The Baby Maker Part 15

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22

Cerita Sex Dewasa The Baby Maker Part 15 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya :The Baby Maker Part 14

Ada noda darah di batang basah mengkilap Aseng junior dan itu juga yang dilihat Cut Intan, terakhir dari empat perempuan muda yang disiapkan hantu Wewe Gombel bernama Nenek Te-tek ini. Ia beringsut maju hanya menatap ke bawah dan yang tampak baginya hanyalah tegang keras berlendir Aseng junior-ku yang mengacung keras berdenyut-denyut. Aku mengatur nafasku sebaik-baiknya.

Cut Intan

“Pasoe capomu, nong! Leugat!” hardik si Nenek Te-tek keras di belakangku.

Tangannya mengacung-acung menunjuk pada Cut Intan memaksanya cepat. Tergopoh-gopoh ia merangkak mendekat padaku dan langsung nemplok di pangkuanku. Sekilas payudara empuknya menggores mukaku. Panik ia memposisikan dirinya senyaman mungkin di atas tubuhku.

Tak akan mungkin nyaman dalam kondisi gawat seperti ini. Apalagi ia tau kalo proses deflower ini akan menyakitkan. Nenek Te-tek menaruh harapan tinggi padanya untuk berhasil membuatku ngecrot agar tujuannya berhasil; membunuhku. Dan parahnya, ia bisa menyuruh keempat dara Aceh yang cantik lagi lezat ini mengulangi giliran mereka dari awal kembali.

***

Sekarang adalah giliran Cut Intan. Inong/dara terakhir di sekapan si hantu Wewe Gombel Nenek Te-tek di dalam gua bawah hutan terpencil gunung Leuser ini. Wajahnya tegang saat ada di depan mataku walo tak pucat cenderung bersemu merah.

Posisinya yang tepat di depanku membuatku berganti-gantian menatap wajah cantiknya dan mancung payudaranya yang hanya berjarak beberapa senti aja dari hidungku.

Cut Intan bertopang di lututnya di atas pangkuanku. Aseng junior mengacung keras tepat mengarah pada kemaluannya yang pastinya merekah lembab sebab sudah menyaksikan tiga ronde persenggamaanku dengan tiga temannya. Aku tak tau apa yang sedang ada di pikirannya.

Apakah ia takut dan berharap ini tak terjadi ato malah ia kepengen merasakan ini semua setelah menyaksikan teman-temannya?

“Leugat, nong! Leugat!” seru si Nenek Te-tek tak sabar agar Cut Intan mempercepat apapun yang sedang diulur-ulur gadis ini.

Berkali-kali ia mengepaskan posisi lututnya yang ada di samping pinggangku. Dicobanya turun sedikit dan ujung lembut kenyal Aseng junior menyentuh bongkah pantatnya, ia terkaget dan naik lagi. “Leugat!” tangan Wewe Gombel itu menyeruak dan menjambak rambut perempuan muda yang sedang ketakutan ini.

“Ampoon, nek… Ampoon!! Sakeet…” jerit Cut Intan kesakitan rambutnya direnggut kasar begitu.

Aku menggigit tangannya yang tepat di samping pipiku. Kugigit sejadi-jadinya. Kraak!

“KURANG AJAAARR!!” makin murka hantu bertetek panjang melambai-lambai ini akan seranganku barusan.

“AAKKHH!!” ia kesakitan merasakan gigitan kuat yang bersarang di lengannya yang menjambak rambut Cut Intan.

Prinsipku kalo rambutnya gak dilepas, gigitanku juga tidak lepas. Jadi Pitbull-pun jadi… Menjerit-jerit dua perempuan beda spesies itu merasakan sakit bersamaan. Tubuh Cut Intan tentu menegang.

“Mllbb… mllbb… (Lepaskan rambutnya!)” erangku dengan mulut penuh daging hantu keriput yang rasanya tak enak sama sekali ini.

Tau diri, si Wewe Gombel akhirnya melepaskan renggutan tangannya dari rambut Cut Intan dan aku juga melepaskan gigitanku pada lengannya. Aku langsung meludah-ludah mengenyahkan rasa yang tersisa di dalam mulutku.

“Cuuh… cuuhh… Whoekkk… Pait kali kau, hantu jelek!!” umpatku.

Lalu terasa ada getaran. Getaran apa ini? Gempa? Cut Intan juga merasakan hal yang sama. Ia refleks menengadah memandang langit-langit kurungan tanah ini. Memang bergetar.

“Aaahh!!… Ahhh!!” malah ketiga perempuan muda itu; Cut Cahya, Cut Riska dan Cut Masita yang menjerit-jerit panik. Hampir bersamaan aku dan Cut Intan menoleh pada apa yang membuat mereka bertiga menjerit histeris.

Mereka buru-buru mengarah pada kami berdua menjauh dari mimpi buruk yang mengejar mereka. Sebuah lubang membesar longsor bermula dari lubang yang menjadi tempat mereka membuang hajat.

Lubang yang bermuara pada sungai bawah tanah itu semakin membesar dan menelan hampir sebagian besar lantai ruang kurungan ini. Kecepatan longsornya sangat cepat dan kepanikan juga melandaku. Aku bisa tersedot dan masuk ke dalam longsoran itu.

Longsor terus membesar dan meluas. Keempat perempuan muda ini hanya bisa menjerit-jerit memeluk jeruji kayu besar yang menghalangi jalan selamat mereka.

“Ada apa? Kenapa kalian menjerit-jerit seperti akan disembelih?”

“Nenek!! Lungsooorr!!” jerit mereka bersamaan.

“WOY, LEPASIN KAMI, WOOY!!” aku juga ikut teriak-teriak karena aku masih terikat erat di kayu gelondongan kuat ini. Beberapa detik lagi semua lantai ini akan hilang, luruh longsor ke arah sungai bawah tanah yang ada tepat di bawah ruang sekapan ini.

“WEWE GOMBEL KIMAAKK!! LEPASKAN AKU!!” makiku lagi berulang-ulang. Si hantu bangsat itu tak melakukan apa-apa.

Aku gak sempat mikir yang macam-macam. Seperti; longsor ini disengaja sama si Wewe Gombel pukimak ini. Longsor ya longsor aja. Tanah lantainya segera longsor memasuki lubang yang semakin membesar. Keempat perempuan itu memeluk jeruji kayu sambil teriak-teriak agar dibebaskan dari tempat ini segera dan itu semua sudah terlambat!

4 Inong

Longsoran tempat ini luruh membawa material berupa tanah, batu, pasir, kayu, apa saja yang ada di atasnya. Lubang besar menganga menelan kami berlima memasuki lorong pendek yang bercampur lumpur, tanah, bebatuan untuk beberapa saat lalu nyebur dengan spektakuler di sungai bawah tanah yang luar biasa dingin sekali air mengalirnya.

Arusnya tidak terlalu deras tetapi lorong gua sungai sangat sempit. Bebatuan padas bertonjolan berbahaya di mana-mana. Keempat perempuan megap-megap berusaha mengapung, mencuatkan kepalanya di atas permukaan air.

Mencari udara untuk nafas yang sangat berharga. Mereka sepertinya tak ada yang pande berenang. Aku bisa berenang tapi kemampuanku itu gak berguna karena aku sendiri sedang kelelep terbalik tetap terikat di jeruji kayu yang ikut longsoran ini.

“Afuufffhhh… afffuuffhh… afffuuffhh…” aku merasa sangat sial sekali saat ini. Terikat di kayu ini tetapi berada dibagian bawah. Kelelep aku jadinya meregang nyawa. Beberapa teguk air tertelan dan juga masuk hidung.

“Fuaaahhh!!” aku menarik nafas lega saat golondongan kayu ini berbalik dan aku menghadap atas sekarang.

Ternyata Cut Masita yang membalik kayu yang membelengguku ini. Ia memegangi erat-erat kayu yang mengapung dengan baik di arus sungai dingin ini. Ia menggapai dan memanggil-manggil teman-temannya yang lain untuk berusaha merapat. Menjadikan kayu ini sebagai pelampung darurat.

Setelah berusaha sekuat tenaga mereka semua akhirnya bisa berkumpul di satu tempat, kayu jeruji yang masih membelengguku erat. Mereka berempat menggigil kedinginan apalagi dalam keadaan telanjang bulat seperti ini. Aku hampir mirip sebenarnya. Celanaku entah dimana, hanya sempakku yang masih menggantung di mata kaki kananku dan baju kaosku masih menggulung di belakang leherku.

“Kalian gak apa-apa?” tanyaku khawatir pada keempat perempuan muda malang ini.

Kesulitan dan masalah silih berganti menimpa mereka. Tetapi setidaknya kami sudah lepas dari Wewe Gombel itu sementara ini.

Mereka berempat saling pandang dan tak bisa dibantah kalo mereka tersenyum senang bisa lepas dari tempat itu. Walo menggigil hebat. Senyum mereka kian melebar saat gua sungai ini semakin melebar dan langit-langitnya semakin tinggi.

Pilar-pilar cahaya menembus bebatuan memberi penerangan yang memadai. Berenang seadanya mereka mengarahkan kayu pelampung darurat yang diganduli lima manusia sekaligus ini ketepian. Arus di sini agak melemah dan kami berhasil mencapai tepi sungai ke semacam ceruk sempit penuh bebatuan. Mereka menyeret kayu ini ke atas bebatuan yang banyak berserakan dengan susah payah. Karena beban kayu ini juga berat tubuhku.

Jatuh dari tempat penyekapan yang selama ini mengurung mereka dengan cara seperti tadi tak pelak juga menyebabkan luka-luka. Beberapa bagian tubuh mereka terluka. Bagian kening Cut Intan masih mengeluarkan darah walo sudah dibersihkan air sungai. Yang lain juga mengalami hal yang sama berupa lecet-lecet dan lebam. Tapi tak usah perdulikan aku.

Aku masih tak berdaya berbaring bersandar di kayu gelondongan ini dan mencoba memahami apa yang sedang mereka diskusikan. Sepertinya mereka mempertimbangkan cara untuk memutus tali yang mengikat tanganku.

Cut Cahya berinisiatif mencari batu yang pinggirannya tajam yang akan digunakannya sebagai kapak. Dicobanya untuk memotong tali itu berkali-kali. Awalnya dengan cara mengiris lalu kemudian mencacah karena tak ada perkembangan signifikan. Cut Masita juga mencobanya dengan batu pipih tajam yang ditemukannya.

“Plung!”

Sebuah batu besar terjatuh dari atas langit-langit gua di dekat dinding ke dalam aliran sungai bawah tanah ini. Pilar cahaya terang tambah menerangi gua ini. Lalu tertutup lagi oleh sosok mengintip dari atas sana.

Gawat! Itu si Nenek Te-tek! Yang benar aja. Baru sebentar kami lepas darinya, ini sudah tertangkap lagi. Cepat ia memasuki lubang itu dan tak lama ia turun ke arah kami dengan muka seram panjang tanpa ekspresinya itu. Yang menjadi highlight utama Wewe Gombel ini masih tetap teteknya yang panjang menggantung keriput sampai ke tengah pahanya.

Sontak saja kejadian ini membuat keempat perempuan muda itu kehilangan harapan lagi. Mereka menjerit-jerit ketakutan saat didatangi si Nenek Te-tek dan digiring ke satu sudut agar tidak berbuat macam-macam. Teror bertahun-tahun akan membuat mereka patuh dengan submisif-nya. Patuh. Berjongkok tanpa busana mereka bergerombol di dekat dinding gua yang dingin dan lembab. Si Nenek Te-tek beralih padaku. No-no-no-no way! Jangan sampe aku malah diperkosa hantu ini jadinya.

Aku yang dalam keadaan begini, telanjang dengan penis bebas, sangat rentan akan serangan seksual. Terikat erat pulak lagi pada kayu gelondongan kuat ini.

“Sudah kubilang kau tak akan bisa melepas tali ini… Ini tali khusus… Sangat kuat…” katanya.

Ada nada senang di suaranya bisa menemukanku kembali. Dengan kaki ia menggulingkan posisi kayu ini agar aku ada dihadapannya. Tanganku tergencet erat tertimpa kayu ke bebatuan

“Mereka tak dapat kuharapkan lagi untuk bisa mengeluarkan air manimu… Aku harus turun tangan langsung… Hi hihihihihi…” Mimpi buruk lagi. Yang kutakutkan benar-benar terjadi.

Ia menggerakkan tangannya di atas Aseng junior tanpa menyentuh. Jarinya bergerak-gerak seolah sedang memberikan jampi-jampi pada kemaluanku. Dan ajaibnya, Aseng junior benar-benar bangkit lagi setelah tadi ciut abis dingin-dinginan di air sungai bawah tanah. Naik-naik, menegang, keras, menegang dan sampe ngaceng sempurna. Rasa hangatnya sangat nyata walo caranya tak lazim.

“Hi hihihihihi… Kau tak suka kusentuh… Aku tak akan menyentuhmu… Aku hanya akan menghisapnya dari jarak segini…” ia lalu duduk dengan santai di kayu gelondongan ini, tepat di depan selangkanganku. Jarinya masih bergerak-gerak menjaga ereksi Aseng junior-ku. Kerasa?”

Memang ada rasa geli-geli aneh di sekujur batang Aseng junior yang tak dapat kujelaskan. Biasanya begini kalo ada rangsangan yang langsung menyentuh bagian-bagian tertentunya. Nenek Te-tek memandangi mukaku dan Aseng junior bergantian.

Rasa geli enaknya semakin nikmat menjalar ke seluruh tubuhku memberi rasa hangat. Gimana caranya menghisapku? Apa ada sesuatu di tapak tangannya? Bukan… Ada sesuatu di mulutnya yang berdagu panjang. Mulut lebar bergigi-gigi runcing itu tak pernah bergerak, tetapi sekarang iya.

Bukaan mulut itu semakin melebar dan luas secara tak wajar berkat panjang dagunya, memperlihatkan bagian dalam mulut itu. Ternyata ada wajah lain di dalam mulut itu yang berarti bentuk muka lonjong kek lontong itu merupakan topeng yang melindungi wajah aslinya.

Ada hidung dan mulut manusia normal disana. Dari paras yang terlihat seperti wanita berumur 30-40 tahun saja layaknya. Mulutnya membuka seperti sedang menyedot. Apakah ini yang dimaksudnya dengan menyedot energi hidupku itu? Ia menyedotnya dari Aseng junior-ku!

“Akkhh…” aku mulai menggeliat keenakan.

Aseng junior menegang keras berdenyut-denyut seolah ada mulut tak terlihat yang sedang mengulum dan menyedot batangnya. Rasanya sangat nikmat. Pantatku sampe mencuat naik berkali-kali ingin cepat-cepat dipuaskan lewat sebuah puncak ejakulasi.

Tidak! Jangan sampe ngecrot! Aku bisa mati! Jangan sampe ngecrot pokoknya. Aku harus bertahan. Aku harus menahannya… Ini gak bener… Aku harus melawannya. Tapi ini terlalu nikmat. Belum pernah aku merasakan nikmat di-fellatio senikmat ini. Walopun ini disepong secara ghaib, tanpa menyentuh. Dan dilakukan oleh hantu Wewe Gombel pulak, tuh!

Tanganku yang terikat menggenggam batu yang menekan tanganku. Kalo bisa batu ini akan kuhantamkan ke kepala si Nenek Te-tek ini biar kepalanya hancur sekalian. Aduuuh… Aku gak kuat lagi.

Nenek Te-tek terus menghisap dengan gerakan mulut dan jari-jari tangannya. Aku hanya bisa menjerit-jerit untuk mengalihkan pikiranku dari rasa nikmat yang bisa menyemburkan rasa nyaman ejakulasi terakhirku di dunia ini.

“AAAHHH!! BANGSAAATT KAO NENEK PEOOOTTT!! KIMAAAKKK!!! BEREEENTIII!! STOOOPPP!!! AAAHHH!!! OOOAHHH!! BANGSAATTT!!!” kulontarkan semua kata-kata kotor dalam perbendaharaanku untuk menghinakan mahluk terkutuk itu. Ia tak perduli dan terus menyedotku dari jarak jauh.

“Pletakk!!” sesuatu menghantam pelipis Wewe Gombel ini.

Tak pelak lagi itu mengganggu proses penghisapan energi hidupku. Kepala miring ke samping karena hantaman benda yang ternyata sebuah batu segenggaman tangan. Ada noda darah di sana. Dan itu asalnya dari tangan Cut Intan yang juga berdarah. Nenek Te-tek mulai murka karena mereka mulai berani melawan. Dari sisi dinding gua, mereka masing-masing memegang sebuah batu di dua tangan mereka.

“Patengon!” makinya murka.

“Lempar!” seru komando Cut Intan yang sudah berhasil mengenai si Nenek Te-tek sebelumnya.

Hujanan batu mengarah pada hantu Wewe Gombel itu. Dari sekian banyak yang menyerangnya, hanya satu yang berhasil menghantam bagian bahunya dengan telak. Yang lainnya hanya tembus melalui tubuhnya.

Ia bergerak makin meradang. Kenapa hanya batu tertentu yang bisa mengenai hantu pukimak ini? Kenapa yang lain tidak? Batu pertama itu dilemparkan oleh Cut Intan dan batu berikutnya yang kena juga dari lemparannya juga. Kedua batu itu ada noda darahnya. Darah Cut Intan. Darah yang masih perawan! Darah perawan yang bisa mengenainya.

“WOOY! BATUNYA OLESKAN DARAH CUT INTAN!!” teriakku sekuat-kuatnya. Meneriakkan apa yang kubisa saat ini.

Awalnya mereka kebingungan apa yang kuteriakkan. Tapi mereka cepat paham dan mengolesi batu yang akan dilempar dengan darah yang berasal dari luka-luka Cut Intan. Hujan batu-batu kali ini berhasil merajam si Wewe Gombel laknat. Telak bebatuan menghantam tubuh dan kepalanya.

Ia sempoyongan mendapat serangan bertubi-tubi. Ia tak sanggup menjauh karena tenaganya seperti terkunci oleh sesuatu kekuatan aneh. Kemungkinan juga dari efek darah perawan Cut Intan. Bak melempar jumrah dalam ritual Haji, keempat perempuan muda melempari setan laknat itu sampe kepayahan.

Hanya bisa menjerit-jerit pilu kesakitan yang teramat sangat. Mereka sekarang mendekat dan melampiaskan amarah mereka. Meluapkan emosi yang selama ini terpendam. Dendam membara sudah diperdaya selama bertahun-tahun. Batu yang telah dipakai menghantam hantu itu, dipungut lalu dihantamkan kembali. Amunisi yang tak akan berakhir.

Mereka tak boleh tenggelam dalam perasaan itu. Itu berbahaya! Aku harus menghentikan ini. “AWASSS!! MINGGIRRR!!”

Aku berlari beberapa langkah memanggul kayu gelondongan berat ini di punggungku, lalu melompat. Tenagaku sedikit bertambah berkat bakiak Bulan Pencak di kedua kakiku. Ini tenaga pamungkasku.

Keempat perempuan muda itu menepi memberiku jalan saat kusarangkan jurus terkuat memakai bakiak remeh ini. Nenek Te-tek meringkuk di bebatuan sungai. Kukerahkan semua Lini yang tersisa untuk serangan ini.

“GUGUR GLUGUR!!”

Terjadi cekungan seperti kawah beradius dua meter akibat tekanan jurus memakai jurus Gugur Glugur ini. Bebatuan keras yang membentuk lantai bebatuan sungai rengkah menjadi serpihan kecil. Nenek Te-tek hanya mengeluh pelan.

“Ugghh…”

“BRAAKKKK!!!” hantu laknat itu juga hancur menjadi serpihan kecil, memudar dan hilang. Burong Tujoh ketiga musnah.

Aku jatuh terguling akibat berat kayu gelondongan mantan jeruji kurungan ini. Tenagaku habis lagi…

***

Ketika siuman kembali. Yang pertama kali tampak olehku adalah pilar cahaya yang lemah dari atap gua. Sepertinya sudah semakin sore. Aku juga sudah lepas dari belenggu kayu gelondongan besar lagi berat itu. Entah bagaimana caranya mereka melepaskan aku dari benda laknat itu.

Mereka berempat sedang di tepian sungai sedang melakukan sesuatu. Bajuku sudah dibalikkan ke posisi awalnya tapi bawahannya aku hanya memakai sempak. Setidaknya masih lebih baik dari pada mereka yang kehilangan pakaian satu-satunya mereka.

Mereka berteriak-teriak girang menunjuk sesuatu di aliran sungai. Cut Cahya dengan sebatang ranting kayu menggapai dan menariknya ke tepian. Itu celanaku. Cut Cahya membersihkannya dengan teliti agar tak ada pasir ato tanah yang menempel.

Ternyata dari tadi mereka mengutip beberapa benda yang terhanyut bekas ruangan sempit kurungan mereka. Mereka berhasil mengumpulkan kembali pakaian-pakaian mereka dan menjemurnya seadanya di bebatuan. Hanya ada tiga pakaian plus celana milikku.

“Jih ka jaga…” sadar Cut Masita ketika ia menoleh untuk memeriksa keadaanku. Aku hanya mengacungkan tangan aja dan mengangguk kecil.

Masih dengan malu-malu, mereka memakai kembali pakaian milik masing-masing walopun dalam keadaan basah kecuali Cut Cahya yang tak menemukan miliknya. Ia ngumpet di belakang tubuh teman-temannya.

Tapi bagaimanapun mau ditutupi, pakaian kekecilan dan sempit tak layak pakai tanpa bawahan tak dapat menutupi bagian vital mereka kelihatan terekspos jelas. Dulunya mungkin ada celana panjang, rok ato apapun yang menjadi bawahan plus celana dalam. Seiring waktu, bawahan itu tak dapat dipakai lagi mengingat perkembangan drastis tubuh mereka. Hanya baju saja yang masih dapat mereka manfaatkan sampe sekarang walo sudah sangat sempit dan tak layak pakai.

“Ka jaga, bang Aseng?” tanya Cut Intan yang paling depan.

Yang lainnya tersenyum-senyum menutup mulut agak geli dengan keadaan ini. Terutama tentang Cut Cahya yang tak berpakaian sama sekali. Yang berpakaian-pun menarik bagian bawah baju itu agar menutupi pucuk segitiga kemaluan yang berjembut lebat-lebat itu. Ditarik bawah yang atas terkuak, kelihatan belahan dada montok.

Kubuka bajuku dan kuserahkan pada Cut Intan.

“Kasih ke Cut Cahya aja…” kataku jengah juga.

Aku kan laki-laki. Gak pa-pa dong telanjang dada. Takutnya nanti aku ngacengan terus harus ngeliat tetek Cut Cahya plus jembut lebatnya. Bukan apa-apa, coy. Gak ada tenaga sama sekali. Cepat-cepat Cut Cahya memakai baju milikku dan pakaian itu cukup panjang untuk menutupi selangkangannya.

Ia tersenyum lebar pertanda terima kasihnya. Teman-temannya merengut merutuki keberuntungan temannya itu mendapat baju baru.

Hanya bisa menikmati sore di tempat yang dingin ini, kami hanya duduk-duduk saja dan berusaha ngobrol. Aku mengamati dinding-dinding curam, membuat rencana bagaimana aku bisa keluar dari tempat ini bersama mereka dan kembali ke peradaban lagi.

“Bisa… pakai… bahasa Indonesia… aja? Aku gak ngerti…” ucapku pelan-pelan ditambah isyarat tangan juga.

Mereka mengangguk-angguk setuju. Duduk beramai-ramai untuk berbagi panas tubuh. Apalagi pakaian yang kami kenakan ini masih basah. Bisa-bisa kami minimal kenak pilek abis ini. Meminta pertolongan juga tidak bisa karena aku sudah tak punya kekuatan untuk itu.

Pertolongan yang paling mudah saat ini adalah memanggil Iyon. Tapi prosesi pemanggilan tanpa bantuan telepon itu melainkan semacam proses memanggil bantuan Menggala Suba, yang memerlukan tenaga Lini yang cukup besar.

Tenaga Lini yang dialokasikan tiap memanggil salah satu dari sahabatku itu; Iyon ato Kojek akan memakan 1/4 total tenagaku. Dan saat ini, itu adalah hal yang mustahil karena aku sama sekali tak punya energi Lini lagi. Lebih baik aku memupuk kembali tenaga Lini-ku ato berusaha sendiri dengan tenaga fisik yang pas-pasan.

Dari cerita mereka berempat yang campur aduk bahasa Aceh dan bahasa Indonesia, aku mendapat info kalo mereka berasal dari desa-desa yang berbeda di sekitar hutan gunung Leuser ini. Rata-rata diculik ketika berumur 9-10 tahun saat di bangku kelas 4 SD.

Mereka semua diculik oleh Nenek Te-tek sendiri. Awalnya mereka ada banyak, mencapai puluhan orang anak laki-laki dan perempuan yang dikumpulkan dalam kurungan yang lebih besar.

Satu persatu diambil, kadang dua ato tiga diambil sekaligus. Bisik-bisik antar mereka tersebar rumor kalo mereka dipakai untuk kepentingan pengorbanan manusia. Dibunuh untuk tujuan-tujuan tertentu. Selalu hidup dalam ketakutan kapan akan mendapat giliran diambil untuk dikorbankan.

Tak pernah ada yang kembali setelah diambil. Hilang dalam kegelapan hutan yang lebat dan angker. Bertahun-tahun mereka jalani begitu dengan tambahan anak yang datang dan pergi, tak pernah kembali.

Nenek Te-tek sepertinya mengganti pola kerjanya. Ia mulai hanya menangkap anak perempuan. Aku beranggapan disanalah ia mulai spesialisasi pada pengumpulan gadis perawan. Anak-anak lelaki dihabiskan dari inventorinya sampe 0% dan menimbun gadis remaja.

Pernah dalam satu tempat ia memasukkan 15 gadis remaja, berdesakan dalam ruangan sempit. Satu persatu diambil juga dan menghilang kembali.

Babak baru dimulai tak lama yang lalu. Nenek Te-tek mulai kedatangan manusia di tempat yang jauh di tengah belantara ini. Dua gadis remaja itu diambil sekaligus dari kurungan dan diperkosa di depan mata mereka lalu dibunuh kemudian dengan keji oleh orang itu.

Meninggalkan trauma mendalam. Asumsiku itu adalah seseorang yang sedang menuntut ilmu hitam yang sangat berbahaya hingga tega melakukan hal yang sangat mengerikan semacam itu. Tak lama datanglah orang-orang semacam itu lagi dan melakukan hal-hal yang serupa, lagi dan lagi. Para dukun golongan hitam pastinya.

Tinggallah mereka berempat. Cut Cahya dan Cut Riska beruntung tak mendapatkan opsi dibunuh setelah diperkosa. Hanya darah perawan mereka saja yang diperlukan orang-orang culas itu. Meninggalkan Cut Masita dan Cut Intan yang tetap perawan sampe bertemu denganku. Perawan Cut Masita akhirnya jebol olehku dan pamungkas Cut Intan yang darah perawan murninya mampu menetralkan Nenek Te-tek. Sebuah ironi.

“Apakah kalian mau pulang?” tanyaku pada mereka berempat yang mulai terkantuk-kantuk di tempat yang mulai gelap.

Hanya sinar bulan yang samar-samar memberi cahaya kebiruan pudarnya. Ini malam pertamaku bersama mereka di tempat asing ini.

“Lapar…” jawab gak nyambung Cut Masita. Yang lain juga kompak menyuarakan hal yang sama.

“Kruukk krrrukkk…” perutku juga berbunyi.

Terakhir aku makan waktu sarapan tadi pagi dan ini sudah malam. Tenaga dan energiku sudah terkuras habis akibat dikuras Mutee tadi siang, bertarung sebentar dengan Nenek Te-tek, bertahan dari gempuran dari tiga perempuan muda ini, mempertahankan nyawa yang cuma selembar dan akhirnya membasmi Wewe Gombel, anggota ketiga Burong Tujoh.

“Sama… Lapar juga…”

Mereka berempat menatapku memelas minta solusi. Di kurungan hantu Wewe Gombel itu walo sedikit, masih ada sedikit makanan untuk mengganjal perut mereka. Aku bukan orang yang manja akan kesusahan yang sedang kualami, tetapi tubuhku sangat lemah saat ini dan mereka sangat bergantung padaku dalam waktu yang bersamaan.

Mereka juga tak cakap berada di alam liar karena sehari-harinya hanya dikurung menunggu nasib. Di gua gelap ini mustahil untuk mencari makanan. Hanya batu melulu dan air yang ada. Menangkap ikan di dalam air bukan pilihan yang benar tanpa peralatan karena sungainya cukup dalam ditambah lagi dengan keadaan yang temaram gelap. Ikan cenderung keluar ke permukaan saat ada cahaya.

Memanjat batu-batuan di dinding gua yang setinggi belasan meter ini lalu keluar dari lubang yang telah dibuat Nenek Te-tek adalah satu-satunya cara. Lalu petualangan mencari makan kemudian dimulai. Untuk makan saja butuh perjuangan yang demikian berat. Tapi begitulah hidup, harus berjuang kalo tak mau diseleksi alam.

Dimana Vivi dengan mahluk yang selalu memata-mataiku itu? Apakah mahluk aneh itu tak dapat menemukan jejakku? Tapi tak perlu disesali. Mungkin Vivi agak kesal dan marah padaku. Tapi Farah dan Dea punya HP-ku.

Mereka pasti akan menghubungi Vivi untuk minta bantuan lalu asisten dosen itu pasti langsung menyuruh mahluk aneh itu mencariku. Dari Medan ke hutan Leuser ini cukup jauh dan hutan yang harus dijelajahinya cukup luas, di dalam tanah lagi.

Pasti akan memakan waktu. Hanya pikiran itu yang menjadi penyemangatku. Aku akan mempermudah pencariannya dengan berada di tempat terbuka untuk ditemukan.

Memanjat pelan-pelan dan hati-hati pada bebatuan gua yang licin oleh lumut dan ganggang. Memilah rute yang paling aman dengan tangan kaki telanjang. Berkali-kali aku terpeleset dan berhenti untuk mengumpulkan nafas dan tenaga.

Lagi-lagi mental seorang petarung silat harimau Mandalo Rajo yang membantu diriku terus maju. Sedikit keberuntungan dan tentunya Rahmat yang Maha Kuasa juga yang membuatku mencapai lubang di permukaan ini.

Dengan sisa energi yang ada di tiap sel mitokondria-ku, aku menarik tubuh yang terasa sangat berat ini melewati lubang yang pas satu tubuh lalu terkapar lelah ampun-ampunan di atas vegetasi hutan yang menyergapku. Lebat dan liar.

Aroma alam liar dan kebebasan ada di hutan ini. Aku hanya bisa tertawa lebar dan menangis sekaligus. Tuhan… CobaanMu berat sekali ya, Rabb.

Tau apa yang kutemukan di hutan ini. Durian. Ini hutan Durian yang sedang ranum-ranumnya. Beberapa hewan juga sedang menikmatii lezatnya buah ini yang telah jatuh matang. Seekor harimau juga terlihat membawa sebuah durian berukuran besar di moncongnya, akan dinikmatinya di tempat yang tak akan diganggu mahluk lain. Beberapa babi hutan juga berebutan raja buah ini.

Kukumpulkan beberapa buah dan kutancapkan mandau Panglima Burung di depanku. Datang kemari klen kalo berani menggangguku. Kugasak dua buah sampe tandas, mengenyangkan perutku dan menghangatkan tubuhku berkat kandungan lemak tak jenuhnya.

Mereka di bawah sana juga harusnya sedang menikmati buah-buahan paling terkenal di Nusantara ini. Ada kegilaan yang tak terbantahkan bagi masyarakat +62 akan durian. Ini durian terenak yang pernah kumakan. Penyelamat dan penyambung hidupku.

***

“Bangun pelan-pelan…” kataku membekap mulut Cut Intan yang mencari kehangatan dengan memeluk tubuhku. Matanya terbelalak kaget tapi tak bisa bersuara.

“Kita sedang diincar hantu lain…” peringatku dengan suara selirih mungkin. Hantu itu ada di sekitar kami, mengawasi menunggu saat yang tepat untuk menyerang. Ini sudah lewat tengah malam.

“Bangunkan yang lain… Kalo kusuruh lari… Kalian lari ke arah pohon itu… Para hantu tidak suka aroma getah pohon itu… Apapun yang terjadi… kalian tetap di sana sampe terang… Dengar?” kataku. Cut Intan mengangguk-angguk paham. Ia lalu membangunkan teman-temannya dan menunggu instruksiku selanjutnya.

Kami semua, aku dan keempat perempuan muda sudah berada di luar gua bawah tanah itu saat ini beberapa jam lalu. Dengan beberapa cara dan metode aku berhasil mengeluarkan mereka. Pake kayu galah panjang, pake tali rotan, pake apa saja yang bisa digunakan.

Dan yang paling penting tentunya tenaga beserta usaha mereka sendiri. Kelelahan, kami tidur di alam terbuka yang dingin tetapi terasa sangat merdeka bagi mereka berempat.

Aku yang menjadi sumber penghangat mereka. Aku lebih memilih untuk tidak menyalakan api karena banyak pertimbangan. Aku lebih memilih untuk tetap terjaga dan menjaga mereka langsung. Benar saja, aku merasakan mata jahat yang mengawasi kami…

Aku berdiri dan menghunus mandau andalanku. Bakiak Bulan Pencak akan kusiapkan juga kalo perlu. Tiga pedang daun lain dari daun durian juga sudah kusiapkan. Sudah saatnya aku punya pohon durian di daerah kekuasaanku. Kopian pohon dari hutan ini sudah sangat memadai. Bentuk terima kasihku juga pada hutan gunung Leuser.

Hantu itu bisa menyerangku dari arah mana saja di tempat ini. Karena itu aku berdiri di tempat yang terbuka agar bisa bertarung dengan leluasa. Aku berputar perlahan dan menajamkan semua indra dan refleks-ku. Hutan tiba-tiba sangat sunyi.

Bahkan suara jangkrik dan serangga malam lainnya berhentik berderik ikut mencekam suasana yang pekat oleh kengerian liarnya hutan yang didiami banyak mahluk jahat ini.

Ayo keluarlah cepat… Kemon… Ayo keluar… Siapapun kau.

Dari belakangku terdengar desiran sesuatu menerjangku. Segera kusabetkan mandau Panglima Burung ini. Benda itu segera terbelah dua! Sebuah durian berukuran besar. Dari kananku, serangan sebenarnya sudah sangat dekat akan menghantamku.

“SRRRAPP!!” belenggu membelut tubuhnya berupa rantai berduri dengan cepat.

Ia kaget membelalakkan matanya yang berjumlah banyak di kepalanya. Ia sangat kaget karena serangan mendadak yang sudah direncanakannya dengan matang bisa gagal oleh tipuan lain. “D-BUUMM!!” tubuh beratnya jatuh berdebum di tanah berumput liar.

Tak sampai disitu rasa kagetnya karena berikutnya yang kulakukan adalah mencincang semua kaki-kaki serangga yang panjang berjumlah delapan buah itu dengan empat buah pedang sekaligus. Menghapus semua alat geraknya.

Ya ini adalah sejenis siluman laba-laba dengan delapan kaki yang penuh bulu lebat. Ini jenis Tarantula dengan tubuh cenderung besar dengan racun ringan sampai menengah. Tubuh humanoid serta serangganya terbelenggu oleh rantai berduri, membelit sepasang tangannya agar tak bisa macam-macam. Ujung pangkal rantai itu tentu saja dipegang oleh sahabatku. Siapa lagi kalo bukan Iyon.

Aku sudah berkomplot tentu dengannya untuk menangkap hantu keempat ini dengan mengumpankan diriku sendiri. Ia akan masuk dengan jurus Bayangan Bunga Bujur-nya dan menangkap hantu laba-laba ini dengan senjata cambuk berbentuk rantai berdurinya ini. Senjata ini ampuh untuk melumpuhkan hantu, setan maupun siluman apalagi kalo cuma orang.

“Gotcha!” katanya mendekat terus membetot ketegangan rantai yang dipegangnya agar tetap membelenggu erat.

Iyon sudah kuhubungi tetapi tidak di alam nyata. Pertama-tama aku masuk ke alam daerah kekuasaanku dan memanggil Iyon agar tak ketahuan lawan. Aku yang sudah merasakan incaran hantu baru di sekitarku lalu mengatur taktik ini dengannya.

    

Iyon yang sudah sering bekerja sama denganku tentu tidak kesulitan mengeksekusi rencana ini dan terbukti benar, kami berhasil menangkap laba-laba ini dengan gemilang.

“Buat dirimu berguna… dan bicaralah yang penting saja…” kataku menghunus mandau-ku ke arah lehernya.

“Begitu omonganmu gak penting… kepalamu lepas dari lehermu…” ancamku.

Ini bukan ancaman kosong. Aku gak akan segan membasmi hantu semacam dia. Berkurang satu pengganggu yang mengancam umat manusia akan lebih baik.

“Ini hampir sama kayak zombie siluman laba-laba tempo hari ya kan, Seng?” ingat Iyon akan pertarungan kami dengan siluman monyet yang mengaku Dewa waktu itu.

Ia memperalat satu siluman lain yang sudah dibunuhnya menjadi zombie untuk bertarung baginya. Siluman laba-laba betina merah yang memakan semua sperma yang memasuki tubuh kak Sandra. Membuatnya dari muda sudah mandul alias tak subur.

“Yang itu betina… Ini jantan… Beda jenis juga… Yang ini jenis Tarantula… Yang kemaren itu jenis Black Widow… Super beracun…” jelasku padanya. Kami berdiri berseberangan membahas jenis hantu yang sekarang tak berdaya di tanah dengan leher ditodong mandau tajam.

“Kau jangan diam aja… Ngomong! Plak!!” kukeplak kepalanya dengan sisi pipih mandau lalu balik lagi menodong lehernya. Ia menjengit kaget.

“Kalian tidak akan selamat dari kami…” sahutnya mengancam.

Mukanya bercarut seperti mengejek kami berdua. Suara cempreng ini persis sama seperti yang kudengar saat bersama dengan Dea waktu itu. Hantu alias siluman Tarantula ini ternyata.

“Trus…”

“Burong Tujoh selalu menang dari siapapun… Kalian akan musnah… Kami akan melenyapkan kalian, Ribak Sude…” sambungan ancamannya mengemuka lagi. Aku menunggu lanjutannya. Iyon menggelengkan kepalanya.

“Trus apalagi? Itu bukan info penting! Dari dulu kami udah sering dengar itu… Itu info basi, tau?! Namamu siapa? Aku udah membasmi Mutee, Tabek dan Nenek Te-tek…”

“Ada yang namanya nenek tetek?” Iyon hampir tergelak mendengar nama aneh itu.

“Wewe Gombel, Yon…” aku memperagakan berat tetek di dada kiriku dengan tangkupan tangan. Iyon lalu paham dengan mulut membentuk huruf O besar tanda paham apa yang kumaksud.

“Mulai dari namamu dan nama tiga temanmu yang tersisa di kelompok Burong Tujoh ini… Jangan sampe kesabaranku abis…” aku makin menggesek sisi tajam ini di lehernya. Kepalanya mendongak tapi ia tak bergeming.

“Demi Burong Tujoh!! KREEAAAKKKK!!!” tiba-tiba Tarantula itu menembakkan sejenis bola benang kepadaku dari mulutnya yang berhasil kuelakkan.

Aku yang kaget tak sengaja memapas lehernya hingga kepalanya menggelinding. Kojek juga mundur dan menarik rantai berdurinya hingga tubuh serangga itu hancur remuk berderai, berkeping-keping. Pudar dan hilang.

“Kamikaze, ya?” gumamku.

“Kukira dia mau teriak ‘Hail Hydra!’ gitu…” sahut Iyon saat kami menyaksikan tubuh Tarantula itu menghilang sama sekali.

Iyon dan dark comedy-nya. “Dia tadi itu teriak kreak (sok jago)… Mungkin namanya si Kreak, Seng…” Apa urusan para hantu ini dengan kami hingga rela mengorbankan satu anggotanya yang berharga.

“Organisasi mereka cukup solid dan loyal… Mereka gak mau membocorkan informasi anggota lainnya…” simpulnya selagi menyimpan senjata cambuk rantai berduri itu.

“Tidak semua… Aku dapat bocoran satu nama mereka dari keceplosan anggotanya sendiri…” ingatku.

Aku tau nama Tabek dari Mutee. Mungkin dia hanya agak ember sampe memberitau namanya sendiri juga pada korbannya, tapi itu sebuah kerugian bagi mereka sendiri.

“Bagaimanapun sudah empat dari tujuh hantu ini yang sudah musnah… Tersisa tiga lagi kalo begitu… Sori kalo awak melibatkanmu lagi, Yon…”

“Gak bisa gitu, Seng… Dia jelas-jelas bilang Ribak Sude… Jadi itu bukan urusan pribadimu sendiri lagi… Kalo kau berhasil mereka apa-apain… berarti berikutnya giliran kami, bukan?” kata pemimpin gak resmi kelompok trio kami ini.

“Mereka sisa tiga… kita juga tiga… Pas, kan?” ia mengepalkan tinju tangannya dan memukulkan ke tapak tangannya sendiri dengan gemas.

“Kita akan membuat tantangan terbuka pada mereka bertiga… Apa tadi namanya Buwong Puyoh?”

“Burong Tujoh… Bahasa Aceh… Artinya Hantu Tujuh…” jawabku.

Ini seperti di masa lalu. Kami membuat tantangan terbuka terhadap kelompok lain yang jelas-jelas cari masalah dengan kami bertiga. Ini mengenai harga diri dan nama baik kelompok kami. Di kalangan golongan terang nama kami sering menjadi incaran golongan gelap. Lawan jangan dicari tapi kalo ditantang jangan lari.

“OK… Burong Tujoh…” Iyon menyiapkan dirinya.

Tangannya bersilang di depan perutnya dengan tinju mengepal. Ia mengerahkan Lini untuk melakukan komunikasi universal pada siapa saja yang berkepentingan akan tantangan terbuka yang akan disampaikannya. Dimana saja pihak itu berada akan mendengarkan tantangan ini. Ia lalu menengadah ke langit sebagai media perluasan komunikasi ini.

“Dengarkan, wahai Burong Tujoh… Dimanapun kalian berada… Aku mewakili Ribak Sude, menantang kalian dalam pertarungan terbuka… Aku tunggu di tempat ini segera… Kalau kalian punya kehormatan… kalian akan datang kemari dengan segera… Kita selesaikan urusan kita secepatnya!” tuntas Iyon akan pengumuman tantangan terbuka Ribak Sude terhadap kelompok Burong Tujoh.

Seluruh semesta supranatural dan ghaib akan mendengar lantang suara itu. Semua yang berkiprah di dunia ini akan menangkap pesan itu. Siapapun yang punya kemampuan akan memahami urgensi kepentingan ini.

Iyon melepaskan nafas panjang menuntaskan komunikasi universal itu. Ia menggeretakkan lehernya. Jari-jari tangannya. Lalu menghilang sebentar kemudian balik lagi dengan cepat membawa satu paket yang kurang dari trio Ribak Sude, Kojek.

Kami sudah lengkap bertiga. Kojek sudah mendengar pengumuman itu dan paham apa yang sedang menimpa kelompok kecil kami ini. Aku segera menjelaskan pada mereka pangkal masalah sampai aku terdampar di hutan ini.

Bagaimana aku diincar kelompok Burong Tujoh yang banyak berpusat di seputaran hutan gunung Leuser ini. Serangan bertubi-tubi mereka padaku yang tentunya bertujuan untuk membunuhku. Untungnya sejauh ini aku masih bisa bertahan hidup walo cukup babak belur dihajar terus-menerus beberapa hari ini. Ini memasuki hari ketiga.

Empat perempuan itu juga kuperkenalkan pada kedua sahabatku ini sebagai contoh korban salah satu anggota Burong Tujoh yang berhasil bertahan hidup di hutan ini. Iyon dan Kojek geleng-geleng kepala geram akan kiprah kelompok bejat ini yang tiap anggotanya menebar teror.

Manusia yang selalu mereka rugikan sebagai bahan eksploitasi mereka. Iyon bersedia mengantar keempat perempuan muda itu kembali ke kampung halaman mereka tapi masalahnya mereka tak tau letak kampung mereka sendiri.

Apakah keluarga mereka masih ada di sana karena sudah hampir belasan tahun mereka hilang. Iyon tetap berjanji akan mengusahakannya tetapi setelah urusan dengan kelompok Burong Tujoh ini selesai.

Tak lama, hutan ini mulai penuh dengan berbagai macam kalangan. Tentunya dari golongan manusia dan jin yang merasa berkepentingan dengan duel ini. Sudah lama tidak ada tantangan terbuka disebar luaskan secara umum begini.

Yang merasa bosan tak ada kerjaan pastinya akan melakukan berbagai cara agar bisa sampe di sini tepat waktu sebelum pertarungan sebenarnya dimulai. Segala macam orang mulai bermunculan.

Para dukun, pendekar Menggala, orang-orang sakti, para praktisi Indigo, pengamat supranatural, semuanya ada. Segala macam jin tentunya nongol. Dari yang paling biasa bentuknya sampe yang fenomenal bentuk maupun ukurannya.

Ada yang memancangkan beberapa obor untuk menerangi sudut-sudut bidang kosong lapangan hutan yang otomatis sebagai arena pertarungan kami nanti. Seperti ada panitia yang sengaja menyiapkan ini semua.

“Kayak turnamen dulu, ya?” kata Kojek teringat masa muda kami dulu. Turnamen bela diri gila yang sampe sekarang kami masih belum percaya bisa selamat hidup-hidup dari sana. Saat turnamen itu berlangsung, suasananya jauh lebih meriah dari ini karena tempat itu berubah menjadi kota dadakan tempat menampung para peserta dan penonton yang jumlahnya sangat banyak.

Sejak itu, tak pernah diadakan lagi turnamen semacam itu. Mungkin karena ini banyak yang antusias mendengar tantangan terbuka yang diwakilkan Iyon barusan. Rindu akan suasana waktu itu. Aku yakin dari wajah-wajah lama ini, banyak yang kangen masa itu.

“Kemaruk kali kurasa orang-orang ini… Cuma tiga lawan tiga aja kok sampe rame kali kayak gini jadinya…” kata Iyon memperhatikan sosok-sosok yang berseliweran mengelilingi arena ini untuk mendapatkan vista terbaik pertarungan nanti. Beberapa menyemangati kami dan banyak juga yang menyumpahi kami.

“Jangan lupa kau, Yon… Turnamen waktu itu mulanya ya gara-gara tantangan terbuka semacam ini juga, kan?” aku mengingatkannya kembali akan kejadian waktu itu. Iyon manggut-manggut ingat kejadian itu.

“Gara-gara kita juga-nya… Kita yang masih ijo disuruh bertarung ngelawan kelas berat kek mereka-mereka ini…” tunjukku pada segerombolan raksasa setinggi 3 meter yang melintas. Mereka hanya melirik dan mendengus pada kami.

“Eh… Bos… Malam, bos?” sapa Iyon tiba-tiba pada dua orang pria yang menghampiri kami. Mereka bertampang yang mirip identik. Perbedaan paras mereka hanya pada tatanan gaya rambut saja.

“Bas-bos… bas-bos… Kalo udah seperti ini… sama kita semua…” ia keberatan dipanggil bos sama bawahannya sendiri.

Benar, beliau adalah Buana Suryawan. Satu dari dua pucuk pimpinan grup Bhumi Surya Chandra Awan. Ia datang bersama kembarannya Ron Suryawan yang langsung memeluk Kojek gaya bro-hug yang akrab.

Mereka datang full power sudah memakai zirah kebesaran mereka yang berpendar cahaya mistis itu. Apalagi pedang-pedang yang disampirkan di pundak menambah kesan gagah keduanya. Pendekar pilih tanding dengan julukan pendekar 6 Agung. Tapi siapa sangka mereka juga pengusaha sukses sekelas konglomerat.

“Naik apa tadi kemari tadi, bos?… Sori saya gak bisa nganter langsung kemari…” kata Iyon yang terbiasa menyupiri Buana kemana-mana sebagai supir pribadinya.

“Dari tadi udah langsung gelut sama si Aseng ini…” katanya tak bisa menghilangkan kesopanannya sebagai pegawai bosnya yang sangat dermawan untuk keluarganya.

“Kami tadi mutar disitu… Wuusshh… Liat rame-rame di bawah sini kami jadi turun di belakang sana…” tunjuk Ron pada beberapa arah. Tentu saja. Aku tadi sudah menebak naga yang melintasi langit malam di bukit sebelah sana sebagai naga milik pria kembar ini. Double Dragon.

“Rame, ya?… Tapi masih kalah rame dengan yang dulu…” ujarnya tentu juga masih ingat dengan turnamen yang tadi kami bicarakan sebelum mereka tiba.

Karena mereka berdua juga ikut terlibat dalam kejadian itu. Saat itu kekuatan mereka belum sedahsyat sekarang. Masa-masa yang pantas untuk dikenang. Kumpul-kumpul begini bisa jadi nostalgia yang baik bagi kami.

“Apa tadi itu? Burong Tujoh? Bahasa apa itu?” tanya Buana pada Iyon lagi.

“Orang lagi enak-enak tidur… ada suara lantang menantang terbuka Burong Tujoh… Suaranya suara si Iyon, nih… Makanya kami langsung bergegas kemari…” kata Buana lagi.

Memang kami mengganggu banyak orang. Belum sempat Iyon menjawab soalan barusan, datang satu lagi orang yang sudah terganggu akan pengumuman Ribak Sude tadi. Ia mendarat dari melompat-lompat jarak jauhnya dan langsung berdiri tegak di depan kami sambil menggeleng-geleng.

“Abah?” berbarengan kami menyapanya lalu berebutan untuk salim menyalaminya.

Bagi kami, ia sosok ayah yang mengayomi kami. Ia menyalami kami satu-satu dan menepuk pundak kami yang membungkuk mencium tangannya. Abah Hasan juga datang karena pasti mendengar pengumuman Iyon tadi dan merasa terusik hingga harus datang kemari juga.

“Burong Tujoh mana yang kalian tantang ini?” tanyanya pada kami bertiga dengan muka ketat. Iyon dan Kojek langsung menunjuk padaku dengan gestur menuduh. Iyon pake mengangguk-angguk lagi memperberat tuduhannya kalo aku biang kerok semua ini.

“Ada banyak Burong Tujoh yang beroperasi di Nangroe Aceh Darussalam ini… Banyak yang cuma kroco… banyak yang palsu… Tapi jangan sampe kalian berurusan dengan Burong Tujoh si Teuku Amareuk…” kami bertiga terdiam.

Apalagi aku. Aku tidak mengenal nama itu. Ada banyak Burong Tujoh di sini? Waduh? Apakah nanti yang bakal datang adalah kelompok yang tepat? Bukan salah sasaran…

“Aseng, bah Hasan… yang tau nama-nama anggota Burong Tujoh ini… Dia sudah memusnahkan empat anggotanya…” kata Iyon membuka suara. Semua mata lalu berpusat padaku.

“Awak gak tau nama Teuku Amareuk, bah Hasan… Yang awak tau Tabek, Mutee, Nenek Te-tek dan mungkin Kreak…” pada nama terakhir aku beralih pada Iyon untuk mengkonfirmasi nama itu lagi. Lagi-lagi dia hampir tertawa akan nama Nenek Te-tek.

“Gak ada nama Teuku Amareuk…”

“BURONG TUJOH MEMASUKI GELANGGANG!!” seru suara dari kejauhan.

Kerumunan masa menyibakkan diri, memberi jalan untuk pihak yang terkait untuk memasuki daerah pertarungan yang sudah kami tentukan ini. Seolah mengambil jalan yang berasal dari kalangannya, mereka muncul dari barisan para golongan hitam. Dari kelebatan cahaya obor dan pendar cahaya bulan, hanya ada dua sosok datang memenuhi tantangan kami. Seharusnya mereka bertiga, kan? Kemana yang satu lagi?

“Ribak Sude… dengar… Yang paling depan itu yang namanya Teuku Amareuk yang abah maksudkan tadi… Mahluk paling berbahaya se tanah rencong ini…” abah Hasan memberi peringatan keras pada kami bertiga.

Amaran abah Hasan patut kami pertimbangkan karena ia tentu lebih tau seluk beluk tanah rencong ini karena ia punya darah daerah sini juga. Sontak kami bertiga memperhatikan sosok itu.

Ia setinggi 2 meteran, memakai jubah panjang sampai terseret di kakinya. Ada semacam sepasang tanduk di kepalanya. Hanya saja tanduk itu bergerak-gerak skeletal. Kami belum bisa melihat wajahnya dengan jelas karena jarak yang lumayan jauh. Sosok satu lagi yang masih misterius, lebih tinggi dan tubuhnya lebih berisi daripada Teuku Amereuk.

“Teuku Amareuk selalu merekrut hantu, siluman ato setan untuk bergabung dengan kelompoknya ini dan menyebar teror ke masyarakat. Selagi Teuku Amareuk masih ada dia akan terus merekrut anggota baru untuk menggantikan yang sudah musnah sehingga Burong Tujoh bentukannya akan selalu ada dan ada lagi karena akarnya tidak dicabut… Jika anggota-anggotanya kalian musnahkan, ia akan dengan mudah mencari anggota baru… Si Teuku Amareuk inilah yang harus dimusnahkan… Paham?” kata abah Hasan sangat serius sekali akan pemaparannya ini.

Mahluk paling berbahaya se tanah rencong…

***

“Kau kelihatannya masih lemas gitu, Seng? Kau nanti gak usah ikut berantem… Orang itu cuma ada dua, kok… Aku sama Kojek udah cukup kayaknya…” kata Iyon melihatku yang sedang melakukan pemanasan meregangkan otot. Masih agak lemas tapi masih bisa bertarung-la kurasa.

“Tapi ini kan masalahku awal sebenarnya, Yon…”

“Iya tau… Tapi mereka cuma ada dua… Lagipula kami masih fresh ini… Gak mungkin-la kau gangbang si Amareuk itu berdua sama aku, kan? Kau istirahat aja dulu… Pihak golongan hitam itu juga gak akan berani macem-macem sama kita… Bisa-bisa mereka dilahap sama Double Dragon Ron-Buana… Banyak juga yang dari golongan putih yang datang… Gak perlu khawatir kita dikeroyok mereka-mereka itu…” sahutnya.

Aku juga sebenarnya gak yakin bisa optimal bertarung setelah petualangan melelahkanku seharian ini. Beruntung juga masih bisa bernafas dengan lancar. Tapi aku merasa gak enak pada dua sahabatku ini. Ini semua bermulanya dari diriku sendiri. Mereka hanya terbawa-bawa. Tapi itulah kami, Ribak Sude.

“Aseng… Antum istirahat aja… Teuku Amareuk itu biar dihadapi Iyon dan temannya nanti yang ngehadapi si Kojek… Antum cukup nonton aja karena antum udah ngabisin banyak Burong Tujoh itu sendirian aja… Kasih bagian mereka berdua, dong…” kata abah Hasan membuatku tak bisa berkeras lagi. Ia pasti paham sekali perangaiku. Abah Hasan sendiri yakin Iyon bisa meladeni si Teuku Amareuk ini. Aku mengangguk nurut.

“Hei… Dia maju…” kata Ron menunjuk gelanggang dadakan ini.

Si mahluk bernama Teuku Amareuk itu berjalan dengan gagah ke tengah lapangan yang dikitari banyak penonton dari kalangan berbagai jenis mahluk. Dari manusia sampai jin yang berbagai bentuk. Ada beberapa hewan juga ikut serta menonton dari kejauhan.

Teuku Amareuk mengibaskan jubah panjang yang dikenakannya saat sudah tepat di tengah lapangan. Rumput dan tanaman semak apapun yang ada di dalam radius gelanggang ini langsung meranggas mati kering akibat kibasan itu. Mahluk ini sangat beracun. Iyon paham sekali hal itu.

“Ribak Sude… Siapa yang maju diantara kalian bertiga?” tanya Teuku Amareuk.

Tak dinyana suaranya sangat lembut tetapi cukup berwibawa. Jauh berbeda dengan suara yang sempat kudengar saat pertama kali. Tetap ngebass suaranya tetapi jauh lebih wibawa. Dari tempatnya berdiri ia menatap tempat kami semua berkumpul.

“Akankah pria yang bernama Aseng itu? Ataukah yang lain?”

“Oop! Hadir, ketua!” Iyon langsung mengacungkan tangannya tinggi-tingi.

“Hadir… ” Apa yang dilakukan Iyon langsung mendapat perhatian Teuku Amareuk.

Para penonton langsung riuh karena pertarungan awal akan langsung dimulai oleh pertempuran antar ketua kelompok. Iyon langsung memasuki gelanggang tak memperdulikan kondisi arena yang baru saja diracuni oleh lawan.

“Iyon… Ketua Ribak Sude… Suaramu yang mengumandangkan tantangan terbuka tadi… Bagus sekali karena saya yang akan menghadapimu untuk menjawab tantangan terbuka tadi…” ia menghadapi Iyon langsung berhadapan.

Sobatku itu pun tak patah arang walo secara fisik mereka tak seimbang, ia mendongak tak mau kalah di adu mental ini ala Tale of the Tape. Mereka berhadap-hadapan. Jelas tampilan fisik Iyon kalah jauh dengannya.

Pria bernama Teuku Amareuk itu wajahnya seperti manusia biasa saja tetapi dari sisi kepalanya muncul tanduk mirip capit mengarah atas yang bergerak-gerak. Tubuhnya yang tinggi besar, setinggi dua meteran itu masih tertutup jubah panjang. Ia menyeringai seperti sepele dengan lawannya yang ukuran tubuhnya jauh lebih kecil. Itu keuntungan bagi mereka berdua. Kekurangan ukuran fisik Iyon dipermudah dengan kemampuan ajaibnya. Apalagi Iyon memang sering mempermainkan lawannya dahulu untuk membuat mereka lengah.

“Sebelum kita mulai… aku mau nanya dulu… Ada urusan apa kalian dengan Ribak Sude? Terutama dengan temanku si Aseng itu… Kalian menyerang temanku bertubi-tubi satu harian ini… Kami tidak punya masalah dengan kalian sebelumnya…” tanya Iyon tak gentar dengan pamer kekuatan yang diperagakan Teuku Amareuk di hadapannya.

Pria itu tersenyum manis di wajah klimisnya yang cukup tampan sebagai seekor siluman. Tak langsung menjawabnya, ia malah mengangkat jubah yang dipakainya untuk menutupi tubuhnya.

Benda itu sepertinya sangat berat, tepatnya benda yang menopang di bahunya itu. Seperti pelindung bahu para pemain American Football yang kokoh. Enteng saja ia membuang benda itu ke arah luar gelanggang dan menghimpit menimpa satu raksasa yang menonton di pinggir lapangan.

Raksasa itu menjerit kesakitan dengan tubuh remuk dan akhirnya mati. Teman-temannya tentu tak terima anggotanya mendapat perlakuan kasar seperti itu. Beberapa raksasa merangsek maju ingin membalas perbuatan Teuku Amareuk pada satu teman mereka.

Yang terdepan dari mereka dihadang teman Teuku Amareuk dan mendapat sebuah bogem mentah di bagian dada yang menghantamnya, terdorong menubruk teman-temannya yang lain hingga cerai berai tunggang langgang seperti pin bowling. Para raksasa setinggi 4 meter dari ras hutan bakau melarikan diri ketakutan.

Mereka lagi-lagi pamer. Dua anggota Burong Tujoh ini ternyata sangat kuat. Teuku Amareuk memakai jubah yang sangat berat, yang bobotnya bisa membunuh satu raksasa perkasa. Dan pukulan temannya itu mampu menumbangkan sekelompok raksasa sekali pukul.

“Apa tadi? Ahh… Urusan… Baiklah… Bawahanmu itu sudah mengganggu bawahanku… Tidak benar kalau kalian tidak ada masalah dengan kami sebelumnya… Dia sudah menetak satu ekor hantu cicak bawahanku lalu membunuhnya kemudian… Tidak berlebihan tentunya kalau teman-temannya berusaha membalasnya… Mereka juga berakhir dengan ia membunuhnya…” kata Teuku Amareuk mencoba berargumen.

“Koreksi ya, Teuku… Aseng bukan bawahanku… Dia sahabatku… Gak ada pemimpin di Ribak Sude sebenarnya… Aku hanya mewakili kelompokku saja… Itu yang pertama… Mengenai hantu cicak itu… dan bawahan-bawahanmu yang lainnya… Itu sudah menjadi tugas kami manusia untuk membasmi mahluk-mahluk culas seperti mereka karena sepak terjangnya merugikan kami sebagai ummat manusia… Camkan itu, ummat manusia… Mungkin anda dulunya pun juga manusia… Ntah aku gak perduli apa yang membuatmu jadi begini… Tapi kamipun tak segan-segan menghabisi kalian kalo sepak terjang kalian juga merugikan ummat manusia…” ujar Iyon tak gentar.

“Dengar-dengar… anda Teuku Amareuk adalah mahluk paling berbahaya di tanah Aceh ini… Tentunya sudah banyak kerusakan yang sudah anda sebabkan di Nangroe ini… Pas kali kita ketemu disini… Kita selesaikan semuanya…”

“Ha ha hahahahahaha… Iyon-Iyon… Kamu sangat menghibur sekali ternyata… Sungguh naif… Sudah berapa banyak yang mengatakan omong kosong itu padaku selama ini… Lihat? Aku baik-baik saja… Kemana mereka? Hilang berkalang tanah… Ha ha hahahahaha…” gelaknya merasa lucu dengan suara ngebass yang terdengar enak didengar bak penyiar radio.

“Kita selesaikan dengan cepat…” kata Iyon tak berbasa-basi lagi pertanda ia sangat serius.

Di tangannya sudah terulur cambuk Kamarasuta. Cambuk terkuat yang dimiliki Iyon. Ia langsung mengeluarkan ini pertanda lain ia sangat serius dan menandakan kalo ia mengakui lawannya ini sangat kuat. Cambuk itu bergerak-gerak seolah punya nyawa dan keinginan sendiri. Sebagai cambuk terkuat Iyon, banyak usaha yang sudah dilakukannya untuk menjinakkan senjata ini.

“… dan bersih!”

Terdengar gelegar di udara saat Iyon melecutkan Kamarasuta-nya. Seperti ada lidah petir yang turun ke bumi menggelegar memekakkan telinga. Teuku Amareuk ternyata menepis lecutan cambuk itu dengan tangan kosong. Kembali Iyon menarik cambuknya dan melecut kuat ke arah Teuku Amareuk.

“CTAARR!!” ia menangkis lagi dengan tangan kosong.

Bukan isapan jempol ternyata omongannya. Iyon merangsek maju hingga lecutan cambuknya semakin pendek mengurangi jarak. Aku dan Kojek yang sudah bertahun-tahun bertarung di sampingnya tentu paham apa yang sedang dilakukannya.

Cambuk itu membelit pergelangan tangan kiri Teuku Amareuk, kemudian dengan keahliannya memainkan senjata itu kedua tangan Teuku Amareuk jadi terikat.

Iyon berkelit ke samping hendak melakukan taktik berikutnya untuk mengikat tubuh Teuku Amareuk, menyambung dari langkah pertama yang mengikat kedua tangannya.

Praktis lawan sudah kalah dengan serangan dasar Iyon untuk melumpuhkan lawan karena saat ini dengan cepat belitan cambuk Kamarasuta membelit tubuh Teuku Amareuk memanfaatkan kecepatan berpindah tempat jurus Bayangan Bunga Bujur-nya. Lalu diselesaikan dengan menghunjamkan benda runcing tajam di pangkal gagang cambuk ke leher lawan.

“Hyaaa!!” betotan kuat mengencangkan balutan panjang cambuk di tubuh Teuku Amareuk dilakukan Iyon disusul hujaman cepat ke arah leher. “CRAABB!!”

Kami semua menahan nafas sebentar untuk menyaksikan akhir hidup mahluk paling berbahaya di tanah Aceh itu dengan leher berlubang.

“Hukhh!!” tapi itu suara Iyon.

Kenapa Iyon yang mengaduh? Belitan cambuk itu melonggar dari tubuh Teuku Amareuk dan tubuh Iyon ngelongsor turun ke tanah sambil memegangi dada dan perutnya. Kedua tangannya sekaligus digunakan untuk membekap dada dan perut? Ada gerakan sejenis melata yang perlahan terlihat.

Teuku Amareuk memegangi gagang cambuk Kamarasuta. Ia berhasil menahan serangan mematikan barusan dan malah berhasil menyarangkan dua pukulan pada Iyon yang mengerang kesakitan di tanah.

Iyon berusaha berguling menjauhi lawannya sambil terus mengerang. Teuku Amareuk membuang senjata Iyon sembarangan dan melangkah mengejar lawannya yang berusaha menjauh. Iyon bukan hendak lari tapi hendak menyusun langkah kembali. Menyusun kuda-kuda dasar yang dulu kami pelajari bersama-sama. Kuda besi!

Dihentakkannya kaki kiri dan kanan bergantian mengerahkan Lini elemen tanah untuk memperkuat tumpuannya di bumi dan menyongsong lawan yang menerjang. Ia sepertinya sudah tau apa yang sudah menyerangnya, terlihat dari posisi tangan penyambut serangan lawan yang mempersilahkan lawan menyerang. Walo berjarak masih dua meteran lagi, Teuku Amareuk menyapukan tangannya ke samping kanan.

“Wrraahhh!!” OMG! Tangannya memanjang! Secara tak wajar tangannya bisa memanjang untuk melakukan pukulan lebar untuk mengincar bagian samping lawannya.

Iyon menangkis pukulan tangan kanan itu memakai kedua tangannya sekaligus karena tenaga sapuan lebar itu sangatlah kuat. Kuda-kudanya bertahan walo kakinya bergetar. Saat semua impact serangan itu masuk ke tubuhnya ia melompat kecil sedikit bergeser yang bagi orang yang tak paham akan dianggap kalo Iyon tak sanggup menahan pukulan kuat itu.

Padahal itu teknik membuang tenaga lawan ato menetralisir serangan agar tak merusak tubuhnya sendiri. Pukulan berikutnya mendera sama cepat dan lebarnya. Kedua tangan Teuku Amareuk bisa memanjang melakukan serangan dahsyat itu.

Kembali Iyon menangkisnya dengan kedua tangannya dan sedikit melompat lagi saat tekanannya merasuk. Saat kakinya mencecah tanah lagi, ia langsung melompat mundur beberapa langkah.

“Dahsyat seranganmu, Teuku… Hebat!” puji Iyon mengibas-ngibaskan tangannya.

Ada kepulan asap di tangannya pertanda serangan tadi bukan hanya murni hentakan kekuatan menghantam, ada racun juga di sana. Iyon meloncat-loncat di tempatnya untuk menetralisir semua ekses serangan, dua serangan Teuku Amareuk barusan. Asap itu adalah eksesnya. Aroma busuk tercium udara pertanda itu adalah racun yang mematikan.

“Biar kutebak… Anda ini siluman lipan bukan?”

“Siluman lipan?” ulang kami dan beberapa penonton lainnya.

Jadi tangannya yang memanjang tadi adalah fitur siluman lipan. Dua buah lipan raksasa yang tadi menghantam Iyon bergantian. Lipan adalah arthropoda beracun. Kalo sebesar itu dan merupakan siluman, bayangkan betapa berbahayanya racun di dua tangan Teuku Amareuk ini.

“Jadi kau kebal racun?” tebak Teuku Amareuk tidak terlalu terkesan akan reaksi Iyon yang sepertinya baik-baik saja terkena serangan pukulan beracunnya dua kali.

Ia mungkin terganggu dengan gerakan meloncat-loncat Iyon seperti hendak melakukan tarung di arena resmi. Kadang kalo terlalu bersemangat, Iyon sering melakukan itu.

“Ah.. Siapa bilang aku kebal racun?… Sakit racunmu itu, tau?” ia tetap melompat-lompat sekalian mengibas-ngibaskan tangannya terus.

“Racunmu ini tidak murni… Campuran berbagai macam jenis racun… Itu artinya anda juga bukan satu jenis siluman saja… Ada ularnya mungkin?” kibasan tangannya ditambah mengusap-usap bagian tangannya yang tadi dipakai untuk menangkis serangan Teuku Amareuk.

Dari jarak jauh begini, aku kurang bisa melihat apakah benar bagian tangan itu menghitam karena racun ato cuma bayangan gelap saja. Hanya saja asap terus mengepul dari sana.

“Jadi kamu sudah tau ada dua lipan ini di tanganku ini… Srrruuuutt…” satu persatu tangannya memanjang lalu tekstur tangannya menjadi kasar seperti sisik besar yang merupakan segmen tubuh lipan ato kelabang yang berkilat kinclong.

Yang kanan warnanya dominan kebiruan sementara yang kiri kemerahan. Ada dua bentuk kepala dengan masing-masing capit yang besar menggantikan fungsi jari-jarinya. Dari capit itu tentu racun gigitan lipan itu berasal.

Melihat dua ekor lipan raksasa menjadi bagian tangannya agak serem juga melihatnya. Lipan segede itu pastinya racunnya juga sangat gede efeknya. Tapi Iyon sama sekali gak jiper menghadapi lawan yang cukup menyeramkan seperti Teuku Amareuk ini.

“Wah… Luar biasa bling-bling tanganmu, Teuku… Banyak abis wax kayaknya untuk memolesnya jadi kinclong kayak gitu… Tau aku… Aku ini supir jadi tiap pagi aku harus moles mobil bosku supaya kinclong kayak gitu juga… Bosku ada di sana…” ia mengacungkan tangannya lalu melambaikan tangannya.

“Ya kan, booossss??” sempat-sempatnya ia menyapa Buana di saat begini.

Buana yang tak jauh dariku melambaikan tangan tanda ia tau apa yang dilakukan Iyon saat ini. Tau kalo sewaktu-waktu miliknya akan dikendarai supirnya. Karena kodrat seorang supir ya begitu, mengendarai kendaraan milik tuan ato bosnya.

Mendapat izin dari sang empunya kendaraan, Iyon tersenyum lebar.

“Punya bos seperti dia akan sangat menguntungkan kalo anda penasaran… Kita mulai dengan yang pertama… Ini pinjaman! Hyaaa!” Iyon mulai menerjang lagi.

Tentu saja Teuku Amareuk ini tidak tinggal diam melihat Iyon mulai menyerang kembali. Kali ini ia tidak memakai senjata andalannya yang berupa cambuk dan semacamnya. Di tangannya ada sebuah benda besar berputar-putar seperti baling-baling pesawat kecil.

Berikutnya adalah serangan brutal dari sebuah senjata aneh yang silih berganti dihantamkan Iyon pada Teuku Amareuk. Senjata berbentuk sebuah mata besar dengan beberapa buah mata pedang tajam berputar cepat di atasnya.

Iyon bisa menyerangnya dari jari jarak dekat atopun dari jauh karena senjata bernama Quarn itu bergerak otonom seperti punya kemampuan bergerak sendiri. Ada sebuah tali magis yang menyatukan tiga buah pedang berputar cepat—sangat cepat sulit diikuti mata tak terlatih.

Aku yang biasa bergerak cepat dengan Mandalo Rajo sedikit bisa melihat gerakan berputar cepatnya. Bagi lawan itu akan bagaikan tebasan tak berkesudahan sebuah baling-baling. Teuku Amareuk hanya bisa bertahan dan menangkis dengan dua tangan lipannya.

Tak ada kesempatan baginya untuk menyerang balik karena fokus untuk bertahan saja. Iyon sepertinya bertujuan untuk melenyapkan sepasang tangan lipan beracun berbahaya itu dari tubuh Teuku Amareuk.

“Heaaa!! Heeyaaaa!!” berbagai sudut serangan dilancarkannya terus menerus untuk melenyapkan tangan lipan raksasa itu.

Teuku Amareuk menyilangkan tangannya untuk melindungi mukanya dan Iyon sudah menyadari dari tadi gestur mempertahankan mukanya. Tebakanku, hanya itulah jejak manusia yang tersisa dari dirinya. Hanya wajah tampannya yang tersisa dari dirinya yang dulu. Dirinya yang sudah berkubang berkarat di dalam kegelapan dunia siluman ini.

“HEAAAHH!!” Teuku Amareuk agak menundukkan tubuhnya, awalnya kukira untuk semakin melindungi mukanya tetapi kaki kanannya berputar di balik punggungnya dan melancarkan serangan baru! Iyon sempat melihatnya dan berkelit sedikit takala sambaran kaki yang juga telah berubah itu menyerempet dadanya yang mencabik bagian depan pakaiannya.

Ia mundur tetapi Quarn tetap berputar meradang. Keras tekstur lipan itu disilangkannya kembali untuk melindungi wajahnya. Jago juga si Teuku Amareuk. Didesak sedemikian brutal dalam keadaan bertahan ia masih sempat menyarangkan serangan berbahaya dengan menggunakan kakinya.

Kakinya menekuk tak wajar.

“Sengat kalajengking, ya?” sadar Iyon saat ia menarik sobekan baju depannya yang koyak akibat serangan mendadak yang untungnya sempat ia elakkan barusan.

Kaki kanan Teuku Amareuk berubah menjadi bagian ekor kalajengking yang beracun. Untung saja senjata itu hanya sempat merobek pakaian bukan merobek dadanya. Quarn berputar pelan menampakkan bentuk asli tiga buah pedang yang bergerak. Tak lama senjata berbentuk aneh itu menghilang. “Bagaimana tangan lipan itu? Masih bisa dipake?”

“Sudah mulai rusak… Tapi saya bisa menggantinya sewaktu-waktu… Tidak usah khawatir… kita masih bisa terus bersenang-senang…” jawab Teuku Amareuk seperti tidak terlalu gusar dengan beberapa rompal di beberapa segmen lipan yang menjadi bagian tangannya.

Dan benar saja, beberapa bagian yang mengelupas itu digantikan kulit tebal berkilat yang baru. Ia lalu mengacungkan dua tangan lipan itu ke depan, ke arah Iyon. Kedua capit itu terbuka dan membuka mekanisme mulut lipan lebar-lebar.

“Wusshh wusshh…” beberapa benda melesat cepat dan Iyon berkelit menghindari tembakan dari lipan-lipan itu.

Para penonton yang ada di sekeliling galanggang ini yang mendapat imbasnya. Tembakan pertama yang meleset mengenai satu penonton dan dengan cepat benda itu masuk menggerogoti, melubangi dan memasuki tubuhnya.

Tentu saja panik yang penonton lain yang menyaksikan kengerian itu. Mereka berteriak-teriak ‘Lipan! Kelabang!’ Ternyata yang ditembakkannya adalah lipan-lipan berukuran normal yang punya kemampuan memasuki tubuh korbannya. Menggelepar hebat penonton tak beruntung itu tubuhnya dimangsa lipan beracun itu dari dalam. Tak lama ia mati tak bergerak lagi.

Semakin banyak lipan yang ditembakkan Teuku Amareuk ke arah Iyon yang mati-matian dielakkannya. Beberapa mengenai penonton lagi dan yang tak mendapat sasaran, berkeliaran melata kemana-mana.

Beberapa penonton menginjak lipan-lipan itu sampe hancur. Aku sudah membuat bubur lipan dua ekor. Besar, panjang, dan berwarna merah darah. Serangan wabah lipan beracun ini sangat berbahaya. Athropoda beracun itu tak pandang bulu siapa yang diserangnya. Rekan Teuku Amareuk itu juga sudah menginjak beberapa ekor yang terlalu dekat dengannya. Apalagi kami-kami ini yang bukan siapa-siapa baginya.

“Kamu hanya menghindar terus… Tidak menyenangkan… Harusnya kami merasakan satu saja… itu sudah lebih dari cukup… Ayolah…” kata Teuku Amareuk sarkas sekali.

Siapa yang mau terkena serangan mematikan berbahaya semacam itu? Iyon mengelak melompat-lompat secara acak. Menghindari tiap tembakan lipan yang keluar dari bukaan mulut lipan raksasa di tangan Teuku Amareuk. Ia lalu berlari menghindar berputar, sepertinya ia sedang mencoba mengusahakan sesuatu. Ada sesuatu di tangannya.

“Aku gak mau mati cepat-cepat, Teuku… Ini!” ia melemparkan sesuatu ke arah kaki kiri Teuku Amareuk yang masih berbentuk normal.

Itu lipan milik Teuku Amareuk! Iyon bermaksud menggunakan senjata lawan ke pemiliknya? Apakah akan berhasil. Binatang melata yang menjijikkan bagi sebagian besar orang itu menggeliat sebentar lalu mencoba bekerja sesuai kodratnya di permukaan kaki kiri Teuku Amareuk, pemiliknya sendiri.

Lipan itu mampu membunuh manusia, hewan bahkan jin sekalipun. Sudah ada beberapa contoh sosok tubuh yang bergelimpangan tewas di sekitar kami akibat serangan mematikan lipan itu yang terdiri dari beberapa jenis mahluk.

Teuku Amareuk agak kaget merasakan sesuatu hinggap di kakinya tetapi ia tak menunjukkan panik sedikitpun setelah melihat lipan merah itu melata di kaki kirinya. Hewan beracun itu tadinya hendak melakukan tugasnya untuk melubangi daging kaki yang dihinggapinya ini, tapi sepertinya ia tau kaki milik siapa dan urung melakukannya.

Iyon melihat kegagalan taktiknya itu tetapi tidak membuatnya surut—ia melakukan jurus Bayangan Bunga Bujur andalannya. Sekedipan mata kemudian ia sudah ada tepat di belakang Teuku Amareuk dan menendang lipan merah itu. Teuku Amareuk tak menyangka kalo lawannya malah membunuh hewan beracun yang berada di kakinya itu.

Entah apa tujuan Iyon melakukan itu semua karena ia melempar beberapa lipan merah yang tak mau mencelakai pemiliknya itu lagi dan lagi lalu membunuhnya. Tentu saja seperti usaha yang sia-sia dan menghabiskan waktu juga tenaga.

Iyon melakukan itu semua dengan cepat dibantu dengan jurus B3-nya. Berpindah tempat secara sistematis melempar lipan merah ke punggung Teuku Amareuk dan langsung menendangnya sampai lumat lalu berpindah ke tangan kanannya, mengulang hal yang sama.

Tendangannya tak terlalu kuat, hanya sekedar bisa menghancurkan lipan itu hingga lumat. Selesai melakukan itu semua, Iyon muncul tepat dihadapan Teuku Amareuk tetapi berbalik memunggunginya.

“Tipuan apa yang sedang coba kau lakukan?” tanya Teuku Amareuk dengan suara bass wibawanya itu.

Iyon tak langsung menjawab melainkan melakukan beberapa gerakan yang jarang dilakukannya. Ia terakhir menggunakan cara ini saat menganimasi beberapa buah batu besar saat melawan siluman monyet yang mengaku dewa saat itu.

Itu semua benda mati dan ia menggerakkan batu-batu itu membentuk tubuh humanoid raksasa dengan benda mati solid itu untuk menimpa siluman monyet kala itu. Apakah Iyon mencoba menguasai tubuh Teuku Amareuk dengan teknik ini?

“Nomor tiga memukul nomor satu berulang-ulang sampai moncrot! Nomor empat memukul nomor dua sampai bonyok!” kata Iyon pelan dengan membentangkan kedua tangannya.

Benar! Dia menggunakan teknik penomoran itu lagi. Dengan memberi tanda nomor pada tiap bagian tubuh lawan, ia menjalin koneksi yang membajak perintah kesadaran tubuh Teuku Amareuk di bawah kendalinya lewat penanda yang dilakukannya. Jadi penanda berupa nomor itu disamarkan Iyon lewat membunuh lipan-lipan merah itu di bagian tubuh Teuku Amareuk tadi. Cara yang cerdas!

Biasanya nomor satu adalah kepala, nomor dua badan, nomor tiga tangan kanan, nomor empat tangan kiri dan seterusnya sampai nomor enam. Jadi tangan kanan memukul mukanya sendiri dan tangan kiri memukul tubuhnya sendiri kalo sesuai penomorannya. Nomor yang tidak diberi perintah bergerak akan diam saja.

“DHUGG!! BUGGHH!! DHUGG!! BUGGHH!! DHUGG!! BUGGHH!!” Benar saja! Dua tangan Teuku Amareuk memukuli muka dan badannya sendiri dengan tangan berbentuk lipan raksasa itu dengan semena-mena—tanpa bisa dicegah.

Terbelalak kaget tentunya pria tampan berbentuk campuran beberapa siluman itu kala wajahnya yang sangat dilindunginya, dipukuli oleh tangannya sendiri. Muka terdorong berulang-ulang oleh tonjokan tangan kanannya sendiri hingga beberapa luka dan memar berdarah mulai menodai wajahnya.

Begitu juga dengan tubuhnya yang dihajar menggunakan tangan kiri yang berupa lipan raksasa berwarna merah itu. Bagian dada perutnya berkali-kali mendapat bogem mentah.

Iyon hanya menyaksikan itu semua dari jarak aman masih dengan tangan membentang. Menjaga konsentrasinya pada nomor-nomor yang sudah disematkannya di tiap anggota tubuh Teuku Amareuk.

Pukulan-pukulan itu tak berkurang sedikitpun kekuatan menggedornya. Tak berkurang daya hentaknya. Menghajar dengan telak tiap sasarannya. Pasti Teuku Amareuk sangat bingung apa yang sedang terjadi pada tubuhnya. Kenapa tubuhnya mengingkari perintah dirinya? Apakah Iyon akan bisa mempertahankan keadaan ini sampe Teuku Amareuk KO oleh kekuatannya sendiri?

Iyon orangnya sangat praktis. Kalo ia bisa mengalahkan lawan dengan cepat dengan cara mudah, ia akan mempertahankan cara itu sampe lawan KO. Minimal menyerah. Muka Teuku Amareuk sudah bonyok moncrot seperti perintah pemberi nomor. Begitu pula dengan tubuhnya, penuh lebam-lebam berdarah. Teuku Amareuk pasti akan memutar otaknya bagaimana cara lepas dari teknik unik milik Iyon ini.

“SHRRUUKKK!!” sesuatu yang berbentuk gilig panjang keluar dari bagian belakang tubuh Teuku Amareuk.

Dari bentuknya seperti ekor ular. Bagian tubuh yang baru muncul ini bergerak dengan cepat. Iyon lumayan kelimpungan untuk memberi perintah baru pada nomor tiga dan empat. Trik teknik aneh ini sudah ketahuan oleh lawan.

Ia menghapus apapun yang telah dilakukan Iyon pada bagian tubuhnya sebelumnya, yang disamarkan dengan pura-pura menendang, membunuh beberapa buah lipan merah tadi. Ujung ekor ular itu mengusap-usap penanda nomor yang sudah disematkan Iyon pada sekujur tubuhnya.

Teuku Amareuk beruntung tadi belum mengeluarkan ekor ularnya ini jadi belum sempat dinomori Iyon. Kalo tidak sampe akhir ia akan terus begitu dan KO! Iyon juga tidak menyangka kalo lawannya ini punya satu bagian tubuh lain yang belum ditunjukkan, ekor ular.

Ini membuka tabir baru bahwa Teuku Amareuk ini sangat cerdas menganalisa masalah hingga ia bisa membongkar kunci kekuatan trik aneh Iyon ini. Padahal Iyon sudah menyamarkannya sedemikian rupa.

“Kau sudah merusak wajah dan tubuhku sampai segininya, Iyon…” Teuku Amareuk perlahan bangkit sambil memegangi wajahnya yang sudah babak belur.

Wajahnya tak dapat disebut tampan lagi karena bonyok dan bengkak di sana-sini, berdarah dan lebam menggenaskan. Begitu juga tubuhnya. Ekor penyelamat dirinya bergerak melata khas ular yang sangat besar, proporsional dengan ukuran tubuhnya yang tinggi besar juga.

“Tentunya ini harus mendapatkan balasan yang setimpal…” ia meregangkan tubuhnya, menekan sesuatu di dalam tubuhnya agar keluar. Ia tak mengambil posisi berdiri melainkan tetap merangkak di tanah.

“BLAARRRTT!!”

Sekujur badannya yang luka-luka lebam itu meletus seperti balon, mengoyakkan kulit tebal yang membungkus tubuhnya. Dan apa yang di dalam tubuhnya benar-benar menjijikkan. Dibalik kulit tebalnya yang mengelupas bekas meledak tadi ada beberapa ekor lipan raksasa lagi bergulung-gulung di dalam tubuhnya dan sambungan ekor ular itu terus menuju bagian lehernya. Bentuk tubuhnya sudah tidak karu-karuan lagi sekarang.

Iyon mengambil selangkah mundur melihat bentuk tubuh asli lawannya ini. Lipan-lipan raksasa itu kemudian mengambil posisi seharusnya berada, menjadi tangan-tangan baru hingga Teuku Amareuk total memiliki empat tangan lipan, dua ekor kalajengking (kaki kirinya berubah menjadi ekor kalajengking juga) dan satu ekor ular panjang. Plus leher panjang ular juga. Beberapa lipan merah yang masih tersisa keluar dari tubuhnya juga.

“Eeww…” jengah Iyon melihat bentukan menjijikkan Teuku Amareuk yang sudah mengambil bentuk sejati tubuhnya.

Seekor ular besar sepanjang sekitar sepuluh meter dari ujung mulut sampai ujung ekor, dengan diameter terbesar sekitar dua puluh senti, empat buah tangan yang terbuat dari empat lipan raksasa dan sepasang ekor kalajengking.

Di kalangan mahluk buas, tipe ini sudah termasuk Chimaera karena gabungan berbagai bentuk hewan menjadi satu dalam satu tubuh. Sisik ular di tubuhnya berkilauan terkena sinar obor dan sedikit sinar bulan yang menyembul setengah di atas langit menuju dini hari.

Mulut ular itu menganga mendesis-desis dengan lidahnya yang panjang bercabang membaui malam untuk mengenali mangsanya; Iyon. Sobatku itu memungut kembali cambuk andalannya yang dari tadi dibiarkannya di tanah.

Kamarasuta bergerak melata meliuk-liuk lagi mirip gerakan bentuk ular Teuku Amareuk. Mereka kembali menghitung langkah untuk mulai menyerang. Jangkauan ular itu lebih luas karena panjang tubuhnya juga karena tangan-tangan panjang yang berupa empat lipan raksasa.

“Boooss… Pinjam lagi, yaaa??” seru Iyon pada Buana yang bersama-sama dengan kami menonton di pinggiran gelanggang.

Entah yang mana lagi yang akan dipakai Iyon dari koleksi empat Menggala Suba Buana. Setelah tadi sempat meminjam pedang aneh bermata besar bernama Quarn tadi, Iyon punya previlege khusus untuk memakai milik Buana.

Apapun yang dikendarai ato dipakai Buana ia bisa meminjamnya dengan syarat harus diizinkan. Hak khusus ini karena ia adalah supir pribadi direktur utama grup usaha konglomerasi itu. Dari mobil-mobil mewahnya, koleksi motor, helikopter bahkan sampai pesawat jet.

Kami sering berkelakar kalo kemampuan anehnya ini mirip kutukan sebenarnya. Iyon dan kendaraan punya koneksi yang aneh. Iyon akan dengan mudah mengendarai apapun yang bermesin ato tidak tanpa perlu belajar ato berlatih dulu.

Kutukan aneh ini tak sengaja ia temukan ketika mengendarai mobil dahulu sekali padahal ia belum pernah nyetir sebelumnya apalagi belajar. Secara alami ia bisa menguasai mobil itu tanpa kesulitan. Kendaraan seperti menyerahkan dirinya pada Iyon dengan anehnya.

Jadi kalo ia jadi maling kendaraan, apapun bisa diembatnya. Mobil yang dikasih alarm paling canggihpun gak akan aktif di tangannya dan dengan mudah dibawanya pergi.

Untungnya dunia itu sudah ditinggalkannya dan lebih fokus menjadi seorang supir aja. Tapi bukan supir sembarangan… Supir direktur utama sebuah konglomerasi yang sudah kami kami anggap seperti teman yang sangat akrab.

Balik lagi soal meminjam Menggala Suba milik Buana, jadi para mahluk Menggala itu semua sudah pernah dikendarai Buana seperti kendaraan sehingga secara teori mereka adalah kendaraan bagi bos-nya Iyon.

Iyon memanfaatkan atribut kendaraan ini dan meminjamnya untuk pertarungan semacam ini. Ini keuntungan bagi Iyon secara ia sama sekali tak punya mahluk-mahluk Menggala kuat sekelas yang dimiliki Buana seperti Quarn dan mahluk satu ini…

Muncul dihadapan Iyon seekor mahluk berkaki empat dengan tubuh gempal berwarna hitam mirip seekor singa. Ada tanduk kecil di dahinya yang terbuat dari sebilah belati. Wah… Ternyata ia meminjam singa hitam berelemen angin itu.

Tubuhnya sangat keras seperti batu hitam. Kata Buana tubuh singa hitam itu memang dari batu tetapi anehnya bisa lentur bergerak tetapi keras, gimana bilangnya? Iyon berdiri tepat di samping singa hitam itu, memegangi surai kakunya sebentar seperti sedang ngobrol memberitahunya apa yang harus dilakukannya.

Mudah-mudahan saja Iyon bisa menyudahi pertarungan ini hanya dengan memakai singa hitam ini, jangan sampe minjam yang lain-lain. Kuda purba itu malah naga Wingasaur-nya.

“CTARRR!!” Iyon melecutkan cambuknya ke tanah seperti pawang sirkus dan singa hitam itu segera berlari menerjang. Singa yang berbobot beratnya bisa berlari luwes dengan cepat.

“RRROOOAAAAARRRRHHH!!!” ia mengaum keras saat cakar-cakarnya sampe duluan menepis dua buah tangan lipan raksasa ular jejadian Teuku Amareuk lalu menginjaknya.

Singa itu mengincar kepala ular besar itu. Tentu saja Teuku Amareuk tau kelemahannya sendiri. Sengit ia mengelak meliuk elastis dan menyarangkan semua alat serangnya yang ada.

Dua tangan lipan yang tersisa berusaha menggigit, dua ekor kalajengking mematuk menyengatkan bisanya, ekor panjang ular itu membelit tubuh berat hitam singa itu, membelenggunya tak boleh lari.

Seperti menggigit, mematuk dan membelit bongkahan batu saja yang terjadi. Gigitan taring lipan raksasa itu tak mampu membenamkan racunnya. Sengatan ekor kalajengking itu tak mampu menginjeksikan bisanya.

Libatan ekor tebal nan panjang ular itu tak mampu membelitnya. Sebaliknya singa hitam itu meradang. Tamparan cakar kaki depannya yang besar menghempaskan apapun yang menyerangnya.

Dengan meraung menggetarkan dada, ia mencabik-cabik sebuah tangan lipan raksasa itu hingga putus lalu beralih ke lipan raksasa berikutnya. Ia seperti tak perduli pada serangan-serangan yang menyasar tubuhnya. Singa hitam ini seperti buldoser yang terus menyeruduk, mengandalkan keras tubuhnya bak sebongkah intan hitam.

Dengan melompat-lompat bebas, singa hitam memporak-porandakan perlawanan dan pertahanan Teuku Amareuk. Ia berhasil membenamkan taring kerasnya pada sisi tubuh ular itu.

Tak diindahkannya usaha menggigit balasan dari dua tangan lipan raksasa yang tersisa, sepasang tangan lipan dan sepasang ekor kalajengking itu sudah tak berbentuk utuh lagi—tak dapat bergerak lagi.

Selagi menggigit, ia mengguncang-guncangkan kepalanya untuk mendapatkan kerusakan maksimal berupa robekan. Terbanting-banting leher panjang dan kepala ular itu.

Tak kurang sampe di situ saja, Iyon yang bebas menyabetkan cambuk Kamarasuta dan sukses membelit leher ular jejadian Teuku Amareuk yang kurang awas akibat serangan singa hitam yang ganas mencabik-cabik tubuh ularnya.

Betotan kuat ditarik Iyon untuk menariknya mendekat untuk kembali dihujamkan benda runcing di pangkal gagang cambuk itu. Sabar Iyon tarik ulur untuk mempendek jarak keduanya.

Singa hitam itu makin ganas mencabik-cabik mangsanya. Khas seekor kucing ia melompat-lompat untuk berpindah posisi serangan lalu membenamkan gigitan dalam lalu dirobek dengan mengguncangnya dan berpindah lagi. Tubuh ular itu makin parah luka kerusakannya. Rompal sana rompal sini, menggenaskan.

“CRRRAAABB!!” Iyon berhasil membenamkan pangkal runcing di ujung gagang cambuknya pada bagian kepala ular jelmaan Teuku Amareuk setelah mencukupkan jarak serangnya. Ular itu menganga dengan samping kepala tembus. Lidahnya lunglai tak berdaya. Matanya tak fokus berkedip-kedip sebentar lalu membeku.

“CRRUUSHHH!!” dan sesuatu yang mengejutkan kembali terjadi, kepala ular itu terputus dari lehernya.

Sesuatu meluncur keluar dari lubang menganga dari bekas putus tadi. Iyon mengikuti arah luncurannya dari mendarat di tanah berumput meranggas. Posisinya ada di dekat para penonton di tepi gelanggang dan rekan satu-satunya.

Sosok itu adalah seorang pria berambut panjang berkulit putih tak berpakaian sehelaipun. Tubuhnya sangat langsing malah mirip perempuan kalo tak melihat lonceng yang menggantung di selangkangannya. Ia berdiri dan menggeretakkan lehernya.

Sepertinya ia belum mau menyerah sama sekali. Ia tak mau mengaku kalah dan sedang mengusahakan sesuatu. Apa lagi yang bisa dilakukannya? Apakah ia masih punya metode bertarung yang lainnya?

“Aku belum kalah, Iyon… Pertarungan kita tak akan berhenti sampai salah satu dari kita ada yang tewas…” kata orang yang bisa dipastikan sebagai bentuk lain dari Teuku Amareuk.

Entah ini wujud aslinya ato entah ada yang lain lagi kalo yang ini rusak sampe hancur juga. Dia melakukan gerakan memperkuat kuda-kuda serang lagi. Para pendukungnya dari barisan golongan gelap bersorak-sorai karena jagoan mereka belum sepenuhnya kalah dan masih bersemangat untuk melanjutkan pertarungan ini.

“AYOO… AAYOOO, TEUKUUU!! MAJU TERUUSS!! HABISI ORANG ITUUU!! HABISI RIBAK SUDEEE!! AAYYOOO!!” suara-suara mereka membahana mengisi hutan lebat ini yang dibalas teriakan dari pendukung kami dari golongan putih yang mengambil sisi di mana kami berada.

Kojek yang tadi memimpin yel-yel pemberi semangat pada Iyon menghampiriku masih dengan tangan mengacung tinggi.

“Seng-Seng… Kao tengok itu kawannya si Teuku itu… Gak curiga kao nengok tingkahnya?” tanya Kojek meningkahi suara bising yang membahana di tengah rimba begini.

“Gak ngapa-ngapain pun dia dari tadi…” sahutku.

Orang ato apapun itu, dari tadi cuma diam saja berdiri tegak di tepi gelanggang tarung ini. Diam membisu tak juga memberi semangat pada pimpinannya. Yang aku masih gak habis pikir adalah dimana satu lagi anggota terakhir Burong Tujoh itu.

Aku yakin sekali melihat ada tujuh siluet bayangan mereka lengkap saat pertama kali aku bentrok dengan Tabek, si hantu cicak itu. Gak mungkin kan dalam kelompok hantu begini ada istilah mengundurkan diri ato resign? Ato malah dia pindah ke kelompok lain yang masa depannya lebih menjanjikan? Ada pensiun dan jaminan kesehatan… Paok!

“Mangkanya dia gak ngapa-ngapain itu yang aneh… Ngeri jugak ngelawan benda kek gitu yang gak ketauan apa maunya… Kalo si Teuku-Teuku ini udah abis kubilang sama si Iyon… Abis ini giliranku, nih…” kata Kojek yang ternyata kepikiran juga tentang calon lawannya yang kalo secara hierarki posisinya di bawah Teuku Amareuk. Kojek sudah bisa meraba tingkat kesaktian lawan Iyon tetapi ia malah ragu akan lawannya nanti.

“Tenang aja, Jek… Apa awak aja yang maju?” usulku.

Kekuatanku sudah mulai pulih kembali. Walopun masih belum sepenuhnya terisi. Mungkin kalo matahari bersinar nanti kekuatanku terisi dengan cepat.

“Ahh… Apa pulak! Kao udah ngembat empat hantu-hantu itu… Nambah satu lagi pulak… Bagilah satu, Seng… Gampang-lah itu… Percaya aja sama kedan-mu ini…” tolaknya sembari menepuk dadanya merasa yakin akan kemampuannya.

Keahlian bela diri Kojek adalah murni kekuatannya. Itu yang selalu menjadi andalannya. Percaya akan kemampuannya sendiri. Apalagi ditambah dengan senjata andalannya yang berupa gas mudah terbakar itu. Belum pernah ada yang selamat dari ledakan senjata mengerikan itu.

“Eh? Apa?”

Tiba-tiba sesuatu yang mengejutkan terjadi. Sesuatu yang sangat mencengangkan. Ini di luar nalar bahkan bagi para kalangan golongan hitam apalagi bagi golongan putih seperti kami. Teuku Amareuk yang sedang bersiap-siap dengan kuda-kuda serangnya walo tak berbusana pantas, ditangkap pada bagian lehernya oleh rekannya sendiri yang tepat ada di belakangnya.

Tangan yang selama ini tersembunyi di balik jubah itu ternyata sangat besar. Satu tangan itu dapat menggenggam leher dan kepala Teuku Amareuk versi langsing ini dalam satu genggaman saja. Diangkatnya dengan mudah tubuh itu di bagian leher, ditambah memegangi sebelah kakinya.

Tubuh Teuku Amareuk terangkat di udara.

Tak kalah kaget siluman Chimaera itu mendapat perlakuan tiba-tiba ini dari rekan yang menyertainya ke tantangan terbuka kami ini. Teuku Amareuk kaget bukan buatan. Ia berteriak-teriak menyebut-nyebut nama Ganaek ato Ganeuk berulang-ulang minta dilepas. Satu lututnya terangkat naik.

“KRRRUUGGKKK!!” suara memilukan tulang belulang patah terdengar menggantikan teriakan Teuku Amareuk.

Disusul suara teriakan melengking dari suara vokal ngebass yang biasa berwibawa itu. Suaranya membahananya sontak membungkam yel-yel penyemangat dua kubu. Suaranya sangat menyakitkan seakan para pendengar juga merasakan tulang belakangnya berderak patah beberapa ruas dihantamkan ke lutut ke rekannya sendiri.

“Gaaann..?!!” dia masih hidup setelah itu? Suaranya bergetar memilukan.

Masih dengan sebelah tangannya yang besar, yang memegang bagian kaki. Lalu dengan brutal ia membanting tubuh Teuku Amareuk ke sana kemari seperti menggebuk kepala tikus di arena permainan anak-anak.

Tiap kepala tikus muncul dari lubangnya, ia menggebrak menggunakan martil plastik yang disediakan wahana. Martil plastik itu adalah tubuh lunglai Teuku Amareuk. Gdebag-gdebug-plak-pluk-bag-bug! Melihatnya saja sudah sangat menyakitkan apalagi mengalaminya langsung.

Apa sebenarnya yang sedang terjadi saat ini? Perpecahan di kalangan Burong Tujoh sendiri? Suksesi kepemimpinan ato malah kudeta berdarah? Apakah Teuku Amareuk akan bisa bertahan dengan perlakuan rekannya yang sangat brutal barusan? Perlu keberuntungan yang sangat tinggi sekali untuk bisa selamat dari bantingan brutal berulang-ulang barusan. Apalagi yang menjadi titik fokus hempasan adalah bagian kepala yang sangat vital bagi kebanyakan mahluk.

Belum puas dengan semua perlakuannya barusan pada tubuh Teuku Amareuk yang sudah tak berdaya, rekan anehnya itu dengan tanpa perasaan mencabut kepala yang tak lagi berbentuk utuh itu lepas dari leher yang juga sudah lunglai.

Tak sekedar kepalanya yang copot dari tenggerannya di leher, tulang belakangnya ikut lolos rontok dari punggungnya. Kepala itu lepas melekat dengan tulang belakangnya sekaligus.

Gore yang mengerikan terjadi kemudian oleh darah yang berceceran, berserakan dimana-mana di bekas semua bantingan dan cipratan darah yang menjadi gambaran betapa brutalnya rekan tak dikenal Teuku Amareuk ini.

Mahluk yang tadinya disebutkan abah Hasan sebagai yang paling berbahaya di tanah Rencong ini, gugur begitu saja seperti tak ada nilainya. Teuku Amareuk tak mungkin masih hidup setelah semua itu.

Suara malam sangat sepi. Hanya ada suara angin semilir yang bahkan berdesau perlahan ikut risau akan kengerian yang baru saja mengoyak malam durjana ini.

Teuku Amareuk yang merupakan tokoh jahat yang tentu saja sudah banyak berdosa menyebabkan penderitaan dimana-mana, apakah ia pantas ia mendapat akhir seperti ini? Mayatnya, bagi mahluk kejam mantan rekan Teuku Amareuk, itu hanya karkas tak berguna, diinjak dan ditendang karena menghalangi gerak majunya ke dalam gelanggang. Menyongsong siapapun yang akan menghadapinya. Hanya Iyon yang menghalanginya.

“Dia sudah kalah! Yang seperti ini sudah tidak perlu lagi ada di muka bumi ini… Cara-caranya sudah sangat ketinggalan zaman dan kuno… Teror sporadis dan masih tergantung pada pesanan… Spesialisasi racun dan mencari untung kecil-kecilan… Cara-cara tak berguna… Kalian akan segera merasakan bagaimana kecerdasan otak dan kekuatan otot bergabung menjadi satu…” ujar mahluk berbadan besar gempal yang masih terbungkus jubah panjang itu.

Suaranya biasa saja. Suara seorang pria yang sangat biasa. Tapi ia bisa bergerak sangat cepat! Seperti mempunyai jet booster di punggungnya, ia melesat cepat dengan tangan ditarik ke belakang, siap mengepal.

Iyon terkesiap kaget dan hanya bisa menyilangkan tangannya melindungi dadanya yang diincar musuh. Kuda besi yang memperkuat kuda-kuda kokoh pertahanannya segera mendapat lawan berat…

“BUUGGHH!!”

Sekali hajar, tubuh Iyon terdorong mundur. Tak hanya mundur selangkah dua, ini terdorong jauh. Aku dan Kojek mengejar tubuh Iyon yang masih berusaha bertahan. Debu dan pasir berserakan dari jalur kakinya yang terseret di tanah. “Sreeeettt…”

“Kau keluar gelanggang! Ganti!” serunya pada kami bertiga.

Kojek yang pertama kali menangkap tubuh Iyon terdorong jauh sampe keluar gelanggang. Kami bertiga liat-liatan apa maksudnya. Jadi lingkaran luas ini adalah arena pertarungan? Ada batas-batasnya? Kalo keluar dihitung kalah? Ini maennya pake aturan turnamen, ya? Kirain cuma batas gak berarti aja.

Ternyata ada aturan ini juga. Seperti pertandingan bela diri biasa yang memakai batas-batas gelanggang. Peserta yang keluar dari batas dikurangi nilainya. Dalam hal pertarungan ini langsung dihitung kalah.

“Iya, Jek… Aku keluar garis, nih… Kalah aku… Skor satu-satu kalo gitu… Giliranmu sekarang…” Iyon memperbaiki posisinya sambil mengelus-elus kedua tangannya yang bekas dihajar mahluk besar itu bergantian.

“Pukulannya gilak kali… Kuat gilak!” sambung Iyon memberi sedikit informasi pada petarung kedua dalam kelompok trio kami ini untuk menghadapinya setelah Iyon dengan sekali pukul sudah berhasil dikeluarkannya dari gelanggang pertarungan.

“Okehh!! Ini lawan menarik…” jawab teman kutilang keriting kami ini.

Si kurus tinggi langsing rambut keriting ini membuka baju yang dikenakannya menampilkan otot-otot liat tipis kering berkulit hitamnya.

“HORTUK! BABIAT BALEMUN! SIGAK!” ia langsung mengeluarkan tiga tato timbul sekaligus di punggung, sekujur tangan kanan dan pangkal tangan kiri.

Tato timbul babi hutan, harimau dan burung gagak. Ada lonjakan energi Lini yang meluap-luap dari tubuhnya karena pemakaian tiga kekuatan andalan Kojek ini. Jarang-jarang ia menggunakan ketiga kekuatan ini berbarengan.

Tapi lawan ini memang harus dihadapi dengan cara yang tak biasa. Energi Lini dari dalam tubuhnya menggelegak menjadi buih-buih di sekitar tubuhnya menyebabkan kepulan asap tipis yang membumbung, membuat aura seram Kojek menyeruak. Lawan harus ekstra hati-hati kalo menghadapi Kojek yang ekstra serius seperti ini.

Tangannya membentang lalu menekuk seperti taring seekor babi hutan yang akan menyeruduk mangsanya, jari-jarinya membentuk cakar-cakar yang diperkeras seekor harimau lalu kedua tangannya seperti mengepaknya seekor burung yang hendak lepas landas. Bagaimana kalo keganasan seekor babi hutan dan harimau diperparah dengan bisa terbang? Mantul tentunya.

***

“Aku biasa dipanggil kawan maupun lawan sebagai Kojek… Aku anggota ketiga di Ribak Sude… Kamu?” tanya Kojek masih dengan tangan membentang berkat pemakaian Hortuk di hadapan anggota Burong Tujoh ini. Asap tipis masih menggelegak di sepanjang bahu terbukanya.

“Ganeuk!” jawabnya pendek masih misterius.

Gelapnya malam masih menyembunyikan wajahnya yang tertutup hoodie jubah panjang itu. Tapi dari sepak terjang tangan dan kakinya terhadap Teuku Amareuk yang teronggok tak berarti di tepi gelanggang, dapat diketahui kalo anggota tubuhnya besar-besar.

Bahkan terlalu besar untuk anggota tubuhnya yang sudah sangat besar. Jempol tangannya saja bisa menjangkau leher dan jari lain mencapai ketiak Teuku Amareuk. Ini lawan yang sangat berat. Tubuh sebesar itu dengan otot padat dan bobot ratusan kilo bisa bergerak sangat cepat.

“Aku lawanmu sekarang… Hup!” Kojek melesat cepat setelah perkenalan pendek dengan lawannya yang bernama Ganeuk.

Tangan Kojek yang diperkuat oleh taring babi hutan itu menggaruk tanah seperti buldoser. Tanah terbongkar oleh garukan tangan Kojek yang diperkuat. Serangan ini sesuai dengan namanya yang artinya taring babi hutan, memang sedianya digunakan untuk menubruk sebagai tackle dan kalo sudutnya tepat bisa melukai lawan.

Apalagi kepala babi hutan yang sangat keras oleh tulang tengkoraknya yang kokoh dan ukurannya yang besar sangat handal untuk digunakan untuk menghantam lawan. Sepasang taring mencuat di sisi moncong hewan buas penghuni hutan ini, yang biasa digunakkan untuk menggali makanan tentu saja sangat keras tak kalah keras dengan gading gajah—tentunya mumpuni untuk melukai musuh.

“BRRUUGGKKHH!!” suara hantaman itu sangat keras.

Seperti dua buah truk tronton sedang mengadu kepala setelah memacu kecepatan tinggi. Ganeuk secara tak dinyana juga menyambut hantaman kepala Kojek dengan serudukan kepalanya juga. Ada semacam percikan cahaya yang menerangi benturan kepala keduanya, membuat siapa saja yang sanggup menyaksikannya bisa melihatnya dengan jelas.

Karena kebanyakan penonton mengelakkan pandangan mereka akibat serbuan angin keras menerpa semuanya akibat benturan barusan. Hortuk barusan dilakukan Kojek setelah berlari cepat yang tentunya sangat bertenaga, tapi Ganeuk lebih hebat lagi karena ia hanya mendongakkan kepalanya di tempat dan menyambut serangan itu tanpa persiapan matang.

Ganeuk memalingkan wajahnya ke samping akibat tekanan luar biasa benturan barusan. Leher tebalnya menahan sebagian besar benturan apalagi kedua tangan dan kakinya menapak tanah dengan posisi yang mantap menapak.

Tidak demikian dengan Kojek, ia mundur terjajar akibat serangan yang digagasnya sendiri. Kondisi fisik keduanya sangat bertolak belakang. Mungkin karena itu. Tubuh Kojek yang kurus tinggi memaksakan serangan bertenaga begini yang tidak diimbangi oleh bobot tubuhnya. Walo tubuh Kojek liat dan padat, tubuh Ganeuk lebih penuh berisi memenuhi kriteria itu.

Tapi hasil barusan tak membuat Kojek berkecil hati. Walo demikian ia cukup memberikan benturan pada tubuh gempal berisi Ganeuk dan untuk itu ia bermaksud mengulanginya lagi.

“HeeeaaaAAAAA!!!” Kembali tubuh Kojek memberikan usaha maksimal menyerang khas dirinya.

Menerjang menggunakan teknik Hortuk-nya. Demi melihat itu, Ganeuk menyambutnya lagi dengan penuh percaya diri mendongakkan kepalanya lagi. Mereka akan mengulangi adu kepala itu sekali lagi.

“BRUUGGKKK!!” para penonton termasuk aku sendiri sudah mengasosiasikan pertarungan adu kepala ini seperti adu domba.

Dua ekor domba pejantan yang gagah dengan tanduk melengkung tebal saling mengadu kepala. Suaranya sudah mirip dengan pertarungan itu. Kembali cahaya terang hasil benturan keduanya menerangi diikuti hembusan angin kencang menerpa radius luas.

Kali ini Kojek bertahan tidak terdorong mundur lagi seperti serangan pembuka tadi, hanya saja kepalanya terpental ke sebelah kiri. Ternyata karena ia mencengkram bagian bahu jubah Ganeuk setelah berbenturan barusan. Ini fitur dari Babiat Balemun—jurus harimau ganasnya.

Sepertinya Kojek bermaksud ingin cepat-cepat menghabisi Ganeuk dengan teknik harimau ganasnya ini. Cakarnya yang mencengkram bahu Ganeuk lalu berdesing-desing cepat melakukan cakaran brutal mencoba mencabik-cabik lawan. Ganeuk tentu saja tak tinggal diam membiarkan Kojek menyerang. Bogem kanan kirinya bergantian diayunkan ke arah Kojek.

Kojek berkelit dengan lincah sementara terus mencabik-cabik tubuh lawannya dengan sesekali menangkis untuk membelokkan arah serangan lawan. Bertubi-tubi serangan Ganeuk begitu juga serangan Kojek.

Penonton sepertiku ngeri melihat bagaimana kalo bogem sebesar milik Ganeuk itu mendarat di muka. Apa gak makin ancur muka si Kojek. Sobatku itu untungnya dengan lincah selalu berhasil menghindari bogem berukuran besar tak wajar itu berkat kelincahan teknik harimau ganasnya ini. Malah cakaran tangannya sudah membuat jubah dan hoodie Ganeuk robek sana-sini.

Berkali-kali Kojek mengincar bagian leher Ganeuk, membuat hoodie-nya tak berbentuk lagi. Kojek berkelit lincah, menangkis bila perlu lalu berjumpalitan menaiki tubuh Ganeuk lalu menyerang cepat dengan cakaran tangannya yang diperkuat cakar harimau.

Tapi bagi mata yang awas, semua keunggulan yang terlihat bagi Kojek saat ini tidaklah menunjukkan kalo ia sedang di atas angin. Apa yang tercabik-cabik oleh serangan Babiat Balemun Kojek hanyalah kain jubah remeh saja. Apakah ada luka yang tercipta di tubuh gempal penuh tenaga Ganeuk?

“WRAAHH!!” Ganeuk meradang.

Tangan dan kakinya menyapu luas hingga Kojek harus menjauh sementara. Saat Ganeuk meradang tadi, semua jubah yang dipakainya tercabik-cabik oleh semacam energi yang memancar dari tubuhnya. Luapan energi itu memaksa apapun yang dipakainya hancur menjadi serpihan kecil. Dengan demikian tak ada lagi menutupi tubuhnya dan kami semua bisa melihat sosoknya secara utuh tanpa penutup lagi.

Mahluk macam apa ini? Itu tentu yang menjadi pertanyaan semua yang hadir di tempat ini. Baik dari golongan hitam pendukungnya maupun dari golongan putih kontra dirinya. Bagi kami manusia normal, penyamaan bentuk tubuhnya adalah kopi dari Hulk.

Hanya saja kulit tubuhnya bukan hijau melainkan abu-abu terang. Di lehernya ada semacam kerah tebal yang seolah melindungi lehernya yang sudah sedemikian tebal. Kerah itu hanya berbentuk tonjolan seperti pinggiran pizza, berputar dari belakang lalu masuk ke depan dadanya. Punggungnya sangat tebal lalu ada benda mirip kerah itu lagi di bagian pinggangnya, menuju ke depan ke arah selangkangannya seolah menjadi groin guard-nya.

Ganeuk

Wajahnya yang tentunya mendapat pertanyaan paling utama dari siapapun. Bentuk ini lagi-lagi sangat mengganggu. Pernah dengar cerita hantu muka rata? Pasti pernah-la ya. Itulah bentuk muka si Ganeuk ini.

Hanya ada sepasang mata lancip berwarna kuning keruh di wajahnya yang berkepala botak. Hanya itu tok-tok. Tak ada hidung, tak ada mulut. Mengingatkanku pada mahluk asing milik Vivi. Mahluk aneh bernama Ganeuk ini juga tak punya mulut tapi bisa berbicara.

Apakah dua mahluk ini sejenis?

Kojek tidak punya banyak waktu untuk berpikir. Apalagi aku belum cerita apa-apa pada kedua sahabatku ini tentang pengalamanku tentang mahluk asing ini. Milik Vivi yang memiliki andil sebenarnya saat memusnahkan Tabek, si hantu cicak itu. Kalo mahluk asing ini punya pemilik, siapa pemiliknya? Apakah anggota ketujuh Burong Tujoh yang tak jelas juntrungannya itu?

Ganeuk sekarang tak menunggu apapun lagi. Luar biasa pergerakan cepatnya yang sempat diperagakan saat menghajar Iyon sampe keluar gelanggang. Dengan kecepatan yang mencengangkan itu lagi, ia menyerbu ke arah Kojek yang terperangah kaget menyadari lawannya mulai mengeluarkan kemampuan aslinya.

“Sigak habang tu Ombun…” (Gagak terbang ke Awan)

Untung Kojek orangnya tidak panikan kalo mendapat kejutan. Jarang bahkan langka ia kaget apalagi saat genting begini. Tangannya mengepak hingga ia terbang melayang menjauhi serbuan berbahaya Ganeuk yang menyerbu dengan tangan yang sudah ditarik tinju mengepal. Ini serangan yang persis dilakukannya pada Iyon tadi. Kojek terbang dengan teknik burung gagak itu.

Kepakan sayap dari tangannya yang mendadak sangat lentur itu membawanya melayang bebas lalu menukik tajam hendak menyerang lagi. Entah sejak kapan Kojek tak memakai alas kaki lagi karena serangan teknik gagak-nya memakai kaki, bisa berupa tendangan atopun cakaran.

“RRUUAARGGHHH!!” Ganeuk berbalik dan meradang kembali menantang dengan kepalan.

Apakah ini akan menjadi benturan lagi? Entahlah. Itu bukanlah satu keputusan cerdas. Kojek mengganti arah serangannya setelah menukik barusan dengan mengulurkan kakinya. Aku tau itu jurus apa, itu namanya Bobak Sigak yang artinya Cakar Gagak!

Sekelebatan mata saat kaki Kojek dan tinju Ganeuk akan berbenturan, pria kurus itu mengganti pola serangannya dengan mengejutkan pada detik-detik terakhir. Kakinya menghindari bogem Ganeuk, tetapi tetap bergesekan lalu melakukan belitan dengan mengait tangan masif Ganeuk.

Cakar Gagak itu tetap mencengkram di bahu gempal lawan, dibantu cengkraman tangan Kojek menekuk siku tangan Ganeuk ke belakang kepalanya lalu dengan hentakan kuat ia berusaha membanting tubuh raksasa gempal itu sekuat-kuatnya.

Bantingan itu ke arah samping jadi akan sulit membendungnya tetapi Ganeuk dengan mudah memecahkan bantingan itu dengan tangannya yang lain. Tangannya menahan tubuhnya di tanah dan memutar tubuhnya dengan cepat setengah putaran.

Kojek terpaksa melepas cengkraman tangan dan kakinya pada tangan Ganeuk yang barusan gagal dibantingnya karena mahluk besar itu berusaha menendang kepalanya dari sudut bukaan yang sulit. Tubuh gempal itu bisa bergerak dengan lincah dan itu sangat tidak wajar.

Melenting menjauh, tak membuat Ganeuk melepaskan Kojek. Ia menghentakkan tanahnya berpijak akan menyarangkan bogem baru yang sulit ditepiskan di sudut ini kecuali menghindar. Kojek mundur lagi berusaha menjauh dari jangkauan tangan berukuran besar itu.

Tinju Ganeuk menerpa ruang kosong tapi ia meneruskannya malah ke bumi sebagai tumpuan cepat melontarkan dirinya berputar. Hampir seluruh bobot tubuh Ganeuk beserta energi kinetik yang ikut luruh hendak menimpa Kojek yang pontang-panting menjauh lagi. Kakinya berputar cepat di depan mata Kojek bak tumbangnya sebatang pohon kelapa tua yang rubuh diamuk badai.

Ternyata bisa ngos-ngosan juga sahabat Ribak Sude-ku ini mendapat serangan cepat bertubi-tubi Ganeuk. Ia memperbaiki kuda-kudanya sambil menatap tajam Ganeuk yang bergerak ringan menyiapkan kuda-kudanya. Keduanya berfokus pada serangan fisik yang cepat dan karena itu kita menyaksikan pertarungan yang sangat seru.

“Kau tau sesuatu tentang si Hulk itu?” tanya Iyon yang ternyata merapatkan tubuhnya padaku. Ia tentunya penasaran akan sosok mahluk bernama Ganeuk itu. Dia tak sendirian, ratusan penonton lainnya termasuk aku juga bertanya-tanya.

“Kurang jelas, Yon… Tapi keknya dia bukan dari golongan jin ato iblis manapun… Awak hanya pernah melihat sekali yang mirip-mirip sedikit auranya…” jawabku. Kami tak melepaskan pandangan dari tengah gelanggang dimana Kojek dan Ganeuk masih saling serang, adu pukul malah adu nyawa.

“Ya… tak ada jejak jin di auranya… Kapan kau liat yang mirip dengannya?” tanya Iyon.

“Baru-baru ini… Tadi siang tepatnya… Tapi dia masih gak mau memberitau siapa dia sebenarnya… Mahluk-mahluk ini punya tuan, Yon… Mereka sangat patuh sekali pada tuannya tersebut… Ada yang memerintahkan si Ganeuk ini di suatu tempat… Mungkin berondok (ngumpet) di antara penonton…” jelasku atas apa yang kuketahui.

“Gitu, yaa? Aku takutnya kalo rupanya si Ganeuk ini ngumpulin anggota baru aja sampe mereka kumpul tujuh hantu lagi… Kau dengar sendiri sesumbarnya tadi… Mau meneror manusia dengan cara yang cerdas dengan kekuatan otot… Dia punya kekuatan otot itu tapi belum kelihatan cerdas otaknya…”

“Bagaimana kalo bagian otak cerdas itu ada di pemiliknya si Ganeuk… Ada satu anggota asli Burong Tujoh ini yang hilang… Tebakanku itu dia orangnya… Jangan sampe juga yang kau takutkan tadi benar-benar kejadian, Yon… Berarti ada lima anggota pengganti yang sudah musnah… Kalo kekuatannya setara dengan si Ganeuk ini… repot kita…”

“Tenang aja… Di sini ada si bos kembar sama abah Hasan… Pendekar-pendekar golongan putih lain juga ada banyak… Ini bisa-bisa jadi tawuran… Mudah-mudahan matahari cepat terbit agar ini cepat berakhir…” kami terus ngobrol perlahan agar tak terdengar yang lain di antara suara gdebag-gdebug yang tercipta dari hantaman-hantaman yang terjadi di tengah gelanggang.

Ada jarak sekitar delapan meter jarak antara Kojek dan Ganeuk. Mahluk asing itu menarik tangannya akan melancarkan pukulan bogemnya yang terbukti ampuh. Kojek bersiap dengan Hortuk-nya, tangannya mengembang siapa menghadang.

“Heaarhh!!” Ganeuk meluncur cepat setelah menghentakkan kakinya pada bumi dengan kecepatan tinggi.

Benar-benar seperti ada jet pendorong di punggungnya yang membentuk kisi-kisi mirip bukaan insang ikan hiu. Hembusan itu yang ternyata membuatnya bergerak sedemikian cepat.

Saat pukulan dahsyat itu benar-benar dilesakkan, Kojek melakukan gerakan cerdik dengan melompat mundur karena tak akan bisa mengimbangi kecepatan yang luar biasa gila cepatnya itu.

Dengan menepatkan timing berdasarkan pengalamannya berkat asam garam di dunia Menggala, ia menepis bogem itu saat momentum kecepatan pukulan dan powernya berkurang. Memegangi pergelangan tangan besar Ganeuk lalu menekuk sikunya dan mencoba mencabik bagian ketiak lawan, sendi utama tangan kanannya.

Tak mau kecolongan, Ganeuk menghantamkan tubuhnya pada tubuh kerempeng Kojek. Ia terdorong tenaga besar itu tapi tangannya yang tadi memegangi pergelangan tangan Ganeuk masih terhubung menjadi jangkar.

Gawat! Jangan sampe ia menjadi martil seperti yang sudah dilakukannya pada Teuku Amareuk tadi. Kojek tertangkap pada bagian tangannya dengan sebuah sentakan kasar dibuat berputar. Kojek terperangah bersiap akan menerima tubuhnya dibating ke tanah keras.

“BRAAAKK!!”

Aku dan Iyon menahan nafas tiba-tiba, berdoa kalo Kojek bisa bertahan dari bantingan luar biasa keras itu. Asap tebal mengepul dari tanah gelanggang dadakan ini. Ganeuk menarik tangan yang berhasil ditangkapnya ke arah sebaliknya. Tubuh gelap sobat kami itu terlihat melayang berputar lagi di udara dan kami berdua bernafas lega.

“Fiuhh…” Itu Nabirong! Kenapa tidak dari tadi ia memakai ini.

Kojek membiarkan tubuhnya dibanting sesukanya oleh lawan. Punggungnya menghantam bumi dan saat lawan merasa di atas angin, kedua kakinya melesak terangkat.

“BLAAKK!!” dua kakinya menghantam telak bagian dagu Ganeuk.

Tubuh liat dan keras Kojek semakin keras dan kuat karena teknik Nabirong-nya yang super aneh. Gak heran kalo nanti bakal dikombinasikan dengan Nabalga yang akan membuat tubuhnya membesar semaunya. Hanya saja teknik aneh ini memakan banyak tenaga.

Ia menguras energi Lini Kojek dengan cepat. Karena itu, dengan memakai Nabirong (birong=hitam) yang membuat sekujur tubuhnya menghitam keras kek baja, ia bergerak semakin cepat. Bertujuan menghabisi mangsa secepat mungkin.

Pukulannya bukan lagi berupa tinju melainkan tusukan kelima jari yang bermaksud menikam lawan dengan tangannya yang mengeras. Hujan tusukan dilakukan Kojek dengan teknik Hortuk. Semua serangan itu masuk dan terlihat semua jarinya menusuk tubuh lawan yang gempal.

Tetapi karena Ganeuk tak pernah menampakkan ekspresi apapun dari dua mata lancipnya, aku sendiri bahkan tak tau apakah ia merasakan sakit ato tidak. Sesekali Ganeuk berusaha menangkis tusukan tangan hitam Kojek yang hanya menambah luka sayatan di tangan gempalnya yang kemudian tertepis.

“Tsa-tsa-tsa-tsa-tsa!!” teriak Kojek yang menghujamkan rentetan tusukan cepat ke bagian dada dan perut mahluk itu.

Lalu dipamungkaskan dengan sebuah pukulan keras tepat di bagian wajah Ganeuk setelah terlebih dahulu melompat untuk mencapai dan menyarangkannya. Ganeuk terjungkang, melayang lalu jatuh berdebum di tanah.

Ganeuk masih terlihat bergerak saat berbaring lalu berguling dengan cepat tak mau kalah. Kojek lalu menyambung ke pasangan utama Nabirong. Mungkin pikirnya sekalian basah walo harus menguras tenaga Lini lebih banyak.

“NABALGA!” keluar sudah jurus paling greget nomor dua milik Kojek.

Tubuh hitam legam akibat teknik Nabirong itu membesar kek Titan. Sekarang ukuran tubuh Kojek malah jauh lebih besar dari lawan yang sudah sangat besar tak wajar. gemas dengan lawan yang ternyata masih bisa bergerak, ia mengangkat kakinya! Tubuh setinggi lima meter berwarna hitam legam itu akan menginjak lawan.

“BRAAGGHH!!” luruh kaki hitam Kojek jatuh menginjak Ganeuk.

Lalu dengan brutal ia menghimpit lawannya itu dengan bahunya ala ala Smack Down, pake lompat pulak! “GDEGAAAMM!!!” terasa bumi bergetar karena lompatan dan menghimpit brutal yang dilakukan Kojek.

Beberapa penonton ada yang sampe terjatuh, terjungkang akibat getaran dahsyat ini dari dua golongan. Terbersit rasa kasihan pada lawannya yang mungkin abis ini gak akan berbentuk utuh lagi. Jadi dadar…

Tubuh raksasa jadi-jadian akibat memakai teknik Nabalga itu beringsut mundur menjauh dari lawan yang masih terkapar di tanah kotor. Aku tak dapat melihat dengan jelas kondisi Ganeuk. Apakah sudah tewas ato setidaknya sekarat. Debu tebal menutupi hasil akhir pertarungan ronde kedua pertikaian antara Ribak Sude dan Burong Tujoh. Sepertinya tidak akan ada ronde ketiga.

“Oohh?!” seru para penonton melihat munculnya sosok itu lagi.

Aku tak dapat mempercayai mataku sendiri. Ganeuk duduk kembali dari indentasi tanah yang melekuk akibat desakan tubuhnya yang sudah dihimpit sedemikian rupa oleh versi hitam Nabalga Kojek.

Duduk seperti tak ada apapun yang telah menimpa dirinya. Saat itu, Kojek baru saja akan melepaskan teknik yang masih aplikasikan di tubuhnya. Ia baru saja melepas Nabirong hingga tubuh raksasanya adalah tubuh aslinya yang membesar.

Melihat lawan masih sanggup duduk, tak ada jalan lain kecuali ia kembali menyerang. Kakinya mengayun cepat. Dalam keadaan besar luar biasa seperti itu, keadaan ini persis seperti Kojek akan menendang sebuah bola yang tergeletak di tanah.

“BOUFF!!”

Sinting! Ganeuk berhasil menahan tendangan berukuran raksasa yang hendak menyapunya, menendang dirinya mungkin sampe ujung hutan. Sebelah tangannya menahan ujung punggung kaki Kojek yang sedianya akan menghantam tubuhnya. Kekuatan macam apa itu? Tak kurang Kojek merasa gusar karena kejadian ini. Aku tau kenapa-kenapanya.

Ganeuk melakukan sesuatu dan itu menyebabkan Kojek terjatuh dan terbanting. Tubuh raksasanya jatuh ke arah penoton di seberang kami. Beberapa yang awas, cepat-cepat minggir tetapi banyak juga yang tak sempat jatuh menjadi korban by-stander—tergencet tubuh raksasa Kojek. Aku tak memperhatikan keadaan para penonton itu karena aku lebih khawatir akan keadaan Kojek—apalagi disana posisi para tokoh dunia gelap. Mampus aja mereka sekalian.

“Jangan… JEEK!! AWAAASS!!” teriakku panik.

Tubuh sahabat kurus kami itu perlahan kembali ke ukuran normalnya. Kakinya masih dipegangi Ganeuk. Ini pasti gerakan membanting brutal itu lagi. Sepertinya tenaga Lini Kojek sudah terkuras banyak oleh dua teknik berturutan; Nabirong dan Nabalga.

Sekelas Teuku Amareuk KO oleh serangan brutal menjadikan tubuh seseorang menjadi martil, dibanting berkali-kali. Apalagi Kojek saat ini dalam keadaan tak berdaya kehabisan energi.

Seperti sebuah gerakan slo-mo, aku dan Iyon menyaksikan horor tubuh Kojek yang tak berdaya diayunkan dari posisinya yang barusan kembali ke ukuran normalnya, dibanting ke arah sebaliknya.

Membentuk sebuah pola busur melengkung pelangi. Rambut keriting pendeknya basah, bergetar perlahan. Tangannya mengayun lunglai. Semua orang berteriak. Aku, Iyon, Ron, Buana, dan semua penonton di sisi ini bahkan sebaliknya. Perasaan campur aduk.

“PRAAKK!!” suara hantaman itu sungguh memilukan hati.

Ada tulang-tulang yang patah. Belum lagi organ tubuh yang berbenturan pada kerangka pelindungnya, otak yang terbentur tempurung, paru-paru yang membentur gugus iga, usus dan hati yang saling himpit dengan ginjal akibat parahnya kecepatan bantingan Ganeuk itu.

Tapi entah kenapa Ganeuk malah berhenti. Tak meneruskan aksinya. Tak mungkin ia puas hanya dengan sekali membanting saja. Pada Teuku Amareuk sebelumnya ia melakukannya berkali-kali. Tapi ia tertegun dan memandangi tangannya yang baru saja dipakai untuk membanting Kojek barusan. Barusan?

Ya, Tuhan! Ia memegangi potongan kaki Kojek!

Itu potongan kaki Kojek!

Ganeuk lalu berdiri dan membuang potongan kaki itu pada sisa tubuh Kojek yang terbujur diam di hadapannya. Tubuh Kojek telah terpecah-pecah menjadi beberapa bagian kecil. Aku dan Iyon juga banyak lainnya terperanjat kaget. Ganeuk menatap pada kami berdua. Seakan mengatakan, ‘Kalian yang berikutnya…’

Aku menatap kejadian itu dengan pandangan tak percaya. Darahku seakan menggelegak. Itu-itu sahabatku! Itu sahabatku Kojek! Kau akan mendapatkan balasannya di ronde berikutnya GANEUK!!

“Angka Silgang…” bisik abah Hasan pada kami berdua. Apa itu? “Retak dan Lepas… Kojek tidak apa-apa… Kalian gak usah khawatir…”

Ucapan abah Hasan seakan menjadi pengalih perhatian kami berdua akan kemarahan yang memuncak pada kami berdua. Iyon juga pasti merasakan hal yang sama seperti apa yang sedang menggelegak di dalam darah kami. Tangannya pasti sudah gatal untuk membalas apa yang sudah mahluk asing itu lakukan pada sahabat terbaik kami, Kojek.

“Apa yang retak dan lepas, bah?” ulang Iyon setelah kami pandang-pandangan lega kalo Kojek tidak kenapa-kenapa.

Hanya hancur saja berkeping-keping. Kata orang sini ‘Retak Seribu’. Aku mengangguk-angguk setuju dengan pertanyaan Iyon barusan. Aku juga mau nanya itu. Kenapa Kojek yang pecah menjadi potongan-potongan kecil begitu bisa dibilang abah Hasan gak apa-apa?

“Jangan berisik dulu… Liatin aja… Nanti abah jelasin…” kata abah Hasan penuh rahasia. Apa ini yang mereka kerjakan saat hanya berduaan saja? Kenapa abah Hasan tau apa yang tidak kami tau tentang kondisi Kojek?

“Teman kalian sudah hancur… Kau yang berikutnya… Aseng…” kata mahluk bernama Ganeuk itu terdengar bangga akan pencapaiannya. Ia menunjuk kepadaku langsung.

“Mundur pelan-pelan…” abah Hasan membentangkan tangannya pada kami berempat.

Aku dan Iyon di kanan sementara Ron dan Buana di sebelah kirinya. Tentu aja kami berempat bingung akan perangai orang tua satu ini. Ia sudah misterius sejak mengatakan Angka Silgang yang artinya Retak dan Lepas. Aku ragu itu bahasa Aceh, kemungkinan besar bahasa Batak. “Fire in the Hole!” bisiknya dengan penekanan.

Fire in the Hole? Biasanya Kojek yang akan mengatakan frasa ini sebelum terjadi ledakan hebat menggunakan senjata pamungkas peledak yang berasal dari tabung gas ajaibnya itu. Apakah…?

Walopun sebentar, hidungku bisa mencium aroma gas busuk yang sangat khas sekali. Ini gas milik Kojek!

Buru-buru aku dan Iyon balik badan dan tiarap ke tanah yang berumput dengan melindungi kepala. Kuharap Ron dan Buana bisa melindungi diri mereka dengan baik sebab aku yakin abah Hasan sanggup. Aku hanya bisa berharap kalo para penonton yang budiman juga gak akan apa-apa setelah ini.

“BLLAAAAAAARRRRRRRRTTTTT!!!”

Ledakan yang sangat dahsyat terjadi kemudian tepat berpusat di tengah-tengah arena. Gunungan api membaranya menjulang tinggi jingga kuning merah dan hitam. Api membumbung tinggi untuk beberapa lama saat kuintip.

Lesakan hempasan ledakannya menghentak luar biasa. Aku dan Iyon yang sempat tiarap saja merasakan hempasan angin ledakannya. Banyak penonton yang terlempar jauh dari tepian gelanggang tak perduli dari golongan mana.

Perputaran api ledakan ini hanya di dalam radius gelanggang saja, seakan kalkulasi jumlah gas yang dikeluarkan sudah diperhitungkan matang dengan ledakan yang akan terjadi.

Berputar-putar api ledakan itu seperti sebuah tornado dengan panas yang sangat membara. Ganeuk pasti tak akan selamat sehabis ini.

Bagaimana serangan ini bisa terjadi? Darimana Kojek menyemburkan gas dari tabung miliknya itu? Dan bagaimana caranya ia melakukan ini? Bukannya badannya sedang cerai berai begitu? Apa ini yang dimaksud abah Hasan dengan Angka Silgang itu? Dia masih bisa menggerakkan bagian tubuhnya yang terlepas?

Abah Hasan tetap berdiri di tempatnya. Mukanya berkilat-kilat oleh cahaya terang api yang membumbung tinggi. Tangannya mengacung ke depan membentuk satu medan energi yang melindungi dirinya dari ledakan dahsyat barusan.

Ron dan Buana berlindung dibalik satu naga raksasa berwarna merah dengan sisik-sisik tebalnya. Mulut naga itu membuka lebar dan berusaha menangkap kobaran api dengan mulutnya untuk dimakan.

Beberapa pendekar tingkat tinggi melakukan beberapa usaha untuk melindungi diri mereka. Pendekar kroco kebanyakan terpental. Beberapa jin lemah pasti sudah musnah terkena panas api ini. Ini terjadi pada dua pihak karena di seberang sana ada beberapa sosok yang masih sanggup berdiri tegak saat api mulai mereda.

“Kalian tau Parbegu punya si Kojek, kan?” ujar abah Hasan.

Aku dan Iyon tegak berdiri lagi di belakangnya. Parbegu? Tentu kami tau tentang Parbegu. Begu dalam bahasa Batak artinya hantu. Teknik ini adalah salah satu teknik pamungkas Kojek yang paling ampuh untuk menghabisi lawan berupa mahluk ghaib. Lawan yang sudah dilemahkan sedemikian rupa akan ditelannya memasuki tubuhnya. Ini penjelasannya…

“Ia menghisap dan memakan hantu, jin, ato apapun yang pernah dilawannya… Menurut cerita Kojek… Hortuk… Babiat Balemun dan teknik Sigak itu juga hasil dari memakan beberapa raja hewan-hewan itu ya, kan?” aku dan Iyon mengangguk membenarkan.

Ada yang kami saksikan ada yang tidak. Yang paling fenomenal tentu saja ia memakan seekor babi hutan berukuran sangat besar, yang diakuinya sebagai raja babi hutan, seorang diri mentah-mentah dalam waktu dua hari saja demi realisasi teknik Hortuk. Non-stop. Perlu kekuatan mental yang sangat luar biasa gila untuk melakukan itu semua. Tapi apa korelasinya?

“Abah sangat perhatian sama dia karena cara berbahayanya ini… Bukan abah mau Islamisasi seperti yang kalian candain itu… Akhirnya abah temukan caranya untuk menetralkan semua energi-energi berbahaya yang sudah memasuki tubuhnya itu… Segala macam hantu, setan dan entitas jahat yang sempat dimakannya pelan-pelan menggerogoti tubuhnya… Mereka bercokol di kisi-kisi tubuh Kojek secara laten… Mereka harus dilepaskan secara berkala… Hal yang selama ini tak pernah dilakukannya, bukan?” papar abah Hasan.

“Pelan-pelan energi Lini tiap mahluk itu merasuki aliran energi Lini asli milik Kojek… Kojek yang kita kenal selama ini pelan-pelan mulai berubah menjadi Kojek yang lain… Kalian mungkin tak menyadarinya… Tidak juga dengan Kojek sendiri… tapi abah bisa melihat perubahan itu… Makanya teknik Parbegu ini sebenarnya sangat berbahaya…”

“Jadi menelan semua setan-setan ini berbahaya, bah?” tanyaku. Tiba-tiba aku teringat dengan coba-cobaku saat menelan siluman monyet waktu itu dengan menggunakan tanah berumput halus di taman daerah kekuasaanku.

“Tentu… Tapi tiap pelaku punya ketahanan yang berbeda-beda… Tingkat toleransi Kojek tapinya sangat tinggi sebab puluhan tahun ia melakukan Parbegu hanya sedikit side effect yang terjadi padanya… Entah kalau kalian berdua yang melakukannya…” abah Hasan menatapku agak lama.

Pasti ia sedang membaca pikiranku, membaca ingatanku.

“Bagus antum sudah mengeluarkan tengkorak monyet itu dan menghancurkannya sekaligus hingga prilaku buruk siluman itu tidak meresap di pribadimu, Seng…” abah Hasan menepuk bahuku, mengapresiasi langkah yang sudah kuambil.

Untung aku segera menyadari kesalahanku waktu itu dan mengkoreksinya karena sifat buruk siluman monyet itu sempat mempengaruhiku. Iyon mengikuti pandangan abah padaku dan memainkan alisnya mencoba bertanya apa yang ia lewatkan. Aku memberinya kode agar menunggu nanti saja karena dia sendiri ada andil pada masalah siluman monyet itu.

“Nah balik lagi masalah Kojek… Semua entitas yang sudah dimakannya lalu dikurung di daerah kekuasaan miliknya… Kalian berdua yang sering diundang masuk ke sana pasti tau persis tempat Kojek mengurung semua mangsanya itu…” Ahh… Daerah kekuasaan Kojek.

Bentuknya unik karena berupa tanah lapang berumput hijau melulu sesuai dengan passion-nya di dunia peternakan. Ada jejeran kandang-kandang berkerangkeng yang sedianya untuk mengurung hewan buas, hanya saja ini berisi setan, jin dan segala turunannya. Aturan di daerah itu juga sangat ketat dan mengikat.

Tak ada yang bisa melawan perintah Kojek di dalam daerah kekuasaannya itu. Katanya, saat ia tak ada kerjaan kadang ia suka mengajak mahluk-mahluk itu ngobrol untuk menghibur mereka.

“Bagaimanapun mereka adalah jiwa-jiwa tersesat ciptaan Tuhan juga… Mereka tidak pantas diperlakukan seperti itu… Benar… argumen Kojek juga ada benarnya kalau ia hanya membantu masyarakat dunia dengan mengurung setan-setan jahat itu di dalam badannya… Abah juga tak berani konfrontir ayat-ayat Injil yang dikutipnya… karena abah gak paham itu… Tapi bahkan Tuhan itu Maha Pengasih di agama manapun… benar, kan? Kojek setuju ini dan kami menemukan titik temu… Dari sana kami berdiskusi dan menyiapkan teknik baru ini… Melepas mereka begitu saja juga bukan jalan yang bijak… Ini jalan yang sangat tepat… Sangat brutal dan kasar mungkin ya… Tapi dengan begitu semua esensi yang ingin dieliminir bisa keluar seutuhnya… Jiwa-jiwa tersesat itu… Ada ratusan mungkin yang sedang mengawang-awang ke tujuan akhirnya… Beberapa menuju taubat… beberapa masih penasaran tapi lelah… dan banyak lagi yang masih bingung… Lihat!” tunjuk abah Hasan.

Ada beberapa titik cahaya yang mengapung naik serupa kelip kunang-kunang. Jumlahnya ada sangat banyak, ratusan kalo dihitung cepat. Bisa dipastikan itu adalah jiwa para mangsa yang pernah disantap Kojek. Mereka berkumpul di puncak api yang tadi menggunung tinggi. Sekarang hanya ada asap hitam membumbung. Ke arah asap itu titik-titik cahaya itu berkumpul.

“Ini kebalikan dari Parbegu… Melepas semua yang sudah dihisapnya… Yang selama ini tersebar di penjuru anggota tubuhnya… Si Ganeuk ini hanya membantu prosesnya… Sebuah kebetulan yang manis… Ditenagai oleh ledakan yang sangat dahsyat dan semoga di-ridhoi oleh yang Maha Pengasih… Kita lihat… ia jadi apa…”

“Mirip sama Rawa Rontek ya, bah?” bisik Iyon mengingat ajian sakti itu.

“Mirip tapi tujuannya berbeda…” jawabnya gantung. Rawa Rontek bertujuan agar penggunanya tak dapat mati walo bagaimana carapun membunuhnya. Asal masih terkena tanah, ia masih bisa hidup kembali walo tubuhnya tercerai berai sekalipun. Angka Silgang malah sengaja mencerai berai tubuh Kojek.

Jadi adalah suatu kebetulan yang luar biasa kebetulan kalo Ganeuk punya jurus andalan untuk suka membanting-banting lawannya hingga hancur berkeping-keping. Teknik Angka Silgang ini tidak mungkin dilakukan sendiri karena akan menjadi menyalahi kodrat kami sebagai pendekar Menggala golongan putih yang tak mungkin melakukan bunuh diri. Melakukan teknik ini di dalam sebuah pertarungan adalah jawabannya.

Cerdas sekaligus mengerikan… Membiarkan tubuh hancur berkeping-keping untuk melepaskan semua energi mahluk yang sudah diperangkap di dalam tubuh Kojek. Semua kerangkeng itu secara harafiahnya ada di sekujur badan Kojek hingga hancurnya tubuhnya menyebabkan kerangkeng itu terbuka dan mereka keluar.

Dawai-dawai cahaya terpancar deras dari puncak gelanggang ini. Silih berganti dawai cahaya itu berpendar spektrum pelangi padahal lingkungan ini sangat gelap, di hutan belantara di waktu dini hari. Sumber cahaya terdekat dengan bumi saat ini hanya bulan yang tidak purnama. Bagaimana mungkin ia bisa bercahaya sedemikian terangnya?

Ada sosok tubuh yang langsung mengingatkan kami akan Kojek. Tubuhnya kurusnya tingginya mengambang melayang di ketinggian itu dengan tangan terbentang. Tubuhnya sudah menyatu kembali! Aku hampir teriak-teriak senang melihat sosok tubuh kerempengnya. Gak pernah aku sesenang ini melihat perawakannya.

Titik-titik cahaya itu melewati tubuhnya lalu melesat tinggi ke angkasa, jauh sekali hingga hilang tak terlihat lagi. Titik-titik cahaya ini adalah jiwa para mahluk yang sudah pernah ditelannya. Satu, tepatnya sepasang benda yang dengan kurang ajarnya membuat Kojek sangat keren sekali kek Cupid pake steroid.

Ada sayap lebar kek malaikat, cuy!

Aku dan Iyon menandak-nandak girang kek orang pesong nembus 4 angka togel satu blok.

“Kojek! Kojeeek!” seru kami berdua kek perawan paok ketemu oppa-oppa ganteng idol drakor.

Tangan kami menjulur-julur hendak menyentuh sang pujaan padahal jarak kami puluhan meter jauhnya dibatasi gelanggang. Ron dan Buana tak kalah heran akan perubahan Kojek tapi tak seheboh kami reaksi keduanya. Abah Hasan hanya mengangguk-angguk bangga Islamisasinya berhasil. *eh? Canda, ding.

“Kojeeek! Kao jadi keren kali, Jeek!! MANTAP KALEE, JEEKK!!” teriak Iyon melompat-lompat girang karena kami sudah menganggapnya tewas tadi hancur berkeping-keping dibanting Ganeuk.

“Kojeekk, gilaAAAK!! PATEN KALI, JEEK!! JANGAN LUPA BAYAR CICILAN BANK-NYAA!!” teriakku ntah hapa-hapa juga melompat-lompat gak ingat umur.

Aku sekilas teringat akan agunan bank yang dipakai Kojek untuk usaha barunya, ternak lembu yang meminjam surat tanah milikku. Mati kawanku satu itu, hajab aku jadinya harus bayar hutang sendirian.

“Woy-woy… Eling, Seng…” Iyon ngeplak kepalaku.

Kegilaan dan kegirangan kami terhenti oleh kegilaan lain. Sesosok tubuh besar dan gempal itu muncul dari gundukan tanah yang hancur gembur gosong akibat ledakan dahsyat gas milik Kojek sebelumnya. Tubuhnya menyeruak dari dalam tanah kek zombie bangkit dari kubur. Ia mengibaskan kepalanya, mengenyahkan tanah dan pasir yang menempel.

Kojek dengan sepasang sayapnya yang spektakuler mendarat ringan di depan Ganeuk yang kemudian bangkit berdiri dengan mudah. Ledakan dahsyat seperti tadi tak memberi banyak efek pada dirinya. Monster ini sungguh luar biasa tangguh.

Tapi Kojek tak berpikir panjang apalagi sayap di punggungnya bersinar terang, tangan kanannya ditarik jauh ke belakang seperti hendak mengadu pukulan lagi dengan Ganeuk. Ganeuk juga melakukan hal yang sejenis. Tangan masif-nya ditarik jauh ke belakang siap menghantam lagi.

Sosok bercahaya itu tertinggal pudar di belakang saat Kojek melesat cepat bagaikan cahaya menembus Ganeuk. Di ujung tangan mengepal tinjunya ada satu sosok baru yang diseretnya lepas dari tubuh Ganeuk. Lawan bertubuh gempal itu tertinggal di belakang Kojek.

Whooaa… Ada apa ini?

“Kau otaknya, kan?” ujar Kojek melepas sosok itu ke tanah.

Mahluk itu berkulit abu-abu juga di bagian punggung seperti Ganeuk tetapi tidak di bagian wajah dan dadanya. Hanya saja ukurannya jauh lebih kecil dari Ganeuk dan bentuk tangan dan kakinya aneh seperti cacat, melengkung membentuk huruf O.

Kepalanya besar tak proporsional dengan tubuh kecilnya. Mungkin dari situ nilai plusnya, otaknya besar. Wajahnya normal seperti manusia; ada sepasang mata, hidung, mulut dan dua telinga.

Hanya saja kepalanya yang besar botak untuk menampung otak yang katanya besar. Entah pulak kalo Encephalopathy. Mahluk berkepala besar itu jatuh terduduk di tanah dan beringsut mundur menjauhi Kojek.

“Seng-Seng… Selama ini si Ganeuk itu rupanya adalah dua mahluk yang menjadi satu… Lihat punggungnya!” tunjuk Iyon pada punggung Ganeuk yang berdiri tegak tak bergerak.

Di belakang lehernya ada lubang besar yang pas ukurannya untuk dimasuki bagian kepala besar mahluk yang lebih kecil itu. Punggungnya kehilangan beberapa massa pembentuknya. Bentuk kerah di bagian leher dan pinggang Ganeuk juga tidak ada lagi.

“Tangan dan kakinya itu dari tadi memeluk leher dan pinggangnya…” lanjut Iyon. KIMAK!! Selama ini kami semua sudah ditipunya.

Itu dia rupanya anggota terakhir Burong Tujoh.

“Kalo mengikuti peraturan turnamen… kalian berdua sudah menyalahi aturan… Karena pertarungan ini satu lawan satu… Kalian berdua dari tadi sudah menyalahi peraturan suci ini… Dan karenanya… secara peraturan kalian sudah kalah dari Ribak Sude…” kata Kojek berdiri tepat di depan mahluk kecil yang terlihat songong akan intelejensia yang mungkin dimilikinya.

“Peraturan apa?! Tak ada peraturan yang bisa mengikatku… Calon pemimpin dunia ini!” serunya.

Itu ternyata suara mahluk itu. Dari tadi itu suaranya. Bukan main. Bukan suara asli si Ganeuk.

“Pemimpin-pun harus tau aturan, borjong!” sergah Kojek membentak.

“Mereka-mereka ini-pun tau peraturan suci ini. Peraturan yang membuat mereka patuh tetap ada di luar gelanggang dan tak ikut campur… Walo mereka sangat ingin mengganyang kami bertiga… tapi peraturan tetap membuat mereka ada di luar gelanggang suci ini…”

“Persetan dengan peraturan busuk itu! Aku tak akan patuh pada siapapun! Tidak kau! Kau! Atau siapapun kalian!” umpatnya meradang menunjuk ke beberapa titik.

Beberapa kalangan mulai geram akan tingkah mahluk cebol tapi sok songong ini. Dan kebanyakan yang geram itu malah dari kalangan golongan hitam karena setelah mereka mendukung habis-habisan Burong Tujoh, malah dari kalangan mereka yang banyak jatuh korban akibat serangan yang salah sasaran, by-stander casualties.

“Ha ha ha… Kamu tidak akan bisa bertahan lama di dunia ini kalau sikapmu seperti itu… Itu namamu… Ganeuk atau Ganaek?” tanya Kojek berusaha sabar.

“OK… Kamu Ganaek dan dia Ganeuk, ya? Nama kok susah kali…” gerutu Kojek tentang nama kedua mahluk ini.

“Kamu masih manusia seutuhnya bahkan sampai sekarang… tetapi dia itu apa? Dia bukan jin atau binatang dan ikatan kalian ini bukan ikatan Menggala Suba sama sekali…” tanya Kojek rupanya juga terganggu dengan eksistensi mahluk bernama Ganeuk ini. Akankah si Ganaek ini tau mahluk apa yang sudah ‘ditungganginya’ selama ini?

“Apa peduliku? Dia patuh padaku… dia mengikutiku… dia muncul di hadapanku… Apa lagi yang kuharapkan?… Tentu saja memanfaatkannya adalah salah satu bukti kecerdasanku yang tak akan kalian bisa ikuti… Dia sangat hebat, bukan? Kalian tidak akan tau apa dia…” bual si cebol Ganaek itu. Ia mencoba berdiri dengan kakinya yang melengkung huruf O.

“Diam muncungmu itu!” sergah Kojek bosan mendengar ocehan gak mutu dari mahluk cebol itu.

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22