The Baby Maker Part 18

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22

Cerita Sex Dewasa The Baby Maker Part 18 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya :The Baby Maker Part 17

Ku elus rambutnya untuk meredakan amarahnya.

“Vivi yang cantik… Dengar, ya… Tentu awak menghindar… Siapa yang mau mati konyol begitu aja? Vivi gak ada kurangnya… Kelebihannya malah ada banyak… Vivi baik… pintar… cantik… pande masak… Tetapi itu semua bukan untuk awak ini… Awak udah punya kakakmu di sana… Ada Rio… Ada Salwa… Lalu kenapa awak bisa meniduri mereka… binik-binik orang itu… nerima mereka dengan mudah… Ini satu lagi alasannya,… karena awak ini bejat, Vi… Awak menebar benih dimana-mana tanpa harus bertanggung jawab karena mereka punya suami… Vivi dengar sendiri isi perjanjian awak dengan mereka-mereka itu… Juga yang penting lagi… tak ada hubungan yang lebih dari itu semua… Awak dapat enaknya… Mereka dapat anak yang lama mereka dambakan… Hanya saling tolong menolong… Tak ada perasaan yang melewati batas… Tak ada cinta-cintaan di sana… Tak ada sayang-sayangan… Tak ada romantis-romantisan kek orang pacaran…”

“Jadi kalo Vivi mengharapkan awak untuk sayang pada Vivi… cinta pada Vivi… pacaran dengan Vivi… Itu gak bisa awak kabulkan… Karena itu tidak akan mungkin terjadi… Nyawa tuh taruhannya… Tetapi kalo Vivi mau sama dengan perempuan-perempuan bersuami itu… Ayo silahkan… Kita buat perjanjian baru seperti mereka dan terima konsekwensinya… Hubungannya hanya sebatas saling tolong menolong, rahasia terbatas dua pihak dan bila Vivi hamil, Vivi tak bisa mengaitkannya pada awak… Kejam? Begitulah perjanjiannya…” paparku lumayan panjang lebar dengan nada sedatar mungkin yang kubisa tanpa bermaksud membuatnya tersinggung, tanpa emosi berlebih.

“Kalo Vivi minta cium di bibir bisa jamin gak baper… akan awak berikan… Tapi awak ragu Vivi bisa…” lanjutku pendek.

Ia terdiam.

“Bingung, ya?” sentuhku ke dagunya agar pandangan kami bisa bertemu lagi karena dari tadi ia terdiam dan hanya menatap kosong dadaku.

“Awak minta maaf kalo awak udah membuat Vivi sampe baper begini… Apalagi udah meracuni Vivi lewat petting pertama di hotel itu… Sekali Vivi merasakan enaknya hubungan seksual walo hanya petting… Tubuh dan pikiran Vivi pasti akan ingat dan nagih terus kek narkoba… Saat ini perasaan ketagihan itu yang menguasai tubuh dan pikiran Vivi…” kukecup lagi rambutnya, posisi yang sama.

Ia memejamkan matanya erat, meresapi rasa bibirku menyentuh rambutnya.

“Jangan terlalu dipikirin, ya… Dinikmati aja…” bisikku lalu mendorong tubuhnya menurut padaku. Tubuhnya tak melawan saat kurebahkan di atas ranjangnya. Di sini ia biasa tidur sendiri kala beristirahat. Wangi tubuhnya ada di ranjang ini.

“Rileks… Jangan dilawan…” ujarku saat daster yang dikenakannya kuloloskan dari tubuhnya hingga kini ia hanya memakai bra dan celana dalam saja. Pakaian itu kujatuhkan begitu saja di lantai.

Vivi hanya melongo melihat perubahan situasi ini.

“Jangan lupa bernafas… Yak… Begitu… Baguss…” lanjutku lalu membuka kemeja lengan panjang yang kukenakan hingga aku bertelanjang dada, masih bercelana panjang. Kucondongkan tubuhku ke depan hingga aku rapat ke arahnya dengan bertumpukan kedua tanganku.

“Siap?”

“Pelan-pelan ya…”

“Gak awak gigit, kok…” sahutku hampir tertawa. Kek dah mau kuperawani aja nih cewek.

Dan yang pertama kutuju adalah lehernya. Hembusan nafasku membuatnya bergidik oleh aliran udara hangat. Kukecup kulit lehernya yang langsung meremang memunculkan pori-pori.

Bulu kuduknya berdiri seiring suara erangan kegeliannya. Nafasnya tiba-tiba berhenti saat bibirku bergeser di sepanjang lehernya. Hidungku terbenam di antara helai rambut lebatnya.

“Ahh…”

Lidahku mulai terjulur dikit membasahi dan mencicipi rasa lembut kulit lehernya. Vivi makin mengerang seksi akan rasa geli yang menjalar dari bagian lehernya. Bagi beberapa perempuan, leher adalah salah satu titik erotis.

Entah bila Vivi disini juga titik itu. Aku menjilati lehernya pendek-pendek dan memalingkan wajahnya ke arah sebaliknya, mengekspos lehernya lebih terbuka. Lidahku melata seiring dengan tubuh Vivi yang mulai gelisah bergerak-gerak. Beberapa kali tubuhnya menegang menahankan luapan rasa nikmat yang masih berupa geli-geli enak itu. Suara erangannya masih irit-irit dan tertahan.

“Aahhnn…”

Erangannya lebih seksi sekarang saat telinganya kujilat. Ujung lidahku bermain-main disekitar telinganya. Bermain diseputar gerinjal lekukan cuping telinganya lalu mengulum gelambir berlubang tindik itu.

Gerakan tubuhnya semakin gelisah semakin menjadi kala lidahku bermain dibalik daun telinganya. Tubuhnya bergoyang-goyang. Tangannya bahkan mencengkram pergelangan tanganku. Pipi kami saling bergesekan. Terasa pipinya yang halus mulus, hangat. “Aahh… Banng?”

Entah insting entah refleks entah cuma modus, ia berusaha menjangkau bibirku dengan bibirnya. Memanfaatkan jarak yang sedemikian dekat ini. Bibir kami berdua bersenggolan, bergesekan untuk beberapa detik saja. Kuanggap saja tidak sengaja dan aku menjauhkan wajahku dari wajahnya dengan mengincar bahunya. Vivi mengejar…

Aku menghindar dengan cara mengecupi lengannya. Tanganku bergerak mengarah pada strap bra-nya dan menariknya menjauhi bahu. Kedua strap itu kuloloskan dari tubuhnya sehingga bra yang melindungi sepasang payudaranya melonggar.

Gunung kembar itu kemudian terpampang dengan sentosa begitu bra penangkupnya melonggarkan kungkungannya. Bra itu kini hanya nangkring di atas dadanya, di bawah leher. Kubenamkan mukaku di sana, kuhirup udara yang harum dari seputaran kulitnya yang lembut, mengandung kekenyalan hakiki. Vivi mengerang karena rasa nikmat yang tiba-tiba menyergapnya.

Mukaku kugesek-gesekkan di seputaran payudaranya dengan kecupan-kecupan kecil. Vivi makin kacau erangannya. Ia sangat menikmati sentuhan yang bermain di dadanya. Ini berarti rangsangan pertama di payudaranya sebab saat petting pertama waktu itu, aku sama sekali tak menjamah payudaranya. Hanya menikmati lewat pandangan aja.

Dan ini benar-benar nikmat. Kenyal dan lembutnya nagih secara bersamaan. Itu juga yang dirasakan perawan satu ini. Geliat gelisah tubuhnya menggelinjang meliuk-liuk sangat menikmati perlakuanku pada sepasang gunung kembarnya.

“Ahh… ahh… auuhhh… mmhh…” erangnya dengan mata terpejam erat menikmati tiap sentuhanku.

Padahal pucuk-pucuk dadanya belum kueksplor sama sekali. Putingnya sudah meremang tegang. Berubah warna dari coklat muda awalnya kini jadi lebih gelap tetapi lebih keras saat tersentuh gesekan bibirku. “Aaahhh…” jeritnya tertahan saat lidahku menyapu ringan, memberikan rasa dingin lidahku yang sedikit basah.

“Aahh…” ulangnya menjerit kecil saat kuulangi lagi sapuan lidah.

Tubuhnya menggelinjang geli lebih lagi saat puting mungil itu kukulum dengan ujung bibirku. Pucuknya yang mencuat masuk ke dalam mulut lalu disentil pake lidah lagi. Alhasil punggungnya melengkung secara tak sadar mengejar kenikmatan yang baru sekali ini dirasakannya. Matanya membelalak kosong dengan mulut menganga.

Tangannya meremas mencengkram lenganku dengan erat. Badannya menegang terutama pada bagian kakinya yang lurus segaris arah dengan tubuhnya. Apa gara-gara dua putingnya langsung distimulasi. Satu pake mulut dan yang satunya dipilin dengan jari.

Tubuhnya lemas tak berdaya. Walah… Dia udah orgasme duluan, toh?

Alhasil aku hanya mengecup-ngecup bagian tulang dadanya karena ternyata ia sangat sensitif di bagian gunung kembarnya hingga bisa memicu orgasme cepat. Ia hanya pasrah berbaring dengan tubuh lemas.

Apapun yang kulakukan pada tubuhnya saat ini, ia tak akan menolak. Perempuan cantik yang hanya berpakaian dalam ini sudah sangat pasrah kuapakan saja. Kalo kuentot sekalipun, ia nerima aja. Aku beringsut turun, mengecupi bagian perutnya, lalu pusarnya. Tanganku sudah memegangi tepi celana dalamnya.

Tanpa perlawanan, Vivi membiarkanku meloloskan celana dalamnya. Segera terlihat kemaluan dengan rambut-rambut panjang jarang yang ujung-ujungnya mengarah ke belahan dua bibir vaginanya.

Segera celana dalam itu tak lagi melindungi bagian bawah tubuh privatnya. Bagian tubuh yang berharganya sebagai seorang gadis perawan. Aku mengelus-elus pahanya sambil memuaskan mataku pada kemaluan indahnya, mengingatnya agar terpatri di otakku.

Dengan jempol, aku menguak bibir kemaluannya dan ketat labia mayora itu hanya bisa membuka sedikit saja di posisi ini. Aku harus melebarkan kedua kakinya untuk dapat akses penuh semua isi gua surga indah itu.

Kemaluan yang hanya sempat kugesek-gesek saat petting sebelumnya menggunakan Aseng junior. Ini kesempatan untuk mencicipi rasanya. Vivi yang sepertinya sudah pulih dari orgasmenya tadi, agak sungkan membiarkanku melebarkan kakinya.

Berat ia mengkangkangkan kakinya, sebuah hal yang sebenarnya sangat memalukan dan tabu. Tapi teringat akan keinginannya sendiri dan tak disangka ia sudah membentangkan kakinya dengan pasrah.

Berkat posisi kengkeng begini, aku bisa melihat dengan jelas isi jeroan onderdil vagina Vivi. Indah sekali perawan ini. Semuanya masih sangat orisinil lengkap dengan segelnya. Hanya aku yang pernah menjamah ini semua bahkan sempat melakukan petting untuk memacu nafsu menggunakan ini beberapa waktu lalu. Vivi memalingkan mukanya ke kanan, malu karena aku sedang memandangi organ privatnya dengan mata jalang. Apresiasi atas keindahan tubuhnya.

“Jangan diliatin gitu, bang… Vivi maluu…” bisiknya sembari menggigiti ujung kukunya.

“Gak usah malu… Vivi yang minta ini, kan?” sahutku lalu mendekatkan wajahku ke arah kemaluannya.

Dari jarak yang sekian ini, aku sudah dapat menghidu aroma sisa orgasmenya tadi. Semakin kuat setelah semakin dekat. Vivi menganga kaget dan matanya membelalak melihatku menjulurkan lidah terarah pada belahan vaginanya yang terbuka lebar. Badannya kembali menegang, terasa dari pangkal pahanya yang kutahan agar tetap terbentang.

“Aaahh…” erangnya dengan menengadahkan kepalanya hingga ia menatap bagian belakang posisinya berbaring ini. Kembali tubuhnya bergetar.

Lidahku sudah menjamah lipatan kemaluan Vivi. Rasanya sangat menyegarkan. Ada sedikit asam dan pahitnya, seperti halnya kehidupan yang juga ada manisnya. Lembab basah lipatan vaginanya sangat lembut dan bergerinjal.

Lidahku menjelajah ke setiap penjuru bentuk seksi dambaan tiap pria ini. Gundukan tepi bibirnya lembut tak begitu tebal.

“Srruuppp…. sllrrruuupp…” kusedot-sedot kemaluannya dengan gemas.

“Aaaahhh…”

Kukilik-kilik kacang itil mungilnya. Belahan lembab yang semakin basah oleh liurku semakin memabukkan, mau disedot terus, dijilat dan dinikmati. Lidahku mencoba menyeruak masuk ke liang kawin sempitnya yang berupa lubang kecil nan sempit. Liang kawin yang masih perawan.

“Aahhh…”

Kujilat-jilat berulang kali. Kusedot-sedot tanpa jemu. Permukaan daging kemaluannya basah oleh ludahku dan aromanya menguar seksi. Merasuk memasuki rongga hidungku, memasuki medula oblongata, menjadi satu memori di dalam otakku. Paha punelnya kuremas-remas gemas selagi menikmati rasa enak empuk vagina perawan di hadapanku ini.

“Aaahhh…”

Vivi semakin meliuk-liuk tak karuan mendapat permainan oral mulut dan lidahku yang ‘memakan’ kemaluannya dengan ganas. Bagian bawah tubuhnya yang terkunci olehku tak dapat bergerak banyak. Lain soal bagian atas tubuhnya.

Beberapa kali ia melengkungkan punggungnya, kepalanya terbanting kanan-kiri, tangannya mengais-ngais sprei ranjangnya sampe acak-acakan, meliuk kesana kemari, geliat liar seperti cacing kepanasan.

Rambut panjangnya kusut masai seperti sapu ijuk sangkin jundetnya. Keringat bercucuran di sekujur tubuhnya. Sepertinya ia tadi orgasme kembali dan aku terus meng-oral vaginanya karena gemas tak dapat dicegahnya. Lidahku terus bermain lincah. Gemas akan perawan manja ini.

“Aaahhhhh… Ah ah ahh…”

Sejumlah cairan bening sedikit kental bertambah lagi di beceknya vagina Vivi pertanda ia baru saja mendapatkan kepuasan itu kembali. Pelan-pelan kucucup cairan nikmat penuh rasa dan aroma itu dengan sayang.

Tanganku mengelus-elus pelan pahanya. Getar-getar gemetar tubuhnya masih terjadi sesekali saat jilatan panjang terakhir kulakukan untuk membersihkan kemaluannya sama sekali. Tapi masih saja lembab oleh kucuran berikutnya.

Kuseka mukaku dengan selimut yang terlipat berantakan di ujung ranjang berkat tendangan kakinya. Aroma Vivi ada di sekujur mukaku. Sekresi dari vaginanya sukses menempel di mukaku yang dengan ganas memakan kemaluannya.

Tubuh Vivi terbujur lemas dengan tangan kaki terbuka. Kalo kucucukkan Aseng junior, pasrah-pasrah aja Vivi menerimaku dalam keadaan seperti ini. Aku ke kamar mandi yang ada di kamar ini untuk membersihkan mukaku lebih lanjut.

Ahh… Si Aseng junior… Kenapa kau? Minta jatah? Mau minta gesek-gesek ke vagina Vivi? Pengen ngecrot? Pengen enak juga? Nih, jatah! Kenak guyur air dingin kau, kan? Dah… Tidor sana!

Vivi masih di posisi tadi. Masih berbaring mengangkang menggairahkan begitu. Sepertinya ia tertidur akibat kelelahan. Kelelahan oleh deraan orgasme bertubi-tubi yang menghantam tubuhnya. Gak usah ditengok-tengok lagi, Seng.

Nanti bangun lagi junior-mu, payah urusannya entar. Aku harus cepat-cepat keluar dari kamar ini sebelum ia bangun. Aku memakai kembali kemeja lengan panjangku yang gak terlalu kusut. Akal-akalanku aja agar tak ada aroma yang menempel di bahan pakaian ini saat bergumul tadi. Lebih sulit menghilangkan aroma asing di pakaian daripada kulit kalo kita tau taktiknya.

Bye-bye, Vivi… Mimpi yang indah. Tapi jangan mimpikan awak. Mimpi yang lain aja.

“E-eh?” kagetku karena ada tangan yang mendorong tubuhku saat beranjak keluar dari kamar Vivi. Ketika kutoleh cepat, Vivi masih di atas ranjangnya. Siapa ini? Dari tadi sudah ada di dalam kamar yang terkunci. Pintu lemari pakaian yang tepat di depan ranjang terbuka…

Sosok di belakangku ini terus mendorong tubuhku hingga benar-benar keluar dari kamar dan menutup pintu kamar Vivi. Lalu ia menarikku menjauhi kamar ini, menyeberang sepanjang ruangan luas yang merupakan ruangan santai dengan TV layar besar sebagai fitur utamanya, mencapai sebuah pintu kamar di seberangnya.

Ada sebuah angka 4 yang merupakan goresan-goresan krayon yang cukup artistik di selembar kertas yang ditempel isolasi tiap sudutnya. Aku tak dapat mencegah tubuhku didorong masuk ke dalam kamar yang sudah terbuka lalu menutup kembali. Diblokir akses keluarku oleh pelaku pendorongku tadi.

“Dari mana…?” pertanyaan barusan yang dilontarkan terhenti saat ia menyadari ada sosok lain, sosok asing di dalam kamar yang mereka bagi berempat.

Tiga Cut itu sedang merubungi sebuah meja rendah tempat mereka belajar bersama berhadapan. Ada Cut Intan, Cut Riska dan Cut Cahya. Berarti yang menyeretku ke kamar ini adalah Cut Masita. Ia sudah menyaksikan pergumulan petting-ku dengan Vivi barusan. Bersembunyi di dalam lemari pakaian di kamar Vivi. Waduh!

“Ketemu agam rayek!” seru Cut Masita yang di belakangku masih menghalangi pintu. Ada suara tepuk tangan kecil segala darinya. Mampos aku! Lepas dari mulut macan betina, masuk ke sarang empat buaya…

“Bang Aseng!” seru mereka girang sekali.

Sontak mereka bertiga langsung bangkit dari posisi awal bersimpuh duduk di lantai sedang belajar dan langsung merubungiku seperti sekawanan semut menemukan sebutir gula. Padahal aku gak manis. Mereka berteriak-teriak gembira dan sangat terasa sekali aura senang juga girangnya. Seperti sedang meluapkan sesuatu. Tak ayal lagi tubuh ini menjadi pusat pelukan erat mereka beramai-ramai. Beuhh! Rasanya… La terkataken, pal. (Tak terbayangkan, bro)

4 Inong

Pernah kelen dipeluk, digencet dan diunyel-unyel sekaligus oleh empat perempuan bertubuh bongsor, sekel, bohay, semlohai kek keempat inong dara asli Aceh yang cantik-cantik begini? Inilah yang sedang menimpa diriku yang malang ini. Maksudnya yang sudah malang melintang di banyak liang sempit ini. Asli bingung, bro. Bingung harus gimana. Aku harus bersikap gimana? Aku harus berbuat apa? Aku harus bersikap seperti apa?

“Bang Aseng… Bang Aseng…” hanya itu yang kudengar dari mereka berempat.

Keempatnya memelukku erat dengan wajah berusaha menempel kepada bagian tubuhku seperti sudah kangen berat.

“Bang Aseng dari mana aja?”

“Bang Aseng udah lama gak menemui kami…”

“Bang Aseng masih mau bertemu dengan kami?”

“Bang Aseng apa tidak rindu kami?” Itu beberapa pernyataan yang sempat kutangkap di antara kalimat lain yang kadang membingungkan karena masih bercampur bahassa daerah mereka.

Tentu aja faktor utama yang membuatku gelagapan adalah desakan dan dempetan kenyal gunung-gunung kenyal, empuk dan lembut yang menerpa beberapa bagian tubuhku bersamaan. Vivi sudah menyediakan pakaian yang memadai bagi mereka berempat.

Tentunya yang terbaik ato setidaknya memadai untuk perempuan-perempuan dewasa bermental kekanakan seperti mereka. Tentunya mereka pasti sedang berusaha beradaptasi dengan penggunaan bra untuk menyangga payudara mereka yang bisa dibilang lumayan besar mengingat tubuh bongsor yang mereka miliki.

Saat ini mereka tidak memakainya karena mungkin sudah diberi tips dan trik oleh Vivi untuk tidak perlu memakainya saat akan tidur. Mungkin sehabis belajar, mereka akan segera tidur. Sialnya bagiku, keadaan yang tanpa bra seperti saat ini yang sedang menggencet sekujur tubuhku.

Dikerubungi empat perempuan muda yang tak memakai bra!

Wow!

“Cut Cahya… Cut Intan… Cut Riska… Cut Masita… Apa kabar kalian semua?” tanyaku masih merem melek merasakan desakan empat pasang payudara di seputaran keliling tubuhku yang mereka peluk. Ini mungkin dirasakan Sultan yang punya beberapa harem sebagai koleksinya. Nyaman kali…

“Baik, bang Aseng…” “Sehat, bang Aseng…” “Baik, bang Aseng…” “Abang gimana?”

“Sehat juga awak… Bagus kalian sehat… Bagus-bagus… Lagi belajar, ya? Belajar apa?” tanyaku basa-basi berharap mereka mau melonggarkan pelukan maut mereka berempat. Hanya berharap dilonggarkan gak perlu dilepas.

Aku menatap mereka satu persatu bergantian. Mereka saat ini sangat jauh berbeda penampilannya daripada saat di sekapan di gua bawah tanah di belantara hutan gunung Leuser beberapa waktu lalu. Kali ini lebih bersih, lebih berseri, lebih cukup makan, cukup perawatan, cukup mandi tapi masih tetap cantik.

Kamar yang besar ini harus dibagi mereka berempat. Vivi menyediakan mereka dua buah ranjang berukuran besar untuk masing-masing menampung dua orang. Sebuah lemari pakaian besar juga ada untuk menampung semua koleksi outfit mereka sehari-hari.

Karena semua sudah dalam ukuran besar kamar besar ini menjadi lumayan sempit jadinya hingga mereka harus rela melakukan kegiatan belajar dengan cara lesehan di sebuah meja rendah.

“Vivi menyuruh kami belajar membaca lagi…” “Juga belajar berhitung…” “Belajar matematika…” “Menulis juga…”

“Yaa… Bagus… Kalian harus banyak belajar… Kerasan? Eh… Betah… Eh… Suka ada disini?” kataku hati-hati memilih kata. Mereka masih dalam tahap belajar jadi aku harus memilih kata yang mudah mereka pahami.

“Suka… Vivi baik…” Suka… Vivi pintar…” “Sangat suka di sini…” “Disini menyenangkan…”

“Sukurlah… Awak ikut gembira kalian suka ada disini… Kalian harus banyak-banyak belajar untuk mengejar ketertinggalan kalian…” kataku. Mereka terdiam. Mungkin tak paham makna kalimatku barusan.

“Eng… Bisa gak… pelukannya dilepas? Awak gak bisa melihat kalian semua dengan leluasa…” ujarku memberi alasan. Terasa pelukan mereka satu per satu melonggar lalu sama sekali terlepas. “Fiuhh…”

Aku langsung ngibrit menuju meja persegi empat rendah yang mereka gunakan untuk belajar. Kuambil salah satu buku yang berisi pelajaran bahasa Indonesia untuk anak kelas IV SD. Mereka lalu duduk mengitariku di depan sisi meja yang tersisa. Tak perlu kupungkiri kalo aku senang melihat wajah-wajah ceria mereka berempat yang cantik berseri. Mereka sangat antusias menemukan diriku lagi di satu tempat tanpa harus berpura-pura lagi.

Walo mental mereka masih kekanak-kanakan, tapi mereka bisa memegang erat rahasia dengan teguh karena sampe sekarang tak ada selain pihak Ribak Sude dan lingkaran terdekatku yang tau masalah sebenarnya yang telah menimpa mereka berempat. Bahkan Vivi hanya tau kulit luarnya saja. Hanya sekedar tau kalo mereka sudah diculik saat masih kecil, disekap bertahun-tahun, dijadikan tumbal beberapa pihak durjana hingga akhirnya bisa diselamatkan keluar dari hutan itu dari pihak hantu Burong Tujoh.

Dan lebih dalam lagi, hanya kami berlima disini yang tau persis apa yang terjadi selama di dalam sekapan Nenek Te-tek. Dimana aku sempat menyetubuhi ketiga inong ini dan menyisakan Cut Intan saat Wewe Gombel laknat itu berencana untuk membunuhku begitu aku ejakulasi di salah satu dari mereka berempat. Itu pengalaman yang menegangkan sekaligus mengerikan. Bayangin abis ngecrot, mati! Apes kali ya, kan?

Ya… Mereka semua plus aku menyembunyikan fakta itu dari siapapun. Tapi aku menafikan abah Hasan karena ia bisa tau apapun. Tapi selain itu tak ada yang tau persisnya apa yang terjadi. Bahkan Iyon dan Kojek.

“Bang Aseng…” panggil mereka berempat dengan mata berkaca-kaca.

Untuk sudah berapa malam mereka menangis seperti ini. Kuharap itu semua adalah tangisan bahagia sudah lepas dari marabahaya luar biasa berat untuk ditanggung. Mereka murni hanya memiliki satu sama lain. Bersama-sama mereka mengalami semua horor dan teror itu setiap saat setiap waktu. Ini saatnya masa bahagia yang harus mereka jelang.

“Kalian semua sudah aman…” kataku berganti-gantian menepuk kepala mereka tepat di ubun-ubun.

“Ke depannya semoga kebahagiaanlah yang kalian semua dapatkan… Awak akan bantu pastikan itu semua…” Wajah-wajah mereka walo bercucuran air mata yakin dengan semua kata-kataku. Senyum-senyum mereka mengembang lebar. Senyum lebar dan menjadi tawa lalu berubah jadi kegembiraan.

“Baaang Aseeeng…” keempatnya langsung menyerbu, menerjangku sampe aku gelagapan.

Aku terjengkang jatuh karena tubuh keempatnya menghimpitku di lantai. Menghujaniku dengan ciuman bertubi-tubi. Pipi, kening, mata, dagu dan bibirku berkali-kali mendapat tekanan sepasang bibir dari keempat inong bongsor cantik.

Mereka saling bergelut untuk dapat kesempatan mencium bibirku yang mungkin poinnya lebih tinggi dibandingkan pipi yang luasnya lebih banyak dari seulas dua bibirku yang bermulut manis ini.

“Muah-muah-muah-muah…” keempat inong bernama awalan Cut itu berebutan untuk menciumi makin ganas.

Bibirku jadi bulan-bulanan cumbuan. Terkadang bibirku mendapat kuluman. Terkadang lidah-lidah juga silih berganti menerobos masuk ke mulutku. Tanganku tak dibiarkan menganggur lama gak ada kerjaan.

Diarahkan untuk menyentuh tubuh-tubuh mereka. Yang terjangkau olehku tentu saja dada-dada kenyal yang bergantungan bebas tak ber-bra. Alamak banyak sekali kerjaan untuk tanganku malam-malam begini. Segitu banyak susu yang minta diperah. Segitu banyak pentil susu yang minta dipilin.

Aseng junior-pun tak bisa dibiarkan damai dalam kurungannya. Sudah ada beberapa tangan yang berebutan hendak menyentuhnya. Berebutan terburu-buru hingga tak lama aku tak memakai celana lagi. Bagian bawah tubuh dan kakiku sudah terasa dingin. Lalu panas oleh sentuhan-sentuhan penuh nafsu yang terasa membakar.

“Ahhkk…” erangku kaget. Kaget aku karena sebuah mulut langsung mencaplok Aseng junior dan langsung mengulumnya tanpa peringatan ato permisi. Langsung hap!

Selagi ada mulut yang bermain di mulutku, dari sela-sela wajah cantik yang menyerangku, dapat kulihat beberapa sosok yang berusaha melucuti pakaian mereka masing-masing. Yang sudah berhasil menelanjangi dirinya sendiri lalu bergantian menyerangku—menyerang mulutku.

“Tunggu-tunggu semuanya…” cegahku dengan nafas terengah-engah dengan cepatnya tempo semua ini terjadi.

“Kita tidak boleh melakukan ini… Ini tidak benar… Kalian tidak boleh bertindak sejauh ini…” aku berhasil menarik perhatian mereka hingga menghentikan semua kegiatan gila ini.

Kegiatan gila yang sempat kami lakukan di tengah hutan waktu itu. Tidak persis seperti ini kejadiannya, tetapi mirip-mirip suasananya. Kami berlima melakukan kegiatan seksual yang cukup gila.

“Bang Aseng tidak suka Cut Cahya?” tanya salah satu inong itu. Wajahnya mendadak sedih. Begitu juga dengan yang lain.

“Bukan-bukan… Bukan itu maksud awak… Kita hanya tidak boleh mengulangi ini lagi… Cukup atas perintah Nenek Te-tek aja kalian berempat patuh dan takut… Dia sudah kuhancurkan… Kalian semua melihatnya… Tak ada lagi yang memaksa kalian… Itu semua sudah berakhir… Jangan lagi…” kataku berusaha menutupi Aseng junior yang kimak-nya sudah ngacung. Apalagi di depan pemandangan empat inong ini yang sudah bertelanjang dada. Cut Cahya bahkan sudah telanjang bulat. Yang lainnya masih memakai celana dalam.

“Tapi ini bukan perintah siapa-siapa, bang… Cut Cahya hanya mau melakukannya dengan bang Aseng… Cut Cahya rindu sama bang Aseng…” sanggah Cut Cahya, inong pertama yang pertama kali bersetubuh denganku di hutan itu. Ia memegang pahaku menegaskan kata-katanya barusan, disertai gerakan mengelus.

“Vivi bilang… kami sudah besar… Rayek… Uereung rayek melakukan ini…” lanjutnya lagi. Pemaknaan kalimat tadi bukan seperti itu pelaksanaannya, nong.

“Bang Aseng tadi barusan sama Vivi… di kamarnya…” potong Cut Masita membuatku jadi mati kutu gak bisa mengelak. Mau kusangkal kalo kami cuma petting, gak bisa pulak.

“Lon dengar abang bicara petting sama Vivi… Lon curiga… Lon sembunyi dalam lemari Vivi… Abang main-eh… dengan Vivi…” katanya dengan mengacung-acungkan jarinya tanda aku tak dapat berkelit.

“Ayo, bang Aseng… Bang Aseng tak rindu-kah sama Cut Cahya?” katanya lagi lalu beringsut naik ke pangkuanku.

Paha kami saling bergesekan. Lembut kulit dan kenyal tubuhnya membangkitkan birahiku hingga menggebu-gebu. Apalagi pemandangan di sekitarku sudah sangat kurang ajar panas. Ada empat pasang payudara montok diumbar sembarangan.

“Aahh…” desah Cut Cahya saat ia mendesakkan gunung dadanya ke mulutku.

Pentilnya sukses memasuki mulutku dan otomatis menjadi bulan-bulanan mulutku. Ia memeluk kepalaku.

Gawat! Gawat ini kalo kejadiannya jadi begini liar. Aku sama sekali tak menyangka kalo mereka berempat selama ini memendam hasrat sebegitu dalamnya padaku. Memori yang sangat berkesan pada mereka berempat malah pada hubungan seksnya aja. Bukan pada momen penyelamatan mereka dari cengkraman hantu Burong Tujoh keparat itu.

Aseng junior terasa menggesek-gesek suatu belahan lembab di bawah tubuh Cut Cahya. Ia sendiri yang memegang dan mengarahkan batang penisku untuk memasukinya. Mulutnya sesekali membuka lebar saat ia menekankan kepala kenyal Aseng junior membelah kemaluannya sendiri. Ia bernafas berat berulang-ulang menahankan birahi kesumat yang membuat mukanya menjadi merah.

Ia menggigit bagian dalam pipinya saat perlahan ia menurunkan tubuhnya dan Aseng junior meluncur masuk menembus tubuhnya. Aseng junior meluncur masuk dan sukses bercokol di dalam tubuhnya. Terasa basah, sempit dan panas sekali.

“Ahhh…” erangnya keras.

Kemudian ia langsung memagut mulutku. Tubuh kami berdua bersatu di beberapa titik. Aseng junior menusuk dalam, ketat berpadu berdenyut kencang. Payudaranya tergencet tertekan erat di dadaku.

Kepalaku terasa sangatlah ringan saat ini. Aku tak bisa berpikir macam-macam. Hanya bisa menikmati saat Cut Cahya bergerak sesuka hatinya untuk membuat tubuhnya mereka enak dan nyaman dengan seks yang ternyata ia rindukan dariku.

Ia bergerak naik turun, mengocok Aseng junior dengan menggunakan kelaminnya yang ditembus dalam. Hangat dan basah licin, membuatnya bisa bergerak dengan lancar keluar masuk. Aku meremas-remas kedua payudara bongsornya selagi kami terus berciuman.

“Baangghh… baangghh… Aahh… ah ah ah…” erangnya karena gerakan aktifnya yang naik turun mengopyok Aseng junior-ku menggunakan liang kawinnya.

Rasanya sangat nikmat sekali. Ini bukan binik orang. Ia milikku seutuhnya. Ia hanya mau melakukan ini denganku seorang. Apalagi dengan ketiga temannya yang lain. Bisa kupastikan hal yang sama juga.

Alamak… Ada empat perempuan muda yang cantik luar biasa rela kuapakan saja. Mungkin ini rasa bahagia dan nyaman para Sultan banyak duit dengan banyak selir pengisi harem-nya.

Ketiga teman Cut Cahya yang bergerombol di sekitar kami juga tak tinggal diam. Tangan-tangan mereka bergerilya melakukan sentuhan erotis. Mulutku sekali waktu dibajak oleh Cut Riska dan Cut Masita di kanan-kiriku. Saat itu terjadi, Cut Cahya lebih liar lagi menggerakkan tubuhnya memompa Aseng junior di dalam kemaluannya.

Kedua tanganku yang berkarya di dada Cut Cahya direlokasikan menuju payudara lain, dada Cut Riska dan Cut Masita tentunya. Tetapi aku punya keinginan lain dan bergerilya ke lokasi lainnya. Tiga inong ini sekarang sekarang menjerit-jerit seksi bersahut-sahutan karena jari-jariku berkelana ke bagian kemaluan mereka yang berambut lebat.

Segera aku menemukan kacang itil mengeras dan belahan basah dengan liang kawin ekstra sempit di lokasi sakral tersembunyinya. Cut Riska hanya beberapa kali berhubungan seks sebelumnya, klaim si Nenek Te-tek baru saja belah duren. Sementara pada Cut Masita, akulah yang melakukan belah duren itu. Memberi kesan yang dalam padanya.

Jariku tentu saja kesulitan menusuk dua lubang lubang sempit milik dua perempuan muda ini. Keduanya meringis dan mendesah merasakan kobelan jariku mengutik-utik kemaluannya. Aku harus merangsangnya terus agar membuka jalan jariku menusuk hingga nanti giliran Aseng junior pada waktunya.

Cut Cahya masih saja menggila dengan gerakannya liarnya. Kadang ia mengganti gerakannya dengan gerakan maju mundur ato berputar-putar, geol-geol memabukkan bak penari dangdut profesional. Memulas Aseng junior di liang sempit miliknya.

Ia meminta mulutku kembali yang sedang dinikmati Cut Masita. Mulut kami saling pagut kembali. Lidahnya kuajak bergelut dan ia mengikuti seperti pelajar yang patuh. Jari-jariku semakin becek dengan limpahan cairan pelumas kemaluan dua Cut yang sedang kukobel vaginanya.

Apa kabar Cut Intan? Satu-satunya perawan yang masih tersisa di antara mereka berempat. Ia ada di belakang Cut Cahya, duduk di atas kakinya, menggesek-gesekkan dadanya ke punggung temannya itu dan menggesek selangkangannya pada kakiku. Ia sama antusiasnya dengan ketiga temannya ini.

Apakah ia sudah tau sakit dan perihnya proses belah duren itu? Nanti saja itu kupikirkan… Karena sebelum sampe ke dirinya, masih ada tiga temannya yang belum selesai kupuaskan.

***

“Jyaaaahhh…” jerit Cut Cahya yang berkejat-kejat sekujur tubuh bongsornya akibat orgasme yang baru saja menyergap tubuhnya.

Kakinya mengatup berulang-ulang tanpa bisa dikendalikannya. Jari tangannya mencengkram erat bahuku kala Aseng junior diperas-peras dahsyat di dalam liang kawinnya. Aku sampe harus menahan nafas agar mengurangi rangsangan luar biasa ini.

“Hah hah ha ha hah…” berat nafasnya dengan tatapan mata nanar saat ia beringsut menjauh dari pangkuanku.

Aseng junior membal sekeras kayu saat lepas dari sarang yang baru dua kali dimasukinya itu. Berkilat-kilat oleh cairan licin sisa Cut Cahya. Perempuan muda itu lalu rebah di lantai tanpa pikir panjang, mengistirahatkan tubuh lelahnya yang barusan mendayuh kenikmatan bersamaku.

Posisinya segera akan diambil alih oleh Cut Riska dan kucegah. Tentunya ia kebingungan melihat keenggananku yang malah berdiri lalu melepaskan pakaian yang kukenakan.

Dengan cepat aku sudah bugil seperti mereka berempat. Aseng junior masih mengacung keras, mengangguk-angguk saat aku melangkah ke arah salah satu ranjang besar di kamar ini. Aku menepuk springbed-nya, memberi kode agar Cut Riska naik kemari. Matanya langsung berbinar-binar lagi.

Ia berdiri di atas lututnya bingung harus bagaimana. Kupandangi tubuh telanjangnya untuk beberapa lama, menikmati visualnya sekenyang-kenyangnya. Kemudian kupegang kedua bahunya lalu kurebahkan di tengah ranjang luas yang sebenarnya cukup untuk tiga orang sekaligus ini.

Tangannya kuarahkan untuk menggenggam Aseng junior dan mengocoknya pelan-pelan. Lucu sebenarnya melihat ekspresi bingungnya. Pengalaman seks yang ia miliki sangat berbeda seperti yang seharusnya.

Seks-seks awalnya penuh dengan horor dan juga paksaan. Bahkan awal bersamaku aja juga merupakan sebuah keterpaksaan. Terpaksa daripada nyawa melayang hilang diganyang hantu Wewe Gombel.

Saat ini yang kuberikan padanya, kulakukan selembut mungkin. Kulakukan dengan memagut bibirnya yang menggemaskan. Sebelah payudaranya kuremas-remas dan tanganku sebelah lagi bergerilya di perut hingga mencapai kemaluannya yang berjembut lebat itu.

Ia bergidik geli selagi berciuman denganku. Lidahku menyeruak masuk membelit lidahnya, memberikan pelajaran yang belum sempat kuberikan waktu itu. Kulakukan dengan selembut mungkin, memberikan pengalaman yang jauh berbeda dari yang pernah menghantuinya.

“Bang… Kapan masuknya?” tanya Cut Riska seperti tak sabar merasakan junior-ku memasukinya.

“Ssstt… Sabar… Belum saatnya… Riska nikmati aja, ya?” bisikku agar menikmati proses foreplay ini.

    

Aku tau persis liang senggamanya masih sangat sempit. Perlu waktu untuk melumaskan semua jalan nikmat kami berdua ini. Aku beringsut turun ke arah dadanya. Putingnya sudah mencuat saat terangsang begini, menegang menantang. Mulutku langsung mencucup pucuknya dengan lidah basah.

“Eenngghhh…” erangnya menggeliat geli sementara dada sebelahnya kuremas-remas lembut membagi kenikmatan itu sama rata.

Tubuhnya merinding disko mendapat rangsangan ganda dari mulut dan tanganku. Apa yang dapat masuk ke dalam mulutku yang terbuka lebar, masuk lalu disedot sebisanya. Cut Riska makin menggelinjang. Apalagi tanganku yang semakin gencar mengelus-elus selangkangannya.

Kakinya membuka lebar tak sadar. Memberiku akses seluas-luasnya untuk membelai kemaluannya yang sudah lembab. Jariku mengelus-elus kuncup labia minora penutup liang kawin dan saluran kencingnya. Rangsangan full dari beberapa titik membuat Cut Riska menggelinjang semakin liar.

Sepasang payudaranya dan terlebih kemaluannya mendapat stimulan yang membuatnya mengerang-ngerang gelisah. Bergantian kanan-kiri payudaranya mendapat perhatian lidah dan mulutku. Mulutku berdecap-decap menikmati kenyal dan tegang puting susunya.

Saat kulirik ke sekitar kami ternyata inong-inong yang lain sedang berdesakan menonton dengan seksama. Ikut menikmati apa yang sedang kami lakukan. Bahkan Cut Cahya yang baru selesai gilirannya juga ikut di tepian ranjang ini. Ketiganya tersenyum lebar. Cut Masita terlihat sudah tak sabar ingin merasakan ini juga. Cut Intan juga apalagi.

Cut Riska menatap gerakanku turun dengan nanar. Mungkin mengira aku akan segera melakukannya. Tapi belum, belum saatnya. Aku tiba di depan vaginanya yang terbuka lebar tanpa penghalang lagi. Aku bisa menatap detail bentuk kemaluannya face to cunt. Dan lidahku menjulur saat mata kami bertatapan. Mulutnya menganga seakan ingin protes.

“Aaakhh… Joroook, baang… Ahh…” Lidahku menyeruak masuk ke liang sempitnya.

Tak bisa masuk sepenuhnya karena memang sangat sempit. Mungkin hanya jari dan Aseng junior yang benar-benar bisa masuk ke kedalaman liang nikmat ini. Jadi lidahku kini hanya bermain-main di permukaannya saja dan sesekali mencoba menyeruak masuk.

Jangan ditanya gimana Cut Riska saat ini. Seperti cacing kepanasan tubuhnya menggelinjang, menggeliat liar. Meliuk sana meliuk sini. Beberapa kali tubuhnya menggigil kala lidahku menggelitik kacang itil mungilnya. Sesekali tangannya menggapai kepalaku dan menekan agar kemaluannya lebih dipuaskan.

“Aaakhh!!” erangnya final.

Punggungnya melengkung, pantatnya terangkat, kepalaku terikut. Terasa ada cairan berdecit-decit keluar dari liang kawinnya. Sejumlah cairan menambah basah kemaluannya yang segera kucucup rakus.

Tubuhnya berbanting lemas kembali ke atas ranjang. Ada beberapa titik keringat yang membasahi tubuh polos indahnya. Saat kuseka mukaku dari cairan pelumas Cut Riska dan duduk tegak, aku menoleh pada para penonton.

Mereka semua melongo. Pasti mereka belum tau trik ini. Trik yang sepertinya sangat nikmat hingga membuat Cut Riska termehek-mehek orgasme hanya dengan menggunakan mulut.

“Baaang… Nanti Intan… digituin juga, ya?” cetus Cut Intan masih terpana tetapi masih ingat untuk mengatakan ini. Wah… Mereka penasaran dengan rasanya di-oral.

Aku mengangguk menyanggupi.

“Iya… Nanti Cut Masita juga, kok…” jawabku sembari menepatkan posisi tubuhku di antara bentangan kaki Cut Riska yang masih ngos-ngosan bernafas berat. Berkali-kali ia meneguk ludah lalu bernafas.

“Lon?” tagih Cut Cahya yang belum sempat kuperlakukan begitu tapi bagiannya keburu lewat.

“Saya?” ulangnya.

“Iya… Nanti Cahya juga, kok… Sabar, ya? Riska belum nih…” kataku menatap mereka bergantian dengan menggesek-gesekkan Aseng junior ke belahan vagina Cut Riska yang menganga. Kucelup-celupkan hingga kepala Aseng junior basah terkena becek liang kawin inong cantik ini.

“Tadi Cahya udah dimasukin, kan? Ini giliran Riska duluu…” sambil kucoba mendorong masuk. Duuuh… Sempitnya liang ini. Cut Riska mengulum kedua bibirnya bersamaan dengan mata terpejam meresapi rasa yang menyeruak masuk ke dalam tubuhnya.

Kusodok-sodok perlahan dengan posisi tubuh 45° terhadap tubuhnya, tanganku menopang dengan gerakan pinggul selentur mungkin. Aseng junior menusuk-nusuk perlahan padahal liang kawin ini sudah cukup basah tetapi karena jam terbangnya masih sangat rendah, setara dengan pengantin baru hitungan hari saja abis belah duren.

Berkerut-kerut dahinya menahankan rasa perih yang bercampur dengan nikmat yang mungkin ada saat Aseng junior-ku menerobos masuk dan mulai meraja di dalam sana. Rasa sempit menggigit membuatku harus bernafas dengan teratur saat mulai memompanya.

“Egghhh… Hegghh… Euhhh… Uuhh… Ah ah ah ah…” erangnya saat kumulai menusuk pelan dan pendek saja.

Begitu saja ia sudah mengerang dengan tangan mencari-cari pegangan berupa kepalan sprei ranjang. Ia menemukan tangan Cut Intan yang membantunya menguatkan diri. Keduanya berpegangan tangan sementara kemaluannya kugempur pelan-pelan.

Aku menikmati ekspresi wajah cantiknya dengan mata terpejam menikmati seks denganku untuk kali kedua. Mulutnya meringis-ringis, dadanya berguncang-guncang, rambut panjang tebalnya awut-awutan. Dengan dua jempol aku mempermainkan kedua putingnya.

“Iyaahhh… Ah ahh ah ah ah…” erangnya terus menerus merasakan sama-sama nikmat berdua.

Aseng junior juga terasa dimanjakan maksimal di dalam liang kawin sempit ini. Ahh… Rasanya sangat nyaman sekali meniduri perempuan-perempuan muda ini. Eksklusif hanya untukku. Ada empat inong cantik yang hanya tersedia untukku. Tersimpan dengan aman tak jauh dari rumahku. Aman dijaga oleh satu pasal pengorbananku untuk hanya sekedar petting dengan induk semang mereka.

Setelah ronde pertama tadi di WOT Cut Cahya yang berakibat dirinya orgasme, kini aku sedang memompakan nafsuku pada inong kedua. Haruskah aku ngecrot di keempat Cut ini? Apa jadinya nanti kalo mereka hamil? Akan sangat memberatkan proses belajar mereka ke depannya. Apalagi tentunya merepotkan Vivi pasti. Lain cerita kalo mereka punya suami seperti para binor yang selama ini kugauli. Ada barisan para suami yang akan mengurus sisa-sisa perbuatanku.

Habis kupermainkan payudara kenyalnya, aku balik lagi memagut mulutnya yang asik mendesah seperti kepedasan. Lancar disambutnya mulutku dan saling kulum dan silat lidah berbelit. Aseng junior terus lancar menggoyang liang kawinnya yang semakin terasa enak dan licin.

Sudah terasa geli-geli enak itu di kepala Aseng junior dan gelegak bibitku memberontak ingin segera bebas keluar. Kupercepat sodokanku masih di posisi awal, MOT misionaris ini. Suara plak-plak-plak tepukan kulit kami semakin keras. Tautan tangan Cut Riska dan Cut Intan makin erat. Kepalanya terbanting kanan-kiri.

“Oooaahh… Ahh… ah ah ahh…” ia meledak lagi dan cepat-cepat kucabut Aseng junior dari liang sempit nikmatnya. Kukocok beberapa kali di atas perutnya yang berkedut-kedut belum pulih dari orgasme itu. Aseng junior sudah dalam keadaan merah padam, becek berkilat-kilat dan…

“Croot crooottt croott!!” sejumlah besar spermaku tumpah di atas perutnya. Kepalaku terasa ringan sekali saat kukocok-kocok terus untuk mengeluarkan semua simpanan stokku hari ini.

“Ahh ahh… ahh… Hmm…” Rasanya sangat puas bisa mengeluarkan spermaku malam ini setelah tadi sudah ditahan-tahan dari petting bersama Vivi, belum saatnya bersama Cut Cahya. Akhirnya jebol juga bersama Cut Riska.

“Jeh peue, bang?” tanya Cut Intan menunjuk noda sperma kental di perut temannya.

“Apa itu, bang?” ulangnya. Aku hanya menggeleng-geleng agar ia tak usah menanyakan itu.

Tentu saj ketiga inong di tepian ranjang terperangah melihat tumpahan spermaku di perut Cut Riska. Sesekali mereka menatap ekspresi puasku dan Aseng junior yang mengangguk-angguk dengan sedikit tetesan cairan kental itu di ujungnya.

Kugesek-gesek sisanya di perut Cut Riska sampe benar-benar bersih. Aku menggeleng-geleng puas terduduk masih lelah mengejar nafas. Aku menunjuk-nunjuk tisu yang ada di meja kecil diantara dua ranjang besar ini.

Cut Masita yang paling dekat mengambilkannya untukku. Kuambil beberapa lembar dan kubersihkan cairan kental itu dari perut Cut Riska yang masih berbaring lemas, kaki mengangkang dan liang kawin sedikit menganga becek.

“Riska udah selesai… Cut Masita sekarang, yah?” ujarku agak terbata-bata karena nafas kurang lancar.

Aku beringsut ke samping, ke tepian ranjang agar nanti giliran berikutnya bisa berbaring di situ. Kubiarkan Cut Riska tetap berbaring lemas di tempatnya semula. Inong cantik itu segera bangkit dan naik ke atas ranjang.

Yang pertama kali menarik perhatian mata jelalatanku tentu saja lebat jembutnya yang berkilauan basah. Tentunya sudah sangat terangsang melihat dua temannya kuentot tadi.

“Capo lon dijilat juga, ya?” saat ia berbaring pasrah di hadapanku, di samping Cut Riska yang masih belum kelar ngos-ngosan.

Ia memegangi segitiga kemaluannya yang rimbun oleh rambut. Tidak sepanjang saat pertama kali bertemu. Mungkin mereka sudah belajar membersihkan tubuh dengan lebih baik sekarang. Vivi memberi banyak pengaruh baik pada mereka berempat. Tubuh mereka sekarang jauh lebih bersih dan lebih glowing. Jauh dibandingkan saat masih disekap di hutan kala itu.

***

“Masita mau dijilat juga ininya?” godaku menepiskan tangan yang menutupi kemaluannya. Aseng junior perlu istirahat sebentar jadi bisalah kugunakan waktu untuk foreplay dulu. Cut Masita menganguk-angguk membenarkan permintaannya.

“Sebelum itu… Ini dulu… Cut Masita ikut aja, ya?” kataku mendekatkan wajahku ke wajahnya. Kukecup bibirnya.

“Cup… cups…” Kuhimpit tubuh bongsornya hingga dada kami saling bertemu. Kurengkuh tubuhnya.

Cut Masita pasrah-pasrah aja kutindih begini karena mulut kami saling berpagutan bermain lidah. Ia dengan cepat belajar mengikuti yang kulakukan padanya. Tangannya mengelus-elus punggungku. Kakinya sudah melebar menyambut tubuhku.

Aseng junior yang masih lemas bergesekan di lebat jembutnya. Rasanya sangat nyaman sekali merengkuh tubuh perempuan-perempuan muda ini. Payudaranya tak lupa kuremas-remas dan itu membuatnya mengerang di sela pagutan-memagut mulut.

“Jyaahh… Ahk…” erangnya saat payudaranya mulai kukecup lalu lidah mulai bermain dan ia semakin menggelinjang liar.

Rambutku diacak-acak dijambak sesekali. Renggutan tangannya terasa sepadan dengan rasa kenyal yang bermain di dalam mulutku. Puting mengerasnya tak luput dari kulikan lidahku. Terkadang kugigit-gigit pelan juga membuat Cut Masita terbanting ke kanan kiri.

Tubuhnya kadang melonjak-lonjak seiring rasa nikmat membuncah dari bagian dadanya. Erangan-erangannya membahana di dalam kamar ini. Cut Riska yang sudah kembali dari surga kenikmatannya juga ikut menonton.

“Haah… haah… haah…” Cut Masita berusaha mengatur nafasnya.

Dadanya naik turun. Sekitar mulutnya basah oleh liur. Kupagut sebentar mulutnya lalu beringsut turun untuk menuruti request-nya tadi untuk menjilat capo-nya. Vagina dalam bahasa Aceh kekanakannya. Bentuk indah menggiurkan itu kembali masuk dalam bidang bidik mataku.

Rambut jembut lebat yang dipotong pendek tak memberikan noda gelap di seputar bibir kemaluannya. Kusibak rimbun rambut pubis yang sudah dipotong pendek untuk menemukan lipatan masih sangat rapat.

Isi bagian dalam basah segera terkuat menggairahkan. Kacang itilnya mengintip malu-malu di pucuk guratan lipatan bibir kecil yang juga menyembunyikan lubang kencing serta liang sempit luar biasa yang sudah kuperawani beberapa waktu lalu.

Kukecup perlahan sebagai sapaan awal. Kemudian lidahku menyusul merasakan rasa segar yang ditawarkannya. Basah permukaan kemaluannya terasa hangat, membuat lidahku semakin gencar bermain-main di sana.

Ujung lidahku terus mengutik-utik kacang itilnya diakhiri sapuan panjang di liang kawinnya ke atas. Cut Masita kembali bergerak liar menikmati request yang dipintakannya tadi, untuk menjilati kemaluannya seperti yang sudah kuperagakan pada Cut Riska sebelumnya.

Bibir kemaluannya kulebarkan agar lidah dan mulutku semakin maksimal menikmati vaginanya. Perawan yang sudah kurenggut darinya harusnya masih sangat-sangat sempit di kesempatan kedua ini. Aku sudah tak sabar lagi tetapi Cut Masita menahan kepalaku agar tetap bermain-main di selangkangannya.

Jariku kujejalkan masuk dan lidahku mengutik-ngutik kacang itilnya membuat inong cantik ini menggeliat, menggelinjang sangat liar. Beberapa kali ia berusaha bangkit merasakan jariku mengorek-ngorek bagian dalam liang kawinnya yang ekstra sempit.

Jariku terjepit erat oleh katupan otot kegelnya yang bekerja otomatis. Aku menikmati desiran cairan bening yang mengucur meleleh dari liang kawinnya. Ahh… Rasanya gak bosan-bosan menikmati rasa ini. Tubuh Cut Masita bergetar-getar lagi pertanda ia mendapatkan kenikmatan itu lagi. Jariku semakin terjepit.

Kucabut jariku sekalian mengelap wajahku yang kembali belepotan cairan vagina yang terasa sangat manis saat ini. Cairan vagina yang sangat menggairahkan dari perempuan-perempuan muda yang pasrah mengharapkan kenikmatan dariku.

Apakah ini eksploitasi ketidak tahuan mereka? PIkiran dangkal mereka yang bahkan mungkin tak tau konsekwensi dari ini semua bisa merubah diri mereka ke jenjang selanjutnya—seorang ibu. Mereka bisa hamil akibat permainan ena-ena ini. Itu yang harus kujaga sekarang.

Aku gak pernah nyetok kondom pulak! Cukup hati-hati aja supaya gak nembak di dalam, kurasa cukup untuk kali ini.

Cut Masita pasrah ketika kutempelkan Aseng junior ke rekahan terbuka kemaluannya yang basah kuyup. Mudah menelusupkan Aseng junior ke pintu liang kawinnya tetapi hanya sebatas itu saja karena selebihnya sepanjang liang ini masih sangat sempit.

Untung Aseng junior dalam keadaan full tegang ketat dengan urat-urat kasar di sekujur batangnya. Kurebahkan tubuhku condong ke arahnya untuk memberikan rasa nyaman dahulu sebelum memaksakan kontolku menembusnya lagi. Penetrasi pertamaku dilakukan atas paksaan Wewe Gombel laknat itu, yang tujuan utamanya adalah membuatku ngecrot untuk membunuhku.

Kami dua meringis di antara saling pagut saat kelamin kami mulai bersatu padu. Ini bahkan lebih sempit dari Cut Cahya dan Cut Riska tadi. Berdenyut-denyut keenakan Aseng junior-ku di mulut liang kawin Cut Masita yang pelan-pelan kutembus.

“Egghh…” erangnya memejamkan mata selagi bibirnya kukulum.

Kusodok-sodok perlahan walo sepanjang liang itu sudah terlubrikasi sempurna. Tapi namanya juga masih sangat sempit, apa mau dikata. Harus diperlakukan dengan ekstra hati-hati.

Sodokan-sodokanku kulakukan hingga sudah mencapai setengah batangku terbenam di dalam liang kawin sempitnya. Cut Masita mengerang-ngerang seksi. Tapi ia sama sekali tak mau menunjukkan ekspresi kesakitan.

Masa itu sudah berlalu dan ia hanya ingin menikmatinya malam ini bersamaku. Masa pedih itu sudah lewat di gua bawah tanah tempat sekapan bertahun-tahun. Menenangkannya kuciumi bibirnya sebaik mungkin, membuatnya merasa nyaman dan aman. Terkadang hanya rasa itu yang bisa membuat perempuan rileks.

Sodok tarik-sodok tarik berulang kulakukan dan sekarang sudah semakin lancar walo tak semua batang keras Aseng junior dapat meluncur masuk.

“Drrttt drrrtt…” suara seperti sobek terasa saat Aseng junior meluncur sedikit lebih jauh, melonggarkan jalan baru menuju jangkauan penuh liangnya.

Payudaranya kemudian menjadi alat memanjakannya. Bibir dan payudara montoknya menjadi bulan-bulananku sekaligus. Aseng junior terus merojok memompa keluar masuk semakin lancar. Remasanku pada payudara kenyalnya membuat Cut Masita semakin keenakan, terbuai dalam kenikmatan beberapa rangsangan hebat bersamaan.

Kaki Cut Masita semakin terbentang lebar pasrah apa saja yang kulakukan padanya. Kalo aku ngecrot sekalipun di dalam vaginanya, ia gak akan protes. Tapi itu lebih pada ketidak tahuannya.

Lebih lagi ketidak tahuan mereka berempat. Mereka tak tau apa-apa tentang kehidupan orang dewasa yang rumit dan pelik. Seperti… tak banyak perempuan yang mau digilir beramai-ramai seperti ini. Mereka membentuk suatu ikatan yang bahkan lebih dari hubungan pertemanan bahkan persaudaraan, ini ikatan hidup dan mati.

Cut Riska yang menonton dari sebelah kiri kami, paska gilirannya, kutarik agar lebih merapatkan tubuh telanjangnya pada Cut Masita yang masih kusetubuhi. Cut Cahya juga yang beserta Cut Intan di sebelah kiri, di tepi ranjang kutarik juga menaiki ranjang. Tentu mereka berempat bingung apa mauku menumpuk mereka berdempetan seperti ini. Ini mungkin fantasi beberapa pria yang coba kurangkum, bagaimana rasanya menggauli seorang perempuan sekaligus menatap beberapa wajah cantik bersamaan.

Wajah sange Cut Masita yang menikmati kemaluannya kugenjot pelan-pelan, yang sekarang sudah tertanam dalam sepenuhnya oleh Aseng junior-ku, menjadi highlight utama pemandangan yang cepat menular pada ketiga temannya.

Keempatnya sekarang sedang menatapku balik. Keempatnya sedang terangsang menikmati wajahku yang sedang keenakan menggenjot satu vagina sempit dengan genjotan pelan yang perlahan meningkat kecepatannya.

Keempatnya mengangakan mulut berebut oksigen yang langka diperebutkan banyak orang sekaligus. Wajah-wajah sange yang masing-masing bersuara seksi seakan merasakan nikmat yang sama yang kami berdua rasakan akibat beradunya dua kelamin berbeda jenis.

Cut Intan memangku kepala Cut Masita yang sedang kugenjot menggapaikan tangannya untuk menyentuh mulutku. Aku membiarkannya menjejalkan jarinya ke mulutku yang kemudian kuhisap-hisap, membuatnya menganga.

Dengan itu, yang lain juga ikut berusaha menyentuhku. Bahkan Cut Cahya memainkan pentil susuku. Cut Riska mengelus-elus perutku yang mengeras saat menggenjot dengan gemas.

Kangkangan kaki Cut Masita makin lebar ditahan teman-temannya, memudahkanku semakin memompa tubuhnya. Cut Cahya membantuku merangsangnya dengan saling berciuman karena ekskalasi tensi semakin panas saja. Semuanya sudah mengerang-ngerang seksi berusaha mencari kepuasan sendiri lewat orang lain ato lewat fantasi keinginan sendiri.

“Banngghh… Capo-ku… Capoo-ku…” erang Cut Cahya yang mengobel-ngobel vaginanya sendiri.

Pasti kemaluan perempuan muda ini sangat gatal pengen digaruk saat ini. Aku menarik tangan yang nganggur yang ternyata tangan Cut Intan untuk menusuk liang kawinnya. Jarinya masuk dengan mudah, bekerja sama dan menusuk-nusuk keluar masuk. Cut Cahya mengerang keenakan dan menggelinjang menikmatinya. Jari tanganku juga tak tinggal diam dan menelusup masuk dan mengacak-acak liang sempit Cut Riska yang rapat menggencet samping tubuh Cut Masita yang sedang kuentot ini.

Cut Masita sendiri sedang tenggelam di dada Cut Riska hingga aku bisa menciumi mulut Cut Intan yang menyambutku dengan suka cita. Aseng junior semakin menggila dan menggasak liang kawin perempuan tepat di hadapanku dengen kecepatan tinggi.

Aku serasa menjadi gila merasakan rasa nikmat yang terperi saat ini yang merajai sekujur tubuhku. Menjajah tiap jengkal tubuhku. Mendera tiap serat tubuhku.

“Baaanngghh… Akhh… Ah ah ah…” perempuan yang sedang kugenjot itu menegangkan tubuhnya hingga bahkan Aseng junior-ku tercerabut dari jepitan menggigitnya.

“Cyurr.. Seerr… serrr…” menyembur air bening squirt menyemprot deras hingga membentur perutku.

“Ooohh… ohhh… oohhh…” erang Cut Masita gak sadar apa yang sedang terjadi pada tubuhnya yang baru aja pipis enak sangking menikmati seks keduanya ini.

Ia sangat menikmatinya hingga dua kali ia bisa squirt begini. Raungan keenakan tubuhnya yang baru saja orgasme sampe terkencing-kencing membuat takjub ketiga temannya. Setidaknya giliran Cut Masita sudah selesai dan aku bisa beralih ke inong terakhir. Si perawan terakhir, Cut Intan.

Ia merebahkan tubuh telanjangnya tanpa malu-malu lagi, menggantikan tubuh lemas Cut Masita yang digulingkan kesamping. Ia ingin segera merasakan apa yang sudah dirasakan ketiga temannya.

Tak ada rasa sungkan sama sekali dalam panas tensi tinggi reverse gangbang yang dimana aku menjadi objeknya. Keempat perempuan muda ini sedang memperkosaku. Dan gilak-nya, aku senang-senang aja diperkosa begini.

“Intan… Cut Intan… Ini bakalan sakit-loh…” seruku memperingatkannya.

Aseng junior kucekik karena sudah sangat meradang mau masuk ke liang sempit kembali. Tak perduli lubang sempit milik siapa—pokoknya lobang!

Ia menggeleng sembari menggigit bibir bawahnya. Ia mengepaskan tubuhnya yang kini bersandar pada Cut Cahya yang duduk di belakangnya. Payudara sekal miliknya tanpa ragu diremas-remas temannya itu. Cut Cahya sendiri sedang tertawa cekikikan dengan Cut Riska mengomentari perbuatanku pada Aseng junior. Cut Masita menarik-narik kepala Aseng junior mengarahkannya ke bukaan menganga vagina Cut Intan yang masih sempit perawan.

“Tidak apa-apa, bang… Intan mauu…” ia meyakinkanku kalo ia yang menginginkan ini.

***

Aku sadar, aku gak akan bisa tahan lama-lama kalo menjebol perawan sempit. Bisa-bisa aku ngecrot dalam proses belah duren nanti karena jantungku sudah sangat berpacu kencang. Kalo kupaksakan langsung cucuk, pasti langsung ngecrut juga karena nafsu sudah ada di ubun-ubun.

Aseng junior dielus-eluskan ke lubang sempit Cut Intan tetapi aku masih menahannya. Rasanya sangat geli campur nikmat. Kalo ngikutin nafsu aja, udah pasti langsung kusodok. Apalagi Cut Masita menarik-narik batang Aseng junior-ku ke arah temannya terus.

“Sabar, yaa?” ujarku menenangkan mereka semua.

“Ini nanti bakalan sakit… Kalian bantuin Intan, ya… biar dia agak tenang…” pintaku pada tiga teman-temannya.

“Kalian boleh ciumin dia dulu… Remas-remas teteknya… Biar ini kujilati dulu… OK?” imbuhku menunjuk bagian vagina berjembut lebatnya.

Rambut kemaluannya juga sudah dipotong pendek dan tak mengurangi keindahannya. Mereka semua mengangguk mengerti. Tangan Cut Cahya yang dari tadi sudah meremas payudara kanannya ditambah Cut Masita di kiri. Pipinya diciumi Cut Riska disertai rabaan pada bagian perut membuat perawan terakhir itu mengerang keenakan.

Dengan begini, aku bisa meredakan nafsuku untuk cooling down sebentar. Meredakan detak jantungku yang meledak meletup penuh nafsu. Aku langsung menubruk bagian selangkangan Cut Intan yang terbentang lebar di sandaran teman-temannya.

Bibir kemaluannya langsung kukuak disibak lebar demi menemukan irisan segar vagina perawannya yang secara ajaib bisa bertahan sampe sekarang dan akhirnya jatuh ke hadapanku. Aku menunduk di hadapan mereka berempat dan menikmati kelezatan vagina sempit khas perawan ini di tengah bising erangan empat perempuan muda yang pasrah kuapakan saja.

Selagi mereka sedang bermain-main di antara sesamanya, aku menyiapkan Aseng junior agar siap siaga kapan saja untuk mencoblos. Ia tetap saja menegang keras bagai kayu, stand by. Mereka berempat tidak bisa dibandingkan dengan Vivi.

Vivi melakukan ini semua dengan perasaan hendak memiliki diriku seutuhnya, hal yang tak bisa kukabulkan untuknya. Perasaan itu yang berbahaya untukku. Sedangkan mereka berempat ini hanyalah pelampiasan entah apa.

Lebih pada ketidak tahuan. Keluguan semata, yang kurang ajarnya sangat kunikmati. Aku sama sekali gak khawatir pada mereka berempat akan menuntut hal yang lebih dalam waktu dekat ini. Makanya, daripada itu aku harus jaga-jaga jangan sampe menghamili mereka berempat. Cukup dinikmati saja sepuas-puasnya seiring dengan proses belajar mereka untuk kembali masuk masyarakat normal.

Mereka berempat mengerang-ngerang saling merangsang dalam bahasa ibu mereka bercampur dengan bahasa Indonesia juga. Desahan, jeritan kecil, erangan, mendesis, raungan manja dan macam-macam suara lain.

Mulut dan lidahku terus bermain-main di vagina Cut Intan, mengecap kenikmatan sepuas-puasnya dari sana hingga akhirnya semua rangsangan yang diterimanya akhirnya membuatnya mencapai orgasme itu.

“Aaah… Ahh… ahh… ah… Mmm… Uhh…”

Kuseka mulutku yang berlepotan cairan manis yang barusan mengucur keluar dari kemaluannya sambil mata tak kunjung lepas dari liang sempit yang terpampang bebas untuk segera dimasuki menggunakan Aseng junior-ku. Ia sudah meradang ingin segera masuk menembus dan kemudian menggila di dalam sana. Pastinya sangat nikmat dan ahhh… Payah cakap-la pokoknya.

Cut Intan masih mendesah-desah seperti kepedasan sambal yang ekstra pedas dikelilingi teman-teman terdekatnya yang selama bertahun-tahun ini selalu bersama. Kedua payudaranya masih diremas-remas oleh Cut Cahya dan Cut Riska. Cut Masita mengelus-elus pahanya. Aku mendekat dan merapatkan tubuh ke bukaan kakinya yang dilebarkan Cut Masita. Aseng junior menempel rekat hingga ujung kepalanya basah menyentuh bukaan sempit liang kawinnya yang hanya celah lubang kecil saja.

“Yaahh, baangg… Intan sekarang, baaang… Yaahh… Mmmm… Yaahh…” erang entah siapa dari antara mereka berempat.

Aku tak terlalu memperhatikan siapa. Aku hanya mencoba mencoblos-cobloskan Aseng juniorku hendak membenamkan sedapat mungkin. Cut Intan menganga dengan kepala mendongak merasakan sumpalan benda pejal panjangku ini di kemaluannya yang pasti masih terasa enak abis orgasme barusan.

Kucondongkan tubuhku ke arah mereka berempat, tentu aja untuk menyasar pada Cut Intan yang menjadi fokus dientot kali ini. Yang lainnya juga ikut bereraksi menyambutku.

Untuk membesarkan hati mereka, kucium bibir Cut Masita, Cut Cahya dan Cut Riska. Kemudian agak lebih lama pada Cut Intan dilambari remasan-remasan lebih lanjut pada payudaranya. Cut Intan menyambut mulutku dengan antusias, yang kemaluannya juga sedang berusaha kuterobos dengan sodokan-sodokan pelan.

Bibirnya kusedot-sedot dengan sesekali kusodok agak lebih keras beberapa secara acak. Kepala Aseng junior sudah berhasil menelusup masuk yang sukses membuatnya menyeringai agak kesakitan tetapi mulut dan tanganku tak berhenti memberi rangsangan. Ketiga teman-temannya juga tetap mendukung dengan mengelus-elus tubuhnya, memberikan kata-kata penguat dan penyemangat.

Kupeluk tubuhnya rapat hingga dada kami saling himpit.

“Ssstt… Cup-cup… Ahh… Enak tidak? Heeghh…” ujarku berusaha mengajaknya berbicara berbisik dan saat ia akan menjawab, Aseng junior menerobos masuk.

“Ggrrtt… ggrrtt…” terasa ada robekan saat Aseng junior menelusup masuk semakin jauh ke dalam sanubari jalan kawinnya yang super sempit.

“Aahh…” terdengar suara tertahan inong perawan terakhir ini saat lapisan hymen-nya tembus terkoyak oleh ulah durjana Aseng junior yang suka cita gilang gemilang berhasil merobek kesuciannya.

Kutenangkan ia dengan mengecup-ngecup kening dan pipinya. Matanya terpejam rapat dan kedua bibirnya dikulum menahankan rasa perih itu. Aku bisa merasakan perih itu karena Aseng junior sendiri dijepit erat sekali seperti diremas-remas sebuah katupan kuat.

“Ussh… usshh… usshh…” ketiga temannya juga berusaha menghiburnya karena mereka sudah pernah merasakan pengalam belah duren ini.

Hanya dirinya yang mengalaminya lewat jalan yang lumayan normal karena ketiga temannya saat itu berada dibawah ancaman yang sangat mengerikan. Cut Intan melakukan prosesi ini atas keinginannya sendiri. Juga di tempat yang cukup layak dan nyaman.

Kudiamkan Aseng junior di dalam sana. Biasanya, agar liang yang baru saja ditembus ini terbiasa akan benda asing yang memasukinya. Membiasakan ada sesuatu yang menyumbat jalurnya. Apalagi rasa perih yang mungkin dirasakan mendera menyebabkan rasa pegal yang mengganjal.

Payudaranya kemudian menjadi fokus stimulasiku. Putingnya kukenyot-kenyot, kusentil-sentil dengan lidah, apa saja agar ia merasakan nikmat kembali. Sesekali, Aseng junior kugerakkan untuk melihat reaksinya.

Suara seret, seperti sobek itu beberapa kali masih terasa melalui tubuhnya yang menyatu denganku. Tubuh kami sudah sepenuhnya terhubung lewat jalinan kelamin.

Dorong-dorong terus dan tak terasa Aseng junior sudah mentok membelah dirinya. Perutku dan selangkangannya rapat bertemu. Mata membeliak beberapa kali dengan mulut terbuka masih menahankan perih.

Sentuhan-sentuhan kami semua semoga memberinya rasa nyaman pereda secukupnya rasa perih yang masih terasa di kemaluannya yang tak perawan lagi. Pelan-pelan kutarik dan itu terasa sangat seret walo inong satu ini padahal sudah orgasme belum lama. Seret dan peret seorang perawan seharusnya dan sumpah luar biasa sekali sensasinya.

Ini sebenarnya yang kukhawatirkan. Rasa nikmat yang luar biasa ampun-ampunan, apalagi melihat ekspresi-ekspresi sange empat perempuan muda cantik sekaligus tepat di depan mataku.

Lengkap keempat perempuan muda penyintas supranatural yang berhasil aku selamatkan dari kejamnya hutan belantara gunung Leuser, sudah aku gagahi. Mereka dengan pasrah dan rela menyerahkan tubuh mereka padaku. Bukan sebagai ucapan terima kasih. Juga bukan bayaran atas apa yang sudah kulakukan. Ini hanya saling bersenang-senang… Entahlah.

“Ah ah ah ah ah…” begitu erang yang mirip jeritan kecil Cut Intan merasakan sodokan memompa kecil yang kulakukan.

Hanya sodokan kecil yang bisa kulakukan. Sesuai pengalaman diriku yang bejat ini, seiring waktu, liang sempit nan peret ini akan lancar pada waktunya. Tugasku hanyalah semakin merangsangnya hingga tubuhnya memerintahkan memproduksi lebih banyak lendir pelumas untuk mencegah liang kawin berharganya lecet ato malah terluka akibat melakukan salah satu fungsi utamanya.

Ketiga inong lainnya juga tak berhenti minta bagian kuluman mulutku. Sesekali juga payudara mereka mendapat perhatianku. Cut Masita bahkan menyodorkan dadanya untuk kukulum dan diekori oleh yang lainnya.

Jariku nakal menelusup masuk mengobel-ngobel apa yang bisa dijangkaunya. Cut Riska menyodorkan selangkangannya. Jariku terbenam di liang sempitnya. Ini malam paling sibuk dalam hidupku. Aku harus meladeni empat perempuan sekaligus. Ini sudah impian harem yang menjadi kenyataan. Aku tidak perlu mencari jauh-jauh, mereka datang sendiri ke hadapanku dan memberiku hidangan yang sangat istimewa ini.

4 Inong

Cut Cahya yang sama sekali belum pernah merasakan oral mulutku lalu bangkit dan membiarkan Cut Intan berbaring tak bersandar lagi. Ia beringsut maju di atas tubuh Cut Intan dan mendekatkan selangkangannya padaku.

Aku tau maunya dan tak lama kemudian ia sudah mengerang-ngerang karena kemaluannya menjadi bulan-bulanan mulutku. Sodokanku pada kemaluan sempit Cut Intan tak berhenti malah semakin gencar dan panjang. Vagina keempat perempuan muda ini dalam kekuasaanku dalam sekali kesempatan. Aseng junior menyodok kemaluan yang satu, dua memakai kobelan jari dan satu lagi menggunakan mulut.

“Aahh… ahh… aahh… ahh…” suara terindah selama bermain lendir adalah ini, suara empat perempuan sekaligus merintih-rintih akibat perbuatanku terdengar sangat merdu dan syahdu.

Keempatnya mengerang-ngerang menggapai ke arahku dengan kepala terbanting kanan kiri ato menengadah. Liang kawin Cut Intan semakin licin sehingga sodokanku semakin lancar memompa walo masih tetap sempit menggigit. Aku bisa menikmati wajah cantik empat perempuan sekaligus mendesah-desah keenakan kemaluannya kupreteli sedemikian rupa.

Jariku mengait-ngait di dalam liang Cut Masita dan Cut Riska. Jariku berlepotan cairan lengket, terus mengorek-ngorek dua liang sempit itu. Mulut dan lidahku bermanuver liar di kemaluan Cut Cahya yang disodorkannya berdiri mengangkang, direnggutnya rambutku dengan gemas. Kacang itilnya menjadi pusat sedotanku ditingkahi sapuan lidah ke semua permukaan vaginanya.

“Baanngghh… Enaak, baanghh… Yaahh… Ahh… Ahhmm… Ssshhh…” erang Cut Cahya yang perdana merasakan di-oral kemaluannya olehku.

Cut Masita dan Cut Riska tak mau kalah mengerang mengekspresikan rasa nikmat yang juga mendera tubuh keduanya. Keduanya menahan tanganku agar tetap mengobel liang kawin mereka seakan menemukan kenikmatan baru, level baru untuk mendapatkan kenikmatan dunia ini. Aku semakin menggila dan mengkaryakan semua onderdil tubuhku untuk memuaskan mereka semua sekaligus.

Sodokan-sodokan lancar kini kulakukan pada liang kawin Cut Intan yang menggelinjang blingsatan. Sepertinya ia barusan orgasme tanpa sempat kusadari. Hanya saja jepitan liang kawinnya terasa lebih sempit seperti baru dicoblos tadi.

Aseng junior diremas-remas tapi mulut dan jariku tetap bergerak. Lidahku masih menjilat-jilat bibir kecil di dalam lipatan besar vagina Cut Cahya. Jari tengahku menelusuri liang sempit dan menjangkau ke ujung yang dapat diraihnya. Sementara pemiliknya kelojotan merasakan nikmat kemaluannya diobok-obok terus untuk titik rangsang.

Harus memuaskan empat objek seksual sekaligus ternyata bisa memecah konsentrasi hingga rangsangan yang kuperoleh malah berkurang yang berimbas aku bisa menahan agar Aseng junior gak buru-buru ngecrot dulu. Tapi walopun akan ngecrot-pun aku masih bisa sadar dan membuangnya di luar lagi seperti yang telah kulakukan pada saat giliran Cut Riska tadi.

“Sshhh… aahhh…. sshhh… aahh…” erangku sendiri merasakan nikmat di batang Aseng junior yang terendam dalam nikmat luar biasa di liang kawin sempit.

Aku memfokuskan dan menikmatinya sembari tetap memainkan objek lain. Sodokan-sodokanku semakin cepat dan lancar. Liang kawinnya terasa sangat licin dan sempit. Aseng junior sangat tertekan walo lumayan becek. Rasa basah memberi sensasi tersendiri dan rasa enak, geli-geli enak itu terasa. “Ahhh… Ahhh…” erangku bersiap-siap dan pada waktunya langsung kucabut.

“Crooottt… croott… crottt!” spermaku lagi-lagi menyembur di atas perut perempuan cantik.

Kental dan lumayan banyak. Kuperas-peras dengan menekan saluran di bawah batang Aseng junior, mengucurkan sisa kental berisi bibit subur terjamin yang sudah terbukti berhasil menghamili belasan binor sejauh ini.

“Ahhh…” erangku puas melepaskan semua stimulasi pada tiga perempuan lain.

Vagina basah Cut Cahya di depan hidungku, berkedut-kedut indah. Dua jari tengah becek habis mengorek liang kawin Cut Masita dan Cut Riska. Dan liang kawin Cut Intan yang becek dan masih berlubang kecil juga.

Aku duduk beristirahat dan berusaha membersihkan perut Cut Intan yang berselemak sperma kentalku. Keempat perempuan itu membaringkan diri berdampingan susun gembung (berdesakan rapat) di atas ranjang yang ternyata cukup untuk empat orang sekaligus.

Keknya masih ada ruang untukku. Rasa nikmat habis ngecrot begini dengan pemandangan empat perempuan telanjang tepat di depan mataku, hasilnya sangatlah paripurna. Sempurna sekali. After taste rasa nikmat masih ada saat kubersihkan batang Aseng junior dengan tisu juga dan kutempatkan diriku di tengah mereka berempat.

Sentuhan kulit-kulit lembut mereka menyambutku berbaring berlima berdempetan sangat menyenangkan. Keempatnya kemudian cekikikan senang khas perempuan muda yang kompak akan sesuatu.

“Huuhhh….” buang nafas panjang.

“Enak, gak?”

“Enak, bang Aseeeng…” jawab mereka mirip koor lalu cekikikan lagi.

“Seneng, gak?”

“Senaaang, bang Aseeeng…” jawab mereka kembali koor diikuti cekikikan lagi.

“Apa rasanya cobak? Sakit, gak?” tanyaku pada Cut Intan yang tepat di kiriku. Disebelahnya lagi Cut Riska.

“Saket, baang… Tapi abes tu enak…” jawabnya lalu menutup mulutnya malu-malu. Aku menjawil hidung mancungnya.

“Enaaak…” ulang Cut Cahya di kananku dan disambut cekikikan lagi oleh Cut Masita disebelahnya.

“Tapi abang harus hati-hati…” aku ingin menjelaskan sesuatu pelan-pelan pada mereka berempat.

“Kalo ini masuk kemari…” maksudku Aseng junior masuk ke capo mereka.

“… abang akan mengeluarkan ini di luar capo kalian… Tidak akan di dalam capo…” pelan-pelan per kalimat kuucapkan agar mereka paham maksudku.

“Kalo di dalam inong-inong peuet… empat… bisa-bisa hamil… Bunting…” lanjutku membuat setengah lingkaran di atas perutku.

“Cahya mau bunting…” ini anak malah mengacungkan tangan dengan riang kek bunting jalan-jalan tamasya aja. Eh… Malah diikuti yang lainnya mengungkapkan hal yang sama, mau bunting juga.

“Tunggu-tunggu… Bunting tidak semudah itu, inong-inongku… Pertama kalian tidak punya suami… Kedua keadaan kalian belum-lah stabil… Kalian belum bisa mengurus diri sendiri… apalagi nanti harus mengurusi bayi… Ketiga… masa depan kalian masihlah panjang… Jangan dulu dibebani anak…” jelasku sebaik mungkin agar mereka paham. Entah bakalan paham ato tidak penjelasanku ini.

“Bang Aseng aja jadi suami kami…” tukas salah satu dari mereka membuatku tak bisa ngomong lebih panjang lebar.

Bisa modyar aku kalo begini caranya. Masalah Vivi belum selesai dengan permintaannya, datang si Lisa sableng itu ditambah lagi keempat perempuan muda ini minta aku menjadi suami mereka. Auto langsung mati aku kalok kek gini ceritanya. Gak mati karena sumpahku, aku mati digorok orang rumahku.

***

Keluar dari kamar keempat inong itu, kepalaku agak pusing setelah harus menjelaskan beberapa hal pada mereka. Tingkat intelejensia mereka sebenarnya cukup bagus dan cepat tangkap. Mereka bisa paham hukum sebab-akibat yang kusampaikan.

Seperti: jangan memberitahu Vivi; induk semang mereka berempat tentang hubungan yang sudah kami lakukan karena jadinya malah tidak enakan pada perawan satu itu karena ia juga mengharapkan posisi yang spesial dariku.

Apalagi, apa jadinya kalo mereka sampai bunting. Badan menjadi semakin gemuk, melahirkan, menyusui, mengasuh anak. Semua itu perlu biaya yang banyak. Hal itu yang mereka tak miliki saat ini.

Mereka harus lebih fokus pada pelajaran mereka agar bisa mengejar ketertinggalan mereka selama ini. Semua itu untuk mencapai hidup yang normal, beradab dan terhormat. Semua itu dapat mereka raih dengan cara belajar dengan segala fasilitas yang disediakan Vivi dan bantuan dariku juga.

Mereka berjanji akan tetap menyembunyikan hubungan kami dari Vivi, belajar yang giat, mencoba untuk tidak menjadi beban bagi orang lain. Aku juga berjanji akan mengunjungi mereka secara periodik seperti kesempatan kali ini. Rasanya sangat sayang kalo empat sebohai ini dibiarkan sia-sia tak terkentot, eh tersentuh.

Sebenarnya mereka minta diekse sekali lagi. Sekali lagi kalo dikali empat ya tetap empat kali ekse juga namanya. Kutak sanggup dan buru-buru keluar dari kamar indah penuh kenikmatan itu.

Di depan pintu yang baru kututup, aku geleng-geleng kepala mengingat kegilaan nikmat yang baru saja aku alami bersama keempat inong itu. Seep kali-lah pokoknya!

Bagaimana keadaan Vivi? Apakah ia masih tidur? Aku mencoba mengintip lewat bukaan pintu kamarnya. Kurang lebar karena dari sudutku sekarang, ranjang perempuan itu tak terlihat, konon lagi keberadaan tubuh bugilnya yang terakhir kali kutinggalkan masih di atas ranjang. Aku melongokkan kepalaku melewati ambang pintu. Masih tak terlihat juga “Cari siapa, bang? Cari Vivi, ya?” Uih! Kaget aku. Wadaw-wadaw!

***

Di situ ia bersandar di dinding di balik pintu sambil memeriksa kebersihan kukunya. Vivi menutupi tubuh bugilnya menggunakan selimut seperti jubah panjang, membalut tubuhnya sekenanya. Ia hanya bergumam tak melihatku sama sekali.

“Enak, ya barusan… Langsung empat sekaligus… Sementara Vivi di sini cuma di-PHP terus… Abang lupa Vivi punya Ameng… Vivi liat semua…” katanya terus terang mencegah aku untuk berkelit. Ia tetap membersihkan kukunya. Berganti dari satu jari ke jari berikutnya.

“Maaf, Vi… Awak tetap gak bisa…”

***

“Maaf, Vi… Awak tetap gak bisa…” aku masuk lagi ke dalam kamar itu. Aku kini berdiri tepat menghadap padanya.

“Vivi tetap sabar, bang… Vivi tetap sabar menunggu… Walau Vivi yang pertama kali bertemu dengan abang… tetapi mereka yang abang dahulukan… Vivi meminta-minta… mengemis-ngemis cinta abang… Mereka yang abang dahulukan… Apa abang dendam karena Vivi sudah menyerang abang dengan Banaspati waktu itu? Vivi minta maaf… Vivi menyerahkan seluruh jiwa raga ini untuk abang memaafkan Vivi kalau abang memang dendam… Tapi asal abang tau aja… Vivi melakukan ini semua dengan tulus… Ikhlas, bang…”

Aku menggeleng untuk membantahnya. Aku tak pernah dendam padanya walo aku sudah babak belur saat itu karena tiga Banaspati ganas waktu itu. Lalu aku terdiam untuk beberapa saat.

“Beri awak waktu…”

“Waktu untuk mempertimbangkan Vivi bisa diterima?” potongnya langsung.

“Bukan… Awak akan cari tempat baru untuk mereka berempat… Mereka harus mulai hidup mandiri…” putusku.

Aku bisa mencarikan rumah kontrakan ato malah membeli rumah khusus untuk mereka berempat untuk mengembangkan kemandirian mereka tanpa harus membebani orang lain. Pastinya bakalan repot di awal tapi seiring waktu pasti bakalan bisa.

Karena memang mereka berempat murni tanggung jawabku. Apalagi setelah aku sudah menggauli mereka berempat. Aku harus bertanggung jawab pada mereka. Tanggung jawab… Bukankah itu tugas seorang suami?

Tidak! Aku menghindari konsep pikiran itu.

Seorang suami tentu wajib menafkahi istri dan keluarganya. Bagiku hanya ada satu istri di hidupku dan aku sudah punya itu di rumahku. Istri yang sudah melahirkan dua anakku. Itulah istriku. Selain itu, mereka bukan istri karena tak pernah ada pernikahan resmi—ijab kabul yang sah.

Jadi apapun mau mereka, para perempuan-perempuan ini, bila belum pernah terucap ijab dan kabul tersebut, ikatan mereka tak pernah menjadi seorang istri. Sesakral itu harusnya. Baik ucapan pada walinya ato wali hakim yang mengesahkan; saya nikahkan engkau pada si fulan binti fulan bla bla bla…

“Jangan, bang Aseng… Vivi gak mau mereka keluar dari rumah ini!” katanya tegas membawaku balik dari lautan fikiranku sendiri. Aku menatapnya yang masih berjubahkan balutan selimut untuk menutupi tubuh telanjangnya.

“Mereka berempat punya satu sama lain… sedang Vivi tidak… Jangan pisahkan kami… Please?”

Aku masih gak ngerti jalan fikiran perempuan satu ini. Ia bisa berbelit-belit dan bisa lurus tiba-tiba ato berbelok mendadak. Memang ternyata fikiran lebih dalam dari samudra sekalipun.

Palung-palungnya penuh dengan misteri yang tak terpecahkan. Bisa saja muncul gelembung yang muncul beriak ke permukaan, berasal dari manakah gelembung itu? Dengkuran seekor monster yang sedang tertidur atokah riak gurat retakan inti panas?

“Vivi gak mau mereka kemana-mana… Mereka berempat tetap disini… Abang kalo mau datang ke kamar mereka… datang aja… Vivi gak akan menghalang-halangi… Asal mereka tetap di rumah ini… Vivi juga akan bertanya yang macam-macam… Vivi gak akan mengorek keterangan apapun dari mereka… Tetap begini aja…” dan ia memutuskan jalan ini. Ia sangat yakin dengan semua ucapannya barusan.

“Apa ini karena petting itu?” tebakku.

Satu-satunya perjanjianku dengannya hanyalah keberadaan keempat inong itu diganti dengan sesekali melakukan petting. Apakah sepenting itu petting denganku baginya? Hingga ia harus menahan egonya sendiri.

Empat perempuan yang baru hadir di kehidupannya, mengambil semua highlight yang ia sulit ia peroleh dariku. Aku bahkan baru saja menyetubuhi mereka semua, di depan matanya—lewat Ameng. Hal yang tak kuberikan, kulakukan padanya.

Vivi diam sebentar mengumpulkan kata-kata juga alasannya.

“Sebagian kecil iya… Karena petting itu… Selebihnya karena kami berlima semua sama… Sama persis bahkan… Vivi hanya sedikit beruntung bisa begini… sekolah, kuliah dan punya uang… sementara mereka tidak… Untungnya kami semua bertemu bang Aseng… Bang Aseng yang menyelamatkan kami…” sesekali ia masih memperhatikan kukunya yang sebenarnya tak ada masalah apa-apa.

“Kalau kami… Vivi tak bertemu bang Aseng… Entah bagaimana hidup kami ke depannya…”

“Jangan kek gitu ngomongnya, Vi… Awak ini apa-lah… Jangan! Gak mau awak dianggap kek gitu…” tolakku mentah-mentah. Cam apa kali aku dibuatnya.

“OK… Gini aja, bang… Vivi gak akan mendesak-desak bang Aseng untuk balik menyukai Vivi… Apalagi sampai mencintai Vivi… Jadi Vivi gak akan memaksa abang agar kita pacaran kayak-kayak gitu lagi… Asal abang berikan hak Vivi…” katanya lalu menatapku dengan pandangan tegas.

“Hak? Hak apa?” aku sampe memiringkan kepalaku tak mengerti apa yang dibicarakannya.

“Tiduri Vivi seperti abang meniduri mereka berempat…” ia membuka lebar-lebar selimut yang dari tadi dipakainya sebagai jubah.

Terbuka lebar memampangkan keindahan tubuh seksinya bagai seekor merak. Koreksi merak dengan ekor panjang indah itu adalah merak jantan. Apa perumpamaan yang tepat? Sebuah lengkungan pelangi mungkin lebih pas.

Kupeluk tubuh mungilnya setelah terlebih dahulu menutup lagi selimut pembalut tubuhnya. Kurengkuh tubuhnya dan kukecup keningnya.

***

Mobil Lisa masih terparkir di depan pintu basement. Belum pulang juga tuh anak? Ini udah hampir jam 11 malam-loh. Apa masih ngobrol-ngobrol ia dengan orang rumahku? Seberapa seru sih obrolan mereka? Apa mereka lagi ngerumpiin apa gitu sampe asik menjelang tengah malam begini.

Tempat yang pertama kali kuperiksa adalah pelataran kolam renang. Tempat itu enak buat ngobrol karena ambien suasananya magis di waktu terang dan gelap. Bayangan air memantul di dinding juga menenangkan. Kosong.

“Tiara… Kakak dimana?” tanyaku saat melewati kamar Salwa.

Baby sitter kedua anakku itu bertepatan baru keluar membawa botol susu milik bayiku dan alat monitor-nya. Ia agak kaget karena kusapa saat baru nongol begitu.

“Eh… Di kamar tadi sepertinya, bang…” jawabnya agak gelagapan masih kaget.

“Sama cewek tadi ke kamar?” ulangku.

Tiara mengangguk membenarkan. Ngapain dibawa sampe ke kamar segala si Lisa-nya? Ngapain, sih? Instingku berdenting-denting mengatakan sedang terjadi sesuatu di sana. Aku berterima kasih pada Tiara dan bergegas menuju kamarku.

Aku buru-buru pulang dan menolak tawaran Vivi demi ini ternyata. Vivi sudah tak mau mendesakku untuk pacaran dan rela ditiduri tidak demi apapun. Hanya untuk menyamakan dirinya dengan keempat inong yang diasuhnya itu. Tapi aku lebih memilih pulang dari pada merengkuh tubuh perawan lagi.

Rumah ini hanya dua lantai tapi besarnya nauzubillah karena merupakan dua buah rumah kompleks mewah yang dipugar disatukan menjadi sebuah rumah jauh lebih mewah begini. Dari tempat aku bertemu Tiara tadi menuju kamar tidur utama rumah ini dimana aku tidur bersama istriku, harus nyetop angkot! Enggak, ding. Canda aja kau, Seng. Sok iyes kali kau.

Pikiranku tentu aja berkecamuk akan apa yang akan kutemukan nanti di sana. Apakah aku hanya akan menemukan mereka sedang berbincang-bincang saja. Setidaknya me-review bangunan rumah ini. Mungkin Lisa mau membangun rumah juga dan mencari referensi dari rumah kami ini. Ato mereka lagi asik nonton sinetron.

Mungkin, kan? Yang paling ekstrim terlintas di benakku adalah mereka lagi cakar-cakaran, jambak-jambakan berebut Aseng sehelai.

Sesenyap mungkin kuputar tuas pintu kamarku dan aku segera masuk. Keadaan penerangan kamar dalam keadaan redup seperti keadaan sedang tidur. Apakah mereka berdua sedang tidur? Tidak ada sosok satupun di atas ranjang.

Pintu kututup rapat kembali agar orang luar tidak tau apa yang sedang terjadi di dalam kamarku. Kamar utama rumah ini berukuran sangat luas sebagai master bedroom. Ada beberapa bagian terpisah dimana lemari pakaian dan juga kamar mandi berada.

Ruangan sebesar ini hanya ada satu ranjang berukuran besar dan satu box bayi milik Salwa. Sebuah sofa panjang ada di dekat jendela besar menghadap ke jalan dengan gorden penutupnya.

Aku geleng-geleng kepala mendapati apa yang kucari. Orang rumahku duduk bersandar di tengah sofa. Baju bagian atasnya tersingkap hingga payudara masif jumbo-nya menyembul keluar. Lisa di lain pihak berjongkok di antara kaki istriku, sepertinya ia tertidur, duduk bersimpuh memeluk pinggang langsing istriku dengan erat.

Mukanya ada di lembah payudara istriku. Sesekali jarinya dengan tak sadar meremas kenyal jumbo milik istriku. Apa yang sedang terjadi disini? Kenapa Lisa harus melakukan ini? Ada sejumlah pakaian yang berserakan di lantai.

Kenapa harus telanjang?

Tanpa suara orang rumahku meletakkan jari telunjuknya di depan bibir agar aku enggak bising. Lalu memberi kode agar aku keluar, menyingkir aja dari kamar ini. Tentu aja aku geleng-geleng.

Setengah bercanda aku menunjuk gembungan celanaku yang terangsang melihat posisi bersimpuh Lisa dengan bodi semok telanjangnya. Lalu kulakukan pantomim sedang menggenjot bokongnya dari belakang. Ia mendelikkan matanya bercanda juga dengan gerakan tangan menyayat leher pertanda ia bisa membunuhku kalo aku nekat melakukan itu di depan matanya.

Masih dengan gerakan kode-kodean kami berkomunikasi. Ia menyampaikan kalo si Lisa ini tidur setelah tadi nangis-nangis minta begini. Begini maksudnya itu ndusel-ndusel di payudara montok yang dikaguminya.

Dikabulkan istriku setelah rayu sana rayu sini dan ia jadinya tidur pulas begini. Walo sepertinya tak nyaman tapi terbukti ia bisa tidur dengan nyenyaknya. Khawatir pulak nanti anak bos sampe masuk angin tidur di tempat sejuk begini dalam keadaan telanjang.

Dengan bahasa Tarzan aku menanyakan, apa tidak sebaiknya Lisa dipindahkan ke atas ranjang aja? Kalo udah dipindahkan, biar nanti aku yang tidur di tempat lain aja, di sofa itu misalnya.

Orang rumahku setuju agar Lisa dipindahkan aja tapi ia memintaku membungkus tubuh perempuan ini dengan selimut terlebih dahulu agar aku tak menyentuhnya. Ia menunjuk-nunjuk Aseng junior yang mengacung akibat kelamaan memandang punggung dan sebagian bokong telanjang Lisa.

Tubuh berbalut selimut itu agak menggeliat protes ketika kubopong ke atas ranjang. Orang rumahku mengelus-ngelus rambutnya agar tetap tidur seperti sedang menina bobok-kan anak sendiri.

Ia langsung berbaring di samping Lisa lagi dan membiarkan perempuan itu mencari kenyamanan di belahan dada istriku yang jumbo. Lisa kembali tidur dengan nyamannya di pelukan istriku dan kenyal payudara jumbo yang dihadapinya.

Kimak panlok satu ini. Padahal itu adalah posisi favoritku kalo tidur kelonan malam-malam. Membenamkan muka di payudara jumbo istriku pastinya sangat nyaman. Aku tau itu pasti karena aku juga sering melakukannya. Kelonan di belahannya yang kenyal. Hu-uuh.

Trus aku bobo dimana, cobak? Tanyaku masih pake bahasa Tarzan. Hidup bertahun-tahun bersama membuat kami saling ngerti apa yang dimaksud walo tak memakai bahasa isyarat yang baku.

Ia menunjuk posisi di sampingnya karena masih ada banyak ruang yang tersisa untukku berbaring. Hanya saja ia berbaring miring memunggungiku karena istriku sedang fokus pada Lisa saja. Jadilah istriku tidur di antara diriku dan Lisa.

Ya sudahlah… Mau dibilang gimana lagi. Mau cemburu gimana? Orang rumahku gak punya bibit-bibit lesbi jadi aku gak perlu pulak cemburu dia sedang beginian dengan perempuan lain. Lain kalo sosoknya lelaki. Udah kubalok kepalanya dari tadi.

Lagipula… dibanding dengan apa yang sudah kukerjakan selama ini, ini gak ada seujung kuku. Istriku melakukannya terang-terangan di depan mataku sedang aku bisanya cuma ngumpet. Ini hanya untuk menyenangkan hati Lisa aja yang sedang galau, begitu aku ngomong pada diri sendiri.

Setelah membersihkan diri, terutama menghilangkan jejak-jejak kegiatan enak-enakku sebelumnya, aku lalu berbaring di samping istriku. Sialnya tangan dan kakiku yang berusaha merangkulnya, ditepis.

Pasti takut mengenai Lisa yang juga melakukan hal yang persis sama dengan rencanaku. Kesel sebenarnya tapi apa boleh buat. Tai kambing bulat-bulat, dimakan jadi obat, disimpan jadi jimat, dibungkus janur jadi ketupat. Tubuh lelah dan bermaksud istirahat tak lama aku sudah terlelap.

Entah jam berapa aku terbangun, kamar masih dalam keadaan temaram, aku kaget akan sosok perempuan yang menindih tubuh istriku yang tertidur lelap. Istriku kalo tidur kadang suka kek kebo. Entah ada gempa ato ada barongsai lagi perform dia gak bakalan bangun.

Sosok itu tak lain dan tak bukan Lisa tentunya. Ia sedang mengenyot-ngenyot puting payudara jumbo orang rumahku dengan semangatnya disertai dengan remasan-remasan gemas akan tekstur kenyal besarnya.

Lidahnya lancar bermain, menari-nari menikmati bentuk payudara yang kini menjadi kebanggaan istriku. Pakaian yang tadinya hanya tersibak, kini terbuka lebar hingga hanya ada celana dalam yang masih melekat di tubuhnya.

Lisa duduk tapi tidak menekan perut istriku hingga gangguan yang dilakukannya tak menyakitkan. Tubuh telanjang Lisa juga terlihat jelas siluet indahnya. Aku bisa melihat jelas payudaranya yang juga termasuk dalam ukuran jumbo itu bergantung indah tumpah ruah di perut istriku.

Sesekali ia menciumi bibir istriku, menjilati wajahnya, lalu balik lagi ke payudara jumbonya. Melihat semua itu membuat Aseng junior-ku tentu aja menggeliat bangun dan mulai mengacung di balik boxer-ku.

Tetapi aku tetap berbaring diam, pura-pura masih tidur. Pelan-pelan Aseng junior mencuat dan membentuk tenda Indian berbentuk kerucut. Kembali ia menciumi bibir istriku dengan ganas walo cuma ciuman satu pihak saja karena istriku sama sekali tak merespon, hilang di dunia mimpinya yang indah sampe tak menyadari ada orang yang sedang melecehkan tubuhnya begini rupa.

Lisa kemudian beringsut turun, berusaha untuk melucuti celana dalam yang tersisa.

“Jangan…” desisku harus angkat bicara menahan tangannya untuk urung melaksanakan niatnya yang semakin nekat. Kaget ia menoleh padaku mengira aku juga tidur lelap seperti istriku. Ia menarik tangannya yang kutahan tadi.

“Aku suaminya… Jadi aku tau… dia bakalan bangun kalo Lisa main-main disana… Itilnya sangat sensitif… Apakah Lisa siap kalo dia bangun?” desisku lagi.

“Tidurlah lagi… Kelonan aja kek tadi… Kalo kek gitu dia gak pa-pa…” lanjutku bermaksud untuk berbalik memunggungi mereka. Membiarkan Lisa meneruskan kecuali menyentuh area genital istriku yang sensitif. “Apa mungkin Lisa kentang?”

Di temaramnya malam di kamar ini, aku bisa melihatnya membuang muka setelah sebelumnya melirik pada gundukan Aseng junior di dalam boxer-ku yang sudah bangun sempurna akibat menyaksikan aksi satu pihak Lisa barusan pada istriku.

Ia merebahkan badannya kembali ke samping istriku dan menelusupkan wajahnya ke ketiak ibu anak-anakku itu hingga tak terlihat lagi terhalang gundukan jumbo dari pandangan.

Karena masih ngantuk, aku kembali tertidur—lupa tadi bangun kenapa.

“Hu-uhh…” aku bangun lagi karena alasan yang gak jelas. Pokoknya ada sesuatu yang mengganjal aja. Enak juga ada terasa. Aseng junior terasa basah oleh cairan.

“Maa…” sadarku siapa yang sedang mempermainkan Aseng junior-ku yang telah tegang. Ternyata istriku sedang menyepong batang kemaluanku dengan gencar sampai tegang sekeras tonggak. Kuelus kepalanya dan ia tersenyum nakal. Ia mengangguk-anggukan kepalanya mengocok Aseng junior dengan mulutnya.

“Ghlok… ghlokk.. glokk…” suara gelomohan mulutnya yang memasukkan seluruh penisku di dalam mulutnya, basah oleh ludah dan sedotan yahudnya.

“Aahhh…” lidahnya menjulur dengan liur yang mengucur.

“Siapa tadi ngobel-ngobel itil mama trus pura-pura tidur? Hhsss… Tanggung jawab…” bisiknya dengan gundukan jumbo menggantung padat di depan mataku.

Daging kenyal padat dijejalkannya ke mukaku. Tentu aja aku gelagapan harus meladeni nafsunya yang tiba-tiba naik.

“Maa… Ada Lisa di situ…” bisikku mencegahnya agar ingat-ingat kondisi saat ini.

“Biarin… Orang dia lagi tidur pulas begitu, kok…” balas bisik lagi dan terus menjejalkan payudara jumbo-nya agar kurangsang sementara ia beringsut naik ke pangkuanku.

“Mama lagi hot kali nih, paa… Papa sih ngobelin itil mama…”

Waduuuh… Ini pasti kerjaan si Lisa. Ia nekat dan terus menggerepe-gerepe istriku sampe ke kemaluannya. Benar aja kan yang kubilang, langsung on begitu kacang itilnya disentuh. Aku yang jadi kena sasaran. Panlok itu pasti pura-pura tidur saat ini. Dari sini aku bisa melihat matanya bergerak-gerak. Ini orang rumahku kok gak ada hujan gak ada panas malah berani nekat bercinta di sekitar orang lain yang dikiranya tidur. Kemajuan ato apa?

“Aaahhh… Uhhmm… mm… Aahh…” erangnya saat Aseng junior-ku meluncur masuk dan langsung tenggelam di liang kawin paling sah milikku.

Ia langsung aktif bergerak di posisi seks favoritnya ini; WOT. Naik turun ia memompakan tubuh singset padatnya mengocok Aseng junior yang tentu aja merasakan nikmat yang amat sangat.

Tubuh upgrade istriku sangat luar biasa sekali akhir-akhir ini. Aku selalu kelimpungan harus menghadapinya. Aku hanya menandinginya semampuku aja. Tetapi di posisi ini ialah pemimpinnya dan aku harus bertahan mati-matian selalu. Prinsipnya aku gak boleh keluar duluan sebelum dia. Kalo bisa sampe dua kali.

Kucari kesibukan dengan mempermainkan payudara jumbo luar biasanya dengan sesekali melirik kondisi Lisa yang berbaring tak jauh—berbaring menghadap ke arah kami. Tubuhnya yang terbungkus selimut melamurkan gerakan tangannya yang pasti sedang menyenangkan dirinya sendiri di balik sana.

Suara seksi istriku yang sedang keenakan pastinya yang menjadi pemicunya. Apakah ia sedang menikmati pemandangan istriku yang sedang bersenang-senang? Sedang menikmati geliat-geliat seksi tubuh istriku saat bergerak naik turun mengejar kenikmatan?

Orang rumahku seperti tak perduli apapun. Ia bergerak liar seperti biasa, menunggangi Aseng junior-ku seperti tak ada orang lain di sini. Apakah ia bermaksud pamer? Pamer ato pemberitahuan kalo ia adalah perempuan yang sama sekali normal, hanya mau pada lelaki saja. Tentu saja suaminya sendiri. Bukan doyan pada perempuan seperti yang diinginkan Lisa.

“Paaa… Enaak kali, paaa… Aahh… Ah ah ahhh…” tubuhnya bergetar-getar orgasme sekali dan berhenti sebentar lalu bergerak lagi mengejar hal yang sama. Aku yang harus mati-matian bertahan menahan guncangan tubuhnya, sempit liang kawin ber-IUD-nya, ganas gocekan dan goyangannya.

Kutarik tubuhnya dan kupagut bibirnya yang dibalasnya dengan ganas. Lidah kami sesekali saling belit dan pagut bibir. Pinggulnya tak berhenti bergerak memompa Aseng junior dengan kecepatan konstan.

Aku mulai tak memperdulikan Lisa juga dan asik masyuk tenggelam dalam percintaanku dengan istriku sendiri. Aku menyambut gerakan pinggulnya dengan hentakan Aseng junior juga. Kami berdua bergerak memompa bersama. Hentakan istriku kubalas dengan sodokan hingga percintaan kami ini semakin panas dan liar.

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22