The Baby Maker Part 20

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22

Cerita Sex Dewasa The Baby Maker Part 20 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya :The Baby Maker Part 19

Kuparkirkan mobilku di depan panglong Amei. Rolling door-nya udah ditutup rapat tapi gerbang sampingnya yang menuju gudang bahan-bahan materialnya masih terbuka sedikit. Mobil Amei juga ada di dalam gudang. Aku masuk ke dalam lewat gerbang itu. Ternyata ada satu pintu lagi untuk mengakses bagian dalam panglong.

“Sore, Mei…” sapaku yang menemukannya sedang menghitung pembukuannya dengan sebuah kalkulator. Wajahnya langsung sumringah mendapati aku sudah sampai di tempatnya.

Amei

“Bang Aseeeng…” sontak ia meninggalkan pekerjaannya dan bangkit dari duduknya untuk menjelang padaku.

Tanpa sungkan ia memeluk dan mencium pipiku senang sekali melihat keberadaanku. Karena memang tak ada orang di ruangan ini, kubiarkan saja pelukannya. Apalagi aku bisa merasakan desakan toge Amei yang menekan dadaku dengan kenyal. Tinggi tubuh Amei yang lumayan tak membuatnya susah untuk menjangkau mulutku.

“Aman, nih?” mataku jelalatan kanan-kiri menilai situasi.

Tempat seperti ini biasanya ada banyak orang di luar. Apalagi para pekerja panglongnya belum pada pulang semua. Masih ada beberapa orang yang kulihat berkeliaran tadi di luar. Kalo mulai gelap, bahkan ada penjaga malamnya segala.

“Cups… Aman kok, bang… Tapi biar bang Aseng lebih tenang… kita kemari…” ia menarik tanganku ke arah belakang.

Ada sebuah kamar yang segera ia tutup rapat. Tidak terlalu besar. Mungkin hanya sekedar tempat ia beristirahat di kala menjalankan usaha toko materialnya ini. Ada sebuah ranjang sederhana dari kayu dan pendingin udara setengah PK. Diarahkannya aku ke ranjang duduk berdampingan dengan rapat. Ini jauh lebih baik.

“Amei seneng banget abang mau datang kemari sore-sore begini… Seneeeng banget…” ia memeluk perutku lebih erat lagi dan menekankan wajahnya di leherku.

Ia memang sangat ceria dan berseri-seri lebih dari biasanya. Panlok cantik seksi yang hanya memakai kaos you can see dan celana jeans selutut ini mengeluarkan aura bahagia. Apakah hanya gara-gara aku bertandang kemari?

“Wah-wah… Keknya baru tembus obyekan proyek besar nih…” tebakku menyisipkan rambut yang berserakan ke lipatan telinganya. “Senangnya senang kali…”

“Ta-raaa!” ia menyodorkan sebuah benda yang segera kutangkap sebagai sebuah test pack kehamilan yang banyak dijual bebas di apotik. Mataku langsung memindai ke ujung tempat penanda indikatornya berada. Dua garis pink. Positif.

“Amei hamil…” matanya yang menyipit segaris karena tekanan senyumnya yang lebar memamerkan gigi geligi rapi putih bersih.

“Selamat ya, Amei… Akhirnya Amei hamil juga…” aku mengambil test pack itu dan memperhatikan dua garis pink itu lekat-lekat.

Kupeluk balas tubuhnya erat-erat. Kuciumi keningnya mengekspresikan betapa aku juga sangat berbahagia untuknya. Ia lalu mendongakkan wajahnya dan menyerobot mulutku hingga kami berciuman jadinya. Saling pagut mulut kami untuk beberapa lama. Aku dapat merasakan deburan jantungnya lewat togenya yang melekat erat dempet di dadaku.

Amei meremas-remas punggungku dengan gemas meningkahi remasan-remasan tanganku yang menjamah toge dadanya. Lalu aku mengelus-elus perutnya. Amei merenggangkan pelukan kami untuk meleluasakan aku menyentuh perutnya. Ia memberi jarak yang seluas-luasnya padaku. Kusingkap kaos tanpa lengannya itu dan mengarahkan wajahku ke perutnya.

“Aahh…” erangnya saat kukecup perutnya.

Aku bahkan menarik tepian jeans-nya agar perutnya semakin lebar terlihat. Aku menciumi bagian perut di bawah pusarnya. Kulit putihnya meremang bangga, aku menciumi hasil karyaku yang kini mulai bersemayam di dalam perutnya.

“Semoga sehat selalu… Cepat besar dan menjadi kebanggan mama Amei yang cantik…” bisikku sebagai doa untuk sang jabang bayi.

Amei tersenyum lebar tetapi mengusap cepat titik air mata bahagia dari sudut matanya. Kusongsong lagi mulutnya dan ia mengalungkan tangannya ke leherku. Kukecup matanya agar tak lagi menangis. Kebahagiaan yang harusnya di depan matanya mulai kini selanjutnya.

“Walau kita sudah buat perjanjian… kita sama-sama tau ini anak siapa, bang… Amei akan menjaganya baik-baik… Amei sudah janji, kan?” lirihnya di sela permainan bibir kami.

Kukecup hidungnya berterima kasih sudah ingat perjanjian kami. Julio sableng itu tak percaya diri untuk menghamili istrinya sendiri dan memilih untuk pake kondom saat menggauli kemaluan istrinya. Malah selalunya ejakulasi di mulut.

Mengingkari kodrat yang diberikan yang Maha Kuasa. Memberikan kesempatan itu malah padaku yang berhasil menghamili istrinya setelah beberapa kali sesi threesome.

“Bagus…” pendek saja komentarku dan mengelus dagunya.

“Amei bahkan belum memberitahu Julio tentang ini. Amei rasa bang Aseng yang harus tau terlebih dahulu…” Amei lalu meloloskan kaos tanpa lengan itu, berturut-turut dengan bra-nya, celana jeans selutut lalu terakhir celana dalamnya.

Kemudian direbahkannya tubuhnya di ranjang ini dengan senyaman mungkin. Ia mempersembahkan tubuhnya lagi padaku dengan melebarkan kakinya. Jawabanku tentu saja dengan cara menelanjangi diri sendiri juga dan lalu larut di dalam pelukan erat dirinya.

Kugenjot binor cantik dengan tubuh aduhai ini selembut mungkin. Sepanjang kugauli tubuh indahnya, tak pernah lepas pagutan mulut kami saling memberi kenikmatan. Amei merintih-rintih mengerang sepanjang ronde.

Tubuh kami melekat erat saling memuaskan. Erangan-erangan Amei sangat seksi membuatku sangat-sangat terangsang. Apalagi insting purbaku mengatakan kalo perempuan yang sedang kugeluti ini adalah wanita sempurna yang sedang hamil hasil perbuatanku sendiri. Ia tak punya masalah apapun untuk hamil dan itu sudah kubuktikan.

Berkejat-kejat tubuhnya kala mendapatkan puncak kenikmatan itu lagi dan lagi. Kaki dan tangannya mengait di tubuhku, menekan saat buncahan kenikmatan itu menyergap tubuhnya dengan manis.

Ia mengulum-ngulum bibirku merasakan sisa serpih kenikmatan itu meresap ke sekujur tubuhnya. Batang kejantananku tak henti-henti menggelar kenikmatan terus. Berulang-ulang memompa kenikmatan bagi kami berdua.

Amei pasrah saja diapakan olehku. Pasrah saat dibolak-balik menggenjotnya dari belakang. Digasak menyamping yang akhirnya membuatku menyemburkan cairan kental suburku, membasahi liang kawinnya yang sudah berhasil kubuahi.

Kupeluk tubuh sintalnya dari belakang sambil mencumbui lehernya. Togenya juga kuremas-remas lembut membuatnya bergidik geli dan tertawa cekikikan. Amei menjangkau ke belakang dan mengoles-oleskan Aseng junior ke belahan bokong montoknya.

Kuhembuskan nafas hangat yang makin membuatnya bergidik geli gak tahan dan berbalik untuk mencaplok mulutku lagi. Lagi dan lagi kami saling cumbu mulut. Lidah kami saling berbelit bergelut bergulat memadu nafsu. Kembali togenya kuremas dan kupilin membuatnya merintih mengerang.

Aseng junior siap untuk ronde berikutnya dan kugasak tubuh indahnya.

***

Saat sampe rumah menjelang Maghrib, mobil Lisa belum terlihat pertanda ia masih belum selesai lembur. Saat kutelpon, benar saja dia masih di kantor menyelesaikan tugasnya.

Cukup berdedikasi dan bertanggung jawab. Saat kutanya apakah sudah makan, apakah capek—ia hanya tertawa-tawa kecil saja, tak menjawab eksplisit. Ia hanya mengatakan akan pulang ke rumahku kalo pekerjaannya sudah selesai.

Begitu pintu basement tertutup rapat, aku sudah disambut orang rumahku. Di kejauhan terdengan azan Maghrib. Ia sepertinya mencari-cari keberadaan Lisa yang tak kelihatan. Mungkin ia bertanya-tanya, satu kerjaan kok pulangnya gak bareng?

“Cari siapa, ma?” tanyaku. “Cari Lisa, ya?”

“Iyaa… Kok dia belum pulang… Papa suruh lembur, ya?” ia terlihat khawatir.

“Paling-paling bentar lagi pulang… Papa mau mandi dulu… makan, abis itu berangkat kuliah lagi…” kataku sedikit berlari-lari kecil menaiki tangga agar gak didesaknya lebih jauh. Apalagi bau tubuhku udah campur aduk. Bau keringat sama bau pepek.

“Aneh gak sih, paa… kalo mama mimpi kek gitu sama Lisa? Apa gara-gara kejadian tadi malam itu, ya? Mama gak nyalahin papa sih kalo masuk sebentar ke Lisa… Kan mama yang ngasih dia izin tidur bareng kita… Tapi itu mama beneran kaget kali waktu kejadian itu… Enak gak, sih? Tapi beneran mama gak ada bibit-bibit lesbi-loh… Tapi tetek mama malah ada merah-merahnya gitu kek ada yang nyupang… Papa aja gak pernah nyupang…” ia nyerocos ngalor ngidul mengikuti aku dari belakang.

Aku berhenti dan ia menubrukku. Tentu saja bemper jumbo-nya yang membenturku.

“Mama ada suka sama si Lisa, gak? Cewek nembak cewek juga kok diladeni, maa… Diizinin bobo bareng kita lagi… Kan jadi bingung kita waktu mau maen seks-nya… Kek gak bebas gitu… Nunggu dia tidur eh taunya dia cuma pura-pura tidur… Apa mama mau dia minta ikutan?” kataku berjalan bersamanya.

Eh udah kukasih tau kan kalo menuju kamar utama yang merupakan kamar kami itu jauh, harus nyegat angkot dulu. Gak sampe-sampe perasaan dari tadi.

“Ishh… Amit-amit… Papa kali yang suka… Ada dua cewek jumbo di kasurnya…” baliknya gak mau kalah.

“Lahh… Dia kemarin itu minta dikawinin abis minta cere sama lakiknya gimana? Papa kan gak bisa… Papa sudah ada janji sama mama… Kecuali mama mau papa merevisi perjanjian kita… Eiitt… Saya sudah tauu… Mama gak akan mungkin mau…” potongku sebelum ia protes. Ia bungkam.

“Mama yang harus tegas sama Lisa, maa… Lisa itu keknya cinta berat sama mama… Sampe-sampe dia mendapat kemampuan mengirimkan khayalannya ke mama lewat mimpi…”

“Hah?” mukanya shock sekali mendengar penuturanku. Aku mengangguk-angguk menegaskan apa yang baru saja kuucapkan. Itu benar.

“Beneran dia bisa, maa…” kataku jujur padanya.

“Kemampuan yang bisa mengirimkan hayalannya ke mimpi mama? Jadi mimpi itu beneran? Perbuatan Lisa? Serem, ih?” ia malah takut.

“Naah… Mama maunya gimana? Mama suka gak maen lesbi-lesbian kek gitu… Keknya mama suka, deh… Buktinya sampe basah kecret-kecret gitu…” godaku meraba gundukan selangkangannya yang dibungkus legging ketat.

“Dijilat-jilat Lisa… Dikenyot-kenyot Lisa… Dicupang Lisa…” aku tambah meremas sebelah payudara jumbo-nya.

“Dikobel-kobel Lisa… Ditusuk-tusuk Lisa… Saling adu tempek sama Lisa… Enaknyaaa…” aku semakin menggodanya dengan grepe-grepean intens di bagian tubuh vital sensualnya.

“Ihh… paa… Beneran basah jadinya, nih… Tanggung jawab!” ia mendelik. Mana kamar kami masih jauh lagi. Harus mendaki lembah menuruni gunung. Kebalik, woy!

“Kaboor!!” aku langsung ngibrit lari menuju kamar kami. Ia mengejarku. Karena tubuhnya jauh lebih prima sekarang, ia tak kesulitan mengejarku. Hanya saja gelayutan payudara jumbo-nya yang sedikit mengganggu pergerakannya.

***

“Hash hash hash…” nafasnya ngos-ngosan setelah kugenjot sekian lama dan membuatnya orgasme beberapa kali.

Dada jumbo-nya memang sangat luar biasa penaik birahi yang luar biasa menggairahkan. Nafsuku selalu meluap-meluap melihat bentuk kenyal dan elastis penghias dadanya. Kebanggaan kaum Hawa ini memang aset yang sangat berharga. Aku beruntung memilikinya sendiri di kamarku.

“Masih enakan sama papa…” akunya. Diremas-remasnya sendiri dadanya.

“Sentuhan papa masih lebih baik darinya…” ia menjepit puting gemuk yang masih akan dinikmati Salwa untuk setahun ke depan. Anakku disapih setelah dua tahun.

“Apalagi ini…” ia menyekik Aseng junior yang manggut-manggut mengantuk abis kerja keras. Bukan hanya padanya, ia sudah bekerja pada Lisa dan Amei hari ini.

“Lisa tidak punya ini untuk menyenangkan mama… Dia tidak bisa mengalahkan papa-laaah pokoknya…” pungkasnya.

“Gimana kalo ada dua yang nyerang mama sekaligus? Lisa sama satu perempuan lain… Apakah penilaiannya akan berbeda? Mungkin akan jauh lebih enak… ato malah jonk?” tanyaku yang membuatnya bingung aku ngomongin apa.

“Apa, sih?”

“Tiara? Kamu ngeliat ini, kan?” aku tiba-tiba mengacungkan sebuah baby monitor ke hadapan kami berdua. Istriku yang berbaring di lenganku kaget melihat benda elektronik sejenis CCTV versi mini pemantau kegiatan bayi ini kuarahkan ke kami.

“Tiara kamu kemari, deh… Trus ngaku apa yang sudah kau perbuat pada kakakmu ini selama ia tidur siang…”

Baby Monitor

“Papa apa-apaan, sih?” ia berusaha menjangkau baby monitor itu. Merasa risih dan jengah akan adanya kamera pengawas yang sedianya untuk memantau kegiatan anak-anak kami. “Itu nyala, ya?” tanya orang rumahku baru sadar.

“Bukan papa yang ngeletak ini, maa… Ini semua kerjaan Tiara… Tiara kamu kemari sekarang…” aku dadah-dadah di depan bagian kameranya. Istriku masih terus berusaha merampas baby monitor itu dari tanganku.

“Jadi selama ini… Tiara selain memantau Salwa di dalam box… dia juga memantau kita… Lebih tepatnya kamu, maa… Bahkan saat Salwa sudah enggak bobok di situ… ia tetap meletakkan alat ini di box Salwa… Mengganti batrenya secara teratur… Di tempatnya… ia mengawasi mama terus… Ternyata dia gak ada bedanya sama Lisa…” jelasku kemudian menyerahkan baby monitor yang dalam keadaan menyala itu kepadanya.

Ia menatapku dan baby monitor itu bergantian dengan pandangan tak percaya.

“Tiara juga suka dengan mama…”

***

Kubukakan pintu setelah kami memakai pakaian lagi. Tiara mengetuk pintu dan berdiri gemetar di sana. Kupersilahkan ia untuk masuk. Ia tak asing dengan bagian dalam kamar kami karena ia sudah sering masuk untuk mengurus Salwa yang awal-awalnya masih tidur di sini.

Istriku kusuruh tetap duduk di tepian ranjang hingga aku menggiring Tiara untuk mendekat.

Sebelum bicara, istriku memandangi Tiara dengan ekspresi takjub tak percaya juga. Sementara gadis itu hanya menunduk. Entah takut, malu ato apa. Ia hanya menunduk dalam.

“Benar Tiara memperhatikan kakak selama ini?” tanya istriku dengan pilihan kata yang tidak tendensius. Istriku bukan orang bodoh. Ia tentu paham cara menempatkan dirinya. Pertanyaan ini akan mudah dijawab tetapi tentunya akan mengalir rentetan pertanyaan berikutnya kalo coba-coba bohong.

“Benar, kak…” jawabnya pendek dengan suara lirih.

“Untuk apa?” datar.

“Iseng, kak…”

“Untuk apa?” desaknya tak mendapat jawaban yang memuaskan.

“……………….”

“Untuk apa?” ulangnya lagi dengan tambahan penekanan di ujung kalimat.

“……………….” Tiara tetap bungkam tak mau menjawab apa-apa.

“Tiara memperhatikan kakak ato bang Aseng?” ia mengganti soal.

“Kakak…” lirih lagi jawabannya.

“Bagus… Tiara cukup bertanggung jawab dengan datang kemari begitu dipanggil lewat ini… Itu saja sudah membuktikan kalo Tiara memata-matai kami berdua setiap waktu… Tiara menonton waktu kami tadi bercinta, kan?” logisnya tepat. Kalo di kantor polisi, dia sudah bisa kena pasal kriminal.

Ia hanya mengangguk.

“Kenapa?” datar lagi.

“……………….” kembali bungkam.

“Karena Tiara suka sama kakak?” sergah istriku. Sedetik awal kukira ia akan menerjang Tiara tetapi ia hanya meraih kedua bahu gadis itu saat tangannya terulur. Ia kini berdiri di hadapan Tiara.

Nafas gadis yang berprofesi sebagai baby sitter itu terengah-engah kaget mendapat perlakuan yang tiba-tiba begitu. Aku tau perangainya dan aku sendiri kaget ia melakukan aksi itu barusan.

Tiara yang kami kenal adalah gadis manis dan penurut. Ia mengerjakan tugasnya dengan baik dalam mengurus anak-anak kami. Bergantian dengan istriku mengurus Rio dan Salwa. Ia dekat dan akrab dengan kedua anakku juga jadi teman ngobrol istriku selama ini.

Ia selama ini sopan dan mencoba selalu menjaga jarak denganku tetapi seperti teman bagi istriku. Itulah kenapa istriku heran…

“Kakak perempuan normal, Tiara… Kakak cintanya cuma sama bang Aseng ini aja…” tunjuknya ke hidungku.

“Tapi-tapi kenapa kakak mau sama Lisa?” keluar juga counter, pembelaan dirinya.

“Siapa bilang kakak mau sama Lisa?”

“Tiara liat… tadi malam kakak tidur bertiga disini… Kakak, bang Aseng dan Lisa… Lisa menyentuh kakak… Tiara liat semua, kak…” jawabnya. Istriku sontak beralih padaku minta konfirmasi. Aku mengangguk-angguk.

“Kebo…” bisikku dengan menutupi mulutku dengan tangan ke arah sisi Tiara. Istriku mengernyit keki.

“Lisa aja yang suka sama kakak… Kakak biasa-biasa aja, tuh… Kenapa? Tiara mau tidur bareng juga disini?” tawarnya.

“Ck… Jangan gitulah, maa… Tah hapa-hapa aja… Masak Tiara juga mau tidur di sini? Papa tidur dimana? Yang ada dua cewek ini grepe-grepe mama tiap malam tros… Mama mana tau karena molor kek kebo…” potongku membantah. Eh? Udah jam berapa ini? Aku kan harus berangkat kuliah! Alamat terlambat nih…

“Maaa… Papa mau berangkat kuliah…” tanpa menunggu jawaban darinya, aku mengumpulkan peralatan kuliahku.

“Tadi siang menjelang sore waktu mama tidur siang… yang mimpi basah itu… Tiara juga masuk ke kamar ini dan grepe-grepe mama… jilat-jilat mama sampe ke situ-situnya…” seruku nunjuk ke arah selangkangan istriku, matanya melotot kaget menutup payudara jumbo dan selangkangannya, di sela-sela aku memastikan kalo semua diktat kuliahku untuk malam ini sudah lengkap.

Wajah istriku seperti habis melihat setan, terperangah kaget gitu dengan mulut terbuka. Tapi ia masih bisa salim sebelum kukecup keningnya untuk pamit berangkat.

“Da-dah, maa…” aku keluar kamar.

Lalu balik lagi untuk teriak, “Jangan semua-semua dimasukin kamar, maa!!” lalu cabut.

Aku udah kebanyakan absen jadi gak bijaksana kalo malam ini bolos kuliah lagi. Istriku seharusnya sudah cukup untuk mengatasi masalah ini. Aku terpaksa membiarkannya memutuskan problem yang sangat erat mengenai dirinya ini. Tapi mengingat caranya memutuskan masalah Lisa, cukup mengkhawatirkan juga.

“Kimbek-kimbek… Mana sempat lagi ngisi bensin kalo minyaknya cuma tinggal segini…” kataku ngomong sendiri ketika hendak men-starter Supra X 125-ku. Indikatornya bahan bakarnya udah hampir menyentuh area merah.

“Mana harus buru-buru lagi… Terpaksalah…” aku jadinya terpaksa beralih ke Pajero untuk berangkat kuliah.

“Alo? Apa cerita, Lis? Udah siap lemburnya?” jawabku disela nyetir mobil untuk ke kampus. Aku menjawab telepon ini pake speaker phone biar aman. Hashtag safety drive.

“Udah, bang… Ini udah mau nyampe rumah abang… Abang lagi di jalan mau ngampus?” tanyanya sedang nyetir Camry-nya.

“Iya… Eh… kalo Lisa berani… cepat pulang… Tiara lagi disidang mbak-mu itu… Bisa-bisa Lisa juga kena sidang… Berani gak?” tantangku.

“Beneran, bang? Wuihhh… Serem gak si mbak-nya?”

“Karena bukan awak yang lagi disidang yaaa… biasa-biasa aja… Gak tau kalo Lisa yang lagi diinterogasi…” kataku malah berusaha menakut-nakuti Lisa.

Apa nanti ceritanya kalo orang rumahku menyidang kedua perempuan pemuja dirinya itu bersamaan? Rebutan istriku sampe cakar-cakaran ato malah jadi threesome FFF mereka.

“Ishh… Lisa langsung pulang-lah kalau begitu… Bye…” ia langsung mematikan sambungan telepon dan aku terus nyetir. Tak lama aku sampe juga dengan selamat di kampus dengan mobil segede gaban gini untuk menembus kemacetan kota Medan malam begini.

“Cieee… Naik mobil sekarang nih, bang?” sapa salah seorang teman sekelasku.

“Rentalnya belum dibalikin?” sambungnya lagi.

Aku hanya tersenyum menjawab nyinyirnya. Ia biasanya hanya memandangku sebelah mata. Yang biasanya cuma naik motor ke kampus. Ia mengaktifkan alarm Jazz-nya dengan senyum lebar dan menenteng semua peralatan mahal yang kira-kira kreditannya habis dalam jangka waktu 5 tahun itu. Ia bahkan tak menungguku untuk ke kelas bareng-bareng.

Aku yang terakhir masuk kelas ketika dosen Ekonomi Mikro yang jumlah SKS-nya 3 memulai kuliahnya malam ini. Seperti biasa, aku duduk paling belakang, di belakang gerombolan pak Ferdi dan teman sekantornya.

Mencatat dan menyimak apa yang disampai oleh dosen pengampu mata kuliah ini. Sudah sekian lama kami kuliah dan kabarnya minggu depan bakalan ada mid-test. Ujian tengah semester. Mudah-mudahan aku bisa melalui semua ini dengan baik sampe akhirnya nanti.

“Ehh… Kenapa? Apa kamu baik-baik saja?” tanya seseorang yang duduk paling depan.

Seorang wanita yang permisi untuk ke toilet mendadak sempoyongan sebelum mencapai pintu. Ia sepertinya mengalami sakit kepala dan tak dapat mengendalikan tubuhnya sama sekali. Beberapa orang berniat membantu dan BRAKK!! Dia jatuh begitu saja.

Langsung heboh ya, kan? Apalagi perempuan itu kejang-kejang di depan kelas. Jeritannya bercampur baur dengan teriakan ketakutan dan ocehan para mahasiswa lain yang gak bisa nolongin tapi cuma bisa komen tak membangun. Cuma bacot aja.

“Kenapa?” tanyaku karena pandanganku terhalang oleh yang bergerak berdiri di depanku.

“Ito Aisa…” ujar pak Ferdi yang bergerak untuk melihat keadaan salah satu rekan kerjanya.

Julio sudah duluan maju bareng si Neneng. Sementara si Cherni ketakutan sendiri di tempat duduknya. Kenapa si ito itu? Lalu kudengar suara-suara yang mengatakan kalo perempuan itu kesurupan. Waduuuh… Kesurupan?

Beberapa orang memegangi tubuh Aisa, kedua tangan, kedua kakinya dan kepalanya agar tidak meronta-ronta yang malah bisa melukai dirinya sendiri.

“Mbaak… mbaak… Sadar, mbak…” seru seorang pemuda yang memegangi kepalanya. Mulutnya komat-kamit, sepertinya sedang membaca ayat suci. Dipijat-pijatnya pelipis si ito Aisa ini.

Julio yang mendapati aku ikut menjenguk keadaan teman nongkrong kami ini langsung menatapku tanpa kata-kata. Tapi aku paham apa maunya. Ia minta tolong padaku tapi tak mau membocorkan kemampuanku.

Aku mengangguk kecil setuju dan langsung mengerahkan energi Lini ke bagian mataku untuk melihat gangguan apa yang sedang menyerang Aisa ini. Pandangan ini bukan X-Ray ato penglihatan tembus pandang yang bisa melewati semua bahan tekstilnya hingga bisa ngeliat menembus semua pakaiannya. Gak semesum itu aku. Aku hanya mencari entitas ghaib yang menyebabkannya kesurupan seperti ini.

Seperti biasa, ada kiriman dari pihak yang tak senang dan menghubungi dukun ato orang pintar. Ada satu mahluk ghaib golongan kuntilanak bersemayam di dalam tubuh Aisa, mengambil alih kendali tubuhnya.

Tenaganya kuat dan semakin lama semakin merepotkan pria-pria yang memegangi anggota tubuhnya agar tidak meronta. Sebenarnya kuntilanak ini hanya setan kecil golongan rendah yang tak perlu ditakuti karena ia hanya mengandalkan perasaan negatif para korbannya.

Seperti kesedihan, kemarahan, ketidak adilan dan tak percaya diri. Yang kuperhatikan agak lama adalah adanya tali ghaib menjulur dari bagian ubun-ubun Aisa. Tali ini terbuat dari sejenis kain berwarna putih dibaluri warna merah darah yang blontang blonteng dengan warna dasarnya.

Tali ini menjulur panjang menuju keluar kelas dan aku mengikuti benda itu kemana berujung. Sia-sia mengusir si kunti itu kalo sumber asalnya tidak diatasi. Ini yang sedang kutelusuri. Panjang tali ini mengulur sampe jauh dan mengarah ke sebuah toilet yang ada di sudut jejeran beberapa kelas ini.

Tali ghaib ini mengarah masuk ke dalam toilet dengan tulisan ladies dengan gambar perempuan botak memakai rok. Seharusnya tak ada orang di tempat ini karena masih dalam masa perkuliahan. Tali itu mengarah ke sebuah bilik toilet yang tengah, ada tiga buah bilik di ruangan ini.

Ya iyalah, klen pikir perempuan kencing berdiri hingga perlu jejeran urinoir kek di toilet cowok. Dua pintu bilik di kanan kirinya renggang yang menandakan kosong. Tetapi yang di tengah ini tertutup rapat. Tali ghaib ini melewati bagian bawah pintu, masuk ke dalam.

Ada orang di dalam toilet cewek ini ketika kucoba dorong dan tak bergerak. Salah! Harusnya ditarik, seperti pintu bilik di kanan kirinya. Bisa dibuka…

“HAAEEHH!!” teriak seorang perempuan di dalam sana yang sedang duduk di atas toilet. Alamak ada orangnya! Gak dikunci pulak pintunya.

“Sori-sori…” aku langsung kabur keluar toilet ladies ini dan berhenti begitu teringat kalo tali ghaib itu mengarah ke perempuan yang ada di dalam bilik itu.

Perempuan itu hanya duduk saja tanpa melakukan aktifitas yang selayaknya dilakukan di dalam toilet. Celana panjangnya tidak diturunkan untuk melakukan kegiatan toilet itu. Makan bakso misalnya.

“Ngapain sih masuk toilet ce…”

“Apa yang sudah kau lakukan sama Aisa?” potongku langsung tembak pada pokok permasalahannya. Mukanya langsung berubah pucat, belangnya ketahuan.

“Orang-orang sedang berusaha menyadarkan si ito… kau malah lari kemari?” perempuan itu tercekat ketahuan apa yang sudah dilakukannya. Aku mengulurkan tanganku meminta benda yang dipakainya untuk mencelakai ito Aisa.

“Kemarikan boneka itu…” kataku datar tapi tegas. Aku ingat ia memegang boneka kecil saat duduk di toilet tadi. Tali ghaib ini terhubung ke boneka yang kumaksud.

Ia memandangku balik seolah menantang tak mau memberikan boneka itu.

“Tidak perlu berbuat sejauh ini kalo ada permasalahan… Semua bisa dibicarakan dengan kepala dingin… Apalagi sangat tidak bijaksana menggunakan hal begini untuk teman sendiri…” kataku tetap bersikeras meminta benda itu dengan tangan terulur.

“Gak usah ikut campur!”

“Serahkan boneka santet itu ato awak ambil dengan paksa…” ancamku masih mengulurkan tangan.

“Gak bakalan…”

“Begitu…” dengan ringan aku meraih tali ghaib yang bisa memanjang sesukanya dari ubun-ubun Aisa ke boneka yang ada di pengirim santet ini. Lalu kutarik dengan betotan kuat. Benda jahat itu melompat keluar dari bagian belakang tubuhnya, yang sedang ia sembunyikan dan segera berpindah tangan padaku.

“Bonekanya…”

“Awak gak tau apa masalahmu dengan ito Aisa… tapi sori… boneka ini harus dihancurkan! RRIPPP!!” Kubelah dua dengan cara menarik bagian kaki boneka yang terbuat dari kain putih berisi kapas, hingga boneka yang digunakan untuk menyantet ini tercerai berai berantakan.

Kubanting ke tanah hingga ada genangan darah hitam terciprat bercampur dengan potongan helai-helai rambut dan beberapa ekor belatung yang melata menjijikkan.

“AAAAAAaaahhhhhHHHH!!!” Kain kafan bekas dan kapas pembungkus mayat itu terbakar bersamaan dengan jeritan melengking dari kelas kami.

Mukanya shock sekali mendengar suara itu. Ada hembusan angin kencang yang segera kuantisipasi. Jadi posisi kelas kami, dimana sedang terjadi peristiwa kesurupan miss kunti itu ada di belakang perempuan pelaku santet ini.

Kuntilanak iseng itu melayang terbang dengan anggunnya, tentu saja mengarah dengan mesranya ke arah miss pelaku santet. Sepertinya mereka akan melakukan cipika-cipiki salam rindu melepas kangen dengan tangan terbuka lebar ala Jack dan Rose nyarik angin di pilem Titanic.

Miss pelaku santet dapat melihat dengan jelas gerakan miss kunti yang akan segera temu kangen, reuni kelas dukun dengannya. Hembusan angin kencang itu membuat rambut panjangnya berkibaran seperti iklan sampo di TV swasta.

Alih-alih berkibar rapi, peniru wannabe malah mendapat rambut yang berantakan. Miss pelaku santet yang kini balik menjerit histeris, wajah cantik tirus glowing bolong-bolong mempesona miss kunti terpampang jelas di depan matanya.

“WAAAAHHHHH!!!”

Back fire!

Kucekik leher miss kunti untuk sedikit bersabar, tenang miss… alam kalian berbeda. Kudahului gerakan miss kunti dengan menangkap bagian lehernya. Kupepet tubuhnya, diseret ke dinding terdekat.

Ia meronta-ronta ingin tetap temu kangen dengan miss pelaku santet. Tangannya menggapai-gapai, memanggil-manggil rindu bak bocah yang manggil tukang odong-odong yang diusir mamaknya.

“Ini yang kau dapat kalo bermain-main santet… SPLLOORCCHH!!” Miss kunti buyar dengan kepala hancur berantakan.

Aku menggunakan tapak tanganku menamplok muka seramnya seperti namplok nyamuk yang hinggap di dinding. Hap! Hap! Lalu ditangkap. Tentunya tanganku harus dilambari dengan energi Lini terlebih dahulu, kalo enggak bisa-bisa disalim miss kunti jadinya. Jangan ditiru ya, gaes. Ini bukan tutorial membasmi miss kunti. Ini tutorial menamplok miss kunti.

Yang tertinggal di dinding adalah sebuah bayangan hitam agak pudar dengan bekas gambar tanganku… Sering kau lakukan bila kau marah… Menutupi marahmu…

*kok malah nyannyi. Paok!

“Kun… kunn…” ia menunjuk-nunjuk bekas hancurnya miss kunti di dinding. Aku masih mengibas-ngibaskan tanganku yang baru saja kupakai untuk membasmi jin itu.

“Kuntul? Burung kuntul…?” kuraih tangannya dan kubantu ia berdiri lagi setelah sempat jatuh terduduk karena shock barusan. Ia masih menunjuk-nunjuk ke arah hancurnya miss kunti dengan mata nyalang.

“Sebaiknya kau minta maaf ke ito Aisa… Tenang aja… Neneng aku temani, kok…” pungkasku.

Perkuliahan jadi dibatalkan malam ini akibat insiden kesurupan ito Aisa dan kami dipersilahkan pulang. Perempuan itu dibawa pulang oleh Julio dan Cherni. Pak Ferdi dan aku mengikuti dari belakang dengan mobil masing-masing. Neneng duduk disampingku. Tetapi sepanjang perjalanan pulang, perempuan itu bungkam tak berkata apa-apa.

“Gak ada orang di rumahnya…” gumamku saat melihat Cherni tergopoh-gopoh membuka sendiri gerbang rumah yang kami datangi ini.

Ia kesusahan mendorong gerbang berat ini untuk membiarkan mobil Julio masuk. Daerah ini banyak warga keturunan Hokkien yang bermukim. Tempat usaha panglong milik istri Julio, Amei bahkan dekat-dekat sini juga. Apa ini rumah ito Aisa?

“Itu rumah Cherni…” jawab Neneng.

Sepanjang perjalanan, baru kali ini bersuara. Oo… Ternyata rumah Cherni, toh. Pantesan.

Tapi kenapa malah dibawa kemari, bukannya dibawa pulang ke rumahnya sendiri? Belum sempat aku menanyakan itu, “… rumah Aisa-pun sama sepinya seperti ini…” ia menjawab pertanyaan yang akan kutanyakan itu. “… seperti juga rumahku…”

“Oo…” suaraku lalu memposisikan mobilku di depan pagar saja karena dua mobil sudah memenuhi halaman rumah itu, hingga milikku tak muat di dalam sana.

Pak Ferdi membantu Julio membopong Aisa yang masih lemah ke dalam rumah. Aku menyusul mereka diikuti Neneng yang malas-malasan ato malah malu. Tiga perempuan ini hidup sendirian di rumah mereka masing-masing.

Entah kebetulan ato gimana mereka ada dalam lingkar pertemanan yang sama. Kalo Cherni aku sempat dengar kalo ia ada masalah dengan suaminya yang gak jelas ketika ledek-ledekan dengan Julio waktu itu. Entah dengan kedua perempuan ini.

Mereka semua mengurus Aisa dalam diam. Perempuan itu diletakkan di salah satu kamar dan dibiarkan beristirahat karena tubuhnya masih sangat lemas. Percayalah, abis dirasuki oleh mahluk halus untuk pertama kali adalah pengalaman yang tak menyenangkan. Tubuh jadi terasa gak karuan dan pokoknya gak enaklah rasanya. Merekapun sepertinya paham hal ini dan membiarkan Aisa istirahat tanpa gangguan.

“Apa yang merasuki si ito, bang?” bisik Julio saat duduk berdekatan denganku. Ia berusaha agar tak didengar yang lainnya.

“Kunti… Udah beres, kok…” jawabku berbisik juga.

“Eh… Selamat, ya…” bisikku lagi. Ini tentu tentang istrinya, Amei yang sudah positif hamil. Baru kali ini aku sempat ngobrol dengannya.

“Selamat apa, bang?” bingungnya.

Waduh? Amei belum memberitahu dirinya ternyata. Apa menunggu sampe ia pulang kuliah ini baru akan disampaikan berupa surprise gitu? Takut pulak aku menjadi spoiler kejutan Amei. Duh… Amei gak pake koordinasi pulak nih.

“Maksudnya… Si ito untung selamat… karena kunti-nya cukup berbahaya…” jawabku ngeles yang cukup maksa.

Untungnya Julio gak ngeh maksudku. Wah… Benar juga… Amei pastinya harus menunggu waktu yang tepat untuk menyampaikan kabar bahagia itu pada suaminya. Apakah ia sudah mengikuti saranku waktu itu untuk sering-sering melakukan seks dengan suaminya tanpa kondom.

Ini orang kurang percaya diri bisa menghamili istrinya sehingga saat ngeseks intra vagina dengan istrinya sendiri malah pake pengaman. Kan paok namanya. Itu lokasi paling enak untuk membuang tai macan, malah make kondom. Apa ia sudah sering mempraktekkan itu pada pacar-pacarnya dan tak satupun yang pernah hamil hingga ia sampe pada kesimpulan ini?

“Untunglah, bang… Aku tadi ketakutan juga… Tenaganya kuat banget… Gak mungkin perempuan tenaganya sekuat itu… Lima-enam orang yang megangi dia, bang…” kenangnya saat kejadian di kelas tadi.

“Kancing bajuku ini sampe copot dua, nih…” tunjuknya pada kemeja bagian atasnya.

“Neneng tadi sama siapa, li?” tanya Cherni di depan pintu dimana Aisa istirahat. Cherni tadi barusan dari pintu depan untuk melihat situasi halaman rumahnya yang dipenuhi mobil.

“Sama bang Aseng…” jawabnya pendek saja.

“Kereta bang Aseng gak keliatan… Abang parkir dimana, li? Masukin ke teras aja…” tanyanya beralih padaku khawatir kalo motorku bakalan hilang. Ia sekarang berdiri tepat di depanku, menanyakan keberadaan motorku.

“Mobil bang Aseng yang Pajero yang diluar itu-loh, Cher…” malah Julio yang menjawabkan pertanyaan nyonya rumah ini. Julio menunjuk-nunjuk arah dimana mobilku parkir.

“Aman kok di situ… Aku kan sering parkir di situ kalo kemari…” ia menaik-naikkan alisnya penuh arti. Canda sih.

“Ishh…” ia mengabaikan candaan dewasa Julio dan mengangguk-angguk paham kemudian berlalu.

Mereka berlima sudah lama saling mengenal hingga mereka bersikap biasa aja di dalam rumah Cherni ini. Tadi kulihat, Julio dan pak Ferdi santai aja seliweran di dalam rumah ini. Julio lancang membuka tutup lemari esnya dan mengambil minuman dingin.

“Biasanya kesurupan gitu… ada yang ngirim atau memang nempel gitu aja, bang?” bisik Julio lagi.

Berisik juga lama-lama ini orang. Padahal diliatnya aku lagi ngetik sesuatu di HP-ku. Aku lagi kirim-kiriman pesan dengan biniknya, menanyakan apakah dia belum memberitahu suaminya tentang kabar kehamilannya.

Amei balas akan memberitahukannya begitu Julio pulang. Aku memberitahukannya kalo kami sudah pulang kuliah lebih cepat karena ada sedikit masalah, lebih baik Julio dipanggil pulang aja daripada ngerecoki disini.

“Macam-macam, Julio sebabnya… Tuh jawab dulu yang nelpon itu… Mungkin penting…” kataku mengetahui ia merasa terganggu dengan getaran HP di saku celananya.

Dikeluarkannya dan segera mengangkatnya begitu tau siapa yang nelpon. Julio permisi padaku untuk menjawab telpon itu dan ia keluar dari rumah masih dengan berbisik-bisik.

Julio keluar dan digantikan oleh pak Ferdi yang juga sedang menelpon. Ia sepertinya berbicara dengan sangat serius dengan menjawab pendek-pendek. Ada anggukan-anggukan juga lalu diakhiri dengan senyum lebar. Sepertinya ada sesuatu yang membuatnya sangat senang. Kemudian mengetikkan sesuatu setelah memilah-milih kontak di HP-nya.

“Cheer… Cherni… O-Cherni…” ia memanggil panlok satu yang segera keluar tergopoh-gopoh dari bagian dalam rumah membawa sebotol besar cola.

“Apa, pak?”

“Saya pulang duluan, ya… Ada sesuatu di rumah yang sangat penting… Si ito-nya titip di sini aja dulu, ya? Kalo belum sehat gak usah masuk aja dulu besok… Cherni jagain juga boleh, deh…” kata pak Ferdi memberi instruksi ini.

“Neneng juga gak masuk besok… Kebetulan besok cuti… Jadi Neneng di sini juga…” sambung Neneng yang nimbrung obrolan mereka.

“O-ya bagus kalo begitu…” kata pak Ferdi sambil memasukkan HP miliknya ke saku celananya lalu beralih padaku.

Ia mendekat seperti akan membisikkan sesuatu padaku. Aku beringsut mundur untuk mendekatkan telingaku padanya. Mungkin hal yang penting sehingga harus berbisik begini.

“Mayu-chan hamiru…” bisiknya mengejutkan.

Mayumi hamil… Wah ha ha hahahaha…

Pak Ferdi masih tersenyum lebar padaku. Lelaki sakit itu senang sekali istri siri ekpatriat Jepang-nya bisa hamil oleh pria lain. Dan pria lain itu adalah aku sendiri. Entah kegembiraan macam apa yang sekarang merajai jiwanya saat ini yang telah secara sadar menyerahkan tubuh istrinya untuk dijamah pria lain.

Dirinya yang tak mungkin menghamili Mayu akibat telah menjalani prosedur vasektomi bertahun-tahun lalu dan memberiku ekslusivitas untuk melakukan kehormatan itu.

Ia menyodorkan tangannya padaku untuk berjabat tangan. Aku tak tau untuk apa jabat tangan ini. Tetapi dari gerak mulutnya yang tanpa suara, terbaca kalimat ‘Terima kasih, pak Aseng’.

Aku hanya menjawabnya dengan anggukan kecil. Apalah ya rasanya ada di posisi pak Ferdi saat ini? Ketika perempuan yang ia cintai hamil oleh pria lain dan gilanya ia merestuinya.

“Cher… Pak Ferdi… Aku pulang duluan… Amei nyuruh pulang cepat, nih… Mungkin kami mau bulan madu lagi, nih… Yu-huuu…” seperti badai Julio masuk dan nyerocos.

“Bang Aseng… Awak pulang duluan ya, bang… Keknya ada yang penting nih…” Julio meniru gayaku ngomong. Ia merasa perlu bicara khusus denganku dan aku tau kenapa-kenapanya.

“Loh? Kok pada pulang semua jadinya?… Cherni udah nyiapin makanan loh ini…” kecewa si cantik Cherni masih memegangi botol cola besar yang tinggal setengah itu. Ia berganti pandangan pada pak Ferdi dan Julio lalu padaku.

“Kan masih ada bang Aseng… Neneng… Pak Ferdi pulang juga?” kata Julio. Apa mau dikata? Dan begitu saja mereka berdua pulang karena panggilan dari rumah yang sama persis. Bahkan penyebab kasusnya juga sangat-sangat sama persis—istri-istri mereka hamil olehku. Wakakakakak. Paok!

Setelah mobil pak Ferdi dan Julio keluar dari halaman, aku memindahkan mobilku menggantikan mereka, atas saran Cherni juga karena khawatir disenggol orang karena jalan di depan rumahnya tidak terlalu lebar.

Kututup juga pagar agar lebih aman. Keadaan rumah jadi sepi karena ketiadaan pak Ferdi dan Julio. Terlebih Julio karena ia yang kerap menyebabkan keramaian dan kehebohan.

Makanan banyak yang dimaksud Cherni tadi sebenarnya hanyalah beberapa porsi dim sum yang dipanaskannya kembali. Kami menikmati makanan itu bertiga, aku, Cherni dan Neneng dalam diam.

Aku diam lebih karena bingung harus bagaimana menyikapi Neneng yang jelas-jelas telah menyantet temannya sendiri. Aku tak bisa menyebutnya sebagai sahabat karena sahabat tak akan mungkin melakukan ini. Tapi aku sama sekali tak tau motifnya jadi aku gak bisa pulak berburuk sangka.

“Yang ini yang paling enak… Aak…” Cherni menyuapi Neneng sebuah dim sum isian udang yang sudah dicocol saus menggunakan sebuah sumpit. Neneng menyambutnya dengan riang.

“Amm… Enak, kan?” tanyanya melihat Neneng mengunyah makanan itu dengan doyan. Jarinya lalu membersihkan sisi bibir Neneng yang ada sisa sausnya.

“Iiss… Belepotan jadinya…” Sisa yang berpindah ke jarinya malah dijilat lagi.

“Ini enak juga-loh… Gurita apa cumi sih ini?” balas Neneng yang bermaksud menyuapi Cherni juga dengan sebuah dim sum lain.

“Wa-lang (saya) gak mau yang itu, li… Yang ini aja…” tunjuknya pada wadah bulat yang terbuat dari bambu yang berisi kumpulan dim sum lain.

“Yang ini isi daging kepiting… Bang Aseng kok cuma ngeliatin aja? Gak suka dim sum, ya?” sadarnya karena aku cuma melongo melihat kemesraan mereka seperti ngeliat orang pacaran.

“Kok keknya awak jadi obat nyamuk, ya? He hehe…”

***

“Kok keknya awak jadi obat nyamuk, ya? He hehe…” kekehku setelah tak sengaja melihat kemesraan kedua perempuan ini.

Kedekatan kaum perempuan tak bisa pulak disamakan dengan kedekatan, keakraban kaum pria. Lumrah aja ngeliat dua perempuan sahabatan saling bergandengan tangan kala berjalan-jalan, kan? Cobak klen tengok kalo dua laki-laki bergandengan tangan, pasti dah dicap hombreng.

Jatuh-jatuhnya dua orang pemabuk yang sama-sama takut nyungsep terjerembab masuk paret abis dari pakter tuak.

“Ish… Abang… Nih… Mau juga?” Cherni menyodorkan sepotong dim sum padaku dan kusambut sambil mesem-mesem. “Enak, kan?”

“Enak… Buat sendiri?” tanyaku sambil ngunyah-ngunyah.

Aku memang belum sempat makan malam tadi karena keburu bercinta dulu sore-sore, cuddling sebentar ngebicarain Lisa dan Tiara lalu menyusul interogasi Tiara. Lumayan buat ngeganjal perut.

“Iya, dunks…” jawabnya mencocol dim sum baru untuk disuapkan pada Neneng lagi.

“Kenapa gak buka bengkel aja? Malah kerja di pabrik…” candaku lalu menyomot satu lagi setelah menyesap seteguk cola.

“Garing…”

“Kalian pacaran aja… Trus kumpul meong kek di sini… Dari pada di rumah sendiri-sendiri kesepian…” ucapku nyeplos aja habis menyaksikan kemesraan keduanya lagi suap-suapan dim sum. Cherni merengut tetapi Neneng hanya menatapku datar.

“Tapi ada benernya juga-loh, Neng… Neneng di rumah sendirian… Aisa juga sendirian… Kenapa, li kita gak ngumpul aja di sini bareng-bareng? Kita jadi gak selalu kesepian begini tiap harinya…” setuju Cherni walopun terdengar naif dan kekanakan. Raut wajah Neneng berubah begitu mendengar nama Aisa.

“Setuju, gak?” menyederhanakan semuanya. Wadu-duh… Aku malah memberinya ide cemerlang ini.

“……………….” Neneng bungkam.

“Neneng maunya cuma kalian berdua aja, Cher…” tebakku.

Samar-samar aku bisa meraba kemana ini berujung. Kecemburuan. Neneng hanya mau Cherni untuk dirinya sendiri. Kalo kuingat-ingat, Neneng yang paling getol melindungi Cherni dari godaan Julio syaiton waktu di cafe saat itu.

Apakah itu juga perasaan aslinya selama ini? Sehingga karena kesamaan nasib mereka bertiga, ia berniat menyingkirkan Aisa. Kalo itu benar, itu sangat kejam.

“Kenapa cuma berdua kalau bisa bertiga… Rumah ini bisa bertambah ramai kalau semakin banyak penghuninya… Bukannya begitu, Neng…” kata Cherni dengan naifnya. Apa ia tak tau perasaan Neneng terhadapnya? Apakah Aisa juga punya perasaan yang sama? Setidaknya itu yang dianggap Neneng sehingga ia merasa perlu menyingkirkannya.

“Kita bisa masak bareng-bareng… Makan bareng… Bobo bareng… Bukankah itu akan menyenangkan, li?”

“Ng… Baiknya kalian ngomongin lebih… banyak lagi… Bertiga kalo bisa… Awak pulang aja kalo gitu…” kataku yang merasa hanya sebagai kambing congek aja. Levelnya gak lebih jelek dari obat nyamuk.

“Bang Aseng di sini aja dulu…” sergah Neneng malah gak mau aku beranjak dari tempat.

Aku membeku. Lalu duduk lagi. Apa aku disuruh jadi wasit, ya? Cherni menatap Neneng dan aku bergantian. Sepertinya ia baru menyadari ada sesuatu yang tengah terjadi di sini. Ia meletakkan sumpit miliknya dan berpikir.

“Ada apa ini? Sepertinya ada sesuatu yang serius yang kalian sembunyikan dariku…” ia menatap Neneng lebih lama dan hanya melirikku sebentar.

“Kita sama-sama senasib ya kan, Cher… Kita bertiga bahkan… bareng dengan Aisa… Tidak beruntung di pernikahan kita… Punya suami malah seperti gak punya suami aja… Entah dimana mereka sekarang saat ini…” kata Neneng.

Aku tak tau, haruskah aku ada di posisi ini? Tapi Neneng mencegahku pergi tadi. Amankah menganggap kalo ia ingin aku mendengar semua pembicaraan ini?

“Sama-sama senasib membuat kita dekat seperti ini… Curhat-curhatan… nongkrong bareng… nonton bareng… makan bareng… Kadang kita bergantian nginep di rumah masing-masing… Tak memungkiri kalo kita merasa nyaman…”

Ada jeda untuk beberapa lama bagi Neneng untuk menguatkan hatinya untuk berani menyampaikan ini.

“Neneng harus berani menyampaikan… kalo Neneng sayang dengan Cherni… Suka dengan Cherni… Merasa nyaman dekat dengan Cherni…” akhirnya keluar juga pernyataan ini.

Perasaan yang lama dipendam hingga membuat dirinya nekat mencelakakan Aisa yang dianggapnya mengganggu perasaannya ini. Aneh juga rasanya menyaksikan acara penyampaian rasa suka orang lain begini.

Ada deg-degannya juga. Padahal aku gak ada urusan sama sekali bakalan diterima ato ditolak. Karena biasanya kejadian seperti ini dilakukan secara private, tertutup tanpa campur tangan pihak lain.

Paling meriah kalo ada EO yang mengatur bagian seremoninya. Tapi tetap harus private. Lah ini acara penembakannya malah dari cewek ke cewek juga. Seaneh apa situasiku?

“Neneng sayang sama Cherni?” matanya lekat menatap Neneng. Alamak… Kenapa aku harus ada di sini. Kepalaku cenat-cenut jadinya. “Tapi Cherni sayangnya sama Aisa…”

JGEERR!!

Aku bak merasakan ada palu Mjolnir punya si Thor mendarat tepat di antara kami bertiga. Suaranya menggelegar menyebabkan kerusakan parah sampe kupingku terasa berdenging. Mata Neneng membelalak.

Seolah membenarkan aksinya sebelum ini, menyingkirkan perempuan bernama Aisa itu karena merebut perempuan yang menarik hatinya. Alisnya berkerut-kerut oleh kecewa, marah dan dendam.

Aku harus bersiap-siap kalo Neneng nekat melakukan sesuatu hal yang berbahaya pada Aisa yang masih istirahat lemas di salah satu kamar di rumah ini. Tangannya mengepal.

“… dan perlu Neneng tau juga… Cherni udah pernah membahas ini dengan Aisa… Itu tidak bisa terjadi karena Aisa ternyata sayangnya pada Neneng…”

Loh?

Krik krik krik krik…

Apa ini? What’s goin on aya naon? Otakku tiba-tiba jundet oleh benang kusut. Neneng suka Cherni, lalu Cherni suka Aisa dan kemudian Aisa suka Neneng. Mendadak aku terbayang lambang Recycle, Reduce dan Reuse itu.

Lambang tiga buah panah saling terhubung itu. Jelek kalo kukatakan itu lingkaran setan karena hubungan mereka berputar-putar di tempat. Itu bukannya jelek tapi malah menguntungkan. Mereka bertiga terhubung satu sama lain. Hubungan saling menyukai, saling nyaman dan saling perduli.

“Aisa?” tetiba Neneng bangkit dari duduknya dan langsung akan keluar dari ruang makan ini. Menuju dimana Aisa istirahat tentunya.

Tetiba lagi ia berhenti karena ternyata Aisa ada di sana, bersandar di dinding yang merupakan ambang ruang makan ini. Ia terlihat masih lemah tetapi memaksakan senyum yang indah.

“Aisaa…” rengek Neneng dan langsung menyongsong si ito-ito itu.

Aisa dengan senang hati menerima pelukan Neneng yang memang disayanginya. Cherni juga lalu bergabung dipelukan penuh keharuan dan kasih sayang itu.

Kimaaaak. Ngeliat tiga perempuan rangkul-rangkulan kek gini, cium-ciuman pipi kek gini, aku malah teringat dengan kasusku sendiri di rumah. Ada hubungan yang mirip-mirip gilaknya kek yang sedang kusaksikan ini.

Istriku, Lisa dan Tiara. Hanya saja mereka bertiga tidak melakukan saling 3R (recycle, reduce dan reuse) itu. Lisa dan Tiara hanya menyukai istriku sampe taraf tergila-gila. Hanya mirip saja di jumlah peserta hubungan gilaknya aja.

Neneng menangis tersedu-sedu karena merasa sangat bersalah karena telah melakukan satu hal yang sangat keji pada seseorang yang malah sangat menyayanginya. Ia menangis dan terus ditenangkan Cherni dan Aisa.

Aku menggeleng padanya, aku tidak akan cerita apa-apa. Aku tidak akan buka mulut apa yang sudah kau lakukan, Neng. Aku gak akan cerita ke siapa-siapa kalo kau sudah melakukan hal keji itu. Berbaikanlah dengan dirimu sendiri dan jangan pernah ulangi lagi kesalahan itu sampe kapanpun.

Jangan pernah membiarkan dirimu jatuh dalam lubang yang sama. Jangan pernah masuk dalam kepedihan. Hiburlah diri kalian dalam kebersamaan ini, seberapa anehpun hubungan yang kalian pilih ini. Hiburlah jiwa kalian yang terluka akibat para pria yang tak bertanggung jawab dan bila masanya tiba, bukalah hati itu kembali untuk hal yang sejati.

***

“Jadi keluargamu berantakan gara-gara ibu mertuamu selalu ikut campur?” simpulku akan masalah rumah tangga yang kini merundung Neneng.

Tipikal sih. Sering dengar malah. Ibu yang merasa sudah berjuang habis-habisan untuk anak lelakinya dan tak bisa move on membiarkannya hidup mandiri dengan keluarganya, pasangan hidupnya.

Sang ibu merasa kalo ia yang paling berhak atas hidup anaknya karena ia yang sudah melahirkan, membesarkan, membimbing hingga sukses seperti sekarang. Istri sang anak dianggap sebagai saingan yang harus dijutekin tiap hari karena merasa tak pernah benar di matanya. Malas mengurus suami, malas mengurus rumah, malas masak, malas bangun pagi. Ada aja hal salah yang dilakukan sang mantu.

Neneng yang juga bekerja dianggap sang mertua tak terampil mengurus suami karena kadang makannya tak teratur, bajunya tak dicuci, tak disetrika. Padahal menurutnya, ia sudah berusaha membagi waktunya antara pekerjaan dan mengurus rumah tangganya.

Tapi itu tadi, ada saja hal yang salah di mata sang mertua yang sok sempurna. Membanding-bandingkan Neneng dengan dirinya waktu baru menikah dulu. Alhasil suami istri sering bertengkar dan cekcok mulut tiap harinya akibat ikut campur dan mulut usil sang mertua. Belakangan Neneng malah berkonfrontasi dengan mertua akibat masalah yang itu-itu lagi.

“Kami jadi renggang semenjak ia pulang ke rumah ibunya dan gak pernah mengunjungiku lagi sampai sekarang…” pungkasnya mengakhiri kisah pernikahannya yang tak indah.

“Makanya kalo klen punya anak… biarkan dia menjadi pribadi yang mandiri dan pande mengambil sikap… Orang tua memang yang utama tapi gak segitunya kalee…” ujarku malah jadi sewot sendiri memberi sedikit wejangan sebagai senior yang udah punya anak.

“Apalah abang ni? Kami bertiga belom ada yang punya anak, bang…” jawab si ito.

“Nanti kalo kami udah punya anak abang baru bisa bilangin kami kayak gitu…” mulutnya lalu bergerak-gerak gak jelas, ngedumel.

“Kan kubilang kalo klen punya…”

“Jadi cemana masalah si Neneng ini? Apalah kata bang Aseng?” tanya Aisa.

“Kalo dua mamak-anak itu payah-lah kalok mau dirubah… Yang satu jembutnya udah beruban… Yang satu lagi jembutnya nyangkut di jembut mamaknya… Jadi orang ini berdua istilahnya gandeng jembut… Udah subahat kerennya… Pening klen kan dengar bahasaku? Cuma nunggu mamaknya mati mungkin lakikmu itu baru nyadar kalo mamaknya itu nggak Highlander (serial TV, klan MacCleod) … Nggak immortal yang gak mati-mati… Mau berapa lama dia nyiumin ketek mamaknya trus…” kataku yang makin malam makin berkabut otakku.

“Mamaknya kawin muda, bang… 14 tahun dia nikahnya… Jadi beda lakikku sama mamaknya ya cuma 14 tahun itu… Kuracun aja ya, bang?” usul Neneng yang lebih keren lagi.

“Aa… Kalo kau sabar, tungguin sampe mamaknya mati… Kalo kau gak sabar, racun aja! Cocok itu… Janganlah… Nangis nanti Aisa chayank-mu yang unch unch ini ngeliat Neneng dipenjara… Udaaah… Tinggalin ajalah laki-laki kek gitu… Masih banyak lagi homo-homo nganggur di luar sana…” kataku sebenarnya eneg juga dengar kasus kek gini. Solusinya gak pernah ada. Tapi mendengar nasehatku yang nyeleneh, bisa juga membuat mereka bertiga tertawa-tawa.

“Nah kalo masalah si Aisa abang mungkin agak heran nanti dengarnya… Cemmana masalahmu sama suamimu…” pinta Cherni.

“Ahh… Gak pantaslah kuceritain sama abang ini… Buka aib aja…” tolak Aisa.

Si ito Aisa ini nama aslinya Marisa boru Siahaan. Cuma karena dari kecil ia sulit merapalkan namanya dengan jelas karena lidah cadel anak kecil, ia menyebut dirinya sendiri sebagai Aisa dan terbawa terus sampe segede ini.

“Kita saling sharing aja, say… Nanti Cherni juga sharing masalah Cherni… Abis itu bang Aseng… kalo ada uneg-uneg yang pengen dikeluarkan… Yang ingin didengarkan…” kata Cherni memberi ide ini. Udah kek sesi terapi psikologi pulak jadinya kurasa.

“Selama ini kita sharing-nya sesama kita aja… Mungkin ada perspektif baru dari bang Aseng…”

“Ya-ya… Cocok tuh… Ceritain, Aisa… Neneng tadi barusan cerita… Ayolah…” desak Neneng dengan menyikut-nyikut perempuan yang demen pada dirinya itu.

“Iya-lah…” akhirnya ia luluh dan berdehem-dehem membersihkan tenggorokannya.

“Demikianlah… ceritanya…”

“Huuhh…” sorak Cherni dan Neneng bersamaan karena candaan garing si ito satu ini. Mereka tertawa terbahak-bahak di ruang makan ini. Suasana sudah lebih hangat sekarang. Lebih cair.

“Aisa ini kan asli mojang Batak Toba nih, bang…” ia malah cenderung bercanda lagi.

“… gerejanya juga pasti punya Batak Toba…” sebutnya akan nama singkatan gerejanya yang kurasa di seluruh Indonesia ada cabangnya karena orang Batak ada dimana-mana.

“Nah… Suamiku itu orang Nias, bang… Beda gerejanya sama Aisa, kan ya? Waktu kami masih pacaran dulu… mau kok dia pindah ke gereja kami… Tapi sampai sekarang… gak pindah-pindah dia, bang…” ia menceritakannya pendek saja karena aku udah paham esensinya. Aku gak kaget mendengarnya.

“Jadi klen renggang gara-gara beda gereja?” simpulku. Aisa mengangguk. “Padahal udah banyak sinamot (seserahan) yang dikasihkan lakikmu, kan?” ia mengangguk lagi.

“Trus gimana, bang? Apalah yang bisa abang wejangkan sama Aisa yang masih junior ini?” tanyanya dengan logat Batak yang dibuat-buat medhok. “Jangan pulak abang suruh kami pindah agama…”

“Bah! Gak pulak awak se-SARA itu, ito-ito… Klen buat gereja baru kalok banyak duit klen berdua… Ada duit klen banyak?” tanyaku ikut bercanda dengannya.

“Ini yang serius… Awak pernah punya pengalaman kek gini juga sama kawan… Beda gereja juga orang itu dua lakik binik… Intinya harus ada yang ngalah… Pasti dikasihlah kalo salah satu dari klen ada yang pindah dari gereja itu… Ngertilah sintua (tetua gereja Batak) klen kalo masalah kek gini… Masih sama-sama nyembah Tuhan yang sama-nya klen, kan?… Contohnya kawanku itu… yang perempuan yang pindah ke gereja lakiknya… Aman-aman aja sampe sekarang… Banyak anaknya… Rajin dua-duanya pergi ke gereja sama-sama…” ujarku mencontohkan kenalanku.

“Masalahnya, bang… dua-duanya orang ini gak ada yang mau ngalah… Masing-masing berkeras pada pilihannya sendiri…” imbuh Cherni yang sepertinya tau persis watak Aisa.

“Kalo kek gitu mana bisa kemana-mana klen berdua… Cuma ngalah aja kuncinya… Entah lakikmu ato kau, ito… Karena kita semua disini nasehatin Aisa… ya Aisa-la yang ngalah… Awak yakin di klen (Kristen), istri juga harus tunduk dan patuh pada suami, kan? Universal itu… Sama di agama manapun…” kataku pada kesimpulan yang mutakhir terparipurna. Eh… Ini kok bisa aku gak keblinger lagi?

“Nanti-lah itu, bang… Dia entah dimanapun Aisa udah gak tau lagi…” ketus Aisa ogah-ogahan. Aku beralih ke Cherni, mungkin dia tau kenapa.

“Terakhir dari status fesbuk-nya… lakiknya lagi di festival Rio… bareng-bareng banci…” bisik Cherni menutupi mulutnya dari pandangan Aisa.

Aku hampir tergelak, hanya sanggup memegangi perut yang tiba-tiba kram. Di festival meriah itu dan di segmen para transgender? Wow! Ngebayangin lelaki yang sudah disulap cantik dengan bulu-bulu unggas berwarna-warni meriah membentuk rupa artistik nan rupawan. Brrr…

Cherni tertawa dengan menutup mulut melihatku membayangkan lakik si Aisa yang astajim luar biasa mempesona. Cepat-cepat aku menyetip gambaran merusak fantasi itu.

Gak mau pulak aku pindah haluan menjadi pecinta lubang tinja. Enak melihat mahluk cantik bernama Cherni, panlok yang janji akan menceritakan masalah keluarganya. Aku menunjuk padanya.

“Sekarang giliranmu, Cher… Ceritalah… Siapa tau ada yang bisa awak bantu… Tapi gak janji pulak… Dua kawanmu ini contohnya… Aneh-aneh dan berat pulak masalah mereka…” kataku.

“Ya-ya… Cherni ceritain, deh… Kami itu sedang LDR-an sekarang ini… Dia lagi kerja di Jerman yang setahun cuma dapat cuti setengah bulan… Sekian…” kisahnya dan tau-tau udah selesai aja ceritanya. Padahal aku berencana menghabiskan segelas cola yang baru kutuang dengan mendengar kisahnya yang pasti seru.

“Kimbek… Kirain ceritanya bakalan seru… Cuma segitu aja-nya?” kesalku. Mereka bertiga tertawa cekikikan.

“Ya… Tapi dia udah kek bang Toyib yang lima kali Imlek, lima kali Cap Go Meh gak pulang-pulang ke Indonesia…” weleh… Udah kek lagu dangdut itu.

“Janjinya dulu dia bakal menumpuk cutinya empat tahun jadi bisa liburan selama dua bulan… Cherni sabar-sabarin empat tahun… Ini udah lima tahun gak pulang-pulang… Walang rasa dia udah ikut Neo-Nazi ato apa gitu di sana… Lima tahun, li gak pulang-pulang?” kisahnya ternyata cukup tragis.

“Cherni pun lucu… Susul aja kesana kenapa? Gaji banyak… beli tiket ke Jerman kecil-la…” kataku. Heran juga, empat tahun sabar menunggu. Gak pernah dijamah, dikobel apa lagi.

“Walang takut naik pesawat, li…”

“Udah pigi mati ajalah kau…” sambarku tepok jidat.

“Dah kusuruh dia buat SIM Internasional, bang… Jalan dari Malaysia… trus trus… ngikutin jalur sutra Marcopolo… Sampek-nya tuh ke Jerman… Setidaknya dia bisa nyampe ke tanah leluhurnya… Hi hi hihihihi…” kata si Aisa yang nampak kali bercandanya. Kira-kira aja jalan darat ke Eropa perlu waktu berapa lama?

“Ini serius nanya, nih… Tapi masih kontak-kontakan, kan? Telepon… SMS… Video call? Apalah gitu?” tanyaku. Ia menggeleng untuk langsung menjawabku.

“Udahlah… Buang aja lakikmu ke laut kalo kek gitu ceritanya…” Ini yang paling parah dari mereka bertiga dan sudah jelas mereka cocok satu sama lain. Masing-masing bisa saling menyayangi satu sama lain setelah disakiti sedemikian parah oleh hubungan yang tak sehat. Hubungan yang toxic. Hubungan yang merusak.

Akankah hubungan baru mereka ini akan menjadi toxic juga? Karena perasaan mereka tak saling timbal balas. Tak ada rasa balasan dari sisi yang mereka sukai. Hanya rasa satu sisi saja. Setidaknya ada rasa penyeimbang dari sisi yang lainnya. Semoga aja mereka menemukan kebahagiaan yang mereka cari selama ini.

“Isshh… Bang Aseng kayak gitu kali sama Cherni… Apa gak ada nasehat-nasehat apa gitu?” katanya kurang puas dengan pendapatku.

“Buanglah sampah pada tempatnya… Buanglah mantan pada tempatnya juga… Itu nasehat awak untukmu, Cher… Kajol klen betiga semuanya… Kagak jolas… Ada yang satu gara-gara mertua… Yang satunya gara-gara jadi banci… Yang satunya lagi gara-gara gak berani naek pesawat… Random kali masalah klen ya, kan? Awak juga butuh nasehat nih… Dengerin ya?… Gimana kalo ada dua perempuan yang cantik-cantik… seksi-seksi suka sama binikku? Dua-dua perempuan itu tidur bareng sama kami… Apa yang harus kulakukan? Apa coba?” tanyaku antara bosan sama pening.

“Cewek yang satu sukaaaa kali sama binikku sampe pernah dia bilang mau minta cere sama lakiknya supaya bisa aku nikahi… pake masuk Islam segala… agar bisa selalu dekat dengan binikku… Cewek ini anak bos di tempat awak kerja… Dikasih pulak tinggal sekamar dengan kami… Cewek yang satu lagi udah beberapa bulan ini kerja sebagai baby sitter anak-anakku… Selama ini dia sudah mengawasi binikku pake kamera pemantau bayi… Dua-duanya udah menggerepe-gerepe binikku…” aku memperbaiki posisi dudukku.

“Cobak? Apa-la yang bisa klen nasehatkan untuk awak cobak?” kataku. Mereka bertiga pandang-pandangan takjub kalo orang bisa menghadapi masalah serumit itu.

“Itu masalahnya beneran, bang?” tanya Neneng.

“Ngarang, li…” ujar Cherni.

“Coba liat foto binik abang…” pinta Aisa.

Saat aku hendak merogoh saku celanaku untuk mengambil HP, aku teringat kalo Lisa kemarin mulai tergila-gila dengan binikku gara-gara ngeliat foto di HP-ku. Aku jadi ragu.

“Enggak-la, Sa… Anak bos itu mulai suka sama binikku yaa… gara-gara abis liat foto yang awak pamerin… Nanti kau suka pulak…” kataku urung ngeluarin HP.

“Ihh… Enggak-loh, bang… Aisa kan udah ada Neneng… Masa suka sama binik abang juga?” elaknya menepis khawatirku.

Yang lainnya juga jadi penasaran dan pengen tau binikku gimana penampilan dan penampakannya. Demi tau apa yang bisa mereka nasehatkan untukku, kutunjukkan fotonya.

Mereka bertiga seperti terpana melihat tampilan orang rumahku yang mereka pelototi di layar HP-ku. Seperti ada percikan kembang api tahun baru di atas kepala mereka bertiga saat menatap rakus foto binikku. Satu foto mereka liatin sampe lama lalu beralih ke foto berikutnya dan berikutnya lagi.

“Hooi-hoi!” seruku merampas HP-ku kembali ke tanganku dari penguasaan mereka.

“Itulah yang tadi kutakutkan… Kek udah mau klen jilat layar HP-ku tadi kutengok…” kukantungi lagi gadget-ku itu dalam-dalam di saku celana.

“Yakin, li itu istri bang Aseng?” desak Cherni.

“Seksi kali, bah…” komen si Aisa.

“Itu beneran, bang?” tanya Neneng.

“Gak! Aku nemu di botot (rongsok)!!” kesel jadinya. Kenapa perempuan-perempuan bermasalah macam mereka ini cenderung untuk tertarik dengan binikku ya? Ya Tuhan. Besar kali dosaku…

***

Capek dan lelah ketawa-ketiwi bareng tiga binor ngenes yang bermasalah dengan masing-masing lakiknya, aku permisi pulang. Mereka bertiga sudah pada dewasa. Sudah lebih dari bisa untuk bertanggung jawab atas apapun yang mereka putuskan untuk masa depan mereka sendiri. Kalo mereka putuskan untuk meninggalkan para suami mereka ya monggo. Kalo mau ngumpul barengan bertiga saling mencintai ya monggo juga.

Sedan Camry Lisa sudah ada di dalam basement dan mesinnya sudah dingin. Yang artinya sudah berjam-jam lalu ia sampe seperti terakhir kali dikabarkannya. Apa ya hasil pembicaraan mereka? Interogasi istriku atas Tiara dan Lisa.

Loh? Dikunci? Ini dikunci dari dalam. Aku coba berkali-kali mencoba memutar kenob pintu tapi tak bisa berputar, konon lagi terbuka. Aku gak pernah punya kunci untuk pintu kamarku ini. Whaddepak! Aku gak bisa masuk ke kamarku sendiri!

Apa mereka lagi di kamar bertiga, ya?

Membayangkan yang enggak-enggak membuatku tiba-tiba deg-degan. Apa yang sedang mereka lakukan di dalam kamar? Berdiskusi? Ngobrol? Main ular tangga? Apa arisan? Kalo cuma itu gak perlu sampe ngunci pintu segala ya, kan? Gimana kalo mereka… Ah… Aku jadi semakin excited.

Gimana? Gimana caranya aku bisa melihat keadaan di dalam kamar. Aku gak punya kemampuan mengendalikan mahluk asing seperti Ameng si Vivi. Ato malah Merogo Sukmo Lisa. Kalo aku punya kemampuan semacam itu, aku bisa dengan mudah mengetahui kejadian di dalam sana.

Ngintip dari jendela! Malam-malam begini gordennya sudah ditutup. Itu akan jadi usaha sia-sia. Saat-saat begini aku jadi kepengen masang CCTV di rumah ini. Monitor bayi milik Tiara! Aku meletakkannya kembali di box bayi Salwa tadi saat sebelum Tiara datang ke kamar ini.

Aku harus menemukan layar monitor pemantaunya. Benda itu hanya satu biji. Tadi sore ia tidak membawa benda itu. Benda sebesar HP itu pasti ada di kamar Salwa ato Rio, tempat ia tidur akhir-akhir ini.

Buru-buru aku menuju kamar anak-anakku. Kuperiksa kamar Rio pertama kali. Rio sedang tidur dengan damainya di atas ranjangnya. Mataku liar memindai seputaran kamar anak sulungku ini demi menemukan benda itu.

Sampe aku yakin kalo benda yang kucari ini tak ada di sini, aku berpindah ke kamar Salwa di sebelah. Pandanganku langsung tertumbuk pada benda itu di atas kasur lipat di bawah box bayi Salwa.

Bayiku juga tidur dengan damai di tempatnya. Kunyalakan monitor pemantau ini dan memilih beberapa channel yang tersedia. Ada 6 channel. Channel pertama adalah kamar ini, kamar Salwa. Channel kedua adalah kamar Rio. Channel ketiga adalah ruang bermain bersama Rio dan Salwa. Channel keempat adalah kolam renang rendah. Channel kelima adalah kamar kami lewat box bayi Salwa yang tertinggal. Ini dia…

Channel kelima!

Layarnya kecil cuma 4 inchi tapi lumayan daripada tak ada sama sekali. Gambarnya pun harus menggunakan mode night vision karena lampu kamarku dibuat sangat temaram dengan dimmer. Sekali lagi dari pada tidak ada sama sekali.

Benar… Ada tiga sosok perempuan di atas ranjang. Tak satupun dari mereka yang berpakaian. Semuanya dalam keadaan menempel satu sama lainnya. Tepatnya dua sosok merubungi satu sosok yang berambut pendek seleher berdada jumbo besar menggunung.

Itu sudah pasti binikku kalo ditilik dari rambutnya karena satu lagi yang bertetek jumbo berambut panjang, tak lain tak bukan adalah Lisa. Apa yang Lisa lakukan pada binikku? Panlok binor itu sedang mendekatkan wajahnya ke bagian dada orang rumahku. Tentu saja ia sedang mengenyot-ngenyot susu fenomenal binikku dengan rakusnya. Tangannya yang bebas meremas yang sebelahnya.

Dimana Tiara? Baby sitter itu sedang rebah menelungkup di depan kaki istriku. Ngapain? Tentu saja sedang mempermainkan vagina lezatnya, dong. Kaki kanan dan kirnya mengayun-ayunku menikmati momen ini.

Tangannya mengelus-elus pangkal paha binikku dan sesekali menciumi hingga kakinya bergerak kegelian. Istriku duduk tegak berusaha tegar mendapat dua serangan Lisa dan Tiara. Mereka seolah mengeroyok istriku yang tak berdaya menerima serangan kedua perempuan yang sedang tergila-gila pada dirinya.

Aku mendekatkan telingaku untuk mendengar suara yang tertangkap oleh baby monitor ini karena jarak sumber suaranya cukup jauh. Yang terdengar olehku samar-samar adalah suara desahan merintih istriku. Hanya suaranya saja yang terdengar karena kedua perempuan lainnya sedang asik melakukan kegiatan stimulasi dengan mulut mereka, membuat mereka tak dapat mengeluarkan suara.

“Aaahh…” erangnya cukup akrab di telingaku.

Itu suaranya kalo sudah mendapatkan puncak kenikmatannya, orgasme. Bertepatan dengan itu aku sudah ada di depan pintu kamarku lagi. Kubuka paksa pintu ini hingga terjajar masuk melewati ambang pintu ini. Jarak pintu dan ranjang ada sekitar 4 meteran, mereka sama sekali tak menyadari kehadiranku karena kerusakan yang kusebabkan hanya minimal saja di pintu itu, suara bahkan tak ada.

“Siapa diantara klen yang mengunci pintu?” tunjukku ke arah pintu yang sudah terbuka.

Yang kelabakan akan tubuh telanjangnya tentu saja hanya Tiara. Sementara Lisa dan istriku tidak bereaksi sama sekali. Aku paham istriku, tetapi Lisa tidak bermain dengan baik. Harusnya ia juga berlagak panik seolah tak pernah ada kejadian apa-apa sebelumnya antara kami. Setidaknya sandiwara begitu. Tiara memunggungiku saat memakai kembali semua pakaiannya.

Situasinya saat ini udah kek hotel esek-esek yang kenak grebek satpol PP. Ada beberapa sosok orang tak berbaju yang sedang sibuk memakai pakaiannya kembali. Aku sebagai pihak penggerebekan berusaha mencari keterangan.

Lisa dan istriku hanya menutupi tubuh telanjang mereka dengan selimut. Lisa berwajah datar sementara istriku aku tak mengerti ekspresinya. Antara mau tertawa, tersenyum ato apa.

“Lisa yang ngunci, bang…” jawab Lisa.

Berarti dia yang terakhir masuk ke kamar ini. Pulang kerja, ia langsung kemari. Pakaian kerjanya yang tadi berserakan di lantai nyampur dengan pakaian istriku.

“Apa yang kalian berdua lakukan sama istriku? Awak sampe harus merusak pintu untuk masuk kemari… setelah ngeliat ini…” tunjukku pada monitor pengawas bayi milik Tiara ini.

“Kirain ada apa di dalam sini… rupanya klen lagi beginian…” aku gak abis pikir hanya bisa garuk-garuk kepala yang mendadak amat gatal akibat pusing.

“Mama yang nyuruh mereka berdua, paa…” ia mengambil semua tanggung jawab.

“Mama? Tunggu bentar… Pake dulu semua baju klen berdua… Mama sama Lisa… Pake baju… Biar kututup dulu pintunya biar gak ada yang masuk…” aku balik ke arah pintu yang tak bisa ditutup rapat lagi karena bagian tonjolan lidah penguncinya sudah kubuat patah.

“Ada-ada ajapun…” bisikku sendiri.

Aku menutup pintu ini menggunakan ganjal sepatuku sendiri, memberi mereka sedikit waktu untuk membagi porsi kesalahan. Istriku tau, aku tak mungkin marah padanya hingga ia mengambil bagian paling besar dalam skandal aneh ini.

Aku berdiri di depan mereka bertiga setelah lampu lebih kusetel lebih terang. Istriku dan Lisa masih di atas ranjang sementara Tiara berdiri di dekat mereka. Kucoba memandangi mereka bertiga bergantian. Hanya Tiara yang tak berani menatapku balik.

“Ini ada apa, sih? Kenapa klen bertiga malah maen lesbi-lesbian? Tadi kutinggal pergi kuliah mama masih nanyain Tiara apa yang sudah dilakukannya selama ini? Nambah Lisa pulang kenapa jadi kek gini?” aku tepok jidat lalu mengusap mukaku sampe dagu. Kalo bisa lepas, lepas mukaku.

“Mbak yang nyuruh, bang… Tanyain Tiara, deh…” kata Lisa.

“Iya, bang… Kakak yang nyuruh…” akur Tiara dengan Lisa.

“Mama yang nyuruh mereka berdua… untuk gini-giniin mama? Bukannya papa udah nyuruh mama untuk tegas sama Lisa?… Kenapa malah jadi gini?” aku tambah pusing aja.

Ini seperti sudah bukan istriku lagi. Gak pernah ia seaneh ini. Sebentar aja kutinggal kuliah, sudah banyak perubahan drastis pada dirinya dan itu terjadi karena keberadaan dua perempuan yang notabene s.u.k.a. pada dirinya ini.

Istriku mengangguk-angguk dengan yakin.

Dua perempuan ini penyebab istriku berubah? Benarkah itu? Perubahan itu bukan berasal dari dirinya sendiri?

“Mama juga suka dengan mereka berdua? Sudah gak suka lagi sama papa? Glek…” aku mulai khawatir akan orientasi dirinya—meneguk ludah khawatir.

“Yaa… Masihlah… Masih cinta kali sama papa… Tapi mereka berdua kasian kan, paa…” jawabnya enteng.

“Mereka pada kesepian… Gak ada yang sayang… Tiara putus dari pacarnya, jomblo… Lisa juga mau ditinggal lakiknya balik ke Australi… Lagipula mama sama sekali gak selingkuh dari papa, kan? Papa tau semua apa yang mama kerjakan… Papa tau mama begini sama mereka berdua…” ia mencoba menawarkan rasa bingungku.

“Gak selingkuh gimana, ma? Begini ini gak selingkuh? Karena terang-terangan? Karena sama perempuan?” tanyaku tentu aja bingung.

Dari mana ia mendapat pembenaran itu. Aku bukan manusia yang suci-suci kali karena udah selingkuh sana selingkuh sini di belakangnya. Apakah ini balasan yang kudapatkan karena tingkahku? Istriku malah membalasku dengan cara ini? Apakah dia tau tingkah polahku selama ini?

“Enggak dong, paa… Selingkuh itu kalo mama sama laki-laki… Sembunyi-sembunyi… Itu yang namanya selingkuh… Ini namanya mana selingkuh… Sama perempuan juga pula… Kami hanya bersenang-senang…” jawabnya masih enteng dengan wajah ceria-ceria aja.

“Mama yang bersenang-senang… Mereka berdua ini nggak! Mereka beneran suka sama mama… Mereka sungguh-sungguh… Mereka ini pake perasaan…” kataku mencoba mengingatkannya.

Aku melirik pada Lisa dan Tiara juga bolak balik menatap istriku dan aku. Sepertinya juga mereka bingung akan apa yang sudah terjadi. Mereka bingung? Bukankah ini yang mereka harapkan? Bisa sebegitu dekat dengan istriku yang menjadi idaman mereka, bahkan sampe menyentuh intim tadi.

“Tentu… Kami bersenang-senang… Lisa… Tiara… Kemarilah…” panggilnya.

Kedua perempuan itu dengan patuh mendekat padanya. Tanpa ragu istriku memagut bibir Lisa dan mengulumnya untuk beberapa lama. Lisa terlihat sangat menghayati cumbuan perempuan idamannya itu.

Tanpa ragu ia membalas cumbuan mulut istriku. Bahkan ia membiarkan tangan istriku meremas-remas tetek jumbo-nya. Dengan kecupan terakhir, ia beralih pada Tiara dan melakukan hal yang sama.

Aku secara langsung melihat bagaimana istriku mencumbui dua perempuan cantik di depan mataku tanpa ada keraguan sedikitpun. Tangannya juga lancang meremas-remas payudara Tiara yang masih terbungkus pakaiannya.

Aku kaget melihat yang setauku Tiara adalah gadis yang manis, sederhana, sopan dan rajin bekerja bisa menjadi sebinal ini di tangan istriku. Aku gak pernah sedikitpun membayangkan Tiara dalam posisi ini.

Sedikitpun gak pernah karena ia sudah bekerja sedemikian baiknya mengasuh anak-anakku.

Apakah ini diri aslinya yang selama ini tersembunyi? Apakah istriku yang membangkitkan sisi itu? Bibir Tiara lumat oleh mulut istriku yang buas dengan keahliannya bercinta. Itu memang caranya berciuman. Aku tau persis itu karena ia selalu menggunakan cara itu kala bersilat lidah denganku. Tetapi mengapa ia melakukannya dengan entengnya dengan perempuan lain? Melakukannya seolah itu adalah hal yang lumrah…

Tiara menjamahkan tangannya juga pada payudara istriku yang sekarang berukuran jumbo dan terhanyut dalam kekenyalan menyenangkannya. Lisa juga tetap aktif mengelus-elus tubuh istriku untuk mencumbunya. Selesai bersilat lidah dengan panasnya bersama Tiara, istriku beralih ke bagian leher jenjang mulusnya. Lidahnya nakal menjilat dan mengecupi leher gadis muda baby sitter itu dengan rakusnya. Tiara mengerang-ngerang keenakan.

Apa yang sudah terjadi? Apa yang terjadi ini? Kenapa ini jadi begini? Aku seperti melihat gambaran diriku sendiri di istriku. Itu semua adalah teknik-teknikku dalam menguasai perempuan. Istriku meniru semua caraku.

Kala ia melakukan itu semua padaku, itu lumrah saja dalam sesi percintaan kami. Tapi kali ini ia menerapkannya pada perempuan lain. Tangannya dengan telaten melepaskan pakaian Lisa kembali. Bagian atas tubuh anak pak Asui itu sekarang sudah telanjang. Tetek jumbo-nya bergandulan dengan bebas.

Ia kemudian mengalihkan perhatiannya setelah mencumbui Tiara ke Lisa. Diciumnya bibir binor itu sekilas, menyurut ke leher dan akhirnya mencaplok tetek jumbo-nya. Lisa tentu aja kegelian campur nikmat payudara kenyalnya dicumbu oleh perempuan yang ia sukai. Inilah yang ia harap-harapkan. Rintihan mengerangnya membahana di kamar ini.

“Maa… Hentikan, maa…” suaraku menjadi parau menyaksikan ini.

“Hentikan… Stop! Stop… Jangan menghukumku seperti ini, maa… Hentikan, sudah!!” jeritku tak tahan lagi menyaksikan ini semua.

“Papaa… Tidak ada yang menghukum papa… Kenapa papa harus dihukum… Papa gak salah apa-apa… Kami hanya bersenang-senang… Mama gak selingkuh, kok… Bukannya papa suka mama seperti ini? Seseksi ini… Humm…” ia kembali mendaratkan mulutnya di tetek jumbo Lisa.

Pentilnya dicucup-cucup sampe bersuara berdecit sangking semangatnya menyedot. Lisa mengerang bukan buatan. Tangan istriku yang lain menelusup masuk ke celana dalam Tiara melewati gaun kerja baby sitter-nya, menemukan surga basah di baliknya.

“Sudah, hentikan, maa… Tidak perlu seperti ini… Mama tidak boleh seperti ini pada mereka…” aku memintanya berhenti.

Berulang-ulang bahkan memohon agar ia berhenti. Aku tak mau menggunakan kekerasan. Aku berpantang menggunakan kekerasan pada istriku sendiri, seperti menarik paksa mereka agar terpisah.

“Papa mohon berhenti, maa… Ini tidak benar… Mama tidak boleh melakukan ini… Ini tidak benarrr… Papa mohon berhenti…” ia menepis tanganku yang berusaha menarik wajahnya dari tetek jumbo Lisa yang sedang dinikmatinya.

Lidahnya menyentil-nyentil dengan lugasnya mempermainkan puting mengeras Lisa bergantian kanan kiri. Tangannya lincah mengobok-obok kemaluan Tiara yang celana dalamnya sudah melorot di lutut gadis itu.

Ketiga perempuan dewasa yang sudah larut dalam nafsu jadi begini tak perdulian. Tak memperdulikan apapun dan itu dipimpin oleh istriku yang menjadi objek kegilaan dua perempuan di pernikahanku ini. Mereka ini orang luar. Aku yang paling berhak atas istriku. Jiwa dan raganya.

“MAMA! BERHENTI!” teriakku lantang agar segera menyadarkannya dari kesalahannya ini. Ini hal yang gak benar untuk dilakukan. Aku tidak setuju. Aku tidak ridho dengan ini semua.

“BERHENTI!!” teriakku lagi.

Berhasil ia menghentikan kegilaan ini. Ia berhenti memainkan tetek jumbo Lisa dan mengobel kemaluan Tiara…

“Ehh..” ia menarik tubuhku hingga menubruk tubuhnya.

Ia beralih mencumbui mulutku. Ada aroma Lisa dan Tiara yang kuat di mulutnya. Lidahnya bermain-main menerobos mulutku. Liar dan lugas ia mencumbu mulutku. Tangannya mengalung di leherku dengan eratnya. Kakinya juga mengapit pinggangku dengan ketat. Aku gak bisa lepas dari pelukannya tanpa menggunakan tenaga yang meronta. Dan itu sudah menjadi kekerasan.

Ia menikmati mulutku dengan seksama seperti tadi sore. Ia menggunakan cara yang sama seperti mengajakku bercinta tadi sore. Tapi aku tidak menginginkan ini. Ia memaksaku!

Tak sekalipun ia melepaskan mulutku. Kala aku berdalih menjauh, ia menarik mengarahkan mukaku ke arah mukanya lagi dan langsung menyerobot mulutku, mencumbui terus. Berusaha menaikkan birahiku.

Lidahnya terus merangsangku, bermain-main dengan mulutku. Dengan kakinya, ia menjejal-jejalkan perutku ke arah selangkangannya. Hei… Apa ini? Dia tidak pernah segini agresif.

“Kita bersenang-senang, paa…” bisiknya beberapa detik mengucapkan itu lalu memagut mulutku kembali.

“Mambb… Mamhh…” aku tak sempat mengatakan satu kata yang jelas sekalipun akibat paksaannya.

Sempat tangan kirinya lepas dari memeluk leherku tapi itu untuk menarik Lisa agar ikut larut dalam pergulatan kami. Lisa dengan patuhnya menggunakan mulutnya untuk menjilati telingaku. Dan sumpah itu geli sekali lalu menjadi enak.

Saat aku merasakan geli-geli enak jilatan Lisa di kupingku, ada sepasang tangan yang berusaha melepaskan legging ketat yang dipakai orang rumahku. Dari arah gerakannya, aku yakin pelakunya adalah Tiara.

Kemudian setelah itu, aku yang berikutnya kehilangan celana. Aseng junior-ku yang… kurang ajarnya mau menegang, sukses gilang gemilang bisa dipepetkan ke arah selangkangan istriku. Dan seolah sudah tau stasiun resminya, dimana ia bisa keluar masuk dengan bebas—Aseng junior menusuk masuk dengan bahagianya.

“Aahhhh…” kami berdua mengerang keenakan bersama.

“Papaaah… Enak, pahh…” rintih istriku merasakan kemaluanku membelah dirinya.

Kupeluk erat dirinya merasakan juga kenikmatan yang sangat memabukkan ini. Tetapi ini semua sangat berbahaya, begitu instingku berkata saat kesadaranku sudah terambil alih. Aku sadar sesadar-sadarnya kalo kami berdua sudah tidak ada di tempat yang sama, di dalam kamar di atas ranjang. Melainkan sebuah tempat yang sama sekali berbeda.

“Pantek! (Pantat!)” umpatku pelan begitu menyadari aku sudah berada di dalam kamar Basri. Kamar ini adalah tempat aku pernah sempat bersiteru dengan si kuntilanak merah bernama Mutee itu. Salah satu dari Burong Tujoh itu.

“Paahh… Kita ada dimana ini?” tanya istriku karena ia tiba-tiba merasa tidak nyaman berbaring di atas lantai, setelah barusan kutindih di atas ranjang empuk kami.

Tempat ini telah berganti gelap temaram. Bahkan lebih gelap dari kamar kami sebelumnya. Aku mencerabut Aseng junior dari stasiun-nya dengan perasaan kentang. Situasi yang seharusnya ena-ena berubah drastis menjadi genting begini.

Kenapa genting? Kami berdua sama-sama tak bercelana. Hanya baju yang terpasang di tubuh dengan bagian bawah sama sekali polos. Aku sebenarnya anti kali kalo harus berantem telanjang kek gini. Aku merasa sangat insecure karenanya.

Disamping lawan bisa dengan mudah menarget alat vitalku, pergerakan menggandulnya sering mengganggu. Istriku mepet merapat merasa bingung dan ketakutan akan perubahan ini. Apalagi ia tak menemukan Lisa dan Tiara yang hilang bak ditelan bumi saja. Bagaimanapun mereka berdua sudah saling berbagi kenikmatan walo seaneh apapun proses kejadiannya maupun alasannya.

Tetapi dengan begini, aku sedikit menemukan titik terang kalo sumber masalahnya adalah istriku sendiri!

Kenapa? Karena dia yang ada disini saat ini. Bukan Lisa dan juga bukan Tiara. Istriku sendirilah sumber masalah semua kekacauan ini.

“MUTEEE! KELUAR KAU, MUTEEE!! AKU TAU KAU DALANG INI SEMUA, MUTEEE!! KELUAARRR!!” teriakku memanggil namanya.

Ruangan ini serasa menggelegar akibat suara teriakanku yang membahana. Pasti ia sedang bersembunyi di satu tempat di ruangan yang kali ini menjadi daerah kekuasaannya. Tempat ini tidak besar apa lagi luas.

Hanya seukuran kamar 4×4 meter saja, tanpa furniture sebuahpun karena pernah menjadi tempat tinggal Basri saat terganggu jiwanya. Hanya sebuah kamar kosong dengan pintu dan jendela yang tertutup rapat, gelap mencekam.

“Siapa Mutee, pah? Apa ini semua, pah? Kita ada dimana, pah?” tanyanya berturut-turut.

“Ini yang papa ceritain tentang pertarungan Menggala itu, ma… Mama ada di dalamnya sekarang… Mutee itu kuntilanak merah yang pernah papa ceritain waktu itu loh… Hantu di Aceh itu…” jawabku seringkas mungkin.

Ia sudah kuceritakan dari awal kami menikah tentang dunia lain tersembunyiku ini. Kalo aku kerap melakukan latihan dan pertarungan di tempat-tempat seperti ini sebagai seorang pendekar Menggala. Pilihannya kalo bukan aku yang mengundang lawan, aku yang diundang masuk ke daerah semacam ini.

Mata belo’nya melotot mendengar penjelasanku. Ia sudah sering dengar aku bercerita tapi memilih cuek karena merasa gak berkepentingan di dalam dunia asingku itu. Tak dinyana, tak diduga, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak—ia sekarang masuk ke dalamnya!

“Mama gak mau, paa… Mama gak mau ada disini… Mama mau keluar!! Sekarang juga!” mukanya terlihat panik.

Dia bukan perempuan yang seberani itu. Dia tak setangguh itu. Ada hal-hal yang secara wajar ditakutinya dan salah satunya tentu masalah yang ghaib-ghaib seperti ini.

“Ini papa pasti lagi ada masalah sama hantu-hantu itu, kan?” tebaknya dengan muka horor bercampur cemas luar biasa.

“Keluarkan mama sekarang juga!!”

“Kita bisa keluar begitu aja, maa… Papa gak tau jalan keluarnya…” jawabku masih jelalatan mencari lawan.

“Itu pintunya… Kita bisa keluar dari sana…” tunjuknya ke arah pintu yang secara normal adalah jalan keluar masuk ruangan ini.

“Itu bukan jalannya… Percaya sama papa itu bukan jalan keluarnya…” jawabku.

Aku bukan pemain baru di dunia perseteruan para Menggala. Hanya pelaku pemula yang percaya sebuah pintu adalah sebuah pintu. Seringnya benda semacam itu malah adalah jebakan yang mematikan yang sengaja disiapkan lawan yang lengah. Apalagi lawan selicik dan selicin ini. Entah apa di baliknya ato kemana pintu itu mengarah.

“Jangan pernah menganggap hal yang sama di luar sana dengan di dalam sini…”

“Jadi kita gimana nih, paaa? Apa kita dikurung disini? Mana kunti-nya?” ia masih mepet padaku memegangi lenganku erat-erat.

“Apa kabar, cantik?” sapa satu suara.

Kami berdua terkesiap mencari-cari asal suara itu. Walo gelap begini, mata sudah lumayan terbiasa oleh kegelapan dan bisa membedakan bentuk-bentuk. Suara barusan sangat dekat tetapi kami tak dapat memperkirakan posisinya di mana.

“Suaranya dari mana, pah?” tanyanya.

Aku juga ingin menanyakan hal yang serupa karena kami tak dapat mendapati sosok yang barusan menyapa itu. Suaranya suara perempuan dan aku sangat yakin itu bukan suara Mutee.

“Papa gak tau, maa…” menggeleng tanda tak paham.

“Aku dekat dengan kalian…” ia memberi petunjuk keberadaannya. Dekat…

Aku bahkan mengecek lantai, siapa tau pemilik suara itu lagi lesehan di sana.

“Dimana kau?”

“Sangat dekat sekali…” tunjuknya. Aku memang sama sekali gak ngerti dimana dirinya.

“Ini suara hantu itu, paah?… PLAAKK!!” tiba-tiba pipi kiriku terasa pedas oleh sengatan tamparan yang penuh dengan emosi.

Panas pipiku jadinya terkena tamparan itu. Aku belum pernah sama sekali melakukan kekerasan pada istri dan anak-anakku. Belum pernah memukulnya sekalipun. Keras Aseng junior saja yang pernah melukai dirinya. Dan ini, ia menamparku dengan sangat kerasnya…

“Maah?” kagetku memegangi pipiku yang panas.

“Tangan mama… Tangan mama bergerak sendiri, paah…” ia tak kurang kaget.

“PLAAAKK!!” sebuah tamparan menggunakan tangannya yang lain sukses mendarat lagi di pipiku. Aww… Panas! Kenapa sakit kali tamparannya. Aku sudah sering kena bogem lawan di muka, tapi belum pernah ada yang terasa sesakit ini.

“Bergerak sendiri?” heranku.

Sialan! Hantu itu ada di dalam tubuh istriku dan mengendalikan tubuhnya. Berarti tingkahnya selama ini karena pengaruh mahluk ghaib yang bersemayam di dalam tubuhnya?

“BOUUFFTT!!” sebuah pukulan yang sangat telak sekali menghantam dadaku.

Aku sampai terlempar melayang ke arah dinding dan membenturnya. Punggung dan belakang kepalaku sampe membentur dinding sangking gak siapnya aku menerima serangan mendadak dari istriku sendiri. Aku jatuh terduduk dengan dada, punggung dan belakang kepala kesakitan. Istriku berdiri di sana dengan tangan menjulur habis menghajarku barusan. Itu bukan dirinya.

Ada mahluk ghaib yang menguasai dirinya saat ini.

Sejauh ini… Ini lawan yang terberat yang pernah kuhadapi.

***

Biasanya, permasalahan rumah tangga itu ada banyak macamnya. Salah satunya adalah masalah KDRT; Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Jamaknya yang terjadi adalah sang suami main ringan tangan memukul sang istri. Penyebab KDRT ada berbagai juga, dari masalah ekonomi, kecemburuan, kesenjangan, alkohol dan lain-lain.

Di rumah tanggaku, semoga itu jauh-jauh dari keluargaku. Aku sama sekali gak pernah sekalipun berlaku kasar, apalagi sampe main fisik seperti memukul, menampar, menjambak dan berbagai prilaku bar-bar lainnya. Paling-paling kekerasan yang kulakukan adalah kerasnya Aseng junior saat menusuk miss-V istriku.

Kalo gak keras gak bisa pulak kami buat anak ya, kan?

Tapi saat ini, istriku yang melakukan kekerasan itu pada diriku. Berulang kali ia menampar dan menonjok tubuhku. Tenaga yang dikeluarkannya bukan maen, kuat kali-heh… Kepalaku berdenyut-denyut, pipiku panas seperti terbakar, dadaku sakit terkena bogem, apalagi bagian tubuh lain yang terkena tendangannya.

Aku hanya bisa melakukan double cover untuk melindungi kepalaku dari serangan brutalnya saat terpuruk di sudut ruangan. Kupilih sudut ini hingga ia tak bisa menyerangku dengan leluasa akibat halangan sudut dinding.

Dus, serangannya berupa pukulan straight diselingi uppercut dan tendangan push kick yang membabi buta. Tubuhku sudah sakit-sakit semua rasanya. Linu-linu dan pegal di semua bagian. Kepalaku pusing bukan buatan. Gak pernah aku terjebak dalam keadaan seperti ini sebelumnya. Bisa melawan tapi tak mungkin kulakukan karena yang sedang bal-bal sama istriku sendiri.

Bisa-bisa aja kubalas semua serangan ini tapi gak mungkin kan aku mukul istri yang sangat kucintai. Jadi yang bisa kulakukan hanyalah bertahan. Dipukuli dan ditendang berulang-ulang begini gak kunjung membuatku mendapat ide cara mengatasinya.

Malah otakku tambah mampet oleh rasa sakit yang merundung sekujur tubuh ini. Rasa-rasanya ini adalah pembalasan secara gak langsung istriku atas semua kecurangan-kecurangan yang sudah kulakukan di belakangnya. Semua perselingkuhanku yang bahkan lebih jauh sampe menghasilkan janin-janin di rahim belasan binor yang meminta bantuanku untuk segera hamil.

Inikah harganya? Inikah balasannya? Inikah hukumannya?

Kunikmati saja semua hajaran berkekuatan yang tak mungkin berasal murni dari istriku. Sekuat, semaksimal apapun, kekuatannya gak akan bisa mencapai ini. Ini setara dengan pukulan dan tendangan seorang pendekar mumpuni pilih tanding yang sudah berlatih puluhan tahun untuk dapat mengerahkan tenaga konstan di tiap serangannya.

Jadi selama beberapa hari ini, setiap tindakannya yang aneh karena pengaruh mahluk ghaib ini. Tindakannya sering tidak sesuai dengan kepribadiannya dan kata-katanya. Apa yang dilakukannya sering tidak konsisten dan cenderung merugikan.

Membiarkan Lisa tinggal di kamar kami, mengabaikan keberadaan Lisa saat kami bercinta, menggampangkan kejadian saat aku gak sengaja ‘mencelup’ Lisa sekali, dan banyak kejadian-kejadian lainnya yang akhirnya berujung di saat ini. Karena pengaruh mahluk ghaib yang bercokol di dalam dirinya.

Salahku juga yang terlambat menyadarinya. Biasanya aku dengan mudah menyadari kehadiran mereka dan kali aku gagal. Aku kecolongan kali ini. Aku sama sekali gak menyangka kalo istriku akan diserang mahluk ghaib ini karena terlalu percaya diri telah menyiapkan berbagai macam pagar ghaib untuk melindunginya di dalam rumah.

Kalo di luar? Amankah dia? Kemungkinan besar ia mendapatkan serangan ini saat berada di luar rumah. Mahluk ini punya kemampuan luar biasa dan unik yang bisa menghilangkan aura ghaib-nya sama sekali hingga bahkan aku tak dapat mendeteksinya. Ini pasti mahluk tingkat tinggi.

Kedua tinju tangannya sampe berdarah-darah, pecah akibat mengantam muka dan tanganku. Begitu juga mukaku sendiri. Bengap-bengap berdarah sampe gak dapat kurasakan karena mulai kebas akibat repetisi serangan yang beruntun tanpa henti.

“Paaa… Lawan, paa… Jangan biarkan mama terus begini… Hiks… Lawan, paa…” isak istriku terus menerus sepanjang gerakannya. Aku gak mengindahkan permintaannya sama sekali. Aku terus bertahan. Ia terus memohon agar aku melawan semua serangannya.

“Lawan, paa… Mama rela, paah… Lawan, paa…”

Aku menggeleng-geleng tak sanggup menjawabnya. Aku hanya bisa menahankan semua rasa sakit ini. Tapi ini gak bakal cukup sebagai salvation-ku. Kalo terus begini, aku bisa mati.

Apa nasib istriku yang masih ada di alam ini setelah kematianku? Apakah ia akan terus dirasuki mahluk ghaib licik ini? Mahluk licik ini tau persis kelemahanku dengan menyandera istriku. Ia tau persis kalo aku tak akan membalas semua serangan yang dilakukannya lewat istriku.

Serangan-serangan yang bertubi-tubi datang padaku ini… Apakah ini puncaknya? Akankah aku takluk setelah sang pembisik itu sampe pada kesimpulan yang paripurna ini.

Inikah akhir hidupku? Setelah sekian banyak percobaan serangan yang ditujukan padaku, dari yang menyasar orang di sekitarku, langsung padaku dan sekarang balik lagi ke orang terdekatku; istriku.

Inikah kesimpulan paling mutakhir yang dianggapnya paling efektif untuk menghabisiku?

“Kau membuatnya jadi begitu mudah, Aseng…” seru suara perempuan itu lagi. Suara itu keluar dari tubuh istriku. Aku mendengarnya sayup-sayup dari dengingan kupingku yang sakit dan panas akibat kebanyakan dihajar.

“Ini semua jadi kurang seru… Aku mengharapkan perlawanan darimu… Setidaknya ada drama di sini… Tapi nol besar!” Sebuah tendangan push kick bertenaga besar menembus double cover-ku dan mendarat sukses di mukaku.

“Kuhh…” pandangan mataku mulai gelap.

Instingku meronta dan aku melompat menerjang. Menangkap tubuhnya hingga kami berdua jatuh terjengkang. Dengan sisa-sisa tenaga yang kupunya, aku memeluk tubuhnya—mengecup keningnya.

“… bye…”

***

Saat bangun, setelah sekian lama tak sadarkan diri, ada beberapa sosok tambahan yang tertangkap netra kaburku ada di dalam kamar ini. Kukira aku sudah mati tapi tidak. Aku masih hidup ternyata.

Pandangan mataku buram walo beberapa kali kucoba mengerjab-ngerjabkannya. Mungkin karena sisa-sisa darah mengering yang mengalir di pelipis dan dahiku. Rasa sakitnya masih terasa pedih, ditambah rasa menebal di beberapa bagian mukaku akibat pembengkakan.

Penglihatan buram ini apalagi lebih mengganggu ini. Terakhir kali mataku rabun seperti ini adalah saat SMA dulu karena saat itu aku sempat memakai kaca mata minus sejak kelas satu SMP. Dan sudah sembuh. Kenapa ini kambuh lagi?

Tapi dari sosok yang terlihat dari rabun ini, aku bisa mengenali sosok tubuh istriku berkat potongan rambutnya dan ukuran payudara jumbo-nya. Sosok kedua adalah Lisa, dari tetek jumbo dan rambut panjangnya. Sosok ketiga adalah Tiara. Kenapa kedua perempuan itu juga masuk ke dalam tempat ini? Mahluk ghaib itu menarik mereka berdua juga?

“… jadi waktu Tiara minta cuti 9 hari itu untuk menikah?” tanya suara istriku.

Tiara

“Iya, kak… Maaf Tiara gak bilang-bilang alasannya… Rencananya abis cuti itu Tiara akan mengundurkan diri jadi baby sitter di sini dan fokus ke keluarga aja… Tetapi karena masalah ini… Tiara jadi lanjut kerja trus…” jawab sosok Tiara.

“Masalah apa? Apa Tiara gagal menikah?” tebak sosok Lisa. Mereka bertiga duduk bersimpuh saling berhadapan membentuk segitiga karena ketiadaan furniture apapun di ruangan mistis ini.

“Iya, kak Lisa… Tiara gagal menikah… Hiks…” suara Tiara mulai berat.

Aku yang masih dalam keadaan sekarat begini berusaha tetap diam, menyembuhkan semua lukaku dengan menenangkan diri dan mendengarkan cerita gadis yang katanya telah gagal menikah itu.

Waktu itu semua persiapan telah matang. Malam sebelum resepsi pernikahan keluarga pihak pria datang untuk melangsungkan akad nikah. Rumah sudah disulap menjadi tempat resepsi pernikahan yang meriah dengan jejeran tenda dan hiasan-hiasan khas pernikahan.

Sebuah panggung tempat pengantin esok bersanding pun telah berdiri megah di depan jejeran kursi-kursi plastik tempat para tetamu. Kibot (keyboard, orgen tunggal, musik hiburan) berhenti sebentar saat para tetamu pihak lelaki datang hendak mengantarkan seserahan sekaligus melangsungkan akad nikah.

Saat ramah tamah terjadi antar dua keluarga terjadi, tiba-tiba terjadi bisik-bisik yang tak mengenakkan. Seorang kerabat dekat yang baru balik dari toilet berbisik pada orang tua calon suaminya. Muka beliau mendadak kaget dan tegang!

Secara sepihak pria itu membatalkan akad nikah anak lelakinya dan menyuruh semua rombongannya untuk pulang segera dengan membawa kembali semua seserahan yang belum sempat dipindah tangankan tanpa memberitahu apa yang menjadi keberatan dirinya.

Heboh tentunya karena jiran tetangga Tiara juga ikut menyaksikan semua hal tersebut. Betapa malunya keluarga dan tentunya Tiara sendiri. Lobi-lobi dilakukan dengan berbagai cara komunikasi karena semua persiapan ini tentunya tidak dilakukan dengan biaya dan waktu yang sedikit.

Ternyata eh ternyata, kejadiannya adalah karena tak sengaja kerabat dekat pihak lelaki yang numpang make toilet itu mendengar selentingan cerita tentang asal muasal kejadian hadirnya Tiara ke dunia fana ini adalah akibat hasil perkosaan seorang pria durjana.

Ibu Tiara yang hamil akibat diperkosa pria tak dikenal lalu dinikahkan dengan pria yang kemudian menjadi ayahnya. Mulut ember sang whistle blower ini adalah salah satu budhe Tiara yang memang terkenal mulutnya susah direm.

Dengan merasa gak bersalahnya ia mengungkap aib itu di dapur saat keramaian begitu dan naasnya terdengar oleh keluarga calon besan. Tak mau mempunyai mantu dari nasab yang tak jelas hasil perkosaan, ayah pacar Tiara memutuskan sepihak kalo pernikahan ini dibatalkan.

Betapa hancurnya perasaan Tiara, pernikahannya yang sudah di depan mata musnah begitu saja dengan memalukan. Ia ribut besar dengan pacarnya lewat telepon. Tapi apa daya sang pria karena pernikahan bukan hanya menyatukan dua insan berbeda tetapi juga menyatukan dua keluarga.

Tiara yang kalap mata, yang masih memakai kebaya akad nikahnya naik ke atas kursi dan berniat menggantung diri karena frustasi berat. Sebuah tali disiapkannya untuk menjerat lehernya, untuk mengakhiri hidupnya.

Begitu lehernya terjerat dan mulai menggantung, tali itupun putus. Gagallah upaya bunuh diri pertamanya itu. Ia mengganti tali dengan sarung yang pastinya mustahil putus. Sarung itupun sobek.

Padahal itu sarung yang baru dibuka dari bungkusnya. Kenapa mendadak lapuk. Kalut dua kali percobaan bunuh dirinya gagal, ia mengganti metode. Sebuah cutter akan digunakan untuk menyayat nadi pergelangan tangannya, cutter hancur berantakan terpecah-pecah begitu hendak disayatkan.

Tiara yang masih dalam keadaan kalut mencoba metode lain—racun serangga. Ditenggaknya sebotol obat nyamuk cair itu dengan nekat, semua isi perutnya keluar tanpa bisa dicegah. Semua metode bunuh dirinya gagal!

Pintu kamarnya didobrak karena terdengar suara-suara aneh dari dalam kamar. Menghentikan semua rangkaian percobaan bunuh dirinya yang selalu gagal secara ajaib dan musykil. Ia selalu didampingi seseorang kemudia dan tak dibiarkan sendirian karena khawatir akan mencoba bunuh diri lagi.

Ribut-ribut lain ada di luar kamarnya karena terjadi perdebatan hebat yang berlangsung di luar sana. Ternyata eh ternyata lagi, suami dari budhe ember-nya itulah sebenarnya yang telah memperkosa ibu Tiara hingga hamil.

Kakek Tiara lalu mencarikan lelaki yang mau menikah dengan ibunya walo dalam keadaan berbadan dua. Sang budhe yang gelap mata mengetahui kebejatan suaminya, lari ke jalan raya dan tertabrak sebuah mobil box yang melintas, tewas. (*kek sinetron TV ikan terbang, ya?)

Jadilah 9 hari masa cuti panjang Tiara hanya mendekam di kamarnya dengan pengawasan ketat. Bayang-bayang pernikahan indah pupus sudah dari benaknya dengan tragis. Tak ada bulan madu.

Tak ada manisnya mereguk madu cinta. Hanya ada pahit kenyataan. Ditambah misteri kenapa percobaan bunuh diri berkali-kali dirinya selalu gatot alias gagal total. Tali dan sarung putuslah, cutter patah berkeping-keping, minum bayg*n dimuntahin. Tiara curiga kalo dia nekat menabrakkan diri ke kendaraan yang melaju seperti yang terjadi pada budhe-nya, kendaraan itu akan sukses berhenti untuk ngerem.

Awal niat Tiara menggunakan baby monitor untuk mengawasi kami hanya sebagai referensi dirinya untuk menghadapi malam pertama dirinya dengan sang suami. Tapi semuanya buyar dengan kejadian yang tak disangka-sangka ini.

Dinilai sudah tidak akan melakukan percobaan bunuh diri lagi, ia dilepas keluarganya untuk kembali bekerja. Mungkin dengan demikian pikirannya akan lebih segar jauh dari lokasi tragedi menyedihkannya ini.

Lanjut mengawasi kami lewat baby monitor, membangkitkan perasaan aneh di diri Tiara. Ia malah lebih tertarik pada istriku lebih dari sebelum-sebelumnya. Mengetahui kebiasaan tidur siang istriku, ia coba-coba mendekat.

Awalnya cuma raba-raba saja. Ketagihan dengan rasa dan sensasinya, ia meningkatkan intensitas dan kualitas sentuhannya hingga sampe taraf mencumbu bagian tubuh vital secara erotis. Tiara sangat menikmati itu semua. Ia sampaikan itu semua dengan lugas, jujur, dan terbuka di depan istriku dan Lisa.

Tiba-tiba istriku beringsut bergerak disusul Tiara yang berdiri. Lisa plonga plongo gak ngerti dua orang itu ngapain. Istriku bersandarkan dua lututnya dengan kepala menunduk.

“Lord Purgatory…” sapa suara yang keluar dari mulutnya suara perempuan mahluk ghaib itu lagi.

Tiara mengulurkan tangannya dan menepuk-nepuk kepala istriku seolah memberi selamat pada budaknya, ia telah melakukan tugas dengan baik. Uluran tangannya kemudian dicium istriku seakan sangat bangga diperbolehkan untuk melakukan hal tersebut.

Seolah benda itu adalah sesuatu harta yang paling berharga dan mulia di dunia. Dari posisi dan kondisi mataku sekarang aku tak bisa melihat dengan jelas benda apa yang sedang diciumnya itu.

Sekonyong-konyong sosok Tiara menoleh padaku. Ia sadar kalo aku masih hidup dan menyaksikan peristiwa penting ini. Wajahnya memang wajah Tiara, tetapi auranya sangat berbeda dan berbahaya.

“Tuut… TUUKK!!” hembusan angin kencang menyambar tubuh istriku dan Lisa sementara aku menerjang tubuh Tiara tanpa ampun.

Sepersekian detik, aura itu menghilang dari tubuh gadis bernasib malang itu sebelum sempat kuterjang. Kami berempat bergulingan di tempat yang baru. Tempat yang sama sekali berbeda dengan wujud kamar Basri secara ghaib. Tempat ini lebih menguntungkan bagiku karena ini adalah daerah kekuasaanku!

Burung Enggang si Panglima Burung menyeret mereka berdua ke alam ini mewakiliku. Berguling-guling tubuh ketiga perempuan itu di hamparan rumput halus ini, semoga tak terluka. Bersamaan dengan itu, Panglima Burung lebih jauh menyeret keluar mahluk ghaib yang merasuki tubuh istriku lalu melemparnya ke seberang sungai kecil yang mengelilingi area hutan kecilku.

“Siapa kau dan apa hubunganmu dengan Mutee?” tanyaku di tepian sungai kecil berair jernih ini.

Hanya ada satu musuh yang kuhadapi kali ini. Entitas yang merasuki Tiara menghilang begitu saja sebelum sempat kuseret masuk ke daerah kekuasaanku ini hingga yang tersisa adalah satu yang telah dengan lancang merasuki istriku dan membuatku babak belur begini. Kuraup air jernih dari aliran sungan kecil ini untuk membasuh luka-luka bengkak di mukaku. Rasanya segar dan menyejukkan. Tapi mataku yang mengabur tak lepas dari sosoknya.

“Hi hi hihihihihi… Kamu berhasil melepasku… Hihihihi…” jeritnya kek lagi kesenangan begitu.

Padahal ini karena tipenya yang berupa kuntilanak. Hanya saja ini kuntilanak tingkat tinggi. Tingkat tertinggi mungkin karena predikatnya ada di kasta ratu para neng kunti. Kuntilanak berbusana hitam.

“Hi hi hihihihi… Kamu tentu tau aku siapa…” ujarnya yang menegaskan siapa dirinya.

Kuntilanak biasanya berpakaian putih-putih dan sangat jelas kelihatan kalo nongol di malam hari untuk menakut-nakutin orang. Seperti kuntilanak yang sudah kuhancurkan kepalanya, yang sudah digunakan Neneng untuk menyantet Aisa belum lama tadi di dekat toilet kampus.

Sangat berbeda dengan ratunya ini yang berpakaian gelap yang malah mengaburkan keberadaan eksistensinya saat beraksi. Predikat superior ratunya dengan jelas membuatku paham kenapa ia dengan mudah mengaburkan keberadaannya selama ini hingga aku tak dapat mendeteksi hadirnya.

“Mutee tak mengirimkan kuota energi murni yang dikumpulkannya dari manusia lagi?” tebakku.

“Nah itu kamu tau, Aseng… Hi hi hihihihihi…” ia berdiri tegak sekarang dengan lambaian pakaian hitam yang membungkus tubuhnya.

Ternyata Mutee bertindak sebagai double agent dalam kelompok Burong Tujoh versi Teuku Amareuk itu. Mutee punya pimpinan lain disamping sang Teuku.

“Sebagai salah satu supplier energi murni terbaikku… Mutee sangat memuaskan… Ia selalu mengirimkan energi murni yang selalu lezat tiap harinya… Lalu supply-nya terhenti… Jejaknya terhenti oleh energi murni milikmu sebagai yang terakhir… Itu sangat tidak menyenangkan kalau aku harus makan energi murni yang receh-receh saja…” ia menjilati kesepuluh ujung jarinya.

Wajah binal pucatnya terlihat sangat kesal.

“Dan penyebabnya tentu saja dirimu, Aseng… Sangat tidak elegan kalau saya sebagai ratu membiarkan ini semua lewat tanpa balasan…”

“Siapa Lord Purgatory-mu itu?” potongku gak sabar menunggu dia mengoceh terus.

“Akh-ah… Hi hi hihihihihihi… Itu ada dalam ranah rahasia dalam rahasia terbesar di dunia ini… Kamu tentu tau apa jawabanku kalau kamu menanyakan itu…” jawabnya masih berupaya binal yang saat ini sangat memuakkan bagiku.

“Kau lebih baik mati daripada membocorkannya?” tebakku. Itu semacam kode etik tak tertulis di kalangan para iblis.

“Eleh-eleh… Nah kamu tau jawabannya… Apa kamu tak tergoda untuk mencobanya? Mencoba kedahsyatan dan nikmatnya bergumul bersamaku… Bukankah kamu sangat menikmati saat bersama Mutee hingga istrimu mendapat imbas permanennya hingga sekarang… Berapa kali? Enam atau tujuh kali? Kalau tidak salah saya merasakan tujuh kali energi murnimu kucicipi…” ia tau kejadian itu semua.

“Dapat saya pastikan… diriku yang seorang ratu akan memberimu kenikmatan yang jauh lebiiiih dahsyat dari bawahanku itu!” bersamaan dengan itu menyingkap pakaian hitam-hitam yang dipakainya.

Pakaian ratu kuntilanak sangat berbeda kualitas dan levelnya dibanding dengan para kroconya. Pada level terendah mungkin sobek-sobek dan rombeng dan juga kotor karena kerja lapangan yang kasar dan keras.

Pakaian merah milik Mutee agak mendingan lebih rapi tak ada sobekan. Tapi milik ratu ini lebih elegan dan berkilauan. Ada taburan permata dan batu mulia lainnya disekujur busananya.

Apalagi tiara kecil di atas kepalanya. Ada sebuah permata berwarna merah berukuran besar yang pasti harganya sangat mahal di mahkota kecil itu.

Itu soal pakaian, lain lagi soal tubuhnya. Beuh! Super duper seksi, booook! Semua fitur maksimal seorang perempuan ada di tubuhnya. Teteknya, kulit mulusnya, pinggang dan pinggulnya, paha jenjangnya, bokongnya apalagi, dan pastinya vaginanya.

“Bagaimana? Tertarik tidak?” ia mengerling-ngerlingkan matanya dengan seksi. Ia jauh lebih seksi setelah memamerkan tubuhnya secara utuh.

“Penawaranku ini terbatas… hanya sampai hitungan ketiga…”

“Untuk apa menerima tawaranmu kalo ujung-ujungnya awak mati…” jawabku tegas menolak.

“Salah… Kamu akan kekal abadi menjadi budakku dan bisa menikmati tubuhku sepuas-puasnya… Tidakkah kamu membayangkan itu?” ia memeluk dirinya sendiri seolah sedang bercumbu denganku.

“… kita berdua tenggelam dalam lautan kenikmatan yang tak akan berakhir… Kekal sampai akhir zaman… Selama-lamanya… Mereguk madu-madu asmara ini berdua saja… Ahhh… Indahnya…” rayunya sambil meremas-remas payudara super jumbo-nya yang sangat menggoda mata tiap lelaki.

Kalo aku gak pake pikir panjang tentu saja aku sudah menerima tawarannya itu. Tetapi aku yang tau persis konsekuensi semua tawaran menggiurkan itu yang harus dibayar dengan kemerdekaan juga, pass deh… Lebih baik enggak.

“Awak harus jawab no…”

“A-aaa~~… Jawabannya enggak banget…” ia menghentak-hentakkan kakinya belagak imut-manja.

Alhasil payudara jumbo miliknya berguncangan dengan brutalnya. Lebih baik dikasi nama Tobrut ini ratu kuntilanak alias Toge brutal. Itu nama yang cocok.

“Aseng gak asik, ih… Padahal saya sudah membayangkan bersenang-senang denganmu sampai akhir zaman… Aku pengen membuktikan apa yang dirasakan Mutee waktu itu… Dia bersenang-senang denganmu… Saya bisa merasakannya…”

“Awak keburu membinasakannya…” potongku lagi. “Begitupun juga kau, Tobrut…” lirihku menggenggam gagang mandau Panglima Burung erat-erat.

Ia juga langsung bersiaga dan menutupi seluruh tubuhnya yang tadi sengaja dieksposnya padaku kini terlindungi pakaian hitam titel ratunya. Tangannya membentang dengan kuku-kuku tajam.

Aku merapalkan satu pagar pembatas dan menggores tanah di seberang aliran sungai yang menahan sang ratu kuntilanak yang kusebut sebagai Tobrut ini agar tak bisa menyeberang ke area hutan kecilku. Area hutan kecilku sebagai daerah aman dimana tubuh jiwa istriku, Lisa dan Tiara berada.

Aku langsung melompat menerjang ke arahnya bersenjatakan mandau dan bakiak andalanku ke seberang sungai kecil. Area terpisah dari hutan kecil terlindungku. Dan yang pertama kali kulakukan adalah satu jurus pamungkas milikku sebagai salam pembuka.

“GUGUR GLUGUR!” Tobrut menyilangkang tangannya yang terlindungi pakaian hitamnya untuk memblok Gugur Glugur-ku.

“BOOOMM!!” terjadi ledakan keras.

Aku melompat mundur, bersalto untuk mengurangi impact hantaman itu terhadap tubuhku sendiri. Tobrut juga tersurut mundur tetapi ia berhasil menyeimbangkan tubuhnya.

Ternyata Tobrut bukan ratu kaleng-kaleng. Tak sia-sia ia berpredikat sebagai ratu para kuntilanak yang dapat menahan serangan sedahsyat Gugur Glugur-ku. Kutenggarai, itu semua berkat pakaian hitam spesialnya ini. Pakaian khusus yang hanya dimiliki para ratu golongan kuntilanak yang berkekuatan dahsyat sebagai perlindungan dan pesonanya.

“Hi hi hihihihi… Seranganmu sangat dahsyat, Aseng… Perkenalanmu lumayan juga… Kita lihat mampukah kau menahan ini?” sebuah sinar blitz dari mulutnya sekejap kemudian menembakkan sinar thermal berkecepatan tinggi ke arahku.

“SWUUZZ!” Kelabakan aku melompat menghindari tembakan sinar mirip laser panas itu.

Itu kategorinya sudah ilmu sihir tingkat tinggi. Jarang sekali aku melihat kawan atopun lawan memakai jurus seperti ini. Untunglah pagar pelindung yang kurapalkan bisa melindungi garis yang sudah kubuat di depan sungai kecil ini. Sebuah dinding cahaya muncul transparan dan menapis semua serangan laser itu.

“Hi hi hihihihi… Dahsyat, kan? Katakan kalau kamu terkejut mendapat serangan seperti itu…” desaknya.

“Yaa… Aku terkejut… Jantungku hampir copot karenanya… Untung dinding pelindungku bisa menahannya… Kalo tidak hutan kecil kebanggaan di belakangku ini bisa hancur kau buat…” kataku jujur padanya.

“Hebaat… Kamu mau mengatakannya dengan jujur… Dan karenanya kau kuhadiahi dua anak buahku yang sama berbahayanya di kelas Mutee…” dari lubang kain lengannya meluncur dua mahluk kuntilanak merah.

Koreksi hanya rambut mereka yang berwarna merah karena keduanya tidak memakai pakaian sama sekali. Rambut panjang berwarna merah keduanyalah yang bertindak laksana baju yang hanya sekedar menutupi payudara menonjol itu.

Yang satu rambut panjang tergerai dan yang satunya mengikat rambutnya dijalin dengan rapi. Jadi aku bisa melihat payudara yang tersingkap dengan puting merah di kulit putih pucat mereka. Juga jembut samar berwarna merah di selangkangan kedua kuntilanak bawahan sang ratu Tobrut ini.

Tanpa tedeng aling-aling, keduanya langsung menyerangku bersamaan bak dua orang ninja yang bergerak cepat bahu membahu membantai musuh. Di sini kemampuan silat harimau Mandalo Rajo-ku yang biasa bergerak cepat sangat berguna. Tendangan, pukulan dan cakaran keduanya silih berganti mengancamku.

Aku berusaha menangkis semua serangan itu dan berusaha keras juga agar tidak terpengaruh oleh pemandangan indah yang mereka tawarkan dari tubuh telanjang mereka berdua. Jadi serangan mereka sebisa mungkin kutangkis dengan menggunakan sisi tajam mandau Panglima Burung dan kalo tak memungkinkan menggunakan bakiak Bulan Pencak.

Beradunya kuku tajam dan runcing kedua kuntilanak merah terkadang memercikkan api kala bersinggungan dengan mandau-ku. Gerakan ilmu silat kedua kuntilanak berbeda aliran tetapi bisa saling melengkapi satu sama lain.

Yang berambut merah terurai lebih sering menggunakan aliran silat yang cenderung menyerang bagian bawah tubuh, mengincar keseimbangan kaki. Yang berambut merah dikuncir sering menyerang bagian dada dan kepala lewat cakar dan pukulannya.

Sesekali ia mereka berdua juga berniat memerangkapku dengan teknik kuncian lalu disambung dengan serangan mematikan ke titik vital yang dengan gemilang bisa kuelakkan.

Saat dijepit oleh dua serangan sekaligus, sambaran serangan tembakan laser thermal terpancar lagi. Tunggang langgang aku mengelakkannya dengan menjatuhkan diri ke belakang. Kedua kuntilanak merah itu tau betul serangan ratu mereka dan dapat mengantisipasi serangan mendadak itu dari mengenai mereka dengan menyingkir pada waktunya. Mereka sengaja menghalangiku secara visual dari posisi ratu mereka yang bersiap menembakkan sinar thermal itu.

“Wahh… wahh… Licik…” gumamku kesal sembari menancapkan mandau Panglima Burung di tanah.

Tapi dengan begini aku jadi tau pola serangan mereka. Tembakan laser thermal itu juga tidak bisa ditembakkan semaunya. Ada jeda waktu untuk sang ratu Tobrut untuk nge-charge sinar thermal itu untuk terisi kembali.

Saat aku mengingat-ingat jarak waktunya agar tidak kecolongan lagi akan serangan mematikan itu, sebuah tendangan roundhouse mengincar kepalaku yang kuelakkan dengan bertumpu pada mandau yang kutusukkan ke tanah sekaligus menahan sapuan kaki si kuntilanak merah berambut terurai.

Terkadang pemandangan indah tak bisa terelak dari pandangan netraku misalnya karena tendangan roundhouse yang memutar lebar tinggi yang tak pelak menampakkan bagian kemaluan si kuntilanak yang tak tau malu berbugil ria mematuhi perintah ratunya dalam menyerangku.

Aku tau dasar-dasar ilmu bela diri yang digunakan kedua kuntilanak merah ini, terutama yang selalu mengincar bagian bawah tubuh karena sebagian besar inti serangan Mandalo Rajo juga menyasar bagian bawah lawan. Bila pondasi lawan sudah bisa ditaklukkan, bagian atas tubuhnya akan lebih mudah ditundukkan.

Aku melungsurkan tubuhku bahkan lebih rendah dari kuntilanak merah berambut terurai dan merapal satu bait pantun pertama, “Rajo nan di ateh… Puak takambang…” (Raja yang di atas. Kampung tersebar) Kakiku yang tak lagi memakai bakiak Bulan Pencak, segera membentur lututnya yang sedang menumpukan tubuhnya saat berusaha mengincar pinggangku.

Terkena benturan itu, ia terjengkang ke depan yang kemudian disambut oleh siku yang kuangkat mengarah ke lehernya. Telak mengenai bagian antara rahang dan lehernya hingga ia berguling ke samping.

“Maniti jalan ka luhak sabaleh… Parigi bapanuah kiambang…” (Meniti jalan ke dusun sebelas. Parigi penuh dengan kiambang/eceng gondok) Satu lawan yang berguling kesakitan ke arah rekannya yang fokus menyerang bagian atas tak kulepaskan begitu saja.

Sedapatnya, apa yang dapat kuraih—kucengkram kuat dengan tanganku yang bebas lalu kulemparkan tubuhnya. Aku telah mencengkram sebuah benda lunak kenyal ternyata. Badan kuntilanak berambut merah terurai itu membentur temannya. Keduanya berjibaku karena saling berbenturan. Tak selesai sampe situ seranganku tentu…

“Hyaaa!! Hyaaa!!” dua kali tebasan kulakukan dengan cepat menyusul tubuh keduanya yang bergulingan di tanah. Lalu aku langsung melompat menjauh!

“SWUUZZ!!” sinar laser thermal itu melesat cepat kembali dari mulut si ratu Tobrut.

Tapi aku sudah terlanjur paham ritme serangannya dan menghindar pada waktunya dan serangan mematikan itu malah telak mengenai kepala si kuntilanak merah berambut terurai itu.

Tebasanku sebelumnya berhasil melukai tangannya, membuatnya menjauh akibat kesakitan ke arah yang malah berujung ke kematiannya sendiri di tangan sang ratu. Kuntilanak rambut merah satunya hanya bisa melotot melihat rekannya tumbang dengan kepala berlubang terbakar, tembus dari satu sisi ke sisi lainnya akibat dahsyatnya tembakan laser thermal ratu junjungannya.

Tubuhnya berkelojotan sebentar lalu diam dan menghilang musnah. Si kuntilanak satunya hanya terpotong salah satu kunciran rambutnya. Kukutip potongan rambut itu dan menunjukkannya pada kuntilanak itu.

“Itu serangan ratumu sendiri… Jangan-jangan nasibmu sama nanti dengan temanmu itu…” provokasiku untuk memancing emosinya.

BERSAMBUNG

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22