The Baby Maker Part 19

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22

Cerita Sex Dewasa The Baby Maker Part 19 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya :The Baby Maker Part 18

“Papa… Papaaa… Mau keluar laaagihh… Uhh…”

“Sama, maaah… Uuhh…”

Berkejat-kejat tubuhnya sekaligus denganku yang ngecrot dengan sangat nikmatnya. Kupeluk tubuh singsetnya dengan gemas. Kuremas-remas bokong montoknya selagi kami berciuman lagi dengan selangkangan bergesekan memeras semua kenikmatan yang tersisa.

Cuddling selepas bercinta begini kerap kulakukan dengannya. Kubiarkan ia berbaring di atas tubuhku untuk beristirahat. Sesekali kukecupi kening dan pipinya. Ia bermanja-manja di pelukanku dengan sesekali mengecup bibirku.

“Enak, paah… Mama dapet dua kali…” bisiknya setelah menciumi rahang dekat telingaku.

“Masih keras tuh keknya…” katanya menyadari Aseng junior yang masih belum lepas dari dalam liangnya masih dalam kondisi primanya.

“Masih mau? Ayo aja… Apalagi memang enak kok…” jawabku mempersilahkan ia kalo masih mau lagi.

Biar ia memuas-muasin dirinya. Nafkah yang harus kuberikan padanya. Istriku bangkit dari posisi saling rangkul dan duduk masih dipangkuanku. Aseng junior masih bercokol di dalam dirinya.

Istriku dengan tubuh upgrade yahudnya sangat seksi sekali saat ini. Kala ia mengangkat kedua tangannya untuk merapikan rambut pendek selehernya, kedua payudara jumbo miliknya bergelayut maksimal, membusung indah mencuat menggoda. Tanganku menjangkau.

“Gede ya, pa?”

“Gede… Mantap kali ini, ma…” jawabku lirih meremas-remas payudara jumbonya. Gak bosan-bosan menguleni dua daging kenyal ini. Sementara istriku mulai bergerak pelan-pelan naik turun. Kocokan masih terjadi pendek-pendek saja.

“Sstt..” kataku berbisik pelan memberi kode akan sosok yang pura-pura tidur di samping kami.

Kualitas ranjang ini sangat paten kali kurasa. Ngentot kencang-kencang seperti yang kami peragakan barusan, Lisa yang ada tak jauh dari kami gak goyang sedikitpun. Ini harganya mahal kali. Jadi kalo masih make sampo sachetan dibagi dua kali pake, MINGGIR!

Istriku hanya geleng-geleng kepala gak perduli.

“Dia masih bobok, kok…” katanya terus bergerak.

Aseng junior semakin mengeras di dalam liang kawinnya. Dibiarkannya aku terus menjamah payudra jumbonya sementara ia menopangkan tubuh singsetnya dengan tangan di dadaku. Gerakannya semakin lancar dan cepat. Bibir bawahnya digigit pertanda ia mulai merasakan lagi nikmat percintaan ini. Kami hanya fokus satu sama lain saja.

Gerakannya semakin cepat dan kami sama-sama merasakan nikmat yang setara dari gesekan-gesekan kelamin kami yang saling beradu. Posisi cowgirl favoritnya ini membuatnya mendominasi percintaan kami. Aku hepi-hepi aja ia menikmati seks-nya ini karena aku juga merasakan nikmat yang tiada tara juga.

Apalagi menikmati guncangan-guncangan hebat payudara jumbo yang berputar-putar bergelantungan memanjakan mataku. Bebas disentuh ato diapain aja. Ia meracau keenakan kala menggerakkan tubuhnya maju mundur saat membenamkan Aseng junior mentok. Ehh…? Apa itu?

Orang rumahku lambat mengantisipasi pelukan seseorang dari belakang tubuhnya yang langsung menjamah payudara jumbo-nya lalu menciumi tengkuknya.

“Aahhh…” ia kaget ada sentuhan tubuh lain di punggungnya dan ia langsung menoleh.

“Lisa…?” ia sontak berhenti bergerak mengetahui siapa yang merangkulnya ini. Ngapain tuh cewek udah main nangkring aja di belakang binikku? Betul kan dia pura-pura tidur…

“Mbaaak…” ia mengeong kek anak kucing di belakang istriku.

Pelukannya erat meremas payudara jumbo telanjang istriku. Ia berusaha menjilati telinga binikku yang mengelak kegelian. Geli bukan karena enak tapi lebih ke menghindar. Sudah kusebut di atas tadi kan kalo istriku gak ada bibit-bibit lesbi jadi tentu aja ia risih kala ia lagi enak-enaknya bercinta denganku ada mahluk lain yang nimbrung mengganggunya.

“Lisa! Awas-ihh…” ia menepiskan tangan nakal perempuan itu yang meremas payudara jumbonya. Ditepis? Tadi apa kerjaan mereka hingga Lisa tidur sambil memeluk pinggang sempitnya? Kepalanya terbenam di antara payudaranya? Bukannya tadi ia tak keberatan? Kenapa baru sekarang?

Ia terus menghindari Lisa. Aku bingung harus bagaimana. Istriku beringsut maju hingga Aseng junior lepas dari liang kawinnya akibat gerakan menghindar itu. Ia sekarang duduk di bagian perutku sambil terus berusaha menghindari perempuan yang sama-sama baru kami kenal ini. Berkali-kali ia menepis tangan Lisa yang terus berusaha menggapai ke arah payudaranya. Lisa ngotot mau terus mencumbu istriku dan mengejar.

“Akkhh…” erangnya.

Alamak!

“My pussy… Uuhh…”

“Maa… Lisaa, nih…” kagetku karena Aseng junior menelusup masuk ke liang asing yang tak disangka-sangka akibat kejar-kejaran kedua perempuan di atas tubuhku ini. Ini tentunya cibay panlok anak bos-ku; si Lisa! Siapa lagi.

Aku spontan memanggil istriku sangking kagetnya. Aseng junior menusuk masuk sampe kandas akibat licinnya liang itu. Hangat dan becek. Terasa ada kremut-kremut memijat yang ritmis. Apakah ini debar-debar jantungnya itu. Dan apa saja yang sudah dilakukannya sampe segini basah?

“Lisa!” istriku juga kaget bukan buatan melihat junior milikku bercokol di dalam vagina perempuan itu.

Dengan kasar ia mendorong tubuh perempuan itu hingga terjungkang turun dari tubuhku. Lepas juga Aseng junior dari liang basah yang diperolehnya secara gak sengaja ini. Istriku langsung mendorong tubuhku juga untuk menjauh dari perempuan gendheng itu. Aku bergulingan menjauh.

“Apa-apaan sih kamu ini? Kamu udah keterlaluan! Keluar sekarang dari kamar ini!” teriak istriku sangat berang.

Ia menunjuk-nunjuk pintu keluar. Wajah murkanya sangat menakutkan saat ini. Mata belo-nya melotot besar. Giginya gemeletuk saling bergesekan. Hidungnya melebar bersamaan dengan ekspresi marahnya.

“Maaf, mbaaak… Lisa salah, mbaakk… Lisa sayang banget sama mbaaak… Huu huhuhuu huuu huuu…” muka mewek Lisa sangat memilukan pertanda ia sangat menyesal akibat kejadian barusan.

“Lisa minta maaf banget, mbaaak… Maafin Lisa, mbaak… Lisa gak sengaja, mbaak… Lisa janji… Lisa janji akan nurut semua kata-kata mbaak… Asal jangan diusir, mbaaakk… Biarkan Lisa di dekat mbak terusss… Huuu huuu huhuh hhuu…”

“Maa… Ini ada apa sih sebenarnya… Dia ngomong apa?” aku tentunya bingung apa yang telah terjadi.

Belum ada penjelasan juga kenapa Lisa dibiarkan tidur di kamar ini, aku udah diajak ngentot aja sama istriku di depan Lisa. Dia yakin Lisa tidak akan tau apa yang sedang kami perbuat saat bercinta, eh… malah jadi kejadian aneh seperti ini buntutnya. Mana Aseng junior sempat secelup lagi di cibay beceknya Lisa.

“Jadi gini pa… Si Lisa gilak ini katanya tergila-gila sama mama… Gilak, kan?” singkat kali penjelasannya.

Aku bengong mendengarnya. Tergila-gila. Ini jadi siapa yang waras?

“Aaa… Trus… Kalo dia tergila-gila sama mama… kenapa? Kenapa dia dibolehin ada di kamar kita? Kenapa dibolehin tidur di tempat tidur kita? Kenapa dia dibiarin ngeliatin kita lagi main seks gini?” banyak sebenarnya pertanyaanku.

Apa saja yang sudah mereka bicarakan selama aku pergi tadi sampe pulang tiba-tiba aku mendapati Lisa sedang kelonan dengan binikku di sofa.

“Ya… itu tadi… Dia tergila-gila sama mama… Dia cuma mau dekat sama mama… Jantungnya terus berdebar-debar gitu… Masih berdebar-debar ya, Lis?” tanyanya pada perempuan itu. Tapi nadanya tak ada kemarahan lagi. Seperti sudah menguap saja layaknya.

“Masih, mbaak…” ia beringsut mendekat padanya dengan manja yang langsung mengangsurkan tangannya ke bagian jantung yang katanya berdebar-debar.

Dua orang perempuan dewasa telanjang dengan payudara jumbo sedang saling sentuh di atas ranjang denganku. Tentu aja pemandangan itu membuat Aseng junior-ku mengeras alang kepalang. Urat-urat kasar bertonjolan di seputaran batangnya. Kepalanya membengkak keras.

“Tuh, kan? Masih berdebar-debar terus… Lisa sayang banget sama mbaak… Lisa boleh disini aja, yaaa?” dengan manja yang tak dibuat-buat ia menjatuhkan kepalanya ke dada istriku lagi. Ndusel-ndusel lagi seperti bayi raksasa yang kurang ajarnya seksi sekali.

Istriku dengan tak disangka terima aja diperlakukan begitu. Kemana tadi amarahnya yang meluap-luap? Udah kek mau dimakannya si Lisa tadi karena kecelakaan enak barusan. Dimana Aseng junior secara tak sengaja mampir ke cibay-nya. Lisa memeluk pinggang langsing istriku dengan erat dan menikmati waktunya dengan mata terpejam. Istriku lalu merebahkan tubuhnya yang diikuti Lisa dengan patuh. Mereka kini berbaring di sisi kebalikan awal tidur tadi.

Tinggal aku sendiri…

“Maa?… Ini gimana, maa? Masih nanggung nih, maa?” rengekku merujuk pada Aseng junior yang kentang masih ngatjeng sengatjeng-ngatjeng-nya.

Ia menoleh manyun seolah tak bersalah. Bukan aku yang memulainya. Dia yang mulai duluan membangunkan Aseng junior. Aku tadi lagi tidur dengan damai, kan? Ia melirik pada Aseng junior yang memang masih kentang.

“Lisa… tadi mbak lagi main sama bang Aseng… Lisa gak pa-pa, kan? Lisa kelonan aja trus, yaa?” bisik istriku pada Lisa yang memeluk erat seolah takut dipisahkan lagi.

“Iya, mbaak… Lisa gak perduli…” jawabnya.

Kimak memang nih orang. Udah menginvasi kamar dan binikku. Sok-sokan gak perduli. Tadi siapa yang tereak ‘My pussy… Uh…’? Anak bos ya anak bos! Tapi ini masih binikku! Bebas mau kuapain aja, gak perlu permisi juga sama wong gemblung kek dia.

Istriku yang sangat pengertian, memundurkan bokong semok semlohay-nya ke arahku. Satu kaki bawah lurus, kaki atas ditekuk hingga aku bisa mengakses vaginanya di posisi favoritku ini; menyamping.

Dengan begini ia masih bisa kelonan dengan Lisa yang wajahnya tepat di belahan dada jumbo-nya. Kuselipkan Aseng junior dengan sedikit merenggangkan belahan bokongnya yang sekal padat sampe bisa menusuk masuk ke liang kawin sempitnya.

“Aahhh…” perutku lekat dekat bokong padatnya dan mulai kugoyang-goyang nikmat.

Di posisi ini, aku bisa dengan jelas melihat kedua perempuan itu berpelukan erat. Aku gak bisa berpikir dengan jernih saat ini karena efek kentang yang membuat otakku berkabut.

Mungkin abis ngecrot nanti aku baru bisa berpikir lebih jernih. Aku sangat menikmati posisi menyamping ini. Udah sempit ditambah beban menghimpit beban pinggulnya yang lebar hingga Aseng junior tercekik di liang kawin legit-nya.

Goyanganku semakin cepat dan tentu itu menyebabkan tubuh istriku yang juga sedang menikmati genjotanku, bergoyang-goyang. Aku tak memperdulikan efeknya pada Lisa yang lebih mementingkan kelonan manja di payudara jumbo istriku.

Aku dapat melihat lidahnya keluar dan menjilat-jilat kulit dada di depannya secara rahasia selagi istriku masih asik keenakan kugenjot. Tangannya perlahan meraba turun dari punggung, ke pinggang, sampai ke bokong merasakan halus kulitnya—meremas-remas kenyal padatnya.

Lalu beringsut ke pangkal paha dan menelusup masuk hingga menuju selangkangan.

Lisa melakukan itu semua dengan menatapku dengan mata yang dipicingkan menyipit. Tangannya sampe ke permukaan vagina istriku. Mengelus-elusnya dengan bebas tanpa bisa dibedakan lagi oleh istriku.

Ujung jarinya menemukan kacang itil istriku dan memainkan jarinya lagi-lagi dengan bebasnya. Istriku yang sedang mendesah-desah keenakan oleh sodokan Aseng junior tak dapat lagi membedakan stimulasi siapa yang mengobel kacang itilnya—hanya menikmatinya dengan gelinjang liar.

“Paaahhh… Ahh ahh… Ah ah…” ia tak lama meledak dan kususul dengan ledakan menyemprot sepuas-puasnya di dalam liang kawinnya.

Spermaku sampe meleleh keluar dari liang kawinnya yang masih dijejali Aseng junior-ku. Aku ambruk di atas pinggulnya dan reflek mencari pegangan ke payudara jumbo istriku. Kimak! Tanganku dipukul dan ditepis menjauh gak boleh megang sama si Lisa. Apa pulak hak betina satu ini melarang-larang aku nyentuh punya binikku sendiri?

Berbaring dengan tangan dan kaki lebar abis ngentot puas begini enaknya. Menatap langit-langit gelap dan meresapi rasa lelah abis olahraga kelamin barusan. Gak kerasa mata mulai berat lagi. Ini sekitar dini hari, jam 3-4 gitu. Masih cukup untuk tidur lagi. Aku gak mau pusing akan urusan Lisa saat ini. Biarin aja dia nyenang-nyenangin diri. Menikmati masa berdebar-debar saat kelonan di payudara jumbo istriku.

Zzzz…

Dari dengkuran halusnya, aku tau istriku sudah terlelap di alam mimpi lagi. Beberapa kali mengalami orgasme tentu membuatnya puas lahir bathin hingga berakhir kelelahan. Ia peluk Lisa sebisanya seakan itu adalah aku yang sedang kelonan di dadanya. Kurasa perempuan itu rasanya kek udah masuk surga mungkin. Apakah ini semua fetish idamannya? Tapi dia sempat bilang kalo ia bukan lesbi. Hanya pada istriku ia jadi begini alias belum pernah sebelumnya.

Kaaan? Jadi gak bisa tidur aku jadinya mikiran si Lisa gilak ini.

“Hei? Ngapain kau, Lis?” tegurku yang bangun sehabis memakai celanaku kembali dan memergoki Lisa yang sedang menjilat-jilat, mencucup-cucup pentil istriku dengan rakusnya. Ternyata dia belum tidur juga dan asik menikmati istriku sepuas-puasnya.

Tangannya juga tak tinggal diam, mengelus-elus vagina istriku tanpa menyentuh kacang itilnya kali ini. Bekas cairan basah dari vagina istriku itu lalu dioles-oleskannya dan dijejal-jejalin ke vaginanya sendiri. Jarinya menusuk masuk ke dalam liang kawinnya. Sisanya dijilat-jilatnya dengan rakus.

Lisa tak memperdulikanku walo kutegor kek gitu. Ia menikmati istriku sesuka hatinya.

“Lisaa… Jan kek gitu kau… Bunting kau nanti…” tegorku lagi.

Bukan apa-apa ya kan, woy. Tadi Aseng junior tadi udah sempat kecelup di cibay-nya. Itu tadi aku abis ngecrot di binikku. Belum sempat dibersihkan eh masuk ke dia. Pasti masih ada banyaklah sisa-sisa spermaku di batang Aseng junior berselemak—masuk pulak ke dalam cibay-nya.

Lah ini malah sengaja dimasuk-masukin bekas cairan vagina istriku bercampur spermaku ke vaginanya sendiri. Udah senget kali kurasa anak pak Asui ini.

“Biarin… Biarin Lisa hamil… Dengan begitu abang bisa mengawini aku nanti…” jawabnya tak perduli.

“Ah! Dah gilak betol kau, Lis… Jan-lah kek gitu mainnya… Awak ni subur kali pulak, Lis… Bisa bunting kau nantik…” gusarku tambah gelisah.

Hamil binik orang yang satu ini agak repot kurasa. Aku belum ada persiapan apa-apa sama sekali. Kenal pun baru hari ini. Belum ada kukondisikan apa-apa.

“Suamimu… Suamimu itu ada dimana dia sekarang?” tanyaku.

Aku belum sempat tanya-tanya masalah pribadinya seperti suami siapa. Hanya saja aku tau ia belum punya anak.

“Ada di rumah…” jawabnya masih menjejal-jejalkan jari bersalut cairan sperma bekas di vaginan istriku ke kemaluannya sendiri dengan asiknya.

“Di rumah kalian di Australi?” pastiku. Gawat juga kalo suaminya masih di seberang benua sana. Bunting biniknya, abis aku.

“Di rumah papa… Dia ikut nganterin Lisa pulang ke Medan…” jawabnya masih santuy aja, aku yang kelimpungan.

“Abis ini Lisa cepat pulang… Gak pa-pa masih gelap begini… Langsung minta jatah sama suamimu… Kalo bisa nembak yang banyak-banyak di dalammu… Biar nanti kalo Lisa beneran bunting… itu anak suamimu…” aku berusaha memberinya pengarahan.

“Kenapa harus begitu? Lisa udah gak ada minat lagi sama Steven… Minta jatah pula sama dia? Gak sudi…” tolaknya mentah-mentah dan terus melakukan apa yang dari tadi dilakukannya. Nama lakiknya Steven.

“Jan gitulah, Lisaa… Itu yang kau masuk-masukin ke cibay-mu itu ada spermaku… Bibitku… Lisa bisa hamil kalo kek gitu caranya… Kalo itu bukan anak suamimu… Abis aku nanti di pabrik bapakmu…” kataku langsung aja terus terang akan ke khawatiranku yang mendasar. Apa nanti yang dikatakan pak Asui kalo aku menghamili putrinya? Apa gak minta digantung namanya.

“Too much confidence, heh?” cengir Lisa mengejek. Tentu aja ia meragukan keampuhan bibit milikku.

“Sperma bang Aseng ini udah diluar tubuh lebih dari setengah jam… Pasti sudah pada mati semua bibitnya… Lagipula… Lisa bukan mau sperma bang Aseng… Lisa cuma mau mau punya mbak… Punya mbak-ku sayang yang paling berharga di sini…” ia kembali mencolek seulas cairan kental dari vagina istriku lalu memjejalkannya kembali ke cibay-nya.

Vagina miliknya sudah berselemak spermaku, tidak seperti anggapannya. Seberapa banyak sih cairan yang bisa keluar dari istriku dibanding sperma kentalku yang nyata-nyata viscositas-nya lebih kental dari cairan vagina. Tapi ada benarnya juga, sih soal waktu sperma tadi.

“Dan… Lisa udah menyampaikan ini pada mbak waktu abang kuliah tadi… Kalo abang menikahi Lisa… abang bisa langsung jadi direktur di pabrik… Asik, kan? Jadi abang gak usah susah-susah jadi Factory Manager dulu menggantikan ci Sandra…” paparnya.

Heh?

Segitunya? Ia bahkan sudah memikirkan sampe ke sana. Bahkan menjadikanku direktur di perusahaan manufaktur milik bapaknya setelah cerai nanti. Asal ia bisa selalu dekat dengan istriku.

Kegilaan apa ini? Dan benar, pihak mereka sudah mengendus skenario kak Sandra untuk suksesi dirinya denganku. Benar Lisa yang diproyeksikan untuk men-counter skenario yang diam-diam diramu kak Sandra.

“Dan apalah katanya?”

“Mbak gak mau abang poligami… Makanya Lisa menawarkan ini pada abang… Pasti abang Aseng akan tertarik dengan jabatan itu… Bayangkan uang yang akan abang dapatkan kalau menjadi direktur… Tidak susah, kan? Ini hanya agar Lisa bisa selalu dekat dengan mbak…” ia sekarang bangkit dari posisi berbaring kelonan dengan istriku, duduk bersimpuh dan meremas-remas mesra payudara jumbo istriku.

“Abang pasti bisa membujuk mbak untuk menerima penawaran Lisa ini…”

“Pertama… Benar… Awak gak bisa mem-poligami dia… Itu artinya awak gak akan bisa menikahimu, Lisa… Tidak bisa… Istriku yang Lisa panggil mbak inipun tau itu… Kedua… Makasih atas tawarannya… Tapi menceraikan suamimu agar bisa menikah dengan awak tidaklah logis… Kalo masalahnya cuma uang… awak udah punya banyak uang, Lisa… Lisa liat sendiri rumah ini… Tentu Lisa bisa memperkirakan berapa harganya… Dan juga awak gak mau menyombongkan sumber keuangan awak yang lain… yang perbulannya bahkan jauh lebih besar dari gaji direktur di pabrik kita… Jadi jawabannya tidak…” aku menolak semua proposal menggiurkannya.

Ia terdiam untuk beberapa saat. Lisa tentunya pintar terbukti dari caranya bekerja dan sistem akademisi yang meluluskannya. “Bahkan jika Lisa menawarkan ini…?” ia merenggangkan kakinya lebar-lebar di hadapanku.

Walo kamar ini temaram, aku bisa melihat dengan jelas bentuk vagina montok yang berbentuk indah dengan bikini line hasil wax. Kemaluan yang basah oleh berbagai jenis cairan itu tentunya sangat menggoda untuk dicoblos Aseng junior.

Apalagi pada bagian payudaranya yang bisa dibilang berukuran jumbo juga. Sebelas-dua belas dengan milik orang rumahku. Tetapi harganya sangat mahal. Banyak yang harus dikorbankan untuk aku bisa menikmatinya. Aku masih mau berkarier di tempatku bekerja sekarang.

Dan jawabannya tetap tidak. Aku menggeleng.

“Tetap tidak, Lisa… Awak udah udah bertahun-tahun meniti karier di pabrik pak Asui… Dan awak gak mau berakhir seperti ini… Maaf…” jawabku tegas.

“Lisaaa… Ayo kelonan lagiii…” tak dinyana istriku mengigau dan menarik tangan Lisa hingga tubuhnya menubruk tubuhnya yang berbaring menyamping membelakangiku.

Dengan cekatan ia mengunci dan memeluk tubuh panlok itu dalam dekapannya. Gantian sekarang istriku yang ndusel-ndusel di payudara jumbo-nya. Mata Lisa membelalak kaget mendapat serangan seperti ini. Kaki istriku melingkar dan mengait pahanya. Lisa tak bisa pergi kemana-mana untuk saat ini.

“Met malam Lisa… Selamat tidur… Semoga mimpi indah…” cetusku memberi hormat salut padanya.

***

“Lisa-nya mana, ma?” tanyaku saat sarapan.

Rambutnya masih basah abis keramas mandi wajibnya. Salwa berlari-lari dengan imutnya sedang dikejar-kejar Tiara untuk makan ransum bagiannya di sekitar kolam renang rendah ini. Sedang Rio sedang memutar-mutar ban sepedanya yang dibuat terbalik.

“Tadi keknya ke depan, pa… Ngambil pakaian ato apa gitu…” jawabnya cuek mengaduk-aduk nasi putih berlumur kecap dengan telor ceplok yang udah dipotong-potong buat sarapa anak sulung kami yang sibuk sendiri dengan sepedanya.

“Ngambil pakaian? Pulang?”

“Nggak… Ada yang nganterin koper pakaian sama peralatan dia sehari-hari…” sembari menyuapi Rio dengan sarapan paginya.

“Sehari-hari?”

“Yaa… Dia akan tinggal dengan kita…” lalu mengejar Rio yang menjauh dengan sepedanya ke arah kolam dewasa.

Tinggal dengan kami? Jadi yang tadi malam itu belum berakhir. Menjawab itu semua, Lisa muncul dari sudut sana menyeret koper besar beroda dengan ekspresi riang menghampiri orang rumahku. Ini anak pindahan ceritanya ke rumahku? Ke kamarku?

“Mbaaak… Makasih yaaa… Lisa udah diijinin tinggal disini bareng mbak… Mbak cantik baik, deeh… Peluk dulu… Muaah…” ia malah memeluk istriku dengan mesra bak kekasih.

Tapi mataku malah menemukan dua pasang payudara jumbo mereka saling menekan, menghimpit dan lumer satu sama lain. Hidungku terasa basah… Apa mimisan? Kimak! Sukurlah cuma ingus…

***

Lisa

“Sepertinya Lisa punya saingan di rumah abang…” lemparnya akan topik random kala kami sedang menatap hamparan mesin-mesin dan personil pabrik di hadapan kami lewat balkon tempat mengamati ini.

Bising suara mesin produksi sebenarnya menyulitkan komunikasi. Lisa sudah menyesuaikan diri dan agak bersuara keras untuk dapat berkomunikasi di lokasi ini.

Aku memutar mataku, like hell yeah? Sumpeh lo?

“Awak ya sainganmu?”

“Abang bukan saingan… Lisa gak pernah menganggap bang Aseng sebagai saingan… Abang adalah fasilitas utama bagi Lisa agar bisa selalu bersama dengan mbak-ku sayang… Ada satu saingan di rumah abang… Sepertinya dia cemburu mengetahui kalo Lisa terang-terangan nembak si-mbak cantik… Sementara ia hanya sembunyi-sembunyi selama ini…” paparnya sangat mengejutkan.

“Siapa maksudmu?” aku jadi penasaran mendengar pengakuannya.Bagaimana mungkin baru satu malam ia menginap di rumah dan kamarku, ia sudah mengetahui hal ini. Pengagum rahasia-kah?

“Baby sitter itu… Tiara…” sebutnya akan satu nama.

“Tiara? Masa dia cembu…ru?” aku kembali kaget. Tiara?

“Apa abang gak ngeliat ekspresinya waktu pertama kali Lisa menyatakan perasaan ke si-mbak?” Lisa mencoba mengingatkanku akan mimik Tiara kemarin sore saat Lisa baru kuperkenalkan pada istriku.

Memang keningnya Tiara sampe berkerut-kerut mendengar penuturan berani, jujur dan mengejutkan itu. Tapi tentu aja aku juga begitu. Itu memang gak wajar kalo nembak seseorang di depan pasangan resminya.

Apalagi sesama jenis begini. Dan tadi pagi lagi. Ada pandangan kesal lagi di mimik Tiara saat Lisa baru kembali dari menjemput koper barang-barang miliknya yang baru diantarkan.

Lisa dengan entengnya memeluk istriku, cipika-cipiki, saling laga tetek. Mimik itu normal ditunjukkan oleh seseorang yang memergoki kekasihnya sedang berselingkuh.

Tapi ini Tiara yang sedang kami bicarakan. Baby sitter cantik, baik hati dan tidak sombong yang membantu istriku menjaga dan mengasuh anak-anakku. Yang sudah beberapa bulan ini tinggal bersama dengan kami. Apakah ia memendam hal yang serupa dengan Lisa? Suka pada istriku? Suka pada sejenis? Lesbong?

“Merhatiin, kan? Lain kan mukanya ngeliat Lisa?” ulangnya.

O-iya… Ada juga peringatan dari Vivi waktu itu. Vivi pernah memberitahu padaku kalo aku harus berhati-hati pada Tiara karena baby sitter kami itu juga memata-matai gerak-gerikku.

Saat kutanyakan lebih lanjut, ternyata cara memata-matai versi Tiara berbeda dengan Vivi. Vivi melakukannya secara ghaib dengan Banaspati awalnya, lalu berganti metode menggunakan mata mahluk asing miliknya yang diberi nama Ameng—plesetan namaku.

Cara Tiara berbeda jauh metodenya. Ia ternyata menggunakan alat elektronik untuk memata-matai kami. Ia menyebar beberapa baby monitor, alat kerjanya yang disedianya untuk mengawasi keadaan anak-anakku, menjadi alat spionase berkat adanya kamera dan microphone dengan fungsi seperti CCTV mini. Ada di box bayi anakku di kamar kami dan tentunya di kamar kedua anakku.

Ternyata Tiara bukan memata-matai aku, melainkan istriku…

“Nah… Dari mukanya keliatannya baru ngeh, kan?” tembak Lisa memerhatikan perubahan mimikku yang teringat fakta baru.

Jadi selama ini, ia memperhatikan gerak-gerik orang rumahku ketika sedang berada di dalam kamar. Semua kegiatannya di dalam kamar. Itu pastinya termasuk saat ia berganti pakaian bahkan saat sedang bercinta denganku.

Astaga dragon! Tiara menonton kami lagi ngeseks? Apa pake masturbasi Tiara saat itu? Dia kan tidur sekamar sama bu Murni. Tapi enggak juga karena akhir-akhir ini ia sering tidur di kamar Rio ato Salwa.

Malam-malam kadang ia membangunkan istriku dengan alasan Salwa minta disusui ASI. Tentu ia melihat langsung proses menyusui itu lekat-lekat dengan mata melotot. Menyaksikan susu jumbo istriku yang mengeluarkan ASI.

Banyak pikiran kotor bermain di kepalaku jadinya akibat baru nyadar begini. Nambah satu lagi masalah padahal masalah anak bos tetek jumbo di dekatku ini aja belum jelas apa maunya.

“What’s up, mate? Kayaknya banyak sekali masalahnya, bang?” goda Lisa menutup mulutnya yang hendak tertawa. Ia melemparkan pandangannya kembali ke hamparan pabrik.

“Kau juga yang nambahin masalah…” sergahku.

“Enak gak susu mbak-mu itu? Manis-manis gitu, ya?”

Sontak ia menggeleng-gelengkan kepalanya lalu mengacungkan kedua jempol tangannya.

“The best pokoknya…” lalu ia mengecup ujung-ujung jarinya yang dikuncupkan, “Numero uno!”

“Kimak!” aku nyesal sendiri sudah nanyain itu.

Istriku harusnya adalah hal yang sakral bagiku. Kenapa aku harus membaginya pada orang lain? Aku udah wanti-wanti ke diri sendiri gak akan mau melakukan hal yang dipraktekkan Julio dan Amei. Menyerahkan istrinya ke pria lain. Aku gak akan mau membagi istriku ke pria lain. Eh… Malah perempuan lain yang berbagi istriku. Kan kimak kali. Baluap-baluap!

“Itu gimana ceritanya, sih? Kok awak gak paham-paham… apa yang membuat Lisa jadi begitu sama mbak-mu itu? Apa yang Lisa rasakan? Sekarang ini gak lagi berdebar-debar, kan?” tanyaku tentu kepo. Ini sebenarnya yang pengen kutanyakan dari tadi.

“Saat Lisa teringat mbak… tiba-tiba jantung Lisa berdebar lagi, bang… Abang sih… ngingetin… Lisa kan jadi kangen pengen cepat-cepat pulang ketemu mbak… Duuh gimana, nih?” mendadak ia panik.

“Gak usah lebay kali-la, Lisa… Awak mo nanyak, nih… Kenapa jadi kek gini? Nyesal pulak awak nunjukin foto keluargaku samamu…” teringatku akan pangkal muasal kejadian ini. Karena aku yang dengan bangga menunjukkan foto kedua anakku. Disana nyempil foto istriku yang sudah berbodi upgrade.

“Lisa-pun gak ngerti, bang… Kenapa Lisa jadi begini… Kalo dipikir-pikir… Lisa sudah banyak ketemu banyak orang… Laki-laki maupun perempuan… Lisa gak pernah merasakan yang begini sebelumnya… Bahkan waktu dulu-dulu jatuh cinta… Cinta monyet-cinta kucing-cinta ayam…”

“Cinta babi…”

“Hi hihihi… Jelek amat… Kayak gitu-lah… Gak pernah Lisa debar-debar seperti ini… Ini-ini baru buat Lisa… Di Sydney sana… abang pasti tau sendiri ada banyak ras campur baur disana… Kaukasia, Asia, Afrika, Arab, Latin… Apa aja ada… Banyak yang cantik-cantik… Yang bodinya kayak mbak-pun banyak… Tapi gak pernah Lisa tertarik seperti ini… Yang pasti Lisa juga bingung… Saat berdekatan sama mbak… Saat bersama mbak… Saat ngobrol bareng mbak… Saat-saat paling bahagia dalam hidup Lisa… Mmm…” ia memandangi layar HP-nya. Pasti sedang memandangi koleksi foto istriku.

Lama ia tak memperdulikanku yang ada di dekatnya. Ia tenggelam mengagumi pesona menyihir istriku. Kepalanya teleng ke kanan, miring ke kiri dan seperti berbicara, ngobrol dengan mesranya. Udah kek orang gilak betul kurasa. Cam iya-iya kali.

“Sana-lah ke kamar mandi… Ngocok dulu sana…” kataku menunjukkan jari yang dikaitkan seolah sedang mengorek-ngorek liang kawinnya yang pasti sudah geli-geli gatal pengen digaruk.

“Hi hihihi… Sori, bang…” ia lalu mematikan layar HP-nya. “Ada apa calon imam masa depanku?”

“Imam-imam? Tetek jumbo-mu itu imam! Awak mau ngomong serius sama Lisa, nih… Tapi Lisa harus janji tidak boleh tersinggung… Bisa?” ujarku memasang muka seserius mungkin. Seperti sedang menghadapi seorang mertua yang tak mengizinkan anaknya dipinang dengan seserahan murah.

“Bisa… Ngomong-lah, bang… Lisa akan coba berpikir jernih agar gak tersinggung…” jawabnya terbuka.

“OK… Janji ya gak bakal tersinggung?” ia mengangguk yakin. “Terlebih dahulu mohon maaf… Apa yang Lisa ketahui soal kematian koko dan cicimu? Robert dan Vanessa…” mulaiku.

Lisa terkesiap kaget aku menanyakan hal ini. Ini sebenarnya hal yang sangat sensitif bagi keluarga besarnya. Robert, anak laki-laki pertama pak Asui tentu saja merupakan kebanggaan keluarganya. Pintar, cerdas, berprestasi, ganteng.

Gambaran sempurna seorang pria muda yang digadang-gadang akan menguasai mayoritas usaha orang tuanya. Vanessa juga demikian. Cantik, cerdas dan mahir memainkan beberapa alat musik. Pemenang beberapa perlombaan sains tingkat nasional hingga mendapatkan beasiswa ke Amerika Serikat.

Betapa terpukulnya keluarga besar mereka mendapat kabar yang mengerikan dua putra dan putri kebanggan pak Asui tewas dalam kurun waktu dua tahun berturut-turut.

“Koh Robert karena kecelakaan bermain polo di Inggris… Cici Vanessa karena kecelakaan lalu lintas di Amerika…” jawabnya datar setelah berhasil menguasai dirinya.

“Kami di sini juga dengarnya juga begitu… Robert kecelakaan saat berolah raga polo bersama teman-temannya di Inggris sana… Vanessa kecelakaan lalu lintas saat akan pulang dari kegiatan disertasi Master-nya… Semuanya taunya begitu… Bahkan kak Sandra yang segitu dekat dengan keluarga kalian juga taunya versi itu…” kataku mulai set up infoku.

“Maksudnya?” ia mengernyit meraba-raba jalan pembicaraanku.

“Info dari sumber yang tak disangka-sangka baru awak tau kalo kakakmu… Vanesaa bukan kecelakaan lalu lintas… Dia diperkosa beramai-ramai oleh teman-teman bejatnya saat liburan sampe tewas… Ingat jangan tersinggung…” kuingatkan lagi dia agar tidak meledak.

Mukanya terlihat ketat dan kulit putihnya memerah menahan amarah. Rahangnya mengeras mengatup erat dengan tekanan kuat. “Siapa sumber abang itu?” tanyanya datar. Pasti ia ingin tau sumber kebocoran berita ini. Keluarga mereka pasti sudah membayar mahal agar tragedi ini tidak sampe ke telinga orang-orang yang tak berkepentingan.

“Sebelum awak jawab… Awak mau menunjukkan sedikit dunia lain yang awak geluti selama ini… Ini dunia yang asing dan sangat berbahaya… Perhatikan ini… Trik ini bukan sulap… Fnnngg!!” mandau Panglima Burung tiba-tiba sudah terhunus di tangan kananku. Matanya membelalak kaget melihat kemunculan secara ghaib senjata tajam ini.

“Ini namanya mandau… Senjata khas masyarakat dayak… Sebaiknya kusimpan dulu senjata ini…” dan pemberian burung Enggang sang Panglima Burung itu kembali menghilang dalam perbendaharaan senjata Menggala Wasi-ku.

“Awak tau detil berita tentang Vanessa diperkosa hingga tewas itu dari pelaku utamanya… Pelaku utama kejahatan itu bukanlah orang-orang yang telah menyakiti Vanessa… Bukan mereka sumber info ini… Awak yakin kalo semua pelakunya sudah mendapat ganjaran… Tapi info ini dari mahluk yang mengaku sebagai Dewa Kera Emas…” mata Lisa melotot mendengar nama entitas suci di sebut. “Pernah dengar namanya? Pasti pernah…”

“Dewa Kera Emas? Apa hubungannya dengan dewa…?”

“Sebelum awak membasmi Dewa Kera Emas… ia sempat menceritakan kalo dialah yang mengambil tumbal dua anak pak Asui, koko dan cicimu sebagai ganti upah bantuannya selama ini… Jadi ia menyamarkan kecelakaan Robert yang diinjak kuda polo itu saat jatuh… Memberikan pengaruh jahat pada teman-teman Vanessa hingga tega memperkosanya hingga tewas… Padahal mereka berdua… koko dan cicimu itu sudah dimakan olehnya… Dia hanyalah siluman monyet yang mengaku-ngaku sebagai Dewa Kera Emas di pekong yang kerap didatangi pak Asui untuk mencari berkah…”

Lisa melongo mendengar ceritaku. Matanya sesekali mengerjab kaku.

“Kedengaran kek bullshit, ya?” gurauku. Memang aku gak terlalu berharap Lisa akan percaya akan kisahku.

“Walo bagaimanapun… siluman monyet itu sudah seharusnya dibasmi… karena sudah menyebabkan banyak kejahatan dan kesedihan dimana-mana… Contohnya di keluarga kalian… Ia selalu mengambil sesuatu yang berharga sebagai harga yang dibayar atas kebaikan yang diberikannya… Tapi tentunya semua itu tak akan sepadan… kalo nyawa yang jadi bayarannya…”

“Dari kecil kami sudah dibawa ke pekong di Pangkalan Brandan itu… Tiap tahun berdoa dan mengharapkan berkah di sana… Maksud bang Aseng kalo Dewa Kera Emas itu palsu?” Lisa berusaha keras untuk tidak sengit.

“Maaf… Awak gak bermaksud SARA… Tapi itulah adanya… Siluman monyet hanya mengaku-ngaku dewa padahal palsu… Dia hanya mencari keuntungan sendiri dengan mengambil tumbal seenaknya… Maaf sekali lagi… Awak gak bermaksud mendiskreditkan kepercayaan kalian… Tapi… ini ada kaitannya dengan apa yang terjadi pada Lisa saat ini… Awak curiga kalo siluman monyet itu sebelumnya sudah melakukan sesuatu pada Lisa juga… Karena ia sempat bilang kalo dia mengincar kalian berdua…” jelasku agak sungkan pada masalah kepercayaan ini. Itu masalah yang sangat sensitif dan aku pelan-pelan merabanya.

“Siluman itu mengincarku dan Anne?! (Anne adiknya yang paling bungsu, yang masih SMA itu)”

“Awak curiganya gitu, Lisa… Awak curiganya kalo kejadian Lisa suka sama istriku sampe berdebar-debar ini yaa… gara-gara siluman itu…” sampeku pada inti permasalahannya.

Ini masih kecurigaan dangkal karena aku masih perlu analisa yang lebih mendalam. Karena saat Aseng junior-ku yang sempat masuk menelusup masuk ke liang kemaluannya, tidak terjadi reaksi apa-apa. Seharusnya kalo ada masalah gangguan ghaib, pasti akan langsung bereaksi. Ini tidak ada sama sekali.

“Jadi bang Aseng bisa nyembuhin Lisa?” ia tepat bertanya. Ia jadi antusias akan ceritaku.

“Demi istriku biar gak terus Lisa ganggu… awak akan coba… Mau kita mulai?” setujuku.

“Disini? Apa kita gak sebaiknya cari tempat yang agak tenang?” usulnya karena menganggap tempat ini kurang layak untuk dijadikan tempat mengobati gangguannya.

“Gak pa-pa… Ini tempat yang paling aman… Tunjukkan telapak tangan kirimu…” ia menyodorkan tangan kirinya dengan tapak menghadap ke atas. Aku mengarahkan tapak tangan kananku di atasnya.

“Sebentar yaa… Awak deteksi dulu…” Tapak tangan kami hanya berdekatan, tak berdempetan bersentuhan.

Aku mengerahkan sejumlah energi Lini untuk mencari potensi gangguan yang mungkin menyerang Lisa. Beberapa lapis jiwanya kutelusuri untuk gangguan sekecil apapun.

Aku berkonsentraasi penuh untuk menemukan apa yang kucari. Tiba-tiba jarak yang kujaga antara tapak tangan kami menyatu merekat. Kami berdua terkaget akan hal ini dan kemudian berdua terseret masuk ke daerah gelap dengan lingkungan tebing batu padas tinggi melingkar. Aku familiar dengan daerah ini karena pernah ada disini sebelumnya. Ini daerah kekuasaan siluman monyet bangsat itu.

“Baang… Ini kita dimana? Apa kita berpindah tempat? Teleport?” kaget Lisa menyadari kami sudah tidak berada di lingkungan pabrik lagi.

“Hati-hati… Kita diundang masuk ke daerah kekuasaan siluman monyet itu…” wanti-wantiku.

Kenapa tempat ini masih ada? Bukankah siluman monyet itu sudah kumusnahkan? Daerah kekuasaan semacam ini biasanya akan musnah bersamaan dengan musnahnya sang pemiliknya. Siluman monyet yang mengaku-ngaku Dewa Kera Emas itu pemilik tempat ini, kan? Apa bukan?

“Daerah… siluman monyet?” sontak Lisa menjadi sangat tegang dan tentunya takut. Matanya nyalang memperhatikan sekelilingnya kalo tiba-tiba siluman itu muncul dari salah satu sudut bebatuan.

“Jangan jauh-jauh… Ini siluman yang berbahaya…” ujarku memperingatinya lagi.

“Apa pengobatannya memang dengan cara begini, bang? Lisa takut…” khawatirnya meluap-luap.

“Biasanya enggak begini… Tetapi para iblis ini selalu penuh tipuan dan kejutan… Makanya kita tidak boleh terperdaya oleh mereka… Tetap di belakangku…” mataku juga awas memperhatikan sekeliling kami. Jaga-jaga kalo ada yang akan diam-diam menyerang secara pengecut.

“Aaahhh!!” jerit Lisa.

Aku langsung menghalangi tubuhnya. Ternyata dia hanya menunjuk pada satu titik. Ada muncul sesuatu yang nongol dari balik bebatuan. Awalnya hanya satu kemudian menyusul yang lainnya dan bergerak keluar menampakkan dirinya lebih jelas hingga sosok berbentuk monyet-monyet berekor panjang meramaikan tempat ini.

Bentuk para monyet ini seperti monyet biasa saja dan jauh dari gambaran siluman monyet bertubuh humanoid besar yang pernah bertarung denganku dan Iyon waktu itu. Apakah mereka ini murni hewan? Karena aku tak merasakan hawa kejahatan dari mereka.

Bergerombol monyet-monyet ekor panjang itu lalu duduk acak tetapi tertib tak membuat kericuhan. Tau sendiri tingkah monyet-monyet liar itu bagaimana. Pasti sudah jalan sana, jalan sini mencari makanan ato mencari masalah.

Lalu terdengar teriakan melengking satu monyet. Kerumunan monyet itu menepi membuka jalan akan kemunculan satu monyet baru yang ukurannya sedikit lebih besar dari kawanannya. Sepertinya ia monyet alpha di gerombolan berekor panjang ini.

Dan satu hal yang membuatku segera awas adalah apa yang dipakai di kepalanya. Simpai emas palsu itu. Simpai emas yang pernah dipakai siluman monyet mengaku dewa itu nangkring di atas kepala monyet alpha itu—meniru simpai emas yang dipakai Sun Go Kong. Ia memakainya dengan bangga seolah sebuah mahkota yang mengukuhkan dirinya sebagai raja di kawanan ini.

Jadi setelah siluman monyet itu dihimpit oleh batu-batu besar yang masih berserakan di tengah lingkarang tebing-tebing batu ini, kerjaan si Iyon, simpai miliknya tertinggal di sini dan ditemukan oleh sang monyet yang kemudian menjadi alpha ini.

Dan pertanyaan sebenarnya, kenapa ada kawanan monyet di daerah kekuasaan yang pemiliknya sudah musnah ini? Dari mana asal kawanan monyet ekor panjang ini? Aku tak bisa bertanya pada siapa-siapa…

“Hati-hati Lisa… Mereka sangat berbahaya…”

Bersamaan dengan kalimatku berakhir, monyet alpha itu melengking nyaring dan semua bawahannya menerjang maju bak pasukan kavaleri menyerbu pasukan musuh; kami berdua. Lisa menjerit ketakutan melihat gerombolan itu menerjang maju dengan ganas. Aku menghalangi arah datangnya serbuan pasukan monyet ekor panjang itu dengan tepat berdiri di depan Lisa. Mandau Panglima Burung kusiapkan terhunus, untuk membabat apapun yang menerjang menyerang.

“Tetap di belakangku!” peringatan terakhirku sebelum aku mulai menebas monyet pertama yang mencapaiku.

Mahluk malang itu mencelat terlempar dengan luka menganga di tubuhnya yang segera digantikan oleh rekannya yang lain, yang juga mendapat luka sejenis di tubuhnya. Serbuan ganas yang mengandalkan kuantitas dibanding kualitas memang akan memakan banyak korban. Karena itu kelompok semacam ini memiliki banyak anggota untuk menyerang lawan.

Taring-taring panjang dan runcing berwarna kekuningan adalah yang mereka andalkan untuk membuatku ciut. Cakar-cakar berkuku kotor juga teracung bermaksud untuk mencakarku.

Dua-tiga pasukan monyet ekor panjang ini kembali meregang nyawa disusul empat-lima-enam berikutnya yang terpental dengan posisi luka menganga yang beraneka tempat di tubuh berbulu lebat mereka. Tujuh-delapan-sembilan-sepuluh terkapar menambah jumlah korban yang kena bantai tebasan mandau Panglima Burung yang tajam.

Memakan banyak waktu kalo harus meladeni satu-satu. Aku harus mengeluarkan jurus Pedang Selatan. Kita liat berapa yang tumbang sekali tebas…

“Pedang Selatan Menerabas Ilalang…” kuhembuskan nafas panjang dengan ujung mandau menggesek bebatuan lalu ditarik cepat berputar di depanku.

Tebasan lebar terbang menerabas dengan kekuatan yang diperkuat beberapa kali lipat berkat kuda-kuda diperkuat bakiak Bulan Pencak di kakiku. Sekitar 15 ekor monyet di hadapanku hancur menjadi serpihan kulit dan rambut. Puluhan lainnya di belakangnya mendapat luka sobek menganga di tubuh mereka. Sisanya terpental.

“Jyaaahhh…”

Sialan! Aku kecolongan! Lisa diambil secara paksa dari belakang. Saat aku menghadapi pasukan monyet ekor panjang itu secara frontal, ternyata ada beberapa ekor yang bergerilya dan memutar untuk mengendap-endap dari belakang dan berhasil menangkap Lisa.

Panlok itu menjerit-jerit histeris karena diseret dan ditarik beberapa ekor monyet sekaligus. Kakinya terantuk batu beberapa kali saat diseret paksa menaiki tebing batu padas tinggi itu. Aku kelabakan mengejar mereka semua.

Monyet yang tersisa juga menghadang dan mengejarku bermaksud menyerang kembali saat aku lengah. Para monyet itu estafet mengoper Lisa dari satu ketinggian ke ketinggian yang lain hingga tak lama ia sudah berada di puncak bukit batu padas ini. Mereka bekerja sama dengan baik.

Beberapa monyet yang mengejarku berhasil kutebas. Beberapa yang lain berhasil mencakar dan menggigitku karena perhatianku terpecah. Mereka terorganisir dengan baik dibawah komando si monyet alpha bersimpai itu.

Si alpha terlihat pelan-pelan memanjat dinding tebing batu padas terdekat untuk menghampiri pasukannya yang sudah berhasil menculik Lisa di puncak salah satu dari sekian banyak dinding tebing berbentuk melingkar ini.

Dengan satu salakan, pasukannya yang tersisa beringsut mundur dengan patuh. Pasukan monyet yang masih berjumlah puluhan itu mundur teratur dan dengan lincah memanjat tebing-tebing batu hingga keberadaan mereka sekarang di tempat yang tinggi. Lisa menjerit-jerit histeris disekapan para monyet-monyet ekor panjang itu. Mereka memegangi tangan, kaki dan rambut panjangnya.

“LISAAA!! TENANG, LISAAA!! AWAK AKAN MENYELAMATKANMUUU!! TENANGG!!” jeritku memberi harapan padanya yang pastinya shock berat mendapat kejadian yang sangat mengerikan seperti ini.

Pasti taring-taring runcing dan kuku-kuku tajam pasukan monyet itu sangat mengintimidasi sekali saat ini. Ditambah tampang seram dan jumlah yang banyak. Gertakan-gertakan mengancam apalagi. Aku gak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padanya setelah ini kalo aku gak cepat-cepat.

Si monyet alpha dengan mudah melompati puncak tebing tempatnya berada ke puncak di sebelahnya. Padahal jaraknya ada sekitar 3-4 meter dan ia dengan cepat sudah mencapai lokasi Lisa berada. Para monyet bawahan itu segera menyingkir begitu sang alpha mendekati mangsa yang sudah berhasil mereka tangkap. Tetapi mereka tidak tak terlalu jauh dan menunggu apa yang akan dilakukan pemimpin mereka.

Dibawah tatapan tajam si monyet alpha, Lisa terdiam hanya bisa menatap dengan ketakutan, tak berani bergerak sedikitpun karena aura seramnya. Dan saat ia menyeringai, memamerkan taring-taring panjang, sontak Lisa berpaling menunduk seperti bersujud, bersikap inferior dan artinya menyerah kalah. Itu salah! Tidak boleh bersikap begitu di hadapannya…

“AAAHHH!!” Lisa menjerit histeris saat sang alpha melompat dan menekan, menunggangi bokongnya.

KIMAK!! Monyet itu mau memperkosa Lisa!

Sang alpha berusaha menyodok-nyodok bokong panlok itu dengan tidak sabar. Padahal masih ada rok lebar yang menghalangi nafsu binatangnya. Tapi tak lama karena rok itu kemudian sobek begitu saja berkat kuku-kuku tangannya.

Lisa hanya bisa menjerit histeris ketakutan dan makin menungging. Bokongnya yang tak terlindungi rok lagi hanya tinggal berpenutup celanan dalam minim. Si monyet alpha mengendus-endus bokong Lisa. Pasti ia sudah membaui aroma subur Lisa yang pekat.

Aku gak boleh tinggal diam. Aku harus mencegah. Aku gak bisa membiarkan Lisa diperkosa monyet pukimak itu. Kuperkuat kakiku dengan tambahan lambaran energi Lini untuk sontekan melompat tinggi dengan bakiak Bulan Pencak. Selesai mengumpulkan tenaga…

“HuuAAAHHH!!!” lompatan melenting tinggi kulakukan mengarah ke dinding terdekat yang maksimal dapat kuraih. Selebihnya yang tinggal beberapa meter kujangkau dengan memanfaatkan momentum daya dorong loncatanku dengan cara berlari semampunya di dinding vertikal ini.

Monyet-monyet kroco itu menjerit-jerit bising melihat aksiku ini yang sedang berlari pontang-panting di dinding yang sewajarnya gak bisa dipanjat dengan cara ini. Satu tangan kugunakan untuk meraih cerukan bebatuan karena sebelah tangan lainnya bersiap dengan mandau Panglima Burung sebagai senjata penghalau.

“RRrrraaaAAAHHH!!” dengan susah payah, akhirnya sampai juga di puncak tebing batu padas dan aku langsung melonjak ke arah si monyet alpha yang ganas menyodok-nyodok bokong Lisa.

“HYYYAAAA!!!” mandau ini langsung kusabetkan ke arah leher si monyet alpha pemimpin.

“TRAAANNKK!!” ia menangkis dengan menggunakan sesuatu di saat-saat terakhir.

Getaran nyaring benturan dua logam beradu berisik. Si monyet alpha mundur melompat dengan penis monyet yang mengacung tegang. Kantung pelernya yang besar menggantung berayun-ayun. Kimak! Dia sudah berhasil mencoblos vagina si Lisa dengan kontol monyetnya itu. Terlihat lelehan cairan ada di permukaan vaginanya yang berposisi menungging.

“Baaang… Baaangh… Ampuun, banng…” erang Lisa yang bercampur desahan.

Monyet itu sudah berhasil menggasak Lisa dan dari gerakan para monyet kroco-kroco itu, mereka juga meminta jatah. Kimak! Semua monyet yang ada di tempat ini semuanya JANTAN!! Kontol-kontol ngaceng monyet itu mengacung-ngacung. Apa lagi yang lebih berbahaya daripada binatang yang sedang birahi. Mereka rela melakukan apa saja untuk memuaskan syahwat mereka.

Aku berdiri mengangkangi tubuh Lisa yang bagian bawahnya sudah tersingkap telanjang bulat. Celana dalamnya sudah terkoyak juga akibat ulah si monyet alpha yang masih penasaran dengan Lisa. Monyet alpha itu ternyata punya sebuah gada bergerigi milik siluman monyet dulu.

Dengan senjata yang aslinya ada sepasang itu, ia menangkis serangan mandau-ku barusan. Ia memukul-mukul permukaan bukit batu ini dengan gusarnya. Air kencingnya menyemprot-semprot, entah spermanya pulak. Kimak memang monyet alpha ini. Aku aja belum sempat ngecrot di Lisa, udah kau aja yang duluan. Mati kau abis ini!

Kuacungkan ujung tajam mandau ini pada setiap monyet kroco yang mendekat untuk mencuri kesempatan menyerang. Lisa masih mengerang-ngerang. Padahal baru sebentar aja ia diperkosa monyet alpha itu, kenapa efeknya sampe begini?

“Baangg… My pussy is ticklishh… It’s itchin’ mee… Aahh… My pussyy… Pussyyy… Aahh… Fuck me, please!!” racaunya malah meraba-raba vaginanya sendiri.

Ia menggelitik kacang itilnya. Gawat! Lisa sudah jadi terangsang berat. Apa sudah ada pengaruh iblis siluman ini mengenai Lisa? Mengakibatnya segini horny…

Para monyet menyadari kalo mangsa mereka sudah sangat terangsang dan minta dientot. Semua monyet berkumpul di puncak bukit batu padas yang tak begitu luas ini, hanya sekitar 3×6 meter saja.

Mereka gelisah tapi tak berani mendekat lebih jauh karena tau betapa tajamnya mandau yang diacungkan pada bagian tubuh vital mereka. Sudah banyak mayat monyet yang bergelimpangan di bawah sana dan mereka bukan hewan yang bodoh.

“Lisa… Lisaa! Sadar, Lisaa… Lawan rasa itu! Jangan diresapi… Lawan rasa itu! Kita ini dalam bahaya!” aku mengguncang-guncang tubuhnya agar ia tersadar dan menepis rasa birahi yang pelan-pelan menguasai tubuhnya.

“Baaang… Fuck my pussy, pleeease… Fuck mee… Oohh…” jari-jarinya makin menelusup masuk dan mengocok liang kawinnya sendiri.

Ia menarik-narik aku yang berada tepat di atas dirinya. Ia menyentuh dan menangkupkan tangannya pada Aseng junior yang masih terbungkus celana. Ia seperti tak perduli pada bahaya yang ada di sekeliling kami. Ada puluhan monyet haus seks yang menunggu kesempatan untuk segera memperkosa Lisa dan mencampakkan aku jatuh ke bawah.

Aku menghindari tangan nakalnya dengan berputar-putar mengangkanginya. Si pemimpin alpha sepertinya sudah tidak sabar lagi dan mendorong kroco terdekat dengannya demi ia bisa maju kembali karena tak ada yang berani memulai. Ia mengacung-acungkan gada miliknya dan menjerit-jerit agar bawahannya minggir. Mereka semua menepi dengan patuh.

Kenapa aku harus terperangkap dalam situasi seperti ini? Biasanya kalo aku mendeteksi ada gangguan, hanya aku saja yang masuk ke daerah kekuasaan lawan. Ini kenapa Lisa juga terikut dan terlibat begini? Aku bisa bertarung dengan leluasa kalo sendiri tapi kali ini aku harus memikirkan keselamatan Lisa juga. Bahkan keselamatannya yang paling utama dalam situasi genting ini.

“Glogg… ghlok… Muuaahh…” Aseng junior-ku tetiba terasa enak dan dingin.

Ternyata tanpa kusadari, Lisa berhasil mengeluarkan penisku dan langsung mencaploknya. Buru-buru kutarik dan tercerabut dari mulutnya. Kumasukkan lagi.

“Lisa! Apa-apaan, sih? Kita ini lagi genting!… Mere… Wahh!!” aku tak meneruskan ucapanku karena si monyet alpha sudah mengayunkan gada lungsuran siluman monyet itu ke arah kepalaku.

“TRAANNKKK!!” kutangkis dengan mandau lalu kubalas dengan sabetan.

Ia dengan lincah menghindar. Monyet alpha ini sudah mulai mahir berkelahi. Apakah ia adalah penerus si siluman monyet keparat itu? Memakai simpai dan senjata bekas bisa membuat monyet pemimpin kawanan ini menjadi jago berkelahi dan akhirnya nanti menjadi siluman monyet. Gawat!

Monyet alpha menyeringai mengitariku. Aku tidak bisa jauh-jauh dari Lisa hingga aku hanya berputar-putar di tempat. Dan si Lisa ini juga terus menerus mengincar junior-ku untuk kembali dicaplok.

Ia mendesah-desah sange dengan tak terkendali. Perhatianku kadang terpecah karena ia berbaring mengangkang dengan kemaluannya yang terbentang terbuka, basah oleh birahi akibat diperkosa sebelumnya. Siapapun boleh mencoblos dirinya. Aku ato para monyet, welcome…

Handicap-ku sangat tinggi saat ini. Sial!

“Huukk…” si monyet alpha melihat kesempatan dan menyerangku kembali.

Ayunan gada itu berputar deras hendak mengincar kepalaku. Pada waktunya aku menghindar dengan menunduk dan ayunan gada itu berbalik dan mengincar posisi lebih rendah. Seharusnya aku bisa menghindar mudah dengan cara mundur tetapi kakiku tersandung. Aku malah jatuh terjengkang karena Lisa memegangi kakiku untuk meraih Aseng junior incarannya.

“Huuk!” monyet alpha menghantamkan gada itu ke arah kepalaku yang sedang rebahan di pelataran puncak bukit batu ini.

“GRUUKK!” gada itu menghantam batu padas karena aku sempat menggeserkan kepalaku sedikit menjauh.

Permukaan gada bergerigi itu hanya beberapa senti aja dari kupingku lalu digesekkannya ke samping. Kutendang lengan monyet itu lalu kusabetkan mandau-ku. Ia bersalto mundur menghindar bak atlet gimnastik lalu menerjang kembali menghantamkan gadanya ke arah Lisa.

Panik aku meraih tubuhnya untuk menghindari serangan curang itu. Tapi panlok satu ini malah memelukku erat dan berusaha menekankan bibirnya pada mulutku.

“BRUUGG!!” hantaman gada itu menghantam batuan padas lagi. Tenaganya cukup kuat karena batu keras itu ada yang retak dan pecah.

“Lisaa! Jangan kek gini!” kesalku karena perempuan ini tak dapat menahan dirinya.

Ia menciumi mukaku dan tangannya gerayangan memasuki celanaku. Ia sudah menemukan Aseng junior dan meremas-remasnya dengan nakal. Pipiku dijilat-jilat. Gimana caranya bertarung dalam keadaan kek gini coba? Lisa ngelendot di badanku menggantung. Kedua kakinya dikaitkannya di pinggangku, tangannya dikalungkan di leherku. Apalagi tetek jumbo-nya menekan dadaku sampe aku sesak kesulitan nafas.

“Shhllkk… slkk… slkk…” ia terus menjilati pipiku karena tak dapat menjangkau mulutku.

Abis mukaku basah oleh ludahnya. Tangannya yang sudah mendapatkan Aseng junior, menariknya keluar hingga kini ia sudah ada di alam bebas. Posisi aneh menggendong Lisa selagi bertarung begini pikiranku bercabang gilak! Satu sisi aku harus awas akan serangan si monyet alpha dan kawanannya. Sisi satu lagi aku tak pelak lagi merasakan nikmat gesek-gesekan yang diarahkan Lisa pada bukaan vaginanya!

Sempat-sempatnya itu panlok mengelus-eluskan kepala Aseng junior ke vaginanya yang terbentang di posisi digendong mengangkang begini. Kan sembrenget nih namanya.

“Waahh!!” aku mengelakkan serangan lanjutan si monyet alpha.

Tapi dengan begini aku bisa membawa-bawa Lisa untuk menghindar. Gak ideal, sih. Tapi masih mending daripada terpaku di satu tempat aja. Hantaman gada itu kembali membentur bebatuan padas keras ini. Ada percikan api saat benturan terjadi, sangking kerasnya.

“BRAAKK!!”

Aku terpaksa bergulingan menghindar membawa tubuh Lisa yang ngelendot di gendonganku.

“Aahhss…” Lisa mendesah saat kuhimpit tubuhnya saat bergulingan tadi.

Tiba-tiba dirinya lemas. Kimak! Aseng junior sukses menusuk kemaluannya. Tubuhku menegang karena kami ada tepat di tepian puncak bukit batu padas ini saat bergulingan.

“Aaaahhh… Hhssss… Enaak, baaang… Uuhhh…” erangnya malah merasakan nikmat padahal keadaan kami sangat genting kek gini. Bisa-bisa jatuh dari ketinggian ini.

“Rraaahh!!” si monyet alpha menyerang lagi dengan sabetan gada bergerigi itu.

Walo kakiku lemas akibat merasakan nikmat yang berasal dari pertemuan kelamin kami berdua yang aneh ini, untung aku bisa menghindar pada waktunya dengan bergulingan ke depan ke pelataran batu yang lebih lega.

Beberapa monyet kroco kutebas untuk memberi jalan kami berdua. Lisa makin erat memeluk diriku bak seekor koala yang digendong induknya. Gerakanku yang bermanuver menghindar tak pelak lagi membuat gerakan mengocok yang tak disengaja. Aku belum pernah ada dalam situasi aneh kek gini, bertarung sekaligus ngentot bersamaan.

Lisa mendesah-desah terus menikmati seks-nya walo segini anehnya. Penting mana sih? Nyawa ato ngentot? Suara-suara teriakan bising para monyet kroco yang berjumlah banyak membahana di udara.

Aku berhasil menjatuhkan dua ekor monyet kroco itu lagi dari puncak bukit batu padas ini. Tapi yang paling sulit dihadapi tentu saja pemimpin alpha-nya ini. Ia cerdik dan juga pintar membaca situasi hingga bisa belajar dengan cepat. Ia mengitariku lagi sambil menyeret-nyeret gada itu. Ia memperkecil kitarannya hingga memepetku ke pinggiran tebing.

“Ah ah ah ah…” Lisa menggerakkan sendiri tubuhnya agar Aseng junior terpompa di dalam liang kawinnya yang sangat becek.

Aku gak boleh menikmatinya dulu… Pikiranku jadi kabur kalo sempat merasakan kenikmatan penisku menusuk vagina Lisa. Tapi itu sangat sulit. Apalagi Aseng junior sudah sangat menegang keras dan gembira memasuki satu liang sempit yang basah dan nikmat begini. Aku gak bisa lagi berbicara pada Lisa. Ia sama sekali tak menggubrisku. Ia tenggelam dalam kenikmatannya sendiri menggunakan Aseng junior-ku.

Pun-aku gak bisa melepaskan tubuhnya karena aku yang membawanya kemari. Ke dimensi asing ini. Gimana gak asing? Aku menemukan tempat ini secara gak sengaja di antara bilah-bilah memorinya.

Tempat ini persis seperti milik si siluman monyet yang telah mengambil tumbal abang dan kakak kandungnya, tetapi tempat ini lebih merupakan kopian yang entah bagaimana caranya bisa terbentuk.

Seharusnya tempat ini sudah musnah bersama dengan musnahnya si siluman monyet keparat yang mengaku dewa itu. Mungkin juga si siluman monyet itu sempat melakukan sesuatu hingga tempat ini eksis secara pararel walopun dirinya sebagai pemilik sah tempat sudah tak ada lagi.

Di kejauhan ada semacam area gelap mirip hutan di dunia nyata. Mungkin dari sana kawanan monyet-monyet ini berasal. Jadi daerah kekuasaan spiritual kosong ini tetap eksis karena terhubung dengan dunia nyata. Ini sangat berbahaya!

Aku bergulingan mati-matian tetapi harus tetap menjaga agar Lisa aman tak terluka sedikitpun. Semua usahaku itu mau gak mau malah memberikan kenikmatan yang luar biasa padanya karena tubuhku berusaha sangat optimal untuk mewujudkan itu semua.

Ia mengerang-ngerang keenakan, mendesah-desah dengan mata terpejam menikmati—tak perduli apa yang sebenarnya terjadi. Hanya menikmati vaginanya terus disumpal Aseng junior-ku yang bekerja dalam tekanan.

Ayunan bertenaga gada bergerigi itu sambung menyambung menjadi rentetan serangan berbahaya. Si monyet alpha makin mahir menggunakan senjata itu dan gerakan lincahnya membantu semua pembelajarannya menjadi seekor siluman kelak.

Ada kemungkinan kedua benda yang dipakainya bekas siluman monyet itu pelan-pelan membentuknya menjadi seperti ini. Berlari-lari di pinggiran dengan menggendong Lisa di depanku, adalah hal yang berat.

Berat secara fisikal juga secara seksual. Aku harus menahan beban tubuhku dan tubuh Lisa juga harus merasakan nikmat senggama gak lazim ini sekaligus dalam waktu bersamaan dengan menjaga agar tak terluka.

Monyet kroco yang tak sempat mengelak kusabet dan jatuh ke dasar. Jumlah mereka semakin berkurang banyak. Paling hanya ada belasan monyet yang tersisa sekarang. Sisi tempatku berdiri sekarang tak ada lawan sama sekali, semua berkumpul di belakang pemimpinnya yang berang memukul-mukul landasan batu padas dengan gadanya. Getarannya terasa sampe kemari. Senjata yang dipakainya ternyata kuat dan berbahaya.

Aku akan mencobanya… Jurus pamungkas dengan memakai bakiak Bulan Pencak. Menyalurkan seluruh energi Lini ke kedua kakiku dan dipusatkan ke bakiak kayu berwarna merah berstiker old skool. Aku lompat setinggi kumampu. Lisa mendesah karena Aseng junior menusuk masuk kandas ke mulut rahimnya. “AAAaahhhhsss…”

“GUGUR GLUGUR!!”

“BOOMM!!” Kuhentakkan kekuatan penghancur pamungkas menggunakan bakiak Bulan Pencak ini ke permukaan batu padas padat yang kuperkirakan merupakan retakan yang telah disebabkan oleh pukulan bertubi-tubi monyet alpha selama pertarungan kami.

“Aaaahhh!!” hentakan dahsyat itu juga berpengaruh pada Lisa.

Sodokan kuat itu sontak membuatnya orgasme hebat. Tubuhnya kelojotan masih dipelukan gendonganku. Aseng junior serasa diperas-peras oleh liang kawinnya yang menggila. Dadaku terasa sesak oleh desakan tetek jumbo-nya. Belum lagi hentakan menggeliatnya yang mencengkram tubuhku. Kakinya yang mengait di pinggangku serasa ingin mencekikku.

“Drrrkkk…”

Pucuk bukit batu padas itu rengkah memanjang hingga ke sisi samping bukit seperti diciduk pake sendok. Membentuk satu potongan besar yang di atasnya berdiri kumpulan monyet-monyet liar beserta pemimpin alpha-nya.

Tunggang langgang mereka semua berusaha menyelamatkan dirinya karena terjatuh di atas potongan batu besar tergelincir dari ketinggian yang lumayan mematikan ini. Semuanya panik bahkan si monyet alpha juga kelabakan menyelamatkan diri. Suara berdebum disertai getaran kemudian terasa menyertai maut yang menyapa sekumpulan hewan liar itu.

Lisa masih terengah-engah di gendonganku dan berusaha tetap merangkulku dengan senyaman mungkin. Gerenyam-gerenyam remasan liang kawinnya masih sangat menggigit batang Aseng junior. Pelan-pelan kakinya melepas kaitannya di pinggangku satu-satu. Tubuhnya masih bergetar saat satu per satu kaki mencecah permukaan batu.

“Ahhh… hah hah hah… Ahhh…” Nafasnya berat dan memburu saat ia menarik pinggulnya menjauhiku untuk melepaskan tusukan Aseng junior di vaginanya.

“Aahhh… hah hah hah…” ia meneguk ludah berkali-kali tak berani menatapku lalu terduduk lemas di lantai batu puncak bukit padas.

Kucoba mengintip ke bawah, ke arah potongan cerukan bekas rengkahan batu yang baru saja luruh ke dasar.

“Urrkk urrkk urrkk!” si monyet alpha bersuara ternyata masih selamat, berpegangan dengan tangan kiri pada salah satu celah sempit batu bak seorang pemanjat tebing ekstrim.

Harusnya ia bisa memanjat naik dengan kedua tangannya tapi ia tak mau melepaskan gada itu dari tangan kanannya. Di dasar sana bergelimpangan bangkai monyet-monyet kroco bawahannya yang jatuh terhimpit pecahan batu padas berukuran masif.

Monyet alpha ini sudah sangat terpengaruh alat-alat iblis ini. Kutenggarai, simpai emas palsu dan gada ini yang telah mempengaruhinya. Dengan ujung mandau, kuambil hiasan kepala itu dari sang monyet alpha.

Kulambungkan ke udara dan kutebas dengan mandau Panglima Burung di depan matanya yang hanya bisa menatap nanar benda itu hancur berkeping-keping, musnah. Aku mengancamnya, kalo ia tak segera meletakkan senjatanya aku akan menebas lehernya.

Dengan terpaksa si monyet alpha yang sudah tak punya pasukan lagi melemparkan senjatanya ke arahku. Gada itu jatuh berdenting hingga primata berekor panjang itu bisa dengan leluasa menggunakan kedua tangan ahli memanjatnya itu untuk segera berlalu dari tempat ini.

Dengan mudah ia turun dan memeriksa anak buahnya tapi sepertinya tak ada satupun yang selamat, ia kemudian berlari menjauh. Aku beralih kepada Lisa. Buru-buru aku memasukkan Aseng junior ke dalam celana lagi setelah sempat kleweran menggantung bebas.

“Lisa…?” sapaku.

“Lisa kenapa, bang? Kenapa Lisa jadi seperti itu?” tanyanya lirih masih terduduk di tempat itu.

Aku duduk di sampingnya. Ia berusaha membenahi roknya yang disobek-sobek monyet alpha, untuk menutupi pahanya kembali.

“Mungkin ini ada hubungannya kenapa Lisa jadi begitu sama orang rumah awak… Tau sendiri gimana liarnya para monyet itu… Entah apa yang sudah mereka lakukan pada Lisa… hingga Lisa punya ketertarikan yang gak wajar sama mbak-mu itu…” kataku sambil memperhatikan hutan di kejauhan sana. Aku masih penasaran dengan hutan itu.

“Kalo ingat si mbak… apa masih berdebar-debar?” cobaku memastikan lagi.

“Masih, bang… Ini kita sebenarnya ada dimana sih, bang? Gimana cara kita pulang?”

“Ini bukan dimana-mana… Tempat ini ada di dalam memorimu sendiri… Awalnya ini adalah daerah kekuasaan siluman monyet yang sudah mencelakai koko Robert dan cici Vanessa-mu itu… Karena dia sudah berencana meneruskan menumbalkan dirimu… ia sudah menyiapkan tempat ini sebelum dia kuhabisi… Saat awak mencoba mengobati gangguanmu… kita malah sampe disini… Bingung, ya penjelasan awak?” jelasku lalu nanya lagi.

“Dikit-dikit Lisa paham, bang… Pokoknya tempat ini sifatnya spiritual, ya?” ternyata ia lumayan paham.

“Yaa… Begitu keluar nanti… tempat ini akan hilang dengan sendirinya karena tak punya penghuni lagi… Monyet tadi sudah balik ke habitatnya…” tunjukku ke arah hutan nun jauh disana.

“Begitu balik… waktu kita tidak akan berkurang sedikitpun… Kita akan balik ke balkon lagi… dan rokmu ini gak akan sobek-sobek begini… Balik lagi ke awal…” kataku menarik sedikit kain roknya yang robek.

“Jadi ini bukan tubuh asli kita?” kagetnya. Aku harus akui kecerdasan dan daya nalarnya yang tinggi. Ia bisa menangkap semua penjelasanku dengan cepat.

“Istilahnya… ini adalah tubuh jiwa kita… Benar… Ini bukan tubuh asli kita… Tempat ini tidak terikat waktu… Tapi kondisi gelap ini menunjukkan kalo pemilik tempat ini ada di golongan hitam hingga langitnya gelap begini…” tunjukku pada langit gelap yang mengitari tempat ini.

“Berada di tempat seperti ini membuat orang-orang seperti awak bisa berkelahi bahkan dengan setan dan siluman… Tapi monyet-monyet tadi itu hewan beneran… Mereka hanya menemukan satu celah yang terbuka dan masuk kemari dari hutan tempat mereka tinggal…”

“Kita balik aja, yuk?” Lisa bangkit dan berdiri tegak. Roknya yang sobek menampakkan bagian bokongnya.

“Lupa… Kita ada di tempat yang sangat tinggi… Gimana kita turunnya?” ia segera mengingat kalo kami berada di puncak bukit batu yang tingginya sekitar 20 meteran.

“Nanti turunnya sama awak aja… Tapi sebelum balik… Ada sesuatu yang harus awak kerjakan di sana…” tunjukku pada hutan di kejauhan.

“Awak harus menutup celah itu agar tempat ini segera hilang begitu kita tinggalkan… Takutnya nanti monyet-monyet itu kembali kemari…” jelasku. Lisa mengangguk-angguk paham.

Dengan menggunakan bakiak Bulan Pencak aku melompat turun dan menggendong Lisa di punggungku.

Sebuah bongkah bebatuan besar hancur sebagai lokasiku mendarat ditahan bakiak andalanku ini. Lisa gemetaran turun buru-buru setelah sebelumnya merem ketakutan berpegangan erat selama proses loncat yang menegangkan itu. Setelah menenangkan dan bisa menguasai dirinya lagi, kami baru melanjutkan perjalanan.

“Padahal Lisa gak ada tertarik-tertariknya sama bang Aseng-loh…” ujarnya teringat akan kejadian di puncak bukit batu itu.

“Iya… Itu karena pengaruh monyet alpha itu aja, Lis… Jadinya Lisa horny gilak kek gitu sampe gak perduli apapun… Bayangin aja berantem sambil harus gendongin Lisa… Mana pake ngentot lagi…” ucapku vulgar sambil menendangi kerikil-kerikil kecil di jalan menuju celah hutan itu.

“Ishh… bang Aseng bahasanya… Serem, ya?”

“Ya kan namanya memang ngentot…”

“Make love kek? Apa gitu…” usulnya ikut menendangi kerikil bersamaku.

“Make love itu artinya bercinta… Itu yang Lisa liat waktu awak sedang bercinta dengan mbak-mu itu… Itu baru bercinta… Lah… tadi itu gak ada cinta-cintaannya sama sekali, kan?” sanggahku gak setuju dengan usulan penamaan kegiatan tadi. Tetap keukeuh itu namanya cuma ngentot. Aneh pulak lagi, sambil berantem.

“Iya-iya… Terserah abang aja, deh… Tapi memang serem sih… Lisa segitunya terangsang… Untung aja ngen…tot-nya sama bang Aseng… Kalo sama monyet-monyet itu gimana coba?” katanya mengenang. Padahal tadi dia sudah sempat diperkosa si monyet alpha itu. Apa dia lupa? Ato masih shock?

“Mudah-mudahan sudah selesai ya, Lis… Mudah-mudahan memang gara-gara pengaruh jahat tempat ini Lisa jadi segitunya dengan orang rumahku…” kataku lagi. Ia menatapku yang berjalan di sampingnya.

“Tapi Lisa memang benar-benar suka sama mbak… Lisa rela aja kalo harus cerai sama Steven bego itu dan nanti menikah sama abang… Bayangin betapa bahagianya Lisa setiap hari bisa selalu dekat dengan mbak-ku yang cantik…” ungkapnya lagi. Ia masih begitu tergila-gilanya dengan istriku sampai ekspresinya selalu berbunga-bunga setiap mengingatnya.

“Iya… Abis keluar dari tempat ini… semoga Lisa sudah gak ngerasa gitu lagi, yaaa?” harapku. Itu doaku dan mauku. Gilak aja harus berbagi istriku dengan Lisa. “Ini dia celahnya…” Kami berhenti di depan sebuah celah sempit yang cukup terang karena di luar sana, di dunia nyata hari masih siang. Ada juntaian daun-daun pohon Ara dengan buah-buahannya yang masih kecil.

“Kita keluar dari sini, bang?” tanya Lisa menyentuh ranting pohon Ara yang menjuntai masuk.

“Bukan… Kalo kita keluar dari sini… nanti kita munculnya entah di hutan mana… Dari jenis pohonnya ini pohon Ara yang banyak tumbuh di Sumatera sini, sih… Tapi hutan itu entah dimana… Mau kita nongol tiba-tiba di hutan nun jauh di Lampung sana?” jelasku. Lisa mengangguk-angguk paham.

“Trus…”

“Awak akan menghancurkan celah ini agar tak ada lagi hubungan tempat ini dan dunia nyata…” aku kembali menghunus mandau Panglima Burung setelah menyuruh Lisa agar menyingkir menjauh. Akan ada hembusan angin kencang setelah celah ini kuhancurkan dan itu cukup berbahaya untuk orang seperti Lisa.

Berkonsentrasi sebentar untuk mengumpulkan tenaga…

“CLAAKK!” sebuah pedang daun menancap di tanah setelah memancung kepalanya terlebih dahulu.

Darah kental terciprat di sekitar tubuh monyetnya yang tak berkepala lagi, ambruk ke tanah. Berkejat-kejat sebentar lalu diam. Gada bergerigi itu jatuh berdenting.

Lisa menjerit histeris melihat kejadian yang terjadi tiba-tiba itu. Si monyet alpha kembali menyerangku dari belakang secara diam-diam. Perkiraanku ternyata benar, kalo ia tidak segera keluar ke hutan lewat celah ini.

Ia menunggu, sampe bisa mengambil kembali gada bergerigi itu dari puncak bukit batu padas dan berencana membokongku dengan licik. Ini adalah sifat yang sama dengan siluman monyet waktu itu. Jadi keputusanku sudah tepat memetik satu daun Ara ini untuk menjadi pedang daun dan memancung kepalanya.

Tak menunggu lama lagi kutebas celah sempit penghubung daerah spiritual dan dunia nyata menggunakan mandau andalanku.

“WUUUUSSSSHHHH!!!” berhembus angin kencang menyayat-nyayat akibat rusaknya anomali dimensi ini.

Sejatinya tak pernah ada celah begini yang menghubungkan sebuah daerah kekuasaan spiritual dan dunia nyata. Ini pasti kerjaan beliau yang iseng-iseng… Entah siapa tapinya.

Retakan celah itu malah berbalik gerakannya. Menutup rapat hingga tak ada retakan lagi sama sekali. Selesai sudah prosesinya. Hal yang menahan tempat ini tetap eksis selama ini sudah kubatalkan. Jadi begitu kami berdua meninggalkan tempat ini, daerah laknat bekas siluman monyet itu akan musnah untuk selama-lamanya.

“Kaget, ya?” tanyaku mengacak-acak rambutnya. Ia masih shock karena mengira akan diperkosa lagi oleh monyet alpha itu. Ia menatap bangkai monyet yang kepalanya sudah terpisah dari badannya.

“Sudah aman… Awak terpaksa gak memberitahu rencana awak… Mahluk-mahluk begini biasanya pendendam tapi awak harus tau pasti dulu asal kedatangan mereka, Lis… Sori ya?”

“Bang Aseng jahat…” jawabnya sambil menyipitkan matanya menatapku sedikit menunduk seakan sedang merencanakan siasat jahat untuk membalasku yang sudah membuatnya deg-degan gak karuan barusan.

***

Lisa mengedip-ngedipkan matanya berkali-kali tak percaya kami kembali begitu saja di balkon pengamatan pabrik seperti semula. Pakaian kami yang tadi acak-acakan kembali normal, seperti tak terjadi apa-apa. Ia memeriksa ulang rok miliknya yang tadinya sudah sobek-sobek parah

“Jadi kejadian itu semua tadi semacam mimpi, bang?” keponya menanyakan soalan ini.

“Semacam itu… Lisa boleh menganggapnya seperti itu… untuk mudahnya…” jawabku akan kesimpulannya barusan. “Coba ingat-ingat lagi mbak-mu… Apa masih terasa debar-debar jantung itu?”

“Mmm… Masih ada bang…gak ada yang berubah… Lisa masih teramat bahagia mengingat si mbak cantik…” jawabnya sambil menggigit bibir. Ia meremas sejangkaunya rok yang dikenakannya.

“Jadi di alam mimpi tadi… kita ngentot, bang?” tanyanya agak vulgar.

“Secara teknis sih enggak, Lis… Kalo Lisa menganggapnya sebagai mimpi… anggap aja sebagai mimpi basah…” sesuatu terjadi pada Lisa saat ini dan kalo dicuekin itu adalah hal yang mustahil.

“Lisa menganggapnya sebagai apa?” aku mencoba menyamakan persepsi kami sekaligus berusaha mengalihkan pikirannya.

“Lisa masih merasakannya sampai sekarang, bang…” jawabnya dengan muka memerah dan menggigit bibir bawah.

“Merasakan apa?”

“Hhhsss… Tadi Lisa sempat dientot monyet itu, kan?… Lisa jadi sangat horny dan menarik-narik abang, kan? Kita lalu ngentot di sana sambil abang berantem dengan monyet itu… Hsss… Tadi enak bangeeeet, bang…” ia mengeliat gelisah. Tangannya mengepal menarik-narik roknya hingga tertarik separuh pahanya.

Lucu sebenarnya situasi ini. Ia sempat menyatakan kalo ia tak tertarik sedikitpun dengan diriku. Tetapi saat ini ia begini horny-nya dengan keberadaan diriku setelah pengalaman bersetubuh ganjil di alam spiritual yang mirip mimpi tak lama lalu. Hal yang seharusnya dilupakan. Tapi kini itu mempengaruhinya.

“Yaa enak-laa… Namanya juga ngentot… Trus kenapa? Lisa kan cuma tertarik sama orang rumah awak… Kalo Lisa cerita tentang kejadian tadi… pasti Lisa bakalan diusirnya… Pasti itu…” ancamku. Setidaknya aku bisa memanfaatkan perasaan dirinya pada istriku untuk keselamatanku.

Ia menggeleng.

“Lisa gak akan cerita apa-apa… Lisa masih mau bersama dengan mbak-ku yang cantik… Lisa bisa patah hati kalau mbak sampe mengusir Lisa… Lisa gak akan cerita apa-apa… Tapi… tapi…”

“Tapi apa? Lisa kok gelisah kek gini? Masih terpengaruh monyet itu lagi?”

“Jantung Lisa berdebar-debar, baaang…” jawabnya jujur memegangi bagian dadanya.

“Teringat sama mbak?” tebakku.

“Teringat kejadian waktu kita ngentot tadi…” sambarnya cepat.

“Lisa pengen lagi… Pengen lagi sama abang…”

***

“Kak Sandra dimana?” tanyaku dengan melongokkan kepalaku ke dalam ruangan pada Tiwi saat aku mencoba mencari tempat yang kira-kira bisa kumanfaatkan. Tempat aku ekse Lisa. Ada dua tempat yang kutau di sekitar sini. Gudang arsip tempatku dulu biasa bersama Dani dan ruang istirahat kak Sandra.

“Udah pulang, bang… Sore ini jadwal periksa kandungannya ke dokter… Ini Tiwi nanti malam mau periksa ke sana juga… Rekomendasi ci Sandra…” jawabnya malah merembet ke hal lain.

“Eh… Udah isi juga, Wi?” sahutku baru tau, masuk ke dalam ruangan yang hanya ada Tiwi.

“He he hehehehe… Baru sih, bang… Nih…” ia langsung memamerkan dengan bangga strip test pack dengan dua garis pink itu padaku. Memang ada dua garis yang artinya memang positif hamil.

“Langsung jadi keknya nih… Selamat, yaa…” ujarku yang membuatnya tersenyum lebar bangga kalo ia berprestasi lebih baik dari pada atasannya; kak Sandra yang perlu 9 tahun untuk hamil.

Eh aku sampe lupa tujuanku. Ada yang lagi nungguin, nih. “Eh… Kalo gitu Tiwi bagusan pulang aja lebih cepat… Istirahat dulu di rumah… Biar nanti periksanya lancar…” modusku.

“Beneran, bang?”

“Ya-iya… Emang Tiwi mau ngapain lagi kalo kak Sandra-nya pulang? Emang Tiwi mau ngerjain apa? Mau awak aja yang ngerjain?” candaku.

“Yee… Enak aja… Ya udah-lah… Tiwi pulang aja kalo gitu… Gak ada kerjaan juga… Da-dah, bang Aseng…” ia langsung meraup semua barang-barang pribadi miliknya berupa tas dengan segala isinya, charger dan tentu saja HP-nya.

Dengan cepat seperti badai ia menghilang dari ruangan ini. Aku buru-buru melongokkan kepalaku ke arah luar dimana ada Lisa yang duduk menunggu di dalam cubicle kami berdua.

“Ssstt…” aku memanggilnya serahasia mungkin.

Mendengar panggilanku, ia bergerak kasual saja seperti biasa. Padahal dengan kaki rapat. Aku langsung menutup pintu, menguncinya lalu menggiring dirinya ke arah ruang istirahat sang Factory Manager yang sangat lejen ini. Lisa menurut aja kugelandang bagai ternak yang bakal dijagal.

“Disini?” tanyanya singkat. Matanya menyapu menyelidik dan tertumbuk pada satu tempat.

“Yaa… Kak Sandra udah pulang periksa kandungan… Asistennya juga udah pulang… Aman!” kataku mengacungkan jempol.

“Aman…” jawabnya juga.

“Sooo… Masih berlaku?” pastiku sekali akan tawarannya sebelumnya begitu kami berdua aman di ruangan ini.

Sofa yang biasanya digunakan kak Sandra untuk istirahat di tempat ini diganti dengan ranjang fungsional hingga ia bisa beristirahat dengan optimal di sini.

“Masih, bang…” jawabnya dan tanpa malu-malu menelanjangi dirinya.

Kami berdua sudah saling melihat tubuh telanjang kami tadi malam. Apalagi setelah sudah menikmati seks di alam spiritual yang magis itu. Lisa yang tetiba horny tanpa sebab mengajakku mengulang lagi pengalaman di alam halus itu, di dunia nyata.

Ia mengaku tanpa menyembunyikan apapun kalo saat ini kemaluannya dalam keadaan basah sekali. Dan memang benar, selangkangannya basah dan ada lelehan cairan encer yang mengalir panjang bahkan di paha hingga betisnya.

“Jantung Lisa berdebar-debar sekali.rasanya, bang…”

“Tetapi rasanya berbeda dengan yang Lisa rasakan saat berdebar-debar terhadap si mbak cantik… Ini bukan karena suka… Senang ato bahagia Lisa ada di dekat abang… Rasa-rasanya ada sesuatu hal luar biasa yang bisa abang berikan ke Lisa… Hal luar biasa itu membuat… membuat my pussy tingling with excitement… Bang Aseng bilang semalam kalo Lisa bisa hamil karena insiden yang nyaris membuat mbak marah besar… Itu yang membuat Lisa tiba-tiba excite seperti ini… Liat…?” ia meraba kemaluannya, menusukkan jari tengahnya lalu menunjukkan cairan kemaluannya yang membuatnya becek sedemikian.

Ada aroma-aroma segar yang tercium yang kukenali sebagai aroma milik Lisa.

“Tubuh Lisa seperti melonjak-lonjak… Yearning… yearning for you, bang Aseng… Tubuh Lisa saat ini membutuhkan bang Aseng untuk mengisi… Mengisi tubuh ini… Abang mengerti kan maksud Lisa?” saat ini ia sangat ekspresif sekali.

Ia menggerak-gerakkan tangannya untuk menjelaskan maksudnya. Tapi karena dalam keadaan telanjang bulat begini, tetek jumbo-nya yang malah bergoyang-goyang. Ukuran besarnya yang sama menggairahkannya dengan payudara jumbo orang rumahku, hanya berbeda di detil bentuknya aja.

“Lisa mau ngentot lagi sama awak supaya hamil…” coba kurangkumkan menjadi kalimat yang sangat kurang ajar. Tapi dia sudah telanjang di depanku. Kurang ajar cemana lagi itu?

“Nah! Itu…” ia membenarkan.

Kentot-kentot! Aku harus terang-terangan mengentoti anak bosku sendiri jadinya sekarang. Seberapa berbahaya itu saat ini di kondisi begini? Kondisi yang masih simpang siur begini. Ada perang skenario skala besar yang melibatkanku langsung di perusahaan manufaktur ini.

Skenario yang berpihak padaku digawangi oleh kak Sandra yang memproyeksikan diriku mensuksesi dirinya saat ia resign sehabis melahirkan nanti. Saat ini yang tau ia bakal resign hanya dirinya dan aku.

Skenario besar lainnya adalah pak Asui menyiapkan anaknya ini untuk menggantikan kak Sandra pada suatu saat nanti. Sekarang Lisa dalam masa persiapan sampe masanya tiba. Bila kak Sandra resign nanti, apakah pak Asui akan memaksakan Lisa langsung menggantikan kak Sandra dengan segala keterbatasannya ilmu dan pengalamannya?

“Kenapa? Kenapa Lisa mau hamil sama awak? Oke-la dengan suamimu sampe sekarang belum berhasil hamil… Tapi kenapa harus dengan awak? Kalo alasannya supaya awak terpaksa mengawini Lisa… supaya bisa selalu dekat dengan mbak-mu, istriku… setelah minta cere sama suamimu tentunya… Tentu jawabannya… noooo way!” tegasku.

“Bukan… Bukan itu, bang Aseng… Ini proyeknya malah jangka panjang… Lisa paham mbak-ku sayang gak mau berbagi suami sama sekali dengan perempuan manapun termasuk Lisa ini… Abang juga enggan atas alasan tertentu… Tapi Lisa tetap mau dekat dengan mbak bagaimanapun caranya… Pokoknya dekat aja… Nah kalo Lisa hamil dari abang… apa keuntungannya? Papa Asui selalu mendapatkan apa yang ia mau… Ia ingin anak-anaknya yang meneruskan semua usaha yang ia miliki… Jadi ada atau tidak ada ci Sandra di sini itu bukan masalah… Incaran papa Asui adalah mendepak oom Atam… dan menggantikannya dengan Lisa kelak…”

“Saat ini kami tinggal berdua… Dua anak perempuannya yang tersisa… Tentunya nanti kami akan membagi dua semua usaha papa Asui… Setelah di sini… rencananya setelah Lisa sudah mengetahui seluk beluk tentang industri manufaktur ini… Lisa akan berpindah ke industri papa yang lainnya… Belajar lagi dari awal sampai paham… Hingga semuanya bisa Lisa pahami dengan baik… Sejauh ini Lisa kesulitan hamil… Gak tau dengan Anne (adiknya) nanti… Itu artinya penerus Lisa nanti tidak ada… Jadi kalo bang Aseng bisa menghamili Lisa… bisa dipastikan nanti semua kekayaan papa Asui bagian Lisa akan jatuh ke tangan keturunan bang Aseng, kan? Setidaknya dengan demikian… Lisa akan selalu dekat dengan mbak…” paparnya.

“Heh?” sampe segitunya pemikiran Lisa.

“Ada banyak jalan untuk mendapatkan apa yang kita mau dan Lisa sangat fleksibel masalah itu… Tujuan utama Lisa saat ini hanyalah bersama-sama dengan mbak… Hanya itu satu-satunya yang membuat Lisa bahagia saat ini… Gak tau sampe kapan… Yang penting Lisa mau menikmati rasa berdebar-debar ini semaksimal mungkin… Abang mendapat keuntungan menebarkan benih abang yang sangat subur itu ke inti keluarga papa Asui… Lisa mendapatkan rasa dekat itu… Tidakkah abang tertarik?”

Menebarkan keturunanku langsung pada keluarga pak Asui? Walopun aku gak jadi Factory Manager nanti ato bahkan direktur, kelak anak yang berasal dari bibitku yang akan mendapatkan tempat itu. Aku belum pernah punya pikiran seperti ini sebelumnya. Mendengar ide seperti ini saja hatiku rasanya sudah sangat plong.

Keturunanku yang akan menguasai keluarga itu kelak sebagai anak pertama dari anak sulung pak Asui nantinya. Kepalaku terasa sangat ringan oleh kegembiraan yang tiba-tiba memasukkanku dalam sebuah gelembung ekstase yang sangat luas.

Walo korporasi milik pak Asui tak semenggurita seperti milik si kembar Ron-Buana, tapi total kekayaan keluarga itu sudah lebih dari cukup untuk membuatnya sejahtera.

“Kita buat perjanjian, mau?” kuulurkan tanganku mengajaknya bersalaman. Proposalnya menarik perhatianku.

“Perjanjian?”

“Perjanjian tiga pasal… Lisa boleh dengar satu per satu dulu… Kalo setuju kita lanjut… Kalo tidak… Lisa pake lagi pakaiannya…” tawarku akan perjanjian tiga pasalku. Mendengar itu, tanpa pikir panjang disambutnya tanganku untuk bersalaman.

“Apa isi pasalnya…”

“Isi pasal pertama… Hubungan kita berdua ini hanya sebatas ini saja… Kita berdua sebagai rekan kerja… Awak sebagai suami mbak-mu dan Lisa sebagai istri si Steven… Tidak lebih dari itu saja… Tidak akan ada romantis-romantisan… Pacaran-pacaran… Gak ada mainan hati apalagi cinta-cintaan… Itu pasal pertama…” Ia mengangguk paham.

“Isi pasal kedua… Hanya kita berdua saja pihak yang mengetahui hubungan kita ini, Lisa… Tidak boleh memberi tau hubungan kita ini pada siapaun, atas dasar apapun juga… Hanya kita berdua… Pasal kedua…” kembali ia ngangguk paham pertanda setuju dengan pasal-pasal yang kusampaikan.

“Isi pasal ketiga… Nanti bila Lisa benar hamil dan melahirkan… bayi ini adalah anak dari Lisa dan Steven… Yang berasal dari pernikahan kalian berdua… Jangan mengait-ngaitkannya padaku walopun ia berasal dariku… Pasal terakhir… Paham?!” tuntasku yang kemudian dipahaminya.

“Lisa paham semua maksud bang Aseng dengan tiga pasal ini… Sangat paham… Abang sudah sering melakukan ini tapi Lisa tidak akan bertanya…” ia mengguncang tanganku bersamaan dengan guncangan tetek jumbo-nya juga. Kami berdua tersenyum.

“Alright…” ia melepas tanganku dan beralih pada ranjang kecil yang ada di ruangan istirahat kak Sandra ini. Ia berbaring senyamannya setelah mengatur sebuah bantal buat menyangga kepalanya.

“Let’s do this…”

Walo berbaring dengan nyaman di ranjang single bed ini, kakinya tidak dibuka lebar. Aku mendekat padanya dan membuka kemeja lengan panjangku untuk permulaan. “Apa yang Lisa rasakan waktu ngeliat awak bercinta dengan mbak cantikmu itu? Cemburu… ato apa?”

“Cemburu, dong… Tapi Lisa cuma bisa melihat saja… Dan saat tau mbak sangat menikmati bercinta dengan abang… Lisa ikut bahagia dengan untuknya… Mbak-ku selama ini bahagia bersama abang… Tak kurang kasih sayang dan berkecukupan… Lahir dan bathin… Sampai Lisa tak tahan lagi melihat itu semua dan insiden kecil itu terjadi… waktu mbak marah ituu…” ungkapnya dan berusaha merilekskan sekujur tubuhnya.

Tangannya yang tadi ada di sisi tubuh diletakkan di perut, menyangga tetek jumbo-nya hingga mencuat mengacung lagi setelah sempat terbenam akibat massa berat lemak pembentuk payudaranya.

“Tapi tentunya Lisa juga gak mungkin cerita-cerita tentang kita ini pada mbak… Pasti udah dicap pelakor Lisa-nya… Dan tentu aja gak boleh dekat-dekat lagi dengannya… Bisa patah hati Lisa jadinya…” Pinggangnya sempit dengan pinggul yang tak terlalu lebar.

Kulit putih bercahaya khas panloknya sangat terang di kamar dengan dinding kaca blok ini. Jembut yang hanya tumbuh di sekitar lipatan bibir vaginanya, hanya jarang-jarang. Menjadi sedikit warna gelap penghias di bagian bawah tubuhnya beserta sebuah lubang pusar yang imut di perutnya yang rata.

Lisa meneguk ludah melihat sosok tubuhku yang tak berpakaian lagi. Terang kamar membuatnya dapat melihatku dengan sangat jelas, jauh berbeda dengan kesempatan malam tadi.

“Setelah ini… hubungan kita akan jadi bagaimana ya, Lis?… Lisa tinggal di rumah kami… sebagai perempuan yang hanya tergila-gila dengan orang rumahku… Tidur bahkan seranjang dengan kami… Bisa ngeliat saat kami bercinta begitu… Sampe berapa lama kegilaan aneh seperti ini akan bertahan… Terus terang aja awak bingung dengan mbak-mu sekarang ini… Bagaimana mungkin dia bisa jadi sebegini absurd-nya? Membiarkan Lisa nembak dia segitunya… Membiarkan Lisa menyentuh tubuhnya secara intim begitu… Untung Lisa perempuan… kalo tidak awak sudah mencincangmu…”

“Hi hihihihi… Lucu ya, bang? Lisa juga gak tau… Seperti ada yang sedang mempermainkan kita… Ada sedang fucked up our bloody mind… Secara normal… ini gak akan mungkin terjadi… Bahkan di kalangan yang sangat konservatif sekalipun ini gak akan terjadi… Tapi…” ia mulai memberanikan diri untuk melebarkan kakinya sedikit hingga ada sedikit rengkahan di bibir vaginanya yang indah. “… bukankah abang ada tugas untuk Lisa… Menghamili Lisa… Ini masa suburku…” ia menggigit bibir bawahnya.

“Suamimu… si Steven itu… Apa Lisa benar-benar akan cerai dengannya?… Kalo Lisa benar hamil nanti… ia gak punya figur ayah nantinya…” tanyaku lebih ke kepo.

“Kalo dia mau pindah ke Indonesia ato minimal Singapur… dan meninggalkan pekerjaan mapannya disana… akan Lisa pertimbangkan… Papa juga sudah tau masalah ini… Eneg juga lama-lama di negeri orang tanpa keluarga… Sementara keluarga Lisa semuanya ada di dekat-dekat sini… Abang gak usah khawatir lagi-ah… Lisa gak akan minta dinikahi sama abang lagi, kok…” jelasnya tegas. “Kalo Lisa beneran bisa hamil… pasti Steven akan berubah pikiran…”

Tanpa bicara lagi, aku melepaskan celanaku hingga aku telanjang bulat seperti dirinya. Kurebahkan diriku di samping tubuhnya, meraih bahunya dan menjangkau mulutnya.

“Aahh…” kami berciuman.

Kali ini ia pasif dan membiarkanku bekerja semaunya. Tak seperti tadi malam saat ia menyerang istriku dengan ganas di dalam tidurnya. Ia membiarkanku menjamah tubuhnya dengan submisif. Saat kuremas-remas tetek jumbo-nya dengan lembut. Mulutnya hanya bisa melenguh-lenguh keenakan di sela pagutan mulut.

Lisa hanya menyambut mulutku sekenanya aja dan menikmatinya dengan pasif. Mungkin ini yang selalu dilakukannya kala bersetubuh dan ini template gayanya. Gak masalah sih sebenarnya, membuatku jadi lebih bebas berkreasi atas tubuhnya.

Tubuh indahnya sangat sayang untuk tidak dieksplorasi sampe sudut-sudutnya. Telinga dan lehernya kemudian yang menjadi incaranku, ia semakin keras merintih. Putingnya menegang kala kupilin-pilin. Panlok ini pasrah juga saat ketiaknya kucium dan kujilat-jilat. Hanya menggelinjang kegelian dan merintih seksi.

Ia semakin merintih saat sisi samping tetek jumbo-nya kujilat-jilat. Tekstur kenyalnya melawan saat lidahku menekan-nekan. Putingnya semakin ganas kupermainkan. Lisa meraung saat putingnya kemudian kucaplok dan dipermainkan lidahku.

Jariku berpindah ke puting satunya disertai remasan-remasan gemas. Semakin lama aku semakin gemas dengan tubuhnya. Saat ini, tubuhnya semi kutindih dengan berada di atas perutnya.

Lidahku berkisar di sekitar perutnya lalu bermain-main sebentar di pusar imutnya. Ia tetap merintih-rintih menggigit ujung jarinya. Ia sepertinya tau ini akan mengarah kemana.

Kecupanku beralih ke atas permukaan daging pubis-nya. Vagina yang tak terlalu tebal ini sudah sedemikian basah dari tadi. Masih ada cairan yang meleleh keluar perlahan saat kulebarkan kakinya semakin terbentang dengan pasrahnya.

Aku menikmati vista tampilan belahan vaginanya yang basah kuyup oleh nafsunya sedari tadi. Liang kawinnya berkedut-kedut dengan lubang sempit gelap. Bibir bagian dalamnya berwarna pink pucat dipuncaki dengan segaris lipatan kacang itil yang ngumpet. Mulutku segera menyuruputnya.

“Aahhh…” erangnya.

Seluruh mulutku mencaplok permukaan vaginanya. Kuhisap-hisap awalnya lalu lidahku bermain-main lincah. Kepala Lisa terombang-ambing dengan rintihan merasakan kemaluannya kupermainkan sedemikian rupa.

Jilatan panjang dari bawah ke atas menyapu seluruh isi dalam belahan basah kemaluannya hingga ia menggelinjang kelimpungan. Apalagi saat lidahku menerobos masuk meruncing, menusuk-nusuk liang kawinnya.

“Ahhh… Enak, bang…” lirihnya merintih.

Lidahku makin rajin dan liar bermain-main di seluruh vaginanya. Semua bagiannya kujilati hingga Lisa semakin gelisah. Ia lebih keenakan saat kacang itilnya yang kusedot-sedot. Gerakannya menjadi sedikit liar dengan gelinjang-gelinjang geli campur gemetar sesekali.

Apalagi rintihannya makin intens terdengar. Suara seperti kepedasan terdengar berulang-ulang. Tubuhnya bergerak tak banyak variasi karena pahanya yang terbuka kupegangi agar lidahku tak perlu mengejar kemana-mana. Lidahku menyentil-nyentil cepat kacang itilnya yang menegang.

“Aaauhhh… Aahhhh… Baangg… Ah ah ah ahh…” tubuhnya lemas dan berkejat-kejat sendiri hingga.

Sejumlah cairan bening mengucur keluar dan segera kutampung, kucucup rakus. Rasanya sangat segar seperti aroma tubuhnya. Ia bergetar-getar saat kujilati kembali hingga hanya menyisakan kelembaban biasa. Tetek jumbo-nya naik turun kembang kempis karena orgasme barusan.

Lisa pasrah aja tubuhnya kuseret ke tepian ranjang dan kuarahkan Aseng junior ke arah mulutnya. Rela ia membuka mulutnya dan membiarkan bagian kepala Aseng junior masuk. Lidahnya otomatis bermain-main di lubang kecil di ujung kepala penisku.

Walo masih lemas, ia masih bisa bekerja dengan baik. Tak lama tangannya mulai bergerak membantu mengocok-ngocok batang Aseng junior. Mulut mungilnya tak bisa dimasuki seluruh batang kemaluanku.

Selagi ia merangsang penisku, aku memerah tetek jumbo-nya yang tubuhnya miring begini. Sepasang tetek jumbo itu saling menghimpit akibat massa gemuk montoknya.

Kucubiti bagian pentilnya dengan gemas sekalian berusaha menyodok-nyodok mulut mungilnya dengan Aseng junior. Remas-remas tetek jumbo yang kenyal sembari memperkosa mulutnya berbibir tipis merah merona. Rasanya sangat nikmat sekali. Tak pernah kubayangkan akan begini dengan salah satu anak pak Asui yang cantik ini.

Aku yang dulu hanya staff rendahan di kantor ini setelah diangkat derajatnya oleh kak Sandra, hanya bisa melihat terpana anak-anak pak Asui yang cantik sebelum berangkat kuliah ke luar negri. Kakaknya yang bernama Vanessa bahkan lebih cantik lagi dari pada Lisa ini.

Mungkin itu hal yang menjadi pendorong teman-teman bejatnya untuk memperkosanya beramai-ramai. Dan saat ini, bahkan Aseng junior-ku sedang kusodok-sodokkan ke mulut mulut perempuan cantik yang hanya bisa kupandang dari kejauhan dulu.

“Lisa tau enggak… kalo dulu awak hanya ngeliatin Lisa dari jauh waktu datang ke kantor ini bareng-bareng kakakmu… Anak pak Asui cantik-cantik, yaaa? Gitu pikir awak…” ungkapku saat memposisikan diriku di antara kakinya. Aseng junior kuarahkan ke belahan vagina basahnya.

“Lisa yang masih perawan waktu itu… Hi hihihi… Gak lama abis itu mulai pacaran dan gak perawan lagi…” ia terkikik geli.

“Dan sekarang Lisa yang sama saat ini sedang pasrah minta dientot abang Aseng… Binor panlok anak bos besar abang…” lanjutnya lalu mendesah karena Aseng junior mulai kugesek-gesekkan di atas kacang itilnya. Jembut jarang-jarangnya melekat kemana gerakan Aseng junior. Belahan kemaluan Lisa sudah sangat basah, ini tidak akan sulit dicoblos.

Ia memejamkan matanya dan hanya meresapi rasa saat Aseng junior yang kugesek-gesekkan di atas belahan bibir vaginanya mulai menusuk masuk di lubang seharusnya. Kusodok-sodok perlahan dan kepala Aseng junior menelusup masuk, tercelup. Hangat dan basah. Ada sedikit perlawanan yang dengan mudah ditaklukkan dengan melebarkan lebih luas bukaan kakinya.

Aseng junior meluncur masuk dengan lancar berkat basahnya liang kawin Lisa. Gerinjal-gerinjal kecil di dinding liang kawinnya menyambutku dengan memberiku gelitikan nikmat di sepanjang batang keras penisku. Memberinya pijatan erotis dan sukses membuatku mentok.

Panlok ia menganga tanpa suara merasakan liang kawinnya dipenuhi oleh batang kemaluanku. Terasa berkedut-kedut yang berasal dari deburan jantungnya yang berdebar-debar. Aku mengkontraksikan Aseng junior yang menebal menipis mengimbangi kedutannya. Lisa menatapku terperangah karena apa yang kulakukan membuat getar-getar baru di dalam liang kawinnya.

“Aah… ahh… Aahh… Bang ahh… Enak digituin, baangg-aahh…” reaksinya malah keenakan akibat kontraksiku.

Kusumpal mulutnya hingga dada kami berhimpitan lagi. Kukulum-kulum bibirnya dan ia membalasku juga. Kakinya lalu mengalung, mengait ke pinggangku karena Aseng junior kusodok-sodokan pelan-pelan. Kocokan terjadi pendek-pendek saja tetapi terdengar suara kecipak yang sangat seksi sekali karena beceknya liang kawin Lisa.

“Cplok cplok cplok cplok…” pertanda ia sangat terangsang.

Mudah-mudahan dengan begini, sel telurnya segera matang dan mudah kubuahi dengan bibitku yang subur dan agresif. Aku tak ragu akan kemampuan bibit suburku untuk menghamili para binor. Hanya faktor X saja yang bisa menggagalkan semuanya—yaitu takdir-Nya.

“Ah ah ah ah ah…” erangnya sesuai gerakan memompa pendek-pendekku di liang kawinnya.

Aku sekarang menciumi lehernya. Tetek jumbo-nya menekan dengan massa kenyalnya di dadaku. Rasa nikmat bergesekan liang sempit basahnya terasa meracuni kepalaku berpusat dari sekujur batang, apalagi bagian kepala Aseng junior yang menggedor bertubi-tubi mulut rahimnya. Kakinya yang mengangkang membuatku dengan mudah menjangkau semua kedalaman liang kawinnya.

Tipe Lisa baru kusadar sangat mirip dengan orang rumahku. Tipe perempuan dengan mulut rahim dangkal. Hanya dengan sepanjang penisku yang maksimal tegang, sudah bisa menjangkaunya. Kata-kata orang, perempuan tipe ini mudah hamil karena sperma dengan mudah memasuki rahimnya dan membuahi sel telurnya.

Bertepatan dengan istriku begitu mudah hamil, tetapi tidak dengan Lisa. Kepala Aseng junior dengan mudah menyundul-nyundul mulut rahimnya. Seharusnya dengan begini, Lisa akan mudah orgasme.

Tangan Lisa diposisikannya di atas tetek jumbo-nya hingga saat tubuhnya kugenjot, payudaranya berayun-ayun dengan indah. Berguncang-guncang saling bertubrukan seiring dengan tubuhnya yang tergial-gial oleh sodokan berulangku.

Rintihan-rintihannya menjadi penyemangat bagiku untuk selalu menggenjotnya. Liang kawinnya dengan seksama mengatup dan menjepit Aseng junior tak boleh lepas. Digenggam erat dan terus memberikan debaran-debaran dari degup jantungnya.

Sodokan yang kulakukan kini lebih panjang. Nikmat saat Aseng junior bergesekan di sekujur liang kawinnya sangat mengasikkan. Apalagi ditambah dengan bentuk hiburan besar tetek jumbo yang tak henti-henti membuat gemas dengan guncangan kenyal beradunya.

Lisa masih memejamkan matanya dalam menikmati senggama ini. Mulutnya yang terbuka menyuarakan desahan merintih keenakannya, menikmati tiap sodokan yang membuatnya melayang di awang-awang.

“Lisss… Lisaaa… Keluaaar… Ahh… ahh.. ah…” kusemprotkan sperma kentalku ke dalam rahimnya.

Perutnya menegang menerima semburan kencang sperma hangatku dan disusul dengan kejat-kejat serupa yang menandakan ia juga mendapatkan puncak kenikmatannya juga. Kantung pelerku bekerja keras menguras semua muatan yang sudah disiapkannya untuk memasuki penampung barunya—rahim Lisa.

“Uhhmm… Umm… Ahhh…”

Kupagut lagi mulutnya untuk sama-sama menikmati rasa nikmat yang serentak kami rasakan. Dibukanya bibirnya menyambutku yang memainkan isi rongga mulutnya. Kusedot-sedot lidahnya sekalian merasakan kejatan tubuhnya yang tersisa.

Lisa memeluk leherku dengan lemah dan pasrah. Jarinya menyisir rambutku dan merenggutnya lemah merasakan semprotan susulan yang masih dipompakan Aseng junior. Kantung pelerku berkerut-kerut menguras semua isinya berpindah tempat.

Saat kurenggangkan tubuh kami berdua, Lisa masih terengah-engah dengan nafas berat. Aku harus mengganjal pantatnya untuk menahan spermaku di dalam rahimnya untuk beberapa saat. Hanya ada satu bantal di ranjang ini dan itu sedang digunakan Lisa di kepalanya. Pelan-pelan kucabut Aseng junior dari liang kawin Lisa. Tubuhnya menggigil saat terpisah, tersambung oleh untaian cairan panjang mirip benang yang akhirnya putus. Berpisah untuk bertemu kembali.

Kakinya tetap kutahan tetap terbuka dan kugunakan betisku sendiri untuk mengganjal tubuhnya. Aseng junior tetap berada di posisinya, hanya saja tidak menusuk masuk. Hanya berada di luar bentangan vagina berlumuran sperma kental.

“Bentar ya, Lisaa… Diginiin dulu… Biar ditahan gini dulu, yaa… Biar Lisa bisa hamil…” kataku agar ia bersabar sebentar.

Posisi begini memang tidak nyaman, tapi apalah itu untuk tujuan yang lebih besar; demi hamil. Ia mengangguk-angguk patuh masih sulit bernafas, mulut terbuka. Tetek jumbonya naik turun.

“Sama mbak waktu hamil Rio dan Salwa, dibeginikan ya, bang?” tanyanya saat ia bisa mengatur nafasnya. Dari genangan sperma di bukaan sempit liang kawinnya yang merembes keluar, mengucur tiap tekanan kalimat pertanyaannya.

“Ya… Ini cara yang sederhana tapi efektif…” jawabku mengelus-elus pangkal pahanya yang mulus.

Terang benderang tempat ini membuatku dapat menikmati bentuk tubuh seksinya dengan seksama. Aku bahkan bisa mengetahui beberapa titik tahi lalat di sekujur tubuhnya. Hal yang luput terlihat kalo keadaan gelap temaram. Aku mengutik-utik kacang itilnya yang mencuat, menyebabkan Lisa menganga lagi.

“Aahh… Enak, bang…” sadarnya merasakan tekanan yang diberikan Aseng junior yang tak jauh-jauh dari vaginanya.

“Abang sama mbak tadi malam bisa berulang-ulang… Mbak-ku pasti sangat puas selalu dengan abang…” gelisahnya. Aseng junior kugesek-gesekkan pada bukaan vaginanya, menyebabkan sperma yang masih menggenang di sana menyebar.

“Uuhh…” gelisah kembali tubuhnya merasakan gelitik-gelitik enak dari kerasnya Aseng junior yang sudah bangkit dari istirahatnya.

“Masukin lagi, bang… Hamili Lisa, baang… Ahh…”

Kembali kusumpal liang kawinnya begitu saja menyebabkan spermaku yang mulai bening di dalam liang kawinnya membludak, mengucur keluar, terdesak oleh besar padat keras Aseng junior yang menyeruak masuk.

“Aaaahh… Yaaaa… Ah…” berkejat tubuhnya menerima tusukan tiba-tiba ini.

Perutku dan sebagian besar bokongnya bergelimang sisa sperma. Sebagian besar lainnya di desak masuk ke dalam rahimnya membuatnya merasa penuh. Biar semakin banjir peranakannya oleh bibit suburku. Sel telur matangnya akan diserbu jutaan sperma yang berusaha membuahinya.

Spermaku berceceran sampai di sprei single bed ini tapi tak kuperdulikan. Aku hanya memikirkan bagaimana caranya mereguk kenikmatan semaksimal mungkin sebagai kompensasi bisa menghamili binor panlok anak pak Asui ini.

Yang dengan relanya mau kugagahi dan kuhamili. Aku dengan senang hati melakukan ini semua setelah diproteksi oleh tiga pasal perjanjianku. Hanya bersenang-senang utamanya dan bonusnya adalah kelak keturunanku yang tumbuh di perutnya menguasai mayoritas harta turunan dari pak Asui.

Aku tidak membenci pak Asui. Tak ada alasan bagiku untuk membencinya. Malah ia sudah berbaik hati padaku lewat perusahaannya ini memberikan nafkah yang membuatku dalam taraf ekonomi ini. Lewat tangannya-lah aku bisa membina rumah tangga dengan istri yang kucintai dan anak-anak yang kusanyangi.

Membalas budi dengan memberi pak Asui keturunan yang mewarisi semua hartanya kelak, bukankah itu hal yang berbakti. Enak pulak dengan casing bahenol sekelas Lisa bertetek jumbo begini. Tak mengapa aku tak menikmati harta itu semua kelak, asal keturunanku sejahtera.

Kugenjot tubuhnya lebih lanjut dan Lisa terus merintih-rintih keenakan. Tak lupa aku meremas-remas menikmati kenyal dan brutalnya ukuran jumbo teteknya. Tak bosan-bosan aku menikmati terus ukuran masif ini.

Kadang kugigit gemas putingnya, meninggalkan banyak ludah dipermukaan tetek jumbo-nya. Lisa menggelinjang dengan liar berkali-kali. Entah karena orgasme kembali ato cuma keenakan yang amat sangat. Genjot-genjot terus di liang licin campuran sisa sperma dan cairan vaginanya sendiri. Gesekan terasa semakin panas dan itu membuat kami semakin bersemangat.

Rintihan Lisa menjadi erangan. Kepalanya dibanting kanan-kiri. Lalu kutarik kedua tangannya agar tubuhnya sedikit melengkung ke atas. Sedikit perubahan sudut berbaring ini memberi tekanan tambahan di otot perutnya yang menyebabkan liang kawinnya mencengkram lebih kencang.

Kami berdua meradang merasakan sedikit perubahan itu. Semakin kutarik tangannya dan sekarang ia membentuk sudut 45°. Tekanannya makin kuat. Aseng junior semakin diperas di dalam sana. Kutahan punggungnya dengan tangan kiri dan tangan kanan menahan tubuh kami berdua. Aseng junior terus disodokkan dan semakin nikmat aja tiap sudut tubuh Lisa berubah akibat tekanan otot perutnya.

Suara seksi Lisa yang merintih mengerang seperti kesakitan padahal keenakan kubungkam dengan pagutan bibir lagi. Aseng junior semakin menggila dengan terasa rasa enak yang menjalar cepat secepat pompaan sodokan yang kulakukan.

Kantung pelerku mengkerut lagi telah menyiapkan muatan untuk kembali disetorkan pada siapapun yang berminat menampungnya. Spermaku jarang menjadi terbuang sia-sia. Harus ada rahim haus yang dipuaskannya, disirami dan dibuahi tiap disemprotkan. Dan kali ini adalah Lisa untuk kali keduanya.

“Aaahh…” sebelum aku sempat menyemburkan, Lisa mengejang dengan otot perut mengejang. Mencekik Aseng junior di dalam sana dan memperparah tekanan semprotan yang terjadi. Seperti selang yang dijepit, semburannya sangat fokus dan kencang.

“Ah ah ah ah…” erang Lisa merasakan tiap semburan cairan kental yang menyemprot masuk ke rahimnya.

Membanjirinya kembali dengan cairan yang berisi bibit subur penerus keluarganya. Dengkulku sampe lemas merasakan spermaku dikuras. Rasa nikmat yang sangat memabukkan. Ingin lagi dan lagi terus. Dari perempuan, binor yang sama ato mangsa yang lainnya. Aku sangat menikmatinya.

***

“Kakiku masih lemes, bang…” lirih Lisa saat kami sudah balik lagi ke cubicle kami. Duduk berhadapan sambil bekerja. Aku hanya tersenyum dikulum sambil terus ngetik dan ngeklik sana-sini di kompie-ku.

“Kerja aja trus, Lisa… Tanganmu gak lemes, kan?” kataku meliriknya sesekali dari balik layar 19 inchi ini.

Wajah panloknya sudah dipoles make up kembali agar segar tapi tak mengurangi gurat lelah habis kugarap 3 kali di ruang istirahat kak Sandra. Bibir tipisnya sesekali bergetar kala terpejam. Ia mengingat-ingat kenikmatan yang diterimanya bareng aku.

“My pussy’s killing me, baanng… Masih kerasa enak-enak gituu… Lisa boleh istirahat bentaran gak? Lisa gak tahan…” mohonnya.

Walopun ia anak bos perusahaan ini, tapi ia merasa perlu untuk permisi padaku untuk istirahat barang sejenak. Apalagi kondisinya ini adalah akibat ulahku yang sudah menggasaknya habis-habisan.

Ronde ketiga ia kuhajar di beberapa posisi. Dari doggy, WOT, berdiri menghadap glass block dan kuakhiri dengan menyamping favoritku. Gimana gak lemes kakinya.

“15 menit cukup?” kataku memberinya izin.

Ia tersenyum terpaksa dan berjalan pelan-pelan untuk menuju ruangan Factory Manager yang sangat dekat dengan posisi cubicle kami karena kami berdua bawahan langsung kak Sandra. Kakinya memang lemes terlihat dari jalannya yang sempoyongan. Dan ketika kuperhatikan rok hitamnya, ada noda basah di bagian bokongnya yang merupakan lelehan spermaku yang merembes tembus. Pantesan aja tuh aneh masih ngerasa enak-enak gitu.

Gak terasa waktu berlalu dan terdengar getaran dari tempat Lisa duduk. Sepertinya ada yang menghubungi Lisa. HP-nya gak dibawa. Waduh ini udah lewat 15 menit-eh. Kusambar HP-nya yang masih bergetar tanpa melihat siapa yang menghubunginya dan kususul ke dalam ruangan. Di daerah tempat kerja kak Sandra kosong, berarti di ruangan istirahat. Terdengar suara berisik di dalam sana.

Dan ketika kubuka pintunya, Lisa berbaring telanjang di single bed itu sedang merangsang dirinya. Tangan kanan menusuk vaginanya dan tangan kiri meremas tetek jumbo-nya. Mulutnya mendesis-desis dengan mata terpejam. Waaah… Walo sudah kugenjot tiga ronde sekalipun, pemandangan tubuh Lisa telanjang yang sedang coli begini tak pelak membangunkan Aseng junior lagi.

“Mbaak… Your pussy’s so fuckin goood… Uhhhh… Ahh… Yaahh… Your boobs… your boobs are the best… Firm and succulent… Uhh… Mbaakk… Fuck me, mbaaakk… Ooohh… Grind me mooore… Ahh… Slap my cunt… Slap it! It’s yourss… Lick it all you like… You like it, don’t youuu… Ahh…”

jari-jarinya yang menusuk vaginanya sendiri bekerja dengan sangat cepat dibarengi dengan kilikan-kilikan pada bagian kacang itilnya yang menegang. Begitu juga belaian-belaian tangannya pada tetek jumbo-nya. Payudaranya sampe merah-merah terlalu keras diperah.

Sisa sperma dan cairan vaginanya berbercak di sprei single bed sampai pada taraf menyiprat. Jadi 15 menit ini dihabiskannya dengan coli begini? Waduuh… Sampe segininya ia membayangkan orang rumahku sedang bercinta dengannya. Padahal ia sudah kuhajar habis-habisan pake Aseng junior-ku dan ternyata fantasi tertingginya masih juga istriku.

“Oohhh… Fuck me all you want… Will you fuck me like thisss… Oohh… You’re so fuckin awesome, mbak… Fuckin gorgeous… Fuck me like this all night… Mmm… These boobs are yours… This pussy is yours too as well… AAhhhh… You can do everything you want with my bloody body… Ooohhh… I’m so fuckin need youuu, mbak…” tiga jari yang dijejalkannya ke dalam vaginanya.

Jari-jari lentik itu merojok kasar vaginanya sendiri. Aku hanya bisa menonton sambil mengelus-elus Aseng junior yang tak kukeluarkan. Aku tak boleh mengganggu kesenangannya ini. Ini kebahagiaannya.

Ia semakin hot saja bermain dengan dirinya, jarinya makin rajin hingga tiga jari yang menusuk masuk. Apalagi perlakuannya pada tetek jumbo-nya. Ukurannya yang jumbo memungkinkannya untuk melakukan ini, ia menarik teteknya ke arah mulutnya sendiri lalu menjilati putingnya yang mengeras.

Bergantian kanan dan kiri dijilati dan dikenyoti. Bahkan ada tanda cupang merah di sekujur permukaan kulit teteknya. Ludah membasahi juga kulitnya hingga berkilauan.

Tubuhnya tergial-gial liar dengan pantat terangkat berkali-kali dengan jari lentiknya dalam menusuk, mengorek dan merangsang mencari kepuasan. Aku sudah berusaha memperlakukan dirinya selembut mungkin tetapi ternyata ia sukanya yang agak kasar dan keras seperti ini.

“OOooahhh… Mbaaakk… Thank youuu, mbaak… You’re so fuckin awesome… and gorgeous and sexy and ooohhh… You make me cummm… Cummin’… cummin’ like crazy over you, mbaak… Love you, mbaaaak… AHhhh…” lalu tubuhnya lemas setelah berkejat-kejat menggelinjang seperti kesetrum.

Kedua tangannya terkulai lemas. Yang satu belepotan lendir, yang satu menggantung di tepi ranjang. Mulutnya menganga untuk nafas yang berat. Nafsu di dada menghalangi paru-parunya bekerja optimal beserta jantung yang berpacu melebihi normal.

Masih dengan mata terpejam ia meracau seperti berbicara dengan mesranya dengan orang rumahku. Omongannya masih seputar mesum semua. Memuja-muja istriku akan kecantikan, keseksian bentuk tubuh, kebaikannya yang telah mengizinkannya tidur sekamar dengan kami.

Meminta izin padanya untuk boleh menyentuh seluruh tubuhnya, membelai payudara jumbo-nya, menjilat vaginanya, mengocok liang kawinnya, menghisap apapun yang keluar dari sana, ia akan menikmati apapun yang ada di tubuh istriku. Dan sebaliknya ia juga akan sangat bahagia kalo orang rumahku mau melakukan hal yang sama. Melakukan apa saja pada tubuhnya.

Walopun Lisa mengaku bukan lesbi, tetapi percakapan satu arahnya ini sudah lebih dari sekedar tergila-gila. Cinta sejenis dengan pemujaan seksual pada kalangan perempuan, mau gak mau kriterianya tentu lesbi.

Mengharapkan hubungan seksual dengan istriku…

***

“Maaf ya, bang… Lebih dari 15 menit sepertinya…” ujarnya saat kembali duduk di tempatnya. Ia masih mengurai-urai ujung rambutnya yang sedikit basah. Ada touch up riasan baru, semprotan parfum baru hingga penampilannya lebih segar dari sebelumnya.

“33 menit tepatnya, Lis… Tapi yaaa gak pa-pa… Ngapain sih?” tanyaku pura-pura basa-basi seperti gak terlalu perduli dengan membolak-balik beberapa berkas lalu mencocokkan data A ke data B. Hasil akhirnya balance tidak?

“Ada aja…” katanya mencoba bertingkah imut. Pipi se-chubby itu pastinya imut di mata siapa aja. Apalagi aku sudah tau jeroannya luar dalam. Ini sudah lebih dari imut, sih. Nikmat tepatnya. “He he hehehe…”

“Barusan dapat chat dari orang rumah yang baru bangun tidur siang… Katanya gini… ‘Pa, barusan mama mimpi main lesbi-lesbian sama Lisa. Lisa-nya selama maen ngomong Inggris trus ntah hapa-hapa aja. Bangun-bangun ini punya mama basah semua jadinya. Apa kek gini namanya mimpi basah? Tapi kok maen lesbi sama Lisa ya? Biasanya mimpi sama papa gak kek gini’… gitu chatnya barusan…” kutunjukkan layar percakapan yang dikirimnya barusan.

Muka Lisa kaget mendengar pengakuan mbak cantik pujaan hatinya yang berterus terang pada suaminya lewat chatting BBM ini. Mulutnya hendak mengatakan sesuatu tetapi gak jadi-jadi keluar suaranya. Seperti tercekat.

“Lisa sudah melakukan apa sama orang rumahku?” tanyaku lebih condong ke arahnya.

“Kenapa mimpinya sama persis seperti yang Lisa khayalkan barusan di dalam sana… O-iya… Awak gak sengaja ngeliat Lisa sedang mengkhayalkan orang rumahku di sana pake jari…” kataku menunjukkan tiga jari yang disatukan.

“Tadi ada yang nelpon Lisa… dan awak bermaksud mengantarkan HP ini padamu saat awak liat semua itu…” tunjukku pada HP-nya di atas meja yang tadi tak dibawanya serta.

“Lisa-Lisa cuma menghayalkan mbak kok, bang…” ia shock dengan pertanyaanku.

“Lisa tau kan awak ini gimana dan siapa abis kita berantem sama monyet-monyet itu… Yang begitu itu namanya ajian Rogo Sukmo… Jadi barusan Sukmo ato Sukma ato ruh Lisa terbang menuju ke tempat mbak-mu sedang tidur siang… masuk ke alam mimpinya dan melakukan semua kegiatan seksual seperti yang Lisa khayalkan… Ini adalah tingkatan awal ajian tingkat tinggi…” jelasku secara umum saja tentang ajian yang jelas-jelas digunakannya saat itu.

Tapi Rogo Sukmo yang dipakainya sedikit berbeda dari yang kutau karena, seharusnya ia dalam kondisi semedi ato setidaknya meditasi saat melepas Sukma-nya untuk menemui istriku yang sedang tidur, memasuki alam mimpinya. Lisa bergerak-gerak liar sesukanya, tetapi efeknya istriku yang menjadi objek hayalannya terkena pengaruh juga di alam mimpinya.

“Ta-tapi… Lisa gak bisa ilmu itu… Sumpah, bang… Bang… Takut, bang…” malah ketakutan nih panlok.

Tapi benar juga. Bagaimana mungkin ia bisa menggunakan ilmu kesaktian yang rumit seperti itu? Rumit sekaligus berbahaya karena kalo salah langkah, maka nyawa yang jadi taruhannya, minimal jadi gila. Lalu darimana ia mendapatkan ajian itu?

“Apa yang Lisa liat waktu menghayal tadi? Apa-apa saja yang Lisa lakukan?” tanyaku malah mirip interogasi.

Tapi karena sudah sedekat ini, aku berani menanyakan hal tak lazim macam ini. Percakapan kami di cubicle ini, bagi rekan kerja yang lain hanya mirip sebuah diskusi saja.

“Cuma menghayal aja, bang Aseng… Lisa cuma membayangkan sedang melakukan itu dengan mbak… Lama-lama… semuanya seperti nyata… Lisa bisa menyentuh mbak… Melakukan semua yang Lisa mau ke mbak… Melihat semuanya… Lisa bisa melakukan apa yang Lisa impi-impikan… Menyentuh mbak secara utuh… dan ia balas menyentuh Lisa… Bahkan Lisa bisa tau siapa aja yang ada di kamar… Bentar… Bahkan ada Tiara di sana…” sadarnya baru ingat fakta ini.

“Kok ada Tiara segala juga?” tanyaku.

Tunggu bentar. Ini bukan mimpi. Yang dialami Lisa bukan mimpi karena Sukma-nya menyaksikan semua ini secara langsung. Istriku yang bermimpi. Kenapa ada Tiara di dalam kamar saat istriku tidur? Salwa sudah tidak tidur di kamar kami lagi karena sudah punya kamar sendiri.

“Tiara juga ada di kamar… Ia ada sebelum Lisa datang ke mimpi mbak… Dia tidak memakai baju… Benar… Dia juga melakukan sesuatu pada mbak…” ia malah ingat semakin banyak detail pengalaman spiritualnya dalam Rogo Sukmo itu. Tapi Tiara? Apa yang dilakukannya?

“Ngapain si Tiara rupanya, Lis…? Apakah ia melakukan sesuatu yang berbahaya?” tanyaku tentu penasaran. Ini istriku yang sedang dibicarakannya. Dan ada perempuan lain yang melakukan hal-hal aneh padanya. Tiara gak pake baju?

“Emm…” Lisa memegangi kedua sisi kepalanya mencoba mengingat lebih rinci lagi, matanya terpejam.

“Lisa kira itu diri Lisa sendiri dalam hayalan… Sosok tubuh itu menciumi mbak… memegang susu mbak… menjilati sekujur tubuh mbak… bahkan menjilat pussy-nya mbak… Saat Lisa sadar kemudian… ternyata sosok itu bukan Lisa… Dia Tiara… Apa dia memanfaatkan keadaan mbak yang lagi tidur lelap begitu, bang… Mbak kan tidurnya kayak gitu itu… Jadi sebenarnya mbak mimpi basah karena kami berdua, bang…” dengan polosnya Lisa menceritakan apa yang sudah disaksikannya saat melakukan Rogo Sukmo.

Matanya berkedip-kedip tak percaya apa yang sudah disaksikannya. Ia baru sadar setelah diingat kembali.

“Huuhh… Ada-ada aja-pun klen ini? Segala binik orang-pun klen sukai…” aku gak habis pikir dan hanya bisa bersandar di kursiku dengan lemas.

Bahkan Tiara juga melakukan hal-hal lesbi itu pada orang rumahku. Tiga perempuan itu melakukan threesome FFF dengan segala macam metode aneh. Yang satu lagi tidur, yang kedua diam-diam memanfaatkan momen tidur kebo orang pertama, dan yang ketiga malah memakai Rogo Sukmo.

Seberapa rumit situasi yang menjepit orang rumahku yang menjadi objek fantasi seksual dua perempuan sekaligus.

Tiara sudah lama ada di rumah kami, apakah ia sudah lama melakukan pelecehan ini pada istriku saat ia tidur siang? Tau sendiri kalo dia tidur kek kebo. Digrepe-grepe, dijilat-jilat Tiara aja dia gak tau. Bangun-bangun udah mimpi basah aja karena mimpi maen lesbi dengan Lisa. Dia gak tau sudah dilecehkan secara langsung oleh Tiara.

“Pening-la palaku, Lis… Payah cakap-la kalo dah kek gini… Yang satu merengek-rengek minta selalu dekat dengan mbak-nya… Yang satu malah udah rutin pulak ngejilatin tempek binikku… Naseb-naseb!” tepok jidat.

Apa ini yang namanya karma? Aku sering ngegoyang binik orang, binikku pulak yang sekarang digoyang orang. Untung masih pada perempuan juga. Kalo laki-laki udah pasti kuajak perang!

***

“Alo, mang? Ada apa?” ini kontraktor renovasi rumahku nelpon. Bla bla bla…

Fiuuh… Ada-ada aja masalah yang datang silih berganti. Masak kontraktor masih ngerepotin yang punya rumah juga sih? Segala masalah gak dapat pasokan semen dan pasir harus kutangani sendiri. Ada segitu banyak panglong (toko material) di Medan sini, masa gak ada yang mau nerima bon darinya? Kontraktor apa sih dia?

Aku scroll-scroll kontakku mencari kenalan yang berkenaan dengan bahan-bahan bangunan yang bisa kumintai tolong. Eh… Amei biniknya Julio punya panglong, kan? Bisa-la minta tolong sama dia.

“Halo, Mei…” sapaku setelah teleponku berdering beberapa kali. Sore-sore begini apa masih buka panglongnya.

“Halo, bang Aseng… Kok bisa pas gini waktunya? Barusan tadi Amei mau ngirim pesan untuk abang… Ada apa, bang?” jawabnya disana riang mendapat telepon dariku. Keknya lagi bahagia tuh panlok binor si Julio ini.

“Mau mesan semen sama pasir, Mei…”

“Loh? Bukannya itu tugas kontraktor abang, ya? Kok yang punya rumah yang mesan?” herannya tentu.

Aku tentu pernah cerita pada pasutri itu kalo aku sedang merenovasi rumahku yang di Mabar. Pernah juga Amei menawarkan bahan material bangunan saat kami bertemu dalam sesi 3S kami, tapi kutolak karena aku menyerahkan semua urusan itu pada sang kontraktor.

“Itulah peningnya, Mei… Katanya gak ada panglong yang mau diutangin lagi sama dia…” balasku agak segan karena secara gak langsung aku mau ngebon ke panglong miliknya.

“Ya udah… Tapi abang datang kemari aja… ke panglong Amei… Ada yang mau Amei bicarain juga… Bisa?” terimanya. Yes! Amei bersedia menyediakan bahan material buat renovasi rumahku. Kenapa gak dari kemaren-kemaren aja aku ngebon di panglongnya. Tapi apa yang mau dibicarakannya?

“Oh… Buka sampe jam berapa, Mei? Udah sore begini…”

“Udah mau tutup sih… Tapi Amei tungguin sampe abang datang, deh…” jawabnya.

Kami menyudahi hubungan telepon itu setelah saling mengucapkan selamat sore. Sore-sore menyambangi panglong binor itu yang dalam keadaan tutup. Ia menunggu sampe aku datang. Bakalan enak-enak, nih. Lumayan buat ngelepas stres setelah menghadapi masalah si Lisa, Tiara dan istriku.

“Iya-iya… Tau… Lisa yang lembur, deh…” katanya masih fokus dengan pekerjaannya. Matanya menatap bergantian layar kompie dan tumpukan data di atas meja tanpa melirikku sama sekali.

“Abang pulang aja duluan… Lisa selesaikan sampe abis ini semua laporan…” Ini mungkin karena ia merasa bersalah sudah semena-mena menggunakan tubuh istriku sebagai fantasi sablengnya.

Mungkin juga pengalih perhatiannya agar tak terlalu membayangkan yang tidak-tidak dengan istriku. Saat ia pulang lembur, ia pasti kelelahan dan capek. Ujung-ujung tidur lelap tanpa merecoki si mbak cantiknya.

“Semangat ya yang lembur…” aku meninggalkannya sendiri di office ini.

Biasanya jam-jam segini hanya ada aku dan kak Sandra. Tapi sore ini hanya ada Lisa sendirian. Kantor ini sangat sepi. Aku melongok ke arah cubicle kami. Ia bekerja dengan tekun dan rajin. Akhirnya aku balik lagi kepadanya.

“Kok balik lagi? Ada yang ketinggalan?” tanyanya heran. Tak kujawab melainkan mengecup ubun-ubunnya setelah memegangi dagu.

“Semangat!” aku kabur lagi diiringi pandangan melongo Lisa.

Bersambung