The Baby Maker Part 3

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9

Cerita Sex Dewasa The Baby Maker Part 1 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya :The Baby Maker Part 2

Sambil menggenjot Yuli yang sedang termehek-mehek menerima genjotan Aseng junior di apem mlenuknya, aku jadi memikirkan pembicaraanku saat di bawah hotel tadi. Hasilnya malah aku jadi lama gak ngecrot-ngecrot walau sudah hampir mencapai 30 menit aku bergoyang. Sedangkan Yuli udah dua kali melolong mendapat kenikmatannya.

Aku jadi gak konsentrasi menikmati tubuhnya yang semok bergelora dengan guncangan gunung seukuran 38DD. Padahal ini malam terakhir kami bisa bersama minggu ini karena pagi atau siang nanti suaminya sudah akan sampai Medan dari tour ngantar sembako via truknya.

Anaknya tidur di tempat tidur terpisah dari kami berdua yang bergumul bolak-balik. Benar aja, itu anak seperti gak terganggu walau sebising apapun Yuli menjerit-jerit keenakan.

Aku berkali-kali mengingatkannya agar jangan terlalu berisik, tapi memang anaknya tidur kek kebo. Mereka menginap di hotel ini karena tadi siang anaknya bermain-main di kolam renang hotel dan lanjut check in.

Ini semua karena telepon Dani tadi. Ia mendesakku dengan pembenaran kalo kata kakek-kakek itu ‘bang Aseng udah biasa’ membantu perempuan lain untuk hamil. Mimpi kok dipercaya. Kakek-kakeknya pun tak jelas gitu. Nyuruh ngentot sama lakik orang pulak lagi.

“Emang Dani mau ‘maen’ sama awak?” tanyaku vulgar karena terpaksa. Itupun pilihan katanya diperhalus. Harusnya ngentot!

Ia diam beberapa detik. Tak berani menjawab.

“Kalau perlu…” tak disangka dan dinyana jawabnya perlahan akhirnya. WHADDEPAK!

Walo gak konsen, tapi pantatku terus memompa konstan keluar masuk ke apem mlenuk Yuli yang sudah basah—banjir cairan cintanya. Kakinya yang gempal padat terkangkang lebar. Mempersilahkan aku menggaulinya dan menghamilinya. Sudah beberapa malam aku mengunjungi dan menebarkan bibit-bibit suburku ke rahimnya.

Kalo berhasil hamil, total aku akan mendapatkan 100 juta rupiah dengan DP 50%. Walau terasa enak, pembicaraan dengan Dani tadi memecah konsentrasiku.

Kuremas-remas walau seadanya gunung kembar 38DD itu dan ia mendesah-desah keenakan meremas-remas sprei hotel hingga carut marut. Keringat sudah membasahi tubuh kami berdua. Tanganku tetap meremas lumer kenyal besar 38DD itu.

Kutengadahkan mukaku ke langit-langit seolah sedang menikmati tubuh Yuli padahal pikiranku bercabang. Pada apem mlenuk Yuli yang sedang kegenjot dan meki gundul Dani.

“Apa Dani gak cerita kalo jerangkong itu sudah gak ada sama suamimu?” tanyaku.

Sebelumnya ia cerita kalo dari terakhir ia kesurupan sampai saat itu di gudang arsip, ia tidak lagi mendapat serangan. Setidaknya ia akan mengalaminya dua sampai tiga kali lagi. Makanya malam itu mereka merayakannya dengan bercinta yang sudah lama tak mereka lakukan—dengan gembira.

“Abis itu… baru Dani cerita ke suami kalo bang Aseng yang ngancurin jerangkong itu…” jelasnya.

“Dia bilang minta tolong bang Aseng bantuin lagi biar kami berdua gak diganggu…” sambungnya dengan antusias.

Dani ngakunya nelpon di luar kamar karena suaminya masih tidur kecapekan di kamar.

“Awak bukan dukun, Dan…” elakku.

Kimak si Aseng junior ini… Gara-gara gak konsen malah merajalela dia gak mau ngecrot. Udah kek minum obat kuat pulak aku jadinya. Durasiku meningkat jadi dua kali lipat dari kebiasaan 15-20 menit. Ini sudah 30 menit lebih dan Yuli udah kubolak-balik kek ikan goreng.

Udah lemes itu binik orang kubuat karena sudah tiga kali orgasme sampe menjerit-jerit bising. Kini ia kubuat menunggingkan pantat besar lagi semoknya yang berkeringat mengkilap. Apem mlenuk beceknya merah merekah mekar bebas dicoblos. Aseng junior meluncur masuk dengan lancar dan kembali mengaduk-aduk.

Kuremas-remas pantatnya bergantian dengan pinggulnya. Sekali-kali kutampar pantatnya untuk mendapatkan kejutan remasan mendadak kala ia merasakan panas akibatnya. Pantatnya menjadi kemerahan yang membuatnya semakin binal. Erangannya tak lagi dijaga seperti kala melakukan ini di rumahnya. Herannya, anaknya tak merasa terganggu.

“Nanti abang kutemukan dengan suamiku… Kita ketemu dimana gitu… Ntah warung bakso ato apalah… Abang kasih ke dia air putih… Pake botol air mineral yang kecil aja… Bilang aja udah abang baca-bacain biar bisa punya anak dan gak diganggu mahluk ghaib lagi… Minum selama seminggu kek minum obat sampe abis… Gitu…” katanya malah menyodorkan sebuah skenario itu padaku.

Pantesan aja dia jago mengatur jadwal PPIC, dia bisa memikirkan hal sampai sedetil ini, mengatur banyak orang, flow bahan jadi dan inventory yang jumlah bejibun—apalagi cuma suaminya.

“Kalo kek gitu… udah kek dukun aku, Daaan…”

Kubenamkan Aseng junior dalam-dalam dan kusemburkan spermaku yang meledak-ledak. Kepalaku jadi ringan berkat letupan-letupan nikmat dari nikmat yang akhirnya datang ini. Berasal dari kesal, gemes dan juga penasaran. Yuli juga melolong lagi menyambut tembakan spermaku dengan bareng merasakan kenikmatannya juga.

Kutindih tubuhnya yang menelungkup sambil merasakan Aseng junior berkedut-kedut menguras sisa muatannya. Apem mlenuk Yuli juga memeras tiada henti. Napas kami menderu-deru seperti habis marathon. Kuremas 38DD-nya gemas, juga mengecupi punggung berkeringatnya.

***

Pagi-pagi ketika berjalan-jalan rutin dengan bayiku, kulihat suami Yuli yang bernama Suradi memasuki gang dengan berjalan kaki dengan tas ransel dan seplastik besar barang lainnya. O-iya. Hari ini hari Sabtu. Hari dimana ia biasanya pulang ke rumah.

Sepertinya dia diantar temannya dan di-drop di depan gang. Kusapa dia dan berbincang sebentar. Sepertinya ia sangat lelah dan katanya mau tidur. Ia sudah tau kalau istri dan anak tirinya sedang menginap di hotel dan sebelum tengah hari check out.

Kupandangi punggungnya yang menelusuri gang untuk ke rumahnya dengan perasaan campur aduk. Selagi ia bekerja jauh sampai luar provinsi, biniknya kugarap untuk dihamili. Kukangkangi otonomi rumahnya untuk menggagahi ladangnya. Kusetor sejumlah besar bibitku untuk mengandung anakku, yang kelak akan diakui olehnya. Anak yang mereka berdua idam-idamkan selama ini.

“Tiin! Tiiinn!” sepeda motor di belakangku memberi peringatan dan aku berbalik juga menepi.

Seorang perempuan mengendarai motor matic dengan pakaian sehari-harinya yang seksi. Ya… Iva. Iva saudara-saudara. Sambutlah dia…

Ia tersenyum lebar mengetahui akan mencapaiku sebentar lagi. Sebuah polisi tidur yang terbuat dari kayu melintang di jalan beton gang ini untuk mengurangi laju kendaraan, mengguncangnya. Bagaikan sebuah tayangan slow motion kulihat guncangan yang terjadi.

Dua buah gunungan pejal dan kenyal berguncang indah kala ban depan motor menabrak polisi tidur itu dan diredam shock breaker. Berayun-ayun bak dua buah mangga golek ukuran besar yang tumbuh di halaman rumahku kala diterpa angin. Saling beradu siapa yang paling kenyal guncangannya.

Lalu disusul guncangan kedua kala ban belakang membentur polisi tidur, menyebabkan shock breaker belakang membuat motor dan penumpangnya berguncang. Kembali dua buah dada proporsional itu berguncang indah lagi.

Byung! Byung! Aku bisa memperkirakan bentuk bra yang dikenakannya dari garis-garis menonjol di bahan kain kaos ketat tak berlengan berwarna hijaunya. Bra yang mungil, yang hanya bisa menyangga dan menampung muatan sekenanya.

“Bang Aseng… Mei-Mei…” sapanya malah berhenti di depanku.

Senyumnya tambah lebar memamerkan gigi-geligi putih rapi dengan gusi sehat berwarna merah muda cerah. Lengan dan kakinya yang terbuka terlihat cerah disapa cahaya mentari pagi yang ceria. Rambutnya diikat ekor kuda. Berguncang kembali yang bisa berguncang karena proses berhenti motornya.

Aku yakin Iva tau kalo aku memperhatikan guncangan dadanya. Semua lelaki akan melihat itu. Aku yakin.

“Bu Ipa…” balasku menyapanya dengan senyum lebar juga. Aku membiarkan perempuan cantik itu menjawil-jawil pipi Salwa dengan gemas.

“Kerja, bang Aseng hari Sabtu begini?” tanyanya sembari menjawil dagu Salwa.

“Kerja, bu Ipa… Cuma setengah hari tapinya… Jam dua siang udah pulang…” jawabku.

Aku teringat mimpiku kemarin tentang perempuan ini yang berani meremas dadanya sendiri di depanku. Tapi itu cuma mimpi aja. Mungkin karena aku sering cuci mata di warungnya.

“Oo… Toni–lakik awak udah terbang sama kawan-kawannya dari semalam mancing di jermal (bangunan di tengah laut yang berdiri di atas pasak kayu/bambu, untuk menangkap ikan yang dipasangi jaring pada bagian bawahnya)… Minggu malam paling pulangnya…” katanya sambil tersenyum-senyum.

Ngapain ngasih tau tentang lakiknya yang mancing mania sampe nginap-nginap di tengah laut kek gitu? Aku gak nanya kok?

“Suka kali dia mancing sampe jauh ke sana… Nginap lagi…” sambungnya.

“Oo…” aku hanya memandangi mukanya yang cantik dan abai atas informasinya.

“Jadi berdua ajalah sama Ara (Rara; anaknya) di rumah?” kataku basa-basi. Siapa tau Iva minta ditemani bobo nanti malam.

“Enggak… Ara nanti mau dijemput neneknya… Mau jalan-jalan… Kenapa bang? Mau nemenin Ipa?” genitnya sambil menyandarkan kedua sikunya pada speedo meter motornya. Kedua lengan telanjangnya terekspos nyata dan sedikit bagian ketiak mulus. Kedua buah dada montoknya bergantung bagus. Ia terkekeh geli sehingga ada yang ikut berguncang.

“Ah… Ipa ada-ada aja… Jadi sendirian aja, nih? Gak takut apa nanti digondol wewe?” jawabku meningkahi candaannya.

Salwa anakku padahal udah gak betah dijahili terus dan maunya jalan lagi. Kami berdua tertawa-tawa di pinggiran jalan gang ini.

“Takut-lah, bang… Makanya… nanti malam temenin Iva, yah?” katanya mengerlingkan sebelah matanya.

Tentu aja aku melongo mendengar perkataannya barusan. Ia mengatakannya tanpa beban sama sekali. Padahal beberapa orang pengguna jalan yang notabene adalah penghuni gang ini lalu lalang. Walau suaranya tadi tidak kuat dan mereka juga tidak mungkin dengar, tapi… Gagal fokus deh aku karenanya.

“Nanti malam?” ulangku memastikan kalau itu memang masih bagian bercandanya.

“Iya, nanti malam… Kalo bang Aseng udah mau datang… ping dulu Iva… Biar Iva bukain pintunya…” jawabnya sambil memberi gestur membuka kunci pintu rumahnya.

“Iva tungguin deh sampe jam berapa aja… Bener, ya?” sambungnya dan menstarter motornya kembali.

“Iva tungguin loh… Udah ya, bang… Iva mau belanja barang-barang kede dulu…” dan ia berlalu begitu saja setelah terlebih dahulu menjawil dagu Salwa dan melambaikan dadanya, eh tangannya.

Angin pagi yang sejuk bertiup agak kuat menerbangkan sebuah plastik kresek berwarna merah yang dibuang sembarangan di jalan. Meliuk-liuk terbang rendah di atas jalan dan langsung nemplok di mukaku. Plok! Kimbek! Dah kek tempat sampah mukaku jadinya. Ya… Itu semua bisa kejadian karena aku melongo. Kenapa Iva mengundangku ke rumahnya malam-malam di saat lakiknya gak ada di rumah karena pergi mancing? Jam berapa aja aku datang akan dibukakannya pintu. Bajunya sekalian?

Kan… Jadi kotor lagi kepalaku dengan bayangan-bayangan indah Iva. Memori foto-foto yang dikirimkannya bermain-main di kepalaku. Menggabung-gabungkan beberapa pose menjadi nakal sampai ada yang bugil segala di fantasiku. Memori mimpiku juga bergabung menjadi gerakan-gerakan sensual yang nakal menggodaku. Ini beneran apa tidak? Ini mimpi apa tidak? Ini kenyataan apa tidak?

“Uwaaaaaaaa!” teriakan Salwa menyadarkanku. Kuayun-ayun bayiku yang sedang belajar merangkak dengan dua tangan dan dua kakinya, agar diam dari ngambeknya.

***
Masuk kantor di hari Sabtu memang agak menyebalkan. Di saat kantor-kantor lain libur di akhir minggu begini, kantor kami tetap buka karena lini produksi pabrik tetap berjalan di hari Sabtu dan Minggu walau tidak full seperti hari biasa.

Duduk di dalam cubicle-ku tercinta sambil memandangi layar LCD 19″ menampilkan logo Windows yang baru aja selesai boot. Tumpukan file segar sudah duduk manis di atas mejaku. Jam kerja baru mulai jam 9 nanti tapi aku sudah sampai jam 08:24.

Aku masih bimbang mau keliling tur pabrik dulu atau memeriksa laporan produksi tadi malam. Aku sering bengong sekarang. Memandangi pot berisi tanaman lidah buaya berukuran kecil yang kuminta dari bagian Umum.

Aku memang minta tanaman hias dan mereka memberiku ini. Imut dan lucu bentuknya nangkring di pot kecil. Padahal aku membayangkan akan dapat sekelas Anthurium atau Aglonema. Mahal itu, cuy.

“Bang Aseng… Ini…” tiba-tiba ada yang menyodorkan sebotol minuman mineral ukuran 600ml kepadaku.

Padahal lagi enak-enak menikmati imutnya lidah buaya mini itu di atas mejaku. Perempuan itu langsung menarik sebuah kursi yang secara gak resmi jadi penghuni cubicle-ku. Si Dani.

Tumben dia berdandan agak lebih hari Sabtu begini? Apa pulang kerja nanti dia mau langsung ke kondangan ya? Para staff kantor punya seragam tersendiri yang membedakan dengan seragam karyawan lapangan yang wajib dikenakan selama hari Senin sampai Kamis, Jumat berupa batik dan Sabtu memakai pakaian bebas, seperti yang kukenakan saat ini berupa kaos polo dan jeans.

Dani memakai baju lengan panjang ketat berwarna coklat dan celana pensil ketat plus hijab berwarna senada. High heel-nya kiclong walau masih matching dengan overall pakaiannya. Dandan berlebihnya yang kumaksud tadi adalah riasannya. Biasanya ia hanya ber-make up tipis dan sedikit olesan lipstick, kali ini lebih wah. Membuatnya tampak lebih cantik dengan bulu mata lentik berhias eye liner dan warna lipstik elegan.

“Dani… dandan? Mo kemana?” tanyaku kepo. Padahal aku gak biasanya aku nanya gini sama perempuan satu ini. Aku memegangi botol air mineral pemberiannya.

“Gak kemana-mana, bang…” jawabnya tersipu dan mengalihkan pandangannya ke arah luar cubicle.

“Itu air yang nanti abang berikan ke suamiku nanti… Nanti kita ketemu di warung bakso dekat-dekat sini aja…” katanya menyebutkan salah satu warung bakso paling hit di Mabar. Aku hanya mengangguk aja mengikuti jadwalnya. Sabtu ini dia pulang kerja akan dijemput suaminya dan kami bertemu di warung itu.

“Dani yakin… dengan ini semua?” tanyaku mencoba mengkonfirmasi rencananya ini. Ini bisa jadi skandal yang mengerikan kalau sampai terbongkar.

“Yakin, bang… Dani udah capek begini-begini aja… Harus ada perubahan drastis yang perlu Dani buat…” jawabnya mantap. Ia mengatakan itu semua tidak dengan ragu. Seperti saat ia mendelegasikan semua tugas pada bawahannya. Lugas dan tegas.

“Ini… berdosa loh, Dan?” kataku berani mempertentangkannya dengan atribut keagamaan yang dikenakannya.

Aku tidak terlalu urus sama kegiatan beribadahnya. Entah dia rajin ibadah atau enggak aku-pun gak tau. “Awak bukannya suci-suci kali, Dan… Tapi Dani harus mikir matang… Sematang-matangnya… Karena kalo udah dimulai… gak boleh ada kata menyesal…” kataku.

“Dani udah yakin, bang… Gini… Kita lakukan nanti jam 10 pas… di gudang arsip… Dani yang masuk ke sana duluan… Abang nyusul tepat 2 menit kemudian… Kita main cepat aja… Kalo bisa dibawah 5 menit… Dani lagi keluar duluan dan abang menyusul abis itu 2 menit kemudian… Tidak akan ada yang curiga kalau kita melakukan dengan cara ini…” katanya lugas kek menjelaskan sebuah prosedur kerja. Untung aja gak diketiknya dan dijadikan SOP (Standard Operation Procedure) skandal ini.

“Main cepat?” ulangku hanya pada bagian itu saja. Main cepat itu maksudnya quickie, kan?

“Kenapa, bang? 5 menit apa terlalu lama? Apa lebih cepat lagi?” tanya Dani dengan muka menyelidik.

Dan nyut! Ia melirik sekali ke bawah. Ke bawah itu maksudnya pada Aseng junior berada. Lirikannya cepat tapi aku melihat itu dengan jelas karena ia duduk tepat di depanku tidak jauh. Seolah ia meyakinkan diri sendiri kalo aku mampu menjalankan tugas yang diamanatkannya.

Perempuan ini pasti tau kalo anakku sudah dua dari istriku dan itu kudapatkan tanpa kesulitan. Aku sendiri sebenarnya pe-de bisa menghamilinya dan perempuan-perempuan lain apalagi sudah dibuktikan pada Aida. Kalo soal 5 menit aku gak berani sesumbar padanya kalo durasiku biasanya lebih dari segitu. Kemampuanku bisa lebih dari 15-20 menit biasanya.

“Ng… Kita coba aja-la, Dan… Tapi tolong dipikirkan masak-masak… Berulang-ulang… Kasih jawabannya jam 9 nanti… Di BB aja…” kataku tidak bermaksud memperpanjang pembicaraan ini. Walau tersamar seperti diskusi masalah pekerjaan, tapi perasaanku tidak merasa nyaman.

“OK, bang… Nanti Dani BB jawabannya jam 9 nanti… Tapi jadwalnya masih tetap jam 10 pas… Tidak berubah…” ujarnya bangkit dari duduknya lalu keluar dari wilayah cubicle-ku. Kupandangi kepalanya yang melintasi partisi cubicle dan menghilang di sudut sana, kembali ke daerah cubicle para PPIC.

Selama berjalan tadi, ia memandang lurus ke depan dengan yakin. Aku tau sifat dan perangai Dani gimana selama bekerja sama beberapa tahun ini. Ia pekerja yang tegas dan cenderung keras. Makanya manajemen mempercayakan dia untuk menjadi kepala bagian PPIC.

Dia hanya berteman atau bergaul sekenanya dengan karyawan lain dan tak memihak pada geng-geng tertentu yang terbentuk di kantor ini. Tau-kan biasanya ada geng tertentu dimanapun termasuk di kantor ini. Ada geng gosip, geng agamis, geng makan, geng jalan-jalan atau geng sporty.

Mengingat bagaimana sifat dan perangai Dani, aku ragu ia akan berubah pikiran. Makanya dari pada itu sebelum lupa, kutuliskan 3 poin perjanjian di sehelai kertas apabila Dani tetap dengan pendiriannya. Akan kuberikan padanya agar dibacanya dan pahami untuk disetujui. Perjanjian yang mirip-mirip dengan yang sudah kusodorkan pada Aida, Yuli, dan Pipit.

1. Hubungan. Semua kegiatan ini tidak diperbolehkan mengikutkan perasaan sama sekali. Ini semua hanya sekedar hubungan tolong menolong. Aku menolong Dani agar hamil. Aku tegaskan tanpa perasaan jadi tidak akan hubungan yang lebih dari pada itu.

2. Kepercayaan. Dilarang membicarakan mengenai masalah ini pada orang lain bahkan pada suami/istri. Ini hanya sepengetahuan kita berdua saja (Aseng dan Dani). Singkatnya, rahasia kita berdua.

3. Masa Depan. Jika benar Dani berhasil hamil, anak itu adalah anak Dani dan suami. Rawat dan besarkan dia sebagaimana harusnya. Jangan melihat asal-usulnya, dia anak kalian berdua karena terlahir darimu sendiri di pernikahan kalian.

Benar saja, tepat jam 9, sebuah pesan BB masuk ke HP-ku dari Dani yang berbunyi dia tetap pada rencananya, meminta bantuan agar hamil dari bibit yang berasal dariku. Kukirim balasan agar ia mengambil kertas yang kutulis sebelumnya agar dibaca dahulu dan dipahami dan dibalas lagi secepatnya.

Tak menunggu lama, ia datang ke cubicle-ku dan kuserahkan sehelai kertas itu tanpa ada percakapan. Ia langsung balik ke tempatnya. Dan tak butuh waktu lama juga ia menyetujui semua poin perjanjianku. Hanya perlu disegel dengan salaman kala kami bertemu di gudang arsip jam 10 nanti.

Aku segera kembali tenggelam di pekerjaan sembari menunggu jam 10 tiba. Sebenarnya aku hanya ingin mengalihkan perhatianku dari pada memikirkan masalah Dani gak akan ada solusinya kecuali dijalani aja. Toh aku sudah melakukan ini pada Aida, Yuli dan Pipit.

Tambah satu lagi untuk menolong Dani memperoleh keturunan keknya gak masalah. Itung-itung bantu keluarga lain yang kesulitan mendapatkan anak. Butuh beberapa minggu sampai ada kabar baik dari Yuli yang sudah digauli seminggu ini. Tinggal menunggu jadwal menstruasinya terlambat saja dan bisa dipastikan dari test-pack sederhana yang bisa dibeli di apotik mana saja. Dan bisa dikuatkan dengan mengunjungi bidan atau dokter kandungan.

“Ping!”

Notifikasi pesan BB masuk ke HP-ku. Ini jam 10 tepat. Ini pasti pesan dari Dani untuk mengingatkan kalo ini jam 10. Panjang umur… Itu dia berjalan ke arah sana. Ke arah pintu dimana ruangan Meeting 3 dan gudang arsip berada.

Tempat itu sebenarnya agak tersembunyi dan jarang dipergunakan apalagi hari Sabtu begini jarang ada rapat, jadi cukup kondusif untuk kegiatan mesum ini. Aku harus menyusulnya 2 menit kemudian kalau begitu.

Apa langsung maen masuk-masuk aja Aseng junior-ku? Apa Dani sedang siap-siap di sana, di gudang arsip itu? Buka baju semua? Keknya enggak deh. Mungkin dia cuma meloroti celana pensil-nya dikit untukku masuk. Apa Aseng junior bisa langsung ereksi? Kemaren, pas liat Dani masturbasi akibat kesurupan Jerangkong itu, Aseng junior-ku bisa sukses ngaceng. Semoga kali ini bisa sukses kembali.

2 menit. Aku menyusul Dani ke gudang arsip dengan jantung berdegub kencang. Belum pernah aku segugup ini dibanding 3 perempuan yang kubantu sebelumnya. Ini karena lokasinya masih di kantor dan banyak orang ada di sini. Apalagi aku juga tidak begitu akrab dengan Dani. Tidak pernah ada percakapan akrab apalagi menjurus genit bahkan mesum. BRAK! Begitu aja aku harus menghamilinya.

Gugup, bahkan aku sampai mengetuk pintu gudang arsip ini seperti mengharap ada jawaban yang mempersilahkanku masuk. Di dalam sana sana sangat kedap, bahkan kalau Dani menjawab-pun aku tidak akan bisa mendengarnya. Aku membuka pintu dan masuk perlahan. Dari 4 lampu sumber cahaya hanya satu yang menyala; yaitu yang di dekat pintu ini. Sisanya mati. Samar-samar di kegelapan di antara tumpukan kardus file dan arsip, Dani duduk di tumpukan kardus di posisinya kemaren. Kudekati ia.

Dani duduk menunduk juga dalam gugup begitu aku tiba di depannya. Pintu gudang arsip sudah kukunci rapat dari dalam. Tidak ada yang bisa masuk. Jantungku dan pasti juga jantungnya berdegub kencang bagai pukulan genderang perang Baratayudha. Perang Pandawa dan Kurawa yang epik. Kisahku tak se-epik itu tapi suara genderangnya aku yakin mirip. Aseng junior menghangat menyadari potensi kesempatannya. Ia bisa menggeliat.

“Dan… Salaman dulu tanda deal dengan perjanjian yang kutulis tadi…” ucapku lirih.

Aku harus menyelesaikan ini dengan cepat. Tanganku mengulur padanya. Disambutnya tanganku, lembut tangannya yang dingin menggenggam cepat dan mengguncangnya pelan sekali tanda setuju. Lalu lepas.

“Baiklah… Semua sudah siap?” tanyaku. Di remang gudang arsip yang kekurangan cahaya, kulihat dia mengangguk.

“Trus… Gimana mulainya? Apa yang harus awak lakukan?” tanyaku kikuk. Menanyakan gimana cara mengentoti teman sekerja. Itu pertanyaan yang sangat aneh saat ini.

Tak menjawab ia malah berbalik, melepas sepatu high heels-nya dan lalu sedikit menungging. Dari gerak-geriknya, ia melepaskan kancing celana pensilnya beserta menurunkan restletingnya. Sejurus kemudian menurunkan celana itu sekaligus dengan celana dalam putihnya sampai sebatas pertengahan paha.

Ia menungging dan menumpukan tubuhnya pada tumpukan kardus berkas di depannya. Begini maunya. Jadi aku hanya sekedar mengeluarkan Aseng junior saja tanpa buka celana. Seks masih berpakaian lengkap. Quickie.

“Awak masuk dari belakang gini, Dan?” pastiku mengeluarkan Aseng junior dari sangkarnya.

Ia menggeliat bangun mengingat sasaran tembaknya berupa meki gundul yang kuliat kemaren. Di keremangan ruangan, aku bisa mengira-ngira siluet bentuknya yang indah dan mereka saat ini karena Dani juga tau menempatkan dirinya–dilebarkannya kedua kakinya sampai terhalang lebar celana yang menggantung di pertengahan pahanya. Ia mengangguk, terlihat dari gerakan belakang hijab yang dipakainya.

Kukocok-kocok Aseng junior untuk meningkatkan ukurannya sembari kupelototi liang kawin yang walau gelap tapi jelas tepat di depanku. Gak pa-pa mungkin ya… kalo kujamah sedikit meki gundul itu untuk memeriksa kesiapannya. Jadilah tangan kananku merancap Aseng junior dan tangan kiri menggapai pada meki gundul itu. Ujung jari tengah kiriku menggapai dan…

Hangat dan basah.

“Hhmm…” itu suara pertama yang dikeluarkan Dani selama kami berdua di gudang arsip ini.

Dan yang pertama itu adalah suara lenguhan kala ujung jariku menyentuh belahan hangat meki gundulnya. Tubuhnya merinding tapi tidak beranjak pertanda ia tak akan lari atau malah teriak. Berabe kalau Dani tereak. Rusak semua-semuanya. Sirsak si buah Buni. Cakep! Karierku rusak karena Dani.

Kuelus-elus untuk meratakan cairan lembab yang ada di sekujur meki gundulnya. Bahkan jariku melata masuk seujung ke dalam hangat liang kawinnya. Sudah cukup basah untuk dicoblos.

Tapi apakah ia siap dengan ukuranku? Harus dicoba supaya tau kan, bos? Menari-nari sebentar di klitoris kecil nan keras pertanda sudah cukup stimulasi. Aku merapat. Kepala Aseng junior kutempelkan di bukaan liang kawin Dani. Terdorong penyok meki gundul itu menyambut desakan perdana Aseng junior. Bahunya terangkat sedikit tanda kaget.

“Mm…”

Gesek-gesek bentar, ke atas-bawah untuk membasahi kepala Aseng junior dengan cairan pelicin yang dikeluarkan Dani. Terasa enak menggesek-geseknya. Rasa gugup tadi yang cukup panas di kepala kini berganti menjadi hangat nafsu di sekujur tubuhku.

Kutekan-tekan sebagai mula percobaan senggama utama. Kepala Aseng junior mencoba menerobos masuk. Liang kawin Dani ternyata cukup rapat dan sempit. Khas binor yang belum pernah melahirkan.

“Masuk ya, Daaan…” bisikku saat kami berdua sudah siap sedia. Kudorong pelan…

“Mphh…” Tubuh Dani menegang tanda ia sudah bersiap siaga. Kepalanya bergerak sedikit. Siap tempur!

Pelan namun pasti, Aseng junior meluncur masuk ke dalam liang kawin meki gundul itu. Seret tetapi licin. Ketat menggigit. Gerinjal otot serupa cincin di sekujur liang kawinnya menggenggam erat.

Tarik-dorong-tarik-dorong yang kulakukan untuk dapat mencapai kedalaman maksimal liang kawin Dani dan juga panjang Aseng junior-ku harus bersatu padu. Aseng junior menemukan sarang baru di tubuh Dani.

Baik Aseng junior maupun meki gundulnya sama-sama berkedut gencar. Dani menggigit kain baju tangannya untuk membungkam mulutnya. Seharusnya ia berteriak tapi mengingat lokasi ini tidak memungkinkan untuk ekspresi itu, hal ini yang terpaksa dilakukannya walau aku yakin gak bakal kedengaran keluar ruangan.

Ini pilihan tempatmu, Dan. Kudiamkan Aseng junior diremas-remas kedutan yang tidak bisa dikontrol Dani pada liang kawinnya. Mungkin penis suaminya tak sebesar milikku ini dan ini barang asing bagi tubuhnya. Kaget tentu mekinya.

Pendek-pendek kutarik Aseng junior lalu kudorong masuk lagi. Aku sama sekali tidak menyentuh bagian tubuhnya yang lain. Padahal pinggulnya terbuka bebas kupegang, kutahan diriku. Sebagai gantinya, aku memegangi pantatku sendiri sebagai bantuan dorong.

Sudah terasa enak dari tadi sebenarnya, tapi akan jauh lebih enak kalau Dani juga mengekspresikannya dengan desahan. Aku hanya bisa menikmati pemandangan gelap tetapi terlihat—pantat mulus langsing tetapi padat miliknya. Buah pantatnya ketat seketat katupannya pada Aseng junior.

Apalagi liang kawin Dani sangat ketat membekap Aseng junior. Perempuan ini kek baru aja diperawani beberapa hari yang lalu peretnya. Lahan basah suaminya ini sudah bertahun-tahun digarap tetapi masih segini rapet. The Best-lah. Gerakan dorong-tarikku semakin lancar dengan licinnya liang kawin Dani. Untung licin kalau gak, mungkin udah lecet liang sempit ini bergesekan terus menerus dengan Aseng junior-ku. Aseng junior juga bisa ikutan lecet.

Kuberanikan untuk memegang kedua sisi pinggul Dani karena bosan juga megang pantat sendiri. Ahh… Dia tidak keberatan kusentuh apalagi dipegang begini. Setidaknya aku punya cengkraman sekarang untuk menyodokkan Aseng junior dengan lugas.

Kuremas-remas pinggulnya kala Aseng junior-ku makin lancar keluar masuk. Makin panjang tarikan dan dorongan yang kulakukan sampai ke batas leher Aseng junior. Kutekan agak lebih kuat kala aku mendorong masuk Aseng junior hingga jembutku dapat menggelitik belahan pantatnya.

Dani masih membekap mulutnya dengan menggigit kain lengan kanannya walau dari gerakannya sudah terombang-ambing ke segala arah. Kau pasti merasakannya, Dan. Ini pasti enak, kan? Aku-pun merasakan enak ini, Dan. Nikmati aja. Gak usah ditahan-tahan.

“Mmaaahh…” erangnya tiba-tiba. Pantatnya meliuk-liuk dan cengkraman liang kawinnya semakin ketat.

Aseng junior tercekik di dalam sana dan flop! Aseng junior terlepas karena kedua lututnya bergerak liar, bergetar dan menyerah hingga rebah berlutut ke lantai. Lalu ia terduduk di atas pergelangan kakinya.

“Bhang… Bhang Aseng… Akuu kenaapa? Hhash… hashh… Akuu kenapaa, bhaang?” racaunya dengan nafas tersengal-sengal.

Ia memegangi lehernya yang mungkin terasa sangat haus. Ada titik keringat di dahinya walau keadaan gelap. Pahanya masih bergetar-getar. Kenapa-lah perempuan satu ini? Enak kok nanya? Trus dia mendadak diam dan beralih ke jam tangannya.

“Udah jam 10:18, bang Aseng… Abang belom keluar?”

“Belum…” jawabku. Tadi harusnya bentar-bentar lagi udah mau keluar tapi karena keburu tercabut, berhenti—batal, deh.

“Belum? Punya bang Aseng besar, bang… Lain sama punya suamiku… Paling 5 menit dah keluar…” katanya masih duduk bersimpuh bertumpu di pergelangan kakinya masih terengah-engah.

Di posisinya itu, Dani tentu bisa melihat Aseng junior yang berkilat-kilat terkena sinar lampu karena cairan pelumas miliknya menempel.

“Dikit lagi keluar, Dan… Apa kita stop aja?” tanyaku sok keren. Padahal kentang, euy. Aseng junior aja mengangguk-angguk pengen masuk lagi secepatnya.

“Trus… Dani gak dapat anak? Kita teruskan, bang…” tekadnya lalu menggerakkan pantatnya yang masih gemetaran, kakinya menyerah. Hanya bisa terduduk saja. Mental kuat tidak diimbangi dengan fisik.

“Bang Aseng… serius, bang… Tadi Dani itu kenapa? Masih ada gangguan setan lagi-kah?” ia menyerah dan hanya bisa duduk saja dengan kaki lemes.

“Ini kenapa Dani lemes banget abis… abis enak yang enak banget tadi?”

“Daan? Dani itu udah kawin 4 taun lebih masa gak pernah orgasme, sih? Itu tadi, kan namanya orgasme… Gimana, sih?” heranku gak abis pikir.

Itu kemaren ngocok pake tangan sendiri bisa ngecrot squirt gitu kan orgasme juga.

“Itu orgasme?” tanyanya ngulang bego.

Ini orang berdua selama 4 taun ngapain aja. Apa cuma suaminya aja yang goyang-goyang 5 menit ngecrot udah itu selesai trus ngeluh gak dapat anak. Trus perempuan ini ngangkang aja dicoblos, digoyang-goyang 5 menit kurang, diencrotin ngeluh gak kunjung hamil. Telat nakal nih perempuan.

Lah untung ketemu sama aku, bisa kucoblos begini pake Aseng junior-ku. Boleh dihamili lagi.

“Dani gak ingat selama kesurupan itu orgasme waktu maenin punya sendiri… Atau gak tau?” tanyaku.

Dani menggeleng dengan polosnya. Rontok semua image ketegasan dan ketegaran dirinya selama ini kala bekerja sama. Aku pandangi wajahnya yang cantik walau temaram. Ada nuansa berbeda memandang keindahan di kurangnya cahaya begini.

“Kalau begitu… gini aja…” aku menunduk lalu ikut berlutut di lantai. Kupegang kedua lututnya dan kuarahkan padaku untuk melepas celana pensil itu dari kakinya. Kulebarkan kakinya sehingga ia setengah berbaring di atas lantai berubin keramik.

“Eh… bang? Ngapain?” kagetnya tak siap berganti-gantian meliat mukaku dan Aseng junior yang masih mengacung.

“Bang Aseng? Bang?” ia berusaha mencegahku mendekatkan Aseng junior ke meki gundulnya.

Kakinya yang terbentang lebar berusaha dikatupkannya kembali. Kepala Aseng junior berhasil menempel lalu lepas kembali.

“Katanya mau hamil? Biarkan awak melakukan tugas itu… Diam aja, ya?” kataku selembut mungkin untuk menghilangkan kecanggungannya.

Kok masih bisa canggung juga? Tadi kan udah masuk Aseng junior-ku mengobok-obok isi meki gundulmu. Udah bikin enak lagi. Kuambil tangannya yang menahan perutku agar lebih maju lagi, kuarahkan agar memegangi kedua pangkal pahanya, menahan agar lebih tetap lebar.

“Kalau Dani malu… merem aja…” usulku.

Kakinya masih mengeras tegang. Agak berbeda dari penetrasi pertama karena kami tak saling berhadapan, kali bersitatap muka walau temaram. Wajahnya gelap terlihat dan diturutinya usulku untuk memejamkan mata. Dipejamkan kuat-kuat.

“Rileks aja, Dan… Kalau perlu dinikmati…” kataku mengelus-eluskan kepala Aseng junior ke bukaan meki gundulnya yang merekah.

Tak seperti pemiliknya yang tegang, meki-nya cukup rileks dan menyambut Aseng junior dengan cukup terbuka. Mungkin karena tadi mereka udah kenalan ya?

“Mmm…” desahnya ketika kepala Aseng junior menelusup masuk dan memberi rasa hangat pada kami berdua.

Aku berusaha membuat diriku senyaman mungkin karena aku gak sempat buka celana di posisi ini. Betul-betul gak nyaman. Bayangin aja, pake celana jeans yang melorot sampai setengah paha, terbuka lebar sebisanya, menekan paha telanjang Dani, berusaha menggagahinya.

“Pelan-pelan, bang…” Ia menahan dadaku dengan kedua telapak tangannya sehingga tubuhnya sedikit melengkung berbaring di lantai ini.

“Mmhh…” keluhnya ketika Aseng junior menelusup masuk jauh lebih dalam.

Kulebarkan selebar-lebarnya kakinya agar aku bisa memasukinya lebih dalam lagi karena masih ada sisa batang Aseng junior-ku yang belum masuk. Mulut Dani menganga tak mampu bersuara. Hanya mampu mengkedut-kedutkan otot rongga liang kawinnya. Meremas Aseng junior.

“Enghh…” erangku pelan dan puas ketika aku sudah mengkandaskan Aseng junior seluruhnya di dalam liang kawin Dani yang sedang megap-megap.

Diremasnya dadaku yang ditolaknya agar menjauh. Baju lengan panjang ketatnya bergerak-gerak pada bagian dadanya yang tak terlalu besar, mengundangku untuk meremasnya.

“Udah masuk semua, Dan… Awak mulai gerak lagi, ya?”

Dani yang membuang mukanya ke kanan dan mata terpejam hanya bisa mengangguk sambil mengulum semua bibir bawahnya entah menahan apa. Entah sakit atau enak. Kutarik Aseng junior, meluncur mulus karena di dalam sana masih cukup becek oleh cairan pelumasnya.

Oli bawah Dani ini melumasi proses penghamilan dirinya ini. Dan kudorong masuk lagi. Begitu berulang-ulang sambil kuperhatikan ekspresi yang timbul di wajahnya. Matanya terpejam kuat, hidungnya kembang-kempis, mulutnya menganga berbagai ukuran huruf O, U dan A besar.

Tambah lama tambah lancar gerakan keluar masukku menusuk Dani bersenjatakan Aseng junior. Dani tambah ekspresif dengan mengeluarkan suara-suara erangan seksi pelan.

“Aahh… ahh… Ahh… Uhh… Mmm… Auhh…” mengaduh kala sodokan Aseng junior menghentak kuat hingga perutku beradu dengan permukaan meki gundulnya.

Kakiku bukan pegel lagi namanya. Udah mau copot rasanya karena gak nyaman. Ini sudah lebih dari 20 menit sejak mulai pertama tadi dan kayaknya walau katupan erat peret meki gundul Dani sangat yahud, aku belum akan ngecrot dalam waktu dekat ini.

“Aaauuhh… Ahh!… Ahh!…” Nah, kan.

Malah dia yang dapat kenikmatan itu lagi hingga Aseng junior-ku diremas-remas saat punggungnya melengkung dengan kuat beserta geletar tak terkendali di kakinya seperti kesurupan lagi.

Untung Aseng junior segera lepas dari sana dan terlihat squirt kecil meledak di bukaan mekinya walau tak sedahsyat yang kusaksikan kemaren. Kedua tangannya mendarat di meki-nya sendiri. Berbaring lemas di lantai.

Di kesempatan itu, kubuka celana jeans pengganggu ini hingga aku hanya memakai kaos polo dan kaos kaki. Aku harus segera menuntaskannya. Ini seharusnya quickie dan ini sudah terlalu lama. Orang-orang mungkin akan mencari kami berdua dan itu tidak boleh terjadi. Kuposisikan diriku kembali di bukaan kakinya yang menggawangi meki gundul becek yang merekah merah abis orgasme. Kususupkan kembali Aseng junior dengan mudah dan meluncur masuk.

“Bhaang Aseeng… Enak kaliii, bhaang… Ahkk…” erang Dani merasakanku memasukinya kembali walau masih ada sisa-sisa ekstasi kenikmatan terdahulu mendera tubuhnya.

Nekad, kuangkat cepat pakaiannya, kuturunkan cup bra yang dikenakannya langsung brutal kusedot payudara kanannya. Dani menjengit kaget awalnya lalu membiarkanku seiring gempuran sodokan Aseng junior yang semakin cepat.

Berganti-ganti kanan dan kiri kusedot, kupermainkan payudaranya. Sodokan Aseng junior memasuki top-speed. Sudah terasa geli-geli enak. Menggelegak di deposit spermaku, mematangkan ruang pembakaran untuk segera menyemburkan akselerasi cepat—semprot!

“Akkhh!! Egh! Eghh!” punggungku melengkung, melepas hidangan payudara Dani yang berukuran sedang saja, menikmati kenikmatan puncakku pagi menjelang siang ini.

“Splurt! Splurt! Splurt!” sejumlah besar spermaku meluncur masuk dan membanjiri rahim Dani.

Aku buru-buru meliat bagaimana ekspresi Dani kala kusemprotkan bibitku ke dalam peranakannya. Apa yang akan menjadi tampilannya? Wajah bahagia ternyata. Ada seulas senyuman tipis di sudut bibirnya. Bahagia kenapa? Membiarkan pria yang bukan suaminya menitipkan benih ke dalam tubuhnya?

Cepat kucabut Aseng junior dari liang meki gundulnya dan melelehlah cairan kental putih itu dari sana. Aku harus mengganjalnya dengan apa? Kalau keluar terlalu cepat begini, takutnya gak ada yang mengendap di dalam sana dan bekerja sesuai fungsinya, menerobos sel telur itu dan membuahinya. Dani ternyata juga terkesiap dan bangkit. Dikutipnya celana dalam dan celana pensilnya yang kubuang tak jauh dari kami berada.

Dipakainya pakaian dalam itu dalam diam dan tunduk lalu celana pensil bersamaan dengan merapikan bra dan pakaiannya yang tersingkap. Yakin kalau sudah cukup rapi, tanpa kata-kata ia bergerak.

“Ng… Dan… Apa gak sebaiknya ditahan dulu… Nanti itu… keluar semua…” kataku mencegahnya pergi cepat-cepat dari gudang arsip ini.

Tapi ia tetap beranjak ke arah pintu yang terang di gudang arsip ini.

“Semoga jadi anak ya, Daaan…” kataku tak dapat mencegahnya keluar dari pintu setelah membuka kunci dan hilang di balik sana.

Dua menit kemudian aku juga keluar dari gudang arsip dan kembali ke cubicle-ku. Ternyata Dani tidak ada di tempatnya. Mungkin ia ke toilet dahulu. Aku duduk dulu, bengong sebentar lalu meneruskan pekerjaanku yang terinterupsi tadi.

“Ping!” Ada pesan masuk dari Dani.

Dani: banyak bgt bang aseng.

Aseng: keluar semua?

Dani: sekarang udah semua

Aseng: apa gk ditahan dl?

Dani: nnt wkt istirahat sekali lg

Heh? Sekali lagi waktu istirahat? Kukira ia gak menyukai ide ini. Lah dia mau sekali lagi nanti. Apa Dani masih di toilet membersihkan spermaku dari liang kawin mekinya? Sejak dia keluar dari gudang arsip sampai sekarang udah 10 menitan. Lama juga ya? Tuh kan dia belum balik dari toilet. Cubicle tim PPIC masih tanpa dirinya, hanya anak-anak PPIC lain yang ada di sana.

Aseng: sekali lagi?

Dani: ya. meningkatkan % keberhasilan. masih bisa kan?

Aseng: bisa

Tanpa memikirkan atau nanya ‘Capek, bang?’ ato ‘Perlu dipijetin dulu, bang?’ ato juga ‘Mau diisepin dulu, bang?’ Main sekali lagi-sekali lagi aja itu perempuan. Lah dia enak tinggal ngangkang, dapat enak berulang-ulang. Aku capek genjotnya sampe dengkul lemes. Main sekali lagi. Jadilah aku cuma duduk-duduk aja sambil membaca laporan sambil lalu, sekedarnya aja. Menunggu jam berputar dan sampai pada jam 12 siang pertanda istirahat.

OB kantor mengantarkan makan siang pesananku dan kusikat cepat-cepat. Jangan sampai Dani mengirim pesan OTW gudang arsip, perut masih keroncongan. Dan benar saja, ping terdengar dari HP-ku, notifikasi darinya.

Suara ketukan sepatu high heels-nya terdengar melewati cubicle-ku menuju gudang arsip. Staff lainnya udah pada ngacir duluan ke pantry. Ia melirikku sebentar dan menunjuk sekilas ke arah gudang arsip, dengan sedikit senyum tadi. Senyum kecil tadi.

Kantor sudah sepi dari semua penghuninya sudah berpindah ke pantry untuk makan siang dan jam 2 nanti udah pada cabut pulang semua. Enak sebenarnya hari Sabtu begini. Kerjanya sebentar, istirahat, pulang. Plus aku ngecrot dua kali. Sebentar lagi yang kedua.

Udah mirip kek deja vu kurasa. Aku kembali di depan pintu ini, pintu gudang arsip. Jam 10 tadi aku baru kemari dan sekarang jam 12 kembali lagi. Bahkan kembali aku mengetuknya berharap akan ada jawaban dari dalam sana. Tersadar dan aku masuk saja. Kembali hanya lampu di dekat pintu ini saja yang menyala dan membuat temaram bagian lain gudang arsip ini. Dani duduk di atas kardus itu kembali.

“Sekali lagi, Dan?” tanyaku basa-basi. Padahal Aseng junior-ku sudah menggeliat bangun teringat pengalamannya bersama sarang barunya.

Dani tak bersuara menjawabnya. Hanya bangkit dan meloloskan celana pensil dan celana dalam miliknya sekaligus tanpa ragu sedikitpun. Meki gundulnya terlihat memanggil-manggil. Seolah-olah itu adalah hal wajar yang dilakukannya. Dilipatnya celana pensil itu dan ditaruhnya di atas satu kardus baik-baik.

Ditambah lagi, disingkapkannya pakaiannya ke atas sampai bra-nya terlihat lalu diturunkannya hingga kedua payudaranya terlihat. Puting berwarna coklat mudanya ternyata sudah berdiri menantang walau imut tetapi berani. Merendahkan tubuhnya lalu berbaring di punggungnya lalu pelan-pelan membuka kakinya. Ia sudah siap!

Buru-buru aku juga melepas celana jeans beserta sempakku. Aseng junior sudah setengah bangun. Kugulung kaos polo yang kupakai sampai ke atas perut dan kudekati Dani di lantai. Ia memejamkan matanya, berpaling pasrah pada apapun yang akan kulakukan. Ia membiarkanku berada di antara kakinya. Bahkan mengapitku dengan kakinya, tak membiarkanku menjauh. Kulit pahanya yang lembut bersentuhan dengan kulitku.

“Pemanasan dulu, ya?” lirihku menunduk.

Payudara dengan puting imutnya yang menjadi pusat pemanasanku. Mulutku langsung mengenyot satu puting sedang yang lain kuremas pelan. Kenyal dan lembut. Ini menjadi mainanku sekarang setelah selama ini hanya menjadi mainan suaminya.

Kudorong-dorong tubuhnya, menggesekkan Aseng junior yang pelan-pelan panas dan membengkak ke ukuran tempurnya. Aseng junior menggesek-gesek perut Dani dengan nakal, memberi jejak pre-cum bening lengket—menandai domain barunya.

Bantuan tangan kulakukan untuk mengarahkan Aseng junior ke sasaran tembaknya. Kugesek-gesek saja dan ternyata sudah basah. Test the water, ah. Kudorong-dorong iseng Aseng junior masuk dan ternyata memberi efek nikmat bagi Dani yang mengerang-mengaduh kek belum siap. Padahal udah basah sedemikian gitu loh. Kutinggalkan payudaranya dan fokus pada penetrasi. Kupegangi kedua lututnya.

Gerakan mendorongku menyebabkan goyangan tak terlalu berguncang pada payudaranya yang memang tidak berukuran besar. Apalagi dalam keadaan berbaring begini, besar massanya akan terbenam di tubuhnya. Hanya berupa gundukan kecil saja yang bisa bergoyang kenyal. Kegiatan tusuk dan gesek Aseng junior membuatnya basah dan geli tentunya. Apalagi klitoris mungil yang tersembunyi juga kena gesek berkali-kali membuat tubuh Dani menggigil berkali-kali.

Dani tetap memejamkan matanya kala kusorongkan Aseng junior pelan-pelan dan meluncur masuk dengan lancar. Mulutnya menganga membentuk huruf O besar. Tidak langsung dalam. Walau hanya dua jam yang lalu sudah dicoblos, kondisi rapet liang kawinnya masih sangat terjaga ketat mencengkram.

Tarik lagi lalu dorong lebih dalam. Tarik lagi dan semakin dalam didorong. Gak lama semua panjang Aseng junior terbenam seluruhnya dalam kegiatan ngentot-mengentot ini. Pompaanku sudah berlangsung lancar dan rasa enak liang kawin Dani menyelimuti seluruh tubuhku yang diwakili langsung oleh Aseng junior-ku.

Perempuan di hadapanku ini juga sudah mengerang-ngerang keenakan. Ia bahkan mungkin tak sadar mempermainkan puting payudaranya sendiri. Aku hanya fokus pertama memperhatikan ekspresi wajahnya dengan mata tetap terpejam, keenakan tentunya. Fokus kedua konstan memompakan Aseng junior keluar masuk.

“Ouhh… Ohh… Oooh… Ahh… Yaahh…”

Cuma kalo goyang keluar masuk aja, rasanya cuma enak di Aseng junior aja. Cyup! Aku kembali mendaratkan kenyotan di payudaranya. Mulut dan pinggangku bekerja simultan. Kusedot-sedot putingnya kanan-kiri, kugigit nakal berulang-ulang, kujilat-jilat seperti es krim, kuciumi tanpa meninggalkan jejak kemerahan. Pinggangku maju mundur mendorong keluar masuk Aseng junior menjajah meki gundul Dani yang semakin licin walau ketat mengatup.

“AAhhh… Ahh!! Aahh!!” erangnya dengan tubuh menegang.

Didekapnya kepalaku yang masih bermain dengan dadanya. Kenikmatannya datang mendera. Tubuhnya gemetaran dan jepitan liang kawinnya semakin erat ketat meremas Aseng junior-ku. Kudiamkan pinggangku tak lagi memompa untuk membiarkannya menikmati semua keindahan kenikmatan itu.

“Hah… haa… haah… hah…” nafasnya tersengal berat. “Enak banget, bang…”

Aku diam saja tak merespon karena aku harus bergerak kembali.

“Apa seharusnya memang seenak ini, bang?” tanya Dani masih dengan mata terpejam.

“Dengan suamiku gak pernah begini enaknya…” lanjutnya lagi tambah melebarkan bentangan kakinya.

“Apakah suamiku kurang jantan?” lanjutnya lagi.

“Sampe-sampe gak bisa ngehamilin Dani hingga sekarang…” matanya terbuka sedikit.

Aseng junior-ku mulai bekerja kembali pelan-pelan, masih gigi satu. Dani mengencangkan perutnya sehingga otot di dalam liang kawinnya meremas Aseng junior. Diulangnya berulang-ulang sampai aku membentur berkali-kali liang peretnya yang sempit walau basah. Matanya kini terbuka lebar dan memandangiku yang kesusahan menggagahinya.

“Punya abang besar kali… Sesak rasanya di dalam punyaku, bang…”

“Harus enak, Dan… Kalo gak enak gak jadi anak…” bualku lebih pada bercanda.

Ia tertawa. Ini kemajuan di komunikasi kami. Genjotanku lebih lancar walau kedutan yang dilakukannya gak berhenti. Hanya menambah variasi persenggamaan ini.

“Isepin lagi, bang… Enak…” mintanya mengenai payudaranya.

Kuturuti dan kukenyot hingga mendesah keenakan. Dielus-elusnya rambutku.

“Bang Aseng pinter…” pujinya membuatku semakin bersemangat menggenjot liang kawinnya.

“Uuh… Pinter kali, bang Aseng… Punyaku keenakan… Uhh… Mmm…” puja dan pujinya semakin membuatku semangatku membara.

Aseng junior-pun semakin menggebu-gebu merangsek, memborbardir meki gundul yang ekstra sempit itu. Kecipak suara pertarungan kami terdengar jelas. Ia tidak perduli akan waktu lagi. Yang penting adalah kenikmatan.

Kutarik-tarik gemas putingnya dengan bibirku dan ia mendesah nakal. Berputar-putar lidahku mempermainkan kenyal payudaranya sampai kuyup oleh liurku. Sedot-sedot kuat sampai tertarik naik membuatnya mengerang keenakan. Terasa geli-geli lagi pertanda puncak kenikmatanku segera akan menyerbu.

“Daan… Udah mau keluarr…” infoku. Kulepas permainan mulutku dan fokus menggenjot saja.

“Aku juuuga, bhang…” Dani kini makin pintar dan malah melingkarkan kakinya ke pinggangku.

Tangannya juga memegang erat lenganku. Kami berdua berpandangan selagi aku memacu genjotanku yang semakin cepat. Terasa panas gesekan yang terjadi akibat pertempuran kami ini.

“Daannn…. Eggh… Uh… Uhh… Crot! Croott! Croot!” kuhentakkan dalam-dalam Aseng junior selagi menyemburkan sperma-ku untuk kedua kalinya hari ini.

Berdenyar-denyar hebat serasa seluruh tubuhku melepaskan rasa nikmat itu. Kepalaku terasa ringan dan plong selagi semprot-semprot susulan menyeruak masuk ke rahim Dani. Begitu pula yang dirasakan lawan senggamaku ini.

Ia menekankan seluruh pinggangnya padaku, menyambut ledakan ejakulasiku dengan orgasmenya. Diremasnya pegangannya pada lenganku. Berkejat-kejat tubuhnya merasakan kenikmatan bersama ini.

“Aaahh…” aku ambruk.

Untuk beberapa lama, aku membaringkan mukaku di dadanya. Aroma ludahku ada semua di sana. Putingnya masih mengeras dengan warna sedikit kemerahan–aslinya coklat muda. Dada Dani naik turun menarik hembus nafas. Aku malah jadi membebani tubuhnya. Kugulingkan tubuhku hingga Aseng junior tercabut dari liang kawin Dani.

“Gini, Dan…” aku yang masih lemas, menggunakan pahaku sendiri untuk mengganjal pantatnya agar perutnya lebih tinggi dari dadanya sehingga terjadi genangan sperma di vaginanya.

“Supaya apa, bang?” tanya Dani lemas.

“Supaya gak langsung keluar semua, Dan… Biar dulu sebentar di sana… Masih banyak waktu, kan?” aku malas untuk melihat jam tanganku sendiri.

“Sepuluh menit lagi jam satu, bang… Kita harus buru-buru… Entar lagi waktu istirahat habis…” dipaksakannya tubuhnya untuk bangkit walau pastinya lemas.

Beberapa helai tisu digunakannya untuk menyeka kemaluannya yang masih banjir spermaku. Dipakainya celana dalam lalu disumpalkannya tisu tadi ke dalam sana untuk menghentikan lelehan spermaku. Kemudian celana pensilnya menyusul. Dirapikannya pakaiannya yang kusut, membenahi jilbabnya lalu berjongkok di depanku.

“Bang Aseng bener-bener pinter… Dani bolak-balik keenakan… Ini jagoan, deh…” katanya malah nakal menjawil Aseng junior yang mulai menciut, berlumuran sperma kental.

“Eh…” kagetku.

Ia langsung berlalu dan berhenti di depan pintu yang terang. Dibauinya jari yang tadi menjawil Aseng junior lalu dijilatnya. Tersenyum sekilas lalu menghilang di balik pintu.

“Dan-Daaan?… Makin nakal aja itu binik orang…” gumamku sendiri.

***

Pulang kerja jam 2 siang, aku ketemuan dengan sepasang suami istri itu di suatu warung bakso di seputaran Mabar. Suami Dani bernama Akbar yang bekerja masih di seputaran Kawasan Industri ini juga di sebuah gudang otomotif.

Aku berikan mereka bualan standar dukun atau orang pintar yang biasa jualan obat. Kuberikan padanya botol air mineral yang diberi Dani tadi pagi, yang kukatakan sudah kubaca-bacain doa bin mantra beserta cara pakainya. Mereka mentraktirku makan bakso padahal aku sudah makan siang tadi.

Alhasil aku pesan bawa pulang aja untuk orang rumah. Sewaktu pulang, Akbar bahkan menyelipkan beberapa lembar uang berwarna merah ke tanganku saat kami bersalaman. Kutolak itu semua mentah-mentah. Aku jadinya kek dibayar untuk ngentoti biniknya. Dibayar untuk menghamili biniknya. Dibayar untuk memberi enak biniknya.

“Gak usah, Bar… Awak cuma nolong aja… Awak gak mau dibayar kek gini-lah… Aku iklas nolongin kelen berdua… Betol… Serius aku…” tolakku walau ia terus memaksa. Dani senyam-senyum aja di belakang suaminya melihat adegan itu. Seolah menertawakan realita apa yang sudah terjadi dua kali di gudang arsip kantor tadi.

***

Sampe rumah, semua penghuni rumah dalam keadaan tidur siang. Istri dan kedua anakku tidur di kamar dengan damainya. Maksudnya pengen bobo siang juga, makanya motor kumasukkan ke dalam rumah agar aman. Sewaktu motor udah melewati pintu, terlihat sebuah taksi berwarna biru langit masuk melalui jalanan gang.

Kendaraan itu berjalan perlahan karena memang gang ini tidak terlalu luas jalannya, hanya pas untuk satu mobil saja.

Penumpang di kursi belakang menurunkan kaca saat melewati rumahku. Itu Pipit. Dia pulang dari hotel? Menyudahi beberapa hari menginap di hotel di tengah kota itu. Dia tersenyum kecil padaku menyadari kalau rumahku sepi.

Apa ini artinya, aku harus menyatroni rumahnya nanti malam untuk program hamilnya? Hari ini saja udah ada Dani. Kalau Yuli harus stop dulu karena suaminya sudah pulang. Kalau begini, hanya tinggal Pipit saja yang harus diurus.

Beberapa waktu kemudian taksi itu keluar lagi. Aku duduk-duduk di depan rumah sambil megang HP lagi.

Aseng: kok udah pulang?

Ppt: bosan di kamar hotel trus

Aseng: trus gimana?

Ppt: gimana apanya?

Aseng: programnya?

Ppt: program apa?

Aseng: ish Pipit. hamilnya

Ppt: ya kemari aj skrg. kkak itu mana?

Aseng: bobok siang sm anak2

Ppt: abg bobok sini aj brg aq

Aseng: gk ah

Ppt: klo gitu nnt malam aj

Aseng: tunggu kabar ya jam brp

Ppt: ok de ppt mau bobo cantik dulu

Aseng: met bobo cantik

Wah… Pengertian kali Pipit ini. Pake ngajak bobok siang bareng segala. Padahal mau istirahat dulu nih abis dikuras abis sama Dani di kantor tadi sampe 2 kali. Apa yang kurang ya? Buat teh dulu baru bobok siang. Yah… Gulanya abis. Beli dulu ah gulanya di tempat Iva. Sekalian cuci mata sebentar.

Gang ini lumayan sunyi siang-siang begini. Anak-anak yang biasanya bermain disuruh tidur siang sama mamaknya semua. Hanya ada beberapa anak kucel yang kurang perhatian orang tuanya yang bermain di jalanan gang.

“Dah tutup, bu Ipa?” tanyaku pada pemilik warung/kede yang sedang memasukkan beberapa dagangannya yang digantung di depan pintu kede-nya yang terbuat dari besi.

“Iya, bang Aseng… Mau bobo siang… Sepi… Jadinya ngantuk gak ada yang beli…” jawabnya lalu melongokkan kepalanya ke arah jalan gang yang sepi. Tidak ada orang sama sekali. Ia celingak-celinguk kanan-kiri.

“Beli apa, bang Aseng?” tanyanya beralih lagi padaku yang memandanginya heran.

“Beli gula setengah, Pa…” kataku mengangsurkan uangnya.

“Gak sekalian beli pulsa lagi?” tawarnya genit sambil mengerling manja. Ia mempermainkan rambut panjangnya.

“Gak-la, Pa… Masih banyak dari yang kemaren itu… Iva sih… jahat…” tukasku. Kok kek pernah ngalamin ini, ya? Deja vu lagi-kah?

“Yakiiin? Kalau dikasih yang ini… gimana? Apa yakin… masih mau nolak?” remasnya.

Ia meremas kedua payudara yang masih terbungkus kaos tanpa lengan itu dengan penuh nafsu. Lidahnya menjilat-jilat bibirnya genit. Kakinya digesek-gesekkan satu sama lainnya. Kulit putihnya bersinar cemerlang di dalam kede ini. Diantara kemilau plastik pembungkus jajanan yang digantung di sekitarku.

“…” aku hanya bisa melongo melihat adegan itu.

Ini persis sama seperti mimpiku waktu itu. Bahkan dialognya sama persis. Aku bagai kerbau yang dicocok hidung, menurut saja kala ia menarik tanganku lebih masuk ke dalam kede-nya. Ia menutup rapat pintu besi itu setelah memastikan kembali tidak ada orang yang lewat, menguncinya lalu mendorongku masuk lebih dalam.

Di belakang etalase kaca kecil dimana ia menata bungkus rokok dan menyimpan uang pecahan kecil, ternyata ada sebuah kasur busa tipis yang biasa dipakainya tidur-tiduran kala menunggu pelanggan datang. Di sana ia mendudukkanku. Aku pasrah aja melakukan apa yang disuruhnya karena tersihir oleh pesonanya.

“Bang Aseng diam aja yaaa… Ipa mau nyobain abang duluuu…” ujarnya binal dengan ujung jari menelusuri pipi hingga bibirku.

Masuk ke dalam mulutku dan membasahi jarinya dengan ludahku. Dipermainkannya lidahku. Selama itu ia agak membungkuk sehingga aku bisa menikmati pemandangan belahan dadanya yang terhidang di hadapanku. Ia sadar mempertontonkan ini semua.

Dijilatinya jarinya yang basah bekas ludah dari mulutku dengan seksi dan binal. Seperti menjilati es krim yang meleleh.

“Uumm… Slk…” Ia menikmati jarinya untuk beberapa saat. Ia lalu melepas ikatan rambutnya dan mengurainya dengan elegan. Rambut panjangnya terurai indah di punggungnya. “Ini? Mau yang ini, kan?” tanyanya menunjuk.

“Ipa buka, ya…”

Tanpa ragu ia menarik kaos tanpa lengan itu ke atas. Lolos dari kepalanya lalu kedua tangannya. Meninggalkan sebuah bra mungil yang hampir tak sanggup menopang dua bukit manja yang ranum-montok. Mencuat mengkal berwarna putih serupa seluruh warna kulitnya.

Ia tak lepas menatap wajahku menilai ekspresi yang kutampilkan. Aku menatap bengong pada dua bukit manja itu bergantian dengan wajah cantiknya. Tangannya tak berhenti, bergerak ke belakang dan melepas kait bra mungil itu hingga bukit itu seperti runtuh–jatuh.

“Boing-boing…” dua bukit manja itu terbebas dari pengekang yang mengkungkungnya selama ini.

Bentuknya sangat indah dan besarnya sangat pas untuk tubuhnya. Sepasang putingnya berwarna merah muda dan mungil. Belum ada bayi yang menyusu di sana karena anaknya adalah anak adopsi. Iva tersenyum lebar melihat ekspresi mupeng yang kutampilkan. Pria mana aja pasti mupeng melihat pertunjukanmu ini, Pa.

“Pa… Awak cuma mau beli gula… Gak sama susu…” kataku dengan nada serak. Apa ia sudah sering melakukan ini pada pembeli lain?

“Ssst… Ini bonusnya, bang…” katanya malah menubrukku yang masih duduk di kasur busa tipis ini.

Lututnya bersedeku di samping kakiku, tubuh rapat padaku hingga dua bukit manja itu tepat di depan mataku. Nafasku tiba-tiba panas seperti terbakar, seperti menyemburkan api. Kepalaku panas terbakar juga.

“Paa… Jangan kek gini, Pa… Nanti ketauan tetangga…” cegahku. Ini masih siang bolong. Sekali waktu masih ada orang yang seliweran berjalan kaki atau dengan kendaraan di depan kede tertutup ini.

“Santai aja, bang Aseng… Aman, kok…” katanya malah menjejalkan satu bukit manja ke mulutku untuk membungkam protesku.

“Isep, bang… Ipa dah kepengen kali, baaang… Mmph…” erangnya yang sepertinya sudah sangat bernafsu.

Didusel-duselkannya sebelah bukit manja itu pada mukaku yang segera kutangkap dengan mulutku.

“Enak bang… Isep yang kuaaat… Nghh…”

Kucucup-cucup pentil mungil itu. Pentil cantik secantik pemiliknya. Pentil yang imut walau sudah bertahun-tahun diemut Toni, suaminya. Entah kalau pacar-pacarnya yang dulu. Kusentil-sentil pake lidah lalu kugigit dengan bibir karena gemes.

Iva mengerang-erang manja sambil mengacak-acak rambutku. Iva bahkan lebih manja daripada Pipit karena memang sehari-harinya ia memang begitu pada semua orang. Kalau Pipit hanya saat di ranjang aja ia berlaku demikian.

Iva meremas-remas bahuku lalu berusaha melepaskan kaos polo yang kukenakan sejak di kantor tadi. Lalu dijejalkannya kembali bukit manjanya padaku. Membuatku tak pernah lepas dari perangkap nikmatnya. Tanganku mengelus-elus punggungnya dan ia memindahkannya ke bongkah pantat padatnya yang masih terbungkus celana pendek. Kenyal dan padat.

Sesuai dengan ekspektasiku, sesuai yang kubayangkan selama ini setelah mendapat berbagai foto pose seksinya. Tak jemu aku meremas-remas hingga Iva makin liar bergerak menduselkan bukit manjanya.

“Buka semua, bang…” bisiknya nakal menyuruhku melepas sisa pakaian yang tersisa di tubuhnya.

Aku yang sudah panas, tidak bisa berpikir jernih lagi dan menelusupkan tanganku masuk melewati kain celana dalamnya sekaligus demi menyentuh bongkah pantatnya langsung. Kulit ke kulit tanganku menyentuh kulit pantatnya yang lembut seperti pantat bayi. Halus lembut.

Kutarik ke bawah dan celana pendek berbahan katun itu lepas dengan mudah. Sisanya Iva yang melakukannya. Aku tak bisa melihat semuanya karena mukaku masih terjejal dua buah bukit manja yang runtuh tepat menghimpitku. Tapi dari gerakannya, ia sudah meloloskan pakaian terakhir itu.

Itu artinya… Iva bugil di depanku!

Kudekap pantatnya dengan erat agar tubuhnya rapat denganku.

“Mmphh…” erangnya.

Terasa bulu-bulu pubis menyentuh dadaku. Terasa panjang dan menggelitik. Gundukannya lumayan tebal dan lembut. Mulutku mencaplok satu bukit manja itu dan berusaha memasukkan sebisanya ke mulutku yang kubuka lebar. Menyedotnya kuat.

“Bang Aseng saingan Mei-Mei, yaa… Pinter bener nyedotnya…” pujinya.

Berpindah sedotanku ke bukit manja satunya. Kulakukan hal yang sama, membuatnya mengerang keenakan. Ditekan-tekannya perutnya ke arahku, mengangsurkan kemaluannya padaku untuk dikondisikan. Bahuku diremas-remas kuat.

“Uuhh… Enak banget, baaang… Uhhm… Uhh…”

Lidahku menjulur tak rela kala Iva menarik dadanya dari jangkauanku. Pucuk kedua bukit manja itu basah kuyup oleh ludahku. Duduk di pangkuanku, ia menatapku sebentar penuh nafsu lalu menyerbu maju. Lidahku dengan mudah diserangnya. Disedot-sedotnya lidahku yang secara sukarela menjulur pasrah.

Lidahnya ikut membelit-belit, bercengkrama dengan milikku. Pertukaran ludah menjadi hal biasa. Cairan manis saling bersua dan silaturahmi, menderakan rasa nikmat juga syahdu. Bibirku menjadi bulan-bulanannya kala ia mengulumnya bergantian atas bawah.

Sungguh ia sangat piawai dalam seni bercinta ini. Tanganku tak mau nganggur, kedua bukit manja itu menjadi bahan remasanku. Ia memberiku ruang di sela permainan mulut kami.

“Cups…” kami berdua bernafas tersengal-sengal. Dipatuknya lagi tadi setelah mulut kami berpisah.

“Bibir bang Aseng enak… Pinter juga gocekannya…” pujinya lagi.

Disentuhnya bibirku dengan ujung jarinya lalu turun ke dagu. Ia beringsut mundur dari pangkuanku tetapi mengaitkan jarinya di tepi celana pendek selutut yang kukenakan.

“Gantian…” Dengan gerakan cepat dan terukur Iva berhasil melepas celana pendekku beserta sempak sekaligus sampai batas betisku. Tak sanggup kutendang lepas.

Aku masih bengong tak mampu mencegah apapun. Ini terlalu indah untuk menjadi kenyataan. Iva yang cantik rupawan, sedang bertelanjang bulat di depanku yang juga sudah telanjang bulat. Aseng junior-ku mengacung menunjuk langit—terangsang abis. Aku hanya bisa menggerakkan mataku melihat gerakan-gerakan MILF satu ini.

“Ivaa…?”

“Ssstt… Abang diam-diam aja, ya…” bisiknya dengan nafas berat.

Tangan kanannya melakukan sesuatu di lipatan selangkangannya. Entah berapa jari yang masuk mengorek-ngorek kemaluannya.

“Ipa dah lama pengen berduaan aja dengan bang Aseng…” lanjutnya merapatkan dirinya.

“Bang Aseng keknya juga suka, kan liat Ipa begini…? Bang Aseng sering ngebayangin Ipa bugil begini, kan? Maenin nenen Ipaaa… Ngentotin Ipaa…” desahnya bertambah seksi. Kening dan pipi kami bergesekan. Sesekali ia menjilat mukaku sementara tangannya terus bekerja.

“Mmm… Besar dan keraaas… Uhh…” tangannya sudah menggenggam batang Aseng junior.

“Aahh… Enak, kaaan? Mmm… Keraass…” ia menggesek-gesekkan tubuhnya padaku.

Apalagi ia juga sudah menggesekkan kepala Aseng junior ke belahan kemaluannya.

“Mm… Memek Ipa gatel kali, baaang… Masukin, yaaa?” ia semakin gencar menggesekkan Aseng junior-ku ke memeknya. Rambut kemaluannya yang panjang tersibak becek akibat kegiatan ini.

“Mmmpp… Ah…”

Aseng junior membelah sesuatu yang lembut dan hangat juga basah bergerinjal. Masuk perlahan seirama turunnya tubuh Ipa. Dan ZYAARR!! Kilatan putih menyerangku dari bagian depan. Tak dinyana ternyata Iva juga mempunyai gangguan semacam ini.

Apa ini penyebab ia tak kunjung mempunyai keturunan sendiri? Aku berada sendirian di dalam rumah ini. Iva tidak ada dimanapun. Kisi-kisi pintu besi dan jendela di dekatnya gelap tak bercahaya. Ini dimensi yang berbeda. Ini bukan daerah Menggala seperti biasanya. Daerahnya tetap rumah ini semata. Ini pengaruh mahluk ghaib…

Buru-buru kupakai kembali celana pendekku. Untung tadi belum lepas jadi aku tidak harus berbugil ria kalau harus bertarung lagi. Apa yang menyerangku kali ini? Aku harus segera mencari tau. Cahaya ini? Cahaya putih yang tadi berkilat menyilaukan berasal dari benda ini.

Sebuah wayang kulit yang dibingkai figura mewah berwarna emas mengkilap. Apa wayang kulit ini yang menyerangku? Apa salahku? Apa karena aku sedang menyelingkuhi istri pemilik wayang ini? Milik Toni? Apa Toni tau kalau wayang ini punya kekuatan?

“Selamat siang?” kataku mencoba menyapa benda itu.

“Apakah engkau yang ada didalam wayang kulit ini bisa saya ajak berdialog secara baik-baik?” kusatukan tanganku kala berbicara pada benda itu.

Aku yakin 100% ada sesuatu di sana. Kembali cahaya putih itu berkilat-kilat berberapa kali dan sesosok mahluk berbentuk pria berpakaian adat Jawa, lebih tepatnya wayang–keluar dari figura itu. Di punggungnya ada beberapa anak panah.

Apa ini tokoh Arjuna yang piawai memanah di cerita pewayangan itu? Aku gak ngerti wayang sama sekali tapi mahluk berbentuk pria berpakaian wayang orang ini menari-nari di depanku sebentar dengan luwes dan gemulai tetapi penuh dengan kharismanya.

Ia kemudian berhenti setelah menyelesaikan entah tarian perkenalannya atau tarian apa. Ia menghaturkan kedua tangannya padaku dan kubalas agar keliatan sopan aja. Ia menatapku dengan persona bentuk pria yang memakai wayang orang lengkap.

Walau kriterianya lengkap, aku menganggapnya tidak memakai baju juga seperti yang terjadi padaku saat ini, gak pake baju–hanya celana pendek sederhana. Aksesorisnya lengkap dengan kalung, topi, gelang lengan dan sejenis selendang kecil di dadanya.

“Perkenalkan nama saya adalah Prabu Pandu Dewanata… Suami dari Putri Kunti dan Putri Madri… Ayah dari para Pandawa Lima…” katanya memperkenalkan diri.

Sumpah aku kaget mendengarnya. Bahkan lebih kaget dari pada mendengar suara klenengan gamelan Jawa di background percakapan kami ini. Kaget tentu karena level tokoh ini sangat tinggi di cerita epiknya.

Bayangin aja kalo aku sampe ribut sama ini tokoh, trus dia manggil kelima anaknya, apa gak auto modyar akunya? Bayangin ada Yudhistira, Bima, Arjuna dan si kembar Nakula-Sadewa. Itu lima bintang-bintang semua, kan di cerita Mahabharata.

“Nama saya Nasrul… Orang-orang memanggilku sebagai Aseng… Menggala Suba dan juga Menggala Wasi… Salam kenal…” kataku gak mau kalah pamor.

Biarin dia gak ngerti. Lah wong aku juga gak paham kali wayang-wayangan juga, kok.

“Apakah ada masalah sehingga anda harus melakukan ini pada saya… sedemikian rupa… Mengundang saya ke tempat ini… Sudikah anda memberi saya wejangan?” kataku masih hati-hati. Apa perannya?

“Saya adalah seorang Prabu Hastinapura… Seorang pria malang yang mendapat kutukan walau sedemikian banyak anugrah yang kumiliki… Memiliki kerajaan yang masyur dan makmur… Mahir memanah…” aku belum bisa menangkap arah pembicaraannya kecuali tentang kutukan pria malang dan pemanah. Jangan bilang kalau kau pencemburu.

“… hanya gara-gara kijang biadab yang ternyata resi mesum itu… ia mengutukku seperti ini…” O… Keeh… Jadi curhat dia.

“Mandul…”

Jadi kalau menurut cerita asli Mahabharata, yang asli dari India sana, Prabu Pandu Dewanata ini bukanlah ayah biologis dari kelima Pandawa (Yudhistira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa). Ini dikarenakan ia pernah memanah seekor kijang yang rupa-rupanya adalah perubahan seorang Resi bernama Kindama.

Ia berubah menjadi kijang karena pengen ngerasain rasanya kimpoi (mungkin kalo bentuk manusia tengsin dia kawin karena status Resi-nya, jadi kijang mah bebas). Sang Resi mengutuknya akan langsung meninggal jikalau ia melakukan hubungan suami-istri (dendam membara nih Resi lagi kimpoi dipanah dan mati).

Punya dua istri (hampir tiga malah) dan gak bisa ngeseks untuk meneruskan keturunan itu fatal banget bagi seorang raja untuk kelangsungan kerajaannya. Jadi bertahun-tahun karena takut mati, ia tidak pernah menggauli kedua istrinya dan tentu saja tak bisa mendapat keturunan.

Trus, Pandawa Lima dari mana? Pandawa itu artinya keturunan Pandu. Ternyata istri pertamanya, Kunti pernah mendapat anugrah mantra untuk memanggil Dewa untuk mendapatkan berkah.

Dari sana ia memanggil Dewa Yama/Dharma yang bijaksana untuk mendapatkan Yudhistira, Dewa Bayu yang kuat dan cepat seperti angin untuk mendapatkan Bima lalu Dewa Indra yang tampan, sakti juga jago memanah untuk mendapatkan Arjuna.

Kunti mengajarkan mantra ini ke istri kedua, Madri untuk memanggil Dewa kembar Aswin untuk mendapatkan anugrah Nakula dan Sadewa. Prabu Pandu Dewanata tewas 15 tahun kemudian karena ia mencoba ngeseks dengan istri keduanya, kutukan berlaku dan ia wafat. Madri merasa bersalah dan ikut mati dalam api pembakaran suaminya. (Ini adalah versi asli Mahabharata, versi Jawa yang kita kenal agak sedikit berubah di sana-sini)

“Trus… Apa hubungannya dengan keluarga ini? Kau juga membuat suami perempuan ini mandul agar sama denganmu?” tembakku.

Aku sudah mencium gelagat gak beres sejak tokoh ini keluar dari figura wayang kulit ini. Aku memperhatikan gerak-geriknya selama menceritakan kisah hidupnya tadi. Terlalu mengada-ada kalau seorang Prabu Pandu Dewanata muncul disini, kan?

“Demi kebijaksanaan… bukankah itu hal yang sepadan…” ujarnya.

“Kebijaksanaan? Jadi suami perempuan ini menyimpan wayang kulit ini supaya tertular sifat bijaksana tokohmu itu… Kemampuan jago memanah? Sekalian sama mandulnya juga? Bah! Mengada-ada aja kao!” ilang semua rasa respect-ku sama tokoh yang diselewengkan mahluk ini.

“Semua ada harganya… Aku tidak minta ada disini… Aku juga tidak minta ia mengagumiku…” katanya lagi tetap dengan personanya.

“Stop-ya… Banyak kali cengkunek (bualan) kao kurasa… Kao tunjukkan batang idung asli kao sekarang juga… Kalo enggak…. Kutepok kepala otak kao itu… Aku dah gerem aja nengok congor kao kek gitu…” kesalku dengan gigi rapat.

Enak pulak dia mempermainkan manusia kek gitu. Dikiranya manusia itu apa? Tempat sampah yang bisa ditendang-tendang? Kuacungkan bakiak merah andalanku ke arahnya. Kalo dia gak buru-buru menunjukkan bentuk aslinya, tau-lah kao rasa pedas ditopar (ditampar) bakiak Bulan Pencak.

“Bentuk asli apa? Ini-lah bentuk sejatiku… Prabu Pandu Dewanata… Suami dari Putri Kunti dan Putri Madri… Ayah dari para PandaGUH!!” Kuhajar kepala wayang orang keblinger ini tepat di bagian kuping kirinya menggunakan bakiak Bulan Pencak-ku.

“Kauu… kalo nyamar jadi wayang kau pilih tokoh yang sesuai dengan sifatmu sendiri aja… Jangan kau rusak imej Prabu Pandu yang agung… Jadi buto cakil ato buto ijo cocok-nya kau…” makiku pada mahluk yang bergulingan setelah mendapatkan tamparan telak di kupingnya. Kutunjuk-tunjuk mukanya yang sudah berubah ke wujud aslinya, hitam penuh bulu lebat, sebagaimana seluruh tubuhnya.

“Apa maumu sebenarnya? Cuma mau terus nidurin perempuan ini aja kao, kan?” kuinjak kakinya.

“AMPOOON!” jeritnya kesakitan kakinya kuinjak.

Matanya yang merah menakutkan bagi penakut, menangis dengan bulir-bulir air mata sebesar kelereng. Kutendang lagi bekas injakanku tadi.

“ADOOOHH!! AMPOOON! TOBAATT!” katanya minta maaf menjerit-jerit sejadinya.

Bising pulak genderuwo pukimak ini kurasa. Udah kek begal motor ketangkap massa. Tadi garang kali, sekarang kek kucing masuk paret.

“Apa maumu? Jangan jerit-jerit aja kerjamu? Kupecahkan pulak kepala kao nanti!” ancamku mengangkat bakiak Bulan Pencak di tanganku.

“JANGAN TUAAAN… JANGAN DIPECAHKAN, TUAAAN… MATI HAMBA NANTI, TUAAAN…” jeritnya lagi menjura hormat padaku.

“Iyaah! Menjerit lagi? Jawab!” ancamku lagi dengan tangan terangkat.

“IYA-IYAA, TUAAN…. Perempuan ini sangat istimewa sekali, tuan… Cantik dan menawan… Hamba tertarik untuk memilikinya selalu… Kalau dia sampai hamil… bakal rusak kecantikannya… Jadi kubuat suaminya dan lelaki manapun yang mendekatinya mandul seperti Prabu Pandu Dewanata, tuan…” jelas genderuwo kimak satu ini. Entah udah berapa kali ia meniduri Iva. Bertahun-tahun-eh…

“Ooh… Ngono toh?” pahamku manggut-manggut.

“Udah berapa lelaki yang kau buat mandul?” tanyaku. Secara gak langsung aku bisa tau sudah sama berapa lelaki Iva berselingkuh.

“Selain suaminya… Ada dua tuan…” katanya bersungut-sungut menjijikkan sambil mengelus kakinya yang sakit.

“Ya, udah… Sebelum kau kuusir… Tinggalkan mustika-mu di sini…” perintahku menunjuk lantai dengan bakiak.

“Ampun, tuan… Jangan tuan… Hamba bisa mati nanti tuan…” rengeknya menjura menyembahku agar aku berubah pikiran.

Rata-rata mahluk ghaib di level ini mempunyai inti kekuatan yang dipakainya untuk berbagai hal. Genderuwo ini menggunakannya untuk mempengaruhi manusia sedemikian rupa. Mustika genderuwo ini biasanya berbentuk batu mulia dan sejenisnya.

“Kubilang tinggalkan mustika-mu… Atau kupecahkan kepalamu sekarang juga! Sama-sama mati-nya kau…” ancamku dengan mengangkat bakiak yang ditakutinya.

Senjataku ini terbukti bisa membuatnya gempor ampun-ampunan. Ia masih menjura menyembah.

“Kalau kau pergi kuusir gitu aja… kau bisa mengulanginya lagi sama perempuan lain… Cepat! Taroh di sini mustika-mu!” bentakku.

“Ampun, tuaaan… Apaa tidak ada cara lain? Huu huu… huu huu…” nangis pulak pukimak satu ini. Kukencingi juga setan satu ini.

Dengan kaki kiri yang masih memakai bakiak Bulan Pencak, kuinjak pergelangan kakinya yang sehat. Ia menjerit mengaduh-aduh kek babi dijagal. Tangan kanan bersedia menghajar kepalanya pakai bakiak kanan kalau dia masih enggan.

“IYAAA, TUAAAN… INI… INI… MUSTIKA-KU, TUAAAN…” ia meludahkan sebuah gelang lengan yang kerap dipakai wayang orang, terbuat dari emas asli dengan ukiran rumit bertahtakan beberapa permata kecil berwarna merah dan putih.

Sepertinya barang kuno dari jaman kerajaan dulu. Pastinya ini barang berharga. Kukutip benda itu lalu kuperhatikan lebih seksama. Dengan ini ia sudah memperdaya banyak manusia dan mencelakai juga. Ia mengelus-elus kedua kakinya yang sakit.

“Ya udah!… Pergi kau jauh-jauh sana!… Awas kalau kau buat ulah lagi… Kupecahkan kepala otak kao itu…” usirku.

Ia dengan manut patuh pergi membawa tubuh hitam besar penuh bulu kasar itu dari rumah ini dan menghilang di balik tembok entah kemana. Mustika genderuwo itu kusimpan agar tidak membuat ulah.

Kuposisikan tubuhku semirip mungkin dengan posisi terakhir saat bersama Iva tadi, sebelum insiden bersama genderuwo pukimak tadi. Celana melorot sampai betis…

“Baang… mana? Manaa?” desah Iva sange berat karena Aseng junior-ku tidak jadi menusuk masuk ke memeknya.

Iya, benar, Aseng junior-ku menciut akibat kejadian barusan dengan wayang orang gadungan tadi. Kupeluk tubuhnya yang duduk di pangkuanku. Aseng junior menggeliat karena terjepit belahan pantatnya yang halus.

“Ipa… Ipaa… Dengerin? Awak mau tanya dulu… Dua orang yang Ipa ajak selingkuh kek gini itu siapa aja?” tanyaku.

Ekspresinya langsung berubah kaget karena aku tau rahasianya.

“Ma-maksudnya, bang?” matanya bergerak-gerak menatapku. Ia tidak bisa kabur karena tubuhnya kupeluk erat.

“Iya… Siapa aja? Kasihan mereka berdua, kan? Burungnya gak bisa idup lagi sama kek Toni…” kataku mengecup cepat bibir manisnya.

Iva hampir menangis mendengar kata-kataku barusan. Iva lalu menuturkan nama-nama dua orang tersebut. Pertama adalah abang iparnya sendiri, yang membantu memasukkan Toni jadi PNS dengan gelontoran duit sogokan yang tak sedikit.

Minta balas budi malah pengen nyicipin tubuh istri adik iparnya sendiri. Lelaki itu adalah suami dari kakak Toni—lebih jelasnya. Yang kedua adalah mantan pacarnya saat sekolah dulu, bertemu lagi setelah sekian lama terpisah. Selingkuh dengan dua pria ini dan itu terjadi setahun yang lalu.

“Jadi… awak ini selingkuhan Ipa yang ketiga-lah ya?” tanyaku. Ia mengangguk tak bisa mengelak. Dada kami rapat terhimpit dan Aseng junior mengangguk-angguk bangkit di belahan pantatnya.

“Tapi burung mereka gak bisa bangun, bang Aseng… Gak bisa masuk… Aku ini perempuan normal, kan? Pengen ngerasain enak… Pengen disayang… Pengen punya anak sendiri… Toni udah berobat kemana-mana tapi burungnya tetep gak bisa bangun, bang…” katanya menunduk sedih.

“Masak Ipa harus pake burung-burungan (dildo) terus…” kesahnya.

“Apa Ipa gak heran… kenapa Toni… dan dua laki-laki itu gak bisa bangun burungnya? Gak curiga gitu… Trus… awak ini dah bangun loh…” Aseng junior kubuat menepuk-nepuk pantatnya. “… Apa nanti gak bangun juga?”

“Iya-ya, bang? Kenapa ya, bang? Kenapa waktu mau sama Ipa mereka gak bangun? Ipa salah apa?” herannya.

“Itu karena Ipa suka make burung-burungan itu… Ada genderuwo yang suka sama Ipa… Waktu Ipa make burung-burungan itu… sebenarnya genderuwo itulah yang masuk ke Ipa… Serem, kan?” kataku menjelaskan.

“Genderuwo!?” kagetnya lalu menubruk dan memelukku juga.

Tubuhnya semakin rapat denganku. Karena gerakannya dan berkat ketelanjangan kami berdua yang berpelukan erat begini, Aseng junior sudah nangkring bebas ke belahan memeknya dengan sukses.

“Ahhnn… Mmmm… Oohh…” diturunkannya tubuhnya hingga Aseng junior kini bersarungkan memek Iva.

Liang kawin Iva yang licin dan basah sukses ditembus Aseng junior-ku. Mata Iva terpejam erat merasakan keras dan pejal kejantananku memenuhi dirinya.

“Bhaaang… Masuuuk, bhaanng…. Mmmpph… Uuhh…” Kutahan tubuhnya yang bermaksud hendak bergerak naik-turun.

“Bang… Ayo goyang… Kenapa?” ia tak sabar.

Aku menahan tepat pada bagian pinggulnya dengan kedua tanganku sehingga ia terkunci begitu saja duduk dipangkuanku, masih dengan Aseng junior terpendam di dalam liang kawinnya yang basah.

“Dengarkan awak dulu, Pa… Kita teruskan kalo semua sudah jelas… OK?” kataku mencoba menarik perhatiannya agar fokus dengan kata-kataku.

Iva mencoba menawar dengan mengempot-empotkan liang kawin. Aseng junior diremas-remas di dalam sana. Meki gundul Dani lebih sempit dari milik Iva tapi lumayan menjepit karena sama-sama belum pernah turun mesin. Ia lalu mengangguk setuju.

“Genderuwo itu sudah tidak ada… Sudah pergi dan gak akan mengganggu lagi… Kalau kita teruskan ini… ada kemungkinan besar Iva bisa hamil… Mau?” tawarku.

“Hamil, bang?” ulangnya dengan wajah berseri-seri.

Aku mengangguk meyakinkannya. Dipeluknya aku dengan erat lagi memeriahkan kegembiraanya. Lalu ia menciumi mulutku lagi lebih jauh. Lidahku dan ludahku menjadi mainannya. Lidahku disedot-sedotnya dan menawarkan lidahnya juga untuk kupermainkan.

Aku gak ada waktu untuk itu, Aseng junior sudah cenat-cenut pengen digoyang. Bibirku kemudian menjadi bulan-bulanannya. Diemut dan dikulumnya sampe puas. Gerakan-gerakan tubuh Iva tak urung membuat kocokan tak disengaja walau kutahan.

“Trus… Gimana, bang?”

“Harus ada perjanjian yang harus kita buat… Harus kita setujui bersama… Mau? Ada tiga poin saja, kok…” kataku.

Perjanjian belum dibuat, Aseng junior sudah masuk aja. Iva mengangguk asal-asalan. Entah apa motivasinya. Karena ia sudah pernah selingkuh sebelumnya walau 2 pria itu gagal melakukan penetrasi akibat ulah genderuwo kimak yang meloyokan burung keduanya, ia tidak sungkan untuk selingkuh lagi denganku. Apalagi kali ini ada kemungkinan ia bisa hamil karena tak ada gangguan lagi.

“Yang pertama… Ipa tidak boleh lagi mencium awak karena hubungan ini tidak boleh ada perasaan lain… Hanya agar Ipa hamil saja… Ingat hanya agar Ipa hamil… Cium-cium itu gak perlu… Ingat?” kataku tentang hubungan. Masalah ciuman kutekankan berulang karena sepertinya Iva suka kali ciuman.

“Yang kedua… Ipa tidak boleh lagi selingkuh dengan siapapun setelah ini… Ingat?… Ini karena Ipa bakal jadi ibu anak ini nantinya… Dan gak boleh juga membicarakan ini dengan orang lain… Ini rahasia kita berdua… Bisa, kan?” kataku tentang kepercayaan. Ini karena sepertinya Iva akan ada bibit-bibit penyelewengan lagi di kemudian hari.

“Yang ketiga… Ipa dan Toni adalah orang tua dari anak ini kelak… Perlakukan ia dengan baik seperti seharusnya… Besarkan ia sebagaimana harusnya… Ini anak kalian berdua… Ini bisa, kan? Itu saja…” kataku tentang masa depan. Ini poin terpenting bagiku di setiap perjanjianku dengan para MILF-MILF ini.

“Tiga ya, bang? Ipa paham semuanya…” katanya dan kami bersalaman menandakan sahnya perjanjian kami (walau Aseng junior dan memeknya sudah bersalaman dari tadi). “Jadi boleh diterusin kan, bang?” Iva kembali mengedutkan liang kawinnya sporadis.

“Iya…” kulepaskan penahananku dan kubiarkan Iva mulai bergerak naik turun.

Gerakannya teratur dan rapat ke tubuhku hingga dada kami bergesekan intens. Mulutnya menganga seksi merasakan nikmat yang terjadi di tubuhnya, berpusat di memeknya. Ia mengerang-erang dan terus bergerak.

“Yaahh… Aahh… Ahh… Uuhh… Enak kali, bang… Uhmm… Udah lama Ipa gak kek giniii, baang… Uuh…” ia bergerak binal memompakan tubuhnya pada tonggak Aseng junior yang berdiri tegak. Bukit manjanya juga bergesekan kasar ke dadaku.

Pentilnya yang menegang menggerus dadaku dan sesekali juga berlaga dengan pentilku. Binal dan lugas sekali gerakan Iva. Dengan bertumpu pada lututnya, ia menggerakkan pantatnya naik turun hingga Aseng junior menghujam dalam ke memeknya tanpa halangan. Rambut kemaluan kami bertautan di banyak kesempatan dan mulai berkeringat.

“Bang Aseng yakin gak mau ciuman lagi? Enak loh ciuman sama bang Aseng…” katanya menggodaku dengan menggeolkan pantatnya berputar perlahan.

Aseng junior-ku seperti diperas di dalam sana. Siku bertumpu di bahuku dan ia memegangi kedua sisi wajahku seolah akan mengecup bibirku lagi. Beberapa kali ia seakan bergerak maju akan mencium dan batal. Sebenarnya aku juga tergoda ingin menciumnya, tetapi teringat janji.

Untung aku buat perjanjian setelah sudah merasakan kedahsyatan mulutnya. Itu untung atau rugi? Untung karena prinsipku terjaga. Rugi karena tak dapat merasakannya lagi.

“Enggak, Pa… Gak boleh lagi… Kita kan udah deal tadi gak boleh pake perasaan… Ciuman itu bisa buat perasaan kacau-loh…” kataku meringis karena Aseng junior diperas di dalam liang memeknya yang berputar geol yahud.

“Di sini mulai panas ya… Sempit begini…” usulku minta pertimbangannya untuk tempat yang lebih baik dari ini. Diantara etalase dan dinding kede ruangnya sangat terbatas begini.

“Di kamar aja yuk… Ntar Ipa idupin AC-nya…” tanggap Iva.

Aku mengiyakan. Iva bangkit dan terlepaslah Aseng junior dari kungkungan liang kawinnya yang sempit. Ia berdiri tepat di depanku yang terduduk.

“Hi hi hi…” katanya tergelak manja karena memamerkan kemaluannya tepat di depanku.

Jembutnya berbulu lebat panjang-panjang. Gemes aku ingin mencaploknya tapi ia keburu beranjak masuk ke dalam rumah.

Kususul dia yang berlenggak-lenggok menggodaku dengan pinggulnya yang digeal-geolkan berlebihan. Pantatnya yang telanjang tentu saja sangat mempesona. Pakaianku dan pakaiannya kubawa serta memasuki kamar yang ditujunya.

Kututup pintu kamar dengan rapat dan terasa sejuk dari AC yang menyala. Iva membaringkan dirinya di atas ranjang yang seharusnya hanya jadi miliknya dan suaminya, tapi ia membawaku masuk. Bahkan dua pria itu juga masuk kemari.

“Sama dua orang itu… mainnya di sini juga, Pa?” tanyaku kepo.

“Iya… Abisnya Toni sering mancing kek hari ini… Ipa kan butuh pelampiasan juga… Ipa disuruhnya jaga kede aja terus…” jawabnya memposisikan dirinya senyaman mungkin di atas ranjang dengan tersenyum-senyum karena ngeliatin aku yang mengocok pelan Aseng junior agar tetap tegang maksimal. “Punya bang Aseng gede… Enak… E-eh…”

Kaget Iva karena kakinya kutarik hingga tubuhnya tertarik hingga pinggiran ranjang dan aku berjongkok di depannya.

“Yaamm…” aku memakan memeknya yang terasa gurih becek setelah terlebih dahulu menyibak jembutnya yang panjang lebat.

Iva mengerang hebat dengan pantat mengangkat akibat jilatan yang kulakukan. Rambut pubiknya basah oleh cairan lendirnya bercampur ludahku. Kulebarkan bukaan bibir memeknya agar aku tidak terganggu oleh lebat jembutnya. Iva membantu dengan melebarkan dan menahan kakinya agar terbuka luas.

“Aaahhsss…. Yaaa… Ituuu… Ituu… Mmmh… Auuhh… Yaaah…” erangnya berulang-ulang keenakan.

Apalagi saat lidahku menusuk masuk bertindak seperti penis kecil yang menyenggamai lubang memeknya yang haus belaian lelaki. Ia menjerit-jerit kala kacang itilnya kusedot-sedot berbagai kekuatan sedotan, apalagi ditingkahi sentilan lidah, makin melambung tinggi dia jadinya. Belahan berwarna merah, merekah basah siap untuk dikawini kembali segera.

Tanganku mengelus-elus paha mulusnya yang menegang tak kala sedotan pada memeknya terus berlanjut. Mata kami bersitatap kala aku terus bermain-main di memeknya. Ia mengerang-erang seperti akan tertawa.

“Kumis bang Aseng lebat kali…. Hi hi hi… Ahhh… Uh…” kimbek rupanya karena lebat jembutnya menempel di mulutku jadi mirip kumis Jampang.

“Ngejek yaa… Nih…” kujejalkan jariku masuk ke dalam liang kawinnya dan ia menjerit keenakan.

Tambah jadi dua jari hingga liangnya semakin sesak mengatup ditambah lagi jilatanku pada kacang itilnya. Bertambah menjerit-jerit keenakan Iva jadinya. Ujung jariku mengaduk-aduk isi liang kemaluannya. Mengais-ngais bentuk gerinjal di dalam sana untuk titik pusat kenikmatannya.

Di bagian atas ada gerinjal sedikit kasar dan itu kugesek-gesek membuat Iva blingsatan gak karu-karuan. Pantatnya geol kemana-mana dengan liar dan aku terus mengejarnya.

“Aahhkkh… Ah… Ahhh… Akkhh…” berkejat-kejat tubuhnya menegang kaku membentuk lengkungan sedikit kayang.

Ujung jari kakinya cecah ke lantai dan kepalanya di kasur. Kedua tangannya mengepal sprei dengan kuat. Sementara kedua jariku terjepit erat karena lesakan kenikmatan orgasme Iva yang menyeruak dahsyat.

Kucabut tanganku dan kupeluk tubuh kejangnya, berusaha menutup mulutnya agar tidak berteriak lebih kuat. Aku gak tau gimana kondisi kamar di rumah ini. Takutnya kedengaran sampai keluar suaranya. Bisa geger satu kampung kalo aku ketahuan ada di di dalam sini. Iva bisa menahan suaranya dan akhirnya hanya nafasnya yang terdengar.

“Bang Aseng… hu hu hu… Enak kali, baaang… Lemes Ipa, baang…” keluhnya manja tapi lemas berbaring dengan kaki terbuka di pinggiran ranjang.

“Enak ya… Udah boleh masuk lagi, kan?” pintaku permisi.

Aseng junior kukocok-kocok pelan agar kembali greng maksimal. Iva mengangguk dengan meneguk ludah kehabisan suara. Kedua bukit manjanya naik turun teratur menarik nafas. Kulebarkan kaki Iva yang lemas lalu kupepet dan kutekan dengan tubuhku agar tetap terbuka. Alhasil Aseng junior menempel ke sarang barunya. Sarung cap Iva ngangkang.

“Aah…” desahnya kala Aseng junior meluncur masuk dengan berkat gerinjal-gerinjal nikmat sepanjang jalur liang kawinnya.

Basah dan licin karena orgasme barusan. Seluruh panjang Aseng junior terbenam mentok hingga jembutku dan miliknya bertemu saling sapa. Perut Iva menegang kembali walau tak sampai membuatnya orgasme lagi.

Mulutnya membuka menganga merasakan Aseng junior-ku menemukan tempat terdalamnya. Kutarik mundur dengan posisi tetap berdiri di tepian ranjang. Kedua kakinya kupegang di bawah lutut. Aksi sebenarnya Aseng junior.

Genjotanku kulakukan pelan-pelan tetapi panjang. Kutarik hingga sebatas leher Aseng junior lalu kudorong masuk sampai mentok, ulangi lagi. Masuk lagi sampai mentok. Kerasa sekali gerinjal memijat batang Aseng junior-ku. Licin dan gerinjal sangat pas kombinasinya.

Batang kemaluanku terpijat sempurna di dalam memek Iva. Kepala Iva menggeleng-geleng menikmati rasa yang menyelimuti seluruh tubuhnya. Erangannya berganti-ganti berbagai suku kata. Racauannya dijaga agar tidak terlalu berisik. Sesekali ia meremas bukit manjanya.

Kucondongkan tubuhku rebah kehadapannya untuk menikmati kembali kedua bukit manjanya yang bergoyang-goyang indah. Selama ini aku hanya maksimal melihat belahannya saja di foto-foto yang pernah dikirimnya, kali ini terbuka bebas semua.

Pucuk-pucuknya kujilat, kusedot dan kugigit gemes selagi mendorongkan Aseng junior pendek-pendek. Lembut dan kenyal bukit manja itu bergoyang seirama dorongan lesakan Aseng junior mengobok-obok rajin memek berjembut lebat Iva. Ia terus mengerang-erang keenakan dan mengacak-acak sprei ranjangnya sampai tercerabut dari sudut-sudutnya, mengumpul di sekitar tubuhnya.

“Baang… Enaak kali, baang Aseeng… Kenaapa gak dari duluu kuajaak abaang ke kamaarku, baaang…” racaunya.

Kepalanya terbanting ke segala arah dan liang kawinnya berdenyut-denyut menggila mendapat sodokan terus-menerusku. Entah kapan terakhir kali ia mendapatkan seks seperti ini bersama suaminya sebelum genderuwo itu merusak segalanya.

“Hamilii Ipaaa, baang Aseeng… Uuhh…. Haamilii Ipaa, baaang… Aahh… Yaa… Gituuu… Umm…” racaunya seperti kehilangan kewarasannya.

Kenikmatan menderanya. Pinggulnya ikut bergoyang-goyang berputar menyambut sodokanku sehingga kombinasi ini sangat mematikan bagiku. Aseng junior-ku seperti diperas-peras.

“Aaahhkk… Aauuh… Uhh… Uh…” erangnya dengan tubuh berkejat tegang.

Lehernya tertekuk ke atas dengan kepala menengadah. Perut dan kakinya menegang, mengkait keras di punggungku. Kelamin kami bersatu erat. Aseng junior diperas sejadi-jadinya di dalam sempit liang kawin Iva.

Aku hanya bisa menikmati menyucup satu puncak bukit manjanya. Iva orgasme kembali. Aseng junior terasa hangat dengan tambahan cairan pelumas di liangnya. Lalu ia melepaskan kaitan kakinya dan mengangkang lemas.

Aseng junior sungguh kasihan, tubuhnya kemerahan karena abis diperas di dalam liang kawin dahsyat itu. Kurancap sebentar untuk mengurangi cairan lengket yang menempel di sekujur batangnya. “Ivaa… Iva?” bisikku di telinganya. Ia bernafas berat. Sepasang bukit manjanya naik turun seperti sedang bergelora. “Ivaa?”

“Hmm… Apa, baang?” jawabnya lirih.

“Dimana Iva simpan burung-burungan itu?” tanyaku masih berbisik.

Ia tersenyum walau masih dengan mata terpejam dan nafas bergemuruh, sesak.

“Bang Aseng nakal, ya?” Lalu ia menunjuk lemari pakaian yang ada di sudut kamar.

Pada bagian pintu kecil atas sudut kiri, ada sebuah kotak sepatu berwarna putih tanpa merk. Kuturunkan kotak sepatu itu dan kubuka tutupnya. Ada sebuah dildo berukuran sedang berwarna kulit gelap sepanjang 20-an cm.

“Untuk apa, bang?” tanya Iva begitu benda itu kupegang.

“Untuk memuaskan, Ipa… Kasian Ipa dah lama gak ngerasain enak-enak kek gini, kan? Ada servis khusus untuk Ipa hari ini…” kataku kek penjual TV shopping mempromosikan dagangannya.

Iva tergelak melihat tingkahku. Ia mengangguk menerima tawaranku. Pokoknya enak-lah. Terima enak aja. Aku lalu menaiki ranjang dan duduk di belakangnya lalu merapatkan tubuhku pada Iva yang masih duduk di tepi ranjang. Kulit kami saling bersentuhan.

“Ngapain, bang?” tanya Iva karena aku memepetkan wajahku ke rambutnya, menciumi harum rambutnya. Tanganku kukalungkan ke perutnya dan membelai kulit halus perutnya yang rata.

“Ehhmmng…” erangnya kegelian apalagi meremas satu bukit manjanya. Mendesah, kepalanya digesekkannya ke wajahku. Dikecupnya pipiku berusaha menjangkau bibirku. Tentu saja aku mengelak. “Ahh…”

Dildo yang kupegang kuelus-eluskan ke memeknya. Otomatis Iva melebarkan kakinya. Jembut lebatnya kusibak dengan ujung kepala dildo dan aku segera menemukan kacang itilnya yang mengeras di puncak bukaan memek itu.

Kugesek-gesek dildo itu di sana membuat perempuan ini blingsatan dengan menggeol-geolkan pinggangnya. Kenapa Aseng junior enggak dikaryakan lagi? Lagi istirahat dia, bro. Seperti yang kubilang tadi, ada servis khusus untuk Iva makanya, durasi permainan diperpanjang dengan mengulur waktu begini.

Setidaknya aku akan membuatnya orgasme sekali-dua kali dengan memanfaatkan dildo ini. Beda kan sensasinya kalo dibuat enak sama orang lain?

“Ooo-oohh…” lolong Iva kala kujejalkan pelan-pelan dildo itu memasuki memeknya.

Dildo perlahan membelah memek berjembut lebat itu. Bukaan paha Iva membantu prosesi masuk sang dildo. Walau bukan Aseng junior yang masuk, aku tau rasanya menempuh liang sempit itu. Cukup terasa kala dildo menyeruak masuk tidak mudah. Apalagi dildo ini bertekstur seperti penis asli lengkap dengan gerinjal urat-urat yang menonjol.

“Ooh… Aaah… Mmmss…. Aahh…” erangnya kala semua dildo itu terbenam hampir seluruhnya di dalam liang kawinnya, lebih dalam dari yang dapat dijangkau Aseng junior-ku. Kutarik perlahan dan terasa kembali gerinjal beradu dan Iva mengerang keenakan kembali. Aku menciumi bahunya dan ia menjambak rambutku gemes.

Dildo bergerak teratur pelan-palan dan Iva menyambutnya dengan gerakan ritmis juga. Pinggulnya geal-geol berputar seirama kocokan dildo di tanganku. Tanganku yang bebas tentu saja memerah bukit manjanya yang tegang. Putingnya dipilin bergantian kanan dan kiri. Tubuh Iva semakin melorot akibat gerakan geolnya dan tanganku semakin jauh untuk menjangkau kemaluannya karena ia bergeser ke kiri. Sepertinya ia sengaja melakukan ini. Iva mengincar ini ternyata.

“Mlohh… Slurupp… Slrrp…” Aseng junior sudah digelomoh masuk ke dalam mulutnya.

Gak tanggung-tanggung ia langsung menelan panjang Aseng junior sedalam mungkin. Iva menyedot dan memainkan lidahnya simultan pada Aseng junior. Aseng junior terasa becek karena Iva banyak memainkan ludahnya saat menyedot.

Di posisi menyamping begini, ia menyedot kemaluanku dan aku masih memainkan memeknya dengan dildo. Ia mengangkat sebelah kakinya sehingga benar-benar mengangkang lebar. Aku gak boleh kalah…

Gencar kugerakkan dildo itu keluar masuk dan Iva mengerang-erang sambil tetap rajin menyedot Aseng junior. Kecipak becek bersahutan dari memeknya dan juga penisku. Aku menjambak rambut Iva sambil menahan mati-matian agar gak ngecrot duluan. Untung saja hari ini aku sudah ejakulasi dua kali bersama Dani di kantor tadi, sehingga yang berikutnya akan lebih lama. Tapi akan masih ada stok untukmu, Pa. Masih banyak di sini. Tenang aja. Kebagian semua.

“Aaah…” jeritnya lalu berbaring di pangkuanku dengan tubuh kejang dan kubiarkan dildo itu bercokol di dalam memeknya kala ia mencapai orgasmenya.

Tubuhnya mengeras kala ia menikmati gelombang nikmat orgasme yang kesekian kalinya. Ia bahkan tak sadar ketika kuseret tubuh telanjangnya ke tengah ranjang yang sudag awut-awutan ini.

Dildo kucabut dan memeknya mengeluarkan sejumlah cairan bening. Tak segan kujilat memeknya untuk mencoba mencicipi rasa cairan nikmatnya. Rasanya segar dan cukup menyenangkan, seperti orangnya yang cantik dan asyik punya. Iva menggeliat kala semua itu kulakukan.

“Uuh…” keluhnya pelan karena kutusukkan Aseng junior sampai amblas dan mulai kupompa teratur.

Dari tadi sudah terasa geli dan aku masih selalu bisa meminta ronde tambahan padanya kalo perlu. Apalagi ada dildo ini sebagai teman yang bisa membantuku menawarkan kehausan Iva.

Aku benar-benar fokus hanya memompa agar terasa pas enaknya. Benar-benar meresapi dan menikmati gesekan yahud antara Aseng junior-ku dan liang kawinnya. Gesekan nikmat. Gesekan nikmat. Gesekan enak. Mm… Ini dia.

“Paaa… Ini, Paaa… Ngg… Uhk… Uhh… Uhh…” kepalaku terasa ringan saat Aseng junior-ku menyemprotkan cairan-cairan kental ke dalam rahim Iva.

“Croot… crooot… crooott!” bermili-mili liter cairan kental putih keruh itu memenuhi rahimnya, memberi rasa hangat dan penuh di dalam sana.

Iva menggeliat-geliat nyaman merasakan penuh perutnya disembur cairan hangatku. Ia mendesah dan mengerang, pastinya sudah lama ia tak merasakan sensasi ini. Sperma di dalam rahimnya.

Sebuah bantal kumanfaatkan untuk mengganjal pantatnya agar lebih tinggi hingga spermaku tetap menggenang di dalam sana. Hampir semua perempuan dalam program hamilnya kuperlakukan begini.

Begitu Aseng junior kucabut, genangan kental itu berusaha keluar tetapi tertahan oleh gravitasi dan tetap bercokol di sana, menyurut masuk dan memenuhi rahim. Aku berbaring di samping Iva sambil menciumi pangkal lengannya yang putih berkeringat. Kedua bukit manjanya naik turun cepat untuk berburu oksigen. Kuremas bukit itu dengan gemes. Iva kembali mendesah.

“Enak, bang Aseng… Banyak banget air maninya, ya?” kata Iva dengan mata sayu memegangi tanganku yang meremas bukit manjanya.

“Iya… Semoga bisa hamil segera ya, Pa… Enak gak?” tanyaku lagi gak berhenti gemes meremas kekenyalan itu, ditambah pilinan puting.

“Enaaak banget, bang… Sekali atau dua kali lagi masih bisa, kan?” pintanya.

Aku melirik pada jam dinding di kamar ini. Sudah jam 15:22. Bisalah sekali lagi. Takutnya istriku mencari, motornya ada di rumah orangnya gak ada. Lirikan berikutnya pada jembut lebat yang basah dengan titik-titk sperma kental, yang menggunung akibat diganjal bantal. Rasanya belum puas dan masih penasaran tentunya. Belum terlalu banyak dieksplor itu memek.

“Bisa-lah sekali lagi untuk Ipa… Kocokin-la…” mintaku juga agar semua bisa diatur.

Ia harus sedikit membantuku. Kusodorkan Aseng junior-ku yang lemas masih berlumuran sperma dekat tangannya. Ia dengan senang hati dan tanpa ragu menyambutnya. Dirancapnya Aseng junior sebentar lalu ditariknya agar mendekati mulutnya. Ini lebih bagus lagi.

“Slurp.. slurp… Slllrp…” dengan ahlinya Iva menyenangkan Aseng junior-ku.

Disedotnya dalam-dalam batang penisku. Aku yakin masih ada sisa-sisa sperma yang berhasil disedotnya. Sesekali, lidahnya menyentil-menyentil dengan pandangan binal kepadaku–mengerling nakal.

Kepala Aseng junior diemut-emutnya hingga membangkitkan lagi kejantananku ke ukuran maksimalnya. Yahud kali Iva ini sepongannya. Dipijat-pijatnya juga dua biji pelerku dengan lembut. Menstimulasinya agar segera memproduksi sperma baru yang akan disemprotkan lagi ke memeknya.

“Iva… tadi pagi ngomongnya serius ya… nungguin awak kemari?” tanyaku baru teringat.

Tadi pagi Iva sebenarnya sudah mengundangku untuk menemaninya tidur nanti malam karena tak ada siapa-siapa di rumah ini kecuali dirinya. Katanya sampe jam berapa aja ditunggu, tinggal ping aja pasti dibukain pintu.

“Muahh… Iya… beneran-lah, bang… Masak ecek-ecek (main-main)… Ipa dah lama pengen kek gini sama abang… Abang itu udah kek suami idaman di gang ini… Mana ada bapak-bapak lain yang rajin kali gendong anaknya keliling gang rutin begitu… Mamak-mamak lain kalo ngegosipin abang kek gitu, bang… Ipa jadi ngayalin gimana kalo bobok cantik bareng bang Aseng… Pasti asik kan?” katanya sambil mengocok Aseng junior. Sesekali dikecupnya.

“Sekarang udah gak ngayal lagi, kan?” kataku juga sambil mempermainkan puting bukit manjanya.

“Tapi nanti malam masih dibukain pintu kok, bang Aseng… Kalo tau begini enak… mau dong tiap malam dikelonin sama bang Aseng…” katanya sambil meremas Aseng junior-ku yang sudah mengeras tegang dengan gemes.

“Liat sikontol (situasi, kondisi dan toleransi) dulu, Pa… Mana tau orang rumah-pun minta jatah… Bisa runyam nanti dunia persilatan kalo dia gak dikasih jatah…” kataku berusaha menjaga jarak.

Bahaya kalau Iva mulai merasa nyaman dan baper. Nanti bisa ngelunjak dan merembet kemana-mana. Apalagi masih ada Pipit yang harus kusambangi juga nanti malam. Makanya lebih baik Iva dipuas-puasin aja sampe gempor siang menjelang sore ini.

“O-iya… Punya Toni sekarang keknya udah bisa idup loh… Bagus, kan?”

***

Aku dua kali lagi memberi setoran sperma pada Iva. Ranjangnya sudah berantakan gak karuan karena pergumulan liar kami. Berbagai macam gaya sudah kuperagakan pada istri Toni yang lagi mancing jauh di jermal tengah laut sana. Yang lagi doggy sambil kutampar-tampar pantatnya.

Iva WOT lalu keremas gemes bukit manjanya. Doggy lagi sambil berdiri menghadap foto nikahnya, Iva nakal mengelus-elus muka suaminya sambil minta izin. Iva berbaring di lantai beralaskan beberapa seragam PNS suaminya, kugenjot brutal sampai ia kaing-kaing keenakan. Pasti ada bekas spermaku di seragam itu.

Sori ya, Ton. Binikmu yang nakal senakal-nakalnya.

Sebenarnya gontai berjalanku saat keluar dari pintu besi kede Iva. Tentunya harus dipastikan aman dulu, tidak ada orang yang lewat. Aman dan aku berjalan pulang. Ini sudah hampir jam 4 sore. Satu-satu kendaraan bermotor sudah mulai lewat di gang ini.

Rasa nikmat sisa persenggamaan dengan Iva masih terasa di Aseng junior yang aman bobok manis di dalam peraduannya. Rasa kenyal dua bukit manja masih terasa di tanganku beserta lembut kulitnya. Rasa empuk pantatnya kala kuremas masih terngiang-ngiang di otakku.

Erangan seksi beserta desahan manjanya masih menjadi ringtone paling merdu di telingaku. Apalagi rasa sempit memeknya berikut gelitik jembut lebatnya masih dirasakan Aseng junior yang menang banyak hari ini. Sudah 2 perempuan yang dinikmatinya hari ini.

“… bang Aseng…” samar-samar aku mendengar suara memanggil. Suaranya tidak asing. Ini di depan rumah Aida.

“Eh… bu Aida… Sehat, bu?” sapaku basa-basi sambil celingak-celinguk kanan kiri. Aman masih sepi. Gak ada yang lewat melintas.

“Masuk, bang…” katanya yang berdiri di depan pintu yang terbuka sedikit.

Pagar rumah yang tak bergerbang bisa membuatku masuk dengan mudah. Teringat beberapa bulan lalu aku menyelinap masuk di tengah malam untuk menghamilinya—dan berhasil. Perutnya terlihat membuncit berisi anakku. Aida mengundangku masuk? Waduh… Kalo disuruh masuk begini… pasti masuk ke sana tentunya; ke liang kawinnya.

Aku tidak tau bagaimana ceritanya, tau-tau udah di dalam rumah Aida aja jiwa ragaku. Perempuan hamil muda itu lalu mengunci rapat pintunya lalu memelukku erat. Perut buncitnya menekan tidak terlalu kuat perutku.

“Aida kangen, bang…” bisiknya yang sedang menekankan pipinya ke dadaku.

Kalo kuingat-ingat lagi, aku bergegas masuk ke dalam rumah Aida karena ini harus dilakukan dengan sangat cepat dan sigap karena kesempatan seperti ini tidak akan terulang dua kali. Apalagi aku hanya sempat menyambanginya selama 4 malam, Aseng junior pasti kangen padanya.

“Abang juga kangen, Aida…” kataku mengelus-elus rambutnya. Entah apa yang dikangenkannya padaku. Aseng junior atau apanya dariku? Ia menengadahkan wajahnya padaku seakan minta cium. Aku menggeleng.

“Eits… Masih ingat perjanjiannya? Gak boleh ciuuum…” kataku menempelkan jariku ke bibir tebal lembutnya.

“Tapi dedek bebinya kangen pengen dijenguuuk…” katanya manyun dengan bibir dimonyong-monyongkan sembari menggoyang-goyangkan pelukannya pada tubuhku.

“…pengen dijenguk papa Aseng…” lanjutnya. Aku baru tau Aida begini manja. Mungkin pengaruh kehamilannya.

“Oo… Dedek bebi kangen papa, ya… Cup cup… Sini…” kataku lalu beringsut turun dan mencium perut buncitnya yang tertutup daster berbunga-bunga merah yang dikenakannya.

Kuelus-elus perutnya. Aida memperhatikanku melakukan itu semua dengan wajah sumringah senang. Gak pa-pa deh nyenengin bumil begini. Katanya kangen papanya.

“Kuraaang… Dari siniii…” lanjut Aida tak terduga malah menarik bagian bawah dasternya hingga perut buncit dan semua bagian bawahnya keliatan polos.

Ya… Polos beneran! Tak ada celana dalam yang menutupi selangkangannya sehingga aku bisa melihat kumis Hitler itu menempel di permukaan vaginanya. Kumis Hitler yang kurindukan.

“Boleh, Aida?” tanyaku mendongak memastikan kalo aku diperbolehkan menjamah keseluruhan tubuhnya lagi di kondisi hamil mudanya ini.

Setauku, bahkan suaminya, Agus-pun gak dapat jatah berbulan-bulan ini karena kondisi kehamilan ini kesehatannya merosot. Aseng junior melonjak-lonjak senang dan menggeliat bangun mengingat kesenangan yang sudah direguknya dari perempuan ini berbulan lalu.

“Boleh, bang Aseng… Udah aman… Agus juga pulangnya malam kok… Dia baru berangkat kerja jam 12 tadi…” jawabnya sekaligus.

Bahkan gangguan dari suaminya pun tidak usah dikhawatirkan. Daster yang tadinya hanya nangkring di puncak perut buncitnya kini diloloskan lepas semuanya hingga ia bugil tanpa apapun, ia tak memakai pakaian dalam sama sekali. Ibu hamil mah bebas di dalam rumah. Aku sudah mafhum hal itu.

Kuciumi perut buncitnya. Kulitnya meremang lembut karena geli dan terangsang. Kuelus-elus.

“Sehat ya dek di dalam… Cepat besar… Jangan nyusahin mama Aida, ya…” kataku berkomunikasi dengan bayi di dalam kandungannya.

Aida mengelus-elus rambutku. Kemudian aku menjamah bongkah pantatnya yang semakin bahenol aja. Setidaknya berat badan Aida melonjak 5-6 kilo sejak hamil ini sehingga bertambah semok aja MILF satu ini.

“Enak, bang… Mm…” desah Aida menikmati remasan dan elusanku pada bongkah pantatnya.

Apalagi kuciumi kumis Hitler itu dan kujilati belahan vaginanya yang merah merekah membengkak. Ujung lidahku bermain dengan klitorisnya yang membesar hingga mencuat dari belahan kemaluannya, menambah erangan dan gerakan menggesek Aida tambah intens.

“Baanng…” suaranya menjadi serak sejurus lidahku menerobos masuk dan menemukan kelembaban belahan kemaluannya.

Diangkatnya sebelah kakinya, bertumpu di betis hingga aku bisa mengeksplor lebih mudah lipatan indah berhias kumis Hitler itu.

“Bang… di kamar aja yuk… Aida gak sabaaar…” pintanya masih dengan suara serak tanda birahinya sudah meluap-luap minta pelampiasan segera.

Aseng junior-ku juga menggeliat bangun padahal udah 3 kali ngecrot sama Iva dan sebelumnya 2 kali sama Dani, masih mau lagi. Seng-Seng?

Di kamar itu, kamar yang beberapa bulan lalu pernah kudominasi selama 4 malam, kembali kukunjungi lagi setelah sekian lama. Tidak banyak perubahan, hanya ada tambahan TV LED kecil untuk hiburan Aida yang lebih banyak menghabiskan waktu di kamar untuk istirahat. Selagi mengamati kamar, Aida mempreteli pakaian yang kukenakan selayaknya seorang istri yang berbakti.

“Bang Aseng tadi abis main sama orang rumah, ya?” tembak Aida setelah membaui pakaianku yang sudah tanggal.

“I-Iyaa…” jawabku gugup.

Pasti masih ada aroma spermaku di sana hingga Aida langsung tanggap. Ia memegang celana dalamku dan menciumi aromanya. Lalu ia berjongkok di lututnya dan membaui Aseng junior yang sudah mengacung setengah tiang. Dihidunya aroma yang ada di sekujur batang Aseng junior yang dipeganginya dengan hikmat. Seperti ahli penilai cerutu menghidu aroma tembakau terbaik.

“Tadi barusan aja… Orang rumah minta jatah siang-siang… Anak-anak pas lagi tidur juga… Ini mau beli gula di kede… tapi pada tutup… He he he…” alasanku.

Padahal baru sama Iva tadi. Selevel dengannya sih. Sama-sama dalam program hamil juga bedanya Aida sudah berhasil, Iva masih baru mulai. Aida senior, dong.

“Yaa… gak pa-pa dong, bang Aseng… Sama istri sendiri… Aida juga minta jatah, yaa… Yang enak… Kangen ini…” katanya menunjuk Aseng junior lalu beringsut naik ke ranjangnya dengan tubuh telanjang bulatnya.

“Jangan ejek perut Aida yang buncit, yaaa… Kan bang Aseng yang bikiiin…” katanya menggemaskan sambil melebarkan kakinya. Belahan vaginanya yang merekah bengkak merah menggoda.

Aku langsung menuju kesana. Ke tempat lahir betaaa… Vaginanya sungguh menggodaaaa… Kujilaaat dan kujilaaaaat sajaaaa… Bacanya pake irama lagu itu baru passs. Liang kawinnya merekah dengan gerinjal gerinjal ngangenin itu. Lidahku menjawil klitorisnya sementara jariku menusuk dalam. Mengorek-ngorek isi liangnya yang panas. Aida mengerang-erang keenakan menggapai-gapai padaku.

Kuarahkan kakiku ke arahnya dan ia berhasil mendapatkan Aseng junior dan kami melakukan posisi 69. Kuusahakan sebaik mungkin agar aku tidak menyentuh perutnya yang masih belum terlalu besar tetapi Aida sudah menggila. Aseng junior dikenyot-kenyotnya dengan gemas. Sedotannya makin yahud saja.

Pipi chubby-nya jadi kempot karena menyedot kemaluanku dengan kencang. Aku tak ketinggalan menusuk masuk dengan dua jari dan sedotan klitoris. Kami berdua blingsatan karena sama-sama kangen.

Reuni ini kulanjutkan dengan menusukkan Aseng junior dalam-dalam dan langsung kugoyang walau tak boleh terlalu cepat. Aida mengaduh-aduh dan mengerang keenakan. Entah seks yang terakhir itu adalah malam terakhir kami bersama baginya, tapi sepertinya Aida sangat menikmati ini. Ia meracau-racau kalimat binal dan nakal, antara lain: kontol, memek, ngentot, fuck dan teman-temannya.

Tetek Aida yang membengkak lebih besar dari sebelumnya jadi mainanku tentunya. Payudara sensitif itu kukenyot dan perah dengan hati-hati karena terkadang bisa sakit bagi beberapa perempuan. Tapi Aida pengennya ditangani dengan sedikit lebih kuat.

Jadilah pentilnya yang membesar juga aerola melebar itu jadi santapan sedap bagi mulutku. Lidahku berdecap-decap seolah menikmati jamuan paling sedap di dunia. Kenyalnya bertambah sesuai ukurannya. Kalo ia sudah menjelang melahirkan, ukurannya akan mencapai maksimal. Apalagi nanti kalo sudah memproduksi ASI. Wuih… Tambah mantap pastinya!

Aseng junior bergerak bak piston–naik turun mencoblos liang kawin Aida dengan lancar. Kakinya berkait di pantatku. Aku tetap menjaga agar aku tidak membentur perutnya karenanya tubuhku yang kupaksakan melengkung agar dapat tetap menikmati teteknya yang semakin yahud. Gerakan keluar masuk seirama dengan erangan Aida.

“Trus, baang… Yang kenceeeng… Uhh… uhh… Enaak, baang…” erangnya kemudian berkejat-kejat.

Kuhentikan goyanganku, Aseng junior tercabut, kupeluk ia sebisanya dan mengelus-elus perutnya yang buncit. Nafasnya tersengal-sengal. Kuelus keningnya, merapikan rambut yang berantakan di sana. Kembali ia minta cium yang harus kutolak. Aku hanya menempelkan dua jari yang bekas kurekatkan di bibirku ke bibirnya, mewakili.

“Lanjut yaaa… Sampe keluar…” kataku memposisikan diriku lagi di kangkangan kakinya.

Menghadapi vaginanya yang merah merekah. Lancar masuk Aseng junior-ku membelah dan menusuk. Kembali Aida mengerang-ngerang keenakan meremas tanganku yang bertumpu di samping pangkal lengannya.

Teteknya berguncang-guncang kompak dengan desakan dorongan tubuhku yang menjojos kandas liang kawinnya dengan Aseng junior. Lesakan lugas batang kemaluanku keknya akan mencapai batasnya. Terasa sudah ngilu karena baru saja aku ejakulasi 3 kali bersama Iva di kamarnya sana, kini harus mendonorkan sperma lainnya pada perempuan bunting ini.

“Yang kenceeng, baang… Maau lagii niihh… Uumm… Uuhh…” erang Aida.

Aku pun makin semangat menggoyang pantatku maju mundur. Sudah terasa geli di balik rasa ngilu ini sebenarnya. Tapi rasa enak sangat nagih. Gak akan bosan dengan kenikmatan yang dirasakan oleh tubuh saat ejakulasi terjadi.

Rasa membuncah yang tak terkatakan. Seolah jiwamu ikut melayang saat kenikmatan itu mendera. Aku ketagihan rasa nikmat itu. Walaupun berasal dari perempuan-perempuan yang berbeda.

“Aaahh… Crott… croott… croottt!” semburan spermaku memasuki Aida.

Tidak banyak memang tetapi cukuplah untuk membasahi liang kawinnya yang juga berkedut-kedut memeras Aseng junior-ku. Ia juga orgasme berbarengan denganku. Perutku rapat ke perutnya, menembakkan bibit-bibit yang dulu pernah membuahinya. Memberi salam pada janin yang ada di dalam rahimnya.

Aku lalu berguling dan melepaskan batang kemaluanku yang lelah, memerah dan entah-lah. Kupeluk ia dari samping, mengelus perut buncitnya. Kuakui ada rasa sayang yang tiba-tiba kurasakan terbersit di benakku.

Cepat-cepat kubuang pikiran itu. Jangan baper pikirku. Itu hanya pikiran sesaat. Aku hanya melaksanakan tugasku. Kupindahkan elusanku ke teteknya dengan remasan juga pilinan.

“Aida jadi endut ya, bang?” bisiknya saat ia berbaring memunggungiku. Aku masih memainkan teteknya yang bengkak.

“Yaa wajar, Daa… Kalo gak tambah gendut itu malah masalah sama bayinya nanti… Karena normalnya ibu hamil itu akan bertambah beratnya sebab beberapa bagian tubuhnya meningkat massanya… Apalagi ada bayi yang Aida nanti sejak lama… Dinikmati aja… Jangan terlalu stres, ya?” kataku menghiburnya.

Ini juga kata-kataku dulu pada istriku yang mengeluh kala tubuhnya melar kala mengandung dua anakku sebelumnya.

“Nanti bang Aseng gak mau lagi sama Aidaaa…” rajuknya menangkap tanganku.

“Kan ada Agus lakikmu… Ngapain sama awak pulak…” kataku hampir tertawa.

“Males sama Agus… Badannya udah tambah melar aja… Malah dia yang mangkin rajin ngemil… Yang hamil kan Aida…” katanya lagi mirip curhat. Aku tertawa kecil mendengar ceritanya. “Nanti kalo Aida mau anak lagi… sama bang Aseng aja, ya?”

“Lah… Nanti dua-duanya anak awak semua-lah… Anaknya bagian Agus mana?” kataku kocak.

“Agus suruh biayain aja… Dia gak pande buatnya, sih…” Aida ikut tertawa karena pembicaraan gak jelas ini.

***

Minum air dingin dari kulkas di dapur Aida, aku lumayan segar. Seharusnya aku jalan sempoyongan karena kegiatan barusan di kamar Aida, kegiatan enak. Sampe rumah, pintu masih tertutup dan orang-orang tercintaku masih tidur. Istriku dan kedua anakku tidur dengan nyenyaknya. Maafkan aku istriku sayang, aku melakukan ini semua di belakangmu.

Tidur siang sampai sore di hari Sabtu begini sebenarnya menyenangkan kalau tidak ada acara kemana-mana. Tapi aku sudah menyambangi dua perempuan di kamarnya masing-masing. Aku mandi untuk membersihkan penat di tubuhku. Kuambil gulungan karpet kecil dan kugelar di bawah tempat tidurku karena tidak memungkinkan tidur bareng mereka bertiga tanpa mengusik. Segera terlelap…

“Mm…” terasa basah.

Apa yang basah? Aseng junior terasa basah. Kenapa Aseng junior bisa basah? Mm… Keknya ada yang memainkannya. Ketika kubuka mataku yang masih berat, wajah istriku yang tersenyum lebar sedang mempermainkan Aseng junior yang sudah menegang keras menunjuk langit. “Mamaa?” desahku.

“Sstt… Jangan berisik… Anaknya masih bobo semua…” bisik istriku yang sudah melepas semua kancing piyama yang dipakainya.

Ia biasa tak memakai bra kala tidur jadi payudaranya bergantungan bebas. Dikocoknya Aseng junior yang sudah memerah keras. Lidahnya mencicipi pre-cum yang menitik di ujung kemaluanku. Sambil bangkit, intip-intip ke atas, ke arah dua anak kami yang masih tidur dengan damai, ia melepas celana panjang padanan piyama itu beserta celana dalamnya.

“Nungguin papa malam-malam keburu ngantuk… Sore-sore aja yaa…” katanya.

Oalah… Karena terlalu sering menyambangi perempuan-perempuan lain, kebutuhan istriku sendiri jadi berkurang. Maafkan aku lagi istriku, yang tak peka akan kebutuhan biologismu. Terima kasih atas kesabaranmu pada suamimu yang tak tau balas jasa ini. Maafkan aku…

Kubiarkan istriku menikmati tubuhku sesukanya. Ia bergaya WOT dan menunggani Aseng junior-ku dengan ganas walau tanpa suara. Aku hanya meladeni nafsunya dengan menggerayangi kedua payudaranya yang sudah mensuplai ASI bergizi bagi anak-anakku dan mainan lezat bagiku.

Tubuhnya berguncang-guncang atau mengejang kala ia mendapatkan puncak kenikmatannya. Aseng junior ikut andil besar karena mau kerja sama ereksi penuh walau ia pastinya sudah lelah lahir bathin.

Istriku dengan bebas menciumi dan menikmati mulutku. Hanya ini yang bisa kuberikan eksklusif untukmu, wahai istriku. Hanya bibir ini yang sepenuh hati kupersembahkan untukmu, sesuka hatimu. Beserta jiwa ragaku—juga hatiku.

Di kamar mandi, kami bercinta lagi. Kali ini berani tegas kukatakan bercinta, karena kami saling mencinta dan kami melakukannya dengan cinta. Berawal dari saling menyabuni, berujung saling remas—berlanjut bercinta kembali.

Apesnya pas lagi enak-enaknya, terdengar tangisan Salwa yang terbangun karena tak menemukan mamanya di sampingnya. Karena biasanya kalau ia bangun tidur akan berlanjut pada acara mimik cucu.

Istriku meninggalkanku dengan teganya kentang sendirian di kamar mandi dengan Aseng junior masih ngaceng karena tadinya masih enak-enakan ngejos. Yahh… Tau kan rasanya ngentang. Gini deh…

Kuintip istriku yang sedang berbaring menyamping menyusui Salwa. Ia tadi hanya membalut tubuhnya sekenanya dengan handuk dan langsung keluar kamar mandi. Tak jauh Rio masih molor berantakan. Handuk yang dikenakan istriku hanya dipakai sekenanya.

Namanya juga sama istri sendiri. Bebas ya kan, woy… Walau protes, istriku tak bisa mencegahku memasukkan Aseng junior ke sarang sahnya. Sensasinya berbeda kalo boleh kukatakan. Rasanya lebih nyaman dengan istri sendiri walau dikelilingi anak-anak yang bisa sewaktu-waktu bangun.

Kupompa pelan-pelan agar springbed King size ini tidak terlalu berguncang. Aku belum sanggup waktu itu beli springbed mahal yang gak goyang walau ada kuda lari-lari di atasnya. Nanti kubeli ah. Istriku merem melek merasakan rojokan Aseng junior di liang kawinnya yang diproteksi asuransi IUD. Belum masanya Salwa punya adik, kan?

“Udah-ah… Mandi lagi sana…” usir istriku setelah aku menyelesaikan hasratku untuk yang keberapa kalinya hari ini.

Abis ini aku harus poding telor bebek mentah 5 bijik. Isi pelerku udah kering keknya. Aku mandi lagi menyegarkan tubuhku yang lelah. Sehabis mandi aku ngaso dengan duduk-duduk di teras depan rumah. Menikmati angin dan matahari sore menjelang malam Minggu. Gak kerasa malah aku ketiduran di kursi ini.

Bangun-bangun malah sudah ada orang lain yang menemaniku duduk di teras ini. Istriku dan Yuli ada di sini. Mereka sedang ngobrolin sesuatu dan membiarkanku tidur nyenyak. Aku gak mau tau apa yang mereka obrolin. Istriku sedang mendandani anak gadisnya yang beranjak besar dengan bermacam pernik bayi yang imut dan lucu.

“Tidur di dalam sana… Kek gak ada tempat tidur aja…” kata istriku yang diberitau Yuli kalau aku sudah bangun.

“Elap itu encesnya… Kek anakmu aja tuh si Rio belum bangun…” katanya lagi.

Yuli tertawa-tawa melihat tingkahku. Gunung 38DD sedikit berguncang karenanya. Aku sudah tau semua isinya jadi gak perlu penasaran lagi.

“Lucu ya, papanya Rio…” komentarnya lalu menutup mulutnya tertawa lagi.

Aku masuk rumah dan mengerling padanya tanpa diketahui istriku. Menuju kamar lagi dan tidur bareng Rio sampe menjelang Maghrib. Gak sehat kali ya, kan? Bangun tidur Rio sudah gak ada. Mungkin ia bangun gak lama aku terlelap di sampingnya. Apa mungkin terganggu ngorokku?

Karena merasa bersalah telah mengabaikan keluargaku akhir-akhir ini, malam Minggu itu aku habiskan jalan-jalan bersama keluarga kecilku. Kubawa mereka ke satu mall paling hits di Medan. Kubiarkan istriku belanja sesukanya, anakku bermain sepuasnya.

Aku ikutin semua keinginan mereka. Istriku terheran-heran karena aku gak segan-segan ngeluarkan uang banyak malam itu. Tak mengapa asal kalian bahagia. Walau bahagia tak bisa diukur lewat harta. Yang penting selalu bersama.

Walaupun sedang jalan bareng keluargaku, tanggung jawabku harus tetap kujaga. Beberapa kontak rutin kuhubungi.

Yuli: bg Aseng mlm ini ZONK misua ada di rumah besok2 lg ya?

Aseng: iya mlm ini istirahat dulu awak. minta jatah sm abg itu dl ya

Yuli: iya paham bye :kiss

***

Ppt: jam berapa kemari bg?

Aseng: blom tau Pit msh diluar

Ppt: jgn capek2 ntr gk fit bikin anaknya

Aseng: oc bos

Ppt: kabarin cpt ya. :hug

Istriku bolak balik menanyakan pendapatku tentang beberapa barang yang ditaksirnya dengan mengirim foto ke BB-ku. Aku mengawal kedua anakku yang sedang riang-riangnya bermain di arena permainan. Banyak MILF-MILF cantik di sekitarku yang juga bersama anaknya. Momong anak sekalian cuci mata nih ceritanya.

Polda: bagusan yg merah ato maroon?

Aseng: sm2 merah kan itu

Polda: ato yg burgundy aja?

Aseng: msh merah jg kan?

Polda: tp lbh elegan yg biru tua sih

JDERR! Tau deh yang punya polda di rumah ato minimal pacar ya? Belanja bareng mereka bikin ribet. Akur, ya? Gak usah dibahas karena mereka mahluk paling ribet sejagat raya. Paling enak digenjot juga. Jadi para lelaki harus punya ekstra kesabaran kalau masih mau nggenjot mahluk paling enak sekaligus paling ribet di jagat raya.

Abis shopping dan bermain, diakhiri dengan makan di satu resto makanan khas Italy. Karena kedua anak kami sudah ngantuk jadinya pakai jasa take-away aja dan langsung pulang. Rio dijepit di antara aku dan istriku, Salwa digendong. Ribet ya kalo pake motor berempat begini. Sabar… Jasa Supra X 125-ku sungguh besar mengantarku mencari rejeki dan jalan-jalan menghibur keluarga.

***

Sampai rumah, ternyata istriku belum juga ngantuk. Mungkin masih terlalu gembira karena dibiarkan shopping ria. Dia juga bertanya-tanya dari mana uangnya karena ia belanja cukup banyak dan tentunya menghabiskan banyak uang.

Aku hanya bilang kalo ada rezeki lebih dari hamba Tuhan. Sebagai ucapan terima kasihnya, ia malah menyervis Aseng junior kembali. Padahal udah disiapin buat Pipit itu muatan, kan? Trus kalo ada sisa buat Iva juga. Hu-uh.

Istriku terkapar lelah dengan tubuh bugil dan liang kawinnya bernoda spermaku. Ia tidur lelap di karpet di bawah ranjang seserahanku padanya 5 tahun lalu. Kedua anakku tidur dengan damai di atas ranjang, tak terganggu pertempuran orang tuanya barusan.

Kututupi tubuh istriku dengan selimut agar tidak masuk angin berbugil ria begitu. Aku bersih-bersih di kamar mandi. Jangan sampai Pipit mencium aroma sisa pergumulanku barusan. Aku tetap harus menjaga perasaannya.

Ini sudah jam 23:12 malam. Sebelum menyatroni rumah Pipit, aku keluar gang dulu ke keramaian Mabar untuk ngisi tenaga. Istilah Medan-nya poding. 5 butir telor bebek campur madu kutenggak habis. Amis euy.

Malam Minggu di gang kami ini agak sedikit ramai karena di salah satu rumah ada yang lagi kumpul-kumpul bakar ikan. Tercium aroma bakarannya yang enak. Aku merapat di sana sebentar untuk basa-basi lalu pamit secepatnya.

Nyari jalan memutar agar bisa masuk dari pintu samping rumah Pipit yang gelap karena lampu tidak dinyalakan. Pipit sudah membuka kunci pintu itu agar aku dapat masuk dengan leluasa. Masuk ke rumah orang bak maling, aku sudah berada di dapur rumah Pipit yang gelap.

Hanya lampu di teras depan yang menyala dan di dalam kamar. Ada beberapa kamar di rumah sebesar ini dan hanya itu yang menyala, terlihat pendar cahaya dari sela atas dan bawah pintu.

Kuketuk pintu dua kali dengan nada yang sama seperti waktu di hotel kemaren-kemaren. Tak lama pintu terbuka sedikit karena Pipit mengintip dari balik sana dengan senyum malu-malu. Ditutupnya kembali pintu tetapi tidak rapat dan undur diri tak terlihat lagi. Cukup untukku masuk sebagai garong binor.

Pipit berdiri di sana dengan pakaian yang sangaaat seksi dan provokatif. Pakaian yang seperti terbuat dari full renda berwarna hitam karena dari bahan kainnya tembus pandang kulit di baliknya.

Pakaian ketat sampai menutup kaki itu tak berlengan, bermotif floral di beberapa bagiannya. Pipit berdiri tegak dengan high heel hitamnya walau masih malu-malu menutupi bagian-bagian vitalnya yang terawang karena bahan pakaian vulgar ini.

“Wow… Pit… Ini seksi sekali… Woow…” kataku masih terperangah.

Kenapa ia berpenampilan seperti ini di malam begini. Aku mengelap mulutku yang ngiler beberapa kali. Bagian vital yang jelas terlihat tentu saja dua titik putingnya yang menyembul di atas payudaranya. Lain halnya dengan témpek mungilnya yang tak berambut plontos, hanya berbentuk segitiga imut saja.

“Bagus gak?” tanyanya memaksakan diri berkacak pinggang, memamerkan seluruh tubuhnya padaku. Ia menggigit bibir bawahnya karena masih kikuk belum tau pendapatku.

“Ini de best, mbaaaak… Dua jempol pokok’e…” kataku menyodorkan dua jempolku padanya.

“Tambah satu lagi-la ini… Kalo tambah dua… jatuh awak…” lanjutku menyodorkan jempol kaki kiriku sehingga 3 jempol untuknya, aku berdiri satu kaki. Ini di luar bayanganku. Bahkan Iva yang seksi di foto-fotonya gak punya koleksi seberani ini.

“Ish… bang Aseng… Aku isin-loh ini… Beneran, toh?” tanya Pipit menarik satu tangannya dari pinggangnya untuk menutup selangkangannya. Pipit menggembungkan pipinya dengan lucu karena ngambek mengira aku bercanda.

“Beneeer loh, mbak… Aku tambahin koprol ini…” kataku berusaha meyakinkannya dengan jungkir balik di hadapannya.

Lalu menyodorkan keempat jempol yang aku punya sambil selonjoran di lantai. Alhasil Pipit tertawa terbahak-bahak karena lucu akan dagelanku. “Bener loh, mbak… Ini top markotop punya… Apa awak harus koprol lagi trus guling-guling, piye?” tawarku nambah salto plus jadi kambing guling.

“Wes… uwes… Bang Aseng opo, toh… Beneran isin-loh aku ini…” cegahnya tapi menempatkan lagi kedua tangannya ke pinggang hingga penampilannya kembali paripurna.

Bener-bener seksi nih binik orang. Beruntung kali kau Imran yang lagi jauh di Jakarta sana. Tapi walaupun beruntungnya sedang kucaplok karena aku udah beberapa kali ngecrotin binor ini. Ditambah lagi malam ini. Calon diencrotin lagi.

“Seksi abis, mbaaak… Suwer kewer-kewer… Gak nyangka aku, mbak… Beli dimana nih, Pit? Belanja online?” tanyaku masih duduk nonton parade Pipit yang kini memberanikan diri berjalan-jalan di seputar kamarnya dengan outfit seksi ketat berbahan renda hitam itu. Perasaan kek nonton pagelaran busana live oleh Victoria Secret’s jadinya.

“Dibeliin suami di sono-noh… Tadi sore baru nyampe paketnya… Katanya pengen nyobain nanti kalau dia sudah pulang nanti… Kangen berat katanya…” jelasnya akan asal-muasal outfit seksi ini. Begitu ceritanya.

“Trus… kok ditunjukin ke awak, ya?” aku gak habis pikir juga nih. Ini harusnya privat mereka berdua aja, kan? Masak perdana ditunjukin padaku. Kek ngasih pertunjukan perawannya padaku. Perawan? Analoginya cocok gak ya?

“Ish… Bang Aseng gak peka-ih… Pipit make-nya khusus untuk abang aja malam ini… Pertama-tama harus untuk abang Aseng dulu… Biar semangat buatin anak ke Pipit-nya…” ngambek manja deh ini binor. Tangannya bersilang di bawah dada, kaki dihentak-hentak manja, pipi menggembung dan mulut manyun pengen tak cipok aja kalo gak ingat-ingat.

“Yee… Ngambek binik orang… Gak usah pake gini-gini juga awak semangat 45 aja trus… Ayo… keluarin yang lain…” kataku sesumbar.

“Eh… Masih ada yang lain, ya?” malah nebak sendiri.

Pipit merubah mood-nya dengan tersenyum lebar yang manis sekali. Ia mendadak bersinar-sinar karena bahagia yang diciptakan pikirannya sendiri. Ia kembali berjalan bak pragawati ke balik ranjangnya sana yang ada partisi rotan yang biasa dipakai untuk berganti pakaian.

“Awas jangan ngintip! Tak culek matanya-sek…” ancam Pipit padaku agar gak macem-macem.

Lah buat apa ngumpet-ngumpet gitu? Lah aku udah liat semua-mua tubuhnya sampe dalam-dalamnya segala. Mungkin karena tadi itu ‘isin’. Jadilah selama menunggu Pipit ganti kostum aku menilai bentuk kamar yang berbentuk elegan sekaligus nyaman nanti. Di sini ternyata selama ini Pipit mengurung dirinya.

Kamar ini dibuat senyaman mungkin untuknya mengisolir diri dengan lengkap. Kamar berukuran luas ini mungkin ruangan paling luas di rumah ini karena prabotannya. Bahkan ada sofa santai di depan TV layar lebar yang lengkap dengan home theater-nya. Aku duduk nunggu di sofa itu.

“Bang Aseng?…” ia keluar dari balik partisi dan aku langsung sumringah lagi melihatnya.

Selera Imran, lakiknya sangat piawai dalam memilih outfit seksi buat biniknya.

“… kalau yang ini gimanaa?” tanya Pipit memamerkan pakaian yang baru dicobanya ini.

Berupa pakaian seksi serupa baju renang one piece (seluruh badan) berlengan panjang berleher turtle neck tetapi bawannya hanya cangcut minim berwarna abu-abu. Seksi abis…

“Ini bagus kali, Pit…” kataku bolak-balik atas bawah menjilati seluruh tubuhnya dengan mataku.

Bagian payudaranya menggembung walau ia tak memakai bra di balik sana tapi karena kostum ini ketat hingga bentuk sempurna tubuh Pipit jadi semakin indah. Apalagi kala ia memposisikan kedua tangannya di pinggangnya yang ramping, dadanya semakin membusung indah.

Ia berputar perlahan memamerkan sisi belakang pakaian itu. Pantatnya yang indah terekspos sempurna karena kecilnya bahan yang menutupi belahan bokongnya saja.

“Beneran, bang?” kata Pipit memastikan perkataanku.

Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi selain kembali memberi empat jempolku yang ditanggapinya dengan senyum lebar puas.

“Yo wis… Aku tak salin yang lain disek, yoo…” katanya lalu ngumpet lagi di balik partisi itu.

Ada berapa biji rupanya pakaian seksi yang dibeli Imran di Jakarta sana untuk biniknya? Sukak hati dia aja-la… Aku yang ketiban durian runtuh menikmati pemandangannya pertama kali dengan semua pakaian itu.

Di balik partisi sana terlihat beberapa kilasan lampu flash. Mungkin ia mengambil foto lagi untuk dikirimkan pada suaminya nanti sebagai bukti kalo semua pakaian itu sudah dicobain semua.

Aku menanti dengan antusias akan apa yang nantinya akan ditampilkan Pipit padaku. Pakaian seksi macam apa yang akan dipakainya?

“Bang Aseeng…?” ia keluar juga. Nafasku seperti berhenti karena takut kehilangan momen indah ini. Ini paripurna seksinya.

“… kalau yang iniii… Gimana?” katanya berdiri tegak tetapi tangan kananya bersilang di bawah dadanya. Aku hanya bisa mengangguk-angguk.

“Apaa? Ngomong dong?”

“Piit… Awak boleh nerkam sekarang, gaaak? Ini udah naik…” kataku menunjuk pada gembungan di celanaku yang membentuk tenda Indian.

Aseng junior sudah bangun dari tidur indahnya. Aku bener-bener harus meminta izinnya kali ini. Pakaiannya kali ini kurang ajar seksi dan nakal. Masih bertema pakaian renang one piece, tanpa lengan tapi seluruh bahannya berupa jaring-jaring halus yang tentu saja menunjukkan semua apapun yang ada di baliknya. Kedua putingnya dan dadanya, bolongan pusarnya, apalagi bentuk témpek gundul mungil dengan jengger berlebih itu.

“Eits… No… no… noo…” katanya sambil menggoyangkan jari tanda verboden.

Aku belum boleh ngapa-ngapain Pipit sekarang juga padahal ini nafsu udah di ubun-ubun. Ditambah lagi ia berputar dan memamerkan bagian belakang tubuhnya sambil sesekali melirikku yang sudah siap-siap menerima instruksi serbu. Gerakan-gerakan yang hanya dilakukan normal saja menjadi super binal sekarang berkat pakaian bahan jaring ini.

“Masih ada yang lain… Sabar ya, baaang…” nakal ia berlari kecil ke balik partisi lagi.

Kalo gak mikir-mikir ancamannya tadi, aku sudah samperin partisi itu dan menggasaknya sekarang juga. Tapi ia pengen dipuaskan dengan cara ini. Setidaknya aku harus menghormati fantasy Pipit juga. Ia sudah menahan malu untuk banyak hal padaku dan aku hanya perlu bersabar dan mengikuti keinginannya.

Lagipula aku pasti bisa menggagahinya sepuasnya malam ini. Terliat kilatan flash kembali dari balik partisi itu. Beruntung kali kau Imran, punya binik cantik dan seksi seperti ini. Walau aku yang bertugas menghamilinya malam ini.

“Kaloo yang iniii… gimanaaa?” ia keluar beberapa waktu kemudian setelah salin kembali akan outfit seksi baru.

Ia keluar dengan pakaian hitam lainnya, masih semi transparan dengan banyak pita yang seksi dan imut karena memang berbahan minim. Ia hampir tergelak tertawa melihatku yang sedang merancap Aseng junior pelan-pelan sambil miring kanan-miring kiri untuk memuaskan mataku akan penampilan seksi Pipit.

Pake apa aja pasti seksi pastinya ini perempuan. Apalagi kalo bugil. Aku juga yakin kalo bunting sekalipun pasti tetap seksi.

“Piiit… Awak dah gak tahan niiih… Seksi kali Pipiit pake itu semuaa… Gak tahan kali awaakk…” keluhku masih dengan Aseng junior di tangan. Takutnya keluar duluan karena ngayal kelamaan ngeliat bodi seksinya.

“Ayok-laa, Pit…” kataku memintanya segera gelut.

“Masih ada yang lain-loh, bang Aseng… Yang sabar yaaa…” katanya menggantungku lebih lama dan kembali ngacir kebalik partisi rotan itu.

Terliat kembali kilatan flash dari kamera HP-nya beberapa kali. Aku melepas peganganku pada Aseng junior yang tentunya kerasa enak karena birahi sudah tinggi. Kalo lama-lama mungkin ubun-ubunku akan mengepul. Sayang aja kalo aku harus ngecrot di tangan sendiri. Minimal harus menyentuh Pipit, ujung jari kakinya pun gak pa-pa.

Lagi-lagi ia menyiksaku dengan tampilan seksi pakaian bertema perawat berwarna putih dan lagi lagi transparan. Hingga kedua puting terlihat gelap menggantung indah di payudaranya. Rok menjuntai terusan dari bawah dada hanya sampai setengah paha.

Untungnya Pipit masih memakai celana dalam putih yang imut karena mungilnya. Ada tanda palang merah di tengah dadanya. Berputar-putar ia mengibaskan rok pakaian itu hingga mengembang nakal hingga celana dalam imut di baliknya mengintip. Aku mencekik Aseng junior karena gak tahan.

Entah ada berapa banyak lagi stok pakaian seksi yang dikirimkan Imran untuk biniknya ini. Pastinya, walau berbahan minim begitu harganya pasti mahal. Dan Pipit keluar lagi dari markas penyiksaannya padaku dengan kostum Maid yang tak kurang seksi.

Pakaian berwarna hitam putih itu juga minim bahan apalagi roknya sangat pendek hingga ujung segitiga celana dalam hitam mungilnya mengintip kala Pipit berpose tanpa malu-malu lagi di hadapanku. Apalagi kala ia berbalik waduuh.

“Ini yang terakhir, baaang…” katanya keluar setelah rangkaian beberapa kostum yang telah dipamerkannya padaku.

Sebelum keluar ia malah sudah melakukan foto-foto duluan di balik partisi. Tak kalah seksi, kostum merah menyala ini masih berbentuk pakaian renang one piece. Bagian belahan dadanya berjarak lebar hingga mengekspos payudaranya dengan vulgar, terus sampe bagian bawah yang disatukan tautan tali bersilang berwarna senada.

Jalinan tali terhenti tepat di atas témpek mungilnya yang tak terlindungi apapun karena bagian bawah penutupnya hanya melintas di bagian samping selangkangannya.

“Gimanaaa? Seksi, gak?” tanya Pipit kek udah tanpa beban lagi.

Pipit udah gak malu-malu lagi melakukan ini. Ia berputar memamerkan lagi bagian belakang tubuhnya yang tertutup pakaian binal ini.

“Seksi kali, Piiit… Awak keknya udah mabook ini, Piit…” kataku merancap pelan Aseng junior sambil bersandar lemas di sofa ini.

Semua pakaianku udah kubuka dari tadi karena aku dah kek orang gila yang melotot non-stop pada binik orang yang memamerkan tubuhnya padaku walau masih berbalut pakaian minim. Dimana Imran membeli semua itu? Aku mau beli juga untuk istriku nanti. Mau gak dia makenya?

Pipit ketawa-ketiwi melihat keadaanku yang sudah kek pemadat sakaw. Tangan memegangi Aseng junior yang menegang keras berwarna merah kebiruan akibat dipaksa menahan diri.

“Sori ya, bang Aseng… Kaciaaan yaaa… Sini-sini Pipit ademin dulu…” katanya pengertian.

Jantungku berdebar kencang melihatnya menghampiriku yang duduk bersender lemes di sofa kecil ini masih dengan kostum merah itu. Apa yang akan dilakukannya? Ngisepin Aseng junior? Atau apa?

Seperti sebuah adegan slow motion yang kuliat ketika ia menaiki sofa ini, menepis tanganku yang masih mencekik Aseng junior, mengarahkannya pada liang kawin témpek mungilnya yang ternyata sudah basah, menurunkan tubuhnya hingga Aseng junior amblas masuk, menarik belahan dada kostumnya hingga kedua payudaranya melompat keluar, dijejalkannya ke mulutku.

“Aaahh…” erang Pipit yang mulai menggoyangkan tubuhnya naik-turun.

Mulutku sibuk menikmati salah satu payudaranya. Pipit berpegangan pada bahuku mengontrol kecepatannya, menekankan dadanya ke mukaku. Hanya perlu beberapa kali goyangan dan kocokan dan tak butuh waktu lama, kami meledak bersama-sama. Gelegak sperma panasku meluncur masuk dan memenuhi rahimnya.

Pipit menjerit sekali lalu membenamkan mukanya di kepalaku kala tubuhnya mengejang dan meremas Aseng junior-ku menyemprotkan bibit. Kami berpelukan erat dengan Pipit masih dipangkuanku. Semua pertunjukan tadi sangat tepat ditutup dengan cara ini. Pertunjukannya sukses memukau. Ia menciumi rambutku dengan puas.

“Pipit nakal-ih… Lama kali awak digantung kek tadi… Untung masih sempat keluar disitu…” kataku mengelus-elus payudaranya yang menyembul keluar dari kostum pamungkas itu. Pipit berbaring di sofa ini–pantat diganjal bantal, aku duduk lesehan di bawahnya kek kacung sedang ngobrol sama majikannya.

“Sengaja ngerjain bang Aseng Pipit, baaang… Hi hi hi…” ngakunya begitu.

“Sori yaa, bang Aseeng… Tapi enaaak, kan?” katanya mencubit pipiku lalu mengguncangnya.

“Pipit kan tau abang tahannya seberapa… Kalo suami Pipit mah dari tadi pasti udah crot duluan digituin… Bang Aseng deee best, deh…” pujinya lalu mengelus pipi yang tadi dicubitnya.

“Jantung abang lemah dek digituin… Kelamaan dag-dig-dug… Kapan ya? Kapan ya? Gitu trus… Ini udah tegang aja trus dari awal… pengen masuk… Tapi memang enak kali jadinya pas keluar bareng, ya?” kataku mengingat kenikmatan barusan.

Kami berdua tertawa-tawa waktu aku mengatakan kalo aku juga pengen beli beberapa outfit kek tadi buat istri di rumah.

***

Masih memakai kostum merah tadi, aku dan Pipit kembali bergumul dua kali malam itu sampai jam 2 lewat. Aku ngecrot sepuas-puasnya di témpek mungilnya dan mereguk kenikmatan bareng Pipit di kamar itu.

Ia melepasku gak rela sebenarnya, terlihat dari pandangannya saat melepasku pergi dari kamar itu. Pengen rasanya aku masuk kembali dan memeluknya lagi. Memuaskannya kembali sampai ia terlelap lalu aku bisa pergi dengan tenang. Aku mengabaikan perasaan itu. Ingat perjanjian; No Baper-Baper.

Aseng: Ping

Iva: jadi bg?

Aseng: lewat mana masuknya?

Iva: lewat belakang aja. bntr Ipa bukain dulu. asiiik

Langsung kuhubungi Iva dan ia langsung ready. Ternyata ia benar-benar menungguku. Entah apa yang dilakukannya selama menunggu ini. Kemungkinan besar nonton TV atau browsing-an internet karena ia langsung cepat respon ping-ku barusan.

Dari samping rumah Pipit aku beranjak ke bagian belakang. Inilah gunanya aku sering jalan-jalan bareng anak-anakku jadi aku tau persis jalan pintas lingkunganku ini. Kalo MILF lingkungan lain aku mungkin akan kesulitan tanpa observasi permulaan.

Lagi-lagi lampu belakang sudah dimatikan sang empunya rumah. Memudahkanku masuk dan mengurangi kecurigaan siapapun. Begitu masuk kututup rapat pintu dan bergerak ke depan karena ini adalah area dapur. Iva sudah menunggu di depan pintu kamarnya.

Rumah ini yang paling luas adalah ruangan tamunya, dimana wayang kulit Prabu Pandu Dewanata itu berada yang terlihat jelas dari kede di samping ruangan itu. Wayang itu sekarang hanyalah sekedar wayang kulit semata saja adanya.

“Bang Aseng… Makasih yaaa… Udah mau datang malam-malam begini… Kirain gak jadi datang udah jam segini…” katanya lirih tapi dengan senyum manis khasnya. Ia hanya memakai baju kaos yang kebesaran sampai setengah pahanya. Rambutnya diikat ekor kuda agar praktis bila harus dibuka nanti.

“Tapi aman kan, Ipa? Toni masih di jermal?” tanyaku padanya. Jangan pulak lagi enak-enak genjot biniknya, lakiknya pulang mancing. Berabe semuanya nanti.

“Aman, bang… Dia masih mancing… Tadi barusan abis chat juga… Pulangnya nanti siang bareng boat yang bawa barang-barang jermal… Lagian di tengah laut gitu kan gak bisa pulang semaunya… Aman, bang…” katanya mengacungkan dua jempolnya.

“Yuk… Sini, bang…” katanya mengajakku masuk ke kamarnya lagi. Digamitnya tanganku dan memasuki kamar. Sejuk kamar ini menyambutku kembali. WELCOME TO THE JUNGLE kalo kata Guns n Roses.

“Dari mana aja abang? Kok baru jam segini datangnya?” endusnya pada rambutku. Ia duduk di pangkuanku yang mencoba menyamankan diri di atas ranjangnya yang tadi siang sudah kunodai. Tubuhnya rapat hingga aku bisa tau kalau ia tidak pakai bra di balik kaos gombrang itu, mungkin juga tak bercelana dalam.

“Baru bangun tidur… Abiis…” kataku gantung sambil memutar-mutar mataku. Ia terkikik geli karena paham. Ia mencubit dadaku karena gemas. “Biasa, kan… Namanya juga suami istri…” sambungku.

“Iyaa tau… Masih ada baunya… Ipa aja yang udah lama dianggurin Toni bertahun-tahun… Baru juga mulai sama bang Aseng tadi siang… Ipa masih kepengen… Maunya terusss…” katanya merebahkan kepalanya di leherku. Diraba-rabanya dadaku yang tadi dicubitnya. Lalu diciuminya rahangku. Pantatnya bergerak-gerak mencari posisi yang nyaman di pangkuanku karena Aseng junior mulai mengganjal.

“Nanti Toni pulang makanya diajak dulu test drive… Harusnya dia udah bisa tuh… Udah idup burungnya… Jamin pasti idup…” kataku sebenarnya menghindari ciumannya menjalar naik ke mulutku.

“Abang kok bisa gitu-gitu, sih? Kok baru sekarang bantuin Ipa? Kita kan dah lama tetanggaan, kan?” katanya tentang pembasmian genderuwo yang selama ini menyanderanya.

Genderuwo yang gak rela dirinya digauli pria manapun. Sampai kehidupan pernikahan mereka menjadi hambar begini. Toni, suaminya malah lebih betah mancing sampai jauh daripada di rumah bersama istrinya yang cantik dan seksi begini. Yang harusnya dikeloni dan digasak abis-abisan seperti yang sudah kulakukan tadi siang dan nanti.

“Gak usah bahas itu… Intinya perjanjian nomor dua… Jangan membicarakan masalah ini sama orang lain… Ingat?” kataku menghentikan pertanyaannya. Untung aku sudah mengantisipasi pertanyaan ini dengan perjanjian kami. Rencana bagus, kan?

“Paham… Biar nanti kalo Ipa hamil anak bang Aseng… adik Mei-Mei… Toni gak curiga kan? Kirainnya anak dia juga…” ujar Iva merengut manja dengan pipi digembungkan. Dipeluknya perutku erat-erat.

“Yak… Seratus buat Ipa…”

“Seratus dapat apa, bang? Paling kecil itu jajanan gopek…” katanya malah terkekeh geli sendiri.

“Ish… Dasar yang punya kede…” kataku tiba-tiba malah menarik tubuhnya dengan gemes rebah ke ranjang.

Ia menjerit manja. Aku langsung menyingkap kaos gombrangnya dan benar ia tak memakai apa-apa di baliknya hingga aku langsung berhadapan dengan tubuh polosnya yang sangat menggiurkan apalagi memek berbulu lebatnya tepat di depanku. Kutindih Iva dan ia menyambutku dengan tangan terbuka, malah kakinya terbuka lebih lebar.

Yang mula-mula kuterkam adalah kedua bukit manjanya. Takala satu kuremas, yang satunya masuk ke dalam mulutku. Kukenyot-kenyot getol, baik digigit pelan maupun kusedot kuat apalagi disentil lidah. Iva mendesah-desah sambil mengacak-acak rambutku.

Kakinya mengalung di perutku, menekankan memeknya padaku sembari menggeol-geolkannya hingga jembut lebatnya terasa bergesekan. Tanganku yang bebas berusaha melepaskan celana yang kupakai saat ini. Iva berkarya dengan melepaskan pakaianku. Jadilah kami sudah saling berbugil ria di atas ranjang. Hanya berdua di kamar ini.

Iva sangat pengertian dalam mencari kenikmatannya, ia bahkan sudah menyiapkan dildo itu di atas meja lampu di dekat ranjang. Mungkin ia berpikir siapa tau aku akan menggunakannya lagi padanya seperti tadi siang. Belum, Pa… Aku masih mau make alatku sendiri untuk itu.

Aku mengobel-ngobel memeknya sesudah menyibak jembut lebat itu. Kutik-kutik kacang itilnya sampai ia meringis-ringis keenakan. Apalagi saat jariku menerobos masuk ke dalam liang kawinnya, tubuhnya menjengit melengkung menahan nikmat.

Matanya terpejam erat menikmati semua kenikmatan itu. Jariku rajin mengocok memeknya sambil bukit manjanya terus kusedot juga. Serangan di beberapa titik sensitif sekaligus tak terperi bagi Iva dan tak lama ia segera mencapai kenikmatannya.

Aseng junior kuarahkan ke bukaan memeknya yang sudah menganga pasrah karena kakinya kulebarkan tanpa bisa Iva cegah. Kepala Aseng junior masuk dengan lancar membelah rimbun vegetasi jembut lebat itu dan segera terbenam dalam kala kudorong.

Kami berdua mengaduh keenakan. Apalagi Iva baru saja mendapatkan puncak orgasmenya walau hanya dengan jariku. Pelan-pelan kupompa tubuhnya walau Iva mengerang. Makin lama gerakanku bertambah cepat. “Bang… Enaak, baang… Mmm… Isep jughaa, baang… Mmm…” pintanya.

Kuturuti maunya, dan aku menggenjotnya kencang sekaligus menyedot-nyedot bukit manjanya bergantian kanan-kiri. Tak lama aku sudah merasakan bibit-bibitku menggelegak minta keluar menuju alam bebas.

Ini masih terlalu cepat makanya buru-buru kucabut dan mengatur nafas. Aku kebawa nafsu jadinya malah kesusu. Tubuh Iva kugulingkan hingga ia menelungkup tanpa protes sedikitpun. Pantatnya kuangkat agar lebih tinggi, bertumpu di kedua lututnya.

Aseng junior masih cenat-cenut udah mau ngecrot aja daripada-daripada, kusambar dildo di atas meja dan kumasukkan pelan-pelan pengganti sementara.

“Auuh… Baaang… Kok pake itu? Uuh…” ternyata Iva tau taktik kotorku memakai benda lain untuk memuaskannya. Sambil berdiri kukocokkan dildo itu pelan-pelan.

“Bentar aja, Paa… Ini tadi ampir keluar… Bentar ajaa…” alasanku.

Kucabut dildo itu dan kucaplok gantian dengan mulutku. Lidahku menjilat lebar belahan memek merah itu dengan semi kesetanan. Kucucup-cucup kacang itilnya hingga pantat Iva meliuk-liuk seperti pohon kelapa disapu badai.

Kusedot-sedot liang kawinnya sembari meremas-remas buah pantatnya yang kenyal lembut. Hidungku mengais-ngais isi belahan memek itu hingga taraf gemes. Rasa kemaluannya sampai berbekas ke otakku.

“Ooo-ohh… Oohh… Uhmm…” Iva melolong menerima serangan mulutku di tunggingan pantatnya.

Aku tak jemu-jemu memakan memeknya sembari tetap mempersiapkan Aseng junior agar siap tempur lagi. Dan ini saatnya, mulutku digantikan sodokan Aseng junior kembali. “Aahh!!” erangnya merasakan Aseng junior melesak masuk tanpa tedeng aling-aling.

Langsung gas gigi tinggi. Aku juga bertumpu di lututku di gaya doggy ini. Pegangan di kedua sisi pinggulnya, perutku dan pantatnya beradu tepuk. Plak plak plak bersahut-sahutan. Walau suhu dingin kamar ber-AC tetap saja kami merasa panas akibat kegiatan entot-mengentot ini. Birahi sudah semakin di ubun-ubun dan aku tak berniat menahan lagi…

“Croot crooot crooottt!” semprotan spermaku meluncur masuk dan menanamkan benihku kembali di kesempatan kedua ini.

Iva masih menungging dengan bukit manjanya yang bergantungan merasakan bibit anakku memasuki tubuhnya, memenuhi rahimnya. Kusumpal memek lebatnya untuk beberapa saat sampai semua spermaku tak ada yang keluar lagi.

Kurebahkan tubuhnya ke ranjang baru kucabut Aseng junior dari liang kawin becek sperma itu. Tentu saja dengan cara tradisional ini–ganjal bantal yang sudah terbukti ampuh pada istriku dan Aida.

Kami berdua berbaring berdampingan dengan nafas terengah-engah memandangi langit-langit yang berhias plafon berukir. Kepala kami bersentuhan. Tangan Iva nakal mengelus-elus Aseng junior yang beringsut mengecil malah menggeliat bangkit lagi karena sentuhan tangan lembut hangatnya. Berlepotan sperma kental dan cairan pelumasnya tak masalah baginya.

“Masih banyak aja, bang…?” tanyanya pelan.

“Untuk Ipa harus dibanyakin stoknya… biar puas… kalo udah puas… hepi pasti cepat hamilnya…” bualku dan memeluk perutnya kemudian mengelus-elus perut ratanya.

“Amin…” jawabnya cepat. Kami berdua tertawa-tawa. “Bang Aseng kapan mau nambah adeknya Mei-Mei?” tanya Iva tiba-tiba.

“Mmm… Belom tau juga, Pa… Kalo cuma ngasih makan sih… bisa-lah… Tapi maunya orang tua, kan nyekolahin anak setinggi-tingginya… Kalo banyak anak gak banyak rejeki sekarang ini… Kalo jaman dulu iya-lah…” kataku sesuai pembicaraanku dengan orang rumah usai melahirkan Salwa beberapa bulan lalu. Itu masalah yang harus dibicarakan dengan serius.

“Enak ya abang sama kakak itu… Mau buat anak aja pake diskusi dulu… Gampang lagi buatnya… Kek Ipa… gak pernah diajak diskusi sama sekali… Apalagi disentuh… Hu-uh… Iri Ipa, deh…” katanya lalu mencari pembenaran dengan memelukku dan menyusupkan kepalanya ke leherku. Nafasnya terasa panas di kupingku. Tangannya masih mencengkram Aseng junior yang mulai bangun lagi karena dikocoknya.

“Apa lagi dapat anak sendiri… sampe Ipa harus ngangkat Ara jadi anak…” nadanya sedih.

“Hush… Udah-udah… Ini kan kita lagi buat anak buat Ipa… sekalian enak… Jangan gitu ya, Ipa… Harus dengan suka cita… Riang gembira… Jangan pake stress-stressan… OK, Ipa cantik…” hiburku mengelus-elus rambutnya.

Ia makin membenamkan mukanya di leherku. Untung belum ada isakan walau ia sedikit mellow dengan kondisinya akhir-akhir ini.

“Apalagi… Toni sekarang sudah sembuh… Ipa juga gak boleh selingkuh-selingkuh lagi… Ingat janjinya, kan?” kataku menambahkan.

“Kalo sama bang Aseng boleh… Curang ih…” bisiknya tepat di kupingku lalu menjilatnya hingga aku bergidik kegelian.

“Awas ya!” balasku dengan menggelitiki iganya sampai ia menggeliat-geliat kek uget-uget nan seksi karena bugil.

Ia tertawa-tawa kegelian karena aku ngotot terus menggelitikinya di situ. Ia menghindar dan memelukku sampai akhirnya entah bagaimana kami malah berciuman. Berciuman hanya saling mengulum bibir bergantian. Walau hanya sebentar tetapi rasanya sangat indah dan nyaman.

Berikutnya aku sudah mengayunkan pinggangku kembali dengan lembut dibalas dengan gerakan menyambutnya yang menjelang rojokanku hingga terasa sangat harmonis sekali. Kami berciuman pendek-pendek, sekedar patukan ringan dengan pandangan mata sayu.

Terasa sangat syahdu. Tak lama Aseng junior tak kuasa lagi bertahan dan kembali menyemprotkan muatannya. Selama semburan terjadi, kami berciuman sambil bergulingan mengitari ranjang ini.

Seperti sepasang ular yang bergelut saling belit. Berhenti saat tak ada lagi spermaku yang mengucur masuk. Kedutan masih terjadi, Iva menguras semuanya untuk disimpan di dalam rahimnya.

Lama kami terdiam dengan pikiran masing-masing. Tak ada yang perlu disesali karena karena berdua sama-sama menginginkannya. Iva menginginkan keturunan yang lahir dari rahimnya sendiri.

Aku ingin membantunya mewujudkan impiannya itu. Dan kami sama-sama menikmatinya seberapa salahpun cara ini. Iva berbaring di ranjang berbantalkan lenganku, kami memandangi plafon kamar, menembusnya ke batas imaji, melanglang buana.

“Yang tadi… yang terakhir tadi enak, bang Aseng…” kata Iva lirih. “Iva bisa merasakan semua emosi bang Aseng… Itu…” lanjutnya.

“Jangan diteruskan, Pa… Jangan… Nanti semua jadi berubah jadi mimpi buruk… Cukup diingat saja… Cukup dikenang saja… Jangan diteruskan…” potongku.

Aku takut kejadian tadi akan berimplikasi kemana-mana. Melakukan ini semua sudah cukup salah. Aku seperti kehilangan waktu berharga dengan keluargaku. Terutama pada istriku yang bahkan harus curi-curi waktu untuk bisa bermesraan denganku. Padahal seharusnya dialah yang utama. Segala-galanya. Malah di sini aku sekarang. Bersama perempuan lain. Membagi cin.. Tidak. Bukan itu. Aku gak akan mau mengakuinya. Gak akan mau terjerumus di sana.

Iva terdiam masih berbaring berbantalkan lenganku. Hanya ada suara sepi dan hembusan blower AC yang dalam mode swing. Suara jangkrik di luar teredam baik. “Masih bisa sekali lagi… Mau… Yuk?” tawarku sedikit bangkit. Aku berusaha menatap matanya tetapi ia menghindar dengan terpejam.

“Ya…” jawabnya pendek dan hanya melebarkan kakinya agar aku bisa mudah memasukinya.

Jembut lebatnya melindungi memek merahnya dengan kerimbunan vegetasi. Ia inisiatif langsung meletakkan sebuah bantal di pantatnya hingga pinggangnya sudah tinggi dari awal.

Aseng junior yang belum sepenuhnya mengeras maksimal kugesek-gesekkan ke belahan merah rimbun itu untuk mendapatkan bantuan basah, agar mudah penetrasi. Kucucuk-cucukkan ngetes sudah cukupkah ia masuk. Aseng junior masuk membelah walau lemah–terpatah-patah menerobos memek Iva yang becek namun sempit. Ia melenguh pelan.

Kami bersenggama dalam diam. Hanya gerutuan kenikmatan yang terdengar beserta nafas yang berat. Iva cenderung menahan suaranya kali ini. Entah karena percakapan kami sebelumnya penyebabnya atau moodnya berubah. Diamnya perempuan itu seperti dalamnya laut. Apa artinya?

Aseng junior sudah gagah ke ukuran primanya. Dengan berani ia mengobrak-abrik memek Iva sampai ia bisa mendapatkan orgasmenya dua kali di session terakhir ini sampai akhirnya ia ngecrot untuk kesekian kalinya. Mengakhiri rangkaian kegilaanku seharian penuh. Ini kegilaan, kah? Jelas-jelas ini gila.

Dari pagi sampai dini hari ini aku sampai lupa sudah berapa kali ejakulasi. Memaksa Aseng junior sampai batas maksimalnya. Ia sanggup dan terus meradang. Dari Dani, Iva, Aida, istri sendiri, Pipit, dan kembali Iva lagi. Apa memang ini kemampuanku yang tak pernah kuketahui? Jangan-jangan abis ini aku tepar? Jangan sampe. Amit-amit jabang bayi.

Iva menemaniku ke pintu belakang untuk keluar dari rumahnya dengan kembali memakai kaos kebesaran itu. Dipeluknya aku dari belakang sebentar lalu melepasku pergi tanpa kata-kata. Aku meninggalkan pintu gelap itu untuk menjauh dari sana. Tak lama lampunya menyala dan aku sudah menelusuri gang sepi ini. Lampu penerangan di tiang listrik menciptakan bayangan-bayangan abstrak di sekitar pendarnya.

Rumahku sepi dan damai di kejauhan sana sudah terlihat. Bayangan gelap pohon mangga golek yang sedang belajar berbuah menandai posisi rumahku. Tepat 5 tahun ia mulai berbunga walau banyak yang gugur. Kutanam dari biji dan dirawat dengan baik hingga ia mulai berbakti.

Ada banyak tanaman-tanaman lain yang segaja kutanam di sekitar halamanku. Bunga-bungaan, tanaman hias, tanaman herbal dan terutama tanaman pelindung. Apa itu tanaman pelindung? Yang biasa itu adalah sereh. Keuntungan normalnya adalah menjauhkan nyamuk dan tikus karena aromanya yang tajam.

Bisa dipakai untuk bumbu masakan juga. Juga aneka jeruk seperti nipis, kasturi dan purut. Aroma daunnya sangat segar bagi kita tapi menyengat bagi ‘mereka’. Yang paling super adalah duo bidara dan kelor. Kelor kutanam di empat sudut tanahku, tumbuh subur dan berdaun lebat. ‘Mereka’ enggan menyerang…

Kuperiksa lagi pintu dan jendela sudah pada terkunci dengan baik atau belum. Mematikan lampu yang tak perlu untuk menghemat listrik. Lalu duduk di tengah kamar ini. Ini seharusnya kamar anak tetapi kedua anakku masih tidur bersama kami jadinya kamar ini hanya jadi gudang penyimpanan mainan mereka. Berkonsentrasi…

Aku sudah memasuki daerah kekuasaan ke-Menggala-anku. Sebuah daerah yang menurutku cukup merepresentasikan diriku sebagai seorang Menggala yang banyak—bahkan mayoritas memakai dedaunan sebagai senjata.

Ada beberapa pohon besar yang tumbuh subur di sini, di daerah berbentuk taman luas–ada sekitar 5 hektar yang selalu diterangi sinar matahari semu karena selalu dalam keadaan terang benderang. Tak ada matahari atau benda angkasa apapun terlihat di sini karena ini sejatinya adalah dimensi yang sama sekali berbeda dengan realitas.

Kami; aku, Iyon dan Kojek pernah diberitau kalau menilai golongan Menggala itu dari keadaan daerah kekuasaanya. Semakin terang daerah itu, semakin terang juga sifat dan tentu juga kebaikannya. Dan sebaliknya bila semakin gelap, maka semakin gelaplah sifatnya. Semacam itu. Liat kan? Dari beberapa Menggala yang sudah kulawan sebelumnya di kisah ini, rata-rata daerah kekuasaannya gelap gulita karena mereka mempraktekkan kemampuan mereka untuk kejahatan. Santet, teluh dan guna-guna beserta kroco-kroconya.

Eniwei, kembali ke pohon lagi, aku menuju sepasang cemara yang kutambatkan sebuah tempat tidur gantung; hammock buatan dari jalinan akar-akaran dan beralaskan rumput kering. Aku duduk dan berayun pelan memandangi taman ajaib yang semakin hari semakin bertambah koleksi tanamannya.

Perlu diketahui, aku tidak sengaja menanam semua tanaman ini melainkan otomatis tumbuh begitu aku memakainya di luaran sana kala bertarung atau memanfaatkannya. Contohnya tanaman lidah mertua yang kuambil dari taman hotel saat menghajar siluman pohon beringin waktu itu.

Atau juga tanaman Peace Lily untuk mencincang jerangkong yang merasuki Dani di kantor. Juga lili paris yang kupetik dari teras rumah Aida menjadi pisau terbang. Lalu pohon pisang kepok yang kupakai membabat dukun di hutan bambu, semua itu lalu berpindah dan tumbuh di sini. Menjadi koleksi terbaruku. Seolah menjadi pengingat kalau aku pernah menggunakannya saat bertarung.

Jadi aku memandangi tanaman-tanaman itu dan ingat semua pertarungan yang pernah kulakukan memanfaatkan jasa dedaunannya. Dari pertama hingga terakhir, semua tumbuh subur disini. Dedaunan hijau, kekuningan, merah, ungu bercampur dengan meriahnya warna-warni bunga beserta buahnya. Seperti surga.

Yaa… Ada banyak buah di sini. Tapi jangan coba-coba memakannya, sesegar apapun bentuk atau aromanya karena yang kubilang tadi di atas, ini taman ajaib. Tentunya bunga dan buahnya juga ajaib.

Bukan untuk dimakan, bukan pula untuk obat. Bukan juga beracun atau karena enggak enak. Tapi lebih ke efek yang gak menyenangkan untuk beberapa waktu. Pemakannya akan terbuka mata bathinnya dan dapat melihat semua yang tak ingin dilihatnya. Kebayang kan kalau kamu ngeliat bentuk sejati dari mahluk-mahluk tak kasat mata itu. Berani mencoba?

Gemericik air yang mengalir dari mata air melenakan mataku yang sudah rebahan di hammock ini. Walaupun hanya beralaskan rumput dan daun kering, sangat nyaman untuk istirahat menenangkan jiwa.

Sungai kecil ini berbentuk mengitari taman ini membagi nutrisinya bagi vegetasi yang tumbuh subur. Aku pernah berteori sendiri kalau aliran sungai kecil itu adalah representasi aliran lini milikku sendiri. Dan tumbuhan-tumbuhan ini sebagai hasil pencapaianku.

Tepat di samping hammock ini adalah sebuah pohon terbesar dan tertinggi di sini, sebuah tanaman dengan nama latin Garcinia atroviridis atau pohon Asam Glugur. Aku diberitau kalau umurnya seumuran denganku karena ia mulai berkecambah saat aku lahir ke dunia ini.

Di dahan terbesarnya, di sela-sela buahnya yang kuning, bertengger sepasang bakiak Bulan Pencak bercat merah dengan tempelan stiker norak old skool semacam Nirvana dan Bob Marley yang kami beli rame-rame di pelataran stadion Teladan Medan sepulang sekolah. Sekolah kami tak jauh di belakang stadion itu.

Terlelap dan bermimpi tentang hari-hariku saat remaja dulu. Bersama teman-temanku. Melalui segala macam suka duka. Menjelang mimpi dan cita-cita dari anak-anak muda yang labil dan penuh semangat. Kami bersama-sama melakukan banyak hal. Ada hal baik. Ada hal buruk. Nakal dan juga brengsek. Semua membentuk pribadi kami saat ini.

***

Minggu pagi, bangun pagi sarapan dan leyeh-leyeh menikmati hari libur yang berharga dan dirusak oleh suara dering telepon dari HP-ku.

“Haa… Hamik su, ci?” (Haa… Ada apa, kak?) angkatku begitu tau siapa yang nelpon.

“Seng lu orang ingat yang kita mau pergi ke pekong di Pangkalan Brandan itu?” tanya kak Sandra tembak langsung aja.

“Ya ingat… Kenapa rupanya, kak?” tanyaku lagi. Kalau tidak salah sekitar Jumat atau Sabtu ini kami kesana karena mau mengurus sesuatu tentang hoki perusahaan di salah satu pekong di sana.

“Dipercepat… Disuruh si bos… Lu ada acara gak ini hari?” sergahnya kembali tembak langsung.

“Hah? Hari ini, kak? Gak salah?” kagetku. Hari Minggu begini harusnya hanya quality time untuk keluarga.

“Iyah… Kalo sesuai rencana Jumat ato Sabtu takutnya kita sibuk… Abisan harus kita berdua yang pergi ke sana langsung… Yang handle pabrik siapa? Tiwi?” kata kak Sandra lagi ada benarnya. “Ato lu bawa anak bini lu sekalian… Anggap aja jalan-jalan…” sambungnya.

“Tunggu bentar-ya, kak… Kutanya binikku dulu…” jawabku lemes dan nge-hold telponnya dan beralih pada istriku yang melipat keningnya melihat percakapan barusan. “Mah…?”

“Kenapa?” tanyanya dengan muka masam. Padahal kami tadi sedang merencanakan sesuatu untuk pergi jalan-jalan kemana gitu di hari libur begini. Melanjutkan jalan-jalan tadi malam.

Kuceritakan apa yang terjadi beserta situasinya dan juga urusan mendadak yang sangat super dadakan ini. Walau ia berat, tapi ia tidak bisa berbuat banyak karena ia paham posisiku di pekerjaan itu. Sudah menjadi tugas dan tanggung jawabku walau sudah di luar jam kerja.

Buyar sudah rencana yang sudah kami bicarakan tadi dan aku memberitau kak Sandra kalo aku bisa berangkat dengannya untuk urusan mendadak ini. Ia ternyata sudah sangat yakin kalo aku bisa berangkat dan ia langsung jalan untuk menjemputku di rumah. Keluargaku gak ikut, terutama istriku. Aku paham alasannya.

Sekitar 1 jam kemudian mobil kak Sandra sudah terparkir di halaman rumahku.

“Kak… Mobil baru lagi nih? Wah…” kataku mematut-matut mobil mentereng berwarna hitam mengkilat berjuluk Pajero itu. Gagah bener nih mobil.

“Iyaa… baru dibeliin ko Amek buat wa… Biar wa gak merepet (nyinyir) aja kek radio rusak… Sogokan tuh ceritanya…” kata kak Sandra yang baru keluar dari pintu supir dan menenteng tasnya. Kak Sandra seperti biasa hanya berdandan tipis seperti harian di pabrik. Hanya saja kali ini ia memakai rok span mencapai lutut.

Kak Sandra menyapa istriku dan anak-anakku terutama Salwa yang digendongnya sebentar. Kak Sandra bahkan tak segan nyawer kedua anakku dengan dua lembar duit merah masing-masing karena tau kalo waktu berharga mereka bersamaku terganggu karena dirinya juga.

Diciuminya Salwa dengan gemes dan memuji-muji keimutannya setinggi langit. Kak Sandra juga menceritakan apa yang diperintahkan bos pada istriku dan minta-minta maaf karena ini kejadiannya sungguh mendadak.

Singkat cerita, kami sudah ada di jalan menuju tujuan kami ke Pangkalan Brandan. Kota kecil ini ada dekat perbatasan dengan provinsi Aceh. Pangkalan Brandan mempunyai sejarah sebagai lokasi sumur minyak pertama di Indonesia dan kedua di dunia.

Mulai dieksploitasi sejak tahun 1892 dan berlangsung sampai sekarang. Dari Medan kami menuju Binjai terlebih dahulu lalu melanjutkan ke daerah Langkat dan lanjut terus ke Utara. Aku yang nyetir dan kak Sandra berceloteh di sampingku.

“Mangkin cantik wa liat istri lu… Lu sering selingkuh, ya?” tanyanya ngawur.

“Lah.. Apa hubungannya istrinya awak tambah cantik karena awak selingkuh? Tah hapa-hapa kakak ni-la ngomongnya…” jawabku sambil tetap konsentrasi ke jalan. Di depanku ada mamak-mamak naik metik gak pake helm dan gamis berkibar-kibar tinggi sampe BH-nya keliatan di belakang.

“Karna suaminya selingkuhlah mangkanya istri nyoba mempercantik diri… supaya gak kalah sama selingkuhanmu…” teori ngawur darimana di dapatnya itu. Dari apek-apek sama encim-encimnya kali ya?

“Ah… Nyeritain diri sendiri-nya kakak ini… Ko Amek banyakan selingkuh mangkanya kakak rajin perawatan sampe tipis tuh barang…” kataku balik mengolok-olok dirinya. Aku tau semua masalahnya luar dalam. Trus berkendara dengan kecepatan menengah karena memang gak buru-buru. Lagian ini masih pagi.

“Cibay-lu… Sok tau lu tipis barang wa tipis… Tebel barang wa tau lu? Segini…” katanya memperagakan membentuk cembung dengan kelima jari tangannya disatukan mengumpamakan bentuk tebal kemaluannya.

“Makanya Amek tergila-gila ama wa… Tau lu…” ceplas-ceplos kak Sandra. Ini enaknya ngobrol sama perempuan satu ini karena mulutnya ember kalo udah ngomongin masalah kek gini.

“Kulitnya kak tipis… Bukan cepet-nya… Ngeres kali kakak…” kataku. (Di bahasa Hokkian seharusnya cipet, yang artinya vagina. Tetapi di bahasa pasaran Medan sering menjadi ‘cepet’ dan dipakai rata orang kebanyakan. Terkadang menjadi lepet juga). Kak Sandra memukul lenganku kuat-kuat karena tengsin kukelakari sedemikian rupa.

“Ish… KDRT nih kakak… Sakit tau!” aduhku mengelus lenganku yang baru ditonjoknya. Sekuat tenaganya ia memukuli tanganku

“Mampus lu… Lagian lu bukan misua wa aja… Ha ha ha…” lanjutnya malah tertawa-tawa. Malah nambah nyubit lagi. Tambah sakit, cibay!

Pekong yang kami tuju ada di pinggiran kota Pangkalan Brandan. Sebenarnya yang rutin kemari adalah bos besar kami, sang komisaris utama. Karena dia yang paling fanatik terhadap hal-hal seperti ini. Dia rutin datang setahun sekali walau ia tidak lagi tinggal di Indonesia.

Pak Effendi atau lebih sering dipanggil pak Asui sudah jadi warga negara Singapur. Ia punya beberapa usaha lain di sana-sini. Perusahaan ini dipimpin sekenanya oleh adiknya, pak Bustami atau pak Atam karena yang banyak menjalankan roda kepemimpinan adalah kak Sandra ini. Dia cuma ACC aja di keputusan akhir.

Nah pak Asui tahun ini berhalangan hadir untuk meramalkan peruntungan perusahaan kami ini dan mendelegasikannya pada kami berdua yang dianggapnya sudah cukup memadai lagi mewakili. Kak Sandra yang lebih logis sebenarnya tidak terlalu percaya dengan metode seperti ini karena sering tidak terbukti benar.

Malah sering ia yang harus pontang-panting berpikir keras untuk kemajuan perusahaan. Beberapa terobosan dilakukannya agar membuka peluang-peluang baru di manajemen atau juga pemasaran.

Pekong ini untuk beribadah ummat beragama Konghucu, tetapi kami kemari bukan untuk beribadah melainkan menemui salah satu penghuni pekong ini yang terkenal di kalangannya sebagai ahli meramal. Ini kali kedua aku ikut kemari. Pertama kalinya hanya menemani saja dan tak banyak andil. Kali aku disertakan juga atas permintaan kak Sandra pada pak Asui.

Aroma dupa hio memenuhi tempat yang didominasi warna merah dan emas. Ada banyak patung-patung Dewa yang mereka sakralkan di tempat ini dan yang paling utama adalah Dewa Kera Emas. Bagi mereka yang percaya, Dewa ini dapat memberikan keuntungan materil yang melimpah. Karena itu banyak pengusaha yang rajin berdoa dan berderma di sini untuk mengalap berkah.

Kak Sandra mengutarakan niatnya dan juga menyampaikan salam dari pak Asui yang berhalangan hadir kali ini. Ia juga menyampaikan derma yang dibawanya atas nama pak Asui. Aku gak bisa cerita banyak tentang semua prosesinya karena takut menyinggung para Dewa-Dewa yang ada di sini. Kenapa? Karena kalo aku memakai mata bathin, aku melihat banyak sekali ‘mereka’ berkeliaran di sekitar sini. Aku paham apa mereka itu dan paham juga kenapa mereka berada disini.

Seorang medium kerasukan sang Dewa Kera Emas setelah melakukan beberapa komunikasi. Medium inilah yang paling terkenal dan merupakan pendeta utama yang sering melayani berbagai konsultasi. Ia memakai semacam busana keagamaan kebesarannya untuk dirasuki oleh entitas ini.

Untuk menemui sang Dewa Kera Emas inilah kami ada di sini sekarang. Tidak banyak orang yang ada di ruangan yang seakan menjadi sempit karena gerakan liar sang Dewa Kera Emas yang urakan.

Mereka percaya kalau dewa ini adalah Kera Sakti yang terkenal di cerita yang menemani gurunya mencari kitab suci ke Barat. Tau sendiri kan gimana urakan dan lasak (gak bisa diam)-nya seekor kera, lompat sana-lompat sini, garuk-garuk dan bermacam tingkah lainnya.

Seorang pria lain dengan pakaian yang senada dengannya melakukan dialog untuk menyampaikan maksud kedatangan kami. Semua itu dilakukan dalam bahasa Mandarin yang blas aku gak paham sama sekali. Aku hanya membayangkan sedang nonton film kungfu jadul aja jadinya mendengar tanya jawab mereka.

Kak Sandra yang otomatis paling banyak berbicara karena ia bisa bahasa Mandarin dan ia berkomunikasi intens dengan sang Dewa Kera Emas itu. Kebanyakan tentang peruntungan perusahaan setahun ke depan.

Beberapa kali kak Sandra melirikku untuk mencari dukungan moril dan kekuatan psikis karena aku paham ia tertekan di depan entitas yang sedang merasuki medium pria ini. Aku hanya menepuk pelan bahunya, memberinya dukungan; aku menjagamu, kak. Aman. Begitu kira-kira yang kumaksud padanya tanpa kata.

Yang sempat mengagetkan, adalah sekali sang medium menyentuh perut kak Sandra dan ia terlonjak—melompat mundur naik ke sebuah meja yang dipenuhi mangkok hio dan keranjang buah persembahan, sehingga ambyar berantakan.

Beberapa orang mendekati sang dewa dan memeganginya agar tidak terjatuh dari meja. Medium itu memandangi dan menunjukku berkali-kali dalam bahasa yang tak kupaham. Melompat ringan, bergulingan lalu mengutip sebuah jeruk yang luput dari pungutan akibat insiden barusan. Diciumnya sebentar lalu dilemparnya tiba-tiba padaku.

Tap! Aku menangkap jeruk itu dengan sigap. Mata semua orang yang hadir di ruangan ini menatapku takjub sampai mengalihkan perhatian mereka dari sang Dewa Kera Emas yang terkulai lemas di lantai. Kiranya sang entitas sudah keluar dari tubuhnya. Tak merasuki lagi. Pasti tubuhnya lemas setelah prosesi barusan. Tapi karena ia rutin melakukan ini, daya tahan tubuhnya sudah cukup kuat.

Juru dialog meminta jeruk yang sudah dilemparkan tadi dan kuserahkan. Jeruk mandarin berkulit tebal itu lalu dibelah dan ditengah ruas daging buahnya ada lipatan kertas kuning, dilipat sampai kecil seukuran duit logam seratus perak.

Kami menunggu sampai sang medium pulih kembali untuk menyerahkan kertas itu padanya untuk dianalisa. Selama prosesi tadi, kak Sandra terus merekam dengan HP-nya. Ini berguna untuk laporan kepada bos agar ia juga bisa melihatnya nanti. Karena ini menyangkut masa depan investasinya di perusahaan ini.

“Tadi kenapa, kak?” tanyaku pada kak Sandra sambil bisik-bisik. “Dewa-nya marah sama awak, ya? Sampe dilempar gitu?”

“Bukaan… Memang gitu caranya… Kalo dia yakin… dia lempar kek tadi… Ada juga yang dikasih pelan-pelan… Ada yang diletakkan gitu aja di lantai… Macam-macam… Pokoknya kertas di dalam jeruk tadi adalah isi ramalannya… Lu liat kan ada kertas di dalam jeruk tadi… Asli itu gak boong…” bisik kak Sandra juga ke arah kupingku. Jadi kami ngomong pelan-pelan, dari kuping ke kuping.

“Lu dikiranya misua wa… Hi hi hi…”

“Ah… Yang boneng, kak… Kakak berjanda aja…” kataku menanggapinya. Alhasil lenganku dicubitnya lagi sampe aku meringis.

Beberapa saat kami menunggu sampai beliau–sang medium benar-benar pulih, aku yakin kepalanya pusing kek abis tenggen tuak satu pakter dan badannya pegel kek dihajar satu kampung. Tapi ia sudah terbiasa begini dan ia bukan orang biasa juga.

Dan kami berkumpul di belakang pekong, ada halaman luas yang dipakai untuk melatih barongsai atau kegiatan lain. Ada meja dan kursi lipat di sini. Kami disuguhi minuman dan pengganan kecil. Hanya kami bertiga yang duduk di sini, tanpa orang lain sehingga lebih privasi.

Untunglah kali ini, semua ucapannya dituturkan dalam bahasa Indonesia jadi aku ngerti seluruh perkataannya.

“… perusahaan kalian akan dihadapkan pada pilihan sulit… Ada orang penting yang terpaksa harus meninggalkan posisinya karena disebabkan suatu masalah yang juga penting baginya… Tetapi penggantinya juga tidak masalah… Hanya saja karena ia masih baru tentu saja perlu penyesuaian… Ke depannya perusahaan akan lebih bagus-loh… Cuan bagus akan datang sendirinya karena derma-derma yang sudah perusahaan berikan… Apalagi doa banyak orang membantu itu semua… Ini pastinya para karyawan yang hidupnya bergantung pada hoki perusahaan juga…” secara umum beliau memberi arahan tentang prospek perusahaan setahun mendatang setelah membaca kertas kuning yang tadinya ada di dalam jeruk. Cukup baik. Ini pasti yang ingin didengar pak Asui. Lagi-lagi kak Sandra merekamnya.

“Khusus untuk A Fan (Sandra)… Masalah kamu sebenarnya mudah saya liat… Suami kamu ini tentunya bisa memberi keturunan yang A Fan inginkan… Dia sehat… kuat dan sangat subur… Dia bisa menyembuhkanmu… Saya liat dia bisa menyembuhkanmu… Benar, kan begitu?” tanya sang medium tiba-tiba padaku.

“Sori, koh… Awak bukan suaminya… Saya cuma nemanin aja ke pekong ini…” kataku cengengesan sambil garuk-garuk belakang kepala.

“Iya, koh… Suami saya Amek yang bulan kemarin kemari itu-loh…” kata kak Sandra menimpali juga cengengesan malu karena dikira membawa suami baru.

“Ooh… Masih yang itu suami kamu… Saya kira dah ganti… Makanya saya heran kamu bawa laki-laki ini… He he he…” katanya dengan sedikit bercanda.

Banyak keknya pasien beliau ini sampe dia tidak hapal detil tertentu dari pasiennya.

“Minta dia untuk menghamilimu… Dia bisa… Kalo gak mau paksa… Wa jamin… Lu gak usah datang mari lagi kalo wa boong…” katanya tiba-tiba. Matanya terpejam, beda dari beberapa saat sebelumnya.

Sontak kami berdua kaget mendengarnya. Kenapa tiba-tiba suaranya berubah menjadi suara Dewa Kera Emas lagi dan melontarkan kata-kata mengejutkan itu. Dan dalam bahasa Indonesia pulak laginya.

Kami berdua pandang-pandangan gak ngerti. Ia tiba-tiba dirasuki dewa itu lagi tanpa ada komunikasi sebelumnya. Dewa Kera Emas membajak kesadarannya hanya sebentar saja dan beliau kembali ke dirinya semula. Dan ia tak sadar itu.

“Coba saya hitung keberuntungan kamu, Fan… Mm…” katanya malah sibuk membuka-buka buku catatannya yang lumayan tebal.

Ia lumayan sistemik tentang pasiennya, dicatat data-datanya yang bisa diperiksa sewaktu-waktu.

“Kamu shio Kerbau air yang menurut hitungan saya sangat cocok dengan shio Ular api… Suami kamu, Amek bukan shio Ular, kan? Dia shio Anjing besi…”

“Dia ini shio Ular, koh…” potong kak Sandra menunjukku. Beliau menatap kak Sandra sebentar lalu beralih padaku. Lalu matanya terpejam lagi.

“Benar, kan?… Dia shio Ular api yang cocok pas denganmu… Paksa dia untuk menghamili lu kalo nolak… Selamat berjuang…”

Kembali kami berpandangan heran akan situasi membingungkan ini. Beliau, sang medium kembali membuka mata dan sadar. Tapi tak tau kalau entitas tadi kembali membajak tubuhnya dan menjejali kami dengan informasi gila tadi.

Dewa Kera Emas mengambil alih tubuhnya hanya sekonyong-konyong saja dan langsung pergi seperti ada dua kepribadian di dalam dirinya yang bisa muncul sewaktu-waktu.

“… kamu yang Shio Kerbau air akan menenggelamkan Anjing besi yang tak pandai berenang ini… Saya gak nyarankan hal yang tak pantas… tapi sementara ini dalam hal bisnis atau keturunan… dia partner yang tepat untukmu…” tutur beliau hati-hati.

Menjaga kata-katanya agar tidak disalah artikan. Ia lalu menuturkan beberapa nasehat lainnya sesuai dengan keilmuannya. Seperti tentang kesehatan dan juga hubungan dengan orang tua.

***

“Apa pendapat lu?” tanya kak Sandra serius.

Kami sedang di sebuah restoran kecil di tengah kota Pangkalan Brandan. Ia biasa kemari sepulang konsultasi dari pekong tadi. Restoran ini sepi dan kami memilih meja jauh terpencil di sudut sana agar tak terganggu apapun.

“Payah cakap awak… Gak ngerti aku, kak…” jawabku bingung.

Kami sedang membicarakan apa yang disampaikan Dewa Kera Emas tentang kondisinya. Aku tak berani menatap wajahnya. Aku selalu menganggapnya seperti kakakku sendiri dalam bergaul, apalagi dia seumuran dan memang teman kakakku; kak Dedek.

Seorang pemimpin yang kusegani dalam organisasi perusahaan kami. Dia yang mengangkat derajatku hingga aku jadi sedemikian ini dalam karier. Aku dulu hanyalah seorang kenek tukang cuci AC selepas tamat SMA.

Sepupuku yang punya usaha servis dan cuci AC, memperkerjakanku. Kak Sandra mengenaliku saat aku sedang bekerja membersihkan AC di pabrik ini, sebagai adik temannya. Dia duluan yang mengenaliku, aku tidak.

Diajaknya aku bekerja di pabrik ini mulai dari nol. Disuruhnya aku les komputer sampai mahir karena dia akan menaikkan jabatanku yang awalnya hanya bagian lapangan ke office. Meningkat terus seiring waktu sampai sekarang.

“Lu mau dengar rencana-rencana hidup wa, gak?” katanya setelah menyeruput es teh manis miliknya. Aku beralih menatapnya sebentar tetapi sedikit menunduk.

“Wa gak selamanya mau terus di pabrik itu walau sudah setinggi ini jabatan wa… Wa yakin entar-entar lagi juga koh Asui bakalan nendang tuh adiknya koh Atam yang gak becus jadi direktur… trus wa yang gantiin dia… Tinggal nunggu waktu aja itu… Tapi tetap bakal wa tinggalin ini semua… Wa tinggalin ini semua kalau wa udah punya anak… Anak yang gak pernah diberikan Amek sama wa… Lu tau cerita seterusnya…” tutur kak Sandra serius seperti biasa kala kami sedang bekerja. Tapi kami sedang tidak bekerja dan itu terdengar sangat menegangkan.

“Kenapa batasnya sampai kalau sudah punya anak?… Anggap aja lu nanya gitu… Karena wa merasa belum jadi orang yang sempurna… Manusia yang sempurna… Perempuan yang sempurna… Lu tau wa gimana… Wa dah pernah cerita… Wa dari esde, esempe, esema… wa selalu rangking satu… Kuliah IP wa 3 koma 98… Wa lulus cum laude… Wa kerja sampe jadi Factory Manager sekarang… Wa gak sempurna apa lagi kata orang idup wa… Kata wa… ‘wa gak sempurna’… Wa belum bisa hamil dan melahirkan… Karena itu wa belum sempurna…” katanya dengan sistematis, step by step, lugas.

“Tapi kenapa harus resign kalo dah punya anak?” tanyaku mulai tertarik dengan jalan pikirannya. Gak semua perempuan bisa berpikir seperti ini.

“Wa jabanin apa maunya si Amek… Mau dia punya gundik sampe berapa juga wa ikutin maunya… Tapi satu… Biayain wa dan anak wa… Wa mau didik anak wa jadi orang yang sukses seperti apa yang wa capai sekarang… Itu baru orang yang sempurna… Dalam kasus wa… perempuan yang sempurna… Gak usah banyak cingcong deh… Perempuan itu kodratnya di rumah ngasuh anak sama ngurus laki… wa paham itu… Trus kalau wa gak punya anak ama laki wa ntah dimana mending wa kerja, kan?” rentetan kata-katanya terdengar menggebu-gebu khas kak Sandra.

“Iya, sih…” komentarku pendek saja. Ada benarnya pendapatnya barusan.

“Jadi… lu hamilin wa… Wa kasih sama lu tuh Pajero… Trus nanti wa resign… wa rekomendasi’in lu buat gantiin wa sama koh Asui…” katanya mantap menatapku tajam. Serius. Petir meledak di dalam kepalaku.

***

“Kakak berjanda lagi-ah…” elakku mencoba menggodanya lagi.

“Wa gak bercanda… Wa serius, Seng… Lu liat muka wa ini bercanda apa enggak… Lu hamilin wa dan wa kasih semua tadi itu…” katanya menunjuk mobil Pajero yang terlihat parkir di halaman restoran sebagai bagian dari kesungguhannya. Mukanya memang serius abis. Aku hapal air mukanya. Aku bisa membedakan saat ia pura-pura serius dan serius beneran selama bertahun bergaul dengannya.

“Wa gak masalah dihamili sama lu orang… karena sebelumnya wa udah pernah nyoba sama laki-laki lain dan gak berhasil…” sambungnya.

“Masak kakak percaya sama dewa monyet tadi itu? Biasanya kakak gak percaya yang begitu-begituan…” kataku berusaha menyanggahnya. Membelokkan kesablengan rasa yakinnya ini.

“Wa gak punya jalan lain… Wa udah coba berbagai macam cara demi tujuan wa ini… Gak ada yang berhasil… Jadi wa pikir ini salah satu cara… Kalo ini juga gak berhasil… wa tetap akan mencari jalan yang lainnya… Entah apa nantinya…” katanya lalu duduk bersandar. Seorang pelayan membawakan makanan pesanan kami. Makanan itu jadinya tak membangkitkan selera di hadapan masalah seperti ini.

Aku menghamili kak Sandra seperti aku sudah menghamili Aida? Ah. Aku bahkan gak pernah berpikir ke arah sana. Saat menggauli Aida, Yuli, Pipit, Iva dan bahkan Dani, gak pernah terlintas sekalipun melakukan hal yang sama pada kak Sandra.

Karena ya itu… Dia ini kakakku. Dia idolaku. Penyelamatku. Karena bantuannya aku bisa bermimpi untuk menikahi istriku sekarang. Memiliki rumah dengan anak-anak yang ganteng dan cantik di dalamnya. Tak pernah terbersit sedikitpun melakukan hal yang tak pantas dengannya—ini malah menghamilinya.

“Kok diam aja lu… Jawab, dong?” desaknya.

“Awak bingung, kak… Kakak ini… sudah kuanggap kek kakakku sendiri… Kek kak Dedek sama awak… Masak jadi gini?” jelas aku bingung setengah mampus.

“Ah… Ga usah pake alasan itu, Seng… Wa ini masih perempuan normal kan, Seng? Lu gak tertarik liat bodi wa ini? Wa liat lu sering meratiin wa kalo pake baju yang agak kebuka gitu… Lu orang ga usah boong deh…” katanya membuka rahasia.

“Ato… lu gak mau karena wa chinese ya? Sering makan babi gitu… Anak lu nantinya jadi makan yang haram-haram gitu?” katanya malah ngelantur. Eh tapi iya juga.

“Kakak ntah hapa-hapa jadi ngomongnya… Awak itu bingung kenapa kakak sampe mau punya anak dari awak… Itu aja-nya… Ga osah percaya kali sama yang tadi-tadi itu… Gak ada itu semua… Bongak (bual) aja yang besar semua tadi itu…” aku malah jadi kesal berada di kondisi terjepit beberapa dimensi seperti ini. Di satu sisi aku ingin membalas budi padanya.

Di sisi lain dia adalah sosok kakak yang kukagumi. Lain sisi dia juga perlu bantuan kemampuanku. Sisi sebelah sana aku mulai membayangkan tubuh telanjangnya.

“Lu dengar sendiri tadi Dewa Kera Emas tadi bilang kalo lu bisa menghamili wa… Pendeta itu juga bilang hal yang sama… Bagi wa ini pertanda baik-loh… Wa jarang yakin sampe segininya hanya karena ada dua pendapat yang sama… Tapi keduanya yakin kalau elu bisa ngehamilin wa…” kata kak Sandra keukeuh dengan kemauannya.

Aku masih terdiam. Tentu berat mengabulkan keinginannya ini. Akan jadi seperti apa hubungan kami ke depannya jika aku—menghamilinya?

“Lu boleh gak percaya sama omongan dua orang tadi itu… Tapi lu harus percaya sama omongan wa… Orang yang lu anggap sebagai kakak… Wa mau lu ngehamilin wa…”

Kembali diam. Bungkam. Bahkan aku diam kala ia sudah memasukkanku ke dalam sebuah kamar di hotel kecil yang asri yang ada di pinggiran kota Pangkalan Brandan ini. Ia masuk ke dalam kamar mandi, katanya mau bersih-bersih dulu. Aku duduk terpekur di atas ranjang memandangi ujung sepatuku.

Di dalam kamar mandi sana terdengar cipratan-cipratan air dari kak Sandra yang pastinya sedang membersihkan apa yang perlu dibersihkan. Menyabuni apa yang perlu disabuni. Menyegarkan apa yang perlu disegarkan.

Untuk kunikmati…

Tentu aja jantungku berdegub kencang. Bergemuruh sampai terasa sakit. Jangan-jangan jantungku terganggu karena terus merasa tegang begini. Kepalaku juga sakit karena terlalu berpikir keras bagaimana cara menolaknya. Pada Aida, Yuli, Pipit, Iva dan Dani, aku memang tidak berusaha menolak mereka, menikmati malah. Tapi kasus ini berbeda. Ini kak Sandra-loh.

Saat suara pintu kamar mandi terbuka, aku melepaskan nafas yang dari tadi kutahan. Aku gak berani menoleh ke arahnya yang berjalan ke arahku. Kamar hotel ini kecil. Ada taman luas di luar sana. Ditanami berbagai tanaman-tanaman berbunga. Hotel jenis begini kebanyakan digunakan untuk mesum short-time.

Lepas hasrat dan tinggal pergi. Hmm… Kak Sandra sudah dekat. Kakinya sudah terlihat di dekat kakiku. Betisnya terlihat segar karena sudah diguyur air barusan. Seluruh tubuhnya pasti juga segar.

“Seng… Siap gak siap… Here I come!” katanya tiba-tiba memberi peringatan awal dan langsung menyerang.

“Ump…” bibirku yang pertama kali dicokoknya.

Ia mengangkangi kakiku, duduk di pangkuanku yang masih berpakaian lengkap, memegangi pipiku dan berusaha bringas menciumi bibirku. Dikulum-kulumnya bibir atas-bawahku bergantian. Lidahnya mencoba menerobos masuk dan aku tak berani menatapnya. Mataku terpejam. Basah lidahnya terasa menikmati mulutku.

Nafasnya terasa panas. Radiasinya membuatku juga panas. Kak Sandra memelukku erat hingga terasa payudara besarnya menekan dadaku. Ia sudah tidak berpakaian sama sekali menilik rasa yang menempel di seluruh tubuhku.

Ia berusaha menindih tubuhku hingga kami berhimpitan di atas ranjang hotel ini. Kak Sandra terus menyerang bibirku dan tangannya menggerayangi badanku, berusaha melepaskan baju kaos polo yang kukenakan. Nafas kak Sandra semakin panas oleh gairahnya. Tapi itu semua tak kurasakan. Aku terus memejamkan mata.

“Hiks…” kak Sandra berhenti.

Menghentikan semua serangannya dan diam menduduki perutku. Bajuku sudah terangkat sampai ke dada. Kak Sandra terisak.

“Kenapa wa jadinya kek sedang memperkosa lu, Seng? Lu ga rela? Hiks…”

Aku diam tak mau membuka mataku yang artinya akan melihat tubuh telanjangnya.

“Lu gak mau bantuin wa, ya?” ia masih terisak.

Terasa tubuhnya berguncang karena isakan tangisnya. Kak Sandra menangis? Perempuan tangguh itu menangis. Menangis karena aku tak mau meladeni maunya?

“Malang kali nasib wa, ya? Wa udah memaksakan diri merendahkan diri begini… Buka kamar di hotel begini… Buka baju semua… Lu-nya gak mau… Hiks… Tega kali lu, Seng…” katanya tambah menyedihkan isakannya. “Pathetic…” bisiknya di dalam isakannya.

Kak Sandra memeluk kedua payudaranya dengan satu tangan sedang satu tangan lainnya sedang mengelap air matanya, memandang ke samping—aku memberanikan diri mengintip, hanya dengan membuka mataku sedikit aja.

Terlihat dari sela-sela bulu mataku yang juga basah. Mataku juga lembab. Bahunya berguncang-guncang karena tangis tanpa vokal. Ya dia merendahkan dirinya demi mendapatkan tujuan ini. Merendahkan dirinya di hadapanku.

“Apa wa harus memohon dan mengemis sama lu, Seng? Kalo itu yang lu minta… wa akan memohon… wa akan mengemis sama lu… Wa ikutin semua perintah lu… Apa itu yang lu mau?” tangisannya makin kuat. Pipinya basah oleh air mata. Matanya merah dan banjir air mata. Aku masih diam.

“Baik… Wa akan ngemis sama lu, Seng…” ia beranjak dan turun dari posisi duduk di perutku.

Ia menuruni ranjang dan bersimpuh di lantai menghadapku yang masih berbaring di atas kasur hotel. Bimbang. Ia semakin merendahkan dirinya sampai pada taraf ini. Sampai mengemis? Aku tidak boleh membiarkan ia melakukan hal ini. Ia wanita yang terhormat di mataku. Setara dengan ibuku, para guru panutanku, wanita-wanita terhormat di seluruh dunia… Para pahlawan.

“Aseng aku meminta padamu dengan rendah hati…” ia mulai permohonannya.

“Kak Sandra… Jangan, kak!” aku cepat-cepat turun dan mencekal tangannya.

Mencegahnya untuk bersimpuh begitu di lantai yang kotor. Tempatnya bukan di sana. Ia wanita yang terhormat. Perempuan terhormat. Tidak sepantasnya melakukan hal yang rendah seperti ini hanya untuk mendapatkan perhatianku.

“Wa mau mengemis sama lu, Seng… Supaya lu mau mengabulkan permohonan wa ini… Kabulkanlah… Wa mohon sekali lagi… Ini yang lu mau, kan? Lu mau wa ngemis-ngemis kek gini, kan? Wa rela melakukan ini asal lu mau ngamilin wa…” ujarnya dengan suara parau karena tangisan penuh harapan. Aku mencekal tangannya berusaha membuatnya bangkit lagi dan tidak bersimpuh, menjura mengemis. Aku gak memperhatikan tubuhnya.

“Iya, kak… Iya, kaak! Awak mau… Awak mau, kak… Jangan begini, kak… Kakak gak boleh begini, kak… Maafin awak, kak.. Maafin…” kataku memeluk tubuhnya, mengelus-elus rambutnya. Ia masih menangis dan aku menenangkannya. Ia sampai tersedu-sedu. Kami berdua duduk deprok di lantai.

***

“Gede juga punya lu…” pujinya saat kami duduk berdampingan di ranjang ini. Meneruskan rencana kak Sandra untuk bisa hamil dariku. Aku sudah membuka bajuku dan Aseng junior sudah menegang karena dirancapnya pelan-pelan. Celana panjangku bertumpuk di pergelangan kaki.

Aku curi-curi pandang pada payudara yang menggantung besar indah di dadanya. Putingnya besar berwarna terang tetapi dengan aerola besar gelap. Kulit putih mulus panloknya sangat benderang di kamar ini plus tubuh lumayan berisinya. Binor ini lebih berumur dari padaku, seumuran Yuli.

“Punya kakak juga gede, tuh…” kataku menunjuk dengan gerakan dagu.

“Eleh… Tadi sok nolak… Ngaceng juga lu liat toket wa…” katanya tidak terisak lagi. Walau matanya masih sembab.

“Tadi kan awak merem, kak? Takut tadi ceritanya anak mudanya… Diperkosa cici-cici pajak (pasar) Petisah… Awak, kan masih ijo, kak?” candaku agar ia kembali ke mood awalnya. Tidak sedih lagi karena sempat kutolak. “Aduuh… Sakit, kak… Jangan keras-keras…” diremasnya Aseng junior dengan kuat sampai aku menjerit tadi.

“Lu sih sok jaim… Timbang disuruh bantuin mbuntingin kakaknya aja belagak gak mau… Lu kan ngerasain enak juga… Macam wa gak tau aja tingkah lu di kantor sama Dani…” tembak kak Sandra. JLEGERR!!

“Heh?” ketat langsung mukaku saat ini. Dani?

“Iya… Gak usah pake kaget gitu… Wa tau… lu masuk ruang Meeting ato gudang kira-kira 2 menit abis Dani masuk… Lu bedua keluar lagi kek gitu–ganti-gantian 1 jam kemudian… Ngapain lagi kalo gak gituan…” kata kak Sandra santuy terus merancap Aseng junior-ku pelan-pelan.

“Dari CCTV, ya?” bisikku mati kutu.

Aku gak berani lagi melirik toketnya yang bergerak-gerak sesuai gerakan tangannya di Aseng junior. Ambyar ini semua. Ternyata aku dipergoki masuk ke sana oleh kak Sandra. Hanya CCTV tebakanku karena di ruangan kak Sandra sebagai Factory Manager ada monitor CCTV itu untuk memantau keseluruhan unit pabrik. Di office juga ada beberapa walau tak seketat lapangan. Itupun jarang dipantau karena jarang ada kejadian luar biasa.

“Ya… Mloohh… Enak burung-lu… Gedenya pas…” tanpa bisa kucegah lagi, kak Sandra sudah menyaplok Aseng junior dan mulai mengemutnya.

Aku memundurkan tubuhku agar ia mudah mengeksplor Aseng junior. Lidahnya menari-nari gesit berputar-putar di kepala Aseng junior sampai kuyup.

“Lu gak usah takut… Rahasia lu aman deh sama wa… Tadi wa kan gak pake itu buat ngancam lu…” katanya fair.

Benar juga. Ia malah memilih merendahkan dirinya dengan memohon–bahkan mengemis agar ini bisa terjadi. Padahal ia bisa menggunakan skandalku dengan Dani untuk mendapatkan ini dengan mudah. Ala-ala kriminal gitu, tapi tidak dilakukannya.

“Makasih, kak…” jawabku mulai menikmati rasa enak di Aseng junior-ku yang terasa nyaman.

“Wa juga senasib sama Dani, kan? Sama-sama belum punya anak…” katanya berhenti sebentar menggelomoh Aseng junior lalu melahapnya lagi.

Ditelannya seluruh batang Aseng junior semampunya–menahan nafas untuk beberapa detik lalu lepas. Lidahnya kemudian mengait batangku, menelusurinya naik turun. Aseng junior sudah kemerahan penuh dengan birahi.

“Siapa tau kami berdua bisa berhasil hamil dari lu…”

“Kaakk… Enak, kak… Gitu, kak… Uhh… Mmm…” desahku tak lagi khawatir tentang masalah Dani karena kak Sandra juga sedang melakukan hal yang sama dengan kepala PPIC berhijab itu.

Kepalanya naik turun cepat merancap Aseng junior dengan kekepan mulutnya ditambah kocokan tangan di bagian pangkal. Ko Amek pasti sering mendapat servis ini dan gak puas? Paok kao ko Amek.

Selagi menjilat-jilat bagian bawah batang Aseng junior, tangannya mengutik-utik kantong pelerku. Juga terusan saluran yang menuju anus. Rasanya nyaman sekali. Aku sampai mengangkat kakiku lebar agar kak Sandra bisa mengakses semuanya. Dijilat-jilatnya kemudian peler keriputku tanpa rasa jijik sedikitpun.

Malah sangat menikmatinya sambil terus merancap batang Aseng junior. Dikulumnya pelan-pelan penuh penjiwaan dan kehati-hatian penuh agar tidak terasa ngilu saat bola peler itu dipermainkannya. Ia melakukannya sepenuh jiwa.

Sudah kepalang basah begini, aku juga tidak mau tanggung-tanggung. Apalagi kami berdua sudah saling berbugil ria. Dua orang dewasa yang sama-sama sudah setuju dan punya keinginan yang sama walau berbeda motif.

Kak Sandra bermotifkan keturunan, aku… bermotifkan kenikmatan. Yaa… Cuma itu yang kudapat. Eh. Ada bantuan. Dengan ini aku bisa membantu kak Sandra, orang yang sudah membantuku selama ini, mendapatkan keturunan yang sangat dinantinya.

Aku harus menyentuhnya. Dengan sedikit membungkuk, aku menjangkau satu toketnya yang bergantung. Terasa lembut dan kenyal. Tak lama karena aku memasuki satu dimensi asing. Aku sudah antisipasi ini.

Pastinya ada gangguan yang menyebabkan kak Sandra menjadi seperti ini. Segala macam daya upaya sudah dilakukannya agar dapat hamil dan itu semuanya selalu memakai yang terbaik. Disini masalah itu. Masalah dengan dua kaki dan dua tangan dan satu ekor panjang.

Begini ternyata bentuk aslimu. Tipuanmu tak mempan padaku. Ia berdiri di salah satu puncak bukit batu padas yang berjejer acak, menjulang menunjuk langit. Ia memegang dua buah gada di kedua tangannya.

Gada besar bergerigi, pasti akan sakit sekali terkena hantaman senjata tempur andalannya. Berbeda dari pakem yang seharusnya tongkat emas yang bisa memanjang, menampakkan siapa kau sebenarnya, Dewa Kera Emas.

Menyaru dan meniru Sun Go Kong yang memakai simpai emas, siluman monyet ini terkikik-kikik mengejekku. Ia pamer kekuatan dengan berlompatan satu bukit ke bukit padas lainnya. Arena ini ternyata berbentuk lingkaran dan ia memutariku dari atas bukit itu. Aku mengancingkan kembali celana panjangku. Bakiak Bulan Pencak andalanku sudah kupakai di kedua kakiku. Siap sedia begitu ia, sang lawan mulai menyerang.

“Dewa?… Berani kali kau pakek nama Dewa di namamu… Yakin kau kekuatanmu setara Dewa? Kau hanya menipu orang-orang saja-nya…” kataku membuka dialog dengannya.

“Bagus kau maen gitar aja kek Dewa Bujana itu… Pas dia jadi Dewa gitar kurasa…” kataku asal jeplak aja. Monyet itu masih pecicilan lompat sana-sini sambil garuk-garuk. Banyak kali kutunya kurasa.

“Dan kau juga gak cocok pake nama Kera… Salah itu etimologinya… Kau itu monyet bukan kera… Kera itu gak ada ekornya… Ekormu itu panjang gitu…” kataku mengikuti kemana bergerak. kearah sana aku menghadap.

“Dewa Monyet Emas… Gak-gak… Dewa Monyet aja… karena senjatamu itu bukan emas… Simpai-mu juga tiruan…” kataku mencoba menarik perhatiannya. Ia terus memprovokasiku seperti yang juga kulakukan padanya ini.

“Kamu kira aku akan terpengaruh sama ucapanmu itu? Dasar tidak tahu berterima kasih!” sahutnya.

Diluar dugaan. Monyet ini berbicara dengan nada sopan dan teratur. Seperti seorang yang terpelajar dan tau sopan santun. Mungkin-mungkin dia ngerti table manner. Ia telah turun dan berdiri tegak seperti manusia walau kakinya sedikit pendek dan bengkok huruf O.

“Wah… Ada yaa… monyet kek kau ini… Menguasai satu pekong gitu dan mengambil keuntungan begini… Tunggu aku tidak tau apa… keuntungan apa yang kau dapat dari membuat kakakku ini tidak bisa hamil?… Lalu menyuruhnya memaksaku menghamilinya… Itu sangat kontradiktif sekali… Tunggu kenapa aku malah ngobrol intelek gini sama monyet, ya?” aku garuk-garuk kepala sendiri.

“Itu kenapa kau seharusnya memanggilku dengan sebutan Dewa… Karena aku memang Dewa… Aku dapat mengabulkan banyak permintaan orang-orang yang percaya padaku… Mereka dapat harta yang berlimpah… Jabatan yang tinggi… Posisi basah… Proyek yang besar… Apa saja… mintalah padaku… Akan kukabulkan semuanya… Dengan harga yang pas tentunya…” bongkarnya sendiri akan metodenya. Tumbal.

“Kau mengambil anak-anak orang yang datang meminta padamu…” simpulku. Rahangku mengetat.

“Tidak dengan terang-terangan tentunya… Aku hanya minta derma saja… Lagipula aku ini Dewa, kan? Dewa tidak perlu makan daging manusia… Cukup derma yang menolong sesama… Samarkan dengan sakit… kecelakaan… pembunuhan… Dan aku tak tersentuh… Tidak ada yang mengira aku pelakunya… Siapa yang mengira Dewa tega melakukan itu semua? Tidak ada… Cerdas bukan?” katanya sambil mengetuk-ngetukkan kedua gada itu ke tanah berbatu. Ekor panjangnya berkibas-kibas santai berjuntaian.

“Kapan kau mengambil anak kak Sandra? Dia belum pernah hamil…” tentu saja aku penasaran.

“Ah ha ha ha… Kalau perempuan ini… aku bukan yang pertama… Dia bukan seorang klien yang percaya padaku… Pertama kali dia datang bukan sebagai klien… Hanya menemani pria tua itu… Bos kalian, kan? Aku sudah mengambil dua anaknya… Yang satu tewas karena bermain olahraga gak lazim di luar negeri, Inggris sana… Polo namanya… Orang kaya raya seperti mereka mainannya pasti harus berbeda dari orang kebanyakan seperti kau… Kepalanya diinjak seekor kuda saat terjatuh… Sangat disayangkan… Padahal potensinya sangat besar… Lalu yang kedua tewas karena diperkosa temannya beramai-ramai saat liburan… Ada dua lagi anaknya yang kuincar… Aku menunggu waktu yang tepat…” ia membeberkan semua rahasianya.

Aku ingat semua tragedi itu. Pak Asui sangat berduka saat anak pertamanya yang kuliah di negeri Ratu Elizabeth itu pulang tanpa nyawa karena kecelakaan olahraga itu. Tragedi kedua, aku tidak tau persis. Ternyata karena diperkosa rupanya. Dan dua lagi sedang diincar. Rahangku semakin ketat.

“… Sandra ini muncul di hadapanku sudah dengan masalah sendiri… Ada siluman lain yang sudah mendahuluiku… Siluman laba-laba merah… Ia diikuti sejak masih muda… Kehidupan masa mudanya sudah liar walau berprestasi… Gonta-ganti pasangan sudah bukan hal baru baginya… Siluman laba-laba merah itu memakan semua bibit laki-laki yang memasukinya… membuatnya mandul sejak dulu… Dia-lah sebenarnya yang membuat perempuan ini mandul bukan aku… Laba-laba itu penyuka energi pria dalam bentuk murni… sperma… Ia selalu mempengaruhi perempuan ini untuk bersenggama tanpa pengaman…”

“Lalu kemudian Sandra datang di hadapanku… Kumusnahkan siluman laba-laba merah itu karena berani bertingkah di hadapan Dewa…” ia melemparkan seonggok bangkai mahluk yang membusuk di hadapanku.

Berkaki banyak bak laba-laba yang berbulu lebat berwarna merah sedikit aksen hitam dan gelang-gelang putih . Ini untuk meyakinkanku kalau ia memang kuat bisa mengalahkan siluman perkasa yang dianggapnya biasa aja. Inferior dibanding kekuatannya.

“Dan kau berani datang di depanku… di depan Dewa yang perkasa… Mempertanyakan kekuatanku? Haah! Terlalu cepat 500 tahun bagimu… seorang Menggala abal-abal sepertimu untuk tidak tunduk di hadapanku… Bangkit!” serunya tiba-tiba memukul sebelah gadanya ke tanah.

Rengkahan tanah menjalar ke arah bangkai siluman laba-laba merah itu. Bergetar bangkai itu sebentar lalu kaki-kakinya yang berjumlah 8 bergerak skeletal, meluruskan posisi sendi pada posisi normalnya semula dan berdiri.

Badan laba-laba berkaki banyak dan perut besarnya dengan penanda tengkorak, ternyata ada tubuh humanoid-nya yang bergerak ke posisinya. Bertubuh perempuan yang sudah membusuk yang sangat menyeramkan. Dulunya mungkin agak sedikit menarik melihat payudara besarnya gondal gandul tak berpenutup beserta kulit pucat segarnya. Sekarang ungu menyedihkan dengan banyak bekas luka menganga.

“Sebelum mati… aku sempat bersenang-senang dengannya… Tapi aku bosan… Liat hasilnya…” ujarnya sombong.

“Bersenang-senanglah dengannya juga…” ia menggerakkan gada itu dan bangkai siluman laba-laba merah itu bergerak maju menyerangku bak zombie lapar.

Whoa! Siluman monyet satu ini tidak main-main rupanya. Tangannya yang berkuku tajam menggapai-gapai hendak mencakarku. Untung saja ini zombie—siluman mati yang digerakkan satu kekuatan ghaib dari siluman monyet itu, gerakannya jadi tersendat karena ternyata ada dua kaki laba-labanya yang rusak parah. Patah dan menjuntai rusak.

“Segininya kau memperlakukan sesama siluman… Kau memang tak perlu dikasihani…” aku kembali memakai fitur Call a Friend kali ini. Aku memanggil Guntur Setiono bin Ahmad Guntur bin Tjokro Guntur bin Krama Guntur. Secara ghaib pula muncul teman yang kupanggil ini.

“Eh? Seng? Ah… Kau?… Aku lagi makan, nih…” katanya dengan posisi seperti menungging karena tadinya sedang duduk di suatu tempat, sedang makan siang entah dimana. Tangannya juga seperti sedang memegang sendok hendak menyuapkan makanan ke mulutnya.

“Yon… Sori, Yon… Sedang perlu bantuan nih… He he he… Sori ya kawanku yang paliiiiing baek sedunia akherat…” kataku merayu agar dia tidak marah-marah.

Dalam kelompok kecil kami–Trio Ribak Sude, Guntur Setiono ini menjadi pemimpin tak resminya. Bukan karena paling kuat atau paling jago berkelahi atau juga paling tua diantara kami bertiga, karena ia sering menjadi motor penggerak atau pemberi ide kemana kami harus melangkah.

Sehari-harinya ia adalah seorang supir seorang bos besar Grup BSCA, salah satu bos utama perusahaan itu yang bernama Buana. Ia menyupiri bos besar itu kemana-mana, bahkan sampai ke luar negeri kalau sang bos sedang ada urusan di sana. Memang dia hanya supir, tapi bukan sembarang supir. Nanti kalian liat sendiri.

“E-yoow… Ish… Ada zombie pulak!” ia langsung meloncat kaget dan menjauhi zombie siluman laba-laba merah itu mendatangi kami.

“Ah ada-ada aja-pun kau, Seng… Orang lagi makan-pun kau panggil… Ilang selera makanku jadinya…” katanya sambil gidik-gidik geli melihat zombie yang rusak dan berbau busuk dari luka-luka tubuhnya itu.

Melihatku sudah memakai bakiak Bulan Pencak di kedua kakiku, ia juga mengeluarkan senjata utamanya. Sebuah cambuk yang panjangnya sekitar satu setengah meter.

“Siluman monyet itu, ya?” tanggap Iyon begitu menyadari ada mahluk lain di sebelah sana.

“Ya… Kau mau yang mana? Zombie ato monyet itu?” tanyaku memberinya pilihan.

“Abis ini aku masih mau makan… Yang monyet aja…” katanya lalu berlari ke arah siluman monyet dengan menyeret cambuk itu.

Larinya tidak terlalu cepat dan siluman monyet itu menyeringai licik karena sepele dengan sahabatku itu. Tak lama aku tidak boleh hilang fokus dan harus segera mengatasi zombie siluman laba-laba merah ini.

Sebagai zombie, ternyata mahluk mati ini hanya mencakar-cakar–memanfaatkan cakar runcing di kedua tangannya. Walau begitu repot juga menghindari semua sabetan cakar itu. Disamping ketajamannya, belum lagi racun akibat bakteri yang ada di tubuh membusuknya.

Bisa-bisa aku terkena tetanus atau apapun kalau tergores sedikit aja. Lagi-lagi bakiak Bulan Pencak kupakai di tangan untuk menangkis semua sabetan cakar itu. Kekuatan bakiak andalan ini dapat diuji ketangguhannya kalau menghadapi serangan semacam ini.

Selagi menangkis, aku juga menilai bentuk tubuh mantan siluman ini untuk menaksir titik lemahnya. Aku bisa memanfaatkan bentuk serangga berkaki delapan ini.

“YOOON!! MINTAAA DAUUUNN!” teriakku pada Iyon yang sedang sibuk bertarung dengan siluman monyet itu di sana.

“Nah!” ujarnya cepat dan memberikan apa yang kupinta. Tapi gak gini juga kaleee…

“Kimak kau, Yooon… Ini daun pintu… DAUN BENERAAAN!!” kataku memaki temanku yang tertawa tergelak-gelak di sana.

“Ngomong yang bener-lah kauuu… Kau minta daun apaaa?” teriaknya masih mengibas-ngibaskan cambuknya pada siluman monyet itu.

“Daun telinga mau kauuu?” terdengar jeritan pilu siluman monyet yang mengaku dewa itu. Sekelebat kemudian Iyon menyerahkan sebuah kuping monyet yang masih berdarah segar di tanah di hadapanku.

“KIMAK KAU, YAAA!!! MANA BISA KUPING MONYET KUPAKE!!” makiku lagi sambil tersenyum geli juga.

Iyon memapas sebelah kuping Dewa Kera Emas itu tanpa ampun. Siluman monyet itu menjerit meraung-raung sambil memegangi sisi kanan kepalanya yang tak memiliki kuping lagi. Darah mengucur deras dari sana.

“Nah… Ini…” berhamburan berbagai macam daun seperti hujan di atas kepalaku.

Ada yang berukuran kecil, ada yang sedang, ada yang besar juga. Ini komplit. Bak restoran, ini restoran All You Can Eat. Kalau cabe pedas ini namanya cabe rawit. Kalau bagian tubuh ini namanya silit. Paok!

Sebuah pelepah daun kelapa yang kupilih. Daun dan lidinya bisa menjadi senjata yang sangat ampuh. Dua buah helai daunnya menjadi pedang panjang nan tipis mirip anggar di tanganku. Sontekan lompatan bakiak Bulan Pencak membuatku melambung kencang saat membabatkan pedang daun kelapa ini pada zombie siluman laba-laba merah ini.

Gempuran cepat ini tak ayal lagi membuat bangkai siluman itu menjadi bulan-bulananku. Tidak perlu mengasihani bangkainya juga karena semasa hidupnya juga ia sudah banyak melakukan kejahatan hingga bangkainya-pun masih bisa melakukan sesuatu yang jahat semacam ini.

Kedelapan kaki laba-laba-nya terputus menjadi beberapa potongan rapi berkat tajamnya sepasang pedang daun kelapa ini. Ia tak dapat bergerak lagi dan memaksakan merangkak dengan bantuan tangannya yang mencakar tanah. Melambung tinggi lagi dan berencana mendarat tepat di pungungnya, menyiapkan jurus andalanku, Gugur Glugur!

“BROOOKKHH!!” hantaman dua buah bakiak Bulan Pencak telak menghancurkan punggung serangganya.

Beberapa isi bagian dalam tubuh siluman serangga itu mbrojol dari beberapa sisi tubuhnya. Isinya berwarna coklat tua dengan bau yang sangat busuk. Ia bergerak-gerak menyedihkan sebelum kupenggal kepalanya.

Kita semua taunya kalo ngebunuh zombie dengan cara memotong kepalanya. Itu juga yang kulakukan, zombie siluman laba-laba merah ini diam tak bergerak lagi.

Iyon masih bertarung dengan siluman yang mengaku Dewa Kera Emas itu. Ia menghindari hantaman sepasang gada milik siluman itu. Siluman itu meradang marah karena telah kehilangan sebelah telinga. Sesekali Iyon melecutkan cambuk yang dipegangnya untuk menangkis hantaman gada. Aku tau gaya bertarung Iyon dan aku melihatnya sedang mengulur waktu. Jangan-jangan…

“Kau udah siap, kan? Ayo!” tiba-tiba dia sudah ada disampingku dan menarikku. “Siuut!” kami sudah ada di depan siluman monyet itu. Tepat saat monyet itu menghantamkan gadanya ke arahku. Tak perlu pikir panjang, refleks aku menangkis dengan dua pedang tipisku.

“Trang!!” suara nyaring dua senjata keras beradu kekuatan. “Guh!” tekanan pukulan gada itu sangat kuat. Pedang yang kupakai tertekan hampir mencelakaiku sendiri karena terdorong hampir melukai mukaku. Berpikir cepat dan kutendangkan kakiku yang memakai bakiak Bulan Pencak, kaki kananku yang di posisi depan kuda-kuda menghantam perut siluman monyet itu. Tidak! Dia sempat menahan dengan gada yang satunya. Kami berdua melompat mundur. Monyet ini jago berkelahi ternyata. Karena itu Iyon tidak bisa cepat menyudahinya.

“Kau liat, kan? Jago dia berantem… Kau enak dapat zombie yang gak pakek otak… Cuma haaahh… haahh aja…” kata Iyon meniru gerakan zombie yang sedang meradang minta makan daging segar.

“Kan kau sendiri yang milih monyet itu…” alasanku. “Kau lagi ngerencanain apa? Keknya lagi ngulur-ngulur sesuatu…” tanyaku kepo. Pasti dia sedang melakukan itu dengan kemampuannya.

Matanya bergerak ke atas dengan cepat, seolah takut rahasianya ketauan sama lawan. Aku melirik ke arah kemana matanya bergerak tadi. OH MY GAES! Ada beberapa buah batu besar nangkring di atas sebuah bukit yang mengitari tempat ini.

Batu-batu itu seperti hidup dengan membentuk raksasa batu yang lengkap kepala, badan, dua tangan dan dua kaki. Ternyata batu-batu pembentuk raksasa batu itu merupakan bekas potongan dari bukit-bukit batu itu sendiri.

Entah kapan ia memotong bebatuan bukit itu selama pertarungan tadi? Gak ding. Aku tidak perlu tau kapan ia melakukan itu karena itulah kemampuannya. Seperti juga dari mana ia mendapatkan daun pintu sialan itu? Daun-daun berjumlah banyak itu? Dia bergerak sangat cepat? Apa yang dilakukannya?

Namanya adalah jurus B3. Bukan berbau, beracun dan berbahaya itu. Kepanjangannya adalah Bayangan Bunga Bujur. Ini semacam jurus teleportasi. Ia bisa kemana saja sejauh imajinasinya. Ia bahkan bisa keluar masuk dimensi kekuasaan siluman monyet ini sesuka hatinya dan mengambil pintu tadi dari satu tempat, atau mengambil dedaunan itu di satu tempat lain, apalagi kalau hanya berpindah ke belakang monyet itu dan memotong kuping kanannya.

Dengan cara itu pula, ia memotong-motong batuan bukit dan menjadikan mereka sebagai raksasa batu yang bergerak kikuk seolah akan melakukan lompatan dari puncak bukit. Menjatuhkan tubuhnya ke arah apapun yang ada di bawah.

“Tigaa!” teriaknya dengan sangat kurang ajar dan menghilang dengan mudah.

Harusnya itungannya dari satu dulu, kan? Ini langsung tiga! Kimak memang si Iyon ini. Aku yang kelabakan dengan menghentakkan bakiak Bulan Pencak-ku agar aku melesat melompat jauh menghindari runtuhan raksasa kikuk itu dari puncak bukit.

Tepat waktu aku menjauh dari gemuruh berderak-derak batuan raksasa yang rengkah akibat menghantam bumi. Menggencet siluman monyet di bawahnya yang bahkan tidak sempat tau apa yang telah luruh di atas kepalanya. Kepulan debu tebal menutupi semua kejadian ini.

Aku bergantungan pada satu batu padas yang menjorok keluar dari pertengahan satu bukit tempatku bertengger menyelamatkan diri. Menyaksikan kedahsyatan siasat yang telah dilancarkan Iyon untuk membasmi siluman monyet itu.

“Kimak kau, Yon! Gak bilang-bilang kau pakek cara itu lagi… Hampir copot jantungku kau buat…” kataku menghampiri Iyon yang sedang melakukan sesuatu pada batu-batu yang telah diperintahnya membentuk raksasa batu tadi—sisa-sisa raksasa tadi.

“Kalok kubilang dulu gak seru-lah… Paok kali kau…” katanya setelah menghapus beberapa tanda yang telah dibuatnya di batu itu. Batu-batu itu berhenti bergerak.

“Yang penting kan udah mampos itu monyet… Eh… Kapan kita kumpul-kumpul lagi? Dah lama kita gak ngopi lagi… Kapan terakhir kau jumpa Kojek?” ia tiba-tiba membelokkan topik.

“Kau aja-nya yang sibuk kali… Bentar-bentar kau lagi di Belanda… Lagi di Amerika… Lagi di sini… Disana… Kami-kami ini masih di sini-sini aja-nya… Gak kek kau luar negri tros mainannya…” manyunku mengejeknya. Ia hanya cengengesan.

“Namanya juga kerja, Seng-Seng… Kek gak kerja kantoran aja-pun kau-ah… Cuma si Kojek aja yang kerja bebas kek gitu ngurusin pinahan (piaraan)-nya…” katanya membela diri.

“Aku sempat dua kali manggil Kojek kek gini…” kataku mengingat teman kurus kami itu.

Pertama di pertarungan di hutan bambu, ia menghanguskan seluruh hutan itu menjadi arang. Kedua di pertarungan melawan siluman pohon beringin itu, ia menelan semua mahluk ghaib yang ada di sana sekaligus.

“Siapa yang sedang kau lawan ini, Seng? Musuh lama atau musuh baru…” tanya Iyon.

“Keknya hanya dukun-dukun iseng sama siluman-siluman biasa aja… Gak terlalu gawat, sih… Tapi yaaa… tetap perlu bantuan kalian juga kalo awak sedang terdesak…” jawabku sekenanya.

“Tapi betol, yaa… Nanti kita ngumpul lagi bertiga… Kojek udah suntuk kali itu di kampung cuma maen babi sama si Tiur aja kerjanya… Kemana kita gitu kek pake B3-mu itu…” kataku mendesaknya agar kami bisa berkumpul. Sekedar nostalgia ato apa gitu.

“Iyalah… Terakhir kita ngumpul waktu aqiqah anakmu yang paling kecil itu, kan? Udah bisa apa dia? Siapa namanya?” ingat Iyon samar-samar.

“Salwa… Udah bisa merangkak dia sekarang… Mau belajar jalan-lah bentar-bentar lagi…” jawabku.

“Iya-iya… Anakmu udah dua aja… Si Kojek malah udah empat… Anakku masih satu aja dari dulu… Mungkin karena aku kebanyakan kerja ya?” katanya sambil garuk-garuk kepala. Cambuk yang menjadi senjata andalannya lalu disimpan sebagaimana bakiak Bulan Pencak-ku juga.

“Ada tempat enak yang gak bisa digantikan kapanpun… Kede kopi bapakmu, Seng… Walau sederhana tapi nyaman untuk kita semua… Gak ada yang neruskan kede itu, ya?” tanya Aseng.

“Gak-lah… Mamakku-pun gak pande buat kopi seenak bapakku… Pensiun aja dia… Kakakku ikut lakiknya… Adikku ini sedang dijodohkan sama orang kampung kami juga…” ceritaku sedikit.

“Selvi dijodohkan? Kok mau dia?” heran Iyon.

“Dah lama jomblo cemana-la… Akhirnya nyerah juga dia… Minta dicariin malah kalo dengar cerita dari kak Dedek…” Lah… Kami malah ngobrol di sini.

“Ah… Cocok kali kalo gitu… Pake pesta kan kalo gitu? Nanti kita ngumpul pas pesta Selvi aja? Cocok kau rasa?” simpul Iyon khas idenya. Ia memang teman yang baik dalam segala hal. Ia selalu ingin menyatukan kami dalam segala kesempatan.

“Cocok-cocok… Nanti kukasih tau tanggalnya, ya…”

***

“Remas yang kuat, Seng…” bisiknya di sela permainan mulutnya yang masih menelan Aseng junior-ku.

Terakhir kali aku meremas sebelah toket kak Sandra sebelum memasuki dimensi kekuasaan si siluman monyet yang sudah sukses dibasmi dengan taktik jitu Iyon. Sembari meremas, jariku mengutik-ngutik puting besar tegangnya yang terasa menggemaskan.

“Kak… Dengar yaaa, kak? Uuhh… Mm… Enak, kak… Yaahh… Itu… Kalo betul kakak seriussshhh… Mmm… Awak mau buaat perjanjian duluuu sama kakak… Mau dengar, kaaak? Aahhss…” kataku tidak boleh melupakan ini.

“Nanti aja… Siap ini aja itu…” tundanya tak sabar.

“Gak bisa nanti, kaaak… Harus sekarang juuuga… Sebeluuum jauh…” kataku mendesaknya.

“Ya udah… Apa? Perlu materai gak?” sahutnya terus sambil merancap Aseng junior yang sudah menegang meradang.

“Cuma salaman aja udah cukup, kaaak… Aahh… Brenti dulu, kaaak… Uuh…” ia tak kunjung membiarkan Aseng junior-ku nganggur. “Dengerin ya… Hanya ada tiga pasal perjanjiannya…”

“He-ehmm…”

“Pertama mengenai hubungan. Jadi hubungan kita hanya sebatas ini saja. Tidak akan bertambah atau berkurang. Tidak ada hubungan yang emosional berlebih… Pendeknya gak pake perasaan sama sekali… Jadi mulai sekarang kakak gak boleh pake cium-cium awak lagi… Awak cuma membantu kak Sandra sampai hamil saja… Tidak lebih… Paham, kak?” kataku tentang pasal pertama. Ia masih memegangi Aseng junior dan duduk berjongkok di antara kakiku.

“Tunggu-tunggu… Gak boleh cium-cium itu terlalu berlebihan, Seng… Wa gak mau terima kalo gak boleh cium-ciuman… Ngentot kok ga boleh pake ciuman… Apaaa itu?” protesnya. Aku kaget karena ini kali pertama ada yang protes pada perjanjian yang kubuat.

“Supaya gak ada perasaan lain, kak… Awak rasa kalo ciuman itu urusannya pribadi kali… Nantinya awak takut ada perasaan lain gara-gara itu… Gitu, kak…” jelasnya tentang asal muasal dibentuknya pasal tentang hubungan ini.

“Gak! Gak ada itu… Ciuman ciuman aja… Wa gak akan kebawa perasaan sampe jatuh cinta sama lu orang… Selebihnya wa setuju… Lanjut yang kedua…” putusnya. Memang businesswoman sejati kak Sandra ini. Ia bisa menegosiasikan hal seperti ini dengan mudah. Aku hanya bisa manyun.

“Kedua tentang kepercayaan… Kita berdua tidak boleh membicarakan tentang hal ini pada orang lain… Ini hanya urusan kita berdua aja… Dua pihak aja… Sedikit tambahan… kakak gak boleh… itu… selingkuh sama laki-laki lain… siapapun… Sori, kak… Semoga kakak paham…” kataku agak takut-takut membeberkan pasal kedua ini. Takut ia marah kalau ia pernah melakukan hal serupa ini dengan orang lain.

“Yaa… Wa paham. Wa gak mau ngeralat yang ini… Ini ada benarnya… Lagian ngapain juga wa selingkuh lagi kalau wa udah punya anak… Make sense, kan?” jawabnya setuju. Aku lega mendengarnya.

“Wa tau maksud lu apa… Lu gak mau wa ngebesarin anak lu yang wa-nya menclok sana menclok sini sama laki-laki sembarangan, kan? Paham wa itu…” tambahnya.

“Plus… Wa mau nambahin juga… Wa gak akan ngasih anak ini makanan yang haram seperti yang lu percaya… Jadi wa ga akan ngasih anak ini makan babi sama temen-temennya biar lu gak was-was sekalian… Lu orang boleh ingat janji wa ini sampai kapanpun…” sampe segitunya kak Sandra untuk menghargai bantuanku ini.

“Makasih ya, kak… Yang ketiga ini tentang masa depan… Ini yang awak rasa paling penting, kak… Karena ini menyangkut masa depan anak ini nantinya… Anak ini walau bagaimana adalah anak kakak dan ko Amek karena kalian berdua yang membesarkannya… Cara merawatnyapun awak serahkan sepenuhnya sama kakak… Mau kakak jalanin janji tambahan kakak tadi awakpun terimakasih kali…” kataku mantap kembali di perjanjian terakhir ini.

“Ya… Wa janji merawatnya sebaik mungkin… Semuanya wa curahkan kepadanya… Lu gak khawatir akan kualitas hidupnya… Lu pegang omongan wa ini… Udah semua, kan?” katanya yang tak kunjung melepas Aseng junior dari tadi.

Dirancapnya kembali Aseng junior agar tetap greng dengan remasan kuat sampai urat-urat di sekujur batangnya bertonjolan kasar.

“Udah, kak… Cuma tiga aja…” kataku lalu mengangsurkan tanganku untuk deal perjanjian ini.

Dilepasnya Aseng junior untuk menyambut tanganku. Genggamannya kuat dan mantap, diguncangnya tanganku dengan senyum lebar seakan paham apa arti sebenarnya perjanjian ini.

Pada dasarnya perjanjian ini tidak jauh beda dengan perjanjian-perjanjian bisnis yang selama ini sudah dilakoninya. Ada makna yang lebih dari simbolis dan sakral di sana. Perjanjian antar dua manusia untuk saling mematuhi isi pasal-pasal di dalamnya. Perjanjian suci.

“Udah, yaa? Tiga aja?” katanya memastikan kembali lalu bergerak lebih merapat. Ia kembali memposisikan dirinya ke posisi awalnya, menduduki pangkuanku. Aseng junior tepat ada di perutnya.

“Kalau begitu… kita bisa mulai maen beneran…”

***

Kak Sandra benar-benar menepati kata-katanya kalo ia terima isi perjanjian pertama dengan pengecualian ciuman. Ia dengan ganas menciumi bibirku dan kami bertarung lidah dan bertukar ludah. Lidahku disedot-sedotnya sekaligus cairan yang ada di dalam mulutku yang tersekresi secara otomatis begitu tubuhku merasa mulutku kering.

Selagi berciuman dengan memegangi pipiku dengan tangan kirinya, tangan sebelahnya mengocok pelan Aseng junior yang rapat ke perutnya. Kami terus beradu mulut. Kak Sandra mengulum kedua bibirku bergantian, lalu lidahnya diumpankannya ke dalam mulutku yang lalu kusedot-sedot. Bertukar ludah berarti bertukar kenikmatan.

“Nyamm… Mmm… Slrrkk…” suara seksi kak Sandra terdengar memenuhi isi kepalaku.

Memasuki benakku dengan erangannya kala ia menikmati percumbuan mulut ini. Sementara Aseng junior-ku semakin keras meradang di tangannya. Apalagi tubuh telanjangnya bergerak-gerak erotis bersentuhan dengan kulit telanjangku juga.

Tangannya yang memegang pipiku kemudian mengelus-elus telingaku dan rambutku. Aku juga mulai bergerak melakukan hal yang sama. Merasakan kulit telanjangnya. Pertama-tama adalah kulit lengannya, pundak lalu berakhir di punggung. Menelusur turun dan bermuara di bongkah pantatnya yang sekal lagi padat.

“Hoaahh…” erangnya ketika tanganku meremas buah pantatnya.

Lembut dan sekaligus kenyal. Kak Sandra menaikkan sedikit tubuhnya karena itu. Salah! Bukan karena itu! Ia ternyata menggesekkan kepala Aseng junior-ku ke belahan cepet-nya. Terasa basah dan hangat.

Kepala Aseng junior bergesek-gesek mencoba gerbang lahan barunya. Tubuh kak Sandra mengatur semuanya selagi tetap menikmati mulutku. Dengan arahan tangannya, Aseng junior tetap pada jalurnya dan bergesekan hingga basah kuyup pada bagian kepalanya.

“Mmm… Aahh…”

“Kaaak…” erangku juga ketika Aseng junior meluncur masuk dan terjerat dalam pelukan mesra liang kawin cepet kak Sandra.

Kami berdua saling menikmati keindahan rasa itu. Rasa nikmat yang terperikan kala Aseng junior bercokol sempurna dalam dan mentok di liang kawinnya. Kak Sandra makin gencar menciumi mulutku.

Ia benar-benar mengekspresikan semua rasa nikmat itu dalam ciumannya. Aku tidak begitu yakin, benarkah semua sesumbarnya tadi. Benarkah dia tidak akan mengikutkan perasaan dalam hubungan rahasia ini? Bisakah?

“Penuh cepet wa, Seng… Mentok!” katanya berbisik sambil bibir kami masih bersenggolan.

Nafasnya panas dan kami kekurangan oksigen yang saling kami perebutkan dalam tiap tarikan nafas dan teracuni nafsu.

“Lu jadi gigolo cocok kek-nya…” pujinya.

“Ini khusus buat kakak aja-nya…” kataku mencoba menyenangkannya. Membuatnya merasa spesial.

“Lu bilang gitu juga sama Dani, ya?” sanggahnya lalu tersenyum nakal penuh ejekan.

Tentu aja aku tidak bisa menjawabnya karena terikat dengan perjanjianku dengan Dani, terutama pada pasal keduanya; tidak membicarakannya dengan orang lain. Aku hanya bisa mesem.

“Ahh… Lu juga ada buat perjanjian sama seperti yang tadi… Paham wa… Wa gak akan nanya-nanya lagi…” kata kak Sandra mulai menggeliatkan tubuh bawahnya.

“Mmm…”

Kak Sandra mulai menggeolkan pantatnya hingga Aseng junior diperas sedikit.

“Aah… Enak, Seng…” desahnya.

Duduk dipangkuanku dengan batang kemaluanku menancap dalam di cepet-nya, ia mulai menggerakkan tubuhnya naik turun. Kak Sandra mengalungkan kedua tangannya ke leherku hingga dada kami rapat bergencetan. Liang kawin kak Sandra tidak bisa dikatakan sempit tapi masih cukup menggigit mengingat jam terbangnya.

“Lu belum pernah maen sama cici-cici begini, kan?” tanyanya entah dari mana.

“A-a belom-belom-lah, kak… Mm…” jawabku serba salah.

Mau jujur gimana tapi ini rasanya enak kali. Rasa menggigit dan basah liang kawin kak Sandra terasa pas dengan batang pejal Aseng junior-ku. Tidak ada yang berlebihan. Pas aja dengan ukuranku.

Sehingga kak Sandra-pun dengan nyaman bisa menggerakkan hanya pinggulnya untuk mengocok Aseng junior cuma dengan liang cepetnya. Ia menciumi bibirku berkali-kali dengan gemas dengan terus menggerakkan pinggulnya dan mendesah-desah seksi.

Kalo diingat-ingat ini memang panlok pertama yang pernah kusentuh setelah sekian lama. Setelah sekian lama, catat!

“Rasanya? Enak, kan punya wa…” bisiknya lalu melanjutkan desahan dan gerakannya.

Pinggulnya bergerak lugas dan gemulai melakukan kocokannya pada Aseng junior-ku yang terbuai rasa nikmat itu. Liang cepetnya mencengkram batang kemaluanku dan menguasainya. Mempermainkannya untuk segera mengeluarkan isi berharga di dalamnya, berupa cairan surga itu.

“Punya lu enak, Seng… Mmm… Aahh…” Diliriknya gerakan luwes pinggulnya sendiri yang naik-turun teratur, ada suara suara kecipak samar yang terjadi akibat benturan kedua kelamin kami. Hanya terdengar kala kak Sandra dan aku tidak bersuara mendesah.

“Kaaak… Aku gak bisa lama-lama, kaak… Enak, kaak…” erangku yang sudah gak tahan lagi. Serangan dan gerakannya terlalu erotis untuk kutahan. Aku sudah pengen merasakan nikmatnya ngecrot sekarang juga.

“Ya udah… Tembakkan aja… Hamili wa, Seng… Aahh… Mmm…” ia mempersilahkanku mengisi uterusnya dengan bibit-bibit subur anakku.

Ia malah makin gencar menggoyangkan pinggulnya. Aku meremas kedua bongkah pantatnya, membantunya bergerak lebih cepat karena rasa nikmat ejakulasi sudah di ujung Aseng junior.

“Aaahh… Ahhh… Yaaa… Yaaa… Ayooo, Seng… Tembak! Tembaakk!!” ia memberi semangat agar aku mempercepatnya.

“Kaakkk! Ah… Ahh… Ahhh…” erangku dan melesakkan selangkanganku ke arah pantatnya rapat-rapat.

Gemuruh semprotan spermaku terasa sampai di kepalaku. Memberi rasa nikmat yang berdenyar-denyar ke seluruh cabang syarafku. Jari-jari kakiku menegang seirama remasan tanganku pada kedua buah pantatnya.

Spermaku mengisi relung rahimnya, memenuhi ruang pembuahannya. Kak Sandra sibuk kembali menciumi mulutku dengan getolnya. Menikmati mulutku dan mendiamkan pinggulnya karena tau aku sudah ejakulasi. Terasa sangat banyak dan melicinkan jalan kawinnya. Kalau segera dicabut di posisi ini, pasti akan meluber sia-sia.

“Cibay, Seng… Enak kali, Seng…” gerutunya di sela nafas berat.

Kupeluk tubuhnya, lalu kugulingkan dan kuseret sampai ke tengah ranjang. Tangannya tangkas mengambil sebuah bantal dan meletakkannya di bawah pantatnya. Ternyata ia tau teknik ini. Kalau sudah begini, aku baru boleh bisa melepaskan Aseng junior.

Whoaa… Begini ini ternyata tubuh telanjang kak Sandra? Seksi walau sudah lumayan berumur. Ia berbaring pasrah dengan kaki terbuka lebar, selangkangan berlepotan spermaku. Tubuh semoknya hanya berbaring, memamerkan seluruh keindahannya hanya padaku. Toket besarnya menggunung besar walau tertekan posisi berbaringnya. Apalagi kulit putih pucat cemerlang ras Mongoloid-nya.

“Seksi ya waaa? Lu sampe segitunya ngeliatin bodi wa?”

Aku menggeleng. “Nggak seksi, kak… Tapi seksi kaleee…” kelakarku dan mengacungkan kedua jempolku.

Kak Sandra tersenyum lebar. Kedua tangannya menjulur memintaku memeluknya kembali dan mulut dimonyongkan minta ciuman lagi. Kukabulkan keinginannya dan ia memelukku erat. Aku merayap naik ke atas tubuh montoknya dan meladeni ciumannya. Aseng junior gondal-gandul lemas di atas perutnya.

Sekian lama kami berciuman dan ia tak bosan-bosan dengan mulutku. Kami bergantian bertukar ludah dan menghisap lidah. Bibirku terasa kebas kebanyakan dikulum dan disedotnya.

“Kak Sandra senang kali nyiumin awak, ya?” tanyaku saat kami berpandangan setelah saling cipok.

“Apa ada kegiatan lain yang lebih enak selain nyiumin lu…” tanya kak Sandra balik.

“Bibir lu enak… buat diciumin… Ada yang pernah bilang kek gitu gak ke lu orang? Istri lu misalnya?” ungkapnya.

“Gak ada… Emang ada kek gitu-gitu?” tanyaku pasang muka paok.

“Ini-nih… Gini…” ditariknya wajahku kembali mendekat padanya.

Dikulumnya bibir bawahku dengan lembut. Matanya terpejam, ia terlihat sangat meresapi saat mengulum bibirku ini. Bergerak-gerak mulutnya saat mengulum bibir bawah dan ditingkahi sedikit sedotan lembut.

“Kerasa enggak?” tanyanya setelah melepas bibirku dari sergapan mulutnya. Aku menggeleng. Yaa… Cuma terasa ciuman aja.

“Lu terasa pasrah aja gitu… Lu serahin semua… Lu biarin semuanya ngalir… Itu yang membuat bibirmu itu terasa enak saat dicium… Jadi wa waktu nyiumin bibir lu… rasanya wa memiliki semua diri lu… Gitu…” jelasnya. Aku gak paham apa maksudnya. Aku kembali menggeleng jujur.

“Indak mangarati den-ma, kak… (Enggak mengerti aku, kak)” kataku biar kami sama-sama gak mudheng.

“Ish… Lu, sih…” kesalnya lalu menulusupkan tangannya ke bawah mencari Aseng junior yang tergencet tubuh kami berdua.

Diremas-remasnya batang kemaluanku yang sedang menciut. Ditariknya dan diarahkannya agar menuju mulutnya. Tanpa ragu, ia memasukkan Aseng junior yang keriput ke dalam mulutnya. Padahal itu belum dibersihkan sama sekali, jadi masih ada sisa-sisa pertempuran sebelumnya di sana. Ia tidak perduli dan hanya menikmati semuanya. Aku meremas sebelah toketnya yang kenyal menunggu ronde berikutnya karena kak Sandra masih berbaring dengan bantal mengganjal pantatnya.

“Awas lu pake bahasa Padang lagi ama wa… Wa sedot telor lu kek gini…” sedot kak Sandra dengan kuat kek vacuum kekuatan maksimal.

“AAhhh… Kak!! Sakit, kak…” jeritku ngilu. Pipinya sampe kempot menyedot Aseng junior kuat-kuat kek gitu. Lalu ujung lidahnya menyentil-nyentil bagian urat bawahnya. Tergelitik hingga menggeliat bangun, menebarkan rasa hangat kenikmatan untuk kembali ereksi.

“Awas lu… Lu ulangi-lah…” ancamnya.

“Ngilu, kak… Awak pake bahasa Padang… kakak pake bahasa Hokkien-la… Biar gak nyambung kita sekalian… He he he…” kataku terus bermain dengan kenyal toketnya. Kak Sandra masih fokus merancap Aseng junior agar kembali perkasa. Sesekali aku melirik cepet-nya yang berdenyut-denyut masih penuh dengan bekas spermaku. Ia berbaring mengangkang sehingga sangat menggairahkan mata.

“Kemari, Seng… Pasti lu cepat ngaceng lagi…” tunjuknya pada perutnya yang agak gendut karena tubuh semoknya.

Tetapi endut begitu tetap menggairahkan pria manapun kujamin. Kalo disuruh ke situ, pastinya bakalan dijepit di antara dua toket itu pastinya Aseng junior. Walau tak sefenomenal 38DD milik Yuli yang dengan mudah melakukan Tit Job padaku, milik kak Sandra ini setidaknya 2 ukuran dibawahnya.

Rasanya pasti sangat memabukkan. Apalagi sensasi melakukan mesum begini dengan bosmu di kantor, bagi banyak kalangan itu hanya angan-angan saja—mimpi nyata yang sedang kujalani saat ini.

“Sori yaa, kak?” kataku malah kek permisi gitu melangkahi perutnya dan seperti hampir menduduki perutnya. Ia menambahkan sebuah bantal lagi di kepalanya hingga ia mendongak, tubuhnya kini melengkung seperti sebuah cekungan dan aku di dalamnya. Aseng junior segera dijepitnya menggunakan sepasang toketnya yang digencetkan dengan bantuan kedua tangan.

“Kak… Ini ukurannya berapa, kak?” tanyaku iseng.

“Napa lu nanya-nanya ukuran? Mau beliin be-ha wa lu?” sergahnya kocak sambil menggerak-gerakkan toketnya agar dapat mengocok Aseng junior dijepitannya.

Aku menggeleng gak berani meneruskan lagi walau aku tau dia tidak benaran marah. Aku hanya ikut menggerakkan pantatku seolah sedang memperkosa toketnya yang lumer menjepit Aseng junior-ku.

Sensasi dijepit atau hanya tersentuhnya penisku ke tekstur payudara itu aku sangat doyan. Lembut dan kenyal payudara selalu memberi rasa tersendiri yang sangat nyaman tiap sentuhannya pada Aseng junior.

“Clok-clok-clok!” suara kecipak gesekan Aseng junior dijepit toket kak Sandra sangat seru.

Ia menambahkan ludahnya di batang kemaluanku. Ia berulang kali meludahi Aseng junior hingga becek. Sensasinya sudah mirip sedang menyenggamai sebuah lubang vagina asli. Becek dan kenyalnya memabukkan. Gak lama Aseng junior sudah menegang keras ke ukuran primanya.

Bertambah nakal dan konak, kak Sandra menjulurkan lidahnya untuk menyambut ujung kepala Aseng junior-ku yang sudah bisa nongol keluar dari belahan toketnya.

“Nyumm… Myumm… Hyaamm…” desahnya tiap kali kepala Aseng junior menyentuh lidahnya.

“Lu pegang gantian…” perintahnya untuk berganti menekan toketnya untuk menjepit.

Aku sekalian meremas-remas dan mempermainkan puting lucu berwarna berbeda warna antara pucuk dan aerolanya itu. Aku makin gencar menggenjot belahan toketnya.

“Udahan… Entar lu nembak pulak di toket wa…” katanya tiba-tiba menghentikanku.

Mungkin ia merasakan kedutan-kedutan lain di Aseng junior. Ditendangnya bantal yang tadi mengganjal pantatnya agar menjauh, diarahkannya Aseng junior ke mulutnya dan di-deep throatnya sebentar lalu rebah di atas kasur dengan kaki dibuka selebar mungkin.

“Masukin lagi, Seng… Cepet wa dah cenat-cenut nih…” ini sudah mirip perintah nih.

Memang sudah pas momennya ini. Aseng junior-ku juga sudah meradang. Kutenangkan diriku sebentar di depan bukaan kaki kak Sandra dengan memperhatikan bentuk menggairahkan cepet yang resminya milik ko Amek ini. Ko Amek, sori ya, ko. Biniklu wa pakek nih. Vagina merekah yang sudah kusemprot sekali ini berjembut jarang hanya di bagian atas saja.

Kuelus-elus sebentar jembut itu dan ternyata cukup panjang tetapi tidak banyak jumlahnya. Kuelus juga kacang itil yang menggembung menonjol dari bukaan bibir kemaluannya, terlindung tudung yang menyatu dengan gelambir bibir dalam vaginanya. Berikutnya dengan menggunakan Aseng junior, kepalanya mengelus-elus belahan dalam yang basah becek oleh spermaku terdahulu.

Kak Sandra memejamkan mata dan mengulum bibir bawahnya ketika Aseng junior meluncur masuk dengan lancar dan nangkring manja di dalam liang kawin cepetnya. Selangkangan kami bertemu karena aku sudah merangsek mentok di kedalaman uterusnya. Pinggulnya bergerak-gerak berusaha menyesuaikan posisi agar semua terasa nikmat dan nyaman maksimal. Disumbat Aseng junior yang pas di dalam liangnya, kak Sandra bernafas pendek-pendek.

Apalagi saat aku mulai bergerak ritmis. Aku berpegangan pada pinggulnya dan kulakukan tusukan dengan ritme 3 kali tusukan pendek dan sekali tusukan dalam. Tidak bisa terlalu cepat karena aku sedang menikmati ekspresi keenakan kak Sandra dan juga guncangan yang dilakukan sepasang toketnya. Ia mengerang-erang seksi merasakan tiap ritme tusukan yang kulakukan. Ia mengerang di tusukan pendek dan menjerit kecil di tusukan dalam.

“Eeh… eeh…eehh… Aaahh…” begitu suara yang dikeluarkannya tiap variasi ritme tusukan itu kulakukan.

“Lebih cepat, Senghh…” pintanya.

Kutundukkan tubuhku dan aku bertumpu pada kedua tanganku di kasur. Lutut bertumpu di belakang dan kulakukan genjotan cepat, satu tusukan dalam selalu.

“Ah ah ah ah ah ah!” erangnya tertahan.

Kak Sandra mulai gelisah dengan menggeliat-geliat tak teratur. Pantatnya terkadang sedikit terangkat, pertanda kalau ia akan mencapai puncak kenikmatannya. Aku makin bersemangat membantunya mencapai itu.

“Aahh!!” tubuhnya mengejang dan Aseng junior-ku terasa dicekik di dalam liang cepetnya.

Otot perutnya juga mengejang ketat dan ia mencengkram sprei hotel dengan kuat. Kuhentikan gerakan dan ikut dengan arus gerakan tubuhnya, menikmati pijatan-pijatan erotis liang kawinnya pada batang Aseng junior. Kuciumi lehernya dan ia membalas menciumi pipiku. Begitu ia sudah bisa mengendalikan tubuhnya, ia mengincar bibirku lagi.

Tusukan-tusukan pendek kulakukan selagi kami terus berciuman, mengadu mulut. Ludah kembali bertukaran dan bibirku kembali kebas karena kebanyakan disedotnya.

“36D sih yang sering wa pake… Yang E nyaman juga buat harian…” katanya saat ia melepas bibirku. Oh. Ini ukuran BH itu tadi. Kenapa tiba-tiba dia mau membagi informasi itu? Apa dia minta aku beliin BH, ya? “Kenapa? Tadi lu nanya ukuran toket wa, kan? Masih lebih gede dari pada istri lu punya, kan?”

“Iya, kak… Gede ini…” pujiku lalu mencucup satu putingnya lalu menyedotnya penuh perasaan.

Lidahku bermain-main selagi mulutku menelan satu aerola gelapnya. Menyentil-nyentil dan berputar mengitari. Aseng junior terus melakukan tusukan pendek-pendek. Sudah terasa panas. Kuhentikan dengan menyamarkannya dengan sedikit mengatur posisi kakinya. Mengatur nafas dan kaki kak Sandra kutenggerkan di bahuku lalu kuteruskan tusukan-tusukan pendek.

“Geli, Seng…” keluh kak Sandra karena aku mengecup betisnya yang mulus dan berisi padat.

Aku bahkan kadang menjilatinya kek orang gila sampe kak Sandra menertawakan tingkahku. Itu semua untuk mengalihkan perhatianku dari rasa nikmat yang mendera Aseng junior. Kalo aku cuma begitu-begitu aja secara konvensional Missionary style, aku pasti udah ngecrot dari-dari tadi.

Dengan bibir juga kugigit juga daging pahanya yang lembut. Kujilati seluruh permukaan lututnya hingga ia menggelinjang kegelian disamping rasa enak di cepetnya.

“Nungging, kak…” cobaku memerintahnya setelah kucabut Aseng junior dari sangkar barunya.

Kak Sandra patuh dan segera bergerak walau dengan sedikit lemas. Tubuh telanjang semoknya menungging di hadapanku. Satu pabrik, hanya aku seorang saja yang pernah mendapat berkah ini. Kunikmati dulu pemandangan tanpa cela ini.

Tubuh mulus putih benderangnya sangat memukau. Bulat pantatnya sempurna berbentuk buah pir dengan belahan menyesakkan dada. Lubang anusnya yang senada warna kulitnya mengintip dengan sedikit kerutan dan belahan cepetnya merekah merah bekas kuhajar barusan, bernoda cairan kental di sana-sini.

Kutubruk bokongnya itu dengan penuh nafsu. Tidak dengan Aseng junior, melainkan dengan mukaku. Kugesek-gesekkan wajahku di pantatnya. Kak Sandra mendesah mendapati aku ternyata sedang bernafsu dengan pantatnya. Kujilati tiap bongkah buah pantatnya yang berkeringat. Kuremas-remas gemas dan kusedot dengan lebih gemas lagi. Aku benar-benar gila dengan bokong kak Sandra ini.

“Seeeng… Udah-lah… Masukin laagi… Mmm…” erang kak Sandra tak sabar.

Ia mengutik-utik kacang itilnya dengan tangannya sendiri sangking gak sabarnya. Dibelahnya bibir cepetnya lebar-lebar agar aku kembali tergoda dengan kemaluannya, meninggalkan fetish baruku. Satu jarinya menyeruak masuk dan mengocok pelan vaginanya sendiri, menggodaku masuk.

“Seeng! Cepatlaaahh! Aahh…”

Kukocok Aseng junior sebentar karena ia memang masih meradang kemerahan—seperti yang kubagi tau tadi, ini hanyalah teknik mengalih perhatianku agar aku memperlama masa senggama ini.

Kucelup-celupkan kepala Aseng junior ke bukaan menganga merah cepet kak Sandra yang memanggil-manggil kangen dientot. Kami berdua meradang begitu persatuan kedua kelamin kami terjalin lagi. Kami berdua mengaduh keenakan. Mengerang dalam goncangan nafsu birahi.

Genjotanku brutal kali ini. Kak Sandra menjerit-jerit kesetanan merasakan kejantananku mengobrak-abrik liang kawinnya dengan cepat dan juga dalam. Aku berdiri di atas kasur dan Aseng junior menusuk sedikit miring menekuk sehingga gesekan yang terjadi sangat terasa.

Aku semakin menggila di posisi doggy ini. Toket kak Sandra jadi bulan-bulananku yang lain. Kuremas-remas keras, sekeras jeritannya. Kutarik-tarik dan kubetot semaunya selagi Aseng junior-ku memborbardir kencang. Tubuh kami berpeluh lekat dan semua semakin panas.

Kusemburkan spermaku untuk kedua kalinya pada liang kawin kak Sandra. Meledak-ledak dengan nikmatnya. Kakiku sampai lemas merasakan lonjakan voltase kenikmatan yang merajai tubuhku. Menyetrum sampai ke pucuk-pucuk syarafku. Mematikan semua nalar. Hanya nikmat terpapar.

Tubuh kami berdua ambruk dalam puas. Terengah-engah dalam ekstase kenikmatan duniawi. Kupeluk tubuhnya dari belakang. Aseng junior terlepas begitu saja, memberikan jejak nodanya dari belahan pantat sampai ujung kepala Aseng junior yang menempel sekenanya di salah satu bongkah pantatnya. Tak ada kata yang terucap untuk beberapa saat sampai nafas kami kembali reda ke ritme normalnya.

“Lu normalnya selalu jago gini, Seng kalo ngentot?” tanya kak Sandra mengalihkan kepalanya padaku yang ada di belakangnya. Aku sedang menciumi wangi rambutnya yang terurai sebahu. Toketnya lagi-lagi jadi mainanku, kupilin-pilin putingnya yang ngangenin.

“Gak, kak… Tadi awak lagi gila sama pantat kakak aja… Paten kali pantat kakak rupanya kalo kek gini…” bualku lalu meremas pantatnya sekali lagi.

“Demen lu sama pantat Cina? Ha ha ha ha…” gelaknya akan guyonan lawas itu.

“Kalo Cina-nya kak Sandra iya-lah… Apa lagee?” jawabku malah memeluknya gemas dan menekan-nekankan Aseng junior ke pantatnya kek mo nyodomi. Kupeluk ia di bagian perut lalu mengelus-elusnya. “Semoga jadi anak ya, kak… Jadi anak yang bisa mewujudkan impian kak Sandra selama ini…” ucapku yang juga merupakan doa. Ia memegang tanganku yang mengelus perutnya–ikut mengelus perut juga.

“Semoga ya, Seng… Wa dah mulai berumur… Takutnya gak bisa prima lagi mengandung kalo kelamaan…” katanya lalu berbalik dan berpelukan berhadapan denganku. Kakinya tidak dikangkangkan, hanya rapat–menjaga deposit sperma yang masih bercokol di dalam rahimnya agar tidak buru-buru keluar.

Aku yang mengangkangi pinggulnya hingga dada kami bertemu. Kak Sandra meraih Aseng junior dan mengocoknya kembali seolah meminta tambahan ronde.

“Lu jangan-jangan yang maen perasaan kalo wa cium lu sering-sering, ya?” katanya ketika kening kami bertemu. Menatap wajah cantiknya yang terkesan sendu sekaligus garang. Kurapikan rambut yang jatuh di keningnya agar aku bisa menatapnya tanpa halangan apapun.

“Makanya awak buat pasal pertama itu begitu, kak… Kalo enggak kakak… ya awak yang maen perasaan… Awak ini manusia normal loh, kak… Bukan cuma burung aja… Ada perasaan di sini… Ada hatinya, kak… Itu yang mau awak jaga… Sebab kalo ciuman itu sangat intim kak… Sama pacar… Sama istri… Itu yang kutau, kak…” ungkapku.

“Iya ngerti, Seng… Kalo wa sih enggak gitu… Nanti-nanti wa bakal ngingetin lu orang kalo lu udah mulai pake-pake hati maennya… Coba, ya?” kak Sandra kembali mengecup bibirku dan sejurus kemudian kami sudah bergelut dalam cumbuan bibir kembali.

Ia tak jemu-jemu menikmati French Kiss ini denganku. Berbagai variasi ciuman yang dikuasainya, diperagakannya padaku. Permainan lidahnya yahud abis. Ciuman Prancis, begitukah pesonamu? Segitukah tawaranmu?

Cukup lama kami beradu mulut, dalam artian sebenarnya, saling memainkan mulut. Aku meremas-remas toketnya selagi kak Sandra terus mengocok Aseng junior sampai ia menegang keras kembali.

Dikoreksinya posisi kakiku yang mengangkangi pinggulnya dalam posisi sama-sama menyamping berhadapan ini, jadi rapat dan ia gantian yang mengangkangi pinggangku. Jadinya, ia bisa memposisikan Aseng junior ke bukaan cepet-nya yang masih merekah merah minta dikawini lagi.

Kudorong pelan-pelan Aseng junior hingga menelusup masuk di posisi senggama yang lumayan sulit tetapi sangat intim ini. Posisi ini baik pihak pria dan perempuan dalam posisi setara, sama-sama berbaring menyamping.

Full body contact terjadi saat kami berpelukan erat dan pompaan kulakukan pelan-pelan. Memaksimalkan rasa nikmat saat gesekan-gesekan terjadi antara kedua kelamin kami. Gerinjal liang kawinnya terasa erat menggigit karena mendapat efek berat tubuhnya.

Kami berdua terus bersenggama sambil berciuman gencar. Baik aku dan kak Sandra menggerakkan pinggul bersamaan, saling sambut menyambut. Aku dengan dorongan pendek dan kak Sandra dengan goyangan berputar. Tiap dorongan masuk menusuk disambutnya goyangan yang menekan maju. Sentuhan benturannya sangat melenakan.

Saat kak Sandra mendapatkan kenikmatan puncaknya kembali dan melepaskan ciumannya, aku beralih memainkan toketnya dan pelan-pelan terus menusukkan Aseng junior. Melengkung tubuh kak Sandra kala kusedot bergantian toket kanan dan kirinya.

Puas bermain di sana, ia mengajakku bergulat lidah kembali. Tak ada puas-puasnya kami berciuman seolah itu adalah kebutuhan utama kami saat ini. Hanya berciuman. Aku selalu khawatir bagaimana hubungan kami setelah ini, setelah berbagi ciuman yang sangat melenakan. Puas dengan beberapa kali puncak kenikmatan. Aku tidak pernah dalam situasi ini sebelumnya.

Ciuman ganas dan menggebu-gebu yang selalu ditawarkan kak Sandra mampu membuatku melupakan semua kekhawatiranku. Aku kembali tenggelam dalam kesibukan menggenjotkan Aseng junior bertubi-tubi ke cepetnya yang berjembut jarang. Lidah kami saling bertautan, bertukar ludah, saling sedot dan kulum. Saling meremas bagian tubuh, meraba dan menyenangkan lawan senggama.

Lancar gerakan menyodokku sepertinya harus mencapai puncaknya karena aku sudah tidak dapat menahannya lagi lebih lama. Kak Sandra menyadarinya dan mendukungku dengan erangan seksi dari mulutnya selagi berciuman.

Semprotan sperma untuk ketiga kalinya tersembur dan memenuhi relung liang kawin kak Sandra. Mengisi rahimnya yang bersorak-sorai menyambut bibit-bibit suburku yang berjuang untuk membuahi indung telur yang disimpannya. Kami hanya butuh satu saja di antara miliaran bibit mirip berudu itu untuk menemukan tempatnya menembus sel telur.

Tubuh kami menggeliat-geliat keenakan dan mencari kenyamanan dengan berpelukan erat. Kaki kak Sandra mapan mengait di pahaku dan aku masih menyimpan Aseng junior di dalam liang kawinnya yang banjir oleh spermaku.

Sesekali kecupan kak Sandra masih menyasar bibirku. Ia bolak-balik meracaukan ucapan terima kasih. Pujian keenakan. Erangan puas dan sebagainya. Dan akhirnya ia tertidur pulas karena kelelahan. Total kami sudah menghabiskan tiga ronde. Tiga kali aku sudah menyemprotkan spermaku.

Aku juga lelah… Kami tidur berpelukan seperti sepasang pengantin baru yang puas dalam bulan madunya. Nyaman nian memeluk kak Sandra…

“Kih kih kih… Kau kira semudah itu kau menyingkirkanku?” ada suara menyebalkan itu lagi.

Cepat-cepat aku bangkit. Ia sekarang tidak main-main. Ia muncul di alam nyata sekarang. Siluman monyet yang mengaku dewa itu muncul lagi dan kali ini ia menunjukkan batang hidungnya di dalam kamar hotel ini. Berdiri di sudut kamar, di atas dinding memanfaatkan dua sisi sikunya. Ia cengengesan dengan ekor melambai-lambai.

“Belom modar rupanya kau…” ketusku turun dari ranjang perlahan.

Aku meraih celana panjangku dan memakainya tanpa celana dalam. Ia memperhatikanku melakukan itu semua dengan cengir menyebalkan di sudut mulutnya. Gigi geliginya ada noda darah. Itu berarti ia sudah cukup terluka karena serangan dahsyat himpitan bebatuan buatan Iyon di daerah kekuasaannya sendiri. Ini akan jadi pertarungan berat. Aku sudah menghambur-hamburkan banyak stamina dengan ngeseks dengan kak Sandra sampai tiga ronde.

Bertarung dengannya di sini akan sangat beresiko. Yang pertama tentu saja aku akan beresiko mengekspos dunia ghaib ini ke masyarakat. Itu pantangan pertama yang paling krusial. Kedua, kak Sandra bisa ada dalam bahaya. Itu sudah semuanya.

“Kau berhadapan dengan Dewa… Aku jauh di atas kemampuanmu… Makan daging manusia hari ini tidak jelek juga… Aku sedang berselera sekarang…” katanya menggertakku. Ia menjilat-jilati bibirnya untuk menakut-nakuti aku. Kao pikir aku anak kecil apa?!

“Heh? Monyet kok jadi dewa… Derajat kalian itu masih ada di bawah manusia… Kebetulan aja kao punya sedikit kekuatan sudah ngaku-ngaku jadi dewa… Monyet kek kao ini di sini malah dijadikan topeng monyet… Tau, kao?!” hardikku.

“Masih pakai taktik yang sama… Kau tau itu tidak mempan padaku…” jawabnya masih belagak cool walau aku tau pasti ia sedang menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.

Butuh waktu lama ia untuk mengeluarkan dirinya dari himpitan bebatuan besar walau tak ada restriksi waktu seharusnya. Ia pamer kemampuan dengan berdiri di sudut siku dinding, memamerkan kalo ia masih sangat digjaya. Yang kukhawatirkan adalah kak Sandra terbangun karena gaduh pembicaraan kami dan melihat siluman monyet itu sedang ngomong lalu panik, mengacaukan segalanya.

“Hup!” cepat aku berguling di atas kasur dan berada di dekatnya untuk menghantamkan bakiak Bulan Pencak yang sudah kupegang.

Ia melompat ringan dan sudah ada di sisi lain kamar di dekat pintu. Kukejar dia hingga melarikan diri keluar kamar dan segera berlarian bebas di taman di depan sana. Siluman itu tidak sadar masuk dalam perangkapku.

Aku bisa dengan mudah menangkapnya di luar sini dengan begitu banyaknya dedaunan di taman. Selembar daun tanaman hias kupetik dan langsung melayang terbang. Hanya perlu menyentuh tubuhnya, daun itu menyentuh kakinya…

“Selamat datang di daerah kekuasaanku, siluman monyet…” sambutku. Kami sudah berada di dalam daerah kekuasaanku. Di dalam surgaku. Dimana semuanya adalah kekuatanku.

Monyet itu clingak-clinguk lalu paham kalo ia telah memasuki satu dimensi yang berbeda dari kenyataan. Daerah terang tanpa matahari. Aku tau kalo ia sebenarnya takut tapi berusaha menutupinya karena sedikit banyak dia tau aku banyak mempunyai andalan di tempat ini.

Ekornya bergerak kaku, tidak santai berayun tanpa beban. Gerakannya diatur. Ia berjalan dengan empat kakinya layaknya seekor monyet, beberapa kali memperhatikan buah-buahan yang tumbuh segar lagi ranum di pepohonan subur.

“Katanya kau mau makan daging manusia?… Kok selera liat buah-buahanku? Tertarik? Ambillah… Aku tunggu sampai kau siap…” pancingku. Aku tau dia tidak bodoh tapi aku hanya menggodanya.

“Kau sudah mengundangku masuk ke daerahmu… dan sekarang aku mengundangmu masuk ke daerahku… Bukankah itu, bagus?” kataku berjalan ringan dengan sepasang bakiak itu di kakiku.

Rerumputan halus di pinggiran aliran sungai kecil dapat mengundang siapa saja untuk berbaring menikmati suasana nyaman yang diciptakan hamparannya. Pemandangan hijau pepohonan sejauh mata memandang dihiasi buah-buahan ranum. Surga nyata yang kumilki di sini.

“Sakit gak… seluruh badanmu? Aku tau pasti sakit… Aku juga tadi hampir kejatuhan batu-batu besar itu…” tanyaku ringan.

“Kau terlalu banyak bicara, manusia… Ayo kita selesaikan ini!” sergahnya memasang kuda-kuda bersiap bertarung lagi.

“Aku ini dewa… Aku tak terkalahkan…” ia malah inisiatif mulai menyerang dan bergerak cepat.

Ia sangat yakin dengan kecepatannya. Berlari cepat di rerumputan halus. Dia lupa kalau ini daerah kekuasaanku. Ia tersandung sesuatu dan jatuh berdebum di rumput halus. Beberapa rerumputan halus itu terjalin di kakinya, membuatnya terjatuh dengan bodoh.

Tak paham apa yang membuatnya begitu. Merasa malu karena jatuh dengan mudah karena ceroboh, buru-buru ia bangun tetapi rerumputan halus itu menahan tubuhnya tetap menelungkup mencium segar kehijauan rumput halus di tanah. Daun-daun kecil berbentuk jarum itu bertautan menahan tiap helaian rambut yang tumbuh di tubuh mamalia-nya. Siluman monyet itu mulai panik.

“Apaa? Apaa iniii? Rumput apaa iniii?” paniknya berusaha menggerakkan tangan dan kakinya, berupaya keras untuk bangkit.

Bahkan ekornya melekat di rerumputan seperti disteples di sana. Beberapa helai rumput berhasil ia taklukkan tetapi helai rumput lain menggantikan helai itu. Menahannya tetap di tempat, telungkup tak berdaya.

Mulutnya tak lagi bisa terbuka untuk berteriak. Hanya matanya yang mendelik-delik ketakutan. Ia mengalami syok hebat karena tak mampu bergerak hanya karena hal yang dianggapnya sangat sepele. Hanya rerumputan.

“Kenapa? Kau suka lembut padang rumput ini? Sepertinya kau suka sekali… sampe tiduran di situ…” kataku berjongkok di hadapannya dan memperhatikan ekspresi ketakutan yang sangat dahsyat di matanya.

Hanya itu yang masih bergerak di luar tubuhnya selain organ-organ dalamnya tentunya. Pandangan matanya menghiba minta dilepaskan dari perangkap mengerikan ini. Ia yang mengaku-ngaku hebat sebagai Dewa Kera Emas, takluk hanya dengan rumput halus yang tumbuh subur di pelataran tanah luas daerah kekuasaanku.

“Udahan? Yaa udah bangun ajaa… Katanya dewa… Masak segitu aja gak bisa…” kataku semanis mungkin di hadapannya masih berjongkok.

Telapak tanganku merasakan lembut ujung-ujung helai rerumputan ini, terasa nyaman menyentuh kulit.

“Aku juga sering rebahan di sini… Guling-guling… Aahh… Melepas lelah…” kataku lalu ikut tiduran di rerumputan ini dengan nyaman. Mata kami berpandangan dengan intens. Pandangan matanya menghiba minta dilepas.

“Keknya… rumput-rumput ini suka sekali denganmu… Mereka enggan melepasmu… Mungkin-mungkin mereka mau kau menjadi bagian dari mereka… Jadi kompos mungkin…” kataku berspekulasi.

Mendelik matanya penuh horor mendengar kata-kataku barusan. Aku tidur di hamparan rumput sampai mataku berat dan tidur pulas. Tidur nyenyak.

Bangun-bangun, siluman monyet itu sudah tidak ada di hadapanku. Para rumput sudah selesai mencernanya. Geliat lega tubuhku yang sudah segar kembali setelah tidur nyenyak barusan. Entah berapa lama aku tidur aku tidak perduli karena itu tidak begitu berarti.

Kupandangi lingkungan indah dan asri ini, penuh dengan pepohonan hijau segar sejauh mata memandang. Kapan-kapan aku akan mengundang yang lain lagi kemari, ya…

Aku masuk kembali ke dalam kamar yang baru saja kutinggalkan sebentar saat mengejar siluman monyet yang lari ke taman tadi. Kak Sandra masih tidur dengan pulasnya tetap di posisi tadi. Untung tidak ada yang lewat di depan pintu ini karena ia masih bugil. Aku juga bertelanjang dada. Penghuni kamar-kamar lain tidak ada yang kepo karena keributan kecil tadi. Kututup kembali pintu dan masuk.

Selesai pipis di kamar mandi, aku naik lagi ke ranjang dan ngeloni kak Sandra lagi. Kupeluk tubuhnya dan ia otomatis memelukku juga mencari kenyamanan. Aku tidur lagi di dunia nyata ini. Hanya terasa sebentar karena kak Sandra sudah bangun dan melakukan hal nakal dengan tubuhku. Menunggangi Aseng junior dengan ganas.

“Aah… ahh… ahh… ahhh…” erangnya sambil terus bergoyang maju mundur mengulek Aseng junior di dalam liang kawin cepetnya.

Gerakannya menyebabkan toketnya juga berguncang menarik hati. Aku yang masih ngantuk sempat-sempatnya menjangkau ke sana dan mempermainkan puting gemesnya. Puting pucat dengan lingkar aerola gelap. Remas-remas juga tentunya secara besar 36D gitu loh. “Udah bangun lu, Seng…?”

“Udah, kak… Maen masuk aja ya, kak?” kataku menyindirnya yang tanpa permisi langsung tancep aja terus gas poll.

“Pulang jam berapa kita, kak?… Udah jam berapa ini?” tanyaku. Kamar hotel ini tak punya jam dinding dan HP-ku jauh di atas meja sana, tak terjangkau.

“Udah jam 3… Bentar-bentar lagi aja kita pulangnya… Wa belum mau pulang cepat-cepat… Mau puas-puasin bareng lu, Seng…” katanya lalu merunduk dan mengecup bibirku, lanjut ke permainan mulut yang tak kurang ganas.

Pantatnya terus bergerak mengaduk Aseng junior, keluar masuk teratur. Aseng junior-ku melengkung menyodok prima ke dalam liang kawin cepetnya. Ia sudah cukup istirahat dan kembali prima untuk mengaduk mangsa kembali. Walau perut melilit tapinya. Di restoran tadi aku cuma makan sedikit.

Kak Sandra dengan ganas mengocok Aseng junior dengan kemaluannya yang bergerak teratur naik turun. Pantatnya naik turun sembari bertumpu dengan lututnya yang menekuk. Kala ia merasa pengen lagi, ia tunduk dan mencaplok mulutku lagi.

Cengkraman liang kawinnya terasa sangat pas pada ukuranku. Aku sudah bilang ini berkali-kali, ya? Karena memang sangat pas. Tidak ada yang berlebihan dengan persatuan kelamin kami. Seolah memang diciptakan untuk saling melengkapi.

Berikutnya, kami bersenggama dengan posisi berdiri. Kak Sandra berdiri di dekat jendela bertirai yang menghadap ke taman di luar sana. Punggung dan pantatnya sedikit ditekuk agar Aseng junior dapat menembus belahan pantatnya dan mengacak-acak kemaluannya.

Pelan-pelan kocokan Aseng junior kulakukan dan tetap saling berciuman. Kak Sandra rela memalingkan wajahnya agar dapat menjangkau mulutku. Dengus nafas di antara sodokanku, menjadi bumbu penyedap nikmat hubungan kelamin ini. Toketnya juga tak luput dari permainan tanganku. Kuremas-remas kenyalnya juga pilinan di kedua putingnya.

Tak masalah kalau harus pegal karena kaki harus sedikit menekuk gak nyaman asal Aseng junior merasa nyaman di sarang barunya lebih lama. Hangat dan becek liang cepet kak Sandra membuatku menggila. Walau tak bisa masuk menembus masuk sempurna, tusukan pendek-pendek di pintu gerbang kenikmatannya memberi sensasi berbeda. Rasa pedih dan geli berpadu menjadi satu karena katupan ketat lubang vaginanya di posisi gak lazim bersenggama ini.

Gak kuat, kak Sandra sedikit merubah posisi menjadi menungging tanpa berpindah tempat atau melepas Aseng junior. Kupegangi pinggulnya untuk pegangan yang pas. Lalu aku bisa menaikkan tempo karena kak Sandra melebarkan kakinya.

Alhasil Aseng junior bisa masuk sempurna menjajaki kedalaman liang kawinnya. Tak kurang kak Sandra mengerang-erang keenakan, sesekali menggosok kacang itilnya. Toketnya berayun-ayun, bergantung indah seirama sodokan maju mundurku. Ia berpegangan pada jerjak jendela dan meremasnya kuat.

“Oouughh… Ooh…” tubuhnya mengejang lalu jatuh berlutut sambil memegangi permukaan cepetnya yang berambut jarang.

Kakinya bergetar dan mulutnya menganga penuh kepuasan. Dirapikannya rambut yang berantakan di keningnya lalu beralih cepat menghadapku yang masih bersenjatakan Aseng junior menegang keras, berkilat-kilat basah.

“Mmm… Mmmsshh…” tanpa sungkan, dilahapnya batang Aseng junior tenggelam di dalam mulut.

“Enak, kaaak…” erangku mengelus rambutnya.

Rambut panjang sebahunya bergerak-gerak erotis kala kepalanya mengangguk-angguk, menelan kemaluanku di mulutnya. Kak Sandra memegangi pahaku sambil terus rajin menggerakkan kepalanya, membiarkanku memperkosa mulutnya yang menyedot kuat. Kugerakkan pinggulku dengan ritmis ke rongga basah berlidah itu. Enak kali dua lobangmu ini, kak Sandra.

“Muaah… Enak, Seeng? Enakan mana sama cepet wa, hah?” tanya kak Sandra sementara mengocok dan menggesekkan Aseng junior-ku ke toketnya. “Hmm… Enakan yang manaaa?” kecupnya pada kepala Aseng junior yang berlumur liurnya.

“Dua-duanya enak, kak… Masuk mana aja-pun boleh…” kataku merem-melek merasakan kenyal toketnya dijejalkan ke Aseng junior lalu dijepit di antaranya. Lalu disedotnya lagi sampe pipinya kempot. Berdecap-decap mulutnya menikmati juniorku.

“Lu harus masuk sini dulu… trus banyak-banyak nembak di cepet wa… Lu harus buntingin wa secepatnya, Seng…” ujarnya yang sudah bangkit lalu menungging berdiri dengan kepala rebah di ranjang. Sebelah tangannya melebarkan belahan pantatnya untuk memamerkan isi belahan cepetnya yang merekah merah menggoda. Lubang kawinnya berkedut-kedut memanggilku segera mendekat, merapat dan mengembat.

“Aaauuh…. Mmm… Sengg… Yang kencang, Seeeng… Uuh…” erangnya karena aku buru-buru melesakkan Aseng junior dan langsung gigi tinggi menekan gas akselerasi cepat.

Tubuh kak Sandra berguncang-guncang bersamaan guncangan maju-mundur pinggangku yang menghajar liang kawinnya. Aku meremas-remas pantat putih semoknya dengan gemas. Kucoba untuk menampar satu buah pantatnya seperti yang sering kuliat di bokep.

“PLAK!” nyaring suara tamparan berani itu.

“Auuhh!!” jerit kak Sandra menggamit tanganku yang lalu kembali mencengkram buah pantatnya.

“Saaakit, Seeng!” keluhnya.

Liang kawinnya berkedut sporadis. Gerenyam-gerenyam gitu rasanya batang Aseng junior merasakan remasannya. Ada bekas merah di pantat putihnya, bekas tapak tanganku. Kasihan melihatnya kesakitan tetapi lebih nikmat terasa remasan sporadis yang terjadi akibatnya.

“PLAK!” kembali aku menampar buah pantat yang sama.

“Aduuhh… Uuhh, Seeng… Atiiit tauu…” keluhnya jadi manja gitu nadanya.

Rasanya jadi sangat memabukkan. Bisa-bisa aku ketagihan rasa nikmat kala remasan kuat sporadis liang kawin kak Sandra menggiling batang Aseng junior. Apakah ia merasakan rasa nikmat yang sama kala genjotanku terus berlanjut menggasak liangnya yang menyempit paksa akibat rasa perih dan panas ditampar barusan.

“Enak, gak?” tanyaku. “PLAK!” belum sempat ia menjawab tamparan tapak tangaku mendarat di pantat yang sama, membuatnya menjerit lirih lagi.

Pantatnya sampai menjulang tinggi dan kutekan lagi agar tetap bisa kujejali Aseng junior dengan pas. Bentar-bentar lagi gilingan meremas itu bakalan sukses memeras santan kental dari kantong pelerku. Dua kali tamparanku mendarat dan aku menumpahkan sperma keempat kaliku di dalam liang kawin kak Sandra. Membanjiri rahimnya.

“Aaah… Ahh… Haaa… Enak kali cepet kakak… Kaaak… Sori yaa, kak?” kataku mengelus-elus merah bekas tamparanku berulang-ulang tadi.

“Jangan kasih SP awak ya, kaaak?” kataku dengan Aseng junior masih terbenam dalam, menyumbat bongkaran muatanku agar tidak cepat-cepat di-reject keluar. Kedutan-kedutan masih terasa dari kelamin kami berdua. Aku mendorong-dorong pelan pinggangku.

“Awas lu bentar, yaaa… Wa hajar lu sampe kering bentaran…” ancam kak Sandra masih mempertahankan posisinya rebah di ranjang dengan kaki lunglai bergantung di tepian.

“Sakit kali pantat wa lu bikin… Tadi lu puja-puja pantat Cina wa… Sekarang lu tabokin… Yang bener aja lu, Seng… Awas lu, yaa…” lanjutnya mengancamku.

“Dendam lu sama pantat wa, yaa? masih berlanjut omelannya.

“Abis lu nanti wa kasih SP… Mampus lu…”

“Yaah… Jangan SP dong, kak… Masak gitu aja di-SP? Kakak kan enak juga…” melasku.

Mampus aku kenak Surat Peringatan langsung dari Factory Manager. Kak Sandra terus ngomel-ngomel sambil mengelus-elus pantatnya yang memerah bekas tamparanku. Bantuanku ditepisnya kala mengelus kemerahan buah pantat kanannya itu. Jadinya aku usil dan mengelus yang sebelah kiri.

Semua pembicaraan itu kami lakukan masih dengan kelamin kami masih berpasangan. Aku takut semua spermaku akan membludak keluar. Kak Sandra meraih bantal terdekat, menaruhnya di bawah perut dan berputar setelah aku mencabut Aseng junior dari sana. Pantatnya lebih tinggi dari bagian tubuhnya yang lain.

“Kesini!” perintahnya.

Lambaian tangannya memanggilku agar mendekat. Ditariknya pinggangku agar rapat ke arah wajahnya. Paham. Tanpa ragu, kak Sandra mengulum Aseng junior yang berjuntai setengah tegang, yang masih berlumuran sperma dan cairan vagina.

Sperma yang berhasil dikumpulkannya ditelannya dengan senang hati. Dibersihkannya semua permukaan Aseng junior hingga licin terganti oleh liurnya. Kini ia fokus menyedot bagian kepala Aseng junior hingga terasa ngilu campur enak.

“Jangan kasih SP napa, kak… Kaak?” rayuku semanis mungkin.

“Ya, kak… Jangan ya, kaak?

Ia tidak merespon sedikitpun kecuali terus menyedot-nyedot kepala Aseng junior. Bergantian ia mengocok pangkal batang dan memijat kantong pelernya. Mulutnya tak berhenti bekerja. Kak Sandra tau apa yang sedang dilakukannya karena dengan demikian Aseng junior sudah bangkit lagi dan menegang prima. Jilatannya terasa basah dan bergelora.

“Masukin lagi kontol lu…” katanya sekalinya lepas Aseng junior-ku dari cengkramannya.

Tanpa berani banyak bacot, aku turun dari ranjang dan memposisikan diri di bukaan kakinya yang sedikit lebih tinggi dari kasur karena pantatnya masih terganjal bantal.

“Bantalnya biarin aja kek gitu…” tambahnya.

Aku mengarahkan Aseng junior ke rekahan cepet merekah merah, yang masih tergenang sperma di liang sampai rahim. Pasti akan banjir bandang kalo kujejalkan Aseng junior yang sudah meradang ini.

“Cepat masukin… Mau SP lu?…” sergahnya.

“Iya, kak… Ini!” dan cuss.

Aseng junior meluncur masuk seperti terpeleset di perosotan water boom yang berair kental. Berbuih-buih sperma yang meluber dari lubang kelamin kak Sandra. Spermaku terdesak keluar atau terdorong menekan isi rahimnya. Habis sampai mentok Aseng junior bercokol di dalam sana dan kugoyang-goyang kecil, mengepaskan posisi dengan ganjalan bantal di sebagian besar pantat kak Sandra.

“Nah… Itu SP punya lu… Alias Surat Pepek… Hahahahahaha…” girang kali kak Sandra menertawakanku.

Kakinya mengait pantatku hingga aku gak bisa kemana-mana selain menontonnya tertawa hingga toketnya berguncang-guncang.

“Takut ya, lu?” tanyanya dengan senyum lebar. Ia bahagia sekali sudah mengerjaiku.

“Iya deh, kak… Asal kakak awak bahagia aja-la… Gak pa-pa-la kalau awak dikerjain kek gitu…” kataku mencelos—akting, ding.

“Belagu lu… Ayo entot wa lagi… Yang enak… Awas kalo gak enak… Wa kasih SP lagi lu ntar…” katanya dengan kakinya yang mengalung di pantatku menekan-nekan agar aku mulai bergoyang. Kuturuti maunya dan gerakanku berekskalasi jadi semakin cepat berkat licinnya arena permainan senggama ini.

Buih-buih putih mengucur turun ke arah pantat dan menggenang di bantal. Tusukanku jadi berefek sangat terasa karena pantatnya lebih tinggi dari badannya. Gerusan dan gesekan Aseng junior terasa sangat maksimal di bagian rongga atas.

Erangan dan desahan kak Sandra lebih erotis dari sebelumnya. Tubuhnya kadang melonjak-lonjak merasakan nikmat yang amat sangat di liang kawin cepetnya. Dipermainkannya sendiri toketnya untuk berekspresi kenikmatan.

Aku hanya fokus menggenjot dengan brutal, sesuai permintaannya. Genjotan cepat yang kuperagakan pada ronde ini. Kurasa semua spermaku yang sudah terkuras sudah cukup banyak, menggenang bergetar-getar di atas bantal—membentuk aneh seperti puding kenyal.

“Aah… aauhh… uuhh… uu… uuAhh… Ahhnn… mm…”

“Kaak… Enaaak, kaaak? Cepeeet kakaaak enak kaliii, kaak!” erangku menengadah ke langit-langit terpejam.

Meresapi rasa enak yang menjalari sekujur tubuhku. Seperti yang juga dirasakannya juga. Selangkangan kami berdua beradu menambah alunan suara “plok plok plok” tiap kali bertemu tepuk. Jari-jari kak Sandra memilin putingnya sendiri dengan gemas. Kala ia mengulum bibir bawahnya, liangnya mengetat erat—melakukan kontraksi nikmat yang menjepit erat Aseng junior di dalam sana.

Bergoyang-goyang pinggulnya menyambut tiap tusukan bertenagaku kala kugenjot miring ke sudut tertentu berganti-ganti. Menjelajah tiap kemiringan tusukan yang memberi implikasi nikmat tersendiri. Saat tusukan ke kanan, tubuhnya mengejat tegang hingga punggungnya melengkung. Kenikmatan tercapai dengan sukses dan giliranku segera menyusul.

Kucabut sebentar dan kubersihkan Aseng junior dari cairan lengket tak perlu, kugenjot kembali dan bersiap-siap untuk kenikmatan giliranku. Terasa menggelegak bibit-bibit spermaku, tak sabar untuk berlomba masuk ke dalam tujuan hidupnya, membuahi target.

Kaki kak Sandra yang lunglai kupegangi sebagai basis gerakanku mengejar puncak ini. Ia sudah berbaring saja dan menerima apapun yang kulakukan. Kalo disemprot sekarang yaa semprot aja.

“Uwahh… Uwaahh… Heggh… hehh… hhehh…” erangku selagi beberapa kali semburan menyemprot deras masuk ke sanubari rahim kak Sandra di ronde ini.

Berkedut-kedut batang Aseng junior menyalurkan semua isi muatannya berpindah gudang. Tempat barunya. Setelah yakin tak ada yang bisa keluar lagi di kesempatan ini, kucabut Aseng junior lalu duduk dan rebah di samping kak Sandra dengan napas tersengal-sengal. Kubiarkan Aseng junior lunglai letoy berlumuran sisa sperma, kondisinya merah padam kebiruan.

Kak Sandra menarikku mendekat dan menciumi mulutku kembali. Tak peduli kalo aku masih bernapas kepayahan kek gini. Dikocok-kocoknya lagi Aseng junior.

“Kaak… Break dulu-laaa… Udah gempor aku ni, kaak…” tak sanggup aku menepis usaha tangannya menstimulasi Aseng junior-ku kembali.

Untung si pukimak Aseng junior gak mau naik begitu aja. Ini aku beneran gempor loh, tau kelen?

“Iyaa tau, Seng… Wa-pun capek juga… Istirahat dulu kita…” jawabnya walau masih tetap mempermainkan Aseng junior.

“Ngobrol-ngobrol aja kita…”

“Kaak… Lapar…” rengekku. Gempor plus lapar berat.

“Sama… Tapi lu bisa nenen dulu sama waa…” guyonnya gak lucu.

“Gaaaak…”

***

Tanpa bersih-bersih yang pantas kami makan di restoran hotel ini. Pelayannya senyum-senyum karena pastinya bisa membaui aroma perlendiran dari kami berdua yang sangat kuat. Kak Sandra hanya menyemprotkan parfumnya dan aku hanya cuci keris seadanya. Aseng junior senjata utamaku, kan?

Kak Sandra makan tak sekalap diriku yang rakus. Selow ya lae-lae-ku semua. Udah berapa liter tai macan yang kusetor ke kak Sandra dari tadi. Berliter-liter, kan? (Lebay)

“Seng… Mani lu netes-netes terus di sempak wa…” bisiknya kala aku sedang menggerogoti sebatang eh sepotong ayam goreng.

“Biarin…” cuekku. Gak ada yang kenal aja. Di sini jauh dari Medan, kan?

“Makan yang banyak… Biar jadi mani lagi yang banyak… Tros tembakin ke wa lagi… Hihihihi…” godanya dan melempar sepotong tulang ayam yang sudah memang tinggal tulang ke piringku.

“Abis ini mau maen lagi, kak?” tanyaku lugu-lugu paok.

“Ya iyalaaah…” jawabnya lalu menjilat paha ayam yang juga tinggal tulangnya.

“Gak ledes cepet kakak? Kontolku udah tipis nih, kak…” kataku ngomong asal jeplak asal dia ngurungin niat.

“Biarin aja… Amek aja ntah dimana? Mana tau dia kalo cepet wa ledes lu embatin terus…” jawabnya lebih ngasal.

“Gak pulang-pulang-la kita kalo ngentot tambo-tambo tros…” kataku mengincar sepotong ayam lagi.

Kugerogoti ayam goreng itu kek gak pernah liat ayam setaun. Setaun cuma liat cepet aja di mana-mana. Di tembok, di lantai, di meja, di layar kompie.

“Tapi lu suka, kaaan?” ujarnya ganjen dan mengerling-ngerlingkan matanya yang sipit dan mulut monyong dan bahu diangkat dan apa lagi.

“Abis itu kita gak bisa pulang ke Medan… Jauh lo, kak Medan dari sini… Hampir 3 jam tadi aku nyetirnya… Besok kita masih kerja… Kalo besok bisa libur… ayok aja…” kataku mencoba berargumentasi dengannya. Ia memandang ke kejauhan sedang berpikir. Lah… Dia ntah mikir apa.

“Cepet wa basah semua karna mani lu, Seng… Lengket semua sempak wa…” katanya menggigiti bonggol sendi tulang ayam yang dipegangnya. Itu rupanya yang dipikirkannya.

“Liat nih…” tunjuknya pada bagian belakang rok yang dikenakannya, ada noda basah di sana.

“Bodo amat…” kataku gak perduli dan terus mengisi perutku yang mulai lega.

Cacing-cacingku sudah mulai bagi-bagi nasi kotak pada para teman pendemo di perutku. Makanan di restoran ini gak enak-enak amat tapi karena lapar, bolehlah daripada lu manyun.

“Abis mandi kita pulang…” cetusnya tiba-tiba setelah membaca sesuatu di HP-nya.

Mungkin ada pesan yang penting. Ia siap-siap, membayar bill dan aku mengekorinya balik ke kamar. Santuy saja ia membuka semua pakaian yang dikenakannya dan ngeloyor masuk kamar mandi dalam keadaan telanjang. Keknya bisa aku istirahat sekelak menunggu kak Sandra selesai mandi.

Pilih-pilih sudut ranjang yang gak ada noda sperma dan aku duduk sandaran di headboard ranjang mencoba menutup mata sebentar, mempersiapkan stamina untuk nyetir perjalanan pulang nanti.

“Sst sst!” terdengar suitan kak Sandra memancing perhatianku.

Dia nongol di balik pintu, belum basah sedikitpun dengan pintu terbuka lebar.

“Maen sekali lagi sambil siraman shower, yuk?” katanya spontan dan menarik tanganku.

Tunggang langgang aku bergulingan ditariknya—lebih tepatnya diseret turun dari ranjang dan berdiri. Dilucutinya semua pakaian yang kupakai sampai total bare naked. Nakal ditariknya Aseng junior layaknya menarik tali kekang kuda. Aku menjerit-jerit sakit diperlakukan begitu.

Ini cici-cici panlok gak kira-kira kalo bercandanya. Kelewatan kek kimak kali. Kalo copot gimana coba? Nyambungnya pake apa? Tertawa-tawa geli kek cabe-caben ia menyirami tubuhku dengan semprotan shower. Sabun cair dituangkannya ke jembutku lalu mengadunya dengan miliknya sendiri—tetap tertawa geli.

Diajarinya aku untuk mengusap-usapkan busa sabun ke toketnya. Gak perlu diajarin aku udah menguasai teknik itu, kaleee. Aku malah meremas-remas kuat toketnya, sampai ia menjerit kesakitan. Dicubitnya perutku.

“Balas dendam ya lu…” katanya meremas Aseng junior, membalas kuat juga.

“Sakit, kaak… Sori, kak… Sori-sori…” menyerah kalah aku, namboru! Angkat tangan aku, ci.

Aseng junior dikocok-kocoknya berjongkok sambil menatapku tajam dengan mata sipitnya. Ditatap begitu menyeramkan sekaligus konak karena ia menjadi sangat binal. Pandangannya seperti berkata ‘Awas lu berani-berani sama wa’

Tak butuh waktu lama untuk kak Sandra menelan Aseng junior-ku dengan lahap. Ia berkali-kali melakukan deep throat dengan lidah menjulur. Walau berkali-kali terbatuk dan tersedak, diulanginya lagi—mengasah kemampuannya. Matanya basah oleh air mata karenanya.

Sruputan suara seksi ditingkahi suara air shower yang gemericik di dalam kamar mandi ini bergema keras. Diselingi dengan kocokan atau sedotan pada bagian kepala Aseng junior saja, batang kemaluanku sudah menegang maksimal. Ia bangkit dan menungging ke arah keran shower. Pantat semok dan putihnya sangat menggoda, ditunggingkan tinggi mencuat.

Kalau sudah begini, tak perlu diberitau aku harus menyodoknya doggy kalau begitu. Kuarahkan Aseng junior ke belahan pantatnya, digesek-gesekkan bentar dan ternyata belahan cepetnya sudah lumayan basah. Sisa sperma dari pertarungan sebelumnya sepertinya masih banyak di dalam sana, meluber perlahan. Cuss. Meluncur masuk dengan lancar.

“Aahh… Sengg-ahhh… Mmm…” desah kak Sandra terlonjak merasakan lesakan dalam Aseng junior memasuki liang kawinnya sampai penuh.

“Mmm… Mmsshh… Aahh…”

Aku mulai menggerakkan Aseng junior maju mundur di dalam liang kawinnya dengan lancar. Sisa spermaku di dalam sana melancarkan persenggamaan di ronde tambahan ini. Pegangan yang kugenggam adalah pinggangnya yang berlemak yang sesekali kuremas lembut.

Gerakan maju mundurku kubuat sedemikian luwes karena kak Sandra juga menyambut tiap doronganku dengan hentakan mundur. Perutku dan sepasang buah pantatnya beradu empuk.

Tiap bertemu kutambah dorongan masuk hingga aku harus berjinjit menekan, hingga pantatnya terdorong tertekan. Alhasil Aseng junior jauh melesak masuk lebih dalam. Kak Sandra dan aku sama mendesah, mengerang juga menikmati semua ini.

Air shower mengucur perlahan, hanya sekedar membasahi kami, melumasi tubuh kami, mendinginkan nafsu kami.

Ia merapatkan tubuhnya ke dinding, kepalanya rata di dinding dan semakin mencuatkan pantatnya hingga bukaan belahan pantatnya semakin melebar dan Aseng junior merangsek masuk lebih leluasa. Buih-buih putih bekas sperma di pangkal kemaluan kami tersapu air yang mengucur.

Gerakan kami tetap lancar dan aku mulai mempercepatnya. Suara erangan kak Sandra semakin bising bergema di dalam kamar mandi ini, padahal pintu masih terbuka ke area kamar. Kusodokkan Aseng junior lebih cepat lagi merasakan enaknya gesekan yang terjadi.

Cepet kak Sandra merekah sedikit membengkak merah karena sudah berkali-kali kucoblos ganas begini. Kontras dengan warna kulitnya yang putih khas panloknya, cepetnya memerah.

“Aauuhh…” jeritnya terlonjak karena rasa enak yang menerjang dirinya di puncak kenikmatan.

Aseng junior sampai tercerabut dari sarangnya, terjepit meradang di buah pantatnya kak Sandra. Aku memeluknya dari belakang yang tergial-gial gemetar beberapa kali karena kenikmatan itu. Ia meracau dalam bahasa Hokkien yang tak jelas.

Entah umpatan atau apa aku tak tau. Tanganku menahannya agar tak jatuh, meremas nakal toketnya sekaligus. Kuciumi lehernya juga. Ia berbalik tanda sudah pulih.

Kembali ia mencumbu mulutku dengan ganas. Lidahnya lagi-lagi menari di dalam mulutku, bertukar ludah saling sedot dan kulum. Kaki kanannya naik dan mengait di pahaku. Diraihnya Aseng junior dan diarahkannya ke cepetnya.

Aku harus sedikit membungkuk untuk melakukan penetrasi di posisi berdiri ini. Meluncur masuk dengan sempurna dan kupepet badannya ke dinding dingin kamar mandi ini. Kaki kanannya yang terangkat kubantu pegang untuk menahannya di posisi itu terus. Aseng junior mulai bergerak aktif.

“Ahk… ahh… ahh…” erangnya dan kusumpal lagi desahan seksi kak Sandra.

Kami kembali berciuman selagi kami bersenggama berdiri. Aseng junior menusuk masuk walau rasanya tak nyaman di posisi ini. Tapi ia tetap meradang dan menerjang. Cepet kak Sandra terus kugasak sampai kak Sandra menjerit-jerit keenakan dan melepas percumbuan mulut kami demi ekspresi suaranya ini.

Bising dan sekaligus menggairahkan sekali binik ko Amek ini. Bos-ku ini merangkulkan tangannya di leherku dan menikmati Aseng junior-ku yang terus mendera birahinya. Kakinya gemetaran menahan nikmat dan berat badannya sendiri. Kak Sandra yang minta maen di sini, kan? “Seeeng… Akhh… akk… aah…” kembali ia mendapat orgasme itu.

Kucabut Aseng junior dari sarangnya dan hanya memeluk kak Sandra. Merasakan getar-getar tubuhnya kala menikmati puncak kenikmatan senggama yang sudah dua kali dicapainya di ronde ini. Makin lama memang makin perkasa Aseng junior-ku.

Apalagi aku sudah beberapa kali ejakulasi yang makin mengurangi isi kanton menyanku ini. Entah masih ada entah enggak isi stoknya nih. Moga-moga aja abis istirahat dan isi perut tadi, sudah terisi ulang. Kak Sandra hanya bisa menyandarkan pipinya di bahuku dengan nafas putus-putus.

“Cibay lu, Seng… Enak kali cepet wa… Hah… hah… Nanti di kantor kita cari waktu, ya?” katanya dengan tersengal. Aku memeluknya, merasakan lembut dan halus kulitnya, tubuh montok menawannya.

“Bisa-bisa kita gak kerja, kak… Sibuk ngentot aja nanti…” tanggapku mengelus-elus rambut lembabnya.

“Kalo ingat begini waktu kerja… malahan wa yang gak bisa kerja… Kepala wa nanti isinya cuma ini aja…” katanya meremas Aseng junior yang terjepit di perutnya.

“Ini apa, kak?” godaku.

“Kontol lu orang… Lu pikir wa ga bisa ngomong kontol apa?” tanggapnya paham maksudku yang menggodanya.

Kami lepas pelukan dan mencari posisi selanjutnya dengan langkah gontai. Ia duduk di pinggiran bathtub dan melebarkan kakinya untukku merapat. Dengan jari berludah, digosoknya kacang itilnya beberapa kali sebelum Aseng junior-ku berusaha masuk. Dilebarkannya bibir kemaluannya yang merekah merah. Disaksikannya dengan seksama kala Aseng junior terbenam masuk perlahan dengan mulut menganga takjub.

“Uuhh…” erangnya puas.

“Hamilin wa, Seeng… Entot wa trusss… Uuhh…” Aku langsung menggasaknya cepat, karena memang isi liang kawinnya memungkinkan untuk itu—licin dan menyenangkan.

“Plok-plok-plok!” suara aduan selangkangan terdengar nyaring.

Aku memegangi kedua pahanya dan fokus memperhatikan goyangan yang terjadi di toket 36D miliknya, yang berayun-ayun indah. Kak Sandra meraung-raung keenakan dan membanting kepalanya ke segala arah. Tangannya mencengkram kuat pinggiran bathtub agar tidak ambruk.

Otot perut, kaki dan tangan tegang mengeras, alhasil Aseng junior bekerja keras menembus sempit liang kawinnya yang ikut mengetat. Benturan-benturan nikmat ini, membuatku akan segera menyemprotkan isi muatanku kembali. Bibit-bibit suburku yang kami harapkan dapat membuahi kak Sandra hingga sukses hamil.

“Kaaakk… Inihh, kaaakk… Uuhh… Uhh…” berkejat-kejat tubuhku memompakan isi benih reproduksiku ke dalam tubuhnya. Kakiku menegang terutama betisku yang keras seperti batu karena harus menopang tubuhku dan mengerahkan isi kantong peler yang nikmat.

“Splurt… splurtt… splurt…” ternyata masih ada spermaku di kantung peler ini.

Terbukti cukup banyak cairan kental itu masuk dan bersemayam memenuhi rahim kak Sandra. Rasanya sudah tak perlu diceritakan lagi. Kelen semua para lelaki pasti tau rasanya gimana enak nikmatnya saat ejakulasi.

Entah apapun metode kelen-kelen semua. Ntah-lah pake ngocok atau ngentotin binor juga. Saat tai macan itu keluar pasti rasanya enak kali gak ada duanya. Bonusnya mungkin yang beda-beda. Ada yang cuma pake bahan untuk bacol, ada yang modal ngayal, ada yang ngentotin istri atau malah pacar, bonusku adalah binor yang minta dihamilin.

***

“Lu perlu minum jamu, gak? Ntar wa berenti kalo ketemu tukang jamu, deh…” katanya.

“Boleh, kak… Ini asli awak gempor abis, kak Sandra…” jawabku yang duduk nelongso di kursi penumpang depan, di samping kak Sandra yang nyetir mobil ini dalam perjalanan pulang.

Abis dari kejadian di atas itu, di dalam kamar mandi, aku masih harus memuaskannya dua ronde lagi di seputaran kamar juga. Herannya dia masih prima aja padahal kak Sandra juga orgasme berkali-kali. Kami mandi terpisah karena aku takut akan keterusan lagi dan berlanjut beradu kelamin kembali.

Jadilah kami minum jamu yang ada di pinggiran jalan sore di kota Pangkalan Brandan. Kak Sandra ntah minum jamu apa aku gak dengar pesanannya karena aku sibuk membaca beberapa pesan di aplikasi BBM di HP-ku.

Ada beberapa pesan penting yang harus segera kubalas. Dan untuk itu aku memang harus poding ini lagi, andalanku; 5 butir telor bebek plus madu. Kak Sandra melongo melihatku menenggak cairan kental itu sekaligus dengan sekali nafas. Tapi ia gak ngomong apa-apa.

“Kayaknya nanti malam lu ada proyek lagi, nih…” sergah kak Sandra saat Pajero ini sudah bergerak lagi menuju pulang ke Medan.

Musik instrumental ringan mengalun tidak terlalu kuat dari Head Unit Pajero ini. Teman yang tepat untuk menemani nyetir dan ngobrol di atas suspensi empuk mobil mahal ini.

“Sama istriku loh, kak…” kataku paham apa maksudnya mengejekku.

“Iya… Tau… Sama istri ato sama istri orang?” sindirnya lagi tetap konsentrasi nyetir mobil ini.

“Ishh… Sok tau ini istri orang… Padahal udah diproyekin-pun…” balasku menyindirnya sambil terus membalas pesan.

“Janjian lu pasti sama ‘dia’, ya?” katanya cerewet.

“Sama ‘dia’ siapa, kak?” tanyaku terus ngetik.

“Sama itu-tuh… yang senasib sama wa tuh…” katanya sambil muncungnya dimaju-majuin seperti sedang menunjuk suatu objek.

“Dani? Gak-loh, kak Sandra… Ini awak lagi nge-chat sama kak Dedek… Tentang adik kami itu-loh… Si Selvi… Dia barusan dikasih tau kalau tadi siang itu sudah ditetapkan tanggal pernikahannya sama keluarga besar di kampung sana…” kataku memberitahu garis besar isi chat penting ini. “Tadi siang di sana acara perkenalan gitu… Semacam lamaran… Istilahnya Maresek… Artinya meraba atau membicarakan kira-kira kapan waktu yang tepat untuk menikahkan adik kami itu… Dan tanggalnya sudah ketemu…”

“Cepat juga… Lu kok gak ikut rembug?… Lu kan yang gantiin tugas bapak lu?… Apa namanya? Wali?” tanya kak Sandra tanggap. “Lu abang yang gak bertanggung jawab, lu…” ejeknya.

“Yah… Awak kan kerja, kak? Memangnya Padang-Medan itu kek Mabar ke Medan gitu?” jawabku menjelaskan pendek saja.

“Lagipula kalo di adat kami itu Ninik-Mamak yang banyak mengambil peran… Ninik-Mamak itu keluarga-keluarga kami yang ada di sana itu-lah…” lanjutku menjelaskan tata cara adat di Minangkabau secara umumnya.

“Alasan aja lu… Bilang aja lu males ngurusin kek-kek gitu…” katanya lagi tetap mengawasi jalanan yang mulai gelap.

Lampu jalan mulai menerangi meredupnya sang Raja Hari yang pulang ke peraduannya. Lampu-lampu di bangunan rumah yang ada di tepian jalan juga menyemarakkan sore menjelang Maghrib ini.

“Nanti paling kami tinggal datang aja ke kampung pas pestanya nanti, kak… Sama keluarga kak Dedek juga…” sekalian aku bermaksud mengutarakan ini.

“Tau wa maksud lu apa… Lu mau permisi cuti, kan?” kata kak Sandra tanggap dan sigap. Ia tau jalan berpikirku.

“Iya… wa izinin-lah… Kapan rupanya?” tanyanya lagi. Lampu sorot dari kendaraan di depan kami berkali-kali menerangi wajahnya yang cantik sedang menyetir penuh perhatian.

“Dua minggu lagi, kak… Mendadak yah?” ujarku harap-harap cemas walau tadi dia udah ngizinin. Tapi begini mendadak apa bisa, ya?

“Lu terakhir cuti kapan? Lu ingat sisa cuti lu tinggal berapa lagi?” tanyanya lagi ternyata tidak masalah kalo pengajuan cutiku ini tidak sesuai prosedur.

Seharusnya kalo ikut peraturan perusahaan, pengajuan cuti minimal harus sebulan sebelumnya. Ini jauh dari minimal syaratnya. Ini mungkin pengaruh kedekatan kami dan juga urgensi masalah yang akan ditangani dalam pengambilan cuti tersebut.

“Terakhir sih… liburan Lebaran kemaren, kak… Itu juga cuti rame-rame sama semua satu pabrik termasuk cuti bersama… Sisanya… sekitar 15 atau 16 hari gitu…” kataku berharap-harap cemas. Dikasih gak ya?

“Ya udah… Lu wa kasih cuti seminggu… Besok lu urus administrasinya sama HRD…” kata kak Sandra sepertinya tidak terlalu lama mikirnya.

Ia masih seperti itu, tetap menyetir dengan tenang dan teliti. Matanya mengawasi jalan dengan awas. Musik instrumental tetap mengalun silih berganti tiap single berakhir.

“Makasih ya, kaak…” kataku girang sekali.

Cuti seminggu itu sangat-sangat berharga. Jarang aku dapat liburan selama itu kecuali saat liburan Lebaran yang dirayain satu Indonesia setahun sekali. Rasanya pengen memeluknya tapi ia sudah memberi tanda dengan mengacungkan telunjuk melarangku untuk mengekspresikan apapun.

“Lu tau, kan peraturannya?… Pengajuan cuti itu sebulan sebelumnya… Buat lu… wa kasih pengecualian dengan syarat… lu ladenin wa kapanpun wa mau… sampe wa positif hamil… You got what I’m sayin?” katanya tanpa melirikku sedikitpun.

WHADEPAKK!! Kapanpun dia mau?! Ini sembrenget (kacau) namanya! Ini pemerasan! Ini melanggar HAM! Ini melanggar UUD 1945 pasal… Pasal berapa ya? Lupa apa ada pasal pemerasan di UUD itu?… Pasal 39. Fakir miskin dan anak terlantar? Bukan! Bukan itu. Kimak-lah lupa aku.

“Lu gak usah sok bengong gitu-lah… Lu juga suka, kan… ngentotin wa yang semlohai kek gini… Tadi aja lu udah berapa kali nembakin wa pake mani-lu… Perut wa masih penuh nih sama mani-lu…” katanya mengelus-elus bagian bawah perutnya.

Rok span yang membungkus kakinya menampakkan setengah pahanya yang sedang memainkan pedal.

“Kak… Awak-pun punya banyak kegiatan di luar pekerjaan… Ada kegiatan kemasyarakatan… Kegiatan keluarga… Kegiatan pribadi…” tolakku mencoba menawar. Untung-untung dia mau dengar.

“Apa kegiatan lu rupanya…”

“Awak anggota BKM di mushola di lingkungan awak, kak… Awak juga bendahara arisan keluarga… Kegiatan pribadi… awak anggota Kamen Rider Fans Club, kak…” pokoknya apa yang terlintas di kepalaku kuceploskan aja tanpa pikir panjang. Segala macam kegiatan seperti panitia lomba mancing dan panitia lomba makan krupuk Agustusan juga terlintas di kepalaku. “Mm…?” aku kehabisan ide. Kak Sandra tersenyum-senyum mendengar semua ocehanku.

“Sounds fishy… Wa gak minta semua waktu lu… Pasti lu gak tiap hari melakukan itu semua, kan? Minimal bubaran kantor… lu bisa setoran dulu sama wa… Setoran mani-lu…” katanya sepertinya tak bergeming.

“Lagian lu tiap harinya pulangnya teratur gitu… Lima tenggo… Pas jam 5 teng… lu langsung go…pulang…” katanya datar saja.

“Kalo lu udah jadi Factory Manager nanti… paling cepat lu pulang jam 7 malam…”

Aaaa! Minimal jam 7 malam. Itupun mungkin di hari Sabtu? Gila aja. Kehidupan macam apa itu?

“Serem, ya? Tapi kalo lu tau gajinya… Apa lu masih bilang serem?” sindir kak Sandra.

Gaji seorang Factory Manager? Semua masalah ekonomi keluargaku akan menguap dengan jumlah nominalnya tentu. Angka-angka yang selalu numpang lewat di rekeningku tiap bulannya pasti akan melesat cepat.

Belum lagi senyum bahagia istri dan anakku mendapatkan fasilitas terbaik yang bisa kami dapatkan dengan itu semua. Semua impian yang hanya jadi angan-angan selama ini bisa menjadi nyata dengan posisi dan pendapatan tinggi itu.

“Kepikiran, kan jadinya lu…” kak Sandra kembali bisa menebak jalan pikiranku.

“Pokoknya lu hamilin dulu wa… Dan… jabatan wa itu buat lu…” kata kak Sandra mempertegas ucapannya sewaktu di restoran saat di kota Pangkalan Brandan tadi siang.

“Mobil ini bakalan wa kasih ke elu sekarang juga…” katanya tetap menyetir seperti biasa.

Tetap tenang seperti tidak memutuskan sesuatu yang sangat luar biasa seperti ini. Pengalamannya memimpin selama ini membentuknya menjadi jadi sedemikian rupa.

Aku kembali tenggelam dalam pikiran dan lamunan sehingga aku tidak sadar kalo mobil ini melambat dan berhenti entah di mana. Gelap dan juga sepi. Hanya ada musik instrumental dan dengung mesin mobil yang masih menyala.

Terdengar suara kresek kain pakaian kak Sandra kala ia bergerak. Dari lampu LED panel speedometer di depannya aku bisa melihat gerakannya yang merayap ke arahku. Ia menggapaikan tangannya ke arah tuas pengatur posisi duduk yang ada di sisi kiriku duduk. Jok ini lebih rebah ke belakang seperti juga jok supir yang sudah rebah terlebih dahulu.

Hangat bibir kak Sandra kembali menjamah mulutku dan langsung mencumbuku dengan penuh perasaan. Lembut saja sehingga beberapa titik rambutku meremang terangsang. Ia duduk di pangkuanku dan memaksakan tubuhnya rapat kepadaku. Pelukannya erat sambil meremas-remas beberapa bagian tubuhku. Percumbuan mulut kami berujung senggama kembali.

Kak Sandra mengaduk-aduk Aseng junior yang menusuk dalam cepetnya dalam posisi menduduki pahaku. Celanaku hanya melorot sampai betis sementara ia hanya menaikkan rok dan menepikan celana dalamnya untuk bisa menikmati senggama ini.

Pinggulnya naik-turun atau berputar-putar geol, mengaduk Aseng junior-ku. Kami tidak lepas bercumbu mulut selama itu semua. Saling remas adalah bumbunya walaupun masih dilapisi kain bahan pakaian. Tak perduli dan ambil pusing kalo pasti akan kusut dan lecek karenanya.

Ternyata, kak Sandra membelokkan mobil ini ke dalam sebuah kebun milik warga yang terlihat gelap dan sepi. Rumah tidak terlihat di mana-mana. Hanya pepohonan gelap yang rindang meneduhi langit malam yang juga tak berbulan tak berbintang. Mobil goyang ini tidak dicurigai warga karena lingkungan ini sepi walau sesekali kendaraan melintas di jalan raya. Kak Sandra mahir betul memilih lokasi.

Semburan spermaku disambutnya lirih dengan menarik bibir bawahku dengan bibirnya. Nafas kami terengah-engah dan juga sedikit berkeringat walau AC mobil terus menyala sepanjang waktu. Birahi kami membakar segalanya. Menitik menjadi syahwat dan berujung menjadi nikmat walau sedikit berkeringat. Kuremas-remas kedua buah pantatnya yang kenyal dengan gemas paska ejakulasi ini.

Tangan kak Sandra terampil menarik beberapa lembar tisu dari dashboard dan menempelkannya di tepian kemaluannya saat Aseng junior dicabut lepas. Disumbatnya dengan tisu agar tidak langsung keluar semua spermaku dari sana dan kembali ke jok supir. Dimensi besar dan lebar mobil ini sedikit banyak membantu senggama kami ini. Kalo di mobil SUV standar pastinya akan terasa sangat sempit.

“Ini udah resmi jadi milik lu… Amek belum pernah di sini…” katanya sembari duduk bersandar rendah di jok supir dengan lutut berlipat hingga perutnya lebih tertekuk agar menjaga rahimnya tetap digenangi spermaku. Ia tidak mau menyia-nyiakan semua kesempatan. Tunggu? Resmi? Ko Amek belum pernah di sini?

“Kok gitu, kak?” tanyaku heran.

“Udaaah… Diem aja lu…” katanya menghentikanku untuk bertanya lebih jauh. Udah kek kucing aja nandai daerah kekuasaan pake dikencingin dulu. Aku yang duluan mengencingi mobil ini pertanda aku pemiliknya. Pake kencing enak…

“Enggak, kak… Gini aja… Kita ambil jalan tengah… Ini akan kuambil kalo kakak benaran hamil… Bagaimana?” tawarku. Kak Sandra masih mengganjal cepetnya dengan tisu dan mengelapnya sekenanya. Sepertinya ia sedang berpikir untuk mengkontra tawaranku.

“Terserah lu aja, deh…” akhirnya ia terima sambil memeriksa tisu itu berkali-kali seperti tak perduli. Tisu yang berlepotan sperma kentalku.

***

Kak Sandra menurunkanku di depan gang sehingga aku harus berjalan masuk menyusuri gang pada jam 9 malam ini. Di jalanan depan Mabar masih ramai oleh aktifitas masyarakat tetapi di gang ini sepi. Saat akan mencapai rumahku, semua pintu dan jendela sudah tertutup rapat.

Pastinya semua penghuni rumah sudah tidur, apalagi istriku pastinya kelelahan mengatasi dua buah cinta kami; Rio dan Salwa seharian ini. Tanpa masuk dulu ke rumah, aku hanya duduk di teras rumahku. Merenung.

Aku masih punya kewajiban untuk menyambangi beberapa perempuan di gang ini, antara lain: Yuli, Pipit dan Iva. Dari hasil chat selama di perjalanan pulang tadi, Yuli mengabarkan kalo suaminya sudah pergi lagi bekerja, mengendarai truk sembako sampai ke luar kota. Pipit masih sendirian di dalam kamarnya karena suaminya masih dua minggu ada di Jakarta, pendidikan singkat. Iva yang tidak memungkinkan karena suaminya sudah pulang dari memancingnya.

Untuk Iva, ia sempat mengirimkan beberapa foto yang sangat mesum. Foto kemaluannya yang berlumuran sperma. Awalnya itu kukira foto saat bersamaku tetapi rupanya bekas sperma suaminya. Sialnya bagi Iva adalah karena Toni, suaminya, yang sudah lama tak pernah bisa ereksi dan menyetubuhi istrinya, digoda untuk melakukan kewajibannya dan berhasil ngaceng.

Tapi sekalinya bisa bangun lagi setelah sekian lama hibernasi, nempel langsung crot dan lemes. Mungkin karena terlalu menggebu-gebu, terlalu semangat dan senang karena bisa ereksi lagi, sensasi enak menyentuh tempék berjembut lebat Iva langsung ngecrot.

Gak kuat jantungnya berdegub terlalu kencang. Padahal Iva sudah konak juga akan dicoblos sang suami, gagal maning! Ia merengek padaku gimana caranya agar ia dapat kepuasan dari rasa kentang. Aku tidak bisa apa-apa. Aku mundur alon-alon mergo sadar aku sopo. (*malah nyanyi)

Jadi jadwal malam ini adalah mengunjungi Yuli dahulu lalu Pipit kemudian. Pada Yuli yang dinantikan adalah suguhan 38DD-nya. Guncangan dan kenyalnya bikin kangen kala dikremes-kremes. Apalagi legit apem mlenuknya juara.

Dan kemudian Pipit, binor satu ini selalu penuh kejutan, terakhir kunjunganku ia menyajikan live show yang bisa bikin aku termehek-mehek. Témpek mungil berjengger lebih itu juga sukses membuatku selalu blingsatan. Di kedua binik orang itu, aku kembali menumpahkan beberapa kali bibit-bibit suburku untuk memperbesar kesempatan hamil mereka.

Jangan ditanya lagi seberapa lelah tubuh ini. Lelah… Sudah seharian diperas cici-cici panlok itu di kota Pangkalan Brandan sampe berapa kali ngecrot, donor darah putih kentalku harus kudermakan juga untuk Yuli dan Pipit. Sebelum Subuh aku sudah pulang ke rumah dan tidur sebisanya, mengistirahatkan tubuhku.

***

Aku hampir terlambat masuk kantor dan buru-buru membereskan cubicle di hari Senin ini. Buru-buru juga Dani nyamperin.

“Terlambat, bang?” tanyanya basa-basi.

“Dikit lagi…” jawabku hanya meliatnya sekilas dan neruskan beres-beres meja kerja. Tumpukan-tumpukan file menggunung di mejaku.

“Udah sarapan, bang?” tanyanya lagi. Ia ternyata menawarkan sekotak stryfoam nasi uduk yang dibawanya di kantong kresek yang diulurkan padaku.

“Udah agak dingin, sih… Dani nungguin dari tadi…”

Mau ditolak tapi gimana… Tapi diterima juga aku sudah sarapan.

“He he he… Makasih, Dan…” akhirnya aku terpaksa menerimanya.

    

Tapi sambutannya agak beda karena ada colekan di telapak tanganku ketika bungkusan itu berpindah tangan. Ia menatapku dengan pandangan yang gimanaaa gitu. Tubuhnya berayun-ayun tidak tenang dan menggigit bibir bawahnya seperti menahan sesuatu.

“Bang Aseeng… Mau kesana?” tanyanya lirih dengan gerakan wajah ke arah tertentu.

Arahnya ke pintu nun jauh di sana dimana terdapat ruang Meeting 3 dan gudang arsip yang bersejarah baginya. Mimiknya penuh harap. Berharap aku mengabulkannya.

“Pagi-pagi gini, Dan?” pastiku sebenarnya sangat enggan.

Pagi-pagi mulai kerja harusnya ya kerja bukannya malah ngentot! Dani menunduk dan mengangguk malu. Entah sadar atau tidak, tangannya memegangi meki yang masih tertutup sempurna di celana panjangnya. Jarinya menggosok-gosok pelan seperti sengaja melakukan itu agar aku melihatnya.

Ia tetap menunduk menggosok dengan jari tertekuk, jari yang sama yang tadi digunakannya untuk mencolek tapak tanganku saat mengoper nasi uduk.

“Dani udah kepengen pagi-pagi gini?” tanyaku liat kanan-kiri dulu pelan agar gak kedengaran rekan kerja yang berseliweran di depan kami.

Percakapan kami ini tersamar seperti sebuah diskusi biasa aja karena kami memang sering berinteraksi.

Kembali ia mengangguk malu. Tentu aja dia pantas malu. Ngajak pria yang bukan suaminya untuk suntik-suntikan di ruangan sepi. Keknya ini yang disebut masa birahi saat subur. Tingkat hormon kewanitaannya meningkat drastis dibanding hari biasanya.

Masa puncak kesuburannya memicu Dani menjadi lebih agresif begini. Membuatnya agresif memintaku melakukannya lagi begitu aku muncul di radar pandangannya.

Apa mungkin bisa quickie kalo begini keadaannya?

“Mm… Ya udah… Kek biasa aja, ya?” kataku akhirnya setuju.

Kasihan juga meliat Dani dalam keadaan begini. Ia sudah sangat sange dan wajahnya memerah menahan semua rasa itu. Mungkin aja meki gundulnya sudah gatal cekit-cekit minta dicoblos.

Yang biasa itu artinya, Dani akan ke gudang arsip duluan dan aku menyusul 2 menit kemudian lalu kami bertempur disana seperti yang sudah kami lakukan hari Sabtu kemaren.

“Makasih ya, bang? Tapi itu sarapannya?” ia baru teringat tentang si nasi uduk.

“Gampang itu… Dani duluan aja kesana… Nanti awak nyusul kek kemaren itu…” kataku agar ini cepat mulai dan cepat selesai juga. Dengan begitu aku bisa meneruskan kerja-kerjaku yang sudah menumpuk, menanti untuk mendapat perhatianku.

Wajahnya lalu berubah cerah dan balik kanan langsung menuju tempat indehoi rahasia kami itu. Aku memperhatikan sebentar lenggak-lenggoknya yang berjalan agak sedikit terburu-buru menuju pintu yang menyembunyikan affair kami ini.

Kuperhatikan juga kamera CCTV yang menyoroti area itu. Dari sana kak Sandra bisa tau kalo aku ada apa-apa sama Dani di balik pintu itu. Karyawan lain masih sliweran tak begitu mengacuhkan, hanya sibuk dengan tugasnya masing-masing.

Dua menit, aku menyusul Dani ke gudang arsip. Di pagi hari begini, jarang orang yang mengakses lokasi ini karena penggunanya biasanya kemari kala mengembalikan berkas data lama atau menyimpan data yang sudah usang. Dan itu semua terjadi di akhir bulan. Selebihnya ya seperti ini, lengang. Paling hanya rutin dibersihkan oleh OB kantor sebelum jam kantor dimulai.

Di depan pintu gudang arsip, kuketuk pintu untuk permisi masuk. Tak menunggu jawaban, aku langsung saja masuk dan menutupnya lagi rapat-rapat. Kembali hanya lampu di dekat pintu ini yang menyala dan selebihnya gelap.

Hanya pendar cahaya dari satu-satunya lampu yang menyala yang membuatku bisa melihat samar bentuk ruangan ini. Setelah lebih terbiasa, aku bisa menemukan Dani duduk di posisi biasanya. Di atas kardus-kardus yang banyak disimpan di sini.

“Kita maen cepat aja ya, Dan?” kataku yang sudah menghampirinya, berdiri di depannya dan langsung menurunkan restleting celanaku bermaksud mengeluarkan Aseng junior yang masih layu tentunya.

Walau temaram aku bisa melihatnya dengan jelas kalau ternyata Dani sudah melepaskan beberapa kancing atas kemeja lengan panjang seragam kerjanya dan menyelipkan sepasang payudaranya keluar mencuat terjepit di BH-nya.

“Ahh… Daan…” kagetku karena ia berani meraih Aseng junior dan mengocoknya walau masih kaku dan malu.

Ia tak berani atau malu menatapku saat melepaskan rok panjang span yang dikenakannya hingga melorot di lantai. Bayangan siluet tubuh bawah telanjangnya segera mengisi isi kepalaku dan menyebabkan Aseng junior lebih cepat terangsang.

Darah segar cepat mengisi rongga-rongga pembuluh darah yang membuatnya menegang keras penuh potensi. Dari awal genggaman kecil sampai genggaman besar, Dani memegangi Aseng junior yang meradang terangsang.

“Udah, bang?” tanya Dani lirih saat aku menjamah payudaranya dan mengutik-utik putingnya yang sudah menegang. Aku gak perlu permisi karena ia sudah sengaja membukanya yang artinya sudah dipersilahkan untuk dijamah sesukaku.

“Udah tegang kali ini…”

“Dani-nya gimana?” tanyaku menyerahkan semua posisinya kek gimana yang dia suka.

“Kek gini aja, bang…” jawabnya yang tetap duduk di kardus bersusun dua tingkat itu sembari meloloskan celana dalamnya. Ia lalu melebarkan kakinya agar aku mudah memasukinya.

“Tinggal masuk aja, bang… Udah basaah…” bisiknya lirih, pada kata terakhir ia menjamah mekinya sendiri dan melebarkan bibirnya.

Mengingat ini seharusnya quickie, segera kutempelkan Aseng junior ke bukaan meki yang sudah dibuka pemiliknya untuk kumasuki.

“Emmhh… mm…” desah Dani begitu Aseng junior pelan meluncur masuk.

Ternyata benar, liang kawinnya memang cukup basah. Pasti dia sudah sange dari tadi. Mulai dari menungguku yang datang hampir terlambat. Mungkin di angan-angannya aku menggagahinya seperti saat ini.

Aku langsung bergerak memompa mekinya. Awalnya pelan dan pendek. Lalu semakin cepat dan panjang-panjang hingga payudaranya yang mencuat terjepit BH-nya berayun-ayun minta perhatian juga. Lidahku menjulur dan mengulik putingnya, tentunya dengan tubuh sedikit membungkuk agar aku dapat menjangkaunya.

Kusedot-sedot bergantian kedua payudaranya selagi terus rajin memompakan Aseng junior yang merasakan nikmat peret liang kawin binik si Akbar ini. Licin dan sempit liangnya membuat rasa nikmat senggama ini semakin nikmat saja.

Sodokanku semakin cepat dan gila karena aku tidak mau terlalu lam menikmati ini. Aku harus mengalahkan rekor standar 15-20 menitku sendiri jadi dibawahnya.

Dani memeluk kepalaku yang sedang asyik memainkankan payudaranya. Aroma parfumnya bercampur dengan aroma ludahku yang berlepotan menodai dadanya. Mencuat sehingga mancung lebih besar dari ukuran aslinya makanya memang cocoknya dinikmati dengan cara dicucup begini.

Seluruh bagian puting dan daging payudara masuk ke mulutku dan kusedot rakus. Erangan Dani terdengar lirih. Ia sangat menikmatinya dan ia segera mendapatkan manfaat kenikmatan itu. Orgasmenya.

“Uuahh… Ahh… Ahmm….” erangnya sedikit lunglai kalau tidak kutahan punggungnya.

Kuhentikan gerakan menusuk Aseng junior, merasakan kedutan meremas liang kawin meki Dani. Kedutan kencang berulang-ulang tanda lonjakan kenikmatan yang melanda tubuhnya. Ia mengelus-elus rambutku dengan lembut yang masih menikmati sepasang payudara yang tak terlalu besar miliknya.

“Dani… Jangan pake perasaan sayang-sayang, yaaa? Gak boleh…” ingatku karena sentuhan terasa berbeda. Ada rasa yang terlarang di sana.

“Dani gak boleh sayang bang Aseng?” tanyanya.

Percakapan ini agak aneh karena aku sedang berhadapan dengan teteknya di remang ruangan gudang ini. Sementara kemaluan kami berdua masih bersatu erat. Kedutan orgasmenya sudah mereda. Dan ini jawabanku. Kugerakkan lagi Aseng junior memompa dan langsung gas poll. Aku berupaya tegar dan tega.

“Ingat perjanjian kita? Pasal pertama? Dani sudah setuju, kan?” kataku. Kubacakan kembali pasal pertama itu,

“Satu. Hubungan. Semua kegiatan ini tidak diperbolehkan mengikutkan perasaan sama sekali. Ini semua hanya sekedar hubungan tolong menolong. Aku menolong Dani agar hamil. Aku tegaskan tanpa perasaan jadi tidak akan hubungan yang lebih dari pada itu”

“Karena itu Dani tidak boleh pake perasaan… Apalagi kita berdua masing-masing sudah punya pasangan resmi… Awak sangat mencintai istriku… dan Dani juga awak yakin sangat mencintai suamimu… Begitu, Dan…” kataku walau tak berhenti memompakan Aseng junior dengan kencang.

Ia mendengar semua pernyataanku dengan tubuh tergial-gial karena gerakan cepatku. Ditingkahi suara kecipak becek pertempuran sepasang kelamin kami.

“Aahh…” erangnya lagi tak dinyana dan tak diduga, Dani mendapatkan orgasme lagi.

Liang kawin mekinya meremas Aseng junior dan aku tidak berhenti kali ini karena tujuan yang ingin kucapai dari tadi sudah terlihat di depan mata. Rasa enak dari ejakulasi yang kuinginkan untuk menyudahi affair di kantor ini, pagi ini.

Benturan yang terjadi sempitnya liang kawin Dani, membuat rasa nikmatnya bertambah-tambah. Aku yakin kalo Dani juga mengalami setidaknya dua kali orgasme berturut-turut karena sodokanku yang tak mereda.

“Aahh… auhh…”

“Eghh… Uhh.. Uhh…” erangku menyusul dan membenamkan Aseng junior dalam-dalam dengan hentakan sekuatnya.

Semburan-semburan spermaku menerjang masuk, memenuhi lorong uterus Dani dan mengisi rahimnya dengan bibit suburku. Aku mendusel-duselkan mukaku ke belahan teteknya yang memerangkapku. Kenyalnya terasa nyaman.

Aku menandainya dengan ludah dan aromaku. Tak lama segera kucabut Aseng junior dan melelehlah sperma kentalku. Kuambil tangan kirinya dan kuarahkan untuk menyumpal lubang yang masih menganga gemes itu agar tak mubazir semua kerja keras kami berdua ini.

Dengan beberapa lembar tisu yang kusimpan di saku celanaku, kubersihkan cairan lengket kental itu dari tubuh Aseng junior walau masih dengan nafas putus-putus.

“Cepat, Dan… Kita harus balik kerja lagi…” ujarku yang sudah selesai membersihkan kemaluanku.

Aku juga sedikit membersihkan mukaku dari sisa ludahku sendiri. Dani masih berbaring di atas susunan kardus itu dengan kaki terbuka mengangkang, meki berlumuran spermaku, payudara mencuat bebas dan mata terpejam berlinang air mata.

“Kalo Dani gak boleh sayang sama bang Aseng… Nanti istirahat sekali lagi… Dan terus besok-besok juga… sampe Dani hamil…” bergetar suaranya.

Ia duduk menunduk dengan kaki rapat memakai kembali celana dalamnya, lalu memakai kembali rok span panjangnya, membereskan kancing baju seragamnya. Ada isakan di sana. Ia berusaha terlihat tegar dan memanfaatkannya sebaik mungkin—dengan pernyataan ini.

Ia lalu keluar dari gudang arsip ini tanpa kata-kata apapun lagi seperti pacar yang sedang merajuk gak dibelikan coklat Valentin. Sekali lagi, aku berupaya tegar dan tega.

***

Begitulah adanya. Pada jam istirahat, kami kembali mengulanginya lagi di gudang arsip yang memorable itu. Walau tak ada percakapan berarti lagi karena insiden tadi, kelamin kami yang lebih banyak berbicara sesuai fungsinya. Komunikasi full body contact Aseng junior dan meki gundul.

Dani di jam istirahat ini semakin menjadi-jadi. Untuk membangunkan sang macan, Aseng junior, ia nekad memasukkannya ke dalam mulut. Walau kaku dan kikuk, ia berusaha sebisanya. Hanya bagian kepala botak Aseng junior yang bisa masuk ke mulut mungilnya. Disedotnya pelan-pelan penuh penghayatan. Mendapat servis mengejutkan seperti ini, Aseng junior bangkit dengan cepat dan meradang sejadi-jadinya.

Kugasak Dani dengan posisi doggy. Benturan selangkanganku dan pantat mungilnya lumayan berasa. Apalagi berkat sempit dan peretnya meki gundul milik Dani yang menelan Aseng junior yang memburu cepat.

Keluar-masuk bak piston dengan bantuan pelumas encer yang diproduksi Dani, meliputi gesekan nikmat kedua kami hari ini. Tanpa ditahan-tahan lagi, lagipula ia sudah mendapat jatah kenikmatannya sendiri, sampai bergetar-getar tubuhnya–aku juga mendapat jatahku.

Kuremas-remas pantatnya yang pas digenggaman selagi membiarkan kenikmatan paska ngecrot di liang kawin mekinya memudar. Sodokan-sodokan kecil meningkahi kenikmatan yang tersisa.

Menikmati sempit dan nyaman berada di dalam tubuh langsing Dani yang kesehariannya selalu berhijab ini. Siapa sangka aku bisa menggagahinya sampai beberapa kali ini. Dia yang minta lagi.

“Daaan? Jangan kek gitu-la… Kita kan udah sama-sama sepakat… Masak Dani jadi kek gitu ke awak?” rayuku agar ia sedikit bermanis muka lagi.

“Senyum dikit napa? Mukanya kek kain kusut mulu…” sambungku dan mengelus pipinya.

Dani sedang memakai kembali semua pakaiannya. O-iya. Tadi ia membuka seluruh pakaiannya hingga nekad bugil total, memamerkan tubuh polosnya kepadaku. Menawarkan keindahan ragawinya padaku.

“Jangan pegang-pegang!” katanya ketus.

Tapi ia memaksakan sebuah senyum ketat yang tak iklas.

“Gini, kan?” katanya berpura-pura ceria dengan menempelkan dua telunjuknya di kedua lesung pipinya, belagak imut dengan mata berkedip-kedip.

“Awak gak pa-pa, kok… Bang Aseng aja yang pe-ra-sa-an…” katanya selagi memasang kancing terakhir kemeja lengan panjangnya, menarik ujung bajunya agar lurus rapi kembali.

“Jadi… besok lagi, Dan?” tanyaku menanyakan maksudnya.

“Dua kali pokoknya… Pagi… kek tadi pagi… Siang… kek yang ini barusan… Lebih bagus kalo bang Aseng datangnya lebih awal agar gak terlalu terburu-buru… Dah… Bye!” katanya cepat, tepat dan berlalu. Tapi ia tak dapat menyembunyikan seulas senyum di sudut bibirnya.

“Dua kali?” ulangku hanya bisa memandang tubuhnya yang menuju area terang di dekat pintu.

“Dua kaliii… Wek!” ulangnya dengan jari tanda peace dan menjulurkan lidahnya dengan imut dengan tulus ceria. Ia lalu hilang di balik pintu, ngacir.

***

“Udah lu urus cuti lu itu?”

“Udah kak… Paling tinggal kakak yang ACC terakhir…”

“Yaa… Entar wa ACC-in… Enak ya, lu?… Ngentotin binik orang sampe dua kali sehari…” sindir cici-cici panlok ini.

Pastinya dia tau semua tingkahku lewat layar CCTV. Saat ini aku juga memandangi layar besar di ruangan kerja kak Sandra. Untung saja tidak ada kamera di gudang arsip sehingga tidak terlihat aktifitas nikmatku bersama Dani di dalam sana. Kamera hanya menyorot bagian pintu yang menuju ruang Meeting 3 dan gudang arsip saja.

“Ya udaaah… Nanti kakak-pun dua kali jugak-la…” kataku ngenes mengusap mukaku dari jidat ke mulut dengan tarikan berlebihan. Dia ketawa sampai toketnya berguncang.

“Tawa aja tros sampe bunting…”

“Enak kali lu dua kali… Wa masih Factory Manager di sini… Tiga kali…” katanya malah nego.

“Tobat! Cibay-cibay…” aku tambah ngenes.

“Kopong kak dengkulku…” kurebahkan kepalaku di atas meja tanda lemes.

Kak Sandra kembali tertawa-tawa kek kuntilanak campur vampir. Memang ya perempuan-perempuan ini—mesin penyedot sperma! Aku pun dengan paok-nya mau aja menyerahkan semua spermaku. Tapi cemana-la, enak kali-pun.

***

Sore hari, di saat semua para staff kantor sudah pulang kerja, kantor kosong. Beberapa lampu yang tak perlu dinyalakan sudah padam, meninggalkan hanya beberapa lampu utama. Bahkan para OB sudah pulang dari tadi setelah membersihkan ruangan dan membuang sampah. Di ruang Factory Manager ini masih ada kegiatan. Kegiatan kami berdua.

“Ah… ah… ah…” desah kak Sandra yang kugenjot dengan kecepatan sedang cepet berjembut jarangnya.

Toket 36D-nya bergoyang berayun-ayun seirama dengan genjotanku. Memberi fan-service pada mataku yang jalang mengikuti gerakan memutarnya. Puting berbeda warnanya menjadi titik fokus pandanganku. Ia mencengkram Aseng junior di dalam liang kawinnya dengan cara mengkedut-kedutkan otot perutnya yang menyebabkan kontraksi meremas.

“Ahhnn…” erangku merasakan remasannya pada batang kemaluanku sangat intens.

Di dalam ruangan kerja kak Sandra yang cukup luas ini ada sebuah ruang tambahan tempat ia beristirahat di samping toilet. Ada sebuah sofa yang bisa difungsikan sebagai tempat tidur juga beserta sebuah meja rias kecil untuknya berbenah memperbaiki riasannya. Di dalam sini kami melakukannya.

Kak Sandra berbaring dengan kaki mengangkang lebar terganjal tanganku yang menahan di belakang lututnya. Aseng junior menyodok teratur dengan suara berkecipak cairan lumer yang dihasilkan panlok ini.

Sesekali, toketnya kupatuk sebentar, bermain-main dengan puting, kedua putingnya bergantian. Dan ia kembali minta cium. Ia memainkan lidahnya di dalam mulutku, mengaduk-aduk lidahku mengajaknya bergulat. Ludahku disedotnya saat mengulum lidahku lalu menyetorkan percampuran ludah kami kembali padaku. Mulut kami berdua berlumuran basah.

“Seeng-ahh…” dilepasnya mulutku dan mengerang panjang.

Pantat dan perutnya mengetat agak terangkat pertanda ia merasakan kenikmatan puncak itu. Aseng junior-ku terjepit erat di cepetnya. Kak Sandra mengerang-erang keenakan sembari meracau bahasa Ibunya dan leherku dipeluknya juga.

Membuatku dapat mencium aroma rambut dan kulit lehernya. Aseng junior kugoyang pelan-pelan berputar mencoba melonggarkan sedikit kepitan erat otot kemaluannya. Getaran tubuhnya berkurang dan didorongnya tubuhku menjauh.

Begitu Aseng junior terlepas dari cepet kak Sandra, ia membalik tubuhnya dan menungging mengganti posisinya. Tak perlu tanya apa-apa, aku langsung nyosor ke pantatnya.

“Aaahh… Suka kali lu sama pantat wa, ya?” desahnya karena aku bermain-main di sekitar bongkahan empuk pantatnya.

Mukaku kugesek-gesekkan ke buah pantatnya, berpindah kanan kiri. Kuremas-remas dengan gemas lalu kutepuk-tepuk–tidak kuat, sih. Jariku juga mengutik-utik isi dalam cepetnya yang basah.

“Aaaahhh… Seenng-ahh… Lu nakal aaamat, yaaa? Ummhh…” erangnya.

Mukaku nemplok di belahan pantatnya. Hidungku merangsek masuk ke liang kawinnya sedang mulutku menyedot kacang itilnya yang lumayan gemuk itu. Aku inisiatif melakukan ini mumpung belum dinodai spermaku sendiri. Kemaren aku belum sempat melakukan ini keburu sudah belepotan sisa pertempuran sebelumnya.

Lidahku menyapu rakus isi lipatan dan lekukan yang ada di sana. Lidahku berbentuk corong juga kujejalkan masuk ke liang kawin itu. Tanganku meremas dan melebarkan kedua bongkah bokongnya supaya permainanku makin liar. Aku makin gemas saja dengan pantatnya. “Suka lu sama pantat Cina wa, haaah?”

Tak menjawabnya, aku langsung menjejalkan Aseng junior dan langsung gas poll sekencangnya. Lagi-lagi ia mengerang. “Clok! Clok! Clok!” suara genjotan brutalku. Toketnya yang bergantung bergoyang brutal juga. Erangan kak Sandra juga terdistorsi getaran. Lalu kulepas lagi dan mukaku kembali nemplok di sana. Kusedot sekuatnya sampai ia menjerit, memasukkan sebisanya kemaluannya ke mulutku.

“AAuuhhh!!” Aku gemes denganmu kak Sandra.

“Gila lu, yaa?” katanya setelah memukul dadaku dengan napas tersengal-sengal.

Ia berbaring menyamping di atas sofa. Ternyata jeritannya tadi karena ia kembali mendapat orgasme. Toket 36D-nya bergerak-gerak menantang.

“Cepet wa ntah dah lu apain aja…” ujarnya mengelus-elus kemaluannya dari belakang. Aku mengusap mukaku yang tercemar cairan vaginanya. Cemaran lezat.

“Gemes aku, kak…” jawabku ngasal sembari mengocok-ngocok Aseng junior yang merah meradang. Urat-urat di sekujur batangnya bertonjolan membuatnya terlihat sangat garang. Kak Sandra malah melebarkan bibir cepetnya pertanda aku sudah bisa masuk lagi. Kali ini dengan posisi menyamping.

“Aahh…” erangku karena di posisi ini, liangnya terasa sangat sempit mengigit. “Uuhh…”

Perutku dan pantatnya beradu karena rasa nikmat yang tak terperikan lagi. Aku pasti akan ngecrot tak lama lagi. Aku hanya fokus untuk kenikmatanku sendiri dan kak Sandra juga mengerang-mendesah keenakan juga.

“Aaahh… Ah… Ah…” lututku sampai gemetaran merasakan kenikmatan dunia ini kala spermaku menyembur dan menyemprot rahim kak Sandra. Ia juga mendesah-desah keenakan dan meremas tepian sofa.

“Seng… Enak kali, Seng kalo miring gini, yaa? Kerasa kali enak cepet wa… Hah hah hah…” katanya baru merasakan nikmatnya hasil kepuasan di posisi ini.

“Ini posisi favorit wa jadinya… Ambilin bantal itu…” katanya menunjuk bantal sofa untuk mengganjal pantatnya. Kuserahkan bantal itu dan ia meluruskan tubuhnya di atas sofa dengan pantat lebih tinggi terganjal bantal.

“Sini lu…” panggilnya biar aku mendekat.

Jantungku masih dag-dig-dug abis ngecrot barusan, kak Sandra sudah kembali mengulum Aseng junior, membersihkannya. Alhasil yang seharusnya istirahat dulu barang sebentar, sudah kembali bangkit menegang keras.

“Kak istirahat dulu…” pintaku di antara sedotan yahudnya.

“Biar lu cepat pulang… Ini baru sekali, kan? Ada dua kali lagi jadinya…” hentinya sebentar lalu menyedot kuat lagi.

Pipinya yang sedikit chubby jadi kempot seperti menghisap cerutu Kuba kualitas terbaik. Ia benar-benar serius harus dapat giliran 3 kali dariku. Naga-naganya aku harus kembali poding, nih pulang dari sini. Singgah di tukang jamu langgananku di Mabar. Terus ia menikmati memainkan Aseng junior sambil memperhatikan ekspresi yang muncul di mukaku akibatnya. Tentu meringis mukaku mendapat sedotan ampun-ampunan kek gitu.

“Semua punya wa enak kan, Seng? Pantat wa enak, mulut wa enak… Cepet wa pun lebih enak…” kocoknya pada Aseng junior dengan senyum lebar. Lidahnya menjulur mengejek entah mau apa.

Diludahinya permukaan Aseng junior lalu ditelannya kembali batang itu dan terus menikmatinya seperti sebatang es krim yang paling lezat. Karena terasa sangat enak, mau gak mau aku ikut bergoyang mengentoti mulutnya. Kutusuk dari samping hingga pipinya menggembung. Gesekan pada pipinya lumayan terasa.

Serasa aku sedang menyodok cepet yang punya lidah. Lidahnya ikut menari-nari selagi kusodok mulutnya. Toketnya juga tak lupa kupermainkan karena melihatnya sedang mengutik-utik sendiri kacang itilnya.

“Dah, Seng… Cepet wa dah gatel kali nih…” katanya melepas Aseng junior dari mulutnya dan mengarahkannya kembali ke kemaluannya. Ia kembali berbaring menyamping—posisi favorit barunya. Aseng junior-ku didorongkannya ke cepetnya sendiri.

Karena liang kawinnya itu masih basah beselemak spermaku, mudah saja Aseng junior meluncur masuk. Malah terpeleset masuk hingga kandas. Kami berdua mengaduh keenakan.

“Ahhmm…”

Bagian pantatnya yang mencuat kuremas-remas gemes begitu juga sebelah toketnya yang terlihat di posisi ini. Rasa enak yang terjadi di senggama ronde kedua ini sangat terasa sampe ke ubun-ubun. Kak Sandra sampe harus memeluk kakinya kala ia menjerit keenakan.

Walaupun lepas saat ia kelojotan di puncak kenikmatannya, tubuhnya berkejat-kejat tak terkendali. Aku melepas Aseng junior untuk mengulur nafas sebentar. Tubuhnya yang hampir jatuh dari sofa kuperbaiki posisinya hingga ia menelentang lemas dengan mata terpejam dan dada naik turun.

“Enak kali, Seeng…” keluhnya saat aku mempermainkan toketnya dengan mulutku.

Aku berjongkok di depan tubuhnya, menikmati hidangan tubuhnya yang tak bosan-bosan kusantap. Ia mengalihkan mulutku ke arah mulutnya dan kami kembali bercumbu mulut selagi tanganku tetap mempermainkan toket 36D-nya.

Memilin kedua putingnya bergantian. Lidahku masuk ke dalam mulutnya dan disedotnya dengan rakus. Semua cairan yang keluar dari mulutku disedotnya. Lidahnya menggelitik lidahku untuk bergulat bagai pagutan ular. Aku belajar banyak dari kak Sandra tentang gulat lidah karenanya.

“Masukin lagi, Seng…” katanya karena aku menggelitik kacang itilnya yang tetap keras.

Kakinya otomatis diangkat lebar di sofa yang cukup besar dan nyaman untuk ditiduri karena terbuat dari bahan terbaik dan mahal. Kuposisikan tubuhku dan Aseng junior di depan bukaan cepetnya yang merekah merah lagi basah. Padahal kemaren sudah habis-habisan kugasak lubang ini, tapi selalu nagih untuk datang berkunjung lagi.

Begitu tubuh kami terkoneksi oleh jalinan dua kelamin, aku merebahkan tubuhku pada kak Sandra dan aku meminta ciuman lagi. Seperti sudah menjadi keharusan kalo tiap bersenggama dengannya, harus dibarengi dengan cumbuan ciuman yang panas berlidah.

Permainan ludah dan lidah kami peragakan kembali selagi aku memompa Aseng junior teratur dengan tusukan pendek-pendek. Kadang aku tidak bergoyang sama sekali, hanya menikmati mulut kak Sandra saja sehingga Aseng junior hanya terbenam dalam. Tenggelam.

Aku tidak melakukan ini pada perempuan-perempuan lain di proyek kehamilan mereka. Bahkan aku membuat pasal khusus untuk melarang mereka dan aku untuk melakukan cumbuan seperti ini. Sedangkan pada kak Sandra ada pengecualian.

Hanya kak Sandra yang berani menolak pasal itu dan merevisinya karena ia percaya diri tidak akan baper pada hubungan yang kami jalin ini. Sejauh ini, ia memang menepatinya.

Kenapa? Apakah perempuan-perempuan lain itu ada kecendrungan baper? Bawa Perasaan? Sejauh yang kuingat—ya. Pada Aida, ia sempat beberapa kali pada beberapa kesempatan terpisah minta khusus dicium. Yuli juga sama, bahkan curi-curi seperti yang dilakukan Aida juga. Pipit apalagi.

Ia terang-terangan baper sampai mengatakan ‘I love you’ tak bersuara di satu rekaman persenggamaan kami. Iva bahkan sempat mencurahkan perasaannya walau secara tak langsung. Begitu juga dengan Dani.

Ia sempat ngambek karena bingung dengan perasaannya atas apa yang sedang kami jalani ini. Proyek kehamilan beberapa perempuan itu semoga tidak membawa implikasi negatif kelak yang akan buruk bagi kami-kami juga.

“Ah ah ah ah…” erangnya berulang-ulang meningkahi sodokan teraturku.

Ia terpejam saat kupandangi wajahnya yang menikmati tiap kenikmatan yang kuberikan padanya. Membiarkan semua kenikmatan itu mengalir bebas dan menguasai dirinya. Mengaduk-ngaduk semua kesadarannya.

Tubuhnya ikut bergoyang seirama sodokanku, menggoyang kenyal sepasang toket 36D-nya, menggoyang semok otot tubuhnya, mengusutkan tatanan rambutnya, memuaskan dirinya. Kuciumi sesekali bibirnya tanpa balas. Matanya tetap terpejam, meresapi, menikmati.

Barusan, kembali ia mendapat big-O itu dan ia mencumbu mulutku lagi. Tak lama kami berganti posisi. Ia terpikir untuk melakukan posisi ini.

“Wa pengen nyobain begini, Seng…” katanya.

Ia menyuruhku duduk bersandar di sofa dan ia menduduki pangkuanku, memunggungiku. Dibimbingnya Aseng junior ke arah vaginanya, merangsek perlahan dan tembus sempurna membelah masuk. Aseng junior menusuk masuk ke cepetnya secara tegak menjulang. Kakinya ditekuk di atas sofa. Kak Sandra mulai bergoyang naik turun selagi aku memandangi punggung dan belakang kepalanya.

“Aahh…” erangnya.

Aku memegangi ketiaknya dan ia menahan tubuhnya dengan berpegangan pada lenganku, dicengkram kuat. Gerakan naik turunnya pada awalnya aja bertenaga karena seiring waktu, rasa nikmat yang mendera tubuhnya tak dapat ditahannya lama-lama dan gerakannya mulai tak teratur. Menjadi hanya gerakan maju-mundur mengulek Aseng junior yang kandas menembus tubuhnya.

Kupeluk perutnya agar rapat ke dadaku, mengelusi perut dan memainkan sepasang toketnya, kami berciuman kembali. Aku yang kini bergerak. Melengkung Aseng junior merojok masuk memompa cepet berjembut jarang itu.

Sambil bermain gulat lidah, Aseng junior terus menyodok kak Sandra. Stimulasi penuh kulakukan padanya karena sebelah tanganku memilin putingnya, sebelah lagi mengulik kacang itilnya, mulut bergulat dan cepet ditembus batang pejal. Tubuh kami berdua lengket oleh keringat karena permainan seks yang berada di ronde kedua ini. Kak Sandra melawan dengan menggerakkan pinggulnya juga berputar menyambut sodokan Aseng junior yang pas di dalam liang kawinnya.

“Seeng-ahh! Seeng… Akh!” erangnya lalu menggerakkan pinggulnya maju hingga Aseng junior lepas dan CUSS! Ada semprotan kecil yang meluncur deras ke hadapan. Ada dua kali semprotan lebih kecil menyusul kemudian. Tubuhnya bergetar di pelukanku.

“A-a-ah…” bahkan suaranya bergetar.

Kulebarkan belahan bibir cepetnya karena takjub akan kejadian tadi. Aku sempat menyaksikan hal yang serupa di Dani saat pertama kali melihatnya masturbasi kala kesurupan. Kuusap-usap kacang itilnya dan kembali tubuhnya bergetar keenakan.

“Enak kali, Seng… Wa ampe squirt begitu… Pinter amat lu maennya…” puji kak Sandra tetap dengan kaki membentang lebar lemes akibat orgasme kembali.

Orgasme yang super hot sampe squirt. Kepalanya rebah di bahuku dan bernafas tersengal. Toketnya masih kupermainkan begitu juga dengan kacang itilnya. Aseng junior melambai-lambai gak ada kerjaan. Hanya mengacung nganggur. Sabar ya, Seng? Yang sabar dapat cepet se-Mabar. Nyaho, lu!

“Lemes banget wa, Seng…” kutuntun tubuhnya agar berbaring manis di atas sofa dan ia otomatis melebarkan kakinya lagi.

Kedutan masih terlihat di kemaluannya yang baru mendapatkan orgasme dahsyat.

“Tapi wa masih mauu… Masih bisa dimasukin-lah…” katanya menahan kakinya di bagian paha agar semakin lebar, mempersilahkanku masuk dan memuaskannya lagi.

“Biar wa lekas hamil anak lu, Seng… Entotin wa truss…” mengangkat sedikit pantatnya mengundang.

Bimbingan tanganku, memasukkan Aseng junior dan ia sukses masuk meluncur dan kembali kugoyang kak Sandra. Aku pengen ngeliat kak Sandra squirt lagi dan karenanya kutambahkan kulikan jari di kacang itilnya sebagai stimulan tambahan.

Ia langsung mengerang hingga kepala mendongak dan terbanting-banting. Erangan, eluhan, jeritannya membahana di ruang istirahatnya. Untungnya kantor sudah sepi dan kami bebas mau ngapain aja sore ini.

“Seeng-aakhh!”

Tanggap, kucabut Aseng junior dan aku berkelit cepat. Luncuran semprotan squirt itu menerpa pegangan sofa sebelah sana. Tiga kali semprotan juga seperti yang pertama tadi. Kak Sandra mengerang-ngerang sambil memegangi kepalanya. Matanya melotot tak percaya dan mulut menganga untuk oksigen.

Tidak ada bau pesing walau semprotan squirt itu berasal dari lubang air seninya. Karena cairan itu sejatinya bukan air seni. Tapi kasian juga OB besok pagi disuruh membersihkan kencing tawar Factory Manager ini. Karena aku jadi ketagihan melihat kak Sandra melakukan hal binal seperti ini berulang-ulang dan aku tau caranya.

“Jahat lu, Seng… Lu mau buat wa pipis trus, kan?” kata kak Sandra paham jalan pikiranku.

Muka dan cepetnya kini sama padan merah serupa. Terbakar birahi dan rasa nikmat yang membuncah tinggi sampai membakar langit. Aku hanya menggosok-gosok tapak tangan dengan senyum mesum yang dilebih-lebihkan. Kak Sandra tertawa geli melihat tingkahku. Apalagi Aseng junior bergoyang-goyang naik turun kompak.

Kubalik tubuhnya yang tak berdaya, tak bisa menolak untuk menungging dan langsung kucoblos. Gas poll dengan tambahan kembali kulikan tangan di kacang itilnya. Kak Sandra berusaha menutup aksesku ke klitorisnya tetapi kutepis tangannya.

Licin liang kawinnya memudahkanku menggasak kemaluan kak Sandra dan aku yakin gak lama lagi ia akan squirt kembali. “Seeng-aukhh!” Tuh, kan? Terkencing-kencing kak Sandra di atas permukaan sofa, menembakkan semprotan squirt-nya. Tubuhnya bergetar-getar lalu rebah di atas cairannya sendiri tak mampu menahan diri.

Susah bernafas yang kini dialami kak Sandra. Deguban jantungnya mendisrupsi jalan nafasnya apalagi di posisi tengkurap begini, massa toketnya makin menekan paru-parunya. Tapi aku ketagihan meliatnya terkencing enak begitu. Pantatnya yang mencuat indah, basah oleh peluh, berkilat-kilat menggoda—kuangkat hingga menjulang.

Tak bisa bersuara protes, lubang kemaluannya kembali kujejali Aseng junior yang berteriak menang. Kami sudah menang beberapa kali. Kami menang pertempuran kali ini. Kami menguasainya sekarang. Menggasaknya menungging kali ini, aku juga terkena cairan squirt yang menggenang di sofa.

Ia hanya bisa pasrah dan merebahkan kepala dan sebagian besar dadanya di permukaan sofa sementara perut dan pantatnya menukik naik, menjadi bulan-bulananku. Kacang itilnya kembali menjadi kunci kemenanganku.

Ketika ia menjerit squirt untuk keberapa kalinya, aku hanya mencabut Aseng junior sebentar dan langsung kejejalkan kembali masuk kala semprotan kencing enaknya berhenti, merasakan kedutan meremas kuat liang kawinnya yang kutuju karena aku sudah merasakan kenikmatanku di ujung kemampuanku.

Aku sudah terlalu lama bertahan akibat permainan yang baru kutemukan ini. Dan selesai sudah ronde kedua ini. Semprotan spermaku terasa sangat nikmat terasa. Kepuasannya berbeda karena aku merasa menang dan berkuasa atas kak Sandra. Aku bisa mengendalikan dirinya kapan harus mendapat kenikmatan itu hingga terkencing-kencing.

Kutindih tubuhnya yang lemas di atas sofa yang basah oleh cairan kencing tawarnya. Perutku menindih pantat kenyalnya, yang masih kusodok-sodok pelan, menguras sisa sperma yang mungkin masih ada di salurannya. Kusibak rambutnya dan mengecupi lehernya yang putih berkeringat. Ia berbaring pasrah dan lunglai. Tangannya terkulai menggantung hingga menyentuh lantai.

“Cibay lu, Seng… Lu siksa wa, ya? Abis wa hari ini… Puas banget wa sampe lemes… Cibay lu emang…” maki dan pujinya sekaligus dengan nafas berat.

Aku mengambil segelas air putih dan menyodorkan ke mulutnya. Ia kusulangi minum karena tubuhnya memang gempor abis-abisan kebanyakan orgasme hebat. Sampe abis itu air satu gelas besar padahal rencananya aku juga mau minum dari gelas yang sama.

Aku balik lagi ke dispenser untuk mengisi gelas kosong dan duduk lagi di sofa itu. Kutepuk-tepuk pantatnya seperti memanjakan seekor piaraan yang jinak. Belahan pantatnya kukuak untuk memeriksa keadaan di balik sana. Cepetnya beselemak-keak (berlumuran maksimal) spermaku. Anusnya juga berkedut-kedut, buka-tutup.

“Jadi gimana? Lanjut ronde ketiga?” tantangku.

Ini sesumbar aja-nya. Padahal udah lemes jugak-nya aku ini. Gempor sak pira-pirana (Gempor sampe telor-telornya) kalo kata orang Karo bilang. Aku berdiri di sampingnya sambil menggoyang-goyangkan Aseng junior kanan kiri di depan matanya. Ia tersenyum jenaka paham candaanku. Tangannya berusaha bergerak menggapai Aseng junior-ku yang menggodanya. Pun, melakukan itu ia tak sanggup.

Kesimpulannya, kak Sandra tak dapat melanjutkan ke ronde ketiga seperti yang ia kehendaki.

Telaten kubersihkan sisa-sisa persetubuhan kami ini sebisanya dengan tisu yang banyak. Apalagi sisa air seni tawar yang menempel di tubuh kak Sandra dan sofa dimana ia berbaring lemas. Kak Sandra memuji-mujiku dengan ejekan sarkas khas yang biasa terlontar dari mulutnya. Kupangku tubuh telanjangnya kemudian dan kami berciuman untuk beberapa lama.

“Gila lu yaa… Nemu aja cara buat wa gempor kek gini…” katanya berbaring berdua di sofa ini. Tubuhnya menimpa diriku yang sama-sama berbaring. Kepalanya di dadaku. Aku mempermainkan toketnya dengan iseng.

“Kebetulan, kak…” sambil menciumi harum rambutnya.

“Aahh… Moga-moga wa cepat hamil ya, Seng… Wa dah capek begini-begini aja…” katanya lagi tentang konsep kesempurnaan manusia dan wanita miliknya itu lagi.

Hanya tinggal hamil dan melahirkan anak yang belum dicapainya di hidup sempurnanya ini. Lalu ke tahap berikutnya, mendidik dan membesarkan anak itu. Entah ia akan menerapkan konsep itu agar menjadi anak yang sempurna juga? Karena manusia tidak ada yang sempurna. Yang sempurna itu cuma rokok Sampoerna. *garing.

“Semoga kakak awak yang cantik ini segera hamil… Lahir dengan sehat dan selamat… Mama sama anaknya sehat-sehat…” kataku sekenanya. Itu sudah termasuk doa dariku yang berkontribusi dalam usaha hamilnya ini.

“Makasih, Seng… Lu baik banget ama wa…” katanya menengadah berusaha melihatku tapi tak bisa karena posisi ini.

“Kakak juga baek kali sama awak… Karna bantuan kakak juga awak bisa kek gini… Itung-itung balas budi-la…” kataku mengecup ubun-ubunnya. Matanya terpejam kala itu seperti menikmati kecupanku itu. Tanganku yang masih mempermainkan toketnya, diraup dan dipelukkan ke tubuhnya.

“Lu jangan ngira wa maen perasaan, ya… Tapi kadang wa merasa selalu kesepian… Pelukan lu nyaman dan anget… Peluk wa agak lamaan dikit, ya?” katanya. Aku baru tau ada sisi ini di kepribadiannya. Pelukanku kupererat. Lembut tubuhnya bersatu lumer dengan tubuhku.

***

Sebelum pulang, aku disuruhnya mandi dulu untuk menghilangkan semua aroma-aroma perlendiran dan kewanitaan dari tubuhku. Aku sudah menggauli dua wanita berbeda hari ini dan jujur saja aroma keduanya sedikit banyak menempel di tubuhku.

Mandi dengan cepat di toilet yang ada di ruang kerja kak Sandra, baru aku pulang. Tiba di rumah menjelang jam 6 sore. Matahari di Mabar pukul segini masih terang karena Maghrib akan menyapa Bumi sekitar jam 6:30.

Ada orang di depan rumahku yang sedang melihat sesuatu pada pohon mangga yang tumbuh besar di sana.

“Ada apa, Gus?” sapaku langsung bertanya pada pria itu.

“Eh… Bang Aseng… Ini bang… Aida katanya ngidam pengen mangga punya abang…” kata pria bernama Agus ini.

Benar, dia adalah suami dari Aida, TO pertama yang sudah berhasil kuhamili dengan diam-diam. Hanya kami berdua yang tau skandal ini; aku dan Aida. Agus taunya istrinya hamil hasil karyanya sendiri. Mungkin ada kebanggaan dibalik ketidak tahuannya itu.

“Ooh… Ngidam? Ambillah… Kalo untuk ibu-ibu ngidam pasti bolehlah… Ambil-ambil…” pahamku.

Kuparkirkan Supra X 125 di depan rumah dulu dan kubantu Agus mencari mangga yang di-ngidamkan Aida.

“Tapi tinggi-tinggi, Gus…” kataku menunjuk pada beberapa buah mangga Golek yang tumbuh di ujung ranting.

“Panjatlah, Gus… Kalo nggak pake galah…” usulku.

“Itulah masalahnya, bang… Kalo kupanjat… tengoklah badanku ini kek gajah bengkak gini… Aida maunya-pun kupanjat pohon ini… Gak boleh pake galah katanya… Nanti anaknya ileran kata orang-orang kalo maunya gak dituruti…” kata Agus si gajah bengkak. Eh?

“Iya juga, Gus… Kata orang-orang memang gitu… Daripada-daripada ya, kan?” kataku setuju.

Panjang umur. Itu Aidanya datang dengan lenggak lenggok perempuan seksi berperut buncit hasil karyaku beberapa bulan lalu. Ia memakai daster tanpa lengan berwarna cerah dibawah lutut. Karena tarikan besar perutnya, bagian lututnya terlihat.

Ia baru balik entah darimana bareng istriku dan kedua anakku. Mungkin karena aku pulang telat dan Salwa rewel pengen jalan-jalan ritualnya, istriku berinisiatif menggendongnya—menggantikan tugasku. Rio juga ikut minta jajan. Berarti jajan di kede Iva.

“Udah ada yang dapat, bang?” seru Aida agak berteriak agar kedengaran dari kejauhan. Agus menggeleng lemas karena belum mendapatkan apapun. Agus merasa bersalah karena tak sanggup melaksanakan tugas aneh yang harus dilakukan tiap suami yang istrinya sedang ngidam. Gak tiap suami, kok.

“Awak ambilin tangga, ya?” tawarku agar Agus bisa lebih mudah menggapai ranting besar pertama yang tumbuh kokoh di ketinggian 2 meter.

Agus setuju. Aku melihat Aida tersenyum lebar saat melihatku bergerak ke belakang rumah untuk mengambil tangga kayu. Saat aku sedang berusaha mengangkut tangga kayu buatan sendiri yang setinggi lebih 2 meter itu, Agus muncul.

“Biar awak aja yang bawa, bang Aseng…” kata Agus mencegahku memikul tangga itu dengan senyum cengengesan.

Ah… Mau unjuk gigi rupanya di depan istri yang sudah (dikiranya) dihamilinya agar terlihat jantan. Ia memikul tangga itu di bahunya pada pertengahan tangga dan mulai berjalan ke depan.

Awalnya terlihat mudah tetapi di pertengahan jalan mulai keteteran. Tangga itu walau terlihat ringan, setidaknya berbobot 25-30an kilo karena terdiri dari persatuan dua batang kayu panjang dan beberapa batang kayu pendek sebagai pijakan.

Dimensinya yang panjang pastinya berayun-ayun kalau tidak seimbang memikulnya. Nafasnya mulai berat dan kecepatan menurun. Sampai di depan pohon mangga, ia kesulitan menaikkan tangga itu karena sudah kehabisan tenaga. Gak akan luka kalo minta bantuan, kan?

Masalah baru timbul setelah tangga berdiri menjulang ke atas dahan awal pohon mangga Golek. Sanggup gak Agus menaikkan tubuhnya sampai ke dahan tersebut. Akan kita saksikan bersama-sama.

“Bang Aseng… Ini tangganya kuat, kan? Takut patah…” katanya setelah ambil ancang-ancang menginjakkan kaki di pijakan tangga pertama.

“Kuat…” jawabku pendek saja. Aku merapat pada istriku dan Aida yang menonton semua kejadian ini agak di kejauhan.

Kami berdua lirik-lirikan. Istriku menggendong Salwa dan Rio entah ngacir kemana. Kami memandangi cara Agus menaiki tangga itu dengan susah payah berkat bobot tubuhnya yang berlebih. Setelah beberapa saat, ia akhirnya tiba di dahan utama pohon ini.

Buah-buah ranum dan mengkal tumbuh di ujung ranting-ranting dahan ini. Buah pohon ini belum terlalu banyak karena usianya belum terlalu tua. Pohon ini kutanam tidak lama setelah kubeli tanah ini dan itu sekitar 5 tahun lalu. Sebagai penanda kehamilan istriku saat mengandung Rio dulu.

Agus memegang erat-erat dahan pohon kecil lainnya untuk pegangan karena kalo gak terbiasa manjat pohon, di ketinggian itu pasti akan terasa gamang karena hembusan angin pohon terasa bergoyang. Semakin tinggi akan semakin kuat goyangannya. Kakinya terlihat gemetar tapi berusaha tegar dan bertahan.

“Deeek? Yang matang ato yang mentah?” tanya Agus pada dua pilihan jenis kematangan buah kepada Aida yang mendongak ke atas. Aku dan istriku ada di belakangnya.

“Yang asem…” jawabnya.

Yang asem? Yang ditanya yang matang atau mentah? Jawabannya asem? Ada-ada aja ni Aida ngerjain laki.

“Yaa… Yang itu… Tiga-tiganya…” tunjuknya pada segerombol mangga Golek yang terdiri tiga buah mangga yang besar-besar tapi masih berkulit hijau. Setidaknya perlu 2 minggu lagi untuk matang dipetik.

“Yang ini?” ia memastikan buah yang dipilih Aida.

Sang bumil mengangguk sumringah. Ketiganya kalo ditimbang bisa 1 kilo setengah. Ditariknya satu buah dahulu dan dimasukkannya dalam plastik kresek yang dibawanya dan dua buah lainnya menyusul.

“E-eh…” Gawat. Dahan kecil yang dijadikannya pegangan ternyata tidak kuat dan patah. Tubuh Agus limbung karena tak ada pegangan lagi berdiri di dahan utama yang berbentuk bulat.

Kedua perempuan di sekitarku ini hanya bisa menjerit histeris kala tubuh Agus yang udah kek gajah terbang melayang jatuh. Istriku memalingkan wajahnya tak berani melihat, Aida memegangi perutnya selagi menjerit.

Kalo jatuh dari ketinggian itu akan lumayan cedera parah. Apalagi yang duluan akan mencapai bumi adalah punggungnya dan menyusul belakang kepalanya. Minimal gegar otak. Dedaunan kering dan gugur pohon mangga Golek yang belum sempat kusapu dan kukumpulkan, bergerak cepat, menumpuk menjadi satu—menjadi alas jatuh Agus.

Untunglah masih sempat.

Agus bangkit kebingungan karena ia berbaring di atas dedaunan yang tidak terlalu tebal tetapi dapat menahan fatal jatuhnya barusan. Diperiksanya tubuhnya, kalo-kalo ada yang cidera.

Aida yang khawatir juga ikut memeriksa suaminya. Tidak ada luka serius di fisik. Hanya ada sedikit lecet di tangannya karena tergores kulit pohon yang kasar sewaktu memanjat tadi.

“Untung ada daun-daun ini ya, bang?” katanya memegang satu daun mangga yang lebar dan panjang itu.

Mungkin ia bersukur ada tumpukan daun kering yang menahan jatuhnya barusan. Ia berkali-kali melihat ulang ketinggian dahan dimana ia berdiri tadi dan tumpukan daun. Lumayan tinggi-eh.

Selama itu, Aida bolak-balik melirik padaku dengan pandangan yang gimana gitu. Ia terus menerus mengelus perutnya yang membuncit. Entah apa yang dipikirkannya.

Tak lama pasutri itu permisi pulang dan berterimakasih pada kami atas mangga Goleknya. Salwa dioper istriku pada siapa lagi selain aku, papanya. Padahal ini sudah menjelang Maghrib, jadinya jalan-jalannya sebentar aja, ya anakku sayang? Pulang dari jalan-jalan dan mengembalikan Salwa pada mamanya, aku sempatkan memegang kembali batang pohon mangga Golek itu–berkomunikasi dengannya. Menanyakan apa yang sebenarnya terjadi? Hmm… Begitu, ya ceritanya.

Serangannya lumayan kuat dan berbahaya karena dapat melewati pagar pertama yang kupasang melindungi area rumahku. Pagar pertama ini adalah segi empat dari empat batang pohon daun kelor yang tumbuh di empat sisi lahan tanahku yang lumayan luas ini. Pohon mangga Golek ini agak sedikit menjorok keluar dari pagar pelindung ini dan dahan yang tadi diinjak Agus sudah masuk ke dalam perlindungan.

Dengan mudah aku memanjat si pohon mangga Golek dan memeriksa patahan dahan kecil, penyebab jatuhnya Agus tadi. Dahan ini patah dari pertengahan tumbuhnya dan patahnya juga tidak wajar karena terpotong bersih. Dan yang paling mencurigakan adalah adalah noda coklat yang menjalar seperti menggerogoti sisa dahan. Menjalar ke batang utama.

Pohon mangga dan sejenisnya terkenal akan getahnya yang kental, bahkan ada yang sampai korosif pada jenis mangga tertentu. Getah pada tanaman mangga berfungsi sebagai desinfektan bagi pohon itu sendiri.

Atau secara umum sebagai alat bela diri bagi pohon untuk mengatasi para hama yang kerap menyerang. Karenanya kubilang ini mencurigakan karena sang pohon tak bisa mengeluarkan getah itu di bekas patahan dahan tadi dan noda coklat itu menjalar perlahan. Kupatahkan sisa batang dahan yang patah itu untuk menghentikan infeksinya. Baru dari bekasnya keluar getah kental.

Ini bau karat. Kucoba menghidu aroma yang melekat di noda coklat mencurigakan itu. Masih penasaran orang itu rupanya… Kumandang azan Maghrib mengisi seluruh langit. Aku buru-buru turun dari sana dan masuk ke rumah.

***

“Tadi daun-daun itu gak ada di sana?” tanya istriku dengan mimik acuh tak acuh sebenarnya. Kami sedang makan malam. Lebih tepatnya aku sendirian aja. Istriku hanya menemaniku. Salwa sedang bersama abangnya menonton TV.

“Memang gak ada… Masih berserakan tadinya… Kan belom papa sapu…” jawabku.

“Kan gak lucu juga orang segede itu jatuh kek nangka bosok… Minimal ada yang keseleo ato geger otak kalo gak digituin…” sambungku nyambi terus makan pepes ikan daun singkong plus nasi hangat. Nyum!

“Pake Menggala-Menggala papa itu?” tanyanya lagi.

Tumben dia mau membicarakan ini? Selama ini dia cuek-cuek aja dengan segala latihan-latihanku. Seingatku baru kali ini ia menyinggungnya kembali. Pernah dulu waktu masih pacaran dan itu sudah lama sekali.

“Iya… Lagian mangga itu papa yang nanam sendiri… Dia nurutnya cuma sama papa aja… Keknya ada yang usil sama Agus…” kataku sedikit memberi petunjuk padanya. Apa tanggapannya mendengar ini?

“Disantet gitu?” sergahnya tanggap juga.

“Yaa… semacam itulah…” kutunjukkan bekas potongan dahan mangga itu padanya.

“Ini tandanya…” tunjukku pada bekas karat yang menjalar di potongan bersih di keratan kayunya.

“Ini dipotong oleh senjata tajam berkarat… Mungkin pisau atau klewang… Yang pastinya berkarat…” Kukosongkan air minum dari gelasku dan kumasukkan potongan kayu pendek itu ke dalamnya.

Kuambil toples berisi irisan tipis teh daun bidara kering dan kutaburkan di dalam gelas (Teh daun bidara ini buatanku sendiri. Cari cara buatnya di mbah gugel untuk lebih detilnya) dan kututup pakai piring kecil.

Istriku penasaran dan memelototi apa yang akan terjadi. Potongan kayu berkarat itu berasap. Awalnya tipis saja dan semakin tebal karena asap tidak bisa keluar dari gelas. Dan PUFF! Terbakar! Istriku melonjak kaget melihat kejadian terakhir itu.

Sisa potongan batang pohon itu tidak terbakar semua. Hanya pada bagian berkarat itu saja yang terbakar karena ada kandungan oksidasi besi di sana. Kek sulap, ya?

“Kenapa itu, pa?” tanya istriku melihat gelas dan mukaku bergantian. Mimiknya kaget.

“Gak kenapa-kenapa… Mama kok jadi pengen tau yang beginian?… Biasanya juga cuek…” kataku meneruskan makan. Ia masih penasaran.

“Coba ceritain… Ada yang mau mama tanya, kan? Mukanya serius gitu…” kemudian ia duduk dengan tegak masih dengan muka serius itu. Mengumpulkan semua kata-katanya sesaat. Dan…

“Dulu yakin… papa gak melet mama?” tanyanya out of the blue.

Random kali itu jenis pertanyaan. Jelas aja aku kaget. Aku ngerti cara melet itu gimana. Dari pelet yang paling gampang sampe yang paling dahsyat juga ada. Tapi untuk menggaet perempuan pantang bagiku untuk menggunakan cara curang itu. Kek gak ada manis-manisnya gitu.

“Hah? Melet? Gak-lah… Papa mana pernah melet-melet mama… Kenapa?” tanyaku.

“Karna… keknya papa dah gak pernah perhatian gitu lagi sama mama…” pelan dia mengatakannya.

“Papa keknya selalu saja sedang melakukan hal lain… Sibuk sendiri entah apa… Mama memang gak sampe nyelidik-nyelidik gitu papa sedang apa… Tapi ya itu… papa sepertinya sedang asik sendiri di luar sana… Makanya mama tanya… Apa peletnya sudah tidak bekerja lagi?”

Kelen tau yang namanya insting wanita? Itu yang sedang menamparku bolak-balik di muka dengan sebuah rambu lalu lintas tulisan S coret. Bukan maksudnya Dilarang Stop atau berhenti, tapi dilarang Selingkuh! Asik sendiri di luar sana adalah selingkuh dengan banyak wanita sekaligus. Apapun alasan yang kukatakan, itu semua kriterianya adalah selingkuh.

“Karna papa sedang asik sendiri di luar sana itu dan sepertinya mengabaikan kami itu… mama jadi kepikiran kalo peletnya sudah tidak bekerja lagi…” lanjutnya dengan nada dibuat setegar mungkin. Pasrah lebih tepatnya.

Pasrah akan apapun yang terjadi. Hilang semua selera makanku. Makanan yang kukunyah terasa hambar. Terbayang semua perjuanganku dulu untuk meyakinkannya untuk memilih diriku untuk jadi pendamping hidupnya. Menjalani hidup dalam suka duka. Mengikat janji suci. Menua bersama-sama sampai akhir.

Tanpa malu atau segan aku bersimpuh di kakinya mohon maaf atas semua kesalahan dan dosa-dosa yang telah kulakukan padanya. Memang tak ada namanya suami durhaka pada istri. Yang ada itu adalah durhaka anak pada ibu. Tapi yang sedang kupeluk kakinya ini adalah seorang ibu. Ibu dari anak-anakku.

Aku memang banyak mengabaikan istri sah-ku sendiri dan malah banyak fokus pada perempuan-perempuan di luar itu. Sehingga bahkan nafkah bathin-nya pun berkurang. Seorang istri yang seharusnya mendapatkan nafkah itu secara rutin, bahkan harus curi-curi waktuku yang lebih banyak tercurah untuk perempuan lain. Ia tidak hanya butuh nafkah lahir yang tak pernah absen.

Aku berjanji pada istriku akan lebih banyak menghabiskan waktu dengannya dan keluarga.

Walau sebaik apapun aku bermain dan membagi waktu, istirahat dan poding, sebagai seorang wanita dan istri, insting-nya lebih kuat. Sebanyak apapun uang yang kukeluarkan, kalau hanya sebagai kompensasi pasti masih akan terasa kurang tulus.

Contohnya gelontoran duit buat shopping beberapa waktu lalu, pembajakan waktu libur untuk pergi bersama kak Sandra ke Pangkalan Brandan kemarin, pulang pagi menjelang Subuh yang rutin kulakukan tiap hari dengan alasan latihan Menggala. Itu semua membekas di hatinya dan mengusik insting kewanitaannya yang peka.

Berujung pada pertanyaan simpelnya malam ini. Peletnya sudah tidak bekerja lagi?

Malam itu aku membatalkan semua janjiku untuk mengunjungi para perempuan ‘tetangga’-ku. Mereka kecewa tentunya tapi setelah kujelaskan alasannya akhirnya mereka mengerti dan minta reschedule. Ciee… reschedule, bah!

***

“Pagi ini juga, kak?” kagetku.

“Ya… Seminarnya mulai sekitar jam 10 nanti… Gak papa-lah kalo lu berdua terlambat dikit… Undangannya buat dua orang… Harusnya wa sama elu aja… Tapi entar lagi wa juga ada rapat sama para Komisaris… jadi undangan buat wa digantiin sama Dani aja…” jelas kak Sandra.

Ia mendapat undangan mendadak seminar yang harus diwakili pihak perusahaan di sebuah hotel oleh sebuah Instansi Pemerintahan. Entah gimana ceritanya undangan itu sampai terlambat tiba di tangan kami. Pokoknya harus ada dua perwakilan dan kak Sandra memilih kami berdua; aku dan Dani.

Alis Dani berkerut-kerut memikirkan delegasi mendadak ini. Padahal tadinya kami akan segera bertemu di gudang arsip di pagi ini sebelum jam kerja dimulai jam 9 pagi. Keburu kak Sandra memanggil kami berdua. Ternyata ia datang pagi-pagi juga, lebih awal dari biasanya untuk menyampaikan tugas ini. Batal deh ena-ena bareng Dani di gudang arsip pagi ini.

“Dani bisa, kan?” tanya kak Sandra.

“Bisa, bu…” jawab Dani tak bisa mengelak.

“Ya sudah… Dani siap-siap dulu… Nanti biar lu berdua pergi ke seminar itu pakai mobil kantor aja…” kami bergerak hendak keluar ruangan ini.

“Seng tunggu sebentar…” cegahnya padaku. Kak Sandra menunggu sampe Dani benar-benar keluar dari ruangan ini. Sepertinya ada hal penting.

“Kenapa, kak?” tanyaku masih berdiri di depan mejanya.

“Wa udah booking kamar di hotel itu kalo lu bosen di seminar… Lu tau maksud wa, kan?” kata kak Sandra mengejutkan. “Gagal lu pagi ini, kan?”

“Ah… Kak Sandra… Kirain apa…”

***

Benar kata kak Sandra kalo kami berdua bakalan bosen sampe mo mati di seminar yang membosankan itu. Pembicaranya garing dan gak bermutu sama sekali. Keknya itu orang dapat jabatannya nyogok atasannya pake lonte. Kami tidak sendiri. Ada perwakilan dari perusahaan lain yang terang-terangan tidur sampe ngorok.

Seorang bapak-bapak di sampingku malah sampe maen game barbie di HP-nya.

Untung saat masuk tadi, aku memilih tempat duduk yang dipinggir. Awalnya Dani mau duduk agak di tengah agar bisa mengikuti seminar ini dengan baik. Dapat menangkap semua isi seminar dengan jelas. Sekarang Dani paham kenapa aku milih di pinggir begini.

“Dan… Dani pura-puranya ke toilet gitu… Nanti awak nyusul 2 menit kemudian… Kek biasaaa…” bisikku.

“Kotak kuenya tinggal aja biar mereka ngira kita bakal balik lagi…” sambungku memberitau triknya.

Kan ada tuh jatah konsumsi yang disediakan panitia untuk para peserta. Biasanya berupa kue-kue untuk pengganjal perut selama mendengarkan mereka ngoceh wara-wiri. Jatah punyaku udah abis sedang punya Dani hanya dimakan satu potong aja.

“Mau kemana, bang?” balas bisik Dani. Ia belum tau rencanaku ini.

Aku mendekatkan mulutku ke telinganya yang tertutup hijab dan ia mendekatkan sisi wajahnya itu padaku.

“Buat anak… yang enak…”

“Ishh… bang Aseng?” ia tersenyum lebar mendengarnya.

Pastinya ia langsung membayangkan yang enggak-enggak. Eh yang iya-iya. Karena memang kami akan melakukan yang iya-iya yang dibayangkannya itu. Kali ini lebih bebas karena di dalam kamar hotel yang lebih privasi.

Kotak kue jatah peserta yang dibagi panitia langsung diletakkannya di kursi dan meninggalkanku. Ia menuju pintu keluar seolah menuju toilet yang ada di luar ruangan Convention hotel ini.

Dua menit kemudian aku menyusul ke (pura-pura) toilet. Dari depan toilet aku berbelok ke tangga darurat di mana Dani telah menunggu. Ia berdiri bersandar di dinding sambil maenan HP. Ia tersenyum lebar saat melihatku menghampirinya.

“Dani tunggu di sini dulu, ya? Awak mo ngambil kunci kamar dulu di depan… Kalo udah tau nomor kamarnya… nanti awak kirim nomornya… Dani langsung naik… OK?” rinciku padanya.

Ia paham. Aku yakin kalo jantungnya berdebar kencang mengalami semua sensasi menegangkan seperti ini. Aku menyentuh bahunya untuk menguatkan lalu beranjak bergerak.

Kunaiki tangga darurat untuk naik satu lantai untuk mencari lift untuk mencapai lobby dimana resepsionis hotel berada. Pagi menjelang siang, hotel ini masih sepi. Hanya ada petugas hotel yang lalu lalang membawa perlengkapan pembersih kamar.

Aku berlagak seperti tamu hotel yang baru keluar kamar saja. Tak lama aku sudah ada di resepsionis dan menanyakan kamar yang sudah dipesankan kak Sandra.

“Kamar atas nama pak Nasrul?” pintaku setelah sapaan khas petugas hotel yang dijamin cantik-cantik.

“Pak Nasrul atau ibu Sandra… Baik, pak… Ini kunci kamarnya… Ada barang-barang yang perlu dibantu dibawakan?” tawarnya.

“Gak ada, mbak… Cuma ini aja…” tolakku dan menunjukkan hanya tas kerja yang kupegang. Tidak perlu pake jasa roomboy.

“Baik, pak… Semua sudah dibayar lunas sebelumnya… Silahkan… Selamat pagi…” katanya dan aku melenggang bebas menuju lift kembali.

Kukirim nomor kamar ke Dani agar ia segera menuju ke sana juga. Kutunggu pintu lift terbuka sebentar dan segera masuk ke dalamnya. Bergerak sebentar dan pintu terbuka lagi di lantai 2. Ternyata Dani yang masuk. Kami hanya tersenyum karena ada beberapa orang lain di dalam lift ini. Semua penghuni lift turun di lantai 4 kecuali kami yang menuju lantai 5.

Tanpa ada kata-kata kami memasuki kamar ini dan kututup pintunya rapat. Dani berdiri di tengah kamar dan memperhatikan isi kamar ini dengan seksama. Ia bahkan menyentuh beberapa perabot dan furnitur yang memenuhi tempat ini. Ia lalu berjalan ke arah jendela dan menutup gordennya yang tadi terbuka lebar. Hanya cahaya lampu kamar yang kini menerangi. Ia bersandar di dekat jendela.

“Matiin lampunya, bang… Awak malu…”

Aku yang masih berdiri di dekat pintu mematikan beberapa lampu dan membiarkan satu lampu dekat pintu ini tetap menyala—seperti kebiasaannya saat di gudang arsip.

“Dani sama Akbar pernah bulan madu di kamar ini dulu, bang Aseng…”

“Benarkah?” kagetku. Bulan madu? Di kamar hotel ini? Gila… Ini kebetulan sekali.

“Apa awak minta tukar kamar aja sama…” Dani cepat menghentikanku dengan menggeleng.

Dani berjalan ke arah ranjang dan menyentuh sprei penutup ranjang. Walau dalam keadaan temaram, aku bisa melihat semua gerakannya. Aku tidak terlalu memperhatikannya ketika kami sudah di depan pintu tadi. Pastinya ia sangat kaget ketika itu.

“Kamar ini tidak banyak berubah… Tempat tidurnya tetap sama… Sofa di sana itu juga sama… Kap lampu tidurnya masih tetap sama… Warna gordennya saja yang berbeda sama wallpaper-nya… Selebihnya semua tetap sama… Yah… Kamar ini bersejarah buat Dani, bang Aseng…” ia berhenti di tengah ranjang dan berdiri menghadapku.

“Hari ini juga bersejarah buat Dani…” ia mulai mempreteli kancing-kancing bajunya sampai semua terlepas.

Diloloskannya kemeja lengan panjang seragamnya itu lalu diletakkannya dengan rapi di kursi di dekat headboard. Dinyalakannya lampu tidur yang berada di nakas di dekatnya.

“Matikan lampu itu, bang…” lampu yang tersisa di dekat pintu akhirnya kupadamkan.

Siluet yang tercipta di tubuhnya karena satu lampu saja yang menyala di dekat Dani, menciptakan gambaran yang sangat erotis. Ia lalu juga melepas rok panjang ketat yang dikenakannya dan meletakkannya bersama kemeja tadi.

Saat ini, ia hanya memakai sepasang pakaian dalam dan hijabnya.

“Para pria pasti punya fantasy ini dengan perempuan berjilbab, kan? Akbar punya itu… Abang juga, kan?” katanya. Aku mengangguk.

Ia menampilkan tubuh hampir telanjangnya di hadapanku. Tubuhnya terlihat bagus di kondisi cahaya seperti ini. Lampu berwarna mercury atau kekuningan seperti ini memberikan aura erotis yang sangat kental. Garis-garis tubuhnya semakin kentara beserta tekstur halus kulitnya semakin mencuat. Aku yang masih berdiri di depan pintu hanya bisa menikmati visual ini, menunggu undangan.

“Duduk disini, bang?” tepuknya ke posisi sebelah kanannya.

Aku bergerak dan duduk di tempat yang ditunjuknya. Lalu merapat hingga pinggul kami bersentuhan. Kamar ini temaram hanya dengan satu lampu bercahaya kekuningan itu saja. Seolah kamilah sumber cahaya di kamar ini.

Pengaturan kamar distel sedemikian rupa hingga bayangan yang tercipta akibat minimnya cahaya tidak aneh.

“Dani belah duren di kamar ini, bang… Kami sama-sama gak tau apa-apa… Akbar perlu dua jam lebih untuk berhasil dan darahnya berceceran di sprei ini… Kami ketakutan waktu itu kalo disuruh ganti rugi spreinya… sehingga kami check out lebih awal…” ia hampir tergelak menceritakan kenangannya itu.

“Sekarang Dani di sini sama bang Aseng… Dani akan anggap sedang belah duren lagi… Mau, bang?” tawarnya.

“Boleh… Fantasy awak versus fantasy Dani…” jawabku ikut bermain.

Fantasy-ku adalah fantasy setiap pria di negri ini yang memimpikan meniduri seorang binor manis berhijab. Fantasy-nya adalah reka ulang belah duren-nya.

Ia meraih tanganku dan mengarahkannya ke belakang punggungnya, memintaku melepaskan kait BH-nya. Itu bukan hal yang sulit bagiku. Hanya dengan menyentuhnya saja aku sudah tau harus bagaimana melepas benda itu. Benda dengan nama panjang Buste Houder (bahasa Belanda) itu melonggar dan Dani meloloskannya dari kedua tangannya. BH yang tak kutau pasti berwarna apa itu dilemparnya ke arah tumpukan pakaiannya yang disampirkan rapi di kursi.

“Abang lebih baik buka baju supaya gak kusut…” katanya lirih.

Ada benarnya, jadi aku bangkit dan melepaskan semua pakaian yang melekat di tubuhku hingga aku telanjang bulat. Baju dan celana panjangku kuletakkan dengan rapi di kursi satunya. Semua yang kulakukan diperhatikan Dani dengan seksama.

Diikutinya tanpa kehilangan satu momenpun. Apa dia menikmati semua prosesnya? Matanya fokus pada Aseng junior yang menjuntai setengah ereksi karena terpengaruh situasi erotis ini. “Boleh, bang?” katanya dan menunjuk pada Aseng junior.

Kudekatkan Aseng junior padanya. Mungkin ini bagian dari fantasy-nya. Dulu mungkin ia tidak sempat melakukan ini karena masih terlalu hijau. Ia memegang Aseng junior pada bagian batang dan mulai mengocoknya perlahan. Tangannya yang lembut dan hangat memberi sensasi tersendiri pada tubuhku. Aseng junior mulai hangat dan perlahan mengeras. Selama kocokan berlangsung, kami berpandangan.

“Masih belum boleh ciuman ya, bang?” tanya Dani kembali menanyakan itu.

“Kalo Dani gak bisa jamin gak kebawa perasaan… awak gak bisa kasih… Buktinya Dani pake ngambek kemaren, kan?” kataku beralasan walau menikmati kocokan tangannya yang halus. Tangan mungilnya penuh menggenggam seluruh batang Aseng junior. Satu tangan lagi memijat dua bola pelerku.

“Sekali ini aja, baaang… Dani jamin gak akan kebawa, deh… Janji… Suer…” katanya lalu memberi tanda dua jari berjanji.

“Lagian… masa bulan madu belah duren gak pake ciuman… Gak asik-lah… Boleh ya, bang?” rayunya sambil terkadang mempercepat kocokannya. Matanya memandangku terus penuh harap. “Boleh-la, baaang?”

“Hanya sekali ini aja, yaaa? Besok-besok gak boleh lagi…” kataku akhirnya nyerah dan memperbolehkannya. Entah karena situasinya sangat mendukung atau entah apa. Matanya yang penuh harap sangat menginginkannya.

“Yeee…. Boleh… Asiik…” katanya langsung bangkit dan melepas Aseng junior dan memeluk leherku.

Ia langsung menyerbu mulutku. Begitu bibir kami bersentuhan, ia memejamkan mata. Nafas yang berhembus dari hidungnya terasa hangat dan jantungnya berdebar kencang, terasa dari pertemuan dada telanjang kami. Kepalanya miring ke kiri, mengulum bibir bawahku, kakinya berjinjit.

“Bibir bang Aseng seenak yang Dani bayangkan…” saat ciuman kami lepas.

“Bibir Dani juga enak… Lembut…” pujiku. Tanganku memeluk pinggangnya hingga tubuh kami rapat berpelukan. Mata kami saling tatap.

“Jangan bawa perasaan… Ingat?” pesanku lagi mengingatkannya karena sekilas aku melihat itu di bening mata indahnya.

“Iya-iyaa… Gak pake perasaan kok Dani-nya…” katanya menghindari pandanganku dengan merebahkan pipinya di bahuku. Nafasnya berdesir di leherku.

Kubaringkan tubuhnya di ranjang hotel ini. Ranjang yang sama yang menjadi saksi hilangnya perawannya bertahun-tahun lalu. Nostalgia yang ingin dilakukannya bersama pria lain.

Tanpa menghimpit tubuh langsingnya, aku berada di atas tubuhnya. Kedua tanganku bertumpu di samping sementara Aseng junior menempel di pahanya. Dani masih memakai celana dalam dan hijab—bagian dari fantasy-ku.

“Kalo Dani bisa gak bawa perasaan… kita teruskan ciumannya… OK?” kataku.

Ia tentu saja mengangguk cepat. Kami melanjutkan berciuman lagi. Aku tidak bisa menerapkan pelajaran cumbuan mulut ala kak Sandra padanya karena pengetahuan dan pengalaman ciuman Dani yang terbatas. Jadi hanya sebatas saling cipok dan mengulum bibir atas bawah saja. Karena ketika kusapu bibirnya dengan lidah, ia tidak merespon melakukan hal yang serupa.

Dani berusaha bebas dari himpitanku dan kami bertukar posisi. Dani menghimpitku sekarang. Tubuhnya tidak berat bahkan masih berat tubuh istriku kala masih gadis dari padanya. Ia yang memimpin percumbuan sekarang. Perbedaan tempat sekarang membuat kami bebas melakukan ini.

Di gudang arsip kantor sangat tidak memungkinkan melakukan ini semua. Bergulingan bebas. Ia menikmati mulutku sesuka hatinya. Bolak-balik ia pindah bibir atas dan bawah. Dikulumnya sampe puas lalu menciumi pipiku gemas.

“Bang Aseng suka diginiin?” tanyanya lalu menjulurkan lidahnya ke arah puting dada kiriku.

Lidahnya ternyata cukup panjang dan runcing. Bermain berputar-putar lincah. Geli sekali permainan lidahnya. Lidah basahnya melata berputar membuat tubuhku merinding. Mengisari seputar putingku yang jadi sensitif mengeras.

Lidah panjangnya aktif bergerak serupa jarinya yang mempermainkan putingku yang lain. Aku mengerang-erang sampai tubuhku blingsatan menerima permainan lidah Dani ini. Lakinya pasti sudah sering menerima serangan ini. “Enak, bang?”

“Enak, Dan… Geli kali…. tapi enak… Apa, yaaa? Enak-la pokoknya…” jawabku.

“Jago maen lidahnya…” pujiku mengelus lengannya yang langsing.

“Apa pulak jago… Akbar aja gak mau diginiin… Katanya kek ular jadinya jilat-jilat gitu… Padahal enak kan, bang?”

“Paok kurasa lakikmu itu… Orang enak gitu-pun… Jadi kelen maennya ngapain aja?… Maen asal masuk aja? Gak ada pemanasan-pemanasan dulu?” tanyaku heran.

Tuh-lah. Mau punya anak tapi maen asal maen aja. Gak ada seninya. Cocok memang Dani ini ku-training begini untuk meningkatkan ‘panas’ hubungan intim mereka kelak. Dani ini ada bakat nakal-nakalnya gitu.

Peningkatannya dari nol ke tahap ini sangat cepat. Dari perempuan baik-baik ke perempuan yang berani ditiduri lelaki lain seperti tanpa transisi. Hanya sekedip mata. Tekadnya punya anak membuatnya nekad rela menerima bibitku berulang-ulang.

“Akbar sih gitu, bang… Kolot gitu… Maen aja gak boleh telanjang… Kek gini ini-nih gak boleh… Pake selimut-lah… pake sarung-lah… Ini-nih gak boleh diliat…” maksudnya kelamin mereka berdua.

“Yaa itu… Maen masuk-masuk aja, bang… Kan kadang kurang basah… jadinya sakit, kan?” jelasnya secara garis besar tentang kehidupan ranjang mereka berdua selama ini.

“Tapi kan jadinya tiap maen… kek jadi buka perawan terus? Ada sakit-sakitnya gitu…” hiburku.

Jari tangannya tak henti berputar-putar memainkan putingku selagi kami ngobrol begini. Ia betah menindihku. Aku tentu saja juga betah memandangi wajah manisnya yang masih terbungkus hijab.

“Huu… Kalo buka perawannya enak… ya gak pa-pa… Ini gitu-gitu aja…” jawabnya dengan mulut manyun.

Putingku jadi sasaran cubitan. Lah… mbak… Kesel sama lakiknya jangan awak yang jadi umpan pelornya. Awak kan gak tau apa-apa.

“Goyang-goyang crot… Gitu aja trus tiap maen…” lanjutnya lagi sambil menggoyang-goyang pantatnya yang menindih kakiku.

“Sama bang Aseng kan enak… Maennya pinter… Dani bolak-balik dibuat enaaak… Maennya lama… Gimana Dani gak jadi perasaan?”

“Bisa buat anak lagi kan, yaaa?” kataku lalu menjawil hidungnya.

“Ini trus gimanaaa? Ini kentang loh…” kataku menjamah Aseng junior sendiri yang nganggur dari tadi.

Dia malah ketawa cekikian geli karena asik ngobrol dan melupakan tujuan utama kami di kamar hotel ini. Buat anak dan enak. Kembali Dani menciumi puting dadaku. Tidak hanya menggunakan lidah, terkadang ia mengulumnya dengan cara disedot. Tangannya rajin mengelus-elus kulitku dan rasanya enak dan nyaman.

Dani kemudian melorot turun sembari menciumi setiap jengkal kulitku hingga ia berhadapan dengan Aseng junior yang mengacung tegak.

“Wow… Bang Aseng… Perasaan makin gede aja, yaa?” katanya takjub menatap nanar Aseng junior di depan matanya.

Dengan ujung jarinya, disusuri kulit sensitif batang kemaluanku yang mengkilat karena menegang keras. Jarinya memainkan lubang kecil di ujung Aseng junior yang sudah menitikkan pre-cum.

“Segede ini kok bisa masuk, gimana caranya ya? Punya Dani kan kecil gitu…”

“Daaan? Yaak… Mm… Yaa… Digituin enak, Daan… Mmm…” erangku hanya mau menikmatinya saja.

Kubiarkan binor itu memperlakukan Aseng junior-ku sesuka hatinya. Apapun yang dilakukannya asal enak, terserahmu-lah. Rasa hangat dan basah memenuhi kepala Aseng junior pertanda Dani memasukkannya ke dalam mulut.

Sentilan lidah menyusul kemudian lalu sapuan berputar ke sekeliling lehernya. Tekstur lidahnya bergesek terasa nikmat di kepala Aseng junior. Tangannya menggenggam batang kemaluanku, mengocoknya perlahan.

“Shllk… Slurp… Ahh… Mmm… Mulut Dani gak muat… Ahhnn… Ini terlalu gede… Punya Akbar gak ada setengahnya ini, bang… Ahhmm… Shllkk… Slrrp…” ia meracau nakal memuji-muji Aseng junior-ku yang sedang dinikmatinya.

Mulutnya yang mungil berdecap-decap mengulum hanya mampu bagian kepala saja. Sesekali ia memaksakan memasukkan lebih dalam dan tersedak hingga air mata menitik di sudut matanya.

Kemudian ia menjilati bagian batang dengan lidahnya yang panjang. Ia melilit batang Aseng junior lalu menelusuri ke beberapa arah, merasakan tekstur licin dan bergerinjal tonjolan urat kemerahannya. Kocokannya bergerak pelan lalu diseruputnya lagi bagian kepala dan ludahnya sengaja banyak membasahi.

“Aah… Dani suka kali punya bang Aseng ini… Keras…” kocoknya cepat karena licin tambahan ludahnya tadi. Ia makin blingsatan gemas.

Kakiku dilebarkannya hingga aku membentuk aksara M kapital di hadapan binor berhijab ini. Tanpa sungkan ia belajar menikmati pelerku. Awalnya hanya mengelus-elus dua bola yang bersalut kulit tebal keriput itu untuk melihat reaksiku.

Melihatku menggelinjang karena sentuhannya, Dani menyentuhku lebih jauh lagi. Remasan lembut dilakukannya dan menemukan ada dua buah bola tersembunyi di dalamnya. Bola kesuburan yang mengandung semua bibit yang diharapkan bisa membuahi sel telur di dalam rahimnya.

Yang sudah beberapa kali mengisi perutnya dengan kesempatan-kesempatan itu. Sentuhan tangannya lembut memijat kedua bola itu demi melihat reaksi keenakan yang muncul di mukaku. Geli-geli ngilu rasanya kala dua bola itu disinggungkan.

“Oohhh…” erangku.

Dani mengulum satu bola dan menariknya menjauh hingga kantung pelindungnya ikut melar memanjang. Pantatku ikut terangkat mengikuti kemana satu bola pelerku ditariknya. Tangannya yang masih merancap batang Aseng junior pelan-pelan.

Bola itu dilepasnya dan ia menangkap bola satunya dengan cara yang sama, ditambah satu rangsangan baru. Jarinya nakal bergerilya dan menemukan lubang anusku. Digesek-geseknya lembut bersama rangsangan lain. Ini luar biasa gila enaknya! Pantatku mencuat kegelian setengah mati.

Ia belajar banyak hal tentang tubuh pria dengan cara ini. Semoga nantinya ia bisa mempraktekkan hal ini dengan suaminya kelak agar kualitas kehidupan seks mereka membaik. Keterbukaan seperti ini ada baiknya dalam bercinta. Dani melakukan itu berulang-ulang padaku dengan berbagai kombinasi.

Ia bahkan tak jijik menjilat sekitar anusku, aku kelabakan menggelinjang geli sambil mengerang-erang. Diemutnya tonjolan saluran tebal di bawah kantong skrotumku dengan kilikan lidah, aku ampun-ampun geli gak tahan.

Ia kembali menelan kedua bola pelerku dan membasahinya dengan ludah. Aseng junior benar-benar basah kuyup dibuat Dani dengan ludahnya. Servis maksimalnya bolak-balik memanjakan kemaluanku sampai aku berbaring lemas karena kebanyakan menggelinjang dan mengerang. Walau gak sampe ejakulasi, sih.

Terakhir Dani duduk tepat di depan Aseng junior. Dani yang masih terlindung celana dalam putihnya enteng saja menempelkan permukaan kemaluannya pada Aseng junior yang merah basah meradang pengen berperang.

Incarannya adalah mempermainkan kakiku. Lututku yang pertama kali diserangnya. “Shlkk… Slrrp… Kaki bang Aseng lucu… betisnya berbulu… pahanya mulus kek cewek…” komentarnya tentang keadaan kakiku. Mau ketawa aku kegelian setengah idup. Mau tereak aku gengsi. Memang kek gitu kakiku, Daaan.

Lidahnya melata di lututku dan itu sungguuuuuh geli, saudara-saudara. Lidah panjang basahnya menari-nari mencari kelemahan di lututku. Ia seperti tau kalau aku akan lemah di bagian ini memanfaatkan kelenturan lidahnya.

Berputar-putar lidahnya mencoba titik-titik tertentu yang kiranya paling maksimal membuatku kegelian sekaligus enak. Tangannya yang bebas mengelus-elus pahaku lalu mencaplok Aseng junior, mempermainkannya sebentar lalu mengelus paha kembali. Tak cukup itu, dilakukannya hal yang sama di lutut yang sebelah lagi.

“Daah… Gantiaan…” serunya melepas kakiku dan mengelap mulutnya yang berlepotan ludah. Ia mundur sedikit dan kakiku bergelimpangan tak berdaya masih dengan sebuah tonggak mengacung menunjuk langit, sang Aseng junior.

“Lemes aku, Dan…” erangku menelentang saja dengan lutut basah oleh ludah permainan Dani barusan.

“Gak mau tau, yaa… Pokoknya gantian…” katanya lalu mengambil posisi di sampingku menelentang juga. Tanganku yang menghalangi posisi itu disingkirkannya agar tidak terbentang lagi.

“Heei… Cepat… Gantian, bang Aseng…” ia mengguncang bahuku agar membuka mata dan mulai bekerja.

“Malah molor…”

“Huuuh… Tadi enak kali, Daaan… Itu Dani tadi jago… Kek gitu yang seharusnya kalian lakukan… Enggak ujug-ujug langsung coblos… Kasih pengertian dulu lakikmu… Bilangin… awak maunya kek gini, bang… Maunya kek gitu, bang… Lama-lama dia pasti suka… Jamin, deh…” kataku berguling berusaha bangkit, menggerakkan badanku yang sudah pe-we, posisi weunak. Sekalinya berhasil berguling, mukaku langsung bersua dengan payudara mungil tetapi menggiurkan itu.

“Hiih…” Dani bergidik langsung menutupi payudaranya yang tadi terekspos dengan pelukan sebelah tangannya.

“Bang Aseng nyeremin-ih mukanya gitu…” tubuhnya dalam posisi defensif.

Tentu aja aku bengong. Ini ada apa? Kok tiba-tiba menghindar kek gini? Dari tadi itu payudara terekspos bebas kenapa baru sekarang melindunginya. Tadinya aku bermaksud menyantap sebelah payudara mungil itu dengan caplokan mulut yang kulebarkan.

“Kek zombie-ih…” Apa karena bayangan yang tercipta karena efek lampu kekuningan ini membuat bayangan serem?

“Nyaam…” langsung nemplok mukaku di payudara mungil pas segenggaman itu.

Putingnya kukenyot-kenyot gemas dengan cepat. Awalnya Dani menggeliat kegelian dan kemudian keenakan. Rambutku diremas-remasnya. Tubuhnya meliuk-liuk seperti seekor ular besar yang sedang berusaha melepaskan diri dari terkaman pemangsa lainnya.

Ia mengerang-erang karena belum pernah aku menikmati payudaranya secara khusus seperti ini sebelumnya. Persetubuhan kami biasanya dilakukan di ruangan gelap yang tak memungkinkan untuk berbaring apalagi bergulingan bebas–di gudang arsip.

“Kek zombie, yah? Yaamm…”

Aku terus menyerang payudaranya, kiri dan kanan, meremas-remas seolah mencakar bak zombie yang haus daging mentah. Kugigit-gigit perlahan juga daging kenyal payudaranya dengan gigi yang berbungkus bibir. Ludahku menandai payudaranya, lalu dijilati lagi sampai merata di seluruh permukaannya.

Ukurannya yang tidak terlalu besar tidak bisa dibandingkan dengan milik MILF-MILF lain apalagi Yuli dengan 38DD-nya atau kak Sandra 36D. Segenggaman tanganku saja pas tidak berlebih. Yang penting kenyal dan lembut. Lebih penting lagi ada pentilnya. Coba bayangin aja gundukan itu gak ada pentilnya, apa gunanya? Gak ada bedanya sama patung manekin, kan?

“Aahh… Dani tertular jadi zombie juga…” kelakar Dani menarik mukaku untuk menghentikan seranganku di payudaranya.

Kami berdua berciuman lagi. Ia tidak mempermasalahkan banyak ludahku yang masih menempel di bibirku. Ia semakin panas dan menyedot-nyedot bibirku atas bawah bergantian. Digigitnya juga bibirku dan ditarik-tariknya seolah sedang mengoyak daging mangsa. Payudaranya hanya bisa kuremas-remas gemas.

“Aauhhnn…” kuciumi pipi lalu ke telinganya yang kain jilbabnya ketepikan sedikit.

Lidahku melata menelusuri bentuk lekuk telinganya. Dani menggelinjang kegelian. Ini kali pertama aku melihat telinganya setelah sekian lama kenal.

Cuping telinganya kini jadi pusat seranganku. Gelambir berdaging yang biasa dilubangi untuk tempat anting itu kucucup berulang-ulang. Erangan Dani sangat seksi kala bagian itu kujilati dan kuemut intens. Apalagi kala lidahku menyapu bagian belakang telinganya. Kutelusuri dengan ujung lidah basahku naik turun berulang-ulang. Dani meremas lenganku dan terkadang melonjak mendorongku karena terlalu geli.

“Ahhn… Bang Asheenng… Enaaak…” desahnya manja dengan nafas memburu. Dada mungilnya naik turun tersengal-sengal. Dan kami berciuman lagi.

Serangan cumbuanku melata kembali ke bagian dada, payudaranya dan ke perut. Kuciumi bagian perutnya dan lidahku menyeruak menusuk masuk lubang pusarnya sembari elusan-elusan lembut pada kedua pahanya. Dani otomatis melebarkan kakinya dan elusanku beralih ke paha bagian dalam.

Sesekali waktu jariku bergerilya mendekati selangkangan lalu menjauh. Ia mengejar tanganku agar lebih menjamahnya mendekati pusat kenikmatan itu. Sang meki gundul yang masih tertutup kain pelindung terakhir.

Perutnya yang rata dan ketat berbercak ludahku saat lidahku menelusuri permukaannya. Kecupan-kecupan kecil merasakan lembut seluruh kulitnya yang kali ini menegang karena elusan di sepasang paha dalamnya.

“Mm…” tak sabar, Dani terasa mengangkat pantatnya dan meloloskan celana dalam yang dikenakannya itu buru-buru hingga aku kini malah berhadapan dengan meki gundul, si plontos itu.

Disuguhi hidangan utama ini, lubang pusarnya kutinggal dan beralih ke si meki gundul. Lembut daging gundukan kemaluan itu sangat menyenangkan untuk disentuh. Apalagi tak ada sehelaipun rambut yang tumbuh sebagai penghiasnya.

“Ahhss…” keluhnya saat lidahku menyapu meki gundulnya. Dani melebarkan kakinya, mempersilahkanku untuk mengobok-obok kemaluannya.

Kaki yang sudah dilebarkan itu, semakin kulebarkan lagi hingga ia mengangkang lebar. Aku memegang kakinya tepat di atas tumitnya. Dibentang lebar begini, meki gundulnya merekah lebar mengagumkan. Aku bisa menyaksikan semua keindahan yang tersembunyi di dalam sana. Lipatan bibir kecil di dalam sana yang menyatu ke arah kacang itilnya berwarna lebih gelap dari sekitarnya yang kemerahan cerah.

Dani yang masih kaget kakinya kubentangkan maksimal seperti ini tak sanggup mengatupkan kembali kaki langsing jenjangnya. Aku masih menikmati visual yang terpampang di depan mataku sepuasnya. Dani berusaha menutupi mekinya dengan tangan. Mungkin malu sisi terprivat tubuhnya terekspos sedemikian rupa. Sangat mesum…

“Jangan diliatin kek gitu, bang… Malu…”

“Nyumm…” mulutku nyosor menyerbu meki gundul itu rakus.

Lidahku berdecap-decap menjilati daging menonjol bergerinjal indah membentuk alat reproduksi manusia ini. Dari sini semua penciptaan generasi selanjutnya dimulai. Dari sini juga terciptanya kenikmatan dunia dimulai.

Kacang itilnya kusedot-sedot hingga Dani terlonjak-lonjak berkejat. Pantatnya mencuat naik mengimbangi rasa nikmat yang menyengat tubuhnya. Ia menjerit-jerit histeris tak pernah memetakan kenikmatan ini sebelumnya di catatan kehidupannya. Kuberikan semua kenikmatan itu padanya. Memberi pengalaman baru dan memori nikmat baru.

“Aauhh… Aaahh… Yaahh… Maaahh… Aauhh…” melonjak-lonjak tubuhnya.

Lidahku menyeruak masuk dan menyodok bak penis kecil yang gemuk ke dalam liang kawinnya yang telah mengucurkan santan encer. Cairan berasa asin itu kujilat-jilat sebagai bonusku telah merangsangnya keluar. Apalagi ketika jariku masuk dan mengaduk liang kawin itu.

Tak sebesar Aseng junior yang telah beberapa kali singgah ke dalamnya, tapi jariku bisa membuatnya blingsatan juga. Pinggulnya berputar-putar liar merasakan kulikan jariku di dalam sana mencari titik rangsang. Jari punya banyak variasi gerakan karena bisa bergerak bebas tidak seperti penis yang hanya memanfaatkan pejal keras saja sebagai alat tusuk. Jari bisa mengorek.

Berkejat-kejat tubuh Dani menegang tanpa bisa bersuara seperti kena strum tegangan tinggi. Jariku basah kuyup karena tak kucabut juga terjepit erat di dalam liang kawinnya. Kalo kucabut tadi, pasti akan ada semprotan squirt yang terjadi.

Ahh… Aku jadi teringat kejadian kemaren bersama kak Sandra, ia kubuat squirt berkali-kali berkat penemuan termutakhirku itu. Kalo diingat lagi, Dani juga bisa squirt. Akan kucoba lagi padanya. Dani pasti suka itu. Membuat perempuan yang sedang kau tiduri sampe termehek-mehek lemes akan sangat jantan, kan?

Tak melepas jariku di dalam liang kawinnya yang baru orgasme, aku meneruskan mengorek dengan bantuan mulut menjilat kacang itilnya. Dani kembali mengerang tak mampu protes. Ia hanya sibuk menggerakkan tubuhnya, mengekspresikan rasa nikmat yang menjajah tubuhnya, menguasai seluruh tubuhnya.

Jariku menekuk dan mengeruk permukaan atas perutnya—lokasi yang dipercaya dimana G-Spot berada. Kaki dan perutnya mengejang beberapa kali. Menjulangkan bagian bawah tubuhnya terangkat. Aku berpegangan, mengalungkan tanganku dari balik pinggulnya dan berpegangan erat di pinggang. Kemanapun ia melonjak, aku ikut kesana.

“Hiyaaaaaaaahhh!!” jeritnya lagi tak terperikan.

Kulepas jari dan mulutku dari meki gundul menggemaskan itu. “Crruuuttss!” selarik semburan air bening menyemprot dari lubang kencingnya. Menyembur cepat dari samping leherku yang sudah menghindar. Kutopang pantatnya di bahuku agar lebih leluasa menyusul beberapa kali semprotan susulan yang lebih sedikit.

Tubuh Dani gemetaran tak terkendali dan kuulangi lagi, jari dan mulutku kembali bersarang di meki gundulnya. Tak lama, kemudian semprotan baru menyembur kencang dipadu jeritan nyaring Dani—puas.

Permukaan sprei tempat tidur berbercak basah. Ini sangat seksi. Perempuan ini terkencing-kencing keenakan kala kuobok-obok kemaluannya. Dani telentang lemas. Hanya gerakan respirasinya yang menandakan ia masih hidup. Dadanya naik turun, hidungnya kembang kempis, mulutnya menganga, dan mekinya meleleh.

Sangat jantan bukan? Akan lebih jantan lagi kalo kubiarkan Dani beristirahat sebentar sebelum Aseng junior menyapa meki gundul itu.

Dani pasrah saja saat mulutnya kucumbu. Lidahku masuk dan bergulat dengan lidahnya tanpa bisa ia cegah. Payudaranya kuremas-remas tanpa ada perlawanan sama sekali. Tubuhnya sama sekali lemas. Puas mencumbu mulutnya aku turun dan mencari minuman di kulkas kecil hotel.

Ada air mineral dingin dan kusulang minuman itu ke mulutnya. Dani berterima kasih sudah sedikit pulih abis minum air putih itu. Ia memandangi Aseng junior yang gondal-gandul nganggur dari tadi.

“Bang Aseng… Tadi itu enak kali… Tapi jorok, ya? Dani sampe pipis gitu…” katanya.

“Dani lemes banget tadi… Enaaak kali… Bang Aseng pinter…” pujinya padaku yang sedang menghabiskan sisa air mineral tadi.

“Enak, yaa? Gak pa-pa, Dan… Itu bukan pipis, kok… Gak ada bau pesingnya, kan? Sante aja…” kataku lalu duduk di ranjang, mendekatinya.

“Udah boleh dimulai lagi?” tanyaku menggerak-gerakkan Aseng junior hingga mengangguk-angguk.

Dani tertawa melihatnya. Tangannya mengulur menyambutku untuk kembali memeluk menindihnya.

“Mmm… Mmm… Mahh…” kami kembali bercumbu mulut dan kuposisikan Aseng junior sebaik-baiknya.

Kepala Aseng junior menyundul-nyundul sarangnya yang merekah basah–si meki gundul. Dani menjangkaukan tangannya untuk menggenggam batang kemaluanku dan mengocoknya sebentar. Meyakinkan kalau Aseng junior sudah siap sedia dipertemukan dengan kemaluannya.

Digesekkannya Aseng junior ke belahan meki gundulnya berkali-kali dan didorongnya pinggulnya maju, Aseng junior ditariknya masuk.

“Emmhh…” erangnya karena cumbuan mulut kami berdua dan persatuan kelamin kami berdua.

“Aaahhh…” Aseng junior masuk memulai babak baru.

Batang kemaluanku memasuki Dani dengan lancar berkat licinnya liang kawin perempuan berhijab ini.

“Enaak, baang… Teruuuss… Ma-ahhh… Yaahhh… Euhh…” erang Dani yang sesekali kusumpal dengan mulutku.

Kalo kulepas mulutnya, langsung berceloteh ia kek burung berkicau. Pantatku berayun pelan dan teratur melesakkan Aseng junior pendek-pendek saja. Kuperhatikan ekspresi yang ditampilkannya kala tempo kocokan keluar-masuk Aseng junior berubah agak cepat.

Kupermainkan temponya secara acak. Kadang cepat, sedang lalu melambat. Sedang, cepat lalu lebih cepat dan tiba-tiba lambat.

Kecipak suara cairan yang diaduk-aduk di dalam meki gundulnya terdengar sangat mesum. Dani sudah sangat basah sehingga suara kecipakan cairan vaginanya sangat jelas terdengar. Apalagi kalau aku bergerak pelan, “Clak clak clak!” Muncratan cairan itu juga membekas di sekitar selangkangan dan perut kami berdua. Terus kuaduk Aseng junior di dalam sana dibarengi kadang ciuman panas atau kuluman pada payudaranya. Kami berdua mengerang bersahut-sahutan.

Rasanya akan sangat jantan kalo aku bisa membuat Dani orgasme lagi selagi kusetubuhi begini. Apalagi dengan orgasme hebat seperti tadi. Dani yang squirt nyemprotkan air seni tawarnya sampai lemas bak tak bertulang.

Jadilah, dengan jari kukulik kacang itilnya, meniru cara yang sama seperti yang kulakukan pada kak Sandra kemaren. Lincah jariku mengutik-utik kacang itil itu cepat sembari Aseng junior juga rajin mencoblos keluar masuk. Kepala Dani terbanting-banting kanan-kiri dan pantatnya menjengat naik kala liang kawinnya terasa menggigit erat.

Cepat-cepat kucabut Aseng junior dari liang kawinnya, masih mengangkanginya, Dani menjerit menembakkan semprotan squirt-nya beberapa kali.

“Aauhh… Akhh… Ahhh…” tubuhnya terbaring lemah kembali.

Kubimbing Aseng junior memasuki kembali dirinya dan kembali kukocok cepat. Dani mengerang kelelahan tak mampu mencegahku menderanya dengan kenikmatan. Aku juga menjelang menemukan kenikmatan itu di dirinya. Kepalaku sudah terasa ringan, bakalan segera ngecrot juga. Licin liang kawin Dani membantu gerakan cepat bombardir Aseng junior.

“Ahh… Aah… Ah…” lenguhku dengan selangkangan menempel ketat.

Berkedut-kedut gencar Aseng junior memompakan cairan kental spermaku mengisi rahim Dani. Rasanya tak terkatakan lagi. Sangat nikmat dan melenakan jiwa. Tubuhku lemas dan ngelongsor rubuh menimpa tubuh langsing Dani di bawahku. Kukecup-kecup bibirnya dan ia membalasku dengan tambahan pelukan erat. Kemaluan kami masih bersatu bersalut sperma kental.

“Bang Aseeeng… Dani lemes… capek… Tapi enaak… Dani mau sayang bang Aseng, boleeh? Bang Aseng jangan marah, yaa? Dani sayaaang hmmm?” kubungkam mulutnya dengan cumbuan mulut.

Tak perduli ia menolak lidahku yang menyeruak masuk memaksa lidahnya ikut menari bareng. Pagutan lilitan lidahku menghentikan semua omong kosong itu. Sesekali, pantatku masih menekan-nekan menusukkan Aseng junior yang perlahan mengendur ketegangannya paska ngecrot barusan. Aku harus terus membungkamnya agar ia tak dapat mengungkapkan perasaan sesatnya itu.

Walau mengendur, aku imbuhi rangsanganku dengan mengucek kacang itilnya dengan cepat. Dani menggelinjang geli tak karuan terus menerima rangsangan. Aseng junior tergelincir masuk berkat liang kawin becek oleh bekas sperma kentalku, bergerak lancar.

“Baang Aseenng… Ahh… Uhh… Ukkh…” kucabut buru-buru Aseng junior dari sana dan menghindar dengan mengangkat pantatku, memberi ruang bagi Dani untuk mengekspresikan kenikmatan lewat semburan squirt itu.

“Cruut cruut cruuut!” semakin banjir kemaluannya yang bergelimang kental sperma juga kencing enak barusan.

Tubuhnya bergetar-getar lemah, sisa kenikmatan yang masih merajai tubuhnya.

Nafasnya tersengal-sengal. Aku menciumi pelipisnya dan juga mengelus-elus kepalanya yang tetap terbungkus hijab. Ia mengerang-ngerang lemah dan tau-tau matanya yang terpejam meninggalkan sisa dengkuran halus. Ia tertidur karena kelelahan.

Aku berbaring di sampingnya dan memandangi langit-langit temaram kamar yang hanya diterangi satu lampu tidur berwarna kekuningan. Sebenarnya kondisi ini teramat romantis sebagai kamar berbulan madu seperti pengakuan Dani. Tapi mengingat kasusku, aku telah menodai dua pernikahan; pernikahan Dani dan pernikahanku sendiri.

***

Sebuah getaran telepon masuk membangunkanku. Aku memegangi HP ini setelah chatting sebentar dengan istriku tadi, mengabarkan kalo aku sedang dalam acara seminar mendadak. Kukirimkan juga foto-foto saat aku masih di ruangan Convention tadi sebagai bukti. Dani masih tidur dengan damainya di sampingku berselimut.

“Halo, kak?” jawabku perlahan.

“Lu buka pintu kamar sekarang… Wa ada di depan pintu…” jawabnya di dekat sana.

WHAT?! Apa maksudnya? Kak Sandra ada di depan pintu ini? Bukannya dia ada rapat sama Komisaris?

“Lu gak usah banyak mikir, deh? Wa juga mau minta jatah wa…” Mampus aku. Apa jadinya ini? Ada Dani di sini masih tertidur lelap kelelahan abis kugarap. Ini dah tambah satu lagi betinanya.

“Kak… Nanti sore, kan bisa? Nanti sore awak puasin lagi, deh…” tawarku beranjak turun masih berbisik agar tidak mengganggu sang putri tidur yang liang kawinnya masih berselemak spermaku, belum sempat dibersihkan. Ranjang ini bagus kualitas springbednya, tidak menggoyang tubuh Dani saat aku beringsut turun, bagus-la.

“No-way! I demand it… NOW!” serunya dalam bahasa londo.

Ia pernah mengatakan itu di rapat bersama para kepala bagian kala menuntut kinerja yang lebih baik dari tiap departemen. Dan ia mengatakan itu lagi padaku untuk menegaskan apa yang ia inginkan. Tak ada yang berani membantahnya kalau sudah begini. Aku beranjak ke arah pintu yang tertutup rapat. Apa kak Sandra benar-benar ada di sana?

Cklek!

Wajah sumringah kak Sandra segera terpampang di depan mataku begitu kuintip dari balik pintu. Ia menjauhkan HP dari telinganya pertanda kalo dia benar-benar ada di depan pintu ini saat menelpon tadi. Didorongnya pintu yang masih ada aku dibaliknya dan ia masuk dengan cepat. Ditelisiknya penampilanku yang tak memakai pakaian, sama sekali bugil karena buru-buru turun dari ranjang sehabis bertempur.

“Lu kalo digrebek satpol PP abis muka lu masuk tipi telanjang bulat begitu…” ejeknya lalu menyapukan pandangan ke seputar kamar dan matanya tertumbuk pada gundukan tubuh Dani yang berselimutkan kedamaian di atas ranjang.

“Kakak-ih… Doanya serem kali? Kakak kok kemari? Mau jatah juga? Nanti sore kan bisa?” kataku berbisik agar tidak mengusik sang putri tidur yang lagi bobok cantik di seberang sana.

“Lu lupa apa? Wa bilang lu harus ladeni wa kapanpun, kan? Wa mau sekarang juga… and I mean it now!” kata kak Sandra tanpa kompromi.

Aku udah gak bisa membalas apa-apa kalo dia udah ngomong pake bahasa Inggris gitu. Bukannya aku gak ngerti dia ngomong apa, aku sudah sering dengar kata itu dan mencari tau artinya. Bahkan sampe ikut les bahasa Inggris segala.

Aura kepemimpinannya langsung menguar keluar. Seperti ada sepasang tanduk berwarna merah mencuat di kepalanya dengan background api panas membara menggelegak. Siapapun jua akan terintimidasi auranya ini.

Kak Sandra menarik tanganku dan mengarahkanku ke sofa yang ada di dekat jendela. Pancaran cahaya lampu di samping ranjang sampai di sana temaram dan sungguh menakjubkan melihatnya meloloskan semua pakaian yang dikenakannya sampai ia bugil seperti juga aku dan Dani di sana. Ia mendudukkanku di sofa itu dan ia berjongkok di depanku.

“Mmuaahhh…” tanpa pikir panjang, kak Sandra sudah menelan Aseng junior.

Padahal masih ada sisa kerak spermaku yang menempel di sana, ia tak perduli. Rakus digelomohnya batang kemaluanku untuk membangunkannya. Membangunkannya dari mimpi indah setelah memangsa Dani barusan.

Si putri tidur terlelap damai tak tau ada pertarungan tambahan di dekatnya. Menggeliat bangun, Aseng junior perlahan kembali ke bentuk prima mode tempurnya. Kak Sandra antusias menyepongnya, menjilat-jilat dan menelannya dalam.

“Ahh… Mlloohhh… Gloorkk… Uuuhh…”

Factory Manager cantikku ini mengobel-ngobel sendiri cepetnya yang tak dapat kulihat di posisi jongkoknya ini. Apalagi cahaya sangat minim di kamar ini. Hanya siluet-siluet bayangan yang berpendar menerangi, memberi keindahan tersendiri.

Kak Sandra melakukan deep throat berulang-ulang pada sekujur Aseng junior. Ia selalu mengasah kemampuannya ini bila ada kesempatan padaku.

Kepala Aseng junior menyentuh ujung tenggorokannya berulang dan ditahannya di sana dengan menahan nafas. Alhasil Aseng junior juga terjepit enak di dalam mulutnya. Selagi ia memulihkan nafasnya, dikocok-kocoknya pangkal batang Aseng junior yang berlumuran ludahnya lalu diulang lagi deep throat.

“Lu mau ngerasain pantat Cina wa, kan?” bisiknya setelah terlebih dahulu mengecup bibirku.

Aku mengangguk cepat tanggap. Ia naik ke sofa dan menungging di atasnya. Cahaya temaram yang menerpa tubuh telanjang menunggingnya sangat spektakuler lengkap dengan saturasi gelap di sisi tak tersentuh cahaya memadukan visualisasi yang indah. Pantat montoknya yang kupuja mencuat mengundangku untuk menjamahnya.

“Aahh…” erangnya kala mukaku mendarat tanpa ragu ke belahannya.

Mukaku kugosok-gosokkan ke bongkahan kembar kenyal itu. Lidahku nakal menjulur mengais-ngais tiap permukaan yang bisa dicapainya. Apalagi tanganku meremas-remasnya tanpa bosan. Kenyal dan lembut pantat kak Sandra memang menjadi favoritku. Menjadi fetish-ku. Aku bisa berlama-lama menikmatinya.

Hidungku mengais ke arah belahan dalam yang menyembunyikan anus dan juga cepet berbulu jarang miliknya. Kujangkaukan panjang lidahku untuk dapat meraih harta karun di lepitan dalam belahan montok itu. Bergetar-getar tubuh kak Sandra kala ujung lidahku bertemu sua, bersilaturahmi dengan sang cepet.

“Iyaaaahh… Ashhh… Uunhh…” kak Sandra membantu dengan melebarkan cepetnya menggunakan jari.

Belahannya merekah dan aku semakin menggila. Kubenamkan mukaku di belahannya dan ujung lidahku menyerbu kacang itilnya yang mencuat di belahan cepet merah itu.

“Ungghh!” erang kak Sandra kala kacang itilnya kukulik dengan lidahku.

Lidahku cukup lama bermain di sana sampe kerasa pegal sisi lidahku terus terjulur begitu.

Kubarengi dengan jilatan-jilatan panjang menyapu lubang air seni, lubang liang kawinnya sampai ke anusnya. Kak Sandra rajin membersihkan semua lokasi itu jadi aku tak segan berkarya di sana. Ia bergidik-gidik geli sampai gemetar tubuhnya merasakan rasa enak yang kuberikan lewat permainan lidah. Gemas aku dengan permukaan pantatnya yang aduhai lagi ngangenin. Ingin rasanya kukunyah-kunyah karena gemes.

Cepet kak Sandra sudah basah oleh percampuran ludah dan cairan vaginanya sendiri. Walau gelap tapi aku dapat menjangkaunya semua. Lidahku menelusup masuk dan mengerogoti isi dalam liang kawinnya.

Jariku menggosok kacang itilnya, tangan lain meremas bongkah pantatnya. Bergerak berputar-putar kecil pantatnya kala ia mengerang keenakan cepetnya ku oral begini. Mukaku tak lepas dari belahan pantatnya. Erangan berubah menjadi raungan lalu jerit.

“Aauhhhh!! Ahh! Aaah…” desir semprotan squirt meluncur deras.

Ada yang menerpa dadaku dan kebanyakan mendarat di permukaan sofa. Ada juga yang membasahi Aseng junior. Bergetar-getar tubuhnya berkejat mendapatkan orgasme pertamanya sampai nyembur gitu, ia masih merangkak, menunggingiku yang menjilat-jilat lembut pantatnya. Kugigit-gigit lembut daging pantatnya yang kenyal. Kak Sandra mengaduh-aduh keenakan merasakan sisa orgasmenya barusan.

“Ahh… ahh… ahhm…”

“Akkhhh!! Seng!! Auhh…” tercekat kak Sandra kala langsung kujejalkan Aseng junior ke liang kawinnya yang bahkan belum pulih dari nikmat tak terperi barusan.

Aseng junior tergelincir masuk dengan mudah dan menyumpal lubang sempit itu mentok sampai perutku bertemu pantatnya. Tubuhnya melonjak dan bangkit dari posisi merangkaknya, punggungnya melengkung untuk menyambangiku yang berada di belakangnya.

Kupeluk perutnya dan kugerakkan Aseng junior pelan dan pendek saja karena sudah tidak ideal lagi untuk tusukan panjang. Kak Sandra menyasar mulutku dan kami berciuman. Lidahnya menjulur masuk dan kusedot masuk ke mulutku, bertukar ludah. Tangannya mengucek-ucek rambutku selagi perut dan dadanya kuelus. Sebelah toket 36D-nya kuremas dan pilin.

“Enaak, Seeng… Pelan-pelan dulu, Seng… Biar kerasa…” bisiknya melepas mulut kami sebentar.

Genjotan pelan begini sangat terasa menggigit Aseng junior karena hanya bagian kepalanya saja yang menyodok-nyodok terjepit bagian mulut vaginanya. Gesekannya sangat terasa menjepit dan sensasi pedih sempit itu jadi sangat nikmat karena bercampur baur menjadi satu.

Posisi ini sangat intim karena tubuh menyatu padu dalam satu dekapan yang katanya mesra. Apalagi ditingkahi dengan cumbuan mulut yang sangat kami berdua gemari.

Sodokan pendek-pendek berlangsung cukup lama kami lakukan dengan berlutut di atas sofa, memanfaatkan empuk materialnya yang membal memantulkan tiap gerakan yang kulakukan. Perut dan selangkanganku rapat menempel di pantat kak Sandra.

Jariku merayap bergerilya mencari. Menelusuri perutnya, menusuk pusarnya, mengelus turun, perutnya, turun lagi dan menemukan beberapa helai jembutnya dan bermuara di kacang itilnya. Kak Sandra mengerang tau taktikku. Gencar jariku lalu mencabik-cabiknya bak seorang gitaris memainkan nada nge-rock, menaikkan tempo permainan ke oktaf tertinggi.

Kak Sandra melepas mulutku dan fokus pada genjotan pendek-pendekku. Ia mengerang-ngerang nyaring menikmati serangan frontal di kemaluannya. Bahkan ia mencengkram pergelangan tanganku yang bermain di kacang itilnya, entah mempertahankannya tetap di sana atau mengusir. Getaran tubuhnya mulai menyerang. Menerpa beberapa bagian tubuhnya lalu manguasai seluruh tubuhnya dalam satu gelombang dahsyat.

“Cuurr… cyuurr… srruuutt…” cairan kencang menyembur menerpa bahan pelapis sofa.

“Iyaaaaaaaaahhh!!” jeritnya nyaring.

Kupeluk tubuh semoknya dengan kedua tanganku. Aku akui, kualahan juga menahan tubuh wanita yang sedang dilanda orgasme ini. Ia tak bisa mengontrol tubuhnya. Tenaganya jadi berlipat ganda, melepaskan hormon dalam jumlah banyak sekaligus. Melonjak-lonjak bak kuda rodeo hendak melemparku dari punggungnya yang menyentak-nyentak liar.

“Ahh… ahh… ahh… Seengghhh…” erangnya parau.

Kududukkan tubuhnya bersandar di dadaku. Nafasnya memburu bak habis marathon 10K. Turun naik dadanya iseng kugrepe dan pilin. Ia mengerang protes jangan dimainin dulu. “Cibay ya, luuu… Dah tau tombol darurat wa… itu trus yang lu mainin… Cibay lu, Seng… Kapan wa menangnya dari lu… kalo ke gini?” erangnya putus-putus masih kesusahan bernafas.

“Sekali-kali bawahan menang-la, kak… Masak kakak trus yang menang… Awak kan pengen juga ngerasain lebih jago dari kak Sandra…” kataku beralasan sambil mengelus-elus dadanya yang montok kenyal.

“Karena kakak udah dua kali… sekarang awak yang ngalah-la…” kataku lalu merebahkan diri di sofa hotel ini. Ia langsung meraup batang Aseng junior dan merancapnya.

“Awas lu yaa kalo pake tombol darurat… Wa gigit lu ntar…” ancamnya beringsut naik ke atas tubuhku.

Resmi namanya itu sekarang ‘tombol darurat’. Proses menyebabkan kak Sandra orgasme sampe squirt terkencing-kencing mendapat namanya. Digesek-geseknya kepala Aseng junior ke belahan cepetnya yang basah.

Aku tak dapat jelas prosesi masuknya yang jelas rasanya melebihi persepsi visual. Rasa tergelincir masuk kemaluanku memasuki tubuh kak Sandra via liang kawinnya sudah cukup melenakan. Masuk dalam dan menembus imajinasi. Kepalanya sampai mendongak dan merayakannya dengan menguyel-nguyel toketnya sendiri.

Toketnya dilagakannya kiri kanan sampe peyot saling tergencet kala mengekspresikan rasa nikmat yang dirasakannya. Aseng junior mentok dalam dan kak Sandra menyetel posisi menduduki selangkanganku agar nyaman dan pas.

“Ahh… Uhmm… Yahh… Ahhnn…” erangnya sendiri kala ia mulai bergerak maju mundur mengulek Aseng junior-ku di dalam liang cepetnya.

Setelah beberapa kali repetisi ulekan, ia memutar pinggulnya sebagai variasi. Kak Sandra sangat seksi di temaram cahaya begini. Toketnya yang menggunung besar masih diuyelin sendiri dengan jari menelusup masuk digigit di mulut. Gerakan tubuhnya sangat erotis hingga aku tergoda untuk menjamah gundukan kebanggaannya itu.

“Nyaahhh…”

Kubetot-betot kedua gundukan sebesar 36D itu dengan gemas. Apalagi putingnya yang berwarna menarik itu. Hanya pria dewasa yang pernah menyusu disana, kelak akan ada bayi yang menguasainya selama dua tahun mendatang. Calon dari bibitku-lah dia kelak.

Kutarik-tarik gemes itu pentil ngegemesin ke arah yang berbeda selagi kak Sandra terus geal-geol maju mundur lalu berputar erotis. Kocokan yang terjadi dengan ulekan seperti ini sangat minimal tapi intens, mirip dengan sodokan pendek-pendek. Gerakannya makin cepat dan cepat seirama dengan erangan meracaunya yang tak kupaham. Pokoknya ada cibay-cibay-nya gitu.

“Seng-seng-senghh…. A-aah…” erangnya lalu tiba-tiba sedikit bangkit dan Aseng junior lepas.

“Crusshh!!” ia squirt sendiri tanpa bantuan tombol daruratku.

“Hahh… haahh… hah…” walau gelap dapat terasa cairan hangat mendarat di perutku.

Mulutnya menganga lebar dan pahanya yang rapat ke pinggulku terasa bergetar. Diusapnya sekali untuk mengelap kencing tawar yang membasahi perutku lalu mengelap cepetnya sendiri. Ia malah mengarahkan Aseng junior untuk memasukinya lagi.

“Enak ternyata, Seeeng… Cibay… kontol lu enak banget… Wa ketagihan kencing… Kencing enak!” cetusnya.

Aku diam saja menikmati apa yang sedang ia nikmati. Karena keindahan persetubuhan bagiku adalah saat lawan mainku bisa menikmatinya sepuas-puasnya. Biarin aku gempor asal dia puas. Kembali kak Sandra mengulek Aseng junior-ku dan mengarahkan tanganku untuk mempermainkan toketnya.

“Lu mainan ini aja… Jangan tombol darurat… Wa gak tahan kalo itu…” alasannya. Yah? Ada tingkatan-tingkatannya gitu? Kalo orgasme yang kusebabkan pake tombol darurat ia sampe lemes gitu? Oo… Baru tau anak mudanya…

Benar saja tak lama kemudian gerakan mengulek kak Sandra semakin cepat dan brutal.

“Cuushh…” semburan hangat kembali mendarat di perutku.

“Ahh… ahh… ahh…” Kak Sandra bergetar pelan terutama pahanya yang menempel di pinggulku.

Bersamaan ia mengelap cepetnya dan perutku dari sisa cairan kencing enaknya, dibenamkannya lagi Aseng junior ke liang kawinnya. Ia menemukan ladang orgasme saat bersenggama denganku. Ia berulang-ulang mendulang kenikmatan itu dengan menggunakan tubuhku. Terutama Aseng junior yang mengacung menegang.

“Ah ah ah… Bisa dehidrasi wa entar… kencing enak mulu… Enak kali, Seng… Wa bisa ketagihan kontol lu kalo kek gini trus, Seeeng…” ia berhenti masih dengan Aseng junior terbenam dalam cepetnya. Ia mengusap peluh yang menitik di dahi dan lehernya. Tanganku mengelus perutnya.

“Gantian elu-lah yang enak, Seng… Lu harus ngasih anak ke wa, kan?” Dilebarkannya kakiku yang tengah didudukinya, merebahkan dirinya pelan-pelan tanpa melepaskan persatuan kelamin kami dengan hati-hati. Ahli sekali ia mengatur tubuhnya. Aku sendiri takjub bisa terjadi seperti ini. Kakinya kini menggantung bersandar di bahuku.

“Mulai ya, kaaak?” sahutku mulai menggerakkan Aseng junior keluar masuk.

Kali ini di posisi standar bikin anak dan enak ini, tusukan bisa dilakukan panjang-panjang maksimal. Kombinasi dua pendek-satu panjang kulakukan dalam menyodok kak Sandra di bagian akhir ini. Dua kali sodokan pendek lalu sekali tusukan dalam lalu diulangi dua sodokan pendek lagi. Begitu terus menerus beberapa kali repetisi sampai memang terasa geli-geli enak yang sudah kami harapkan.

“Kak ini, kaaak…” sodokanku hanya panjang-panjang sekarang dan lebih cepat. Memburu kenikmatan untukku sendiri setelah ditambang habis-habisan oleh kak Sandra tadi.

“Seeeng? Yaak, Seeng… Ahh… Ahhnn… Uhhmm…” erang kak Sandra menerima semprotan menyembur deras mengisi rahimnya dengan sperma hangatku.

Kak Sandra mengelus-elus dadaku dengan mulut maju minta cium. Kedutan-kedutan enak masih terasa di saluran spermaku saat kami berciuman, bergulat lidah saling belit dan sedot.

Kak Sandra dan aku saling remas. Kak Sandra meremas-remas pinggangku sedang aku tentu saja toket montoknya. Nafas kami terasa sangat panas karena teracuni karbon dioksida di antara langkanya oksigen yang kami perebutan di cumbuan mulut ini.

“Lu mau tau, gak?”

“Apa, kak?”

“Dani dari tadi udah bangun…”

***

WHATDEFAKK!!

Terlihat memang ada gerakan kecil di sana pertanda kalau itu bukan gerakan normal orang yang sedang terlelap tidur. Itu gerakan seseorang yang sedang gelisah menahan sesuatu. Entah boker atau apa. Menahan sesuatu dan takut ketahuan orang lain. Takut karena mengintip persetubuhan kami berdua?

“Kakak sih… Suaranya bising kali pakek jerit-jerit… Ketauan kita, kan?” bisikku menyalahkannya.

Memang gak kira-kira tadi kak Sandra menjerit-jerit keenakan apalagi dia udah bolak-balik kesetrum orgasme.

“Kek lu gak berisik aja-ih…” kak Sandra gak mau disalahkan sendiri.

Didorongnya tubuhku untuk mencabut Aseng junior dari dalam liang kawinnya yang banjir oleh spermaku. Aseng junior menjuntai-juntai menggenaskan, lelah dan berlumuran muntahan enak.

“Enak kali kontol lu, Seng…” ujarnya dengan suara keras.

Alamakjang! Mau kusumpal kontol juga ini mulut cici-cici ber-cepet nikmat dan bertoket gede ini. Lengkap kali-ah predikatnya. Eh… lupa aku!

“Kak muncungnya jangan maju kali… ” peringatku akan membekap mulutnya yang lancip kali koar-koar begitu.

“Cepet wa sampe ledes gara-gara kontol lu, Seng… Enak gilak!” lanjutnya lagi dengan kegilaannya.

Suaranya tetap keras kek lagi nawar cabe di pajak (pasar) Sambu. Tangan kami saling rebut berkuasa. Aku akan membekap mulutnya, kak Sandra menangkisnya kek seorang ahli beladiri yang berguru langsung ke Ip Man.

“Penuh cepet wa sama mani lu orang… Bunting dah wa ini…” lebar mulutnya tersenyum menahan tawa.

Ia berhasil memegangi dua tanganku sehingga aku tidak berkutik. Dan kimaknya lagi, Aseng junior bisa-bisanya ngaceng lagi karena bacotnya itu. Kan kimak kali itu! Mulut kotor embernya itu sukses membuatku secara tak sadar terangsang kembali.

Kami berdiam untuk beberapa saat. Kak Sandra gak bersuara lagi karena kami sedang memperhatikan bahasa tubuh Dani yang masih ngumpet, pura-pura bobok di balik selimut hotel. Ia menahan dirinya untuk melakukan gerakan yang mencurigakan.

Apa yang sedang dipikirkannya saat ini? Ini semua gara-gara kak Sandra, nih? Ntah ngapain dia pake nyamperin ke hotel ini segala. Padahal kan aku seharusnya bisa beberapa ronde lagi dengan kepala PPIC berhijab ini.

Semua jadi runyam begini…

“Dah lu sana… Wa mau ngeganjel cepet wa dulu sebentar…” dengan kurang ajarnya kak Sandra menendang pelan pantatku agar turun menghampiri Dani yang entah bagaimana keadaannya di balik selimut itu. Menggunakan sebuah bantal sofa, ia mengganjal pantatnya agar spermaku tidak merembes keluar dulu.

“Gimana nih, kak?” bingungku.

Apa yang harus kukatakan padanya? Aku telah memasukkan Dani dalam situasi yang membingungkan seperti ini. Belang perselingkuhan kami malah terbongkar oleh perselingkuhan lainnya. Kalo sama-sama selingkuh pada pria yang sama, apa artinya? Bukankah ada kesamaan di dalamnya? Bukankah bisa diambil keuntungan?

Kak Sandra kimak memang-lah ini orang! Ia malah pura-pura bersiul-siul tanpa suara karena ia memang gak bisa bersiul sambil plotat-plotot memperhatikan bubungan kamar hotel yang remang gelap. Ia sama sekali gak mau membantu padahal dia-pun yang menjerumuskan aku dan Dani di situasi seperti ini.

Kalo dia mau sabar aja nunggu di pabrik, kan bakalan dapat jatah juga. Ini malah ujug-ujug nongol di sini lalu ‘I demand it NOW!’ Pusing deh pala berbie.

Aku menelusup masuk ke dalam selimut di samping Dani dan langsung memeluk tubuh telanjangnya yang hangat. Tanganku langsung meraba perutnya. Ia membelakangiku. Kuciumi punggungnya yang halus telanjang.

“Dani udah bangun?” bisikku ke arah kupingnya. Ia menggeliat. Ia belum kunjung menjawab untuk beberapa lama. Mungkin memilih kata yang tepat.

“Itu bu Sandra ya, bang?” bisiknya akhirnya malah berbalas tanya.

“Iyaaa… Dani liat semuanya?” tanyaku masih memeluknya.

Deburan jantungnya bergemuruh kencang. Ia menggangguk pelan.

“Dia sama kek Dani…” Aku tak memberikan semua informasinya dan aku tau Dani perempuan cerdas dan tanggap.

Dani menangkap tanganku yang masih mengelus perut ratanya.

“Mau anak dari bang Aseng juga?” Nah, kan? Cepat tanggap dan tepat tebakannya.

Aku memang tidak boleh membicarakan urusanku dengan kak Sandra dengan siapapun tapi kalau tertebak tidak akan melanggar pasal perjanjian kami, kan? Aku tidak menjawabnya.

“Pasal dua, Dan… Tidak boleh membicarakan ini pada siapapun…” ingatku tersirat kalau aku juga menerapkan perjanjian yang serupa pada kak Sandra seperti perjanjianku padanya. Aku tidak menjawab pertanyaannya sama sekali.

“Dani tenang aja… Kak Sandra itu fair kok orangnya… Dia aja sedang sante-sante ngeganjal pantatnya pake bantal di sofa sana…”

“Kita nyobain threesome, yuk?”

***

“Astaga dragon!” umpatku gak kira-kira.

Kuurut-urut dadaku yang kaget karena selaan kak Sandra yang langsung hantam kromo masuk dan menjepitku berbaring di antara Dani dan dirinya. Toket toge-nya menekan punggungku. Tangannya lancang merogoh masuk dan menggenggam Aseng junior yang mulai terpekur istirahat di antara kakiku.

“Kak Sandraaa? Awas dulu… Ih… Tangannya…”

“Ini coba kemariii…” nakal tangan kak Sandra malah mengoles-oleskan kepala Aseng junior ke belahan bokong Dani yang ada di depanku.

Padahal aku menghindari tidak merapatkan perutku ke depan, ini malah dikuasin gitu sama ini cici panlok. Tentu aja Dani menjengit geli merasakan sebuah benda tumpul lunak dielus-eluskan ke belahan bokongnya. Menowel-nowel lubang pantatnya dan sesekali mencolek liang kawinnya yang masih berkerak bekas spermaku.

“Enak, kaan?”

Panlok berbodi semok ini malah menaiki tubuhku yang berbaring menyamping, masih mempertahankan agar Aseng junior tidak dipermainkan sedemikian rupa. Toketnya malah runtuh di depan mataku.

“Daaaniii?” panggilnya dibuat-buat manja gimana gitu.

Kalo gak paham siapa kak Sandra mungkin mengira kalo karakternya memang begitu. Tangannya mengelus lengan terbuka Dani dengan lembut. Tentunya dia tau cara memperlakukan sesama kaumnya.

“Dani gak usah mikir yang macem-macem, yaa? Sama kita disini… Amaan, kok…”

Dani terdiam dan terus mematung bingung. Ia pastinya serba salah. Ia gak pernah menyangka bakal terjebak atau berada di situasi runyam seperti ini. Berani selingkuh denganku saja sudah merupakan sebuah lompatan besar baginya.

Itu baru diambilnya beberapa hari ini saja dan kini dia harus melompati sebuah lubang baru yang sama lebarnya dengan keputusan sebelumnya. Memasukkan orang lain di dalam hubungan rahasianya ini.

Kak Sandra bergerak lagi dan tangannya menjangkau ke sisi sebelah sana dan menyalakan satu lampu tidur yang tidak dinyalakan. Sama-sama berwarna kekuningan hingga kini ada dua buah lampu tidur yang menyala di samping ranjang hotel ini. Masih tetap temaram suasananya cuma agak lebih terang saja. Sepasang toket 36D itu ndusel-ndusel di mukaku, menggerus mukaku dengan puting ajaibnya. Kak Sandra memaksakan dirinya memisahkanku dan Dani—ia kini berada di tengah.

Ia menarik tubuh Dani agar berbalik, tentunya dengan sedikit paksa agar perempuan yang masih memakai hijab itu mau berpaling dan menghadapinya. Aku penasaran apa yang akan dilakukannya dan bagaimana caranya. Dani menunduk malu dan memejamkan matanya saat kedua perempuan yang polos tak berpakaian itu sudah berhadapan.

“Daan…” ia memperbaiki bagian atas hijab Dani lalu mengelus-elus kepalanya agar lebih tenang menghadapi pelik masalah ini.

“Tenang aja… Saya gak masalah, kok… Saya paham semuanya… Kita sama, kan? Sama-sama susah mendapat anak…” kembali kak Sandra memperbaiki sisi lain hijab Dani yang kurang rapi.

“Saya juga maksa sama si Aseng ini supaya dikasih anak… Ini juga bukan pertama kalinya kami ngeseks… Sama juga seperti Dani… Saya tau semua itu… dan saya gak akan mempermasalahkannya… Juga gak akan mencampurkan ini sama kerjaan… Kamu boleh pegang ucapan saya ini…” panjang lebar kak Sandra mengungkapkan posisinya dan dimana kami semua berdiri.

Kami ada pada posisi yang sama, saling tolong menolong. Dan hebatnya dia gak pake lu-wa selama itu. Lebih ke ngomong formil gitu.

“…. jadi rileks aja… Gak usah terlalu tegang, ya?”

Dani mengangguk dalam. Dari tadi, ia bergestur defensif dengan memposisikan kedua lengannya di depan dadanya hingga menutupi payudara dan selangkangannya.

“Dibuka dong… Naah…” kak Sandra mengambil satu tangan defensif itu dan meletakkannya di pinggul.

“Imut…” komentarnya akan bentuk dan ukuran payudara Dani.

“Lembut… kek pantat bayi…” Dani menjengit geli karena kak Sandra iseng meremas pelan payudaranya.

“Enakan mana sama tangan Aseng?” tanya panlok satu ini random kali. Dani menahan tertawa dengan senyum dikulum. “Jawab, Daaan? Enakan mana?”

“Enakan awak-la, kak kemana-mana…” aku ikut nyantel.

“Bacot-lu… Ini sprei basah-basah gini semua… lu pakein tombol darurat juga sama Dani?” sergahnya tiba-tiba menggerak-gerakkan kakinya.

Masih ada rasa lembab basah yang membekas di permukaan ranjang akibat kencing enak yang dihasilkan Dani di ronde sebelum kak Sandra. Dani mendelik padaku bingung apa itu tombol darurat.

Aku hanya bisa garuk-garuk kepala.

“Jago lu yaa… Dani lu buat sampe terkencing-kencing juga kek wa… Enak, gak?” balik ia beralih pada Dani kembali.

Terkaget-kaget tentunya ditanya tiba-tiba entah tentang apa. Matanya plirak-plirik ke segala arah tapi tak berani menatap kak Sandra–pun tak kunjung menjawab.

“Wa tanya enak gak maen sama Aseng satu ini?”

Dani hanya bungkam tak mengeluarkan suara secuilpun.

“Malu lu, ya?” sergah kak Sandra tanpa dinyana malah memeluk Dani erat-erat di posisi berbaring bertiga ini.

Dani, kak Sandra di tengah dan aku di pinggir. Kembali Dani mendelik-delik kebingungan bertanya tanpa suara padaku, menunjuk-nunjuk punggung kak Sandra. Ia bahkan gak berani menggerakkan rahangnya yang menempel di bahu sang bos panlok. Aku hanya menggeleng paok.

“Naaah… Kita saling menjaga aja… Kita jadikan ini rahasia kita orang bertiga aja… Semacam club kecil-kecilan-lah…” ia melepas pelukan ke Dani.

“Maksudnya, kak?” tanyaku lagi.

Ia memalingkan wajahnya ke arahku tanpa membalikkan tubuhnya yang masih menghadapi Dani. Payudara mereka yang berbeda ukuran itu menempel erat.

“Wa tau rahasia lu berdua… Dani tau rahasia kita orang berdua… Lu entotin kami orang berdua… Maksud apa lagi? Lu harus belajar banyak, Seng… Lu bakalan gantiin wa soalnya… Lu harus belajar dengan cepat…” katanya setelah menoyor jidatku dengan jari telunjuknya pelan.

“Gimana pendapat lu, Dan?” beralih lagi ia tiba-tiba ke Dani yang terus bungkam.

“Bu-bu Sandra ada main sama bang Aseng?” itu kalimat pertanyaannya sejauh ini.

Seharusnya itu tidak perlu dipertanyakan lagi tapi mungkin ia harus menanyakan pertanyaan yang mirip basa-basi ini. Mungkin pelajaran yang dimaksud kak Sandra adalah tidak perlu banyak basa-basi, langsung action. Apa itu bukan karakter asli kak Sandra? Ia berprilaku seperti ini sebagai bagian personanya dalam memimpin.

“Ya, tentu… Wa minta dihamilin sama Aseng… Lu tau wa dah lama gak hamil-hamil… Kek lu juga, kan? Wa tau lu orang sering ke gudang arsip itu di pagi sebelum kerja sama waktu istirahat… Wa gak masalahin itu semua… karena wa juga dapat jatah dari Aseng sebubarnya kantor…” jawab kak Sandra.

Ternyata memang benar. Kenapa aku baru menyadari ini, ya? Padahal dah bertahun-tahun aku kenal dia.

“Lu juga baru liat, kan… wa dientotin Aseng barusan di sana… Nih… cepet wa masih beselemak maninya…”

“Jadi club kecil-kecilan tadi gimana, kak?” tanyaku malah ngingat masalah club.

“Ah… lu kan sering jadi bendahara arisan… Lu bendahara alias penyandang dana mani club kita aja… he he he… Kalo sempat kita orang maen bertiga kek gini sampai ada yang hamil… Cocok lu orang rasa?” katanya malah membentuk arisan gila kek gini.

“Heh??” aku dan Dani kaget.

“Lu berdua juga bisa make ruang istirahat wa kalo mau… Asal ati-ati aja jangan sampe ketauan Tiwi… Maen cantik-lah kelen berdua pokoknya…” katanya menambahkan satu penawaran baru. Ini ide bagus sebenarnya.

“Ngapain lu berdua maen di gudang arsip kek gitu… Gak enak, kan?” tambahnya. Iya benar juga. Tempatnya lebih nyaman dan lebih aman.

“Gimana, Dan?” tanyaku menanyakan pendapatnya.

Mungkin juga dia masih syok akan perkembangan yang drastis ini. Mungkin di bayangannya, affair kami ini hanya akan ada kami berdua saja selamanya. Ini bertambah satu dengan masuknya kak Sandra mengacak-ngacak segalanya. Mungkin segala keindahan dan kerahasiaannya.

“Dani bingung…”

“Ushh… usss…” kak Sandra tanggap dan menenangkannya dengan cara dipeluk kembali.

Sebagai yang tertua di antara kami bertiga, apalagi ia juga perempuan. Sedikit banyak kak Sandra pasti paham apa yang sedang dirasakan Dani saat ini. Ini dilema yang besar bagi perempuan seperti Dani.

Melakukan sebuah selingkuh saja sudah merupakan beban yang sangat berat, ini bertambah lagi beban baru yang jauh lebih berat. Kak Sandra membisikkan sesuatu padanya. Aku tak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan lewat bisik-bisik itu tapi beberapa kali aku ditunjuk-tunjuknya.

Untuk beberapa lama mereka berpelukan dan ngobrol berbisik-bisik. Entah apa maksudnya harus ngomong seperti itu. Supaya aku gak dengar? Apa mereka berdua sedang melakukan negosiasi? Karena aku menangkap pembicaraannya lumayan serius tapi ada tertawa geli bersama juga.

Kak Sandra mengelus-elus lengan Dani selama ngobrol pelan itu. Aku jadi nganggur. Aseng junior apa lagi—terpekur lemas.

“Hei! Lu udah apain ini si Dani sampe begini?” kaget aku pahaku tiba-tiba ditepuknya keras.

“Lu kasih dia nyium gak pake tanggung jawab… Binik orang jadi suka sama lu gimana?” lanjutnya sembari menunjuk-nunjuk hidungku. Kak Sandra bangkit dari berbaring tadi disusul Dani di sampingnya.

“Loh, Daan? Kan tadi janjinya gak pake perasaan… Awak gak tau-laaa…” jawabku menghindar. “Orang awak aja tadi dipaksa-paksa ciuman, kok…” gerutuku pelan walau mereka pasti dengar.

“Ha ha ha ha…” kompak mereka berdua tertawa terpingkal-pingkal melihat gelisahku yang dipersalahkan begini.

Keduanya duduk berdampingan sambil berpegangan tangan, jari bertaut. Ah… Dua pasang payudara berbeda ukuran dan berat itu berguncangan karena tawa lepas itu.

“Kena lu, kan?” kata kak Sandra mengolok-olokku. Ah… Bercanda rupanya. *tepok jidat.

“Oop, kak? Paten kali ini!” reaksiku tiba-tiba meroket ke level tinggi sekarang.

Perutku bergelitik aneh dan tensiku melonjak tinggi, menyaksikan pemandangan terbaru ini. Apa pasal? Sepasang tangan kak Sandra dan Dani saling taut jari jemarinya menyatukan keduanya menjadi satu jalinan, ditambah sentuhan bibir—bercumbu!

“Nyuumm… Shllkk… Sllrrpp… Chlk…” kak Sandra memimpin dengan permainan lidahnya.

Serangan gencar yang sering diperagakannya padaku, kini diterapkannya pada mangsa barunya, Dani. Tautan jari keduanya kadang mengendur dan sering mengetat seirama dengan intensitas tingkat ke’pedasan’ cumbuan mulut keduanya. Lidah kak Sandra menelusup masuk dan bergulat dengan lidah panjang Dani.

Sepertinya kak Sandra menemukan lawannya. Keduanya berganti-ganti posisi kemiringan kepala agar dapat leluasa berjibaku dengan mulut lawan. Lidah Dani yang dipancingnya masuk ke dalam mulutnya, disedot dan dibetot kak Sandra dengan lihainya. Ah… Dani. Kau gak mau kek gitu sama aku…

Kedua perempuan itu saling menggelindingkan payudara masing-masing atas lawan di depannya. Walau toket kak Sandra lebih menang di ukuran dan massanya, Dani juga tak kurang kalah karena ia bisa dengan mudah menekan kenyal massa lemak berbentuk toge milik panlok di depannya.

Menetes-netes ludah mereka berdua di permukaan toket dan payudara yang adu kenikmatan itu. Trus aku piyeee? Cuma bisa meremas-remas Aseng junior berharap terjepit diantara kedua pertarungan kenyal itu. Gak pa-pa kalo kejepit nikmat dan penyot digiling di sana.

“Eh… Humm… Hi hi hi… Kenapa lu? Pengen, yaaa… ada di sini?” kata kak Sandra menggodaku dengan binal.

Lendir ludah dari mulut Dani dioleskannya ke puting toketnya sendiri dan ia mengerang seksi karenanya. Liur dari mulut Dani meleleh sampai membasahi permukaan payudaranya. Ia lalu menunduk dan mencaplok payudara kanan Dani dan menelan semuat mulutnya. “Mooahh…”

“Ahhnn… Uhh…” erang Dani tak mau kalah dan meremas toket kiri kak Sandra yang tertekan tubuh pemiliknya yang menunduk menyantap payudara lawan. Putingnya yang unik berwarna berbeda itu dipilinnya gemas.

“Bang Aseng… Uhh…” panggilnya padaku.

Ini terlalu indah untuk jadi kenyataan. Dua perempuan cantik ini saling rangsang tetek di hadapanku. Apapun yang mereka bisik-bisikkan tadi pastinya sangat mengena di hati Dani sehingga ia mau dan tega melakukan ini. Tega melakukan ini padaku lagi. Membiarkanku, membuatku hanya bisa menonton sambil mencekik Aseng junior yang megap.

“Kaak… Ikut, kaak?” rengekku kek minta jajan.

Jajan nenen tepatnya. Kimak! Kak Sandra mendorongku agar tidak mendekat. Ia melakukan itu tanpa perlu melihatku, masih tetap menikmati payudara berukuran sedang milik Dani. Ditahannya dadaku agar tetap berjarak dari pergulatan mereka berdua.

“Kaak… Ikutlah awak, kaaak?” rengekku agar diizinkan ikut maen. Maen nenen enak.

Kak Sandra melepas payudara Dani dan kembali memulai cumbuan mulut lagi yang disambut dengan gembira. Kembali keduanya melaga payudara dan toket di hadapanku. Pasti akan asoy geboy dijepit di antara gunung-gunung kenyal itu. “Hoo-o!” Kak Sandra menarik kepalaku yang mendekati pertemuan benturan dua pasang gunung kembar itu dan menjepitku.

“Whooaaa! Nyot! Nyot!” seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Dijepit diantara kenyal dua pasang gunung yang menggiling kepala dan mukaku.

Kudusel-duselkan kepalaku berputar agar maksimal mendapat semua himpitan kenyal massa lemak kelenjar mammary yang menghiasi dada kedua perempuan cantik ini. Kak Sandra menyodor-nyodorkan kedua toket 36D-nya ke mukaku berulang-ulang.

Begitu juga dengan Dani yang menggesek-gesekkan payudara kenyalnya ke pipiku. Kaku dan kenyal keempat puting itu menggesek kepalaku dengan alunan suara mendesah berderu-deru, menikmati rasa geli dan enak yang mereka dapatkan dari menjepit kepalaku di antara dada keduanya.

“Awak mabok susu, kaaak… Daann… Nyam nyam…”

Lidahku menjulur untuk apa saja yang dapat kuraih. Dua buah pentil tegang segera mendarat di lidahku. Masing-masing keduanya menyetorkan perwakilannya ke lidahku. Segera kusentil-sentil dengan lidah basah berludah.

Segera aku bisa menandai pentil yang satu milik siapa dari ukuran gundukan yang mengikutinya.

“Aahhnn… Sssttt… Hhmmm… Uhhhnnss… Ahhsshhh…” erang kedua sahut bersahut.

Massa lemak kenyal itu dijojos-jojoskan ke mukaku bergantian dan kuterima dengan mulut terbuka. Pada pentil toket kak Sandra kusedot-sedot kuat puting berukuran lumayan besar itu dan pentil Dani kusentil-sentil berputar. Kepala dan badanku lalu direbahkan alhasil tidak terjepit lagi di gundukan surga, berbaring di atas ranjang.

Runtuh toket kak Sandra dan payudara Dani ke mukaku di posisi begini. Keduanya kini menghimpitku dengan tubuh berkulit lembut mereka. Yang satu senior bertubuh montok bertoket gede, yang satunya langsing berpayudara sedang segenggam.

Dengan arahan tangan, kak Sandra menyodorkan toketnya ke mulutku. Sekilas seperti berkompetisi mencari kenikmatan sendiri tetapi mereka bergantian melakukan itu karena Dani mendapatkan juga kesempatan untuk menjejalkan payudaranya padaku. Silih berganti kedua pasang toket dan payudara itu mencari kesenangan dengan mulutku. Minta dikenyot dan disedot. Minta dijilat dan diremas.

Saat aku menikmati payudara Dani, ini pasti tangan kak Sandra yang menjamah Aseng junior yang nganggur walau mengacung keras karena benar-benar terangsang. Tangan itu mengocok kuat dibarengi remasan gemas.

Dani inisiatif langsung menduduki perutku dan mendesakkan payudaranya ke mulutku karena kak Sandra mengalihkan perhatiannya hanya pada Aseng junior sekarang. Tubuhnya melengkung penuh agar payudaranya tepat di mulutku.

Kugelomoh rakus payudara sekal dan kenyal itu, memainkannya dengan lidah dan remasan tangan pas segenggam. Kusedot-sedot sepenuh bukaan mulut, rakus sebisanya masuk sebelah payudara Dani.

“Aahhooohh…”

Tak tau apa yang dilakukan kak Sandra di bawah sana, Aseng junior memasuki sebuah lorong hangat dan basah. Belum, itu bukan cepet-nya. Ini masih mulutnya. Ia mempraktekkan deep throat lagi. Ia mengasah kehandalan teknik menelan kontol ini dari waktu ke waktu.

Aku yang selalu jadi bahan mengasah teknik ini tentu aja selalu kelojotan kejet-kejet menikmati kedahsyatan saat Aseng junior memasuki lubang mulut yang menyempit menuju kerongkongan. Mulut yang lebih fleksibel dalam mengatur luasnya ditambah lagi dengan adanya lidah yang membantu mengurut atau memijat sang kontol.

Pantatku sampai terangkat akibat sedotan deep throat kak Sandra. Seluruh batang Aseng junior ditelannya dengan lidah menjulur keluar. Terdengar ia terbatuk-batuk setelah dilepasnya. Aku masih harus berbagi konsentrasi antara memainkan payudara Dani dan menikmati sedapnya sedotan kak Sandra.

“Aoohh… Nyaam… Sllrphh… Slorrhh… Auhh… Ahh…”

Suaraku berbaur dengan desahan Dani yang payudaranya kusedot bertubi-tubi. Pentil mungilnya menjadi bulan-bulananku. Digigit kecil, diplintir, disentil dan dihisap bergantian berbagai kombinasi. Berkali-kali ia juga menoleh ke belakang, yang ternyata ia juga mendapat serangan dari kak Sandra.

Pantat dan meki gundulnya ternyata juga tak lepas dari perhatian kak Sandra. Ia berkali-kali menjengit geli hingga pantatnya terangkat. Selagi panlok itu menelan Aseng junior, ia juga membenamkan jarinya ke liang kawin Dani.

Ada cairan kental yang mengucur perlahan dari dalam sana, pastinya itu sisa spermaku yang tersisa dari rahimnya. Campuran berbagai aroma di kamar hotel yang temaram ini sudah sangat memabukkan. Feromon, adrenalin, sperma, cairan vagina, ludah, dan nafsu berbaur menjadi satu orkestra mesum yang kami arungi bertiga.

Mendapat serangan jari dari kak Sandra, membuat Dani menggelinjang. Pantatnya geal geol kebeberapa arah sampai ke arah Aseng junior yang sedang ditelan.

“Byuung…” Tangan kak Sandra mengarahkan tegang batang kemaluanku malah ke arah Dani, ke arah meki gundulnya. Digesek-gesekkannya hingga kepala Aseng junior seperti kuas yang disapukan ke kanvas. Kak Sandra melukis di meki Dani.

“Aarrhhh…” erang Dani menggeletar tubuhnya mendapat godaan seperti itu karena tak kunjung memasuki dirinya dan menawarkan haus yang mencekik lehernya.

“Masukkan, kaaak…”

Aku yang tak sabar juga, bangkit dan menyambar mulut Dani yang dari tadi menoleh ke belakang. Kami berciuman dan tak lepas harapan agar kak Sandra membiarkan kelamin kami bertemu.

“Eahhh…” malah kami berdua mengerang bersama.

Terasa kak Sandra, mungkin gemas atau apa, ia menyerang kedua kelamin kami sekaligus. Mukanya merangsek masuk ke pantat Dani. Kepala Aseng junior yang sekedar menempel saja di mulut kemaluan Dani merasakan lidah perempuan itu menjilat-jilat rakus pertemuan kedua kelamin kami yang berkedut-kedut penasaran. Dani melebarkan belahan pantatnya agar kak Sandra lebih leluasa mengakses permainannya.

“Auuhh…” erang Dani bilamana kak Sandra akhirnya mengizinkan kelamin kami bersatu. Aseng junior menembus masuk dengan lancar.

Terasa berkedut-kedut kelamin kami seirama debur jantung yang berpacu kencang tak sabar. Dani langsung menggerakkan tubuhnya naik turun di atas pangkuanku, Aseng junior tertancap dalam.

“Eaahh… Ahh… Ahh…”

Apa yang dilakukan kak Sandra? Ia beranjak ke antara kami dan menjejalkan sepasang toket gedenya pada mulut kami berdua. Seorang dapat satu. Dua orang dewasa menyusu pada perempuan dewasa lainnya. Dani juga rakus mengenyoti toket kak Sandra sekaligus meremasnya gemas. Seperti yang juga kulakukan. Tambahan kulakukan dengan meremas payudara Dani juga.

Tubuh Dani melonjak-lonjak melompat selagi memompakan badannya terhadap Aseng junior-ku yang menancap dalam di kelaminnya. Kami bertiga mengerang-erang merasakan kenikmatan masing-masing.

Aku dan Dani merasakan nikmat persetubuhan persatuan kelamin, kak Sandra merasakan enak toketnya dinenenin dua orang sekaligus plus kobelan yang kulakukan di cepet berjembut jarangnya. Jariku mengait sampai dua di dalam liang kawinnya. Mencari kenikmatan masing-masing dengan saling membantu.

Keknya keren kalo kedua perempuan yang bisa squirt ini, ngecrot berbarengan pikirku. Jadinya tanganku yang tadinya memilin pentil Dani kupindahkan ke kacang itilnya. Untuk kak Sandra, jari tambahan kukaryakan untuk mengutik kacang itilnya juga. Pemecahan konsentrasi begini yang sulit sekali dilakukan karena aku simultan melakukan hal lainnya. Mengenyot toket kak Sandra plus rasa enak di sekujur Aseng junior. Ditambah lagi mengobel dua vagina sekaligus.

“Oooh… Ohhh… Ohh…” desah kak Sandra merasakan beberapa serangan erotis sekaligus di tubuhnya.

Pinggulnya berputar-putar merasakan nikmat yang mendera tubuhnya. Begitu juga Dani, meki gundulnya yang didesak Aseng junior-ku mengaduk-aduk liar mencari kesenangannya sendiri. Kedua perempuan ini berdiri di atas lututnya, rangsangan intens di toket dan vagina masing-masing. Kugerakkan Aseng junior sebisanya untuk tambahan kenikmatan dunia pada Dani. Mulutku terus rajin menyosor toket kak Sandra. Jariku mengobel kacang itil keduanya.

“Aahh… ahhh… ahhh…”

Toket gede kak Sandra merah dan basah oleh liur kami berdua, kutinggalkan dan kusongsong mulut kak Sandra yang dari tadi menganga mengerang.

“Aump…” mulut kami saling pagut dan berciuman bertukar ludah.

Memberinya minuman yang sangat digemarinya. Disedot-sedotnya lidahku sembari terus merasakan sebelah toketnya terus diremas dan disedot Dani. Jariku juga terus merancap liang kawin dan kacang itilnya. Mengocok cepat.

“Ahh… Ahh…” beberapa otot tubuh Dani mengejang pertanda ia tak lama lagi akan mendapatkan puncaknya.

Aku sebenarnya juga bentar-bentar lagi juga mau. Tapi kutahan sekuatnya dibantu pengaturan nafas sebisanya dengan teknik silat yang kuketahui. Kedutan serupa juga terasa pada cepet kak Sandra.

Wah… Keknya rencanaku berhasil nih. Tapi bisa barengan gak, ya? Pagutan mulut berpindah pada Dani dan kami berciuman bermaksud menambah rangsangan. Kobelan tanganku di cepet kak Sandra semakin cepat, padahal sudah pegal.

“Humm… humm…”

Berkerut-kerut alis Dani menahan rasa itu, gak lama lagi dia bakalan nembak nih.

“Aohh… Oohh… Oohh…” kak Sandra juga nyaring mengerang padahal hanya tinggal kemaluannya saja yang mendapat gempuran tanganku.

Toketnya sama sekali nganggur. Lidah Dani kusedot-sedot bertukar ludah. Semenjak mengenal permainan kak Sandra, ia kini semakin liar bercumbu mulut.

Sebelumnya, mana mau Dani melakukan ini. Paling banter cuma cipokan ngulum bibir aja. Berganti kini ia yang menyedot lidahku yang menyerobot masuk mulutnya. Lidahnya berbelit-belit dengan lidahku.

Aseng junior semakin panas bergesekan terus dengan dinding liang kawin meki gundul Dani. Walau becek sisa sperma dan cairan pelumas vaginanya mengucur, tak mampu mengurangi rasa panas yang terjadi. Aku sudah dua kali ejakulasi hari ini, masing-masing sekali pada kedua perempuan rekan kerjaku ini. Kak Sandra tak sabar dan menyerbu permainan mulut kami. Lidahnya menjulur memasuki mulut Dani yang sedang menyedot lidahku. Dua lidah menyeruak masuk dan dihisapnya sekaligus.

“Nyaamm…”

Ditinggalkannya mulutku dan beralih berciuman panas dengan kak Sandra. Saling pagut dan bermain lidah. Mulutku harus kembali mengenyot toket kak Sandra yang basah dan merah.

Dani trus menggerakkan pinggangnya, mengeluar masukkan Aseng junior ke dalam liang kawinnya. Jari-jariku sudah pegal dan memasuki masa kritis batas ketahanannya. Kedua vagina ini harus segera squirt dalam waktu dekat ini, atau tidak…

“Yaahh… Aukkhh… A-ahh… Ahh… Uhh… Ukhh… Seengghh…”

Keduanya meraung berbarengan berpelukan erat kala tremor bergemuruh itu menyerang tubuh mereka. Toket dan payudara keduanya bergencetan erat dengan indah dalam harmoni geletar-geletar kenikmatan yang membuncak meledak dari lubang mini.

Meluncurkan semprotan kencing nikmat yang menggetarkan jiwa. Aseng junior terlepas paksa dari sarangnya di tubuh Dani. Aku hanya bisa menyaksikan kedua perempuan itu saling mengencingi satu sama lain. Seksi sekali pemandangan ini.

Aku belum pernah melihat ini sebelumnya. Paha keduanya basah kuyup oleh kencing tawar yang mereka semprotkan barusan. Mereka saling mendukung untungnya hingga bisa tetap tegak di atas ranjang yang sudah basah ini. Menetes-netes nakal.

“Auhmm… Mmm… Umm…” kembali mereka berdua meneruskan bercumbu mulut dan melupakanku.

Rebah keduanya lalu menikmati mulut masing-masing bergulingan tak memperdulikan keadaan lembab ranjang ini akibat kencing enak barusan. Kadang kak Sandra di atas menindih Dani dan berguling sehingga ganti Dani yang menindih kak Sandra. Mereka seperti menemukan kekasih hati baru dengan melakukan semua cumbuan ini.

Seng? Nganggur kita, junior…

Aku hanya bisa menonton percumbuan mereka berdua sambil mengelus-elus Aseng junior-ku. Berharap kalo mereka bakalan ingat aku masih ada di sini. Pengen rasanya mencoblos tunggingan pantat siapa saja yang menjulang tinggi saat salah satu perempuan itu berada di atas.

Belahan pantat menggiurkan dengan anus dan vagina terbentang lebar. Seharusnya bebas untuk dicoblos yang mana aja. Tapi itu artinya mengganggu kesenangan mereka.

Kadang pantat kak Sandra yang kugemari—pantat lebar, putih dan mulus itu menungging tanpa daya di depanku dengan cepet merah lembab merekah menggoda di depan mataku. Berganti lagi dengan pantat Dani yang menungging mengangkang—menyebabkan isi meki gundulnya itu merekah lebar menunjukkan isi di dalamnya, lubang imut yang sudah beberapa kali kumasuki.

“Kenapa, Seng? Dah gak tahan, yaaa?” tanya kak Sandra menggodaku.

Ia memeluk tubuh langsing Dani di atasnya yang cekikikian tertawa, rebah wajah di toket 36D-nya. Kaki keduanya sama-sama melebar sehingga aku dapat melihat kedua vagina mereka merekah berlubang. Dani bahkan menarik sebelah bongkah pantatnya sehingga bibir meki gundulnya tertarik terbuka lebar–memamerkan isi dalamnya, merah merona.

“Bang Aseng pilih yang mana? Yang atas atau bawah?” nakal tanya Dani begitu yang dibalas dengan cekikikan yang sama oleh kak Sandra.

Keduanya menggerak-gerakkan pinggul mereka sehingga kedua vagina itu bergesekan bersama. Goyang-goyang kecil yang menggairahkan. Dua daging itu bertumpuk seperti sandwich daging segar.

“Bingung aku, bah! Mau yang mana?” kataku hanya bisa mencekik Aseng junior yang meradang tegang.

Aku bisa meledak kapan saja ini… Keduanya sama-sama menggoda dengan segala kelebihannya. Meki Dani memang jauh lebih sempit tapi cepet kak Sandra lebih menggigit. Aku merapat dan bingung. Kutempelkan saja sembarangan dan malah menelusup masuk ke antara meki dan cepet itu. Terjepit begini tak kurang enaknya.

“Ahhh…” sempit kali, woy!

“Seengg… Lu masuk mana?”

“Bang Aseeeng? Masak ke situ?”

Kucabut dan cepat-cepat kutusukkan ke sana.

“Uhh…” Enaknyaaaa… Ke cepet memerah merekah itu dan langsung kugeber cepat. Aku sudah gak tahan lagi.

“Ahh… Ahh… Ahh…” erang kak Sandra merasakan Aseng junior mencoblos masuk dan langsung menyumpal liang kawinnya.

Seperti yang kubilang tadi. Ini sudah gak lama lagi bakalan ngecrot nih. Udah sampe ubun-ubun aku menahan semuanya.

“Agh… A-ahh… Uh…” semprotan pertama dan kedua dan langsung kucabut dengan menahan abis-abisan.

Kumasukkan lagi ke lubang yang berbeda dengan cepat dan presisi.

“Uhh… Ukhh…” sisa muatan dibagi rata pada dua lubang.

Apapun yang tersisa di Aseng junior kuhabiskan di dalam liang kawin Dani setelah awalnya kusemprotkan di liang kawin kak Sandra. Selesai segera kucabut dan kubiarkan Aseng junior terbujur terkulai di antara dua sarangnya dengan nafas ngos-ngosan.

Mengalir perlahan, sperma kental dari kedua liang kawin itu. Cairan berwarna putih itu menggenang di mulut liang kawin keduanya. Kuambil dua buah bantal di dekat headboard ranjang dan kubuat dua perempuan telanjang itu menumpukan pantatnya di atasnya.

Agar sperma yang tak seberapa banyak itu tidak mubazir keluar terlalu cepat. Tak banyak pikir kurebahkan kepalaku di antara kedua kaki perempuan itu. Kuciumi paha keduanya bergantian.

“Pinter lu, ya… Dua-duanya kebagian mani lu sekali crot!” kata Sandra di atas sana.

“Iya, kak… Bang Aseng pinter…” kata Dani juga. Entah apa yang mereka berdua lakukan di sana. Aku hanya memandangi langit-langit kamar yang temaram oleh dua lampu tidur di samping ranjang hotel.

“Mulai kapan Dani manggil kakak? Biasanya juga bu Sandra-bu Sandra…” isengku.

Seingatku gak ada orang lain selain diriku yang berani memanggilnya kak Sandra atau ci Sandra gitu di pabrik. Semuanya takut atau segan pada Factory Manager kami ini sehingga panggilan-pun menjadi bu Sandra atau bu manager gitu manggilnya.

“Mulai tadi… Baruu aja… Kak Sandra sekarang jadi kakak Dani… Ummp-ahh…” jawab Dani centil di atas sana.

Keknya kedua berciuman lagi kek lesbong gitu. Kuputar badanku untuk menyaksikan adegan les biola itu. Benar aja. Kedua perempuan itu dengan menggairahkannya saling berciuman intim sampe aku iri. Kukira kak Sandra ato Dani hanya melakukan itu padaku.

Menyaksikan keduanya saling bercumbu mulut dan saling sentuh, remas dan pilin tetek, membuatku juga pengen gabung. Yang terhidang di depanku adalah dua buah vagina berselemak spermaku terganjal bantal mencuat menantang.

Agak jijik juga mencicipi sperma sendiri jadi aku hanya menonton percumbuan keduanya dan membayangkan Aseng junior mengobok-obok kembali salah satu dari vagina di depanku ini. Tak butuh waktu lama, Aseng junior menggeliat bangun kembali setelah dirancap dengan rangsangan visual begini. Keduanya masih saling cumbu mulut dan remas payudara.

Kulancangkan diriku tanpa permisi memposisikan perutku di antara bukaan kaki kak Sandra yang terbentang menantang. Kak Sandra dan Dani melirikku tapi tak mencegah, membiarkanku mengarahkan Aseng junior ke belahan cepet panlok itu.

“Awak masuk sini ya, kaaak?” ujarku dan membelah masuk.

“Uuhh…” lancar Aseng junior masuk meluncur berkat cairan kental spermaku yang masih menggenangi di dalamnya.

Kecipak cairan lengket kental itu terdengar saru dan seru sekaligus kala mulai kugerakkan pinggulku maju mundur.

“Clok clok clak clak…”

“Aahh-seengghh-ahh… Enaak, Seenghh… Cepat, Seengghh… Mmpph…” erang kak Sandra menyambut sodokan menyuruhku lebih cepat.

Mulutnya kembali dibungkam Dani dan mereka beradu mulut sekali lagi. Seolah menemukan partner bergelut yang baru, keduanya keranjingan berciuman. Tangan Dani juga tak jemu-jemu meremas toket kak Sandra. Memilin pentilnya yang unik selagi mereka terus memadu lidah dengan panasnya.

Aku memegangi dan memeluk kedua paha kak Sandra dan kupompakan dengan cepat Aseng junior bersuara kecipak becek. Di situasi ini memandangi pemandangan keduanya bercumbu selagi salah satunya sedang kubenamkan Aseng junior, sangatlah memabukkan.

Seperti tak akan puas kalo aku gak bisa membuat mereka menggelepar keenakan. Merasakan legit menggigit cepet berjembut jarang kak Sandra sangat memuaskan. Rasa pas balutan otot-otot kelaminnya memijatku dengan erat. Aseng junior perlu bantuan tombol darurat agar tak cepat kalah. Jariku menjalar mencari sang tombol.

“Seeeng-ahhh… Lu jangan pake tombol daru-RAAT!!” Segera kucabut Aseng junior dan berkelit dari semburan kencing enaknya.

“Cuuurr… cyuurr…” memancur kencang ke udara dengan pinggul terangkat.

Kak Sandra berkelojotan di tempatnya masih dengan pantat terganjal bantal. Dani memandanginya dengan takjub, mulutnya menganga tak percaya kalo orgasme bisa sedahsyat itu. Ia masih meremas-remas toket kak Sandra waktu aku beralih mengincarnya.

“Kak Sandra keenakan, bang Aseng…Eh…” ia terkejut kala kedua pahanya kupeluk seperti yang barusan kulakukan pada kak Sandra.

“Giliran Dani, bang?” sadarnya takala Aseng junior kuarahkan ke meki gundulnya yang masih bernoda spermaku. Aku hanya tersenyum sebaiknya dan mendorong masuk.

“Ugghh… Ahhh-bangg… Uhh… Enaaak, bhaangg…” erangnya tertancap Aseng junior dalam.

Dengan mudah Aseng junior membelah masuk ke meki gundul Dani yang sempit. Lancar kumulai memompanya. Targetku adalah membuatnya squirt lagi seperti yang sudah kulakukan pada kak Sandra yang mulai pulih dan mengajak Dani beradu lidah lagi.

Tangannya meraba-raba payudara Dani dan memilin pentil mungilnya. Lidah mereka saling beradu, menonton itu membuatku memompakan Aseng junior dengan kencang. Gemas terangsang. Saat aku akan menggapaikan jariku mengobel kacang itilnya, tangan kak Sandra menepisku. Ia yang akan menggunakan tombol darurat itu?

Menggelinjang geli tubuh Dani mendapat berbagai serangan sekaligus. Meki gundulnya dicoblos kencang Aseng junior, mulutnya beradu lidah dengan lidah kak Sandra dan kacang itilnya dikobel juga. Hujaman dalam-dalam kuperagakan dan benturan menimbulkan suara tepukan kulit dan kecipak becek.

“Clak clak clak clak…Plok plok plak plak…”

Permainan mulut Dani jadi ngawur karena buncahan rasa nikmat yang tak terperi lagi. Kak Sandra mengejar lidahnya yang melenceng karena Dani mulai mengejang dan memejamkan mata bertahan. Jari kak Sandra lumayan gesit bermain di kacang itil Dani.

“Byaahh… Akhh… Ahh…” seperti dengan kak Sandra belum lama lalu, cepat kucabut Aseng junior dan menghindari semburan kencing enak itu.

Nakalnya kak Sandra terus mengobel klitoris Dani hingga ada semburan berulang-ulang. Dani menjerit histeris berulang tak mampu berbuat apa-apa kala setruman nikmat itu bergulung-gulung menerpa tubuhnya. Bak sebuah tombol yang mengaktifkan bukaan semburan menyemprot kencang, kak Sandra terus memainkannya.

Jeritannya berubah menjadi erangan manja kala kak Sandra berhenti dan sekedar mengusap-usap permukaan meki gundulnya yang basah kuyup.

“K-kak Sandra… hah hah nakal ah… hah hah…” rengeknya.

“Cup cup sayang kakak… Enak, yaaa?” hibur kak Sandra memeluk Dani yang gempor keenakan.

Ditendangnya bantal yang mengganjal kedua pantat mereka agar tak memperlama rasa risih itu. Apalagi spermaku sudah menguap entah kemana akibat banjir squirt mereka. Diciuminya pipi dan bibir Dani seperti menghibur pacar yang ngambek.

“Kaak?” aku menanyakan nasibku dengan Aseng junior yang masih meradang tegang di tangan.

“Lu entotin wa lagi… Awas lu pake tombol darurat… Biar wa sendiri aja yang pake… Wa juga bisa…” katanya masih memeluk Dani tapi membuka lebar kakinya, mempersilahkanku untuk memasuki dirinya lagi.

Separuh badannya berbaring menyamping karena sedang mencumbui Dani. Keduanya kembali bermain mulut dan aku mendekatkan Aseng junior ke daerah yang diizinkan. Cepet yang sudah banjir itu mengundangku masuk kembali.

Untungnya Aseng junior masih tegang perkasa dan masuk dengan mudah. Segera liang kawin cepet kak Sandra menggamitku di dalam lorong menggigitnya. Pelan-pelan awalnya kusodokkan Aseng junior dengan kombinasi dua pendek-satu dalam.

Walau tubuhnya melonjak-lonjak karena sodokan yang kulakukan, tak mengurangi percumbuan mulut kak Sandra dan Dani. Kak Sandra bergantian memainkan payudara dan meki gundulnya. Apakah ini kali pertama kak Sandra mencumbui seorang perempuan? Sepertinya ia sangat menyukainya. Begitu juga dengan Dani.

Dengan penghayatan penuh kuayunkan Aseng junior dengan kombinasi dua-satu itu. Merasakan nikmat yang memenuhi seluruh tubuhku yang bersumber dari batang dan kepala Aseng junior yang tenggelam di lautan kenikmatan itu.

Kak Sandra mengoreksi posisinya dengan menungging sehingga ia menindih Dani selagi berciuman mesra. Tunggingan pantatnya dibuat seoptimal mungkin selaras dengan posisiku agar linear disodok dari belakang. Kombinasi dua-satu terus kupertahankan.

Lidah keduanya saling belit kala bercumbu dan aku jadi gemas sendiri. Pengen bergabung adu lidah tapi tidak bisa karena aku sedang berkarya di belakang sini, menyodok cepet kak Dani. Biarlah kak Sandra yang mewakiliku, pikirku.

Dan konsentrasi memompa cepet yang sedang kunikmati ini. Keduanya bersuara nyaring, ternyata kak Sandra sedang mengobel meki gundul Dani tepat di tombol daruratnya. Kucari tombol darurat kak Sandra juga dan ia membiarkanku menjamahnya. Sepertinya ini akan jadi triple shoots!

Kepala kedua perempuan itu terbanting-banting ke segala arah mendapatkan rangsangan di masing-masing kemaluan, tepat di tombol darurat yang kutemukan pertama kali kala dientotin. Kombinasi sodokan yang kulakukan hanyalah satu sodokan dalam cepat.

Cus cus cus cus! Jariku menari lincah di kacang itil kak Sandra sebagaimana jarinya juga mengobel kacang itil Dani. Erangan-erangan kami bertiga membahana di kamar hotel temaram ini. Tak perduli apapun kecuali mendapatkan kenikmatan yang didamba.

“Aaauuhhhh…” Dani yang pertama kali mendapatkannya lalu disusul kak Sandra.

Semburan squirt Dani menyemprot kami berdua sebagai sasaran tembak. Kencing tawar kak Sandra hanya bisa merembes karena liang kawinnya masih terus kucoblos dan kemudian kusemprot juga dengan kencing enakku, si tai macan. Croott!

Setelah sempat berkelojotan berbarengan karena orgasme bareng, kami hanya bisa berbaring berhimpitan. Kak Sandra menggunakan kakiku untuk mengganjal pantatnya selagi ia memeluk mesra Dani kembali. Keduanya saling berpelukan dan memberikan ciuman-ciuman kecil. Kadang mereka berbisik dan terkikik geli.

“Duuh… yang baru jadian sama pacar baruuu…” sindirku mengusap-usap Aseng junior yang masih keenakan. Rasa geli enak ejakulasi barusan masih tersisa. Becek dan lengket yang terasa biasa aja saat ini dibanding lembab ranjang ini oleh kencing enak kedua perempuan kasmaran di sampingku ini.

“Iri ya, lu?” jawab kak Sandra yang ditimpali ketawa cekikikan Dani kek anak abegeh aja.

Ia mencuil sedikit cairan sperma dari cepetnya, mengacuhkanku lagi. Dibauinya jarinya dan diemutnya tanpa ragu. Lalu disodorkannya pada mulut Dani yang menyambutnya antusias.

“Enak, loh…”

“Nyumm…” merem-merem mata Dani merasakan jari kak Sandra yang masih ada sisa spermaku.

Oop mak! Ini seksi sekali. Dua perempuan itu sedang mencicipi rasa spermaku, kan? Lidah Dani menjulur untuk merasakannya lagi, yang disodorkan kembali oleh kak Sandra. Ia mengolesi jarinya lagi dengan spermaku.

“Enak, kak… Apa karena nyampur sama rasa kakak, yaa?” komentar Dani dan melirikku genit.

Kimak! Itu, kan spermaku. Yaa pasti karena itu aja… gak yang lain-lain.

“Cobain lagi langsung…” rayu kak Sandra.

Paten kali kak Sandra ini. Secara gak langsung ia mendidik kekasih barunya ini untuk nyobain jilmek cepetnya. Ato lebih dahsyat lagi… Angka togel paling mujarab. 69! Enam sembilan. Mulut ke cepet-mulut ke meki. We O We. WOW!

“Ke anunya kak Sandra?” ragu Dani agak bergidik geli.

Ini tentunya pengalaman pertamanya menghadapi vagina perempuan lain. Ini lompatan besar setelah lompatan-lompatan besar yang telah dilakukannya. Aku yakin Dani bisa mengatasi ini dengan mudah. Sepertinya tak ada yang tak mungkin baginya.

Di bawah didikan kak Sandra pasti ia bisa lebih terbang mengangkasa. Kak Sandra yang masih berbaring bersamanya mengangguk menguatkan. Meyakinkannya kalo itu bukanlah hal yang susah. Apalagi kalo ternyata ia menyukai rasa yang sudah dicicipinya tadi. Saatnya melangkah ke jenjang selanjutnya.

“Gak pa-pa, Daan… Kita buat sama-sama… Dani di atas…” kak Sandra memberi petunjuk sembari mengelus-elus lengannya.

Dani bangkit dan bertumpu di empat titik tubuhnya, dua tangan dan dua kaki, masih ragu dan bimbang. Melirik ke arah selangkangan berjembut jarang kak Sandra yang sudah dilebarkan kakinya. Diarahkannya kaki Dani agar berputar ke arah kepalanya, melangkahi kepalanya, posisi menindih bertolak belakang. The infamous 69!

Kak Sandra menangkap pinggul Dani dan menguncinya dengan mengalungkan tangannya hingga meraup bokongnya. Ditariknya mendekati wajahnya yang sudah mengulurkan lidah.

“Nyaamm…” bergidik geli Dani yang meki gundul basahnya kini dijilati kak Sandra.

Gemetar kakinya karena sensasi yang baru ini. Sebelumnya, hanya aku yang di posisi itu. Sekarang bertambah satu lagi, kak Sandra. Bahkan suaminya belum pernah mempraktekkan jilmek bernama keren cuningulus ini.

“Oahhmm… Ahh… Ahhss… Kaaak… Geliii… Enaaaak… Uuhh…” erangnya menjerit-jerit karena kak Sandra rakus memakan meki gundulnya.

Kuncian tangan kak Sandra di pinggulnya, membuat Dani tak bisa menghindar kemana-mana. Mekinya tenggelam di mulut kak Sandra. Lidahnya mengaduk-ngaduk rakus. Menyedot si tombol darurat atau menelusupkan lidah ke liang kawinnya.

Dani sangat menikmati perlakuan kak Sandra pada mekinya sampai pada taraf menggesek-gesekkan selangkangannya pada wajah Factory Manager itu. Lidah yang dijulurkan kak Sandra berperan bak penis kecil yang sedang mengentoti meki Dani. Perempuan yang tetap mengenakan hijabnya itu menggoyang pinggulnya naik turun, memperkosa mulut kak Sandra.

Oral yang dilakukan kak Sandra mencapai puncaknya ketika, Dani menggelinjang pelan kala serangan nikmat itu datang. Mulut kak Sandra penuh oleh jejalan meki gundul itu. Desiran basah orgasme melembabkan lagi mulut ketemu meki itu. Dani terpuruk di hadapan cepet kak Sandra yang belum disentuhnya sama sekali.

“Haah… haah… hahh…”

“Ctak! Ctak!” kak Sandra memberi kode jentikan jari padaku yang sedang takjub sambil mengocok Aseng junior yang sudah menegang lagi menyaksikan aksi lesbong 69 ini.

Ia menunjuk ke arah meki Dani dengan kode menusuk berulang. Aku disuruhnya menyodok Dani di posisi ini. Buru-buru aku mendekat ke arah kepalanya. Dimana tunggingan meki gundul Dani juga berada.

Ganjil juga memposisikan Aseng junior di posisi doggie ini karena ada kepala kak Sandra di bawah sana. Tapi ini hanya variasi, pikirku. Jangan berpikiran sempit. Harus kreatif. Kak Sandra membuktikan dirinya berkali-kali. Bahkan bisa memanipulasi Dani menjadi binal sedemikian rupa. Kak Sandra sendiri yang mengarahkan Aseng junior-ku memasuki meki gundul Dani. Kontan perempuan langsing itu bangkit kaget karena lubang kemaluannya sudah ditempeli benda lunak pejalku.

“Ooaahh…” erangnya merasakan batang Aseng junior meluncur masuk dengan mudah dan langsung dikocokkan kombinasi andalanku, dua-satu.

Kak Sandra terasa menyentuhkan tangannya ke batang Aseng junior yang sedang bekerja keras memuaskan Dani. Juga mempermainkan tombol darurat Dani sesekali, menggodanya hingga menggelinjang geli. Meremas kantong pelerku juga. Memijat-mijatnya perlahan, memancing bibit-bibit subur di dalam sana untuk membuahi kekasih barunya.

Aku harus menekuk satu kakiku untuk kak Dani mudah memijat pelerku karena rasanya sangat nyaman. Aku menghibur diri dengan meremas-remas pantat Dani yang lembab berkeringat. Entah sudah berapa lama kami bertempur. Entah-pun seminar pukimak itu sudah selesai dari tadi.

Bahu Dani menunduk. Apakah itu tandanya ia mulai mencoba mencicipi cepet kak Sandra? Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas kecuali paha dan lutut kak Sandra yang mencuat dari kanan kiri kepala Dani. Tapi Dani berlama-lama di sana dan kepalanya bergerak-gerak seperti memakan es krim.

Suara erangan kak Sandra terdengar gaduh juga dan pijatannya pada pelerku menjadi tak beraturan. Sodokanku yang menyebabkan tubuhnya melonjak tiap tumbukan terjadi tak membuatnya berhenti menikmati cepet kak Sandra. Setidaknya membalas rasa nikmat yang sudah diberikan kak Sandra padanya sebelum ini.

“Baangh…” Dani bangkit dan menoleh padaku.

Ahh… Seksi sekali Daaan! Ia menjulurkan lidahnya yang menggantung lelehan sperma kentalku. Ia memamerkan perbuatannya pada cepet kak Sandra. Ia menjilat dan membersihkan kemaluan kak Sandra tanpa ragu. Bahkan mencicipi langsung semua spermaku yang tersisa. Tangannya nampak bergerak-gerak maju mundur. Pasti ia sedang mengocok liang becek lengket kak Sandra dengan jarinya.

“Aahhh… Enyaakk…” menjilat jarinya yang barusan dari liang cepet kak Sandra lalu masuk kembali.

Kak Sandra di bawah sana tentu saja tak tinggal diam cepetnya dikerjai sedemikian rupa oleh Dani. Ia juga mengobok-obok kacang itil Dani sebagai tombol darurat tak mau kalah. Mungkin Dani belum ngeh dengan trik ini atau sudah karena aku tidak tau persis apa saja yang dilakukannya pada cepet kak Sandra.

Geol-geol liar pantat Dani karena kobelan kak Sandra sementara Aseng junior masih memompa dengan kombinasi dua-satuku. Keduanya mengerang keenakan begitu juga dengan aku karena jepitan meki gundul Dani terasa semakin mencekik Aseng junior-ku.

Seperti reaksi berantai… Dua perempuan itu squirt bareng dengan kompaknya dan Aseng junior tercerabut dari sarangnya. Aku melihat kencing enak kak Sandra meluncur seperti air mancur beberapa kali dan menghilang di kegelapan. Kencing enak Dani tentu saja menerpa tepat ke tubuh kak Sandra. Ia mengencingi sang Factory Manager. Tapi keduanya mengerang-erang enak, tak perduli walau dikencingi. Karena sama-sama enak.

Kulesakkan lagi Aseng junior yang sempat terlepas dan hanya perlu beberapa kali kocokan lagi, aku-pun mencapai puncak kenikmatanku. Beberapa kali semprotan spermaku memasuki liang kawin Dani, memenuhi rahimnya. Yah… Masing-masing perempuan ini sudah mendapatkan jatah spermanya secara seimbang. Dan kami bertiga terpuaskan.

***

“Lu balik lagi ke seminar sana… Nanti selesai ada sertifikatnya… ” kata kak Sandra yang masih kelonan sama Dani di ranjang yang lembab oleh kencing tawar itu.

“Dani-nya, kak?” tanyaku yang berdiri lunglai di samping ranjang.

“Dani sama wa aja dulu disini… Abis ini kita mau pergi jalan dulu…” jawabnya menciumi pipi Dani yang ketawa cekikikan.

“Heh? Jalaaan?”

“Abis dapat sertifikatnya… sekalian punya Dani juga… lu balik ke pabrik… Ya?” katanya lagi dengan pipi menempel erat di pipi Dani yang senyum lebar kek dua kucing lagi kasmaran.

***

Burung-burung liar berkicau riang di atas pohon mangga Golek-ku. Angin berdesau-desau berhembus menggoyangkan dedaunan rimbun tajuknya yang berbentuk piramid. Mulai berbunga lagi setelah buahnya habis kemaren itu dibagi-bagi ke tetangga. Apalagi Aida beberapa kali minta buah muda lagi efek ngidamnya.

Pagi ini agak tenang karena Salwa belum bangun. Bayi kami tidur bangkong karena tadi malam abis kemaruk bisa mulai jalan walau jatuh-jatuh lagi, jadinya kelelahan, dan belum bangun sampe sekarang. Aku sedang maenan HP di teras depan rumah, duduk sendirian karena istriku sedang menyiapkan sarapan.

Dari aromanya sepertinya nasi goreng Yesterday. Nasi sisa yesterday/kemaren digoreng pagi esoknya.

Tadi malam aku mimpi aneh. Udah lama aku gak mimpi yang bisa kuingat sangking anehnya. Karena kalo mimpi yang biasa-biasa aja, pasti akan cepat terlupa. Ini kuanggap aneh jadinya tetap ingat abis bangun. Sering kan kelen ngalamin kek gitu?

Mimpinya kek gini: Jalan-jalan biasa, rutin keliling gang di pagi hari bersama Salwa, menyapa para fans garis kerasnya. Ketemu Aida tapi perutnya kempis, rata kek masih belum hamil. Kukira ini mimpi masa lalu sebelum ia hamil. Tapi mana ada mimpi flash back, kan? Bisa pula aku berpikir di mimpi itu. Jadi kutanya-la pada-nya.

“Perutnya kok kempes, Daa? Ada apa?” tanyaku.

“Dah ilang, bang…” jawabnya tapi santai kek gak ada kejadian yang gawat gimana gitu.

“Kok ilang? Kok bisa?” tentu saja aku heran. Lah orang itu sudah jalan 3 bulan lebih itu kandungan kok bisa tiba-tiba hilang.

Tak ada jawaban malah aku ketemu Yuli dan Iva yang sedang jalan berdua. Kapan mereka akrabnya? Kok bisa berdua. Ini namanya juga mimpi. Suka-suka dia aja siapa yang nongol.

“Mana, bang? Kok Ipa gak hamil-hamil, sih?” tanya Iva mengelus-elus perutnya yang masih rata langsing kek model bikini.

“Iya, bang Aseng… Yuli juga… Katanya bakalan hamil… Ini udah sebulan gak ada tanda-tandanya… Malah ini sudah dapet tamu bulanannya…” sergah Yuli mendesakku.

“Tukang boong nih, bang Aseng…” entah dari mana asalnya muncul Pipit juga di antara mereka dan ikut mengeroyokku.

Mereka menuding-nudingku. Bahkan Aida juga muncul lagi dan ikut menudingku juga kek investasi bodong yang lagi viral. Dani berdiri tak jauh dari mereka dan menatapku sinis. Kak Sandra ujug-ujug datang naek sepeda mini dan menghampiri Dani. Juga menatapku sinis.

Aneh, kan? Kak Sandra naek sepeda mini? Ntah hapa-hapa-la mimpiku itu. Segala macam perempuan yang kugauli untuk mendapat anak datang menuding karena tak kunjung mendapatkan bayi yang mereka idam-idamkan. Piuhh… Aseng junior sudah capek-capek berjuang walau tidak berhasil menghamili mereka, setidaknya apresiasi kek rasa nikmat yang diberikannya.

Mimpi. Mimpi sering dianggap sebagai bunga tidur. Tak banyak orang yang paham akan mimpi. Mimpi kadang jadi representasi keinginan terpendam seseorang yang diejawantahkan menjadi bayangan imaji berbentuk mimpi.

Berwarnakah mimpi? Para ahli yang pernah meneliti mengatakan mimpi berwarna monokrom alias hitam putih. Hanya saja pikiran kita tidak menganggap itu demikian.

Ppt: Ping!

Eh. Ada pesan dari neng Pipit, nih. Baru aja dipikirin. Panjang umur deh.

Aseng: Ciee… yg misuanya dh pulang dr jkt. wit wit

Ppt: is bg aseng godain mulu

Aseng: iya bu. ada yg bisa sy banting e bantu

Ppt: bg aseng gk ngucapin selamat?

Aseng: eh Ppt ulang tahun? (Dalam hati aku menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun-nya Jamrud. Hari ini… Hari yang kau tunggu… Bertambah satu tahun usiamu… pake suara berat Kris-vokalisnya)

Malah masuk satu gambar. Awalnya kukira bakalan gambar kue ulang tahun ato semacamnya. Ternyata sebuah foto. Menunggu selesai foto itu loading yang lumayan lola, kuperhatikan foto apa itu. Sebuah test pack sekali pakai yang dapat dibeli di apotik manapun di Nusantara ini. Dua garis di ujung strip tes kehamilan itu.

Tin tin! Sebuah mobil melintas di dalam gang menuju keluar. Dari kursi supir terlihat Imran yang mengemudikan mobilnya dengan riang gembira.

“Berangkat, bang…” sapanya dengan senyum lebar.

Mukanya cerah gilang gemilang kek petromaks. Ia melambaikan tangan padaku karena mobil melaju pelan saja. Kubalas dengan lambaian tangan juga tanpa mampu berkata apa-apa.

Itu tadi Imran, kan? Suami Pipit? Oo… Pantesan itu orang girang kali kek baru dapat togel empat angka satu blok. Pipit positif hamil ternyata. Positif.

Aseng: positif? bener ya???

Ppt: positif bg. berhasil3x (kek Dora)

Aseng: seneng dunk? akhirnya mblendunk.

Ppt: seneng bgt. makasih bg aseng

Wow. Berhasil. Pipit hamil. Ternyata itu foto test pack kemaren pagi. Jadi strip tes kehamilan itu harus dicelupkan pada air seni yang pertama keluar di pagi hari abis bangun tidur, alias masih fresh. Ia langsung memberitau suaminya dan mereka periksa lebih lanjut ke dokter kandungan pada malam harinya dan ternyata benar-benar positif hamil.

Masih terlalu muda memang. Kisaran dua-tiga minggu gitu. Bertepatan dengan kepergian Imran yang pergi dinas ke Jakarta tiga minggu yang lalu. Setelah pasti dan terang faktanya baru Pipit berani mengabariku.

Itu menjelaskan ekspresi gembira yang meluap-luap Imran barusan. Ia berhasil menghamili istrinya setelah sekian lama menunggu. Malam terakhir mereka berdua membuah hasil dan istrinya positif hamil. Horee.

Belum tau aja kau, Imran.

Aseng: Ping! Ping!

Cukup lama aku menunggu balasan dari ping yang barusan kukirim. Aku gak sabar menunggu balasannya. Tapi pastinya masih sibuk dengan urusannya di rumah sendiri tentunya.

Yuli: ada apa bg aseng? kosong ya?

Waduh… Ini pemilik 38DD malah minta jatah lagi. Urusan selangkangan bisa menyusul nanti aja-la. Ini ada hal penting. Sangat penting.

Aseng: isi (maksudku istriku ada di rumah) yuli buruan pergi ke apotik beli test pack

Yuli: opo kui test pack?

Aseng: tes kehaliman belum dpt mens kan? (ketikku buru-buru sampe typo)

Yuli: iyo yo harusnya minggu ini dapet sik aku menyat sik

Iva: hadir bg aseng ayang beib (sontoloyo binor satu ini malah manggil aku ayang beib)

Aseng: jangan banyak tanya dulu. buruan beli test pack segera. belum pipis kan?

Iva: iya baru bangun masih ileran ni

Aseng: cuci muka trus beli sana buruan

“Paaa… Sarapan dulu…” teriak istriku dari dalam rumah pertanda sarapan pagi ini sudah selesai disiapkannya.

Buru-buru kukantongi HP-ku tanpa menunggu balasan dari kedua perempuan itu. Sampe depan pintu masuk terlihat Yuli sudah mengeluarkan motornya dan mengklakson-ku dua kali pencetan tombol. Aku gak berharap kalo Iva bisa secepat itu melakukan hal yang sama, buru-buru pergi ke apotik di Mabar depan sana, beli test pack.

“Salwa belum bangun, ma?” tanyaku sebelum suapan pertama nasi goreng Yesterday masuk ke mulutku.

“Belum… Biarin aja dulu… Rio udah gak sabar berangkat… Ini pertama kalinya dia naik pesawat…” kata istriku yang menemani anak sulungku menikmati nasi gorengnya plus telur mata sapi.

“Itu mobilnya ceritanya gimana caranya ikut ke Padang?” tanya istriku yang masih gak paham jalan pikirku.

“Nanti diurusin sama Iyon… Pokoknya kita nanti di kampung bisa jalan-jalan pake mobil-la… Gak perlu rental…” jelasku pendek aja.

Jadi ceritanya mobil Pajero yang sedianya diberikan padaku oleh kak Sandra, malam tadi kubawa pulang dan parkir manis di depan rumah yang belum punya garasi. Aku ngakunya itu mobil boleh pinjam inventaris kantor karena pernah dibawa kak Sandra waktu itu.

Mobil itu akan kukendarai ke bandara Polonia nanti, mengantar kami yang akan pulang kampung ke Padang. Tepatnya kampung Toboh di Pariaman. O iya. Lupa ngasih tau, ya? Kami akan berangkat hari ini menaiki pesawat jam 10 nanti. Kalo gak delay. Ini dalam rangka menghadiri pernikahan adikku yang diadakan di kampung.

“Iyaa… Parkir di Polonia… Trus dimasukin koper gitu mobilnya?” ini lebih dari sarkas tingkat Dewa. Dulu belum ada batas timbangan bagasi tapi gak segitunya sampe mobil Pajero segede gaban gitu dimasukin tas.

“Udaaah… Mama terima beres ajaa… Pokoknya kita sampe Padang… mobil itu juga sampe Padang…” jawabku ngeyel.

Mengerucut mulutnya gak paham bareng sama keningnya yang berkerut-kerut gak sampe ke logikanya. Kalo dinaikin pesawat juga mau berapa biayanya kalo itung kilo. Lebih untung kalo rental mobil aja di Padang. Rio melayang-layangkan sendoknya yang berisi potongan telur dan masuk ke mulutnya, membayangkan pesawat.

“Uhuk!” tersedak aku melihat layar HP-ku pada pesan yang sudah masuk.

Foto kembali yang dikirimkan padaku untuk bukti kalo bukan hoaks yang diinfokan padaku. Ini berita penting.

“Apa, sih?” tanya istriku kepo mencoba mengintip apa yang kulihat di layar HP. Tentu saja kuumpetin, menghindarinya.

“Gak… Ituuu… Biasa anak-anak pabrik… Ngirim gambar gak jelas di grup…” kataku ngeles.

Pernah ada anggota grup mengirim gambar jorok dan istriku mual melihatnya. Padahal itu adalah foto dua garis di test pack yang dikirimkan Yuli dan Iva hampir berbarengan. Jadi sudah empat perempuan yang positif hamil; Aida, Yuli, Pipit dan Iva. Tinggal kak Sandra sama Dani aja yang belum tau kabarnya.

Kak Sandra dan Dani makin akrab bahkan mesra menurutku. Keduanya kek udah pasangan lesbi aja kalo hanya berduaan. Dani jadi sering berduaan saja di ruangan kak Sandra kalo Tiwi lagi gak ada di sana atas nama diskusi. Bahkan asistennya itu lebih sering diusir keluar aja nyari kesibukan di luar ruangan kala mereka sedang berduaan.

Untungnya keadaan itu mempermudahku untuk meneruskan program kehamilan keduanya. Aku bisa sekaligus melakukan kata pepatah ‘Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui’. Bukan hanya sekali dua kali kupraktekkan sekali ngecrot dua lubang terisi sekaligus. Mereka fine-fine aja harus berbagi kenikmatan, karena mereka berdua cukup pintar memuaskan satu sama lain.

Aku bisa menghemat tenagaku untuk hal lain yang lebih produktif; kerja misalnya. Menghamili keduanya memang termasuk kerja juga, tapi melihat keduanya asik sendiri kala digenjot bergantian kadang ngenes juga cuma dianggap sebagai pejantan saja. Sisi baiknya, Dani tidak lagi maen baper-baperan padaku.

Ia sepertinya lebih mencurahkan perasaannya pada kak Sandra. Bagus-la menurutku.

Selesai sarapan kucoba mengirim pesan pada mereka berdua, mencoba mencari kabar. Kalo bisa akan kuingatkan untuk coba ngetes pake test pack juga. Siapa tau ya, kan? Sudah terbukti pada empat TO. Tambah dua lagi pasti lengkap sudah semua berhasil hamil hasil bibitku. Menjelang berangkat ke bandara tak kunjung dibaca pesanku. Ya sudah. Nanti aja-la kalo gitu.

Good bye Medan — Welcome Padang.

Keluar dari bandara yang tak jauh dari ibu kota provinsi ini, istriku kembali terheran-heran melihatku menggiring keluargaku ke arah parkiran mobil dan si Pajero hitam itu sudah ada di sana dengan antengnya.

Aku bersikeras bilang padanya untuk meninggalkan semua barang-barang kami di dalam mobil dan hanya membawa tas seadanya aja untuk keperluan anak-anak selama di pesawat. Jadi koper-koper dan tas berat tetap tinggal di mobil, hanya membawa satu tas berisi cemilan Rio dan baju ganti keperluan Salwa.

Kukirimkan ucapan terima kasih pada sahabatku Iyon yang bisa mewujudkan semua ini. Kepada bapak Iyon alias Guntur Setiono, saya haturkan ribuan terima kasih atas bantuannya memindahkan mobil temanmu ini dari parkir mobil Polonia-Medan ke Minangkabau International Airport-Padang dalam sekejap mata saja.

Kukirim pesan itu padanya, entah dimana ia sekarang… Masih ingat, kan dengan kemampuan ajaib temanku itu dengan teleportasinya? Ia mudah saja memindahkan mobil sebesar ini kemanapun. Kecil-la ituuu.

Hanya istriku aja yang masih merepet (ngedumel) gak tentu arah karena ia tak kunjung paham caraku melakukan perpindahan mobil sejauh ratusan kilometer ini dengan mudah. Aku hanya mengatakan padanya itu kerjaan Iyon dan Iyon saja. Istriku pahamnya si Iyon itu cuma supir bos besar aja gak tau kerjaannya yang lain atau kemampuannya. Aku tak pernah merincinya, kok.

Perjalanan dari bandara ke kampung kami berjalan lancar karena jalanan lumayan lengang apalagi ini mobil masih hitungan bulan umurnya. Satu jam kemudian kami sudah memasuki kampung halamanku dan parkir tidak jauh dari rumah keluarga ibuku yang sudah melakukan persiapan pesta yang akan berlangsung esok hari.

Kami disambut oleh beberapa keluarga dan menyalami semua yang sedang sibuk di sana. Salwa menjadi bintang utama keluarga kecil kami. Ibuku yang sudah lama tidak bersua cucunya ini, memeluk dan menciuminya gemes.

Keluarga lainnya juga gemes. Kak Dedek dan keluarganya sudah tiba terlebih dahulu kemarin. Seru pokoknya kalo ketemu keluarga besar yang ada di kampung sini.

***

“Ngapain lu nyuruh wa sama Dani beli test pack? Yakin lu kami orang langsung hamil gitu?” cecar kak Sandra di Medan sana. Di background, suaranya ada suara air mengalir, artinya pintu toiletnya terbuka.

“Jaga-jaga aja, kaaak…” jawabku setelah menjauh dari keramaian agar pembicaraan bebas seperti biasa. Aku gak mungkin ya kan ngasih tau kalo perempuan lainnya sudah positif karena kak Sandra hanya taunya dia dan Dani saja.

“Dua, kak…” terdengar lirih suara di belakangnya.

Itu suara Dani. Jam segini Dani ada di ruangan kak Sandra? Aku jelas mendengar kata ‘dua’. Asumsiku langsung garis dua seperti yang sudah diperoleh ketiga perempuan pagi tadi. Lalu hening terdengar.

“Gila lu, Seng!” setelah hening cukup lama dan kutunggu reaksinya.

“Jos amat ya lu wa ama Dani langsung bunting… Bunting? YEEAAAA!!!” terdengar teriakan histeris kak Sandra dan “TRAK!” sakit kupingku mendengar suara berderak-derak, lalu

“… tuut tuut tuut…” Yah! HP-nya rusak terbanting karena dilempar sembarangan abis kesenangan.

Aku bisa membayangkan kedua perempuan kasmaran itu berpelukan, berlompatan kegirangan positif hamil berdasarkan tes sederhana memakai test pack seharga sepuluh ribuan itu. Kak Sandra yang menjaga wibawa di kantor aja sampai teriak kegirangan kuat kali. Suaranya pasti kedengaran sampai keluar ruangan.

Apa reaksi staff kantor lain mendengar semua itu? Lalu keduanya berhenti melompat, menjaga agar janin muda di rahim mereka tak terguncang lebih jauh. Berjalan pelan-pelan mencari tempat duduk dan kembali nyerocos kek dua burung berkicau di kompetisi.

Senyum lebar terpatri di wajah keduanya untuk beberapa hari ke depan. Ahh… Aku akan dibanjiri berbagai ucapan terima kasih dari mereka semua.

Lengkap sudah semua. Semua susah payah yang kulakukan kurang lebih sebulan ini sudah berhasil menghamili para perempuan itu. Lengkap sudah semua perempuan yang minta dihamili olehku—HAMIL.

“Seng… kamarilah sabanta… Lai ado dunsanak ka basobok jo wa’ang…” (Seng, kemari sebentar. Ada saudara yang mau jumpa denganmu) panggil salah satu kerabat yang sepertinya sudah keliling mencariku dari tadi.

Aku saat ini ada di halaman belakang rumah yang banyak ditumbuhi berbagai macam pohon dan sebuah kolam ikan. Aku mengikutinya ke bagian depan rumah yang ramai dengan kesibukan.

Mengantarku pada tamu-tamu yang merupakan saudara-saudara yang baru tiba. Aku menyalami mereka semua. Mereka adalah rombongan keluarga yang merupakan bibi dan sepupu dari pihak ayahku. Ayahnya dan ayahku abang beradik.

(Percakapan memakai bahasa daerah Minang dialek Pariaman ini selanjutnya akan langsung diterjemahkan ke bahasa Indonesia untuk menghemat waktu dan tenaga juga)

“Wah… Udah keren Sutan (Sutan adalah gelar adat yang kerap diberikan pada lelaki yang sudah menikah) ini, ya? Sudah makmur sepertinya…” sapa lelaki yang telah bersalaman denganku ini. Ia bernama Mansur. Lengkapnya dengan gelar adatnya menjadi Sutan Mansur.

Ia adalah sepupu tertuaku karena ayahnya adalah abang dari ayahku yang tertua. Umurnya sudah lebih dari 50-an tetapi perawakan tubuhnya sehat dan masih terlihat bugar walau berjarak hampir 20 tahunan dariku. Hanya saja rambutnya sudah mulai berwarna abu-abu oleh uban.

“Ajo Mansur bisa aja… (Ajo adalah sebutan untuk abang di daerah Pariaman sekitarnya, sedangkan sebutan Uda umumnya dipakai di Minangkabau)… Ajo Mansur-la yang makin makmur… Bisnis ada dimana-mana… Dah lama gak maen ke Medan lagi… Bisa-la kek dulu lagi…” godaku mengenang masa lalu.

“Ahh… Sekarang udah gak sempat lagi… Apalagi sekarang udah ada boncengan tiga itu…” jawabnya dan kami tertawa-tawa lagi menyinggung tentang ketiga istrinya.

“Tapi kalau ada waktu… bisalah kita atur… Ha ha ha…” lanjutnya lagi. Istrinya tiga? We O We. WOW. Poligami tingkat tinggi ini, kan? Kami tertawa-tawa bersama mengingat pengalaman kami di masa lalu.

“Jadi dua galon-ku (galon: SPBU/POM bensin. Jadi ada dua arti galon di Medan, yang satu berarti galon air dan yang satu lagi berarti SPBU) udah kujual… udah laku… Nah tinggal yang satu lagi yang belum… Kalo ada kenalanmu yang minat bisnis galon… bolehlah kau tawarkan galon abang…” kisahnya tentang bisnisnya yang ada di Medan.

Ia memang punya 3 buah SPBU di seputaran Medan dan sudah menjual 2 diantaranya sehingga tersisa satu. Dijual karena tidak bisa membagi waktu mengontrol bisnisnya karena dia bermaksud akan fokus saja di daerah Padang.

Lagipula bisnisnya yang di bidang lain lebih banyak di sekitar sini. Lebih jauh dia menjelaskan berapa komisi yang akan kuterima bila aku berhasil. Ngobrolnya gak terlalu serius karena suasana kekeluargaan lebih kental. Apalagi sejarah kami sudah cukup dekat jadi ia ngomong saja blak-blakan denganku, sebagaimana juga aku.

“Tentang 3 istri ajo itu benar, ya?” tanyaku tentu aja kepo. Aku belum pernah tau ada kenalanku yang bisa berhasil menyunting lebih dari satu istri.

“Ya, benar-lah… Masak main-main… Kukenalkan, ya?” lalu ajo Mansur bangkit dari duduknya dan mencari istrinya yang baru dimaksudkannya tadi.

3 istri? Itu terlalu banyak, jo. Satu aja gak abis-abis. Kalo istriku dengar aku ada ide poligami juga, aku bisa dibante pake Hadou-ken Street Fighter bolak-balik. Padahal baru ide belum ada calonnya. Kalo ada calonnya, langsung aku dicemplungin ke kolam penangkaran buaya Asam Kumbang.

“Seng… Ini, Seng…” ajo Mansur balik lagi membawa para istri-istrinya.

Beneran 3, bah! Waduh! Masih muda-muda pulak. Aku langsung berdiri untuk bersalaman dengan mereka. Wah, ketiga istri sepupuku ini rancak bana!

“Ini yang namanya Aseng… Sepupu abi yang tinggal di Medan… Dia abang yang akan menikah ini…” kenal ajo Mansur pada ketiga istrinya.

“Ini yang pertama… Ratih…” perempuan berhijab dan bercadar. Gamis hitam dan hijabnya lebar dan longgar kemana-mana. Tetapi dari matanya aku tau kalau perempuan ini pastinya cantik. Ia hanya menangkupkan tangannya yang bersarung tangan tak boleh bersentuhan denganku. Paham, deh.

“Ini yang kedua, Seng… Mila…” perempuan berhijab juga tetapi tidak bercadar seperti yang pertama. Tetapi tetap saja gamis dan hijab yang dipakainya longgar dan menjulur panjang menutupi lekuk tubuhnya. Ia tak memakai sarung tangan tetapi tetap tak mau bersentuhan denganku. Paham, deh sis.

“Ini yang ketiga… Suli…” perempuan berhijab ini lebih mending dari kedua istri ajo Mansur sebelumnya. Hijab dan pakaian yang dipakainya lumayan trendi. Hampir senada seperti yang sering dipakai istriku kalau lagi pergi kondangan. Melihat dua madunya tak bersentuhan tangan denganku, ia urung juga. Hmm. OK dee…

Setelah mengenalkan ketiga istrinya itu, kami ngobrol lagi. Istri-istrinya ngibrit entah kemana. Mungkin bantu-bantu masak atau apalah.

“Itu betulan kawinnya bareng, jo?” tanyaku tak tahan lagi dengan soalan ini.

Ia hanya mengangguk kecil dengan bangga. Bareng ketiganya? Aku hanya mendengar kabar ini via telpon dari ibuku sebulan lalu. Ibu dan adikku datang kemari sebulan lalu itu sebenarnya untuk menghadiri pesta pernikahan ajo Mansur ini. Yang membuat heboh adalah ajo Mansur sekaligus menikahi 3 gadis. Catet, ya? 3 gadis. Itu prestasi yang teramat sangat mengagumkan menurutku.

Pestanya diadakan secara meriah di salah satu gedung paling mewah di kota Padang. Hiasan dan papan bunganya penuh memenuhi halaman gedung. Hantaran dan seserahan juga merupakan barang-barang mahal dan juga mewah.

Tapi karena sang marapulai atau mempelai pria adalah orang tajir, itu semua tak berlebihan rasanya. Sayangnya aku gak bisa hadir kala itu untuk memberinya selamat. Hanya diwakili oleh ibu dan adikku saja. Selesai dari pesta pernikahan itulah kemudian adikku mendapat jodohnya di kampung ini. Mungkin terinspirasi kali, yee?

“Kok mau itu tiga-tiganya sama, ajo? Secara… ajo, kan dah ehem-ehem berumur… tua*uhuukk!” tanyaku sekaligus ngejek sambil batuk disamarkan.

Dia malah tertawa-tawa.

“Pantek amak ang tuo…” (Pantat mamakmu tua) makinya tak kurang di antara tawanya.

Keramaian tempat ini di persiapan sebuah baralek gadang (pesta besar) menyamarkan keriuhan yang kami sebabkan karena sudah lama tak bersua.

“Ada sebabnya tentu kenapa tiga perempuan itu mau jadi istriku…” jelasnya memulai bercerita.

Jadi intinya begini, ketiga perempuan yang menjadi istrinya itu adalah saudara sepupu masing-masing. Di masa lalu orang tua ketiga perempuan itu yang merupakan kakak beradik bermufakat untuk mendirikan sebuah perusahaan bersama ajo Mansur sebagai pemodal utama.

Seiring waktu perusahaan semakin maju dan berkembang. Di saat ajo Mansur ingin meminta bagiannya atas keberhasilan perusahaan itu, istilah kerennya deviden, akan ada perpecahan yang terjadi karena bila modal awal dikonversikan akan meruntuhkan perusahaan yang sedang bagus prospeknya.

Mereka (para komisaris awal pembentukan perusahaan) meminta penggantian yang kira-kira sesuai. Setengah bercanda, ajo Mansur meminta satu anak masing-masing ketiganya untuk dijadikannya istri saja. Mereka langsung setuju karena kebetulan masing-masing mereka punya satu anak gadis yang belum menikah.

Ajo Mansur awalnya gelagapan karena niatnya hanya bercanda dengan idenya itu tapi ketiganya bersikeras. Ini dikarenakan perusahaan tetap aman sebab kapital tetap terjaga dan malah ajo Mansur masuk ke keluarga mereka yang pastinya akan memperkuat kondisi perusahaan dengan sokongan dana tambahan yang besar jumlahnya.

Ajo Mansur memang kala itu adalah lajang tua di umur 50 tahunnya karena gila kerja dan sibuk mencari duit saja sejak muda, mendapatkan jodohnya tidak tanggung-tanggung langsung 3 perempuan.

Ketiga perempuan yang bernama Ratih (23), Mila (22) dan Sulih (22) itu tentu saja perlu waktu untuk diyakinkan untuk menerima perjodohan ini. Ratih dan Mila lulusan pesantren di pelosok Nagari Pagaruyung akhirnya luluh karena ini permintaan orang tua.

Suli yang agak sulit karena lebih moderat karena lulusan Universitas Andalas yang sudah punya pacar. Rayu sana dan sini pakai pakai berbagai cara dan taktik akhirnya berhasil ditaklukkan dan jadilah ketiganya langsung dipinang ajo Mansur sekaligus.

Aku diberi tunjuk video akad nikah ketiga perempuan itu yang dihadapi dengan gagah berani oleh ajo Mansur. Selesai Ratih, beralih ke Mila dan terakhir Suli.

“Jadi istri pertama Ratih, Mila kedua dan Suli yang terakhir, jo?” tanyaku dengan gamang.

Ahh… Indahnya hidup ajo-ku ini. Punya 3 istri cantik-cantik dan masih muda. Duit banyak gak abis-abis. Makan enak, tidur nyaman, mau nenen tinggal buka kancing. Kemana mata memandang ada istri cantik yang tertangkap mata.

“Ya, Seng… Sesuai urutan akad-nya…” jawabnya dengan nada getir. Aku sempat menangkap itu.

“Digabung satu kamar atau beda-beda, jo?” tebakku akan kesan getir tadi.

“Beda rumah-lah…” jawabnya singkat dan memperbaiki posisi duduknya yang jadi gelisah gak nyaman.

“Enak ya, jo?”

“Anakmu dah berapa, Seng?” tanya ajo Mansur mengalihkan pertanyaan sekarang padaku.

“Dua, jo… Ini.. nih…” kutangkap Rio secara OTT yang sedang melintas memegang beberapa buah pisang diantara ramai orang yang lalu lalang sibuk dengan urusannya.

“Ini yang paling besar… Nomor dua cewek masih 10 bulan…” kuarahkan tangan Rio untuk menyalami pak uwo (sebutan untuk yang lebih tua, semacam pakde)-nya.

Ngalor-ngidul kami ngobrol sampe sore yang terkadang diinterupsi oleh acara makan-makan atau ada saudara yang mau salaman baru datang atau pulang atau semacamnya bla blaa blaaa…

Malam ini prosesi adat dimulai. Ada beberapa rangkaian acara menjelang puncak pernikahan besok. Banyak makan-makan bersama keluarga dan keluarga besan. Berbalas pantun yang omaigad… cepat kali ngomongnya kek nge-rap fast forward plus fast n furious.

Awal-awal pantun aku masih ngerti artinya. Di tengah dan seterusnya aku dah gak fokus lagi itu dua orang lagi ngomongin apa. Selebihnya aku malah chatting dengan para ‘perempuan-perempuan’ yang nun jauh di Medan sana karena aku tak melihat istriku ada di ruangan ini. Istriku pasti ngungsi jauh karena ‘sedih’ gak ngerti bahasanya.

Aseng: dijaga yaaa adek bebinya baik-baik

Yuli: iya papa Aseng

Ppt: dek bebinya bilang i luv u papi aseng

Iva: dedek bebinya kangen

Sndr: tentu wa jaga cibay

Dani: makasih banyak bang aseng muah…

Aida: debay sehat bang tp pengen dijenguk

WKWKWK! Gokil-gokil nih jawaban mereka semua. Yang paling juara tentu aja kak Sandra karena dia masih ada di pabrik. Bahkan dia belum sempat periksa lebih lanjut ke dokter kandungannya.

Ko Amek sudah diberitau dan sedang dalam perjalanan dari Singapur ke Medan dengan tergopoh-gopoh karena harus transit dulu di beberapa kota karena mendadak. Bayangin aja dari Singapur ke Batam dulu, Jakarta lalu Medan yang akan sampai tengah malam nanti. Amsyong kau, ko.

Yuli langsung menyuruh suaminya, bang Suradi untuk pulang dari nyupir yang entah lagi dimana karena kabar gembira ini. Dia juga turun naik bus sambung menyambung menjadi satu itulah Indo… eh. Dan akhirnya sampe terminal Amplas sore hari menjelang Maghrib dan langsung tembak ke Mabar.

Keduanya periksa ke dokter kandungan yang paling mahal yang ada di kota. Pulang dari periksa, rekening milikku bertambah 50 juta saldonya, sisa janjinya padaku yang 100 juta itu.

Yang lainnya dilakoni dengan tidak kurang heboh karena masing-masing sudah menunggu lama untuk momen bahagia ini. Ada cerita-cerita lucu, mengharukan dan juga bahagia yang mereka bagikan di tiap untaian kata yang mereka kirimkan padaku.

Aku terikut bahagia untuk mereka. Karena kebahagiaan mereka adalah kebahagianku juga. Selamat ya… para MILF-ku. Aku sebagai Baby Maker (Bb M) selalu siap sedia untuk kalian.

***

Sekitar jam 10 malam, kedua sahabatku datang. Give it up untuk Iyon dan Kojek. Yeeeay!

Keduanya datang tanpa kendaraan. Istriku yang heran mengantar keduanya karena tak melihat mereka naik kendaraan apapun. Seperti baru turun aja dari angkot di depan jalan gitu, kaki cecah tanah, bayar, cuss… angkot mabur.

“Yooon… Kao puas-puasin-la kao mau makan apa aja… kao makan aja sesukak hati kao…” kataku setelah menyalami dan memeluknya gaya bro-hug. Ini atas bantuannya memindahkan mobil segede gambreng itu dari Medan ke Padang dan nantinya balik lagi ke Medan.

“Buncit-lah nanti perutku… Aku lagi diet nih… Kalok ada cewek cantiknya… boleh-lah untuk nuang minum…” katanya sambil menaik-turunkan alis matanya ganjen. Tangannya dibikin bulat-bulat di depan dadanya. Ia berpakaian agak kasual dengan jeans dan kemeja lengan pendek kotak-kotak.

“Kimak, kao… Ini sodaraku semua… Mana ada cewek kek gitu di sini… Nenek-nenek janda anak lima, cucu tiga belas mau kao?” balasku menepuk lengannya.

“Selera Kojek itu… Tadi dia kujemput mau ke pakter tuak namboru Silalahi kek gitu di kampungnya… Opung-opung gitu-pun soor dia…” kata Iyon mengarahkanku pada Kojek yang mengintil di belakangnya dengan cuek.

“Jeeek… Welcome lae-ku… Gak ada tuak di sini lae… Bisa disate bu haji aku nanti… Nanti kupanggilkan mamakku… Katanya dia dah lama gak ketemu kalian…” kembali aku bro-hug dengan sahabatku yang tinggi kek begu ganjang ini. Ia berpakaian rapi seperti biasanya. Baju putih lengan panjang dan celana bahan hitam kek orang kantoran. Kuarahkan mereka untuk duduk menepi agak jauh agar obrolan kami nantinya tak terganggu.

***

“Selvi udah berumur juga, ya baru kawin sekarang?” kata Iyon setelah meletakkan es teh manisnya di kursi yang difungsikan sebagai meja.

“Iya…. Dia cuma beda setahun di bawahku… Anakku dah dua… Tapi yaaah… Gitulah jodoh mana ada yang tau… Kek kau… Siapa yang nyangka kau bisa kawin sama istrimu yang entah dimana ketemunya… Aku malah dapatnya yang dekat-dekat aja… Si Kojek dapat yang kek gitu… Iya gak, Jek?” kataku bernostalgia mengingat-ingat masa lalu.

“Aku gak kek gitu mandangnya… Ini semua sudah ditakdirkan begitu… Kalo Tuhan Yesus sudah berkata-kata… jadilah Tiur istriku… Aku gak bisa nolak ato lari dari kenyataan… Buktinya anakku banyak… Kalah kelen semua… Bersukur aku Tiur mau sama aku yang kek gini…” kata Kojek tak kurang merendah.

Dia selalu terima aja kalo istrinya yang cantik bukan buatan itu dibilang jelek agar setara dengan dirinya yang… klen tau sendiri-lah, kek begu.

“TOP! Setuju aku, Jeeek… Tos dulu kita…” kata Iyon mengambil kembali gelasnya dan melaganya dengan gelas milik Kojek, aku juga ikut. Es teh manis ini diantarkan sendiri oleh ibuku setelah mendengar kalo kedua sahabatku ini tiba.

“Trus apa cerita kerjaan sampinganmu itu? Sampe perlu manggil bantuan segala?” tanya Iyon kemudian teringat akan pertarungan kami melawan siluman monyet yang mengaku dewa itu. “Masih ada gangguan lagi abis itu?”

“Eh… Iyaa… Ada…” jawabku teringat dengan serangan susulan pada Agus; suami Aida, saat memanjat pohon mangga Golek milikku.

Kekeluarkan sisa batang pohon yang belum terbakar oleh teh kering daun bidara itu.

“Ada yang bisa menembus pagar pelindung yang sudah kupasang sekeliling rumahku… Ini sisanya… Awalnya ada sisa karat gitu di bekas terbakar ini…” jelasku akan benda itu.

Kojek langsung mengambil benda itu dan menghidunya dalam-dalam. Ia tercenung sebentar lalu dihirupnya kembali aroma yang mungkin masih tersisa di potongan dahan mangga itu. Lidahnya bahkan ikut bekerja mencicipi sampe kening Iyon berkerut melihatnya. Kalo masalah lacak-lacak melacak memang Kojek jagonya. Indra penciuman dan perasanya sudah teruji selama ini.

“Hmm… Gak orang jauh ini…”

“Kimak! Dah serius-serius kutunggu… masih aja kao pake anekdot itu lagi…” maki Iyon karena Kojek memakai kata-kata yang lazim digunakan para dukun kelas teri yang sering ngibulin para pasien lugunya agar terkagum-kagum.

Ditambah berbagai macam bumbu seperti belah jeruk purut-lah, air sebaskom-lah, kuning telor-lah, macam-lah!

“Trus? Mau kita apain? Kita datangi aja langsung, kan?” usul Kojek setelah melemparkan sisa batang mangga itu kembali padaku.

Aku yang geli karena bekas dijilat Kojek, benda itu kulemparkan ke tengah jalan karena lokasi pelaku penyerangan itu sudah diketahui Kojek. Mereka berdua lalu menatapku minta tanggapan.

“Iyaa? Cemana? Kita datangin, ayok!” putus Iyon yang selalu menjadi motor penggerak kami. Terlebih dia yang selalu bisa kami andalkan untuk menuju tempat-tempat sulit tanpa harus menggunakan moda transportasi.

“Kita serbu aja orangnya langsung… Jangan maen-maen sama Ribak Sude… Trio kita masih eksis sampe kapanpun…”

“Boleh-laa… Tapi jangan maen langsung sruduk dulu, Yon… Kita tanya biasa-biasa aja dulu…” kataku.

Kami bertiga ini sudah tidak muda lagi seperti dulu. Seharusnya umur memberi banyak waktu bagi kami untuk berkembang menjadi bijaksana. Jangan terlalu mendahulukan emosi yang dulu terbukti selalu membuat kami dalam kesulitan. Banyak sekali kesulitan karena keputusan-keputusan salah yang makin membelit kami dalam problem yang silih berganti.

“Tapi orang seperti ini… pasti sudah banyak korbannya…” kata Kojek sedikit mengurangi relijiusnya. Matanya sedikit mengetat dengan pupil membesar. Sepertinya selera makannya bangkit.

“Menghapusnya dari muka bumi ini mungkin sedikit banyak akan membantu melenyapkan kejahatan dan penderitaan para korbannya…”

“Ya udah… Pegang Kojek, Seng… Kita berangkat sekarang…” kata Iyon setelah larak-lirik sekeliling menilai situasi agar tidak ada yang tau saat kami menghilang nanti.

Ia memegangi bahu kanan Kojek dan aku memegangi bahu kirinya. Kojek sebagai penunjuk arah dan Iyon mengarahkan kami kesana dengan jurus B3 (Bayangan Bunga Bujur).

Sebuah spiral seperti vortex cepat menghisap kami masuk dan keluar kembali di pinggiran hutan yang gelap. Ada sebuah rumah gubuk yang diterangi lampu minyak di bagian dalam saja. Bisa dipastikan kalo ke sanalah tujuan kami.

Setelah kutelisik lebih jauh lagi, lingkungan hutan yang gelap ini ternyata bukanlah hutan, hanyalah jejeran perkebunan karet yang terlalu rindang hingga menyerupai rimbunnya hutan karena ada jalan kecil yang berkelok-kelok yang hanya bisa dilalui kendaraan roda dua sebagai akses.

“Sepertinya orang itu datang kemari meminta bantuannya untuk mengirim sengkolo ke tetanggaku… Aku pernah melawannya di daerah kekuasaannya… Tapi entah ini orang yang sama atau beda…” jelasku akan situasinya.

Kami masih memandangi bangunan gubug itu. Kami jelas tidak memandang remeh situasi ini. Ini jelas-jelas berbahaya. Don’t do it at home. At your own risk. Segala macam tanda peringatan untuk klen yang tidak paham dunia ini.

“Dia keluar…” kata Kojek.

Suara denting yang terdengar dari tadi berhenti. Denting itu seperti suara sedang menempa sesuatu di dalam sana. Mungkin ada perajin besi di dalam gubug. Mungkin dia orang itu. Kami menunggu sampai orang itu benar-benar muncul di depan kami. Kami semua tentu saja sudah siap sedia.

Kami bukan pemain baru di dunia ini. Aku bahkan sudah menyelipkan beberapa lembar daun ilalang yang banyak tumbuh di sekitar tempat ini dibalik lenganku. Daun ilalang normalnya aja sudah tajam, apalagi kalo kuubah menjadi keempat pedang daun andalanku. Entah apa yang disiapkan Iyon dan Kojek karena mereka sepertinya mereka tenang-tenang saja. Iyon melipat tangannya di depan dada sedang Kojek memegang tangan kanannya di depan perut.

“Tak tuk tak tuk…” langkah kaki berdetak di lantai kayu gubug berbentuk panggung itu.

Bayangan seseorang muncul dari arah belakang rumah. Ia terlihat bertongkat. Ralat… Itu adalah tombak. Orang itu lebih siap dengan langsung menunjukkan senjatanya. Dari perawakannya, ini bukan dukun kimak yang dulu kulawan sewaktu menghapus sengkolo yang dikirimkan pada Aida dan Agus. Tubuhnya lebih kecil dan bungkuk. Kemungkinan lebih tua dari dukun kimak itu, atasannya, guru! “Cleb!”

Sebuah pisau belati pendek menancap tepat di depan kami. Pamornya berkarat dan berasap hitam tipis. Kami bertiga mengambil dua langkah mundur agar tidak menghirup asap yang berbau busuk itu.

“Ada perlu apa kalian kemari?” tiba-tiba orang itu menjelma dari asap tipis yang keluar dari belati tadi.

Berpindah dari gubug ke dekat pisau yang dilemparnya. Kami tidak terlalu terkesan dengan pamer kekuatannya itu, karena itu terlalu medioker. Banyak jenis trik untuk melakukan hal persis seperti itu. Benar dugaanku, ini orang yang berbeda dengan dukun kimak yang pernah bertarung denganku dulu.

Ia jauh lebih tua dari dukun kimak itu. Umurnya sekitar 80-an, terlihat dari kerut-kerut di wajahnya yang kasar juga punggungnya membungkuk. Jelas-jelas ia menantangku dengan menyerang Agus di daerah yang sudah kupagari dengan pagar ghaib. Kalo ia hanya sekedar menyerang saja, pastinya dapat dilakukannya kapan saja dan dimana saja, kenapa harus menunggu Agus masuk ke daerahku?

“Perlu mengirim sengkolo atau mungkin banaspati?”

“Apakah benar anda yang telah menyerang seseorang di halaman ru-”

“Undang kami masuk!” potong Kojek. Kami semua beralih pandang padanya.

“Sebaiknya kau dibasmi di dalam saja…” lanjut sahabatku ini dengan dingin. Apa yang sudah dilihat Kojek dari orang tua renta ini. Pandangan matanya seperti pemangsa yang sedang membidik buruannya. Instingnya mengatakan sesuatu.

“Ah ha haha… Harimau ini sedang mengincar leherku ternyata… Silahkan… Silahkan masuk…” orang tua itu menunjuk ke arah gubug kayunya.

Bertarung di dalam sana tentunya tidak akan memungkinkan secara normal, tetapi tentunya ada arena yang lebih pantas untuk ini. Beriringan kami mengikuti langkah tertatih-tatih orang tua itu menuju rumahnya. Kami masuk dari pintu depan. Orang tua itu masuk terlebih dahulu.

Begitu Iyon yang paling belakangan masuk melewati pintu, suasana dan bentuk bangunan kecil itu berubah drastis sama sekali. Menjadi semacam cekungan luas yang panas dengan beberapa kolam magma menggelegak panas berlangit gelap yang teramat pekat. Ini di dalam sebuah kawah gunung berapi!

“Selamat datang di daerahku… Apa ini yang kalian harapkan?” tanya orang tua itu tersenyum lebar membanggakan daerah yang menjadi daerah kekuasaan ke-Menggala-annya.

Peluh kami segera bercucuran karena panas tempat yang langsung berdekatan dengan sumber batuan cair yang menggelegak di kolam-kolamnya. Ini mungkin gambaran neraka versi dunia. Yang kimaknya lagi, itu tua bangka tidak kepanasan sama sekali. Dia santai-santai aja gak berkeringat sama sekali.

Pengalaman puluhan tahunnya tidak sembarangan ternyata. Berhadapan dengan panas tempat ini membuatnya kuat bertahan tak terusik. Ia mulai mengangkat tombak berkarat yang sekaligus menjadi tongkatnya. Mulai berputar-putar.

“Ayolah… Kakek udah terlalu tua untuk jadi mayoret… Cita-cita yang gak kesampaian, ya?” mulutku gatal untuk tidak mengomentari gayanya. Ini penyakitku untuk selalu memprovokasi lawan menggunakan apapun yang mereka lakukan, mencari celah. Kedua sahabatku mulai bergerak untuk berpencar.

“Hati-hati… Senjatanya itu beracun…” kata Iyon memperingatkan kami yang sudah mengulurkan senjata cambuk andalannya.

Kali ini ia mengeluarkan cambuk versi rantai dari sekian banyak jenis cambuk yang ia punya. Ada cerita di tiap cambuk yang ia miliki. Iyon dan Kojek sudah mengambil posisinya masing-masing.

Bahkan sahabat Tapanuli-ku itu sudah membuka baju putih lengan panjangnya itu pertanda ia serius untuk menghadapi lawan ini. Aku juga sudah bersiap dengan bakiak Bulan Pencak dan mengambil posisiku di formasi serang yang kerap kami lakoni menghadapi lawan seperti ini.

Kojek di depan sebagai penyerang utama, aku dan Iyon sebagai penyerang tambahan di kanan kirinya. 4 pedang daun jelmaan daun ilalang telah terbang menyebar sebagai 4 pedang empat mata angin. Iyon mengulurkan cambuk rantai besi yang ujungnya berbandulkan gir titanium kecil.

Orang tua itu dengan gagah beraninya menghadapi kami bertiga seolah ini sudah makanannya sehari-hari. Dia sangat percaya diri dengan tombak berkarat itu. Pastinya dia punya andalan lain. Magma panas ini misalnya. Tersentuh dikit aja sudah tentu gosong. Dan entah apa lagi serangan rahasianya. Ia hanya memegangi tombak itu laksana tongkat yang membantunya berdiri.

“Apa kalian akan berdiri saja?” tanyanya menantang dengan suara serak parau.

Iyon menjawabnya dengan sabetan cambuk rantainya. Ia bisa menyerang dari jarak jauh dengan senjata itu. Kakek tua menangkisnya dengan tombaknya hingga ujung gir titanium itu terbelit di ujung mata tombaknya, lalu menangkis serangan serupa dari pedang Selatan-ku yang berkelebat cepat terbang menebas.

Bunga api terpercik beserta serbuk karat akibat benturan keras. Ia sama sekali tidak gentar menghadapi dua serangan awal itu dan ia bisa menahannya dengan baik hanya dengan satu tangan yang memegang tombak saja. Ini memang lawan berat. Kojek tidak bergerak, hanya menunggu. Dia sedang menganalisa mangsa.

Tarik menarik terjadi antara Iyon dan sang kakek tua akibat terbelitnya ujung cambuk besi itu di mata tombak. Tak disangka kekuatan fisik Iyon tak sanggup menarik kakek itu. Sungguh ia memang patut sesumbar dengan kemampuannya. Ia juga masih sempat menggunakan tombak itu untuk menangkis 4 pedang daunku yang datang sambar menyambar bergantian.

Kakek tua ia mengacungkan tangannya yang bebas ke arahku dan sebuah belati kecil lainnya menancap di depanku. Asap hitamnya membuatku melompat mundur. Dari asap hitamnya muncul mahluk besar berupa genderuwo hitam kemerahan di ujung rambut tebal sekujur tubuhnya.

Mahluk ghaib ini bahkan punya dua golok besar berkarat yang mulai disabetkannya padaku. Lawan kami ini bermaksud untuk memecah kekuatan kami agar tak mengeroyoknya lebih lama. Ia juga melempar sebuah belati lain ke arah Kojek. Dari asap hitamnya muncul genderuwo lain yang juga kemerahan tak bersenjata. Aku kemudian hanya bisa fokus bertarung dengan lawanku sendiri.

Genderuwo ini tidak seperti genderuwo yang pernah kulawan sebelumnya. Ini lebih kuat berkali lipat hingga aku lumayan kewalahan melawannya. Sabetan-sabetan golok besarnya sangat berbahaya. Aku harus berjumpalitan dan kadang menangkis dengan bakiak Bulan Pencak milikku.

Dua pedang daun Utara dan Selatan di dua tangan dan pedang daun Timur dan Barat berkelebatan terbang membantu. Pun, aku tak pernah berhasil mendesaknya. Bahkan dua pedang daun di tanganku mulai rompal sana-sini permukaan tajam diperkerasnya. Genderuwo ini makin ganas menyerangku. Aku bahkan tak sempat melirik bagaimana keadaan dua sahabatku; Iyon dan Kojek karena aku harus bertahan. Bahkan bertahan hidup.

Sempat aku berpikir, salah kalo kami datang menyatroni orang tua ini dengan gegabah tanpa perhitungan sebelumnya. Begini jadinya kalo melawan pendekar yang level keilmuannya melebihimu.

Ketakutan mulai melandaku. Pedang Selatan di tangan kiriku akhirnya patah, cepat-cepat kubuang dan menggantinya dengan pedang daun Barat. Sabetan keras dan penuh tenaga genderuwo yang menjadi lawanku ini kembali mematahkan pedang daun Utara di tangan kiriku. Dua pedang daun andalanku tidak berdaya melawan mahluk Menggala lawanku ini. Tanganku kebas merasakan getaran kuat benturan yang telah terjadi.

Ya. Orang tua itu sepertinya punya lebih dari satu mahluk Menggala berbentuk genderuwo hitam kemerahan yang memakai berbagai jenis senjata. Lawanku ini memakai sepasang golok. Ketika aku bergulingan di tanah keras berbatu-batu ini, kulihat Iyon juga sedang habis-habisan bertahan atas gempuran genderuwo lawan. Ia bahkan sudah mengganti cambuk miliknya dengan jenis lain untuk melawan senjata lawan yang berupa trisula kembar.

Kojek lebih menggenaskan lagi, ia mendapat bulan-bulanan pukulan gencar genderuwo lawannya yang bertarung tanpa senjata seperti dirinya. Kojek tidak berusaha melawan, hanya menerima saja pukulan berupa bogem besar mahluk astral itu di sekujur tubuhnya, mukanya, dadanya, perutnya. Apa yang diincarnya pasti kena bogem. Luka berdarah dan lebam ada di sekujur tubuhnya.

Kakek tua itu hanya tertawa-tawa riang melihat ketiga lawannya yang tadi sesumbar datang menantang, kini menjadi samsak hidup tiga genderuwo mahluk Menggala-nya. Ia berdiri di sebuah gundukan tanah berbatu-batu yang sedikit lebih menanjak dari permukaan tanah lainnya. Kadang ia menghentak-hentakkan tombak berkarat itu ke bebatuan di sekitarnya hingga berguguran.

Rasanya sakit sekali tubuhku, sekujur tubuhku karena luka-luka sabetan ini. Semua pedang daun jelmaan bilah ilalangku sudah musnah. Bakiak Bulan Pencak-ku entah ada dimana melayangnya tadi. Genderuwo itu menginjak dadaku dengan mengacungkan satu golok besarnya ke leherku, siap menebasku kalo aku macam-macam dengannya. Goloknya yang sebelah lagi diacungkan ke udara merayakan kemenangannya.

Ia merayakannya bersama dua genderuwo lainnya yang mengacungkan tangan dan senjata juga. Iyon dan Kojek senasib denganku, terpuruk di tanah kotor berbatuan lava ini, siap menerima kekalahan. Genderuwo lawan Iyon menginjaknya di bagian pipi, menggencetnya kuat di tanah dengan trisula mengancam lehernya juga. Kojek bahkan sampai diduduki mahluk ghaib besar itu di perutnya, bersiap menghajarnya lagi kalo bergerak.

Apa jadinya kami ini? Dulu kami sering mengalami ini dan selalu ada bantuan yang menyelamatkan leher kami. Akankah itu terjadi kali ini?

Orang tua itu turun dan menghampiri kami. Suara langkah kakinya yang berat beradu dengan bebatuan yang berserakan di mana-mana. Kadang terdengar suara denting-denting itu sesekali lagi.

“Mana sesumbar kalian itu? Kalian pikir mudah mengalahkan orang tua ini?” ejeknya begitu dekat dengan jarak dengar kami.

“Maafkan kami…” kata Kojek tapi masih bernada ketat. Mungkin karena perutnya diduduki genderuwo itu. Tentu berat menahannya.

“Ahh… Maaf… Tapi kalian tetap tidak akan selamat dari sini… Benar… Aku yang telah menyerang si gendut itu di pagar rumahmu…” tunjuknya padaku. Maksudnya adalah Agus di atas pohon manggaku.

“Itu karena kau sudah mengalahkan muridku… yang memakai klewang berkarat itu… Kau tentu masih ingat dia, kan?” tanyanya padaku sambil menendang kakiku yang terdekat dengannya. Aku mengaduh kesakitan.

“Dia sudah tidak bisa menerima pasien lagi sekarang… Itu karena kau… Dan ini balasannya… Beserta teman-temanmu juga…”

“Sudah banyak yang menjadi korban kalian…” kata Kojek tak pilih-pilih kata.

“Waah… Gak terhingga tentu… Aku sudah lama menerima pasien… Muridku juga banyak… Tidak ada yang bisa lepas dari kirimanku…” ujarnya membanggakan diri. Ia mengetuk-ngetuk tombak itu ke tanah keras. Terdengar denting lamat-lamat.

“Kalian juga korbanku… Termasuk keluarga kalian juga tentunya… He he heeee…” panik aku mendengar kata-katanya barusan.

Orang tua ini sangat kejam dan berbahaya. Ia sangat tenggelam dalam kegelapan. Teringatku dengan semua keluargaku yang sedang berkumpul di kampung. Kedua anakku yang lucu dan cantik. Istriku yang baik dan pengerti-…

“Klenengan itu… sudah hentikan saja…” kata Kojek.

“Apa?” gusar orang tua itu dengan muka ketat.

Kojek bangkit dan menepis genderuwo yang sedang menduduki perutnya hingga terhempas dengan mudahnya ke samping. Ditendangnya mahluk malang yang sedang kesakitan itu ke arah kolam magma. Genderuwo itu berenang-renang panik di dalam kolam panas menggelegak lalu tenggelam luruh. Muka orang tua itu makin ketat.

Tak kurang dua genderuwo lain; yang menginjak kepala Iyon dan yang menginjak dadaku, keduanya juga panik mengetatkan tekanannya pada kami. Orang tua itu menyiapkan tombaknya karena Kojek berjalan lurus tepat ke arahnya.

“CLEB!” tombak berkarat itu menusuk tepat ke dada Kojek dengan telak. Ada darah terciprat dari bekas luka tusukan menghujam jantung Kojek. Aku bahkan tak mampu bersuara kaget melihat kejadian itu. Aku yang berikutnya.

“Klenengan ini maksudku…” Kojek mengambil sesuatu dari ujung mata tombak itu.

Dua buah klenengan kecil yang ditautkan berhubungan dengan benang merah. Kojek menggoyangnya hingga menimbulkan suara berdenting karena keduanya beradu. Ia seperti tak merasakan tombak berkarat yang menusuk jantungnya. Malah bermain dengan klenengan yang didapatnya dari ujung tombak lawan.

“Ini rahasiamu, kan?”

Rahasia? Kojek menemukan rahasia kakek tua lawan kami ini. Kukira itu dari karat atau asap hitam dari belati itu.

“Apa yang kau temukan, Jek? Apa rahasianya?” tanya Iyon yang pipinya masih diinjak kuat genderuwo lawannya.

“Ini cuma halusinasi lewat hipnotisnya… Kita sama sekali tak mengalami ini… Gak ada ini semua…” kata Kojek ringan dan menepis tombak yang menusuk jantungnya.

Benda panjang berkarat itu bergoyang sebentar lalu pudar menghilang. Kakinya menyontek sebuah batu di dekatnya ke arah kolam magma yang menggelegak panas. Seharusnya batu itu hanya nyemplung masuk dan tenggelam luruh di dalamnya, tetapi suara krompyang yang terdengar sebagai gantinya.

Arang membara berserakan dengan sedikit lidah api yang muncul kemudian. Ada sebuah tungku yang terbuat dari besi dengan kaki-kaki kokoh penopangnya, benda itu terbalik tumpah. Menumpahkan isinya.

Tungku api? Gimana bisa kolam magma itu berubah jadi tungku api? Halusinasi? Hipnotis?

Wait a minute… ledis en jentelmen…

Aku menyaksikan bagaimana Iyon bangkit dengan mudah setelah menepikan kaki besar genderuwo yang menginjak pipinya dengan garang itu. Bangkit sembari menendang dagu mahluk itu dengan lututnya.

Ia melayang jauh, menghantam dinding kawah lalu luruh jatuh tak bergerak seperti boneka kain. Ia sepertinya sangat murka dipermainkan sedemikian rupa hingga mengeluarkan cambuk yang sangat jarang dipakainya. Cambuk itu terulur panjang dan bergerak-gerak liar seperti punya kehendak sendiri.

Kojek menunduk tepat waktu saat Iyon menyabetkan cambuk berjuluk Kamarasuta itu berputar 360 derajat. Menyapu genderuwo yang tersisa, yang menginjak dadaku, menyabet kakek tua itu dan dinding kawah yang luas ini. Berderak-derak suaranya seperti dunia akan runtuh akibat sapuan dahsyat sabetan cambuk Kamarasuta. Benar! Dunia ini memang runtuh…

Tunggang langgang aku menyelamatkan diri dari apapun yang sedang runtuh menimpaku ini. Potongan kayu dan genteng mendominasi reruntuhan. Kenapa di langit ada genteng? Ada galangan bambu juga yang harus kuhindari beberapa kali sampai aku benar-benar selamat tanpa diruntuhi benda-benda lagi.

Aku sudah berada di tepian hutan karet yang artinya sudah keluar dari daerah kekuasaan Menggala kakek tua itu. Dan juga gubug tua yang tadi runtuh menimpaku, sudah rata dengan tanah. Ada titik api yang muncul di beberapa sudut. Aku teringat dengan tungku api itu.

Apa yang terjadi sebenarnya? Ada apa ini? Kutunggu sampai Kojek benar-benar mencapaiku. Ia menyeret kakek tua itu tanpa memandangnya sebagai orang tua sama sekali. Ia menganggap orang itu sebagi sampah. Lebih rendah dari binatang.

“Aku tidak keberatan harus jadi pembunuh untuk membantai sampah ini… Akan kucampakkan bangkainya ke sarang bejatnya itu… Biar terbakar bersama dosa-dosanya selama ini… Biar tau dia dulu rasanya menderita…” bengis muka Kojek yang bentar-bentar lagi bakalan meludahi objek kemarahannya ini. “Cuih!”

“A-aa… Jangan, Jek… Ada cara yang lebih beradab dari pada itu…” cegah Iyon sebelum Kojek menginjak kepala kakek tua yang menatap kami melompong kosong.

“Polisi?”

“Ah… Kapan pulak kita bawak-bawak polisi… Si desperate lover boy kita inilah… Masih banyak buah-buahanmu, kan?” tanya Iyon padaku. Buah?

***

Sepeninggal kedua sahabatku itu dari kumpul-kumpul berbahaya kami barusan, aku merenung sebentar mengingat kejadian tadi. Pertarungan dimana kami kalah telak. Kalah kekuatan dari seorang Menggala yang menggunakan mahluk ghaib 3 genderuwo hitam kemerahan sebagai bantuan tarungnya.

Kekuatannya aslinya tidak terlalu kuat sehingga ia memanipulasinya dengan trik hipnotis yang meningkatkan daya tarungnya berkali-kali lipat. Padahal kalau bertarung normal, mustahil baginya untuk mengalahkan satu saja dari kami. Ini kami dikeokkannya sekaligus bertiga.

Mulai kami menginjakkan kaki di depan gubug kayunya, kami sudah diperdengarkan denting klenengan kecil itu sebagai media hipnotisnya. Sugesti disampaikan bertahap hingga kami melihat kolam magma di dalam gubugnya yang ternyata hanyalah tungku besi berapi.

Suasana panas di dalam gubug itu kami asosiasikan sebagai kawah gunung berapi padahal hanya beberapa tungku perapian untuk memanaskan besi guna ditempa. Sikap percaya dirinya berhasil membuat kami kehilangan kekuatan dan menyerah pada kekuatan hebat 3 genderuwo-nya.

Untunglah Kojek cepat menyadari trik kakek tua itu dan kami terbebas dari belenggu berbahaya hipnotis mematikannya. Bisa saja ia membunuh kami bertiga dan membuang mayat kami di daerah jin buang sempak itu. Siapa yang akan mengira kami menghilang disana?

Trus… Jadi Kojek membantai kakek tua itu? Gak jadi. Gak seseram itu Trio Ribak Sude kami ini membungkam lawan. Masih ingat dengan buah-buahan yang tumbuh subur lagi segar di taman daerah kekuasaanku? Ada banyak jenis buah di sana yang tak pernah berhenti memanjakan mata dengan kesegaran hasil buminya.

Tapi buah itu terlarang buat dimakan? Kok kek buah yang dilarang makan sama Tuhan untuk Adam? Gak seberat itu, kok. Cuma yang makan buah dari tamanku akan mengalami terbukanya secara permanen mata batinnya. Penderita akan melihat semua dimensi-dimensi yang ada tanpa batas.

Mahluk-mahluk astral tidak bisa menyembunyikan bentuk sejatinya di depan penderita. Bentuknya serem-serem pastinya. Kau gak akan mau ada di kondisi itu terus-menerus, deh. Iyon menyuruhku mengambil satu buah di sana dan memberi makan si kakek tua buah tersebut.

Besok atau kapan orang akan menemukannya di dekat puing-puing terbakar gubugnya sambil teriak-teriak histeris kek orang gila karena melihat banyak mahluk astral yang belum pernah dilihatnya sama sekali, kini terlihat jelas.

Dia Menggala dengan 3 genderuwo, kan? Genderuwo itu mahluk astral, kan? Sudah biasa, dong? Bagaimana kalo kuberitau satu rahasia… Karena bentuk-bentuk hantu atau setan yang kelen bilang serem itu… kek kuntilanak, genderuwo, pocong, tuyul ato apalah, itu hanyalah bentuk samaran mereka saja. Semacam fan-service. Bentuk ketakutan kita akan objek-objek tertentu. Itu bukan bentuk asli mereka…

Kakek tua itu akan melihat bentuk sejati mereka mulai sekarang.

“Hei?” seseorang menepuk pundakku sampe kaget anak mudanya. “Melamun aja…”

“Loh… Ajo Mansur? Kemari lagi? Sama siapa?” kagetku celingak-celinguk mencari sosok ketiga istrinya seperti tadi siang.

Sore tadi abis ngobrol denganku, mereka permisi pulang ke Padang dengan janji akan balik lagi besok saat pesta berlangsung. Ini tengah malam datang lagi.

“Sendiri aja… Masak gak boleh ketemu sama keluarga sendiri-ah…” katanya sembari mengambil kursi plastik sewaan dan duduk di depanku.

“Udah… biasa aja nengoknya… Ga usah bilang juga… ‘Kenapa gak bobo bareng istri?… Pengantin baru gitu loh…’ Gak usah, Seng… Ajo dah bosan sekali dengar itu…” kata menebak jalan pikirku akan menggodanya dengan status pengantin baru dengan 3 istri cantik dan muda. Harusnya begitu, kan?

“Keknya ada masalah ya, jo? Mukanya cingkaruik (nekuk-nekuk/kusut) gitu kali…” nilaiku membaca raut mukanya yang serasa nelangsa.

Padahal ia harusnya jadi pria paling hepi saat ini. Kalo aku jadi dia, pasti kopong lututku karena gak keluar kamar berhari-hari. Kugilir 3 istriku berganti-ganti sampe bunting. Lagian ajo Mansur sudah tidak muda lagi, harus buru-buru punya anak dan keturunan.

“Boleh curhat, Seng?” pintanya berat.

Ada apa? Sampe ia segininya nyari waktu yang tepat untuk menemuiku di saat yang benar-benar sepi. Di antara tenda-tenda dan kursi plastik yang disusun berjejer untuk keperluan pesta besok, hanya ada kami berdua saja. Tidak ada orang lain.

“Ih… Boleh-la, jo… Apa cobak?” sambutku harus welcome.

“Kalapiah den dak dapek naiak lagi-ma, Seng…” (Burungku gak bisa naik lagi, Seng)

“Gak bisa naek… lagi?” kagetku.

Itu mimpi buruk bagi seorang pria. Apa karena masalah umurnya? Ajo Mansur sudah berumur 50 tahun dan ia mendapat masalah disfungsi ereksi yang menakutkan ini. Tentu saja aku kaget mendengarnya karena aku tau dulunya dirinya gimana.

Dulu dia sehat-sehat saja untuk urusan ranjang karena dulu sebelum menikah dengan istriku, ia sering mentraktirku menikmati cewek-cewek cantik kelas atas kala berkunjung ke Medan untuk urusan bisnis.

Ia kerap merekomendasikan cewek-cewek tertentu yang berkenan di hatinya untuk juga kupakai. Para cewek itu kerap memuji kemurahan hati ajo Mansur dalam gelontoran duit yang gak pelit juga. Dan sekarang ia mengalami disfungsi ereksi. Gak bisa ngaceng! Gaswat!

Ia mengangguk membenarkan tangkapanku. Ia benar-benar mengalami itu. Ini benar-benar mimpi buruk pria.

“Jadi istri-istri ajo… belum?” aku segera berhenti di sana karena itu tentunya masalah privasi yang sangat pribadi baginya.

Yaa… Gimana ia bisa menggauli ketiga istrinya itu kalo ajo Mansur gak bisa ngaceng? Itu artinya sampe sekarang ketiga istrinya itu masih perawan dong? Wah… Sudah sebulan lebih dianggurin. Gak kunjung dicoblos ya?

“Yaa…. belum…” kembali aku menangkap nada getir di kata-katanya barusan.

Ternyata ini kegetiran yang kutangkap sebelumnya. Awalnya kukira karena ia tidak bisa mencampur ketiga istrinya berbarengan. Kek mimpi Harem yang terlintas di otakku kala itu. Ia menepuk-nepuk lututnya seolah masalahnya ada di lututnya tersebut.

“Sudah periksa ke dokter, kan?” tanyaku standar. Siapa itu dokter terkenal yang buat obat untuk masalah ginian…? Agak-agak melambai gitu? Boikot? Boinem?

“Sudah semua cara kulakukan, Seng… Dari dokter di sini… Jakarta… Surabaya… Singapur, Penang… Pake produk-produk semacam itu… Gak ada hasilnya… Sampe kupikir kalo aku ini kena karma… Karma atas nakalnya diriku sebelumnya… Kau tau sendiri… kita sama-sama bisa maen perempuan cantik gila-gilaan… Kita bahkan pernah pesta dan menyewa 5 cewek cantik itu semalaman… Ingat, Seng?” kata ajo Mansur mengingatkan masa-masa indah saat aku masih lajang dulu.

Aku sering membanggakan petualanganku itu pada Iyon dan Kojek. Punya saudara kaya raya dan hobinya sama sangat menyenangkan saat itu. Aku berhenti dan ajo Mansur gak pernah mengajakku lagi setelah aku menikah dengan istriku.

Ia kudengar tetap lanjut dengan kesenangannya itu dan tak kunjung menikah sampai bertemu dengan 3 wanita cantik jodohnya ini. Mendapat 3 bidadari ini, malah disfungsi ini menyerangnya. Ngenes kali, kan?

“Ah… Jo Mansur ngingatin aja… Karma ya, jo?” aku termangu juga.

Bisa jadi ini karma. Hukuman dari Yang Maha Kuasa sebagai peringatan untuk jo Mansur untuk bertobat. Tapi cobaannya berat kali ya Tuhan. Aku turut prihatin padamu, jo. Kami terdiam untuk beberapa lama, tenggelam dalam pikiran kami masing-masing. Apa mungkin ini ada semacam gangguan supranatural? Ada yang mengirim gangguan semacam guna-guna, teluh atau santet dan spesifik menyerang kejantanannya. Motifnya bisa apa aja. Dari bisnis sampai romansa.

“Apa udah nyoba dukun juga, jo Mansur?” ungkapku memecah kebisuan.

“Udah… Itu termasuk usahaku… Dari medis… non medis… Yang herbal, akupuntur, pijat… Macam-macamlah…” jo Mansur menghitung beberapa ikhtiar yang sudah dilakoninya untuk mengatasi permasalahannya ini.

Kalo masalah dukun aku juga gak terlalu yakin dengan kemampuan dukun yang didatangi ajo Mansur karena aku tak tau tingkat keilmuannya. Dukun abal-abal atau beneran? Yang palsu banyak kali. Yang ngaku asli lebih banyak lagi. Yang ngiklan-pun ada. Eneng-eneng wae ini para dukun-wannabe.

“Coba liat tangan kiri ajo bentar…” pintaku untuk melakukan deteksi dini untuk memeriksa apa yang terjadi padanya. Ada unsur magis atau tidak. Ia memandangiku beberapa saat dan lalu mengulurkan tangan kirinya padaku. Pastinya usaha apapun tidak masalah, kan?

Tangan sepupu priaku ini sangat halus, khas orang kaya yang banyak duit yang tak perlu lagi mengerjakan pekerjaan fisik kecuali olah raga untuk kebugaran tubuh. Tubuhnya sehat ditunjang dengan gizi baik dan pola hidup yang juga baik.

Hanya tanda-tanda penuaan saja yang mengingatkan kita bahwa umurnya sudah tidak muda lagi, berupa rambut beruban dan sedikit gurat keriput di kelopak mata dan pinggiran pipi. Selebihnya, sosok dan perawakan tubuhnya tak beda jauh denganku yang masih 30-an awal.

Beberapa ruas jarinya kutekan-tekan untuk melihat reaksi yang diberikannya. Kutekan dengan variasi kekuatan untuk mengetahui untuk mencari petunjuk apa yang menimpa ajo Mansur ini dalam kriteria medis atau tidak. Pada bagian jantung dan pembuluh darah semuanya lancar.

Bagian lambung dan usus-usus juga lancar. Di bagian ginjal, pankreas dan hati juga lancar. Nah di bagian terdampak ini tidak ada reaksi sama sekali. Ia seperti tidak merasakan apapun sewaktu kupencet ruas jari yang berhubungan dengan si Mansur junior. Bahkan kala kupencet kuat menggunakan kuku jempol-pun gak ngaruh apa-apa.

“Kenapa, Seng? Disitu agak kebas… Gak kerasa apa-apa…” tanya jo Mansur melihatku berusaha memencet ruas jarinya yang kuberlama-lama di sana. Ruas jari itu sampe memerah karena kebanyakan kupencet. Ini teknik yang kutau.

“Ini jo Mansur… Di bagian ini seharusnya titik refleksi kalapiah (burung) ajo… Sepertinya memang ada masalah di sini…” terangku masih memegangi tangan kirinya untuk deteksi lebih lanjut.

“Gak kerasa apa-apa, yah?” tanyaku mencoba lagi.

Ia menggeleng. Kuambil kunci mobil dan iseng coba kutekan dengan benda itu. Ia tetap tidak bergeming sedikitpun. Normalnya pasti jerit kesakitan kalo ditekan sedemikian.

“Udah… Udah, Seng… Gini… Dengarin ajo…” katanya menarik tangannya.

“Dengarin…” ia berusaha menarik perhatianku yang masih terus penasaran dengan masalah ‘gak ngaceng’-nya ini. Aku lalu menunggu apa yang akan dikatakannya.

“Kita bersaudara… Kita sepupu dari ayah… Artinya kita bisa saling mewalikan saudara-saudara perempuan kita… Kau bisa menjadi wali adikku kalo dia menikah nanti… Bahkan ajo-pun bisa menjadi wali nikah Selvi besok… Benar, kan?” mulainya. Aku setuju dengannya. Soal wali nikah Selvi besok, aku yang jadi wali adikku, menggantikan ayahku yang sudah tiada.

“Nah karena kita bersaudara sangat dekat… Aseng ajo beri mandat untuk melakukan tugas ajo yang tidak bisa kutunaikan ini… Memerawani ketiga istriku…” katanya tak disangka dan tak dinyana.

Kembali lagi aku harus pakai kata ‘out of the blue’ untuk menggambarkan situasi ini. Mulutku sampe menganga lebar mendengar kalimat itu berakhir. Aku sampe ingat betul semua kata-katanya per kalimat. Memerawani 3 istri ajo Mansur yang muda dan cantik itu. Sebuah mandat nyeleneh nih…

“Gak… Gak bisa gitu, jo… Saudara ya saudara… Tapi gak ada orang make istri punya saudaranya sendiri… Itu salah, jo… Sangat salah…” tolakku mentah-mentah.

Aku memang penjahat kelamin. Aku sudah menghamili 6 perempuan binik orang di Medan sana. Tapi tak satupun dari mereka yang berhubungan keluarga denganku. Kalo kunikahi mereka-pun tidak ada masalah apa-apa—normalnya. Lah ini, disuruh, diberi mandat sesat untuk menyetubuhi istri saudara sendiri. Itu sangat salah.

“Makanya dengarin dulu baik-baik… Ajo sudah tidak bisa melakukan tugas itu lagi… Tetapi ini masalahnya jauh lebih pelik lagi dari sekedar moral… Paham? Ada nama baik keluarga… Ajo tidak bisa punya keturunan kalau bahkan tidak bisa memerawani satu saja dari mereka… Mereka bertiga itu perempuan baik-baik yang terus bersabar selama sebulan lebih ini tidak disentuh… Tidak bisa menunaikan tugasnya sebagai seorang istri… Mempersembahkan kesuciannya pada suami… Mereka gak akan cerita apa-apa pada keluarganya atau siapapun tentang aib ini… Aib kalau suami mereka yang bernama Sutan Mansur ini bahkan gak mampu memerawani… menjebol tirai suci mereka… Apalagi menghamili mereka… Ajo-mu ini sudah tua, Seng… Duitku banyak… Istriku masih muda… Apa gunanya semua itu kalau tidak ada keturunan untuk kuwarisi kelak?” beber ajo Mansur panjang lebar.

“Mandat ini karena darah kita sama, Seng… Kau yang lakukan ini atas namaku… Kalau-pun istriku hamil… tidak apa-apa… Itu anakku juga seperti juga anak-anakmu merupakan anak bagiku… Hanya kau yang kupercaya untuk tugas ini karena aku tau kau siapa, Seng… Aku kenal kau luar dalam… Kita bahkan sudah pernah berbagi perempuan sebelumnya… Aku rela kau melakukan ini… atas namaku…” ditatapnya mataku dalam-dalam untuk menunjukkan kalau ia serius dengan semua ucapannya barusan. Pening palaku kalok ke gini ceritanya. Aku masuk ke dalam apa lagi ini?

Seminggu kabur dari Medan dan terbebas dari binor-binor yang akhirnya hamil juga, aku masuk ke tawaran dari sepupuku sendiri. Tidak harus sampai menghamili, sih… Hanya sekedar memerawani saja. Ketiga istri ajo Mansur masih perawan.

Pukimaaaak! Ketiga perempuan cantik berhijab itu masih perawan dan aku yang disuruh menjebol ketiganya. Tiba-tiba Aseng junior menggeliat bangun mendapat potensi mangsa baru. Sarang baru…

“Gini aja, Seng… Ajo naikkan tawarannya aja sekalian… Kalo kau bisa menghamili salah satu aja dari mereka bertiga… galon (SPBU) yang di Medan itu ajo kasihkan untukmu… Satu aja… Kalau bisa semuanya… akan ajo tambahkan lagi… Bagaimana?” ia menaikkan penawarannya. Gila! Itu galon sudah abis berapa duit yang diinvestasikannya ke sana. Berapa keuntungan yang diperolehnya dari sana? Rela diberikannya padaku demi anak?

“Ibumu sudah banyak cerita tentangmu dan istrimu… Kau sepertinya sangat subur… Kalau semuanya tepat… kemungkinan ketiga istriku akan hamil bersamaan…” lanjutnya menambah bumbu di penawarannya. “Ketiganya sudah memasuki masa suburnya…”

“Jooo… Jangan kek gini-laa… Bingung aku jadinya… Gimana-gimana caranya aku meniduri istri-istrimu? Aku gak akan mau menyerahkan istriku sama siapapun… Matipun jadi… Tapi ini ajo malah menyerahkan semuanya… Semuanya! Itu gak masuk ke otakku, jo?” elakku.

Ini bahkan lebih runyam ketika aku menolak kak Sandra ketika di Pangkalan Brandan waktu itu. Itu pada seorang perempuan yang berjasa besar kepada ekonomi keluargaku. Seseorang yang kuanggap seperti kakak sendiri. Ini malah sepupuku langsung… yang menyerahkan ketiga istrinya untuk kutiduri, kuperawani, kugagahi kesuciannya.

“Yaa… Aku juga gak menemukan cara lainnya… Aku juga gak tau orang yang tepat selain kamu, Seng… Selain kita sedarah… aku juga percaya padamu, Seng… Gak ada yang lainnya…” putusnya yakin. Aku terdiam untuk beberapa lama dan ia menunggu jawabanku. Dan ia tidak akan menerima jawaban menolak dariku.

“Yakin, jo?” pastiku.

“Iyo bana!” jawabnya tegas.

Teringat aku tentang kata-kata ini dari obrolan dengan ibuku waktu remaja. Kalo orang Minang sudah ngomong ‘Iyo bana’ yang artinya kira-kira ‘Iya sekali’ itu artinya ia benar-benar serius dan bulat dengan keputusannya. Aku yakin dengan ucapan ini karena ajo Mansur juga membenarkan statemen itu. Prinsipnya juga sama. Apalagi ia seorang pengusaha yang kata-katanya harus bisa dipegang.

Berat hatiku menerima penawaran ini sebenarnya. Sebelum-sebelumnya, aku hanya langsung berhubungan dengan para perempuan itu saja tanpa sepengetahuan para suami mereka karena pasti rasanya akan sakit sekali bila mereka mengetahui skandal ini menimpa rumah tanggamu.

Pria lain meniduri istri yang kau cintai. Bahkan anak yang dikandung istrimu ternyata bukan anakmu, bukan darah dagingmu, hanya anak orang lain. Tapi ajo Mansur bahkan merelakan aku menyentuh, lebih dari sekedar menyentuh, menyetubuhi istri-istri yang sudah sah dinikahinya, yang tak sanggup ia lakukan sendiri, menjajah kehormatan dirinya sebagai seorang suami, yang berhak penuh penuh atas tubuh istri-istrinya. Hanya kepadaku.

Itu sebuah keputusan yang luar biasa besar bagi ajo Mansur menurutku. Kalo aku, aku lebih baik kehilangan semua hartaku daripada ada orang lain menyentuh istriku. Di saat begini, aku baru paham perasaanku yang sebenarnya pada istriku.

Istri yang sudah kunikahi lima tahun lalu. Yang telah memberiku dua anak yang tampan dan cantik. Yang telah bersama denganku selama ini. Yang selalu sabar dengan bermacam tingkah polahku. Aku sayang kamu istriku, ibu anak-anakku.

“Baiklah, jo…”

Mengembang senyum lebar di wajah lelahnya di tengah malam ini. Negosiasinya telah berhasil.

***

Pagi hari, semuanya kembali sibuk. Ini akan jadi hari yang sangat sibuk. Hari H pernikahan Selvi, adikku dengan calon suaminya Dedi. Prosesi adat Minangkabau yang meriah segera digelar di rumah kami.

Tentang proses lamar-melamar yang tak lazim karena pihak perempuan yang memberikan barang seserahan kepada pihak lelaki telah dilaksanakan tadi malam. Sebenarnya hanya simbolis saja karena barang-barang itu keluarga besan kami yang membelinya dan diberikan pada kami seolah-olah kamilah yang menyerahkannya. Hanya agar jalan adat tetap terjaga kelestariannya. Kalo masalah ribet, pake adat apapun pasti ribet, kan?

Ijab kabul berjalan dengan lancar pertanda kedua sejoli itu telah resmi menjadi suami dan istri dan kembali acara makan-makan berlangsung. Jejeran makanan khas Minang digelar di ruang tamu secara lesehan. Semua tamu dijamu hidangan dan makan sepuasnya.

Di luar, bernaungkan tenda, pemain organ tunggal sudah memainkan musik-musik penghibur para tetamu yang kebanyakan adalah para keluarga. Menjelang siang baru para jiran tetangga mulai berdatangan. Pokoknya rame dan sibuk seharian.

***

“Ma… Belum pernah ke danau Maninjau, kan?” tanyaku pada istriku yang memeluk Salwa yang tidur kelelahan.

Ia tidur dengan damai di dekapan ibunya. Rio masih bermain di atas panggung dengan kenalannya yang kadang ia bingung dengan bahasanya. Ini sudah lepas Maghrib. Para tamu undangan masih berdatangan tetapi tidak terlalu banyak.

“Dimana itu?” responnya biasa aja. Mungkin karena kelelahan juga.

“Kalo dari sini… ke Bukit Tinggi dulu… Baru ketemu danau itu… Danaunya bagus… Kita kesana rame-rame…” jelasku.

“Sekalian liburan juga… Kita nanti nginap di hotel di sana aja…” lanjutku.

“Duitnya, pa? Ini kita ongkos naek pesawat aja udah abis berapa… Udah kita di sini aja sampe habis masa cuti papa…” enggan istriku malah khawatir masalah dana.

Memang sih ia tidak tau darimana dana untuk keberangkatan kami ke kampung untuk pesta adikku ini. Tapi uang yang diberikan Yuli di awal perjanjian kami masih ada sisanya. Ditambah Yuli sudah menambahkan sisa 50 juta lagi ke rekeningku. Masalah duit seharusnya tidak ada masalah.

“Tenang, maa… Ini ditraktirin sama sepupu papa yang tajir itu loh… ajo Mansur… Sekalian dia mau jalan-jalan juga sama keluarganya… Masalah duit gak usah mama pikirin-la…” kataku menenangkannya karena ini memang ajakan dari ajo Mansur.

“Yang istrinya tiga itu, pa?” kagetnya mendengar kalo kami diajak jalan-jalan oleh saudaraku. Aku membenarkannya. “Apa kita nanti enggak ganggu mereka, pa? Mungkin dia lagi bulan madu ato apa gitu?” ragunya lagi.

“Gak-laa… Bulan madu mereka udah lewat mungkin… Jalan-jalan aja memangnya kenapa… Sekalian menghibur kita… saudaranya yang lagi datang kemari… Orangnya memang gitu, ma… Royal banget sama duit… Gak itung-itungan… Percaya, deh…” rayuku agar dia mau.

Aku bahkan menjelaskan kalo dia juga mengajak siapa saja yang mau ikut, boleh ikut. Keluarga kak Dedek ikut, ibuku ikut. Bahkan dua pengantin baru itu, Selvi dan suaminya juga ikut. Walah ini malah sekeluarga ikut, ya?

“Baik kali dia? Siapa namanya? Mastur? Mansur?” kagum istriku.

“Yaaa baik-lah… Namanya juga sama saudara… Kan?” kataku dengan senyum dikulum.

50% rencana sedang berjalan. Ini berkaitan dengan sebuah perjanjian yang kubuat dengan sepupuku, ajo Mansur tengah malam tadi. Kami merumuskan suatu rencana agar permintaan nyelenehnya bisa terealisasi.

Yaitu memerawani selanjutnya kalo bisa menghamili salah satu atau ketiga istrinya. Jadi kami menyamarkan rencana kami ini dengan menyusun sebuah liburan keluarga di beberapa tempat. Bahkan sepasang pengantin baru itu juga diajak. Itung-itung hadiah bulan madu untuk mereka.

Tempat yang bakal kami tuju adalah kota Bukit Tinggi, lanjut ke danau Maninjau lalu ke pulau Cubadak. Dari gunung sampai pantai. Ini liburan yang lumayan lengkap. Dari hulu ke hilir ceritanya. Untuk kepraktisan dan juga kenyamanan kami semua menginap di tempat sama, tentu saja hotel.

Di sebuah hotel di Bukit Tinggi, ajo Mansur memesan beberapa kamar yang dipakai untuk liburan mendadak ini. Keluarga kecil kami tentunya satu kamar, Kak Dedek satu kamar, ibuku satu kamar karena ia ikut bersama sang besannya yang sama-sama janda. Pengantin baru mendapat kamar yang paling OK, VIP untuk keduanya. Untuk Ajo Mansur dan ketiga istrinya, tiga kamar. Masing-masing istrinya tidur terpisah.

Awalnya kami keliling-keliling kota Bukit Tinggi bergerombol besar. Terutama di sekitar Jam Gadang yang merupakan landmark ikonik kota yang sejuk ini. Foto-foto, belanja ini-belanja itu, nyemil ini-nyemil itu, beli suvenir, biasalah… Entah gimana awalnya, jadi terpecah-pecah menjadi kelompok-kelompok kecil.

Aku tentu aja bersama istri dan kedua anakku sedang duduk-duduk di depan Jam Gadang dan kelompok lainnya tak terlihat lagi. Ya, biarlah. Mereka udah pada besar-besar semua, kan? Kalo mau ngumpul lagi ya balik aja ke hotel.

Tapi selama masih bergerombol tadi aku sempat memperhatikan ketiga istri ajo Mansur yang terlihat akrab bercengkrama satu sama lainnya. Mungkin karena mereka itu dasarnya bersaudara sepupu yang jauh lebih paham sifat satu sama lainnya.

Jadi mereka tidak terlalu canggung berinteraksi walau berbagi satu pria yang mereka sebut suami. Mereka foto-foto aja seperti tiga orang pemudi cantik yang sedang bersama bapaknya. Lah, kan ajo Mansur itu udah berumur? Rambutnya aja udah pada beruban. Orang-orang wajarnya akan mengira kalo pria itu adalah bapaknya. Pantas, kok.

Ajo Mansur yang dikelilingi tiga perempuan yang berpredikat sebagai istrinya, juga tidak kalah luwes. Ia pandai mengemong ketiganya dengan sikap kebapakan. Digiringnya ketiganya ke sana dan kemari untuk mencari spot foto yang bagus.

Kadang ia memfoto ketiganya bersamaan, atau berempat gaya Wefie. Dia bukan pemain baru dalam berhadapan dengan perempuan, hanya saja di umur sekian ini dia baru berkesempatan menikah dan punya istri. Katanya dia sempat menyesal juga kenapa tidak dari dulu ia menikah hingga mendapat kesulitan ini.

Fisik ketiga istri ajo Mansur kebanyakanya tinggi dan langsing. Bahkan cenderung kurus, khas perempuan muda yang baru beranjak dewasa. Nakal aku curi-curi liat tonjolan pinggul atau dada yang mungkin terselip dari hijab panjang dan lebar yang mereka kenakan. Kalo Suli yang berpakaian lebih gaul hijabnya, aku tidak kesulitan menemukan tonjolan itu. Pinggulnya cukup lebar yang artinya berpotensi subur.

Sementara dadanya mungil dan imut. Nah, di Ratih dan Mila yang sulit menemukan tonjolan itu karena pakaiannya yang ekstra longgar dan panjang yang memang diperuntukkan guna menyamarkan bentuk tubuh.

Normalnya hanya ajo Mansur yang bisa melihat tubuh polos ketiganya, previlege sebagai suami. Hanya sesekali terlihat bentuk kaki karena hembusan angin yang membentuk cetakan tungkai mereka dibalik rok panjang semata kaki, berbalut kaus kaki. Tertutup sempurna.

Menjelang sore, kami balik ke hotel karena sudah lelah berkeliling kota Bukit Tinggi. Menjelajahi kota yang rancak ini. Rio dan Salwa senang sekali naik bendi (sado) keliling kota sampe gak mau berhenti karenanya.

Di beberapa kota bahkan sampai di Padang, bendi ini masih digunakan sebagai alat transportasi hingga sekarang. Ternyata semua juga sudah pulang dari berpetualang di kota wisata ini dan sedang istirahat menunggu makan malam. Kembali kami makan bergerombol di restoran hotel, courtesy of ajo Mansur tentunya.

Gimana ukhti Ratih bercadar makan? Memasukkan makanan ke mulutnya yang sebagian besar mukanya tertutup tabir begitu? Heran awalnya pasti. Ia memasukkan sendok itu ke balik khimar cadarnya dan makanan yang tadinya tertampung di cekungan sendok itupun berpindah tempat ke dalam mulutnya.

Yah… Gak ajaib sih sebenarnya. Setelah beberapa kali diliat, jadi biasa aja. Dia awalnya agak kikuk makan dihadapan banyak orang yang mayoritasnya baru dikenalnya. Seiring waktu, Ratih mulai santai dan biasa aja makan dengan lahap makanan kegemarannya.

Ukhti Ratih pendiam, yang satunya lebih-lebih lagi. Mila sudah-lah pendiam suaranya juga halus dan lirih sekali. Kalo dia ngomong sewaktu menjawab sesuatu, ia harus mengulangi dua-tiga kali baru lawan bicaranya dengar apa jawabannya.

Ratih dan Mila berasal dari pesantren yang berbeda walopun sama-sama ber-mahzab yang sama, pesantren Ratih hanya diperuntukkan untuk wanita hingga banyak dari mereka yang bercadar.

Pesantren Mila campuran lelaki dan perempuan walau selama pendidikan tetap terpisah oleh pemisah yang ketat. Keduanya jelas-jelas sangat menjaga pergaulan mereka dan jauh-jauh dari yang namanya kaum Adam kecuali dengan mahram sendiri atau para guru pria yang jumlahnya sangat terbatas.

Lain lagi dengan Suli yang sedikit lebih moderat. Hijab yang digunakannya adalah model yang banyak dipakai hijaber modern yang berwarna-warni. Berbanding terbalik dengan yang selalu dipakai dua saudarinya yang serba hitam-hitam.

Komunikasinya dengan kami lumayan intens dan lugas. Karena ia selama ini bersekolah dan kuliah di sekolah konvensional yang tercampur baur pergaulan laki-laki dan perempuan secara merata. Ia juga tidak segan untuk bercanda dengan kami semuanya tetapi masih dalam batas-batas wajar aja.

Ahhh… Gimana ya rasanya… meniduri mereka bertiga? Aku jadi gak sabar menunggu waktunya.

Di meja makan, yang paling banyak dapat candaan, tentu saja sepasang pengantin baru itu. Itu dikarenakan ternyata setelah pisah dari siang tadi mereka langsung balik ke kamar hotel. Yak! Tentu tau kan mereka pada ngapain? Main ludo.

Anda benar… Ludo apa judo? Gelut-lah pokoknya. Biasa ya, kan? Tetapi selama candaan-candaan itu, ketiga istri ajo lirik-lirikan. Aku tau artinya karena pengantin baru yang baru kemaren akad nikah aja udah menikmati prosesi belah duren tak lama setelah acara pesta meriah. Lah mereka udah hitungan bulan menjalaninya, belum diapa-apain. Cuma dianggurin aja…

Ajo Mansur lebih ceria malam ini karena kami punya rencana untuk para istrinya. Ia semangat mengolok-olok Selvi dan suaminya yang malu-malu kucing terus disindir tentang status mereka. Ada juga nasehat-nasehat dari ibuku dan besannya.

Ajo Mansur juga ikut menasehati mereka secara ia juga sudah berumur, pantaslah memberi petuah sedikit-sedikit walopun dia baru juga-nya menikah. Tentu juga kak Dedek dan aku ikut memberi nasehat bagi mereka sebagai yang lebih senior dari pada mereka tentang masalah rumah tangga.

Lelah beraktifitas di luar ruangan seharian, sebagian besar kembali ke kamar. Yang tertinggal hanya aku, ajo Mansur dan istri ketiganya, Suli. Kami berpindah ke Coffee Shop dan minum-minum sebentar. Suli sudah sedemikian akrabnya dengan ajo Mansur sehingga ia tidak sungkan lagi lendotan ke suaminya walau ada aku disekitar mereka. Bagus deh… Biar lebih akrab.

“… tentu aja dia gak terima diputusin, bang… Tapi yah… mau gimana lagi? Namanya juga cewe… lebih suka dengan kepastian… Pastinya yang melamar lebih utama daripada yang hanya menggombal…” katanya.

Ujung huruf ‘L’ di kata ‘menggombal’ barusan, lidahnya berjentik di depan gigi kelincinya. Begitu kata-katanya yang membuatku terpana. Ajo Mansur anteng aja mengelus-elus kepala istrinya bak sebuah tropi berharga yang sudah berhasil ia menangkan dengan perjuangan berat. Gak, jo… Aku gak baper ngeliat adegan mesra kalian itu. Biasa aja itu… *Istriku dimana kau?

“Masa manggil ‘bang’ ke Aseng… Panggil aja nama… Dia adikku, loh…” kata ajo Mansur menatap istrinya mesra.

“Ish… abi? Tapi umur adek kan jauh dibawah bang Aseng… Gak enak aja manggil nama… Kayak gak sopan gitu walau dia adik sepupu abi…” jawabnya masih lendotan mesra bertatapan.

“Ya udah… Yang mana enaknya aja kalo kalo manggil nama awak… Sama-nya itu semua…” kataku menyesap kopi pesananku. Coffee shop hotel cukup ramai malam ini dan untungnya kami dapat tempat duduk yang lumayan cozy dengan sofa yang empuk. “Tapi biar kutebak… Cowok itu masih ngejar-ngejar Suli terus, kan?” tanyaku tentang sang mantannya.

“He he he… Iya… Kukasih aja surat undangan nikahku sama abi… Dia gak muncul-muncul lagi…” kata Suli memeluk lengan ajo Mansur dengan erat dan tertawa kecil.

Ah… Ada beberapa penyebab ternyata. Harta dan kemapanan. Pria mapan seperti ajo Mansur tentunya lebih menggiurkan bagi beberapa wanita yang menginginkan kepastian di dalam hidup juga masa depannya.

Dibanding dengan pria kere yang hanya modal bacot ato malah mokondo. Ya tentu aja keder berhadapan dengan pengusaha sekelas ajo Mansur. Hartanya banyak. Kalo dibagi kepada 3 istripun masih banyak sisanya.

“Wah… Sadis, yaa? Gak bunuh diri tuh anak? Gantung diri di pohon cabe?” guyonku. Suli tertawa-tawa sambil terus lendotan ke suaminya. Berusaha menunjukkan bahwa ia mesra walau sebenarnya ada masalah di rumah tangga mereka. Seolah tak ada problem di kehidupan mereka.

“Udah yaa, Seng… Kami mau naik dulu… Biar bill-nya ajo charge aja ke kamar… Sana… bobok sama binimu sana…” kata ajo Mansur pamit padaku bersama istri ketiganya untuk balik ke kamar.

Kupandangi keduanya yang bergerak keluar dari Coffee Shop ini. Suli masih lendotan pada ajo Mansur dengan mesranya. Entah perempuan muda itu sudah mendapat sinyal kalo dia akan memberikan bukti baktinya kepada suami berupa kesucian yang telah dijaganya selama ini.

Selama menunggu, aku chatting-an dengan para binor di kota Medan yang kutinggal di sana. Yang telah sukses hamil. Sukses kuhamili. Apa yang akan terjadi dengan tiga istri ajo Mansur? Aku hanya punya waktu paling banyak 5 hari lagi di sini. Dan itu akan kami habiskan dengan melakukan liburan berkeliling, terselubung bersama perjanjianku dengan ajo Mansur.

Dia sendiri yang telah memikirkan semua caranya, termasuk skenario liburan ini. Ia telah menyiapkan semuanya bahkan penginapan di pulau Cubadak yang terbilang mahal saat ini. Resort di sana biasanya hanya dihuni oleh warga asing dan bayarannya pake mata uang $. Tapi itu sedikit baginya.

Bisakah dalam waktu 5 hari ini aku menghamili satu saja dari ketiga istrinya? Lebih keren lagi kalo ketiga-tiganya hamil bersamaan. Ajo Mansur pasti bakalan senang sekali kalo ketiga istrinya bisa hamil sekaligus.

Ahh… Membayangkan itu… Rasanya pasti akan sangat nyaman sekali. Menghamili tiga perempuan muda yang masih perawan. Tapi suaminya ada di sana. Menyaksikan semua itu… Seberapa kikuk situasinya nanti.

Diliatin lelaki lain yang notabene adalah pemilik sah dari perempuan yang sedang kau masuki kemaluannya. Itu jelas gila kikuk sekali situasinya. Walopun, ini semua atas persetujuan bahkan permintaan suaminya langsung yang tak sanggup menjalankan fungsi biologisnya.

Diliatin ngeseks sama ajo Mansur bukan hal baru untukku. Dulu, sewaktu masih lajang dulu, aku sudah pernah menyinggung ini sedikit, kami pernah pesta gila-gilaan dengan BO lima PSK cantik. Kelimanya kami gilir tentunya.

Tentu aja aku udah liat tubuh telanjang sepupuku itu, ia juga tentunya melihatku dan beserta Aseng junior-ku. Saat itu wajar-wajar aja karena orientasi kami sama–doyan perempuan saja. Ajo Mansur kala itu dengan gagahnya bisa menggasak kelima PSK cantik itu.

Bahkan kalo bisa dibilang banyak ilmu yang kutimba darinya di dunia perlendiran ini. Makanya agak tragis juga di kala begini, dengan 3 istri sahnya, ia tak lagi bertaji untuk melakukan hal hebat yang pernah ia lakukan.

Harusnya, dengan wewenangnya, walopun dua istrinya yang sangat alim itu, ia bisa mencampuri mereka bertiga sekaligus, seperti yang dilakukannya dengan 5 PSK saat denganku itu.

5 hari? Butuh 3 minggu kurang lebih untuk mendapat kabar kehamilan Yuli, Pipit, Iva, kak Sandra dan Dani. Pada Aida dulu lebih cepat, hanya seminggu saja. Tunggu dulu… Apakah artinya sebenarnya bibitku sudah langsung berhasil membuahi mereka semua pada ejakulasi perdana kalo begitu.

Pertama kali ngecrot dan mengisi rahim mereka langsung terbuahi. Bibit-bibit serupa kecebong yang berenang agresif itu langsung membuahi sel telur yang tersimpan di rahim para perempuan itu. WOW… Subur kali aku ini?

Benar juga… Sudah terbukti pada Rio dan Salwa juga. Rio langsung hadir di perut istriku begitu aku bisa mencoblosnya sehabis haidnya berakhir. Di saat bersanding di pelaminan, istriku masih dalam keadaan haid hingga aku uring-uringan selama beberapa hari menunggu siklus bulanan itu selesai. Selepas bersih, langsung cus… jadwal haid berikutnya terlewati dengan penanda dua garis pink di test pack kehamilan.

Begitu juga dengan Salwa, begitu program buat anak lagi, istriku lepas spiralnya, cus… Salwa hadir di perutnya. Wah… Aku tidak pernah sebangga ini dengan kesuburanku.

Tapi itu harus juga didukung oleh lahan yang subur di sisi satunya. Gak mungkin juga aku sukses kalo di pihak perempuannya tidak mendukung untuk faktor kesuburanku berhasil. Kebetulan, istriku juga sangat subur hingga kami klop saling melengkapi.

Pada keenam binor yang awalnya bermasalah, baik secara fisik maupun non fisik bahkan supranatural terganggu, setelah dikondisikan—bisa hamil dengan sukses. Kebanyakan di kasus yang kuhadapi adalah gangguan supranarural. Kerap kuhadapi langsung para pengganggu itu dan mereka hamil akhirnya.

Ditenggarai, akan ada potensi gangguan juga di kasus ajo Mansur dan tiga istrinya ini. Pada ajo Mansur sudah kudeteksi gangguan tersebut, tinggal pada ketiga perempuan itu saja sisanya karena mereka juga berpotensi punya gangguan juga.

Misalkan Suli, sakit hati sang mantan kekasihnya dulu yang ditinggal begitu saja, mungkin akan membuat sang mantan gelap mata dan mengambil jalan pintas untuk membalaskan sakit hatinya. Tentu saja dengan pergi ke dukun. Lagi-lagi dukun. Ada dimana-mana profesi ini ya?

Sebuah foto masuk dari ajo Mansur ke aplikasi BBM-ku. Segera kuperiksa karena pesan darinya pertanda kalo aku sudah bisa mulai bergerak. Kutinggalkan Coffee Shop sambil menunggu foto itu loading sempurna hingga terbuka menampilkan foto apa yang dikirim padaku.

Di depan lift loading selesai dan terlihat sebuah foto yang menggiurkan yang kontan membuat Aseng junior menggeliat bangun dari tidur panjangnya. Ini istirahat yang lumayan lama baginya karena sudah berhari-hari ia tidak dicuci.

Foto Suli yang tidur berbaring tanpa busana sama sekali. Ia tidak memakai hijab hingga rambut hitam legam lebatnya terurai di kepala dan punggungnya. Kulitnya putih dan bersih. Pinggulnya sesuai tebakanku cukup lebar dengan paha gempal dan padat.

Kemaluannya merekah merah basah bekas liur ajo Mansur. Sebagaimana juga rona basah kemerahan juga ada di sekitar payudara mungilnya. Yang berbeda adalah sebuah penutup mata yang digunakan Suli.

Kenapa ia harus mengenakan itu. Nah… Disini pentingnya benda itu. Penutup mata yang kerap digunakan oleh seseorang kala tidur untuk mengurangi cahaya yang menyilaukan mata, berfungsi sebagai penyamaran taktik yang digunakan ajo Mansur.

Postur tubuh dan perawakan kami hampir sama persis. Mungkin kalo ditimbang berat kami mungkin juga beda tipis beratnya. Kalo nanti aku menindih Suli atau istrinya yang lain dan ia/mereka melihat wajahku, pastinya jadi histeris. Paham sampai sini, kan?

Ajo Mansur harus mulai dengan foreplay terlebih dahulu sebelum aku masuk dan meneruskan pekerjaannya. Ajo Mansur sudah melakukan foreplay bagiannya dan mungkin sudah membuat Suli orgasme minimal sekali lalu melakukan tag-team denganku.

Dengan cara ini, diharapkan istrinya bisa diperawani atau bahkan dihamili. Masih dengan anggapan kalo ajo Mansur-lah pelakunya. Karena para istri tak melihat—masih mengira suaminya-lah yang meneruskan, memasukkan penis ke kemaluan mereka dan ejakulasi mengisi rahim mereka.

Tanpa suara aku masuk ke kamar ini. Ajo Mansur baru aja bangkit dari depan kemaluan Suli yang dijilatinya. Perempuan muda, istri ketiga ajo Mansur itu masih bernafas terengah-engah menikmati orgasme kesekian kalinya oleh oral suaminya.

Dengan cepat tanpa perlu disuruh lagi aku menelanjangi diriku, hanya tinggal memakai sempak. Kulirik sebentar keadaan ajo Mansur yang juga telanjang sebagaimana aku dan Suli, ia berusaha merancap penisnya yang terkulai tak berdaya. Menggantung menyedihkan tak mampu ereksi. Aku ikut berduka, bro.

Biarkan aku yang meneruskan perjuanganmu, bro Mansur. Aseng junior sudah menegang melihat tampilan live Suli yang mengangkang telanjang di ranjang hotel. Pasrah untuk digagahi. Dibayangannya adalah suami tercintanya.

“Tahan yaa, dek… Agak sakit sedikit…” kata ajo Mansur yang berada tepat dibelakangku saat aku memposisikan diri di antara kedua kakinya yang mengangkang lebar hingga vagina berambut lumayan lebat tetapi dicukur pendek itu, merekah menunjukkan isi belahannya.

Kacang itil mungilnya, belahan labia minora dan lubang imut yang juga ikut merekah berkedut sisa orgasme, mengundangku untuk masuk. Ajo Mansur menepuk pelan bahuku, pertanda… Maju terus!

Pada ajo Mansur sudah kuajukan 3 pasal perjanjian yang kerap kulakukan. Kami telah berjabat tangan pertanda kami telah setuju akan ketiga pasal itu dan berjanji untuk menepatinya.

1. Hubungan. Aku dan ajo Mansur berjanji kalau di perjanjian ini tidak akan ada emosi yang terlibat. Ajo Mansur berjanji tidak akan emosi atau bahkan marah melihatku menyetubuhi ketiga istrinya di depan matanya. Aku juga tidak akan melakukan apapun yang berpotensi dapat membuatnya emosi. Ini hubungan saling tolong menolong yang dilakukan secara sadar dan dewasa.

2. Kepercayaan. Rahasia ini hanya kami berdua saja yang tahu. Bahkan ketiga istrinya-pun tidak akan tahu. Kami berdua juga tidak akan membicarakan masalah ini kepada pihak manapun, atas dasar apapun, atas alasan apapun juga. Kepercayaan ini adalah kunci utama yang mengikat kami berdua.

3. Masa depan. Apabila ada anak yang hadir di dalam perjanjian ini, anak tersebut adalah anak ajo Mansur secara utuh. Yang artinya semua tanggung jawab adalah di tangan beliau semata dan ia wajib memperlakukannya, membesarkannya dan menafkahinya sebaik-baiknya.

Aku merespon ajo Mansur yang sudah memberikan tanda maju terus dengan menempelkan kepala Aseng junior pada lubang perawan yang hanya berupa liang kecil nan imut sempit. Rasanya hangat, basah dan nyaman. Rasa nyaman itu karena aku tau ajo Mansur merestui semua kegilaan yang kami rancang bersama-sama ini.

Ia ada di belakangku. Aku tidak khawatir kalo tiba-tiba ia menyerangku dari belakang, bahkan membunuhku. Ini fungsi perjanjian 3 pasal yang kuajukan padanya. Ia orang bisnis yang kata-kata dan janjinya dipegang erat para relasinya. Ia membanggakan itu juga dan itu yang sedang kunikmati saat ini.

“ZYUUUURRRR…”

Antisipasiku dengan melompat mundur karena aku sudah berada di sebuah alam asing. Sebuah hutan lebat nan gelap. Hanya batang-batang kayu besar yang terlihat tumbuh tanpa daun yang menjulang tinggi di kegelapan sana. Setidaknya aku masih memakai celana dalamku hingga kalau bertarung, tidak terlalu memalukan karena telanjang bulat.

Bakiak Bulan Pencak sudah terpasang di kedua kakiku. Sebilah pedang daun dari tanaman hias hotel juga sudah ada di genggamanku. Aku mencari sang lawan yang sudah mengundangku masuk ke daerah kekuasaannya.

Tebakanku benar karena sang mantan sudah datang ke dukun ini. Terdengar geraman yang lirih lagi mendengkur. Sosoknya yang muncul dari kegelapan mulai membentuk siluet seorang pria yang tak sendirian. Ada yang menemaninya berupa mahluk berkaki empat dengan ekor panjang. Harimau besar.

Sosok tubuhnya semakin jelas dengan sedikit cahaya temaram di sekitar sini. Pria itu tidak terlalu tua, mungkin di akhir 40-an atau awal 50-an. Ia memakai ikat kepala hitam dan pakaian hitam-hitam juga. Sebuah sarung diikat dipinggangnya beserta sebuah golok terselip juga.

“Kenapa kau mengganggu pekerjaanku?… Pergilah dan jangan kembali…” cetusnya dalam bahasa Minang (yang sudah diterjemahkan). Ia mengacungkan golok pendek itu padaku dengan tendensi mengancam.

“Bapak sudah meneluh saudaraku… Itu tidak bisa kubiarkan… Bisa kita bicara baik-baik… Lepaskan teluh bapak… Dan aku akan pergi…” kataku memberinya pilihan. Tapi tak pernah pulak ada yang mau menerima opsi seperti ini. Udah kek kode etik di kalangan dukun golongan hitam ini untuk berkalang tanah daripada menarik kembali ilmu kirimannya.

“Bicara baik-baik itu kau tidak usah bawa pedang…” sanggahnya menyinggung pedang daunku.

Macam betol aja orang ini? Itu dia udah ngacung-ngacungin golok gak diitung? Bawa harimau segala lagi.

“Apa kau berani menghadapi datuk penguasa hutan Larangan ini? Inyiek Mandalo Sati…” cetusnya lagi dan mengelus kepala harimau besar yang tak henti menatapku dengan matanya yang berwarna iris kuning menakutkan. Ia mengklaim telah membawa entitas legendaris bernama Inyiek Mandalo Sati dalam bentuk harimaunya.

“Preet!” kataku meludah mengejeknya.

“Yang kopikirnya aku ini Menggala kaleng-kaleng? Inyiek Mandala Sati itu kobilang? Kucing garong kek gitu… Awas aja kalo kao ketauan Inyiek aslinya… Abis kao gak bersisa…” makiku dengan kebiasaan burukku lagi.

Ini selalu menjadi kelemahanku dan juga nilai plusku. Dengan ini kadang lawan menjadi emosi dan tak terkontrol. Malah sampe keluar bahasa Medan-ku dalam berkomunikasi dengan lawan.

“K-kau?” benar aja. Mukanya memerah padam karena termakan provokasiku. Sudah kenak kao, dunsanak. Tubuhnya menggigil marah. Giginya gemeletuk menahan amarahnya yang menggelegak.

“Kau berani merendahkan Inyiek Mandalo Sati ini…”

“Kao pikir aku gak pernah ketemu Inyiek Mandalo Sati yang asli? Mana mungkin dukun kacangan kek kao ini mampu menjadikannya bawahanmu… Kao bawak seribu orang kek kao itu… kakekmu, nenekmu, buyutmu, tetanggamu… Kao bawak semua!… Serbu hutan Larangan… MATI kelen semua dibantenya kek semut… Ini harimau kek gini kao bilang Inyiek Mandalo Sati… Ditipunya berarti kao tuh selama ini…” kutunjuk-tunjuk keduanya dengan pedang daunku. Keduanya semakin gelisah termakan emosi.

“Cuma setan biasa aja-nya dia ini paling-paling…” ini mulai mengadu domba keduanya.

Bisa menghemat tenaga kalo bisa keduanya malah yang gelut sendiri karena kata-kata manisku. Eh… Manis ya mulutku?

Si dukun mulai melirik-lirik pada si harimau yang menunduk bersiap melompat menyerang sewaktu-waktu. Menyerang siapa aja. Yang terdekat tentunya si bapak dukun itu.

“Inyiek Mandalo Sati itu harimau penguasa hutan Larangan… Ini jelas bukan hutan Larangan sarangnya… Dia gak akan pergi dari sana… Aku gak tau ini hutan apa? Hutan punya Perhutani ato apalah… Yang pasti ini bukan hutan Larangan… karena…”

Kalimat bualanku terpotong mengejutkan dengan keduanya bergelut beneran. Kedua mahluk itu berkelahi dengan sengitnya mempertahankan ego masing-masing. Ilmu silat pria itu cukup gesit khas silat Minang yang mengambil posisi rendah dan fokus di kaki sesuai dengan prinsip aliran harimau yang dianutnya.

Berhadapan langsung dengan harimau, ia mendapatkan lawan seimbang yang melompat dengan cakar besar dan kuat beserta gigi runcing ampuhnya. Dalam sekejab keduanya sudah mengalami sejumlah luka-luka. Si dukun dengan luka cakaran dan si harimau dengan luka sabetan golok.

Sebagai penonton, aku gak mau dong mati kontol, eh konyol sebagai colateral damage, bystander casualty. Agak melipir menjauh agar tidak terkena serangan nyasar karena pertarungan mereka cukup brutal. Keduanya sama-sama tau kelebihan dan kelemahan masing-masing.

Perkelahian Menggala dan mahluk Menggala-nya bukanlah hal baru di dunia kami ini. Ini biasanya terjadi karena kesalah pahaman, kecurangan, penipuan, sampai rekayasa. Perjanjian yang tidak ditepati juga bisa berujung pada pertarungan seperti ini.

Si dukun selama ini mungkin sudah sesumbar pada banyak pihak kalo ia sudah menguasai Inyiek Mandalo Sati yang legendaris di dunia supranatural tanah Minang dan barusan aku membongkar kecurangan mahluk yang sudah mengaku-ngaku sebagai entitas legendaris itu. Kalo-lah kelen berdua tau kebenarannya… Bisa terkencing-kencing orgasme kelen berdua.

Saling sabet dan cakar terus berlanjut, aku dianggurin kek ada dari tadi. Enak kalo ada popcorn sama soda, ya? Seru juga pertarungan keduanya. Yang satu udah kek pawang macan. Yang satu macan beneran. Teriakan dan auman pertarungan semakin membahana di tempat gelap ini.

Darah dari luka berceceran di tanah yang mengepulkan debu tebal. Bergulingan keduanya merapal beberapa ajian atau jurus andalan. Menyiapkan kuda-kuda baru sementara asa dan nafas semakin melemah seiring banyaknya luka pertarungan mempertahankan ego—yang dipantik oleh mulut manisku.

Aku bertepuk tangan antusias kala duanya saling desak bergulingan di bumi semu ini. Harimau menggigit leher sang dukun kuat-kuat sementara si dukun menikam-nikamkan goloknya ke leher dan kepala harimau. Entah darah siapa yang paling banyak mengalir membasahi tubuh keduanya.

Darahnya sudah terlihat sama karena bercampur baur menjadi satu. Keduanya berhimpitan lemas. Pun tak berhenti menyerang lemah. Gigitan harimau tak lagi bertenaga. Tikaman golok tak lagi mampu menembus kulit berbulu loreng harimau.

Harimau yang pertama kali tak bergerak karena banyaknya luka berdarah di bagian lehernya. Mata nanar si dukun beralih menatapku. Nafasnya juga sudah tersengal-sengal hampir mati juga. Aku mendekat karena sudah tidak ada bahaya lagi yang mampu lawanku ini berikan. Setidaknya aku bisa mendengar apa yang ingin ia sampaikan.

“Kau… anggota Ribak Sude?” tanyanya susah payah.

Aku hanya mengangguk membenarkan.

“Maaf…~~~” ia tak bergerak lagi. Perlahan, lingkunganku memudar. Pohon-pohon besar di sekitarku luruh menjadi transparan. Tanahnya juga memudar menghilang.

Kau terlambat menyadarinya, dunsanak. Bukan terlambat menyadari aku anggota Ribak Sude. Tapi terlambat menyadari kau telah diperdaya. Diperdaya entitas pembohong yang kau kira segalanya. Padahal dusta.

Kembali ke dunia nyata, Aseng junior-ku mencoba mendesak masuk ke liang sempit itu. Bibir Suli rapat menahankan rasa sesak yang dirasakannya menekan kemaluannya. Kemaluan perawannya yang sudah dipercayakan suaminya padaku. Aku menoleh pada ajo Mansur yang terus memperhatikan semua kejadian ini real time.

Ia tetap berusaha merancap penisnya. Ada sedikit perkembangan pada kondisi ereksinya. Penisnya tidak selembek tadi tapi belum cukup tegang untuk melakukan penetrasi. Aku balik muka fokus kembali ke tugasku.

“Cnut-cnut-cnut!” rasa enak menyelimuti Aseng junior-ku yang sedikit masuk menelusup ke dalam vagina perawan Suli.

Rasa sempit yang menggigit khas perawan ting-ting yang sudah lama tak kurasakan. Sensasi nikmatnya kembali menyerbu memoriku. Menembus selaput dara istriku kala itu. Rasanya ya seenak ini…

Dorong-dorong perlahan hingga semakin dalam Aseng junior menyeruak masuk. Menelusuri relung-relung tak tersentuh selama ini. Aku yang diberi kehormatan oleh ajo Mansur untuk menjamahnya pertama kali.

Suli mengerang-ngerang kesakitan dan perih tentunya. Perut ratanya mengetat begitu juga kakinya mengejang. Akibatnya Aseng junior malah jadi semakin terjepit di dalam liang sempit ini.

“Aaauuhh… Sakit, biii…” jerit manja Suli merasakan Aseng junior menyeruak masuk dalam dalam, merobek hymen, selaput dara yang sudah dijaganya selama ini dengan baik.

“Huushh… Sakit, yaa? Sabar ya, deek… Sebentar aja… Huussh…” ajo Mansur menenangkan istrinya yang menggeliat kesakitan masih dengan vagina tertancap Aseng junior-ku. Gimana nih caranya menenangkan istri orang? Agak sulit situasinya.

Aku agak segan-segan menyentuh Suli karena ajo Mansur mengelus-elus pahanya untuk mengurangi rasa perih dan pedih akibat robeknya selaput tipis yang rentan itu.

Entah apa yang sudah dikatakan ajo Mansur pada Suli hingga perempuan itu tidak tergerak untuk membuka penutup matanya. Membiarkannya tetap menutupi penglihatannya di situasi ini.

Aku menoleh untuk meminta pertimbangan pada ajo Mansur. Ia malah memberi kode memilin dengan kedua jari tangannya. Aku mengernyit karena otak dan nafsuku saat ini gak konek. Oo… dipilin. Pilin?

“Uuh… Mmm… mm… Abiii… Geliii, ih…” erang Suli mendapat pilinan jari jemariku pada dua puting mungil payudaranya yang berwarna kemerahan akibat terangsang berat. Aseng junior di dalam sana diremas-remas oleh cengkraman erat liang kawin Suli yang berusaha menyesuaikan diri dengan ukuran kemaluanku yang ukurannya tidak beda jauh dengan ukuran milik suaminya di kala sehat.

Kutambahkan juga sedikit remasan untuk rangsangan tambahan, merasakan kenyal dan lembut payudara mungil yang—selamat… anda bukan gadis lagi!

Cairan hangat mengalir di batang Aseng junior. Ada aliran tipis darah segar. Ini darah perawannya. Ajo Mansur menyadari hal itu dan menepuk bahuku pelan, yang kuanggap sebagai tanda apresiasi.

Apresiasi karena telah menjebol perawan istrinya? Itu gila, dunsanak! Lelaki mana yang sanggup melakukan ini? You’re the man! Apakah ia akan tetap begini di dua istri yang lain?

Ajo Mansur menekan pinggulku pertanda ia memintaku untuk memulai menggerakkan Aseng junior di dalam sana. Mengkaryakan kemaluanku di dalam liang kawin istrinya. Ini benar-benar gila. Belum pernah aku ada di dalam situasi ini.

Bahkan sang suami menuntunku mengawini istrinya sendiri. Ini pastinya sangat berat bagimu, jo. Aku akan melakukannya dengan sebaik mungkin. Demimu, jo Mansur.

Istri ketiga ajo Mansur ini meringis-ringis perih kala kugerakkan perlahan pinggulku maju mundur, memompakan perlahan Aseng junior di dalam liang yang baru saja kuperawani ini.

Tangannya Suli memegangi perut dengan sesekali mengepal takala kudorong Aseng junior ke dalam liang kawinnya. Kulakukan selembut dan sepelan mungkin karena pastinya masih terasa perih di dalam sana.

Dari cerita beberapa perempuan yang kukenal, prosesi buka perawan kebanyakan menyakitkan. Ada yang menggambarkan seperti mulut yang dipaksa dibuka lebar-lebar. Ada pula yang menggambarkan seperti tersayat dan lukanya perih. Pastinya rasanya sungguh pegal dan tertekan sekali saat ini.

Dengan elastisitas pinggulku, kulakukan gerakan maju mundur perlahan di bawah pengawasan ketat ajo Mansur. Kulakukan semua ini sebaik mungkin agar Suli merasa semakin nyaman dari waktu ke waktu.

Dari ekspresi wajahnya yang tak dapat kulihat maksimal karena tertutup penutup mata itu, dapat kunilai sudah mulai terbiasa dia keberadaan Aseng junior di dalam liang kawinnya. Ia sudah semakin rileks dan gesekan yang terjadi diantara kelamin kami sudah dilubrikasi cairan pelumasnya. Hangat sepanjang kusodok perlahan juga lentur tidak bisa terlalu dalam.

“U-uh… ahh… uuh.. ahh… Abiiihh… Uuh…ahh…” erangnya meracau meningkahi gerakan teraturku keluar masuk pendek-pendek.

“Lebih cepat ya, deek?” kata ajo Mansur di belakangku.

Ini sebenarnya komunikasi tiga arah karena ajo Mansur berbicara secara tidak langsung padaku yang seharusnya tidak boleh ada di sini. Ia menyuruhku untuk menambah kecepatan karena ia bisa menilai kalo Suli sudah mulai rileks dan terbiasa dengan tusukan-tusukan pendek yang kulakukan.

Kulakukan lebih dalam dengan dua tusukan pendek dan satu tusukan lebih dalam. Tubuh Suli sedikit melonjak, bereaksi akan satu tusukan lebih dalam itu.

“Biiihh… uh….ah…ah… Uuhh…” erangnya mengusap-usap perutnya dan sesekali mengusap permukaan vaginanya sendiri. Aku mendapat kesan kalo ia berkeinginan untuk menyentuh penis yang sedang menyetubuhinya, tapi masih malu-malu. Disamarkannya dengan mengusap kemaluannya sendiri, jembut pendek yang menghiasi permukaan pubis-nya.

“Uh… ah… ah…”

“Mau pegang, deek?” tawar ajo Mansur pada istrinya. Wah gawat nih… Ajo Mansur mendukung istrinya untuk memberanikan diri untuk melakukan hal yang seharusnya wajar saja dilakukan suami istri kala sedang bermesraan. Masalahnya, aku ini bukan suaminya. Hanya peran pengganti yang sangat beruntung di kesempatan ini.

“Coba sentuh dikiiit aja… Pelan-pelan aja…” kata ajo Mansur dengan nada mesra.

Aku tambah dag-dig-dug jadinya. Pastinya sentuhannya akan sangat nikmat di Aseng junior-ku. Bersalaman langsung aja kami belum pernah. Sekalinya bersentuhan, ia langsung menyentuh si otong.

“Hii… Geli…” kata Suli bergidik geli kala menyentuhkan satu ujung jari telunjuknya. Tubuhnya agak mengerut saat menjangkaukan tangannya pada persatuan dua kelamin kami. Ujung jarinya menyetrum tubuhku, lebih tepatnya kulit Aseng junior. Aku bergidik geli juga.

“Lengket basah gitu…” komentarnya pada pengamalan pertamanya menyentuh kelamin pria.

Apa ini memang yang pertama? Sebulan ini ajo Mansur dan ketiga istrinya ngapain aja? Apa dia belum pernah memperkenalkan Mansur junior-nya pada ketiga istrinya? Ajo Mansur masih berusaha merancap penisnya sendiri yang belum kunjung menegang. Tapi ada sedikit perkembangan. Sudah ada sedikit penambahan massa penis yang memperbesar volume kejantanannya.

Aku dan ajo Mansur bertipe sama. Mungkin karena bersaudara sepupu kali ya? Kala mode tidur, penis kami hanya sepanjang paling ada 5-an centimeter. Mencuat lucu kalau tidak ada rangsangan diantara rimbunan rambut kemaluan. Kalo ditarik (karena elastisitasnya) akan memanjang ke ukuran maksimalnya. Kalo dalam mode tempur, seperti yang sedang dipakai menggasak vagina Suli saat ini, panjangnya bisa mencapai maksimal 15-16 centimeter.

Penis ajo Mansur sudah memanjang ke ukurannya tetapi lunglai tak berdaya tak mampu tegak. Kalo digunakan untuk penetrasi pastinya akan menekuk terpatah tak sanggup menembus, menusuk masuk. Mungkin setelah jalan perawan istrinya telah terbuka ini, ia akan bisa mencobanya lagi. Tapi masih sangat sempit tentunya. Aku akan terus membantumu, bro.

Ajo Mansur mengarahkanku untuk memegangi pinggul istrinya. Ini tandanya aku bisa gaspol menggasak Suli mengingat rasa enak yang menggelegak di peler dan sekujur batang Aseng junior.

“Enak, deek?” tanya ajo Mansur begitu kupegangi pinggul lebar yang semoga subur ini. Gerakan menusukku memompa lebih cepat sekarang. Dalam-dalam.

“Aahh… Ahh… Auhh…” hanya itu jawaban yang bisa keluar dari mulut mungil berbibir tipisnya.

Ia menggenggam tanganku yang memegangi pinggulnya agak lebih terlibat dalam persetubuhan ini. Persetubuhan yang telah merobek keperawanannya beberapa saat yang lalu saja.

“Abiiih… Bihhh… Enaak, biih… Uhh… mmsshh…” tak dinyana, tubuhnya bergetar pelan.

Orgasmenya tidak menghentak-hentak. Hanya saja terasa tubuhnya bergetar-getar beberapa kali. Yang paling mendapat efeknya adalah tentu saja Aseng junior. Diremas-remas kuat di dalam liang sempit ini. Aku gak kuat dan…

“Crooot! Croott! Crroott!” semburan spermaku tak mampu kubendung lagi.

Rasanya sangat enak. Entah karena sensasi aneh yang kurasakan saat menyetubuhi binik orang yang orangnya sendiri hadir dan mengarahkanku. Atau memang karena semata sempitnya liang kawin perempuan muda berumur dua puluh dua tahun ini.

Yang jelasnya spermaku beserta bibit-bibitnya membanjiri rahim Suli saat ini. Aku tak boleh mengekspresikan enak nikmat yang kurasakan saat ini dalam bentuk suara.

Lekas kucabut Aseng junior dari sana dan tag-team dengan ajo Mansur yang segera menggantikan posisiku. Sepupu tertuaku itu memposisikan dirinya sama persis sepertiku tadi, berada di antara bukaan kaki istrinya yang mengangkang, baru saja orgasme dan juga menerima curahan spermaku.

Tanpa ragu ia menempelkan penisnya yang lunglai ke bukaan vagina istri ketiganya itu, ke bekas lumeran sperma kentalku. Dicoba ditusuk-tusukkannya penisnya ke dalam sana tapi apa daya, seperti perkiraanku tadi hanya terpatah, ter… apa ya namanya yang cocok? Pokoknya gak bisa masuk-lah. Sedih juga ngeliatnya. Sepupuku itu bahkan gak bisa menggauli istrinya.

Karena dilihatnya aku sedang memperhatikannya bermain-main dengan vagina istrinya yang becek oleh spermaku, ia memberiku kode untuk cepat-cepat ngumpet. Ngumpet? Ya… Ngumpet.

Aku segera menggerakkan tubuhku ke bawah ranjang hotel. Aku bersembunyi di bawah ranjang hotel masih dengan Aseng junior yang setengah tegang abis ngecrot barusan. Masih berlepotan sisa sperma di sepanjang batangnya.

Masih terasa enak di bagian kepalanya. Tapi itu tak kuperdulikan. Masih terbayang-bayang di ingatanku ajo Mansur yang berusaha memasukkan kemaluannya ke vagina istrinya. Ia gagal.

Ia menggunakan licinnya jalan kawin istrinya yang berlumuran spermaku. Bahkan memanfaatkan kondisi itupun ia masih juga gagal dengan kondisi penis lembek tak bertenaga. Pastinya nafsunya sudah di ubun-ubun. Ia sudah onani dari sejak mula dan tak kunjung ejakulasi juga. Apa yang sedang dirasakannya saat ini.

So pasti kentang abis-abisan. Aku hanya bisa mendengarkan pembicaraan mereka dari bawah sini. Sementara sepasang suami istri itu sedang bercengkrama di atasku.

“Gimana, dek? Masih sakit gak?”

“Abiii… Masiih, nih… Masih perih-perih… Tuh, kan… Ada darahnya…”

“Itu tandanya adek masih perawan… Abi bersukur adek bisa menjaganya sampai sekarang… Gak seperti cewek-cewek lain zaman sekarang itu…”

“Abii… Adek kan cuma sekedar pacaran aja… Paling cuma pegang tangan aja udah gemetaran nih badan…”

“Bagus, deh…”

Mendengar perbincangan mereka secara rahasia bak maling begini tentu aja membuatku kheki setengah mampos. Membayangkan ajo Mansur sedang bercengkrama dengan istri termudanya, memilin-milin puting mungilnya, menciumi bibirnya, atau menggesekkan jari di vaginanya.

Menggambarkan itu di pelupuk mataku, membuat nafsuku kembali terpantik kembali hingga Aseng junior terbit lagi staminanya.

“Akhirnya ya, bii… Abi sudah sehat dan bisa melakukan malam pertama kita yang sudah lama tertunda… Abi apa make obat-obatan itu? Produk yang mana?”

“Ada deh pokoknya… Adek pokoknya terima enak aja… Mau lagi, gak?”

“Mau dong, bii… Adek persembahkan semuanya untuk abi seorang…”

“Pake lagi ya penutup matanya…”

“Kok mesti pake penutup mata sih, bii… Kita kan sudah halal? Adek gak keberatan, kok?”

“Takut abi…. nanti adek kaget liat kalapiah abi… Serem tau…”

“Adek gak takut, kok… Tadi kan udah nyentuh… Mana coba?”

“Gak usah, deek… Percaya deh sama abi… Tutup yaa…”

Tak lama terlihat kaki ajo Mansur mencecah lantai dan jarinya memberi kode untuk ronde kedua. Ajo Mansur percaya kalo aku bisa melanjutkan sampai ke ronde dua ini. Ini juga untuk meningkatkan pamornya di mata istri ketiganya ini.

Bahwa sebenarnya, suaminya ini adalah pria jantan yang bisa memuaskan istrinya. Mungkin nantinya Suli akan bercerita pada saudari-saudarinya; sesama istri ajo Mansur.

Beringsut keluar aku dari bawah ranjang dengan Aseng junior yang sudah dipastikan ngaceng keras. Ajo menatap nanar pada senjata benda tumpulku itu. Semoga kau tetap pada pendirianmu, jo. Kau yang menginginkan ini semua. Kau yang mendesakku. Jangan berubah pikiran di saat genting begini. Dengan gerakan kecil kepalanya, dia mengarahkanku untuk menyetubuhi istrinya untuk kedua kalinya malam ini.

Masih dengan posisi konvensional. Gaya missionary, man on top. Kuhampiri belahan kaki Suli yang dengan luwes membuka lebar. Merasakan keberadaanku yang dikiranya suaminya. Ajo Mansur tetap di belakangku, berdiri di luar ranjang, memberi arahan bak seorang sutradara bokep mengarahkan para bintangnya.

Kupandangi lagi tubuh polos Suli yang langsing dan mulus. Hanya ada empat titik noda di tubuhnya, dua di puncak sepasang payudaranya, satu di perut sebagai pusar dan satu tumpukan besar jembut pendek.

Kuarahkan Aseng junior ke belahan vaginanya yang sudah kuperawani beberapa saat lalu. Ia menjengit bereaksi begitu kepala Aseng junior menyumpal kembali liang kawinnya. Sisa spermaku membantu Aseng junior tergelincir masuk walau sempit.

Kembali kuperagakan gerakan lembut mengayun-ayun fleksibel agar Suli merasa lebih nyaman di ronde kali keduanya merasakan persetubuhan. Persetubuhan yang dikiranya dengan suami tercinta.

“Miring ke samping ya, deek…” ajo mengusulkan posisi baru. Suli yang masih hijau soal seks tentu saja tidak paham apa yang dimaksud suaminya. Ajo menepuk bahuku agar mengarahkan tubuh Suli sesuai permintaannya.

“Gini, deek…” katanya lagi lembut selagi tanpa melepas pertemuan kedua kelamin kami, kuarahkan kaki kanannya melintang hingga miring berbaring ke kiri. Di posisi ini baru terlihat jelas seberapa lebar pinggulnya hingga berbentuk bagus bagai biola. Biola karena ia bertubuh mungil dengan pinggul cukup lebar.

“Aahh… biii… Ini enak, biii… Lebih enaaak… lebih enak dari yang tadi… uuhh… Auhh…” racaunya memuji-muji pilihan posisi suaminya.

Aku berpegangan pada puncak pinggulnya dan tangan Suli meraih punggung tanganku. Terasa tangannya yang halus lagi hangat. Ia meremas-remas tanganku selagi Aseng junior terus mencoblos vaginanya.

Posisi ini memang sangatlah enak. Ini salah satu posisi favoritku karena ini memang andalan dari ajo Mansur yang kupelajari darinya. Ia kerap menggunakan posisi ini kala ingin cepat-cepat ejakulasi saat kami bertualang lendir dulu.

Merasakan yang sangat nikmat dari saling bergesekan kelamin begini, aku mempercepat sodokanku. Ajo Mansur pastinya tidak keberatan kalo aku cepat-cepat ngecrot lagi di liang kawin istrinya ini. Kugasak terus Suli dengan sodokan cepat, mengejar rasa enak terasa menggantung di ufuk kesadaranku.Suli terus mengerang-ngerang karena ini memang sangat nikmat di kedua pihak yang bersetubuh.

“Aahh… ahh… biii… A-biihh… Abiiihh… Uuhh…” tak dinyana ternyata Suli kembali mendapat orgasmenya dengan tubuh yang bergetar-getar pelan. Aseng junior terasa diperas di dalam liang kawinnya. Sungguh hebat istri ketiga ajo Mansur ini, ia bisa menikmati seks pertamanya ini dengan mendapatkan orgasme di tiap rondenya.

“Oohh… oohh… Abii…” erangnya merasakan lonjakan setruman listrik melanda tubuhnya.

Tangan ajo Mansur maju melewati bahuku memberi kode arahan baru dengan memutar tangannya.

“Putar lagi ya, deek…” Putar? Mau di-doggy si Suli ini? Apa dia mau, ya?

“Haa? Apa diputar, biii?” tanya Suli tak paham apa maksud suaminya.

Aku menurut pada ajo Mansur dan mengarahkan pinggulnya untuk berputar lebih ke kiri ia menelungkup. “Ngapain ini, bii?” tentu saja Suli bingung mau diapakan dirinya diarahkan menelungkup.

Aku bisa melihat semua bagian belakaang tubuhnya. Punggung mulusnya, Lekuk pinggulnya yang lebar dengan pinggang langsing. Rambut hitam legam panjangnya. Kulit putih tak bernodanya.

“Tenang aja, dek… Enak kok…” kata ajo Mansur percaya diri aja.

Padahal aku cukup khawatir takutnya perempuan ini menolak posisi yang lumayan tidak lazim bagi beberapa kalangan. Ada yang bilang posisi bersetubuh ini hanya dilakukan para (maaf) hewan. Ajo Mansur menepuk bahuku mengarahkanku untuk ‘go!’.

“Sebentar ya, deek…” Aku masih kurang yakin dan menoleh padanya, lebih pada untuk meyakinkan diri saja kalo dia yang bertanggung jawab akan semuanya. Ajo Mansur mengangguk dalam dengan yakin.

Segera kutempelkan Aseng junior setelah menekuk pantat Suli yang lembut agar lebih mencuat tepat sejajar denganku.

“Ehh… Apa ini, bii?” kaget Suli.

Walau dengan penutup mata yang menghalangi pandangannya, ia berusaha menoleh pada suaminya yang ada di belakangnya.

“Tenang aja, deek… Nikmati aja dulu… Abi jamin ini lebih enak,,,” kata ajo Mansur mencegah istrinya untuk menoleh ke belakang lagi apalagi membuka penutup matanya.

Perutku mendadak mulas ketika Suli protes tadi. Aseng junior yang sudah menempel di sasarannya masih urung kudorong masuk jadi masuk tercelup tak sengaja karena pergerakan pantatnya. Walo sekadar tercelup bagian kepalanya, akibat becek sisa spermaku juga, rasanya sudah lumayan enak karena liang kawinnya masih sangat sempit.

“Aahh…” erang Suli karena dengan nakalnya ajo Mansur mendorong pantatku hingga Aseng junior terbenam masuk dengan sempurna dan perutku berlaga bersentuhan dengan sepasang buah pantat Suli yang empuk juga lembut. Aku juga hampir mengerang karena rasa nikmat yang tiba-tiba menderaku.

Cepat-cepat aku berpegangan pada pinggulnya yang lebar dan secara otomatis mulai memompa. Ahh… Enak sekali binik orang ini. Tadi sudah hampir ngecrot dan tertunda karena orgasme Suli dan ganti posisi ini.

Aku hanya bisa menikmatinya. Menikmati rasa nikmat yang menyelimuti batang Aseng junior-ku. Juga visual dari benturan yang terjadi antara perutku dan pantatnya yang bergetar tiap bertumbukan. Ter… ter… ter… Bergetar tiap bertumbukan. Indah sekali.

“Enak juga, bii… Lebih enak dari yaanngghh tadiii… Uumm…” erang Suli ternyata juga menyukai posisi anjing kawin ini. Baguslah ia tidak protes lebih jauh dan ikut menikmatinya. Kurasakan ajo Mansur menepuk punggungku lagi sebagai tanda ‘benarkan?’

“Uuhh… Uhh… Lebih cepat, biii?” pinta Suli sudah sangat menikmati status barunya sebagai seorang wanita sesungguhnya yang sudah menikmati seks secara aktif.

Selagi memegang pinggulnya, kuremas-remas juga pantat lembutnya. Ikut menikmati dirinya yang mulai ikut aktif dan menggerak-gerakkan pinggulnya meliuk-liuk. Sodokanku juga menjadi liar karena harus aktif mengikuti tiap arah liukan mautnya.

Kadang berputar-putar, kadang hanya condong ke satu arah. Ke kiri, sodokan Aseng junior tentunya menggasak, menggesek lebih banyak ke kiri. Begitu pula sebaliknya.

Ajo Mansur berdecak-decak kagum akan kepintaran istrinya ini, berkali-kali ia memujinya langsung yang kuwujudkan dengan menyodokkan Aseng junior kuat dan dalam hingga ia melenguh kencang.

“Auuhh… Biii… Enaakk, biii… Uuhh… Aahhnn… Lagiihh, bii…”

Suaminya yang terus menyemangati kami berdua terus berusaha merancap penisnya yang tak kunjung bertambah ereksinya. Hanya tegang tanggung lembek tak berdaya yang terus menerus dikocoknya walau sudah sedemikian rangsangan yang diterimanya dari dua ronde yang sedang berlangsung ini.

Kasihannya tidak ada pertambahan perkembangan di kondisinya ini. Walopun begitu yel-yel penyemangatnya mampu membuat Suli bertambah semangat menikmati ini semua.

Suli menyambut tiap sodokanku dengan menekankan pantatnya mundur hingga tumbukan tubuh kami semakin menghentak dan hasilnya Aseng junior tertanam lebih dalam. Rasanya jadi nikmat. Sungguh Suli sangat alami meresapi insting prokreasinya dalam berkembang biak. Ia dengan mudah beradaptasi akan apapun. Semoga nanti saat kau sudah sembuh nanti, kalian akan bahagia selamanya, jo.

Aku menunjuk-nunjuk ke Aseng junior pada ajo Mansur.

“Deek… Udah mau keluar lagi, deeek… Ohh… oohh…” tanggap ajo Mansur akan kodeku karena ini sudah lumayan lama dari ronde ini dimulai.

Geli-geli enak yang menggelegak di pelerku, menunggu untuk disemburkan. Tak kurang kencang juga ajo Mansur merancap penisnya mengikuti semakin cepatnya sodokan dalam-dalamku.

“Akh!” kusamarkan suara mengerangku dengan menggigit tangan sendiri karena rasanya sangat enak sekali.

Enak banget! “Croot! Croott! Croottt!” berkedut-kedut Aseng junior menggelontorkan muatan cairan kental putihnya ke dalam liang kawin Suli untuk kedua kalinya malam ini.

Tak disangka lagi, Suli juga menyambut semprotan spermaku dengan orgasme juga. Tubuhnya bergetar-getar pelan juga. Rahimnya pasti lebih membuka lebar pintu akses masuknya, menyambut semua setoran spermaku.

“Ah… ahh… ahh-bii… Eh-naahkk, biii…” erangnya juga masih bergetar-getar pelan kek HP menerima panggilan telepon.

Suaranya merdu kek ringtone poliphonik, menyuarakan kepuasannya. Enggan kulepas Aseng junior sebenarnya, tapi aku harus tag-team dengan ajo Mansur sekarang. Aseng junior lepas dari sarang barunya meninggalkan jejak kental putih berbuih, aku turun dari ranjang dan digantikan ajo Mansur. Ia buru-buru mencoba menempelkan penis lunglainya di vagina berlumuran sperma istrinya.

Dengan bantuan jari, kulihat ajo Mansur melebarkan belahan kemaluan istrinya hingga kepala penisnya berhasil masuk menembus lubang sempit itu. Sedih aku melihat penis lembek itu dijojoskanya ke dalam liang kawin istrinya yang berselemak spermaku.

Meleyot peyot bengkok tak berdaya walau sedemikian becek liang itu adanya. Berlipat-lipat batang penisnya walau bagian kepalanya sudah terselip sempurna di dalam sana.

Ia terus berusaha menyodok-nyodok bokong istrinya sembari meremas-remas pinggulnya gemas. Aku sempat melihat gurat sedih di matanya yang pinggirannya mulai keriput.

Ajo Mansur memberiku kode kalo aku sudah boleh pergi dari kamar ini dengan cara ia menidurkan Suli yang masih dipepetnya rapat. Di posisi itu Suli tidak akan bisa melihat siapapun di belakangnya walo penutup matanya telah dibuka.

Kupakai kembali pakaianku sampai lengkap, gak ada yang ketinggalan dan langsung keluar dari sana sesenyap mungkin tanpa suara. Aku tidak masuk ke kamar sendiri, dimana anak dan istriku sedang tidur. Melainkan kembali ke Coffee Shop di lantai bawah lagi. Cuci keris di toilet Coffee Shop, ngaso sekitar setengah jam, ajo Mansur menyusulku dan duduk lagi mesan kopi.

“Jo… Aseng minta maaf ya, jo…” kataku begitu pelayannya pergi.

“Aku gak nyangka kalo masalahnya segitu berat…” aku berusaha salim padanya, mencium tangannya, menunjukkan betapa aku ikut bersedih untuknya. Juga kalo aku sudah melakukan salah padanya atas perlakuanku pada istrinya, walopun ia yang minta itu semua.

“Kau salah apa? Kok pake minta maaf segala?” katanya berusaha se-cool mungkin. Laki-laki mana sih yang bisa tetap cool setelah melihat istrinya disetubuhi laki-laki lain?

“Udah gak usah kek gitu, Seng… Kan ajo yang minta kau melakukan ini semua… Udah… tenang aja… Ajo gak akan nyalahin Aseng, kok…” katanya duduk dengan nyaman di sofa Coffee Shop.

“Aseng liat semua, jo… Kalapiah ajo gak mau berdiri gitu… Aku sedih ngeliatnya, jo…” kataku.

“Padahal dulu kita waktu sama-sama sehat… gak ada masalah kek gini… Aku gak sampe hati liatnya, jo…” kataku.

“Nasib ajo-mu ini, Seng… Pokoknya Suli udah diperawani… Tinggal Ratih dan Mila… Kau masih siap, kan?” kata ajo Mansur berusaha woles dengan semua masalah peliknya.

“Malam ini semua, jo?” kagetku. Ini gak sesuai perjanjian kami.

“Ya enggaklah… Besok-besok aja… Ajo yakin kau masih sanggup… tapi ajo-mu ini yang gak sanggup…” jelasnya bersandar senyaman mungkin di sandaran sofa.

“Aseng penasaran nih, jo? Mulai kapan ajo gak berdiri gitu lagi? Tepat setelah menikah atau sebelum-sebelumnya?” tanyaku. Ini bisa jadi titik awal penyembuhannya juga.

“Kurang tau pasti juga, Seng… Sekitar 2 bulan sebelum menikah… ajo masih bisa tegak kok waktu make cewek di Kalimantan… Abis itu… trus… gak pernah make lagi karna sibuk kerja dan langsung ada kesempatan dengan 3 istriku ini… Malam pertama… ajo kaget sekali gak bisa tegak lagi… Padahal itu Ratih udah ajo rayu abis-abisan supaya mau buka semua pakaiannya… Stres sekali ajo malam itu… Awalnya kirain karna capek ato apa… Besoknya masih gitu juga waktu bareng Mila… Besoknya gitu juga sama Suli… Apa ajo benar-benar disantet orang ya, Seng?” panjang lebar malah ia mengambil kesimpulan ini.

“Iya… ajo disantet orang…” jawabku.

“Kok kau tau?” tanyanya dengan kening berkerut.

Aku hanya menatapnya dengan diam mencoba meyakinkannya kalo aku tau aja tanpa berusaha menjelaskan caranya. Cara bagaimana aku bisa tau.

“OK… Kau gak mau memberitau bagaimana kau tau kalau ajo disantet orang… Kenapa dukun-dukun yang sudah ajo datangi gak bisa menyembuhkan ajo? Mereka yang sudah ajo datangi ini bukan sembarang dukun… Dukun paling terkenal dan paling mahal tarifnya di Indonesia ini…”

“Buktinya ajo belom bisa ngaceng, kan?” sergahku.

Ia menarik kepalanya sebagai bentuk defensif dari awalnya semua tubuhnya condong ke arahku. Paling terkenal ato paling mahal belum tentu ampuh. Itu hanya trik marketing, apalagi kalo sang dukun sampe iklan di media dan muncul dimana-mana. Bahkan ada yang nongol di TV dengan embel-embel mutakhir para-psikologi.

“Trus…” ia mulai ngeh nih.

“… artinya yang telah menyantet ajo ini sangat sakti… sampe semua dukun-dukun hebat dan mahal itu gak sanggup… Gitu?” simpulnya.

“Bukan, jo… Bukan begitu… Mereka salah mengobati… Yang disantet itu bukan ajo langsung… melainkan ketiga istri ajo Mansur… Suli… Ratih dan Mila… Mereka bertiga sudah kena santet… Tapi tidak berdampak langsung pada mereka melainkan pada suami mereka… Ajo Mansur… Ini santet yang simpel tapi menjengkelkan… Tapi… ada tapinya… Dilakukan oleh tiga subjek yang berbeda-beda… Suli oleh dukun yang disuruh mantannya itu… Sedang pada Ratih dan Mila belum tau siapa… Kebetulan yang aneh karena jenis santet yang mereka kirimkan itu sejenis… membuat suami korban tidak bisa ngaceng kalapiah-nya… Ada kemungkinan sumber ilmu santet ini berguru pada satu guru yang sama… hingga santet ini saling melengkapi menjadi berlapis-lapis…” panjang lebar kujelaskan pada ajo Mansur.

Terheran-heran ajo Mansur mendengar penjelasanku karena selama ini ia tidak pernah tau aku bisa mengetahui hal-hal beginian. Ia hanya mengenalku sebagai seorang Aseng yang begitu-begitu aja.

“Yakin, Seng?”

“Tadi udah bisa agak naik dikit, kan?” tanyaku tentang keadaan penisnya yang sedikit ada perkembangan.

“Eh… Iya-iya… Udah agak berisi dikit… Sebelum-sebelumnya gak pernah kek gitu… Sudah kau obati?” ia sudah teringat tentang kejadian barusan. Aku hanya mengangguk pelan. Gak mau nyombong.

“Aseng mau nanya ini, jo… Itu juga gak nembak-nembak, ya? Gak pernah keluar gitu?” kataku gantian condong padanya dengan suara pelan agar ia tidak tersinggung ato apalah.

Ia terdiam untuk beberapa saat lalu mengangguk dalam dengan kesal. Ini sangat kurang ajar. Kurang ajar sekali. Aku sudah menyaksikan satu penyebab ini semua meregang nyawa, jo. Aku sudah membalaskan sakit hatimu.

“Jadi gimana terusnya, jo? Lanjut?”

“Lanjut!” jawabnya cepat tanpa pikir panjang.

***

Keesokan harinya, sekitar jam 10 pagi kami sudah check out dari hotel dan beranjak ke tujuan berikutnya. Danau Maninjau. Jaraknya sekitar 36 kilometer dari kota Bukit Tinggi dimana kami saat ini. Danau itu terletak di tengah-tengah Kabupaten Agam.

Untuk mencapainya harus melewati atau menuruni tikungan fenomenal yang berjumlah 44 sehingga dinamakan sebagai Kelok Ampek Puluah Ampek atau Kelok 44. Serius ada 44 kelokan sampe ada penanda yang menunjukkan ini kelokaan keberapa. Kalo dari Bukit Tinggi, rute menuruni kelokan adalah yang kami hadapi.

Menikmati keindahan danau Maninjau ini dari jauh, spot terbaiknya ada di kelokan 23 sampai 30 ditandai dengan banyaknya penginapan dan hotel di sepanjang kelokan ini. Berhenti di salah satu spot untuk menikmati pemandangan danau yang seluas itu membentang indah, bergabung dengan pengunjung lain.

Kami di sana selama satu jam dan lanjut berkendara lagi. Ajo Mansur mengarahkan kami pada sebuah penginapan berkonsep bungalow yang ada di tepian danau. Tempatnya bagus, nyaman dan juga bersih. Satu bangunan ada yang memiliki dua dan tiga kamar yang cukup etnik sekaligus elegan untuk menarik turis manca negara yang merupakan pengunjung mayoritas.

Aktifitas kami di sini gak jauh beda-beda dengan kemarin di waktu di Bukit Tinggi sebelumnya. Banyak foto-foto, shopping-shopping pernik khas sini, jalan sana jalan sini. Biasa-lah kalo di tempat wisata di dekat air. Aku dan keluargaku lebih banyak main-main di pinggiran danau yang airnya dangkal.

Ibuku dan besannya hanya duduk-duduk ngobrol di cafe penginapan. Aku tidak tau kemana ajo Mansur dan ketiga istrinya berada. Begitu juga dengan sepasang pengantin baru itu. Rio, anakku bermain sepuas-puasnya di air danau yang cukup jernih dan bersih.

Beberapa turis bule lainnya juga berenang pake bikini sesukanya. Ada juga yang main kano. Cuci mata, lumayanlah.

Menjelang sore kami ngumpul di sudut cafe tidak bercampur dengan turis bule yang sepertinya sedang merayakan sesuatu dengan berisik. Pastinya akan ada beberapa botol miras yang beredar. Ternyata adikku dan suaminya jalan-jalan ke bukit di belakang penginapan karena mereka mendengar ada air terjun di sana yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki saja.

Ia menunjukkan foto-fotonya. Tempatnya bagus sekali. Besok nyobain juga ke sana juga-ah. Ajo Mansur juga jalan-jalan, hanya saja cukup di pinggiran menelusuri tepian pantai. Berjalan bersama, menggiring ketiga istrinya agar lebih akrab, lebih mesra. Pastinya mereka foto-foto lagi mengabadikan keindahan sepanjang pinggiran danau yang berpanorama indah.

Selesai makan malam para perempuan sudah balik ke kamar masing-masing. Hanya tinggal aku berdua bersama ajo Mansur yang masih bertahan di cafe penginapan, ngobrol-ngobrol ringan.

“Tadi sepertinya Suli sudah cerita ke saudara-saudaranya yang lain… kalo tadi malam dia sudah…” cetus ajo Mansur tentang prosesi belah duren Suli yang sudah sukses terlaksana malam kemarin. Aku menangkap kembali nada getir itu.

“Jadi malam ini… yang mana, jo?” tanyaku sambil mengaduk-aduk es teh manis milikku.

“Kalo bisa dua-duanya ya, Seng? Dua-duanya minta tuh…” kata ajo Mansur mencoba memalsukan keceriaannya.

Bagaimana mungkin seorang pria bisa ceria di situasi seperti ini? Di saat kau tak mampu melaksanakan tugas yang biasanya sanggup dilakukannya, harus didelegasikan pada orang lain yang anggaplah sudah dipercayanya. Kalo cuma urusan dinas kantor sih fine-fine aja, tapi ini urusan ranjang, loh.

“Dua-duanya minta? Gimana ceritanya?” tanyaku antusias.

Ajo Mansur lalu menceritakan tentang saat jalan-jalan menelusuri pantai danau siang sampai sore tadi. Ada kalanya ketiga istrinya hanya mereka saja yang bercengkrama. Ia bersyukur kalo mereka adalah sepupu yang sudah sangat saling mengenal hingga ia tidak kerepotan menyatukan ketiganya.

Lain kasusnya kalo mereka sama sekali asing satu sama lain. Itu akan menjadi permasalahan tersendiri dan kerapnya bermasalah. Dari saling ngobrol itu, ajo Mansur menangkap kalo Suli sudah cerita kalo sang suami tadi malam sudah berhasil memperawani dirinya.

Itu artinya suami mereka bertiga sudah sembuh dari apapun yang dideritanya. Wajah ketiganya berseri-seri sekali setelah membicarakan itu. Terutama Ratih dan Mila yang pastinya mendambakan giliran mereka selanjutnya.

Itu menjelaskan aura bahagia yang kulihat dari ketiga istri ajo Mansur sepanjang acara makan malam tadi. Mereka menjadi riang dan rajin berbicara. Berbeda saat masih di Bukit Tinggi kemarin. Ratih dan Mila lebih ekspresif ngobrol dengan kami semua.

Bercerita tentang keindahan yang sudah mereka nikmati sepanjang hari ini. Keduanya bergantian bercerita sedikit tentang pengalaman mereka saat mondok di pesantren tempat mereka menimba ilmu sejak SMP itu.

Selvi sempat nanya jenis pesantren yang ditinggali Ratih karena dikiranya pesantren itu sama kek pesantren kilat saat liburan Ramadhan saat sekolah dulu. Ratih menjelaskan kalo di pesantrennya hanya ada santriwati saja, kerennya Ukhti saja.

Sepanjang mata memandang hanya ada perempuan saja termasuk para Ustadzah pengajarnya. Hanya ada 3 laki-laki di pesantren di pelosok negeri Pagaruyung itu, itupun sang Buya pemilik pesantren dan dua ustadz senior yang sudah seumuran dengan sang Buya.

Kadang ada beberapa tukang yang memperbaiki kerusakan-kerusakan yang tidak bisa dilakukan penghuni pesantren dan itupun sangat jarang. Selvi terheran-heran gak bisa ngebayanginnya.

‘Berarti gak ada yang pacaran di sana, ya?’ simpul Selvi.

Itu pertama kalinya aku melihat Ratih tertawa walo tidak ngakak dan keras. Hanya terkikik geli saja mendengar pernyataan itu. Matanya terlihat menyipit kala itu dibalik cadar niqob-nya. Lah ini nyamain dunianya sendiri. Pacaran itu termasuk dosa, yak?

Mila juga urun cerita tentang pesantrennya yang tidak begitu mirip persis dengan pesantren Ratih tadi. Di pesantrennya ada santri pria juga tetapi tidak bercampur dengan santriwati. Selalu ada pembatas antara kedua gender ini dalam kesehariannya. Dari ibadah, belajar dan kehidupan sosialnya.

Kalo mau cuci mata ya harus pandai-pandai curi pandang mencari kesempatan. Karena ia cerita ada saja yang ketauan pacaran di luar pesantren dengan berbagai macam trik dan taktiknya. Ini artinya pesantren dimana Mila menimba ilmu lebih moderat tetapi tetap menjaga norma-norma relijinya.

Dibanding Ratih tadi, Mila ini lebih ekspresif karena lokasi pesantrennya ada di kota hingga lebih dekat modernnya kehidupan penghuninya yang berasal dari banyak kalangan juga. Pastinya tempat itu tidak seketat pesantren tempat Ratih.

Apalagi para pengajarnya juga banyak ustadz-ustadz muda lulusan luar negeri yang pastinya jadi idola para ukhti ini. Setidaknya jadi bahan khayalan mereka sebelum tidur dan bahan gosip juga.

“Ajo ada pernah nanya-nanya gak… apa pernah ada orang yang tidak senang sama mereka? Ato yang malah cinta tapi ditolak… Semacam-macam itulah… Karena ini selalunya dilakukan oleh orang yang sakit hati karena masalah begini ini…” tanyaku tentang potensi santet lainnya.

Ini tidak wajib aku ketahui sih sebenarnya tapi kalo ada sedikit gambaran siapa pelakunya akan sedikit membantu agar tidak terlalu buta saat menghadapi lawan nanti.

“Kalo ajo rasa… untuk Ratih tidak dari kalangan pesantrennya pelaku santet ini… Mungkin dari keluarganya sendiri… Ratih itu anak perempuan paling tua di keluarganya yang akan mewarisi semua harta warisan adat ibunya… Ibunya pemangku adat di suku… Bisa dipastikan nantinya itu akan jatuh pada Ratih nantinya…” jelas ajo Mansur.

Mm… Gimana ya ngejelasinnya ya? Hukum agama dan hukum adat Minangkabau agak bertolak belakang di hukum waris ini. Di hukum Islam tentunya yang mendapat hak waris paling besar tentu saja anak laki-laki, sejumlah 2/3 dari seluruh harta orang tuanya.

Sedang anak perempuan hanya 1/3 saja. Tetapi di hukum adat Minangkabau secara keseluruhan, anak perempuan mendapat porsi terbesar. Anak lelaki bahkan bisa gak dapat apa-apa sehingga lelaki Minangkabau banyak yang merantau untuk mencari peruntungan di tempat lain.

Tetapi ini untuk harta yang berupa harta adat yang turun menurun saja, seperti Rumah Gadang, sawah adat dan semacamnya. Harta yang diperoleh orang tua semasa hidupnya dengan usaha sendiri tetap dikenakan hukum agama. Tambahan sedikit.

Tidak seperti suku Batak yang memiliki marga, Minangkabau menyebutnya sebagai suku. Jadi ada Piliang, Chaniago, Koto, Tanjung, Jambak dan lainnya. Itu bukan marga melainkan suku. Seperti diriku yang bersuku Chaniago. Jadi nama lengkapku Nasrul Chaniago.

“Dari keluarga, ya?” ulangku garuk-garuk dagu krik-krik mulai tumbuh lagi jenggotku yang dua hari lalu dicukur habis. “Masuk akal juga… Kalo Mila?” tanyaku lagi.

“Kayaknya mirip-mirip sama Suli… Cuma saja… mungkin laki-laki itu tidak sempat menyatakan apa-apa jadi tidak pernah berhubungan sama sekali… Hanya jadi pengagum rahasia di kejauhan saja…” cerita ajo Mansur tentang istri keduanya, Mila.

“Tapi tidak tau siapa karena menurut pengakuan Mila… ia pernah mendapat beberapa surat cinta tanpa nama dari orang-orang yang berbeda… Tentu saja cuma dicuekin karena memang Mila gak pernah tertarik dengan hal-hal begituan… Hanya belajar dan ngaji aja taunya…” lanjut ajo Mansur sambil mengetuk-ngetuk meja ini dengan ujung jarinya.

Kadang orang jenis itu bisa jadi sangat berbahaya. Bisa berubah menjadi psikopat di lingkungan yang tepat. Seharusnya cepat-cepat disikat. Kita gak tau apa yang ada di otaknya. Apa yang dikhayalkannya saat sendirian? Apa yang dikatakannya pada dirinya sendiri saat sendirian? Apa yang dilakukannya saat sendirian?

Kami terdiam untuk beberapa lama tenggelam dengan pikiran masing-masing. Aku tentu saja bercabang. Satu ke siapa yang menyantet istri-istri ajo Mansur dan satu ke ngayal enaknya saat belah duren dua istri ajo yang tersisa.

Di yang pertama, Suli udah enaknya ampun-ampunan. Ini menunggu dua lagi menunggu antrian. Aku juga mengkhayalkan gimana bentuk tubuh dua ukhti berhijab lebar dan gamis longgar seperti mereka.

Apalagi gimana wajah asli Ratih dibalik cadar yang selalu dikenakannya di tempat umum. Hanya ajo Mansur dan para mahram-nya yang tau bentuk parasnya. Suli dan Mila berwajah cantik, pastinya akan sangat sempurna jika Ratih juga sama. Walopun itu semua milik ajo Mansur tentunya.

Sekitar jam 9 malam, ajo Mansur permisi untuk masuk ke kamar. Ia memberitahuku kalo pertama kali ini adalah giliran Ratih, sebagai istri pertama. Kemungkinan kalo sesuai rencana, giliran Mila menyusul sebagai istri kedua.

Kupandangi sekilas wajah penatnya yang beranjak ke bungalow dengan tiga kamar itu. Masing-masing kamar berisi satu istrinya yang memilih tidur terpisah. Menanti sang suami menyambangi peraduan mereka dengan sabar.

Aku sendirian di kafe ini. Tidak sepenuhnya sendiri karena di keriuhan sana, para turis bule muda itu merayakan sesuatu dengan dentingan gelas dan botol. Suara-suara ngawur parau berbaur dengan suara musik Top 40 dari sound system cafe bernuansa serba kayu.

Kadang mereka tertawa-tawa atau bernyanyi mengikuti alunan musik dengan riang gembira. Masih muda-muda. Masih seumuran ketiga istri ajo Mansur. Mungkin baru tamat kuliah sebelum masuk ke dunia kerja, pikirku. Kembali aku ber-chatting ria dengan para binor nan jauh di Medan sana.

Aida: dedek bebi titip salam ke papa Aseng katanya

Yuli: sehat bg aseng uda mamam?

Ppt: lama ya sampe kerasa geraknya

Iva: toni kimak pigi mancing lg. kemari dong bang

Dani: belom tidur bang

Sandra: cepet w gatel lg nih buruan pulang lu

Kimbek nih memang kak Sandra. Aku baru 4 hari cuti udah disuruh masuk cepat-cepat. Kalo tentang keempat binor lainnya… yah gitu deh. Seperti biasa masih ada sedikit aura baper pada mereka kecuali Dani dan kak Sandra yang mengalihkan rasa itu ke satu sama lain. Berbagi rasa tidak padaku. Bagus juga, sih.

Beberapa kali bahkan ada yang mengirimkan foto-foto seronok bagian tubuh tertentu, pose seksi tertentu berpakaian atopun tidak. Apalagi Pipit yang punya banyak stok outfit seksi pembelian suaminya.

Iva lebih banyak mengirim foto selfie dengan mimik menggoda saja. Yuli tentu saja membanggakan aset 38DD-nya di tiap kiriman asupan ransum-ku.

Aseng: sabar ya bidadari surgaku. tunggu abang pulang AWOKAWOK

Serbuan balasan kembali menghujani aplikasi BBM-ku minta oleh-oleh ini, minta dibawain itu. Cape dee…

A. Mansur: masuk kamar nmr 1

Nafasku tiba-tiba berat, jantungku berdegub lebih kencang dari biasanya, mataku pedas membaca pesan dari ajo Mansur yang mendadak masuk ini. Ia sudah bersiap-siap siaga dengan Ratih. Ia sudah menyiapkan istri pertamanya ini untuk segera kucoblos keperawanannya.

Istrinya yang paling relijius di mataku karena selalu memakai cadar untuk menutupi mukanya dari pandangan orang lain selain suami dan keluarganya sendiri. Ratih minimal sudah dibukain bajunya dan cadarnya sama ajo Mansur untuk dicumbu foreplay.

Mengendap-endap aku bergerak ke bangunan bungalow di mana ketiga istri ajo Mansur beristirahat sambil menunggu foto yang dikirimkan menyusul kemudian ter-loading sempurna hingga terbuka. Bisa kupastikan kalo ini adalah foto Ratih yang sudah dipreteli pakaiannya.

Di beranda yang menghadap 3 pintu kamar itu aku berhenti.

Ada nomor di tiap pintu kamar. Suli yang sudah kuperawani kemarin ada di dalam kamarnya bernomor 3, sendirian berselimut dingin kawasan danau Maninjau yang sejuk ini. Uap air dari danau menyelimuti tempat ini sehingga sejuk apalagi daerah ini dataran tinggi.

Foto selesai loading dan terpampanglah gambar Ratih yang tidur menelentang dengan pakaian yang berantakan. Ia tidak memakai gamis, hijab dan juga rok panjangnya. Ia hanya memakai sebuah bra hitam berenda-renda dan sebuah kain sarung yang tak sempurna menutupi perut dan sebagian besar pahanya. Rambutnya panjang hitam bergelombang, beriak bagai air di sekitar tubuhnya yang langsing serupa Suli juga.

Payudaranya cukup besar menurutku. Lebih besar dari milik Suli 2 ukuran cup setidaknya. Payudaranya basah oleh ludah ajo Mansur yang ketat mencuat berkat bantuan bra yang belum dilepaskan itu.

Vaginanya tersingkap sedikit tersembunyi kain sarung yang digunakannya untuk sekedar menutupi tubuhnya agar tidak terlalu telanjang bugil bahkan dihadapan suami sendiri. Mulus dan hanya berambut halus serupa rambut jagung muda, kemerahan.

Yang paling kuperhatikan, sampai ku-zoom perbesar adalah bagian wajahnya yang tanpa cadar. Ratih juga secantik Mila dan Suli. Aku sudah menebak dari matanya dan ternyata benar. Satu keluarga besar yang cantik-cantik ternyata.

Senyap suara pintu kamar nomor satu ini ketika kudorong dan aku segera bisa melihat pemandangan yang tadi hanya bisa kulihat di foto saja. Ajo Mansur meletakkan jarinya di bibir sebagai kode tetap diam tak bersuara. Ratih sudah memakai penutup mata setelah di foto tadi. Ia masih berbaring terengah-engah.

Agaknya ajo Mansur barusan saja membuat istri tertuanya ini orgasme lebih beberapa titik sentuhan. Pahanya yang putih mulus lagi jenjang masih bergetar-getar.

“A-abii… Enaak, bii…” suara merdunya yang langka sangat renyah terdengar saat ia mengerang. Akan sangat menyenangkan melesakkan Aseng junior-ku ke dalam tubuhmu, Ratih.

Tanpa disuruh lagi, aku langsung meloloskan semua pakaian yang kukenakan kecuali sempak. Kali ini aku lebih bersiap karena dapat dipastikan aku akan berhadapan dengan lawan lagi di istri pertama ajo Mansur setelah sebelumnya di Suli ketemu lawan. Aseng junior kukeluarkan dari balik sempak dan ia langsung mengacung menantang, siap menghajar lawan. Siapapun! Ayo maju sini. Hehehe.

Ajo Mansur yang turun dari atas ranjang ini juga telanjang, masih berusaha merancap penis lunglainya. Aku menggantikannya dan naik ke ranjang. Menghadap ke arah Ratih yang menelentang pasrah bakal dikawini. Sabar, jo… Aku janji akan menyembuhkan penderitaanmu ini.

Mansur junior-mu segera akan bisa berkokok lagi seperti sedia kala. Ia hanya memperhatikan kemaluan istrinya yang kudekati. Yang sedang didekati Aseng junior yang mengacung keras meradang. Urat-urat di sekujur kulit batangnya menonjol gagah, berkilat-kilat mentereng. Ia terus merancap penisnya, konak abis walau tak berdaya lebih lanjut.

“Abi masukkan ya, deek…” gumam ajo Mansur di belakangku juga menandakan kalo aku diizinkan lanjut.

Kuoles-oleskan kepala Aseng junior-ku dengan cairan licin yang ada di bukaan vagina Ratih yang terasa hangat dan basah. Ia memperbaiki kain sarung yang tak sempurna menutupi tubuhnya. Ia berhasil menutup pusar dan sebagian besar bagian bawah tubuhnya.

Mulut Ratih mendesah-desah seperti kepedasan dengan banyak huruf S. Bahkan sudah seperti ular yang mendesis karena hembusan nafas pendek-pendeknya akibat kemaluannya sudah ditempeli sebuah benda tumpul berjuluk penis bernama Aseng junior milikku.

Merekah melebar bukaan liang kawin Ratih karena desakan kemaluanku. Ajo Mansur sudah melaksanakan tugasnya untuk merangsang istrinya terlebih dahulu dengan perangkat foreplay yang lengkap. Oral di sekujur tubuhnya pasti karena Ratih sudah lemas oleh sergapan orgasme setidaknya sekali. Aku harus bersiap…

“FYUUUURRR…”

Aku melompat mundur ringan menggunakan keahlian silat yang bertahun-tahun kupelajari dari berbagai guru. Juga berkat bantuan bakiak Bulan Pencak yang sudah mempersenjatai kakiku. Kuambil dua helai daun pandan yang tumbuh di depan bungalow, yang tadi kusembunyikan di belakang lipatan sempakku dan langsung berubah menjadi pedang daun Utara dan Selatan. Pedang ini cenderung wangi walau tadinya disimpan disitu. *hoeks!

Tempat ini tidak gelap pun tidak juga terang. Orang ini masih galau mau berpihak kemana. Sebuah tanah lapang yang kosong dengan rerumputan tipis selang seling dengan tanah merah. Sejauh mata memandang, hanyalah cakrawala langit kelabu seperti dini hari atau sore menjelang malam.

Arena ini sering dipakai pelaku ini untuk berlatih, terlihat dengan banyak bekas-bekas tapak kaki dan tangan dimana ia melatih jurus-jurus yang kuperkirakan adalah jurus harimau. Ada goresan-goresan tipis juga.

Harimau lagi? Ada banyak kebudayaan di Nusantara ini yang cenderung mengagumi harimau sebagai hewan kuat dan tangguh. Melambangkan kejantanan dan juga ketangkasan. Apalagi di daerah Minangkabau sini. Ada silat yang mengkhususkan dirinya dari gerakan-gerakan harimau. Itu tidak asing bagiku karena aku juga pernah belajar silat ini sehingga aku tau apa yang akan aku hadapi. Dengan begitu dapat dipastikan kalo lawan kali ini berasal dari lokal sini-sini aja.

Terdengar suara lompatan ringan seseoranga mendarat di belakangku. Dia baru tiba. Segera kutoleh ke belakang karena sangat berbahaya membelakangi lawan di kondisi genting seperti ini. Seorang pria muda. Sangat muda untuk jadi seorang dukun. Paling umurnya 24-25 tahunan.

Apa pemuda ini baru coba-coba memakai ilmu santet-menyantet karena mentok tidak ada jalan lainnya? Tapi karena ia masih belum memutuskan di sisi mana, seharusnya orang seperti ini bisa dihadapi dengan percakapan yang realistis.

Pemuda itu agak jijik yang melihatku hanya memakai sempak saja di daerah kekuasaan ke-Menggala-annya. Aku tau kemana arah jalan pikirnya. Dia akan segera menganggapku sebagai orang yang telah menikahi Ratih. Terlihat dari sunggingan senyum mengejek di sudut bibirnya.

Berarti dia bukan dari kalangan keluarga Ratih karena kalo keluarga pasti akan tau siapa suami Ratih yang merupakan ajo Mansur. Ini tentu dengan asumsi kalo dia hadir saat pernikahan itu. Bagaimana kalo keluarga jauh yang merasa berkepentingan dengan harta warisan adat itu. Dia masih muda juga, apa tertarik dengan harta begini?

“Kau yang telah mengirimkan teluh pada Ratih?” tanyaku dengan nada datar saja. Kedua pedang daunku hanya kupegang di samping tubuhku.

“Kau suaminya? Mansur? Kau Menggala juga rupanya…” kata pemuda itu menaruh sesuatu di masing-masing jari telunjuk tangannya.

Diputar-putarnya senjata tajam berukuran kecil itu. Kerambit! Ah… Senjata yang fleksibel itu. Itu menjelaskan goresan-goresan tipis di tanah ini. Guratan menyayat kerambit ternyata.

“Bukan… Aku bukan Mansur… Aku hanya suka berpakaian seperti ini… Tau nudist? Kalo kau pernah ke Bali pasti akan ketemu teman-teman nudist-ku di sana… Ah… Pantainya juga bagus…” bualku ntah hapa-hapa ngelantur.

“Langitmu belum terlalu pekat hitamnya… Masih coba-coba ato belum ketemu pasien yang tepat ato apa?” tunjukku tiba-tiba ke atas, ke arah cakrawala representasi kiblat golongannya. Golongan hitam atau putih. Saat ini ia ada di golongan abu-abu. Masih galau mau kemana.

“Tidak usah banyak bicara, dunsanak… Mari kita mengadu ilmu… Ilmu siapa yang lebih tinggi…” sergahnya langsung saja mengambil kuda-kuda rendah silat harimau-nya. Kedua tangannya yang bersenjatakan kerambit yang mengarah ke bawah siap menyayat-nyayat otot tendon lutut dan betisku. Aku tau karena kerambit sering dipakai menyerang tubuh bagian itu.

“Mengadu ilmu itu mudah… Kita bisa melakukannya kapan saja… Aku juga gak mau tau apa motifmu mengirim teluh kepada Ratih ato Mansur ato pada siapapun… Aku gak mau tau semua… Yang aku mau tau…” aku jeda sebentar dan duduk. Ini bukan duduk sebenarnya. Lutut kiri menopang tubuh di tanah, kaki kanan maju menekuk rata 90 derajat, kedua tangan dibentangkan lalu rendah ke tanah di hadapan hampir menyentuh tanah. Pedang daunku bertindak sebagai cakar. Terlihat seperti meniru kuda-kuda rendah silat harimau pemuda itu.

“… Siapa yang mengajarimu silat harimau Mandalo Rajo ini… Tidak sembarangan Inyiek Mandalo Sati mengajarkannya pada orang yang akhirnya jatuh ke lembah hitam sepertimu… Siapa?” tanyaku serius.

Aku memandanginya dengan geram. Aku punya hak untuk membunuhnya kalo ilmu ini disalah gunakan.

‘Tentu saja guruku… Dunsanak juga bisa Mandalo Rajo… Mari kita adu…” katanya sepertinya senang bertemu lawan sepadan.

“Siapa gurumu? Seharusnya tidak ada yang lagi yang bisa mengajarkan ini kecuali langsung belajar ke Inyiek Mandalo Sati…” tanyaku terus mencecarnya dengan pertanyaan penting.

Aku harus tanya ini karena sepengetahuanku, Inyiek Mandalo Sati hanya mengajarkan silat harimau Mandalo Rajo padaku seorang. Aku satu-satunya murid yang pernah diangkatnya. Hanya aku yang berhak mengajarkan silat harimau Mandalo Rajo ini pada suksesor-ku.

“Aku akan mengatakannya kalau dunsanak bisa mengalahkanku… Kalau bisa…” katanya sesumbar tetap di kuda-kuda rendahnya.

“Baik… Aku hanya akan menggunakan Mandalo Rajo padamu… Kita liat keaslian Mandalo Rajo milikmu…” kataku benar-benar serius kali ini.

Aku tidak pernah memakai ini setelah bertahun-tahun lamanya. Aku hanya memakai jurusnya tetapi tidak senjatanya. Memakai ini berarti harus ada nyawa yang melayang. Setidaknya tercabik-cabik. Kubuang dua pedang daun di kedua tanganku. Pedang itu berubah menjadi daun pandan kembali, luruh dan hilang.

Aku sudah berbaik hati padamu, anak muda. Aku tadi sudah menunjukkan kebaikan hati padamu hanya dengan pedang daun Utara dan pedang daun Selatan. Bahkan bakiak Bulan Pencak kukembalikan ke tongkrongan-nya, di pohon Glugur sana.

“Mandalo Rajo…” desisku mengerahkan ajian andalanku yang terlarang. Yang sudah lama tak kupakai.

Dari sela-sela pertemuan jariku yang terkepal, dari antara buku-buku jari, mencuat menyakitkan menembus daging dan kulit tiga buah cakar melengkung seperti cakar kuku harimau sepanjang 10 cm. Kuku ini tidak hanya muncul di kedua tanganku, juga ada di kedua kakiku.

Hanya pemilik silat harimau Mandalo Rajo asli yang bisa melakukan ini. Silat harimau lain kebanyakan meniru cakar harimau dengan memakai kerambit atau bahasa Minang-nya kurambiak. Secara harafiah aku telah menumbuhkan kerambit dari dalam tubuhku.

Aku tak perduli orang itu bergetar dadanya melihat perubahan yang terjadi padaku yang hanya memakai pakaian dalam saja. Aku tak perduli kalau anak muda itu terguncang jiwanya melihatku bergerak cepat seperti seekor harimau jadi-jadian. Melompat menerjang dan mencabik-cabik tubuhnya.

Kau sudah dapat peringatannya. Di kalangan Menggala di ranah Minang ini, Mandalo Rajo adalah kata yang terlarang. Kau berani-beraninya memakai keangkeran nama ini untuk keuntunganmu sendiri.

Kupingku berdenging bising seperti suara distorsi cabikan gitar listrik yang berepetisi konstan berulang-ulang. Distorsi ini menyebabkanku tak perduli dengan jeritan dan teriakan pilu anak muda itu. Masa depanmu seharusnya masih panjang.

Kenapa kau sia-siakan di depan seorang pemilik asli Mandalo Rajo, anak muda? Cipratan darah tak kuacuhkan. Sobekan daging yang tercabik tak terdengar mengganggu. Lepasnya anggota tubuh tak lagi kuanggap. Apalagi melayangnya nyawa… Enteng saja. Seringan kapas.

***

Aku merenung. Tubuhku bersimbah darah. Tangan dan kakiku perih. Masih terluka.

Aku tidak berada di daerah ke-Menggala-an anak muda itu lagi. Entah dimanapun dia berada saat ini, tubuhnya pasti sudah dikerumuni orang-orang. Semoga saja ia diantara saudara-saudaranya yang akan mengurus jenazahnya. Sudah pernah kubilang kan… kalo dunia Menggala ini berbahaya?

Aku merenung di daerah kekuasanku sendiri. Aku tidak langsung balik ke dunia nyata melainkan menyembuhkan diri sendiri terlebih dahulu. Membersihkan tubuhku yang bersimbah darah. Sebagian besar ini bukan darahku. Darahku sendiri hanya berasal dari luka yang disebabkan munculnya cakar harimau di tangan dan kakiku. Kubersihkan luka-luka itu di air sungai kecil yang mengalir mengitari tamanku.

Rasanya sangat perih dan menyakitkan karena cakar itu menembus daging dan kulit secara langsung. Satu-satunya cara yang kutau untuk meringankan rasa sakit ini adalah dengan membasuhnya di sini. Hanya meringankan, tidak menyembuhkan. Karena ini bersifat relaksasi karena ada di alam yang berbeda. Aku lalu melakukan meditasi untuk menenangkan nafas. Terutama jiwaku…

Kenapa aku bisa begitu ceroboh dan menggunakan Mandalo Rajo setelah sekian lama kusimpan rapat-rapat di perbendaharaan ilmu silat yang kupunya. Selama ini aku hanya menggunakan jurus-jurus gerakannya saja tanpa lambaran ilmu sama sekali. Ditambah tempelan silat aliran-aliran lain yang pernah kupelajari.

Aku bahkan sempat belajar berbagai macam jenis bela diri lain untuk mengaburkan silat utama yang kukuasai ini. Karena pancingan bodoh seorang pemuda yang tak sayang dengan nyawanya, silat harimau paling terlarang ini keluar dan memakan mangsa lagi. Paok! PAOK KAO, SENG!

Alhasil meditasiku jadi berantakan karena… aku menyalahkan diri sendiri. Ngeplak kepala sendiri hingga jatuh bergulingan di dalam ceruk sungai kecil yang berkeliling mengitari tamanku yang indah ini.

Apa yang sudah mempengaruhiku? Kenapa aku mudah sekali terpancing? Rerumputan halus dimana kala itu siluman monyet yang mengaku-ngaku dewa itu telah dicerna vegetasi kupandangi. Apa setan itu mempengaruhi pikiran dan mentalku? Memasukkan mahluk itu ke dalam sini dan menyerapnya bisa mengakibatkan ini.

Aku jarang sekali melakukan teknik seperti yang kerap dilakukan Kojek, yaitu menyerap lawan-lawannya dengan cara memakan atau menelannya. Beberapa kekuatan utamanya malah merupakan hasil memakan tubuh mahluk-mahluk itu.

Walaopun berbadan kurus cenderung ceking begitu, Kojek punya nafsu makan yang luar biasa besar hingga ia bisa menghabiskan seekor babi hutan besar sendirian selama makan 2 hari. Dari sana ia bisa memiliki jurus Hortuk atau Taring Babi Hutan.

Taring melengkung panjang binatang hutan itu bahkan ia gerus menjadi bubuk dan dioleskannya keseluruh tubuhnya seperti pasta gigi, katanya itu dapat memperkuat tubuhnya. Tapi itu untuk Kojek, tidak bisa berlaku untuk yang lain yang mempelajari teknik itu.

Dengan tangan kosong kukorek tanah berumput bekas dimana siluman monyet itu terakhir berada. Makan waktu hampir setengah jam aku menahan sakit karena tanganku masih terluka untuk menggali tanah keras tak berbatu itu. Peluh bercucuran karena sepertinya tanah ini sendiri melindungi dirinya.

Padahal ini daerah kekuasaanku. Di kedalaman satu meter, aku menemukan tengkorak kepala monyet itu. Hanya tinggal ini yang belum dicerna habis oleh tanah ini. Tulang belakang, tulang tangan dan kaki beserta seluruh kulit sama bulunya sudah sirna.

Kupandangi tengkorak monyet yang masih lengkap dengan rahang bawahnya beserta gigi geliginya itu. “…ja-ngan ka… ksaa… agi… ku…” mahluk itu masih mampu berkata-kata ternyata.

Ia memohon untuk tidak disiksa lagi. Sepertinya ia sudah mengalami penyiksaan yang luar biasa sakit di dalam tanah daerah kekuasaanku selama ini. Tak terbayangkan rasa sakit yang dirasakannya selama ini. Dicerna perlahan hingga seluruh tubuhnya terurai. Aku tidak menjawabnya. Hanya berpikir.

Mahluk jahat berhati culas seperti ini sudah tercerna menjadi nutrisi tersendiri bagi diriku. Kalo daerah kekuasaan ke-Menggala-an ini letaknya berada di titik khayal pikiran, berarti tubuhnya menjadi nutrisi bagi pikiranku.

Entah apa saja yang sudah dilakukannya di masa hidupnya. Pastinya lebih banyak perbuatan jahat walo ia juga melakukan perbuatan yang dianggap baik oleh beberapa pihak.

Ia terlebih dahulu memberikan berbagai kenikmatan dunia bagi para pemujanya, lalu mengambil sesuatu yang berharga sebagai bayarannya. Berupa tumbal nyawa yang tak disadari para pemujanya. Entitas jahat seperti iblis ini menjadi nutrisi pikiranku?

Jelas itu salah!

Aku melakukan meditasi lagi di tepian sungai bersuara gemericik menenangkan. Telah mengetahui sumber kesalahanku. Kesalahan yang kuciptakan sendiri. Aku telah berhari-hari di sini. Di sampingku ada pecahan-pecahan kecil tulang tengkorak monyet itu yang kualasi dengan sebuah daun jati lebar.

Tanah dan rerumputan tidak mampu menembus khasiat daun jati yang bahkan sudah mengering ini. Tanah dan rerumputan masih terus berusaha merebut kembali serpihan tulang belulang siluman monyet yang sudah kuhancurkan itu, tapi terhalang daun jati.

Kalo hitungan waktu normal, aku sudah lima hari di dalam sini. Menyembuhkan tangan dan kakiku yang terluka. Luka fisik bisa sembuh walau akan meninggalkan bekas, tetapi luka mentalku perlu waktu lebih lama karena aku perlu berkontemplasi sendiri. Berkomunikasi sendiri dengan jiwaku.

Apa yang telah salah kulakukan? Bagaimana mengatasinya? Bagaimana caranya? Cara memaafkan diri sendiri.

Di hari aku ke tujuh aku sudah merasa cukup beristirahat. Secara teknis aku sudah memperlama waktu cutiku untuk memperbaiki keadaan mentalku yang sempat carut marut. Luka di buku tangan dan kakiku sudah mengering walau belum sembuh benar.

Aku harus kembali ke dunia nyata untuk meneruskan tugasku atas Ratih sesuai janjiku pada ajo Mansur. Aku sudah berjanji padanya lewat perjanjian 3 pasal kami. Dan aku harus menepatinya.

Kucoba mengingat kembali tubuh Ratih yang aduhai untuk mengembalikan birahiku yang sedang tidak menggebu-gebu kali ini. Pikiran dan tubuhku apalagi Aseng junior harus sinkron pada waktunya…

“Tahan ya, deek… Agak sakit dikit… Dikiiit ajaa…” rayu ajo Mansur di belakangku yang masih setia menemani istri pertamanya yang akan menjalani prosesi belah durennya. Belah perawan yang dikira Ratih dilakukan oleh pria yang sudah menikahinya sebulan lalu. Padahal dilakukan oleh pemeran pengganti; Aseng.

Aseng junior terjepit erat kudorong-dorong pelan. Rasa basah terjepit ini berkat foreplay yang sudah dilakukan dengan baik oleh ajo Mansur. Berbagai teknik foreplay atau fingering pastinya telah diperagakannya pada istrinya ini sampai orgasme minimal sekali sebelum aku masuk ke kamar bungalow ini. Aku menyentuh satu pangkal pahanya untuk pegangan dan satunya mengarahkan Aseng junior agar tetap lurus menusuk target perawannya.

“Saaakit, bii… A-aah…” ternyata cukup manja suara merdu Ratih di situasi begini. Aku beruntung mendengar versi vokal ini secara langsung.

“Sakit, biii… Pelan-pelaaan, aahh…” aku jadi gemes ingin terus melukai agar terus bisa mendengar erangan manja suara merdunya.

“Abiihh… Uuhh… Auuhh… Perih, biih…” Aseng junior terus merangsek masuk walau pelan-pelan.

Ajo Mansur bahkan mencengkram bahuku agar jangan terlalu menyakiti istrinya.

“Ushh.. Ush-ush… Sabar ya, deek… Diiiikit lagi masuk… Naahh… Tahan, yaaa?” ajo Mansur bersuara menenangkan istrinya pertamanya ini dengan terus-menerus berusaha menegakkan penisnya sendiri.

Sudah ada perkembangan terbaru Mansur junior. Penis itu lebih berisi sekarang walau tetap terkulai tak bisa tegak. Lingkar penisnya belum mencapai maksimalnya yang kurang lebih sama denganku. Padahal nafsunya sudah pasti menggelegak di ubun-ubun, penasaran tak kunjung bisa melakukan penetrasi.

“Tahan yaaa, deek? Dikit lagi…” cetusnya terus memperhatikan pertemuan Aseng junior-ku dengan kemaluan istrinya yang semakin disesaki, tersumpal.

Kepala Aseng junior sudah terbenam dengan sukses. Ratih menghembuskan nafasnya satu-satu merasakan tubuhnya ditembus benda tumpul, seperti wanita hamil yang sedang didera kontraksi bakal melahirkan. Ratih tak sanggup bersuara, sibuk bernafas. Jari tangannya terkepal.

“Jangan dilawan, dek… Rileks aja, dinda Ratih… Jangan dilawan… Nikmati aja, yaahh?” ajo Mansur terus memberi arahan sesuai dengan ekspresi yang diberikan istrinya bereaksi atas sodokan penis yang sedang menyumpal, hendak merobek keperawanannya yang selama ini telah terjaga baik.

“Yaah… Begituuu… Rileeeks…” ajo Mansur meremas bahuku lagi untuk maju begitu Ratih berusaha keras untuk merilekskan tubuhnya.

“Breetz…”

“Aa-aahh…” erangnya dengan merdu.

Ingin rasanya aku menjamah seluruh tubuhnya. Meremas payudaranya yang bergoyang bergetar oleh erangannya. Menciumi bibirnya yang tipis menggoda, terbuka lebar. Mengekspresikan kesakitan perih sekaligus bahagia pastinya, ia sudah berhasil mempersembahkan dirinya seutuhnya pada suami yang telah sah meng-khitbah dirinya.

Sebuah bentuk pengabdian tertinggi seorang istri yang kelak akan bertambah dengan mengandung dan melahirkan anak-anak dari rahimnya.

“Sakit, dek?” tanya ajo Mansur ditengah remasannya pada bahuku lagi agar berhenti sejenak.

Membiarkan Ratih membiasakan diri merasakan benda tumpul itu bercokol di dalam tubuhnya. Membiarkan dirinya memijat-mijat batang kemaluan yang telah merobek, menembus tirai kesuciannya. Biarkan ia suci dalam pemikirannya sendiri.

Enak sekali rasanya pijatan liang kawin Ratih yang menjepit sempit Aseng junior-ku yang ingin memberontak liar. Mengobrak-abrik meronta.

“Perih, bii… Perihh sekali, bii…” erangnya dengan suara merdu itu. Ajo Mansur mengarahkan tanganku untuk mengelus-elus pahanya untuk stimulasi tambahan, agar ia bisa mengalihkan rasa sakit itu pada rasa geli sentuhan.

Perempuan itu mahluk yang kuat. Bahkan perempuan yang paling lemah sebenarnya lebih kuat dari lelaki yang paling perkasa sekalipun. Tuhan menciptakan perempuan untuk tahan dengan berbagai rasa sakit di hidup mereka.

Anak perempuan di Indonesia misalnya, sedari kecil sudah merasakan sakit dengan ditindik dan disunat sejak masih bayi. Bayangkan rasa sakitnya. Belum lagi harus merasakan disuntik kala imunisasi. Anak lelaki tidak akan repot-repot harus merasakan sakit ditindik.

Paling kalo sudah agar besar sedikit (pada kalangan tertentu) dikhitan. Dah… Abis itu laki-laki merasakan apa lagi? Tak ada satupun. Perempuan harus merasakan rasa sakit kala menstruasi (senggugut), memakai pembalut, memakai bra yang berkawat seumur hidupnya agar terlihat cantik. Belum lagi prosesi pecah perawan ini. Hamil yang repotnya ampun-ampunan astaga dragon.

Melahirkan yang mempertaruhkan nyawa apalagi sampai operasi. Perawatan pasca melahirkan. Menyusui, membesarkan anak. Udah besar anak masih melawan sama mamaknya.

Tobatlah klen, woy. Cium tangan mamak klen kalo masih hidup beliau. Doakan kalo sudah berpulang. Bersedekah atas namanya. Biar tenang beliau di sana.

Aku terus mengelus-elus pahanya sampai pangkal paha. Sampai mencapai bibir lembut kemaluannya yang membuka karena didesak Aseng junior yang masih bercokol betah di dalam sana. Daging vaginanya lembut bercampur darah yang sedikit membekas di bagian bawah. Selamat Ratih. Kau sudah tidak perawan lagi.

Kusapu sedikit darah itu dengan jempolku dan kutunjukkan pada ajo Mansur. Agar ia tau, memaklumi kalo perawan istri pertamanya ini sudah pecah di tanganku atas permintaannya. Pria malang itu mengangguk getir dan meremas bahuku lagi untuk mulai kembali.

Dorongan-dorongan kecil disambut erangan merdu Ratih yang masih kesakitan tentunya. Ajo Mansur terus memberikan dorongan semangat verbal pada istrinya kalo rasa sakit itu akan menjadi rasa nikmat sebentar lagi.

Pelumas licin dari dalam kemaluan Ratih mulai mengalir menerima benda asing di dalam tubuhnya, melubrikasi agar proses persetubuhan tidak melukai saluran sensitif ini sebagai bagian dari perlindungan diri otomatis tubuh.

Gesekan-gesekan menjadi semakin lancar dan bagian yang lebih dalam semakin terbuka, menerima sodokan bertahapku. Aseng junior semakin lama semakin dalam tenggelam dalam hangat liang kawin menuju rahimnya.

“Enak, biii…” ini pengakuan pertama Ratih.

Ia sudah merasakan kenikmatan itu dibalik rasa sakit yang mungkin masih mendera kemaluannya yang telah kurobek himen berharganya. Satu segel yang dijaga kesuciannya.

“Uuhh… Tapi pelan-pelan, biihh… Masih sakit…” erangnya tetap merdu bernada manja.

Bermanja-manja pada suaminya. Genjotanku tak memperdulikan permintaannya barusan. Genjotanku makin keras dan kencang. Rasa koyakan ‘bretz-bretz’ kala Aseng junior semakin dalam merangsek masuk akhirnya tak ada lagi. Aseng junior sudah berhasil menjajal semua kedalaman liang kawin Ratih yang bisa dijangkau dengan panjang tegang maksimalnya.

Kudiamkan sejenak, merasakan hangat pelukan liang kawin istri ajo Mansur ini terhadap batang kemaluanku yang sangat berbahagia malam ini, telah berhasil menjebol perawan. Perawan bini orang. Orangnya ada di belakangku, mengarahkanku seolah sutradara. Perutku lekat dengan bentangan pangkal pahanya yang mengangkang lebar. Kupegang dan kuremas-remas pelan paha mulus langsing itu.

Ajo Mansur mendorong punggung bawahku, menyuruhku untuk mulai memompa.

“A-ahh… Ah… ah… ah…” erang suara merdu Ratih sudah masuk ke kepalaku sebagai suara yang sangat seksi.

Aku kecanduan suara merdunya. Tiap dorongan Aseng junior ia mengerang. Tiap tarikan ia mengerang.

Bini-mu ini sangat aduhai, jo. Apalagi sempit menjepit vaginanya nge-grip erat Aseng junior-ku yang meradang dengan licin yang terus bertambah-tambah di liang kawin, sarang barunya.

Kulancangkan diri untuk meremas payudara Ratih yang lebih besar dari pada milik Suli kemarin. Teksturnya kenyal dan lembut. Pas digenggaman. Ajo Mansur meremas bahuku awalnya protes tapi tidak diteruskan.

Erangan istrinya pertanda Ratih suka diremas pada payudaranya. Sepasang payudara itu kuremas simultan ditingkahi pilinan di puting imutnya. Ingin rasanya mengulumnya tapi apa daya tak memungkinkan tanpa mendekatkan kepalaku ke dadanya.

Takutnya nanti ketahuan kalo ia menyentuh rambutku yang berbeda dengan suaminya. Ajo Mansur kala ini berpotongan rambut cepak dan aku sedikit panjang.

“Bii… Lebih cepat, biii…” pinta Ratih makin nakal.

Ia sepertinya sedang mengejar sesuatu di ujung sana. Mungkin ia merasakan rasa nikmat yang akan lebih jika sodokan di vaginanya dipercepat.

“Lebih kencang, bii…” ia mencengkram pergelangan tanganku yang sedang memainkan putingnya. Ajo Mansur memperbolehkanku mempercepat untuk memuaskan istrinya sementara ia terus merancap penisnya, berharap ada keajaiban yang terjadi.

Sarung yang diperuntukkan sebagai penutup tubuhnya agar tidak terlalu telanjang bulat saat bersenggama begini sudah sangat berantakan. Aku sudah bisa menikmati tubuh langsing telanjangnya berdada cukup besar ini tanpa penghalang apapun. Ajo Mansur tak mempermasalahkannya karena itu merupakan bagian dari permainan ini.

Tidak ada yang perlu disembunyikan lagi. Ia membiarkannya saja. Aseng junior merangsek, memompa dengan cepat.

“Cplak-cplak-cplak!” suara kecipak benturan kedua tubuh kami dan basah kemaluan kami terdengar sangat binal malam ini.

Menambah rangsangan audio yang semakin menaikkan tensi yang sudah tinggi dari awal.

Cepat kusodok, cepat juga ajo Mansur merancap penis lunlai serupa sosis yang berisi penuh. Penis setengah hidup itu masih berwarna pucat sedikit memerah di bagian peler dan kepalanya saja. Selebihnya seperti tak memiliki darah untuk hidup. Ia tanpa henti terus berusaha dan puncaknya malah diraih oleh Ratih.

“Auuhhh… Biiih… A-biihh… u-uh…” tubuhnya bergetaran pelan seperti kejadian dengan Suli kemaren.

Hanya saja kepalanya mendongak hingga dadanya mencuat bagus ke atas. Aseng junior yang paling puas merasakan jepitan meremas eratnya. Berdenyut-denyut sepanjang liang kawinnya memeras batang kemaluanku.

“Stop dulu, biii… Masih ngiluu…” begitu getar tubuhnya berhenti, kugenjot lagi tubuhnya.

Tangannya berusaha menggapai perutku untuk menghentikanku memompanya lagi. Dengan mata tertutup ia mengharapkan akan menyentuh perut suaminya, tapi yang tersentuh malah Aseng junior-ku yang sedang menusuk kemaluannya keluar masuk berlendir kental.

“Ihh… Aahh…” lendir lengket itu dilapkannya ke sprei ranjang yang sudah bernoda darah perawannya.

Ia tak sanggup mencegahku yang terus menggoyangnya karena rasa nikmat kembali menyelimuti tubuhnya.

Seirama dengan rasa nikmat yang juga sudah menyelimuti tubuhku. Ini pertanda kalo aku juga sudah gak bisa bertahan lebih lama lagi. Ini sudah mencapai 15 menit kemampuanku. Kalo mau terus lanjut, nanti di ronde kedua aja. Pokoknya aku harus menuntaskan ini sekarang juga. Kaki Ratih yang membuka luas kupegangi erat dan tumbukan persatuan tubuh kami bersuara nyaring.

“Plak-plak-plak!” seolahku sedang menampari kemaluannya. Mataku terpejam erat dan kejejalkan Aseng junior dalam-dalam dengan gerutuan tertahan.

“Ahk!”

“Croot Croot Crooottt…” bergulung-gulung rasa ringan dan nikmat di kepalaku begitu semprotan kencang itu keluar menyembur dari mulut kecil Aseng junior ke dalam liang kawin Ratih yang baru saja kuperawani ini.

Ratih sendiri menggeliat-geliat seperti ular yang kesetrum juga menerima semburan sperma kentalku menembus masuk hingga ke rahimnya. Mau jadi anak mau enggak jadi, terserah! Yang penting aku sudah menyerahkan bibitku di lahan suburmu, Ratih. Tinggal menunggu saja.

“Biii… Enaaak, bii… Hangaaat mani, abiiihh…” lenguh Ratih menggeliat-geliat lagi sangat seksi dengan vagina berlumuran spermaku yang meluber hingga di luar mulut vaginanya.

Ajo Mansur cepat-cepat menggantikanku yang telah mencabut Aseng junior dari sarang barunya. Dengan jari, ia melebarkan liang sempit istrinya itu agar penis lunglainya bisa menelusup masuk terbantu kental spermaku yang melicinkan jalan.

Kepala penisnya bisa menelusup masuk seperti kejadian dengan Suli kemaren tapi tak kuasa dan berdaya menelusup masuk lebih jauh. Penis yang menggenaskan itu hanya tertekuk dan bengkok di pertengahan panjangnya seperti ban dalam kekurangan angin.

Buru-buru aku ngumpet di bawah ranjang kayu ini begitu kulihat Ratih berusaha meraih tepian penutup matanya untuk menyambut suaminya. Nafas ngos-ngosan dan Aseng junior yang menggantung lelah abis ngecrot barusan. Aku hanya tinggal menunggunya pulih dan tentu saja kode panggilan dari ajo Mansur kalo benar akan ada ronde kedua seperti dengan Suli kemaren.

Semoga aja… karena sekali belum cukup rasanya menikmati lezatnya istri pertama sepupuku itu.

“Abi pandai… membuat dinda terbang ke bulan…” puji Ratih pada suaminya di atas sana. Ranjang ini sedikit berderit-derit karena pergerakan mereka berdua. Aku terpaksa harus mendengar pembicaraan after party keduanya. Pembicaraan yang harusnya sangat privat antara suami dan istri.

“Enak ya, dinda? Dek Ratih masih perih gak?”

“Enak, bi… Gak pa-pa sakit sedikit tapi enaknya banyaaak… Hi hi hi…”

“Sukurlah… Abi pandai tadi kata adek?”

“Jagoaaan… Hi hi hi… Kalo gitu abi sudah sembuh, yaa?… Konsultasi sama bang Aseng itu?”

“Iya… Dia kan udah lebih duluan menikahnya… jadi lebih pengalaman dia dari pada abi… Pokoknya berhasil, kan?”

“Jadi ada untungnya yaa… abi bawa keluarga mereka liburan seperti ini… Abis ini giliran Mila, yaaa? Dia juga udah gak sabar…”

“Adek Ratih mau… abi tinggal abis ini?”

“Mm… Apa bisa sekali lagi?”

“Kenapa? Udah pengen lagi, yaa? Keenakan, yaa?”

“Biar langsung jadi bebi, bii… Suli kemaren juga dua kali… Dinda mau juga, doong…”

“Kalau begitu… Pakai penutup matanya, yaaa… Biar dinda Ratih gak kaget…”

“Iya, abi…”

Wah… Hanya dari mendengar pencakapan keduanya aja Aseng junior sudah ngaceng waktu kugoyang-goyang sedikit. Artinya ketiga istri ajo Mansur saling berkomunikasi dan saling dukung. Ratih dan Mila juga sudah diberitau apa saja yang kemaren mereka lakukan.

Andai saja ketiga perempuan yang berpredikat sebagai istri sah ajo Mansur ini tau siapa yang telah dan akan meniduri mereka? Aku gak bisa membayangkan reaksinya.

Aku mendengar lenguhan dan suara kecipak bibir yang beradu di atas sana. Agaknya ajo Mansur melakukan foreplay kembali pada Ratih. Beringsut-ingsut tanpa membuat suara aku keluar dari lantai sedingin es yang kutiduri ini. Sudah memakai penutup mata, Ratih dan ajo Mansur sedang berciuman.

Ratih masih sangat kaku karena tak punya pengalaman sama sekali. Lain halnya dengan ajo Mansur yang sudah berkarat di dunia perlendiran ini. Tangannya juga sibuk memilin puting Ratih.

Ajo Mansur berusaha mendidik istrinya agar mulai berani menyentuh penisnya yang lunglai. Kikuk gerakannya kaku memegang kalapiah suaminya yang sebenarnya belum bisa berfungsi dengan benar itu.

Kemudian jari tangan ajo Mansur mengobel kacang itil Ratih yang masih berlumuran spermaku sebentar dan memposisikan dirinya di antara kaki yang terbuka itu seolah akan melakukan penetrasi.

Memang dioles-oleskannya kepala penis lunglainya itu ke bukaan vagina Ratih hingga cairan kental putih itu meluber ke seluruh permukaan vaginanya hingga berkilat-kilat. Merasa gagal, ia memberi kode padaku untuk menggantikannya. Kembali tag-team.

Aku tak perduli tatapan nanar ajo Mansur pada Aseng junior yang sudah mengacung keras hendak mendarat lagi ke dalam liang kawin hak miliknya itu. Setenang mungkin kuposisikan tubuhku di antara bukaan kaki Ratih yang secara binal menakalkan dirinya dihadapan sang suami. Kau akan berkompetisi sehabis ini dengan dua madumu, Ratih. Membinalkan diri adalah salah satu caranya.

Kuulangi cara ajo Mansur tadi, mengoles-oleskan kepala Aseng junior ke bukaan vagina Ratih lalu kususupkan pelan, masuk perlahan. Ratih mengerang dengan tangan kembali mengepal.

“Aaahhh… biiii…. Enaaak, biii…” erangnya menggunakan suara merdunya.

Setidaknya aku pernah mendengar suara merdu langkanya ini untuk beberapa menit ke depan. Entah kapan ada kesempatan emas seperti ini akan berulang lagi.

“Enak, deek…?” tanya ajo Mansur masih dengan usahanya yang tak kenal lelah; merancap penis lunglainya.

“Enaaak, biii…” jawabnya mengerang.

Aseng junior sudah menyodok-nyodok istri pertama ajo Mansur dengan teratur. Merasakan sempit liang kawinnya yang masih berlumuran spermaku dari ronde sebelumnya. Sejumlah cairan kental itu tertarik keluar membentuk gumpalan berwarna pink pupus, sperma bercampur darah perawan.

Batang Aseng junior juga berlumuran spermaku sendiri, tapi itu semua hanya untuk memperlancar semua persetubuhan terselubung ini. Hanya aku dan ajo Mansur yang tau kebenarannya.

“Ciuum, bii…”

Mampos! Kaget aku mendengar permintaan Ratih kali ini. Kalo ia ciuman denganku, akan besar kemungkinan ia curiga dengan aroma mulutku karena ia baru saja berciuman dengan suaminya sebelum ronde ini dimulai.

Pastinya ia akan curiga. Aku berpaling pada ajo Mansur menanyakan pendapatnya. Ia menggeleng tanda tak membolehkan. Benar. Aku juga setuju. Sebagai gantinya, ajo Mansur menunjuk kaki Ratih dan menunjuk bahunya. OK. Aku mengerti sinyalmu, jo.

“Nanti aja, deek… Ini lagi enak-enaknya, nih…” akal-akalan ajo Mansur yang segera kutanggapi.

Kedua kaki Ratih kuangkat dan kusampirkan ke bahuku hingga tubuh kami kian rapat merekat. Aseng junior dengan mudah menusuknya dalam-dalam. Erangan Ratih semakin menjadi-jadi kala liang kawinnya yang baru saja dijebol ini diperlakukan sedemikian rupa oleh penis yang telah merobeknya.

“Ahhh, biii… Dalam sangaaat… Uuhh… Tapi enaak, biii… Teruus, bii…” erangnya bertambah liar.

“Dindaaa enaaak… Uhh…” ia meracau keenakan dengan tubuh terhentak-hentak sodokan Aseng junior yang merojok cepat liang kawinnya. Pahanya kuremas-remas dengan gemas.

Lututnya bahkan kuciumi dan kujilat dengan gemas juga. Kukecup-kecup kulit putih mulusnya yang selalu tertutup sempurna di mata non-muhrimnya. Secara wajar, hanya ajo Mansur yang berhak melihat dan menikmati ini. Tapi aku mendapat kehormatan khusus darinya. Bahkan sampai memasukkan Aseng junior ke dalam kemaluannya segala.

“Abiii… Enaak benaaar ini, biii… Dindaa gak sangguup, biii… Uuhh… Ahh…” kembali tubuhnya bergetar pelan pertanda ia kembali mencapai puncak orgasmenya. Semoga di kesempatan berikutnya dengan suamimu, kau akan selalu merasakan kenikmatan ini, Ratih.

Liang kawinnya meremas dan menekan Aseng junior dengan kedutan yang melenakan. Aku tak bisa bergerak untuk beberapa saat karena Aseng junior terperangkap di dalam sana untuk sementara, menunggu kedutan orgasme selesai.

“Lagi, biii…”

Ia memberi tanda aku bisa bergerak lagi. Kupeluk erat kakinya dan kugenjot lagi dengan cepat. Rasanya semua sperma dari ronde pertama tadi sudah terkuras dan cairan pelicinnya menggantikan tugas melubrikasi persetubuhan ini.

Ratih menggeleng-gelengkan kepalanya, mengerang dengan suara merdunya, mengekspresikan semua rasa yang merajai tubuhnya. Sesuatu yang dianggapnya wajar bersama suami tercintanya. Pastinya ia mahfum kalo suaminya bebas menggarap dirinya dengan cara apapun sebatas yang normal dan masih wajar. Ia pun bebas berekspresi untuk menyenangkan hati suami. Lah… Siapa yang sedang menggarapmu saat ini, Ratih?

“Ahh…” kulepaskan kaki Ratih yang tadi kupeluk erat tersampir di bahuku. Kualihkan dengan mengait di pinggangku. Tumitnya terasa menekan pantatku dan aku mengangkat pantatnya.

Ahh… Lembut dan juga kenyal sekali kedua bongkah pantat ukhti ini. Kuremas-remas sebelum kembali menggoyangkan Aseng junior keluar masuk. Dengan kaki terbuka lebar begini, vaginanya merekah lebar hingga aku bisa melihat tonjolan kacang itilnya yang menegang menggoda.

Jembutku berkali-kali menggelitik kacang itil itu tetapi impact-nya kurasa masih kurang. Nakal kuteteskan ludah menuju kacang itil menonjol itu. Hangat ludahku menerpa dan mengalir turun. Ratih bergidik.

Apakah ini tombol darurat untuk perempuan alim semacam Ratih juga?

Ajo Mansur seperti paham apa yang akan aku lakukan pada istri tersayangnya begitu kulepas tangan kananku yang menopang sebelah pantat Ratih. Kuacungkan jempolku pada ajo Mansur. Ini hasil dari didikan ajo Mansur sebenarnya.

Ia yang mengajariku kalo pada perempuan-perempuan tertentu ada titik-titik rangsang mujarab yang spontan bisa membuatnya orgasme cepat. Salah satu titik itu adalah kacang itil ini. Mari kita cobaaa…

Dengan memakai jempol, kutekan kacang itil Ratih yang mencuat menonjol karena desakan Aseng junior di liang kawinnya.

“Aahh…” desah perempuan alim bercadar itu.

Kugerak-gerakkan menggesek kacang itil perempuan cantik bercadar ini. Ia semakin gelisah dan mengerang mendesah liar. Pinggulnya juga ikut bergerak meningkahi semua rangsangan yang kuberikan. Sodokan Aseng junior terus memompa ditambahan kilikan jempol di kacang itilnya.

“Gelii, biii… Uuuhh… Enaak, biii… Auuhh… Ahh…” payudaranya yang montok bergetar-getar kala ia menggerakkan pinggulnya berputar-putar.

Sekilas seperti berusaha menghindari jempolku sekaligus mengejarnya kala diperlambat. Jempolnya semakin gencar mengulik kacang itilnya dengan cepat, membuat Ratih semakin blingsatan.

Apakah ini bisa menjadi tombol daruratmu? Ajo Mansur yang ada dibelakangku juga berharap itu benar, ia bisa meneruskannya kapan-kapan kalo ia sudah sembuh nanti. Akan sangat seksi kalo perempuan semacam Ratih ini bisa squirt. Akan jadi perempuan yang bagaimana ia nantinya? Apakah tetap begini? Ato lebih binal?

Remasan kuat berulang-ulang menyerang Aseng junior dan perut Ratih berkontraksi mengetat. Cepat kucabut Aseng junior.

“Crresshh…” selarik semburan melesat lemah dan mendarat menodai basah sprei ranjang penginapan ini.

“Aahh… Aihh… Dinda pipis, biii… Ahh… ahh… Jorok yaa, bii…” erangnya menyesal telah melakukan hal yang dikiranya hina itu.

“Enggak, dinda sayang abii… Abi sengaja buat Ratih begitu… Abi yang buat, koook… Enak, kaan?” kata ajo Mansur berusaha menenangkan istrinya yang khawatir telah melakukan sesuatu yang teramat salah. Melakukan sesuatu yang tidak pantas berupa pipis sembarangan.

“Abi hanya mau membuat adek puas, kok… Abi udah lama nganggurin kalian selama ini…” lanjutnya.

Aku masih mengusap-usap kacang itil Ratih perlahan dengan menyodok vaginanya lagi pelan-pelan. Mendengarkan percakapan privat suami istri ini.

“Enaaak, bii… Pipisnya beda yaa, bii?”

“Bedaa… Lagian itu bukan pipis benaran, kok… Bilang aja pipis enak… Gitu…” kata ajo Mansur berusaha menyederhanakannya.

Akan sangat aneh kalo ajo Mansur menjelaskannya sebagai squirt. Yang artinya ajo Mansur sudah sangat berpengalaman di bidang ini. Akan sangat dipertanyakan apa saja yang sudah dilakukannya di masa lalu.

“Mau lagi?” tawar ajo Mansur. Malu-malu Ratih mengangguk sambil menggigit bibir bawahnya.

Pernah membuat Dani dan kak Sandra ketagihan dengan pipis enak ini, tentu saja aku tidak keberatan melakukan hal yang sama pada Ratih. Akan sangat menyenangkan dan terasa amat jantan kalo aku bisa memuaskan perempuan yang kusetubuhi berkali-kali.

Pelan-pelan tetap kusodokkan Aseng junior dan mengulik tombol darurat berupa kacang itil Ratih yang menegang kaku. Ia langsung mengerang dan bergerak blingsatan. Tubuhnya menekuk kesana kemari. Kakinya yang melingkari pinggangku, tumitnya menekan pantatku dengan kuat.

“Bii… Enaak benaaar, biii… Uuhh… Ah… Ahh… Aihh…. Mm… Biii… Enak, biii… Mau pipis lagi, biii… Aihh… Uhh… Uhh…” tidak perlu menunggu lama, begitu Aseng junior kucabut, semburan pipis enaknya menyemprot lagi.

Kali ini ia tidak ragu-ragu lagi ato menahannya. Ada tiga kali semprotan kencing yang terpancar dari saluran urinnya. Berdenyut-denyut terlihat vaginanya yang kian terlatih itu. Liang kawinnya juga menganga basah bekas kujejali.

Seksi sekali perempuan alim bercadar istri pertama ajo Mansur ini. Dengan mudah Aseng junior menelusup masuk lagi ke liang sempit becek itu dan kembali kukocok pelan-pelan dan kulikan pada tombol daruratnya.

Keadaan Ratih sudah sangat berantakan dan ia ketagihan mendapat orgasme pipis enak itu. Rambutnya basah oleh keringat dan berurai awut-awutan di sekitar kepalanya yang tak bertutup hijab lagi.

Beberapa helai juga menjuntai di depan wajahnya. Nafasnya senin-kamis ngos-ngosan barusan diserang nikmatnya pipis enak. Sprei di hadapan kakinya yang membuka lebar sudah basah kuyup. Entah bagaimana ia tidur di ranjang ini setelah selesai nanti. Entah apa pula nanti tanggapan pihak pengelola penginapan ini mendapati kasur dan sprei ranjang ini basah sementara tidak ada anak kecil tidur di dalamnya. Bodo amat!

Setelah rangkaian pipis enak yang kuberikan pada Ratih, tidak salah dong kalo aku juga mau pipis enak. Kuabaikan sang tombol darurat ajaib itu. Aku hanya berpegangan erat pada dua bongkah pantat empuk lembut Ratih, meremasnya sesekali. Aseng junior memompa dengan cepat, memaksanya agar cepat ejakulasi lagi dan menyudahi ronde kedua yang sudah sangat becek ini. Apa aku sanggup untuk ke istri ajo Mansur berikutnya?

Mengingat Mila yang bersuara lirih dan lembut, membuat Aseng junior lebih cepat cenat-cenut. Gak perlu kupikirkan masalah yang akan kuhadapi sebelum bisa mengeksekusi istri kedua ajo Mansur itu nanti.

Mengakhiri rangkaian perjanjian memerawani tiga istri saudara sepupuku itu. Tak terlalu kupikirkan juga akankah mereka hamil oleh dua kali ejakulasiku ini. Yang penting aku segera ngecrot aja! Ngecrot sengecrot-nyaaa! “Akh!”

Berkedut-kedut Aseng junior memuntahkan muatannya. Dorongan demi dorongan memancar dan mengalir masuk ke dalam liang kawin Ratih dan memenuhi rahim istri tertua ajo Mansur ini. Rasanya sudah sangat tak terperi lagi nikmatnya. Lututku sampe lemas karenanya.

Bongkah pantatnya yang kenyal kuremas gemas berulang-ulang sangking gak sadarnya. Begitu Aseng junior kucabut, ajo Mansur segera menggantikanku. Ia tetap berusaha menempelkan, kalo bisa memasukkan penisnya ke milik sahnya ini. Istri yang seharusnya menjadi haknya seorang.

Dengan cara yang sama, dengan jari ia melebarkan mulut vagina Ratih dan mencucukkan penisnya yang masih lunglai tak sanggup menusuk masuk. Bengkok dan hanya patah menekuk saja, hanya terselip menggenaskan berlepotan sisa kental cairan sperma putihku. Ia menggeleng-geleng sedih.

Aku juga jadi mendadak sedih melihat ekspresinya itu. Aku sudah dua kali menikmati istrinya ini. Total aku sudah memerawani 2 dari 3 istri miliknya. Ajo Mansur memberiku kode anggukan yang berarti aku sudah boleh keluar dari kamar. Kukumpulkan semua pakaianku dan kupakai dalam senyap lalu keluar kamar dengan terlebih dahulu mengintip kondisi di luar. Sepi.

Aman… Aku keluar dan berdiri sejenak di beranda bungalow ini. Pintu kamar nomor 2 bungalow ini, dimana Mila berada tertutup rapat. Ajo Mansur memintaku kalo bisa, aku juga melakukannya pada Mila juga.

Sebenarnya aku sudah sangat lelah. Apa sebaiknya aku menolak saja, ya? Lebih baik aku ngaso dulu di cafe penginapan. Seharusnya masih buka karena bule-bule muda itu sering tidur larut malam di tengah malam ini.

Benar saja, perayaan berisik mereka ternyata masih berlanjut. Masih ketawa-ketiwi chit-chat sana sini dibarengi minum bir botolan. Aku pesan kopi dan duduk sendirian menghadap danau yang gelap dengan ombak kecil-kecil dihembus angin.

Secara normalnya, aku bisa 2 ato 3 ronde lagi-lah. Kalo dipakai biasanya, ajo Mansur hanya membolehkanku menyetubuhi istrinya 2 ronde saja seperti tadi barusan. Juga kemaren dengan Suli juga hanya 2 ronde saja. Seharusnya masih bisalah kalo untuk menggasak Mila.

Itu normalnya… Tapi saat ini keadaanya tidak normal bagiku. Setelah kejadian menghabisi anak muda dengan ilmu Mandalo Rajo palsu itu, aku cukup terguncang. Kusesap kopi pesananku yang sudah datang.

Hangat dari pahit dan manisnya memenuhi dadaku. Terguncang hingga aku harus beristirahat seminggu di alam daerah kekuasaanku yang tak terikat waktu. Setara seminggu di dunia nyata harus kuistirahatkan jiwaku untuk menyembuhkan luka itu dengan meditasi.

Besok kami akan bertolak lagi ke tujuan berikutnya yaitu pulau Cubadak. Pulau ekstotis yang ada di tengah Samudra Hindia yang dikenal dengan julukan surga tersembunyi oleh turis mancanegara. Itu bisa jadi lokasi eksekusi yang tepat bagi Mila, istri kedua ajo Mansur tentunya.

Pria itu seharusnya memang memberikan kesan tersendiri bagi istri-istrinya dengan kesan mendalam agar bisa dikenang dimana mereka kehilangan kehormatan berharga itu, di tempat yang romantis atau indah.

Apalagi staminaku akan full lagi besok tentunya. Juga aku juga akan lebih bersiap menghadapi lawan berikutnya yang sudah kupastikan akan kembali kukonfrontir. Kalo kembali ada unsur-unsur harimau di teluh ato santet ini, aku sudah tau cara menghadapinya. Aku sudah tau harus bersikap apa.

Seorang pemuda bule asal Swiss mengajakku ngobrol sebentar karena pacarnya sedang ke kamar kecil. Ia berkisah kalo ia sudah di Indonesia selama seminggu. Habis dari sini ia akan berangkat ke pulau Mentawai untuk mengejar ombak yang lagi bagus musim ini.

Teman-temannya yang lain juga akan kesana, gerombolan berisik di sebelah sana itu. Kutanya kenapa ia tidak ikut bergabung dengan mereka, katanya pacarnya gak kuat minum jadi agak melipir sedikit menjauh.

Sang pacar cantik kembali dari kamar kecil dan bergabung dengan kami. Sedingin ini, ia sanggup memakai pakaian tipis saja. Pantesan aja, suhu segini mungkin di negaranya sana setara musim panas kali, ya?

Aku mempromosikan tujuan wisata lainnya yang kira-kira akan menarik perhatiannya dan ternyata mereka sudah banyak tau spot-spot bagus yang tidak terlalu Mainstream seperti Bali ato Lombok.

Mereka lebih mementingkan keindahan alam daripada fasilitas karena mereka bepergian ala backpacker yang minim biaya. Pulau Cubadak tentu tidak akan masuk hitungan mereka karena cost-nya cukup mahal.

Keknya cuma oom-oom bule tajir aja yang memilih tempat itu sebagai lokasi berlibur. Di tengah keseruan pembicaraan kami, ajo Mansur bergabung dengan kami. Tak lama mereka permisi karena mau tidur.

“Siap untuk Mila, Seng?” tanya ajo Mansur.

“Keknya jangan dulu-la, jo…” tolakku sebenarnya sungkan.

“Apa gak sebaiknya besok aja di pulau Cubadak?” memberi alasan sekaligus solusinya.

“Lagian aku dah lumayan capek juga, nih…” tambahku memegangi sendi lenganku, gestur pegal.

“Mm… Gitu, yah? Yakin? Kayaknya Aseng baik-baik aja-ah… Ada masalah apa?” selidik ajo Mansur.

“Ajo gak masalah kok, Seng… Santai aja… Ajo kan sudah janji gak akan apa-apa walo segini berat… Suwer-lah, Seng…” menatapku tajam. Mungkin ia mengira aku sungkan dengan beberapa ekspresi yang ditampilkannya seperti menyesal, sedih, kesal atopun marah.

“Bukan itu, jo… Ada masalah lain… Bukan ajo Mansur masalahnya…” potongku cepat sebelum ia salah tanggap.

“Masalahnya cukup bikin pusing…” lanjutku malah ngegantung. Ini tentunya masalah silat harimau itu. Mandalo Rajo dengan Inyiek Mandalo Sati.

“Eh… Tadi udah ada perkembangan lagi, kan?” aku mengalihkannya ke topik lain.

“Iya-iya… Agak lebih berisi dikit… Sebenarnya… apa yang kau lakukan sih, Seng?” kepo ajo Mansur.

“Apa kau lagi belajar jadi dukun?” tebaknya.

“Kau menyantet balik dukun itu?” Jiaah! Aku disamain sama dukun. Kimbek-kimbek.

“Cepat-lah obati ajo-mu ini…”

“Iya… Beres, jooo… Ada satu tahap lagi sebenarnya… Tapi Aseng bukan dukun-la, jo… Gak mau aku dibilang dukun… Jijik kali aku sama nama itu… Jelek kali kurasa… Awak ni pegawai pabrik aja-nya…” elakku gak sudi diberi cap dukun.

Terhina kali rasanya anak mudanya dituduh jadi dukun. Kek gak ada aja nama lain. Paranormal, kek? Sama aja! Paok!

***

Kami cabut dari penginapan bungalow itu sekitar jam 10 pagi dan langsung menuju Padang. Sayangnya ibuku dan besannya sudah lelah dan tak jadi ikut sampai ke pulau Cubadak. Lagipula katanya dirinya dan besannya gak pantas ada di pulau begituan. Jadi yang pergi adalah keluargaku, keluarga kak Dedek, sepasang pengantin baru itu dan tentu saja keluarga ajo Mansur dengan tiga istrinya.

Dari Padang lanjut menyusuri pesisir hingga mencapai daerah Painan menuju pantai Carocok untuk naik speedboat untuk mencapai pulau dengan jarak tempuh kira-kira 15 menit saja. Pantai Carocok ini termasuk pantai yang cukup ramai dikunjungi masyarakat di masa libur.

Karena ini bukan hari libur ato weekend, suasananya agak lengang siang ini. Hanya ada beberapa pengunjung dan kebanyakan sejoli yang sedang memadu kasih saja. Perjalanan menumpang speedboat berjalan lancar, pulau Cubadak tujuan kami sudah terlihat di horizon.

Kami disambut oleh pengelola resort pulau nan rancak ini. Pulaunya tidak terlalu luas tapi memiliki resort dengan kelas bintang 5 yang dikelola warga asing yang sempat menjadi polemik kalo lokasi ini sudah dibeli para ekspatriat.

Sejauh mata memandang, hanya turis asing berbikini saja yang sedang leyeh-leyeh berjemur atau sedang ngobrol ke sesamanya. Mereka sempat melihat heran tiga wanita berhijab lebar, apalagi bercadar memasuki tempat ini.

Kami diarahkan berkeliling mengitari pulau sesuai apa yang dipesan ajo Mansur. Dia bilang tempat kami menginap tidak akan bercampur dengan turis-turis bule itu sehingga kami tidak akan saling mengganggu. Lokasinya ada di belakang pulau karena bisa dibilang sekeliling pulau ini sama amazingnya. Pantai dengan pasir putih dan air biru nan jernih sepanjang mata memandang.

Resort ini bersistem village hingga tempat kami menginap berupa bangunan-bangunan rumah panggung mungil terbuat dari kayu beratap nipah di tepi pantai agar serasi dengan alam tropis pantai dan pulau. Para turis mancanegara menyebut tempat ini sebagai surga. Cam dah pernah aja klen mati trus masuk surga.

Total ada 5 bangunan yang kami tempati di sini. Masing-masing untuk satu keluarga dengan pengecualian keluarga ajo Mansur yang terdiri dari 3 istri, yang menggunakan dua bangunan. Jarak antar bangunan cukup berjauhan dan bervariasi. Pokoknya tiap bangunan memiliki pantai pribadi di depan halamannya. Sekeren apa itu? Keren kali! Muantabbbb!

Yang paling heboh tentu saja anak kak Dedek yang sudah beranjak remaja. Anak kak Dedek ada 3 dan semuanya cewek. Satu berumur 13 tahun dan 10 tahun dan yang terkecil sebaya dengan anakku Salwa karena mereka kembaran. Mereka bersama anakku Rio langsung menyerbu pantai yang asik sekali untuk bermain air. Air yang jernih dan dangkal cocok untuk anak-anak seperti mereka. Para orang tua hanya perlu mengawasi saja agar tidak bermain terlalu kebablasan.

Dikejauhan sana, dibagian pantai yang lain, sayup-sayup aku bisa melihat ajo Mansur sedang bercengkrama dengan tiga istrinya di pantai juga. Keadaan Ratih dan Mila tidak memungkinkan keduanya untuk bermain bebas di pantai umum.

Tetapi di pantai semacam ini, keduanya bisa bebas karena hanya ada kami disini. Sepertinya mereka juga sudah menganggap kami seperti keluarga dekat setelah sekian hari bersama-sama liburan di beberapa lokasi. Mereka dengan riangnya bermain pasir dan air. Siram-siraman dan berlari berkejaran. Aku tak perlu iri melihat itu. Aku punya keluarga sendiri di sini.

Berleha-leha di pantai pribadi ini sangat… apa ya namanya? Gak ada pulak perbendaharaan kata-ku yang pas untuk menggambarkannya. Aku ini orang yang sudah terbiasa hidup susah dari kecil.

Keluarga kami hanya keluarga sederhana yang menggantungkan semua nafkah hidup dari orang tuaku yang punya usaha kedai kopi pinggir jalan. Yang kek-kek gini cuma pernah kuliat di brosur-brosur ato sinetron.

Melihat Salwa bergembira mandi di ember di kamar mandi aja sewaktu mamanya lagi nyuci sebenarnya udah sama bahagianya kek bermain air di waterboom mahal. Melihat Rio maenan pasir di halaman rumah yang mungkin kecampur sama e’ek kucing udah sama bahagianya kek bermain di pantai pribadi ini.

Ternyata bahagia itu mudah…

Sehabis makan siang di restoran resort yang berada menjorok ke tengah laut, kami duduk-duduk di bar sepi di salah satu sudut pulau. Ketiga istri ajo Mansur sedang ngobrol-ngobrol sesama perempuan di sudut sana sementara aku mojok bareng ajo Mansur di sini. Memandangi laut lepas yang biru dan tenang siang ini. Menurut salah satu staff resort, pasang akan terjadi sekitar sore hari.

Angin berhembus sejuk dan segar. Ada keseruan dari obrolan para emak-emak di sana yang dimotori kak Dedek dan istriku yang lebih senior dalam masalah rumah tangga beserta asam garamnya. Kedua iparku entah ada dimana, mungkin mancing ato malah tidur. Duduk malas-malasan di kursi rotan dengan couch lembut bisa-bisa membuat mata redup.

“Enak ya, jo… jadi orang kaya?” tanyaku ngelantur dengan mata kriyep-kriyep 5 watt.

“Ah… ha ha ha… Ada-ada aja kau, Seng… Bukannya kerjaanmu lagi bagus… Buktinya bisa punya Pajero…” kata ajo Mansur teliti juga. Ia tentunya tau kalo mobil itu bukan rental di Padang melainkan kubawa dari Medan berdasarkan plat nomornya yang BK.

“Punya kantor itu, jo… Mana mungkin kuli bisa punya mobil mahal kek gitu…” kataku merendah. Padahal pulang dari liburan ini, aku yakin kak Sandra akan menyerahkan BPKB mobil itu padaku sesuai janjinya. Aku bingung gimana nanti ngomongnya sama istriku. Gak mungkin kan terus kubilang itu mobil inventaris kantor kalo buku hitamnya kupegang.

“A-lah… Gak usah kayak gitu-lah, Seng… Apalagi nanti kalau galon itu jadi kuberikan padamu… Kau gak usah kerja lagi jadi.. apa?… Kuli? Keluar aja dari pabrik itu… Hidupmu udah makmur dari situ…” katanya mengejutkan. Ia benar-benar serius mau menyerahkan SPBU itu padaku? Tapi kalo istrinya ada yang hamil, kan? Masa one night stand gitu bisa langsung hamil? Yakin sekali dia. Aku aja yang subur begini gak segitu yakinnya.

“Heh? Gak usah bejanda gitu-ah, jo… Awak ni apa-la?” kembali aku merendahkan diri. “Enak jadi pengusaha ya, jo? Waktunya lebih fleksibel…” kataku ngelantur lagi. “Mau liburan tinggal terbang… Mau kemana tinggal terbang… Apalagi kalo duitnya banyak kek ajo…”

“Temanmu kan ada itu yang pengusaha… Siapa namanya?” tanya ajo tiba-tiba.

“Kojek, jo? Dia usaha ternak babi, jo…” kataku agak ngenes dengan pilihan usaha sahabatku itu.

Aku pernah ditawarinya untuk invest di usahanya itu bareng Iyon juga. Promosinya gila-gilaan. Katanya balik modal-nya cepat karena babi kalo beranak langsung banyak, bisa 10-12 ekor sekali lahiran.

Gedenya cepat, makannya gak susah. Katanya aku juga gak usah keluar zakat harta dari usaha itu karena binatangnya haram. Dibanding melihara sapi ato kambing lebih untung babi katanya. Muke gile itu orang. Aku dan Iyon guling-guling ketawa mendengar pemaparannya itu semua.

“Bukan yang itu… Yang kembar itu, loh…”

“Oh… Ron sama Buana-nya BSCA (Bhumi Surya Chandra Awan Group)?” ingatku akan pasangan kembar yang menjadi pengusaha sukses hingga hitungannya sudah konglomerat Indonesia. Mereka berdua alumni sukses yang pernah belajar silat bareng kami bertiga. Bahkan Iyon bekerja pada salah satu dari mereka.

“Yahh… itu… Kalo dibanding mereka… usaha ajo ini gak ada apa-apanya… Cuma seujung kuku aja dengan mereka berdua… Awalnya mereka sama denganmu, kan? Sama-sama maen sana… maen sini… Tapi mereka memilih jadi pengusaha dan sukses… Bukan jadi karyawan… Kalo karyawan… yaa… begini-begini aja trus nasibnya…” nasehat ajo Mansur untuk menggerakkanku menjadi wirausaha.

“Ya tapi gak usah langsung drastis-lah… Mulai saja dari kecil-kecil dulu… Dari hobi mungkin… kuliner… jasa… apa saja…” katanya memberi contoh sebab ia punya berbagai jenis usaha yang memberinya banyak keuntungan. Ia punya usaha rumah makan, jasa travel, supermarket dan juga beberapa yayasan pendidikan. Saat ini ia sedang fokus merintis sebuah rumah sakit.

Lama kami berbincang-bincang yang tak kalah seru dengan pembicaraan kelompok emak-emak di sebelah sana dan tak terasa sore mulai menjelang. Kami balik ke bangunan-bangunan kayu eksotis yang berada di tepian pantai.

Para anak-anak masih riang bermain air sampe kulit mereka mulai agak gosong terlalu lama terpapar sinar matahari. Salwa dan kembarannya, anak kak Dedek tertidur pulas di teduhan pohon beralaskan tikar, kelelahan puas bermain.

Resort yang minimal disewa dua malam ini sungguh memanjakan para tamunya. Berbagai pilihan servis dapat dipilih sesuai harganya yang bertaraf bintang 5. Tentu saja agar tidak berbaur dengan turis mancanegara yang terbilang sangat provokatif pakaiannya, yang bisa membuat jakun turun naik, otong turun naik, kami memilih untuk mendapatkan pelayanan tersendiri.

Atas kemurahan hati dan dompet ajo Mansur tentunya. Makan malam kami lakukan di sebuah bangunan mini di sudut tersendiri pulau Cubadak yang berarti nangka ini. Ini pengalaman yang tak terlupakan.

Ajo Mansur menepi di sudut sana dengan ketiga istrinya. Candlelight Dinner ala-ala pantai di meja petak dikelilingi ketiga istrinya dengan suguhan romantis. Ini bulan madu tersendiri bagi mereka berempat.

Aku dan istriku tentu aja gak bisa maen romantis-romantisan lagi karena direpotkan dengan badungnya Rio dan rewelnya Salwa. Kami menciptakan kericuhan tersendiri di tempat ini. Begitu juga dengan keluarga kak Dedek. Yang agak mirip mungkin Selvi dan suaminya, pengantin baru gituh loh. Suap-suapan dan ngobrol berbisik lirih.

Malam ini, kalo sesuai dengan rencana, ajo Mansur akan meneruskan prosesi belah duren ketiga untuk Mila, istri keduanya. Mila dari tadi banyak tersenyum-senyum sendiri. Mungkin ia sudah berekspektasi, malam ini suamiku akan mendapatkan kesucian yang selama ini kujaga dengan sebaik-baiknya. Dua saudaranya telah mendapatkan kehormatan itu dan ia yang terakhir.

Ajo Mansur ternyata membuat giliran satu, dua dan tiga terhadap ketiga istrinya ini sehingga keliatannya seperti gak teratur. Kebetulan sewaktu di hotel Bukit Tinggi dua hari lalu itu bertepatan dengan giliran Suli sehingga seolah istri ketigalah yang mendapat prioritas pertama kali. Padahal bukan seperti itu ceritanya.

Dan bukan seperti itu juga ceritanya seperti yang diketahui dan diharapkan ketiga istri ajo Mansur bahwa suami mereka-lah yang telah dan akan melakukan prosesi belah duren itu, ternyata dilakukan oleh pemeran pengganti; Aseng. Sejauh ini aku sudah memerawani dua dari tiga istri ajo Mansur. Suli pertama kali dan Ratih kedua. Tersisa Mila. Ini semua bukan kemauanku, ini semua kemauan suami mereka bertiga, ajo Mansur.

“Belum bisa keluar juga ya, jo?” tanyaku tadi siang.

Ia menggeleng getir. Disamping kalapiah-nya gak bisa tegang secara normal, ajo Mansur juga tidak bisa ejakulasi sama sekali seberapa keras-pun ia merangsang dirinya sendiri. Bahkan sampai menyaksikan dua istrinya digenjot pria lain-pun ia tidak bisa ejakulasi walau dirancap sepanjang sesi dua ronde masing-masing.

Aku harus memberi pelajaran pada dukun-dukun ini semua. Kurang ajar semua penyantet abang sepupuku ini sampai menderita segini rupa. Penderitaannya sudah mencapai lahir dan batin di tahap ini berkat pilihannya sendiri.

Tapi salahnya juga mempercayakan tanggung jawab ini padaku yang hanya punya waktu satu minggu liburan di kampung ini. Kalo berobat secara normal tentu aku tidak mau secara aku sama sekali bukan dukun yang berkompeten untuk menyingkirkan teluh dan santet yang menimpa keluarga ini.

Aku hanya berada di waktu yang tepat dan ada di tempat yang tepat juga. Dan itu harus diterima ajo Mansur dengan segala konsekuensinya. Aku kebetulan bisa menyingkirkan satu persatu teluh yang menyerang ajo Mansur melalui istri-istrinya.

Teluh ini bersifat iri dan dengki. Memberi penderitaan pada wanita ini lewat suaminya yang tidak akan bisa menjalankan tugas biologisnya sebagai seorang suami seutuhnya. Secara fisik mereka tidak akan apa-apa, tetapi secara mental tentunya bakalan terganggu.

Suami mana ato istri mana yang tahan tidak ‘disentuh’ di kehidupan perkawinannya? Tujuan prokreasi akan sangat diingkari dalam tragedi ini.

Dua pelaku teluh sudah kusingkirkan. Teori awalnya ternyata benar kalo mereka berhubungan walopun mungkin tidak secara langsung saling mengenal satu sama lain. Kata kunci penghubungnya adalah harimau.

Dukun pertama yang menyerang Suli memiliki Menggala seekor siluman harimau yang mengaku-ngaku sebagai Inyiek Mandalo Sati, entitas legendaris di ranah Minang ini.

Dukun kedua yang menyerang Ratih memiliki ilmu silat harimau Mandalo Rajo yang hanya bisa diturunkan oleh Inyiek Mandalo Sati walo aku ragu karena silatnya tidak asli alias cuma meniru saja. Kedua dukun itu sudah tewas dengan menggenaskan.

Yang pertama karena berkelahi dengan harimau-nya sendiri dan yang kedua karena kubantai menggunakan silat harimau Mandalo Rajo yang asli. Ini yang sangat kusesali, karena aku sudah pernah berjanji tidak akan menggunakan ilmu silat mengerikan itu.

Tinggal di satu istri ajo Mansur. Yang ketiga yang menyerang Mila. Aku yakin kali ini akan ada hubungannya kembali. Akan ada unsur-unsur harimau ato menyerempet nama Inyiek Mandalo Sati ato malah menyinggung silat harimau Mandalo Rajo lagi. Akan kita liat yang mana satu.

Istri dan kedua anakku sudah tertidur lelap di kamar. Lelah dengan aktifitas liburan di pantai yang sangat menyenangkan ini. Walo bukan dengan duit sendiri, setidaknya aku sudah bisa membawa mereka menikmati liburan yang sangat-sangat layak.

Dengan fasilitas dan akomodasi terbaik. Bangunan-bangunan tempat kami menginap untuk dua malam ini kebanyakan sudah mematikan lampu. Bangunan-bangunan dengan satu kamar ini letaknya berjauhan sehingga hanya titik-titik lampu beranda yang menandai kehidupan. Hanya ada satu bangunan yang masih terlihat menyala, bangunan dimana ajo Mansur sedang bercumbu rayu dengan istri keduanya, Mila.

Ratih dan Suli ditempatkan di bangunan lain, berdua karena malam ini adalah waktu hanya untuk Mila. The moment, kerennya. Sementara aku duduk menunggu di bangku kayu yang ada di halaman bangunan jatah kami.

Menikmati angin malam yang sejuk membawa aroma laut nan segar. Suara ombak kecil pecah satu-satu silih berganti menyapa bibir pantai tepat di depan mataku. Hanya bertemankan sepi karena sinyal HP saat ini tidak sampai ke pulau.

Mungkin telepon satelit bisa tapi aku tidak punya. Bagaimana caraku berkomunikasi dengan ajo Mansur? Mensinyalkan kalo aku sudah bisa bergerak? Karena itu aku dari tadi mempelototi satu sinar lampu setitik yang menyala di beranda bangunan yang didiami Mila dan ajo Mansur. Bila lampu itu berkedip beberapa kali (on-off berulang) pertanda aku mulai bergerak.

Jadi alhasil kerjaanku selama menunggu adalah memelototi beberapa foto. Terutama foto-foto ekse sebelumnya. Foto bugil Suli dan Ratih yang dikirimkan langsung ajo Mansur padaku.

Tidak lupa pula foto binor-binor yang ada di Medan. Foto seksi Pipit dengan berbagai lingerie-nya. Foto selfie cantik Iva yang manja. Di dinginnya malam ini, ada sedikit rasa hangat yang merayap di tubuhku. Tentunya berasal dari Aseng junior.

“Tek-tek… tek-tek…” lampu beranda itu berkedip dan aku bergegas bergerak.

Ada dua antusiasku. Menyaksikan tubuh tanpa busana Mila yang cantik tak berhijab-nya. Pada dua istri ajo Mansur sebelumnya, aku dapat kesempatan di awal untuk mendapatkan foto yang dikirimkan, kali ini tidak karena keterbatasan sarana.

Juga unsur harimau apa yang kali ini bersinggungan denganku. Pasir pantai yang memperlambat langkahku tak kuperdulikan. Detik demi detik kunikmati langkahku yang semakin mendekat ke bangunan tipe village Resort yang ditempati sejoli suami istri itu. Tirai dan jendela tertutup rapat tak memungkinkanku untuk mengintip tetapi pintu terbuka, sengaja tak dikunci ajo Mansur. Aku masuk dengan mudah.

Aku menyaksikan bagaimana ajo Mansur selesai mengabadikan istri keduanya ini dengan kamera HP. Itu adalah hadiah untukku. Mila sudah memakai penutup mata sementara ia sudah tidak memakai apa-apa lagi untuk menutupi tubuhnya.

Ia duduk bersandar di kepala ranjang rendah terbuat dari rotan berkasurkan springbed kualitas terbaik ini. Lampu redup menambah indah siluet yang membentuk garis-garis gurat tubuhnya yang telanjang. Rambut panjang hitamnya tergerai bebas di punggungnya. Tubuh langsingnya seputih kedua sepupunya.

Yang paling menarik perhatianku adalah bentuk payudaranya rata pada bagian atas lalu membesar dan mencuat mancung menantang pada bagian bawahnya. Lalu bentuk segitiga vaginanya yang berambut tebal hanya pada bagian atas seolah mendapat perawatan bikini wax dan plontos di bagian lainnya.

Suaminya memberi kode tutup mulut padaku dengan jari telunjuk di depan mulutnya. Ajo Mansur duduk di samping Mila dan mengarah pada payudara mancung menggemaskan itu. Dicucup-cucupnya mancung puting itu hingga Mila mengerang-ngerang keenakan.

Ajo Mansur mengarahkan tangan Mila untuk menyentuh penis lunglainya, mengajarinya untuk menggenggamnya, menegakkannya berdiri, mengocoknya. “Biii… Enaak, biii… Uhh… Nnn…”

Juga sentuhan lainnya dilakukan ajo Mansur pada kemaluan Mila yang kakinya dibuka lebar-lebar sembari duduk bersandar. Lincah jari tangannya mengutik-utik kacang itil Mila yang cukup jelas terlihat menegang.

Sesekali jarinya juga merangsek masuk ke liang kawinnya hingga jari pria itu basah oleh cairan vagina istrinya. Menyaksikan pemandangan erotis itu, aku menelanjangi diriku kecuali sempak. Stok daun bakal senjataku sudah tersimpan rapi di dalamnya juga.

Aku mendapatkan daun bagus di seputaran pulau ini sebagai koleksi baruku. Aseng junior sudah mulai bangun dan menuju ukuran tempurnya untuk melaksanakan tugas akhirnya di rangkaian proyek memerawani dan menghamili kalo bisa tiga istri ajo Mansur.

Aseng junior semakin keras takala ajo Mansur menarik tubuh istrinya untuk rebah tak lagi bersandar. Ia bertujuan untuk meng-oral istri cantiknya ini. Kakinya yang terbuka lebar menjepit kepala ajo Mansur yang tenggelam di belahan nikmat itu.

Terdengar suara seruputan binal dari mulut dan vagina becek yang beradu. Mila meraung-raung keenakan menikmati oral vagina yang dilakukan suaminya. Tanpa diketahuinya ada individu lain yang menyaksikan kegiatan privat suami-istri ini sedang mencekik batang penisnya sendiri yang meradang tegang, menunggu giliran.

Lihainya ajo Mansur, tak lama ia berhasil menyebabkan Mila mendapatkan orgasme hanya lewat permainan mulut saja. Perempuan yang kesehariannya tertutup hijab lebar dan longgar itu menggeliat-geliat bergetar merasakan orgasme nikmat pertamanya.

Ajo Mansur menjilat panjang beberapa kali lalu menuntaskannya dengan mencoba menusuk liang kawin istrinya itu dengan penis lunglainya. Sedihnya, kemaluan tak berdaya itu hanya tertekuk membengkok melenceng dari jalurnya, tak mampu menusuk masuk dan merayakan kepemilikannya atas perempuan cantik berstatus istrinya.

Dicobanya beberapa kali dan Mila menunggu dengan sabar. Untungnya perempuan semacam ini, minim pengalaman sehingga mereka cenderung pasif dan hanya menunggu. Baik karena tuntutan budaya dan moral juga.

Gesek-gesek kemaluan keduanya dibarengi dengan ciuman-ciuman panas dari ajo Mansur juga. Entah kenapa aku mendapat kesan kalo ajo Mansur seperti gak rela menyerahkan Mila padaku karena aku menangkap naga-naganya ia mengulur waktu.

Masih berharap banyak penisnya akan greng tiba-tiba dan ia bisa menembus istrinya ini. Bukan begitu caranya, jo. Ingin kujelaskan padamu, tapi aku tidak bisa. Aku tidak bisa menjelaskannya tanpa ada pertanyaan lain lagi menyusul jawaban itu.

Terutamanya, kok bisa? Kok bisa aku begini. Kok bisa aku disantet. Kok bisa kau punya kemampuan begini. Banyak pertanyaan kok bisa-kok bisa lainnya.

Kutunggu dengan sangat sabar, jo. Tag-team-lah kalo kau sudah puas berusaha. Akan ku-Smack Down istri cantikmu ini sebaik mungkin. Aku sabar-sabarkan hati dan Aseng junior. Sabar, Seng… Semua kan indah pada waktunya. WKWKWK! Indah kali nanti saat kutembus perawan istri ajo Mansur ini.

Indah… Ini kali pertama aku diberikan kesempatan ajo Mansur untuk menyaksikan proses foreplay-nya dengan istrinya. Di dua kesempatan sebelumnya, aku hanya melihatnya sisa-sisanya aja. Gak masalah sih sebenarnya. Biarkan suaminya yang memanaskan ranjang ini dulu dan aku yang akan menyantap hidangan utamanya.

Cumbuan keduanya akhirnya berakhir dan ajo Mansur turun dari ranjang dengan muka merah kesal. Ia membetot penisnya yang tak kunjung menegang sempurna kuat-kuat. Kalo dicekik erat sedemikian memang darah disekujur vena penis akan terperangkap dan terjebak sehingga seolah penis itu menegang keras, tetapi itu palsu dan tak bisa juga dipakai. Karena itu ajo Mansur kesal dan memberiku kode untuk mengambil alih. Tag-team!

Tak lama aku sudah berada di antara kaki Mila yang terbentang lebar. Aku memegang satu lututnya dan tangan satu lagi mengarahkan Aseng junior yang telah bersiap tempur dan berperang.

“Ini baru keras, bii…” lirih suara Mila terdengar jelas di telingaku karena kedekatan kami. Kaget aku dan ajo Mansur mendengar celetukan Mila barusan. Aku takut kalo tiba-tiba Mila membuka penutup matanya dan mengintip. Bisa kacau semuanya.

“Tentu ini sudah keras, deek… Tahan, yaaa… Agak sakit dikit-loh…” kata ajo Mansur meyakinkan sang istri kalo yang sedang berusaha mencoblos kemaluannya adalah orang yang sama, suami sahnya.

“Tahan ya, deek…” Tentu saja, normalnya perempuan itu akan berpikir begitu karena pastinya dia tak akan menyangka skenario begini absurd akan terjadi di hidupnya.

Tubuh tegang Mila sedikit mengendur yang tentunya menyebabkan Aseng junior tergelincir dengan mudah masuk ke sasaran tembaknya. Kepala kemaluanku menelusup masuk dan terbenam terjepit sempurna berkat bentuk dan gagah keras kakunya. Hal yang tidak bisa dicapai ajo Mansur saat ini.

Saat kulirik ajo Mansur untuk persetujuan akhirnya sebelum ku-cuss, ia sedang menatap keras kakunya Aseng junior yang bersiap menusuk kehormatan istrinya yang di ujung tanduk terjebol kejantananku.

Pandangan sedih tak berdaya itu lagi. Kadang ada ketakutan tersendiri di hati kecilku, kalo tiba-tiba ia menghajarku dari belakang tiba-tiba saat aku lagi enak-enaknya menyetubuhi istrinya. Gak ada jaminan, kan? Serem, euy.

“Abi masuk ya, deek…” ujar ajo Mansur sekaligus konfirmasi bagiku.

Kudorong pelan-pelan agar Aseng junior semakin mendesak masuk. Liang kawin Mila nyatanya memang sangat sempit khas status perawannya. Sempit menggigit ketat menjepit kepala Aseng junior yang kelelep di dalam sana. Kalo kupaksakan sebenarnya bisa saja. Tapi hasilnya akan sangat menyakitkan.

Pelan-pelan juga sakit. Tidak ada cara yang paling mudah untuk menembus perawan sebenarnya. Tapi para perempuan ini mahluk yang kuat dan tahan akan segala rasa sakit. Semangat, sis…

Mila menggigit bibir bawahnya pertanda ada rasa sakit dan pegal yang menyerang vagina dan panggulnya. Sebaik apapun ajo Mansur melakukan foreplay untuk merilekskan bukaan kemaluan istrinya, perawan tetaplah perawan yang sempit.

“Sakit, biii… Pelan… Uhh… Pelaan, bii… Mmm… Pelan-pelan, biii… Mila sakit, bii…” banyak dan panjang kata-kata yang keluar dari bibirnya yang menekuk kesakitan.

“Punya abi masuknya pelan-pelan aja, bii… Auuhh… Sakit, biii… Pelaan, bii…” dah kek burung betet nyerocos Mila dari yang biasanya kalem dan irit kata-kata. Prosesi belah duren ternyata bisa membuka segel mulutnya juga jadi cerewet begini. Apa aku merasa beruntung mengetahui fakta baru ini?

Aseng junior berhadapan dengan sebuah lapisan tipis penghalang akhir yang merupakan hymen paling berharga Mila. Kepala Aseng junior sudah masuk seluruhnya. Sebuah mahkota rapuh berupa sebuah tabir tipis yang rentan tusukan benda tumpul.

Aku merasa lebih beruntung bisa menembus ini. Dorongan-dorongan kecil dengan tarikan kecil kulakukan untuk memperlancar membuka jalan menembusmu, Mila. Tangannya mengepal erat, payudara mancungnya bergoyang indah seirama sodokan pendek-pendekku. Ia terus meracau cerewet bak betet.

“Sakit, bii… Pelan-pelan, bii… Yang lembut, bii… Lembut aja bii pada istrimu, bii… Uhmm… Masih sakit, biii… Pegel, bii… Auhh, biii… Ahhsstt…” ia terus meracau.

“Akh!”

Sodokan keras kulakukan akhirnya dan membungkam mulut pedas cerewetnya. Kedut-kedut liar kemudian membanjiri panca indraku. Ini kedutan yang berasal dari liang kawin Mila yang kusodok kencang hingga menembus pertahanan terakhirnya itu.

Hangat Aseng junior dan basah terasa yang mungkin berasal dari darah perawan yang mungkin mengalir mencari jalan keluar melalui celah sempit pertemuan kelamin kami.

Mulut Mila menganga lebar. Mungkin agak syok akan rasa sakit dan pedih yang tiba-tiba menyergap vaginanya, rasa pegal yang mengganggu seputar pinggulnya. Beberapa saat aku terdiam tetapi mengirimkan kedutan balasan dari batang Aseng junior-ku sendiri.

Memberitahunya kalo rasa sakit itu tidak seberapa dibanding dengan rasa nikmat yang akan datang menyusul. Sahut menyahut kedutan yang kami lakukan entah Mila sadar melakukan ini. Seolah saling berbalas pesan memakai kode Morse. Bercengkrama dalam diam.

“Sakit ya, dek?” tanya ajo Mansur. Mila tak menjawab hanya diam dan bungkam.

Pelan-pelan kugoyang-goyangkan tubuh Mila yang terhubung denganku lewat persatuan kelamin kami. Weit e minit… Ada sesuatu yang salah disini. Apa, ya? Kok ada yang kurang? PANTEK! (PANTAT!)

Tak ada serangan teluh ato santet pada Mila sama sekali. Aku tidak tiba-tiba masuk ke dalam lingkungan asing dimana lawan akan menyambutku. Tidak ada serangan sama sekali! Jadi aku menyetubuhi Mila tanpa ada gangguan sama sekali. Ini artinya gangguan terakhir justru ada pada ajo Mansur sendiri.

Seperti yang sudah kudeteksi di jari tangan kirinya waktu itu. Abis ini, tetap tidak akan ada perkembangan tambahan pada kondisi ajo Mansur. Penisnya akan tetap lunglai seberapa inginpun ia organ reproduksinya itu berfungsi normal untuk mengawini istri-istrinya.

Aku tatap-tatapan dengan ajo Mansur untuk beberapa detik. Kikuk sebenarnya. Ada semburat aura sedih di sana. Aku tak bisa memungkiri itu. Pandangannya lalu jatuh kembali pada pertemuan kelaminku dan kelamin Mila yang berjembut lebat di bagian atasnya saja. Terbelah dan memerah akibat ditusuk paksa sang durjana—Aseng junior.

Tetesan darah berhasil keluar membuktikan dirinya, tanda keperawanan. Membekas di sprei putih menjadi tropi kelak. Aku terus menggoyang pelan-pelan dan akhirnya ada sedikit potensi kocokan yang terjadi.

Aseng junior bisa kutarik sedikit dan kudorong lagi. Tadinya tidak bergerak sama sekali, terkatup erat. Sekarang mulai bisa digerakkan.

“Uhh…” Nah ini dia Mila kukenal.

Minim suara. Tapi tetap menikmati. Gerakan memompaku kian lancar. Tarikan dan dorongan konstan terus berlanjut dan mulai panjang-panjang. Sesekali Mila kembali melenguh seperlunya. Tak ada lagi suara cerewet nyerocos seperti sebelum diperawani tadi.

Ada cairan licin yang tersekresi dari tubuhnya untuk melancarkan persetubuhnan kami. Aku lagi-lagi menikmati guncangan payudara mancung Mila dengan puting mungilnya yang aduhai imut. Ingin rasanya aku menyusu di sana. Apa daya… mulutku tak kesampaian.

“Shlok shlok shlok…” liang kawin Mila semakin becek dengan cairan lubrikasi hingga sodokanku makin mantap saja.

Aku bisa membenamkan Aseng junior lebih dalam yang disambutnya dengan erangan-erangan yang kuanggap apresiasi. Apresiasi karena telah menyentuhnya di tempat yang terdalam. Tubuhnya yang lebih banyak bergerak, berekspresi dengan geliat-geliat erotis menikmati tiap tusukan-tusukan penis yang menembus, membelah kemaluannya.

“Enak, dek?” tanya ajo Mansur dengan jakun turun naik menelan ludah berkali-kali melihat istrinya mulai menikmati persetubuhan perdananya. Yang sayangnya tidak dilakukannya dengan suaminya, malah dengan peran pengganti.

Ia terus tak kunjung menyerah merancap penisnya. Aku jadi ragu tak menyerah ato gak ada kerjaan lain yang bisa dilakukannya selain menyentuh dirinya sendiri. Dipikir-pikir, lebih masuk akal opsi terakhir itu.

Matanya tak lepas dari sodokan-sodokan stabilku pada kemaluan istrinya. Becek yang terjadi membuktikan kalo perempuan itu sudah sedemikian terangsang. Mungkin-mungkin akan mencapai puncak kenikmatannya juga sebentar lagi.

“He-emm… Uhh…” irit sekali seperti yang kukenal. “Enak, biii…” ini agak sedikit lebih panjang.

“Jangan ditahan-tahan, dek… Nikmati aja… Lepaskan…” cetus ajo Mansur memberi semangat pada istrinya.

Aku semakin gencar menyodok Mila. Pertengahan pahanya yang kucengkram menjadi peganganku selama menggasak bini orang ini. Aseng junior menusuk dalam sehingga perutku yang identik dengan perut ajo Mansur bertumbukan terus dengan selangkangan dan pangkal paha Mila yang putih mulus.

“Plok-plok-plok!” berulang-ulang suara tepukannya.

Mila menggeleng kanan kiri atas bawah dengan berbagai bentuk mulut. Dari menggigit bibir bawah, menganga, menarik bibirnya ke bawah, dan juga berbagai bentuk huruf Vokal tanpa suara diperagakannya. Keknya bisa nih… dikasih shortcut tombol darurat juga.

“Ah! Ah! Biii… Geli, bii…” erang Mila begitu dua kali kujawil kacang itilnya yang menonjol dari belahan vaginanya. Tubuhnya tersentak-sentak serupa kesetrum listrik.

“Ah! Ah! Jangan, bi-Ah!” malah makin iseng kukutik-kutik kacang itil menggemaskan itu. Alhasil guncangan melonjak-lonjak itu semakin menggoyang indah payudara mancungnya. Aku bahkan berhenti menggenjot demi mengutik klitorisnya demi sebuah sensasi lonjakan yang juga menjepit Aseng junior secara kejutan juga.

Tapi ia tidak kunjung orgasme juga. Hanya melonjak-lonjak imut dengan suara lirihnya yang mengagumkan. Lanjut kugenjotkan Aseng junior dan menciumi satu betisnya yang padat, bersih mulus. Jari-jari kakinya bergerak-gerak geli juga. Aku akan mengeksplor tubuhmu, Mila. Ajo Mansur, teruskan pekerjaanku ini nanti. Kau harus selalu memuaskannya bila kau sembuh nanti. Ini favoritku. Entah kenapa aku memfavoritkanmu, Mila…

“Auuhh…” tubuh Mila kelojotan liar tapi masih dalam batas wajar.

Liang kawinnya mengatup erat bersama otot-otot tubuhnya yang mengejang. Aseng junior diremas-remas di dalam sana. Enak sekali. Perut rata itu menonjolkan otot tegang pertanda Mila mendapatkan orgasmenya. Yeay! Apa pasal? Aku hanya menjilati jari-jari kakinya.

Oo… Itu dia masalahnya. Eh, bukan masalah, ding. Malah informasi baru. Aku menunjuk jari kaki mungil Mila pada ajo Mansur, berusaha memberitahunya kalo titik sensitif istri keduanya ini ada di jari kakinya. Dijilati bisa membuatnya orgasme sangking gelinya, mungkin.

Kucabut Aseng junior begitu Mila selesai dengan nikmat orgasmenya. Sejumlah kecil cairan bening kental bercampur sedikit darah mengalir keluar. Liang kawinnya sedikit menganga bekas ditusuk benda tumpulku. Mudah Aseng junior masuk kembali setelah kuseka cairan tak perlu yang menempel di sekujur batangnya.

“Uuhh… Mm… Bii… Enak tadi, bii…” katanya mengungkapkan rasa sukanya akan pencapaiannya tadi.

“Jari-jari kaki adek ini sangat cantik dan mungil, ya?” puji ajo Mansur secara gak langsung memintaku untuk lebih fokus pada titik rangsang itu.

Kuemut jempol kaki kanannya dengan gemas sembari menggerakkan Aseng junior keluar masuk lagi. Mila menggeliat kegelian hingga tubuhnya melengkung gak karuan ke beberapa arah.

Ia berbaring miring ke kiri merasakan nikmat sekaligus geli dari kemaluan dan jari jempol kakinya yang kuemut. Jempolnya sampe basah kuyup oleh ludahku. Lidahku berputar-putar di permukaan jempolnya yang berkulit bersih dan halus.

Alhasil kini Mila berbaring miring kala kugenjot. Kaki kanannya kupeluk dan terus kupermainkan jempol kakinya. Aseng junior memompa stabil pelan-pelan padahal rasanya sudah ampun-ampunan enaknya di posisi miring begini.

Tanganku merayap merabai tubuhnya dan tiba di salah satu payudara mancungnya. Lembut dan kenyal walau tak terlalu besar. Tapi aku sudah kesampaian untuk menyentuh, meremas bentuk menggemaskan ukhti satu ini.

Tertatih-tatih aku jadinya antara menggenjotkan Aseng junior, meremas payudara mancung dan mengemut jempol kakinya. Rasa nikmat yang berasal dari Aseng junior terlalu dominan. Sudah waktunya ternyata aku harus menuntaskan ronde ini.

Moga-moga dikasih lagi untuk ronde berikutnya untuk menggasak Mila favorit unikku ini. Mengetahui gerakanku yang mulai cepat tapi tak teratur cenderung gelisah, ajo Mansur paham.

“Deek… udah mau keluarrr…” cetusnya. Hujaman-hujaman cepat Aseng junior semakin dalam. Rasa enak yang bergelora, memantik bunga api kenikmatan dan meledak sekaligus.

“Ahk!” kusodokkan hingga menempel erat di selangkangan Mila.

“Croott Croot Crooott…” rasa enak saat ejakulasi terjadi, menguasai tubuhku untuk beberapa saat.

Bergetar seluruh dawai sel-sel tubuhku ikut merasakan nikmatnya. Menganga lebar mulutku untuk tarikan nafas yang banyak untuk mengisi kembali kekosongan setelah disemprotkan sebanyak mungkin ke dalam rahim subur Mila yang sedang menggeliat-geliat gelisah merasakan cairan kental hangat memasuki tubuhnya.

Cairan kental berisi jutaan bibit suburku. Teman-temannya sudah berhasil menghamili para binor juga seperti dirimu, Mila. Kuharap di lahanmu ini juga sukses membuatmu hamil.

Setelah yakin tak ada lagi yang bakal keluar lagi, kucabut Aseng junior dari bukaan menganga vagina empuk itu. Aku tak mau tau lagi walopun ajo Mansur kembali berusaha memasukkan penisnya ke dalam kemaluan istrinya. Belum bisa jo. Belum bisa. Nanti akan kuusahakan.

Aku ngumpet di bawah ranjang rotan ini untuk menenangkan diri. Lantai kayu ini jauh lebih hangat di waktu malam sewaktu kubelai-belai Aseng junior yang mengangguk-angguk belum puas.

Aku membersihkan cairan lengket kental yang masih menempel ke sprei yang menjuntai jatuh di tepian ranjang. Suara cumbuan dan percakapan pasangan suami istri di atasku tak dapat kuhindari, menguping jadinya.

“Abi pandai…” puji Mila pada suaminya.

Ya Mila. Pandai suamimu mencari pemeran pengganti tugasnya itu. Tugas mulia memerawani dirimu. Kalo-lah kau tau kalo ada pria lain sedang ngocok penisnya di bawah ranjang ini. Syok pastinya kau.

“Harus, deek… Lagipula… abi sudah terlalu lama berobatnya… Gimana? Tempat ini jadi berkesan, kan? Walau liburan beramai-ramai begini… kita gak perlu ngeliat bule-bule itu, kan?”

“He-em… Tapi tadi sakit juga, bi… Mila tahan aja sekuat tenaga… Ternyata akhirnya enak, bi…”

“Liat darahnya… Ini darah perawan dek Mila… Abi yang menembusnya…”

“Untuk abi semua itu… Abi pandai…”

Berikutnya aku menebak kalo mereka bercumbu kembali. Setidaknya berciuman, ajo Mansur kembali menikmati payudara mancung itu, ngobel-ngobel kacang itil Mila sampai perempuan itu mengerang-ngerang keenakan, terdengar jelas suaranya.

Aseng junior menegang keras mendengar percumbuan yang tak jauh ada di atasku. Suara pegas springbed ini mengindikasikan gerakan-gerakan liar yang mereka lakukan walopun tak akan bisa terjadi penetrasi sama sekali. Maksimal colok-colok pake jari atau oles-oles penis yang tak sanggup menusuk.

Kedua kaki ajo Mansur mencecah lantai kayu dan aku berinisiatif untuk mengintip karena ia berdiri cukup lama di sana. Aku keluar dari sisi sebaliknya. Woah… Amazing. Ukhti yang terlihat kalem dan santun itu sedang diajari ajo Mansur untuk menyepong penis suaminya. Kaku tentunya masih caranya.

Tapi servis seorang istri pada suami haruslah total. Selama tidak melakukan hal yang keterlaluan, ukhti Mila pasti tau aturannya. Mila duduk di pinggiran ranjang dengan tubuh polos bugilnya sedang mengulum penis ajo Mansur yang di sudut pandang ini sudah cukup besar. Karena hanya bagian kepalanya saja yang dikulum dan ditarik seolah penis itu lurus dan tegang. Padahal saat lepas, lunglai jatuh kembali.

Melihat pemandangan erotis itu, Aseng junior tentu saja meradang minta jatah juga. Apa mau ajo Mansur membiarkan Mila mengemut penisku juga? Ah… Pasti rasanya sangat dahsyat diemut-emut binor yang masih pake plang ‘belajar’ di kapnya.

(kao kira belajar nyetir?) Ajo Mansur tak ayal merem melek mendapat servis dari istrinya yang sudah tak perawan lagi itu. Aku membayangkan kalo ketiga istri ajo Mansur melakukan ini berbarengan. WOW. Pasti super duper amazing. Jadi pengen punya istri banyak-ih. E-hek. *Aseng mati dicekik istrinya!

Mila sudah memakai kembali penutup matanya dan ia terlihat cukup menikmati pelajaran barunya sebagai seorang perempuan yang menyandang predikat baru istri seorang lelaki. Ia takzim mengikuti tiap arahan yang diberikan ajo Mansur. Disuruh mengangguk-angguk untuk mengocok penis suaminya di dalam mulut.

Disuruh jilatin sekujur batang penisnya. Disuruh ngemut bergantian bola-bola peler itu. Disuruh menyedot bagian kepala penis yang ekstra sensitif. Aku menonton sambil duduk di atas lantai kayu, bertelekan ranjang di seberang TKP, sambil mengelus-elus Aseng junior. Menyabarkan Aseng junior agar jangan berkecil hati. Sabar ya, Seng…

Ajo Mansur mencoba cara drastis ini. Ia menggenjot mulut longgar istrinya. Setidaknya ia bisa menyetubuhi istrinya dengan cara ini karena ia tak mampu menembus sempitnya kemaluan apalagi saat perawannya. Ia terlihat sangat menikmati prosesi ini.

Mila berusaha sebaik-baiknya membiarkan suaminya memperlakukannya sedemikian rupa ini. Mulutnya menjadi vagina sementara ini. Ajo Mansur mengacak-acak rambut panjang Mila dengan gemas walo tak bisa maksimal karena ia tidak kunjung bisa ejakulasi.

Ketahanan ajo Mansur dalam coitus sebelas-dua belas denganku. Yang ada, mulut Mila jadi pegal dan rahangnya kaku harus mengulum benda gilig pejal itu.

“Plung…” penis itu terjatuh lunglai tak bisa bisa tegak seperti sosis yang selongsongnya tidak diisi padat dengan daging giling. Berlumuran ludah Mila sehingga berkilat-kilat terkena cahaya lampu.

Mila menyeka mulutnya yang basah selagi ajo Mansur menyusu pada payudara mancungnya.

“Tiduran lagi ya, deek…” kata ajo Mansur memberi instruksi ini.

Patuh, Mila membaringkan tubuhnya lagi di ranjang kamar resort ini, mencari posisi senyaman mungkin dan otomatis membuka pahanya selebar mungkin. Vagina becek spermaku itu berkilat banjir. Mila taunya ia akan kembali digagahi suami tercintanya. Suami yang telah dengan gagah menjebol perawan berharganya.

Pria malang itu memanggilku mendekat dengan lambaian tangan untuk kembali tag-team. Matanya sayu melirik Aseng junior yang mengacung kaku, mengangguk-angguk keras selama aku melangkah pelan-pelan agar tidak ketahuan Mila. Ada kekesalan yang kembali kutangkap di sana. Kenapa nasibku begini, kira-kira begitu. Sabar, jo… Nanti kau akan baik-baik saja, kok.

Aku mendekati Mila dengan kaki terbuka lebarnya. Secara insting ia sudah tau harus bagaimana menyambut seorang lelaki di ranjang. Ia belajar dengan sangat cepat. Ia pastinya seorang santriwati yang cerdas.

“Abi masuk ya, deek…” kata ajo Mansur begitu dilihatnya aku sudah bersiap mencoblos istrinya.

Aseng junior sudah terselip sempurna bagian kepalanya yang sedang kugesek-gesekkan ke mulut liang kawin becek itu. Mila menahan nafas merasakan olesan benda tegang kaku di mulut vaginanya.

“Uhhmm… Sshhtt… Ahh…” keluhnya begitu Aseng junior menelusup masuk dengan lancar.

Ia sudah sangat bersiap menyambut batangan yang membelah tubuhnya. Sambutannya sangatlah hangat dan bergelora. Tubuhnya meliuk-liuk merasakan batang keras Aseng junior terjerumus masuk di kedalaman perangkapnya.

Jepitan sempit Mila menyedotku dengan hisapan magis kemaluannya. Yahud sekali favoritku ini. Dari ketiga istri ajo Mansur, Mila yang menjadi favoritku saat ini. Walo dikasih yang mana aja tentu gak nolak.

Sodokan menghentak kulakukan 2-3 kali untuk membuka jalan untuk sodokan pendek-pendek berikutnya. Menikmati erat jepitan liang kawin istri kedua orang ini. Hentakanku menyebabkan payudara mancungnya bergetar berulang tiap benturan terjadi. Pucuk-pucuknya yang mungil bergoyang indah.

“Uh uh uh uh…” erangnya imut sekali seirama sodokan pendek-pendekku yang merangsek.

Tangannya menggapai-gapai ke arahku, menangkap tanganku, memeganginya hingga bahunya agak tertarik. Alhasil sodokan yang kulakukan jadi lebih dalam. Wah… Mila pandai berimprovisasi. Dari mana ia tau trik ini? Biasanya malah pihak pria yang menarik tangan sang perempuan untuk hentakan sodokan lebih mantap. Ini malah kebalik.

Guncangan payudara mancungnya semakin yahud aja. Bergetar-getar dengan indahnya. Erangannya makin liar dan ekspresif. Pertemuan kelamin kami semakin syahdu. Suara oplok-oplok silih berganti karena tumbukan perutku dan selangkangannya.

Kaki Mila mengamit manja, melingkar dan mengait di belakang pinggangku. Seolah tak mau aku lepas dari perangkapnya. Tak rela aku melepas dan usai darinya. Ia mau terus dan terus merasakan nikmat baru yang perdana dikenalnya ini.

Seorang ukhti tentu tidak haram menikmati hubungan seks dengan pasangan sah yang sudah meng-akad dirinya. Tak mengapa menjadi pelacur untuk suami sendiri. Sudah halal tentunya.

“Enak kan, deek?” tanya ajo Mansur berusaha berkomunikasi dengan istrinya yang mendesah-desah keenakan menikmati sodokan-sodokan kuat hasil sentakan tubuhnya yang ditarik.

Pria malang itu terus merancap lunglai letoy penisnya dengan cepat. Ia memegangi bagian pangkal penisnya segenggam penuh. Ia menatap nanar sekaligus antusias pada tertancapnya Aseng junior-ku di dalam vagina istri cantiknya.

“Ngh… Hh… Uh… Uhh…” erangnya menjawab pertanyaan suaminya setengah hati karena ia sepenuh hati menikmati tiap sodokanku.

Sodokanku kuat terus mendesak tubuhnya tiap hentakan akibat tarikan tangannya pada tanganku. Kami terkoneksi dengan baik. Sodokan yang kulakukan pendek-pendek dalam untuk merasakan jepitan erat vagina yang super legit menggigit.

Hentakan yang kulakukan menggoyang seluruh tubuhnya terutama payudara mancung menawannya. Mulut Mila menganga mendesah juga meracau menikmati. Getaran menghentakku juga menggoyang rambut karena kepalanya sedikit terangkat beserta sekujur otot dibalik kulitnya.

“Bii… bii… Ahh-biihh… Enaak, bii… Ah… ahh… ahk…”

Ingin rasanya kukulum mulutnya yang berbibir tipis yang terlihat amat manis ataupun juga mengenyot payudara mancungnya yang terlalu menggoda. Aku hanya bisa memandangi dua titik itu bergantian, hanya berharap.

“Aahh…” Mila melepas tangannya yang memegangi kedua tanganku.

Kepalanya kembali berbaring di bantal di atas ranjang. Aku berhenti menyodok vaginanya, memberinya waktu mengambil nafas walopun bukan karena ia baru saja mengalami orgasme. Kaki Mila menggesek-gesek pantat dan pahaku. Kelamin kami berdua masih bersatu, kami merasa sangat intim saat ini.

“Hng?” kaget aku saat ajo Mansur mendorong punggungku.

Maksudnya apa? Agar aku merapatkan tubuhku ke Mila? Tapi nanti bisa-bisa curiga? Bahaya-ah… Sekali lagi ajo Mansur mendorong dengan tambahan ekspresi muka dan gestur aku aku merapat. Aku menunjuk payudara mancung Mila. Sekalian minta izin boleh menjamahnya lebih jauh. Tanpa suara ajo Mansur memberi kode ‘iya’ padaku.

Kurapatkan tubuhku, condong ke depan yang juga berarti lututku menjauh tubuh Mila. Pangkal pahaku rapat menekan selangkangan perempuan berhijab syar’i ini dan payudara mancungnya yang kutuju dengan sedikit tergesa-gesa. Aku sudah mendapat izin langsung dari pemiliknya dan aku gak mikir panjang-panjang lagi. Mulutku langsung mendarat di pucuk mancung payudara indah itu. Lidahku langsung bermain-main dengan puting mungilnya begitu mulutku berhasil menelan pucuk payudara mancung kirinya.

“Auhh… uuhh… Mmm… sshh… yyahh… biii…” Mila meracau dan meremas pangkal lenganku.

Untungnya postur dan perawakanku dan ajo Mansur setara. Mungkin setelah beberapa lama nantinya ia akan hapal dengan tubuh suaminya sendiri. Permainan lidah dan mulutku seiring pergerakan memompa Aseng junior yang terus menancap stabil di liang kawinnya.

Lututku yang menopang tubuhku dibantu tanganku menjadi poros utama pergerakan memompaku. Tusukan-tusukan variasi dua kali sodokan pendek dan sekali sodokan dalam kulakukan kali ini. Sentuhan tangan Mila sangat lembut di tanganku walau ia meremas tanpa sadar akibat nikmat yang dirasakannya.

Berpindah ke payudara sebelah kanan, Aseng junior terus menyodok. Mila terus mendesah-desah meracau keenakan. Aseng junior berpesta pora dengan tubuh langsing ber-vagina sempit Mila.

Licin liang kawinnya memperlancar kerja keras Aseng junior memberi kenikmatan pada binik orang ini. Binik orang yang diawasi langsung sama suaminya sendiri. Dari gerak-geriknya, ajo Mansur memperhatikan proses keluar masuk Aseng junior-ku ke vagina istrinya dari belakang.

Dari bukaan kakiku yang menahan paha Mila agar tetap terbentang. Tusukan-tusukan 2-1 terus kulakukan.

Sebuah orgasme tidak akan rugi kuberikan pada Mila di kesempatan ini, kan? Kembali kurapatkan lututku ke tubuhnya dan satu kakinya yang jari-jarinya telah terbukti bisa membuatnya orgasme kuangkat.

Tak jijik kujilat dan kuemut jari-jari kaki mungil dan bersih Mila. Bahkan sangat nikmat sekali rasanya kala lidahku menelusuri lipatan-lipatan jari kakinya. Tak ayal Mila meracau antara kenikmatan dan geli sekaligus. Tubuhnya menggeliat-geliat seperti cacing kepanasan. Bentar-bentar lagi ia pasti mencapainya.

“Ihh… Yaahh… Uuhh… Uhmm…. Yaahhh…” Akhirnya yang sedang kuusahakan dari tadi, tiba juga.

Mila bergetar sekujur tubuhnya lalu suaranya menghilang menyesap semua rasa nikmat yang menjajah tubuhnya. Tubuhnya yang menegang lalu mengendur.

Aseng junior yang sempat kucabut kumasukkan kembali ke sarangnya. Masuk dengan lancar tanpa penghalang karena liang kawinnya sedikit terbuka bekas kumasuki tak lama tadi, juga karena basah beceknya. Kembali tubuhku condong ke arah tubuh Mila dan menggasaknya cepat untuk mencapai kenikmatanku juga.

Ini seharusnya ejakulasi keduaku di ronde dua ini. Sehabis ini, seharusnya aku segera cabut dari tempat ini. Aku harus melakukannya sebaik mungkin. Mereguk kenikmatan sepuas-puasnya. Entah mukjizat apa yang bisa kudapatkan di masa depan untuk bisa melakukan ini lagi dengan Mila. Ato dengan Suli dan Ratih.

“Akh!” langsung kubungkam mulutku sendiri begitu semprotan semburan pertama menyeruak keluar dari mulut mungil Aseng junior.

Deras memasuki liang kawin dan memenuhi rahim Mila. Mencari sel telur untuk dibuahi jutaan sel spermaku. Hanya butuh satu saja untuk tugas itu.

Croot crooot croot!” kusodok-sodok beberapa kali untuk menuntaskan semua sisa sperma yang mungkin masih bisa diperas.

Rasanya sangat nikmat. Rasanya campur baur antara nikmat ejakulasi, juga kepuasaan tersendiri karena bisa menggagahi seorang perempuan di depan mata suaminya sendiri. Ini sungguh petualangan yang sangat gila. Ajo Mansur yang menawarkan ini semua. Aku tak kuasa menolaknya.

Setelah Aseng junior kucabut, buru-buru ajo Mansur menggantikanku dan terus berusaha memasukkan penis lunglainya seperti yang sudah-sudah. Tapi tidak ada perkembangan terbaru karena memang tidak ada. Sabar, jo. Aku akan mencoba menolongmu setelah ini. Pakaianku sudah kupakai kembali dan aku keluar dari kamar ini dengan cara mengendap-endap, seperti cara masuknya.

Duduk sebentar mengaso di depan bangunan tempatku dan keluargaku menginap, kupandangi lautan tenang di hadapanku. Bulan tidak terlalu terang tetapi cukup memberikan sedikit pendar cahaya yang dipantulkan oleh permukaan laut.

Bintang-bintang juga banyak bertaburan di langit, hal mahal untuk dilihat di kota besar karena paparan polusi dan cahaya terang metropolitan yang seolah berlomba dengan gemintang keindahannya.

Ini keindahan yang sangat melenakan. Seolah mengundangmu untuk mengarungi lautan gelap dengan pendar biru bermandikan cahaya sang Chandra. Bermain-main di airnya yang tenang lagi menyegarkan. Menginjak pasirnya yang halus dan berkejaran dengan ombak.

Seperti sosok yang berjalan tenang dari ujung kejauhan sana lalu berdiri tegak di hadapanku. Aku sudah menunggunya dari tadi untuk segera tiba di sini. Kakinya masih menjejak air laut dan berdiri tanpa takut terjeblos masuk dan tenggelam di kedalaman laut.

Mirip dengan tokoh yang kukenal bertahun-tahun lalu. Berpakaian hitam-hitam, sarung merah gelap kotak-kotak, berikat kepala hitam, brewok lebat menghiasi wajahnya yang kasar tapi murah senyum.

Senyum yang sebenarnya menakutkan bagi yang tak kenal dirinya. Jari-jarinya tangannya, ujungnya melengkung. Ada cakar-cakar panjang melengkung di ujung jarinya. Ia sudah permanen menumbuhkan cakar-cakar itu di sana.

Layaknya seekor harimau penguasa rimba. Ia menjelajah tak gentar pada apapun sekalipun samudara luas. Diarunginya tanpa kesulitan dan mencapaiku kemari dengan tenang seolah tak memperdulikan apapun.

Melangkah kemanapun ia mau dan pergi kemana kakinya melangkah. Semua kolong langit adalah hak ulayatnya. Semua ceruk bumi adalah tempat tidurnya. Taraf yang dicapainya sudah mencapai itu. Sebuah pencapaian pikiran dan olah tubuh yang tidak biasa.

“Selamat malam… Kau sudah menungguku?” sapanya.

Sekonyong-konyong terasa berbeda aura tempat ini. Secara kasat mata tidak ada yang berubah. Tetap pantai di pulau Cubadak ini. Di belakangku masih ada bangunan kayu tipe village Resort ini, dimana anak dan istriku berada.

Tetapi bulan dan bintang-bintang menghilang. Ombak kecil tak lagi berdebur. Hanya diam berupa genangan air semata. Ia sudah mengundangku masuk ke daerah kekuasaannya.

“Benar, inyiak… Sudilah kiranya memberi hamba petunjuk… Apa yang sudah terjadi sampai keributan ini harus terjadi?” tanyaku sesopan mungkin. Aku bahkan menyatukan tanganku memberi hormat padanya.

“Ah… Tentu saja untuk memancingmu keluar… Sutan Mandalo Nasrul Chaniago… Pemilik terakhir silat harimau Mandalo Rajo yang bersumpah untuk tidak memakainya lagi… Ada tiga orang putus asa yang datang padaku dan murid-muridku… Yang satu karena bertepuk sebelah tangan dalam asmara… Yang satu karena masalah harta warisan… Dan yang satu lagi masalah pitiah (uang)…” jelasnya gamblang.

Ia menyilangkan kedua tangannya di belakang punggung dan berjalan mondar-mandir di bibir pantai.

“Sutan sudah menemui dua muridku, bukan?”

Dua orang yang sudah mengerjai Suli dan Ratih adalah murid Inyiak ini. Begitu ternyata. Dukun tua dengan Menggala harimau yang mengaku sebagai guruku, Inyiek Mandalo Sati. Juga anak muda dengan keahlian silat harimau tiruan Mandalo Rajo. Keduanya sudah tewas akibat kelancangan mereka sendiri mempermainkan nama sakral itu.

“Ah… Tidak apa-apa… Itu pertarungan yang sah dan mereka sudah tau resikonya…” katanya berusaha meyakinkanku kalo kedatangannya kali ini bukan untuk menuntut balas kedua muridnya itu yang sudah berkalang tanah karenaku.

Wajah kasarnya masih tetap tersenyum lepas karena memang begitu ciri khasnya. Kalo ada istilah ular berkepala dua untuk menggambarkan seorang pengkhianat, apa artinya kalo ada istilah harimau berkepala dua? Orang inilah bentuk harafiah perumpamaan itu.

Harimau yang menunjukkan wajah bersahabat dan tidak berbahaya, padahal adalah harimau yang paling buas. Ia tega mengumpankan dua muridnya sendiri agar memancingku keluar.

“Jadi apa maksud undangan Inyiak kali ini?” tanyaku.

“Tentu saja untuk merebut hakku…” senyumnya masih lebar.

“Baiklah… Inyiak Mandalo Lelo… Aku terima…” jawabku berdiri tegak menghadapnya.

Aku dan dia menyatukan tangan dan membungkuk satu sama lain untuk penghormatan. Lalu langsung kulakukan kuda-kuda rendah khas silat harimau Mandalo Rajo. Lutut kiri di pasir dan kaki kanan menekuk di depan dengan tangan terbentang lebar.

Di kedua tanganku aku sudah menyiapkan dua pedang daun Utara dan Selatan yang berasal dari daun pandan tapi tanpa beserta andalanku, bakiak Bulan Pencak di kedua kaki. Ini pertarungan dua pengguna silat harimau. Pertarungan dengan kuda-kuda rendah.

Inyiak Mandalo Lelo juga melakukan hal yang sama denganku kecuali ia bersenjatakan kuku-kuku panjang di tiap jarinya. Kuku-kuku itu lalu terbenam di pasir pertanda ia akan membuka serangan.

“Shhaa!” serangan pembukaan jurus awal Mandalo Rajo diperagakan Inyiak Mandalo Lelo adalah langsung menohok lawan di ulu hati. Titik vital yang mematikan, salah satunya. Sesuai dengan prinsip silat dasar yang mengalir, serangan lawan tidak ditangkis melainkan dibelokkan.

Serangan itu kubelokkan ke samping hingga aku bisa mencacah lehernya yang terbuka dengan pedangku. Dengan liat Inyiak Mandalo Lelo memutar lehernya sebagaimana memutar cakarnya juga untuk mencakar mukaku. Sabetan cakar harimau di jari tangannya berkelebat cepat di depan mataku.

Kalo kena kedua biji mataku akan terlepas dari lubangnya. Lututku terangkat dan mengarah pada kantong menyannya yang dengan lugas dibelokkannya ke samping dan mengarahkan tangannya yang lain untuk menghajar rahangku.

Sikunya kutepuk dan berbeloklah pukulan penuh tenaga itu ke arah yang melenceng. Kalo sekedar diketik dan dibaca saja sudah mencapai 89 kata, padahal itu semua berlangsung hanya beberapa detik saja karena pertarungan jarak dekat ini berjalan sangat cepat dan mengalir.

Lompat dan bergulingan sudah biasa di ilmu silat harimau karena sejatinya begitulah kala dua harimau sedang bertarung. Seluruh sasaran adalah titik vital yang mematikan. Kami hanya mengincar titik yang bisa langsung mematikan lawan karena memang jurus-jurus silat harimau memang dirancang sangat berbahaya juga efektif.

Tidak perlu membuang waktu menyerang bagian tubuh yang tidak perlu kalo bisa menyerang satu titik saja dan lawan langsung binasa. Gerakan lincah dan mengalir bersama arah serangan lawan untuk membalikkan serangan sama-sama kami peragakan.

Inyiak Mandalo Lelo tentu saja jauh lebih paham jurus-jurus ini karena sejatinya ini adalah ilmu yang selalu diperebutkannya dengan Inyiek Mandalo Sati; dua orang seperguruan yang mendapat gelar hampir mirip.

Inyiek Mandalo Sati mendapatkan gelar ini langsung dari gurunya karena ia adalah murid pertama dan Inyiak Mandalo Lelo murid kedua. Lagipula titik berat keilmuan mereka berdua berbeda. Inyiek Mandalo Sati mempelajari Mandalo Rajo hanya untuk mempertahankan diri dan lingkungannya.

Sedangkan Inyiak Mandalo Lelo lebih kepada mencari kejayaan. Pada prakteknya malah ia tidak bisa melakukan itu semua karena sifat keilmuannya yang terlalu buas dan kejam, ia banyak dihindari.

Orang-orang malah lebih mengelu-elukan Inyiek Mandalo Rajo yang lebih membumi dengan hanya melindungi hutan Larangan. Berkat reputasinya, hutan itu masih lestari hingga kini. Tidak ada perambahan hutan yang semena-mena.

Auman dan geram Inyiak Mandalo Lelo mendengus-dengus keras tiap kerahan tenaga menyerangnya. Tentu saja aku kerepotan menghadapi semua serangan berbahaya itu. Aku memang sudah menguasai semua jurus-jurus Mandalo Rajo dari Inyiek Mandalo Sati, tetapi bukan itu saja yang kulakukan tiap waktunya.

Aku masih punya kehidupan selain ilmu silat Mandalo Rajo. Ilmu beladiri-ku juga sudah tidak murni lagi karena bercampur dengan berbagai ilmu silat aliran lain. Dan yang paling menyebalkan adalah, di saat begini aku jadi menyesal karena tidak rutin berlatih untuk mempertajam ilmu silat yang hanya aku yang punya.

Jurus-jurus serangan Inyiak Mandalo Lelo kukenali mempunyai akar yang sama dengan jurus Mandalo Rajo karena sumbernya sama. Jurus Mandalo Rajo bersumber dari gabungan beberapa aliran silat hewan yang murni diciptakan di ranah Minang. Jurus ular, jurus elang, jurus kucing, dan jurus anjing.

Gerakan-gerakan luwes khas seekor harimau ketika bertarung dengan lawannya kadang membingungkan dan mengejutkan karena cepat dan penuh tipuan. Dominan dengan gerakan menangkap dan juga kuncian maut.

Apalagi bila dibekali senjata, jurus ini jadi mematikan. Leher dan tanganku kerap diperangkap Inyiak Mandalo Lelo, tetapi aku sebaik mungkin dengan ketangkasanku melepas semua kuncian itu dan aku balik menangkap anggota tubuhnya. Silih berganti kami melakukan kombinasi pukulan, cakaran, kuncian dengan cepat.

Inyiak Mandalo Lelo memelintir leherku dengan dua tangannya yang berkuku runcing, satu di dagu dan satunya di ubun-ubun, menjauhkan kepalaku dari tanganku yang memegang pedang daun, terkunci. Melepaskan kuncian mematikan ini, aku menyayat paha kanannya.

Lalu memutarkan kepalaku searah puntiran itu, memutar tubuh hingga menaiki punggungnya. Menyilangkan kedua pedang daun Utara dan Selatan di depan lehernya, bersegera memenggal kepalanya.

Tak dinyana, ia menepis pedang itu dengan kuku-kuku keras tangannya, membuka tanganku yang hendak menetak lepas kepalanya, badannya luwes berbalik dan menjulurkan kakinya, goresan dalam kuku kakinya membekas di dadaku.

Aku berguling menjauh dan disusul Inyiak Mandalo Lelo yang melompat menerjang tak memperdulikan luka di pahanya tadi. Tangannya mengacung ke atas dengan cakar terbuka lebar.

“Whaaa!!” aumnya keras.

Rendah aku bertahan dan menahan runtuhan tenaga keras ayunan cakar itu dengan kedua pedangku, memblok serangan dahsyat dengan lompatan penuh tenaga. Percikan bunga bahkan sampai menerangi benturan yang terjadi. Kuku berbentuk cakarnya seperti terbuat dari logam saat berbenturan dengan pedang daunku.

Patah! Kedua pedang daunku patah dua tepat di tempat benturan barusan. Cepat-cepat aku menghindar berputar bermaksud men-sleding kakinya dengan kuncian gunting agar ia jatuh. Hentakan tumitku bahkan mengait di luka di paha kanannya dengan sengaja.

Inyiak Mandalo Lelo menahannya dengan merendahkan posisinya lalu bergulingan untuk mematahkan kuncianku ke arah kakiku yang terdepan. Kutusukkan pedang patah itu ke arah lehernya dari belakang punggungnya. Lincah lelaki tua itu memundurkan sebelah bahunya sedikit saja hingga lenganku malah membentur bahunya, gagal menusuk, lenganku ditahan malah ditekan dengan bobot tubuhnya. Ia akan mematahkan tanganku!

Pedang patah di tanganku kujatuhkan dan tubuhku kubenturkan dengan punggungnya agar kunciannya pada tanganku lepas dengan sedikit melenting melompat dan menyabetkan pedang satunya yang masih tersisa, walau juga patah. Inyiak Mandalo Lelo berkelit dan terpaksa melepas kuncian tangannya pada tanganku yang mengendur karena benturan sederhana tadi.

Begitu terus pertarungan kami sekian lama karena terus mengeluarkan berbagai serangan-serangan mematikan tanpa ragu-ragu yang juga di-counter dengan serangan-serangan mematikan juga. Dua pemakai silat harimau bertarung secara close-combat cepat. Sejatinya indah dan mengalir dengan alami, tetapi mengancam nyawa.

Saling ukur dan jajal kami lakukan berulang-ulang dengan berbagai cara. Belasan jurus hingga puluhan mencapai ratusan sudah kami lakoni. Gestur rendah bak harimau kami peragakan. Tangan membentuk cakar karena aku tidak memakai senjata lagi.

Aku berulang-ulang mempertimbangkan mengeluarkan cakar itu lagi dari tanganku untuk mengimbangi cakar yang sama milik Inyiak Mandalo Lelo. Tapi rasanya sangat-lah menyakitkan. Sakit sekali saat cakar-cakar itu merobek daging dan kulit tangan, menembus hingga mencuat sebagai senjata laten.

Luka-luka di tubuh kami semakin banyak. Dadaku sudah mengucurkan darah. Lengan kanan dan punggungku juga sudah luka sayatan. Selain luka di paha kanannya, aku juga berhasil menyayat leher Inyiak Mandalo Lelo, sayangnya masih jauh dari urat vitalnya–urat nadi. Inyiak Mandalo Lelo masih tersenyum lebar seakan sangat yakin bisa memenangkan pertarungan hidup dan mati ini.

Apakah dia menganggapku dengan sepele? Tidak. Raut wajahnya memang begitu. Kek Joker yang selalu terlihat tersenyum. Senyum menyeramkan seperti demit kuburan. Inyiak Mandalo Lelo menelisipkan rambut panjang berubannya yang menghalangi pandangan ke balik penutup kepalanya.

Setiap pesilat Minang selalu menggunakan penutup kepala, bisa peci, peci lebai, pengikat kepala khas Minang karena filosofi dasarnya adalah ibadah kepada Yang Maha Kuasa. Berlatih silat juga bagian dari ibadah. Entah Inyiak Mandalo Lelo masih mengingat prinsip dasar itu tidak.

Kami berkutat lagi dengan berputar mengitari lawan masing-masing. Mencari celah lalu menerjang. Sabetan-sabetan cakar Inyiak Mandalo Lelo semakin berbahaya saja dengan tak adanya senjata yang kuhunus. Sesekali aku masih bisa menyerang dan aku kian terdesak. Tak kupungkiri.

keliahaian Inyiak Mandalo Lelo lebih tinggi dariku. Ia tentunya selalu berlatih dan mengasah ketajaman ilmu dan jurus-jurusnya dengan teratur. Aku hanya sekali-kali berlatih di daerah kekuasaanku. Dan itupun kulakukan sendiri tanpa lawan sparring.

Mungkin karena itu Inyiak Mandalo Lelo mengangkat murid sebagai lawan berlatihnya karena ia juga tidak bisa sembarangan menyebarkan ilmu silat berbahaya ini. Tapi ia sudah kehilangan dua muridnya. Apakah masih ada murid-muridnya yang lain.

Luka baru menyayat pipiku, dua luka memanjang sampai di atas telinga. Lukanya terasa pedih dan mengucurkan darah. Aku sudah tidak punya jalan lagi. Rasa sakitnya sudah setara dengan luka ditembus cakar-cakar itu yang mencuat dari daging dan kulit tangan dan kakiku.

Inyiak Mandalo Lelo tersenyum melihat luka baru yang disebabkannya. Sedianya sayatan itu menyasar leherku, memutuskan jalan nafasku. Aku sempatkan menghindar dan mengumpankan pipiku sebagai gantinya, lalu berputar dan memukul belakang lehernya sebagai balasan. Nafasku semakin berat dengan banyaknya luka yang kualami.

“Mandalo Rajo…” gumamku lirih dengan tangan terkepal kuat.

Kutahan rasa sakitnya lagi. Lagipula rasa sakit di sekujur tubuhku sudah sama rasanya dengan sakit terkoyak-koyak ini. Tiga pasang cakar itu muncul di tangan dan kakiku. Darah kembali menetes dari luka baru ini. Inyiak Mandalo Lelo semakin lebar senyumnya melihatku sudah mengerahkan senjata andalan aliran Mandalo Rajo. Berdarah-darah tanganku menghunus senjata berbahaya ini.

“RWAARRRGGHH!!”

Distorsi mengganggu itu kembali mendengung di telingaku. Rasa mengganggu inilah yang sering membuatku bertarung dengan kalap dan tak memikirkan apa-apa. Yang penting lawan tercabik-cabik. Seolah ada orkestra yang seluruh alat musik assemble-nya gitar listrik melulu.

Ratusan gitar listrik sahut-menyahut meneriakkan suara berisiknya, mencabik-cabik rongga tengkorakku dengan rift-rift kasar di kunci tinggi melengking berdenging-denging storing.

Aku berteriak-teriak nyaring tiap serangan berupa cakaran, sabetan, memotong dan menyayat-nyayat. Aku tak ingat lagi siapa lawanku ini. Hanya ada amarah di dalam kepalaku. Hanya ada kemurkaan.

Kenapa aku harus memiliki ilmu mengerikan seperti ini? Kenapa Inyiek Mandalo Sati mengutukku dengan ilmu terkutuk ini? Kenapa?! KENAPAA??!!

“Seperti yang kuharapkan dari Mandalo Rajo… Ilmu pamungkas yang akan kuambil untuk diriku sendiri… Kau belum menyempurnakannya, kan?” sayup-sayup terdengar ucapan Inyiak Mandalo Lelo. Aku bergerak mengitarinya seperti seekor harimau yang sedang mengintai mangsanya. Aku cenderung untuk berada di belakang lawan layaknya seekor harimau asli yang mengincar leher mangsa. Cakar di tangan dan kakiku terbenam di tanah berpasir pantai ini.

“Aku sudah keduluan darimu, anak muda… Harusnya gelar itu untukku…”

Inyiak Mandalo Lelo rebah di tanah dengan tangan dan kaki mencecah bumi secara rata menopang tubuhnya. Terlihat ada hembusan kencang dari tubuhnya seperti lonjakan energi dari pusat Lini miliknya. Ia sepertinya sedang merapal suatu ajian yang tak kuketahui.

Matanya membeliak melotot dan senyuman yang selalu terpatri di mulutnya menghilang. Brewok kasar di wajahnya semakin bertambah hingga seluruh mukanya tertutup rambut berwarna jingga dan putih kusam.

Misai panjang muncul di sekitar pipi dan alisnya. Lengan dan tangannya bertambah besar dan gemuk, berbulu lebat… PUKIMAK! KAKEK TUA ITU MENJADI HARIMAU!!!

“ROOARRHHHGGHH!!” aum jelmaan Inyiak Mandalo Lelo yang seutuhnya berubah menjadi seekor harimau.

Harimau jadi-jadian yang ukurannya tidak biasa dibanding harimau lazimnya. Dari ujung dihidung sampai ujung ekornya bisa mencapai 3.5 meter. Harimau Siberia terbesar yang pernah tercatat saja hanya sepanjang 305 cm (3 meter lebih sedikit). Inyiak Mandalo Lelo yang sudah seutuhnya menjadi harimau menggoyangkan tubuhnya dan semua pakaian dan aksesorisnya terlepas. Aku kini menghadapi seekor harimau sesungguhnya.

Kilau matanya yang ber-iris kuning dan korne hitam, lekat menatapku tajam. Mukanya serius memperhatikanku dengan mulut terkatup. Kepalanya tetap menghadap padaku sementara tubuhnya bergerak mengendap-endap mencari posisi. Cakar tanganku tetap membentang dengan gangguan konstan berdenging distorsi di telingaku.

Kenapa aku harus mempunyai handicap dengingan ini? Apa memang seharusnya begini? Aku tidak pernah mendapat bimbingan mengenai hal ini. Dua ekor harimau saling intai menunggu kesempatan.

Di saat aku melangkah rendah dengan bentangan tangan yang bersiap menyambut lawan, Inyiak Mandalo Lelo juga bergerak. Rasa takutku entah dimana. Padahal aku sedang menghadapi harimau besar sebagai lawan. Ia menghormati aku sebagai lawannya, sebagaimana aku juga harus menghormatinya.

Belum sempat kakiku mencecah tanah berpasir, Inyiak Mandalo Lelo berupa harimau itu melompat menerjang. Cakar besar miliknya mengayun cepat dari samping. Walau terganggu distorsi suara memekakkan ini, indraku yang lain berfungsi baik saat ini.

Mungkinkah ini berfungsi untuk meningkatkan konsentrasiku? Mataku tetap awas melihat arah gerakan cepat itu. Ikut mengalir dan berkelit menunduk, aku sabetkan cakarku pada lengang gemuk berbulu jingga loreng hitam dan putih.

Tak disangka, Inyiak Mandalo Lelo menggunakan kedua kakinya untuk menangkis seranganku dan meneruskan dengan dorongan dan tendangan sekaligus. Ia berputar sedikit ke belakang lalu menerjang lain dari sudut baru.

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9