The Baby Maker Part 2

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9

Cerita Sex Dewasa The Baby Maker Part 1 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya :The Baby Maker Part 1

Yang suka FR di Medan, pasti pada tau yang namanya Ard*na di jalan Krakatau Ujung. Penginapan ini tidak jauh dari simpang jalan Cemara. Kesana kubawa perempuan sesak beranak ini. Gak mahal kali kok. Apalagi bu Yuli yang bayar semuanya.

Dengan cepat kami sudah dapat kamar dan bu Yuli minta mandi dulu untuk membersihkan badannya. Terdengar jebar-jebur air dari kamar mandi sementara aku duduk aja di atas ranjang menunggunya. Sepatu dan kaus kaki sudah kubuka. Kuletakkan dengan rapi di dekat pintu. Hembusan AC membuat kamar menjadi sejuk. Tetapi tidak dengan kepalaku.

Kenapa rupanya? Udah pernah sama Aida. Kenapa gak sama bu Yuli? Udah dapat enak, dapat lima puluh jeti cash di tangan. Lima puluh jeti lagi menyusul kalau bunting dia. Lima puluh juta memang sudah diberikannya padaku di dalam sebuah amplop coklat yang kuletakkan di atas meja kecil di samping ranjang. Lembaran uang kartal merah itu harum walau haram. Aah.

Tak lama, ia keluar. Tubuhnya hanya dibalut handuk. Wangi sabun segar menyeruak sampai ke hidungku. Pakaiannya masih digantung di kamar mandi dan itu artinya dia tak pakai apa-apa lagi di balik handuk itu. Aseng junior menggeliat mengingat itu.

“Papa Rio gak mau mandi juga?” tawarnya.

Mandi bisa jadi pengulur waktu untuk memantapkan hatiku. Tapi kenapa harus, perempuan bersuami ini saja tidak ragu dengan keputusannya. Nothing to lose sebenarnya. Walau ia tidak bisa hamil-pun lima puluh jeti tetap menjadi milikku. Begitu perjanjiannya. Udah kek laki-laki bayaran aku.

“Gak usah, bu… Langsung aja biar cepat…” jawabku mantap lalu bangkit dan membuka kancing kemejaku. Bu Yuli gantian duduk di ranjang menungguku. Diperhatikannya tubuhku yang mulai bertelanjang dada. Ia tersenyum bangga.

“Kenapa, bu?”

“Saya belum pernah dengan laki-laki seputih Papa Rio… Tiga lakik saya pada item semua… Burungnya pun item… Papa Rio burungnya item juga gak?” tanyanya nakal. Ini bukan burung, namanya Aseng junior. Coba liat ini. Nilai sendiri…

“Item gak, bu?” begitu celana panjang dan sempakku lepas dari kakiku. Aseng junior sudah menegang setengah penuh. Menjuntai-juntai manja. A-hai!

“Putih juga… Gede…” katanya masih nakal tapi tersipu nanar menatap rakus pada Aseng junior-ku.

Dengan lambaian kecil ia memanggilku mendekat yang sedang menggantung semua pakaianku di balik pintu. Karena merasa dibayar, aku patuh dan mendekatinya. Agak ragu ia menyentuhku karena pandangannya bergantian menatap wajahku dan pucuk memerah Aseng junior.

“Saya boleh panggil Papa Rio… bang Aseng aja? Walau saya lebih tua dari Papa Rio… tapi di tempat tidur lebih enakan manggil abang…” katanya minta ini.

Gak aneh sih.

“Sebagai gantinya panggil aja saya Yuli gitu…”

“Boleh sih… Gak masalah… Ahh… Enak, Yul…” jawabku dan tangannya mulai menyentuh Aseng junior.

Tubuh telanjangku bergetar geli oleh sentuhan pertamanya. Perempuan ini bukan pemain baru dalam hubungan seks, terbukti suaminya sudah tiga. Hanya saja dia belum beruntung sampai dikaruniai anak.

Yang pertama dipegangnya adalah dasar Aseng junior, bagian kantung zakar. Diremas-remas lembut kantung dengan dua bola penghasil semua bibit suburku. Diremasnya dengan tangan kiri sambil menatapku yang keenakan.

Lalu tangan kanannya mulai bermain. Dikocoknya pelan batang Aseng junior. Kedua tangannya lumayan cekatan melakukan ini semua. Dengan cepat Aseng junior menggeliat ke ukuran maksimalnya. Yuli mulai memainkan lidahnya. Dijilatinya bibirnya sendiri hingga basah. Dikumpulkannya ludah lalu diteteskannya ke Aseng junior hingga kuyup. Dingin bercampur panas.

Kocokan tangan Yuli menjadi licin dengan tambahan ludah begini.

“Kclok-kclok!” berulang-ulang.

Ia terus memancing birahiku dengan membasahi bibirnya dengan lidah. Belahan dadanya yang tertutup handuk yang sebenarnya kulihat dari tadi. Menggunung besar kedua bemper yang sudah berulang kali menabrak punggungku. Aku jadi penasaran ingin melihatnya tanpa penutup segera.

“Mau liat, bang Aseng?” paham pandangan mataku ia menawarkan bemper depannya. Aku mengangguk.

Dengan mudah ia melepas tautan ujung handuknya yang terselip menutupi tubuhnya. JREENG! Bergoyang-goyang kedua gunung kembar itu terbebas dari jepitan handuk. Boing-boing! Memang sangat besar ternyata. Aseng junior semakin menggila meradang.

“Besar ya, bang Aseng… Ukurannya 38DD…” jelasnya tanpa diminta.

Mak! Gede amat! Memaksimal kesempurnaan anugrah yang kudapatkan. Diremas-remasnya kedua gunung kembar itu sendiri. Dipilinnya puting besar itu sambil terus memandangiku dengan lidah yang menyapu bibir basah.

“Dijepit disini enak kali, ya?” katanya menggapaikan kedua gunung kembar itu menjepit Aseng junior yang berkedut-kedut minta perhatian kembali.

“Ehmm…” Gilaaaaaa! Aseng junior meronta keenakan.

Gunung kembar itu menjepit Aseng junior di antara lembahnya. Panas dan licin berkat sisa cairan ludah tadi. Dikepit lalu digoyang-goyang naik turun mengocok Aseng junior-ku.

“Enak, bang?” tanya Yuli nakal.

Gak perlu ditanya pasti joss ini. Aku ikut menggoyang pinggangku seolah sedang memperkosa gunung kembar itu. Ditambahnya ludah kembali untuk melumasi gesekan Aseng junior di belahan tetek itu. Rasanya enak kali. Kulit halus serta tekstur kenyal dan lembut gunung kembar ini melenakan birahiku.

Ditambah lagi ini, tiap kepala Aseng junior meronta keluar abis kelelep di antara dua gunung itu, dicaplok masuk ke dalam mulutnya. Disambut dengan sapuan lidah yang basah dan sedikit sedotan. Gila-gilaaa! Bisa-bisa bentar lagi aku ngecrot nih.

“Udah, Yul… Udah… Nanti aku keluar…” kataku sebenarnya gak rela melepas Aseng junior lepas dari jepitan gunung kembar itu.

Aseng junior basah kuyup dan berkedut nanggung. Yuli tersenyum manis berkat dua gingsul itu. Disibakkannya sisa handuk yang masih menutupi bagian bawah tubuhnya. Ia beringsut mundur hingga ia ada di tengah ranjang. Perutnya sedikit buncit dan berlipat sesuai dengan tubuh semoknya. Apalagi segitiga di antara pangkal pahanya rimbun tetapi rapi. Jelas ia merawat serius bagian ini.

“Gantian yah, bang Aseng…” begitu ia membuka lebar kakinya.

Jari telunjuk kanannya dibasahi lalu menggosok klentitnya dengan nakal. Berikutnya melebarkan bibir kemaluannya yang ditumbuhi lebatnya jembut pendek. Wah… Indah kali. Basah dan menggairahkan dengan warna kemerahan tanda sudah bergairah tinggi. Lubang gelap sempit di atas lubang anusnya memanggilku untuk memasukkan, membenamkan, melesakkan Aseng junior.

Aku merangkak naik ke ranjang tapi lamat-lamat kudengar suara asing yang menggetarkan bulu kuduk. Kimbek-lah (kimbek variasi lain dari kimak, makian khas orang Medan)

Bakiak Bulan Pencak kembali menjadi andalanku. Begitu aku menjejakkan kakiku pada sepasang bakiak merah ini, tubuh telanjangku berpindah alam ke suatu tempat yang menyeramkan lagi asing. Hutan bambu. Angin tak wajar berhembus laksana dengus binatang buas. Menelisip melewati untaian daun-daun bambu yang tumbuh bergerumbul setempuk demi setumpuk dan menjulang tinggi membisiki awan. Aroma busuk sesuatu mirip bangkai binatang sangat menusuk hidung di tempat ini. Tempat kekuasaan sang durjana ini.

Ternyata ada sesuatu yang mengikuti permasalahan ribet keluarga bu Yuli ini. Jumlahnya tidak sedikit karena ini mirip kawanan yang beranak pinak di kegelapan hutan bambu. Memangsa apapun yang masuk atau diumpankan.

Dan kini aku terkepung dalam keadaan yang sangat menyedihkan. Telanjang bulat. Kondisi yang sangat memalukan kalau harus terlibat dalam suatu pertarungan karena lawan akan mudah mengeksploitasi terbukanya tubuhku. Menghantam kantong menyan-ku sebagai contoh mudah. Semaput, kan?

Geram banyak mahluk mistis kemudian semakin jelas terdengar mengepungku. Muncul dari balik gerumbul rumpun bambu yang lebat di sekelilingku. Desau angin juga semakin mengkhawatirkan.

Suara tipis dan tajam silih berganti menggesek dawai jiwa yang semakin kalut. Aku tanpa persiapan kali ini. Untung saja masih ada bakiak Bulan Pencak yang selalu bersamaku. Tapi tanpa keempat pisau daunku, ini pasti merepotkan.

Mahluk-mahluk begini biasanya adalah mahluk suruhan dari orang yang berilmu tinggi. Apalagi jumlahnya ada banyak. Perlu usaha yang sangat kuat dan tingkatan ilmu yang luar biasa untuk bisa menguasai mereka. Mahluk buas ini patuh bila sudah dipenuhi semua kebutuhannya. Mereka loyal dan juga teritorial. Loyal pada penguasanya dan teritorial sehingga menjaga betul daerah kekuasaannya.

Tapi aku tak menemukan si penguasa itu, setidaknya aku tak mendeteksi keberadaannya. Apakah ia membiarkan saja para mahluk buas ini menjaga tempat ini, hanya memakai mereka jika diperlukan? Sehingga aku yang tiba-tiba masuk kemari akan langsung berhadapan dengan para mahluk ini tanpa perlu ikut campur sang penguasa.

Tetap saja aku akan repot. Moncong mahluk itu mulai tersembul keluar dari gerumbul rumpun bambu. Jenis ini ternyata, seperti yang kuduga. Anjing hutan. Mahluk yang merepotkan kalau sudah main keroyokan karena disana nilai plus mereka. Koordinasi serang dan bertahan mereka sangat baik. Mereka rela menjadi umpan sementara yang lain membokong mangsa, teralih pada yang dibelakang sang umpan balik menyerang.

Bantuan adalah satu-satunya jalan. Fitur ‘call a friend’ harus kulakukan. Kok kek kuis di TV itu? Manggil teman? Memang manggil teman. Secara ajaib satu sosok teman yang kupanggil muncul di sebelah kiriku setelah kupanggil nama lengkapnya. Pandapotan Samuel Hutagalung anak Efraim Mangatas Hutagalung.

“Apa, Seng?” katanya masih bingung karena kupanggil tiba-tiba begini.

“Ish jijik kali nengok kau telanjang gitu! Tutup-lah dulu itu! Kalok kau cewek gak pa-pa-lah… Ini sama-sama cap lonceng-nya kita…” muak temanku yang kerap dipanggil Kojek. Ia geli melihatku yang berdiri telanjang di hutan bambu ini.

“Terpaksa aku, Jek… Kalok gak terpaksa gak kupanggil-nya kau…” kataku menutupi Aseng junior-ku yang gondal-gandul.

“Ya udah kenapa kau? Siang-siang bolong gini-pun maen kek gini… Kek gak ada kerjaan aja kau? Gak kerja rupanya kau?” katanya paham setelah memperhatikan sekelilingnya. Ia sudah melihat beberapa ekor mahluk buas berbentuk anjing hutan itu.

“Kau carikan celana sama daun untukku… Nanti kau balik lagi… Tapi yang cepat ya?” kataku minta bantuan padanya. Yang penting aku pakai celana dulu. Daun prioritas kedua.

“Iya-lah… Daun ganja mau kau?” tanyanya masih sempat bercanda.

“Ada punyamu?” siapa tau beneran ada.

“Daun ubi (singkong/ketela)… Sama-sama lima jari… Ha-ha-ha…” tawanya lepas seperti biasa.

“Kimak!” makiku seiring ia menghilang kembali mencarikan pesananku.

Para pengepungku, kumpulan anjing hutan semakin rapat mengelilingiku. Kalau dihitung kasar ada sekitar 20-an ekor. Banyak kali! Tapi aku tidak boleh menunjukkan gelagat ketakutan.

Mereka akan semakin bringas kalau tau mangsanya takut. Aku berdiri dengan kuda-kuda terbaikku walau tanpa sehelai benang-pun menempel di tubuh. Tapi kami setara, seperti pertarungan hidup dan mati di alam liar.

Aku menunduk dan mengambil kedua bakiak itu yang akan kupakai sebagai alat pukul. Akan langsung kupakai jurus pamungkas andalanku sebagai salam pembuka.

“GUGUR GLUGUR!”

BOOM!

Ledakan dahsyat terjadi saat jurus pamungkas itu menghantam tanah gelap ini. Gelombang kejutnya menerpa luas sampai melengkungkan batang-batang bambu yang menjulang tinggi. Beberapa anjing hutan yang di lingkaran terdepan terlempar tak ayal lagi. Membentur teman-temannya yang di belakang atau tersangkut di batang bambu. Kukejar anjing hutan terdekat dan kuhantam kepalanya dengan bakiak Bulan Pencak sampai terpelanting jauh.

Satu-dua anjing hutan kaing-kaing mengeluh kesakitan kuhajar kepalanya dengan bakiak merah ini. Tapi teman-temannya mengejarku dari belakang. Ayunan bakiak-ku gagal menghantam sasaran baru karena mereka gesit menghindar dan dari arah lain ada serangan baru.

Sekali dua kali aku berhasil mengenai kawanan anjing hutan buas ini. Tapi mereka balik lagi dengan bengisnya. Mata kuning mereka berkilat-kilat dengan kebuasan mahluk malam.

Dan saat aku mulai terdesak, hembusan angin datang mengusir para mahlus buas itu.

“Ah… Lama kali kau datang? Udah ampir koyak pelerku dicakar anjing-anjing ni…” kataku senang temanku ini datang lagi sebenarnya.

“Sori-lah, lae-ku… Aku tadi lagi ngasih makan babiku… Tah ngapain kau siang-siang maen kek gini… Ini kau pakek ini aja-lah biar cepat…” pungkasnya menyerahkan sehelai sarung padaku. Lumayanlah untuk nutupi Aseng junior yang gondal-gandul dari tadi. Kupakai cepat-cepat.

“Daun itu yang ko bawak?” gak abis pikir kulihat apa yang dibawanya.

“Kan dah kubilang tadi aku lagi ngasih makan pinahan-ku (peliharaan)… Daun pisang ini harusnya jadi alas makanan babiku… Bisa kali ini kan?” kata Kojek menyerahkan sehelai atau sebatang daun pisang. Kayaknya ini daun pisang kepok atau malah daun pisang batu. Daunnya lebar berwarna hijau tua. Daun yang sangat prima kalau dijadikan senjata.

“Memang-lah kau, Jek… Bagus kali pilihanmu… Lae-ku ini paling paten-lah… Gak akan kukubur kau kalau belom mati…” jawabku menerima daun yang dibawanya.

“Kimak, kau!” balasnya.

“Ya udahlah… Kau mau kubantu bentar, gak? Biar agak terang dikit tempat ini kubikin…” katanya.

“Ish… Boleh kali-lah…” setujuku.

Kojek mengeluarkan alat-alat perang miliknya. Tabung gas kecil yang sebesar termos air panas berwarna perak dengan banyak tempelan stiker nemplok di punggungnya seperti ransel. Juga sebuah topeng gas dengan selang panjang hanya disampirkan di atas kepalanya.

Kojek mengarahkan selang yang berasal dari tabung itu ke segala arah menyemburkan gas yang terkandung di dalamnya. Ada bau busuk yang tiba-tiba menyeruak. Gas ini cukup misterius cara kerjanya. Ia menyebar cepat mengikuti oksigen, karbon dioksida dan nitrogen yang ada di udara.

“Fire in the hole!” seru Kojek melentingkan sebatang korek api kayu yang sudah menyala. Jesss. Api sekecil ini saja akan memicu ledakan setara ini. Api bertemu gas peledak.

DHHHAARR!!!

Ledakan dahsyat membahana dengan kobaran api yang luar biasa panas sontak menerangi tempat gelap ini. Dalam hal ledakan, kekuatan andalan Kojek bahkan jauh lebih luar biasa dari pada jurus andalanku Gugur Glugur.

Aku jarang kali melihat serangan ini gagal mengalahkan musuh kami. Minusnya kekuatan ini hanya repot dalam menyiapkannya saja. Tetapi kalau sudah tersudut, biasanya ini menjadi penyelamat kami.

“Adios amigo, lae… Awak pergi dulu…” kata Kojek setelah tugasnya selesai. Ia menghilang.

Hutan bambu sudah tidak ada lagi. Yang ada hanya kekosongan hampa yang terang-gemilang tiba-tiba. Aku tidak heran dengan keadaan ini. Aku sudah beberapa kali menyaksikan efek ini setelah ledakan yang disebabkan Kojek. Hanya tanah kosong yang datar saja. Aku hanya perlu menunggu penguasa tempat ini muncul.

Sebuah tumpukan abu bambu tak jauh dari tempatku bergerak-gerak dan dari sana ia muncul. Ia meluapkan sumpah serapah. Segala macam penghuni kos-kosan campur kebun binatang diabsennya satu-satu.

“Aih… Betul kata si Kojek… Jijik kali rupanya nengok punai (belalai) orang lain…” kataku mengalihkan pandanganku karena ternyata orang itu juga tak berpakaian. Ada luka bakar di tubuhnya akibat ledakan tadi. Kemungkinan besar ia melepas paksa pakaiannya yang terbakar hingga ia jadi bugil seperti ini.

“KAU! KURANG AJAR!!” murka bukan main orang itu karena daerah kekuasaannya sudah hancur. Dari tumpukan-tumpukan abu bambu melompat sekitar 6 ekor anjing hutan yang masih bertahan walau dalam keadaan yang tak utuh.

“Wak Bugil kenal Cloud Strife? Ini minjam Buster Sword-nya…” kataku tak mengharapkan ia paham apa yang kukatakan. Aku hanya akan memamerkan pedang besar yang terbuat dari daun pisang lebar ini menjadi pedang Selatan-ku.

Kalau kamu-kamu pernah main Final Fantasy VII, pasti tau pedang besar yang dipakai tokoh protagonis game itu. Kusabetkan berputar pedang besar itu dan membelah mudah tubuh keenam anjing hutan yang akan menerjangku hingga tercerai-berai.

Syok wajah wak Bugil melihat serangannya barusan gagal total. Giginya gemeletuk geram. Tubuhnya bergetar. Tubuh gosongnya berasap hitam.

“Sengkolo apapun yang kau tanam pada bu Yuli ini… CABUT SEKARANG JUGA!!” desakku dan menunjuknya dengan pedang panjang ini.

“Tidak mau! Kau boleh memaksaku! Aku tidak TAKUUT!!” hardiknya meradang. Padahal kondisinya sudah begitu payah tapi harga dirinya sebagai orang sakti menahannya dari mengaku kalah. Begitulah kalau sudah berkubang dalam lubang nista ini. Hanya kematian jalan terakhirnya. Kematiannya sendiri.

Sebilah keris panjang di tangan kanan dan tongkat kayu di kanan kiri menjadi senjatanya. Ia meradang maju tanpa pikir panjang. Kusambut Wak Bugil mesum ini dengan kuda-kuda di atas pijakan bakiak Bulan Pencak. Pedang Selatan kutarik kebelakang untuk putaran tebasan lebar. Saat ia sudah dalam jangkauan, dengan cepat kukibaskan. SWASS!!

Sepasang senjatanya patah dua, berikut luka memanjang di dada. Luka dalam menganga. Ia lalu terjengkang rubuh dengan semburan asap hitam dari bekas luka itu. Semua kejahatan yang sudah pernah dilakukannya lepas kembali. Jadi ilmu hitam apapun yang pernah dilakukannya pada bu Yuli atau orang lain sekarang sudah hilang sirna.

Jadi rupanya ini adalah guna-guna lama yang melekat pada suami ketiga Yuli atas suruhan saudaranya sendiri. Biasa ya, rebutan harta. Kalau dia tidak punya keturunan, cepat atau lambat semua kekayaannya akan berpindah padanya atau keturunannya. Gila harta dan kekuasaan memang selalu menjadi akar dari banyak kejahatan yang terjadi di muka bumi ini.

Tempat ini menghilang dan berganti kembali menjadi kamar penginapan Ard*na kembali. Di hadapanku Yuli masih sedang bergolek mengangkang memamerkan belahan merah segitiga berambut lebat pendek itu. Lembab. Mengundangku untuk menjilatinya.

***

“Uhh…” erang Yuli begitu lidahku menyapu belahan merah itu.

Kuulangi lagi sapuan lidahku berulang-ulang. Rasanya asin campur-campur sama bau sabun mandi tadi. Ia banyak menggosok kemaluannya dengan sabun saat mandi tadi. Tanganku menahan sekaligus mengelus paha gempalnya yang padat. Kulit mulusnya kuelus gemas seiring permainan lidahku yang juga gemas. Jariku tak sabar menusuk masuk liang kawinnya dan lidahku mempermainkan itilnya.

Tak kurang Yuli menjerit-jerit erotis karena permainanku. Tak perlu ragu bersuara keras di sini karena kanan-kiri kamar ini juga pastinya sedang indehoi juga siang-siang bolong begini penghuninya. Aseng junior-ku sudah meradang pengen segera masuk ke liang kawin Yuli yang sudah menunggu.

Benar juga, tak lama Yuli mencapai big-O-nya. Tubuhnya bergetar pelan dan kakinya menegang. Jariku seolah diperas-peras oleh liang kawinnya. Gimana kalau Aseng junior yang diperas di dalam sana. Bisa langsung ngecrot kau, Seng! Kugosok jariku sebentar di belahan itu kembali lalu aku beranjak naik.

Yuli yang berbaring mengangkang pasrah masih lemas. Yang kutuju adalah gunung setinggi 38DD itu. Ia kembali melenguh keenakan saat puncak gunungnya kutancapkan lidahku. Menandai daerah kekuasaanku dengan ludahku dan mengeruk kenikmatan dari putingnya yang menegang kaku.

Aseng junior sudah kugesek-gesekkan di belahan pintu surga Yuli. Lembab dan mudah sekali kepala botak Aseng junior masuk menyelinap. Bak maling kelas kakap ia menerobos masuk tanpa bisa dihalangi lagi.

“Ooaahh…” desah Yuli merasakan Aseng junior-ku menerobos masuk. Urat-urat tegang di sekujur tubuh Aseng junior menggaruk dinding licin liang kawin Yuli. Terasa sekali jepitannya.

“Dalam bang Aseng… uhh…” pujinya.

“Bang Aseng pinter…” naik kupingku terus dipuji begitu. Apa lakikmu pada paok semua sampe aku dibilang pinter?

Kubiarkan Aseng junior terbenam dalam di sarung barunya sementara aku terus fokus mempermainkan kedua 38DD itu dengan intens. Aku gemas sekali dengan ukurannya sampai-sampai Yuli meremas rambutku keenakan.

Aseng junior mendapat remasan juga di dalam liang kawin Yuli. Aku juga membalas dengan mengedutkan batang Aseng junior. Yuli memeluk kepalaku karenanya beserta apitan kaki gempalnya di pinggangku. Alhasil Aseng junior makin terbenam dalam. Sesak nafasku mendapat pelukan erat perempuan semok ini. Tubuhku seperti luruh dalam dekapannya.

Hanya lidahku yang bisa bergerak menyentil-nyentil puting susunya dan tetiba tubuhnya bergetar lagi. Alamak! Aseng junior dipulas kencang di dalam liang kawin Yuli. Rasanya alamakjang. Kek di awang-awang rasanya. Walopun gak bisa gerak sedikitpun. Walaupun Aseng junior belum ada mompa sekalipun, perempuan ini udah dapat orgasme lagi.

Ambyar lemas Yuli seperti elang yang sedang membentangkan sayap dan kaki. Lunglai tak berdaya. Kucabut Aseng junior dari dalam liang penyiksaannya. Tubuhnya merah berkilat-kilat keabisan oksigen. Kelamaan kelelep kali ya? Kalo udah begini, tubuh Yuli udah bisa diapa-apain aja sesuka hati.

Kubentuk arah tubuhnya jadi menyamping lalu kucoblos walau agak sulit menyelipkan Aseng junior masuk ke dalam sana. Jepitannya sungguh terasa. Paha gempal dan pantatnya yang bahenol kuremas-remas kala kugenjot Aseng junior pelan-pelan. Alamak… Enak kali binik orang ini.

Kusedot kembali satu 38DD yang bisa kujangkau di posisi menyamping ini. Ia merintih-rintih keenakan dari berbagai sumber rangsangan sekaligus. Aseng junior merangsek pelan dan lidahku bermain pentil. Kala aku sudah gak kuat lagi menahan rasa pengen ngecrot itu, kuhentikan gerakanku dan kucabut cepat. Berkedut-kedut Aseng junior penasaran dah pengen ngecrot aja. Sabar, Seng.

Kukembalikan tubuh Yuli ke posisi awal tadi dan kujilat liang kawinnya sebagai pengalih perhatianku agar Aseng junior istirahat sebentar. Puas bermain-main dengan pintu surga itu pake lidah dan Aseng junior sudah pulih kembali, kusodok masuk lagi. Yuli melenguh keenakan sampai melengkungkan tubuh semoknya.

Aku tau trik memperlama waktu bercinta ini tentunya dari pengalaman. Sebagai pria yang tau diri dengan kemampuan harus pandai-pandai memainkan tempo tentunya. Enjot-enjot-jeda, enjot-enjot lagi-jeda kalo dah terasa mau finish. Pasti pada kelimpungan tuh para cewek.

Kembali Yuli dapat puncak kenikmatan itu lagi dan lagi-lagi Aseng junior menjadi korban pulasan maut itu. Diremet-remet kayak lemet dia di dalam liang kawin enak ini. Cepat-cepat kucabut karena aku harus membuat jeda lagi. Menang banyak kau, Seng.

Kali ini sepasang 38DD itu menjadi alat pengalih perhatianku. Kupuas-puaskan bermain dengan gunung kembar itu sementara Aseng junior hanya parkir diatas ladang jembut. Hanya sekedar goyang-goyang dikit aja menggesek pelerku dengan itil Yuli yang mencuat menegang. Sudah terasa cukup, kubenam lagi dalam-dalam dan genjot.

“Bhang Ashhenng… Bhuntingi Yuulii, bhaang… bhuntingi… uuhh…” itu terus ucapannya berulang-ulang.

Mata kami saling pandang kala aku menyedot pentil susunya dan Aseng junior menggenjot liang kawinnya. Ia sudah pengen merasakan hangatnya bibit-bibitku menyirami ladang rahimnya yang selama ini kering. Kakinya mengangkang lebar, pasrah dengan semua kegiatanku di atas tubuhnya. Bebas aku menyemproti rahimnya sesukanya. Perlahan kupercepat. Pelan-pelan naik tempo genjotanku.

“Clok-clok-clok!” Aseng junior terus bekerja keras. Terasa sangat panas karena sudah kutunda berkali-kali dan ia sudah tak sabar pengen ngecrot.

“Aaahhh…” kusembunyikan mukaku di lehernya kala kubenamkan kuat-kuat Aseng junior yang menyemburkan isi cairan kental serupa ingus itu.

Berkejat-kejat tubuhku karena rasa nikmat yang menyetrum seluruh tubuhku. Hasilnya tubuhku terasa ringan dan lelah seketika. Beberapa kali semburan kencang membanjiri rahim Yuli. Semoga membuahi sel telur yang ada di dalam sana di masa suburnya ini. Ah… Nikmat kali-lah binik orang ini…

***

Jam 2 siang kami keluar dari penginapan Ard*na dan pulang. Aku harus kembali balik ke kantor karena aku permisi cuma beberapa jam aja. Sebenarnya cuma setor muka aja ke Personalia, kerja bentar kek biasa trus pulang.

Cuma sekali aku ngecrot ke Yuli siang itu karena keterbatasan waktu. Tapi malamnya aku menyambangi rumah tetanggaku itu. Sebenarnya cukup riskan keadaan ini karena rumahnya tepat di samping rumahku. Tapi kalau udah Aseng junior yang bicara, lupa segala-galanya. Ha-ha-ha. Hidup Aseng junior!

Jam 11 malam aku masuk lewat pintu belakang yang tidak dikunci Yuli. Istri dan kedua anakku sudah terlelap dari jam 9 malam tadi. Begitu juga dengan anak Yuli, Mimi. Ia mengarahkanku ke kamar kosong yang sudah dialih fungsikan menjadi gudang sementara karena rumah dua kamar ini hanya satu yang dipakai menjadi kamar. Walau begitu, ia sudah menyiapkan kasur kapuk di lantai tempat bergumul kami nanti.

“Kretanya udah datang?” bisikku tentang motor pesanannya.

“Udah… tuh…” tunjuknya pada motor matik di dekat pintu depan sembari memelukku dan mengarahkanku masuk ke kamar.

“Udah running (test drive, inreyen) belom?” kataku masih berbisik.

“Tadi, kan udah…” jawabnya sambil meremas Aseng junior di bawah.

“Yang ini memang udah di running… kretanya, loh?” kataku mencolek 38DD.

“Hi-hi-hi…” dia bisanya cuma tertawa genit membiarkanku meremas gunung setinggi 38DD itu sesuka hatiku karena ia juga sedang asik dengan Aseng junior dan mengarahkanku duduk di atas kasur di lantai.

Tanpa sungkan ia melepaskan celana longgar selututku sekaligus sempaknya. Aseng junior langsung mengangguk-angguk tanda setuju.

“Yuli masih ingat, kan dengan syaratku waktu di rumah makan tadi siang?” tanyaku ngetes ingatannya. Takutnya perempuan ini terbawa arus dan menikmati hubungan tak sah ini lalu mengharapkan yang lebih dari seharusnya.

“Paham loh, bang…” bu Yuli lalu mengulangi perjanjian yang kutawarkan padanya seperti juga yang pernah kutawarkan pada Aida beberapa waktu lalu.

“Pertama… Karena ada uang yang berperan disini jadi dapat dikategorikan bisnis… Bisnis tidak bisa mengikutkan perasaan… Jadi ini semua murni bisnis yang saling menguntungkan… Bu Yuli dapat anak… saya dapat uang sebagai balas jasa saya… Paham, kan?” bu Yuli langsung mengangguk membenarkan.

“Jadi di luar bisnis ini kita tetap seperti tetangga biasa aja yang selama ini berjiran…” Ini mengenai hubungan.

“Kedua… Bisnis ini hanya ada kita berdua saja sebagai pihak pertama (bu Yuli) dan pihak kedua (saya)… Jadi tidak ada pihak lain kecuali dua pihak ini yang berhak tau mengenai bisnis ini dan dua pihak ini juga tidak berhak membicarakannya kepada pihak lain… Sampai disini paham ya?” ia langsung mengangguk juga tanda mengerti semuanya.

“Intinya ini hanya rahasia kita berdua saja…” ini mengenai kepercayaan.

“Ketiga… yang terpenting… Jika nantinya bu Yuli ternyata benar hamil… ia adalah anak dari suami bu Yuli… Saya tekankan itu… Anak dari suami ibu Yuli… bukan anak orang lain… Yang akan mendapat semua yang seharusnya semua anak dapatkan dari orang tuanya…” aku harus menekankan hal yang menurutku paling penting. Ia paham dan mengangguk.

“Jangan pikirkan dari mana asalnya… Tiga saja… kalau ibu Yuli setuju kita salaman…” ini mengenai masa depan.

Kami berdua bersalaman yang menyegel kesepakatan kami tentang bisnis ini. Tanpa hitam di atas putih, tanpa materai, tanpa saksi. Sebuah jabat tangan menjadi segelnya. Bu Yuli yakin dengan semua kesepakatan kami. Aku tidak asing dengan segala macam kata sepakat, segel dan sumpah seperti ini.

Karenanya aku dengan teliti memakai kata-kata yang sengaja kupilih cermat agar tidak salah langkah. Di dalam perjanjian kami ini ada janji suci yang tidak bisa dilanggar. Tentu akan ada konsekuensinya bila dilanggar.

Bu Yuli ingat semua itu pertanda sangat serius dalam kesepakatan ini. Semua kata-kataku terpatri dalam di benaknya. Bagus kalau begitu. Perjanjianku dengannya berhasil.

Pembaca tentunya juga sangat penasaran dengan beberapa hal di dalam kisah ini, kan? Seperti apa yang terjadi kok tiba-tiba aku masuk ke alam lain dan bertarung dengan musuh-musuh supranatural di dua kisah ini. Dukun kimak dan wak Bugil adalah dua contoh musuh yang sudah kuhadapi di kisah ini.

Pertarungan tidak dilakukan secara fisik dan waktu. Misal ada luka yang didapat, tubuh materil pelaku tidak akan terluka sebenarnya tetapi jiwanya yang terkena. Tidak ada restriksi waktu di pertarungan yang artinya batasan waktu tidak kami alami sama sekali. Semua itu bisa berlangsung hanya sekelebatan sayap lalat saja. Sangat cepat. Hampir tidak ada jeda.

Ini adalah pertarungan antar Menggala di alam metafisis. Sebenarnya kami bisa saja bertarung di kehidupan nyata tapi itu akan sangat beresiko ketahuan masyarakat luas dan cenderung akan merusak lingkungan.

Bayangkan apa yang akan terjadi bila di kehidupan nyata dua pocong berwajah hitam itu muncul di jalanan atau juga puluhan anjing hutan yang mengeroyokku di hutan bambu. Bayangkan juga ledakan dahsyat yang membakar hutan bambu dan tebasan luka menganga di dada wak Bugil.

Akan ada kehebohan yang tak perlu terjadi di masyarakat. Bisa-bisa viral tiap hari pertarungan antar Menggala ini di medsos karena kemustahilannya. Para pendekar Menggala biasanya hidup normal seperti warga masyarakat kebanyakan.

Kalau ada yang nyeleneh biasanya memang eksklusif menjadi dukun, paranormal atau semacamnya. Dua orang sakti yang sudah kuhadapi di atas contohnya. Mereka memanfaatkan kekuatan Menggala mereka untuk tujuan tertentu. Tentunya keuntungan materil dan moril tentunya.

Bertarung di tempat umum atau alam nyata sangat beresiko bagi pendekar Menggala. Karena ini akan mengekspos media ke-Menggala-an kami. Seperti ada konsensus tak tertulis kalau para Menggala akan menyembunyikan keberadaannya. Kini kita akan membahas lebih dalam tentang Menggala.

~0~0~0~

Definisi Menggala.
Menggala secara harafiah adalah seseorang atau pengguna yang memanfaatkan kekuatan dari luar tubuhnya sendiri. Kekuatan yang berasal dari pihak lain tersebut digunakan dalam pertarungan atau bela diri untuk serangan atau pertahanan atau juga peningkatan status. Misalnya sepasang pocong muka hitam yang digunakan dukun kimak itu untuk mengguna-gunai Agus dan Aida, memakan semua sperma yang seharusnya bisa membuahi sel telur. Juga bisa dipakai dalam bertarung dalam perkelahian. Kemampuannya terbang melayang dengan bebas dan menghantam lawan menjadi andalan dukun kimak itu.

Kategori Menggala.
Secara pembagian jenis, penggunaan pocong muka hitam sebagai kekuatan dari luar tubuh penggunanya dikategorikan sebagai Menggala Suba. Ada tiga jenis Menggala berdasarkan jenis sumber kekuatan yang digunakan sang Menggala.

1. Menggala Suba: sumber kekuatannya berasal dari mahluk-mahluk lain. Bisa berupa jin, siluman, hantu atau hewan. Apa saja pokoknya mahluk lain. Kekuatan mahluk tersebut digunakan untuk meningkatkan serangan, pertahanan dan atau memperkuat status tertentu penggunanya. Contohnya adalah sepasang pocong muka hitam dukun kimak dan kelompok anjing hutan wak Bugil. Ada hal khusus yang harus dilakukan Menggala jenis ini untuk mengikat kerjasama. Sumpah tertentu harus dilakukan dan perjanjian harus ditunaikan. Jenis ini yang paling sulit dikuasai karena Menggala tersebut harus dapat menjalin kerjasama agar selaras. Ini tentunya makan waktu.

2. Menggala Wasi: sumber kekuatannya berasal dari senjata-senjata khusus yang memiliki kekuatan atau tuah di dalamnya. Tidak seperti Menggala Suba sebelumnya karena mungkin dalam benda-benda tertentu didiami oleh mahluk mistis yang akhirnya akan jatuh ke jenis Suba juga. Kekuatan atau tuah di satu senjata tidak ada hubungannya dengan keberadaan mahluk berkekuatan lain yang menginisiasi kekuatan yang dimaksud. Biasanya berupa senjata kuno peninggalan nenek moyang atau waskita para empu penciptanya yang telah melakukan lelaku khusus dalam bentuk doa atau ritual yang membuat senjata tersebut memiliki kekuatan tersendiri. Misalnya adalah bakiak Bulan Pencak yang menjadi senjata andalanku yang menjadikanku seorang Menggala Wasi.

3. Menggala Aga: sumber kekuatannya berasal dari bebatuan atau logam mulia pada bagian tubuh tertentu untuk meningkatkan kemampuan. Secara umum ini adalah jenis Menggala yang paling mudah dilakukan asal memiliki batu atau logam yang tepat, jenis Menggala ini dapat dianut. Berbagai batu mulia semacam kecubung, berlian, mirah delima, giok atau lain sebagainya dapat dipakai untuk memperkuat bagian tubuh tertentu. Memakai jenis Menggala ini dan kekuatan meningkat, tetapi hanya sampai sebatas itu saja. Tidak akan meningkat seiring waktu kecuali dipakai dalam jumlah tertentu yang bisa ditambah sewaktu-waktu. Orang yang memakai susuk penglaris yang terbuat dari berlian bisa jadi tidak sadar telah menjadi Menggala Aga karena dia sadar kalau potensi berlian tersebut dapat menaikkan kharisma-nya. Kalau kamu dalam kategori itu dan ditantang Menggala lain dan masuk alam metafisis, siap-siap saja babak belur atau bahkan mati.

Ya… Menggala bukan perkara yang main-main. Tidak ada yang main-main kalau sudah menyangkut tentang kekuatan yang ada di luar nalar manusia biasa. Dunia Menggala ini bisa mengerikan kalau kau salah melangkah. Bisa menyenangkan kalau kita bisa menemukan teman. Di pertemanan antar Menggala ini juga aku mempunyai teman-teman sejati. Teman dalam suka dan duka. Teman yang akan membantu tanpa banyak tanya dan pamrih. Kalau aku butuh pertolongan, mereka akan datang. Begitu juga kalau mereka minta pertolongan, aku juga dengan suka cita datang menolong.

Tujuan Menggala.

Secara umum tujuan menjadi seorang pendekar Menggala adalah mendapatkan kekuatan tambahan dengan cepat. Tidak secepat itu juga karena ada proses yang harus dilakukan bila memilih jenis Menggala yang termudah dilakukan sekalipun (Aga). Misal anda memilih menjadi seorang Menggala Aga dan sudah menyiapkan katakanlah dua buah batu giok untuk memperkuat tinju pukulan. Ternyata giok yang sudah anda siapkan tipenya tidak sesuai untuk penguatan pukulan dan cocoknya malah sebagai penguatan pertahanan kebal pukulan pada bagian dada. Pengenalan kecocokan ini juga bukan hal yang mudah karena seharusnya ada keahlian khusus seseorang yang dipercaya untuk melakukannya. Melewatkan bagian tersebut dan tetap dilakukan pemasangan giok tadi dibagian tinju dan tak ada peningkatan karena salah penempatan. Tidak mudah.

Lalu tujuan Menggala selanjutnya adalah hubungan. Di tiga jenis Menggala di atas, para Menggala menjalin hubungan yang selaras dengan media kerjasamanya. Dengan demikian ada harmonisasi antara dua pihak yang bekerja sama dengan keuntungan yang seimbang sesuai kesepakatan awal. Terlepas dari jebakan yang sudah disetujui atau batasan yang menjadi ketetapan, yang menjadi motif awal antara pendekar Menggala dan media-nya.

Peningkatan, baik kekuatan menyerang, pertahanan dan status secara khusus dapat dicapai meningkat oleh Menggala Suba. Seiring waktu kedua belah pihak akan mendapat peningkatan kekuatan yang menjadi tujuan tergantung kemampuan menyerap pengalaman dan proses belajar atau latihan. Ini adalah tujuan utama menjadi seorang Menggala. Perawatan adalah tujuan didapatkan oleh media Menggala Wasi. Sebagai senjata sakti walau memiliki tuah atau kekuatan, benda ini tentunya memerlukan seseorang untuk merawatnya. Di beberapa kebudayaan, perawatan benda-benda sakral seperti ini sudah menjadi kebiasaan lazim. Eksistensi adalah wujud tujuan dari media Menggala Aga. Benda ini eksis untuk digunakan. Sudah menjadi takdir benda-benda ini memiliki keistimewaan tersendiri dibanding benda lainnya. Pemilihan yang tepat dengan pemakaian yang tepat adalah tantangannya.

Perbandingan Ketiga Jenis Menggala.

Kalau begitu yang terkuat adalah Menggala Suba, dong? Menggala ini bisa bertambah kuat setelah beberapa lama berlatih dan mengasah kemampuan. Benar. Tetapi apakah benar mereka kompatibel satu sama lain? Idealnya adalah sang Menggala dan media-nya adalah setipe dalam hal kekuatan. Kalau kedua pihak kompatibel, kuatlah kombinasi pasangan Menggala ini. Ini bisa terjadi di tiga jenis Menggala ini.

Kompatibel atau cocok dalam hal apa? Kekuatan. Apakah seperti 1 ditambah 1 menjadi 2? Gabungan kekuatan? Seorang Menggala yang berbakat dalam elemen api akan semakin kuat bila mendapat bantuan media yang juga berelemen api. Itu yang lebih tepat menggambarkan kecocokan yang tepat. Api yang diberikan media Menggala akan semakin membara panas di tangan Menggala pengguna. Elemen dasar masing-masing berarti berperan kuat dalam kecocokan ini. Secara luas elemen ini terbagi menjadi lima; api, air, udara, petir dan tanah. Lima unsur alami elemen ini menjadi dasar pengembangan lagi sistem tenaga dalam yang disebut Lini.

Lini.

Kata dasarnya berasal dari kata Kundalini yang kemudian disingkat menjadi Lini saja. Lini adalah energi alam semesta. Lini ada di setiap benda; benda mati atau hidup. Semua mengandung Lini. Seperti kita semua mahfum kalau energi tidak pernah hilang, ia hanya berubah menjadi bentuk lain. Seumpama air menguap menjadi uap. Energi tetap ada di sana walau berubah sekalipun. Pengaturan Lini yang baik di tubuh seseorang dapat membedakan seorang pendekar yang mumpuni dengan orang kebanyakan. Lini dikenal dengan kata lain di berbagai bahasa; chi, ki, chakra dan lainnya. .

Lebih jauh pada manusia ada 32 titik Lini yang tersebar di seluruh titik utama tubuh, yang harus diberdayakan bila seseorang akan mendalami ilmu tenaga dalam. Dengan mengetahui elemen dasar yang dominan pada seseorang dapat mempermudah pendalaman penguasaan Lini walau bukan yang utama. Elemen dasar sudah disinggung di atas; api, air, udara, petir dan tanah. Bisa saja seseorang yang elemen dasar Lini-nya adalah api tetapi malah berbakat di pengembangan elemen Lini tanah.

Cara menjadi Menggala.

Pelatihan fisik dan mental tidak menjadi tolok dasar menjadi seorang Menggala tetapi akan sangat membantu apabila sudah melakukan hal tersebut lebih dahulu dikarenakan tujuan dasar menjadi Menggala adalah untuk melakukan bela diri. Setidaknya kalau belum menjadi seorang Menggala, anda sudah dapat melakukan pembelaan diri dengan baik awalnya. Dan akan menjadi hal yang sia-sia kalau sudah menjadi Menggala tetapi tidak mempunyai kemampuan atau dasar bela diri. Lagipula pada banyak kasus Menggala Suba, mendapatkan mahluk media menjadi Menggala-nya harus melalui proses pertarungan dengan mahluk tersebut. Setelah dia mengakui kekuatanmu yang mumpuni ia akan bersedia menjalin kerjasama denganmu dan melakukan sumpah pengikatan atau perjanjian.

Katakanlah semua bahan untuk menjadi Menggala pilihanmu sudah tersedia (baik Suba, Wasi maupun Aga) yang harus dilakukan adalah melakukan sumpah perjanjian. Ada banyak versi sumpah ini tetapi intinya adalah kesepakatan kedua pihak untuk melakukan kerja sama yang saling menguntungkan. Pada Menggala Suba ada tambahan syarat yang terkadang dipintakan oleh media dan itu merupakan bagian dari kesepakatan semata. Bentuknya bisa apa saja, bisa berbentuk hajat, kebutuhan atau wasiat. Erahkan Lini maksimal bersamaan dengan membaca versi bacaan amalan yang diketahui di hadapan media Menggala. Bila ia memang mau dan bisa diajak kerjasama, akan ada reaksi balasan. Setelah tercapai kesepakatan lengkap sudah dan keduanya resmi menjalin kerjasama dan menjadi Menggala sesuai jenis pilihan.

Selamat, anda adalah seorang Menggala.

~0~0~0~

Aku berbaring di kasur kapuk ini dengan tanganku sebagai bantal penyangga sementara melihat Yuli melucuti pakaiannya. Ia tidak perlu basa-basi lagi pake mandi lagi karena kuyakin ia sudah mempersiapkan diri dengan matang. Bahkan ia sedikit berdandan menyambutku malam ini. Ia bermaksud melayaniku malam ini.

Dilucutinya pakaianku dimulai dari celana boxer-ku yang tanpa sempak lalu kaos oblongku. Diselipkannya sebuah bantal di bawah kepalaku. Perhatian sekali dia. Jadilah aku berbaring bugil di kamar rumah tetangga sampingku.

Ini sebenarnya kenekatan gilaku karena jaraknya terlalu dekat dengan rumahku tetapi malam gelap dan penerangan lampu gang hanya sekedarnya apalagi keadaan sepi membuat situasi ini berpihak ke nekatku. Lampu temaram yang hanya memakai lampu pijar 5 watt di kamar ini membuat situasi menjadi semakin syahdu.

Yuli memakai daster ketat tanpa lengan yang mengekspos lengan semoknya. Bagian rok yang longgar sebatas lutut bergoyang-goyang akibat gerakan kaki putih semoknya juga. Sesekali bahan lembut dasternya menyentuh kulitku yang sudah tak berpakaian membuatku merinding geli.

Dari bagian leher yang longgar aku bisa menyaksikan siluet gelap gunung kembar 38DD itu kembali. Tak ber-beha karena pentilnya ngecap ngacung di bahan daster. Ia mulai dengan mengelus tubuhku.

Aseng junior tanpa perlu dikomando lagi sudah ngaceng keras paham apa yang akan terjadi malam ini, kelanjutan yang tadi siang. Ia akan masuk ke sarang barunya lagi. Yuli tak mengindahkan Aseng junior dulu karena ia menyerbu puting dadaku.

“Aahhss…” aku mengeluh pelan.

Geli dan basah begitu lidah dan bibir Yuli mempermainkan dada kiriku. Dada kananku dielus-elus juga terkadang diremas juga. Yuli meninggalkan jejak basah di kedua dadaku dan dingin yang kurasakan setelahnya begitu ia melata turun ke pusarku.

Walau tak disentuh, Aseng junior mendapat berkah dengan tersenggol kenyal gunung kembar yang walau masih terbungkus daster. Aku menggerakkan pantatku dan menyentuhkan pucuk Aseng junior agar menubruk 38DD pujaan hati.

Laga itu sungguh memabukkan walau masih berpenghalang. Rasa kenyal dan lembut sudah sangat terasa selagi Yuli bermain-main di pusarku yang sedikit berambut. Lidahnya berputar-putar bermain di pusarku. Ditusuk-tusukkan lidahnya memasuki pusarku. Aseng junior membentur bagian atas dadanya. Rambutnya yang digelung menjadi konde kuelus-elus. Kupingnya juga kupermainkan sampai ia bergidik geli.

Refleksi sinar jingga lampu pijar membuat siluet cantik wajahnya yang mengulum dalam-dalam Aseng junior. Ia melakukan aksi deep throat. Aseng junior ditelannya. Luar biasa rasa yang kualami. Ia seperti seekor ular sanca raksasa yang sedang memangsa ular lainnya hidup-hidup.

Aku hanya bisa kejat-kejat keenakan merasakan seluruh syaraf sensitifku distimulasi sekaligus. Pantatku mencuat tanpa sadar dan Yuli mengikuti gerakanku yang mendesah keenakan.

“Yuuul… Ehmm… Enak, Yul…” aku hanya bisa memegangi pipinya.

Ia melepaskan peganganku dengan meliuk-liuk persis ular menelan mangsa. Tubuhnya melakukan side mount. (menindih tubuh dari samping, istilah di MMA)

Kutarik tubuhnya dan aku mendapatkan pahanya. Aseng junior masih ampun-ampunan disedotnya dengan luar biasa. Udah kek vacuum cleaner rasanya. Ia menurut dan jadilah posisi kami menjadi 69, kepala ke kelamin.

Ternyata eh ternyata di balik dasternya, ia juga tidak memakai celana dalam lagi karena aku langsung berhadapan dengan kelamin berbulu lebat pendek Yuli yang kemerahan. Ia langsung menjejalkan apem mlenuk itu ke mukaku dengan gemas. Mukaku tertutup rok daster itu dan langsung kucaplok si apem.

Aroma segar apem Yuli segera menjadi santapanku. Kusedot-sedot liang kawinnya yang sudah becek. Ia sudah membersihkan apemnya ini secara telaten untuk kesempatan ini bahkan ia juga merapikan jembut yang tumbuh dibagian tepi bibir kemaluannya.

Bau aneh yang mungkin bersumber dari duburnya juga tidak ada sama sekali. Mulutku dengan rakus menelan apem itu dan menyedotnya. Meningkahi apa yang dilakukannya pada Aseng junior-ku. Aku harus membalas dendammu, Seng. Tunggu aja.

Tanganku kupelukkan ke bongkah pantat semoknya yang terasa kenyal dan lembut. Kuremas-remas pantatnya dan ia menekankan gunung kembar 38DD itu ke perutku. Ia menggesek-gesekkan gunung itu sembari terus bertarung di pertandingan 69 ini.

Dengan jari, kulebarkan bibir apem Yuli dan kucucukkan lidahku ke dalam liang kawinnya keluar masuk. Yuli semakin santer menyedot Aseng junior sampe terasa ngilu kali. Kuimbangi dia dengan mengganti alat cucuk dari lidah menjadi jari.

Saat satu jari mulai masuk, Yuli melepas Aseng junior dan menengadah untuk mengaduh. Pantatnya mengejang dan bergoyang-goyang. Lalu dibenamkannya pantatnya ke mukaku, jariku semakin dalam masuk plus sedotan di bagian itilnya. Yuli mengerang kelabakan. Sempat ia membalas dengan hanya menyedot kepala Aseng junior-ku tapi tak lama karena aku menambah menjadi dua jari kemudian ia kelojotan tak terkendali.

Aku beringsut mundur saat ia menggelepar bak ayan. Yuli berbaring menelungkup masih memakai daster yang sudah tersibak bagian bawahnya. Nafasnya ngos-ngosan saat kubalik tubuhnya hingga menghadapku kembali dan kutindih tubuhnya.

Kutindih untuk melepas beberapa kancing di bagian dadanya. Kubebaskan gunung 38DD itu dari kungkungannya dan keduanya merdeka sebentar karena kutangkap kembali dan menjadi bulan-bulananku. Kusedot-sedot 38DD itu sejadi-jadinya sehingga Yuli mengerang-erang lemah.

“Bhang Asheeng… Mmh… mmh… Uhh… Bhaang…” Yuli mengerang-erang tak sabar.

Apem mlenuknya disodor-sodorkannya ke perutku hingga kasar jembutnya menggerus. Basah apem itu juga terasa lengket. Aku abaikan gerakan liarnya dan terus menikmati kedua 38DD fenomenal-nya.

ak sering -sering aku bisa menikmati kenyal seukuran masif ini. Aku gemas sekaligus takjub dengan ukurannya. Kalau memang dia nanti bisa hamil, anakku harusnya bisa kenyang menyedot ASI dari bungkus ini. Ah… papanya dulu yang puas-puasin nyedot ini. Tareek teros!

“Bhang Ashee~~ng… Cepatlaah masook, bhaanng? Udah gak tahaan kalii awak, bhaanng…” pintanya menarik-narik kepalaku agar lebih naik lagi hingga aku bisa memposisikan Aseng junior dan menusuk apem mlenuk penuh jembutnya.

“Sabar, Yul… Enak ini, kan?” tahanku mengulur waktu.

“Enak kali, bang Aseng… Tapi cepatlah masukkan…” jawabnya. Ada titik peluh di dahi dan lehernya. Ia sudah mengkangkang lebar mempersilahkanku masuk secepatnya.

“Jawab dulu yang jujur… Bisa?” todongku. Kalau sudah seperti ini siapapun akan berlaku jujur. Ia mengangguk tanpa pikir panjang.

“Kenapa Yuli tanpa pikir lama menawariku duit untuk ngehamilin Yuli… Itu harusnya keputusan berat… Apalagi kita belom kenal lama…” tanyaku menopangkan daguku di antara kedua gunung 38DD-nya. Mata kami saling tatap. Aku penasaran.

“Jujur ya, bang Aseng… Awak kek dah lama aja kenal keluarga kalian… Sebelum kami pindah kemari… kami sebenarnya nyewa di gang XXX (dua gang dari sini) sebulan aja… Awak sering mimpi ngedorong dorongan bayi (baby stroller) dengan bayi mirip Salwa di gang ini… Sering juga awak mimpi ngeng-ngeng (ngentot) gini sama abang… Awak keten-keten (intip) ke gang ini… Ada pulak rumah yang disewakan pas disamping rumah bang Aseng ini… Cocok kali-la, kan?” katanya membeberkan semua.

“Awak awalnya malu, bang… Tapi untung mamanya Salwa baik mau ngobrol sama awak yang kek gini ini… Perempuan yang lagi beter (ngincar) lakiknya… Awak usahain aja terus nyari alasan bisa dekat sama bang Aseng…” ember juga lama-lama betina satu ini. Baru dientot sekali aja udah keluar semua isi jeroannya.

“Pertanda gitu?” tanyaku.

“Awak anggap gitu-lah, bang… Bukan sekali-dua kali aja mimpinya, bang… Berulang-ulang gitu… Kalok gak ada maksudnya… ngapain pulak mimpi sampe berulang-ulang gitu? Mungkin dari abang Aseng… betulan pulak awak bisa punya anak… Biar gak gersang kali hidup awak, bang…” lanjutnya benar-benar jujur.

Siapa yang gak galau dapat pengaruh dari mimpi seperti itu. Apalagi keadaan Yuli dan suaminya tak kunjung mendapat anak. Kemungkinan apapun sepertinya akan disambar tanpa banyak pemikiran.

Apalagi dia punya banyak duit yang bisa jadi bahan tawar. Setelah dengan Aida kemarin, cuma dikasih daging setumpuk ini aja-pun aku mau, gak usah mesti dibayar. OK, bonus deh.

Cuma orang-orang ini kurang modern dengan tidak mencoba bayi tabung aja. Kalau mereka kreatif sih aku yang rugi gak bisa menikmati kehangatan binik orang kek gini.

“Yah… Mudah-mudahan bisa-lah kau hamil, Yul… Lanjut, ya?” kataku mengenyot puting 38DD lagi.

Kalau memang sama kasusnya dengan Aida, sudah 50% Yuli bisa hamil di tangan lelaki manapun. Hanya saja yang beruntung kali ini adalah aku yang berpeluang besar di masa suburnya. Lakiknya seminggu kedepan gak akan ada disini untuk menitipkan benihnya. Aku sudah sekali menyirami rahimnya dan entah akan berapa kali malam ini.

Badanku melengkung dan mengarahkan Aseng junior ke bukaan apem mlenuknya. Sebelah tanganku mengarahkan, sebelah lagi meremas 38DD. Mulutku terus mencucup puncak gunung itu dengan gemas. Kepala Aseng junior sudah membelah masuk gerbang liang kawin apem mlenuk Yuli. Terasa ketat dan hangat-hangat basah.

“Iyaah… Iyaaah, bhang Asheeng… Trusss… Mmmhh…” desahnya terus merasakan perlahan Aseng junior-ku menerobos masuk tanpa penghalang berarti.

Aseng junior melesak masuk hingga jembutku dan jembutnya melakukan tos, salaman trus berpelukan.

Kubenam dan kukedut-kedutkan Aseng junior di dalam liang kawin Yuli. Perempuan itu seperti melolong tanpa suara karena ia sedang merasakan nikmat itu lagi. Aseng junior-ku kembang-kempis berkontraksi di jepitan liang kawin lembut Yuli.

Terus kusedot dan remas gunung 38DD itu sebagai stimulasi ekstra. Yuli hanya mampu mengkaitkan kakinya di pinggangku. Tangannya pasrah di samping tubuhnya, membuka-menutup. Matanya terpejam. Dan ia mulai mengkontraksikan otot kegelnya juga mengimbangi kedutan Aseng junior. Artinya ia telah pulih.

Kutarik Aseng junior junior sampai sebatas lehernya, terasa licin berkat cairan pelumas yang dihasilkan liang kawin Yuli, lalu kudorong masuk lagi sampai mentok kembali. Begitu berulang-ulang. Yuli mendongakkan kepalanya tiap kali tusukan Aseng junior amblas dalam di liang kawinnya.

Rasanya enak kali-lah pokoknya. Ini juara. Rasa nikmatnya sungguh maksimal. Gak lama-lama pasti aku pasti nyemprot kalo begini caranya. Kulepas mulutku dari sebelah gunung 38DD dan beralih menyerbu lehernya hingga tubuh kami dempet rapet.

Dadaku tergencet dengan nyamannya dengan dada jumbo Yuli. Aku menciumi lehernya, bukan cupang. Hanya cium dan jilat. Genjotanku sedikit melunak dengan tusukan setengah tiang. Tusukan setengah tiang itu maksudnya setengah dari panjang Aseng junior, ya? Itu artinya tusukan yang tidak terlalu dalam tetapi lebih menggesek itilnya.

Bergetar tubuh Yuli yang kugenjot pendek-pendek dan mengenai itilnya. Gesekan vertikal batang Aseng junior sukses menghajar itil Yuli dan membuatnya semakin menggelinjang keenakan. Jilatanku di lehernya semakin parah dan berpindah ke kuluman ke kuping.

Cuping telinganya kuhisap-hisap sampai perempuan semok ini blingsatan gak karu-karuan. Genjotanku pada liang kawinnya terus merangsek hingga Yuli ampun-ampunan. Bahkan aku tidak pernah melakukan ini pada istriku. Ini rangsangan yang terlalu luar biasa menyiksa. Hasilnya…

Tubuh gempal semok Yuli bergoncang-goncang bak tremor gunung Sinabung yang tak kunjung henti erupsi. Liang kawinnya mengetat dan meremas Aseng junior sampai taraf mencekik biar mengeluarkan lava pijarnya.

Ngilu terasa saat Yuli juga memeluk erat tubuhku yang masih kurang berisi dibanding dengannya. Apalagi saat orgasme begini dia bisa tak kira-kira melepaskan tenaganya. Suka-sukanya aja. Dengan begitu aku juga tidak bisa menggerakkan pantatku untuk mengaduk liang kawinnya untuk sementara. Satu tangannya berpindah dan memeluk belakang kepalaku.

“Mmuuahh… mmhh… muuaahh…”

Wadaw! Yuli memaksakan bibir tebalnya ke mulutku. Lidahnya menyeruak masuk tanpa bisa dicegah. Mulutnya berdecap-decap menikmati mulutku. Dikulumnya bibir bawah dan atas bergantian dengan rakus. Belepotan mulut kami berdua oleh pertukaran ludah sementara ia terus memelukku erat.

Entah apa yang dipikirkannya saat ini. Padahal aku sudah mewanti-wantinya agar tidak melakukan ini. Ia sama sekali tidak melakukan ini di penginapan Ard*na tadi siang. Ia patuh dengan semua persyaratanku.

Kenapa ia berani melanggarnya sekarang? Lidahnya menyeruak masuk menyapu isi mulutku dan mengajak lidahku bergelut. Sialnya lidahku terpancing keluar dan ia menghisapnya dengan ganas.

Sedikit ada kesempatan, kugerakkan pantatku dengan melakukan goyangan. Aseng junior bisa beraksi kembali setelah sempat tercekik di liang kawin ganas itu. Pendek-pendek awalnya tetapi semakin panjang seiring waktu.

Kulepaskan kepitan kakinya di pinggangku dan kulebarkan sehingga aku bisa menggasak Yuli semaksimal mungkin. Kutahan posisi kakinya tetap terbentang. Tapi walau begitu, ia tidak mau melepas kepalaku. Ia terus melumat mulutku tanpa henti dan bosan.

Belepotan liur kami karenanya. Yuli pemain bibir yang jago. Mungkin sudah pro sejak gadis. Apalagi ia sudah menghadapi 3 suami jadi jam terbangnya sudah tinggi.

“Sllerp… slurrp… sllerkk…” bibir dan lidah dengan ganas memangsa mulutku. Disini aku tidak berdaya tapi aku memimpin di lini bawah dengan Aseng junior yang terus memborbardir dengan tusukan-tusukan panjang.

Bukan apa-apa ya… Udah terasa geli-geli enak mau nyemprot. Lagi pula tidak perlu diulur-ulur lagi karena malam masih panjang. Ini juga sudah batas maksimalku. Lagian tujuan ini semua adalah membuahi rahim Yuli dengan bibit-bibit potensialku. Bibit yang sangat diharapkan Yuli untuk menghamilinya. Itu perjanjian utama kami.

Laga perutku dengan selangkangannya berkat tusukan dalam-dalam menghasilkan pukulan bak tamparan. Plak-plak-plak! Perutku dan selangkangannya memerah dan peluh sudah membasahi tubuh kami berdua. Kipas angin yang disiapkannya di kamar-gudang ini tak sanggup mendinginkan kami berdua.

Ini sangat panas sekali, kawan. Istri orang ini enak kali. Jepitan liang kawinnya juara se-gang ini-lah. Aida masih kalah apalagi istriku. Entah itu karena berat badannya sehingga liang kawinnya lebih padat atau entah apanya. Tapi aku gak mau nahan-nahan lagi.

“Uhh… Uhh…” masih di kuluman bibir Yuli, aku mengeluh sembari membenamkan dalam-dalam Aseng junior-ku yang muntah menyemprot deposit bibit-bibitku yang kelak akan menjadi janin di rahimnya. Semoga di antara jutaan sel sperma itu, ada satu aja yang berhasil menembus pertahanan sel telur dan melakukan pembuahan.

CROOOT!! CROOOT!! CROOTT!!

“AAAaaHHH!!” Yuli melepas mulutku dan berkelojotan juga.

Mulut rahimnya spontan terbuka dan menerima curahan deras spermaku yang menyemprot membanjiri rahimnya untuk kali kedua. Tubuh kami berpelukan erat sambil sama-sama berkedut-kedut menikmati sisa kenikmatan ejakulasi barusan.

Aku menganga lebar di lehernya. Ngos-ngosan. Terasa panas dan berkeringat. Aroma ludah dan sperma dan cairan vagina dan feromon sungguh memabukkan. Ini yang membuat mahluk hidup tetap hidup dan berkembang biak. Tuhan benar-benar serius melakukan ini semua.

Yuli tak keberatan membiarkan tubuhku tergolek lunglai di atas tubuh semoknya. Ia bisa menampungku dengan baik. Aku bersandar di kenyal empuk dua gunung 38DD. Bantal paling mahal lewat semuanya dengan khasiat gunungan alami ini. Aku bisa tidur nyenyak bersandar di sini semalaman. Tunggu, sayang kali kalo harus tidur. Ini harus digasak lagi dan lagi.

***

Pulang dari rumah Yuli waktu petugas takmir mesjid mulai menghidupkan sound systemnya dan lantunan ayat suci berkumandang. Ya ngantuk, ya gempor juga. Kalau digabung dengan yang tadi siang di penginapan aku sudah ngecrot 5 kali totalnya.

Sehabis nembak, istirahat sekitar 15-20 menit, Aseng junior sudah mulai menggeliat bangun lagi karena terus menerus dirangsang Yuli dengan berbagai cara dan variasi. Pokoknya Aseng junior gak dikasih istirahat malam itu sampe dini hari. Lama-lama ngilu juga ya.

Si Aseng junior terasa panas karena bolak-balik disuruh gesek trus udah kek ulekan sambal. Tapi mau pulak dia bangun lagi dan lagi. Enak-la pulak si Yuli ini. Jepitan liang kawinnya memang paten kali walo udah punya lakik sampe tiga kali. Yang paten-la dia merawat onderdilnya itu. Udah kek pengantin baru kami ngentot berulang-ulang. Terakhir sama Aida paling banyak cuma 4 kali-nya semalam.

Pagi itu aku membawa Salwa keliling gang dengan mata sepet. Pedih dan gak enak rasanya. Tumben-tumbenan aku minta dibuatin kopi untuk mengganjal mataku. Ngantuk berat itu gak ada obat yang paling manjur kecuali tidur. Tapi itu gak mungkin.

“Salah papa sendiri kan yang buat kebiasaan sama anaknya… Kalo gak jalan-jalan, mana senang hatinya…” kata istriku.

Benar sih salahku sendiri yang menciptakan kebiasaan itu. Mana harus berangkat kerja lagi nanti.

Rumah Yuli sepi karena dia sedang mengantar anaknya sekolah dengan motor barunya. Entah bagaimana caranya ia mengatasi rasa kantuk yang sedang ia rasakan sekarang. Mungkin abis ngantar itu dia akan tidur abis-abisan. Yah… dianya enak. IRT. Aku?

Eh? Pada kepo gak kenapa istriku gak ngerasa aneh aku sering keluar malam? Senyenyak-nyenyaknya tidur pastinya akan terbangun sesekali dan mendapati si suami tak ada di tempat tidur. Itu karena istriku sebenarnya juga sudah paham siapa suaminya. Kami sudah kenal lama dan ia tau aku luar dalam sak baret-baretnya.

Ia tau aku seorang Menggala yang sering berlatih pada malam hari. Pernah kuberitau padanya dulu bagaimana cara aku berlatih tapi ia seperti acuh tak acuh dengan penjelasanku. Jadi hanya kuberitau secara garis besar aja. Aku seringnya berlatih di malam hari karena masalah waktu sih sebenarnya.

Pulang kerja, istirahat sebentar, main bareng keluarga terutama istri, baru bisa latihan. Sesimpel itu kok. Dan di situ letak keuntungan yang kudapatkan saat ini. Jadi istriku maklumnya kalo aku tidak ada di sampingnya di malam hari, berarti aku sedang latihan. Latihan seringnya kulakukan di dimensi alam lain juga yang kumiliki sendiri.

Kangen juga ketemu Aida. Beberapa waktu ini hanya ngeliat dia sekilas-sekilas aja. Dia bukannya menghindariku, hanya saja ia tidak tahan berlama-lama berdiri karena keadaan berbadan duanya. Paham sih. Tapi ya itu tadi, kangen. Ngobrol sebentar aja pun jadi-lah. Gak usah pun merasakan pelukannya, lembut halus kulitnya, hangat sentuhannya. Eh itu dia.

“Pagi bu Aida… Udah sehat, nih?” sapaku sebaik dan normal mungkin. Ia sepertinya bermaksud membeli sesuatu di warung.

“Eh, bang Aseng… Salwaaa… Dah lama yaa… gak gendong Salwa… Kangen ibu Aida-nya…” jawabnya nanggung malah meminta gendong Salwa.

Dengan senang hati kuoperkan bayiku padanya tanpa ada insiden apapun karena ada beberapa orang yang lalu lalang. Ia menciumi rambut, pipi Salwa dengan gemes karena tak lama lagi ia akan punya bayi sendiri.

“Kangen Salwa atau yang lain?” godaku kala orang-orang itu lewat. Pakek suara pelan tentunya.

“Kangen Salwa-lah, bang…” jawabnya kembali menciumi rambutnya yang lebat.

“Kalau sama papanya… kangen ditidurin…” bisiknya nakal. Ia mengucapkan itu sambil meleletkan lidahnya. Tetap menggairahkan kamu Aida.

“Abang-pun rindu juga… Tapi masih muda gini jangan sering-sering… Takut kenapa-napa…” jawabku pelan juga agar enggak kedengaran siapa-siapa.

“Iya, bang… Agus-pun gak kukasih…” katanya tentang jatah untuk suaminya. Tidak lama kami berbincang karena tiba-tiba ia merasa pusing dan masuk lagi ke dalam rumah. Kami melanjutkan jalan-jalan pagi ini keliling gang.

Jalan-jalan dan kami tiba di depan kede Iva yang ramai dikerubungi anak-anak kecil yang membeli jajan. Anakku Rio tidak ada di sana karena kami mengusahakan agar ia tidak jajan di pagi hari.

Biarpun cuma doyan telor, cukuplah itu sebagai sarapannya ditambah susu formula. Salwa senang melihat anak-anak di sana rame-rame dan membuat bising hingga kami berhenti sekadar ngeliat aja. Salwa melihat keramaian dan aku melihat keindahan.

Keindahan yang punya kede. Saat itu ia pasti belum mandi karena memakai baju tanpa lengan dan celana pendek longgar kostum tidurnya tadi malam. Kulit putihnya tetap cemerlang di pagi ini walau belum mandi.

Iva dengan antusias melayani anak-anak kecil yang udah bedakan cemong-cemong tebal. Sabar ia meladeni permintaan mereka yang terkadang menyebalkan. Awalnya minta yang itu, ganti dengan yang ini.

Ada yang duitnya kurang tapi mau jajanan yang banyak. Lebih ekstrim lagi bermodalkan duit mainan yang gambar Barbie juga mau beli. Hadeeh. Sabar lah si Iva ini. Orang sabar pantatnya lebar, Pa.

“Mei-Mei mau beli juga, ya?” tanyanya akrab seperti biasa.

“Udah bisa jajan dia, bang?” tanya Iva sambil merapikan beberapa galon air mineral yang ada di depan kedenya.

“Ada-ada aja kau, Pa… Enggaklah…” jawabku mengikuti gerakannya.

Gerakan menunduknya. Ia melirikku sebentar dan malah memperbaiki posisinya. Ia berlama-lama membereskan galon-galon air mineral itu. Ini tentunya pemandangan indah buatku karena Iva mempertontonkan dadanya yang terlihat jelas dari balik kerah longgarnya.

Ukurannya tidak terlalu besar dan proporsional dengan tubuh langsingnya. Dan beruntungnya lagi, bra yang dipakainya sepertinya longgar jadi tidak terlalu ketat membungkus payudaranya.

Sebagian besar payudara itu menjadi santapan pagi untukku. Cukup lama ia menunduk di hadapanku sampai serombongan anak kecil lainnya datang untuk jajan lagi. Ia melirikku dan tersenyum lagi. Aku kenyang susumu, Pa.

Ah. Aku teringat dengan foto-foto yang sudah dikirimkannya padaku di chatting kami sebelumnya. Foto-foto seksi dirinya terutama. Belum ada yang bugil sih memang. Tapi bagian ini, tampilan live barusan bahkan lebih mendebarkan jantung. Lemah jantungku dibuatnya. Berdebar-debar tak menentu.

Udah kek mau melompat semua tadi payudaranya untuk pamer padaku. Sedikiiiit lagi tadi sudah hampir nip-slip kalo tuyul-tuyul berbedak cemong ini gak muncul. Aaahh… Jadi kotor pikiranku dibuatnya.

Kotor kenapa? Cucilah! Kepala otak kao dicuci. Apa gak ada puas-puasnya? Udah Aida… Yuli… Sekarang mau Iva pulak? Kenapa gak sekalian Pipit juga? Ide bagus itu, terus semua aja binik orang kao buntingin. Teros semua anak-anak tuyul yang keliaran di gang ini semua anak kao. Puas kao?

Gitu kalok aku lagi ngobrol sama Aseng junior yang bandel. Kalo sekedar goyang-goyang tros ngecrot itu memang enak kali, kan? Semua laki-laki di dunia ini kujamin pasti mau. Buaya dikasi bangke? Buaya mana yang nolak bangke? Bangkenya sedap pulak kek Aida, Yuli, Iva dan lain-lain.

Kek mana aku bisa nahan dan gak mendonasikan spermaku pada mereka. Apalagi casing-casing MILF-MILF itu kelas wahid semua. Kalo yang gembrot-gembrot, jelek pulak bauk belacan (terasi) tak-lah mau aku. Tak-lah pulak Aseng junior-ku mau ngaceng dan memasuki mereka. Masih pilih-pilih-nya aku kan?

Gimana kalok binik orang yang normal-normal bisa bunting sama lakiknya sendiri minta dibuntingin juga? Aa… Kalok itu lain ceritanya. Lain lagi masalahnya itu. Itu kegatelan namanya binik orang itu. Itu udah penyakit ujungnya.

Kalok itu akupun takut juga jadinya. Gak ada pembelaan lagi kalok aku juga ikut berminat. Tapi aku gak bisa bilang gak akan kejadian juga karena sudah kubilang di atas sebelumnya, kalo imanku ini lemah. Iminku yang kuat. Aseng junior inilah si imin itu. Plak! Ketawa kao! (Ngeplak si Aseng junior)

“Eh… Mau kemana, Imran?” sapaku pada tetanggaku yang sedang bersiap-siap di depan rumahnya. Pipit juga.

“Bang Aseng… Iya nih… Ada tugas ke luar kota…” jawabnya mengangkat koper yang lumayan besar. Keknya mau pergi jauh dan lama.

“Dapat tugas pendidikan dari kerjaan, bang… Ke Jakarta…” lanjutnya. “Tadi udah mesan taksi… mungkin bentar lagi sampe depan gang taksinya…”

“Oo…” pahamku.

Pekerjaan Imran juga cukup lumayan. Kalau ia dapat proyeksi pendidikan seperti ini mungkin gak lama lagi dia akan mendapat promosi. Aku gak perlu nanya kenapa dia gak nyetir aja ke bandara Polonia (bandara lama Medan, sekarang menjadi Kuala Namu yang berada di luar kota sejak tahun 2013) karena pastinya Pipit nantinya gak akan bisa membawa mobil mereka kembali pulang. Pipit cuma tau naik motor, itupun gak bisa jauh-jauh. Takut katanya. Ia dan Pipit pamitan padaku.

Skip-skip

Ppt: bg Aseng?

Aseng: ya Pit masih di polonia

Ini kondisinya aku sudah masuk kantor dan kerjaan lagi seru-serunya nih. Apa lakinya sudah berangkat ke Jakarta? Udah jam 11. Kayaknya si Imran naik pesawat jam 10 gitu.

Ppt: iya bg bisa ketemuan sm abg ga?

Aseng: he? ketemuan? ada apa?

Loh ini kok terulang lagi? Kemaren diminta ketemuan sama Yuli karena mau beli motor. Dan malah berlanjut ke ranjang. Ini sekarang diajak ketemuan lagi sama Pipit. Ini perempuan spesifikasi dan masalahnya juga mirip-mirip. Gak panjang berpikir ia menjawab…

Ppt: ada yg mau Pipit ceritain sm minta pendapat curhat gt

Aseng: harus skrg y Pit? abg lg kerja lo

Ppt: skrg jg kl bisa bg. SEKARANG

Kok pakek maksa? Apa-lah ini? Mengernyit antara alisku membaca tulisan dalam huruf besar itu untuk beberapa detik menyusul getar pesan masuk berikutnya yang berupa sebuah foto. Ada jeda sampai semua foto itu terbuka sempurna dan terlihat jelas.

PUKIMAK!

Kan pakek caps lock juga kan aku? Kenapa aku sampe hampir teriak di depan komputer saat melotot melihat foto yang dikirimkan Pipit lewat BBM ini? Foto itu adalah foto diriku sedang memasuki pintu depan penginapan Ard*na kemaren dengan seorang perempuan semok yang memakai masker hijau. Kan KIMAK kali kubilang.

Gimana caranya dia bisa mendapat foto itu? Apa dia gak sengaja sedang melintasi jalan Krakatau juga dan memergokiku sedang berduaan dengan Yuli kemaren siang? Sejauh apa dia melihat kami?

AAARRGGHHH! KIMAK!

Aseng: dimana?

Berhubung bu Sandra masih belum kembali ke pabrik karena masih keluar kota untuk keperluan pekerjaan, baru besok masuk, aku kembali permisi keluar. Tepatnya mempermisikan diriku keluar lagi. Dari KIM 2 ke tujuan yang ditentukan Pipit itu lumayan jauh karena berada di tengah kota. Apalagi ini sedang jam sibuk-sibuknya kota Medan. Lalu lintas pasti sedang padat merayap ke arah sana.

Aku sampai disana dalam waktu 1 jam 14 menit. Ini adalah sebuah hotel besar yang sudah lama berdiri di Medan. Hotel Da**u T**a yang ada di jalan Imam Bonjol. Aku parkir di belakang hotel dan segera menuju sebuah cafe yang ada di lingkungan hotel dimana Pipit menunggu.

Apa yang dia mau? Kenapa dia malah ngajak ketemuan di tempat yang sangat jauh begini? Pasrah sebenarnya aku. Entah apa maunya.

Itu dia. Duduk sendiri masih dengan pakaian yang tadi pagi dipakainya saat mengantar lakiknya ke bandara Polonia. Ia sudah memesan teh dan cemilan kecil sambil maen HP. Dari jauh ia sudah melihatku dan mengangguk. Aku berjalan dengan sedikit gontai ke arahnya. Aku harus siap-siap.

“Jauh ya, bang Aseng?” sapanya tersenyum.

Ia mempersilahkanku duduk di depannya. Meja ini hanya untuk dua orang. Musik kafe adalah lagu easy listening yang tidak terlalu keras sehingga cocok untuk mengobrol. Senyumannya sebenarnya biasa.

Tetapi aku merasa ngeri karena kebodohanku sendiri sebenarnya. Lebih pada kesalahanku. Perasaanku jelas tidak karuan. Perutku terasa gak enak karena suasana hatiku jauh lebih buruk. Yang jelas mukaku terlihat suntuk.

“Lumayan, Pit… Jam berapa pesawat Imran take off-nya?” tanyaku basa-basi.

Pastinya ia juga merasakan intonasi gugupku. Guguplah anak mudanya kan woi. Cak lah kelen dalam situasi kek gini. Apalah yang kelen buat?

“Jam setengah sepuluh, bang… Gak usah seperti itu, bang… Kalem aja… Pesan dulu… Abang mau minum atau makan… Pipit traktir, deh…” tawarnya memanggil pelayan yang entah dari mana datang.

Mungkin gak ada lagi kerjanya karena ternyata hanya kami pengunjung kafe ini. Udah pakek start melayang mungkin dia dari nunggu dipanggil. Aku pesan teh juga seperti yang dipesan Pipit. Gak ada pulak kafe ini nyediain orong-orong sama lapet.

“Sori dulu, bang Aseng kalo cara Pipit seperti ini… Sebab kalo gak seperti ini… bang Aseng bakalan gak mau dateng dan nyamperin Pipit disini… Pipit sudah hapus semua foto-foto itu dari HP Pipit… Abang boleh cek di sini…” katanya sambil menyerahkan HP BB-nya padaku yang sudah terbuka.

Ragu aku mengambilnya dan memeriksa galerinya. Tak ada foto itu di mana-mana.

“Itu cuma alat untuk menarik perhatian bang Aseng aja… tidak lebih…” lanjutnya.

Aku periksa berulang-ulang HP itu sampek hapal aku dengan isi HP itu. Isinya hanya foto-foto pribadi.

Kukembalikan HP itu pada Pipit kembali dan diletakkannya di atas meja. “Jadi ada apa, Pit?” tanyaku agak mereda gemuruh di dadaku. Aku sebenarnya merutuki kebodohan dan kecerobohanku. Aku seharusnya lebih berhati-hati dalam melangkah. Aku malu menjadi diriku sendiri saat ini.

“Pipit gak akan nanya siapa perempuan itu… atau apa yang kalian lakukan di sana… Yang Pipit mau adalah… Tolong bantu selesaikan masalah yang Pipit hadapi saat ini… Bang Aseng tidak usah tanya karena Pipit udah tau… Bang Aseng boleh nanya sama yang ada di samping kiri Pipit ini… Pipit gak bisa liat tapi bang Aseng bisa…” katanya membingungkan.

Yang ada di samping kirinya? Ke arah sana aku melihat, hanya ada kekosongan dan dinding yang dapat kulihat saat ini. Apa maksudnya entitas ghaib yang ada di samping kirinya ini?

Kembali aku fokus pada Pipit.

“Maksudnya itu…” tunjukku pada entitas yang berdiri diam melayang.

Sosoknya adalah seorang lelaki tua kurus ceking dengan kulit abu-abu keriput dengan pakaian batik lama sedikit lusuh tetapi cukup bersih. Yang menarik perhatian dari penampilan sosok ghaib ini adalah ada libatan sejenis akar tebal di tubuhnya.

Dari kaki, melilit beberapa kali, lalu nyambung ke pinggang, membetot kedua tangan sekaligus perut hingga dada, ke leher lalu menutup mulutnya hingga berakhir di kening. Mulutnya tertutup, lebih tepatnya terberangus. Bagaimana aku bisa bertanya padanya kalau entitas ini tidak bisa memberitahuku info apa yang dimaksud Pipit barusan.

“Abang bisa ngeliat dia, kan?” kata Pipit sedikit melirik kekosongan di samping kirinya.

“Coba Pipit aja yang ngomong langsung… awak ini sedang bingung kali ini… Abang gak bisa berpikir sekarang… Apalagi orang tua itu mulutnya tertutup… jadi dia-pun gak bisa ngomong juga kalaupun kutanya…” kataku runyam.

Sukak kali-lah perempuan ngomong pakek nanggung-nanggung kek gini. Langsung aja bilang dia mau apa, gak usah pakek teka-teki kek gini, napa?

“Mulutnya tertutup? Terikat akar-akaran itu ya, bang Aseng?” kaget Pipit tak terduga. Cemana-nya? Katanya dia gak bisa ngeliat tapi tau-nya dia mulutnya terikat akar.

“Apa mahluk ini khodam dari nenek moyang Pipit?” tebakku.

Hanya itu jawaban yang masuk akal tentang mahluk itu. Khodam jenis ini hanya suruhan dari pemiliknya. Dalam hal ini untuk menjaga anggota keluarga tertentu dari marabahaya. Levelnya rendah begitu juga kekuatannya.

“Kata yang ngerti… iya… Dia biasanya menjadi pelindungku… Tapi sesuatu terjadi padanya, kan?” jelas Pipit.

“Dulu dia sering membisikiku kalau ada sesuatu yang berbahaya… Tapi sudah beberapa tahun ini dia bungkam…”

Kupandangi khodam malang itu. Ada yang mengerjai mahluk pelindung ini. Libatan akar pohon ini sangat kuat sampai bisa memberangus pergerakannya. Terutama fungsi utamanya, komunikasi. Ia tidak bisa melepaskan libatan berangus ini sehingga fungsinya tidak lagi maksimal. Apa yang mengerjai khodam ini juga yang mencelakai Pipit hingga sakit parah di waktu lalu?

“Kista yang dioperasi beberapa tahun lalu itu… apa masih sering kambuh?” tanyaku berpaling kepada Pipit sekarang.

Aku curiga ini ada hubungannya. Udah kek dokter pulak aku nanya-nanyain penyakit lamanya. Tapi memang aliran Lini perempuan ini memang terganggu. Penyakitnya cukup kompleks.

“Kista itu bisa jadi yang menyebabkan Pipit belum bisa punya anak…”

“Masih terasa sakit kadang-kadang, bang… Menstruasiku-pun gak lancar… Kadang mens bisa sampai 2-3 minggu… Abis itu dua bulan gak dapet… Pernah juga sebulan malah dua kali… Gak menentu, bang…” jelasnya.

Para perempuan pastinya kelimpungan kalau dapat jadwal gak jelas kek gitu. Awak yang laki aja dengarnya pening. Kek mana jatahnya si Imran kalo semuanya gak jelas kek gitu?

“Jadi cemana-lah kita buat nih? Awak udah nyuruh Pipit minta maaf sama semua, kan? Sama orang tua… keluarga… Sama yang sudah menyakiti Pipit… dan yang sudah Pipit sakiti… Sudah semua itu?” tanyaku tentang obrolan kami lewat chatting BBM beberapa waktu lalu.

“Udah hampir semuanya, bang Aseng… Kecuali satu mantanku… Mantan suamiku yang sudah kujebak untuk menikahiku itu…” jawabnya lalu menunduk.

Ia diam sebentar karena kutau ia akan melanjutkannya lagi. Ada sesuatu yang menggantung. Tapi tak kunjung diucapkan.

“Dia sudah meninggal, kan?” tebakku.

Pipit tiba-tiba menangis tanpa suara. Ia menutupi mulutnya tetapi setitik air mata menetes, mengalir dan jatuh dari dagunya.

“Dosa Pipit besar banget ya, bang Aseng… Sampe Pipit gak sempet minta maaf padanya… Pipit sudah menipunya… menjebaknya… menjerumuskannya… Padahal dia dulu sudah punya pacar tapi terpaksa ditinggal karena harus menikahi Pipit…” ia menceritakan itu dengan suara parau.

Untung kafe ini sepi jadi tidak ada yang memperhatikan kami yang udah kek pasangan yang sedang bertengkar. Pelayan tadi-pun gak keliatan batang kontolnya-eh idungnya.

Aku tidak tau harus bersikap gimana. Apa harus empati dan mengusap air matanya. Jarak kami cukup jauh karena dibatasi sebuah meja. Gak etis juga kalau aku bergeser ke sampingnya dan melakukan itu. Jadinya aku hanya diam dan melihat.

Lalu perhatianku berpaling ke khodam berbentuk pria tua itu lagi. Matanya melotot memandangi Pipit seakan ingin meneriakkan sesuatu.

“WOY! DA PADA NGOPI BELOM?” Paok! Mana mungkin khodam itu mau ngomong kek gitu. Paok kao, Seng. Udah senget (gila) kurasa kepala otak kao tuh.

“Jadi gimana, bang… Abang bisa bantu Pipit, kan?” katanya beberapa saat kemudian. Air matanya tidak menitik lagi tapi isakannya masih ada.

Aku terdiam.

“Maafkan Pipit, bang Aseng. Pipit gak seharusnya melakukan ini… Pipit kebetulan lewat di depan Ard*na kemaren sehabis dari belanja… Waktu itu Imran nelpon sehingga Pipit menepi tepat di depan Ard*na… Imran ngasih tau kalau ia dapat tugas untuk pendidikan singkat di Jakarta selama 3 minggu… Abis nelpon… Pipit ngeliat bang Aseng sama perempuan itu masuk ke penginapan… Entah kenapa Pipit malah memfoto kejadian itu beberapa kali… Maafin Pipit, bang…” jelasnya tentang asal-muasal foto yang sudah sukses membuatku galau. Puih!

“Ya udah-lah, Pit… Itu salah awak juga… yang gak ati-ati… Jadi apa yang bisa awak bantu, awak bantu-lah…” kataku pasrah saja. Paling dimintai tolong nyari dukun lagi ato apalah gitu.

“Pipit mau minta tolong sama bang Aseng… untuk mengobati Pipit… Sepertinya bang sangat paham sekali masalah-masalah seperti ini… Abang Aseng bahkan bisa tau siapa yang nyolong burung yang kemaren itu… Bahkan juga tau kalau ilmu dukun di Belawan itu palsu… Pipit mau cerita sebentar… Tunggu bang…” ia minta jeda sebentar dan mencari sesuatu di HP-nya lalu menunjukkannya padaku. Apa lagi ini?

Ini adalah foto cermin yang berembun tipis di dalam kamar mandi. Pipit menyuruhku memperbesar gambarnya dan mengarahkan pada sudut kiri atas cermin. Ada goresan berbentuk tulisan disana.

Embun ini berasal dari uap air panas water heater karena mataku malah fokus pada pantulan perempuan yang sedang memotret cermin itu. Pipit sedang memegang HP-nya yang sedang menjepret terlihat dari lampu flash. Ia hanya memakai handuk pendek menutupi tubuhnya sampai setengah pahanya. Rambut merahnya basah abis keramas.

“… tulisannya boso Jowo, bang Aseng…”

Bahasa Jawa? Buru-buru aku men-zoom kembali goresan tulisan di embun tadi. Tulisannya… “… ja… jalu… jaluk… Jaluk?” ejaku pada tulisan yang acakadut itu. Jaluk itu artinya minta, kan? “Minta?”

“Liat foto berikutnya, bang… Ada tiga foto totalnya…” instruksi Pipit lagi menyuruhku melihat ke 2 foto berikutnya.

Segera kugeser ke foto berikutnya. Masih Pipit berfoto yang lumayan artistik di cermin berembunnya dengan balutan handuk yang sama. Ini foto berturut-turut ternyata. Pipit yang abis mandi setelah ehem-ehem dengan lakiknya dan keramas, foto-foto abis itu. Lalu ku-zoom kembali tulisan tadi.

Tulisan jaluk tadi masih ada dan disampingnya ada tulisan baru. “… to… long… tolong…” masih tulisan acak yang uuuelek tenan tapi untung masih bisa terbaca. Minta tolong? Coba liat foto berikutnya.

Foto ini lebih mendekat karena Pipit lebih mepet ke arah objeknya dan ia menunduk. Pantulannya di cermin lebih jelas diantara embun. Belahan dadanya keliatan seger karenanya, terjepit erat di lilitan handuk yang membungkus tubuhnya. Fokus Seng sama tulisan, woy! “…cin… cino… Cino? Cappuccino?” setan jaluk tolong buatin cappuccino? Kimak setannya ini ngelunjak.

“Maksudnya cino itu bang Aseng… Dia minta tolong sama bang Aseng… Bang Aseng dikiranya Cino… Cina…” jelas Pipit mengartikan teka-teki bahasa itu.

Masuk akal sih. Lah ngapain itu khodam minta cappuccino ya? Paok kali kao, Seng!

“Iyooo? Kuwi jaluk tolong karo aku, toh? (Iya? Kamu minta tolong kepadaku, ya?)” tanyaku langsung menatap entitas khodam malang yang melayang tetapi terbelenggu itu. Pipit memandangi pada sebelah kirinya dimana khodam itu berada. Lalu beralih padaku.

Bahkan untuk mengangguk saja khodam itu tidak bisa. Sebagai gantinya, ia menutup matanya yang melotot lebar lalu terbuka lagi. Fix dia minta tolong buatin cappuccino, eh minta tolong padaku untuk membuka belenggunya.

“Jadi Pipit juga minta tolong sama awak untuk membantu dia?” tanyaku menyimpulkan.

“Intinya begitu, bang Aseng… Jadi gini bang…” ia lalu menceritakan bagaimana biasanya khodam ini selalu memberinya peringatan apa-apa yang berpotensi menjadi bahaya atau ancaman paska kejadiannya dulu di masa lalunya.

Sang khodam biasanya memberikan bisikan langsung pada Pipit dengan suara yang mirip dengan suara mbah buyutnya yang sudah lama tiada. Bisikan ini sirna tak lama setelah ia menikah untuk pertama kalinya.

Awalnya Pipit mengira itu bukanlah hal perlu dirisaukan tetapi malahan masalah demi masalah terus melandanya. Berujung pada ia keguguran, bercerai, bertengkar hebat dengan keluarganya, kabur dan kabur hingga kemari, menikah lagi, sakit parah dan sampai sekarang.

Beberapa bulan ini, ada percobaan kontak yang dilakukan sang khodam yang ternyata masih ada. Awalnya ia hanya bisa meniup-niup rambut Pipit, telinga dan pipinya untuk menarik perhatiannya. Dan akhirnya bisa melakukan sentuhan di objek material dengan menuliskan pesan di cermin yang berembun. Itu terjadi asli tadi pagi.

“Tadi pagi?” ulangku berpikir sok serius.

Padahal aku mikirnya gini, kan?… Karena ini hari terakhir Pipit ketemu sama lakiknya, mereka enak-enakan dulu sepuasnya tadi malam. Nyetor sperma sebanyak-banyaknya sapa tau ada yang bisa jadi anak.

Kalo enak sudah pasti kalo anak belum tau. Ini menjelaskan kenapa dia mandi keramas tadi pagi di tiga foto itu. Dan di saat itu pulalah si khodam kakek buyutnya ini berkesempatan menitipkan pesan jaluk/minta tolong ini. (Khodam ini sepertinya adalah jin khorin kakek buyut Pipit. Jin khorin adalah jin yang terlahir persis sama saat seorang jabang bayi lahir kedunia. Seumpama kembaran kita dalam bentuk jin. Penampakan seseorang yang telah tiada seringnya karena melihat jenis jin khorin ini)

“Gimana, bang?” tanya Pipit berharap-harap cemas.

Kalo cuma membantu si khodam itu melepaskan belenggu akar tebal itu tidak ada masalah untukku. Aku akan dengan senang hati membantunya. Monggo… Apalagi kita bisa tau duduk permasalahannya gimana. Sang khodam bisa memberi tau informasi apa yang sebenarnya terjadi pada Pipit.

“Bisa aja, Pit… Tapi ini makan waktu, loh… Ini masih siang… Ini tadi awak-pun permisi cuma sebentar aja dari kerjaan… Harus balik lagi, kan?” kataku memberi alasan yang benar-benar loh. Ini gak boong.

“Tapi abang mau nolongin Pipit, kan pokoknya?” desaknya lebih berharap. Aku mengangguk membenarkan. Atur saja waktunya.

***

Setelah bertemu dengan Pipit siang itu di kafe hotel, aku kembali lagi membelah kemacetan ibu kota provinsi Sumatera Utara untuk kembali lagi ke kantorku. Panas dan lelah ditambah harus kembali bekerja di sisa jam yang ada.

Pipit tidak pulang ke rumahnya melainkan buka kamar di hotel itu dan aku akan menyusulnya nanti malam. Itu rencana yang sudah kami susun. Sebenarnya itu usulan dari Pipit sendiri dan kuiyakan. Kalo laki sama perempuan udah sekamar di hotel di malam hari, apa yang akan terjadi hayooo?

Bobo?

Teng-tong! Anda benar. Silahkan nyemplung di sunge Deli yang keruh berlumpur penuh dengan ikan sapu-sapu.

“Bang Aseng? Tadi dicariin bu Sandra?” tiba-tiba itu asisten Factory Manager udah nyamperin mejaku di ruangan.

“Bu Sandra? Udah nyampe Medan dia?” kaget aku. Dia nyariin pas waktu aku lagi gak ada di tempat pulak. Gaswat!

“Belom… Besok dia pulangnya… Dia tadi nyariin abang lewat telpon… Kata anak-anak lain abang lagi permisi keluar, ya?” kata anak gadis hijaber bernama Tiwi ini.

“Oo… Kaget aku, Wi… Kirain dia dah nyampe Medan…” beneran kaget aku.

Bisa-bisa aku kena semprot karena aku tak ada di tempat saat dia tidak ada. Karena ia secara langsung menugaskanku meng-handle pabrik saat dia keluar kota dibantu Tiwi. Walaupun tak ada masalah yang berat tetap aja ada laporan yang harus kukerjakan. Kuperiksa HP-ku untuk melihat miss-call yang ada. Ada 3 kali miss-call dari bu Sandra selama aku dalam perjalan pulang dari hotel tadi.

“Woles, bang… Tadi Tiwi bilangnya sama bu Sandra abang lagi di lapangan… Jadi gak kedengeran HP-nya…” kata Tiwi kooperatif.

“Ish… Makasih kali-la, Wi… Nanti abang traktir naek odong-odong-lah, Wi…” kataku berterimakasih padanya.

“Yah… Odong-odong… Memangnya awak anak-anak apa… Huu…”

***

“Seng? Aman pabrik?” tanya bu Sandra lewat saluran telepon.

“Aman, kak…” jawabku.

Aku berdiri di semacam balkon yang menghadap ke arah pabrik. Bu Sandra sering mengamati pabrik di sini secara langsung. Mengawasi setiap lini produksi atau menerima laporan verbal dari tiap kepala bagian produksi. Secara umum semua bagian berjalan sesuai schedule.

“Gak ada kendala, kan? Mesin yang baru itu masih ngulah?” tanyanya kembali.

“Udah jinak dia, kak… Udah dikasih kepala kerbo (kerbau) baru jinak dia…” jawabku. He-he-he… Gimana pulak menejer pabrik kupanggil kakak? Kakak ketemu gede?

“Bagus deh kalo begitu… Tadi wa telpon lu… Kemana lu?” sindirnya tentang ketiadaanku tadi. Nah-loh.

Orang Medan yang ngomong pake ngomong elu-gua ini pasti ada beberapa sebabnya. Satu, dia pelarian dari Jakarta dan sekitarnya. Entah residivis nyuri sempak ato apalah sampe lari ke Medan. Kedua, sok gaul sama kebanyakan nonton sinetron orang kaya di TV. Ketiga, Cina Medan. Mayoritasnya adalah bersuku Hokkien yang banyak menyebar di Sumatera. Beberapa Cina Medan selalunya ngomong elu-gua (guwa).

“Di lapangan, kak…” jawabku tetap ngeles sesuai alibi yang diberi Tiwi tadi. “Gak kedengaran suara bising di pabrik…”

“Ah… Palingan lu ngelayap keluar, kan?” katanya nge-gep aku. Pasti dia nanya sama anak lain di kantor nih.

“Ish… Kek gak tau aja kak Sandra ini…” jawabku gak mau ngeles lagi.

“Ya udah… Nanti abis Maghrib lu jemput wa di Polonia… Wa pulang sore ini juga… Bosen wa di Jakarta ini… Macetnya kek kimak kali wa rasa…” putusnya tiba-tiba.

“HA? Maghrib? Supir kakak kan ada… Masak awak yang disuruh jemput? Mau kakak rupanya naik kereta kujemput?” kagetku. Gak kebayang gimana kalau kelas menejer naik motor pulang dari Polonia. Sampe rumah hair-do rambutnya pasti jigrak-jigrak.

“Paok kali lu, Seng… Kao pinjam-la mobil kantor satu… bawa pulang dulu… Pokoknya jemput kakak abis Maghrib…Ya?” pungkasnya.

“Iyalah…” Eh.

Cemana bisa aku akrab kali sama perempuan yang posisinya hanya satu tingkat di bawah Direktur perusahaan ini? Usianya terpaut 3 tahun dariku sehingga pas kalau aku memanggilnya kakak. Sama usianya dengan kakak kandungku. Bahkan sebenarnya dia memang teman kakakku.

Dulu mereka pernah satu kuliahan. Pernah dulu beberapa kali ia main ke rumah tapi aku tidak terlalu perhatikan. Ketemu lagi malah di perusahaan ini. Dia sangat gigih bekerja dan meniti karier hingga mencapai posisi sekarang ini. Karena kenal dengannya, aku sedikit terbantu di karierku juga. Gitu aja, sih.

***

Pesawatnya terjadwal mendarat jam 8 malam. Aku sudah sampe di Polonia setengah jam sebelumnya. Sore tadi tentunya istriku kaget aku pulang bawa mobil karena biasanya aku pinjam mobil kantor paling kalo mau jalan-jalan jauh aja di weekend.

Tapi setelah dengar penyebabnya dia paham sih kedekatanku dengan bu Sandra. Apalagi dia pernah beberapa kali datang ke rumahku. Dua kali kami mengadakan syukuran penabalan nama kedua anak kami, bu Sandra rajin datang.

Sementara menunggu pesawat landing, aku chattingan dengan Pipit mengkabarkan padanya kalau aku belum tau jam berapa nyamperin dia di hotel. Tapi kalo udah jelas, aku akan memberitaunya. Katanya dia sudah bosan nunggu di kamar hotel. Dia ngakunya ada di rumah pada lakiknya, Imran.

Chatting senada juga kusampaikan pada Yuli. Aku masih dalam program penghamilannya. Ciee program. Program bayi tabung iya. Ini program menghamili binor. Kalo seperti Aida yang hanya butuh 4 hari, berapa hari yang dibutuhkan untuk menghamili Yuli? Lakiknya gak ada sampai seminggu ke depan, mungkin aku harus rutin setoran sperma padanya selama itu.

Tak lama ada pemberitahuan kalo pesawat yang kutunggu sudah mendarat dan dalam proses menepi. Aku tidak perlu buru-buru karena bu Sandra pasti banyak barang bawaan yang harus di-claim-nya. Kutunggu dia di pintu para penumpang pada keluar dan sudah kuliat tampangnya yang suntuk sambil menyeret tas koper berodanya.

Aku sebenarnya mau menolongnya dengan tas berat itu tapi ia tak kunjung keluar dari pembatas karena masih sambil teleponan. Kuambil alih gagang tas koper itu begitu lewat dan mengikutinya yang menuju pintu keluar.

“Pulang, kak?” tanyaku begitu ia sudah selesai nelepon di kursi penumpang depan. Naga-naganya dia hampir melempar benda itu ke dashboard tapi urung malah…

“Aagghh…. Sakit, kak!” teriakku kaget.

“Ish… Apa-lah kakak ini? Aku gak ngapa-ngapain digigit!” kuelus-elus lengan kiriku yang barusan digigitnya.

“Ih, kan? Bauk! Belom gosok gigi ini pasti…” sakit beneran ini. Sampe berbekas tuh.

“Biarin! Palak (kesal) kali wa sama Cina satu itu… Udah tua gak tau diri kali…” meluap juga kekesalannya. Aku tau orangnya. (Lah Cina maki Cina lainnya. Entah hapa-hapa cici satu ini)

“Palak sama koko itu jangan tangan awak pulak-lah kak yang jadi sasarannya… Dah baek-baek awak jemput kakak… Dah kayak supir pulak aku jadinya…” kataku sambil terus mengendarai mobil ini keluar dari kawasan bandara Polonia yang berada di tengah kota.

Kak Sandra ini pasti kesal atau palak sama suaminya sendiri. Suaminya ini, ko Johanes, sering dipanggil ko Amek, jarang ada di Medan. Dia lebih sering ada di Singapur mengurus bisnisnya di sana.

Yang kutau bisnis spare part komputer dan sejenisnya. Sebulan paling banter seminggu di Medan. Kak Sandra sering curiga kalau suaminya itu punya selingkuhan atau malah sudah kawin lagi disana.

“Gak enak kalok kursi ini yang wa gigit… Tangan lu-lah yang wa gigit… Lu kan dah kek Cina jugak…” katanya malah nambah mukul lenganku yang abis digigitnya tadi. Plak!

“Aduh, kak… Sakit tau!” kuelus-elus lagi lenganku. Ini orang mukul pake tenaga sekuatnya. Sabarlah untungnya awak ini. “Gak pulang koko itu, kak?” tanyaku. Pasti ini lagi masalahnya.

“Entahlah, Seng… Cantik kali wa rasa komputer di Singapur itu sampek dientotnya tiap malam…” kesalnya terus dan melipat tangannya di depan dadanya sambil melempar pandangannya ke jalanan.

Jalanan malam ini sepi hanya ada beberapa kendaraan lewat di kegelapan malam. Lampu jalan berwarna jingga kekuningan memberi nuansa yang berbeda menerangi gelap jalanan aspal hitam. Kabut tipis yang dihasilkan pepohonan yang banyak tumbuh di tepian jalan sayup-sayup menghalangi lampu jalan di tajuk tertingginya. Belitan sabuk pengaman di dada kak Sandra membelah ditambah membusung akibat lipatan tangannya.

Aku sudah sering liat ini karena sehari-harinya ia selalu begitu. Kurasa satu pabrik juga ikut menikmati pemandangan ini. Panlok-panlok jenis ini suka berpakaian yang provokatif dan cenderung terbuka.

“Lagi M keknya si kakak, nih…” kataku terus fokus ke jalan. Gak-lah pulak aku nengokin itu terus walopun memang besar juga itu bempernya. Lirik-lirik aja dikit. Dikiiit aja.

“Cobak-lah lu pikir… Wa ini kurangnya apa-hah? Wa cantik, kan? Wa selalu menjaga penampilan wa… Wa salon sana-sini supaya wa tetap cantik… Wa juga modalin usaha itu orang sampek sebesar sekarang-hah? Trus gara-gara masalah kecil saja dia gak pulang-pulang-hah? Itu orang gak ada otak memang…” semburnya malah ke aku. Dia duduk bersandar ke pintu mobil dan menghadap ke arahku hingga rok pendeknya mengarah padaku-terbuka dikit, walau gelap.

“Kak… o-kak… Kakak awak yang cantik… Orang itu lakik kakak-loh, kak… Kalok mau marah-marah… kakak marah sama ko Amek aja-lah, kak… Jangan ke awak… Awak ini apalah… Cuma remah-remah kuaci aja-nya awak, kan?” kataku paham dia maunya apa.

Cuma mau curhat-nya kakak awak yang cantik ini. Malah udah sering kali dia curhat padaku. Sampe-sampe istrikupun jadi khawatir. Karena seringnya mulainya perselingkuhan itu dimulai dari curhat-curhatan kek gini.

“Dituduhnya wa yang mandul… Udah sering kami periksa… Sampek ke Penang kami bolak-balik… Kuajak program bayi tabung gak mau dia… Entah mungkin-pun dia yang mandul gak tau wa… Ntah-lah… payah cakap wa udah…” cetusnya melempar pandangan kembali ke luar jendela.

Jadi kak Sandra sama ko Amek itu udah hampir 9 tahun menikah tapi masih belum dikaruniai anak. Yang namanya orang kaya dan banyak duit itu ikhtiar-nya beda sama kita-kita yang kere ini.

Maenannya langsung dokter spesialis mahal, udah konsultasi macam-macam yang paling top di luar negri tapi masih belum kesampaian juga. Dari curhat-curhatnya, kak Sandra malah sudah coba cara ekstrim.

Yaitu pejantan lain; alias lelaki bayaran. Tetapi tetap aja tidak berhasil. Dari situ mungkin dia sendiri yakin kalau ia memang mandul buktinya pria lain-pun tak bisa menghamilinya.

Kulirik dia yang masih bersandar di pintu tetapi memandang ke luar jendela. Kakinya masih seperti tadi. Sorotan lampu mobil yang berbelok dari satu persimpangan sekilas memberiku pemandangan isi dalam roknya.

“Kak… kakinya dijagalah, kak… Ada laki-laki normal di sini-loh, kak…” kataku mengingatkannya. Dia tidak perduli dan tetap diposisi itu.

“Itu… Belok situ…” perintahnya menunjukkan kemana ia mau menuju.

Loh… Itu, kan hotel tempat Pipit menginap. Aku menurutinya dan memasuki entrance hotel. Seorang petugas di depan menurunkan koper milik kak Sandra dari bagasi belakang lalu aku mencari tempat parkir yang kosong.

Kususul dia lobby dan kutemukan ia menungguku di dekat counter resepsionis, sedang mengetik sesuatu di HP-nya. Ketika dilihatnya aku mendekat, ia langsung berjalan menuju lift. Aku mengekorinya.

“Gak pulang nih, kak?” tanyaku di dalam lift.

Ia sudah menekan tombol lantai 6. Lembut lift membawa kami menuju lantai tujuan hingga pintu terbuka. Kak Sandra hanya menggeleng dengan diam dan keluar lift tanpa banyak bicara. Room boy sudah membukakan pintu dan memasukkan koper miliknya ke kamar dan diberi tip. Didorongnya aku memasuki kamar itu dan ditutupnya pintu.

“Kalo mau makan pesan room service aja… Wa mau mandi…” katanya tak memberi aku kesempatan apapun ini maksudnya.

Begini ini kalo udah sama kak Sandra. Ia memang suka menang sendiri. Walopun aku ini secara struktural bawahannya tapi itu kan di kerjaan, kalo diluaran begini masak terus disamain juga. Nasib-nasib. Ya udah aku pasrah aja dan memeriksa isi kulkas kamar hotel ini dan mengambil minuman ringan.

Kutarik satu kursi dan duduk mepet ke jendela kamar yang gordennya kubuka lebar-lebar. Pemandangan kota Medan malam hari terhampar di depanku. Kelap-kelip lampu tower provider telekomunikasi di beberapa titik. Di kejauhan ada kedip-kedip lampu pesawat yang akan mendarat. Siluet gedung-gedung yang ada di sekitar sini adalah gambaran malam yang sepi. Kamar hotel ini juga sepi.

Aku tidak mungkin meninggalkan kak Sandra sendirian disini. Entah apa yang akan dilakukannya nanti. Kemungkinan besar adalah ke pub hotel ini dan minum-minum sampe tenggen (mabok) dan dimanfaatkan pria-pria oportunis.

Atau pula dia yang memanfaatkan mereka. Semuanya sama berbahaya dan aku tidak bisa membiarkannya melakukan itu semua. Kuharap dia hanya butuh teman curhat seperti biasa. Lalu pamit jam 12 nanti. Ini sudah jam 9 malam… 3 jam cukuplah kurasa. Kan ada janjian sama Pipit di hotel ini juga.

Ppt: bang Aseng sama siapa tu?

Aseng: sm bos ni Ppt liat dimana tadi?

Ppt: oooo bos cw y? ;p

Itu chatting singkatku dengan Pipit yang menunggu di kamar hotelnya. Ketepatan saat dia turun tadi, dia melihatku berjalan bersama kak Sandra memasuki lift. Udah dua kali ia memergokiku sedang bersama perempuan lain. Aku gak perlu membela diri padanya sama sekali kali ini karena aku tidak sedang melakukan apa-apa. Pipit hanya mau memberitau nomor kamarnya ternyata. Kuberitau kalau aku akan sangat terlambat. Dia paham.

“Lu gak pesan makan?” tiba-tiba kak Sandra sedang mengubek-ubek kopernya mencari sesuatu.

Ia keluar hanya memakai piyama handuk hotel saja. Rambutnya dibungkus handuk. Posisinya yang menunduk membuatku bisa melihat sebagian besar dada kirinya yang tak terbungkus bra dari lipatan piyama yang kendor. Samar aku bisa ngeliat pentilnya. Dikit aja tapi.

“Udah kenyang awak, kak…” kataku hanya memperhatikannya tetap duduk di kursiku di dekat jendela.

“Kenyang liat tetek wa lu?” katanya menyadari apa yang kuliat dari tadi. Aku hanya tertawa dan ia pun tak kunjung memperbaiki piyamanya yang tak diikat ketat. Dia tetap menunduk mencari sesuatu di koper menghadap tepat ke arahku. Membangunkan macan tidur si kakak cantik. Bergoyang-goyang kala ia mengaduk isi kopernya.

“Kenapa gak pulang ke rumah sih, kak?” tanyaku. Mungkin begini ia mau lebih terbuka.

“Ngapain wa pulang ke rumah… Rumahnya kosong gitu… Paling juga sama bibik-bibik (ART) aja di rumah… Trus wa ngobrol sama bibik di rumah gitu…?” katanya telah menemukan yang dicarinya, beberapa potong pakaian. Trus dia balik lagi ke kamar mandi. Gak lama dia balik lagi. “Bagus wa ngobrol sama elu orang aja…”

“Kak… ngobrol itu ada kondisinya kak… Kakak enak ngobrol santai gitu… Lah awak… tegang yang ada, kak… Kakak pake bajunya kek gitu…” kataku jelas salah tingkah.

Gimana gak salah tingkah cobak? Kak Sandra keluar kamar mandi masih dengan rambut dibungkus handuk lalu cuma pake mini dress pendek longgar tanpa bra dan juga celana dalam aja. Itu tetek gondal-gandul saat ia berjalan. Apalagi pentilnya ngecap dengan jelas di bahan kainnya.

“Biasa aja deh lu… Wa juga gak bisa ngapa-ngapain… Wa lagi palang merah… Nih…” santai aja ia malah mencondongkan pinggangnya kedepan yang tebal disumpal pembalut. Lah kalo gak palang merah mau ngapain juga?

Dia lalu naik ke ranjang, menarik selimut dan menutupi kakinya sampai pinggang lalu bersandar di sandarannya. Itu tetek gede sama pentilnya masih tetap mengganggu pandanganku. Hadeeh. “Eh anak lu yang paling kecil dah gede dong?” tanyanya tak masalah. Cuek. Aku gak bisa cuek, kimak!

“Hampir sembilan bulan, kak…” jawabku mengantongi HP-ku dan duduk bersandar di kursiku. Lumayan jauh jarak kami. Ada sekitar sepuluh langkah di kamar yang lumayan besar ini. Lumayan untuk ngurangi ketajaman resolusi mataku.

“Enak lu pada ya… buat anak udah kek kelinci… Wa yang udah bertahun-tahun gak dikasih juga…” kembali ia pada kalimat pembuka terkenalnya.

Ia pernah juga ngomong kek gini sama seorang staff cewek yang baru sebulan menikah dan langsung hamil. Tapi karena dia memang suka ngomong ceplas-ceplos tidak ada yang tersinggung dengan gaya bicaranya ini.

“Beda-beda rejekinya, kak… Kami dikasih rejekinya cepat… kakak agak lama…” jawabku standar lah.

“Wa suka palak liat anak-anak muda itu yang buatnya disemak-semak eh jadi… Wa yang buatnya mahal-mahal di Bahama… Hawaii… legal… Gak jadi bertahun-tahun… Dibuang pulak di semak-semak anaknya… Anji** gak tuh orang…” kesal sekali kak Sandra dengan berita-berita begitu. Engkau tak sendiri, kak. Dakupun demikian adanya.

“Lu tau gak tukang kusuk (pijat) yang bisa ngusuk (memijat) perut supaya peranakan wa kuat… Ada yang ngasih tau gitu sama wa waktu kemaren di Jakarta… Apalagi lu kan kenal banyak orang pintar gitu disini…” cerocosnya tak disangka.

Kusuk peranakan itu bukan hal main-main. Hanya orang-orang tertentu yang bisa melakukan itu, biasanya orang tua yang sudah tinggi jam terbangnya di bidang perpijatan. Dalam hal orang pintar, aku pernah mengenalkan orang pintar yang ‘menjinakkan’ salah satu mesin produksi kami yang berulah dan hampir memakan korban hingga harus diberi persembahan gitu.

Seekor kerbau jantan harus dipotong dan kepalanya ditanam di pondasi mesin itu untuk membuatnya adem dan dagingnya dibagi-bagikan ke karyawan. Sejak itu tak ada masalah lagi di mesin tersebut. Itu semua harus dilakukan karena mesin itu termasuk vital fungsinya dan sudah mengeluarkan investasi yang besar untuk membelinya.

“Ng? Nanti awak tanya binik awak-lah kak… Gak pernah pulak kami kusuk-kusuk kek gitu… Kalo dukun patah tau awak, kak…” kataku memang gak ada channel ke hal begituan.

“Dukun patah untuk apa wa? Nyambungi hati wa yang lagi patah ini?… Hak hak hak hak…” tawanya terbahak-bahak.

Persis kek orang mabok nih kak Sandra kalo ketawa kek gitu. Matanya cipit jadi tinggal segaris aja dengan tetek berguncang-guncang. Sempat-sempatnya aku liat matanya, orang itu cuma tinggal tetek aja semuanya.

“Kalo cuma dukun patah gampanglah nyari di Medan sini… Udah betabur yang buat spanduk patah tulang gitu…” ingatnya pada beberapa aliran pengobatan patah tulang dari suku Karo yang terkenal di daerah ini.

“Siapa tau mau nyambung burungnya ko Amek yang kakak patahin… Kan bisa…” sambungku mencoba tetap menghiburnya.

Tambah pecah tertawa kak Sandra. Kami tertawa-tawa sepanjang malam. Turun-naik pembicaraan kami. Kadang sedih-sedihan, serius, ngelucu lagi, terus paok-paokan (bodoh), ketawa-ketiwi, ngomongin pabrik, gosip murahan. Entahlah. Semua yang teringat kami obrolin. Karena lapar dia pun mesan makanan dan terus ngobrol sambil makan. Aku tetap menemaninya sampai hampir menjelang tengah malam.

“Udah ya, kak… Awak pulang… Kak Sandra abis ini tidur aja yang nyenyak… Jangan kelayapan… Awak udah ngasih foto kakak ke yang jaga pub itu… Jangan dikasih masuk orang di foto ini…” kataku memperingatkannya.

Aku pernah dibuatnya repot harus membopongnya keluar dari pub abis mabuk berat. Lakiknya entah ada dimana saat itu. Aku menjelang pagi harus pontang-panting mengejarnya kesana.

“Kimbek-lah kao, Seng… Itu-itu aja-pun yang kau ingat…” katanya rupanya malu sambil memukul lenganku.

“Iyaa… Tidur-lah wa ini… Besok da kerja lagi…” katanya mengantarku sampe pintu.

Ia menutupi tubuh bagian bawahnya masih dengan selimut yang diseret-seretnya.

“Da-dah kakak Sandra…” kataku iseng melambaikan tangan.

“Da-da…” balasnya dengan menggoyangkan teteknya ke kanan-kiri. Itu dada betulan. Boing-boing! Aku kabur menuju lift. Ia tertawa-tawa di balik pintu.

Pipit mengintip dari pintu yang juga dibukanya sedikit untuk melihat siapa yang mengetuk pintunya. Begitu diliatnya aku di depan pintu, dibukanya lebar dan aku masuk ke dalam. Kamar ini tidak sebesar kamar kak Sandra tadi karena ini cuma kamar regular. Pemandangan di jendelanya hampir sama karena ini di ketinggian lantai 4.

Disuguhinya aku sekaleng minuman ringan dan cemilan ringan. Kami terdiam beberapa saat duduk berhadapan di meja kecil di kamar ini. Suasananya jadi agak canggung sekarang karena hanya ada kami berdua di kamar ini.

Tadi siang walau juga cuma berdua di kafe itu, tetapi itu masih di tempat umum hitungannya. Orang lain bisa masuk kapan saja. O-iya jangan lupa si khodam itu masih memelototi aku.

“Jadi…” suaranya pelan sekali membuka omongan.

Aku terkesiap ingat kalau aku ada urusan disini. Bukan karena ngantuk ato apa. Aku hanya terbawa suasana tadi. Dari ketawa-ketiwi meriah lalu tiba-tiba sunyi senyap seperti ini.

“Jadi-jadi, Pit… Duh… Sori… Kaget awak jadinya… Pipit sih… maen diam-diam… awak jadi diam-diam juga…” aku malah jadi latah.

Padahal aku gak latahan, kok. Gugup malah. Padahal aku kemari cuma mau nolongin si khodam yang terbelenggu ini aja kan? Bukan yang lain-lain. Bukan mau menghamili Pipit juga kek Aida dan Yuli. Bukan! Bukan itu.

“Pipit tadi gak… itu… foto-foto lagi, kan?” tanyaku hati-hati. Kupilih kata-kataku dengan hati-hati.

Ia tergelak dan langsung menutup mulutnya karena merasa lucu. Bisa kuasumsikan kalo dia gak mengabadikan momenku berdua dengan kak Sandra tadi sesaat sebelum masuk lift. Kalau iya-pun, pasti Pipit mau menghapusnya lagi seperti kejadian dengan Yuli kemaren.

“Gak loh, bang… Gak Pipit foto tadi… Tapi Pipit kaget loh sampe dua kali nemuin abang di momen begitu… Abang Aseng nakal, ya?” katanya setelah selesai tertawa. Tapi ia masih senyum-senyum. Setidaknya kecanggungan antara kami lebih cair sekarang, dia bisa tertawa.

“Itu tadi bos awak di pabrik, Pit… Baru balik dari Jakarta… Mau diantar pulang dianya gak mau… Malah maunya belok ke hotel ini juga… Awak temanilah ngobrol-ngobrol… Curhat dia… Banyak jugak masalahnya… Mirip-mirip jugak sama Pipit sedikit…” kataku gak terlalu berharap dia mau mengerti bongak-ku (bualan). Tapi dia manggut-manggut paham.

“Bang Aseng dah kayak konsultan gitu-yah… Banyak pasiennya…” katanya malah menyimpulkan begitu. Kalo bisa dibilang pasien, memang pasien-lah mereka semua ini. Awak cuma jadi tukang donornya aja.

Yang periksa awak, yang ngobatin awak, yang jadi babak belur ya awak jugak. Ia tertawa kecil lagi sambil menutup mulutnya dengan manis. Binik orang ini memang-lah manis cantik gitu. Ini penyakitnya. Cemana gak jadi penyakit? Berduaan di kamar hotel dengan binik orang yang cantik, apa gak carik penyakit namanya, Seng?

“Jadi abang Aseng gak pake menyan-menyan gitu?” tanya Pipit kepo karena aku gak bawa peralatan tempur apa-apa. Tangan kosong aja alias mokondo.

“Iduplah nanti alarm kebakaran hotel ini kubuat kalok pakek bakar menyan, Pit… Gak-lah… Mana ada aku pake menyan-menyan gitu… Syirik itu… Marah Tuhan masuk neraka aku nanti…” kataku memutar-mutar bola mataku jenaka mencoba lebih mencairkan suasana yang semakin akrab.

Kembali ia tertawa, kali ini lebih lepas dan tak ditutupi mulutnya. Tertawanya ternyata lucu karena keras dan ngebass. Mantan laki apa ya ini cewek? Yang menarik perhatian malah dadanya yang sedikit berguncang kala bahunya naik kala tertawa.

“Tau gak kalo bahasa Padang-nya tertawa itu galak… Jadi Pipit galak… Pipit tertawa…” kataku dengan banyolan garing.

Aku sendiri yang malah tertawa. Pipit tertawa karena mentertawakanku. Jadinya kami saling mentertawakan. Mentertawakan tragedi ini. Tragedi apa? Tragedi Aseng junior yang tak mendapat jatah malam ini karena harus berada di kamar hotel ini sambil ngetawain nasib ngenes ini. Yang seharusnya bisa enak-enakan di rumah Yuli. Menikmati apem mlenuk yang paling juara se-gang. Aah… Enaknya. Harusnya.

Kami berdua membersihkan sisa air mata yang keluar karena tertawa-tawa tadi. Sisa tawa memudar dan kurasa sudah waktunya untukku bekerja. Tugasku kali ini adalah membantu sang khodam lepas dari belenggunya. Entah apa yang akan menungguku di sana tapi setidaknya aku sudah bersiap-siap dengan segala kemungkinan. Yang baik ataupun yang buruk sekalipun.

Aku berdiri dan memberi tanda pada Pipit untuk tetap duduk saja karena aku mendekat pada sisi kirinya. Tanganku mengacung untuk menggapai sang khodam yang berbentuk kakek-kakek ini. Menggapai ke atas untuk menyentuh ujung akar itu. Segera kemudian aku tersedot masuk dengan cepat memasuki sebuah alam di dimensi lain yang merupakan teritorial seseorang. Daerah kekuasaan siapa gerangan ini?

Padang savana luas dengan rumput-rumput meranggas coklat adalah pemandangan yang kini kutemui. Khodam itu masih kupegangi bagian keningnya. Ia tetap melayang di udara tetapi perbedaannya sekarang adalah aku bisa melihat kelanjutan awal mula akar tebal belenggu tubuhnya. Sebelumnya awal akar itu tidak terlihat.

Ternyata ada rangkaian akar-akar tebal yang menggurita di permukaan tanah padang savana ini. Akar-akar itu menopang sebuah pohon yang tidak terlalu besar tak jauh di belakangku. Pohon itu sejenis pohon beringin yang memang memiliki cakupan akar yang luas. Tingginya hanya sekitar dua meter dan daunnya belum terlalu lebat seperti seharusnya.

Tunggu dulu. Beringin tidak seharusnya tumbuh di tempat seperti ini. Biasanya tumbuh di tempat dengan banyak kandungan air bersama pohon-pohon lain. Padang savana ini pastinya miskin air karena mengandalkan suplai air dari hujan yang jarang.

Ini ada dua kemungkinan, entah pohonnya yang salah pilih tempat tumbuh atau tempatnya yang salah. Beda loh artinya. Ini masalah dimensi ya. Pertama pohon ini seharusnya tidak ada di sini. Yang bisa tumbuh di savana ini hanya jenis rumput dan semak tertentu.

Yang kedua adalah lingkungannya yang salah. Lingkungan ini sedemikian berubah atau dirubah sehingga pohon beringin ini tidak bisa tumbuh semestinya. Bingung? Sama.

Setelah kuhampiri pohon ini, ternyata ia tumbuh cukup sehat dan kuat, batangnya kokoh dengan kulit yang beralur tegas, cabang dan rantingnya tumbuh dengan wajar. Pertumbuhannya juga bagus sesuai dengan umurnya.

Tingginya sudah mencapai dua meter yang menandakan bahwa pohon beringin ini masih muda. Yang tidak wajar adalah akarnya. Bentuk liar menggurita akar ini seharusnya dimiliki oleh pohon yang sudah berusia ratusan tahun. Menjalar jauh kemana-mana. Apa untuk mencari kurangnya air?

Mencari dan mencari dan malah menangkap khodam kakek-kakek itu di sana. Membelenggu dan menghisapnya! Apa khodam itu menjadi sumber makanannya yang kurang didapat dari lingkungannya? Weit e minit.

Pohon ini adalah sentral dari dimensi ini. Ini pusatnya. “Eits!” kagetku. Aku mendapat kilasan statis memori ketika kucoba sentuh batang pohon ini. Coba disentuh lagi. Aku dapat merasakan bahkan melihatnya. Ini adalah kumpulan memori seseorang yang kukenal. Ini adalah memori Pipit!

Ternyata ini adalah dimensi milik Pipit. Secara tidak sadar ia telah menjadi seorang Menggala Suba karena memiliki khodam yang selalu mengikutinya. (Ingat penjelasan tentang tata cara menjadi seorang Menggala di post sebelumnya) Semua yang sudah pernah diceritakannya padaku dapat kulihat jelas kembali melalui ingatannya langsung. Dari masa kecil, remaja hingga dewasa sekarang.

Masa bermainnya, pacaran, kehilangan perawan, hamil, menikah, cerai, bertengkar, kabur, bekerja, menikah kembali, sakit dan mendambakan anak. Bahkan aku bisa merasakan pedihnya.

Kutarik paksa untuk menghentikan banjir informasi dari memori Pipit hanya dengan sentuhan tanganku. Semacam lendir lengket membuat rekatan yang cukup kuat tadi. Kakek khodam terikat di sana oleh akar besar ini. Jaraknya tidak jauh. Hanya berjarak lima meter.

Aku memeriksa awalan akar besar yang membelenggu kakek khodam. Akar-akar lain pasti mencari sumber makanan. Kutelusuri akar lainnya dan kutemukan sesuatu yang mengejutkan. Akar itu juga ternyata membelenggu mahluk astral lain.

Berupa mahluk bertubuh besar, berbulu lebat, berkulit kemerahan, bermuka serem dengan beberapa taring menonjol, yang sering disebut sebagai genderuwo. Tubuhnya juga dibelenggu sama persis seperti kakek khodam. Ia hanya bisa melotot memandang padaku dengan ekspresi sama seperti kakek khodam minta tolong. Tubuhnya kini kurus. Ada apa ini?

Jarak genderuwo ini jauh sekitar 25 meter dan pohon beringin itu tumbuh di puncak semacam gundukan tanah savana yang paling tinggi; yang merupakan pusat sentral semua dimensi ini. Dari sini aku bisa melihat beberapa hal lain yang dibelenggu akar-akar ini.

Ada sejenis kuntilanak kurus berwajah gosong, kera ceking berbulu merah, genderuwo kurus lainnya dan kerangka manusia kerdil semacam tuyul yang kutenggarai sudah habis dihisap oleh pohon beringin. Kuperiksa semuanya.

Kalo begini ceritanya, namanya gak jelas nih. Aku belum pernah pulak nemuin kasus pelik kek gini. Diantara semua ini, yang mana satu sebenarnya mahluk media Suba milik Pipit? Sekarang aku malah jadi tidak yakin kalau kakek khodam itu adalah yang sebenarnya.

Apa malah salah satu dari sekian banyak mahluk astral ini? Tapi yang mana? Kalau kutanya satu-satu, pastinya mereka akan mengaku-aku kalau dialah yang kucari. Mahluk seperti mereka ini tidak bisa dan tak boleh dipercayai. Sesat jadinya.

Rencanaku yang akan membebaskan kakek khodam batal sudah. Dari sekian banyak mahluk astral yang memasuki dimensi ini, tujuannya hanya satu. Menyerang Pipit. Mereka ini pastinya suruhan dari beberapa individu yang bertujuan mencelakai Pipit. Bisa dari orang yang sama atau beda orang atau bahkan beda motif. Pusing gak? Pusing-lah pala berbie.

Eh! Kok paok kali kao, Seng? Kan sudah jelas jawabannya! Pohon itu-lah media Suba Pipit yang sebenarnya. Ia menangkap semua penyerang gelap yang bermaksud mencelakai Pipit. Tidak langsung dihancurkan tetapi malah dimanfaatkan untuk menjadi energi.

Karena kesemua mahluk astral ini bertujuan jahat, tujuan jahat mereka malah terkonversi menjadi penyakit yang terkumpul menjadi wujud kista yang mengganggu peranakannya. Menghalanginya untuk memiliki anak karena rahimnya terganggu. Karena pohon adalah mahluk vegetatif yang tentunya tak berakal, dia hanya tau itu adalah energi gratis yang dapat digunakan, tak perduli ia bagus atau jahat.

***

“Pohon beringin pelindung Pipit di hadapanku… berikan saya sebuah pencerahan… informasi… Apa tujuan hidupmu?” tanyaku langsung pada sang pohon yang akarnya melindungi Pipit.

Aku duduk bersila selagi melakukan komunikasi ini. Tapak tanganku menempel dibatasi sehelai daun keladi berukuran sedang yang sengaja kubawa.

“Kau sudah datang… Cino?” jawabnya.

Benar, kan? Pohon yang bersuara ngebass ini yang menulis di cermin berembun itu. Bukan kakek khodam. Hanya karena dia yang paling dekat dengan Pipit, hanya kakek itu yang dapat terlihat jelas.

“Tujuanku hanya melindungi anak manusia ini dari banyaknya gangguan… Cino tau anak manusia ini sangat bermasalah hidupnya… Setidaknya aku tidak akan membiarkan mereka menambah masalah lagi…” mereka maksudnya adalah mahluk-mahluk astral itu.

“Tapi karenanya malah Pipit mendapat penyakit akibat energi tidak baik mereka bukan?” kataku mencoba membuka argumen.

“Setidaknya itu akan menjadi ujian buatnya… agar tetap menjauhi masalah…” cerdas sekali jawabannya ternyata.

Ternyata dia jauh dari kata vegetatif. Pikirannya malah visioner. Kalo di dunia nyata mungkin dia bisa jadi Komisaris BUMN. Halaah! “Mereka ini sudah terputus hubungannya dari pemiliknya karena jangkauan mereka terputus oleh air asin…”

Air asin? Oo… Rupanya ilmu dukun-dukun atau siapa-lah yang mengirim ilmu hitam ini terputus karena sang target sudah menyebrangi pulau. Pipit yang berasal dari Jawa dan menyeberang ke Sumatera sebenarnya sudah aman dari serangan ilmu hitam ini karena ilmu itu ternyata masih cetek yang gak bisa nyebrang pulau.

Tetapi karena para mahluk astral yang sudah kadung terbelenggu oleh pohon beringin tetap dibawa-bawa sampai ke Medan sini. Begitu rupanya.

“Jadi selama ini yang membisikinya itu bukanlah kamu, pohon beringin?” tanyaku penasaran. Apakah salah satu dari mahluk astral ini?

“Benar sekali, Cino… Dia yang selalu membisiki anak manusia ini… Bisikannya terdengar baik tetapi sebenarnya menyesatkan… Waktu itu aku masih kecil dan tak sanggup membelenggunya… Yang pertama sekali berhasil kutangkap adalah tuyul-tuyul kecil dan kuhisap habis sehingga kekuatanku bertambah… Dan akhirnya aku berhasil menangkapnya…” jelasnya.

Ia menunjuk si kakek khodam. Pasti seru sekali proses penangkapan semua mahluk astral pengganggu saat itu. Tapi pastinya saat itu terjadi terjadi juga guncangan-guncangan supranatural pada Pipit.

“Jadi apa yang bisa kubantu, pohon beringin? Sepertinya kamu bisa sebenarnya mengatasi ini semua…” tanyaku. Untuk ini aku datang ke dimensi ini. Daerah kekuasaan Pipit.

“Ada gangguan di dasar akarku… Kemungkinan besar disanalah juga semua akar penyakit yang diderita anak manusia ini… Aku tidak bisa menjangkau kesana terkecuali membahayakan diriku sendiri…” jelasnya gamblang. Disana rupanya. Saat ku menunduk terasa hangat samar-samar dari bagian bawah pohon beringin ini.

“Akan kucoba… Permisi…” kataku lalu melepas koneksi komunikasi kami.

Aku yang menggunakan senjata daun empat penjuru angin, bisa berkomunikasi dengan sesama tumbuhan. Ini adalah salah satu kelebihanku yang sudah menguasai jurus Gugur Glugur.

Aku lalu mengeluarkan salah satu bekal daun yang kubawa bakal senjata. Sehelai daun kaku panjang berwarna hijau tua dan kuning dengan bintik-bintik bergaris bernama tanaman Lidah Mertua. Aku mendapat ini di taman depan hotel. Secara bentuk ini akan menjadi pedang yang handal karena ketebalannya.

KROSAAKK!!

Kutusukkan pedang Selatan tebal ini ke dasar akar pohon beringin dengan penuh kehati-hatian agar tidak melukai akar pohon beringin. Terasa menyentuh sesuatu yang lembek dan berair. Tembus tertusuk. Bau anyir segera menyeruak menusuk hidung. Baunya seperti darah busuk dari bangkai yang sudah terpendam lama.

Kutusuk lagi berulang-ulang untuk membuat beberapa lubang agar seluruh isinya bisa keluar. Benar saja tak lama ada lumeran cairan serupa darah kental menggelegak mendesak keluar dari dasar akar pohon beringin. Pohon yang vegetatif ini terdiam saja. Ada getaran-getaran kecil sebenarnya yang terjadi di sekitarku. Kuperhatikan terus aliran darah busuk itu. Baunya menusuk hidung. Tapi harus tahan. Swiisshhh!!

Blak! Tangkis dan lompat mundur menjauh.

Sebuah akar berukuran besar putus oleh tebasan bertahanku barusan.

“Kau…”

“Tidak perlu gusar begitu, Siluman… Aku ini bukan anak kemaren sore yang bisa kau tipu-tipu…” menanggapi kegusaran pohon beringin itu. Apa yang terjadi? Ini intrik yang terjadi yang sudah berumur setua bumi ini. Tipu daya. Menyaru sebagai kebaikan padahal sejatinya kejahatan.

Beringin itu kemudian mulai bergerak secara mencengangkan. Pernah liat pohon berjalan? Kek film Lords of the Ring? Di cerita itu, pohonnya berukuran besar. Disini ia berukuran kecil saja tetapi akarnya sangat luar biasa masif.

Ia menarik semua akar-akarnya yang seperti menjalar tak menentu lalu menjulang tinggi serupa tiang listrik. Beberapa mahluk astral yang masih dibelenggunya, masih terus dibawa-bawanya. Ia menyatukan akar-akar dengan saling belit menjadi sepasang kaki yang besar. Tubuhnya masih berupa sebatang pohon beringin kecil yang pada selangkangannya akarnya masih menetes darah busuk yang sudah kutusuk-tusuk.

“Nah… Gitu-lah… Maen terang-terangan aja kita…” kataku mendongak. Padahal ngemop (gertak) aja-nya ini. Ini udah kek pertarungan Daud melawan Goliath kurasa. Awak yang seukuran manusia normal melawan siluman pohon beringin setinggi 5 meter.

“Bagaimana kau tau aku ini siluman?” tanyanya masih gusar. Penyamarannya bertahun-tahun terbongkar.

“Ah… geleng (mudah)-nya itu… Kalau kau jadi pohon… jadi pohonlah yang betol… Mana ada pohon bisa nulis-nulis di kaca… Kou kira paok kali aku, kan? Kau yang lebih paok lagi…” kataku mengulur waktu memancing emosinya.

Aku bergeser pelan-pelan ke kanan. Ia bergerak ke kiri. Bagus. Dia sudah melepaskan Pipit di dasar lubang berdarah busuk itu. Biar begitu saja dulu tapi sementara ini dia aman walau berlumuran darah gelap nan busuk. Tubuhnya tergolek lemah.

“Waktu kau jadi manusia… kau pasti bejad kali sampek kenak penyakit kotor itu, kan?” usikku. Tebakanku kalok nggak raja singa ya herpes. Yah! Dia marah. Pakek ngentak-ngentak kaki kek bocah gak dikasih beli balon.

“Untung-lah kau milih jadi siluman… jadi gak ada perempuan yang ketularan kau…” tambahku memanas-manasin kompor mledug. Walau tertawa-tawa, pedang Selatan jelmaan daun tanaman Lidah Mertua tetap kupegang erat siap digunakan.

“UWAAARRRHHH!!!” amuk siluman beringin itu mengangkat kakinya terpancing emosi.

Hentakan kakinya yang besar menghantam bumi dengan keras. Untung aku melompat sebelum hantaman terjadi. Selagi melompat kucoba memapas kaki akarnya. BLAK! Keras kali, mak! Mungkin-mungkin kalau pake pedang daun pisang Cloud Strife kemaren-pun belum tentu putus. Aku bergulingan menjauh dan ia mengejarku.

Berkali-kali kemudian menghujaniku dengan hentakan kaki lagi. Ia sepertinya bernafsu untuk melumatkan tubuhku dengan gencetan kaki raksasanya. Aku hanya menjauh dan sekali-kali menangkis dengan pedang daun Lidah Mertua. Saat sudah cukup dalam jarak aman, kupanggil bantuan. Ini akan menyeimbangkan skor.

“Aku memanggilmu… Temanku Pandapotan Samuel Hutagalung anak Efraim Mangatas Hutagalung…” setelah sebelumnya mengerahkan Lini pemanggilan secukupnya. Memanggil bantuan sekaliber Kojek akan memakan banyak tenaga Lini.

“Yoo, lae? Kou panggil pulak aku tengah malam kek gini? Orang lagi enak-enak tidur…” gerutu teman seperjuanganku.

“Ah… Nanti aja-lah komplennya… Cak kou tengoklah itu… Lae-lah lawannya yang paling pas…” tunjukku padaku siluman pohon beringin setinggi 5 meter yang menyadari kalau lawannya kini ada dua. “Besar, kan?”

“U-WOW!… Siluman pohon beringin!… Langka kali lawan kek gini, Seng… Udah lama aku gak olah raga-ah… Pemanasan dulu kita, ya?” ternyata Kojek cepat antusias melihat calon lawannya.

“Gak kou panggil sekalian si Iyon? Biar kita rame-ramekan dia…”.

Ia membuka singlet putih yang jadi pakaian tidurnya tadi tapi tidak dengan celana pendeknya. Kojek selalu membuka bajunya kalau sedang serius mau berkelahi. Badannya memang kurus ceking lagi hitam mengkilat, tetapi soal tenaga dia selalu menjadi andalan kami.

“Gak cukup tenagaku, Jek… Kalok kou mau… kao aja-lah yang manggil…” usulku. Aku harus menghemat tenaga. Aku sudah menggunakan setengah kekuatanku. Harus hemat-hemat.

“Gak usahlah… Keknya dia masih kerja jam segini… Aku aja-pun dah cukup kurasa…” katanya.

Kojek lalu menyiapkan jurus andalannya. Mengerahkan aliran lini ke satu titik di tubuhnya. Di punggung hitamnya muncul semacam tato timbul bergambar babi hutan dengan taring melengkung panjang.

Kedua tangan Kojek meniru posisi taring itu. “HORTUK! (taring babi hutan) HEAAAAAHHHH!!” tiba-tiba Kojek melesat maju dengan posisi menunduk. Kala berlari kedua tangannya menggaruk tanah bak traktor. Tanah porak-poranda dengan cepat dan garukan itu menghantam kaki kanan raksasa siluman pohon beringin.

Tubuh siluman itu limbung karena kaki yang barusan dihantam Kojek patah dengan telak. Bak dihantam traktor gila. Suara berdebum membahana seolah pohon yang barusan ditebang. Siluman pohon beringin berusaha bangkit.

Kojek meneriakkan nama “BABIAT BALEMUN” (harimau besar, ganas) itu pertanda ia memunculkan tato timbul bergambar harimau di sekujur tangan kanannya. Serta merta ia mencabik-cabik sisa kaki kanan siluman pohon beringin. Terdengar auman Kojek kala ia melakukan kegilaannya.

Kami tak pernah mau dekat-dekat kalau ia sudah mengeluarkan Babiat Balemun karena ia seakan mengeluarkan semua amarah yang selalu dipendamnya. Bak harimau mengamuk, ia menghancurkan lawan dengan cakar tangannya. Habis berderai-derai kaki kanan lawan dibuatnya tanpa ampun. Serpihan kaki yang terdiri dari jalinan banyak akar berserakan.

Kaki kiri yang masih utuh mencoba membalas perbuatan Kojek yang menggila. Ia akan menggencet Kojek yang sangat dekat dengan tubuhnya. Tetapi Kojek dengan mudah menghindarinya bak seekor monyet yang lincah.

Ia malah melompat dan nemplok di bagian tulang kering kiri siluman pohon beringin itu bermaksud akan mencabiknya juga. Tak pikir panjang siluman pohon beringin menghentakkan kakinya agar getarannya menjatuhkan lawan.

Kojek terjatuh karena pegangannya terlepas akibat getaran yang lebih mirip goncangan pada skala manusia normal. Lawan jatuh, ia bermaksud menggencet Kojek yang mendarat di tanah.

BROOKKK!!

Suara rengkahan tanah terdengar sangat memilukan. Kojek ditindihnya dengan kaki kirinya yang masih utuh. Tapi aku sempat mendengar Kojek mengucapkan “NABIRONG!” Birong itu bahasa Batak untuk hitam. Untuk apa dia mengumpat si-hitam? Kulitnya pun hitam jugak-nya?

Kaki kiri siluman pohon beringin yang cukup besar itu kemudian membelah dua untuk menggantikan kaki kanannya yang sudah hancur. Kini siluman itu sudah memiliki dua kaki lagi dan bisa berdiri tegak. Dibekas pijakannya tadi ada tubuh hitam Kojek yang sudah digencet.

Tubuhnya utuh tetapi membuat lekukan indentasi persis tubuhnya di tanah keras. Perlu kalian ketahui kala memakai jurus Nabirong ini, tubuh Kojek akan keras seperti baja hitam. Satria baja hitam, dong? Hehehe… Siluman pohon beringin yang tak menyadari ini mundur untuk mencariku yang menjauh.

Apa yang kulakukan? Malah membiarkan Kojek bertarung sendirian padahal ini urusanku, kan? Bukan lae… Aku sengaja melakukan ini untuk menyelamatkan tujuan utamaku di daerah kekuasaan seseorang ini. Tentu saja menyelamatkan Pipit.

Aku baru saja mengeluarkan tubuh Pipit dari genangan darah busuk di lubang bekas berkubangnya bersama pohon beringin tadi. Genangan itu berubah menjadi berwarna kecoklatan pekat. Baunya minta ampun busuk. Kuseret ia sejauh mungkin dari lubang terkutuk di tempat tertinggi daerah ini.

Dengan begini, Pipit sepenuhnya sudah sembuh dari penyakit yang dideritanya akibat akumulasi berbagai energi negatif yang terkumpul akibat ulah si siluman pohon beringin yang memerangkap banyak mahluk astral dari golongan hitam.

Sepasang kaki siluman pohon beringin itu kini lebih ramping karena sebenarnya satu kaki yang dibagi dua. Tetapi hasilnya ia bisa berlari dengan kencang menyusulku.

“NABALGA!” Siluman itu terhenti di tengah prosesi pengejarannya karena ditahan sesuatu. Sepasang tangan besar menahan kedua kaki siluman yang sangat besar dan berbahaya itu. Tangan besar? Balga itu bahasa Batak untuk besar. Sudah selesai. Siluman pohon beringin itu sudah selesai.

Kojek membesarkan tubuhnya bahkan lebih besar dari si siluman yang setinggi 5 meter. Tubuh jangkung kurusnya kini sudah setinggi 8 meteran. Dipatah-patahkannya kedua kaki siluman yang terbuat dari jalinan akar-akar beringin seperti mematahkan ranting tak berarti saja. Menyisakan tubuh berupa batang pohon beringin kecil setinggi 2 meter.

“PARBEGU!”

Ini dia puncak kekuatan Kojek. Tapi untuk apa ia melakukan itu? Siluman itu pastinya tak bisa berkutik lagi. Kojek pasti sudah gatal untuk kembali menggunakan ini kala menemukan lawan yang tepat.

Tapi tepatkah? Bukannya siluman itu sudah tidak berdaya? Jangan lupa, siluman pohon beringin itu masih membelengu beberapa mahluk astral sebagai sumber energinya. Ternyata untuk itu Kojek menggunakan Parbegu. Begu adalah bahasa Batak untuk setan atau hantu. Kojek jadi hantu? Lebih mengerikan dari itu. Dia jadi pemakan hantu!

Wajah Kojek yang seram kek gembong preman penguasa jalan Sekip jadi lebih seram dari sebelumnya. Matanya merah, kulit hitamnya memerah, muncul taring panjang di keempat sudut mulutnya. Mulutnya kemudian terbuka lebar dengan mencengangkan. Lebar tak wajar! Ia melakukan gerakan menghisap.

Menghisap semua lawan yang ada di depannya. Jadi yang pertama ditelannya adalah semua mahluk astral yang dibelenggu siluman pohon beringin dengan akarnya, kemudian menyusul beringin itu. Kakek tua, genderuwo, kuntilanak, siluman monyet, pocong, semuanya disedot abis.

Kojek dengan jenaka tak pantas yang mengerikan, sendawa. “ERRGGHH!!”

Temanku itu lalu kembali ke wujud semulanya, pria kurus jangkung berkulit hitam dengan rambut kriwil nanggung. Dia cengengesan mengusap-usap perutnya yang katanya kenyang setelah melakukan jurus mengerikan itu.

“Kurang andaliman (bumbu khas suku Tapanuli) tadi kek-nya…” jenaka temanku ini masih mengusap perutnya yang kerempeng. Mulutnya berdecap-decap.

“Ah… Gak ada kenyang-kenyangnya kao… Gak-lah bisa gemuk jugak kao, Jek makan banyak-pun… Ntah udah hapa-hapa aja yang udah kao makan selama ini… Gelik pulak aku dekat sama kao… Kao jilat pulak nanti aku… Hi-ih…” geli aku membayangkan harus memakan mahluk-mahluk astral kek tadi. Tapi itu pulak ilmu yang dikuasai temanku ini. Apa mau kubilang?

“Ah… Karna cewek-nya pulak rupanya…” pungkas Kojek setelah melihat sosok Pipit yang berangsur-angsur membaik tubuh spiritualnya.

Sisa darah busuk tadi tinggal sedikit di tubuhnya.

“Tapi cantik pulak… Dapat aja ya kao…?” lanjutnya setelah ia lebih dekat.

“Tau-nya si boru Jawa orang rumah (binik)-mu?” tanyanya perihal istriku. Tentunya Kojek kenal betul dengannya.

“Hmm… Gak-lah, Jek… Ini kerjaan sampinganku-nya… Jangan ember kao, ya kalo jumpa binik-ku… Rahasia top secret ini…” kataku membersihkan sisa-sisa darah kotor yang tersisa di bagian betis Pipit.

Pipit selama ini dalam keadaan tidak tau apa-apa karena sisi spiritualnya tidak memiliki pengalaman karena ia menjadi Menggala Suba yang memiliki daerah kekuasaan berupa padang savana ini secara tidak sengaja.

Entah bagaimana statusnya nanti setelah tadi siluman pohon beringin yang memanfaatkannya selama ini sudah ditelan Kojek. Secara teori media Menggala Suba-nya telah musnah. Berhenti menjadi Menggala?

“WANI PIRO?” tereak Kojek malah memerasku. Gak pantas kali kao ngomong Jawa, kimak!

“Kimbek kao, ya!” makiku yang dibalas dengannya tertawa-tawa kek orang nyedot kecubung satu ladang.

***

“Apa tadi itu, bang?” tanya Pipit yang kebingungan.

Tentu saja ia bisa melihat semua kejadian ganjil barusan di padang savana yang merupakan daerah kekuasaannya. Ia bisa melihat tapi tidak bisa melakukan apa-apa. Itu hal wajar bagi Menggala Suba pemula. Seiring waktu akan semakin menguasai.

“Gak usah dipikirin, Pit… Lupain aja… Yang penting… Pipit udah sembuh… Dah itu yang penting…” kataku mencoba meyakinkannya.

Diliriknya jam tangan mungil di pergelangan tangan kirinya. Waktu tidak ada perubahan sama sekali. Ini masih sama persis seperti aku memulai tadi.

“Tapi Pipit harus tau, bang… Apa yang terjadi pada Pipit sebenarnya…” desaknya penasaran.

Aku menarik nafas panjang dulu.

“Kalo mau diceritain rumit, Pit… Itu tadi alam spiritual… Jangan ditanya lebih jauh… Cukup segitu aja… karena Pipit gak bakal balik kesana lagi… Penyakit yang Pipit derita adalah akumulasi dari tipu daya dari golongan jin dan manusia… Entah kapan masuknya satu siluman yang berpura-pura menjadi pelindung untuk melakukan rencana jangka panjangnya… Pipit yang punya banyak masalah dengan orang… mengundang begitu banyak kekuatan jahat yang menyerang… Siluman penipu tadi menangkap semua penyerang tadi untuk kepentingannya sendiri… Seperti yang awak bilang tadi… semuanya malah berakumulasi menjadi penyakit yang Pipit alami… Intinya… Mereka-mereka itu tidak bisa dipercaya… Selalu ada agenda tersembunyi dibalik kebaikan yang mereka tunjukkan…” jelasku panjang lebar.

Keningnya berkerut-kerut mencoba memahami dan mencerna penjelasanku barusan. Tentu saja tadi itu semua adalah garis besar saja tapi karena Pipit yang menjalani itu semua pastinya ia lebih paham.

Lalu ia menanyakan beberapa hal seperti apakah ada orang yang mengirim semacam guna-guna, sihir, santet dan semacamnya. Kujawab banyak. Buktinya ada banyak mahluk astral yang ditangkap siluman pohon beringin di perangkap akarnya. Tapi tidak perlu kuberitau siapa-siapa saja. Tentu akan ada balasan tersendiri bagi pelakunya.

“Trus… Mm… Gini… Pipit malu nyeritainnya… Jadi… ini yang terakhir mau Pipit tanya… Kenapa Pipit sering mimpi… ML sama bang Aseng, ya?” tanya Pipit shy-shy cat. GUBRAK!

***

Jadi Pipit baru aja selesai masa haid-nya dan menghabiskan malam terakhirnya bersama suaminya ena-enaan. Untung pas waktunya kalo enggak lakiknya harus nunggu 3 minggu lagi baru dapat jatah. Tapi gak tau juga kalo dia nyari lobang di Jakarta sana. Foto pagi-pagi buta dan mendapatkan tulisan di cermin berembun itu setelah mandi wajib.

Pipit akhir-akhir ini jadi sering mimpi bercinta denganku setelah kejadian hilangnya burung itu. Satu hari bisa dua-tiga kali ia bermimpi hal yang sama. Apalagi karena ia lebih sering berada di rumah saja tentu lebih banyak molornya.

Pagi-pagi abis beres-beres rumah, dia tidur. Abis makan siang tidur lagi sampe sore. Malam tidur lagi jam 9. Menungguku datang malam ini aja dia sempat-sempatin tidur. Tiap tidur ia selalu memimpikan hal itu berulang-ulang.

“Pipit jadi senengannya bobo… Enak…” katanya lirih malu-malu.

Hampir aja kujedotkan kepalaku ke setir mengingat itu. Aku ingat betul kata-katanya itu kala nyetir pulang tengah malam ini. Aku mengarahkan mobil ini kembali ke pabrik, karena sepeda motorku masih diparkir di sana. Security shift malam menyambutku lalu pulang dengan motorku ke rumah.

Cek orang rumah sudah pada tidur semua. Kuperiksa kembali semua jendela dan pintu dalam keadaan tertutup rapat. Kembali aku menyelinap masuk ke rumah tetangga sebelah; Yuli.

Pintu belakang rumah ini hanya ditutup tetapi tidak dikunci. Sebenarnya ini riskan tetapi gang ini masih cukup aman. Yuli tertidur lelap bersama anaknya, Mimi di kamar depan. Ia memakai daster pendek yang tersingkap sampai keliatan celana dalamnya.

Kuelus-elus pahanya sampai ke bongkahan padat pantatnya yang semok lagi mulus. Kuremas-remas buah pantatnya yang besar sampai aku terangsang sendiri. Yuli menggeliat bangun dan tersenyum manis melihatku sedang menyentuhnya. Dilebarkannya kakinya dan membiarkanku mengelus selangkangan tebalnya. Terasa agak lembab.

“Bang Aseng?” katanya mengucek mata dengan senyum manis gingsulnya.

Diikatnya rambutnya lalu beringsut hati-hati turun dari ranjangnya agar anaknya tidak terbangun karena gerakannya. Ia memberi kode agar aku menunggunya di kamar samping. Ini sudah jam 1 malam dan aku duduk bertelanjang dada di kasur kapuk di dalam kamar-gudang. Tak lama Yuli masuk dan menutup pintu.

Tanpa menunggu lama-lama, Yuli langsung menubrukku dan berusaha melumat mulutku.

“Yul… Sstt… Jangan cium… Gak boleh-lah… Jangan… Nanti Yuli baper-loh…” cegahku.

Tapi Yuli tidak perduli dan terus aja nyosor. Sepertinya ia suka sekali dengan ciuman yang panas-panas PANAS-PANAS-PANAS PALA INI PUSING… PUSING-PUSING

“Yuli! Stop!” cetusku tertahan sembari memegangi kedua bahunya.

Kedua gunung 38DD itu menekan perutku, ia tak memakai bra. Kilau jingga lampu 5 watt di atas kami berpendar di matanya yang terlalu bersemangat.

“Ingat perjanjian kita… Jangan dilanggar… Ingat?” katanya mengingatkannya akan perjanjian yang sudah kami buat kala di rumah makan Padang itu.

Matanya berkedip-kedip beberapa kali. Dia harus ingat janji yang harus ditepatinya itu. Aku tentu tidak mau ada apa-apa yang menimpanya kelak.

“Maaf, bang Aseng… Yuli udah gak sabaran…” katanya menunduk tetapi memeluk perutku. Dibenamkannya wajahnya pada dadaku.

“Nungguin bang Aseng lama kali datangnya… Yuli sampek ketiduran dan mimpi maen sama bang Aseng… Udah basah ini-loh…” katanya menghirup aroma tubuhku.

Dieratkannya pelukan hingga terasa sesak ditekan dua 38DD.

“Bang Aseng lama kali lemburnya…” Yaa… Aku ngakunya lembur karena ada masalah di pabrik yang harus aku tangani.

“Maafin awak juga, Yul… Tapi perjanjian kita jelas waktu itu kita gak boleh pake perasaan… Kita sama-sama punya pasangan… Yuli punya suami… Awak punya istri… Awak cuma menjalankan tugas untuk menghamili Yuli… Itu saja… Kita tetap jadi tetangga yang baik saja…” jelasku mengangkat wajahnya agar sejajar denganku, mendengarkan keseriusanku. Ini sangat penting bagiku karena aku yang mengajukan perjanjian itu.

“Maaf lagi, bang… Awak kebawa suasana… Abang gak marah, kan?” tanya Yuli keliatan hampir menangis. Ia menunduk lagi.

“Gak kok, Yul… Awak gak marah, kok… Cuma mengingatkan kalau kita ada perjanjian, kan? Itu penting untuk selalu kita jaga… Penting, Yul…” kataku menekankan pentingnya menjaga tiga pasal perjanjian kami.

Tidak banyak tuntutan disana. Hanya harus tetap mematuhi tiga pasal perjanjian saja. 1. Hubungan. 2. Kepercayaan. 3. Masa Depan. “Masih ingat, kan?”

“Masih, bang… Maaf ya, bang… Yuli kesusu (buru-buru)…” katanya minta maaf lagi dan lagi.

“Awak-lah yang ke susu…” kataku mencoba mencairkan suasana gak enak ini dengan mencengkram kedua gunung 38DD yang tak abis-abis membuatku takjub.

Yuli tertawa kegelian mendengar permainan bahasaku. Ia membusungkan dadanya yang masih terbungkus daster pendek itu agar aku lebih bebas memainkan teteknya. Ia menggeliat geli kala kutemukan pentilnya dan kupilin-pilin. Permainan kami mulai menghangat.

Yuli meraba celana pendekku dan segera menemukan Aseng junior yang sudah menggembung di dalam sangkarnya. Lancar ia meloloskan celana pendek sekalian sempakku dan Aseng junior melompat bebas. Ditangkapnya batang Aseng junior selagi aku masih terus mempermainkan dua 38DD itu.

Kepalanya lalu menunduk menjilati puting dadaku. Geli dan dingin terasa ludahnya belepotan di putingku sementara Aseng junior dikocoknya pelan. Dipandanginya mataku selagi terus mempermainkan putingku. Terkadang ia mengulum sebisanya. Seperti yang lazim dilakukan kala berciuman. Terserah kamu aja, Yul… Asal jangan di mulutku.

Permainan mulut dan lidahnya menjalar ke perut, berputar-putar dan akhirnya bermuara dengan dicaploknya Aseng junior ke dalam mulutnya yang hangat. Mmhh… Nyaman-nya. Enak kali emutan Yuli. Lidahnya menari-nari menggelitik lubang kencingku lalu menari-nari di sekitar leher kepala Aseng junior.

Aku duduk bersandar di dinding sambil mengelus-elus rambutnya. Menikmati kala Yuli menyedot-nyedot kepala Aseng junior dengan kuat. Sampai berkali-kali aku mengaduh enak dan pantatku terangkat. Yuli juga meremas pantatku dengan gemas.

Kubisikkan angka 69 padanya dan ia segera paham. Masih mengulum Aseng junior dibagian pipinya, Yuli melepas celana dalamnya, menendangnya entah kemana lalu badannya berputar. Di posisiku duduk bersandar seperti ini, Yuli menunggingkan pantatnya ke arahku. Bokong bohay-nya lalu terpampang di depanku.

Berkilat oleh cahaya lampu temaram aku bisa menemukan apem mlenuk-nya yang memang sudah basah. Kubenamkan mukaku di belahan padat itu. Lidahku segera menyeruak masuk membelah kelembaban itu. Yuli bergidik geli. Desahannya memenuhi kamar ini dengan suara perlahan.

Dilebarkannya kangkangan kakinya agar aku bisa lebih berkreasi di selangkangannya. Tanganku meremas-remas paha bagian dalamnya sementara lidahku terus menjilat-jilat semua yang bisa kujangkau di belahan apem mlenuk Yuli.

Kasar jembutnya tak begitu kupedulikan apalagi tak ada aroma pesing atau yang gak enak lainnya. Kusedot-sedot berulang itilnya sampai Yuli melepas Aseng junior untuk mendesah. Kuperlebar bukaan apem itu untuk memasukkan lidahku kubuat seperti corong.

“Aaaeehh…” desahnya kala lidahku masuk.

Aseng junior junior-ku sudah basah kuyup dipermainkannya. Aku udah gak tahan dan kutarik Aseng junior dari emutan mulutnya. Kupegangi pinggulnya pertanda aku akan masuk dari belakang untuk pertama kalinya. Ia tetap menungging.

Yuli mengusap mulutnya yang berlepotan liur selagi merasakan kepala Aseng junior kugesek-gesekkan ke belahan apem mlenuk-nya. Ia menungging rendah hingga kepalanya bertumpu di kasur kapuk. Aseng junior mulai meluncur masuk dengan lancar walau ketat liang kawin apem mlenuk Yuli mengapit.

“Mmm…” erangku menekan masuk hingga Aseng junior terbenam mentok.

Yuli mengerang juga dan menengadah dengan kedua sikunya menjadi penopang tubuh. Kuremas-remas pinggul berlemak lembutnya dengan gemas.

Perlahan kupompa apem mlenuk Yuli sambil menengadah merasakan enak nikmatnya. Nikmat pergesekan kelamin kami berdua. Ketat menjepit liang kawin Yuli sangat melenakan. Pelumas di sekujur liangnya melancarkan gerakanku keluar masuk.

Kuremas-remas terus pinggul lembutnya dengan gemas. Karena gerakanku maju-mundur, daster pendeknya melorot turun sampai mencapai dadanya. Gunung kembar 38DD berguncang-guncang menggoda. Menyentuh gencet dengan permukaan kasur kapuk. Yuli mendesah-desah seperti kepedasan kebanyakan makan sambal. Leher dan punggung putihnya menjadi pemandanganku.

Kucabut sekali-kali Aseng junior dari dalam liang kawin Yuli untuk mengulur waktu. Kuremas-remas buah pantatnya dengan gemas. Kugesek-gesekkan ke belahan pantatnya lalu kuciumi kembali vagina mlenuk itu. Kucoblos kembali dengan gemas buru-buru.

Aku mendesah lagi ketika Aseng junior terbenam mentok mengakibatkan tubuh Yuli juga terjengat keenakan. Hangat sekali jepitan apem mlenuk di malam yang dingin ini. Malam menjadi panas dengan persetubuhan kami. Ada sekitar 5 menit kugagahi Yuli di posisi anjing kawin ini. Dah kerasa enak-enak mau ngecrot gitu. Harus diulur lagi nih. Enak kali rasa binik orang ini. Kucabut lagi.

Kuarahkan Yuli untuk berbaring menelentang dengan kaki terbuka. Ia mendesah pasrah dan lega karena ia harus keluar tenaga ekstra untuk menungging seperti tadi. Kugesek-gesekkan Aseng junior di sekitar itilnya lalu terbenam masuk.

Yuli menggeliatkan punggungnya ketika Aseng junior meluncur masuk dengan mulut terbuka tanpa suara. Pelan kupompa hingga gunung kembarnya bergoyang naik turun juga. Goyangannya sungguh aduhai, menggodaku untuk menahannya agar tidak bergerak dengan cara diremas. Tanganku lumer saat menggenggam massa besar lemak yang lembut lagi kenyal. Aseng junior terus saja bergerak teratur.

“Bhaang… lebiiihh cephaaat, bhaanng…” kayaknya Yuli hampir mendapat kenikmatan puncaknya.

Kalo kupercepat lebih dari ini, bisa-bisa aku juga ikut ngecrot juga nih. Aku tetap konstan tapi menambah rangsangan dengan memasukkan pentil dada kirinya ke mulutku.

Kugelomoh dada besar yang kek melon super itu rakus. Mulutku berdecap-decap bermain lidah, sesekali digigit kecil gemes. Aseng junior terus memompa teratur. Tubuh Yuli menggelinjang minta lebih dan lebih. Tadi dia minta lebih cepat. Pindah-pindah kanan-kiri kumainkan dada 38DD itu bergantian. Kuremas-remas juga dengan gemas.

“Akkhhh!!” menegang tubuhnya kaku.

Perutnya kaku dan Aseng junior tercekik di dalam liang kawin Yuli. Berdenyut-denyut cepat seirama detak jantungnya. Serasa dipulas Aseng junior di dalam sana. Aku hanya bisa nyengir.

Berhenti sejenak untuk mengatur nafas, kupandangi Yuli yang juga terengah-engah yang juga menatapku balik. Bahkan tersenyum dengan sepasang gingsulnya-pun ia tak mampu. Hanya mulut terbuka, berebutan oksigen untuk dihirup denganku.

“Ahmm…” desahnya kala Aseng junior kucabut pelan-pelan.

Cairan vagina Yuli berlepotan di sekujur batang Aseng junior, hingga bisa menetes. Kubersihkan dengan sedikit mengocoknya. Kuarahkan kembali untuk masuk apem mlenuk yang menggairahkan itu.

Cukup istirahatnya, Yuli menahan nafasnya untuk menyambut Aseng junior meluncur masuk kembali. Sluurb… Meluncur masuk tanpa halangan. Pelan-pelan kembali kupompa. Kedua kaki Yuli kupegangi pada bagian lipatan di belakang lututnya.

Sesekali kukembangkan agar Aseng junior-ku masuk lebih dalam, atau kuciumi lututnya atau juga kutahan di bahuku. Saat ditahan di bahu, ini top speed. Genjotanku semakin cepat karena aku gak mau nahan-nahan lagi. Nanti bisa nyambung lagi, kan…. “Gehh…. Hhh…”

Yuli yang tau aku bakalan ngecrot bentar-bentar lagi mencari pegangan dengan tangan kanannya dan menggigit telapak tangannya karena gesekan nikmat semakin kuat. Kulit Aseng junior bergesekan cepat di dalam liang kawinnya. Untung saja pelumasan cukup melicinkan gesekan nikmat ini. “AaAAH!”

Splurt! Spurt Spurt!

Kubenamkan kuat-kuatkan hentakan akhir pompaanku yang menyemburkan benih-benihku ke rahim Yuli. Tubuh Yuli ikut melengkung merasakan semburan primaku yang membanjiri rahim laparnya.

Berkedut-kedut Aseng junior menyemburkan sisa-sisa yang ikut keluar memberi after taste yang membius. Lemas lututku dan ringan rasanya tulang punggungku setelah melepas muatan enak ini.

Kuambil sebuah bantal yang ada di sana untuk mengganjal pantatnya kemudian kubiarkan kaki Yuli ngelongsor lepas dari bahuku dan terbentang lebar sebab lemas lalu kulepaskan Aseng junior dari sarang barunya.

Genangan spermaku berusaha keluar tetapi tertahan karena ganjalan bantal di bawah pantat Yuli. Biar jutaan bibitku bertahan dulu di sana sementara waktu. Ini waktunya untuk mereka berjuang menemukan sasaran. Hanya butuh satu saja diantara jutaan sel mikroskopis itu.

“Baaang… Enak kaliii, bang…” erang Yuli masih mengangkang menggairahkan.

Kalo aja Aseng junior masih bisa ngaceng sekarang juga, udah kuembat lagi ini perempuan yang menggemaskan ini. Apem mlenuknya yang banjir spermaku memanggil-manggil masuk lagi. Kujawil itilnya yang merah. Yuli bergidik geli. Berkedut-kedut mulut liang kawinnya mempermainkan genangan spermaku.

“Moga-moga jadi anak ya, Yul…” kataku.

***

Menjelang Subuh aku pulang ke rumahku setelah 4 kali setoran sperma pada apem mlenuk Yuli. Dah kek jadi kebiasaan kalo tiap setoran harus 4 kali ngecrot kurasa. Tapi enak-lah pulak barang binik orang itu. Gak bosan-bosan pulang Aseng junior-ku berkelana di dalam sana. Apalagi buntelan 38DD-nya sangat adiktif. Dah kayak nyabu nyedot ato ngeremes kedua gunung besar itu.

Iseng kuperiksa HP-ku ternyata ada beberapa chat masuk dari Pipit. Ia hanya menanyakan apa aku uda sampe rumah dengan selamat. Perhatian-nya binik orang ini. Mungkin dia khawatir karena tak kunjung ada jawaban. Kubalas sekenanya. Dia pasti masih tidur apalagi dengan kegemaran barunya itu.

Apa kegemaran barunya? Mimpi ML denganku? Sok paten kali kao, Seng.

Ppt: kok baru dijawab? khawatir ppt loh

Eh langsung dijawab. Belom tidur dia ternyata.

Aseng: sori da smpe dr tdi kok. ppt nungguin? gk tidur?

Ppt: gk bsa tdr kepikiran trs

Aseng: kepikiran apa?

Ppt: kejadian td aneh y

Aseng: yg penting ppt skrg da sembuh itu yg penting

Ppt: satu lg bg aseng yg kepikiran

Aseng: apa itu

Ppt: bg aseng prnh bilang klo gk takut dosa ada jalan utk masalahmu pit

Kaget tentunya aku membaca tulisannya yang ini. Bagaimana dia bisa ingat betul kata-kataku? Kata-kata ini kuucapkan waktu pertama kali ngobrol serius dengannya di pinggiran jalan Belawan sehabis masalah dukun palsu itu. Konteks-ku waktu itu adalah mengenai sulitnya dia punya anak sampai saat ini.

Itu juga karena masih terpengaruh euforia kenikmatan yang sudah aku dapat dari Aida. Aida yang notabene juga sulit mendapatkan anak seperti dirinya, hamil berkat berhubungan intim denganku 4 hari saja.

Ppt: maksudnya gmna bg?

Ppt: bg?

Ppt: blm tidur kn?

Aseng: kt obrolin lg nnt y

Ppt: nnt mlm lg. ppt tambah hr di kmr hotel ini

Nah loh. Trus menerus didesak Pipit kan bingung juga jadinya. Kutebak dia sudah tau apa maksud kata-kataku waktu itu. Dia hanya ingin memastikan semuanya. Tapi aku gak mau memulainya, biar dia sendiri aja yang mengatakannya. Kan dia yang perlu. Awak dah cukuplah dengan Aida sama Yuli saat ini.

***

“Lu naikkin 5% sampe jam 12 siang nanti… Sisanya simpan di warehouse… Trus yang nomer 7 sama 8 kalau udah selesai… di maintenance dulu bagian yang kurang optimal…” rapat kecil yang dipimpin kak Sandra di balkon yang menghadap bagian produksi. Beberapa kepala bagian mesin produksi mencatat apa-apa yang didelegasikan padanya barusan. Tak lama mereka kembali ke bagiannya masing-masing.

“Lu orang gak ngantuk pulang tengah malam nemanin wa?” tanyanya padaku setelah asistennya, Tiwi juga menghilang di balik pintu.

“Ngantuk-la, kak… Kakak gak?” tanyaku balik.

“Lu orang tau wa andelannya minum kopi ginseng dari tanah leluhur wa…” jawabnya.

Ia masih memandangi area produksi yang membentang luas di hadapan kami. Ratusan orang bekerja di bagiannya masing-masing. Mesin-mesin bekerja pada tempatnya dengan suara-suaranya. Untung aja di dalam kantor suara itu hilang semua.

“Lain waktu lu temanin wa lagi, ya?” lanjutnya setelah seperti berpikir akan sesuatu.

“Ngapain, kak? Minum? Kalo itu gaakk bisa kak…” tolakku tegas.

“Siang-siang lo, Seng… Ngapain wa minum siang-siang…” katanya menonjok lenganku. Aduh atit.

“Ngapain siang-siang, kak? Kan kerja…” jawabku. Kalo hari Minggu, nehi-nehi acha… Hari Minggu adalah hari khusus untuk keluarga tercinta saja.

“Bisnis-la… Tapi nanti aja kita cari waktu yang pas… Lu shio Ular, kan? Belom berubah?” tanyanya berubah tiba-tiba. Kok nanyain shio lagi nih si kakak cantik.

“Masih-la kak… Memangnya bisa berubah-rubah gitu ya?” tanyaku paok.

Aku-pun taunya ber-shio Ular karena dulu pernah ditanya sama kakak cantik ini tanggal-bulan-tahun lahirku. Katanya di bentangan waktu itu ber-shio Ular api. Ular panggang-lah jadinya.

“Mana bisaaa… Bodoh kali-pun lu nanya bisa berubah-rubah… Lu pikir pawer renjes bisa berubah…” makinya sambil tertawa-tawa.

“Kakak-nya yang pertama nanyak belum berubah shio-ku… Padusi kalera ko ma…” kataku bersungut-sungut. (Kira-kira artinya perempuan kimak)

“Ih… pakek bahasa Padang pulak lu… Cibay!” trus kami ledek-ledekkan walau suasana bising di balkon ini.

***

“Wa disuruh bos besar (dirut) ke satu pekong (wihara) di daerah Pangkalan Brandan… Wa disuruh nanyain sesuatu tentang peruntungan ato hoki perusahaan tahun depan… Lu kan tau bos percaya banget dengan yang begitu-begituan… Lu temanin wa… Bos udah izin, kok…” jelas kak Sandra saat sore hari menjelang pulang kerja. Dia memanggilku ke ruangannya dan kami ngobrol sudah 5 menit ini.

“Kapan, kak?” tanyaku.

“Minggu depan sih… Kalo gak Jumat… Sabtu gitu…” jawabnya sambil ngetik sesuatu di HP-nya. “Bisa, kan lu?” ia melirik sebentar lalu fokus kembali ke layar HP.

“Yaa… Bisa-bisa aja sih, kak… Kalo mengenai pekerjaan sih bisa ajaa… Ini kan mengenai pabrik juga… Awak cari makan di sini, kan?” kataku mengiyakan. Kak Sandra tersenyum puas.

“Ya udah-lah… Itu aja yang mao wa omongin sama lu… Lu orang langsung pulang ato gimana?” tanya kak Sandra mengumpulkan barang-barang pribadinya ke dalam tas tangannya.

“Pulang-la, kak… Emangnya kakak… Gak ada orang di rumah… Anakku dah nungguin tuh di rumah…” kataku beralasan. Alasanku kuat; Salwa pasti minta jalan keliling jatahnya tiap pagi dan sore.

“Cibay lu-ah…” makinya tapi tertawa.

***

Rumah Pipit tampak lengang ketika kami melewati tempat itu. Hanya lampu teras dan beberapa lampu dalam rumahnya yang menyala. Garasinya tertutup rapat. Dia benar-benar memperpanjang sewa kamarnya di hotel itu. Burung-burung milik lakiknya pasti sudah minta diurus sementara sama tetangga depan rumah sesama pencinta burung berkicau.

“Mancing, Ton?” tanyaku saat lewat di depan warungnya Iva dalam perjalanan balik ke rumah.

Toni sedang menyiapkan motornya untuk pergi. Warung/kede milik biniknya masih rame oleh pembeli yang mayoritas anak-anak. Tas ransel miliknya penuh dengan peralatan pancing. Beberapa joran dalam beragam ukuran dan peralatan lain.

“Iya, bang… Mancing malam biar gak kepanasan…” katanya mengengkol motornya. Digebernya motornya pelan.

“Dimana?” tanyaku basa-basi tepatnya. Aku gak pernah mancing tapi kepengen tapi gak punya joran tapi gimana. Heran liat orang mancing berjam-jam cuma dapat beberapa ekor ikan yang juga bisa dibeli di pasar. Gak susah. Tapi itu pasti selera masing-masing.

“Di Paloh Percut, bang…” jawabnya. Aku cuma bisa Oo. Di bayanganku pasti banyak nyamuk dan segala macam temannya. Toni pergi menjelang hobinya. Meninggalkan biniknya di rumah sendirian. Mampos kau binikmu dipancing orang. WKWKWKWK!

“Gak ikut, Pa?” tanyaku pada Iva yang sudah selesai melayani tuyul-tuyul berbedak cemong itu.

Kami masuk agak ke dalam kede itu karena Salwa suka mempermainkan jajanan yang digantung di bagian depan. Ia mengenakan pakaian seksi seragam sehari-harinya. Long dress ketat berlengan pendek berwarna ungu gelap. Adeem beneer liatnya. Aneh liat perempuan pake long dress padahal cuma lagi jaga kede? Iva mah udah biasa.

“Malas-lah, bang… Mancing malam-malam gitu… Digigiti nyamuk yang ada awak di paloh (rawa) gitu… Merah-merah kulit awak semua…” katanya mengelus kulit lengannya yang mulus kek pualam.

Iva baru mandi dan segala ritual keperempuanannya untuk menjaganya tetap cantik dan wangi. Iva selesai baru lakiknya bisa berangkat mancing tadi karena disuruh jaga kede dulu.

“Pake A**tan-lah biar gak digigit nyamuk…” kataku sambil mengayun pelan Salwa yang berusaha menggapai satu renceng jajanan yang digantung.

“Gak bagus untuk kulit Ipa itu, bang… Kulit Ipa sering sensitif pake lotion anti nyamuk gitu…” katanya lalu menyodorkan lengannya tanpa rasa bersalah sedikitpun, memamerkan kemulusan dan kebersihan kulitnya yang kinclong. Bah… Kucing diumpanin ikan mentah? Mau rasanya awak menjilati itu kulit lengan yang mulus kek lantai granit Italy. Heh? Diambilnya tanganku yang tak menopang Salwa dan jari-jariku disusurkannya ke lengannya itu.

Alamakjang! Bergetar iman awak karenanya. Hangat Aseng junior juga. Kala jariku bersentuhan dengan kulitnya, terasa lembut dan kenyal. Halus dan mulus. Abis keknya gaji si Toni untuk perawatan kulit biniknya ini.

Eh? Cemana pulak ceritanya kok si Iva tiba-tiba mengizinkan aku menyentuh kulit lengannya ini? Apa pasal? Tentu bengong campur paok-la mukaku saat itu. Tambah lagi si Salwa ngences karena gak kunjung dapat renceng jajanan itu yang digapai-gapainya. Kupandangi wajah cantik Iva. Ia cuma menggigit bibir bawahnya sambil menunduk sambil tetap memegangi tanganku yang menyentuh pergelangan tangannya.

“Mulus, kan?”

“Mu-mulus, Pa… Bersih…” gugup awak karenanya.

Tapi gak mau pulak tanganku ini melepas kemulusan itu. Naik lagi ah. Naik. Naik. Naik. Ah. Mulus nian kau, Pa. Telapak tanganku udah nyampe lagi di lengannya. Tiba-tiba ia mundur. KIMAK! Seorang pengendara motor dengan suara knalpot cempreng lewat. Pengen rasanya kucabut knalpot itu trus kujejalkan ke pantatnya. Gara-gara ninja kimak itu kesempatan emas menyentuh Iva berakhir.

“Abang mau beli berapa tadi?” tanyanya sudah berada dibalik etalase kaca kecilnya sambil sudah memegang HP.

KIMAK! Ternyata di belakangku ada seorang wawak-wawak mau membeli sesuatu juga. Gara-gara knalpot bising itu juga aku jadi tidak awas ada orang lain di sekitarku. Iva yang posisi berdirinya langsung menghadap keluar kede tau persis siapa yang lalu lalang.

“Yang limpul (lima puluh ribu, pulsa), Pa…” jawabku. Padahal pulsaku masih banyak. Waduh jadi sekali elus lengan mulus harganya limpul? Kalo ngecrot di dalam berapa ya? Plak! Paok kao!

Iva curi-curi pandang dengan senyum penuh arti saat menerima pembayaran buat pulsa barusan bersamaan ia masih melayani wawak-wawak itu beli rokok.

“Ada lagi, bang?” tanyanya ketika wawak-wawak itu pergi.

Aku masih meladeni Salwa yang mencoba meraih sebuah tali rafia yang menjuntai, bekas jajanan yang sudah habis. Dari balik etalase kecilnya itu, Iva menarik rok long dress miliknya yang sedikit di atas lutut menjadi lebih naik. Paha putih mulusnya dipertontonkan.

Haqqul yakin aku kalo Iva rajin nge-wax rambut-rambut di sekujur tubuhnya karena tak ada sedikitpun di sana. Mulus-lus-lus kek cermin. Semut akan tergelincir jatuh saat mencoba menaikinya.

Tarikan rok itu berhenti hanya dua jari dari pangkal pahanya. Sedikit lagi seharusnya aku sudah bisa melihat surganya. Yang masih tertutup tentunya.

Aku menahan nafas tanpa sengaja. Aku takut kalo aku bernafas, rok itu akan jatuh kembali. Iva tetap menunduk sambil mengelus-elus pahanya seolah menggaruk yang gatal. Ia tetap menggigit bibir bawahnya. Nafasnya agak berat terlihat dari dadanya bergerak naik turun. Ia tak berani menatapku.

“Yang itu juga mulus, Pa… Digigit nyamuk, ya?” Aku segera berharap kalau Iva akan membimbing tanganku meraba dan merasakan mulus pahanya.

Disuruh belik pulsa lagi gak pa-pa-lah.

“Enggak, bang… Tapi gatel…” Entah apapun yang gatel. Kakinya ato yang lain…

***

“Ma… Papa pergi lagi abis Maghrib, ya? Ada masalah di pabrik…” kataku setelah abis keliling-liling gang bareng Salwa sore itu juga.

Istriku sedang memasak sesuatu di dapur. Aroma sambal gorengnya memenuhi seisi rumah. Rio udah duduk anteng di meja makan dengan telur mata sapi kegemarannya dengan nasi plus kecap.

“Makan dulu kalo gitu…” katanya memasukkan ikan goreng ke dalam sambal tadi lalu mengaduknya.

“Iya…” jawabku pendek dan duduk di depan meja makan bersama Rio masih memangku Salwa.

Rio ngisengin adiknya dengan potongan putih telor yang belepotan kecap. Berdecap-decap mulutnya merasakan rasa manis itu dengan semangat.

“Bu Yuli beli kreta baru itu, pah?” kata istriku menyiapkan makan malamku. Nasi putih ngebul, ikan goreng sambal dan bening sayur bayam.

“Yang B*at merah itu?” kataku pura-pura gak tau.

“Iya kali…” menyerahkan Salwa padanya untuk diambil alih.

Istriku tidak pernah ngiri pada tetangga yang beli ini-itu kek yang lain-lain itu. Dia hanya cukup tau kalo itu punya orang tersebut dan habis cerita. Dia duduk di dekat Rio dan memangku Salwa. “Mama mau kreta juga?” tawarku.

Ia mendengus.

“Uangnya dari mana, pah? Kan tau sendiri semua apa-apa mahal… Mama aja harus mutar-mutar uang belanja biar cukup sampe gajian lagi… Kalo kredit cuma nambah beban aja… Rio udah masuk TK tahun depan…” katanya sambil menciumi pipi Salwa yang chubby.

“Adaa… Untuk istri papa yang paling cantik sejagat Mabar ini ada… Nanti papa beliin…” kataku merayu.

Hehehe… Awak memang ada duitnya. Bisa kubeli kontan motor matik baru yang mirip dengan punya Yuli. 50 jeti masih kusimpan utuh dan plus 50 jeti lagi kalo Yuli berhasil hamil. Aku harus rajin setoran sperma terus untuk itu. Aku sudah merencanakan beli ini itu dari duit yang kuterima.

“Heleh… Mama buat apa kreta?” katanya menolak halus. Padahal mau tuh.

“Yaaa… Buat belanja ke kede depan… Ngantar Rio sekolah nanti… Trus… Sukak-sukak mama-lah pokoknya…” desakku agar ia setuju. Ia diam saja dan terus menciumi Salwa. Itu mamaknya aja suka kali nyiumin anaknya sendiri, apalagi orang lain.

***

Berangkat abis Maghrib, aku meluncur lagi ke arah pusat kota, ke arah hotel dimana Pipit menginap selama dua hari ini. Para tetangga taunya kalau Pipit pergi bersama suaminya liburan karena beberapa biang gosip di gang melihat mereka berdua pergi pagi itu naik taksi.

Cuma aku aja yang tau kalo sebenarnya Pipit hanya mengantar suaminya ke bandara dan menginap di hotel itu setelahnya. Pipit yang tertutup tidak terlalu menyolok kalaupun dia tidak ada.

Kembali ia mengintip dari bukaan kecil pintu untuk melihat siapa yang mengetuk pintu kamar hotelnya malam-malam begini. Segera ia tersenyum begitu ia mengenaliku dan melebarkan bukaan pintu agar aku bisa masuk. Dipersilahkannya aku duduk di meja yang semalam dan disuguhi minuman ringan kaleng dan beberapa potong bika ambon.

“Makasih loh bang… sudah mau datang lagi kemari…” katanya membuka obrolan.

Aku hanya manggut-manggut. Suhu kamar ini terlalu dingin buatku. Temperaturnya mungkin dibuat terlalu rendah oleh Pipit yang terbiasa begini di rumahnya.

“Apa yang Pipit rasakan abis kemaren?” tanyaku.

Aku harus menanyakan efek penumpasan Menggala Suba-nya waktu itu. Pasti akan ada efek tertentu yang akan dirasakan setelahnya. Siluman pohon beringin itu sudah bak parasit berpenyakit di dalam tubuhnya.

Sudah-lah menjadi parasit, penyakitan pulak yang berimbas pada kesehatan inangnya, Pipit. Tapi itu semua udah beres. Aku sudah menghancurkan penyakit itu dan Kojek menelannya bulat-bulat.

“Rasanya Pipit jadi lebih sehat dan segar, bang…” jawabnya antusias.

Ia berseri-seri. Lah… Aku kedinginan kek gini dia santai aja pake baju minim bahan kek gitu. Pakaian yang biasa dikenakannya saat di rumah dengan santai. Kaos tanpa lengan dan celana pendek.

Memamerkan kemulusan kulitnya yang putih kek pualam. Urat-urat kehijauan halus membayang di sekujur kulitnya karena putih bersih.

“Perut Pipit juga udah gak sakit-sakit lagi sekarang…”

“Berarti sudah sembuh kalo begitu… Harusnya sudah selesai, kan?” kataku.

“Tapi masih ada yang kurang…” sergahnya cepat bahkan buru-buru diucapkannya.

“Kurang? Apa…?” kataku tak mampu menakar dalam pikirannya.

“Anak…”

“Anak?” ulangku.

“Kalau ada anak… Lengkap semuanya…”

“Begitu… Kalo gitu susul Imran ke Jakarta… Buatlah anak yang banyak…” kataku terus terang aja.

Ia tertawa kecil menganggap itu hanya sebuah candaan biasaku. Padahal aku serius.

“Tidur bersama Imran memang menyenangkan… Tapi dia sudah bertahun-tahun gagal memberiku anak… Sebagai dosa… Pipit tidak keberatan membuat banyak anak dengan bang Aseng…”

Berdecit nyaring kaki kursi kayu yang kududuki ini karena aku terhenyak kaget kata-kata berani barusan. Ia menunjukkan sebuah alat pemeriksa kehamilan. Aku hampir protes kalau alat itu tidak akan bisa secepat itu bisa memberitahu seseorang hamil hanya dalam sekali dibuahi dalam masa suburnya karena sebelum berangkat suaminya sudah berusaha membuahinya. Bukan itu maksud Pipit.

“Ini hanya untuk menunjukkan kalau Pipit sekarang dalam masa subur untuk beberapa hari… Harusnya bang Aseng bisa menghamili Pipit dalam beberapa hari itu juga…” diletakkan alat itu. Oh. Bukan tes kehamilan ternyata. Hanya menunjukkan masa subur saja.

“Kenapa harus awak? Bukan lakikmu?” tolakku tidak langsung.

“Bang Aseng itu sudah terbukti subur… Buktinya istri abang udah hamil dua kali tanpa ada kesulitan sama sekali… Cus langsung jadi. Tidak sulit memilih Abang… Pipit juga merasa nyaman dengan abang… nyambung selama kita ngobrol… Abang juga lumayan pinter… Itu artinya bibitnya berkualitas… Contohnya dua anak abang ganteng dan cantik sekali… Pipit gak masalah punya anak dari abang Aseng…” katanya tenang.

Ia bisa mengatakan itu semua dalam kondisi tenang dan tertata. Ia duduk dengan menyilangkan kaki dengan elegan, kedua tangannya bertopang di lutut dengan tenang. Dia pasti sudah melatih ini semua.

“Abang tidak tertarik dengan tawaran Pipit ini?”

“Tunggu, Pit… Tunggu sebentar… Gimana bi-sa? Gimana bisa meminta laki-laki yang bukan suamimu menghamilimu… Itu tidak bisa dikatakan dengan… dengan setenang itu? Bagaimana kalau Imran tau? Bagaimana perasaannya nanti… Bagaimana perasaan Pipit sendiri?” bingung tentu aku-nya. Ia harus bisa menjelaskan ini semua dengan jelas agar masuk ke akalku yang sedang kusut ini.

“Idenya dari bang Aseng sendiri, sih… Kalau sebuah dosa ini bisa memberiku seorang anak… Pipit akan dengan senang hati menerima dosa itu… Tetapi anak akan tetap menjadi seorang anak… Ia tak berdosa walau dibuat dengan dosa… Sesimpel itu sih… Bang Aseng yang menyadarkan Pipit kalau sebenarnya… Pipit tidak takut berdosa… Sudah banyak dosa yang pernah Pipit lakukan… Tidak masalah menambah satu lagi demi… demi Pipit mendapatkan seorang anak…” jelasnya gamblang.

Aku jelas ngeri mendengarnya. Aku tak pernah membayangkan kalau ada perempuan yang hidup dengan pemikiran seperti ini. Budaya Timur yang kental tak membuatnya jengah dengan pikirannya sendiri. Ia cocoknya hidup di Barat yang toleran dengan pemikiran seperti ini.

Apa aku baru membebaskannya dari kungkungan ikatan itu dengan menghancurkan status Menggala Suba-nya? Ia sama sekali tidak terganggu dengan tumpukan dosa masa lalunya?

“Mengenai Imran… pastinya jangan sampai dia tau, dong… Sudah banyak kesempatan untuknya melakukan tugas itu… Sekarang Pipit ambil inisiatif mengambil jalan lain… Bang Aseng yang ambil alih tugas untuk menghamili Pipit… Kalau bisa secepatnya…” katanya menyambung ketenangannya saat ini.

“Perasaan Pipit… Ini keputusan yang harus Pipit ambil… Saat ini… Pipit sangat antusias… Pipit yakin bisa berhasil dengan cara ini…”

“Pit… Itu pikiran yang salah, Pipit… Dosa tetaplah dosa… Akan ada perhitungan atas itu semua nanti…” ujarku lirih.

Pipit tetap tersenyum tenang. Aku takut terjerumus juga dalam pikiran seperti itu lalu menjadi iblis sejati. Iblis yang tak mengenal kata dosa. Karena keberadaannya adalah sebuah dosa.

“Itu resiko, bang Aseng… Tawarannya masih tersedia… tapi tidak lama…” WHAT DE FAK? Apa maksudnya ia akan menawarkan ini pada orang lain? Pria lain? Pria lain pasti gak akan pikir panjang dan mengiyakan langsung begitu kata-kata tawaran telah terucap. Ia mendesakku dan harus kuputuskan cepat. DEAL!

“Abang terima… Tetapi dengan syarat-syarat. Mau?” putusku dengan term of condition tertentu.

Ini harus kuambil cepat. Tidak usah munafik deh dengan tawaran menggiurkan seperti ini. Gak setiap hari ada.

Tunggu… Aku sudah menerima dua tawaran sejenis sebelumnya. Sudah dua binor kutiduri dengan harapan dapat hamil berkat benihku. Satu sudah postif hamil dan satunya dalam proses. Bertambah satu lagi dan counting… 1… 2… 3

“Mau…” jawabnya tenang. Seiris senyum tercipta di sudut bibirnya. Aku segera mempersiapkan perjanjiannya.

“Pertama… Yang akan kita lakukan ini harus dilakukan tanpa perasaan yang berlebihan… Agar Pipit tidak terjerumus lebih jauh lagi dalam dosa-dosa itu… Cukup lakukan dengan abang seorang aja… Jangan dengan yang lain… Mengerti?” terangku akan syarat pertama. Ia mengangguk setuju.

“Jangan tawarkan ini pada orang lain… Itu yang pertama…” Ini mengenai janji.

“Kedua… Masih berhubungan dengan yang pertama tadi… Jangan memberitau siapapun tentang hal ini… Siapapun juga… tanpa terkecuali… Jadi ini hanya antara kita berdua saja… Just the two of us…” kembali ia mengangguk setuju dengan syarat kedua.

“Ingat tanpa kecuali…” Ini mengenai kepercayaan.

“Yang terakhir… ketiga… Jika Pipit bisa hamil… jadikan anak ini sebagai pengingat Pipit untuk menjadi ibu yang baik dan bersih… Baik dalam artian jauh dari dosa… Bersih dari kotornya dosa… Ia akan menjadi anak suami Pipit dan Pipit yang menjadikan kalian berbagia dalam rumah tangga…” menitik air mata dari sudut kedua matanya yang indah mendengar kata-kata syaratku barusan. Ia mengangguk dalam.

“Semoga Pipit bahagia selalu… dan tetap tegar…” Ini tentang kebahagiaan.

Kuacungkan tangan kananku mengajaknya bersalaman. Dipandanginya tanganku sesaat menilai pentingnya salaman ini lalu menyambutnya. Kami bersalaman pertanda perjanjian telah dibuat dan disetujui dua pihak.

Disekanya tepi matanya juga menarik ingus dari hidungnya yang ikut basah. Senyumnya mengembang. Lebar. Ia sangat bahagia dan jauh-jauh lebih berseri dari sebelumnya. Gilang gemilang penuh ekstasi.

“Sori ya, bang Aseng…. Membuat bang Aseng jadi begini…” katanya perlahan. Pembawaannya tidak seperti tadi. Ini lebih rileks dan terbuka.

“Pipit udah melatih kata-kata tadi semalaman sampe siang… Pipit gak tau harus gimana lagi… Pipit keras kepala, ya?” Sudah kutebak. Ini karakternya.

“Sedikit… Abang ada teman yang lebih keras kepala… Pipit belum ada apa-apanya sama dia… Tapi dia bisa lembut juga kok bila sudah menemukan titik lemahnya…” kisahku sedikit. Matanya menyipit mencoba mencerna kata-kataku barusan. Ditegakkannya badannya tanda dia ingin tau.

“Teman? Lebih keras kepala dari Pipit berkali-kali lipat? Gimana bang Aseng menaklukannya?” tanya Pipit jadi kepo beneran.

“Abang nikahi dia…” jawabku singkat.

“Oo…” bibirnya membentuk bulat sempurna. “Mbak itu…”

***

“Jadi…? Kapan kita mulai?” tanyaku menggosok-gosokkan kedua telapak tanganku untuk menghangatkan tubuh.

Kami masih duduk di tempat yang sama seperti beberapa menit sebelumnya saat mendiskusikan keadaan dan syarat barusan. Pipit sudah memikirkan ini matang-matang.

Entah darimana ia mendapat pikiran moderat seperti demikian, yang penting mendapatkan anak walau bukan dari suaminya, dosa dan moral urusan belakangan.

Ini sudah menjadi fenomena di masyarakat dimana seorang atau individu tertentu, terutama kaum perempuan yang tak malu mempunyai anak di luar nikah atau tak jelas asal-usulnya.

Warga hanya sekedar bergunjing, hanya sekedar membicarakan tanpa aksi nyata. Dekadensi moral ini hampir merata di perkotaan dan merambah.

“Kayaknya bang Aseng dah sering, ya?” cetus Pipit kembali menyipitkan matanya menyelidik.

“Yaa… Gak sesering Pipit dulu-lah…” kataku menyindirnya.

Aku tidak khawatir ia tersinggung karena kami sudah tau belang masing-masing. Ia tertawa dengan suara khasnya yang berat ngebass. Berdiri dari duduknya lalu menuju ke kamar mandi.

“Pipit bersih-bersih dulu, ya…” katanya ringan dan menghilang di balik pintu.

“Bang Aseng gak mau ikut?” ia iseng keluar menongolkan kepalanya. Asik juga kalo di kamar mandi. Tapi pasti lebih dingin.

“Guyoooon…” ia langsung menghilang lagi sambil tertawa-tawa.

Mungkin candaan seperti itu yang ngangenin Imran sehingga ia ngebet minta mengawini perempuan ini. Bikin pinisirin. WKWK

Kuteguk tipis-tipis minuman soda kalengan yang disuguhkan Pipit untuk membasahi tenggorokanku. Abis di sini membuahinya, aku masih ada jadwal dengan Yuli juga di rumahnya. Setidaknya di sini sampai tengah malam. Bergadang lagi deh. Kata bang haji Oma; Jangan bergadang kalau tiada artinya. Ini ada gunanya bang haji, ngamilin binor.

Seng junior, menang banyak-la kao. Dapat mangsa baru lagi, kan? Pipit yang cantik dan budiman yang lagi bersih-bersih di kamar mandi itu. Lagi ngurus témpek agar pantas dipersembahkan padaku malam ini.

Berikutnya siapa, Seng? Iva juga? Keknya bisa tuh binor. Dia udah ngasih sinyal-sinyal gitu, kan? Kok bagus kali hoki-ku akhir-akhir ini, ya? Udah tiga aja binor yang rela kuhamili demi mendapatkan anak. Anak yang menjadi alasannya.

Apa karena aku yang terlalu subur ya? Anugrah Tuhan ini kumanfaatkan betul-betul kali ini. Gak cuma untuk menghamili istriku saja, juga menghamili binik orang.

Aku memeriksa aplikasi pesan untuk memeriksa ada kabar-kabar tidak. Ada beberapa pesan dari teman juga saudara. Selesai baca, terdengar pintu kamar mandi terbuka pertanda Pipit sudah selesai dengan bersih-bersih.

JRENG! Ini super duper panas membara. Rambut panjang kemerahan yang selalu diikatnya itu digerai lebar di belakang punggungnya. Kulit putihnya berkilauan bercahaya kontras dengan warna rambutnya. Tubuhnya tanpa balutan apapun hanya ditutup sehelai handuk yang dipegangi menjuntai di depan dada sekedar menghalangi pandanganku pada payudara dan segitiga kemaluannya.

“Wow…” gumamku tak sadar.

Wajahnya memerah karena malu dan sesekali ditutupnya dengan handuk itu hingga pucuk kemaluannya terlihat karena handuk itu tertarik ke atas. Aah… Binik si Imran ini indah sekali, bah. Betah-la pulak dia ngeloni selama ini.

Sayang kali gak kau bawak dia ke Jakarta sampe harus minta dihamilin sama aku. Sori-la ya, Mran… Bukan mauku ini. Ini kemauan binikmu kok. Binikmu yang sedang telanjang bulat di kamar hotel ini. Binikmu yang sudah mengundangku ke kamar ini.

“Kok malu sih, Pit? Biasa aja-la… Kan udah biasa dulu…” kataku masih duduk di tempatku dan menikmati semua pemandangan ini pelan-pelan.

“Pipit seksi dan cantik sekali begitu…” pujiku pada yang masih berdiri tak jauh dari pintu kamar mandi. Ia berhenti di sana.

“Bang Aseng sih… liatinnya begitu amat… Pipit malu nih… Perutnya udah mulai buncit kebanyakan ngemil…” ujarnya manja sambil menggoyang-goyangkan badannya. Lah… Perut masih rata gitu dibilang buncit. Standar kurusnya gimana?

“Nanti kalo udah hamil… malah tambah endut lagi loh, Pit… Gak pa-pa kok… Seksi kok…” rayuku agar ia tidak malu-malu lagi.

Mungkin karena kenakalan yang dilakukannya dulu sudah cukup lama, ia jadi lupa sensasinya. Mulai lagi denganku bertahun-tahun kemudian malah jadi malu begini. Ditutupinya hidung dan mulutnya dengan handuk yang dibentang pendek bak cadar.

Itu muka tertutup tapi témpeknya terlihat jelas. Rambut-rambut jarang yang tumbuh menghiasi kemaluannya keliatan sangat segar. Ia pasti baru membersihkan isi di dalamnya. Segar seperti oase.

“Malu bang Aseng…” katanya manja tetap bergoyang-goyang.

“Ya udah gini aja… Abang juga buka baju deh…” kataku bangkit dan dengan cepat melucuti semua pakaianku agar skor imbang 1-1.

Nanar ia memandangi semua prosesku menguliti semua pakaianku. Kupandangi matanya sepanjang waktu. Kukumpulkan semua pakaianku yang udah lepas dan kutumpuk di kursi kosong bekas didudukinya tadi.

Aku kembali duduk bersandar. Aseng junior berdiri tegak. Padahal ini dingin sekali-lah woy. Tadi aja masih pake baju kedinginan, ini malah bugil. Gak ketulungan dinginnya lagi. Matanya liar memandangi tubuhku. Pastinya terutama pada Aseng junior yang tegang maksimal.

“Serem bang Aseng… Gede…” katanya akan maju tapi tidak jadi.

Ragu-ragu begitu dan mendekapkan handuk pada dadanya yang menyembul besar. Kuyakin pucuk-pucuk payudaranya sudah mengeras dan desir geli di kemaluannya sudah terpercik. Aseng junior malah mengangguk-angguk seperti memanggil Pipit agar mendekat. Yang jauh mendekat! Yang dekat merapat! Yang rapat ternikmat! Yang nikmat kuembat!

“Ini yang Pipit minta, kan? Ini yang akan memberi Pipit anak…” kuingatkan dia niat awalnya.

Kegilaan yang dimulai dan dimintanya. Tak apa kalo gak jadi dan ia masuk kembali ke kamar mandi dan memakai kembali pakaiannya. Aku akan memakai kembali pakaianku juga dan pulang. Kuelus Aseng junior perlahan. Pipit meneguk ludah.

Terlihat jelas di leher jenjangnya. Didekapnya handuk itu erat-erat di tengah belahan dadanya. Handuk itu berkerut dan kedua dadanya menyembul ke samping. Kedua pucuknya terlihat jelas. Putingnya gelap berwarna coklat tua dan lingkar besar sisa karena dulu sempat hamil beberapa bulan. Urat-urat kehijauan samar muncul karena padat dan kenyal tekanan.

“Kemari…”

“Mm…” ia bergerak ragu dan malah berjalan menyamping.

Diperbaikinya handuk yang tak menutupi sisi payudaranya yang menyembul besar. Kaki kirinya dilebarkannya lalu menyusul kaki kanan. Ia mengintip malu-malu untuk jarak yang sudah dilewatinya. Padahal dari tempat berawal ke tempatku hanya 5 langkah saja. Tapi perlu langkah besar yang penuh keberanian seperti akan membuka peradaban.

Kulirik bagian belakangnya yang terekspos. Lekuk tubuhnya sangat bagus. Buah pantatnya melekuk indah dengan pas di tempatnya lalu disambung paha jenjang dan betis sempurna. Mulutku terbuka mengatakan WOW lagi menikmati keindahan Pipit dari sisi sampingnya.

“Iih… bang Aseng…” rengeknya manja karena aku sampai memiringkan kepalaku memperhatikan sisi belakang tubuhnya.

Aku suka nada rengekan manjanya. Tak pada setiap orang dia pastinya melakukan itu. Hanya orang-orang yang sempat menikmatinya seperti saat ini yang dapat mendengarnya. Manja dan menyenangkan karena jarangnya.

Waduh… Ia malah berbalik. Lekuk pinggulnya yang pertama kali nemplok di mataku. Kedua adalah bulat bentuk bokongnya yang sempurna. Kulit putih bersih kek pualam seluruh punggung, bokong dan kaki dengan siluet bayangan pembentuk tekstur tubuhnya bersatu padan dengan rambut merahnya.

Aseng junior-ku makin mengeras menikmati bentuk dua buah bulatan pantatnya yang kayaknya kenyal dan lembut. Menikmati pemandangan lekuk tubuh binik orang yang telanjang memunggungiku, memamerkan bagian belakang tubuhnya padaku.

Aseng junior makin berkedut kencang kala aku menunduk ingin mengintip detail belahan pantatnya. Pucuk kemaluannya yang tersembunyi di ujung belahan pantatnya terlihat lembab. Pipit menoleh ke belakang.

“Iih… bang Aseng nakal…” ditutupinya kedua buah pantatnya dengan dua tangannya sehingga handuk itu mendarat di lantai di hadapannya.

Ia gelagapan dan mengutipnya kembali dengan menunduk. Nungging pastinya, kan? Jarak kami hanya tinggal tiga langkah saja. Tiga langkah itu sudah sangat dekat dan aku bisa melihat dengan jelas bentuk belahan dan sekelumit isi dalam témpek indah itu. Walau sekilas tapi berbekas.

Kuremas Aseng junior yang sudah tak sabar. Air bening sedikit kental berjuluk pre-cum sudah menitik di pucuk Aseng junior pertanda ia sudah tak sabar ingin nyoblos.

“Piit… Seksi kali kau, Pit…” erangku tak sadar karena aksinya barusan. Ia melirikku yang sedang meremas Aseng junior. Ia hampir tertawa. Ia sudah mengutip handuk itu kembali dan ia tersandung.

“Eh… ehhh…” ternyata satu kakinya menginjak ujung handuk dan ketika ditariknya ia berdiri tak seimbang, tersandung tebal karpet lantai.

Dung… dung… Plek! Ia sudah duduk menyerong di pangkuanku. WADAW! Aku refleks menangkap tubuhnya. Tangan kiriku memeluk perutnya menelusup di balik handuk, tangan kanan memegang lengannya, rambutnya luruh melambai menampar hidungku. Tercium aroma sampo yang wangi lembut. Aseng junior terjepit di samping pahanya. Mata kami bertatapan.

“So-sori, bang Aseng… Berat, ya?”

Aku menggeleng tak sabar. Pelukan tanganku kupererat hingga tubuhnya semakin rapat padaku. Pipit berjengit geli kala mukaku kubenamkan ke leher di belakang telinganya. Nafas panasku berhembus membuatnya kegelian.

“Ahh… Bang?” Mukaku makin dalam menghirup udara di rambut dan lehernya.

Kukecup-kecup ringan sisi lehernya. Bulu kuduknya meremang begitu juga di lengan dan kakinya. Tangannya masih rajin mendekap dadanya dengan handuk tadi. Kuremas pelan perutnya juga lengannya. Terasa lembut sekali kulitnya. Udah kek anak bayi lembutnya. Beruntung sekali orang-orang yang sudah sempat menjamahnya.

Menggeliat Pipit merasakan cumbuanku di lehernya. Kepalanya bergerak-gerak bersentuhan dengan kepalaku. Tangan kirinya meremas tangan kiriku yang menjamah kulit perutnya. Tangannya yang lain tetap bersidekap memegang handuk. Aseng junior menjadi semakin panas tersentuh paha mulus dan lembut Pipit, ia menegang maksimal.

“Akhhss…” keluhku.

Pipit menggenggam Aseng junior dengan tidak terduga. Ia menunduk untuk melihat apa yang sudah dipegangnya. Diremas-remasnya batang Aseng junior lalu dikocoknya pelan.

“Enak, Pit…” bisikku di telinganya. Halus tangannya sangat membius. Kujilati cuping telinganya pelan-pelan. Ia juga mendesah.

Kugigit-gigit pelan gelambir bawah telinganya yang bertindik giwang kecil. Lidahku menyapu sampai bagian belakang telinganya sampai meninggalkan jejak basah. Gelisah ia duduk di pangkuanku.

Kusibak rambut di punggungnya untuk dapat akses lebih luas ke leher dan punggungnya. Tengkuknya mendapat perhatian lebih dariku. Perut dan lengannya tetap kuelus-elus ditambah remasan juga. Pertahanannya makin kendor karena ia memegangi lemah handuk yang menutupi dada dan sebagian besar torso bawahnya.

Kukecup-kecup leher belakang hingga tengkuknya, membuatnya bergidik geli. Tubuhnya mulai hangat seperti juga aku. Ia tetap meremas-remas Aseng junior. Lidahku juga mulai bermain dan menjilati bagian atas punggungnya.

“Mmhh…” keluhnya kala tangan kananku menjelajah lebih jauh. Menelusup dari bawah ketiaknya dan menemukan gundukan lembut lagi kenyal payudaranya.

“Bang Aseng nakaaal…” Kuremas-remas perlahan segenggaman tak sampai massa lemak di dadanya.

Handuk penutup sisa dadanya kutepikan dan ia menurut, kini bertumpuk di atas pangkuannya. Tanganku satunya menggenggam dada lainnya.

“Aahh…” Pipit menyandarkan punggungnya padaku. Aku menciumi tengkuknya dan kedua tanganku memerah dadanya.

Degub jantungnya bertalu-talu layaknya menggedor seperti juga jantungku berpacu kencang akan sensasi ini. Ia pasti dapat merasakannya juga. Pucuk payudaranya yang mengeras kupilin-pilin perlahan, menaikkan intensitas panas malam ini di kamar hotel hanya berdua saja.

“Enak bang Aseng… Mm…” keluhnya diantara pilinan jariku.

Tiga jariku bermain di tiap pucuk payudara Pipit. Ia makin keras meremas Aseng junior bak gemas mencekiknya berulang-ulang.

“Trus, bang…” makin rajin kupilin putingnya dan kuciumi lehernya.

Gerakan-gerakan Pipit di pangkuanku makin tidak karuan. Pantatnya yang nemplok di pahaku terasa semakin panas. Ia gelisah. Titik-titik cairan terasa menetes mengenai kulit pahaku pertanda ia mulai basah. Aroma kewanitaannya mulai tersebar membaui atmosfir kamar. Kamar ini mulai panas. Ia menyentuh dirinya sendiri.

“Aahh! Aahh… Ahmm…” beberapa kali kedutan tubuhnya.

Dilepaskannya Aseng junior saat ia menikmati puncak kenikmatannya hanya dengan pilinan jari dan ciuman di tengkuknya. Kepalanya bersandar lemah di bahuku. Ingin rasanya kukecup bibirnya yang terbuka itu tapi tidak jadi.

Aku masih tetap setia dengan prinsip dan janjiku. Jadinya yang kuciumi adalah sisi rahang yang ada di bawah telinganya. Tanganku tetap memerah payudaranya dengan perlahan. Tetap menikmati rasa kenyal dan lembutnya.

Nafasnya masih berat ketika turun ngelongsor dari pangkuanku dan duduk berlutut di depanku. Dibereskannya rambut yang mengganggu pandangannya dengan ditautkan ke kedua telinganya.

“Gini mau kan, bang?” tanyanya mencengkram Aseng junior lagi.

Ia masih penasaran dengan Aseng junior-ku. Aku yang masih duduk di kursi ini hanya mengangguk memperbolehkannya. Pipit melebarkan kakiku dan maju selagi mengocok perlahan Aseng junior. Tangan lentiknya menggenggam seluruh batang kemaluanku di pangkalnya, mulutnya terbuka dengan lidah menjulur.

“Slerrp…” ia menjilat panjang Aseng junior dari bawah ke atas.

Lidah tebal dan hangatnya bercampur dingin ludahnya berjalan-jalan di sepanjang permukaan batangku. Basah lalu dikocoknya memberi efek nikmat yang memabukkan. Selagi mengocok itu, diemutnya kepala Aseng junior pelan-pelan, lidahnya menyentil leher kepala Aseng junior-ku. Gemetar tubuhku menerima perlakuan lidah Pipit yang dahsyat ini. Ia pemain yang pro. Ia tau betul cara memperlakukan penis pria agar enak. Kau tau yang kumau.

Pantatku sampai naik menikmati sedotannya. Ia tetap mengontrol Aseng junior agar tidak terlalu masuk ke mulutnya dengan mencengkram pangkal batangku sehingga ia bisa mengatur kedalaman. Dipandanginya mataku saat ia mencucup panjang kepala Aseng junior sampai pipinya kempot.

“Ccuupp!” Aku hanya bisa mencengkram pegangan kursi yang sedang kududuki ini.

Aseng junior sudah merah padam dengan urat-urat menonjol liar., penuh dengan birahi dan darah yang terperangkap.

“Puahh…” dilepaskannya Aseng junior hingga terbanting ke perutku, kepalanya penuh liur.

Ditangkapnya, dibekapnya kepala Aseng junior yang rapat ke perutku, wajah maju hingga rapat. Biji pelerku diemutnya.

“Uuuh…” keluhku penuh rasa kenikmatan.

Kutengadahkan kepalaku ke langit-langit dan kueratkan remasanku pada pegangan kursi kayu ini. Dua biji itu dipermainkannya di dalam mulut bergantian. Rasa nikmat dan ngilu bercampur menjadi satu. Lidahnya mengaduk-aduk biji pelerku. Kulitnya yang keriput di sedot-sedotnya tak mengindahkan rambut-rambut yang tumbuh liar di sana. Masih dengan membekap kepala Aseng junior, lidahnya melata ke atas. Menyusuri saluran penyemprot sperma dan urin-ku. Jago kali si Pipit ini-ah.

Geli dan nikmat jadi satu takala ujung lidah Pipit menari-nari merayap naik turun di saluran itu. Kusentuh ubun-ubun kepalanya lalu kuusap-usap dengan perasaan campur aduk. Rasanya pengen nyayangin tapi binik orang. Pengen nafkahin tapi lakiknya lebih mampu dari pada awak. Awak entot aja-lah.

“Piiit… Udah, Piit… Nembak nanti…” keluhku benar-benar gak kuat.

Malu nanti awak, masak diisepin aja bisa ngecrot. Padahal enak kali mainan Pipit ini. Ia melepas bekapan tangannya pada kepala Aseng junior dan menjauhkan kepalanya dari selangkanganku.

Kubimbing dia agar bangkit dari posisi berlututnya dan kuarahkan untuk menuju ranjang. Apakah sudah akan ditunggangi? Ini masih jam 20:30. Masih sore. Bisa-lah 2-3 aer… Selagi menuju ranjang, kuperhatikan benar-benar tubuh telanjangnya.

Ia kembali malu dan menutupi dada beserta segitiga selangkangannya yang terlindungi penutup handuk lagi. Selagi disepongnya tadi, aku tak sempat menikmati pemandangan payudaranya.

Ia duduk di tepi ranjang hotel dengan kaki rapat dan tangan bersilang menutup dada dan bawah perutnya. Aku berdiri tepat di depannya. Ia menengadah pelan-pelan. Kuberikan senyuman terbaikku agar ia merasa nyaman dan mau membuka dirinya tanpa malu lagi. Padahal dia sudah berkenalan intim dengan Aseng junior barusan.

“Awak periksa dulu dadanya ya, buk…” kataku bercanda tapi memang mau memeriksa dadanya. Penasaran kalau dikenyot gimana rasanya.

“I-iya, pak dokter…” tapi ia urung melepaskan tangannya dari dekapan pada dadanya.

Aku maju dan sedikit membungkuk di depannya untuk melepaskan tangan yang melindungi payudaranya. Matanya tak lepas memandangi reaksi wajahku akan tingkahnya. Sepertinya ia sedang menilai kesabaranku.

“Gak pa-pa, buk… Gak sakit kok… Saya gak gigit… Cuma diemut aja…” kataku menahan tawa akan pilihan kataku sambil berusaha mengupas tangan kirinya yang melintang di depan dadanya, ditahannya.

Kedua dada yang tertekan tangannya menggelembung pada semua tepiannya. “Kalau udah selesai periksa… nanti saya kasi permen, deh…” kataku.

“Permen apa?” tanya Pipit jenaka.

“Ini…” jawabku menyodorkan Aseng junior yang kedinginan abis kena ludah Pipit tak lama lalu. Ia masih ngaceng penasaran kenapa lama kali action-nya. Ini beneran dingin loh? Dia pengen masuk yang anget-anget. Pipit tertawa dan menutupi mulutnya dengan kedua tangannya. Kesempatan…

“Aahh…” keluh Pipit karena aku langsung nyosor ke dadanya.

Mulutku langsung menyucup puting besar dada sebelah kirinya. Dada kanannya kuremas gemas. Tubuhku kudesakkan masuk membelah kedua kakinya yang tadinya menyatu rapat. Memanfaatkan kelengahan Pipit barusan, Aseng senior bergerak masuk. Tangan kananku yang bebas kukaryakan untuk mengelus punggungnya.

Ntah kenapa laki-laki dewasa suka kali nyusu sama perempuan. Padahal tak ada-pun rasanya. Anyep, kan? Gak ada rasanya sama sekali. Kalo kenyal-kenyal dada itu lain cerita. Cukup diremas-remas aja cukup kerasa kenyalnya.

Tapi kenapa harus pakek mulut ngenyotnya. Terutama di pentilnya. Pentil Pipit lumayan besar. Cukup besar untuk pas dikulum pakai mulut. Tapi gak ada rasanya kecuali kalo bisa mengeluarkan ASI. Pernah tau rasanya ASI? Aku tentu tau, lah istriku saat ini sedang menyusui anakku, kan? Rasanya sedikit manis.

Enggak-la kuisep betul-betul sampe kuminum, cuma sekedar tau aja waktu sedang bercinta dengannya. Berhenti aku ngisep kalo dah keluar ASI-nya. Itu kalau ASI yang diproduksi istriku, gak tau pulak kalau yang diproduksi perempuan lain. Entah ada yang rasa mocca ato kental manis mungkin.

Ntah kenapa laki-laki dewasa memuja abis-abisan perempuan berdada besar atau malah jumbo. Walau ada juga yang suka dengan kecil atau sedang. Tapi mayoritas laki-laki suka yang besar. Yang besar lebih spektakular! Nah ukuran dada Pipit ini cukup besar kurasa.

Putih, kenyal, lembut dan besar. Pipit belum bagi tau ukurannya tapi nanti bisa kutanyakan. Pentilnya besar dengan aerola yang besar juga berwarna coklat tua. Kontras dengan warna kulitnya yang putih.

Pipit melengkungkan punggungnya menikmati perlakuanku pada kedua payudaranya. Alhasil semakin dalam aku tenggelam dalam kehangatan dadanya. Tanganku makin rajin memerah payudara kanannya. Bibir dan lidahku semakin giat memainkan pentil payudara kirinya.

Tangan kananku mengelus-elus punggung dan rambutnya. Pipit memegangi pinggangku dan menarik rapat. Byung! Aseng junior menyundul perutnya. Tepatnya di bawah pusar.

Tangannya menyambar Aseng junior kembali dan mengocoknya perlahan. Kutekuk sedikit kakiku dan mencoba mengarahkannya pada haribaannya. Tempat seharusnya berada. Pipit termakan pancinganku, diarahkannya Aseng junior ke arah kemaluannya.

Kepala Aseng junior terasa menyentuh rambut-rambut jarang yang tumbuh di daging empuk dan lembut. Pipit menggesek-gesekkan Aseng junior pada bagian atas vaginanya. Penetrasi akan sulit di posisi ini. Tak apa, aku-pun tak berharap banyak. Ini sudah kemajuan yang sangat pesat.

Kutusuk-tusukkan Aseng junior selagi Pipit terus menggesekkannya ke permukaan vaginanya sendiri. Sekali waktu, Aseng junior jauh menjelajah dan menemukan titik basah yang kutaksir adalah klitorisnya. Ia mendesah kala itu.

Masih tersamar dengan kenyotanku yang berganti ke pentil payudara kanan. Payudara kiri kini gantian kuperah. Tanganku berganti, mengelus mempermainkan leher dan kupingnya. Pipit mengunyel-unyel rambutku. Diremas-remasnya rambutku dengan gemas sampai kucel.

Meliuk badannya karena rasa enak yang mendera tubuhnya. Pangkal pahaku sudah bertabrakan dengan pangkal pahanya. Pipit mencondongkan pinggulnya ke depan hingga pertemuan kedua kelamin kami semakin erat. Terasa sangat basah.

“Masuuk, baang…” erangnya.

Pinggulnya sudah condong ke depan. Pantas kerasa enak ke Aseng junior. Rupanya dia udah meluncur masuk ke yang anget-anget itu. Pipit mencengkram kedua lenganku dan berusaha merebahkan tubuhnya ke ranjang.

“Mmm… aahh…” desahnya lagi kala kudorong perlahan pinggangku.

Katupan erat terasa menjepit batang Aseng junior. Aku terpaksa harus melepas mulut dan tanganku yang masih belum puas berkarya di kedua payudaranya.

Aih mak! Indah kali témpek Pipit ini-ah. Tidak tebal, tipis malah cenderung kecil dengan rambut-rambut jarang berwarna pirang seperti rambut bayi baru tumbuh. Terjepit di antara dua paha padat yang saat ini mengangkang lebar kumasuki dengan Aseng junior-ku.

Bibir tipisnya melebar karena didesak oleh volume Aseng junior yang menerobos masuk. Gelambirnya yang baru pertama ini kusaksikan sendiri, bahasa kerennya labia minora, panjang berlebih keluar dari labia mayora-nya seperti jengger ayam. Membentuk mahkota dan berpuncak pada klitoris imut di bagian atasnya. Sebelum terlalu keenakan, kucabut Aseng junior buru-buru. Flop!

“Bhaang?” protes Pipit yang mulai keenakan karena aku sudah mulai masuk. Kubungkam protesnya dengan membenamkan mukaku pada vagina imutnya. “Ahhkk!” pinggulnya melonjak karena serangan mendadak terbaruku.

Lidahku menjulur-julur rakus menyapu semua permukaan témpek Pipit yang imut sekali kurasa. Aku belum pernah merasakan yang semacam ini sebelumnya. Kujilat-jilat semua yang ada, ya bibir tipisnya, jengger ayamnya, kacang itilnya, apalagi lubang kawinnya.

Tergial-gial liar tubuh Pipit jadinya mendapat perlakuan lidahku ini. Dengan jari kulebarkan bibir tipis témpek-nya lalu lidahku menerobos masuk. Pipit melolong seperti srigala.

Jenggernya kugigit dengan bibir lalu kusedot-sedot sementara jariku menerobos masuk. Satu-dua jari masuk. Mengorek-ngorek agar segera mendapat jackpot. Dan kudapatkan itu setelah kacang itilnya kusedot tanpa ampun.

Dijambaknya rambutku tanpa peduli apapun ketika ia membuncah penuh kenikmatan. Pantatnya terangkat, punggungnya melengkung, sprei ranjang direnggutnya, suaranya melengking tinggi.

“HYAAaaaa…” Kejat-kejat seperti terkena serangan ayan akut. Seluruh tubuhnya mengejang dan kulepas semua sentuhanku. Kubiarkan ia menikmatinya.

“Hah-hah-hah… Bhang Aseeng…” suara parau yang keluar dari bibir manisnya.

Dadanya terpompa turun naik. Beberapa kali getaran masih terjadi di pahanya yang membuat tremor juga di seluruh tubuhnya. Ada genangan basah di dekat kemaluannya di sprei ranjang hotel.

Ia menatap nanar ke langit-langit kamar. Di sudut matanya ada titik air mata. Kau bisa mengeluarkan air mata kala sedih yang dalam, senang tertawa lucu, gembira yang tak terhingga dan pasrah dalam nikmat. Pipit mengalami yang terakhir itu.

“Enak banget, bang Aseng… Pipit lemes… tapi masih mau lagi…” katanya manja.

Aku merangkak naik ke atas ranjang dan memposisikan kakinya. Pasrah ia kala kuatur kakinya agar terbuka lebar dan aku masuk diantaranya. Témpek-nya segera kutempeli Aseng junior yang sudah meradang minta jatah yang tadi tertunda. Satu tanganku mengkondisikan bibir tipis vaginanya agar terbuka dan lainnya mengarahkan Aseng junior untuk masuk. Terbelah mudah karena kondisi basah big-O barusan.

“Bang Aseng ngenthu-nya pinter…” pujinya selagi mengawasi jalan proses masuknya Aseng junior ke témpeknya. Kepalanya diangkatnya untuk melihat itu. “Pipit keenakan, bang…” Kusenyumin aja ia sambil membimbing Aseng junior yang akan melesak masuk. “Ahmm…”

Tarik-dorong-tarik-dorong dan aku bisa mengkandaskan Aseng junior sampai ke panjang maksimalnya. Menjelajahi kedalaman liang kawin Pipit yang sah-nya milik lakiknya; Imran. Denyut-denyut seirama jantung Pipit menjadi remasan tersendiri memijat Aseng junior-ku yang sedang bersenang-senang, berkubang kenikmatan dalam témpek binik orang ini.

“Aahh…” gumam Pipit merem melek merasakan témpeknya penuh disumbat Aseng junior.

Kakinya dibuka lebar-lebar. Dicengkramnya tanganku yang bertumpu di tepi iganya.

Tarik sedikit aja lalu didesak masuk lagi adalah caraku kemudian untuk kembali menikmati payudara paripurna milik Pipit. Pentilnya mengeras sedari awal, bikin nagih untuk terus dikulum dan dikenyot-kenyot.

Ludahku sudah membasahi sekujur puncak payudara indahnya, yang rajin bergoyang-goyang seirama desakan maju-mundur hentakanku. Pipit hanya sanggup mendesah-desah atau melebarkan kakinya untuk membiarkan vagina mungilnya menelan kenikmatan yang kutawarkan.

Gempuran Aseng junior silih berganti begitu juga serangan mulutku di payudaranya. Sungguh menakjubkan menyaksikan goncangannya bak agar-agar kenyal. Agar-agar mah lewat bisa basi. Ini gak ada matinya.

Pipit meremas tangan dan lenganku kala hentakanku membuatnya kembali melolong dan kami kelak akan melolong bersama karena aku tak kuasa menahan nikmat ini terlalu lama. Ini terlalu enak. Terlalu nikmat untuk sebuah kenyataan.

Kenyataan kalau aku bertugas untuk menghamili tetanggaku. Istri tetanggaku. Kamu laki-laki pasti pengen punya pengalaman seperti ini. Aku mewakili kalian semua. Ngecrot-lah bareng-bareng kalau kalian setuju. Satu…. Dua… Tigaaa….

“AAhh… CROTT!! CRROOOT!!”

Kubenamkan dalam-dalam Aseng junior di dalam témpek Pipit. Ia mengalungkan kakinya, berkait ke punggungku juga dengan punggung melengkung. Aseng junior-ku yang sedang menyembur-nyemburkan isi muatannya, bibit suburku, diremas-remas oleh liang kawin Pipit yang juga bareng mendapatkan kenikmatan puncak ini. Remasan tangannya tak kuhiraukan menekan kulit lenganku hingga memerah. Kami berdua melolong.

Pipit terkapar setelahnya dengan kaki lemas mengangkang. Aku masih bertumpu dengan kedua tanganku di samping iganya. Nafas kami berdua sama, berburu oksigen yang mahal di panas kamar ini. Perutku masih rapat gencet dengan selangkangannya.

Kemaluan kami masih saling pagut tak mau lepas akibat percampuran dua jenis cairan kental di rahimnya. Badanku masih hangat tetapi di dalam liang kawin Pipit lagi lebih panas. Tanda kehidupan di Pipit hanyalah gerakan dadanya yang turun naik akibat proses respirasi. Hanya itu. Selebihnya ia seperti tewas dalam kenikmatan.

Sewaktu kucabut batang Aseng junior yang berlumuran sperma, ia tetap mengangkang. Bahkan ketika kuganjal pantatnya dengan bantal, ia tetap diam dan bernafas. Aku duduk di tepian ranjang dan memandangi tubuh seksi binik orang ini dengan kemaluan menjuntai habis kerja keras. Ada tisu basah yang sudah disiapkan Pipit di meja kecil di samping ranjang. Dengan itu kubersihkan Aseng junior yang berlepotan.

Kubersihkan bagian luar vagina Pipit yang berlepotan juga dengan tisu, pun ia tetap tak bergeming. Tetap bernafas walau kini lebih normal. Kukecupi pangkal pahanya untuk membangunkannya. Bagian ini pasti geli abis kalau dirangsang begini. Kukutik-kutik kacang itilnya pakai ujung jari baru ia bergeming dan respon dengan lenguhan.

“Hei… Jangan nakutin gitu-la… Takut awak Pipit kenapa-napa…” kataku sambil mengelus keningnya. Ia tersenyum manis setelah membuka matanya.

“Jangan gitu, bang… Pipit takut Pipit jatuh hati sama abang Aseng…” katanya dengan bibir maju, bermanja-manja.

“Eits… Gak boleh pake perasaan… Marah mamak nanti…” kataku menyentuh ujung hidungnya. Ia mengeryit manja dan mencaplok jariku itu dan mengemutnya. Digigit-gigitnya pelan jariku itu lalu disedotnya bak Aseng junior mini.

“Kaki Pipit diapain, sih?” tanyanya menyatukan kedua pahanya lalu digoyangkannya ke kanan-kiri. Pantatnya masih terganjal bantal. Usai nanya itu, jariku diemutnya lagi lalu dicium.

“Supaya bibitnya gak keluar dulu… Biarin dulu mereka berenang-renang disana… Biar jadi anak…” kataku.

“Aamiin…” jawabnya cepat. Kami berdua tertawa-tawa kemudian.

***

“Aah… aah… ahh…” desah Pipit ketika kugenjot ia yang sedang menungging di atas ranjang.

Kedua lutut dan kedua tangannya bertumpu bersamaan selagi kusodok témpeknya dari belakang dengan keras. Aku gemas dan menjejalkan Aseng junior-ku bertubi-tubi menumbuki pantatnya berlaga dengan perutku. Pinggulnya kupegangi erat. Pipit berkali-kali mengerang dan menoleh ke belakang minta dukungan atau apalah yang akan dicapainya.

“Plok-plok-plok!” terus suara benturan tubuh kami terdengar nyaring dan basah oleh keringat bercucuran.

Batang Aseng junior sudah becek oleh campuran sisa spermaku sebelumnya dan cairan cinta Pipit. Berbuih-buih berkumpul di pangkal batangku, tertangkap oleh rambut kemaluanku. Juga ikut mencemari sekitar bibir kecil tipis témpek Pipit sampai anusnya yang kembang-kempis.

“Piit… Jangan direkam teruuss… Bahayaa loohh…” kataku disela doronganku.

Pipit merekam aksi doggy style ini dari pantulan kami yang muncul di cermin di samping ranjang hotel. Terlihat jelas tubuh telanjang kami berdua sedang bersenggama dengan lugasnya di atas ranjang ini. Pipit sepertinya senang sekali mendokumentasikan hal semacam ini. Apa dia tidak ingat dulu pernah viral karena keisengannya ini?

“Langsung… langshuung diapusss… bhaanngg…” jawabnya tetap memegang HP-nya mengarah ke arah cermin. Sodokan Aseng junior-ku masih rajin keluar masuk.

“Rekamin, bhaanng…” sambungnya menyerahkan gawai itu padaku.

Aku gak bisa berpikir lama-lama kecuali menerimanya dan mem-video-kan proses Aseng junior yang ngegenjot témpek Pipit.

“Ahhss…” terdengar desahan Pipit kembali karena Aseng junior terasa memuai sedikit membesar karena aku lumayan makin terangsang karena sensasi ini. Berasa jadi bintang bokep dengan genre MILF.

Pelan dan rajin Aseng junior menembus témpek Pipit sampai menetes-netes. Sesekali kucabut lalu kugesek-gesekkan di bibir tipis menggemaskan itu. Kulebarkan dengan jari lalu tanpa bantuan Aseng junior melesak masuk. Pelan-pelan kupompa coblosanku agar terlihat bagus di rekaman video bermodalkan HP ini.

Di sana, Pipit mengerang dan mendesah menjadi back sound penambah indah proses shooting amatir ini. Begini toh sensasinya bercinta sambil direkam itu. Ada rasa bangga sedikit juga sok terkenal.

Kucabut Aseng junior dan kutekan pinggulnya ke samping memberi tanda agar ia berbaring kembali di punggungnya. Pipit menurut dan HP-nya masih di tanganku. Dibentangkannya kedua kakinya lebar-lebar untuk memberiku jalan masuk.

Wajah cantik kemerahan sangenya yang kurekam pertama kali, lalu ke bagian dadanya yang turun naik menghela nafas, perut lalu témpek mungil berbulu jarang yang berlepotan cairan kental. Kusibak jengger penutup kemaluannya dengan jari lalu ku-shoot lubang yang barusan kucoblos bahkan sudah kusemprot.

Ada cairan yang menempel di sana. Seksi sekali. Kamera kutarik mundur. Kualitas kamera HP ini sudah lumayan di masa ini karena semua tadi terekam dengan baik. (Jangan disamain dengan teknologi sekarang karena masa itu masih jaman jaya-jayanya Bla** Be**y)

Aseng junior kutepuk-tepukan beberapa kali ke témpek mungil itu lalu kuselipkan kembali ke belahan merekahnya. Meluncur perlahan dan tetap merekam. Kembali Pipit mengerang. Pelan-pelan Aseng junior keluar masuk mengakibatkan getaran pada rekaman yang kulakukan, tidak banyak.

Fokusku pada proses keluar masuk Aseng junior. Aku takjub kalau témpek mungil seperti itu bisa menerima Aseng junior-ku yang sedang meradang besar. Diameter Aseng junior sekitar 4.5 cm kalau sedang garang-garangnya, seperti saat ini karena aku terangsang berat karena sensasi rekaman ini.

Témpek Pipit terlihat tergencet menyedihkan kala Aseng junior-ku menusuk dalam, seolah semua bagian luar bibir kemaluannya terseret masuk ke dalam liang itu. Berganti monyong seperti manyun kala Aseng junior-ku ditarik hampir pada bagian lehernya, jenggernya terseret oleh licinnya cairan pelumas yang membanjiri liang kawin Pipit. Ahh… Indah sekali. Kalo kelen pada ngeliat hasil rekaman ini pasti pada ngocok pake tamboh-tamboh (tambah).

Gesekan pada jengger itu pasti menjadi sensasi sendiri yang dirasakan Pipit. Mungkin-mungkin juga karena itulah gairahnya mudah meledak-ledak waktu remaja dulu. Senggol dikit aja langsung buka celana. WKWK. Sekarang ini aja dia sudah bisa sedikit mengendalikannya. Untungnya lakiknya bisa mengimbangi gairahnya selama ini walau tak kunjung bisa menghamilinya.

Mata Pipit merem melek merasakan sodokanku pendek-pendek yang menggesek jengger berlebihnya itu. Mulutnya mendesah seperti kepedesan.

“Assh… Usshh… Asshh…. Uussh…” Apalagi gerakan payudaranya kala bergoncang bergoyang maju mundur seirama sodokanku.

Perut ratanya mengejang ketat saat ia mendapat kenikmatan orgasme-nya. Tubuhnya kelojotan dan pinggangku dikepitnya erat dengan kedua tungkainya. Aseng junior-ku diperas di dalam liang kawinnya. Biniknya Imran ini sangat menggairahkan. Kenapa-la gak kao bawa ke Ibu Kota sana, Mran-Imran? Paok kali kao. Kuembat-la binikmu ini.

Berkedut-kedut permukaan témpeknya ditandai dengan bergerak-geraknya kacang itilnya. Rasanya luar biasa bagi Aseng junior-ku, diperas kek cucian. Membuatku mabuk kepayang gak sanggup lagi bertahan lama.

Menunggu ia pulih, kuremas payudara kirinya dan kupermainkan pentilnya. Nafasnya masih tersengal-sengal untuk beberapa lama dan kuberhentikan semua kegiatan dorong-mendorong. Hanya asik merekam dan meremas tetek yang kulakukan. Sampai ia membuka mata dan tersenyum manja padaku kembali. Tareek, mang…

Sekarang giliranku, ya Pit. Gerakan memompaku, sekarang dipercepat. Nafas berhembus dari hidung dan goncangan payudara Pipit semakin brutal. Fokus kamera kuarahkan ke pertemuan kelamin kami yang bertarung sengit.

Sesekali cairan terciprat ke arah paha dan perutku akibat cepatnya gerakan yang kulakukan. Sudah terasa geli-geli enak berkumpul di gudang penyimpanan bibitku, sedang menunggu PO ditanda tangani oleh kepala gudang tanda ACC dan crut!

“O-Ooohh…” lenguhku berat.

Hentakan akhirku kutekan dalam-dalam dan kulihat batang Aseng junior berkedut beberapa kali menyalurkan bibit-bibit menyembur kencang memasuki rahim Pipit. Lemas dan enak yang tak terperi yang kurasakan saat ini.

Tanganku tetap mengarahkan kamera HP ini ke arah pertemuan kedua kelamin kami. Pipit juga bergetar menerima curahan spermaku yang menyembur kencang memenuhi rahim masa suburnya. Kugerak-gerakkan Aseng junior pelan, rasa enak campur geli masih menyelimuti seluruh batang sensitif itu. Badanku terasa plong dan ringan.

Kucabut Aseng junior pelan-pelan dan melelehlah dengan deras sejumlah cairan kental berwarna putih keruh dari liang kawin merah Pipit. Cepat-cepat kuangkat pantatnya lalu kuganjalkan bantal untuk meninggikan posisi bawah tubuhnya agar bibit berhargaku tidak buru-buru keluar dulu. Yang terlanjur keluar, dengan setengah bercanda kumasukkan kembali membuat Pipit tergelak geli. Rekaman selesai.

Rebah tubuh penatku di samping Pipit yang berbaring lemas juga. Kukembalikan gawai itu padanya dan ia menyambutnya dengan senyum manja yang menggemaskan.

“Capek, Pit…” keluhku dan membenamkan mukaku ke lehernya.

Aroma birahi ada di sekujur tubuhnya bercampur dengan aroma spermaku di liang kawinnya. Tanganku iseng meraba payudaranya dan meremas nakal. Pipit tak keberatan.

“Katanya tadi jangan direkam… eh bang Aseng malah yang paling semangat ngerekam, kan?” olok-oloknya memiringkan tubuhnya ke arahku tapi tidak dengan pinggang ke bawah yang masih diganjal bantal demi program hamilnya. “Nonton rekamannya yuk?”

“Jangan, Pit…”

“Kenapa?” herannya mengelus pipiku lalu rambutku.

Sentuhannya sangat lembut, aku sampai merinding ke ubun-ubun. Hanya ibuku, istriku dan sentuhan kedua anakku pada rambut yang bisa membuatku begini hanya lewat sentuhan. Karena mereka melakukannya dengan rasa sayang. Kupandangi Pipit sebentar…

“Nanti awak ngaceng lagi…”

Tertawa Pipit terkekeh-kekeh karena jawabanku barusan. Ia menutup mulutnya karena tawa khasnya itu. Dicubitnya dadaku pelan.

“Kalo ngaceng lagi… kita maen lagi, bang… Hi hi hi…” dirapatkannya wajahnya ke dadaku.

Ingin rasanya aku mengecup keningnya tapi bergulat dengan prinsip janjiku. Ingin rasanya kukulum bibirnya yang basah. Ingin rasanya kuentot lagi binik ORANG INI!! Kan dah senget (gila) aku, kan?

Plus, tangan Pipit udah mengukur panjang Aseng junior alias mengocoknya dengan nakal. Betol, kan? Naek dia, kan? Jogal (keras kepala) kali kurasa si Aseng junior ini. Gak disuruh naek, naek dia sendiri. Baru dipegang cewek cantik dikit aja dah naek… Kek mana kalo dipegang perawan ting-ting? Dah terbang kurasa dia. Ompa’an (dibuat-buat) kali ah.

***

Betol aja yang kubilang. Maen lagi kami sekali lagi gara-gara itu. Pipit memutar rekaman percintaan kami barusan dan kami menontonnya bersama-sama sambil saling kobel. Pipit mengocok Aseng junior dan aku mengobel kacang itilnya. Padahal belum ada 5 menit kami selesai ronde kedua tadi, dah bersambung ke ronde ketiga.

Tapi yang paling kuingat dari rekaman itu adalah saat kurekam ekspresi wajahnya saat keenakan digenjot adalah gerakan mulut tanpa suara di satu adegan. Ia mengatakan ‘I love you’ tanpa suara. Ia berdalih mengatakan ‘All of you’.

Tapi dari gerakan mulutnya aku tau ia mengatakan itu. Perjanjian kami tidak memperbolehkan ada perasaan. Ini sangat kontradiktif. Ia melanggar semua itu. Entah sadar entah tidak.

Aku tidak ingat ia melakukan itu saat merekam karena konsentrasi terbelah dua dengan menggerakkan pinggulku dengan ritmis dan merekam percintaan kami. Kenapa aku berani mengatakan percintaan? Bukan perzinahan? Ternyata Pipit melakukannya dengan cinta.

Wo-hoo… Dalam. Dalam kao, Seng. Kenapa dalam? Kek mana kalo binik orang ini sampe jatuh cinta padamu, Seng? Apa cerita? Biar aja… Itu hak dia. Bukan gitu juga, Seng. Kelen berdua ada perjanjian, kan? Gak boleh pakek perasaan.

Kelen berdua dah punya pasangan sah masing-masing. Kalo laki-laki bisa poligami, tapi perempuan gak cocok pulak kalo poliandri. Marah pulak poliklinik sama si Andri disuruh kawin. Paok kao! Ntah hapa-hapa yang kao bilang.

Kututup mukaku dengan bantal yang tadinya dipakai Pipit untuk mengganjal pantatnya. Sedang Pipit sedang asik menggelomoh Aseng junior yang sedang tegang dengan mulut pro-nya. Tak diindahkannya sisa sperma dan cairan cintanya yang tadi masih menempel di sekujur bodi Aseng junior. Dijilati dan dibersihkannya dengan telaten. Ia menginginkan ronde keempat. Ini udah lewat jam 11 malam.

Pikiranku masih berkecamuk tapi Aseng junior pukimak itu berani-beraninya membangkang dan naek tanpa komando. Ntah siapa komandannya disini? Basah sekujur bodi Aseng junior dengan liur Pipit. Terasa perempuan cantik menggemaskan itu bergerak-gerak di atas ranjang ini untuk mengatur posisi. Lututnya memberi tekanan terbesar di atas ranjang springbed hotel ini dan terasa olehku ia memposisikan dirinya di atas tubuhku.

“Bang Aseng… Lagi, ya…” bisiknya manja dan rebah di atas tubuhku setelah menyingkirkan bantal yang menutupi wajahku. Payudaranya menekan perutku, terasa lembut dan kenyal. Aseng junior menjulang di antara belahan pantatnya, menggesek belahan vagina mungilnya.

Dengan terpaksa aku mengangguk dan membiarkannya mengambil alih kendali. Cie… terpaksa itu kalo disuruh bayar utang, ini dikasih témpek kok terpaksa. Mentiko (belagu) kali kao, Seng-Seng. Lembut payudaranya terasa terseret di kulit dadaku berkat pentilnya yang mengeras saat ia akan bangkit. Kayak-kayaknya ini akan jadi WOT. Wadon On Top. “Cups!”

Nah-kan. Apa kubilang? Pake perasaan, kan? Dengan gaya malu-malu manja Pipit bangkit setelah mengecup kilat bibirku barusan. Lebih tepatnya dipatuk keknya. Ia sekarang duduk tanpa rasa bersalah. Menduduki Aseng junior hingga tergencet di perutku. “Piit… Jangan kek gitulah maennya… Kan udah pakek perjanjian kita tadi… Gak boleh gitu-gitu-ah…” kataku protes.

“Dikiiiit aja… he he he he…” katanya memberi gestur jari telunjuk dan jempol yang hampir rapat tanda sedikit dengan gaya manja menjepit kedua payudaranya. Lalu ia meleletkan lidahnya manja, menunjukkan lidah tebalnya yang merah. Enak keknya mengulum itu…

“Jangan lagi ya, Piit…” kataku memohon padanya.

“Awas kalo dibuat lagi… tak gigit nanti…” ancamku sambil mengatup-ngatupkan mulutku sehingga gigi gemeletuk bersuara.

“Atuuut… Bang Aseng maraaah… Hu-uuuh…” manjanya sambil pura-pura nangis.

Padahal ia sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya, akibatnya vagina mungilnya yang masih basah menggerus sebagian besar Aseng junior. Tertekan demikian rupa membuatnya semakin tegang.

“Bang Aseng ojo marah-marah… Bang Aseng merah-merah ini aja… Bang Aseng ojo nesu-nesu… Bang Aseng nyusu aja…” taktik bulus Pipit mengarahkan kedua tanganku untuk memerah kedua payudaranya yang menggantung indah, menantang. Lembut dan kenyal. Ia tetap menggerakkan pinggulnya pelan.

“Mmm… Enak, bang?”

Gimana awak bisa marah kalo digituin? Kuentot abis-abisan yang ada perempuan ini kalo berlagak manja begitu. Tak lama Aseng junior mendobrak masuk dan memborbardir témpeknya yang sudah sehat. Pipit bergoyang-goyang maju mundur, naik-turun.

Katanya dia bisa Jaipong padahal dia orang Semarang. Tau kelen goyang Jaipong? Waduh! Aduh! Terasa diplintir-plintir Aseng junior di dalam sana. Ditekannya kedua dadaku untuk penopang gerakan Jaipong aba-abal ciptaannya. Aku kelabakan menahan diriku untuk tidak segera ngecrot lagi.

“Piit… Piitt… Tunggu, Piiit… Pipit! Ahh…” erangku berulang-ulang.

Apalagi waktu ia bersandar dengan kedua tangan di lututku, dengan kaki mengangkang–kayang, ia mengocok Aseng junior dengan menaik-turunkan pantatnya.

Terlihat jelas proses keluar masuk batang kelaminku di liang kawin yang berbibir tipis. Dengan ahli ia melakukan gaya ini seperti di film-film itu. Aseng junior melengkung ke arahnya dan gesekan sangat terasa. Berasa sempit kali liang kawin Pipit di gaya ini. Ia juga meringis-ringis keenakan karena gesekan di jengger minora-nya.

“Aaahh… ahh… ahh…” Pipit tetiba melepas patok Aseng junior di témpeknya demi sebuah kenikmatan orgasmenya.

Ia rebah di antara kakiku. Pantatnya terangkat kala kedutan-kedutan geletar tubuhnya menyerang seluruh syaraf. Lubang sempit yang sedikit membuka itu berkedut-kedut mengeluarkan cairan cinta lagi dan lagi malam ini.

Matanya terpejam damai dan mulutnya terbuka lebar menyedot udara sebanyak mungkin pengganti energinya yang terkuras. Dadanya bergerak-gerak menggemaskan memanggil minta diremas lagi.

Aku akan membalasmu. Bersiaplah!

Kakiku masih lemas, cuy. Pelan-pelan saja aku bangkit, lagi pula kasian juga binik orang ini kalau langsung dicoblos dalam keadaan begini. Menunggu waktu yang tepat, kubersihkan ekses cairan yang menempel di sekujur bodi Aseng junior.

Dari samping tubuhnya aku mulai serangan baru, kuciumi perutnya. Terasa keringat yang membasahi tubuhnya. Kujilat tak perduli. Pipit bergidik. Kuelus pahanya, ia mengerang. Ambil posisi lagi di antara kakinya yang kubentangkan dan membimbing masuk Aseng junior untuk menyudahi ronde keempat ini.

Pipit mengaduh pelan kala Aseng junior menerobos masuk dan mulai kupompa gradual. Dari pelan ke cepat. Kunikmati pemandangan guncangan indah seumpama jeli kedua payudaranya dengan topping kacang walnut bersalut coklat.

“Plok-plok-plok!” semakin cepat dan Pipit bersiap-siap menerima semburan spermaku untuk keempat kalinya malam ini.

Dipandanginya mataku dengan mesra, memberiku semangat agar sungguh-sungguh memberinya anak yang diidam-idamkannya. Ia meremas payudaranya sendiri untuk menambah rangsangan visual untukku menunjukkan kenakalannya yang orisinil.

Semakin cepat dan cepat.

“Aahh… Piiitt… Mau keluaar… Mm… Piit… Piit… Uhh… Uh…” keluhku tak mau menahan-nahan lagi.

Splurt-sprut-sprutt!! Kusemburkan spermaku dalam-dalam di rahimnya. Sudah empat kali aku bongkar muatan di dalam liang kawin binik orang ini. Rasanya puas kali malam ini. Empat kali berturut-turut. Anda puas awak lemas.

Kurebahkan tubuhku di payudara Pipit dan tanganku menggapai-gapai lemah mencari bantal terdekat untuk diganjalkan di pantat Pipit agar bibitku tergenang dulu untuk sementara waktu di dalam rahimnya.

Memperbesar persentase keberhasilan proses penghamilan Pipit malam ini. Sudah miliaran sperma yang kusetor ke Pipit mungkin malam ini. Lemes dong? Bahkan untuk menjilat pentil anyep di depan hidungku-pun aku gak sempat. Aku harus istirahat.

***

“Yakin gak mau lagi, bang?… Abang doyan, kan?” bujuknya kala beristirahat bareng.

Aku duduk bersandar di headboard ranjang hotel, Pipit bersandar manja di dadaku. Aku menciumi ubun-ubunnya untuk aroma rambut wanginya.

“Udah empat kali-loh, Pit… Masa belum puas juga?” tolakku.

Ia mengalungkan tanganku ke dadanya dan mendekapnya. Kenyal lembutnya menjadi milikku seutuhnya malam ini. Ia rela diapain aja malam ini. Sampe pagi sekalipun. Aseng junior untungnya mau kerjasama dengan terkulai tidur karena kugencetkan ke punggung Pipit, jadi tidak bisa dijangkau.

“Besok lagi… bisaaa?” tanyanya manja menoleh ke arahku. Kulit kami yang terbuka bersentuhan intim. Lembut kulitnya melenakan. Ia mengusap-usap pergelangan tanganku.

“Mmm… Bisa, sih… Pipit masih disini terus?” tanyaku lalu menopangkan daguku di bahunya. Pipit menyatukan pipi kami lalu menggesek-gesekkan pipi kami tanda membenarkan. “Gak mahal?” sambung pertanyaanku.

“Gak masalah mahal… Yang penting bang Aseng mau kemari lagi besok malam ya?” jawabnya menjawil ujung hidungku lalu bibir bawahku.

Dijepitnya dengan iseng bibir bawahku lalu dipelintirnya. Ini perempuan mau buat alen-alen (pengganan keras bersalut gula yang bentuknya memang mlintir) pake muncungku, ya?

“Iyaa, deh… Semoga jadi anak, yaa…?” kataku lalu mengelus-elus perutnya seolah ada bayi yang sedang berkembang di sana.

“Aamiin, deh… papa Aseng… Hi hi hi…” katanya mengaminkan perkataanku barusan.

Ia menutup mulutnya dengan telapak tangan kala tertawa geli setelah mengatakan ‘papa Aseng’ tadi. Aku memang seorang papa bagi anak-anakku. Anak Aida kelak, anak Yuli dan anak Pipit ini. Secara biologis walau tak administratif.

“Ih… Nakal, ya?” kataku menekan iganya dengan ujung jari.

Alhasil Pipit berjengit geli dan memperbaiki posisinya sambil terus tertawa. Wajahnya semakin dekat denganku dan ia kemudian duduk di pangkuanku, tangan melingkari leher. Memaksakan mulutnya ke mulutku.

“Muach… Slrrpp… Muahh…” lidahnya menyeruak masuk dengan basah ke dalam mulutku.

Buas ia mengulum bibirku dengan mata terpejam. Serangannya sangat dahsyat aku tak mampu mengelak. Dipancingnya lidahku keluar untuk bertarung di tempat bebas dengan membelitnya. Dicaploknya lidahku lalu mengulumnya dan disedot-sedot tanpa ampun.

Ludahku dihisapnya seolah itu minuman paling enak. Jago sekali ia berolah mulut. Aku tak sanggup melawannya. Rambut belakangku diremas-remasnya sekaligus menahan kepalaku agar tidak dapat berpaling. Cukup lama ia menikmati mulutku, seisi mulutku. Sampai ia melepaskannya sendiri.

Dipandanginya mataku lekat seperti sedang mengukur perasaannya sendiri. Ada air mata di sudut matanya. Lama kami berpandangan. Aku juga sedang memandangi matanya yang cantik. Apa yang kau mau, Pit? Ini tidak boleh mengarah kesana. Itu harus kita hindari. Aku harus tetap menjaga hatiku. Hatiku ini hanya untuknya. Hanya untuknya. Kau harus bisa membaca itu dari mataku saat ini. Kau harus tau.

“Cups” dipatuknya lagi bibirku singkat untuk memastikan perasaannya. Lalu ia menunduk… Ya… Itu seharusnya.

“Maaf, bang Aseng… Pipit terbawa suasana…” ia merenggangkan dekapannya.

Payudaranya yang tadi lekat ke dadaku, merenggang menjauh. Jari-jarinya perlahan menelusuri turun dari bahu ke dada dan lepas. Ia membalikkan badannya hingga kembali bersandar di dadaku. Nafasnya kembali tersengal-sengal. Kudekap erat bahunya dan kusenderkan dahiku di belakang kepalanya.

“Maaf ya, Pit…”

***

Agenda padat beberapa hari ini dimana aku harus setoran pada dua orang perempuan sampai pagi, berangkat kerja pagi sampai sore. Kapan aku tidurnya?

Kamu… Ya, kamu, kan yang nanya gitu tadi? Benar sih. Secara normal aku gak tidur-tidur. Pergi kerja masuk jam 9 pagi… Pulang jam 5. Cengkrama bareng anak dan istri sore hari sampe malam, aku ngelembur di hotel bareng Pipit sampe tengah malam.

Lanjut lagi dengan Yuli sampe pagi menjelang Subuh. Abis Subuh bantu-bantu istri beres-beres rumah kalo anak belum pada bangun. Bagi tugas mandiin kedua anakku sementara istri buat sarapan. Jalan-jalan ritual pagi keliling gang. Betul gak ada tidurnya ya…

Kok masih idup?

Ha ha ha ha… Kadang anda terlalu kejam kisanak. Haram jadah kau, mak Lampir! Bedebah! Terima seranganku! Hyaaat! Gubrak.

Bisa, kok. Aku bisa tidur dengan nyenyak. Cukup lama juga. Sekali tidur bisa dua-tiga jam. Kapan? Kapan aku mau. Makan gaji buta, ya? Nyuri waktu kerja? Ngakunya lagi ke lapangan, taunya cari pojokan sepi dan aman? Bukan. Bukan itu. Tuh kan kamu kejam menuduh serendah itu. Gajiku halal loh ini. Gak ada bagian makan gaji butanya. Jauhi ghibah dekatin janda. Apaaa-lah kao, Seng?

Gini penjelasannya. Pada tau, kan penjelasan Menggala sebelumnya dan juga kejadian pertarungan-pertarungan seru melawan individu-individu supranatural waktu itu. Semua dilakukan di dimensi lain yang tak terikat waktu. Sayangnya belum pernah ada yang meneliti fenomena ini apa sama dengan Alternate Realm ato apapun itu namanya.

Dimensi-dimensi itu adalah milik mereka, para lawanku. Jadi lingkungan gelap dengan dinding lapuk itu milik si wak dukun kimak itu, hutan bambu itu milik si wak mesum gendheng itu, dan padang savana itu adalah milik Pipit sebagai seorang Menggala. Aku yang juga seorang Menggala tentunya juga punya dimensi semacam itu. Aku tidur di sana.

Sesimpel itu, kok. Aku mah gitu orangnya… Simpel. Setidaknya jiwaku sudah beristirahat cukup dan tubuh mengikuti. Men sano incorpore sano. Dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Betul ya tulisannya kek gitu? Mbuh. Jadi kalo jiwaku sudah beristirahat cukup, tubuhku juga sudah beristirahat. Gitu deh.

Jadi kalo aku lagi bengong sebentar, mungkin itu aku lagi tidur. Kalo air dari dispenser meluap dari cangkir kopiku, mungkin itu aku lagi tidur. Kalo aku ngupil gak dapet-dapet sasarannya, mungkin itu aku lagi tidur.

OK? Clear, kan semua? Gak ada masalah lagi? Puas dengan jawaban saya. Kalau kurang coba cari binor di sekitar anda, mana tau bisa memuaskan dahaga anda-anda sekalian. Okeh… Kita lanjut.

***

Saat ini kerjaan lagi seru-serunya nih. Masih jam 10 pagi. Masih semangat pol. Ketik laporan itu. Klik-klik ini. Periksa laporan si fulan dan si anu. Coret-coret revisi proposal. Evaluasi bagian itu dan ini. Prospek jangka pendek dan realisasinya. Seru, kan? Kalo bosan aku tidur sekelak.

“Bang Aseng… Jadwal PPIC-nya bisa bentrok kalo begini caranya-lah…” kata seorang staf yang datang ke mejaku.

Ia memegang beberapa lembar kertas yang biasanya jadwal-jadwal produksi yang didelegasikan kepada bagian produksi di lapangan. Nambah lagi kerjaanku untuk menjelaskan beberapa revisi yang sudah kulakukan sebagai bagian perintah dari kak Sandra beberapa waktu lalu. Lalu beberapa orang lagi kupanggil juga untuk sekalian ku-briefing agar gak perlu dijelasin satu-satu.

Jadi ada briefing mendadak di sekitar mejaku yang dihadiri beberapa staff PPIC dan beberapa lainnya yang kiranya terkait seperti Maintenance dan Logistic. Ada sekitar setengah jam aku harus menjelaskan beberapa point yang telah dirombak abis-abisan sesuai arahan dari Factory Manager yang juga merupakan kebijakan dari atasannya lagi, Direktur Utama.

Kenapa gak kak Sandra yang melakukan ini semua? Entah juga ya? Aku pun kok baru nyadar sudah disuruh-suruh ngelakuin tugas yang bukan tanggung jawabku. “Alo, kak?” teleponku langsung ke ruangannya minta penjelasan.

“Ha?… Hamik, Seng?” (Apa, Seng?) jawabnya cepat terdengar suara ketukan tuts kibot laptopnya di sana.

“Kok awak yang ngasih penjelasan ke PPIC, ya kak? Bingung awak… Mengenai yang tadi pagi itu loh…” tanyaku.

“Anggap aja lu training jadi wakil wa…” jawabnya tetap bekerja multi tasking.

“Kan ada Tiwi, kak… Masak awak jadi wakil kakak, sih?” protesku. Kan ada asistennya, si mendadak hijaber Tiwi. Anak Marelan Pasar 5 dekat lapangan bola itu.

“Tiwi itu asisten wa… Kek sekretaris wa… Beda-la sama wakil…” jawabnya santai. Eh langsung ditutup.

“Wakil?” gumamku di antara tumpukan berkas-berkas laporan dari beberapa bagian yang harus aku ku-cross check dengan beberapa data di layar komputerku.

“Tambah botak-lah rambutku ini…” sambil mengelus-elus kepalaku. Udah sering dijambakin perempuan kalo ngeseks, tambah lagi stress.

Ternyata ada seseorang yang lagi berdiri di sudut mejaku sedang maenan HP. Mungkin menunggu aku selesai teleponan tadi.

“Kenapa, Dan?” sapaku untuk beralih meladeninya.

Dani ini adalah kepala bagian PPIC. Berarti dia balik lagi setelah semua yang tadi briefing kembali ke tempatnya masing-masing. Mungkin ada yang mau ditanyakannya lagi lebih jelas.

“Tunggu, ya bang…” selanya ingin menyelesaikan urusannya di HP itu.

Sebagai staff senior di kantor ini, sabar kali awak ini nunggu perempuan satu ini selesai chatting sama temannya. Padahal urusanku pun banyak kali juga. Senyum-senyum pulak dia ngetik-ngetik di HP-nya. Nama lengkapnya Rahmadani sehingga lebih sering dipanggil Dani.

Ada cerita lucu tentang namanya karena waktu SMA ia pernah merengek minta ganti nama sama orang tuanya. Waktu kecil karena sok keren dikasih nama Rahmadhani. Pas SMA itu, waktu diabsen guru, dia panggil Rahmad Hani. Kek gitu kali motongnya. Udah berubah jadi laki-laki pulak. Jadilah sampai sekarang huruf ‘h’ itu dihilangkan jadi kalau dipotong jadi Rahma Dani. Kek mana kalo ada yang manggil Rahmad Ani? Sama aja, kan? Ntah lah! Gak urusanku-la itu. Urus kali-pun.

Bertopang dagu awak jadinya menunggu ia selesai. Hng? Ngapain perempuan satu ini? Chatting kok pake gesek-gesek di ujung mejaku? Pas pulak yang digesek bagian itunya. Iya bagian itu. Kelen cobak-la berdiri menghadap meja kantoran yang berbentuk segi empat, pas di sudut 90°-nya.

Apa yang kenak? Segitiga pengaman itu, kan? Kalo kao laki-laki, gelik pulak aku ngebayanginnya. Ini si Dani, perempuan berjilbab modis yang tinggi langsing itu sedang menggesek-gesekkan bagian depan selangkangannya.

Kadang ditekan-tekannya hingga bagian depan kulot (model celana yang ketat pada bagian paha dan gombrang pada bagian betis) hitam yang dikenakannya itu berbentuk jelas cetak ketat tembem meki-nya terbelah.

Apa yang sedang di-chatting-kannya di sana? Sex-text? Ato sedang berkombur (ngobrol ngalur-ngidul) dengan temannya? Gatel mungkin ya meki si Dani ini hingga harus multi-tasking antara nge-chat dan garuk. Ntah-la pulak. Ada sekitar 2 menit ia melakukan itu lalu menyudahi maenan HP-nya.

Ia rupanya ingin menanyakan sesuatu yang lebih detil tentang program-program tadi. Gak kusinggung kok tentang gesek-gesek enaknya tadi. Mungkin dia-pun tak sadar melakukan itu. Tak lama ia pergi kembali ke tempatnya. Segera kucek sudut mejaku. Lecet gak?

Menang banyak-la kao sudut meja. Bisa kao rasain meki tembem si Dani tadi. Ada bau-bau segar… Aku membaui bekas yang kuambil dari sudut itu di jariku. Bukan bau gak enak kalo keputihan yang sering jadi penyebab kemaluan perempuan gatal. Kupandangi lama sudut meja itu. Pandanganku terhalangi karena setumpuk file lain diletakkan Tiwi di dekat sudut itu.

“Awas melamun bang Aseng… Traktiran odong-odongnya belom…” kata Tiwi ingat aja. Ia tertawa-tawa pergi. Asem itu anak.

Baru aja mau nyentuh itu tetikus, muncul lagi itu perempuan.

“Ya, Dan… Ada yang lain?” tanyaku.

Itu perempuan modis berhijab tadi nongol lagi tiba-tiba dan berdiri begitu aja di samping mejaku. Dia berdiri tidak di sudut meja tadi melainkan di sudut meja yang ada di sampingku.

“Aa… Mmm… Itu…” ujarnya gugup.

Ragu apa yang mau diungkapkannya. Kuputar kursi kerjaku agar bisa ngeliat dia langsung yang seperti salah tingkah. Jarinya seperti menunjuk-nunjuk ke satu tempat. Apa dia lagi ngeliat penampakan mahluk ghaib? Hanya orang-orang tertentu yang bisa ngeliat mereka. Kuikuti arah jarinya menunjuk. Kesitu?

“Kenapa, Dani? Ada apa disitu?” tanyaku melongok ke arah yang diliatinnya.

“Ini ya?” kataku mengelus-elus sudut meja yang tadi sempat dinikmatinya.

Gerakan mengelusku kubuat selentur dan seerotis mungkin. Ia berdiri kikuk dengan kedua tangan dalam posisi defensif di depan menutupi kemaluannya yang tentu saja masih tertutup celana kulotnya.

“Bang… Aseng ngeliat ya?” suaranya lirih.

“Yaaa… Dikit… Kok diulang lagi?” jawabku dan langsung nanya lagi.

Karena ia entah kenapa malah menggesekkan mekinya lagi di sudut meja yang tepat berada di samping kananku. Kaget aku melihat tingkahnya. Kenapa anak ini? Kembali ia menggesek-gesekkan bagian depan kemaluannya pada sudut mejaku hingga terlihat belahannya jelas terbentuk.

“Mm… Gak tau, bang… Dani gak bisa menahannya… Maunya diginiin aja…” katanya bingung. Terlihat dari ekspresi wajahnya yang memerah dengan sedikit titik keringat.

“Udah-udah… Hentikan itu, Dan… Nanti ada yang lain ngeliat…” kataku menepuk bahunya lalu mengusap-usap lengannya untuk menenangkannya.

Telah terjadi sesuatu padanya. Tapi entah apa. Kuambil sebuah kursi dan kusuruh ia duduk di sana. Lebih baik kutanya pelan-pelan. Dani bernafas pelan-pelan dan duduk menenangkan diri dengan pandangan menunduk.

Kenapa perempuan ini? Kenapa ia bisa melakukan hal memalukan ini di depan laki-laki yang bukan siapa-siapanya. Kalo sama lakiknya, kurasa sah-sah aja sebagai pancingan atau lelucuan. Lah ini di depanku, berulang lagi. “Apa yang terjadi Dani? Ada apa ini?”

Ia tetap menunduk. Tangan kirinya bergerak perlahan yang awalnya dipegangi tangan kanan, terlepas, menyusuri pahanya dan mendarat di permukaan mekinya lagi.

“Jangan lagi, Dan!” cegahku dengan suara tertahan.

Seperti ada yang sedang mengendalikan tubuhnya. Ada aura jahat yang menyelimuti tubuh perempuan ini. Kutahan tangan kiri Dani yang menggesek-gesek kemaluannya dari luar celana kulot yang dikenakannya.

Keras! Kenapa tangan mungil yang terlihat lemah dan lembut itu begitu keras. Tanpa bisa kucegah lebih jauh, tangannya menelusup masuk ke dalam celananya dan kembali melakukan gerakan menggesek itu lagi.

“Baang Aseeng… Toolong, Daaniii…” isaknya pelan lebih mirip bisikan.

Tangan kanannya mencengkram pegangan kursi yang didudukinya. Di posisinya duduk saat ini, memang situasinya cukup kondusif. Kami seperti sedang mendiskusikan sesuatu yang biasa kami lakukan sehari-hari.

Para penghuni kantor lainnya sedang asik dengan pekerjaannya masing-masing. Terkadang ada yang lalu lalang tapi cubicle milikku memang sedikit lebih luas daripada staff lainnya karena aku menyimpan banyak data-data dari berbagai bagian yang disortir dalam beberapa kardus berbeda. Ditumpuk dan diberi label.

Aku harus mencari daun! Segera! Ah… Aku harusnya memelihara tanaman di meja kerjaku lain waktu. Ah… Tak jauh dari sini, di dekat tangga ada tanaman hias bernama Monstera. Tanaman berukuran besar ini mirip keladi dengan warna daun hijau tua tetapi berlubang-lubang searah kontur tulang daunnya mirip kipas. Daunnya mengkilap karena selalu dilap OB kantor.

Waduh… Daunnya cuma ada tiga helai lagi. Kalau kuambil satu, bisa-bisa OB kena masalah nih. Oop! Itu dia… Peace Lily. Berdaun banyak dengan bunga kuncup berwarna hijau muda. Daunnya mirip daun jahe dan sejenisnya yang tumbuh dari rimpang. Kuambil dua helai daunnya dan buru-buru balik lagi ke cubicle-ku.

Lah! Mana Dani-nya? Kemana perempuan itu pergi. Apa dia tadi menyusulku. Kepalaku mendongak celingukan mencari di antara cubicle lainnya. Hanya ada kesibukan biasa di antara pekerja lainnya yang seliweran di sekitar area kerjanya. Sekelebatan aku melihatnya menutup pintu kaca di ujung sana.

Aku tanda dengan hijab hitam yang dikenakannya ada sedikit aksen merah senada dengan seragam kerja. Tak mau buru-buru, aku berjalan belagak mau kesana juga. Pintu itu menuju pada gudang arsip di sebelah ruang Meeting nomor 3.

Bikin repot aja nih. Celingak-celinguk aku membuka ruang Meeting dan kosong. Hanya gudang arsip yang tersisa. Kuperiksa di sana. Pintunya terbuka. Pasti Dani ada di dalam sini. Itu dia. Duduk membelakangiku di sebuah kardus penuh file 2 tahun lalu.

Ada banyak kardus sejenis di gudang ini karena filling cabinetnya sudah penuh dengan file yang lebih penting. Bersusun bertumpuk sampai hampir mencapai langit-langit. Untung saja tempat ini diinsulasi dengan baik juga ventilasi mencukupi sehingga kelembabannya terjaga.

“Dani?…” sapaku mendekat.

Ia menunduk seperti tadi dengan celana kulot sudah turun sampai ke betis bersama celana dalam berwarna putihnya. Tangan kirinya bebas menggerepe dirinya sendiri. Isakannya terdengar jelas karena aku berdiri di sampingnya. Lebih mirip desahan kurasa. Paha mulus dan putihnya kulirik sekilas dan pandanganku tertumbuk pada permukaan celana dalamnya yang menggantung bersama celana kulotnya. Ada cairan bening membekas di sana.

“Dani… Apa kau masih sadar?” tanyaku.

Kelakuannya ini sudah mirip kesurupan. Ia kutenggarai sedang dikendalikan oleh sesuatu yang ingin menguasainya. Sebuah ilmu hitam yang jahat karena mengkondisikan korbannya jadi seperti ini. Hanya ada suara decak becek berkecipak kobelan jarinya pada vaginanya sendiri. Dua jari; jari tengah dan jari manis tenggelam di dalam liang kawinnya.

“Clak-clak-clak-clak!” suara kasar kecipak vagina basah terdengar jelas di telingaku.

Ia seperti tidak perduli apapun lagi. Muka Dani memerah dengan mata terpejam dan ia menggigit bibir bawahnya. Gerakan mencoblos itu makin cepat dan liar, kemudian cepat lebih cepat lagi.

“AAaahh!!” berkejat tubuh Dani melepas kedua jari yang bercokol di dalam vaginanya sendiri.

Sejumlah cairan meluncur deras berupa squirt beberapa kali, mendarat di lantai keramik. Wow! Baru kali ini aku melihat perempuan squirt kek gitu. Bisa nembak gitu, ya? Geleng kepala aku takjub. Kurang dari satu meter jauhnya semburan squirt barusan.

Dani terduduk lemas dengan kepala menunduk. Kakinya berselonjor lebar sekenanya. Seragam kerja berupa kemeja lengan panjang berwarna hitam dengan aksen merah di kerah dan ujung lengan, tergulung sembarangan dibagian bawahnya.

Memaparkan bagian bawah tubuhnya yang terbuka. Aku bahkan bisa melihat meki gundul becek basah yang masih berkedut-kedut miliknya, sedikit terbuka sisa permainan tadi.

“Dan… Dani?” ulangku memanggilnya. Kedua helai daun Peace Lily kupegang erat di dua tangan. Aku menjaga jarak.

“Dani… Apa kau bisa mendengarku? Kau gak pa-pa?” aku gak mau mendekat lebih dari 5 langkah darinya. Ini jarak amanku sesuai senjata yang kusiapkan.

“ROAARRKKHHH!!” tiba-tiba sesosok asing dan mengerikan melompat keluar dari tubuhnya.

Ada kepulan asap hitam yang mengikutinya. Bentuknya berupa tengkorak gosong dengan beberapa sisa daging yang hangus masih menempel. Terjangan cepatnya sudah kuantisipasi. Jari berupa tulangnya menggapai akan mencakar mukaku. Melompat mundur, menjatuhkan badan, dua daun pedang Peace Lily menahan lalu menyabet tangan kanannya hingga putus pada pertengahan tangannya. Kuat juga daun tanaman hias ini.

Tubuhnya geblak jatuh di lantai keramik dan terdengar suara kletukan tulang-tulang yang beradu di lantai keras. Gak mau menunggu lama-lama langsung kuhajar bagian kepalanya dengan sabetan pedang lagi silih berganti. Alhasil kepala dan sebagian tulang lehernya hancur tercerai berai.

Mahluk ghaib yang lazim disebut jerangkong ini menggeliat-geliat mengalami kehancuran fatal pada bagian kepalanya. Terdiam lalu hilang menjadi debu. Puff! Sisa tulang tangannya juga hilang.

Kuacungkan sebilah pedang kiri Peace Lily pada ubun-ubun Dani untuk jaga-jaga. Kanan bersiap menyabet kalau ada jerangkong lagi yang muncul menyusul temannya yang udah kubantai. Aura jahat itu sudah tidak ada. Aku tidak merasakannya lagi. Apa sudah selesai? Kutunggu sebentar lagi dan tak ada kejadian lanjutan apapun. Dua pedang Peace Lily balik menjadi daun dan hancur.

“Dani? Daan… Dani… bangun…” kataku segan-segan menyentuh lututnya dan menggoyang-goyangkannya. Tentu aja untuk membangunkannya. Ini perempuan pingsan ato masih keenakan orgasme squirt barusan?

Aku yang berjongkok tepat di depannya tentu aja bisa melihat lipatan meki buka-nutup waktu kugoyangkan lututnya beberapa kali. Aku bahkan yakin kalau ada tetesan cairan bening sisa orgasme dari bukaan mekinya. Kulirik sisa squirt-nya di belakangku.

“Daaan?” panggilku berusaha mencapai dagunya.

“Mpp… Aaah!” tetiba ia bangun dan meregangkan kedua tangannya lebar-lebar kek baru bangun dari tidur yang sangat lelap.

Tentu aja aku melongo meliat adegan ini. Dadanya membusung walau tak besar, tetapi jadi lebih mencuat karena dibusungkan ke depan. Digeretakkan tulang pinggulnya ke kanan dan kiri, terdengar gemeletuk suara tulangnya berderak dua kali. Ktuk! Kletuk!

“Aah… Loh? Bang Aseng?”

Kaget Dani melihatku ada di depannya sedang berlutut.

“Eh?” kaget dan panik ia menyadari kalau celananya terbuka dan melorot sampai betis dan kemaluan terpampang jelas dipamerkan kepadaku. Dibalikkan tubuhnya dengan paksa dan menarik semua gulungan celananya dengan buru-buru.

“Kok Dani ada disini…? Ini gu-gudang arsip, kan?” ia meneliti tempatnya berada dan segera mengenali ruangan ini.

“Apa yang abang buat padaku? Apa?… Apa, bang?” ia mendekap dadanya erat dan belahan antara kakinya.

“Dani gak ingat?” tanyaku. Fix dia tadi kesurupan.

“Tadi Dani duduk disitu sendiri sambil ngobel-ngobel anumu… Keknya sampe dapat enak… Waktu awak masuk kemari pas waktu enak itu… Awak pastinya penasaran-lah… Awak gak ngapa-ngapain Dani, kok… Suwer!” kataku.

Orang dalam kondisi begini mudah sekali diperdaya dan dialihkan. Berlipat-lipat alisnya kek kain lecek berpikir keras. Sepertinya ini bukan pertama kalinya terjadi.

“B-bang Aseng liat… liat semua?” tanya Dani ragu-ragu.

“Dikit, sih… Apa ada yang ngasih obat perangsang gitu sama Dani, ya? Sampe Dani sange’an gitu?” tanyaku dengan sudut pandang orang awam. Kuperagakan dua jari yang bergerak-gerak mengorek. Mudah-mudahan ia mau cerita.

“Obat perangsang?” ia berpikir sejenak.

“Mungkin juga… Mm…” kembali ia berpikir karena bimbang akan cerita atau tetap menyimpannya sendiri.

“Bang Aseng jangan cerita sama siapa-siapa ya?” katanya memintaku masih dengan menunduk. Hanya sesekali melirikku.

“Yaaa… Gak-lah abang mau cerita-cerita kek gini sama orang lain… Ya udah… Keluar sana… Awak mo nyarik laporan dulu…” kataku sok cool padahal dari tadi Aseng junior-ku udah ngaceng menyaksikan meki Dani yang segar dan gundul. Kalo aku berdiri sekarang, pasti bakal keliatan, makanya aku tetap berjongkok menyamarkannya.

Dani berdiri dan merapikan kembali pakaiannya. Ragu-ragu ia beranjak. Sepertinya ia akan menceritakan sesuatu padaku tapi ragu. Tau-lah kek mana gesture orang kalau maju mundur karena ragu.

Tapi akhirnya ia pergi dan keluar dari gudang arsip ini. Kutunggu beberapa saat dan aku kembali lagi ke tempat kerjaku dan melanjutkan kesibukan harian.

***

Karena kerjaan yang bejibun, aku memutuskan makan di meja kerja aja. Bisa lanjut tidur juga berkat pelindung beberapa tumpuk file yang menggunung. Aku bahkan sama sekali gak kepikiran lagi soal kejadian tadi dengan Dani. Dan ia muncul lagi di cubicle-ku.

“Gak makan siang, bang?” tanya perempuan itu.

Ia membawa plastik kresek berisi makanannya. Kantor ini sepi karena semuanya pada makan di pantry khusus staff office. Ia langsung duduk saja di kursi kosong bekas dia tadi pagi.

“Udah abis, nih…” tunjukku pada bungkus sisa makananku di tempat sampah.

“Masih banyak kerjaan…” padahal aku mau tidur dulu sekelak, eh dianya nongol tiba-tiba.

“Ada yang bisa awak bantu?” tanyaku lalu melipat tangan di atas meja sok jadi konsultan profesional. Tumpukan file di atas mejaku ada beberapa bagian.

“Mm… Itu bang… Mengenai yang tadi itu…” gumamnya.

“Yang tadi? Yang tadi itu…” ulangku dengan dua jari tengah dan manis rapat bergerak-gerak kek salam metal jadinya. “… di gudang arsip?”

“He-eh…” jawabnya pendek dan mengangguk dalam.

“Dani sering kesurupan kek gitu, bang…” begitu selesai kalimat itu ia menunduk lagi. Kakinya terkatup rapat dan kedua tangannya memegangi lututnya.

“Makin lama makin sering…”

“Kesurupan? Tapi tadi Dani gak ada kejang-kejang… gak ada tereak-tereak kek gitu… Awak liat kayak orang sange aja…” kataku antusias pengen tau apa yang terjadi.

“Kesurupannya memang kek gitu, bang… Dani jadi suka megang-megang ini… anu Dani, bang… Kalau uda selesai… baru kesurupannya ilang…” jelasnya agak lebih terbuka. Mukanya memerah dibingkai hijab hitam yang dikenakannya. Jadi ceritanya ini setannya mesum-lah.

“Baru tau awak ada kesurupan kek gitu…” kataku garuk-garuk dagu.

“Baru dengar pulak…”

“Awalnya badan Dani anget… Maunya gesek-gesek anu Dani ke… yang bisa digesek aja… Terus tambah panas… Lalu pake tangan… Buka celana… Kek yang abang liat di gudang arsip tadi itu-lah…” jelasnya semakin dalam menunduk.

“Dani udah pernah di-ruqyah… Beberapa ustadz Dani datangi untuk mengusir setan itu… Tapi dia selalu balik lagi-balik lagi…”

Aku termangu.

“Hari ini aja udah dua kali, bang… Yang pertama… tadi pagi di rumah… Yang kedua yang sama abang tadi… ” lanjutnya. Ia meremas lututnya resah.

“Apa yang sudah Dani lakukan sampai mengundang setan itu ke tubuhmu? Bentuknya jerangkong… Tengkorak hitam gosong terbakar…” kataku tiba-tiba tembak langsung. Pasti sudah terjadi sesuatu. Setidaknya perempuan ini sudah melakukan sesuatu yang menyimpang.

“Mm… Tengkorak hitam ya, bang?” herannya dan memandangiku untuk beberapa saat. Pasti dia heran kok aku bisa tau.

“Abang kok bisa tau?” tanyanya penuh penasaran.

“Gak usah bahas itu… Jawab aja… Apa yang sudah Dani lakukan? Apa yang kau minta sama Jerangkong itu?” tanyaku tegas. Kupandangi wajah cantiknya yang terlihat takut. Keringat menetes padahal ruangan ini sejuk.

“Da-Dani sama suami minta anak, bang… Hiks…” jawabnya pelan.

“Sama dukun?” bentakku.

Ia mengangguk lalu mengelap air mata di sisi kirinya. Ia mulai terisak. Lalu ia mulai cerita kalau dukun itu mengarahkan mereka berdua untuk mandi di tujuh buah sumur kramat di beberapa daerah. Keduanya mandi kembang dengan air dari ketujuh sumur itu berturut-turut.

Awalnya mereka tidak terlalu khawatir karena beberapa sumur ada di lingkungan mesjid. Sumur terakhir berada di tengah hutan di daerah Sibolangit. Tempat itu seharusnya punya banyak mata air jernih karena satu merek air minuman mineral terkenal (Aq**) juga bersumber di sana, tetapi sumur ini tidak.

Hanya ada lumpur hitam di dasarnya. Lumpur itu mereka campur sedikit air agar lebih encer dan dipaksakan juga untuk mandi kembang. Lengkap 7 sumur dan mereka diwajibkan berpuasa sehari semalam mulai saat itu sampai keesokan di jam yang sama.

Buka puasa mereka diharuskan bersenggama di dekat sumur terakhir itu. Karena mereka suami istri dan lokasinya di tengah hutan juga, mereka tidak masalah. (Saat senggama dukun gak hadir, ding). Tapi sampai sekarang mereka belum juga mendapatkan khasiat semua ritual tadi. Dan itu sudah 9 bulan yang lalu.

“… Setelah itu… malah Dani mulai kesurupan seperti ini… Hiks-hiks… Kami sangat menyesal, bang… ikut ritual itu…” sudah jadi tangisan sekarang. Ia berkali-kali narik ingus yang meler.

“Malah jadi sesat kami, bang…”

“Daan… Daan… Kok mesti ke dukun-lah kelen?” sesalku mengusap muka.

“Terakhir kami dengar… rupanya sumur terakhir itu dulu pernah dipakai untuk membuang mayat pembunuhan, bang… Sekali ketemu udah tinggal tengkoraknya aja… Itu mungkin hantu yang dibunuh itu ya, bang… Hiks-hiks…” katanya nambah informasi baru.

Nah itu baru kerjaan setan. Setan yang berbentuk manusia. Dani dan suaminya menikah tak lama setelah aku juga menikah. Itu lebih dari 4 tahun yang lalu. Memang ia tak kunjung dikaruniai anak. Tapi karena pembawaannya yang happy-go-lucky, ia seperti tak terlalu mempermasalahkannya. Sering jalan-jalan dan berlibur. Pokoknya senang-senang-lah. Ternyata dibalik itu mereka bahkan melakukan hal sampai yang ekstrim sekalipun. Ritual sesat. Bawa-bawa sumur mesjid lagi.

“Jadi… Dani cerita kek gini sama awak maksudnya apa?” tanyaku dengan nada rendah agar ia tidak merasa terintimidasi.

“Cam awak apa aja?… Mana-lah ngerti awak kek gitu-gitu…” kataku.

“Tengkorak hitam itu yang bilang sendiri, bang… ‘Bawa kemari kawan kau yang bernama Aseng itu. Kuhancurkan kepalanya’… gitu katanya, bang waktu beberapa malam kemaren Dani kesurupan di rumah… Suami Dani yang dengar semuanya…” ujarnya memperagakan dirinya sendiri yang sedang kesurupan sambil mengatakan tantangan tadi. Heleh! Kepala kao yang sudah kuhancurkan! Tau kao! Bacrit kao! Banyak crita kao!

“Takut-lah awak kalo kek gitu, Dan… Masak disuruh duel sama setan… Kalo pulut ketan bisa kumakan… Lah ini setan tengkorak?” kataku bergidik-gidik takut.

“Gak-lah… Nehi-nehi acha…” aku bergoyang gemulai kek nari dekat pohon.

“Tolong-lah, bang… Kami gak tau lagi harus gimana?” katanya mendesak sampai memegangi tanganku memohon bantuan.

“Tengkorak itu nantang bang Aseng karena dia tau bang Aseng bisa… Gitu kata suamiku…” diguncang-guncangnya tanganku dengan tangan lembutnya. Lain pulak yang kutengok berguncang. Tetek mungilnya, bro. Bisa berguncang rupanya. Lucu keknya di balik sana.

“Udah… Iya-iya… Udah gak ada jerangkong itu… Udah kupecahkan tadi kepalanya…” kataku sambil menahan tangannya agar berhenti mengguncang tanganku lagi. Kedengaran kek mengada-ada. Tentunya dia gak percaya. Percaya sama Tuhan kao, dek. Jangan sama Aseng. Musyrik kao nanti.

Kontan ia berhenti dan menatapku tak percaya.

“Yang betol-lah, bang… Abang-pun maen-maen… Serius Dani, bang…” katanya berubah kesal dan melepas tanganku dengan sedikit dibanting.

“Gak percaya, kan? Ya udah…” kataku dengan senyum lebar.

Setidaknya aku sudah menolongnya menyingkirkan setan yang selama ini merasukinya walau secara gak sengaja. Siapa yang doyan dicakar tengkorak angus kek tadi? Kenak bante-lah dia. Dah untung gak kukasih ke anjing piaraan tetanggaku.

Kutolehkan pandanganku ke sekitar karena beberapa teman-teman sesama staff office mulai masuk ruangan karena waktu istirahat hampir berakhir.

“Udah mulai rame, Dan… Balik sana… nanti dikirain kita ada apa-apa lagi…”

Dengan enggan ia beranjak dari kursinya dan kembali ke cubicle tempat dimana team PPIC berada.

“Beli apa, bang Aseng?” tanya si empunya kede.

“Beli gula setengah, Pa…” kataku mengangsurkan uangnya.

“Gak sekalian beli pulsa lagi?” tawarnya genit sambil mengerling manja.

“Gak-la, Pa… Masih banyak dari yang kemaren itu… Iva sih… jahat…” tukasku.

“Yakiiin? Kalau dikasih yang ini… gimana? Apa yakin… masih mau nolak?” remasnya.

GYAAAHHH!

Untung cepat-cepat aku bangun dari tidurku yang dilakukan secara curi-curi ini di alam spiritual kekuasaanku. Buru-buru aku bangun karena dalam mimpiku Iva meremas kedua payudaranya yang sangat menggoda, walau masih berbungkus–penuh nafsu. Aseng junior menggeliat bangun karenanya. Jangan sampe tegang kao!

Orang mau tidur aja mesti pake bunga-bunga mimpi indah kek gitu, sih? Pake mimpi biasa aja napa? Jalan-jalan ke pantai, ke taman, ke gunung—gitu. Itu, kan gunung juga. Gunung kembar. Plak!

Usap-usap muka karena kalo mau nyambung tidur lagi, kentang. Aku dah gak selera. Keluar dulu, ah dari sini. Nyambung kerja lagi.

Ini sebenarnya namanya penyalah-gunaan kekuasaan. Tapi karena ini memang alam kekuasaanku, ya suka-sukaku-lah mau kuapakan alam ini. Mau kupake tidur, pake latihan, pake untuk tidur eh yang ini tadi udah.

Sesuai dengan jenis kekuatan yang kerap kupakai, yang bersenjatakan daun-daunan, daerah kekuasaanku ini berupa taman yang penuh dengan bermacam tanaman. Tanaman bunga, tanaman hias, pohon, rerumputan.

Aku bahkan merakit sebuah hammock; tempat tidur gantung dari jalinan akar-akaran yang ditambatkan pada dua pohon cemara jarum yang berukuran besar. Di hammock itu-lah aku selalu tidur. Karena tidak bisa membawa bahan tidak organik selain yang dikenakan, hammock itu hanya beralas alang-alang, daun, dan rumput kering agar empuk. Tetap nyaman sekali.

Tapi kok bisa mimpiin Iva pulak, ya? Iva-nya tambah ganas. Pakek remas-remas tetek. Kalo kutahan agak lebih lama, mungkin udah telanjang dia. Nyam-nyam-nyam. Kerja. Kerjaa. Kerjaaa.

Ppt: Ping!

Aseng: Ya, pit?

Ppt: nnt malam jam yg biasa?

Aseng: tentu dong. ada problem?

Ppt: gk cm mastiin aja. ppt lagi nyalon

Aseng: selamat ya. dapil mana?

Ppt: ih bg aseng. di salon lg ngecat rambut nih

Aseng: sama aja kan nnt bakalan dicoblos jg wkwkwk

Ppt: 🙂

Dikit-dikit chatting sama binik orang lagi. Sebelum tidur chatting dengan Yuli juga kalo dia pengen nyoba nginap di hotel untuk program hamilnya. Untung hotelnya gak sama dengan Pipit. Hotel yang dipilihnya adalah hotel besar yang ada di jalan Sutomo ujung yang dekat Universitas Nommensen itu.

Jadwalnya tetap sama, yaitu tengah malam setelah kelar dengan Pipit. Aku sempat nanya tentang anaknya, Mimi, gimana? Anaknya ada ikut dengannya tidur di hotel juga. Tapi biasanya kalau tidur, anak itu kek kebo. Gonjang-ganjing kek gimana-pun gak bakal bangun.

“Kring kringg kringg!”

“Halo… Assamekum… Ya, ma? Ada apa Mama sayang?” jawabku.

“Lekum salam… Papa nanti malam ada lembur lagi?” tanya istriku di sana.

“Kek-nya iya, Ma… Masih kacau ini… Tapi nanti Papa pulang dulu bentar… Malam baru balik ke pabrik lagi…” jawabku.

“Ini… Nanti sore kak Dedek katanya mau ke rumah… Gak enak kalo lewat telpon ngomongnya… Soal Selvi nih kayaknya…” jelas istriku secara singkat dan padat. Aku segera paham maksudnya.

“Hmm… Ya udah… Nanti Papa balik ke pabrik lagi kalo kak Dedek dah pulang aja…” putusku.

“OK… Gitu aja, Pa… Assamekum…” lalu ia menutup telpon.

Istriku tidak pernah mau nelpon lama-lama. Cukup intinya saja tanpa basa-basi. O-iya. Kak Dedek dan Selvi ini adalah kakak dan adik kandungku. Aku anak kedua dari tiga bersaudara. Satu-satunya anak lelaki yang diapit kakak dan adik perempuan.

Kakakku punya 3 anak sedang adikku belum menikah. Yang unik adalah; Salwa dan anak ketiga kakakku udah kayak kembar beda ibu-bapak karena lahirnya di hari yang sama. Hanya beda jam saja. Salwa lahir sehabis Subuh, sedangkan anak kakakku lahir abis Ashar.

Soal Selvi yang dikatakan istriku tadi tentunya soal statusnya. Adikku ini terlambat menikah, umurnya sudah hampir 30 tahun. Apa kak Dedek menemukan jodoh untuk adik kami itu, ya?

Tunggu aja-lah nanti kalo udah ketemu dengan kak Dedek.

***

Sebagai Wali sah dari kakak dan adikku, aku berkewajiban untuk menikahkannya dengan seorang pria baik-baik. Ayahku sudah lama berpulang ke hadirat-Nya tak lama setelah anak pertamaku lahir. Ibuku yang sudah tidak bekerja bisa menikmati masa tuanya dengan jalan-jalan bolak balik kampung-Medan. Atau kemanapun ia mau. Ia bahkan sudah naik Haji, patungan kami semua anaknya.

Di kampung, kami masih punya rumah. Rumah warisan dari ibunya ibuku. Di Toboh Gadang, Pariaman—di daerah Minang sana tradisinya adalah Matrilineal yang mengikut garis keturunan ibu. Daerah ini masih kental dengan tradisi Minangkabau-nya.

Kalo kelen dengar kalau orang Padang mau kawin, yang ngelamar pihak perempuan, nah di sini ini tempatnya. Mayoritas daerah Pariaman begitu. Tapi-ada tapinya. Kalau sama-sama orang Pariaman juga dan sudah sepakat mengikuti tradisi itu.

Jadi misal, pihak pria dari Padang dan pihak perempuan dari Pariaman, masih bisa sepakat kalau tidak mengikuti tradisi ini. Jadi tetap dengan cara kebanyakan, pihak pria melamar pihak perempuan. Apalagi kalo pria-nya berasal bukan dari Minangkabau, aman.

Nah inti dari kedatangan kak Dedek tadi adalah memberitau kepadaku tentang rencana perjodohan adikku, Selvi dengan seorang pria yang berasal dari kampung ibuku, di Toboh Gadang, Pariaman. Karena sekampung, kena-lah tradisi-tradisi tadi. Paham, ya? Jadi nantinya kami sebagai pihak perempuan yang akan melamar/meminang ke pihak pria.

Kak Dedek memberikan nomor kontak sang pria itu sebagai usaha perkenalan keluarga. Sampe ke akun fesbuk-nya pun ada. Dari sana aku baru paham sedikit-sedikit tentang calon adik iparku ini. Ia seorang pelaut yang seumuran dengan adikku. Kapten kapal yang mengoperasikan kapal kargo yang malang melintang di Indonesia Timur, berkantor di Surabaya.Telat menikah juga walau laki-laki keknya lebih santuy ya kalo telat.

Layaknya pria Minangkabau yang gemar merantau, ia jarang-jarang ada di kampung karena profesinya ini. Ia seringnya mengunjungi ibunya yang juga sekampung dengan kami. Keknya pria yang baik dan bertanggung jawab, agamis juga untuk membimbing adikku.

Kami berdua, aku dan kak Dedek tidak ada masalah dengan perjodohan ini, karena sudah terlalu lama adik kami itu tidak kunjung menemukan pasangan dan lama menjomblo juga karena selalu kandas di percintaan.

Di tradisi Minangkabau, segala urusan adat dan kekeluargaan menjadi tanggung jawab para Ninik Mamak. Mereka adalah saudara-saudara ibuku. Perjodohan ini juga tak lepas dari campur tangan mereka. Beberapa bulan belakangan ini ibuku memang ada di kampung bersama adikku. Bagus, deh. Tanggal cantiknya akan kembali dirembugkan dan akan diinformasikan kembali kepada kami berdua.

Mereka, kak Dedek, suaminya dan ketiga anaknya pulang sehabis Isya karena rumah mereka cukup jauh dari sini–di daerah Setia Budi. Dan aku juga berangkat lagi ke pabrik sesuai jadwalku. Ngibul, ding! Jangan bilang-bilang ya? Jangan bilang-bilang kalo aku menuju hotel.

Sampe di hotel, aku langsung ke kamar dimana Pipit berada. Seperti malam-malam sebelumnya, ia mengintip sebelum membuka lebar pintu untukku masuk. Benar saja, Pipit tambah bersinar berkat warna baru rambutnya yang baru. Kemaren-kemaren kemerahan, sekarang ini coklat. Kulit putihnya sangat cocok dengan warna rambut seperti ini. Apalagi ia memang dari sananya sudah cantik. Jadi diapain aja udah cantik. Apalagi kalo lagi bugil.

“Gimana, bang? Cantik gak?” tanyanya menanyakan pendapatku. Ia berputar perlahan memamerkan warna baru rambut barunya. Ia memakai jenis pakaian kesukaannya saat di rumah, kaos tanpa lengan dan celana pendek setengah paha, tak beralas kaki.

“Cantik… Pipit ngapain aja cantik, kok…” kataku standar. Itu jawaban jujur sebenarnya karena ia memang asli cantik.

“Kaaan… Jawabnya yang bener, dooong? Cantik gaaak?” rajuknya memanyunkan bibir tipisnya.

“Pipit tanya-la satu hotel ini di front desk bawah sana itu… Pasti semua pada bilang cantik… Gak percaya kali… Betol loh, Pit… Suwer… Awak rela Pipit perkosa kalo boong…” kataku memberikan acungan dua jari. Manyunnya berubah jadi senyum lebar karena candaanku ini.

“Bang Aseng pengen diperkosa, yaaa?” matanya menyipit penuh selidik sambil menunjukku. Jarinya berputar-putar jenaka kala ia merangsek maju.

“Auhh… Jangan nyonyaaa! Jangan perkosa saya, nyonyaaa… Saya masih perjakaaa… Saya belum pernaaah…” jawabku dengan tangan bersilang di depan dada.

Pipit mendorong-dorongku dengan ujung jarinya yang ditusukkan ke dadaku.

“Jangaan…” aku duduk bersimpuh di depannya kek perawan di sarang penyamun.

Yang tak punya harapan bisa lolos dari sergapan buas. Sandiwara semacam ini layak untuk dimainkan.

Dengan muka mesum yang dibuat-buat walau tak mampu menghapus kecantikannya, ia menarik daguku agar aku mendongak.

“Diam! Rasain ini…” hardiknya hampir tertawa sendiri.

Tubuhnya dipepetkannya padaku, tepatnya selangkangannya pada mukaku. Jelas saja celana pendek katun itu ngepres ke bagian hidungku, tepat di bagian selangkangannya. Kalo aku gak salah rasa, Pipit keknya gak pake celana dalam karena terasa bentuk témpek mungilnya tertekan hidungku.

“Apa yang kamu rasain?” tanyanya kembali dengan sedikit hardikan.

“Anu nyonya…” jawabku dilucu-lucuin dengan kepala mendongak.

“Anu-anu… Anu apa?” hardiknya mendorong hingga hidungku terjejal témpek mungilnya.

“Anu nyonya… Anu nyonya yang enak ini…” kataku agak menggigit di akhir kalimat. Ia tergelak tanpa suara.

“Bukain punya saya!” lanjutnya lagi.

Aku yang terduduk menyamping bak perawan ting-ting membuat wajah bloon, melongo. Pipit gemas dan menjejalkan pinggangnya ke mulutku.

“Bukain… Buruan!” perintahnya.

Tanganku kubuat gemetar saat menarik perlahan karet pinggiran celana pendek katun itu dan benar saja tak ada celana dalam dibaliknya. Sampai pertengahan pahanya aku berhenti.

“Tarik semua! Sampe bawah!” lanjutnya memerintah.

Sementara témpek mungilnya sudah terhidang di depan mataku. Rambut-rambut jarang yang kuingat ada di sana kemaren sudah menghilang. Ternyata ia sekalian melakukan perawatan waxing rambut kemaluan juga di salon itu. Pipit tersenyum melihatku menyadari itu tapi terus bermain. Aku melepaskan celana pendeknya dari kakinya.

“Keluarin lidahmu! Julurin!” perintahnya lebih tegas sekarang.

Ia mau aku menjilati témpek mungilnya. Dengan patuh, kujulurkan lidahku sepanjang mungkin. Lidah basahku sedikit lagi menyentuh bagian terluar témpek Pipit. Dia masih memegangi daguku dan ia mulai menggerakkan kepalaku. Mengendalikan alat pemuasnya.

“Naanhaaa…” (nyonya…) desahku karena lidahku masih menjulur keluar.

Lidahku mengelus permukaan luar bibir tipis témpeknya yang terasa mulus tanpa rambut. Lidahku tanpa disuruh langsung menari-nari. Membelah lipatan bibir tipis témpek Pipit, menemukan jengger berlebihnya lalu mengaisnya. Ujung lidahku menembus masuk, mencolek isi belahan kemaluan Pipit yang jadi lembab.

“Mm… Aaahh… Pinter kamuuu… Uuhh…” desah Pipit menerima permainan lidahku.

Ditekan-tekankannya pinggangnya tak sabar selagi mengelus-elus rambutku. Mulutku penuh dengan témpek mungilnya kala kucucup kuat kacang itilnya, membuatnya menjerit manja. Masih di posisi berdiri, dijejalkannya, dijojoh-jojohkannya terus ke mulutku. Kujepit dengan bibir berulang-ulang jengger sensitifnya lalu kuhisap membuat pinggulnya bergetar berkali-kali merasakan nikmat. Rambutku udah acak-acakan dikremes-kremesnya gemes.

“Nyonya… Anu nyonya enaaak…” kataku saat ia dengan nafas tersengal-sengal melepas sebentar mulutku dari témpek mungilnya. Aku bahkan mengacungkan dua jempolku.

“Ii-ih… Bang Aseng… Anu-anu… Iku jenenge témpek, loh…” gemes Pipit gak mau bermain lagi, memakai bahasa ibunya dan menerjang mukaku lagi.

Mukaku sepenuhnya terbenam di selangkangannya. Didorongnya tanpa ampun kepalaku hingga aku terdorong dan rebah di lantai berkarpet ini. Didudukinya mukaku dan menggesek-gesekkan témpek mungilnya pada hidung dan mulutku.

Lidahku menjulur kaku, mencoba menangkap apapun yang melaluinya. Jengger Pipit yang paling sering bergesekan dengan lidah dan hidungku, kemudian kacang itilnya. Goyang-goyang lalu menekan dalam. Lidahku menyeruak masuk sebisanya ke liang kawinnya yang becek.

“Mmm… Bang Aseng…” keluhnya, samar-samar aku bisa melihat Pipit meloloskan kaos tanpa lengannya di sela gerakannya.

Bergoyang indah kedua payudaranya yang berpentil gelap kala pakaian itu lenyap dari pandanganku. Bergoyang sesuai gerakannya menggeruskan témpek mungilnya di mukaku. Pipit memerah sendiri payudaranya dan terus bergerak menggoyangkan pinggulnya.

Wajahnya merah dan ia menjilati bibirnya selagi mendesah-desah. Aku hanya bisa bersilat lidah melawan témpek mungil dan mengelus kedua pahanya.

Gerakannya makin liar dan tekanan tubuhnya menekan kuat pertanda ia akan mencapai sesuatu yang nikmat. Menunggu di balik tirai nafsunya. Perutnya terlihat tegang dan remasan perah pada dadanya sendiri menguat.

Pacuan gerak pinggulnya menggila sehingga aku harus menyelamatkan kepalaku dari beban berat tubuhnya dengan menahan pahanya, mengurangi beban.

“AAKkkhh…. Akhh…” ejannya berhenti bergerak.

Tetapi gerak tubuhnya yang tak bisa dikendalikannya adalah geletar-geletar yang menyetrum sekujur tubuhnya kala gelombang orgasme menguasai syaraf. Ia duduki mukaku sambil bergetar-getar.

Telunjuk kanan digigitnya dengan mata terpejam. Beberapa kali geletar susulan melanda membuatku lega karena kenikmatan yang dicarinya sudah mulai mereda. Ia mengerang-erang dengan nafas berat.

Perlahan ia berdiri walau masih lemas. Kubantu dengan menopangkan kedua tanganku pada kedua tangannya. Kami berpegangan. Ia berdiri tegak dengan sempoyongan tetapi berparas puas ditandai senyum manis. Tubuh telanjangnya dengan warna rambut baru dan témpek mungil becek nan gundul pasca waxing, menagih kenikmatan lagi.

Senyum manis di wajah dan tubuhnya telanjang berdiri di tengah kamar membuatku bangkit bersemangat. Kukupas semua pakaian yang masih lengkap kupakai. Tidak tergesa-gesa karena sambil menikmati pemandangan tubuh Pipit yang polos.

Ia juga melakukan hal yang sama padaku, menikmati prosesku. Dijelangnya diriku dengan langkah ringan dan senyum mengembang, lalu dipeluknya erat. Dada kami berhimpitan. Sayang aku tidak boleh mencumbu mulutnya demi prinsip. Kami harus menukarnya dengan hal lain walau tanpa ciuman dari Prancis.

Sentuhan langsung kulit ke kulit membuat rasa nyaman yang memabukkan. Pipit mendusel-duselkan wajahnya ke leherku selagi aku menghidu aroma rambutnya yang wangi. Tangan kami saling mengelus-elus punggung dan berubah menjadi remasan akhirnya.

Aku meremas buah pantatnya yang kenyal sementara ia meremas otot pinggulku. Aseng junior tergencet di perutnya. Berkedut-kedut memberi sinyal pada Pipit.

Pipit mengecup-ngecup leher, turun ke dadaku, perut dan berjongkok di depan Aseng junior yang mengacung tegang. Tanpa minta izin dulu, dicaploknya kepala Aseng junior dan mengulum dengan sentilan lidah. Geli sekali karena ia mempermainkan ludahnya di kepala Aseng junior sehingga terasa basah dan lengket. Baluran ludah basah di lubang kencingku ditingkahi permainan lidahnya yang bergerak dinamis. Tangannya lugas mengocok bagian batang dan memijat peler.

“Uuhh… Piiitt… Enaak kali, Piit…” erangku sampai berjinjit-jinjit menerima serangan dahsyat mulutnya.

Gemetaran kakiku mendapat serangan full-cream kek gitu. Lidah basahnya bermain ludah di Aseng junior-ku yang kuyup. Lalu ditelannya semampu dalam rongga mulutnya dengan lidah menjulur. Sejumlah ludah menetes-netes dari lidahnya. Dan disedotnya sebagai deep throat.

“Aduhh… maakkk!” erangku meremas rambut Pipit gak kuat.

Kutarik kepalanya agar melepas Aseng junior yang brutal disedotnya. Aku gak kuat dan hampir ngecrot…

“Puah… Napa, bang?” heran Pipit yang merasa belum puas bermain dengan Aseng junior-ku. Bibirnya basah oleh ludahnya. Ia menatapku dengan kepala menengadah masih berlutut.

“Gak kuat awak, deeek… Ampir nembak awak tadi… Sayang…” kataku. Ya sayang, kan harus ngecrot di mulut karena ini adalah program menghamilinya. Kalo lain waktu bolehlah dicoba ngecrot di mulut.

“Bang Aseng… sayang sama… Pipit?” ulangnya malah dengan nada yang berbeda. Heh? Sayang? Matanya berkaca-kaca atau berbinar-binar aku tak tau yang mana satu. Apa dia salah tangkap makna kataku tadi?

“Sayang? Sayang kalo… Eh!”

Pipit menubruk tubuhku dengan dekapan erat. Tubuhku terhuyung-huyung tak siap dengan sergapan tiba-tibanya dan mendarat di atas ranjang hotel–terduduk. Didorongnya tubuhku hingga berbaring dan ia menghimpit tubuhku.

“Pipit juga sayang sama bang Aseng…” katanya menyembunyikan mukanya di ketiakku. Tak berani menatapku.

“Bukan, Piit… Awak tadi bilang sayang… sayang kalo keluar di mulut Pipit… Itu…”

jelas bingung-lah aku ya, kan? Kok bisa pulak jadi kek gini kejadiannya? Tak ada pulak maksudku untuk sayang-sayang sama binik orang. Kalo dientot, kan belom berarti sayang, kan? Tapi kok jadi kek gini tanggapan Pipit? Haduuuh…

“Pipit tau… Tapi apa bang Aseng gak sayang sama Pipit?” tanyanya lalu duduk di atas kakiku dengan tubuh tegak.

Ia menatapku kini dengan mata sembab. Mata berisi air yang belum jatuh. Belum tau akan menjadi apa. Masih gantung. Aseng junior-ku masih kurang ajar berdiri tegak tepat di depan permukaan plontos témpek mungil Pipit.

Aku bangkit dan menghadapinya. Tubuh kami menjadi rapat. Pipit menatapku berani walau dengan mulut terkatup rapat. Rahangnya ketat. Matanya masih menahan air itu. Kupegangi kedua lengannya dan kutatap balik matanya.

“Aku sayang sama Pipit sebagai seorang tetangga yang mau membantunya mendapatkan anak…” jawabku perlahan agar ia mendengarnya dengan jelas dan tak salah tafsir. “Itu saja…”

Bergerak-gerak matanya meneliti mataku. Air mata mengalir dari mata kanannya pertama kali, menyusul yang kiri. Mengalir di kedua belah pipinya dan jatuh.

“Cium Pipit, bang… Biar Pipit tau…”

Kucium bibirnya dan kukulum sebentar kedua bibirnya sekaligus. Ia tidak merespon apa-apa, hanya diam dan memejamkan mata. Air mata kembali mengalir dari sudut kedua matanya saat terpejam itu. Lepas dan melekatkan kening kami berdua.

“Makanya Pipit awak larang untuk mengikutkan perasaan di sini… Seperti inilah jadinya… Kita tidak bisa berciuman karena ini, Pit… Tolong pahamilah…” nafasku agak tersengal mengatakan itu. Kukecup keningnya dan ia menangis.

***

“Aahh… Ahh… Terus, bhaanng…. Ehmm…” erang Pipit yang berbaring miring.

Aku menggerakkan pantatku dengan susah payah dari belakangnya. Aseng junior menusuk rajin walau tak bisa bekerja optimal menembus dalam. Kubenamkan mukaku di punggungnya kala melakukan penetrasi sulit ini.

Rasanya Aseng junior kurang panjang di posisi ini. Tapi Pipit suka begini karena gesekannya begitu terasa karena jalan kawinnya tertindih sehingga sempit.

Aku berhasil menenangkannya setelah insiden kecil tadi. Memberinya pengertian-pengertian agar ia tidak baper akan hubungan rahasia ini. Kuulangi semua inti perjanjian yang sudah kami sepakati kala itu masih di kamar ini juga.

Kuingatkan ia pentingnya menepati semua janji itu karena ada sumpah di dalamnya. Dan itu semua tidak boleh dianggap remeh. Lalu ditingkahi candaan, banyolan kontol, eh konyol dan ia lumer kembali dan berhenti menangis. Ngobrol lagi sebentar dan kami kemudian bisa bertempur kembali seperti saat ini.

Ini sudah ronde kedua sebenarnya dan bentar-bentar lagi aku bakalan ngecrot-lah. Udah terasa geli-geli enak di sekujur tubuhku apalagi di kepala Aseng junior yang sudah megap kelelep di dalam sana. Pipit terus mengerang-erang seksi menerima sodokan Aseng junior dan membekap tanganku yang meremas-remas sebelah payudaranya.

“Cepat, bang… Cepat, bhaanng… Ahhss… Asshhh… Uh…” erangnya dengan gerakan kepala liar. Rambutnya yang berwarna berantakan indah memberi warna di ranjang bersprei putih ini. Peluh kami berbekas di beberapa bagiannya–bekas pergumulan sebelumnya.

“Iniih, Piiit… Ini dia, Piiitt…Uhh…” geramku dan menekan perutku dalam-dalam ke pantatnya.

Aseng junior menusuk dalam semampunya dan menyemprotkan spermaku beserta bibit calon anakku ke rahimnya. Kami berdua mengerang bersama. Kedutan-kedutan melanda tubuh Pipit dan tubuhku.

Aku menguras semua spermaku agar tersalur ke dalam Pipit di saluran uterusnya. Bercokol dan bertahan di dalam rahimnya. Prosentase keberhasilan harus selalu dimaksimalkan. Menjadi anak yang diinginkannya.

Aku terus memeluk Pipit dari belakang masih dengan keadaan Aseng junior bercokol di témpeknya, sekaligus berfungsi sebagai penyumbat agar spermaku gak buru-buru keluar lagi. Kuremas-remas satu payudaranya yang bisa kujangkau, kuciumi punggung dan rambutnya. Nafas kami masih tersengal-sengal. Aku tak dapat melihat wajahnya.

“Gak usah diciumi terus, bang Aseng… Nanti cinta…” kelakarnya. Ia tergelak sendiri. Aku mendiamkan kelakarnya dan menjawab dengan meremas payudaranya sedikit lebih keras.

“Auhh… Iih, bang Aseng… Atiit…” keluhnya masih dengan nada canda manja.

“Abisnya binik orang ini gemesin kali…” kataku ngomong di punggungnya.

“Bininya siapa dulu?”

“Imran…” jawabku. “Pipit gak kangen lakikmu di sana?” tanyaku.

“Yaa… kangen… Kan tiap hari teleponan bisa…” jawabnya masih memunggungiku.

“Katanya juga dia kangen sama Pipit… Kangen ‘gini-ginian’ tiap malamnya…”

“Tapi biniknya malah ‘gini-ginian’ sama lakik orang…” jawabku mengecup punggungnya.

“Imran ada kecendrungan selingkuh gak kalo jauh dari Pipit? Cewek sana kan cantik-cantik…” aku kini memainkan putingnya. Aseng junior berangsur mengecil setelah bongkar muatan tadi.

“Keknya semua cowok cenderung begitu deh, ya? Buktinya bang Aseng juga… Bini dekat juga bisa selingkuh… Gak perlu saling jauh… Tapi gak pa-pa deh… Yang penting saling percaya aja…” kata Pipit mengungkapkan pendapatnya.

“Selingkuh itu kalo pakek hati, neng… Kalo pake nafsu aja keknya gak selingkuh-ah…” sergahku mencari pembenaran. Makanya aku gak mau mengikut sertakan perasaan dan teman-temannya kalo dalam keadaan ini. Aku cuma bawa Aseng junior saja. Piis. Cocok klen rasa? Toss kita kalo setuju.

“Alasan aja… Bilang aja gak berani…” ejeknya sedikit menggerakkan kepalanya memprovokasi tentang insiden sebelumnya.

“Iyaa… Awak gak berani-lah kalo gitu-gitu… Awak ini anak baik… Gak boleh gitu-gitu… Nanti marah mamak…” kataku mendekap tubuhnya erat. Hampir aja aku membuat cupang di punggungnya karena gemes kalo gak ingat-ingat.

“Percaya, dee…”

***

Gak perlu kukasih tau lagi berapa kali aku ngecrot ke Pipit ini malam? Yak benar! 4 aer. 4 kali.

Ia melepasku dengan godaan yang sangat menggemaskan di balik pintu. Ia berdiri mengantarku keluar kamar masih tanpa busana sehelaipun dan menggigit ujung jarinya dengan imut. Memandangiku penuh kepuasan. Aku melambaikan tangan dengan janji akan kembali lagi besok malam kalau tidak ada halangan yang tak dapat dielakkan.

Apa halangan yang tak dapat dielakkan? Misal ada yang mati, ada yang terluka, ada bencana alam, ada zombie apocalypse, perang bersenjata. Pokoknya yang-yang force majeur gitu-lah. Kalo masih ada yang bisa ngaceng di kondisi seperti itu, paten kali-lah kelen pokoknya.

Jarak dari hotel ini ke hotel berikutnya dimana Yuli berada cukup jauh sebenarnya. Tapi karena kondisi malam, lalu lintas lancar selancarnya, tidak perlu makan waktu lama untuk tiba di sana. Ini sudah jam 00:54 dan aku bermaksud memberitau Yuli kalo aku sudah di parkiran sepeda motor.

Udara malam terasa dingin kala kubuka jaketku menyusul helm. Parkir hotel ini untuk sepeda motor terbuka, jadi kalo hujan-ya basahlah semua.

“Alo?” jawabku karena ada telepon masuk sebelum aku sempat membuka aplikasi BB di HP-ku.

“Ha-halo?” jawabnya disana. Suaranya bukan Yuli. Kuliat kembali layar HP-ku untuk melihat siapa penelponku ini. Ini bukan Yuli tapi Dani.

“Ya… Apa, Dan?” kubuat suaraku se-kasual mungkin agar ia tidak segugup itu. Mungkin ada hubungannya dengan kejadian tadi pagi di kantor.

“A-abang belom tidur, kan?” tanyanya disana. Lah bisa ngangkat telepon berarti gak tidur-lah. Gimana, sih?

“Belom, Dan… Masih di luar nih… Ada apa, nih? Langsung aja…” kataku agak buru-buru. Lama-lama dingin juga di parkiran hotel ini. Si penjaga parkir udah clingak-clinguk karena aku gak nongol-nongol ke tempatnya. Dikirain nanti aku mau nyuri helm. Ke sana aja dulu sambil jalan nelponnya.

“Ada-ada yang mau Dani omongin sa-sama bang Aseng… Bisa minta waktunya sebentar?” katanya malah formil kek mau jualan asuransi.

“Lama gak, Dan? Kalo lama biar awak nyari tempat duduk dulu…” kataku. Ah itu pelataran hotel ada bak tanamannya, bisa keknya dibuat duduk. Aku duduk di sana. Lalu lintas di depan hotel sepi tengah malam begini. Beberapa mobil parkir di halaman hotel.

“Nah… Ngomong-lah… Awak dah duduk, nih…”

“Tadi barusan aja… Dani mimpi, bang Aseng…” mulainya. Ada mimpi-mimpinya. Mimpi digigit ular?

“Ada kakek-kakek ngasih tau ke Dani kalo bang Aseng bisa bantuin Dani kalo mau hamil…”

BAH! Apa lagi ini? Dani dimimpiin kakek-kakek yang ngasih wangsit kalo dia bisa hamil kalau kubantu. Kek pernah dengar ya? Ya… Ini aku mau nyambangin perempuan yang udah bayar DP 50 juta untuk dihamilin. Sebelumnya juga di hotel satu lagi beberapa saat lalu. Nambah satu lagi?

“Kakek-kakek? Dani percaya omongan kakek-kakek di mimpi itu?” tanyaku masih dalam posisi duduk walau sedikit terhenyak kaget.

“Yaa… Enggak juga sih, bang… Tapi kenapa kakek itu spesifik bilang abang bisa…” lanjutnya.

“Spesifik gimana? Apa kakek itu bilang cara awak membantu Dani supaya hamil-nya? Apa awak harus baca-baca doa gitu?” tanyaku sedikit geram. Kesel sih tepatnya.

“Katanya… katanya yaa… pake hubungan suami istri gitu…” suara memudar di akhir kalimat. Tapi aku bisa dengar semua dengan jelas walau kepalaku mendadak panas. Teringat meki gundulnya yang kembang-kempis di gudang arsip tadi.

“Hubungan?” ulangku.

Fix! Aku diminta untuk menghamili rekan kerjaku itu. Lalu ia mengulangi ceritanya tentang isi mimpi yang baru saja dialaminya tadi. Barusan aja dia mengalami mimpi itu. Terbangun disamping suaminya. Keknya mereka berdua abis indehoy. Bangun dan mencoba mencerna isi mimpi–bukan mengajak suaminya berdiskusi tentang arti mimpi barusan tapi malah menelponku minta tolong agar bisa hamil.

“Trus Dani percaya bisa hamil kalo melakukan itu dengan awak?”

“…” ia terdiam di sana untuk beberapa lama.

“Tapi bisa dicoba, kan?”

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9