The Baby Maker Part 21

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22

Cerita Sex Dewasa The Baby Maker Part 21 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya :The Baby Maker Part 20

Tubuh kuntilanak merah berkuncir itu bergetar oleh luapan amarah. Tangannya mengepal berang.

“Kau membunuh saudaraku!! Saudaraku yang sama-sama berjuang denganku mencapai tahap ini… Rasakan pembalasanku!!” ia mengamuk dan menerjang dengan tangan-tangan terkepal keras. Ia pasti akan mengerahkan seluruh tenaga maksimalnya.

Aku menyambutnya dengan merapal bait ketiga, “Babelok arah ka rimbo Rao… Dapek ruso nan balang tigo…” (Berbelok jalan ke rimba Rao. Dapat rusa yang belang tiga). Lincah aku menghadapi serangan brutal yang memang terasa meningkat taraf tenaganya karena dimotori tambahan amarah di dalamnya.

Tenaga berlebihnya itu aku tepis dan selalu kubelokkan ke arah yang tak semestinya hingga tak pernah berhasil menyentuhku sebagai mana konsep dasar silat harimau untu membelokkan serangan lawan bukan menangkisnya hingga tenaga lawan bisa dipakai untuk menyerang dirinya sendiri.

Pukulan terarah cepat bertenaga full ini kusambut dengan menangkap tinjunya lalu membelokkan bogem itu ke arah putaran sikunya, membuat dirinya deras mengarah padaku yang kusambut dengan sikutan kuat mengarah ke tulang pipinya.

“BRAAK!!” kepalanya limbung terjajar mundur.

Belum selesai, belakang lututnya kutekan dengan lututku hingga tubuhnya yang masih limbung kuhajar lagi dengan sapuan sikut tangan satunya yang kali ini menyasar bagian tengkuknya.

“BUUGG!!” semua seranganku berupa serangan mematikan.

Minimal menyebabkan kerusakan parah. Kuntilanak berambut merah dikucir ini terjengkang muka terlebih dahulu mencium tanah.

Aku meloncat lagi menjauh tak perlu tau akan posisi si ratu Tobrut itu dimana. “WUUUZZ!!” laser thermal itu menembak kencang kembali dibalik diriku yang bersalto dan mengambil kuda-kuda rendah kembali dengan tangan terbentang.

Silat harimau efektif untuk pertarungan close combat tetapi tak berguna melawan musuh yang menggunakan senjata jarak jauh seperti yang diperagakan si ratu Tobrut. Kuntilanak merah itu masih bisa bergerak setelah mendapatkan dua kali serangan fatalku dan itu artinya ada dua lawan yang harus kuhadapi sekaligus.

Si merah kuciran itu mengurut-urut tengkuknya yang terasa sangat sakit dengan muka meringis karena terasa derakan yang mengkhawatirkan saat kuhajar belakang lehernya itu.

Kali ini lawan yang kuhadapi tersisa dua saja. Satu ratu kuntilanak berpakaian hitam dan satunya kuntilanak bugil berambut merah dikuncir. Apakah anak buah sang ratu ini akan tetap menyerang taktik yang sama, membuatku sibuk lalu serangan laser thermal ratunya merangsek masuk untuk membunuhku.

Mataku masih kabur tetapi kedua kuntilanak ini berdiri di antara diriku. Yang terdekat denganku adalah si kuntilanak merah berambut kuncir dengan tinju mengepal, masih penasaran. Ia berganti-ganti arah kuda-kuda terdepan. Kadang kanan, kadang kiri.

“HeeyaaAAA!!” sang kunti merah memulai serangan.

Ia melepaskan pukulan jab kanan kiri bertubi-tubi yang bergerak cepat seperti bayangan kabur. Untung aku menguasai Mandalo Rajo yang terbiasa bergerak cepat hingga aku bisa mengetahui esensi serangannya untuk dielakkan dengan memainkan kelenturan leher dan dinamis pergerakan foot work yang lincah. Aku harus segera menghabis kuntilanak merah yang tersisa satu ini lalu menghadapi sang ratunya yang paling liat untuk dikalahkan.

“Babelok arah ka rimbo Rao… Dapek ruso nan balang tigo…” (Berbelok jalan ke rimba Rao. Dapat rusa yang belang tiga) Kuulangi pantun bait ketiga ini untuk mendapatkan momentumnya kembali karena tiap kata di bait pantun ini punya makna yang berimbas pada serangan.

Pembahasan jurus bahkan tidak serumit membahas pengertian tiap kata apalagi berupa kalimat lengkap. Walo berhari-hari di sana, pembahasan banyak mengenai padanan kata saja.

Seperti kata ‘babelok’ yang artinya berbelok. Arti yang harus kutuangkan di gerakanku adalah untuk bergerak luwes dan dilanjutkan oleh kata berikutnya yang berbunyi ‘arah’? yang bisa kuartikan sebagai arah yang benar.

Serangan terbaik adalah perlindungan yang paling hebat. Arah bergerak bebas tidak dapat ditebak lawan karena adalah hasil kalkulasi yang dinamis, yang bergantung akan reaksi lawan juga. Bergantung bagaimana lawan bereaksi akan gerakanku sebelumnya.

Pukulan jab kuntilanak itu kuelakkan dengan bergerak ke sampingnya, tangan mengalung ke arah lehernya dan kaki mengait ke arah perutnya hingga berat tubuhku menjatuhkan kuntilanak yang tak berpakaian ini. Take down yang kulakukan sukses menghempaskannya tanpa bisa ia cegah. ‘ka rimbo Rao’. Rimba ato hutan Rao adalah daerah yang merupakan perbatasan antara Sumatera Barat dan Sumatera Utara.

Akulturasi masyarakat Minang dan suku Mandailing sangat kental hingga percampuran budaya sangat terasa. Hutan di daerah Rao juga masih sangat terjaga kelestariannya hingga keberadaan harimau di daerah ini bukan cuma hisapan jempol.

Makanya hutan daerah Rao inipun masih dimasukkan di dalam bait pantun jurus tingkat tinggi silat harimau Mandalo Rajo. Mungkin Inyiak Mandalo Panglimo nan Sadareh pernah ato punya sejarah di rimba itu hingga mencantumkan daerah itu di bait pantunnya.

Dan serangan yang kulakukan menilik kata ‘ka rimbo Rao’ adalah serangan brutal yang menjadi interpretasi awalku saat diberitahu isi bait pantun ini. Itu berupa pukulan bertubi-tubi setara ‘Ground and Pound’ di seni bela diri modern.

Tinju bogem dan lesakan siku yang keras silih berganti menyasar kepala sang kuntilnak yang tanpa ampun wajah cantik pucatnya menerima hujanan serangan itu. Tapi gak bisa lama-lama karena tembakan laser thermal sang ratu Tobrut masih mengancam dan membuatku harus cepat berkelit. Laser panas itu membakar tanah kosong yang sudah kujauhi. Sang kuntilanak merah makin kepayahan mendapat berbagai serangan brutalku. Ia bangkit dengan gontai.

Sementara itu aku meneruskan isi bait pantun berikutnya, menyasar pada sang ratu pemimpinnya. Sang ratu Tobrut. Berlari cepat walo tanpa lambaran energi Mandalo Rajo sejati, dengan percaya diri aku menerjang ke arah sang ratu yang dari tadi kubiarkan bebas menyerang dari kejauhan. Ia masih dalam masa nge-charge energi laser thermal itu untuk beberapa detik kemudian dan itu cukup bagiku untuk bermain-main dengannya.

‘Dapek ruso’ (Dapat rusa). Secara harfiah, ini memang rusa yang sebenarnya. Apalagi casing yang tobrut begini. Ia kaget aku dengan mudah mencapai daerah bertahannya walo ia sudah berusaha menjauh. Yang pertama kuincar adalah pusat keseimbangannya, kaki. Ia dengan mudah dijatuhkan dengan sapuan kaki karena terkejut dan tak menyiapkan kuda-kuda pertahanannya. Padahal seharusnya, ratu setara dirinya akan sangat cakap menggunakan teknik bela diri.

Begitu jatuh berdebum, dengan teknik Drop Elbow, kuhajar bagian dadanya dengan runtuhan siku.

“BOUGGH!!” telak sekali dari suara benturan yang terjadi. Ia mengeluh kesakitan. ‘nan balang tigo’ (yang belang tiga), tak sampe di situ saja karena rangkaian serangan bersambung pada cengkramanku bagian dua sisi kerah pakaian hitamnya. Kutarik kuat hingga tubuhnya terangkat dan dengan kaki kanan kutendang perutnya.

“DFFTTT!!” Ratu kuntilanak berpakaian hitam itu melayang jauh lalu jatuh bergulingan meringis kesakitan.

“Kurang ajar!! AAHHhhh—” ia meradang dan membuka mulutnya lebar-lebar hendak menembakkan laser thermal itu lagi dari mulutnya.

Tapi serangan itu tak kunjung melesat dari bagian mulutnya. Padahal aku udah repot-repot harus berjumpalitan menjauh dari arah serangannya. Ia bingung sendiri dan menatap ke arah jidatnya. Ia lalu meraba bagian dahinya yang tak mengenakan tiara kecil itu lagi.

“Mencari ini?” tanyaku melambai-lambaikan tiara dengan permata merah besar berkilauan yang pasti harganya akan sangat mahal.

“Kembalikan mahkotaku!” berangnya tambah meradang karena aku sudah lancang mengambil barang berharganya. Aku merampas benda itu dari kepalanya sesaat setelah melakukan Drop Elbow tadi.

“KEMBALIKAN MAHKOTAKU!!” hilang sudah semua paras cantiknya karena amarah memuncaknya. Ia tak mampu lagi mempertahankan bias genit yang selama ini dipertontonkannya padaku begitu aku mengambil tiara ini.

Waktu charging laser thermal-nya sudah lewat sedari tadi dan ia tak bisa memproyeksikan semua energi tadi…

“WUUZZZ!!” lesakan energi laser pendek-pendek memancar dari sekujur pakaian hitamnya itu.

Jumlahnya ada sangat banyak sekali dan terpancar tak beraturan dari tubuhnya dan itu jelas sangat berbahaya. Aku buru-buru nyungsep ke tanah untuk menyelamatkan diri. Untungnya semua hentakan laser itu semuanya mengarah ke atas hingga aku aman tak satupun yang bisa mengancamku, saat kuintip. Sang ratu Tobrut tak berani bergerak ketika itu semua terjadi, hal yang kuherankan.

Lalu saat kutoleh ke atas, ternyata energi mirip laser pendek-pendek itu berbalik arah kembali ke sang ratu Tobrut. Apa yang terjadi? Tunggang langgang kuntilanak kasta tertinggi itu lari menjauh dari tempatnya semula begitu sekumpulan energi thermal itu melesat cepat pada dirinya. Apakah gak memakai tiara ini ia gak bisa memfokuskan serangan laser thermal itu hingga berbalik arah padanya? Energi thermal itu menjadi liar dan balik kembali ke asalnya.

Apakah ia mengumpulkan tenaga panas itu dari pakaian hitam dengan banyak batuan mulianya itu? Lalu memfokuskan tembakan laser thermal itu menggunakan tiara ini.

“Ratuuu!!” teriak khawatir si kuntilanak merah bawahan yang melihat pimpinannya dikejar-kejar oleh energi senjata andalannya sendiri.

Bak dikejar rombongan lebah pembunuh sang ratu lari tunggang langgang dengan susah payah. Apalagi goncangan tetek super jumbo-nya tentu memberatkan gerakannya. Sepertinya ia mendapat ide dengan berlari ke arah si kuntilanak merah. Apakah ia bermaksud menjadikan bawahannya itu sebagai tameng untuk menyelamatkan diri? Licik sekali setan satu ini!

Si kuntilanak berpakaian hitam itu berlindung di belakang tubuh kuntilanak merah tak berpakaian itu, tetapi berondongan energi thermal itu sudah menghilang beberapa saat sebelum menghujani tubuh sang bawahan berambut merah dikuncir itu. Bukan karena kehabisan energi ato kadaluarsa.

Lebih pada karena aku memakai tiara ini di kepalaku sendiri. Energi thermal itu berpindah kepadaku. Terasa tubuhku hangat dan rasanya aku bisa menembakkan laser thermal itu dari mulutku yang terasa penuh saat ini.

Ratu kuntilanak hitam celingukan karena ia tak kunjung mendapati bawahannya hangus terbakar bolong-bolong oleh serangan banyak laser thermal itu. Begitu juga dengan kuntilanak merah itu. Ia memegangi beberapa bagian tubuhnya yang masih utuh tak ada yang berlubang. Mungkin ia sudah pasrah akan musnah menjadi tameng sang pemimpinnya. Hanya luka-luka akibat seranganku sebelumnya yang ada, yang masih terasa sakitnya.

“Kenapa? Bingung, ya?” tanyaku yang meloncat cepat dan duduk di atas dada tobrut sang ratu, memegangi jidat dan dagu lancipnya hingga mulutnya menganga lebar tambah kaget.

“WRAAARRHHH!!” kubuka mulutku lebar-lebar dan terpancarlah sinar thermal itu tepat memasuki mulut sang ratu durjana itu.

Pancaran laser thermal kukuras hingga habis memasuki tubuh kuntilanak superior itu lalu melompat, melenting menjauh.

“Heergghkk!!” kaget tercekat sang ratu sambil memegangi lehernya.

Matanya mendelik melotot merasakan horor yang tak pernah dibayangkannya. Padahal ia sendiri adalah pencipta horor tersendiri bagi khalayak banyak.

“Buuurpp!!” pada bagian perutnya melonjak suatu jendolan mendadak lalu menyusul lonjakan sejenis di bagian punggungnya.

“Ratu…?” si kuntilanak merah ketakutan dan mengambil langkah mundur.

Si ratu Tobrut makin panik dengan melonjaknya beberapa hentakan lain dari dalam tubuhnya. Bahkan dari kedua dadanya juga melonjak. Bak sebuah gerakan sebuah virus dengan banyak tentakel tubuh sang ratu kuntilanak hitam itu sekarang.

“AAAAAAAAAAHHHHHHH!” teriaknya panik ketika satu persatu tangan dan kakinya terhisap masuk ke dalam pakaian hitam yang bergejolak bergerinjal menonjol itu hingga yang tersisa adalah onggokan pakaian menyisakan bagian kepalanya yang masih menyembul keluar dari pakaian kebesaran keratuannya.

“Budak-kuuu!! Tolong aku!! Toolongg!!” ia mengharapkan pertolongan dari bawahan yang dipanggilnya budak.

Ia bahkan tak memiliki tangan untuk menggapai padanya. Hanya pandangan mata memelas minta bantuan dengan cara yang salah. Tapi apalah daya, itu sudah menjadi kebiasaannya.

Dan tak lama, tanpa mampu menggerakkan kuntilanak merah budaknya untuk dapat menolong, kalaulah memang ia bisa ditolong—sisa tubuhnya yang berupa kepala beserta rambut panjangnya terhisap masuk. “Sruuup~~!”

Sang kuntilanak merah sebagai bawahan hanya bisa menatap pasrah tak dapat berbuat banyak untuk menolong sang junjungan yang tak dapat tertolong lagi. Satu-satunya eksistensi ratu Tobrut yang berupa kepala itu terhisap masuk akibat lesakan energi thermal yang tak terkendali itu. Tangannya mengacung hendak menggapai. Bergerak-gerak tak berguna, tak berpengharapan.

Pakaian kebesaran ratu itu sama sekali diam tak bergerak lagi walo ada kepulan asap berbau gosong. Aku juga tak menyangka akhirnya akan jadi begini. Karena kalopun aku bisa mengalahkan sang ratu kuntilanak itu, akan memakan waktu yang lebih lama dengan terlebih dahulu membinasakan bawahannya, lalu beratus-ratus jurus kemudian untuk mengadu ilmu dengan sang ratu-nya.

Tetapi dia sudah musnah… Dengan cara yang tak kusangka akan berhasil sempurna. Menggunakan tenaganya sendiri. Laser thermal yang sangat ampuh dan berbahaya ini.

“Nah… Ratumu sudah musnah… Mau kita lanjutkan pertarungannya?” tanyaku menyiapkan kuda-kuda Mandalo Rajo-ku tepat di hadapannya. Tanganku lebar dengan kaki rendah di tanah.

“Baginda adalah pimpinan hamba yang baru…” kuntilanak berambut merah dikuncir itu tanpa dinyana malah bersujud hampir rata dengan tanah. Hanya tekukakn kakinya yang membuat bokongnya sedikit mencuat ke atas.

“Hormat pada raja!” tangannya menjura dengan kening rapat mencium tanah berpasir.

Apa-apaan ini? Apa gara-gara aku memakai tiara kepunyaan ratunya, ya?

“Kenapa kau memanggilku sebagai raja? Apa gara-gara awak pake mahkota ini?” tanyaku tentu aja pengen tau.

“Bukannya kita tadi barusan begadoh, ya? Tekak-tekak ‘Hormat pada raja!’ Cam apa kali kau buat awak…” protesku pastinya. Pertarungan kami harusnya bisa lebih seru setelah tak ada pengganggu lainnya. Hanya pertarungan satu lawan satu sekarang.

“Ya, baginda raja… Siapapun yang mengambil alih mahkota permata merah dengan cara membunuh pemimpin sebelumnya akan menjadi pemimpin baru dari kerajaan Mahkota Merah dari pesisir pantai selat Malaka… Baginda-lah sekarang sebagai pemimpin kerajaan kita…” jawab si kuntilanak merah berambut kuncir itu hanya mengintipkan wajahnya sedikit saat menjelaskan.

“Kerajaan Mahkota Merah? Wei-wei… Tunggu dulu… Selow kau… Siapa yang mau jadi raja kerajaan kuntilanak klen? Kau pikir mau aku jadi raja para kuntilanak merah? Enggak! Enggak sudi aku, tau!” tentu aja menolak mentah-mentah pentasbihan jijay bajay itu. Jadi raja kuntilanak merah. Ogah!

“Mau tidak mau… baginda raja sudah memakai mahkota itu di kepala baginda… Suka tidak suka… baginda raja sudah bergelar raja kerajaan Mahkota Merah pesisir pantai selat Malaka… Rela tidak rela… baginda raja adalah raja bagi kami…” jelasnya lagi masih menunduk dengan takjim.

Aku hanya bisa tepok jidat gak abis pikir. Sedetik kemudian mau kulepas, mau kubanting aja tiara kecil penghias kepala ini tetapi tak ada lagi tiara kecil itu dan berganti dengan mahkota logam lain yang melekat erat di keningku.

Permata besar berwarna merah itu tetap ada di bagian tengahnya. Kimak… Bentuknya berubah sesuai pemakainya. Dan lagi, aku gak bisa melepasnya dari kepalaku. Sepertinya merekat erat di kepalaku.

“Kimak-kimak!” makiku malah uring-uringan mendapat masalah yang gak disangka-sangka kek gini.

Kami di Ribak Sude punya prinsip tegas yang gak akan dekat-dekat dengan mahluk ghaib hingga mengambil mereka sebagai mahluk Menggala Suba. Sebagai gantinya kami malah mengambil teman-teman sendiri sebagai mahluk Suba kami.

Jadi mahluk Menggala Suba-ku adalah Iyon dan Kojek. Begitu-pun mereka berdua. Dengan begitu kami bisa saling memanggil bila diperlukan seperti yang selama ini sudah kami praktekkan. Kami bisa saling membantu dan prinsip kami terjaga dengan tidak bergantung dengan mahluk ghaib yang kerap dipergunakan para pendekar Menggala lain.

Sejauh ini, aku hanya mentolerir burung Enggang si Panglima Burung untuk sementara bersamaku sampe ia dapat tempat di keturunan Vony kelak, anak perempuan terakhir. Aku bahkan menolak tawarannya untuk menjadi mahluk Menggala Suba-ku, sekuat apapun dirinya, sebaik apapun dirinya. Lah… ini aku malah jadi raja dari kelompok kuntilanak merah? Seabsurd apa situasi ini? Seorang manusia jadi raja di kelompok kuntilanak…

“Apa tidak ada caranya… biar awak batal menjadi raja di kelompok kalian ini?” tanyaku pengen tau tentunya.

“Ketentuannya hanya satu, baginda… Harus ada yang mengambil mahkota itu dari kepala baginda raja… Siapapun dia…” jelasnya masih tetap menunduk menjura.

Sesekali aku mengintip pada ujung belahan bokongnya yang menungging di belakang sana. Pinggang sempit dan pinggul lebarnya sangat bagus di pos… Fokus, Seng!

“Kalo misalnya… awak berikan padamu gimana?” tanyaku berandai-andai.

“Baginda tidak bisa membukanya untuk menyerahkannya pada yang lain, baginda… Selain dengan cara satu-satunya itu… belum pernah ada pergantian pemimpin dengan cara lain…” jawabnya. Benar juga. Aku gak bisa melepas mahkota ini dari kepalaku dengan sengaja, gimana aku mau menyerahkannya pada pihak lain.

“Udah berapa kali rupanya klen ganti pemimpin selama ini? Banyak, ya?” kepoku.

“Sudah enam kali termasuk dengan baginda raja…” jawabnya lugas masih menjura rata di tanah.

“Cak kau bangun berdiri aja-la… Payah kali ngomong denganmu kalo kau bersujud kek gitu… Iya bangun… Bangun… berdiri… Cam apa kali awak kau bikinpun? Bangun kubilang!” dengan intonasi terakhir baru kuntilanak rambut merah berkuncir ini baru mau bangkit dari posisi bersujud menjuranya.

Tiba-tiba aku harus menghadapi tubuh telanjangnya yang tak tertutup pakaian sehelaipun. Pandanganku gak mau lepas dari bagian payudara mengkal miliknya yang bergandulan indah di dadanya. Selama bertarung tadi aku gak sempat memperhatikan keindahan tubuhnya sefokus ini, cuy.

“Aa… Amm… Ada berapa-ada berapa jumlah warga kerajaan Mahkota Merah ini?” hanya itu pertanyaan yang bisa nyantel di kepalaku saat ini karena keganggu sama visual indah di depanku ini. Kalo jumlahnya ada ribuan ato malah jutaan, masak aku harus memimpin jutaan kuntilanak merah sejenis ini?

“Kerajaan Mahkota Merah hanya berisi sedikit jenis hamba, baginda raja… Jumlahnya kami hanya ada 19 yang tersebar di sepanjang pesisir pantai selat Malaka… Kitalah yang mendiami tempat-tempat strategis di sepanjang pesisir…” jawabnya sangat informatif.

“Berarti udah kurang satu-la kalo gitu… Temanmu yang tadi udah musnah tadi termasuk yang 19 itu?” tanyaku teringat satu kuntilanak yang telah musnah terkena tembakan laser thermal ratu sebelumnya.

“Itu sudah hamba kurangi, baginda raja… Sekarang hanya ada 19 dari kami yang tersisa…” jawabnya pasti.

“Oo… Cuma 19 kuntilanak merah sudah bisa dianggap kerajaan ya?” aku jadi teringat harus melakukan audisi untuk mencari pengganti kehilangan satu anggota yang sudah musnah. Bagaimanapun, apapun alasannya, aku raja mereka sekarang.

“Ng… Sori soal rambutmu itu…” tunjukku pada satu kuncir rambutnya yang sudah kupotong saat bertarung tadi.

Kuncir sebelah kanannya sekarang hanyalah uraian rambut merah. Ia punya tiga kunciran rambut panjang di kepalanya. Aku menunjukkan kunciran rambut merah itu yang sempat kukantongi. Tadinya akan kusimpan sebagai alat analisa.

Kuulurkan potongan kunciran rambut itu ke arah potongan rambutnya. Ia menatap wajah dan tanganku yang terulur dengan kikuk. Gugup lebih tepatnya. Tak ada pandangan bengis lagi padaku seperti saat bertarung tadi.

Hanya rasa inferior bawahan yang tampak pada dirinya. Potongan kunciran rambut itu dengan ajaib menyatukan diri dan pulih kembali menjadi kunciran panjang. Aku cukup kaget awalnya dan ia mengelus-elus rambut berharganya dengan senang rambutnya pulih kembali. Mungkin ini identitas unik mereka sebagai kuntilanak merah.

“Apa kalian gak pernah pake baju?… Si Mutee teman kalian itu pake baju merah…” kataku beranjak ke arah tumpukan pakaian hitam bekas si ratu Tobrut itu.

Ternyata pakaian berupa mantel ini cukup berat juga bobotnya. Kainnya ternyata cukup halus dan dihiasi batuan-batuan mulia kecil. Aku hanya mengenali beberapa jenis batu seperti permata, safir, mirah delima, mutiara, giok. Selebihnya aku gak ngerti jenis batunya. Di bagian dalamnya juga ada bebatuan itu, terutama di bagian punggung dan ukurannya lebih besar.

“Apakah agar kalian bisa bergerak bebas?” aku sudah ada di depannya lagi sambil memegangi pakaian hitam ini.

“Mutee bukan bagian dari kerajaan Mahkota Merah… Dia hanya kaki tangan ratu sebelumnya jauh sebelum menjadi ratu di kerajaan ini… Kuntilanak merah itu memang sangat dekat dengan ratu karena sesama kuntilanak dan sering berkunjung… tapi dia bukan bagian dari kami… Jangan samakan kami dengan kuntilanak merah binal itu…” jawabnya terkesan gak suka dengan penyebutan nama si Mutee.

“Loh? Bukannya kalian kuntilanak merah juga? Jadi kalian ini apa?” bingungku. Penampilan mereka sama. Sama-sama merah. Cuma si Mutee pake baju merah dan dia rambutnya yang merah.

“Bukan baginda raja… Kami mambang laut… danyang penunggu pantai… peri berambut merah…” jawabnya saat aku berusaha menutupi bahunya dengan pakaian hitam eks sang ratu yang udah koit.

Bukan kuntilanak merah? Mambang laut? Danyang pantai? Peri merah? Benar juga. Kuntilanak merah itu hanya pakaiannya aja yang merah. Seperti Mutee di kelompok Burong Tujoh adalah kuntilanak yang berpakaian merah tetapi rambutnya tetap hitam legam.

Tetapi mahluk ghaib di hadapanku ini rambutnya yang berwarna merah dan tak berpakaian. Itu yang membedakan jenis mereka.

Ia segera tersadar kala aku akan membungkus tubuh telanjangnya dengan satu-satunya pakaian yang bisa kupakaikan padanya. Padahal aku sendiri dari tadi bertarung hanya pake baju tanpa celana hingga Aseng junior gondal gandul tak terkendali.

“Baginda!! Jangan baginda!!” ia sontak kaget dan menjatuhkan dirinya lagi bersujud di tanah. Baju ini gagal kupakaikan ke tubuh telanjangnya. Aku tulus melakukan ini-loh.

“Hamba tidak pantas untuk mengenakan pakaian, baginda raja… Hanya baginda raja atau ratu saja yang pantas memakai pakaian… Maaf saya tidak pantas, baginda…” ia malah balik lagi ke posisi yang tadi.

“A-ah… Aku hanya mau menutupi tubuhmu… Eh… Siapa namamu? Dari tadi awak gak tau namamu…” baru nyadar.

“Hamba tidak punya nama, baginda raja… Kami semua tidak punya nama… Kehormatan yang sangat besar untuk mempunyai nama…” jawabnya masih menunduk sangat rendah. Yang aneh-aneh aja mambang laut ini? Gak boleh pake baju-la, gak punya nama-la. Abis itu apalagi yang gak boleh? Gak boleh pipis sembarangan?

“Berdiri…” kataku memberinya perintah. Intonasiku yang lebih tegas membuatnya patuh padaku dan langsung berdiri tegak tetapi kepala menunduk.

“Buka kuciran rambutmu ini…” perintahku memberi instruksi aneh.

Tapi ia tak bertanya dan melakukannya dengan patuh. Rambut merahnya yang biasa dikucir panjang ternyata cukup tebal.

“Begini… Liat, ya?” aku menjulurkan rambut panjang di depan payudara montok menonjolnya di dua sisi.

Lalu dari belakang aku mengambil rambut secukupnya lalu mengikat bagian dadanya hingga ia seakan memiliki bra yang terbuat dari rambut tebal panjangnya sendiri. Dahinya berkerut-kerut bingung apa yang sudah kulakukan pada tubuhnya. Serasa jadi designer fashion, aku juga menyulap rambut panjang lainnya dari belakang belahan bokongnya menjadi celana dalam dengan sistem ikat-ikat juga.

“Nah… Gini kan agak sehat mataku ngeliatnya… Enak sih ngeliatnya telanjang terus… Tapi takutnya junior-ku naek mulu…” gumamku sendiri mengagumi karya brilianku dengan rambut panjang merahnya.

“Terima kasih, baginda raja…” ia menunduk lagi yang langsung kucegah.

“Awak mau nanya… Siapa si Lord Purgatory yang sempat diajak bicara sama ratu sebelumnya?” aku baru teringat ini. Siapa tau sebagai bawahanku dia mau menjawab setelah ratunya menolak mengungkapkan sebagai bagian dari kode etiknya.

“Lord Purgatory adalah yang telah memberi nama pada ratu sebelum baginda raja… Dia datang dan pergi dengan bebas di kerajaan Mahkota Merah, baginda raja… Selebihnya hamba tidak tahu banyak…” jawabnya berusaha sebaik-baiknya dalam menjawab pertanyaanku ini.

“Siapa nama ratu tadi itu?” tanyaku sambil memperhatikan pakaian hitam yang pernah dipakainya ini. Tak ada sisa sedikitpun residu dirinya di pakaian ini. Laser thermal tadi habis-habisan membakar dirinya hingga gak bersisa.

“Nama pemberian Lord Purgatory padanya adalah Fatima, baginda raja…” jawabnya patuh.

“Fatima katamu?” kagetku akan nama pemberian itu. Dia mengangguk yakin dengan pasti.

“Lalu ratu itu sering mencium tangan si Lord Purgatory… Apakah ada cincin di jari tangannya? Di sini…” aku mencontohkan posisi cincin itu di jari tengah tangan kananku. Ia kembali mengangguk.

“Cincinnya besar… lonjong… satu mata cincin besar berwarna hijau dan taburan yang lebih kecil disekelilingnya?” tanyaku tiba-tiba sesak nafas. Ia kembali mengangguk.

Kenapa Putra bisa muncul kembali? Dengan nama Lord Purgatory?[/I]

***

“Paa… Ini ada dimana?” tanya istriku begitu aku mendekat pada mereka berempat.

Malu karena gak pake celana dihadapan Lisa apalagi Tiara, aku memakai pakaian hitam panjang milik ratu Tobrut yang seperti mantel itu untuk menutupi bagian bawah tubuhku yang telanjang.

Mukaku masih bengap-bengap habis dipukuli istriku yang dirasuki si mantan ratu kuntilanak hitam itu. Tetapi sakitnya sudah jauh berkurang setelah kubasuh beberapa kali dengan air jernih segar sungai kecil yang mengalir di pinggiran hutan kecil daerah kekuasaanku.

“Ini daerah kekuasaan Menggala papa, ma…” jawabku standar aja karena otakku masih penuh dengan banyak pertanyaan dari banyak sekali teka-teki yang saling silang membuat jalinan ruwet seperti benang kusut.

Hanya ada satu titik terang kalo selama ini, entitas yang selama ini melakukan semua ini padaku adalah si Lord Purgatory ini alias Putra. Nama lengkapnya Bobi Putranto. Salah satu teman seperjuangan kami sebelum terbentuknya Ribak Sude.

“Tadi papa berkelahi di sebelah sana… Berkelahi dengan hantu-hantu itu?” tunjuknya pada lokasi pertarunganku sebelumnya di seberang sana, di balik sungai kecil itu.

Bagus mereka hanya memperhatikan pertarungan itu dari kejauhan sana karena mereka terlindung oleh pagar ghaib yang kubuat dadakan. Untung aku sempat membuatnya, entah apa jadinya kalo mereka terkena tembakan laser thermal si ratu bernama Fatima itu. Fatima… Kenapa dari sekian banyak nama, kau memberi nama itu pada ratu kuntilanak?

“Kalian sebaiknya tidak berlama-lama di sini… Kita keluar sekarang…” kataku menarik tangan istriku yang sedang menatap mahkota yang sedang nangkring di kepalaku. Lisa dan Tiara juga kubawa keluar dari tempat ini dan tak lama kami sudah balik kembali di dalam kamarku, di atas ranjang.

Perubahan tempat secara drastis tentunya membingungkan mereka bertiga, yang sudah ada diatas ranjang kembali. Dari kamar ini, ke kamar Basri yang gelap lalu tempat yang terang di daerah kekuasaanku dan balik lagi kemari yang redup. Semua terjadi secara ghaib. Tapi yang pertama kali kucari adalah celana panjangku dan cepat-cepat kukenakan kembali. Dan saatnya untuk memberi penjelasan…

“Gimana perasaan kalian? Keadaannya? Baik-baik saja?” tanyaku berdiri di depan mereka bertiga.

Mereka sepertinya sedang memperhatikan mukaku. Tidak ada muka babak-belur dan mahkota ber-permata merah besar itu lagi. Mantel hitam itu juga sudah tidak ada. Semua itu hanya ada di tataran ghaib hingga di alam nyata gak akan kelihatan kecuali bagi pihak-pihak yang punya kemampuan sepertiku untuk melihatnya.

“Apa yang sudah terjadi, pa? Kenapa keadaanya jadi aneh begini? Mama sudah melakukan hal-hal aneh yang gak biasa begini… Main-main sama Lisa dan Tiara begini… Ini bukan mama, pa?” keluhnya ketakutan dan bingung.

Tentunya dia harus bingung karena telah melakukan hal-hal yang tak pernah dibayangkannya sebelumnya. Maen lesbi-lesbian bareng Lisa dan Tiara.

“Mama sudah dipengaruhi satu mahluk ghaib hingga jadi kek gitu, maa… Tapi gak usah khawatir… mahluk ghaib itu sudah papa singkirin… Tiara juga sama… Selama ini dirimu juga dipengaruhi mahluk ghaib yang berbeda… Dia yang sudah mencegahmu untuk melakukan bunuh diri itu… Tapi dia sudah pergi…” jawabku sesederhana mungkin.

Kalo dijelaskan dengan rincipun aku yakin mereka gak akan ngerti. Tapi mereka memberiku pandangan heran karena aku tau apa yang sudah diceritakan Tiara secara khusus pada istriku dan Lisa saat mereka kira tak sadarkan diri di kamar Basri ghaib itu. Ternyata aku menguping pembicaraan mereka.

“Kalo Lisa, bang?” tanya binor panlok satu itu tiba-tiba.

Aku menggeleng karena semua kejadian tadi, ia menikmatinya murni karena keinginannya sendiri. Tak ada yang mempengaruhinya. Ia cemberut.

“Jadi mama selama beberapa hari ini… sudah begini ini karena dirasuki hantu gitu ya, pa?” simpulnya sambil mengelus-elus lehernya sambil melirik Lisa dan Tiara dengan mimik yang tak kupaham mengapa. Antara jijik, geli, takut sama penasaran juga.

“Hantunya mesum gilak… Masak awak dibuat jadi kek lesbi gitu?” ternyata ia masih ingat apa yang sudah ia perbuat selama beberapa hari ini.

“Iya, ma… Namanya juga dipengaruhi… Mama mana bisa nolak… Tiara juga… Sabar, yaa… Ini semua cobaan… Jangan putus asa… Jangan sampe mau bunuh diri lagi karena kali ini karena gak akan ada yang menghalangi Tiara… Jodoh, langkah dan maut itu hanya di tangan Tuhan… Jangan mendahului-Nya, ya?” nasehatku.

“Trus gimana, bang?” tanya Lisa.

“Gimana apanya?”

“Yaaa… Kalian keluar semua sana!… Awak mau tidur… Pusiiing!” kata istriku cepat sambil memegangi kepalanya yang mungkin memang pusing beneran akibat semua insiden membingungkan ini. Insiden yang mengaitkannya secara langsung.

“Lisa tidur dimana, mbaaak? Lisa tidur sama mbak aja, ya?” tawar Lisa yang didorong-dorong ke arah pintu.

Tiara dengan patuh jalan sendiri keluar dari kamar ini. Aku memberikan padanya semua unit baby monitor untuk dibawa keluar dari kamar ini. Ia mengangguk patuh tanpa suara.

“Enak aja… Yang ada nanti awak kau grepe-grepe lagi kek semalam… Sana tidur di sana… Ada banyak kamar kosong di sana… Hanya bang Aseng yang boleh nyentuh awak!” BLAM! Pintu ditutup padahal kuncinya sudah rusak. Kejam… Ya. Tapi semua yang dilakukannya memang masuk akal karena sifatnya memang begitu kalo sedang tertekan.

“Maa…”

“Hiks… hikss… Kenapa jadi begini, paa?” ia menenggelamkan mukanya di dadaku mencari ketenangan.

Kurengkuh tubuhnya dan bersandar ke pintu agar ia tetap tertutup rapat agar Lisa tak mendengar ini semua. Kuelus-elus rambutnya penuh kasih sayang. Ia paling suka kalo dibeginikan. Kupeluk dirinya erat-erat. Si ratu kuntilanak hitam yang bernama Fatima itu sempat mengatakan tentang efek permanen yang disebabkan Mutee pada tubuh istriku. Permanen, ya? Jadi istriku akan tetap berbodi seperti ini…

Aku gak tau harus terima kasih pada Mutee ato gimana?

“Ushh… ushh…” elusku pada rambutnya yang pendek seleher.

“Sudah berakhir… Semua sudah berakhir…” kataku berbohong untuk menenangkan kekalutan hatinya.

Belum pernah ia masuk dalam situasi supranatural seperti yang baru terjadi ini. Sepanjang kami menikah, sebelum menikah ato pacaran, gak pernah ada insiden ghaib yang menyeret dirinya sama sekali.

Aku selalu bisa menjauhkannya dari dunia yang kugeluti ini. Tapi kali ini, si Lord Purgatory itu lancang sekali melibatkan istriku dalam permainan kotornya. Entah apa maksud semua rally panjangnya ini. Aku yakin sekali kalo dialah dalang semua rangkaian kejadian ini.

Dari berbagai macam bisikan, hasutan dan dorongan ke beberapa pihak sudah dicobanya. Para binor yang selalu minta dihamilin, para dukun sesat, siluman jahat dan macam-macam lainnya.

Semuanya untuk ke satu titik momen agar ia bisa menyerang istriku. Pengecut sekali dirinya kalo itu memang si Putra pelakunya. Aku tau dirinya sempat suka dengan orang rumahku. Itu sudah lama sekali dan lagi pula—Putra juga sudah lama meninggal.

Lalu siapa si Lord Purgatory yang memakai cincin andalan Putra itu?

Tersedu-sedu ia di pelukanku. Kuredakan guncangan batinnya dengan penuh kasih sayang. Dirinya yang tangguh sampe begini karena apa yang sudah terjadi. Apakah ia merasa kotor karena telah terjerumus dalam nafsu bejat yang suka sesama perempuan? Bagi beberapa orang itu tidak dapat ditolerir apalagi predikatnya sebagai seorang istri yang sangat setia pada suami. Padahal ia bersuamikan laki-laki tukang derma sperma begini yang bernama Aseng dengan Aseng junior bejatnya. Hu-uh…

***

    

Setelah menidurkan istriku yang lelah dengan semua kegalauan hatinya aku keluar kamar. Di depan pintu aku bertemu Lisa duduk bersandar di dinding kamarku. Matanya nelangsa menatapku yang mungkin dikiranya istriku—lalu lemas bersandar lagi.

“Mbak udah tidur, bang?” tanya Lisa masih lemas tak mendapatkan apa yang diinginkannya, tidur bareng istriku.

“Udah Lis…” kuulurkan tanganku untuk membuatnya berdiri.

“Yuk awak anterin ke kamar kosong… Lisa boleh pilih kamarnya mana yang suka…” kataku merangkul bahunya agar ia mau bergerak.

Pasti dia bakal enggan bergerak. Kudorong tubuhnya dengan sedikit tenaga karena ia masih tetap bersikeras mau bareng dengan mbaknya. Tapi apalah dayanya dibanding dengan tenagaku.

“Bang…?” melasnya.

“Lisa tau kan… apa yang sudah terjadi padanya… Lisa liat semuanya… Bagaimana dia berubah jadi apa yang Lisa mau… Lisa benar… Ada yang sedang main-main dengan kita… Fucked up our bloody mind… Lisa bilang waktu itu… Awak udah menyingkirkan ratu kuntilanak hitam itu dari mbakmu… Levelnya sangat tinggi… Bukan sekedar hantu kroco… Level ratu sebuah kerajaan ghaib… Liat tadi kan muka awak bengap-bengap… Babak belur kek gitu…” ujarku sembari menggiringnya ke kamar kosong yang kumaksud. Aku menyeret tas koper beroda miliknya.

Lisa menghela nafas kecewa tapi mencoba memahami masalahnya.

“Mbak udah enggak tertarik sama Lisa lagi seperti sebelumnya kan, bang… Sebelumnya itu hanya karena pengaruh ratu kuntilanak itu… Lisa tiba-tiba merasa kosong sekali, bang… Lisa merasa gak punya tujuan lagi…” katanya mendadak sedih. Kudorong dirinya memasuki kamar kosong di depan ini dan menutup pintunya lagi.

“Tujuanmu sekarang adalah anak di dalam perutmu ini…” kataku menatapnya tajam dan mengelus perutnya. Telapak tanganku menyentuh perutnya yang masih sangat rata. Ia membelalak kaget baru ingat akan perjanjian kami.

“Gak usah ngarepin binik orang lagi, Lisa… Fokuslah pada anak yang akan tumbuh di perutmu ini… Itulah tujuan utamamu… Cup!” kukecup bibirnya lalu aku keluar dari kamar, meninggalkannya sendiri untuk memantapkan hatinya seorang diri. Biar dia istirahat dengan tenang dulu.

Aku percaya diri mengatakan gak lama lagi Lisa akan mendapatkan kabar baik di dalam rahimnya. Janin itu akan berkembang di dalam perutnya dan kelak akan menjadi kebanggaan keluarganya. Meneruskan garis keturunan pak Asui hingga berjaya nanti.

Aku sudah mendapatkan banyak bukti keampuhan bibitku dalam membuahi belasan binor selama bulan belakangan ini. Bahkan Aida sudah melahirkan bayi perempuan yang cantik belum lama sebagai bukti kuatnya. Menyusul binor-binor lainnya yang akan melahirkan juga.

Saat ini aku hanya tinggal menunggu kabar dari Farah dan Dea yang sudah kusetorkan sperma suburku beberapa kali secara teratur.

Lord Purgatory ini sudah menyiapkan mereka semua untuk membuatku lengah sedemikian rupa agar aku terbuai. Aku benar-benar lengah hingga ia berhasil menyerangku lewat orang rumahku. Entah kapan ia berhasil masuk dan mengacak-acak rumah tanggaku. Merasuki istriku dengan ratu kuntilanak bernama Fatima itu.

Merasuki Tiara langsung. Rencana sistematisnya benar-benar tersusun rapi hingga aku sempat tak sadar telah dipermainkan. Sayangnya ia bisa melarikan diri setelah beberapa lama merasuk di tubuh Tiara tanpa diketahui siapapun.

“Tiara… Bisa kita ngobrol di luar?” panggilku pada gadis itu yang sedang duduk di meja kecil kamar Salwa setelah terlebih dahulu mengetuk pintunya. Ia sedang meratapi nasibnya dengan sesengukan tanpa suara walo aku hanya bisa melihat belakang bahunya yang berguncang-guncang.

“Sebentar, bang…” jawabnya menoleh sedikit.

Ada rembesan air mata di pipi dan matanya yang merah. Aku langsung menutup pintu lagi untuk membiarkannya bersiap-siap. Pastinya ia harus membersihkan matanya terlebih dahulu. Kusiapkan dua mug coklat panas untuk teman ngobrol kami berdua di tepi kolam renang rendah nanti. Ini spot ngobrol favoritku di rumah ini.

Sementara menunggu Tiara datang, aku kembali menganalisa berbagai hal random sampe sapaannya datang. “Malam, bang?” Tiara sudah muncul dan berganti pakaian piyama tidurnya. Kusilahkan dia duduk di seberangku. Dia menurut dan duduk diam memandangi mug coklat panasnya.

“Sudah baikan?” tanyaku.

Seingatku, kami belum pernah ngobrol hanya berdua saja begini. Lebih seringnya dengan orang rumahku aja. Mungkin dari sana bibit-bibit perasaan sukanya pada istriku. Ia hanya mengangguk saja tak berani menatapku.

“Jadi… Tiara udah benar-benar putus dengan calon suamimu itu?” aku malah mengungkit kepahitan hidup yang ingin dilupakannya. Ia mengangguk lagi.

“Jadi selama disini… Tiara gak pernah berusaha bunuh diri lagi, kan?” tanyaku. Ia menggeleng dengan cepat. Melirikku sebentar lalu menunduk lagi.

“Bagus kalo gitu… Bunuh diri itu cusss… langsung masuk neraka… Tau ya, kan?” kataku mengajaknya agak santai dikit. Kuhirup coklat panas milikku.

“Diminum, Tirr… Gak ada sianida-nya itu…” tunjukku pada mug miliknya.

“Abang yang buat itu, kok…” ia mengambil mug itu, meniupnya lalu mencicipinya sedikit-dikit karena memang masih panas.

“Yang merasuki Tiara itu namanya Lord Purgatory… Satu mahluk yang masih misterius… Dia selama ini ternyata sudah memata-matai abang sejak kejadian Tiara batal nikah itu… Asal Tiara tau aja… rumah ini udah abang pagari dengan perlindungan ghaib hingga gak bisa dimasuki mahluk-mahluk jahat seperti dirinya… Ternyata dia cerdik dan memanfaatkan keadaan Tiara yang sedang galau berat… untuk masuk ke rumah ini…”

“Tiara minta maaf, bang… Gara-gara Tiara yang sudah membawanya kemari…”

“Bukan… Bukan itu maksud abang… Tiara jangan coba-coba menyalahkan diri sendiri… Nanti masalah lain yang datang… Lord Purgatory ini sama sekali tidak perduli apa masalahmu, Tiara… Ia hanya terus mencari celah dan celah terus… Ini bukan serangan pertamanya… Tapi berkat ini abang jadi tau siapa sebenarnya musuh abang… Tiara jangan menyalahkan diri sendiri, yah? Tiara gak bersalah sama sekali… Ini hanyalah permainan nasib yang kejam dan brutal… Tugas kita hanyalah terus berusaha bertahan apapun cobaannya…” ujarku menatapnya selembut mungkin agar ia merasa tak disalahkan karena kasus barusan ini.

“Paham, ya? Abang bukan mau memarahi Tiara… Siapa sih yang mau mendapat masalah kek gini… Pokoknya Tiara jangan ngerasa down aja… Ini bukan salah Tiara… Tiara cuma dimanfaatkan… Mau tidak mau Tiara tetap harus move-on, kan? Gak ada pilihan lain… Terus melangkah… terus berusaha… terus bekerja… Abang gak mau abis ini Tiara minta berhenti kerja… Karena kakakmu udah cocok denganmu… Apalagi Rio dan Salwa… Tetap seperti biasa aja seperti gak terjadi apa-apa… Kakakmu juga udah ikhlas, kok… OK?” kataku sebaik-baiknya.

“OK, bang…”

“Nah… Gitu… Senyumlah… Nah, gitu… Cantik-cantikpun mahal kali senyumnya… Ibadah itu senyuman…” kataku lumayan berhasil membawa kembali semangatnya dengan dimulai sebuah senyuman manisnya.

“Dah-la… Udah malam… Tidur kita… Ini hari yang melelahkan… Besok kerja lagi… Semangat lagi…” seruku berdiri melompat-lompat agar semangat.

“Makasih, bang…”

“Ya… Semangat, ya!” kataku mengiringi kepergiannya balik ke kamar untuk tidur.

Mataku masih kabur. Terbawa-bawa dari alam ghaib sampe ke alam nyata. Aku meneguk ludah mengingat akan semua pengalamanku akhir-akhir ini yang selalu naik turun. Dan akhirnya setelah sekian lama, aku baru mendapat secercah informasi tentang siapa dirinya. Walopun masih penuh diliputi misteri, setidaknya aku sudah mengetahui namanya ato julukannya—Lord Purgatory.

***

“Ini beneran mendiang Putra yang kita omongin, Seng…” Iyon mencoba memastikan apa yang kubicarakan dari tadi. Sekarang aku ditemani dua sahabat karibku dari Ribak Sude, tak lama Tiara pergi tidur.

“Ya… Bobi Putranto… Teman kita dulu… Yang kita hadiri pemakamannya waktu itu… Tidak salah lagi…” jawabku dengan tegas.

“Jadi kenapa Lord Purgatory itu bisa punya cincin mendiang? Apakah kau benar-benar melihat si Purgatory ini memakainya? Langsung di depan matamu?” Kojek bahkan ikut berusaha meyakinkan dirinya sendiri.

“Enggak, sih… Ada yang sering melihat si Lord Purgatory ini datang ke kerajaannya… Ratunya sering bersujud padanya dan mencium cincin itu… Waktu kutanyakan cincin itu… cincinnya sama dengan kepunyaan si Bobi…” jawabku.

“Kerajaan apa? Ratu apa?” tanya Iyon matanya menyipit mendengarku menyebut-nyebut perihal kerajaan.

“Awak juga baru tau ada kerajaan ini… Kerajaan Mahkota Merah yang lokasinya di pesisir selat Malaka…”

“Mahkota Merah? Seperti mahkota yang sedang kau pake ini?” liriknya pada arah jidatku.

“Seng… Kau yang menjadi raja kerajaan itu?” sambar Kojek saat aku akan menjelaskan tentang mahkota dengan satu permata merah besar yang hanya bisa dilihat manusia dengan kemampuan khusus. Mulutnya menganga mengagumi ukuran permata yang harganya pasti sangat mahal sekali.

“Begitulah…”

“Tunggu bentar… Kau jadi raja kerajaan Mahkota Merah? Ini kerajaan jin pastinya, kan?” mata Iyon masih menyipit menyelidik. Aku mengangguk.

“Aku gak tau apa kau udah melupakan prinsip dasar kita tentang ‘mereka’… tapi menjadi raja kerajaan jin? Ayolah, Seng… Kenapa kau bisa begitu ceroboh? Ini cuma akal-akalan mereka aja untuk menjeratmu…” kata Iyon.

“Iya, awak ngerti itu, Yon… Awak jugak gak tau kalo habis membunuh ratunya dengan menggunakan mahkota ini… bawahannya langsung menyatakan kalo awak yang menggantikannya…” jelasku pada mereka berdua. “Mahkota ini gak bisa dilepas, loh…” tambahku.

“Kau membunuh ratunya? Banyak kali waktu luangmu nyerbu kerajaan jin kek gini…” kata Kojek seperti mengejek. Kalo gak kenal mereka bertahun-tahun, aku pastinya sudah baku hantam terus, tapi memang seperti ini cara kami berkomunikasi.

“Cemana gak kubunuh ratunya… Dengerin, ya… Ratu kerajaan Mahkota Merah ini merasuki orang rumahku… Membuatnya kek orang gak waras yang sukanya sama perempuan… Ada dua perempuan yang langsung dimasukkannya ke kamar kami…” paparku awal.

Iyon dan Kojek tak kurang jadi melotot mendengarnya. Mereka berdua kenal betul dengan istriku dan sah saja kalo mereka kaget bukan buatan. Pasti mereka marah padaku gak memanggil keduanya saat menghajar sang ratu Tobrut pukimak itu.

“Ratu kerajaan Mahkota Merah ini ternyata cuma suruhan si Lord Purgatory ini… Tapi demi mendapat informasi itu… aku harus merelakan mukaku yang tamvan ruvawan ini bengap-bengap dulu…” imbuhku mengelus-ngelus pipiku sok keren.

“Kimak kau gak ngajak-ngajak, ya!” maki si Iyon.

“Memang nih si Aseng, nih… Kawan macam apa kau ini?” maki si Kojek juga kesal.

“Bukan gitu, lae-laeku sekalian… Awak udah sering kali nyusahin kalian… Klen aja jarang minta bantuan sama aku kalo dapat masalah, kan?” kataku

sebenarnya yang selalu merepotkan mereka berdua selama ini. Udah berulang-ulang aku minta bantuan pada mereka hingga aku merasa gak enak hati dan berusaha mengatasi masalah ini sendirian saja.

“Iya juga, sih… Tapi selama ini… Gangguan yang aku alami selama ini gak seberat yang ke kau, Seng… Kau kek mana, Jek…” sadar Iyon beralih ke Kojek.

“Ada… Ada beberapa kali yang kualami… Lumayan berat juga tapi puji Tuhan bisalah kuselesaikan… Tapi memang gak sesering yang kau alami, Seng… Benar juga sebenarnya… mungkin kau gak enakan kalo sering-sering minta tolong ke kami… tapi kita kan udah sama-sama bersumpah untuk saling menolong… Untuk itulah kita buat Ribak Sude ini, kan?” katanya mengingatkanku akan perjanjian kami waktu itu. Iyon juga sepakat tentang ini.

“Yaa… tau awak, kok… Balik lagi ke si Lord Purgatory ini… Kesimpulan awak gini… Ada yang memakai cincin mendiang si Bobi dan menggunakan kekuatannya untuk membalas apa yang gagal didapatkan mendiang dulu sama awak… Karena yang terus menerus diserangnya cuma awak-awak aja…” paparku.

Mereka berdua plus aku terdiam untuk beberapa lama.

“Tapi siapa yang memakai cincin itu?” gumam Iyon.

“Dia anak tunggal ya, kan?” gumam Kojek juga.

“Dan juga… gak ada keluarganya yang tau apa kegiatan mendiang Bobi sebelum kematiannya… hingga ia hanya divonis meninggal karena sakit…” gumamku agak panjang.

“Dan gak mungkin pulak kalo dia pura-pura mati dan rupanya masih hidup sampe sekarang, kan?”

“Tapi kita gak ada yang tau kemana cincin itu sekarang…” simpul Iyon.

Kojek mengangguk setuju. Aku juga setuju. Entah di tangan siapa cincin itu sekarang yang menamakan diri sebagai Lord Purgatory. Cincin berukuran besar berbentuk lonjong dengan batu akik berwarna hijau mengkilap dan taburan 18 batu akik kecil disekililing batu utamanya.

Dulu kami sering mengata-ngatain mendiang Bobi sebagai Green Lantern karena sama-sama menggunakan cincin berwarna hijau. Bobi Putranto lebih memilih menjadi Menggala Aga dengan batu-batu cincinnya itu. Menggala yang memfokuskan kekuatannya pada bebatuan istimewa ini.

Awalnya cincin itu hanya kosong tak memiliki batu satupun. Dari satu petualangan awal kami, ia menemukan sebuah batu akik hijau berenergi besar yang pas untuk dipasangkan sebagai batu utama cincin itu.

Ia mengasah batu itu sendiri dan memasangnya di cincin itu untuk memulai kiprahnya sebagai seorang Menggala Aga, mengejar ketertinggalannya dari kami. Seiring waktu ia menyadari, untuk menggenapkan semua kekuatannya, ia harus melengkapi semua batu-batu akik lainnya sebagai satelit batu akik hijau utamanya itu yang berjumlah 18 buah batu kecil.

Mendiang Bobi berkelana sendiri untuk melengkapi cincin miliknya dan disanalah malapetaka itu terjadi.

“Apa dimasukkan ke dalam peti matinya, ya?” tebakku. Mereka berdua menatapku.

“Mungkin juga…” kata Kojek membenarkan.

“Kalo meninggal biasanya barang-barang kesayangan si mati boleh dimasukkan ke dalam peti jenazahnya… Mungkin sama orang tuanya tetap dipasang di jari tengah mendiang… karena melihat dia sering memakai cincin itu…”

“Tetapi sebelum dikubur… ada yang mengambilnya…” tebak Iyon. Itu yang paling masuk akal.

“Arti Purgatory apa sih sebenarnya?”

“Sama enggak dengan Purgatorium? Ingat gak dulu Putra pernah ngusulkan nama band kita jadi Purgatorium?” kata Iyon masih ingat dengan masa-masa indah waktu SMA dulu, sok-sok keren buat band metal dengan nama-nama serem biar dikata gaul pada masa itu.

“Jadinya malah Momentomori… Ingat hari kematianmu… Yeaaa!!”

“Sama itu artinya Purgatory sama Purgatorium… Singkatnya… di Katolik itu adalah proses pemurnian setelah kematian sebelum boleh masuk ke dalam surga…” kata Kojek.

Aku baru tersadar kalo kata Purgatory itu adalah kutipan dari Alkitab. Ternyata artinya sangat dalam. Kalo di agamaku mungkin padanannya adalah alam kubur, alam barzah. Masa penantian sebelum kiamat datang. Bisa jadi di alam itu, ruh mendapat siksaan karena dosa-dosanya ato malah tidur abadi dengan tenang sampe masanya tiba.

“Yang membuatku bertambah yakin kalo si Lord Purgatory ini erat sekali hubungannya dengan Putra adalah… ia menamai ratu kerajaan Mahkota Merah itu dengan nama Fatima…”

“Fatima?” ulang keduanya berbarengan lalu pandang-pandangan.

“Ya… Nama favorit Putra… Entah kenapa ia malah memberikan nama itu pada ratu kuntilanak itu… Kita sama-sama tau kalo itu adalah nama tebakan pertama Putra atas inisial F. nama orang rumahku saat kita bertanya-tanya tentang nama lengkapnya… Seterusnya sampe akhir… ia ngotot memaksakan menggunakan nama itu untuk memanggilnya… Tidak ada orang lain yang tau masalah ini kecuali kita-kita… Jadi bagaimana si Lord Purgatory ini bisa tau semua detil ini?”

***

“Yakin-nya kau, Seng? Ini wargamu?” tanya Kojek menatap nyalang.

“Yakinlah…” jawabku.

“Peri berambut merah tadi katamu? Aku kok gak pernah dengar jin jenis ini…” kata Iyon.

“Mambang laut… Danyang penghuni pantai… Warganya cuma 19 peri rambut merah aja…” jelasku di hadapan si peri yang rambut panjangnya sudah kumodif menjadi pakaian yang menutupi tubuh telanjangnya. Ia berdiri menunduk patuh kupamerkan di hadapan kedua temanku ini.

“Gak ada baju orang ini?” tanya Kojek mempermasalahkan pakaiannya.

“Jin ini, Jek… bukan orang… Katanya mereka gak pantes buat pake baju… Punya nama juga gak pantes… Katanya…” jawabku.

“Makanya rambut panjangnya aja yang kubikin kek gitu… Dia juga kusuruh ngasih tau teman-temannya yang lain supaya rambutnya diginiin… Ngaceng pulak nanti rajanya… Hajab kita!” candaku tapi karena itu memang benar. Kek mana ngadepin 19 jin perempuan seksi yang gak pake baju? Gimana? Apa gak ngaceng si Aseng junior jadinya?

“Mau kau beli’in baju mereka, Jek… Bisa juga…” ia hanya berdecak untuk menjawabnya.

Tapi tak ayal Kojek tetap mempelototi bodi aduhai peri berambut merah yang berdiri tak bergeming di depannya. Sesekali ia menggaruk-garuk dagunya, menyamarkan mengelap encesnya yang menetes.

“Kalian gak ada buat perjanjian apa-apa?” khawatir curiga Iyon.

“Gak ada, Yon… Murni semua karena mereka menganggap awak rajanya… Cuma warganya cuma segini aja… Bingung juga awak kerajaan tapi warganya cuma tinggal 19… Itu kerajaan apa arisan?” kataku yang kerap diselipi canda.

“Asal kau enggak dipermainkan mereka aja… Tau sendiri kalo mereka ini penuh tipu daya…” kata Iyon yang masih tetap curiga akan motif kerajaan Mahkota Merah ini padaku.

“Sejauh ini mereka cukup tulus, kok… Gak nuntut macam-macam…” kataku beralasan. “Hanya saja aku kepikiran untuk memberi mereka nama… Susah juga nanti untuk ngomong sama 19 peri laut kalo gak ada namanya…”

“Apa gak akan ada efeknya kalo kau beri mereka nama? Karena nama bagi mereka itu sangat penting ya, kan? Kita kalo mau membasmi mereka aja kalo tau namanya akan lebih mudah…” kata Iyon memberi pandangan yang sangat penting.

“Nanti pake acara motong kambing pulak, Seng… Ngasih nama kan klen biasa kek gitu…” kata si Kojek.

“Kau pikir acara aqiqah pake motong kambing…” potongku sebelum dia nagih kari kambing berikutnya.

“Apa jadinya kalo awak sebagai baginda rajamu tetap maksa memberimu nama? Hoi?” panggilku ke peri berambut merah itu karena ia tak merespon. Kukira ia tidur karena gak diajak ngobrol dari tadi.

“Hamba akan menjadi mahluk yang bebas, baginda raja… Mahluk yang tak terpaku pada tempat yang sama seperti selama ini…” ia langsung menjawab ternyata. Mahluk bebas katanya?

“Jadi selama ini kamu enggak bebas? Terpatok terus di tempatmu itu?” tanyaku. Aku tau Iyon udah gatal mau bertanya tapi ini warga kerajaanku, aku yang paling berhak bertanya padanya.

“Benar, baginda raja… Hamba hanya tetap di tepi pantai sebagai penghuni karang dari dulu hingga sekarang…” jawabnya.

“Hamba hanya bisa kemari karena baginda raja memanggil hamba…” lanjutnya.

Oo… Begitu rupanya. Aku dan kedua temanku mengangguk-angguk baru paham. Karena statusku sebagai rajanya aku bisa memanggilnya kemari dan prosesnya tidak seperti memanggil mahluk Menggala Suba. Ia hanya patuh tanpa embel-embel apapun atas pemanggilan dirinya. Tapi timbul pertanyaan baru…

“Kalo misalnya nih… awak sebagai rajamu memberimu nama, ya… Bebas-lah kau jadinya… Kau gak terpatok lagi di karang itu… Bebas juga-lah kau dari awak sebagai rajamu?” tanyaku. Ini hanya sebagai gambaran aja sebenarnya.

“Hamba tetap terikat pada baginda raja walaupun saya sudah bebas tidak terikat lagi pada tempat asal hamba… Apalagi baginda raja sudah memberikan sejumlah besar tenaga Lini untuk memberikan hamba nama tersebut…” jawabnya cukup lugas ternyata lengkap dengan contohnya.

“Eh? Pake Lini juga rupanya…” sadarku.

Untung aja aku gak buru-buru memberikannya nama. Bisa-bisa habis terkuras energi Lini-ku harus memberinya nama. Ini manggil si Iyon aja udah habis banyak Lini-ku malam ini.

“Makanya… jangan asal mau aja kau, Seng… Abis Lini-mu kan repot… Apalagi sampe 19-19-nya yang mau kau namai… Modyar kowe…” kata Iyon tergelak mengejekku.

“Tapi stok Lini-mu masih banyak keknya, Seng… Mungkin itu berkat mahkota dan baju hitam yang sedang kau pake ini…” ujar Kojek memperhatikan tubuhku lekat-lekat udah kek mau disosornya aku. Ia juga memperhatikan pakaian hitam eks milik ratu Tobrut itu.

Aku gak mau meninggalkannya di hutan daerah kekuasaanku dan saat ini malah kupake dan tentu saja hanya orang tertentu yang bisa melihat keberadaannya.

“Iya, Seng… Kau baru berkelahi tadi, kan? Apa gak kerasa energi Lini-mu masih banyak sekarang ini?” sadar Iyon juga memperhatikanku.

“Iya-ya? Padahal tadi awak udah bonyok-bonyok-loh… Apalagi tadi udah dipake untuk manggil kau, Yon…” kataku juga baru menyadari ini. Masih banyak stok energi Lini yang ada di tubuhku. Tidak meluap-luap tetapi gak abis-abis. Sumber energi ini seperti gak berbatas. Ini sangat keren ternyata.

“Kau pun ntah hapa aja… Pake manggil-manggil dengan Menggala Suba pulak… Ditelpon aja kan bisa aku tinggal B3 kemari…” kata Iyon bersungut-sungut. Aku-pun paok kali bisa-bisa lupa ada teknologi yang namanya telepon.

Tapi masalah penamaan para peri laut berambut merah akan aku tangguhkan nanti dulu. Kalo aku benar-benar akan melakukan itu, aku harus mempersiapkan namanya dulu apalagi aku belum pernah bertemu dengan mereka semuanya, ke-19 mereka secara lengkap. Karena kami sedang merencanakan sesuatu untuk weekend ini untuk mencari tau masalah yang sedang merundung khususnya diri dan keluargaku. Kami akan mengunjungi keluarga Bobi Putranto, teman kami yang telah berpulang dahulu sekali.

Kenapa harus weekend? Karena dua orang di dalam Ribak Sude ini waktu kerjanya terikat office hour kecuali Kojek yang memang wiraswasta hingga lebih merdeka waktunya. Sekalian Iyon dan Kojek melaporkan perkembangan usaha mereka yang menggunakan propertiku. Usaha peternakan sapi Kojek sudah mulai berjalan.

Secara bertahap ia menjalankan semua rencananya. Peternakan sapi tentunya memerlukan lahan yang tidak sedikit dan ia mengalokasikan sejumlah besar dana yang diperolehnya untuk membeli lahan tak produktif di daerah kampungnya untuk usaha ini.

Lalu ia mulai membangun kandang-kandang sapi untuk menampung semua ternak yang akan disiapkan untuk proses penggemukan. Untuk tahap awal perusahaan bentukan Kojek ini akan menampung sekitar 200 sapi dahulu dan secara bertahap akan bertambah terus tiap bulannya.

Sedang Iyon, usaha bentukannya gak jauh-jauh urusannya dengan dunia otomotif yang sangat dekat dengannya. Ide terbaiknya adalah mendirikan usaha oto bus. Karena ia tau banyak tentang bidang ini, aku pasrahkan saja surat rumah di kompleks XX untuknya seperti juga aku memasrahkan surat tanah berhektar-hektar di kota Stabat untuk Kojek.

Hanya saja Iyon mengatakan untuk tahap awal ia akan menjajaki pembelian bus bekas terlebih dahulu sebanyak 5 unit. Dirinya yang secara ajaib bisa berkomunikasi dengan berbagai alat transportasi tentu akan dengan mudah mengetahui kualitas satu bus yang ditawarkan di pasaran tanpa bisa ditipu penjual.

Dan bila rencananya sudah terealisasi dan selesai semua proses perizinannya, ia akan menyiapkan dua bus baru dahulu sebagai penglaris yang akan menjadi bintang usahanya.

Aku sebagai investor tunggal tentunya hanya bisa wanti-wanti agar mereka tetap mengedepankan profesionalitas dalam menjalankan usaha ini walopun dasar investasi ini adalah murni karena pertemanan.

Walopun murni pertemanan, investor tetap mengharapkan keuntungan dan mereka menjanjikan keuntungan akan didapatkan beberapa tahun ke depan beserta BEP-nya.

***

Pagi hari, orang rumahku sama sekali gak mau keluar dari kamar. Ia hanya rebahan saja di tempat tidur dan bengong. Aku gak bisa memaksanya keluar dari kamar dan memilih membiarkannya dahulu untuk sekedar berfikir jernih.

Tiara yang kuberitahu agar bekerja double untuk menjaga Rio dan Salwa, kalo repot bisa minta bantuan ART lain yang sedang kosong. Lisa yang masih ngotot ingin ketemu mbak-nya kupaksa untuk berangkat kerja bareng-bareng denganku agar dia gak terus-menerus menggangu istriku.

“Kerja yang bener!” kataku tegas di depannya yang sudah duduk di dalam cubicle kami.

Ia mengangguk-angguk patuh. Dan ia tenggelam dalam nuansa bekerja dengan rajinnya seperti seharusnya. Kesibukan ini semoga bisa mengalihkan pikirannya dari bayang-bayang kegilaannya pada istriku yang belum ada obatnya. Setidaknya tinggal dia karena Tiara sudah teratasi dengan perginya Lord Purgatory dari tubuh gadis itu.

“Seng? Kemari lu…” panggil kak Sandra lewat telepon.

Buset. Ini pasti masalah single bed di ruang istirahatnya. Aku bergegas ke ruangannya. Ia hanya sendirian tanpa Tiwi yang entah dimana.

“Apa, kak?” begitu aku menutup pintu lagi. Ia tidak ada di mejanya melainkan di ambang pintu ruang istirahatnya itu.

“Siapa yang lu tiduri di tempat wa? Ini bukan baunya Dani… Ini cepet perempuan lain pasti… Jangan macam-macam lu, Seng…” ancamnya cukup berang mendapati ranjang single bed-nya sudah berganti sprei tetapi masih ada aroma asing. Aku gak pernah menutup-nutupi siapa yang kutiduri di tempat itu karena di kantor ini hanya dirinya dan Dani orangnya.

“Lisa, kak…” dan kali ini bertambah satu lagi.

“Lisa? Lu mau jadi direktur aja rupanya? Gak perlu jadi Factory Manager?” sergahnya mengejutkan.

“Kak?”

Kak Sandra mengatur nafasnya dan mengelus-elus perut membuncitnya. Ia lalu menutup pintu ruang istirahat itu dan balik ke mejanya. Ia terdiam sebentar.

“Lu udah tau rupanya dari Lisa kalo dia yang diproyeksikan pak Asui untuk menggantikan wa, ya?” Aku hanya mengangguk membenarkan.

“Gak sangka wa… Lu gerak cepat juga…”

“Bukan begitu, kak… Awak sebenarnya gak perduli mau ditempatkan kemana aja, kak… Mau tetap begini silahkan… Mau jadi Factory Manager silahkan… Mau jadi direktur juga silahkan… Gak ada awak kejar-kejar semua itu, kak… Kata kuncinya hanyalah ‘perjanjian’… Dah itu saja…” kataku. Ini terdengar seperti membangkang tapi aku tau gimana kak Sandra. Apalagi aku menyinggung masalah perjanjian juga.

Ia menatapku lama sambil bersandar ke kursi kerjanya lalu menghela nafas.

“Okelah…” kuharap ia langsung paham dan tak membicarakannya lagi karena kata kunci itu.

Karena sepertinya ia langsung tau kalo aku punya perjanjian dengan Lisa sebagaimana aku punya perjanjian dengan Dani dan dirinya.

Kak Sandra tetap seperti biasa aja setelah percakapan kami tadi dan hari berlanjut terus dan sang raja hari terus bergulir melintasi garis edarnya. Aku kembali membawa Lisa berkeliling ke lapangan.

Berpanas-panasan meninjau area pabrik. Kembali mata-mata penghuni pabrik yang berterima kasih karena sudah disuguhi pemandangan penyegar di terik siang hari begini. Dua buah kantong susu berukuran jumbo yang dibawa-bawa Lisa kemanapun ia pergi.

Mereka jadi pada rajin muncul di sekitar kami berdua sekedar nyapu lantai ato ngelap-ngelap mesin, padahal cuma pengen mupeng lebih dekat.

***

“Lisa sengaja ya pake pakaian kek gini?” tanyaku yang juga sedang berpeluh-peluh.

“Kenapa, bang? Ketat banget, ya?” ia juga mengelap peluhnya yang mengalir dari dahi.

“Ngasih semangat gitu ke para penghuni pabrik… Liat mata mereka gak?” tanyaku lagi.

“Sedekah dikit, bang… Lagian stok pakaian Lisa masih sedikit… Entar Lisa shopping pakaian dulu, deh…” jawabnya masih berkeringat terguncang-guncang.

Padahal tempat ini lumayan teduh dan tak terlalu panas lagi. Kami keliling sampe belakang pabrik yang sangat jarang dikunjungi para karyawan. Hanya sesekali para security kemari untuk control harian.

Tadinya aku menunjukkan lokasi tempat genset berkapasitas besar yang kerap dipergunakan bila pasokan listrik dari PLN ngedrop dan juga posisi beberapa tandon air berada. Lisa menemukan tempat imi dan langsung melorotkan rok panjang span-nya dan menungging di salah satu sudut yang tertutup beberapa peti kayu bekas sparepart yang teronggok ini.

Aseng junior langsung berbahagia melihat pemandangan indah itu dan tanpa banyak tanya kami melakukannya di sudut yang tak biasa ini. Aseng junior langsung kugenjotkan dengan semangat berapi-api.

Kami berdua melepaskan beban akibat tensi pekerjaan dengan seks. Sejauh yang kutau, Lisa sangat menyukai ide ini. Ia mendesah-desah tapi tak begitu kuat. Selagi berpegangan di dinding, sebelah tangannya melepaskan kancing-kancing kemeja ketatnya untuk membebaskan dadanya yang terkungkung—tetek jumbo-nya berjuntai menggantung berayun-ayun.

Mendapat suguhan begitu, aku semakin menggila menyodokkan Aseng junior bertubi-tubi ke kemaluannya yang sudah basah dari awal aku menjejalinya dengan keras batang penisku begitu melihat ia mulai menungging, memancingku.

Desahan-desahan seksi yang tak terlalu kuat menjadi privasi kami tersendiri di sudut pabrik ini. Seakan dunia ini adalah spot terisolir dari siapapun. Jangkauan CCTV-pun tak ada di sudut ini. Tempat yang tepat untuk kami melakukan hal nakal ini.

Suguhan tetek jumbo Lisa memaksaku untuk memeluk tubuhnya hingga tak menungging lagi. Kupeluk bagian perutnya hingga punggungnya rapat ke perutku. Aseng junior tergencet belahan bokongnya dan menohok masuk memompa pendek-pendek kemaluannya.

Batang Aseng junior sedikit agak berbeda diameternya di bawah leher lebih gemuk sedikit dan lebih kurus ke arah pangkal, membuat gesekan-gesekan berarti di mulut liang kawin Lisa. Tetek jumbo-nya tentu saja menjadi highlight utama pegangan tanganku. Kuremas-remas gemas tumpukan lemak kenyal itu.

Apalagi kakinya yang rapat semakin menjepit permainan Aseng junior di vaginanya yang semakin basah. Ia memegangi sebelah pahanya dan sebelah lagi masih bertumpu pada dinding.

“Clok clok clok clok…” suara gesekan sepasang kelamin kami bersahutan dengan suara tepukan perut dan bokongnya yang bertemu rutin.

Gerakan kepalanya menyebabkan rambutnya sesekali berkibaran di depan mukaku. Rambutnya wangi dan aku berkesempatan membenamkan bibirku ke lehernya, membuatnya semakin mendesah, merintih.

“Ah ahh ahh ah ahh ahh…” rintihnya apalagi jariku rajin memelintir puting susunya yang menggemaskan.

Kutarik-tarik berkali-kali ditingkahi remasan-remasan gemas, memberinya rangsangan yang lebih-lebih lagi daripada hanya mengkontoli vaginanya. Ia mendongakkan kepalanya ke arahku hingga aku dapat menciumi lehernya yang putih bersih walo asin oleh keringat. Itu hanya bumbu penyedap seks di tempat tak biasa begini. Walo tak nyaman, kami berdua sama-sama menikmatinya.

“Baaang… I’m cumminn… nnn… Ahh~~! Aahh~~!” mendengar erangannya dan merasakan tubuhnya bergetar, aku sigap memeluk erat tubuhnya.

Kakinya pasti lemas karena orgasme ini. Aku menghentikan gocekanku, hanya elusan dan remasan apresiasi yang kuberikan pada tubuh seksi mulus berkeringatnya. Ia mengerang-ngerang merasakan kenikmatan masih bersarang di sekujur tubuhnya. Aseng junior masih terjepit dengan nyaman sentosanya di dalam kemaluan anak sulung pak Asui ini.

“Kaki Lisa lemas, bang… Uhh… Tapi enak banget begini…” katanya membalik badannya, mengakibatkan Aseng junior tercerabut dari sarang barunya.

Ia berhadapan denganku dan bermaksud mencium bibirku. Kami berpagutan untuk beberapa lama dan diakhiri dengan Lisa menggapai Aseng junior. Ia meremas-remas batang penisku untuk menjaga potensi kerasnya. Ia langsung berjongkok tanpa banyak tanya.

“Aaah… Andai si mbak ngizinin Lisa tidur di kamarnya lagi… Andai si mbak ngizinin kita main bertiga, bang… Lisa pasti bahagia banget, bang…” katanya dengan banyak perandaian.

“Tapi itu gak mungkin, Lisa… Dia sudah sadar sekarang…” jawabku membiarkannya mengocok-ngocok Aseng junior sesukanya dengan tangan halusnya.

“Bukannya Lisa cuma suka mbak-mu… Kenapa sekarang jadi main bertiga… Jangan baper-loh?”

“Mbak-ku cantik cuma suka sama abang… Mungkin kalau dengan cara itu bisa… Siapa tau… Shlkk…” ujarnya dan menjilat bagian kepala Aseng junior yang pasti masih ada aroma cairan cintanya sendiri.

Tapi matanya menunjukkan kalo ia masih sangat sange. Kepala Aseng junior kemudian diemut-emut dengan mulutnya yang kecil. Ia berusaha memasukkan lebih tapi lebar bibirnya yang mungil terbatas.

“Hsss… Enak gitu, Liss… Ahh… Mbakmu gak bakalan mau ada orang lain di atas tempat tidurnya abis ini… Awak jamin itu… Tapi Lisa boleh terus berusaha mendekati dia, kok… Selagi Lisa belum diusirnya, kan?” kataku masih menikmati permainan mulutnya atas Aseng junior-ku yang keras berdenyut-denyut. Selagi mengenyot, tangannya tak berhenti mengocok pangkal penisku.

“Hsss…” desisku yang dijawabnya dengan mengangguk-anggukkan kepala. “Aaaakh…”

Ia melepas Aseng junior dari mulutnya yang basah oleh liurnya.

“Hamili Lisa, bang…” ujarnya lalu duduk di salah satu peti yang ada tumpukannya.

Dibukanya kakinya lebar-lebar di tepian peti itu. Mulutnya mangap-mangap masih mendesah. Aku merapatkan tubuhku ke bukaan kakinya. Ia tak terlalu memikirkan kalo peti yang didudukinya kurang bersih berdebu. Nafsu yang menguasai kami berdua.

“Aahh… Mm…” erangnya.

Aseng junior kembali meluncur membelah dirinya dan masuk. Tanganku lancang dan memerah dua tetek jumbo-nya saat mulai kupompa perlahan. Lisa langsung mengerang merintih merasakan nikmat kembali mendera liang kawinnya.

Aseng junior menumbuk-numbuk pintu cerviks-nya yang dangkal, merangsangnya agar segera membuka untuk segera kubuahi. Jepitan liang kawinnya meremas batang Aseng junior dengan nikmatnya dan kami berdua menikmati gesekan, garukan yang terjadi.

Kepala jamur Aseng junior menggaruk tiap gerinjal permukaan liang kawin Lisa dan geli-geli enak itu mulai menggelitik dari bagian kepala dan mulai terasa geloranya.

“Baanng… I’m gonna cumm againn… Uuhh… Uhhh… Uhh so good… So fuckin’ gooood… Oohh…” mulutnya menganga berulang-ulang menyerocos dalam bahasa Inggris logat Australi-nya.

Tanganku yang tadi memerah tetek jumbo-nya kini memegangi pinggang sempitnya karena sodokanku semakin cepat dengan kepala menengadah dan mata terpejam. Menikmati rasa enak yang mulai menjalar di sekujur tubuhku.

“Ahh…” keluhku bersamaan dengan tersemburnya spermaku.

“Crrroott crrooottt croootttt!” menyembur cepat beberapa kali cairan kentalku.

Memberiku kenikmatan duniawi yang tiada taranya. Kakiku mengejang dengan jari-jari menekuk, menguras semua muatan sperma dari pelerku memasuki rahimnya. Lisa juga mendapatkan kenikmatan itu berbarengan denganku. Tubuhnya berkejat-kejat kembali mendapatkan hangat spermaku membanjiri sanubari rahimnya.

“Enak, Lis?” erangku.

“Enak banget, bang… Mmm… Ditahan dulu bentar, bang… Biar Lisa bisa hamil…” katanya mengapit pinggangku agar gak buru-buru mencabut Aseng junior penyumpal liang kawinnya. Aku setuju tapi gak bisa lama-lama karena kami harus kembali bekerja.

“Ada lokasi lain gak ya di sekitar pabrik ini… yang bisa kita pake beginian?” ujarnya nakal binti binal.

“Ada aja kalo mau dicari… Contohnya tuh… Menara boiler itu…”

“Ishh… Panas dong kalau di situ… Ada-ada aja si abang, ih…” mengertinya akan candaanku.

Ia cekikikan tertawa bareng aku. Tetek jumbo-nya berguncangan dengan kepitan liang kawinnya yang disumpal Aseng junior-ku untuk menahan spermaku bekerja dulu. Kami ngobrol-ngobrol aja begitu dengan anehnya, kaki Lisa mengangkang lebar dan Aseng junior perlahan mengecil kembali hingga lepas dengan sendirinya.

Ia memasukkan sepasang tetek jumbo-nya ke dalam bra lalu mengancingkan kembali kemeja ketatnya. Dengan tisu, ia membersihkan lelehan spermaku.

Telah mengkontoli Lisa sekali ngecrot, kami ‘berkeliaran’ lagi di seputaran pabrik belagak inspeksi beberapa bagian, control juga sekalian agar Lisa semakin mengenal tiap-tiap bagian lapangan yang banyak jenisnya.

Padahal aku yakin bagian kemaluannya masih banyak berselemak spermaku yang mengucur keluar dan membekas di permukaan kain celana dalamnya. Mata-mata para operator mesin kembali dipuaskan oleh kemolekan tubuh Lisa.

Kala berjalan, tetek jumbo-nya tentunya bergetar-getar dahsyat. Yang tentunya juga menggetarkan hati dan iman mereka tentunya. Sori-sori aja ya, klen cuma kebagian ngeliat tetek jumbo yang terbungkus aja, aku udah ngerasain semua-muanya. He hehehehe. Mupeng deh klen semua…

“Bang… Di sini sepertinya bisa juga, deh…” tunjuk Lisa ke balik beberapa bahan baku yang ditumpuk dengan rapi.

Tempat ini biasanya hanya dikunjungi bagian gudang pada pagi hari saat permulaan shift untuk pemakaian hari itu. Setelah itu, tak ada siapapun yang berkunjung kemari.

“Bisa juga… Eh? Lisa mau lagi?” kagetku. Kukira ia hanya mengusulkan untuk permainan nakal kami besok-besok ternyata sekarang juga. Karena ia sudah mengarah ke arah sana sambil memegangi tepian roknya… Bakalan ena enaan lagi, nih…

Di dinding dekat tumpukan bahan baku ini ada beberapa buah exhaust fan buat menjaga sirkulasi udara hingga atmosfir di tempat ini tidak pengap. Lisa ternyata menilai nyaman tempatnya bergumul nanti berdasarkan benda itu.

Dan ternyata benar, walo indoor tetapi tidak pengap hingga ia dengan santai melepaskan celana dalamnya setelah menggulung roknya dan bersandar di dinding. Ia lalu melepaskan kancing-kancing kemeja ketatnya agar aku dapat mengakses dadanya dengan mudah. Kedua helm safety kami berdua kami lemparkan begitu aja di atas tumpukan karung-karung bahan baku.

Melihat semua display tubuhnya yang aduhai, aku hanya geleng-geleng. “Gila ya, Lis… Kamu jadi sangean begini, ya?” kataku saat mengeluarkan Aseng junior dari sangkarnya. Celanaku tak kubuka sama sekali, hanya mengeluarkannya dari bukaan ristleting aja. Ia menjuntai-juntai kesenangan.

“Demi hamil, kok… Lisa harus memaksimalkannya, kan? Kapan lagi ada kesempatan begini… Ci Sandra selalunya pulang malam-malam, kan? Bang Aseng sore udah pulang… Lisa lembur lagi… Terpaksa jalan ini yang Lisa ambil…” jelasnya.

Benar juga, pikirku. Aku mendekat padanya. Ia langsung menjamah Aseng junior dan mengarahkannya ke kemaluannya. Digesek-gesekkannya kepala Aseng junior ke belahan vaginanya yang terasa masih basah oleh spermaku ronde sebelumnya.

“Kalo pengalamanku dengan mbakmu… punya Lisa ini mirip loh dengan punya dia…”

“Mirip?” kaget Lisa dengan mulut menganga tapi tetap mengoles-oles kepala Aseng junior dan mencoba mencelup-celupkan ke dalam liang kawinnya. “Pussy Lisa mirip dengan pussy-nya mbak?”

“Ya… Mulut rahim Lisa dangkal… Makanya awak sering mentok, kan? Harusnya dengan begitu… Lisa mudah sekali untuk hamil… Harusnya sekali senggol langsung hamil-loh dengan lakikmu… si Steven itu… Hanya saja karena ada siluman monyet yang selalu menghalangi Lisa untuk hamil selama ini… Lisa jadi susah hamil… Mudah-mudahan abis ini Lisa langsung hamil, deh… Apalagi dalam masa subur begini… Lakikmu udah berangkat lagi ke Australi, ya?” kataku membantu mendorong hingga pelan-pelan Aseng junior bisa meluncur masuk.

“Ahh… Mm… Sewaktu main pertama tadi… dia sedang transit di Jakarta… Pasti ia sedang dalam penerbangan, bang…” jawabnya mendesis-desis begitu Aseng junior mulai kupompakan pelan-pelan.

Bersenggama berdiri berhadapan begini agak sedikit sulit karena tubuhnya tak begitu tinggi. Sepatu safety-nya tak banyak membantu karena tak begitu tinggi. Dengan begitu aku harus sedikit menekuk kakiku untuk dapat menusukkan Aseng junior dengan sudut yang pas untuk memasukinya.

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22