The Baby Maker Part 11

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22

Cerita Sex Dewasa The Baby Maker Part 11 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya :The Baby Maker Part 10

“Hurk… hoek…” masih ada sisa rasa mual di perutku.

“Bens… bawa Nirmala sama baby sitter-nya keluar lewat pintu belakang…” perintahku pada pria kekar tapi gemulai itu.

“Vivi gimana, bang? Dia masih di atas~~…” panik Benget yang jelas-jelas melihat penampakan kepala nenek-nenek yang tiba-tiba muncul di ambang pintu utama rumah ini.

“Itu-itu apa, bang? Hi-ihh…” ia bergidik ketakutan menunjuk-nunjuk kepala Banaspati yang tergeletak begitu aja di atas lantai maju mundur dengan kaki rapat seperti menahan pipis.

“Gak usah banyak tanyak! Cepat bawa mereka keluar!… Nanti awak urus Vivi…” kataku tak melepaskan pandanganku pada wujud Banaspati lindu yang matanya jelalatan dengan lidah panjang menjulurnya.

Benget mengangguk patuh tak bertanya lagi. Ia segera berlari ke kamar Nirmala dan menyeret baby sitter muda, membawa Nirmala keluar dan mengarahkan mereka menuju pintu belakang. Aku tak bisa memikirkan korelasi antara Banaspati-Banaspati yang muncul ini dengan Vivi. Apa hubungan mereka dengan VIvi? Kenapa ada tiga jenis Banaspati lengkap, muncul dan berkaitan dengan tetanggaku ini? Dari Banaspati geni, Banaspati banyu dan Banaspati lindu saat sekarang ini.

Banaspati lindu tak sedetikpun melepas fokusnya menatapku. Ia menggeser kepalanya sedikit-sedikit agar tetap sejajar dengan arahku. “Roarkk…” mulutnya menganga dan lidahnya menjulur.

Dari balik rambut kusutnya muncul semacam pasir dan tanah yang dengan cepat berkumpul, menggumpal, menumpuk, dan menjadi bola yang membalut kembali kepala itu. Berdesing bola tanah itu berputar cepat pada sumbu sisi tubuhnya lalu, “SWINGGG!” meluncur cepat, bergerak dengan tidak wajar seperti sebuah roda yang lepas kendali tetapi tepat mengarah padaku.

Aku terlambat mengantisipasi gerakan cepat meluncurnya dan hantamannya telak menghantam dadaku. “BUGH!” terjengkang aku terdorong hantaman kuat Banaspati lindu yang berputar bak roda.

Padat massa tanahnya terasa sangat keras. Licin lantai granit rumah Vivi dan Benget membuatku meluncur tergelincir sampai hampir membentur dinding ujung ruangan ini. Untung mandau Panglima Burung tidak terlepas dari tanganku.

Mataku berkunang-kunang apalagi dadaku terasa sakit. Aku langsung sigap lagi gak mau dihajar lagi dan benar saja ia berdesing cepat dan menghantam dinding di belakangku karena aku berhasil berkelit di detik-detik akhir.

Bergulingan dengan tubuh lemas akibat muntah. Juga sudah dikuras akibat pertarunganku sebelumnya dengan Banaspati banyu. Apalagi lebih sebelumnya beberapa ronde ngentoti binor Julio. Kekuatan bakiak Bulan Pencak yang membantuku melangkah dengan mantap.

Dengannya aku bisa memperkuat langkah kuda-kuda dasar yang sudah kupelajari sedari dulu. Bekas hantaman berputar cepat Banaspati lindu ini membuat rengkahan di dinding dan lantai ato apapun yang terkena hantamannya. Alhasil rumah milik Vivi ini jadi berantakan, porak poranda berlubang-lubang akibat serangan Banaspati lindu yang meleset.

Gaya bertarung seperti ini sebenarnya sangat sesuai denganku, seperti pertarunganku dengan Banaspati geni kemarin malam. Hanya saja staminaku sudah habis dan aku begitu ceroboh terbawa emosi langsung menyambangi tempat ini tanpa persiapan matang. Poding dulu, kek…

Jadinya aku bertarung seperti orang mabuk yang lebih banyak menghindar dan mengelak. Mengandalkan kelincahan dan keuntungan kekuatan bakiak Bulan Pencak. Seperti saat ini, Banaspati lindu itu berputar cepat di atas lantai, berdesing-desing seperti gerinda yang sedang mengikis bebatuan suara bisingnya lalu meluncur lagi menyerangku. Aku sudah bersiap-siap menghindar lagi dan kalo beruntung bisa mengayunkan mandau-ku untuk menyerangnya.

Dadaku masih terasa sakit bekas hantaman pembukaannya tadi. Nyeri dan terasa panas menyesakkan jalan nafas. Ia kembali mengincar bagian dadaku hingga aku berkelit ke samping dan mengayunkan mandau Panglima Burung yang kini terasa lumayan berat saat ini.

“BOUF! BOUF! BOUF!” dengan cerdik Banaspati lindu itu melepaskan beberapa butir batuan padat saat melewatiku. Lengan dan punggungku terkena hantaman batu keras yang ditembakkannya, batu ketiga meleset dan menghantam lantai.

Banaspati itu menabrakkan dirinya membuat lubang baru di dinding dan memantul lagi ke arahku. Gawat kalo ia melakukan taktik yang sama lagi. Setan tanah ini menjadi gabungan Banaspati geni yang bertarung jarak dekat dan Banaspati banyu yang bertarung jarak jauh—dia bertarung dengan baik di kedua jarak. Mampus aku.

Aku menghindar sejauh mungkin dari sambaran setan tanah itu dan memapas apapun yang ditembakkannya padaku. Lengan kanan dan punggungku yang terkena tembakan tadi memar biru-biru gitu sangking kerasnya batu kerikil yang ditembakkannya.

Lontaran tembakan yang ditambah gerakan memutarnya menambah daya gedornya menyerangku. Aku mengaduh-aduh kesakitan di beberapa bagian tubuhku yang sudah terkena tembakan. Pandangan mataku juga mengabur oleh keringat yang bercucuran. Kukucek mataku, kok merah? Ternyata darah. Pantesan jidatku terasa perih ternyata terkena tembakan batu itu juga.

Hanya mental pendekar Menggala yang sudah malang melintang lama di ranah pertarungan yang membuatku dapat tetap berdiri tegak saat ini. Determinasi berbagai latihan bela diri dan akhir-akhir ini lebih fokus ke silat harimau Mandalo Rajo memberiku stamina tambahan. Kalo tak sanggup berdiri tegak, rebahlah di tanah layaknya seekor harimau. Mental pantang menyerah…

“Mandalo Rajo…” gumamku lirih.

Ini potensi tersembunyi yang patut digunakan saat-saat genting seperti ini. Dimana stamina dan tenagaku sudah terkuras habis, rasa sakit menggelayuti seluruh tubuhku. Ibarat bensin, dari indikasi full di speedometer yang tersisa sekarang sudah di garis merah mendekati kandas. Cakar-cakar ghaib itu menusuk keluar, mencuat dari sela buku jari dan kakiku.

Kuabaikan rasa sakitnya saat darah mengucur keluar menembus daging dan kulit fisik mentahku. Menambah rasa sakit saat ini menjadi rasa nikmat yang aneh. Ada rasa tenang yang sangat asing saat melihat desing berputar cepat bola Banaspati lindu meluncur cepat lalu menembakkan batu-batu kerikil yang sangat cepat lagi keras itu. Mandau Panglima Burung kusimpan sementara.

Tubuhku berjumpalitan layaknya seekor harimau beneran dengan insting hewan buasnya yang bergerak liat menghindari beberapa tembakan sekaligus. Dan, “PLAK!!” sebuah tamparan menggunakan cakar di tanganku berlawanan arah dengan arah putarannya membuat Banaspati lindu itu limbung di udara. Bingung akan apa yang telah terjadi pada gerakan cepatnya.

Dalam keadaan itu, sebuah tamparan lain kulakukan ke arah sebaliknya. Ia berusaha membela diri dengan menembakkan batu-batu kerikilnya secara membabi buta. Ia hanya bisa menembakkan batu-batu dari permukaan berputarnya saja sedang aku yang berada di sisi sumbunya tak terekspos serangan itu.

Untung dalam keadaan tenang seperti sekarang, aku bisa menemukan fakta itu dan memanfaatkannya. Jadi ia hanya sia-sia saja menembakkan batu-batu kerikil itu kalo sudah tau bidang tembaknya. Batu-batu itu kalo kena akan terasa sakit sekali juga pedas di tempat terkenanya.

“Hyaat…” aku berjumpalitan dengan tenaga seminimal mungkin mengincar salah satu dari dua titik kelemahannya, menghindari tembakan-tembakan penasarannya.

Aku menyeser di lantai menunduk rapat lalu melompat melenting tinggi di antara tembakan berhamburan tak tentu target. Dengan cakar tajam di tanganku yang berdarah-darah, kutarik bola yang terasa semakin mengecil itu ke arah yang kuincar sedari tadi; salah satu sisi sumbu berputarnya yang ada di kanan dan kiri.

Ini titik keseimbangannya dan juga bagian tubuhnya yang paling lemah, bagian telinga. Dengan cengkraman tangan yang dilambari kekuatan jurus Mandalo Rajo, kuhancurkan tanah, pasir dan batu pelindung bola itu hingga tembus dan aku dapat mencengkram bagian telinga kepala nenek-nenek tua keriput berambut kusut masai itu.

“Rrraarrkk rrarrkkhh rraarrhrrkk!” suaranya meronta-ronta kesakitan karena kuku tajam cakar ghaib harimauku ini menancap di kepalanya tanpa ampun.

Rambut-rambut masai-nya bergerak-gerak seperti sekumpulan ular kecil mengeluarkan pasir dan batuan kecil berusaha menutup lubang yang kubuat untuk mencengkram bagian telinganya.

Malahan tanganku yang dibalutnya seperti terasimilasi namun dengan cepat gagal dan rontok semua pasir dan batuan itu karena tanganku tentunya benda asing baginya. Mandau Panglima Burung kembali siap kuhunuskan. Siap kutusukkan pada Banaspati lindu yang sudah membuatku semaput sedemikian rupa.

Tidak perlu pake jurus macam-macam untuk menusuk Banaspati lindu yang dalam keadaan tidak berdaya semacam ini. Mandau-ku menusuk kepala jadi-jadian manifestasi bentuk Banaspati lindu berelemen tanah yang mengambil bentuk kepala perempuan tua sebagai perwujudan Mother-Earth.

Menggelepar kepala Banaspati lindu yang mendapat tusukan di bagian pelipisnya menembus sisi satunya, lalu kutarik melintang ke arah matanya dan kulempar ke udara dan kutebas untuk sentuhan akhir, membelahnya menjadi dua. Hanya tersisa serpihan tanah dan pasir yang berjatuhan ke lantai rumah.

Kutarik pengerahan Mandalo Rajo hingga kuku berupa cakar ghaib itu masuk kembali ke dalam buku tanganku, meninggalkan luka sobek yang baru terasa sakit dan pedih. Luka yang berdarah-darah. Badanku baru terasa lemas kembali karena berkurangnya pancaran semburan Lini kala menggunakan Mandalo Rajo barusan. Vivi masih ada di atas walo aku tak mendengar suara erangannya lagi. Baru sekarang aku bisa berfikir lebih jernih.

Perutku lapar dan tubuhku seluruhnya sakit. Seluruh sendi-sendi terasa pegal dan linu sekali. Luka-luka lebam bekas tembakan batu Banaspati apalagi luka sobek berdarah-darah akibat mencuatnya cakar Mandalo Rajo di tangan dan kakiku.

Vivi harus bisa menunggu… Ato aku tak bisa menyelamatkannya sama sekali. Aku malah menuju dapur rumah ini. Di atas meja makan ada seplastik roti tawar yang sedang terbuka. Ada potongan roti yang sudah dioles selai srikaya juga.

Sebelumnya ada yang sedang mengganjal perut di sini lalu terinterupsi akan kericuhan ini. Kugasak tanpa pikir panjang roti yang tersedia tanpa pikir panjang. Yang penting perutku terisi dengan cepat.

Walo makanku sedikit, tapi kalo perut kosong sampe taraf melilit begini susah juga untuk berkonsentrasi dan berfikir jernih. Roti tawar tanpa selai-pun kukunyah-kunyah yang penting perutku terganjal dengan cepat. Nyangkut di leher karena seret kutenggak saja air putih dari teko.

Gak enak kali makan terpaksa kek gini. Apalagi makanan hambar bernama roti tawar yang gak sempat kububuhi selai tiap lapisnya. Kenyangnya gak enak. Tapi jadilah. Yang penting perutku gak melilit lagi.

Walo belum sempat terkonversi menjadi energi, hanya memberi rasa lega di perut yang terganjal gak kelaparan, aku keluar dari dapur menuju ruangan tengah tempat dimana tangga menuju lantai dua berada. Kakiku masih sedikit lemas ketika melangkah kesana dan mencoba menaiki tangga. Kenapa tangga ini basah? Ada aliran air dari lantai atas ketika kuperhatikan asal air yang membasahi tangga.

Lalu horor baru terjadi, dari lantai atas terlihat sebuah semburan besar seperti air bandang yang berasal dari sana. Mengapa ada sumber air yang sangat besar di atas sana? Panik dan sibuk menyelamatkan diri yang kemudian menjadi prioritas utamaku.

“BYUUURRR!!!” seperti sebuah aliran sungai yang sedang banjir terjangan air yang membanjiri tempat ini. Aku sempat bergulung-gulung di dalam aliran derasnya. Aku sempat mengalami ini tadi saat menghadapi Banaspati banyu di jalanan sebelumnya, kenapa aku mengalami ini lagi? Apakah ada Banaspati banyu lagi?

Basah kuyup aku bangkit lagi setelah sempat jatuh berguling-guling dari pertengahan tangga. Lantai tergenang air yang mengalir keluar ke arah pintu. Sebuah bola air turun dari lantai dua, pusaran airnya berputar-putar mengelilingi sebuah kepala berbentuk tengkorak. Benar itu Banaspati banyu lagi. Hampir terpeleset aku untuk berdiri lagi, bersiap-siap menghadapi Banaspati banyu lagi.

Gila aja aku harus ngehadapi dua Banaspati banyu dan satu Banaspati lindu.

“BRAAAKK!!!” sesuatu menjebol langit-langit rumah dan turun berputar dengan cepat. Kimak! Itu Banaspati lindu lagi!

Dan seolah melengkapi dan menggenapkan semua kegelisahan, kesusahanku saat sebuah kobaran api turut turun dari lantai dua, menyusuri tangga itu dengan gejolak membaranya. Ya, man-teman. Itu Banaspati geni melengkapi set trio Banaspati.

“Cam betol aja klen semua keluar maen keroyokan kek gini?” gerutuku lemas melihat tiga jenis Banaspati berbeda kini sedang wara-wiri di sekitarku.

Banaspati geni mengobarkan apinya seperti rambut terbakar. Banaspati banyu berputar-putar normal dengan ukuran besar air yang ada di dalam bolanya, kemudian ia menghisap air yang tersisa di lantai.

Banaspati lindu memantul-mantul di dinding berdesing cepat di sekitarku. Aku mengeluarkan mandau Panglima Burung dan bakiak Bulan Pencak dengan dilema. Menggunakan alas kaki akan memperkuat serangan Banaspati geni.

Gak pake alas kaki aku terkena serangan gempa dari Banaspati lindu. Lalu direpotkan oleh tembakan air Banaspati banyu juga banjir bandangnya apalagi tembakan batu kerikil Banaspati lindu tidak bisa diremehkan sama sekali.

Sudut mataku menangkap gerakan baru dari tangga lantai atas. Ada seseorang yang melangkah turun. Itu Vivi!

“VIVI?!” teriak suara di belakangku. Itu suara si Benget. Dia masih disini? Dia memang teman sejati bagi Vivi. Di saat berbahaya seperti ini ia masih setia menunggu temannya yang sedang dalam keadaan susah seperti ini.

“Jangan masuk, Bens… Tetap di situ… Disini masih berbahaya!” cegahku melihatnya akan memasuki rumah kembali.

“Awas, bang Aseng!!” Benget berteriak menunjuk-nunjuk ke arah belakangku.

Terasa ada lesakan cepat menyambarkan. Aku menjatuhkan diri kebelakang menghindari serangan yang terasa panas berkobarnya. Tak salah lagi itu Banaspati geni yang bergerak cepat dengan tambahan elemen anginnya yang memanfaatkan kelengahan dan alas kaki yang kupakai.

Tiba di lantai terkena sapuan semburan air kencang hingga aku bergulung-gulung di permukaan lantai hingga menghantam dinding yang memisahkan ruangan ini ke dapur. Kekuatan air tidak bisa diremehkan hingga dinding itu jebol dan aku ikut tersedot ke dalamnya. Aku berpegangan pada retakan dinding, menahan diriku.

Susah payah aku berusaha berdiri dengan badan basah kuyup dan mimpi buruk itu terjadi lagi-goncangan hebat itu menyerang tubuhku. Berguncang-guncang. Kepalaku seperti punya per, berputar-putar. Isi perutku diaduk-aduk.

Ternyata saat banjir air Banaspati banyu tadi, bakiak Bulan Pencak-ku lepas sehingga serangan utama Banaspati lindu telak menghantamku.

“AKKHH!!” sebuah hantaman telak menghajar dadaku tepat di bekas hantaman Banaspati lindu sebelumnya. Kali ini adalah serangan Banaspati geni.

Tubuhku terbanting keras terjengkang dan menubruk sebuah lemari hias yang ada sudut ruangan yang sudah ringsek sebelumnya. Isi lemari ini celakanya sangat-sangat berbahaya karena berupa barang-barang pecah belah, piring dan gelas kristal, kesenangan para ibu rumah tangga untuk menghias rumahnya.

“Aw aw aw…” keluhku karena luka-luka yang kualami karena harus bertarung di area domestik.

Bertarung di dalam rumah memang tidak dianjurkan. Pertama karena keterbatasan ruang gerak. Kedua karena banyak barang berbahaya di dalamnya. Ketiga karena rumah itu bisa hancur berantakan.

“Vivi… Berhenti!” lalu melompat menjauh sebisanya karena Banaspati lindu menyerbu menyambar deras lagi.

Sisa pecahan kaca-kaca benda pecah belah masih ada yang menempel di tubuhku. Bekas hantaman Banaspati geni membuat bekas hangus terbakar pada bagian depan dadaku. Aku mengamati dan harus menghindari semua serangan yang terus menerus menerjangku bertubi-tubi.

Vivi mengibas-ngibaskan kedua tangannya seperti konduktor orkestra yang mengatur suara dan tempo permainan musik ansembelnya. Rambut panjangnya berkibar-kibar akibat luapan energi miliknya saat ia mengerahkan ketiga Banaspati ini. Ia menatapku tajam dan kedua tangannya bergerak-gerak.

Gerakan tangannya diikuti patuh oleh ketiga Banaspati itu. Banaspati geni menyambar bersamaan dengan Banaspati lindu membentuk persilangan dan aku tepat berada di tengah silang itu selagi kakiku yang memakai bakiak Bulan Pencak tak tahan dengan licin permukaan lantai yang dibanjiri Banaspati banyu. Serangan kombinasi itu membuatku menjadi bulan-bulanan terus-menerus.

“Vivi… Kenapa ini, Vivi? Kenapa kau melakukan ini padaku? Apa salahku?” teriakku lemah saat terhuyung-huyung habis terjengkang barusan menjebol sisi bekas rengkahan dinding berlubang ke dapur.

“Vivi… Vivi udah, Vi… Stop Vivi…” Benget masih ada di balik pintu utama.

Ia masih di sana. Muka sangarnya lucu bermandikan air mata dan ingus. Sempat-sempatnya aku menertawakan itu, padahal badanku sakit semua kek gini. Vivi sumber semua Banaspati ini. Ketiga Banaspati dengan mudah dikendalikannya.

Apakah ia melakukan ini dengan sadar? Mata Vivi agak berbeda. Pandangannya penuh dengan kebencian. Kenapa ia harus benci padaku? Apa yang sudah kulakukan padanya? Tapi ia tidak menyerang Benget sama sekali. Cuma aku aja.

“Bens! Kemari!” panggilku pada pria kekar tetapi gemulai itu.

Ini taktik untung-untungan aja. Untung-untung berhasil. Ragu-ragu dia akan bergerak masuk karena rasa takut masih menguasai dirinya tentu saja melihat ada tiga mahluk ghaib menakutkan yang sudah memporak porandakan rumah yang selama di tempatinya. Tapi walopun begitu rasa setia kawannya yang kental pada sobatnya, Vivi, mengalahkan rasa takutnya itu.

“Sini kau, cepat!” geramku agak kesal karena ia lambat sekali bergeraknya.

Badan besarnya gemetar melihat tiga benda itu mengambang dan berputar-putar siap menyerangnya. Apalagi melihat isi inti pusaran mahluk itu menyeramkan. Ada yang berupa kakek tua, nenek keriput dan tengkorak. Kutarik tangannya agar lebih merapat padaku.

“Itu-itu apa, bang?” takut-takut ia gak berani menunjuk. Ia mengumpetkan tubuh besarnya yang gak bisa terlindung oleh tubuhku.

“Kemana Nirmala sama baby sitter-nya kau tarok (letak)?” tanyaku lebih khawatir keadaan bayi itu daripada si bencong satu ini.

“Di rumah abang…” jawabnya cepat.

“Kok di rumahku pulak?!” kagetku tapi gak bisa lama-lama.

“Jadi dimana lagi?” tentu ia bingung mau kemana mengungsikan kedua orang yang tak tau apa-apa itu.

Ke tetangga sebelah rumah pastinya akan heboh kalo mereka tau ada hal begini yang terjadi di dalam rumah. Tapi sudah seheboh ini memang tak ada orang yang datang kepo satupun. Padahal masyarakat kita terkenal suka nonton sumber keributan.

Ada kecelakaan pada nonton gak bantuin. Ada kebakaran pada nonton gak pada nyiram. Ada kebanjiran pada nonton gak pada nguras. Sekalinya ada biduan kinclong semua pada berebut nyawer.

“Ya udahlah… Ini Vivi kenapa, Bens? Kok jadi gini dia?” tanyaku. Ketiga Banaspati itu hanya berputar-putar mengelilingi kami. Tak sekalipun menyerang. Vivi hanya menatap padaku dan Benget bergantian.

“Gara-gara abang Aseng-la… Ish…” jawabnya cepat.

“Kok gara-gara aku pulak?” hampir aku menjerit dan langsung kutahan suaraku agar tak meninggi. “Kok gara-gara aku, Bens? Udah kuapain klen rupanya?” suaraku kurendahkan agar tak membuat Vivi bertambah marah. Pandanganku masih mengawasi ketiga Banaspati itu.

“Abang udah grepe-grepe Vivi hari itu, kan?” ketus Benget.

“Hah?”

“Iya… Abang udah megangin teteknya Vivi hari itu, kan? Waktu bu Karina itu datang e-e… mau minta hadiahnya itu… yang pagi-pagi kami masih ngantuk abis begadang ngejagain Nirmala itu… Iya, kan?” kata Benget mengingatkanku.

Gara-gara itu? Hanya gara-gara itu? Ternyata Vivi tidak sepenuhnya tidur saat itu. Dia tau siapa sebenarnya yang meremas payudaranya. Padahal aku aja udah lupa rasanya. Pokoknya kenyal lembut gitu aja. Aku menyamarkannya dengan mengkambing hitamkan Benget dengan menjatuhkan tangan pria itu ke pangkuan Vivi dan aku langsung ngibrit menjauh.

“Hah? Kok dia tau? Klen berdua kan lagi tidur gitu…” tanyaku gak abis pikir.

“Akupun juga gak tau itu, bang… Katanya bola-bola itu yang ngasih tau dia…” jawab Benget dengan sengit.

Para Banaspati ini yang memberitau Vivi?

“Apa kau pernah melihat bola-bola ini sebelumnya, Bens?” Si Benget menggeleng-geleng cepat sampe bibir tebalnya berkibar-kibar.

Para Banaspati ini hanya menampakkan dirinya pada saat-saat tertentu saja. Saat Vivi marah misalnya. Kenapa marahnya Vivi yang malah menyasar padaku? Kalo saat kuremas teteknya, okelah dia tau kejadian itu setelahnya tetapi tidak ada Banaspati yang menyerangku setelah itu.

Banaspati geni mulai menyerangku kemarin malam lalu Banaspati banyu baru beberapa jam lalu kemudian Banaspati lindu barusan tadi. Dimana letak marahnya? Dan kenapa saat menghadapi Kuyang waktu itu tidak muncul?

“Dia marah sama aku, Bens?” aku gak ngerti. “… karena teteknya udah kugrepe?” prosesor otakku gak sanggup mengkalkulasi masalah ini.

“Vivi itu fikirannya sangat sederhana kali, bang… Belom pernah dia disentuh laki-laki… Belom pernah dia pacaran… Abang yang pertama kali menyentuhnya~~” papar Benget dengan cara ngomongnya yang mendayu-dayu. Bah! Karna itu? Alasan marah macam apa itu? Karna cuma digrepe sekali aja sampe segini marahnya.

    

“Kau kan pernah juga pasti…” semprotku.

“Aku gak dianggapnya laki-laki, bang~~… Sama kami~~” jawabnya malah lucu-lucu kimak.

“Udah tukar-tukaran beha klen?” ulangku tambah nyemprot si bencong pukimak ini. Ia cuma cengar-cengir.

“Ayok… Maju kita… Kalo ada kau… gak mau nyerang si-Vivi-nya…” kataku menariknya agar maju mendekat pada Vivi yang ada di pertengahan bidang tangga yang ada dua bagian.

“Ish… Abang ini gak peka kali awak rasa juga… Kek gitu kali jadi cowok?… Benciiii akyuu…” Bug! Bug! Bug! Dipukulnya punggungku yang sakit beberapa kali. Kimak! Sakit kali, mak!

“KIMAK kau, bencong! Punggungku udah luka-luka gini kau pukulin kuat-kuat pulak… Aduuh…” mengaduh-ngaduh-la aku jadinya merasakan punggungku yang makin berdenyut-denyui sakit.

Bencong-bencong. Walo perasaannya kek cewek tapi bodinya tetap aja lelaki kekar. Mukul ya tetap sakit. Mau kubalas cemana… Tambah ngamuk pulak nanti Vivi ngeliat temannya dijahatin.

“Sori-sori, bang… Abis gemes akyuu… Vivi itu suka sama bang Aseng~~… Tau gak, siiih?” katanya mengejutkan. “Gak peka kali, siiih…”

Tatapan mata itu. Itu bukan tatapan mata benci. Bukan juga tatapan kemarahan. Hanya… Apa cocoknya sebutan untuk menamakan perasaan ini? Ungkapan kesal yang tak tau harus bagaimana mengungkapkannya.

Campuran putus asa, bingung, kangen, marah, kesal, gemes dan entah apa lagi. Tentu Vivi bingung dengan perasaannya saat ini. Dengan adanya kemampuannya ini ia malah mengeluarkan berturut-turut tiga bentuk Banaspati padaku.

“Hati-hati, bang~~” kutinggalkan Benget yang kaget aku meninggalkannya.

Aku mengacungkan tangan tanda jangan mengikutiku. Kurilekskan semua otot-ototku agar tak ada kesan segresif yang meng-agitasi Vivi untuk menyerangku lagi. Kuabaikan semua rasa sakit yang terasa meremuk redamkan sekujur tubuhku.

Aku berhasil menginjak anak tangga pertama saat ketiga Banaspati itu berseliweran mengancam di sekitarku. Kulangkahkan kembali menapak naik. Pelan-pelan aku naik sambil terus menatap Vivi. Air mata menetes dari matanya ke pipi mulusnya. Maafkan aku, Vivi… Aku tidak tau.

“Vi? Benarkah itu?” tanyaku dengan lirih ketika aku sudah setengah jalan di hadapannya.

“Vivi?”

Tangisnya pecah.

Cepat aku berlari padanya. Menyongsong…

“Hu hu huhuhu… hiks… hu hu huhuhu…”

Kubiarkan ia menangis sepuas-puasnya di pelukanku. Ketiga Banaspati miliknya berputar-putar di sekeliling kami. Dipukul-pukulnya dadaku beberapa kali. Walo sakit tapi kutahan aja. Gak usah malu ato segan sama Benget karena ini sudah bukan di rumah mereka yang udah hancur lebur melainkan di daerah kekuasaan hutan kecilku.

Vivi belum menyadari perbedaan lokasi ini karena ia masih tenggelam dengan buncahan rasa yang gak karu-karuan membekap jiwanya yang kalut.

Kuelus-elus rambutnya seperti sedang menina bobo-kan anak kecil yang sedang ngambek gak dikasih naik odong-odong seribu per lagu. Suara tangisnya semakin pelan dan lirih. Tapi masih tersedu-sedu. “Bang Aseng jahat…” ia menggebuk dadaku pelan dengan bagian bawah kepalan tangannya.

“Ya, awak memang jahat…”

“Bang Aseng jelek…” gebuknya sekali lagi.

“Ya, awak memang jelek… Idup lagi…”

“I-ih… Bang Aseng nakal!” ia menambahkan sebuah cubitan.

Aduh mak! Itu bekas kebakar sama ketubruk dua kali sama Banaspati lindu dan geni. Rasanya muyeng sampe ke ubun-ubun berkunang-kunang. Aku tutup mulut saat ia menggigit daging di bawah tulang belikatku karena ia memang membenamkan mukanya di dadaku. Serangan atas fisikku di dunia nyata kebawa sakitnya sampe kemari di dunia spiritual ini karena dilakukan oleh entitas supranatural.

“I-ya… hiks… awak memang nakal… Sakit…” keluhku gak tahan.

Ia mendorong pelukanku membuat ada jarak antara tubuh kami berdua. Entah dia baru sadar kalo tubuhku sedang terluka. Tubuh jiwaku ini memang tidak menampakkan luka tapi pakaianku yang compang-camping harusnya bisa mewakili apa yang telah terjadi padaku. Bagian dada berlubang besar dengan bagian tepi yang hangus. Lalu lubang-lubang kecil bekas tembakan batu kecil Banaspati lindu.

“Sakit?” ia melayangkan pandangannya pada wajahku yang sakitnya minta ampun.

Tapi ia tak kunjung menemukan luka apapun. Ia meraba-raba dada dan lenganku. Aku mengaduh-ngaduh kesakitan akibat sentuhannya. Lalu ia tiba-tiba mengalihkan pandangannya pada situasi di sekitarnya.

Pada tiga Banaspati yang mengelilingi kami, mengambang mengancam. Bahkan si burung Enggang Panglima Burung juga terbang mengitari kami berjaga-jaga karena ia merasakan energi negatif dari tiga setan jahat berjuluk Banaspati itu. Mata Vivi mengernyit mengamati tempat ini.

“Kita ini dimana, bang?” ia melihat kanan kiri. “Trus… ini-ini apa, bang? Vivi takut…”

“Ini tempat aman… Jangan takut… Bola-bola elemen ini namanya Banaspati… Yang ini Banaspati geni… Api!” tunjukku pada kepala kakek tua yang kepalanya terbakar membara.

“Ini Banaspati banyu… Air…” tunjukku kemudian pada gumpalan air berisi tengkorak manusia.

“Dan ini Banaspati lindu… Tanah…” terakhir pada bulatan tanah yang memantul-mantulkan dirinya untuk bergerak mengelilingi kami.

“Banaspati itu apa? Bentuknya serem-serem gitu… Cuma kepala… Serem, bang…” bisik Vivi masih melirik pada ketiga Banaspati itu.

Kalo pertanyaannya kek gitu, jadi selama ini ia tidak tau apa mahluk-mahluk yang ada di kekuasaannya ini. Ia seorang pemilik Banaspati yang tak sadar akan kepemilikannya. Aku sudah menghadapi beberapa kasus seperti ini. Pertama Pipit dengan siluman pohon Beringinnya, lalu Miranda dengan Panglima Burung yang sementara ini berpindah padaku.

“Mereka ini punyamu-loh, Vi…” jawabku. Alisnya menaut rapat dengan tatapan tak percaya. Sumpe lo? Gitu. Dan tiba-tiba ia menutup mulutnya seperti teringat akan beberapa hal yang sangat penting. Horor di matanya. “Kenapa? Kenapa, Vi?”

“Vivi liat semua… Vivi udah liat semuanya…”

“Apa yang Vivi liat?” tentu aku jadi penasaran apa yang sudah dilihatnya. Ia menatapku tajam. Matanya bergerak-gerak menatap mataku balik. Berkernyit-kernyit keningnya seolah tak percaya apa yang telah dilihatnya.

“Ada seorang laki-laki… Ganteng… Putih… Bukan bang Aseng…” ia menggeleng.

“… ada asap-asap gitu… di sebuah kamar gelap… Ia memanggil kakek kepala api ini dari Vivi dan mengirimnya pada bang Aseng… Itu-itu api yang sama yang Vivi liat waktu Vivi pulang semalam, bang… Abang memotong kepala api itu…” ia shock dengan ucapannya sendiri berdasarkan yang sudah dilihatnya.

Ia bisa tau ada yang telah memanfaatkan Banaspati geni miliknya.

“Trus…?” desakku. Apa alasannya mengirim Banaspati banyu itu saat hujan-hujan tadi.

“Banaspati banyu ini…” tunjukku pada gumpalan air berinti tengkorak kepala.

“Vivi… Vivi bisa ngeliat bang Aseng dengan kak Amei dan suaminya di kamar itu… Melakukan itu…” ia menunduk malu dengan perkataannya.

PLAK! Mampos aja aku! Vivi bisa ngeliat semuanya dengan mata para Banaspati-nya. Darurat militer! Darurat sipil! Darurat! DARURAT!! GAWAT!!!

“Juga dengan yang lain-lain juga…” sambungnya. Aku pingsan dengan mulut berbusa… *kidding

***

Jadi dari sejak ia mulai punya perasaan suka padaku, secara gak sadar ia mengirimkan Banaspati tak berwujud alias tak berelemen untuk mengikutiku kemana-mana dan melihat semuanya melalui mata jin itu. Jin yang tak punya niat jahat ini tentu saja tak terdeteksi olehku karena secara normal mereka/jin ada di mana-mana.

Mana kutau kalo ada satu jin yang selalu memata-matai kegiatanku. Itu artinya dia telah mengikutiku… sejak aku menggauli Andini, mungkin kak Sandra dan Dani beberapa kali, lalu bu Karina, Mayumi-chan dan Amei… Mampos gilak!

“Vivi liat semua? Ng… Itu… itu… Ng…” kugesekkan tanganku pada pahaku sendiri.

“… gini’in perempuan-perempuan itu?” tanyaku malu-malu meong dengan kode ngentot ala Medan itu.

“Liat…” jawabnya lebih malu-malu kucing lagi.

“Liat semua?” pastiku lagi.

“Ish… Gak usah diulang-ulang-ih…” jawabnya kheki tambah menunduk dalam.

“Vivi diam-diam aja, ya? Rahasia soalnya…” kataku lalu agak terlonjak keget karena Vivi tiba-tiba menegakkan kepalanya lagi. “Kenapa?”

“Laki-laki tadi… Yang memanggil Banaspati api ini dari Vivi untuk nyerang bang Aseng… Rumahnya terbakar!… Hanya dia yang mati di dalam rumahnya!” ingat Vivi akan si Surya-Surya itu. Kejadian yang ganjil karena dari beberapa penghuni rumah hanya dia yang tewas sedang yang lainnya tertidur pulas di luar pagar rumah tak mengetahui dahsyatnya api menghanguskan kediaman mereka.

“Namanya Surya… Dia mengirim Banaspati geni ini untuk mencelakai awak, Vi… Karena mencampuri urusannya dengan Julio dan Amei…” jelasku.

Masalah ini tidak termasuk dalam perjanjianku dengan pasutri itu jadi masih aman untuk dibicarakan. Walopun affair-ku sudah bocor pada Vivi, sebisa mungkin aku akan menjauhkannya dari topik pembahasan kami berdua.

“Jadi… jadi rumah Vivi dulu… Banaspati punya Vivi juga yang membakarnya?” mukanya berubah pucat lagi lalu shock berat berujung pada tangisan pilu lagi.

***

Makan waktu lama untuk menenangkan Vivi dan menghiburnya agar memaafkan dirinya sendiri, berdamai dengan kealpaan dirinya. Itu bukan murni kemauannya. Orang normal tidak akan bisa mengirim Banaspati geni, setan api untuk membakar rumah tanpa diketahui siapapun.

Kalo kebakaran normal, satu dua orang tetangga pasti akan sadar dan menyalakan tanda bahaya memperingatkan orang ramai, membangunkan penghuni rumah dan tentunya tidak perlu ada korban jiwa.

Kejadian yang mirip dialami orang tua Vivi dan Surya ato juga korban-korban lain sejenis. Prilaku culas dari individu-individu bersifat jahat yang selalu mementingkan egonya. Saat kejadian itu, Vivi yang merupakan anak semata wayang orang tuanya tak diberi izin untuk melakukan camping Pramuka walo hanya di pelataran halaman sekolah. Ia terus mendesak karena ada seorang cowok gebetannya yang juga ikut acara itu.

Tetap tak diberi izin, tengah malam ia nekat keluar dijemput sang gebetan dan bermalam di tenda sekolah. Orang tuanya sadar dan menelponnya mengatakan akan segera menjemput Vivi.

Kutenggarai, di saat itulah kali pertama ia secara tak sadar menggunakan kekuatan Banaspati geni. Mengirimnya ke rumahnya sendiri dan membakar rumah itu sebelum mereka berangkat menjemput dirinya karena kedua orang tuanya tak kunjung tiba ke sekolah. Pagi-pagi ia pulang dan mendapati rumahnya sudah rata dengan tanah.

Butuh waktu berhari-hari untuk menenangkannya. Kalo hitungan waktu normal mungkin akan setara dengan tiga hari. Tiga hari itu juga aku harus menahankan rasa sakit di tubuhku ini, melihat ketiga Banaspati itu bersileweran di sekitarku.

Panglima Burung mondar-mandir terbang hilir mudik bersiaga. Selama itu juga bawaannya nangis mulu aja. Terdiam bentar lalu nangis lagi. Aku kerjanya cuma bisa mengelus-elus kepalanya untuk menenangkannya, memberi kata-kata pendingin hati dan kepalanya. Tidur kalo capek lalu cuap-cuap lagi membualkan kata-kata motivasi penyemangat.

“Bang… Vivi kok gak lapar-lapar ya disini?” tanyanya pada satu ketika.

Aku sontak bangun dari tidur leyeh-leyehku di rerumputan halus ini.

“Padahal ini rasanya udah berhari-hari disini… Udah lamaaaa banget rasanya… Tapi kok gak lapar-lapar… Vivi kangen makan nasi anget pake telor mata sapi sama kecap…” katanya aneh. Ingatnya malah telor ceplok pake kecap. “Ini tempat apa sih, bang? Kok gak malam-malam?” baru nyadar dia.

Mungkin terlalu lelah berduka. Apakah ia sudah berdamai dengan dirinya sendiri? Memang tak ada gunanya juga terus berduka atas apa yang sudah terlanjur terjadi.

“Gak ada malam di sini, Vi… Orang ini bukan tempat betulan… Cuma tempat khayalan aja…” jawabku ngasal.

“Kenapa? Kangen makan?” Vivi mengangguk dengan bodoh.

“Trus… ini tiga-tiga bola ini mau kita apakan?” tanyaku tentang ketiga Banaspati yang terus mengitari kami tanpa henti.

“Kenapa mereka mengelilingi kita, bang?” tanya Vivi.

“Mereka ini mengikutimu, Vi… Muncul lagi walo udah awak ancurin… Ketiga Banaspati ini mengikuti perintahmu… Mereka milikmu…” simpulku mengulangi apa yang sudah kusampaikan beberapa hari lalu. Vivi beralih padaku, menatapku dengan mata menyipit tak percaya kata-kataku barusan. Aku mengangguk-angguk meyakinkannya.

“Itu artinya Vivi yang menyuruh mereka membakar rumah Vivi sendiri?… Membakar rumah si Surya itu?… Menyerang bang Aseng berkali-kali?” ujarnya berusaha menerima keadaannya ini.

“Secara tidak langsung… Iya!” jawabku. Ia menatapku tajam.

“Mereka hanya mengikuti perintahmu yang berupa kemarahan… Apa yang hanya merupakan percikan kemarahan… ‘Mati aja kalian semua!’ misalnya… ‘Mati aja kau, bang!’ ‘Mampus-la kau, bang!’… Semacam itu, Vi… Walo itu cuma kepikiran sekilas-sekilas… Bagi mereka itu sudah cukup menjadi perintah…” kataku menunjuk ketiga Banaspati itu.

“Jadi Vivi ini orang yang jahat banget ya, bang?” kata Vivi.

“Bahkan orang tua Vivi sendiri mati karena kemarahan Vivi sendiri…” lalu ia terdiam.

“Kalo dipikir dangkal… ya Vivi jahat… Tapi hampir semua orang pasti punya amarah seperti itu… Awak aja sering kek gitu… Tapi bedanya di kami… orang-orang lain gak punya Banaspati yang ngikut apapun yang Vivi pikirkan… Yang harus dicari tau… dari mana Banaspati-Banaspati ini datangnya? Kenapa mereka mengikuti Vivi? Karena Banaspati adalah jin jahat yang biasanya punya keinginan sendiri… Kenapa mereka bisa mematuhi Vivi sampe segini ini?” kataku.

“Kenapa kalian mengikuti Vivi?” tanya Vivi asal aja pada salah satu Banaspati yang melintas di depan matanya, Banaspati lindu.

Dua Banaspati lain datang merapat dan membentuk barisan. Geni, banyu dan lindu. Cukup aneh juga melihat ketiga setan berelemen ini berbaris teratur begitu.

“Tuan putri adalah majikan kami…” jawab mereka bersamaan seperti sebuah koor dengan nada yang berirama.

Suara kakek dan nenek tua bercampur dengan suara serak tengkorak. Cukup mengherankan mendengar jawaban ketiga Banaspati ini atas pertanyaan Vivi barusan. Majikan kata mereka?

“Vivi tidak pernah minta menjadi majikan kalian… Kita mahluk yang berbeda… Vivi cuma manusia biasa… Kenapa?” tanya Vivi lagi.

“Tuan putri pernah meneduhi nyala apiku saat hujan deras…” kata si Banaspati geni. “Padahal saat itu tuan putri juga sedang basah kedinginan…”

“Tuan putri pernah menambahkan air pada wadahku yang hampir kering…” kata si Banaspati banyu. “Padahal tuan putri sedang kehausan…”

“Tuan putri pernah memberi pasir pantai yang sangat enak rasanya…” kata si Banaspati lindu. “Padahal itu koleksi pasir kesayangan tuan putri…”

“Vivi gak ingat itu semua… Hiks… hiks… Tapi terima kasih…” Vivi menitikkan air mata lagi.

Aku tau pasti ia merasakan kehangatan di dalam dadanya mendengar ucapan tulus ketiga jin jahat yang membalas budi padanya. Mungkin itu semua kejadian di masa kecilnya. Anak kecil cenderung melakukan hal-hal baik yang disalah artikan oleh tiga jin elemen ini.

“Kami yang berterima kasih, tuan Putri…” koor ketiganya lagi.

“Tapi kenapa kalian masih mau disuruh orang lain selain tuan putri kalian ini?” tanyaku gak sabaran.

Mereka diam saja tak kunjung menjawab pertanyaanku barusan. Apa mereka hanya mau bicara pada Vivi, ya?

“Vi… tanyain yang tadi…”

“Jawab yang tadi…” kata Vivi memberi perintah.

“Tuan putri majikan kami… tapi kami tidak terikat padanya karena kami masih harus mencari makan di luar…”

“… Karena terkadang kami mendapat tugas dari kerajaan kami… Ato juga dari kalangan manusia…”

“Seperti manusia bernama Surya itu dan banyak manusia lainnya lagi…” bergantian mereka menyambung kalimat-kalimat itu.

“Karena kalian belum mengikat perjanjian apapun dengan Vivi?” sambungku.

Ini hal yang biasa dilakukan para jin untuk melekatkan diri mereka pada individu tertentu. Dengan begitu ia mendapatkan kehidupan yang lebih mudah karena menjalin kerjasama dengan Menggala-nya. Dengan berbagai konsekwensinya. Aku menanyakan itu ke Vivi agar meneruskannya pada ketiga Banaspati itu.

“Itu akan memberatkan tuan putri kami… Cukup begini saja…”

“Terima kasih… Terima kasih para Banaspati… karena sudah menemaniku selama ini…” Vivi malah menunduk takzim pada ketiga Banaspati menyeramkan itu.

Bukan menyembah tetapi hanya mengucapkan terima kasih yang tulus walo mengingat apapun yang sudah mereka lakukan selama ini lebih banyak merugikan Vivi daripada menguntungkan. Para Banaspati ini juga cukup pengertian dengan tidak menuntut perjanjian mengikat yang menurut mereka akan memberatkan junjungan mereka.

“Ini akan menjadi perintah langsung pertama dan terakhirku pada kalian bertiga…” mengejutkan.

Ini sangat mengejutkan. Vivi mampu menyiapkan ini dalam waktu sesingkat ini. Pertama dan terakhir? Dari mana ia tau hal semacam ini? Ketiga Banaspati itu mendengarkan dengan seksama. Walo bagaimanapun, ini adalah perintah yang mutlak mereka jalankan.

“Vivi membebaskan kalian bertiga dari diriku untuk selama-lamanya… Vivi merelakan kalian untuk melakukan apapun yang kalian mau tanpa terkait apapun dengan Vivi mulai saat ini… Kita tidak lagi saling berhubungan… Sekali lagi terima kasih banyak… ” kembali ia menunduk. Ketiga Banaspati itu juga menunduk patuh.

“Laksanakan, tuan putri… Selamat tinggal…” ketiganya mundur pelan-pelan lalu menghilang.

Aku memandangi ketiganya sampai benar-benar hilang dan keluar dari dalam daerah kekuasaanku. Aku juga berjanji pada diriku sendiri kalo gak akan menahan diri kalo bertemu mereka di kesempatan lain. Pastinya mereka menyimpan dendam tersendiri padaku.

Aku paham sekali perangai mahluk-mahluk jahat semacam mereka bertiga. Untung mereka melekatkan diri pada Vivi hingga masih bisa bertahan hidup pada pertarungan awalku yang menjamin nyawa mereka. Kalo tidak pastinya mereka pasti sudah habis, musnah.

***

“Apakah cara itu benar, bang?” tanya Vivi.

“Benar… Tidak baik menahan mereka lama-lama… Mereka itu jin jahat golongan hitam… Tidak ada untung ato kebaikan mempunyai mereka… Cara Vivi tadi sangat sempurna… Tidak ada yang dirugikan… Mereka tidak tersinggung dan pergi dengan baik-baik tanpa menuntut apapun… Karena biasanya mereka akan berulah yang macam-macam… Minta syarat inilah… itulah… Alasannya sebagai salam ato tanda perpisahan… Ini sudah yang paling benar…” kataku.

“Apakah bang Aseng akan memburu mereka?” tanya Vivi cukup mengejutkan. Vivi ternyata punya banyak kejutan yang tak terkira.

“Tidak… Tapi kalo mereka berulah di depanku… aku gak segan-segan membasmi mereka…”

“Ish… Bang Aseng serem…” gidik Vivi melihatku menghunus mandau Panglima Burung yang kupegang di tangan kananku. Dan tiba-tiba ia menggosok-gosok telapak tangannya dengan muka licik. Ada apa? Apa ini bagian kejutan tak terkiranya lagi.

“Ini tentang rahasia-rahasia nakal bang Aseng… Ada yang mau dibicarakan?” alisnya naik turun. Tapak tangannya masih digosok-gosok dengan jahat.

“A-aa… Gak ada… Gak ada yang bisa dibicarakan, Vi… Ha ha haha…” elakku tertawa masam. Ia menghitung empat jarinya pelan-pelan. Apa itu artinya ia melihatku meniduri empat perempuan? Diulang-ulangnya berkali-kali menghitung empat jarinya dengan senyum jahat.

“Vi… Jangan gitu-laa… Vivi udah liat semuanya kan? Yaa… udahlah…”

“Satu… dua… tiga… empat… Mmm… Enak, yaa? Wow…” ia memandang langit dan mengetuk-ngetuk dagunya dengan keempat jarinya.

Sialan! Ini berarti dia melihat aku bersama Andini, Karina, Mayu-chan dan Amei.

“Nanti awak bisa celaka, Vi… Ada perjanjian di sana, Vi… Kalo awak membicarakannya denganmu… ada balasan entah apa ke awak, Vi… Ini perjanjian yang sakral… Sangat sakral… Berbahaya untuk diingkari… Vivi liat bagian perjanjiannya, kan?” sekalian aja pasal dua perjanjianku kujadikan tameng keselamatanku sendiri.

Dilarang membicarakan hubungan itu dengan pihak lain atas alasan apapun. Sebenarnya aku hanya membuat tiga perjanjian tiga perempuan itu; Andini, Karina dan Amei. Sementara dengan Mayu-chan sama sekali tanpa perjanjian, murni bersenang-senang.

“Oo… Perjanjian itu kuncinya… Oo… Paham-paham…” ia menunjuk-nunjuk padaku seperti seorang terpidana di pengadilan yang bentar-bentar lagi jadi terpenjara… Eh?

“Vivi diam-diam aja… Nanti awak traktir, deh… Kita kan temen…” kataku merayunya. Memanfaatkan mulutku yang katanya manis ini.

“Vivi gak mau jadi temen bang Aseng-ih… Males aja jadi temen tukang selingkuh kek bang Aseng…” elaknya emoh.

“Lah… Traktir mau?” tawarku abis akal.

“Vivi maunya… jadi pacar bang Aseng aja…” Gubrak! Ambyar, deh…

***

“Ya udah… Kasian…” putus istriku.

Beriringan aku menggiring Vivi, Nirmala, baby sitter bernama Sri dan Benget membawa berbagai bawaan mereka menuju lantai dua bersama istriku. Di depan tangga aku menyerah dan memilih ngedeprok di sofa merebahkan tubuh yang pada sakit semua. Si Benget menemaniku.

“Beneran gak pa-pa kami di sini, bang? Ngerepotin, kan?” tanya Benget menanyakan ini kembali.

“Kalo orang rumahku bilang gak pa-pa ya artinya gak pa-pa, Bens… Kan kau duluan yang bawa Nirmala sama Sri kemari… Orang rumahku itu orangnya gak tegaan gitu… Pasti dia ngerasa kasian sama Nirmala dan repotnya ngurusin bayi sekecil itu… Kalo kau aja yaa… los (biarin)…” kataku menjelaskan.

“Kau tengok aja… aku yang lakiknya luka-luka gini… dia ngurusin Vivi sama Nirmala duluan, kan?” kataku sambil mainan HP, mengirim beberapa pesan pemberitahuan. Permisi gak masuk kerja pada kak Sandra mengabarkan keadaanku yang babak belur begini.

“Luka-luka abang kan udah diobatin Vivi duluan…” kata si Benget.

Memang sebelum meninggalkan rumah mereka yang berantakan, Vivi menyempatkan membersihkan, membubuhi obat dan membalut luka-luka di sekujur tubuhku. Rata semua bagian tubuhku terkena luka. Lebam, koyak, lecet, gores. Tidak ada yang harus dijahit ato patah hingga cukup memakai peralatan rumahan saja.

Vivi melakukannya dengan senang hati karena secara kronologis dialah penyebab semua luka-luka ini.

“Vivi maunya… jadi pacar bang Aseng aja…” kejadian saat kami masih di dalam daerah kekuasaanku itu.

“Mana bisa, Vi… Awak kan udah punya istri… Bukan cuma pacar yang bisa awak putusin… Gak bisa-la, Vi…”

“Trus empat perempuan itu apa?” desaknya sengit.

“Cuma selingkuhan aja, Vi… Gak sampe dipacari… orang ada suaminya, kok… Udah segitu aja namanya… Nanti kena azab awak ngebicarainnya…” jawabku habis argumen.

“Ya udah Vivi juga jadi selingkuhan abang… Kok repot…” putusnya.

“Cari pacar normal napa, Vi… Sama si Bens misalnya?” kataku mencari alasan secepatnya.

“Trus kami jadi lesbi gitu…” Kimak! Si Benget dianggapnya perempuan juga walo casingnya pria macho begitu.

“Malas-ah… Trus… Gimana kalo Vivi maunya cuma bang Aseng aja?… Sukanya cuma bang Aseng aja…”

“Jadi Vivi ngirim Banaspati itu karena cemburu sama awak…” simpulku.

“He he hehe… Iyalah… Abis abang nakal banget gitu… Segala binik orang juga diembat… Sori ya, bang… Abis abang gitu, sih…”

“Kenapa harus suka sama awak sih, Vi? Cari yang lain aja napa? Nanti Vivi bisa kenapa-kenapa-loh…” kutakut-takuti dia.

“Gak apa-apa…”

“Gak bisa-loh, Vi… Suer gak bisa…” aku bingung harus memberi alasan apa.

“Ya udah… Nanti kukasih tau aja sama kakak… tentang perempuan-perempuan itu… Apa-yah nanti katanya?” Lah? Mampos aja aku kalo dia mengadu pada istriku tentang keempat perempuan itu.

“Kami kan lumayan akrab… Mungkin lama-lama nanti seperti istri tua dan istri muda… Ha ha hahaha…” Mampos aja!

Ada tiga kamar kosong di lantai atas sana dan dua kamar disiapkan untuk mereka semua. Istriku taunya kalo Vivi dan Benget itu suami istri seperti pengetahuan semua warga blok YY ini walo segitunya penampilan si bencong itu.

Mereka hanya menyayangkan pilihan Vivi mempunyai suami dengan pembawaan seperti itu. Paling yang lebih heran adalah si baby sitter Sri, yang sehari-hari tinggal bersama mereka karena Vivi dan Benget tak tidur sekamar. Vivi lebih memilih tidur dengan bayinya Nirmala dan Sri sementara Benget tidur sendirian.

Jadi dua kamar itu didiami Vivi, bayinya dan Sri di kamar satu dan Benget di kamar kedua sendirian sambil menunggu rumah mereka diperbaiki dari kerusakannya.

Kalo cuma menampung mereka semua di rumahku itu bukan masalah besar karena istriku sudah mengenal Vivi dan keluarga anehnya terlebih dahulu. Semenjak permasalahan dengan Kuyang tempo hari, Vivi kerap menyambangi kediaman kami sekedar menyapa, membawa makanan dan ngobrol-ngobrol bahkan saat aku tak ada di rumah.

Apalagi saat kuceritakan kalo bayi Nirmala sempat diincar setan Kuyang ia tambah simpatik pada keluarga Vivi dan semakin akrab. Itu juga mungkin yang menjadi faktor kenapa istriku tak keberatan menampung mereka untuk sementara.

Yang menjadi masalah bagiku sendiri adalah keinginan hati Vivi untuk menjadi pacar selingkuhanku dengan ancaman pengetahuannya tentang skandalku dengan empat orang binor itu, yang salah satunya ia kenal orangnya; Amei. Dengan semua perempuan-perempuan itu statusnya adalah binor dengan suami jelas sah yang pastinya bisa dilimpahi tanggung jawab kalo mereka hamil akibat ulahku. Ada sih si Benget yang berperan sebagai suami boongan.

Tapi mereka tak punya status hukum yang jelas, bahkan bisa dibilang kumpul kebo mengingat jenis kelamin Benget di KTP pastinya masih pria. Mereka tak pernah menikah yang membuat status asli Vivi saat ini masih gadis.

Mungkin juga masih perawan. Karena menurut ceritanya setelah kebakaran yang ada sedikit menyerempet masalah gebetan yang menyebabkannya nekat pergi dari rumah untuk ke perkemahan itu, ia tak pernah dekat sama sekali dengan kaum Adam terutama masalah asmara.

Menjadi pacar seorang pria dewasa menikah sepertiku tak akan jauh-jauh dari yang namanya urusan ranjang. Ini yang kutakutkan. Aku jelas mau aja, laki-laki… buaya. Nah kalo dia yang mau, gimana? Kan akunya jadi enak… Ha ha hahaha.

“Maaf ya, Vi… Awak waktu cuma iseeeeeng aja… Iseng-loh, Vi… Cuma awak pegang sekali aja-nya… Sekali aja… Nyut! Langsung lari awak… Udah cuma sekali itu aja tok… Maaf-maaf mohon maaf yang sebanyak-banyaknya….” kataku sampe menyembah-nyembah tentang kasus aku meremas payudaranya saat ia mengantuk menunggu bu Karina datang meminta hadiah itu.

“Gak bisa… Bang Aseng harus bertanggung jawab… Itu sudah jadi prinsipku… Si Bens aja gak pernah berani pegang-pegang,.. Tubuhku ini cuma boleh dipegang oleh lelaki yang kusuka… Dan saat ini itu abang Aseng… He he hehe…” benar kata si Benget kalo cara pikir Vivi ini sangat sederhana tetapi keras memegang prinsipnya.

Dan konsep anehnya ini adalah pria pertama yang menyentuh dirinya adalah orang yang berhak atas dirinya. Kalo itu kakek-kakek tua yang gak sengaja tersandung dan memegang teteknya saat terjerembab di depan dirinya? Gimana? Apa harus kakek tua yang menjadi pasangannya?

“Trus kakakmu (istriku) gimana?” aku mengkonfrontirnya dengan istriku.

“Kakak ya kakak… Vivi ya Vivi… Kenapa rupanya? Kakak ya tetap istri bang Aseng… Vivi saat ini pacar selingkuhan bang Aseng aja…” entah konsep apa yang dipakainya saat ini aku gak tau.

“Oo… Kalo gitu cuma status aja, ya? Tapi gak ngapa-ngapain?… Gak minta diajak jalan-jalan… Gak minta nonton… Gak minta ini itu…” entah ini maksudnya. Pacaran ala anak ABG yang cuma pacaran online dan jarang ketemu. Gak sampe sebulan putus karena alasan yang jelas.

“Kalo jalan-jalan Vivi bisa sama si Bens… Bisa nonton, makan, shopping, ke salon, nongkrong… Dia kan pasangan lesbi Vivi sejak dulu… Bisalah disayang-sayang sama abang sekali-kali, bang?… Kan pacar… Ya?” desaknya.

Aku mengacak-acak rambutku yang mendadak sangat gatal lebih kepada karena kepalaku terasa kremut-kremut pusing atas apa yang menimpaku saat ini. Makin banyak aja masalah yang menimpaku.

“Ya-ya? Jadian kita, kan?” dibuatnya kek pacaran anak SMP.

***

“Ini bukan kecelakaan lalu lintas, ma…” kataku saat istriku membersihkan ulang luka-luka ini di dalam kamar.

Ia diam saja dan terus membersihkan luka-lukaku dengan alkohol pembersih. Lalu diolesinya obat luka. Segala macam plester yang dipasang Vivi dilepasnya karena luka itu hanya lecet-lecet yang mudah mengering.

Hanya luka yang agak dalam yang ditutupinya dengan kain kasa lalu dibebat plester. Yang utama adalah di dahi dekat mulai tumbuhnya rambut, sekitar dada, di belakang punggung, semua buku jari tangan dan kakiku.

“Tau, pa… Ini masalah Menggala-Menggala-mu itu, kan?” tebak istriku dengan tepat karena ini bukan kejadian pertama kalinya ia harus merawat luka-lukaku.

“Misnan udah mama suruh bawa Supra papa ke bengkel untuk diperbaiki… Satu dua hari mungkin udah selesai…” sambungnya agak dingin.

Entah apakah dia sudah mencium gelagat aneh tentang Vivi ato cemana. Karena insting istriku biasanya sangat kuat.

“Ternyata… Vivi itu secara gak sadar punya tiga Banaspati yang ngikutin dia, ma…” kataku berusaha menjelaskan situasinya sedikit.

Tapi ia menggeleng pertanda ia gak mau tau tentang masalah itu. Tak kulanjutkan cerita tentang Banaspati itu. Ia sama sekali gak mau tau menau masalah supranatural yang kucimpungi. Netranya hanya mau melihat tentang alam nyata dan lebih baik buta tentang alam ghaib. Ini prinsipnya juga.

“Mama tau Vivi itu suka sama papa, kok… Mama udah liat dari pertama kali dia datang kemari…” ia tak menatapku sama sekali mengatakan kalimat barusan. Ia hanya fokus pada luka-lukaku.

“Bodoh aja kalo orang-orang pada percaya kalo bencong seperti itu bisa jadi lakiknya… Gak perlu sekolah tinggi juga awak dah paham…” ia mengoles obat luka pada lecet-lecet di tanganku. Ini bekas tergores kaca lemari hias rumah Vivi.

“Yang mama gak tau… apa papa juga suka sama dia?” ia berhenti sebentar, menatap mataku juga sebentar lalu meneruskan kegiatannya.

“Janjiku masih seperti yang dulu… hanya mama seorang…”

***

“Lemes amat, bang Aseng?” sapa Vivi saat aku duduk meregangkan badan di teras depan rumah siang ini.

Daerah kolam renang masih menjadi daerah terlarang karena batu apung bulat panas itu masih mengkontaminasi tempat itu. Anakku Rio uring-uringan karena gak bisa nyebur ke kolam kesukaannya.

Apalagi air kolamnya juga kering. Kapur sirih belum selesai proses pembuatannya yang lumayan lama. Tiga buah batu apung bulat itu kukumpulkan di atas paving block karena kolam rendah itu takut rusak akibat radiasi panasnya.

“Masih sakit semua badanku, Vi…” orang rumahku membuatkan air rebusan jahe, sereh dan sedikit madu yang tinggal setengah gelas. Ia menarik sebuah kursi lainnya untuk duduk dekat denganku.

“Dibersihkan ulang sama kakak ya, bang?” katanya menjawil luka beroleskan obat luka berwarna coklat keemasan itu. Aku berusaha menepis tangannya yang gak steril. Gak lucu aja harus infeksi karena tangan isengnya yang abis megang apa.

“Plesternya pada dicopotin semua… Karya indah untuk kekasih hatiku…” kutepis lagi tangannya.

“Dia udah tau-loh Vi… kalo Vivi suka sama awak…” kataku langsung terus terang. Matanya membelalak tak percaya.

“Bagus, dong? Abang minta seserahan berapa? Abang Aseng kan orang Padang… yang ngelamar yang perempuan, kan?” katanya malah nyeplos yang enggak-enggak.

“Gilak kao, Vi…”

“Bukannya kakak udah ngasih restu? Berarti udah lampu ijo, kan?” katanya berbinar-binar. Cam betol aja dibuatnya. “Aww!!” kusentil jidatnya pake tangan kiri.

“Sakit, bang… Dah gak cinta lagi nih kayaknya…” ia mengelus-elus jidatnya sendiri. “Apa itu? Satu?” tanyanya saat aku mengacungkan satu jariku padanya. Satu jari telunjuk kanan.

“Udah paham kan kenapa awak selalu membuat perjanjian-perjanjian itu?” tanyaku. Bagi Vivi yang sudah menyaksikan aku melakukan tiga kali perjanjian tiga pasal pada ketiga binor dan pasutri minus Mayu-chan, setidaknya Vivi yang merupakan mahasiswi pintar ini akan paham fungsinya. Ia mengangguk paham kurang lebihnya.

“Awak cuma punya satu perjanjian dengan kakakmu itu… Cuma satu pasal aja… Hanya dia yang ada di hatiku…” kataku terus mengacungkan jari telunjuk tanganku.

“Aww… co cwiiitt…” seru Vivi seperti meleleh mendengar isi perjanjian sakral yang dulu kuikrarkan pada istriku.

“Itu artinya kalo awak cuma punya satu istri, Vi… Gak ada kedua ketiga empat trussss…” tanganku berputar-putar ke hitungan seterusnya. Matanya mengikuti gerakan tanganku.

“Jadi Vivi cuma jadi pacar selingkuhan terus, dong?”

“Makanya Vivi cari cowok yang bener, dong? Apa mau si Bens awak tatar biar agak macho dikit? Biar gak melambai kali…” kataku terus mencomblangkannya dengan si Benget. Tapi ia hanya merengut.

“Udah makan?” tanyaku tak berminat membahas hal itu lagi.

“Udah… Tadi makan bareng Rio rebutan telor mata sapi… pake kecap…” jawabnya malas-malasan. Mereka berdua punya kesukaan yang sama akan telor mata sapi jadi bisa lumayan nyambung kalo ngobrol.

“Nirmala gak pa-pa?” tanyaku.

“Gak pa-pa… Tadi masih tidur di kamar… Masih dijagain si Sri…” jawabnya lagi malas-malasan.

“Udah mulai nyari tukang untuk memperbaiki rumahmu?” tanyaku.

Komunikasi kami kek pasangan yang lagi marahan aja jadinya. Dingin dan kaku. Padahal sebelum masalah ini mengemuka, kami bisa ngobrol seperti teman biasa aja. Perasaan Vivi membuat relasi kami menjadi aneh begini. Aku bisa bercanda-canda seperti biasa dan ia menanggapinya dengan candaan juga. Di kampus juga ia biasa aja saat menjadi dosen sementara.

“Itu urusannya si Bens… Vivi gak ngerti begituan… mantan tukang…” kata Vivi masih kaku seperti itu.

“Si Bens mantan tukang bangunan?” tanyaku baru tau. Dari bodinya sih cocok.

“Bukan… maksudnya abang… Mantan tukang selingkuh…” lanjutnya. Mantan tukang selingkuh? “Abang gak boleh lagi selingkuh-selingkuh dari kakak… Awas aja kalo ketauan sama Vivi lagi…” ia mengancamku dengan menunjuk hidungku. Dia udah gak punya Banaspati yang bisa disuruhnya mengikutiku, memata-matai kegiatanku. Pake apa dia nanti?

“Tapi selingkuh sama Vivi boleh?” kataku mempertentangkannya. Dia sendiri yang memproklamirkan diri sebagai pacar selingkuhanku. Kalo dilarang selingkuh dari istriku berarti dia juga termasuk, kan?

“Gak… Kita dah putus…” ia langsung berdiri dari duduknya dan pergi meninggalkanku. Awalnya langkahnya tegar dan cepat lalu melambat kemudian sama sekali berhenti. Ia berbalik. “Kok gak dikejar, sih? I-ih…” kesalnya menghentak-hentakkan kakinya malah balik lagi. Duduk di kursi tadi dengan muka semakin merengut masam.

“Duh… Jadi jelek…” ejekku.

“Plak!” ringan tangan ia memukul lenganku.

“ADUH, MAAAK!!” jeritku.

Aku mengaduh-aduh karena berasa sangat sakit pukulannya yang tepat mengenai luka diperban di lenganku yang ketutupan lengan baju. Aku meniup-niup luka itu sangking terasa pedihnya. Vivi panik melihatku kesakitan begitu dan berlutut mendekat melihat bekas lukaku itu.

“Maaf-maaf, bang… Gak sengaja, bang…” mukanya memelas minta maaf.

Perban kain kasa putih itu perlahan menitik merah melebar pertanda darahnya keluar lagi. Kubuka perban itu dan benar aja sepertinya luka yang mulai menutup itu akibat jalinan tautan sel fibrinogen, rusak tautannya dan berdarah lagi.

Kutiup-tiup untuk mengurangi rasa perih yang tiba-tiba terasa lagi. Tanpa banyak pikir Vivi malah menggunakan kain pakaiannya untuk menutupi luka itu. Ditekannya agar darah berhenti mengalir. Anak pramuka… Sesekali ia melihat progres pendarahannya. Dan entah dari mana idenya, malah dikecupnya pelan lukaku itu.

Lalu meniup-niup bersamaku terlihat bibirnya maju membentuk lubang kecil. Yang ditangkap netraku malah hal lain. Sebagian besar belahan payudaranya yang terkuak lebar karena ia menarik bagian atas kaos V-neck dan menggunakannya untuk menyeka lukaku.

Aduh, maaak! Bulat nian… Itu kenapa beha kok kekecilan kurang bahan gitu, ya? Hampir seluruh permukaan daging montoknya kelihatan berkilat di daerah gelap di dalam pakaiannya. Dalam keadaan sedikit menggantung, hanya bagian pucuk indah yang terkena sensor behanya. Gundukan besarnya terlihat…

“Matanya gak usah jelatan juga…”

“Huff…fuhh… fuuhhh…” aku meniup-niup bekas lukaku bersama Vivi menjauhkan pandangan mataku dari TKP indah itu.

“Oo… Paham Vivi sekarang…” ia menarik tangan dan kain bajunya yang menekan bekas lukaku.

“Paham-paham… Gitu rupanya…” Apa yang dimaksud cewek satu ini?

“Abang cuma mau selingkuh sama istri-istri orang karena bisa diginiin, kan?” katanya menggesek lengan dekat lukaku yang berdarah itu.

Pandangan mataku melirik pada lokasi jarinya yang menggesek itu. Kalo kesenggol luka pasti akan sakit.

“Kalo sampe hamil pun gak apa-apa… Hmm gitu ceritanya…”

“Ntah ngomong hapaaa-la kau, Vi…” elakku mencoba ngeles berkelit.

“Memang Vivi masih gadis, bang… Tapi Vivi udah dewasa-loh… Abang kalo mau gitu Vivi ladeni, kok… Ayuk?” tantangnya.

“Gak-ah… Sakit…” kataku ngeles lagi.

“Buka perawan beneran sakit, bang?” dengan bego ia menjulurkan kepalanya maju dan bertanya dengan nada lugu.

“Bukan buka perawannya yang sakit… Badan awak ini sakit semua, tau?!” hardikku yang membuatnya cengengesan lucu.

Perempuan yang katanya gadis dewasa masih perawan cantik seperti ini bisa jadi sedemikian lucu begini sampe taraf menggemaskan.

“Ya, ha ha hahaha… Gara-gara Vivi ya, bang… Ha ha hahaha…” ia terus duduk di lantai dan tertawa. Tak diperdulikannya bajunya yang bernoda darahku. Tapi aku melihat hal lain, guncangan dadanya. Ha ha hahaha.

***

Menyembuhkan luka fisik lebih lama dari pada menyembuhkan luka dalam untukku. Walo secara praktek menyembuhkan luka dalam di daerah kekuasaanku juga akan memakan waktu lama kalo kujalani tahap demi tahapnya. Setidaknya saat aku sudah selesai, ketidak sesuaian waktu memotong waktu sangat banyak. Berhari-hari di daerah itu, hanya hitungan detik saja di dunia nyata.

Dengan begitu kuakali dengan beristirahat dan meditasi. Meditasinya tidak bisa daerah supranatural juga. Jadi aku harus melakukannya di dunia nyata karena cedera dan lukaku di tubuh fisik. Seperti rumah-rumah lain di kompleks ini, ada lantai dak beton yang kerap dibuat untuk menjemur pakaian.

Untungnya ART yang bertugas cuci-gosok lebih senang menjemur pakaian di lantai bawah. Di bawah sana ada sedikit lahan yang dijadikannya tempat menjemur pakaian. Jadi di sinilah aku sedang melakukan meditasi. Panas-panasan bertelanjang dada.

Kuatur nafasku setenang dan seteratur mungkin. Tarik nafas lewat hidung, buang nafas dari mulut. Menutup semua panca indraku dan hanya fokus pada nafas dan detak jantung yang seirama. Menyebarkan energi lini penyembuh. Menyerap energi murni dari alam, panas matahari, segar udara.

Semua energi yang terkumpul dimaksudkan untuk memperbaiki sel-sel yang rusak, luka-luka terbuka, lebam dan goresan terkoyak. Perban dan plester kubuka semuanya untuk merasakan langsung sentuhan alam.

Bercelana pendek aku duduk bersila menantang matahari dengan tubuh penuh luka. Tubuhku terasa hangat oleh balutan energi murni yang kuserap dari alam. Lumayanlah suasana perumahan yang lengang begini. Akan lebih baik lagi kalo di hutan atau pegunungan. Udaranya lebih bersih dan jernih.

Aliran energi alam deras membanjiri tubuhku dengan nyaman. Permukaan tubuhku terasa hangat oleh pembentukan sel-sel baru mengganti kerusakan yang telah terjadi. Cekit-cekit gitu rasanya di beberapa titik luka. Karena ini bukan yang pertama kalinya bagiku, jadi kubiarkan saja semua sensasi menggelitik itu.

“Fuuhh…” setelah kurasa cukup kulepaskan pengaturan nafas dan mulai bernafas normal kembali.

Ini harus dilakukan secara bertahap tidak bisa langsung instan. Lagi pula aku gak masuk kerja dua hari untuk istirahat memulihkan diri. Gak lucu juga nanti masuk kerja lagi dan gak ada bekas luka sama sekali.

Kulakukan peregangan otot dan sendi yang tadi terasa pegal dan sakit-sakit. Sudah sangat berkurang rasa sakitnya saat kucoba menggerakkan semua bagian tubuhku. Luka-luka gores sudah mengering dan kalo dirawat dengan telaten tidak akan meninggalkan bekas.

Diraba sekalipun sudah tidak terasa sakit. Yang masih terasa sakit adalah beberapa luka lebam dan luka besar di sekujur tubuh. Kububuhi obat luka lagi tapi tanpa perban. Aku lalu turun dari lantai dak atas bermaksud ke kamar untuk membersihkan tubuhku yang berkeringat.

Di depan rumah aku ketemu Misnan yang sedang memangkas dahan-dahan pohon kamboja.

“Pak… Kreta bapak kemungkinan besok siapnya…” katanya tentang Supra X-ku saat kuhampiri dirinya. Lalu ia merinci apa-apa aja yang yang perlu diganti lalu harganya plus ongkos juga.

“Ya udah… Duitnya besok aja, ya… Pinjam dulu kretamu… Awak mau keluar bentar…” pintaku. Ia sepertinya agak kaget karena aku mau pinjam motor miliknya.

“Kreta saya jelek, pak… Masak bapak mau pake kreta butut gitu?” katanya lagi masih segan.

“Ya gak pa-pa… Idop kan kretamu? Tadi awak mau make punya orang rumah… Tapi keknya lagi dipake juga… Yang ada tinggal kretamu aja… Pinjam kuncinya… Nanti awak isi lagi-la minyaknya…” desakku.

“He he hehe… Gak ada kuncinya, pak… Tinggal buka saluran minyaknya aja… engkol (kick starter)… langsung idop dia, pak…” jelas Misnan tentang keadaan motornya. Aku langsung paham maksudnya.

“Oo… Iya… Kreta galas (segala macam urusan di kebun), ya… Awak pinjam dulu, ya?” aku langsung masuk ke basement.

Ia menyimpan harta karunnya itu di bagian belakang basement dekat kamar-kamar para ART yang sedang kosong ditinggal kerja. Jarang-jarang aku sampe kemari. Hanya saat pertama diperkenalkan agen perumahan dulu aku blusukan sampe kemari.

Ada sebuah pintu besi yang menuju ke lahan tempat menjemur pakaian yang kuceritakan tadi. Ada sebuah dipan panjang di dekat tumpukan kardus sisa. Agaknya di sini mereka ngumpul-ngumpul bercengkrama di saat senggang mereka. Para ART dan satu baby sitter, terkadang Misnan juga.

Kuengkol motor galas itu dan benar saja langsung menyala setelah tuas bahan bakarnya diputar ke posisi on. Suaranya nyaring karena knalpotnya udah dibelah. Motor ini hanya tinggal rangka, mesin, rantai, shock breaker dan roda-roda saja serta pendukung utamanya.

Yang penting masih bisa dikendarai. Misnan menunggu di depan pagar untuk membukakannya untukku. Aku melambai permisi lagi padanya.

Berkendara tanpa helm siang menjelang sore gini asik juga kadang. Merasakan semilir angin yang mengelus rambut, menerpa wajah, menelusup masuk ke dalam pakaian membuat sejuk.

Teringat dulu waktu masih muda tartig (tarik tiga) dengan kedua sobatku sepulang sekolah dengan motor milik bapaknya Iyon yang terkadang bisa dipakainya berangkat sekolah. Satpam kompleks bengong melihatku mengendarai motor Misnan karena biasanya aku lewat pos itu kalo gak pake Supra ya Pajero.

Keliling-keliling sampe keluar kompleks, lah aku malah sudah memasuki daerah Mabar lewat Pasar IV. Dari sini sudah cukup dekat ke daerah rumahku di sana. Timbang gak ada kerjaan, sekalian aja aku menjenguk perkembangan renovasi rumahku.

Sudah sejauh mana perkembangannya. Masih ada gundukan pasir dan material bangunan lain yang menumpuk di halaman rumahku. Beberapa pekerja masih sibuk dengan tugasnya masing-masing. Keknya si kontraktornya gak ada di tempat sehingga aku hanya tanya-tanya sekenanya dengan tukang yang ada.

Jadinya rumah ini malah hampir bisa dikatakan dibangun lagi dari awal karena saat analisa awal ada masalah konstruksi mendasar yang salah saat membangun rumahku dulu. Pondasinya tidak kuat kalo harus dipaksakan menahan beban bangunan yang baru ini.

Sewaktu masih berbentuk rumah lama, masih memadai tetapi tidak untuk yang sekarang ini. Tiang-tiang beton baru sudah berdiri. Dinding bata juga sudah keliling hanya belum diplaster. Aku yang hanya bercelana pendek selutut dan kaos oblong udah mirip aja sama para pekerja di sini sehingga para tetanggaku yang seliweran gak mengenaliku.

“Drrrt… drrrt… drrrt…” ada notifikasi masuk di HP-ku yang kubuat silent.

Yuli: bg Aseng gt ya gk pernah kemari lg

Ternyata pesan dari Yuli. Rumah kontrakannya yang tepat di samping proyek renovasi rumahku membuatnya bisa secara gak sengaja memergokiku yang sedang berada di sini.

Aseng: lagi sibuk bu Yuli ini lg libur kerja jd bisa liat2 bentar

Yuli: sombong skrg

Aseng: ish gk la bu

Yuli: kemarilah

Aseng: aman?

Yuli: aman lewat biasa

Waduh… Ada undangan dari stok lama nih yang jarang digarap ulang. Apalagi 38DD-nya pasti ngangenin. Dalam masa hamil muda begini apa tambah gede ya? Aku melipir menjauh dari para tukang pura-pura keliling ngeliat kondisi dinding luar.

Pegang-pegang kualitas pengerjaan renovasi rumahku dan saat kondisi aman, aku menyusup masuk ke pintu belakang rumah kontrakan bu Yuli yang sudah tidak dikunci. Beliau sudah ada di bagian dapur menunggu menyambutku.

“Bang Aseng… Kangen…” ia langsung memelukku erat. Wadooww!! Bukan karena tekanan masif melon super-nya tapi karena pelukan tangannya mengenai spot yang tepat di punggungku yang masih terasa sakit. Ia sadar ketidak nyamananku.

“Eh… Kenapa, bang?” ia langsung melepas pelukannya.

“Punggung awak… ada yang luka…” jawabku jujur aja sambil meringis.

Salahku sendiri sih. Maen setuju aja masuk ke rumah binor dalam keadaan begini menuruti maunya Aseng junior yang udah kangen hangat sarangnya.

“Eh… Iya… Ini juga luka… Bang Aseng kenapa? Kecelakaan?” mimiknya langsung khawatir melihat bekas luka di kepalaku yang dapat dilihatnya jelas. Takut-takut ia akan menyentuhnya karena memang gak kuperban.

“Sakit, bang?”

“Iya… Tadi malam… Makanya gak masuk kerja dulu…” jawabku mencegahnya menyentuh luka itu.

“Yuli apa kabar?” berusaha mengalihkannya dari luka-luka ini.

“Dedek bayinya sehat?” tanyaku agak menunduk untuk melihat perutnya tapi malah terhalang oleh melon supernya. Keknya tambah gede aja.

“Awak sehat-sehat gitulah, bang… Tau sendiri kan kalo umur segini baru bisa hamil… Apalagi dedeknya masih muda banget, nih…” katanya mengelus-elus perutnya yang terbungkus daster tanpa lengan panjang yang hanya sebatas lutut.

“Dedeknya tapi sehat, bang… Awak pokoknya senang kali bisa mengandung dedek ini, bang… Makasih banyak-banyak, bang…” katanya dengan wajah berseri-serinya.

“Bagus-la kalo begitu… Awak juga senang jadinya… bisa membantu Yuli… sama bang Suradi… Bang Suradi-nya mana? Kerja luar?” tanyaku. Gak usah ditanya juga harusnya kalo biniknya berani mengundangku masuk ke rumah ini dari belakang. Pastinya sedang nyupir sampe keluar kota tentunya.

“Kami bakalan pindah, bang…” tiba-tiba ia agak mewek.

“Orang tuanya bang Suradi nyuruh kami ke rumah keluarganya di kampung sana… Bang Suradi mau disuruh ngurus kebon mereka aja di kampung gak usah nyupir lagi… Mereka sepertinya senang sekali bakalan punya cucu dari bang Suradi…” ia menunduk mengatakan itu semua.

“Bagus, kan? Kok Yuli jadi sedih?” kataku mengelus-elus rambutnya.

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22