The Baby Maker Part 10

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22

Cerita Sex Dewasa The Baby Maker Part 10 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya :The Baby Maker Part 9

“Camera… Rolling! Action!” seruku.

Pasutri itu mulai bergelut di atas ranjang kamar mereka. Dimulai dari saling memagut bibir dan berciuman dengan panas. Tangan-tangan Julio bergerak lincah meremas-remas toge, toket gede yang masih berbungkus baju bertali tipis di bahunya.

“Tangannya masuk…” perintahku sebagai seorang sutradara.

“Remas-remas di dalam…” Julio patuh pada kata-kataku dan tangannya mudah masuk dan menemukan sebelah toge Amei dan langsung meremasnya. Binor itu menggeliat geli walo masih tetap berciuman.

“Turunkan talinya…” aku hanya ingin melihat bentuk togenya tanpa penghalang apapun. Mereka gak bakalan menolak.

Seperti yang kuharapkan, toge bulat berbentuk sangat indah. Tidak gantung ngondoy walo bobotnya pasti sangat padat dan kenyal begitu dengan puting kemerahan berlingkaran besar. Amei sudah aktif menikmati seks sejak remajanya, tak heran payudaranya mencapai ukuran sedemikian. Julio tak jemu-jemu memilin puting menegang istrinya.

“Ciumi kuping lalu leher…” lidah pria itu lalu melata ke arah yang kuinstruksikan. Amei mengerang-ngerang bersandar tangan di belakang. Julio menjilati cuping telinga Amei lalu mengecupi lehernya meninggalkan bekas kemerahan pudar.

“Yak… Turun ke dada sekarang…”

Tangan Amei meremas-remas sprei ranjangnya saat Julio menyedot-nyedot toge kirinya sementara yang sebelah kanan diremas-remas. Matanya merem melek menengadah dengan erangan seksi.

Dadanya membusung disodor-sodorkan ke muka Julio yang tak puas-puas menikmati kenyalnya toge milik istrinya sendiri. Gemas mungkin membayangkan ada pria lain yang pernah berbagi dengannya. Dan ada pihak pria baru lain yang sedang menonton dengan tonjolan celana yang mulai menggeliat bangun, terangsang.

Aku hanya duduk santai bersandar di sebuah sofa kecil dan menyaksikan pertunjukan live ini dari jarak yang cukup dekat untuk dapat memelototi setiap detail gerakan pasutri ini.

“Hanya gunakan lidah… Berputar-putar…” instruksiku berikutnya.

Julio menjulurkan lidahnya dan hanya menggunakan itu untuk menyisir bagian payudara Amei. Mulut Amei menganga penasaran karena lidah suaminya berputar-putar tak menyentuh putingnya sama sekali. Julio pandai memainkan emosi perempuan yang sedang birahi.

“Pindah ke sebelahnya…” lidah Julio bergerak lagi ke toge satunya, berputar-putar tanpa sedikitpun menyentuh puting, membuat Amei kentang dan penasaran.

“Ahh… Ah… Iniih… Iniih… Ahh…”

“Satukan… Jepit rapat kedua teteknya!” aku memberi kode dengan tanganku bermaksud menggencet kedua toge Amei agar rapat menjepit. Julio cepat tanggap dan menuruti instruksiku.

“Ketemukan pentilnya! Sikat!” Lidah Julio lalu dengan rakus mencucup kedua puting Amei yang bertemu akibat dijepitkannya bergencetan. Amei menganga lebar mulutnya merasakan kenikmatan ganda dari dua putingnya yang disedot bersamaan. Hanya perempuan dengan toket gede yang bisa dibeginikan.

“Ah ah ah ahh…” desah-desah Amei merasakan geli-geli enak di payudara togenya.

Jilatan-jilatan intens juga terus dilancarkan Julio pada bagian puting Amei ditingkahi pijatan-pijatan di daging punel togenya. Lumer peyot-peyot kenyal sepasang toge itu dikremes-kremes lakiknya sendiri.

“Sekarang buka jeans Amei… Buka semuanya sekaligus…” kataku sebenarnya udah gak sabar.

Aku sendiri udah mulai mengelus-elus Aseng junior yang udah setengah tegang di dalam celanaku. Julio dengan ahli melepas jeans ketat yang membungkus pinggul dan seluruh kaki Amei. Binor itu juga ikut kooperatif membantu lakiknya melepas celana panjangnya itu beserta celana dalam mungilnya sekalian.

“Amei nungging… Julio jilati dari belakangnya…”

Tak perlu diberitau dua kali, binor itu lalu menungging dan Julio memposisikan dirinya di belakang Amei. Lidahnya lalu melata dengan lugas di sekitar bokong lebar nan putih bersih itu. Dijilat-jilatnya kulit mulus itu hingga mencapai lekukan dalam yang ada di bagian tengah persatuan dua tungkainya. Gundukan indah lembab yang terbelah dua saat Amei menungging dengan kaki rapat.

“Ahh… Mm…” Julio menikmati bagian belakang tubuh istrinya dengan fantasinya sendiri. Entah apa yang sekarang dirasakan kedua orang ini mendapat arahan dariku saat ini. Disetir tiap tindakannya dalam bercinta dengan pasangan sendiri.

Karena kedua pasutri ini membelakangiku, aku bisa dengan leluasa membelai Aseng junior dan mengeluarkannya dari kandangnya yang menjadi sesak menyiksa. Ia sudah menegang keras dan kukocok pelan-pelan melihat lidah Julio merangsek masuk dan membasahi isi belahan kemaluan Amei. Merojok masuk ke liang kawinnya yang becek. Amei mendesah-desah keenakan menikmati permainan lidah dan jari Julio yang menusuk-nusuk liang kawinnya.

“Masukin… Masukin-aahhh… Ahh… Uh… Umm…” Julio malah menambah jumlah jari dan menyiksa istrinya dengan lebih banyak jari yang menusuk dan mengorek-ngorek isi kemaluannya, padahal yang dipintanya adalah batang kemaluan Julio.

“Pakek kondom, Julio?” heranku melihat pria itu menyarungkan alat pengaman itu ke batang kemaluannya.

Ia meratakan karet kontrasepsi itu ke bagian bawah kejantanannya yang ukurannya sebelas-dua belas denganku hingga hanya meninggalkan sedikit gulungan saja. Padahal aku sudah menegaskan pada mereka berdua aku gak akan pake, kok malah dia yang pake?

“Udah kebiasaan, bang… Gak pa-pa…” ia melambai tanda tak mengapa.

Kebiasaan katanya. Dia selalu merasa wajib mengenakan kontrasepsi ini ketika menggauli pacar-pacar bahkan pada istrinya sendiri. Amei tak perduli apapun, yang penting dirinya segera ditusuk secepatnya. Pantatnya berayun-ayun menunggu aksi adegan bokep yang kusutradarai ini. Kakinya kini tidak rapat melainkan lebar mengangkangm, mengakomodir penetrasi yang akan memasuki tubuhnya kapan saja.

“Terus gimana nih, bang… Boleh dimasukin, kan?” tanya Julio minta saran.

“Ya, udah… Masukin… Pelan-pelan aja dulu…” kataku meneguk ludah melihat kedutan tak sabar dari belahan kemaluan Amei yang memerah merekah agak bengkak pertanda sangat terangsang oleh proses ovulasinya yang terpicu syahwat malam ini.

Julio naik ke atas ranjang dan memposisikan dirinya di belakang Amei yang menungging. Semakin rapat hingga ia bisa mengarahkan penis berbungkus kondomnya tepat ke belahan liang kawinnya yang menguak mengintip siap dicoblos pejantan. Julio mengoles-oles ujung penisnya hingga basah, mempermudah proses penetrasinya kemudian.

“Ahh…” erang Amei merasakan penis suaminya membelah kemaluannya dan menerobos masuk dan mulai bergerak pelan-pelan sesuai instruksiku.

“Ah ah ahh ahh…” konstan gerakan Julio memompa Amei tetap di tempo yang tetap.

Julio seorang pemain perempuan sejati, ia bisa menahan dirinya agar gak cepat-cepat ngecrot. Tekniknya lumayan jitu, dicabutnya penisnya dari liang kawin Amei begitu ia mulai merasakan geli-geli enak itu.

Digesek-gesekkannya permukaan batang penisnya yang basah oleh cairan pelumas Amei di sekitar vagina perempuan itu untuk mengalihkan perhatiannya juga mengambil nafas break sebentar.

“Aahh…” lalu dimasukkan kembali setelah dirasa cukup mencumbu bagian punggung perempuan itu ditambah perhatian pada bagian togenya yang menggantung berjuntai indah.

“Bagus… Pertahankan begitu… Amei… jangan ditahan-tahan kalo mau menjerit… Aww… Aww… Gitu… Jerit aja…” kataku memberi semangat pada sepasang pasutri ini terus agar semakin hot dan aku makin rajin menjamah Aseng junior-ku.

Amei mengulum jarinya dan menoleh ke belakang padaku yang duduk bermain sendiri. Jari yang dikulumnya dijilat dan disedot dengan seksinya seolah itu adalah sebuah kemaluan lainnya.

Matanya sayu dan mengundang. Pasti akan enak sekali berada di depan wajahnya dan menyodorkan Aseng junior yang tak akan mungkin bisa ditolaknya. Ia membayangkan sedang mengemut Aseng junior-ku. Matanya terpaku menatap kemaluanku sementara tubuhnya tergial-gial sodokan Julio yang memompanya dari belakang.

Ia memandangiku penuh nafsu dan beberapa kali memberikan pandangan nakal itu untuk segera bergabung dengan keduanya, melupakan permainan kecil yang kutawarkan. Tunggu, ya…

“Ahhh Ah ahh ahh…” Amei lalu mendapatkan orgasmenya dengan merebahkan kepalanya di permukaan kasur masih dengan pantat menjulang yang masih disodoki Julio perlahan. Tubuhnya berkejat-kejat sebentar lalu lemas.

“Sudah… Sekarang Amei berbaring… Gaya man on top…” ujarku meminta mereka ganti posisi.

Julio melepas penis berkilat-kilat basahnya dari kelamin istrinya. Amei menjatuhkan dirinya lalu berguling berbaring di punggungnya.

“Masih tahan, kan?” tanyaku pada Julio.

Udah ada sekitar 5 menit lebih mereka bersenggama. Pria itu mengangkat dan menggeser tubuh istrinya agar tepat di depannya lagi.

“Lima menitan lagi-lah…” jawab Julio mendekatkan penisnya pada kemaluan Amei lagi dan meluncur masuk dengan mudah.

Amei mengangkang lebar dengan kaki diganjal Julio pada bagian lipatan lututnya. Goyangan togenya dapat terlihat jelas di posisi ini, berayun-ayun, berputar-putar indah memerah oleh nafsu. Sodokan-sodokan bertenaga dilancarkan Julio menggasak istrinya sendiri.

Penisnya menancap dalam dan mantap mengocok liang kawin yang sejatinya adalah hak miliknya sendiri. Terlalu sakral untuk dibagi dan dinikmati pejantan lain. Konstan dan teratur Julio mengaduk-aduk peranakan Amei, membuat perempuan itu menggeleng-geleng meremas-mengepalkan tangan.

“Lebih cepat, Julio… Keknya udah mau dapat lagi tuh Amei-nya…” instruksiku karena erangan dan mimik Amei makin kepayahan menahan kenikmatan persetubuhan ini. Kalo mereka bisa menikmatinya seperti ini kenapa mereka berdua merasa harus perlu meminta bantuan pada pihak ketiga? Aku masih belum ikut campur saja mereka sudah demikian menikmatinya.

Apakah faktor kehadiranku ini juga ada kontribusinya?

“Lebih cepat lagi… Yak! Yaak! Cepat!” Julio memacu kocokannya demikian cepatnya hingga aku hanya melihat gerakan blur kecepatan RPM tingginya.

Amei mengerang-ngerang merasakan gerakan cepat panas sodokan Julio. Keduanya mengerang bersamaan dan tiba-tiba Julio melepas penisnya dan melepas kondomnya buru-buru. Amei yang sudah tau kebiasaan suaminya hanya mengangakan mulutnya dan menampung kemaluan menegang merah keras yang segera berkedut-kedut dan menumpahkan semua isi pelurunya ke dalam mulutnya. Pria itu mengocok sebentar menguras semua muatannya berpindah tempat ke dalam istrinya.

“Arrhhh… Ah… Hahh!” erang Julio sangat terlihat puas membiarkan Amei menelan kemaluannya dan menyedot-nyedot apapun yang tersisa di penisnya.

Semua muatan sperma barusan tanpa ragu sudah ditelannya habis. Pandanganku hanya terpaku pada bentangan kaki binor itu yang berkedut-kedut bergerak kanan-kiri. Pastinya ia belum sepenuhnya puas. Ia masih bisa bergerak dan bertingkah genit. Julio tak sesuai target kurang dari 5 menit sesumbarnya ia sudah ejakulasi. Biasa sih…

“Gantian, bang… Sekarang giliran bang Aseng-lah…” kata Julio yang memegangi penisnya yang lunglai, turun dari ranjang demi melihatku sedang swalayan sendiri dengan Aseng junior-ku.

“Maen film-nya udahan, kan?”

“Bareng dong, Julio… Ini judulnya kan trisam?” kataku merasa gak enak aja memulai dengan cara ini.

Sudut mulutnya terbuka jenaka dan menunjuk-nunjuk kemaluannya sendiri.

“Istirahat dulu… Perlu waktu… Kalo udah bisa… aku gabung…” ia duduk menggantikanku di sofa yang barusan kududuki menjadi sutradara tadi.

Amei bangkit dan meminum segelas air yang ada di meja samping ranjang dengan nafas terengah-engah. Tapi matanya terpaku padaku yang sedang berusaha melepas semua pakaian yang melekat di tubuhku.

Matanya tertangkapku sedang menatap Aseng junior-ku yang menjuntai dari sela bukaan restleting saat aku sedikit membungkuk berusaha melepas celana panjangku. Tunggu dulu…

Aku urung benar-benar melepas celanaku, kubiarkan saja menggantung. Aku belum pasti kalo Amei sudah benar-benar bersih dari apapun yang pernah menyerangku semalam; teman-teman Banaspati sialan itu. Kalo aku harus bertarung, setidaknya aku masih pake celana. Keknya sangat memalukan sekali kalo harus bertarung dalam keadaan telanjang bulat.

Merangkak naik masih bercelana walo Aseng junior menunjuk-nunjuk lurus sarang barunya, binor yang setuju lagi rela berbagi pria lain dengan suaminya dalam tajuk threesome ini. Agak kelewatan egois kalo aku harus langsung maen coblos aja melesakkan Aseng junior dalam-dalam di liang kawin basahnya. Mau dicipok dulu, mulutnya abis nelan sperma lakiknya, mau dioral cibay (vagina)-nya juga bekas digenjot walo terproteksi kondom tadi. Banyak maunya ya si Aseng ini…

Pilihan yang aman adalah pada togenya. Dari sentuhan awal aku bisa menilai apakah masih ada gangguan di diri binor ini dari pihak manapun yang mungkin masih penasaran ato ada berpengaruh padanya.

Aku harus tetap hati-hati walo Aseng junior-si kontol, sudah tegang maksimal. Kujamah toge kirinya. Rasanya nyess… Kenyal dan lembut. Kulitnya yang putih bahkan sangat kontras dengan tanganku yang mulai gelap sering terpapar sinar matahari.

“Aahh… Enak, baaang?” ia menangkap tanganku yang meremas togenya.

Ia membantuku meremas lebih keras. Mulutnya terbuka memainkan lidah minta dipuaskan dengan permainan mulutku. Kakinya dengan manja langsung menangkap memerangkapku dengan kaitan.

“Ayo, bang… Amei udah gak tahan, bang…” nakal ucapannya lidah lidah menyapu bibirnya.

Sudah kepalang tanggung. Kutindih tubuhnya walo masih bertopang dengan kedua siku. Dada kami saling bergencetan, muka kami rapat bertatapan, mulutnya bersedia untuk menyambutku.

“Cup cup cuup…” kami saling mengecup.

Tak ada aroma sperma sedikitpun dari mulutnya sisa ronde dengan suaminya tadi. Pasti ia membersihkannya semua saat minum tadi dengan berkumur-kumur sekalian. Ia menjulurkan lidahnya dan langsung memasuki rongga mulutku. Langsung kesedot-sedot. Aseng junior kusodok-sodokkan untuk ngetes, tertumbuk pada pangkal pahanya yang halus licin. Mulut kami saling mengulum bibir bergantian, saling membelit lidah bergantian menyeruak masuk.

“Shlkk… Slrpp… srpp…”

Amei memegangi belakang kepalaku sangat menikmati percumbuan mulut kami berdua. Aseng junior sudah menemukan targetnya dan sejauh ini tidak ada apa-apa yang terjadi menandakan tak ada gangguan yang kukhawatirkan. Tusukan-tusukan pelan kulakuan dan dengan mudah menemukan sasaran tembaknya, liang kawin basah yang sudah sempat dipanaskan pemilik hegemoni tubuhnya.

“Buka semua, bang…” ujarnya diantara erang mengenai celana panjangku.

Masih tak melepas himpitanku, kulepaskan celanaku dengan lincah. Celana bahan semacam ini akan lebih mudah dilepaskan. Kutendang hingga jatuh ke lantai. Amei malah melepas cumbuan mulut kami dan mendorongku berbaring rebah bergantian. Julio yang menonton kami, duduk mengelus-elus penisnya dengan muka mupeng. Kemaluannya belum sepenuhnya bangkit, benar istirahat yang dibutuhkannya. Amei melepaskan sempak yang belum sempat kulepas tadi lalu dengan ganas menangkap Aseng junior yang mencuat tegang perkasa menunjuk langit.

“Shllkk… Umm… Keras…” desah Amei tentang potensi Aseng junior yang dijilatnya panjang dari pangkal ke kepala.

Jilatan basah itu sangat membuat melenakan. Ia mengulanginya lagi sampai berkali-kali seolah sedang menjilat es krim yang sedang meleleh, tak ingin lelehannya jatuh percuma. Lalu ia menyedot bagian kepala Aseng junior dan mengulumnya beberapa saat. Ujung lidahnya kemudian bermain di lubang kencing yang sensitif sekali. Lidahnya rajin bergerak menyapu setiap tekstur permukaan Aseng junior mencari-cari bagian sensitif lainnya, terutama bagian bawah kepala.

“Aahh… shllkk… Umm… Gantian atau masuk, bang?” ia memberiku opsi.

“Gantian…” jawabku.

Udah kepalang tanggung begini dan aku belum sempat merasakan cibay binor satu ini. Paling nanti akan ada aroma latex-latex beraroma aja. Amei beringsut maju menaiki tubuhku. Dengan sengaja dan sangat nakal, ia menggesekkan belahan cibay-nya menggerus Aseng junior hingga tergencet. Masih terasa basah dan tebal merekah. Proses ovulasi masih berlangsung.

Mendesah-desah ia bergerak terus maju lalu menyodorkan cibay manis berbulu halus miliknya ke mulutku, membalas servis oralnya barusan.

“Arrhhh… Ahh… Ahh… Oh-oh…” lidahku langsung beraksi lincah mempermainkan setiap mili permukaan kemaluan bengkaknya.

Bibir dalam bergerinjalnya kusentil-sentil dengan sapuan pendek lalu beralih ke kacang itilnya yang terasa keras walo berukuran imut. Kukulik-kulik dengan ujung lidahku agak lama di sana membuat binor ini menggelinjang liar memegangi lehernya sendiri lalu menyedot ujung jari telunjuknya sendiri. Ia sangat mendambakan penis kedua saat ini dan itu dijawab suaminya dengan naik ke atas ranjang dan langsung menyodorkan kemaluannya ke mulut Amei.

“Hlokk… klookk… glokhh…” Julio menggenjot mulut istrinya pelan-pelan.

Cibay Amei terus kunikmati dengan oral begini. Banjir cairan cinta menetes-netes dan tanpa penghalang masuk ke mulutku. Aku mempermainkan titik utama klitorisnya sampai aku yakin dapat membuat perempuan ini orgasme hanya dengan lidahku.

“Hlokk.. ghlook… Uhuk… uhukk…” Amei terbatuk-batuk sehingga decitan cairan pelumas di liang kawinnya menyemprot kecil.

Ternyata Julio baru saja ngecrot lagi di mulut istrinya.

“Ahh… Hah hahh… Fuck… Ahh… Yeah, fuck!” makinya menengadah puas.

Ia bergerak turun dari atasku lagi, turun dari ranjang juga. “Entotin binikku, bang… Enak kali ngentotin dia…” pria itu kembali ke sofa kecil itu, beristirahat lagi. Amei yang kesusahan dengan mulutnya sedikit mundur dari mulutku dan duduk di atas dadaku.

“Balik… 69 kita…” kataku memintanya kembali menungging, hanya saja kali ini di atas tubuhku.

Aseng junior perlu perhatian lagi sebentar setelah tadi sempat dicuekin di bagian tadi. Patuh ia berbalik hingga mukanya menghadap pada kegagahan Aseng junior yang mencuat tegang sedang aku menghadapi cibay-nya yang merekah lebar.

Lidahku mencucup masuk membuatnya mengerang tertahan sumpalan Aseng junior di dalam mulutnya. Kukakukan lidah, lipat meruncing dan menusuk masuk ke liang kawinnya. Kugerakkan keluar masuk bak penis mini. Asin liang kawin beceknya membuatku semakin haus.

Aseng junior terasa hangat kembali di dalam rongga mulutnya yang berlidah lincah dan pintar mengulek kontol. Selagi itu, mataku tertumbuk pada mekar bukaan anusnya yang terlihat longgar.

Ternyata selama trisam dengan beberapa partner mereka, lubang apapun boleh dipake termasuk liang dubur ini. Ahh… Liar sekali kehidupan seks pasangan suami istri ini. Tapi itu artinya aku juga boleh mencoba lubang ini juga, toh?

“Maju pelan-pelan…” Amei patuh dan bergerak maju merangkak pelan.

Aku menyaksikan dan menikmati dua lubang tersedia itu lalu menghentikan gerakannya saat posisi selangkanganku dan selangkangannya tepat sejajar dengan mencekal pinggulnya. Kutekan agar julang Aseng junior yang menunjuk tepat liang kawinnya berkenalan lebih akrab.

Mudah saja masuk… “Sleeeb….”

“Ahhh…” kutekan hingga semua panjang Aseng junior amblas ke dalam liang kawinnya.

Amei duduk di pangkuanku dan menggerak-gerakkan bokongnya pelan membiasakan batang kemaluanku mengganjal isi kemaluannya. Dan luar biasanya, jepitan liang kawin perempuan ini cukup ketat memijat-mijatku. Entah karena keras milikku berbeda dengan milik pria-pria yang pernah memasukinya, Amei sepertinya agak kaget dengan sumpalan yang memasuki sanubari peranakannya.

“Keraaas… Padaat… Uhh…”

Sudah luar biasa Julio bisa bertahan hampir sepuluh menit menggenjot liang kawin biniknya tadi. Aku tanpa pengaturan nafas silatku tentu bentar-bentar lagi ngecrot tanpa ampun diulek kualitas prima liang kawin paten ini. Gerakan sederhana naik turun pelan Amei sungguh memabukkan. Ia juga mengerang sendiri melengkungkan punggungnya. Aku hanya bisa menikmati bagian belakang tubuh mulus putih bak pualamnya. Rambut panjang sepunggungnya bergerak seirama dengan gerakan mengangkang menduduki selangkanganku ini.

“Aahh…. Oohhh… Enaaknya kontol… Ahh…” desahnya bernada kotor dan nakal. Seseorang yang kusadari sebagai Julio kembali naik kembali ke atas ranjang dan menghadap pada muka Amei.

Amei yang sedang menggoyang tubuhnya, meremas togenya sendiri langsung menyambut jejalan penis setengah tegang, kemerahan Julio. Amei mengganti gerakan naik turunnya, dengan gerakan berputar mengulek. Alamak! Kerasa dipelintir-pelintir Aseng junior di dalam liang kawin binor Tionghoa ini.

Kepalanya yang kini bergerak maju mundur mengocok penis suaminya dengan penuh semangat dengan mulutnya, bermaksud menyenangkan kepala keluarganya ini. “Ahh…” erang Amei. Aku mengambil inisiatif bergerak sekarang, gerakan mengocok. Posisi berjongkok mengangkangnya lalu kusodoki dengan gempuran cepat-cepat setelah kutahan pantatnya ke atas sedikit.

Binor itu tak bisa konsentrasi menikmati kedua kenikmatan yang menderanya sekaligus; menikmati sodokan ritme cepat pendek-pendek Aseng junior dan menikmati sodokan penis suaminya di dalam mulut. Julio bergantian melihati paras cantik istrinya dan wajah menahan kenikmatanku. Bernafas dengan teratur walo tak kurang kelabakan oleh rasa nikmat yang mendera tubuhku.

“Ummbhh… ummbh… ummbbhhhaaahh… Bbuubbb…” erang Amei tak tahan merasakan deraan nikmat yang sangat dahsyat yang menguasai tubuhnya.

“Aahh… Ahh… Ahh…” tubuhnya menegang kembali dan gerakannya sengaja melepaskan Aseng junior dari dalam liang kawinnya.

Ia juga melepas penis Julio dari mulutnya hingga ia menumpukan wajahnya di perut suaminya, kemaluan suaminya bertengger mengacung tepat di samping pipinya. Nafasnya ngos-ngosan memburu berat habis menikmati kenikmatan barusan.

“Enakhh… enaakkhh… Ah ahh… ahh…” erangnya menyuarakan rasa yang masih terkadang menyebabkan tremor tubuhnya, bergetar.

Aku berdiri di atas lututku, membalik tubuhnya hingga ia berbaring saja di punggungnya dan kulebarkan kakinya, terserah Julio mau masuk kemana karena aku masih penasaran dengan rasa nikmat yang tadi telah kurasakan menjepit Aseng junior-ku.

“Aahhsss…. Uhh…”

Aku gak perduli sama sekali dengan keberadaan Julio di situ karena ia kembali memasukkan penisnya pada mulut Amei yang saat ini tak kuperdulikan; aku hanya perlu cibay-nya. Genjot cepat kemudian setelah Aseng junior menusuk masuk ke dalam sarang barunya.

“Plok plok plok!” suara tepukan selangkanganku dan kangkangan kakinya yang putih mulus terbentang lebar.

“Plok plok plok!” Juga menikmati pergerakan berguncang-guncang toge mulusnya yang mulai menitikkan peluh berkilat-kilat.

Suara tertahan tersumpal kontol juga sangat menambah nafsu, seorang perempuan cantik sedang terengah-engah karena digenjot oleh dua orang pria. Tidak bisa disebut tak berdaya karena ia menikmati situasi ini. Situasi yang bisa disebut memalukan kalo dalam kondisi normal, tapi kenormalan tidak berlaku saat ini sebab mereka yang menginginkannya.

Julio meremas-remas toge Amei sementara aku hanya cukup memegangi pahanya agar mengangkang lebar. Sempit liang kawin cibay perempuan ini terasa mengatup erat terutama di bagian mulutnya, Bisa diadu taraf menggigitnya dengan perawan yang baru dijebol ini. “Enak, bang Aseng… Sempit, kan?” tanya Julio memahami kesulitanku.

“Memang begitu… Coba aja nanti cobain analnya… Beuh… Lebih paten…”

“Awak mau keluar nih… Gak pa-pa didalam, kan?” jawabku malah topik lain. Aku gak perduli apapun. Hanya ngecrot aja yang penting saat ini karena aku gak mau menahannya lagi.

“Ayo, bang… Keluarkan, baaang!” seru Amei bersemangat.

“Yaah… Ahh… Ummbb…” cerocos Amei disumpal kontol lagi oleh Julio.

Rasanya cocok aku ejakulasi sekarang sementara Julio sudah dua kali dan itu dibuang di mulut semua. Genjotan Aseng junior semakin cepat dan panas gesekan licin bergerinjal di liang sempit Amei sangat memabukkan dan bentar lagi. Bentar laaaagi…

“Uhh…” keluhku menekan erat perutku ke selangkangan Amei.

“Crot croott crooottt!” sperma kentalku meluncur masuk tak tertahankan lagi.

Selalu terasa nikmat sekali bisa memberi penanda kenikmatan ini di tiap-tiap perempuan cantik begini. Bibitku bisa memasuki tubuh cantiknya. Kelak akan ada bayi cantik yang akan lahir dari tubuh cantiknya, meminum susu dari toge cantiknya, menatap wajah cantiknya.

“Glokk… glok… umbb…” Julio rupanya juga mendapatkan ejakulasinya untuk ketiga kalinya malam ini.

Ia sepertinya punya fetish tersendiri untuk CIM (Cum in Mouth). Padahal lahan miliknya ini sedang subur-suburnya untuk diencrotin di dalam rahim, malah senengnya di mulut. Gimana Amei bisa punya anak kalo ngentoti biniknya di cibay malah pake kondom. Aneh ini orang. Ah! Sukak ati kau-lah… Kalo kau tak mau, biar aku aku aja yang ngentoti cibay binikmu.

    

***

“Masih bisa, bang?” tanya Julio melihat Aseng junior hanya mengendur sedikit aja dari kondisi tempur maksimalnya.

Amei mengusap-usap sisa cairan kental yang menggenang di mulut liang kelaminnya. Dikorek-koreknya dengan ujung jarinya dan keknya gak abis-abis spermaku di dalam sana. Aku gak bisa protes melarangnya melakukan itu. Kau keluarkan-la itu, nanti kumasukkan lagi banyak-banyak biar bunting sekalian kau, Mei.

“Bisa…” jawabku asal aja hanya memperhatikan wajah Amei yang sedang mengecap-ngecap dan menelan sisa sperma suaminya. Malam ini fix aku gak akan menjamah mulutnya lagi, udah tiga ngecrot di situ si Julio-nya. Kukocok-kocok Aseng junior meratakan sisa sperma dan cairan pelumas Amei di sekujur batang kemaluanku.

“Mintak satu kondom-mu…” kataku beralih pada Julio.

“Itu… Disitu…” ia menunjuk pada meja di samping ranjang. Ada beberapa sachet berisi karet pengaman itu di samping air minum milik Amei yang sudah tandas.

“Aku ambil minuman dulu…” ia menunjuk keluar kamar dan cepat berlalu. Aku berbaring disamping Amei dan berusaha memakai karet itu pada Aseng junior.

“Kenapa dipake, bang? Abang katanya gak suka pake itu?” tanya Amei yang masih mengusap-usap cibay-nya yang becek beselemak.

“Awak mau nyobain pantatmu, Mei… Awak belum pernah nyoba sebelumnya… Itu…” agak segan kubilang kalo aku khawatir kenak tai. Kalo kenak setidaknya Aseng junior-ku terlindungi APK (Alat Pelindung Kontol).

“Oh… Bersih kok, bang…” kata Amei paham kekhawatiranku.

“Tapi terserah abang, sih…” katanya bersiap-siap untuk menyambutku setelah melihat aku selesai membalut kelaminku dengan APK itu.

“Gimana, bang?”

“Amei sukanya gimana kalo maen belakang?” tanyaku berusaha tak egois menanyakan preferensinya.

Apalagi aku benar-benar tak berpengalaman kalo masalah anal meng-anal. Ia membalik badannya dan berbaling menelungkup memamerkan pantatnya yang membentuk bagus berlekuk-lekuk indah walo dalam keadaan tengkurap. Membentuk gundukan tebal dan membukit tinggi terbagi dua dengan ceruk dalam tempat liang nikmat itu berada.

“Enaknya begini, bang… Kerasa banget… Tapi agak susah masuknya… Abang coba dulu aja…” katanya sedikit berpaling dari bantalan tangannya yang menopang wajahnya di atas kasur.

Ia melebarkan kakinya dan memamerkan belahan bokongnya yang akan kucoblos. Kuncup merekah lubang anal Amei terlihat masih sangat rapet dan peret walo sudah pernah ditembus beberapa kali. Entah oleh Julio sendiri ato partner-partner trisamnya.

Menikmati satu lubang tambahan ini pasti akan sangat menggoda dicoba termasuk aku partner teranyar mereka. Tangan Amei lalu menjangkau ke belahan pantatnya, menggerakkannya lebih mencuat, ia menjawil belahan cibay-nya untuk seulas cairan sperma yang masih tersisa, memulas sekitar lubang anusnya lalu menusukkan jari ke dalam. Jarinya terbenam dengan mudah, dilubrikasi spermaku sendiri.

“Tambah ludah biar lebih licin, bang…”

Aseng junior yang sudah menegang kembali ke ukuran siap tempurnya ketika aku memposisikan diri di atas kedua pahanya. Aseng junior langsung kesisipkan ke belahan pantatnya dan ujung kepalanya langsung merasakan lembab licin sperma yang sudah dibalurkan ke sekitar cincin anusnya.

Rasanya sangat nyaman sekali bergesekan dengan kulit lembut dan kenyal belahan pantat Amei. Aku harus mencondongkan badanku agar sodokan-sodokanku dapat mencapai liang anusnya karena panjang Aseng junior bukannya panjang-panjang kali. Hanya standar 15 cm aja dan itu hanya cukup untuk memasukkan bagian kepala dan sedikit leher Aseng junior saja.

“Dikit lagi, bang… Ahh… Ummh…” desah Amei yang merasakan mulut lubang pembuangannya sudah disundul-sundul Aseng junior-ku yang mencoba menyeruak masuk.

Amei makin menunggingkan pantatnya mencuat naik. Ternyata sesulit ini kalo mau ngerasain anal. Moga-moga aja rasanya seenak yang dikatakan orang-orang. Kusodok-sodok terus dan cincin anusnya mulai longgar merekah karena Amei juga merilekskan anusnya agar memudahkanku masuk.

“Gini aja-lah, bang… Amei biar nungging dulu aja…” karena ia merasa nanggung juga karena kesulitanku memasuki analnya yang masih sempit.

“Nanti kalo udah agak lama… Amei telungkup lagi…” ia bergerak dan menggunakan kedua lututnya menopang tubuhnya.

“Naaah… Dari tadi kek gininya…” kataku melihat anusnya lebih jelas di posisi ini tak tak terhalang oleh bongkah padat buah pantatnya. Cincin analnya juga lebih merekah terbuka, kemerahan bekas kusodok-sodok barusan tadi. Kutambah ludah untuk membasahi kepala Aseng junior yang sudah memerah menunggu gak sabar dibalik balutan karet kondom. Kugesek-gesek bagian kepala basah itu untuk menguak lebih lebar. Amei makin menunggingkan pantatnya.

“Alamakjang!!”

“Aahhh… asshhh-ehhh…” Aseng junior berhasil meluncur masuk menembus gerinjal ketat penuh kerutan serupa sususan cincin pembentuk otot rectumnya. Walo belum masuk seluruhnya, aku terperangah akan sesak jepitan sangat menjepit liang anal Amei.

“Ahh… Ahh…” desah Amei rupanya juga menikmati lesakan.

“Sempit kan, baaang? Auhh…” apalagi saat perempuan itu mengapitkan ato mengkontraksikan otot analnya, Aseng junior seperti diremas dengan tangan rasanya.

Kuludahi lagi batang Aseng junior yang terbungkus kondom. Kubalurkan ke sekujur bagian yang belum masuk hingga berkumpul di bukaan sempit menggigit anal Amei. Sodok-sodok terus pelan hingga seluruh batang kemaluanku yang hanya seukuran 15 cm ini bisa amblas sepenuhnya di dalam liang anal Amei yang luar biasa sempit.

Lebih sempit dari liang cibay-nya yang menggigit di ronde awal tadi. Kutarik pelan lalu dorong lagi. Amei sudah mengerang-ngerang keenakan merasakan gesekan yang sudah kami sebabkan di dalam saluran buang yang diklaimnya bersih. Dia sudah tak sabar untuk balik lagi ke posisi favoritnya itu, berbaring telungkup sembari dianal.

Kedua pahanya lalu kutarik dan ia rebah menelungkup masih dengan Aseng junior bercokol dalam di anusnya. Kedua kakinya kurapatkan dan kakiku melebar.

“Aduh makjang… Sempit kali!!” umpatku tak sadar merasakan sesak yang kini dirasakan Aseng junior yang dijepit anus dan katupan kaki Amei.

Rasanya sangat luar biasa sempit. Aku bisa ketagihan merasakan nikmat katupan sempit menjepit erat ini. Apalagi di dalam anus secara alami tidak memiliki lubrikasi karena peruntukannya memang tidak dirancang untuk ini, bukan untuk dientot pake junior pria.

“Baannghh… Yaahh… Yahh… Goyang, bang!” erang Amei histeris naik turun membenamkan mukanya di sprei ranjangnya.

Aku mulai menggerakkan pinggulku menusuk-tarik ke dalam bool anusnya. Perutku rapat merangsek belahan pantat tebalnya dan kedua tanganku bertumpu tepat di samping lengannya. Memanfaatkan pejal kenyal bokongnya, aku hanya mengentoti anus Amei pendek-pendek. Tapi rasanya sangat luar biasa.

Sensasinya aneh tetapi katupannya juara. Aneh maksudku, tidak seperti liang kawin normal yang teksturnya sangat kukenali, tekstur dalam anus sangat berbeda karena memang peruntukannya yang berbeda. Permukaan liang rektum itu mulus dan benar-benar halus tetapi pintu masuknya sangat ketat menggigit. Tekstur halusnya membuai Aseng junior seperti memasuki sebuah lorong yang tanpa perlawanan membalut bentuk padatnya.

“Ah ah ah ah…” erang Amei terus menerus.

“Hemb… hemb… hemb…” erang tertahanku menikmati liang anal perdanaku ini.

Tapi walo seenak ini, semenarik ini enaknya, aku masih lebih suka kalo harus ngecrot di dalam liang kawin. Amei yang mengerang-ngerang menikmati perlakuan anal dariku tak berdaya menolak ketika tubuhnya kubalik menelentang di posisi ngentot normal MOT. Kakinya kubentangkan lebar kuangkat ke atas untuk lebih mencuatkan analnya lagi. Sperma kental masih mengalir pelan dari dalam liang cibay-nya.

“Akhh… Ah ah ah ah…” Amei tak sempat protes apa-apa kala anusnya kembali kujejali dengan Aseng junior-ku lagi. Kakinya yang terbentang terangkat memungkinkanku untuk mencoblos anusnya dengan tusukan panjang dan bertenaga.

“Ah ah ah ah ah…” Perut Amei yang agak menekuk menambah tekanan pada anusnya yang melengkung, menyebabkan Aseng junior menggerus maksimal lorong analnya.

Ditambah lagi pucuk toge kanannya kucucup dan kusedot-sedot kuat hingga pipiku agak kempot. Tangan Amei yang sedianya ada di atas menggapai-gapai udara kosong, kini sedang meremas-remas rambutku sementara analnya terus kugenjot. Rasanya sangat nikmat sekali. Anal perdanaku ini aku hanya bisa bertahan segini aja.

Cabut cepat Aseng junior dari dalam anus Amei, kutarik kasar karet kondom yang membalut batang kemaluanku, ternyata ada juga aroma-aroma gak sedapnya ikut tertarik keluar. Tetapi rasa enak yang bergulung-gulung di ujung mengalahkannya dan langsung kujebloskan ke liang kawin cibay-nya yang ikut menganga becek, dengan mudah tanpa perlawanan apapun.

“Byusshh…” kocok-kocok cepat sebentar dan, “Croott croot crooott!!” Aseng junior muntah kembali di dalam liang kawinnya untuk kedua kalinya malam ini.

“Auhh… Ah ah ahh…” luar biasa, Amei juga ngikut orgasme walo hanya sebentar kukocok cibay-nya. Apakah akumulasi kuentoti analnya tadi juga berpengaruh. Ah… Stimulasi nikmatnya sangat memabukkan. Kedut-kedut nikmat tubuhnya serasa memijat-mijat Aseng junior agar menguras semua cairan kental berisi penuh bibit suburku memasuki rahimnya.

“Akh… ahh… Ha ha ha… Enak bangheet, bhaang…” erangnya menjilati bibirnya dan memijatinya togenya sendiri. Kusodok-sodok pelan sebentar lalu kucabut sama sekali.

“Umm…” kusodorkan Aseng junior ke mulutnya yang haus akan kontol yang menegang.

Dicaplok dan disedotnya dengan seksama walo masih ada sisa spermaku di sekujur batangnya. Ia tak menghiraukannya dan menikmatinya sepenuh jiwa.

Julio muncul dari sampingku dan menyodorkan kontolnya juga ke mulut istrinya. Ia mendesakkan miliknya agar juga mendapat perhatian Amei. Mau tak mau Aseng junior harus bersentuhan dengan milik Julio yang kelihatannya tak perduli sama sekali. Geli sentuhan lidah dan bibir basah Amei tersamar, bercampur dengan tersentuh kontol Julio. Gelik juga jadinya kenak punya laki-laki lain.

Ini resiko… Ini resiko… Itu yang terus berulang-ulang kukatakan pada diriku sendiri. Malam masih panjang dan sepertinya mereka berdua belum menunjukkan tanda-tanda akan usai melakukan ini semua.

“Enak bang pantatnya?” tanya Julio masih menjejalkan kemaluannya di dalam mulut istrinya.

Amei memegangi kedua penis kami dan bergantian mengulumnya, menghisapnya dan menjilatinya. Kadang ujung penis kami dilagakannya dan dijilatinya bersamaan. Nakal binor panlok ini menggesek-gesekkan kepala penis kami berdua lalu mengulumnya sekaligus dengan gemas.

“Enak… Ini pertama untukku nyobain anal… Rupanya seenak ini… Sempit kali juga…” kataku memuji bool seret milik biniknya.

Peyot-peyot penis kami berdua dibuatnya memasuki mulutnya, memaksa masuk dan disedotnya berbarengan memberi rasa ngilu dan sedap bersamaan. Julio bahkan menyodok-nyodok mulut istrinya hingga kulit batang kemaluan kami bergesekan di dalam rongga hangat mulut Amei menyebabkannya kelolotan kasihan. Julio menahan kepala Amei dan trus berusaha ngobrol denganku masih dengan biniknya yang kepayahan mengakomodir dua penis di dalam mulutnya.

“Memang sempit banget itu dua-duanya punya Amei… Semua yang nyobain bilang gitu, kok… Mau lagi, gak?” tawar Julio.

Ia melepas penis miliknya dari mulut Amei hingga hanya Aseng junior-ku yang tertinggal di dalam mulutnya.

“Mau anal ato cibay-nya lagi?”

“Ini aja…” aku menunjuk cibay Amei. Mata Amei melirik bergantian pada suaminya dan aku. Dilepasnya Aseng junior yang sudah bersih dari sperma dan dalam keadaan tegang sekali.

“Oh… Bang Aseng yang paling bawah aja… Kita sandwich Amei-nya bareng-bareng…” kata Julio batal memasang sebuah kondom baru.

Amei tersenyum lebar dan membereskan rambutnya yang berantakan. Di-sandwich, ya? Amei bakalan dijepit di tengah-tengah kalo begitu. Aku mengikuti permainan mereka berdua dan berbaring senyamannya di ranjang ini. Amei melangkahkan kakinya ke atas pahaku dan duduk di dekat selangkanganku. Tangannya mengopyok-opyok Aseng junior perlahan merasakan keras dan tegangnya.

“Masukin, Mei…” suruh Julio pada istrinya.

Perempuan itu menaikkan tubuhnya bertumpu di lututnya dan mengarahkan Aseng junior untuk memasuki liang kawinnya. Becek menggenang spermaku memudahkan jalanku memasuki cibay sempitnya. Tapi walopun begitu sempitnya tetap paling juara.

Entah udah berapa jenis kontol yang udah memasuki tubuhnya tetapi masih saja sangat kerasa sempit menggigit liang kawin binor yang secara sengaja dibagi suaminya ini.

“Aahhsss…. Mentok semua… Ohhnnn!!” menusuk dalam dan ia mendiamkannya.

Amei lalu merebahkan tubuhnya maju, rapat ke arahku. Toge miliknya luruh jatuh di mulutku. Tanpa perlu dikomando kujilat dan sedot membuat tubuhnya bergetar-getar geli.

Julio bersiap-siap di belakang Amei dengan penisnya yang belum sepenuhnya tegang sempurna dan anehnya tak berkondom. Memasuki cibay istrinya ia memakai kondom, katanya kebiasaan. Dan ini kebalikannya akan memasuki lubang pantat malah gak pake kondom. Apa kebiasaan juga?

Amei yang menunduk rebah, tentu saja meninggalkan bokongnya mencuat membuka bekas kuhajar tadi. Pria itu sedang berusaha memasukkan penisnya ke anus istrinya. Berkali-kali ia meludahi tangannya dan membaluri kemaluannya sendiri lalu dicobanya menusuk masuk. Amei mendesis-desis seperti seekor ular merasakan anusnya didesak dimasuki kontol lain.

Padahal Aseng junior sudah menyumpal sesak liang kawinnya. Walo berbeda saluran, liang kedua saluran ini berdekatan dan akan sangat menyesakkan bila dua-duanya harus terisi penuh.

“Uahh… uaah uahh… Agghh… ahhh…” erang Amei meremas kain sprei yang makin kusut saja berkepal-kepal di tangannya.

“Sakit, Mei?” bisikku.

“Enaaak, bang… Ahh…” tubuhnya lalu perlahan berguncang-guncang pertanda Julio sudah berhasil memasukkan penisnya.

Apalagi Aseng junior-ku sudah terasa sesak juga. Seperti ada sesuatu yang menekan dari bagian atas yang bergerak-gerak. Ternyata itu gerakan keluar masuk Julio yang meng-anal bool Amei.

Tak perlu bergerak, Aseng junior-ku ikut bergerak memompa seirama mengikuti gerakan mengocok Julio di atas kami. Aku hanya perlu menikmatinya juga bermain dengan sepasang toge yang menjadi rezeki nomplok luruh di mukaku.

Aseng junior-ku yang dalam keadaan melengkung menusuk terbantu gerakan Julio di sempit tertekannya saat ini. Ini lebih sempit dari biasanya dan sukses membuat kami bertiga keenakan sekaligus kelimpungan dengan rasa nikmatnya.

Gesekannya sangat optimal terasa. Julio mengerang-ngerang keras dan kutenggarai pria itu akan ejakulasi lagi. Berkat gerakannya aku tidak perlu susah payah mengocokkan kemaluanku di dalam cibay Amei. Sodokan cepatnya menggerakkan milikku bersamaan. Erangan pria itu semakin liar dan keras.

“Ahhh ahh ahhh…. Huhh…” terasa ada sedikit tekanan dan kedutan-kedutan yang terasa di atasku.

Pasti Julio sudah ngecrot untuk keempat kalinya. Dan ketika kulirik ke meja yang ada sachet kondom, gelas minuman Amei, sekarang ada beberapa botol minuman energi. Mungkin itu yang menjadi andalannya untuk stamina kegiatan esek-eseknya malam ini.

    

“Ahhh… Ha ha haha… Lanjut, bang Aseng…” seru Julio menggulingkan dirinya lepas dari interkoneksi kami bertiga hingga hanya tinggal aku dan Amei yang masih terhubung. Kulepaskan kekepanku pada kedua toge kenyalnya dan kutegakkan badannya, menyuruhnya untuk mulai bekerja.

“Heesshhh… Uhh… Dalem banget, bang…” erangnya merasakan sisa satu batang penis yang masih bercokol di dalam tubuhnya. Tangannya menelusup masing-masing ke cibay dan anusnya. Keduanya sama-sama mengobel dua lubang sempit miliknya yang sudah kunikmati malam ini.

“Ayo goyang, Amei… Nanti kalo capek… biar awak yang bantuin gantian…” pintaku.

Kukedut-kedutkan batang Aseng junior dan tanganku menjamah sepasang toge miliknya langsung kuremas gemas. Mulut binor itu menganga keenakan lidahnya nakal menjilati bibirnya. Julio terduduk di lantai dengan penis lunglai merah padam.

Muka dan dadanya juga merah padam seperti kepiting rebus. Keringatnya bercucuran kelelahan. Tanganku menekan ke atas sebagai bentuk perintah gak langsung. Ia mulai bergerak menggeol-geol dahulu lalu naik turun.

“Yaaahh… Ahhh ah ah ah… Ahhh…” erangnya membantu tanganku yang sedang memerah susu toge menggemaskannya.

Ujung jariku menusuk-nusuk putingnya lalu dikulik-kulik meningkahi gerakan naik turunnya. Pantat tebal kenyalnya membal berulang-ulang di pahaku memancingku untuk membantu menusuk.

“Auh… auh auhh auhh… Ahhh…” tiap Amei menghentakkan tubuhnya turun menelan Aseng junior-ku, kusambut dengan tusukan juga hentakannya terasa dobel berulang-ulang.

Kembali ia menyedot jarinya mendambakan kontol lain yang akan memasuki mulutnya yang nganggur. Sudah menjadi kebiasaan baginya untuk merasakan penis lain di dalam mulutnya, untuk disedot, dikulum dan dijilat hingga memuntahkan isi kental lezatnya.

Itu sudah menjadi kebiasaan bagi Julio sendiri dan tak sanggup dilakukannya karena sepertinya pria itu sudah tepar hanya sanggup menonton mengelus-elus penisnya yang menciut menyedihkan.

Julio sudah empat kali ejakulasi malam ini. Sepertinya ia terlalu bersemangat dan menghabiskan jatahnya. Ia menggeleng-geleng ketika saling kode dengan Amei untuk mengisi mulutnya dengan kemaluannya. Wah… Aku akan menguasainya sepanjang sisa malam ini kalo begitu…

“Aiihhh…” tubuh Amei mengejang untuk keberapa kalinya malam ini.

Ia hendak rebah kembali ke arahku tetapi kutahan dengan tetap menguleni toge kenyal yang tak bosan-bosan kuremas bagai adonan kue. Tubuhnya lemas tetapi tertahan tetap tegak. Liang kawinnya mengkremes-kremes Aseng junior dengan kedutan-kedutan sisa orgasmenya.

Sebagai gantinya aku yang bangkit dan memeluk tubuhnya dalam rengkuhan rapat. Togenya amblas gencet di dadaku. Aku akan bermaksud untuk menyampaikan maksudku untuk menghamilinya seperti yang sudah dua kali sudah kuencrotkan di dalam rahimnya malam ini.

“Ah… ah… Umm…” geliatnya kala cuping telinganya kuemut. “Yaa…”

“Mau hamil, gak?” tanyaku berbisik.

“Mau-laa…” jawabnya lirih juga. Kepalanya kutahan agar tak bergerak menghadapku. Kusamarkan dengan tetap mencumbu telinganya.

“Ya-udah… Kalo gitu diam-diam aja… Awak nembak terus di cibay Amei, nih… Amei lagi subur-suburnya, kan?… Mudah-mudahan abis ini Amei bisa hamil…” bisikku terus dengan Aseng junior masih bercokol dalam dan mentok mengetuk mulut rahimnya yang berkedut-kedut menerima tawaranku.

“Ya-ya… Amei lagi subur, nih… Betul ya, bang…” ia memelukku erat.

Terasa togenya lumer mau pecah tertekan himpitan dadaku. Aku berbaring lagi dan menarik tubuhnya rapat ke arahku. Kusiapkan posisi kakiku agar bisa bergerak leluasa saat menyodok cibay-nya dari posisi bawah berpelukan rapat begini.

Kukecup bibirnya sedikit dan ternyata belum bersih dari aroma si Julio. Kubenamkan kepalaku di bahunya seperti kepala Amei yang terbenam di bahuku. Lutut kutekuk lebar dan aku mulai menggenjotkan Aseng junior yang masih terbenam.

“Aiiihh…. Ah… Ah ah ah ah…” nyaring Amei mengerang-ngerang merasakan sodokan cepat bagai piston stelan mesin racing, keluar masuk cepat.

Tubuh Amei tergial-gial untuk rapat kupeluk di sodokan cepat untuk memancing keluarnya bibit subur spermaku keluar dan membuahi binor ini lagi. Ia mengerang-erang tiada henti merasakan entah enak entah sakit kecepatan tinggi yang kupaksakan ini.

Sesekali aku berhenti dan tubuh Amei lunglai lemah. Paha dan lututku penuh dengan racun asam laktat, racun otot yang mengindikasikan kelelahan otot. Padat tebal bokong Amei kuremas-remas selama masa rehat itu dan kuciumi leher dan telinganya hingga ia bergidik geli. Kubalik tubuhnya dan ia pasrah lunglai seperti sebuah bintang. Bintang segi lima; kepala, dua tangan dan dua kaki yang lemas tak bertenaga, dilanda badai nikmat.

Dengan leluasa aku membuka kakinya lebar-lebar dan kutusukkan lagi Aseng junior, kembali mulai menggenjot lagi. Genjot-genjot dan tak lama kuganti lagi dengan posisi miring kesukaanku. Tubuhnya bergulir lemah tak berdaya ketika kumiringkan ke arah suaminya yang masih duduk ndeprok tak berdaya, lunglai juga di lantai dingin. Sementara hangat tubuh istrinya kukangkangi dengan bebas.

“Aahh…” erangnya ketika Aseng junior menelusup masuk dari posisi menyamping ini. Bertambah sempit saja cibay Amei begini. Kusodok pelan-pelan tetapi dalam. Jembutku menggelitik paha dan selangkangan berambut halusnya.

Amei meringkuk menggigil merasakan nikmat gesekan maksimal persetubuhan posisi miring ini dan gerakanku juga semakin brutal dan tak teratur. Lututku terasa ngilu dan lemas ketika semprotan demi semprotan menyembur tanpa penghalang memasuki tubuh binor yang disaksikan suaminya kuentoti dan selalu kuencrotin di dalam cibay suburnya.

Entah apakah Julio tau masa subur istrinya ini ato tidak. Pokoknya aku sudah diizinkan oleh pemiliknya dan kumanfaatkan itu sebaik mungkin. Itulah enaknya kalo mengentoti binor… Tak usah khawatir dengan yang namanya tanggung jawab.

Walo lemes tak bertenaga, Amei gak keberatan kugarap sekali lagi hingga total malam itu aku bisa memupuk rahimnya empat kali. Semoga pada kesempatan pertama, sesi pertama ini aku bisa benar-benar menghamilinya seperti yang sudah kucurigai selama ini. Buktinya Andini, praktis hanya dua hari kebersamaan kami. Tepatnya satu malaman dan satu harian di hari yang berbeda.

Dan aku bisa berhasil menghamilinya. Kalo sang suami klaim itu adalah anaknya juga tidak mengapa. Tidak penting juga siapa bapaknya yang terpenting adalah kehamilannya. Dari sekian banyak binor dalam koleksiku terakhir kecuali Mayumi dan Amei ini, hanya tinggal Karina saja yang belum ketahuan hasilnya. Tapi aku pede mengatakan hanya tinggal menunggu kabar baik saja.

Aku belum beranjak dari depan rumah Julio dan Amei. Pintu pagarnya sudah ditutup rapat dan aku belum kunjung menyalakan mesin motorku. Langit malam sangat gelap dengan sedikit hembusan angin dingin.

Penerangan di kompleks perumahan ini terang benderang di setiap beberapa meter secara teratur. Gawat juga kalo tiba-tiba hujan saat-saat begini. Rumahku masih sangat jauh dari sini. Mengandalkan mantel hujan juga kurang bisa menapis rasa dingin. Lebih baik bergegas daripada ketakutanku menjadi nyata.

Putar arah aku menuju keluar dari kompleks perumahan tempat tinggal pasutri yang sudah kupuaskan malam ini fantasi gilanya. Aku juga sudah memuaskan diriku sendiri. Mudah-mudahan fantasiku sendiri bisa terpenuhi dengan menghamili binor itu karena sepertinya sang suami enggan untuk melepaskan benihnya di rahim istrinya sendiri.

Dapat dipastikan kalo hanya bibit milikku yang memasuki Amei malam ini. Entah kalo abis aku pulang ini, mereka bercinta lagi dan Julio ngecrot di dalam…

Yang kutakutkan menjadi nyata, hujan gerimis mulai turun dan bertambah deras semakin jauh kutempuh jarak. Lalu menjadi hujan yang semakin deras. Aku menepi di sebuah jalan kecil yang sepi untuk memakai mantel hujan yang selalu ada di dalam bagasiku, berteduh di deretan ruko-ruko tutup. Lagipula aku harus menyelamatkan buku dan diktat kuliahku. Kimak! Kemana mantel hujannya? Gak ada di dalam bagasi! Siapa yang ngeluarin, ya? Kimak-kimak!

Gimana, nih? Mana makin deras lagi hujannya. Angin kencang memperparah cuaca membawa guyuran air berderu-deru. Di kejauhan ada kilatan-kilatan petir juga yang sesekali menerangi langit gelap. Jaket yang kupakai ini tidak cukup untuk menahan hujan walo bentuk bahannya serupa parasut, celana panjangku akan tetap basah kuyup.

Menunggu hingga hujan reda adalah pilihan terakhir karena hujan tidak bisa diprediksi kapan akan berakhir. Akan lebih baik kalo tadi hujan turun saat aku masih dalam dekapan hangat tubuh Amei. Aku jadi teringat lagi pada binor yang udah kusemprotkan sperma empat kali itu. Cantik dan bodi bahenolnya sungguh ngangenin, nenenin dan ngeng-ngengin… Ntah bahasa apa itu?

“BRUKK!!” sesuatu menubruk tubuhku dari arah jalanan.

Alhasil aku juga mendorong motorku yang ada tepat di belakangku hingga menghantam dinding ruko.

“Aww!! Aw…” aku mengaduh-ngaduh kesakitan terutama pada bagian punggungku yang membentur motor. Apa yang barusan menabrakku? Hanya ada sejumlah air yang menggenang di teras sempit ruko yang menjadi tempatku berteduh.

“PUKISEK!!” makiku berang sekali.

Body Supra X 125-ku pecah-pecah, stangnya baling (miring), sayap depan dan lampu utamanya pecah. Motor kesayanganku jadi begini. Kusayang-sayang dan kurawat dengan baik, malah rusak dengan cara seperti ini. Tak kuperdulikan sakit-sakit di sekujur badanku. Apa yang tadi sudah menabrakku?!

Jalanan sepi, tak ada yang menjawab pertanyaanku. Tak ada orang ato kendaraan yang melintas. Hanya ada suara hujan. Semua orang pasti sedang meringkuk di dalam rumah dan kamarnya masing-masing. Kalo punya pasangan pasti sedang kelonan.

Kecuali suatu bentuk berputar-putar ganjil hampir transparan tepat di tengah jalan. Aku baru bisa menyadari keberadaannya setelah ada kilatan petir yang menerangi eksistensinya. Mirip sebuah angin puting beliung berukuran kecil dan hanya saja ia berupa air.

Pusaran air kecil? Ia berbentuk puting beliung karena bentuk dasar kerucut berputarnya yang bertumpu di jalanan aspal. Tetapi melihat kondisi genangan air hujan yang seperti tersedot ke bentuk pusaran air itu, pusaran air itu semakin besar saja.

“O-o? Jangan-jangan…” gumamku tak percaya dengan apa yang kulihat saat ini. Aku hanya pernah dengar tentang benda ini dan aku harap aku salah tangkap…

“BRUUK!!” sebuah tembakan lain mengarah padaku dan karena aku sudah bersiap, aku bisa menghindarinya dengan bergulingan jumpalitan. Sialnya, kini aku harus berbasah-basahan di elemen utamanya, air. Karena saat ini aku berhadapan dengan Banaspati banyu!

Banaspati banyu? Banyu artinya air. Setan ini masyur di kalangan masyarakat Jawa dan tentu saja penamaannya juga mengikuti bahasa itu. Bukannya Banaspati itu kepala berapi yang terbang-terbang menyerang mangsa ato targetnya. Ada kekurangan di penamaan itu.

Banaspati kepala api itu disebut sebagai Banaspati geni. Jenis ini yang sangat populer karena sering terlihat melayang dan terbang di atas pemukiman rumah ato hutan-hutan. Penampakannya akan sangat jelas dan vivid oleh masyarakat yang bahkan bukan korbannya kala bergerak.

Hingga khalayak awam menganggap Banaspati hanyalah bentuk berapi itu saja. Itu persepsi salah walo tidak ngawur juga karena malah sebenarnya Banaspati ada tiga jenis kalo mau lebih jelas. Tiga jenis?

Banaspati geni, Banaspati banyu dan Banaspati tanah.

Tembakan air itu menghancurkan dan merompalkan dinding ruko tempatku berdiri tadi. Pecahan semen keras itu jatuh luruh menimpa motorku yang malang. Aku hampir menangis melihat motorku di sana tapi aku gak bisa lama-lama bersedih karena pusaran air bernama Banaspati banyu itu menembakkan air terkonsentrasi dipadatkan itu lagi padaku. Aku melompat salto, kadang harus kayang, split di udara, geal ke kanan geol ke kiri untuk menghindari hujanan tembakannya.

Setan air itu memanfaatkan keunggulannya di daerah yang sangat banyak mengandung air ini. Dieksploitasinya keuntungannya ini untuk menyerangku. Ia bisa dengan mudah mendapatkan air pengganti massa tubuhnya yang ditembakkannya saat ia berbentuk bola air besar yang mengambang.

Sekujur badanku sudah basah kuyup akibat berhujan-hujanan kek bocah gak diurusin mamaknya. Bedanya aku masih berpakaian lengkap nan basah sehingga mengganggu pergerakanku. Bahan kain baju dan celanaku lengket merekat di kulitku, menahan tubuhku.

Waktu berlari menjauh darinya, kulepaskan jaket lalu kemeja lengan panjangku. Semua itu kucampakkan begitu saja hingga aku hanya bertelanjang dada, sedikit bebas walo derasnya hujan menghujani tubuhku dengan bulir-bulir besarnya.

Saat bergerak cepat melawan arah hujan, hantaman bulir itu bagai terjangan puluhan butir peluru. Pandanganku pun ikut kabur karena prisma air dan pantulan lampu di sekitarku menimbulkan rana-rana berkelip jingga dan putih di sana-sini.

Sialan… Gimana aku menghadapi Banaspati tipe air ini yang senangnya menyerang dari jarak jauh begini? Banaspati geni kemarin untungnya main frontal hingga bisa kami bisa gelut abis-abisan main fisik. Kuat-kuatan siapa. Lebih jantan.

Tipe ini sangat bertolak belakang sesuai dengan sifat dan caranya mencari mangsa. Banaspati banyu bertempat tinggal di sungai-sungai ato danau. Ia memangsa korbannya dengan cara menenggelamkannya tanpa ada bukti bahwa dialah pelakunya karena korban sering hanya dianggap sebagai korban tenggelam kehabisan nafas, padahal telah dilahap Banaspati banyu.

Karena inilah keberadaan Banaspati banyu kurang diketahui dan tidak populer. Mereka sering jadi tidak tersentuh dan bersembunyi dibalik banyak ulah jahat mereka.

Yang pasti Banaspati banyu ini berhubungan dengan Banaspati geni kemarin. Tidak mungkin dua malam berturut-turut aku diserang oleh dua Banaspati berbeda kalo bukan karena alasan tertentu. Jangan-jangan nantinya akan menyusul Banaspati tipe ketiga kalo aku bisa melalui ini semua. Itu yang terlintas di otakku ketika kulompati sebuah tiang telepon bercat hitam hanya sebagai pijakan untuk melontarkanku mundur.

Tiang besi itu ringsek melengkung terhantam kuatnya tembakan air itu. Banyak yang kukhawatirkan saat ini. Bagaimana kalo ada warga penghuni sepanjang jalan ini yang mengintip pertarunganku ini dan merekamnya.

Walo ini bukan pertarungan antar Menggala, tapi aku bisa mengungkap jati diriku sebagai seorang pendekar Menggala. Itu bisa sangat berbahaya bagiku pribadi, bagi Ribak Sude dan lebih luas lagi bagi dunia Menggala.

Sejauh ini, secara sekilas hujan yang deras di tengah malam ini mengaburkan minat siapapun untuk keluar ato sekedar melintas. Lebih baik mendekam di hangatnya rumah bersama orang-orang terkasih. Sementara aku harus jatuh bangun menyelamatkan nyawaku yang hanya sehelai ini. Tak ada pilihan lain selain mengeluarkan semua arsenal persenjataanku; mandau Panglima Burung dan bakiak Bulan Pencak. Jangan sampai petir menambah elemen keuntungan bagi Banaspati banyu kimak ini.

Menghunus mandau, memberiku beberapa kali kesempatan untuk menyerang lalu berusaha mendekat. Tetapi ia secara curang mundur dan menembakkan rentetan tembakan untuk memperkecil ukuran bola airnya lalu menghisap air hujan dari permukaan jalan aspal kembali. Ia melakukan itu dengan sangat cepat dan saat ia kembali menembak ia melayang berbentuk bola air. Ia seperti sedang mengulur sesuatu dan aku takutnya ia sedang menunggu datangnya petir menyambangi daerah ini. Kalo itu terjadi, aku Tamat. The End. Fin. Adios. Isdet (*he’s dead), mani’nat, gotong peti mati sambil joget-joget.

Kutebas terus menerus tembakan air itu sambil terus berusaha mendekatinya dan ia terus berlaku curang dengan mundur menjauh selalu saat kulakukan niatku itu. Ia menungguku lengah dan menghajarku dengan satu serangan kuat lalu menghabisiku dengan membabi buta.

Banaspati banyu kembali mengumpulkan air dalam jumlah banyak lalu membajiriku di jalan ini serupa air bah yang datang bergulung-gulung cepat. Aku yang kewalahan lalu masuk ke dalam gulungan air itu, terhanyut dan berputar-putar di dalamnya. Ia bermaksud menenggelamkanku di air ini.

Mataku yang cukup awas melihat gerakannya yang melintas melewatiku. Kalang kabut aku harus menghindari beberapa penghalang yang ada di jalanan ini berupa mobil-mobil yang terparkir, tiang-tiang lampu jalanan, pagar besi rumah warga. Nafasku tercekat karena gak bisa bernafas di dalam air. Aku terseret arus sedemikian jauh.

Air hujan deras dikombinasikannya dengan air yang ada di dalam parit digunakannya untuk menenggelamkanku. Aku terbatuk-batuk di tepian jalan. Aku beruntung air dalam jumlah besar itu masuk ke dalam gorong-gorong di ujung jalan. Aku sudah sampe jauh kesini. Sialan! Aku masih memegang pedang Selatan andalanku; mandau Panglima Burung. Bakiak Bulan Pencak entah dimana…

“Kimak!” makiku bosan.

Mandau Panglima Burung kusampirkan di bahu melintang belakang bahu dan aku berlari kencang setelah memanggil kembali sepasang alas kaki sakti-ku, memanfaatkan kekuatan bakiak Bulan Pencak.

Pagar stainless steel rumah warga, dinding depan bangunan sebuah warung, kusen jendela atas ruko berlantai dua, billboard gadget toko HP termutakhir, dish parabola di puncak rumah menjadi pijakan kakiku saat ku membentuk gerakan memutar lebar sekaligus menghindari tiap berondongan tembakan air yang melubangi apapun yang dikenainya. Dia tidak bisa membanjiriku di ketinggian ini.

“Tap!” aku berada beberapa langkah di belakangnya dan ukurannya mengecil karena semua massa tubuhnya sudah ditembakkannya rombongan barusan dan ia harus menyedot air lagi dari lingkungannya. Aku berhasil memperpendek jarak dengannya.

Semua usaha susah payah tadi hanya untuk jarak ini. Banaspati banyu itu dengan curang berusaha mundur menjauhiku mengetahui aku ada di belakangnya. Aku dapat melihat bentuk asli kepala yang ada dalam lapisan air yang membungkusnya. Berupa tengkorak kepala manusia. Gotcha!

Rahang tengkorak itu terbuka kala ia menembakkan air itu seolah-olah ia adalah mahluk hidup. Lalu menutup kala menghisap air membentuk pusaran air itu saat mundur. Kupotong arah gerakan mundurnya hingga aku ada di jalur evakuasinya lalu ia berusaha berbelok menghindari tebasan bertenaga dari mandau-ku. Ia terus berusaha melarikan diri dan terus kucegat arahnya.

Di tengah jalan yang agak cekung dengan banyak genangan air ia terhenti dan menyedot air hujan itu. Belum sempat ia menikmati sumber elemennya itu, aku menciptakan cipratan berbentuk seperti dinding air dengan sapuan kaki pada genangan air itu ditenagai bakiak Bulan Pencak.

Mulut tengkorak itu terbuka padahal ia belum cukup mengumpulkan air pembentuk bola penyelimut tubuh cairnya. Ia berpaling mencariku, lalu berputar lagi dengan cepat terus mencari keberadaanku yang dikaburkan dinding air yang seharusnya menjadi elemen pendukung utamanya.

Gerakan menyeser di kasarnya jalan aspal harus kulakukan rendah hingga aku ada tepat di bawahnya. Ini adalah aplikasi salah satu jurus silat harimau Mandalo Rajo yang kerap menyerang dari bawah terhadap lawan yang percaya diri dengan ketinggiannya. Bapangka Mancibuak Bintang (Dari Dasar Mengintip Bintang).

“Whooaaa!!” aku tiba-tiba muncul dari bawahnya dan menebaskan mandau Panglima Burung langsung pada tengkorak bersalut gumpalan air itu. “STAKK!!”

Tengkorak itu terlempar melesat tinggi karena hantaman mandau-ku. Bahkan ada cipratan yang terjadi meninggalkan air yang menyelubungi kepalanya. Tidak boleh dibiarkan lama-lama karena ia bisa mengumpulkan air lagi dari hujan yang terus turun dengan lebatnya.

Sontekan tenaga lompat memanfaatkan bakiak Bulan Pencak melambungkan tubuhku menyusul kepala Banaspati banyu itu. Gempuran air hujan yang membentur kulit muka dan tubuhku sudah seperti berondongan peluru es dingin yang terasa panas-pedih ketika menghantam tubuh. Aku mengayunkan lagi mandau-ku untuk melakukan serangan pamungkas pada Banaspati banyu sialan itu. Putaran lebar.

Ada lapisan tipis cairan keruh yang menyaluti tubuh kepala tengkorak manusia yang rahangnya sudah rompal menggantung tak seimbang menggenaskan. Lapisan itu seperti kantung ketuban yang menyelimuti bayi saat masih ada di dalam kandungan. Ia menatapku pasrah tak mampu melindungi diri lagi walopun rinai hujan menerpa kepala berbentuk tengkoraknya.

“Pedang Selatan Mendapuk Telaga!” ayunan cepatku hanya unggul beberapa milidetik saja dari sambaran petir yang ditunggu-tunggunya.

Lidah petir itu menyambar ruang kosong karena Banaspati banyu itu sudah terkena sabetan mandau-ku, terbanting ke teras kering sebuah ruko dengan bagian kepala rengkah berlubang lebar memanjang hampir membelah bentukannya.

Terhindar dari bahaya lain yang lebih mematikan, tersambar petir-aku buru-buru menepi mencari tempat aman yang terlindung. Celingak-celinguk aku menilai kondisi lalu lari-lari menjelang kepala tengkorak Banaspati banyu yang sekarat di tempat terakhirnya.

Daerah kering tak berair pantangannya. Tengkorak kering itu bergerak-gerak gemeretak menunggu musnah tetapi aku tak bisa melihat bentuk sejatinya karena terlalu terang sinar artifisial teras ruko tutup ini. Dengan sabetan mandau kupecahkan bohlam terang itu hingga aku bisa melihat lebih jelas Banaspati banyu itu. Yang tersisa adalah pendar cahaya saja dari gelap malam dan lingkungan sekitar.

Lapisan serupa ketuban itu sudah rusak bagai lapisan film tipis yang sangat rentan sobek. Air itu masuk dan meracuni bagian kepalanya yang rompal, lubang menganga yang selayaknya berisi otak manusia.

“JDARR!!” kilatan petir menerangi sekelebatan dan aku mendapat sekilas imej seseorang di balik bentuk tengkorak sekarat itu.

Rahang rompalnya lalu berhenti bergerak, kaku dan diam. Wujudnya lalu hilang, mengabur.

Apa hubungannya dengan dua Banaspati yang berturut-turut menyerangku ini? Dua Banaspati kuat dari elemen api dan air yang saling bertolak belakang patuh pada perintahnya. Entah apakah akan ada Banaspati ketiga yang akan menyusul.

Banaspati tergolong setan kelas tinggi karena bisa menggabungkan dua elemen di dalam tubuhnya. Banaspati geni elemen utamanya api dan bahan bakarnya adalah udara ato angin. Dengan udara ia mampu dan bisa memperbesar kobaran apinya.

Banaspati banyu elemen dasarnya adalah air dan bisa bersinergi dengan petir untuk memperkuat tenaganya. Untung tadi dia belum sempat mencicipi petir. Kalo enggak, aku pasti udah gosong abis-abisan.

Tidak terlalu kupikirkan itu semua… Tapi kenapa dia harus menyerangku? Apa salahku padanya? Malahan aku sudah membantunya…

***

Untungnya Supra X 125-ku masih bisa menyala walo dalam keadaan porak poranda. Untungnya tadi aku sempat memasukkan HP dan dompetku ke dalam bagasi saat mencari mantel hujan tadi hingga tidak basah kehujanan. Walo bodi motor pecah sana-sini, stang baling, lampu dan sayap depan pecah, aku tetap berusaha pulang dulu dengan pakaian basah kuyup.

“Drrtt… pshh…” bola lampu utama konslet dan putus sehingga aku tanpa penerangan lampu headlamp.

Air masuk dan menyebabkan arus pendek dari pecahan berlubang kaca mika lampu utama. Kesialan tambahan itupun tak terlalu kupikirkan dan menggantinya dengan membiarkan lampu tanganku terus berkedip-kedip menandakan ada kendaraan yang sedang melaju di derasnya hujan ini agar gak diseruduk kendaraan lain yang satu-dua melintas di jalan raya.

Sampe rumah, aku masuk diam-diam. Tidak membangunkan siapapun. Bahkan motor Supra X 125 ringsek itu hanya kutinggalkan saja di depan pintu basement. Kukunci kembali pagar dan masuk bermaksud untuk mandi. Udara dingin karena hujan berkepanjangan ini tak kuperdulikan.

Ini sangat berbahaya kalo dikonfrontir langsung tapi rasanya sangat personal karena hanya aku yang secara spesifik diserang berulang-ulang. Tidak boleh berlama-lama dan harus segera diselesaikan juga aku penasaran akan alasannya. Kenapa aku?

“Dok! Dok! Dok! Dok!… Dok! Dok! Dok! Dok!” kugedor pintu rumah itu keras-keras untuk menarik perhatian seisi rumah.

Dengan sebuah payung aku mendatangi rumah ini. Aku tau ini sudah sangat larut malam dan sangat tak etis bertamu ke rumah orang pada jam segini. Untuk itu itu aku menutup hidung dan mulutku dengan kain syal dan menghunus mandau Panglima Burung sebagai jaga-jaga aja.

“Dok! Dok! Dok! Dok!… Dok! Dok! Dok! Dok!” kuulangi menggedor pintu ini keras tak perduli kalo malah para tetangganya yang bangun.

Terdengar suara kasak-kusuk di dalam rumah. Suara alas kaki yang bergesekan dengan lantai dan ngedumel khas dirinya. Hanya pintu kayu itu yang terbuka sedikit dan ia membiarkan pintu teralis tetap tertutup agar bisa melihat siapa yang menggedor berisik jam-jam segini. Terdengar suara berisik di dalam rumah ini, membahana. Ada tangisan bayi. Ada tangisan perempuan yang meraung-raung.

“Siapa, sih?” sewotnya bingung karena ia sepertinya juga sedang sangat repot.

“Mana Vivi?” geramku menarik kain penutup mukaku agar ia cepat mengenaliku.

Pria bertubuh kekar tapi gemulai itu sontak kaget mendapat bentakanku tiba-tiba. Ia juga kaget melihatku menenteng-nenteng mandau panjang kek rampok yang menyatroni rumah korbannya.

“Bang Aseng~~, tolongin… Vivi… Vivi kesurupan…” muka sangat Benget terlihat menyedihkan karena ketakutan setengah mati.

Suaranya juga tergagap takut. Tubuhnya gemetaran menunjuk-nunjuk ke lantai dua dimana teman akrabnya itu berada. Kesurupan? Lalu gimana dengan Nirmala dan baby sitter-nya?

“Nirmala dimana?” tanyaku tentang keadaan bayi itu.

Takutnya ada apa-apa dengan bayi yang masih sangat rentan itu. Benget menunjuk ke kamar bawah yang pintunya terbuka. Perempuan muda yang kukenali sebagai baby sitter Nirmala melongok takut-takut dari balik pintu ke arah atas lantai dua dimana suara raungan suara terdengar.

“Vivi-nya dimana?” Benget menoleh ke atas. Itu suara Vivi?

Kulepas sendal jepitku dan masuk ke dalam rumah buru-buru setelah Benget membuka pintu besi berteralis ini. Tubuhku tiba-tiba bergoyang keras seperti sedang mengalami gempa. Kakiku tak bisa membuatku berdiri tegak dengan benar dan kepalaku terasa pusing karena pusat keseimbanganku terganggu guncangan gempa ini. Perutku yang kosong sehabis pertarungan sebelumnya juga seperti masuk angin, dingin terasa mual sekaligus. Benget yang tak jauh ada di dekatku tentu saja bingung dengan apa yang menimpaku.

“Bens… Gempa, ya?” tanyaku akan guncangan hebat yang kini menimpaku. Ia menggeleng-geleng bingung.

“Ini kenapa goyang-goyang semua rasanya… Palaku pusing… perutku mual… Hoekk…” mandau Panglima Burung jatuh berdenting-denting di atas lantai.

Tubuhku limbung dan jatuh tersungkur tak bisa menjaga keseimbanganku. Kucoba untuk bangkit tapi rasanya sangat berat. Kepalaku seperti diganduli sebuah forklift 2 ton, perutku seperti mempunyai dinamo blender mandiri yang berputar-putar mengaduk isi perutku yang terasa kosong padahal sudah kenyang abis traktiran makan bareng Julio dan Amei tadi malam.

“Hoekk…” aku muntah. Herannya isi perutku tak ada sisa makanan sedikitpun.

“Hoekk…” cairan kuning yang rasanya sangat pahit yang keluar dari perutku mengotori lantai.

Kepalaku tambah pusing dengan getaran gila yang tidak masuk akal ini. Apa yang sedang terjadi? Pandanganku kabur dan bergoyang-goyang. Bayangan panik Benget ada beberapa imaji yang terlihat di depanku.

Kenapa hanya aku yang mengalami ini? Dia kok enggak?

Aku berusaha merangkak keluar dari rumah ini menuju pintu yang dekat denganku. Aku paling-paling baru melangkah masuk dua langkah ke rumah ini dan serangan goncangan gempa aneh ini terjadi. Gempa yang hanya aku sendiri saja yang merasakannya.

Mencapai ambang pintu, kejadian menakutkan lainnya terjadi… Dari pagar yang berjarak enam meter jauhnya, terjadi rengkahan tanah menuju tepat ke arahku. Rekah cepat berderak-derak membelah paving block, lantai granit, memecah cepat terbelah dalam menuju kepadaku.

Panik aku mundur lagi masuk ke dalam rumah walo kepala dan perutku rasanya sudah gak karu-karuan. Retakan di lantai menjalar cepat tepat di antara kakiku seperti mengejar kemanapun aku bergerak.

“Bang? Bang~~ kenapa, bang?” Benget yang heran melihat tingkahku berteriak-teriak memanggilku menambah bising dan ricuh.

Ditambah tangisan bayi Nirmala, tangisan baby sitter muda itu dan raungan Vivi di lantai atas. Ia tentu tak tau harus berbuat apa. Aku yang diharapkannya bisa membantu mereka mengatasi masalah ini ternyata mengalami hal yang sama peliknya. Hal pelik yang tak kupaham apa.

***

Mau pasrah dan terima aja tubuhku tenggelam di dalam rekahan lantai dan bumi yang terbelah rasanya kok sangat mengenaskan. Aku berguling menjauh dengan tenaga terakhirku, rekahan berderak itu ikut berbelok. Ini sangat tidak wajar.

Tapi ini apa? Aku tau ini serangan supranatural karena sangat tidak wajar kalo rekahan bumi ini terjadi di dalam rumah tetapi rumah ini sama sekali tidak rubuh. Goncangan yang kuanggap gempa sampai 10 skala Richter begini kenapa hanya aku sendiri tok yang ngerasain? Si Benget kok anteng-anteng aja gak pusing ato tergoncang. Apa perbedaanku dengannya?

Ia memakai alas kaki sendal fluffy berbulu tebal itu sedang aku tidak.

“Kimak! Kenak lagi aku…” gumamku sadar. Bakiak Bulan Pencak!

Kujejakkan kakiku di atas lantai ini dengan beralaskan senjata andalanku yang sering diremehkan lawan. Goncangan gempa hebat tadi kontan berhenti, rengkahan lantai dan bumi juga berhenti di ujung terakhirnya.

Kuusap ujung mulutku dari sisa cairan asam lambungku yang naik akibat mual. Nafasku masih Senin-Kamis, tersengal-sengal. Benget memandangiku yang duduk bersedeku di lantai, agak lega karena aku tak lagi kepayahan akan apapun yang telah menimpaku ini.

Bising tangisan Nirmala dan raungan dari lantai dua masih terdengar. Kuraih mandau Panglima Burung yang tadi sempat terlepas dari tanganku dan tergeletak begitu saja di atas lantai. Dengan bantuan tumpuan mandau aku berusaha berdiri.

“Keluar kau! Banaspati lindu…” kuhunuskan ujung mandau ini ke ambang pintu yang dalam pandangan mataku menjadi alur menjalarnya rekahan lantai dalam sampai ke bumi yang tadi mengejarku dengan brutal.

Beberapa saat kemudian, sebuah bola berwarna coklat kehitaman bertekstur tanah melompat keluar dari rekahan tanah imajiner itu dan mendarat di lantai, berputar-putar sebentar lalu berhenti. Luruhlah tekstur tanah itu dan menampilkan sosok kepala seorang wanita yang sangat tua berambut putih kusut masai.

Keriput menghiasi seluruh wajahnya dengan banyak flek-flek hitam. Cemong-cemong lumpur mengering ada di sekujur wajahnya yang pucat menakutkan.

Kupaksakan tubuhku yang lemas untuk berdiri dan menghadapi Banaspati lindu yang kini terang-terangan hadir di depanku. Apa itu Banaspati lindu? Lindu itu artinya gempa. Masih bahasa Jawa sesuai dengan asal muasal setan ini sering muncul.

Banaspati lindu ini juga disebut Banaspati bumi ato juga tanah liat karena memang habitatnya adalah tanah sebagai elemen utamanya. Ia memang sering menyerang korban-korbannya dengan gempa seperti tadi. Biasanya di hutan, para penjelajah hutan yang berkelana tanpa alas kaki yang sangat rentan akan serangannya. Setan ini senangnya menghisap darah korbannya yang lengah tak beralas kaki di dalam hutan.

Begitu tadi aku memakai alas kaki, serangannya terhenti. Karena itu ia tidak bisa menyerang Benget dan baby sitter muda itu karena hubungannya ke bumi terputus oleh alas kaki yang mereka kenakan. Berlainan dengan Banaspati geni yang malah menyerang orang yang memakai alas kaki untuk meningkatkan kekuatan ketakutan apinya.

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22