The Baby Maker Part 12

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22

Cerita Sex Dewasa The Baby Maker Part 12 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya :The Baby Maker Part 11

 

“Kan untuk itu tujuan utama Yuli pengen hamil… Memberikan anak untuk bang Suradi dan cucu untuk mertua… Jangan sedih, dong?” hiburku dan tanganku menangkap dagunya.

“Tapi nanti gak bisa ketemu bang Aseng lagi-lah… Bang Aseng juga gak bisa liat dedek bayinya nanti… Kampung kami jauh dari sini, bang…” sesalnya. Air mata menetes di pipinya. Air mata berlinang tanda ia benar-benar kepikiran ini.

“Hush… ushh… Gak boleh begitu, Yuli… Ini anak bang Suradi, kan? Awak gak pa-pa… Yuli gak boleh sedih-sedih begitu… Nanti dedek bayinya juga ikut sedih-loh… Nanti kirim aja fotonya… Kan awak tetap bisa liat… Gak pa-pa…” kataku lalu mengecup keningnya sebagai penyemangat.

“Uuung… Ini, doong?” tunjuknya di bibirnya yang dimajukan. Ngapa jadi pada manja gini, ya?

Aku agak menunduk karena ia lebih pendek dariku dan kukecup bibirnya sedikit lama dengan lumatan ala kadarnya.

“Cups… Dah… Dedek bayinya juga…” aku lalu berjongkok dan menyentuh perutnya yang belum begitu kentara gendutnya.

Kuusap-usap perutnya dari luar dasternya. Yuli inisiatif mengangkat bagian bawah daster itu hingga perutnya terlihat jelas di depanku. Ia tersenyum lebar. “Cup… cup…cup…” kukecup perutnya yang lebih besar tiga kali.

“Sehat-sehat ya, deek…” elusku kemudian menambah.

“Huuhh… Pengen kelonan sama bang Aseng… Tapi sama dokternya, dikasih tau gak boleh masuk dulu… Katanya dedek masih terlalu muda… Huuh…” gerutu Yuli lalu memelukku rapat-rapat dan membenamkan pipinya di dadaku.

“Gak bisa nyerpis papa Aseng deh jadinya…”

“Gak pa-pa, Yuli… Bisa begini aja awak dah senang, kok… Apalagi tau dedek bayinya sehat… tambah senang awak…” jawabku ngeles mengelus-elus rambutnya. Kalo disuruh kelonan siang-siang gini alamat sakit semua badanku abis itu. Tapi ia tak menyerah karena tangannya langsung mencaplok Aseng junior yang tidur-tidur ayam di kandangnya.

“Yuull?”

“Awak isepin aja, yaaa? Kangen ini…” bujuknya malah merogohkan tangannya memasuki celana selututku dan langsung menemukan juniorku.

“Aa… Gak usah lama-lama, yaa? Udah sore…” kataku. Ini seharusnya udah jam 4 gitu.

“Tenang aja… Yuk…” diseretnya aku memasuki kamar yang kerap kami gunakan kala bergumul birahi.

Ada banyak kardus-kardus yang berisi berbagai barang yang ditumpuk di sini. Sepertinya kepindahan yang diceritakan Yuli tadi sudah semakin dekat. Ia membentangkan kasur tipis itu di tengah kamar.

“Jangan berisik… Pelan-pelan… Anakku sedang tidur di sebelah…” bisiknya sembari melepaskan daster yang dikenakannya hingga hanya terlihat pakaian dalam sempit miliknya.

Tak lama ia melepas bra sempit itu dan melompat keluarlah melon super 38DD yang sudah sesak minta keluar. Celana dalamnya tak dilepas. Ia memberiku kode untuk berbaring di kasur tipis.

Dengan mudah Yuli melepas celana selututku beserta sempaknya sekaligus dan Aseng junior sudah mengacung belum begitu tegang. Mata Yuli berbinar gembira melihat juniorku yang sudah berhasil menghamilinya. Tangannya dengan cepat menggenggam dan otomatis mengopyok-opyoknya dengan gemas.

“Aahh… Yuli kangen ini…” ia menciumi permukaan batang Aseng junior dengan seksama.

Menghidu aroma kejantananku yang menguar keras. Ia sama sekali tidak jijik membaui aromanya yang sedikit tajam karena kegiatanku seharian ini. Aku sama sekali belum sempat membersihkannya. Tak lama lidahnya menari-nari menelusuri tekstur keras Aseng junior yang sudah licin basah oleh liurnya.

“Gllokkhh… gllookk… glookkhh… Hmm… Ahhsss…” ia memasukkan Aseng junior kedalam mulutnya dan menyedot-nyedotnya dengan rakus.

Tangannya terus mengocok bagian pangkal penisku simultan dengan mulutnya yang bekerja dengan rajin. Payudara 38DD terasa lembut menekan-nekan pahaku. Digesek-gesekkannya hingga terasa puting besarnya menggerus kulit pahaku.

Terus mulut dan lidahnya bermain lincah. Rasanya sangat nyaman dan hangat sekali mendapat servis dari Yuli sore-sore begini. Aku hanya bisa mengelus-elus rambut dan bahu telanjangnya sambil mengerang-ngerang sepelan mungkin. Nikmat nian. Aku teringat proses awal pergumulan kami di penginapan itu.

Ia membayarku 100 juta untuk menghamilinya yang dibagi dua kali pembayaran. 50% dibayar dimuka saat aku mulai menyetubuhinya dan sisanya setelah ada kabar baik kehamilannya.

“Aauuhh…” erangku kala ia menjilat dan mengulum kedua bola pelerku.

Badanku merinding jadinya mendapat jilatan hangat di bola-bola berisi bibit suburku. Tangannya terus mengocok cepat, memancing isi penghuni peler itu untuk segera keluar.

“Aahh… Uuh…” erangku sangat menikmati.

Aku tak menahan apapun. Kalo cepat keluarpun tak mengapa. Yuli lalu fokus hanya di bagian kepala Aseng junior saja. Lidahnya menyentil-nyentil lubang kencingku lalu mengulumnya kuat.

Yuli memberikan sejumlah banyak ludah pada permukaan Aseng junior dan diratakannya. Lalu terasa kenyal daging montok 38DD kemudian mengambil alih. Yuli menjepitkan payudara masifnya untuk mengocok Aseng junior-ku.

Aku mengerang keenakan merasakan lembut dan kenyal yang lumer melenakan. Rasa nikmat dari licin ludahnya dijepitan sepasang gunung 38DD membuatku hanya bisa pasrah mengangkang, membiarkan Yuli melakukan apapun sesukanya. Lalu ia kembali mengocok menggunakan tangan saja, mungkin khawatir berlama-lama menekan perutnya yang tertekan.

“Tek tek tek tekk…” suara kocokan batang basahku dengan cepat.

Yuli menyedot kepala Aseng junior, lidahnya menyapu cepat berulang, tangannya mengopyok cepat, aku mengerang gelisah, Yuli mengerang mendukungku dengan tatapan bahagia…

“Akh…”

“Spuurtt… spuuurtt… spurrrtt…” semburan spermaku memasuki rongga mulutnya.

Tak ragu sama sekali ia mengenyot-ngenyot kepala Aseng junior, menguras semua yang tersisa. Tampak beberapa kali ia meneguk pertanda spermaku di telannya. Pelan-pelan tangannya mengocok pangkal penisku dengan perasan sedikit kuat untuk menguras semuanya keluar sempurna ke dalam mulutnya.

Yuli memamerkan sisa spermaku yang masih menempel di lidahnya. Lalu dengan sekali tegukan ia menelannya sampai tandas. Aku masih ngos-ngosan menggapai pada gunung 38DD-nya. Dengan patuh ia beringsut ke sampingku dan menyodorkan payudaranya padaku.

“Mmmbbhh…” mukaku langsung tenggelam dan lumer di kelembutan, kekenyalan daging kualitas super seukuran 38DD ini.

Bertambah usia kehamilannya, ukurannya akan semakin bertambah karena sekarang aja sepertinya bra-nya sudah sedemikian sempit dari yang kuingat pas menangkup.

Kekenyot-kenyot, kuremas-remas. Putingnya mengeras menggemaskan, pas diemut di mulut. Bayimu nanti akan puas menikmati ASI dari payudara mamanya ini. Yuli membiarkanku menikmati payudaranya sepuas-puasku karena ia masih menguleni Aseng junior di tangannya.

Pastinya ia sangat ingin sekali memasukkan Aseng junior-ku ke apem mlenuknya yang sudah becek. Ia sengaja tak membuka celana dalamnya karena kalo sekalinya dibuka, pasti akan terjadi penetrasi. Enak sih pastinya.

Tetapi bisa berbahaya karena kehamilan trimester awalnya ini masih rentan sesuai anjuran dokternya. Apalagi kalo aku yang ngentoti binor ini, minimal sekali dua kali dia bisa kubuat orgasme. Kontraksi orgasme ini yang kadang berbahaya.

“Makasih ya, Yuli… Enak…” kataku lalu bangkit dan duduk. Yuli duduk di pangkuanku. Aku masih meremas-remas 38DD yang ngangenin. Dalam koleksi binorku, memang ini tetek terbesar di antara semua.

“Udahan kangennya?” menatap matanya.

“Apem Yuli kremut-kremut pengen dimasuki… tapi gak boleh… Mana bisa udah kangennya kalo kek gini… Yuli bakalan kangen trus sama abang…” ia lalu memelukku lagi. Ia lalu terisak sedih.

“Ehh… Gak boleh sedih gitu, Yuli… Ini demi dedek bayinya kan? Yuli harus kuat… Semangat!” kataku berusaha memberinya kekuatan sebagai orang yang sudah menghamilinya. Semoga kata-kataku ini bisa didengarkan dan dicamkannya. Ia mengangguk-angguk walo masih terlihat sedih.

“Besarkan dia menjadi anak yang sehat dan bahagia… Awak akan selalu mendoakan kalian semoga selalu sehat dan sentosa…”

***

Menyamarkan diri, aku bergabung lagi dengan para tukang yang sedang beres-beres membersihkan sisa pekerjaan mereka sore ini. Ada yang sudah ganti pakaian dan ada yang sedang duduk di pojokan menikmati gorengan dan rokok. Eh… Ada yang menarik-narik bajuku.

“Ya… Apa?” tanyaku pada seorang anak menarik ujung bajuku itu. Anak ini lebih tua dari Rio, teman bermainnya rame-rame. Kukira ia akan menanyakan tentang Rio yang gak pernah keliatan lagi.

“Dipanggil ituh…” tunjuknya jauh ke belakang sana.

Aku melongokkan kepala untuk melihat siapa yang dimaksud anak kecil ini yang memanggilku, pake ngutus anak kecil segala. Nun sampai jauh disana, jalanan gang ini sepi. Hanya ada satu sosok yang berdiri di depan bangunan rumahnya.

“… bu Ipa…” langsung anak itu ngibrit lari menjauh setelah menjejali mulutnya dengan sebuah lolipop.

Binor itu berdiri di depan kede/warung yang menyatu dengan rumahnya sambil nyapu-nyapu jalanan dengan sapu lidi. Bekas jajanan anak-anak yang beli di kede-nya banyak berserakan di sana.

Waduh…

“Sombong ya sekarang… Katanya cuma renovasi… Abis-abisan tuh keknya renovasinya…” kata Iva masih membersihkan bagian depan kede miliknya dari sampah yang berserakan.

“Gak-la, Pa… Pondasinya rupanya gak kokoh… Jadi daripada-daripada… harus dibenerin dari dasar… Sori yaa… Gak ngabar-ngabarin sekian lama…” kataku mencoba berbaik-baik aja. Eh… Iva-nya malah masuk ke dalam kede.

“Sini…”

Dibalik etalase kecilnya, ia memanggilku supaya masuk ke bagian dalam kede. Begitu aku masuk, ia mengintip ke luar, ke arah jalan gang yang lengang. Ia lalu menutup pintu besi kede-nya rapat-rapat. Wah… Aku masuk ke dalam sarang apa ini? Dibilang sarang perawan, binik orang. Sarang enak-la namanya.

“Mbbhh…” begitu berbalik, ia langsung aja menyerangku dengan cumbuan mulut bertubi-tubi.

Sampai dipepetnya tubuhku ke araha jajanan yang digantung berjuntai-juntai di dinding kede-nya. Ia tak memperdulikan beberapa rencengnya jatuh berderai-derai, lebih mementingkan rasa kangen yang kurasakan menggebu-gebu, terasa jelas dari dengusan nafas memburu.

“Aseng beib jahat… Ipa kalo kangen gimana?” katanya disamping pipiku berbisik setelah melepas bibirnya dari mulutku.

Mulutku terasa basah oleh liur cumbuannya barusan. Ia memposisikan kedua tanganku untuk memeluk dirinya. Tangannya sendiri bertaut erat di punggungku. Sedikit lagi akan menyentuh bagian punggungku yang sakit.

“Masa kangen sama lakik orang, bu Ipa? Gak boleh-laa…” jawabku lirih.

Sela pintu besi penutup kede-nya walo rapat, masih membiaskan sinar dari luar yang sedikit menerangi ruangan ini. Disini, diantara berbagai barang-barang dagangan warungnya, ada banyak memori indah pergumulan kami berdua. Aku mengurai rambut yang jatuh di depan matanya.

“Tapi Ipa kangen~~… Aseng beib menghilang lama kali… Renovasinya lama lagi tuh…” mukanya menyembul dari pertemuan tubuh kami.

“Dedek bebinya juga kangen papanya nih~~…” ia melebarkan jarak antara kami berdua untuk menunjukkan perutnya yang memang lebih buncit dari biasanya karena tubuh langsingnya, kain bagian bawah tanktop-nya dinaikkan.

“Tiap hari nanya~~… Papa Aseng mana, ma? Papa Aseng mana? Tuh~~… Iih…” ia menampilkan muka manjanya lagi dengan mulut merot sana merot sini penuh ekspresi menggemaskan.

“Masa dedek bebinya bisa ngomong gitu? Mengada-ngada, nih…” ujarku lalu beringsut turun menunduk dan berjongkok di depan perutnya.

“Orang dedek bebinya aja bobok gini, kok…” imbuhku setelah mengecupi lalu pura-pura mendengarkan perutnya.

Kuelus-elus perutnya dengan lembut. Ia memandangiku dengan penuh perasaan yang tak ingin kuingat-ingat.

“Mamanya aja paling yang kangeeen?”

“I-ihh~~…” Iva menghentak-hentakkan kakinya pelan saat ku memegang kedua buah bokongnya dan sedikit meremasnya. Ia memakai tanktop dan boxer yang hanya setengah pahanya. Karet boxer-nya membalut ketat di bawah perutnya.

“Aseng beib apa gak kangen?” desaknya.

Gini kalo ngadepin bumil. Dilema antara harus menyenangkan hatinya ato menjaga hatinya. Beda? Membuatnya senang dan membuatnya bahagia tentu berbeda. Membuatnya senang bisa dengan mengelus-ngelus perutnya, membiarkannya mencumbui mulutku untuk kali ini saja. Membuatnya bahagia berarti membiarkannya memilikiku—hal yang mustahil.

“Kangen-loh… Iya, kangen… Hup…” kubopong dirinya kek foto-foto pre-wed itu. Tangan menahan punggung dan lipatan lututnya. Walo kerasa sakit seluruh tubuhku, kupaksakan diriku menggendongnya. Memberinya rasa senang itu.

“Ada siapa di dalam rumah?” tanyaku sebelum lebih jauh bertindak.

“Gak ada siapa-siapa… Toni mancing… Ara pergi sama budenya… Ipa aja sendirian trus di rumah tiap hari…” jawabnya dengan mulut manyun.

“Awak nenenin sebentar, ya?” benar itu tulisannya.

Bukan typo. Sumringah wajah Iva mendengar kata vulgarku barusan. Dari chat kami sebelumnya, aku juga tau kalo Iva juga disarankan untuk menjaga baik-baik kandungan mudanya. Mengurangi kunjungan hubungan suami istri, bahasa halus dokternya.

Kadang menyenangkan hati seorang perempuan itu hanya perlu dinenenin, dikenyot-kenyot sampe puas. Ia hanya perlu itu saat ini. Kugendong tubuhnya ke kamarnya lalu kubaringkan pelan-pelan ke peraduannya. Walo udah sering kugumuli, perlakuanku ini tak kurang membuatnya tersipu-sipu malu begitu.

Tanktop-nya kugulung ke atas pelan-pelan untuk menampilkan bagian dadanya yang berbungkus bra ketat. Kubiarkan dadanya yang membusung naik turun untuk sementara ini karena aku mengelus-elus perutnya. Kuajak ngobrol janin yang masih sangat muda di dalam perutnya dengan elusan-elusan berputar.

Kukecup-kecup juga. Semua perbuatanku itu tak luput sedetikpun dari pengamatan Iva. Ia tersenyum-senyum melihatku yang sedang berkomunikasi dengan mahluk imut di dalam rahimnya. Aku tau ia sangat bahagia.

Bahagia akhirnya ada kehidupan yang berkembang pesat di dalam perutnya. Yang sudah lama dinanti-nantikannya sampe harus pake pancingan mengambil anak dari saudaranya sendiri.

“Dedek baik-baik ya sama mama Ipa… Mamanya dijagain… Jangan nakal sama mama… Awas kalo nakal… nanti nenennya diambil kek gini… Kek gini, nih… Nyuumm…”

“Ahh… Hi hi hihi…” geli Iva kala branya kusingkap dan langsung kukulum bagian pentilnya yang kini mulai gelap membesar dari biasanya.

Mempersiapkan kelenjar-kelenjar mammary-nya untuk memproduksi ASI pada masanya nanti. Memperlebar aerola sempitnya hingga mempertebal putingnya agar memudahkan bayi menyedot air kehidupan darinya nanti.

Kali ini aku dulu yang menikmatinya. Iva mengelus-elus kepalaku bak menyusui bayi raksasa yang tak kunjung disapih. Jempolnya pelan-pelan mengelilingi luka yang ada di atas keningku, di batas rambut terakhir tumbuh. Ia tak menanyakan asal luka itu tetapi berusaha meredakan rasa perihnya dengan mengelusnya berputar.

Puas dengan satu sisi, aku berpindah ke sisi satunya. Iva berbaring nyaman menikmati perlakuanku pada kedua bukit manjanya yang kian membesar. Tangannya terus mengelus-elus rambutku selagi aku mengenyot dan meremas. Sesekali ia mengerang lembut dengan mulut menganga. Lalu mendesah-desah dengan pinggul bergoyang.

“Udah basah, bang… Tapi masih belum boleh dipake~~…” gerutunya lucu dengan mulut manyun. Kedua bukit manjanya kuremas-remas.

“Sabar ya, Ipa cantik… Ini demi anak ini, loh… Yang sabar… Dinikmati aja masa-masanya… Masih sering mual-mual, enggak?” tanyaku mengecup bibirnya tipis saja.

“Seringnya sih pagi-pagi, beib… Senengnya makan yang asem-asem gitu… Sama kangen Aseng beib terus… Lewat rumah beib… tukang dekil mulu yang keliatan di sana… Untung ada anak-anak tadi yang bilang nyeplos kalo papa Rio ada di sana waktu dia beli jajan… Ipa seneng kali dengernya…” ujarnya.

Kududukkan tubuhnya lalu aku memposisikan diri di belakangnya dan membiarkannya bersandar padaku. Kuciumi aroma rambutnya sementara tanganku mengelus-elus perutnya.

Cuddling seperti ini sebenarnya sangat intim dan personal sekali. Tapi setidaknya ini yang bisa kulakukan untuk membesarkan hatinya, menyenangkan hatinya tanpa bisa membahagiakannya lebih jauh.

***

Berat hati sebenarnya Iva melepasku pergi dari kamarnya, dari rumahnya, dari jangkauannya. Tapi ada orang yang mengetuk-ngetuk pintu besi kede-nya untuk membeli sesuatu sehingga aku keluar dari pintu belakang setelah sebelumnya mengambil sendal jepitku yang kutinggal di kede.

Ini memang rute pelarianku kalo menyambangi rumah Iva malam-malam. Tapi ini masih sore dan lumayan terang sehingga aku ekstra hati-hati jangan kelihatan tetangga kanan kiri.

Lewat slalom berliku-liku menghindari jemuran pakaian yang sudah kering belum pada diangkat akhirnya aku sampai pada tempat ini. Sayup-sayup aku mendengar suara hoek-hoek orang muntah gitu.

Gak enak juga kalo sampe ngeliat itu tapi asalnya dari belakang rumah Pipit. Aku celingak-celinguk melihat sikon baik-baik. Bagian belakang rumah-rumah ini semua pada tutup pintu. Aman-la.

“Kenapa, Pit? sapaku kasual.

“Bang Aseng?” ia tercekat kaget menutup mulutnya. Matanya agak berair akibat muntah barusan. Masih dengan mata basah, ia memindai keadaan sekelilingnya, menarikku cepat dan menutup pintu.

“Hushh… hushh…” pelan kuelus rambut tebalnya untuk menenangkannya.

Ia membenamkan wajahnya di dadaku. Ia meremas erat bagian punggung baju yang kupakai ini. Meluapkan semua perasaan yang mungkin ada di dalam dadanya. Walo dalam keadaan begini, aku sebenarnya takut-takut gimana gitu. Gimana kalo lakiknya, si Imran ada di rumah? Kalo diajak gelut aku berani sesumbar gak akan kalah darinya, tapi implikasinya pasti melebar kemana-mana.

“Abang kemana aja, sih?” suara terbenam dadaku keluar dari mulutnya.

“Kami ngungsi dulu, Pit untuk sementara… Rumahnya lagi direnovasi abis-abisan gitu…” jawabku. Ini pasti dia sudah tau. Bukan itu sebenarnya yang ditanyakannya.

“Pipit nungguin bang Aseng datang… Bang Aseng gak datang-datang… Bang Aseng udah bosen ya ama Pipit?” ia masih membenamkan mukanya di dadaku.

Rasa perih di dadaku muncul lagi ditekan begini. Aku hanya bisa nyengir menahannya. Hangat pelukannya sangat erat hingga membuatku lupa akan bahaya yang mungkin datang dari keberadaan suaminya. Mungkin belum pulang. Dari posisi kami sekarang ini, aku bisa melihat ke arah garasi yang pintu penghubungnya terbuka, tidak ada mobil di sana.

“Bosen gimana? Gak bosen-loh, Pit… Awak hanya sibuk… Lagipula Pipit kan lagi hamil begini…” alasanku gak membuat perasaannya lebih sakit menambah penderitaan seorang bumil yang sangat sensitif perasaannya. Pengalaman dengan orang rumahku sendiri begitu. Pengalaman yang sedang berbicara saat ini.

“Pipit tambah endut ya sekarang?” tanyanya. Setauku ia hanya manja ketika di ranjang. Tapi saat ini ia menampilkan sisi itu dengan berpakaian lengkap.

“Jadinya Pipit jadi elek, yo?”

“Wis-wis… Opo yang elek?… Wong ayu gini… kok elek…” kupegangi kedua pipinya. Kedua jempolku mengusap air mata dari bawah horizon matanya. Lalu kuciumi kedua matanya yang otomatis terpejam menikmatinya.

“Muah-muah…” lalu keningnya. “Yo, wis… Ojo nangis-nangis lagi… Nanti si kecil juga sedih kalo mamanya sedih-sedih terus… Ya?” dan kututup dengan patukan kecil di bibir.

Senyum terkembang pada wajahnya. Matanya masih basah tetapi lebih baik keadaannya sekarang.

“Pipit seneng ketemu bang Aseng lagi…” ia membenamkan wajahnya lagi di dadaku dengan mood yang lebih baik sekarang. Senyumnya lebar. Kuhirup aroma rambutnya yang wangi.

“Gak puas cuma chatting… Enakan begini… Hmm…” ia mendusel-duselkan wajahnya di dadaku yang terasa perih. Tapi kubiarkan ia menyamankan dirinya.

“Bentar lagi jadi mama Pipit… Harusnya lebih seneng lagi, kan?” kataku mengingatkannya. Kepalaku lebih rajin mengelus-elus ubun-ubunnya.

“Dijaga yang baik si kecil ini… Rajin minum vitaminnya… Gak boleh capek-capek… Ikutin semua kata dokternya… Yah?” kecupku lagi di pucuk kepalanya.

“Iya, bang… Bang Aseng badannya luka-luka begini semua… Baret-baret gini…” sadarnya melihat garis-garis lebih terang dari warna kulitku.

Luka tergores itu sudah sepenuhnya mengering berkat meditasiku tadi siang. Sisa kulit itu di beberapa bagian sudah mengelupas menonjolkan lapisan kulit baru. Ditariknya tanganku lalu diciuminya bekas luka itu. Lembut bibirnya menyentuh halus.

“Bang Aseng jadi macho abis begini…”

“Ada-ada aja Pipit ini… Cobel-cobel gitu kok dibilang macho… Macam choro-iya?” gelakku. Kami sama-sama tertawa.

Agak lama aku di dalam rumah Pipit. Saat ia mengetahui luka lebam di punggungku, ia menawarkan untuk mengoleskan ramuan yang ia ketahui untuk mengurangi rasa sakit itu. Setelah menunggu sebentar ia membaluri beberapa titik lebam itu dengan param yang terasa hangat itu. Rasanya cukup nyaman lebih karena Pipit telaten melakukannya. Setelah selesai membaluri lukaku, ia kembali lendotan memeluk lenganku yang tak terluka.

“Bang Aseng mau nyapa si kecil, gak?” tawarnya.

“Boleh…” aku langsung berjongkok untuk menghadapi perutnya.

“Loh… kok?” mukanya bingung melihatku berjongkok.

Ia agaknya akan menelanjangi dirinya sendiri. Pipit sudah akan melepaskan celana pendeknya. Tangannya sudah di tepi karet.

“Nyapanya kemari, kan?” pegangnya pada selangkangannya sendiri.

“Udah lama…” Keknya ada miskomunikasi nih.

Maksud menyapa si kecil baginya adalah junior-ku menemui si kecil langsung di dalam perutnya. Tempat yang sudah kusemprotkan bahan bakar utama pembentukan si keci ini. Bagiku, menyapa adalah betul-betul menyapa secara verbal, berkomunikasi langsung. Getaran suaraku setidaknya akan sampai padanya.

“Eits… Pipit? Kan gak boleh kata dokternya… Awak juga gak tega-la… maen masuk-masuk aja… Apa Imran juga udah masuk?” tanyaku masih berjongkok di depannya. Pipit urung meloloskan celana pendeknya.

“Belum, bang… Abis Pipit pengeeen~~…” manjanya muncul lagi.

“Sabar ya, mama Pipit… Mama Pipit harus sabar… Demi si kecil imut ini… Pasti nanti dia secantik mamanya… Biar dia sehat… tumbuh besar… pinter dan kuat!” kataku menyingkap sendiri kaos longgar yang dikenakannya, mengusap-ngusap perutnya yang lebih berisi sekarang lalu mengecup beberapa kali.

“Biar kuat kayak papa Aseng… Hi hi hihi…”

***

Aku harus cepat-cepat pulang nih karena kereta galas punya si Misnan ini harus kukembalikan padanya untuk alat transportnya pulang. Sampe di rumah udah sore menjelang Maghrib dan Misnan langsung pulang. Aku masuk rumah dan aku menemukan istriku dan Vivi sedang di ruang makan sedang menyantap sesuatu.

“Disuruh istirahat itu ya istirahat, paa… Lagi luka-luka gitu kok masih keluyuran aja… Gimana, sih?” repet istriku sambil menyendokkan makanan itu ke mulutnya.

“Itu tadi papa ke Mabar… ngeliat progres renovasi rumah, ma…” jawabku.

Vivi tersenyum-senyum penuh arti. Mungkin karena aku sedang direpeti istriku ini. Mana mungkin kan dia tau apa yang sudah kubuat seharian ini? Udah gak ada lagi Banaspati yang bisa disuruh-suruhnya untuk memata-matai aku. Tapi ia tetap mempertahankan senyum itu.

Lalu saat istriku hanya fokus menghadap padaku, ia membuat gestur dua jari; telunjuk dan tengah seolah ditujukan ke matanya lalu kemudian ke arahku sebagai tanda ‘aku liat apa yang kau perbuat’. Apa maksudnya? Apa itu hanya gertakannya saja? Ato dia benar-benar bisa meliat apa yang sudah kuperbuat tadi?

“Makan apa?” tanyaku tak menggubris celotehan merepetnya.

“Mau? Bubur kacang ijo… Vivi yang masak…” tawarnya. Aku mengangguk. Lumayan buat mengganjal perut.

Dengan ligat, Vivi bangkit, mengambil sebuah mangkok baru, mengambilkan bubur itu lalu menghidangkannya padaku lengkap dengan sendok dan segelas air putih hangat.

“Enak…” kataku saat mulai suapan pertama.

“… Jadi apa yang membuat Vivi suka sama lakikku ini?” Alamak! Pertanyaan macam apa itu? Jadi selama tadi di sini, mereka sudah membicarakan masalah ini? Aku jadi jiper mendengar pertanyaan semacam ini dari istriku yang ditujukan ke Vivi.

“Awak tau dia luar dalam… Awak gak tau kerjanya apa aja di luar sana… Tapi dia gak akan mau merayu perempuan macam Vivi… Apa kira-kira?” aku terdiam. Tanganku berhenti mengaduk bubur kacang ijo ini. Tapi anehnya Vivi sepertinya santai-santai aja, tenang dan sepertinya punya jawaban yang sudah disiapkan.

Aku gak takut ngelihat hantu paling seram sekalipun. Aku gak gentar menghadapi lawan sekuat siapapun. Aku gak keder melewati rintangan sesulit apapun. Tapi dingin sebeku es mengalir di tulang belakangku saat kudengar soalan sedemikian pedasnya. Saat ini aku merinding hampir gemetar.

***

“Hal biasa aja, kak… Kayaknya cuma kagum aja…” jawab Vivi standar.

Aku merasakan dingin suhu yang tak lazim saat ini. Seperti ada perang dingin yang sedang terjadi di ruang makan ini. Mungkin juga hanya aku yang merasakannya karena mereka berdua kasual aja ngobrol begitu aja tanpa beban.

“Pengen aja dekat sama bang Aseng yang sangat baik ini… Rasanya adem aja bisa dilindungi oleh bang Aseng…”

“Tapi… bang Aseng udah tegas menolak Vivi… Gitu, deh… Katanya ada janjinya untuk kakak…” singgung Vivi akan janjiku pada istriku.

“Ya… Dan ia terikat janjinya itu selamanya… Mau berapa banyakpun perempuan yang suka padanya… Apapun motifnya… Apapun motivasinya… Dia gak akan bisa menerima… Itu akan jadi jawaban otomatisnya… Seperti jawabannya pada Vivi tadi…” he he hehehe… Ketauan ya belangku.

Ya… Begitulah teman-teman. Seperti ada perintah dari sirkuit otomatis di otakku yang langsung menolak begitu ada potensi demikian di depanku. Yang udah ngikutin dari awal pastinya paham penolakan-penolakanku ini.

Walo ada sebegitu banyak, menarik dan indah potensi itu—hanya akan sebatas itu sajalah batasnya. Bentuk konkrit-nya sering berupa pasal pertama dalam perjanjian yang kulakukan, yaitu berupa penegasan hubungan yang gak akan lebih dari sebatas itu saja. Tak melampaui hati dan perasaan.

“Ya… Vivi harus menghormati itu semua…”

“Jadi ada apa dengan Banaspati-Banaspati itu?” tanya istriku. Tadi gak mau dengar tentang ini. Ini malah nanya langsung sama Vivi.

“Iya, kak… Ini juga taunya dari bang Aseng… Istilahnya ketempelan… Ada tiga jenis Banaspati yang nempel ke Vivi… Mereka ngikutin Vivi dari dulu sekali… Keknya dari waktu Vivi masih kecil… Orang tua Vivi meninggal dalam kebakaran… Banaspati api itu penyebabnya karena waktu itu Vivi marah pada mereka… Bang Aseng udah nasehati Vivi untuk tidak menyalahkan diri Vivi sendiri sebagai penyebab kebakaran itu…” paparnya singkat tentang masalah Banaspati itu.

Istriku melirikku sebentar, “Benar yang dibilang sama bang Aseng… jangan menyalahkan dirimu… Karena itu lumrah terjadi di setiap orang… Setan-setan itu hanya mengambil kesempatan dalam kesempitan kita saja… Awak juga sering kok gitu… marah-marah gak jelas… walo itu semua hanya dalam hati… Kek gitu, kan?” Vivi mengangguk membenarkan apa yang telah terjadi bertahun-tahun lalu itu.

Ia marah pada kedua orang tuanya karena gak diberi izin camping Pramuka di lingkungan sekolahnya agar lebih dekat dengan cowok gebetannya yang ikut dalam kegiatan itu.

“Iya, kak… Vivi udah tau itu…” ia agak menunduk.

“Ya, udah… Kalo Vivi gak punya saudara di Medan sini… anggap aja kami ini saudaramu…” putus istriku lalu berdiri dan membentangkan tangannya lebar-lebar menyambut Vivi.

Gadis itu berbinar wajahnya mendengar itu semua, berdiri dan menyongsong bentangan tangan orang rumahku. Mereka berpelukan erat. Cipika-cipiki. Aku dibereng (dilirik tajam) istriku yang bermaksud bergabung.

“Kakakku…” gumamnya.

“Jadi gak usah segan-segan memberitau kami kalo Vivi punya masalah… Saudara memang seperti itu… Ya?” dibersihkannya titik air mata yang menitik di mata Vivi yang haru. Vivi mengangguk-angguk paham.

“Si bencong itu beneran bukan lakikmu, kan?”

“Eh he he hehe… Ih, kakak? Kok bisa tau? Dikasih tau bang Aseng, ya?” ekspresinya yang tadi barusan menangis haru berubah lucu karena tertawa malu disanggah demikian.

“Awak nebak sendiri-lah… Mana mungkin cewek secantik Vivi ini mau sama bencong kek gitu… Rugi kali awak rasa…” terangnya sambil membenarkan untaian-untaian rambut yang menutupi matanya.

“Iya, kan?” pelukan keduanya melonggar lalu lepas sama sekali.

Aku yang duduk di samping semua kejadian itu didorong ke kursi di sebelahku lagi. Kursi yang didudukinya diberikan pada Vivi sedang kursiku diduduki olehnya sendiri.

“Cuma temanku dia, kak…” lalu Vivi menceritakan kisah hidupnya secara lengkap pada istriku.

Dia yang memang gak tegaan tentu saja haru mendengar jalan hidup Vivi yang terbilang tragis walo secara ekonomi berkecukupan tak kekurangan apapun. Di kisah tentang kebakaran yang menewaskan kedua orang tua Vivi, mereka kembali berpelukan—bertangisan.

Lalu kisah berlanjut tentang usahanya menyambung hidup dengan harta yang ditinggalkan orang tuanya berupa tabungan, asuransi dan beberapa aset yang secara cerdas dikelolanya dengan baik. Hingga walo saat itu ia masih remaja, ia berkecukupan, bisa sekolah dan kuliah.

Benget adalah anak yatim piatu lain seperti dirinya. Hanya saja ia adalah penghuni panti asuhan yang bersekolah di tempat yang sama dengannya. Karena sesama anak yatim piatu mereka menjadi dekat tak terpisahkan walo tak ada singgungan asmara sama sekali dan walo mereka berbeda kelamin.

“Punya salon dia, kak… Vivi yang invest sepenuhnya awalnya… Sekarang cabang salonnya ada 3 di seputaran Medan sini…”

“Oo…” manggut-manggut istriku mendengar semua penuturan Vivi tentang hidupnya sampai sekarang bareng Benget.

“Nanti bisa Vivi temani ke salonnya Benget… Di depan kompleks tuh salon pusatnya… Gampang itu…” kata Vivi.

Saat istriku menoleh padaku. Aku mencoba tersenyum memberinya semangat untuk bersolek di salon seperti yang kerap dilakukan Vivi. Ia malah mendelikkan matanya yang udah belo. Salahku apa?

Tapi ia malah menunduk dan mengendus-endus sesuatu di tubuhku. Mati aku! Jangan sampe masih ada aroma dari salah satu diantara tiga binor itu yang masih tertinggal di badanku.

Ia mengendus-endus bak seekor anjing pelacak yang sedang membaui jejak narkoba di tubuh kurir. Fokus penciumannya di punggungku dan tanpa basa-basi ia menyingkapnya.

“Param pala? Siapa yang ngasih, pa?”

Nyess… Gitu rasanya seperti disiram air hujan yang sangat dingin kepalaku ternyata param pala yang menarik perhatiannya, bukan aroma binor, parfum ato sejenisnya. Param pala hangat yang dibalurkan Pipit di punggungku yang tercium olehnya.

“Tukang di rumah, ma… Ramuan orang itu punya, ma… Orang itu kan sering keseleo abis kerja berat kek gitu…” alasanku akan siapa yang memberiku param pala yang ditumbuk halus ini.

Kredit param Pipit ini malah jatuh ke tangan para tukang. Sori ya, Pit. Tapi si Vivi terus menggangguku dengan kode mata melihat itu berkali-kali dari seberang sana. Membuatku penasaran aja apa maksudnya. Apa dia masih bisa memata-mataiku?

***

    

“Tinggal dikit lagi luka-lukanya… Cuma yang di kening aja yang mungkin agak lama…” kata istriku setelah memberi sentuhan akhir pada cedera yang ada di punggungku.

Ia membuat ramuan param buah pala versinya sendiri untuk luka lebam di punggung dan bagian tubuh lainnya. Makanya tadi siang ia pergi keluar dengan motornya untuk membeli bahan-bahannya.

“Makasih, ma…” kataku lalu memakai baju untuk menutupi bekas-bekas luka itu agar gak kelihatan seisi rumah.

Jangan sampai Rio melihat luka-luka ini. Dia akan bertanya macam-macam sampe aku capek menjawabnya.

“Papa keberatan Vivi kujadikan saudara?” tanyanya random masih di belakangku.

Apa aku menunjukkan penolakan ato ketidak setujuan? Pembicaraan ini kembali diungkitnya.

“Ya, enggak-la, ma… Kenapa papa harus keberatan… Bagus dong punya banyak saudara… Apalagi Vivi itu anak tunggal… Yatim piatu… Gak punya saudara… Dia senang kali keknya… Menjalin silaturahmi itu baik, kok…” jawabku lalu berputar agak menghadap padanya.

“Itu supaya papa bisa menghindarinya dengan mudah… Kalo mama bisa dekat dengannya… mungkin ia akan segan untuk mendekati papa lebih jauh… Ia masih tetap suka sama papa-loh… Mama bisa liat itu…” katanya pelan.

Ia masih khawatir dan mengusahakannya dengan jalan ini. Aku tak menampik kalo ia sangat mencintaiku sebagaimana aku juga aku. Dan hanya aku saja yang tak bekerja keras untuk menjaga hati ini. Kurengkuh tubuhnya mendekat dan kupeluk erat walo masih ada semriwing-semriwing rasa sakit di sekujur tubuhku.

“Mama gak takut ia merebut papa dariku… tapi papa yang tak tau cara menolaknya dengan tegas… Entah kasihan… Ato karena dia cantik dan masih muda… Papa bingung kan cara menolaknya?” bisiknya. Aku tak memikirkan itu. Aku hanya menikmati pelukan hangat penuh cintanya. Aroma tubuhnya, wangi rambutnya.

“Ya… Dia meminta papa jadi pacarnya… Tentu papa tolak… Mau dikemanakan istriku ini? Istriku yang cantik dan pengertian begini…” kukecup keningnya.

“Gombal…” toyornya dengan kepalan tangan ke pipiku langsung berupa sebuah jab pelan.

***

“Bilangin sori ya pak… sama Mayu-chan kalo besok malam gak jadi… Nanti kami re-schedule lagi deh janjiannya… Makasih, pak…” kataku lalu menutup sambungan telpon dengan pak Ferdi.

Aku sebenarnya udah konfirmasi ulang dengan Mayumi kalo janjian kencan kami harus dibatalkan karena musibahku ini. Tapi karena skandalku ini juga atas sepengetahuan suami sirinya, aku jadi harus memberitau pria sakit itu. Byung!!

Sesuatu yang empuk membenturku di belakang. “Hayoo…”

“Loh… Gak ngajar, Vi?” tanyaku pada gadis itu setelah tau dia yang menubrukku barusan. Harusnya ada kelas pak Mochtar yang seharusnya diampunya sementara. Kelas Akuntansi Keuangan Dasar I.

“Enggak… Pak Mochtar-nya sendiri yang masuk malam ini… Vivi masuk kelas pagi seminggu ini jadi dosennya…” lalu ia teringat sesuatu.

“Bang Aseng jangan ngalihkan pembicaraan dulu… Tadi sama siapa? Hayoo?”

“Bapak-bapak… Pak Ferdi namanya… Teman sekelas awak… Vivi pasti tau orangnya…” tunjukku pada history teleponku barusan. Masih ada namanya tercantum di layar HP-ku.

“Trus yang tadi siang sampe sore… sama siapa aja?” desaknya tapi dengan suara berbisik.

Di teras depan rumah ini sepi. Aku memilih menelpon dari sini karena jarang ada orang yang ada disini. Siang sampe sore? Apa ia benar-benar tau semua kegiatanku. Ia berlagak menunjuk kedua biji matanya dengan dua jarinya lagi ‘I’m watching you, bro!’ berulang-ulang.

“Sama tukang-tukang di renovasi rumah awak… Kenapa rupanya?” aku memilih untuk tidak termakan gertakannya.

“Mau dengar sesuatu yang bagus, gak?” katanya main rahasia-rahasiaan. Pandangan matanya serius.

“Sini Vivi bisikin…” ia longok sana sini untuk memastikan tidak ada orang lain di sekitar kami.

“Jangan bilang kalo Vivi masih bisa meliat kegiatan awak… Udah gak ada lagi Banaspati yang bisa menjadi mata-matamu… Heleh… Udah-la, Vi… Awak bisa ngeliat kalo masih ada yang nempel di Vivi…” kataku menolak bisikannya. Tapi ia tetap memintaku agak menunduk untuk mengarahkan sebelah kupingku untuk dibisikinya.

“Sini, bang…. Ck… Sini-ih…” ia sampe menarik bahuku agar sedikit menunduk agar kupingku pas dengan posisi mulutnya.

“Ishh… Sengaja banget-ih…”

“Eh… Sori… Gak sengaja, Vi… Kau-pun yang nyuruh?” aku sedikit kaget karena tanpa terduga karena posisi begini, payudara Vivi malah menyenggol bahu dan lenganku. Kerasa lagi empuk dan kenyal gundukan dadanya.

Ini serupa dengan yang membenturku tadi setelah telponan dengan pak Ferdi barusan. Udah dua kali jadinya?

“Tiin! Tiin!” sebuah klakson yang berasal dari gerbang depan rumahku, memisah kasak-kusuk kami.

Siapa yang bertamu malam-malam begini? Kalo dari suara klaksonnya, itu pasti mobil dan terdengar suara klakson itu ditekan lagi. Bu Lastri yang muncul dari basement langsung kusuruh masuk, biar aku yang membuka pintu.

Sebuah mobil terlihat berhenti di depan pagar rumahku. Aku keluar dari pintu kecil yang kubuka untuk melihat siapa tamu ini. Lampu headlamp depan tetap menyala sehingga aku gak jelas melihat siapa pengemudinya.

Hanya saja dari siluetnya sepertinya wanita yang berambut panjang tebal. Tamu macam apa sih ini orang? Bertamu klakson-klakson tan-tin tan-tin bising, gak mau turun dari mobil sedan putihnya, mesin gak dimatiin. Ia menunggu sampai aku mendekat ke jendela samping penumpang.

“Cari siapa, bu?” tanyaku berusaha sopan.

“Hussein ada?!” ia menyalak seperti serigala. Sampe kaget aku dibuatnya.

“Gak ada yang namanya Husen di rumah ini, bu…” jawabku masih nahan.

“Dia kasih alamatnya di rumah ini… Suruh keluar dia… Atau biarkan aku masuk!” desaknya lebih nyolot.

“Bu… Di rumah ini gak ada orang yang namanya Husen…” jelasnya mencoba sabar aja.

“Kamu gak usah sembunyiin si Hussein dari saya… Bukain pintunya! Biarkan saya masuk! Saya ada urusan penting dengan Hussein!” malah tereak-tereak itu perempuan.

“Bu… Dengarin ya, bu… Di dalam rumah ini tidak ada yang namanya Husen… Kusen, Lemari, Bakpao… ato siapapun… Ibu sepertinya salah tempat ato orangnya udah pindah…” jelasku lagi harus benar-benar sabar.

“Kamu jangan bercanda, ya… Jadi pembantu aja belagu kamu… Bukain pagarnya! Biarkan saya masuk… Biarkan saya ngomong dengan orang yang ada di dalam!!” malah tambah tereak-tereak itu orang makin keras.

Aku gak dianggap orang sama dia. Gak salah juga dia menganggapku pembantu karena mana mungkin juga tuan pemilik rumah ato tenant sekalipun mau membuka gerbang seperti yang kulakukan sekarang. Masih mental orang ndeso akunya.

“Bu… Yang punya rumah ini saya sendiri…” aku terpaksa menunjuk diriku sendiri.

“Dan saya pastikan… gak ada satupun orang di dalam rumah ini yang namanya nyerempet-nyerempet nama Husen… Jadi silahkan pergi ato saya panggil pihak keamanan kompleks untuk menggiring ibu yang terhormat menjauh dari rumah saya karena sudah membuat keributan…” kataku harus pake nada mengancam seperti ini.

Eh… Malah keluar perempuan itu. Ia malah mendatangiku yang berdiri di samping kaca penumpang depan, ia rela-relain memutar.

“Kamu jangan ngaku-ngaku, ya? Rumah ini baru bulan depan habis sewanya… Bagaimana mungkin mereka pergi begitu saja sebelum masa sewanya habis? Kalo mengada-ada yang masuk akal… Saya tau betul Hussein…” damprat perempuan cantik itu pake menuding-nudingku segala.

“Oh… Husen itu yang dulu tinggal di sini kalo begitu… Saya kurang tau siapa-siapa aja yang tinggal di sini sebelumnya… Orang-orang itu pergi lebih awal dua bulan dari masa sewanya… Pihak property udah mengurus semuanya dan itu bukan urusan saya… Yang saya tau dari yang saya dengar cuma nama Ahmed saja… Entah siapa itu?” simpulku.

“Hussein itu adiknya pak Ahmed… Dua bulan?” mengernyit keningnya.

Aku malah memperhatikan hidung mancungnya. Keknya perempuan ini keturunan Arab juga. Aku mengangguk-angguk. Aku memberinya kode untuk menunggu sebentar karena aku masuk ke dalam dan memanggil seseorang. Tak lama aku balik lagi membawa bu Lastri.

“Betul, bu… Pak Ahmed dan pak Hussein sudah pindah… katanya sih pulang ke negaranya lagi… Sedang bapak ini adalah pemilik rumah ini…” jelas bu Lastri sebagai orang yang lebih kenal dengan penghuni rumah ini sebelumnya.

Perempuan itu menyeka mukanya dengan panik. Sepertinya ada masalah yang sangat serius yang telah terjadi antara dirinya dengan Hussein, bukan Husen, apalagi Kusen.

Ia mondar-mandir di depan sorotan lampu mobilnya dengan kalut bahkan setelah bu Lastri masuk kembali ke dalam rumah. Aku berbaik hati menemaninya takutnya ia menjadi nekat dan melakukan sesuatu yang bodoh. Misalnya menabrakkan mobilnya ke pagar rumahku, memanjat pagar ato malah menggerogoti besi pagar ini.

Siapa tau, kan? Orang frustasi bisa melakukan apapun.

“Bu… Permisi… Ibu tidak apa-apa, kan? Lebih baik ibu pulang saja dan berpikir lebih jernih di rumah… Sepertinya malam ini akan turun hujan lagi… Cuacanya semakin dingin…” kataku berbaik hati memperingatkannya.

Aku udah jadi korban hujan kemarin makanya jangan sampe ada korban lainnya. Ia melirikku sebentar dan ragu-ragu akan berbicara terlihat dari gerakan tangannya yang akan menunjukku. Dan akhirnya ia memantapkan diri dan melangkah ke arahku.

“Nama bapak siapa?” perempuan itu bertanya dengan nada ngegas gitu seperti menuduh. Kusabar-sabarkan diriku sendiri.

“Nama saya Nasrul, bu… Panggilan saya Aseng… Ibu namanya siapa?” tanyaku dengan nada tenang berbalikan dengannya.

“Pak Aseng kalo begitu, ya? Nama saya Farah… Hussein sudah menipu saya banyak sekali… Hutangnya sangat banyak pada saya dan sekarang mereka semua lari ke gurun sana lagi… Bahlul itu semua orang!” ia masih sangat murka dengan Arab bahlul bernama Hussein itu sampe aku yang kena sasaran semprotnya.

“Pak Aseng sudah menikah dan punya anak?” tanyanya gak ada yang nyambung. Kenapa dari hutang Arab bahlul lari ke menikah dan anak?

“Sudah… Anak saya dua…” aku menunjuk tanda ‘peace’ dengan dua jari dengan bodohnya. Kenapa aku harus ngaku udah menikah, ya? Bilang aja masih lajang. Tampangku kan masih lumayan imut-imut… *Hoekss!

“Bagus!” ia lalu membuka pintu mobil sedan putihnya itu dan mendorongku masuk ke dalam kompartemen penumpang depannya.

Tenaganya cukup kuat mendorongku hingga aku khawatir kalo aku agresif melawan akan terjadi pemaksaan yang tidak perlu. Rasanya aku sedang diculik kalo naga-naganya kek gini. Tanpa tedeng aling-aling ia membanting pintu untuk menutupnya rapat. Cepat aku menarik kakiku yang masih ada di luar dari pada kejepit.

“BLAM!” ia berputar di depan mobil lalu masuk ke jok supir.

“Bu Farah? Ada apa ini?” aku secara gak sadar menyilangkan tanganku di depan dada kek anak gadis takut dicocol teteknya. Idih… Jangan tante. Ana masih perawan ting-ting. Jijik sendiri aku malah melempar tanganku ke depan karena meniru tingkah si Benget.

“Kita akan ngobrol di tempat yang layak… Pak Aseng saya pinjam sebentar…” sigap ia memundurkan mobilnya sampe bannya berdecit lalu maju melaju cepat.

Panik aku meraba-raba keberadaan safety belt yang ada di palang samping jok yang kududuki. Beberapa kali aku salah memasukkan ujung klip sabuk pengaman ini ke slot pasangannya karena gerakan liar walo terukur torsi mobil ini.

Begitu terpasang, tanganku tetap sibuk mencari pegangan. Do’a selamat yang biasanya lupa tiba-tiba lancar kurapalkan, lengkap dengan do’a makan dan do’a sebelum tidur.

Sedan putih tipe sport mahalnya ini melaju keluar dari kompleks perumahan ini, menelusuri jalan Cemara lalu berbelok ke kiri. Sepanjang jalan aku menebak-nebak ia akan membawaku kemana. Oh ke resto fast food ini? Bukan. Masuk ke jalan tol? Bukan juga. Malah ia memarkirkan mobilnya di sebuah hotel.

“Ayo…” ia langsung turun dengan membawa sebuah tas tangannya. Aku hanya bisa memandanginya masih dari dalam kabin mobil. Ia menungguku keluar. Fix ini… Abis ini aku bakalan diperkosa!

“Ayo!” ulangnya di luar sana dengan gerakan tangan memanggil dengan tak sabar.

Ia lalu mengarah ke posisiku. Cepat-cepat aku melepaskan safety belt-ku dan membuka pintu sebelum ia mencapai tempatku. Jangan sampe ia mengasariku. Aku lelaki yang harus diperlakukan dengan lembut. Ahaii…

“Nah gitu, dong… Ayo…” ia melangkah dan aku mengekor.

“Kok ke situ? Kemari…” panggilnya menyadarkan kekeliruanku.

Aku mengarah ke pintu lobi hotel padahal ia tidak mengarah ke sana. Malu-malu aku mengekorinya ke arahnya menuju. Ia tersenyum penuh arti melihat tingkahku. Jadi malu aku nih ceritanya. Keliatan kali udah terlalu sering main ke hotel.

Ternyata ibu Farah ini membawaku masuk ke cafe hotel ini yang posisinya ada di samping. Ada live performance dari home band yang membawakan lagu-lagu top-forty. Ia memilih duduk di sudut agar tak terganggu dengan pengunjung lain. Ia membebaskan aku mau mesan apa saja tapi ia cuma mesan kopi plus cemilan. Aku samakan pesanannya.

“Sori ya pak Aseng kalo cara saya agak kasar…” ia membuka pembicaraan dengan meminta maaf. Tau diri juga ternyata dia kalo aku tuh gak bisa diginiin. Perasaanku sangat halus. Sehalus sutra. *muntah pelangi…

“Ini hanya karena saya sedang desperate… Putus asa… Si Hussein itu sudah membohongi saya mentah-mentah… Ia poroti uang saya sampe perusahaan saya hampir kolaps… Ia lalu kabur begitu saja…”

“Bu… bu… bentar bu… Ini urusannya sama awak apa, ya?” kalo udah pake kata ‘awak-awak’ gini berarti rasa PD-ku sudah balik lagi. Ini bukan Aseng perawan ting-ting lagi. Ini Aseng perjaka tong-tong yang berbicara.

“Kita kenal aja enggak… Apalagi sama si Husen-Husen itu… Trus ibu Farah tiba-tiba aja curhat ini desperate-la… diporoti-la… kolaps-la… Urusannya sama awak APA? Awak ini bukan psikolog tempat curhat… Mending ibu Farah nelpon ke radio aja, deh… Ada tuh radio yang suka dengerin curhatan orang kek ibu… Awak ini udah pusing dengan banyak masalah… Gak usah ditambah-tambah-la… Nambah pusing aja…” malah aku merepet sendiri.

Udah di rumah didesak-desak Vivi. Dicurigain sama binik sendiri. Kerjaan banyak yang menumpuk. Banyak binor bunting. Ajakan kencan dari Mayu-chan dan threesome bareng Julio-Amei. Apalagi masalah pembisik yang masih menjadi misteri. Ini entah darimana asalnya maen curhat aja.

“Makanya pak Aseng dengerin dulu… Ada hubungannya nanti di akhir penjelasan saya ini… Bapak dengerin dulu… Bisa ya, pak?” desaknya malah menggenggam tanganku untuk menenangkanku.

Dipegang tangan selembut itu membuatku merasa adem. Ahh… Dasar buaya darat kao, Seng. Masih dipegang tangan aja dah meleleh kao. Belum lagi kalo dah dipegang juniormu. Ngecrot kao, kan? Aku klekep diam.

Lalu meluncurlah kisah hidupnya. Kalo ia punya usaha konveksi yang cukup maju yang fokus diekspor ke Timur Tengah karena ia cukup punya chanel kenalan dan keluarga di sana. Ia lalu berkenalan dengan keluarga Ahmed yang saat itu bekerja di perusahaan sawit lokal yang juga berorientasi ekspor.

Ia kepincut dengan adik terkecil pak Ahmed yang bernama Hussein tersebut. Hussein yang menunjukkan keseriusannya dengan keluar dari perusahaan itu dan gabung ke perusahaan Farah.

Keluarga Farah mendesak mereka untuk segera menikah mengingat umur perempuan ini yang tak lagi muda karena keasikan mengejar karier dan profit. Hussein dan keluarganya memberi banyak alasan ini itu dan hanya menyanggupi nikah siri dahulu. Bagi Farah itu sudah cukup.

Pernikahan mereka berlangsung dengan sederhana saja tanpa mengadakan resepsi mewah yang diinginkan keluarga besar Farah. Hussein beralasan nanti menunggu keluarga besarnya datang baru bisa melaksanakan hajat akbar itu. Selama masa menunggu itu ternyata Hussein diam-diam menggerogoti keuangan perusahaan istrinya hingga dalam taraf hampir kolaps itu.

Timing kecurangan Hussein dipaskan dengan waktu kepulangan Ahmed beserta anggota keluarganya yang lain. Saat semuanya pulang kembali ke Arab, Hussein tetap tinggal di Indonesia untuk beberapa lama untuk mengaburkan kebusukan rencananya.

Setelah dirasanya cukup, ia menghilang dengan sejumlah besar pundi-pundi uang di rekening pribadinya. Farah tentu aja kelimpungan mencari suaminya yang kabur dengan semua uangnya seminggu ini.

Ditengah kalut itu, Farah mengingat rumah yang pernah disewa oleh keluarganya selama di Medan sini dan malah menemukan kepahitan lain kalo mereka sudah tak ada di sini.

Malah ketemunya dengan pangeran kodok bernama Aseng, si buaya darat yang sok imut.

“Trus hubungannya dengan awak apa, bu? Itu semua kan salah ibu sendiri kenapa terlalu percaya dengan orang asing kek dia… Bu Farah bisa kok ngelapor ke polisi… Ini jatuhnya penggelapan dan penipuan… Biar orangnya orang luar juga tetap bisa karena pidana terjadinya ada di Republik kita ini… Ntah interpol ato siapa nanti yang ngusut awak gak terlalu paham kali… Bukannya malah curhat ke awak… Awak ni bisanya apa-la…” kataku karena gak kunjung menemukan hal yang bisa dikaitkan padaku sama sekali. Nyerempet dikitpun gak ada.

“Saya masih percaya dengan janjinya, pak Aseng…” sergahnya kemudian.

“Janjinya? Perempuan macam apa yang masih mengharapkan janji dari seorang pria yang sudah menipumu sedemikian rupa, bu Farah?” kataku agak heran campur emosi dikit.

“Gak ada yang bisa diharap dari laki-laki kek gitu… Wake up, bu Farah… And smell the coffee…” aku sok bijak dan menunjuk kopi yang mengebul di depannya.

“Lanjutkan hidup… Itu yang paling tepat…” aku mencomot satu kue penganan yang terhidang.

“Kalau aku hamil… ia akan menikahiku secara resmi…”

Damn! Itu dia hubungannya denganku. Kue itu kuletakkan kembali ke piring hidangnya. Tadinya mau kubanting aja karena kesal.

“Apa ada yang mempengaruhi bu Farah? Misalnya membisiki, lewat mimpi, tulisan-tulisan yang tiba-tiba muncul, ato apa sajalah yang menyebabkan bu Farah jadi sedemikian nekat kek gini ngomong hal yang vulgar macam ini… Karena nanti ujung-ujungnya pasti ibu akan meminta awak untuk menghamili bu Farah… Benar begitu, kan?” ia terkesiap sebentar karena maksudnya sudah kubaca. Ia menegarkan dirinya sendiri. Tentunya hanya wanita dewasa berpengalaman yang bisa menyiapkan mental seperti ini.

“Tidak ada yang mempengaruhi saya…” ia berhenti.

“Itu semua hanya terbersit begitu saja di pikiran saya…”

“Hanya sebuah ide gila, gitu?” ulangku merangkumnya. Ia mengangguk pasti. Jadi hanya sebuah sebersit ide yang menyengat otaknya, yang telah membuatnya memaksaku memasuki mobilnya dan membawaku ke tempat ini untuk dimintai tolong. Hamili…

“Tunggu sebentar… Apa ini sudah pernah terjadi sebelumnya? Apa pernah ada wanita lain yang meminta hal yang sama pada pak Aseng? Meminta dihamili juga?” matanya menyelidik. Dikiranya dia yang menemukan pikiran gila itu pertama kali. Mengantrilah, bu Farah. Anda bukan yang pertama. Gak bisa kau klaim hak cipta ide gila ini.

“Awak gak mau membicarakan itu… Tetap pada masalah bu Farah aja… Jadi hanya sebuah ide yang tiba-tiba masuk ke kepala aja?” ulangku lagi.

“Ya… Semacam itu… Hampir sebagian besar keputusan-keputusan dalam hidupku kuambil dengan cara itu… Keputusan bisnis juga… Tidak bisa diandalkan 100% benar memang… karena kadang ada keputusan yang salah dengan cara itu…” paparnya.

“Termasuk keputusan yang salah mengenai Hussein tentunya?” sergahku.

“Tidak bisa dikatakan salah karena hubunganku Hussein tidak terjadi begitu saja… Ada kontemplasi perasaan disana… Kami tentunya sempat pacaran selama satu setengah tahun sebelum akhirnya memutuskan menikah… Jadi bukan sebuah ide gila semata…” jelasnya lagi tentang hubungannya dengan suaminya yang telah melarikan diri dan uangnya.

“Itu… Itu dia… Bu Farah gak mau mengaku kan kalo hubungan ibu dengan si Hussein itu salah… Awak yakin selama ini si Hussein itu cuma pura-pura saja mencintai ibu… Pura-pura sayang pada ibu… Semua itu disiapkan untuk momen ini… Hanya untuk momen ini… Bu Farah… Akui saja kalo tidak semua orang Arab itu kaya raya… Kalo si Hussein itu kaya raya… ngapain dia dan keluarganya datang ke negara kita ini untuk kerja? Bu Farah pasti gak akan menyangka kalo si Hussein itu akan menipu dan menggelapkan semua uang ibu… Karena apa? Karena dia memang gak punya duit… Untuk apa orang kaya dari Arab nyuri duit istrinya lalu lari kembali terbirit-birit ke kampungnya sana? Mau beli onta dia disana? Ya enggak-la… Dia hanya mau menikmati uang hasil keringat bu Farah aja…” pahit sepahitnya kuungkapkan kenyataan kek jamu Sambiroto kusuguhkan padanya untuk diminum segelas besar sekaligus.

Tadinya mau kutambahkan kata Mokondo, modal kontol (onta) doang. Tapi kasar kali keknya. Jadi hanya kuucapkan dalam hati aja.

Muka cantik putih blasteran Arab-nya memerah. Entah karena marah ato malu. Ia memalingkan mukanya entah kemana. Pokoknya matanya mulai sembab dan merah. Hidungnya yang mancung juga memerah. Aku gak menyesal mengatakan semua hal-hal pahit tadi. Karena obat itu selalu pahit. Kalo manis itu cuma senyumnya. *Eaaak!

Kami berdiam diri tak berbicara untuk beberapa lama. Hanya alunan musik dan lagu dan live performance yang masih menghibur seisi kafe yang tak begitu ramai ini.

“Self denial, ya?”

Ia akhirnya berbunyi lagi tapi pandangannya tetap entah kemana.

“Itu yang membuatku begitu terluka saat ini… Karena penolakan itu… Gak terima kalo Hussein telah menipuku mentah-mentah… Tega sekali dia… Kukira kami saling mencintai… Dia bilang saat aku hamil nanti… kami akan menikah secara resmi dan mengundang seluruh keluarga besarnya untuk resepsi pernikahan mewah seperti yang diinginkan keluarga besarku… Itu yang selalu kuimpikan… Kini semuanya sudah rusak…” ujarnya perlahan.

Ia menyeka pelan-pelan air matanya dan menarik cairan kental dari hidungnya yang meler pake tisu. Aku tidak menanggapinya dulu. Akan lebih baik membiarkannya mengeluarkan uneg-uneg di dalam dadanya yang terasa sakit. Nantinya akan lebih plong kalo udah dikeluarin. Heh… Taik itu harus dikeluarkan dari dalam perut. Lega kan abis boker?

Bu Farah lalu nyerocos tentang segala sesuatu yang mengganjal pikirannya. Tentang tingkah jelek si Hussein. Kebiasaan anehnya. Beberapa kesalahannya. Entah apa saja yang terlintas di kepalanya pasti diocehkannya.

Ini pasti yang dimaksudkannya tentang bersit pikiran gila itu karena sekilas mereka berdua seperti pasangan serasi dan saling melengkapi. Orang-orang yang melihat mereka berdua pasti mengira demikian.

Tapi itu hanya menegaskan betapa lihainya si Hussein ini mengolah kata dan perasaannya hingga memperdaya bu Farah terlena dan tipuan cinta palsunya. Kek roman picisan jadi kudengar. ‘Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku meski kau tak cinta kepadaku’. Eh… Itu Risalah Hati. Salah, ding.

Dihelanya nafas panjang lalu tubuhnya menjadi lebih rileks dengan duduk bersandar di kursinya. Dijangkaunya cangkir kopi yang sudah dingin lalu disesapnya cairan pahit tanpa pemanis itu. Berdecap-decap pelan ia menikmati rasa pahit yang masih kalah dengan pahit hidupnya oleh sandiwara asmara.

Ia beralih memandangku setelah sekian lama. Masih ada sisa merah di matanya. Ia sudah membuang self denial itu dari benak berbungkus cinta palsu itu. Menerima masalah akan lebih membuat tenang, lebih jernih melihat masalah.

“Jadi gimana baiknya langkah yang saya ambil, pak?” ia meminta saran padaku.

“Boleh proses hukum… Ke pengacara tentunya… Awak gak terlalu ngerti soalnya… Boleh juga mengejar dia ke negaranya sana… Ato boleh juga bu Farah menenangkan diri dahulu… Liburan ato melakukan hal yang bu Farah suka… Hobi mungkin… Apa saja…” kataku tentunya bermaksud mengarahkannya ke jalan yang lebih baik.

Memintaku menghamilinya itu hanya akan memperparah situasi. Juga merepotkanku tentunya. Kalo ia punya tujuan, hidupnya akan lebih terarah. Ia bisa menata hidupnya kembali dan merestrukturisasi perusahaannya yang hampir kolaps ini.

Ia tersenyum. Bagus. Sepertinya ia telah mendapat ide. Satu senyuman indah pertama yang kulihat malam ini.

“Hobi saya bercinta, pak Aseng…”

Aku batal membubuhkan gula pada kopiku yang juga sudah dingin dan kupaksakan untuk meminumnya pahit-pahit. Untuk mengaburkan rasa di kepalaku yang mendadak cenut-cenut. Nyesal pulak kukatakan untuk menikmati hobinya. Tak taunya hobinya ngentot.

Hobi macam apa pulak itu? Apa waktu remaja dulu dia nulis di diary-nya. Nama : Farah. Tempat/Tanggal lahir :bla bla bla. Hobi : Ngentot. Hobi itu kan membaca, makan, jalan-jalan, shopping nih untuk cewek-cewek umumnya. Ini ngentot pulak. Apa gak diincer satu kecamatan—ato satu Indonesia Buaya Darat United untuk menjamah, merasakan tubuhnya.

“Jangan gitu-la, bu Farah… Yang parah-la hobi ibu satu ini… Malu awak dengarnya…” gak berani betol kuliat mukanya yang mungkin mendadak sange.

Apa cocok klen rasa dia yang biasanya make barang kuda Arab yang terkenal besar. Gedong, cyiin… Sama aku yang cuma standar-standar orang Indonesia aja-nya onderdil junior-nya.

“Gak cocok-la awak, bu… Bu Farah biasanya sama si Hussein itu kan…” aku mengulurkan lenganku untuk menganalogikan ukuran kejantanan Arab yang terkenal.

“Awak cuma segini aja…” lalu aku mengacungkan jari kelingkingku. Nanti cuma kerasa kilik-kilik kuping pulak jadinya. Malu kan anak mudanya.

“Saya sudah sering membuktikan kalo ukuran kejantanan seorang pria tidak mencerminkan ketangguhannya di ranjang… Ukuran ada pentingnya tapi bukan yang terpenting…” katanya taktis dan melirik ke bawah.

Awalnya kukira ia melirik ke selangkanganku ternyata jauh ke bawah lagi ke jari-jari kakiku yang hanya pake sendal jepit. Apa dia sedang melihat jempol kakiku? Dia bisa tau ukuran junior-ku lewat jempol kaki? Pro-player keknya bu Farah ini. Tapi karena itu, aku auto mengukur jempol kakiku. Keknya benar. Besar kepala Aseng junior saat ngaceng kira-kira ya sebesar jempol kakiku.

“Drrt… drrt… drrt…” HP-ku bergetar mode silent.

“Halo? Apa, Vi?” jawabku setelah tau siapa yang menghubungiku.

“Bang Aseng? Dengan siapa itu?” tanyanya di seberang sana. Dengan siapa? Apa dia melihatku saat didorong masuk mobil oleh Farah di depan rumah tadi?

“Bukan siapa-siapa…” jawabku.

“Cewek… Cantik… Kayak Arab-Arab gitu… Selingkuhan baru, ya?” tuduhnya.

Waduh dia sampe tau rinci muka keturunan Arab si Farah ini. Apa dia benar-benar masih bisa melihat semua kegiatanku. Aku terpaksa permisi dulu untuk nelpon menjauh dari Farah untuk sementara. Aku keluar kafe.

“Sibuk kali-pun, Vi… Vivi diam-diam aja di sana… Bobok cantik… kelonin Nirmala-nya… Kalo perlu tetekin… Gak usah ngerecokin awak napa, sih?” aku celingak-celinguk tolah toleh kesana kemari kalo-kalo si Vivi cuma membual dan ternyata sedang mengikuti, membuntutiku hingga kemari sampe bisa tau detail si Farah gimana.

“Duhh… marah si abangnya…” aku gak melihat siapa-siapa di sekitarku.

Mobil Vivi tidak kuliat dimana-mana dan dia tidak mungkin make motor. Apa dia ngumpet di sekitarku? Sebuah motor melaju kencang melaju dari arah kanan jalanan di depan sana. Dari knalpotnya khas suara RX King yang berisik.

Aku menutup telinga kiriku dan hanya fokus pada suara telpon Vivi di telinga kanan. Kalo darinya aku mendengar suara yang sama, berarti ia ada di sekitarku juga. Suaranya tetap hening di background-nya.

“Itu suara apa sih? Berisik kali…” ia terganggu oleh suara yang berasal dariku.

“Udah ya, Vi… Kalo Vivi benar-benar bisa meliat apa yang sedang awak kerjakan… lebih baik Vivi cukup sekedar tau aja… Kek gini-la awak ini… Gak usah mau-la sama awak ya, Vi… Vivi udah tau semua belang awak, kan?… Untuk apa suka sama awak? Cari aja pria baik-baik… Jangan awak… Lagipula awak gak bisa memenuhi maunya Vivi… Vivi tau alasannya… Hanya satu itu alasannya…”

“Gak bisa, bang… Tapi… ya sudah…” tut tut tut… Ia memutus panggilannya. Kutatap layar HP-ku untuk beberapa lama untuk membaca pesan yang baru saja dikirimnya.

Vi2: vivi akan trus berusaha. SEMANGAT!

Itu cewek sangat pantang menyerah. Tapi aku masih penasaran dengan caranya bisa memata-mataiku. Metode apa yang digunakannya? Aku hanya tau satu caranya, dengan menggunakan tenaga mahluk ghaib, seperti yang sudah terjadi dengan para Banaspati itu.

Vivi memanfaatkan para Banaspati itu untuk mengikuti dan memata-matai-ku dalam keadaan tanpa elemen. Benar kata istriku kalo Vivi masih tetap suka padaku dan sepertinya usaha istriku kurang berhasil untuk meredam keinginan keras kepalanya. Dia menemukan lawan baru.

Aku balik lagi ke Farah. Kopi kami keknya udah diganti dengan yang baru, yang masih ngebul.

Kini Farah jadi murah senyum padaku. Apa dia sangat berharap aku menerima penawarannya? Ia menuang krim ke dalam kopinya lalu mengaduknya beberapa kali.

“Gimana, pak Aseng?” tanyanya setelah menyesap kopinya.

Ada yang telah berubah dari perempuan cantik ini. Auranya jadi cenderung sensual daripada yang tadi, gelap dan murung. Kini ia begitu mengundang.

“Gimana apanya, bu Farah?” tanyaku berusaha untuk duduk nyaman di bawah tatapan matanya yang mulai menggoda.

“Hobi saya tadi itu-loh… Pak Aseng sendiri yang menyarankan saya untuk menjalani hobi yang saya suka… Saya boleh panggil bang Aseng aja, ya?” mulainya. Tubuhnya sedikit bergoyang-goyang di duduknya.

“Bercinta bisa membuat saya bahagia… Ini termasuk ide gila tiba-tiba saya juga… Sepertinya bang Aseng cukup mahir… Cukup subur… dan pastinya berpengalaman untuk memuaskan wanita dewasa… Bisa dong kita berdua ber-intim ria di tempat yang lebih privat dari tempat ini?” katanya mencondongkan tubuhnya ke depan, menggodaku.

“Bu Farah mengajak awak untuk bercinta?”

Ia mengangguk dengan senyum manis.

“Itu sangat intim sekali, bu Farah… menggunakan kata bercinta… Seolah kita melakukannya dengan cinta… padahal tak ada sama sekali cinta di dalamnya… Awak jamin isinya cuma nafsu aja… Boleh diganti kata-nya?” jengahku dengan pilihan katanya.

Aku hanya bercinta dengan istriku. Kalo dengan para binor, boleh disebut apa saja selain kata itu. Ngentot, ngewe, ngeseks, nge-fuck, apa saja.

“Prinsip anda sangat kaku sekali, bang Aseng… Setia pada istri?” herannya.

“Bukan kaku… Hanya membatasi…”

“OK… Saya ganti istilahnya… Apa saja agar bang Aseng mau ikut di dalam hobi saya ini… Dulu saya kuliah di Jawa… Mereka menyebutnya ngewe… Jadi saya mengajak bang Aseng ngewe bareng saya… menjalani hobi yang saya suka ini… Mau?” ulangnya lagi merevisi kata.

“Boleh awak tanya dulu sebelum awak jawab yang itu?” ia mengangguk lalu menyesap kopinya lagi.

“Gak keberatan kalo nanti bu Farah malah hamil?… Karena kita berdua sama-sama tak memake kontrasepsi… Bu Farah pasti tidak pake karena selama ini pengen hamil dengan si Hussein itu… Begitu juga saya… Saya gak mau pake kondom kalo gak terpaksa kali (seperti saat mencoba anal si Amei kemarin)…” aku menatapnya serius dengan meletakkan kedua tanganku terlipat di meja kaca.

“Bagus, dong… Itu malah yang saya harapkan… Hamil… Biar aja saya hamil dari bang Aseng… Orang-orang dan keluarga saya pasti nanti taunya ini anak Hussein… Mereka pasti mendukung saya demi anak ini… Saya gak keberatan sama sekali… Saya malah senang…” jawabnya malah girang dengan wajah lebih berbinar dari sebelumnya. Ia seperti mendapat semangat baru.

“Soalnya begini, bu Farah… saya ini sangat subur sekali pake banget-banget kuadrat… Bukan maksudnya sombong ato gimana, tapi sudah terbukti di istri saya sendiri…” kataku mensosialisasikan keistimewaan unikku ini.

Aseng si Baby Maker. Aku sengaja pake contoh orang rumahku sendiri, tidak para binor itu. Tentunya akan memperpanjang pertanyaan yang akan mencederai perjanjianku. Bukan bermaksud berbohong tetapi hanya tidak mau membuka semua kartuku.

“Itu malah lebih bagus pake banget-banget kuadrat pangkat akar sinus cosinus tangen… Hi hi hihihi… Gak bang Aseng… Saya gak keberatan… Malah senang banget… Banget-banget… Ini ide paling gila sepanjang hidup saya… Gak pernah saya seantusias ini sebelumnya… Saya jadi gak sabar untuk segera memulainya…” malah sangat antusias binor Arab satu ini.

“Walo nantinya tanpa Hussein?” korekku terus.

“Hamil hasil selingkuh yang bukan anaknya Hussein?” imbuhku tentang masalah ini.

“Awak gak rugi apa-apa kalo kita melakukan ini semua… Hanya enak aja yang awak dapat dari main-main kita ini… Tapi bu Farah tentunya harus dibebani dengan anak ini nantinya… Apa bu Farah siap?” kataku tentang sedikit gambaran apa yang akan terjadi.

“Siap… Saya sudah menetapkan hati saya kalo bang Aseng mau tau… Saya akan melupakan Hussein dan semua hubungan kami selama ini… Mungkin nanti ada yang bilang terlalu cepat atau gimana ya… Tapi memang sangat bodoh masih mengharapkannya balik lagi setelah semua ini… Itu yang bang Aseng maksud, kan?” jawabnya yang kunilai cukup mantap. Agak berbeda dengan awal-awal pertemuan kami yang kek pesimis gitu dengan hidupnya.

“Mengenai anak… Saya gak terlalu berharap kalo klaim bang Aseng benar-benar kejadian… Saya hamil katakanlah begitu… Tentu bahagia pasti… Tentu saya akan membesarkannya… Dia gak akan kekurangan cinta karena keluargaku tentu akan mendukungku… Yang ada di pikiran saya saat ini hanyalah segera check-in kamar hotel ini dan segera melakukannya dengan bang Aseng…” ia melirik ke jempol kakiku lagi.

Farah memperhatikan semua gerak-gerik yang kulakukan saat melakukan peregangan pada kedua tanganku, punggungku, gemeretak leher, pinggang. Semua sudah dalam keadaan prima seperti biasa kembali. Aku bahkan membunyikan jari-jariku hingga bergemeletuk sendinya. Ada senyum tipis senang di wajah Arab-nya.

“Awak kemarin malam baru kecelakaan… Jadi ada sedikit luka-luka…” kutunjuk luka yang masih terlihat jelas di kepalaku. Ia mengangguk paham.

“Masih sedikit linu-linu… tapi nanti pasti ilang, kok…”

“Bu Farah… Jangan kasar-kasar ya mainnya…” senyum mengembang lebar di wajahnya.

Ia mengangguk-angguk paham. Sebagai seorang lelaki normal yang mengagumi perempuan cantik, pasti sangat sulit menolak mahluk menawan seperti Farah ini. Aku terpaksa jatuh lagi—menjatuhkan diri lagi dalam lembah kenikmatan yang sama, yang sudah kulakoni dengan beberapa binor lainnya.

Jatuh dalam pelukan hangat mereka. Bergelimang dalam kenikmatan tubuh menawan mereka. Menyetorkan benih-benih suburku yang sejauh ini sukses menghamili mereka. Aku sudah kadung dalam balutan noda ini, jadi tidak sulit menambah satu nama lagi dalam daftar panjangku. Dengan jawaban barusan, Aseng junior-ku mulai menghangat dan ia menggeliat di dalam kandangnya.

“Enggak… Kalem kok saya-nya…” kami berdua malah senyum-senyum gak jelas membayangkan yang enak-enak. Aku tentu aja membayangkan tubuh bahenol Farah yang sedang bugil merintih-rintih dijejali junior-ku. Entah apa yang sedang dibayangkannya dariku.

“Jadi begini bu Farah…”

“Panggil Farah aja, deh…” ralatnya.

“Begini Farah… hanya untuk jaga-jaga aja… Awak ada tiga pasal perjanjian… Kalo Farah setuju, kita hanya perlu salaman aja sudah cukup… Isi pasalnya hanya untuk kita saling jaga dan percaya saja… Jadi tidak ada yang dirugikan dan merugikan… Mau, ya?” tawarku lalu menarik tiga jari yang kuacungkan untuk menunjukkan tiga pasal khas milikku.

“Boleh…” ia menggangguk.

“Apa saja agar kita cepat mulai…”

“Pertama… Ini pasal pertama…” aku mengacungkan jempolku pertanda pasal pertama.

“Hubungan kita hanya sekedar saling menyenangkan satu sama lain tanpa embel-embel hati ato perasaan nantinya… Tidak akan lebih dari bersenang-senang… Menurutkan hobi Farah saja yang sukanya ngewe tadi… Jadi kita berdua tidak akan berharap lain selain senang-senang lewat ngewe… Pasal pertama…”

“Paham… Jadi gak ada cinta-cintaan, kan? Ya, paham… Jadi gak akan ada yang baper nantinya… Bagus itu…” jawabnya malah mengacungkan dua jempolnya bersemangat mendengar pasal pertamaku ini.

“Kedua… Ini pasal kedua…” aku mengacungkan jari telunjuk selanjutnya.

“Ini mengenai kerahasiaan dan kepercayaan… Tidak ada yang boleh tau hubungan kita berdua ini… Hanya kita berdua saja di dalam perjanjian ini… Jadi kita berdua tidak dibolehkan membicarakannya dengan orang lain, memberitahu orang lain dengan cara apapun… Awak rasa Farah sangat paham hal ini… Pasal kedua…”

“Setuju… Itu penting sekali…” ia mengacungkan jari telunjuk juga dan menembakku dengan dua pistol jarinya jenaka.

“Ini pasal ketiga—yang terakhir…” aku mengacungkan tambahan jari tengah.

“Mengenai masa depan. Mungkin karena hobi Farah ini… nantinya Farah hamil, mudah-mudahan… Farah harus tetap menganggapnya sebagai anak Farah dan suamimu itu… si Hussein… Beri ia status begitu sebagaimana yang orang-orang tau… Farah tidak boleh mengkaitkannya padaku sama sekali… Semoga Farah paham… Ini pasal terakhir…”

Ia terdiam sebentar mencernanya.

“Baik… Saya paham dan mengerti semua maksud bang Aseng… Salaman…” ia malah mengulurkan tangannya mengajakku bersalaman menyegel perjanjian ini. Kusambut tangannya dan kami bersalaman erat. Tapak tangannya terasa hangat. Pasti seluruh tubuhnya lebih hangat lagi daripada ini.

“Trus… Gimana?”

***

Farah membuka kamar atas namanya di hotel yang merupakan fasilitas utama kafe ini. Saat ia sudah mendapatkan kunci kamar dan melangkah menuju lift yang akan membawanya ke lantai tujuan, aku mengekor di belakangnya, menjaga jarak.

Berdua saja kami menunggu pintu lift terbuka seperti tidak saling kenal. Beberapa orang keluar dari lift dan kami masuk. Farah berdiri di dekat pintu sementara aku rapat di belakang.

Dan saat ketika pintu lift menutup, seseorang menjulurkan tangannya menghalangi pintu. Sensor lift mendeteksi kalo ada yang ingin masuk dan pintu lift terbuka lagi. Sepertinya orang itu buru-buru sekali terlihat dari nafasnya yang terengah-engah, seorang perempuan.

“Dea?”

“Farah? Loh? Kok ada disini?” kaget perempuan itu.

Mereka berdua saling mengenal? Sekilas perempuan yang disebut Farah bernama Dea itu melirikku yang berdiri di belakang lift, mungkin bertanya-tanya. Tapi karena jarak aku dan Farah yang lumayan berjangka, masih memungkinkan rahasia kami terjaga sebagai orang yang tidak saling mengenal.

“Nginap di sini juga?” ia lalu masuk dan pintu lift kembali tertutup.

Keduanya lalu bisik-bisik yang dimulai Dea dan diladeni Farah. Mereka seolah tak memperdulikan aku. Alamat amsyong nih ceritanya. Gatot!

Tapi di belakang, Farah mengulurkan kunci kamar itu untuk segera kuambil. Dengan cepat aku mengambilnya agar tidak ketahuan Dea. Keduanya keluar di lantai 3. Aku juga ikut keluar karena kunci kamar ini di lantai ini ternyata. Waduh. Kentang deh. Padahal aku ngebayangin menikmati si cantik Farah blasteran Arab ini tapi berakhir kegagalan.

Kamar yang dibuka Farah ketemu duluan dan aku langsung membuka pintunya. Kutunggu sampe mereka tiba di kamar tujuan keduanya dengan mengulur-ulur waktu. Farah curi-curi memberi kode akan menelponku nanti di antara obrolannya dengan Dea. Semoga aja ia bisa mencari alasan untuk keluar dan meninggalkan Dea untuk segera bergabung denganku. Mereka masuk ke kamar sebelah sana.

Semoga aja gak lama…

Aku menyempatkan diri mandi dulu, menyegarkan tubuh. HP bahkan kubawa masuk kamar mandi, jaga-jaga kalo Farah nelpon dan minta dibukain pintu. Tapi sampe aku selesai mandi, tak kunjung berdering. Kunyalakan TV dan bermaksud bersantai sebentar dengan golek malas-malasan di atas ranjang. Lalu telponku berbunyi. Ini nomor si Farah.

Akhirnya…

“Halo? Ya, Farah?”

“Bang Aseng! Tolongin! Dea kesurupan!” teriak Farah lewat telpon. Suaranya panik dan ada suara geraman-geraman menyeramkan di balik suaranya.

Si Dea itu kesurupan? Kok bisa?

“Ya! Bentar!” aku langsung keluar kamar dan menuju ke kamar yang tadi mereka masuki.

Beberapa pintu kamar tetangga mereka ada yang terbuka. Mungkin terganggu dengan keributan ato hanya kepo. Ada apa? Ada apa? Khas netizen warga +62. Kuketuk pintunya.

“Farah?” Pintunya langsung dibuka Farah dari dalam dan aku segera masuk lalu menutupnya lagi biar gak diliatin orang-orang.

“Bang… Tolongin… Itu…” Farah panik dan menunjuk-nunjuk satu sosok di atas ranjang yang menggeram-geram dengan liarnya bak seekor macan betina.

Dea yang tadinya tak kalah cantik dengan Farah terlihat menyeramkan walo ia hanya memakai pakaian dalam saja. Ia mencabik-cabik pakaian yang tadi dikenakannya hingga tinggal onggokan tak berbentuk. Kesurupan apa perempuan ini?

“Kenapa dia, Farah? Apa yang terjadi?” tanyaku berusaha tenang agar Farah juga bisa tenang menjelaskan situasinya.

“Tolongin sepupuku, bang Aseng… Gak tau kenapa… tiba-tiba dia jadi kayak gitu… Tadinya dia mau cepat-cepat balik ke kamar ini untuk meminum obatnya… Apa dia terlambat meminumnya?” seru Farah masih panik. Oo… Ternyata Dea ini saudara sepupunya. Minum obat? Obat apa yang kalo terlambat diminum membuat orangnya kesurupan kek gini?

“Cek cek ceek…Cek cek ceek… Cek cek ceek…” suara mengerikan keluar dari mulut Dea.

Matanya melotot dan terus melihat ke atas. Aku mengikuti arah pandangannya yang terpaku ke langit-langit. Tidak ada apa-apa di atas sana. Ini hanya bentuk pengaruh setan yang sedang menginvasi tubuhnya. Tapi aku tidak merasa asing dengan jenis mahluk ghaib yang sedang merasuki perempuan yang kelihatan mengerikan saat ini.

“Kau siapa?” tanyaku mendekat tak gentar.

Ia menggertak-gertak seolah akan menubrukku. Mulutnya mengangga memamerkan gigi yang rapi bersih tapi sedang berliur tak terkendali. Lidahnya bergerak-gerak.

Perempuan itu mengarahkan mukanya padaku tapi tidak pandangannya.

“Ulon le limong…” pandangannya tetap ke atas. Suaranya serak seperti nenek-nenek tua yang menderita bronchitis.

“Hah?” entah bahasa apa yang dipake si setan borjong satu ini. Limong? Limo? Lima?

“Dea ini orang mana sih, Farah? Aku gak ngerti bahasanya…” aku beralih sekelebat saja pada Farah yang masih berdiri rapat di pintu, bertanya pada saudaranya mungkin akan lebih jelas.

“Aceh… Dia orang Aceh, bang…” gugup Farah menjawabku karena ia ketakutan melihat saudaranya ini menjadi demikian menakutkannya. Aceh? Apakah maksudnya ‘limong’ itu lima? Trus ngapain ini setan harus pake bahasa Aceh trus?

“Inong nyoe nyangpo kamoe…” cerocosnya ntah hapa-hapa.

“WOY! KIMAK KAO, YA!!” makiku bosan dengan tingkah setan satu ini.

“NGOMONG KAO BAGOS-BAGOS! SIAPA KAO?!” kutuding-tuding setan brengsek yang sudah berani bertingkah di depanku ini.

Kepalanya berputar-putar yang kelihatan sangat tidak wajar dilakukan leher manusia. Ia turun dari atas ranjang seperti seekor hewan berkaki empat. Ia berjalan dengan empat kaki ke arah dinding seperti tak perduli dengan makianku barusan.

“Bang-bang… Ngapain dia, bang?” Farah tambah panik melihat saudaranya itu memanjat dinding seperti seekor cicak.

Tangan dan kakinya menempel erat di dinding. Aku nggak heran melihat tingkah setan begini. Ini cuma pamer kekuatan dan kemampuan saja. Bagi orang awam itu pastinya sangat mengagumkan sekaligus mengerikan. Nempel di dinding kek Spiderman. Berusaha meyakinkan orang-orang kalo dia setan yang sakti lagi berbahaya.

“Agam nyoe… MATI!” hardiknya dengan mata melotot gak fokus. Ia mulai menyerangku dengan senjata utamanya yang panjang menjuntai.

Mendengar kata ‘mati’ barusan, bukannya menghindar aku malah bergerak maju dengan cepat, menangkap sejenis lidah panjang yang meluncur cepat dari mulut Dea. Ia membocorkan sendiri kekuatannya yang berperilaku seperti seekor cicak. Kugunakan tanganku sendiri sebagai umpan hingga melekat erat.

Kutarik lidah yang awalnya dimaksudkannya untuk menyerangku. Tangan dan kakinya yang menempel erat di dinding sampai terlepas karena betotan kuatku. Terbelalak matanya mendapati tubuhnya lepas dan kubanting keras ke lantai padat.

“GDEBUUK!!” tubuhnya membentur kuat. Mulutnya menganga kaget oleh rasa sakit yang menyengat tubuhnya. “ARRKK!!”

Kuinjak bagian leher Dea dan menarik kuat-kuat lidah panjang itu. Betotan kuat menyentakku melepaskan setan itu dari tubuh Dea. Perempuan itu tetap berbaring di lantai sementara setan berbentuk cicak raksasa itu kubanting ke arah dinding, lidahnya tak kunjung kulepas.

Lidahnya berbelit dan merekat di tanganku juga saat kukeluarkan mandau Panglima Burung, setan cicak itu berusaha menempel lagi di dinding.

“CLAAKK!!” mandauku menancap di bagian lehernya tembus hingga ke dinding. Ia sukses terpancang di dinding, menggelepar-gelepar.

Aku memandangi hasil karyaku dengan puas. Kuluapkan semua emosiku yang lagi kentang begini yang gagal menggumuli binor dengan membantai seekor setan cicak yang berani-beraninya petentengan (sok jago) di depanku. Lumayan buat foreplay, pikirku. Lidahnya yang panjang kuikat berupa simpul sepatu di bilah mandau.

Kalo ia berani menariknya, dijamin bakal putus kena tajam mata mandau.

Ketika kuedarkan pandanganku ke sekitar, Dea masih berbaring di lantai di antara ranjang hotel dan dinding. Sedang Farah masih berdiri di dekat pintu, terpana dengan apa yang sedang kukerjakan. Tentu saja ia tidak bisa melihat setan cicak berukuran besar yang masih terpancang di dinding dengan mandau-ku itu. Pastinya ia bingung dengan gerakan-gerakan yang kulakukan seperti berkelahi dengan angin barusan.

“Setannya udah awak keluarin, Farah… Itu disitu…” tunjukku pada senjata tajam panjang yang menempel di dinding. Tentu saja Farah masih gak bisa melihatnya.

“Coba liat Dea-nya dulu… Cek kondisinya?” pintaku padanya. Perempuan itu ragu-ragu bergerak karena ia sama sekali tidak tau kondisinya ato apa yang telah terjadi. Yang ia tau hanya tadi Dea terlihat serem kesurupan setan aja.

“Gak pa-pa… Cek dulu…” Aku gak melepaskan pandanganku pada setan cicak itu. Ia masih menggelepar-gelepar ingin lepas dari mandau-ku yang menembus lehernya.

“Dea masih belum sadar, bang… Badannya menggigil… Panas… Badannya panas…” seru Farah setelah memeriksa Dea secara cepat.

Sekilas kulihat memang tubuhnya yang setengah telanjang, pucat dan memerah di beberapa tempat. Aku mundur tapi tak melepaskan pandanganku pada lawan. Aku memegang keningnya. Panas! Begitu juga pipi dan lehernya. Apa yang sudah dilakukan setan cicak pukimak ini pada Dea?

Aku mendekat pada setan cicak yang menggantung menggenaskan di dinding terpancang mandau Panglima Burungku. Cicak raksasa seukuran biawak besar itu tidak berani gegabah bergerak karena takut lehernya putus.

“Hei, borjong! Kau apakan perempuan itu? Kenapa dia jadi begitu?” geramku menginterogasinya dengan muka gusar dan bingung.

“Jeh racun lon…” ia kembali pake bahasa Aceh dan matanya kuhadiahi sebuah bogem mentah. “AKKKH!!”

“Sekali lagi kao pakek bahasa yang gak aku ngerti… abis kao kucincang! Pake bahasa Indonesia!” hardikku.

Udah capek dan ribet aku dibuatnya, setan ini malah pake bahasa yang membingungkanku. Matanya yang baru kubogem berkedip-kedip kesakitan. Setan itu mahluk yang pintar, teman-teman. Contohnya dalam hal bahasa. Ia tau semua bahasa yang ada di muka bumi.

Dimanapun ia berada, ia menyesuaikan dirinya termasuk menyesuaikan bahasa yang dipakai mangsanya. Misalnya pas satu kasus dia lagi di Amerika Serikat nih, dia pasti pake American English, disesuaikan juga lagi dialek daerahnya.

Pas dia lagi di India, ganti lagi bahasa yang dipakainya. Ada acha-acha-nya gitu. Nah, setan yang mengaku nomor 5 ini memakai bahasa Aceh menyesuaikan dengan mangsanya yang bersuku Aceh.

“Jeh… Itu-itu racunku…” ia memakai bahasa Indonesia sekarang walo terbata-bata. Mungkin program bahasanya masih belum loading sempurna.

“Racun kau bilang? Racun cicak? Ada racun cicak?” tambah membingungkan.

Setauku pada beberapa orang cicak itu hewan yang menjijikkan. Bangkainya sering dijadikan contoh najis bila terkena makanan saat pelajaran ngaji waktu ku kecil dulu. Guru ngajiku juga memberi contoh kalo membunuh cicak itu bisa berpahala. Pahala yang paling besar kalo sekali pukul langsung mati. Berkurang kalo lebih dari sekali pukul. Pulang ngaji, abis cicak satu gang kami bantai—ngalap pahala. Apakah karena dianggap berdosa, cicak mengembangkan racunnya sendiri.

“Racunku membuat inong (perempuan) itu panas di dalam tubuhnya… Lihat pangkal kakinya…”

“Pangkal kakinya?” ulangku lalu balik ke arah Dea dan Farah. Dea tubuhnya masih menggigil hebat. Farah memangku perempuan itu di kakinya.

“Kita bawa ke dokter, bang?” usul Farah yang khawatir dengan keadaan saudara sepupunya yang dalam keadaan sakit begini.

“Ini bukan penyakit medis, Farah… Dokter gak akan bisa mengobati penyakit supranatural seperti ini…” tolakku karena mungkin malah fatal melakukan usul Farah tadi.

“Apa maksudmu pangkal kaki?” aku tereak lagi pada si setan cicak itu setelah memperhatikan kaki Dea yang aslinya mulus, kini putih pucat.

Bagian perut sampai ke sebagian selangkangannya memerah. Lututnya juga merah sebagaimana dada dan lehernya. Hanya bagian-bagian tertentu saja yang memerah, lainnya pucat.

“Selangkangan perempuan itu…” jawab si setan cicak. Pandanganku langsung tertumbuk pada gundukan kemaluan Dea yang masih terbungkus celana dalam yang senada dengan bra-nya. Apa maksudnya?

“Farah… Maaf-maaf nih ya… Ada sesuatu yang terjadi di selangkangan sepupumu ini… Setan itu meninggalkan racun di sana…” kataku takut-takut segan jadinya. Makanya aku memberanikan diri menyatakan ini pada perwakilan keluarganya aja. Sukur-sukur ia mengizinkanku.

“Racun? Liat dong, bang? Nanti Dea kenapa-napa… Buruan, bang…” panik Farah.

Ini susahnya berurusan dengan perempuan. Banyakan paniknya dari pada nolongnya. Aku beralih ke arah kakinya dan pelan-pelan kuloloskan celana dalam yang dipakai perempuan berdarah Aceh itu.

Yang pertama kali tertangkap di mataku tentu saja rimbun jembutnya yang lebat tebal sebagaimana juga rambutnya yang panjang bergelombang. Benar dari pusar lalu menjalar ke sebagian besar kemaluannya memerah seperti matang.

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22