… Ngerti, Seng… Semua ini usaha aja… ikhtiar… Serahkan semuanya sama yang di atas…” jawabnya memandang lurus setelah sekilas melirik ke atas sebentar tadi.

“Kaset handycam-nya masih kau simpan, kan?” tanyanya sekonyong-konyong menyinggung rekaman di pulau Cubadak kemaren.

    

“Masih, jo… Ajo mau ambil lagi?” tanyaku. Padahal itu bahan bacolku paling berharga. Tiga pemeran cewek dalam rekaman itu kelas wahid semua sehingga sayang untuk dibuang.

“Enggak, Seng… Ajo punya barang aslinya… untuk apa rekamannya… Sekarang kami tinggal serumah berempat… Gak terpisah-pisah lagi… Kau gak iri, kan?” tanya ajo Mansur malah mirip membanggakan.

Ia patut membanggakan ketiga tropi berharganya itu. Ia punya tiga bidadari cantik di satu atap rumahnya. Selama dua minggu ini, entah udah apa saja yang mereka eksplor berempat.

“Iri sih, jo… Tapi apa daya… tangan tak sampai…” kelakarku dan kami berdua tertawa bersamaan di dalam mobil ini.

Mengukur jalanan kota Medan yang macet dan mulai panas menjelang siang ini. Tak seberapa lama kami sudah memasuki sebuah kantor notaris yang dipilih ajo Mansur sebagai perwakilannya selama ini untuk mengurus urusan legal usahanya.

Sebagai klien besar, kami sudah ditunggu dan segera menemui sang notaris yang sudah menyiapkan semua berkas-berkas untuk urusan hibah ini. Aku dimintai KTP sebagai pelengkap data-data penerima hibah dari ajo Mansur dan banyak tanda tangan sana sini untuk melegalkan semua prosedur ini. Terlalu banyak sehingga aku tidak tau sudah berapa kali aku tanda tangan.

“Nah… Pak Nasrul… sekarang SPBU ini sudah resmi atas nama anda setelah anda menerima hibah seluruh aset dan kepemilikannya… Berikutnya akan ada perubahan kepengurusan PT ini karena dengan ini anda juga menggantikan pak Mansur selaku pemilik sebelumnya sebagai direktur… bla bla bla…” aku gak terlalu fokus dengan semua ocehan formal lelaki tua notaris itu yang didampingi rekannya.

Kepalaku agak kosong ‘meratapi’ jalan hidupku yang tak dinyana dan tak diduga menjadi seperti ini. Aku menjadi seorang direktur sebuah PT yang mengelola sebuah SPBU besar di tengah kota Medan.

“Silahkan, pak Nasrul… Ini aktenya…” rekan notaris yang masih terhitung muda sebagai Associate itu, menyerahkan sebuah map berisi akte pendirian perusahaan itu padaku.

“Silahkan dibaca dahulu untuk memastikan semuanya…” suaranya sangat halus.

Perhatianku jadi teralihkan pada perempuan itu. Kenapa aku baru ngeh kalo ada perempuan di ruangan ini? Padahal tadi aku sudah salaman dan kenalan dengan kedua orang ini.

“Udah…” cuma jawaban singkat itu aja yang keluar dari mulutku yang tiba-tiba kering karena langsung neguk ludah dalam-dalam.

Cleguk-cleguk! Cantik kali, mak! Dah kek pemain sinetron di tipi-tipi kutengok perempuan ini dari dekat gini. Siapa tadi namanya. Vony? Sony? Ah… Ada pulak nama cewek Sony.

“… dan yang ini adalah sertifikat dan surat-surat pendukung untuk obyek hibah kedua… yang berada di Perumahan XXX Blok YY nomer 556 di jalan Cemara Medan…” imbuhnya lagi menyerahkan satu folder map lainnya padaku. Sertifikat? Di perumahan jalan Cemara? Kok ada rumahnya juga?

“Sementara rumah itu masih ditempati oleh penyewa saat ini yang kebetulan akan berakhir dua bulan lagi…” ia menunjukkan beberapa dokumen yang memang benar adalah sertifikat hak milik. Ada foto sebuah rumah mewah bertingkat dua tercantum di dalam kumpulan dokumen itu.

Otomatis aku berpaling pada ajo Mansur yang duduk tak jauh dariku. Ia hanya mengangguk dan tersenyum simpul. Ia tidak mengatakan apa-apa karena ada dua orang asing ini di sini. Aku tidak mungkin bertanya lebih jauh. Ajo Mansur kemudian menggidikkan bahu trus menggerakkan kepalanya, menunjuk dengan dagu ke satu arah. Arah cewek cantik itu.

“Berikutnya adalah obyek hibah ketiga atau terakhir… Sebidang tanah dengan total luas 20.285 meter persegi yang berlokasi di Kabupaten Langkat kota Stabat… Ini sertifikatnya… Silahkan dicek pak Nasrul…” diserahkan folder map ketiga padaku. Hanya harum parfumnya yang kuingat karena kepalaku mendadak puyeng dengan semua informasi ini.

Prosesor Pentium keluaran awal yang menjadi penggerak otakku belum pernah bekerja sekeras ini seumur hidupku. Jadi tadi yang kutanda tangani sampe banyak itu untuk ini semua. Terasa tangan ajo Mansur menepuk-nepuk bahuku. Aku kehilangan kata-kata.

***

“Jangan di-perli (goda), ya pak Nasrul… pak Mansur… Vony ini dulu mahasiswi terbaik saya… Saya tarik jadi rekan di kantor notaris ini karena saya kan udah gak muda lagi… Udah banyak kurangnya… Perlu tenaga baru untuk meneruskan kantor ini nantinya… Saya juga dulu yang menjodohkannya dengan anak salah satu klien… Udah kek anak saya dia ini…” jelas pak Alex sang notaris tua perihal mahluk cantik di ruangan kantor yang mendadak meriah berkat kehadirannya.

“Pak Alex melebih-lebihkan itu, bapak-bapak… Saya dulu yang memohon-mohon supaya diterima magang di kantor ini, kok…” mahluk cantik itu merendah.

Apapun yang dikatakannya, indah-indah aja di mataku. Kalo lagi ngupil sekalipun masih cantik kali dia. Kalo kentut mungkin wangi gas buangnya. Kek motor dua tak pake oli samping campur Channel no. 5.

“Ya enggaklah, pak Alex… Kami ini berdua laki-laki beristri… Mana berani ngegangguin istri orang… Ya nggak, Seng?” sikut ajo Mansur pada lenganku.

“Iya…” jawabku irit terus curi-curi memperhatikan Vony cantik yang senyum manis mengikuti pembicaraan.

“Nama artis pak Nasrul ini Aseng… Jadi mungkin kalau mau akrab dengannya panggil Aseng aja… Kek Cina dia, kan?” jelas ajo Mansur gak perlu. Malu-maluin aja ini ajo pake ngasih tau nama tenarku. Gak sekalian gelar Sutan-nya disebut. Hu-uh.

“O-ya? Padahal bapak-bapak berdua sepupu, kan? Kok gak mirip, ya?” kata pak Alex.

Vony lebih banyak diam dan mengikuti pembicaraan kami sebagai pengamat. Hanya sesekali menimpali. Tapi ada sedikit mimik berbeda tadi yang ditunjukkan Vony saat mendengar nama bekenku disebut-sebut ajo Mansur. Keningnya sedikit berkerut. Mungkin kaget orang awak (Minang) sepertiku punya nama panggilan ‘Aseng’.

“Aseng ini ngikut sama ibunya, pak Alex… Jadi putih gini kek Cina… Kami ini sepupu dari garis ayah… Ayah kami abang beradik… Ayah saya yang sulung dan ayah Aseng yang paling bungsu… Saya lebih mirip ke ayah saya… jadi kek Arab-Arab-an gitu, ya? Agak gelap sedikit… Ada juga darah Aceh… Tengku-tengku gitulah ceritanya… Jadi kalo digabung jadi tengku-rab (*bad pun. Tengku-Arab. Orang Medan pasti pernah dengar joke garing ini)…” kami tertawa mendengar kelakar ajo Mansur ini.

Bahkan Vony yang cantik begitu juga tertawa sampe memegang perutnya. Ada titik air mata di sudut matanya sangking gelinya. Pak Alex tertawa sambil menepuk-nepuk meja kacanya.

“Jadi saya tentunya kaget-yah… Pak Mansur nyuruh saya menyiapkan semua surat hibah ini dalam waktu singkat… Vony sampe harus kerja lembur sampe tengah malam menyiapkan semua dokumen ini karena harus diselesaikan hari ini… Benar kan, Vony?” ujar pak Alex.

Vony hanya mesem-mesem aja membenarkan. Duh… Kacian cantik… Lembur sampe begadang ya buat nyelesaikan semua dokumen ini? Sini abang Aseng pijetin. Mananya yang capek? Mananya yang pegel? Mau dielus-elus aja? Iya? Plak! Halu kao, paok!

“Sebenarnya begini, pak Alex… Saya bermaksud untuk lebih fokus usaha saya semuanya dipusatkan di Sumatera Barat sekitarnya saja… Terlalu repot kalau saya harus keliling-keliling beda provinsi untuk memantau semua lini usaha… Bukan cuma di sini aja… Di tempat lain aset-aset saya di sana saya lepas juga… Hanya saya pertahankan beberapa properti di Ibukota negara dan Bali kalo saya pengen liburan di sana…” ungkap ajo Mansur dengan alasan logisnya akan maksud semua ini. Pak Alex dan Vony manggut-manggut.

“Lagipula saya juga baru menikah… Jadi fokus juga pada keluarga… Iya gak, Seng?”

“Iya…” lagi-lagi jawabanku irit karena aku sedang asik menaksir-naksir bentuk penuh kaki Vony yang tertutup rok span di atas lutut.

Pahanya padat berkulit putih nan mulus kinclong kek granit mushola. Kira-kira cewek cantik seperti ini kalo di ranjang menjeritnya gimana, ya? Ngeres kali otakku jadinya. Puas kali-lah lakikmu menjamahmu tiap hari, Von. Aduh… Lipatan kakinya berpindah dari kiri ke kanan.

Kelebatan cepat transisi-nya masih kalah dengan latihan silat harimau Mandalo Rajo yang kulakoni akhir-akhir ini. Pe-de kukatakan kalo celana dalamnya warna kuning gading berenda hitam tipe G-String senada dengan blazer kuning dengan lis hitam dipadu padan dalaman kemeja lengan panjang berkerah lebar warna putih. Umpan lambung fan-service yang sangat baik dari seorang Vony, saudara-saudara…

“Mm… Begitu-yah… Jadi untuk seterusnya bagaimana, pak… Proses pengalihan PT SPBU tadi akan memakan sedikit waktu… Apakah pak Mansur akan lama di Medan? Ikut mengawasi?” tanya pak Alex hati-hati.

“Malam ini saya terbang pulang ke Padang, pak Alex… Saya serahkan semuanya pada bapak aja… Nantinya akan lebih banyak berurusan dengan Aseng tentunya… Nanti segala biayanya… kirimkan tagihannya ke saya aja… Saya yang bereskan…” jelas ajo Mansur datar kembali dan duduk bersandar dengan tenang di kursinya. Pak Alex dan Vony manggut-manggut kembali.

“Nah… Vony… Karena kamu udah repot-repot menyiapkan semua ini… Tuntaskan semua dan urus perombakan susunan AD/ART PT SPBU ini sampai selesai, ya?” delegasi pak Alex menugaskan kembali Vony untuk menyelesaikan semuanya.

“Baik, pak Alex… Pak Nasrul… eh pak Aseng… Kita akan sering berhubungan untuk mengurus perusahaan baru bapak hingga selesai…” katanya dengan senyum yang sangat profesional padaku.

Pancaran senyumnya tidak terlihat profesional padaku saat ini hingga apapun yang dilakukannya jadi erotis di mataku. Sampai-sampai aku berharap ia berbisik menambahkan kata ‘badan’ setelah kata ‘berhubungan’ tadi. Ahh… Andai halu-ku ini menjadi nyata.

“Bang Aseng aja… Gak usah pake pak… Awak gak biasa… *badaaan…” kataku dan kata akhir tadi kubisikkan pelan sekali sebagai gumaman sableng.

“Oh… Begitu? Boleh manggil bang Aseng aja, ya?” kata si mahluk cantik itu.

Manggil abang sayang pun boleh kali. *Aseng kena upper cut! Aku mengangguk-angguk kek aksesoris mobil yang kepalanya goyang-goyang karena ada per-nya. Boneka doggy itu, ya? Kimak! Aku menyamakan diri sendiri sama itu asu.

“Mm… Jadi gini pak Mansur… Dalam pendirian PT tempo hari kan ada penyertaan modal yang sudah bapak setorkan di rekening PT… Apakah bapak akan menarik dana itu dan bang Aseng yang menggantikannya?” tanya Vony. Apa itu? Penyertaan modal?

“Tidak perlu… Saya kan sudah hibahkan semua… Ya sudah termasuk penyertaan modal itu juga…” kata ajo Mansur.

Vony menyerahkan copy dokumen yang dimaksudnya itu. Sebuah bukti setoran bank pembukaan rekening atas nama PT yang dulunya milik sepupuku itu. Jumlahnya ratusan juta rupiah. Mendadak kakiku dingin.

“Lagipula itu bisa menjadi cadangan dana kalo Aseng mau melakukan penambahan apapun…”

***

Setelah makan siang bersama pak Alex dan Vony, kami menuju SPBU itu. Ajo Mansur bermaksud memperkenalkanku pada seluruh jajaran pekerja di tempat yang sekarang secara sah menjadi milikku.

Kami langsung aja masuk ke bangunan utama berlantai 3 itu dan langsung naik ke lantai 2 dimana operasi manajemen berada. Pria yang kemarin dulu itu mengaku sebagai manager SPBU ini juga ada disana. Ia seperti mencoba mengingat-ingat pernah melihat aku dimana gitu.

“… jadi bapak Nasrul ini yang sekarang mengambil alih SPBU mulai hari ini menggantikan saya… Kalian semua bertanggung jawab kepadanya dan melapor padanya sesuai kapasitas masing-masing… Dia orang Medan sini juga… Tinggal di Mabar… Jadi akan lebih sering mengontrol operasional SPBU ini dari pada saya sebelumnya…” ajo Mansur memperkenalkanku pada semua manajemen yang ada di lantai 2 ini.

Lantai seluas ini hanya ada satu ruangan saja bersekat kaca grafir karena staffnya tidaklah banyak. Selain sang manager yang duduk di singgasananya, meja terpisah dari yang lain, ada 3 orang perempuan yang membidangi keuangan, pembelian dan administrasi. Seorang lagi pria muda yang mengurus masalah segala tetek bengek tagihan masuk dan keluar.

“Selamat siang… Nama saya Nasrul… Tapi panggil saja saya Aseng agar lebih akrab… Sebenarnya saya buta sama sekali tentang dunia minyak-minyak ini… Sama sekali gak tau apa-apa… Tapi itu bisa dipelajari… Saya akan belajar dari kalian semua… Saya sebenarnya masih bekerja juga di pabrik di KIM Mabar sana… Jadi karyawan biasa aja… seperti kalian-kalian… Saya tau rasanya ada di posisi kalian… Jadi sepertinya kita bisa saling mengerti karena kebetulan saja saya yang menjadi bos kalian semua… Tetap pertahankan kerja baik selama ini… Kita akan bekerja lebih baik lagi untuk kesejahteraan kita semua tentunya…” kataku memberi sambutan sambil memandangi semua karyawan-karyawan kini berada di bawah naunganku.

Si Manager itu sepertinya mulai gemetar badannya dengan muka memelas mau nangis. Matanya berbinar-binar. Eh! Berkaca-kaca. Sepertinya ia baru teringat siapa aku. Ia meremas-remas jarinya sendiri dengan gelisah.

“Kenalin diri masing-masing… Biar bos baru kalian ini kenal nama kalian…” kata ajo Mansur.

“Na-nama saya Suhendra, pak Aseng… Saya manager operasional SPBU ini…” kata sang manager itu gugup.

Untung dia ingat hierarki kedudukannya hingga ia yang mulai memperkenalkan diri. Pastinya dia enggan.

“Panggilannya Hendra, ya?” tanyaku.

“Iya pak… Hendra…” jawabnya agak nunduk-nunduk gitu, inferior.

“Kamu merokok?” tunjukku pada kantong depan celananya yang menggembung berbentuk kotak rokok filter.

“Iya, pak…” ia buru-buru mengeluarkan kotak rokok itu dari kantong celananya beserta geretannya yang terlihat bermerek elegan.

“Sa-saya akan berhenti merokok, pak Aseng…” katanya menambahkan. Lah? Tiba-tiba dapat pencerahan orang ini untuk hidup sehat. Kapan aku nyuruh dia berhenti merokok?

“Bagus itu… Saya bukan nyuruh kamu berhenti merokok… Cuma kalo merokok baiknya jauh-jauh dari galon, ya? Takutnya kenapa-kenapa gitu… Lagian ada banyak tanda dilarang merokok di sini, kan? Masa manager-nya sendiri yang melanggar…” kataku.

Aku gak anti sama perokok. Teman-temanku banyak yang perokok aktif dan aku fine-fine aja dengan pilihan mereka. Tapi ini SPBU, loh. Kalo mledug! Bahaya, kan? Dan berikutnya teman-teman sejawatnya yang lain juga memperkenalkan diri dan jabatannya.

Kemudian kami melihat-lihat satu-satunya ruangan bersekat kaca grafir yang dulunya merupakan ruangan ajo Mansur berkantor selama mengontrol tempat ini. Pengaturannya hanya simpel saja meliputi sebuah meja kerja dan beberapa kursi serta sebuah lemari filling cabinet ada di sudut ruangan kaca ini.

Ajo Mansur mengambil beberapa barang pribadi miliknya yang tertinggal di atas meja dan laci. Aku masih enggan duduk di kursi peninggalan ajo Mansur lebih karena orangnya masih ada di sini. Nanti-nanti ajalah, jo. Sogan pulak awak jadinya.

“Bisalah kau tengok-tengok galon ini malam abis pulang kerja, Seng… Biar tambah maju galon ini… Ajo kemarin cuma sekedar liat sebulan sekalipun belom tentu…” kata ajo Mansur disaksikan pak Alex, Vony dan Hendra.

“Kau bantulah si Hendra ini untuk operasional galon supaya makin banyak keuntungan yang didapat… Berapa laba bersih tahun buku kemarin?” tanya ajo Mansur pada Hendra.

“Satu koma tiga em, pak Mansur…” jawabnya lancar sekarang.

Ia menatap kami berdua bergantian dengan ekspresi yang aku gak ngerti maksudnya apa. Sebelumnya ia baru saja memegangi HP-nya seperti sedang chatting dengan seseorang gitu. Sekarang ia hanya memegangi alat komunikasi itu menunggu balasan. BUSET! 1.3M! Itu duit semua?

“Nah… Di tanganmu, Seng… Seharusnya bisalah jadi dua kali lipat… Satu hari omset 300-350 juta seharusnya bisa tercapai angka segitu…” kata ajo Mansur. Gila aja omsetnya 300-350 jeti! O em ji.

“Akan kuusahakan, jo…”

Selesai ramah-tamah, Suhendra memberi aku sedikit penjelasan detail SPBU yang baru aku miliki ini seperti kapan mulai berdirinya, berapa jumlah karyawannnya, jumlah pompa BBM-nya, produk BBM apa saja, berapa buah tangki timbunnya, fasilitasnya, jumlah tenant yang menyewa di kios-kios yang tersedia dan lain sebagainya.

Kami melakukan itu semua sambil berdiri di depan dinding kaca yang menghadap langsung ke pelataran luas semua itu berada. Suhendra menunjuk langsung arah posisi yang dimaksudkannya. Mobil dan motor mengantri mengular untuk mengisi BBM di jalurnya masing-masing.

“… jadi antrian untuk kereta dan mobil tidak disamakan, pak Aseng… Mobil lebih lambat bergeraknya sehingga untuk mobil disediakan dua station kanan-kiri… Jadi ada 4 buah pompa untuk mobil yang beroperasi sekaligus… Untuk kereta cukup 2 saja karena pergerakannya lebih cepat… Tetapi bisa ditingkatkan menjadi 4 juga bila sedang crowded… Unggulan kita adalah BBM jenis Pertamax, pak… Jalurnya lebih luas agar konsumen lebih lega dalam mengantri… Kita sediakan juga 4 pompa dan sisanya adalah untuk solar…” demikian sebagian presentasi Suhendra menjelaskan pelayanan utama SPBU ini.

Ia lugas menceritakan semua keadaan galon ini karena ia sudah bertugas di sini sejak awal berdirinya, bahkan dari sebelum dulu dibeli ajo Mansur. Tidak heran ia yang dipercaya sebagai manager operasional.

Kami lalu bergerak turun ke lantai dasar untuk meninjau fasilitas-fasilitas lain. Tetapi Suhendra mencegatku, lebih tepatnya ingin bicara berdua saja denganku. Aku sepertinya tau apa maksudnya.

“Pak Aseng… Maaf pak… Sa-saya boleh bicara sebentar, pak?” ia menghentikanku sebelum menuruni tangga. Ajo Mansur, pak Alex dan Vony sudah di pertengahan tangga menuju turun.

“Ya… Ada apa, Ndra?” tanyaku.

“Saya mau minta maaf, pak… Soal kejadian tempo hari itu… Sa-saya tidak tau, pak?” katanya agak membungkuk-bungkuk mengatakan itu semua.

“Kejadian tempo hari yang mana?” kataku bernada riang-riang aja.

“Malam-malam itu, pak… Yang saya nawarin rokok di depan itu…” katanya lalu menunjuk depan gedung dimana aku sedang mengawasi SPBU ini dengan jaket hadiah showroom.

“Ah… Gak pa-pa itu… Cuma jangan diulangi aja merokok di galon… Bahaya tau… Periuk nasimu bisa terbakar juga, kan?” kataku menasehatinya dan menepuk-nepuk bahunya. “Yuk kita turun… Mereka udah di bawah itu…” tunjukku.

Aku turun duluan mendahuluinya. Beberapa langkah menuruni anak tangga aku merasakan ada beberapa kali kilasan lampu flash. Sepertinya ada orang yang sedang memfotoku dari belakang. Udah kek artis aku rasanya.

***

“Jo… Kenapa ada rumah sama tanahnya juga, jo?” tanyaku ketika kami hanya tinggal berdua saja.

Aku sudah menahan-nahan pertanyaan ini sejak dari kantor notaris tadi siang. Ini sudah sore karena aku mengantar ajo Mansur ke bandara lagi. Ia segera bertolak pulang ke Padang lagi.

“Kan ajo udah bilang dulu… Akan ada hadiah tambahan kalo lebih dari satu istri ajo yang hamil… Tiga-tiganya hamil… Galon, rumah dan tanah… Rasanya sudah cukup…” katanya santai saja sambil memandangi jalanan di depan.

“Kalo cuma satu aja… cukup galon itu… Ajo senang sekali malah… Ketiga istri ajo sudah hamil… Ajo akan langsung punya tiga anak dari tiga istri ajo… Ajo belum pernah merasa sebahagia ini… Bahkan lebih bahagia dari saat kalapiah ajo sembuh bisa tegang lagi… Tiga harta itu… galon, rumah dan tanah itu gak ada-pun tak apa-apa… Makanya itu semua ajo berikan pada mu, Seng… Hadiah dari ajo… Bagian dari nazar ajo… Semoga di tanganmu bisa lebih bermanfaat…”

Aku hanya bisa menghembuskan nafas. Entah itu kesal atau berat hati. Ajo Mansur jelas tidak akan menerima penolakan dariku karena semua proses hibah sudah selesai. Kepalaku malah kosong hanya bisa konsentrasi ke jalan.

Gimana aku menjelaskan ini nanti ke istriku? Gimana caranya? Apa yang akan kukatakan padanya? Ma… kita jadi horang kayah sekharang… Kita gak usah tinggal di kampung bernama Mabar ini lagi. Yuk kita pindah ke rumah mewah baru kita di komplek XXX jalan Cemara. Lah itu gak kosong lagi. Ada rencana begitu.

Sebelum kami beranjak ke bandara ini, ajo Mansur mengarahkanku ke rumah yang menjadi objek hibah nomer dua itu. Rumah itu sangat besar dan mewah. Aslinya itu dua buah rumah komplek yang dipugar kembali dan digabung menjadi satu dengan arsitektur Mediterania berwarna putih.

Saat ini tinggal sisa dua bulan lagi sewa yang aku masih bingung akan diteruskan atau kutempati sendiri. Kami hanya sebentar berhenti di depan rumah itu, tidak turun sama sekali. Hanya memandangi bagian depannya saja.

Aku sudah bisa mengira-ngira isi dalamnya dari denah rencana pembangunan yang ada di dokumen hibah. Seorang ekspatriat dari Timur Tengah yang menempati rumah itu sekarang.

Aku sempat membayangkan betapa bahagianya anak-anakku kalo tau mereka punya rumah besar dan mewah seperti ini. Rio pasti akan gembira berenang di kolam renang yang ada di samping rumah, berair biru dan sejuk. Bisa bermain-main di kamar yang sejuk dan luas.

Istriku tidak perlu repot-repot mengurus rumah karena sudah diurus oleh semua ART-nya. Lalu aku membayangkan istriku yang merepet kesel karena gak bisa ngumpul sama ibu-ibu perwiridan-nya yang rempong.

Gak bisa ngerumpi sama tetangga-tetangga seperti yang biasa dilakukannya di gang. Apa ada wirid Yasin di komplek ini, ya? Isinya mayoritas orang kita Cina semua gini. Bahkan kak Sandra rumahnya ada di komplek XXX ini juga, cuma bloknya jauh di ujung sana.

Kalo kami pindah kemari… pasti pergaulan kami akan berubah drastis. Itu pasti. Struktur masyarakat di komplek mewah seperti ini sangat berbeda dengan keadaan gang di Mabar yang selama ini kami tinggali. Aku tidak tau apakah aku siap? Apalagi istri dan anak-anakku.

Opsi lain adalah merenovasi rumah kami sekarang ini agar sesuai dengan kebutuhan kami sekarang. Apalagi yang mendesak adalah harus ada garasi untuk Pajero ini. Kasian dia kepanasan dan kehujanan di luar. Perlu renovasi abis-abisan…

Ajo Mansur kulepas pergi setelah kami bro-hug sebentar. Aku tentunya sangat berterima kasih sekali padanya telah memberikanku sangat-sangat banyak. Aku gak mau sampai berpikir kalau bayi tukar harta, karena ajo Mansur menganggapnya sebagai hadiah telah membukakan jalan rejeki untuknya.

Anak adalah bagian rejeki yang baru untuknya, bahkan melebihi harta. Lagian hartanya masih banyak. Pesawatnya take-off, membawanya pulang, kembali ke ketiga istri cantiknya yang menunggu manis di rumah. Siap melimpahinya dengan segala kasih sayang.

***

“Maa… Kita renovasi rumah, ya? Nambah kamar sama garasi…” kataku abis ngos-ngosan.

“Nambah kamar?” ulang istriku juga ngos-ngosan.

Ia menghadapkan wajah dan tubuhnya dari menelentang ke arahku. Aku juga menghadapnya. Kepalanya berbantalkan tanganku. Kupermainkan sebentar payudaranya yang masih mengeluarkan ASI untuk Salwa. Ia bergidik geli karena putingnya kupilin-pilin agar ia gak terlalu banyak tanya. Sukur-sukur minta nambah ronde.

“Kalo garasi oke-lah… Tapi nambah kamar untuk apa dulu? Itu kamar Rio aja sampe sekarang belum dipakai anaknya… Buat Salwa?”

“Yaa… nambah aja… Untuk tamu mungkin… Kalo ibu atau ada saudara yang datang bisa buat kamar tamu, kan?” kataku berkilah.

“Papa aneh, deh… Duitnya dari mana?… Tunggu dulu… Itu kereta baru buat mama… Cash… Trus kasur latex mahal gak ketulungan gini… Ngasih buat pesta Selvi kemarin itu… Ongkos pesawat bolak balik Medan-Padang itu duitnya dari mana semua, pa? Mama kok jadi aneh ceritanya, nih… Papa korupsi di pabrik, ya?” katanya tembak langsung dan menepis tanganku dari puting payudaranya yang dari tadi kupermainkan.

“Astaga, mama…” DHAR! Kaget kami berdua mendengar suara ledakan dari luar rumah.

Buru-buru kami memakai pakaian kembali. Istriku hanya memakai dasternya tanpa bra. Aku hanya memakai celana boxer. Dari suaranya seperti ada ledakan trafo listrik yang meledak. Tetapi listrik tidak mati yang berarti bukan ledakan trafo.

Istriku hanya berani mengintip dari gorden jendela depan sedang aku tentu aja langsung buka pintu dan keluar. Jangan sampe mobilku yang tak berkandang lecet. Tak sate orangnya nanti.

Pucuk daun pohon kelor yang ada di sudut depan rumahku terbakar. Kobarannya sudah berhenti dan menyisakan kepulan asap tipis. Alhasil daun-daun pucuk teratasnya meranggas gosong. Positif ini serangan supranatural. Yang terdekat denganku adalah rumpun tumbuhan sereh dan kupetik sebatang daunnya.

“Maa… Masuk ke dalam! Jangan ngeliat!” teriakku pada istriku yang pasti masih mengintip dari balik jendela. Sibakan gorden menutup kembali dari kaca jendela. Ia menurut dan kembali ke kamar.

Sereh yang kuubah menjadi senjata menjelma menjadi sebatang tombak pendek yang segera kulemparkan pada sisa pucuk terbakar pohon kelor setinggi 3 meter itu. Tombak sereh itu meluncur cepat dan segera membentur apapun yang masih ada disana.

Blitz-blitz energi membuat bentuk seekor burung besar dengan bentangan sayap lebar dengan total lebih dari 90 cm. Burung itu berusaha menembus pagar ghaib tepat di sudut segi empat yang tercipta akibat posisi empat pohon kelor yang kutanam di empat sudut rumahku. Kekuatannya dahsyat karena berhasil membakar ujung tanaman berkhasiat kuat itu. Bahkan para jin menjauhi tanaman itu.

Tombak sereh yang baru kulempar memperkuat pagar ghaib yang berusaha ditembus mahluk mistis itu. Aku asing dengan bentuk burung itu di kegelapan malam begini. Seluruh tubuhnya berbulu hitam legam.

Awalnya kukira gagak yang berukuran raksasa, tetapi ada semacam mahkota di kepalanya yang menonjol dengan paruh panjang. Burung gagak tidak seperti itu bentuknya. Ia terus berusaha mencakar dengan kakinya, menghantam dengan kepakan sayapnya dan mematuk dengan paruh panjangnya. Ini burung apa?

Kubiarkan ia terus berusaha. Aku tidak mau terpancing dan keluar dari pagar ghaib yang sudah kupersiapkan jauh-jauh hari ini. Mahluk kiriman itu sangat percaya diri langsung menyerang di tiang penyangga pagar ghaib. Biasanya penyerang akan menghantam tepian terlemah dari pagar ghaib seperti kasus penyerangan Agus, suami Aida dahulu di atas pohon mangga Golek.

“TUUUTT-TUUUUT-TUUUTT-TUUKK!!”

KIMAK!! Burung itu berhasil menelusupkan kepalanya masuk dan meneriakkan suaranya. Suaranya nyaring dan keras. Bagaimana mungkin ada entitas burung ini ada di Sumatera? Itu burung endemik Kalimantan! Enggang Gading! Ternyata ia memecah pelindung pagar ghaib-ku dengan gading keras di atas paruhnya. Siapa yang mengirim burung sakral suku Dayak ini padaku? Siapa yang menyalah gunakan burung suci ini?

Aku gak mau berburuk sangka dulu pada siapapun, tetapi yang namanya serangan tetaplah serangan. Pantang bersurut setelah layar terkembang. Aku gak sempat lagi melakukan ritual pengundangan mahluk penyerang pagar ghaib rumahku ini ke daerah kekuasaanku.

Disinipun tidak masalah kalo kalian mau bertarung! Bakiak Bulan Pencak kusiapkan di kedua kakiku. Dua buah batang sereh menjadi dua buah tombak baru menyusul sebatang tombak yang sudah kulempar tadi.

Burung Enggang Gading itu kembali bersuara keras menggerakkan leher panjangnya dan mengepakkan sayapnya kuat-kuat bermaksud semakin merusak pagar ghaib-ku. Burung langka yang terancam punah itu sepertinya tidak bisa melaju lebih jauh lagi, kepalanya terjerat di lubang yang dibuatnya sendiri. Hmm… Itu salahmu sendiri mencari mati di sini. Mengancamku… Lebih-lebih lagi membahayakan keluargaku. Aku gak perduli kalo kau itu hewan langka sekalipun!

“HEAAA!!!” Dengan sontekan tenaga bakiak Bulan Pencak yang mampu melambungkan tubuhku untuk melompat tinggi hingga puncak pohon kelor itu. Aku bersiap menghujamkan kedua tombak sereh itu menyate kepala burung Enggang Gading itu.

WUSSHHH!! “Huh?” Kemana burung itu? Burung sebesar itu tiba-tiba menghilang begitu saja belum sempat kutembusi dua buah tombak sereh ini. Lubang yang sempat dibuatnya pada sudut pagar ghaib-ku perlahan memperbaiki diri dan menutup rapat kembali.

Aku mendarat lagi di depan halaman rumahku masih penasaran. Kemana lawan yang tadi berani-beranian menantangku di sini? Sampai beberapa saat kutunggu tak ada tanda-tanda kemunculan gangguan lain. Aku bahkan menunggu sampai jam 3 pagi. Melek tetap waspada di teras rumahku. Tak kunjung datang apapun lagi.

Kimak memang pengganggu ini. Siapa kira-kira penyerang ini? Musuh baru ataukah musuh lama. Setauku semua sudah kubereskan. Apa ini yang dimaksud Inyiek Mandalo Sati waktu itu? Masih banyak musuh-musuh lain yang lebih berbahaya daripada Inyiak Lelo.

***

Sejak serangan tengah malam abis indehoi dengan istri tercinta, aku memperkuat pagar ghaib untuk melindungi rumahku. Kalian boleh menyerangku saat aku ada di luar rumah sesuka hati kalian. Tapi kalo di rumah, kalo bukan aku yang mati kau yang mati. Itu prinsipku.

Ini adalah daerah sakralku. Gak ada yang boleh main-main dengan rumahku. Aku gak perduli dengan nyawaku apalagi dengan nyawa kalian kalo taruhannya adalah keluargaku.

Semua metode pagar pelindung ghaib yang kutau kuterapkan berlapis-lapis. Aku bahkan menanam sepasang kuku harimau di depan dan belakang rumahku. Efeknya nanti bagi penyerangku akan selalu menghadapi aura raja rimba itu tiap mereka berani-berani mengusikku.

Menanam kuku harimau bukan tidak memiliki efek negatif bagi pemilik rumah yang tidak berjodoh dengan metode ini. Tetapi aku sebagai kepala keluarga yang mempunyai titel Sutan Mandalo Nasrul Chaniago, semua itu agaknya bisa dinetralisir karena hakekatnya aku sendiri merupakan perwakilan harimau dari hutan Larangan.

Hening. Tidak ada serangan ato gangguan lagi sejak itu. Kalo ngikutin panas silat aliran Mandalo Rajo, aku mengharap akan ada serangan yang memungkinkanku untuk segera menuntaskan siapapun dia. Mengikuti prinsipku yang akan membantai siapapun yang mengusik keluargaku.

Rasanya akan sangat menyenangkan merasakan darah mereka mengalir di tanganku. Siapapun dia. Tetapi kalo ngikutin akal sehat, pastinya penyerangku itu sedang mengulur waktu, menungguku lengah. Menunggu saat yang tepat. Dunia Menggala memang seperti ini. Penuh intrik dan bahaya. Kalo gak kuat mental, jangan sekali-kali mau ikut terlibat. Tidak ada bendera putih ato lempar handuk di dunia ini.

“Bang Aseng… Ini Vony… Saya mau membahas tentang perubahan anggaran rumah tangga (AD/ART) PT bang Aseng itu… Kita bisa ketemu dimana?” telpon si cantik Vony sang notaris rekanan pak Alex.

“Duh… Von… Awak lagi sibuk di pabrik nih… Cemana, ya? Awak-pun bingung…” jawabku karena aku beneran lagi sibuk dengan kerjaanku sebagai wakil Factory Manager, kak Sandra yang belakangan mulai sering kurang enak badan akibat kehamilannya.

Beberapa hari ini ia sering pulang lebih dahulu dan membebankan pekerjaannya padaku. Gak enak juga aku harus permisi lagi untuk urusan pribadiku.

“Gini aja… Vony aja yang datang ke pabrik, gimana? Nanti kita bahas sebentar pas istirahat makan siang aja… Gak usah keluar kantor juga gak pa-pa, bang…” desaknya.

Memang selama ini kami hanya berhubungan lewat telepon saja ato chatting. Mungkin ada hal yang sangat mendesak yang harus disampaikannya padaku mengenai progress pengurusan PT itu.

“Mm… Ya udah, deh… Gitu juga boleh…” jawabku menyerah dan membiarkan Vony datang ke pabrik.

Ini demi kelancaran tugasnya juga. Kasihan kalo harus mempersulit kerjaan orang yang handle urusanku juga. Padahal aku juga kurang begitu peduli ada ato tidaknya perkembangan itu. Aku kembali tenggelam dalam sibuk dan ribetnya pekerjaanku ini yang memakan banyak energi.

Kepalaku sering panas harus memikirkan banyak hal sekaligus agar tidak ada hal yang bentrok ataupun kalo harus bentrok diambil jalan seminimal mungkin benturannya. Apalagi urusan ummat yang jumlahnya ratusan orang di dalam pabrik. Ada tekanan dari Serikat Pekerja-nya lagi. Apalagi mengenai peraturan dari Pemerintah. Ampun DJ. Kepalaku makin panas. Botak deh palaku.

Menjelang makan siang, hal yang kutakutkan kembali terjadi, kak Sandra pulang lebih cepat. Tiwi, asistennya mengabarkan padaku kalo kak Sandra pusing-pusing dan muntah. Ia pulang dan istirahat diantar supirnya ke rumahnya di komplek XXX jalan Cemara. Kimbek-lah… Jadi banyak kali kerjaanku.

Tiwi menyerahkan beberapa laporan yang belum sempat disentuh kak Sandra karena keburu sakit. Aku rasanya pengen meleleh aja lalu menguap karena beban yang terlalu berat. Ingin menyerah tapi menyerah sama siapa. Tidak ada penjajah…

“Ya, halo?”

“Ini front office, bang Aseng… Ada tamu untuk abang… Namanya Vony… Katanya udah janji mau ketemu jam makan siang nanti…” bagian resepsionis memberitau kalo tamuku siang ini udah datang. Waduh. Udah mau jam 12 siang, ya? Mau gimana lagi?

“Tolong antar ke atas aja, ya? Ke ruangan bu Sandra…” kataku bermaksud mengisolasi masalah.

“Baik, bang…” klik.

Semua pekerjaanku kubawa masuk ke dalam ruangan kak Sandra sekalian karena beberapa file ada di ruangannya. Biar sekalian beres semuanya di satu atap tanpa aku harus bolak-balik kesana kemari. Repot juga bawa-bawa laptop bareng beberapa tumpukan folder map ke ruangan kak Sandra. Ruangan yang mungkin akan menjadi ruanganku sendiri nantinya kalo rencana kak Sandra berhasil.

Gak lama ada ketukan di pintu yang gak ditutup rapat itu. Vony muncul dan ia diantarkan oleh Tiwi. Ah… Si cantik sudah datang.

“Bu Vony… Silahkan duduk, bu… Wi… Ambilin minum buat bu Vony, ya… Kamu nanti kerjanya di meja abang dulu aja di luar…” kataku menyetel kondisi.

Jangan sampai Tiwi tau apa urusan tamuku ini datang kemari. Memang Tiwi mulutnya gak ember, tapi jaga-jaga aja. Cukup kak Sandra aja yang tau urusanku ini. Tiwi yang berada di belakang Vony agak manyun mendengar perintahku dengan dahi berlipat-lipat kek cucian kusut.

Di kantor ini cuma kak Sandra yang berhak mengatur-ngatur dirinya karena job desc-nya sebagai asisten Factory Manager. Tugasnya hanya melakukan perintah kak Sandra, seperti nge-print ini, copy itu, ambil laporan dari si fulan, antar surat ke bagian ono, buatin minum, pesanin makanan itu, pijetin kepala kak Sandra. Enak kali tugasnya.

Seharusnya kalo kak Sandra pulang cepat begini, dirinya merdeka. Ini malah kuusir dari surga kosongnya. Padahal ia pasti udah ngayal mau chatting-an sama pacarnya di ruangan ini.

Setelah salaman dengannya, Vony duduk di depanku dan menyiapkan beberapa berkasnya. Ia melirik pada sekeliling ruangan ini. Pastinya ia merasa aneh karena aura tempat ini sangatlah feminim. Pasti dia gak terlalu menyimak apa yang kuucapkan pada Tiwi sebelumnya.

Biarlah dia menilainya dulu agar aku tau seberapa cerdas pengamatan dirinya. Jam makan siang 5 menit lagi dan aku mendiamkannya dan berkutat pada pekerjaanku karena kami janjiannya kan di jam makan siang. Pukul 12.00 tepat. Ia juga tidak berkata apa-apa selain menunggu dan menatap jam tangannya.

Dari lapangan, bagian mesin terdengar suara raungan sirene yang menandakan kalo waktu sudah menunjukkan jam 12 siang; jam istirahat makan siang. Ah… Gak kerasa. Waktu terasa sangat singkat. Aku menutup laptop dan menghadapi Vony.

“Keknya ada yang aneh dengan ruangan kerja bang Aseng ini, ya?” tanya Vony abis menelisik situasi ruangan kerja ini.

“Ya aneh-la, Von… Ini bukan ruangan awak, kok… Masa boneka-boneka gitu ada di ruangan pria se-macho awak ini…” kataku melirik ke atas lemari dimana kak Sandra meletakkan dua buah boneka beruang. Satu hadiah dari koh Amek, suaminya dan satu lagi pemberian Tiwi saat ulang tahunnya tahun lalu.

“Ini bukan ruangan kerja bang Aseng? Ooh… begitu… Bukan… Vony bukan liat dari boneka itu… Itu mungkin boneka punya anak bang Aseng atau semacamnya… Vony cuma mencium parfum perempuan yang sangat dominan disini… Dan itu bukan aroma milik bang Aseng sama sekali…” katanya.

“Iya… Ini nih ruangan punya bu Sandra… Nih…” aku membalik sebuah figura kecil ke arahnya.

Menampilkan sebuah foto pernikahan kak Sandra dan koh Amek beberapa tahun lalu. Hanya ada satu figura foto itu di atas meja. Mata Vony dengan cepat men-scan keadaan meja.

“Bu Sandra ini Factory Manager disini… Awak cuma wakilnya… Itu tadi yang ngantar Vony kemari itu asistennya, Tiwi… Bu Sandra-nya pulang lebih awal karena kurang enak badan… Lagi hamil…” jelasku.

“Ooh… Bu Sandra-nya hamil… Anak pertama, ya?” tebaknya dengan cepat.

“Kok tau?”

“Gak ada foto anak di meja ini… Cuma foto nikahan aja… Biasanya perempuan lebih banyak menyimpan foto anak daripada foto pasangannya… Karenanya ini kehamilan anak pertamanya…” analisa Vony. Mudah sih sebenarnya.

“Benar juga… Di meja kerja Vony pasti isinya foto anaknya semua, yaa? Cuma satu foto sama suaminya…” tebakku balik. Ini asal tebak aja karena aku belum pernah masuk ke ruangan kerja Vony di kantor notaris itu. Hanya ke ruangan pak Alex saja.

“Enggak, bang Aseng… Vony belum punya anak… Belum dikasih sama Tuhan…” jawabnya lugas tetapi sedikit mengalihkan pandangannya ke arah lain sekilas saja. Itu adalah pandangan yang berusaha tidak ingin dikasihani.

“Oh… Sori… Maaf, Von…” kataku agak menyesal memberi tebakan ngawur tadi.

“Gak pa-pa, bang Aseng… Anak bang Aseng berapa? Kemarin itu bilangnya ‘kami ini berdua laki-laki beristri’…” ia mengalihkan pertanyaan agar ia terlihat tegar. Wah… ia ingat kata-kata ajo Mansur waktu itu.

“Dua Von… Sepasang… Yang pertama cowok umurnya hampir 5 tahun… yang kedua 10 bulan… Masih lucu-lucunya belajar jalan…” kataku mengabarkan tentang kedua anakku tercinta. Aku mencari foto keduanya di HP-ku dan kuberikan padanya.

“Ih… Lucu, ya? Siapa aja namanya…” kata Vony memperhatikan foto anak-anakku di layar HP. Vony bahkan men-zoom muka-muka ganteng dan cantik anakku.

“Yang ganteng kek papanya itu namanya Rio… Yang cantik kek mamanya namanya Salwa…” kataku bangga. Bangga, dong. Itu semua hasil kerja kerasku.

“Ganteng dan cantik… Kayaknya… kedua anak bang Aseng mirip sama bang Aseng semua, deh… Cuma sedikit aja mirip mamanya… Mamanya cantik juga…” komentar Vony tentang istriku yang menggendong Salwa dan Rio yang lendotan di kakinya.

“Takut gak diakui sama papanya kali, ya?” kelakar Vony lebih mencairkan suasana. Kami tertawa kecil bersama.

“Kalau pak Mansur-nya gimana… Dengar-dengar baru menikah, ya?”

“Iya… baru sebulan lebih… Cuma ya itu… Jangan kaget ya? Awak kasih gosip dikit… Istrinya langsung 3 yang dinikahinya… dan tiga-tiga sedang hamil bersamaan…” kataku malah bergosip ria dengannya. Kenapa aku malah kek jadi emak-emak, ya?

“Benarkah?” Vony sampe harus menutup mulutnya menyaring rasa kaget yang terpancar dari ekspresinya. Matanya yang indah membelalak jadi lebih mengagumkan.

“Tiga dan hamil bersamaan? Bareng?” pastinya.

Aku hanya perlu mengangguk membenarkan. Sebenarnya aku memperhatikan bentuk mulutnya yang terbuka dengan bibir merah merekah berhias lipstik berwarna merah gelap. Perpaduan mata indah, wajah cantik dan bibir merahnya sangatlah sempurna di mataku sebagai mahakarya yang indah.

“Awak, kan sepupu pak Mansur… Jadi sumbernya lumayan terpercaya-lah…” aku lalu menceritakan sedikit kronologis dari pernikahannya dengan ketiga ukhti itu yang tidak kuhadiri tetapi diwakili ibu dan adikku di kota Padang.

Tidak lama kemudian adikku menyusul menikah. Tentunya aku gak mungkin nyeritain tentang perjalanan liburan kami ke tiga tempat wisata itu. Langsung pada intinya kalo ia mengabarkan kalo ketiga istrinya hamil barengan dan ia bahagia sekali karenanya.

Cerita ini itu lalu Vony teringat akan tujuan utamanya datang menemuiku dan kami lalu ke inti permasalahannya. Vony membeberkan progres perubahan AD/ART perusahaan SPBU yang kini menjadi milikku dan aku sebagai direkturnya.

Semua berjalan lancar dan aku diharapkan menunggu beberapa hari lagi untuk pengesahannya yang juga akan dilakukan di kantor notaris pak Alex dan rekanannya.

Pertemuan kami untungnya tidak lama. Sebelum istirahat makan siang berakhir, Vony sudah selesai dengan segala keperluannya. “Makasih bang Aseng… Ternyata menyenangkan ngobrol dengan abang…” katanya menjabat tanganku.

“Sama-sama, Von… Saya yang terima kasih banyak karena sudah merepotkan Vony sampe harus datang jauh-jauh kemari di jam istirahat begini…” kataku sedikit mengguncang jabatan tangan kami. Terdengar suara nyaring yang sempat mengusikku.

“Ah… Itu sudah tugas saya, bang Aseng… Saya permisi dulu, ya…”

“Sebentar, Von?” Aku sebenarnya agak ragu untuk menanyakan ini. Takut salah dan malah menyinggungnya lagi.

“Vony ada turunan darah Dayak atau semacamnya?”

***

Kadang permasalahan seperti ini yang bisa memecah belah. Suwer. Benaran ini. Entah siapa yang berbuat salah ato malah jahat. Disadari ato tidak. Kalo sudah bersinggungan dengan orang lain malah jatuhnya jadi fitnah tanpa bukti yang jelas.

Vony jelas aja heran gak ngerti kenapa aku tiba-tiba menanyakan apakah dia ada darah turunan Dayak atau semacamnya. Itu hanya karena aku mendengar suara nyaring burung Enggang Gading itu lagi saat bersalaman dengannya. Vony ngakunya gak ada darah Dayak ato nyerempet-nyerempet daerah Kalimantan sama sekali karena sepengatahuannya, orang tuanya sampe kakek neneknya orang Jawa.

Sebenarnya aku sangat yakin kalo itu adalah suara burung yang sama. Tapi aku belum bisa membuktikan kalo ada hubungan erat antara burung Enggang Gading itu dan Vony. Tapi kenapa saat bersalaman dengan Vony suara burung itu baru terdengar kali ini? Ini bukan salaman pertama kami.

Beberapa kali kami melakukannya di kantor notaris itu dan hanya kali ini terdengar. Apa kebetulan saja bertepatan waktunya? Aman kalo nama Vony kucoret dari daftar suspect penyerang dengan burung Enggang Gading yang sangat kuat itu.

Serangannya malam itu kuanggap sebagai perkenalan saja karena berikutnya akan menyusul serangan berikutnya yang bisa jadi menjadi serangan utamanya.

Lalu siapa suspect berikutnya? Banyak! Dukun-dukun golongan hitam tentunya. Aku mengenal beberapa nama dukun yang menggali ilmu ato basis keilmuannya dari daerah Kalimantan. Tapi entitas burung Enggang Gading adalah hewan keramat yang posisinya sangat istimewa setingkat dewa di masyarakat tradisional Dayak.

Burung langka yang terancam punah itu punya tempat yang stretegis di masyarakat Dayak sebagai simbol kesucian, kekuatan dan keberanian. Siapa yang berani-beraninya merusak imej sakral burung itu untuk menyerang orang lain? Ini orang yang sangat sesat pastinya ato orang yang tak menghargai nilai-nilai sakral.

Dukun-dukun aliran hitam yang kukenal tak satupun, setauku yang memakai burung Enggang Gading sebagai hewan Menggala-nya. Entah kalo di kemudian hari ada di antara mereka berhasil menjalin perjanjian dengan burung itu.

Di kalangan supranatural pemakaian kekuatan berbentuk hewan lazim saja dilakukan karena beberapa hewan merepresentasikan kekuatan dan ketangkasan tertentu. Biasanya hewan tersebut adalah hewan ghaib juga yang menautkan perjanjian tertentu dengan syarat tertentu. Tentunya dengan imbalan yang setara, menguntungkan kedua belah pihak.

“Pak Aseng… Ini nama-nama untuk gajian besok…” Suhendra menyerahkan berkas nama untuk gajian bulan ini.

Sistem payroll di SPBU ini biasanya jatuh pada tanggal 25 tiap bulannya. Ini tugas pertamaku. Aku membaca secara sekilas nama-nama yang tercantum di daftar ini. Hendra yang mempunyai jabatan tertinggi di bawahku tentu saja yang bergaji paling besar. Aku hanya perlu menanda tangani saja karena uang gaji itu akan ditransfer langsung ke rekening mereka masing-masing. Hendra duduk di depanku menunggu aku selesai dengan berkas itu.

“Ini, Ndra… berkasnya…” aku mengembalikan berkas itu padanya.

Aku sengaja datang malam ini setelah pulang kerja di pabrik untuk menanda tangani berkas ini. Karena sama-sama makan gaji, aku tau persis pentingnya tanda tanganku ini. Sementara di pabrik-pun, aku belum gajian. Mungkin tepat akhir bulan. Hendra memeriksa berkas dan menutupnya kembali. Sepertinya masih ada yang ingin dibicarakannya.

“Ada apa, Ndra? Ngomong aja mumpung awak belum pulang…”

“Enggak, pak… Cuma mau ngobrol-ngobrol aja, kok…” katanya ragu-ragu. Naga-naganya ada hal mendesak yang ingin dibicarakannya denganku.

“Ya, udah… Ngobrol-lah… Tapi nanti jam 10 awak pulang, ya?” kataku melirik jam tanganku yang menunjukkan jam 21:24. Cukuplah setengah jam ngobrol dengan manager operasional SPBU-ku ini.

“Ng… Eng…” bingungnya malah jadi gagu.

“Pak Aseng rumahnya di Mabar, kan?” bukanya dan kami mulai ngobrol ngalur-ngidul.

Aku menangkap kalo ia hanya ingin mengakrabkan diri denganku lewat obrolan ini. Mungkin dengan begini, ia bisa mengenal bagaimana kepribadianku dan mengenalkan dirinya lebih jauh.

“Jadi anak pak Aseng udah dua?”

“Iya… Masih kecil-kecil… Anakmu berapa?” tanyaku balik.

“Belum ada, pak…” jawabnya pendek saja.

“Belum ada? Udah berapa lama nikahnya?” tanyaku mencoba mengoreknya. Di tradisi Indonesia, menanyakan hal yang sangat pribadi ini masihlah sangat lazim. Tapi jangan coba-coba melakukan ini sama bule ato orang asing, ya?

“Udah tiga tahun, pak… Ada sedikit masalah… Dikit…” katanya dengan gestur tangan merenggangkan jari telunjuk dan jempolnya untuk faktor ‘sedikit’ masalah yang dialaminya.

“Oh… Kurang subur, ya?” tebakku asal aja. Biasanya memang itu masalah yang sering terjadi pada pasangan yang terlambat mendapat keturunan. Yang kedua adalah karena ada gangguan kesehatan seperti kista dan semacamnya.

“Bukan itu, pak… Kami gak bisa… Kami gak bisa melakukannya, —pak…” ia mengatakannya dengan sangat pelan.

“Gak bisa? Gak bisa melakukan apa? Gak bisa gini —maksudnya?” kataku menggesek jari telunjukku di meja kerjaku ini. Di Medan sini kadang kode untuk kimpoi ato ML ato ngentot-lah kita katakan adalah dengan cara menggesekkan jari telunjuk ke permukaan apapun. Bisa di meja seperti yang kulakukan atopun pada permukaan lainnya.

“I-iya, pak…” jawabnya menunduk malu.

“Kenapa gak bisa pulak? Kuliat sehat-nya kau… Gagah… Keren… Masa gak bisa kau keban (hajar) binikmu? Apa kurang cantik binikmu? Jadi gak bisa ngaceng burungmu?” tanyaku malah jadi makin akrab dengannya dengan mengajukan pertanyaan yang sangat privat begini.

Hendra membuka HP miliknya dan menyerahkannya padaku.

“Aih-mak! Cantik kali binikmu… Makjang! Cemana kou gak bisa ngeban binikmu yang cantik kali kek gini? Sakit apa kou rupanya?” heran kali kutengok orang satu ini. Kalo istri secantik itu dibiarkannya tak terjamah apa aja yang mereka lakukan selama tiga tahun ini.

“Aku gak tau pasti pulak, pak masalahnya apa? Gak mau naik pidong (burung)-ku walo udah telanjang bulat dia depan mataku… Kalo aku nonton bokep di HP… bisa naik ‘dia’, pak…” jelasnya.

Aku melongo mendengarnya. Ada masalah kek gitu, ya? Baru dengar pulak aku. Aku dulu waktu masih remaja, nengok betis cewek mulus dikit aja bisa ngaceng kemana-mana. Sekarang-sekarang aja udah berumur dan lelah jadi agak berkurang. Dulu waktu remaja, aku bisa kerepotan karena seminggu bisa 2-3 kali mimpi basah karena gak tersalur.

“Yang saket-nya kou ni, Ndra… Nonton bokep ngaceng… nengok binik telanjang gak ngaceng… Jadi masih perawan jadi binikmu-lah ya?” tembakku langsung. Itung-itung dengan begini ia mau menceritakan masalahnya

“Udah enggak, pak… Kucucuk pakek kontol-kontolan dulu, pak… Abis udah ‘on’ kali dia waktu kukobel… Pidong-ku gak naek-naek… Kalo binikku lagi pengen kali… kami biasanya pake strap-on itu…” jelasnya.

Penis palsu yang biasa dipakai pasangang lesbi untuk memuaskan pasangan wanitanya. Pantas aja biniknya gak bunting-bunting sampe sekarang, maennya pake kontol palsu.

Kimak! Aku jadi membayangkan tubuh telanjang Hendra dengan penis layu sedang memakai strap-on menggantikan fungsi pidong-nya yang tak mau ngaceng. Cepat-cepat kuhapus visualisasi tak pantas itu dari imajinasiku dengan penghapus imajinerku. Ngotor-ngotorin imajinasi aja.

“Paok-paok…” aku ngedumel sendiri membayangkan kalo masalah seperti itu menimpaku.

Amit-amit jabang berbie, deh ciin. Eh… Makanya si Hendra ini jadi bucin kali-lah di depan biniknya karena kelainannya ini. Ini jatuhnya kelainan. Nafsunya ada. Menggebu-gebu malah. Tapi pidong sama otaknya gak sinkron kerjasamanya. Otaknya gak memberi instruksi yang tepat pada kemaluannya agar ereksi.

“Eh… Apa mungkin kao dikerjain orang ya, Ndra?” cetusku out of the blue.

“Aku pikir juga gitu, pak… Udah ada sekitar 5 orang pintar sama dukun yang kudatangi, pak… Tapi kata mereka gak ada… Dikasih juga obat-obat herbal kek jamu gitu… Tapi gak ada yang ngaruh… Jadi kami gini-gini aja, pak…” katanya dengan mimik sedih. Gajinya tinggi, tongkrongannya gagah tapi gak bisa mencoblos istri dengan benar. Ia patut sedih. “Binikku ngancam kalo aku gak kunjung berubah… dia mau menggugat cerai, pak…”

Waduh… Sadis. Sekedar jadi bucin gak mampu melunakkan hati biniknya. Malah bakal digugat cerai. Gila lu, Ndro. Salah orang! Kacian kau, Ndra. Ini menjelaskan prilakunya yang mendadak inferior di telpon malam itu saat biniknya minta dibelikan martabak. Hendra yang sangat bangga dengan jabatan dan posisinya di SPBU ini ternyata keok di ranjang.

“Awak turut prihatin-la, Ndra… Tapi kao sama sekali gak tau apa penyebabnya? Entah masalah psikologi ato ada trauma-trauma gitu?” kataku baru teringat. Hal begini mungkin bisa terjadi begitu.

“Udah, pak… Aku udah datang ke psikiater seksologi segala… Udah dihipnotis juga mana tau ada trauma atau ingatan masa kecil yang membuatku jadi begini… Bersih tidak ada apa-apa… Waktu lajang aku normal, pak… Nakal-nakal anak muda-lah, pak ceritanya… Normal aku, pak… Bisa kukeban cewek-cewek itu… Ntah apa dosaku, pak?” katanya murung. Senget (miring) otak orang ini. Dikiranya seks sebelum nikah itu gak dosa apa? Paok jugak kao!

“Apa di Mabar bapak ada kenalan untuk kusuk (pijat) atau ngobatin penyakit kek gini, pak?”

“Gak ada pula kenalanku kek gitu, Ndra… Kalo tukang nyambung patah tulang ada… Gak ada, Ndra…” kataku sembari mengetuk-ngetuk daguku yang mulai ditumbuhi janggut pendek.

“Pak Aseng percaya sama hakekat mimpi, gak?” tanyanya tiba-tiba.

Mimpi? Apa lagi ini? Ada nyerempet mimpi-mimpi lagi. Aku menggeleng. Aku diajarkan untuk tidak percaya apapun selain Tuhan walo aku jarang-jarang menyembahnya. Agama KTP, biasalah. Lalu ia berceloteh tentang mimpi yang akhir-akhir ini yang sering menghiasi tidurnya bareng sang istri.

Awal-awalnya ia menemukan istrinya yang sedang bersenggama dengan pria lain di dalam mimpi. Pria itu lelaki asing yang tak mereka kenal sama sekali. Saat pria itu sedang menggenjot istrinya, pidong-nya bisa ngaceng dengan sempurna.

Ia merasa sangat terangsang sekali di dalam mimpi itu hingga ia bisa melakukan threesome dengan istrinya dan pria asing itu. Ia bisa bersenang-senang bareng istrinya dengan bombastis dengan keberadaan pria asing itu.

Bangun tidur, kedua suami istri bermasalah ini dalam keadaan ngos-ngosan seperti habis bersenggama betulan. Hendra bahkan ngecrot mimpi basah, istrinya juga demikian. Sang istri juga mengalami mimpi yang sama persis dengan suaminya. Aneh bin edan.

Mimpi ini berlangsung berulang-ulang sampai beberapa kali di waktu tidur malam. Mereka hanya bisa bersenang-senang di dalam mimpi. Pria asing itu juga menjadi objek seksualitas mereka yang hampir virtual karena maya di alam mimpi. Cari-cari dan akhirnya ketemu.

“Awalnya aku gak mau percaya kalo itu orang yang sama seperti di mimpi kami, pak… Tapi kemudian dia muncul lagi dan menjadi… pak Aseng…”

Panjang kali lebar kali tinggi ia ngebacot dan akhirnya yang kutakutkan menjadi kenyataan juga. Curhatnya ini untuk memberitauku kalo aku sudah menjadi objek seksual pasangan suami istri bermasalah ini. Ia menghabiskan waktu setengah jam berhargaku untuk menjebakku dalam situasi pelik semacam ini.

Aku hanya bisa terduduk bersandar di kursi direktur ini. Memandanginya lekat-lekat. Memastikan kalo si bangsat kimak ini tidak lagi nge-prank aku. Entah bentar-bentar lagi ada kamera yang ditunjuknya, telah merekam semua ekspresiku yang telah dipancing dengan kecantikan biniknya.

Lama kami terdiam. Ada sekitar 5 menit dan sekarang sudah jam 10 malam lewat. Aku seharusnya pulang dari tadi.

“Aku sempat curi-curi mengambil gambar pak Aseng dan mengirimkannya pada istriku… Dia-pun positif pria asing itu adalah pak Aseng…” ia menambahkan fakta baru.

Jadi waktu itu, sewaktu ngobrol dengan ajo Mansur, pak Alex dan Vony di sini, ia baru saja mem-fotoku dan mengirimkannya ke biniknya. Lalu kilatan flash waktu menuruni tangga itu juga.

“Trus… Gimana? Kau maunya gimana?” tanyaku agar tak terdengar antusias.

“Aku dan istriku mau minta bantuan sama pak Aseng… untuk mewujudkan mimpi itu menjadi nyata, pak…” katanya sebenarnya ragu-ragu.

Tentu aja orang ini harus ragu. Kalo sekedar minta naek gaji, itu perihal biasa. Tapi permintaannya sangat ganjil, nyeleneh, gila bahkan sembrenget. Tau arti sembrenget di Medan. Itu untuk menggambarkan keadaan yang udah kacau sekali.

Gak ada uang tidur di rumah, ada uang tidur di paret/parit. Ini contoh untuk peminum miras kelas berat. Itu kategorinya termasuk sembrenget. Tambahi sendiri contoh lainnya untuk mengepaskan kata sembrenget ini.

“Threesome denganmu dan istrimu… seperti di mimpi kalian itu?” ulangku menyimpulkan.

Hendra mengangguk sekali dengan cepat dan dalam. Pelan-pelan aku melipat tanganku di bawah dada dan bersandar lagi setelah sempat agak maju tadi.

“Mau ya, pak?” bujuknya.

“Gini, Ndra… Tawaranmu sebenarnya sangat menarik… Apalagi istrimu cantik dan seksi kek gitu… Laki-laki manapun pasti gak mikir panjang nerimanya dengan senang hati… Bahkan mungkin membayar lagi padamu untuk menjamah barang bagus begitu… Tapi aku atasanmu, Ndra… Dimana nanti harga dirimu kau membiarkan aku, pria lain menyentuh istri cantikmu itu… Gak usah bilang kalo aku juga tersinggung ditawari ginian, ya… Gak usah mikir itu… Aku anggap ini cuma khilaf aja dan gak pernah terjadi… sama sekali…” aku menekankan pada kata ‘sama sekali’. Semoga dia mundur.

“Tapi aku sangat mencintai istriku, paak… Aku gak bisa kehilangan diaa… Dia udah ngancam-ngancam masukkan berkas ke pengadilan agama, pak…” mewek juga akhirnya pria gagah ini.

Hilang sudah kewibawaannya di hadapanku. Ia menangis tersedu-sedu menceritakan bagaimana perjuangannya mendapatkan hati wanita pujaannya ini sampe jungkir-balik peras keringat bahkan banjir air mata dan darah. Setidaknya darah perawan aja. Ia tetap bersikeras.

Hendra sampe bangkit dari duduknya dan memeluk kakiku. Untungnya malam ini hanya ada kami berdua di kantor ini. Hanya ada karyawan lainnya di lapangan melayani pelanggan 24 jam non-stop. Ia memohon-mohon dan terus memohon agar aku mengabulkan permintaan mereka berdua.

“Aku rela gak digaji satu tahun, paaakk… Mau ya, paak?” rengeknya kek bocah minta beli bombon/permen.

“Hendra… Jangan terlalu percaya sama mimpi itu… Kalian bisa tersesat gak karu-karuan nantinya… Udahlah… Usaha aja terus berobat… Nanti aku bantu nyari info pengobatan, ya?” kataku menepuk-nepuk bahunya.

Jijik juga jadinya. Udah kek mau diserodoknya Aseng junior-ku di posisinya ini yang memeluk sebelah kakiku memohon-mohon aku ikut dalam kimpoi gila bertajuk threesome. Seks threesome gak asing denganku, aku kerap melakukannya dengan kak Sandra dan Dani.

Apalagi kehadiran ajo Mansur saat aku memerawani ketiga istri cantik, ukhti-ukhti ber-hijab itu. Itu sudah termasuk threesome walo tanpa sepengetahuan sang wanitanya. Aku sangat familiar dengan sensasinya. Sangat spektakuler bagi kelenjar adrenalin yang terpompa mancar deras memberi rasa senang yang berlebihan.

“Hendra-Hendra suruh istriku kemari ya, pak… Biar bapak dengar juga kemauannya…” ia lalu men-dial HP-nya menelpon istrinya.

“Jangan, Ndra… Ah… Jangan kek gitu-la maennya… Hendra! Jangan!” desakku. Sepertinya nada sambung sudah terdengar dan tak lama langsung terangkat.

“Deek… kemari… Di atas…” heh? Perempuan itu ada di dekat-dekat sini? Kimak-kimak! Aku dijebak nih ceritanya.

Pake buka baju pulak perempuan itu nanti nekad. Tenang… Ada kamera CCTV di sekitar sini. Ini bisa jadi alibiku kalo mereka mau macam-macam. Abis itu baru di luar kuhajar! Biar gak ada saksi.

Gak lama terdengar suara klethak-klethuk suara high heel mencecah lantai keramik. Berarti perempuan itu menunggu di bawah dari tadi, menunggu untuk membantu ‘menguatkan’ permintaan suaminya barusan. Ia lalu masuk melalui pintu kaca yang terbuka dan aku terpana. Ini beneran perempuan yang sangat cantik.

Hendra gak kuat harus kehilangan seorang bidadari kek gini. Entah-pun si Hendra kimak ini memberondok-kan (ngumpetin) selendang dewi milik perempuan ini supaya gak bisa balek ke kahyangan. Menghadapinya secara langsung begini, lebih-lebih dari fotonya. Jauh lebih… cantik.

“Deek… Ini yang namanya pak Aseng…” kata Hendra yang masih ngelesot di lantai memeluk kakiku.

Buru-buru perempuan itu berjalan mendekat. Payudaranya membal-membal saat ia berjalan dan tanpa bisa kucegah ia memeluk lenganku, menekankan dua buah gundukan kenyal itu padaku. Aku hampir meleleh karenanya. Merasakan kenyal dan lembut payudara kek agar-agar.

“Pak Aseeeng… Mau, ya?” bujuknya sangat luar biasa.

Suaranya merdu mendayu kek buluh perindu. Aku bukan bicara omong kosong. Kalo uda kenak pengaruh buluh perindu bisa lupa segala-galanya. Karena aku udah pernah kenak, dulu sekali tapinya. Apa itu Buluh Perindu? Itu adalah sebuah suling keramat yang mampu menyetir target yang ditujunya. (Buluh: bambu. Suling bambu)

Aku menahan nafas. Mengatur pancaran lini-ku agar tidak buyar oleh pengaruh negatif suara merdu merayu perempuan binik si Hendra ini. Kuhembuskan pelan-pelan lewat tekanan di bawah pusar. Pengaruh keseksiannya mulai memudar.

Aku menyadari, perempuan ini memiliki sejenis ilmu turunan yang dapat menyebabkan lawan bicaranya bertekuk lutut pada semua keinginannya. Masalahnya, apakah tau memiliki ilmu turunan ini? Ilmu semacam pelet ato pengasihan yang mungkin secara tak sadar ato sadar telah dipakainya berkali-kali.

Si Hendra pukimak itu mesem-mesem melihat istrinya sedang menggodaku. Ini sungguh sebuah keluarga yang sakit parah! Binik si Hendra ini trus mendusel-duselkan payudaranya tepat pada belahannya yang nemplok di lenganku. Bra yang dipakai perempuan ini cup-nya minim saja hingga mayoritas daging payudaranya menekanku erat.

“Kalian berdua bisa berhenti NGGAK?!” sergahku tegas.

Sepasang suami istri itu terkesiap sadar, melepas dekapannya pada masing-masing apapun yang mereka dekap. Tapi tetap tidak menjauh.

“Kalian berdua duduk di situ…” tunjukku pada kursi-kursi yang ada di depan meja kerjaku ini. Patuh mereka menurut dan duduk manis menunggu.

“Paak…”

“Sit babam mi!” (diam mulutmu) potongku lagi agar gak ada yang merengek-rengek lagi. Kutunjuk-tunjuk hidung kedua orang yang kuanggap sudah kurang ajar.

“Klen dua tau apa yang akan kejadian kalo klen melakukan threesome gilak kek gini?”

Keduanya menggeleng.

“Kehidupan rumah tangga bisa-bisa menjadi aneh… karena ada orang lain yang harus selalu ada di tengah-tengah klen… Harus ada orang lain yang membuat klen puas… secara seksual ato perasaan… Kau, Hendra… Kau merasa harus ada ada laki-laki lain saat kau mau mencampuri istrimu ini…”

“Paak… Ini belum apa-apa udah naik, paak…” kata Hendra dengan paoknya menunjuk selangkangannya yang memang menggembung naik. Paok! Begok! KIMAK! Istrinya juga ikut ngeliat tonjolan di selangkangan Hendra dengan antusias. Wajahnya berseri-seri melihat itu semua.

“Ih… Iya, bang… Naek…” kata sang istri yang menurutku juga sama-sama paoknya.

Entah apa yang tadi dipikirkan Hendra hingga kontol paoknya bisa ngaceng di keberadaanku. Awas aja kalo dia mikir macam-macam samaku, kupecahkan kepalanya! Perempuan itu bertindak hal yang lebih paok lagi. Diturunkannya restleting celana Hendra dan merogoh ke dalam, mengeluarkan batang tegang kontol suaminya dari dalam sana dan menggenggamnya erat dengan mimik kagum.

“Wah… Bang?… Besar… Besar juga burung abang… Mmbb!”

Aku gak pernah menyangka malamku akan menjadi seperti ini. Di depan mataku aku melihat sepasang suami istri itu melakukan hal yang seharusnya biasa aja kalo mereka lakukan berdua. Gak biasa karena mereka membiarkanku menyaksikan ini juga.

Kenapa harus melibatkanku yang harus berada di sekitar mereka? Si istri cantik yang bahkan ku tak tau siapa namanya kini sedang menggelomoh rakus penis suaminya. Ia memuji-muji terus penis suaminya yang keras dan menegang maksimal.

Hendra meringis-ringis menikmati permainan mulut istrinya yang memanjakan kemaluannya. Pria itu meremas-remas rambut indah dengan perawatan mahal itu. Sang istri duduk bersimpuh di depan kaki Hendra yang membuka lebar, duduk di kursinya. Kenapa pulak aku harus menonton kegiatan gila kedua orang ini?

“Loh, pak? Jangan pigi, pak… Liat ini?” henti Hendra demi melihatku yang sudah melangkah keluar dari ruangan kaca tempat kerjaku di gedung kantor SPBU ini. Kontol paoknya itu lunglai tak berdaya, layu tak bertenaga.

“Di sini aja, pak…”

“Klen kalo gilak, gilak aja sendiri… Gak usah ngajak-ngajak orang-la…” kataku kesal campur gak perduli juga.

“Saya rasa… burung bang Hendra cuma bisa naek kalo ada bapak-la, paak…” kata perempuan itu.

Ia menggoyang-goyang penis suaminya yang mengecil dan semakin kecil sehingga lebih mirip titit anak-anak. Agak lebih besar dikit aja dari punya Rio.

“Dek buka, dek!” kata Hendra gak sabar.

Aku jelas kaget mendengar kata-kata itu barusan walopun aku ada satu meter dari pintu kaca yang kubuka lebar. Sepertinya ia ingin membuktikan sesuatu yang ia sangat yakini. Istri paoknya itupun ikut mendukungnya.

Walopun jauh, aku bisa meliat bagaimana perempuan istri Hendra itu mengupas satu persatu pakaian yang melekat di tubuhnya. Tapi maaak! Indah nian tubuh perempuan yang sudah diperawani Hendra dengan paoknya pake kontol palsu itu.

Payudaranya besar bulat indah dengan kulit indah terawat bersih. Kakinya jenjang panjang dengan paha dan betis mulus. Dan… Kimak! Jembutnya di-trim berbentuk hati hanya di bagian atas aja dan plontos di sekitar vagina mulus menggemaskannya. Aseng junior-ku menggeliat bangun meliat mataku menyaksikan pemandangan indah itu. Kok bisa cepat kali kau konek junior? Gak bisa pulak kau diajak kedan (kawan).

“Liat kan, pak? Udah kek gini telanjang binikku… gak bisa naek pidong-ku… Tapi bapak bisa naek dengan cepat… Itu normalnya, pak…” kata Hendra membuatku jadi ikut-ikutan paok dengan mereka berdua ini.

Aku maju untuk masuk untuk melihat dengan jelas bodi yahud istri Hendra yang berdiri dengan bangga menampilkan tubuhnya di depanku dan suaminya. Aku jadi ketularan sakit jiwa dengan begini juga.

Begitu aku melewati pintu, perlahan kontol paok si Hendra pukimak itu menggeliat bangun dan ngaceng lagi kek seharusnya. Ngaceng sengaceng-ngacengnya. Kan kimak ini namanya. Kek bisa dimain-mainkannya kontol paok itu. Aku mundur lagi…

Kontol pukimak itu layu lagi. Bujang nginam! (Meki mamakmu! Di kalangan warga Tapanuli, makian ini sangat kasar, bisa berujung bacok-bacokan. Kalo ada nyali, coba aja) Jadilah kumainkan kontol pukimak si Hendra itu dengan maju mundur cantik.

Alhasil kontolnya naik turun kek di-fast forward dan di-fast rewind di player video. Gelik pulak kurasa jadinya. Gimana kalo aku goyang poco-poco? Kontolnya pasti ikut goyang juga. Paok! Balenggang pata-pata…

***

Si Hendra paok itu sedang turun ke lantai bawah untuk mengunci semua pintu masuk ke dalam bangunan kantor berlantai tiga ini. Sementara aku sedang berusaha menulis sebuah dokumen penting ini. Buru-buru saja dengan sederhana ditulis tangan yang penting dibubuhi materai secukupnya. Kenapa kukatakan ‘berusaha’ karena perempuan bernama Miranda ini sedang duduk dipangkuanku.

Tadi si Hendra pukimak itu dengan riang langsung menuju ke bawah untuk mengunci pintu begitu aku setuju untuk ikut permainan gila mereka. Perempuan itu yang mengenalkan dirinya bernama Miranda langsung menemplok-kan pantat semok lagi padatnya ke pangkuanku. Mendusel-duselkannya ke Aseng junior yang sudah ngaceng akibat display tubuhnya yang prima fantastica metallica nirvana! Tetek padatnya juga.

Dibisikkannya “… suka? Ini 34D, loh…” tubuh selangsing model ini punya tetek bulat padat sebesar itu.

Mukaku jadi peyot-peyot dijejali tetek 34D itu. Puting yang menjadi senjata tumpulnya, mengores-gores tak berbahaya kulitku, lebih berbahaya pada nafsuku.

“Bapak lagi nulis apa, sih?”

Kuserahkan secarik kertas itu padanya untuk dibaca dulu sebelum lakiknya naik. Disimaknya kertas itu dengan cara yang sangat kurang ajar enak. Tadi cuma duduk nemplok di pangkuanku, sekarang duduk melingkarkan kakinya mengangkang menghadapku.

Alhasil tetek bulatnya tepat jatuh di depanku. Diarahkannya agar putingnya tepat terarah pada mulutku yang otomatis membuka dan menyambut pentil serupa permen gak berasa ini. Mulutku tanpa sadar mulai mengenyot-ngenyot tetek bulat Miranda dengan rakus. Dibacanya kertas yang baru kutulis tadi di belakang kepalaku yang dibekapnya.

“Yang bertanda tangan di bawah ini dengan secara sadar dan tanpa paksaan dari pihak manapun melakukan perjanjian sebagai berikut:

1. Pihak pertama (Nasrul/Aseng) dan pihak kedua (Hendra dan Miranda) berjanji tidak akan melibatkan perasaan di hubungan ini. Tidak akan ada hubungan yang lebih jauh dari pada saling tolong-menolong di kerjasama ini.

2. Pihak pertama (Nasrul/Aseng) dan pihak kedua (Hendra dan Miranda) berjanji tidak akan membicarakan hubungan ini pada pihak lain selain kedua pihak di atas. Semua pembicaraan di luar kedua pihak ini sudah dianggap sebagai pelanggaran perjanjian. Murni rahasia untuk kedua pihak di atas.

3. Pihak pertama (Nasrul/Aseng) berjanji tidak akan menuntut hak dan kewajiban apapun kepada pihak kedua (Hendra dan Miranda) atau sebaliknya apabila kelak ada anak/janin/bayi yang timbul dari hubungan ini. Semua hak dan kewajiban tersebut akan jatuh pada pihak kedua (Hendra dan Miranda).

Demikianlah perjanjian ini dibuat dengan sebenar-benarnya dan berlaku efektif mulai hari ini.

Yang bertanda tangan,

Medan, tanggal ZZ, bulan YY, tahun 20XX

Nasrul/Aseng (Pihak Pertama) Suhendra {Materai Rp.6000} Miranda (Pihak Kedua)…” baca Miranda sambil terus membiarkan teteknya kekenyot dengan rakus juga kuremas-remas. Ia sesekali juga mendesah-desah kegelian dan keenakan.

“Perlu ya, pak perjanjian seperti ini?” tanya Miranda dengan tubuh bergidik geli karena pentilnya kugigit pelan. Ia menggoyangkan pantatnya yang menghimpit Aseng junior yang kejepit selangkangannya yang hangat padat. Aku juga merasakan lembab di tengahnya.

“Ya… Orang-orang kek kalian ini harus dikasi batas agar gak ngelunjak…” kataku yang ntah kapan mulainya sudah meremas-remas pantat perempuan itu.

“Apa kau sudah sering melakukan ini sama orang lainnya? Sori aja kalo nanyanya kek gitu… Keknya Miranda dah biasa binal begini…” tanyaku lalu membenamkan mukaku di teteknya lagi. Membaui aroma wangi kulit payudaranya.

“Isshh… Uhh… Enggak ya, paak… Nggak pernah awak kek gini sama laki-laki selain suamiku… Baru sama bapak aja ini yang pertama… Apalagi udah terbukti… burung suamiku bisa kikuk-kikuk kalau ada bapak Aseng… Mmhh… Enak, paak…” katanya membelai rambutku.

“Cem mana, dek?” tiba-tiba si Hendra kimak itu udah ada di sini aja.

Hampir aku menyumpahinya jadi ganjalan ranjang lonte Belinun Jaya (Hotel esek-esek lejen di dekat Sambu). Kek gak berdosa mukaknya cengar-cengir ngeliatin aku sedang ngenyotin tetek biniknya sementara ia mengocok kontolnya sendiri yang tegang. Paok kali kurasa orang ini. Saket parah.

“Ini bang… Pak Aseng m’buat surat perjanjian ini… Baca dulu-lah, bang…” kata Miranda menyerahkan secarik kertas itu sementara aku masih dengan putingnya yang masuk ke dalam mulutku, kusedot-sedot rakus.

Ia menjejalkan terus kedua teteknya padaku karena ia pun merasakan enaknya. Didekapnya kepalaku dengan erat agar tak meleset. Pantatnya yang telanjang juga tak henti digesekkan ke selangkanganku yang masih memakai celana lengkap.

Aseng juniorku sudah tegang se-mantap-mantapnya dibalik itu semua. Kimak kali dua orang ini. Gara-gara kebodohanku sendiri aku terjebak di situasi aneh ini.

“Ini pak… Udah kutanda tangani… Kau juga, dek…” Hendra meletakkan surat perjanjian itu di tepian meja di belakang istrinya. Miranda dengan mudah berakrobatik memutar badannya sebatas pinggang dan menanda tangani surat itu di atas namanya.

Lalu dengan puas, ia berbalik dan menyerahkan pena itu padaku untuk bagian tanda tanganku. Mau gak mau aku harus ikut tanda tangan karena aku yang menulis surat perjanjian ini sendiri. Bak menjilat tokai sendiri kalo aku kebacot dan menolak tanda tangan sementara kedua orang ini gak ada ragu sama sekali.

Tanpa melepas tubuhku dari pelukannya, Miranda membiarkanku melakukan bagianku dalam perjanjian ini. Kepalaku nongol dari samping lehernya dan tangan kananku yang akan menggoreskan tanda tanganku mencuat dari balik ketiaknya. Sret-sret… langsung kuambil surat perjanjian itu dan kumasukkan ke dalam laci langsung kukunci.

“Udah bisa kita mulai ini, pak?” tanya Hendra yang sumringah karena keinginannya kesampaian.

Aku hanya mengangguk pelan. Mendapatkan jawaban itu, Miranda turun dari pangkuanku dengan posisi mengangkang, didorongnya kursi yang tadi dipakainya bersama-samaku agar ada ruang berlebih dengan meja kerja.

Cekatan tangannya melepas sabuk ikat pinggangku, menurunkan restleting celana panjangku, menarik celana beserta sempakku sekaligus hingga melorot sebatas pahaku. Aseng junior mencuat melompat senang hampir menampar wajah cantiknya. Miranda kagum dengan ukuran penisku yang sedikit lebih besar dan gemuk dibandingkan milik suaminya.

“Oop-mak… Besar, paak?” Digenggamnya penisku dengan jari-jari lembutnya.

Tangannya terasa halus kek anak gadis gak pernah disuruh kerja berat sama ortunya. Pelan-pelan dikocoknya Aseng junior dengan seksama dan memperhatikan reaksiku. Lidahnya menjulur dan menyentuh lubang kencingku. Rasanya geli sekali. Miranda tau betul apa yang sedang dilakukannya.

“Miranda… Apa kau ada darah turunan Dayak atau semacamnya?” tanyaku.

Aku mendengar suara burung Enggang Gading itu lagi. Aku bahkan sudah bisa mendengar suara teriakan khas dan kepakan sayap lebar agungnya. Ia terbang mendekat menghampiriku.

“Ada… Kenapa, pak?” mulai mengocop (sedot) Aseng junior-ku kemudian. Lidah dan isi mulutnya menari-nari memanjakan Aseng junior-ku. Enak rasanya. Dari sini rupanya dia berasal.

***

Berkubang dalam satu skandal baru lagi nih aku ceritanya. Sepasang suami istri nyeleneh ini menyeretku dalam gelimang kehangatan satu sensasi seksual bernama mentereng Threesome.

Satu objek perempuan dalam hubungan seks ini adalah Miranda yang merupakan istri cantik dari Suhendra, sang suami yang memohon padaku (bareng istrinya juga) agar bersama-sama dengannya menggarap istrinya karena ketidak mampuannya untuk ereksi bila hanya berduaan saja dengan istrinya.

Anehnya, dengan keberadaanku di antara mereka, Hendra bisa ngaceng dengan sempurna.

Sempat terpikir, jadi kalo orang ini berdua mau ngentot lagi kapan-kapan aku harus hadir-lah ya? Kan paok namanya. Harapanku gak seperti itu karena sepertinya penyebab semua masalah ini ada di depanku. Sedang terbang membumbung tinggi sesuai dengan kodrat dan kebiasaannya.

Ia membawaku ke habitatnya yang sepertinya salah. Hutan aneh dengan tiang-tiang kayu dengan diameter sepelukan orang dewasa, setinggi tower sutet lurus menunjuk langit terang, dalam kondisi yang puncaknya terbakar.

Benar terbakar pada bagian puncaknya. Burung Enggang, apapun jenisnya selalu bertengger di puncak tertinggi hingga bagi masyarakat tradisional Kalimantan, Dayak khususnya dianggap sebagai pemimpinnya para hewan dengan julukan Panglima Burung.

Di kondisi ini, bagaimana ia bisa bertengger di puncak tiang itu kalo dalam keadaan terbakar sedemikian? Jadi selama ini, ia terbang dan terbang terus menerus tanpa bisa bertengger sekedar mengistirahatkan sayapnya yang hitam berbulu tebal mengagumkan karena semua tiang-tiang ini terbakar.

Samar-samar aku bisa melihat puncak tiang-tiang kayu yang terbakar itu. Seperti ada semacam tenggeran berbentuk huruf T di pucuk tiang yang memungkinkan burung langka itu hinggap. Apa ada hubungan antara terbakarnya puncak tiang-tiang ini dengan terbakarnya pucuk pohon kelor-ku di rumah waktu itu.

Aku harus bisa berkomunikasi dengan burung ini tetapi bagaimana caranya. Aku sama sekali tidak bisa bercakap-cakap dengan hewan. Spesialisasiku adalah tumbuh-tumbuhan hingga aku bisa berkomunikasi dengan pohon beringin yang ternyata siluman pohon beringin di kasus Pipit waktu itu.

Kalo berurusan dengan hewan itu bagiannya Kojek. Eh tunggu dulu… burung Enggang Gading itu melayang turun dari ketinggian. Burung agung ini sangat pilih-pilih sehingga urusan makanpun ia tidak pernah turun ke tanah. Jadi seumur hidupnya ia tidak pernah mengotori kakinya dan mencari makanan di pepohonan saja.

“Wusshh!” ia terbang menyambarku.

Ia seharusnya bisa melukaiku dengan sabetan kuku tajamnya tapi ia melewatkan kesempatan itu dengan menarik kuku panjang nan tajam itu pada waktunya. Ia terbang ke atas lagi tetapi tidak cukup tinggi. Terdengar suara khas tuut tuut-nya.

Kenapa aku gak merasakan hawa permusuhan atau kejahatan dari burung itu? Ia bisa melukaiku, tetapi tidak dilakukannya. Apalagi langit lingkungan kekuasaannya ini terang benderang yang artinya ia tidak bergolongan hitam. Apakah ia bermaksud melakukan kontak untuk berkomunikasi denganku? Tapi bagaimana caranya? Apakah aku harus menyerahkan tanganku untuk tempatnya bertengger?

Kuberanikan diri itu mengangkat tangan kananku dan menekuk siku ke dalam hingga menyilang di depan kepalaku. Burung Enggang itu meluncur turun lagi. Beberapa meter di depanku ia memperlambat lajunya dengan mengepakkan sayapnya dan menjulurkan kakinya seperti hendak mendarat.

“Fwap Fwap Fwap!” terasa angin keras dan padat menerpaku dari kepakan sayapnya yang besar dan berat berkat bulu tebalnya. Cengkraman kuku sepasang kakinya terasa menggigit tanganku, sakitnya hampir mirip kek dulu digigit harimau walau cuma latihan.

Mendarat di tangan kananku, burung Enggang itu memposisikan sayap-sayap lelahnya untuk beristirahat. Sudah berapa lama ia terbang seperti tadi. Bertahun-tahun? Ia bersuara membuka paruhnya lebar-lebar seolah lega ia akhirnya menemukan tempat bertengger.

“Tuut Tuuut Tuuut… TUUK!” Suaranya yang keras menggema di tempat ini.

Yang menyebabkan burung ini menjadi langka adalah tonjolan jenong di dahinya yang padat setara gading gajah. Konsumen gelap utama pemesan gading burung Enggang Gading ini berasal dari Cina.

Dari sejak jaman dulu sudah diincar karena kepadatannya gading di dahinya itu. Ia mengerak-gerakkan bulu ekor panjangnya berwarna hitam-putih itu dan meregangkannya juga.

Yang namanya ditongkrongi burung asing apalagi supranatural begini tentunya harus hati-hati yang ekstra. Ditambah lagi memang aku dan kedua temanku memang sudah sering diwanti-wanti agar jangan pernah percaya dengan mahluk-mahluk seperti ini makanya kami bertiga dalam Trio Ribak Sude tak ada satupun yang punya mahluk Menggala ato menjadi Menggala Suba dengan mengambil mahluk-mahluk sakti semacam ini.

Lazimnya memang hewan seperti inilah yang digunakan dalam perjanjian Menggala Suba. Tapi aku cukup dengan dua temanku itu saja, begitupun dengan mereka berdua. Burung Enggang Gading memandangiku dengan mata bulat hitamnya.

“Burung agung sang Panglima Burung… Apakah ada yang ingin kau sampaikan pada anak?” tanyaku sesopan mungkin.

Mungkin umur burung jauh lebih tua dariku. Lebih sopan dan beradab lebih baik walo tak meninggalkan kewaspadaan sedikitpun. Burung Enggang Gading mempererat cengkramannya pada tangan kananku sampe aku khawatir kalo kuku tajamnya akan menusuk kulit dan ototku.

“Bawa aku keluar dari sini, wahai anak manusia… Tempat ini sangat tercemar… Aku tidak suka berada di hutan ini… Panas oleh sentimen sifat buruk…” katanya sangat tak terduga. Ia menciptakan semacam sambungan langsung agar bisa berkomunikasi denganku.

“Siapakah sang Panglima Burung sebenarnya? Kenapa ada di dalam tubuh anak perempuan ini? Apakah ada hubungannya dengan hutan yang terbakar ini?” kuberanikan diri untuk bertanya padanya. Tapi apakah ia mau menjawab rombongan kek gitu ya? Harusnya satu-satu kutanya tadi. Buru-buru jadi alasan karena penasaran.

“Aku adalah pelindung anak perempuan ini… Aku turun temurun melindungi anak perempuan terakhir dari keluarganya yang merupakan penjaga api hutan di sekitar hutan kekuasaanku dulu… Ia diambil anak oleh orang luar dan sampai di sini sejak masih merah… Sayangnya keluarga baru tapi culas ini malah bermaksud menumbalkannya pada ritual sesat untuk memperkaya diri di puncak gunung… Aku tetap melindunginya tetapi hutanku malah berubah menjadi seperti ini… Hanya tonggak kayu yang terbakar… Aku lelah sekali… Harus terus menerus terbang tanpa bisa mendarat…” jelas burung Enggang Gading itu lumayan lebar. Suara wibawa maskulinnya enak didengar.

“Lalu kenapa Panglima Burung menyerang pagar ghaib di rumahku?” tanyaku tembak langsung. Bisa-bisa tanganku benar-benar koyak abis ini.

“Aku tidak menyerang pagar ghaib-mu… Aku menyerang sesuatu yang membakar sudut pagar ghaib itu… Api-api inilah yang keluar dari puncak tonggak kayu dan menyerang pagar ghaib-mu… Kukejar dan sampai di daerah kekuasaanmu… Hatur maaf bila anak manusia menjadi salah sangka…” jelasnya. Oo… Jadi gitu ceritanya.

“Panglima Burung yang memadamkan api dari sudut pagar ghaib-ku?… Siapa yang mengirim api itu? Apakah perempuan lindungan Panglima Burung ini?” tanyaku.

Sebenarnya tak ada tersangka lain. Miranda punya kemampuan walopun mungkin tak disadarinya. Mungkin dia sendiri juga dengan kemampuannya ini jadi penyebab Suhendra sedemikian rupa anehnya gak bisa ngaceng.

“Maafkan dia, anak manusia… Dia tidak tau apa yang telah dipikirkannya… Dia sudah terlalu dimanjakan dengan kemudahan hidupnya… Setelah sebenarnya gagal dijadikan tumbal di puncak gunung itu… keluarga baru culasnya ini malah mendapat berkah yang berlimpah di bidang materi… sehingga keluarga barunya ini menganggap kalau-lah ini semua sebab anugrah anak perempuan ini… Ia mendapat segala kesenangan hidup karena anggapan itu… Segala keinginannya harus dipenuhi hingga ia menjadi anak manusia yang manja dan egois yang harus dituruti semua maunya… Anak manusia sudah merasakannya, kan?” jelas sang Panglima Burung. Wah… Ada yang seperti itu ya?

“Karenanya… sifat-sifatnya itu membentuk pepohonanku menjadi demikian ini… tonggak kayu tak berguna yang menyisakan sedikit tempat untukku bertengger tapi terbakar…”

“Jadi Miranda yang mengirim api itu secara tak sengaja?” simpulku.

Entah apa yang pertama kali dipikirkan Miranda saat itu. Saat itu pasti ia baru mendapatkan info mengenaiku dari suaminya, Hendra. Digoreng-goreng sedemikian rupa hingga muncul sepercik lonjakan saat suaminya kembali membahas masalah yang mereka hadapi dan menyerang pagar ghaib-ku tanpa sepengetahuan dia.

Miranda bahkan mengancam Hendra kalo dia gak bisa mendapatkan apa yang ia mau—entah tubuhku ato lebih jauh lagi anak, ia akan menggugat cerai. Emosinya saat pengungkapan itu kemungkinan pemicu api tersebut. Klop sudah.

Bahkan sesekali terjadi lonjakan emosi Miranda yang kembali menyerangku dengan api ini, ditandai dengan suara burung Enggang Gading ini yang bermaksud memadamkannya saat bersalaman dengan Vony. Tapi pagar ghaib-ku yang sudah diperkuat mampu meredam semua serangan sekarang.

“Maafkan dia dan hatur maaf juga dariku atas semua gangguan ini… Daripada itu… untuk menghentikan semua ini… aku mengambil keputusan untuk tidak lagi melindunginya dan keluar dari ikatanku…” ungkap burung yang agung ini. Ini sangat mengejutkan. Memutus ikatannya dengan Miranda? Apa bisa dilakukan dengan mudah sebelah pihak begitu. Tentu mekanisme perlindungan diri Miranda akan bereaksi keras.

“Apakah ikatan Panglima Burung dengan Miranda adalah ikatan perjanjian Menggala Suba? Setahu anak… perjanjian Menggala Suba sulit diputus sepihak saja…” tanyaku malah mengguruinya dengan pengetahuan dasar. Pastinya ia lebih paham masalah itu. Secara ia termasuk sesepuh dalam dunia supranatural yang kenyang asam garam dengan ratusan tahun pengalaman.

“Bukan anak manusia… Saat itu ia masih bayi merah… Sangat tidak pantas menjalin perjanjian Menggala Suba pada bayi merah… Aku hanya masuk ke dalam tubuhnya seperti juga ibu dan nenek-buyutnya sebelum dia… Ia membentuk sendiri jenis kekuatannya bersumber dariku… Kalau aku lepas darinya… sumber kekuatannya akan lepas jua… Api-api ini sebenarnya adalah kebalikan dari kekuatanku… Aku tidak mungkin membakar hutanku sendiri…” jelasnya. Aku mengangguk-angguk paham semua penjelasannya yang masuk akal.

“Jadi…. Bagaimana anak bisa membantu Panglima Burung keluar dari sini? Apakah ada tempat khusus yang Panglima Burung tuju… Hutan ato orang tertentu yang kira-kira cocok dengan sifat-sifat Panglima Burung?” tanyaku.

“Untuk sementara… aku memilih hutan kecil di daerah kekuasaanmu saja, anak manusia… Bukankah ada pohon-pohon besar disana…” katanya lumayan mengejutkan. Ia tau tentang taman kecilku dan ia memilih untuk ikut denganku.

“Tidak perlu melakukan perjanjian Menggala Suba… Aku tau anak tidak suka itu… Cukup seperti aku masuk ke keturunan anak perempuan itu saja… Kelak kalau ia mempunyai anak perempuan terakhir… aku akan kembali ke sana…” katanya.

Cukup adil kurasa. Keknya memang taman kecilku perlu sedikit penyegaran. Ada banyak buah-buahan di sana. Kalo burung ini yang makan tentunya gak apa-apa. Tamanku akan cepat berkembang luas menjadi hutan benaran dengan sumbangsihnya. Burung Enggang di habitatnya mendapat julukan petani hutan yang menyebarkan biji-bijian karena daya jelajahnya yang luas sampai puluhan kilometer radiusnya.

“Baiklah Panglima Burung… Anak bersedia menolong Panglima Burung… Apakah ada cara-cara tertentu?” tanyaku malah jadi antusias menyambut penghuni baru taman kecilku. Keknya seru ada burung besar terbang berkeliaran di puncak-puncak pohonnya.

“Tidak ada… Tapi sebagai tanda terima kasihku… Silahkan ambil tanda mata dariku ini… Ambil dari gading di keningku ini…” katanya lalu menundukkan jidat jenongnya itu dengan menekuk leher panjangnya hingga kepala beratnya condong ke arahku. Tanda mata?

Karena hanya tangan kiriku yang bebas, aku menyentuh gading berharganya itu dengan jariku dan tanganku seperti terpeleset masuk ke dalam massa padat jidat jenong itu dan menangkap sebuah benda panjang seperti sebuah gagang senjata tajam pas segenggaman tangan. Kutarik dan tanganku keluar membawa sebuah benda yang mengejutkan.

Sebilah mandau! Gagangnya seperti terbuat dari gading yang membentuk paruh dan jidatnya. Ada bentuk paruh burung Enggang di bawah gagangnya. Bilahnya berwarna perak mulus tanpa ukiran dan lebih bercahaya lagi pada sisi mata tajamnya. Wow… Aku udah lama pengen punya senjata seperti ini sejak lama… Ini bisa mengisi formasi pedang daunku. Ini bisa kutempatkan di pedang daun Selatan sebagai penyerang yang handal.

“Panglima Burung… Ini hebat sekali… Mandau ini sangat hebat…”

“Ya… Walaupun secara elemen kita sangat cocok tapi kita tidak perlu melakukan perjanjian Menggala Suba karena aku hanya sementara di dalam tubuhmu… Bisa jadi aku malah kembali ke keturunanmu… nantinya…” setelah kata terakhir itu terdengar, ia mematukkan paruh tajamnya ke ubun-ubunku.

Aku udah hampir teriak kesakitan saat dilakukannya gerakan tiba-tiba itu. Tubuhnya luruh dan masuk ke kepalaku dan habis terserap. Dia sudah masuk ke dalam tubuhku.

Api di puncak-puncak tiang kayu setinggi menara sutet itu yang menjadi perhatianku berikutnya. Kobarannya menjadi tak menentu karena kehilangan sumber energinya yang sudah berpindah kepadaku. Api yang biasanya mengarah ke atas kini mengarah dengan ganjilnya—ke arahku. Mengarah ke bawah.

Seberapa ganjil hal itu sampai seperti benda hidup, kobaran api itu melata turun sepanjang batang tiang kayu hingga setara dengan tinggi badanku. Mereka mencari sumber tenaga yang selama ini menjaganya tetap berkobar hidup. Aku mengerti kenapa Miranda menjadi seegois ini sekarang. Apapun yang terjadi, ia harus tetap eksis.

Berdiam diri begini tentunya sangat berbahaya dan dikelilingi tiang-tiang kayu dengan api membara mengarah padaku. Seolah marah aku telah mengambil satu-satunya sumber kekuatannya. Dengan mandau pemberian Panglima Burung sepertinya akan kita liat sekuat apa senjata paling anyarku ini.

“Panglima Burung… izinkan anak menggunakan senjata ini…” pintaku minta restu dulu padanya sebagai pemberi mandat ini.

Mandau kupindah ke tangan kanan yang tadinya ditenggeri sang pemberi mandau. Kilauan mata tajam mandau ini semakin gemerlap dan terasa energi yang membuncah kuat. Aku akan melakukan sabetan berputar untuk satu sapuan kuat. Kekuatan jurus pedang daun ditambah kemampuan mandau pemberian Panglima Burung pasti dapat kumaksimalkan.

“Pedang Selatan Menebas Ilalang!” kakiku yang bersilang memberi efek tubuh berputar ditambah ayunan kedua tangan memberi putaran 360 derajat yang sempurna.

Energi yang luar biasa seolah ada ratusan bilah mandau berputar terlepas dari gagang mandau yang kupegang erat ini menerabas dan membalak semua tiang kayu sepanjang jauh mataku memandang dalam radiusnya. Tiang-tiang kayu lurus itu bertumbangan dan luruh bersamaan menghilang dengan padamnya api yang berkobar-kobar setinggi tubuhku. Kini hanya ada hamparan kosong bekas hutan tanpa tunggul kayu yang tersisa. Kosong tak berpenghuni.

Segera lingkungan semu kosong serupa daerah kekuasaan seorang Menggala ini akan menghilang begitu kutinggalkan. Hanya keberadaanku di sini yang mempertahankannya.

Tunggu… Sayup-sayup seperti ada sekelebatan kabur pergerakan jauh di sana. Sangat jauh hingga aku sendiri tidak yakin apa yang kulihat barusan. Apakah sisa dari tumbangnya batang kayu yang luruh menghilang atokah gugurnya sehelai bulu mataku? Mmm…

“Kau tidak bisa selamanya menjadi putri manis yang selalu dituruti maumu, Miranda…” kataku begitu aku balik lagi ke dunia nyata dimana perempuan yang sah menjadi istri Suhendra ini dengan riangnya sedang mengulum Aseng junior-ku yang tegang sempurna.

Sementara Suhendra di belakang tunggingan pantatnya yang merangkak di tangan dan kakinya. Sepertinya Hendra sudah hendak mencoblos istrinya yang tak pernah kesampaian dilakukannya.

“Ndra… Kemari kau! Rasakan enaknya mulut perempuanmu ini…” perintahku agar kami berpindah posisi.

Pria gagah itu tak mampu menolak perintahku apalagi perempuan yang sedang menungging ini. Ia kehilangan semua kata-kata ber’kekuatan’-nya. Seperti hanyut lenyap tersapu angin. Ia hanya diam dan melihat aku bangkit, mencabut Aseng junior dari mulutnya yang sebenarnya tak rela. Kudorong Hendra untuk menggantikan posisiku yang tadi duduk di kursi itu.

“Buka celanamu semua biar enak… Kek gini!” kataku memberi contoh.

Kupelorotkan semua celana yang tadinya hanya menggantung di setengah paha. Bajuku juga kubuka dan memamerkan semua otot-ototku yang mulai membentuk kembali setelah sekian lama dormant jarang dilatih dengan silat harimau Mandalo Rajo. Kini aku rutin melatihnya kembali setelah sempat keteteran melawan Inyiak Lelo waktu itu.

Miranda meneguk ludah dari gerakan lehernya demi melihat otot-ototku yang tak berpenutup lagi. Hendra apalagi. Ia hanya berdiri dengan celana di lantai dan memegangi tepi bawah kemeja lengan panjangnya setengah diangkat dengan perut membuncit. Pasti ia akan minder melihat pria seumurku yang jauh lebih kekar dari padanya dengan otot-otot terlatih menggelembung membentuk bisep dan trisep cantik. Aku berlutut tepat di belakang tunggingan pantat Miranda yang bersujud di depan suaminya. “PLAK!” nyaring suara tamparanku, menggema di ruangan kaca ini.

“Heh! Udah itu… Isep punya lakikmu itu sana…” kataku menyuruhnya melakukan perintahku dengan terlebih dahulu menampar pantatnya.

Ia menjengit kaget dengan tamparan keras spanking di pantatnya bak menghukum seorang anak nakal.

“Isep!” kataku sedikit mendelik padanya.

Aku lagi pengen menikmati pemandangan bokong semlohay padatnya yang intinya berbentuk cheese burger yang sedang ditegakkan. Lipatan bibir vaginanya sebagai roti bun lembut yang telah digoreng seperempat garing, dua buah lembaran keju cheddar merupakan lipatan bibir labia minora-nya dan seulas saos tomat yang merupakan tonjolan kacang itilnya. Dibungkus dengan bundelan bungkus tebal pantat yang lebar subur montok yang enak untuk di… “PLAK!”

Miranda kembali menjengit kaget karena aku tanpa aba-aba lagi menampar pantatnya. Ia dari tadi sedang melakukan komunikasi tanpa kata dengan suaminya. Hanya mata mereka yang berbicara. Kuusap-usap bekas tamparanku tadi.

Ada bekas memerah di sana. Menghukumnya karena selama ini telah menjadi anak nakal yang terbiasa hidup manis. Entah sudah seberapa banyak individu yang tersakiti oleh tindak tanduknya. Aku mewakili kalian wahai jiwa-jiwa yang tak tenang dan mendendam di luar sana. Kuwakili kalian untuk menghukum perempuan ini.

“PLAK!”

“Auuhh!!” Miranda menjerit erotis atau kesakitan tak ada bedanya padaku.

Lubang pembuangannya berkedut-kedut kembang kempis menahan rasa sakit pedih tamparan spanking-ku. Kau pasti tak pernah merasakan sakit ini sebelumnya. Bahkan dulu waktu kau di-imunisasi sekalipun, sakit disuntik pasti dokter ato praktisi kesehatannya yang dimaki-maki.

Kalo ada nyamuk yang menggigitmu pasti sang nyamuk malang itu diuber-uber sampe dapat jadi remek kek peyek. Entah apa yang terjadi saat Hendra mencoblos perawannya dengan kontol-kontolan waktu itu, mungkin keluarganya memanggil Densus 88 dan menudingnya teroris memek berdarah.

Lepitan vagina manis Miranda memberikan semburat basah akibat hukuman yang kuberikan. Perempuan itu menangis manja memeluk kaki suaminya yang tak berdaya.

Tapi Miranda tak punya nyali apalagi taji seperti sebelum Panglima Burung ada di dalam dirinya untuk menggetarkan dunia ini dengan kata-katanya yang berbisa lagi bertenaga. Biasanya ia bisa mengatur-ngatur orang semaunya hanya dengan satu-dua kata saja bak dicucuk hidung, hingga mudah disetir sesukanya. Padahal baru tiga kali kutampar bokong kanannya, sudah begitu pilu tangisnya.

“Kok belom diisep juga Miranda! Kau kusuruh isep… ya ISEP!” suaraku bertambah tinggi di akhir kata tegas.

Buru-buru ia mengenyot kontol pukimak lakiknya itu hingga tertelan semua masuk ke mulutnya. Hendra menganga kaget campur ngilu juga. “Sedot-sedot yang kuat… Awas kalo gak sampe nembak lakikmu itu! Ku-bal-bal-in (tampar bolak-balik) pantatmu ini sampe masak…” ancamku sembari mengelus-elus bekas merah yang sudah kutampari dari tadi.

“Nah… Gitu bagus… Awak mau maen-maen dulu sama pantat bagusmu ini…” kataku menjenguk lebih dekat pemandangan indah di hadapanku ini. Pantat besar dan montok begini memang jadi idolaku. Kuusap-usap daging kenyalnya dengan remasan-remasan pelan.

Kucengkram kedua pangkal pahanya tepat di sela selangkangannya lalu melebarkan bukaan hingga buah pantatnya merekah. Bibir roti bun burger itu juga ikut terbuka menampilkan isi dalam surga dunia itu. Lubang liang kawinnya yang belum pernah dimasuki kemaluan lelaki secara sempurna itu terlihat sangat sempit dan mengundang. Iseng kutiup lubang itu.

“Fuuh…”

“A-aahh-n… Uhh…” erang Miranda di depan sana tubuhnya menegang. Aku yakin lakiknya udah bolak-balik nge-jilmek kemaluannya ini, kenapa pulak dia harus ngerang kek gitu. Kutiup lagi.

“Auuhh…. Hnnn… ahhsss…” ia mendesah lagi lebih asoi.

“Enak, yaa?” tanyaku karena Miranda melepas kontol lakiknya di sana dari mulutnya.

Ia mengangguk-angguk patuh dengan paoknya. Senget dah ini orang-orang satu KK. Udah entah hapa-hapa aja yang membuatnya senang. Kalok kukunyah-kunyah kek burger beneran masih mendesah gak perempuan satu ini?

“Isep terus! Siapa suruh berenti?” sergahku karena ia berhenti ngocop kontol lakiknya.

“Yaahhhh!” belum sempat kontol Hendra masuk ke mulutnya, mukaku duluan menubruk selangkangan nunggingnya. Mulut dan hidungku saling berlomba-lomba mengais-ngais kemaluan indah yang tak diperlakukan semestinya ini. Burger indah ranum ini harus mendapat belaian junior pria sesungguhnya. Contohnya Aseng junior milikku. Lidahku mengais-ngais mengoleskan ludahku sebanyak-banyaknya. Kacang itilnya kusedot-sedot rakus.

Bibir tebalnya kutarik dan kujentik dengan ujung lidahku. Lidahku menusuk masuk liang kawinnya yang haus. Tak terperi bagaimana Miranda menjerit-jerit keenakan bercampur histeris euphoria.

Entah memang begitu caranya mengekspresikan diri, aku gak mau tau juga. Tapi yang penting aku membuat diriku sendiri menjadi seorang pendidik yang baik bagi kepribadian barunya. Miranda yang saat ini tentunya akan berbeda dengan Miranda yang sebelumnya masuk ke ruangan direktur SPBU ini.

Hendra terbengong-bengong melihat prilaku istrinya yang sedang ku-oral. Kontol kimaknya itu tegang keras tanpa ada yang men-terge (perduli). Biniknya tak kunjung menyepong kontolnya karena masih asik merasakan kenikmatannya sendiri yang kulakukan lewat oral. Mulutku masih rajin bermain-main di cheese burger lezat itu. Burger itu udah berselemak ludahku, basah kuyup. Aseng junior sudah gak sabar.

“Woi… Ndra?” tegurku pada manusia yang lagi tertegun-tegun bengong itu.

“Ngapain kao? Bengong aja?” tanyaku.

Si pukimak itu malah cengengesan aja. Miranda baru aja kelojotan gila-gilaan karena polesan mulutku yang memborbardir cheese burger lezatnya. Kepalanya rebah ke lantai tapi pantatnya kutahan mencuat ke atas dengan memegangi pinggulnya. Hendra mengocok kontol tegangnya dengan muka merah penuh birahi pengen kawin.

“Pakek dulu binikmu, yaa?” permisiku tak penting karena Aseng junior-ku udah kutempelkan di liang kawin Miranda yang berdenyut-denyut abis orgasme.

“Ahhhss!!” kepala Miranda tiba-tiba mendongak karena rasa ngilu akibat sumpalan cepat yang kusodokkan kedalam lipatan keju cheddar yang langsung membelah liang kawinnya tanpa menunggu konfirmasi afirmatif dari sang empunya, Hendra yang dengan paoknya malah mempercepat ngocok kontolnya.

Aseng junior terasa dikunyah-kunyah di dalam liang kawin sempit yang hanya sempat dimasuki kontol palsu. Biar kao tau cemana rasanya kontol asli kalok sedang bekerja.

“Ah ah ah ah ahh…”

Kusodok cheese burger itu cepat-cepat dengan tempo pendek. Aku tetap berpegangan pada pinggulnya. Tubuh Miranda tersentak-sentak oleh sodokan cepatku. Payudara bulat ranumnya bergoyang-goyang cepat juga. Aku sangat menikmati sempit dan menggigit binor tipe begini.

Jarang dijamah sesuai spek-nya jadi anugrah tersendiri buatku. Dasar paok kou, Ndra. Binik yahud kek gini-pun kao kasih ke orang. Abis-la binikmu kuembat. Paok kao! Biar kubikin puas binikmu malam ini. Kao tenang-tenang aja duduk kek orang paok di situ nonton live show.

Entah apa yang membuatku menggila kek gini. Apa balas dendam karena cuma jadi penonton rekaman ajo Mansur dengan tiga istrinya ato apa? Ato malah aku cuma kegirangan karena dapat merasakan binor baru dalam perbendaharaanku? Ini berarti binor nomor… sekian ya? Berapa? Aku lupa ngitungnya karena masih ngerasain enaknya jepitan magis sempit cheese burger perempuan cantik kek model majalah pria yang tak mendapatkan perlakuan selayaknya di onderdil sensitifnya. Aku berpesta sepuas-puasnya.

Miranda meraung dan menjerit menikmati seks realita pertamanya. Bolak-balik ia tegak dan rebah dengan bantuan tangannya karena gak kuat dengan permainan tempoku yang kupermainkan sedang dan cepat berganti-ganti.

“Woi! Jangan asek sendiri aja! Lakikmu itu urus pidong-nya… Nganggur dari tadi… Berkarat pulak itu nanti!” kataku menegur Miranda yang asik sendiri dengan kesenangan barunya. Hanya bersenang-senang di atas bengong lakiknya. Buru-buru Miranda menarik kaki Hendra dan memasukkan kontol tegang itu ke mulutnya.

Dengan bantuan sodokanku, Miranda tak perlu susah payah menggerakkan mulutnya. Kusodok maju cheese burger-nya, mulutnya melesak masuk menyepong kontol lakiknya. Sewaktu mundur, tubuhnya tertarik surut.

Jadilah kedua suami istri sableng itu mengerang dan meraung keenakan. Hendra mulutnya lumayan becek juga kalo lagi begini. Dipuja-pujinya istrinya yang memang patut dipuja ini. Kalo ada kultus khusus untuk memuja cheese burger seenak ini, mau aku ikut daftar.

“Yaa, deek! Enaak, deek… UUhh… Oohh… Enak kan, dek burungku? Aahh… Mmmm… Yaa… Gituu… Sedot kuat, deek… Ahh…” becek mulut Hendra melebihi becek pajak (pasar) abis ujan kurasa. Jijik pulak aku nengoknya mendesah-desah kek pilem bokep Hongkong. Sementara Miranda hanya bisa mengerang gak terlalu jelas karena mulutnya tersumpal batang kontol lakiknya.

Hanya suara “Mpphh… Mmmbb… Mmmpphh…” yang keluar dari mulut cantiknya.

Aduh… Sayang kali gak sempat kucipok dulu mulutnya. Udah bekas kontol si Hendra pukimak itu pulak. Gilak iseng aku malam ini kurasa. Jempolku sekarang iseng kukobel-kobelkan ke pantat si Miranda. Ada sensasi grip tambahan pada otot perutnya yang ngefek pada cengkaraman liang kawinnya yang memang sempit.

Kalo kucucuk masuk jempolku pasti lebih yahud.

“Ahh!!” Miranda lagi-lagi melepas kontol Hendra karena keisenganku.

Seujung jempolku sudah terbenam ke burit (pantat)-nya. Kuputar-putar. Iseng kali-lah pokoknya awak malam ini.

Miranda kek ngebor penyanyi dangdut yang punya karaoke banyak itu jadinya kubuat. Berputar-putar mengikuti pulasan jempolku di lubang buritnya. Aseng junior juga yang kenak getahnya. Cengkraman sempit liang kawin Miranda bertambah erat meremas.

Jempolku terbenam makin dalam hingga Miranda tak lagi menungging, tegak berlutut hingga punggungnya rapat ke dadaku. Aseng junior yang terus kuusahakan menyodok terjepit erat belahan pantatnya. Aku bisa mencium rambut panjang wangi perawatan mahal itu, kupilih leher jenjang putihnya. Kujilati lehernya, Miranda makin menjerit gila. Tanganku yang bebas mencari payudara bulatnya, otomatis meremas karena aku sudah gak tahan lagi…

“Crrroottt! Crroottt!! Crrrrottt!!!” kutembakkan spermaku sejadi-jadinya ke dalam rahim perempuan cantik bernama Miranda ini.

Pinggul dan pantatnya masih berputar-putar ngebor menikmati nikmatnya persetubuhan ganjil ini. Ganjil karena pesertanya berjumlah ganjil, tiga. Jempolku yang barusan dari pantatnya kujejalkan ke mulut perempuan yang tadinya bermulut berbisa ini. Ini hukumanmu karena mulutmu itu, Miranda! Rasakan isi buritmu sendiri!

“Aaauuhhh!!” menyusul Miranda lalu kejang-kejang juga dengan Aseng junior masih bercokol di liang kawin beceknya.

Makin diperas-peras santanku oleh kemaluan perempuan cantik kali ini. Tanganku tak henti-henti juga memerah tetek bulatnya gemas. Kedekap tubuh langsing berukuran bra 34D ini. Kami bersentuhan erat kulit ke kulit dengan intim sekali. Merasakan halus kulit anak orang kaya miliknya.

Orang kaya gak tau panasnya dunia jadi kulitnya halus kek beludru. Kusodok-sodok pelan cheese burger-nya yang banjir laharku, menikmati sisa rasa enak yang masih terasa bagai remah-remah rengginang yang ngangenin. Sesekali tubuhnya masih bergetar oleh sisa miliknya juga.

“Spurtt… pruutt… spruutt…” Hendra di depan kami juga menyemprotkan spermanya.

Menetes-netes hingga ke lantai. Ia masih memegangi kontolnya yang bergelimang cairan kentalnya sendiri.

“Ah… ahh… Enak sekali, deek…” erangnya duduk lunglai bersandar.

“Isep itu!” dorongku pada kepala Miranda dan mengarahkannya pada kontol kisut Hendra.

Perempuan cantik ini gelagapan dengan perintahku tapi tetap patuh. Mulutnya patuh memasukkan kemaluan lembek itu. Hendra mengerang ngilu campur enak. Pasti rasanya sangat enak. Aku tau itu sangat enak. Tapi hanya itu yang kau dapat malam ini, Hendra. Aku yang menguasai binikmu malam ini. Kau hanya dapat sisanya aja. He he he…

Miranda sepertinya suka melakukan pekerjaan barunya dengan baik. Sperma Hendra bersih habis dilahapnya dari kontol itu. Bahkan jari-jari tangannya segala dijilati untuk mengambil semua yang tersisa.

“Woi! Kao bersihkan itu nanti, ya?” tunjukku pada sisa spermanya yang masih ada di lantai.

Hendra mengangguk patuh juga. Udah kek budak dua orang ini kubuat. Miranda kuberdirikan setelah mencabut Aseng junior-ku yang juga sudah lunglai. Miranda berdiri dengan limbung dan kudekap tubuhnya dari belakang. Oop-makjang. Tinggi juga perempuan ini. Model beneran mungkin dia ya? Sejengkal lebih tinggi dia dari aku. Ck ck ck…

Aku nyenang-nyenangin diri sendiri dengan mendekap tubuh telanjang binor ini di depan mata lakiknya yang dengan paok menatap puas. Apa namanya ini? Jengglot? Cuckold? Ah itu-lah itu pokoknya. Aseng junior kusodok-sodokkan ke pantatnya untuk memancingnya bangun lagi. Pasti dia tertarik untuk ronde selanjutnya. Kita puas-puasin malam ini, Seng. Ayolah bangun…

“Ndra… Cak kou bersihkan dulu meja kerjaku ini dari barang-barang gak penting ini…” perintahku padanya.

Walopun dia manager, aku direktur. Masih aku yang menang. Masih kupeluk erat biniknya.

Di pilem-pilem kalo udah terotak kali biasanya maen sapu jagat aja apapun yang di atas meja, kan? PRANG!! Habis semua dilibas dari atas meja. Tapi aku gak paok gitu pulak. Rusak harus kuganti baru pulak nanti barang-barang itu.

Ada telpon PABX, monitor LCD pemantau CCTV, beberapa alat tulis, kalkulator, buku-buku, dan et cetera et cetera-nya. Hati-hati Hendra merelokasi barang-barang milikku dari atas meja kerja ke lantai dekat dinding kaca.

Me-mitigasi resiko yang terjadi kalo-kalo permainan kami mengganas. Pande juga-nya kao. Ia memeriksa kembali jika ada yang tertinggal. Kontol kimaknya perlahan sudah mulai hidup lagi, bersiap untuk ronde selanjutnya.

Miranda yang kudekap dari setadi, terus kuremas sebelah tetek bulat mengkalnya dan kukobel kacang itilnya yang becek dengan sperma. Aseng junior juga menggesek-gesek belahan pantatnya. Kudesak ia mendekat ke meja lalu kubaringkan di meja. Tidak ada ranjang, meja pun jadi.

Spermaku mengalir di paha sampai ke lututnya. Dengan kode jentikan jari main tunjuk, kuarahkan Hendra untuk mengambil posisi di arah kepala biniknya. Aku kembali menghadapi cheese burger pujaanku. Miranda berbaring dengan antusias melihat dua pria mengerubunginya. Entah ini adalah impiannya ato apa tapi tidak mudah bagi seorang perempuan untuk menerima keadaan ini.

“Sukak kao binikmu diginiin, Ndra?” tanyaku memegangi kedua lutut istrinya yang mengangkang lebar. Aseng junior-ku sudah ngaceng juga mau masuk lagi lanjut ronde berikutnya.

“Iya, pak? Miranda juga suka, pak… Iya kan, deek?” kata suami bajingan saket jiwa itu. Cuma kontolnya aja yang dipikirkannya.

“Iya, baang… Enak kali rupanya, bang…” karena kudengar perempuan paok itupun angkat bicara, tensiku-pun ikut naik juga. Kujejalkan aja langsung Aseng junior.

“AAhhhh!!” erangnya kaget liang kawin sempitnya kusodok tiba-tiba sampe kandas. Pelerku menampar bongkah pantatnya.

“Auuhh… Ngilu, paak…” Liang kawinnya yang masih bernoda sisa spermaku seharusnya mempermudah jalan masukku, seharusnya tak sesakit itu.

“Isep kontol punya lakikmu lagi!” perintahku menunjuk pada Hendra yang berdiri di samping kepalanya.

Segera ia raih dengan patuh kontol ngaceng suaminya yang disodorkan ke arah mulutnya. Hendra mengerang keenakan merasakan lincah mulut dan lidah istrinya menyepong kontolnya. Mereka asik, aku juga ikut asik menggoyang cheese burger enak binor ini.

Aku baru bisa menikmati goyangan bergelombang tetek mengkal bulat Miranda di posisi berbaring missionary ini. Tetek bulat berputing imut itu bergoyang seirama sodokan Aseng junior-ku. Naik turun menggoda. Minta dijamah.

Karena Hendra belum menjamah tetek Miranda sama sekali dari tadi, aku merendahkan posisiku dan rapat ke arah payudara mengkal itu. Pertama-tama tentu saja meremas-remasnya. Hendra yang ingin turut serta meremas, kutepis tangannya menjauh. Ini punyaku semua malam ini. Kau hanya kebagian mulutnya aja malam ini.

Kubenamkan mukaku lagi seperti yang kulakukan saat menulis surat perjanjian tadi. Memasukkan sebisanya pucuk tetek bulat ke dalam mulutku, lalu disedot kuat. Tubuh Miranda melengkung menikmati berbagai rangsangan simultan dari berbagai penjuru tubuhnya. Hendra gak mau melepaskan kontolnya dari mulut perempuan yang sedang dibaginya bersamaku.

Ndra-Hendra… Kao gak tau aja. Abis binikmu malam ini kukerjai. Kuentoti puas-puas. Biar aja dia mikir kalo ia selalunya harus membutuhkan bantuanku untuk bisa ngeseks, bersenang-senang menikmati tubuh istrinya. Padahal udah normal lagi-nya kontolmu itu. Udah gak ada lagi gangguan. Kalo masih ada, paling otak kepala kao-lah yang masih paok.

Aku memompa tubuh Miranda sambil menikmati sepasang tetek bulat itu dengan rakus. Tusukan Aseng junior kulakukan bervariasi 2-1, andalanku. Ini terbukti selalu berhasil pada setiap binor yang kugauli sampe klepek-klepek nagih. Seakan ada rasa gatal dan candu yang disebabkan Aseng junior saat menggocek kombinasi tumbukan 2-1 itu teratur. Ada rasa pengen terus disodok dan terus disodok.

“Ngggahhh…” Miranda melepeh kontol suaminya dan mendekap kepalaku akibat orgasme kali ini. Pahanya mengempit pinggangku erat dan tubuhnya bergetar-getar.

“Ahh… ahh… Paak… Enak, paak… Lagi, paak…” pintanya dengan muka sange berat minta cium. Prett! Cium? Mulutmu bekas kontol Hendra! Gak sudi!

Kulingkarkan kaki Miranda ke belakang pinggangku lalu kutelusupkan kedua tanganku ke balik ketiaknya, Aseng junior terbenam semakin dalam. Miranda meraung kala kuangkat tubuh berkeringatnya ke gendonganku. Hendra melongo melihatku memperlakukan istrinya sedemikian rupa. Aku berpegangan kemudian pada paha luarnya dan membiarkan Miranda menahan tubuhnya sendiri bergantungan di tubuhku dengan kekuatan tangannya, berakibat tubuhnya mengejang mengeluarkan tenaga yang tak pernah dilakukannya sama sekali.

“Oooaahhh!!” ia meraung pilu kala tubuhnya kuhentak-hentak seperti sebuah bandul.

Aseng junior menusuk masuk kembali tiap hentakanku pada tubuhnya rebound kembali padaku. Posisi ini perlu fisik yang prima, aku bangga bisa melakukan hal seperti ini sekarang di saat ini. Setidaknya latihan silat rutinku ada manfaatnya di bidang lain, ngentotin binor misalnya.

“Plak plak plak!” suara benturan pahaku dan selangkangannya dengan kaki mengait erat ke tubuhku.

Tangannya juga mengalung erat di leherku, bergantungan sembari membenamkan kepalanya yang menjeritkan rasa pegal dan nikmat sekaligus. Enaknya gak seberapa dibanding sensasi aneh yang kurasa karena berhasil memperagakan posisi sulit yang hanya pernah kuliat di film bokep.

Miranda tak bisa bertahan lama. Tak mengapa, aku juga tak berharap banyak padanya. Kakinya lunglai lemas dan masih bisa berdiri juga karena kalungan tangannya di leherku. Kupepet tubuhnya hingga rapat ke dinding kaca tepat di depan meja kerjaku.

Hendra mengikuti kami sambil mengocok kontolnya sendiri, mencari celah agar bisa berkontribusi. Sebelah kanan kakinya kuangkat dan kujejalkan Aseng junior masuk lagi ke cheese burger lezatnya, Miranda mengaduh dengan kepala lemas. Hanya mulutnya yang biasa bawel yang bereaksi.

Tubuh tinggi modelnya sangat sesuai dientot dengan cara ini. Tanganku menahan belakang lututnya hingga tetap terangkat, sementara Aseng junior terus merangsek masuk. Sodok dan terus sodok sementara aku kembali bermain dengan tetek bulatnya. Miranda mengerang tolah-toleh ke segala arah mengekspresikan rasa nikmat yang menderanya.

Kusedot-sedot pentil tetek bulatnya, terkadang kugigit karena gemes dengan tekstur kenyalnya enak kali. Mau dikunyah takut nanti gak bisa dipake lagi. Ini tentunya bukan yang terakhir kalinya aku menikmati binor ini. Aku mungkin dah ketularan saket jiwa gara-gara Suhendra, nih.

Tapi kalo kubikin pasangan sableng ini ketergantungan padaku repot juga. Mereka harusnya udah bisa ngeseks normal berdua aja. Tapi kalo Hendra menikmati sensasi cuckold ini, itu sih terserah dia. Aku cuma hepi ngentoti binik cantiknya aja. Tapi ogah berbagi dengannya. Tengok aja… Kukangkangi sendiri binikmu sampe ledes malam ini.

“Aaahh…” erang Miranda kaget Aseng junior kucabut dan kakinya jatuh.

Dengan cepat kubalik tubuhnya. Ia berinisiatif menunggingkan pantatnya bak seekor betina yang mempersembahkan tubuhnya pada sang pejantan alpha. Pinter ini binor… Tau aja yang kumau. Dengan mudah aku menusukkan masuk Aseng junior lagi ke cheese burger sempit-lezatnya. Ia kembali mendesah kek kepedasan cabe rawit.

“Hssss… Saahhh…” merasakan relung liang kawinnya dijejali batang Aseng junior-ku.

Miranda berpegangan dan bertumpu pada dinding kaca yang ber-grafir partial. Ada beberapa bagian yang transparant, ada yang bergrafir untuk privasi.

“Uhh…” Tubuhnya kembali kudorong rapat ke dinding kaca hingga muka dan teteknya nyeplak di sana.

“Ndra… Kao ngocok dari luar sana… Kao liatin binikmu kukentot sampe abis…” perintahku pada Hendra menunjuk keluar.

Ia mengangguk-angguk paok dan langsung keluar dan menonton dari balik dinding kaca ini. Dasar paok kao, Nda-Ndra… Ia dengan patuh menonton biniknya yang sedang digencet di dinding kaca sambil terus ngocok dengan cepat.

Ia bahkan berusaha menyentuh bagian payudara Miranda yang tercetak nyeplak di kaca. Sentuhan semu tapi mungkin disitu letak kepuasannya. Ia bahkan menjilat-jilat permukaan kaca itu. Jijik juga nengok orang saket kek gini lama-lama.

Sensasi enak melihat keganjilan bersama sepasang pasutri gendheng ini tak kalah memabukkan Aseng junior-ku. Jepitan sempit cheese burger Miranda tak ada berkurang memuaskanku. Ia mendesah-desah kusodok dari belakang dengan suara parau.

Licin pertemuan kelamin kami sudah semakin panas. Tambahan cairan pelumas dari Miranda sedikit membantu melancarkan apalagi ia tadi barusan orgasme kembali. Martole jonjong (ngentot berdiri) begini memang menghabiskan banyak energi, tapi itu energi Miranda. Awak masih fit.

“Cemana, Mirr… Enaak? Enak dientot laki-laki lain gak?” tanyaku berbisik walau gak bakal terdengar Hendra.

“En-enaak, phaaak… Kapan-ka-kaphaan… laghii ya, paakk… Oohh…” jawabnya tak perduli apapun.

Ada noda putih-putih gitu di balik kaca ini. Ternyata Hendra baru aja ngecrot dan menyemprotkannya di dinding kaca ini, tepat di depan vagina Miranda. Si paok itu duduk terkapar di lantai masih meremas kontol kimaknya itu. Banyak-la kerjaanmu malam ini ngebersihin semua sisa ngecrotan ini. Awas aja kao suruh OB besok ngebersihin ini semua.

“Nanti bunting, Mirr… Awak ni subur kali, loh…” kataku bercengkrama dengannya tanpa khawatir diliatin lakiknya yang goler-goler gak jelas di seberang sana.

“Ghaak pha-pha, paak… Udah terlaluu lamaa… Si Hendra bodoh ituuhh… terlaluu lamaaa… Ahhss… Mmm…” jawabnya berusaha jujur. Ia mengkontraksikan jepitan liang kawinnya untuk menguras isi pelerku.

“Kalok gitu… kubuntingin-la kao, yaa…” responku dan mempercepat sodokan Aseng junior panjang-panjang. Ia semakin meradang berteriak. Suaranya bergema nyaring di ruangan kaca ini. Teriakan jujurnya minta dibuntingin. Tak kuanggap lagi keberadaan Hendra yang sedang berusaha membangunkan kontol pukimaknya.

“Croot! Croot!! Croottt!!!” begitu Aseng junior memuntahkan isi muatannya, kupeluk erat tubuhnya dan kutarik dari gencetan di kaca. Untuk memaksimalkan permintaan hamilnya, kubaringkan lagi tubuhnya di atas meja dengan cheese burger tetap tersumpal Aseng junior. Mencegah sperma berhargaku keluar terlalu dini.

“Aahh… ahh… ahh…” desah Miranda yang lelah habis kuhajar dua ronde ini.

Kakinya kuangkat dengan cara dua siku lututnya kutahan dengan lengan hingga kakinya terangkat agar isi muatan spermaku tak keluar dahulu selagi aku kembali bermain-main dengan tetek mengkal bulatnya. Memberi kesempatan semaksimal mungkin untuk bibit-bibit suburku bekerja, berlomba membuahi sel telur perempuan ini.

“Paakk… Myu…” minta cium lagi dia.

“Mulutmu bekas kontol lakikmu… Malas aku… Nanti aja… Yang berikutnya, ya?” kataku lalu balik lagi menyusu di teteknya.

Ekor mataku meliat penyesalan di matanya kenapa ia membiarkan kontol suaminya mengotori mulutnya sehingga ia tak dapat kesempatan bercumbu mulut denganku. Mungkin kalo masih banyak tenaganya, mau mungkin dia ke kamar mandi, kumur-kumur, gosok gigi ato juga dental floshing sekalian untuk membersihkan mulutnya dari jejak si Hendra pukimak itu. Ekor mataku melihat pergerakan lain. Hendra merangkak masuk dengan gontai. Keknya dia barusan nembak lagi di luar sana.

Apa dia sudah sadar ya? Itu kan sudah di luar jangkauan keberadaanku. Otaknya mungkin udah konslet gak bisa mikir jernih saat ini. Kalo dipikir logis tentu bisa ketemu jawabannya, kan?

“Lagi, paak… huff… Puaskan istriku, paak… huf… Masih bisa kan, deek?” kata Hendra lalu duduk berselonjor.

Kontol pukimaknya lunglai tapi masih dipaksa bangkit lagi. Miranda mengangguk dengan gerutuan gak terlalu jelas. Aku melepas kekangan tanganku pada kakinya sehingga Miranda mengangkang pasrah dengan kemaluan berselemak sperma kental ronde keduaku.

Menghindari berciuman dengan Miranda, aku kembali mendekap tubuhnya dari belakang. Aseng junior menggencet pantatnya. Kutarik ia agar duduk berpangku di atas kursi direktur-ku. Kuangkat dan kulipat kedua lututnya di atas kursi hingga ia mengangkang lebar berbentuk huruf M di pangkuanku menghadap ke arah lakiknya yang mengocok kontolnya lagi.

Menyaksikan istrinya dilecehkan sedemikian rupa atas izinnya. Aseng junior memblokir pemandangan belahan cheese burger-nya yang merekah dibentangkan begini. Kugosok-gosok kacang itil Miranda dan sesekali jariku menelusup masuk mencelup dalam liang kawinnya yang becek lahar kental.

“Ndraa… Binikmu pengen bunting… Kubuntingin ya, binikmu ini?” kataku sambil terus mempermainkan permukaan vagina perempuan cantik itu, yang sudah tak sabar lagi ditancapi batang perkasa Aseng junior-ku.

Kulebarkan bukaan liang kawinnya agar bisa disaksikan Hendra dari tempat rendahnya disana. Liang kawin yang sudah dua kali kuisi dengan bibit suburku. Masih ada banyak spermaku yang mengalir keluar. Mengalir kental. Si paok itu malah girang. Gak tertolong orangnya nih.

“Iya… Buntingi, paak… Biar ada anak kami, paak…” katanya kek sakaw kecubung.

Aku gak mau tepok jidat meratapi malangnya orang ini. Ia masih berguna sebagai manager operasional yang lumayan bertanggung jawab dengan tambahan lecutan sedikit lagi.

“Masukkan, Mirr…” suruhku.

Miranda memegang batang Aseng junior dan mengarahkan kepalanya memasuki liang kawin di belahan cheese burger miliknya. Menelusup masuk dengan lancar terpeleset mudah.

Tubuh tinggi dengan torso tingginya memudahkanku untuk menelusup dari balik ketiaknya dan Hap! Tetek bulatnya kembali nemplok di dalam mulutku. Mulai pelan-pelan aku memompa. Tubuh Miranda sedikit menegang karenanya. Hendra menatap pertemuan intim kedua kelamin kami dengan rakus. Ia mengocok kontolnya lagi dengan mata melotot.

“Aaah… Paaak… Enak, paak… Auuhh…” erang Miranda mendapat serangan dua spot dariku. Sodokan Aseng junior menusuk vertikal, sedotan mulutku pada sebelah tetek bulatnya berikut remasan di sebelahnya juga.

“Aaahhh… Ahhhss…” Pinggulku bergerak ritmis memompakan Aseng junior menusuk masuk, menerobos cheese burger sempit itu di posisi duduk memangkunya begini. Sesekali aku bisa lirik-lirikan dengannya yang mendesah-desah keenakan.

Mukanya sudah merah karena nafsu seutuhnya. Aseng junior-ku terus menusuk keluar masuk dengan gerakan pinggulku. Dua jari kupakai untuk melebarkan bukaan roti bun lembut kemaluannya, memamerkan apa yang tak dapat dinikmati Hendra malam ini, yang hanya bisa ditontonnya dengan sadar.

“Deek… Enak ya, deek?” tanya Hendra dengan paoknya sambil ngocokin kontol menyedihkannya yang kimaknya bisa bangun lagi.

Saket parah ini manusia memang. Dia nonton dengan riangnya bagaimana Aseng junior-ku menusuk masuk cheese burger biniknya yang kubentang lebar begini. Dia tak ada nyali untuk menyentuh apalagi minta bagian, hanya sekedar menonton dan memuaskan dirinya sendiri pake tangan.

Aseng junior menusuk vertikal dengan konstan liang kawin sempit biniknya, yang kacang itilnya juga kukobel-kobel. Diperhatikannya lekat-lekat persatuan kelamin kami dan sesekali ekspresi yang ditampilkan Miranda.

“En-naaak…. bhaanng… Uuh.. Uhhhnn… Ahhsss…” ia membantuku meremas-remas sebelah tetek bulatnya.

Lidahku masih memainkan sebelah pentil teteknya sebelah lagi. Ia menyambut tiap tusukanku dengan geol-geol berputar, mengulek Aseng junior dengan seksama. Ia mengerang-erang dengan suara berisik. Hanya ini sisa yang masih dimilikinya yang tak dapat berubah dari kekuatan mulutnya yang baru lalu hilang.

“Ahh… Auuhh… Ahhh… Akhh! Akh!”

Tubuh Miranda mengejang kembali dengan perut ketat menampilkan otot rata yang meremas Aseng junior di dalam liangnya. Memulas hingga gerakan geolnya melepas apa yang menyumpal liang kawinnya. Aseng junior lepas dan hanya bisa nangkring di bawah belahan pantatnya selagi Miranda terus bergetar-getar tubuhnya dengan mulut liang kawinnya berdenyut-denyut. Kucoblos dengan dua jari liang itu tak memberinya ampun.

“Jyaahhh!! Akh! Akh!” Miranda tak sadar berusaha menepiskan tanganku yang tak mau lepas juga. Jariku terbenam dalam. Jariku terus mengorek padahal orgasmenya belum kunjung selesai. Tekanan di dalam sini sangat kuat, sepertinya akan nembak squirt. Dah lama, nih…

“Paak… Kyyyaaaahhh!! ~~Cyuuuurrr!!” semburan itu meluncur juga.

Nyemprot-nyemprot kek penyiram taman otomatis. Kimaknya lagi si Hendra paok itu malah terkena semprotan brutal itu karena ia tepat ada di depan bukaan cheese burger Miranda. Ia tak sadar menganga dan air ngecrotan biniknya itu masuk ke mulutnya dengan sukses.

“Crut crut crutt…” Hendra menampung semua semprotan itu dengan riang gembira.

Orgasme gila-gilaan Miranda barusan membuatnya ngos-ngosan di pangkuanku. Pinggulnya berputar-putar geal-geol erotis dengan suara parau mulut menganga. Aseng junior terjepit pantatnya dan dilindas semena-mena dengan semok buah bokongnya.

Kimak! Kuarahkan Aseng junior junior ke tempat seharusnya dan tubuh Miranda melejit kaget karena rasa ngilu-gilu enak liang kawin cheese burger-nya kucoblos lagi.

“Ahhh… Paakk… Ngiluuuuhh… Uuuh… Ahhsss…”

Gak perduli. Aseng junior kupompa cepat lagi membuat Miranda meraung-raung. Hendra ngocokin kontol kimaknya makin cepat. Ia nonton biniknya kuentot antusias kek nonton bokep pertama kalinya, melotot ngences—maju menjorok ke depan. Tangannya bekerja cepat.

“Cruut cruut cruut…” ia akhirnya nembak lagi dan tak henti ia mengocoki kontolnya terus karena aku belum, tepatnya bakalan menyusul gak lama lagi. Paok kao, Ndra… Enak kali binikmu ini. Kuencrotin lagi-lah ini… U-uh.

“Croott! Croott!! Crooottt!!!” kusentakkan dalam-dalam tusukan Aseng junior saat ia menembakkan semburan spermaku memasuki rahimnya.

Aseng junior bercokol dalam dan membentur ujung terdalamnya. Rasanya sangat tak terperikan lagi. Kupeluk erat-erat tubuh Miranda. Pipiku terbenam di tetek bulatnya. Rasanya sangat nyaman sekali mengisi relung rahimnya sembari mendekap erat tubuh berkulit halus perempuan cantik berperawatan mahal ini. Gak rugi aku menjadi gila sementara ini pada kedua pasutri sableng ini.

Miranda mengelus-elus rambutku ragu-ragu saat aku bernafas satu-satu sambil menekan teteknya. Pelan-pelan kupindahkan posisinya yang berpangku di perutku—tetap duduk di kursi itu, aku berdiri. Aseng junior-ku masih berlepotan sperma, apalagi cheese burger Miranda.

Kedua kaki dan perutnya kuatur sedemikian rupa agar lebih rebah dengan duduk di ujung kursi direktur yang ekstra besar ini. Ini agar spermaku gak keluar dulu, Biar bercokol lebih lama, mengendap dulu lebih lama. Memberikan tugas mulia pada mahluk-mahluk kecil itu membuahi target mereka. Hanya perlu satu pemenang saja.

Miranda patuh tanpa tanya menggelomoh sisa sperma yang ada di sekujur batang Aseng junior. Dibersihkannya dengan telaten sampai dijilat-jilat kek es krim. Pentil teteknya masih kupelintir-pelintir juga sementara menanti bersih.

“Ndra… Kao bersihin ini semua yaa? Jangan sampe ada yang kelewatan… Harus kao sendiri yang ngebersihinnya… Jangan kao suruh OB… Ntah apa yang dipikirnya nanti… Dengar?!” kataku menekankan ini berulang-ulang agar masuk ke otaknya.

Aku gak berharap Miranda mau nolongin suaminya melakukan kerjaan rendahan kek gini karena perempuan ini sudah lemas abis kugenjot 3 ronde.

“Iya, pak…” jawabnya dengan suara parau.

Entah udah berapa kali pria malang saket jiwa ini ngecrot malam ini. Ia memaksakan dirinya karena sangat-sangat terangsang bisa ngaceng di sekitar istri yang sangat dicintainya. Hal yang selama ini gak pernah terjadi di kehidupan pernikahannya.

Hendra ngelongsor tidur menyamping dengan kontol kimaknya itu terkulai lemas. Di kakinya ada sisa-sisa spermanya sendiri. Kimak-nya orang satu ini. Lantai ruanganku penuh sama spermanya jadinya.

“Jadi… cemana ini terusnya?” tanyaku sudah memakai kembali celanaku, hanya tinggal mengancingkan kemejaku saja.

“Besok lagi… bisa, pak?” pelan suara Miranda yang sedang mengangkat kaki di atas kursi direkturku. Tumpukan cheese burger-nya mencuat menggembung di antara kedua pangkal pahanya. Menggoda untuk dicoblos lagi.

“Bisa-bisa aja… Kek mana, Ndra? Besok lagi aja, ya?” tanyaku pada sang suami yang lemas di lantai dingin. Ia hanya mengangguk.

“Tapi jangan disini lagi… Udah aneh bau ruanganku ini klen buat… Nanti kao semprot juga ini sekalian, yaa?” kataku karena udah bermacam aroma persetubuhan tercium kuat di ruangan yang tak terlalu besar ini.

Kukobel belahan cheese burger itu untuk terakhir kalinya malam ini, kucolek juga pentil tetek bulat Miranda yang menatapku dengan pandangan campur aduk. Berjingkat-jingkat aku keluar agar gak menginjak sisa sperma yang berceceran di lantai, menuruni tangga, membuka pintu dengan kunci milikku dan pulang dari SPBU ini.

Selamat gajian kalian besok…

***

Kimak memang dua pasutri sableng itu. Bisa-bisanya aku dibuat gila kek gini juga. Entah hapa-hapa yang sekarang kubuat sama orang ni berdua sekarang. Keluar semua fantasy gilakku dibuatnya.

Suhendra dan Miranda, istrinya sudah membuat perjanjian tiga pasal denganku. Kami bertiga bahkan sudah menanda tangani sebuah dokumen sederhana dengan materai enam ribu segala agar aku hadir bisa hadir dalam satu kelainan yang sempat diderita Hendra saat pertama kali aku bergumul dengan istrinya.

Saat pertama kali itu, Hendra gak bisa ngaceng kemaluannya sama sekali tanpa ada keberadaanku. Jadi malah kalo aku ada disekitarnya saat bersama istrinya, baru ereksi. Kan kimak namanya itu…

Untung aja Miranda ini cantik kali gak ketulungan kek model majalah dewasa…

Aku jadi kebayang-bayang terus dengan paras, bodi apalagi kemaluannya yang kujuluki cheese burger karena bentuknya yang indah mengingatkanku akan makanan londo itu. Dua buah roti bun yang lembut, dua lembaran keju cheddar dan seulas saos tomat. Yumm… Yummy dan lezat.

Pertama kali aku menggasak binor itu malah di ruangan kantorku di lantai dua SPBU milikku yang terkunci semua disaksikan lakiknya langsung. Kala itu, Hendra tak kuizinkan memasuki kemaluan istrinya sama sekali. Jijik juga berbagi dengan pria saket jiwa kek gitu.

Padahal ni, kan… udah gak ada lagi masalah kedua pasutri itu. Penyebab ini semua adalah sebuah anomali yang disebabkan oleh salah urus kekuatan yang dimiliki Miranda. Di dalam tubuhnya, awalnya, ada seekor entitas sakral burung Enggang Gading kuno yang turun-menurun di keluarganya pada anak perempuan terakhir. Miranda yang salah urus malah menggunakan kekuatan burung itu untuk memuluskan semua keinginannya lewat kata-kata.

Tak ada orang yang kuasa membantah semua keinginannya tanpa ia sadari karena tersamar sifat manja anak orang kaya yang terbiasa dengan kemewahan hidup. Dari penjelasan sang Panglima Burung, kekuatannya itu kadang bisa menyerang secara langsung berupa kobaran api yang kalo ditilik sekilas mirip serangan Banaspati di kebudayaan Jawa.

Tapi semua itu sudah berlalu. Kekuatan menyimpang Miranda sudah dinetralisir bahkan Panglima Burung-nya sekarang malah untuk sementara pindah kepadaku. Dia sedang enak-enakan menikmati taman kecilku yang mempunyai beberapa pohon besar dan tinggi. Cukuplah untuk habitat hidupnya sementara ini. Makanan juga melimpah dengan berbagai macam buah. Aku malah berharap dengan keberadaannya, tamanku akan berubah menjadi hutan yang lebat.

“Ini semua duit gajimu?” tanyaku.

Di dalam sebuah kantung kertas berwarna coklat, ada beberapa blok duit seratus ribuan. Aku gak perlu repot-repot menghitungnya karena aku tau persis jumlahnya.

“Untukku?” tanyaku lagi dan menyapukan pandanganku pada barang-barang mewah yang sangat berkilauan sangking mahalnya di rumah ini.

Di lantai granit yang dingin di rumah mewah besar seperti istana ini, kedua pasutri itu berbaring meringkuk. Beberapa kali sang suami mengangguk-angguk menjawab pertanyaanku. Aku memakai sebuah sebo seadaanya untuk menutupi mukaku.

Sebuah potongan bambu panjang kugunakan sebagai alatku menodong penghuni rumah yang anehnya cuma ada dua orang ini. Entah kemana semua sisa penghuni rumah ini perginya? Gak mungkin kan cuma dua orang ini yang mengurus rumah sebesar ini? Apalagi sang nyonya rumah yang sangat cantik rupawan ini.

Sangat gak mungkin perempuan semolek dia mau ngotor-ngotorin tangannya untuk sekedar nyapu. Sisa sang suami… Gak mungkin juga dia ngurus rumah bertipe Mansion sebesar ini walo se-bucin apapun dirinya, apalagi ia masih harus bekerja.

Senyum mengejek gak tahan untuk muncul di sudut mulutku melihat keadaan Hendra yang meringkuk terikat hanya memakai kaos singlet dan celana pendek. Aku gak tau bagaimana caranya ia membuat dirinya terikat sedemikian rupa dan mulut tersumpal. Kaki dan tangannya terikat erat hingga membentuk huruf N.

Tangannya terjepit di antara jepitan kedua pahanya. Benar… Bukan aku pelakunya. Waktu aku datang diundang kemari, si pukimak Hendra ini udah dalam keadaan terikat begini. Miranda yang membukakan pintu dengan malu-malu setelah aku memarkirkan mobilku di antara mobil-mobil koleksi mereka.

Benar-benar tidak ada orang lain di rumah mewah ini. Aku juga gak mau nanya karena aku yakin mereka sudah mempersiapkan segalanya untuk impian gila mereka bertajuk cuckold ini.

“Jadi ceritanya aku ngerampok rumah klen, nih?” tanyaku yang berjongkok di antara Hendra dan istrinya di ruang tamu yang sangat luas ini.

Kaca-kaca besar di jendela luas menampilkan malam gelap dengan beberapa titik bintang dan sebuah bulan sabit yang bersinar terang. Wah… view tempat ini sangat bagus. Rumah orang kaya sangat keren pengaturannya. Mereka memilih berbaring di atas granit padahal tak jauh ada hamparan permadani tebal mahal yang lembut kek bludru dan juga jajaran sofa mahal dengan sebuah TV layar lebar lengkap dengan home theatre-nya.

Pokoknya mahal semua isi rumah ini. Yang murah cuma otak si Hendra pukimak itu aja. Banyak kali duit orang ini. Entah warisan ato korupsi aku gak bisa nanya pulak. Eh… Coba nanti kutanya. Mungkin ada yang mau jawab.

Hendra yang tersumpal hanya bisa mengangguk membenarkan pertanyaanku di atas. Aku menepuk-nepuk kepalanya tanda ‘Bagooos…’ Aku lalu beralih pada Miranda yang ikut-ikutan gila kek suaminya. Ikatan tangan dan kakinya tidak ketat, hanya sekedarnya aja. Ia tersenyum padaku.

Ia memakai baju santai tipe baby doll berwarna putih yang sangat minim setengah paha. Posisinya yang meringkuk persis lakiknya membuatku bisa dengan mudah melihat celana dalam yang menutupi bokongnya kalo kuintip ke belakang. Ah… Berwarna putih juga dari bahan sutra. Pasti lembut sekali. Sempak mahal!

“Yang paling berharga di rumah ini adalah dirimu… sang nyonya rumah…” kataku pada Miranda yang sudah tersenyum manis padaku.

Aku gak perlu harta benda mahal dan mewah di rumah ini. Aku hanya butuh perempuan satu ini. Hanya karena cheese burger-nya aku palar-palarin (bela-belain) datang ke tempat gila ini.

Aku menyisipkan satu untaian rambutnya ke belakang telinganya. Kuelus-elus rambutnya seperti membelai kekasih. Kulit pipinya halus sekali dan ia sengaja memakai riasan yang lebih natural pada kesempatan ini. Lebih nude tone-nya.

Sewaktu ia menyambutku di depan pintu tadi dengan malu-malu, tiba-tiba dipeluknya tubuhku seperti menyambut seorang kekasih yang lama tak bersua. Ia tidak berani menatapku, memejam erat. Aku tentu aja kaget mendapat sambutan seperti itu awalnya. Tapi kenyal teteknya membuatku lumer dan membiarkannya.

Tubuh Miranda yang jangkung lebih tinggi sejengkal dariku dengan mudah menguasai mulutku. Mulutnya mencaplok mulutku dengan ganas tanpa perlu melihat. Bibirnya terbuka dan kusambut. Disedot-sedotnya bibirku mencurahkan rasa rindunya.

Lidahnya menyerobot masuk ke mulutku dan bercengkrama dengan lidahku, mengajaknya bergulat berpilin-pilin. Ludahnya saling barter denganku saling hisap. Miranda sangat menikmati perbuatannya di depan pintu itu sebelum aku sempat menemui suaminya di ruangan berikutnya.

Puas dengan mulutku, baru ia mempersilahkanku masuk.

“Mirr… Sebentar…” tahanku. Tangannya kucekal.

“Itu tadi apa?”

Miranda terdiam sebentar dan menatap pola granit yang abstrak tak teratur di lantai.

“Kangen, pak…”

“Kangen?” kutatap wajah cantiknya dalam-dalam.

Ia tak berani menatapku balik. Kekuatannya sudah tak berbekas. Ia mengangguk pelan. Ada getar-getar kecil di tubuhnya. Entah apa yang sedang ditahannya. Emosi sedih ato apa?

“Kangen sama bapak…” jawabnya semakin menunduk hingga ubun-ubunnya terlihat.

Padahal segitu tinggi semampai ini perempuan. Aku bukan mau liat ubun-ubunmu, Miranda… aku mau liat belahan tetekmu kalo bisa.

“Lupa ya dengan pasal pertama perjanjian kita?” tanyaku.

Pertama kali ia membaca perjanjian itu, ia membaca dengan pongahnya seolah itu adalah hal remeh yang tak mempunyai arti. Sekarang kuingatkan lagi padanya.

“Pasal satu berbunyi… Pihak pertama (Nasrul/Aseng) dan pihak kedua (Hendra dan Miranda) berjanji tidak akan melibatkan perasaan di hubungan ini. Tidak akan ada hubungan yang lebih jauh dari pada saling tolong-menolong di kerjasama ini… Kalo Miranda kangen sama aku… itu artinya Miranda ada perasaan khusus sama aku… Bukan begitu?” kutegakkan kepalanya dengan menaikkan dagunya yang sedikit berbelah indah.

“Apa benar?”

“Miranda… Miranda mulai suka sama bapak…” katanya pelan takut-takut melihatku sesekali lirik.

“Suka? Karena itu ada pasal pertama dibuat, Miranda… Tidak boleh ada hubungan yang melebihi hubungan tolong menolong ini… Di akhir hubungan kita nantinya… kalian berdua akan bisa melakukan hubungan suami istri ini tanpa bantuanku lagi… Selamanya… Jadi… tolong hapuskan rasa suka itu sebelum menjadi rasa yang lebih berbahaya lagi… Cinta misalnya…” aku memegangi kedua sisi pipinya agar dapat kunilai matanya lebih dalam.

“Kenapa, pak? Apakah aku kurang pantas?” matanya mulai basah. “Aku bisa dengan mudah meninggalkannya…”

“Bukaaan…” kurekatkan keningku ke keningnya.

Saling merapat, sedekatnya–menyampaikan maksudku tanpa maksud menyakiti. Kupejamkan mataku seperti ia juga memejamkan matanya.

“Hatiku hanya untuk istriku dan itu tidak bisa ditawar-tawar lagi…” kupisahkan kening kami berdua.

“Miranda pasti paham maksudku… Selain dari hal itu, aku selalu tersedia…” mata kami bertatapan erat kemudian. Miranda lalu tersenyum manis lagi walopun matanya masih basah.

“Berarti boleh cium lagi?” sergahnya riang.

“Asal gak ada sisa si Hendra kimak itu–boleh…” jawabku.

Ia langsung menubruk mulutku lagi dan menikmatinya sepuas-puasnya. Berdecap-decap suara basah percumbuan mulut kami. Miranda gak segan-segan mengacak-acak rambutku mengekspresikan rasa senangnya bisa menikmati mulutku. Aku sekedar mengelus-elus rambut indahnya.

Lama kami di ambang pintu lalu lanjut ke ruangan dimana Hendra dari tadi menunggu dengan keadaan terikat menyedihkan begitu. Seakan ada pakta rahasia antara aku dan Miranda setelah itu. Hanya antara kami berdua saja.

Miranda mengikat kakinya sekedarnya, lalu melilit-lilit tali untuk mengikat tangannya lalu berbaring di samping Hendra. Begitu sedikit flash back-nya. Ternyata kedua pasutri sembrenget ini meliburkan semua ART dan mengungsikan semua orang yang gak berkepentingan untuk liburan. Horang kayah mah bebas, yak?

“Yang paling berharga di rumah ini adalah dirimu… sang nyonya rumah…” kita balik lagi ke momen tadi.

“Melebihi semua harta di rumah ini… Ini semua punyamu, kan?” sergahku pada si Hendra pukimak itu yang meringkuk tak berdaya, terikat dengan ketat tetapi diposisikan bisa mengakses kontolnya sendiri di balik celana pendeknya.

“Cak kutanya dulu sama kao… tuan rumah pemilik gedong ini…” aku beralih pada Hendra dengan tetap masih berjongkok.

“Apa yang paling berharga di rumah ini?” tanyaku menodongkan bagian runcing bambu yang kubawa ke mukanya. Bambu ini sebenarnya penopang tanaman di halaman rumah mereka. Ukurannya hanya pas segenggaman saja.

“Apakah TV mahal ini?” aku melempar batang bambu itu dengan sangat cepat.

TV plasma berukuran 40 inchi itu tembus dari depan ke belakang seperti kambing guling.

“Ups…” kataku menutup mulut seperti ekspresi kaget.

Mata Hendra melotot beneran kaget melihat bambu itu bisa tembus dengan mudah pada TV plasma yang harganya saat itu sudah lumayan selangit. Padahal harusnya hanya membentur saja dengan tenaga lemparan biasa. Ia balik menatapku dengan pandangan horor. Entah apa yang dipikirkannya.

Diikutinya aku hanya bisa lewat tatapan matanya, yang mencabut sate TV itu.

“Apakah… sofa mahal ini?” tanyaku sambil jalan sembarangan di dekat sofa yang kumaksud hingga ujung tajam bambu itu menyobek memanjang bahan kulit mahal pelapis sofa itu. Tak ada satupun sofa di ruangan ini yang luput dari vandalismeku.

Mata Hendra melotot besar mau keluar tapi tak berdaya. Miranda hanya menatap nanar tak jelas ekspresinya. Aku sampai di dekat sebuah grand piano mengkilap.

“Apakah juga kibot ini?” (di Medan orgen tunggal disebut kibot. Kibot=keyboard) kataku mengurangi intelejensia dikit dengan menyebut piano ini sebagai kibot. Kucungkil penutup tuts-tuts piano itu dengan ujung batang bambu.

Kuketuk-ketuk sembarangan dengan alat yang sama hingga terdengar fals nyakitin kuping dan BRAAK! Jrenng! Grand Piano itu terbelah dua seperti sebuah bolu pandan yang lembut. Suara dawai-dawai alat musik itu mengeluarkan suara denting berisik yang semakin memekakkan kuping. Grand piano sebesar itu kubelah dua dengan tebasan bambu remeh ini.

Hendra terlihat menggigil di tempatnya. Entah oleh amarah atau takut. Beberapa benda lainnya juga menyusul kurusak dengan aksi vandal ini. Keramik-keramik berbentuk vas, hiasan dinding, lukisan, ukiran dan instalasi seni.

Kalo mau main gila, kukasih tau klen semua, gak usah nanggung-nanggung. Satu-satunya yang tak kuganggu adalah sebuah foto Miranda yang terlihat anggun di busana kebaya kontemporer-nya. Aku sedang menikmati pemandangan wajahnya yang cantik dibalut busana berkelas itu.

“Ini… ” kataku menunjuk-nunjuk pada foto yang kumaksud itu. Aku balik ke arah Hendra dan mengarahkan kepalanya pada apa yang kumaksud.

“Ini baru berharga…” Semua kerusakan yang kusebabkan menyisakan satu keindahan hakiki berbentuk satu imaji sebuah foto indah tangkapan lensa seorang yang tau betul apa yang dilakukannya.

“Ini yang berharga…” aku balik lagi ke arah bingkai foto yang kuturunkan dari dinding, membawa foto itu pada Hendra dan mendekatkannya pada mukanya.

“Liat… Cantik, kan perempuan ini?” Hendra mengangguk setuju.

Aku menggetok kepalanya dengan bambu itu.

“TOK!” padahal pelan aja tapi ia merem ketakutan dikiranya aku akan menghancurkan batok kepalanya seperti TV plasma dan grand piano itu. Ia mengintip karena rasa sakitnya hanya sekedar aja, gak sampe terburai-burai isi otaknya meleleh.

“Cantik binikmu ini… Setuju, kan?” tanyaku lagi. Lagi-lagi ia mengangguk setuju.

“Kalo cantik… kenapa kok kou kasih sama orang lain, BODAT!” (bodat=monyet) makiku di depan mukanya.

Tidak dengan bambu lagi melainkan dengan tinjuku yang menghantam granit mengkilap di bawah mukanya. Rengkah retak lantai keras itu pas sekepalan tanganku. Matanya melotot melihat retakan granit mahal yang kusebabkan. Kujambak rambutnya dan kuseret ke arah Miranda berada.

“Suami borjong (sialan) memang kao, yaa? Binik secantik ini kao kasih-kasih ke orang lain… Kurampok-lah hartamu yang paling berharga ini…” kubanting kepalanya sekenanya ke arah lantai lalu aku beralih ke Miranda. Membiarkannya melihat apapun yang akan kulakukan pada binik cantiknya.

Kuangkat tubuhnya dengan berpegangan pada kedua ketiaknya dengan terlebih dahulu menyingkirkan kain penutup mulutnya. Langsung kucaplok bibir indahnya. Bibirnya kusedot-sedot dan ia memejamkan mata menikmati perlakuan sedikit kasarku.

Tangannya yang dililit tali seadanya terlepas karena gerakanku. Ragu-ragu ia ingin memelukku, tangannya masih mengambang di atas punggungku. Ujung jarinya terbenam di kulit punggungku kala lidahku menyeruak masuk mengajak lidahnya saling belit, bergulat bercampur basah.

Ludahnya kusedot-sedot lalu kusetorkan kembali padanya. Dengan senang hati ia menerima bahkan menyedotnya. Tanganku menelusuri punggung pakaian baby doll minimnya, merasakan lembut bahan pakaian mahal dari butik ternama ini.

Dada kami rapat saling bergesekan hingga aku dapat merasakan kenyal tetek bulat di balik pakaiannya. Miranda mengetatkan pelukannya setiap gerakan mulutku berganti metode menyerang mulutnya. Lidahku disedotnya memasuki rongga mulutnya, kugelitik langit-langit mulutnya dengan ujung lidahku.

Miranda mendesah dengan permainan mulutku. Tangannya mencengkram punggungku seperti juga aku yang mencoba melucuti baby doll-nya. Tubuh indahnya segera terpampang di depan mataku bagaikan sebuah pahatan pematung maestro era Rennaisance yang sempurna tanpa cacat dari pualam mewah.

Ia tak memakai bra hingga hanya secarik celana dalam putih sutra yang melindungi tubuhnya. Aku tak memperdulikan mata Hendra yang pasti mengawasi perbuatanku pada istrinya. Pasti si paok pukimak itu sedang ngocokin kontol borjongnya itu kek bodat gak berotak.

Kembali aku dan Miranda bercumbu mulut sambil saling remas-remas. Kulepaskan tali yang membelengu pergelangan kakinya hingga ia bisa duduk di pangkuanku. Miranda menggerakkan pinggulnya berputar-putar, menghimpitkan bokong padatnya pada selangkanganku yang sudah meradang. Ia pasti bisa merasakan Aseng junior-ku bangkit dan mengganjal. Lama kami berciuman mesra berulang-ulang mempermainkan bibir, lidah dan ludah. Seolah sudah lama kami terpisah dan kembali bertemu di kesempatan yang sangat indah ini.

“Ahhh…” lidahku mulai mencumbu telinganya yang bergiwang berlian.

Masuk menggelitik cuping telinganya. Menelusur ke balik hingga batas tumbuhnya anak rambut lalu turun ke bawah menyusur leher jenjangnya.

Sedot-sedot pelan agar tak sampai menimbulkan merah cupang. Miranda udah mengerang hanya dengan perlahan begitu dan terkadang tubuhnya melonjak kegelian. Lidahku bermain di leher dan akhirnya sampai di bahunya. Ludahku sudah banyak berbekas di kulitnya.

Aku gak segan-segan menjilati sekujur tubuhnya yang lezat. Lalu aku balik lagi saling jilat-jilatan dengan Miranda. Bertukar ludah dengannya. Merasakan kenyal teteknya di dadaku. Kudekap erat tubuhnya dengan gemas. Maak… Cantik kali perempuan ini. Miranda pasti merasakan gemasnya diriku di tiap sentuhanku.

Sangking gemasnya sampe terlintas kelebatan pikiran gila untuk meremasnya hingga hancur! Itu sangat gila dan lumayan sakit. Dah ketularan gilak si Hendra paok aku keknya.

Tentu sayang menghancurkan barang bagus seindah dan semulus Miranda ini. Apalagi ia sudah menerima bibit spermaku semalam. Mana tau udah jadi, kan? Ia bisa jadi sudah mengandung anakku di dalam rahimnya.

Apa lagi bentar-bentar lagi juga aku akan menyetorkan bermili-mili liter sperma segar baru ke dalam sana. Memperbesar prosentase keberhasilanku menghamili perempuan cantik ini. Aseng junior menegang keras mengetahui rencana brilianku ini.

Membenamkan Aseng junior di cheese burger sempitnya adalah tujuan utamaku datang ke rumah mereka malam ini. Aku belum pulang ke rumah sama sekali dan melepas stres sehabis bekerja dengan kegiatan gila bareng pasutri ini.

Kulucuti semua pakaian yang kukenakan dan meninggalkan sebo hanya sebagai topi penutup rambut. Kutindih Miranda di atas lantai granit ini. Kulit ke kulit dengan intens. Nyaman sekali merasakan kulit halus dan lembut perempuan secantik dan seanggun Miranda.

Perawatan mahal yang dilakukannya jelas berbeda dengan perempuan kebanyakan. Sebuah kebiasaan yang sudah dinikmatinya sedari kecil. Aku merasa beruntung dapat ikut serta menikmatinya. Menjilatinya. Menyedotnya. Tetek bulat mengkal Miranda kini menjadi bulan-bulananku.

Ia mengerang-ngerang seksi karena teteknya kuremas, kupilin dan kusedot. Pentilnya kuplintir-plintir dengan lidah. Membalurnya dengan ludahku lalu menyedotnya dengan suara berisik berdecap-decap.

Suara berisik ini pasti akan membuat Hendra mengocok kontolnya lebih kencang. Aku gak mau sama sekali melepas perhatianku dari Miranda untuk sekedar melirik si pukimak satu itu. Kao abis-abisin aja manimu di sana sampe kering!

Tetek Miranda yang berlepotan ludahku membuatku pengen memainkan Aseng junior di sana. Kujepit kemaluanku di antara teteknya yang mengkal. Rasa lembut dan kenyal teksturnya sungguh membuatku meleleh. Miranda menekan sisi tetek bulatnya, membantu menjepitkan payudaranya sembari aku mulai mengocok.

Ukuran tetek Miranda memang tidak terlalu besar. Cenderung kurang untuk tit-fuck tapi sensasi kenyalnya cukup membantu membuat Aseng junior terbang ke awang-awang. Melayang-layang. Kubentur-benturkan kepala Aseng junior ke kenyal daging pembentuk tetek Miranda yang terasa sangat menagihkan.

“Nyot nyuut nyoot…” kuputar-putar kemaluanku ke sekitar teteknya, meratakan sisa ludahku yang masih menodai kulit halusnya.

“Ahhh…” rasanya sangat memabukkan.

Berdenyut-denyut Aseng junior merasakan enak tekstur kenyal tetek itu gak tahan. Cepat-cepat kujauhkan dia dari rasa enak itu. Gawat kalo dia harus muntah duluan di TKP ini. Kurebahkan tubuhku kembali dan mencumbui mulut Miranda kembali.

“Enaak?” tanyaku. Tak sadar kusodok-sodok Aseng junior pada pahanya.

“Enak, paak… Bapak agresif, yaa?” jawabnya lirih dengan muka memerah penuh nafsu.

“Kok mau dulu Miranda sama pukimak paok itu?” tanyaku dengan tangan usil meremas kedua teteknya untuk mengulur waktu. Abis ini aku berencana akan memasuki mulutnya. Peredaran darah dan jantungku harus diredakan terlebih dahulu.

“Kami dijodohkan, pak… Tapi keknya… Hendra sudah lama ngincar aku… Rela dia kek gitu kubuat selama ini…” jawab Miranda merangkum semua proses perkenalan mereka dahulu.

“Jadi kok mau Miranda diperawani pake kontol palsu? Apa enaknya?” tanyaku memilin-milin, mlintir kedua putingnya dengan gemas. Jenggotku menggelitik belahan dadanya.

“Abis gimana lagi, pak… Kontolnya gak bisa naek… Kalo nonton bokep sendirian… bisa naek kontolnya… kan paok itu namanya…” aku tertawa nyengir mendengar penjelasannya.

“Tega dia nonton bokep di kantor waktu yang lain kerja supaya dia bisa ngocok kek gitu…” unjuk Miranda dengan gerakan dagunya ke arah Hendra di lantai di belakangku. Halah… Gak usah ditengok. Ngerusak mood aja.

“Sakit kami ya, pak?”

“Gak… Dia aja yang saket… Miranda enggak…” kutunjuk ke belakang tanpa kuliat si pukimak satu itu dan kusumpal mulut Miranda kemudian.

Aku kembali menciumi mulutnya dengan gencar dan dibalasnya bersemangat juga. Tangannya menjelajah dan menemukan Aseng junior-ku. Digesek-gesekkannya kemaluanku ke arah celana dalamnya. Ke arah cheese burger-nya yang masih berbungkus. Belum Miranda. Kita belum sampai pada tahap itu. Walau sudah terasa basah belahan burger itu.

“Mirr…” aku bergerak maju.

“Ommph…” Aseng junior melesak masuk ke mulutnya dalam pertama kali.

Matanya membeliak kaget awalnya karena kepala Aseng junior membentur pangkal tenggorokannya. Berikutnya ia mengatupkan mulutnya rapat. Batang Aseng junior terselimuti sempurna oleh lembut permukaan dalam mulutnya yang hangat sekaligus basah. Lidahnya menggelitik pelan.

Mencoba meraba permukaan kulit Aseng junior yang licin. Gimana gak licin cobak? Udah banyak kali binor yang dimasukinya. Termasuk binor yang satu ini. Pelan-pelan kugerak-gerakkan Aseng junior keluar masuk.

Mulut Miranda terasa penuh dengan kontolku, beserta lidah dan liurnya. Rasanya sangat nyaman sekali. Ia berusaha keras agar gak menyentuh gigi geliginya. Diselimutinya batang Aseng junior dengan lidahnya saat aku mulai memompa mulutnya.

“Uoohh…” aku mengerang ketika Miranda mencoba menyedot dan matanya terpantik senang melihat ekspresi yang kuhasilkan.

Diulanginya lagi lebih kuat. Sedotannya makin menggila. Kek nyawaku-pun ikut kesedot seruputan dahsyat Miranda ini. Kupegangi kepalanya dan kuperkosa liar bareng sedotan yahudnya.

“Ahh… Shhh…” aku gak kuat.

Kucabut Aseng junior dari mulutnya dan menyerahkan pelerku sebagai gantinya. Ia menggelomoh dan menelan sebiji pelerku. Rasanya ngilu-ngilu sedap. Setidaknya Aseng junior aman untuk saat ini. Ia merah membiru, basah kuyup dengan liur kental.

Sayang kalo harus ngecrot selain di dalam cheese burger lezat itu. Mubazir rasanya. Miranda berganti-ganti mengemut pelerku kiri-kanan bahkan keduanya sekaligus. Mengadu dua biji itu bergesekan di dalam mulutnya. Lidahnya lancar dan ahli sekali jadinya memainkan organ sensitif pria.

“Dah, yaa…” kataku menghentikan emutannya pada pelerku.

Aku menggenggam Aseng junior agar gak jadi mangsa dicaploknya lagi. Rasanya udah terasa enak tapi aku belum melakukan semua bagianku. Ngoral Miranda misalnya.

Aku merebahkan tubuh Miranda ke lantai granit, sebuah bantal sofa yang tercabik-cabik kujadikan bantal kepalanya. Kuloloskan celana dalam mini putih dari sutra itu hingga tak ada apapun yang dikenakannya selain setelan ulang tahunnya sejak lahir, polos bugil.

Kulebarkan kakinya dan aku memposisikan diri di antara bukaan kakinya. Mengira sudah akan dicoblos, Miranda mempersiapkan diri. Aku mendekatinya wajahnya lagi.

“Rumahmu kuancur-ancurin kek gini… Miranda gak marah, kan?” bisikku agar gak terdengar Hendra. Kusamarkan dengan mengecup bibirnya.

“Enggak, pak… Mudah… Tinggal beli lagi aja… Miranda paham apa maksud bapak, kok…” jawabnya membalas kecupanku dengan bisikan juga.

Bagus deh dia paham. Aku mengangguk-angguk. Kukecup keningnya, pucuk hidungnya, bibirnya, dagunya, masing-masing putingnya, turun hingga mengecup perutnya, sedikit berdoa semoga usahaku menghamilinya berhasil dan aku tiba di hidangan utama.

“Paakk?” desahnya saat aku memandangi belahan cheese burger-nya yang menawan. Hembusan nafas panasku pastinya terasa menerpa permukaan vaginanya.

“Aaauuh…” jilatan lebar dan panjang membuka rangkaian permainan oralku terhadap cheese burger pujaanku ini. Bentuk unik jembut yang di-trim berbentuk love menginisiasi keindahan kemaluan seorang dewi berbentuk manusia yang menurut hematku sudah sempurna walau dengan situasi yang tak sempurna.

Kukutik-kutik kacang itil tepat di bagian atas belahan lepitan dua lembar keju cheddar. Cheese burger ini sudah becek akibat foreplay sebelumnya. Bahkan liang kawinnya sudah berdenyut-denyut siap dan rela dimasuki kapanpun.

Kulebarkan bukaan cheese burger ini hingga isi semua bagian dalam daging nikmat ini terpampang jelas. Lidahku liar menerabas dan melibas semua gerinjal nikmat beraroma menakjubkan ini. Seksi sekali aroma yang menguar dari kemaluan Miranda, membuatku tergila-gila untuk terus mencucup dan menjilatinya lagi dan lagi. Trus menerus.

Lidahku kuruncingkan dan menusuk gemas ke dalam liang kawinnya. Miranda melengkungkan tubuhnya dan meraung-raung menikmati permainan mulutku di kemaluannya. Kepalaku yang dijepitnya dan ia membawaku terombang ambing kiri kanan. Aku hanya bisa mencengkaram pangkal pahanya untuk pegangan.

“Paakk… Aiihh… Enaaaknyaa, paak… Uhhh… Yaahh… Yak… Ummhh… Uuhhsss… Auhh… Mmm…” erangnya sungguh menambah bumbu penyedap hinggaku semakin semangat mempermainkan cheese burger nikmat dan mempesona.

Gak usah ditanya ceman tegangnya Aseng junior-ku? Udah kek tugu nasional tegak berdiri dia. Udah meradang sedari tadi karena kugantung gak nyoblos-nyoblos dia. Sabar ya, Seng… Yang sabar dapat hadiah terbesar. Cheese burger lezat! Pasti dapat kao!

“Akkhhh…” bergetar tubuh Miranda dan berkelojotan tubuhnya mengepit kepalaku dengan pahanya.

Kupingku terasa berdenging karena kuat kepitannya. Bergetar beberapa kali tanpa bisa mengeluarkan suara hanya tubuh mengejang pertanda orgasme yang maha dahsyat melanda sekujur tubuhnya.

Lalu lemas dan pahanya terbuka mengangkang lebar begitu saja. Kala kutes dengan jilatan ringan, tubuhnya merinding kecil tanda masih ada sisa kenikmatan yang mengapung di awang-awang esktase-nya.

“Hah-hah-hah… Mauhh mashuuk, phaak?” tanyanya memaksakan diri karena ia merasakan Aseng junior-ku yang kupukul-pukulkan ke permukaan cheese burger-nya yang membentang terbuka tak terlindung apapun, pasrah.

“Bentaran ya, phaak… Masih ngiluuh kaliihh…” katanya yang berbantalkan bantal sofa rusak tak berdaya.

Tangannya terkulai lemah dan kakinya mengangkang lebar tak bertenaga. “Tadi enaak kallihh…” akunya puas dengan kenikmatan yang baru direguknya. Aku tidak berhenti menepuk-nepukkan Aseng junior pada kemaluannya, mencicipi cairan lengket yang menggenang di permukaan vaginanya. Kugesek-gesek sekarang.

“Iyaa, Miranda… Tenang aja… Nikmati aja… Ini lebih enak lagi…” kataku mengoles-oles kepala Aseng junior ke bukaan liang kawinnya yang berdenyut-denyut.

Kepala Aseng junior sudah berlepotan cairan lengket bening itu. Pastinya akan mudah terpeleset dan terbenam dalam liang nikmat itu. Aseng junior sudah gak sabar lagi. Sudah berkedut-kedut kangen. Padahal baru kemaren malam, liang ini menjadi sarang barunya, udah gak sabar lagi pengen masuk.

Kuajak ia ngobrol untuk membuatnya lebih rileks, mengaburkan tusukan-tusukan pelan kepala Aseng junior yang perlahan ngetes masuk. Celup… keluar lagi. Celup lagi lebih dalam… keluar lagi. Tau-tau setengah batang Aseng junior junior udah bolak-balik masuk keluar.

“Mmm… Enak, paak… Lebih cepat, paak…” desah Miranda yang ternyata sudah mulai menikmatinya.

“Auhh…” kubenamkan seluruh batang Aseng junior kandas hingga pelerku menyentuh selangkangannya.

Kudiamkan sejenak lalu kuputar-putar untuk membiasakan liang sempit cheese burger ini akan besar lingkar diameter kemaluanku ini. Kurebahkan tubuhku ke arahnya dan mengajaknya bercumbu mulut lagi. Disambutnya dengan senang hati dan semangat. Lidah kami saling belit kembali seperti yang udah-udah dan pelan-pelan kugerakkan pinggulku keluar masuk.

“Ehhh… ehh…” lidahnya kutangkap sedot di dalam mulutku.

Matanya terpejam menikmati rasa enak yang bersumber dari pertemuan bersatunya kelamin kami. Ludahku kusetor ke dalam mulutnya dalam jumlah banyak dan disambutnya dan ditelannya dengan suka cita.

Kuhisap-hisap terus lidahnya dan pompaanku semakin cepat seperti permintaannya. Aku udah gak mau nahan-nahan lagi. Sudah terlalu lama. Lagian aku bisa mengulangi ini lagi-lagi dan lagi.

“Ahh… Paaak! Anget!” erangnya merasakan semburan kental spermaku menyerbu masuk ke dalam rahimnya lewat saluran khusus Aseng junior-ku.

“Crooot! Croott!! Croottt!!! Mirrrr… Uhh…” erangku juga merasa plong sekali.

Akhirnya nyemprot juga aku di cheese burger pujaanku ini. Mengisi relung rahimnya dengan bibit suburku yang sudah terbukti mampu menghamili semua binor yang pernah kutiduri. Ini kesempatan pertama di malam kedua aku bisa mengangkangi binik orang begini bahkan di depan mata suaminya sendiri yang telah sadar menyerahkannya padaku untuk kuapain aja. Si Hendra paok itu bahkan mengikat dirinya sendiri di permainan fantasy-nya.

Kubiarkan Aseng junior bercokol cukup lama, menyumpal di dalam sana dan aku kembali mencumbui bibir Miranda. Aku dan Miranda sangat menyukai ritual bibir ini. Tak puas-puas kami saling pagut dan belit.

“Pak Aseng cup… yakin, pak gak berubah pikiran cup…, pak…?” bisiknya diantara saling kecup itu.

“Miranda asal sama bapak aja… udah kutinggalkan dia… Gak ada hatiku dengannya, pak… cup!” lanjutnya dengan niat terpendamnya itu lagi. Ia tak jemu berusaha meluluhkanku.

“Husshh… cup… cup… Nggak bisa, Mirr… Ingat?… Ini tidak bisa ditawar-tawar lagi… Ini keputusanku sudah sejak la-maaaa kali… Dan aku gak pernah berniat merubahnya bahkan untuk perempuan secantik Miranda… Ato kalo nanti-nanti ada yang lebih cantik lagi dari Miranda sekalipun… Maaf ya, Miranda cantik… Cukup segini aja… Nanti-nanti kalo Miranda butuh… awak usahakan… Tapi gak janji-loh… cup…” bisikku panjang lebar.

Payah kalo perempuan udah maen perasaan. Andalannya tempek sama tetek. Untung aja aku punya dinding kokoh sekuat baja. Ditubruk tetek seempuk apapun pasti mental.

“Pak Aseng-ihh… Gak asik-ih…” ngambeknya dengan bibir bawah maju manyun dengan imut. Kugigit bibir itu dengan gemas dan kukulum-kulum hingga ia kegelian.

“Hi hi hi… Ahh…” kutuntaskan dengan menekan Aseng junior-ku lagi yang belum tercabut.

Ia sudah bangkit lagi setelah sempat istirahat di dalam peraduan sangkar hangatnya.

“Aahh… Miranda di atas, pak?” katanya gugup karena kurebahkan tubuhku bergantian dengannya yang kutarik hingga menimpa, menduduki perutku. Kelamin kami masih akrab bersatu tak terlepaskan.

“Miranda gak tau caranya, paak… Belom pernah…” ragunya.

“Mudah kok, Mirr…” kuposisikan kedua kakinya agar mencecah lantai, membagi berat tubuhnya hingga titik tumpu ada pada di selangkangannya yang dicolokin batang Aseng junior.

“Tegakkan badannya, cantik… Nah…” aku mendorong sedikit perutnya agar tubuhnya tegak.

“Seksi kali kau, Mirr… Coba gerakin naik turun…” kubantu ia dengan mendorongkan perutku ke atas agar ia tau maksudku.

“Aihh… Geli, pakk…” erangnya karena jepitan liang kawinnya seperti tak rela melepaskan cengkramannya pada Aseng junior-ku.

Tapi dicobanya lagi dan lagi. Alhasil hentakan tubuhnya menghujam padaku sungguh luar biasa. Mentok sodokan sepanjang ukuran batang Aseng junior menghantam titik terjauh liang kawin Miranda lagi dan lagi.

“Aahhss… Auhhh… Uhh… Luar biasa… Enaak, paakk… Ahh…” ia selalu mengerang tapi terus mengganyang batang kemaluanku tanpa ampun.

Miranda cepat beradaptasi dan ia menyukai posisi ini. Apalagi sejatinya posisi ini menggambarkan dominasi seorang perempuan yang tau apa yang ia mau. Perempuan yang mengendalikan seluruh aspek persetubuhan gaya ini.

Bahkan kalo mau, perempuan bisa mendikte kapan pasangannya harus ejakulasi dan kapan menundanya untuk keuntungannya sendiri. Miranda yang biasanya dominan, pasti insting-nya berdenting mengetahui potensi ini. Aku harus mencari hiburan, nih.

Tetek berukuran 34D itu berguncang-guncang bagus kemudian menjadi mainanku sebagai pengalih perhatian. Walo aku barusan ngecrot di ronde pertama tadi, kalo begini caranya bentar-bentar lagi aku bisa kebobolan lagi.

“Aduh, mak!” erangku kala Miranda mengganti gerakan dengan maju mundur masih menduduki perut dan selangkanganku.

Ini setara sodokan pendek-pendek. Aku dan Miranda bersuara berbarengan karena gesekan Aseng junior ke kacang itilnya juga terasa. Jariku lincah bermain di kedua putingnya, mengalihkan perhatian konsentrasi agar terpecah dan tak terlalu fokus pada kenikmatan di selangkangan.

“Aduh, makjang!” Miranda bertransformasi lagi menjadi mesin seks. Ia memutar-mutar pinggulnya sehingga Aseng junior terasa seperti diulek di dalam liang kawinnya.

“Enak kali, paak… Uuhh…” erang Miranda juga.

Gerakan yang ditemukannya itu sendiri pasti hanya coba-coba karena lelah ato bosan dengan satu gerakan monoton. Malah membuat aku semakin kelimpungan. Sepasang teteknya kuraup dan kuremas gemas. Pasrah kalo Miranda melakukan penemuan lainnya. Geal-geol campur maju mundur lalu naik turun dikombinasikannya menjadi satu lalu dirumuskannya menjadi formulanya. Sialan! Kombinasi 2-1-ku yang termasyur di kalangan binor bakalan keok di tangan Miranda kalok begini.

“Mmm…. Uuhh… Enak gak, paak?”

“Mamak’eee… Aduh, maaak… Enak kali, Mirrr… Crroott!!” kaku kedua kakiku saat aku kalah dan menyemprotkan spermaku lagi kurang dari sepuluh menit dari mulai ronde kedua ini.

Menyadari aku sudah ejakulasi, Miranda tak kunjung menghentikan gerakan formula WOT-nya ini. Spermaku luber dari sela-sela pertemuan kelamin kami. Malah karena itu, ia maklum dan mencondongkan tubuhnya padaku. Menjangkau mulutku yang ngos-ngosan.

“Hi hi hi… Udah keluar, pak? Kerasa anget-angetnya…” bisiknya mengecupi mulutku.

Gemes kucaplok mulutnya dan kami bercumbu mulut lagi. Hendra di belakangku pasti melihat ini semua tanpa berkedip. Pasti dia udah beberapa kali ngecrot di sana karena belaian sendiri. Walo sudah begini, Miranda kembali menggoyang Aseng junior yang lunglai melengkung.

Ia bisa belajar cepat menggerakkan tubuhnya untuk mengantisipasi posisi Aseng junior yang kurang menguntungkan. Pelan-pelan ia mengocok kemaluanku dengan cheese burger-nya agar tak sampai terlepas karena licin dan kurang ereksinya.

“Nakal ya, Mirr…” kataku menjentik ujung hidung mancungnya.

Ia cekikikan tertawa dengan manisnya. Kami berciuman hanya dengan ujung bibir dan mata bertatapan mesra sementara ia terus menggerakkan pantatnya sampai Aseng junior mendapatkan kembali tenaganya.

Tanganku menjamah dua bongkah buah pantatnya yang padat dan kenyal, meremasnya sebentar dan membantu temponya mengocok Aseng junior-ku. Kusambut gerakannya dengan menekan ke atas juga hingga hentakan pertemuan kelamin kami makin dalam dan intim. Pangkal penisku dan daging pubis-nya berbenturan saling silaturahmi.

“Satu malam bisa berapa kali keluar biasanya, pak?” tanya Miranda masih bekerja sama saling hentak. Ia menjalankan ujung jarinya pada batang hidungku lalu ke pipi. Mata kami masih lekat satu sama lain.

“Sebanyak-banyak perlunya aja… Pernah lima kali… Gak tentu sih…” kataku sendiri gak terlalu yakin aku bisa berapa kali ngecrot berturut-turut.

Biasanya pada perempuan yang sama semalam pernah tiga-empat kali gitu, deh. Miranda terperangah mendengar kata lima barusan. Ia berhenti menghentak dan menggantinya dengan geol berputar. Aseng junior terasa dipulas pelintir rasanya.

“Masak?” kagetnya.

“Hebat, pak Aseng… Makin klepek-klepek aku, paak…” rayunya lagi.

Naga-naganya Miranda keknya minta diencrotin lima kali, nih. Diciuminya lagi mulutku dengan manja. Kami berbincang-bincang layaknya pasutri sah di rumah sendiri. Gak akan ada pengganggu apalagi grebek satpol PP. Yang ada Hendra paok aja di situ entah ngapain.

“Ngaahhh…. Ahhnnn… Auuhh… Paak…” kuganti posisi menggasak Miranda berikutnya.

Ia kubuat nungging berpegangan pada sisi pegangan tebal sofa yang sudah sobek-sobek. Pantatnya mencuat tinggi dengan kaki lurus jenjangnya. Aseng junior menusuk memompa dengan riangnya dari belakang tunggingannya. Sodok-sodok ke pantatnya nunggingnya, Aseng junior terjepit erat. Nikmat kali binor ini. Hendra masih menonton dengan seksama.

Kuremas-remas pantat montok Miranda selagi Aseng junior-ku terus merangsek cheese burgernya dengan kombinasi tusukan 2-1 andalanku. Kek-keknya bentar lagi bakal orgasme lagi ini perempuan cantik. Terasa dari kedutan-kedutan acak dan raungan suara melengking keenakannya.

Ia memuji-muji kehebatanku dalam menggaulinya, merendahkan suaminya yang ada di ruangan ini bersama kami, pemirsa budiman yang terikat erat. Dibilangnya-lah kontol lakiknya gak enak. Dibilangnya-lah kontolku hebat dan besar. Dibilangnya-lah lakiknya edi tansil. Dibilangnya-lah aku kuat menggenjotnya. Entah hapa-hapa aja yang keluar nyerocos dari mulutnya. Udah kebiasaan mungkin.

Berputar-putar pantatnya kala orgasmenya datang melanda. Aseng junior kucabut cepat-cepat dari sana, takut diremas-remas mempercepatnya ngecrot lagi. Bergetar tubuhnya walo dalam keadaan lemas sedemikian rupa. Ia menungging berlutut dan tubuhnya telungkup di sofa.

“Paak… Enak kaaali, paak…” erangnya dengan suara parau dan rambut acak-acakan. Bahunya naik turun seirama dengan kembang kempis liang kawinnya yang sedikit menganga menjulang mengundang dicoblos kembali.

“Uhh…” kubalik tubuhnya hingga duduk bersandar di sofa mahal yang sudah kupak-kapik ini. Kulit pembalut lapisan busa empuknya koyak-koyak tak beraturan.

“Kamar kalian di atas?” tanyaku sambil berusaha mengarahkan Aseng junior pada bukaan mengembang cheese burger-nya dengan kaki mengangkang pasrah. Miranda menjawab hanya mengangguk walo mulutnya menganga untuk udara. Kuoles-oles Aseng junior meratakan cairan yang menggenang di sekitar bukaan kemaluannya.

“Mp-em… Ahh…” jawabnya dan langsung kujebloskan Aseng junior tergelincir masuk di dalam liang sempit tapi licin itu.

Miranda yang duduk bersandar di sofa dengan kaki mengangkang mendesah-desah kupompa lagi dan lagi dengan sodokan 2-1-ku.

“Paak… Enak-enaak, paak…” erangnya sambil memajukan bibirnya minta cium lagi.

Kukabulkan kemauannya dan aku menyetubuhinya dengan cumbuan mulut juga. Sungguh luar biasa satu ini. Ia senang sekali beradu mulut secara harafiah denganku selagi cheese burger-nya kusodok berulang kali.

Ia tak lagi memperdulikan suaminya, hanya kesenangan yang digapainya. Tak malu lagi minta cium dari lelaki lain yang sedang berperan sebagai perampok mesum malam-malam begini. Aku beralih pada tetek 34D-nya dan balik lagi ke mulutnya sesukaku.

Kupercepat genjotanku karena keknya aku udah akan ngecrot lagi. Miranda tau itu dan melebarkan kakinya lebih lebar lagi, menyambutku. Menyambut calon anak yang bakal disetorkan ke rahimnya.

“Mirr… Mirrr… Akh… Uh… Crot croot crooot!” kudesak selangkangannya bertemu permukaan perutku.

Peler dan batang Aseng junior memompakan isi bibit suburku. Memenuhi relung rahimnya yang haus akan siraman bibit unggulku. Ia dengan rela menampung semua semburan sperma hangatku yang juga disetujui suaminya. Dengan sepengetahuan suami paok itu, aku akan menghamili binor cantik ini.

“Akh… Akh…” kukuras semua muatan spermaku dengan hentakan tambahan.

Lalu kami berciuman lagi di tengah nafas berat memburu. Uap nafas kami menghangatkan pertemuan wajah kami yang bercumbu.

—————————————————————————-
“Ini kamar klen?” kataku berkacak pinggang di dalam kamar luas nan mewah di lantai 2 ini.

Miranda menunjukkan jalan menuju kamar ini dengan membawa serta Suhendra. Kakinya sudah diikat lagi seperti tadi dan ia berbaring di lantai dingin kembali.

Miranda duduk di atas ranjangnya yang bagus dengan sprei dan bed cover mahal. Ia duduk menyilangkan kaki memancing dan menggodaku agar kembali mengacak-acak tubuhnya. Disisir rambutnya dengan jari dan menatanya sekenanya.

Berantakan lebih cantik alami perempuan itu sebenarnya. Apalagi aura puas abis dientot beberapa ronde dengan hasil beberapa kali orgasme juga tak dapat menghapus rona senyum bahagia di wajahnya.

Aku gak bisa membayangkan tinggal dan tidur di kamar sebagus ini. Tunggu dulu. Aku punya rumah selevel ini juga di kompleks XXX itu. Cuma saat ini sedang disewa orang aja. Aku seharusnya gak perlu minder dengan orang kaya seperti mereka ini.

Yang kurang adalah furniture-furniture-nya aja karena kalo misal aku berniat tinggal di sana, aku harus melengkapi semua perabotannya karena penyewa itu pasti akan membawa semua furniture mahal dan mewah miliknya. Dua bulan lagi abis masa sewanya… Liat nanti-ah…

“Di sini kau kehilangan perawanmu dengan kontol palsu itu?” tanyaku mendekat pada Miranda. Aseng junior-ku yang setengah tegang menjuntai-juntai tiap langkahku.

“Iya, paak…” jawabnya mendongak begitu aku sudah tepat di depannya. Tangannya lancang dan langsung meraih Aseng junior. Kutepis tangannya. Bukan gitu cara mainnya.

“Ambil kontol palsu itu! Masih disimpan, kan?” sergahku. Miranda udah merasa sangat dekat jadi permainan ini harus dikembalikan ke pakemnya kembali. Aku jadi perampok yang notabene berperan antagonis harus tetap di peranku. Mereka sebagai korban-korbanku harus mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan dariku.

Mata Miranda kaget lalu berbinar-binar sudah mengira-ngira bakalan apa yang terjadi sehingga ia dengan riangnya menuju lemari tempat ia menyimpan benda-benda mesum yang jadi alat bantu mereka kala bermesraan sebelum bertemu denganku.

Aku menunggu sambil terus berkacak pinggang dengan batang bambu tetap menjadi senjataku. Dengan benda ini pula aku (pura-pura) mengancam Hendra agar menaiki tangga buru-buru tadi. Tak lama Miranda balik dengan membawa strap-on dildo hitam itu dengan riang gembira.

“Pake!” kataku tegas pada Miranda.

“Paak?” kagetnya. Entah apa yang tadi dibayangkannya kala kusuruh ngambil ABK (alat bantu kemesraan) ini. Mungkin dikiranya aku yang akan memakainya untuk menggenjot dirinya atau malah suaminya. Kalo opsi terakhir sih jijay bajay-ih.

“Kubilang pake ya pake!” pukulku ke lantai dengan batang bambu itu.

“Apa mesti pake bambu ini-heh?” ancamku.

Miranda mengangguk-angguk cepat dan buru-buru melingkarkan tali strap ABK itu ke pinggangnya sendiri. Kontol palsu yang bertengger di strap-on hitam itu juga berwarna hitam. Panjangnya hanya sekitar 15 cm saja karena untuk pangsa pasar Asia Timur sekitarnya.

Kalo versi Eropa ato Amerika-nya bisa lebih panjang dari ini. Miranda udah kelihatan seperti shemale sekarang dengan tetek bulat mengkal tapi ber-titit mengacung tegang.

“Gini, paak?” tanya Miranda takut-takut kubentak lagi atau bahkan pukulan batang bambu.

“Iya… Sekarang perawani burit lakikmu yang gak becus itu pake kontol palsu yang sama!” tunjukku tanpa melihat Hendra yang berbaring tak jauh dari kami.

Pastinya udah kek disambar petir kepala Hendra mendengar ucapanku barusan. Memerawani buritnya? Ha ha ha hi hi hi. Segila apa itu? Ya iyalah! Ia dengan tidak becusnya menggunakan alat untuk memperawani seorang perempuan, ia harus mendapatkan perlakuan yang sama. Alat yang sama pula.

Kalo dulu dia bisa pake onderdil pribadinya sendiri, masalah ini tidak akan terjadi dan aku tidak harus repot-repot harus jadi ikut gila bareng pasutri sableng ini.

Ragu-ragu Miranda menangkap maksudku dan menunjuk-nunjuk pantat Hendra. Pria malang itu berbaring menyamping masih dengan dengan kedua tangan terjepit kedua kakinya dan mata melotot ketakutan.

“Iya! Buritnya! Pake baby oil kalok perlu…” kupermudah kerjanya. M

emperingan sakit ato perih yang akan dirasakan Hendra tentunya. Waktu memerawani cheese burger Miranda pasti sakit berdarah, kan?

“Ambil baby oil… Lumuri itu kontol palsu pake baby oil…” lanjutku memberi instruksi sableng.

Miranda mengambil sebuah botol baby oil dari meja riasnya dan kikuk memegangi botol itu di atas kontol palsu berwarna hitam itu. Aku memberi instruksi tangan untuk menuang minyak itu di permukaan kontol strap-on yang dipakainya dan ia melakukannya dengan kikuk. Dibalurinya benda lalu meratakan minyak licin itu.

“Nah… udah licin, kan? Tegakkan badan lakikmu sampe bisa nungging sendiri…” kataku nyuruh-nyuruh sesuka udel.

Miranda berusaha mendorong tubuh Hendra yang lumayan berisi agar bangkit dari baring menyampingnya. Repot juga menegakkan tubuh Hendra hingga aku harus ikut membantunya. Tentu aja dengan cara yang elegan; ditendang-tendang, didorong-dorong pake kaki. Ia nungging bersujud dengan kepala mepet di lantai. Miranda berjongkok di belakangnya dengan ekspresi jijik.

“Tarik celananya… Miranda! Tarik!” kataku kembali menyergahnya agar menuruti perintahku.

Dengan gestur tubuh jijik-jijik gimana, ia menyingkap bagian belakang celana pendek yang dipakai Hendra untuk menampilkan pantatnya. Aku jauh-jauh dari sana. Pertunjukan ini lebih kepada hiburan untuk Miranda dan pelajaran untuk Hendra. Dia harus tau bagaimana seharusnya memperlakukan orang yang ia sayangi.

“Kau bisa menusuk pantatnya sekarang Miranda… Terserah mau pelan-pelan ato maen coblos aja… Ato kalo mau rekonstruksi… ingat-ingat gimana dulu dia memperawanimu dulu… Terserah… Bebas…” kataku malah duduk dimana Miranda tadi duduk di ranjang mewah ini sambil digenjot-genjot. Aku udah beli ranjang model latex begini. Harganya lumayan, boo…

Miranda kembali ragu-ragu… Ia hanya menekan-nekankan kontol hitam itu ke belahan pantat Hendra tanpa bermaksud menembusnya. Aku bisa melihat usahanya tapi tidak niatnya. Sepertinya ia tidak mau bermain seperti ini. Harus ada dorongan tambahan.

“CEPAT!!” bentakku tiba-tiba menggebrak kasur latex ini dengan batang bambu yang kujadikan senjata dari tadi. Suara gebrakannya sangat kuat hingga kedua pasutri itu melompat kaget.

“Ammbb…” raung Hendra bangkit dari kepala mepet di lantai tadi hingga sekarang melejit dengan mulut menganga walo masih tersumpal.

Kontol hitam strap-on itu menusuk masuk ke liang anusnya. Miranda bukan main kaget melihat kontol palsu itu menusuk masuk hingga setengahnya di dalam burit Hendra. Pukimak-nya ini orang, burit ditancapin kontol palsu, kontolnya sendiri ngaceng bukan buatan juga. Saket jiwa betol ni orang. Tangannya yang terikat di antara pahanya mendapat akses penuh untuk menjamah kontolnya sendiri.

“Ubhh… Umbbhh…” keluhnya sambil mendelik-delik merasakan apapun itu. Aku gak mau tau apa yang saat ini dirasakannya. Gak sudi!

Miranda secara mengejutkan malah bertindak berbeda, ia malah menambahkan lumuran baby oil ke pantat Hendra dan mulai menusuk lagi dengan goyangan menyodok.

“Gimana? Enaak? Enak, gaak? Cemanaa? Enak dientotin gini?” tanya Miranda sambil menggerak-gerakkan pinggulnya maju mundur.

Mengocok pantat Hendra dengan kontol palsu strap-on hitamnya. Ia bahkan menampar sebelah pantat Hendra seperti yang kulakukan semalam padanya. Hendra yang tersumpal mulutnya dan terikat tangan-kaki tidak bisa berbuat banyak selain erangan tertahan.

“Embhh… ummb… ummb…” erangannya memilukan hati tapi aku gak percaya karena ia mengocok kontolnya dengan cepat juga.

Entah sebagai kompensasi rasa sakit ato pengalihan rasa sakit. Aku gak tahan menahan tawa karenanya aku menutup mulut dengan sebo dan memegangi perutku sangking gelinya. Gimana kalo muncul di berita, seorang suami diperkosa oleh sang istri akibat balas dendam tiga tahun gak dientot dengan benar. Bagus tuh jadi headline. Aku guling-guling di atas ranjang sementara Miranda terus menikmati perannya. Berkuasa penuh atas tubuh suaminya.

***

Kugenjot Miranda dengan penuh nafsu. Sebagaimana Miranda juga penuh nafsu juga. Ia menyambut tiap hentakan tubuhku dengan goyangan membentur hingga pertemuan kelamin kami terasa lebih intens. Hendra sudah ngecrot sengecrot-ngecrotnya saat disodomi Miranda dengan kontol strap-on tadi.

Ia ngelongsor lunglai tak berdaya di kolam spermanya sendiri. Tubuhnya bermandikan cairan kentalnya sendiri tanpa bisa dihindarinya. Nafasnya masih ngos-ngosan dan menatap pertempuran kami dengan tatapan kosong nan nelangsa.

Hentakan-hentakan penuh tenaga di kasur semahal ini membal dengan bantuan daya kinetiknya yang prima. Karena itu harganya mahal kali ya? Kami goyang abis-abisan di sudut sini, sudut sebelah sana bergeming-pun tidak. Miranda meraung-raung dan kutingkahi juga dengan eranganku yang sudah terotak kali. Bentar-bentar lagi kuencrotin lagi binor cantik menggairahkan ini.

“Miirrr… Mirran-daaahh… Akh… Akh… Croot croott croottt!” kutekan sedalam-dalamnya perutku menekan selangkangannya hingga hanya menyisakan tampilan jembut berbentuk hati itu.

Binor cantik binik si Hendra inipun gak kalah menikmati ini semua, ia juga mendapatkan puncak kenikmatan seksualnya. Tubuhnya bergetar-getar bersamaan denganku. Ini sangat sempurna. Orgasme bersamaan. Ahhh… Enaknya.

Aku dan Miranda berpelukan, berciuman di bawah tatapan kosong Hendra. Tubuh kami rapat berpelukan seperti gak akan terpisah. Hangat dan nyaman bersatu padu menjadi satu kesatuan yang indah. Miranda tertawa geli kala teteknya kukutik-kutik lagi. Diemutnya jariku yang tadi memainkan teteknya. Diemutnya sampai basah kuyup.

“Lakikmu ngeliatin terus… Gak risih?” tanyaku.

“Kan bapak yang ngeganti posisi tangannya… Dia masih pengen ngocok tuh… Liat tuh ngaceng kek gitu…” jawabnya terkikik geli lagi.

Hendra berdiri diatas lututnya dalam keadaan telanjang bulat, bermandikan spermanya sendiri, kontolnya ngaceng keras tak terjamah karena tangannya terikat di belakang. Pantesan aja ia menatap kami melongo tanpa bisa menuntaskan nafsunya sendiri karena kami gak sudi menyentuhnya dengan semua kotoran di tubuhnya.

“Mampus-la dia situ…” kataku gak perduli dan mencumbunya lagi.

“Jendela itu kemana? Arahnya bukan ke halaman depan, kan?” tanyaku.

Untung orientasi arahku masih bagus jadi aku masih bisa tau mana Utara dan Selatan. Jendela itu tidak ada gordennya tidak seperti jendela besar yang di sisi dinding satunya. Di balik kaca itu gelap gulita tanpa penerangan sama sekali.

“Oh… Itu ke kolam renang, pak? Mau berenang?” Miranda malah menawarkan sesuatu yang gila-gilaan.

Tangannya meraih ke laci di sideboard ranjangnya dan mengambil sebuah console remote. Tetiba muncul cahaya di balik jendela gelap itu hingga menampilkan dimensi yang ada di sana. Benar ada kolam renang di sana. Wah… Enaknya jadi orang kaya. Mau berenang tinggal buka jendela, ralat pintu kaca, tinggal nyebur. Alangkah bahagianya keluargaku nanti kalo kutunjukkan rumah baru kami di kompleks XXX itu.

Miranda menggandeng tanganku menuju kolam renang itu setelah menggeser pintu slidingnya. Panjangnya cukup sebagaimana juga lebarnya. Ada beberapa kursi pantai di terasnya juga. Lampu-lampu penerang lokasi ini memberi kesan magis dan pantulan guratan air bergerak-gerak menenangkan terproyeksi di dinding. Suhu sejuk akibat air kolam mendinginkan kepala kami yang sempat mendidih oleh nafsu birahi. Aku masih mengagumi keindahan yang tersaji saat Miranda menggamit tanganku menuju tepi kolam.

“Berenang yuuk? Kita maen di dalam…” godanya.

“Jangan Miranda… Tidak baik untuk program hamilmu… Dengar… Air kolammu ini pasti ada kaporitnya… Sementara di dalam sini… calon anak-anakku sedang berlomba-lomba menuju sel telurmu…” kataku menyentuh perutnya di bawah pusar. Dipandanginya mataku lekat-lekat.

“Biarkan mereka berusaha dulu… Jangan racuni mereka dengan kaporit ini… Kita main lagi di sini aja…” kataku mengambil sebuah handuk dan menghamparkannya pada kursi pantai terdekat.

“Oouuhhh…” kata Miranda meleleh dan memelukku erat. Gombalanku mengena.

Kami bercumbu lagi di tepian kolam. Di sudut mataku, kulihat Hendra beringsut-ingsut dengan lututnya mendatangi kami, untuk tetap menyaksikan semuanya tanpa terlewat apapun. Lakik paok itu tanpa bisa berbuat banyak melihat bagaimana aku menggumuli biniknya lagi di atas kursi pantai. Kugasak dengan posisi MOT.

Cheese burger-nya berlepotan spermaku dan kupompa terus menerus sambil lagi-lagi bercumbu mulut. Kontol tegang Hendra herannya bisa ngecrot walo tak disentuh sama sekali. Ini mungkin level tertinggi bacol yang sudah dikuasainya. Nembak tanpa menyentuh. Hebat kao, Ndra. Paok!

Berikutnya aku menyetubuhi Miranda di posisi doggy. Aseng junior menggasak penuh semangat sambil meremasi tetek bulatnya yang menggantung bergoyang-goyang. Tusukan kulakukan sedikit miring, memaksimalkan gesekan pada liang kawinnya yang masih sempit hingga terasa sekali.

Kami berdua mengerang-ngerang keenakan. Miranda gak tahan dan orgasme yang didapatnya hingga lemas. Kuteruskan menggasaknya dari belakang walo Miranda rebah menelungkup di kursi pantai. Suasana sejuk dan lighting yang bagus membuat sensasi ngentoti binor kali ini sungguh aduhai kurasa. Apalagi lakiknya sebagai penonton menambah sensasi gila tersendiri. Masih bisa lagi ngecrot dia tanpa disentuh. Kimak-nya memang orang satu ini.

Aku lupa entah udah berapa kali aku ejakulasi di liang kawin Miranda malam ini. Pokoknya banyak kali. Aku sangat-sangat puas tapi sayang kalo berhenti rasanya. Tapi selalu ada hari esok. Pasutri ini tentunya tidak akan menolakku kalo aku berkunjung lagi kapan-kapan.

Kualitas cheese burger Miranda sangat top hingga sudah dalam taraf membuatku ketagihan. Tapi kalo kupake sering-sering mungkin bisa longgar juga, ya? Tapi itupun dia ato si Hendra paok gak akan keberatan secara ini dua orang pasutri sableng ini udah kek jadi budak seks-ku. Miranda aja tepatnya, si kimak Hendra itu cuma jadi penonton aja.

“Awas kao kalo kao berani-berani make Miranda tanpa izinku… Pecah kepala kao kubuat! Prang!” sebuah gajah porselen besar penghias rumah mewah ini hancur berkeping-keping dengan mudah. Aku menyampaikan pesanku dengan kehancuran. Pesan seperti ini biasa efektif. Hendra cukup ngocok aja udah senang.

Pulang ke rumah dengan hati puas dan dengkul lemas…

***

“Seng… Mendadak kepala wa pusing nih… Mual juga… Wa pulang lebih cepat, ya?” kata kak Sandra.

Ini masih jam 11 menjelang siang. Cepetnya aja masih berlepotan spermaku. Aseng junior baru kumasukkan lagi ke kandangnya abis kubersihkan pake tissu basah.

“Yah, kak… Tadi katanya sehat… mangkanya mau tadi kuentoti sebentar… Ini malah sakit lagi… Kerjaan masih banyak, kan? Laporan bulanan ini belum diperiksa sama sekali…” keluhku lemes.

Kerjaan bejibun ini sempat-sempatnya kak Sandra minta dielus-elus dulu. Karena tadi kuliat tadi dia sehat dan bugar, kusempatkan waktu untuk mengabulkan permintaan karena katanya ini permintaan ngidam anakku. Bacrit kali panlok satu ini. Banyak crita!

“Lu sih… Ngentotnya sadis kali… Wa kan lagi hamil muda anak lu… Yang lembut napa?” alasannya sembari membersihkan cepet beselemak spermaku mengangkang telanjang di sofa ruang istirahatnya dengan tissu basah juga.

“Jangan tengok-tengok trus nanti pengen lagi lu…” ketusnya mengobok-obok kemaluannya agar semua spermaku keluar dan bersih darinya dengan beberapa lembar tissu basah sekaligus.

“Ciii… Ci Sandra?” suara dari luar ruang istirahat terdengar memanggil. Itu suara Tiwi, asistennya.

“Ya… Napa, Wi?” jawab kak Sandra memberi kode tutup mulut padaku.

“Ada yang nyari, ya?” buru-buru ia bangkit dan mengumpulkan semua pakaian kerjanya dan memakainya kembali.

Padahal dari cepetnya masih menetes-netes kental spermaku. Ia melapiskan beberapa lembar tissu biasa untuk menampungnya.

“Bukan, ci… Bang Aseng ada di dalam?” tanya Tiwi dengan pertanyaan yang pukimak kali kurasa. Pasti di luar sana ia cekikikan tak bersuara menutup mulutnya.

“Ada yang nyariin… Bu Vony-nya datang lagi…” Kak Sandra langsung mengerutkan keningnya mendengar nama yang asing baginya.

“Dia keknya lagi di lapangan-lah, Wi… Entar wa telpon suruh dia ke atas… Tamunya suruh kemari aja…” jawab kak Sandra dan kami berdebat tanpa suara hanya mulut mangap-mangap dan kode tarzan dengan mata mendelik-delik.

Vony itu siapa? Mau ngapain kemari? Apa urusannya? Pertanyaan kak Sandra ini bukan berarti dia cemburu tapi lebih pada profesionalisme aja karena membawa-bawa urusan pribadi ke kantor. Lah dia minta ngentot di jam kerja.

Profesional gimana? Aku menjelaskan siapa itu Vony setelah yakin Tiwi udah gak ada di luar ruang istirahat kak Sandra lagi. Sepertinya kak Sandra juga pengen kenal dan ia menunggu sebentar sampai tamuku itu masuk ke ruangannya ini. Padahal tadi dia udah buru-buru mau pulang aja.

“Selamat siang… Ibu Sandra, ya?” sapa Vony begitu masuk dan mendapati kak Sandra duduk di kursi yang pertama kali dilihatnya aku duduki waktu itu. Kak Sandra langsung berdiri dan menyambut tamuku ini dengan ramah.

“Tamunya Aseng, ya? Masuk-masuk… Saya juga udah mau pulang, nih… Pusing-mual nih… Bawaan perut…” kata kak Sandra basa-basi bersalaman dengan Vony lalu cipika-cipiki.

Ah… Dua wanita cantik itu saling berdekatan. Aku jadi membayangkan kak Sandra melakukan aksi lesbongnya dengan Vony juga seperti yang dipraktekkannya pada Dani.

“Lagi hamil muda ya, bu? Selamat, ya?” kata Vony nyelamati kak Sandra yang lagi ngumpulin tas dan beberapa barang pribadinya. Kak Sandra tersenyum lebar mendapat selamat dari Vony.

“Makasih, bu Vony… Bu Vony sepertinya juga sudah berkeluarga, ya? Sudah berapa anaknya?” tanya kak Sandra balik lebih ke basa-basi lagi.

“Belum ada, bu… Belum dikasih rejeki sama yang di atas…” katanya berusaha tegar dengan menjawab kasual aja.

Aku yang ada di antara kedua perempuan cantik begini tentu aja kikuk mo ngapain. Nggak mungkin aja aku ikut-ikutan rumpi di antara percakapan antar emak-emak begini.

“Oohh… Gitu, ya… Yang sabar ya, bu… Saya juga lamaaa banget baru berhasil ini… Udah hampir 8 tahun baru dapet… Seng… bantuin…” tiba-tiba kak Sandra malah beralih padaku.

Bantuin apa? Keknya gak ada barang berat yang sulit dibawa. Cuma tas tangan sebiji dan satu HP di tangan satunya. Aku mencari-cari bantuan apa yang kira-kira bisa kuberikan pada perempuan hamil muda akibat ulahku ini.

“Bantuin apa, kak?” bisikku agar gak kedengaran Vony. Biar gak ketauan kali bingungnya.

“Ck… Udah-ah… Wa pulang dulu… Lu pake ruangan wa aja… Di sana juga boleh…” katanya menunjuk pintu ruang istirahatnya yang baru saja jadi tempat kami bergumul tak lama tadi. Aku tiba-tiba jadi lola alias loading lama karena gak mudheng dengan apa yang dimaksudnya.

“Vony… saya tinggal duluan, ya… Kepala saya udah tambah pusing nih liat si Aseng… Daagh…” kak Sandra langsung cabut meninggalkan kami berdua aja di ruangan Factory Manager ini. Lamat-lamat aku mendengar suaranya di luar sana sedang memberi instruksi pada Tiwi agar jangan mengganggu kami.

“Itu bu Sandra… selalu begitu ya, bang Aseng?” tanya Vony masih terpengaruh aura keberadaan kak Sandra barusan.

“Rame? Ya… memang gitu orangnya… Blak-blakan… Ceplas-ceplos… Tapi dia pinter kali orangnya… Perusahaan jadi sebesar ini juga berkat kerja kerasnya… Awak aja masih dalam rangka belajar ni jadi wakilnya…” kataku yang masih berdiri di tempatku dari tadi.

“Eh… Duduk… Duduk, bu Vony… Sampe lali aku…” kataku mempersilahkannya duduk.

Ia lalu mengambil kursi yang sama yang beberapa hari lalu didudukinya dan duduk dengan elegan di hadapanku. Aku duduk di kursi kak Sandra kembali.

Aku menunggu Vony mengeluarkan beberapa berkas yang dijanjikannya untukku tanda tangani sebagai bagian akhir perubahan AD/ART perusahaan SPBU milikku itu. Segala prosedurnya sudah dilampaui dan mendekati finish. Ini dia bagian akhir itu. “Bang Aseng… Tanda tangan di sini… lalu ini dan ini… Setelah itu selesai… Nanti akta pembentukan PT-nya akan saya antar lagi kemari…” katanya menyerahkan map berisi dokumen-dokumen legal itu. Aku segera menanda tanganinya dan kukembalikan lagi. Diperiksanya dan puas dengan hasilnya. “Terima kasih, bang…” setelah disimpannya semua itu kembali.

“Lama kali Tiwi bawa minumannya…” dumelku pelan karena tamuku belum disuguhi minuman dari tadi.

Anak satu itu entah ngelayap kemana abis kak Sandra pulang lebih awal begini. Gak bisa bantu-bantu dikit.

“Gak usah, bang… Vony juga gak lama…” katanya rupanya tau kegelisahanku. Naga-naganya ia sudah akan balik ke kantornya lagi tapi ada sesuatu yang menahannya.

“Tadi bu Sandra bilang ‘bantuin’… apa abang tau maksudnya?” tanya Vony. Ini juga kategorinya out of the blue. Tanpa dinyana tanpa diduga. Aku hanya bisa bengong gak tau dan menggeleng lemah.

“Gak tau, Von…” gelap.

“Terlebih dahulu maaf ya, bang Aseng…” Vony memperbaiki posisi duduknya jadi lebih tegak pertanda serius, berubah dari santai melipat kaki menyilang jadi kaki rapat hingga rok span panjangnya lurus ke bawah meja.

“Pertama bang Aseng sudah membantu bu Sandra dengan pekerjaannya selama ini… ditambah lagi ia sering pulang lebih awal karena pusing-mual hamil anak pertamanya ini… Bang Aseng membantu pekerjaan yang ditinggalkannya padahal kerjaan bang Aseng juga masih banyak…” katanya membeberkan.

Satu jari kelingking kanannya mencuat menandakan poin pertama dari hitungannya. Masuk akal. Aku mengangguk membenarkan. Bisa masuk dalam konteks ‘bantuin’ tadi.

“Kedua… Ini sangat lemah buktinya tapi saya yakin… bang Aseng yang sudah membantu bu Sandra untuk hamil… Maaf lagi… Bang Aseng yang sudah mengamili bu Sandra…” katanya mencuatkan jari manisnya pertanda poin kedua yang sangat mengagetkanku.

Kenapa dia bisa sampai pada kesimpulan yang tepat sekali seperti ini. Bull’s Eye! Aku menggigil. Ginjalku menggigil. Pankreasku menggigil. Aseng junior bobok imut.

“… walaupun lemah saya akan coba menjelaskan sedikit tentang saya… Penciuman saya akhir-akhir ini entah kenapa jadi sangat sensitif dan tajam… Saya heran bisa mengatakan seseorang yang dengan harum parfum tertentu berada di suatu ruangan beberapa hari sebelumnya… Saya juga bisa dengan mudah membedakan ada parfum asing yang tercampur di tubuh seseorang yang juga memakai parfum… hingga belangnya terbongkar baru aja selingkuh… Apalagi cuma bau sperma dan cairan vagina yang sangat kuat seperti ini dari kalian berdua… Bang Aseng dan bu Sandra baru saja bercinta di ruangan itu, kan?” katanya menunjuk dengan dua jarinya yang masih mencuatkan dua poin ke arah pintu ruang istirahat. Aku hanya bisa berkedip-kedip berusaha mengenyahkan rasa gugup dari mukaku. Keknya aku perlu memplester mulutku dengan isolasi agar gak terlalu mangap.

“Dan yang ketiga… Dari dua poin tadi… Vony udah seperti detektif ya, bang Aseng… Bu Sandra tadi coba ngasih tau ke bang Aseng untuk bantuin Vony juga… seperti bang Aseng sudah bantuin beliau…” jari tengahnya mencuat mengacung pertanda tiga poin sudah disampaikannya.

Kepalaku mendadak ringan. Pandanganku tiba-tiba zoom out. Vony yang duduk tegak di depanku tiba-tiba menjauh dan mengecil seperti beberapa meter di depanku jaraknya. Pandanganku jadi gak karu-karuan jadinya. Minus mataku apa kambuh lagi?

“Disamping penciuman Vony yang jadi sensitif begini… tajam sekali seperti ini… Ada satu lagi yang terkadang mengganggu… Kadang ada bisikan-bisikan gak jelas yang berulang-ulang masuk ke kuping saya… kata-katanya berulang-ulang… ‘minta-tolong-aseng’…” kembali ia menggunakan ketiga jarinya untuk mengulang ketiga kata itu.

Minta-tolong-aseng? Kenapa ada namaku di sana?

“Saya coba untuk berfikiran positif gak mau menganggap itu masalah spiritual atau semacamnya sampai pada satu saat… nama panggilan abang muncul… Aseng… Kenapa terlalu kebetulan sekali? Kenapa bisikan itu spesifik menyebutkan ‘minta tolong Aseng’… Ada satu nama orang yang Vony kenal dengan nama yang selalu dibisikkan ini… Pembisik itu memberitahu Vony untuk minta tolong pada bang Aseng akan masalah yang sedang Vony hadapi…” sistematis dan terstruktur seperti sebuah jurnal ilmiah ia merincikan semua maksud dan tujuan semua bla-bla-bla ini dari tadi. Dirinci ringkas dalam tiga poin.

Kesimpulannya…

“Vony minta tolong bang Aseng untuk menghamili Vony…” nah… demikianlah adanya. Wayahe-wayahe. Aku sampe harus meletakkan jidatku yang tiba-tiba panas ke permukaan meja karena mataku berkunang-kunang.

Kami berdiam diri saling pandang aja untuk beberapa saat. Seperti sepasang petarung yang sedang menjajal mental lawan. Mencari titik lemah dan menilai keunggulannya. Pandangan matanya teduh tetapi tenang. Mulutnya sama sekali tak berekspresi jadi aku tak bisa menilai dia senang, marah atau sedih.

Berbeda matanya yang dalam walau tenang. Aku tak sanggung menyelami ekspresi mata yang dipancarkannya. Cantik tetap seperti pertama kali kukagumi dirinya. Apalagi perempuan sepintar dia sungguh mengesankan. Kadang mengintimidasi kaum Adam yang kurang persiapan apalagi kurang modal. Modal otak apalagi kurang dana.

“Jadi gimana, bang?” tanyanya datar tetapi cukup terkesan mendesak.

“Gimana ya, Von… Ada satu perjanjian yang mengikatku untuk tidak membicarakan ini dengan siapapun… Jadi no comment-la…” jawabku sebenarnya bingung. Bagi Vony ini mungkin terdengar bodoh tapi itu yang terbaik yang bisa meluncur dari mulutku.

“Baik… Vony tidak akan membicarakannya lagi… Saya paham… Bagaimana dengan permintaan tolong saya tadi? Apakah bang Aseng menginginkan sesuatu sebagai ganti… pembayarannya misalnya?” tanya Vony kembali mendesak secara tak langsung.

Kepalanya agak miring sedikit gak enak dengan opsi pembayaran yang baru diucapkannya. Kek hal semacam ini perlu bayaran aja. Jerih payahku menghamili dinilai dengan pembayaran? Sekalian aku buka usaha menghamili binor aja, ya? Enak tuh… Sarap!

“Kenapa Vony jadi… apa ya namanya… lancang? Bukan… Berani meminta ini? OK aku ada skandal dengan…” kubalik cepat figura foto kak Sandra dan koh Amek. Aku malah mengakui ada skandal dengan atasanku. Tak apa dia sudah menangkap basahku jadi aku gak bisa berkelit lebih jauh.

“Tapi Vony meminta… untuk dihamili… Permintaannya gak masuk akal… Aku gak ngerti… Tolong?” kataku entah hapa-hapa. Asal nyeplos aja. Jadi keliatan tambah bego aku di depan perempuan sepintar Vony.

“Balik lagi… ke masalah penciuman Vony yang sangat sensitif ini… ada banyak perempuan yang sudah bang Aseng hamili… Jadi bukan hanya ibu ini saja…” liriknya ke figura yang sudah kubalikkan ke posisi awalnya.

“Aroma manusia itu khas berbeda-beda… Setidaknya ada 5 sampai 6 aroma perempuan berbeda yang menempel di tubuh bang Aseng… Saya dapat membedakan mereka semua dan menunjuk mereka satu persatu kalau bisa mereka dijejerkan disini… Aroma yang saya maksud bukan aroma parfum ya, bang Aseng… Ini aroma kemaluan mereka yang menempel pada bang Aseng… Tidak ada urusan lain selain itu, kan?” bebernya tanpa bisa kubantah lagi.

Kok bisa aku ketemu perempuan kek gini, ya? Maak? Tolongin anakmu ini, maak. Diskak-mat aku, maak.

Lagi kami berdiam diri lama, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Aku sebenarnya gak ada masalah untuk menghamili satu binor baru sekaliber Vony ini. Geblek aja kalo sampe nolak barang bagus kek gini. Tapi kok aku baru ngeh sekarang ternyata selalu ada sesuatu di balik ini semua. Aku tidak tau pasti apa itu tapi selalu ada unsur supranatural yang langsung ato gak langsung ikut terlibat di sini. Yang teranyar adalah masalah Vony ini.

Ia jelas-jelas menolak menganggap ada campur tangan istilahnya ‘spiritual’ di masalahnya ini. Tetapi ia malah mendapat tips lewat bisikan ghaib yang hanya dia yang mampu mendengarnya; ‘minta tolong aseng’.

Mudah disimpulkan kalo aseng dimaksud di sini adalah seorang pria dengan nama panggilan Aseng yang kebetulan sedang mengurus surat-surat hibah di kantor notaris tempatnya bekerja.

Ditambah lagi ia mendapat sedikit anugrah ketajaman penciuman hingga bisa menangkap basah aku dengan semua skandal-skandal binorku. Bisa tau dia semua bau aroma vagina lezat yang sudah kumasuki.

Kalo ditarik ke belakang lagi, Aida juga begitu. Ia mendapat petunjuknya malah dari mimpi seperti beberapa binor lainnya. Ia bermimpi bercinta denganku dan punya anak dariku. Berulang-ulang mimpi itu mengisi bunga tidurnya hingga menjadi semacam candu.

Gak sabar dan meledak dalam bentuk teror erotis langsung menyerangku hingga aku terjerat dan BAM! Aida hamil dan kini memasuki bulan ketujuhnya. Perutnya sedemikian buncit dan ia dalam masa penantian yang amat sangat membahagiakan dalam fase hidupnya. Sebentar lagi melahirkan anak yang sudah dinanti-nantinya sejak bertahun-tahun lalu.

Yuli juga. Ngakunya dia kerap bermimpi mendorong stroller bayi berisi bayi imut mirip anakku Salwa. Kerap juga mimpi bersetubuh denganku sampai nekat pindah ke samping rumahku padahal sebelumnya nyewa di gang sebelah baru sebulan. Pipit juga sama, sering mimpi ML denganku.

Sedikit agak berbeda pada Pipit yang mendapat pesan yang ditulis tangan oleh mahluk halus berbentuk orang tua itu dalam bahasa Jawa; ‘jaluk tolong cino’. Ini hampir identik dengan kasus Vony. ‘Jaluk tolong cino’ artinya minta tolong Cina, Cina yang berarti aku, Aseng. Yaa… Ini sangat mirip.

Seperti ada pola tertentu yang terbentuk di sini. Ada… Selalu ada campur tangan di tiap permintaan binor-binor ini. Campur tangannya selalu dari pihak ghaib.

Di Iva juga begitu, ada genderuwo yang menyamar jadi tokoh wayang terkenal karena menjadi ayah dari para Pandawa Lima. Kuusir genderuwo itu dan kusita mustika emas miliknya. Kemudian ada Dani yang diganggu Jerangkong tengkorak gosong. Setelah kubantai setan gosong itu, ia bermimpi mendapat petunjuk untuk minta tolong padaku. Kembali terulang lagi. Seingatku katanya ada kakek-kakek yang memberinya wasiat itu memberitahu Dani kalo aku udah biasa membantu binor-binor lain untuk hamil. Kimak ini kakek-kakek memang.

Tapi tunggu dulu… weit e minit… Kakek-kakek? Tetiba bayanganku akan sosok kakek tua yang awalnya kuanggap sebagai khodam milik Pipit yang ternyata adalah mahluk ghaib kiriman orang yang berusaha menyerangnya.

Kakek tua itu malah terperangkap oleh akar siluman pohon beringin beserta beberapa mahluk ghaib lainnya. Apa tokoh kakek itu sama dengan yang memberi tips-tips ini? Tapi semua mahluk ghaib itu sekaligus dengan siluman pohon beringin itu sudah di’makan’ Kojek, kan? Aku melihat semua kejadian itu.

Pada kak Sandra sedikit berbeda karena gangguan siluman monyet yang mengaku dewa itu. Kubantai monyet itu yang sudah banyak menebar kejahatan dengan mengambil tumbal nyawa. Ia berusaha menjebakku dengan menjadikannya tokoh yang mengarahkan kak Sandra minta dihamili olehku.

Lalu masalah ajo Mansur dan tiga istri ukhti cantik langsingnya. Ini malah terang-terangan sengaja memancingku muncul agar tokoh di masa laluku datang kembali. Tokoh itu bernama Inyiak Lelo, seekor harimau yang mempelajari ilmu sesat agar menjadi siluman harimau untuk mendapatkan gelar pemangku Mandalo Rajo. Sempat aku lega karena kukira Inyiak Lelo-lah penyebab ini semua dengan semua kemampuan dan kesaktiannya. Semua salah…

Gelombang baru datang dimulai dari Hendra dan Miranda dengan burung Enggang Gading sang Panglima Burung. Kegilaan pasutri itu malah memintaku untuk dihamili juga. Dan dilanjutkan dengan Vony ini…

“Bang Aseng lagi nulis apa?” tanya Vony yang seperti habis kesabarannya melihatku mencoret-coret di kertas ini.

Nama-nama orang yang pernah kubantu saling berhubungan dengan lingkaran dan garis-garis link. Sepertinya pola ini belum akan berakhir. Masih akan terus berulang lagi dan lagi.

“Apa Vony ada mengalami mimpi aneh ato gak biasa gitu? Ada kakek-kakek ngasih petunjuk… apaaa gituh?” tanyaku penasaran kertas itu kuremuk dan kukepal sampai menjadi bola.

Mumpung ada satu contoh kasus di depanku, sekalian aja ditanya-tanya. Antara alisnya berkerut seperti mencoba mengingat atau kaget tepatnya.

“Kok abang bisa tau itu? Ada… Vony ada mimpi seperti itu… Kakek-kakek tua… Berumur sekitar 60-65-an gitu… Pake baju kemeja putih yang mulai menguning… Matanya belo agak melotot gitu… Dia gak ngomong apa-apa cuma nunjuk ke kursi direktur abang di SPBU aja… Mimpi itu terjadi di dalam ruangan kaca kantor abang di sana… Lalu setelah itu… kita berdua…” Vony menunjukku dan dirinya sendiri.

“… bersetubuh di sebuah kamar… sepertinya kamar hotel gitu…” Ialu ia menunduk sebentar lalu membuang pandangannya ke dua buah boneka beruang di atas lemari.

“Vony yakin… awak bisa membantu Vony hamil?” tanyaku membuat penegasan.

Kembali ia menatapku tegas dan tanpa ragu. “Yakin…” jawabnya.

“Karna gini, Von… Ini namanya udah perselingkuhan… Vony gak usah tanya awak gimana menilai selingkuh itu apa… Tanya diri Vony sendiri apa arti selingkuh antara dua orang dewasa yang sudah menikah seperti kita… Apalagi ini mengenai anak tujuannya… Pasti ada gininya…” kataku memasukkan jari telunjuk lain ke lingkaran yang kubuat karena meniru tiga poin jari kelingking, manis dan tengahnya, hanya menyisakan jari telunjuk dan jempol yang tersisa membuat angka nol bulat. Kucoba untuk membuatnya sedikit malu dengan kode vulgar ini.

“Apa Vony siap?”

“Ngentot…” ujarnya mengejutkan.Kata saru itu keluar dari mulutnya yang sangat terhormat.

“Vony udah siap lahir batin, bang Aseng… Lagian sekalian aja nyebur daripada terus menerus terhina karena dikatain mandul oleh keluarga dan teman-teman… Suamiku sesumbar ngomong ke selingkuhan-selingkuhannya kalo aku mandul… Padahal dia-pun belum tentu bisa menghamili perempuan-perempuan jalang itu… Vony ingin juga menyeimbangkan skor-nya…” katanya lugas. Ah… motivasinya sangat ciamik dan klise abis.

“Lagipula… reputasi abang Aseng dengan segitu banyak perempuan yang sudah abang gauli… mulutnya pasti bisa dijaga rapat… Bukan begitu?” katanya tersenyum dengan manis sekali kek gula aren.

“Sudah terbukti…” kembali ia melirik ke foto kak Sandra.

“… bisa hamil… dan Vony yakin yang lainnya juga…” Kaki yang tadi lurus sejajar mulai dilipatnya lagi melintang di atas paha kirinya.

“Vony tentu tidak bisa melepaskan kesempatan ini begitu saja… Ada jaminan kalau saya bisa hamil… melawan semua usaha yang sudah Vony lakukan selama ini…” ia mulai bergerak dengan berani.

“Fiuhh…” godaan besar dilakukannya didepan mataku.

Dilepasnya beberapa kancing atas blouse lengan panjang yang dikenakannya dengan berani, dilebarkannya bukaan pakaian itu hingga aku bisa melihat lipatan belahan payudaranya yang cukup besar… Semakin dilebarkannya hingga tepian berkancing itu berada di sisi terluar bra putih yang dikenakannya. Payudara padat, putih dan segar itu terpampang di depan mataku walo masih terlindung bagian utamanya oleh bra.

Vony seperti menikmati pandangan melototku melihat pamerannya. Ini udah termasuk eksib belum?

“Masih bisa, bang?” tawarnya dan PUKIMAK! Vony mengupas cup pelindung payudaranya ke bawah hingga kedua puting imutnya yang berwarna kemerahan di kulit putih payudaranya sangat kontras. Menegang menantang.

Vony ternyata ikut bersemangat dengan aksi beraninya ini. Kujamin ada yang ikut-ikutan basah di bawah sana. Karena dibawahku, Aseng junior menggeliat bangun sebab mataku menyaksikan pemandangan erotis indah sepasang payudara seukuran bakpao jumbo terpampang lengkap. Aku duduk gelisah menyamarkan koreksi posisi Aseng junior yang mengganjal.

BUJANGINAM! Vony memencet-mencet puting imut kemerahannya itu sambil menggerakkan kepalanya menunjuk ke arah pintu ruang istirahat kak Sandra yang kosong. Ia dan hidung sensitifnya sudah tau dari tadi aroma-aroma sedap persetubuhan berasal dari ruangan itu. Ia maklum kalo aku barusan menggagahi kak Sandra di ruangan itu dan mengajakku memakai ruangan itu kembali.

“Vony udah melakukan berbagai perawatan kesuburan untuk bisa hamil… Macam-macam metode… Anggap ini salah satunya…” katanya lagi. Puting payudara imutnya itu membengkak lebih besar dari sebelumnya akibat pencetannya sendiri.

Aku mengangguk-angguk dan mengulurkan tanganku mengajaknya bersalaman. Ia memiringkan kepalanya sedikit karena heran melihat tanganku tak paham.

“Jabat tangan…” kataku.

Ia mengulurkan tangannya yang halus juga menyambutku walo bingung. Udah kek ijab kabul mungkin pikirnya. Tapi ijab kabul ke bapaknya, gak ke anaknya langsung.

“Apa ini, bang?”

“Perjanjian… Vony pasti akrab dengan segala macam perjanjian… Ada yang mau awak tekankan di perjanjian ini… Mau, ya?” kataku menangkap tangannya. Tangannya halus dan lembut khas anak orang kaya. Ia mengangguk.

“Ada tiga pasal perjanjian…” seperti biasa. Sebenarnya mataku ingin kesana…

“Yang pertama… Hubungan kita ini tidak akan pernah berkembang menuju hubungan yang lebih spesial ato intim ato semacamnya… Murni tolong menolong… Awak menolong Vony untuk hamil… Vony menolong awak… untuk… enak… Jadi gak akan ada perasaan yang romantis-romantisan… mello-mello-an… baper-baperan…” kataku untuk pasal masalah hubungan. Vony mengangguk paham.

“Yang kedua… Rahasia… Hanya kita yang tau masalah ini… Vony pasti paham kenapa aku gak akan buka mulut karena pasal ini… Jadi tidak boleh membicarakan masalah ini pada siapapun, atas alasan apapun walopun diancam macam manapun… Ini hanya antara kita berdua saja… dan murni rahasia…” kataku untuk pasal masalah kepercayaan. Vony mengangguk paham lagi dan setuju.

“Yang ketiga… Masa depan… Kelak jika karena hubungan kita ini ada anak yang muncul, anak tersebut adalah anak Vony dan suami… Besarkan dia dan perlakukan dia dengan baik sebab dia menjadi tanggung jawab penuh kalian berdua suami istri… Ini pasal paling penting karena ini menyangkut tujuan utama Vony… Kalo Vony setuju… kita lanjutkan ke tahap berikutnya…” kataku untuk pasal masalah masa depan.

Vony lagi-lagi mengangguk paham dan setuju dengan semua pasal perjanjian ini. Sebuah guncangan dan erat jabat tangan menyegel perjanjian kami menjadi sah.

“Gitu aja, bang?” tanya Vony menatap mataku yang melenceng ke arah payudara seukuran bakpao jumbo-nya.

Dari tadi tubuh kami berdua condong ke depan hingga payudaranya menggantung bebas di hadapanku saat bersalaman, sedikit mengganggu konsentrasiku meramu kata-kata isi tiga pasal barusan.

Putingnya masih menegang dengan segala sensasi yang saat ini dirasakannya. Mungkin lebih ke excited akan melakukan suatu hal yang diluar kebiasaannya. Apakah dirimu seorang petualang, Von?

“Ya… Itu saja… Vony sudah setuju dengan semua pasal yang awak syaratkan dan sekarang efektif berlaku… Awak harap Vony… dan awak juga akan mematuhi semua isi pasal-pasal tadi…” kataku bersandar di kursi milik kak Sandra ini.

Vony meniruku dan bersandar juga di kursinya, memamerkan pampangan payudaranya yang membusung karena tekanan bra dan blouse pakaiannya. Kami saling bersitatap. Pandangan matanya sangat mengundang apalagi ada bagian tubuh sensitifnya yang terbuka.

“Apakah harus kita lakukan sekarang juga,… Von?”

“Kenapa tidak? Saya siap untuk apapun…” jawabnya tegar.

“Begini, Von… Biar awak sampaikan fakta-fakta baru untuk Vony… Awak berani menyampaikan ini karena kita sudah terikat perjanjian ini… dan Vony pastinya tidak akan membocorkannya… Mau dengar?” tawarku.

Ia hanya mengangguk dan terus bersandar tanpa berusaha untuk memperbaiki pakaiannya yang terbuka di bagian dada. Putingnya menonjol tertekan pinggiran cup bra-nya, pasti akan meninggalkan bekas.

“Sudah dipastikan kalo ada gangguan supranatural pada Vony… Reaksi tubuh orang-orang yang terkena gangguan ini berbeda-beda tergantung dari jenis ilmu dan waskita penyerang… Pada Vony malah begini… Indra penciuman Vony malah meningkat tajam seperti anjing pelacak… Maaf tentang perumpamaannya… Tapi itu bandingan yang paling tepat… Serangan ini aslinya bertujuan untuk membuat Vony untuk mandul… Entah apa motif asli yang menyuruh penyerangmu ini untuk membuat Vony mandul… tapi untuk mengetahuinya itu adalah masalah lain…” jelasku sebaik-baiknya.

Vony mendengarkan semua penjelasanku dengan seksama tanpa niat memotong sama sekali. Tapi keningnya tak kurang berkerut mendengarnya.

“Metode bantuanku selalunya begini… Kita sembuhkan dulu gangguan yang menyerang Vony ini… Begitu sembuh kita akan langsung ke bagian utamanya… Jangan khawatir… metode penyembuhannya gak berasa, kok… Malah awak jamin enak-enak aja…” lanjutku.

Vony masih duduk bersandar. Bahunya mulai naik turun seperti menahan emosi. Kenapa dia?

“Jadi… Vony selama ini disantet, bang?” ia memajukan tubuhnya berpegangan pada pegangan kursi yang didudukinya. Tangannya menggengam erat pegangan kursi. Sepertinya emosi. Apa dia ada gambaran siapa pelakunya?

“Awak gak mau suudzon bilang siapa pelakunya… tapi… ya! Vony disantet orang, secara umum itu namanya…” pastiku.

Kami yang sempat salaman tadi, aku merasakan itu semua. Makanya aku berani menyampaikan analisa ini. Mata Vony menjadi liar dan tak fokus lagi. Rahangnya mengetat dengan gigi mengatup erat menahan marah.

Cengkraman tangannya dipegangan kursi semakin ketat. Diremasnya benda tak bersalah itu. Aku jadi membayangkan kalo Aseng junior-ku yang sedang diremasnya. Pasti ngilu kali.

“Jadi tunggu apa lagi, bang? Sembuhkan Vony segera…” cecar perempuan itu makin emosi.

Dadanya kembang-kempis jadi enak ngeliatnya begitu. Membusung jadi tambah indah dengan geliat pergerakan tak sadar di kondisi. Jadi kek kusengaja membuat perempuan ini emosi jadi tambah membusung payudara indahnya. Aku menggerakkan tanganku seperti da-dah pertanda bukan ato tidak setuju.

“Bukan begitu, Von… Pernah liat orang kemasukan setan?” tanyaku mencoba sedikit membuka wawasannya ato pengetahuannya sekalian. Ia mengangguk dan itu membuatnya sedikit tenang.

“Tereak-tereak kejang-kejang gitu, kan orangnya? Heboh nanti kantor awak ni Vony buat kalo tiba-tiba Vony kek gitu disini jadinya… Paham, ya?” kataku membual. Belom pernah pulak ada yang kek gitu waktu kubantu kehamilannya. Adem ayem aja-nya mereka semua. Paling mendesah-mengerang keenakan aja.

“Jadi gak bisa di sini ya, bang?” tanya Vony.

Aha ha ha… Ketauan Vony masih ijo belum pernah nakal sebelum ini. Klop dengan pernyataannya sebelumnya, sekalian nyebur. Awak jadi percobaan pertamanya. Pertama yang nyobain tubuhnya disamping suami sahnya. Aku rela jadi bahan percobaanmu, Von. Enak-enak! Binor enak.

“Kita wujudkan mimpimu, Von…” kataku mesum.

**

Malam itu aku janjian untuk bertemu muka dengan Vony lagi. Kali ini bukan untuk membahas urusan bisnis SPBU milikku, melainkan bisnis lendir dengannya. Vony yang sempat bermimpi bersetubuh denganku di sebuah kamar hotel. Kita kabulkan isi mimpinya itu dan check in di sebuah kamar hotel.

Pesanku padanya, adalah memilih hotel secara acak saja. Jangan sengaja dipilih-pilih karena pastinya bakal ribet. Menggunakan kitab tebal Yellow Pages di daftar bagian hotel ia asal tunjuk saja pada nama hotel dan dipilihlah satu hotel.

Di hotel inilah aku sedang berada malam ini. Menaiki lift untuk menyambangi kamar hotel dimana Vony sudah menunggu sedari sore tadi. Aku baru bisa mendatanginya malam-malam setelah menyelesaikan pekerjaanku. Tentu aja sebelum kemari, kusempatkan dulu untuk poding 5 butir telor bebek andalanku.

Pasti akan menyenangkan membolak-balik perempuan secantik dan seseksi Vony. Aku akan menikmati momen ini. Persiapan lain yang kulakukan tentu aja stok daun untuk senjataku nanti kalo perlu walopun sekarang aku punya mandau Panglima Burung itu sebagai senjata utamaku selain bakiak Bulan Pencak. Udah jadi kebiasaan pulak, ya kan?

Kuketuk pintu kamar sesuai pesan di BBM-nya. Gak lama pintu terbuka sedikit masih tertahan rantai pintu. Wajahnya yang tertutup masker muncul mengintip takut-takut kalo orang lain yang muncul. Mengetahui aku yang datang sendirian, ditutupnya lagi pintu untuk melepas rantai itu dan pintu terbuka lagi dengan lebar, mempersilahkanku masuk.

“Masuk, bang…” aku masuk dengan cepat dan menutupnya lagi sekalian menguncinya untuk membuat Vony merasa aman dan nyaman aja.

Ia cepat-cepat jalan ke sofa yang ada di dalam kamar ini. Sepertinya ia masih bingung dengan perasaannya sendiri. Wajar sih. Vony sepertinya sudah mandi di kamar ini karena parasnya masih segar walo dengan pakaian yang sama dengan yang tadi siang.

Ada tambahan parfum dan polesan make-up. Itu untuk menenangkan dirinya sendiri dan membuatnya lebih percaya diri. Duduk di single sofa satu-satunya padahal ada sebuah sofa panjang lain di sana. Itu yang dipilihnya.

“Apa kamar ini sama dengan yang ada di mimpi Vony?” tanyaku memperhatikan layout kamar hotel yang dipilihnya secara random ini. Standar sih. Ranjang ukuran king size. Lalu ada sofa ini, pemandangan ke langit Medan dengan beberapa pencakar langitnya.

Lampu tidur di kanan-kiri ranjang, kamar mandi. Aku mengeluarkan kemejaku dari dalam celana agar lebih rileks, menggulung lengan panjangku melewati siku dan duduk di sofa panjang itu. Lagi-lagi mataku jelalatan memeriksa kamar ini lalu tertumbuk pada sosok tubuhnya.

“Heran ya, bang? Kenapa persis sama?” desisnya seperti gak percaya kalimat itu keluar dari mulut berbibir seksinya.

“Tempat tidurnya sama persis… warna sprei dan bantalnya sama… Wallpaper dindingnya sama… Pemandangan luar jendelanya juga sama…” tiap penunjukkan maksudnya, ia hanya menghadapkan wajahnya ke arah benda-benda itu.

Dari tadi pasti ia memikirkan semua kebetulan-kebetulan ini. Aku gak tau gimana persisnya isi mimpi Vony, yang kutau di mimpi itu kami hanya bersetubuh di kamar hotel tok.

“Mm… Vony gak buru-buru, kan?” potongku akan apapun yang kini ada di dalam pikirannya. Ia menoleh padaku.

“Awak mau mandi dulu, boleh… Gerah nih seharian kerja…” kataku gak menunggu persetujuannya. Ini hanya mengulur waktu agar ia lebih memantapkan diri.

Menyegarkan tubuh yang penat keknya gak salah juga. Mungkin nanti Vony akan lebih bergairah dengan aroma tubuhku yang lebih segar. Biasa aja aku buka baju kemeja di depannya sambil jalan ke kamar mandi dan masuk. Shower box ada tersendiri di kamar mandi ini dan aku segera basah-basahan di dalamnya sambil siul-siul lagu dangdut.

“Apa santet yang menyerang Vony ini bisa dibalikkan, bang?”

Hng? Ada suara Vony di dalam kamar mandi? Aku melongokkan kepala keluar dari pintu kaca shower box ini. Dia di sana berdiri bersandar di dekat toilet. Kemeja lengan panjangnya juga sudah dikeluarkan dari rok span panjangnya. Dua kancing teratasnya sudah dibuka, belum bisa terlihat lagi sih isi dadanya.

Tapi ini kemajuan. Berani masuk kemari aja itu sudah bagus. Ia hampir tergelak melihatku yang nongol cuma kepala dengan wajah penuh busa sabun. Buru-buru aku mengusap gumpalan busa sabun itu dan cengengesan.

“Dibalikkan?” tanyaku balik.

“Ya… Dikembalikan kepada yang nyuruh nyantet Vony, bang?”

“Hmm… Bisa-bisa aja… Tujuannya?” tanyaku balik dengan cara berkomunikasi aneh ini. Dibalik kaca grafir pintu shower box ini aku bugil dan pasti Vony tau itu kalo diperhatikan benar-benar bayangan tubuhku yang membayang di balik kaca. Kalo kugesek-gesekkan Aseng junior di sini pasti akan kentara keliatan.

“Balas dendam aja… Vony sudah lumayan menderita selama ini begini terhina…”

“Dendam? Dendam gak akan membawamu kemana-mana, Von…” kataku mencoba bijak dari dalam shower box ini.

“Akan lebih manis kalo motivasimu diganti dengan pembuktian ya, kan? Buktikan kalo Vony bisa hamil… Itu akan lebih menohok dari pada rasa puas terbalaskan dendammu… Lagi pula main-main dengan santet begitu… cepat ato lambat pasti akan ada ganjarannya… Ini awak ngomong karena pengalaman, yaa? Gak usah dipercaya kali… nanti musyrik…” ngobrol sok bijak lagi sambil gosok-gosok peler agar nanti wangi kalo dipake menggasak Vony.

Gemericik air shower terus membahana di ruang sempit ini. Tidak ada perkataan lanjutan dari Vony sampe kukira dia sudah keluar dari kamar mandi ini.

“E-eh… Masih disitu?” kagetku waktu mau keluar mengambil handuk yang lupa kubawa masuk ke shower box. Badan masih basah kuyup dan aku mundur masuk lagi. Untung Vony sedang menghadap ke arah lain hingga ia tidak perlu mendapat horor melihat tubuh telanjangku.

“Vooon… Minta tolong ambilin handuk itu-laaa… Lupa bawa ke dalam tadi…” kataku semanis-manisnya. Baju dan celanaku juga kugantung di luar.

“Kenapa malu-malu begitu, bang Aseng? Keluar aja begitu kenapa? Kayak baru pertama aja…” jawab Vony. Kimak… Nantangin namanya ni…

Dengan pe-de tingkat dewa aku keluar lagi. Vony masih bersandar di tempat yang sama. Tangannya menahan tubuhnya di belakang. Dengan senyum manis ia melihat prosesku keluar dari shower box itu. Mata kami saling tatap. Sama-sama saling menilai keberanian.

Vony sudah berani memampangkan kedua payudaranya di kantorku tadi, apalah bedanya denganku yang berani memamerkan tubuh telanjangku saat ini. Pe-de tingkat dewa karena postur tubuhku tidak seperti yang dulu lagi.

Kali ini tubuhku semakin padat dan liat berkat latihan intensif Mandalo Rajo. Otot-otot tubuhku ketat menampilkan maskulinitas seorang pria yang seharusnya. Ini adalah tubuh yang ditempa dengan latihan keras silat harimau.
Tidak ada lagi perut buncit karena keseringan duduk di depan komputer. Tidak ada lagi bisep menggelambir seadanya. Tidak ada lagi dada melar karena jarang olah raga.

Kuraih handuk yang disediakan pihak hotel dan mengeringkan tubuhku secara wajar dibawah tatapan rakus mata Vony yang seolah menjilati sekujur tubuh telanjangku. Tangannya yang ada di belakang bokongnya bergerak meremas dinding. Matanya berbinar-binar.

Bolak-balik ia membasahi bibirnya yang mendadak kering. Santai kukeringkan Aseng junior yang bekerja sama sangat baik malam ini. Kalo dalam keadaan sleep mode, paling ia berbentuk culun karena ciut seciut-ciutnya sepanjang jari kelingking tanganku.

Kali ini karena mandi shower dengan air hangat, ia agak menggeliat bangun dan menggantung bagus, membanggakan. Kulibat handuk itu di pinggangku dan kuambil semua pakaianku yang tergantung.

“Yuk…”

“Kenapa pakai baju lagi?” tanya Vony saat aku berusaha memakai sempakku lagi di luar kamar mandi.

Lalu celana panjang kemudian. Tentu saja ia gak tau apa yang akan terjadi nanti kalo aku harus bertarung dengan apapun yang telah menyantetnya. Aku gak mau dong harus telanjang bulat menghadapi itu semua.

Jangan sampe kejadian kek sama Yuli terulang lagi. Waktu itu aku telanjang bulat memasuki hutan bambu daerah kekuasaan lawan. Untung aja Kojek membawakanku sarung kala itu. Properti pentingku ini harus dijaga baik-baik; Aseng junior. Aku hanya menggeleng aja dan duduk lagi di sofa bertelanjang dada.

“Agak dingin… tapi gak pa-pa…” kataku woles bin cuek. Vony balik duduk ke single sofa itu.

“Apakah kita udah bisa mulai?… Karena keknya malam makin larut… Orang-orang di rumah kita masing-masing pasti lagi nungguin…” kataku.

“Suamiku gak pernah nunggu aku pulang… Mungkin bang Aseng iya… Menyedihkan, ya?”

“Voon?” aku benar-benar kesal sekarang.

Dari tadi ia terus menampilkan mood ini. Jutek gak menentu seakan pengen curhat tapi secara sinis. Aku beringsut ke sudut sofa panjang ini mendekat pada posisinya duduk.

“Ayolah… Kek gitu gak membantu-loh, Voon… Coba cerita dulu… Apa masalah rumah tanggamu ini, Von? Kok keknya amburadul kali…” tanyaku benar-benar kepo.

Vony menatapku dengan pandangan ‘Heh? Really? Serious?’ Aku hanya mengangguk-angguk kek orang paok gitu. Walo berat dan menarik nafas panjang keluar juga kisah kehidupan perkawinannya dengan suaminya ini.

Seperti yang kutau awalnya, ia dijodohkan oleh pak Alex dengan anak salah satu klien kantor mereka. Awal pernikahan mereka cukup bahagia karena seperti pasangan muda yang sangat serasi. Yang pria tampan dan mapan, yang perempuan cantik dan menarik.

Sebagai anak orang kaya yang selalu hidup berkecukupan, keduanya tak kekurangan satu apapun. Kehidupan seks merekapun sehat dan berwarna. Tapi ada sesuatu yang luput dari pengetahuan Vony yang akhirnya terbongkar pada tahun kedua pernikahan mereka asbab tak adanya momongan sekian lama menikah. Sang suami yang bernama Wisnu ini punya beberapa cem-ceman selain dirinya di luar sana.

Pertengkaran demi pertengkaran mulai terjadi. Wisnu mulai membanding-bandingkan dirinya dengan para selirnya. Ia juga sesumbar kalo akan gak memakai pengaman lagi saat menggauli mereka. Biar Vony tau siapa yang jadi kunci permasalahan absennya momongan ini.

Masing-masing keluarga tentunya mendukung anak mereka sendir tanpa berniat mendamaikan setidaknya mendinginkan. Dan kini mereka memasuki masa perang dingin. Lebih dingin dari suhu terdingin yang pernah tercatat.

Kisahnya standar sih sebenarnya. Lebih seru lagi sinetron azab di stasiun tipi ikan terbang daripada kisah Vony dan suaminya Wisnu. Tapi karena ia yang merasakannya langsung, pastinya akan lebih menyesakkan dada. Ditambah…

“… dia mulai mendekati teman-temanku dengan uangnya… Ada yang mentah-mentah menolaknya… tapi ada juga yang kena jerat… Sakit hati Vony, bang…” Ah… Ini dia sakit hati yang terkenal sejagat mayapada ini.

Pernah kubilang kalo bibit-bibit perselingkuhan itu bisa bermula dari saling curhat begini. Sang pendengar yang baik ini memberikan bahunya untuk sang pencurhat bersandar agar dengan nyaman menangis mencurahkan semua keluh kesahnya. Contohnya ya seperti ini. Vony menangis di bahuku yang telanjang. Air matanya bercucuran sampe berasa di kulit punggungku mengalirnya. Kubiarkan ia menangis sepuas hatinya. Sampe hilang seu sedannya sama sekali.

“Udah?” tanyaku sambil membelai-belai rambutnya.

Aku yang duduk di pegangan tangan single sofa itu agak membungkuk agar bisa menenangkan Vony yang barusan mencurahkan uneg-unegnya. Ditariknya tubuhku agar bergabung dengannya di single sofa itu. Walo namanya single sofa, ukurannya cukup untuk kami duduk berdua empet-empetan.

Tentu aja Vony memposisikan dirinya dipangkuanku. Ia masih membenamkan wajahnya dengan mata sembab itu di dadaku yang bidang. Membaui aroma tubuhku, mungkin. Secara aku ini jantan sekali. Pe-de kali kao, Seng-Seng! Kah kah kah!

“Udah, bang…” jawabnya singkat lalu membenamkan wajahnya lagi. Nafasnya terasa hangat di dadaku. Ia membentur-benturkan hidungnya yang mancung ke otot dadaku.

“Mau liat punya Vony lagi, ya?” tanyanya. Nadanya malu-malu. Padahal di kantor tadi berani kali penuh nyali. Ia mengelus dadaku dengan ujung jarinya. Terasa agak geli.

“Mau-laa…”

Vony terkikik geli mendengar jawaban spontanku. Pelan-pelan dilepasnya sisa kancing blouse yang masih terpasang. Nafas kami berdua menjadi lebih berat oleh birahi yang mulai menitik. Semua kancingnya kini yang malah terlepas. Wow…

“Bantuin…” pintanya karena rapat tubuh kami, ia butuh bantuan.

Dengan senang hati tentunya kukupas blouse yang tidak terkancing itu lagi. Aku berhasil meloloskan sisi kanan blouse itu dari tangan kanannya hingga separuh tubuhnya tak lagi berpakaian. Bra putihnya yang tertinggal dengan payudara padat menggantung indah. Sisanya dilepas Vony dan ia langsung memelukku. Malu mungkin. Tapi payudaranya menekan erat abdomenku.

“Mm…” desahnya kala kuelus kulit bahunya yang putih dan halus. Beberapa bagian tubuhnya meremang karena geli sentuhan pertamaku. Pori-pori kuduk dan bulu halusnya naik kuperhatikan, Vony mempererat dekapannya. Apalagi saat kubisikkan apakah aku boleh melonggarkan tali bra-nya.

Dari gerakan kepalanya aku mendapatkan tanda boleh dan kuloloskan satu strap yang menggantung di bahunya. Bra sebelah kanannya sudah longgar dan giliran sebelah kiri. Syuut. Dengan jari yang mahir, kulepaskan pengait yang masih menyatukan tautan bra itu di belakang punggungnya. Kutarik benda penyangga dada itu hingga Vony lebih menyembunyikan tubuhnya.

Kemana keberaniannya tadi siang?

“Vony? Kok jadi malu-malu gini?” bisikku di kupingnya sekalian menghembuskan nafas hangat yang membuatnya bergidik.

Pelan-pelan ia mengangkat kepalanya dari dadaku dan memberanikan diri membalas tatapanku. Masih malu-malu dengan mata yang tak terbuka sepenuhnya, berkerjab-kerjab bagus memainkan bulu mata tebal lentiknya–padahal gak sengaja. Lalu sama sekali terpejam dengan kepala mendongak dan bibir sedikit terbuka. Minta cium, ya?

Kutempelkan ujung telunjukku ke bibirnya. Lembut dan kenyal. “Apa Vony nanti gak bakalan perasaan kalo begini?” tanyaku masih menyegel bibirnya.

“Nggak tau sebelum dicoba…” jawabnya masih bertahan di posisi itu.

“Ini pasal pertama itu, ya?” ingatnya akan perjanjian kami. Mata indahnya membuka dan menatap mataku.

“Coba dulu… Biar sama-sama tau…” tantangnya berani.

Bagus. Nyalinya sudah kembali. Karena Vony duduk di pangkuanku, level ketinggian wajah kami setara, akan sangat pas untuk cipokan. Saat kudekatkan wajahku ke wajahnya, mata terpejam pelan mencoba meresapi apa yang akan menerpanya.

“Cup…”

Hit and run. Tabrak lari kasarnya. Hanya sepatukan kecil aja kuberikan pada ujung bibirnya. Alisnya menyatu menunggu aksi berikutnya yang tak kunjung kuberikan. Pasti penasaran anak orang kubuat.

“Segitu aja?” tanya Vony membuka matanya benar penasaran.

“Kan dah dicoba… Awak udah tau…” kataku enteng aja.

“Awak nanti yang perasaan, Von…” ngaku-ku.

Ia tergelak dengan manisnya. Tubuh kami tak serapat tadi dengan sama-sama bertelanjang dada.

“Masa segitu aja perasaan sih, bang? Gak pernah ciuman selain dengan orang rumah? Gak percaya-ih…” sindirnya dengan segitu banyak koleksi binorku.

Yang rutin cipokan denganku adalah kak Sandra yang memang terbukti gak baperan saat beradu mulut denganku. Akhir-akhir ini dengan Miranda yang rutin kucipok saat menyetubuhinya. Aku sama sekali gak ada menyangkutkan perasaan dengan mereka, hanya menikmati aja. Gak tau kalo mereka.

“Awak ini suami baik-baik-loh, Von…” gurauku garing.

“Suami baik apaan? Nih… meluk istri orang…” sindirnya lagi membusungkan dadanya hingga gundukan payudara montok kenyal itu nemplok di dadaku.

Lalu ditekan dan gesekkannya ke bawah hingga payudaranya seperti tumpah kepadaku padaku. Putingnya sudah mengeras dan menggerus bahkan putingku sendiri. Tak baik membuatnya sedemikian vulgar hingga kutangkap kedua payudara seukuran bakpao jumbo itu dari sisi luarnya.

“Mmph…”

Kusumpal mulutnya agar tak lagi protes dengan mulut juga. Bibir-bibirnya kukulum dan kupagut. Kumasukkan semua ke dalam mulutku, kusedot-sedot mesra hingga basah. Tangannya mencengkram erat pangkal lengan padatku, ia hanya bisa membenamkan ujung jarinya ke otot liatku sementara aku mengelus-elus perlahan punggungnya, merasakan halus lembut kulit mulusnya yang kembali meremang.

“Ah…” Vony memegangi kikuk bibirnya yang baru saja kusantap.

Ia ganti-ganti menatap mataku dan ujung bahuku. Kusapu bibirku dengan lidahku, menyesap sisa Vony yang mungkin bersisa.

“Suami yang baik, kan? Awak tadi mencontohkan bagaimana awak nyium istriku… Begitu caranya…” belagak keren sok gak menikmati apa yang kulakukan barusan pada bibir lezatnya.

Kubersihkan sisa-sisa gelembung buih kecil liurku pada sudut bibirnya. Ia terpaku menatapku membiarkanku menyingkirkan kotoran yang menganggu keindahan bibir manisnya.

“Lagi, bang…” dimonyongkannya bibirnya kembali dan memejamkan matanya erat-erat pasrah pada apapun yang akan kulakukan padanya. Tidak bisa. Ini sudah masuk ke taraf awal maen perasaan namanya kalo bukan ketagihan. Aku menunduk karena bukan bibirnya yang kuincar.

“Ahhs…” tubuhnya tersentak seperti tersengat binatang berbisa. Mulutku secara kurang ajarnya mencaplok puting kanan bakpao jumbo-nya. Kukulum dan kupermainkan dengan lidah berputar-putar.

“Aahhh… Uuhhnn… Mmm…” desahnya meremas bahuku sampe kuku pendeknya terbenam perih kala pentilnya kugigit dan kutarik.

Sisi payudaranya kuremas-remas, keduanya. Vony memundurkan tubuhnya hingga ada jarak lega untukku mempermainkan payudaranya.

“Ahhss… Enak, baang… Mm… Umb…” selagi ia mendesah menikmati rasa geli-geli enak di bakpao jumbo-nya, aku beralih lagi menyumpal mulutnya yang mendesah-desah dengan bibir seksinya.

Lagi ia tersentak tapi langsung menikmatinya dengan memejamkan mata. Ia balas pagutan mulutku dengan sedotan-sedotan pada sepasang bibirku. Lidahku yang berusaha menggelitik bibirnya disambut dengan lidah menggelitik juga.

Sepertinya ia haus akan permainan seperti ini lagi setelah konfliknya dengan sang suami. Sudah berapa lama perempuan ini tak disentuh pemiliknya?

Lidahnya berusaha memasuki mulutku, menyerahkan lidahnya untuk dikuasai. Kusedot-sedot lidahnya. Tangannya meremas-remas pangkal lenganku lagi dengan erat seirama mengimbangi permainan tanganku yang meremas bakpao jumbo-nya.

Pentilnya kembali kupilin-pilin lincah berputar selaras dengan lidahku yang juga mengaduk-aduk lidahnya. Silih berganti kami saling hisap lidah dan bertukar ludah. Remasan tanganku memerah bakpao jumbo kenyalnya.

“Shlk… claks… Slrrp… Slurp…” berdecap-decap permaian adu mulut kami terdengar saru di dalam kamar hotel ini. Saling cumbu mulut dan saling remas. Putingnya kupelintir memberinya rasa geli dan nikmat tambahan.

Nyot nyot nyot… Kami lepas pisah mulut tapi tak melepas remasan tanganku di bakpao jumbo-nya. Kami berpandangan. Tangannya ternyata bergerilya ke belakang dan menurunkan restleting rok span panjang yang dikenakannya. Ia ingin lanjut ke bagian berikutnya. Terburu-buru ia meraih tepian atas rok itu untuk menurunkannya lepas dari tubuhnya. Kucegah tindakannya itu.

“Itu tugas awak, Von…” Berkerjab-kerjab mata indahnya memandangiku yang berusaha menggantikannya melepas rok itu dari kakinya.

Mulutnya sedikit terbuka karena nafasnya agak berat. Deguban kencang jantungnya mempengaruhi jalan nafasnya karena ia banyak menahan nafas.

Dibagian bokong agak sulit melepasnya karena terjepit posisi duduk di pangkuanku ini. Kupepet tubuhnya yang sedikit mengangkat tubuhnya membantuku dengan mengecup-ngecup bibirnya. Disambutnya kecupanku dengan mesra.

Pelan dan pasti, rok span panjang sampai setengah betis itu-pun lolos dari kakinya. Kubuang sembarang aja karena kami masih saling cumbu bibir. Paha mulus dan halusnya kuelus-elus membuat Vony merinding-rinding geli. Hanya tinggal secarik celana dalam putih yang masih menempel di tubuh indah mulusnya. Aku akan berurusan dengan sisa itu nanti.

Diraba-raba begini, Vony tentunya tak bisa diam. Bergerak-gerak gelisah menggeol-geolkan bokongnya yang nemplok tepat di pangkuan pahaku. Terkadang ia juga menyenggol Aseng junior yang sudah mengacung tinggi. Udah mau meluncur aja rasanya si junior nakal itu ke sasaran sarang barunya. Sabar ya, Seng. Segera…

“Vony… Vony secantik ini… kenapa ada yang tega menyia-nyiakanmu? Aku gak ngerti…” keluhku memuji kesempurnaannya. Kuelus-elus pipi dan dagunya bergantian sambil kupandangi wajah cantiknya lekat-lekat. Entah apa yang membuat Wisnu jadi sedemikian menelantarkan istri secantik ini.

“Gak tau, bang… Mungkin karena ada yang lebih cantik lagi di luar sana?” katanya mencari alasan.

“Itu gak bisa jadi alasan, Von… Kalo begitu gak akan ada habis-habisnya…” kataku ikut prihatin sebenarnya akan derita yang saat ini merundungnya. “Tapi gini Von… Awak mau nanya dulu ini… Berarti akhir-akhir ini… suamimu gak pernah menyentuhmu lagi?” tanyaku. Ini hal penting bagiku.

“Kadang masih kalo mood lagi bagus… Baikan deh bentar… Bentar aja sih… Abis itu berantem lagi… Udah ada satu bulan, deh… terakhir kali…” ngaku si Vony. Satu bulan? Gawat itu.

“Abis ini… gimanapun caranya Vony baik-baik dulu sama suamimu… Minta jatah… Soalnya nanti kalo Vony hamil… itu adalah anaknya… Paham, ya?” jelasku untuk mengamankan alibi.

Walo ini kriterianya selingkuh tapi kan ada target yang ingin kami capai, yaitu kehamilan yang diinginkan Vony. Gawat aja kalo si Wisnu itu nanti itung-itungan dan ingat kalo terakhir kali ia menjamah sang istri sebulan lalu. Calon anakku bisa-bisa mendapat masa depan yang suram dan tak jelas karena tak punya orang tua yang lengkap. Bahkan bisa dicap sebagai anak haram. Amit-amit deh.

“Kalo pisah darinya juga Vony bisa survive-loh, bang… Aku gak pernah kekurangan…” paham Vony akan kecemasanku.

Orang berada seperti dirinya tidak akan paham kecemasan orang yang biasa susah sepertiku. Bagiku walo susah, keluarga yang paling utama. Keluarga adalah tujuan utama. Kerja keras untuk keluarga, untuk anak dan istri. Kekurangan uang dan kecemasan besok makan apa hal biasa. Hal yang lebih menakutkan adalah pecahnya keluarga.

“Vony akan menjaga anak itu sendiri kalo perlu…” tekadnya.

“Enggak! Jangan begitu… Itu tidak sehat, Von… Walo bagaimanapun… awak ini ayah biologisnya… Di perjanjian kita pasal ketiga… syaratnya adalah anak itu menjadi anak kalian berdua sebagai suami istri dan menjadi tanggung jawab kalian berdua sebagai suami istri… Ingat?” kataku menekankan kembali pada isi perjanjian kami mengingatkannya.

Padahal anaknya aja belum ada. Belum dibuat lagi malahan. Sempaknya aja masih belum terbuka. Masih panjang…

“Baik… Vony udah setuju perjanjian kita… Vony akan konsekuen dengan perjanjian kita… Vony paham, bang…” katanya menegarkan diri.

Ini artinya ia akan terus menerus bersabar apapun tingkah dan ulah suaminya. Sebanyak apapun selir dan gundiknya nanti, ia harus terus bertahan di pernikahannya ini walo menahan rasa pedih dan sakit hati tiada henti.

Sebenarnya itu neraka, tetapi aku punya rasa egois sendiri. Aku paham skenario yang ada di benaknya. Walo ia hamil tanpa campur tangan seorang suami, ia akan dengan mudah membesarkan buah hatinya kelak. Kalo perlu menepi dulu ke pinggiran kota dalam keadaan hamil, cuti bekerja dahulu dan kembali lagi setelah lahiran. Kalo beruntung ia dapat menemukan tambatan hati baru sebagai tempatnya berlabuh.

Tidak dengan stigma perempuan mandul karena terbukti ia bisa hamil dan melahirkan anak.

“Sreeet…” dengan gerakan luwes, tak ada lagi yang tertinggal di tubuh mulusnya. Vony telah melepas celana dalamnya sendiri. Ia bugil bulat di depan mataku, berdiri dengan tegar di depanku yang masih duduk di single sofa ini.

“Lanjut, bang… Vony sudah siap dari tadi…” ujarnya walo ada setitik nada bergetar di suaranya.

Tak kupandang tubuh bugilnya, hanya matanya yang penuh kesungguhan.

“Ungh…” keluhnya ketika tubuhnya kubopong di gendonganku.

Kuangkat tubuh polosnya menuju ranjang. Ia menatapku tapi aku tidak. Hanya menatap lurus ke ranjang. Kubaringkan tubuh indahnya di tengah-tengah ranjang. Kususun beberapa bantal di belakang kepalanya sebagai penyangga hingga ia agak tegak bersandar. Aku ada di antara kakinya. Bersiap memasuki…

Lingkungan ini merupakan gua lebar dengan langit-langit tinggi terbuat dari batu padas kasar bercampur karang di sana-sini. Ada banyak lubang-lubang yang mengingatkan akan bentuk labirin yang sambung-menyambung menyesatkan.

Ada aroma asin air laut di tanah berpasirnya karena juga ada jasad renik sisa kerang dan sejenisnya pembentuk area ini. Mandau Panglima Burung sudah dihunus di tangan kanan, bakiak Bulan Pencak di kedua kaki. Aku siap menghadapi siapapun yang jadi pemilik daerah kekuasaan ini, sekaligus penyantet Vony.

Kuawaskan semua panca indraku untuk mendeteksi datangnya lawan. Sayup-sayup di kejauhan terdengar debur ombak. Apa gua ini ada di dekat laut? Apa tempat ini mungkin dibanjiri air pasang secara periodik? Jalan keluar yang paling logis adalah ke atas andai ini memang sebuah tempat yang secara fisik memang ada, bukan secara ghaib.

Memanjat ke atas juga bukan hal yang mudah untuk dilakukan mengingat langit-langit tinggi gua ini terjal dan licin oleh semacam lendir yang terbentuk alami karena faktor kelembaban dan sejenis lumut ato sejenisnya yang biasa tumbuh di sekitar tempat basah.

Suara debur ombak semakin jelas terdengar dan itu membuatku semakin awas. Instingku mengatakan kalo sang pemilik tempat ini semakin dekat. Tidak ada gunanya panik dan aku gak panik sama sekali karena ini memang kuharapkan. Karena itu aku datang kemari repot-repot menyambangi calon lawan terbaru ini yang telah melakukan santet pada Vony.

Dari sebuah lubang lorong itu terdengar langkahnya. Tapi yang pertama kali muncul adalah sejenis kepulan asap. Dari aromanya aku tau itu asap kemenyan. Aku dapat membaui kebulan asapnya. Orang ini lalu muncul dari lubang itu sambil sedikit membungkuk karena ternyata mulut lubang itu lebih rendah dari tingginya.

Ia membawa sebuah semacam obor yang juga merupakan wadah arang dimana ia membakar kemenyan yang asapnya menyeruak aromanya. Pendar bara arang digunakannya sebagai penerang selama ia menjelajah lorong labirin tadi.

Orangnya biasa, tipikal dukun yang berumur setengah baya dengan pakaian lusuh berwarna hitam. Orang-orang seperti ini biasanya sengaja tidak memperhatikan penampilan agar terlihat seram sesuai dengan profesinya. Rambut panjang awut-awutan dan brewok serta kumis tak terurus. Entah dari mana datang pakem dukun harus berpenampilan seperti ini.

“Waah… ada orang rupanya nyasar dimari…” katanya menyambutku dan mengipas-ngipas bara kemenyannya agar tetap mengepul dengan tangan. Sepertinya ia sedang memberi makan peliharaannya dengan aroma menyengat kemenyan ini. Asap tipisnya membumbung dan memasuki lubang-lubang yang banyak menyebar di dinding gua.

“Mau nyembuhin perempuan ini, ya?” tanyanya.

Tangannya lentur seperti seorang pesulap yang mematerialkan sebuah benda sulapnya dari balik jubahnya. Pasir yang menjadi tempatnya berpijak membentuk sebuah sosok dengan ajaibnya. Cepat membentuk tubuh seorang perempuan yang segera kukenali sebagai Vony dari bentuk dadanya.

Skala sosok tubuh dari pasir itu 100 persen seperti aslinya. Ditiupkannya asap bokor sekaligus obor itu ke arah sosok perempuan pasir itu hingga terbalut tebalnya kepulan asap. Kemenyan kualitas terbaik sepertinya.

Pupus asap kemenyan itu, hingga meninggalkan sisa tipis asap saja, sosok pasir Vony sudah berbentuk seperti patung hidup dengan warna kulit dan rambut yang seperti nyata. Seperti patung lilin di museum Prancis itu. Jago nih dukun… Jago dia membuat patung Vony telanjang bulat seperti aslinya.

“Perempuan ini?” tanyanya lagi padaku. Dari sebuah tas cangklong lusuh yang dibawanya, beberapa buah paku sepanjang 4 inchi sudah berpindah tangan padanya.

“Ini kemari…” santai saja ia menusukkan sebuah paku ke kepala patung pasir itu sampai amblas meninggalkan bagian tonjolan pangkalnya saja dan bercokol disana. Melihat ia melakukan itu, aku tau kalo ada sesuatu yang sedang terjadi pada Vony di dunia nyata.

Ini adalah media boneka yang menjadi perwakilan siksaan tingkat lanjut dari sang dukun untuk Vony. Seketika aku jadi merasa bersalah karenanya, kalo aku gak muncul di sini, mungkin ia tidak akan melakukan santet dengan paku-paku ini. Paku-paku lain segera ditusukkannya ke bagian-bagian tubuh Vony, seperti jantung, lutut, pergelangan tangan, lengan, dan perut.

“Jangan macam-macam denganku…” ancamnya dengan mata melotot. Ia memberi gestur akan menghantamkan bokor obor itu ke kepala patung Vony.

“Kalau kepala patung pasir ini kuhancurkan… perempuan itu juga pasti akan hancur…” katanya sambil mendongak-dongakkan kepalanya seperti wayang golek Asep bergigi kelinci berkulit merah itu. Tapi gak ada lucu-lucunya sama sekali.

“Aku gak suka ada yang menantangku seperti ini… Tapi kalau kau berani… ayo maju sini… Tak ancurin kepalanya!”

Sialan… Serius nih orang pengen cari mati. Tapi aku tidak tau bagaimana menolong Vony di kondisi seperti ini. Dukun pukimak ini curang sekali metode kerjanya. Tak ada niatnya untuk bertarung langsung. Permainan kotor adalah cara mainnya. Cara seperti ini sah-sah aja dilakukan siapapun yang tak punya kode etik ksatria Menggala, apalagi golongan hitam sepertinya.

“Ayo… Buang senjatamu itu… Ayo!” perintah sang dukun yang menganggap senjata milikku ini berbahaya. Ia patut waspada pada mandau Panglima Burung ini.

Kujatuhkan senjata tajam panjang seperti pedang ini ke pasir hingga menancap dengan gagang di atas. Aku bahkan juga melepaskan bakiak Bulan Pencak-ku. Lalu aku menjauh darinya. Mundur-mundur.

“Jangan apa-apakan lagi dia, pak… Aku keluar… Aku keluar…” kataku mengangkat tangan tanda menyerah dan gak akan berbuat yang macam-macam.

“Aduh… Kok tiba-tiba sakit ya, bang Aseng?” kata Vony mengernyit sambil memegangi pelipis kanannya dan dada kirinya.

Itu dua paku yang ditancapkan di kepala dan jantung tadi. Pasti paku-paku lainnya juga sudah bereaksi memberikan rasa sakit yang tak terperi. Kimak! Hilang jadinya mood Vony untuk bersetubuh gara-gara ini. Pengen rasanya aku balik lagi ke gua batu itu dan menghajar dukun bangsat itu. Hu-uh! Sial! Sial!

***
“Arrgghhh… Arrhh… Sakit! Sakit! Mamaa!! SAKIT!! AAAHHH! SAKIITT!!” erang histeris Vony berguling-guling dalam keadaan bugil di atas ranjang hotel ini tak memperdulikan apapun kecuali rasa sakit yang mendera sekujur tubuhnya. Berganti-ganti ia memegang dan meremas sebisanya bagian tubuhnya yang terasa sakit tiba-tiba.

Rasa sakit ini adalah akibat perbuatan dukun santet yang melanjutkan pekerjaan kejinya pada tubuh Vony. Tahap pertama ia sudah menyebabkan Vony mandul. Entah siapa yang menyuruh dukun itu melakukan ini semua.

Tapi itu tak terlalu kuperdulikan karena yang terpenting adalah siksaan tahap kedua yang diterapkan dukun santet pukimak itu. Ia menusukkan beberapa buah paku sepanjang 4 inchi secara supranatural ke patung pasir Vony di daerah kekuasaannya.

Ditancapin paku sepanjang itu di sekujur tubuh secara fisik pasti akan langsung menjadi fatal, tetapi bila secara supranatural begini, pasti bertujuan menyiksa walo akhirnya adalah kematian…

Suara bising histeris yang keluar dari mulut Vony sangat menyedihkan. Erangan senang ato nikmat kala bersetubuh di dalam hotel mungkin akan bisa ditolerir para tetangga kamar yang mungkin juga melakukan hal yang sama. Tetapi suara yang dihasilkan Vony mirip dengan suara penyiksaan yang sangat menyakitkan. Takutnya ada yang akan komplen ke pihak hotel karena keributan ini. Mungkin juga berujung ke pelaporan pihak keamanan malah polisi sekalian.

“ADOOOHH!! SAKIIITT!! MAMA!! MAAMAAA!! SAKIT, MAAMAAA!!” teriaknya berguling-guling menakutkan.

Tak ada jalan lain.

Tubuh telanjang Vony, tepatnya bentuk jiwa tubuhnya kubawa berkelana hingga masuk ke daerah kekuasaanku. Masuk ke taman kecilku. Sebuah hembusan angin yang cukup kuat terpancar dari tubuh Vony yang terjerembab mendarat di rerumputan halus di pelataran luas ini.

Daun-daun pepohonan yang tumbuh di taman ini bergetar untuk beberapa saat. Ini sudah cukup untuk menandakan seberapa berat dan kuat santet yang kini tengah menyerang Vony. Panglima Burung si Enggang Gading tapi tak cukup bergeming mendapat gangguan seperti itu, ia masih asik bertengger di satu cabang tertinggi pohon pinus jarum yang merupakan pohon tertinggi di taman ini. Baginya itu hanya sebentuk angin remeh.

Kubiarkan Vony berguling-guling dan menjerit-jerit sesukanya di tempat ini. Hanya aku dan Panglima Burung yang akan mendengar jeritan pilu kesakitannya dengan tancapan beberapa batang paku 4 inchi menusuk bagian tubuhnya.

“Ada yang menusukkan benda-benda jahat itu di tubuh anak ini?” kata Panglima Burung ternyata merasa tak bisa tinggal diam melihat ini semua. Karena merasa pantang menginjak tanah, ia kembali bertengger di tangan kananku.

“Benar, Panglima Burung… Ada dukun jahat yang menyantetnya dengan menusuk paku-paku ini pada patungnya… Ilmunya sangat jahat… Ilmu hitam ini…” kataku sedikit menjelaskan apa yang menimpa pada tubuh anak manusia bertubuh polos tak berpakaian yang bergulingan seperti kesurupan karena menahankan sakit.

“Ini tidak bisa dibiarkan lama-lama… Makanya anak bawa dia kemari untuk menyembuhkannya…”

“Jangan dipegang benda jahat itu, anak… Itu perangkap untukmu juga…” cegah Panglima Burung ketika aku hendak berjongkok untuk berusaha mencabut paku pertama yang ditusukkan di sisi kanan kepalanya, tepat di atas telinga. Urung aku menyentuh pangkal paku seukuran 4 inchi itu.

“Racun ya, Panglima Burung?” tebakku. Paku itu terlihat masih baru, berwarna keperakan. Sepertinya baru saja dibeli dari panglong/toko material.

“Benar sekali, anak… Ada racun gaharu Malokkop yang dioleskan di benda jahat itu… Ternyata masih ada memanfaatkan getah gaharu itu untuk kejahatan… Getah gaharu itu sangat berbahaya… Sekali kau menyentuhnya… tubuhmu akan membusuk mulai dari kulit pertama yang bersentuhan dengannya… menjalar terus sampai menghancurkan organ dalam tubuhmu… Dari mayatmu akan tumbuh pohon gaharu Malokkop yang baru… Begitu caranya berkembang biak…” jelas sang Panglima Burung. Hiih. Aku bergidik seram mendengar penuturannya.

“Gaharu Malokkop? Anak belum pernah dengar pohon itu? Apakah itu tanaman langka?” tanyaku masih bergidik takut mendengar kata pembusukan bagian tubuh yang tersentuh.

“Semua pohon itu sudah punah… Aku dan beberapa penjaga hutan lainnya dulu pernah ikut membantu memusnahkan semua jejak pohon itu di daerahku, tanah Kalmantan (Sansekerta dari Kalamanthana, dibaca Kalmantan)… Ada satu bagian hutan kecil di tepi pantai yang sangat jauh dan terpencil tempatnya tumbuh… Ternyata masih ada yang menyimpan getah keringnya dan merubahnya menjadi kemenyan ini…” jelas sang Panglima Burung tentang tanaman berbahaya ini. Cara berkembang biaknya sangat jahat dan mengerikan.

“Jadi… Bagaimana cara mencabut paku-paku ini, Panglima Burung? Dilapis apakah bisa?” tanyaku harus berpacu dengan waktu karena tubuh Vony masih berguling-guling merasakan sakit akibat ditusuk beberapa paku yang sudah diolesi getah gaharu Malokkop. Bisa-bisa tubuh jiwa ini tewas. Untung bukan tubuh fisiknya. Apakah benar?

“Bagaimana tubuh jiwa perempuan ini? Apakah jiwanya bisa membusuk juga?”

“Getah gaharu Malokkop ini sangat jahat… Aromanya mirip dengan bau kemenyan sehingga sering disalah artikan… Tidak bisa walaupun dilapis… Apakah tadi patungnya diselimuti asap kemenyan dari getah gaharu ini? Itu malah melindungi tubuh jiwanya untuk sementara…” tanya Panglima Burung. Aku gak mengerti apa maksudnya. Tapi itu benar.

“Iya Panglima Burung… Orang itu waktu menciptakan patung perempuan ini… ia menyelimuti patung pasirnya dengan asap tebal kemenyan ini… selimut-selimut… lalu patungnya jadi… Begitukah maksudnya?” kataku ingat kejadian waktu penciptaan patung pasir sosok Vony di daerah kekuasaan dukun santet tadi, goa dengan langit-langit tinggi.

“Kalau begitu… Ia memang tidak bermaksud untuk membunuh anak perempuan ini… Ia hanya ingin menyiksanya sedemikian rupa… Ia hanya mengincarmu, anak… Ia hanya ingin meracunimu dengan getah gaharu ini… Ia orang yang sangat berbahaya…” beber Panglima Burung.

Pukimak dukun santet satu ini. Ia benar-benar tau apa yang sedang dilakukannya. Lagi pula ia dengan tenang melakukan ini semua. Ia bahkan menyandera tubuh dan jiwa Vony dengan menggunakan getah gaharu Malokkop yang sangat berbahaya.

Sandera yang berbahaya dengan beberapa buah paku yang tak boleh dicabut sembarangan. Ditusuk paku menyebabkan rasa sakit yang sangat luar biasa bagi tubuh dan jiwa Vony tetapi racunnya tidak membusukkan karena sudah dilapisi asap kemenyan gaharu yang malah bertindak melapisi sebagai anti-nya.

Tetapi paku tidak bisa dicabut karena mengandung getah gaharu itu yang beresiko keracunan dan membusukkan bagian tubuh yang menyentuhnya. Berujung pada kematian. Ini benar-benar gila.

Aku merasa beruntung dan bersyukur karena ada Panglima Burung di sini yang memperingatkanku tentang getah gaharu Malokkop ini. Kalo enggak, si Aseng ini pasti sudah mulai membusuk dan menjadi inang tempat tumbuh gaharu Malokkop baru.

“Tidak ada jalan lain kecuali mengalahkan dukun santet itu, Panglima Burung…” sadarku. Aku harus merelakan Vony mengalami rasa sakit yang sangat luar biasa ini dahulu.

“Aku harus segera mengalahkannya… Apakah ada saran Panglima Burung?” simpulku.

Aku bersiap-siap balik lagi ke daerah kekuasaan dukun santet pukimak itu. Aku ada rencana.

***

“Nekat kau balik lagi kemari…” tanya sang dukun santet itu masih memegang bokor berbentuk obor dari besi lengkap dengan arang membaranya. Asap tipis mengepul. Tangannya bergerak-gerak di atas bokor itu layaknya sedang membaca jampi-jampi memperkuat santetnya.

“Damai, pak… Piis…” kataku yang muncul dari salah satu lubang-lubang serupa terowongan ini.

Aku mengangkat tangan pertanda aku tidak akan menyerang ato melakukan apapun yang bodoh. Aku bahkan mengacungkan dua jari.

“Saya cuma mau minta kerjasamanya aja, pak… Ini bisa dibicarakan, kan?” songsongku berusaha mendekat pelan-pelan mengulur waktu.

“Aku tau maksudmu… Aku tau kau siapa… Keluar segera dari sini atau kuhancurkan kepala perempuan ini!” ancamnya lagi akan mengayunkan bokor obor membara itu ke kepala patung pasir Vony.

“Jangaaan! Jangan, pak! Piis, paak… Damai aja, pak?” aku sampe harus menunduk-nunduk dan berlutut agar ia mengasihani korbannya ini. Ia menahan tangannya dari menghancurkan kepala patung itu.

“Ganti aja, paak… Aku menggantikannya… Tapi tolong cabut paku-paku itu darinya… Dia bisa mati, pak? Tolong… Aku yang menggantikannya kalo perlu… Tusuk paku-paku itu padaku…” kataku masih berlutut dan menjura minta tolong padanya untuk berbaik hati dan mencabut semua paku itu dari tubuh Vony. Lalu aku yang akan menggantikannya menderita oleh paku-paku itu.

Gilak ya, kan?

Dukun santet itu menyeringai mengerikan. Sepertinya ia mendapatkan jackpot milyaran rupiah mendengarku mengatakan itu semua. Asap kemenyan dari getah gaharu itu mengepul tipis.

“Aku tau kau orang yang licin, anggota Ribak Sude… Aku akan mencabut semua paku ini… Tapi kalau kau macam-macam… aku bisa menusukkan lebih banyak lagi paku ini kepadanya…” kata si dukun santet itu.

Aku mengangguk-angguk setuju. Ia mulai mencabut satu per satu paku yang menancap di tubuh patung pasir sosok Vony. Di ilmu santet dan teluh semacamnya, media patung, boneka, foto, gambar ato apapun yang merepresentasikan korbannya biasa digunakan untuk mengirimkan serangan ilmu hitam ini. Si dukun santet ini membuat patung korban/target dari pasir.

Si dukun santet itu sudah selesai mencabut semua paku sepanjang 4 inchi itu dari patung pasir Vony. Sisa paku-paku itu dimasukkannya lagi ke tas cangklong lusuhnya dan hanya memegang satu saja di tangan kirinya. Ia beralih padaku dengan senyum seringai mengerikan itu lagi. Gigi-giginya kotor… Huek… Pasti bau kalok dekat nanti.

“Jangan bergerak!” katanya mendekat padaku yang masih berlutut menjura dengan tangan terangkat pertanda menyerah.

Ia mengacungkan paku itu di tangan kirinya dan bokor obor itu di tangan kanan, bersiap menghantamku kalo aku macam-macam. Ia berdiri tepat di depanku. Pasti dia akan menusukkan paku itu di sekitar kepalaku. Tubuhnya beraroma kemenyan getah gaharu berbahaya itu karena selalu membakarnya di bokor obor itu.

Aku mengangguk patuh.

“Kau pikir kau bisa menahan rasa sakit ini menggantikannya… Aku gak mau tau apa urusanmu dengan perempuan ini… Tapi rasakanlah rasa sakit yang sangat luar biasa ini!” ujarnya memegangi paku itu dan mengarahkannya tepat ke jidatku.

Ditekannya paku itu dengan telapak tangannya menembus kulit dan menerobos tulang keningku.

“AAARRGGHHH!!!” jeritku sekuat-kuatnya.

Tubuhku mengejang merasakan rasa sakit yang sangat luar biasa itu. Bayangkan suatu benda asing runcing sepanjang 4 inchi itu menembus jidatmu dan menuju langsung ke otak. Aku berguling menjauh dari dukun santet yang tertawa terbahak-bahak melihat penderitaanku ini. Aku menggelupur seperti orang yang sekarat menanti datangnya sakaratul maut. Seperti seekor hewan yang telah disembelih lehernya menunggu ajal.

“Membusuklah kau di neraka!! HA HAA HAA HAAA HAAA!” gelaknya tertawa sangat riang melihatku menanti maut.

Mengejang-ngejang menahankan rasa sakit yang amat sangat berpusat dari tertembusnya sebuah paku sepanjang 4 inchi di jidatku. Sedemikian sakit yang dirasakan Vony ternyata. Aku hanya menerima satu paku, sedang perempuan cantik itu menerima 6 buah paku di sekujur tubuhnya.

“Kau akan merasakan tubuhmu pelan-pelan membusuk… Organ-organ dalam tubuhmu membusuk… Hati, limpa, jantung, lambung, usus… Dan… BUUSSHHH… Sebuah pohon gaharu Malokkop akan tumbuh dari jantungmu… Pohon yang indah… HA HAA HAA HAAA HAAA!” tawa menyebalkan itu lagi diperdengarkannya. Dukun santet menyebalkan itu bahkan menandak-nandak berjoget campuran koplo dan jaipong sembarangan.

“AAAAARRGGGHHHH!!!” rasa sakit ini sangat menggerogoti kesadaranku.

Seperti ada beberapa buah akar bergerak terus tumbuh menggerogoti tubuhku bersumber dari jidatku tempat paku itu menancap. Aku bergulingan seperti yang dilakukan Vony saat meregang tubuhnya. Meregang nyawa. Tak perduli kalo ada racun berupa getah gaharu laknat yang dioleskan di paku ini. Aku harus mencabutnya segera.

“YAA!! CABUT! CAABUUTT KALAU KAU BISAA!! HA HAHH HAA HAHHAHAHHHAAAA!!” ia tertawa-tawa senang berhasil dengan pekerjaan busuknya.

“Hakhh…” ia mendekap lehernya.

Nafasnya tercekat. Matanya melotot bergerak liar memandang kesekitarnya. Ia merasakan sebuah benda dingin kecil panjang di dalam rongga mulutnya. Menancap di pangkal tenggorokannya. Mulutnya terbuka lebar.

“Hakkhh…” ia mulai kesulitan bernafas. Matanya melotot ke arahku. Pada jidatku yang sudah kehilangan paku 4 inchi itu.

Aku bangkit dengan nafas terengah-engah. Kuusap bekas lubang di jidatku dimana tadi tertancap paku laknat itu hingga tak ada lubang lagi. Paku itu sekarang sudah berpindah tempat di dalam mulutnya. Tertancap dalam dan menyebarkan racun getah gaharu Malokkop berbahaya itu. Mulut dukun santet itu mulai membusuk yang artinya racun itu mulai bekerja dari dalam tubuhnya. Aku melempar paku itu saat ia tertawa-tawa senang, membuka mulutnya lebar-lebar tadi.

Dukun santet pukimak itu menggelepar di tanah, melepaskan bokor obor penuh bara kemenyan itu. Kutendangkan beberapa kali cidukan pasir untuk memadamkan bara dan menghilangkan asapnya. Dia hanya memegangi lehernya yang membusuk menjalar perlahan. Aku memandangi tubuhnya yang sekarang menggenaskan.

“Dukun santet sepertimu memang harus dilenyapkan dari muka bumi ini… Aku tau semua pekerjaanmu dengan getah gaharu Malokkop ini…” kataku di depannya. Matanya tambah melotot mendengar pengakuanku. Ia tak bisa mengeluarkan suara lagi karena pita suara dan lehernya sudah membusuk dari dalam, busuk menjalar perlahan.

“Kau melapisi seluruh tubuhmu dengan minyak dari asap getah gaharu ini… Asap ini menjadi anti getah jahat ini sendiri… Tapi hanya tubuh luarmu yang terlindungi… Bagian dalamnya tidak… Seluruh gua besar ini adalah sisa pohon gaharu Malokkop yang sudah menjadi fosil, kan? Kau mengumpulkan sisa getah dari pohon yang sudah mati ini dengan membuat banyak lubang-lubang ini… Menambang getahnya dan menjadikannya daerah kekuasaanmu… Walopun sebentar… aku berhasil mendapat sedikit getah ini dan membakarnya menjadi kemenyan lalu menyapukan asapnya padaku… Kepalaku… wajahku dan tanganku ini kebal racun getah gaharu sialan ini… Sedikit luka tidak mengapa untuk membuatmu percaya dengan akting kelas Grammy Award-ku ini… Kau tertipu, kan?” kataku mencabut mandau Panglima Burung itu dari tanah pasir ini. Tempatnya menancap sedari tadi beserta sepasang bakiak Bulan Pencak-ku.

“Sebentar lagi racun pembusuk itu akan mencapai jantungmu… Pohon yang sangat kau cintai itu akan tumbuh di bangkaimu… Ada kata-kata terakhir sebelum kuhentikan pertumbuhannya?” kuhunuskan ujung mata tajam mandau itu ke lehernya yang sudah busuk seluruhnya. Kepalanya sudah menjadi bangkai seluruhnya, seluruh bagian otaknya.

“Sudah terlambat, ya?”

“CRAAASSHHH!!”

Sebagian bahunya terlepas dari tubuhnya. Bau bangkai tubuh membusuk tercium kuat dari sebagian besar kepala, leher dan sedikit bagian dadanya yang sudah kepenggal. Menghentikan pertumbuhan pohon gaharu Malokkop dari muncul lagi di dunia ini. Tumbuh dari dalam induknya sendiri yang kini tinggal fosil.

Hening yang tersisa. Patung pasir Vony yang dibuat sempurna itu bahkan luruh hancur bersama dengan sirnanya kekuatan dukun santet itu. Hanya samar-samar deburan ombak di kejauhan yang terdengar. Fosil pohon gaharu Malokkop berlubang ini masih berdiri tegak dengan pongahnya. Bersiap untuk kembali menebar terornya. Menunggu orang-orang culas lainnya untuk memanfaatkannya. Bahkan setelah sekian lama matipun, kejahatannya masih tertinggal dan sanggup menebar kejahatan.

“Panglima Burung…” kupanggil burung Enggang Gading itu.

Ia terbang membumbung tinggi keluar dari puncak lubang yang kukira gua ini. Aku akan bekerja sama dengannya untuk memusnahkan tempat ini sampai benar-benar hilang dari permukaan bumi ini. Mandau Panglima Burung kugenggam erat-erat. Aku dari dalam fosilnya dan sang Panglima Burung dari luar. Ini menjadi kombo maut.

“TTUUUTT TUUUKKKK!!!” suara Panglima Burung terdengar nyaring di atas sana. Terasa getaran kuat menggetarkan pasir-pasir tempatku berpijak. Ia sudah mulai menandakan aku juga harus mulai.

“Pedang Selatan Memapas Bulan…” kukerahkan salah satu jurus pedang penghancur dengan mandau andalanku.

Jurus ini ditenagai juga oleh kuda-kuda kuat memakai bakiak Bulan Pencak karena target serangannya sangat masif hingga membutuhkan energi pancaran Lini yang ekstra kuat. Getaran lantai pasir ini bertambah kuat bahkan rengkah, begitu juga dengan dinding-dinding keras serupa karang di sekitarku.

“HEAAAA!!!”

Serangan dari dalam dan luar fosil pohon gaharu Malokkop dengan kombo dahsyat ini menghancurkan benda jahat ini sampai berkeping-keping. Panglima Burung yang pernah menjadi bagian dari tim penghancur pohon-pohon ini tentu saja merasa bertanggung jawab meneruskan pekerjaannya karena ternyata masih ada yang belum tuntas dan tersisa, masih bisa menebarkan kejahatan bahkan dari bentuk matinya.

Tak ada yang tersisa lagi. Hanya ada bayangan gelap yang merupakan bentuk kegelapan malam di langit tak berbulan-bintang dan hamparan gelap laut di kejauhan di sebelah sana dan hutan lainnya di arah sebaliknya. Panglima Burung terbang berputar sebentar di atas sana lalu menghilang kembali ke tempat sementaranya.

Aku juga harus keluar dari tempat laknat ini. Kembali ke Vony. Aku harus menjemput Vony yang tubuh jiwanya sedang berada di taman daerah kekuasaanku.

Saat aku memasuki taman kecil penuh pepohonanku, ekspektasiku adalah melihat tubuh telanjang Vony yang habis guling-gulingan di rumput seperti terakhir kali kutinggalkan. Ternyata tidak, ia malah sedang asik berayun-berayun di teduhan hammock buatanku sambil memandangi buah-buahan ranum yang tumbuh di pohon.

Begitu melihatku, ia langsung mendekap dadanya menutupi gembungan payudara sebesar bakpao jumbo itu secara refleks. Telanjang bulat di taman seindah ini membuatnya natural seperti Hawa di taman Surga sebelum turun ke Bumi. Ia menungguku datang menghampirinya.

“Sori ya kelamaan… Sudah gak sakit lagi, kan?” tanyaku berdiri di tepi hammock itu.

Ia menggeleng. Vony masih menutupi gundukan dada yang selangkangannya dengan tangan malu-malu tentunya. Aku sudah lupa, berapa lama Vony kutinggalkan di taman daerah kekuasaanku ini. Ia menunduk gak tau apa yang harus dilakukannya. Mau lari kemana, ato ngumpet dimana di tempat asing ini.

“Vony pasti bertanya-tanya… Kok aku ada disini? Ini dimana? Kok tiba-tiba ada di taman? Kok udah siang?” kataku merangkum beberapa pertanyaan yang pasti akan ditanyakannya. Ia melirikku karena setuju dengan apa yang kira-kira akan ditanyakannya.

“Ini bukan dunia nyata, Von… Ini alam spiritual… Tidak ada matahari di sini, kan? Tempat ini akan selalu terang karena aku ada di sisi yang terang… Tubuh ini bukanlah tubuh fisikmu… Ini tubuh jiwamu yang awak bawa ke daerah kekuasaan awak ini… Tempat semacam ini lazimnya dimiliki oleh orang-orang yang berkecimpung di dunia Menggala… Seperti juga dukun yang telah menyantetmu itu…” kataku menjelaskan garis besarnya aja. Gak perlu dijelaskan detail karena gak akan sampe ke logikanya.

“Tadi… terasa sakit banget seluruh tubuhku, bang… Kepala… jantung, perut… tangan dan kakiku… Lalu tiba-tiba hilang begitu aja… Apa tadi itu? Apakah itu santet dukun itu, bang?” tanya Vony sedikit mengendurkan dekapannya pada payudaranya. Vony yang telanjang di dunia nyata, sama dengan yang kubawa kemari.

“Dukun santet itu udah awak bereskan, Von… Vony udah sembuh sekarang… Lebih baik awak membawa pulang Vony… Gak baik lama-lama di sini…” kataku berusaha menyentuh bahunya.

Ia berusaha sedikit menghindar tetapi tak lama… Balik lagi ke alam nyata. Mata perempuan cantik itu berkedip-kedip kaget mendapati perubahan drastis lingkungannya. Sekejab mata taman tadi berubah menjadi kamar hotel yang telah di-booking-nya.

Ia berbaring di ranjang yang acak-acakan setelah tadi berguling-guling kesakitan akibat tusukan beberapa buah paku berukuran 4 inchi di tubuhnya lewat serangan santet dukun sialan itu. Kalo kejadiannya kek gini, aku hanya bisa pasrah kalo gagal menyetubuhinya malam ini.

Yang pertama kali kuperiksa adalah lorong hotel ini. Adakah orang yang kepo ato penasaran dengan teriakan histeris dan memilukan yang keluar dari Vony sebelumnya? Sepertinya aman… Tadi Vony tereak-terak gak sampe 10 detik karena tubuh jiwanya langsung kubawa ke daerah kekuasaanku. Tak ada jeda waktu dan langsung sembuh.

“Amaaan…” kataku lega dan menghampiri Vony yang membungkus tubuh telanjangnya dengan selimut. Aku gak bisa menyalahkan reaksinya.

Keningnya berkerut-kerut berpikir dengan menunjuk sana-sini dengan mulut menganga tapi tak ada pertanyaan keluar dari mulutnya. Wajar sih kalo terguncang atau kaget mengalami fenomena membingungkan seperti ini. Tapi aku terpaksa melakukan ini semua karena keadaan. Aku berimprovisasi sebetulnya. Mudah-mudahan aja Vony gak membocorkan kejadian ini walau ini gak termasuk dalam perjanjian tiga pasal kami.

“Apa yang sebenarnya terjadi, bang? Vony kok seperti orang linglung gini, ya?” tanya Vony setelah berhasil merangkai kata-katanya. Tubuhnya masih terbalut selimut. Aku udah pasrah kalo gagal nyoblos.

“Tadi kita hampir ‘melakukannya’, kan?” ia menambah gesture quote-unquote dengan dua jari kedua tangannya.

“Tiba-tiba badan Vony merasakan sakit yang luar biasa… Disini… di kamar ini… Lalu bangun-bangun gak kerasa sakit lagi… Vony ada di taman itu… Vony jalan-jalan sebentar walau bingung dalam keadaan telanjang… Baju Vony entah dimana… Jalan-jalan lagi dan duduk di tempat tidur gantung itu… Ayun-ayun sebentar… bang Aseng muncul… bilang kalo Vony udah sembuh… Dukun itu sudah dibereskan… Trus balik lagi ke kamar ini… Bingung Vony, bang…” tangannya ke sana-kemari mengekspresikan keadaan yang sudah dialaminya. Tunjuk sana-tunjuk sini. Aku hanya mendengarkan saja dan duduk di tepi ranjang, membiarkannya nyaman di tengah.

“Memang gitu metode penyembuhannya ya, bang?” ia malah sampai pada kesimpulan itu sendiri. Aku mengangguk saja.

“Vony udah sembuh, dong?” girangnya dengan mata indah berbinar-binar. Senyumku tambah lebar membenarkan.

“Yeee…” ia membentangkan tangannya lebar ke atas. Memampangkan seluruh tubuh atasnya yang telanjang karena ia menyibak selimut yang menutupi tubuhnya dengan perayaan kegembiraan yang membludak mendadak.

“Sembuh-sembuh…” Lalu dengan cepat ia menyadari perayaannya malah mengekspos tubuh telanjangnya. Dikumpulkannya kembali ujung-ujung selimut untuk menutupi tubuhnya dengan mimik malu-malu.

“Kok ditutup lagi?… Dari tadi awak udah nampak semua, kok… Nampak sampe itu-itunya segala…” kataku bermaksud pada kemaluannya dengan pandangan mataku yang sudah keliatan ditunjukkannya tadi sebelum proses pertarungan dimulai.

“Malu, baaang…” katanya manja.

Ini nada imut pertama yang kudengar keluar darinya. Ia menyelimuti dirinya kek orang yang lagi meriang gitu. Aku tertawa kecil. Ia juga tertawa. Kami saling menertawakan kelucuan masing-masing. Kembali lebih cair sekarang. Gak gagal-gagal amat. Hanya perlu pendekatan ulang. Vony ini model roller coaster. Naik turun libidonya. Hanya perlu memacunya agar menanjak lagi setelah sempat turun dari ketinggian. Dan aku tau cara cepatnya.

“Biar Vony gak malu… Awak buka juga semua-ahhh…” kataku melepas sabuk, kancing, restleting dan meloloskan apapun yang masih tersisa di kakiku. Berdenting suara gesper-ku yang menyentuh lantai. Vony melongo melihatku ikut bugil seperti dirinya.

“Taraaa… Sama kita ya, kan?” kataku belagak riang gitu. Untung aja aku gak sampe lompat-lompat kek penari balet sangking berusaha memeriahkan suasana.

“Hihihihi…” Vony ketawa lucu ngeliat tingkahku apalagi aku juga meniru keadaannya. Ia menunjuk-nunjuk ke arahku dengan kocak.

“Bang Aseng lucu-ih… Gak malu tuh itunya keliatan?”

“Ya ndak, toh… Lha wong saya gajah, kook… Ini belalainya… Tweeett… tweett…” dah kek orang paok candaanku.

Bisa-bisanya Aseng junior dijadiin belalai gajah dan perut yang mulai six pack diendut-endutin menggelembung. Vony terkekeh ketawa terbahak-bahak bertepuk tangan. Ahh… Beban hidupnya sedikit terangkat. Ia bisa tertawa dengan riang.

Seperti ada spotlight dari surga yang menerangi sang Hawa penghuni sementara taman kecilku. Semoga hari-harimu lebih ceria dan bahagia ke depannya Hawa cantikku. Ia tertawa-tawa sampai terkekeh melihat tingkahku yang udah kek badut untuk menghibur suasana hatinya yang seumpama roller coaster itu.

“Makasih ya, bang… Abang Aseng udah nyembuhin hati Vony… Memang tidak ada gunanya balas dendam…” katanya sembari menghapus air mata yang terbit di sudut matanya saat tertawa tadi. Aku juga begitu. Udah lama gak ketawa kek tadi. Benar… Menyembuhkan hatinya. Luka supranaturalnya sudah sembuh. Luka fisik bisa diobati, luka hati yang terkadang menghambat perkembangan. Aku bermaksud memakai lagi celana panjangku.

“Loh? Kok dipake lagi?”

“Kan gak jadi, ya?” simpulku. Lain waktu aja kali.

“Trus Vony sendirian, dong…” ia malah melepaskan selimut yang dari tadi menyelimuti tubuhnya hingga sepasang payudara seukuran bakpao jumbo itu terlihat lagi.

“Gimana Vony hamilnya coba?”

“Hamil? Masih bisa?” tiba-tiba aku menjadi bersemangat lagi.

“Lanjut, nih?” kubuka lagi celanaku dan Vony senyum-senyum melihat tingkahku lagi.

Direbahkannya tubuhnya ditumpukan selimut yang jatuh di sekitar tubuhnya. Aseng junior yang mendapat prospek bagus menggeliat bangun, bergantung menghangat beringsut ke ukuran tempurnya. Diundang sedemikian rupa, aku merangkak naik ke atas ranjang dimana Vony berbaring pasrah dengan tubuh indah telanjangnya.

Merangkak naik hingga rapat ke tubuhnya, menghimpit tubuhnya yang bersandar pada beberapa bantal yang tadi kususun di awal. Diterimanya tubuhku dengan senang hati. Senyum tak lepas dari wajah cantiknya. Kami berpandangan lekat tak lepas. “Bisa kita mulai lagi?” aku terpana dengan senyum tulusnya. Ditariknya wajahku agar mendekati wajahnya. Dikecupnya bibirku, membuat kami me-restart kegiatan nikmat ini dari awal.

“Muach… muuahh… slrrpp… sluurpp…” saling cumbu bibir, mulut dan lidah kami ulangi seperti sebelum kejadian dengan dukun santet tadi.

Semangat dan nafsu kami setara saat ini. Saling cumbu bertukar ludah dan membelit lidah. Cukup lama kami di posisi berhimpitan begini dengan mulut beradu lekat. Bibirnya kukenyot, lidahku disedot, bibirnya kujilat, ludahku dihisapnya, lidah kami saling belit.

“Uuhhmm…” desahnya begitu mulutku beralih turun dan menciumi pipi lalu ke telinganya.

Kujilat sebentar lalu turun ke lehernya. Tangannya sendiri mengelus-elus lenganku. Sampai ke dada seukuran bakpao jumbo-nya, lincah lidahku bermain di salah satu putingnya yang kembali mengeras sementara yang sebelah diremas-remas lembut.

“Enak, baang… Umm…” desahnya menikmati perbuatanku.

“Isep yang kuat… Mmm… Remes yang kuat juga… Yaahh…” Vony menyuarakan preferensinya. Sukanya yang kuat-kuat ternyata.

Sedotan dan remasan tanganku meningkat lebih kuat. Putingnya yang kusedot meruncing memasuki mulutku. Begitu juga dengan remasanku menyebabkan bakpao jumbonya penyet peot lumer di tanganku walopun bentuknya tetap bagus dan kenyal aja. Vony menjulangkan tubuhnya dengan mata terpejam mendesah keenakan. Aroma tubuhnya merasuk dalam ke hidungku yang melekat erat ke kulitnya. Wangi tubuhnya meracuni otakku hingga aku tak jemu-jemu menghirup aromanya dan terus menikmati tubuhnya.

“Aaahh…. Yaahh… UUhh… Uaahhh…”

Aku memanjat naik lagi dan mencaplok bibirnya, kembali bercumbu mulut. Mendesakkan Aseng junior-ku yang sudah tegang keras maksimal ke tubuhnya. Kepalanya membentur-bentur perut Vony. Ia hanya menyambutku dengan pelukan erat dan membuka kakinya lebar-lebar, mempersilahkanku masuk. Ia sudah percaya kiprah Aseng junior-ku, sudah pasrah untuk dimasuki kapan saja. Sudah banyak bukti keampuhannya juga. Udah gak sabar pengen masuk…

“Baang… Udah bisaaa?” kata Vony menjangkaukan tangannya ke bawah dan menemukan kemaluanku yang menggesek perutnya, minta izin ikut pilkada, eh nyoblos.

“Ahhss… Kerasss… Uhh…” digesekkan kepala Aseng junior kebelahan basah nan hangat di antara bukaan kakinya. Rasa enak segera menyergap ujung-ujung saraf perasaku yang berada di ujung kepala Aseng junior yang sensitif mengetahui gak lama lagi ia akan memasuki sarang baru.

Basah malah becek sudah terasa oleh cairan semi kental di bukaan yang perlahan dibelah Aseng junior. Makin lebar Vony melebarkan kakinya disela kecupan kecil yang kulakukan. Vony menikmati milimeter demi milimeter masuknya Aseng junior-ku ke dalam liang kawin hausnya. Dipejamkan matanya meresapi rasa nikmat sebagaimana aku juga menikmati gerinjal-gerinjal sempit liang kawinnya mencengkram erat batang kemaluanku. Masuk sedikit tarik sedikit, masuk lagi sedikit lebih dalam lagi dan tarik lagi sedikit lagi. Kuciumi dagunya saat Aseng junior bercokol seutuhnya di dalam tubuh perempuan cantik ini.

“Aahh… Dalam banget, baaang…”

Vony menyesuaikan tubuh dan mentalnya sebentar dengan Aseng junior yang sudah menemukan sarang barunya. Remasan-remasan serupa kegel yang mungkin gak disadarinya seirama degub jantungnya, meremas Aseng junior secara ritmis.

Mulutnya masih sibuk mengumpulkan isi paru-paru yang menyebabkan bakpao jumbo-nya kembang kempis. Bolak-balik ia meneguk ludah selagi kami bertatapan. Aku meyakinkannya kalo ia bisa bersiap semampunya dengan mengecup-ngecup bibirnya. Diusap-usapnya dadaku sambil bernafas berat. Hangat nafasnya menerpa wajahku.

“Bentar ya, bang… Punya abang agak lebih gede dari punya Wisnu… Umm… Kerasa ya kedutannya? Coba mulai, bang…”

“Aaahh… Enak bangeeet, baaang…” ketika goyangan sederhana pelan kulakukan maju mundur.

Ia terus mendesah berulang ketika kuulangi pompaan itu. Tubuh kami rapat saling berhimpitan. Dadaku menekan payudaranya, mulut kami terus bercengkrama, kelamin kami apa lagi. Lancar gerakan memompa kulakukan walo seseret itu liang kawin perempuan cantik binor si Wisnu ini.

“Aaahhsss… Bisa lebih kuaaat?” pintanya.

Kuposisikan kakiku menopang tubuhku agar tidak menindihnya lagi sehingga sodokanku bisa lebih panjang dengan kombinasi tusukan andalan 2-1-ku.

“Cleb-cleb-cloop! Cleb-cleb-cloop! Cleb-cleb-cloop!” berulang-ulang kulakukan sesuai request-nya menyodok kuat tiap hentakannya.

Hasilnya ia mengerang seperti kesakitan yang sejatinya keenakan. Matanya memejam erat dan mulut meracau. Tangan mengepal selimut dan apapun yang dapat diraihnya. Kakinya menjepit pinggangku berganti-ganti.

“Jyaahh… Ahh… Akh…” tubuhnya berkejat-kejat gemetar.

Bokongnya terangkat tinggi hingga Aseng junior terbenam dalam dan diremas-remas kuat akibat orgasmenya ini. Kami hanya bisa berpelukan erat menunggu efek kenikmatan itu pudar. Vony menekankan dagunya di bahuku mencari udara segar yang langka di sesaknya atmosfir persetubuhan kami.

Sebagian besar punggungnya masih bersandar di bantal yang bersusun. Lalu pelukan tangannya mengendur sehingga aku bisa memberi jarak lekat tubuh kami, menikmati ekspresi puas tercermin di wajah cantiknya.

Sungguh sebuah pemandangan yang menyenangkan menikmati sorot kebahagian yang terpancar dari sinar mata cerianya ini. Semoga ini adalah tampilan sepanjang hayatmu, wahai perempuan cantik. Dikerjab-kerjabkan matanya dengan puas walo napas masih ngos-ngosan akibat orgasme enak barusan.

“Kok dicabut lagi, bang?” tanyanya memegangi bagian kepala Aseng junior yang kucabut seperti mencegahku meninggalkannya. Sentuhan tangan lembutnya memberi rasa geli yang enak sekali.

“Tadi enak kali, Voon… Ampir nembak awak jadinya… Agak direm dulu bentar, yaa?” kataku ngasih alasan mengada-ada. Padahal aku pengen menikmati tubuhnya lebih lama. Jilmek contohnya.

“Gak pa-pa, bang… Tembakkan aja… Vony gak pa-pa… Yang penting Vony bisa hamil aja…” katanya siap-siap aja nerima spermaku di dalam rahimnya.

“Nanti pasti awak tembakkan ya… Vony nikmati aja yang ini…” kataku beringsut mundur menghadapkan mukaku ke selangkangannya yang bertambah becek abis orgasme tadi.

Kubenamkan mukaku dengan rakus pada becek belahan vagina yang lumayan tembem Vony setelah kupuas-puaskan memelototi bentuk indahnya yang berjembut pendek dicukur rapi pada bagian atas saja.

“Sluurp… sllurrpp… Slrrkk…” suara nakal basah jilatan dan seruputan mulutku menikmati si tembem.

“Auh… Yaahh… Sedot kuat, baang… Yah gituuuh… Oohh…” pintanya ketika seruputanku beralih ke kacang itil imutnya yang lumayan mencuat akibat terangsang persetubuhan barusan. Lidahku bermain, jariku juga menusuk masuk menambah Vony menggelinjang liar.

Tubuhnya meliuk-liuk indah seperti sebuah bandul yang berayun. Rambutku diacak-acaknya kadang diremas dan dijambaknya. Sedotanku tambah menggila dengan mengucurnya cairan baru yang deras bertambah. Aku seperti mereguk segarnya mata air.

Tak lama ia kembali orgasme seperti kusodok dengan Aseng junior di awal tadi. Tubuhnya berguncang-guncang seksi dengan bakpao jumbo-nya juga ikut memperindah semua kenikmatan ini. Nikmat melihat perempuan cantik ini mendapatkan puncaknya berkat ulahmu.

Kubiarkan ia menikmati semuanya sepuas-puasnya, tentu saja mulut dan jariku harus kulepas. Kupandangi tubuh indahnya yang mulai memudar rasa nikmat itu.

“Enak banget, bang… Abang bener-bener ahli-ih…” puji Vony memerah Aseng junior-ku yang ditariknya merapat ke arah perutnya.

Dikocok-kocoknya pelan agar siap mencoblos dirinya lagi. Aseng junior sudah tegang keras dari tadi. Siap kapan saja untuk diajak tempur. Kakinya dilebarkan siap untuk menyambutku memasukinya lagi.

“Senang kali liat Vony kek gini… Bahagia abis kesannya… Gak sia-sia awak capek-capek kek gini…” kataku memegangi kedua lututnya, Aseng junior junior sudah kugesek-gesekkan ke si tembem basah lagi.

“Lagi yah?” Ia mengangguk yakin masih dengan paras ceria.

Aseng junior tergelincir masuk dengan mudah di posisi standar senggama sang pria di atas. MOT. Sambutannya dengan mendesah menggairahkan, menikmati dengan sepenuh hatinya kala Aseng junior membelah si tembem yang merekah merah basah.

“Aaahhsshh…. Sshhaahh… Uhh…” disambutnya tiap sodokanku dengan hentakan mengadu kelamin kami hingga membentur menyuarakan suara tepukan khas.

“Plok-plok-plok-plok!” suaranya intim sekali.

Gak terasa aku semakin mempercepat tempo sodokanku karena untuk apa juga ditahan lama-lama ya, kan kalo bisa tamboh lagi dan lagi dengannya. Ia pasti akan senang sekali mendapat curahan cairan bibit suburku berulang-ulang asal diberi kenikmatan yang setara juga.

“Voon… Uhhh… Mau nembaak… Iniihh dyaahhh…” erangku gak nanggung-nanggung lagi. “Croot Croott Crooottt!!!”

Vony mencengkram otot trisep-ku saat kusemprotkan banyak sekali sperma kentalku ke dalam rahimnya. Membanjiri rahimnya yang selama ini terganggu ilmu hitam santet itu, yang membuatnya tak dapat hamil walo sudah berbagai macam cara pengobatan dan perawatan dijalaninya.

Mulutnya menganga lebar merasakan panas dan penuh rahimnya dibanjiri spermaku. Apalagi Aseng junior masih menyumpal liang kawinnya yang masih berkedut-kedut memeras sisa-sisa muatan yang belum sepenuhnya memasuki haribaannya.

“Ahh… Banyak banget, bang? Ini bisa beneran hamil Vony, bang kalo sebanyak ini…” pujinya akan kuantitas sperma yang telah kusetorkan padanya. Perutnya mungkin terasa penuh karenanya.

“Kental lagi…” saat kucabut Aseng junior yang masih merasakan enak-enak puas abis ngecrot barusan.

Selimut yang berserakan disekitar tubuh bugilnya kukumpulkan menjadi semacam tumpukan untuk mengganjal pantatnya agar terangkat lebih tinggi dari perutnya, menahan spermaku lebih lama dan meresap bekerja membuahinya.

“Vony lagi masa subur-suburnya nih bang harusnya di tanggal ini…”

“Huh huh huh… Kalo memang diizinkan sama yang Kuasa, harusnya Vony bakalan hamil gak lama lagi… Cuma untuk meyakinkan aja… Kita harus melakukannya beberapa kali… Setuju?” kataku berusaha mengambil keuntungan di balik usahanya ini.

Sebenarnya hanya ini keuntungan yang kudapat murni dari tiap perjanjianku selama ini dari para binor. Keuntungan kenikmatan yang luar biasa tiap kali aku menikmati tubuh mereka yang dengan rela menerima setoran spermaku yang terbukti subur.

Gak setiap binor mau menerima dengan rela relung kemaluannya diisi bibit pria lain selain pasangan resminya. Berkat masalah beragam yang mereka alami, aku mendapat keuntungan diizinkan memasukkan bibit suburku. Mereka dapat anak, aku dapat enak.

“Setuju, bang Aseng… Gimana kalo untuk beberapa hari ini Vony tinggal di kamar hotel ini aja… Nanti Vony extend (nambah hari), deh nginapnya… Jadi bang Aseng malam-malam pulang kerja langsung kemari aja… Supaya Vony lekas hamilnya… Setuju?” Waduh… Malah nambah hari.

Tadi maksudku hanya nambah ronde aja malam ini. Apa aku harus terus alasan lembur banyak kerjaan di kantor jadi telat pulang? Dengan terpaksa aku mengangguk setuju. Salahku juga sih…

“Ini diapain, bang?” tanyanya mengenai tumpukan selimut yang diuwel-uwel mengganjal pantatnya.

“Supaya lebih tinggi aja… Biasanya awak pake cara itu gampangnya… ups!” kataku langsung membekap mulut agar gak banyak mulut membocorkan hal yang gak perlu.

“Pokoknya biar mudah hamilnya…” ralatku.

“Biar dulu sebentar… Biar mereka bekerja dulu…” kataku menggerakkan seluruh jari tanganku mengumpamakan pergerakan para spermaku yang lagi berenang lincah berebut menembus sel telur.

“Ooh… Gitu… Pernah dengar, pernah nyoba juga…” kata Vony sembari mengelus-elus perutnya yang terasa penuh sesak oleh spermaku yang tak bisa dibendung mbrebes keluar juga sedikit dari sela-sela bukaan liang kawinnya.

Kuhenyakkan tubuhku di samping tubuh Vony, berbaring manja di sampingnya. Memposisikan diriku di ketiaknya, menghidu aroma wangi tubuhnya walo sudah berpeluh habis tempur ronde pertama tadi. Tanganku menowel usil puting dan meremas bakpao jumbo-nya.

“Bang Aseng gak pernah ngerasa perasaan yang lain gitu… abis kayak-kayak gini?” tanya binor ini, kakinya yang terbuka menyenggol-nyenggol pahaku.

“Dikit-dikit gitu pernah sih… Tapi cuma karena situasi aja… Abis itu ilang sendiri, sih…” jawabku taktis.

“Sekarang ada?” singgungnya lagi.

“Ada… Ya tadi itu… dikit aja… Cuma karena kebersamaan yang intim aja… Gak munafik sih awaknya… Tapi nanti ilang sendiri…”

“… kalo dah ketemu istri di rumah?” sambungnya menyambar ucapanku barusan.

Ia mengatakannya dengan nada tidak cemburu. Mau cemburu gimana kami masing-masing punya pasangan sah? Sarkas mungkin sindiran. Tapi aku memilih untuk mengacuhkannya. Memang tidak boleh ada perasaan yang lebih dari ini, lebih dari sekedar tolong menolong. Itu ‘tidak’ yang sangat besar. Cuek terus mempermainkan bakpao jumbo-nya.

Tangannya juga tak kalah usil, menjangkau dan menggenggam Aseng junior. Kocokannya telah berhasil membangunkan si macan kecil hingga berubah menjadi rudal.

“Ih… Cepat ya bangunnya lagi…” senang nada suaranya mendapati si Aseng junior bangkit lagi ke mode tempurnya. Ia makin ganas mengocok batangku dengan antusias. Kukira ia masih ragu-ragu untuk mengambil langkah ini tapi kepalanya tanpa ragu langsung menunduk.

“Aaahhsss… Voonn… Enak, Voon… Uuumm…” erangku merasakan keahlian Vony memperlakukan kemaluan lelaki dengan mulutnya.

Tentu aja, kehidupan seksnya sebelum masalah ini mencuat dengan sang suami cukup sehat. Keahlian sepong-menyepong ini tentu saja ia punya. Wisnu pasti klepek-klepek dengan skill ini.

Gak ragu ia menjilati batang Aseng junior-ku yang tadinya masih berlepotan sperma mengeringku. Sejumlah besar ludah digunakannya untuk membasahi menjulangnya monumen kejantananku ini lalu disedot-sedotnya rakus. Aku sampe merinding DJ merasakan nikmat sedotan yahudnya.

Pihak yang telah menyuruh menyantet Vony pasti juga telah melakukan sesuatu pada suaminya; Wisnu. Menyebabkan pria itu melakukan hal-hal menyebalkan yang telah membuat Vony bersedih sedemikian rupa di kehidupan pernikahannya yang sepatutnya indah.

Gonta-ganti perempuan yang diklaimnya bisa dihamilinya, sebagai ganti Vony yang tak kunjung hamil. Itu rumah tangga yang sangat kacau. Tidak ada lagi rasa hormat, kasih sayang apalagi cinta. Vony meledak dan bermuara pada malam ini. Rahimnya berisi sperma pria lain.

“Aadoohhh, Voonn… Mantap kali… Ahh…” jeritku puas karena ia memanjat ke atas tubuhku, membelakangi dan menduduki perutku, Aseng junior masuk menusuk.

Di posisi seksi dan menggairahkan ini, aku bisa menikmati pemandangan belakang tubuhnya, bodi berlekuk bagus bagai gitar, pinggul lebar, kulit putih dan leher jenjang karena ia mengarahkan rambut panjangnya ke depan.

Aku bisa menikmati pemandangan belakang tubuhnya dengan utuh tanpa hambatan apapun. Gerakan pantatnya naik turun mengocok Aseng junior dengan goyangan mantap. Berkali-kali aku dapat menyaksikan lubang anusnya mengintip dari tunggingan pantatnya. Ahhh… Ini sangat menggairahkan sekali.

Kuelus-elus kulit halus punggungnya sebagai bentuk apresiasi keindahan yang kunikmati saat ini. Mulus bak pualam mahal serba perawatan kelas VIP. Beruntung sekali aku bisa menyicipi keindahan dan kemewahan ini. Jepitan si tembem juga terasa VIP jadinya karena semua kemewahan ini. Apalagi gerakan yahudnya.

Selagi ia bergoyang, ia juga mendesah-desah seksi ikut serta merasakan kenikmatan juga. Disentuhnya dirinya sendiri dengan sekali-kali menoleh ke belakang untuk tau gimana keadaan dan reaksiku akan kreasinya.

“Ah ah ah ahhh…”

 

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9