The Baby Maker Part 14

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22

Cerita Sex Dewasa The Baby Maker Part 14 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya :The Baby Maker Part 13

Jam sepuluh pagi aku sudah melarikan diri dari rumah. Kubungkus bantal guling dengan selimut seolah-olah aku yang sedang berbaring di sana. Memanfaatkan kebiasaan istriku yang jarang-jarang mau tidur siang hingga ia juga masuk kamar. Kalo ia sengaja ngecek kamar pasti dikiranya aku masih tidur karena kebanyakan begadang. Cihuy… Paten gak taktiknya?

Hari ini aku akan melakukan investigasi masalah Burong Tujoh yang menghantui hari-hari Dea selama bertahun-tahun ini. Bagaimana cara melacak keberadaan hantu? Dimana mereka nonkrongnya? Bagaimana cara membasmi mereka? Ada trik tersendiri…

“Apa Dea masih tau pria itu… teman kuliah Dea itu… yang telah menghipnotis Dea sampe jadi begini? Kalo bisa alamatnya juga…” tanyaku sementara mukaku mendusel-dusel payudaranya yang berkeringat abis kugenjot abis-abisan malam itu. Farah sendiri terkapar entah pingsan ato tidur binor satu itu.

Binor Arab itu menggila kala disentuh dan keknya kehabisan energi. Suara dengkur halusnya terdengar jelas. Kemaluannya berlumuran spermaku, sebagaimana juga dengan Dea.

“Oo… Dia? Namanya Basri… Dia orang Medan sini, bang… Rumahnya kalau gak salah di daerah Padang Bulan… dekat kampus… Dari kabar alumni-alumni yang lain… mereka bilang dia masih tinggal di situ, bang…” ingat Dea sambil mengelus-elus rambutku yang juga basah oleh keringat.

Kedekatan kami jadi sangat intim begini hingga bisa ngobrol dalam keadaan telanjang bulat. Aku menarik selimut agar mereka berdua gak terlalu kedinginan.

“Padang Bulan… Kita bisa mulai dari dia…” ujarku di sela remasan gemasku pada payudara montoknya yang telah tertutup selimut.

“Apa si Basri ini yang mengirim Burong Tujoh itu, bang?” tebaknya.

Dea sepertinya tak mendendam lagi pada pria itu walo sudah sedemikian parah orang itu melecehkan dirinya. Memperkosa dan memperbudak dirinya untuk beberapa lama. Kondisi cacat dirinya sebagai seorang wanita suci juga menyebabkan dirinya bermasalah di kehidupan berumah tangga.

“Dia bukan orang Aceh…”

“Setan-setan ini hanya memanfaatkan keadaan untuk berkomplot menjadi Burong Tujoh ini untuk memfitnah sana-sini… Keluargamu menuduh mantan suamimu yang mengirimnya… Dukun-dukun itu juga memperparah ghibah klen, kan? Ku kasih tau si Basri… Dea juga mulai mencurigai orang itu yang mengirim Burong Tujoh ini, kan? Kek gitulah cara kerja setan-setan ini memperdaya manusia… Dari yang kecil-kecil sampe yang parahpun bisa mereka kerjakan…” jelasku.

Berhadapan langsung dengan Dea dan ngobrol dengannya jadi sangat lancar setelah kami saling tau luar dalam. Berbincang seperti suami istri yang sudah tahunan menikah tanpa batas.

“Gini jalan ceritanya kalo menurut hematku… Si Basri menghipnotis Dea untuk lucu-lucuan aja saat itu… Padahal dibalik itu ia punya motif terselubung… untuk menjadikan Dea budak seksnya selama beberapa hari… Yang tidak si Basri ini tau… jiwa Dea tertinggal di dunia ghaib selama ia memperbudak ragamu untuk digarapnya berhari-hari… Selama itu ada kuntilanak ini yang mengisi ragamu… Jadi sebenarnya si Basri itu memperkosa dan menyetubuhi kuntilanak itu… Paham situasinya?” kataku memulai teoriku.

Dea manggut-manggut. Jadi Dea kurang begitu mendendam pada Basri karena ia sama sekali tak mendapat kesan apapun tentang semua kejadian keji yang menimpa dirinya. Padahal itu adalah hal yang sangat mengerikan kalo terjadi dalam keadaan normal.

“Entah bagaimana… selama bersama-sama dengan kuntilanak yang mengisi tubuhmu… kuntilanak ini memendam perasaan tersendiri pada si Basri ini… Baper-la kita bilang… Si kunti ini suka pada Basri… Ia terus membayang-bayangi Basri sampe sekarang… Jadi kalo kita menemukan kuntilanak ini pada Basri… kita juga akan menemukan sisa enam anggota Burong Tujoh lainnya… Mungkin juga tujuh setan itu ada padanya… Itu malah lebih bagus… Setidak-tidaknya, jejak…” lanjutku akan paparan teoriku.

“Apa bang Aseng yakin bisa menghadapi semua hantu itu sendirian? Burong Tujoh itu terkenal sangat berbahaya-loh, bang…” khawatir Dea akan janjiku padanya yang membuatnya ragu.

“Gak pa-pa… Bisa kok… Asal cocok aja… apa aja awak lakuin, kok…” kataku sambil memainkan apa yang bisa kupilin.

“Ishh… Gak capek-capek, ya? Masih mau lagi? Kemaruk nih kayaknya…” jawab Dea meremas sesuatu milikku dibawah sana.

“Namanya juga enak… Siapa yang bisa nolak Dea yang begini bentuknya…” kataku makin memainkan pilinan.

“Memang gimana bentuk Dea? Orang aneh kayak gini… Sering kesurupan lagi… Nggak banget…” ujarnya merendah. Tapi aku malah menindihnya dan membuatnya menikmati suguhan hangat menuju panas lagi. Ia tertawa-tawa menanggapi gimana gemasnya aku pada dirinya.

Itu cerita tadi malam karena saat ini aku sedang menunggu di sisi jalan perumahan, menunggu jemputanku. Nah itu dia mobil jemputanku nongol. Sedan Lexus putih itu mengedipkan lampu tangan dan menepi. Mobil mewah berpintu dua itu berhenti di depanku, tempat kami janjian ketemu. Pintu penumpang terbuka dan Dea duduk di situ dan kulongok siapa yang nyetir, ternyata Farah. Trus aku duduknya gimana?

“Kenapa, bang Aseng? Kok mukanya aneh gitu? Bingung duduknya? Di belakang masih bisa, kok…” kata Farah yang menjulurkan kepalanya melewati badan Dea.

Dea keluar dari kokpit mobil, menarik tuas hingga joknya terdorong ke depan memberi jalan aku untuk masuk ke bagian belakang. Pasti sempit nih… Loh? Dasar ndeso. Dibelakang ternyata tempat duduk lagi. Kenapa tadi malam aku gak meratiin, ya? Aku hanya bisa cengengesan karena benar-benar gak tau. Kirain mobil sport dua pintu begini tempat duduknya cuma dua tok. Kurang piknik aku…

“Ke Padang Bulan kita, kan?” tanya Farah yang mengendarai mobilnya dengan kaca mata hitam lebar yang terlihat sangat pas di wajah dan hidung mancungnya. Udah kek bule brunette dia berpenampilan begini. Mobil meluncur keluar dari kompleks perumahan ini.

“Iya… Kita ke rumah si Basri itu… Nanti Dea yang nunjukin arah rumahnya…” kata Dea menjawab pertanyaan itu karena aku sama sekali tak tau apa-apa soal tujuan kami ini. Aku hanya tau kami harus menuju ke Basri. “Udah siap, bang?”

“Ya… Let’s go!” kataku mengepalkan tangan walo ada rasa gugup sedikit.

Itu biasa dan kututupi sebisa mungkin agar tidak ketauan kedua binor ini. Keduanya berseru ‘Let’s go!’ juga tertular semangatku. Mobil melaju tak bisa terlalu kencang karena sebentar-bentar ketemu lampu merah.

Apalagi kemacetan jalan. Jalanan Medan makin lama makin bertambah macet. Kuprediksi dalam situasi ini, dari jalan Cemara menuju Padang Bulan bisa jadi satu jam lebih perjalanan.

Ngobrol-ngobrol sepanjang perjalanan dan tak terasa kami sudah mencapai daerah Padang Bulan yang dekat dengan daerah kampus Universitas Negri ternama di kota ini. Lanjut terus dan Dea konsentrasi ke jalan untuk menemukan alamat rumah Basri yang ia miliki.

Dea mengarahkan Farah untuk memasuki sebuah jalan kecil di kanan, telusur sebentar lalu berhenti di depan sebuah rumah. Kanan kiri tempat ini penuh dengan tempat kos karena dekat dengan kampus sehingga suasananya agak rame oleh orang yang lalu lalang. Dea dan Farah turun dan aku menyusul paling belakang.

Dea mengetuk pintu rumah itu dan mengucap salam. Agak lama kami menunggu dan mengulang salam serta ketukan sampe pintu rumah ini terbuka. Seorang ibu yang sudah berumur dengan pandangan curiga menatap kami bertiga. Ia ngumpet di balik pintu yang tak terbuka lebar. “Cari siapa?” ketus ia bertanya.

“Saya dulu teman kuliahnya Basri, bu… Basrinya ada?” jawab Dea dengan sesopan mungkin.

“Kenapa kalian mencari Basri?… Dia tidak mau ketemu siapapun…” kembali ia berujar ketus dan hendak menutup pintu yang segera kutahan dengan mengganjal pake kaki.

“Anak ibu sering kesurupan kuntilanak, kan?” sergahku tembak langsung aja.

Aku merasakan keberadaan kuntilanak itu ada di seputaran rumah ini. Aura gelap menyedihkannya sangat kuat disini. Wajah tua lelah penuh keriputnya terperangah mendengar ucapanku. Tapi ia tetap berusaha merapatkan pintu. “Ibu gak mau anak ibu sembuh?” ia berhenti menekan pintu ini mendengar ucapanku barusan.

“Basri pasti menderita selama ini…” kataku mendorong pintu itu dan ia tidak lagi menahannya.

Pastinya keluarga ini sudah putus asa akan apa yang telah menimpa Basri. Aku memberi kode pada Farah dan Dea untuk menggiring sang ibu tua ini masuk. Dengan lembut kedua perempuan itu memapah ibu tersebut masuk ke bagian dalam rumah.

Aura rumah ini sangat suram dan dingin mencekam. Ini aura yang disebabkan oleh terlalu lamanya didiami mahluk ghaib yang bersifat mengganggu kalo keberatan disebut destruktif. Destruktif pada mental penghuninya hingga merusak cita dan citranya akan kehidupan sosial.

Orang-orang di rumah ini menjadi anti sosial akibat masalah yang mereka derita. Yang jelas menguasai tempat ini adalah kuntilanak yang sempat kudengar suaranya. Khas tertawa-tawa yang bisa membuat orang awam terkencing-kencing.

Farah dan Dea menggiring si ibu tua itu ke ruang tamu dan duduk di tempat yang susah payah diurus sang ibu sendirian saja. Kenapa aku yakin kalo rumah sebesar ini diurus oleh perempuan tua ini sendirian. Di dekat pintu ada rak sepatu dan semuanya dalam keadaan kosong kecuali sepasang sepatu wanita yang kuyakin milik perempuan tua ini. Lalu foto-foto lama berdebu yang digantung di dinding.

Semuanya merupakan foto lama dan aku melihat susunan keluarga lengkap penghuni rumah ini. Ayah dan ibu dan tiga orang anaknya. Seorang pemuda yang gagah yang kuyakin sebagai orang yang bernama Basri ini dalam balutan pakaian wisuda dan dua saudara perempuannya yang lebih muda.

Kita anggap sang ayah sudah tiada, lalu dimana kedua saudarinya sekarang? Meninggalkan ibunya tinggal sendiri dengan abang mereka dalam keadaan seperti ini. Kenapa aku sangat yakin kalo Basri sedang dalam masalah? Setidaknya adalah masalah kesehatan yang digerogoti si kuntilanak keparat itu.

Aku duduk dan mendengarkan cerita ibu tua tentang petaka yang menimpa keluarganya. Basri sudah mereka anggap sebagai pemuda pintar yang punya banyak skill. Saat kuliah bahkan ia sudah menghasilkan income sendiri dari kemampuannya dalam bidang hipnotis.

Ia kerap tampil menjadi penghibur di event-event korporasi, tempat hiburan dan lain sebagainya. Saat itu bidang hiburan yang mengusung hipnotis sangat digandrungi masyarakat. Lalu suatu hari Basri mulai berubah.

Ia kerap bengong ato ngomong sendiri dengan pandangan kosong. Sering melamun dan banyak mengurung diri di kamarnya. Ia mulai meninggalkan dunia glamor hiburannya dan tenggelam dalam kekosongan yang sangat pekat itu.

Mengurung diri di kamar sampai berhari-hari dan tak mau bekerja lagi. Hanya di kamar. Keluarganya mulai resah dan mendatangkan berbagai orang untuk menyembuhkan gangguan Basri. Orang-orang sini lazim menyebutnya sebagai terkena pulung/polong ato dengan kata lain sedang terpikat dengan pesona dunia lain, dunia ghaib.

Puncaknya adalah Basri menghilang dari kamarnya yang terkunci selama setahun lebih. Bukan buatan bingung keluarganya mencari keberadaan pemuda yang semakin jauh dari kata waras.

Bagaimana ia bisa kabur dari kamar terkunci itu? Berbagai upaya dilakukan keluarga ini untuk menemukannya kembali. Sempat terlontar kemungkinan perdagangan organ manusia ato malah ditangkap ketertiban umum dan dimasukkan Rumah Sakit Jiwa entah dimana.

Setahun kemudian, polisi hutan dengan tidak terduga menemukan Basri yang hidup liar di belantara hutan perbatasan Sumatera Utara dan Nangroe Aceh Darussalam. Hutan yang masih merupakan hutan konservasi Taman Nasional Gunung Leuser di sepanjang Bukit Barisan.

Basri sudah diberi titel sebagai orang dengan gangguan mental. Bagaimana bisa orang yang biasa berada di kota besar berkelana setahun lebih dalam hutan? Apa yang dilakukannya? Dengan apa ia bertahan hidup? Para paranormal tentu saja punya jawabannya.

Dibilang-la dibawa mahluk halus ke dunianya. Dibawa jin ke kerajaannya. Menikah dengan jin perempuan dan tak diperbolehkan pulang sebelum waktunya. Macam-macam. Bahkan ada dukun yang sesumbar kalo kembalinya Basri adalah berkat kesaktiannya. Bante kelen-la situ…

Seorang pria malang dengan tubuh kurus, putih, kumis dan jenggot tak terurus. Hanya memakai celana pendek dan singlet kumal duduk mencangkung di sudut ruangan menatap kosong langit-langit kamar. Hanya ada kasur busa tipis tempatnya tidur yang berbau pesing. Ada beberapa noda merah menghitam di dinding yang kotor, bekas dari luka-luka berdarah yang ada di sekujur tubuhnya. Akibat dari tantrum yang sesekali menyeruak. Kami bersamaan memandang arahnya menatap.

“Dia suka sekali memandang ke atas situ… Katanya istrinya ada disana… Namanya Mutee… Sejak dari hutan itu… Basri jadi bisa bahasa Aceh… Padahal kami orang Jawa…” kata si ibu tua itu yang sebenarnya agak rasis, awak yang orang Padang bisa ngomong Inggris sikit-sikit napa rupanya, ia tak habis pikir kenapa ini bisa menimpa anaknya.

Kedua anak perempuannya antara tak sudi dan tak sanggup mengurus abangnya, menjadikan alasan menikah menjadi alat untuk menjauh dari sini. Menjauh dari petaka ini.

Kalo ditilik lebih jauh mengenai Burong Tujoh yang sering menyerang anak-anak dan wanita, berarti kasus Basri ini pengecualian karena menyerang pria. Ini karena aku melihat jejak ketujuh hantu Burong Tujoh itu ada di sini.

Hanya saja yang terlihat jelas saat ini adalah si kuntilanak berbaju merah yang berdiri terbalik di langit-langit sambil membelai-belai kepala Basri dengan tangannya yang memanjang tak wajar.

Untung saja cuma aku dan mungkin Basri yang bisa melihatnya karena kuntilanak itu tertawa-tawa nyaring sambil menatapku dengan muka seramnya. Kuntilanak itu meracau kata-kata kotor yang bahkan di forum esek-esek ini mungkin lebih baik disensor.

Walo mimik Basri kosong, tetapi di dalam hatinya ia sebenarnya menjerit dan menangis. Ia ingin lepas dari jerat kuntilanak berbaju merah yang telah menjadikannya suami lewat pernikahan tak lazim dua dunia yang berbeda.

Kuntilanak itu sepertinya ingin memamerkan sesuatu padaku karena ia yakin kalo aku gak akan melakukan sesuatu karena kami masih rame-rame memantau keadaan Basri. Ibu tua itu masih menceritakan beberapa kisah yang mungkin mengganjal hatinya.

Kuntilanak berpakaian merah itu turun dari langit-langit dengan melayang, mendekati Basri. Tangannya lancang merogoh ke arah kemaluan pria malang itu. Terlihat gembungan celana pendeknya bergerak-gerak. Hanya aku yang melihat ini semua. Basri meringis.

Tak cukup hanya sampai disitu perlakuan kuntilanak itu yang merancap kemaluan Basri, ia juga menyepong! Pernah klen liat kuntilanak melecehkan manusia? Ini yang sedang kusaksikan dan kupastikan ini bukan yang pertama kalinya.

Basri hanya bisa meringis-ringis merasakan kemaluannya yang sedang disedot kuntilanak itu dan tak lama sepertinya ia selesai. Kuntilanak kurang ajar itu meneguk semua sperma pria itu dengan lidahnya yang menjulur-julur mengejekku. Aku tak bisa berbuat banyak selain hanya menyaksikan karena khawatir aksiku diketahui ibu tua orang tua Basri ini. Harusnya aku bisa membantai kuntilanak binal ini sekarang juga. Tanganku sudah gatal dan ia tau itu.

Basri hanya bisa bersandar trus dengan tubuh lemas. Gimana gak lemas cobak? Tiap waktu tiap saat tubuhnya dieksploitasi setan jahanam itu berulang-ulang tanpa bisa ia cegah ato sekedar menolak.

Kuntilanak ini menguras semua energi hidup pria ini selama bertahun-tahun ini. Tidak hanya di sini, ia dan kelompoknya juga melakukan hal yang sama pada Dea dan pastinya pada yang lain juga. Aku akan coba berdialog dengan kuntilanak merah ini. Mana tau ia mau merespon pertanyaanku.

“Mutee… Namamu Mutee, kan?” tanyaku.

Tentu saja pertanyaan ini tidak akan bisa didengar orang awam. Hanya orang-orang yang punya kemampuan sepertiku yang bisa melakukan ini. Kuntilanak itu bereaksi.

“Kau tau namaku?” jawabnya dengan menjulur-julurkan lidahnya.

Ia masih sibuk menikmati rasa enak energi hidup Basri di mulutnya. Tangannya bergerak ke arah leher Basri dan membelai-belainya. Rambutnya yang agak gondrong akan terlihat bergerak kalo ada yang memperhatikannya. Farah dan Dea masih asik mendengarkan cerita derita ibu tua itu dengan simpati dan empati dalam, tidak memperhatikan kejadian ini.

“Hi hi hihihihihi…”

“Begitulah… Pria ini memberitau ibunya kalo kau bernama Mutee… Kalian asalnya dari hutan Leuser?” tanyaku.

Kutahan-tahan diriku agar tidak menyebabkan provokasi demi informasi penting. Tampilan yang tampak di mata bathinku ini akan terlihat berbeda bagi orang lain ato bahkan pada Basri.

Entah visual apa yang melekat di kepala Basri dari dulu sampe sekarang. Para setan ini bisa dengan mudah mempersepsikan tampilannya sesuai dengan bayang netra pihak yang memandangnya. Bagiku, setan wanita binal bersuara tawa hihihi adalah kuntilanak.

“Kami ada di mana-mana… Kau sudah memotong ekor Tabek… Dia sangat gusar sekali… Kau mengganggu urusannya dengan perempuan muda itu…” ujar Mutee.

Jadi hantu cicak beracun panas itu namanya Tabek. Dengan begini aku sudah tau nama dua dari tujuh hantu Burong ini. Bagiku setan yang menempel di dinding adalah setan cicak kalo boleh sedikit kukupas tentang tampilan setan cicak bernama Tabek itu. Apalagi ia mempunyai ekor yang sangat dibanggakannya.

“Hi hi hihihihihi…”

“Ya… Kalo Tabek masih penasaran… bisa kami ketemu lagi untuk lebih akrab lain waktu… Jadi sampe kapan kau dengan pria malang ini? Sampe energi hidupnya abis?” tanyaku bertanya lebih jauh lagi karena sepertinya ia ingin pamer lebih jauh lagi.

Tangannya kembali merangsang tegak milik Basri dan ia menarik bagian rok panjang pakaian merah yang dikenakannya hingga satu bagian pantatnya yang berwarna pucat itu kelihatan.

“Hi hi hihihihihi…” Mutee seperti tak memperdulikanku dan mulai melakukan WOT dengan paksa pada selangkangan Basri.

Pria itu seperti sedang hanya menggerak-gerakkan badannya seperti sedang menikmati ritme musik hayalan bagi orang awam padahal sejatinya ia sedang diperkosa oleh sosok mahluk astral yang tersohor akan nama kuntilanak.

Waah… Berapa kali dalam sehari semalam kuntilanak ini memperkosa Basri dan sudah berlangsung berapa tahun? Gimana gak kurus layu kerempeng ini orang dibuatnya?

“Hi hi hihihihihi…”

Terus tertawa-tawa khas kuntilanak itu yang keluar dari mulutnya. Ketiga perempuan yang menyertaiku di ruangan ini mulai merasakan aura yang tak nyaman. Mereka mulai gelisah dan menunjukkan gelagat ingin cepat-cepat pergi dari tempat ini.

Kuntilanak berpakaian merah itu makin gencar mengguncangkan tubuhnya memperkosa Basri dan tak lama pria itu mencapai batas pertahanannya, jebol lagi. Energi hidupnya lagi-lagi disedot melalui kemaluan kuntilanak itu.

Makin lemas pria itu duduk bersandar, termangu tak mampu berbuat banyak. Air mata yang meleleh ke pipinya bahkan dijilati si kuntilanak jahanam itu dengan kikik tawa menyebalkannya.

Farah menyentuh bahuku mengajakku untuk turun lagi ke lantai bawah karena mereka akan turun lagi dan melanjutkan pembicaraan di bawah saja.

“Aku disini dulu… Kalian duluan aja…” bisikku agar tak terdengar ibu tua itu. Farah mengangguk.

Dea dan ibu pemilik rumah sudah menuruni tangga duluan sedang aku memilih tinggal.

“Mutee… Aku beri peringatan… Segera tinggalkan orang ini ato kau bisa binasa…” ujarku pada mahluk ghaib itu begitu tak ada lagi orang ada di kamar ini kecuali aku, Basri dan si kuntilanak merah, Mutee.

“Hi hi hihihihihi…” ia malah tertawa-tawa seperti tak perduli.

Ia menyedot-nyedot apa yang masih tersisa dari benda di antara kaki Basri.

“Kenapa? Kau mau memaksaku dengan benda itu?” tanpa melihat padaku ia meremehkan mandau Panglima Burung yang kugenggam di tangan kanan. Aku sudah mengantisipasi responnya ini. Mereka sangat keras kepala dan tak mau meninggalkan mangsanya sampe mati.

“Aku sudah menikah dengannya… Kau tak bisa memisahkan kami begitu saja…”

“Maut yang akan memisahkan kalian berdua…” ancamku lagi dan bersiap menggunakan mandau ini.

“Yaa… Maut untuknya…” dengan licik kuntilanak merah itu mengulurkan tangannya ke leher Basri dan mencekik sejadi-jadinya hingga birat tertekan bagian vital itu oleh kuku-kuku runcingnya. Ia hendak menjadikan Basri sanderanya untuk mengancamku. Kalo si Mutee ini benar-benar melakukan apa yang diancamkannya, sudah pasti Basri akan segera mati karena cekikannya.

“Hi hi hihihihihi…”

“Whoo… woo… Tahan bentar… Kau mau membunuh suamimu sendiri… Jangan gegabah!” seruku mundur.

“Kau akan dilaknat sumpah pernikahanmu kalo kau sampe membunuhnya…” seruku mengingatkannya.

“Kau juga akan mati kalo dia mati… Itu sumpah kalian kan? Sehidup semati?” tanyaku akan apa yang mungkin mereka ikrarkan saat Basri dibawa ke hutan gunung Leuser ketika itu.

“Hi hi hihihihihi… Itu kalo semua suamiku mati… Pecundang ini hanya satu dari sekian banyak suamiku… Energi hidupnya juga sudah tinggal sedikit… Kehilangan pecundang satu ini tidak akan membunuhku… Aku tinggal mencari yang baru… Yang mau terjerat pesonaku… Hi hi hihihihihi…” Bah! Banyak katanya suaminya? Berarti ada banyak korban-korban lain disamping Basri yang tersebar dimana-mana. Kejahatan kuntilanak merah ini sungguh sangat meresahkan.

“Jangan macam-macam, Mutee… Kalo kau mencelakakan si Basri ini… kau juga tak akan selamat… Aku pastikan itu!!” ancamku lagi.

Kuntilanak ini tapi bukanlah pemain baru dalam dunia supranatural ancamanku tidak begitu dianggapnya karena ia tak perduli dengan nyawa Basri. Senyum memuakkan di wajah seram setan berbentuk perempuan yang kerap menghantui masyarakat Nusantara.

“Kita barter…” ia semakin mengetatkan cekikannya pada leher Basri hingga pria kurus itu cengap-cengap bernafas tercekik jalan nafasnya.

Kalo terserah padaku, aku akan pilih mengakhiri penderitaannya selama bertahun-tahun ini karena keadaannya sudah mengenaskan.

“Pecundang ini digantikan denganmu… Bagaimana?” ia makin mempererat cekikannya hingga Basri terlihat makin sekarat.

“Hi hi hihihihihi… Tubuhnya digantikan tubuhmu? Kau tertarik?” Dan terjadi sesuatu pada penampilan kuntilanak berpakaian merah itu.

Ia berubah wujud. Wujud yang sangat menawan. Memanjakan mata dan memuaskan hati. Wajahnya, rambutnya, tangannya, tubuhnya, payudaranya, kaki-kakinya. Ahh…

Mutee

“Hi hi hihihihihi… Kemarilah… Kau menginginkanku… Benar, kan?” dengan bentukannya yang sangat aduhai, ia membiusku.

Memanggilku untuk menghampirinya. Tangannya terulur melambai-lambai agar aku mendekat. Tubuhnya yang seksi menjadi magnet tersendiri yang sangat memabukkan bagiku. Ia tak lagi memperdulikan Basri.

Ia sudah melepas pria itu dan beralih padaku. Tubuhnya memanggilku mendekat. Tawanya sekarang terdengar manja menggoda serta wajar mempesona. Ahh… Betapa cantiknya dirimu…

Kupagut ganas mulut berbibir indah itu dengan rakusnya. Ia membalasku dengan intensitas yang sama. Aku sudah lupa apapun saat ini. Yang ada adalah hanyalah perempuan cantik nan seksi ini sajalah yang terpenting di dunia ini. Kami bergumul dengan tak sabarnya saling melucuti pakaian. Saling sentuh dan belai. Saling remas dan rangsang. Rangsangan maksimal yang pernah kurasakan.

Tanganku tak bosan-bosannya meremas sepasang payudara montok berukuran besar yang padat rupawan. Urat-urat halus kehijauan membayang di payudara padat itu saat tanganku mencengkram dan ia mendesah seksi karenanya. Tangannya juga tak kalah merangsang kemaluanku.

Diremas-remas dan dikocoknya penisku hingga menegang keras bagai batang kayu. Aku sangat tak sabar untuk segera tenggelam dalam kenikmatan tubuhnya. Menusuknya dengan batang penis kerasku, membuatnya mengerang menjerit oleh gesekan di gua kenikmatan yang pastinya sangat luar biasa istimewa berkat pesonanya yang luar biasa indah. Memainkan payudara dan putingnya tempatku melampiakannya. Ia menjerit-jerit nakal.

Perempuan ini menggelinjang menikmati permainan mulut dan lidahku di payudara montoknya. Gemas aku menyatukan pucuk payudaranya dan menjilatinya sekaligus, mengakibatkannya bergetar-getar oleh rasa nikmat itu. Tanganku menjangkau dan menemukan kelembaban nikmat di antara kakinya.

Gundukan lembut berbelah dengan rambut-rambut jarang yang terawat rapi. Basah ketika jariku memasuki ruang garba indah itu. Hangat sekaligus menggigit. Ia makin menggila meremas-remas penisku yang sudah tegang luar biasa.

Digesek-gesekkannya penisku pada kemaluannya dengan kaki membentang lebar. Ia juga sudah tak sabar merasakan kejantananku memasukinya. Ia mendesah-desah mengerang merasakan gesekan kepala penisku mengoles permukaan luar kelaminnya yang sudah basah kuyup tak sabar dikawini.

Kuseruduk lubang kemaluannya sekaligus mencumbu mulutnya lagi. Ia mengaduh saat penisku menerobos dan masuk melesak tanpa ampun hingga kandas. Ia sangat menginginkannya ditandai lancarnya aku dapat mencapai dasar terdalamnya.

Liang kemaluannya sangat pas dengan milikku seolah kelamin kami memang diciptakan untuk bersama selama-lamanya. Kami berpelukan dan bergulingan dengan syahdu. Kelamin bersatu padu menjadi satu kesatuan kompak yang tiada bandingannya lagi. Ini sangat indah.

Berpagutan mesra, aku mulai menggerakkan penisku keluar masuk yang disambutnya dengan gemulai menyambut berputar. Membuat kami sama-sama mendesah kenikmatan. Rasa geli dan enak bercampur menjadi satu harmoni yang sangat indah rasanya.

Aku jadi ketagihan oleh rasa nikmat yang dihasilkan dari hubungan dengannya yang juga indah. Bergulingan kami di tempat yang tak kuperdulikan lagi ada dimana. Yang kuperdulikan adalah terus menikmati ini lagi dan lagi. Terus menerus menikmati indah tubuhnya yang juga menikmati hal yang sama dariku.

“Ahhh… Trus, maaaasss… Ahhh… Aahhh… Yaaahh… Yaahhh… Begituuu… Yaaa trusss… Uuuhhh…” erang perempuan cantik ini.

“Akuu… akuu mau… keluaaaar… bentar laaagi…” cekat suaraku penuh sesak.

“Yaaa… Lepassskaann… Ahhh…. Lepassskaann ajaaa…” ia pasrah aja menerima desakanku yang bertubi-tubi kencang menggenjotnya. Ia menyukai ini. Ia mengharapkanku memuaskannya. Ia mencintaiku.

“Akkhhhh… Ahh… Crooot crooot crooottt!!” plong sekali rasanya melepaskan muatan besar yang menyembur dari kejantananku dan mengisi relung-relung kemaluan perempuan cantik yang sangat indah ini.

Tubuh kami rapat saling peluk erat menikmati tiap serpih-serpih kenikmatan yang ada mengapung di awang-awang surga dunia ini. Perempuan ini mendesah-desah keenakan karena ia juga mendapatkan kenikmatan puncaknya sebagaimana aku barusan.

Kami bergumul lagi dan lagi saling berpelukan bercumbu mulut dengan kelamin yang tetap bersatu. Tak rela berpisah sedetikpun. Hanya mau lagi dan lagi.

Kugenjot lagi tubuhnya karena kemaluanku sudah siap kembali untuk bertarung dengan gegap lagi. Gesekan-gesekan nikmat kembali terjadi dan kami terus melakukannya dengan penuh syahwat yang membara.

Perempuan cantik ini dengan rela membiarkanku menikmati tubuhnya karena ia menyukainya dan memang mengharapkan ini semua terjadi. Ia rela diperlakukan apa saja.

Siapa wanita cantik ini? Kenapa ia begitu indah? Kenapa ia begitu menawan hati? Kenapa aku merasa sangat dengan dekat dengannya? Familiar dengan wajahnya hingga nyaman bersenggama dengannya? Dengan aroma tubuhnya, bentuk tubuhnya, ukuran payudaranya, nikmat liang kemaluannya, kenyal bibirnya saat kukulum.

Semuanya terasa pas dan benar hingga aku tak merasakan was-was sedikitpun. Aku merasa ia hanya milikku.

Beberapa kali ia mengambil kendali hubungan badan indah ini dengan penuh semangatnya. Ia tak membiarkanku memikirkan hal-hal lain begitu disadarinya aku sedang melamunkan tentang indah dirinya. Goyangannya mengguncang duniaku.

Membuatku blingsatan dalam indahnya rasa nikmat yang menguasai sekujur tubuhku. Mengisi tiap-tiap relung indra perasa dan perabaku. Memberi rasa senang dan gembira selalu. Aku budah kenikmatan saat ini dibawah kendalinya.

Aahhh… Andaikan aku bisa begini selamanya. Alangkah indahnya dunia ini. Alangkah damai dan syahdunya. Maukah ia berbagi hidup denganku dan menjalani hari-hari bahagia begini untuk selama-lamanya. Sudikah dia?

Tak dibiarkannya aku memikirkan hal-hal lain. Dilakukannya trik hebat yang membuatku melolong dalam kenikmatan sejati. Disedotnya kemaluanku yang masih berlumuran sperma tanpa rasa sungkan sedikitpun. Dijilatinya memberiku rasa nikmat yang tak terperi.

Tak kunjung berhenti ia memanjakanku dan menstimulasiku berulang-ulang hingga aku mau lagi dan lagi bergumul dengannya. Kutindih tubuh indahnya dengan sodokan-sodokan penuh tenaga dan tak lama benih-benihku tertumpah ruah lagi di dalam tubuhnya yang dengan suka cita menerimaku.

Akankah ia mau menjadi pendamping hidupku? Akan selalu kubahagiakan dirinya. Kumanjakan kemauannya melebihi limpahan suka cita seorang putri raja. Kuberikan segala yang kubisa dan kupunya. Kujadikan dia perempuan yang paling bahagia di muka dunia fana.

“Dindaaa… Maukah kamu mendampingikuuu—aahh…” ia memasukkan penisku yang sudah menegang keras lagi ke dalam kemaluannya yang sungguh nikmat mempesona.

Diguncangkannya lagi duniaku dengan penuh semangat yang membuatku kembali terbang ke awang-awang. Tak sekalipun dia membiarkanku berpikir ini akan berakhir. Ini terlalu indah untuk berakhir. Tak pantas berakhir. Aku ingin begini selamanya.

“Kenapa, kandaku… Tak cukupkah semua ini untukmu? Hingga harus begini?” tertatih-tatih perempuan cantik itu menjauhiku dengan serta merta memegangi perutnya.

“Maafkan aku… Hidupku tak sesempurna itu…” tubuhku sangat-sangatlah lemas.

Kakiku bergoyang bergetar-getar seperti tak punya tenaga yang tersisa. Dengan benda yang menjadi andalanku ini kutopang diriku agar tetap berdiri walopun sangat limbung. Seperti mabuk kecubung rasanya isi kepalaku. Dunia seperti terdistorsi bergoyang-goyang, petat petot sana sini, peyang mencot kanan kiri. Ini bukan pusing biasa.

“Dinda tak pantas untuk kanda? Tega nian kau, kanda…” perutnya penuh dengan noda merah itu.

Mengucur deras dari bukaan luka menganga di perutnya. Merah darah yang banjir membasahi tubuhnya sendiri bekas tebasan mandau Panglima Burung yang tak sengaja terpegang saat kami bergulingan bergumul nikmat tadi.

Kepalaku masih belum bisa memproses apa yang telah terjadi. Tetapi yang pasti ada sesuatu yang sangat salah disini. Kenapa aku menaruh harapan yang sangat tinggi pada perempuan yang sangat kukenal ini?

Aku mengenal fisiknya luar dalam sampai semua lipatan tubuhnya kuhapal tetapi tidak kepribadiannya yang sangat asing. Kepribadian ini terlalu ideal. Itu hanya cocok ada khasanah hayalan seorang pemimpi tanpa tau realita. Rasa cinta dan suka ada pada taraf yang berbeda.

Aku suka hanya pada tubuhnya yang mampu memberiku semua rasa nikmat dan senang. Tapi aku hanya perlu cinta dari satu perempuan. Aku sudah mendapatkan itu semua dan aku tak perlu tambahan lainnya.

“Kau bisa menyerupai siapapun yang kau inginkan… Kau bisa meniru siapapun di dunia ini… Tapi kau tak bisa meniru perasaannya…” ujarku masih dengan tubuh lemas.

Entah udah berapa kali aku ejakulasi, membuang energi hidupku pada betina durjana satu ini. Koreksi, kuntilanak merah durjana satu ini. Ia bersandar di dinding kamar dengan susah payah. Mulutnya mangap-mangap mencari energi.

“Salah kalo kau kira meniru dirinya… Lalu meningkatkan semua penampilannya hingga make over habis-habisan begitu membuatku terperdaya…” aku berusaha maju berjalan tertatih untuk mendekat.

“Wujudnya jadi sangat indah… Kuakui itu benar… Itu kalo dia melakukan poles sana-sini… Sedot lemak, koreksi ini itu… Proses abis-abisan… Kau pasti tak tau apa pengorbanannya untuk melahirkan dua anak-anakku? Kau tak akan tau… Mutee… Tapi terima kasih… Kau memberi gambaran itu… Itu tadi bahkan lebih keren dari Photoshop…” kata-kataku yang tak sedikitpun berisi kemarahan.

Tapi mahluk jahat ini tidak boleh dibiarkan melanglang buana lama-lama di permukaan bumi ini. Ia hanya akan menebar kerusakan dan kesedihan dimana-mana.

“JANGAAANNN!! Akh!” Tebasan mandau Panglima Burung tak dapat ia elakkan menebas dirinya.

Aku bahkan sampai tersungkur jatuh setelah menyarangkan serangan mematikan yang membelah tubuhnya hingga hancur berkeping-keping. Kakiku gagal menahan bobot tubuhku sama sekali. Setidaknya satu dari tujuh Burong Tujoh bernama Mutee itu musnah sekarang.

“Itu harga yang kau dapat karena berani-berani membajak khayalanku akan tubuh sempurna istriku…” bisikku sendiri entah pada siapa. Harusnya pada diriku sendiri.

“Cek cek ceek…Cek cek ceek… Cek cek ceek…” mukaku tiba-tiba mengetat lagi akan horor baru.

Suara itu sangat kukenal. Hantu cicak raksasa bernama Tabek itu terdengar menggema di dalam kamar ini. Kucari-cari asal suaranya. Genggamanku pada mandau yang tadi mengendur, kuketatkan kembali. Kugenggam erat-erat, siap menebas lagi. Tapi genggamanku lemah. Energiku terkuras banyak.

“Sayang sekali Mutee harus tumbang di tanganmu… Tapi kejayaan aku berpihak padaku kali ini… Tabek si hantu cicak berekor dua…” cetus suara perempuan tua parau oleh Bronchitis.

Cicak raksasa itu menempel di langit-langit kamar bak seekor biawak berwarna abu-abu kehijauan. Benar! Dia punya dua ekor. Satu cabang ekornya putus—yang sudah kupotong kemarin malam.

Aku dalam masalah besar sekarang. Ia ada tepat di atasku. Dia bisa dengan mudah menyerangku saat ini. Aku harus memanggil bantuan. Semoga saja sempat! Kulindungi kepalaku dengan tangan dan mandau bersilang.

“BHUUGGG!!!” suara hantaman keras terjadi dan aku berharap rasa sakitnya hanya sebentar saja.

“BRAAKKK!” tapi kemudian terdengar suara benturan sosok tubuh yang membentur dinding. Lalu, “AAKKHHH!!!”

“JANGAN GANGGU DIA!!” ada satu suara asing terdengar.

Dengan tenaga yang tersisa, aku mencoba mencari sumber suara kegaduhan yang gagal menyakitiku. Aku hanya dapat melihat bentuk tubuh yang merupakan sisa tubuh Tabek si hantu cicak raksasa, terbujur lunglai jatuh dari dinding.

Bagian kepalanya tak berbentuk utuh, remuk redam—retak seribu. Di depannya ada sesosok asing berdiri. Diakah yang telah menghajar Tabek hingga sedemikian rupa? Sosoknya kurus tinggi.

Kepalanya berbentuk segitiga dengan sudut lancip seperti telinga kucing. Jari-jarinya hanya ada tiga buah di tiap tangannya, berujung lancip dan runcing. Mahluk apa ini? Kenapa aku tak merasakan aura jin ato apapun darinya? Sebagai gantinya malah ada aura aneh yang sangat asing. Aku belum pernah tau ada mahluk seperti ini sebelumnya…

Aku tak mampu berpikir apa-apa lagi kecuali pingsan. Yang kudengar hanya sayup-sayup suara ringtone HP-ku berbunyi nyaring berulang-ulang…

***

“Bang Aseng… Minum ini dulu…” seseorang berusaha mencekoki mulutku dengan sebuah sendok berisi cairan hangat.

Teh manis. Diulanginya lagi. Kerasa segar dan nyaman di mulutku. Ia lalu membantuku untuk duduk untuk menenggak teh manis itu langsung dari wadahnya. Setidaknya perutku sudah terasa hangat. Cairan manis bersukrosa alami ini memberi energi instan pada tubuhku yang lemas.

    

Yang membantuku minum teh manis ini ternyata Dea. Tapi Farah juga tak jauh. Ia memijat-mijat kakiku dengan muka lega aku sudah siuman. Aku duduk teronggok di atas sofa masih cukup lemas di ruang tamu rumah Basri. Apa kabarnya orang itu?

“Basri gimana?” tanyaku lirih. Kepalaku masih terasa sakit.

“Dia sudah lumayan sehat, bang… Dia di kamar ibunya… Ibunya sedang merawat dirinya… Dia sudah sadar sekarang… Abang sudah berhasil menyingkirkan kuntilanak itu…” kata Dea.

“Juga sama si Tabek sekalian…” tambahku pelan berupa bisikan.

“Tabek? Siapa itu Tabek?” tanya Farah yang merapat padaku untuk memijat bahuku.

Pijatannya terasa enak bertenaga. Tapi jangan keras-keras. Badanku masih sakit semua. Ia mengerti gestur tubuhku yang kesakitan. Dikuranginya tenaga pijatannya jadi lebih lembut.

“Hantu cicak di Dea kemarin…” jawabku susah payah dengan kalimat itu karena kepalaku berdenyut seperti ada beberapa kumbang sedang menggerek tempurung kepalaku.

“Auhh…” Farah mengalihkan pijatannya pada kepalaku, terutama bagian pelipis.

“Kami dengar suara gedebag-gedebug di atas… Kami semua ketakutan, bang… Ibu Basri juga… Kami pikir bang Aseng berkelahi dengan Basri yang sedang kesurupan… Waktu suaranya berhenti kami menemukan abang terbaring lemas di lantai tak berpakaian… Si Basri kelihatan linglung tetapi ia sadar dan mengenali ibunya… Abang lalu kami bawa turun kemari…” papar Dea tentang apa yang telah mereka saksikan. Aku tak berpakaian? Ah… karena ‘pergumulan’ itu pastinya.

“Kalian melihat mahluk berkepala kucing itu juga?” tanyaku penasaran.

Mahluk tinggi kurus bersudut kepala runcing lancip seperti telinga kucing dengan tiga jari runcing di tiap tangannya. Apakah dia bagian dari Burong Tujoh juga? Lalu kenapa dia menyerang Tabek sampe hancur? Apakah ada pertikaian hingga menyebabkan perpecahan di Burong Tujoh? Tapi aku tak merasakan aura jahat dari mahluk itu sama sekali. Mahluk apa dia gerangan? Dea dan Farah menggeleng-geleng tanda tidak tau. Farah mengulurkan HP milikku.

“Dari tadi itu bunyi terus… Berulang-ulang… Awalnya gak mau Farah angkat… Tapi itu bukan istri bang Aseng… karena di phone book abang namanya ditulis ‘orang rumah’… Yang nelpon bolak-balik itu namanya Vivi… Farah angkatlah pelan-pelan… Dia tau abang sedang dalam masalah… Dia memaksa untuk tau kita ini sedang ada dimana… Dengan terpaksa dikasi tau, bang… Gak apa apa, ya?” takut-takut Farah menjelaskan perihal masalah ini. Tentunya ia juga bingung bagaimana mengatasi masalah ini. Si Vivi… Dia tau aku dalam masalah?

“Triingg triiingg triiiingg…” teleponku berbunyi lagi dari si Vivi. “Halo, Vi?”

“Halo? Bang Aseng udah sadar?” semburnya di seberang sana demi mendengar suaraku sendiri.

“Syukurlah… Vivi udah ada di depan rumah… Tolong bukain pintu…” katanya berapi-api tapi langsung ditutup lagi.

“Tolong bukain pintunya… Dia udah nyampe…” tunjukku lemah ke arah pintu pada siapa aja.

Farah yang duluan bergerak sigap dan menuju pintu untuk membukakannya untuk Vivi. Pintu terdorong cepat dan gadis mahasiswi itu menghambur buru-buru begitu ia melihat keberadaanku yang duduk teronggok bersila di atas sofa.

“Bang Aseng? Bang Aseng gak apa-apa, kan? Apa ada yang luka? Mana yang sakit? Kita ke rumah sakit ya? Vivi anterin sekarang juga…” ia meraba-raba tangan dan kaki serta tubuhku untuk melihat reaksiku atas sentuhannya. Ia berjongkok di depanku dengan wajah panik. Sepanjang jalan ia pasti ngebut untuk segera sampe kemari. Sampe segini ni anak khawatir akan keadaanku.

“Bang… Gak apa-apa, kan?” desaknya.

“Awak gak pa-pa, Vi… Cuma agak lemes aja dikit… Istirahat sama makan juga pasti baikan lagi…” jawabku masih tetap lemes tapi kupaksakan senyum padanya. Vivi sepertinya hanya memperdulikanku tapi tidak pada yang lainnya padahal disini ada dua perempuan lain di ruangan ini dan bahkan gak nanya ini rumah siapa.

“Betul apa yang dibilangin kakak… Abang itu harus istirahat dulu… Abis babak belur begitu masih aja keluyuran terus… Berantem-berantem lagi… Untung ada Vivi, kan?” katanya sembari mencoba menyingkap lengan bajuku, mengintip bekas luka yang pernah dipukulnya waktu itu sampe berdarah lagi.

“Untung ada Vivi? Apa Vivi yang mengirim mahluk berkepala kucing itu?” kagetku langsung mengambil kesimpulan ini. Mahluk kurus berkepala telinga kucing itu kiriman Vivi?

“Kepala kucing? Mahluk apa?” ia sendiri bingung dengan pertanyaanku.

Farah dan Dea menyimak pembicaraan kami. Baru sekarang ia melihat sekitarnya dan menemukan duo binor itu ada di sekitar kami. Ia mengangguk dengan senyum kecil dipaksakan lalu beralih lagi padaku.

“Apa dengan bantuan penglihatan mahluk itu… Vivi jadi bisa ngikutin bang Aseng kemana-mana?” ia malah balik nanya.

“Vivi benar-benar bisa melihatku dari kejauhan?” tanyaku.

“Iya, bang… Hanya saja sekarang ini… penglihatan Vivi jauh lebih terang dan jelas seperti sedang melihat langsung… Beda waktu kemaren pake Banaspati itu… Agak samar dan kabur…” jawabnya.

“Tapi itu mahluk apa? Awak gak pernah tau ada mahluk seperti itu… Bukan jin ato setan ato apapun… Itu yang awak herankan…”

Mahluk itu berdiri lagi di depan kami. Matanya putih tanpa kornea dan tak memiliki mulut di wajahnya. Kulitnya berwarna abu-abu muda sedikit berkilat. Tentu saja kami semua terbelalak menganga kaget termasuk Vivi sendiri. Mahluk apa ini?

***

Tak ada seorangpun yang paham mahluk apa yang sedang berdiri tegak di antara kami semua. Bahkan aku yang paling berpengalaman sekalipun tak tau apa-apa tentangnya. Ini disebut jin tak ada aura ato energi yang bisa diasosiasikan sebagai mahluk ghaib itu.

Ini mahluk yang sama yang telah menghajar Tabek, hantu cicak raksasa itu sampe lumat paska pertarunganku dengan Mutee. Mahluk ini keluar dari tubuh Vivi. Seperti sebuah hubungan Menggala Suba yang bisa memerintahkan mahluk Menggala yang ada dalam perjanjiannya. Tapi tidak mungkin Vivi tau tentang Menggala.

“Ini apa, bang?” tanya Vivi.

“Kok kau pulak yang nanyak? Dia keluar dari badanmu… Barusan Vivi yang ngeluarin dia, kan?” bingungku pasti.

“Ishh… Bahasanya serem banget keluar dari tubuh Vivi… Kayak melahirkan aja Vivi ngeluarin mahluk segede ini…” ia juga bingung curi-curi pandang pada mahluk yang berdiri tegak tak bergeming seperti sebuah patung.

Kami semua termasuk Farah dan Dea juga melakukan hal yang sama. Mahluk ini sangat ganjil walopun bentuknya utuh ada kepala, badan, sepasang tangan dan sepasang kaki. Tapi bentuknya yang ganjil yang membedakannya dengan bentuk manusia normal. Kasarnya ini memang bukan manusia.

“Ini bukan setan-setan itu ya kan, bang? Kok kami bisa ngeliat dengan jelas, ya?” tanya Farah.

Ia, Dea dan Vivi mengangguk-angguk setuju. Kalo ini setan ato hantu tentu saja mereka tidak akan bisa melihatnya. Apalagi ini siang hari dan ruangan ini terang benderang. Hanya kalangan sepertiku ato orang tertentu dengan bakat indra keenam yang bisa melihat mahluk ghaib sejelas ini. Ini jelas bukan mahluk ghaib.

“Ini bukan setan ato hantu ato memedi ato apapun bahasanya… Awak sendiri-pun tak tau ini apa… Tapi cobak kita tanyain, ya? Kali aja dia mau ngejawabnya…” aku memberanikan diri tapi lirik-lirik pada kesiapan tangannya.

Cakar di jari-jarinya sangat ampuh dan mumpuni menghajar Tabek sampe mampus. Tentu mudah saja ia menghajarku dengan cara yang sama. Aku berdiri tepat di depannya.

Matanya sangat menganggu sekaligus mengintimidasi karena mencuat ke atas berwarna putih tanpa kornea dan tak bisa berkedip hingga tidak bisa diketahui ia sedang memandang ke arah mana. Ini harus aku yang bertanya karena yang lainnya tak ada yang berkompeten.

“Halo… Kamu ini siapa?” tanyaku dengan nada datar.

Ia tak bergeming. Tentu aja… Wong dia gak punya mulut pasti dia gak bisa ngomong dan menjawab pertanyaanku. Paok!

Aku melirik pada Vivi yang ada tepat di belakang mahluk berwarna abu-abu agak metalik ini, meminta pertimbangannya.

“Vi… Cobak kau yang nanyak… Dia gak mau sama aku…” Vivi langsung menggeleng dan mengibaskan tangannya tanda tak mau berurusan dengan mahluk asing ini. Apa ini alien, ya?”

“Hiihh… Gak-lah, bang… Mana mungkin mau dia menjawab aku… Abang aja gak dijawabnya…” tolak Vivi.

“Tapi dia punyamu, Vi… Harusnya mau dia… Cobak aja… Kalo ada apa-apa nanti awak tolongin, kok… Cobak…” desakku.

Vivi masih ragu-ragu. Ia berani menghadapi mahasiswa dan mahasiswi baru yang mungkin serem-serem bahkan yang senior seperti angkatanku, tapi perbandingannya menghadapi mahluk ini tentu sangat berbeda levelnya.

Vivi memiringkan kepalanya.

“Kamu siapa?” suaranya sangat lirih dan halus karena ketakutan.

“Aku tak bernama… Masaku belum tiba… Harusnya belum saatnya aku hadir di dunia ini… Ini prematur…” jawabnya mengejutkan.

Prematur? Kek bayi aja katanya prematur. Hei? Dia bisa ngomong? Dari mana asal suara itu? Mulutnya sama sekali gak gerak gitu, kan? Farah dan Dea yang melihatnya juga tak kurang heran. Tapi benar, ia mau menjawab pertanyaan dari Vivi.

“Prematur? Seharusnya kapan kamu hadirnya?” tanya Vivi masih dari belakang mahluk itu.

“Suatu saat di masa depan… Ada seseorang yang bisa memanggil kami semua di masa depan… Hadirnya diriku sekarang adalah anomali dirimu dengan pemicu tertentu yang memaksaku hadir… hingga aku bisa hadir di dunia ini secara prematur… Aku adalah inti dari dirimu… Aku akan bungkam dimulai dari sekarang…” lumayan panjang mahluk itu ngomong dan ia akan bungkam tak mau bicara lagi dimulai dari sekarang sampe nanti di masa depan orang itu memanggilnya. Wah… Apa ini?

Dan begitu saja mahluk berdiri diam tak bergerak sedikitpun layaknya sebuah patung.

“Dia gak mau ngomong lagi katanya, bang… Abang ngerti dia barusan ngomong apa? Vivi gak paham…” ia menatapku. Juga menatap Farah dan Dea bergantian. Kalo-kalo salah satu dua binor itu tau sesuatu ato paham yang baru dikatakan mahluk itu sebelum bungkamnya. Kami semua menggeleng tanda gak ada yang ngerti.

***

Keadaan tenang dan mahluk itu menghilang. Vivi mencoba memanggilnya lagi untuk memunculkannya dan patuh ia muncul secara instan di depan Vivi lalu tak lama menghilang lagi karena tak ada keperluan untuk menggunakan tenaganya.

Menurut Vivi, ia membayangkan mahluk itu dan ngomong dalam hati saja agar dia datang, berkonsentrasi seperlunya—PUFF… dia muncul. Semudah itu.

“Jadi Vivi menyuruh-nyuruh mahluk itu untuk ngikutin awak kemana-mana?” tanyaku saat aku tinggal berdua saja dengannya. Farah dan Dea ke kamar ibu Basri untuk melihat perkembangan keadaan pria itu.

“Takut, yaa?” genitnya menjawil pipiku, menariknya sampe pipiku gembil lalu dilepasnya.

“Dua cewek cantik itu?” ia memainkan alisnya naik turun menggodaku.

“Trisam-trisaman sampe hampir pagi, kan? Enak, yaa?”

Mati kutu aku jadinya. Jadi selama ini aku sudah dimata-matai oleh mahluk tadi. Aku tak merasakan kehadirannya karena ia sama sekali tak punya hawa ato aura negatif yang jahat untuk dideteksi. Jadi selama aku menyetubuhi dua binor; Farah dan Dea, Vivi melihat semua kejadiannya. Dia bisa melihatnya dengan sangat jelas lewat mata mahluk itu yang entah bagaimana terhubung seperti CCTV ke penglihatan Vivi.

“Mangkanya, Vi… Vivi ngapai suka sama awak? Udah tau awak orang kek gini-pun masih ngotot aja terus suka samaku… Gak usah ya, Vi?… Vivi tau sendiri awak ini bejat begini… Besok-besok entah cewek mana lagi yang aku tiduri…” kataku malah menjelek-jelekkan diri sendiri.

Aku sudah sering melakukan ini untuk membuatnya tak berselera lagi untuk minta dipacari. Dia sudah tau skandalku sebelumnya dengan Andini, Karina, Mayu-chan dan Amei. Ditambah lagi yang terbaru ini dengan Farah dan Dea, threesome FFM lagi.

“Masak Vivi mau pacaran sama awak yang gak bisa ngasih harapan kek gini… Gak ada harapan-loh, Vi… ”

“Bang Aseng bener-bener gak peka ya sama perasaan Vivi? Vivi kalau udah suka ya tetap suka apapun yang abang lakukan di luar sana… Walaupun abang udah ada kakak… Walaupun udah punya dua anak dari kakak… Walaupun menghamili perempuan-perempuan itu… Vivi tetap suka… Gak mudah loh bang membuang perasaan kayak gini? Vivi gak pernah begini sebelumnya… Abang yang pertama…” ia menumpahkan semua isi hatinya.

Kali ini ia benar-benar serius mengatakannya hingga aku bisa tau apa yang dirasakannya.

“Maafkan awak, Vi… Awak memang gak peka pada perasaanmu… Karena perasaan yang awak terima di hati ini hanya untuk kakakmu… Tidak untuk perempuan-perempuan itu… dan tidak untuk Vivi juga… Maafkan juga kalo ada perbuatan awak… kata-kata awak yang menyinggung… membuat Vivi terluka… Maafkan kalo ada apapun yang menyebabkan Vivi jadi punya perasaan begini sama awak… Awak minta maaf yaaaaang sedalam-dalamnya… Maaf awak gak bisa membalasnya…” walo pahit, aku tetap harus menyampaikannya.

Tak lazim dilakukan perempuan untuk menyatakan perasaannya pada pria yang disukainya. Harusnya itu sebuah anugrah bagi sang pria. Tapi dalam kasusku itu sebuah bencana.

Bencana di bidang ini tetapi keuntungan di sisi lain. Karena tekad dan prinsipku ini aku bisa memecahkan pengaruh Mutee, si kuntilanak mesum berbaju merah itu. Kalo aku tak punya prinsip kuat akan janjiku yang hanya satu pada istriku, saat ini pastinya aku masih akan tenggelam dalam pengaruh kuntilanak merah itu. Bergabung menjadi korban seperti Basri dan banyak lainnya.

Ia menirukan gambaran sempurna perempuan yang kucintai; istriku. Bertubuh indah, bertambah cantik, kepribadian menawan. Gambaran wanita sempurna untukku. Tawarannya sangat menggiurkan bagiku dan untuk beberapa saat aku memang tenggelam di dalamnya.

Tetapi ada yang tak bisa ditirukannya dari istriku; perasaan cintanya yang sudah sempurna. Aku tak perlu cinta picisan dari perempuan lain. Aku tak perlu rasa sayang dari perempuan manapun karena aku sudah sempurna dengan rasa sayang istriku. Itu sudah cukup.

Pada istriku, ia bisa mengurasku gila-gilaan kalo perlu. Tapi ia masih tau batas dan menjaga kesehatanku. Mutee dalam mode tiruan sempurna istriku tak memikirkan itu. Ia terus menguras dan menguras mungkin sampe nanti aku kering kerontang—hal yang sangat fatal.

Hal yang tak mungkin dilakukan istriku. Dari sanalah aku tersadar dan menebas perut palsunya dengan mandau. Lalu membantainya kemudian. Agak terlambat memang. Tetapi lebih baik terlambat dari pada modyar jadi mayat.

Itu juga yang dilakukan Mutee pada Basri dan pria-pria lainnya. Membangun bentuk sempurna impian mereka dan menjerat para pria itu selamanya. Entah siapa perempuan itu bagi Basri, tapi Mutee sudah mengurasnya selama bertahun-tahun.

Menguras energi hidupnya. Menikmati energi hidup dari banyak pria sekaligus. Setidaknya itu cukup menyenangkan walo terlalu berlebihan. Sirkuit otomatis yang menolak potensi selingkuh hati ini sekali lagi menjadi penyelamat leherku.

Vivi terdiam untuk beberapa lama. Ia berusaha keras untuk tidak menangis walo tak dapat ditahan air mata yang menggenang di kantung matanya, lalu jatuh di pipinya. Ingin rasanya menghapusnya tapi aku menahan tanganku dengan mengepal.

Tanganku mengepal erat dengan buncahan perasaan yang bergulung-gulung di dalam dada bak sebuah badai taifun. Janji yang kuucap dulu, meredakan badai itu…

Hanya kau yang ada di hatiku’

“… gak akan berhenti, bang…” ia berkata lirih.

“Vivi janji gak akan berhenti… Vivi gak akan berhenti sampe abang membuka sedikit aja hati abang buat Vivi… Sedikit aja… Itu sudah cukup… Vivi akan buktikan…” ia lalu bangkit dari duduknya dan berdiri di depanku.

“Vivi pergi dulu… Masih ada urusan di kampus…” ditariknya tanganku dan salim. Loh pake salim sekarang? Sejak kapan?

Aku bengong ngeliat Vivi pamit untuk pergi ke kampusnya lagi. Ia balik dan berdiri di dekat pintu.

“Hati-hati dengan anak Tembung itu, bang… Siapa nama baby sitter abang itu?… Tiara ya namanya? Hati-hati dengannya juga… Dia juga punya mata-mata…” malah ia memberi tambahan peringatan padaku. Tiara juga punya mata-mata?

“Tapi mata-matanya Tiara beda dengan Vivi… Dahh…” ia langsung menghilang di balik pintu sebelum aku sempat memanggilnya lagi.

Tiara juga memata-mataiku? A-ah… Bikin pusing aja!

“Kenapa, bang? Bete banget?” Farah datang mendekat melihatku bersungut-sungut. Dea mengekor di belakangnya beserta ibu Basri. Aku hanya bisa cengengesan tak mampu menjelaskan. “Loh? Vivi tadi mana, bang? Udah pulang?” ia celingak-celinguk melihat kesekitar mencari gadis itu.

“Udah pulang… Baru aja… Katanya masih ada urusan di kampusnya… Tadi minta permisiin aja karena klen tadi masih di dalam…” aku bersandar di sofa berusaha mengumpulkan kembali semua energiku yang terkuras.

Duduk di depan jendela begini, sinar matahari menghangatkan badanku dan sedikit demi sedikit mengisinya kembali. Udah kek tanaman aku berfotosintesis. Memang benar, sinar matahari lumayan berpengaruh memberiku tenaga.

“Nak Aseng… Ibu mau berterima kasih sudah membantu menolong anak ibu… Basri… Dia sudah sadar dan dapat mengenali ibu… Dia juga sudah tidak seperti orang gila lagi… Bisa mulai bicara lagi… Dia bahkan minta maaf pada nak Dea ini… atas segala dosa-dosanya di masa lalu… Terima kasih banyak, nak Aseng…” ibu tua itu menghaturkan banyak sekali rasa terima kasih mewakili anaknya karena Basri masih perlu banyak istirahat.

Jauh lebih banyak dibandingkan aku yang hanya baru beberapa waktu saja diperangkap Mutee. Bandingkan dengannya yang sudah berlangsung bertahun-tahun.

Satu jam kemudian kami pemisi pulang dari rumah Basri di kawasan Padang Bulan ini dan aku yang masih agak lemes kembali duduk di belakang di mobil mewah Farah.

“Vivi itu siapa, bang?” tanya Dea. Padahal aku yang duduk di posisi ini sedang leyeh-leyeh hampir tertidur. Mataku melek malas-malasan.

“Tetangga dekat rumah, Dea… Udah kek sodara juga…” ingatku kalo istriku dan Vivi malah sudah mengangkat saudara malam itu.

“Gak takut nanti diaduin perempuan itu ke istri abang?” tanya Dea agak ragu-ragu.

“Apalagi ia sangat perhatian dengan keadaan abang… Dea khawatir bang Aseng kenapa-kenapa dengan istri abang…” lanjutnya mengutarakan apa yang mengganjal di hatinya.

“Vivi anaknya asik kok… Gak ember sama sekali…” jawabku tak mau ember juga.

“Tapi kalo dari sikapnya tadi… kayaknya dia suka sama bang Aseng tuh… Keliatan banget khawatirnya… Malah dia yang duluan tau bang Aseng dalam kesulitan… Istri bang Aseng sama sekali gak tau, kan?” kata Farah melirikku berkali-kali dari spion tengah selagi nyetir. Tentu aja dia gak tau. Istriku taunya aku sedang molor di tempat tidur berbalut selimut abis keluyuran semalaman.

“Yaaa… Katanya sih begitu… Udah bolak-balik dia nembak awak…” kataku ngasal aja.

Mungkin akan mengejutkan mengetahui kalo ada cewek yang duluan nembak cowok, bukan sebaliknya. Kaget tentunya kedua binor itu mendengarnya. Dea bahkan menutup mulutnya. Farah membuka mulut hendak tertawa tapi ditahannya. Mungkin hendak bilang ‘bucin’ ato apa gitu.

“Kan bang Aseng udah punya istri… Kok dia bisa-bisanya nembak bang Aseng? Kok bisa?” kata Dea sampai harus memutar posisi duduknya hingga bisa menghadap padaku. “Sengklek juga kepalanya, ya?” ujar Dea dengan intonasi lucu mengejek pilihan Vivi. Aku diam aja, merem.

“Mungkin udah kenak elus sekali… langsung termehek-mehek dia… Iya, bang? Jadi baper gitu dianya…” tebak Farah masih asyik nyetir aja. “Farah kalo abang masih kosong juga mau kalee… He he hehehehe…” candanya dan menghentikan kendaraannya di perhentian lampu merah.

“Gak pernah kuapa-apain dia… Masih perawan itu anak orang…” jawabku ngobrol sambil mata terpejam, bersandar di jok belakang empuk sedan dua pintu ini.

“Ahh… Masih perawan? Trus kok sampe segitunya dia, ya?” heran Dea juga ikut-ikutan. “Kayaknya dia bener-bener sayang sama abang, deh…”

“Udah-laaa… Awak mau istirahat dulu bentar-la? Ini mau kemana kita?” tanyaku masih merem. Kukeluarkan HP dari kantung celanaku agar posisiku agak leluasa dikit dan kuletakkan begitu saja di jok.

“Kita ke rumahku aja… Abang bisa istirahat dulu di sana… Nanti kalo abang udah baikan nanti Farah antar pu-swiiiissshhhh…” entah ngomong binor si Hussein itu dan udara mobil ini terasa tambah dingin aja. Kok jadi gak empuk lagi jok mobil ini?

PUKIMAK!! KOK AKU ADA DI ATAS POHON??!!

Gimana caranya aku sampe di puncak pohon ini? Ini pohon randu alias pohon kapuk yang sangat tinggi dengan batang besar dan cabang-cabangnya yang berjumlah banyak dengan buah kapuk merekah putih-putih. Dan lagipula, pohon ini ada di tengah belantara luas dengan kontur berbukit-bukit dan sangat lebat.

Cuacanya sangat sejuk dengan langit biru cerah berawan putih bergumpal-gumpal. Ini bukan daerah kekuasaan seseorang karena ada matahari terlihat jelas.

Saat aku tertidur leyeh-leyeh di jok belakang mobil Farah, seseorang ato sesuatu memindahkanku ke atas pohon di hutan ini. Ini mirip dengan jurus Bayangan Bunga Bujur milik Iyon yang mampu menteleportasi dirinya kemanapun yang ia mau.

Tapi apakah tadi aku mengalami teleportasi juga? Bukan hanya dipindahkan saja dengan cepat? Karena tadi terasa angin kencang yang berhembus di sekitar telingaku.

Dan yang terpenting lagi, siapa yang melakukan ini padaku? Mengingat lawan terakhirku adalah para Burong Tujoh, apakah salah satu dari mereka yang menjadi pelakunya? Mengingat juga, dua anggota Burong Tujoh itu sudah binasa. Akan masuk akal kalo teman-temannya akan membalas padaku. Satu diantara sisa lima Burong Tujoh yang tersisa.

Gimana itu nanti itu dua orang binor; Farah dan Dea? Apa gak kelimpungan orang itu berdua karena aku menghilang begitu aja dari jok belakang mobil? Tidak ada jalan keluar lain dari mobil itu selain dua pintu di kiri kanan keduanya. Mana HP-ku ketinggalan lagi. Aku gak bisa ngehubungi siapa-siapa jadinya.

Kalopun ada, aku ragu ada sinyal di sini. Duuh gimana ini, ya? Kimak memang yang melakukan ini semua.

Kutunggu-tunggu sampe sekitar 5 menit lebih, tak ada siapapun yang muncul. Hanya fauna liar hutan yang kadang melintas ato sekedar bersuara menampilkan eksistensinya. Kuputuskan untuk turun memanfaatkan cabang-cabangnya yang besar tetapi harus ekstra hati-hati pada duri-duri runcing yang tumbuh acak di permukaan batangnya.

Pada cabang paling bawah, aku bergantungan untuk melompat turun. Ada jarak sekitar 3 meteran tinggi yang harus kuarungi, turun. Lompat ke bawah harusnya akan aman karena dasar tanah hutan penuh dengan daun kering yang akan menahan jatuhku. Apalagi aku akan memakai teknik melompat harimau. Harusnya aman walo tubuhku masih agak lemas.

“Hup!” aku bersalto untuk mengurangi benturan jatuh tubuhku sebelum menyentuh tanah.

“Whooo…” secara tak terduga, tubuhku melesat lagi ke atas pohon kapuk randu dan balik lagi ke tempat semula aku bertengger tadi.

Ada sesuatu yang membawaku naik kembali ke puncak pohon ini dengan sangat cepat lalu meletakkanku kembali di posisi awal. Aku mengikuti gerakan cepatnya zig zag menjauh dari pohon ke pohon lainnya dengan mata dan sosok itu berhenti sekitar jarak 20 meter jauhnya pada pohon kapuk randu lainnya.

“Jangan coba-coba turun dari pohon itu atau kujatuhkan tubuhmu dari sana sampai pecah batok kepalamu…” sontak aku memegangi kepala mendengar ancaman suara perempuan ini.

Nadanya tegas dan dalam. Walo jauh aku bisa mendengarnya dengan jelas. Ini pasti salah satu dari tiga suara perempuan dari Burong Tujoh itu. Aku positif yakin dengan suaranya yang berpotensi menjadi pemimpin kelompok 7 hantu ini.

“Aku mau liat bagaimana kau melakukannya?” jawabku tak gentar malah menghunus mandau Panglima Burung-ku dan langsung saja melompat turun tak memperdulikan lagi ketinggian pohon kapuk randu ini.

Mataku tetapi tetap mengawasi pergerakan mahluk itu. Aku pengen tau jenis apa dia. Walo aku terjatuh dengan cepat, tapi tak kutunjukkan rasa panik ato takut. Dia bergerak…

Masih bergerak zig zag ia memantulkan dirinya, memanfaatkan pohon-pohon sebagai pijakan dirinya agar segera mencapaiku. Gerakan lincah seperti ini, mungkin saja dari kalangan primata tapi aku belum pernah mendengar hantu monyet perempuan.

Tapi aku akan segera tau begitu ia dalam jarak pandangku. Kusiapkan mandau untuk siap menebas begitu ia juga sudah dalam jarak serangku. Ia memantul terus mendekat hanya menimbulkan sedikit goyangan pada pohon yang dimanfaatkannya. Lalu ia terlihat jelas di depanku. Ia meluncur cepat hendak menyambarku dan mengembalikanku ke puncak pohon itu lagi.

Awalnya ia kukira ia sejenis burung dari lambaian dua buah benda berbentuk sayap yang berkibar-kibar mengepak yang tadi tidak begitu jelas terlihat. Ternyata bukan. Itu bukan sayap dan dia bukan jenis burung. Burung tidak perlu memantulkan tubuhnya dari pohon ke pohon karena ia hanya perlu meliuk-meliuk di antara vegetasi hutan. Karena dia adalah…

Wewe Gombel!

Dan kami berbenturan di udara. Hantu yang terkenal suka menculik anak-anak di waktu Maghrib ini mampu menahan sabetan mandau yang kuhantamkan ke kepalanya dengan kibasan pakaian panjang menutupi sebagian besar tubuh bawahnya.

Kain itu cukup kuat menahan tajam mandau ini dan itu cukup untuk membuatku terdorong mundur ke arah batang pohon kapuk randu di belakangku. Aku dengan cepat ingat kalo ada duri-duri tajam di batangnya.

Menggunakan bakiak Bulan Pencak aku menahan kakiku tertusuk duri-duri itu saat menahan tubuhku terbanting di sana. Menggunakan daya lontar rebound, aku meluncur lagi ke arah hantu perempuan itu.

Mengingat kalo ia bisa menangkis tajamnya sabetan mandau ini, bagaimana kalo berupa tusukan? Aku memegangi tangan kananku yang menggenggam gagang mandau yang lurus mengarah pada Wewe Gombel itu yang ternyata terdorong mundur juga sepertiku. Untuk mengantisipasi seranganku ia memutarkan tubuhnya menggunakan sepasang benda mirip sayap yang berat yang tumbuh dari dadanya. Bak kincir ia berputar.

Tusukan menikam yang kulakukan lagi-lagi gagal menembus hantu ini berkat putaran cepat tobrut yang dilakukannya untuk menangkis. Berkat itu aku terdorong mundur lagi ke arah pohon untuk kedua kalinya.

Kupilih untuk tidak rebound lagi dengan menancapkan mandau ke batang pohon berduri itu dan mencecahkan kedua kakiku untuk melihat apa yang akan dilakukannya.

Wewe gombel berkain panjang penutup kaki itu hinggap di dahan pohon terdekat. Aku bisa dengan jelas melihat bentuknya. Muka memanjangnya sangat jelek dan menakutkan dengan rambut awut-awutan panjang tak terurus tetapi fitur utama yang membuatnya mendapat nama terkenal itu yang menarik perhatianku pertama kali; juntaian sepasang buah dadanya.

Wewe Gombel dimana-mana terkenal karena punya payudara panjang menggantung seperti pepaya. Tetapi bagaimana ia menggunakan payudara itu sebagai senjata yang membuatku kaget disamping kain panjang cabik-cabik yang menutupi kakinya. “Kau kubawa ke hutan ini untuk kumangsa… Tetaplah di tempatmu… Di atas pohon…” serunya sambil bergerak pelan-pelan.

“Kau kira awak monyet kau suruh di atas pohon aja… Mati aja-la kau…” balasku.

Wajah panjangnya tak menunjukkan ekspresi apapun kumaki sedemikian kasar. Apalagi aku tak melihat gerakan mulutnya saat berbicara tadi. Mulut itu hanya menganga memamerkan gigi-geligi runcing taringnya. Tangannya yang lebih aktif bergerak-gerak.

“Tidak mau? Coba liat apa kau masih bisa berkeras setelah ini…” ia menggerakkan jari-jari tangannya membuka lebar.

Sebuah lubang terbentuk di batang pohon kapuk randu besar tempatku bertengger layaknya sebuah mulut.

“Whooaaa!!” lubang itu menyedotku masuk ke dalamnya dan aku langsung tenggelam meluncur di dalam sejenis terowongan sempit kayu yang ternyata ada di dalamnya.

Sialnya mandauku terlepas untuk kugunakan untuk menghentikan luncuranku yang sangat cepat. Beberapa kali aku terbentur oleh cekungan dan belokan yang pasti sengaja dibuat begitu untuk mencegah usaha melepaskan diri saat jatuh begini. Permukaan terowongan ini juga licin karena getah alami pohon ini bercampur dengan kelembaban air.

Plung! Aku terlempar dari mulut terowongan itu dan memasuki sebuah gua bawah tanah langsung meluncur, mendarat di sebuah permukaan ruangan sempit yang dindingnya terbuat dari tanah. Anehnya permukaannya empuk dan kenyal.

“Akkh…” Suara siapa itu? Itu harusnya suaraku yang kesakitan terlempar disini.

“Eh… Uerueng agam baro… Agam rayek…” aku berbaring setelah terlempar di sini di atas beberapa tubuh anak manusia.

Aku menghimpit mereka yang menjadi penampung jatuhnya tubuhku barusan. Dan dari tekstur kulit yang tersentuhku, semuanya berkulit lembut yang berarti ada perempuannya.

Koreksi semuanya perempuan!

“Alamak! Kok ada pulak manusia lain disini?” kagetku mundur-mundur menjauh ke arah jeruji kayu kalo-kalo mereka ternyata bukan manusia seperti yang kukira.

Hanya samaran. Ada empat perempuan yang kalo ditilik dari bentuk tubuhnya remaja yang beranjak dewasa. Pakaian yang mereka kenakan sangat lusuh dan mulai lapuk. Dan dari bentuk, model dan coraknya semuanya pakaian kanak-kanak. Ada motif gambar Barbie, gambar boneka beruang, motif bunga-bunga rame dan yang pakaian berpita-pita yang meriah.

4 Inong

“Agam rayek?” sapa satu yang berpakaian motif beruang.

Haduh pake bahasa ini lagi. Aku sikit-sikit bisa-la bahasa Batak karena sering berkawan dengan Kojek. Lumayan lancar ngomong Jawa karena lingkunganku. Sikit-sikit juga bisa bahasa Karo sama Hokkien. Tapi bahasa Aceh aku blas gak ngerti sama sekali. Gak pernah pulak ada temanku yang cukup akrab dari suku Aceh.

“Pake bahasa Indonesia bisa kelen? Jangan pake bahasa Aceh… Awak gak ngerti…” sergahku agak jengah.

Ada satu ruangan sempit yang diterangi obor di luar sana. Lubang-lubang di langit-langit gua ini yang kebanyakan merupakan jalinan akar-akar pohon besar, memberikan pencahayaan tambahan dari terang hari di luar sana.

Sialan tuh Wewe Gombel aku diperangkapnya memasuki gua tahanannya bersama korban-korbannya yang lain. Tapi keempat perempuan muda ini sepertinya sudah sangat lama ada disini. Pakaian mereka indikasinya.

Ini pakaian yang mereka kenakan waktu kecil dahulu saat diculik dan dibawa kemari oleh si Wewe Gombel itu. Wewe Gombel memang terkenal suka menculik anak-anak dan menyembunyikannya dari orang tuanya. Sekian lama ia menyekap keempat anak-anak ini dari kecil hingga sekarang sebesar ini.

“Soe nan? Ee… Nama siapa?” coba yang bermotif Barbie.

“Namaku Aseng… Klen siapa? Udah berapa lama disini?” tanyaku balik.

Terlalu cepat mungkin. Bahasa Aceh merupakan bahasa ibu mereka dan di daerah mereka lebih sering menggunakan bahasa ini untuk percakapan sehari-hari. Mungkin ingatan tentang pelajaran bahasa Indonesia mereka hanya sayup-sayup. Setidaknya mereka sempat mengenyam pendidikan dasar untuk sekedar belajar baca tulis.

“Sudah… berapa lama… kalian… dikurung… disini?” ulangku campur-campur bahasa isyarat tangan ala Tarzan.

Aku menunjuk-nunjuk ruangan sempit ini. Bagaimana mereka beraktifitas dan tumbuh di ruangan sesempit ini yang paling kutaksir berukuran 4×4 meter saja. Berlantai tanah keras dan dinding tanah keras juga.

“Su-dah lama…” jawab si Barbie lagi setelah lirik-lirikan dengan temannya.

Ruangan mirip penjara ini dikekang oleh satu jeruji kokoh yang terbuat dari enam batang gelondongan kayu besar. Hanya ada celah-celah kecil berjarak 15 cm di antara jeruji kayu yang memungkinkanku mengintip keadaan gua di luar sana.

Agak sulit melihat semua sudut gua dari satu sela saja. Bagaimana mereka bertahan hidup di tempat ini? Aku mencoba berdiri dan kepalaku membentur langit-langit tanah ruangan sempit ini. Ini lebih parah dari kandang. Tempat ini hanya bisa untuk duduk dan tiduran. Tidak bisa berdiri, maksimal hanya berlutut.

“Apa… ada… yang… lain?” tanyaku memandang keempatnya satu per satu.

Sumpah gak enak kali ngomong pelan-pelan kek gini. Tapi terpaksa pulak aku jadinya. Keempat perempuan ini kalo dalam keadaan normal pastilah sangat cantik. Rata-rata berhidung mancung dan bertubuh cukup bongsor.

Pakaian kesempitan mereka tak mampu menyembunyikan lekuk tubuh indah di balik busana lapuk itu. Apalagi bagian dada yang busung membesar tanda sudah melewati masa pubertas. Kemungkinan mereka diculik saat kelas 4-5 SD dulu. Umur mereka setidaknya sekarang 17-18 tahunan gitu.

Bagaimana mereka memenuhi kebutuhan dasar mereka seperti makan dan minum? Apakah Wewe Gombel itu memberi makan mereka secara teratur. Banyak sekali yang ingin kutanyakan tetapi ada keterbatasan kosa kata.

“Hanya kamoe peuet hinoe… disini…” jawab si Barbie lagi menunjuk empat jarinya. Peuet itu empat. OK.

“Makan? Minum?” tanyaku lagi tentang hal yang membuatku penasaran. Sudah bertahun-tahun mereka disekap.

“Pajoh… Makan…” ia menunjuk di belakang temannya yang berpakaian pita-pita meriah.

Ada sebuah besar nangka yang tercabik-cabik. Mereka memakan buah itu untuk mengganjal perut. Ada bekas beberapa kulit buah lainnya yang teronggok hampir busuk.

“Jeb… Minum…” tunjuknya pada beberapa buah batok kelapa yang digunakan untuk menampung air yang menetes-netes dari atap.

Gituuu… Walo tak layak, tapi mereka berhasil bertahan hidup selama ini dengan cara yang cukup menyedihkan. Hanya bergantung pada rasa kasihan si Wewe Gombel itu. Nah… Kalo yang ini?

“Pipis?” tanyaku lagi agak jorok dengan membuat gerakan air kencing yang jatuh ke tanah.

“E’ek?” ini tidak tega kuperagakan tapi pastinya bahasa ini cukup universal di Nusantara ini karena aku curiganya ini adalah hutan yang sama dimana Basri pernah tersesat selama setahun itu.

Entah bagaimana ia bisa lepas dari tempat semacam ini, mengembara sampai akhirnya ditemukan polisi hutan. Hutan belantara gunung Leuser.

Perempuan muda berpakaian sempit pita-pita meriah itu menunjuk tumpukan kayu yang ada di sudut ruangan. Beringsut-ingsut ia menuju ke sana dan menepikan beberapa kayu itu hingga memunculkan sebuah lubang di dasarnya. Cukup lebar dan dalam lubangnya dan terasa aroma pesing dan aroma tak mengenakkan lainnya. Disini mereka buang hajat.

“Ada krueng hideh… Sungai…” tambahnya menunjuk lubang itu.

Ada sungai di bawah lubang itu. Tapi aku percaya-percaya aja daripada harus membaui bekas buangan air kecil dan besar mereka demi melihat adanya sungai di bawah sana. Kemungkinan besar itu adalah sungai bawah tanah yang lazim ada di tempat subur seperti ini.

Aku lalu mencari-cari jalan aku masuk tadi. Sepertinya dari bagian atas yang entah gimana bisa dibuka ato dari sela jeruji kayu ini.

“Aku tadi… masuk… lewat… mana?” ejaku lagi akan pertanyaanku dengan tambahan isyarat tangan juga.

Mungkin aku bisa merusak jalan masuk itu untuk keluar dari sini. Aku menjaga pikiranku agar tidak panik. Ada beberapa cara agar aku bisa keluar dari tempat ini. Cara yang paling mudah adalah memanggil Iyon kemari dan keluar dari tempat jahanam ini dengan Bayang Bunga Bujur-nya.

Tapi itu terlalu mudah tapi terlalu merepotkan Iyon juga. Aku sudah terlalu sering merepotkannya. Aku masih sanggup mengatasi ini.

Tiba-tiba keempat perempuan muda itu beringsut mundur ke arah dinding ruangan tanah ini dengan muka takut. Aku terlambat antisipasi karena aku yang membelakangi bagian jeruji kayu gelondongan ini sudah tertangkap. Pergelangan kedua tanganku ditarik sedemikian rupa ke arah belakang hingga sendiku bahuku lumayan nyeri.

“AAAHHH!! SIAPA ITU??!! ANJ**NG!!” makiku karena kesakitan yang teramat sangat.

“Aaahhh… Nenek Te-tek!” jerit keempat perempuan muda itu saling berpelukan ketakutan pada apa yang sedang membekuk tanganku ini.

Aku berusaha melepaskan tanganku tapi betotannya sangat kuat. Nenek Tetek? Tangannya terasa sangat besar dan kuat mencengkram pergelangan tanganku, menyatukannya lalu mengikat bersilang pada jeruji kayu. Tangan terikat kuat di belakang sangat tidak menguntungkan bagiku saat ini. Aku meronta-ronta ingin lepas.

“Ingat nan lon… Nenek Te-tek…” bisik Wewe Gombel itu dari belakang.

Tanganku diikat oleh tali ato semacam akar-akar rotan yang sangat liat dan kuat. Sampe sakit mungkin lecet kucoba meronta melepaskannya dari membelengu tanganku.

“Tak bisa lepas walo darah puteh-kah abes…” ejeknya di belakangku.

Kimak memang setan bernama Te-tek ini. Abis Mutee, Tabek, sekarang muncul Te-tek. Kimak memang hantu-hantu ini!

“Burong Tujoh, KIMAK!! LEPASKAN TANGANKU!!” jeritku berusaha meronta melepaskan tanganku yang terbelenggu.

Aku tak perduli apapun. Aku hanya mau tanganku segera lepas. Hanya kaki, sedikit badan dan kepalaku yang bisa bergerak sementara tanganku tak bergeming terikat erat.

“Hi hihihihihi… Aneuk inong… Awak droen buka semua baju uerueng agam nyoe… Leugat!!” sergahnya pada empat perempuan muda yang ketakutan setengah mati.

“LEUGAT!!” teriak hantu Wewe Gombel bernama Nenek Te-tek ini.

Keempatnya sangat ketakutan terlihat dari paras mereka yang menyedihkan. Tentu saja sudah bertahun-tahun mereka disekap oleh hantu durjana ini di tengah hutan dengan logistik minimal.

Perintah Nenek Te-tek bagi mereka bak perintah Dewa bagi mereka, yang harus segera dilaksanakan. Tergopoh-gopoh keempatnya mendekat padaku. Dua orang memegangi kakiku. Luar biasanya tenaga mereka cukup kuat untuk menahan kakiku yang kalap menendang-nendang.

“Eeeh… Eh… Klen mau ngapain? Eh? Jangan! Jangan buka!” satu orang berusaha melepaskan celana yang kupakai, satu lainnya berusaha melepas baju kaos yang kupakai.

Hanya bisa lewat leher saja karena tanganku terikat di belakang. Celanaku tak kunjung lepas dan kini dua orang menahan kakiku dengan mendudukinya. Kancingnya sudah lepas dan ditarik-tarik paksa sampe melorot.

Mata keempat perempuan muda ini berkilat-kilat penuh semangat saat melakukan ini semua. Padahal tadinya tak kulihat semangat ini saat berbincang sebelumnya.

Pukimak si Nenek Te-tek ini memang. Apa dia mau menyuruh keempat perempuan muda ini memperkosaku? Apakah mereka ngerti dengan perbendaharaan kegiatan mesum itu? Selama ini mereka selalu disekap disini. Apakah ini bukan yang pertama kalinya? Bukan pertama kalinya Nenek Te-tek memasukkan laki-laki ke kurungan ini?

Cukup kasar dan brutal mereka memaksa melepaskan celanaku dan apalah dayaku. Cieleh… Apa dayaku? Di tangan empat perempuan muda yang sangat kasar juga bertenaga, mungkin karena takut juga terpaksa, celanaku bye-bye dari kakiku.

Sekali betot, sempakku juga udah melorot. Dan kimaknya lagi, melihat isi bagian dada keempat perempuan muda yang bergoyang-goyang terbungkus pakaian sempit lapuk, nyeplak juga pentil-pentil menegang di bahan pakaian yang sebenarnya tak layak pakai lagi, lebih mirip rombeng, Aseng junior ngaceng.

“Seminggu sekali mereka kumandikan di krueng terdekat… Mereka tidak sebau itu…” bisik lirih si hantu Wewe Gombel itu tau perlawananku dan kondisi ngacengku. Tangannya menelusup masuk dari celah jeruji kayu, menjangkau jauh dan memegang ngacengnya si Aseng junior.

“Singkirkan tangan kotormu dari kontolku!!” makiku mulai panik.

Masak mau digrepe-grepe hantu ini? Enggak kali-la! Mampos aja kau! Pinggulku kumiring-miringkan menjauh dari jangkauan Nenek Te-tek tetapi keempat perempuan muda itu berkomplot menahan tubuhku agar tak bisa menghindar. Tapak tangan kotor dan besar Wewe Gombel itu berhasil menangkap batang menegang Aseng junior.

“Lepaskan! LEPASKAN!!” aku mulai panik ceritanya.

Badanku menggeliat-geliat berusaha menjauh tapi tak bisa karena keempat perempuan muda itu menghimpit tubuhku dengan bobot tubuh bongsor mereka.

“KIMAAAKK!! JANGAN KOCOK KONTOLKU!! WEWE GOMBEL PUKIMAKKK!! AWASS!!” aku terus meronta-ronta tak sudi disentuh hantu kurang ajar ini.

Bahkan aku nekat hendak menggigit tangannya kalo kepalaku tak ditahan, dipiting salah satu perempuan muda ini.

“Tak sudi perempuan tua keriput seperti aku yang menyentuhmu? Bagaimana kalo mereka saja? Hi hihihihi…” tangannya melepas Aseng junior dan menunjuk pada satu perempuan yang berpakaian motif boneka beruang yang menduduki paha kananku.

Dia menunduk dan membiarkan tangan hantu itu merengut pakaian lusuh sempit itu dari tubuhnya, lepas dari tubuhnya. Malu-malu dia menutupi gundukan besar payudaranya yang menggantung indah dengan tangannya.

“Meumat… Prah jih…” katanya lirih.

Tanpa menunggu perintah lain, perempuan muda yang tak kutau namanya ini menggenggam Aseng junior-ku yang menegang keras. Dengan demikian tangannya yang sebelah lagi tak mampu menutupi payudaranya yang menggunung.

Ia mulai mengocok Aseng junior melanjutkan pekerjaan Nenek Te-tek yang terhenti tadi. Tangannya cukup kasar tetapi tak memungkiri rasa nikmat yang kudapat dari gerakan mengocoknya.

Tangan Wewe Gombel itu bergerak-gerak memberi instruksi dengan kibasan dan tunjukan jari saja. Ketiga perempuan temannya yang lain patuh melepas pakaian mereka juga. Mereka juga diperintah untuk tidak menutupi payudara mereka.

“Whooaa…” makin keras Aseng junior-ku jadinya mendapat pemandangan Harem aneh kek gini.

Berdenyut-denyut keras ia karena empat perempuan muda ini bertubuh ciamik semua. Tubuh montok bongsor tanpa busana sehelaipun terpampang bebas di hadapanku walo tanpa pencahayaan yang memadai.

Dikurung lama di dalam gua selama bertahun-tahun ternyata tak menyurutkan aura seksi dan cantik mereka sama sekali. Apalagi Nenek Te-tek tadi bilang ia rutin memandikan mereka seminggu sekali di krueng.

Apa itu krueng? Sejenis sungai ato car wash? Kulit mereka lumayan kinclong juga ternyata di balik pakaian itu. Diet buah-buahan hutan menyebabkan mereka sesehat ini?

Dikurung dalam keadaan telanjang bareng empat perempuan telanjang lainnya begini harusnya jadi surga dunia bagi buaya darat sepertiku. Tapi ini kasusnya gawat karena ini semua paksaan hantu Wewe Gombel bernama Nenek Te-tek, anggota Burong Tujoh. Sejenis Shicibukai, tujuh hantu dari tanah rencong.

Keempat perempuan muda cantik berambut panjang lebat yang telanjang bulat di hadapanku begini membuatku dalam dilema membingungkan. Apa yang harusnya kulakukan? Melarikan diri? Menikmati? Melawan? Apa?

Saat kalut, satu perempuan muda yang tadi memakai pakaian gambar Barbie itu mengulum mulutku setelah mendapat perintah. “Mooaahh…” ia juga mulai terbakar nafsu birahi. Aku bisa merasakan nafsu di gerakan mulut dan lidahnya. Ini pasti bukan yang pertama bagi mereka. Dari mana mereka tau soal yang begini-begini ini? Mereka dikurung bertahun-tahun lamanya jauh di dalam hutan, di bawah tanah.

“Slluurrpp… Slkk… Aahh…” liar permainan mulut si Barbie memagut mulutku.

Aku tak sempat komplain akan aroma mulutnya karena Aseng junior mulai kerasa enak.

Dari ekor mataku, aku bisa melihat kalo tiga perempuan lainnya sedang berebutan, berganti-gantian mengulum Aseng junior. Alamaaak! Bencana enak apa yang sedang menimpaku ini? Di dalam hutan, di perangkap hantu aja harus mendapat cobaan seperti ini.

Merinding-rinding sekujur tubuhku merasakan nikmat yang tak terperi dari empat buah lidah yang melata di mulut dan kelaminku tanpa bisa kucegah. Seperti tiga ekor lintah gemuk, tiga lidah perempuan muda itu berseliweran di kepala, batang, dan peler Aseng junior. Rasanya udah kek di awang-awang jadinya. Kakiku hanya bisa mengangkang pasrah membiarkan mereka melecehkan Aseng junior.

Yang dilecehkan tentu aja bahagia bukan buatan mendapat perlakuan nikmat kek gini. Ia menegang dengan gembiranya. Sekujur penisku sudah basah kuyup oleh cairan ludah ketiga perempuan muda itu. Si Barbie tak puas-puas memagut mulutku. Lidahnya menyeruak masuk membelit-belit lidahku mengajaknya bergelut. Ludahnya menetes-netes tak terkendali.

“Enak bukaaan? Hi hihihihi… Tidak usah dilawan… Dinikmati saja… Mereka cukup terawat dan terpilih dari semua koleksi milikku… Mereka sengaja kusimpan selama ini tak tersentuh pengorbanan… hanya untuk menjerat lawan berat sepertimu yang senangnya dengan yang bening-bening… Kualitasnya tidak kalah dengan semua koleksi milikmu, kan? Boleh diadu… Hi hihihihihi…” bisik si Nenek Te-tek lagi.

Aku tak mampu konsentrasi mencerna kata-katanya barusan karena si Barbie mulai menjejalkan payudara ranumnya ke mukaku. Mendusel-duselkannya hingga lumer meleleh. Hanya dicaplok yang kubisa…

“Jyaaahh… ” erang si Barbie mendapat serangan pembuka dariku.

Lidahku liar bermain-main dengan puting imut di pucuk payudara gempal montok kenyal yang didesakkan ke mukaku. Barbie berlutut tegak memeluk kepalaku erat. Ia juga memaksakan tubuhnya ke tubuhku hingga aku bisa merasakan rambut rimbun yang ada di permukaan pubis kemaluannya. Tentunya mereka tak akan punya kesempatan untuk memangkas jembut hingga tumbuh lebat seperti ini. Barbie meremas-remas rambutku sambil mengerang-ngerang seksi.

“Meu’en-kan jih!” sergah tiba-tiba suara si Nenek Te-tek. Kimak-nya setan-setan ini pake bahasa ini trus. Bingung aku, woy!

“Aaauuhh…:” keluhku karena sesuatu liang basah nan sempit menjepit Aseng junior.

Si Barbie menyingkir dari hadapanku, melepaskan payudara kenyalnya yang tadi jadi mainanku. Ternyata si pita meriah yang menjejalkan Aseng junior-ku ke dalam kemaluannya. Ia juga mengerang keenakan, menengadah.

Aseng junior masuk amblas sampe dasar. Ujung kepala Aseng junior-ku membentur mulut rahimnya. Liang kawinnya yang bergerak-gerak ritmis memijat batang kemaluanku. Pergi Barbie, si pita meriah gantian memagut mulutku.

Ia mengedut-ngedutkan otot kegelnya terus menerus dengan gerakan minimal, hanya goyang-goyang sedikit aja untuk membiasakan batang kemaluanku bercokol membentuk cetakan di liang kawinnya.

“Agam rayeeek… Bulut i lam? Aahh…” ia mulai menggerakkan pinggulnya naik turun dengan cukup bertenaga.

Jepitan liang kawinnya sangat menggigit erat saat terjadi kocokan memompa. Terasa mulut kemaluannya monyong terikut pada batang penisku lalu melesak masuk lagi. Ketiga perempuan muda lainnya menyebar di sekitar kami. Apakah mereka menunggu giliran? Mampos aja aku harus meladeni mereka semua…

“Aahh…” erang si pita meriah.

Cut Cahya

Makjang… Yahud kali goyangan si pita meriah ini. Dia soor sendiri bergoyang-goyang tak memikirkan apa yang sedang menimpaku saat ini. Aku menahan-nahan diriku agar jangan ejakulasi dulu.

Takutnya nanti energi hidupku yang tadi udah dikuras Mutee, kini mendapat serangan yang tujuannya sama, menghisap energi hidupku. Pita meriah bergoyang sesuka hatinya untuk mendapatkan kenikmatannya sendiri.

Memacu dirinya fokus menggesekkan bagian klitoris kemaluannya yang tergencet dengan cara lebih condong ke depan. Ia bahkan meremas-remas sendiri payudara montoknya, memilin-milin puting mungilnya.

“Ah ah ah ah…” desahnya berulang-ulang menikmati rangsangan hebat yang menggelitik tubuhnya hendak mencapai clitoral orgasm.

“Ah ah ah ah…” goyangan maju mundur menekannya makin cepat dan bertenaga. Malah liar.

“Ah ah ah ahhss… Ahhh…” berkejat-kejat tubuhnya disiram deras nikmat orgasme.

Berkedut-kedut keras liang kawinnya menggencet batang Aseng junior-ku. Remasan gemas dilakukannya pada payudaranya lebih keras. Mukanya yang ayu sangat seksi sekali sehabis orgasme. Si pita meriah melepas batang kemaluanku masih dalam keadaan membungkuk karena ketinggian ruang kurungan ini. Aseng junior mengacung keras mengangguk-angguk menantang lawan berikut.

Ketiga perempuan muda lainnya sama-sama sedang merangsang kemaluan berjembut lebat masing-masing. Seulas jari mengutik-ngutik nakal kacang itil masing-masing.

Siapa yang maju giliran, nih? Apa nunggu perintah si Nenek Te-tek? Siapa aja pun boleh-la. Si Aseng junior udah meradang pengen mangsa lagi. Benar saja tangan Wewe Gombel itu muncul lagi dari samping leherku dan menunjuk si perempuan muda yang tadi dengan pakaian bergambar boneka beruang Teddy Bear.

Beringsut-ingsut ia maju mendekati pangkuanku. Ia menatapku tajam saat tambah rapat tubuh kami. Yang pertama kali dilakukannya adalah mengecup-ngecup bibirku tapi tidak sampe memagut. Hanya dipatuk-patuk sekilas.

Lalu ia menjejalkan payudaranya ke mulutku. Mulutku langsung mendapatkan pentil tenggelamnya. Pentilnya terbenam di dalam aerolanya hingga terlihat imut sekali bentuknya. Selagi aku memainkan payudaranya dengan mulutku, Teddy Bear (TB) mengocok perlahan Aseng junior. Mungkin untuk menjaga rangsangan, ia tetap tegak keras.

Cut Riska

Gesek-gesek ujung kepala Aseng junior yang dilakukannya dengan gerakan mengoles. Kepala Aseng junior kerasa menyentuh belahan lembab yang menggiurkan selagi aku tetap memainkan puting ndelep—reverse nipple-nya.

Mulutnya mangap-mangap kek ikan kehabisan air merasakan geli-geli menyengat di kemaluannya. Ia makin gencar merangsang dirinya menggunakan Aseng junior-ku. Sesekali ia mencelupkan-celupkan kepala Aseng junior memasuki mulut kemaluannya. Memantapkan dirinya untuk ditembusi benda keras tegak menjulang milikku.

TB akhirnya mulai menurunkan tubuhnya dan mencoba memasukkan Aseng junior-ku pelan-pelan. Ia takut-takut memandang pada sosok di balik jeruji ini tetapi lebih berani menatapku. Pasti si Nenek Te-tek itu mengancamnya di belakang sana untuk segera mengurasku. Ragu-ragu ia membenamkan Aseng junior memasuki liang kawinnya yang super sempit. Mulut TB menganga dan matanya menyipit merasakan perih besar kemaluanku membelah dirinya. Walo basah tapi ini sangat sempit.

“A-aahh…” erangnya memejam kuat. Tubuhnya mengejan menekan.

“Enak, kan? Yang ini baru sekali dipakai… Membuatmu ingin cepat-cepat keluar… Benar, kan?” bisik Nenek Te-tek itu di belakangku.

Baru sekali dipakai? Ada apa ini? Siapa yang memake perempuan-perempuan muda ini? Apa para hantu ini membuka rumah bordil dan dia sebagai muncikarinya? Si pita meriah tadi juga lumayan sempit tapi cukup memadai-la. Apa itu artinya pita meriah sudah melakukan ini beberapa kali?

Kremut-kremuuut… Liang kawin TB memeras-meras Aseng junior kuat sekali. Nafasnya yang ngos-ngosan berpacu dengan degup jantungnya yang bertalu-talu. Detak jantungnya yang kuat memompakan darah ke seluruh tubuhnya terutama daerah genitalnya, menyebabkan remasan-remasan kuat yang memeras Aseng junior.

Akibatnya aku kelimpungan dengan sensasi hebat ini. Menyetubuhi perawan tak sehebat ini sensasinya karena kita para pria akan pelan dan lembut memperlakukannya. Tapi TB langsung melesakkan batang kemaluanku sampai kandas.

“Aaahh… Panyang… Teubai…” erangnya lirih entah ngomong apa.

Tapi ia tak bergerak sama sekali. Remasan liang kawinnya seirama detak jantungnya yang tetap mencengkram erat.

“Sakeet…” keluhnya.

“POH JIH!” bentak si Nenek Te-tek karena ia merasa tahanannya itu membangkang pada perintahnya.

TB membuka matanya kaget dan sontak mulai menggerakkan tubuhnya naik turun mengabaikan rasa sakit yang menyerang sekujur tubuhnya. Rasanya pasti sangat perih karena aku bisa merasakan keengganannya. Aseng junior dijepit erat walo cukup basah tapi tak banyak. Ini persetubuhan yang kering.

Tak terbayangkan bagaimana penderitaan keempat perempuan ini. Sudah ketakutan bertahun-tahun disekap hantu selama ini. Harus mematuhi semua perintah Wewe Gombel itu sampe juga harus dilecehkan secara seksual oleh entah siapa.

TB bergerak-gerak kaku tapi dengan demikian Aseng junior mulai terkocok sempurna di dalam liang kawinnya yang semakin licin. Rasa sempit menggigit liangnya adalah bonus utama senggama ini. Ia memejamkan matanya lagi dan menggigit bibir bawahnya. Semoga ia mulai merasakan nikmatnya persetubuhan terpaksa ini.

Diberanikannya dirinya untuk mendekatkan dadanya pada mulutku. Aku suka rela mencaplok dan merangsangnya sebaik mungkin. Agar kami sama-sama bisa melalui ini semua dengan baik. Lidahku bermain-main di puting terbenamnya itu. Kusedot-sedot agar aku mendapat bonus mencuatnya putingnya kala sangat terangsang. TB meletakkan kedua tangannya bertumpu di bahuku. Kemajuan lagi. Ia bergerak-gerak menopang di tubuhku.

“Aaahhh…” erang TB merasakan sentuhan intens senggama kami ini.

Gesekan maksimal yang kami rasakan dari pertemuan kelamin ini sangat melenakan. TB mengerang berulang ulang apalagi payudaranya menjadi bulan-bulananku. Permukaan payudaranya, kiri dan kanan sudah becek oleh liurku. Gerakan TB makin luwes naik turun menunggangi selangkanganku. Aseng junior terbenam bahagia di dalam liang kawin super sempit yang mulai basah ini.

“Ahh ahh ahh ahh…” Erangnya membahana di ruangan sempit ini.

Payudara kenyalnya tetap dijejalkannya ke mukaku untuk kumainkan. Tangannya erat mencengkram bahu dan kadang rambutku.

Lalu diciuminya mulutku dan ia hanya menggeol-geolkan bokongnya mengulek Aseng junior berputar. Begini aja udah enak dan TB tau itu karena desahannya sangat terburu-buru seakan mengejar sesuatu. Tentunya mengejar kenikmatannya yang mungkin sudah di depan mata. Dikepitnya bibir bawahku dengan bibirnya saat ia mengerang panjang, menarik bibirku.

“Aarrhhhh… Ah… Ah ahh ahhh…” bibirku lepas ia memeluk leherku dan membenamkan mukanya di samping kepalaku dengan hembusan nafas panas.

Tubuhnya berkejat-kejat. Terutama isi liang kemaluannya yang terasa mengaduk-aduk batang Aseng junior.

“Nan lon… Riska… Cut Riska…” bisiknya lirih sekali. Ia memperkenalkan diri ternyata. Perempuan muda yang kujuluki TB ini ternyata bernama Cut Riska.

“Aahh…” ia melepaskan persatuan kelamin kami.

Terasa masih sangat sempit dan Aseng junior enggan berpisah darinya. Berdenyut-denyut Aseng junior saat Riska menjauh dariku. Lebat jembut di selangkangannya yang basah berkelebat sebentar di depan mataku. Aroma tubuhnya yang tajam masih menempel di hidung dan mulutku. Setidaknya aku sudah tau namanya. Ia berbisik pelan, mungkin takut ketahuan hantu itu.

“Tahan, eh? Sangat mengesankan… Tapi ini karena mereka semuanya masih hijau… Yang terbaik dari jenisnya… Tidak apa… Gata!” si Nenek Te-tek lalu menunjuk si Barbie. Perempuan muda itu agak kaget karena ia berada di belakang si pita meriah, bermaksud jadi yang terakhir saja setelah si motif bunga-bunga.

“Temanmu… si Mutee itu tadi baru aja mengurasku… sebelum dia dan Tabek mati… Jadi stok maniku sangat terbatas sekarang ini… Harap maklum kalo awak jadi lama, ya?” kataku belagak santuy di hadapan si Wewe Gombel biadab ini. Ia bermaksud menguras energi hidupku seperti yang sudah dilakukan kuntilanak merah, Mutee itu.

“Hi hihihihihi… Bukan begitu cara mainnya… Kami tidak sama… Caraku berbeda dengan setan sundal itu… Yang sukanya mengumpulkan jantan-jantan untuk memuaskan dahaganya… Aku hanya mau membunuhmu… Begitu manimu keluar… disitulah kematianmu-hi hihihihihi… Jadi mereka berempat ini kuperintahkan hanya untuk mengeluarkan manimu… untuk membunuhmu… Hi hihihihihi…” kekeh si Nenek Te-tek itu mengejutkan.

Kaget aku tentunya mendengarkan pemaparannya barusan. Si Barbie sudah mengepaskan Aseng junior-ku untuk memasuki kemaluannya. Ia bolak-balik menunduk dan menatapku untuk memantapkan hatinya. Batang Aseng junior dipegangnya erat-erat dan diarahkannya ke belahan kemaluannya. Digigitinya bibir bawahnya dengan gugup. Mampoos aku! Begitu aku ngecrot di dara Aceh cantik ketiga ini, aku mati!

“Lon masih perawaan…” isaknya tak sanggup meneruskan.

Cut Masita

Ba-ba-ba-ba-bah! Malah makin parah, bah! Masih perawan pulak inong cantik satu ini. Makin sempit-la jadinya tu barang. Makin kejepit, makin enak—makin bahagia si Aseng junior untuk ngecrot, makin cepat aku mati.

Aku tiba-tiba refleks menoleh ke arah perempuan muda keempat, yang tadi memakai baju lapuk motif bunga-bunga. Menurut si Nenek Te-tek, mereka berempat adalah stok terbaiknya. Si pita meriah tadi, sempit liang kawinnya bukan buatan.

Si TB bernama asli Cut Riska malah lebih dahsyat lagi sempit liang kawinnya yang baru sekali dipake, yang berarti baru belah duren dengan entah siapa. Nah… Si Barbie ini malah masih perawan dan artinya si bunga cantik itu juga masih.

Wewe Gombel itu mengurutkan stok terbaiknya untuk membunuhku. Dia paham kalo aku bukan pemain baru dalam hubungan seks—mungkin dianggapnya pro. Menggunakan stok tawanan perempuan mudanya yang cantik-cantik begini, ia percaya diri bisa membunuhku dengan tekniknya yang aneh ini. Membunuhku kalo aku ngecrot! S&K-nya sangat unik tapi sangat pukimak kali. Sekalinya enak ngecrot abis ngentot, abis itu mati. Kan kimak kali namanya itu.

Aseng junior tiba-tiba membentur satu permukaan lembab yang sangat familiar. Ini daging kemaluan perempuan yang masih sangat segar. Si Barbie cantik ini menggigit bibirnya kala berusaha memasukkan kemaluanku ke miliknya sendiri.

“Pelan-pelan… Pelan-pelan saja… Kalo bisa digesek-gesek aja dulu… Jangan pedulikan setan tua keriput itu… Pelan-pelan aja…” instruksiku coba membantunya.

Pastinya ini tidak mudah baginya dan bagi siapa saja di ruang kurungan sempit ini. Ia memejamkan matanya erat-erat hanya mengarahkan Aseng junior-ku ke belahan kemaluannya yang berdenyut-denyut berkat debur jantungnya.

“Ahhh…” mulutnya menganga kala kepal Aseng junior mendesak masuk ke pintu liang kawinnya yang sempit terpaksa diseruduk.

“Pelan-pelan dorong… Siapa namamu… Inong cantik… siapa namamu?” tanyaku. Aku baru tau nama si Cut Riska saja.

“Masita… Cut Masita…” jawabnya takut-takut masih menunduk dalam. Ia sedikit melirikku.

“Namamu siapa? Yaa… kamu…” aku mengarahkan pandanganku pada si pita meriah yang duduk lemas setelah ronde pertama tadi. Cut Riska ada di sampingnya.

“Cut Cahya…” jawabnya pendek lalu menunduk sesekali melirik ke belakangku. Tentu saja ke arah si Wewe Gombel yang selalu ada di luar sana. Aku lalu beralih pada yang terakhir.

“Lon Cut Riska…” si TB itu ikut-ikutan memperkenalkan dirinya lagi. Aku hanya bisa tersenyum kecut aja padanya. Aku bermaksud bertanya pada yang terakhir yang memandangi teman-temannya bergantian.

“Kamu… siapa namamu?” tanyaku padanya.

“Nan lon Cut Intan…” jawabnya paham akan maksud pertanyaanku.

“Nama panggilanku Aseng… Aku dari kota… Jauh dari hutan ini… Aku sudah membasmi dua teman si Nenek Te-tek ini… Kalian jangan takut… Tenang saja…” kataku coba menenangkan mereka berempat dan sekaligus menenangkan diriku sendiri agar tidak panik akan situasi ini.

“Hi hihihihihihihi… Sesumbar gata, Ribak Sude!! Bagaimana kau bisa selamat dari ikatan erat tali ini? Sampai matipun tengkorakmu akan tertinggal di sini… Hi hihihihihihi…” suara si Nenek Te-tek itu terus saja menggangguku.

Cut Masita benar-benar berhenti akibat sela yang kulakukan tadi. “DUEK JIH!!” tiba-tiba berteriak memerintah lagi. Cut Masita melonjak kaget karena Nenek Te-tek menekan bahunya kebawah…

“Aaaiiieeehhh… Haahh… haaa… Huuu huuu huuu… Sakeeet…” erangnya memilukan.

Alamak! Aseng junior-ku menembus kemaluannya dengan sekali hentakan tiba-tiba. Aku juga merasakan perih dan ngilu di sekitar penisku karena menerobos liang sempit yang agak kering ini. Terasa panas dan sangat menggigit. Berkedut-kedut hebat karena isakan tangis dan deburan jantungnya yang bertalu-talu. Aku membelah duren-nya. Kurusak perawannya.

“Hhuuu huuu huu… Sakeeet… Huu hhuuu…” isaknya karena perih yang melanda kemaluannya menyebar keseluruh tubuhnya. Ia meremas-remas bahuku kuat tak sadar untuk meredakan rasa perih yang dirasakannya.

“Usshh… usshh… Sakit, ya… Aduhh… SETAN PUKIMAAAKK!! MATI AJA KAAAU!!” seruku memaki hantu Wewe Gombel yang tertawa-tawa di belakangku.

Ia melepas tangannya dari bahu Cut Masita. Inong Aceh ini masih tersedu-sedu tak berani bergerak dari posisi kemaluannya tertancap Aseng junior-ku. Setengah batang kemaluanku sudah sukses masuk memecah selaput sucinya dan setengahnya lagi melengkung di luar.

Cut Masita menahan posisinya dengan lutut menumpu tubuhnya. Sesekali tubuhnya bergetar-getar karena tak kuasa menahan kedutan yang terjadi pada otot perutnya sendiri yang malah meremas-remas Aseng junior.

“Hi hihihihihihi…” tertawa-tawa setan pukimak itu membahana di tempat ini sampe merasuk ke dalam ruangan kurungan sempit kami ini.

Ketiga perempuan muda lainnya itu meringkuk ketakutan saling peluk. Kimaknya lagi, bagi Aseng junior itu adalah pemandangan yang erotis. Empat perempuan muda yang mulus-mulus polos ada di depan mataku. Tiga sudah mencicipi jantannya Aseng junior dan dua diantaranya adalah perawan.

“Deungo, nong… Neudue’i jih… Hi hihihihihihi…” perintahnya lagi.

Aseng junior terasa hangat. Ada sesuatu yang mengalir menetes dan itu kutebak adalah lelehan darah perawannya yang sudah kurobek. Meringis-ringis menahan sakit dan mulut menganga tak berani bersuara kesakitan.

Cut Masita menggerak-gerakkan tubuhnya dengan kaku. Gerakannya ini mengacu pada apa yang pernah dilihatnya, yang telah dicontohkan Cut Cahya dan Cut Riska sebelumnya. Ia ditekan sedemikian rupa untuk melakukan hal semacam ini oleh si bangsat Nenek Te-tek itu.

Dalam situasi ini, entah siapa yang memperkosa dan siapa yang diperkosa? Bisa dikatakan kalo kami berdua diperkosa oleh keadaan yang memaksa kami. Dan pelaku utamanya adalah hantu Wewe Gombel ini.

Korban utamanya tentu saja keempat perempuan muda malang ini yang mengalami berbagai siksaan fisik dan mental bertahun-tahun lama, disekap jauh di dalam hutan entah untuk tujuan apa tepatnya. Apakah Nenek Te-tek bekerja sendiri menyekap anak-anak ini? Pastinya sekapan semacam ini ada di tempat-tempat lain.

Aku sebagai korban penggembira saja sebenarnya. Kenapa gembira? Gimana gak gembira cobak? Aseng junior-ku ngaceng sengaceng-ngacengnya di dalam liang sempit yang mulai basah ini. Apa gak gembira itu namanya? Awas-awas aja kalo kao sampe ngecrot, Seng. Mati aku, kau pun mati jugak. Ingat itu!

Gerakan minimal tipis-tipis Cut Masita naik turun sukses memberi rangsangan pada tubuhnya sendiri hingga mulai mensekresikan cairan pelumas untuk melancarkan hubungan badan ini yang kurasakan mulai nikmat ini.

Aseng junior bertambah dalam merangsek masuk menembusi liang kawinnya yang super sempit. Cut Masita sepenuhnya yang mengatur tempo seks ini. Mukanya masih meringis-ringis kesakitan tetapi mulai ada desahan dari mulutnya terkadang. Pertanda ia mulai terbit rasa nikmat di kelaminnya yang disodoki besar kontolku.

Gawat juga kalo aku cepat-cepat ngecrot kalo menikmati liang super duper sempit ini. Aku tidak boleh larut dalam kenikmatan yang luar biasa enak ini. Kenikmatan yang berbahaya. Payudara Cut Masita berguncang-guncang indah karena gerakannya. Salah! Jangan ngeliat ke situ! Aku harus mengalihkan perhatian.

“Ah ah ah ah ah…” kimbek-la. Suara desahan Cut Masita seksi kali kala gerakan memompanya mulai menghentak bertenaga.

“Nemat, pak Aseng… Ah ah ah ah…”

Sialan. Cut Masita malah menikmati seks pertamanya ini. Nekat ia malah menjejalkan payudaranya lagi pada mulutku seperti yang pernah dilakukannya sebelumnya. Ia semakin menikmati ini semua dan lidahku tak bisa berhenti memainkan puting imutnya yang menggodaku dengan kenyal kerasnya mengacung. “Ah ah ah ah ahhh…” semoga dengan ini ia bisa orgasme dan berhenti.

“Ah ahh ahh ahh ahh…”

Desah dan erangan Cut Masita makin tambah seru karena aku menyambut hentakan tubuhnya dengan hentakan menyodok juga. Sehingga tubuh kami saling bentur. Ada suara tepukan perutku yang beradu dengan selangkangannya. Aseng junior terbenam dalam di sempit liang kawin inong Aceh yang sudah kuperawani ini.

Liang kawinnya sudah sedemikian becek sebagaimana payudaranya yang juga basah oleh liurku. Aku menekuk menghentak ke atas tiap himpitan selangkangan Cut Masita dan gerakannya mulai tak teratur.

Ia mulai tak sabaran karena mengejar sesuatu kenikmatan abstrak yang tiba-tiba mulai menitik di relung kelaminnya. Minta digaruk dan dipuaskan. Kenikmatan yang belum pernah ia tau dan ada di depan mata.

“Keu ie… Ie… Keu ie.. Aghh… Akh… akh…” sialan! Aku dipipisin anak ini setelah terlebih dahulu mencabut Aseng junior dari kemaluannya. Serr… serrr… seerrr… Malah squirt mengejutkan si Cut Masita ini. Kencing nikmatnya menyembur ke perutku. Ia seperti tak perduli. Ia berkejat-kejat sebentar setelah mendapat puncak orgasmenya dan berusaha memasukkan Aseng junior-ku lagi.

“A-aah… ahh…” mulutnya menganga dengan muka memerah sange merasakan gesekan kepala Aseng junior yang berusaha memasuki liang kawin sempitnya.

“Cukop, nong! Gantoe! Gata!” henti si Nenek Te-tek mencegah Cut Masita memasukkan lagi kelaminku ke miliknya.

Sebenarnya ia masih mau tapi ia segera ingat posisi dan kondisinya. Ia malah menikmati tragedi ini. Cut Masita mundur teratur dengan menutupi kemaluannya yang berjembut basah lembab. Jarinya ternyata mengelus.

“Gata!!” Nenek Te-tek menunjuk inong terakhir, Cut Intan.

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22