The Baby Maker Part 17

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22

Cerita Sex Dewasa The Baby Maker Part 17 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya :The Baby Maker Part 16

4 Inong

“Seng… Itu empat anak gadis kemaren mau digimanakan?” tanya abah Hasan lewat telepon.

“Abah udah coba cari sanak keluarganya?” tanyaku baru mau duduk di lantai atas rumahku untuk nyoba meditasi untuk memulihkan tubuhku habis petualangan di hutan Leuser waktu itu.

“Satupun gak ada yang ketemu jejaknya… Jadi dulu itu ada yang keluarganya membuka ladang di pinggiran hutan… yang namanya si Cut Masita… Ketika kami datangi ladang itu sudah menjadi perkampungan dan tak ada kabar lagi tentang keluarganya… Mungkin sudah pindah sejak dia hilang belasan tahun lalu… Abah cari lagi keluarga si Cut Intan… malah lebih tragis lagi… Keluarganya kata orang kampung situ sudah diusir karena mereka mengira anak ini sudah ditumbalkan keluarganya… Tak ada yang tau mereka pindah kemana… Keluarga Cut Cahya juga pindah karena kebakaran hutan sekitar tujuh tahun dan pindah entah kemana… Sama juga dengan keluarga si Cut Riska… direlokasi Dinas Kehutanan karena menggunakan lahan hutan milik negara… Mereka menolak ikut transmigrasi dan pindah juga entah kemana…”

“Intinya, Seng… mereka tidak punya sanak keluarga yang bisa ditelusuri lagi… Dan ke depannya, apa yang harus kita lakukan kepada mereka berikutnya?” papar abah Hasan.

Aku paham kalo abah Hasan bingung apa yang harus dilakukan pada keempat Inong itu. Keempat perempuan muda itu sudah terlalu lama dikurung hantu jahanam, si Wewe Gombel bernama Nenek Te-tek di tengah hutan belantara Leuser.

Memori seadanya selama mereka kecil, berinteraksi dengan masyarakat tidak bisa diandalkan. Keadaan mereka ketika masih kanak-kanak tidak bisa disamakan dengan keadaan mereka sekarang yang sudah dewasa, matang dan bongsor.

Kalo di kampung-kampung di seputaran hutan asal mereka, seumuran mereka sudah lama menikah dan setidaknya sudah punya anak dua ato malah tiga. Tetapi tanpa keluarga tempat mereka kembali, hal itu sangat mustahil.

“Apa abah tidak punya tempat tinggal sementara untuk mereka? Tempat untuk mereka bersosialisasi sementara… bermasyarakat… Setidaknya tempat mereka untuk belajar untuk bisa mandiri dulu, bah? Kalo perlu biaya… nanti awak kirimin-la biaya bulanan mereka selama mereka belajar itu, bah…” tanyaku. Terus terang aku juga bingung.

“Bukan masalah biayanya, Seng… Kalo itupun abah bisa tanggulangi… Karena gini, Seng… Maaf-maaf, nih… Mereka itu antum yang nemuin, kan? Antum juga yang sempat make’… Maaf-maaf lagi, nih… Mereka itu jadi tanggung jawab antum karena antum juga yang membebaskan mereka dari hutan itu… Kalau antum lepas ke Dinas Sosial sih sebenarnya bisa tapi itu tidak elegan sama sekali…” ujar abah Hasan lagi.

“Iya sih, bah… Benar itu… Jadi seharusnya gimana, bah?” tanyaku minta petunjuk padanya gimana menaggulangi masalah ini.

“Antum sendiri yang pilih tempat tinggal mereka… Kalau abah bisa bantu, abah akan bantu… Asbab ini… maaf-maaf nih, Seng… di rumah abah udah terlalu banyak akhwat… perempuannya… Bini abah semua, sih memang… Tapi kalau mereka berempat lama-lama di sini gak enak sama bini-bini abah, Seng…” ia jujur mengutarakan apa yang menjadi masalahnya juga.

Tentu akan sungkan sama istri-istri abah Hasan yang sudah banyak. Takutnya nanti mereka kira abah mau kawin lagi.

“Iya, bah… Aseng ngerti kok. bah… Makasih, bah…”

Jadi batal meditasi akunya. Gimana mau menenangkan fikiran kalo dibebankan masalah keempat perempuan muda yang kuselamatkan dari hutan gunung Leuser itu. Apa kujadikan simpanan aja? Udah kek deposito pulak jadinya.

Tapi mau diletakkan dimana? Mereka harus mendapat hunian yang layak tetapi harus tetap dapat kupantau. Tapi mereka harus punya masa depan. Dapat bersosialisasi dan bermasyarakat. Kasihan nasib mereka. Takutnya mereka minder berada di tengah masyarakat sekarang dan berharap lebih baik mati saja di dalam hutan itu.

Itu yang jadi kepikiran saat abis enak-enakan petting dengan Vivi malam ini.

Vivi

“Kok mukanya gitu amat ya, bang? Nyesal ya?” tanya Vivi yang menangkap perubahan di wajahku yang mungkin terlihat murung banyak pikiran.

“Enggak, kok… Cuma lagi banyak pikiran aja, Vi?” jawabku mengacak-acak rambutnya dengan tanganku yang tak dijadikannya bantal.

“Mikirin apa coba? Mikirin kenapa kakak kok jadi bohay abis itu, ya?” tebaknya akan apa yang kupikirkan saat ini.

“Iya… Salah satunya itu… Padahal pagi awak liat abis mandi gak kek gitu bodinya… Eh… Ketemu pagi lagi udah berubah jadi gini-gini…” kataku sambil melekuk-lekukan tanganku membentuk siluet gitar Spanyol yang aduhai.

“Gak mungkin kan kalo nge-gym sekali aja barengan Vivi bisa langsung jadi kek gitu?” lanjutku.

Memang beberapa hari belakangan Vivi dan istriku jadi sering bareng ke gym dan salon yang menyatu di tempat usahanya si Benget. Tempatnya gak jauh di depan kompleks jadi mereka mudah mencapainya.

“Hi hi hihihi… Vivi pun kaget, bang… Saingan berat, nih—Vivi pikir… Kakak bodinya kayak emak-emak gitu aja abang cinta kali sampe nolak awak yang masih gadis… Eh… Ini jadi bohay abis kayak gitu… Minder Vivi jadinya, bang… Lah… Vivi ini begini karena belum turun mesin aja…” ngaku Vivi akan apa yang juga dirasakannya melihat perubahan istriku yang ajaib. “Itu pasti ada campur tangan abang, ya? Pake mejik-mejik gitu?” matanya menyipit karena menuduhku.

“Ish… Kalo awak yang buat kek gitu mana mungkin awak bingung kek gini? Ada-ada aja-pon kau, Vi? Mana ada ku-mejik-mejik kakakmu…” sanggahku.

Apalah si Vivi ini. Dibilangnya aku yang ngebuat istriku jadi kek gitu. Kalo betulan ada ajian kek gitu dah dari dulu aku buka salon ketok magic sekalian. Mobil, motor sampe orangpun kuketok.

“Iya, sori… Bercanda Vivi, bang… Jangan marah, dong… Kalo marah nanti tititnya Vivi gigit, nih?” sahutnya nakal malah meremas Aseng junior yang sedang anteng di balik selimut yang menutupi tubuh kami berdua. Aku menjengit kaget.

“Waktu lawan salah satu Burong Tujoh itu… Kuntilanak Merah yang bernama Mutee kayaknya penyebab itu semua, Vi… Ia punya kemampuan yang bisa mengambil khayalan terindah dari lelaki mangsanya dan mengaplikasikannya ke tubuhnya untuk terus menerus mengambil energi hidupnya… Energi hidup itu berupa sperma… Jadi si Mutee ini menguras sperma awak sampe berkali-kali dengan menggunakan bentuk kakakmu yang bodinya jadi khayalan awak selama ini… Jujur aja awak pernah ngayal… ‘Gimana kalo bodimu kek gini, ya?’… Ternyata bayangan itu dimanfaatkan si kuntilanak jahanam itu… Untung aja awak bisa selamat dari sana dan membantai hantu pukimak itu…”

“Oo…”

“Iya abis itu baru hantu cicak muncul dan si Ameng membasminya… Ingat?” kataku mengingatkannya akan aksi mahluk asing miliknya itu.

“Jadi setelah abang menghabisi hantu itu… khayalan abang malah tetap melekat di kakak, gitu?” simpulnya lebih mengena. Ia malah abai pada masalah si hantu cicak yang sudah dibasmi mahluk miliknya.

“Untung di abang, dong?”

“Iya-iya?… Apa betul kek gitu, ya?” gumamku masih bingung.

“Mana Vivi tau, bang… Vivi gak tau apa-apa tentang dunia abang yang serem-serem aneh-aneh itu… Apa kakak tau abang sering begini-begini, berantem sama hantu ini?” tanya Vivi kepo.

“Tau, kok… Tapi dia memilih untuk gak ambil pusing dan jarang nanya-nanya… Hanya sekedar tau aja…” jawabku.

“Eng… ini… Gini, Vi… Gak tau apa Vivi mau nolongin ato tidak nanti… Ada beberapa korban hantu Burong Tujoh itu yang sekarang sedang terlunta-lunta nasibnya… Bisa dikatakan kalo mereka ini sekarang yatim piatu… Sama seperti Vivi dan Bens… Apa Vivi bisa menolong mereka?” kataku coba-coba aja.

Mana tau Vivi berkenan, kan?

“Korban? Yatim piatu?” ulang Vivi. Aku mendapatkan perhatiannya. Bagus…

“Iya, Vi… Jadi ada sekumpulan anak-anak kecil yang diculik hantu Burong Tujoh itu dari kampung mereka di tepi hutan saat lengah bermain… Mereka disekap bertahun-tahun untuk berbagai ritual pengorbanan… Hanya tinggal empat saja tersisa dari sekian banyak awalnya…” kisahku singkat.

“Kasihan mereka, Vi…”

“Kayak cerita Wewe Gombel itu, bang? Sering dengar kalo main sampe Maghrib awas nanti diculik Wewe Gombel…” tanggap Vivi rupanya tau juga tentang urband legend itu.

“Memang Wewe Gombel, Vi yang nyulik anak-anak itu… Kasian kali mereka, Vi… Disekap bertahun-tahun… Sekarang mereka tak punya sanak keluarga lagi… Waktu keluarganya dicari lagi ke tempat mereka dulu tinggal, sudah pindah semuanya tak terlacak lagi… Yatim piatu-la mereka berempat ini…” kataku tak membesar-besarkan tapi banyak mempersempit fakta.

“Dimana mereka sekarang, bang? Kasian sekali mereka… Bawa ke rumahku aja, bang… Bisa buat nemenin Nirmala nantinya…” Vivi jadi terharu mendengar penderitaan keempat korban yang kuceritakan padanya.

Mendengar penderitaan anak-anak yang menjadi yatim piatu secara paksa membuat perasaan lembutnya tersentuh dan terpanggil untuk menolong mereka yang lemah.

“Beneran, Vi? Vivi mau menerima mereka? Waahh… Vivi baik hati sekali…” aku memeluknya erat-erat mengucapkan terima kasihku yang sebesar-besarnya.

“Muah muah muaah… Vivi memang nomor satu-ah… Mereka pasti bakalan senang sekali mendengar ini… Nanti awak bantu-bantu juga biaya mereka, Vi… Vivi tenang aja…” kataku mengecup keningnya.

Vivi malah melongo.

“Kenapa? O-iya… Rumahmu udah selesai renovasinya?”

“Udah sih, bang… Tapi agak curiga, nih… Anak-anak ini… empat orang… disekap bertahun-tahun…”

“Yaa… Namanya Cut Masita, Cut Cahya, Cut Riska sama Cut Intan… Nama-nama Aceh semua, Vi… Mereka saat ini sedang ditampung sementara di rumah teman… Bisa secepatnya awak bawa ke rumah Vivi, ya?” potongku cepat-cepat sebelum intelenjensia seorang asisten dosen Manajemen Bisnis-nya bekerja dan menebak kira-kira usia keempat anak itu yang beranjak dewasa sekarang.

“Hmm… Tau Vivi… Mereka boleh tinggal di rumah Vivi asal kita boleh begini lagi sering-sering… Deal?” sergahnya mengambil kesempatan dalam kesempitanku.

“E-eh? Sering-sering begini? Begini cem mana maksudnya?” aku berusaha berkelit.

“Petting ini-loh, bang Aseng… Gak suka, ya?” kerlingnya genit.

“Kalo udah makin panas… abang boleh masuk sesukanya… Vivi rela, kok… Hi hihihi…” ia malah jadi seperti ini sekarang setelah merasakan nikmatnya dunia baru yang anyar ia reguk.

Kok jadi takut ngliat versi Vivi yang seperti ini, ya? Ia menjadikan keempat Inong itu sebagai bargaining commodity agar aku selalu bisa dekat dengan dirinya. Waduh… Otak encernya mulai pelan-pelan bekerja menjebakku.

“Viii… Jangan gitu-la… Masak nolong demi kemanusiaan harus ada pamrihnya gitu-ih? Bahaya kalo sering-sering kek gini. Vi… Bisa-bisa Vivi jadi ketagihan… Maunya begituan mulu… Malas kuliah… Malas buat skripsi… Malas kerja… Malas cari duit…” kataku menakut-nakutinya dengan hal yang mengada-ngada. Tapi ada juga orang yang kek gitu kok.

“Biarin aja… Gara-gara bang Aseng ini…” jawabnya santuy gak merasa itu hal berat.

“Tabunganku dah banyak… Kalo abis tinggal minta sama si Bens… Gini-gini Vivi CEO salonnya dia… Tenang aja… Nirmala sama anak-anak empat itu gak akan kelaparan…” ia memasang muka cool dan melipat tangannya sambil tetap berbaring di lenganku.

“Eh… Deal, gak?” desaknya lagi ternyata masih ingat tawarannya tadi.

“Iya-la… Cuma petting aja!” kataku mengulurkan tangan. Hanya satu pasal.

“Iya… Cuma petting…” jawabnya menyambut tanganku.

Agak susah salaman posisi berbaring bersisian begini. Tapi ini pengorbanan yang harus aku derita agar keempat perempuan itu dapat kesempatan yang lebih baik walo agak sedikit mengelabui Vivi. Kami berjabat tangan menyegel kesepakatan untuk petting secara reguler sebagai ganti ia menerima keempat anak-anak itu, dalam keadaan telanjang bulat di balik selimut. Vivi tersenyum puas.

“Rumahmu udah selesai beneran, Vi?”

***

Ini hari terakhir liburku. Keempat inong cantik itu dalam perjalanan dari Aceh menuju Medan melalui jalur darat. Diantarkan sendiri oleh abah Hasan menggunakan kenderaan beliau. Sekitar tengah malam atau besok pagi sampenya.

“Pak Aseng… Itu mobilnya kata ibu udah jadwal servis…” kata Misnan saat melihatku sedang meregangkan otot lenganku yang masih agak linu-linu dikit.

“O-iya… Makasih, Mis… Ya udah awak keluar dulu mau servis… Mumpung masih libur…” kataku lalu mengarah ke basement untuk mengeluarkan Pajero itu.

Tak lama aku sudah di jalan menuju bengkel resmi tempat servis berkala mobil mahal boleh diberi kak Sandra ini. Aku menghitung-hitung apa jadwalku hari ini sampe malam. Hanya nanti malam saja aku ada janji untuk bertemu dengan pasutri Julio dan Amei untuk melanjutkan kegiatan threesome kami.

“Ya halo, mang? Ada apa, mang?” jawabku setelah mendapat panggilan dari kontraktor renovasi rumahku.

Ternyata ada sesuatu yang ingin dibicarakannya langsung denganku. Aku menjanjikan akan ke sana dalam waktu 2-3 jam lagi selesai urusan mobil ini diservis. Ia akan menungguku. Mekanik di bengkel resmi sigap memeriksa mobilku dengan teliti.

Bagian mesin, kaki-kakinya, kelistrikan, dingin AC, jumlah bautnya. Semuanya-la pokoknya dipelototinya sampe jengah mobil itu jadinya. Karena mobil mahal kali, ya?

Karina: ping!

Eh ada si binor bening ini ngeping. Aku cari tempat duduk yang nyaman untuk chatting dengan binor depan rumah ini. Walo tetanggaan sangat dekat, kami lebih intens ngobrol di aplikasi saja. Sesekali aja saling lambai di kejauhan.

Aseng: ping jg hehehe

Karina: eh langsung nyamber hehehe

Aseng: apa kabar bu? apa cerita?

Karina: pilih ini ya?

Disuruh pilih? Disuruh milih apa? Tetek kiri ato kanan? Dua-dua kalo bisa. Yo hohoho…

Kemudian masuk satu file gambar. Loading sebentar dan kemudian terbuka sebuah gambar, tepatnya sebuah file bergambar dua bayi lucu endut imut yang berbaring berdampingan. Dari pakaiannya yang satu cewek, yang satunya cowok.

Aseng: eh positif bu?

Karina: is org disuruh milih kok nanya positif aj

Aseng: yg mn aj boleh kok bu. bener positif bu?

Karina: klo sy milih yg cowo bg

Aseng: knp?

Karina: biar kuat ky papanya

Aseng: beneran positif ini!!

Berikutnya masuk sebuah foto ujung test pack yang menampilkan dua strip pink yang sangat tegas warnanya. Tak ada keraguan lagi kalo Karina benaran positif hamil. Aku turut bahagia untuknya.

Aseng: selamat y bu Karina. akhirnya harapannya terkabul jg

Tak sabar, bu Karina langsung meneleponku…

“Bang Aseeeeng…” jeritnya nyaring di kejauhan sana.

“Horeeee… Selamat ya, bu Karina… Akhirnya harapan dan impian ibu terkabul juga… Awak ikut-ikut senang mendengar ini… Beneran-loh…” kataku langsung nyerocos ikut bahagia untuknya.

“Apalagi saya, bang Aseng… Akhirnya ada bayi yang dipercaya untuk mengisi perut saya lagi… Ini semua berkat bang Aseng…”

“Bersyukur sama Tuhan, bu… Sama awak cukup makasih aja… Dia yang ngasih semua… Awak cuma perantara aja…” kataku berusaha bijak.

“Banyak-banyak berdoa aja, bu… Makan-makanan bergizi… Apalagi bentar lagi udah resign, kan? Perbanyak istirahat… karena hamil muda itu masa yang rentan… Ah… Akhirnya ya, bu… Senang kali awak dengarnya…” kataku sangat bahagia untuknya dan calon anaknya di sana.

Mudah-mudahan tak ada gangguan lagi pada Karina setelah segunung masalah yang menimpanya. Permulaan baru yang diinginkannya.

Cukup lama kami berbincang. Karina sebenarnya ada di kantornya tapi ditinggalkannya ruang kerjanya dan meninggalkan penggantinya yang sedang sibuk berkutat dengan limpahan pekerjaan yang akan diembannya begitu Karina resmi resign.

Dirinya sangat lepas dan bisa tertawa-tawa tanpa beban. Setelah lepas dari Kuyang, masalah setelah liburan di Bahama, lalu vampir yang mengincarnya, Karina jadi lebih tegar dan menghadapi masalah dengan lebih matang.

Semua masalah hidupnya sudah cukup berat, kesulitan kecil dihadapi dengan mudah. Ia hanya tinggal menghitung hari untuk segera lepas dari pekerjaan ini dan fokus untuk mengurus bayi di dalam perutnya saja. Prioritas paling utama.

***

Mobil selesai diservis dan aku langsung meluncur ke Mabar untuk menemui kontraktor di proyek renovasi rumahku. Dari aku memasuki gang ini, dari jauh sudah terlihat bangunan tinggi yang belum selesai seutuhnya itu. Renovasi yang prosesnya jadi melar diluar rencana awal. Entah apa yang akan dibicarakan si mamang-mamang kontraktor ini.

Turun dari mobil yang kulakukan pertama kali adalah berkeliling untuk meninjau progres pembangunan. Padahal sejatinya aku memeriksa keadaan rumah Yuli yang ada tepat di samping lahan rumahku.

Jendela-jendelanya tertutup rapat, bahkan lampu teras depannya menyala di siang terik begini. Sepertinya mereka sudah pindah kembali ke kampung seperti yang diberitahunya waktu itu. All the best-la pokoknya buat Yuli dan suami beserta anak yang menyertai mereka.

Aku berputar dan masuk dari belakang ke dalam areal rumah. Material mentah masih banyak teronggok dimana-mana. Para tukang dan kenek masih sibuk dengan tugas mereka. Aku menaiki tangga beton yang masih disangga beberapa buah perancah besi untuk menuju lantai dua.

Suara mamang itu ada di atas sedang memberi instruksi pada sang mandor. Ia segera melihatku yang naik kemari. Ternyata ia hendak membicarakan beberapa hal untuk memastikan saja karena ada beberapa revisi yang terjadi di tengah pembangunan yang harus membuat mereka memutar otak untuk merealisasikan keinginan kami.

Rumah ini sedianya akan mempunyai 4 kamar tidur dengan asumsi kami akan punya anak 3 orang hingga nanti masing-masing mereka punya kamar sendiri plus kamar utama yang kepala keluarga tempati. Dan membengkak menjadi 6 kamar tidur. Itu maunya orang rumah…

Mengingat Rio yang senang sekali dengan kolam renang rendah di rumah yang kami tempati sekarang, istriku minta dibuatkan kolam renang kecil juga terserah mau dimana. Mau di belakang, di atas, terserah. Pokoknya ada kolam renangnya.

Jadilah posisi kolam renang itu dibuat menggantung tanpa mengorek tanah melainkan menggantung diantara lantai dasar dan lantai dua, di belakang lahan sekali posisinya. Garasi yang merupakan tujuan awal renovasi ini harus bisa menampung dua mobil sekaligus. Dan pohon mangga Golek-ku gak boleh diganggu gugat. Titik.

Abis adzan Zuhur aku bertolak pergi lagi dari proyek itu. Perut lumayan terganjal karena makan gorengan bareng para tukang yang hepi kali ditraktir yang punya gawean rumah.

Loh-loh? Ngapain itu orang? Melambai-lambai menghentikan mobilku. Ia buru-buru membuka pintu belakang, melempar tas besar yang dibawanya sembarangan lalu memanjat naik. Aku membiarkannya masuk. Aku harusnya menolongnya naik. Ground clearance Pajero ini cukup tinggi untuk membuatnya susah naik memasuki kabin. Apalagi mengingat kondisinya yang memakai sarung.

“Bang Aseng… huff huff… Buruan, bang… huff huff… rumah sakit! Aida mau lahiran!”

Nah loh!

Aida

“U-udah tanggalnya, Da?” tanyaku bingung mau tancap gas gimana, bawa binor hamil besar mau melahirkan buru-buru. Pelan-pelan, tapi ini urusannya emergency. Ia duduk bersender di jok belakang berselonjor kaki mengangkang dan mengelus-elus perutnya. Ia menghembus-hembuskan nafas sesuai anjuran senam hamil yang sudah diikutinya. Aida tak kunjung menjawab pertanyaanku. Ia masih sibuk mengatur nafasnya.

Ini pun… kemana semua keluarganya? Kok bisa perempuan hamil besar udah dekat hari melahirkan dibiarkan sendirian di rumah? Lakiknya mana nih si Agus? Gak suami siaga kali kurasa pulak. Kerja pulak dibantenya waktu kek gini. Aturannya bisa dia permisi pulang untuk ngurusin biniknya dulu dalam masa emergency ini. Ah! Palak (kesal) pulak aku jadinya kek gini.

“Ke rumah sakit mana kita ini, Da?” tanyaku melongok ke spion depan. Aida masih huff huff huff aja dari tadi dan menunjuk sekenanya ke arah sana. Ada rumah sakit yang dekat dari Mabar sini. Pasti di situ maksudnya. Istriku pun melahirkan Rio dan Salwa di situ juga…

Aku melajukan mobilku hanya rata-rata 40 km per jam saja. Kecepatan sedang-la kurasa itu. Aku bolak-balik mengecek keadaan Aida lewat spion. Aku berusaha tidak panik walopun ini bukan binikku, tapi banyak sahamku dalam kehamilannya ini. Ia bernafas lebih teratur sekarang dengan mata terpejam Mungkin kontraksinya mereda sekarang.

“Untung bang Aseng lewat… Kalo enggak… entah siapa-lah yang nganterin Aida ke rumah sakit, bang…” katanya mulai berbicara. Keringat menetes di dahinya padahal AC kunyalakan cukup sejuk. Tapi bawaan perempuan hamil ya… gitu, gerah aja rasanya.

“Tadi kebetulan lagi ninjau rumah, Da… Kemana si Agus rupanya? Kok gak Siaga dia? Siap Antar Jaga?” tanyaku kembali kesal akan tak kesiapan suami kek suami si Aida ini.

“Kok sendirian aja Aida di rumah? Untung gak kenapa-napa…” kataku cukup khawatir.

Aku sudah dua kali menghadapi persalinan istriku dan itu momen-momen yang membuat jantung kembut (dag dig dug), biar tau klen. Setidaknya aku bisa mendampinginya walo tak bisa memindahkan rasa sakit yang mendera tubuhnya saat itu. Memberinya semangat dan dorongan. Ayo! Kamu bisa! Esmosi awak jadinya…

“Ginilah nasib Aida, bang… Si Agus lagi dikirim ke proyek di cabang daerah, bang… Mamak Aida baru aja berangkat dari kampung sana… Paling masih di jalan dia arah ke Medan… Malam paling sampeknya… Mertua Aida sakit-sakitan di kampung… Aida mungkin bentar-bentar lagi lahiran… Nasib kali Aida ya, bang… Bunting besar gini lakik jauh disana… Gak ada-la yang nemanin Aida… Sedih kali rasanya…” kata Aida duduk terpekur bersandar tak mau meratapi nasibnya. Ia berusaha berfikiran positif demi anak yang ada di dalam perutnya yang secara periodik memberikan tanda-tanda interval kontraksi yang semakin sering.

“Sabar ya, Da… Awak anterin Aida sampe rumah sakit… dengan selamat sentosa… Udah hampir dekat kita… Ini udah simpang Mabar… Pelan-pelan aja kita, ya? Sabar, Da… Ditahan dulu sampe rumah sakit…” kataku menyabar-nyabarkan hatinya.

Memberikan setawar sedingin agar ia tak emosi yang tak baik untuk proses lahiran yang sehat.

“Ini analisa dokter terakhir lahirnya normal ato gimana, Da?” tanyaku agar ia tetap fokus dan tidak berpikiran melantur.

“Normal, bang… Jadwalnya seharusnya besok, bang… Tapi kontraksinya terasa nyakitin sejak Subuh tadi… Jadi Aida paksakan keluar rumah naik apa aja, bang… Pokoknya sampe rumah sakit aja… huff huff huff…” kontraksinya mulai terasa lagi.

“OK OK… Terus bernafas begitu, yaa… Kita hampir nyampe ini… Itu udah nampak rumah sakitnya…” kataku melihat pucuk bangunan tinggi berwarna kehijauan yang merupakan bagian depan rumah sakit itu. Aku harus memutar mobil di simpang tiga karena rumah sakitnya ada di sebelah kanan.

Kuarahkan mobil ini ke depan pintu UGD, seorang perawat pria sigap membawakan sebuah kursi roda, membantu Aida turun dari mobil dan membimbing Aida menaikinya. Begitu Aida sudah aman di tangan para tenaga kesehatan itu, aku memindahkan kendaraanku mencari tempat parkir lalu buru-buru mengejar Aida sambil membawa tas bawaannya.

Perawat pria tadi menunjukkan tempat Aida sedang diperiksa di balik kain tirai yang membatasi privasi proses pemeriksaan. Seorang bidan yang masih muda sedang menangani Aida.

Seorang perawat lain sedang memeriksa tekanan darah. Begitu melihatku datang membawa tas besar ini, “Bapak suaminya ibu ini?” Waduh? Aku harus berperan sebagai suami pengganti nih ceritanya. Aku mengangguk-angguk pelan dengan bodoh.

“Iya dia suami saya…” lirih suara Aida yang malah menjawabkan pertanyaan barusan.

Karena aku diakui sebagai suami pasien, dengan santai bidan muda itu menyibak sarung yang dipakai Aida sebagai penutup tubuh bawahnya, melepas celana dalamnya dan memposisikan kedua kakinya mengangkang ditekuk untuk melakukan pemeriksaan bukaan berapa.

Cekatan jarinya memasuki liang vagina Aida yang agak menganga lebar setelah dilumuri pelumas secukupnya. Selangkangannya memerah mirip daging matang di sekitar pangkal paha lalu menjalar hingga mencapai jembut kumis Hitler-nya. Dua jari bidan itu dimasukkan ke vagina Aida untuk mengetahui sudah bukaan berapa yang sudah dicapai jalan lahir binor ini.

“Ini anak pertama ya, bu?” tanya bidan itu yang jari tangan terbungkus glove nitrile-nya masih mengobok-obok vagina Aida. Ia juga beralih padaku. Kami berdua mengangguk-angguk membenarkan.

“Nah… Hasil pemeriksaan saya tadi ini masih bukaan 3… Biasanya anak pertama itu memang begitu bapak-ibu… Namanya kontraksi palsu… Tetapi karena sudah mendekati jadwalnya… Besok ya harusnya, ya? Ibu baiknya menginap aja di sini… jadi kalau ada apa-apa bisa langsung kita tangani… Apalagi ibu dan bapak sudah persiapan bawa barang-barang…” katanya merunut tas gede yang kutenteng. Aku mengangguk-angguk pada Aida agar menurut saja apa kata bidan ini dan rawat inap saja daripada pulang tak ada orang di rumah.

Setidaknya ada yang berkompeten mengurusnya di rumah sakit ini. Para bidan dan perawat maksudnya. Awak ini apalah? Cuma kang traktir gorengan.

Harus membereskan administrasi, masih dengan mengaku-ngaku sebagai suaminya Aida dan untungnya tak ada masalah berarti karena aku bawa-bawa beberapa lembar surat dan dokumen yang sudah disiapkan Aida lengkap untuk urusan administrasi ini.

Apalagi KTP-nya si Agus hanya foto kopi buram yang tak jelas mukanya di kartu jaminan kesehatan dari perusahaannya. Tak lama kami diarahkan ke sebuah kamar perawatan di dekat ruang bersalin. Ini ruangan kelas dua yang memiliki dua ranjang pasien.

Hanya saja ranjang pasien satunya masih kosong. Aku mengeluarkan isi tas Aida dan memasukkannya ke dalam lemari kecil.

“Aida ada perlu apa-apa lagi? Biar awak belikan di luar? Roti ato minuman gitu…” tawarku.

“Aida hanya perlu bang Aseng aja…” jawabnya masih dalam keadaan duduk di atas ranjang perawatan yang serba putih-putih untuk menonjolkan steril dan bersihnya. Perutnya yang buncit besar ditutupi sepenuhnya oleh sarung.

Ia melempar celana dalam yang tadi dibuka bidan muda di ruang UGD bawah ke atas tas yang sudah kosong. Ia tersenyum penuh arti. “Bang Aseng gak bisa dibeli di luar sana… Hi hihi…”

“Iya iya… Awak temani-la Aida sampe mamakmu sampe kemari…” kataku agak-agak terpaksa. Tengah malam nanti baru mamaknya sampe Medan sini, kan? Mampos aja.

“Yee… Asik… Ditemani bang Aseng…” ia menggoyang kedua tangan terkepalnya di depan dadanya.

“Dengar gak, dek? Dedek ditemani papa Aseng di sini… Nungguin dedek lahir…” ia lalu mengelus perutnya dan ngajak sang jabang bayi ngobrol.

“Bergerak lagi, bang Aseng… Hi hihihihi… Dia senang papanya ada di sini…” menakjubkan melihat bayi di dalam kandungan karena aku jelas melihat gerakan di permukaan sarung itu. Gerakan tubuh mungilnya bisa kentara di kulit perut Aida.

“Ehh…” kagetku tak bisa mencegah aksi Aida berikutnya.

Ia menarik bagian bawah sarung itu hingga seluruh perut buncitnya terlihat jelas. Besar dan mengkilap dengan garis gelap dari bawah pusar menuju kumis Hitler yang mendadak hilang lenyap itu.

Pasti tadi disuruh cukur abis oleh sang bidan hingga plontos polos. Ada benjolan di permukaan perut itu yang kemungkinan besar tonjolan kaki sang jabang bayi yang sudah merasa sesak di dalam sana. Berputar-putar mencari jalan keluar untuk menuju alam bebas.

“Keliatan, kan?” katanya sembari mengelus-elus perut buncitnya.

“Bentar-bentar lagi dedeknya bakalan lahir…” ia melirikku sesekali masih menatap takjub pada perutnya sendiri. Pada mahluk kecil yang tumbuh kembang di dalam rahimnya.

“Bang Aseng gak mau merasakan gerakannya?” tawarnya dan mengulurkan sebelah tangannya untukku mendekat. Kusambut tangannya dan aku merapat. Dibawanya tanganku menyentuh perutnya dan bayi bergerak lagi, merespon sentuhanku.

“Dia karya bang Aseng… Hi hihihi…” aku tak bisa berkata apa-apa.

Kalo benar ini anak yang berasal dari benihku, secara tak resmi ini adalah anak ketigaku setelah Rio dan Salwa. Aku makin tak bisa berkata apa-apa. Hanya bungkam membisu walo tanganku terus mengusap-usap perutnya dengan perasaan campur aduk.

Tentu aja aku teringat momen-momen sebelum Rio dan Salwa lahir. Saat itu cemas dan bahagia bercampur menjadi satu. Aku bingung perasaan apa yang kurasakan saat ini. Bahagia-nya ada. Cemas juga ada.

Tetapi lebih banyak rasa kosong karena teringat perjanjian kami, terutama pasal tiga yang berbunyi kalo bayi ini adalah anak Aida dan suaminya; Agus. Ini bukan anakku walo berasal dari bibitku.

“Waktu abang ngurus administrasi tadi… Aida nanya ke bidannya… Gimana supaya proses lahirannya cepat? Katanya ada suntikan hormon untuk mempercepat interval kontraksi… Ada induksi juga… Tapi itu biasanya untuk cara terakhir kalo gak ada perkembangan… Bidannya malah ngasih saran supaya Aida ‘dikujungi’ suami aja supaya membuka jalan lahir si dedek… Kalo bisa ‘tembak’ di dalam…” kata dikunjungi dan tembak ia pake quote-unquote jari gitu. Rahasia umum sih sebenarnya.

“Tapi ini rumah sakit, Da… Masa begituan di sini?” tolakku mentah-mentah. Secara gak langsung Aida minta aku menyetubuhinya di rumah sakit ini. Gimana kalo kepergok para tenaga kesehatan sini?

“Yee… Orang itu saran bidannya sendiri, kok… Liat? Gak ada yang masuk kemari dari tadi, kan?” desak Aida membujukku agar mau ‘mengunjungi’ dirinya. Terakhir aku ‘mengunjunginya’ beberapa bulan lalu sebelum acara tujuh bulanannya.

“Abang cek deh keluar… Beneran ini…” Ia terus mendesakku dan menyuruhkan melihat keadaan di luar sana.

Dengan berat hati aku menuju pintu dan mengecek keluar dengan melongokkan kepalaku. Bidan muda tadi sedang ada di station para perawat, lagi memberi membaca laporan. Ia mengangguk padaku dengan senyum penuh arti. Aku terpaksa membalas anggukan kepalanya barusan dengan kikuk dan paoknya. Bidan itu seperti memberiku kesempatan untuk melakukan ‘kunjungan kerja’ saat ini dengan senyumannya. Tidak pasti kalo memang sang bidan menyarankan ‘kunjungan” ini ato itu tadi cuma bualan Aida aja tapi itu sudah pengetahuan umum kalo sebelum lahiran yang secara normal memang disarankan untuk sering-sering melumasi jalan lahir sang jabang bayi dengan cara dientot. Dientot!

Aku balik lagi ke Aida dengan cengar-cengir. Aida tersenyum dikulum mengetahui aku mengunci pintu kamar rapat-rapat agar tak ada gangguan.

“Gimana? Aman, kan?” katanya dengan riang.

Aida melepas pakaian daster yang dikenakannya dan seperti yang kutebak ia tak memakai bra sama sekali. Payudaranya membengkak jauh lebih besar mengkilap bak balon gas dari terakhir kali kusetubuhi dirinya dengan aerola dan puting membesar berkali lipat. Warnanya juga semakin gelap cenderung coklat tua.

“Aida jadi jelek ya bang begini?… Endut… Bengkak sana-sini… Abang gak selera lagi?” kata Aida menguji kemauanku.

“Sebaliknya, Da… Ini seksi abis…” mataku nanar memandangi tubuh telanjangnya yang walopun secara aestetik jauh dari kata menarik tetapi ada keseksian tertentu. Ini seksi karena faktor kesuburan dirinya yang sedang hamil tua begini.

Secara refleks ia merenggangkan kakinya, membukanya lebar untuk memamerkan selangkangan gemuknya yang sudah dibabat habis kumis Hitler-nya. Kemerahan pangkal pahanya membuat rona matang yang meradang minta segera dijamah.

Tak sadar aku malah meremas Aseng junior yang menggelembung di dalam sempakku. Aida melihat gerakan tanganku yang menyentuh kemaluan sendiri. Aida hanya memakai sarung yang berada di antara payudara bengkak dan perut buncit mengkilapnya.

Aku semakin mendekat dan duduk di antara kakinya. Dan yang pertama kusentuh adalah payudara bengkaknya. Kulit putih Aida langsung meremang pori-porinya atas sentuhanku yang langsung meremas lembut.

Kujepit aerola dan puting gemuk itu. Mataku menangkap titik putih yang menitik dari pucuk dan pinggiran putingnya. ASI-nya sudah mulai keluar walo tak banyak.

“Aaahhh…” erang Aida merasakan mulutku rakus mencaplok sebelah payudara bengkaknya.

Putingnya yang besar terasa lebih manis oleh laktasi susunya. Tanganku memerah teteknya yang sebelah lagi. Ini sangat besar dari biasanya. Aku ingat betul ukuran dada Aida yang pas segenggaman tanganku dan kini tak dapat digenggam satu tapak tangan. Massa lemaknya bertambah membuatnya semok.

“Mmhh… Ahhh…” erangnya seksi sekali.

“Baang… Iseep yang kuat, baang… Oohh…” erangnya meremas-remas rambutku. Lalu turun ke leherku.

Aku berpindah-pindah payudara kanan dan kiri bergantian. Keduanya sejajar nikmat dan kenyal ukuran membengkaknya. Apalagi rasa manis ASI yang dihasilkannya. Bayinya kelak akan mendapat banyak limpahan ASI yang bergizi dari balon susu mamanya ini.

Rangsangan yang hinggap ke otakku sangat intens sekali saat ini. Berada di tempat umum, hanya mengandalkan kunci sederhana pintu di kamar ruangan rawat inap rumah sakit, aku sedang mengenyoti tetek binor yang sedang hamil tua dengan ASI yang mengucur. Aseng junior-ku tak terbendung lagi mengacung keras di dalam celanaku. Terasa sesak hingga tak nyaman mengganggu.

Kulepas kancing celanaku dan sisanya dibantu Aida, garmen bawah yang kukenakan itu sudah teronggok di lantai. Aida meremas-remasnya dengan mendesah-desah kepedasan.

“Aashhh… Ssshhh… Oohhsss… Keraaass… Uhhsss…” Jariku yang tak mendapat posisi serang mencari jalan ke bawah melewati sisi perut buncitnya dan langsung menemukan gundukan gemuk plontos.

“Aauuhh…” erangnya saat kaitan jariku berhasil masuk menusuk. Gerinjal-gerinjal isi dalam liang kawinnya menyambut lesakan jariku. Basah dan hangat sekali.

Aida makin memeluk kepalaku tak mau melepaskan dari kenyal melenakan dua balon besar ini. Aku makin blingsatan merasakan kenyal lembut bersusu tetek yang sangat memabukkan ini sehingga aku ikut arus aja saat binor bunting besar ini menarik dan mengarahkan Aseng junior ke arah sarang lamanya ini.

Hangat yang pertama kali kurasakan saat kepala Aseng junior menembus bibir kemaluan tebal kemerahan itu. Terbenam sempurna terselimuti daging bergerinjal di sepanjang basah permukaannya.

Binor ini menganga tak bersuara merasakan bagian dalam kemaluannya disodok batang pejal Aseng junior. Ahh… Aku sangat kangen sensasi liang kawin Aida ini. Begitupun juga dia sangat kangen lesakan keras batang penisku yang meluncur masuk hingga mentok. Tubuhnya gemetar karena bukaan uterus-nya bersamaan dengan terbukanya mulut rahimnya, bersiap untuk melahirkan.

Ia sekarang memeluk tubuhku erat dengan kedua kelamin saling bersatu padu dengan irama degub jantung yang bertalu-talu. Kedut-kedut liang kawin vagina Aida meremas-remas sekujur batang Aseng junior.

Bagian kepalanya bahkan terjepit di mulut cerviks-nya. Menggeliat-geliat tubuhnya membuat Aseng junior serasa diperas di dalam gua kenikmatan ini. Padahal aku belum melakukan gerakan memompa sama sekali.

“Baangghh… Aida kangeen kalii, baanghh.. Kangeen beginiii, baanghh… Uhhh…” tak dinyana kami malah berciuman panas.

Saling pagut mulut dan bibir. Aida meremas-remas lenganku sementara aku mengelus-elus punggungnya. Remasan liang kawinnya terhadap Aseng junior semakin menjadi-jadi. Aku harus hati-hati tidak menghimpit perutnya sehingga punggungku melengkung mencegah menyentuh perutnya.

“Shllk… shlookk… shlokk… Hmm… Ahh…”

Lama kami berciuman dengan sangat panas. Lidah Aida menjelajah masuk ke dalam mulutku. Mengajak lidahku menari-nari erotis. Lalu saling kecup dan lumat sementara Aseng junior hanya terdiam.

“Aaahhh… Mmm… Enak kali cipokan gitu sama papa Aseng… Dedeknya juga lebih tenang sekarang dijenguk papanya…” katanya saat pandangan kami sangat dekat. Ia mengelus-elus perutnya. Aku menjauhkan wajah kami karena tak ingin menekan perutnya lebih jauh dan aku mulai bergerak.

“Aahh… Enak, bang…” terasa ketat sekali vagina gemuk ini sekarang. Liang kawinnya mengatup erat dan pastinya sangat hangat.

“Aahh… Ahh aahh… ahhh… Mmmhh…” sambut Aida dengan erangan pelan yang sangat indah sekali di telingaku.

Pertemuan kelamin kami sangat indah. Teringat awal-awal skandal kami dimulai dari aku yang sering menggendong Salwa keliling gang. Aida memancing-mancingku untuk dengan memamerkan tubuhnya. Bahkan terang-terangan minta dihamili kemudian. Binor nomor satu dalam koleksi binor hamil yang bentar-bentar lagi bakalan melahirkan karya perdanaku.

Lalu disusul oleh rentetan beberapa binor lainnya sampe banyak sekali malah yang kemudian beneran ikut hamil berkat sangat suburnya bibit yang kuhasilkan. Mereka yang awalnya bermasalah, sulit untuk mendapatkan keturunan setelah kubantu dengan masalah supranaturalnya, kembali kondusif dan berhasil hamil.

Hasil terakhir, Karina tadi sudah memberikan kabar terbaru dirinya akhirnya hamil.

Aku sangat terangsang sekali saat ini mengentoti binor yang sedang hamil besar begini. Visualnya sangat provokatif. Ini tampilan seorang perempuan seksi yang subur, hamil besar hampir melahirkan. Mungkin insting primitif-ku yang menyatakan perempuan seperti inilah yang paling sempurna; perempuan yang bisa hamil. Apalagi hamilnya akibat campur tanganku sendiri.

“Yaaahh… Ahh… Ahh…” erangnya sangat seksi.

Aida yang menyenderkan punggungnya pada tumpukan beberapa bantal, mengangkangkan kakinya lebar-lebar mempersilahkanku masuk ‘mengunjunginya’. Aseng junior meradang kompak denganku. Ia sudah sangat keras seperti batang kayu. Merojok cepat ke dalam liang kawin Aida yang membara.

“Baanngghh… Baaanghh… Kontraksi lagi…”

Alamak! Batang Aseng junior seperti di-blender di dalam liang kawinnya yang sedang berkontraksi. Pintu cerviks-nya membuka semakin lebar akibat stimulasi seksual ini. Ada benda tumpul yang sedang menyodok-nyodok untuk memperlebar jalan keluarnya sang jabang bayi yang dinanti-nanti.

Aku gak tahan karena kontraksi keras ini. Mulutku menganga lebar dan kepalaku terasa ringan. Seluruh tubuhku menegang, lutut binor ini kugenggam erat untuk segera menyemburkannya. Gak kuaat!

“Crrooott croot crooott!”

Tubuhku terasa benar-benar nikmat saat ini. Muatan spermaku meluncur masuk melumasi semua jalan keluar si dedek bayi. Kusodok-sodok pelan, memberikan rasa nikmat tambahan, meratakan semua cairan kental itu di basah permukaan lorong vaginanya yang bakalan jadi jalur keluar mahluk baru penghuni dunia ini.

Aida juga mengerang-ngerang masih dengan kaki mengangkang dan tetek serta perut besarnya. Kucabut perlahan Aseng junior dari dalam sarang gemuknya dan segera cairan kental itu meleleh keluar.

“Haah haah haah… Enak kali, bang…” pujinya sembari mengelus-elus perutnya.

“Masih kerasa sakit, gak?” tanyaku sambil membersihkan lelehan itu dengan bantuan tisu. Ini semprotan pertama hari ini jadi muatannya sangat banyak. Harap maklum aja.

“Masih… Tapi ada enaknya… Hihihihi…” jawabnya menyentuh tanganku untuk meyakinkanku bahwa ia baik-baik saja. Perbuatanku padanya barusan tidak berbahaya. Matanya melirik pada Aseng junior yang menjuntai-juntai.

“Masih bisa lagi, bang? Biasanya kan sampe beberapa kali, ya?” lanjutnya sambil tersenyum lebar dan bangkit dari posisi bersandar bantalnya.

Dengan agak bersusah payah ia membalik tubuhnya hingga ia kini menungging di atas ranjang rumah sakit ini. Posisi ini tidak terlalu menekan perutnya dan seingatku Aida suka posisi doggy ini.

Ia memamerkan bokongnya yang terlihat makin bohay aja dari sebelumnya. Apalagi belahan vaginanya yang agak membuka, becek oleh sperma dan cairan pelumasnya. Pemandangannya, beuuhh… Juara abis!

Tanganku tak bisa kutahan untuk meremas-remas bongkah montok pantatnya yang gempal kenyal. Menyebabkan Aseng junior membengkak keras kembali ke ukuran tempurnya. Agak berderit ranjang rumah sakit ini saat aku naik dan memposisikan tubuhku di antara tunggingan pantat Aida yang asoy geboy semlohay. Aseng junior segera menemukan posisi docking-nya di liang kawin Aida yang membara.

“Aaahh… Uuuhhh…”

Aku tak dapat menghentikan diriku selain melakukan genjotan demi genjotan penuh pada liang vagina binor ini. Aku tak perduli lagi aku ada di mana. Erangan Aida yang keenakan kuanggap sebagai musik pengiring untuk merangsangku untuk segera mencapai kenikmatan lagi.

Aku tergila-gila untuk segera ejakulasi lagi. Aida sangat suka menerima curahan spermaku di dalam dirinya. Ia terus menyemangatiku untuk menggenjot walo ia pastinya masih merasakan sakit kontraksi yang semakin rapat intervalnya.

Benar saja. Dalam semenit aku sudah merasakan dua kali kontraksi berulang di vaginanya. Rasanya sangat luar biasa. Aseng junior serasa dipijat-pijat. Kalah sensasi empot ayam yang fenomenal.

Kalo pribadi yang lemah pasti sudah dari tadi ngecrot. Aku berusaha keras menikmatinya. “Auhh auhh.. auhh auuh…” Selangkangan Aida semakin memerah. Apalagi permukaan vaginanya membengkak sangat menggiurkan. Ini seks terbaik yang selalu kuincar. Sejauh ini aku hanya pernah menikmati ini saat kehamilan istriku dan aku beruntung merasakannya lagi di binor.

Goyang terus!

Tubuhku mengejang dan menyemprotkan semburan-semburan sperma nikmat lagi di dalam liang vagina Aida. Bokong gempal itu habis kuremas-remas gemas untuk meluapkan rasa nikmat luar biasa yang membuncah tinggi memberi ekstase lebih.

Kepalaku terasa sangat enteng. Kugenjot-genjot pelan untuk merasakan nikmat tambahan akibat gesekan batang Aseng junior yang sedang sangat sensitif abis ejakulasi. Apalagi bagian kepalanya yang masih terjepit di sepanjang lorong vagina.

Aida juga ikut lemas dan membaringkan tubuhnya menyamping. Belahan vaginanya yang gemuk menggodaku kembali untuk melanjutkan ronde berikutnya. Padahal Aida masih ngos-ngosan merasakan kontraksi dan nikmat yang meraja bersama.

Kuoles-oleskan kepala Aseng junior yang belum sepenuhnya pulih akibat ngecrot barusan, meratakan dan menguras lelehan sperma yang mengucur. Kubersihkan dengan tisu kembali

“Aaaahhh… Enaaak kalii, baang… Masih kuat, baangh?” erang Aida kala Aseng junior menyeruduk masuk kembali dan langsung kupompa di posisi menyamping begini.

“Puas kali dedeknya ‘dikunjungi’ papanya hari ini… Aahh… Yaahh… Auhh… Mmm-ahh…” Aida memegangi perutnya, mengelus-elusnya menjaganya aman dari guncangan yang kusebabkan.

Mengerang-ngerang seksi sambil meringis menyaksikan dan menikmati apa yang sedang kuperbuat pada tubuhnya. Ia menikmatinya. Sangat menikmatinya. Setelah ini, ia harus menunggu berbulan-bulan untuk bisa melakukan ini lagi. Biar ini menjadi kenangan indah baginya.

Lagi-lagi aku memuaskan diriku, menuntaskan hajatku pada tubuhnya yang sangat seksi di kondisi hamil begini. Sangat puas. Cukup kusudahi karena Aida sudah kepayahan. Ia perlu banyak tenaga untuk persiapan melahirkannya.

Setelah kubersihkan sisaku, aku memakaikan kembali dasternya dan menurunkan sarung yang dikenakannya. Aku memberinya minum dan membiarkannya beristirahat.

***

“Ya, buu… Benar begitu… Ejankan dengan kuat… Lalu bernafas… Yaak… Truus… Lagi-lagi… Sudah kelihatan kepalanya, bu… Jangan lupa bernafas… OK… Satu kali ngejan yang kuat…” kegiatan dua ronde kami sekitar sejam yang lalu menampakkan hasil baik. Aida yang kudampingi sedang berada dalam posisi bersalin. Semoga lancar semuanya.

“Owee owee owee owee…”

“Sudah lahir, Da… Sudah lahir anakmu, Da…” kataku berbisik di samping kepalanya sambil terus menatap bayi mungil yang sangat putih berambut lebat itu masih lengkap dengan tali pusarnya yang masih menempel.

“Bayinya perempuan, Da…” bisikku melihat sekilas kelamin bayi itu.

Ia sangat cantik. Persis seperti keinginan Aida agar bayinya sama dengan Salwa, karena bayi ini mirip sekali dengan Salwa. Aku ingat betul kesamaan itu waktu anak keduaku itu lahir.

Bidan yang dibantu seorang asistennya sedang membereskan sisa persalinan ini dan membersihkan sang bayi. Memakaikan baju dan membedongnya. Sepanjang sudah berada di alam bebas begini, ia berteriak-teriak menangis terus. Mungkin kaget ia berada di alam yang sangat asing dan luas ini.

Selamat datang di dunia ini, nak.

“Makasih, bang Aseng…” bisik Aida setelah menyaksikanku meng-azan dan qomat masing-masing di telinga si dedek mungil yang berbobot dua koma tujuh kilo.

Aku yang mendapat kehormatan melakukan ritual ini karena tak ada orang lain sore ini. Aida menitikkan air mata masih lemas paska-natal.

“Makasih atas semuanya…” kukecup bibirnya agar ia tak berkata apa-apa lagi.

***

Amei

“Kalau disuruh milih… Amei lebih suka berdua begini aja sama bang Aseng-loh… Misua saya itu sangat pengertian, ya?” kata binor si Julio ini.

Kami berdua sedang duduk bersandar di headboard ranjang hotel dengan menutup tubuh telanjang kami dengan selimut tebal dari terpaan hembusan pendingin ruangan.

“Iya… Sampe dia lebih milih kuliah daripada disini… Pengertian kali-lah…” jawabku sarkas.

“Membiarkan istri secantik-seksi Amei ini ke tangan buaya darat kek awak ini… He hehehehe…” jawabku.

Ada gundukan bergerak-gerak di hadapanku. Itu tangan Amei sedang mengocok-ngocok Aseng junior agar kembali bangkit kembali. Padahal kami udah dua ronde-loh saling pacu syahwat dan hasilnya cairan kental spermaku sudah bercokol di dalam kantung rahimnya..

Setelah hampir setengah hari bersama Aida, mengantarnya ke rumah sakit untuk bersalin, melumasi, melancarkan jalan lahirannya dengan kucuran sperma kentalku, memberinya semangat saat proses hidup dan mati itu, menyaksikan bayi cantik itu lahir, meng-adzan-kannya dan lalu menemaninya lagi sampe menjelang Maghrib—aku akhirnya bisa lepas dari itu semua karena mamaknya yang dari kampung sudah tiba.

Ternyata ia tak menaiki angkutan umum, melainkan rame-rame dengan keluarganya yang lain menaiki kendaraan pribadi yang bisa lebih cepat. Lalu meluncur ke hotel ini, tempat janjianku dengan binor panlok; si Amei cantik ini.

“Sudah keras…” gelak pelan Amei merasakan Aseng junior sudah pulih kembali ke bentuk kekar tempurnya.

“Gimana gak keras… Ada panlok secantik Amei yang ngocokin… Hi hihihi…” balasku meremas gundukan besar kenyal togenya. Kudekatkan wajahku dan ia menyambut dengan membuka mulutnya.

“Cupss… Mmb…” kami berpagutan sebentar saling serang menyerang bibir dan lidah.

“Enak ciuman sama bang Aseng… Waktu pertama kali itu… bang Aseng kek ngehindar-hindar gitu Amei rasa…” ketika mulut kami berpisah. Nyaman ngeliat wajah cantiknya.

“Gimana gak ngindar… si Julio dah nembak bolak balik di mulutmu… Jijik pulak aku ngerasain maninya dia pake mulutku… Emang awak cowok apaan?” jawabku jujur yang mungkin terasa lucu bagi Amei yang membuat binor cantik ini terkekeh geli. Remasan-remasan tangan kami tak berhenti. Aku meremas togenya, ia meremas Aseng junior.

“Oo… Gara-gara itu…” pahamnya mengangguk-angguk.

“Iya, bang… Si Julio senengnya CIM gitu… Dari dulu kami pacaran dia terobsesinya nembak di mulut melulu…” jelasnya tentang kegemaran suaminya. CIM, Cum In Mouth alias ngecrot di mulut.

Sensasinya memang sangat memabukkan tetapi hanya begitu aja sensasi nikmatnya saat ejakulasi. Padahal ada lahan yang lebih joss untuk diencrotin. Di liang cibay istrinya yang cantik seksi begitu tentunya.

“Sori-sori nih… Apa gara-gara itu Amei gak hamil-hamil? Sori-loh ini nanyanya begini…” tanyaku agak sungkan.

“Mungkin juga, bang… Karena bisa diitung berapa kali aja Julio membuang di dalam… Itu tadi… dia terobsesi hanya nembak di mulut…” kata Amei.

Entah apa yang membuat Julio jadi seperti itu. Tapi yang namanya obsesi ya bisa macam-macam kan, ya? Nyiumin kaus kaki bekas juga kalo bisa membuatnya puas kita bisa apa? Sejauh ini ngecrot di mulut perempuan adalah hal yang membuatnya puas. Itu juga yang pasti dilakukannya pada pacar-pacarnya terdahulu saat prahara rumah tangga mereka kemarin.

“Tapi Amei nerima-nerima aja, kan? Walo segitunya mau si Julio itu?” kataku masih meremas-remas togenya terus. Luar biasa kenyal ini tetek binor. Gak bosan-bosan mengkremesnya.

“Pasrah sih sebenernya, bang… Amei gimana bisa hamil kalo nembaknya di mulut mulu… Kadang Amei akalin Julio pake WOT… Dia gak bisa ganti posisi dan nembak di dalam… Tapi cuma sekali-kali aja berhasil pake taktik itu… Seringnya malah Amei yang KO duluan…” kisahnya tentang kehidupan ranjang mereka berdua. Lucu tapi kok ngenes. Aku malah jadi teringat Vivi yang dengan lugunya mengira bisa hamil karena spermaku sedikit memasuki mulutnya.

“Dengan partner-partner trisam klian sebelumnya… apa mereka selalu pake kondom?… Si Surya itu?” tanyaku akan pengalamannya mereka sebelum aku.

“Ada beberapa yang pake ada yang tidak juga… Tapi pada gak berani nembak di dalam, bang… Badan Amei udah kayak lahan itu… lahan buangan aja…” katanya agak meringis mengingat itu semua.

“Cuma bang Aseng aja yang terang-terangan berani begini… Julio gak keberatan sama sekali karena ia sebenarnya gak berani sama abang…”

“Gak berani macam mana? Cam apa kali awak…” patahku menafikan apa yang baru disampaikannya.

“Parang panjang yang abang keluarin waktu itu… Siapa yang bisa ngeluarin parang kayak gitu terus ilang lagi kayak sulap aja…” ia malah mengingatkan kejadian waktu perkenalanku dengan Amei di kafe itu.

Memang aku memamerkan mandau Panglima Burung saat itu karena meluapkan kekesalanku saat itu yang telah diserang Banaspati geni setelah ngomong pada Julio untuk berbaikan dengan Amei. Yang dengan ajaib dituruti Julio. Tapi aku gak mendapat kesan kalo Julio takut padaku sama sekali.

“Yaa… Julio gak pernah bilang sih, bang… Tapi Amei tau dia takut… Abang kan tau sendiri kalo dia ngomongnya suka blak-blakan… Itu sebenarnya hanya untuk menutupi kurang percaya dirinya aja…”

“Apa mungkin Julio… mandul, Mei?” malah itu kesimpulan yang kutarik. Kurang percaya diri. Menutupi kekurangannya.

“Mungkin juga, bang… Mungkin juga karena itu ia membuatnya seolah-olah ia punya obsesi untuk selalu CIM… padahal tak mampu menghamili Amei…” Julio mengkondisikan obsesinya itu sebagai penghalang untuk menghamili istrinya padahal ada masalah lain yang lebih mendasar. Kesuburan.

“Banyak juga ya masalah klian… Kalo awak bilang… biarin ajalah dia begitu… Laki-laki itu ego tinggi, Mei… Tau sendiri ya, kan? Gak usah diusik-usik… Nanti-nanti kalo klian maen berdua aja… usahakan dia nembak dalam lagi… Hamil Amei-la bentar-bentar lagi nih… Tunggu aja…” kataku sok yakin.

Pede kali aku ngomong sesumbar kek gitu. Dah kek apa kali jadinya. Enggak-lah… Cuma nyenangin hati Amei aja-nya aku itu. Kalo masalah hamil-gak hamil itu masih hak prerogatif yang Kuasa.

“Haloo? Iya nih… Sama bang Aseng… Berapa? Udah dua kali-lah… Hi hihihi… Enak, dooong… Langsung kemari, kan? Kami tungguin, ya?” Amei mengangkat telepon dari suaminya. Sepertinya ia masih di kampus dan dalam perjalanan pulang. Ada jarak sekitar setengah jam sampe ia tiba kemari.

“Julio itu?” tanyaku melihatnya meletakkan HP-nya kembali ke meja kecil di samping ranjang.

Ia hanya mengangguk, menyibakkan selimut ini menjadi terbuka. Amei bergerak ke arahku dan naik ke pangkuan. Dengan tangan ia mengarahkan Aseng junior memasuki dirinya sementara toge kenyalnya sudah menempel di mukaku yang segera kucaplok rakus.

“Aahhh… Uuuhh… Yaahhh…” erangnya begitu Aseng junior meluncur masuk dan membelah tubuhnya. Lancar berkat basah dan licin pertempuran sebelumnya.

“Kita panaskan dulu sebelum Julio datang ya, bang? Uuuhhhh…” ia mulai menggerakkan tubuhnya. Berlatih untuk menguras isi kantong pelerku dan Julio nantinya.

“Sekarang bang Aseng hamili Amei dulu… Yang banyaaak… Aahh!!”

***

“Loh? Kok udah mau pulang aja?” tanya Julio melihatku sudah berpakaian lagi sehabis bersih-bersih dari kamar mandi. Padahal ia baru aja sampe.

“Sori, bro… Ini orang rumahku dari tadi nelponin mulu dari tadi… Ngeganggu aja… He hehehe…” kataku menepuk bahunya.

“Sori kita gak bisa trisam-trisaman malam ini… karena ini… Lain waktu kita buat jadwal lagi-la… OK?” kataku memberinya alasan.

Padahal aku hanya ingin memberikan waktu lebih banyak bagi mereka berdua. Amei hanya bisa menatapku yang pergi meninggalkan mereka berdua di kamar hotel ini. Ia masih duduk bersandar di ranjang dengan selimut menutupi tubuh telanjangnya. Da-da da-da sebentar lalu aku segera cabut dari sana.

Hujan turun lagi malam ini tetapi karena aku bawa mobil jadi gak terlalu masalah. Aku jadi teringat kejadian dengan Banaspati banyu waktu hujan-hujanan waktu itu. Udah babak belur abis-abisan akibat tiga Banaspati itu disambung lagi dengan serbuan Burong Tujoh sampe aku melanglang buana ke hutan gunung Leuser. Gimana kabar keempat inong itu yang sedang dalam perjalanan menuju kemari?

“Samlekom abah? Udah sampe mana, bah?” sapaku pada abah Hasan. Gak pake lama ia langsung menjawab teleponku.

“Wa alaikum salam, Seng… Dah dekat nih, Seng… Ini lagi di… Ini di Binjai… Kami singgah dulu sebentar di sini… Anak-anak ini harus makan dulu… Nanti ana kabarin lagi kalo udah sampe Medan, ya?” jawabnya. Terdengar suara agak riuh di belakangnya.

“Mereka baik-baik aja, bah? Gak kenapa-kenapa, kan?” tanyaku agak khawatir akan keadaan mereka.

“Alhamdulilah baik… Pokoknya kita usahakan yang terbaik buat mereka… Antum juga harus benar-benar menjaga mereka… Yang menampung mereka ini bagaimana orangnya? Sudah siap?” tanya abah.

“Rumahnya udah disiapkan, bah… Mereka tinggal datang pokoknya…” kataku tentang kesiapan Vivi untuk menampung keempat penyintas mantan korban Nenek Te-tek. Tapi aku pasrah akan reaksi Vivi melihat bentuk postur empat anak-anak yang kumaksud ini. Tapi kami sudah menjalin perjanjian walo hanya satu pasal.

“Ana tidak khawatir tentang akomodasi mereka… asbab selama ini mereka biasa hidup prihatin… Yang ana tanyakan kesiapan orang itu… Sebab tidak mudah menghadapi masalah seperti ini… Dia ini teman antum?” tanya abah Hasan. Entah apakah beliau bisa membaca pikiranku dari jarak sejauh ini ato lewat media HP ini?

“Teman awak, bah… Rumahnya gak jauh dari rumah kami… Adik angkat istri awak juga… Dia juga yatim piatu, bah… Jadi sedikit banyak empati akan keadaan mereka berempat… Abah bisa menilainya kalo ketemu nanti…” paparku.

“Baiklah… Sampe jumpa kalo begitu… Gak mengapa kalau kami sampai di sana tengah malam, ya?”

“Gak pa-pa, bah…” jawabku masih menyetir di jam-jam sepi begini.

Apalagi hujan masih mengguyur kota. Sambungan telepon terputus setelah ia mengucapkan terima kasih dan salam. Ini udah jam setengah sebelas. Aku gak bisa memprediksi apa yang akan terjadi nanti saat Vivi bertemu dengan Cut Cahya, Cut Masita, Cut Riska dan Cut Intan.

Mereka yang kuperkenalkan sebagai anak-anak kok udah segede dan bongsor itu? Ini terjadi karena aku memainkan kata semantik ‘anak-anak yang disekap bertahun-tahun oleh hantu itu tengah hutan’.

Bertahun-tahun kemudian tentunya mereka bukan anak-anak lagi. Sudah dewasa yang sepantaran dengan induk semangnya sendiri, Vivi. Hanya sosok mereka saja yang dewasa dan bongsor.

Kepribadian mereka yang disekap tersembunyi, jarang berinteraksi dengan masyarakat, kurang pendidikan membuat mereka stagnan dengan kepribadian awal mereka. Anak-anak yang ketakutan akan teror hantu Wewe Gombel bertahun-tahun lamanya.

Rumah Vivi sudah selesai diperbaiki paska kerusakan yang disebabkan pertarunganku dengan tiga Banaspati waktu itu. Tukang yang dipekerjakan Benget lumayan cepat bekerja dan rumah mereka kembali pulih seperti sedia kala. Siap untuk menyambut empat penghuni barunya. Keempat inong.

“Dari mana aja seharian?” lirihnya hampir berbisik. Aku sudah nyampe rumah dan langsung ke kamar.

“Abis servis mobil… papa ke rumah kita yang di Mabar… Mamang itu ngasih tunjuk progres yang kita minta itu… Kamar-kamarnya udah siap… Kolamnya juga udah siap… Tinggal detail-detailnya aja…” jawabku merinci kegiatanku seharian ini. Kupeluk tubuhnya yang makin semlohai badai dari belakang. Kuciumi lehernya setelah menyibak untaian helai rambut pendeknya. Tanganku bebas menemukan payudaranya yang tak berpenyangga. Ia sudah bersiap tidur dari tadi.

“Abis itu?”

“O-iya… Pas papa pulang… Aida tetangga kita, nebeng mau ke rumah sakit… Gilak aja keluarganya gak ada satupun di rumah… Masak perempuan hamil besar gitu gak ada yang mendampingi… Papa yang nganterin ke rumah sakit… Sampe lahir-loh… Anaknya cewek…” lanjutku lagi. Semoga ia terkesan akan kegiatanku di masa libur ini.

“Oh… Abis itu?”

“Abis itu… ya nungguin mamaknya datang dari kampung baru papa bisa pulang… Kasian gak ada yang nemenin… Lakiknya aja gak bisa pulang karena sedang ada di proyek di daerah sana…” ia sepertinya kurang terkesan akan kisahku seharian ini.

“Oh… Papa yang ngadzanin juga, kan?” tebaknya masih di posisi semula, berbaring membelakangiku. Ia tak memperdulikan grepean tanganku di dadanya.

“Iya… Kok tau?”

“Tadi kan ceritanya gak ada orang di rumahnya… Cuma papa yang nganterin ke rumah sakit sampe Aida-nya melahirkan… Cuma papa-lah yang bisa adzan…” katanya. Aku udah dag-dig-dug seer menunggu jawabannya. Benar juga. Kirain apaan…

“Trus ini ngapain? Mau lagi?” tanya istriku agak malas-malasan. Sepertinya ia sudah mengantuk.

“Ngantuk?” tanganku menjangkau pada titik rangsang yang jarang bisa ia tolak.

Ia bisa basah dengan mudah kalo sudah disentuh pada bagian itu.

“Yakin ngantuk?” bisikku menghembuskan nafas hangat ke telinganya.

Jariku mengobel-ngobel jauh di bawah sana. Nafasnya mulai terasa berat. Tak lama aku bisa merasakan basah kelembaban kacang itilnya juga cairan yang mulai terbit membasahi kemaluannya.

“Seharian ini ngebantuin Vivi membereskan rumahnya… Ahh… Ada tamu yang mau datang… Vivi masih di sana… bareng si Bens… Lelah… Uhhmm…” tapi tak bisa memungkiri rasa enak yang berpusat pada bagian kemaluannya yang kugerayangi dengan nakal.

“Dengan bodi bohai kek gini… gimana papa membiarkan mama tidur dengan damai?” jariku makin gencar memainkan kacang itilnya.

Sesekali merosot masuk dan mencolek liang kawinnya yang sudah becek. Secelup dua jariku mengambil cairan untuk semakin membasahi kacang itilnya yang mengeras. Istriku makin gelisah dan tubuhnya mulai hangat.

“Uuhhss… Papa udah apain badan mama hingga jadi kek gi-niiihh? Ahh…” bagian bawah tubuhnya menggeliat gelisah.

“Cuma digerepe-gerepe aja ini… Enak?”

“Buhh-khaann itu… Uhh… Kenapa bodi mama berubah tiba-tiba begini drastiiishh? Apa papa melakukan sesuatu di luar sana? Auuhh…” ia tak tahan dan membiarkan dirinya sendiri hanyut dalam rangsanganku.

Ia tak lagi berbaring menyamping, sekarang ia terlentang dan membiarkan seluruh tubuhnya bebas kueksplor. Tanganku tetap menelusup masuk dari karet pinggang celana pendeknya dan baju tanpa lengannya kusibak ke atas, dimana gundukan besar payudaranya yang masih memproduksi ASi bagi Salwa itu terpampang jelas di depan mataku.

Jelas ia penasaran apa yang telah terjadi pada tubuhnya. Dari tubuh yang berisi penuh lemak paska melahirkan Salwa hampir setahun lalu, tubuhnya agak melar tentunya. Perawatan tubuh yang dilakukannya hanya tergolong biasa-biasa aja dan jarang berolah raga karena kesibukan mengurus rumah tangga.

Hanya saat kami pindah ke kompleks ini saja ia sedikit longgar karena sudah ada para PRT yang mengerjakan itu semua. Tapi malah begitu, ia jadi tak punya kegiatan yang berarti.

Tak ada kegiatan fisik sama sekali. Hanya sesekali ngurusin Salwa aja karena bergantian dengan baby sitter. Agak memulai olahraga beberapa bersama Vivi di gym tempat usahanya si Benget dan poof…

Bodinya bertransformasi dengan instan.

Ini tentunya adalah fantasi receh di kepalaku saja. Tak mengapa tubuhnya begitu. Aku tau diri tentunya. Ia jadi begitu karena ulahku yang sudah menghamili dan melahirkan anak-anakku.

Itu konsekwensi dari melahirkan yang harus diterima para suami dari istrinya. Kalo cuma mengeluh tapi tak memberi fasilitas perawatan kan kimak namanya. Kasih dana lebih untuk perawatan.

Ke salon kek, nge-gym kek, permak wajah kek ato apalah yang ia mau. Aku tentu akhir-akhir ini memberikan itu semua padanya. Duit tak masalah bagiku saat ini. Ia kubebaskan melakukan apa saja, beli apa saja, perawatan apa saja. Tapi dengan semua itu pun tak didapat hasil sedrastis ini.

Fantasi receh di kepalaku? Gimana kalo istriku punya body goals yang ideal seperti tubuh perempuan seumuran dirinya. Tubuh berisi, kencang padat, perut rata, pinggang sempit, toket gede menggunung, bokong padat meliuk. Yo hoho. Ideal sekalee ya, kan?

Beda. Beda waktu dirinya saat masih gadis dahulu. Dahulu ia seksi juga dengan tubuh gadis mudanya. Kalo enggak mana mungkin aku kepincut dan mati-matian mengejar dirinya walo seberat apapun.

Tubuh wanita muda dan wanita matang tentu berbeda. Apalagi kategori MILF. Akan sangat menjadi nilai plus bila seorang perempuan yang sudah menjadi ibu punya body goals yang aduhai. Yang tak kalah kalo dibandingkan dengan perempuan-perempuan muda dari segi keseksian dan kesintalan tubuh.

Itu yang dimanfaatkan si Mutee pukimak kuntilanak merah itu. Ia tau persis nafsu para lelaki akan fantasi gila di kepala masing-masingnya. Saat mengincar diriku, ia menemukan fantasiku akan body goals sempurna tubuh istriku lalu mengaplikasikannya pada gambaran dirinya hingga aku terseret dalam jeratnya untuk beberapa saat.

Ia berhasil beberapa kali menghisap energi tubuhku; nyedot spermaku. Untungnya berkat memoriku akan istriku juga aku bisa selamat dari jeratan mahluk laknat itu karena dia tidak akan menyakitiku sampe pada tahap yang sangat berbahaya.

Selesai membantai Mutee dan teman-temannya di kelompok Burong Tujoh versi Teuku Amareuk, body goals itu jadi permanen di tubuh istriku. Apakah itu tulah karena musnahnya Mutee dengan kemampuannya itu ato apa? Semacam kutukan? Semua ilmu kesaktian Mutee berpindah pada istriku? Menyebabkan aplikasi terakhir kemampuan menirukan fantasi targetnya melekat permanen pada objek fantasi itu sendiri.

Kalo itu beneran seperti yang kuperkirakan ini, itu akan sangat hebat. Beberapa hari ini tak kudeteksi ada hal aneh di tubuhnya selain perubahan fisik drastis ini. Apakah aman kalo disebut anugrah sebab aku sudah menyingkirkan satu kejahatan yang menghantui umat manusia?

“Gak ada, ma… Tapi papa seneng kali… mama bodinya jadi kek gitar Spanyol semlohai gini… Makin soor awak jadinya… makin cinta awak…” gombalku di sela permainan lidahku pada puting mengerasnya. Jariku masih tetap mempermainkan kacang itilnya yang membuat dirinya gelisah. Geliat-geliat tubuhnya menandakan ia sudah sangat terangsang. Tangannya melepas celana pendek yang dikenakannya agar aku lebih leluasa menggerayangi kemaluannya.

“Banyak yang ngirihh… liat bodi mamaahh… aahh… Uhhm… Banyak yang nanyainnnhh… jughaa… Aahh…” gelinjangnya.

Tangannya juga gerayangan dan menemukan Aseng junior yang menggembung di dalam celanaku. Dua hari aku udah maraton menggasak tubuh upgrade-nya ini. Sejak kembali dari hutan gunung Leuser itu, aku udah lupa sudah berapa kali menikmati tubuhnya.

Aku menemukan surga baru di kamarku sendiri. Kusumpal mulutnya dan kami berciuman panas dan saling remas. Aku mengobel vaginanya dan istriku meremas-remas Aseng junior.

“Biar aja banyak yang ngiri… Istri siapa dulu…” kataku gombal saat ia mempreteli celanaku hingga lepas teronggok dilempar ke lantai. Aku melepas bajuku sendiri.

“Aahh… Enaak, maa…” erangku saat mulutnya sudah mencaplok Aseng junior dan menyedot-nyedot rakus bagian kepalanya. Tangannya dengan lembut mengelus-elus bola pelerku. Ia tau persis bagaimana memperlakukannya karena cenderung ngilu kalo dimainkan berlebihan.

“Papa jadi tambah hot keknya, ya? Gara-gara ini semua?” pancingnya.

Ia menekan-nekankan payudara kenyalnya pada keras Aseng junior.

“Gara-gara ini?” ia menjejal-jejalkan ke masing-masing gundukan kenyal payudaranya.

Lembut kenyal daging empuk itu sangat nikmat dibenturkan ke penis. Rasanya sangat nyaman. Rasanya paling the best pokoknya nih. Diputar-putarnya mengitari permukaan daging empuk dadanya yang membusung besar. Kepala Aseng junior kadang beradu dengan putingnya yang kaku. Lalu dijepit…

“Aahh…” aku refleks memompa payudaranya seakan mengentoti belahan dadanya.

“Maaa… Enaak kaliii iniiihh… Ahh…” pinggulku maju mundur di jepitan payudaranya yang menelan keseluruhan batang penisku.

Sisa ludahnya yang ada di sekujur batang Aseng junior membuat sensasi licin melancarkan gerakan maju mundurku. Ia menambahkan ludah baru. Terasa hangat meleleh dan merata di sekujur batang kemaluanku yang sudah mencapai taraf ereksi maksimalnya.

Ia menjepitkan sepasang balon payudaranya dengan bantuan kepitan tangannya sementara mata kami saling tatap menyaksikan afeksi cinta yang menguar menjadi satu. Memperbaharui rasa yang sudah ada dan memperkuatnya. Aku memang butuh ini belakangan waktu terakhir.

Petualanganku dengan banyak wanita sekaligus tak dipungkiri bisa pelan-pelan mengikis asaku mempertahankan cinta padanya. Sehingga tak bisa tidak, aku membutuhkan ini karena aku hanya butuh ini darinya. Tidak dari yang lain. Seberapa indah dan menariknya sejumlah keindahan itu di luar sana.

“Yaaah… Ituuhh… Ya! Emmhh…” sekarang gantian aku yang melakukan oral pada vaginanya.

    

Ia berbaring menelentang di ranjang ini sambil menggeliat-geliat seksi menikmati kemaluannya kuseruput pada bagian kacang itilnya yang sensitif. Kemudian lidahku menjilat-jilat rakus semua bagian belahan bergerinjal mirip tiram yang berwarna merah gelap ini.

Kujilati setiap cairan yang keluar dari liang kawinnya seakan itu adalah minuman paling berharga. Tak boleh terlewat setetespun. Ia meraung-raung keenakan. Untungnya Salwa tak lagi tidur di kamar ini. Ia di kamarnya sendiri bersama sang baby sitter.

Tak lama, istriku sudah mendapatkan puncak orgasmenya dan menggelinjang menikmati sisa-sisa sengatan kenikmatan itu. Aku mempersiapkan diri dengan berada tepat di bukaan kakinya, bersedia untuk mencoblosnya. Ahh… Aku sangat menikmati penampilan baru istriku ini. Aku patut merasa beruntung mempunyai istri yang sempurna sepertinya. Baik hati dan juga seksi. Akunya aja yang kurang bersyukur…

“Aaauuhhh… paaa… Enaakkhhh-ahh…” Aseng junior terbenam dalam menerobos masuk dan langsung bercokol di sarang sahnya.

Ini satu-satunya sarang tempat berlabuh Aseng junior yang legitimasi diakui bahkan oleh Republik Indonesia dan agama. Hanya di sini harusnya aku boleh berlabuh dan sumpah rasanya nikmat sekali.

“Ummbb…” kupeluk tubuh sekal singsetnya dan mengajaknya berpagutan mulut kembali sementara Aseng junior masih bercokol diam. Aku sedang mencurahkan semua perasaan cintaku padanya seperti yang juga dibalaskannya padaku.

Puas berciuman, baru aku mulai menggerakkan Aseng junior memompa keluar masuk. Dan kami berdua sama-sama mengerang keenakan. Rasanya sangat tak terperi lagi nikmatnya. Kami berdua saling memacu nafsu yang dilambari cinta kental di dalamnya.

Seks yang legal dilakukan sepasang suami istri di dalam rumah yang semoganya dalam keadaan damai. Aku bahkan meng-aminkan permohonanku sendiri. Seperti biasa, aku hanya bisa bertahan 15-20 menit saja sejak penetrasi dan aku sudah menyudahinya dengan semprotan deras spermaku setelah membuatnya orgasme terlebih dahulu menjelang aku ejakulasi.

Setelah istirahat, ia tau betul apa yang ia mau. Aseng junior sudah kembali mengeras, ia mengambil alih kendali dan menduduki selangkanganku dengan Aseng junior kembali menancap dalam di dalam liang kemaluannya.

Ia mulai bergerak di gaya WOT ini. Ini posisi kegemarannya. Ia bisa mengendalikanku dan temponya sesuka hatinya. Ia bergerak-gerak naik turun, geal-geol, maju mundur sesuai dengan maunya apa aja. Sedapatnya ia mengejar kenikmatannya dan aku membebaskannya mau apa.

Aku dengan bebas bisa menggerayangi tubuh seksinya. Tanganku tak puas-puas mengelus dan meremas pinggul berisinya, pinggang langsingnya, payudara montoknya, paha padat dan tonjolan kacang itilnya yang sesekali mencuat terjepit.

Erangan menikmatinya istriku akan percintaan kami membahana di kamar utama rumah gedong ini. Rumah yang sudah kami nikmati sebulan lebih ini. Tangannya menuntun tanganku meremasi dadanya. Kupermainkan pentilnya lalu gemas meremas lagi.

Tak lama ia orgasme kembali dan hanya bisa bergerak pelan berputar-putar dengan mata terpejam dan mulut menganga. Kutarik tubuhnya rebah ke arahku untuk mengambil alih gerakan. Sekarang giliranku untuk bergerak.

Kami berciuman panas lagi untuk semakin memantapkan hubungan kelamin kami ini menjadi sebuah percintaan yang sangat berkesan. Kenapa aku sampe tega mengkhianati dirinya yang begini indah? Begini sempurna?

“Jyaaahh…” erangnya melepas ciuman kami saat Aseng junior kembali mengambil alih kendali dan bergerak cepat memompa vagina nikmatnya. Vagina yang sudah menjadi milikku sejak kami menikah lima tahun lalu.

“Aaahhh, paahhh… Enaakhh, paahh… Ahhh…” erangnya merasakan sodokan cepat Aseng junior yang memacu syahwat kami berdua bersamaan.

Tak ada yang perlu ditahan-tahan kalo sama-sama menikmatinya. Ini terlalu nikmat untuk ditahan. Tujuan utama ini semua adalah untuk mengejawantahkan perasaan cinta dalam bentuk bercinta seutuhnya.

Kami berdua mengerang puas dengan semburan spermaku kembali mengisi rahimnya yang dihalangi IUD, membuat bibit suburku yang sudah dua kali membuahinya, tak sanggup melakukan tugas utamanya. Kami belum siap untuk punya bayi lagi dalam waktu dekat ini sebab Salwa masih sangat kecil. Masih perlu banyak perhatian mamanya.

“Uhhmm… Mm… Ahh… Papa hot kali… Semangat 45 keknya… Kek biasa, sih sebenarnya… Tapi lebih hot… Gimana, sih? He hehehe…” gelaknya sambil mengecup-ngecup bibirku. Aku meremas-remas bokong semok sekalnya, merasakan kulit halusnya yang agak lembab.

“Ahh… Karena mama juga hot kali… Kek pengantin baru ya kita?”

“Iyaahh… I love you, papa…” kecupnya lagi agak lama.

“Hmm…”

“Jawab…”

“Love you too…”

***

Ia benar-benar kelelahan. Tak lama ia terlelap membiarkan sisa-sisa pergulatan kami begitu aja tanpa bersih-bersih dulu. Ia hanya memakai kembali pakaiannya dan hilang melayang ke alam mimpi.

Aku keluar kamar karena gak mau membuat kegaduhan dalam menjawab panggilan telepon ini. Ini nomernya abah Hasan. Mungkin ia sudah dekat dan ingin memastikan alamatku. Selama beberapa hari ini abah Hasan menginap di salah satu rumah kerabatnya di Aceh yang dijadikan tempat menampung keempat inong itu.

Ia diberi pinjaman kendaraan ini berikut supirnya untuk mengantar mereka ke Medan. Aku hanya tau kerabat itu adalah keluarga salah satu dari sekian banyak istrinya.

“Halo, bah… Salamlekom…”

“Ah-ya, Seng… Wa alaikum salam… Udah dekat nih kami… Blok YY nomor berapa rumahmu tadi…556?” katanya di sana.

“Iya, bah… 556… Bentar awak keluar dulu…” cepat-cepat aku bergegas keluar rumah dan dari balkon aku melihat sebuah mobil berhenti yang lampu headlamp-nya masih menyala.

Itu kemungkinan mobil abah Hasan dan keempat inong itu. Aku segera mendekati mobil itu. Ternyata benar itu mobilnya abah Hasan, terlihat ia duduk di depan di kursi penumpang, disopiri seorang pria yang tak kukenal. “Abah…” sapaku setelah cukup dekat.

“Ini rumah barumu, Seng?” tanya abah Hasan sambil memperhatikan rumahku yang pastinya kelihatan mentereng sekali di antara rumah-rumah mahal lainnya karena arsitekturnya yang memang mewah.

“Rumah sementara aja, bah… Rumah awak yang di Mabar sedang direnovasi… jadinya kami ngungsi dulu di sini…” jawabku malu-malu mengakuinya.

“Ah iyalah… Ini mau dibawa kemana mereka berempat? Di sini atau tempat lain?” tanya abah melirik ke belakang.

Ke arah empat perempuan muda yang sekarang penampilannya lebih mendingan dari terakhir kali bertemu. Abah Hasan membersihkan dan memberi mereka pakaian yang layak.

“Tempatnya agak di depan lagi, bah… Ada beberapa rumah lagi… Biar awak tunjukkan arahnya…” kataku lalu membuka pintu belakang dan langsung bertemu Cut Masita dan Cut Cahya yang duduk di barisan tengah. Cut Riska dan Cut Intan di barisan belakang mobil SUV ini.

“Hai semua…” sapaku sebelum benar-benar memasuki mobil. Wajah-wajah yang terlihat cerah walo sudah menempuh perjalanan jauh sebelum sampe kemari.

“Bang Aseng…” panggil mereka hampir serentak.

Dua yang ada di barisan tengah agak bergeser untuk memberiku duduk. Keempatnya tersenyum lebar melihat aku yang muncul lagi di hadapan mereka semua. Aku duduk di samping Cut Cahya yang langsung memepetkan tubuhnya padaku dan disusul yang lain.

“E-eh? Jangan… Di depan, pak… Rumahnya di depan lagi…” aku langsung ingat kalo kami harus menuju rumah Vivi.

Sang supir tau instruksiku dan menjalankan SUV ini lagi perlahan saja. Aku membiarkan mereka semua meluapkan semua rasa rindu yang mungkin ada dibalik lirikan jengah sang supir dan senyum simpul abah Hasan.

“Ini rumahnya…” tunjukku pada rumah Vivi yang gerbangnya terbuka. Mobil Vivi bahkan masih diparkir di luar.

Sang supir inisiatif memasukkan mobilnya ke dalam halaman rumah dan tak lama para penghuni rumah keluar mendengar deru mesin mobil yang parkir di depan rumah. Vivi dan si Benget yang muncul keluar.

Mereka sepertinya sudah menunggu-nunggu dari tadi kedatangan tamu yang datang malam ini setelah beres-beres rumah. Walo terlihat lelah, tetapi Vivi masih bersemangat.

“Ayo turun semuanya…” kataku pada keempat inong itu setelah abah Hasan terlihat turun terlebih dahulu dan langsung mendatangi Vivi dan Benget yang masih menunggu di depan pintu untuk menyambut mereka. Mereka berempat masih kikuk berada di tempat seperti ini dan kelihatan tidak terbiasa dengan perubahan drastis dalam hidup mereka.

“Mana anak-anaknya, bang?” mata Vivi mencari-cari akan keempat anak yang akan menjadi asuhannya mulai malam ini.

Ia sudah berkenalan dengan abah Hasan. Wajah abah agak berubah mendengar pertanyaan Vivi barusan. Vivi segera mendapati malah empat perempuan muda bertubuh seukuran dirinya yang tak mungkin disebut anak-anak lagi. Ia masih berusaha mencari kalo-kalo empat anak itu ngumpet di belakang keempat perempuan sepantaran dirinya itu.

“Ini mereka semua, Vi… Ini Cut Masita… Ini Cut Cahya… Ini Cut Riska dan yang ini Cut Intan… Mereka yang kumaksudkan, Vi… Mereka anak-anak itu…” kataku terus terang. Berkerut-kerut kening Vivi mendengar penjelasanku. Pasti ia bingung sekali mendapati kalo anak-anak yang kubicarakan itu sekarang sudah sedemikian besar.

“Ah… Gimana, sih Vivi~~… Ayo masuk-masuk semuanya… Ini udah hampir tengah malam-loh… Masuk, pak…” Benget mengambil alih semua perhatian dan mempersilahkan kami semua masuk ke dalam rumah.

Aku berjalan paling belakang dan Vivi menungguku sampe aku mendekat padanya. Ia langsung menarik tanganku dan menyeret ke bagian samping rumah yang gelap.

“Ini gimana ceritanya sih, bang Aseng? Katanya anak-anak… ini kok udah pada besar semua… Itu gak mungkin anak-anak lagi-lah, bang… Dah pada berjembut semua tuh pasti!” sengit Vivi yang kecewa apa yang dibenaknya tak sesuai dengan kenyataan.

“Maaf ya, Vi… Bukannya awak bermaksud mau menjebak Vivi… Tapi mereka memang diculik dan disekap Wewe Gombel itu waktu masih anak-anak… Bertahun-tahun mereka disekap di dalam hutan… di dalam gua bawah tanah… Bayangkan horor yang mereka alami selama belasan tahun di sekapan harus bertemu hantu itu tiap hari dan mendapat berbagai siksaan fisik dan mental… Sebagian dari mereka bahkan diperkosa untuk ritual sesat… Keadaan mental mereka saat ini itu masih anak-anak, Vi… Masih sangat terluka… Vivi liat bagaimana pembawaan mereka tadi?… Masih seperti orang-orang yang kebingungan, kan?… Masih tersesat dan ketakutan… Mereka masih sulit percaya pada orang lain…” kataku.

Air muka Vivi masih sengit dengan emosi. Ia merasa kubohongi pastinya. Nafasnya turun naik karena emosi yang sempat memuncak tadi. Kuharap ia mau mendengar penjelasanku barusan. Ia tak mau menatapku lagi. Pandangannya ke arah pintu dimana keempat inong itu telah masuk, memasuki rumahnya.

“Huufff…” Vivi menghembuskan nafas panjang walo wajahnya masih kesal. Ini menunjuk-nunjuk ke arahku tapi suaranya tak kunjung keluar.

“Bener-bener ya abang Aseng… Vivi terpaksa harus membagi pakaian milik Vivi dulu untuk sementara…” katanya menghentakkan kakinya.

“Heeerrhhh!!!” ia geram seakan ingin meremas mukaku dengan jari-jarinya. Tangannya memang udah diarahkan ke mukaku, tinggal hap!

Lah? Kok pakaian?

“Vivi tuh dah beli-beli pakaian anak-anak cewe umur 10 tahunan, bang! Trus untuk apa semua pakaian itu?! Bla bla bla bla…” Vivi mulai merepet kek lagi nge-rap membahas tentang hal-hal random mengenai pakaian anak-anak yang sudah disiapkannya untuk anak-anak baru yang akan menghuni rumahnya.

Aku terbengong gak nyangka. Aku kirain ia bakalan marah karena aku sudah membohongi dirinya perihal umur anak-anak ini. Sudah menjebak kebaikan dirinya tentang anak-anak yatim piatu malah dapatnya manusia dewasa yang tampilannya jauh dari kata anak-anak yang manis.

Tapi sebuah rangkulan sederhana dariku mampu membungkam semua repetan bak brondongan senjata mesin itu. Ia diam klekep dan hanya bisa balas memeluk pinggangku. Kepalanya tenggelam di dadaku saat kurangkul.

“Makasih ya, Vi… Mau menampung mereka… Awak terima kasih banyak-banyak… Mereka juga pasti akan sangat berterima kasih sekali sama Vivi…” kuelus-elus rambutnya dan kukecup ubun-ubunnya.

“Bang Aseng curang… Vivi kan tadi mau marah~~… Jadi gak marah lagi jadinya… Hu-uh…” malah digigitinya daging dadaku berlapis pakaian yang kukenakan. Aku hanya nerima sambil meringis.

“Beneran itu mereka yang sudah disekap lama sama Wewe Gombel di tengah hutan?” tanyanya sedikit mendongak. Hanya matanya yang kelihatan dari benaman mukanya di dadaku.

“Mereka sudah sangat lama disekap… Mereka ingatnya sudah kelas IV SD saat diculik dulu… Itu kira-kira umur 10-an tahun… Sekarang ini mereka yaa… 22-23-an tahun gitu, kan? Sepantaran Vivi-la umurnya… Tapi karena gak pernah tau dunia luar selama itu… mereka gak tau apa-apa sekarang ini… Itu berarti mereka itu pemahamannya masih kanak-kanak, kan? Waktu pertama ketemu mereka itu masih pake baju terakhir yang mereka pake… Jadi kebayang baju anak-anak sempit lusuh yang udah lapuk…” kataku trus berusaha memberinya pengertian akan masalah yang sedang menimpa keempat perempuan muda itu.

“Iya-iya… Udah-ah… Yuk masuk… Mereka pastinya lelah…” kata Vivi mengakhiri sesi marahnya tak berkepanjangan.

Padahal alasan marahnya aja udah lucu. Random kali marahnya gara-gara baju yang salah ukuran dan ujungnya harus meminjamkan baju miliknya nanti. Ia kembali menyeretku balik ke arah pintu lalu mendorongku masuk.

Yang pertama kali terlihat adalah posisi duduk keempat inong itu di sofa. Duduk rapat-rapat satu sama lain dengan kakunya. Mereka sedang ditanya-tanyain sama si Benget.

“Mukakmu biasa aja-la, Bens… Takot orang ni liat mukakmu, tau kau?” sapaku pada pria kekar gemulai itu.

“Kek mo kau makan orang ni kutengok…” aku duduk tak jauh dari abah Hasan yang ngantuk-ngantuk mengelus perut buncitnya.

“Eh… He hehe… Cut-Cut semua capek-kah? Yang ini yang mukaknya ke carmod kurang modal ini namanya Benget… Panggilannya Benssss…” kataku mengenalkan si pria gemulai itu dengan ujung lidah sedikit menjulur.

“Mampos kali awak dibilang carmod (cari modal, botot, pemulung, tukang rongsok), bang Aseng… Gak sekalian awak abang bilang tukang gali kubur aja… Tega kali si abang ini… Sungguh tega dirimu teganya teganya teganya teganyaaa…” balas si Benget melawak yang berhasil membuat keempat inong itu tersenyum simpul walo tak sampe menjadi tawa.

“Sukak atimu… Nah itu si Benget… Yang ini yang punya rumah… Namanya Vivi… Udah salam klen?” kataku beralih ke si empunya rumah. Berbondong-bondong Cut Cahya, Cut Masita, Cut Riska dan Cut Intan mendatangi Vivi dan bersalaman sampe tahap salim.

“Eh… Eh… Kok?” kaget-kaget Vivi tangannya diciumi keempat perempuan cantik yang dipakaikan jilbab sederhana oleh kerabat abah Hasan yang sempat menampung mereka beberapa hari ini. Habis salim dengan Vivi mereka balik ke tempat mereka lagi buru-buru.

“Nama saya Vivi… Tolong dikenalkan ulang dong nama-namanya?… Saya agak bingung yang mana Cut Cahya yang mana Cut siapa tadi?” pinta Vivi minta dikenalkan ulang secara semi resmi.

Mimik muka Vivi memang agak bingung awalnya tapi ia segera menguasai diri setelah mulai paham situasi seperti yang sudah kujelaskan sebelumnya.

“Tolong perkenalkan lagi nama-nama kalian… Agak susah menghapal sekalian banyak nama…” kata abah Hasan mengerti masalah yang dihadapi sang tuan rumah ini.

Cut Cahya yang duduk paling kanan memperkenalkan ulang namanya. Vivi mengulang-ulang namanya. Lalu giliran Cut Masita yang juga diulang-ulang Vivi sambil menghapalkan wajah pemilik nama itu. Kemudian Cut Riska, Vivi mengulang dari awal agar tidak terbalik-balik dan diakhiri dengan perkenalan Cut Intan.

“Mm… Yang ini Cahya… Masita… Riska dan Intan… Ya-ya… Hanya tinggal ditambahi Cut aja, ya?” kata Vivi terus mengulang-ulang agar lebih familiar dengan nama keempat perempuan itu.

“Ini rumah saya dan Benget… Harusnya ada satu lagi… Namanya Nirmala… Hanya saja Nirmala ini masih bayi… Masih ketinggalan di rumah bang Aseng bareng sama baby sitter-nya… Aa… pengasuhnya… gitu… He hehehe…” ternyata gugup juga Vivi menghadapi situasi kek gini.

Menjadi asisten dosen yang sudah biasa berhadapan dengan orang banyak tak membuatnya jadi lebih luwes ternyata.

“Mulai sekarang kalian tinggal bersama dengan kami di rumah ini…” Vivi malah banyak memakai gerakan tangan. Apa dianggapnya mereka ini gak bisa dengar kali, ya?

“Anggap ini sebagai rumah kalian sekarang… Saya akan berusaha sebaik mungkin membantu kalian agar bisa belajar… Mengejar ketertinggalan kalian selama ini…” kata Vivi.

“Memberikan mereka TV untuk belajar itu tidak baik… Memang banyak yang bisa dipelajari dari TV, Seng… Tapi nanti mereka malah kecanduan TV lagi…” kata abah Hasan menyadap ide yang tiba-tiba berdenting di kepalaku bak sebuah lampu pijar yang menyala.

“Suruh aja mereka melakukan pekerjaan rumah… Diberi tanggung jawab membersihkan rumah… halaman, menyapu, ngepel, nyuci piring… Semacam itu…”

“Tapi mereka bukan ART, pak Hasan…” sanggah Vivi kurang setuju.

“Hanya memberi mereka karakter saja… Pendidikan mereka bisa dimulai dari pembentukan karakter… Itu tidak terasah selama ini… Yang ada di diri mereka sekarang ini hanyalah bertahan hidup sebaik-baiknya… Mereka bisa mulai belajar dengan tugas-tugas dasar rumah tangga… Pelan-pelan Vivi bisa mengajari mereka hal lain… Tentang akademis mungkin… Mereka ini putus sekolah yang bahkan tak tamat SD…”

“Vivi ini asisten dosen di kampus awak, abah Hasan… Pasti bisa sih si Vivi-nya…” sambungku tentang masalah akademis.

“Nah… bagus itu… Pilihanmu memang tepat, Seng… Saya juga mau mengucapkan terima kasih untuk nak Vivi yang telah mau menerima mereka berempat ini… Ini bukan pekerjaan mudah… tapi nak Vivi bisa minta bantuan juga sama si Aseng… kalo-kalo Vivi kerepotan masalah tenaga atau keuangan misalnya… Mereka berempat ini masih tanggung jawab dia juga sebenarnya…” beber abah Hasan.

“Siap, bah…” jawab kami berbarengan kompak.

Cut Intan sepertinya kasak-kusuk dengan temannya saling bisik.

“Cut Intan mau nanya apa?” silahku baginya untuk menyampaikan uneg-unegnya.

Ia terlihat ragu walo sudah diberi kesempatan. Cut Intan adalah satu-satunya dari mereka berempat yang masih perawan alias belum sempat kuapa-apain waktu di dalam penyekapan Nenek Te-tek. Entah bagaimana nanti reaksi Vivi saat mendengar penuturan mereka tentang hubunganku dengan keempatnya saat di hutan saat itu?

“Bu… ibu Vivi-”

“Jangan panggil ibu-lah… Panggil Vivi aja… Seumuran kita… Vivi aja…” potong Vivi yang merasa jengah disebut ibu-ibu oleh perempuan sebaya dengannya.

“Vivi istri bang Bensss… atau bang Aseng?” tanya jujur tapi lugu Cut Intan yang sebenarnya cukup pantas menjadi pertanyaan.

Tentu mereka bertanya-tanya hubungan kami bertiga ini bagaimana. Vivi dan Benget yang rada-rada tinggal serumah bahkan ada bayi bernama Nirmala tetapi sedang ada di rumahku, yang jaraknya tak jauh.

Tapi kenapa malah menerima permintaanku untuk menampung mereka untuk tinggal di rumah ini. Hubungan seperti itu yang tentu membuat Cut Intan bingung. Teman-temannya yang lain juga ikut mengangguk-angguk, setuju ingin tau jawaban pertanyaan mengganjal ini. Abah Hasan di lain pihak hanya tersenyum simpul karena sudah bisa membaca jawabannya, ruwet hubungan kami.

“Aa… Aa…” bingung Vivi untuk menjawabnya.

Apa statusnya saat ini? Ia merasa tak perlu menjelaskannya pada siapapun bahkan pada Sri, sang baby sitter bayi adopsinya yang tinggal sehari-hari di rumah ini. Ia juga tak perlu menjelaskannya pada jiran tetangga bagaimana seorang perempuan bisa tiba-tiba punya bayi tanpa proses hamil apalagi entah kapan menikahnya. Tapi dihadapan pertanyaan salah satu dari empat perempuan lugu yang hendak dilindunginya, ia bergeming.

“Vivi bukan istri siapa-siapa… Pak Hasan… Si Bens ini bukan suami saya… Dia cuma teman karib saya… Kami juga bukan kumpul kebo di sini… Mengenai bayi bernama Nirmala yang sekarang ada di rumah bang Aseng itu juga bukan bayi kandung saya… Ia saya adopsi dari keluarganya yang tak sanggup membesarkannya… Saya rasa punya anak tanpa menikah itu bukan masalah… selama saya bisa memberinya semua kebutuhan yang ia perlukan… Bukan hanya materi… Saya juga tentunya mencurahkan semua kasih sayang padanya…” papar Vivi.

Abah Hasan tak perlu diberitau, dia sudah tau duluan. Yang jadi masalah apakah keempat Cut itu paham penjelasan Vivi barusan karena pikiran mereka masih sangat sederhana dan kekanakan sehingga hal pertama yang mereka kepoin adalah status pernikahan induk semang mereka.

Keempatnya kasak kusuk lagi saling bersikutan membahas jawaban Vivi barusan dengan berbisik. Mereka lalu berganti-gantian menanyakan beberapa hal lain yang terlintas di benak lalu menumpahkannya. Vivi dengan sabar mencoba menjawab sebaik-baiknya.

Benget kadang juga membantu menjawab dari sisinya. Setidaknya dengan demikian mereka bisa lebih dekat dan mengakrabkan diri. Apalagi kalo sampe mereka berempat menceritakan dengan detail apa yang terjadi di sekapan di gua bawah tanah di tengah rimba gunung Leuser itu. Apakah akan terjadi guncangan?

Aku memberitahu Vivi dan juga Benget kalo keempat Cut ini kemampuan berbahasa Indonesia-nya masih kurang. Masih sering bercampur dengan bahasa Aceh yang pasti akan membingungkan keduanya sehingga kalo berbicara sebaiknya pelan-pelan aja agar mereka paham.

Vivi mulai untuk berkomunikasi sedikit-sedikit dengan mereka tapi karena ini sudah tengah malam akhirnya ia mempersilahkan mereka untuk istirahat saja di kamar yang sudah susah payah mereka persiapkan seharian ini. Lain halnya dengan abah Hasan dan supirnya aku persilahkan menginap di rumahku saja.

Kedatangan abah Hasan tidak kuberitahu pada istriku yang masih tertidur lelap. Aku hanya memberitahu pada ART agar menyiapkan kamar tamu untuk tidur abah Hasan dan supirnya. Kami lalu berpisah untuk sama-sama istirahat.

Pagi-pagi saat istriku bangun baru kuberitahu kalo ada abah Hasan yang berkunjung. Tentu istriku kenal betul dengan abah Hasan yang sudah kami anggap sebagai orang tua sendiri. Sarapan dan ngobrol di pagi ini.

Abah Hasan sama sekali tidak menyinggung masalah keempat perempuan muda yang sudah diantarkannya ke rumah Vivi. Ia mengatakan hanya ada sedikit urusan di Medan dan berterimakasih sudah diperkenankan menginap di sini. Rencananya ia akan langsung balik lagi ke kotanya setelah diantar sang supir ke bandara.

Aku minta maaf padanya karena hari ini adalah hari aku sudah kembali bekerja dan tak bisa ikut mengantarnya ke bandara.

“Antum itu… Kayak sama siapa aja… Istri dan anak-anakmu kan bisa menemani abah sebelum berangkat… Antum berangkat aja kerja… Awas terlambat…” katanya meneduhkan.

Aku salim tangannya untuk pamit dan berangkat kerja. Kerjaaa… Pasti banyak kerjaanku yang menumpuk setelah ditinggal beberapa hari ini.

***

Sudah dua minggu ini kehidupanku berjalan normal-normal aja. Lancar-lancar aja. Tak ada gangguan supranatural apapun yang mengusikku ato orang-orang di sekitarku. Keempat inong yang tinggal di rumah Vivi kabarnya cukup kerasan berada di bawah naungan Vivi yang bisa mendidik dan merawat anak-anak bertubuh dewasa itu.

Kegiatan mereka sehari-hari tentu saja masih diseputaran rumah Vivi saja. Keempatnya diberi tugas yang berbeda dalam mengurus rumah. Cut Intan yang diberi tugas untuk membersihkan lantai dasar rumah. Itu tentunya menyapu, ngepel dan bersih-bersih perabot. Cut Cahya untuk yang lantai dua.

Berikutnya adalah Cut Riska untuk mengurus pakaian; mencuci dan setrika seluruh pakaian penghuni rumah tentunya. Dan yang terakhir, Cut Masita diberi tanggung jawab untuk memasak dan urusan dapur.

Vivi sudah mulai menghadapi trauma yang berujung phobia pada api dirinya hingga di rumah ini mulai memiliki kompor walo masih berupa kompor listrik, pemasak air listrik, microwave. Itu sudah termasuk lompatan kemajuan karena sebelumnya benda-benda itu tak pernah ada di rumah ini.

Dalam urusan dapur Cut Masita dan Vivi kadang-kadang bekerja sama. Tentunya diawasi si Benget yang ternyata lebih piawai dalam urusan dapur. Berbagai macam menu coba-coba udah mereka buat yang hasilnya tentu aja dimakan mereka sendiri. Sejauh ini belum ada yang diare karenanya yang artinya lumayan-lah.

“Lumayan…” komentarku merasakan sesendok nasi goreng dingin yang tersisa di piring Vivi.

Ia memaksaku mencicipi masakan kolaborasinya dengan Cut Masita untuk menyiapkan sarapan ini. Aku singgah sebentar ke rumah Vivi sebelum berangkat kerja. Maksudnya hanya melihat bagaimana kabar mereka setelah beberapa hari ini.

“Vivi ambilin untuk bang Aseng, ya?” ia berseri-seri mendengar komentarku yang tak menjelekkan makanannya.

“Gak usah, Vi… Awak udah sarapan tadi… Ini cuma sebentar aja…” tolakku dengan cara mencegahnya pergi mengambil masakannya itu.

“Huu… Bang Aseng gak seru… Cobain makanan Vivi, dong? Dikit aja… Ya?” desaknya mencoba melepaskan tangannya yang kutahan. Ditarik-tariknya tangannya dengan paksa agar lepas. “Lepasin, bang…”

“Gak usah-la, Vivi… Awak pigi aja-la kalo gitu…” ancamku dengan pergi lebih cepat dari harusnya.

“Eh… Main ngancam…” ia mengendurkan tarikan tangannya.

“OK…” ia duduk kembali ke hadapan piring sarapan kosongnya.

“Tapi nanti malam harus petting…” ia menyipitkan matanya dengan senyum licik. Tawar menawarnya lebih pro dan semua lebih menguntungkan buatnya.

“Kok jadi petting?”

“Perjanjian satu pasal kita… Petting…” ia mengingatkanku dengan mengacungkan satu jari telunjuknya akan perjanjian satu pasal kami kalo aku boleh menitipkan keempat inong itu di pengawasannya dengan ganti kami akan sering-sering melakukan petting. Sejauh ini kami baru satu kali melakukannya dan sekarang ia menagihnya lagi. Kami terdiam untuk beberapa saat.

“Apa itu petting?” sekonyong-konyong si Cut Masita muncul dan kepo nanya arti petting.

Tentu aja kami berdua jadi gelagapan di meja makan ini. Dari tadi kami hanya berdua aja di sini karena mereka sudah selesai sarapan duluan dan langsung mengerjakan bagian tugas masing-masing. Cut Masita yang bertugas di dapur dapat dengan mudah sampe kemari.

“Aa… Itu.. Apa, ya?” bingung Vivi malah melempar tanggung jawab padaku.

“Penting maksudnya… Bahasa apa itu petting…” asal aja aku berbunyi walo gak terlalu nyambung. Vivi mendelik-delikkan mata belonya padaku.

“Orang tadi Masita dengar petting, kok… bukan penting… Nanti malam harus petting… Gitu tadi yang Masita dengar dari dapur…” ulang Cut Masita apa yang sudah didengarnya makanya ia sangat kepo akan arti petting. Mata Vivi makin mendelik padaku.

“Nanti malam bang Aseng harus kuliah… Makanya penting…” jelas Vivi lalu mencubit tanganku sampe aku meringis.

“Tadi Masita dengar petting… bukan penting…” gerutunya.

“Eh… Udah jam segini… Awak berangkat kerja dulu… Takut telat…” aku buru-buru beranjak dari dudukku dan kubalikkan posisi kursi ke bawah meja kembali. Cut Masita mendekat dan bermaksud salim padaku, kebiasaannya kalo ketemu diriku. Ah… Manis sekali dirimu.

“Vivi gak ikut salim?” tawarku karena ia tak kunjung bangkit dari duduknya. Ia hanya menggeleng.

“Nanti malam kuliah… Penting!” sergahnya pura-pura cuek. Padahal melontarkan kalimat terenkripsi penuh arti.

Di depan aku bertemu Cut Intan dan ia menyalim tanganku juga. Ia tersenyum lebar melambaikan tangan saat aku menjalankan mobil meninggalkan rumah Vivi. Aku lupa nanya pada Vivi mau petting dimana? Di hotel ato di rumahnya aja.

Tapi di rumah gak mungkin, ada begitu banyak orang di sana. Ada keempat inong itu, ada baby sitter pengasuh Nirmala. Si Benget biasanya pulang tak menentu. Kalo kerjaannya banyak ia bisa pulang sampe tengah malam. Kalo senggang sore biasanya sudah sampe rumah.

Dua minggu dalam masa tenang begini, hari-hariku biasanya biasanya kulalui dengan biasa aja. Kuliah malam sehabis kerja. Sehabis kuliah lalu melaksanakan janji temu, kalo tidak dengan Mayumi-chan ya dengan pasutri Julio dan Amei. Terkadang di hotel, terkadang juga di rumah mereka dengan terlebih dulu makan ato sekedar nongkrong.

Memang sebenarnya nanti malam jadwalku kebetulan kosong yang harusnya bertemu dengan pasangan Julio dan Amei, mereka membatalkan pertemuan kami setelah pertemuan threesome terakhir kami beberapa hari lalu karena ada undangan pernikahan mendadak. Undangan kok mendadak.

Tapi dengan demikian aku malah bisa menunaikan perjanjianku dengan Vivi yang dimintanya nanti malam. Mengenai tempat dan waktunya, nanti akan didiskusikan lebih lanjut dengannya.

Bagaimana dengan Farah dan Dea? Apa kabar kedua binor keturunan Arab dan Aceh semok itu. Setelah terakhir sempat threesome FFM dengan keduanya lalu menyambangi kediaman Basri di daerah Padang Bulan dan berakhir dengan terbasminya dua hantu Burong Tujoh; Mutee dan Tabek.

Lalu aku terpisah dengan mereka berdua karena aku dibawa kabur oleh anggota Burong Tujoh ketiga; Nenek Te-tek ke hutan belantara gunung Leuser. Mereka tentunya bingung sekali mendapati aku yang kelelahan, hilang begitu saja dari jok belakang mobil Farah dengan cara misterius.

Setelah semua mereda, aku sempatkan bertemu dengan Farah tanpa Dea karena binor si Fahrul itu terbang ke Kuala Lumpur menyusul suaminya untuk program hamil mereka. Berduaan aja dengan Farah di rumahnya tentu aja berakhir kami bobok bareng memacu birahi.

Binor si Hussein kugagahi beberapa ronde saat itu sampe ia puas kelelahan seperti sesi awal kami memulai ini semua. Aku hanya tinggal menunggu kabar baik saja dari mereka berdua tentang kondisi rahim mereka bentar-bentar lagi. Kalo masih sempat bertemu untuk secelup dua, kuanggap bonus aja.

Yang masih intensif kubina liang kawinnya adalah binor pak Ferdi, Mayumi-chan dan binor si Julio, Amei yang cantik. Bentar-bentar lagi juga aku akan mendapat kabar kehamilan kedua binor itu. Kalo Mayu-chan sampe hamil, itu positif anakku karena pak Ferdi steril akibat vasektominya.

Sedang kalo Amei masih fifty-fifty karena selama threesome bersama pasutri itu, Julio selalu CIM, ngecrot di mulut istrinya aja. Aku malah yang kerap mengisi liang kawinnya dengan sperma kentalku. Entah kalo hanya mereka berdua saja, Julio ngecrot di dalam, who know.

“Kaaak… Udah ya, kak?” panggilku.

Aku sedang berjongkok di samping meja kerjanya. Sedang mengelus-elus perutnya yang lebih besar akhir-akhir ini akibat hamil ini.

“Awak masih banyak kerjaan ni, kak… Masak cuma disuruh ngelus-ngelus perut kakak aja…” kataku bete sekaligus pegel tau. Ini udah hampir 15 menit ini aku begini. Cuma ngelus-ngelus.

“Hhh…” cuma itu jawaban dirinya cuek dan terus bekerja.

Ia sedang mengetik sesuatu di laptop-nya yang pastinya berupa rangkaian laporan ato follow-up rekap laporan dari beberapa bagian. Lalu ia membaca-baca lembaran hasil print yang baru diserahkan Tiwi. Si asisten yang gak tau kerja itu tertawa cekikikan di mejanya melihat aku yang diperlakukan semena-mena begitu. Mau kulempar printer aja rasanya itu binik orang.

O-iya. Waktu itu si Tiwi ini baru aja nikah ya kan, gaes. Ada sempat kusinggung di halaman berapa gitu dia ngasih undangan nikahnya. Kami sempat meledek dia yang baru masuk kembali setelah seminggu liburan bulan madu ceritanya padahal cuma liburan ke Danau Toba aja dua hari, selebihnya cuma kelonan di kamar. Alhasil untuk beberapa hari ia jadi bahan bully sekantor karena jokes pengantin baru silih berganti merundung dirinya. Tak terkecuali aku sendiri.

Sindiran mesum kayak, “Sakit, ya? Kok jalannya agak ngangkang gitu?” semacam itu.

Balik lagi soal si kakak Sandra yang maunya aku di sampingnya, hanya mengelus-ngelus perutnya. Dari berdiri lalu jongkok dan sekarang duduk selonjoran di lantai kek bocah merajuk minta jajan. “Kaak? Kak Sandra…”

“Udah lu diem aja disitu… Perut wa mendingan kalo lu yang ngelus-ngelus… Diam aja disitu…” kata kak Sandra gak perduli dan tetap bekerja seperti biasa. Untung aja ada Tiwi di situ, kalo enggak, udah kuperkosa nih panlok bunting.

“Capek-loh tanganku, kak… Gantian sama Tiwi-laa…” tawarku.

Si Tiwi di sana manyun mulutnya maju. Bawaannya pasti dah mau kabur aja tuh anak takut kena giliran disuruh ngelus-ngelus perut kak Sandra.

“Lagian kerjaan awak masih banyak nih, kak… Laporan bahan baku baru aja masuk tadi… Udah mau digabung sama laporan minggu lalu…”

“Bentar… 15 menit lagi…” katanya setelah melirik jam tangan mungil di pergelangan tangannya dan lanjut kerja lagi.

Benar aja, si Tiwi langsung ngacir keluar ruangan melarikan diri dan kak Sandra membiarkannya kabur karena itu orang memang gak ada fungsinya yang krusial-krusial amat. Aku hanya bisa menunduk dan melaksanakan niat awalku.

Kutarik rok panjang longgar yang mulai rajin dikenakannya akhir-akhir ini, dari bagian bawah dan jariku langsung menemukan gundukan cepet-nya yang masih terbungkus celana dalam. Aku mulai membelai-belai gundukan kemaluannya sekalian tetap mengelus perutnya.

“Seeng… Wa masih mau kerja-loh ini… Bukan mau ngentot mulu…” katanya tapi tak berusaha mencegah tanganku.

“Seengaknya awak gak bosan duduk gak jelas kek gini terus, kak…”

“Wa gak bisa kerja kalo perut wa mules-mules terus… Ini kan hasil kerjaan lu makanya perut wa mules gini… Tanggung jawab lu buat nenangin perut wa…” katanya berusaha memasukkan logis pikirannya padaku. Hukum sebab akibat.

“Perut wa bisa adem kalo udah lu elus-elus begitu… Cuma tangan lu doang… Wa udah coba beberapa orang… Tangan Tiwi udah, tangan Dani udah… Tangan Amek juga udah… Yang lain-lain juga udah… Tapi cuma tangan lu doang yang ampuh… Karena lu yang buat kali, ya?” katanya.

“Mungkin sih, kak… Tapi sehari-harinya gimana, kak?… Apa kakak udah bahagia?” tanyaku tak lagi membelai kemaluannya, hanya mengelus perutnya.

“Ko Amek masih lebih sering di Singapur, ya?” lanjutku.

Setauku suaminya awal-awal aja senang sekali mengetahui kak Sandra hamil sampe bela-belain datang walo harus transit beberapa kali berganti pesawat dari kota ke kota. Tapi akhir-akhir ini mulai cuek lagi.

“Wa hepi-hepi aja… Wa gak mikirin lagi si Amek itu maunya apa… Pokoknya ia sudah commitment untuk membiayai hidup wa dan anak ini… Konsentrasi wa saat ini cuma dua… kerja buat ngajarin lu orang… sama buat anak dalam perut wa ini… Gak ada yang lainnya…” jawabnya lumayan datar. Obrolan kami terhenti karena pintu terbuka dan kepala Tiwi nongol di sana.

“Ci… udah datang…” ujarnya masih di balik pintu.

“Suruh masuk kemari aja…” sahutnya lalu berusaha membereskan pakaiannya yang agak berantakan karena elusan tanganku. Kepala Tiwi lenyap dari balik pintu untuk menjemput seseorang yang dipersilahkan masuk itu. “Lu berdiri, Seng… Dia udah datang…”

Malas-malasan aku berdiri karena udah terlanjur lama duduk selonjoran disitu. Sudah datang orangnya. Kek mana sih orangnya ini? Dan pintu terbuka sekali lagi dan dua orang masuk. Yang pertama tentu saja si hijaber Tiwi dan satu lagi adalah seorang perempuan yang aduhai semoknya.

Tiwi senyum mesem-mesem melihat mimik mukaku yang hampir ngences ngeliat casing mahluk indah yang sekarang berdiri di depan meja kerja kak Sandra. Tapi cepat-cepat kuperbaiki sikapku. Profesional, bro. Mau ditaruh dimana marwah posisi wakil Factory Manager kalo mukaku mesum kek gitu.

“Ci Sandra…” ia mengulurkan tangannya dan menyalami kak Sandra yang berdiri menyambut cewek uwuw ini.

“Selamat datang di pabrik ini… Udah gede aja ya, you…” sapa kak Sandra ramah.

Mereka sudah saling kenal sebelumnya, beda denganku. Pernah dulu ngeliat cewe ini beberapa kali tapi hanya sepintas lalu.

“Kenalin ini wakil wa… Namanya Nasrul… Tapi panggilannya Aseng… Kenalin, Seng…” ia menyodorkanku padanya.

“Aseng…”

“Lisa…” katanya memperkenalkan dirinya. Tangannya halus dan hangat.

“Jadi saya di bagian apa nih, ci Sandra?” tanya Lisa balik lagi ke kak Sandra.

“Nah… Karena you buta sama sekali tentang bisnis pabrik kita ini… Wa mau you ikut sama yang udah berkarat di hampir semua bidang… Si Aseng ini orangnya… Dia pernah kerja di lapangan jadi bagian buruh pabriknya… Pernah jadi operator mesin… Pernah jadi bagian Quality Control… Bisa jadi pawang ular… Dia juga pinter mijet… Bisa macam-macam dia… He hehehehe… Makanya dia wa angkat jadi wakil wa di Factory Manager ini… Pokoknya dia orang yang bisa diandelin…” kata kak Sandra mendelegasikan tugas tambahan padaku, yaitu untuk memberi training pada cewek uhuy nan bohai ini tentang tugas-tugas yang akan diembannya.

“Hanya saja dia ini masih kuliah… Kuliah malam… Jadi kalo you perlu lembur… you lembur aja untuk menyelesaikan kerjaan you orang…”

Lisa manggut-manggut paham akan tugasnya.

Siapa orang ini? Namanya Lisa Natalia. Itu nama yang tertera di KTP dan paspornya. Nama Tionghoa-nya aku tak tau persis. Tapi yang pasti dia adalah anak ketiga dari pemilik perusahaan ini; pak Asui. Setelah abang dan kakak yang ada di atasnya meninggal dunia, berarti sekarang ia anak tertua.

Ia masih punya adik satu lagi yang masih duduk di bangku sekolah setara SMA di Singapura sana. Selaiknya orang kaya yang punya uang banyak, semua anak-anak pak Asui kuliah di luar negri. Seperti anak pertama yang di Inggris, kedua di Amerika, si Lisa ini kuliah di Australia.

Sebenarnya ia sudah tamat beberapa tahun lalu tetapi tidak kunjung balik ke tanah air karena sudah menikah dan suaminya bekerja di sana. Jadi ia menetap di sana untuk beberapa lama. Entah bagaimana SSI bapaknya sampe ia jadi mau balik lagi ke Indonesia dan bekerja di sini.

“Selamat bekerja ya, Lisa…” kata kak Sandra menuntaskan briefing singkatnya.

“Kamsia, ci…” kata Lisa lalu berlalu dari ruangan kak Sandra karena sekarang mengikutiku.

Meja, kursi dan komputernya sudah disiapkan persis di depanku dalam satu cubicle agar saat ia mulai bekerja hari ini, ia bisa langsung bekerja. Setidaknya kupikir aku bisa mendelegasikan sebagian pekerjaanku yang segunung padanya saat ia sudah bisa mengerti dengan beberapa tugas dan tanggung jawab yang kumiliki.

Kak Sandra spesifik memberitahuku sebelum nih cewek mulai, kalo aku tidak usah memperdulikan status anak bos yang disandangnya karena pak Asui sendiri juga mau ia diperlakukan seperti karyawan-karyawan lainnya. Jadi kalo mau bekerja ya harus sungguh-sungguh bekerja.

Setelah meletakkan tas dan beberapa barang bawaannya, Lisa kubawa keliling kantor dan juga lapangan. Sebenarnya hanya ke balkon tempat kak Sandra biasa memantau langsung keadaan pabrik.

Memperkenalkannya pada beberapa bagian yang pengawasannya langsung di bawahku. Jadi ceritanya Lisa ini jadi wakil dari wakil Factory Manager. Aku gak terlalu ambil pusing sebenarnya dengan skenario yang sudah disiapkan kak Sandra kalo ia berencana menjadikanku sebagai suksesor-nya kelak saat ia resign nanti. Kalo benar bisa terjadi demikian, ya bagus.

Kalo enggak-pun aku gak terlalu ambil pusing. Karena sepertinya skenario itu sudah terbaca oleh pak Asui sebagai pemilik sekaligus komisaris utama perusahaan ini. Ia meng-counter skenario suksesi kak Sandra dengan memasukkan anaknya sendiri. Minimal saat kak Sandra mengambil cuti melahirkan kelak, pak Asui sudah punya kuku yang mencengkram lewat anaknya ini.

Sedekat apapun kak Sandra dengan keluarga pemilik perusahaan ini, se-berprestasi gemilang apapun kak Sandra selama memegang jabatan Factory Manager selama ini yang memang terbukti mampu menaikkan pamor dan keuntungan perusahaan, tetap saja ia seorang karyawan saja di mata para pemilik modal yang kebetulan bersaudara.

Tentunya mereka akan lebih mudah menempatkan para sanak keluarganya untuk menduduki jabatan penting di perusahaan ini walo kurang kredibel sama sekali. Seperti halnya pak Bustami yang sekarang menjadi direktur, hanya direktur boneka yang tak tau menau tentang bisnis manufaktur yang perusahaan ini geluti. Hanya sekedar tanda tangan sana, ACC sini, OK sini dan silahkan situ.

Aku sudah membaca, kelak bila kak Sandra benar resign setelah melahirkan nanti, Lisa inilah yang bakalan menggantikannya. Ini skenario paling logis. Makanya ia dipaksakan masuk dan belajar semaksimal mungkin selama tenggang waktu itu.

Tetapi itu semua tentu saja bukan pekerjaan mudah. Aku saja yang sudah bertahun-tahun berada di bawah kak Sandra masih sangat jauh mengejar ketertinggalanku darinya. Makanya ia memaksaku untuk kuliah lagi. Realistis sih sebenarnya. Aku gak mau ngoyo kali berharap bisa menduduki jabatan Factory Manager itu…

Untuk apa jabatan itu sebenarnya? Mengharapkan gaji yang lebih tinggi daripada yang kudapatkan sekarang di jabatan wakil Factory Manager begini? Uang yang jauh lebih besar kudapatkan dengan mudah dari SPBU milikku.

Walopun aku sebenarnya juga merupakan direktur boneka di sana. Tetapi sebagai pemilik satu-satunya SPBU itu, gelontoran uang keuntungan yang terbesar tentunya mengalir kepada rekening perusahaanku. Belum lagi dari gaji yang kuterima sebagai direktur PT tersebut. Itu kalo besaran gaji yang menjadi patokan.

Trus patokan apa lagi? Bukannya bekerja itu tujuannya mendapatkan gaji tersebut? Benar, itu tujuan paling utamanya dan satu-satunya motif aku bertahan selama ini. Untuk menafkahi anak istriku agar hidup berkecukupan, agar dapat makan layak, agar punya hunian yang layak, agar punya pendidikan yang layak. Pokoknya masa depan yang lebih baik daripada apa yang sudah pernah kukecap.

Jadi intinya, mau nanti jadi Factory Manager ato enggak ato malah tetap begini aja, aku gak terlalu ambil pusing. Pokoknya bekerja aja sebaik mungkin. Kuliah pada waktunya. Bersenang-senang dengan binor bila memungkinkan. Dan membantai iblis kalo ada yang mengganggu. Mau apa lagi yang bisa kulakukan?

“… setelah bahan baku ini diproses selama beberapa waktu itu… bahan-bahan pendukung juga harus ready ditambahkan secara berkala…” ulang Lisa pada beberapa langkah SOP bagian produksi yang kuminta ia ulangi setelah dihapalnya.

Ia ternyata cukup cerdas dan cepat menangkap apa-apa yang sudah kuberitau padanya. Ia lalu mengulangi beberapa bagian lain walopun masih dalam artian umum saja yang berupa kata-kata. Selanjutnya ia harus melihat secara langsung semua proses yang sudah dihapalnya dengan konkrit dan itu artinya ia harus berlama-lama berada di lapangan, bersama karyawan-karyawan pabrik yang bisa dibilang bermacam ragam aromanya.

“Siap?”

“Harus siap…” jawabnya tersenyum kecut dan matanya tinggal segaris.

“Bagus… Ayok!” aku lalu maju ke medan perang dikawal oleh seorang perempuan cantik bahenol yang baru saja mulai kerja di perusahaan ini.

Lisa kubekali dengan helm safety kuning dan juga sepatu safety. Ia memilih sendiri sepatu safety berlapis plat besi yang pas di kakinya. Tak lama kami sudah melenggang di pelataran pabrik ini untuk melakukan tur pengenalan padanya. Jadilah perempuan cantik berkemeja putih lengan panjang, celana panjang hitam di atas mata kaki, memakai helm safety, sepatu safety dan menenteng buku catatan jalan di sampingku.

Aku mengarahkan tur kami dari lini awal produksi, lanjut ke tahap berikutnya dan seterus-seterusnya semua kami arungi. Jadi hulu ke hilir proses produksi kami jalani dengan aku memberi deskripsi singkat tentang nama mesin, spesifikasi umumnya, jumlah operator yang bekerja di sana, berapa kapasitas per jam-nya, setelah proses produksi itu lalu dioper ke bagian mana, apa yang kemudian dilakukan. Hal-hal semacam itu.

Melihat mahluk cantik dan bahenol sekelas Lisa ini tentu saja jadi angin surga bagi pada penghuni pabrik yang didominasi kaum Adam yang selalu kepanasan. Kayak ada manis-manisnya gitu mungkin, ya? Lisa berjalan berpindah-pindah dari satu lokasi ke lokasi lain dengan tekunnya.

Sesekali ia mencatat dengan teliti. Beberapa kali ia juga merekam menggunakan kamera HP-nya. Saat ia tertinggal ketika mencatat dan ia menyusulku aku jadi paham kenapa selalu ada mata-mata jalang yang memperhatikan gerakannya.

“Boink-boink-boink…” gelayut getaran geliat gundukan gunung menjulang di dadanya dengan indahnya berguncang-guncang saat ia berjalan.

Padahal itu semua tidak ia sengaja. Tuhan menganugrahinya sepasang buntelan susu yang ekstra besar tentu saja untuk menyenangkan suaminya, untuk menyusui anak-anaknya. BUKAN UNTUK MATAMU! PAOK!

Para operator muka mesum itu mengacungkan dua jempol mereka padaku, berterima kasih sudah membawakan mereka tontonan gratis di hari sepanas ini. Hari ini memang sangat panas. Atap tinggi bergelombang yang dipasangi ventilator rotary tiap jarak beberapa meter tak sanggup menyejukkan bagian dalam pabrik. Bagi para operator dan aku sendiri, hal itu biasa aja, berpanas-panasan di area pabrik. Tapi tentu tidak bagi Lisa yang sebentar saja sudah bercucuran keringat.

Berkali-kali ia melepas helm safety-nya untuk mengusap peluh yang mengucur dari bagian kepalanya. Helm itu juga digunakannya sebagai kipas bergantian dengan buku catatan yang dibawanya. Tak lama aku tau hal lain yang membuat mata-mata mesum di sekitarku semakin melotot dan meneguk ludah.

Mungkin juga ada kontol-kontol ngaceng di antara pemilik mata melotot dan mulut dower yang ngences bleber melihat cetakan melekat kulit basah oleh keringat di kemeja putih lengan panjang Lisa. Tali strap bra-nya juga jadi terlihat membayang di bahan pakaian yang basah itu saat aku perhatikan bagian belakang punggungnya. Ia bermandikan keringat.

Tentu saja. Ia belum pernah ada di situasi seperti ini sebelumnya. Anak orang kaya mana mungkin main panas-panasan seperti kami rakyat jelata ini. Kulitnya putih bersinar cenderung pucat. Putih bersih berkilau glowing perawatan prima. Kalo terkena mataharipun itu karena disengaja saat berlibur di daerah pantai yang tentunya terproteksi sun-block dan sejenisnya. Ato malah liburannya ke daerah bersalju.

Panas yang bukan main seperti ini membuat keringatnya bercucuran. Apakah ini penyiksaan baginya? Penyiksaan bagi orang kaya yang terbiasa hidup enak dan harus terjun ke realita kerja di lingkungan industri.

He hehehe… Aku gak bermaksud begitu padanya. Gak ada maksud untuk menyiksa mahluk cantik nan rapuh ini sedemikian kejam. Tapi itu yang harus kulakukan sebagai seorang wakil Factory Manager yang ingin berbagi kenikmatan hidup berpeluh-peluh di teriknya area pabrik yang panasnya gak ketulungan.

Apalagi saat ia berbalik. Waduuh! Ngecap erat tuh semua bemper montok lagi masif di bahan basah kain pakaian putihnya. Padahal ia sudah memakai yang terbaik, yang ternyaman, yang paling menyerap keringat.

Tapi masih aja tak mampu melindungi tubuhnya dari… dari mata jelalatanku. Mangkanya itu gunung jadi boink-boink bergelayutan manja. Cup bra yang terlihat membayang karena keadaan basah begini, terlihat sangat tak memadai menampung dua muatan berat. Kecil dan mungil. Tak sebanding ukuran cup-nya dengan beban yang harus disangganya.

Disengajakah masalah pakaian ini? Apakah ia sudah membayangkan hal ini akan terjadi? Seberapa siap ia untuk pergi bekerja? Aku tak akan bisa menyalahkan kalo ini adalah pekerjaan pertama yang pernah ia masuki.

Tentunya ia akan dengan mudah menemukan pekerjaan, ia bisa memilih salah satu dari beberapa bidang usaha yang dimiliki pak Asui. Tetapi ia sampe di sini. Berpanas-panasan, berpeluh-peluhan sampe bagian tubuhnya nyeplak sedemikian indah. Memberi fan-service aduhai bagi mata kaum lelaki mata keranjang sepertiku dan beberapa pasang mata lainnya di sekitarku.

“Duuh… Panas ya, bang…” keluhnya mengipas-ngipas bagian atas dadanya dengan lembaran buku. Ia melebarkan sebelah kerahnya agar angin semilir masuk mendinginkan bagian dalam kemejanya.

“Selalu panas begini, ya?”

“Ya… Tapi bagi yang biasa sih… biasa-biasa aja segini…” kataku curi-curi liat nyeplak bra yang menempel ketat di bagian depan dadanya yang membusung.

Tekukan pinggiran bra cup kecil itu jelas membayang berwarna gelap di balik kemejanya. Ia bolak balik menghapus peluh yang mengucur dari dahi dan lehernya. Tetapi ia tak dapat mengelap yang meluncur turun di sekujur tubuhnya. Air peluh yang basah membayang di sekujur tubuhnya yang montok.

“Gak tau deh apa Lisa bakalan terbiasa dengan panas begini…” ia terus kipas-kipas.

Gak mau terus membuatnya terus menderita, segera kuajak ia kembali ke office. Ngadem. Sepanjang jalan menuju balik ke kantor lagi kami hanya berbincang-bincang ringan berdampingan.

Masih bisa menikmati getar-getar gundukan payudaranya saat ia berjalan. Entah apa ia paham kalo aku bisa melihat guncangan indah itu. Mungkin besok-besok ia akan memakai bra yang lebih memadai dari pada yang dikenakannya hari ini.

“Ci Sandra itu sudah hamil berapa bulan, bang Aseng?” tanyanya tiba-tiba saat kami akan mencapai kantor.

“Sekitar 4 bulan kalo gak salah, Lisa…” jawabku mempersilahkannya naik tangga besi yang menghubungkan tempat ini ke bangunan kantor.

“Lama juga berarti dia hamilnya, ya? Dari Lisa masih sekolah dulu… kuliah, tamat dan akhirnya Lisa married… baru ia hamil…” kata Lisa berbalik sebentar saat menaiki tangga sempit ini. Padahal aku baru mau menikmati megal-megol bokongnya saat menaiki tangga yang harus bergantian dilalui ini.

“Baru ini rezekinya, Lis…” jawabku sekenanya. Ia lanjut menaiki tangga dengan geol pantat aduhainya.

“Berarti Lisa yang baru dua tahun belum ada apa-apanya ya…” lanjutnya saat tiba di balkon tempat biasanya melihat keseluruhan pabrik. Dua tahun belum ada apa-apanya? Belum punya anak juga si Lisa ini?

“Dua tahun?” ulangku.

“Kak Sandra sembilan tahun kalo gak salah…” kataku lagi.

“Kek yang awak bilang tadi… rezekinya baru dapat setelah sembilan tahun berusaha… Mungkin nanti Lisa lebih cepat…” kulewati dia dan menuju pintu yang memasuki bangunan office.

Aku jadi kepikiran, apakah anak ketiga pak Asui ini juga terjerat perangkap siluman monyet yang mengaku dewa itu. Siluman sialan itu sudah mengincar-incar dua anak pak Asui yang tersisa. Apakah ini bagian dari kejahatannya? Padahal aku sudah memusnahkannya sampai tak bersisa.

Duduk berhadapan lagi di cubicle kami, aku memberinya beberapa laporan untuk di-input ke komputer menggunakan contoh data yang sudah ada. Ia tak banyak bertanya karena sudah familiar dengan sistemnya dan tak lama ia sudah tenggelam dalam pekerjaannya, sebagaimana juga aku.

Sesekali ia bertanya tentang beberapa hal minor dan kuberikan beberapa lembaran data yang perlu menjadi referensinya. Ia belajar dengan cepat. Tidak salah orang tuanya menyekolahkannya jauh-jauh sampe ke Australia segala. Pak Asui memang mempersiapkan semua anak-anaknya untuk terjun ke bisnis semua keknya. Apalagi dasarnya ia adalah perempuan yang cerdas.

Tak lama bunyi sirene pemberitahuan jam makan siang berbunyi. Lisa agak gelagapan mendengar suara bising yang mungkin asing di telinganya.

“WIU WIU WIU WIU WIU WIU!”

“Apa itu, bang?” kagetnya. Badannya tegak. Mata bulat yang tidak sipitnya berkerjab-kerjab heran.

“Jam istirahat, Lis… Jam makan siang…” jawabku terus bekerja meng-input beberapa angka yang masih harus masuk ke deretan data ini.

Ini kegiatan rutinku sehari-hari. Banyak memakan waktu tetapi dengan begitu kami bisa melihat progres pergerakan lini produksi.

“Makan siangnya dimana, bang? Bang Aseng makan dimana?” tanyanya sambil memegangi HP miliknya. Ia menerima pesan dan membalasnya dengan cepat.

“Kalo awak sih biasanya makan di sini aja… Nanti ada OB yang nganterin…” jawabku terus menginput data.

“Makan di luar, yuk?” ajaknya tetiba. Aku kontan menghentikan ketukan jariku di tuts keyboard dan memandang wajahnya yang oval proporsional.

“Di luar?”

“Ya di luar…” ulangnya pasti.

“Biar kita lebih akrab lagi, bang Aseng… Kita akan sering-sering bekerja sama-loh…” katanya meyakinkanku.

“Di dekat-dekat sini gak ada makanan yang pantes buat Lisa-loh… Yang ada lumayan jauh… dan kita bisa terlambat baliknya…” kataku memberi alasan agar ia berpikir ulang.

“Ya… yang dekat-dekat aja… Lisa biasa kok makan yang biasa-biasa aja… Bakso… Mie ayam… Nasi goreng… Soto… Gitu… Apa aja… Lisa gak seperti itu-loh, bang Aseng…” katanya membantah kalo makanan itu gak pantas buatnya. Ia enggak orang kaya yang kek gitu.

“Mau, yah? Lisa yang traktir, deh…”

“Ayok-la…” kataku setuju lalu bangkit.

Tapi aku singgah ke pantry dulu biar sang OB yang biasa menyuplai makanan buatku gak bingung aku tidak ada di tempat saat ia mengantar nanti.

Tak lama kami sudah keluar pabrik mengendarai mobil Lisa. Camry itu meluncur mulus keluar dari Kawasan Industri ini menuruti arahanku karena ia buta sama sekali tentang lokasi kuliner di seputaran sini. Ia bersikeras kami mengendarai mobilnya dan ia yang tetap menyetir karena ini semua traktiran dia semua. Aku tinggal ngikut aja. OK… Sepertinya tipe-tipe perempuan yang dominan. Aku menunjukkan ia harus belok kemana untuk menuju lokasi tempat kami bakal makan siang ini.

“Jadi anak bang Aseng ada berapa?” tanyanya saat menunggu pesanan kami di warung yang lumayan rame siang ini.

Tempat ini walo namanya warung tapi bentuknya udah mirip cafe ala-ala gitu. Cukup bersih dan rapi susunannya hingga gak malu-maluin kalo kuperkenalkan pada Lisa yang terbiasa hidup kaya. Siang ini sudah banyak yang makan di warung rasa cafe ini. Kebanyakan adalah para pekerja seperti kami juga.

“Dua… Yang paling besar cowok… Umurnya udah lima tahun… Bentar lagi masuk TK… Yang kedua cewek… Udah setahun lebih umurnya…” saat membicarakan anak-anak bisa selalu membuatku merasakan kebanggaan ini. Aku tak segan membagikan fotonya untuk dilihat Lisa dari HP-ku. Ia dengan antusias menerimanya.

“Ihh… Lucunya… Mirip bang Aseng semua, ya?” katanya scroll kanan-kiri untuk mempelototi anak-anakku yang tersimpan di galery fotoku.

“Ini istri, bang Aseng?” ia menunjukkan layar HP-ku untuk memastikan foto perempuan yang dimaksudkannya. Aku mengangguk, itu memang istriku yang sudah ter-upgrade bodinya.

“Wow… Istri bang Aseng seksi abis… Body goals-nya jadi banget… Ini nge-gym-nya berapa lama, bang?” ia geleng-geleng berdecak kagum akan tampilan orang rumahku yang ada di sana.

Ia pasti mundur ke belakang ke koleksi foto beberapa waktu sebelumnya, sebelum body goals itu terjadi, saat masih berbodi original tanpa permak upgrade. Ia nge-zoom tampilan foto untuk melihat detail berkali-kali.

“Gak tau, Lis… Makan dulu… Keburu dingin…” kataku karena aku mulai menyeruput mie ayam milikku setelah terlebih dahulu menghirup kuahnya yang gurih.

Ia masih mempelototi koleksi foto keluargaku. Tadi awalnya cuma nanya anak-anak, tetapi sekarang ia malah tertarik hanya pada foto-foto istriku.

“Ini Lisa harus kenalan sama istri bang Aseng kalau begini ceritanya… Ini parah abis, bang… Lisa aja tertarik banget ngeliat istri bang Aseng… Gimana kalo abang?… Tiap malam pasti dikelonin ini pastinya…” katanya gak pake direm-rem lagi.

Ia seperti sedang menghadapi teman lama aja sambil membicarakan istriku. Kalo yang ngomong gini tuh sesama pria, udah pasti bonyok mukanya kena bogemku, hidungnya pasti pindah ke belakang kepala kubikin. Tapi ini yang ngomong perempuan juga, yang kalo boleh kunilai sebelas-dua belas-la bodinya.

“Ahh… Ada-ada aja-pun si Lisa ini… Emak-emak anak dua-loh itu…”

“Beneran ini, bang… Nanti kenalin, ya? Lisa pengen dengar tips-tips-nya biar dapat body goals kayak gini… Ini super duper amazing… Wow…” ia bolak-balik mempelototi foto istriku. Foto Rio dan Salwa tak diperdulikannya lagi sama sekali.

“Iya-iya… Itu makan dulu… Nanti abis waktu istirahat kita… Lisa belum makan sama sekali…” kataku menunjuk-nunjuk makanan pesanannya yang belum disentuh secuilpun.

HP-ku diletakkan di samping piring makanannya, gak kunjung dibalikin. Saat layarnya meredup masuk ke penghematan batre, disentuhnya lagi agar kembali terang. Ia makan sambil geser kanan-kiri foto istriku. Banyakan liat fotonya dari pada makan.

“Beneran, yaa?”

“Iyaa…” jawabku setengah hati akan desakannya.

Ada-ada aja si Lisa satu ini. Takutnya si Lisa ini lesbong pulak sampe tertarik pada istriku sudah pada taraf ngebet gitu. Apa-la nanti kata orang rumahku kalo kukenalkan pada Lisa, mendapati perempuan itu sangat tertarik pada dirinya? Istriku tentu aja gak ada bibit-bibit suka sejenis. Yang ada malah nanti istriku yang gilo (geli) begitu tau tingkah Lisa nanti.

“Gimana anaknya?” tanya kak Sandra sore ini.

Sebagian besar penghuni kantor udah pada pulang. Tadi sebelum aku beranjak masuk ke ruangan ini, kulihat Lisa sudah bersiap-siap pulang dengan mengumpulkan barang-barang miliknya. Kak Sandra masih melakukan sesuatu di balik layar laptopnya. Tentunya masih sibuk bekerja. Akhir-akhir ini kesehatannya makin membaik.

“Cepat tangkap sih anaknya, kak… Dia cerdas… pinter… Mudah memahami yang awak jelaskan… Lumayanlah…” jawabku.

“Cantik pastinya… Belum punya anak juga tuh… Bisa-lah lu prospek…” goda kak Sandra.

“Cibay-cibay… Kakak ni-pun… Tah hapa-hapa aja… Anak bos-pun awak disuruh ngembat… Gak cukup apa awak sama kakak sama Dani di sini?” kataku mengingatkannya akan dua skandalku di kantor ini, salah satunya dengan dirinya sendiri.

“Apalagi keknya ni cewek… rada-rada lesbi gitu, kak?” kataku akhirnya memberitahunya hal ini. Aku banyak mendiskusikan hal-hal begini padanya dan ia cukup bisa diandalkan gak ember.

“Lesbi? Gak masuk radar lu kalau gitu, ya?” katanya sedikit antusias dengan menaikkan alisnya sedikit tapi terus mengetik menatap layar.

“Gak kek main lesbi-lesbian kakak sama Dani tapinya… Dia hanya sangat tertarik sama orang rumah awak, kak…” kalimat barusan baru bisa mengalihkan perhatiannya dari layar laptop dan melihat ke arahku yang duduk di hadapannya. Pandangannya lalu beralih ke arah pintu karena ada yang mengetuk dan membukanya. Padahal ia sudah akan mengatakan sesuatu yang urung diucapkannya.

“Bang Aseng? Belum pulang?” tanyanya ketika aku berputar untuk melihat siapa yang masih tertinggal di kantor sore-sore begini selain kami berdua. Untung kami gak melakukan hal yang aneh-aneh, kek ngentot misalnya. Tapi ini kok masih ada orang yang belum pulang? Ternyata Lisa.

“Eh? Kirain dah pulang…” kagetku tentu saja.

“Katanya tadi mau ngenalin Lisa ke istri bang Aseng… Lisa tungguin-loh dari tadi…” katanya masih tetap di ambang pintu tak kunjung masuk. Dia nungguin aku pulang untuk dikenalkan pada istriku. Niat kali nih orang. Ngebet lebih tepatnya.

“Ya, udah lu pulang sana, Seng… Dah sore, nih…” kata kak Sandra malah mengusirku.

Padahal aku biasanya cabut dari pabrik menjelang Maghrib dan kemudian lanjut berangkat kuliah setelahnya. Dengan berat hati aku bangkit. Padahal maksud hati mau berlama-lama ngobrol dengan kak Sandra seperti yang selama ini kulakukan. Kami biasa membicarakan banyak hal dan sore ini harus terputus gara-gara ngebetnya Lisa.

“Ci… Pulang duluan, yaa?” permisinya lalu melambaikan tangannya pada kak Sandra yang dibalasnya dengan anggukan saja karena jari-jari tangannya masih melekat erat pada rangkaian tuts keyboard laptopnya.

Lisa mengekori mobilku untuk bisa tau rumahku ada dimana. Aku mengendarai Pajero ini tak terlalu laju agar aman dibuntuti walopun sebenarnya Lisa cukup mahir mengendarai mobil sedan mahal itu.

Tak lama kami sudah memasuki kompleks perumahan yang kami tinggali untuk sementara menunggu rumah kami di Mabar selesai direnovasi. Camry-nya kusuruh parkir di depan basement aja agar nanti saat pulang mudah untuk keluar lagi.

Perempuan ini walo sudah lelah seharian tampak sangat bersemangat, sumringah bakalan bertemu istriku yang sangat dikaguminya walo hanya memuaskan netranya via tampilan di layar HP saja. Mencari mereka, istri dan kedua anakku sore begini agak sulit karena anak-anak random lokasi bermainnya.

Kadang di tepi kolam, terkadang di salah satu kamar bermain, kadang malah di basement. Tapi tebakan pertamaku tepat mereka ada di kolam renang rendah kegemaran Rio. Batu-batu apung milik Banaspati geni yang sudah dinetralkan sudah beberapa waktu lalu kusingkirkan dengan kapur sirih made in dhewe. Hingga kolam ini sudah bisa diisi air kembali dan Rio bisa bermain lagi.

Salwa sedang disuapin makan oleh sang baby sitter-nya sedang istriku hanya duduk di kursi pantai, mengawasi Rio yang sedang bermain air ketika aku membawa Lisa kehadapannya.

“Assalamu alaikum, ma…” sapaku.

“Waalaikum salam… Udah pulang, pa?” matanya langsung menangkap sosok Lisa yang mengekori keberadaanku.

“Siapa, pa?” tanyanya setelah salim tanganku.

Aku gak langsung menjawab pertanyaannya melainkan beranjak ke arah Salwa yang sedang lari-lari dikejar Tiara untuk disuapi. Kuciumi rambut lebatnya setelah kugendong. Ia menggeliat meronta mau berlari lagi.

“Teman kerja, ma… Katanya mau kenalan sama mama… Pengen tau rahasia body goals-nya keknya…” kataku asal ceplos aja membawa Salwa berkeliling pelataran kolam renang ini.

“Iya, mbak… Kenalin… nama saya Lisa… Saya sangat mengagumi perempuan seperti mbak ini…” katanya yang tangannya disambut istriku sebaik mungkin dengan menyebut namanya juga.

Jabatan tangan keduanya tak langsung dilepas, ia tetap memegangnya untuk beberapa lama untuk memperhatikan sosok tubuh istriku yang berbungkus pakaian ketat dengan pandangan berbinar-binar seperti melihat hidangan makanan lezat saja layaknya. Sepertinya istriku baru pulang senam ato semacamnya. Kening Tiara aja sampe berkerut-kerut melihat ekspresi wow Lisa memelototi bodi semlohai istriku.

“Maa… Lisa ini anaknya pak Asui yang baru balik dari Australia itu-loh…” kataku memecah kebuntuan komunikasi akibat bengongnya Lisa menikmati lekuk tubuh istriku.

Kalo yang melotot begini laki-laki aku mungkin maklum, tapi abis itu kutempeleng juga. Lah ini yang bengong itu perempuan juga! Apa ada desir-desir tertentu di dadanya? Apa ada pentil yang mengeras? Apa ada kacang itil yang tetiba gatal dan liang kawin yang basah gara-gara ia melihat secara live sosok istriku? Wajah cantik putihnya memang memerah saat ini. Apalagi bagian pipinya. Nafasnya pelan-pelan menjadi berat. Lalu ia beralih padaku seperti memendam sesuatu.

“Lisa kenapa?” tanya istriku heran dengan perubahan perempuan di hadapannya ini. Yang masih memegangi tangannya dengan sedikit remasan.

“Lisa sakit?”

“Bang Aseng… Secepatnya Lisa akan minta cerai pada suamiku yang masih di Australi sana… Dan bang Aseng segera menikahi Lisa setelah itu… Lisa akan convert menjadi muslim bila perlu…”

Pernyataannya barusan tentu aja membuatku dan istri terhenyak kaget. Mulut kami berdua sama-sama menganga lebar. Ternyata Tiara juga sama kagetnya walo cuma kebetulan menguping.

Hanya tiga orang yang tidak menganga kaget di sini, Salwa, Rio dan Lisa sendiri. Ini anak apa udah gila ya? Gak ada angin gak ada hujan mau minta cere sama lakiknya yang gak tau salahnya apa, terus minta dinikahi olehku setelah itu. Lah… Kami ketemunya aja baru hari ini. Dan kenapa aku harus menikahinya?

“Ini ada apa, Lisa? Kok minta awak nikahi?”

“Hanya ini caranya agar Lisa bisa selalu dekat dengan mbak ini…”

Wew weeew!

***

“Bang Aseng… Secepatnya Lisa akan minta cerai pada suamiku yang masih di Australi sana… Dan bang Aseng segera menikahi Lisa setelah itu… Lisa akan convert menjadi muslim bila perlu…”

“Ini ada apa, Lisa? Kok minta awak nikahi?”

“Hanya ini caranya agar Lisa bisa selalu dekat dengan mbak ini…”

“Maksudnya?” tanya istriku.

Sebenarnya pernyataan panlok ini sudah sangat jelas maksudnya. Hanya saja istriku dan aku sendiri juga seperti tak percaya kalo ada orang yang akan mengatakan hal yang se-vivid ini. Lisa sudah jelas-jelas menunjukkan ketertarikannya pada istriku tanpa pura-pura sedikitpun.

“Ya… Hanya dengan cara ini Lisa bisa selalu dekat dengan mbak… dengan menjadi istri bang Aseng Lisa bisa selalu berada di dekat mbak… Lisa suka dengan mbak…” ia mengulanginya dan memberi penekanan kalo ia suka istriku.

Tentu aja mata istriku membelalak lebar. Ia langsung beralih menatapku membagi rasa tak percaya itu.

***

“Tapi kalo suka kan gak harus dengan jalan seperti ini?” kata istriku jelas-jelas bingung kenapa hal seperti ini menimpanya.

Disukai oleh sesama jenis. Kalo disukai lawan jenis ia bisa langsung reaktif. Kami saat ini ngobrol bertiga aja di ruang makan sekalian makan malam. Apalagi agak kurang pantas kalo didengar pihak lain seperti Tiara dan anak-anak.

“Semenjak melihat foto mbak di HP bang Aseng… Lisa langsung suka… Benar-benar suka, mbak… Bukan sekedar suka karena suka yang biasa-biasa itu… Kagum ato apalah itu… Suka untuk lebih dekat… Lebih dari dekat… Intim mungkin…” katanya lugas.

“Sebentar… Lisa suka sejenis? Lesbi?” kataku langsung tembak ke intinya aja. Ini namanya udah penyimpangan. Penyimpangan orientasi seksual. Terserah sih maunya apa. Tapi jangan ke binikku-la.

Ia menatapku untuk beberapa saat. Lalu beralih pada istriku kembali, menatapnya juga untuk beberapa saat.

“Lisa sudah menikah-loh…” Pernyataan itu sama sekali tak menjawab pertanyaanku sebelumnya.

Aku hanya nanya, apakah ia lesbi ato bukan. Itu saja. Tau aku kalo ia sudah menikah. Menikah dengan pria tentunya. Bukan dengan perempuan juga, kan?

“Dan kenapa Lisa malah suka ke istriku? Kenapa dengan mudahnya mau minta cerai ke suamimu hanya karena suka ke istriku?” tanyaku benar-benar tak paham seperti juga istriku yang tak paham jalan pikir perempuan ini.

Ia malah bangkit dari duduknya di seberang kami di meja makan ini. Ia mendekat padaku dan istriku yang duduk berdampingan. Ia meraih masing-masing satu tangan kami dan mengarahkannya ke dadanya. Terasa degub jantungnya yang berdebur kencang.

“Terasa, kan… detak jantung Lisa?… Detaknya cepat… Berdebar-debar terus dari tadi… Lisa tak pernah merasakan ini sebelumnya selama Lisa hidup… Debar-debar yang terasa enak dan nikmat sekali rasanya…”

Aku dan istriku berpandangan. Itu seperti definisi orang yang lagi jatuh cinta.

“Lisa gak pernah merasakan debar-debar begini bahkan pada pacar-pacar Lisa sebelumnya… Bahkan pada saat suamiku melamarku… Kenapa saat Lisa melihat foto mbak… dan bertambah berdebar saat bertemu langsung dengan mbak… Jantung Lisa… Jantung Lisa berdebar-debar begini terus… Rasanya Lisa gak bisa hidup tanpa mbak…” paparnya terus menahan tangan kami berdua di dada kirinya.

Ia menekankan tangan kami ke dadanya agar bisa merasakan debar yang dimaksudkannya. Memang tak bisa dipungkiri. Debar kencang semacam ini tak bisa dipalsukan kecuali pelakunya abis lari-lari ato setidaknya melakukan aktifitas fisik sebelumnya. Hanya saja aku bisa merasakan kenyal sebelah gundukan dada itu saat ini.

“Rasanya Lisa bahagia banget bertemu dengan mbak saat ini… Seneng banget… Lisa seperti menemukan kebahagian yang sudah lama Lisa cari-cari… Ternyata ada di mbak… Ini pertama kalinya, mbak… Tapi Lisa bukan lesbi…” tuntasnya melepas tangan kami berdua, berbalik dan kembali ke kursinya. Ia menunduk dengan mata terpejam.

Istriku tak berkata apa-apa selain memutar bola matanya lalu memberikan kode satu jari tangan miring di depan keningnya, kode orang senget (sableng). Aku setuju dengan pendapatnya tapi kami bisa apa dengan perempuan ini.

Bagaimana dengan jantungnya yang terus berdebar? Akankah ia mendapat masalah kesehatan kalo terus-terusan dalam kondisi itu? Gagal jantung pulak nanti nih orang. Kasus awak jadinya nanti.

“… Lisa kira Lisa bakalan bahagia setelah menikah dengannya… Ternyata hanya kosong… Dia tidak jelek juga sebenarnya… Orangnya lurus-lurus aja hidupnya… Gak neko-neko… Pergi pagi pulang sore… Weekend jalan bersama… Liburan ke tempat-tempat yang menyenangkan… Dan baru ini Lisa tau sebabnya… Lisa tak merasakan debar-debar itu…”

“Jadi dengan menjadi istri bang Aseng… Lisa bisa selalu dekat dengan mbak secara legal… Muslim membolehkan suami memiliki istri lebih dari satu, kan? Biar saya jadi istri kedua… Izinkan saya mendapatkan kebahagiaan itu…” katanya menatap kami berdua penuh harap dikabulkan.

“Hei-hei… Sori, nih Lisa… Kalo kau mau membunuh suamiku bukan begitu caranya… Kau harus lebih dahulu melangkahi mayatku…” kata istriku langsung ngomong lebih terus terang.

Baginya Lisa adalah tak lebih dari seorang pelakor. Apalagi ia tau persis kalo aku bakalan mati kalo kami mengabulkan permintaan gemblung kek gini. Tapi bagi Lisa yang tak tau duduk persoalan mendasarnya, tentu saja ia bingung dikatakan mau membunuh suami perempuan yang disukainya.

Betul juga yang dikatakan istriku, aku baru teringat akan sumpahku itu. Gilak aja aku harus mati gara-gara perempuan miring kek gini ini.

“Udah capek kali aku dengar macam-macam modus pelakor mau ngerebut lakik orang… Tapi baru sekali ini kudengar ada taktik kek gini… Mantap kali acting-mu… Jempol!” ia bahkan salut dan mengacungkan satu jempolnya pada Lisa. Lalu jempol itu dibalik ke bawah.

“Tapi jawabannya tidak…”

“Mbaaak?” melasnya mencondongkan tubuhnya ke arah istriku.

Ia hanya menggeleng.

“Papa dah mau pergi kuliah, kan? Pergi aja dulu… Biar mama aja yang bicara dengannya… Biar dia puas-puasin berdebar-debar itu di dekatku…” Jyaah.

Malah diusirnya pulak aku supaya pergi kuliah aja, meninggalkannya sendiri untuk menyelesaikan masalah yang kubawa ke rumah. Harusnya aku yang membereskan ini karena aku yang membawanya. Tapi dengan gagah berani dan yakin ia mau membereskannya untukku. Aku tau istriku itu orangnya gimana sehingga aku jadi gak sampe hati pada Lisa.

Setelah matanya mendelik-delik beberapa kali meyakinkanku, aku bangkit dan mengepalkan tangan teracung tanpa suara, ‘Semangat!’ padanya untuk menghadapi Lisa yang super ngebet. Aku lalu berangkat pergi untuk mencari kitab suci ke Barat. Ke kampus, ding.

Kuliah malam ini yang begini-gini aja terus gak ada yang sangat-sangat spesial. Hanya Julio sesekali yang memeriahkan suasana dengan kepribadiaannya yang ceria. Apalagi kebanyakan penghuni kelas ini adalah orang-orang dewasa yang sudah bekerja dan berkeluarga.

Jadi bawaannya lebih serius menjalani kesehariannya. Untungnya karena mayoritas penghuni kelas ini adalah pekerja yang tak punya banyak waktu luang, kami sangat minim mendapat tugas.

Kalopun ada, itu dipersiapkan dalam jangka panjang dan diberitahukan jauh-jauh hari ato diberi tengat waktu yang fleksibel. Yaa… Mana harus kerja, urusan rumah tangga, ditambah lagi tugas kuliah.

Vi2: jangan lupa

Aseng: jgn lupa apa?

Vi2: perjanjian kita. awas klo lupa

Alamak! Si Vivi nagih perjanjian tadi pagi ini lagi. Gigih juga tuh anak pengen petting lagi. Menjadikan keempat inong yang ia tampung di rumahnya sebagai alat tawar terbesarnya. Padahal udah kutawari ia uang bulanan sebagai pengganti biaya makanan, pakaian dan apapun yang pastinya tidak sedikit selama mereka dalam pengawasannya.

Aseng: iya ingat loh

Vi2: pulang kuliah langsung kemari ato?

Aseng: liat nnt aj

Vi2: ok c u di rumah

Wah… Harus memuaskan Vivi jadinya malam ini lagi. Inikah harga yang harus kubayarkan demi kemaslahatan keempat inong itu? Aku sama sekali belum cerita apa-apa tentang keempat inong itu pada istriku. Vivi juga gak ada cerita apa-apa sama sekali.

Ia bermain dengan dengan sangat cantik menutupi semuanya. Tapi ia memainkan kartu yang dimilikinya juga dengan sangat cantik. Menggunakan keempat perempuan muda yang sebaya dengan dirinya itu sebagai alat yang membuat diriku jadi sedemikian intimnya dengan gadis perawan itu.

Intim walo hanya sebatas petting yang sangat panas karena pada kesempatan pertama kali kami melakukannya, kami berdua sudah dalam keadaan telanjang bulat di kamar hotel itu. Dan dari chatting kami barusan, Vivi menungguku di rumahnya. Dan itu artinya kami akan melakukan petting ini di kamarnya.

Kalo diingat-ingat, Vivi udah pasrah aja kalo aku menjebol kesuciannya. Ia rela menyerahkan semua tubuhnya padaku sebagaimana yang selalu disampaikannya agar aku mengambil dirinya sebagai kekasih. Kekasih gelap gitu mungkin.

Kalo hanya sekedar teman tidur ato hanya bantuan untuk dihamili tanpa ada embel-embel perasaan yang bermain di dalamnya, aku masih bisa melewati sumpahku pada istriku dengan aman. Sumpahku yang berjanji padanya untuk tak ada yang lain di dalam hatiku, tidak bisa kupenuhi kalo aku menjadikan Vivi sebagai kekasih. Walopun cuma sekedar kekasih gelap seperti yang ia tawarkan.

Kenapa enggak sekedar pacaran aja, pura-pura pacaran-lah katakan. Pura-pura sayang-sayangan dengan Vivi padahal tak punya hati sedikitpun. Bukannya itu lebih baik? Dapat tubuhnya, sumpahku aman, semua senang, semua aman.

Tapi untuk berapa lama? Untuk berapa lama aku bisa tahan dalam kepura-puraan itu? Apa lagi awak ini orangnya gampang sayang. Jiaaah. Mau gara-gara itu aku langsung mati? Itu namanya bodoh kali.

Bodoh mana sama dengan buat sumpah mati begitu?

Itu semua demi, coy… Demi pujaan hati. Bukan apa-apa ya, kan? Tau sendiri awak ini cemana ya, kan? Bejat-bejat kimak kek gini. Tau dia aku ini orangnya kek mana. Cem mana mau meyakinkan dirinya kalo aku bisa bertanggung jawab untuk masa depan kami berdua kalo aku sebejat ini? Apa enggak nanti di tengah jalan kami berdua bubar jalan.

Mana ada perempuan mau ada dalam ketidak pastian semacam itu. Kalo ada itu adalah kebodohan yang hakiki. Dan siapa pulak yang mau sama perempuan bodoh semacam itu?

Sebejat-bejatnya diriku, tentu aja tetap mendambakan keluarga yang sakinah, mawadah warahmah. Tentu menginginkan keluarga yang damai, sejahtera dan aman. Teringat kalimat jargon template yang sering dipakai di kawinan ‘sakinah, mawadah warahmah’ ini aku jadi teringat kata-kata si Kojek waktu kawinannya dulu.

Sangking seringnya bergaul denganku dan Iyon, saat diminta memberi kata-kata sambutan setelah selesai pemberkatan dirinya menikah di gereja HKBP di kampung Porsea sana, ia menggunakan kalimat template ini.

Sontak aku dan Iyon yang nunggu di luar gereja guling-guling mendengar kata-katanya yang terdengar lewat pengeras suara. Katanya, sempat terdengar suara jangkrik di gereja itu setelah ia mengucapkannya. Istrinya juga membenarkan.

Owalah, Jek-Jek. Padahal kata-kata yang konon disadur dari Al Quran itu sebenarnya universal aja karena berdoa semoga kehidupan pernikahan mereka berdua akan damai tentram, cinta kasih atau harapan , dan kasih sayang di dalamnya. Tapi karena gak lazim aja sehingga menjadi aneh. Kojek membela diri karena ia bingung harus ngomong apa lagi.

Balik lagi masalah sumpah mati tadi, dengan aku memberi sumpah yang paripurna begitu kuat, istriku baru bisa menerimaku dengan segala kekuranganku. Apalagi kami sudah saling mengenal cukup lama.

Jadi sudah saling paham karakter masing-masing. Dimana sisi kuat positif dan dimana sisi lemah negatifnya. Dan seterusnya hingga kami menikah dan sampai sekarang…

“Ada siapa aja di rumah?” tanyaku saat ia menyambutku di depan pintu. Vivi hanya memakai daster pendek selutut tak berlengan saat membukakan pintu. Supra X 125-ku kuparkir aja di teras tetapi gerbang pagar rumahnya sudah kugembok biar aman.

“Ada semua di dalam… Cuma si Bens aja yang belum pulang…” jawab Vivi setelah melongok ke dalam.

“Mereka berempat sedang belajar… Sri sedang menjaga Nirmala… Aman, deh…” katanya lalu meraih tanganku dan menyeretku sepanjang jalan menuju kamarnya yang ada di lantai dua rumah kompleks ini. Ada empat kamar di rumah ini, dua di atas dan dua di bawah.

Kamar si Benget dan kamar bayi ada di bawah, kamar Vivi dan keempat inong di atas. Vivi terus menyeretku menaiki tangga dan tak lama sudah masuk ke kamarnya yang langsung dikunci rapat. Senyumnya lebar.

“Kita gak seharusnya melakukan ini, Vi…” kataku setelah menghembuskan nafas yang lebih mirip dengusan.

“Vivi jadi nakal banget ya, bang?” katanya yang berdiri tepat di depanku.

“Bange~~ttt…” sahutku mengikuti gaya bicara si Benget lalu menoyor keningnya dengan seujung jari. Ia gelak terkekeh.

“Ishh… Bang Aseng gak pantes banget ngomong kek gitu…” cetusnya maju semakin mendekat lalu memelukku tepat di pinggang. Ia lalu merapatkan kepalanya di dadaku. Tingginya yang hanya segitu membuatnya malah tambah imut.

“Vivi kangen sama bang Aseng…”

“Ya udah… Vivi peluk awak aja terus kangen-kangenan… Gak usah pake petting-petting segala… Ya?” usulku.

Karena ini sebenarnya kegiatan yang berbahaya. Aku gak bisa menjamin kalo aku bisa tahan lama-lama dari menembus kesucian Vivi. Aku ini hanya pria biasa aja. Pertahananku tidaklah begitu kuat.

Imanku sangat tipis, nafsuku yang lebih besar karena dipunggawai oleh Aseng junior yang selalu mendambakan liang-liang sempit kepunyaan perempuan cantik. Ia tak pernah gagal dalam melaksanakan tugasnya.

“Bang Aseng gak suka petting sama Vivi?” sergahnya.

Ia mencoba memakai senjata para perempuan yang mengkontradiksikan kata-kata. Menggunakan rasa bersalah para lelaki agar mau mengikuti apa mau kaumnya. Membuat para lelaki terjebak. Misalnya kujawab gak suka, ia akan menggunakan tubuhnya sebagai alasan. Iyalah, bodiku gak seksi, aku gak cantik, aku gak memuaskan abang. Kalo kujawab suka, trus kenapa kemarin bang Aseng gak masuk aja dan mengambil kesucianku? Dilema, kan?

“Awak lebih suka dipeluk begini aja…” ini mungkin jawaban yang lebih cerdas kurasa. Mengambil jawaban ketiga yang tak ada di opsi pilihan yang diberikannya. Mulutnya manyun dan jadi cemberut.

“Kalo cuma mau pelukan aja… setidaknya sun di sini, dong?” katanya menunjuk bibirnya yang terlihat lezat dan ranum sekali untuk dikecup. Ia kembali menebar umpan beracunnya. Agar aku terjerat.

“Ayo…”

Aku menunduk dan ia menyambut dengan memejamkan matanya. Dasar anak perawan. Mau aja dikibulin. Aku bukannya mengecup bibirnya, hanya mengecup ubun-ubun kepalanya, lebih tepatnya batas tumbuh rambut di keningnya.

“Cup…”

“I-ihh… bang Aseng, ihh…” ia menggeliatkan tubuhnya di himpitan tubuh kami berdua yang berdiri tegak di dekat pintu kamar ini, sambil menghentak-hentakkan kakinya.

“Vivi minta di bibir bukan di jidat… Ulangi…” sergahnya manyun. Bibir bawahnya lebih maju dan pipinya menggembung imut. Ia tak segan-segan menempelkan gundukan menonjol payudaranya ke perutku.

“Vivi-Vivi… Itu yang awak gak bisa… Ciuman di bibir itu sangat intim bagi awak… Kalo gak ada perjanjian yang membatasi gak akan ada perasaan yang melebihi ini… awak gak berani… Awak gak berani baper…” ia tau lanjutan alasanku ini. Karena itu bisa membunuhku.

“Tapi Vivi mau… Terserah kalo bang Aseng gak baper… tapi Vivi pengen ngerasain dicium lagi… Ingat waktu di hotel itu… Itu first kiss Vivi… Sekarang Vivi mau lagi… Nyuu…” ia menyodorkan bibirnya lagi dengan mata terpejam.

“Dah…” aku menempelkan dua jariku yang baru kutempelkan dari bibirku sendiri ke bibirnya. Mata indahnya langsung membuka dan menyadari kalo hanya jariku yang menempel di bibirnya barusan ia kembali manyun.

“Itu tadi udah-loh…”

“Gak aci (boleh) kayak gitu… Vivi mau kiss langsung gak pake perantara apa-apa… Hu-uh…” protesnya memukul-mukul dadaku gemas.

“Ulangi lagi… Bang Aseng~~!” desaknya manja dan makin mengeratkan pelukannya agar aku gak bisa lari kemana-mana.

“Vivi apa bisa janji gak bakal baper-baperan, gak? Kalo gak bisa janji… awak gak mau…” jawabku gak kalah mendesak.

“Vivi kan maunya jadi pacar bang Aseng… Harus pake perasaan, dong… Biar bang Aseng juga suka sama Vivi…” jawabnya tak sungkan-sungkan lagi menekankan payudaranya ke perutku. Terasa sekali kenyal dadanya di balik daster tanpa lengan ini. Hanya saja ia masih mengenakan bra di dalam sana.

“Kalo Vivi pake perasaan… Baper-baperan… Sori, awak gak mau… Bahaya untuk awak…” sahutku langsung nyerah.

“Abang ini… Kayaknya dari kemarin itu ngehindar terus… Vivi kurang apa sih, bang?” ia makin cemberut.

“Kenapa abang bisa nerima perempuan-perempuan itu?… Bahkan meniduri mereka dengan mudah… Kenapa Vivi tidak? Kenapa abang gak mau nerima Vivi… Vivi rela menyerahkan semuanya untuk abang… Vivi bahkan nerima keempat perempuan simpanan abang itu di rumah ini… Kenapa abang gak bisa ngerti perasaan Vivi, sih?” sekarang malah marah disertai merajuk.

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22