The Baby Maker Part 13

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22

Cerita Sex Dewasa The Baby Maker Part 13 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya :The Baby Maker Part 12

 

“Bang… sampe merah begitu… Itu racunnya ya, bang?” kaget Farah juga. Wajahnya sangat cemas.

Yang herannya, walo badannya panas begini tetapi ia sama sekali tidak berkeringat. Itu sangat berbahaya karena mekanisme perlindungan tubuh manusia saat kepanasan adalah mengeluarkan sekresi berupa keringat untuk mendinginkan suhu tubuh yang meningkat melewati batas wajarnya. Organ dalam tubuhnya yang sedang kepanasan bisa mengalami gagal fungsi karena panas abnormal ini.

“Farah… Ini bahaya nih… Panas begini Dea-nya sama sekali gak berkeringat… Bisa-bisa dia ngalami gagal jantung…” kataku mengungkap yang kutakutkan. Mata Farah membelalak besar, kaget tentunya.

“Iya-iya, bang… Ini aneh sekali… Trus itu kenapa, bang? Gak boleh dipegang ya, bang? Beracun di situnya, ya?” tanya Farah menunjuk kemaluan Dea yang terbuka lebar tanpa penutup kulepas dari kakinya.

Ia berganti-ganti melihat ke arahku, muka Dea dan kewanitaannya. Aku memberinya kode untuk menunggu dulu. Aku akan menginterogasi setan cicak itu lebih jauh.

“Jangan berbelit-belit… Jawab yang jelas… Gimana cara mengeluarkan racunmu dari tubuh perempuan itu?” tanyaku datar agar suaraku jelas didengar oleh si borjong satu ini. Mata bulat kuningnya bergerak-gerak.

“Keluarkan secara paksa dari selangkangannya… Gata agam pasti tau caranya… Ha ha hahahaha…” ia malah mulai berani tertawa di hadapanku.

Dah bosan idup keknya si pukimak satu ini.

“PUUFF!!” secara ghaib seluruh tubuhnya menghilang dan hanya tertinggal satu ekor cicak buntung berukuran besar yang terpancang oleh mandau Panglima Burung-ku di dinding.

“Apa itu, bang?” suara Farah berteriak kaget. Ia menunjuk-nunjuk pada ekor cicak raksasa ini. Mukanya terlihat sangat horor.

“Ini ekor setan cicak yang sudah merasuki Dea tadi…” jawabku.

Aku tidak khawatir karena Farah bisa melihat benda menjijikkan yang menggeliat-geliat ini, melainkan satu fakta baru bahwa setan cicak itu sudah berhasil melarikan diri dari perangkapku semenjak tadi. Ia mengalihkan perhatianku dengan menggantikan tubuhnya dengan mengorbankan ekornya, seperti yang lazim dilakukan cicak. Ia telah berhasil membuatku menganggap ekor putus itu adalah tubuh aslinya. Ia berhasil memperdayaku.

“Kita harus mengeluarkan racun dari selangkangan Dea secara paksa, Farah…” aku jelalatan mencari sesuatu di kamar hotel ini.

“Caranya?”

“Apakah si Dea ini sudah menikah?” tanyaku setelah berhasil menemukan yang kucari. Tas tangan dan tas pakaian milik Dea.

“Sudah… Dia sudah menikah dua kali… Ini dengan suami keduanya sekarang… Barusan suaminya berangkat ke Malaysia untuk mengambil Master-nya… Kenapa, bang?”

“Bagus… Berarti Dea ini bukan gadis perawan… Kita harus mengeluarkan racun itu secara paksa dari kemaluan Dea… Harus cepat… Kalo tidak bisa fatal… Ini awak lagi nyari di tasnya mungkin dia ada nyimpen stok kondom barang sebiji aja… Mmm…” cetusku mengacak-acak tas milik Dea. Hanya ada make-up, obat-obatan pribadi, dompet. Kuperiksa dompetnya juga tapi tetap nihil.

“Dea gak bakal nyimpen kondom, bang… Dia lagi program hamil… Tiap weekend dia bakal terbang ke KL nyusul suaminya untuk program itu… Kondom untuk apa, bang? Kenapa harus ada kondom?” tanya Farah tentu saja penasaran. Aku berhenti mengacak-acak tas itu untuk mencari benda yang ternyata mustahil ada di perbendaharaan barang-barang Dea.

“Ada satu nih… Stok lama ada di dompetku… Mungkin udah expired juga…” ia mengacungkan sebungkus karet pengaman itu. Itu sudah cukup.

Aku langsung menyobek sachet itu, mengeluarkan isinya, memasukkan dua jari tengah dan jari manis kananku ke dalam kondom itu. Jari-jariku berselimut kondom saat ini. Aku menggerak-gerakkan jariku seakan mengobel.

“Awak akan merangsang kemaluan Dea untuk mengeluarkan racun setan cicak itu dari dalam vaginanya…” kataku yang sontak membuat Farah kaget.

“Awak harus pake kondom ini untuk melindungi tangan awak sendiri karena kita sedang berurusan dengan racun disini… Takutnya awak pulak yang kena racun… Ato Farah aja yang ngelakuinnya?” tawarku menyodorkan kondom itu padanya.

Cepat-cepat ia menggeleng tanda enggan.

“Abang aja… Bang Aseng aja… Cepat mulai, bang…”

Aku segera memposisikan diri di antara bukaan kakinya. Kakinya kulebarkan dan kutopangkan di atas pahaku. Kakinya terasa panas juga. Dan tanpa menunggu lama, aku berusaha menyentuh kemaluan Dea. Dengan jari-jariku kusibak lebat rimbun rambut pubis di pangkal kemaluan Dea. Jembut hanya ada lebat di bagian permukaan saja ternyata, di sisi bibir vaginanya tak ada rambut yang tumbuh sama sekali. Tak disangka, perempuan itu menggeliat di pangkuan Farah.

“Mmm…” ini suara aslinya pertama kali terdengar.

“Basah… Becek…” komentarku tentang keadaan kemaluan Dea.

Farah yang memperhatikan mimikku mengeryitkan keningnya. Jari-jariku yang berbungkus kondom sudah menyeruak masuk ke liang kawinnya. Terasa sangat panas, seperti mencelupkan tangan ke cangkir teh yang bersuhu 60 derajat Celcius.

Untung masih terlindung kondom, kutahan-tahan selagi kobelan mulai kulakukan. Cairan pelumas yang ternyata membanjiri liang kawin Dea membantu gerakan masuk jariku.

“Uhhng… uuhh… Uhh… unnghh…” erang Dea mendesah-desah merasakan rangsangan di kemaluannya akibat kobelan tanganku yang bangga kukatakan dalam taraf pemain pro. Jari-jariku lincah menggelitik dinding atas liang kawinnya, ditingkahi dengan gerakan menusuk keluar masuk juga. Merangsangnya hingga orgasme adalah satu-satunya tujuanku saat ini. Saat ia mencapai puncak kenikmatan itu, kuharapkan racun yang ada di dalam tubuhnya bisa kupaksa keluar. “Uhhngg… uuhh… uuhngg…”

“Farah… bantuin juga… Remas-remas teteknya… Racunnya juga ada di situ… Liat? Merah, kan?” pintaku.

Farah gelagapan awalnya tapi ia sigap mengupas bra Dea ke atas hingga payudaranya terpampang bebas. Bagian dada Dea juga merah parah seperti selangkangannya.

“Remas-remas dorong ke arah bawah… Nanti semua racunnya akan keluar dari sini…” instruksiku.

Putingnya kecil dan berwarna coklat tua diliputi aerola kecil juga lalu dibingkai bidang bulat montok yang seharusnya putih mulus.

Farah meremas-remas seperti sedang memeras santan kelapa. Diulen-ulennya susu Dea dengan telaten agar semua racun yang terkandung di sana luruh dan menuju selangkangannya.

“Gini, bang?” ia menanyakan apakah pekerjaannya sudah benar.

Aku hanya mengangguk karena aku sangat fokus, konsentrasi penuh pada gerakan mengobel dua jariku pada liang kawin Dea yang sangat panas. Apa jadinya kalo Aseng junior yang dipake untuk pekerjaan mulia ini? Bisa-bisa gosong dan cepat ngecrot dia di dalam sini. Sempit dan menggigit gini lagi…

Geliat tubuh Dea semakin semrawut. Ia semakin gelisah berbaring di lantai dingin ini. Kepalanya bergerak-gerak liar di pangkuan Farah. Kakinya mengait-ngait dan kadang menghentak mengejang. Kobelanku fokus menggelitik titik rangsang G-Spotnya.

Farah juga semakin gencar menguleni payudara Dea. Tangannya lincah memainkan kenyal punel gundukan massa lemak dada sepupunya. Payudaranya sudah berkurang merah-merahnya, menjalar ke perut dan menyatu ke selangkangannya. Mata Farah fokus menatap pada kemaluan Dea yang masih kujejali dua jari, mengobelnya menggelitik cepat.

Aku harus siap-siap menghindar karena tanda-tanda Dea akan orgasme sudah terlihat. Kedutan terjadi berulang-ulang di dalam liang kawinnya yang semakin panas. Aku agak mengganti posisi dan berdiri mengangkangi Dea. Farah menatap kemaluan Dea dan aku bergantian. Sial… Ternyata Farah melihat gundukan yang terjadi di celanaku. Si Aseng junior bangkit dari tidurnya mendapat pemandangan vagina merah, becek yang menggiurkan. Bahaya, Seng! Bukan mainanmu itu…

Kubiarkan apa yang terjadi, terjadilah. Walo tangan dan jariku pegal, aku tetap mengocok vagina Dea dengan cepat. “Ini dia!” seruku tertahan setelah merasakan kedutan kuat menjepit jariku berulang-ulang. Memperingatkan Farah.

“Cruut… crruutt… ccreeshhhh…. seeerr…”

Awalnya ada semburan kecil beberapa kali, lalu mengalir cukup deras cairan sedikit kental keruh berwarna sedikit kekuningan. Menggenang di lantai. Ada aroma yang tidak enak dan sedikit amis. Dea berkejat-kejat beberapa kali menikmati orgasme yang tak disadarinya ini. Bergetar-getar pelan tubuh montoknya karena kenikmatan permainan tanganku barusan.

“Liat… Ini dia racunnya… Semoga ini udah semuanya…” kataku menunjuk cairan yang menggenang di lantai kamar hotel ini.

Aku lalu membuang kondom bekas itu di tempat sampah, mengambil cabikan pakaian Dea sebagai kain pel untuk membersihkan racun di lantai lalu membuangnya di tempat sampah juga. Kemudian kuangkat tubuh lemah Dea ke tengah ranjang.

“Tubuhnya sudah tidak sepanas tadi, bang…” kata Farah mengecek suhu tubuh Dea dengan punggung tangannya.

“Apa Dea sudah sembuh, bang?” tanya Farah bermaksud menyelimuti tubuh setengah telanjang sepupunya ini. Bra yang tadi dinaikkannya, dibalikkan ke posisi awal.

“Jangan diselimuti… Biar tubuhnya agak lebih dingin lagi… Kalo diselimuti nanti malah tambah panas lagi…” cegahku.

“Kalo masalah sembuhnya… awak sendiri gak terlalu yakin… Mungkin masih ada racun yang tersisa di tubuhnya… Kita tinggal nunggu Dea siuman aja… Ada yang mau awak tanyakan…” kataku menunjuk sofa yang ada di dekat jendela sana untuk kami duduk selagi menunggu.

Aku mengambil dua buah air mineral botol dari dalam kulkas dan menyerahkan satu pada Farah yang duduk lemas. Aku duduk di sampingnya.

“Makasih ya, bang… Untung aja ada bang Aseng…” ujar Farah menepuk pahaku yang sedang menenggak air dingin menyegarkan.

“Bang Aseng dukun, ya? Kok bisa memotong ekor setan cicak seperti itu?” tunjuknya pada potongan ekor cicak raksasa yang sudah diam terpancang di dinding.

“Ahh… Ada-ada aja-pun Farah… Masak ada dukun ganteng kek awak? Bisa-bisa awak-nya aja tuh…” merendah yang kulakukan.

Kami berdua lalu tertawa bersama-sama mengingat pengalaman seru yang pastinya tak akan bisa dilupakan Farah seumur hidupnya.

“Seru ya tadi?” tanyaku.

“Seru… kaget… takut… Nyampur semua jadi satu…”

“Tapi jadi ilang selera kita ya, kan?” ungkitku tentang apa yang seharusnya kami lakukan di hotel ini.

“Ah… ha ha hahahaha…” ia tertawa lagi.

“Farah ngeliat muka bang Aseng di pantulan pintu lift… Sumpah itu lucu banget… Mukanya kayak bilang… Gatot! Ha ha hahaha…” ia menepuk-nepuk kakinya sendiri karena merasa geli mengingat itu semua.

“Iya… Waktu klen berdua rupanya saling kenal… memang itu yang awak rasa… Gatot! Ha ha hahahaha…” akur kami berdua sama-sama tertawa tentang topik yang sama. “Padahal udah sama-sama kepengen kali kita, ya…”

“Iyaa… Mm…”

Dan semuanya kemudian lancar mengalir saja karena kami sudah saling pagut bibir dan mulut. Bersandar di sofa, duduk berdampingan mulut kita terhubung erat. Lidah saling menggelitik lidah lawan. Bibir dikulum bergantian. Nafas memburu terengah-engah.

“Gak apa-apa disini aja, bang?” bisik Farah lirih dengan bibir basah.

“Dea gak ada yang jaga…” lirihku juga dengan tangan yang sudah mendarat di dada kenyalnya, kuremas-remas perlahan.

“Jangan berisik mainnya… Ummph…” ia langsung mencaplok mulutku lagi, menekankan tubuhnya padaku, menindihku.

Agresif juga binor satu ini. Jamahan tanganku kini berpindah ke bagian punggungnya, kuelus-elus kulit punggungnya yang mulus. Farah menghisap-hisap bibirku lalu lidahnya menyeruak masuk ke rongga mulutku dan membelit lidahku.

Selagi ia menguasai mulutku, ia melepaskan pakaian yang dikenakannya sendiri. Mulutnya menempel ke mulutku sembari ia sibuk melucuti crop top-nya lalu bra strapless-nya. Payudaranya tumpah ruah ke dadaku dan ia lebih bringas menguasai mulutku.

Bertukar ludah dengan binor Arab ini sungguh brutal. Himpitan tubuhnya menerbitkan kembali rasa perih di bagian dadaku yang baru mulai pulih dari cidera. Tangannya ambideks melucuti kaos oblong yang kukenakan, mulai dari menggulungnya ke atas kemudian mengulum putingku.

“Ahh…” erangku yang geli campur sakit karena lidahnya menjilati puting sementara tangannya meremas bekas lukaku. Farah seperti bersemangat menikmati ekspresiku yang seperti kesakitan, padahal memang benar sakit. Malahan binor ini menggigiti dadaku lalu lidahnya menyentil-nyentil menyeimbangkan rasa, balance rasa sakit dan geli-enak. Matanya tajam memperhatikan ekspresi mukaku selagi mulutnya bergerak aktif.

“Aahhss…”

Farah menemukan lingkaran beradius luas kebiruan yang mulai pudar bekas hantaman dua Banaspati di dadaku. Lidahnya menjilati bagian itu berkeliling yang ditingkahi dengan jepitan bibir seolah menggigit yang membuatku menganga perih tak bersuara. Ia seperti suka membuat pasangannya merasakan rasa perih ini. Menderita lebih tepatnya. Apakah benar begitu?

“Ahh… Udah keras begini…” goda Farah di depan dadaku sambil meremas Aseng junior yang sudah mengeras di dalam celanaku. Lidahnya masih memainkan putingku yang terkadang digigitnya sampe kemerahan.

“Bang Aseng sepertinya liar juga, ya… Banyak luka-luka begini… Gak heran bisa melawan setan-setan seperti tadi… Apa ini bekas melawan setan juga, hmm?” jarinya digerakkannya di atas bekas luka di dadaku, dengan tekanan keras yang gak kira-kira.

“Akkhhh… Jangan keras-keras, Farah… Sakit…” keluhku hanya bisa berbaring menggeliat saja karena ia tetap menindihku. Aku gak mungkin balas menyakiti dirinya. Meremas sesuatu melewati batas misalnya.

“Sstt… Jangan berisik… Nanti Dea bangun… Diam aja dan nikmati…” lirihnya dengan senyum menang kala ia menarik celanaku sekaligus dengan celana dalamku. Ia tau benar anatomi pria hingga dengan mudah meloloskan pakaian terakhirku itu dari kakiku.

“Mm… Nyaman, ya?” ia menggesekkan kedua payudara kenyal berukuran besarnya itu ke ngacungan Aseng junior-ku.

“Mmm… mmm… Keras nih, bang Aseng… Biar gak besar-besar banget… Tapi keras…” pujinya terus menggesekkan Aseng junior-ku ke daging dadanya.

“Aahhhss… Jangan digigit terus, Farah… Itu bekas luka…” keluhku kesakitan bercampur rasa nyaman yang aneh berkat sentuhan kulit lembut sekujur tubuhnya juga kenyal payudaranya di Aseng junior-ku yang diselimutinya.

“Masa jagoan gini kesakitan, sih? Bang Aseng kayanya macho banget begini dengan baret-baret di tubuh… Mm… Jantan banget, deeh…” pujinya lalu menjilati bekas lukaku di dada lalu digigitnya lagi.

Dah kek macan betina kurasa si Farah ini. Jagoan juga tetap ngerasa sakit, buk. Jilatannya berkisar di seputar dadaku sementara ia terus menguleni teteknya di Aseng junior-ku. Batang kemaluanku tegang setegang-tegangnya keras di antara himpitan daging kenyal itu.

Jari tangannya menjamah ke seluruh wajah, leher, tangan dan tubuhku. Rabaan tangannya sengaja menyentuh semua bekas luka-luka yang kupunya. Memang sudah mengering tapi kalo disentuh dan ditekan kuat ya sakit juga karena hanya bagian permukaannya saja yang sudah menyatu, bagian dalamnya masih proses penyembuhan. Besok libur, aku harus meditasi lebih lama lagi nih ceritanya untuk penyembuhan total.

Puas menyakiti luka-lukaku, ia kembali menikmati mulutku. Disedot dan dikulumnya mulutku dengan ganas hingga kami berlumuran ludah. Tanganku hanya bisa mencengkram dan meremas bagian bokongnya yang masih terbungkus celana panjangnya.

Farah menggesek-gesekkan bahan celana bagian selangkangannya pada Aseng junior, memberiku rasa nikmat yang menyakitkan—tergesek bahan celana yang sedikit kasar. Tanpa sadar kadang aku meremas kuat bokongnya karena rasa tak nyaman yang aneh.

Binor satu ini lalu menjejalkan payudaranya pada mulutku dan langsung mengarahkan putingnya ke dalam mulutku.

“Oohh…” erangnya karena aku langsung mengenyot pentilnya kuat-kuat.

Sebelah payudaranya kuremas hingga jariku tenggelam lumer di daging empuknya. Aku tak bermaksud membalas menyakitinya tapi rasa sakit di Aseng junior membuatku secara tak sadar mengeluarkan tenaga berlebih. Gilanya ia juga menyukai itu. Ia mengerang-ngerang seksi. Selangkangannya berputar-putar menggesek kemaluanku yang makin meradang. Ini namanya memancing harimau yang sedang tidur.

Bergumul di atas sofa sementara ada perempuan lain yang sedang tak sadarkan diri di hadapan kami tak membuat pikiran kami berdua jadi lebih waras. Farah yang merasa sudah menguasaiku sepenuhnya dengan menghimpitku rapat, lupa kalo ia menyebutku sebagai jagoan.

Kuputar dengan cepat tubuhnya masih di atas sofa hotel ini. Ia terkesiap dan tak mampu berbuat apa-apa kala posisi kami berganti—aku yang kini di posisi atas. Tangan-tangan nakalnya berusaha menggapai pada bekas luka di bahu dan tanganku. Kutepis, kusatukan ke bagian atas kepalanya dan sepasang payudaranya sekarang menjadi bulan-bulananku.

“Akhh… Ahh… Mmm… Ahh… Yaa…” erangnya berkejat-kejat kali kusedot kedua putingnya bergantian dengan kuat.

Mulutku seperti vacuum sampe kempot menyedot pucuk payudaranya. Monyong-monyong teteknya kubuat karena sedotan kuatku sementara tangannya terkunci erat di atas kepalanya tak mampu memberi perlawanan.

Entah ini memang caranya membuat cupang, tapi pucuk payudaranya kemerahan akibat sedotan kasarku. Tubuh semok seksinya menggeliat-geliat karena perutnya kugesek-kutusuk dengan keras Aseng junior-ku. “Buka-ummp…”

Mulutnya yang akan berkata-kata segera kusumpal. Lidahnya kusedot dan kukulum. Kugulati lidahnya mengajak bergumul. Ludahku dihisap-hisapnya dengan mulut terbuka. Sebelah tanganku yang tak menahan kedua tangannya, melucuti celana panjang yang dipakainya.

Dari kancing, restleting dan menarik-narik pinggirannya agar merosot lolos pinggulnya. Farah bekerja sama dan menaikkan bokongnya agar celana panjang miliknya lepas dari kakinya.

Celana berbahan denim skin tight begini ternyata butuh usaha ekstra untuk ditanggalkan. Celana dalamnya sedikit tertinggal dari celana itu dan akhirnya terbang bersamaan, membuat kami berdua sama-sama bugil bergumul di atas sofa.

Kusergap tubuhnya, membuat tubuh kami berdua bersatu padu tanpa penghalang. Farah membuka kakinya dan membiarkanku berada tepat di atas tubuhnya, menghimpit bersatu. Aku mengendus bagian ketiaknya lalu menjilatinya, membuat binor keturunan Arab ini menggeliat kegelian.

Tumitnya digesek-gesekkannya di belakang pahaku. Kedua tangannya masih terkunci di atas kepalanya. Geliat-geliat tubuhnya membuat kedua kelamin kami kadang bersentuhan, saling berkenalan. Terasa lembab di belahan nikmat itu. Terasa jembut lebat seperti rimbun milik saudara sepupunya tadi; Dea. Aku sebaiknya menikmatinya dulu sebelum nanti ternoda spermaku.

Taktis aku turun dari sofa, masih menahan tangannya lalu mengarahkan Aseng junior ke mulutnya. Ia dengan senang hati menyambut dengan membuka mulutnya. Ia langsung menggelomoh menelannya. Aku tak berhenti sampe di situ, aku merebahkan diri menghimpit tubuhnya lagi dan mengarahkan kepalaku ke selangkangannya yang terbuka mengundang.

“Ahhh…” erangnya begitu kuciumi permukaan vaginanya yang ditumbuhi rambut pubis yang lebat. Satu keluarga bersepupu ini perempuannya pada berjembut lebat begini. Yang satu blasteran Arab, satunya lagi Aceh.

Hanya saja Farah sampe ke pinggiran vaginanya masih ditumbuhi rambut-rambut juga yang sedikit pendek bekas sisa dicukur beberapa hari lalu. Lidahku bermain-main di bibir vaginanya yang putih kemerahan akibat syahwat menggelora malam ini.

Liang vaginanya menganga becek sudah tak sabar menyambut pejantan memasukinya. Lidahku menerobos masuk dan merasakan rasa vagina binor yang sedang birahi ini. Vaginanya membengkak merekah pertanda sedang subur-suburnya. Cairan bening mengucur deras dari dalam liang kawinnya, menginisiasi pelepasan sel telur yang siap untuk dibuahi. Aku sudah tak sabar untuk menghamili binor satu ini sekarang juga.

Suara seruput mulutku di vagina Farah seirama dengan decap-decap mulutnya yang juga menelan Aseng junior di dalam mulutnya. Ia dengan mudah memasukkan seluruh batang kemaluanku mengingat mainannya selama ini pastinya lebih besar dan panjang dari milikku ini.

Tapi masih unggul punyaku kemana-mana karena bisa menghamili punyamu, Hussein! “Ghlok ghlokk glokk ghlook…” aku mengentoti mulutnya dengan kecepatan sedang selagi ia meremas-remas pantatku dengan gemas. Lidahku menusuk masuk ke dalam liangnya dan mengentotinya juga di dua lubang berbeda.

Pantatnya menjulang terangkat berkali-kali membuat mukaku semakin terbenam di selangkangannya. Sepertinya ia tak lama lagi akan menapaki puncak kenikmatannya karena Farah hanya membuka mulutnya menerima genjotan Aseng junior-ku.

Lidahku semakin sibuk menjajah vagina Farah yang basah kuyup cairan pelumasnya dan ludahku. Aku semakin menggila merasakan rasa dan aroma binor satu ini. Dengan jari kutusuk liang kawinnya dan kusedot-sedot kacang itilnya. Erangan Farah membahana tak memperdulikan penghuni resmi kamar hotel ini ada di depan kami. Ia hanya sesekali memperdulikan Aseng junior yang seharusnya diservisnya di mulut. Hanya demi kenikmatannya sendiri.

“Ah… ahhh… ahhh… Yaaa.. yaaa… BANG! Ahh…”

Berkejat-kejat tubuhnya saat kulepas kacang itilnya dari mulutku. Kutepuk-tepuk belahan vaginanya dengan jariku memberikan kenikmatan tambahan. Menggeliat-geliat seperti ular raksasa tubuhnya di depan mataku.

Kedutan vaginanya sangat jelas mengucurkan cairan bening segar yang kujilati, membuatnya bergetar kembali. Aseng junior sudah tak diperdulikannya. Hanya mengacung tegang di samping pipinya. Aku turun dan ia tak melakukan apapun selain berbaring pasrah masih menikmati after taste kenikmatan orgasmenya.

Hanya nanar pandangannya kala aku menelusup masuk di antara bentangan kedua kakinya, mengatur posisnya dengan menarik-menarik pahanya hingga Aseng junior tepat ada di belahan kemaluannya yang masih berkedut-kedut becek. “Gak pake kondom ini ya, Farah?” Binor itu hanya mengangguk saja memperbolehkanku memasukinya walo masih kepayahan terengah-engah.

Sekedar hanya kugesek-gesek saja sampe perempuan ini benar-benar siap menerimaku di dalam tubuhnya. Kepala Aseng junior sudah kuyup oleh cairan kemaluan Farah. Kucelup sedikit-sedikit untuk merasakan jepitan mulut vaginanya. Menelusup dengan mudah karena becek. Kubersihkan mulutku dari sisa cairan kemaluannya dan beberapa helai jembut yang terikut. “Mm… mm…” desahnya merasakan sumpalan kepala Aseng junior yang menyodok-nyodok berusaha masuk.

“Mmm…” kusorongkan Aseng junior memasuki dirinya.

Terasa gerinjal liang kawinnya langsung menjepit batang kemaluanku. Hanya setengah terbenam, kutarik lagi sampai terlepas dan kugesekkan batangku ke arah kacang itilnya. Gesek-gesek lalu masuk kembali. Terasa sangat nikmat dan hangat tapi kucabut lagi, kugesek-gesek kembali.

“Ahh… Ahh…” begitu terus kuulang-ulang untuk memancing dirinya.

Dan akhirnya ia memerangkapku di dalam liang kawinnya dengan mengapitkan kakinya ke pinggangku. Aku tak dapat melepas Aseng junior bahkan ia semakin dalam masuk terperosok jauh. Kami berdua mengerang dalam nikmat hangatnya persatuan kelamin yang erat terhubung.

Kandas menusuk hingga jembutku dan jembutnya bertemu. Kantong pelerku juga menyentuh permukaan bokongnya.

“Aahhsss…” erangnya menahan tubuhku tetap menusuk dirinya.

Farah menggerak-gerakkan isi bagian dalam liang kawinnya. Lebih tepatnya otot kegel-nya. Alamak! Batang Aseng junior seperti diremas-remas, diplintir-plintir di dalam sana.

Aku merebahkan diri ke tubuhnya dan kami berciuman saling pagut mulut lagi. Kaki Farah menahanku tetap di posisi ini cukup lama, berlama-lama merasakan nikmat bersama akan bertemunya perdana kelamin kami. Kugerak-gerakkan minimal pinggulku hingga ada sedikit gerakan mengocok selagi kami masih saling menikmati mulut.

Farah juga tak kunjung melepas mulutku walo aku berusaha memberi jarak dengan menopangkan tubuhku dengan tumpuan tangan. Dipeganginya pipiku dan ia terus menikmati mulutku. Setidaknya sudah ada jarak dan aku bisa bergerak dengan bebas, aku bisa mulai memompanya.

“Ehmm… mmh… mmhh… uhh…” Dinding liang kawin Farah ternyata masih memadai menjepit dengan bantuan otot kegel-nya yang memberikan remasan erat dengan mengkontraksikan otot-otot perutnya.

Jadi mau sebesar apapun kejantanan pria yang memasukinya akan selalu bisa diakomodirnya. Lidahnya menjulur yang kusambut dengan sambutan ujung lidah saja yang saling menggelitik kala aku menggenjot tubuhnya.

“Auh auh auhh… Auh auh auhhh…” erangnya kala kusodokkan Aseng junior dengan tusukan 2-1 andalanku.

Kakinya yang menahan pinggangku menjadi batas tusukan yang kulakukan. Dua kali tusukan pendek dan sekali tusukan dalam, selalu berhasil membuat perempuan manapun dalam daftar binorku bertekuk lutut termehek-mehek minta lagi dan lagi. “Auh auh auuhh… Auh auh auuhhh…”

Erangannya yang lumayan kuat sebenarnya cukup membuatku risau. Jangan-jangan nanti si Dea itu terbangun pulak karena berisik yang disebabkan sepupunya ini. Kalo dia minta gabung, bolehlah. Tapi kalo dia ngamuk-ngamuk gimana? Menghindari hal itu, kusumpal lagi mulut Farah agar tak terlalu berbunyi. Ia mengerang tertahan karena ia terlalu sibuk mempermainkan lidahnya yang bergulat dengan lidahku.

“Ahh ahh aaahhh… Bangghh… ahh ahh aaahh…” remasan kegelnya semakin frantic tak teratur pertanda ia tak dapat mengendalikan tubuhnya lebih jauh.

Tangannya meremas-remas acak punggung dan lenganku. Permainan mulutku tak diperdulikannya lagi. Ia membiarkanku mengulum dan mempermainkan bibirnya. Ia asik sendiri dengan kenikmatan yang sedang bergulung-gulung hendak membuncah ke permukaan bentar-bentar lagi.

Kulakukan sodokan satu-satu panjang. Menghujaminya dengan sodokan dalam-dalam memanfaatkan panjang Aseng junior-ku yang standar saja. Kepalanya terbanting kanan-kiri dan ia selalu menyambut sodokanku dengan hentakan tubuhnya juga. Menggelinjang liar dan akhirnya…

“Aaahhh…” pantatnya terangkat sesaat dengan Aseng junior terbenam dalam.

Jepitan kegelnya mencengkram erat ritmis cepat pertanda ia mencapai puncak kenikmatannya lagi. Kembali tubuhnya berkejat-kejat liar seperti terkena epilepsi. Tangannya mengepal erat membetot bahan kulit sofa ini. Kusodok-sodok pelan dan kukecup-kecup pipinya. Mulutnya menganga mencari udara sebanyak-banyaknya.

“Enaaak banget, bang…” lirihnya agak parau.

Kucabut Aseng junior dari liang kawinnya saat kami berciuman lagi agak lama, lalu kubisikkan agar ia agak berubah posisi. “Miring…”

Dengan bantuan tangan, aku mencoba mengarahkan Aseng junior-ku yang masih basah oleh sisa cairan pelumas Farah. Tubuh binor ini miring ke arah ranjang yang ditiduri Dea. Mudah saja Aseng junior menelusup masuk berkat licin dan becek liang senggama Farah.

“Uuhh…” desahku merasakan himpitan ketat liang yang menjadi lebih sempit dari seharusnya.

Aku suka sekali posisi ini, posisi miring. Membuatku cepat ejakulasi. Setidaknya aku harus mempraktekkan posisi ini sekali pada binor-binor koleksiku. Satu kaki Farah melintang dan aku mengangkangi satu kakinya saat Aseng junior menusuk masuk.

Aku memperhatikan mimik wajah Arab Farah yang meringis merasakan sodokan dalamku. Aku memeluk pinggulnya hingga aku dapat mengkandaskan kemaluanku ke dalam liang kawinnya.

Sepasang payudara montoknya saling tumpang tindih di posisi miring ikut bergoyang-goyang terguncang akibat genjotanku. Rasa geli akibat gesekan prima dua kelamin kami sangat terasa nikmat saat ini.

Bobot paha dan pinggulnya menambah tekanan taraf sempit liang vaginanya. Farah memejamkan mata menikmati semua senggama kami ini. Tangannya mencengkram pergelangan tanganku yang memeluk pinggulnya. “Ah ah ah ah…” erang Farah tiap tumbukan Aseng junior merangsek masuk ke dalam tubuhnya.

Kremut-kremut nikmat sudah terasa menggelitik. Kenikmatan sudah pasti di depan mata. Tidak bisa ditahan-tahan lagi dan tak perlu ditahan karena ini semua tujuan seks ini. Mencapai kenikmatan. Hamil hanyalah bonus plus-plusnya. Rasanya semakin menggelegak dan aku mempercepat sodokanku ditingkahi suara erangan Farah membuat ini semua menjadi semakin indah untuk disemprotkan.

“Faraaahh!! Akhhh… Ahh… ah…” kulesakkan dan kudiamkan Aseng junior yang bercokol dalam takala saluranku berkedut-kedut memompakan muatan kentalnya di saluran uterusnya. Menuju rahimnya, menyapa sel telur yang sudah dilepaskannya.

Membanjiri peraduan bakal bayi itu dengan jutaan bibit subur terpercayaku. Farah juga mengerang-ngerang menikmati hangat spermaku yang mengisi perutnya. Mungkin ia juga mendapat ekstase itu karena ia berkejat-kejat juga.

Aku hanya sedang menikmati apa yang menyelimuti tubuhku saat ini. Rasa nyaman setelah menyemprotkan sperma. Rasa lega sudah berhasil menggagahi binor Arab yang aduhai cantiknya ini. Tak kalah kok jantan lokal begini untuk memuaskannya.

Kubiarkan Aseng junior tetap bercokol dan aku menghibur diri dengan meremas-remas payudaranya. Kupermainkan pentil susunya sampai ia bergidik geli masih di posisi miringnya.

“Bang!” lalu ia tercekat dan meremas pergelangan tanganku.

“Dea…”

***

Aku merasa deja vu. Aku pernah mengalami hal yang mirip seperti sebelumnya. Situasinya agak mirip-mirip dan kondisinya saja yang berbeda.

Ya… Saat itu kejadiannya di kamar hotel juga saat seminar dari satu instansi. Aku berdua bersama Dani di kamar hotel sehabis bersetubuh, mangkir dari seminar tersebut. Kak Sandra datang mengetuk minta jatahnya. Situasinya mirip dengan saat itu, selesai ngentot dengan kak Sandra, Dani memergoki kami berdua.

Kondisinya sekarang, Dea memergoki aku habis ngentot dengan Farah…

Dea duduk di atas ranjang masih hanya memakai bra saja. Selimut hotel bergulung di sekitar perutnya. Ia menatap tak percaya apa yang telah disaksikannya. Mulutnya terbuka dengan mata nanar melihat tubuh kami berdua yang telanjang bulat masih terkoneksi oleh bersatunya kelamin yang becek lengket oleh spermaku. Lampu kamar ini terang benderang jadi tidak ada alasan salah liat atopun salah paham.

Entah sejak kapan ia bangun?

“Dea…?” lirih Farah tapi cukup jelas didengar sepupunya.

“…” aku gak tau harus ngomong apa. Digerebek oleh perempuan yang vaginanya sudah kau obok-obok agak gimana gitu, ya?

“Aku kesurupan Burong Tujoh lagi, ya?” tanyanya malah membahas hal lain. Apa dia masih linglung? Apa itu Burong Tujoh? Burung Tujuh ato Tujuh Burung?

Farah mendorong tubuhku agar melepaskan dirinya. Byung! Aseng junior tercerabut dari sarang anyarnya masih berlumuran sperma kental. Dea memandangi kami dengan ekspresi yang entah menggambarkan apa.

Tapi Farah mengutip celana dalamnya dan cepat-cepat memakainya lalu menghampiri sepupunya, duduk di belakang punggungnya. Membimbingnya untuk berbaring lagi ke ranjang lalu menutupi tubuhnya dengan selimut lagi.

Melihat Dea yang teralihkan dalam keadaannya yang kek gitu, aku mengutip semua pakaianku dan beranjak ke kamar mandi. Tapi posisinya tidak memungkinkan. Arah ke kamar mandi ada di sebelah pandangan mata Dea sehingga aku masih menutupi si junior-ku ngibrit ke kamar mandi.

Bersih-bersih sekenanya, menenangkan Aseng junior yang masih belum puas sebab baru sekali aja ngecrot—memasukkannya kembali walo masih sedikit tegang. Selesai memakai semua pakaianku, aku keluar lagi.

Berdua mereka masih di posisi tadi. Farah yang hanya memakai celana dalam memeluk Dea yang hanya memakai bra dibalut selimut hotel. Farah sedang menenangkan Dea dengan berbisik-bisik, memeluknya dari belakang—memberinya rasa aman. Keduanya melihatku yang baru keluar dari kamar mandi, mendekat karena ada yang ingin kutanyakan.

“Siapa dia, Farah? Kudengar kau lagi ada masalah sama Hussein… suamimu…” mungkin Dea sudah penasaran dari tadi dan baru sekarang ia baru bisa menanyakan ini setelah kabut pikirannya mulai jelas balik ke kewarasannya.

“Dan kalian baru aja… itu… berhubungan…” ragu-ragu ia mengatakannya. Ia sedikit berbalik dan berbisik, menutupi mulutnya dengan tangan agar aku tak melihat gerakan mulutnya.

“Dea nanya… kenapa kemaluannya juga kerasa basah?”

“Hei? Apaan sih, Farah?” kaget Dea sebab Farah membocorkan isi pertanyaan yang dibisikkannya tadi. Farah tertawa-tawa geli karena berhasil mengerjai sepupunya ini dengan memberitahuku soalan yang mungkin memalukan baginya.

“Namanya bang Aseng… Dia yang membuat kemaluanmu jadi basah begitu… Tapi bukan pakai yang ada di antara kakinya itu… Cuma pakai jarinya aja, kok…” terang Farah tentang kegiatan kami tadi untuk membebaskan Dea dari jeratan racun setan cicak tadi.

Aku meringis ngenes karena sepertinya Farah gak mau menutup-nutupi apapun tentang kejadian eksorsisme tadi. Tapi ia cukup pintar malah berhasil menutupi skandal persetubuhan kami yang juga jelas-jelas seterang matahari.

“Dea malu, Farah…” binor sepupu Farah itu jadi sangat malu dan berbalik tak mau melihatku lagi hingga kedua perempuan itu kini berhadapan.

“Gara-gara Burong Tujoh… Dea selalu dalam kesulitan besar…”

“Maaf, bu Dea… Burong Tujoh itu apa? Apa itu nama setan yang merasukimu tadi?” tanyaku tentu asing dengan nama setan itu.

Apa itu masih dalam bahasa Aceh juga? Daerah yang sebenarnya dekat dari Provinsi-ku ini tapi aku belum pernah punya akses ke sana untuk sekedar mengenal bahasanya. Kalo diterka-terka dengan mudah Burong Tujoh itu burung yang berjumlah tujuh ekor. Apa artinya tujuh setan berbentuk burung. Gitu ya? Bisa-la nanti kuadu sama si Panglima Burung. Hebat mana tujuh burung dari Aceh ini dengan burung Enggang Kalimantan. Tapi tadi yang kuhadapi adalah setan cicak…

Dea melirikku sebentar ke belakang tapi ia balik menghadap Farah lagi.

“Bang Aseng ini tadi udah mengusir setan cicak itu darimu, Dea… Tuh liat… Ekornya masih nempel di situ… Liat?” tunjuk Farah pada mandau-ku yang memacak sebentuk ekor reptil besar di dinding kamar hotel.

Dea harus berbalik lagi dan untuk melihat dengan jelas apa yang ditunjukkan Farah. Kurang jelas ia duduk dan menggunakan selimut untuk menutupi bagian dadanya yang terekspos hanya mengenakan bra. Matanya terbelalak melihat bukti ucapan Farah barusan. Ekor buntung itu masih menggantung tak bergerak ditancapi sebilah senjata tajam panjang.

“Setan cicak itu tadi juga sudah meracuni tubuhmu… Aku juga tadi ikut membantu bang Aseng mengeluarkan racun itu dari tubuhmu, Dea… Racun itu dikeluarkan lewat kemaluanmu… Makanya kau ngerasa basah kan di bawah sana?” Farah iseng menyingkap sedikit selimut yang menutupi dada Dea, untuk mengintip tempat keluarnya racun setan cicak tadi.

“Tenang… Bang Aseng cuma make jari aja, kok… Gak make burungnya…” Ya-iya… Burungku cuma dipake ke kamu aja, Farah.

“Hu hu huuuuu…” malah jadi nangis ini binor membingungkan.

Aku pandang-pandangan gak ngerti sama Farah. Farah cuma bisa menjengitkan bahunya tanda gak tau. Ia hanya bisa mengelus-elus rambut panjang tebal bergelombang sepupunya itu untuk sedikit mengurangi apapun yang sedang membuatnya kalut.

“Dea… Dea… Cerita apa yang sedang menimpamu ini? Aku ini sepupumu… Aku gak tau apa yang sudah menimpamu selama ini… Bang Aseng ini mungkin bisa menolongmu… Kalo setan itu ada tujuh… Satu dari tujuh-tujuhnya tadi sudah diusirnya…” kata Farah berusaha mengorek keterangan.

Tentunya ia sangat ingin membantu sepupunya ini. Tentu sangat mengerikan kalo benaran ada tujuh setan yang benar-benar menghantui hidupnya.

“Bu-burong Tujoh itu hantu berjumlah tujuh, Farah… Mereka muncul secara bertahap… Burong sa, Burong dua, Burong lhe, Burong peut… Burong limong… nam trus sampai tujoh… Burong artinya hantu…” jelas Dea hanya pada Farah sembari menghitung jumlahnya.

“Berarti setan cicak tadi adalah Burong kelima…” tukasku. Kedua perempuan bersaudara itu beralih padaku.

“Hantu kelima…” simpulku. Dea mengangguk membenarkan kesimpulanku.

“Awak tadi hanya mengusir hantu kelima itu… Dia hantu yang licik dan pintar… Ia mengalihkan perhatian kita dengan mengorbankan ekornya… Ekor cicak bisa tumbuh lagi—ingat?” aku menunjuk pada trofi palsu berupa ekor cicak raksasa yang bisa tumbuh lagi. Kedua binor itu wajahnya bertambah horor mendengar penjelasanku.

“Apa yang sudah dilakukan hantu-hantu keroyokan ini padamu, Dea? Beraninya keroyokan gitu sama orang yang gak berdosa…” tanyaku. Tentunya ada motif tertentu dibalik kasus ini sehingga harus mengerahkan hantu secara gangbang kek gini.

“Apakah dikirim sama mantan suami pemalasmu itu, Dea? Dia kan selalu sesumbar gak terima Dea gugat cerai… Akan membalasmu… Dia juga bilang akan merusak rumah tanggamu… Buktinya sampe sekarang Dea belum juga bisa hamil… Jangan-jangan gara-gara Burong Tujoh ini?” cetus Farah main sambar aja.

“Kata orang-orang tua yang kami datangi juga begitu… Hikayat hantu Burong Tujoh sangat menakutkan di Aceh sana, bang… Tak banyak yang benar-benar bisa mengobati orang yang sudah terkena tulah Burong Tujoh ini… Selama ini kami hanya bisa menahannya… Tadi aku lupa melakukan pencegahannya… Mereka selalu muncul sehabis Dea berhubungan dengan suamiku…” ia lalu terdiam setelah mengatakan itu. Mungkin malu. Jadi sebelum suaminya berangkat ke Malaysia untuk kuliah lagi, perpisahan mereka lakukan dengan berhubungan suami istri. Wajar, sih.

Takut-takut ia berpaling padaku.

“Apakah abang ini… dukun?”

Benci kali aku dianggap dukun. Aku hanya menggeleng menolak cap itu.

“Awak bukan dukun, Dea… Cuma bisa-la dikit-dikit…” aku melangkah menuju mandau-ku yang masih memancang ekor cicak buntung itu.

Kucabut dari tancapannya di dinding. Dengan ujung kaki kulepaskan ekor buntung itu yang masih menempel di mandau Panglima Burung. Tiba-tiba menyeruak bau busuk bangkai yang sangat bau sekali.

Aku sontak mundur dan menutup hidungku karena baunya sangat menusuk hidung. Cahaya di sekitar kami meredup secara ghaib, seperti diserap oleh bau busuk yang bersumber dari ekor buntung itu. Ada beberapa siluet bayangan yang membayang di dinding entah dari sumber cahaya mana. Agaknya penyerapan terang ini adalah tujuannya.

Jumlah siluet bayangannya ada tujuh buah. Inikah mereka para Burong Tujoh secara lengkap. Bentuk-bentuk ganjil yang merepresentasikan wujud mereka kala bermanifestasi di dunia nyata. Wujud untuk menyebar teror di mayapada ini.

“Aneuk inong jeh punyoe kamoe… Dia punya kami… Hana seulamat dunia akherat…”

“BACOT PUKIMAK KLEN SEMUA!!” makiku karena kesal setan-setan itu ngomong nyampur-nyampur.

“KLEN ITU LEBIH RENDAH DARI BINATANG! GAK USAK BANYAK KREAK SAMA AKU!! KELUAR KLEN SEMUA SINI!!” makiku terus gak perduli.

“BUJANG INAM KLEN SEMUA!!”

“Ha ha hah hahahahah…” mereka tertawa bersama-sama dengan berbagai irama suara dan nada. Kalo orang awam tentunya akan sangat menakutkan. Contohnya dua binor di belakangku yang sudah kelimpungan ngumpet gak genah-genah.

“Ada jagoan aneuk agam… Ha ha hah hahahahah…” kembali setan-setan pukimak yang beraninya keroyokan itu pada tertawa terbahak-bahak mengejek.

“Gak usah banyak bacot klen semua!! Keluar sini kalo berani… Kucincang klen semua!!” provokasiku menantang ketujuh hantu itu agar nongol di depanku. Pernah klen nengok orang nantangin hantu? Cuma jebolan Ribak Sude yang berani.

“Tak usah banyak sesumbar, aneuk agam… Kamoe tau siape gata… Ribak Sude… Kek kek kek kek… Gata paling panggil teman-teman gata jeh… Peunoh teumpat nyoe… Ha ha hah hahahahah…” kali ini hanya satu suara yang mewakili yang lainnya. Suaranya lelaki muda yang sedikit nge-bass suaranya.

“Apa tujuan klen rame-rame mengganggu perempuan ini? Klen disuruh ngapain? Membuatnya mandul?!” sergahku pada bayangan ke tujuh Burong itu. Mereka tak kunjung terpancing provokasiku.

“Pertanyaanmu tidak penting dijawab… Yang pasti hidupnya tidak akan bisa tenang selama-lamanya… Ha ha hah hahahahah…”

“Ahh… Klen cuma bisa disuruh-suruh… Kalo bayarannya pas, laksanakan… Dasar setan rendahan… Begitulah klen semua… Agenda klen semua kan dengan berbagai macam cara menjerumuskan manusia jadi kek klen juga… Kalo klen disuruh-suruh sama manusia… apa jadinya? Ya gak, sih?” kembali provokasiku mengemuka. Mempertentangkan mereka dengan prinsip dasar mereka kadang memancing ego tinggi hati mahluk yang terbuat dari api ini.

“Jangan samakan kami dengan mereka?”

“Jangan samakan? Apa bedanya? Udah banyak kali jenis kek klen ini yang udah kubante, biar tau kian klen ya? Semuanya hanya disuruh-suruh manusia aja… Dikasih menyan dikit, nurut… Dikasih minyak nyong-nyong dikit, nurut… Cuma nyarik makan klen ya, kan?” aku mondar-mandir.

Sejauh ini aku sudah berhasil berkomunikasi dengan setidaknya 3 dari tujuh Burong Tujoh ini. Pertama si setan cicak, bersuara perempuan tua bronchitis. Kedua suara pria muda nge-bass. Dan yang ketiga adalah suara lelaki yang agak cempreng suaranya. Akan lebih baik kalo ketujuh-tujuhnya bersuara karena dari koor suara tadi, kalo tidak salah hanya 5 suara yang bercampur di sana. Dua lagi kebanyakan diam saja, memilih membisu.

“Jangan samakan kami…” ini suara keempat. Suara wanita. Kalo biasanya ini yang jadi kuntilanak yang suka nakut-nakutin orang ronda dengan terbang wara wiri di atas pohon. Suaranya melengking tinggi. Kalo yang gak kuat iman mendengarnya bisa terkencing-kencing di celana. “Hi hi hihihihi…”

“Neng kunti… Sama klen semua… Gak usah sok paling paten-la kalo cuma jadi setan yang mengganggu manusia yang gak tau apa-apa… Gak kuharap klen kasian sama orang ini… Udah berapa taun dia berharap punya anak… Klen halang-halangi terus… Rezeki orang klen halangi… Nyawa klen-pun bisa melayang jadinya…” kukibaskan mandau di tanganku ke angin kosong seolah membabat mereka sekaligus.

“Dia cuma memancing kita… Tidak usah diteruskan…” ada suara pelan. Suaranya perempuan lagi. Berarti suara kelima. Ada ketegasan yang sangat dalam di suaranya. Setan yang satu ini mempunyai potensi sebagai pemimpin mereka.

    

“Ayo pergi…”

“Tunggu… Tunggu dulu… Jangan pergi dulu… Kita belum selesai…” seruku berusaha mengulur waktu. Berusaha mencari lebih banyak apa tujuan mereka merasuki Dea. Apa tugas utama mereka?

Kegelapan aneh yang tadi tiba-tiba menyeruak menelan sinar terang kembali balik normal kembali. Kamar ini menjadi terang benderang lagi. Bau busuk itu juga sudah menghilang. Gorden yang menutupi jendela kaca itu agak bergoyang dan kukejar kesana, berharap ada petunjuk.

Kusibak gorden itu dan berusaha melihat lebih jelas pada pantulan imaji yang ada di sana. Siluet ketujuh mahluk astral itu berjalan beriringan. Satu yang sangat kukenali adalah bentuk cicak raksasa yang berjalan ganjil dengan ekor buntungnya mengiringi sosok-sosok lainnya. Para rekannya.

Udah kek gangster ketujuh Burong ini kurasa. Menyerang manusia dengan cara keroyokan.

“Bang Aseng?!” teriak suara Farah. Aku sontak langsung berbalik dan menghampiri mereka yang sedang ngumpet di balik ranjang. “Dea, bang… Dea?”

“Kenapa Dea? Astaga?” kagetku seketika saat melihat keadaan perempuan itu. Tubuhnya membiru, mulutnya berbusa dan sekujur tubuhnya kaku. Ia terbujur berkejat-kejat di atas lantai.

“Iihh… Ini dingin…” saat kucoba menyentuh kulitnya. Ini kebalikan dengan keadaannya sebelumnya yang mengalami demam panas. Ini malah kedinginan.

Sialan para setan itu. Menyerang dari belakang saat aku lengah.

Aku mengangkat tubuhnya ke atas ranjang dibantu Farah. Tubuh kakunya sangat dingin mengkhawatirkan.

“Bang… Gimana ini, bang?” khawatir Farah melihat kondisi Dea mulai memburuk lagi.

Ia membantuku membungkus tubuhnya dengan selimut agar lebih hangat. Bisa-bisanya perempuan ini mengalami dua serangan beruntun dalam satu malam saja. Aku menggosok-gosok telapak tanganku sampai terasa panas dan kemudian menempelkannya di pipinya. Farah meniruku tapi tak ada yang berhasil.

Kami berpacu dengan waktu saat ini.

Melihat tubuh Farah yang nyaris bugil, hanya memakai celana dalam—aku mendapat ide. Kubuka semua pakaianku lagi. Farah memandangiku dengan heran saat semua pakaianku lepas. Aku lalu memeluk tubuh Dea. Aku ikut menggigil merasakan suhu dingin tubuh perempuan ini tapi kutahan-tahankan.

Tanganku memeluk erat dari balik ketiaknya. Mukaku menempel di pipinya. Bermaksud menyalurkan panas tubuhku padanya untuk membantu menghangatkan tubuh Dea. Kalo terpaksa, aku akan minta bantuan Farah juga sekalian menambah panas tubuhnya.

***

“Bang Aseng… Kalo diewein mungkin bisa lebih panas tubuhnya, bang…” usul Farah untuk menghangatkan tubuh dingin Dea yang menggigil mengkhawatirkan.

“Yang benar aja, Farah… Dia ini lagi dikerjain setan-setan itu… Masa diewein, sih? Ada-ada aja-pun kau…” entah setan yang nomor berapa yang menyebabkan Dea menjadi kedinginan hebat seperti ini.

Kalo mereka konsisten sesuai urutan kemunculannya, ini berarti yang nomor enam; Burong nam. Tapi apakah ini berupa racun juga?

“Ngewe kan bisa buat panas, bang… Cobain aja… Gak ada jalan lain… Nanti Farah bantuin juga…” tukas Farah memaksakan argumennya.

“Iya panas… Tapi itu gak pantas dilakukan, Farah… Nanti Dea menganggap awak nyari kesempatan aja untuk melecehkan dia… Gak-la, Farah… Ngeri awak…” tolakku tapi tetap memeluknya. Tubuh dinginnya tak kunjung menghangat dengan transfer panas tubuh ke tubuh ini.

“Nanti biar Farah yang ngasih pengertian ke Dea… Ini emergency… Lagipula burung abang dah naek gitu, kok…” desak Farah terus.

Ia mengintip pertemuan tubuh kami berdua. Dengan tak nyamannya, aku menghimpit tubuh Dea tetapi pertemuan tubuh ini malah menyebabkan ekses lain. Kimak si Aseng junior ini, bisa-bisanya dia bangun dan setuju dengan usulan gila Farah.

“Tapi…”

“Udah, bang… Gak ada waktu lagi…” Farah tambah mendesakku dan aku tau itu benar. Tidak ada banyak waktu lagi. Kami berpacu dengan waktu. Bentar-bentar lagi Dea bisa mendapat Hipothermia.

“Bener, yaa… Nanti jelasin sama Dea nanti, yaa?” aku bangkit dari memeluk tubuh dinginnya.

Aseng junior sudah ngaceng aja. Entah karena bersentuhan dengan kulit terbuka Dea ato karena kedinginan ia berusaha menghangatkan diri ato malah ia tau ada mangsa baru setelah tadi baru sekali beraksi. Kaki-kaki kaku Dea kulebarkan.

Pahanya yang awalnya putih kini pucat membiru hampir seperti mayat yang sudah dingin. Kuraba bagian vaginanya, jembut lebatnya berubah kasar seperti ada kristal es yang terbentuk di permukaannya.

“Dingin kali, Farah… Cairan vaginanya yang tadi jadi kristal es…” cetusku memberitau sepupunya yang terus mengawasi.

Farah mempreteli bra yang masih dipakai Dea hingga binor itu total telanjang bulat di hadapan kami. Farah mencoba menyentuh kemaluan sepupunya itu.

“Iya, bang… Apa ini racun lagi?” tanyanya lalu meludahi jari-jari tangannya lalu membalurkannya ke vagina Dea. Kemudian digosok-gosoknya kemaluan perempuan yang sedang tak sadarkan diri itu.

“Awak gak tau… Gak ada kondom lagi, ya?” pastiku karena kondom terakhir milik Farah tadi-pun mungkin sudah expired.

“Nanti hamil pulak dia kubikin…” aku mengocok Aseng junior pelan-pelan agar ia tegak maksimal, memudahkanku mempenetrasinya nanti. Mudah-mudahan ini bukan kerjaan racun lagi.

“Gak usah mikirin itu dulu, bang… Ewe aja dulu… Kalo hamil, ya udah aja sekalian… Ini udah basah… Abang udah bisa masuk… Cobain dulu…” sanggah Farah agar aku gak ragu-ragu.

Gimana aku gak ragu, ini semua tanpa persetujuan Dea. Lain cerita dengan Farah tadi karena semua atas persetujuan dan kemauannya sendiri. Farah malah meremas-remas payudara Dea seperti yang ia lakukan saat memecah racun setan cicak tadi. Tapi cara itu dapat menghangatkan tubuh Dea juga. Ia menguleni lemak kenyal di dada Dea dengan penuh perasaan, seperti ia sedang meremas payudaranya sendiri.

Kutempelkan kepala Aseng junior di bukaan vagina Dea yang lembab bekas dirangsang Farah tadi. Masih dingin tapi tak bisa menolak benda tumpulku ini dari memasuki dirinya. Tak ada kehangatan sama sekali di dalam liang kawin yang lumayan sempit itu hingga bisa disamakan dengan sedang ngentoti debog pisang.

Seret sudah pasti karena ia sama sekali tidak terangsang. Aku khawatir gesekan yang terjadi akan melukai kami berdua dan untuk itu aku melakukannya benar-benar perlahan dan telaten. Ekstra telaten. Tiap senti merangsek masuk seperti gesekan antara dua bahan tekstil yang bertekstur berbeda yang hendak digabungkan menjadi satu busana yang padan. Itu akan sangat sulit.

“Seret kali ini… Takut lecet…” lirihku pasti dengan muka yang pasti jelek kali. Aku minta pertimbangan pada Farah.

“Keluarin dulu…” buru-buru Farah mendorong tubuhku.

Ia langsung menunduk dan mengulum Aseng junior tanpa aba-aba… Ia membalurkan sedemikian banyak liurnya pada batang kemaluanku hingga terasa becek sekali menetes-netes. Sentuhan akhir ia meludahi tangannya dan membasahi vagina Dea dengan menjejalkan tangannya.

“Coba lagi…”

Tak ada nafsu sama sekali saat ini. Yang ada hanya ketegangan aneh untuk menyelamatkan Dea dari suhu tubuh abnormalnya ini. Dan kimaknya lagi Aseng junior-ku bisa ngaceng dengan keras.

Hanya ini yang membuatku percaya diri saat sekarang kutusukkan lagi kemaluanku ke liang kawin Dea yang lumayan basah oleh ludah Farah. Aseng junior-ku membawakan kehangatan pada liang kawin Dea bak membawa ransum pengobatan untuk memanaskan tubuhnya. Farah memeluk tubuh Dea dengan menggesek-gesekkan payudaranya ke dada sepupunya itu.

Di mata orang yang tak faham sikon-nya, pasti ini sudah dicap sebagai threesome FFM. Memang sejatinya ini FFM. Tetapi threesome yang tak lazim karena tujuannya adalah untuk memberi kehangatan pada tubuh Dea yang dingin secara tidak wajar.

Seperti sedang menyetubuhi mayat, aku menggenjotkan Aseng junior ke vagina Dea yang diam membeku. Farah meniup-niupkan udara panas dari mulutnya ke leher dan telinga Dea. Ia juga meremas-remas lengan sepupunya itu sambil berbisik memanggil-manggilnya dengan sabar dan tanpa jemu. Sesekali ia berpaling padaku untuk melihat progres usahaku menghangatkan tubuh Dea dengan cara menyetubuhinya. Aku menggeleng tak yakin karena gerakanku masih terbatas.

Aku hanya bisa bergerak pelan-pelan dan hati-hati. Ludah yang tadi dibalurkan Farah sudah mengering di dalam liang kawinnya. Farah lalu menyuruhku untuk melakukan body contact lagi yang artinya aku rapat memeluk dan menyetubuhinya.

Kuturuti maunya. Pelan-pelan saja aku memompakan Aseng junior di liang dingin ini. Rasanya sangat aneh tapi kuabaikan. Selagi Aseng junior masih bisa ngaceng, aku harus terus berjuang.

“Deaa… Deaa bangun, Deaa…” panggil Farah dan menggosok-gosok telapak tangannya yang dingin.

Aku improvisasi dan mengulum bibirnya yang mengatup dingin. Lidahku berusaha menyeruak masuk ditingkahi dengan jilatan-jilatan membasahi bibirnya. Tanganku sesekali meremas payudaranya yang ukurannya mungkin sedikit lebih kecil dari milik Farah. Tetapi tetap kenyal walo dingin bak mayat.

“Ada gerakan, bang… Ia menggerakkan tangannya…” seru Farah senang. Ia menghapus titik air mata di sudut matanya yang lembab. Ia sedang menggenggam tangan Dea.

“Iya… Awak juga merasakannya… Ada gerenyam dikit…” setujuku.

Ada gerakan kontraksi di liang kawinnya. Aku makin semangat menggenjotkan Aseng junior untuk mengentoti binor ini. Gerakan lembut keluar masuk kulakukan dan aku sudah merasakan kelembaban di dalam liang kawin Dea. Aku semakin merapatkan dekapanku. Kepalaku kubenamkan di lehernya untuk menghembuskan nafas hangat. Pucat kulitnya mulai meremang kemerahan kembali ke warna aslinya yang putih segar.

Persetubuhan aneh ini mulai mendapat bentuknya bagiku pribadi karena mulai terasa enak dan nikmatnya gesekan kelamin kami seperti seharusnya sebuah senggama yang kutau. Rasa nikmat akibat gesekan kelamin, sentuhan kepala penis yang menerobos liang sempit terjepit, licin menggelitik liang vagina yang mencengkram lawan mainnya.

“Abi… Mmm… Abi…” Dea mulai meracau.

Farah menggantikanku memeluk tubuh Dea yang mulai menghangat. Saat kupegang kedua pahanya, juga sudah menghangat. Giliran Farah kini yang merangsang tubuh bagian atas Dea untuk mengembalikannya ke suhu normal amannya. Ia memeluk, mengadu payudara mereka berdua dan mengelus-elus rambut Dea. Menunggu sampai perempuan itu siuman dengan sempurna. Aku tidak berhenti menggenjotnya pelan-pelan. Tetapi liang kawinnya sudah basah terlubrikasi dengan sempurna dan panasnya sudah pas. Bahkan ada suara berkecipak yang sangat seksi sekali.

“Mm… Farah?” aku mendengar gumamannya pertanda ia sudah sepenuhnya sadar dan mengenali wajah sepupunya yang ada tepat di hadapannya.

“Hssshhtt… ahh… Kok enak? Kita lagi ngapain?” tanyanya linglung.

“Farji (vagina)-ku kenapa terasa enak?”

“Ssstt… Tidak apa-apa… Masih terasa dingin tidak?” tanya Farah menghalangi pandangan Dea akan aku yang ada di belakangnya.

Kabut-kabut keadaan abnormal dirinya barusan masih membuatnya bingung. Aku yang jadi bingung sendiri jadinya. Ini mau gimana kelanjutannya? Dilanjutkan sampe aku nembak ato apa? Kalo berhenti sekarang, kentang kali rasanya.

“Aaauuhhh… Enak farji-ku, Farah… Sedikit dingin… Tapi enaaak… Farji-ku dimasuki burung yang besaaar…ah… Ini mimpi?” erangnya malah berusaha mengkedut-kedutkan liang kawinnya yang lumayan sempit. Ia malah beranggapan ini mimpi. Aku harus cepat-cepat menyelesaikan ini. Kugenjot semakin cepat tubuh Dea.

“Yaa… Ini mimpi, Dea… Liat… Aku cium kamu, ya… Muahh…” seperti adegan lesbi, keduanya lalu berciuman dengan bayang-bayang mimpi bagi Dea.

Entah apa yang sedang dipikirkan Farah hingga mau melakukan ini semua. Apakah ia terbawa suasana? Menyaksikan adegan itu, membuatku semakin bersemangat. Melihat keduanya saling pagut, saling remas dan saling rangsang.

“Akhh…” aku berhenti bergerak dan membiarkan semua muatanku meluncur masuk ke dalam liang kawinnya.

Berkedut-kedut pompaan spermaku memasuki rahim Dea. Mampos! Cepat-cepat aku mencabut Aseng junior dari sana. Walo masih ada rasa nikmat yang tersisa tapi aku merutuki kebodohanku sendiri.

Aku kebawa suasana yang diciptakan Farah dan Dea. Terlihat lelehan sperma kental putih keluar menetes dari bukaan vagina Dea. Kedua binor itu masih terus melakukan kegiatan lesbi-lesbian mereka.

“Farji-ku enak sekali, Farah… Seperti ada yang telah membuahiku… Ahh… Ah…” matanya nanar memandang sekitarnya setelah tubuhnya abis berkejat pelan barusan dan sialnya ia menangkap kelebatan diriku yang berusaha menjauh.

“Dia? Itu orang yang tadi, kan? Bang Aseng…” sial! Dia sudah sadar dan mengenaliku kembali.

“Dea-Dea… Dengar… Barusan Dea diserang Burong Tujoh itu lagi… Badanmu dingin sekali kaya es… Seluruh tubuhmu kaku dan membiru karena Burong Tujoh itu… Tapi sempat terasa dingin, kan?” kata Farah mencoba mengalihkan perhatiannya untuk memberiku waktu untuk menyelamatkan diri. Memakai pakaianku kembali adalah yang utama.

“Burong Tujoh?” ia lalu terdiam mengingat semuanya.

“Kita melihat bayangan hantu-hantu itu di sana…” ia menunjuk dinding dimana bayangan ketujuh hantu itu memantul saat berkomunikasi denganku.

“Kau juga melihatnya kan, Farah? Mereka sangat menakutkan…”

“Ya… aku melihatnya…”

“Maafkan aku…” aku tiba-tiba hadir di antara mereka.

Dea kelabakan menutupi seluruh tubuhnya yang telanjang walo sebagian dihimpit Farah. Sementara Farah tenang-tenang aja. Farah berusaha menenangkannya dengan membisikkan sesuatu. Beneran aku mau minta maaf.

***

“Jadi begitu, Dea… Sekali lagi awak mau minta maaf yang sebesar-besarnya… Awak sangat khilaf…” aku menyampaikan permintaan maafku karena sudah lancang menyetubuhi dan melakukan cream-pie pada kemaluannya.

Aku sudah ngecrot di liang kawinnya. Aku tidak menyalahkan adegan lesbi Farah dan Dea yang membuatku lepas kendali. Tujuan awalnya hanya menghangatkan—memanaskan suhu tubuh Dea yang turun drastis kembali ke taraf aman. Aku kebablasan dan melakukan cream-pie. Harusnya kalo mau tuntas, aku bisa mencabut dan ejakulasi di target lain.

Dea menatapku dan Farah bergantian dengan pandangan yang masih bingung. Sementara Farah melirikku penuh arti seolah mau mengatakan ‘Tadi harusnya ngecrot ke aku aja, bang. Lumayan nambah kesempatan hamil.’ Benar juga. Tadi Farah kan udah nungging-nungging gitu saat bercumbu dengan Dea. Kenapa gak kepikiran, ya?

“Benar itu, Dea… Farah kok tadi yang ngusulkan cara ini… Ini salah Farah juga sih… Tapi tadi itu itungannya darurat… Emergency, Dea… Tubuhmu dingin banget kaya es… Kami bingung harus bagaimana… AC central kamar ini gak bisa disetel ke panas lagi… Jadi cuma cara ini yang tersedia…” Farah menambahkan pembelaanku. Kami bertiga sudah memakai pakaian lagi. Agak gimana gitu rasanya kalo ngobrol sambil telanjang-telanjangan. Naek pulak nanti si Aseng junior-ku lagi.

“Makasih… untuk kalian berdua…” loh? Malah berterimakasih si Dea-nya.

“Sebenarnya aku udah sangat putus asa dengan keadaanku ini… Dikit-dikit kesurupan… Bentar-bentar kemasukan setan… Udah gak terhitung lagi kami mendatangi orang pintar… tengku dan dukun untuk mengusir Burong Tujoh ini dari badanku… Berbagai doa-doa dan ritual sudah kulakukan… tapi tak ada satupun yang benar-benar bisa membuat hantu-hantu ini pergi…” ia memandang kami berdua bergantian.

“Apakah yang tadi kulihat… ketujuh hantu itu benar-benar sudah pergi?” tanyanya dengan nada harapan. Bahkan Farah juga beralih padaku.

“Sepertinya tidak… Setan-setan berjuluk Burong Tujoh itu hanya pergi sementara aja… Sayangnya begitu… Mereka mahluk licik yang pendendam dan penuh dengan tipu daya… Dea… Sekali awak minta maaf atas kelancangan awak tadi… Awak udah menyetubuhi Dea dan… nembak—ejakulasi di dalam kemaluan Dea… Ada kemungkinan nanti Dea bakalan hamil… karena entah kenapa awak ini sangat-sangat subur kali…” aku menyatukan tanganku meminta maaf untuk yang keberapa kalinya.

“Hamil?” ulangnya dengan mimik wajah kaget yang dengan cepat berubah menjadi gembira.

“Bang Aseng bilang Dea bisa hamil karena bang Aseng?” sergahnya agak maju dari posisi duduknya. Benar aja dia bahkan berdiri mendekat.

“Dea beneran bisa hamil, bang?”

“Aaa… Itu kemungkinan, Dea… Apa Dea ada kesulitan untuk hamil?” tanyaku agak jengah juga didesak demikian rupa oleh binor yang sudah kusetubuhi dengan cara yang gak wajar ini. Kalo benar memang binor ini ada kendala medis yang tak memungkinkannya hamil, sesubur apapun aku jadi gak ada artinya.

“Dari dua pernikahannya… Dea belum bisa hamil, bang…” Farah menambahkan ini. Dea mengangguk membenarkan.

“… dan dukun-dukun itu membenarkan kecurigaan kalian kalo suami pertamamu itu yang sudah mengirim Burong Tujoh ini karena sakit hati… Begitu?” tebakku akan jalan cerita kisah hidup tragis Dea. Dea mengangguk lagi dengan yakin.

“Tapi dari dia, maksud awak dari suami pertamamu itu-pun Dea gak bisa hamil juga, kan?” sepertinya ada kasus salah tuduh nih. Su’udzon.

Wajah Dea seperti mengatakan, ‘Iya-ya. Dari awal pernikahanku, aku juga gak kunjung hamil…’

“Sejak kapan Dea mulai kesurupan Burong Tujoh ini?” untuk memperkuat argumenku.

“Mulai dari Dea kuliah, bang Aseng… Tapi waktu itu bukan Burong Tujoh… Hanya kuntilanak aja…” jawabnya.

“Ya… Itu maksud awak… Diantara tujuh hantu Burong Tujoh itu tadi ada kuntilanak-nya juga… Dia pasti yang membawa teman-temannya keroyokan memasuki Dea…” kataku. Kuntilanak yang kumaksud adalah satu suara setan perempuan yang sempat berkomunikasi denganku tadi saling tegang urat leher.

“Jadi gara-gara itu? Gara-gara hipnotis itu?” lamunnya ngomong sendiri.

“Hipnotis apa?” potong Farah.

“Dea pernah dihipnotis?” wajahnya berubah khawatir lagi.

Apa ada aksi kriminalitas yang sempat menimpa Dea di masa lalu? Sering kejadian para pelaku tindak kejahatan dengan modus operandi menghipnotis korban-korbannya untuk menguasai hartanya. Setelah dikuras hartanya, ia melenggang pergi.

“Pernah Farah… Waktu kuliah dulu di *** (salah satu Universitas Negri di Medan)… Ada seorang teman yang mencoba mempraktekkan kepandaiannya menghipnotis… Dia menghipnotis Dea… di depan teman-teman lainnya…” Dea menceritakan kisah masa lalunya.

Setelah proses hipnotis yang tujuan awalnya hanya untuk lucu-lucuan seperti yang ada di TV ternyata ada hal lain yang terjadi bahkan setelah hipnotis itu dinetralkan ato dikembalikan seperti sedia kala. Sang penghipnotis ini ternyata punya maksud lain padanya. Ia menurut saja ketika dibawa ke kamar kos pria itu dan melakukan hubungan suami istri tanpa bisa ia tolak. Dea yang gadis baik-baik tak perawan lagi.

Teman kuliah bejat ini ternyata juga sering melakukan hal ini pada gadis-gadis pilihannya yang lain. Selama beberapa hari Dea menjadi budak seks pria itu dan pikiran Dea selalu kosong selama itu. Selama pikiran kosong, Dea merasa berada di alam lain.

Selama beberapa hari Dea berkelana di alam asing itu dan telah mengalami berbagai pengalaman supranatural yang tidak bisa ia ingat dengan pasti karena tentu saja bingung. Dea kembali ke pikiran warasnya setelah beberapa hari kemudian dan dimulailah rangkaian kesurupan itu. Kesurupannya masih dalam taraf ringan.

Dea yang tak lagi perawan tentu saja bingung saat pernikahannya beberapa tahun kemudian. Kapan ia melakukan hubungan seks yang tak pernah diingatnya. Sang suami yang kebetulan banyak ulah menjadikan hal ini alasan baginya untuk bertingkah.

Tak pantas rasanya menceritakan ulah suami pertama Dea ini karena bahkan Farah sendiri sebagai sepupunya geram kalo mengingat hal tersebut. Singkat cerita mereka bercerai dan dimulailah babak baru kesurupan Dea dengan label yang menyeramkan; Burong Tujoh. Keluarga Dea menuduh mantan suaminya yang mengirim Burong Tujoh ini.

Burong Tujoh dalam urban legend masyarakat Aceh menempati hikayat seram tertinggi. Biasanya menyerang anak-anak dan perempuan. Jumlahnya selalunya tujuh hantu seperti yang menyerang Dea ini. Korban-korbannya sering menderita sakit dan ada juga yang sampe menuju kematian.

Pengobatannya dilakukan oleh dukun-dukun tradisional dengan doa dan obat-obatan tertentu. Dea tentu saja sudah ikhtiar dengan semua metode pengobatan itu dan tak menemui titik terang. Dea mendapat dukungan baru dari suami keduanya.

“Jadi gini… Selama Dea dihipnotis itu… kuntilanak itu sudah mendiami tubuhmu, Dea… Ia selalu ada di tubuhmu… Itu bahayanya kalo maen hipnotis-hipnotisan ini… Karena yang dimainkan itu adalah bagian dari jiwa… Entah teknik apa yang dilakukan laki-laki borjong itu untuk menghipnotis Dea, kita anggap saja itu masa lalu… Nanti kita bahas mengenai dia… Kita fokus ke hantu-hantu ini dulu… Awak sedikit-sedikit paham cara pikir setan dan hantu ini… Cuma jin-nya mereka ini… Jin jahat tentunya karena ada juga jin yang baik… Tentu para jin ini alamnya berbeda dengan kita manusia… Nah para jin jahat ini mencari cara untuk mengganggu kita manusia dengan berbagai tujuan… Ada yang pengen eksis di dunia kita… Ada yang ingin dapat pengakuan di dunianya sebagai jin sakti… Ada juga yang cuma iseng… Macam-macam sifat mereka… kek kita juga, manusia…” terpekur kedua binor cantik ini mendengarkan penjelasanku.

“Mereka tentunya pintar dan banyak akalnya… Tentu mereka tau tentang ketakutan mayoritas suku Aceh tentang Burong Tujoh… Si kuntilanak pertama ini lalu mencari teman-teman jin jahat yang satu visi dengannya… Entah apa kesepakatan mereka bertujuh untuk kompak tetapi yang jelas mereka bersama-sama mendiami tubuhmu… Jadi awak gak terlalu perduli sebenarnya siapa yang sudah mengirim Burong Tujoh ini karena tanpa disuruhpun mereka sudah ada di tubuhmu, Dea… Jadi lebih baik tidak su’udzon (buruk sangka) dengan mantan suamimu itu… Fokus saja untuk kesembuhanmu…” tuntasku.

“Whoa… bang… Tadi katanya bang Aseng bukan dukun… Tapi omongan abang kok kek dukun beneran?”

“Kimak-la, Farah… Jangan panggil aku dukun-ah… Jijik kali aku dengarnya… Awak cuma buruh pabrik kok dibilang dukun… Ish…” tolakku.

“Jadi penyebab Dea susah mendapat keturunan ini juga karena hantu-hantu itu, bang?” tanya Dea pelan-pelan mengatur kalimatnya agar tak terlalu vulgar.

“Karena Dea dan suami saat ini dalam program kehamilan dari klinik di Kuala Lumpur, bang… Akhir minggu ini Dea bakal ke sana untuk kelanjutan program itu… Jadi sia-sia, dong?” ingatnya.

“Bang Aseng bisa buatin jimat penangkalnya, gak? Supaya Burong Tujoh itu tidak mengganggu…” sambar Farah makin merasa terlibat dalam masalah sepupunya ini.

“Gak ada itu yang namanya jimat penangkal setan… Itu cuma omong kosong dukun aja untuk nyarik duit… Lagipula itu musyrik juga kan… pake jimat-jimat gitu… Awak aja gak punya jimat-jimat kek gitu…” kataku menunjukkan kedua tanganku, dibolak-balik. Biasanya dijadikan gelang, cincin ato kalung ato bentuk lainnya.

“Masalah yang tadi Dea tanyak… soal susah dapat keturunan tadi… yaah… gitulah… Setan-setan ato jin itu sukak kali makan sperma laki-laki… Tiap ada sperma yang masuk ke badan Dea… rebutan itu pasti mereka kek dapat sembako gratis… Jadi cemana Dea bisa hamil kalo semua sperma suamimu dimakan mereka selama ini…”

“Tapi tadi barusan… punya abang gak dimakan mereka, kan? Walau mereka cuma pergi sementara aja…” sambar Farah dengan nada antusias.

“Kemungkinan besar iya… Dea gak punya masalah lain kan?” jawabku ditambah nanya lagi pada Dea.

“Seharusnya Dea sehat, bang… Makanya kami ikhtiar program kehamilan ini nyoba di luar negri aja… Ini juga dalam masa subur Dea seharusnya…” jawabnya lalu tiba-tiba menunduk teringat sesuatu.

“Kalau begitu… Ada kemungkinan bang Aseng sudah membuahi sel telur Dea?”

“Trus kenapa kalo bang Aseng membuahi sel telurmu, Dea? Apa suamimu selama ini pernah berhasil? Harusnya kau bersyukur, Dea…” potong Farah.

Ternyata selama ini Farah selalu menjadi pendukungku. Ia menjadi buzzer diriku agar tidak dimentahkan Dea setiap ia ragu.

“Fahrul selama menikahimu… belum pernah sekalipun ia berhasil melakukannya… Ini kesempatan bagus untukmu hamil, Dea… Apalagi tadi siang sebelum Fahrul berangkat ke KL… pasti kalian berhubungan dulu, kan? Semua spermanya pasti sudah dimakan hantu-hantu itu…” benar juga argumen Farah. Aku gak sampe ingat ke situ.

“Walaupun bukan anak dari Fahrul?” ia kembali ragu. Nama suaminya Fahrul ternyata.

“Coba pikirkan… Metode yang digunakan klinik kesuburuan di Kuala Lumpur itu cuma memperbesar kesempatan kalian berdua untuk mendapatkan keturunan, kan? Tapi apa jaminannya? Dengan bang Aseng malah pasti hamil lagi?” Farah malah jadi ngotot segininya.

“Jangan gitu-ah, Farah… Malu kali awak jadinya… Ntah dah kek apa kali awak dibuatnya…” malu sendiri aku jadinya disanjung-sanjung sedemikian rupa oleh Farah tentang kualitasku dalam prospek menghamili binor.

“Gini aja Dea… Sebagai permintaan maaf awak yang benar-benar tulus… awak akan nolongin Dea untuk mengusir semua Burong Tujoh itu… Soal hamil ato enggaknya Dea setelah khilaf awak tadi… kita serahkan saja pada takdir Tuhan… Cuma Dia yang berkuasa yang menentukan segalanya… Dea bisa melanjutkan program kehamilan itu dengan suamimu setelah Burong Tujoh ini kita singkirkan… Setuju…” aku memutuskan ini agar tidak memancing Farah ngomong macam-macam lebih jauh daripada perjanjian yang sudah kami sepakati. Kadang saat terlalu bersemangat, mulut bisa tergelincir dan membocorkan informasi penting. Dea tak kunjung menjawab.

Setelah itu aku bertatapan secara rahasia dengan Farah. Semoga ia tau apa yang kumaksud.

“Eh… Permisi dulu bentar… Ke toilet dulu…” Farah ternyata langsung paham sinyal-sinyal yang kukirimkan padanya bahwa aku ingin berdua untuk sementara waktu dengan Dea.

Dea kaget saat aku mengulurkan tanganku padanya mengajak bersalaman.

“Apa ini, bang?”

“Ada perjanjian yang awak mau buat dengan Dea tentang usaha awak nolonginmu ini… Ada tiga pasal… Tiga-tiganya tidak memberatkan, kok… Tenang saja…” jawabku tetap mengulurkan tangan padanya. Disambutnya tanganku dan kami berjabat tangan.

“Yang pertama tentang hubungan kerja sama kita ini… Hubungan ini tujuan utamanya adalah mengusir semua Burong Tujoh dari tubuh Dea… Hubungan ini tidak akan berkembang menjadi sesuatu yang personal yang melibatkan perasaan atopun hati sama sekali… Hanya murni tolong menolong saja… Itu yang pertama…” kueratkan jabat tangan kami dengan sedikit meremas. Dea mengangguk perlahan masih menatapku agak malu.

“Yang kedua tentang kerahasiaan… Hanya kita berdua yang perlu tau tentang isi perjanjian ini… Tidak boleh memberitahu, membocorkan atopun membicarakan isi perjanjian ini atas dasar apapun… Cukup kita berdua saja yang tau rahasia ini… Bahkan tidak Farah sekalipun… Yang kedua…” kuremas pelan lagi tangannya yang dibalasnya dengan anggukan paham.

“Yang ketiga tentang masa depan… Bila khilaf awak tadi berbuah menjadi anak… dia adalah anak Dea dan suamimu… Dea tidak boleh menyangkutkannya dengan awak atas dasar apapun… Apalagi tujuan utama kerjasama ini adalah untuk mengusir semua Burong Tujoh itu dari tubuhmu… jadi segala macam cara akan awak upayakan untuk itu… Ini yang ketiga dan terakhir…” kuguncang jabat tangan kami disertai remasan juga. Dea mengangguk paham. “Setuju?”

“Setuju, bang…” jawabnya lebih mantap.

“Bagus…” kami berdua sama-sama tersenyum.

“Kenapa? Kenapa kalian berdua… kek lebih akrab gitu jadinya… Pada senyum-senyum…” tanya Farah yang baru saja keluar dari toilet sambil membereskan pakaiannya.

“Itu tadi… Dea hanya aja setuju apa yang ditawarkan bang Aseng tadi itu-loh… untuk ngusir semua Burong Tujoh itu tadi…” kata Dea soal tawaranku sebelumnya.

“Ooh… Itu? Bang Aseng benar-benar bisa mengusir hantu-hantu itu? Ada tujuh-loh jumlahnya… Banyak tuh…” Farah gak menyinggung sama sekali tentang hal lain karena ia sendiri punya perjanjian denganku untuk kehamilannya.

“Bang Aseng dukun apa pendekar, sih jadinya? Kok bisa berantem-berantem gitu sama setan?” binor satu ini malah mepet-mepet duduknya denganku di sofa yang kududuki bareng Dea juga. Kerasa pinggul lebar padatnya mendesakku hingga aku harus bergeser.

“Bisa kelahi aja dikit-dikit, Farah… Gak jago sih… tapi bisalah…” jawabku merendah aja.

“Jadi sebelumnya kalian udah saling mengenal, ya? Di lift tadi kok pake pura-pura asing gitu?” tanya Dea.

“Ketauan sama Dea ceritanya nih… Kepergok trus pura-pura gak kenal gituuu…” ia malah menggoda kami berdua.

“Waktu Dea pingsan abis kesurupan trus ambil kesempatan, kan? Cie ciee…” godanya terus.

Aura Dea sekarang sudah sangat berbeda. Ada semangat yang baru yang muncul di dalam dirinya saat ini. Semoga itu semangat yang akan terus dipertahankannya mengingat masalah demi masalah yang selalu merundungnya.

“Eleh… Dea juga udah dapat jatah, kan?” Farah balas mengolok-olok sepupunya itu.

“Yuk, bang Aseng… Cabut dulu bentar…” tanpa ragu Farah menyelipkan tangannya di ketiakku, menggamit tanganku—menggandengku.

“Eh… Mau kemana?” kaget Dea kala melihat kami berdua berdiri hendak meninggalkannya.

“Trus Dea ditinggalin disini sendirian? Farah tega-ihh…” ia berdiri juga. Mimik mukanya jadi lucu karena bingung harus bagaimana. Mau ngikut tapi takut hanya jadi pengganggu. Tetap di sini takut kesurupan sendirian.

“Aku ada buka kamar juga di sana… Sebenarnya Dea hanya ngalang-ngalangin kami… Tau, gak?” ia terus menarikku di gandengannya menuju pintu bermaksud keluar.

“Farah? Jangan kek gitu-la… Kasian Dea digara-garain terus… Nangis nanti dia-loh…” cegahku agak menahan seretan tubuh montoknya yang mengarahkanku keluar kamar. Kami berhenti di depan pintu.

“Loh?” Dea malah ikut-ikutan memegang tanganku. Gak sampe digandeng, sih memang tapi dah kek si Poltak raja minyak kurasa jadinya aku dengan dua cewek cantik di kanan kiriku.

“Ikuut… Gak berani sendirian di sini…” katanya lucu dengan memajukan bibirnya dimanja-manjain.

Farah melanjutkan niatnya, membuka pintu dan menarikku keluar dari kamar ini. Dea ikut terseret denganku dan terpaksa ikut juga keluar sepanjang lorong lantai hotel ini masih memegangi tanganku.

Dah jadi raja minyak betulan jadinya aku dengan dua binor bahenol mendampingiku. Moga-moga gak ada tetangga penghuni kamar yang kepo ngintip dan mengabadikan momen ini. Bisa mati BK (plat kendaraan bermotor Sumatera Utara)-ku.

Momen sampe ke kamar yang sempat kusinggahi sebentar tadi terasa sangat lama karena kedua binor ini entah ngapain selama perjalanan menuju tempat ini melakukan perang urat syaraf. Gak mungkin mereka sedang memperebutkanku karena aku gak pantas diperebutkan.

Tapi kejadiannya mirip seperti itu karena keduanya malah menggandeng tanganku jadinya dengan erat, hingga aku bisa merasakan kenyal payudara keduanya menekan lenganku yang mendadak kaku. Dea yang paling drastis perubahannya. Entah dari mana ia mendapat keberanian itu hingga ia menjadi agak binal. Apa meniru tingkah Farah?

Memasukkan kunci jadi terasa nyaman menyenangkan karena aku dengan leluasa bisa menyenggol-nyenggol payudara Dea yang menggandengku di sebelah kanan. Buru-buru aku masuk ke dalam dan memasukkan kedua binor itu juga ke dalamnya sekaligus agar tak menjadi masalah di belakang hari. Kututup pintu rapat-rapat.

“Kok jadi gini sih, Farah—umph…” bersandar di pintu memepetku, binor si Hussein ini menyerang bibirku dengan ganas. Tangan kananku yang masih digandeng Dea, pelan-pelan dilepasnya karena kaget melihat kenekatan sepupunya itu.

Hanya bisa melotot yang bisa kutujukan pada Dea, minta tolong ato bertanya padanya tanpa kata ‘Ini sepupumu kok agresif kali? Tolongin napa?”. Aku menggapai-gapai pada Dea minta tolong diselamatkan.

“Farah gak cukup cuma sekali, bang Aseng… Lagi ya?” bisiknya lirih di sela serangan mulutnya yang ganas mencaplok mulutku.

Disedot-sedotnya bibirku, lidahnya menjulur masuk dan menyapu mulut dan lidahku berdecap-decap. Tangannya meremas-remas batang kemaluanku yang menggeliat terangsang.

“Ahhss… Mmm… Sudah keras…” tanpa permisi tangannya menyelinap masuk dengan lancar dan langsung menggenggam Aseng junior yang menggeliat bangun. Lidahnya terus bermain di mulutku. Aku hanya bisa memandang Dea yang berdiri kikuk tak jauh.

Dea bingung mau tetap di sini dan menyaksikan ini ato kembali ke kamarnya dan beresiko dalam bahaya sendirian. Ia menggigiti bibir bawahnya bingung harus apa.

“Faraahh… Ah…” erangku karena binor agresif ini menyingkap bajuku dan menggigit putingku tanpa peringatan.

Apalagi jari-jari nakalnya meremas kembali bekas luka yang belum sembuh benar di dadaku. Lidahnya berganti-ganti menjilat dan mempermainkan dadaku dengan mata memperhatikan berbagai ekspresi yang tercetak di mukaku akibat prilakunya.

Kadang aku hanya bisa menganga kala ia menggigit lalu menarik daging otot dadaku yang luka. Rasanya perih dan sedikit enak bercampur jadi satu dengan anehnya. Kadang aku hanya bisa nyengir kala lidahnya menjentik-jentik cepat putingku. Dengan gerakan cepat dan lancar ia meloloskan kaosku hingga lepas dari badanku. Dilemparkannya sembarangan entah kemana karena ia mendesakkan badannya yang berdada montok pada dadaku. Ia menggigiti leherku.

“Jangan dicupang…”

Lidahnya melata berpindah ke telingaku dan tangannya lancar mempreteli celana yang kupakai hingga jatuh melorot. Gembungan celana dalamku akibat tonjolan Aseng junior pasti akan terlihat jelas oleh Dea yang menunduk tak percaya apa yang telah dilakukan Farah.

Dengan bantuan kaki, ia menekan celanaku yang masih berada di dekat lututku hingga mencapai mata kaki. Aku hanya memakai celana dalam saat ini. Malu rasanya ditonton perempuan lain yang tak terlibat dalam paduan nafsu yang digagas Farah ini.

Dea sepertinya sudah menetapkan hatinya untuk menjauh dari kami ketika jari-jari tangan Farah menelusup melewati karet waist-band sempakku untuk melepas busana terakhirku. Tapi tangannya disergap, dicegah untuk pergi.

Ia ditarik sepupunya mendekat dengan sedikit paksaan tenaga hingga terbetot merapat. Matanya terbelalak takala Farah beralih menyerang mulutnya. Binor si Hussein ini memperlakukan bibir Dea sebagaimana aku tadi, tak berkurang ganas. Kedua tangannya merangkul tubuhku dan tubuh Dea sekaligus hingga kami berpelukan rapat.

“Uhhgg…” desah Dea yang bibirnya disedot-sedot Farah dengan ganasnya. Tak dinyana, dibelakang sana ia meremas punggungku. Tangannya melata menggerayangi kulit punggungku.

“Ahh… Farah…” tangan Farah yang memerangkap kami berdua dipelukannya tak membuatnya kehilangan akal untuk merangsang Dea lebih jauh.

Ia menggesek-gesekkan payudaranya sendiri pada payudara Dea. Suasana begini tak pelak lagi membuat kami bertiga menjadi panas. Sebagai sesama tiga manusia dewasa yang aktif secara seksual, tak bisa dipungkiri lagi kalo kami semua sudah terangsang.

“Umm… Dea… Enak? Tadi kau udah ngerasain ini sebenarnya… Hanya saja kau tidak begitu sadar tadi… Kita ulangi lagi, ya?” Farah berusaha mempengaruhi Dea terus menerus untuk menikmati apa saja yang sedang terjadi di sini.

Tak menahan-nahan. Farah tak perlu menahan tubuh Dea lagi karena ia kini meremas-remas dada sepupunya itu dengan gemas selagi mulut keduanya bertaut erat. Dea juga membalas ciumannya. Aku hanya bisa menyaksikan kejadian itu dari jarak yang sangat dekat. Bagaimana lidah-lidah basah itu saling bertaut.

“Uhhmm… Bibirmu manis, Dea…”

“Bibirmu juga enak, Farah…” bergantian mereka memegang kendali arah pergumulan mulut. Saling kulum bibir, saling sapu lidah, saling sedot.

“Bang Aseng nganggur?” liriknya padaku yang masih menikmati tontonan menarik ini.

Farah tak sepenuhnya membiarkan tubuhku menganggur karena menekan-nekankan pinggulnya padaku hingga bagian itu menyentuh gembungan Aseng junior-ku yang menekan keras, tertekan di dalam sempak. Farah lalu meraih tanganku dan memberinya pekerjaan, meremas dadanya. Kenyal daging empuknya serasa sangat lembut lumer di tanganku.

“Giliran bang Aseng sekarang, Dea…” ia mengarahkan pipi Dea ke arahku.

Dea yang sudah dalam masa terangsang begini tanpa pikir panjang mencaplok mulutku dan langsung mempermainkannya. Bibir atas dan bawahku dipermainkannya bergantian. Disedot dan dikulumnya.

Lidahnya juga leluasa masuk ke rongga mulutku dan mencari, membelit lidahku. Desahannya terdengar sangat seksi. Satu tanganku berpindah ke payudaranya hingga kedua binor ini kuremas-remas sekaligus.

“Ahh… Umm…” Dea menjadi sangat liar dengan membuka kancing pakaian yang dikenakannya.

Ia sudah sangat hanyut dalam permainan ini hingga nekat membukanya di depan mataku, memamerkan tubuhnya yang sebelumnya malu-malu terlihat. Dengan cepat pakaian dan bra-nya lepas membuatnya bertelanjang dada.

Apa yang dilakukan Farah? Binor keturunan Arab itu merosot turun dan kini berjongkok di bawah kami. Ia sedang membelai-belai tonjolan Aseng junior yang sudah terasa sakit tertekan di dalam sangkarnya yang sempit.

Payudara Dea rapat tergencet padaku saat kami berciuman lagi. Dada kami yang sama-sama telanjang saling himpit. Tubuhnya terasa hangat normal kebalikan dari apa yang sudah dideritanya beberapa waktu lalu. Panas kepanasan dan dingin menggigit tulang.

Di sela saling pagut, kuremas payudaranya dan kupilin putingnya yang sudah menegang keras. Di bawah sana, Farah sudah berhadapan langsung dengan Aseng junior yang menantang wajahnya. Dengan enteng ia menelan bagian kepalanya dan mengenyotnya dengan sedotan kuat.

Bagian pelerku dipijatnya dengan lembut memberi rasa geli yang nyaman. Selagi memainkan Aseng junior, sadar kalo Dea sudah bertelanjang dada—ia juga melakukan hal yang sama.

Sambil menggelomoh Aseng junior, ia melepaskan crop top lalu bra miliknya. Dengan menungging-nungging ia kemudian membuka celana panjangnya hingga ia bertelanjang bulat dengan berani, masih bergumul bersandar di pintu hotel.

“Aahhss… Humm… Shhlkk…” ia mengerang-ngerang sendiri merangsang tubuhnya dengan meraba-raba dada dan pahanya.

Ia juga meremas-remas bokong Dea yang ada di dekatnya. Ditarik-tariknya pakaian yang masih menempel di tubuh saudaranya itu.

“Farahh… Jangann… Uuhh…” cegah Dea menahan celana panjang yang dikenakannya agar tidak melorot ditarik paksa Farah.

Sebelah bokong putihnya sudah terekspos sinar lampu kamar hingga berkilauan. Farah yang kesetanan menikmati Aseng junior-ku di mulutnya menggaruk apapun yang bisa dijangkaunya. Mulutnya mengerang karena sebelah payudaranya mendarat telak di dalam mulutku. Putingnya menjadi bulan-bulanan sedotan mulutku.

Lidahku bergetar-getar cepat menggelitikinya. Tanganku juga ikut bermain, menyeimbangkan apa yang sedang dilakukan mulutku. Pilin-pilin dan sentil ditingkahi remasan, memperparah bobolnya pertahanan Dea.

Rela-tak rela ia menyerah pada garukan tangan Farah yang berhasil melepaskan celana panjang jenis legging yang dikenakannya beserta celana dalamnya sekaligus. Farah mengocok Aseng junior-ku dan meremas-remas sebelah bokong Dea yang tebal dan kenyal.

“Aahh… Uuhmm… Dea…” ia menekan dan mendesakkan tubuh montok sepupunya itu lebih merapat padaku.

Dipermainkannya Aseng junior dengan menggesek-gesek pada permukaan lebat penuh jembut kemaluan Dea. Tentu saja binor ini menggelinjang kegelian bibir kemaluannya ditoel-toel sebatang kontol begitu.

“Faaraahh… Uhhh… Nakal ya, kamu… Aaahh… Geelii…” desahnya mulai binal saat terasa kepala Aseng junior terselip dan menggelitik bagian kacang itilnya yang terasa mengeras.

“Faaraahh!! Aahh… Baang… Farah nakal bangeeet… Uuhhh…” Farah mengadu tubuh kami berdua seperti boneka aja layaknya.

Dibentur-benturkan tubuh kami berdua, melaga kelamin kami yang berdenyut minta pelampiasan. Sekali waktu ia mengulum Aseng junior, melumurinya dengan sejumlah ludah lalu menggesekkannya lagi ke belahan vagina Dea.

Binor yang payudaranya sedang kunikmati ini semakin gila blingsatan. Kakinya mulai naik terangkat memberi akses lebih, lalu mengait pasrah.

Aku beralih mencumbu mulutnya lagi selagi kakinya yang terangkat, mengait di pinggangku kupegang erat kala kucoba mengarahkan Aseng junior memasukinya. Dea pasrah saja dan mengerang mendesah keenakan. Terima apapun yang kini menimpanya. Ia tak dapat menolak apapun yang kini tengah terjadi di kamar yang diinisiasi sepupunya sendiri.

“Ahh yaaa…” erangnya kala liang kawinnya yang sudah becek berkat dirangsang aku dan Farah terus menerus kusumpal dengan keras mengacung Aseng junior. Astaga… Betapa sempitnya liang kawin binor Aceh satu ini. Berdenyut-denyut memijit.

“Bang… Baangg… Ahh…” ia memeluk tubuhku erat-erat kala kulesakkan Aseng junior dalam-dalam di posisi berdiri begini.

Kutekan erat tubuhnya hingga tubuh kami erat bersatu secara harafiah berkat unifikasi kelamin. Bergetar-getar tubuhnya padahal hanya coblosan awal. Kakinya terasa lemas hingga aku menambah topangan memegangi bagian bokongnya.

Tak tau apa-apa ia saat tubuhnya kudorong ke arah ranjang. Farah mengekori kami dengan girang. Ia bertepuk tangan melihat keberhasilannya telah menjerumuskan sepupu cantiknya ke dalam pelukanku. Kurebahkan tubuh lemasnya di atas ranjang sementara aku berdiri di tepi, masih di lantai. Kaki indahnya menjuntai pasrah mengangkang akibat tekanan tubuhku yang membelahnya.

Kusibak jembut lebatnya untuk melihat indah pemandangan momen bercokolnya Aseng junior dalam liang kawinnya. Bibir kemaluannya tergencet tersibak kesamping memberi jalan batang kerasku menembusnya. Nanar matanya menatap langit-langit kamar yang terang. Pandangan matanya menangkap wajahku dan Farah yang tersenyum lebar. Farah duduk di sampingnya dengan meremas-remas nakal payudaranya.

“Aahhh… Farahhh… Naaakal… Iiihh… Ahh… ah ah ah ah…” erangnya karena aku mulai menggenjot tubuhnya pelan-pelan. Ia mengerang tiap sodokan pendekku.

Luar biasa liang kawin Dea saat normal begini, tak bisa dibandingkan saat tak sadarkan diri waktu membeku tadi. Ini sangat jauh berbeda. Berdenyut-denyut enak memijit secara ritmis batang Aseng junior memberi sensasi yang sangat memabukkan. Ia melakukan ini secara tak sadar karena detak jantungnya yang bertalu-talu, memberi sentuhan tambahan di nadi yang ada di sekitar lingkar kemaluannya.

“Ah ah ah ah ah ah…”

Visual menyetubuhi seorang binor bernama Dea ini sangat indah. Ia bereaksi tiap sodokan yang kulakukan. Kepalanya menggeleng kanan kiri. Wajahnya ekspresif menampakkan jujur apa yang dirasakannya. Suara erangannya desah mendayu-dayu merayu. Payudaranya berguncang-guncang naik turun berputar. Lemak tubuhnya bergetar-getar lembut tiap hentakanku. Liang kawinnya mencengkram menggigit memijit.

“Ah ah ah ah ah ah…”

“Ayo, bang… Ewein trus Dea, bang… Yaahh… Mmm… Yaahh…” Farah menambah panas suasana persenggamaan yang digagasnya ini.

Sesekali ia menjamah tubuh Dea ato meremas payudaranya. Dea memejamkan matanya menikmati tiap sodokan yang kulakukan dan liang kawinnya bertambah basah pertanda ia semakin terangsang. Bentar-bentar lagi pasti akan orgasme dari tanda tubuhnya yang makin gelisah. Padahal belum sampe lima menit dirinya kugenjot.

“Jyaahh…” benar saja, perutnya sedikit terangkat.

Aseng junior digenggam kencang di dalam liang kawinnya. Berkejat-kejat tubuhnya seperti kembali sedang kesurupan hantu Burong Tujoh itu. Dipijat-pijat ritmis batang Aseng junior dan kalo tak kukendalikan diriku dengan teknik pernafasan, pasti aku akan mengekor orgasmenya dengan ejakulasi sangking nikmatnya.

Kuelus-elus permukaan kemaluannya yang ditumbuhi jembut lebat saat Farah turun dari ranjang dan memelukku dari belakang—memberiku rasa nyaman untuk rela melepas binor yang baru saja orgasme ini. Farah melepaskan silaturahmi kelamin kami, ia membantuku mencabutkannya. Ada untaian benang cairan tipis yang menghubungkan aku dan Dea yang akhirnya putus di hentakan tangan Farah yang meratakan cairan lengket pelumas Dea. Akibat orgasme barusan, Dea kembali mematangkan sel telurnya, siap untuk dibuahi di masa suburnya ini. “Giliranku ya, bang…”

Buru-buru Farah membaringkan dirinya tepat disamping Dea yang masih terkulai lemas dengan kaki terbuka lebar dan vagina menganga becek. Masih ada kedutan di liang kemaluannya. Nafasnya masih ngos-ngosan menyebabkan dadanya naik turun menggemaskan. Farah melebarkan kakinya terbentang, membasahi jarinya dengan ludah dan membalurkannya lalu menggesek-gesekannya di belahan kemaluannya sendiri.

Yang tertangkap di netraku malah rambut-rambut lebat pendek yang tumbuh di pinggiran bibir kemaluan Farah. Rimbun menjelajah jauh bahkan sampai mengitari sekitar anusnya. Lebat kalipun jembut binor Arab satu ini, kalah aku aku dibikinnya, bah. Farah mendesah-desah tak sabar untuk segera dicoblos, menantiku yang sedang mengatur nafas yang dikamuflasekan dengan mengocok pelan Aseng junior.

“Hhhssss… baaangghh… Uhh… Cepetan, bang…” ujarnya binal menggeol-geolkan pantatnya gak sabar.

Kugesekkan bagian kepala ke kacang itilnya untuk meratakan cairan pelumas yang berguna untuk melancarkan perjalanan masuk Aseng junior bentar lagi. Targetku sudah terlihat jelas, liang kawin Farah sudah sedikit menganga akibat bentangan kakinya yang lebar terbuka. Kucelup-celupkan untuk mencoba kesiapan liang itu. Terasa hangat dan basah lagi mengatup saat ujung kepala Aseng junior terbenam. Rasa geli enak yang sangat familiar.

“Uuhhh… Aahh… Yaaahhh… Itu diaaa… Ahh…” desah Farah merasakan lesakan Aseng junior yang tergelincir masuk menelusup dalam di kepitan hangat liang kawinnya yang sudah sering dikawinin pentol Arab. Aku beruntung masih sanggup memuaskannya dengan ukuran standar kejantanan Indonesia-ku ini.

“Ahh… ahh… ahh… ahh…” desahnya kala masih perlahan saja kuayunkan pantatku memompa liang kawinnya.

Garukan ujung kepala Aseng junior cukup lumayan terasa di dalam lorong liang kawinnya. Farah lumayan menggelinjang merasakan gatal-gatal geli di dalam liang kawinnya yang haus akan kejantanan ini kugaruk dengan Aseng junior yang mulai meningkatkan intensitas sodokannya. RPM mulai meningkat. Sodokan mulai bertambah cepat dan ditambah dengan variasi sudut tusukan yang mengambil sisi kiri tubuhnya.

Berkat teknik tambahan ini, garukan Aseng junior semakin bertambah kerasa sebagai kompensasi panjang dan diameter kejantananku yang kurang dari yang biasa menyapanya. Luas cakupanku bertambah dan itu membuat Farah menjadi menggelinjang menggila. Keedanan akan rasa nikmat yang menyodok-nyodok isi liang kawinnya.

Dea yang ada di sampingnya tersadar akan gelisah gerakan sepupunya yang mendapat giliran setelahnya. Ia memandangi ekspresi mesum yang tampak di wajah peranakan Arab sepupunya itu dengan rasa takjub. Jeritan dan erangan lepas perempuan itu sungguh menggugah selera. Selera untuk terus mengentotinya—mengewe dirinya, meminjam istilah Farah.

“Bang Aseeenghhh… Ahh… Auuhh… Mmmbb… Yaahh… Itu-itu… Ahh…” Farah makin menggila. Tubuhnya berguling ke kanan kiri secara liar. Pinggulnya harus kupegangi agar liang kawin nikmatnya tidak kemana-mana, masih kupake ini.

“Deaa… Enaak, Deaa…. Ahhh… Banghh Aseeengg… Uuhh…” ia mengerang tak jelas siapa yang diajaknya bicara karena ia hanya sedang menikmati ekstase yang mendera tubuhnya. Dea iseng merangsangnya, membalas dengan menjawil-jawil payudaranya yang berguncang-guncang awalnya. Lalu berlanjut pada remasan.

“Enak tadi, Dea?” sapaku disela-sela genjotan gencarku pada liang kawin Farah. Aku memeluk sebelah paha Farah yang menempel di pinggul Dea yang kakinya masih terbuka.

Dea tersenyum lebar masih malu-malu ternyata. Tangannya masih sibuk membalas payudara Farah. Apa bakalan masih malu kalo kuginiin?

“Aahh… Baanggss… Uhhss…” dengan jari, kujejali vagina merekah yang terbentang di hadapanku.

Aku sekaligus mengentoti dua binor. Satu pake Aseng junior, satunya harus pake jari dulu. Farah dan Dea kini saling erang sahut menyahut. Bahkan dengan garang, kutambahkan jari sehingga dua jari yang menyodoki liang kawinnya yang kembali ritmis memijat.

Mendapat kenikmatan bersama-sama, dua binor tak dapat menahan diri untuk menjangkau sesuatu untuk dicium dan itu membuat keduanya saling pagut dan remas. Pemandangan ini sangat spektakuler. Dua binor bersepupu menggelinjang keenakan di hadapanku dengan kaki lebar mengangkang. Satu disodoki batang kemaluan Aseng junior-ku dan yang satunya menikmati pompaan dua jariku di masing-masing kemaluan.

“Aauuhh… aahh… ahh…” berkejat-kejat tubuh Farah mendapat kenikmatan orgasmenya.

Jariku yang lebih fleksibel juga membuat Dea juga menyusul sepupunya. Dua binor itu menggelepar seperti ayam potong meregang nyawa menggapai kenikmatan dunianya. Aku mencabut Aseng junior-ku buru-buru agar tak terpengaruh. Kucekik pangkal penisku sendiri agar jangan ejakulasi dulu. Kuatur nafasku baik-baik untuk meredakan syahwatku yang menggebu-gebu.

Duo binor bersaudara itu berbaring pasrah dengan kaki lebar terbentang dengan dua liang kawin yang menggiurkan. Masing-masing dengan keistimewaannya tersendiri, dengan jembut yang sama lebatnya. Kedua kecantikan yang berdasarkan ras keduanya yang memberikan cita rasa yang khas.

Aku sudah dapat menguasai nafasku hingga jantung ini tidak berdegub terlalu kencang lagi. Aliran darahku juga sudah berjalan normal lagi. Tingkat ereksiku masih maksimal karena syahwatku masih terjaga.

Mengelus-elus lutut kedua binor yang masih mengerang-ngerang keenakan akibat orgasme yang hampir berbarengan. “Udahan, baaang?” tanya Farah yang masih belum puas keknya. Aku menggeleng dengan menunjukkan Aseng junior yang masih dalam betotan tanganku.

“Giliran Dea lagi ya sekarang…” sahutku bergeser sedikit ke samping ke arah Dea.

Mulutnya terbuka akan mengatakan sesuatu tapi tak jadi. Ia malah melebarkan kakinya untuk menyambutku. Lembab permukaan vaginanya menyambutku dengan suka cita. Farah menatapku ingin protes tapi gak terucap karena dirinyalah penggagas ide threesome FFM ini. Tentunya ia membagi diriku secara adil dengan Farah.

“Awak masuk lagi ya, Dea…” permisiku sebelum mulai mengarahkan Aseng junior ke belahan vaginanya yang menyambutku dengan bentuk merekah penuh birahi.

Di dalam rahimnya sudah menuggu sel telur yang dimatangkan orgasme-orgasme sebelumnya. Aku hanya fokus menatap bidikan Aseng junior dan aku tau Dea menatapku dalam-dalam dengan menggigit bibir bawahnya.

“Aahh…” erangnya begitu Aseng junior meluncur masuk dengan bebasnya. Menerjang masuk dengan gagah berani kelelep di lingkungan basah lagi panas itu. Berpetualang menyerang lawan tarungnya, menelusuri dungeon penuh gelora dengan musuh akhir yang harus diserbu dengan serangan pamungkas tembakan jutaan peluru sperma. “Ah ah ah ah ah ah…” erang Dea menerima sodokanku dengan ekspresi aslinya. Matanya terpejam, tangan berkait di antara dadanya seperti sedang berdoa. Payudaranya berguncang-guncang indah tiap lesakan memompaku.

“Farah pake tangan aja, ya?” usulku seperti yang sebelumnya kulakukan pada Dea.

“Gini aja, bang…” Farah malah berguling mendekati Dea, menghimpitnya dengan bokong teracung searah dengan gerakan memompaku pada liang kawin Dea.

Pinter nih si Farah improvisasi. Keindahan pantatnya yang bulat dengan pinggul penuh terpampang jelas.

Kakinya menekuk dan menahan kaki Dea agar terbuka lebih lebar. Perutku membentur-bentur bagian bokong padatnya seolah aku sedang mengentoti keduanya sekaligus.

“Bisa ganti-gantian, bang…”

Benar juga. Rekahan vagina Farah bisa dengan mudah dicoblos di posisi ini. Hanya saja aku harus sedikit berjinjit ato menekan turun bokongnya agar sejajar dengan tinggi posisi Aseng junior.

Sementara ini, aku hanya meremas-remas pantat sekalnya dan menikmati pemandangan jembut lebat yang tumbuh sampe ke belahan pantat Farah. Dengan jari, kumain-mainkan bibir kemaluan binor si Hussein keparat itu buka tutup. Lubang liang kawinnya mengerling genit minta pelampiasan segera.

Farah yang berhadapan, menghimpit Dea kembali bergulat lidah dengan sepupunya itu. Melihat perempuan melakukan ini masih dalam toleransiku. Pria masih suka melihat adegan lesbi dari pada gay, tul gak? Keduanya mengerang dan mendesah. Dea dengan liang kawinnya kusodok-sodok menghentak dengan Aseng junior sementara Farah dengan jejalan jariku.

Kira-kira cukup dengan liang sempit Dea, kucabut dan segera kuarahkan memasuki Farah. Binor itu mengerang panjang merasakan sumpalan kejantananku memasukinya. Tekanan posisi doggy style berbeda dengan posisi konvensional missionary.

Posisi tunggingan pantatnya memberi tekanan berbeda tiap beda sudut kemiringannya. Kali ini sodokanku banyak menekan bagian ususnya yang mungkin juga menggerus prostatnya. Memberi sensasi berbeda. Geli-geli nyeri gimanaaa, gitu.

Apa yang didapat binor si Fahrul di keadaan ini? Hanya Farah yang dapat mengakses dirinya karena posisi ini menutup jalanku menyentuh dirinya. Dea harus berpuas diri menikmati sentuhan sepupunya yang lebih banyak menikmati enak yang dirasanya dari pada merangsang dirinya. Dea lebih pasif.

Seharusnya ia berinisiatif merangsang Farah dahulu agar mendapat rangsangan balik mengisi kekosongan menunggu gilirannya kembali.

Aseng junior-ku terus menggedor-gedor liang kawin Farah dengan perutku menepuk-nepuk pantat tebalnya bersuara tepukan ‘plok-plok-plok’. Sesekali Farah mengajak Dea berciuman lalu lepas karena mengerang menikmati penisku yang menusuk miring ke samping. M

enggesek banyak dinding kemaluannya fokus ke satu sisi saja yang terbukti bisa membuatnya puas. Cukup! Aku balik ke Dea begitu Aseng junior kucabut dari liang kawin perempuan keturunan Arab itu. Farah mengerang-ngerang belum merasa puas walo ada getar-getar sedikit di tubuhnya.

“Cuusshh…” Aseng junior meluncur masuk lagi memasuki liang kawin binor si Fahrul ini.

Semoga program hamil versiku ini dapat berhasil sebelum program hamil mahal yang akan mereka jalani akhir pekan nanti di Kuala Lumpur. Dea mengerang ditambah himpitan tubuh Farah.

Ada dua pasang payudara montok saling himpit dan rangsang di depan sana tapi aku sudah cukup menikmati dua liang kawin yang tersaji bebas di hadapanku mau yang mana yang dipake. Bebas.

Tapi aku ada rencana sendiri… Mereka berdua pasti suka. Dan rencanaku itu akan memasuki masa matangnya sebentar-bentar lagi. Udah ada terasa geli-geli enak tanda akan ejakulasi. Rasa nikmat di kepala Aseng junior. Gelegak sperma matang yang tak sabar menyerbu memasuki rahim menjerit-jerit minta tanda afirmasi menyerang.

“Dea! Deaa!! Akh… Croot croot croott…” tiga kali semprotan penuh sperma kental menyembur kencang memasuki lorong kemaluan binor berdarah Aceh itu lalu kutahan sejadi-jadinya rasa nikmat itu. Kucabut langsung kupindah ke liang kawin Farah.

“Croott croott croott…” bersambung semburan spermaku memasuki liang kawin Farah juga. Sekali entot dua binor disemprot.

“Ahh ahh ahh…” kedua binor mengerang menerima semburan panas spermaku yang memenuhi rahimnya.

Tak sebanyak yang seharusnya tapi mereka harus rela berbagi. Bahagia kali si Aseng junior dapat ngecrot di dua binor sekaligus. Binor kualitas super yang dengan sukarela dirinya dimasuki si durjana Aseng junior ini. Kuoles-oles kemaluanku berganti-ganti antara dua bukaan indah berselemak sperma itu.

Sesekali kutusuk lagi berganti-ganti, membuat rasa merinding geli yang sangat nikmat sampe ke ubun-ubun. Cara ini pernah kulakukan pada saat threesome FFM-ku terdahulu dengan kak Sandra dan Dani di kamar hotel saat seminar dulu. Dari sana keduanya malah cinlok lesbong.

“Apa ini, bang?” tanya Farah saat kuletakkan sebuah bantal masing-masing mengganjal pantat mereka berdua.

Dea berganti-ganti menatap aku dan Farah hendak menanyakan hal yang sama. Kupaskan posisi bantal-bantal itu agar tepat mengganjal spermaku menggenang dahulu di rahim keduanya untuk bekerja optimal—membuahi sel telur yang sedang matang sempurna di dalam rahim.

“Biasanya kek gini kubikin biar cepat hamil… Biar gak cepat keluar dulu… Tahan bentar, ya?” jawabku.

“Ahh…” kurebahkan tubuh penatku di ranjang di samping Dea.

Tubuhku yang belum prima benar dari luka-luka paska tarung dengan para Banaspati itu harus kerja keras begini menghadapi dua binor dalam FFM.

Dea menatapku dalam posisi masih berbaring. Ada sesuatu yang diharapkannya.

“Bang Aseng… Di tengah sini, dong… Biar bisa sayang-sayangan bentar…” seru Farah menyuarakan keinginannya.

Mungkin itu juga yang ingin diutarakan Dea lewat tatapannya barusan. Farah menepuk-nepuk ruang kosong di antara dirinya dan Dea untukku golek-golek manja. Di situ? Enak sih… Tapi kalo sayang-sayangan akan sangat intim. Apa lupa mereka berdua kalo dalam hubungan ini tidak boleh ada baper-baperan?

“Sayang-sayangan biasa aja, ya? Gak pakek cinta-cintaan… Kata nenek itu berbahaya…” ujarku mengingatkan keduanya akan perjanjian yang kami buat masing-masing akan pasal pertama ini.

Ada senyum dikulum di bibir keduanya karena masing-masing merasa punya rahasia manis tersendiri padahal identik isinya. Kurebahkan tubuhku di antara keduanya. Rasanya nyaman bersentuhan kulit dengan kedua binor ini. Farah kembali iseng meremas-remas kulit dadaku yang luka.

“Sakit, Farah… Parah nih orang…” kataku mengaduh.

“Ini bekas luka semua, bang?” sadar Dea pada lengan dan dadaku yang baru disadarinya saat tidak bersenggama begini.

“Jagoan memang kek gitu, Dea… Luka abis berantem semua itu… Macho, kan?” kata Farah tak kunjung berhenti menyakiti lukaku. Kutepis tangannya yang nakal. Ia pindah menjamah Aseng junior jadinya. Mending di sana.

“Iya… Macho… Bisa berantem sama hantu lagi… Macho abis…” kagum Dea dengan suara pelan malu-malu.

“Sering berantem sama hantu kalau begitu ya, bang Aseng?” tanyanya penasaran karena aku sesumbar akan menolongnya menghadang para Burong Tujoh itu. Tanpa sadar tangannya mengelus-elus lenganku yang baret-baret bekas luka.

“Gak sering, sih… Pernah-la beberapa kali… Don trai dis et hom… Its beri beri denjeras…” kelakarku agar ia lebih luwes karena kami akan lebih sering interaksi ke depannya karena janjiku itu.

Ia tertawa terkikik menutup mulutnya dengan imut. Gundukan payudaranya berguncang sedikit karenanya. Farah kemudian bermanja-manja memeluk dan mengocok-ngocok Aseng junior. Mungkin ia berharap aku bisa ngaceng lagi. Tentu saja bisa, ladies…

***

Pagi itu aku direpeti orang rumahku lagi karena dalam masa istirahat liburanku aku pulang menjelang pagi lagi. Kek bocah yang bersalah memecahkan guci keramik mamak yang paling berharga, ngalah-ngalahin keramik Dinasti Ming, aku duduk diam aja menerima semprotan repetan dirinya.

“Orang lagi sakit kok keluyuran sampe pagi kek gini… Mentang-mentang hari ini masih libur… Itu perginya tadi sama siapa? Dijemput Iyon? Ato si Kojek?” cecarnya terus.

“Sama Iyon…” jawabku pendek.

Maafkan daku sobat. Aku memalsukan namamu dalam skandalku ini. Pasti di sana dia lagi batuk-batuk ato bersin-bersin namanya kucatut begini.

“Itu lagi teman-temanmu itu… Gak tau temannya lagi sakit diajak keluyuran terus… Ngebahas apa klen rupanya?” tanyanya mencecarku dengan pertanyaan menjebak.

Kalo saja dia diberitau Vivi aku pergi dengan siapa tadi malam, bukan ini yang ditanya pasti. Pasti akan lebih pedas pertanyaannya. Padahal mata masih sepet minta ditidurkan, masih aja diberondong dengan berbagai macam pertanyaan.

Suaranya menggema di dalam kamar ini. Ia berani bersuara keras begini karena Salwa tidak ada di sini. Salwa sudah punya kamar sendiri. Hanya saja box tidurnya masih ada di kamar ini kalo sesekali ia rewel dan minta sama mamanya. Dari temaram lampu kamar aku bisa melihat kedip-kedip lampu baby-monitor yang berwarna merah kecil-kecil.

Panjang kali lebar kali tinggi aku direpetinya. Sampe di ruang makan, repetannya tak kunjung berhenti. Vivi yang berani duduk di situ mengejekku. Ngata-ngatain aku ‘Mampus!’ tanpa suara. Hanya bibirnya aja yang bergerak. Ia pura-pura sarapan lagi kala istriku menghadap padanya.

“Ini mau kuliah ato ngajar, Vi?’ tanya istriku melihat penampilan Vivi yang modis.

“Dua-duanya, kak… Kuliahnya cuma nyetor bab skripsi aja untuk diperiksa dosen pembimbing Vivi… Agak siangan dikit ada ngajar kelas juga…” jawabnya sambil menyuapkan potongan telor mata sapi yang dilumuri kecap miliknya. Istriku manggut-manggut paham. “Bang Aseng nanti malam belum mulai masuk kuliah, ya?” lagumu, Vi… Pertanyaan basa-basimu itu… Basi!

Aku hanya menggeleng malas menjawabnya karena mataku benar-benar ngantuk. Bisalah tidur dulu sepukul. Zzz…